KONSEP DASAR FILSAFAT DAN FILSAFAT PENDIDIKAN A. Hakikat Pendidikan Pendidikan tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Sejak masih dalam kandungan hingga dewasa, pendidikan terus berlangsung selama manusia hidup. Pendidikan adalah properti dan alat manusia yang unik. Pendidikan dilakukan oleh manusia baik secara sadar maupun tidak sadar. Pendidikan sendiri digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan. Pendidikan juga merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya (UU No. 23 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional). Secara umum, pendidikan telah dilaksanakan sejak penciptaan manusia. Pendidikan ini merupakan pendidikan umum di masyarakat. Pendidikan pada umumnya didasarkan pada naluri manusia. Pendidikan naluri diikuti oleh pendidikan berdasarkan pemikiran dan pengalaman manusia. Manusia mampu menciptakan jalan pendidikan karena perkembangan pikirannya. Semakin maju perkembangan intelektual, semakin banyak variasi yang dimiliki orang tua dalam membesarkan anak-anaknya. Pendidikan bertujuan untuk mengarahkan manusia untuk memperbaiki kehidupannya dari alam ke kehidupan yang dibudidayakan. Pendidikan sangat erat kaitannya dengan kebudayaan manusia. Budidaya manusia adalah proses atau upaya untuk meningkatkan kehidupan dan kehidupan individu atau kelompok. Sederhananya, itu adalah cara hidup yang dikembangkan secara sosial, naluri, pendidikan dan budaya saling terkait. Naluri yang dibawa manusia sejak lahir. Pendidikan dan kebudayaan didapat dari proses belajar berdasarkan insting itu sendiri. Pendidikan dan kebudayaan merupakan satu kesatuan untuk saling mendukung. Semakin tinggi budaya maka semakin tinggi pula pendidikan dan cara membesarkannya. Pendidikan adalah aspek kehidupan manusia dan ada dalam budaya, tetapi budaya hanya dapat dibentuk melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan dituntut untuk membudayakan atau memanusiakan manusia. (Aziz, 2021)
B. Tujuan filsafat Pendidikan Memberikan inspirasi bagaimana mengatur proses pembelajaran yang sempurna. Teori pendidikan bertujuan untuk menciptakan gagasan tentang kebijakan dan prinsip pendidikan berdasarkan filosofi pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan rangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan dengan bantuan fitur-fitur dari teori-teori pendidikan. Filsafat pendidikan berperan untuk menginspirasi, yaitu merumuskan tujuan pendidikan umum bagi masyarakat, memberikan pedoman yang jelas dan tepat, mengajukan pertanyaan tentang kebijakan dan praktik pendidikan di lapangan, menggunakan tanda-tanda dari teori guru. Guru harus menguasai konsep-konsep yang akan dipelajari serta pedagogi atau ilmu pengajaran mata pelajaran yang relevan agar siswa tidak salah konsep atau miskonsepsi. Filsafati pendidikan bertujuan untuk memberikan inspirasi bagaimana mengatur proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan untuk menciptakan gagasan tentang kebijakan dan prinsip pendidikan berdasarkan filosofi pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan rangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan dengan bantuan fitur-fitur dari teori-teori pendidikan. C. Alasan Berfilsafat 1. Imam Barnadib menggemakan gagasan Brubacher bahwa Filsafat Pendidikan harus dipelajari oleh mereka yang mengasah ilmu pendidikan dan keguruan. Alasannya adalah sebagai berikut. Berbagai masalah pengajaran yang muncul dari waktu ke waktu menjadi perhatian masing-masing peneliti. Pendidikan adalah usaha manusia yang memberikan kontribusi bagi kesejahteraan lahir dan batin suatu bangsa dan rakyatnya.
2. Sarjana dalam filsafat pendidikan akan memiliki wawasan yang melampaui ditemukan secara empiris atau eksperimental dalam ilmu pengetahuan. 3. Menurut prinsip bahwa filsafat adalah berpikir secara logis, runtut, teratur dan kritis, maka filsafat dalam pendidikan berarti memiliki kemampuan intelektual dan akademik tersebut. (Irawan, n.d.) D. Ciri-ciri filsafat pendidikan 1. Filsafat Pendidikan abadi yang di topang oleh idealism 2. Filsafat Pendidikan esensialisme didukunfg oleh idealism dan realisme 3. Filsafat Pendidikan progresif didukung oleh filsafat pragmatism 4. Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme yang didukung oleh filsafat pragmatism sebagai perpanjangan dari filsafat progresivisme (muhammad kristiawan, 2016) E. Alasan Berfilsafat Jika manusia mempelajari filsafat, maka kita akan terlatih menjadi manusia yang mampu berpikir secara mendalam, komunikatif, rasional dan radikal dalam berpikir. Apa pun pelatihan utama kita, apa pun profesi kita, dalam hal ini kita menerima dari Tuhan alasan yang tidak Dia berikan kepada hewan. Oleh karena itu, kemampuan berpikir seperti ini sangat diperlukan. Karena belajar filsafat, kita memiliki pengetahuan yang luas, cara berpikir yang benar, rasional dan sistematis. Filsafat bisa membantu kita memahami bahwa setiap sesuatu tidak selalu yang terlihat. Filsafat membantu kita memahami tentang diri kita dan dunia kita karena itu mengajarkan kita bagaimana menghadapi pertanyaan mendasar. Filsafat membuat kita lebih kritis. F. Keterkaitan Filasafat Dengan Pendidikan Filsafat dan filsafat pendidikan memiliki hubungan yang sangat penting, itu merupakan landasan, arah dan arah sistem pendidikan. Menurut Jalaludin & Idi
(2007:32) filsafat pendidikan adalah suatu proses berpikir yang menyangkut pembuatan filsafat bagaimana merencanakan proses pendidikan, mengkoordinasikan dan menetapkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai. Menurut Jalaludin & Idi (2007: 32) hubungan filsafat dengan teori pendidikan adalah: 1. Filsafat, yaitu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah pendidikan dalam rangka mengembangkan teori-teori pendidikan. 2. Tugas filsafat adalah memberikan pandangan tentang konsep-konsep pendidikan yang relevan dengan kehidupan nyata. 3. Filsafat, dalam hal ini filsafat karya pendidikan memberikan pedoman dan pedoman dalam pengembangan teori-teori keilmuan di bidang pendidikan. Hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Filsafat memiliki ruang lingkup yang luas, bersifat umum. Sedangkan mata kuliah filsafat pendidikan dibatasi pada dunia filsafat pendidikan 2. Filsafat berusaha memberikan wawasan/pendidikan atau pengertian dan penalaran, tetapi tidak mendalam 3. Filsafat memberikan sintesis dari filosofi pendidikan yang unik, mempersatukan dan mempersatukannya 4. Bidang filsafat boleh sama dengan bidang filsafat pendidikan tetapi konsepnya berbeda. (Rulam, 2015) Menggunakan filsafat pendidikan, guru sebagai pendidik mengharapkan dan berhak para filosof pendidikan menunjukkan masalah pendidikan secara umum dan bagaimana masalah tersebut mempengaruhi sekolah, termasuk masalah penetapan tujuan, kurikulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengharapkan para filosof pendidikan untuk mengklasifikasikan dengan lebih jelas ide-ide, kontradiksi dalam literatur pendidikan, terutama dalam kontradiksi program pendidikan, uji kemampuan terbatas dan integrasi konvensi pendidikan. Brubacher (1950) berbicara tentang hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan, dalam pendidikan dewasa ini bahwa filsafat tidak menghasilkan ilmu atau pengetahuan baru, tetapi juga filsafat pendidikan. Filsafat adalah karya pemikiran
manusia yang berusaha mencapai kebijaksanaan dan pengetahuan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu yang terutama merupakan solusi dari permasalahan yang timbul dalam bidang pendidikan. Karena sifatnya filosofis, maka filsafat pendidikan ini merupakan aplikasi dari analisis filsafat dalam bidang pendidikan. Dengan demikian antara filsafat pendidikan dan pendidikan terdapat hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Filosofi pendidikan memegang peranan penting dalam sistem pendidikan karena filosofi merupakan visi dan pedoman dasar dari upaya perbaikan, peningkatan pembangunan dan merupakan landasan yang kuat bagi kelangsungan sistem pendidikan. Agama adalah harapan manusia di dunia atau alam semesta yang lebih luas, karena di sana terdapat jalan hidup yang lebih baik. Orang menjadi penganut agama yang setia karena pengelolaan keyakinannya agama telah memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya yang tidak dapat diuji oleh pengalaman atau akal, seperti halnya menguji kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat karena agama lebih mementingkan perasaan dan keyakinan.
Cabang-Cabang Filsafat Pendidikan A. Cabang-Cabang Filsafat Pendidikan Jika kita mengamati karya-karya besar filsuf, seperti Aristoteles (384-322SM) dan Immanuel Kant (1724-1804), ada tiga tema besar yang menjadi fokuskajian dalam karya-karya mereka, yakni kenyataan, nilai, dan pengetahuan. Ketigatema besar tersebut masing-masing dikaji dalam tiga cabang besar filsafat.Kenyataan merupakan bidang kajian metafisika, nilai adalah bidang kajianaksiologi, dan pengetahuan merupakan bidang kajian epistemologi. Namun ada juga yang membagi cabang filsafat berdasarkan karakteristik objeknya. Berdasarkan karakteristik objeknya filsafat dibagi dua, yaitu: 1. Filsafat Umum/Murni. Metafisika, objeknya adalah hakikat tentang segala sesuatu yang ada. Epistemologi. Objeknya adalah pengetahuan/kenyataan. Logika. Merupakan studi penyusunan argumen-argumen dan penarikan kesimpulan yang valid. Aksiologi. Objek kajiannya adalah hakikat menilai kenyataan. 2. Filsafat Khusus/Terapan, yang lebih mengkaji pada salah satu aspekkehidupan. Seperti misalnya filsafat hukum, filsafat pendidikan, filsafat bahasa, dan lain sebagainya. Penjelasan cabang-cabang filsafat : a. Metafisika. adalah cabang filsafat sistematis yang berkaitan dengan keberadaan. Yang mengacu pada sifat dasar keberadaan dan proses analisis realitas selanjutnya b. Epistemologi. adalah cabang filsafat sistematik yang berhubungan dengan pengetahuan. Para ahli epistemologi mempelajari sumber pengetahuan,
termasuk intuisi, argumen apriori, ingatan, pengetahuan perseptual, pengetahuan diri, dan pengakuan. c. Metodologi. adalah cabang filsafat sistematika yang membahas tentang metode. Metode adalah metode, teknik atau cara yang dirancang dan digunakan dalam proses memperoleh informasi apapun. d. Logika. adalah cabang filsafat yang membahas tentang berpikir. adalah cara berpikir khas yang dimiliki orang dari pengetahuan yang ada untuk memperoleh pengetahuan lain, terutama sebagai sarana untuk memecahkan suatu masalah. e. Aksiologi adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap sesuatu ilmu. ilai yang menjadi kajian aksiologi ada dua, itu sebabnya aksiologi dibagi menjadi dua sub cabang yaitu: Etika. Kajian filsafat mengenai baik dan buruk, lebih kepada bagaimana seharusnya manusia bersikap dan bertingkah laku, apa makna etika atau moralitas dalam kehidupan manusia. Estetika. Nilai yang berhubungan dengan keindahan (indah dan buruk).Mengkaji mengenai keindahan, kesenian, kesenangan yang disebabkanoleh keindahan. B. Mengkaji Mengenai Filsafat Pendidikan Filsafat pendidikan adalah jiwa, roh dan kepribadian sistem pendidikan nasional.filsafat menjadikan manusia berkembang dapat memiliki pandangan hidup yang menyeluruh dan sistemitis yang termuat dalam bentuk kurikulum. Dengan sistem kurikulum pengajaran dan pembelajaran dapat lebih terarah dan praktisi dapat dengan mudah menyuam rencana pembelajaran untuk mengajar kepada peserta didik Pengembangan mata pendidikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antara landasan filosofi, paradigma pendidikan, metodologi pengembangan ilmu pendidikan, pengembangan teori ilmu-ilmu pendidikan dan daya dukung organisasi. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan filsafat.Pandangan filosofi tentang pendidikan dapat dilihat pada
aspek empat, yaitu dasar dan hujan pendidik, perdidikan, peserta didik, kurikulum, dan sistem pendidikan. Pandangan hidup sebuah masyarakat atau bangsa yang dibangun di atas falsafah yang kuat, pasti akan memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat dan bangsa tersebut yang menghasilkan dan membentuk suatu cara yang dapat ditanamkan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya dalam konteks yang lebih luas. Oleh karena itu, filsafat pendidikan harus sentiasa dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip falsafah yang dianut oleh masyarakat dan bangsa tersebut.Hal ini karena dalam lembaga pendidikan resmi memiliki fungsi dan tugas untuk membina dan mewariskan nilai- nilai perilaku yang ideal untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat. Agar tujuan tersebut dapat tercapai dan berjalan efektif dan efisien diperlukan landasan filosofis dan nilai ilmiyah yang pada akhirnya menjadi pedoman dan pedoman normatif dan non normatif dalam pelaksanaan sistem pendidikan yang unggul. Menutup paralangan John Dewey, Hasan Langulung (1987) menyebutkan hahwa filsafat merupakan teori umum, schagai landasan dari seman pemikiran umum yang berhubungan langsung dengan pendidikan.Dalam kaitan ini, Hasan Langgulung berpendapat bahwa filsafat pendidikan adalah penerapan cara dan pandangan filsafat dalam bidang pengalaman mamia yang kemudian disebut dengan istilah pendidikan. membangun kepribadian manusia. akan menghasilkan kualitas pendidikan yang ideal dalam semua tahapannya. Penetapan nilai, pemikiran, ide,gagasan,gagasan dan idealisme dalam proses pembangunan dan pembekalan nilai-nilai pendidikan dan pengajaran yang dibina di atas landasan dasar filosofis yang kuat, Sehingga tergambar dalam pemikiran kita hahwa pendidikan yang lahir dari filosofi dasar yang kuat dan pasti. Filsafat pendidikan : Ilmu pendidikan yang bersendikan filsafat atau filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan masalah pendidikan.
Pendekatan filsafat pendidikan : Dari definisi tersebut, filsafat pendidikan dapat didekati dari problem-problem pendidikan yang bersifat filosofis yang memerlukan jawaban yang filosofis pula. Filsafat pendidikan dapat pula didekati dari ide-ide filosofis yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan. Masalah utama filsafat Masalah keberadaan termasuk masalah kenyataan ( being and reality) disebut Metafisika. Masalah pengetahuan termasuk masalah kebenaran (knowledge) disebut Epistemologi. Masalah nilai (value) disebut Aksiologi. C. Implikasi Filsafat Di Sekolah Implikasi filosofi pendidikan adalah seperangkat filosofi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Implikasi sosial yang terjadi dikalangan masyarakat tentu saja mempengaruhi pendidikan, baik sebagai ilmu maupun aktivitas. Implikasi kultural kurikulum harus disusun berdasarkan kondisi sosial kultural dari masyarakat. Implikasi psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Implikasi ilmiah dan teknologi adalah instrumen yang didukung oleh perkembangan zaman yang semakin canggih dalam rangka mempercepat terwujudnya ketangguhan dan keunggulan bangsa. Implikasi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara Bagi Seorang Guru Yaitu : 1. Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan adalah wadah tempat berkumpulnya segala bakal kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Pendidikan dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan. Pendidikan merupakan landasan pembentukan peradaban bangsa.
2. Pendidikan dan kebudayaan hal dinamis Pendidikan dan kebudayaan adalah hal yang dinamis, karena selalu berubah sesuai perkembangan zaman dan teknologi. Pendidikan tidak boleh lumpuh dikarena kan pendidikan adalah tuntutan zaman. 3. Guru Guru menuntun segala ketentuan yang ada pada anak. untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. 4. Cipta, Karsa dan Karya Pendidikan adalah perubahan budi pekerti Budi = hati nurani dan Pekerti = tenaga/raga. Pendidikan itu harus seimbang. Jika kita sebagai guru melakukan kegiatan pendidikan yang seimbang maka akan dapat menghadirkan generasi yang penuh dengan berbudi. 5. Berpihak pada anak Pendidikan harus memenuhi tumbuh kembang anak. Anak-anak berkembang sesuai bakat yang dimilikinya sendiri. Kita sebagai gurunya yang harus mampu memunculkan keunikan pribadi yang menjadi bakatnya untuk kemudian dikembangkan menjadi suatu kelebihan yang membawa manfaat bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. 6. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani Guru sebagai motivator, bagi peserta didiknya. Guru memberi semangat untuk siswasiswinya. Guru mendorong siswa-siswinya dapat berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.
Tokoh-Tokoh Filsafat Pendidikan Dan Perkembangan Filsafat Pendidikan A. Tokoh-Tokoh Filsafat Pendidikan 1. Al-Kindi Berfilsafat tidak berakibat mengaburkan dan mengorbankan kenyakinan agama. Alkindi mengemungkakan bahwa banyaknya definisi filsafat tanpa menyebutkan definisi mana yang menjadi miliknya. Yang dipaparkan berupa definisi dari filsafat terdahulu, tanpa menegaskan dari siapa diperolehnya. dengan menyebut berbagai macam definisi tersebut pengertian yang sebenarnya tercakup dalam semua definisi yang ada, tidak hanya pada salah satunya. Menurut Al-Kindi untuk memperoleh pengertian lengkap tentang filsafat itu harus memperhatikan semua unsur yang terdapat dalam semua definisi tentang filsafat. Al-Kindi mengatakan filosof adalah orang yang memperoleh kebenaran dan mengamalkan kebenaran yang diperolehnya serta menjunjung tinggi nilai keadilan dalam hidupnya.
2. Al-Farabi Al filmu bilmaujudaat hima Hiya Al Maujudaat yang berarti suatu ilmu yang membahas tentang hakikat sebenarnya dari segala yang ada. Al-Farabi berhasil memasukkan dasar filsafat kedalam ajaran Islam. Dia juga berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara filsafat Plato dan Aristoteles, sebab kelihatan berlainan pemikirannya tetapi hakikatnya bersatu dalam tujuan. Pola pikir pada bidang mantiq dan fisika, Al-Farabi sependapat dengan pola pikir Aristoteles dalam bidang etika dan politik, dan persoalan metafisika ia sependapat dengan plotunis. karya Aristoteles merupakan masalah Burhan (dalil), Ibarat (keterangan). Khitobah (cara berpidato), al jadal (argumen/berdebat). Qias (analogi), adapun ulasan ia terhadap karya Plotinus adalah kitab Al majelis fi-thnil falaq, juga terhadap karya Iskandar Al Dfraudisiy tentang Magalah Fin-nafsi. 3. Ibnu Sina. filsafat Ibnu Sina memadukan filsafat dan agama. nabi dan filosof mengemungkakan bahwa kebenaran berasal dari sumber yang sama, yaitu malaikat Jibril yang disebut akal sepuluh atau akal aktif. Perbedaannya terletak pada cara merolehnya, bagi nabi terjadi hubungan dengan malaikat Jibril melalui akal materi yang disebut hads (kekuatan suci), sedangkan filosof melalui filosofi serta melalui akal mustafad. Ibnu Sina membuktikan bahwa adanya Tuhan (ishat wujud Allah) dengan dalil wajib alwujud dan mukmin al-wujud mengesahkan duplikat Al-Farabi buku filsafat terdiri dari 4 bagian, yaitu logika, fisika, matematika, dan metafisika (ketuhanan). Buku tersebut memiliki beberapa naskah yang terbesar diberbagai perpustakaan barat dan timur. Karena Bagian ketuhanan dan fisika pernah dicetak dengan cetakan batu Di Teheran pada tahun 1956. Sehingga Lembaga Keilmuan Ckoslowakia di Praha juga menerbitkan ke enam dari bagian fisika khususnya mengenai ilmu jiwa. 4. Al-Razi Metode pemikirannya adalah bersistem pengembangan daya intlektual. Jika ada seseorang murid bertanya pertanyaan tersebut tidak langsung dijawab melainkan dilemparkan kembali kepada murid lain yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Ia juga membahas mengenai filsafat Lima Kekal (Al-Qadiim) . dan dia juga mngklasifikasi pada yang hidup dan aktif. Al Razi termasuk seorang rasonalis murni. Ia hanya mempercayai terhadap kekuatan akal. Bahkan bidang kedokteran bidang studi klinis yang dilakukannya telah menemukan metode yang kuat, dengan berpijak kepada observasi dan eksperimen. Pokok pendirian Al Razi dalam pemikiran ini adalah alam dan kekalan gerak.
Al Razi termasuk orang yang sangat aktif berkarya , bahkan bukunya sangat banyak, bahkan dia mempersiapkan sebuah katalog yang diproduksi oleh Ibn Al-Nadim. Adapun buku yang ditulisnya, mencakup ilmu kedokteran, ilmu fisika, logika, matematika, astronomi, komemtar, ringkasan, ikhtisar, filsafat, ilmu pengetahuan hipotesis, atheisme, dan campuran. 5. Ibnu Maskawaih a. hikmah Hikmah dan Falsafah Maskawaih membedakan pengertian hikmah dan falsafah (filsafat). Ia berpendapat bahwa hikmah merupakan keutamaan jiwa yang cerdas (aqilah), yang mampu membeda-bedakan. Sedangkan filsafat tidak memberikan dengan tegas hanya membagi filsafat menjadi dua bagian, bagian teori dan bagian praktis. b. Metafisika Metafisika adalah bukti adanya Tuhan Pencipta, jiwa dan kenabian (nubuwwah). kesempurnaan ilmu itu pikirannya benar, kenyakinannya benar dan tidak ragu terhadap kebenaraan. Dari kesempurnaan moral dapat mengatur hubungan antar sesama manusia sehingga tercipta kebahagian hidup bersama. 6. Ikhwan Al-Shafa Ikhwan Al-shafa menyatakan bahwa filsafat itu bertingkat-tingkat. Diantaranya yaitu : cinta ilmu, mengetahui bagaimana hakikat wujud menurut kesanggupan manusia, ia berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu. disimpulkan bahwa golongan ahwanussafa tidak penah membagi filafat amalan, namun bagian amalan ini keseluruhannya dimasukkan didalam bagian ketuhanan. Selain itu mereka juga memasukkan politik kenabian dan ilmu keakhiratan pada partikel yang baru. tujuan pokok bidang keagamaan yang akan mereka capai, yakni merekonsiliasikan atas menyelaraskan antara agama dan filsafat serta agama-agama yang ada. Ungkapan ini terlihat dari sebuah ungkapan mereka bahwa syariah telah dikotori oleh bermacam kejahilan dan dilumuri oleh berbagai kesesatan. 7. Al- Ghazali Esai Al- Ghazali berjumlah kurang lebih 100 buah. Karangannya mempunyai berbagai macam lapangan ilmu pengetahuan. yaitu ilmu kalam, fiqih, tasawuf, akhlak, autobiografi. yang memiliki kekurangan paling besar adalah berbahasa arab dan berbahasa persia. Sikap skeptis yang akan menimpa dan yang berlangsung lama, dengan berakhir suatu keadaan, dimana diriku tidak percaya kepada pengetahuan indrawi, keraguan-keraguan Al-Ghazali terhadap pengetahuan inderawi. Pada waktu
berjaga (tidak tidur) Al Ghazali masih melihat kebenaran yang diperoleh oleh indra maupun akal pikiran. untuk itu apakah memang benar dipercayai sesuatu yang nyata dapat dibandingkan dengan keadaan yang dialami? untuk itu bisa saja datang suatu keadaan baru yang dimana hubungan antara waktu jagamu dengan keadaan baru, yang tidak lain hanyalah mimpi belaka. Filsafat Metafisika adalah mengenai kejadian alam dam dunia, Al Ghazali berpendapat bahwa dunia berasal dari iradat (kemauan) Tuhan semata-mata, yang tidak terjadi dengan sndirinya. Iradat tuhan itulah yang akan diartikan penciptaan. Iradat ini akan menghasikan ciptaan yang berganda, dari satu pihak yang merupakan zarah-zarah (atom-atom) yang masih abtrak. 8. Ibnu Bajjah Ibnu Bajjah merupakan ahli yang menyadarkan pada teori dan praktik ilmu matematika, astronomi, musik, mahir ilmu pengobatan dan studi- studi spektakuler seperti logika, filsafat alam dan metafisika, seperti yang telah dikatan oleh De Boer dalam The History of philosofhin islam. Menurut ibnu bajjah materi dapat berekstens: harus ada bentuk. ia beragumen jika berbentuk, maka ia akan terbagi menjadi materi dan bentuk dan begitu seterusnya, Akal dan pengetahuan yang benar akan dapat diperoleh melalui aka. akal merupakan satu-satunya sarana yang bisa mencapai kemakmuran dan membangun kepribadian. Definisi jiwa yang menyatakan bahwa tubuh, baik yang alamiah maupun yang tidak alamiah. tersusun dari materi dan bentuk dari perolehan permanen atau kenyataan tubuh jiwa yang berhasrat itu terbagi menjadi tiga bagian yaitu: hasrat imajinatif yang melalui anak keturunan dibesarkan individu- individu dibawa ketempat tinggal mereka dan memiliki rasa sayang, serta cinta yang semacamnya. Hasrat menegah, yang dapat timbul nafsu akan makanan, perumahan, kesenian, dan ilmu. 9. Ibnu Tufail Tentang dunia, adalah salah satu masalah filosofisnya adalah apakah dunia ini abadi, atau diciptakan Tuhan dari ketiadaan atas kehendak- Nya? Dalam filsafat Islam. Ibnu Tufail, sejalan dengan kemampuan leksikalnya, dalam menghadapi masalah sama persis dengan yang dihadapi Kant. Tidak sama seperti pendahulunya, dia tidak menganut doktrin saingannya, dan juga tidak mendamaikan mereka. Tentang Tuhan, yang mengikuti pandangan Ibnu Sina, Ibnu Tufail mereka membuat perbedaan antara abadi dalam esensi dan abadi dalam waktu, dan mereka percaya bahwa Tuhan ada jauh sebelum dunia dalam hal esensi tetapi tidak dalam waktu. Tentang Kosmologi Cahaya, Ibnu Tufail menerima prinsip bahwa dari yang satu tidak ada yang lain kecuali yang itu.Manifestasi kemajemukan \mewujudkan apa yang dijelaskan dalam gaya NeoPlatonik yang monoton, sebagai tahap-tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya tuhan. dalam Epistimologi Pengetahuan, Ibnu Tufail akhirnya berpaling kepada
kedisiplinan jiwa, yang membawa kepada ekstase dan sumber tertinggi pengetahuan. 10. Ibnu Rusyd Pencari Tuhan, Ibnu Rusyd meneliti tentang berbagai golongan yang muncul dalam Islam, menurut pendapatnya yang paling terkenal adalah 4. yaitu : Ash riyah, Mu'tazilah, Batiniah, dan Hashiwiah, Masing- masing golongan memiliki keyakinan yang berbeda tentang Tuhan , dan banyak memindahkan kata-kata syara' dari arti lahirnya kepada takwilan-takwilan yang disesuaikan dengan kepercayaannya. Kemudian mereka harus dianut oleh semua orang dan barang siapa yang menyimpang darinya berarti kafir atau telah menjadi bid'ah. Sebab terjadi keadaan tersebut ialah karena mereka sudah menyimpang dari maksud dari syara' dan tidak dapat memahaminya. Menurut Ibnu Rusyd untuk ini mereka mereka tidak menempuh jalan yang ditunjukkan oleh syara' karena mendasarkan baharunya alam atas tersusun dari bagian-bagian yang tidak terbagi-bagi. dan bahwa bagian-bagian itu adalah baru. Kalu kita memperkirakan alam ini baru, maka ia mesti ada pembuatnya yang baru, dan pembuat ini membutuhkan pembuat yang lain, dan begitu seterusnya sampai tidak berkesudahan. Kalau kita memperkirakan alam ini qadim (azali), maka perbuatan pembuatan yang berhubungan dengan perkara-perkara yang dibuatnya tersebut adalah qadim juga. B. Perkembangan Filsafat Pendidikan Filsafat islam adalah gabungan dari dua kata yang terdiri dari filsafat dan islam. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa yunani yaitu kata philein (philos danshopia) yang berarti cinta. Dalam makna luas philein yaitu hasrat keingintahuan seseorang terhadap sesuatu, ilmu pengetahuan dan kebenaran. Selain itu, kata islam secara sematik berasal dari kata salima yang berarti menyerah, tunduk, dan selamat. Islam memiliki arti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Dengan tujuan untuk memperoleh keselamatan dan kedamaian dalam hidup. Filsafat islam pada awalnya dikembangkan oleh para filosof, yaitu filosof muslim. Hal ini muncul dari pertanyaanpertanyaan manusia mengenai agama yang belum ditemukan jawabannya. Dalam sejarah dan perkembangan filsafat, pertemuan Islam atau kaum muslimin dengan filsafat, terjadi pada abad ke-8 masehi (abad ke-2 Hijriah), pada saat itu Islam berhasil dalam mengembangkan sayapnya dan menjangkau daerah-daerah baru. Pada masa abad pertengahan, filsafat telah dikuasai oleh umat Islam. Buku-buku filsafat Yunani, diseleksi, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Perkembangan filsafat Islam dalam kehidupan intlektual telah hidup dan memainkan perannya secara signifikan dalam dunia Islam. Minat dan gairah manusia dalam mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan pada saat itu sangat tinggi karena pemerintah pada masa itu berperan sebagai pelopor dan pioner utamanya.
Perkembangan filsafat islam telah ditentukan dari hasil pemikiran umat islam secara keseluruhan. Karena merupakan buah dari dorongan ajaran Qur'an dan hadist. Tingginya kedudukan manusia sesuai kedua sumber ajaran Islam tersebut telah bersinggungan dengan besarnya peran akal dan ilmu yang tumbuh subur dalam peradaban bangsa lain, khususnya bagi peradaban Yunani, Persia, dan India. Teori filsafat pendidikan, esensialisme, perenialisme, progresivisme dan eksistensialisme A. Teori Esensialisme Esensialisme berasal dari Bahasa latin essential yang berarti hakekat koderat.Aliran ini berlawanan dengan filsafat eksistensialisme.Aliran esistensialisme sebuah aliran filsafat yang berdasar pada Parmenides dan Plato. Esensialisme aliran filsafat yang berdirinya didasari atas dua aliran filsafat yakni Idealisme, dan Realisme.Dalam aliran ini pendidikan lebih penting berpijak pada nilai yang terpilih yang mempunyai tata yang jelas.Menjadikan belajar sebagai sebuah dari kesungguhan usaha tanpa derita atau menjauh dari persoalan sulit,bergulat dengan dasar-dasar pendidikan. Aliran filsafat pendidikan Essensialisme ini mengganggap nilai-nilai berbudi pekerti yang baik itu terletak pada warisan-warisan budaya yang telah membuktikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan manusia.Dengan memiliki nilai budi pekerti yang baik akan menjadikan manusia memiliki sikap yang baik untuk menunjang sebuah perilaku dalam pendidikan.
Filsafat Essensialisme merupakan filsafat pendidikan konservatif yang dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap praktek pendidikan progresif di sekolahsekolah,paraessensialisme berpendapat bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda dimana pendidikan harus menanamkan nilai-nilai luhur yang tertata jelas. Prinsip-prinsip pendidikan esensialisme dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Pendidikan pada esensialisme harus dilakukan melalui usaha yang keras tidak begitu saja timbul dari dalam diri siswa.Dengan dibarengi oleh sikap disiplin pada dirinya agar memfokuskan pada tugas yang didapatkannya.Guru yang berpengaruh dalam usaha dan kerja keras siswa untuk membantu mereka siap dalam melakukan tugas berat dan sulit. 2. Inisiatif dalam pendidikan yaitu pada guru bukan pada murid,karena murid hanya mengikuti perintah dari guru dan guru merupakan pemimpin atau orang yang berpengaruh di dalam kelas. 3. Sekolah harus memperthankan metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental. Aliran filsafat esensialisme adalah aliran yang menerapkan warisan-warisan budaya yang baik.Jadi didalam dunia pendidikan peranan guru dan sekolah lah yang sangat berpengaruh seperti sekolah menerapkan aturan-aturan yang mendisiplinkan siswa dengan carawarisan-warisan budaya dan tetap mengembangkan warisanwarisan budaya. Aliran filsafat Idealisme dan aliran filsafat Realisme adalah aliranaliran filsafat yang membentuk corak dalam aliran filsafat Esensialisme.Sumbangan yang diberikan oleh masing-masing ini bersifat elektif,artinya dua aliran filsafat ini bertemu sebagai pendukung Esensialisme,tetapi tidak melebur menjadi satu.Berarti,tidak melepaskan sifat-sifat utama dari masing-masing aliran filsafat pendidikan. Tujuan umum aliran filsafat Esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia dunia dan akhirat,dan isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan,kesenian,dan segala hal yang mengarah pada kehendak manusia.
B. Teori Perenialisme Perennialism adalah filosofi pendidikan yang berpusat pada guru yang berfokus pada ide-ide abadi dan kebenaran universal. Untuk memperjelas, Perennialism menyarankan bahwa fokus pendidikan haruslah pada ide-ide yang telah bertahan selama berabad-abad yang meyakini bahwa ide-ide tersebut relevan dan bermakna saat ini seperti ketika mereka ditulis. Filosofi pendidikan ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa untuk hidup dengan mengembangkan kualitas intelektual dan moral mereka melalui penekanan pada pengetahuan dan makna pengetahuan, melayani untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pencarian mereka akan kebebasan individu, hak asasi manusia dan tanggung jawab melalui alam. Tujuan Perenialisme dalam Pendidikan adalah untuk mengembangkan kekuatan pemikiran, menginternalisasi kebenaran yang universal dan konstan, dan untuk memastikan bahwa siswa memperoleh pemahaman tentang ide-ide hebat peradaban Barat. Ini adalah filosofi yang paling konservatif, tradisional, dan fleksibel. Perennailisme merangsang siswa untuk berpikir kritis dan penuh pertimbangan; menumbuhkan pikiran rasional. Perenialisme adalah kelas difokuskan pada kurikulum dan kebutuhan alam. Kurikulum akan fokus pada pencapaian literasi budaya, menekankan pertumbuhan siswa dalam mempertahankan disiplin ilmu. Mereka menekankan belajar dengan membaca dan menganalisis karya para pemikir dan penulis terbaik sejarah. Perenialis percaya bahwa membaca harus dilengkapi dengan penyelidikan timbal balik dengan guru dan diskusi yang diarahkan minimal melalui metode Socrates untuk mengembangkan pemahaman konsep yang berorientasi historis. Kurang penekanan pada pendidikan kejuruan dan teknis dan lebih banyak pada humaniora. Perenialisme mempunyai ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri itu adalah (Sadullah Uyoh,2004: 23) : 1. Perenialisme berakar pada tradisi filosofis klasik yang dikembangkan oleh plato, Aristoteles dan Santo Thomas Aquines.
2. Sasaran pendidikan ialah kemampuan menguasai prinsip kenyataan, kebenaran dan nilai-nilai abadi dalam arti tak terikat oleh ruang dan waktu. 3. Nilai bersifat tak berubah dan universal. 4. Bersifat regresif (mundur) dengan memulihkan kekacauan saat ini melalui nilai zaman pertengahan (renaissance). Kondisi dunia yang terganggu oleh budaya yang tak menentu yaang berada dalam kebingungan dan kekacauan seperti diungkapkan diatas, maka dengan ini memerlukan usaha serius untuk menyelamatkan manusia,dari kondisi yang mencekam dengan mencari dan menemukan orientasi dan tujuan yang jelas,dan ini adalah tugas utama filsafat pendidikan.perenialisme dalam hal ini mengambil jalan regresif dengan mengembalikan arahnya seperti yang menjadi prinsip dasar perilaku yang dianut pada masa kuno dan dan abad pertengahan. Motif Perenialisme dengan mengambil jalan regresif bukanlah hanya nostaligia atau rindu akan nilai nilai lama untuk diingat atau dipuja,melainkan berpendapat bahwa nilaai tersebut mempunyai kedudukan vital bagi pembaangunan kebudayaan abad ke dua puluh.prinsip prinsip aksiomatis yang terikat oleh waktu itu terkandung dalam sejarah. Perenialisme memiliki dasar pemikiran yang melekat pada aliran klasik yang ditokohi oleh plato,aristoteles,augustinus,dan aquinas,perenialisme dalaam konteks pendidikan ditokohi oleh Robert maynard Hutchins,Mortimer J.Aadler,dan Sir Richard livingstone. Prinsip mendasar perenialis kemudian dikembangkan pula oleh Sayyed Husein Nasr seorang filsuf islam kontemporer yanh mengatakan bahwa manusia memiliki fitrah yang sama yang berpangkal pada asal kejadiannya yang fitri yang memiliki konsekuensi logis pada watak kesucian dan kebaikan.perenialisme dalam konteks Sayyed Husein Nasr terlihat hendak mengembalikan kesadaran manusia akan hakikatnya yang fitri akan membuatnya berwatak kesucian dan kebaikan. C. Teori Progresivisme Secara bahasa progresivisme berasal dari kata progres yang berarti kemajuan. Sedangkan secara harfiah aliran progresivisme merupakan aliran yang menginginkan
kemajuan secara cepat. Secara istilah progresifisme merupakan salah satu aliran yang menghendaki suatu kemajuan yang membawa perubahan. Aliran ini merupakan salah satu filsafat pendidikan modern. Jadi, pengertian progresivisme secara artin luas adalah suatu aliran yang menekankan pendidikan bukan lah sekedar pemberian pengetahuan akan tetapi berisi aktifitas yang tertuju pada pelatihan berfikir mereka sehingga bisa berfikir secara sistematis. Pengetahuan yang dihasilkan dari progresivisme berdasarkan realitas faktual. Dalam pendidikan, Orang-orang progresivisme lebih menekankan pada melatih dan merangsang pendidik untuk terus berpikir.Guru berperan sebagai pembimbing dan menjadi sumber pengetahuan untuk menfasilitasi siswa dan guru memberikan pengalaman yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut aliran ini tentang belajar. Menurutnya anak didik itu bukan manusia kecil tetapi manusia seutuhnya yang berpotensi untuk berkembang dan memiliki potensi yang berbeda-beda. Dalam hal ini difokuskan pada siswa bukan guru ataupun lainnya, jadi benar-benar memperhatikan peserta didik dan guru mempunyai cara pembelajaran yang berbeda karena tidak semua siswa memiliki potensi yang sama. Menurut aliran ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar yaitu : 1. Memberikan belajar siswa untuk perorangan 2. Memberikan siswa kesempatan belajar melalui pengalaman 3. Memberikan siswa motivasi bukan perintah 4. Mengikutsertakan siswa pada setiap kegiatan yang berdampak positif Henderson (1959:121) mengemukakan bahwa pendidikan progresivisme dilandasi oleh filsafat naturalisme romantika dari Rousseau, dan pragmatisme dari John Dewey. Dasar dari Rousseau yang melandasi progresivisme adalah pandangan tentang hakikat manusia, sedangkan dari pragmatisme Dewey adalah pandangan tentang minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan. Secara lebih detil mengenai
aliran pemikiran filsafat pendidikan progresivisme akan dibahas dalam bagian-bagian berikut ini. Progresivisme juga merupakan pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat: 1. Fleksibel ( Tidak kaku, tidak menolak perubahan,dan tidak terikat oleh dokrin tertentu ) 2. Curious ( Ingin mengetahui, ingin menyelidiki ) 3. Toleran dan open-minded ( Mempunyai hati terbuka ) Progresivisme didasarkan pada keyakinan bahwa pendidikan harus berpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Progresivisme didasarkan pada enam asumsi, yaitu: 1. Muatan kurikulum harus diperoleh dari minat-minat siswa bukannya dari disiplindisiplin akademik. 2. Pengajaran dikatakan efektif jika mempertimbangkan anak secara menyeluruh dan minat-minat serta kebutuhan-kebutuhannya dalam hubungannya dengan bidangbidang kognitif, afektif, dan psikomotor. 3. Pembelajaran pada pokoknya aktif bukannya pasif. Pengajaran/ guru yang efektif memberi siswa pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka belajar dengan melakukan kegiatan. 4. Tujuan dari pendidikan adalah mengajar para siswa berpikir secara rasional sehingga mereka menjadi cerdas, yang memberi kontribusi pada anggota masyarakat. 5. Di sekolah, para siswa mempelajari nilai-nilai personal dan juga nilai-nilai sosial. 6. Umat manusia ada dalam suatu keadaan yang berubah secara konstan, dan pendidikan memungkinkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan masa lalu.
D. Teori Eksistensialisme Eksistensialisme berbeda dengan aliran-aliran filsafat yang sudah dibahas pada tulisan sebelumnya, disini saya akan menjelaskan lebih lebarnya dimana perbedaan antara Eksistensialisme tersebut dengan aliran-aliran lainnya. Dalam eksistensialisme tidak membahas esensi manusia secara abstrak, maksudnya ialah dimana eksistensialisme ini membahas tentang hakikat manusia secara spesifik meneliti kenyataan konkrit manusia, sebagaimana manusia itu sendiri berada dalam dunianya. Eksistensialisme tidak mencari esensi atau substansi yang ada di balik penampakan manusia, melainkan hendak mengungkap eksistensi manusia sebagaimana yang dialami oleh manusia itu sendiri, misalnya seperti pengalaman individu itu tersebut. Esensi atau substansi mengacu pada sesuatu yang umum, abstrak, statis, sehingga menafikkan sesuatu yang konkret, individual, dan dinamis. Sebaliknya, eksistensi justru mengacu pada hal yang konkret, individual dan dinamis. Itu dimaksudkan karena seorang individu belajar dari apa yang mereka alami sesuai faktanya. Dan itu dialami oleh dirinya sendiri bukan orang lain. Istilah eksistensi berasal dari kata existra (eks=keluar, sister =ada atau berada), dengan demikian, eksistensi memiliki arti sebagai “sesuatu yang sanggup keluar dari keberadaannya” atau “sesuatu yang mampu melampaui dirinya sendiri”. Dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak ada sesuatupun yang mempunyai ciri atau karakter existere selain manusia. Hanya manusia yang bereksistensi. Hanya manusia yang sanggup keluar dari dirinya, melampaui keterbatasan biologis dan lingkungan fisiknya, berusaha untuk tidak terkungkung dari segala keterbatasan yang dimillikinya, contohnya saja pada orang yang tidak memiliki kaki, dia mampu keluar dari dirinya dan mampu berbaur dengan orang lain tanpa memperdulikan kekurangan yang ada pada dirinya.dia mampu berkreasi tanpa bantuan orang lain, dan mampu menghasilkan uang dari apa yang telah mereka perbuat.oleh sebab itu, para eksistensialis menyebut manusia sebagai suatu proses, “menjadi”, gerak yang aktif dan dinamis.
Ada beberapa tema kehidupa yang coba diungkap oleh para eksistensialis. Menurut mereka tema-tema tersebut selalu dialami oleh manusia dan mendasari perilaku manusia. Tema-tema tersebut diantaranya adalah kebebasan (pilihan bebas), kecemasan, kematian, kehidupan yang otentik ( menjadi diri yang otentik), ketiadaan,dll. Masalah kebebasan dan kehidupan yang otentik oleh eksistensialime dianggap sebagai 2 masalah yang mendasar dalam kehidupan manusia. Manusia diyakini sebagai makhluk yang bebas dan kebebasan itu adalah modal dasar untuk hidup sebagai individu yang otentik dan bertanggung jawab. Pokok-pokok filsafat eksistensialisme adalah 1. Menganggap bahwa hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi merupakan cara khas manusia mengada. Perhatian utama diarahkan pada manusia dan oleh karena itu, filsafat ini bersifat humanistis, 2. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Pengertian bereksistensi berarti bahwa manusia menciptakan dirinya secara aktif, berbuat, menjadi dan merencanakan, 3. Manusia ditinjau sebagai "sesuatu" yang terbuka dan manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk, 4. Filsafat ini memberi tekanan pada pengalaman yang konkret yang berbedabeda. Martin Heidegger (1889*1976) memberi tekanan pada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu. Dikatakan oleh Heidgger bahwa di dalam kesibukan dan kecintaan untuk memelihara manusia merasa cemas akan ketiadaan karena ketiadaan ini mengancam ada. Kematian ini adalah akhir yang selalu hadir, maka eksistensi manusia adalah eksistensi yang menuju ke kematian. Gabriel Marcel (1889 +1973) memberi tekanan pada pengalaman keagamaan dan hal yang transendental. Ini ditunjukkan melalui ajarannya mengenai adanya "Engkau yang tertinggi", yang tidak dapat dijadikan obyek oleh manusia. Karl Jaspers (1883*1969) memberi tekanan pada
pengalaman saling pertentangan dalam eksistensi yang sulit didamaikan. Eksistensi masih mengandung di dalamnya hal-hal yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah. Sifat-sifat hakiki eksistensi ini lebih-lebih dialami dalam situasi perbatasan yang tidak dapat dihindari yaitu kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan. Jean Paul Sartre (1905*1980) memberi tekanan pada kebebasan manusia. Manusia tidak lain daripada bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri. "Man is nothing else but what he makes of himself". Maka manusia itu bebas dalam arti yang sebenarnya, ia menciptakan masa depannya dan karena itu ia bertanggung jawab bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada orang lain ataupun Tuhan.
PEMIKIRAN-PEMIKIRAN PERENIALISME DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN 1. Pemikiran perenialisme Perenialisme adalah aliran pendidikan yang muncul pada abad ke-20. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap kemajuan pendidikan. Perenialisme melihat situasi dunia saat ini penuh dengan kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosial budaya. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki penyimpangan tersebut, terutama melalui pemanfaatan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip bersama yang telah menjadi pedoman hidup yang kokoh, kuat, dan teruji. Perenialisme berasal dari kata perenial, yang berarti abadi dan bisa juga berarti tak terbatas.Oleh karena itu, hakikat filsafat abadi adalah ketaatan pada nilai-nilai atau standar-standar abadi. Aliran ini memberikan analogi dengan realitas sosial dan budaya Perenialisme berarti berkelanjutan, permanen, atau abadi. Dalam sejarah peradaban manusia banyak ideide besar yang selalu bisa dirujuk. Aliran ini sesuai dengan paham realisme, yang sejalan dengan pandangan Aristoteles bahwa manusia itu rasional. Sekolah merupakan lembaga yang diciptakan untuk mengembangkan kecerdasan. Siswa harus diajari ide-ide hebat untuk dicintai agar mereka menjadi intelektual sejati. Akar filsafat ini berasal dari gagasan besar Plato dan Aristoteles, kemudian Thomas Aquinas. Perenialisme muncul sebagai reaksi terhadap pendidikan progresif.Perenialisme berbeda dengan pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan kebaruan. Jalan kaum perennialis adalah kembali dan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang menjadi pedoman hidup yang kuat dan tak tergoyahkan di zaman kuno dan Abad Pertengahan. Berkenaan dengan pendidikan, para peneliti yang gigih berpendapat bahwa dalam dunia yang tidak pasti penuh dengan kekacauan dan bahaya, tidak ada yang lebih baik daripada kepastian tentang tujuan pendidikan dan stabilitas dalam perilaku para pendidik. a. Tokoh-tokoh perenialisme 1) Plato
Menurut Plato, manusia secara alami memiliki tiga potensi, yaitu nafsu, keinginan dan pemikiran. Pendidikan harus berorientasi pada ketiga potensi tersebut agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Sedangkan ketiga potensi tersebut tidak sama pada setiap manusia. Orang dengan potensi keinginan yang tinggi adalah orang-orang dari kelas sosial atas atau kelas penguasa.Orang dengan potensi kemampuan yang dominan adalah prajurit atau orang kelas menengah. Orang potensi nafsunya adalah orang biasa. 2) Aristoteles Aristoteles beranggapan pembinaan kebiasaan sebagai landasan, khususnya dalam pengembangan disiplin atau kesadaran moral, harus melalui proses memulai kebiasaan pada usia dini. Secara ontologis, ia berpendapat bahwa sifat atau karakter anak lebih banyak potensialitas sedangkan guru lebih banyak aktualitasnya.Bagi aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan, untuk mencapai tujuan tersebut perlu dikembangkan aspek fisik, emosional dan intelektual secara seimbang. 3) Thomas Aquinas Sebagaimana halnya dengan Plato dan Aristoteles, tujuan pendidikan yang di tuju oleh Thomas Aquinas sama seperti tujuan pendidikan Plato dan Aristoteles, yaitu upaya untuk mewujudkan kemampuan yang ada pada individu, menjadi aktif dan realitas nyata. Tingkat aktif dan nyata yang muncul bergantung pada kesadaran seseorang. b. Konsep dasar perenialisme dalam pendidikan 1) Konsep ontologi perenialisme Ontologi perennialisme terdiri dari konsep-konsep seperti objek individual, esensi dan substansi, aksiden. Perenialisme membedakan realitas secara ontologis ke dalam aspek-aspek kehidupannya. Objek individual di sini adalah objek yang tampak oleh manusia dan yang dirasakan oleh panca indera. Esensi Kualitas membuat suatu objek lebih intrinsik daripada penampilan fisiknya, misalnya manusia yang dipersepsi melalui esensinya adalah makhluk yang berpikir. Aksiden adalah kondisi khusus yang dapat berubah, dan sifatnya
kurang penting dari pada yang esensial, sedangkan substansi adalah kesatuan setiap individu. 2) Konsep epistemologis perenialisme Perenialisme menyatakan bahwa segala sesuatu yang dirasakan dan nyata adalah apa yang sebenarnya dilindungi. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan persetujuan pikiran dan benda. Yang dimaksud di sini adalah halhal yang ada selaras dengan prinsip keabadian.Perenialisme bersumber `dari tiga konsep yang mendasari epistemologi, yaitu kebenaran, pembuktian dan penalaran. 3) Konsep Aksiologi Perenialisme Masalah nilai merupakan hal terpenting dalam perenialisme karena didasarkan pada prinsip-prinsip regulasi, yaitu penerimaan universalitas abadi, khususnya perilaku manusia. Oleh karena itu, hakikat manusia di atas segalanya adalah jiwanya. Sifat manusia akan menentukan sifat tindakannya, dan pertanyaan tentang nilai adalah pertanyaan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip bahwa tindakan sesuai dengan sifat rasional manusia bertahan dan tetap valid secara etis karena manusia secara alami berusaha untuk kebaikan. 2. Implikasi pemikiran perenialisme dalam pendidikan Dalam pendidikan, perennialisme percaya bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk membantu siswa mencapai dan mengaktualisasikan kebenaran abadi. Aliran ini percaya bahwa kebenaran bersifat universal dan konstan. Jadi cara untuk mencapai ini adalah dengan melatih kecerdasan dan disiplin mental. Contoh implikasi perenialisme dalam pendidikan adalah pendirian sekolah-sekolah agama seperti Muhammadiyah, sekolah Kristen, dan pesantren. Sekolah-sekolah tersebut mengutamakan ilmu agama karena dipandang memiliki nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang membentuk pedoman hidup. Perenialisme melihat pendidikan sebagai transmisi pengetahuan tentang kebenaran abadi. Pengetahuan adalah sumber kebenaran, kebenaran sebenarnya selalu memiliki hal yang sama. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan harus sama dimana Pendidikan harus menemukan model sehingga siswa dapat menyesuaikan
tidak hanya dengan kebenaran dunia tetapi juga dengan fakta kebenaran. Selanjutnya, proses pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga transformasi pengetahuan dan internalisasi nilai.Prinsip-prinsip inti ini dikembangkan lebih lanjut oleh filosof Islam kontemporer Sayyed Husein Nasr, yang menemukan bahwa manusia memiliki fitrah yang sama, yaitu karena asal usulnya yang intrinsik, yang berimplikasi pada karakter kesucian dan kebaikan, fitrahnya tidak akan pernah berubah karena pada prinsip perubahan mengandung kesinambungan dalam setiap ruang dan setiap waktu. Pemikiran progresivisme dan implikasinya dalam pendidikan A. PEMIKIRAN PROGRESIVISME Menurut bahasa istilah progresivisme berasal dari kata progresif yang artinya bergerak maju. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata progresif diartikan sebagai ke arah kemajuan; berhaluan ke arah perbaikan sekarang; dan bertingkat-tingkat naik. Dengan demikian, secara singkat progresif dapat dimaknai sebagai suatu gerakan perubahan menuju perbaikan. Sering pula istilah progresivisme dikaitkan dengan kata progres, yaitu kemajuan. Artinya progesivisme merupakan salah satu aliran yang menghendaki suatu kemajuan, yang mana kemajuan ini akan membawa sebuah perubahan. Pendapat lain menyebutkan bahwa progresivisme sebuah aliran yang mengingikan kemajuan-kemajuan secara cepat (Muhmidayeli, 2011:151). Menurut Gutek (1974:138) progresivisme modern menekankan pada konsep „progress‟; yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan menyempurnakan lingkungannya dengan menerapkan
kecerdasan yang dimilikinya dan metode ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul baik dalam kehidupan personal manusia itu sendiri maupun kehidupan sosial. Dalam konteks ini, pendidikan akan dapat berhasil manakala mampu melibatkan secara aktif peserta didik dalam pembelajaran, sehingga mereka mendapatkan banyak pengalaman untuk bekal kehidupannya. Senada dengan itu, Muhmidayeli (20011:151) menjelaskan bahwa progresivisme merupakan suatu aliran yang menekankan bahwa pendidikan bukanlah sekedar upaya pemberian sekumpulan pengetahuan kepada subjek didik, tetapi hendaklah berisi beragam aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir mereka secara menyeluruh, sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis melalui cara-cara ilmiah, seperti penyediaan ragam data empiris dan informasi teoritis, memberikan analisis, pertimbangan, dan pembuatan kesimpulan menuju pemilihan alternatif yang paling memungkinkan untuk pemecahan masalah yang tengah dihadapi. Progresivisme merupakan salah satu aliran dalam filsafat pendidikan modern. Menurut John S. Brubacher sebagaimana dikutip Jalaludin dan Abdullah Idi (2012:82) aliran progresivisme bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang diperkenalkan oleh William James (1842- 1910) dan John Dewey (1859-1952) yang menitik beratkan pada segi manfaat bagi hidup praktis. Artinya, kedua aliran ini samasama menekankan pada pemaksimalan potensi manusia dalam upaya menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. Di samping itu, kesamaan ini di dasarkan pada keyakinan pragmatisme bahwa akal manusia sangat aktif dan ingin selalu meneliti, tidak pasif dan tidak begitu saja menerima pandangan tertentu sebelum dibuktikan kebenarannnya secara empiris (Uyoh Sahdullah, 2003:120). Berkaitan dengan pengertian tersebut, progresivisme selalu dihubungkan dengan istilah the liberal road to cultural, yakni liberal bersifat fleksibel (lentur dan tidak kaku), toleran dan bersikap terbuka, sering ingin mengetahui dan menyelidiki demi pengembangan pengelaman (Djumransjah, 2006:176). Maksudnya aliran progresivisme
sangat menghargai kemampuan-kemampuan seseorang dalam upaya pemecahan masalah melalui pengamalaman yang dimiliki oleh masingmasing individu. Dari beberapa penjelesan tersebut dapat dipahami bahwa aliran progresivisme adalah suatu aliran dalam filsafat pendidikan yang menghendaki adanya perubahan secara cepat praktik pendidikan menuju ke arah yang positif. Dengan kata lain, pendidikan harus mampu mebawa perubahan pada diri peserta didik menjadi pribadi yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai persolan serta dapat menyesuikan diri dengan kehidupan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, progresivisme sangat menghendaki adanya pemecahan masalah dalam proses pendidikan. B. IMPLIKASI PEMIKIRAN PROGRESIVISME DALAM PENDIDIKAN Dalam pandangan progresivisme pendidikan merupakan suatu sarana atau alat yang dipersiapkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik supaya tetap survive terhadap semua tantangan kehidupannya yang secra praktis akan senantiasa mengalami kemajuan (Muhmidayeli, 2011:156). Selain itu, proses pendidikan dilaksanakan berdasarkan pada asas pragmatis. Artinya, pendidikan harus dapat memberikan kebermanfaatan bagi peserta didik, terutama dalam menghadapi persoalan yang ada di lingkungan masyarakat. Dalam buku Philosofical Alternatives in Education, Gutek (1974:140) menyebutkan bahwa pendidikan progresif menekankan pada beberapa hal; 1) pendidikan progresif hendaknya memberikan kebebasan yang mendorong anak untuk berkembang dan tumbuh secara alami melalui kegiatan yang dapat menanamkan inisiatif, kreatifitas, dan ekspresi diri anak; 2) segala jenis pengajaran hendaknya mengacu pada minat anak, yang dirangsang melalui kontak dengan dunia nyata; 3) pengajar progresif berperan sebagai pembimbing anak yang diarahkan sebagai pengendali kegiatan penelitian bukan sekedar melatih ataupun memberikan banyak tugas;
4) prestasi peserta didik diukur dari segi mental, fisik, moral dan juga perkembangan sosialnya; 5) dalam memenuhi kebutuhan anak dalam fase perkembangan dan pertumbuhannya mutlak diperlukan kerjasama antara guru, sekolah, rumah, dan keluarga anak tersebut; 6) sekolah progresif yang sesungguhnya berperan sebagai laboratorium ynag berisi gagasan pendidikan inovatif dan latihanlatihan. Menurut progresivisme proses pendidikan memiliki dua segi, yaitu psikologis dan sosiologis. Dari segi psikologis, pendidik harus dapat mengetahui tenaga-tenaga atau daya-daya yang ada pada anak didik yang akan dikembangkan. Psikologinya seperti yang berpangaruh di Amerika, yaitu psikologi dari aliran Behaviorisme dan Pragmatisme. Dari segi sosiologis, pendidik harus mengetahui kemana tenaga-tenaga itu harus dibimbingnya. Di samping itu, progresivisme memandang pendidikan sebagai suatu proses perkembangan, sehingga seorang pendidik harus selalu siap untuk memodifikasi berbagai metode dan strategi dalam pengupayaan ilmu-ilmu pengetahuan terbaru dan berbagai perubahan-perubahan yang menjadi kencenderungan dalam suatu masyarakat (Muhmidayeli, 2012:156). Dalam konteks ini, pendidikan harus lebih dipusatkan pada peserta didik, dibandingkan berpusat pada pendidik maupun bahan ajar. Karena peserta didik merupakan subjek belajar yang dituntut untuk mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan di masa mendatang. Oleh karena itu, menurut Ahmad Ma‟ruf (2012) ada beberapa prinsip pendidikan yang ditekankan dalam aliran progresivisme, di antaranya: a. Proses pendidikan berawal dan berakhir pada anak. b. Subjek didik adalah aktif, bukan pasif. c. Peran guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing atau pengarah. d. Sekolah harus kooperatif dan demokratis.
e. Aktifitas lebih fokus pada pemecahan masalah,bukan untuk pengajaraan materi kajian. Bila dikaitkan dengan pendidikan di Indonesia saat ini, maka progresivisme memiliki andil yang cukup besar, terutama dalam pemahaman dan pelaksanaan pendidikan yang sesungguhnya. Di mana pendidikan sudah seharusnya diselenggarakan dengan memperhatikan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik, serta berupaya untuk mempersiapkan peserta didik supaya mampu menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang dihadi di lingkungan sosialnya. Hal tersebut senada dengan pengertian pendidikan di Indonesia, yakni usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam pengertian ini, pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai transfer pengetahuan. Pendidikan berarti proses pengembangan berbagai macam potensi yang ada dalam diri manusia, seperti kemampuan akademis, relasional, bakatbakat, talenta, kemampuan fisik dan dayadaya seni. Dengan demikian dapat dipahami, bahwa aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan di Indonesia. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan, baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Tujuan Pendidikan Progresivisme Berkaitan dengan tujuan pendidikan, maka aliran progresivisme lebih menekankan pada memberikan pengalaman empiris kepada peserta didik, sehingga terbentuk pribadi yang selalu belajar dan berbuat (Muhmidayeli, 2012:156). Maksudnya pendidikan dimaksudkan untuk memberikan banyak pengalaman kepada peserta didik dalam upaya pemecahan masalah yang dihadapi di lingkungan sehari-hari. Dalam hal ini, pengalaman yang dipelajari harus
bersifat riil atau sesuai dengan kehidupan nyata. Oleh karenanya, seorang pendidik harus dapat melatih anak didiknya untuk mampu memecahkan problem-problem yang ada dalam kehidupan. Sejalan dengan itu, tujuan pendidikan progresivisme harus mampu memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda dalam proses perubahan secara terus menerus.Yang dimakssud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah (problem solving) yang dapat digunakan oleh individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah.Pendidikan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan berbagai masalah baru dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial, atau dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang berada dalam proses perubahan. Peran Guru dalam Pandangan Progresivisme Dalam pandangan progresivisme terdapat perbedaan antara peran guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Karena prinsip pembelajaran progresivisme menghendaki pembelajaran yang dipusatkan pada siswa. Adapun peran guru menurut aliran progresivisme ialah berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengarah bagi siswa. Menurut Gutek (1974:146) pendidikan progresif mencari guru yang memang berbeda dari guru di pendidikan tradisional dalam hal watak, pelatihan, dan teknik pengajarannya. Karena kelas/pendidikan progresif berorientasi pada kegiatan yang bertujuan, pendidik progresif sangat perlu mengetahui bagaimana cara mendorong untuk dapat berpendapat, berencana, dan menyelesaikan proyek mereka. Selain itu, guru juga perlu mengetahui bagaimana tahapan kerja kelompok karena pola dasar pengajaran progresif berpusat pada partisipasi kelompok.
PEMIKIRAN-PEMIKIRAN EKTENSIALISME DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN A. Pemikiran Ekstensialisme 1. Pemikiran Eksistensialisme Eksistensialisme adalah sebuah ekspresi dari perubahan dan pembaharuan dalam dunia filsafat pada masa itu. Eksistensi manusia ditempatkan sebagai tema utama yang menjadi pokok pemikirannya., semua gejala yang ada pada manusia berpangkal pada eksistensi. Eksistensialisme, sebagai gerakan filsafat yang memberikan tekanan penting pada eksistensi individu yang kongkrit, kebebasan dan pilihan-pilihan yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupannya, sebagi tema utama. Ide eksistensialisme pertama kali diperkenalkan oleh Soren Aabaye Keirkegaard, seorang filsuf Denmark pada abad 19. kemudian dikuti oleh pemikir-pemikir lainnya pada abad 20, seperti Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Karl Jaspers,Jean Paul Sartre dan lain-lain. Sejak lama penulis tertarik pada eksistensialisme, Karena pandangan ekisitensialisme sangat berkaitan erat dengan pencarian makna hidup yang selalu yang selalu menjadi pergulatan setiap manusia. 2. Tujuan Tujuan pendidikan eksistensial adalah kebebasan manusia. Dalam upaya menekankan subjektivitas individu, guru eksistensialis harus mampu menumbuhkan semangat disiplin diri dan tanggung jawab pada siswanya. Dan untuk membuat pilihan pribadi yang bermakna, hanya siswa yang dapat mendefinisikan diri mereka sendiri. 3. Posisi filsafati Eksistensialime
a) Realitas sebagai eksistensi Eksistensi individu merupakan fokus utama pemikiran eksistensialisme terhadap realitas. Eksistensialisme dikontraskan dengan pernyataan kaum neoskolastik yang menyatakan bahwa esensi mendahului eksistensi dalam hubungannya dengan waktu. Contohnya, beberapa kaum neo-skolastik memandang Tuhan sebagai Pencipta segala sesuatu + termasuk manusia. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia berkata bahwa Dia telah mempunyai ide tentang manusia (esensi manusia) dalam pikiranNya sebelumnya mewujudkannya. Sebaliknya, kaum eksistensialis berpegang pada pendapat bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia ada dulu, baru kemudian ia berusaha untuk menentukan apa yang menjadi esensinya atau keapaannya. b) Kebenaran sebagai pilihan Manusia adalah pusat otoritas epistemologis dalam eksistensialisme + artinya manusia di sini bukan manusia sebagai satu spesies, melainkan manusia sebagai individu yang kongkrit, meruang dan mewaktu. Makna dan kebenaran tidak ditentukan dari dan untuk alam semesta, justru manusia itulah yang memberi makna terhadap sesuatu sebagaimana kodratnya. Manusia mempunyai hasrat untuk percaya kepada makna eksternal dan hasilnya ia menentukan sendiri untuk percaya kepada apa yang ingin dipercayainya. Karena eksistensi mendahului esensi, maka pertama harus ada manusianya dahulu baru kemudian ada ide-ide yang diciptakannya. Semua tergantung pada manusia individual itu dan ia sendiri yang membuat putusan terakhir tentang apa itu kebenaran. Oleh karena itu, kebenaran dapat dilihat sebagai pilihan eksistensial yang tergantung pada otoritas individu. c) Nilai-nilai dari si individu Fokus filsafat eksistensialis adalah dalam aksiologi yang membedakannya dengan filsafat tradisional yang mementingkan metafisika. Dapat dikatakan bahwa “metafisika” eksistensialisme diwakilkan dengan kata
“eksistensi” dan konsep epistemologinya adalah “pilihan”. Oleh karena itu kedua konsep ini membawa manusia eksistensialis memfokuskan diri pada aktivitas kehidupan dan perhatian filsafatnya diikat dalam lingkup aksiologi individual sebagai seorang penentu eksistensialis. 4. Eksistensialisme dan Pendidikan Secara relatif, eksistensialisme tidak begitu dikenal dalam dunia pendidikan, tidak menampakkan pengaruh yang besar pada sekolah. Sebaliknya, penganut eksistensialisme kebingungan dengan apa yang akan mereka temukan melalui pembangunan pendidikan. Mereka menilai bahwa tidak ada yang disebut pendidikan, tetapi bentuk propaganda untuk memikat orang lain. Mereka juga menunjukkan bahwa bagaimana pendidikan memunculkan bahaya yang nyata, sejak penyiapan murid sebagai konsumen atau menjadikan mereka penggerak mesin pada teknologi industri dan birokrasi modern. Malahan sebaliknya pendidikan tidak membantu membentuk kepribadian dan kreativitas, sehingga para eksistensialis mengatakan sebagian besar sekolah melemahkan dan mengganggu atribut-atribut esensi kemanusiaan. Mereka mengkritik kecenderungan masyarakat masa kini dan praktik pendidikan bahwa ada pembatasan realisasi diri karena ada tekanan sosioekonomi yang membuat persekolahan hanya menjadi pembelajaran peran tertentu. Sekolah menentukan peran untuk kesuksesan ekonomi seperti memperoleh pekerjaan dengan gaji yang tinggi dan menaiki tangga menuju ke kalangan ekonomi kelas atas, sekolah juga menentukan tujuan untuk menjadi warga negara yang baik, juga menentukan apa yang menjadi kesuksesan sosial di masyarakat. Siswa diharapkan untuk belajar peran-peran ini dan berperan dengan baik pula. Dalam keadaan yang demikian, kesempatan bagi pilihan untuk merealisasikan diri secara asli dan autentik menjadi hilang atau sangat berkurang. Keautentikan menjadi begitu beresiko karena tidak dapat membawa
pada kesuksesan sebagaimana didefinisikan oleh orang lain. Di antara kecenderungan masa kini yang begitu menyebar cepat tetapi sangat sulit dipisahkan adalah mengikisnya kemungkinan keautentikan manusia karena adanya tirani dari yang rata-rata (tyranny of the average). Secara filosofis, hal tersebut merupakan pemberontakan terhadap cara hidup individu dalam budaya populer. Harapan kaum eksistensialis, individu menjadi pusat dari upaya pendidikan. Maka, sebagaimana dikatakan oleh Van Cleve Morris bahwa penganut eksestensialis dalam pendidikan lebih fokus untuk membantu secara individual dalam merealisasikan diri secara penuh melalui bebera pernyataan berikut: 1) Saya sebagai wakil dari kehendak, tidak sanggup menghindar dari kehendak hidup yang telah ada. 2) Saya sebagai wakil yang bebas, bebas mutlak dalam menentukan tujuan hidup. 3) Saya wakil yang bertanggungjawab, pribadi yang terukur untuk memilih secara bebas yang tampak pada cara saya menjalani hidup. Tata cara para guru eksistensialis tidak ditemukan pada tata cara guru tradisional. Guru-guru eksistensialis tidak pernah terpusat pada pengalihan pengetahuan kognitif dan dengan berbagai pertanyaan. Ia akan lebih cenderung membantu siswa-siswa untuk mengembangkan kemungkinan-kemungkinan pertanyaan. (Rukiyati, 2009) B. Implikasi Pemikiran Ekstensialisme Dalam Pendidikan 1. Sejarah dan Pengertian Eksistensialisme Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme adalah merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Hussel
(1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani. Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa manusia adalah benda dunia, manusia itu adalah materi, manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi Subjek. Pandangan manusia menurut idealisme adalah manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berkayakinan bahwa paparan manusia harus berpangkalkan eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang kongkrit. Eksistensi oleh kaum eksistensialis disebut Eks bearti keluar, sintesi berarti berdiri. Jadi ektensi berarti berdiri sebagai diri sendiri. Menurut beberapa ahli: a. Eksistensialisme merupakan aliran yang mengakui bahwa tidak ada alam semesta selain alam manusia (Drs. Amsal Amri, M.Pd : 51 ) b. Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia (Drs. Uyoh sadulloh, M.Pd :135)
Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa eksistensialisme adalah aliran yang memandang bahwa tidak ada alam semesta selain alam manusia. 2. Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri dan memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan. Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum. 3. Peran guru Melindungi dan memelihara kebebasan akademik, dimana mungkin guru pada hari ini, besok lusa menjadi murid (power 1982) Para guru harus memberikan kebebasan kepada siswa memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka sukai: logika menunjukkan bahwa kebebasan memiliki aturan, dan rasa hormat akan kebebasan orang lain itu penting. Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menanyakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian guru membimbing siswa untuk mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relatif dengan melalui pertanyaan-pertanyaan. 4. Peserta Didik Aliran eksistensialisme memandang siswa sebagai makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya dan siswa dipandang
sebagai makhluk yang utuh yaitu yang akal pikiran, rohani, dan jasmani yang semua itu merupakan kebulatan dan semua itu perlu dikembangkan melalui pendidikan. Dengan melaksanakan kebebasan pribadi, para siswa akan belajar dasar-dasar tanggung jawab pribadi dan sosial. 5. Kurikulum Aliran eksistensialisme menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan kepekaan personal yang disebut Greene “kebangkitan yang luas”. Kurikulum ideal adalah kurikulum yang memberi para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaanpertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan mereka sendiri. Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnya. Mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar terhadap humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan. (Roswantoro, 2012) Filsafat Pendidikan Kontemporer 1. Filsafat Pendidikan Kontemporer Teilhard de Chardin, dia bukan filsuf murni dia dikenal sebagai pastor ahli geologi dan paleontologi. Karena pergaulannya dengan ilmu pengetahuan. Dia melihat kesalahan yang semakin melebar antara ilmu pengetahuan dan agama. Teilhard yakin bahwa perbedaan itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Dari sini Teilhard ingin menyatukan antara ilmu dan agama. Bertolak belakang dari teori evolusi yang modern ia melihat kemungkinan untuk meneruskan beberapa garis pemikiran evolusionistik ke arah filsafat dan teologi.
Ada satu prinsip fundamental mengapa pikiran-pikiran Teilhard banyak dibantah terutama dari Roma dan teman-teman dekatnya. Teilhard menemukan inspirasi dari sumber-sumber yang masih dicurigai dalam pandangan iman. DIa memihak teori evolusi yang masih umum diperkirakan sebagai saingan doktrin katolik. Dalam filsafat, filsuf Perancis Henri Bergson yang menjadi sumber inspirasinya yang besar, juga tidak mempunyai "kedudukan" yang baik dalam katolik. Walaupun Teilhard pernah menerangkan, bahwa ia merasa diselamatkan dari "atheisme" oleh Henri Bergson (Kopp, 1983). 2. Pendidikan Multikultural Pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan zaman yang lengkap dimana egosentrisme, etnosentrisme, dan chauvinisme yang pada antrianya memunculkan unsur kebenaran (truth claim) yang menegasi eksistensi kebenaran lainnya. Prinsip dasar pendidikan multikultural adalah menghargai perbedaan. Pendidikan multikultural bisa menciptakan struktur dan proses disetiap kebudayaan memberikan kesempatan untuk bisa melakukan kegiatan ekspresi. Akar kata multikulturalisme adalah kebudayaan. Pengertian kebudayaan menurut para ahli sangat berbeda beda namun dalam konsep ini kebudayaan dilihat dalam perspektif fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Multikulturalisme mengakui dan mengagungkan perbedaan didalam kesederajatan baik secara perorangan ataupun secara kebudayaan." Multikulturalisme melihat suatu masyarakat mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat yang coraknya seperti sebuah mosaik.
Pendidikan Kritis . Pendidikan Kritis 1. Sejarah Pendidikan Kritis Perkembangan Pendidikan kritis seiring dengan perkembangan pemikiran praktik kehidupan manusia. Terdapat dua pemikiran yang melatar belakangi pendidikan kritis, yaitu pemikiran dalam bidang filsafat dan pemikiran bidang pendidikan. Dalam bidang filsafat, ide pendidikan kritis bersumber dari gagasan Karl Marx di masa mudanya yang sering disebut "Hegelian Muda", mengenai isu praxis-emansipatoris, yang tercermin dalam pemikiran filsafat Teori Kritis Mazhab Frankfurt dan Jurgen Habermas. Didalam bidang pendidikan terdapat sejumlah tokoh yang mengiringi kelahiran pendidikan kritis, seperti Ivan Illich dengan Deshooling Society-nya, Everett Reimer dengan School is Dead-nya dan Paulo Freire dengan Pedagogy of the Oppressed-nya. tokoh terakhir merupakan pelopor dan pengukuh pendidikan kritis. Ranah pendidikan kritis menimbulkan banyak hutang budi pada Freire yang dipandang sebagai pelopor dan pengukuh pendidikan kritis. Pendidikan kritis diartikan sebuah bentuk pemikiran pendidikan yang tidak memisahkan teori dan praksis yang tujuannya untuk menyadarkan kaum tertindas agar memiliki kesadaran untuk bertindak melalui praksis emansipatoris. Dilihat akar kelahiran pendidikan kritis orang mengira pendidikan kritis bersumber dari lahir dan pemikiran Marxisme atau Neo-Marxisme. Oleh sebab itu konteks Indonesia jarang sekali ditemukan lembaga pendidikan. 2. Pengertian Pendidikan Kritis Suatu Mazhab pendidikan yang memiliki kepercayaan terhadap muatan politik dalam semua aktivitas pendidikan yang di sebut dengan pendidikan kritis.Henry Giroux (1993) menyebut mazhab ini dengan pendidikan radikal,Henry Giroux berpendapat bahwa Mazhab tersebut memiliki pendidikan yang radikal, sedangkan Paula allman (1998) menyatakan bahwa pendidikan memiliki revolusioner. Pendidikan kritis memiliki inti sari yang berupaya untuk memberikan kesempatan dan kebebasan bagi setiap masing-masing individu dalam menentukan masa depannya sendiri. Itulah yang di sampaikan oleh Freire bahwa pendidikan itu merupakan praktik pembebasan (education as the practice of freedom). 3. Prinsip-prinsip Pendidikan Kritis Ada beberapa prinsip yang dianggap sangat penting menurut empat pendapat para ahli pendidikan kritis (Freire, Apple, Giroux dan McLaren) yaitu:
1. Tujuan yang paling utama dalam pendidikan kritis adalah merebut kembali kemanusiaan manusia setelah mengalami dehumanisasi. Dalam Proses humanisasi dapat dilaksanakan dengan mengembalikan fitrah seseorang sebagai subjek, dan bukan berupa objek. Untuk mengembalikan fitrah ontologis manusia, pendidikan krisis menolak pendidikan mengenai tentang gaya bank dan menggantinya dengan pendidikan yang hadap dengan masalah yang dilakukan melalui metode yang lebih menekankan pada komunikasi dialogis. 2. Di dalam Kurikulum pendidikan tidak hanya lebih menekankan pada academic achievement, melainkan kearah pembangunan aspek epistimologis, politis, ekonomis, ideologis, teknis, etis, estetika, dan juga historis. Oleh karena itu, institusi sekolah merupakan tempat produksi bagi budaya, penggunaan konsep hegemoni dan konsep ideology sebagai pisau dalam menganalisis suatu pendidikan kritis yang merupakan hal yang esensial. 3. Pendidikan kritis lebih menilai posisi pendidik sebagai pekerja budaya yang berperan sebagai intelektual transformatis. 4. Pendidikan yang kritis merupakan revolusioner yang lebih menekankan dunia pendidikan yang reflektif dalam mewujudkan praxis transformasi pengetahuan lewat kritik epistimologis. Kritik epistimologis memiliki tujuan yang tidak hanya membongkar representasi- representasi pengetahuan, namun juga terhadap bagaimana eksplorasi produk dan mengapa produksi pengetahuan representasi itu dapat terjadi. Pendidikan kritis tidak hanya meneliti pengetahuan, tetapi juga metode produksinya. 4. Pendidikan Kritis Dalam Perspektif Epistemologi Islam perspektif pendidikan kritis mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk kehidupan politik dan cultural. DiDalam dunia pendidikan kritis guru tidak dianggap sebagai pusat segalanya. Ia bukan salah satu sumber pemilik otoritas kebenaran dan pengetahuan. Titik pendidikan kritis merupakan kecintaan dan penghargaan yang tinggi terhadap manusia. Sebagai manusia peserta didik dipersepsi sebagai subjek yang merdeka serta memiliki potensi untuk menjadi active beings, bukan sebagai obyek yang hanya bisa beradaptasi dengan dunia. Jika peserta didik diasumsikan sebagai obyek maka pendidikan akan dapat menjadi arena penindasan karena yang terjadi adalah proses domestikasi dan penegasan kapasitas selfreflection peserta didik. Sebaliknya peserta didik dianggap sebagai subjek pendidikan akan dapat menjadi aksi cultural untuk pembebasan karena yang terjadi adalah proses liberasi dan konfirmasi kapasitas self-reflection peserta didik.
Pendidikan kritis dalam pembelajaran menekankan bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi, dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memahami realitas hidup dan mengubahnya (Allman, 1998). Metode yang dipakai adalah kodifikasi dan dekodifikasi. Modifikasi mengarah pada fakta yang telah diambil dari kehidupan peserta didik dan kemudian mempermasalahkannya. Sedangkan dekodifikasi adalah proses pembacaan fakta melalui dua metode: deskriptif dan analitis. Tahap deskriptif merupakan tahapan yang memahami "surface structure", sedangkan tahap analitis digunakan untuk memahami "deep structure". Dua metode ini yang dijadikan sebagai analisis untuk memahami relasi antar kategori (ideologi, gender/jenis kelamin dan kelas). B. Teori Kritis 1. Pengertian Teori Kritis Istilah teori kritis ini pertama kali ditemukan oleh Max Hokheimer pada tahun 30-an. Pertama kali teori kritis berarti pemaknaan kembali gagasan ideal modernitas berkaitan dengan nalar dan kebebasan. Pemaknaan ini dapat dilakukan dengan mengungkap deviasi dari gagasan-gagasan ideal tersebut dalam bentuk saintisme, kapitalisme, industri kebudayaan, dan institusi politik borjuis. Untuk dapat memahami pendekatan teori kritis ini tidak bisa tidak, karena harus menempatkannya dalam konteks Idealisme Jerman dan kelanjutannya. Karl Marx dan generasinya menganggap bahwa Hegel sebagai orang terakhir dalam tradisi besar pemikiran filosofis yang mampu ”mengamankan” pengetahuan tentang manusia dan sejarah. Namun, dikarenakan beberapa hal, pemikiran Marx mampu menggantikan filsafat teoritis Hegel. Menurut Marx, hal ini terjadi karena Marx menjadikan filsafat sebagai sesuatu yang praktis; yakni menjadikannya sebagai cara berpikir (kerangka pikir) masyarakat dalam mewujudkan idealitasnya. Dengan menjadikan nalar sebagai sesuatu yang ‟sosial‟ dan menyejarah, skeptisisme historis akan muncul untuk merelatifkan klaim-klaim filosofis tentang norma dan nalar menjadi ragam sejarah dan budaya forma-forma kehidupan. Dan dapat diartikan sebagai teori yang menggunakan metode reflektif dengan melakukan kritik secara terus-menerus terhadap tatanan atau institusi sosial, politik atau ekonomiyang ada.Teori kritis menolak skeptisisme dengan tetap mengaitkan antara nalar dan kehidupan sosial. Dengan demikian, teori kritis menghubungkan ilmuilmu sosial yang bersifat empiris dan interpretatif dengan klaim-klaim normatif tentang kebenaran, moralitas, dankeadilanyang secara tradisional merupakan bahasan
filsafat. Dengan tetap memertahankan penekanan terhadap normativitas dalam tradisi filsafat, teori kritis mendasarkan cara bacanya dalam konteks jenis penelitian sosial empiris tertentu, yang digunakan untuk memahami klaim normatif itu dalam konteks kekinian. 2. Macam-macam Teori Kritis 1. Marxisme Adalah dasar pemikiran dari semua teori yang ada dalam tradisi kritis. Marxiesme atau dengan M besar berasal dari teori Karl Marx dan Friedrich Engels sahabatnya beliau seorang ahli filsafat, sosiologi dan ekonomi. Marxisme mengemukakan bahwa sarana produksi dalam masyarakat bersifat terbatas. Ekonomi merupakan seluruh kehidupan sosial yang dikuasai oleh kelompok kapitalis. Bagi masyarakat yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis, merupakan faktor pendorong dari proses produksi, dan menekan buruh (kelas pekerja). Kaum pekerja dapat memperoleh kebebasan dengan melakukan perlawanan terhadap kelas domain atau pemilik kapital. Teori Marxist klasik juga disebut sebagai "The Critique of Political Economy" atau kritik terhadap Ekonomi Politik. 2. Frankfurt School (Sekolah Frankfurt) Frankfurt School adalah aliran (mazhab) yang dipahami sebagai ”aliran kritis”. Teoriteori kritis telah banyak dikembangkan oleh akademisi. Tetapi perlawanan dan penindasan tetap menjadi ciri khas dalam teori ini. Teori-teori kritis juga disebut neo marxist atau amarxisme baru/marxist /denan m kecil. School Farnkfurt berasal dari pemikiran sekelompok ilmuwan dari German dalam bidang filsafat, sosiologi dan ekonomi yang tergabung dengan ”the Institute for Sosial Research” yang didirikan di Frankfurt, Jerman sekitar tahun 1923. Anggota-anggota dari school Frankfurt yaitu, Max Horkheimer, Theodor Adorno dan Hebert Macuse. Teori Kritis tidak hanya mengajarkan tetapi mengubah sikap dari manusia. Karena teori kritis dapat membebaskan manusia dari pemanipulasian dari para teknokrat modern. (Sindhunata, 1983 : xiii). Teori Kritik Masyarakat pada hakekatnya akan menjadi ”Aufklarung”. Memiliki arti membuat cerah, akan mengungkap segala tabir yang menutup tabir, yang menutup kenyataan yang tidak manusiawi dari kesadaran kita. Teori Kritik Masyarakat mengungkap yang dirasa oleh kelas yang ditindas, sehingga kelas-kelas tersebut dapat menyadari bahwa dirinya ditindas dan memberontak (melawan).
3. Postmodernisme Postmodernisme merupakan paham yang menolak proyek pencerahan yang dijanjikan oleh moderenitas dari penganut posmodernisme yang ditandai dengan kedatangan masyarakat industri dan banyaknya informasi telah memanipulasi berbagai pengetahuan. Beberapa tokoh postmodernisme adalah : 1. Jean Fracois Lyotard, berpendapat bahwa postmodernime menolak janji besar modernisme, bahwa modernisme membawa kemauan masyarakat. 2. Jean Baurillard, berpendapat bahwa dalam modernisme, realitas dan cerita tidak bisa dibedakan. Karena budaya masyarakat modern tidak bisa dipercaya mereka berasal dari realitas palsu. Contohnya, kemauan teknologi yang semakin canggih, lukisan asli dapat dibedakan dengan lukisan palsu. Bahkan yang palsu lebih bagu dari yang asli. 4. Kajian Budaya Kajian Budaya adalah bidang studi interdisipliner yang telah diakui sebagai bidang studi secara resmi, dengan ditandai kedatangan ”the Centre for Contempory Cultural Studies” di Birmingham, Inggris di tahun 1964. Salah satu konsep baru atau teori postmodern terkhususnya postkolonialisme yang dikategorikan sebagai kajian Budaya yaitu Teori Identitas Budaya yang dibuat oleh Stuart Hall. Teori ini menolak orangorang kulit hitam (identitas Afrika) seperti orang-orang kulit putih (orang Eropa). 5. Feminisme Feminisme seperti label ”generik” yang mempunyai penjenis kelaminan atau gender dalam masyarakat. Perumus teori feminisme beranggapan bahwa terdapat banyak aspek dalam kehidupan dengan makna penjenis kelaminan (gender). Gender merupakan konstrusi sosial walaupun bermanfaat, tetapi telah didominasi oleh bias laki-laki dan merugikan wanita. Teori Feminisme digunakan untuk menimbulkan terjadinya kesetaraan antara laki-laki dan wanita di dunia.
Tentang Teori Belajar Konstruktivisme 1. Pengertian Teori Belajar Konstruktivisme Apa sih teori belajar konstruktivisme itu? Pengertian teori belajar konstruktivisme adalah teori belajar yang mengedepankan kegiatan mencipta serta membangun dari sesuatu yang telah dipelajari. Kegiatan membangun (konstruktif) dapat memacu siswa untuk selalu aktif, sehingga kecerdasannya akan turut meningkat. Ada beberapa ahli yang mendefinisikan teori belajar konstruktivisme. Hill memberikan pengertian bahwa teori belajar konstruktivisme adalah tindakan mencipta suatu makna dari apa yang sudah dipelajari seseorang. Shymansky mengatakan bahwa teori belajar konstruktivisme merupakan aktivitas yang aktif, ketika siswa melatih sendiri pengetahuannya, mencari tahu apa yang sudah dipelajari, dan merupakan proses menyelesaikan konsep dan ide baru dengan kerangka berpikir sendiri. Ahli lainnya yang turut memberikan pengertian tentang teori belajar ini adalah Karli dan Margareta. Menurut mereka teori belajar konstruktivisme adalah sebuah proses belajar yang diawali dengan adanya konflik kognitif, sehingga akhirnya pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa lewat pengalaman dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan Samsul Hadi berpendapat bahwa teori belajar konstruktivisme merupakan sebuah upaya membangun tata susunan hidup berbudaya modern. 2. Tujuan Teori Konstruktivisme Dalam teori belajar konstruktivisme, Piaget menekankan bahwa kecerdasan berasal dari proses mengorganisasikan (organizing) dan mengadaptasi (adaption). Pengorganisasian diartikan sebagai kecenderungan setiap anak untuk mengintegrasikan proses menjadi sebuah sistem yang saling berhubungan (Simatwa, 2010). Sedangkan Bodner(1986) mengartikan adaptasi (adaption) sebagai
kecenderungan bawaan dari seorang anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Dan interaksi-interaksi tersebut akan menumbuhkan perkembangan dari organisasi mental yang kompleks secara progresif. Menurut Baharuddin (2008), proses adaptasi merupakan proses yang berisi dua kegiatan yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif yang membuat seseorang mampu mengintegrasikan persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya. Proses asimilasi dapat dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus menerus sehingga setiap orang selalu mengembangkan proses ini (Suparno, 2012). Dalam kenyataannya terkadang terjadi Ketika seseorang menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru, orang tersebut tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru itu dengan skema yang telah ia miliki. Pengalaman yang baru itu bisa jadi tidak cocok sama sekali dengan skema yang telah ada. Berkaitan dengan hal ini Baharuddin (2008) mendefinisikan akomodasi sebagai suatu proses struktur kognitif yang berlangsung sesuai dengan pengalaman baru. Proses ini dapat menghasilkan terbentuknya skema baru dan berubahnya skema lama. Dari uraian di atas tujuan dari penerapan teori ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk membantu siswa dalam memahami isi dari materi pembelajaran. 2. Untuk mengasah kemampuan siswa untuk selalu bertanya dan mencari solusi atas pertanyaannya. 3. Untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu konsep secara komprehensif. 4. Untuk mendorong siswa untuk menjadi pemikir aktif. 3. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Konstruktivisme
Menurut Jasumayanti (2013:3) teori belajar konstruktivisme memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. 1. Kelebihan Teori Belajar Konstruktivisme a. Melatih siswa supaya menjadi pribadi yang mandiri dan mampu memecahkan masalah. b. Menciptakan kreativitas dalam belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan kreatif. c. Melatih siswa untuk bekerja sama dan terlibat langsung dalam melakukan kegiatan. d. Menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan menumbuhkan kepercayaan diri pada siswa karena memiliki kebanggaan dapat menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari dan siswa juga merasa bangga dengan hasil temuannya. e. Melatih siswa berpikir kritis dan kreatif. 2. Kekurangan Teori Belajar Konstruktivisme a. Sulitnya mengubah keyakinan guru yang sudah terstruktur menggunakan pendekatan tradisional selama bertahun-tahun. b. Dalam penerapan teori belajar konstruktivisme, Guru harus memiliki kreativitas dalam merencakan pelajaran dan memilih atau menggunakan media. Guru yang malas dan tidak mau berkembang akan sulit menerapkan teori belajar Konstruktivisme. c. Siswa dan orang tua memerlukan waktu beradaptasi dengan proses belajar dan mengajar yang baru. 4. Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori belajar konstruktivisme