The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E_BOOK SMK BATIK 1 SURAKARTA, 2023-01-26 23:52:27

FARMAKOLOGI JILID 1

Produktif Farmasi

Keywords: Farmakologi

40 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Gambar Obat Cara pemberian 6. Sumber : https://www.k24klik.com/p/obh-nellco-anak-syr-55ml-3930 7. Sumber : https://www.k24klik.com/p/lafalos-cr-20g-1901 TUGAS 2.2 Siswa dibagi menjadi 5 kelompok, tiap kelompok mencari 5 spesialite obat dengan cara pemberian obat yang berbeda, kemudian presentasikan di depan kelas, sebagai berikut : a. Perkutan b. Trandermal c. Implant d. Parenteral e. Mukosa mata dan telinga TUGAS MANDIRI


41 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUGAS 2.3 Carilah 1 gambar/foto spesialite obat dan nama obatnya pada lembar aktivitas di bawah ini : No. Nama obat Gambar Obat Cara pemakaian 1 Oral 2 Intranasal 3 Transvaginal 4 Bucal 5 Sublingual 6 Subkutan TUGAS MANDIRI


42 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Nama obat Gambar Obat Cara pemakaian 7 Tetes mata 8 Tetes telinga 9 Inhalasi 10 Rektal TUGAS 2.4 Jelaskan secara rinci prosedur pemakaian obat secara : a. Rektal b. Inhalasi c. Implantasi TUGAS MANDIRI


43 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUGAS 2.5 No Cara Pemakaian Nama Obat 1 Oral 2 Oromukosal 3 Implant 4 Transdermal 5 Parenteral 6 Rektal 7 Perkutan 8 Intranasal 9 Inhalasi 10 Mukosa mata dan telinga 11 Intravaginal TUGAS MANDIRI Kerjakan soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Jelaskan cara pemberian obat yang termasuk kedalam efek sistemik dan efek lokal ! 2. Apa yang dimaksud dengan efek sistemik dan macam-macamnya? 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pemberian secara rektal dan intravaginal ! 4. Sebutkan contoh obat yang cara pemberiannya melalui rektal! 5. Sebutkan dan jelaskan macam-macam / jenis pemakaian obat secara parenteral ! PENILAIAN AKHIR BAB Setelah mempelajari bab ini diharapkan peserta didik bisa menerapkan bagaimana cara pembereian obat yang benar dan pada bab berikutnya akan dibahas mengenai obat yang berhubungan dengan obat gangguan sistem pencernaan. REFLEKSI


44 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI Setelah mempelajari materi tentang obat sistem pencernaan, diharapkan peserta didik dapat mengklasifikasi golongan obat ssistem pencernaan dan peserta didik juga mampu menerapkan pemakaian obat yang berhubungan dengan penyakit pada sistem pencernaan. Antasida, antidiare, digetisva, laksatifa (pencahar), antispasmodika, kolagoga, hepatoprotektor (pelindung hati). BAB III OBAT GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN PETA KONSEP BAB III OBAT GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN Antasida OBAT GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN Antidiare Digestiva Antispasmodika Kolagoga Hepatoprotektor Laksatif


45 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENDAHULUAN Gangguan pencernaan adalah masalah yang sering terjadi pada salah satu organ sistem pencernaan atau lebih dari satu organ pencernaan secara bersamaan. Sistem pencernaan juga terdiri dari sejumlah organ dimulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Tidak hanya itu organ hati, pankreas dan kantung empedu juga berperan dalam mencerna makanan, namun tidak dilewati oleh makanan atau terletak di luar saluran. Sistem pencernaan berfungsi menerima dan mencerna makanan menjadi nutrisi yang akan diserap, kemudian nutrisi tersebut disalurkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Selain itu sistem pencernaan juga berfungsi memisahkan dan membuang makanan yang tidak bisa dicerna oleh tubuh. Sistem penceraan makanan pertama kali dimulai di dalam mulut yaitu tempat dimana makanan melalui proses penghalusan dengan menggunakan bantuan gigi, dimana makanan dihaluskan sambil diaduk dengan ludah yang mengandung suatu enzim amylase yaitu ptyalin, ptyalin berfungsi untuk menguraikan karbohidrat. Setelah itu baru kemudia makanan ditelan dan proses pengadukan dilanjutkan dengan gerakan peristaltic ke lambung dengan bantuan getah lambung yang terdiri dari asam lambung dan pepsin, yaitu suatu enzim preteolitik yang disekresi oleh selaput lendir lambung. Gambar 3.1 Sistem Pencernaan Manusia ( https://images.app.goo.gl/rsKEKtAwmT49aRUb6 ) Materi yang akan dibicarakan pada bab ini diantaranya : 1. Antasida 2. Antidiare 3. Digestiva 4. Laksatif 5. Antispasmodik 6. Kolagoga 7. Hepatoprotektor


46 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI A. Antasida Pengertian Antasida (anti = lawan, acidus = asam ) adalah basa-basa lemah yang digunakan untuk mengikat secara kimiawi dan menetralkan kelebihan asam lambung yang dapat menyebabkan timbulnya suatu penyakit tukak lambung atau sakit maag, dengan gejala yang sering terjadi yaitu nyeri hebat yang berkala. Tujuan dari pengobatannya adalah dengan menghilangkan gejala yang terjadi, kemudian mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Penyakit-penyakit saluran cerna yang berhubungan dengan peningkatan asam lambung diantaranya, yaitu : 1. Gastritis Gastritis adalah penyakit atau gangguan dimana dinding lambung mengalami peradangan. Biasanya gangguan ini disebabkan karena kadar asam klorida (HCl) terlalu tinggi di dalam lambung. 2. Tukak lambung (ulkus peptikum, peptic ulcer) Tukak lambung adalah keadaan penyakit dimana dinding lambung terluka. Gangguan ini disebabkan karena terkikisnya lapisan dinding lambung itu sendiri. Luka yang muncul ini juga bisa saja muncul pada dinding duodenum atau usus kecil serta esofagus atau kerongkongan. 3. GERD (Gastroesophageal reflux disease) GERD (Gastroesophageal reflux disease) adalah suatu gangguan dimana isi lambung, yaitu asam dan enzim mengalir kembali (refluks) secara berulang ke dalam kerongkongan (esofagus), yang dapat menyebabkan iritasi dari kerongkongan dan dapat menimbulkan gejala-gejala yang dapat mengganggu. 4. Sindrom Zollinger-Ellison Sindrom Zollinger-Ellison (SZE) merupakan kelainan terjadinya peningkatan kadar hormin gastrin yang diproduksi sehingga merangsang lambung untuk menghasilkan asam klorida yang berlebihan. Sering kali, penyebabnya adalah tumor pankreas yang dapat menghasilkan hormon gastrin. Penggolongan Berdasarkan mekanisme kerjanya, antasida dapat dibagi menjadi 4 golongan diantaranya : 1. Antihiperasiditas Antihiperasiditas merupakan obat dengan kandungan Aluminium (Al) dan Magnesium (Mg), dengan bekerja secara kimiawi yang dapat mengikat kelebihan asam klorida (HCl) di dalam lambung. Al dan Mg tidak larut di dalam air serta dapat bekerja di dalam lambung, sehingga tujuan dari pemberian antasida adalah sebagian besar dapat tercapai. Akan tetapi sediaan yang mengandung Mg dapat menyebabkan diare (pencahar), sedangkan sediaan yang mengandung Al dapat menyebabkan konstipasi (sembelit), maka dari itu biasanya sediaan yang mengandung Al dan Mg sering dikombinasikan. Persenyawaan molekul Al dan Mg disebut hidrotalsit (aluminium hiroksida, magnesium karbonat, magnesium trisilikat, kompleks aluminium-magnesium hidrotalsit) Antihiperasiditas dengan kandungan bismut (Bi) dan kalsium (Ca) dapat


47 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI membentuk lapisan pelindung pada luka lambung, akan tetapi sebaiknya dihindari karena bersifat neurotoksik sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Antihiperasiditas dengan kandungan sukralfat, aluminium hidroksida dan bismuth koloidal dapat digunakan untuk melindungi tukak lambung agar tidak teriritasi oleh asam lambung. 2. Penghambat reseptor H2 (antagonis reseptor H2) Bekerja dengan cara mengurangi sekresi asam lambung akibat penghambatan reseptor H2. Contoh obat penghambat reseptor H2 yaitu simetidin dan ranitidin. 3. Penghambat pompa proton (PPI/ Proton pump inhibitor) Bekerja dengan cara menghambat asam lambung dengan cara menghambat sistem enzim adenosin trifosfat hidrogen-kalium (pompa proton dari sel parietal lambung). Contoh obat penghambat pompa proton adalah omeprazol, lansoprazol, pantoprazol, dan esomeprazol. 4. Analog prostaglandin E-1 Obat ini bekerja secara langsung pada sel-sel parietal serta melindungi mukosa dengan jalan menstimulasi mukosa dan bikarbonat. Contoh obat yang termasuk kedalam analog prostaglandin adalah misoprosol Kombinasi antasida Biasanya antasida sering dikombinasikan dengan obat obat lain, karena pengobatan dengan menggunakan antasida bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, menenangkan penderita sehingga penderita dapat bersistirahat, obat tersebut diantaranya : 1. Obat penenang/sedatif, yaitu zat untuk menekan stres yang dapat memicu sekresi asam lambung contohnya (klordiazepokisda). 2. Antikolinergik, yaitu zat untuk menekan produksi getah lambung dan melawan kejang-kejang contohnya (ekstrak belladona). 3. Dimetikon (dimetilpoliksilosan), yaitu zat yang berfungsi memperkecil gelembung gas yang timbul sehingga mudah diserap dan dapat mencegah masung angin, kembung dan sering buang angin (flatulensi). 4. Spasmolitik, yaitu zat untuk melemaskan ketegangan otot lambung-usus dan mengurangi kejang-kejang contohnya (papaverin). Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping Antasida DOEN Komposis Tiap tablet kunyah atau tiap 5 ml suspensi mengandung 1. Gel aluminium hidroksida kering 258,7 mg (setara dengan Aluminium hidroksida 200 mg) 2. Magnesium hidroksida 200 mg Indikasi Obat sakit maag untuk mengurangi nyeri lambung yang disebabkan oleh kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung dan tukak duodenum. Dengan gejala seperti mual dan perih.


48 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Kontra indikasi Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu komponen obat. Efek samping Diare, perut kembung, mual dan muntah, kram perut dan sembelit. Dosis Anak – anak 6 – 12 tahun: sehari 3-4 kali ½ tablet Dewasa : sehari 3-4 kali 1-2 tablet, dikunyah 1-2 jam setelah makan dan menjelang tidur. Ranitidin Indikasi Tukak lambung dan duodenum, tukak akibat antiinflamasi nonsteroid Kontra indikasi - Efek samping Pusing, ruam kulit, mengubah kebiasaan buang air besar pada penggunaan lama dan dosis tinggi, ada kemungkinan terjadi impotensi dan ginekomastia ringan. Sediaan Tablet 150 mg dn 300 mg Simetidin Indikasi Tukak lambung dan tukak duodenum jinak, tukak stomal, refluks esofagitis, sindrom  Zollinger-Ellison, kondisi lain di mana pengurangan asam lambung akan bermanfaat. Kontra indikasi - Efek samping Diare, perut kembung, mual dan muntah, kram perut dan sembelit. Sediaan Tablet 200 mg Sucralfat Indikasi Tukak lambung Kontra indikasi - Efek samping Mulut kering dan eritema Sediaan Tablet dan suspensi Tabel 3.1 Spesialite antasida No Generik Dagang Pabrik 1 Aluminium hidroksida Alukol PIM 2 Kombinasi Al(OH)3 dan Mg(OH)2 Gelusil Aludona Antasida DOEN Pfizer Armoxindo Indofarma


49 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI No Generik Dagang Pabrik 3 Simetikon/dimetin Flatunic Gastulen Disflatyl Nicholas Pharos, solco Zenith 4 Kombinasi Al(OH)3 dan Mg(OH)2 dan Simetikon Polycrol Mylanta Nicholas Pfizer 5 Simetidin Ulsikur Corsamet Kalbe farma Corsa 6 Famotidin Incifam Famos Facid Indofarma Dankos Kalbe Farma 7 Ranitidin Rantin Zantac Kalbe Farma Glaxo Wellcome 8 Omeprazol Solid Pumpitor Soho Sanbe Farma 9 Lansoprazol Laz Betalans Dexa Medica Mahaka Beta farma 10 Pantoprazol Pepzol Caprol Mahaka Beta farma Ethica 11 Sukralfat Neciblok Inpepsa Dankos Fahrenheit 12 Misoprostol Citrosol Cytotec Chromalux Otto Searle dan Pfizer Pharos (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) B. Antidiare Pengertian Antidiare adalah obat-obatan yang biasa digunakan untuk menanggulangi atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman, virus, cacing ataupun keracunan makanan. Gejala dari diare yaitu buang air besar (BAB) secara berulang kali dengan banyak cairan kadang-kadang juga disertai dengan rasa mulas pada perut (kejang-kejang perut) dan kadang juga disertai dengan


50 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI keluarnya lendir dan bahkan sampai berdarah. Diare juga bisa terjadi karena adanya rangsangan terhadap saraf otonom di dinding usus sehingga dapat menimbulkan reflek mempercepat peristaltik usus. Rangsangan ini bisa ditimbulkan atau disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu : 1. Infeksi oleh bakteri patogen : bakteri E. Colli, salmonella dan V. Cholerae 2. Akibat dari penyakit cacing : cacing gelang atau cacing pita 3. Infeksi oleh virus : influenza perut dan travellers diarre (diare akibat perjalanan) 4. Ganggguan gizi 5. Pengaruh enzim tertentu 6. Keracunan makanan 7. Pengaruh saraf (terkejut, takut, dsb) Sebelum diberikan obat yang tepat untuk pengobatan diare, pertolongan pertama pengobatan diare akut seperti pada gastroenteritis yaitu dengan cara mencegah atau mengatasi pengeluaran cairan atau cairan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi) terutama pada bayi dan lansia, karena dehidrasi dapat menyebabkan kematian. Ciri-ciri gejala dari dehidrasi yaitu haus, mulut dan bibir kering, kulit menjadi keriput (kehilangan turgor), berkurangnya air kemih, gelisah dan berat badan yang turun. Cara pencegahan dehidrasi yaitu dengan pemberian larutan oralit. Campuran oralit terdiri dari : NaCl 3,5 gram KCL 1,5 gram NaHCO3 2,5 gram Glukosa 20 gram Atau juga bisa dengan cara memberikan larutan infus secara intravena, yaitu Larutan NaCl 0,9 % (normal saline) atau Larutan Na Laktat majemuk (larutan Ringer laktat). Kombinasi Antidiare Obat-obatan yang diberikan untuk mengobati diare biasanya dikombinasikan dengan obat lain, antara lain yaitu : 1. Kemoterapi untuk terapi kausal yaitu terapi dengan cara memusnahkan/ membunuh bakteri penyebab penyakit. Obat yang digunakan yaitu golongan sulfonamida atau antibiotika. 2. Spasmolitika, yaitu zat-zat yang dapat melemaskan kejang-kejang otot di perut (nyeri perut) pada diare. Obat yang digunakan atropin sulfat. 3. Oralit Mekanisme kerja dalam menghentikan diare (terapi simptomatis), antidiare digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu : 1. Menekan peristaltik usus, misal loperamid 2. Menciutkan selaput usus atau adstringen, misal tanin 3. Pemberian adsorben untuk menyerap racun yang dihasilkan oleh bakteri atau racun penyebab diare, misal karbo-adsorben, kaolin dan attalpugit. 4. Melindungi selaput lendir usus yang luka, misal dengan cara pemberian


51 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI mucilago. Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping 1. Oralit Indikasi Pencegahan dehidrasi pada diare atau kolera dengan cara menggantikan cairan tubuh yang hilang Kontra indikasi Obstruksi dan perforasi usus Efek samping Hiperkalemia Sediaan Penyimpanan Serbuk Simpan ditempat yang kering 2. Loperamida Indikasi Kontra indikasi Pengobatan simptomatis diare akut sebagai tambahan terapi dehidrasi diare akkut pada dewasa dan anak-anak berusia lebih dari 4 tahun, diare kronik hanya pada orang dewasa Kram perut, pusing, mengantuk dan reaksi kulit termasuk urtikaria, hiperkalemia Sediaan Peringatan Teblet 2 mg, tablet salut selaput 2 mg Penyakit hati dan kehamilan 3. Kaolin Indikasi Kontra indikasi Efek samping Pengobatan diare - - Sediaan Generik – Umumnya sediaan yang beredar adalah kombinasi kaolin dan pectin 4. Karbo-adsorben Indikasi Kontra indikasi Efek samping Pengobatan diare, bersifat menyerap racun - - Sediaan Karbo adsorben (Kimia Farma) 5. Indikasi Kontra indikasi Efek samping Attalpugite Pengobatan diare, bersifat meneyerap racun - Sembelit Sediaan Tablet 630 mg


52 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Tabel 3.2 Spesialite obat antidiare No Generik Dagang Pabrik 1 Oralit Oralit Pharolite Kimia Farma Pharos 2 Kaolin & pectin Kaopectate Pfizer 3 Attalpulgit dan pectin Neo diaform Neo Entrostop Corsa Kalbe Farma 4 Attapulgit Biodiar New Diatab Novaris Indonesia Medifarma Biomedis 5 Loperamia HCL Lodia Imodium Sanbe Farma Janssen Cilag 6 Arang jerap(carbon adsorben) Bekarbon Kimia Farma (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) C. Digestiva Pengertian Digestiva adalah obat-obat yang digunakan untuk membantu proses pencernaan lambung usus terutama pada keadaan defisiensi zat pembantu pencernaan. Digestiva bisa disebut juga obat-obat pencernaan. Penggolongan 1. Obat yang bekerja pada kandung empedu Empedu terdiri dari asam empedu (asam kolat) dan asam kenodeoksikolat serta kolesterol dan fosfolipid. Guna empedu yang berhubungan dengan pencernaan dan absorbsi lemak yaitu : a. Membantu proses emulsifikasi dan absorpsi lemak b. Mempertinggi daya kerja lipase c. Membantu peroses absrobsi vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, K) Guna preparat empedu peroral adalah : a. Membantu pencernaan dan penyerapan dalam usus (lemak) b. Merangsang pengeluaran empedu dari hati (cholereatic) c. Melarutkan & mengeluarkan batu empedu (cholagoga) d. Mengobati dan melindungi hati terhadap penyakit kuning dan hati yang mengeras 2. Enzym pencernaan. Obat enzim pencernaan yang sering digunakan adalah : a. Asam hidroklorida (HCl), yaitu suatu cairan yang dapat disekresikan melaui dinding lambung yang memiliki fungsi utama, diataranya : 1) mengubah pepsinogen yang dihasilkan selaput lambung menjadi pepsin 2) membuat suasana lambung jadi asam sehingga mempermudah penguraian protein menjadi peptida 3) membantu proses absorpsi garam kalsium dan besi 4) membantu merangsang pengeluaran getah lambung, pankreas dan hati.


53 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI b. Enzym lambung (pepsin), yaitu enzim preteolitik yang kurang penting dibandingkan dengan enzim pankreas, kemudia disekresi oleh mukosa lambung yang berfungsi mengurangi protein menjadi peptida. Enzim ini disebut juga protease. c. Enzym pankreas (pancreatin), yaitu enzim ini terdiri dari Amylase (pencernaan K- hidrat), Trypsin-chemotrypsin (pencerna protein) dan Lipase (pencerna lemak dengan bantuan empedu). Pada keadaan kekurangan asam lambung disebabkan aklorhidri, sehingga sebagai pengganti perlu diberikan HCl dari luar. Pemakaian HCl tersebut harus dalam keadaan cukup encer agar tidak menghancurkan selaput lendir lambung.  Spesialite obat Digestiva (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) No Generik Dagang Pabrik 1 Pankreatin, empedu sapi, ekstrak lambung Panzynorm Nordmark 2 Pancreatin, oxbile, bromealin Benozym Bernofarm 3 Pancreatin, Lipase, Amilase Pankreon comp Solfay, Kimia Farma 4 Pancreatin, dimetilpolisiloksan Tripanzym Gasflat Sanbe Fahreinheit D. Laksatif (Pencahar) Pengertian Laksatif (pencahar) adalah zat/obat yang digunakan untuk mempercepat gerakan peristaltik usus, sehingga zat tersebut dapat memudahkan/ melancarkan Buang Air Besar (BAB). Adapun mekanisme kerja dari laksatif yaitu dapat merangsang susunan saraf otonom parasimpatis sehingga usus melakukan gerakan peristaltik dan mendorong tinja untuk keluar. Penyebab perlambatan makanan melewati usus dapat disebutkan diantaranya bisa dari faktor makanan/kurangnnya pengisian makanan usus dengan makanan berserat, perubahan dinding usus juga bisa menjadi faktor susah buang air besar (misalnya disebabkan oleh tumor, radang kronis), stres, dsb. Maka dari itu pengobatannya bisa menggunakan obat laksatif (pencahar). Penggunaan Sebelum pasien dianjurkan menggunakan obat pencahar, pastikan terlebih dahulu bahwa pasien mengalami konstipasi, konstipasi tersebut bukan merupakan gejala sekunder dari keluhan yang tidak terdiagnosis. Penggunaan obat pencahar untuk : 1. Mengeluarkan parasit setelah diberikan obat golongan antelmintik 2. Keadaan sembelit (konstipasi) dimana karena adanya pengaruh dan efek samping dari suatu obat, kurang minum dan kurang mengonsumsi makanan yang berserat


54 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 3. Untuk membersihkan salurn cerna sebelum pembedahan dan prosedur radiologi 4. Konstipasi pada pasien dengan resiko pendarahan rektal seperti pada hemoroid (wasir) 5. Penggunaan pencahar pada anak-anak harus dihindari, kecuali obat tersebut diresepkan oleh dokter Penggolongan Berdasarkan mekanisme kerja dan sifat kimianya, laksatif digolongkan sebagai berikut : 1. Zat-zat perangsang dinding usus a. Merangsang dinding usus besar, misalnya glikosidamantrakinon (rhei, sennae, dantron, bisakodil). b. Merangsang dinding usus kecil, misalnya oleum ricini/minyak jarak (sudah tidak dipakai) dan kalomel. 2. Zat-Zat yang dapat memperbesar isi usus a. Obat yang dapat bekerja dengan jalan menahan cairan dalam usus secara osmosis (pencahar osmotik, misalnya magnesium sulfat (garam inggris), natrium fosfat. Enema fosfat bermanfaat dalam membersihkan usus sebelum prosedur radiologi, endoskopi dan bedah. Natrium sulfat harus dihindari karena pada individu yang rentan dapat menyebabkan retensi air dan natrium. b. Obat yang dapat mengambang dalam usus, misalnya agar-agar, CMC (carboxymethil cellulose) dan tylose. c. Serat juga bisa digunakan karena tidak dapat dicernakan, misalnya sayur – sayuran dan buah – buahan. 3. Zat pelicin atau pelunak tinja Zat ini bisa mempermudah defikasi karena dapat melunakan tinja dan memperlicin jalan keluarnya defekasi, misalnya parafin cair, suppositoria dengan gliserin, klisma dengan larutan sabun, dll. Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping 1. Bisacodyl Indikasi konstipasi, tablet bekerja dalam 10-12 jam, supositoria bekerja dalam 20-60 menit; sebelum prosedur radiologi dan bedah. Kontra indikasi - Efek samping Penggunaan jangka panjang dapat memicu atonia colon Sediaan Tablet 5 mg, suppositoria 5 mg dan 10 mg 2. Dantron Indikasi Konstipasi pada pasien gagal jantung, pada orang tua Kontra indikasi Bstruksi usus, atonia colon, urine mungkin berwarna merah. Efek samping - Sediaan Tablet 150 mg


55 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 3. Magnesium sulfat / garam Inggris Indikasi Konstipasi (magnesium hidroksida), pengosongan usus yang cepat sebelum prosedur radiologi endoskopi dan bedah (magnesium sulfat) Kontra indikasi Kondisi penyakit saluran cerna akut, gangguan ginjal, ganggua hati, usia lanjut dan pasien lemah. Efek samping Kolik Sediaan Serbuk 30 gram Tabel 3.3 Spesialite Obat laksatif / pencahar No Generik Dagang Pabrik 1 Ispaghula sekam Mulax Mucofalk Fahreinheit Darya Varia 2 Bisakodil Dulcolax Laxamex Boehringer Ingelheim Konimex 3 Lactusa Lactulac Opilax Duphalax Ikapharmindo Otto Solvay 4 Magnesium sulfat Garam Inggris Cap gajah Usaha Sekawan Farmasi 5 Natrium lauril sulfo asetat Microlax Pharos (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) E. Antispasmodik Pengertian Antispasmoodika adalah zat atau obat-obatan yang digunakan untuk mengurangi atau melawan kejang-kejang otot yang sering mengakibatkan nyeri perut (saluran pencernaan). Obat yang termasuk dalam golongan ini mempunyai sifat sebagai relaksan otot polos. Termasuk juga senyawa yang memiliki efek antikolinergik, lebih tepatnya yaitu antimuskarinik. Sifat relaksan otot polos dari senyawa antimuskarinik dan obat antispasmodik lain mungkin bermanfaat untuk Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan penyakit divertikular. Meskipun dapat mengurangi spasme usus tapi penggunaanya dalam sindrome usus pencernaan hanya bermanfaat sebagai pengobatan tambahan saja. Penggolongan Antispasmodika dibagi menjadi 2 golongan, yaitu : 1. Atropin dan kelompok alkaloid 2. Antimuskarinik sintetik


56 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping 1. Atropin Sulfat dan Alkaloid Belladona Indikasi Relaksan otot polos Kontra indikasi Glaukoma sudut sempit Efek samping Mulut kering, sulit menelan dan haus Sediaan Injeksi (Atropin sulfat), tablet 10 mg, 20 mg (ekstak belladona) Tabel 3.4 Spesialite Antispasmodik No Generik Dagang Pabrik 1 Hiosin butilbromida Buscopan Gitas Scopamin Boehringer Ingelheim Interbat Otto 2 Propantelin bromida Probathine Soho 3 Mebeverin HCL Duspatalin Solvay, Kimia farma 4 Extrac belladonnae Spasmal Prafa 5 Pramiverin HCL Systabon plain Merck 6 Papaverin HCL Erlavaf Ifirin Erela Imfarmind 7 Klordiazapoksid, klidinium bromida Braxidin Sanbe Farma 8 Timepidium bromida Sesden Tanabe Indonesia (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) F. Kolagoga Pengertian Kolaoga adalah zat atau obat yang digunakan sebagai peluruh atau penghancur batu empedu, akan tetapi batu empedu dengan obat perannya relatif kecil dibandingkan dengan tehnik pembedahan/endoskopi dan laparoskopi. Batu empedu merupakan penyakit yang terjadi di saluran atau kandung empedu, faktor yang mendukung terbentuknya batu empedu adalah hipercolesterolemia, penyumbatan saluran empedu serta radang saluran empedu. Penyakit batu empedu merupakan penyakit yang paling sering terjadi di saluran dan kandung empedu. Pada sekitar 20% dari pembedahan yang dilakukan, ditemukan batu empedu. Berdasarkan susunannya, terdapat tiga jenis batu empedu yaitu batu kolesterol, batu pigmen dan batu kalsium karbonat (kebanyakan yang terjadi batu empedu campuran). Terapi dengan obat cocok untuk pasien : 1. Penyakit batu empedu yang gejalanya ringan 2. Fungsi kandung emepdunya tidak terganggu 3. Ukuran batu empedu kecil dampai sedang


57 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Pengobatan Pencegahan jangka panjang mungkin diperlukan setelah batu empedunya melarut atau dibuang, karena dapat terjadi kembali pada sebagian pasien sesudah pengobatan dihentikan. Obat yang sering digunakan untuk membantu melarutkan batu empedu adalah asam kenodeoksikolat dan asam ursodeoksikolat. Pasien batu empedu dianjurkan melakukan diet kolesterol dan pengobatan dilanjutkan sampai 3 atau 4 bulan sesudah batunya melarut. Tabel 3.5 Spesialite obat kolagoga No Generik Dagang Pabrik 1 Asam kenodeoksikolat Chenofalk Darya Varia 2 Asam ursodeoksikolat Urdafalk Estazor Pramur Darya Varia Fahreinheit Prafa 3 Pancreatin , dimetilpolisiloksan Tripanzym Sanbe Farma (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) G. Hepatoprotektor (Pelindung Hati) Pengertian Obat-obat protektor hati adalah obat-obat yang digunakan sebagai vitamin tambahan untuk melindungi, meringankan atau menghilangkan gangguan fungsi hati kerena adanya bahan kimia, penyakit kuning atau gangguan dalam penyaringan lemak oleh hati. Pada umumnya obat-obat golongan ini mengandung asam-asam amino, kandungan yang terdapat dari tanaman kurkuma (kurkumin) dan zat-zat lipotropik seperti methionin dan cholin. Methionin memiliki peranan penting dalam metabolisme hati sehingga zat methionin digunakan untuk melawan keracunan yang disebabkan oleh hepatotoksin. Sedangkan choline adalah suatu zat yang dapat mencegah dan menghilangkan perembesan lemak ke dalam hati dan juga bekerja melawan keracunan. Obat-obat ini sebaiknya jangan digunakan pada penderita penyakit hati yang berat karena pada dosis besar dapat memperparah keadaan penderita. Tabel 3.6 Spesialite Hepatoprotektor No Generik Dagang Pabrik 1 Methionin & vitamin Methicol Methioson Otto Soho 2 Curcuma + multivitamin Curcuma Heparviton Curson Lanagogum Soho Tempo Scan Pasific Soho Landson 3 Asam asam amino Aminofusin hepar Baxter Kalbe (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018)


58 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI CAKRAWALA Menurut WHO (World Health Organization) diare didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang mengalami Buang Air Besar (BAB) dengan memiliki konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat juga berupa air saja dan frekuensinya lebih sering dari biasanya, bisa sampai tiga kali bahkan lebih di dalam satu hari. Diare disebabkan oleh masuknya bakteri, virus, cacing, dll bisa juga disebabkan oleh keracunan makanan atau minuman yang masuk kedalam saluran pencernaan sehingga menyebabkan diare. Diare yang hebat juga bisa menyebabkan penderita menjadi dehidrasi atau kekurangan cairan di dalam tubuh. Tindakan pencegahan dehidrasi pada penderita diare dapat dilihat pada gambar di bawah Gambar 3.2 Tindakan Pencegahan Dehidrasi pada Diare (http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/tips-sehat/20170403/4620310/kenali-diare-anak-dan-cara-pencegahannya/)


59 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai obat-obat susunan saraf pusat para siswa sekalian dapat mempelajari secara mandiri di internet. Melalui internet kalian bisa mengakses lebih jauh materi tentang obatobat susunan saraf pusat. Salah satu website yang dapat dikunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman kalian tentang obat-obat susunan saraf pusat adalah sebagai berikut : http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-1-sistem-salurancerna-0 JELAJAH INTERNET 1. Sistem penceraan makanan dimulai di dalam mulut yaitu tempat makanan dihaluskan, dimana makanan dihaluskan sambil diaduk dengan ludah yang mengandung suatu enzim amylase yaitu ptyalin, yang berfungsi menguraikan karbohidrat. Setelah itu makanan ditelan dan pengadukan dilanjutkan dengan gerakan peristaltic ke lambung dengan bantuan getah lambung yang terdiri dari asam lambung dan pepsin, yaitu suatu enzim preteolitik yang disekresi oleh selaput lendir lambung. 2. Antasida adalah zat / obat yang digunakan untuk menetralisir kelebihan asam lambung berlebih yang dapat menyebabkan tukak lambung atau sakit maag yang memiliki gejala nyeri yang hebat. 3. Antidiare adalah obat-obatan yang digunakan untuk menanggulangi atau mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman, virus, cacing ataupun keracunan makanan. 4. Digestiva adalah obat-obat yang digunakan untuk membantu proses pencernaan lambung usus terutama pada keadaan defisiensi zat pembantu pencernaan. 5. Laksatif (pencahar) adalah zat/obat yang dapat mempercepat gerakan peristaltik usus, sehingga zat tersebut dapat mempermudah/melancarkan Buang Air Besar (BAB). 6. Antispasmoodika adalah zat atau obat-obatan yang digunakan untuk mengurangi atau melawan kejang-kejang otot yang sering mengakibatkan nyeri perut (saluran pencernaan). 7. Kolaoga adalah zat atau obat yang digunakan sebagai peluruh atau penghancur batu empedu. RANGKUMAN


60 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUGAS 3.1 Carilah 5 spesialite lain untuk obat antasida berikut! Lengkapilah dengan informasi indikasi, dosis, kontraindikasi dan efek samping ! a. Ranitidin b. Simetidin c. Sucralfat d. Omeprazole TUGAS 3.2 Carilah informasi obat antidiare di bawah ini! No. Gambar Obat Informasi Obat 1. sumber : https://www.k24klik.com/p/pharolit--2600 Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 2. sumber : https://www.k24klik.com/p/new-diatab-tab-str-4s-38 Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 3. sumber : https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/diapet-4-kapsulper-strip-kapsul Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS MANDIRI


61 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Gambar Obat Informasi Obat 4. sumber : https://doktersehat.com/obat-entrostop/ Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS 3.3 Carilah 3 spesialite digestiva, lengkapi dengan gambar, komposisi, indikasi, kontraindikasi, efek samping, dosis dan sediaan ! TUGAS 3.4 Carilah 1 gambar/foto spesialite obat laksatif / pencahar di bawah ini lalu tempel pada lembar aktivitas dan beri informasi obat! No. Nama obat Gambar Obat Informasi Obat 1. Bisakodil Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 2. Laktulosa Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 3. Natrium lauril sulfo-asetat Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS 3.5 Carilah informasi mengenai spesialit obat di bawah ini ! TUGAS MANDIRI


62 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Gambar Obat Informasi Obat 1. sumber : https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/spasmal-10-tablet-perstrip-tablet Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 2. sumber : https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/gitas-plus-10-kapletper-strip-kaplet Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 3. sumber : https://www.instantecare.co.uk/clinics/hyperhidrosis/pro-banthine Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 4. sumber : https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/duspatalin-135-mg-10- tablet-per-strip-tablet Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS MANDIRI


63 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUGAS 3.6 Carilah 2 nama spesialite lain untuk obat kolagoga berikut! Lengkapilah dengan gambar! No. Nama obat Spesialite Gambar Obat 1. Asam kenodeoksikolat 2. Asam ursodeoksikolat TUGAS 3.7 Carilah informasi mengenai spesialit pelindung hati (hepatoprotektor) obat dibawah ini ! No. Gambar Obat Informasi Obat 1. sumber : https://www.k24klik.com/p/curcuma-tab-818 Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 2. sumber : https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/methioson-30-tablet-per-botol-tablet Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS MANDIRI


64 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI Kerjakan soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Jelaskan penggolongan antasida ! 2. Apa yang dimaksud dengan digestiva dan jelaskan penggolongannya ! 3. Jelaskan mekanisme kerja antidiare ! 4. Apa yang dimaksud dengan antispasmodika ? 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kolagoga dan hepatoprotektor ! PENILAIAN AKHIR BAB Setelah mempelajari bab ini diharapkan peserta didik bisa menerapkan pemakaian obat yang berhubungan dengan penyakit pada sistem pencernaan dan pada bab berikutnya akan dibahas mengenai obat yang berhubungan dengan obat-obat susunan saraf pusat (SSP). REFLEKSI


65 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI Setelah mempelajari materi tentang obat susunan saraf pusat, diharapkan peserta didik dapat mengklasifikasi golongan obat susunan saraf pusat dan menerapkan pemakaian obat-obatan yang berkaitan dengan penyakit pada sistem saraf pusat. analgetik, antipiretik, antiemetik, antiepilepsi, psikofarmaka, antipsikotik, antidepresan, hipnotik, sedatif, anestetik, antiparkinson, nootropik (neurotropik). BAB OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF PUSAT IV Analgetik dan antipiretik OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF PUSAT PETA KONSEP Antimetik Antiepilepsi Psikofarmaka: Antipsikotik, Antidepresan Hipnotik dan sedatif Anestetik BAB IV OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF PUSAT Antiparkinson Nootropik (Noeurotropik)


66 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENDAHULUAN Susunan saraf yang mengkoordinasi sistem-sistem saraf lainnya di dalam tubuh manusia dibagi dalam dua golongan yaitu : 1. Susunan saraf pusat (SSP) yang terdiri dari : a. Otak b. Sumsum tulang belakang (spinal cord) 2. Susunan saraf perifer yang tediri atas : a. Saraf otak dan tulang belakang b. Saraf vegetatif (otonom) Dalam bab ini akan dibahas mengenai rangsangan-rangsangan saraf yang berhubungan dengan pusat sakit, pusat tidur dan kapasitas mental. Pusat tidur dan pusat pengatur suhu tubuh terletak pada hipotalamus. Pusat rasa sakit terletak pada cerebrum sedang kapasitas mental merupakan fungsi dari kulit otak (cerebral cortex). Gambar 4.1 Susunan Saraf Pusat Otak dan Sumsum Tulang Belakang (sumber : https://www.pintarbiologi.com/260/sistem-saraf-pada-manusia-saraf.html/amp) Obat-obat yang bekerja terhadap susunan saraf pusat berdasarkan efek farmakodinamiknya dibagi atas dua golongan besar yaitu: 1. Merangsang atau menstimulasi, yang secara langsung maupun tidak langsung merangsang aktivitas otak, sumsum tulang belakang beserta sarafnya. 2. Menghambat atau mendepresi, yang secara langsung maupun tidak langsung memblokir proses tertentu pada aktivitas otak, sumsum tulang belakang dan saraf-sarafnya.


67 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI Materi yang akan dibicarakan pada bab ini adalah : 1. Analgetik dan antipiretik 2. Antiemetik 3. Antiepilepsi 4. Psikofarmaka (Antipsikotik dan Antidepresan) 5. Hipnotik dan Sedatif 6. Anestetik 7. Antiparkinson 8. Nootropik (Neurotropik) PENDAHULUAN MATERI PEMBELAJARAN A. Analgetika Dan Antipiretika Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapeutik meringankan atau menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering memudahkan diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tak mengenakkan, kebanyakan menyiksa dan karena itu berusaha untuk bebas darinya. Asam salisilat, parasetamol dapat mengatasi nyeri ringan hingga sedang, tetapi nyeri yang hebat membutuhkan analgetik sentral yaitu analgetik narkotik. Efek antipiretik menyebabkan obat tersebut mampu menurunkan suhu tubuh pada keadaan demam sedangkan sifat antiinflamasi berguna untuk mengobati radang sendi (artritis reumatoid) termasuk pirai/gout yaitu kelebihan asam urat sehingga pada daerah sendi terjadi pembengkakan dan timbul rasa nyeri. Analgesik antiinflamasi diduga bekerja berdasarkan penghambatan sintesis prostaglandin (penyebab rasa nyeri). Rasa nyeri sendiri dapat dibedakan dalam tiga kategori: 1. Nyeri ringan (sakit gigi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri haid dll), dapat diatasi dengan asetosal, parasetamol bahkan placebo. 2. Nyeri sedang (sakit punggung, migrain, rheumatik), memerlukan analgetik perifer kuat. 3. Nyeri hebat (kolik/kejang usus, kolik batu empedu, kolik batu ginjal, kanker), harus diatasi dengan analgetik sentral atau analgetik narkotik. Penggolongan Analgetik dibagi dalam dua golongan yaitu: 1. Analgetik narkotik (analgetik sentral) Analgetika narkotika bekerja di SSP, memiliki daya penghalang nyeri yang hebat sekali. Dalam dosis besar dapat bersifat depresan umum (mengurangi kesadaran), mempunyai efek samping menimbulkan rasa nyaman (euforia). Hampir semua perasaan tidak nyaman dapat dihilangkan oleh analgesik narkotik kecuali sensasi kulit. Harus hati-hati menggunakan analgesik ini karena mempunyai risiko besar terhadap ketergantungan obat (adiksi) dan kecenderungan penyalahgunaan


68 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI obat. Obat ini hanya dibenarkan untuk penggunaan insidentil pada nyeri hebat (trauma hebat, patah tulang, nyeri infark jantung, kolik batu empedu/batu ginjal). Obat golongan ini hanya dibenarkan untuk penggunaan insidental pada nyeri hebat (trauma hebat, patah tulang, nyeri infark) kolik batu empedu, kolik ginjal. Tanpa indikasi kuat, tidak dibenarkan penggunaannya secara kronik, disamping untuk mengatasi nyeri hebat, penggunaan narkotik diindikasikan pada kanker stadium lanjut karena dapat meringankan penderitaan. Fentanil dan alfentanil umumnya digunakan sebagai premedikasi dalam pembedahan karena dapat memperkuat anestesi umum sehingga mengurangi timbulnya kesadaran selama anestesi. Penggolongan analgesik-narkotik adalah sebagai berikut : a. alkaloid alam : codein, morfin b. derivat semi sintesis : heroin c. derivat sintetik : fentanil, metadon d. antagonis morfin : nalorfin, nalokson dan pentazocin Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping Morfin Indikasi Analgesik selama dan setelah pembedahan, analgesi pada situasi lain. Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala Efek samping Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian. Sediaan Morfin HCl (generik) siruf 5mg / 5ml, tablet 10mg, 30mg, 60mg, injeksi 10mg / ml, 20mg / ml Kodein fosfat Indikasi Nyeri ringan sampai sedang Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala Efek samping Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian. Sediaan Kodein fosfat (generik) tablet 10 mg, 15 mg, 20 mg Fentanil Indikasi Nyeri kronik yang sukar diatasi pada kanker Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala


69 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Efek samping Mual, muntah, konsipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian. Sediaan Bentuk sediaan dapat berupa injeksi atau cakram transdermal (lama kerja yang panjang) Petidin HCl Indikasi Nyeri sedang sampai berat, nyeri pasca bedah Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala Efek samping Mual, muntah, konstipasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan Sediaan Petidin (generik) injeksi 50 mg/ml, tabl 50 mg Tramadol HCl Indikasi Nyeri sedang sampai berat Kontra indikasi Depresi pernafasan akut, alkoholisme akut, penyakit perut akut, peningkatan tekanan otak atau cedera kepala Efek samping Mual, muntah, konstpasi, ketergantungan / adiksi pada over dosis menimbulkan keracunan dan dapat menyebabkan kematian. Sediaan Tramadol (generik) injeksi 50 mg/ml, tablet 50 mg Nalorfin, Nalokson Adalah antagonis morfin, bekerja meniadakan semua khasiat morfin, dan bersifat analgesik. Khusus digunakan pada kasus overdosis atau intoksikasi obat-obat analgetik narkotik. 2. Analgesik nonopioid (nonnarkotik) Disebut juga analgesik perifer karena tidak mempengaruhi susunan saraf pusat. Semua analgesik perifer memiliki khasiat sebagai antipiretik yaitu menurunkan suhu bada pada saat demam. Khasiatnya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipotalamus, mengakibatkan vasodilatasi perifer di kulit dengan bertambahnya pengeluaran kalor disertai keluarnya banyak keringat. Misalnya parasetamol, asetosal, dll. Dan berkhasiat pula sebagai anti inflamasi , anti radang atau anti flogistik. Antiradang sama kuat dengan analgesik, digunakan sebagai antinyeri atau rematik contohnya asetosal, asam mefenamat, ibuprofen. Anti radang yang lebih kuat contohnya fenilbutazon. Sedangkan yang bekerja serentak sebagai anti radang dan analgesik contohnya indometazin Penggolongan Berdasarkan rumus kimianya analgesik perifer digolongkan menjadi :


70 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI a. Golongan salisilat. Asam asetil salisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin. Obat ini diindikasikan untuk sakit kepala, nyeri otot, demam dan lain-lain. Saat ini asetosal makin banyak dipakai karena sifat anti plateletnya. Sebagai contoh aspirin dosis kecil digunakan untuk pencegahan trombosis koroner dan cerebral. Asetosal adalah analgetik antipiretik dan antiinflamasi yang sangat luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Masalah efek samping yaitu perangsangan bahkan dapat menyebabkan iritasi lambung dan saluran cerna dapat dikurangi dengan meminum obat setelah makan atau membuat menjadi sediaan salut enterik (enteric-coated). Karena salisilat bersifat hepatotoksik maka tidak dianjurkan diberikan pada penderita penyakit hati yang kronis b. Golongan para aminofenol Terdiri dari fenasetin dan asetaminofen (parasetamol). Tahun-tahun terakhir penggunaan asetaminofen yang di Indonesia lebih terkenal dengan nama parasetamol meningkat dengan pesat. Efek analgesik golongan ini serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang, dan dapat menurunkan suhu tubuh dalam keadaan demam, dengan mekanisme efek sentral. Fenasetin karena toksisitasnya terhadap hati dan ginjal saat ini sudah dilarang penggunaannya. Efek samping parasetamol dan kombinasinya pada penggunaan dosis besar atau jangka lama dapat menyebabkan kerusakan hati. c. Golongan pirazolon (dipiron) Fenilbutazon dan turunannya saat ini yang digunakan adalah dipiron sebagai analgesik antipiretik, karena efek inflamasinya lemah. Efek samping semua derivat pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia. Di beberapa negara penggunaannya sangat dibatasi bahkan dilarang karena efek samping tersebut, tetapi di Indonesia frekuensi pemakaian dipiron cukup tinggi meskipun sudah ada laporan mengenai terjadinya agranulositosis. Fenilbutazon digunakan untuk mengobati arthritis rheumatoid. d. Golongan antranilat (asam mefenamat) Digunakan sebagai analgesik karena sebagai antiinflamasi kurang efektif dibanding dengan aspirin. Efek samping seperti gejala iritasi mukosa lambung dan gangguan saluran cerna sering timbul. AINS (Analgesik Antiinflamasi Non Steroid) AINS adalah obat-obat analgesik yang selain memiliki efek analgesik juga memiliki efek antiinflamasi, sehingga obat-obat jenis ini digunakan dalam pengobatan rheumatik dan gout. Contohnya ibuprofen, indometasin, diklofenak, fenilbutazon dan piroxicam.


71 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Sebagian besar penyakit rheumatik membutuhkan pengobatan simptomatis, untuk meredakan rasa nyeri penyakit sendi degeneratif seperti osteoartritis, analgesik tunggal atau campuran masih bisa digunakan. Tetapi bila nyeri dan kekakuan disebabkan penyakit rheumatik yang meradang harus diberikan pengobatan dengan AINS. 1. Ibuprofen Adalah turunan asam propionat yang berkhasiat antiinflamasi, analgesik dan antipiretik. Efek sampingnya kecil dibanding AINS yang lain, tetapi efek anti inflamasinya juga agak lemah sehingga kurang sesuai untuk peradangan sendi hebat seperti gout akut 2. Diklofenak Derivat fenilasetat ini termasuk AINS yang terkuat antiradangnya dengan efek samping yang kurang keras dibandingkan dengan obat lainnya seperti piroxicam dan indometasin. Obat ini sering digunakan untuk segala macam nyeri, juga pada migrain dan encok. Secara parenteral sangat efektif untuk menanggulangi nyeri koli hebat (kandung kemih dan kandung empedu). 3. Indometasin Daya analgetik dan anti radang sama kuat dengan asetosal, sering digunakan pada serangan encok akut. Efek samping berupa gangguan lambung usus, perdarahan tersembunyi (okult), pusing, tremor dan lain-lain. 4. Fenilbutazon Derivat pirazolon ini memiliki khasiat antiflogistik yang lebih kuat daripada kerja analgetiknya. Karena itu golongnan ini khususnya digunakan sebagai obat rematik seperti halnya juga dengan oksifenilbutazon. Fenilbutazon ada kalanya dimasukan dengan diam-diam (tidak tertera pada etiket) dalam sediaan-sediaan dari pabrik-pabrik kecil asing, dengan maksud untuk mengobati keadaan-keadaan lesu dan letih, otot-otot lemah dan nyeri. Penyalahgunaannya dalam obat-obat penguat dan tonikum (dengan ginseng) adalah sangat berbahaya berhubung efek merusaknya terhadap sel-sel darah. 5. Piroksikam Bekerja sebagai anti radang, analgetik dan antipiretik yang kuat. Digunakan untuk melawan encok. Efek samping berupa perdarahan dalam lambung usus.


72 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Obat generik 1. Acetosal /asam asetil salisilat Indikasi Nyeri ringan sampai sedang, demam, anti platelet Kontra indikasi Anak dibawah usia 12 tahun, anak yang sedang disusui, gangguan saluran cerna, hemofilia penting untuk menjelaskan kepada keluarga bahwa acetosal adalah obat yang tidak cocok untuk anak yang berpenyakit ringan Efek samping Ringan dan tidak sering yaitu iritasi saluran cerna Sediaan Acetosal (generik) tablet 100mg, 500 mg 2. Parasetamol Indikasi Nyeri ringan sampai sedang, demam Kontra indikasi - Perlu peringatan berkurangnya fungsi hati dan ginjal Efek samping Ringan dan tidak sering yaitu iritasi saluran cerna Sediaan Parasetamol (generik) siruf 120 mg / 5 ml, Tablet 100 mg, 500 mg 3. Dipiron/Methampiron Indikasi Kontra indikasi Efek samping Sediaan Antalgin (generik) cairan injeksi 250 mg/ml 500 mg/ml, tablet 500 mg 4. Asam mefenamat Indikasi Nyeri ringan sampai sedang dan kondisi yang berhubungan dengan dismenore dan menoragi Kontra indikasi Harus digunakan hati-hati pada pasien usia lanjut peradangan usus besar, pada pengobatan jangka lama harus dilakukan tes darah Efek samping Mengantuk, diare, trombositopenia, anemia, dan kejangkejang pada over dosis Sediaan Asam mefenamat (generik) kaptab 250 mg, 500 mg


73 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 5. Ibuprofen Indikasi Nyeri dan radang pada penyakit reumatik dan gangguan otot skelet lainnya. Nyeri ringan sampai berat, termasuk dismenorea, analgesik, pasca bedah, nyeri dan demam pada anak-anak Kontra indikasi Hati-hati pada pasien usia lanjut, gagal ginjal, payah jantung, pengidap tukak lambung aktif Efek samping Gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare, kadangkadang pendarahan dan tukak lambung dan lain-lain) Sediaan Ibuprofen (generik) tablet 200 mg, 400 mg, 600 mg 6. Diklofenak Indikasi Nyeri dan radang pada penyakit reumatik, gangguan otot skelet gout akut dan nyeri pasca bedah Kontra indikasi Hati-hati pada pasien usia lanjut, gagal ginjal, payah jantung, pengidap tukak lambung aktif Efek samping Gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare, kadangkadang pendarahan dan tukak lambung dan lain-lain) Sediaan Kalium diklofenak (generik) tablet 25 mg, 50 mg 7. Indometasin Indikasi Nyeri dan peradangan sedang sampai berat pada kasus reumatik dan gangguan otot skeletal, gout akut, dismenorea Kontra indikasi Hati-hati pada pasien usia lanjut, gagal ginjal, payah jantung, pengidap tukak lambung aktif. Hati-hati juga pada kasus epilepsi, parkinson dan goncangan jiwa. Tidak dianjurkan untuk anak. Efek samping Gangguan cerna, sakit kepala, pusing, kepala terasa ringan, hati-hati khususnya pengemudi Sediaan Indometasin (generik) kapsul 25 mg 8. Fenil butazon Indikasi Penyakit jantung, gangguan paru, ginjal, dan hati kehamilan dengan riwayat tukak lambung, penyakit tiroid, anak dibawah usia 14 tahun. Kontra indikasi Radang tenggorokan, sariawan, gangguan penglihatan, gangguan darah Efek samping Radang tenggorokan, sariawan, gangguan penglihatan, gangguan darah Sediaan Phenylbutazone (generik) kaplet 200 mg


74 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 9. Piroksikam Indikasi Nyeri dan radang pada penyakit reumatik, gangguan otot skelet gout akut Kontra indikasi Hati-hati pada anak umumnya tidak dianjurkan Efek samping Gangguan saluran cerna, tukak lambung, nyeri dapat timbul ditempat penyuntikan. Suppositoria menyebabkan iritasi rektum kadang-kadang pendarahan Sediaan Piroxicam (generik) tablet 10 mg, 20 mg Tabel 4.1 Spesialite Analgetika dan Antipiretika NO GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Acetosal Aspirin Bayer (Acidum Acetylosalicylicum) Aspilets Bodrexin Contrexyn Farmasal Naspro Medifarma Tempo Scan Pacific Supra Ferbindo Farma Fahreinheit Nicholas Parasetamol 2. Panadol Sterling Products Indonesia (Acetaminophenum) Dumin Actavis Tempra Taisho Pharmaceutical Indonesia Medifarma Biogesic Ponstan 3. Asam Mefenamat Pfizer (Acidum Mefenamicum) Mefinal Sanbe Farma Benostan Bernofarm 4. Antalgin Novalgin Sanofi Aventis (Methampyronum) Tropineuron Tropica Mas Unagen Medifarma 5. Tramadol Tramal Pharos 6. Diklofenak Natrium Cataflam Novartis Indonesia Flamar Sanbe Farma Voltaren SR-75 Novartis Indonesia 7. Piroksikam Feldene Pfizer (Piroxicamum) Feldco 20 Coronet Crown Grazeo Graha Farma 8. Fenilbutazon Afitazon Afi Farma 9. Ibuprofen Arthrifen Armoxindo Farma Dolofen F Tempo Scan Pacific 10. Indomethacin Dialon Eisai (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018)


75 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI B. Antiemetika Antiemetika adalah obat-obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan mual dan muntah. Karena muntah hanya suatu gejala, maka yang penting dalam pengobatan adalah mencari penyebabnya. Muntah dapat disebabkan antara lain: 1. Rangsangan dari asam lambung-usus ke pusat muntah karena adanya kerusakan mukosa lambung-usus, makanan yang tidak cocok, hepatitis, dan lain-lain. 2. Rangsangan tidak langsung melalui chemo reseptor trigger one (CTZ) yaitu suatu daerah yang letaknya berdekatan dengan pusat muntah. Rangsangan disebabkan oleh obat-obatan (seperti tetrasiklin, digoksin, estrogen, morfin dll), gangguan keseimbangan dalam labirin, gangguan metabolisme (seperti asidosis, uremia, tidak stabilnya hormon estrogen pada wanita hamil) 3. Rangsangan melalui kulit korteks (cortex cerebri) dengan melihat, membau, merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penggunaan Antiemetik diberikan kepada pasien dengan keluhan sebagai berikut : 1. Mabuk jalan (motion sickness) Disebabkan oleh pergerakan kendaraan darat, laut maupun udara dengan akibat stimulasi berlebihan di labirin yang kemudian merangsang pusat muntah melalui chemo reseptor trigger one (CTZ). 2. Mabuk kehamilan (morning sickness) Pada kasus ringan sebaiknya dihindari agar tidak berakibat buruk pada janin, sedangkan pada kasus berat dapat dipakai golongan antihistamin atau fenotiazin (prometazin) yang kadang dikombinasikan dengan vitamin B6, penggunaannya sebaiknya di bawah pengawasan dokter. 3. Mual atau muntah yang disebabkan penyakit tertentu, seperti pada pengobatan dengan radiasi atau obat-obat sitostatika. Penggolongan Dibagi menjadi 4 yaitu : 1. Antihistamin Sebenarnya kurang efektif tetapi nyaman dipakai dengan efek samping mengantuk. Anti histamin yang dipakai adalah sinarizin, dimenhidrinat dan prometazin teoklat. 2. Metoklopramid dan fenotiazin Bekerja secara selektif di chemo reseptor triger zone (CTZ) tetapi tidak efektif untuk motion sickness. Obat yang dipakai adalah klorpromazin HCl, perfenazin, proklorperazin dan trifluoperazin. 3. Domperidon Bekerja berdasarkan perintangan reseptor dopamin ke CTZ. Efek samping jarang terjadi hanya berupa kejang-kejang usus. Obat ini dipakai pada kasus mual dan muntah yang berkaitan dengan obat-obatan sitostatika.


76 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 4. Antagonis 5 HT3 Bermanfaat pada pasien mual dan muntah yang berkaitan dengan obatobatan sitostatika. Contoh obat : ondansetron. Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping 1. Sinarizin Indikasi Kelainan vestibuler seperti vertigo, tinitus, mual dan muntah Kontra indikasi Kehamilan/menyusui, hipotensi dan serangan asma Efek samping Gejala ekstra piramidal, mengantuk, sakit kepala, dll Sediaan Cinnarizine (generik) tablet 25 mg 2. Dimenhidrinat Indikasi Mual, muntah, vertigo, mabuk perjalanan dan kelainan labirin Kontra indikasi Serangan asma akut, gagal jantung dan kehamilan Efek samping Mengantuk dan gangguan psikomotor Sediaan Generik - 3. Klorpromazin HCl Indikasi Mual dan muntah Kontra indikasi Gangguan hati dan ginjal Efek samping Mengantuk, gejala ekstra piramidal, dll Sediaan Klorpromazin generik tablet 25, 100 mg 4. Perfenazin Indikasi Mual dan muntah berat Kontra indikasi dan efek samping : lihat klorpromazin HCl Sediaan Perfenazin (Generik) tablet 2, 4, 8 mg 5. Proklorperazin Indikasi Mual dan muntah akibat gangguan pada labirin Kontra indikasi dan efek samping : lihat klorpromazin HCl Sediaan Generik - 6. Trifluoperazin Indikasi Mual dan muntah berat Kontra indikasi dan efek samping : lihat klorpromazin HCl Sediaan Trifluoperazin HCl (generik) tabl. 1,5 mg


77 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Tabel 4.2 Spesialite Antiemetika NO GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Dimenhidrinat Antimo Phapros Mantino Sampharindo Perdana Wisatamex Konimex 2. Metoclopramide Vomitrol Takeda Indonesia Piralen Otto 3. Ondansetron Odanostin Ifars 4. Domperidon Motilium Taisho Pharmaceutical Indonesia 5. Pyrathiazine Theoclate + Vitamin B6 Mediamer B6 Darya Varia (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) C. Antiepilepsi Epilepsi dari bahasa Yunani berarti kejang atau di Indonesia lebih dikenal dengan penyakit ayan, adalah gangguan saraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala biasanya disertai perubahan kesadaran. Penyebab epilepsi adalah pelepasan muatan listrik yang cepat, mendadak dan berlebihan pada neuronneuron tertentu dalam otak yang diakibatkan oleh : luka di otak (absen, tumor, arteriosklerosis), keracunan timah hitam dan pengaruh obat-obat tertentu yang dapat memprofokasi serangan epilepsi. Jenis-jenis epilepsi 1. Grand mal (tonik-klonik umum) Timbul serangan-serangan yang dimulai dengan kejang-kejang otot hebat dengan pergerakan kaki tangan tak sadar yang disertai jeritan, mulut berbusa, mata membeliak dan lain-lain disusul dengan pingsan dan sadar kembali. 2. Petit mal Serangannya hanya singkat sekali tanpa disertai kejang. Dalam kasus ini bila serangan berlangsung berturut-turut dengan cepat dapat juga terjadi status epileptikus. 3. Psikomotor (serangan parsial kompleks) Kesadaran terganggu hanya sebagian tanpa hilangnya ingatan dengan memperlihatkan prilaku otomatis seperti gerakan menelan atau berjalan dalam lingkaran. Penggunaan Tujuan pengobatan pada penderita epilepsi adalah : 1. Menghindari kerusakan sel-sel otak 2. Mengurangi beban sosial dan psikologi pasien maupun keluarganya. 3. Profilaksis / pencegahan sehingga jumlah serangan berkurang


78 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Dewasa ini terapi obat pada pasien epilepsi apapun jenisnya selalu dimulai dengan obat tunggal. Pilihan obat ditentukan dengan melihat tipe epilepsi. Dengan pemberian obat tunggal diperoleh keuntungan sebagai berikut : 1. Mudah mengevaluasi hasil pengobatan 2. Mudah mengevaluasi kadar obat dalam darah 3. Efek samping obat minimal 4. Interaksi obat dapat dihindari. Tetapi dalam kenyataannya ternyata 1/3 kasus yang terjadi tidak dapat dikendalikan dengan obat tunggal, harus dengan obat kombinasi. Pemberian obat antiepilepsi selalu dimulai dengan dosis rendah dinaikkan bertahap sampai epilepsi terkendali. Pemutusan obat secara mendadak harus dihindari terutama untuk golongan barbiturat dan benzodiazepin karena dapat memicu kambuhnya serangan. Tindakan non medis yang dilakukan pada penderita epilepsi saat ini adalah menghilangkan penyebab penyakit setelah dilakukan operasi otak serta menjauhkan dari segala faktor penyebab (stress, alkohol dll.) Penggolongan 1. Golongan hidantoin, adalah obat utama yang digunakan pada hampir semua jenis epilepsi, contoh fenitoin. 2. Golongan barbiturat, sangat efektif sebagai antikonvulsi, paling sering digunakan karena paling murah terutama digunakan pada serangan grand mal. Biasanya untuk pemakaian lama dikombinasi dengan kofein atau efedrin guna melawan efek hipnotiknya. Tetapi tidak dapat digunakan pada jenis petit mal karena dapat memperburuk kondisi penderita. Contoh fenobarbital dan piramidon 3. Golongan karbamazepin, senyawa trisiklis ini berkhasiat antidepresif dan antikonvulsif. Digunakan pada jenis grand mal dan psikomotor dengan efektivitas sama dengan fenitoin. 4. Golongan benzodiazepin, memiliki khasiat anksiolitika, relaksasi otot, hipnotika dan antikonvulsiv. Yang termasuk golongan ini adalah diazepam yang dalam hati akan dibiotransformasi menjadi desmetildiazepam yang aktif, klorazepam yaitu derivat klor yang berdaya anti konvulsiv kuat dan klobazepam yaitu derivat 1,5 benzodiazepin yang berkhasiat sebagai anti konvulsiv sekuat diazepam dipasarkan sebagai transquilizer 5. Golongan asam valproat, terutama efektif untuk terapi epilepsi umum tetapi kurang efektif terhadap serangan psikomotor. Efek antikonvulsi asam valproat didasarkan meningkatnya kadar asam gama amino butirat acid (GABA) di dalam otak.


79 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Obat generik, indikasi, kontra indikasi, efek samping 1. Fenitoin Indikasi Semua jenis epilepsi, kecuali petit mal, status epileptikus Kontra indikasi Gangguan hati, hamil, menyusui Efek samping Gangguan saluran cerna, pusing nyeri kepala tremor, insomnia dll Sediaan Phenytoin (generik) kapsul 100 mg, 300 mg 2. Penobarbital Indikasi Semua jenis epilepsi kecuali petit mal, status epileptikus Kontra indikasi Depresi pernafasan berat, porfiria Efek samping Mengantuk, Letargi, depresi mental dll Sediaan Phenobarbital (generik) tabl. 30 lmg, 50 mg cairan inj. 100 mg/ml 3. Karbamazepin Indikasi Epilepsi semua jenis kecuali petit mal neuralgia trigeminus Kontra indikasi Gangguan hati dan ginjal, riwayat depresi sumsum tulang Efek samping Mual, muntah, pusing, mengantuk, ataksia, bingung. Sediaan Karbamazepine (generik) tablet 200 mg 4. Klobazam Indikasi Terapi tambahan pada epilepsi penggunaan jangka pendek untuk ansietas Kontra indikasi Depresi pernafasan Efek samping Mengantuk, pandangan kabur, bingung, amnesia ketergantungan kadang-kadang nyeri kepala, vertigo hipotensi Sediaan Clobazam (generik) tablet 10 mg 5. Diazepam Indikasi Status epileptikus, konvulsi akibat keracunan Kontra indikasi Depresi pernafasan Efek samping Mengantuk, pandangan kabur, bingung, ataksia, amnesia, ketergantungan, kadang nyeri kepala, vertigo Sediaan Diazepam (generik) tablet 2 mg. 5 mg


80 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Tabel 4.3 Spesialite Antiepilepsi NO GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. 2. 3. Natrium Fenitoin Karbamazepin Diazepam Dilantin Tegretol Stesolid Valisanbe Pfizer Novartis Indonesia Actavis Sanbe Farma (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) D. Psikofarmaka Psikofarmaka adalah obat-obat yang berkhasiat terhadap susunan saraf pusat dengan mempengaruhi fungsi psikis dan proses mental. Dalam pembahasan psikofarmaka ini hanya akan dibicarakan obat-obat penyakit jiwa sejati tidak termasuk obat-obat hipnotika, sedativa, anti konvulsi dan amfetamin. Perubahan dan kemajuan farmakoterapi diawali dengan ditemukannya klorpromazin, reserpin sampai ke meprobramat dan senyawa benzodiazepin yang digunakan sebagai transquilizer, tetapi obat-obat modern tersebut tidak dapat menggantikan terapi shock atau terapi renjatan listrik (ECT = Electro Convulsive Therapy) yang masih digunakan oleh psikiater untuk mengatasi depresi hebat dengan kecenderungan bunuh diri. Tetapi keuntungan pengobatan menggunakan obat-obatan ini adalah mudah, murah dan pasien tidak perlu menginap di rumah sakit. Obat-obatan psikofarmaka bekerja langsung terhadap saraf otak dengan mempengaruhi kerja neurotransmitter yaitu suatu neurohormon yang meneruskan impuls dari sistem adrenergik di otak seperti noradrenalin, serotonin dan dopamin. Penggolongan Psikofarmaka dibagi dalam 3 kelompok besar, yaitu: 1. Obat-obat yang menekan fungsi psikis tertentu dalam SSP, dibagi menjadi 2, yaitu: a. Neuroleptika, yaitu obat yanng bekerja sebagai anti psikotis dan sedativa yang dikenal dengan mayor tranquilizer b. Ataraktika / anksiolitika, yaitu obat yangn bekerja sedativa, relaksasi otot dan antikonvulsi yang digunakan dalam keadaan gelisah, takut dan stress, dikenal dengan minor transquilizer. 2. Obat-obat yang menstimulasi fungsi psikis tertentu dalam SSP, dibagi menjadi 2 yaitu: a. Antidepresan, dibagi menjadi thimoleptika yaitu obat yang dapat melawan melankolia dan memperbaiki suasana jiwa serta thimeretika yaitu menghilangkan inaktivitas fisik dan mental tanpa memperbaiki suasana jiwa. b. Psikostimulansia, yaitu obat yang dapat mempertinggi inisiatif, kewaspadaan dan prestasi fisik dan mental dimana rasa letih dan kantuk ditangguhkan, memberikan rasa nyaman (euforia) dan kadang perasaan tidak nyaman tapi bukan depresi (disforia).


81 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 3. Obat-obat yang mengacaukan fungsi mental tertentu antara lain psikodisleptika seperti zat-zat halusinasi, contoh : LSD dan fenasklidin a. Neuroleptika Memiliki beberapa khasiat, yaitu: 1) Antipsikotika, yaitu dapat meredakan emosi dan agresi, mengurangi atau menghilangkan halusinasi, mengembalikan kelakuan abnormal dan schizoprenia. 2) Sedativa, yaitu menghilangkan rasa bimbang, takut dan gelisah, contoh tioridazina 3) Antiemetika, yaitu merintangi neurotransmiter ke pusat muntah, contoh proklorperazin 4) Analgetika, yaitu menaikkan ambang rasa nyeri, contoh haloperidol Obat-obatan ini tidak dapat dikombinasikan dengan obat-obat golongan adrenergik seperti adrenalin, efedrin dan wekamin, karena dapat mengakibatkan penimbunan noradrenalin sehingga menyebabkan hipertensi dan aritmia. Hampir semua obat-obatan neuroleptika memiliki efek samping, antara lain: 1) Gejala ekstrapiramidal yaitu kejang muka, tremor dan kaku anggota gerak, karena disebabkan kekurangan kadar dopamin dalam otak. Gejala ini dapat dihilangkan dengan mengurangi dosis atau menggunakan neuroleptika yang lain. 2) Sedativa, disebabkan efek anti histamin antara lain mengantuk, lelah dan pikiran keruh. 3) Diskenesiatarda, yaitu gerakan tidak sengaja terutama pada otot muka (bibir dan rahang). 4) Hipotensi, disebabkan adanya blokade reseptor alfa adrenergik dab vasodilatasi. 5) Efek antikolinergik dengan ciri-ciri mulut kering, obstipasi dan gangguan penglihatan. 6) Efek antiserotonin menyebabkan gemuk karena menstimulasi nafsu makan. 7) Galaktorea yaitu meluapnya ASI karena menstimulasi produksi ASI secara berlebihan. b. Ataraktika / Anksiolitika Perbedaan antara ataraktika/anksiolitika dengan neuroleptika adalah pada ataraktika/anksiolitika tidak berkhasiat anti psikotis, tidak berkhasiat langsung terhadap sistem saraf otak serta tidak menyebabkan efek ekstrapiramidal. Obat-obat ataraktika memiliki sifat-sifat lain yaitu toksisitasnya ringan, indeks terapinya luas dan dapat menyebabkan adiksi terutama meprobramat. Oleh karena itu pemberiannya harus hati-hati dengan jangka waktu pemakaian paling lama 4 – 6 minggu.


82 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Pada pemakaiannya golongan benzodiazepin seringkali dikombinasikan dengan neuroleptika atau anti depresif untuk mendapatkan efek yang lebih kuat. Sebaiknya dihindari pemakaian obat ini bersama alkohol karena dapat memperkuat kerja obat tersebut. Pengolongan obat-obat ataraktika, dibagi menjadi 2 yaitu : 1) Derivat Benzodiazepin Golongan ini paling banyak digunakan di seluruh dunia. Menurut lama kerjanya dibagi menjadi 2 golongan yaitu: a) Yang bekerja long acting (plasma t ½ lebih dari 20 jam) dengan pemberian dosis tunggal pada malam hari, contohnya klordiazepoksida, klorazepam, klobazam, diazepam dan medazepam. b) Yang bekerja short acting (plasma t ½ kurang dari 14 jam) dengan pemberian beberapa kali sehari agar efeknya bertahan, contohnya oksazepam, oksazolam, lorazepam dan temazepam. 1) Kelompok lain Contoh : Benzoktamin, Hidroksizin dan Meprobramat c. Antidepresan Obat-obat antidepresian bekerja dengan jalan menghambat penyerapan kembali neurotransmiter noradrenalin dan serotonin sehingga otak kekurangan neurotransmiter tersebut. Dikenal 5 macam depresi, yaitu : 1) Depresi endogen atau dikenal dengan melankolia 2) Depresi eksogen yang disebabkan efek samping penggunaan obat seperti obat hipertensi, kortikosteroid, pil KB dan benzodiazepin long acting . 3) Depresi post natal, terjadi pada sementara wanita pascapersalinan 4) Depresi post menopause, terjadi setelah haid terhenti 5) Depresi sinilis, terjadi pada usia lanjut diatas 70 – 75 tahun Antidepresan dibagi dalam 2 golongan, yaitu : 1) Anti depresiva generasi pertama, seringkali disebut anti depresiva trisiklis dengan efek samping gangguan pada sisten otonom dan jantung, contohnya imipramin dan amitriptilin. 2) Anti depresiva generasi kedua, tidak menyebabkan efek anti kolinergik dan gangguan jantung, contohnya meprotilin dan mianserin. Semua antidepresan menunjukan kelambatan dalam efek antidepresivnya setelah pengobatan dimulai yang dikenal dengan waktu laten berkisar 2–4 minggu. Satu kurun pengobatan anti depresiva umumnya diteruskan selama sedikitnya 4 bulan dan tidak boleh dihentikan secara mendadak karena dapat menimbulkan mimpi buruk. Penghentian dilakukan dengan mengurangi dosis sedikit demi sedikit berangsur menurun. Anti depresiva tidak boleh diberikan kepada penderita epilepsi, glaukoma dan prostitis.


83 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI E. Hipnotik Dan Sedatif Hipnotika atau obat tidur berasal dari kata hypnos yang berarti tidur, adalah obat yang diberikan malam hari dalam dosis terapi dapat mempertinggi keinginan tubuh normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur. Sedangkan sedativa adalah obat yang menimbulkan depresi ringan pada SSP tanpa menyebabkan tidur, dengan efek menenangkan dan mencegah kejang-kejang. Setiap mahluk hidup memerlukan waktu tidur yang cukup berkisar antara 6 sampai 8 jam guna mencegah timbulnya pengaruh yang merugikan karena kurang tidur. Pusat tidur terletak di otak yang mengatur fisiologi yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Pada saat tidur aktivitas saraf-saraf parasimpatis dipertinggi yang menyebabkan penyempitan pupil mata (miosis), perlambatan pernafasan dan sirkulasi darah (broncho kontriksi), menurunnya kegiatan jantung dan stimulasi aktivitas saluran cerna dimana peristaltik dan sekresi getah lambung diperkuat. Jadi pada saat tidur proses pengumpulan energi dan pemulihan tenaga dari organisma diperkuat. Insomnia dan Pengobatanya Insomnia atau tidak bisa tidur dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti: batuk, rasa nyeri, sesak nafas, gangguan emosi, ketegangan, kecemasan ataupun depresi. Faktor penyebab inilah yang pertama-tama harus dihilangkan dengan obat-obatan yang sesuai seperti: antitussiva, analgetika, obat-obat vasodilator, antidepresan, sedativa atau transquilizer. Dianjurkan agar penderita mengembangkan kebiasaan tidur yang tetap dan teratur, hindari kopi dan alkohol untuk menahan kantuk. Bila penanganan di atas tidak berhasil, barulah digunakan obat-obat hipnotika dengan dosis serendah mungkin. Hipnotika ini efektif dalam mempercepat dan memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekuensi bangun dan memperbaiki kualitas tidur. Penggunaannya sebaiknya dihentikan segera setelah penderita dapat tidur normal untuk mencegah habituasi dan adiksi. Persyaratan obat tidur yang ideal Obat tidur yang ideal harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain : 1. Menimbulkan suatu keadaan yang sama dengan dengan tidur normal 2. Jika terjadi kelebihan dosis, pengaruh terhadap fungsi lain dari sistem saraf pusat maupun organ lainnya kecil 3. Tidak tertimbun dalam tubuh 4. Tidak menyebabkan kerja ikutan yang negatif pada keesokan harinya 5. Tidak kehilangan khasiatnya pada penggunaan jangka panjang Efek samping Kebanyakan obat tidur memberikan efek samping umum yang mirip dengan morfin, antara lain: 1. Depresi pernafasan, terutama pada dosis tinggi, contohnya flurazepam, kloralhidrat dan paraldehida 2. Tekanan darah menurun, contohnya golongan barbiturat 3. Hang-over, yaitu efek sisa pada keesokan harinya seperti mual, perasaan ringan


84 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI di kepala dan pikiran kacau, contohnya golongan benzodiazepin dan barbiturat 4. Berakumulasi di jaringan lemak karena umumnya hipnotika bersifat lipofil 5. Lain-lain, seperti toleransi dan ketergantungan dan bahaya bunuh diri, contohnya glutetimid dan derivatnya, metaqualon dan derivatnya serta golongan barbiturat Penggolongan Secara kimiawi, obat-obat hipnotika digolongkan sebagai berikut : 1. Golongan barbiturat, seperti fenobarbital, butobarbital, siklobarbital, heksobarbital dan lain-lain 2. Golongan benzodiazepin, seperti flurazepam, nitrazepam, flunitrazepam dan triazolam 3. Golongan alkohol dan aldehida, seperti kloralhidrat dan turunannya serta paraldehida 4. Golongan bromida, seperti garam bromida (kalium, natrium dan amonium) dan turunan urea seperti karbromal dan bromisoval 5. Golongan lain, seperti senyawa piperindindion (glutetimida) dan metaqualon Obat generik, indikasi, kontra indikasi, dan efek samping 1. Diazepam Indikasi Hipnotika dan sedativa, anti konvulsi, relaksasi otot dan anti ansietas (obat epilepsi) Kontra indikasi - Efek samping - Sediaan Diazepam (generik) tablet 2 dan 5 mg 2. Nitrazepam Indikasi lihat diazepam Kontra indikasi - Efek samping Pada penggunaan lama terjadi kumulasi dengan efek sisa (hang over), gangguan koordinasi dan melantur Sediaan - 3. Flunitrazepam Indikasi Hipnotik, sedativa, anestetik premedikasi operasi Kontra indikasi - Efek samping Amnesia (hilang ingatan) Sediaan 4. Kloral Hidrat Indikasi Hipnotika dan sedativa Kontra indikasi - Efek samping Merusak mukosa lambung usus dan ketagihan Sediaan Diazepam


85 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 5. Luminal Indikasi Sedativa, epilepsi, tetanus dan keracunan strikhnin Kontra indikasi - Efek samping Adiksi dan habituasi Sediaan Phenobarbital (Generik) tablet 30 dan 50 mg, Injeksi Tabel 4.4 Spesialite Obat Hipnotik dan Sedatif NO GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Nitrazepam Dumolid Actavis 2. Estazolam Esilgan Takeda Indonesia 3. Diazepam Valium Roche (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) F. Anestetik Istilah anestesi dikemukakan pertama kali oleh O.W Holmes yang artinya tidak ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu: 1. Anestetika umum yaitu rasa sakit hilang disertai dengan kehilangan kesadaran 2. Anestetika lokal yaitu menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran 1. Anestetika umum Tindakan anestesi sudah dikenal sejak dahulu untuk mempermudah tindakan operasi. Orang-orang Mesir menggunakan canabis indica, dan pemukulan kepala dengan tongkat kayu untuk menghilangkan kesadaran seseorang. Tahun 1776 ditemukan anestetika gas yang pertama yaitu N2O, karena dirasa kurang efektif dicarilah zat yang lain. Tahun 1795 eter ditemukan sebagai anestesi inhalasi. Teknik anestesi modern saat ini sudah merupakan praktik yang biasa dilakukan yaitu dengan memberikan beberapa anestetika dengan mekanisme kerja berbeda agar diperoleh keadaan anestetika operasi dengan risiko efek toksik yang minimal. Anestetika suntikan intra vena (i.v) biasa dipakai untuk taraf induksi kemudian dilanjutkan dengan anestetik inhalasi untuk mempertahankan keadaan tidak sadar. Obat khusus sering diberikan untuk menghasilkan relaksasi otot. Untuk prosedur tertentu mungkin dibutuhkan hipotensi terkendali, untuk itu digunakan labetolol dan gliseril trinitrat. Sedang beta bloker seperti adenosin, amiodaron dan verapamil bisa digunakan untuk mengendalikan aritmia selama anestesi. Dalam proses anestesi terdapat taraf-taraf narkosa tertentu yaitu penekanan sistem saraf sentral secara bertingkat dan berturut-turut sebagai berikut: Taraf-taraf narkosa Anestetika umum dapat menekan susunan saraf sentral secara berurutan, yaitu : a. Taraf analgesia, yaitu kesadaran dan rasa nyeri berkurang b. Taraf eksitasi, yaitu kesadaran hilang seluruhnya dan terjadi kegelisahan. Kedua taraf ini disebut taraf induksi


86 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI c. Taraf anestesia, yaitu refleks mata hilang, nafas otomatis dan teratur seperti tidur serta otot-otot melemas (relaksasi) d. Taraf pelumpuhan sumsum tulang, yaitu kerja jantung dan pernafasan terhenti Tujuan narkosa adalah untuk mencapai taraf anastesia dengan sedikit mungkin kerja ikutan atau efek samping, oleh karena itu taraf pertama sampai ketiga adalah yang paling penting sedangkan taraf ke empat harus dihindari. Pada proses recovery (sadar kembali) terjadi dengan urutan taraf terbalik dari taraf ketiga sampai kesatu. Persyaratan anestetika umum Beberapa syarat penting yang harus dipenuhi oleh suatu anestetika umum adalah: a. Berbau enak dan tidak merangsang selaput lendir b. Mula kerja cepat tanpa efek samping c.Sadar kembalinya tanpa kejang d. Berkahasiat analgetik baik dengan melemaskan otot-otot seluruhnya e. Tidak menambah pendarahan kapiler selama waktu pembedahan Guna mencapai narkosa umum yang cukup dalam dan lama digunakan suatu anestetika pokok dengan penambahan suatu obat pembantu, yang bertujuan untuk menghindarkan atau memperkecil kerja ikutan dan memperkuat salah satu khasiat anestetikanya, seperti: a. Sebelum narkosa (premedikasi), diberikan obat-obat sedatif (klorpromazin, morfin dan pethidin) guna meniadakan kegelisahan dan obat-obat parasimpatolitik (atropin) guna menekan sekresi ludah yang berlebihan b. Selama narkose, diberikan obat-obat relaksasi otot (tubokurarin, galamin, dll) c. Setelah narkose (post medikasi), diberikan obat-obat analgetika (methampyron, dll), sedativa (lminal, dll) dan anti emetika (klorpromazin HCl) Kadangkala dipakai kombinasi dari anestetika pokok dengan suatu anestetika lanjutan untuk memperpanjang lamanya narkose, seperti gas N2O dan siklopropan pada narkosa pokok serta barbital-barbital. Efek samping Hampir semua anestetika inhalasi mengakibatkan sejumlah efek samping, yang terpenting diantaranya adalah : a. Menekan pernafasan, paling kecil pada N2O, eter dan trikloretiken b. Mengurangi kontraksi jantung, terutama halotan dan metoksifluran, yang paling ringan pada eter c. Merusak hati, oleh karena sudah tidak digunakan lagi seperti senyawa klor (kloroform) d. Merusak ginjal, khususnya metoksifluran


87 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Penggolongan Menurut penggunaannya anestetika umum dapat digolongkan menjadi 2, yaitu: a. Anestetika injeksi, contohnya diazepam, barbital ultra short acting (tiopental dan heksobarbital), dll b. Anestetika inhalasi, diberikan sebagai uap melalui saluran pernafasan. Contohnya eter, dll Teknik pemberian Pemberian anestetika inhalasi dibagi menjadi 3 cara, yaitu: a. Sistem terbuka, yaitu dengan penetesan langsung ke atas kain kasa yang menutupi mulut atau hidung penderita, contohnya eter dan trikloretilen. b. Sistem tertutup, yaitu dengan menggunakan alat khusus yang menyalurkan campuran gas dengan oksigen dimana sejumlah CO2 yang dikeluarkan dimasukan kembali (bertujuan memperdalam pernafasan dan mencegah berhentinya pernafasan atau apnea yang dapat terjadi bila diberikan dengan sistem terbuka). Karena pengawasan penggunaan anestetika lebih teliti maka cara ini banyak disukai, contohnya siklopropan, N2O dan halotan c. Insuflasi gas, yaitu uap atau gas ditiupkan ke dalam mulut, batang tenggorokan atau trachea dengan memakai alat khusus seperti pada operasi amandel Sediaan, indikasi, kontra indikasi dan efek samping a. Dinitrogen Monoksida (N2O, gas gelak/gas tertawa) Indikasi Anestesi inhalasi Kontra indikasi - Efek samping - Sediaan - b. Enfluran Indikasi Anestesi inhalasi (untuk pasien yang tidak tahan eter) Kontra indikasi - Efek samping Menekan pernafasan, gelisah dan mual Sediaan - c. Halotan Indikasi Anestesi inhalasi Kontra indikasi - Efek samping Menekan pernafasan, aritmia dan hipotensi Sediaan -


88 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI d. Droperidol Indikasi Anestesi inhalasi Kontra indikasi - Efek samping - Sediaan - e. Ketamin Hidroklorida Indikasi Anestesi inhalasi Kontra indikasi - Efek samping Menekan pernafasan (dosis tinggi), halusinasi dan tekanan darah naik Sediaan - f. Tiopental Indikasi Anestesi injeksi pada pembedahan kecil seperti di mulut Kontra indikasi Insufisiensi sirkulasi jantung dan hipertensi Efek samping Menekan pernafasan Sediaan - Tabel 4.5 Spesialite obat - obat anestetika umum NO GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Ketamin Hidroklorida Ketalar Pfizer 2. Enflurane Ethrane Abbot (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) 2. Anestetika lokal. Pengertian Obat anestetika lokal yang pertama dikenal adalah kokain yang diperoleh dari Erythroxylon coca yang dapat memberikan rasa nyaman dan mempertinggi daya tahan tubuh. Pada awalnya di dunia kedokteran digunakan untuk menghilangkan nyeri setempat oleh kedokteran gigi dan mata. Karena kemampuannya untuk merintangi transmisi ke batang otak kemudian dipakai sebagai anestesi blokade saraf pada pembedahan maupun dalam anestesi spinal/umum. Barulah kemudian dibuat anestetika lokal sintetis seperti prokain dan derivatnya seperti lidokain, prilokain dan bupivikain.


89 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Penggunaan Anestetika lokal umumnya digunakan secara parenteral misalnya pembedahan kecil dimana pemakaian anestetika umum tidak dibutuhkan. Anestetika lokal dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : a. Anestetika permukaan, digunakan secara lokal untuk melawan rasa nyeri dan gatal, misalnya larutan atau tablet hisap untuk menghilangkan rasa nyeri di mulut atau leher, tetes mata untuk mengukur tekanan okuler mata atau mengeluarkan benda asing di mata, salep untuk menghilangkan rasa nyeri akibat luka bakar dan suppositoria untuk penderita ambeien/wasir b. Anestetika filtrasi, yaitu suntikan yang diberikan ditempat yang dibius ujung-ujung sarafnya, misalnya pada daerah kulit dan gusi (pencabutan gigi) c. Anestetika blok atau penyaluran saraf, yaitu dengan penyuntikan di suatu tempat dimana banyak saraf terkumpul sehingga mencapai daerah anestesi yang luas, misalnya pada pergelangan tangan atau kaki Obat-obat anestetika lokal umumnya yang dipakai adalah garam kloridanya yang mudah larut dalam air. Untuk memperpanjang daya kerjanya ditambahkan suatu vasokontriktor yang dapat menciutkan pembuluh darah sehingga absorbsi akan diperlambat, toksisitas berkurang, mulai kerja dipercepat dengan khasiat yang lebih ampuh dan lokasi pembedahan praktis tidak berdarah, contohnya adrenalin. Tetapi kombinasi ini tidak boleh digunakan pada jari-jari tangan karena dapat menyebabkan gangrein (jaringan mati). Persyaratan anestetika lokal Anestetika lokal dikatakan ideal apabila memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut : a. Tidak merangsang jaringan b. Tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf sentral c. Toksisitas sistemisnya rendah d. Efektif pada penyuntikan dan penggunaan lokal e. Mula kerja dan daya kerjanya singkat untuk jangka waktu cukup lama f. Larut dalam air dengan menghasilkan larutan yang stabil dan tahan pemanasan (proses sterilisasi) Efek Samping Efek samping penggunaan anestetika lokal terjadi akibat khasiat dari kardio depresifnya (menekan fungsi jantung), mengakibatkan hipersensitasi berupa dermatitis alergi. Penggolongan Secara kimiawi anestetika lokal dibagi 3 kelompok, yaitu : a. Senyawa ester, contohnya prokain, benzokain, buvakain, tetrakain dan oksibuprokain b. Senyawa amida, contohnya lidokain, prilokain, mepivikain, bupivikain, cinchokain dll c. Serba-serbi, contohnya jokain dan benzilalkohol.


Click to View FlipBook Version