1. Guru Pintar harus mampu membentuk pemikiran siswa bahwa bekerja secara mandiri akan menghasilkan kegiatan belajar yang lebih bermakna. 2. Mengembangkan kegiatan inkuiri di semua topik pembelajaran. 3. Memunculkan rasa keingintahuan siswa terhadap suatu permasalahan melalui bertanya. 4. Membentuk masyarakat belajar atau belajar dengan kelompok-kelompok tertentu. 5. Bagaimana Guru Pintar, sudah siapkah menerapkan pembelajaran konstruktivisme di kelas? Perbandingan Filsafat Pendidikan Di Asia Dan Barat A. Perbandingan Filsafat Pendidikan Di Asia Dan Barat Filsafat Barat dan Filsafat Timur memiliki perbedaan karena perkembangan di antara budayanya, dan sepanjang sejarahnya terlalu banyak pertemuan di antara keduanya, selain di dalam filsafat Islam. Dengan demikian, tidak berarti tidak memiliki persamaan di antara keduanya. 1. Ontologis Barat-Timur. Dasar dari sudut pandang pada dunia sebagai objek dalam pikiran. dickploitasi, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bagi kesejahteraan masyarakat. Ilmu Pengetahuan yang berbasis pancaindra maka akan memiliki ontologi yang menjadi "ada yang dapat dicerna oleh panca indra manusia". Jadi dari adanya itulah yang dapat dipikirkan, dirasakan, dan diwujudkan di dunia ini, dan di sini dimana tempat kita hidup dan menjalani kehidupan. Dunia timur memahami hakikat ontologi itu, adalah "hana tan hana", ada itu serta yang ada di dunia ini disebabkan oleh yang tidak ada dengan yang hakiki ada adalah yang tidak ada
itu(ICES 2021). Jika diibaratkan melihat sesuatu dunia Barat melihat ke bawah, dan dunia Timur ke atas. Seperti ulat dengan kupu- kupu. Kalau kupu-kupu mencari makan di dunia hanya dengan mengisap sari bunga yang berada di tanah, dan tanah merupakan tempat tumbuhnya pohon yang berbunga. Sedangkan ulat tidak melihat akar, daun, bunga dan semua yang ada di atas dunia ini dimakan dengan perutnya sebagai pengolah makanan dan menjadi sari makanan, sama seperti antara tanah dan langit. 2. Secara epistemologis. Perbedaannya seperti Paus dengan Arjuna. Panca Indra menjadi dasar pengembangan IPTEK dalam budidaya budaya alam (culture of nature), sehingga dunia Barat merupakan tempat lahirnya IPTEK. Sejarah lahirnya agama-agama besar jauh sebelum tahun 1 kelahiran Maschi, Hindu juga lahir sekitar tahun 2000-1500 SM. Perbedaan sudut pandang filosofis telah melahirkan cara pandang yang berbeda dalam memandang alam, dunia barat telah menjauhkan diri dari alam, sehingga menjadi eksploitatif, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah lebih berteknologi dalam membantu kelemahan indranya, dan perenungan yang mendalam terhadap berbagai masalah kehidupan menyebabkan munculnya aliran filsafat Barat yang juga mempengaruhi dunia Timur setelah kontak peradaban dengan dunia Timur. Sementara itu, dunia Timur memandang dirinya sebagai satu dengan alam (bagian dari alam), sehingga membuat dunia Timur terkesan lebih bersifat mitologis dalam menjelaskan hakikat hubungan manusia dengan alam. manusia dan penciptanya. Sudut pandang yang berbeda ini membuat karakteristik dan penemuan ilmiah tentang hakikat kehidupan berbeda. Munculnya dharsana atau filsafat yang muncul lebih
berkaitan dengan pertanyaan tentang keberadaan sebab pertama (brahman), atmat, dosa, surga, neraka, dedikasi, pekerjaan dalam hidup dan sebagainya. Ada berbagai sistem dan metode untuk terhubung dengan-Nya, memahami-Nya, dan seterusnya. Hana tan Hana ada dimana-mana masuk dan meresapi semua ciptaannya. 3. Aksiologi. Nilai guna yang diperoleh adalah bahwa Barat telah melakukan kajian alam secara menyeluruh, sehingga muncullah ilmu-ilmu alam berikut turunannya kemudian seperti komputer dan gelombang (TV, radio, dan sebagainya). Timur menggambarkannya dalam bentuk mitologi, era, dan cerita lainnya. Sehingga lebih bersifat ideologis, magis dan religius. Apabila dilihat dari apa yang dihasilkan memakai dua paradigma yang berbeda yaitu Barat dan Timur, dapat dijelaskan, “kemajuan serta teknologi sebenarnya adalah anak-anak filsafat Barat serta agama dan sistem religi merupakan anak-anak filsafat Timur(Mukarromah 2017). Tentu pandangan antroposentris ini bisa dibalikkan dengan memandang agama sebagai ciptaan Tuhan, sehingga muncul peradaban-peradaban lain yang berkaitan dengan kehidupan manusia dari agama itu, namun persoalannya adalah apakah agama itu lahir sebelum kemampuan manusia berpikir, ataukah kemampuan berpikir. berpikir lebih menjadikan manusia religius untuk menyelamatkan hidup yang diibaratkan akan musnah jika tidak dikendalikan, karena nafsu manusia bersifat serakah dan merusak sehingga diperlukan agama dan/atau filsafat (kebajikan) untuk mengendalikannya 4. Pengetahuan . Filsafat Barat sejak zaman Yunani lebih menekankan pada
akal dan pemikiran rasional sebagai pusat fitrah manusia, Filsafat Timur lebih menekankan pada hati daripada akal, karena hati dipahami sebagai alat yang menyatukan akal dan budi(Filsdfat and Mada 1968). intuisi, serta kecerdasan dan perasaan, Tujuan utama filsafat adalah menjadi bijak dan menjalani hidup, dan untuk itu pengetahuan harus dibarengi dengan moralitas. 5. Sikap terhadap alam. Filsafat Barat menjadikan manusia sebagai subyek serta alam sebagai obyek, dan terjadilah eksploitasi alam yang berlebihan. Sedangkan filosofi Timur menjadikan keharmonisan antara manusia dan alam sebagai kuncinya. Manusia berasal dari alam tetapi sekaligus menyadari keunikannya di tengah-tengah alam, 6. Tujuan hidup. Apabila filsafat Barat menganggap mengisi hidup dengan pekerjaan serta aktif sebagai kebaikan tertinggi, sedangkan citacita filsafat Timur yaitu keharmonisan, ketenangan serta ketenangan pikiran. Hidup harus dijalani sederhana, diam-diam dan selaras dengan lingkungan. 7. Kondisi manusia. Filsafat Barat sangat menekankan status manusia sebagai individu dengan segala kebebasan yang dimilikinya, dan masyarakat tidak dapat menghilangkan status manusia dengan kebebasannya. Filsafat Timur menekankan martabat manusia tetapi dengan penekanan yang berbeda, sehingga manusia tidak ada untuk dirinya sendiri tetapi ada dalam solidaritas satu sama lain.
PENGARUH PENDIDIKAN SEBAGAI PELESTARIAN NILAI DAN PERUBAHAN SOSIAL 3. Pengaruh pendidikan sebagai pelestarian nilai Nilaiyaitu prinsip-prinsip sosial, tujuan atau standar yang dipakai agar dapat diterima individu, kelas, kelompok hingga masyarakat. Menurut Drijarkara nilai merupakan hakikat sesuatu yang menyebabkan hal itu pantas dikerjakan manusia. Nilai erat kaitannya dengan kebaikan, meski keduanya memang tak sama, bahwa sesuatu yang baik tak selalu bernilai tinggi bagi seseorang atau sebaliknya. Nilai mengandung aspek teoritis yang berkaitan dengan pemaknaan terhadap sesuatu secara hakiki dan praktis. Nilai berkaitan dengan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Menurut pandangan idealisme, nilai itu absolut. Dan pada hakikatnya nilai itu tetap. Menurut Plato jika manusia tau apa yang dikatakannya sebagai hidup baik, maka mereka tidak akan berbuat hal-hal yang bertentangan dengan moral. Menurut Kant, kita harus memperlakukan orang lain sebagai tujuan bukan sebagai alat. Hukum moral menyatakan bahwa tiap manusia harus selalu melakukan sesuatu yang oleh semua manusia tindakan tersebut wajib dilakukan dimanapun. Misalnya suatu kewajiban bagi manusia untuk berlaku jujur, adil, ikhlas, kasih sayang, pemaaf sesama manusia. Oleh karena itu semua merupakan kebaikan universal. Manusia memiliki nilai dan harkat kemanusiaan yang tak terbatas sebagai makhluk manusia. Menurut objektivisme nilai itu berdiri sendiri, namun bergantung dan berhubungan dengan pengalaman manusia. Pendidikan memiliki nilai objektif, karena tanpa dinilai oleh manusia pun pendidikan secara inhern adalah baik. Pendidikan yang baik sebagai nilai bagi manusia atau sebaliknya. Apa yang dilestarikan dari nilai oleh pendidikan? Nilai itu perwujudan dari halhal yang baik menurut manusia. Hal-hal yang baik itu diantaranya nilai-nilai moral, etika dan budi pekerti, hati nurani, rasa ketaqwaan, dan lain-lain. Hal-hal yang dikatakan nilai itu harus ditanamkan kepada generasi muda dalam proses pendidikan. Tujuannya adalah supaya generasi muda mempertahankan dan menjaga nilai-nilai luhur yang berfungsi sebagai kerukunan dimasyarakat. Kaitan pendidikan dengan pelestarian nilai yaitu pendidikan berperan besar dalam menanamkan nilai-nilai kepada generasi muda untuk melestarikan, memurnikan dan mengidealkan kebiasaan masyarakat yang ada.
Pendidikan sebagai kata kuncinya harus dapat ditempatkan dan dimaknai sesuai dengan cita-cita luhur kemanusiaan, yakni pendidikan yang berorientasi maju pada penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi di satu sisi, dan tujuan hidup mulia sebagai umat manusia dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan dalam makna dasarnya sebagai upaya memanusiakan manusia dalam konteks universal, dan secara nasional mesti berarti juga sebagai upaya meng-Indonesiakan segenap anak bangsa Indonesia, selain tetap melestarikan nilai-nilai etniknya sendiri. Secara konseptual dan kontekstual harus menjadi program yang utuh, fungsional dalam rangka pembentukan karakter manusia Indonesia yang tetap memelihara nilai-nilainya, yang bukan hanya cerdas dan terampil tapi juga berjiwa sehat dan berakhlak mulia. Artinya pendidikan secara keseluruhan mampu pada masing-masing subtansi disiplin keilmuan sendiri harus dapat mengaktualisasikan dan mengartikulasikan capaian nilai dalam konstruks pemahaman (mental) dan perilaku diri (moral) yang diharapkan oleh cita dan citra luhur (kultural) masyarakat dan bangsanya. Keterkaitan antara konsep nilai, etika moral termasuk norma dan pendidikan memetakan hubungan dan kedudukan yang tak terpisahkan, dimana konsep nilai menjadi kerangka dasar bagi kajian moral, atau moral menjadi subtansi penting yang menempati posisi sentral di dalam kerangka nilai, dan norma sebagai kumpulan aturan yang keberadaannya menjadi petunjuk kemana sebuah pendidikan atau moral akan ditunjukan. Maka moral adalah sebagai salah satu bagian dari strukturnilai, yakni termasuk dalam cabang etika. Etika dan moral dibentuk oleh kesepakatan atas keyakinan yang mengikatnya, yang berfungsi menjadi pedoman ekspresi nilai dan aktualisasi moral masyarakat di dalam sebuah lingkungan budaya pendudukungnya.Etika juga sebagai materi tentang menghadapi dan mengatasi masalah ditinjau dari berbagai alternative dan berbagai sistem nilai sebagai bentuk prefrensi, pedoman untuk bertindak. Moral secara harfilah berasal dari kata Mores atau Mosyang berarti adat istiadat, kebiasaan atau cara hidup. Sedangkan dalam bahasa Yunani disebut Ethos yaitu suatu kebiasaan, adat istiadat. Dengan latar belakang yang sama asal-usulnya, kedua istilah tersebut yakni moral dan etika kerap menjadi sinonim dalam percakapan keseharian. Namun para ahli membedakan konteksmya, dimana moral menekankan kepada perbuatan atau tingkah laku manusia sedangkan etika menekankan kepada
tata cara atau suatu ketentuan yang harus diikuti atau dipedomani dalam melakukan suatu tindakan.Dengan demikian, moral lebih dimaksudkan kepada perbuatan praksis manusia sedangkan etika dilahirkan sebagai aturan atau norma yang memeberikan perintah moral untuk dijalankan oleh setiap anggota komunitas pendukung sebuah sistem budaya dan peradaban. Maka, pendidikan mengambil peran yakni cara-cara atau alat dan sistem bagi tujuan peningkatan dan pengembangan kebudayaan yang di dalamnya telah merupakan pengejawan tahan upaya penanaman dan pengembangan nilai-nilai yang dalam makna luas tersebut. Dengan demikian, pendidikan secara umum dan pendidikan secara khususnya, menduduki peran sentral dan strategis dari hajat pembangunan / pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, baik dalam skala nasional hingga dalam dimensi yang lebih luas/universal. 4. Perubahan sosial Mengapa terjadi perubahan? Perubahan terjadi karena kebosanan (Hirschman, Horton dan Hunt.1980). selain kebosanan, perubahan terjadi karena sifat dasar manusia yang tak pernah pusa dengan apa yang harus dimilikinya dan selalu berinovasi untuk perubahan-perubahan yang menjadi kebutuhannya yang semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Perubahan sosial menurut para ahli : Perubahan sosial dapat mengakibatkan disorganisasi yaitu cara-cara yang lama atau tradisional akan hilang dan tidak digunakan, kemudian cara-cara yang baru akan berkembang tanpa menghilangkan nilai-nilai yang ada. Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan pada lembaga masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai sosial, sikap dan pola tingkah laku antara kelompok dalam masyarakat. George S Counts mengemukakan bahwa pendidikan akan betul-betul berperan apabila sekolah menjadi pusat pembangunan masyarakat yang baru secara keseluruhan, membasmi kemelaratan, peperangan, dan kesukuan. Masyarakat yang menderita kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang besar merupakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan perannya sebagai agen pembaharu dan
rekonstruksi sosial. Tujuan pendidikan yaitu menumbuhkan kesadaran terdidik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global dan memberi keterampilan kepada mereka untuk memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Tujuan akhir pendidikan adalah terciptanya masyarakat baru yaitu suatu masyarakat global yang saling ketergantungan. Perubahan sosial sebagaimana tampak kecenderungannya dari masa ke masa, dapat terjadi seperti gejala liar fenomena alam lainnya, dimana manusia sebagai mahluk alamiah dihadapkan pada berbagai tuntutan hidup seiring perubahan alam, dan sejarah sosialnya. Faktanya berlangsungnya eksploitasi manusia oleh manusia hingga bangsa atas bangsa lain dan kecenderungan umum manusia memanfaatkan sumber daya alam secara semena-mena. Adalah sejarah nyata yang tak dapat dibantah dan karenanya terus berlangsung sampai entah kapan. Perubahan sosial yang terjadi didorong kemajuan kecerdasan dalam menemukan IPTEK telah mengantarkan perubahan spektakuler dalam cara hidup. Terjadinya perubahan tersebut yang berlangsung kemudian secara masal dapat diterima sebagai bagian dari kemajuan pendidikan. Karena pengembangan IPTEK pada awalnya merupakan hasil riset di universitas, meskipun kemudian riset universitas menjadi jauh ketinggalan oleh kompetisi bisnis yang dikembangkan dunia korporasi. Pendidikan, setidaknya punya peran dalam menstransformasikan dasardasar dan hasil temuan IPTEK ke tangan manusia secara lebih masal. Tetapi, pendidikan menjadi instrumentasi tak berjiwa ketika dibuat dan dikembangkan oleh kepentingan teknis manusia dalam mengusasi hajat hidup sebagaimana pantasnya dilakukan oleh kanak-kanak. Akibatnya perubahan sosial yang terjadi lebih memberikan akses negatif, dan menjauhkan dari tujuan mulia hidup sebagai umat manusia. Jika dari sejarah panjang kita mengenal hanya kekalahan semata di mata dunia hingga kini. Pendidikan adalah investasi untuk menggapai kemenangan masa depan. Mengabaikan pendidikan, sama artinya dengan membiarkan diri bangsa ini tidak tahu bagaimana menghadapi hari depannya, dan itu adalah sebesar-besarnya kejahatan terhadap kemanusiaan dan anak bangsanya sendiri. Peran pendidikan dalam perubahan sosial di masyarakat diantaranya ialah sebagai berikut:
a. Berpikir kritis dan inovatif Pendidikan dalam perubahan sosial berperan untuk meningkatkan kemampuan analisis kritis yang berguna untuk menanamkan keyakinan dan nilai-nilai tentang cara berpikir manusia. Pendidikan akan membantu manusia untuk membuka pikirannya, menerima hal-hal baru, dan cara berpikir secara kritis dan ilmiah. Pendidikan mengajarkan manusia untuk objektif, rasionalm dan dapat melihat ke masa depan, untuk berusaha menciptakan kehidupan yang lebih maju. Berbekal dengan pendidikan, masyarakat akan terdorong untuk melakukan inovasi dari berbagai aspek kehidupan agar mampu hidup mengikuti perkembangan zaman. b. Mendorong sikap menghargai seseorang Sikap dan perilaku masyarakat terhadap seseorang merupakan bentuk indikasi bahwa masyarakat ingin maju lewat menghargai seseorang yang diharapkan mampu membawacperubahan dan kebaikan bagi kehidupan masyarakatnya. Seperti penghargaan, pemberian tanda jasa, penghargaan kenaikan jabatan dan lainnya. Untuk hal itu mendorong masyarakat untuk terus meningkatkan prestasinya lewat karya-karyanya sehingga membawa perubahan dalam masyarakat. c. Sistem pelapisan masyarakat yang terbuka Masyarakat memiliki sistem pelapisan yang terbuka sehingga dapat memberikan peluang atau kesempatan kepada setiap individu dalam masyarakat untuk mengalami mobilitas sosial vertikal secara luas. Dimana setiap warga masyarakat mampu meraih prestasi dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam status sosail. Pendidikan dalam hal ini berperan untuk mendewasakan manusia agar lebih terbuka melalui upaya pengajaran dan pelatihan, semakin tinggi tingkat pendidikan ada kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. d. Pemahaman atas keberadaan masyarakat yang heterogen Masyarakat terdiri dari berbagai kelompok sosial yang tentunya memiliki perbedaan latar belakang kebudayaan, ras, ideologi dan sebagainya. Hal itu dapat menyebabkan perbedaan pendapat dan terjadinya konflik dalam masyarakat. Sehingga sering terjadi fenomena yang mendorong perubahan sosial di kehidupan masyarakat. Contohnya, masyarakat transmigran berasal dari berbagai daerah atau wilayah di Indonesia yang padat penduduknya, lalu mereka berkumpul pada satu tempat atau wilayah yang sama untuk menjalankan kehidupan bersama.
Karena mereka berasal dari berbagai daerah, tentunya memiliki perbedaan perilaku sesuai budayanya masing-masing. Sehingga sering terjadi ketidak cocokan karena berbeda nilai dan norma yang dianutnya. Dari contoh tersebut, pendidikan diharapkan mampu berperan untuk memperbaiki moral bangsa atas perbedaan-perbedaan yang ada. Pendidikan berperan sebagai pengembangan kemampuan dalam rangka mempengaruhi peserta didik untuk mampu menyesuaikan atau beradaptasi dengan lingkungannya sebaik mungkin. e. Orientasi ke masa depan Masyarakat yang memiliki pemikiran ke arah masa depan atau memiliki visi, misi dan tujuan hidup yang jelas akan terdorong untuk mewujudkan keinginanan dan cita-citanya. Dengan ini masyarakat akan tumbuh dengan dinamis, aktif dan kreatif, serta berusahamenghasilkan penemuan-penemuan baru yang dapat atau mampu merubah kehidupan masyarakat menuju tercapainya tujuan yang dicitacitakan. Dalam konteks masa depan tersebut, kita tidak harus menunggu masa depan akan tetapi menyiapkannya. Sesuai dengan visi pendidikan seharusnya lahir kesadaran akan sebaiknya jangan menanti apapun dari masa depan.
DAFTAR PUSTAKA Aryati, A. (2018). MEMAHAMI MANUSIA MELALUI DIMENSI FILSAFAT (Upaya Memahami Eksistensi Manusia). EL-AFKAR : Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis, 7(2), 79. https://doi.org/10.29300/jpkth.v7i2.1602 Aziz. (2021). Hakikat Pendidikan. Al Urwatul Wutsqa: Kajian Pendidikan Islam, 1(1), 14–31. https://journal.unismuh.ac.id/index.php/alurwatul/article/view/5492 Irawan, S. A. &. (n.d.). Pemberdayaan Pendidikan Dalam Bentuk Karakter. muhammad kristiawan. (2016). Filsafat 2016. Rulam, A. (2015). Pengertian Pendidikan : Asas dan Filsafat Pendidikan. 248. Darsiti Suratman. Ki Hadjar Dewantara. Jakarta: Majelis Pendidikan dan Kebudayaan. 1985. Irna H.N. Hadi Soewito. Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan. Jakarta: Balai Pustaka. 1985 Ki Gunawan. Aktualisasi konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam system pendidikan nasional Indonesia di Gerbang XXI, dalam Ki hadjar Dewantara dalam pandangan para cantrik dan mantriknya. Yogyakarta: MLPTS. 1989
Muhammad Yusuf Musa, falsafat al- Ahklaq fi al- Islam, Kairo: Dar al- A'raf, 1945 Prof. dr. H. Sirajuddin Zar, M.A., Filsafat Islam, Filsuf dan Filsafatnya, Jakarta: Rajawali Pers, 2004 Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta. Paramadina, 1997 Nasution Hasyimsyah, filsafat islam, Jakarta, Gaya Media Pratama, 1998 AKRIM, A. (2022). Integrasi etika dan moral spirit dan kedudukannya dalam pendidikan islam. Aksaqila Jabfung. Cholid, N. (2018). Kontribusi Filsafat Pragmatisme terhadap Pendidikan. Magistra: Media Pengembangan Ilmu Pendidikan Dasar dan Keislaman, 4(1), 51-66. Henderson, C. R., Kempthorne, O., Searle, S. R., & Von Krosigk, C. M. (1959). The estimation of environmental and genetic trends from records subject to culling. Biometrics, 15(2), 192- 218. Zulkarnaini, Z. (2018). FILSAFAT ISLAM (Kajian Filosof Klasik). Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak (JIPA), 3(4). Muhammad Noor Syam. 1986. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Kependidikan Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional. Anwar Muhammad. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Kencana. 2015. Gandhi, Teguh Wangsa HW. Filsafat Pendidikan Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 201 Barnadib, Imam. (2002). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Darmi. (2013). Aliran-Aliran yang Mempengaruhi Kurikulum Pendidikan. Aceh Barat: Jurnal
AtTa’dib. 1-7. Depdiknas. (2009). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia. Djumransjah. (2002). Filsafat Pendidikan. Jawa Timur: Bayumedia Publishing Fadlillah, M. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Yogyakarta: ArRuzz Media Gutek. Gerad Lee. (1974). Philosofical Alternatives in Education. Loyala University of Chicago Jalaluddin dan Abdullah Idi. (2012). Filsafat Pendidikan; Manusia, Filsafat dan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press. Muhmidayeli. (2011). Filsafat Pendidikan. Bandung: Refika Aditama. Sadullah, Uyoh. (2003). Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Roswantoro, A. (2012). Epistemologi Eksistensialisme Dan Implikasinya bagi Pemikiran Pendidikan. Antologi Pendidkan Islam. Rukiyati. (2009). Pemikiran Pendidikan Menurut Eksistensialisme. I, 92–105. Amien, Miska Muhammad. 1983. Epistemologi Islam: Pengantar Filsafat Pengetahuan Islam. Cet. I. Jakarta: UI-Press. Aprinalistria. 2007. Sekolah, Bukan Segalanya:Pendidikan Kritis Ala Totto- Chan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Karim, Muhammad. 2009. Pendidikan Kritis Transformatif. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media. Nuryatno, M. Agus. 2008. Mazhab Pendidikan Kritis. Yogyakarta: Resist Book. Jasumayanti, E., & Marli, S. (2013). Korelasi antara pendekatan konstruktivisme dengan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS SD. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 2(3). Simatwa, E. M. (2010). Piaget's theory of intellectual development and its implication for instructional management at pre-secondary school level. Educational research and reviews, 5(7), 366.
Siregar, E., & Nara, H. (2010). Buku Ajar Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: UNJ. Filsdfat, Staf Pengajarfakultas, and Universitas Gadjah Mada. 1968. “PEMIKIRAN FlLSAFAT TIMUR DAN BARAT.” ICES. 2021. “KOMPARASI FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAB PENDIDIKAN ISLAM” 7 (March): 1–19. Mukarromah. 2017. “PERBANDINGAN FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT DAN ISLAM (Analisis Sejarah Perkembangan Dan Pemikiran, Persamaan Dan Perbedaan Antara Filsafat Pendidikan Barat Dan Islam Serta Implikasinya Dalam Dunia Pendidikan).” Jurnal Pendidikan Islam 7 (2): 160–79. https://ejournal.iaidalwa.ac.id/index.php/jpi/article/view/50. Soelaiman, Darwis A. 2019. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam. Suparno, P. (2012). Peran pendidikan dan penelitian terhadap pembangunan karakter bangsa. In Makalah Seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis Ke (Vol. 48)