Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
RINGKASAN
Prosedur primary survey merupakan kombinasi antara survey tempat
kejadian perkara (scene size up), initial assessment (penilaian awal) dan rapid
trauma survey atau pemeriksaan terfokus. Pendekatan ini ditujukan untuk
mempersiapkan dan menyediakan metode perawatan individu trauma secara
konsisten dan menjaga tim agar tetap terfokus pada prioritas perawatan. Tujuan
primary survey adalah untuk mengidentikasi kondisi yang mengancam nyawa
dan menentukan pasien yang harus segera dibawa ke rumah sakit.
Tes 1
1. Prosedur penilaian untuk mengidentikasi kondisi yang mengancam nyawa dan
menentukan pasien yang harus segera dibawa ke rumah sakit.disebut
a. Primary survey
b. Secondary survey
c. Focused exam/detailed exam
d. Ongoing exam
e. Rapid trauma survey
2. Apakah yang dilakukan saat survey tempat kejadian perkara (scene size up)?
a. Melakukan pemeriksaan rapid trauma survey
b. Melihat tempat kejadian apakah aman untuk memberikan pertolongan
c. Mengkaji riwayat SAMPLE
d. Melakukan focused exam
91
e. Menanyakan alamat korban
3. Apabila hasil initial assessment terdapat kondisi berbahaya yang bersifat
umum (kecelakaan, jatuh dari ketinggian, tidak sadar), maka langkah
selanjutnya dilakukan tindakan?
a. Rapid trauma survey
b. Focused exam
c. Detailed exam
d. Ongoing exam
e. Secondary survey
4. Seorang laki-laki berusia 35 tahun ditemukan tidak sadar setelah mengalami
kecelakaan di jalan raya. Setelah melakukan scene size up petugas penolong
pertama kemudian melakukan initial assessment. Saat petugas melakukan
pemeriksaan jalan nafas, ditemukan suara snoring. Apakah tindakan yang
harus dilakukan oleh petugas?
a. Melakukan head tilt chin lift
b. Melakukan jaw thrust
c. Melakukan suction
d. Melakukan finger swap
e. Melakukan pemasangan OPA
5. Seorang laki-laki berusia 35 tahun ditemukan tidak sadar setelah mengalami
kecelakaan di jalan raya. Setelah dibebaskan jalan nafas pasien petugas
penolong pertama melakukan pemeriksaan breathing atau pernafasan
ditemukan pernafasan tidak adekuat <10x/menit. Apakah tindakan yang harus
dilakukan oleh petugas penolong pertama?
a. Memberikan ventilasi sebanyak 2 kali
b. Memberikan ventilasi 10-20 x/menit dan oksigen
c. Memberikan oksigen melalui simple mask 6-10 liter/menit
d. Memberikan oksigen melalui nonrebrithing mask 13 liter/menit
e. Memberikan oksigen melalui nasal cannul 4-6 liter/menit
92
KEGIATAN PRAKTIKUM 2
PROSEDUR ONGOING EXAM
A. Prinsip Dasar Ongoing Exam
Ongoing exam merupakan prosedur kritis yang dilakukan di lokasi,
selama perjalanan dan berkomunikasi dengan tim kesehatan rumah sakit
atau tempat tujuan secara langsung. Ongoing exam atau pemeriksaan
lanjutan merupakan pemeriksaan singkat untuk menilai perubahan kondisi
penderita. Berbeda dengan secondary survey yang dilakukan hanya satu kali
waktu, Ongoing exam (pemeriksaan lanjutan) ini dilakukan beberapa kali
apabila perjalanan yang dilakukan membutuhkan waktu yang lama. Pada
beberapa kasus kritis dengan waktu perjalanan yang singkat pemeriksaan ini
dapat menggantikan pemeriksaan sekunder atau mungkin Ongoing exam
dapat dilakukan ditempat kejadian. Ongoing Exam harus dicatat tiap lima
menit pada penderita kritis dan 15 menit pada penderita stabil. Pemeriksaan
lanjutan biasanya harus dilakukan pada saat penderita dipindahkan atau
setiap dilakukan intervensi, atau ada perubahan kondisi penderita yang
semakin memburuk. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan setiap
perubahan kondisi penderita sehingga konsentrasi pada pemeriksaan ulang
hanya pada hal-hal yang berubah. Contoh apabila penderita terpasang bidai
maka lakukan pemeriksaan ulang terkait penurunan nyeri, adanya nadi,
motorik dan sensorik (PMS).
93
ONGOING EXAM
RIWAYAT PASIEN
Lengkapi SAMPLE, Jika belum dilakukan
LOC
A-V-P-U
Pupil
Jika mengalami perubahan status kesadaran
Periksa Kadar Glukosa Darah
GLASCOW COMA SCALE
Mata, Verbal, Motorik
TANDA-TANDA VITAL
Nadi, Kecepatan Pernafasan, Tekanan Darah
Saturasi Oksigen, Monitor Jantung, Suhu tubuh
AIRWAY
Paten? Jika Luka bakar maka Kaji tanda cedera inhalasi
BREATHING
Ada Pernafasan? Kecepatan, Kedalaman, Usaha Untuk Bernafas
CIRCULATION
Warna Kulit, Suhu, Kelembapan, CRT
APAKAH PERDARAHAN TERKONTROL
Kepala Dan Leher
Luka Terbuka, Nyeri Tekan, Pembengkakan
Distensi Vena Jugularis? Deviasi Trakea?
Pemeriksaan Thorax
Asimetris (Pergerakan Paradoksal?), Kontosio, Penetrasi, Nyeri Tekan, Instabilitas,
Krepitasi
SUARA NAFAS
Suara Nafas (Ada?, Sama?), Jika tidak sama Lakukan Perkusi
Suara Jantung
Pemeriksaan Abdomen
Kontosio, Penetrasi, Nyeri Tekan, Rigiditas, Distensi
Pemeriksaan Ulang Cedera Yang Teridentifikasi
Pemeriksa INTERVENSI
ETT, Oksigen, Intravena, Penutup Luka 3 sisi, jarum dekompresi
Balut & Bidai, Objek yang Menancap, Posisi Ibu Hamil
MONITOR ULANG
Jantung, Saturasi Oksigen
Sumber: Campbell, John Emory, 2012.
Gambar 11. Ongoing Exam
94
B. Standar Operasional Prosedure Ongoing Exam
Pengertian Merupakan pemeriksaan singkat untuk menilai perubahan
Tujuan kondisi penderita.
Untuk mengetahui perubahan kondisi pasien di lokasi,
Pelaksanaan selama perjalanan, setiap akan dipindahkan, atau
1. Perubahan dilakukan interensi, atau ada perubahan kondisi penderita
subyektif Apakah anda merasa lebih baik atau lebih buruk?
2. Status mental
Bagaimanakah tingkat kesadaran pasien?
3. Kaji ulang ABC Bagaimanakah ukuran pupil? Apakah sama antara kanan
Airway dan kiri? Apakah bereaksi terhadap cahaya?
Jika terjadi penurunan kesadaran, berapa skor GCSnya?
Breathing and
Circulation Apakah jalan nafas terbuka dan bersih?
Jika terdapat luka bakar di wajah, apakah ada tanda
4. Neck trauma inhalasi?
Berapa RR dan kualitas pernafasan?
5. Chest Berapa jumlah nadi dan kualitas nadinya?
Berapa tekanan darah pasien?
6. Abdomen Bagaimana warna kulit, suhu dan capillary refill?
7. Kaji trauma Apakah trakea berada di midline atau terjadi deviasi?
Apakah terdapat distensi vena jugularis?
yang Apakah terdapat bengkak pada leher?
teridentifikasi Apakah terdapat suara nafas? Apakah sama antara kanan
8. Cek intervensi dan kiri
Jika tidak sama, apakah hypersonan atau dullness?
Apakah suara jantung normal? atau suara jantung
menjauh(muffled heart sound)?
Apakah terdapat nyeri tekan?
Apakah perut supel atau distensi?
Apakah ada perubahan kondisi trauma yang telah
ditemukan?
Kaji sesuai dengan kondisi pasien?
Apakah jumlah oksigen yang diberikan telah tepat?
Apakah selang oksigen telah tehubung dengan benar
Apakah luka terbuka dada masih tertutup dengan benar?
Apakah terdapat kasa yang perlu diganti?
Apakah balut-bidai pada posisi yang benar?
Apakah benda yang tertancap masih tetap stabil?
Apakah monitor jantung terpasang dan berfungsi dengan
baik?
Apakah pulse oxymetri terpasang dan berfungsi dengan
baik?
95
LATIHAN
Demonstrasikan tindakan keperawatan prosedur Ongoing Exam pada probandus
berdasarkan format penilaian dibawah ini!
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR ONGOING EXAM
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Ongoing Exam
Judul Unit : Trauma Assesment and Management
Uraian Unit : Ongoing Exam
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
1. Perubahan Apakah anda merasa lebih baik atau lebih
subyektif buruk?
2. Status mental Bagaimanakah tingkat kesadaran pasien?
Bagaimanakah ukuran pupil? Apakah sama
antara kanan dan kiri? Apakah bereaksi
terhadap cahaya?
Jika terjadi penurunan kesadaran, berapa
skor GCSnya?
3. Kaji ulang
ABC
Airway Apakah jalan nafas terbuka dan bersih?
Jika terdapat luka bakar di wajah, apakah
ada tanda trauma inhalasi?
Breathing and Berapa RR dan kualitas pernafasan?
Circulation Berapa jumlah nadi dan kualitas nadinya?
Berapa tekanan darah pasien?
Bagaimana warna kulit, suhu dan capillary
refill?
4. Neck Apakah trakea berada di midline atau terjadi
deviasi?
Apakah terdapat distensi vena jugularis?
Apakah terdapat bengkak pada leher?
5. Chest Apakah terdapat suara nafas? Apakah
sama antara kanan dan kiri
Jika tidak sama, apakah hypersonan atau
dullness?
Apakah suara jantung normal?
6. Abdomen Apakah terdapat nyeri tekan?
Apakah perut supel atau distensi?
7. Kaji trauma Apakah ada perubahan kondisi trauma yang
yang telah ditemukan?
teridentifikasi
8. Cek intervensi Kaji sesuai dengan kondisi pasien?
Apakah jumlah oksigen yang diberikan telah
96
tepat?
Apakah selang oksigen telah tehubung
dengan benar
Apakah luka terbuka dada masih tertutup
dengan benar?
Apakah terdapat kasa yang perlu diganti?
Apakah balut-bidai pada posisi yang benar?
Apakah benda yang tertancap masih tetap
stabil?
Apakah monitor jantung terpasang dan
berfungsi dengan baik?
Apakah pulse oxymetri terpasang dan
berfungsi dengan baik?
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
RINGKASAN
Ongoing Exam (pemeriksaan lanjutan) merupakan pemeriksaan
singkat untuk menilai perubahan kondisi penderita. Ongoing Exam harus dicatat
tiap lima menit pada penderita kritis dan 15 menit pada penderita stabil. Ongoing
Exam ini juga harus dilakukan penderita dipindahkan atau dilakukan intervensi,
atau ada perubahan kondisi penderita.
TES 2
1. Pemeriksaan lanjutan merupakan pemeriksaan singkat untuk menilai
perubahan kondisi penderita disebut
a. Rapid trauma survey
b. Focused exam
97
c. Detailed exam
d. Ongoing exam
e. Secondary survey
2. Pemeriksaan Ongoing Exam pada penderita kritis dilakukan setiap
a. 15 menit
b. 5 menit
c. 20 menit
d. 30 menit
e. 60 menit
3. Pada saat melakukan pemeriksaan ongoing exam pada dada apakah yang
harus diperiksa?
a. Adanya nyeri dada
b. Suara nafas paru kanan dan kiri
c. Adanya distensi vena jugularis
d. Identifikasi kualitas pernafasan
e. Adanya deviasi trakea
4. Pemeriksaan Ongoing Exam pada penderita stabil dilakukan setiap
a. 15 menit
b. 5 menit
c. 20 menit
d. 30 menit
e. 60 menit
5. Pada saat melakukan pemeriksaan ongoing exam pada leher apakah yang
harus diperiksa?
a. Adanya nyeri dada
b. Suara nafas paru kanan dan kiri
c. Adanya distensi vena jugularis
d. Identifikasi kualitas pernafasan
e. Suara jantung normal atau menjauh
98
KEGIATAN PRAKTIKUM 3
PROSEDUR SECONDARY SURVEY
A. Prinsip Dasar Secondary Survey
Pemeriksaan secondary survey adalah pemeriksaan yang lebih
komprehensif untuk memperoleh semua cedera yang mungkin terlewat saat
primary survey. Penilaian ini juga merupakan dasar pengambilan keputusan
terapi yang sudah dilakukan. Sangat penting mencatat informasi yang
diperoleh selama penilaian ini. Kapan melakukan pemeriksaan sekunder atau
tidak itu didasarkan situasi seperti apabila penderita dalam kondisi kritis maka
pemeriksaan sekunder harus dilakukan selama perjalanan atau sebelum
sampai ditempat tujuan, apabila waktu perjalanan singkat dan pasien
memerlukan intervensi sehingga tidak memungkinkan melakukan secondary
survey maka dapat dilakukan ditempat tujuan, apabila primary survey tidak
menunjukkan suatu kondisi kritis maka pemeriksaan sekunder harus
dilakukan dilokasi kejadian. Meskipun penderita kelihatan stabil, jika ada
mekanisme trauma yang berbahaya atau bahaya lain (usia, kondisi kesehatan
yang buruk, kematian penumpang lain) maka pertimbangkan pengiriman
pasien dengan segera tidak boleh dilakukan pemeriksaan sekunder dahulu.
Penderita yang stabil dapat menjadi tidak stabil dengan cepat. Penderita stabil
dengan mekanisme trauma yang berbahaya (jari kaki kejatuhan batu) maka
tidak membutuhkan pemeriksaan secondary survey atau detailed exam.
Apabila melakukan pemeriksaan sekunder maka harus dilakukan secara
cepat dan harus melakukan pengkajian ulang terhadap penilaian awal (initial
assessment) dan menganjurkan anggota tim lain untuk memeriksa tanda-
tanda vital.
99
SECONDARY SURVEY
INITIAL ASSESMENT
GENERAL IMPRESSION
Apakah kondisi pasien semakin membaik, memburuk atau tidak berubah?
LOC
A-V-P-U
AIRWAY (DENGAN KONTROL SERVICAL)
Snoring, Gurgling, Stridor, Tidak Terdengar Suara Nafas
BREATHING
Ada Pernafasan? Kecepatan, Kedalaman, Usaha Untuk Bernafas
CIRCULATION
Nadi Radialis/Karotis Ada? Kecepatan, Irama, Kualitasnya,
Warna Kulit, Suhu, Kelembapan, CRT
APAKAH PERDARAHANNYA TERKONTROL?
DETAILED EXAM
RIWAYAT PASIEN
Lengkapi SAMPLE
TANDA-TANDA VITAL
BP, Denyut Nadi, Pernafasan, Saturasi Oksigen, Monitor Jantung, GDA, Suhu Tubuh
GLASGLOW COMA SCALE
Mata, Verbal, Motorik
Pemeriksaan Kepala
DCAP-BLS, TIC (Pupil, Battle sign, Racoom Eyes, Cairan dari Hidung dan Telinga)
Pemeriksaan Leher
DCAP-BLS, TIC, Distensi Vena Jugularis?, Deviasi Trakea
Pemeriksaan THORAX
Asimetris, Pergerakan Paradoksal, DCAP-BLS, TIC
SUARA NAFAS
Ada? Sama? (jika tidak sama maka perkusi), Suara Nafas Abnormal?, Suara Jantung
Pemeriksaan ABDOMEN
Kontosio?, Penetrasi?, Nyeri Tekan, Rigiditas?, Distensi
Pemeriksaan Pelvis
DCAP-BLS, TIC
Pemeriksaan EKTRIMITAS ATAS/BAWAH
DCAP-BLS, TIC, PMS
PEMERIKSAAN TULANG BELAKANG 100
Pemeriksaan dilakukan jika selama Pemeriksaan Primer Belum Dilakukan,
DCAP-BLS, TIC
Sumber: Campbell, John Emory, 2012.
Gambar 12. Prosedur Secondary Survey
B. Standar Operasional Prosedur Secondary Survey
Pengertian Merupakan pemeriksaan komprehensif untuk
Tujuan memperoleh semua cedera yang mungkin terlewat saat
Pelaksanaan primary survey
1. SAMPLE history Sebagai dasar pengambilan keputusan terapi
2. Vital sign
3. Neurological Kaji riwayat pasien (jika ada)
Bagaimanakah tanda-tanda vital pasien?
status Bagaimanakah tingkat kesadaran pasien?
Berapakah glukosa darah pasien? (jika terjadi
4. Head perubahan status mental)
Apakah pupil sama antara kanan dan kiri? Apakah
5. Airway berespon terhadap cahaya?
6. Breathing Apakah pasien bisa menggerakkan jari tangan dan jari
7. Neck kakinya?
8. Circulation Apakah pasien bisa merasakan sentuhan pada jari
tangan dan jari kakinya?
9. Chest Berapa skor GCS pasien?
Apakah terdapat DCAP-BTLS pada muka dan kepala?
10. Abdomen Apakah terdapat battle’s sign atau raccoon eyes?
11. Ekstrimitas Apakah terdapat darah atau cairan yang keluar melalui
hidung atau telinga?
bawah Apakah jalan nafas terbuka dan bersih?
12. Ekstrimitas atas Jika terdapat luka bakar di wajah, apakah terdapat tanda
luka bakar di mulut dan hidung?
Berapa RR dan kualitas pernafasan?
Apakah terdapat DCAP-BTLS?
Apakah ada distensi vena jugularis?
Bagaimana posisi trackea?
Bagaimana jumlah nadi, kualitas nadi dan tekanan
darah?
Bagaimana warna kulit, suhu dan capillary refill?
Apakah perdarahan eksternal masih terkontrol?
Apakah terdapat DCAP-BTLS?
Apakah terdapat pernafasan paradoksal?
Apakah terdapat suara nafas?
Apakah sama antara kanan dan kiri?
Jika suara tidak sama, hiperesonan atau dullness?
Apakah suara jantung normal? jika diperlukan lakukan
intubasi
Apakah terdapat DCAP-BTLS?
Apakah abdomen supel atau distensi?
Apakah terdapat DCAP-BTLS atau TIC?
Apakah PMS normal?
Apakah gerakan normal?
Apakah terdapat DCAP-BTLS?
Apakah PMS normal?
Apakah gerakan normal?
101
LATIHAN
Demonstrasikan tindakan keperawatan prosedur secondary survey pada
probandus berdasarkan format penilaian dibawah ini!
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR SECONDARY SURVEY
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Secondary Survey
Judul Unit : Trauma Assesment and Management
Uraian Unit : Secondary Survey
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
1. SAMPLE Kaji riwayat pasien (jika ada)
history
2. Vital sign Bagaimanakah tanda-tanda vital pasien?
3. Neurological Bagaimanakah tingkat kesadaran pasien?
status Berapakah glukosa darah pasien? (jika
terjadi perubahan status mental)
Apakah pupil sama antara kanan dan kiri?
Apakah berespon terhadap cahaya?
Apakah pasien bisa menggerakkan jari
tangan dan jari kakinya?
Apakah pasien bisa merasakan sentuhan
pada jari tangan dan jari kakinya?
Berapa skor GCS pasien?
4. Head Apakah terdapat DCAP-BTLS pada muka
dan kepala?
Apakah terdapat battle’s sign atau raccoon
eyes?
Apakah terdapat darah atau cairan yang
keluar melalui hidung atau telinga?
5. Airway Apakah jalan nafas terbuka dan bersih?
Jika terdapat luka bakar di wajah, apakah
terdapat tanda luka bakar di mulut dan
hidung?
6. Breathing Berapa RR dan kualitas pernafasan?
7. Neck Apakah terdapat DCAP-BTLS?
Apakah ada distensi vena jugularis?
Bagaimana posisi trackea?
8. Circulation Bagaimana jumlah nadi dan kualitas nadi?
Bagaimana warna kulit, suhu dan capillary
refill?
Apakah perdarahan eksternal masih
terkontrol?
9. Chest Apakah terdapat DCAP-BTLS?
Apakah terdapat pernafasan paradoksal?
102
10.Abdomen Apakah terdapat suara nafas?
Apakah sama antara kanan dan kiri?
11.Ekstrimitas Jika suara tidak sama, hiperesonan atau
bawah dullness?
Apakah suara jantung normal?
12.Ekstrimitas Apakah terdapat DCAP-BTLS?
atas Apakah abdomen supel atau distensi?
Apakah terdapat DCAP-BTLS atau TIC?
Apakah PMS normal?
Apakah gerakan normal?
Apakah terdapat DCAP-BTLS?
Apakah PMS normal?
Apakah gerakan normal?
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
RINGKASAN
Pemeriksaan secondary survey lebih komprehensif untuk
memperoleh semua cedera yang mungkin terlewat saat primary survey.
Penilaian ini juga merupakan dasar pengambilan keputusan terapi. Sangat
penting mencatat informasi yang diperoleh selama penilaian ini. Bila selama
perjalanan singkat harus melakukan intervensi mungkin tidak ada waktu untuk
melakukan secondary survey. Bila survey primer tidak menunjukkan suatu
kondisi kritis maka pemeriksaan detail harus dilakukan dilokasi kejadian.
TES 3
1. Pemeriksaan komprehensif untuk memperoleh semua cedera yang mungkin
terlewat saat primary survey dan juga merupakan dasar pengambilan
keputusan terapi disebut
103
a. Rapid trauma survey
b. Focused exam
c. Detailed exam
d. Ongoing exam
e. Secondary survey
2. Pada pemeriksaan neurologis saat secondary survey apakah penilaian yang
dilakukan?
a. Pemeriksaan kadar glukosa darah
b. Pengkajian riwayat SAMPLE
c. Pemeriksaan tanda raccoon eyes
d. Pemeriksaan tanda battle sign
e. Pemeriksaan deviasi trakea
3. Pada pemeriksaan breathing saat secondary survey apakah penilaian yang
dilakukan?
a. Periksa jalan nafas bersih atau tidak
b. Periksa apakah terdapat pergerakan paradoksal
c. Periksa apakah terdapat suara nafas
d. Periksa kecepatan pernafasan
e. Periksa adanya distensi vena jugularis
4. Pemeriksaan dada utama yang dilakukan saat secondary survey adalah
a. Periksa ada pernafasan paradoksal
b. Periksa posisi trakea
c. Periksa distensi vena jugularis
d. Periksa kualitas pernafasan
e. Periksa kecepatan pernafasan
5. Apabila primary survey tidak menunjukkan suatu kondisi kritis maka
pemeriksaan detail harus dilakukan
a. Dalam perjalanan menuju rumah sakit
b. Dilokasi kejadian
c. Setelah sampai di rumah sakit
d. Setelah kondisi pasien stabil
e. Di rumah sakit
104
KUNCI JAWABAN SOAL
Tes 1 Tes 2 Tes 3
1. A
2. B 1. D 1. A
3. A
4. B 2. B 2. D
5. B
3. B 3. D
4. A 4. A
5. C 5. B
105
GLOSARIUM
1. Pengkajian pasien: Proses evaluasi pasien trauma yang di lakukan oleh
petugas EMS untuk mengidentifikasi cedera dan status fisiologis pasien
dengan pendekatan primary survey, ongoing exam dan secondary survey
2. Primary survey: Merupakan kombinasi antara survey tempat kejadian
perkara (scene size up), initial assessment (penilaian awal) dan rapid trauma
survey atau pemeriksaan terfokus.
3. Initial assessment: Merupakan pemeriksaan yang sangat singkat meliputi
tingkat kesadaran dan ABCs untuk menentukan prioritas penderita dan untuk
menentukan kondisi yang segera mengancam jiwa
4. Secondary survey: Pemeriksaan yang dilakukan secara komprehensif untuk
memperoleh semua cedera yang mungkin terlewat saat primary survey
5. Rapid trauma survey: Pemeriksaan singkat head to toe untuk
mengidentifikasi atau menemukan semua yang mengancam nyawa
6. Focused exam: Pemeriksaan yang dilakukan apabila mekanisme cedera
terbatas pada area tubuh tertentu (luka tusuk pada dada) atau pemeriksaan
yang hanya di fokuskan pada daerah yang terkena.
7. Ongoing exam: Merupakan pemeriksaan singkat untuk menilai perubahan
kondisi penderita.
106
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, John Emory. 2012. International Trauma Life Support for Emergency
Care Provider. United States of America: Pearson Education
Life Support Malang Trauma Center. 2008. Basic Trauma Life Support. Malang:
Malang Trauma Service
Stewart et al. 2018. Advanced Trauma Life Support: Student Course Manual.
United State of America: American College of Surgeons
107
PENUTUP
Selamat! Anda telah berhasil menyelesaikan keterampilan pada Bab 3
tentang trauma assessment and management. Bab ini membahas tentang
keterampilan pengkajian primary survey, ongoing exam dan secondary exam.
Penulis yakin Anda cukup memahami dan mampu melakukan keterampilan
sesuai dengan prosedur atau SOP yang sudah ada. Hal yang penting untuk
Anda ingat dari bab ini adalah kemampuan dalam melakukan keterampilan
sesuai standart operasional prosedure.
Untuk mengukur kembali pemahaman dan kemampuan dalam penguasaan
keterampilan maka setiap mahasiswa harus melakukan latihan dan juga
mengerjakan test yang ada disetiap kegiatan praktikum.
Selamat atas keberhasilan Anda! “Sampai berjumpa pada Bab 4 tentang
airway management.
108
BAB 4
AIRWAY MANAGEMENT
PENDAHULUAN
Gangguan jalan nafas merupakan masalah yang paling umum terjadi
dan merupakan suatu kondisi yang mengancam nyawa. Transportasi oksigen
yang tidak adekuat ke otak maupun organ vital yang lain mengakibatkan
kematian dengan segera. Pada pasien tidak sadar sangat penting segera
dilakukan pengkajian dan mengontrol jalan nafas dengan maneuver jaw-thrush
atau head tilt chin lift untuk mencegah terjadinya hypoxemia dan menyelamatkan
nyawa. Obstruksi jalan nafas bisa disebabkan karena penurunan kesadaran
akibat lidah jatuh ke belakang, pembengkakan epiglottis, pembengkakan laring,
benda asing di laring, sekret yang menumpuk, bronkospasme, edema pulmonal
dan aspirasi.
Khususnya pada penderita yang mengalami penurunan tingkat
kesadaran mempunyai risiko terjadinya gangguan jalan nafas yang memerlukan
pemasangan airway definitive. Lidah merupakan penyebab utama tertutupnya
jalan nafas pada korban tidak sadar. Pada korban tidak sadar lidah akan
kehilangan kekuatan ototnya sehingga akan terjatuh ke belakang rongga mulut.
Hal ini mengakibatkan tertutupnya trakea sebagai jalan nafas.
Untuk itu manajemen jalan nafas merupakan prioritas utama ketika
memberikan perawatan pada pasien. Pemeliharaan terhadap terbukanya jalan
nafas dan ventilasi yang adekuat penderita trauma merupakan tantangan, atau
bahkan hampir tidak mungkin dilakukan pada keadaan lapangan yang sulit,
gelap, kekacauan yang sering terjadi setelah kecelakaan misalnya posisi
penderita yang sulit atau penonton yang tidak bersahabat. Airway manajemen ini
dapat dilakukan mulai dari hal yang mudah dengan memposisikan pasien pada
ventilasi maksimal sampai tindakan yang kompleks yaitu pembedahan leher atau
cricothyrotomy. Ada berbagai macam strategi dan pilihan alat untuk manajemen
jalan nafas. Tindakan ini dilakukan sesuai kondisi dan tempat spesifik terjadinya
gangguan. Airway management ini merupakan tindakan yang harus dikuasai,
karena pada kebanyakan kasus hal ini tidak dapat menunggu hingga sampai di
rumah sakit. Penderita yang mengalami sianosis atau hiperventilasi atau
keduanya membutuhkan pertolongan segera. Pertolongan ini hanya dapat
dilakukan sendiri yang harus dilakukan pada tahap awal perawatan penderita.
Sehingga semua tergantung kemampuan penolong mulai dari penguasaan
109
anatomi, fisiologi, jalan nafas, dalam membuka dan menjaga kepatenan jalan
nafas serta oksigenasi dan pemberian ventilasi pada penderita.
Untuk itu setelah mempelajari bab 4 mahasiswa diharapkan mampu
mendemonstrasikan keterampilan:
1. Prosedur membuka jalan nafas tanpa alat
2. Prosedur membuka jalan nafas dengan alat
3. Prosedur advanced airway management
Pemahaman Anda terhadap modul praktikum keperawatan gawat
darurat pada bagian keterampilan airway management ini secara umum dapat
diketahui bagaimana nanti Anda dapat mendemonstrasikan setiap tindakan pada
probandus maupun manikin di laboratorium keperawatan.
Agar Anda dapat memahami keterampilan airway management dengan
mudah, maka pada bab ini akan dibagi menjadi tiga (3) kegiatan praktikum, yaitu:
1. Kegiatan Praktikum 1
Membahas prosedur membuka jalan nafas tanpa alat
2. Kegiatan Praktium 2
Membahas prosedur membuka jalan nafas dengan alat
3. Kegiatan Praktium 3
Membahas prosedur advanced airway management
Untuk memudahkan Anda dalam memahami dan melakukan keterampilan
tersebut, pelajarilah bab ini mulai dari kegiatan praktikum 1 sampai 3. Pada
setiap kegiatan praktikum, Anda diharuskan mengerjakan latihan, tes formatif
dan tes keterampilan. Untuk menilai kemajuan belajar Anda, sebaiknya Anda
tidak melihat kunci jawaban terlebih dahulu sebelum selesai mengerjakan latihan
dan tes formatif.
Waktu untuk menyelesaikan bab ini adalah satu kali pertemuan. Gunakan
waktu dengan sebaik-baiknya. Anda dinyatakan berhasil apabila memperoleh
nilai ≥ 80 atau 80 % dapat menyelesaikan pertanyaan atau tugas yang diberikan.
Saya yakin Anda dapat memahami bab ini dengan baik!
Selamat belajar …………… Semoga berhasil!
110
KEGIATAN PRAKTIKUM 1
MEMBUKA JALAN NAFAS TANPA ALAT
A. Prinsip Dasar Membuka Jalan Nafas Tanpa Alat
Bernafas sangat penting untuk melangsungkan kehidupan. Tanpa
asupan oksigen dan pelepasan karbondioksida oleh paru-paru serta
transportasi gas-gas melalui aliran darah dapat mengakibatkan kerusakan
organ dan jaringan. Kegagalan memberikan oksigenasi adekuat ke otak dan
organ vital lainnya merupakan penyebab kematian tercepat pada trauma dan
penyakit lain (non trauma). Airway yang paten, breathing yang adekuat dan
sirkulasi darah yang cukup untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh
diperlukan untuk mencegah tubuh kekurangan oksigen (hipoksia).
Airway adalah saluran pernafasan yang merupakan transportasi
kehidupan memberikan oksigen dari udara ke paru-paru dan mengangkut sisa
hasil pembuangan karbon dioksida dari paru-paru ke udara. Dalam kondisi
normal jalan nafas selalu dalam kondisi terbuka. Jalan nafas harus dipastikan
bersih sebelum memulai ventilasi. Bila ada masalah yang tidak dapat diatasi
maka harus dilakukan pembuatan jalan nafas secara bedah. Selama
melakukan tindakan mempertahankan jalan nafas atau tambahan ventilasi,
leher harus selalu dilindungi agar tidak bergerak. Sumbatan jalan nafas dapat
terjadi secara tiba-tiba, parsial atau total dengan sesak nafas atau takipnea
merupakan salah satu tanda gejala awal.
Penilaian kepatenan jalan nafas pada pasien sangatlah penting. Bila
pasien dalam kondisi sadar dan dapat menjawab pertanyaan secara adekuat
maka dapat disimpulkan bahwa jalan nafas baik, pernafasan baik dan perfusi
darah ke otak baik. Apabila pasien tidak berespon karena mengalami
penurunan kesadaran maka kita asumsikan bahwa orang tersebut mengalami
sumbatan jalan nafas atau mungkin perburukan ventilasi. Teknik
mempertahankan jalan nafas secara manual pada pasien gawat darurat
bertujuan memelihara kepatenan jalan nafas. Selain itu, juga dapat bertujuan
untuk menghilangkan obstruksi parsial akibat lidah menutupi faring dan
epiglottis. Selama memeriksa jalan nafas harus dilakukan control servikal,
mengantisipasi terjadinyai trauma pada leher. Langkah awal untuk
membebaskan jalan nafas adalah dengan melakukan manuver head tilt dan
chin lift yang dilakukan pada pasien non trauma, teknik jaw thrust untuk
111
mencegah lidah menyumbat jalan nafas pada pasien trauma, apabila pasien
dicurigai trauma servical maka dilakukan modified jaw-thrush maneuver.
Sumber: Ollerton, 2007
Gambar 13. Penatalaksanaan Jalan Nafas Pada Pasien Trauma
112
B. Standar Operasional Prosedur
Pengertian Teknik membebaskan jalan nafas untuk menjamin
pertukaran udara secara normal tanpa menggunakan alat
Indikasi Gangguan jalan akibat obstruksi lidah dan korban tidak
sadar pada pasien non trauma (cardiac arrest, tenggelam,
Tujuan tersedak) atau pasien trauma (cedera kepala, cedera tulang
belakang)
Persiapan Untuk menjaga atau memelihara kepatenan jalan nafas
tempat dan alat Mencegah lidah jatuh atau melekat pada dinding posterior
Pelaksanaan pharing
Hand scoen
Head Tilt (Extensi Kepala)
1. Indikasi:
Pilihan metode membuka jalan nafas pada korban yang
tidak dicurigai fraktur cervical bisa karena jalan nafas
tertutup lidah pasien
2. Cara pelaksanaan:
Memposisikan pasien dalam posisi terlentang
Meletakkan satu telapak tangan di dahi pasien
kemudian tekan ke bawah sehingga kepala menjadi
tengadah dan akhirnya lidah terangkat ke depan
Chin Lift (Angkat Dagu)
1. Indikasi
Pilihan metode membuka jalan nafas pada korban yang
dicurigai fraktur cervical atau trauma dengan tujuan
mengangkat otot pangkal lidah ke depan
2. Cara pelaksanaan:
Meletakkan jari tengah dan telunjuk pada dagu pasien
kemudian angkat dan dorong tulangnya ke depan
Sumber: Campbell, 2012
Gambar 14. Chin Lift Manuever
Head-Tilt Chin Lift (Extensi Kepala Angkat Dagu)
1. Indikasi
Teknik membuka jalan nafas untuk pasien yang tidak
dicurigai adanya trauma atau fraktur cervical
2. Cara pelaksanaan:
1. Memposisikan pasien dalam posisi terlentang
2. Meletakkan telapak tangan pada dahi korban
113
kemudian tekan ke belakang untuk mengekstensikan
kepala
3. Meletakkan jari tangan lain di bawah tulang dagu
4. Mengangkat dagu ke depan dan sangga rahang
untuk membantu mengekstensikan
Sumber: Stewart et al, 2018
Gambar. 15 Head Tilt Chin Lift Manuever
Jaw Thrust
1. Indikasi
Metode pilihan untuk membuka jalan nafas pada pasien
yang dicurigai adanya trauma atau fraktur cervical
2. Cara pelaksanaan:
Pertahankan dengan hati-hati agar posisi kepala, leher
dan spinal pasien dalam posisi satu garis
Meletakkan tangan dikedua sisi kepala korban
Meletakkan ibu jari dikedua sisi dekat hidung korban
Tangan yang terletak di mandibula kiri dan kanan
mengangkat ke atas dan ibu jari menekan ke bawah
Jangan mendongakkan atau memutar kepala pasien
Sumber: Stewart et al, 2018
Gambar. 16 The Jaw-Thrust Manuever
Modified Jaw Thrust
1. Indikasi
Metode untuk membuka jalan nafas pada pasien yang
dicurigai adanya fraktur cervical
2. Cara pelaksanaan
Meletakkan kedua tangan di sisi kiri dan kanan korban
dengan ibu jari dibawah mandibular kemudian
mandibular dinaikkan
114
Sumber: Campbell, 2012
Gambar 17. Modified Jaw-Thrust Manuever
Latihan
Demonstrasikan tindakan keperawatan prosedur membuka jalan nafas tanpa alat
pada probandus berdasarkan format penilaian dibawah ini!
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR CHIN LIFT
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Airway Management
Judul Unit : Membuka jalan nafas tanpa alat
Uraian Unit : Chin lift
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
Pelaksanaan 1. Meletakkan jari tengah dan telunjuk pada
dagu pasien
2. Kemudian angkat dan dorong tulangnya
ke depan
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
115
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR HEAD TILT CHIN LIFT
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Airway Management
Judul Unit : Membuka jalan nafas tanpa alat
Uraian Unit : Head tilt chin lift
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
Pelaksanaan 1. Memposisikan pasien dalam posisi
terlentang
2. Meletakkan telapak tangan pada dahi
korban kemudian tekan ke belakang untuk
mengekstensikan kepala
3. Meletakkan jari tangan lain di bawah
tulang dagu
4. Mengangkat dagu ke depan dan sangga
rahang untuk membantu
mengekstensikan
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
116
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR JAW THRUST
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Airway Management
Judul Unit : Membuka jalan nafas tanpa alat
Uraian Unit : Jaw thrust
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
Pelaksanaan 1. Pertahankan dengan hati-hati agar posisi
kepala, leher dan spinal pasien dalam
posisi satu garis
2. Meletakkan tangan dikedua sisi kepala
korban
3. Meletakkan ibu jari dikedua sisi dekat
hidung korban
4. Tangan yang terletak di mandibula kiri
dan kanan mengangkat ke atas dan ibu
jari menekan ke bawah
5. Jangan mendongakkan atau memutar
kepala pasien
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
RINGKASAN
Teknik mempertahankan jalan nafas secara manual pada pasien
gawat darurat bertujuan memelihara kepatenan jalan nafas. Jalan nafas adalah
yang pertama kali harus dinilai untuk mengkaji kelancaran nafas. Selama
memeriksa jalan nafas harus dilakukan control servikal, mengantisipasi terjadinya
117
trauma pada leher. Langkah awal untuk membebaskan jalan nafas adalah
dengan melakukan manuver head tilt dan chin lift (pada pasien non trauma) serta
teknik jaw thrust (pada pasien trauma).
TES 1
1. Seorang laki-laki berusia 48 tahun dibawa ke IGD setelah terkena serangan
stroke di rumah. Diketahui pasien tidak sadar dan terdengar bunyi nafas
snoring. Perawat akan membuka jalan nafas pasien. Teknik apakah yang
paling tepat digunakan untuk membuka jalan nafas pasien tersebut?
a. Head tilt chin lift
b. Jaw thrush
c. Finger swap
d. Chin lift
e. Modified jaw thrush
2. Seorang laki-laki berusia 45 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien
jatuh dengan kepala membentur aspal. Terdapat laserasi pada wajah dan
keluar cairan dari telinga sebelah kiri. Anda sebagai seorang perawat akan
membuka jalan nafas pasien. Teknik apakah yang paling tepat digunakan
untuk membuka jalan nafas?
a. Head tilt
b. Head tilt chin lift
c. Jaw thrust
d. Chin lift
e. Finger swap
3. Seorang perempuan berusia 50 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas
setelah menabrak pembatas jalan. Pasien tidak memakai helm dan kepala
jatuh membentur aspal. Terdapat laserasi pada wajah, racon eye, battle
sign, keluar darah dari hidung dan cairan dari telinga sebelah kiri. Pasien
kemungkinan mengalami fraktur cervical. Anda sebagai seorang perawat
akan membuka jalan nafas pasien. Teknik apakah yang paling tepat
digunakan untuk membuka jalan nafas?
a. Head tilt chin lift
b. Jaw thrush
c. Finger swap
d. Chin lift
118
e. Modified jaw thrush
4. Memposisikan pasien dalam posisi terlentang, meletakkan telapak tangan
pada dahi korban kemudian tekan ke belakang untuk mengekstensikan
kepala kemudian meletakkan jari tangan lain di bawah tulang dagu
dilanjutkan mengangkat dagu ke depan dan sangga rahang untuk membantu
mengekstensikan, merupakan langkah-langkah membuka jalan nafas yang
disebut
a. Head tilt chin lift
b. Jaw thrush
c. Finger swap
d. Chin lift
e. Modified jaw thrush
5. Meletakkan kedua tangan di sisi kiri dan kanan korban dengan ibu jari
dibawah mandibular kemudian mandibular dinaikkan, merupakan teknik
membuka jalan nafas yang disebut
a. Head tilt chin lift
b. Jaw thrush
c. Finger swap
d. Chin lift
e. Modified jaw thrush
119
KEGIATAN PRAKTIKUM 2
MEMBUKA JALAN NAFAS DENGAN ALAT
A. Prinsip Dasar Membuka Jalan Nafas Dengan Alat
Head tilt-chin lift maneuver dan jaw thrust maneuver dilakukan untuk
membantu membuka jalan nafas pasien, tetapi bila maneuver ini
diberhentikan maka lidah akan kembali ke posisi semula dan menyumbat
jalan nafas. Terkadang bila teknik Head tilt-chin lift maneuver dan jaw thrust
maneuver tidak dilakukan dengan benar pada saat maneuver ini dilakukan
lidah dapat jatuh ke belakang dan menyumbat faring.
Alat bantu jalan nafas atau definitive airway adalah alat yang
diperlukan untuk membantu jalan nafas pasien tetap terbuka digunakan pada
awal penanganan pasien yang tidak sadar dan memerlukan perawatan
lanjutan dalam mengontrol jalan nafas. Alat bantu jalan nafas yang sering
digunakan untuk mempertahankan jalan nafas agar tetap terbuka adalah
nasopharingeal airway, oropharingeal airway, alat bantu jalan nafas yang
dipasang secara buta dan endotrakeal tube. Penggunaan alat-alat ini harus
memperhatikan tentang kesadaran pasien dan adanya reflek muntah. Hati-
hati apabila selama perawatan terjadi muntah dapat menyebabkan aspirasi
yang berakibat fatal bagi penderita yang berakibat kematian.
Nasophariangeal airway berbentuk seperti kateter karet halus dengan
diameter kurang lebih sesuai dengan ukuran lubang hidung. Alat ini digunakan
untuk mencegah terjadinya sumbatan jalan nafas yang disebabkan oleh lidah
dan epiglotis jatuh ke belakang menutup pharing baik pada pasien sadar
dengan refleks gag yang masih utuh maupun pada pasien tidak sadar.
Nasopharingeal airway tube ini juga digunakan apabila pemakaian
oropharingeal airway tube tidak mungkin dilakukan pada pasien yang
mengalami trauma berat di sekitar mulut yang menimbulkan perdarahan
massif atau kondisi trauma mulut/mulut tidak bisa dibuka contohnya pada
pasien trismus atau cedera maxillar. Alat ini juga digunakan pada pasien
fraktur tulang tengkorak (basis cranii). Alat ini tersedia dengan berbagai
ukuran. Untuk mendapatkan ukuran yang pas maka pengukuran dilakukan
dari tepi lubang hidung sampai ke bawah daun telinga/tragus atau sudut
rahang pasien. Memilih panjang yang benar akan memastikan diameter yang
sesuai, apabila alat yang digunakan terlalu panjang maka akan menstimulasi
spasme laring.
120
Oropharingeal airway merupakan alat yang berbentuk curved yang
digunakan untuk mempertahankan jalan nafas pasien agar lidah tidak jatuh
kebelakang. Fungsi utama alat ini adalah untuk mencegah lidah jatuh
kebelakang yang menyebabkan obstruksi jalan nafas. Hal ini sering terjadi
pada pasien yang mengalami penurunan tingkat kesadaran karena penurunan
refleks gag dan tonus otot submandibular, tidak direkomendasikan untuk
digunakan pada pasien yang mempunyai reflek gag utuh karena bisa
menimbulkan aspirasi. Selain pasien dengan penurunan kesadaran alat ini
juga digunakan pasien dengan penumpukan secret dijalan nafas, kejang atau
terpasang ETT. Alat ini terdiri atas beberapa ukuran sehingga pemakaiannya
harus disesuaikan dengan kondisi pasien. Untuk mendapatkan ukuran yang
sesuai dapat dilakukan dengan meletakkan pipa OPA dari samping mulut
pasien kearah ujung bawah daun telinga (bagian lobulus) sisi wajah yang
sama. Metode lain untuk mengukur pipa yaitu dengan mengukur dari tengah
mulut pasien kearah sudut tulang rahang bawah.
B. Standar Operasional Prosedur Membuka Jalan Nafas Dengan Alat
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MEMBUKA JALAN NAFAS
DENGAN OROPHARINGEAL AIRWAY
Pengertian Merupakan prosedur medis yang bertujuan untuk menjaga
kepatenan jalan udara dengan menggunakan alat yang
dimasukkan melalui mulut mencegah agar lidah tidak jatuh
ke belakang
Tujuan 1. Untuk menyediakan dan menjaga keamanan jalan nafas
2. Untuk memastikan adanya oksigenasi dan ventilasi yang
adekuat
3. Untuk menghindari terjadinya aspirasi
Indikasi 1. Pada pasien tidak sadar dengan sumbatan jalan nafas
2. Pemberian ventilasi dengan menggunakan Bag Valve
Mask
3. Pada pasien dengan pemasangan ETT
4. Pada pasien tidak sadar yang dilakukan suction
Persiapan Oropharingeal Airway
tempat dan alat Oropharingeal airway berbagai ukuran
Tongue spattel
Sarung tangan
Alat suction
Plester
Bengkok
Kassa steril
Oxygen-powered breathing device
Pelaksanaan Oropharingeal Airway
1. Mencuci tangan
121
2. Memakai sarung tangan
3. Membuka jalan nafas dengan head til chin lift atau jaw
trush
4. Membersihkan mulut dengan melakukan suction atau
menggunakan kassa steril atau menggunakan
fingerswap
5. Tempatkan pasien dalam posisi supinasi dengan
hiperekstensi leher dengan syarat tidak ada kontraindiasi
6. Melakukan pengukuran OPA sesuai kebutuhan dengan
cara meletakkan OPA dari samping mulut sampai ujung
bawah daun telinga
7. Memberikan lubrikasi pada ujung OPA
8. Membuka mulut dengan teknik crossfinger
9. Masukkan oropharing tube melalui rongga mulut dengan
ujung mengarah ke palatum.
10. Setelah masuk dinding belakang pharing lalu putar
oropharing airway 1800 sampai posisi ujung mengarah ke
oropharing.
11. Observasi apakah posisi OPA sudah benar
12. Lakukan fiksasi di pangkal oropharing airway
menggunakan plaster tanpa menutup lubang.
13. Rapikan pasien dan alat-alat
14. Buka sarung tangan
15. Cuci tangan.
Sumber: Stewart et al, 2018
Gambar 18. Oropharingeal Airway
122
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR MEMBUKA JALAN NAFAS
DENGAN NASOPHARINGEAL AIRWAY
Pengertian Merupakan prosedur medis yang bertujuan untuk menjaga
kepatenan jalan udara dengan menggunakan alat yang
Tujuan dimasukkan melalui hidung dan dimasukkan sampai bagian
Indikasi posterior dari oropharing
Persiapan 1. Untuk menyediakan dan menjaga keamanan jalan nafas
tempat dan alat 2. Untuk memastikan adanya oksigenasi dan ventilasi yang
Pelaksanaan adekuat
1. Pada pasien dengan reflek gag yang baik
2. Pada pasien trauma berat disekitar mulut
3. Pada pasien dengan trismus atau mulut tidak bisa dibuka
Nasopharingeal Airway
Bengkok
Nasopharingeal airway berbagai ukuran
Tongue spattel
Jelly atau water-soluble lubricant
Sarung tangan
Nasopharingeal Airway
1. Mencuci tangan
2. Memakai sarung tangan
3. Membersihkan lubang hidung dengan menggunakan
kassa steril
4. Tempatkan pasien dalam posisi supinasi dengan
hiperekstensi leher dengan syarat tidak ada
kontraindiasi (atau posisi netral)
5. Melakukan pengukuran NPA sesuai kebutuhan dengan
cara meletakkan NPA dari ujung hidung sampai ujung
bawah daun telinga
6. Masukkan NPA dengan ujung menghadap ke samping
melalui rongga hidung sampai ke dalam.
7. Untuk memastikan jalan udara berada pada posisi yang
sesuai maka tutup mulut pasien kemudian tempatkan
jari kita di atas pipa NPA untuk mendeteksi adanya
udara. Atau dapat dilakukan dengan menekan lidah
pasien menggunakan tongue spattel dan perhatikan
ujung jalan udara dibelakang uvula
8. Rapikan pasien dan alat-alat
9. Buka sarung tangan
10. Cuci tangan.
123
Sumber: Sumber: Campbell, 2012
Gambar 19. Nasopharingeal Airway
LATIHAN
Demonstrasikan tindakan keperawatan prosedur membuka jalan nafas dengan
alat pada probandus berdasarkan format penilaian dibawah ini!
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR OROPHARINGEAL AIRWAY
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Airway Management
Judul Unit : Membuka jalan nafas dengan alat
Uraian Unit : Oropharingeal Airway
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
Persiapan Oropharingeal airway berbagai ukuran
tempat dan alat Tongue spattel
Sarung tangan
Alat suction
Plester
Bengkok
Kassa steril
Oxygen-powered breathing device
124
Pelaksanaan 1. Mencuci tangan
2. Memakai sarung tangan
3. Membuka jalan nafas dengan head til chin
lift atau jaw trush
4. Membersihkan mulut dengan melakukan
suction atau menggunakan kassa steril
atau menggunakan fingerswap
5. Tempatkan pasien dalam posisi supinasi
dengan hiperekstensi leher dengan syarat
tidak ada kontraindiasi
6. Melakukan pengukuran OPA sesuai
kebutuhan dengan cara meletakkan OPA
dari samping mulut sampai ujung bawah
daun telinga
7. Memberikan lubrikasi pada ujung OPA
8. Membuka mulut dengan teknik crossfinger
9. Masukkan oropharing tube melalui rongga
mulut dengan ujung mengarah ke
palatum.
10.Setelah masuk dinding belakang pharing
lalu putar oropharing airway 1800 sampai
posisi ujung mengarah ke oropharing.
11.Observasi apakah posisi OPA sudah
benar
12.Lakukan fiksasi di pangkal oropharing
airway menggunakan plaster tanpa
menutup lubang
13.Rapikan pasien dan alat-alat
14.Buka sarung tangan
15.Cuci tangan
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
125
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR NASOPHARINGEAL AIRWAY
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Airway Management
Judul Unit : Membuka jalan nafas dengan alat
Uraian Unit : Nasopharingeal airway
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
Persiapan Nasopharingeal airway berbagai ukuran
tempat dan alat Bengkok
Tongue spattel
Jelly atau water-soluble lubricant
Sarung tangan
Pelaksanaan 1. Mencuci tangan
2. Memakai sarung tangan
3. Membersihkan lubang hidung dengan
menggunakan kassa steril
4. Tempatkan pasien dalam posisi supinasi
dengan hiperekstensi leher dengan syarat
tidak ada kontraindiasi (atau posisi netral)
5. Melakukan pengukuran NPA sesuai
kebutuhan dengan cara meletakkan NPA
dari ujung hidung sampai ujung bawah
daun telinga
6. Masukkan NPA dengan ujung menghadap
ke samping melalui rongga hidung sampai
ke dalam.
7. Untuk memastikan jalan udara berada
pada posisi yang sesuai maka tutup mulut
pasien kemudian tempatkan jari kita di
atas pipa NPA untuk mendeteksi adanya
udara. Atau dapat dilakukan dengan
menekan lidah pasien menggunakan
tongue spattel dan perhatikan ujung jalan
udara dibelakang uvula
8. Rapikan pasien dan alat-alat.
9. Buka sarung tangan
10. Cuci tangan
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
126
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
RINGKASAN
Alat bantu jalan nafas atau definitive airway adalah alat yang
diperlukan untuk membantu jalan nafas pasien tetap terbuka digunakan pada
awal penanganan pasien yang tidak sadar dan memerlukan perawatan lanjutan
dalam mengontrol jalan nafas. Alat bantu jalan nafas yang sering digunakan
untuk mempertahankan jalan nafas agar tetap terbuka adalah nasopharingeal
airway, oropharingeal airway, alat bantu jalan nafas yang dipasang secara buta
dan endotrakeal tube. Penggunaan alat-alat ini harus memperhatikan tentang
kesadaran pasien dan adanya reflek muntah. Nasophariangeal airway berbentuk
seperti kateter karet halus dengan diameter kurang lebih sesuai dengan ukuran
lubang hidung. Alat ini digunakan untuk menghiilangkan sumbatan jalan nafas
yang disebabkan oleh lidah jatuh kebelakang baik pada pasien sadar dengan
refleks gag yang masih utuh maupun pada pasien tidak sadar. Oropharingeal
airway merupakan alat yang berbentuk curved yang digunakan untuk
mempertahankan jalan nafas pasien. Fungsi utama alat ini adalah untuk
mencegah lidah jatuh kebelakang yang menyebabkan obstruksi jalan nafas
terutama yang reflek gagnya tidak ada.
TES 2
1. Seorang laki-laki berusia 40 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien
tidak sadar, tidak terdapat reflek muntah maupun reflek batuk. Perawat akan
membuka jalan nafas dengan menggunakan alat. Apakah alat yang
digunakan untuk membuka jalan nafas pasien tersebut?
a. Nasofaringeal airway
b. Orofaringeal airway
c. Endotrakeal tube
d. Finger swap
127
e. Suction
2. Seorang laki-laki berusia 40 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien
sadar, mempunyai reflek muntah dan reflek batuk. Perawat akan membuka
jalan nafas dengan menggunakan alat. Apakah alat yang digunakan untuk
membuka jalan nafas pasien tersebut?
a. Nasofaringeal airway
b. Orofaringeal airway
c. Endotrakeal tube
d. Finger swap
e. Suction
3. Seorang laki-laki berusia 50 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien
kemudian dibawa ke IGD dengan kondisi tidak sadar, keluar darah dari
mulut. Perawat akan melakukan suction tetapi sebelum itu akan memasang
orofaringeal airway untuk mempertahankan jalan nafas. Perawat kemudian
membersihkan mulut pasien dan memposisikan pasien supinasi dengan
fiksasi leher karena dicurigai cedera kepala. Apakah tindakan selanjutnya
yang dilakukan untuk pemasangan orofaringeal airway setelah perawat
memposisikan pasien?
a. Membuka mulut dengan crossfinger
b. Memberikan jelly pada ujung OPA
c. Melakukan pengukuran OPA
d. Memasukkan OPA ke rongga mulut
e. Melakukan finger swab
4. Seorang perempuan berusia 35 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas.
Perawat akan memasang nasopharyngeal airway untuk membebaskan jalan
nafas. Perawat telah mencuci tangan, memakai sarung tangan,
membersihkan lubang hidung dengan menggunakan kassa steril dan
memposisikan pasien supinasi. Apakah tindakan selanjutnya yang dilakukan
untuk pemasangan Nasopharingeal airway setelah perawat memposisikan
pasien?
a. Melakukan pengukuran NPA sesuai kebutuhan dengan cara meletakkan
NPA dari ujung hidung sampai ujung bawah daun telinga
b. Masukkan NPA dengan ujung menghadap ke samping melalui rongga
hidung sampai ke dalam.
c. Memastikan lubang hidung tidak ada luka
128
d. Mencuci tangan kembali
e. Menekan lidah pasien menggunakan tongue spattel dan perhatikan ujung
jalan udara dibelakang uvula
129
KEGIATAN PRAKTIKUM 3
PROSEDURE ADVANCED AIRWAY MANAGEMENT
A. Prinsip Dasar Advanced Airway Management
Endotracheal Intubation (ETT) merupakan standar untuk
mengamankan jalan nafas pasien yang tidak paten atau yang membutuhkan
bantuan dalam bernafas atau metode mempertahankan jalan nafas pada
pasien yang tidak dapat bernafas sendiri. Tindakan pemasangan ETT ini
bukan merupakan pilihan utama dalam mengamankan jalan nafas sebelum
pasien dibawa ke rumah sakit. ETT adalah cara paling efektif untuk
mengatur saluran pernafasan dan mencegah aspirasi. Endotracheal
intubation ini merupakan prosedur untuk memasukkan pipa secara langsung
ke dalam trachea, bisa dimasukkan melalui mulut ataupun melalui hidung.
Pemasangan ETT melalui mulut biasanya digunakan pada pasien
tidak sadar, apnea, menggunakan sedasi atau obat-obatan yang
menyebabkan paralisis otot-otot pernafasan untuk menjaga jalan nafas
paten, memfasilitasi ventilasi mekanik, memberikan jalan untuk keluarnya
secret dan memberikan obat-obatan pada pasien dengan henti jantung.
Sumber: Campbell, 2012.
Gambar 20. Perangkat Untuk Melakukan Endotracheal Intubation
130
B. Standar Operasional Prosedur Advanced Airway Management
Pengertian Adalah prosedur kegawatdaruratan yang sering
Tujuan dilakukan pada orang yang tidak sadar/tidak mampu
bernafas secara normal dengan memasukkan pipa jalan
Persiapan tempat nafas buatan ke dalam trakea melalui mulut.
dan alat 1. Membebaskan jalan nafas untuk memberikan
Pelaksanaan oksigen atau obat-obatan
2. Support breathing terutama untuk penyakit tertentu
seperti pneumonia, emfisema, gagal jantung atau
atelektasis
3. Menghilangkan sumbatan jalan nafas
4. Melindungi paru-paru terutama pada orang yang
tidak mempunyai reflex batuk, yaitu stroke,
overdosis, perdarahan massive
Laringoskop lengkap (pastikan baterei dan lampu
menyala serta siapkan lampu cadangan)
Endotracheal tube ukuran 7 dan 7,5
Konektor ET
Oropharyngeal airway
Silet/ Mandrain sesuai ETT
Forsep Magil
Jely steril (KY jelly)
Spuit 10 cc
Stetoskop
Bantal kecil (jika ada)
Plester dan gunting
Suction (jika ada)
Kateter penghisap
Bag Valve Mask
Tabung oksigen dan masker
1. Pastikan oksigenasi dan ventilasi adekuat serta
siapkan peralatan suction didekat pasien, apabila
terjadi muntah
2. Memilih ukuran pipa endotrakea yang sesuai
3. Memeriksa pipa endotrakea dalam kondisi steril dan
tidak ada kerusakan. Pastikan lumen ETT bersih
4. Cek fungsi balon dengan mengisi udara
kedalamnya. Jika balon mengembang dengan baik
kempeskan balon
5. Pasang laringoskop dengan pegangannya
kemudian pastikan apakah lampu menyala
6. Periksa jalan nafas pasien untuk memudahkan
intubasi dengan menggunakan LEMON mnemonic
7. Batasi gerakan pada bagian leher. Pastikan tidak
terjadi hiperextensi atau hiperfleksi leher sebelum
prosedur dilakukan
8. Buka mulut dengan dengan tangan jari tangan
kanan dengan cara cross fingers
9. Pegang laringoskop menggunakan tangan kiri
(sedangkan pada saat melakukan menggunakan
tangan yang dominan)
131
10. Masukkan laringoskop dengan lembut menelusuri
mulut sebelah kanan, sediit demi sedikit sampai
lidah menggeser ke kiri
11. Identifikasi secara visual epiglottis dan pita suara,
apabila pita suara tidak terlihat, lakukan penekanan
pada area krikoid (Sellick Manuver) mungkin bisa
menggeser epiglottis sehingga terlihat
12. Bila pita suara terlihat, masukkan ETT sambil
memperhatikan bagian proksimal dari cuff ETT
melewati pita suara ± 1-2 cm atau pada orang
dewasa kedalaman ETT hingga 19 – 23 cm (batas
ukur pada sudut bibir kanan).
13. Angkat laringoskop sembari mempertahankan tube
endotrakea
14. Hubungkan ETT dengan menggunakan BVM dan
lakukan ventilasi pasien dengan oksigen 100%
sambil penolong yang lainnya melakukan auskultasi
15. Periksa penempatan tube endotracheal dan
amankan tube
16. Lakukan auskultasi yang pertama dilakukan pada
lambung baru kemudian paru kanan dan kiri, sambil
perhatikan pengembangan dada. Bila terdengar
suara gargling pada lambung dan atau dada tidak
mengembang, berarti ETT masuk esophagus dan
pemasangan pipa harus diulangi setelah
hiperventilasi selama 30 detik
17. Suara pada paru kanan dan kiri harus sama, jika
suara paru kiri tidak terdengar, tarik ETT sekitar 1-2
cm dan nilai kembali.
18. Setelah bunyi nafas optimal dicapai maka
kembangkan balon cuff dengan menggunakan spuit
10 cc dengan volume secukupnya (10-15cc
19. Lakukan fiksasi ETT dengan plester pada sudut
kanan mulut agar tidak terdorong atau tercabut.
20. Pasang OPA untuk mencegah korban menggigit
ETT jika kesadaran membaik dan untuk
memudahkan pengisapan jika ada cairan.
21. Lakukan ventilasi dengan oksigen 100% (10-12
liter/menit dengan T-peace)
22. Bereskan alat, dokumentasi dan monitoring
adekuat.
LATIHAN
Demonstrasikan tindakan keperawatan prosedur Advanced Airway Management
pada probandus berdasarkan format penilaian dibawah ini!
132
FORMAT PENILAIAN PRAKTIKUM
PROSEDUR PELAKSANAAN PROSEDUR ADVANCED AIRWAY
MANAGEMENT
Nama Mahasiswa : ……………………………………
NIM : ……………………………………
Kode Unit : Keperawatan Gawat Darurat/Airway Management
Judul Unit : Advanced Airway Management
Uraian Unit : Endotrakeal Tube
Petunjuk : Memberi tanda ɣ
Penilaian Keterampilan
Keterampilan Indikator Keterampilan Ya Tidak
Persiapan Laringoskop lengkap (pastikan baterei dan
tempat dan alat lampu menyala serta siapkan lampu
cadangan)
Endotracheal tube ukuran 7 dan 7,5
Konektor ET
Oropharyngeal airway
Silet/ Mandrain sesuai ETT
Forsep Magil
Jely steril (KY jelly)
Spuit 10 cc
Stetoskop
Bantal kecil (jika ada)
Plester dan gunting
Suction (jika ada)
Kateter penghisap
Bag Valve Mask
Tabung oksigen dan masker
Pelaksanaan 1. Pastikan oksigenasi dan ventilasi adekuat
serta siapkan peralatan suction didekat
pasien, apabila terjadi muntah
2. Memilih ukuran pipa endotrakea yang
sesuai
3. Memeriksa pipa endotrakea dalam kondisi
steril dan tidak ada kerusakan. Pastikan
lumen ETT bersih
4. Cek fungsi balon dengan mengisi udara
kedalamnya. Jika balon mengembang
dengan baik kempeskan balon
5. Pasang laringoskop dengan pegangannya
kemudian pastikan apakah lampu menyala
6. Periksa jalan nafas pasien untuk
memudahkan intubasi dengan
menggunakan LEMON mnemonic
7. Batasi gerakan pada bagian leher. Pastikan
tidak terjadi hiperextensi atau hiperfleksi
leher sebelum prosedur dilakukan
8. Buka mulut dengan dengan tangan jari
tangan kanan dengan cara cross fingers
9. Pegang laringoskop menggunakan tangan
133
kiri (sedangkan pada saat melakukan
menggunakan tangan yang dominan)
10.Masukkan laringoskop dengan lembut
menelusuri mulut sebelah kanan, sediit
demi sedikit sampai lidah menggeser ke kiri
11.Identifikasi secara visual epiglottis dan pita
suara, apabila pita suara tidak terlihat,
lakukan penekanan pada area krikoid
(Sellick Manuver) mungkin bisa menggeser
epiglottis sehingga terlihat
12.Bila pita suara terlihat, masukkan ETT
sambil memperhatikan bagian proksimal
dari cuff ETT melewati pita suara ± 1-2 cm
atau pada orang dewasa kedalaman ETT
hingga 19 – 23 cm (batas ukur pada sudut
bibir kanan).
13.Angkat laringoskop sembari
mempertahankan tube endotrakea
14.Hubungkan ETT dengan menggunakan
BVM dan lakukan ventilasi pasien dengan
oksigen 100% sambil penolong yang
lainnya melakukan auskultasi
15.Periksa penempatan tube endotracheal dan
amankan tube
16.Lakukan auskultasi yang pertama dilakukan
pada lambung baru kemudian paru kanan
dan kiri, sambil perhatikan pengembangan
dada. Bila terdengar suara gargling pada
lambung dan atau dada tidak
mengembang, berarti ETT masuk
esophagus dan pemasangan pipa harus
diulangi setelah hiperventilasi selama 30
detik
17.Suara pada paru kanan dan kiri harus
sama, jika suara paru kiri tidak terdengar,
tarik ETT sekitar 1-2 cm dan nilai kembali.
18.Setelah bunyi nafas optimal dicapai maka
kembangkan balon cuff dengan
menggunakan spuit 10 cc dengan volume
secukupnya (10-15cc)
19.Lakukan fiksasi ETT dengan plester pada
sudut kanan mulut agar tidak terdorong
atau tercabut.
20.Pasang OPA untuk mencegah korban
menggigit ETT jika kesadaran membaik
dan untuk memudahkan pengisapan jika
ada cairan
21.Lakukan ventilasi dengan oksigen 100%
(10-12 liter/menit dengan T-peace)
22.Bereskan alat, dokumentasi dan monitoring
adekuat.
134
Catatan indicator yang belum dicapai
…………………………………………….
………………………………………………
Evaluator
(…………………………)
Keterangan: Nilai yang diperoleh x 100%
Nilai Nilai maksimal
1. Bila nilai 100% = Indikator dilakukan secara keseluruhan maka mahasiswa
kompeten.
2. Bila nilai kurang dari 80 % = Mahasiswa belum kompeten, sehingga
mahasiswa perlu pendampingan ulang.
RINGKASAN
Endotracheal Intubation (ETT) merupakan standar untuk
mengamankan jalan nafas pasien yang tidak paten atau yang membutuhkan
bantuan dalam bernafas atau metode mempertahankan jalan nafas pada pasien
yang tidak dapat bernafas sendiri. ETT adalah cara paling efektif untuk mengatur
saluran pernafasan dan mencegah aspirasi. Endotracheal intubation ini
merupakan prosedur untuk memasukkan pipa secara langsung ke dalam
trachea, bisa dimasukkan melalui mulut ataupun melalui hidung
TES 3
1. Seorang laki-laki berusia 38 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan sesak
nafas setelah terjebak dalam gedung yang terbakar. Berdasarkan
pemeriksaan fisik didapatkan bahwa suara parau saat berbicara, kulit wajah
terbakar, bulu hidung terbakar, batuk-batuk, sputum warna hitam dan kulit
pucat. Perawat ingin membebaskan jalan nafas pasien agar proses ventilasi
terjadi dengan adekuat. Apakah pilihan yang paling baik untuk menjaga jalan
nafas tetap paten pada pasien tersebut diatas?
a. Nasofaringeal airway
b. Orofaringeal airway
c. Intubasi endotrakeal (ETT)
d. Jaw trush
e. Laryngeal mask airway
135
2. Seorang perempuan berusia 30 tahun dibawa kendaraan polisi ke IGD
Rumah Sakit dengan riwayat 10 menit yang lalu ditabrak sepeda motor
kecepatan tinggi. Berdasarkan pemeriksaan tanda vital diperoleh TD 140/85
mmHg, HR 98x/menit, RR 25x/menit,dan suhu 36°C, terdengar suara
gargling pada tiap pernafasannya, GCS= 2-2-2. Apakah yang dapat
dilakukan perawat, agar suara nafas tambahan tersebut diatas tidak terjadi?
a. Melakukan pemasangan nasal Oksigen
b. Melakukan pemasangan servikal kolar
c. Melakukan pemasangan orofaring
d. Melakukan suction
e. Melakukan pemasangan naso gastric tube
136
TES 1 KUNCI JAWABAN
1. A
2. C TES 2
3. E 1B
4. A 2. A
5. E 3. C
4. A
TES 3
1. C
2. D
137
GLOSARIUM
1. Apnoea: Tidak bernafas
2. Head tilt: Pilihan metode membuka jalan nafas pada korban yang tidak
dicurigai fraktur cervical bisa karena jalan nafas tertutup lidah pasien
3. Hipoksia: Kekurangan konsentrasi oksigen di jaringan
4. Hipoksemia: Kekurangan konsentrasi oksigen dalam darah
5. Jaw thrush: Metode pilihan untuk membuka jalan nafas pada pasien yang
dicurigai adanya trauma atau fraktur cervical
6. Intubasi endotrakeal adalah metode mempertahankan jalan nafas pada
pasien yang tidak dapat bernafas sendiri.
7. Oropharingeal airway merupakan alat yang berbentuk curved yang
digunakan untuk mempertahankan jalan nafas pasien
8. Nasophariangeal airway berbentuk seperti kateter karet halus dengan
diameter kurang lebih sesuai dengan ukuran lubang hidung.
9. Ventilasi: Pengerakan pertukaran gas (keluar dan masuknya udara di paru-
paru)
138
DAFTAR PUSTAKA
Advanced Life Support Group. 2001. Acute Medical Emergencies: The Practical
Approach. London: BMJ Publishing Group
Campbell (2012). International Trauma Life Support for Emergency Care
Providers. Pearson Education: American College Emergency
Physicians. 978-0-13-215724-7
Hammond & Zimmermann (2013). Sheehy`s manual of emergency care 6th
edition. St. Louis Missouri: Elsevier Mosby.
Kartikawati, D. 2011. Dasar-dasar Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta:
Salemba Medika
Life Support Malang Trauma Center. 2008. Basic Trauma Life Support. Malang:
Malang Trauma Service
Setyorini dkk. 2019. Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Malang: UB Press
Stewart et al. 2018. Advanced Trauma Life Support: Student Course Manual.
United State of America: American College of Surgeons
139
PENUTUP
Selamat! Anda telah berhasil menyelesaikan keterampilan pada Bab 4
tentang airway management. Bab ini membahas tentang keterampilan membuka
jalan nafas tanpa alat, membuka jalan nafas dengan alat dan advanced airway
management. Penulis yakin Anda cukup memahami dan mampu melakukan
keterampilan sesuai dengan prosedur atau SOP yang sudah ada. Hal yang
penting untuk Anda ingat dari bab ini adalah kemampuan dalam melakukan
keterampilan sesuai standart operasional prosedure.
Untuk mengukur kembali pemahaman dan kemampuan dalam penguasaan
keterampilan maka setiap mahasiswa harus melakukan latihan dan juga
mengerjakan test yang ada disetiap kegiatan praktikum.
Selamat atas keberhasilan Anda! “Sampai berjumpa pada Bab 5 tentang
Breathing Management.
140