The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by E_BOOK SMK BATIK 1 SURAKARTA, 2023-01-26 23:52:27

FARMAKOLOGI JILID 1

Produktif Farmasi

Keywords: Farmakologi

90 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Selain kokain, semua obat tersebut diatas dibuat sintetis. Sediaan, indikasi, kontra indikasi dan efek samping a. Bupivakain Indikasi Anestetika lokal Kontra indikasi - Efek samping - Sediaan - b. Etil Klorida Indikasi Anestetika lokal Kontra indikasi - Efek samping Menekan pernafasan, gelisah dan mual Sediaan - c. Lidokain Indikasi Anestesi filtrasi dan Anestesi permukaan, Antiaritmia Kontra indikasi - Efek samping Mengantuk Sediaan - d. Benzokain Indikasi Anestesi permukaan dan menghilangkan rasa nyeri dan gatal Kontra indikasi - Efek samping - Sediaan - e. Prokain Indikasi Anestesi filtrasi dan permukaan Kontra indikasi - Efek samping Hipersensitasi dan kematian Sediaan - f. Tetrakain Indikasi Anestesi filtrasi Kontra indikasi - Efek samping - Sediaan Obat tetes mata dan tablet hisap


91 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI g. Benzilalkohol Indikasi Menghilangkan rasa gatal, sengatan matahari dan gigi Kontra indikasi Insufisiensi sirkulasi jantung dan hipertensi Efek samping Menekan pernafasan Sediaan - Tabel 4.6 Spesialite Obat-Obat Anestetika Lokal NO GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Lidokain Hidroklorida Pehacain Phapros Kifacain Kimia Farma Xylocain Astra Zenecca 2. Bupivakain Marcain Astra Zenecca (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) G. Antiparkinson Penyakit Parkinson atau penyakit gemetaran yang ditandai dengan gejala tremor, kaku otot atau kekakuan anggota gerak, gangguan gaya berjalan (setapak demi setapak) bahkan dapat terjadi gangguan persepsi dan daya ingat merupakan penyakit yang terjadi akibat proses degenerasi yang progresif dari sel-sel otak (substansia nigra) sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi neurotransmiter yaitu dopamin. Gejala-gejala Parkinson dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Gangguan motorik positif, misalnya terjadi tremor dan rigiditas. Gangguan motorik negatif, misalnya terjadi hipokinesia 2. Gejala vegetatif, seperti air liurdan air mata berlebihan, muka pucat dan kaku (mask face) 3. Gangguan psikis, seperti berkurangnya kemampuan mengambil keputusan, merasa tertekan. Penyebab penyakit parkinson : 1. Idiopatik (tidak diketahui sebabnya) 2. Radang, trauma, aterosklerosis pada otak. 3. Efek samping obat psikofarmaka. Penggunaan Meskipun pengobatan parkinson tidak dapat mencegah progresi penyakit, tetapi sangat memperbaiki kualitas dan harapan hidup kebanyakan pasien. Karena itu pemberian obat sebaiknya dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan sedikit demi sedikit. Penggolongan Berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi: 1. Obat antimuskarinik, seperti triheksifenidil/benzheksol, digunakan pada pasien dengan gejala ringan dimana tremor adalah gejala yang dominan.


92 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 2. Obat antidopaminergik, seperti levodopa, bromokriptin. Untuk penyakit parkinson idiopatik, obat pilihan utama adalah levodopa. 3. Obat antidopamin antikolinergik, seperti amantadine. 4. Obat tremor essensial, seperti haloperidol, klorpromazine, primidon dll. Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping 1. Triheksifenidil Mempunyai daya antikolinergik yang dapat memperbaiki tremor, tetapi kurang efektif terhadap akinesia dan kekakuan. Keluarnya liur yang berlebihan juga dipengaruhi secara baik olehnya. Dapat terjadi toleransi, kombinasi dengan levodopa sangat berguna . 2. Biperiden Derivat yang terutama efektif terhadap akinesia dan kekakuan, kurang aktif tehadap tremor. Efek samping kurang-lebih sama Indikasi Parkinson, gangguan ekstrapiramidal karena obat Kontra indikasi Retensi urine, glaukoma, tersumbatnya saluran cerna. Efek samping Gangguan lambung usus, mulut kering, gangguan penglihatan dan efek-efek sentral (gelisah, sulit tidur, halusinasi). Sediaan Trihexiphenidil (generik) tabl 2mg, 5mg 3. Levodopa. Zat pelopor dopamin ini mudah memasuki cairan otak untuk diubah menjadi Dopamin. Levodopa terutama efektif terhadap hipokinesia dan kekakuan, sedangkan terhadap tremor umumnya kurang efektif dibandingkan dengan antikolinergik. Efek samping mual dan muntah dapat dilawan dengan domperidom, antagonis dopamin yang secara selektif menduduki reseptorreseptor dopamin di lambung. Indikasi Parkinsonisme bukan karena obat Kontra indikasi Glaukoma, penyakit psikiatri berat Efek samping Anoreksia, mual,muntah, insomnia dll Sediaan 4. Bromokriptin Bekerja sebagai antagonis dopamin, obat ini semula digunakan pada pasienpasien parkinson hanya dimana erek-efek dopa berkurang setelah beberapa tahun dan efeknyapun menjadi lebih singkat, bersamaan dengan lebih seringnya terjadi efek samping. Indikasi Parkinsonisme (bukan karena obat) Kontra indikasi - Efek samping Gangguan lambung usus, pada dosis tinggi halusinasi, gangguan psikomotor dan lain-lain


93 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 5. Amantadine. Obat antiinfluenza ini secara kebetulan ditemukan daya anti parkinsonnya. Khasiatnya menyerupai levodopa, tetapi jauh lebih lemah dan efeknya nampak setelah satu minggu. Mekanisme kerja melalui memperbanyak pelepasan dopamin dari ujung-ujung saraf. Efek samping lebih ringan dari levodopa, pada dosis biasa tidak sering terjadi antara lain mulut kering, gangguan penglihatan, hipotensi ortostatik, kadang-kadang terjadi udema mata kaki. Tabel 4.7 Spesialite Antiparkinson. NO GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Trihexyphenidil Artane Lederle, Phapros 2. Levodopa Levopar Meprofarm 3. Bromocriptin Mesilate Parlodel Novartis Indonesia (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) H. Nootropik (Neurotropik) Nootropik adalah obat yang digunakan pada gangguan (insufisiensi) cerebral seperti mudah lupa, kurang konsentrasi dan vertigo. Gangguan pada sirkulasi darah di otak seringkali ditemukan pada lansia diatas usia 60 tahun. Gejalanya dapat berupa kelemahan ingatan jangka pendek dan konsentrasi, vertigo, kuping berdengung, jari-jari dingin dan depresi. Usia harapan hidup penduduk dunia akan semakin panjang sehingga jumlah orang yang menderita gangguan sirkulasi di otak akan meningkat. Dengan demikian diduga obat-obatan dikelompok ini akan menjadi semakin penting. Obat generik, indikasi, kontra indikasi dan efek samping 1. Piracetam Obat ini diindikasikan untuk gejala dengan proses menua seperti daya ingat berkurang, terapi pada anak seperti kesulitan belajar. 2. Pyritinol HCl Obat ini diindikasikan untuk pascatrauma otak, perdarahan otak, gejala degenerasi otak sehubungan gangguan metabolisme. 3. Mecobalamin Obat ini diindikasikan untuk terapi neuropati perifer. 4.8 Tabel Spesialite Obat Neurotropik NO. GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Pyritinol HCl Enchepabol Merck Indonesia 2. Piracetam Nootropil UCB Pharma 3. Mecobalamin Methycobal Eisai (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018)


94 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI CAKRAWALA Meskipun dikenal sebagai analgetik, aspirin dosis kecil dapat digunakan sebagai antiplateletet. Asetosal dengan dosis 150-300 mg yang diberikan sebagai dosis tunggal dapat diberikan segera setelah kejadian iskemik dan kemudian diikuti dengan pemberian jangka panjang asetosal 75 mg sehari sekali untuk mencegah serangan penyakit jantung selanjutnya. Gambar 4.2 Contoh Asetosal Kekuatan Dosis 80 mg untuk profilaksis angina pektoris dan infark miokardium (sumber : http://www.darya-varia.com/search?q=aspilet) Asetosal dosis 75 mg sehari juga diberikan setelah operasi bypass jantung (sumber : http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-2-sistem-kardiovaskuler-0/27-antiplatelet ) Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai obat-obat susunan saraf pusat para siswa sekalian dapat mempelajari secara mandiri di internet. Melalui internet kalian bisa mengakses lebih jauh materi tentang obat-obat susunan saraf pusat. Salah satu website yang dapat dikunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman kalian tentang obatobat susunan saraf pusat adalah sebagai berikut : http:// pionas.pom.go.id/ioni/bab-4-sistem-saraf-pusat JELAJAH INTERNET


95 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI 1. Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapeutik meringankan atau menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. 2. Antiemetik adalah obat-obat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan perasaan mual dan muntah 3. Antiepilepsi adalah obat-obatan yang digunakan pada gangguan saraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala biasanya disertai perubahan kesadaran 4. Psikofarmaka (Antipsikotik dan Antidepresan). Psikofarmaka adalah obatobat yang berkhasiat terhadap susunan saraf pusat dengan mempengaruhi fungsi psikis dan proses mental. Antipsikotik dapat meredakan emosi dan agresi, mengurangi atau menghilangkan halusinasi, mengembalikan kelakuan abnormal dan schizoprenia. Antidepresan, dibagi menjadi thimoleptika yaitu obat yang dapat melawan melankolia dan memperbaiki suasana jiwa serta thimeretika yaitu menghilangkan inaktivitas fisik dan mental tanpa memperbaiki suasana jiwa. 5. Hipnotika atau obat tidur berasal dari kata hypnos yang berarti tidur, adalah obat yang diberikan malam hari dalam dosis terapi dapat mempertinggi keinginan tubuh normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur. Sedangkan sedativa adalah obat yang menimbulkan depresi ringan pada SSP tanpa menyebabkan tidur, dengan efek menenangkan dan mencegah kejangkejang. 6. Anestetika adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu: anestetika umum yaitu rasa sakit hilang disertai dengan kehilangan kesadaran dan anestetika lokal yaitu menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran 7. Antiparkinson adalah obat-obatan yang digunakan pada penyakit Parkinson atau penyakit gemetaran yang ditandai dengan gejala tremor, kaku otot atau kekakuan anggota gerak, gangguan gaya berjalan (setapak demi setapak) bahkan dapat terjadi gangguan persepsi dan daya ingat merupakan penyakit yang terjadi akibat proses degenerasi yang progresif dari selsel otak (substansia nigra) sehingga menyebabkan terjadinya defisiensi neurotransmiter yaitu dopamin. 8. Nootropik (neurotropik) adalah obat yang digunakan pada gangguan (insufisiensi) cerebral seperti mudah lupa, kurang konsentrasi dan vertigo RANGKUMAN


96 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUGAS 4.1 1. Carilah 5 nama spesialite lain untuk obat analgetik-antipiretik berikut! Lengkapilah dengan informasi indikasi, dosis, kontraindikasi, efek samping! a. Parasetamol b. Asetosal c. Ibuprofen 2. Gambarkan penandaan logo obat analgetik berikut : a. tablet morfin b. tablet meloxicam c. sirup parasetamol TUGAS 4.2 Carilah informasi obat antiemetik di bawah ini! No. Gambar Obat Informasi Obat 1. sumber : https://www.k24klik.com/p/vometa-5ml-ml-drop10ml-3807 Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 2. sumber : https://www.k24klik.com/p/antimo-anak-syr-strawbery5ml-1632 Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS MANDIRI


97 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Gambar Obat Informasi Obat 3. sumber : https://www.klinikindonesia.com/m/metoklopramid.php Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 4. sumber : https://www.k24klik.com/p/ondansetron-4mg-2304 Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS 4.3 Carilah 1 gambar/foto spesialite obat antiepilepsi di bawah ini lalu tempel pada lembar aktivitas dan beri informasi obat! LEMBAR AKTIVITAS SISWA No. Nama obat Gambar Obat Informasi Obat 1. Diazepam Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : Psikotropika TUGAS MANDIRI


98 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Nama obat Gambar Obat Informasi Obat 2. Fenobarbital Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : 3. Asam valproat Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : 4. Klobazam Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : TUGAS 4.4 Carilah informasi obat antipsikosis di bawah ini! No. Nama obat Golongan kimia Dosis Efek Samping 1. Klorpromazin 2. Klorprotiksen 3. Haloperidol 4. Pimozida TUGAS 4.5 Tugas kelompok dimulai dengan membagi anggota kelas menjadi 3 kelompok. Setiap kelompok membuat brosur obat di kertas ukuran A5 dari obat antidepresan berikut dari sumber literatur yang relevan. Brosur obat memuat bentuk sediaan, indikasi, dosis, kontraindikasi, efek samping, dan perhatian. 1. amitriptilin 2. mirtazapin 3. fenelzin Contoh brosur TUGAS MANDIRI


99 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI AMITRIPTILIN Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Perhatian : Pabrik : PT Sehat Farma (buat nama pabrik sendiri) Tanggal Kadaluarsa : 05 2022 (buat tanggal sendiri) TUGAS 4.6 Carilah 2 nama spesialite lain untuk obat hipnotik-sedatif berikut! Lengkapilah dengan gambar! No. Nama obat Spesialite Gambar Obat 1. Diazepam 2. Alprazolam TUGAS 4.7 Lengkapi teka-teki silang yang berkaitan dengan anestetik berikut ini! Mendatar 2. Jenis anestetik lokal dimana suntikan diberikan di lokasi yang merupakan tempat ujung sarafnya 4. Tahapan anestesi saat kesadaran dan rasa nyeri berkurang yaitu taraf… 5. Contoh obat anestesi inhalasi sistem terbuka Menurun 1. Contoh obat anestesi filtrasi 3. Contoh obat anestesi inhalasi sistem terbuka TUGAS MANDIRI


100 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI 1 2 3 4 5 TUGAS 4.8 Tugas kelompok dimulai dengan membagi anggota kelas menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok mencari drug fact dari obat antiparkinson berikut dari sumber literatur yang relevan. Setiap kelompok mempresentasikan hasil temuannya secara bergantian di depan kelas menggunakan aplikasi Microsoft Power Point. 1. Levodopa 2. Triheksifenidil 3. Bromokriptin 4. Selegilin TUGAS 4.9 Nootropik (Neurotropik) Carilah 5 nama obat dan gambar/foto spesialite obat nootropik (neurotropik) berbeda lalu tempel pada lembar aktivitas dan beri informasi obat! No. Nama obat Gambar Obat Informasi Obat 1. Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Perhatian : 2. Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Perhatian : 3. Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Perhatian : TUGAS MANDIRI


101 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI 4. Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Perhatian : 5. Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Perhatian : TUGAS MANDIRI Kerjakan soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Jelaskan penggolongan obat nootropik (neurotropik)! 2. Jelaskan penggolongan obat antidepresan! 3. Apa saja efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obat antipskotika? 4. Apa yang dimaksud antiepilepsi? 5. Jelaskan apa saja obat yang digunakan untuk melengkapi anestesi umum! PENILAIAN AKHIR BAB Setelah mempelajari bab ini, Anda tentu menjadi lebih tahu dan paham tentang menerapkan pemakaian obat yang berhubungan dengan penyakit pada sistem saraf pusat. Dari semua materi yang sudah dipelajari dan dijelaskan pada bab yang satu ini, manakah menurut Anda paling sulit dimengerti atau dipahami? Apabila ada materi yang kurang dipahami, silakan didiskusikan lagi dengan Guru atau teman Anda. Tidak lupa dapat disampaikan juga kekurangan atau kelebihan kegiatan pembelajaraan pada bab satu ini kepada guru Anda. REFLEKSI


102 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL A. PILIHAN GANDA Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1. Bagian anatomi yang bernama tulang betis disebut ... a. femur b. patula c. fibula d. tibia e. ulna 2. Organ yang bertugas memompa darah keseluruh bagian tubuh adalah ... a. Pembuluh darah b. ginjal c. jantung d. paru-paru e. hati 3. Sistem saraf pusat terdiri atas... a. Otak dan sumsum tulang belakang b. Sistem saraf otonom dan somatik c. Otak dan somatik d. Sistem saraf otonom dan sumsum tulang belakang e. Sumsum tulang belakang 4. Sediaan suppositoria dapat diberikan melalui rute ... a. rektal b. injelsi c. intranasal d. parenteral e. transdermal 5. Rute berikut dapat digunakan untuk memberikan sediaan berupa tablet dan sirup, yaitu ... a. oral b. injeksi c. oromukosa d. implantasi e. transdermal 6. Kerugian dari rute pemberian secara oral adalah ... a. Obat tidak dapat berefek sistemik b. Obat dapat dimetabolisme oleh hati c. Penggunaannya memerlukan tenaga medis d. Efek yang diberikan hanya bekerja secara lokal e. Obat mudah terurai menjadi zat kimia yang toksik 7. Obat yang menggunakan nama resmi yang terdapat dalam Farmakope Indonesia, disebut ... a. Paten b. Generik c. Diagnosis d. Kemoterapi e. Farmakodinamika PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL


103 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 8. Natrium propanoat untuk mendeteksi peyakit saluran empedu termasuk golongan obat ... a. paten b. generik c. subsitusi d. diagnosis e. kemoterapi 9. Obat yang sring dikombinasikan dengan antasida adalah ... a. Sedativa, antiemetik, antidiare, laksativa b. Antikolinergik, antipiretika, analgetik, sedativa c. Antiemetik, antikolinergik, antidiare, laksativa d. Sedativa, antikolinergik, spasmolitik, dimetikon e. Antispasmodik, antiflatulen, antiemetik, antidiare 10. Seorang datang ke apotik dan mengeluhkan perih di lambung dan kembung. Ketika dianalisis, pasien tersebut diperkirakan mengalami kelebihan asam lambung sehingga obat yang diberikan untuk pasien tersebut adalah dari golongan obat ... a. Digestiva b. Laksativa c. Antasida d. Antiemetika e. Antispasmodik 11. Mekanisme kerja ranitidin sebagai antihiperasiditas adalah ... a. Membentuk lapisan pelindung pada luka di lambung b. Menghambat keluarnya proton (ion H+) pada pompa proton c. Menetralkan kelebihan asam lambung dengan gugus hidroksilnya d. Mengurangi sekresi asam lambung dengan menghambat reseptor H2 e. Mengakibatkan efek tambahan baik konstipasi maupun laksativa (diare) 12. Antidiare berikut yang bekerja menekan peristaltik usus ... a. Tannin b. Attalpugit c. Loperamid d. Kaolin dan pektin e. Karbo adsorben 13. Spesialite yang berisi senyawa kaolin dan pektin sebagai antidiare ... a. Imodium b. Bekarbon c. Kaopectate d. New diatab e. Neo entrostop 14. Pencahar yang bekerja dengan jalan melunakan feses dan melicinkan jalannya defekasi ... a. Bisacodil b. Paraffin cair c. Magnesium sulfat d. Glikosida antrakinon e. Karboksimetilselulosa


104 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 15. Hepatoprotektor berikut yang mengandung metionin dan vitamin adalah ... a. Curcuma b. Methicol c. Heparvoiton d. Metildopa e. Metampironum 16. Pernyataan yang benar tentang analgetika perifer adalah ... a. Bekerja pada susunan saraf pusat b. Digunakan pada keadaan nyeri hebat c. Berisiko besar ketergantungan obat (adiksi) d. Dapat bersifat depresan/menurunkan kedaran e. Selain berefek analgetik, juga bekerja sebagai antipiretika. 17. Antagonis morfin yang bekerja meniadakan semua khasiat morfin dan digunakan pada kasus overdosis/intoksikasi analgetik/narkotika adalah ... a. Morfin b. Fentanil c. Nalikson d. Tramadol e. Heroin 18. Meskipun dikenal sebagai analgetika, aspirin dosis kecil justru digunakan sebagai ... a. Antiinflamasi b. Antipiretika c. Antiflogistik d. Antiplatelet e. Antihipertensi 19. Efek samping analgetika golongan pirazolon adalah ... a. Anemia aplastik b. Hepatotoksisitas c. Nefrotoksik d. Nausea e. Tremor 20. Antiemetika golongan antikolinergik yang juga berkhasiat antihistamin adalah... a. Granisetron dan ondansetron b. Klorpromazin dan haloperidol c. Prometazin dan dimenhidrinat d. Metokloporpamid dan domperidon e. Deksamethason dan metilprednisolon 21. Salah satu analgetika golongan penghambat COX-2 adalah ... a. Tramadol b. Propifenazon c. Paracetamol d. Fenasetin e. Rofexocib


105 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 22. Antiemetika adalah obat yang digunakan untuk mengurangi rasa mual dan muntah. Salah satu antiemetika yang merupakan antagonis serotonin adalah... a. Ondansetron b. Dimetilhidrinat c. Metoklopramid d. Domoperidon e. Deksamethason 23. Mekanisme kerja antiepilepsi adalah ... a. Mengurangi rasa nyeri secara sentral/pusat b. Menghambat kerja asetilkolin dengan blokade resptor H-1 c. Memblokade reseptor dopamin sehingga menghambat nourotranmisi d. Melalui GABA dan glisin ,emghambat neurotransmisi listrik di sinaps selsel saraf e. Menurunkan kesadaran dengan jalan mempengaruhi proses psikis atau kejiwaan penderita 24. Antipsikotik klasik efektif untuk mengatasi simtom positif , seperti waham dan halusinasi. Berikut ini yang tidak termasuk antipsikotik adalah ... a. Klorpromazin b. Haloperidol c. Pimozida d. Risperidon e. Trifluoroperazin 25. Sitalopram adalah salah satu antidepresan, obat ini termasuk kedalam golongan ... a. Zat trisiklik b. Zat tetrasiklik c. SSRI d. NaSA e. Inhibitor MAO 26. Obat-obat yang digunakan selama masa narkosa antara lain relaksan otot. Senyawa yang dapat diberikan untuk mendapatkan efek ini adalah ... a. Klordiazepoksida b. Atropin c. Methampiron d. Diazepam e. Tubokurarin 27. Hipnotik-sedatif yang berasal dari golongan bezoldiazepin cukup banyak. Berikut ini yang bukan termasuk golongan benzoldiazepin adalah ... a. Meprobamat b. Klordiazepoksid c. Lorazepam d. Oksazepam e. Nitrazepam


106 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENILAIAN AKHIR SEMESTER GASAL 28. Anestesi lokal yang juga digunakan sebagai antiaritmia karena efek depresi pada kardiovaskular adalah ... a. Lidokain b. Benzil alkohol c. Benzokain d. Anestesin e. Eter 29. Peran berbagai antiparkinson akan membantu ... a. Menguraikan dopamin di otak b. Meningkatkan produksi dopamin c. Meningkatkan kerja parasimpatomimetik d. Menstimulasi kerja sistem saraf kolinergik e. Menghambat penguraian levedopa menjadi dopamin 30. Obat antiparkinson yang menyerupai levedopa dan berkhasiat antiinfluenza adalah ... a. Levodopa b. Biperiden c. Amantadin d. Bromokriptin e. Triheksilfenidil B. Uraian Kerjakan soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Jelaskan sistem organ tubuh manusia serta fungsinya! 2. Jelaskan cara pemberian obat yang menghasilkan efek sistemik dan efek lokal! 3. Sebutkan obat generik dan indikasinya yang digunakan pada penyakit gangguuan sistem pencernaan! 4. Jelaskan penggolongan obat-obat hipnotika-sedattif! 5. Sebutkan obat-obat yang termasuk kedalam analgetik nonnarkotika dan analgetik narkotika!


107 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI Setelah mempelajari materi tentang obat susunan saraf otonom, diharapkan peserta didik dapat mengklasifikasi golongan obat susunan saraf otonom dan menerapkan pemakaian obat yang berkaitan dengan penyakit pada sistem saraf otonom. parasimpatomimetik, parasimpatolitik, kolinergik, antikolinergik, simpatomimetik, simpatolitik, adrenergik, adrenolitik. BAB OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF OTONOM V PETA KONSEP BAB V OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF OTONOM OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF OTONOM Zat yang bekerja pada saraf parasimpatis Zat yang bekerja pada saraf simpatis parasimpatomimetik/ Kolinergik Parasimpatolitik/ Antikolinergik simpatomimetik/ adrenergik simpatolitik/ adrenolitik


108 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENDAHULUAN Susunan saraf otonom adalah susunan saraf yang bekerja tanpa mengikuti kehendak kita. Misalnya detak jantung, mata berkedip, kesadaran, pernafasan maupun pencernaan makanan. Menurut fungsinya, susunan saraf otonom dibagi menjadi 2 bagian, antara lain: 1. Susunan saraf simpatis (adrenergik dan adrenolitik) 2. Susunan saraf parasimpatis (kolinergik dan antikolinergik) Gambar 5.1 Kerja Sistem Saraf Otonom sumber : https://sel.co.id/mengenal-sistem-saraf-tepi-sst-lebih-lengkap/ Pada umumnya kedua saraf ini bekerja berlawanan tetapi dalam beberapa hal khasiatnya berlainan sekali atau bahkan bersifat sinergis. Rangsangan dari susunan saraf pusat untuk sampai ke ganglion efektor memerlukan suatu penghantar yang disebut transmiter neurohormon atau neurotransmiter. Bila rangsangan tersebut berasal dari saraf simpatis maka neurohormon yang bekerja adalah noradrenalin (adrenalin) atau norepinephrin (epinefrin). Sebaliknya apabila rangsangan tersebut berasal dari saraf parasimpatis, maka yang neurohormon yang bekerja adalah asetilkolin. Untuk menghindarkan kumulasi dari neurohormon yang dapat mengakibatkan perangsangan saraf terus menerus maka neurohormon harus diuraikan oleh enzim khusus yang terdapat dalam darah maupun jaringan. Untuk neurohormon noradrenalin diuraikan oleh enzim metil transferase dan di dalam hati oleh Mono Amin Oksidase


109 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI PENDAHULUAN MATERI PEMBELAJARAN Pembagian syaraf Otonom A. Saraf Simpatis 1. Adrenergik (simpatomimetik) Berdasarkan titik kerjanya pada sel-sel efektor dari organ ujung adrenergik dibagi menjadi reseptor α (alfa) dan β (beta), dan berdasarkan efek fisiologisnya dibagi menjadi α1 (alfa-1) dan α2 (alfa-2) serta β1 (beta-1) dan β2 (beta-2). Pada umumnya stimulasi pada reseptor menghasilkan efek-efek sebagai berikut: a. Alfa-1, mengaktivasi organ-organ efektor seperti otot-otot polos (vasokontriksi) dan sel-sel kelenjar dengan efek bertambahnya sekresi ludah dan keringat. b. Alfa-2, yaitu menghambat pelepasan noradrenalin pada saraf-saraf adrenergik dengan efek turunnya tekanan darah. c. Beta-1, yaitu memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung. d. Beta-2, yaitu bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak Penggunaan obat-obat adrenergik, antara lain: a. Shock, dengan memperkuat kerja jantung (β1) dan melawan hipotensi (α), contohnya adrenalin dan noradrenalin b. Asma, dengan mencapai bronkodilatasi (β2), contohnya salbutamol dan turunannya, adrenalin dan efedrin. c. Hipertensi, dengan menurunkan daya tahan perifer dari dinding pembuluh melalui penghambatan pelepasan noradrenalin (α2), contohnya metildopa (MAO) sedangkan neurohormon asetilkolin diuraikan oleh enzim kolinesterase. Obat-obat otonom bekerja mempengaruhi penerusan impuls dalam susunan saraf otonom dengan jalan mengganggu sintesa, penimbunan, pembebasan atau penguraian neurohormon tersebut dan khasiatnya atas reseptor spesifik. Penggolongan Berdasarkan khasiatnya obat-obat saraf otonom dibagi menjadi : A. Obat yang berkhasiat terhadap saraf simpatis: 1. Simpatomimetik/adrenergik, yaitu obat yang meniru efek perangsangan dari saraf simpatis (oleh noradrenalin), contohnya efedrin, isoprenalin dll 2. Simpatolitik/adrenolitik, yaitu obat yang meniru efek bila saraf simpatis ditekan atau melawan efek adrenergik, contohnya alkaloida secale, propranolol, dll B. Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatis: 1. Parasimpatomimetik/kolinergik, yaitu obat yang meniru perangsangan dari saraf parasimpatis oleh asetilkolin, contohnya pilokarpin dan phisostigmin. 2. Parasimpatolitik/antikolinergik, yaitu obat yang meniru bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek kolinergik, contohnya alkaloida belladonna


110 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI dan klonidin. d. Vasodilator perifer, dengan menciutkan pembuluh darah di pangkal betis dan paha (claudicatio intermitens). e. Pilek (rhinitis), guna menciutkan selaput lendir yang bengkak (α) contohnya imidazolin, efedrin dan adrenalin. f. Midriatikum, yaitu dengan memperlebar pupil mata (α), contohnya fenilefrin dan nafazolin. g. Anoreksans, dengan mengurangi napsu makan pada obesitas (β2), contohnya fenfluramin dan mazindol. h. Penghambat his dan nyeri haid (dysmenore) dengan relaksasi pada otot rahim (β2), contohnya isoxuprin dan ritordin. Zat tersendiri a. Adrenalin atau epinefrin Memiliki semua khasiat adrenergik α dan β dengan efek β lebih kuat seperti stimulasi jantung dan bronkodilatasi. Obat ini digunakan pada 1) Kolaps, shock, atau jantumg berhenti 2) Asma (diberikan dalam bentuk injeksi karena terurai oleh asam lambung) 3) Glaukoma dengan efek midriatik 4) Pilek dan hidung tersumbat dengan efek dekongestif 5) Anestetika lokal guna memperpanjang efeknya Efek samping pada dosis tinggi adalah nekrosis jaringan menjadi mati karena vasokontriksi, dan akhirnya kolaps. b. Dopamin Bekerja meningkatkan tekanan sistolik pada penderita shock serta meningkatkan aliran darah ginjal dan glomerulus. Efek samping pada dosis tinggi menimbulkan efek adrenergik yang hebat dengan efek lain berupa nausea, muntah, takikardia, aritmia, nyeri dada, kepala dan hipertensi. c. Efedrin Alkaloida dari tumbuhan Ephedra vulgaris yang sekarang ini dibuat secara sintetis. Digunakan pada penderita asma atas dasar efek bronkodilatasinya yang lama, dekongestiv dan midriatik. Efek samping dosis tinggi pada jantung yaitu cemas, gelisah, sukar tidur, gemetaran dan takikardia serta kerja sentral. Pseudo efedrin merupakan isomer efedrin yang dikombinasikan dengan dengan obat-obat batuk dan pilek sedangkan norefedriun adalah turunan efedrin yang dikombinasikan dengan obat-obat asma dan batuk. d. Isoprenalin Memiliki efek bronkodilatasi dan stimulasi jantung maka digunakan untuk pengobatan dan pencegahan serangan asma. Karena absorbsi dalam usus tidak sempurna maka biasanya digunakan dalam bentuk sublingual, inhalasi atau spray. Efek samping dosis tinggi pada jantung adalah berdebar, gelisah,


111 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI gemetaran dan muka merah. Turunan yang paling sering digunakan adalah feneterol, terbutalin dan salbutamol. e. Fenilefrin Berdasarkan khasiat vasokontriksi perifer maka digunakan sebagai obat : 1) Hipotensi (kolaps) 2) Midriatik pada mata (5-10%) 3) Dekongestif untuk menciutkan mukosa hidung yang bengkak f. Derivat imidazolin Khusus digunakan sebagai dekongestif untuk menciutkan selaput lendir hidung dan mata pada keadaan pilek atau selesma (rhinitis dan sinusitis) dengan kerja lebih lama dari efedrin. g. Amfetamin Adalah kelompok amin simpatomimetik yang berkhasiat bronchodilatasi lemah. Memiliki khasiat kuat terhadap SSP terutama merangsang pusat pernafasan dengan meningkatkan kecepatan dan volume nafas. Digolongkan dalam psikostimulansia yaitu obat-obat yang merangsang aktivitas fisik dan mental berupa: 1) Mempertinggi inisiatif dan kelincahan 2) Memperbesar prestasi dan kepercayaan diri serta daya konsentrasi 3) Hilangnya rasa mengantuk dan lelah 4) Dapat menimbulkan efek euforia atau rasa nyaman dan bersifat adiksi 5) Menekan nafsu makan untuk anoreksansia atau antiobesitas dan anti dotum pada intoksikasi obat tidur Adanya sifat adiktif dan euforia menyebabkan penyalahgunaan obat atau drug abuse terutama untuk meningkatkan prestasi dalam dunia olahraga (dopping). Efek samping obat tersebut ialah mulut kering, gelisah, sakit kepala dan tidak bisa tidur, sedangkan pada dosis tinggi dapat timbul rasa lelah, depresi, halusinasi dan tekanan darah naik. 1. Adrenolitik (simpatolitik) Berdasarkan mekanisme kerjanya pada adrenoreseptor dapat digolongkan: a. Alfa bloker Adalah zat-zat yang memblokir dan menduduki reseptor alfa sehingga melawan vasokontriksi perifer yang disebabkan noradrenalin. Efek utamanya adalah vasodilatasi perifer dan digunakan pada gangguan sirkulasi untuk memperlancar darah di bagian kulit. Contohnya derivat imidazolin (tolazin, fentolamin), derivat haloalkilamin (dibenamin, fenoksi-benzamin), alkaloida secale (ergotamin, ergotoksin, dll), prazosin, tetrazosin dan yohimbin. b. Beta Bloker Zat-zat yang menduduki reseptor beta sehingga melawan efek stimulasi noradrenalin pada jantung dan efek bronchodilatasinya. Digunakan pada pengobatan gangguan jantung (angina pectoris dan aritmia), hipertensi


112 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI dan meringankan kepekaan jantung oleh rangsangan stress, emosional dan kerja berat. Contohnya propranolol. c. Penghambat neuron-neuron adrenergik post ganglion Bekerja terhadap neuron-neuron post ganglion adrenergik dengan mencegah pembentukan atau pembebasan neurohormon. Efeknya dilatasi otot-otot polos dari dinding pembuluh darah dan turunnya tekanan darah. Obat-obat tersendiri a. Derivat Imidazolin Yang digunakan sebagai alfa bloker adalah tolazin dan fentolamin. Memiliki bermacam-macam efek seperti anti hipertensi, anti histamin, adrenolitik dan adrenergik. b. Derivat alkaloida sekale Tiga kelompok alkaloida secale adalah : 1) Ergotamin dan ergosin 2) Ergotoksin, yang terdiri dari ergokristin, ergokriptin dan ergokornin 3) Ergometrin atau ergonovin Khasiat yang terpenting adalah stimulasi otot polos terutama pembuluh darah perifer dan rahim dengan efek kontraksi otot uterus (oksitosik), vasokontriksi dan tekanan darah naik. Efek samping pada penggunaan lama dan dosis yang tinggi adalah matinya jaringan di ujung jari (gangrein) akibat vasokontriksi. Digunakan untuk menghentikan pendarahan setelah persalinan dan pada keadaan haid yang berlebihan. 1) Ergotamin Khasiat oksitosik dan vasokontriksinya kuat dengan khasiat adrenolitik lemah. Efektif diberikan secara sublingual, injeksi intra vena atau intra muskuler karena absorbsi di usus tidak teratur. Kombinasi dengan coffein dapat memperkuat efek vasokontriksinya dan digunakan sebagai obat antimigrain. Turunannya adalah dihidro ergometrin yang digunakan untuk mengurangi frekuensi serangan migrain dan efektif untuk menaikan tekanan darah pada hipotensi. 2) Ergometrin atau ergonovin Khasiat oksitosiknya kuat tapi vasokontriksinya lemah, digunakan terutama pada pendarahan setelah persalinan (post partum) dan haid yang berlebihan (menralgia). Turunannya adalah metil ergometrin yang berkhasiat oksitosiklebih kuat dan lama. 3) Ergotoksin / dihidroergotoksin atau kodergokrin Tidak memiliki khasiat oksitosik dan vasokontriksi dengan efek adrenolitik yang lebih kuat. Efek vasodilatasi perifer terutama pada kulit dan otak. Penggunaan untuk memperbaiki gangguan sirkulasi darah pada otak dan kulit.


113 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 2. Prazosin Memblokir reseptor alfa dengan efek vasodilatasi pada dinding arteri dan vena sehingga dapat digunakan untuk pengobatan antihipertensi. 3. Propranolol Digunakan sebagai pengobatan antihipertensi dan gangguan jantung. Turunan dari propranolol yang berkhasiat sama adalah: atenolol, pindolol, sotalol dan lain-lain. 4. Yohimbin Alkaloida dari Corynanthe yohimbe yang berkhasiat adrenolitik lemah dan singkat dan digunakan sebagai anestetika lokal dan anti diuretika. B. Saraf Parasimpatis 1. Kolinergik (parasimpatomimetik) Efek yang ditimbulkan oleh kolinergik adalah : a. Stimulasi aktivitas saluran cerna, peristaltik diperkuat, sekresi kelenjarkelenjar ludah, getah lambung, air mata dan lain-lain b. Memperlambat sirkulasi darah dan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. c.Memperlambat pernafasan dengan menciutkan saluran nafas (bronkokontriksi) dan meningkatkan sekresi dahak. d. Kontraksi otot mata dengan penyempitan pupil mata (miosis) dan menurunkan tekanan intra okuler dan memperlancar keluarnya airmata e. Kontraksi kandung kemih dan ureter dengan efek memperlancar keluarnya air seni. Efek samping dari obat-obat kolinergik adalah mual, muntah, diare, sekresi ludah dahak, keringat dan airmata yang berlebihan, penghambatan kerja jantung (bradikardia), bronkokontriksi dan kelumpuhan pernafasan. Penggunaan Kolinergik terutama digunakan pada: a. Glaukoma, yaitu suatu penyakit mata dengan ciri tekanan intra okuler meningkat dengan akibat kerusakan mata dan dapat menyebabkan kebutaan. Obat ini bekerja dengan jalan midriasis seperti pilokarpin, karbakol dan fluostigmin. b. Myastenia gravis, yaitu suatu penyakit terganggunya penerusan impuls di pelat ujung motoris dengan gejala berupa kelemahan otot-otot tubuh hingga kelumpuhan. Contohnya neostigmin dan piridostigmin. c. Atonia, yaitu kelemahan otot polos pada saluran cerna atau kandung kemih setelah operasi besar yang menyebabkan stres bagi tubuh. Akibatnya timbul aktivitas saraf adrenergik dengan efek obstipasi, sukar buang air kecil atau lumpuhnya gerakan peristaltik dengan tertutupnya usus (ielus paralitikus). Contohnya prostigmin (neostigmin)


114 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Obat-obat tersendiri a. Asetilkolin Sudah tidak dipergunakan dalam pengobatan karena kurang bermanfaat secara klinis, saat ini hanya digunakan untuk penelitian. Persenyawaan uretan dari asetilkolin yang dipergunakan adalah karbakol yang digunakan sebagai miotikum pada glaukoma dan atonia pada organ dalam. b. Pilokarpin Alkaloida dari Pilokarpus jaborandi ini digunakan sebagai miotikum dan mencegah rambut rontok dalam bentuk lotion. c. Neostigmin Digunakan pada kelemahan otot seperti atonia kandung kemih dan usus, melawan sifat toksis dari atropin, miotikum, myastenia gravis dan antidotum kurare (tubokurarin). Efek samping terhadap jantung dan peredaran darah lebih ringan. d. Endrofonium Digunakan sebagai antagonis kurare dan pengobatan myastenia gravis. e. Piridostigmin Senyawa turunan Neostigmin yang khasiatnya lebih lemah dari Neostigmin yang digunakan sebagai myastenia gravis. 2. Antikolinergik (parasimpatolitik) Semua antikolinergik memperlihatkan kerja yang hampir sama tetapi daya afinitasnya berbeda terhadap berbagai organ, misalnya atropin hanya menekan sekresi liur, mukus bronkus dan keringat pada dosis kecil, tetapi pada dosis besar dapat menyebabkan dilatasi pupil mata, gangguan akomodasi dan penghambatan saraf fagus pada jantung. Antikolinergik juga memperlihatkan efek sentral yaitu merangsang pada dosis kecil tetapi mendepresi pada dosis toksik. Penggunaan Obat-obat ini digunakan dalam pengobatan untuk bermacam-macam gangguan, tergantung dari khasiat spesifiknya masing-masing, antara lain: a. Spasmolitika, dengan meredakan ketegangan otot polos, terutama merelaksasi kejang dan kolik di saluran lambung-usus, empedu dan kemih. b. Midriatikum, dengan melebarkan pupil mata dan melemahkan akomodasi mata. c. Borok lambung-usus, dengan menekan sekresi dan mengurangi peristaltik d. Hiperhidrosis, dengan menekan sekresi keringat yang berlebihan e. Berdasarkan efeknya terhadap sistim saraf sentral 1) Sedatif pada premedikasi operasi bersama anestetika umum. 2) Parkinson


115 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Obat-Obat tersendiri a. Alkaloida Belladonna Alkaloida yang didapat dari tanaman Atropa Belladonnae seperti hiosiamin, atropin dan skopolamin. Didapatkan juga dari tanaman Datura stramonium dan Hyoscyamus niger 1) Atropin Khasiat antikolinergiknya kuat, sedativa, bronkodilatasi ringan (guna melawan depresi pernafasan). Penggunaan sebagai midriatikum, spasmolitikum asma, batuk rejan, kejang pada lambung-usus serta antidotum yang paling efektif terhadap overdosis pilokarpin dan kolinergik lainnya. Turunan sintetiknya adalah Homatropin dan Benzatropin yang digunakan sebagai antiparkinson . 2) Skopolamin Alkaloida ini lebih kuat dari atropin yang digunakan sebagai obat mabuk perjalanan, midriatikum dan pramedikasi operasi. Senyawa sintetiknya adalah metil dan butil skopolamin yang digunakan sebagai spasmolitik organ dalam seperti kejang pada usus, saluran empedu, saluran kemih dan uterus. b. Senyawa-senyawa Ammonium Kwartener Senyawa ini mengandung Nitrogen bervalensi 5, bersifat basa kuat dan terionisasi baik, maka sulit melewati sawar darah otak sehingga tidak memiliki efek sentral. Khasiat antikolinergiknya lemah dengan kerja spasmolitik yang lebih kuat dari atropin dan efek samping lebih ringan. Penggunaan untuk meredakan peristaltik lambung-usus dan meredakan organ dalam. Yang termasuk dalam golongan ini adalah: propantelin, oksifenium, mepenzolat, isopropamida dan ipratropium. c. Zat-zat Amin Tersier 1) Adifenin berkhasiat sebagai anestetika lokal 2) Kamilofen (turunan adifenin) memiliki kerja khusus pada saluran empedu dan kemih 3) Oksifensiklamin digunakan pada borok lambung dan kejang-kejang di saluran empedu, lambung-usus serta organ urogenital. Obat-Obat Parkinson Contoh: Levodopa atau Dopa, Difenhidramin dan Triheksifenidil atau Benzheksol.


116 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI CAKRAWALA Adrenalin (epinefrin) dapat mengembalikan kondisi fisiologik dari gejala darurat (seperti udem laring, bronkospasme, dan hipotensi) yang disebabkan reaksi hipersensitif seperti anafilaksis dan angioedema. Syok anafilaktik berupa udem laring, bronkospasme dan hipotensi memerlukan terapi sesegera mungkin. Individu yang atopik mudah terkena syok anafilaksis. Sengatan serangga adalah salah satu risiko (terutama sengatan tawon dan lebah). Makanan tertentu seperti telur, ikan, protein susu sapi, kacangkacangan dan biji-bijian juga dapat menjadi penyebab anafilaksis. Gambar 5.2 Injeksi Adrenalin (Epinephrine) (sumber : http://www.kesehatankerja.com/EPINEPHRINE.html) Pasien dengan alergi berat sebaiknya diajarkan untuk pemberian sendiri injeksi adrenalin secara intramuskular. Injeksi segera adrenalin sangat penting. Tabel berikut berisi dosis pemberian yang dianjurkan (sumber : http://pionas.pom. go.id/ioni/bab-3-sistem-saluran-napas-0/34-antihistamin-hiposensitisasi-dankedaruratan-alergi/343). Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai obat-obat susunan saraf otonom para siswa dapat mempelajari secara mandiri di internet. Melalui internet kalian bisa mengakses lebih jauh materi tentang obat-obat susunan saraf otonom. Salah satu website yang dapat dikunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman tentang obat-obat susunan saraf otonom adalah sebagai berikut : https://biofar.id/obatobat-otonomik/ . JELAJAH INTERNET


117 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI 1. Menurut fungsinya, susunan saraf otonom dibagi menjadi 2 bagian, antara lain: a. Susunan saraf simpatis (adrenergik dan adrenolitik) b. Susunan saraf parasimpatis (kolinergik dan antikolinergik) 2. Berdasarkan khasiatnya obat-obat saraf otonom dibagi menjadi : a. Obat yang berkhasiat terhadap saraf simpatis: 1) Simpatomimetik/adrenergik, yaitu obat yang meniru efek perangsangan dari saraf simpatis (oleh noradrenalin), contohnya efedrin, isoprenalin dll 2) Simpatolitik/adrenolitik, yaitu obat yang meniru efek bila saraf simpatis ditekan atau melawan efek adrenergik, contohnya alkaloida secale, propranolol, dll b. Obat yang berkhasiat terhadap saraf parasimpatis: 1) Parasimpatomimetik/kolinergik, yaitu obat yang meniru perangsangan dari saraf parasimpatis oleh asetilkolin, contohnya pilokarpin dan phisostigmin. 2) Parasimpatolitik/antikolinergik, yaitu obat yang meniru bila saraf parasimpatis ditekan atau melawan efek kolinergik, contohnya alkaloida belladonna. RANGKUMAN TUGAS 5.1 Carilah informasi obat golongan sistem saraf otonom di bawah ini! No. Gambar Obat Informasi Obat 1. sumber : https://www.honestdocs.id/toko-kesehatan/apotik-online/bisoprolol-fumarate-5mg-tab-novell?brand_filter=Novell+- Pharma.amp.amp.amp.amp Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS MANDIRI


118 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Gambar Obat Informasi Obat 2. sumber : http://www.kalbemed.com/Products-Diseases/Products/ Read-Product-Article/ArtMID/458/ArticleID/578/EFRALA Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 3. sumber : http://pharmaplus.ph/shop/branded-drug/salbutamol-sulfate-salbumin-metered-dose-inhaler/ Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : 4. sumber : https://www.happygreenstore.com/products/cendocarpin-eye-drop-big-minidose-control-eye-pressure-in-glaucomacycloplegia Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS MANDIRI


119 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Gambar Obat Informasi Obat 5. sumber : https://www.webmd.com/drugs/2/drug-3752-5222/ ipratropium-bromide-inhalation/ipratropium-solution-inhalation/ details Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : TUGAS 5.2 Gambarkan penandaan logo obat sistem saraf otonom berikut! Lengkapilah dengan informasi indikasi, dosis, kontraindikasi, efek samping! 1. injeksi atropine sulfat 2. tablet metilergometrin TUGAS 5.3 Carilah 1 gambar/foto spesialite obat sistem saraf otonom di bawah ini lalu tempel pada lembar aktivitas dan beri informasi obat! LEMBAR AKTIVITAS SISWA No. Nama obat Gambar Obat Informasi Obat 1. Metildopa Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : Obat keras 2. Neostigmin metilsulfat Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : TUGAS MANDIRI


120 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI No. Nama obat Gambar Obat Informasi Obat 3. Toksin botulinum Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : 4. Scopolamine Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Golongan obat : TUGAS 5.4 Lengkapi teka-teki silang yang berkaitan dengan anestetik berikut ini! Mendatar 1. Obat antikolinergik digunakan sebagai midriatik dan pramedikasi operasi 2. Propranolol termasuk obat golongan… 5. Obat adrenergik yang dapat menurunkan tekanan darah 6. Obat yang meniru efek bila saraf simpatis ditekan atau melawan efek adrenergik Menurun 1. Obat golongan adrenergik yang bekerja pada reseptor β-2 dan dapat mengobati asma 3. Alkaloid dari tumbuhan Ephedra vulgaris 4. Kelemahan otot polos pada saluran cerna atau kandung kemih setelah operasi besar yang menyebabkan stres bagi tubuh 1 2 3 4 5 6 TUGAS MANDIRI


121 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUGAS 5.5 Tugas kelompok dimulai dengan membagi anggota kelas menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok mencari drug fact dari obat sistem saraf otonom berikut dari sumber literatur yang relevan. Setiap kelompok mempresentasikan hasil temuannya secara bergantian di depan kelas menggunakan aplikasi Microsoft Power Point. 1. atenolol 2. pseudoefedrin 3. isoprenalin 4. amfetamin TUGAS MANDIRI Kerjakan soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Jelaskan penggolongan obat adrenergik! 2. Jelaskan penggolongan obat antikolinergik! 3. Bagaimana mekanisme kerja obat metildopa? 4. Apa yang dimaksud adrenolitik? 5. Jelaskan apa saja efek samping amfetamin! PENILAIAN AKHIR BAB Setelah mempelajari bab ini refleksikan pengetahuan Anda tentang penggolongan obat adrenergik dan obat antikolinergik beserta contoh-contohnya. Jika Anda belum menguasai materi pada bab ini silakan diskusikan dengan teman dan Guru Anda. REFLEKSI


122 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI Setelah mempelajari materi tentang obat-obat anoreksansia, diharapkan peserta didik dapat mengklasifikasi obat-obat anoreksansia dan menerapkan pemakaian obat yang berhubungan dengan penyakit anoreksansia. Anoreksansia, obesitas, indeks massa tubuh (IMT), body mass index (BMI) BAB VI OBAT ANOREKSANSIA PETA KONSEP BAB VI OBAT GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN OBAT ANOREKSANSIA Obesitas dan Faktor Risiko Obesitas Obat-Obat Anoreksansia Mekanisme Kerja Obat Anoreksansia


123 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Anoreksansia merupakan zat-zat penekan nafsu makan yang digunakan untuk menunjang terapi kegemukan (overweight) dan obesitas. A. Obesitas dan Faktor Risiko Obesitas Obesitas atau adipositas didefinisikan sebagai terdapatnya lemak dalam jumlah yang abnormal, yang mengakibatkan terlalu gemuk atau overweight pada keadaan tinggi badan dan jumlah otot tertentu. Pencegahan dan pengobatan obesitas dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan pengaturan makanan (diet), melakukan aktivitas fisik, menggunakan produk-produk pelangsing, akupunktur, pembedahan dan psikoterapi Produk-produk pelangsing yang digunakan dapat berupa obat-obat yang mempunyai mekanisme kerja menekan nafsu makan dan rasa lapar juga dapat menghambat penyerapan lemah. Obat-obat antara lain adalah golongan obat anoreksansia berupa sibutramin, rimonabant, orlistat, amfepramon, fenfluramin, dan lain-lain. Index Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) adalah suatu alat bantu untuk mengetahui status gizi seseorang. Dengan IMT dapat diketahui status nutrisi seseorang normal atau obesitas. Cara mengukur indeks massa tubuh (IMT), yaitu berat badan dalam kilogram (kg) dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat (m2). IMT = Tabel 6.1 Klasifikasi IMT Menurut Kriteria Asia Pasifik Klasifikasi IMT (kg/m2) Berat badan kurang <18,5 Kisaran normal 18,5-22,9 Berat badan lebih ≥ 23 Berisiko 23,0-24,9 Obesitas Tingkat I 25,0-29,9 Obesitas Tingkat II ≥ 30,0 (sumber : http://digilib.unila.ac.id/6659/125/BAB%20II.pdf) Index Massa Tubuh tersedia dalam kriteria Asia Pasifik dan WHO. Terdapat perbedaan kategori dalam kriteria Asia Pasifik dan WHO. Kriteria Asia Pasifik diperuntukkan untuk orang-orang yang berdomisili di daerah Asia, karena Index Massa Tubuhnya lebih kecil sekitar 2-3 kg/m2 dibanding orang Afrika, orang Eropa, orang Amerika, ataupun orang Australia. Obesitas atau yang lebih dikenal dengan kelebihan berat badan di masyarakat umum sekarang ini sangat ditakuti oleh sebagian besar perempuan bahkan tidak sedikit pula pria yang takut akan kegemukan. Kegemukan bukan saja membuat bentuk tubuh menjadi tidak enak dipandang namun juga kecenderungan


124 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI seseorang yang mengalami obesitas lebih mudah terserang penyakit. Obesitas dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, batu empedu, dan osteoartritis. Depresi, masalah psikososial lainnya dan beberapa obat adalah faktor-faktor yang dapat memperburuk obesitas. Terapi utama untuk obesitas adalah diet yang sesuai, pasien diberi penjelasan cara diet secara jelas dan berikan dukungan yang maksimal, serta sarankan agar meningkatkan aktivitas fisik. Gambar 6.1 Penyakit yang Dikaitkan dengan Obesitas (sumber : https://www.esc-asia.com/news/bahaya-diabetes-jantung-9-penyakit-ini-disebabkan-karena-obesitas-kegemukan/) B. Mekanisme Kerja Obat Anoreksansia 1. Bekerja pada saluran cerna dengan menghambat penyerapan lemak (orlistat). 2. Menekan nafsu makan dan rasa lapar yang bekerja sentral (mazindol, rimonabant, fenfluramin, amfepramon) 3. Meningkatkan pengeluaran energi (sibutramin) C. Obat-Obat Anoreksansia 1. Fenfluramin Obat ini merupakan turunan amfetamin bekerja memperkuat rasa kenyang tanpa menekan nafsu makan, bekerja dengan jalan menekan atau menghambat rangsangan-rangsangan yang dikirim oleh reseptor-reseptor tertentu di lambung-usus ke pusat kenyang di otak (hipotalamus). Disamping itu, fenfluramin berdaya hipotensif dan antidiabetogen dengan cara memperbesar penyerapan glukosa oleh otot (bila ada insulin) dan dapat dikombinasikan dengan antihipetensiva dan antidiabetika. Zat ini juga memiliki daya antihiperlipidemik, sehingga dapat menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol darah yang tinggi. Efek samping yang sering terjadi adalah diare, rasa ngantuk yang ringan, mual dan muntah, mulut kering dan depresi bila terapi dihentikan secara mendadak. Fenfluramin tidak lagi digunakan karena juga mempunyai efek samping kelainan katup jantung


125 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 2. Orlistat Orlistat, merupakan penghambat lipase, mengurangi absorpsi asupan lemak. Obat ini digunakan bersamaan dengan diet hipokalorik ringan, diberikan bagi mereka dengan IMT 30 kg/m2 atau bagi mereka dengan IMT 28 kg/m2 yang disertai faktor risiko seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, atau hiperkolesterolemia. Orlistat harus digunakan sebagai tambahan dari pendekatan lain dalam penanganan obesitas. Direkomendasikan bahwa terapi orlistat hanya boleh diteruskan di atas 6 bulan, hanya bila berat badan telah turun minimal 10 % sejak terapi dimulai. Efek Samping orlistat antara lain sangat umum:urgensi untuk buang air besar (BAB), feses berminyak, flatus with discharge, rembesan berminyak dari rektum, sudden bowel iritation 3. Mazindol Obat ini bekerja dengan menekan nafsu makan secara sentral. Efek samping mazindol antara lain mulut kering, gugup, gangguan saluran cerna, gangguan tidur, nyeri kepala, berkeringat, pusing, takikardia, gangguan mikturisi dan seksual yang reversibel, ruam kulit, hipertensi, aritmia, nyeri prekordial, diare, pengecapan tidak nyaman. 4. Rimonabant Obat ini merupakan penekan nafsu makan yang bekerja berdasarkan penghambatan reseptor kanabinoid. Rimonabant bertindak dengan menyekat jenis tertentu reseptor cannabinoid yang dikenali sebagai CB1, yang terdapat dalam sistem saraf dan merupakan sebagian daripada sistem yang digunakan badan untuk mengawal pengambilan makanan. Reseptor ini juga terdapat dalam adipocytes, yaitu sel-sel jaringan adiposa. 5. Dietilpropion HCl (Amfepramon) Obat ini bekerja dengan menekan nafsu makan secara sentral. Namun, dietilpropion (amfepramon) telah banyak dikaitkan dengan gangguan katup jantung, serta walaupun jarang namun serius yaitu risiko hipertensi pulmonar. 6. Sibutramin Obat ini bekerja dengan menekan nafsu makan secara sentral. Sibutramin merupakan suatu serotonin-NA reuptake blocker yang berperan pada terjadinya perasaan kenyang setelah makan. Di samping itu, sibutramin bekerja meningkatkan penggunaan energi akibat kerja saraf adrenergik. Sibutramin telah dibatalkan izin edarnya karena adanya peningkatan risiko kejadian kardiovaskular dari hasil studi Sibutramine on Cardiovascular Outcomes Trial (SCOUT).


126 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI CAKRAWALA Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan memberikan informasi cara praktis dalam mengatasi obesitas yaitu dengan mengatur pola makan. Gambar 6.2 Cara Praktis Mengatasi Obesitas dengan Mengatur Pola Makan (sumber : http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/cara-praktis-mengatasi-obesitas-tata-laksana-dari-pola-makan-bagian-1) Di samping itu cara praktis dalam mengatasi obesitas yang lain yaitu dengan mengatur pola aktivitas.


127 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI Gambar 6.3 Cara Praktis Mengatasi Obesitas dengan Mengatur Pola Aktivitas (sumber : http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-2ptm/obesitas/page/3/cara-praktis-mengatasi-obesitas-pencegahan-dengan-pola-aktivitas) Obat antiobesitas hanya boleh diberikan bagi individu yang memiliki indeks masa tubuh (IMT) 30 kg/m2 atau lebih (IMT atau Body Mass Index adalah berat badan seseorang dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam m2) yang setelah minimal 3 bulan menjalankan diet, modifikasi perilaku dan olah raga, namun gagal mencapai penurunan berat badan yang wajar. Jika ada faktor risiko (seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan obstructive sleep apnoea), obat ini sesuai untuk diresepkan walaupun individu yang bersangkutan memiliki IMT 27 kg/m2 (sumber : http:// pionas.pom.go.id/ioni/bab-4-sistem-saraf-pusat/45-obesitas). CAKRAWALA


128 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI Untuk menambah wawasan lebih jauh mengenai obat anoreksansia para siswa sekalian dapat mempelajari secara mandiri di internet. Melalui internet kalian bisa menambah informasi tentang drug fact obat anoreksansia. Salah satu website yang dapat dikunjungi untuk menambah wawasan dan pemahaman kalian tentang obat-obat anoreksansia adalah sebagai berikut :http://pionas.pom.go.id/ioni/bab4-sistemsaraf-pusat/45-obesitas/451-anti-obesitas-yangbekerjapada-saluran-cerna JELAJAH INTERNET 1. Anoreksansia merupakan zat-zat penekan nafsu makan yang digunakan untuk menunjang terapi kegemukan (overweight) dan obesitas. 2. Obesitas atau adipositas didefinisikan sebagai terdapatnya lemak dalam jumlah yang abnormal, yang mengakibatkan terlalu gemuk atau overweight pada keadaan tinggi badan dan jumlah otot tertentu. 3. Obesitas dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, batu empedu dan osteoartritis. Depresi, masalah psikososial lainnya dan beberapa obat adalah faktor-faktor yang dapat memperburuk obesitas. 4. Obat anoreksansia antara lain fenfluramin, orlistat, sibutramin, mazindol, amfepramon, rimonabant. 5. Beberapa obat anoreksansia sudah tidak direkomendasikan lagi seperti fenfluramin, amfepramon, dan sibutramin. RANGKUMAN TUGAS 6.1 Carilah informasi obat anoreksansia di bawah ini! No. Nama obat Dosis Efek Samping Gambar Obat 1. Orlistat 2. Mazindol 3. Rimonabant TUGAS 6.2 Tugas membuat brosur obat di kertas ukuran A5 dari obat anoreksansia berikut dari sumber literatur yang relevan dan di . Brosur obat memuat bentuk sediaan, indikasi, dosis, kontraindikasi, efek samping, dan perhatian. TUGAS MANDIRI


129 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI Contoh brosur ORLISTAT Bentuk Sediaan : Indikasi : Dosis : Kontraindikasi : Efek samping : Perhatian : Pabrik : PT Sehat Farma (buat nama pabrik sendiri) Tanggal Kadaluarsa : 05 2022 (buat tanggal sendiri) TUGAS MANDIRI Kerjakan soal di bawah ini dengan baik dan benar! 1. Jelaskan tentang obesitas dan faktor risiko obesitas! 2. Jelaskan perbedaan IMT berdasarkan WHO dan Asia Pasifik! 3. Apa saja efek samping yang ditimbulkan oleh obat orlistat? 4. Berapakah IMT pasien yang memiliki berat badan 100 kg dan tinggi badan 155 cm? 5. Jelaskan apa saja obat anoreksansia! PENILAIAN AKHIR BAB Setelah mempelajari bab ini, Anda tentu menjadi lebih tahu dan paham tentang menerapkan pemakaian obat obat anoreksansia. Anda juga jadi lebih mengetahui tentang obesitas. Jika ada materi yang kurang dipahami, silakan didiskusikan lagi dengan Guru atau teman Anda. Tidak lupa dapat disampaikan juga kekurangan atau kelebihan kegiatan pembelajaraan pada bab satu ini kepada Guru Anda. REFLEKSI


130 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS FARMAKOLOGI TUJUAN PEMBELAJARAN KATA KUNCI Setelah mempelajari materi tentang obat jantung dan pembuluh darah, diharapkan peserta didik dapat mengklasifikasi golongan obat jantung dan pembuluh darah dan menerapkan pemakaian obat jantung dan pembuluh darah. Jantung, pembuluh, kardiovaskuler, antihipertensi, diuretika, hematinika, hemostatika, oksitosikum BAB VII OBAT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH PETA KONSEP BAB VII OBAT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH Obat Jantung Dan Pembuluh Darah Obat Gangguan Jantung Diuretika Antihipertensi Hematinika Hemostatika dan Oksitosikum


131 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 menunjukkan 17,5 juta orang di dunia meninggal akibat penyakit kardiovaskuler atau 31% dari 56,5 juta kematian di seluruh dunia. Survei Sample Registration System (SRS) pada 2014 di Indonesia menunjukkan, Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9%. Kemenkes pun mengimbau masyarakat agar melakukan cek kesehatan secara berkala, mengenyahkan asap rokok, rajin beraktifitas fisik, diet yang sehat dan seimbang, istirahat yang cukup dan kelola stres (CERDIK) untuk mengendalikan faktor risiko PJK. Penyakit jantung dan pembuluh (PJP) seperti angina pectoris, infark jantung, gagal jantung dan hipertensi merupakan penyebab kematian terbesar. Hal ini terutama dapat disebabkan oleh faktor makanan, yang kaya kalori, protein, lemak (jenuh) dan namun miskin serat – serat nabati. Gambar 7.1 Struktur Jantung Manusia (sumber : http://www.frewaremini.com/2014/12/gambar-anatomi-organ-tubuh-manusia.html?m=0 ) Beberapa penyakit pada sistem kardiovaskuler yaitu : 1. Atherosclerosis: adalah gangguan pembuluh yang disebabkan menebal dan mengerasnya dinding pembuluh nadi (arteri) besar dan sedang. Hal ini diakibatkan oleh endapan dari kolesterol, lemak, kalsium dan fibrin (plak) di dinding pembuluh. 2. Hipertensi : adalah tingginya tekanan darah yang berhubungan dengan pengerasan / penebalan pembuluh darah 3. Angina pectoris adalah penyakit jantung, dimana jantung tidak menerima cukup darah (dan oksigen) karena cabang arteri jantung hampir tertutup oleh plak. 4. Bila arteri jantung atau arteri otak tersumbat sama sekali, maka timbul infark jantung atau infark otak (stroke). 5. Kalau jantung tidak sanggup lagi memeliharan peredaran darah selayaknya, maka akan timbul gagal jantung (dekompensasi)


132 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI A. Obat Gangguan Jantung Obat-obat jantung atau cardiaca adalah obat yang secara langsung dapat memulihkan fungsi otot jantung yang terganggu ke keadaan normal. Gambar 7.2 Peredaran Darah Manusia (sumber : https://www.dosenpendidikan.co.id/sistem-peredaran-darah/) 1. Gangguan-Gangguan Jantung a. Infark Jantung Infark jantung atau trombosis koroner, umunya disebut serangan jantung, adalah keadaan tersumbatnya suatu cabang pembuluh jantung yang menyalurkan darah ke jantung oleh gumpalan darah beku (trombus). Gejalanya berupa nyeri yang hebat di belakang tulang dada, rasa gelisah, tidak mampu mengerakkan tangan dan kaki, muka mebiru dan debar jantung (tachycardia). b. Angina Pectoris Angina pectoris adalah gangguan yang timbul sebagai akibat hipoxia (kekurangan oksigen) otot jantung karena kelelahan fisik atau emosional dan dapat juga disebabkan oleh penciutan arteri jantung, infark, kejangkejang atau adanya tachycardia tertentu, anemia hebat atau penciutan aorta. Gejalanya adalah rasa sakit hebat di bawah tulang dada yang menjalar ke pindak kiri dan lengan bagian atas, terutama bila berjalan atau sesudahnya ; nyeri tersebut akan hilang bila berhenti dan istirahat. Tindakan umum untuk mengurangi serangan angina adalah berupa tindakan: 1) tidak merokok (karena merokok dapat menciutkan pembuluh) dan diet (kolesterol dan lemak) 2) menghindari beban fisik maupun mental


133 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI 3) berolah raga, sekurang-kurangnya jalan kaki selama 1 jam sehari guna memperbaiki sirkulasi di jantung 4) mengobati hipertensi c. Aritmia Adalah gangguan ritme berupa kelainan dalam frekwensi (kecepatan) denyut jantung karena serambil (atrium) dan bilik (ventrikel) berdenyut lebih cepat (tachycardia) atau lebih lambat (bradycardia) dari normal. Dapat pula karena terjadinya kekacauan dalam ritme (irama) denyutan jantung, misalnya vibrasi (flutter), getaran (fibrilasi) ataupun extrasistole. Heartblock merupakan suatu jenis aritmia yang disebabkan oleh gangguan penyaluran listrik dari serambi kanan ke bilik kiri. Terapinya adalah dengan pacemaker, yaitu suatu alat kecil yang dapat mengirimkan impluls-impuls listrik ke jantung guna menormalisir frekuensi kontraksinya. d. Dekompenasi Jantung Adalah keadaan dimana sirkulasi darah jantung dan cardiac output menurun, misalnya akibat infark atau katup-katup jantung yang tidak bekerja sempurna, atau karena proses penuaan. Gejalanya adalah sukar bernafas bila berbaring (dyspnea), muka membiru (cyanosis), dan oedema. e. Shock Adalah salah satu komplikasi dari infark jantung yang sangat ditakuti karena biasanya berakibat fatal. Sebanya adalah tachycardia yang hebat, myocarditis dan sebagainya. 2. Penggolongan Obat Jantung a. Kardiotonika Yaitu glikosida-glikosida jantung, yang berkhasiat mempertinggi kontraktilitas jantung hingga cardiac output (volume menitnya) bertambah, sedangkan denyutnya dikurangi (efek chronotrop negatif). Disamping itu glikosida jantung ini juga merintangi sistem penyaluran impuls A-V (atrioventikuler, yakni dari serambi ke bilik) hingga penyaluran tersebut diperlambat. Kegunaan utamanya adalah pada kelemahan otot jantung (myocard) yang terjadi pada dekompensasi dan fibrilasi serambi. Termasuk ke dalam golongan obat ini adalah : 1) Digitalis folium Merupakan preparat galenika, berupa tinctura digitalis, yang diperoleh dari digitalis pupurea dan digitalis lanata. Daun digitalis mengandung dua glikosida yaitu lanatosida A dan Lanatosida B. Sedangkan digitalis lanata mengandung zat ke iga yaitu lanatosida C. Pada terapi dengan digitalis, dikenal dua jenis dosis, yaitu dosis digitalisasi (selama 1–6 hari pertama) dan dosis pemeliharaan. Dosis ini sangat individual, tergantung apda kepekaan seseorang terhadap glikosida jantung. 2) Digoksin Zat ini mulai bekerja setelah 2 – 4 jam dan bertahan sampai 3 hari. Umumnya diberikan per oral. Dalam hati mengalami biotransformasi


134 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI menjadi metabolit-metabolit inaktif yang dikeluarkan oleh ginjal. Kinidin dapat memperlambat eliminasi digoksin, sehingga dosisnya perlu dikurangi hingga setengahnya bila kedua obat ini digunakan secara bersamaan. 3) Digitoksin Zat ini terutama digunakan pada terapi menahun dari dekompensasi. Mulai kerjanya setelah 1 jam dan bertahan 2 – 3 minggu. Oleh karena itu bahaya kumulasi lebih besar. Dalam hati diubah menjadi beberapa metabolit aktif, antara lain digoksin, yang dengan perlahan diekskresi oleh ginjal. Disamping itu juga mengalami siklus enterohepatik, yang lebih besar dari pada digoksin. 4) Quabain Glikosida ini diperoleh dari biji tumbuhan Strophantus gratus. Mulai bekerjanya setelaj injeksi i.v. adalah lebih kurang 5 menit dan bertahan lebih kurang 24 jam. Zat ini tidak mengalami biotransformasi dan dikeluarkan dalam kedaaan utuh oleh ginjal. Juga tidak mengalami siklus enterohepatik, sehingga kemungkinan kumulasi kecil. 5) Proscilaridin Zat ini diperoleh dari glikosida scillaren A yang terdapat dalam umbi tumbuhan Scilla maritima. Disamping berkhasiat sebagai kardiotonik, zat ini juga bersifat diuretik. Mulai bekerja setelah penggunaan oral adalah lebih kurang satu jam, lama kerjanya relatif singkat, sehingga risikokumulasi ringan. b. Obat-Obat Angina Pectoris Keadaan kekurangan darah (ischemia) pada angina pectoris dapat diobati dengan vasodilator-vasodilator arteri jantung dan zat yang mengurangi kebutuhan jantung akan oksigen. Diobati dengan : 1) Vasodilator koroner Memperlebar arteri jantung, memperlancar pemasukan darah beserta oksigen, sehingga meringankan beban jantung. Obat pilihan utama untuk serangan akut adalah nitrogliserin. Obat lainnya adalah Dipiridamol. 2) Antagonis-antagonis kalsium Kalsium merupakan elemen essensial bagi fungsi myocard dan otot polos dinding arteriole. Pada kadar kalsium intrasel tertentu, sel mulai berkontraksi ; otot jantung dan arteriole-arteriole menciut (vasokonstriksi). Antagonis kalsium menghambat pemasukan kalsium ke dalam sel-sel myocard dan otot polos dinding arteriole, sehingga dapat mencegak kontraksi dan vasokonstriksi. Termasuk ke dalam antagonis kalsium antara lain Nifedipin, Diltiazem, Verapamil. 3) Beta blockers Pada reseptor β1 di jantung, berefek inotrop negatif dan efek kronotrop positif, yaitu mengurangi daya dan frekwensi kontraksi jantung, serta memperlambat penyaluran impuls pada nosus AV. Sedangkan pada reseptor β2 di bronchia (juga dinding pembuluh dan


135 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI usus), memberikan efek vasokonstriktor. Semua β – blockers dapat digunaan untuk mengobati angina pectoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung. Efek samping dari obat golongan ini adalah : a) dekompensasi jantung, akibat bradycardia, dengan gejala sesak napas a) bronchokonstriksi dengan gejala sesak napas dan serangan serupa asma b) persaaan dingin (pada jari kaki-tangan) dan terasa lemah (akibat berkurangnya sirkulasi perifer dan oksigen di otot). c) Hipoglikemia d) Efek sentral seperti gangguan tidur dengan mimpi-mimpi ganjil (nightmare), lesu, bahkan depresi dan halusinasi e) Gangguan lambung dan usus seperti mual, muntah, diare f) Penurunan HDL-kolesterol Tergolong ke dalam obat ini antara lain Propanolol, Acebutolol c. Antiaritmia Adalah obat-obat yang dapat menormalisasi frekwensi dan ritme pukulan jantung. Disamping menurunkan frekuensi denyutan jantung (efek chronotrop negatif), umumnya obat-obatan ini juga mengurangi daya kontraksi jantung (efek inotrop positif). Berdasarkan mekanisme kerjanya, pengobatan aritmia dibagi 4 golongan, yaitu : 1) Zat-zat dengan daya anestetika lokal, disebut juga efek kinidin atau efek stabilisasi membran. Zat ini mengurangi kepekaan membran sel-sel jantung untuk rangsangan dengan jalan menghambat pemasukan ion natrium di membran dan memperlambat depolarisasinya. Akibatnya ritme dan frekuensi jantung menjadi normal kembali. Termasuk zat ini adalah kelompok kinidin dan lidokain. 2) Zat perintang reseptor β adrenergik atau beta blockers, yang mengurangi aktivitas saraf adrenergik di otot jantung, sehingga frewensi dan daya kontraksi jantung menurun. Contohnya Timolol dan Propranolol. 3) Zat yang memperpanjang masa refrakter, dengan jalan memperpanjang aksi potensial. Contohnya Amiodaron dan Sotalol. 4) Antagonis kalsium, contohnya Verapamil, Nifedipin, Diltiazem. 3. Zat tersendiri a. Digoksin Indikasi : Payah jantung kronik, payah jantung akut, payah jantung pada lansia tanpa gangguan ginjal, payah jantung pada anak-anak, aritmia Kontra indikasi : Bradikardia, pasien dengan suntikan kalium Efek samping : Dosis berlebihan berakibat anoreksia, mual, muntah, disorientasi, ataksia, urtikaria Sediaan : Tablet 0,25mg


136 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI b. Propranolol Indikasi : Angina pectoris, tachy aritmia, hipertensi, infark jantung. Kontra indikasi : Asma, hipotensi Efek samping : Gangguan saluran cerna, kelemahan otot, lelah. Sediaan : Tablet c. Acebutolol Indikasi : Angina pectoris, hipertensi, mengontrol aritmia Kontra indikasi : Shock kardiogenik, asma bronchial, obstruksi paru, bradikardia Efek samping : Bradikardia, ekstremitas dingin, mata kering, ruam, bronkospasme, mialgia Sediaan : Kapsul, tablet d. Verapamil Indikasi : Angina pektoris, hipertensi Kontra indikasi : Hipotensi, bradychardia, gagal jantung akut, wanita hamil dan menyusui Efek samping : Konstipasi, hipotensi, pusing, sakit kepala, kemerahan pada wajah, ruam kulit, gangguan lambung Sediaan : Tablet 80 mg, , kapsul sustained release 240 mg, e. Nifedipin Indikasi : Digunakan untuk profilaksis dan terapi angina pectoris. Mekanisme kerja : Zat ini mencegah transpor ion kalsium ke dalam otot jantung dan otot dinding pembuluh dengan efek vasodilatasi, sehingga pemasukan oksigen ke myocard bertambah. Nifedipin mengalami perombakan di hati menjadi metabolit in aktif. Dan 75 % pengeluarannya melalui kemih Kontra indikasi : Hipotensi, glaucoma, anemia Efek samping : udema pada mata kaki. Pada dosis awal yang terlalu tinggi dapat menyebabkan hipotensi, menyebabkan serangan angina dan kadang – kadang infark. Interaksi obat : Efek hipotensi diperkuat oleh adanya alkohol, anti hipertensi, antidepresan dan narkotika. Sediaan : Tablet 10 mg, 20 mg, 40 mg ; tablet sub lingual 5mg ; injeksi 10 mg / 10 ml ; aerosol 17 g


137 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI f. Diltiazem Indikasi : Angina pectoris, hipertensi Kontra indikasi : Hipotensi, wanita hamil / menyusui, gagal jantung kongestif. Efek samping : Konstipasi, hipotensi, pusing, sakit kepala, kemerahan pada wajah, ruam kulit, gangguan lambung Sediaan : Kaplet / tablet salut selaput 30 mg ; tablet 60 mg ; injeksi 10 mg, 50 mg. g. Isosorbid Dinitrat Indikasi : Angina pektoris, infark jantung Kontra indikasi : Hipotensi, shock kardiogenik Efek samping : Sakit kepala Sediaan : Tablet sub lingual h. Dipyridamol Indikasi : derivat dipiperidino ini berdaya vasodilatasi terhadap arteri jantung. Berkhasiat inotrop positif lemah tanpa menaikkan penggunaan oksigen. Digunakan untuk insufisiensi jantung, myocardial, angina pectoris Kontra indikasi : - Efek samping : nyeri kepala, palpitasi dan gangguan lambung Interaksi obat : Golongan xantine dapat menghilangkan efek vasodilatasi Sediaan : Tablet salu selaput 25 mg i. Dopamin Indikasi : Payah jantung akut, penunjang pada pengobatan dengan diuretika. Kontra indikasi : Phaechromocytoma, hipertropi ventrikel kiri, Efek samping : Mual, muntah, aritmia Sediaan : Injeksi


138 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI j. Nitroglyceryl Indikasi : mengontrol hipertensi sebelum, selama dan sesudah operasi; gagal jantung kongestif yang berhubungan dengan infar myocard ; mengontrol hipotensi. Efek pada penggunaan secara sub lingual sangat cepat ( lebih kurang setelah 1 – 3 menit). Kontra indikasi : hipotensi, idiosinkrosi, anemia, hipoksemia arteri Efek samping : perasaan nyeri di kepala dan tachycardia ringan, pada dosis yang besar jantung berdebar, pusing, penglihatan buram lalu menjadi pucat. Jika efek ini terjadi, maka pasien harus mengeluarkan sisa tablet dari mulut dan segera berbaring. Interaksi obat : efek hipotensi ditingkatkan oleh alkohol, β-blocker, anti hipertensi. Meningkatkan efek anti histamin, anti kolinergik. Sediaan : kapsul 5 mg, injeksi 50 mg / 10 ml Tabel 7.1 Spesialite Obat Jantung NO. GENERIK NAMA DAGANG PABRIK 1. Digoksin Lanoxin Fargoxin Burroughs-Wellcome Fahrenheit 2. Nifedipine Adalat Bayer 3. Diltiazem Herbesser 30 Tanabe Indonesia 4. Isosorbid Dinitrate Cedocard Retard Darya Varia 5. Glyceryl Trinitrate Glyceryl Trinitrate DBL Tempo Scan Pacific 6. Propranolol HCl Farmadral Fahrenheit (sumber : Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia, Vol. 51, 2017 s.d. 2018) B. Antihipertensi 1. Pendahuluan Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor, yaitu : a. Curah jantung Ialah hasil kali denyut jantung dan isi sekuncup jantung. Besarnya isi sekuncup ditentukan oleh kekuatan kontraksi otot jantung dan volume darah yang kembali ke jantung. b. Resistensi perifer Adalah gabungan tekanan otot polos arteri dan viskositas darah. Resistensi disebabkan oleh berkurangnya elastisitas dinding pembuluh darah akibat adanya arteriosclerosis yang terjadi karena meningkatnya usia atau karena pengendapan.


139 FARMASI KLINIS DAN KOMUNITAS MATERI PEMBELAJARAN FARMAKOLOGI Ada 2 macam tekanan darah, yaitu : a. Tekanan darah sistolik Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung berkontraksi. Tekanan ini selalu lebih besar dari tekanan diastolik b. Tekanan darah diastolik Adalah tekanan darah yang terjadi pada saat jantung berelaksasi (mengembang) Tekanan darah dinyatakan dengan satuan mm Hg, misalnya 150 / 80 mm Hg, artinya tekanan daras sistolik 150 dan tekanan darah diastolic 80 mm Hg. Tabel 7.2 Tekanan Darah Menurut WHO Kategori Tekanan Sistolik (mmHg) Tekanan Diastolik (mmHg) Tekanan Darah Optimal 120 80 Tekanan Darah Normal 120-130 80-85 Pra Hipertensi 130-140 85-90 Hipertensi Ringan 140-160 90-100 Hipertensi Sedang 160-180 100-110 Hipertensi Berat > 180 > 110 (sumber : https://www.nerslicious.com/tekanan-darah-normal-menurut-who-aha-dan-jnc-8-serta-tekanandarah-berdasarkan-usia/) Dikatakan hipertensi bila ada peningkatan tekanan (lebih besar dari normal) darah sistolik atau diastolik yang kronis. Tekanan darah tubuh diatur oleh Sistem Renin-AngiotensinAldosteron (RAAS). Hormon renin dihasilkan oleh ginjal. Bila aliran darah dalam glomeruli berkurang, ginjal akan melepaskan renin. Dalam plasma renin bergabung dengan protein membentuk Angiotensin I yang oleh enzim ACE (Angiotensin Converting Enzyme) dirubah menjadi Angiotensin II, yang aktif dan bersifat vasokonstriksi dan menstimulir hormon aldosteron yang mempunyai efek retensi air dan garam, sehingga volume darah bertambah, mengakibatkan tekanan darah meningkat. Disamping RAAS, tekanan darah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : a. Volume denyut jantung : makin besar volume denyut jantung, tekanan darah makin tinggi. b. Elastisitas dinding arteri : makin kurang elastis, tekanan darah makin tinggi. c. Neurohormon (adrenalin dan noradrenalin) : lepasnya neurohormon dirangsang oleh emosi, gelisahm stress, takut, marah, lelah atau rokok. Neurohormon bersifat vasokonstriksi perifer sehingga tekanan darah naik. Tekanan darah tinggi bukanlah penyakit, tapi hanya kelainan atau gejala yang disebabkan oleh penyakit ginjal, penciutan aorta atau tumor pada anak ginjal (menyebabkan produksi hormon berlebihan), yang mempunyai efek adanya gangguan pada sistem regulasi tekanan darah. Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya disebut hipertensi essensial.


Click to View FlipBook Version