The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Peradaban Dan Arsitektur Dunia Kuno Sumeria Mesir India

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by permadhi, 2020-01-13 08:43:25

Peradaban Dan Arsitektur Dunia Kuno Sumeria Mesir India

Peradaban Dan Arsitektur Dunia Kuno Sumeria Mesir India

Keywords: Peradaban,Arsitektur,Dunia Kuno,Sumeria,Mesir,India

Ashadi

Peradaban dan Arsitektur

DUNIA KUNO:
SUMERIA-MESIR-INDIA

Arsitektur UMJ Press

Peradaban dan Arsitektur

DUNIA KUNO:
SUMERIA-MESIR-INDIA

Ashadi

Penerbit Arsitektur UMJ Press
2016

Peradaban dan Arsitektur
DUNIA KUNO: SUMERIA-MESIR-INDIA

|arsitekturUMJpress|
|

Penulis: ASHADI

CETAKAN PERTAMA, AGUSTUS 2016

Hak Cipta Pada Penulis
Hak Cipta Penulis dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2002
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara
apapun tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Desain Sampul : Abu Ghozi

Tata Letak : Abu Ghozi

Perpustakaan Nasional – Katalog Dalam Terbitan (KDT)
ASHADI
Peradaban dan Arsitektur Dunia Kuno: Sumeria-Mesir-India
Jumlah halaman 100

ISBN 978-602-74968-0-4

Diterbitkan Oleh Arsitektur UMJ Press
Jln. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510
Tetp. 021-4256024, Fax. 021-4256023
E-mail: [email protected]

Gambar Sampul: Persepolis
(http://www.bigstockphoto.com, akses 31 Mei 2016)

Dicetak dan dijilid di Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan

Sanksi Pelanggaran Pasal 72:
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal

2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana
penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda
paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak
Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau menjual kepada umum
suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak
Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling
banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).

KATA PENGANTAR

Peradaban Sumeria, Mesir dan India Kuno adalah puncak-
puncak awal kebudayaan dan arsitektur sebagai hasil olah
pikir manusia. Dunia Kuno didominasi oleh peradaban
dan arsitektur yang dibangun oleh manusia-manusia yang
menggantungkan hidupnya di tepian sungai. Peradaban
dan arsitektur Sumeria dibangun tidak jauh dari Sungai
Eufrat. Mesir Kuno mengandalkan Hilir dan Lembah
Sungai Nil, dan India memiliki dua kota kuno (Harappa
dan Mohenjo-Daro) yang letaknya di Lembah Sungai
Indus.

Buku ini menguraikan benang merah peradaban
dan arsitektur di ketiga wilayah tersebut. Dengan
mengeksplorasi kota-kota, bangunan-bangunan, ilmu
pengetahuan dan teknologi, dan kehidupan manusianya,
dapat ditengarai bahwa di sana terdapat persamaan-
persamaan. Kelengkapan gambar yang disajikan sangat
membantu dalam memahami isi buku ini.

Ucapan terimakasih saya haturkan kepada
Penerbit Arsitektur UMJ Press, yang telah bersedia
menerbitkan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi
kalangan pencinta buku.

Jakarta, Agustus 2016
Penulis

i

ii

PENGANTAR PENERBIT

Alhamdulillah, tulisan Ashadi, berjudul Peradaban dan
Arsitektur Dunia Kuno: Sumeria-Mesir-India, dapat kami
terbitkan. Buku ini adalah buku pertama dari empat buku
yang diterbitkan dalam waktu bersamaan. Empat buku
tersebut: (1) Peradaban dan Arsitektur Dunia Kuno:
Sumeria-Mesir-India; (2) Peradaban dan Arsitektur Klasik
Yunani-Romawi; (3) Peradaban dan Arsitektur Zaman
Pertengahan Byzantium, Kekristenan, Arab dan Islam; dan
(4) Peradaban dan Arsitektur Modern.

Dalam buku ini, penulis berusaha menelusuri akar
peradaban dan arsitektur Sumeria, Mesir dan India,
melalui tema-tema yang menarik, dengan menempatkan
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kurun waktu yang
panjang, yang menurutnya memiliki keterkaitan antara
satu dengan lainnya.

Kekuatan buku ini adalah deskripsi mendalam
sejarah dan arsitektur dalam kerangka peradaban besar
manusia. Kehadiran buku ini perlu mendapat apresiasi
sebagai suplemen dalam khasanah ilmu pengetahuan.

Jakarta, Agustus 2016
Penerbit

iii

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR HAL.
PENGANTAR PENERBIT i
DAFTAR ISI iii
v
Bagian 1 Awal Peradaban Manusia
Bagian 2 Migrasi Ke Tanah Kanaan 1
Bagian 3 Babilonia 11
Bagian 4 Persia Kampium Di Timur 17
Bagian 5 Fir’aun Membangun Piramida 35
Bagian 6 Fir’aun vs Musa 49
Bagian 7 Warisan Harappa Dan Mohenjo-Daro 69
81
DAFTAR PUSTAKA
89

v

vi

BAGIAN 1
AWAL PERADABAN MANUSIA

Sekitar lima ribu tahun yang lalu, suku-suku bangsa yang
berbahasa Semit bermigrasi dari kampung halaman
mereka, Jazirah Arab, menuju Utara, Asia Barat hingga ke
Lembah Sungai Tigris dan Eufrat, Mesopotamia. Yang
termasuk orang-orang berbahasa Semit adalah Bangsa
Akkadia, Amoriah, Kanaan, Yahudi dan Arab, yang
sekarang dikenal sebagai Irak, Syria, Yordania, Palestina,
Israel dan Arab.

Sementara, Rusia Selatan, atau Asia Tengah
bagian Utara, di balik Pegunungan Kaukasus, wilayah di
sekitar Laut (Danau) Kaspia dan Laut (Danau) Aral,
disinyalir merupakan tempat asal suku-suku bangsa yang
berbahasa Indo-Eropa, yang menurunkan bangsa-bangsa
besar di kemudian hari. Empat ribu tahun yang lalu,
orang-orang Indo-Eropa menyebar dari kampung halaman
mereka ke segala arah, kecuali Utara. Mereka menuju
Timur sampai di Mongolia (Bangsa Mongol), ke arah
Selatan sampai di Mesopotamia – Irak sekarang – (Bangsa
Mittani), Iran (Bangsa Media dan Persia) dan India (Bangsa
Arya), ke arah Barat Daya sampai di Asia Kecil – Turki
sekarang – (Bangsa Hittite), Asia Barat dan Mesir (Bangsa
Hyksos), dan Yunani (Bangsa Achaea), dan ke arah Barat
sampai di Eropa Tengah (Bangsa Celtic – Jerman). Pada

1

2

akhirnya kedua rumpun suku bangsa nomaden itu –
Semit dan Indo-Eropa – bertemu dan saling berebut
pengaruh dan kekuasaan di wilayah Mesopotamia dan
Asia Barat.

Pada sekitar 4000-an SM, di wilayah yang dikenal
dengan Daerah Bulan Sabit Subur, di Lembah Sungai
Tigris dan Eufrat (sekitar Irak sekarang), sudah tumbuh
dan berkembang sebuah peradaban. Sejumlah manusia
awal tinggal di wilayah itu, dan mereka menyebut wilayah
yang berlumpur itu dengan Sumeria. Wilayah itu
kemudian dikenal juga dengan Mesopotamia (Bahasa
Yunani : mesos = tengah dan potamos = sungai) , yang
artinya tanah di antara dua aliran sungai. Begitu
suburnya daerah ini hingga seorang Pujangga Yunani,
Herodotus, pernah menyatakan dalam salah satu
karyanya, bahwa bumi Mesopotamia yang letaknya
beribu-ribu kilometer dari Yunani itu bagaikan sebuah
taman surga nan cantik jelita.

Kesuburan tanah Sumeria boleh jadi adalah
berkah dari peristiwa banjir besar yang terjadi belum lama
berselang di wilayah itu. Kitab Suci Agama Samawi
(Taurat, Injil, dan Al-Qur’an) memberitakan seorang suci
bernama Nuh Alaihissalam, yang beserta sedikit
pengikutnya selamat dari terjangan banjir bandang
tersebut.

Peradaban Sumeria dianggap sebagai peradaban
yang paling tua di muka bumi ini. Ketika Sumeria
semakin kaya, makin banyak desa dibangun: selain Eridu
yang dibangun berkali-kali, juga dibangun Ur, Uruk,
Lagash, Umma, Nippur, Larak, dan Kish. Masing-masing

3

diperintah oleh kuilnya. Desa tumbuh berkembang
menjadi kota.

Gambar 1.1 Peta lokasi wilayah Bulan Sabit (garis titik-titik)

(Sumber: https://www.google.co.id, akses 25 Mei 2016, elaborasi lanjut)

Gambar 1.2 Peta lokasi wilayah Mesopotamia dan sekitarnya

(Sumber: https://martinhumanities.com, akses 25 Mei 2016)

4

Kota-kota Sumeria memiliki pemerintahan sendiri
seperti sebuah negara sehingga dikenal dengan sebutan
Negara Kota. Kota-kota Sumeria biasanya dilengkapi
dengan kuil, Ziggurat. Bangunan ini dibuat dari batu bata
yang telah dibakar, bentuk arsitekturnya seperti piramida
yang didirikan di atas sebuah bukit buatan. Di puncak
bangunan ada ruangan untuk dewa kota. Ruangan itu
dapat dicapai melalui tangga besar dari lantai dasar.
Untuk keperluan membuat patung dewanya, para
pemahat mendatangkan batu dari daerah lain. Salah satu
yang terkenal, ziggurat di kota Ur, memiliki ukuran denah
dasar 150 x 200 kaki, dan tingginya 70 kaki.

Gambar 1.3 Kota Berbenteng (Citadel) Ur

(Sumber: http://cw.routledge.com, akses 25 Mei 2016)

5

Gambar 1.4 Pusat Kota Ur

(Sumber: http://q8imcs.egloos.com, akses 25 Mei 2016)

6

Gambar 1.5 Ziggurat di Kota Ur

(Sumber: http://whenintime.com, akses 25 Mei 2016)

Agama orang-orang Sumeria mengenal banyak
dewa, dan Marduk dianggap dewa tertinggi, yang
dilambangkan sebagai matahari yang memancarkan
sinarnya ke bumi dan memberi kesuburan kepada para
petani.

Karena yang menjalankan negara kota di Sumeria
adalah kuil, maka para pendeta terpaksa menciptakan
tulisan untuk mencatat segala pembukuan mereka.
Tulisan itu, yang disebut Cuneiform (Tulisan Paku)
diguratkan di atas lempeng tanah liat yang ribuan di
antaranya masih awet hingga sekarang.

Setiap kuil, baik yang besar, sedang maupun kecil,
tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi
juga pusat kegiatan pendidikan, perdagangan, dan
pertukangan. Kuil juga menyelenggarakan festival-festival
musik dan olah raga.

7

Gambar 1.6 Contoh Tulisan Paku

(Sumber: https://www.thinglink.com, akses 25 Mei 2016)

Pada sekitar 3000 SM, Sumeria nampaknya
dibanjiri orang asing, di antaranya orang-orang dari
padang pasir Jazirah Arab, yang berbicara dalam
kelompok Bahasa Semit. Mereka berdiam di sebelah Utara
dan Barat Sumeria, mulai dari Kota Kish, melalui Lembah
Tigris-Eufrat bagian Utara sampai ke pantai Kanaan, dan
ada juga yang tinggal di Sumeria, bercampur-baur dengan
Bangsa Sumeria.

Dan pada sekitar 2700 SM, dimulailah zaman
kepahlawanan di Sumeria, artinya tampilnya pemimpin
yang kuat di antara mereka, kalau perlu seorang
pemimpin harus lebih daripada manusia biasa. Salah satu
pemimpin kuat, Gilgamesh, dari Uruk, menjadi pahlawan
Sumeria paling kesohor. Dan ketika ia meninggal, pada
pemakaman sang pahlawan, puluhan budak yang

8

mengenakan pakaian terbaik mereka masuk ke liang
kubur bersama jenazahnya dan minum racun.

Gambar 1.7 Gilgamesh

(Sumber: http://www.powerthoughtsmeditationclub.com,
akses 17 Juni 2016)

Selama lima atau enam abad pertama dalam
sejarah Peradaban Sumeria, negara-negara kota muncul
berdampingan tanpa saling berseteru. Namun sejak
sekitar paro milenium ketiga SM, ciri yang menonjol
adalah perseteruan antar negara kota. Hingga kemudian
Sargon, seorang pejabat muda Bangsa Akkadia, yang
berbahasa Semit, muncul sebagai pemimpin melalui
serangkaian penaklukkan. Setelah menaklukkan Raja
Kish, ia memenangkan pertempuran penting melawan

9

tentara gabungan Sumeria yang dipimpin oleh Zaggesi,
pada sekitar 2370 SM.

Dinasti Akkadia merepresentasikan kerajaan sejati
pertama di Mesopotamia, yang wilayahnya membentang
dari Teluk Persia di Selatan, hingga Asia Kecil di Utara,
dan mencakup Irak, Syria, Lebanon, dan bagian-bagian
Turki serta Iran; dan memiliki pengaruh di Mesir, Ethiopia
dan Siprus. Kerajaan ini mencapai masa puncaknya di
bawah lima raja pertamanya, yaitu Sargon I, Rimush,
Manishtusu, Naram-Sin, dan Shar-kali-sharri.

Raja Akkadia, Naram-Sin, adalah tokoh yang
dalam Kitab Suci Agama Islam, Al-Qur’an disebut Raja
Namrud (Nimrud), musuh bebuyutan orang suci, Ibrahim
Alaihissalam. Kota dimana ditemukan kompleks istana
raja ini kemudian dinamakan Kota Nimrud. Raja ini
menyandang gelar kebangsawanan ‘Raja Empat Penjuru
Dunia’ dan ‘Dewa Akkadia’ (Dewa Ninurta). Mengikuti
jejak kakeknya, Sargon I, dia menjadikan putrinya,
Enmenna, sebagai pendeta tertinggi Dewa Bulan, yaitu
Dewa Sin, di Ur, salah satu kota di Mesopotamia Kuno
yang sekte utamanya menyembah bulan.

Sejak sekitar tahun 2130-2120 SM, baik Sumeria
maupun Akkadia – Sumero-Akkadia, berada di bawah
kekuasaan orang-orang barbar dari Pegunungan Utara.
Selama periode ini, orang-orang Amoriah dari Syria, yang
berbahasa Semit masuk ke Akkadia dari arah Barat Daya
dan kemudian mendirikan dinasti baru di Kota Babilon.

10

Gambar 1.8 Denah Kota Berbenteng (Citadel) Nimrud

(Sumber: http://oracc.museum.upenn.edu, akses 26 Mei 2016)

Gambar 1.9 Perspektif istana Nimrud

(Sumber: http://www.wisdomlib.org, akses 26 Mei 2016)

BAGIAN 2
MIGRASI KE TANAH KANAAN

Sekitar tahun 2000-an SM, sekelompok orang di Kota Ur,
di bawah pimpinan Abram atau Abraham atau Ibrahim,
meninggalkan kota pergi menuju ‘tanah yang dijanjikan
Tuhan’, yakni Kanaan. Para peneliti menduga bahwa
Abraham mungkin sekali merupakan salah seorang
pemimpin kafilah pengembara yang membawa rakyatnya
dari Mesopotamia menuju Laut Mediterranean (Laut
Tengah) pada akhir milenium ketiga SM. Para pengembara
ini – sebagian dari mereka disebut Abiru, Apiru, Habiru,
dalam sumber-sumber Mesopotamia dan Mesir – berbicara
dalam Bahasa Semit Barat, yang mana Bahasa Ibrani
adalah salah satunya.

Kisah dalam Alkitab tentang Abraham dan anak
keturunannya mengindikasikan adanya tiga gelombang
kedatangan orang-orang Ibrani di Kanaan. Yang pertama,
terkait dengan kedatangan Abraham dari Mesopotamia;
kemudian, setelah kematian istrinya, Sara, ia membeli
tanah dan menetap di Hebron, sekitar tahun 1850 SM.
Gelombang kedua, berkaitan dengan cucu Abraham,
Yakub; ia menetap di Sikhem, yang sekarang menjadi kota
Arab, Nablus, di Tepi Barat. Dan gelombang ketiga, terkait
dengan kedatangan suku-suku yang mengaku keturunan
Abraham, tiba di Kanaan dari Mesir, sekitar 1200 SM.

11

12

Mereka mengatakan bahwa mereka telah dijadikan budak
oleh orang Mesir, tetapi dimerdekakan oleh Tuhan yang
bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhannya
pemimpin mereka, Musa. Setelah mendesak masuk ke
Kanaan, mereka beraliansi dengan orang Ibrani yang ada
di sana dan kemudian disebut sebagai orang Israel, nama
yang dinisbatkan kepada nama Yakub.

Gambar 2.1 Peta rute perjalanan Abraham dan Musa

(Sumber: http://just-another-inside-job.blogspot.co.id,
akses 26 Mei 2016)

Jauh sebelum Abraham, sekitar 3000 SM, banyak
suku-suku Arab yang berhijrah dari Jazirah Arab menuju
Utara. Suku Funisia (Phoenicia) adalah yang pertama;
mereka berdiam di tepi pantai Laut Mediterranean, di Asia
Barat. Daerah pantai ini sebenarnya terlalu sempit,
karena di sebelah Baratnya dibatasi oleh laut, dan di
sebelah Timurnya oleh gunung-gunung (wilayah yang
sekarang dikenal Lebanon). Oleh karenanya, mereka
menuju ke laut dan berlayar, yang dengan cara itu mereka

13

dapat berhubungan dengan banyak negara untuk
berdagang. Di sebelah Selatan kawasan yang didiami oleh
Bangsa Funisia itu, tinggal pula Bangsa Arab lainnya,
Bangsa Kanaan, yaitu sekitar 2500 SM. Mereka mendiami
tepian Sungai Yordan sebelah Barat yang terbentang ke
Laut Mediterranean. Daerah yang didiami Bangsa Kanaan
ini, oleh Alkitab dinamakan ‘Tanah Kanaan’.

Di sebelah Timur Laut Sungai Yordan, hidup
orang-orang Aramaean yang datang dari Lembah Sungai
Eufrat, Mesopotamia; negeri mereka kemudian dikenal
dengan Syria (Suriah). Kedatangan orang-orang
Aramaean, yang juga berbahasa Semit, di Syria, bisa jadi
karena mereka terdesak oleh Bangsa Mitanni yang
berbahasa Indo-Eropa, yang mulai menghuni Lembah
Sungai Eufrat; dan waktunya, kemungkinan, menjelang
tahun 1500 SM. Salah satu kota yang dapat didirikan oleh
Bangsa Aramaean ialah Kota Damaskus, yang sejak itu
menguasai perdagangan di seluruh Asia Barat. Di sebelah
Timur Sungai Yordan, dan Selatan Laut Mati (Laut Luth),
terdapat tiga kerajaan, yakni Amon, Moab, dan Edom,
yang juga menggunakan Bahasa Semit.

Sekitar tahun 1000 SM, Bangsa Aramaean dapat
menciptakan suatu macam tulisan, yang apabila
dibandingkan dengan Huruf Hieroglyph atau Huruf Paku
lebih sempurna. Karena Bangsa Syria menjadi bangsa
yang maju perdagangannya di Asia Barat, maka Bahasa
Aramaean juga berkembang dan dipergunakan oleh
segenap bangsa di Asia Barat dan Laut Mediterranean,
mengalahkan bahasa-bahasa lokal lainnya. Sebagai
contoh, Yesus, yang sesungguhnya orang Yahudi,

14

berbicara, tidak dalam Bahasa Ibrani, melainkan dengan
Bahasa Aramaean.

Kedekatan hubungan antara Tanah Kanaan,
tempat lahirnya agama-agama samawi, Yahudi dan
Kristen, dengan Jazirah Arab, tempat lahirnya agama
samawi, Islam, cukup menjadi petunjuk bahwa Abraham,
‘Bapak Bangsa-Bangsa’ dan ‘Bapak Para Nabi’ pernah
berdakwah menyampaikan Risalah Tuhan di kedua
wilayah itu. Ishak, putra kedua Abraham dan
keturunannya berdakwah di Tanah Kanaan dan
sekitarnya, sementara Ismail, putra pertama Abraham dan
keturunannya berdakwah di Jazirah Arab.

Menurut Al-Qur’an, Abraham dan Ismail
Alaihissalam adalah bapak dan anak yang saling bahu-
membahu membangun Ka’bah, Bait Allah, di Mekah, jauh
sebelum Sulaiman membangun Bait Suci di Yerusalem.
Istri Abraham, Hajar (Hagar), bersama Ismail yang masih
kecil ditinggal oleh Abraham di lembah Bakkah (Mekah).
Di tempat itu, kemudian terbangun permukiman
masyarakat Arab. Dari tempat ini pula, Muhammad bin
Abdullah mendapat perintah dari Allah Subhanahu Wa
Ta’ala untuk mengajarkan agama Islam ke seluruh umat
manusia.

Hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan
orang-orang Israel di Kanaan dari Mesir, sekitar 1200 SM,
gelombang orang-orang Suku Filistin dari Pulau Krete
(Kreta) di Laut Mediterranean, datang di tepi Pantai Asia
Barat mencari tempat kediaman baru setelah kediaman
mereka sebelumnya dihancurkan oleh serangan dari
Utara. Mereka mendiami daerah antara Yava dan Gaza.
Maka bercampurlah mereka dengan orang-orang Kanaan

15

yang terlebih dulu ada di sana. Wilayah ini kemudian
dikenal dengan Palestina. Karena wilayah Palestina
terletak di antara kedua negara besar, Mesir di Barat dan
Babilonia di Timur, di mana di sanalah muncul dan
tumbuhnya kemegahan peradaban pada Zaman Kuno,
maka ia paling banyak dipengaruhi oleh kedua negara itu.
Perebutan pengaruh atas Palestina diramaikan pula oleh
Kerajaan Hittite (Hatti) di Utara, yang kekuasaannya
meliputi wilayah Asia Kecil (Turki sekarang). Tumbuhnya
Kerajaan Hittite hampir sezaman dengan tumbuhnya
kesatuan politik di Palestina.

Gambar 2.2 Peta rute perjalanan Abraham, Hajar, dan Ismail

(Sumber: http://www.angelfire.com, akses 29 Mei 2016)

16

Gambar 2.3 Perspektif Kota Berbenteng di Kanaan (sebuah model)

(Sumber: http://realhistoryww.com, akses 20 Juni 2016)

Sekitar 4000 SM, di Kanaan orang-orang yang
sebagian besar adalah para petani, membangun rumah-
rumah mereka dari bahan bata-lumpur. Mereka hidup
dalam sebuah kota yang berdinding tebal terbuat dari
bahan batu kasar dan bata-lumpur. Dalam kota yang
berdinding ini, para petani menghasilkan berbagai produk
hortikultura lokal, seperti: zaitun, anggur, dan gandum.
Para petani juga menggembalakan ternak.

Dengan berjalannya waktu, kota-kota awal tumbuh
lebih kompleks, dengan penambahan dinding kota di
bagian luar dinding pertama, sehingga sebuah kota bisa
memiliki dua atau tiga dinding pelindung kota; ia sebagai
dinding pertahanan. Keberadaan dinding-dinding kota
yang dijaga ketat, adalah bukti bahwa ini bukan periode
damai.

BAGIAN 3
BABILONIA

Di bawah kepemimpinan Hammurabi (1792-1750 SM),
Kerajaan Babilonia yang ibukotanya di Babilon,
mengalami kemajuan pesat, wilayahnya mencakup
Assyria, Mesopotamia Utara (di bagian Barat Laut
Mesopotamia) dan Mesopotamia Selatan (di bagian
Tenggara Mesopotamia). Selama pemerintahannya, ia
memajukan pendidikan, seni, ilmu pengetahuan,
perdagangan, dan mengeluarkan hukum tertulis.

Hukum itu dikenal dengan Undang-Undang
Hammurabi; terdiri atas 280 pasal. Undang-Undang
Hammurabi, antara lain mengatur: soal pencurian dan
tukang tadahnya, korupsi, pembunuhan, penculikan,
penipuan, perpajakan, pencemaran nama baik, dan
kehidupan keluarga. Salah satu isi Undang-Undang
Hammurabi: dalam perkawinan Bangsa Babilonia,
pengantin laki-laki memasang cadar pada mempelai
perempuannya sebagai tanda bagi laki-laki lain bahwa
perempuan itu adalah miliknya dan tidak boleh
diperebutkan lagi. Si laki-laki berusaha meyakinkan
perempuannya bahwa cadar itu demi kebaikan mereka
sendiri – bahkan itu adalah hak istimewa. Menurut
hukum Babilonia, perempuan budak dan selir dilarang
mengenakan cadar. Hammurabi juga punya gagasan-

17

18

gagasan segar: dia menjadikan Marduk sebagai raja
semua dewa, mitos kuno pun diciptakan, seperti ‘ Marduk
menciptakan langit dan bumi’. Hammurabi membangun
ibukotanya menjadi kota terbesar di antara Mesir dan
India. Sepeninggal Hammurabi, Babilonia mengalami
kemunduran.

Gambar 3.1 Undang-Undang Hammurabi. Dewa Marduk, sedang

duduk di singgasananya, memegang gulungan undang-undang, yang
hendak diserahkannya kepada baginda.

(Sumber: https://www.awesomestories.com, akses 25 Mei 2016)

19

Pada tahun 1739 SM, bangsa barbar dari Timur,
Bangsa Kassit, berhasil menaklukkan ibukota Babilon
dan menguasai Mesopotamia Selatan. Dan, pada tahun
1595 SM, Raja terakhir Dinasti Babilonia, Samsuditana,
ditaklukkan oleh Raja Mursilis I (1620-1590 SM), dari
Kerajaan Hittite. Namun, Bangsa Hittite, tidak
sepenuhnya memerintah di Mesopotamia, dan wilayah ini
dibiarkan begitu saja, sehingga Bangsa Kassit masih
memerintah di Mesopotamia Selatan. Dan, sekitar 1500
SM, wilayah di Hulu Sungai Eufrat, Mesopotamia Utara,
dikuasai sepenuhnya oleh Bangsa Mitanni.

Sementara, di bagian wilayah Utara Mesopotamia,
muncul kekuatan baru, Bangsa Assyria, yang berpusat di
Kota Ashur (Assur), di Hulu Sungai Tigris. Bangsa
Assyria, sebelumnya, menjadi bagian dari kekuasaan
Babilonia. Dimulai sekitar abad 17 SM, dengan
melakukan serangkaian ekspedisi militer dan berusaha
memperluas pengaruhnya, Bangsa Assyria, empat abad
berikutnya (abad 13 SM), berhasil menduduki dan
menguasai daerah-daerah yang letaknya di sebelah Utara.
Pada masa kekuasaan raja-raja Tiglath-Pilaser III, Sargon
II, Sennacherib, dan Assarhaddon, yang memerintah pada
abad 9-7 SM, Kerajaan Assyria mengalami kejayaannya.

Sekitar abad 7 SM, Sargon II menjadi penguasa
Assyria. Pada masa pemerintahannya, Sargon II
memindahkan ibu kota dari Assur ke Dur-Sharrukin,
kira-kira 20 km di sebelah Timur Laut Nineveh, dekat
desa Khorsabad zaman sekarang.

Istana Sargon II dibangun bersamaan dengan
pembangunan ibu kota baru. Arsitektur istana Sargon II

20

memiliki 200 ruangan di lahan seluas hampir 10 ha yang
dibuat lebih tinggi 7,5 m daripada wilayah sekitarnya.
Patung-patung lembu raksasa yang bersayap dan
berkepala manusia menjaga gerbang istana. Tembok-
tembok istana dihiasi lukisan maupun relief yang
menggambarkan kampanye militer dan prestasi sang raja.

Gambar 3.2 Denah Kota Khorsabad

(Sumber: https://www.studyblue.com, akses 17 Juni 2016)

21

Gambar 3.3 Perspektif kota berbenteng Sargon II di Khorsabad

(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 25 Mei 2016)

Gambar 3.4 Perspektif istana Sargon II di Khorsabad

(Sumber: http://www.crystalinks.com, akses 26 Mei 2016)

22

Gambar 3.5 Perspektif gerbang istana Sargon II di Khorsabad

(Sumber: http://www.istockphoto.com, akses 26 Mei 2016)

Sepeninggal Sargon II, Assyiria dipimpin oleh
putranya yang bernama Sennacherib. Sennacherib
membangun istana baru di Kouyunjik, tidak jauh dari
Khorsabad, masih termasuk wilayah Nineveh. Pada masa
Sennacherib, arsitektur kota Nineveh yang semula kurang
menarik, segera diperindah, dengan patung-patung yang
besar dan tinggi menghiasai kota. Dinding kotanya amat
kokoh; tingginya duapuluh lima meter. Di setiap sudut
dinding kota dilengkapi menara-menara berbentuk segi
empat yang jumlahnya mencapai seratus enampuluh
tujuh buah. Jalan masuk ke kota yang merupakan
benteng itu berupa delapan buah pintu gerbang yang
dibuat dari perunggu. Pintu gerbang tadi diperkuat
semuanya; di kiri dan kanannya, ditempatkan patung
lembu besar yang bersayap. Semua pintu gerbang kota
dan pintu masuk ke istana di kerajaan Assyria dijaga oleh

23

lembu bersayap, tubuhnya menyerupai lembu jantan,
tetapi kepalanya meniru kepala manusia. Patung lembu
yang bersayap itu dinamakan Lamassu; ia selalu dibuat
berkaki lima, sehinga selalu tampak empat buah kaki dari
manapun ia dilihat.

Gambar 3.6 Denah istana Sennacherib di Kouyunjik

(Sumber: http://picssr.com, akses 26 Mei 2016)

Hingga tahun 650 SM, Assyria menjadi sebuah
kerajaan yang tiada tertandingi, wilayahnya hampir
meliputi seluruh kawasan Timur Tengah sekarang, yang
membentang mulai dari Teluk Persia di Timur hingga
Lembah Sungai Nil di Barat, dan dari Gurun Arabia di
Selatan hingga Tanah Palestina di Laut Tengah. Untuk
sementara Yerusalem selamat dari sepak terjangnya.

24

Gambar 3.7 Perspektif istana Sennacherib di Kouyunjik

(Sumber: http://www.bbc.com, akses 26 Mei 2016)

Gambar 3.8 Interior istana Sennacherib di Kouyunjik

(Sumber: www.crystalinks.com, akses 26 Mei 2016)

25

Gambar 3.9 Lukisan taman istana Sennacherib di Kouyunjik

(Sumber: https://gatesofnineveh.files.wordpress.com, akses 26 Mei 2016)

Sementara itu di wilayah Asia Barat, sekitar abad
11 SM, untuk pertama kalinya orang Israel berperang
melawan orang Filistin, di Tanah Kanaan, mereka
langsung kalah total. Suku-suku Israel, yang merujuk
kepada keduabelas putra Yakub, melawan dengan
mentaati perintah tunggal seorang raja, Saul. Setelah Saul
meninggal, salah satu suku, Yehuda, mengangkat seorang
suci, Daud, sebagai raja, sementara suku-suku Israel
lainnya mengikuti Isyboset, putra Saul. Selama dua
tahun, kedua pihak itu bertempur, dan akhirnya Isyboset
berhasil dibunuh. Sekarang, gantian Bangsa Filistin
diserang dan dikalahkan oleh Yehuda pimpinan Daud.
Karena terkesan posisinya yang kuat dan sulit dijangkau
musuh, setelah berhasil menaklukkan Yerusalem, Daud,
menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan. Kemenangan
Daud atas orang-orang Filistin membuatnya ditaati oleh

26

seluruh suku Israel. Namun, bangsa Filistin dapat
mempertahankan independensinya sampai tahun 734 SM,
ketika Filistin diserbu oleh Raja Tiglath-Pileser III, dari
Assyria.

Kemudian, Daud mengalahkan kerajaan-kerajaan
Moab, Amon, dan Edom. Kejayaan Daud diperlihatkan
dengan keberhasilannya menyatukan seluruh wilayah
Syria Selatan, kecuali Filistin, sampai jauh ke Utara di
pedalaman, ke ujung Selatan Dataran Anti Lebanon,
sampai di sebelah Utara Damaskus. Setelah Daud
meninggal, pada tahun 955 SM, putranya, Salomo,
menggantikannya.

Salomo mewujudkan keinginan ayahnya, Daud,
untuk membangun sebuah Bait Suci bagi Tuhan Yahweh
di Yerusalem. Raja Hiram di Tyre, Funisia, memberi
Salomo bantuan teknologi yang diperlukan dalam
pembangunan itu. Salomo membangun Bait Suci bagi
Yahweh di atas bukit kota sebelah Timur, di mana Kubah
Batu, tempat suci Muslim yang sangat penting, saat ini
berdiri. Bangunan Salomo berbentuk empat persegi
panjang dengan serambi menghadap Timur. Tempat yang
paling suci, di bagian tengah, berisi Tabut Perjanjian, dan
seluruh bangunan dikelilingi tembok tebal.

Bait Suci itu mulai dibangun pada tahun 968 SM.
Tujuh tahun kemudian dapat diadakan upacara
pembukaan Bait Suci oleh Raja Salomo. Di tengah-tengah
tampak sebuah gedung, yang lebih tinggi dari yang lain. Di
situlah terdapat ‘tempat suci’ dan ‘tempat yang maha
suci’. Gedung itu dikelilingi oleh ruang-ruang dengan
pembatas yang terbuat dari batu. Di ruangan itulah
disimpan alat-alat upacara yang diperlukan ketika ada

27

kebaktian. Seluruh gedung induk itu dikelilingi oleh dua
pelataran, satu untuk pendita-pendita dan yang sebuah
lagi untuk rakyat. Pelataran tempat pendita-pendita lebih
tinggi letaknya daripada pelataran untuk rakyat. Tepat di
bagian depan gedung induk itu didirikan sebuah mezbah
tempat membakar kurban, dan di situlah juga dijumpai
‘kolam tembaga’. Setelah Bait Suci ini berumur seratus
tahun, pernah mengalami perbaikan-perbaikan. Namun,
pada tahun 597 SM, oleh Nebuchadnezzar, Bait Suci ini
dihancurkan.

Gambar 3.10 Bait Suci yang dibangun Salomo di Yerusalem

(Sumber: http://www.bijbelseplaatsen.nl, akses 26 Mei 2016)

Menjelang akhir kekuasaan Salomo, kerajaan yang
dibangun Daud, mulai menunjukkan kemunduran.
Dimulai oleh orang-orang Edom dan Damaskus, yang
berhasil memberontak pada akhir masa kekuasaan
Salomo.

28

Setelah kematian Salomo, sekitar tahun 935 SM,
orang-orang Israel non-Yehuda pun melepaskan diri dari
Yehuda dan membangun sebuah kerajaan sendiri yang
terpisah. Sekarang kerajaan terpecah menjadi dua:
Yehuda dan Israel. Kerajaan Yehuda, dipimpin oleh
Rehabeam, putra Salomo, beribukota di Yerusalem,
menguasai wilayah bagian Selatan. Kerajaan Israel,
dipimpin oleh Yerobeam, seorang pegawai istana raja,
beribukota di Sikhem (kemudian pindah ke Samaria),
menguasai wilayah bagian Utara. Dalam kondisi demikian,
mereka harus menghadapi serangan Assyria.

Menghadapi serangan Assyria, para pemimpin
Yehuda, Israel, Damaskus, Moab, Amon, dan Edom
mengesampingkan pertikaian mereka, dan mengadakan
koalisi. Dan ternyata koalisi mereka berhasil menahan
serangan Assyria untuk sementara dalam pertempuran
tahun 853 SM.

Pasukan Assyria terus bergerak maju, dan
akhirnya pada 722 SM, Samaria, ibukota Israel jatuh.
Lebih dari 27.000 penduduk diusir, dan tamatlah
kerajaan Israel. Para penduduk yang diusir itu kemudian
dikenal sebagai Sepuluh Suku Israel Yang Hilang.
Sementara Raja Yehuda memberi banyak hadiah untuk
Raja Assyria. Namun, pada 701 SM, setelah mengetahui
Yehuda berkomplot dengan Mesir, pasukan Assyria benar-
benar menyerang Yehuda, dan mengepung Yerusalem.
Tiba-tiba datanglah wabah yang menyerang pasukan
Assyria, sehingga Yerusalem terselamatkan.

Pada tahun 612 SM, Nineveh, ibukota Assyria,
berhasil dihancurkan oleh pasukan gabungan: Bangsa
Chaldea, suatu bangsa yang juga berbahasa Semit dan

29

menguasai tanah Mesopotamia bagian Selatan – bekas
kerajaan Babilonia Lama – , dan dua bangsa yang
berbahasa Indo-Eropa, yakni Bangsa Media dan Persia.
Kerajaan Chaldea, yang juga dikenal sebagai Kerajaan
Babilonia Baru, memilih Babilon sebagai ibukotanya.

Raja Babilonia Baru yang terkenal adalah
Nebuchadnezzar. Pada tahun 597 SM, ia berhasil
menaklukkan Yehuda, merebut dan menghancurkan
Yerusalem; dan memindahkan sekitar 20.000 warga kelas
atas Bangsa Yehuda ke Babilon.

Ketika Cyrus, Raja Persia, menguasai Babilonia,
pada tahun 539 SM, maka secara otomatis, ia menjadi
penguasa atas Yehuda. Raja Persia memperkenankan
Bangsa Yehuda kembali ke Yerusalem, dan siap
membantu pembangunan kembali Yerusalem. Persia
menisbatkan Bangsa Yehuda dengan nama Yahudi, dan
menamakan keyakinan mereka sebagai agama Yahudi.
Sejak saat itu sebutan ‘Yahudi’ dilekatkan pada orang
yang menganut agama Yahudi.

Ketika Nebuchadnezzar diangkat menjadi raja,
Kota Babilon masih merupakan sebuah kota yang tidak
menarik, karena seringnya diserang dan dihancurkan
musuh. Maka, segera setelah itu, ia memugar dan
mendirikan bangunan-bangunan baru di Kota Babilon,
dan jadilah sebuah kota yang mengagumkan.

Keadaan arsitektur Kota Babilon: bentuknya
segiempat dikelilingi tembok yang dihiasi dengan gambar-
gambar binatang buas, dengan Sungai Eufrat yang
mengalir di tengahnya. Di kota itu terdapat beberapa kuil,
di antaranya Kuil Marduk. Di dalam kuil terdapat Ziggurat

30

Etemenanki. Di bagian tengah kuil juga dijumpai Menara
Babel. Tidak jauh dari Kuil Marduk terdapat Taman
Gantung yang terkenal itu, yang merupakan salah satu
dari Tujuh Keajaiban Dunia. Taman Gantung Babilon
dibangun di atas bukit buatan, tingginya sekitar 107
meter, bentuknya berupa podium bertingkat yang
ditanami dengan pohon, rumput, dan bunga-bungaan.
Ada air terjun buatan berasal dari air sungai yang
dialirkan ke puncak bukit, lalu mengalir melalui saluran
buatan; jadilah tempat yang asri dan sejuk di daerah yang
panas dan kering.

Gambar 3.11 Denah Kota Berbenteng (Citadel) Babilon

(Sumber: http://www.bible-history.com, akses 26 Mei 2016)

31

Gambar 3.12 Perspektif Kota Babilon

(Sumber: http://www.historyfiles.co.uk, akses 26 Mei 2016)

Gambar 3.13 Perspektif Gerbang Utama (Ishtar Gate) Kota Babilon

(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)

32

Gambar 3.14 Perspektif Taman Gantung di Kota Babilon

(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)

Gambar 3.15 Perspektif Ziggurat Etemenanki di Kota Babilon

(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)

33

Agama orang Babilonia lebih mengutamakan
kesejahteraan di dunia daripada kebahagiaan di akhirat
nanti. Ilmu sihir, penujuman, dan ilmu perbintangan lebih
banyak dikembangkan di sini daripada tempat-tempat
lain. Dari Babilonia pun lahir beberapa hal yang tergolong
ilmu pengetahuan: pembagian hari menjadi 24 jam, 1
jam=60 menit, 1 menit=60 detik, dan lingkaran menjadi
360 derajat; juga ditemukannya siklus gerhana, yang
memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal
dengan tepat, dan gerhana matahari dengan beberapa
perkiraan.

Gambar 3.16 Astronomi Babilonia

(Sumber: http://www.crystalinks.com, akses 17 Juni 2016)

34

Gambar 3.17 Lamassu

(Sumber: http://www.proprofs.com, akses 26 Mei 2016)

BAGIAN 4
PERSIA KAMPIUM DI TIMUR

Pada sekitar 2000 SM, suku-suku bangsa yang
mengembara dari kampung halaman mereka di Rusia
Selatan ke arah Tenggara sampailah di Iran. Sebagian dari
mereka ada yang terus mengembara ke India. Mereka
yang menetap di Iran kemudian menjadi nenek moyang
Bangsa Media dan Bangsa Persia. Sementara, mereka
yang masuk ke India menjadi Bangsa Arya.

Setelah menetap di Iran, Bangsa Media dan Bangsa
Persia hidup bertani, dan menjadi penggembala domba
dan kuda. Mula-mula, sekitar abad 8 SM, yang berkuasa
adalah Bangsa Media. Sesudah menaklukkan Bangsa
Persia, Bangsa Media mendirikan kerajaan (kekaisaran)
yang luasnya membentang dari Teluk Persia di Selatan
sampai Laut Kaspia di Utara, beribukota di Ekbatana
(Hamadan sekarang). Rajanya yang bernama Cyaxares
(620-584 SM), pada tahun 612 SM, ikut menggempur kota
Nineveh. Setelah kematian Cyaxares, dan diganti oleh
Astyages (585-550 SM), Kerajaan Media mengalami
kemunduran, hingga pada 550 SM, dapat ditaklukkan
oleh Persia di bawah pimpinan Cyrus (600-530 SM).

Setelah berkuasa, Cyrus, Raja Persia, memutuskan
untuk melancarkan politik perluasan wilayah. Pada tahun
548-547 SM, Persia berperang melawan Kerajaan Lydia di

35

36

Asia Kecil (Turki sekarang). Persia dapat menghancurkan
ibukota kerajaan, Sardis, dan menangkap Croesus, Raja
Lydia.

Kerajaan Persia (Kekaisaran Akhemeniyah), yang
didirikan oleh Cyrus, yang semula lebih lemah dan
senantiasa menjalin hubungan baik dengan Babilonia,
berbalik menjadi musuh. Dan pada tahun 539 SM, Persia
menaklukkan Babilonia Baru. Bangsa Yahudi, yang sejak
Raja Nebuchadnezzar di tawan di kota Babilon, oleh Cyrus
diperbolehkan pulang ke negeri Yehuda.

Pada tahun 530 SM, Cyrus berhasil menguasai
sebagian tanah India bagian Barat Laut. Tidak lama
kemudian ia terbunuh dalam upaya memukul mundur
serangan di wilayah Utara kekaisarannya yang dilakukan
oleh suku-suku nomaden. Ia digantikan putranya,
Cambyses, yang dapat mengembalikan ketentraman
dalam negeri.

Pada 525 SM, Cambyses, pengganti Cyrus,
menaklukkan Mesir dan beberapa tempat lain di kawasan
Afrika Utara, dan kemudian pasukannya juga menyerbu
ke Ethiopia (Abisinia). Di segenap negeri yang ditaklukkan
itu, adat istiadat masing-masing bangsa itu dihormati oleh
Cambyses.

Setelah Raja Cambyses meninggal, sekitar tahun
522/521 SM, Darius naik takhta. Pada masa Darius (521-
486 SM), Persia mengalami masa kejayaannya; wilayahnya
meliputi Baktria, Parthia, Media, Babilonia, Syria, Yehuda,
Armenia, Thracea, Karthago, Mesir, dan Afrika Utara,
sehingga membentang dari Indus, India, di Timur hingga
Yunani di Barat. Bila diambil patokan sekarang, wilayah
itu meliputi negara-negara Rusia Selatan, Afghanistan,

37

India Barat Laut, Iran, Irak, Syria, Lebanon, Yordania,
Palestina, Israel, Turki, Bulgaria, Macedonia, Yunani,
Tunisia, dan Mesir.

Gambar 4.1 Peta wilayah kekuasaan Persia

(Sumber: http://www.israelnationalnews.com, akses 31 Mei 2016)

Sejak Darius memerintah, wilayah Persia yang luas
itu dibagi menjadi beberapa provinsi. Provinsi-provinsi
yang dikenal sebagai satrap itu dipimpin oleh pejabat
negara yang disebut satrapi. Tugas seorang satrapi hampir
sama dengan tugas seorang gubernur di zaman modern
ini. Untuk memudahkan lalu-lintas, baik untuk keperluan
ketentaraan maupun untuk perdagangan, dibuatlah jalan-
jalan raya yang dimulai dari Susa. Masing-masing kota
besar dihubungkan satu dengan lainnya melalui sistem

38

pos, yang dilengkapi dengan kuda-kuda pilihan dan
petugas-petugas yang cakap. Di tiap-tiap tempat yang
agak besar disediakan tempat perhentian untuk
mengganti kuda yang lelah. Sebagai perbandingan,
sebuah pesan dari Kota Sardis ke Susa, yang jaraknya
sekitar 2000 km, baru tiba setelah tiga bulan perjalanan
lamanya. Sedangkan tukang-tukang pos yang bekerja
secara estafet dapat mempersingkat waktu hingga empat
belas hari saja.

Para raja Persia membangun kota-kota dan istana-
istana di Pasargadae, Susa, dan Persepolis. Pasargadae
adalah ibukota kerajaan Persia pada zaman kekuasaan
Raja Cyrus. Susa adalah ibukota kerajaan Persia pada
zaman kekuasaan Raja Darius, letaknya agak jauh ke
arah Barat Laut dari Pasargadae. Persepolis adalah salah
satu kota terindah yang pernah dibangun oleh Darius,
letaknya tidak jauh ke arah Barat Daya dari Pasargadae.

Para ahli sejarah kuno, menemukan bahwa
reruntuhan istana Pasargadae yang dibangun oleh Raja
Cyrus, dahulunya dilengkapi dengan taman bunga yang
luas. Istana yang asri itu dibuat bertingkat-tingkat dengan
tembok yang dibuat dari batu bata yang kokoh. Yang
mengesankan dari bangunan istana itu adalah bahan
yang digunakan berupa bubukan semen. Para ahli
memastikan bahwa untuk pertama kalinya semen
digunakan sebagai bahan bangunan yang utama. Jenazah
Cyrus dikuburkan di dekat istananya di Pasargadae. Di
atas kuburnya berdiri bangunan besar (cungkup).

39

Gambar 4.2 Lay Out Pasargadae

(Sumber: http://class.lism.catholic.edu.au, akses 31 Mei 2016)

Gambar 4.3 Perspektif Kompleks Istana Pasargadae

(Sumber: http://kavehfarrokh.com, akses 31 Mei 2016)

40

Gambar 4.4 Perspektif Apadana (Balairung) Istana Pasargadae

(Sumber: http://www.heritageinstitute.com, akses 31 Mei 2016)

Gambar 4.5 Cungkup makam Raja Cyrus di Pasargadae

(Sumber: http://www.untoldiran.com, akses 31 Mei 2016)

Di ibukota Kerajaan Persia, Susa, Raja Darius,
membangun sebuah istana yang bercitra dunia. Para
arsitek dari segala penjuru didatangkan ke Kota Susa.
Bangsa Mesir yang terkenal mahir mencipta bangunan
yang berkekuatan tinggi, tugasnya khusus mencipta
semua tembok istana yang megah. Sementara, arsitek dari
Babilonia tugasnya membuat batu bata yang terbaik


Click to View FlipBook Version