41
mutunya; terbukti mereka mampu membuat ziggurat-
ziggurat yang baik dan kokoh. Pengerjaan kayu
dipercayakan kepada Bangsa Serdian yang dibantu oleh
sebagian orang Mesir. Ornamen-ornamen istana dicipta
dengan material kualitas terbaik. Emas penghias istana
khusus didatangkan dari Sardis (Lydia). Hanya tempat
inilah di dunia yang paling masyhur menghasilkan logam
mulia itu. Sedangkan perak kemilauan yang menghiasi
berbagai ornamen dikirimkan khusus sebagai upeti dari
Mesir. Aneka ornamen gading didatangkan dari negeri
Ethiopia, dan kayu-kayu penyangga istana didatangkan
khusus dari Ghandara, India.
Gambar 4.6 Lay Out Kota Susa
(Sumber: http://www.heritageinstitute.com, akses 31 Mei 2016)
42
Gambar 4.7 Denah Istana Susa
(Sumber: http://www.bible-archaeology.info, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.8 Perspektif Apadana (Balairung) Istana Susa
(Sumber: http://www.heritageinstitute.com, akses 31 Mei 2016)
43
Raja Darius, juga memerintahkan pembangunan
kota dan istana di Persepolis. Dalam bahasa Persia kuno,
kota ini disebut Parsa, yang berarti "Kota Bangsa Persia".
Persepolis adalah terjemahan bahasa Yunani: Persēs polis,
yang artinya "Kota Persia".
Bangunan di kompleks Persepolis terbagi atas tiga
kelompok: kawasan militer, kawasan perbendaharaan
(ruang harta), dan balai resepsi serta kediaman sementara
Raja. Struktur utama antara lain: Tangga Agung, Gerbang
Semua Bangsa (Gerbang Xerxes), Istana Apadana Darius,
Balai Seratus Tiang, Balai Tripylon Hall, Istana Tachara
milik Darius, Istana Hadish milik Xerxes, Istana
Artaxerxes III, Bendahara Kemaharajaan, Istal kuda
kerajaan, dan rumah Kereta Perang
Darius membangun istana megah di Persepolis.
Istana ini disebut Apadana (Apadana Palace), yang
digunakan sebagai balairung audiensi resmi. Istana ini
memiliki balai agung berbentuk bujur sangkar, tiap
sisinya berukuran panjang 60 meter dengan 72 tiang
besar, 30 diantaranya masih tegak berdiri. Setiap pilar
besar ini tingginya 19 meter. Pilar ini menopang atap yang
luas dan sangat berat. Puncak tiang dihasi patung batu
hewan, seperti banteng berkepala dua, singa, atau
rajawali. Tiang ini terhubung oleh batang penopang datar
dari kayu ek atau kayu sedar Lebanon. Dindingnya
dilapisi lumpur dan stuko setebal 5 cm, sebagai perekat,
kemudian dilapisi stuko hijau. Di sisi Barat, Utara, dan
Timur istana terdapat serambi persegi yang memiliki 12
tiang tersusun dalam dua baris masing-masing enam
tiang. Di sisi Selatan balairung terdapat serangkaian
44
kamar sebagai tempat penyimpanan. Dua tangga bergaya
Persepolis dibangun secara simetris terhubung dengan
fondasi batu. Di keempat sudut Apadana, dibangunlah
empat menara yang menjorok ke luar. Dinding dilapisi
tegel dan dihiasi gambar singa, banteng, dan bunga.
Tangga simetris bergaya Persepolis dibangun di sisi utara
dan timur untuk mengatasi perbedaan ketinggian. Ketika
Alexander, Raja Macedonia, menaklukkan Persia, sebagian
besar istana-istana Persia dihancurkan, yang tersisa
hanya reruntuhannya saja.
Gambar 4.9 Denah Kompleks Istana Persepolis
(Sumber: https://www.studyblue.com, akses 31 Mei 2016)
45
Gambar 4.10 Perspektif Kompleks Istana Persepolis
(Sumber: http://brookcruz.blogspot.co.id, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.11 Interior Balai Seratus Tiang Istana Persepolis
(Sumber: http://brookcruz.blogspot.co.id, akses 31 Mei 2016)
46
Gambar 4.12 Reruntuhan Istana Persepolis
(Sumber: http://brookcruz.blogspot.co.id, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.13 Detail kolom Istana Persepolis
(Sumber: http:// http://kavehfarrokh.com, akses 31 Mei 2016)
Orang Persia sejak abad 6 SM, mengenal suatu
agama yang mulanya dianut oleh orang-orang Media.
Tokoh yang dianggap mengajarkan agama itu adalah
47
seorang bijak bernama Zoroaster (Zarathustra). Ia, yang
tidak diketahui masa kehidupannya, terkenal sebagai
tokoh Iran Kuno yang memurnikan kembali ajaran-ajaran
asli kepercayaan Persia. Ia mengajarkan bahwa ada Dewa
Tertinggi yang harus dihormati manusia, yakni Ahura
Mazda, Dewa Penerang. Ahura Mazda, yang disimbolkan
dengan api, dianggap sebagai pencipta alam semesta dan
pemelihara kehidupan. Di dunia ini hingga di akhirat
nanti, Ahura Mazda, selalu berjuang demi kebaikan,
sehingga dikenal pula sebagai Dewa Kebaikan, melawan
Angro Mainyu, Dewa Kejahatan, yang akhirnya akan
dimenangkan oleh Ahura Mazda. Bagi orang-orang yang
menjadi pengikut dan penolong Ahura Mazda, dengan cara
mereka harus berbuat baik dan berkata benar, maka
ketika meninggal, mereka akan masuk ke surga.
Sebaliknya bagi para pengikut Angro Mainyu, ketika
meninggal, mereka akan masuk ke neraka. (Gambar 4.14).
Gambar 4.14 Ahura Mazda
(Sumber: http://www.bigstockphoto.com, akses 31 Mei 2016)
48
Gambar 4.15 Perspektif Istana di Susa (sebuah model)
(Sumber: http://www.bible-archaeology.info, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.16 Reruntuhan tangga utama Istana Persepolis
(Sumber: https://www.studyblue.com, akses 31 Mei 2016)
BAGIAN 5
FIR’AUN MEMBANGUN PIRAMIDA
Sementara itu di belahan bumi lainnya, di Benua Afrika,
muncul pula peradaban yang hampir bersamaan
waktunya dengan kemunculan Peradaban Sumeria di
Asia. Di Lembah Sungai Nil, suatu jalur hijau sepanjang
kurang lebih 1.200 kilometer, seperti halnya di Asia,
ketika penduduk Mesir mulai bercocok tanam,
populasinya membesar, dan raja-raja setempat bersaing
berebut kekuasaan.
Selama bertahun-tahun ada dua kerajaan: Mesir
Hilir dan Mesir Hulu. Pada sekitar 3000 SM, Raja Menes,
dari Abydos di Mesir Hulu menaklukkan Mesir Hilir, dan
dimulailah Zaman Dinasti.
Terdapat perbedaan yang penting antara
keagamaan Babilonia dan Mesir. Agama orang-orang Mesir
Kuno lebih tertuju pada soal kematian, dan mereka
percaya bahwa jiwa orang mati turun ke dunia-bawah di
mana mereka diadili oleh Osiris, raja orang-orang mati,
sesuai dengan cara hidupnya di dunia. Mereka pun
percaya bahwa pada akhirnya jiwa akan kembali ke
tubuh; inilah yang mengilhami pembuatan mummi dan
pusara-pusara yang elok.
49
50
Gambar 5.1 Peta Wilayah Mesir Kuno
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 2 Juni 2016)
Kehidupan yang nyaman di Mesir membuat
penduduknya menyukai kemewahan dan kesenangan,
sangat berbeda dengan rekan sezamannya, orang Sumeria
51
yang sangat serius. Ketika orang Sumeria masih memakai
kulit domba, orang Mesir sudah belajar menenun linen
tipis. Alih-alih menulis di lumpur, mereka menggunakan
semacam kertas lembut yang terbuat dari batang buluh
papyrus. Keelokan seni mereka tak tertandingi di dunia,
bahkan tulisan mereka pun berseni. Mereka masih
terkenal karena kosmetik, cat rambut, rambut palsu, dan
barang untuk bersolek lainnya. Barang kali manisnya
hidup mereka itulah yang membuat orang Mesir begitu
mengkhawatirkan kematian. Pada masa Pradinasti, raja
dihukum mati bila sudah terlalu lemah untuk dapat
memerintah. Para pendeta menghibur raja dengan
gagasan bahwa dia akan hidup setelah mati. Maka dari itu
orang Mesir berusaha agar supaya badan jasmani orang
yang telah mati tidak akan rusak. Untuk mencapai tujuan
itu mayat manusia harus dijadikan mummi; ia diberi obat-
obatan, sehingga kering dan tidak dapat rusak. Umumnya
pembuatan mummi dimulai segera setelah kematian, tapi
bila jasad perempuan bangsawan, keluarganya lebih suka
membiarkan mayatnya membusuk lebih dulu selama
beberapa hari – untuk menghindari nafsu birahi tukang
balsem.
Pada masyarakat Mesir Kuno, cara penguburan
mayat, jenazah hanya ditimbun pasir tanpa ditandai.
Ketika badai gurun datang, maka kuburan itu akan
hilang, atau mayatnya dimangsa binatang buas. Melihat
pengalaman yang tidak menguntungkan itu, orang Mesir
mulai berfikir untuk mempertahankan kuburan nenek
moyang mereka. Maka kuburan harus ditutup pada
bagian atasnya, muncullah bangunan Mastaba.
52
Disebut mastaba karena bentuknya seperti bangku
yang biasa terdapat di teras rumah orang Mesir Kuno
(Bahasa Arab mastaba artinya bangku). Sedangkan untuk
makam orang yang meninggal, bentuk mastaba bagian
atasnya datar dan mempunyai sisi miring yang terbuat
dari batu bata. Agar lebih indah pada sisi yang miring
dihiasi dengan pola-pola seni geometrik.
Mastaba mempunyai beberapa kamar, salah
satunya dipergunakan untuk menyimpan jenazah dan
yang lainnya dipergunakan untuk menampung barang-
barang. Lama-kelamaan mastaba yang dibuat diperbesar
dan semakin tinggi, sampai-sampai ada yang lima meter
tingginya. Penataannya pun semakin rumit. Pada masa
selanjutnya ada mastaba yang dibangun secara besar-
besaran, dan mempunyai 30 ruangan.
Gambar 5.2 Tipikal Mastaba
(Sumber: http://www.nemo.nu, akses 4 Juni 2016)
53
Gambar 5.3 Detail Mastaba
(Sumber: https://www.studyblue.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.4 Mastaba di Sakhara
(Sumber: http://www.bbc.co.uk, akses 4 Juni 2016)
54
Jika di atas mastaba itu dibuatkan beberapa
mastaba yang makin ke atas makin kecil bentuk dan
ukurannya, maka mastaba itu menjelma menjadi sebuah
Piramida – piramida berundak. Pada masa kemudian,
karena orang selalu mencari jalan untuk memperkuat
makam, maka piramida berundak itu, pada bagian
luarnya, tepatnya pada bagian undaknya, ditambahkan
lapisan batu yang tebal, akhirnya tumbuhlah bentuk
piramida lurus – piramida sejati. Salah satu dari piramida
berundak itu ialah makam Raja Zoser (Cho-ser) di
Sakhara, yang tingginya 60 meter lebih. (Gambar 5.5 dan
Gambar 5.6).
Gambar 5.5 Perkembangan Mastaba menjadi Piramida
(Sumber: http://wiredcosmos.com, akses 4 Juni 2016)
55
Gambar 5.6 Piramida Berundak (makam Zoser) di Sakhara
(Sumber: https://id.wikipedia.org, akses 4 Juni 2016)
Pada sekitar 2700 SM, Raja Zoser meminta
arsiteknya, Imhotep, agar membuat makam yang
memperlihatkan ketinggian statusnya. Imhotep
merancang makam dari batu, bukan batu bata, bahan
yang biasa digunakan untuk membangun makam. Di
bawah makam dan kuil-kuilnya, dia merancang salah satu
jaringan lorong bawah tanah paling ruwet yang pernah
dibangun. Dia mengerahkan ribuan pekerja selama musim
banjir, yang normalnya adalah saat libur mereka. Batu-
batu yang sangat besar didatangkan dari tempat yang
jauh dengan melalui Sungai Nil dan gurun.
Kemudian dibangun satu piramida sejati, mungkin
untuk Raja Sneferu, pada sekitar 2600 SM. Adalah anak
laki-laki Sneferu, Khufu (Cheops-Kheops), yang
memutuskan untuk mengabadikan namanya dengan
56
piramida raksasa. Secara keseluruhan, 100.000 orang
menghabiskan waktu 20 tahun membangun makam
Khufu di Kota Gizeh. Dia bahkan menutup kuil dan
menyuruh para pendetanya bekerja, boleh jadi itu karena
mereka menentang sifat Khufu yang mengagungkan diri
sendiri. Seperti yang Khufu harapkan, nama dan
makamnya tetap bertahan.
Gambar 5.7 Piramida (makam Sneferu) di Gizeh
(Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.8 Sphinx (kepala manusia, badan singa):
Penjaga Piramida di Gizeh
(Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
57
Gambar 5.9 Susunan Ruang Piramida (makam Sneferu) di Gizeh
(Sumber: http://www.egyptian-pyramids.co.uk, akses 4 Juni 2016)
Era para fir’aun (‘per-o’ = ‘istana agung atau rumah
besar’) yang berkuasa selama 500 tahun semenjak Zoser,
dikenal sebagai Kerajaan Mesir Tua. Pada masa Kerajaan
Mesir Tua, kehidupan penduduk Mesir mulai mengikuti
‘irama tak kenal waktu’.
Pada sekitar 2200 SM, sebuah revolusi
menjatuhkan kekuasaan raja dan mulai Periode Peralihan
Pertama. Setelah 150 tahun tanpa pemerintah pusat,
Mentuhotep, dari Thebes menaklukkan kembali Mesir.
Untuk melakukan itu, dia harus berbagi kekuasaan dan
tanah dengan para bangsawan lain, sehingga Zaman
Kerajaan Mesir Pertengahan juga dikenal sebagai Zaman
Feodal.
Pada akhir masa Kerajaan Mesir Pertengahan,
ketika para bangsawan sedang cekcok lagi, Mesir Hilir
diserang bangsa asing yang mengendarai kereta perang
yang ditarik kuda. Makhkluk-makhkluk barbar itu – kuda
58
dan orang berambut merah – aslinya berasal dari balik
Pegunungan Kaukasus, di wilayah Selatan Rusia. Pada
suatu waktu sekitar 2000 SM, mereka mulai berimigrasi
ke negeri-negeri yang lebih beradab di Selatan. Dengan
bantuan kuda-kuda perang mereka, satu kelompok
menyatakan diri sebagai penguasa Kanaan, dan pada
sekitar 1780 SM, mereka memasuki Mesir.
Bangsa Mesir yang terpecah belah dan takut kuda,
menyerah tanpa perlawanan pada ‘Bangsa Hyksos’ atau
‘Raja-raja Asing’, yang pemerintahannya sangat dibenci.
Mereka menguasai Mesir antara tahun 1780-1580 SM.
Bangsa Hyksos itu mendirikan ibukota baru di Avaris, di
sebelah Timur Delta Sungai Nil.
Dua ratus tahun pemerintahan Hyksos memberi
orang Mesir satu pelajaran berharga, yaitu menyerang
dengan menggunakan kereta perang. Setelah menguasai
keahlian mengendarai kereta perang, Ahmosis, seorang
bangsawan dari Thebes menyerang Hyksos. Setelah
pengepungan panjang, pada tahun 1580 SM, tentara
Ahmosis mengusir orang-orang asing itu sampai ke ujung
Kanaan, Palestina. Di kemudian hari, Bangsa Hyksos
berdiam di Syria Utara.
Sekembalinya ke Mesir, Ahmosis menyingkirkan
para bangsawan pesaingnya satu persatu. Ahmosis dan
pewaris takhtanya, Amenhotep I, membangun Thebes,
tempat kekuasaan Dewa Amon menjadi kota yang indah.
Dan mulailah Zaman Kerajaan Mesir Baru, yang nantinya
berakhir sekitar tahun 525 SM, setelah Mesir ditaklukkan
Persia. Sejak Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan, Dewa
Amon dipersamakan dengan Dewa Re dan kemudian
menjadi dewa dwimurti yang disebut Amon-Re.
59
Raja terbesar pada Zaman Kerajaan Mesir Baru
ialah Thutmosis III (sekitar 1490-1436 SM); ia semula
memerintah Mesir bersama-sama ibu tiri yang juga
bibinya, Hatshepsut. Hal ini terjadi karena Raja Mesir
sebelumnya, Thutmosis II (sekitar 1495-1490 SM), yang
adalah saudara kandung dan sekaligus menjadi suami
Hatshepsut, tidak memiliki keturunan. Menjelang
kematiannya, sang raja mengawini seorang selir, dan
darinya diperoleh seorang anak laki-laki yakni Thutmosis
III. Untuk mencegah krisis pemerintahan, maka Ratu
Hatshepsut bertindak sebagai wali Thutmosis III dalam
memerintah Kerajaan Mesir. Tak lama kemudian sang
Ratu mengangkat dirinya sebagai fir’aun wanita dengan
mengesampingkan Thutmosis III.
Hampir duapuluh tahun, Thutmosis duduk di
Takhta selalu dibayangi oleh kekuasaan Ratu Hatshepsut.
Di antara para fir’aun, Hatshepsut termasuk yang paling
aktif membangun Mesir. Setelah sang Ratu meninggal,
Thutmosis memperluas wilayahnya dengan menaklukkan
sebagian besar wilayah Asia Barat: Palestina, Syria,
Funisia, hingga ke Pegunungan Taurus, di Turki Selatan
sekarang. Sementara negeri-negeri di Mesopotamia,
seperti Mitanni yang berkuasa di Hulu Sungai Eufrat,
Kerajaan Babilonia, yang semakin lemah, dan Assyria,
yang belum kuat, menyatakan tunduk dan bersedia
memberi upeti berupa barang-barang berharga dan tenaga
kerja (budak) kepada Mesir. Dengan kekayaan dan tenaga
kerja dari negeri-negeri taklukkan, Thutmosis dapat
mendirikan kuil, rumah pendewaan, untuk Dewa Amon-
Re yang sangat besar dan indah di Karnak dan Luxor.
60
Gambar 5.10 Lokasi Kuil di Karnak dan Luxor (wilayah Thebes), dan
kuil-kuil lain di sekitarnya
(Sumber: http://www.vazyvite.com, akses 17 Juni 2016)
Karnak dan Luxor termasuk dalam wilayah
Thebes, yang berada di bagian Timur Sungai Nil. Di bagian
Barat Sungai Nil, terdapat beberapa kuil seperti kuil
Ramesseum di Theban Necropolis, kuil Sethi I di Abydos,
kuil Thutmosis III dan kuil Hatshepsut di Deir El-Bahari.
Pada masa Raja Amenhotep IV (sekitar 1380-1363
SM), negeri Mesir tidak lagi merupakan negeri yang
tertutup, karena hubungan dengan Asia sedemikian
eratnya; bahkan Thebes menjadi kota dunia, yang sangat
ramai.
61
Gambar 5.11 Denah Kompleks Kuil di Karnak
(Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.12 Perspektif Kompleks Kuil di Karnak
(Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
62
Gambar 5.13 Denah Kuil Amon ( kuil utama) di Karnak
(Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.14 Denah Kuil Khonsu di Karnak
(Sumber: http://s464659611.onlinehome.us, akses 4 Juni 2016)
Raja Amenhotep IV adalah penguasa Mesir
pertama yang memaklumatkan bahwa dewa yang patut
disembah hanyalah satu dewa saja di seantero wilayah
kekuasaan Mesir, yakni Dewa Aton (berupa bulatan
matahari). Untuk memperlihatkan bahwa ia berbakti
kepada Aton, namanya diganti dengan Echn-Aton
63
(Akhenaton). Semua dewa lain, betapapun tua dan
regional, dicekal. Kemudian, matahari menjadi dewa
tunggal, pencipta dan pemberi makan. Sudah barang
tentu tindakan raja itu ditentang oleh pendeta-pendeta
agama Amon di Thebes; untuk menghindarkan tentangan
itu ia memindahkan ibukota kerajaan dari Thebes ke kota
baru, Tell-el-Armana.
Gambar 5.15 Perspektif Kuil Khonsu di Karnak:
Tipologi Kuil Mesir Kuno
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 4 Juni 2016)
Nefertite, yang terkenal sebagai ‘putri tercantik dari
Zaman Kuno’, istri Raja Akhenaton, sangat mendukung
kebijakan suaminya. Tuan putri selalu menyertai baginda,
sampai-sampai pada upacara-upacara ketika menerima
duta negeri asing. Pada waktu yang sedemikian duduklah
Nefertite di samping baginda. Nefertite memberikan
baginda tujuh orang putri.
64
Gambar 5.16 Denah Kuil di Luxor
(Sumber: http://www.ancientluxor.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.17 Perspektif Kuil di Luxor
(Sumber: http://jeanclaudegolvin.com, akses 4 Juni 2016)
65
Gambar 5.18 Pilar Kuil Amon di Karnak (sebuah model)
(Sumber: http://www.ancient-wisdom.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.19 Bentuk alam (pohon papirus dan lotus) sebagai acuan
bentuk pilar dan kapital Kuil di Mesir Kuno
(Sumber: https://in.pinterest.com, akses 4 Juni 2016)
66
Gambar 5.20 Reruntuhan Kuil Amon di Karnak
(Sumber: http://www.anniebees.com, akses 4 Juni 2016)
Sang raja yang monoteis itu pun meninggal dan
digantikan oleh salah seorang menantunya, Tut-Anch-
Aton. Para pendeta berhasil memaksa raja baru ini untuk
kembali berbakti kepada Dewa Amon, dan dewa-dewa
lama dikembalikan ke tempat-tempat pemujaan mereka.
Kemudian raja juga mengganti namanya dengan Tut-
Anch-Amon (Tutenkhamon).
Gambar 5.21 Akhenaton
(Sumber: http://www.ancientegyptonline.co.uk, akses 4 Juni 2016)
67
Fir’aun-fir’aun Mesir Kuno selalu menyuruh
membuatkan lukisan maupun patung mereka dalam
segala kebesarannya. Mereka ingin dipandang sebagai
dewa, sebab mereka sendiri sudah menganggap dirinya
dewa.
Pada Gambar 5.21, tampak Akhenaton memakai
mahkota kembar dari Mesir Utara dan Selatan. Pada
bagian depan mahkota tampak ukiran ular keramat pada
tingkat pertama, yakni lambang kebijaksanaan dan
kehidupan.
Gambar 5.22 Bentuk pilar dan kapital Kuil di Mesir Kuno,
(Sumber: http://pix-hd.com, akses 4 Juni 2016)
68
Gambar 5.23 Pembuatan batu bata di Mesir Kuno,
(Sumber: http://www.egypt-shape.com, akses 19 Juni 2016)
Tampak pada Gambar 5.20, hamba sahaya bangsa
Asia sedang membakar dan menimbun batu bata. Orang
Mesir belum mengenal gambar perspektif, oleh karena itu
segala yang tampak terlukis di bagian atas sesuatu
haruslah dibayangkan bahwa letaknya sebenarnya di
bagian belakang. Di sebelah kiri tampak sebuah kolam; di
dalamnya ada tumbuh-tumbuhan. Dua orang sedang
menimba air untuk membasahi tanah liat, bahan
membuat batu bata. Kendi yang seorang telah penuh,
tetapi yang seorang lagi masih asyik menimba. Di sebelah
paling kanan, tampak orang Mesir yang mengawasi
pekerjaan itu. Orang itu memegang sebuah tongkat. Di
bagian depan gambar, tampak dua orang sedang
mencangkul tanah liat kering. Di sebelah kiri bagian
belakang gambar, tampak seorang yang memasukkan
tanah liat yang dibasahkan ke dalam tuangan. Di sebelah
kanan depan, kelihatan orang-orang yang mengangkut
batu bata yang telah selesai dibakar.
BAGIAN 6
FIR’AUN VS MUSA
Sesudah Raja Tut-Anch-Amon meninggal, Mesir terpecah-
pecah; di antara raja yang terkenal setelah penyatuan
kembali Mesir ialah Ramses II (sekitar 1275-1220 SM); ia
dapat menguasai seluruh wilayah Palestina dan
mengalahkan Bangsa Hittite (Hatti) yang mengacau di
wilayah Asia Barat.
Pada masa kekuasaan Ramses II, terjadi stabilitas
politik yang luar biasa; di sana tidak ada krisis dalam
negeri, dan segala macam kekayaan dari luar dibawa ke
Mesir sebagai upeti tanda pengakuan akan kedewaan
fir’aun. Monumen-monumen dan patung-patung dirinya
menggambarkannya sejajar dengan para dewa, dan ia
sendiri mengaku sebagai keturunan dewa.
Pada masa kejayaannya, Ramses II membangun
istana dan kuil di mana-mana, seperti Kuil Abu Simbel di
Nubia, Ramesseum di Thebes, kuil-kuil di Karnak dan
Abydos, dan memperindah Pi-Ramesses. Kuil-kuil yang
dibangun Ramses II terdapat di kota-kota di dua wilayah
pinggiran Sungai Nil, yaitu wilayah bagian Timur dan
Barat Sungai Nil.
69
70
Gambar 6.1 Peta Lokasi kuil-kuil Mesir Kuno
(Sumber: http://chezrenejeanine.net, akses 4 Juni 2016)
71
Gambar 6.2 Denah dan Potongan Gambar Kuil Abu Simbel di Nubia
(Sumber: http://www.bellabs.ru, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.3 Gerbang Kuil Abu Simbel, dengan 4 patung Ramses
(Sumber: http://www.dewigog.co.uk, akses 4 Juni 2016)
72
Gambar 6.4 Panorama Kuil Abu Simbel di Nubia, terlihat Sungai Nil
(Sumber: http://www.crystalinks.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.5 Interior Kuil Abu Simbel di Nubia
(Sumber: http://www.8thingstodo.com, akses 4 Juni 2016)
73
Gambar 6.6 Denah Kuil Ramesseum di Thebes
(Sumber: http://www.egyptianparadise.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.7 Perspektif Kuil Ramesseum di Thebes
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 4 Juni 2016)
74
Gambar 6.8 Reruntuhan Kuil Ramesseum di Thebes
(Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.9 Denah Kuil Ramses II di Abydos
(Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
75
Gambar 6.10 Perspektif Kuil Ramses II di Abydos
(Sumber: http://www.yaplakal.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.11 Lokasi Kota Pi-Ramesses
(Sumber: http://josetaboadaberenguer.blogspot.co.id, akses 5 Juni 2016)
76
Gambar 6.12 Kota Pi-Ramesses
(Sumber: http://www.hist-chron.com, akses 5 Juni 2016)
Gambar 6.13 Pusat Kota Pi-Ramesses
(Sumber: http://ramessesthesecond.weebly.com, akses 5 Juni 2016)
77
Gambar 6.14 Reruntuhan Kota Pi-Ramesses
(Sumber: http://www.hist-chron.com, akses 5 Juni 2016)
Raja Ramses II sering dihubungkan dengan sejarah
Bangsa Israel. Orang-orang Ibrani (Israel) datang ke Mesir
bersamaan waktunya dengan penyerangan Bangsa Hyksos
terhadap Mesir.
Selama masa kekuasaan raja-raja Hyksos, kurang
lebih 200 tahun, Bangsa Ibrani yang bermukim di Mesir
mengalami kehidupan yang menyenangkan, yang kelak
diakhiri dengan masa-masa penindasan. Salah seorang
Bangsa Ibrani yang dianggap saleh dan bekerja sebagai
administrator di pemerintahan pada masa itu ialah Yusuf,
putra Yakub.
Setelah Bangsa Hyksos berhasil diusir dari wilayah
Mesir, sebagai akibat lain adalah munculnya gerakan-
gerakan Anti Semitisme, dimana suku-suku Israel – dan
78
barang kali orang Semit lain di Mesir – diperbudak karena
dianggap pengikut Hyksos. Penguasa baru Mesir
memerintahkan orang-orang Israel, yang dianggap sebagai
budak, mendirikan bagi fir’aun kota-kota perbekalan,
yaitu Pitom dan Ramses (Ramesses atau Pi-Ramesses),
dan berbagai pekerjaan berat lainnya. Tetapi, semakin
ditindas, mereka makin bertambah banyak jumlahnya,
menyebabkan penguasa Mesir ketakutan. Ketentuan baru
diberlakukan: setiap bayi laki-laki yang baru lahir harus
dimatikan, dengan cara dilemparkan ke dalam Sungai Nil.
Tetapi, di lain pihak, sebenarnya, penguasa Mesir sangat
membutuhkan orang-orang Ibrani yang bisa dipaksa
melakukan kerja rodi. Dalam suasana yang demikian,
lahirlah seorang pemimpin Ibrani yang kuat dan saleh,
yakni Musa Alaihissalam.
Kota Pitom memiliki arti ‘rumah dewa Mesir’; kata
‘Pi’ berarti ‘rumah’, dan ‘tom’ atau ‘tum’ setara dengan
‘Atum’ ialah Dewa Mesir. Sementara Kota Pi-Ramesses
mengandung arti ‘rumah raja Mesir yang bernama
Ramses’. Nama kota ini merujuk pada periode Ramses.
Setelah berkuasa selama setahun lebih, Ramses I
menyerahkan mahkota kepada putranya, Sethi I, yang
tampaknya berbagi kekuasaan dengan ayahnya sejak awal
berkuasa. Sethi I memerintah selama empatbelas tahun
dan sejak periode kedua kekuasaannya, ia berbagi
kekuasaan dengan Pangeran Ramses yang kelak bergelar
Ramses II. Pembagian kekuasaan sebagai model suksesi
kedua putra mahkota itu mengisyaratkan bahwa sejak
awal, Dinasti Ramses mengkhawatirkan akibat-akibat dari
pergantian kekuasaan.
79
Pembangunan Kota Pi-Ramesses dilaksanakan
pada zaman Musa; awal pembangunan dilaksanakan oleh
Sethi I yang meliputi pendirian gedung-gedung secara
keseluruhan dan diselesaikan oleh Ramses II. Ramses II
meninggal dalam usia lanjut, 85 atau 90 tahun, dan
digantikan oleh anak laki-lakinya, Mineptah; ia
memerintah selama sekitar sepuluh atau duapuluh tahun.
Pada masa Mineptah, Musa, yang usianya sekitar 80
tahun, menerima Sepuluh Perintah Tuhan di Gunung
Sinai, dan mulai ‘berdakwah’; namun ia mendapat
tentangan keras dari penguasa Mesir itu. Yang pada
akhirnya, Musa mengajak orang-orang Israel yang ada di
Mesir untuk keluar dari negeri itu, dan terjadilah eksodus
besar-besaran. Jadi, kehidupan Musa meliputi kekuasaan
tiga fir’aun: Sethi I, Ramses II, dan Mineptah.
Gambar 6.15 Peta Rute Eksodus dari Mesir ke Kanaan
(Sumber: https://leewoof.org, akses 5 Juni 2016)
80
Gambar 6.16 Torah: Kitab Suci orang-orang Yahudi
(Sumber: http://www.cjvoices.org, akses 5 Juni 2016)
Orang-orang Yahudi memiliki Kitab Suci yang
dinamakan Torah. Torah dibagi-bagi dalam berpuluh
bagian, tiap bagian disebut ‘buku’, yang mempunyai nama
sendiri-sendiri. Kelima ‘buku’ pertama dalam kitab itu
kiranya Musa sendiri yang menuliskannya. Oleh karena
itu disebutlah bagian itu ‘Buku Musa Yang Lima’. Orang
Yahudi menyebutnya ‘Sefer Torah’ atau dengan singkat
‘Torah’, yang berarti ‘Kitab Hukum’. Kelima ‘buku’ itu
disalin orang pada gulungan perkamen, yang diberi ikatan
tongkat kayu pada kedua ujungnya. Pada kedua tongkat
itulah perkamen tadi digulung, sehingga bertemu di
tengah seakan-akan merupakan dua gulungan. Pada Hari
Sabbat, dibacalah bagian-bagian ‘Torah’ itu di Synagoge,
yaitu tempat kebaktian orang Yahudi.
BAGIAN 7
WARISAN HARAPPA DAN
MOHENJO-DARO
Ada satu lagi peradaban yang tampil ke muka bumi yang
waktunya hampir bersamaan dengan kemunculan
Peradaban Sumeria dan Mesir Kuno, yakni Peradaban
Lembah Sungai Sindhu (Indus), di wilayah India sekarang.
Kira-kira tahun 3000 SM, di Lembah Sungai Sindhu telah
berdiam satu bangsa, Dravida, yang memiliki ciri-ciri:
berambut keriting, berbibir tebal, dan bermata agak sipit.
Kebudayaa bangsa ini serupa dengan kebudayaan bangsa-
bangsa di negeri Sumeria, bahkan huruf yang dipakai
hampir sama dengan huruf yang dipergunakan oleh
Bangsa Sumeria.
Dari penggalian di Kota Harappa (di Punjab) dan
Mohenjo-Daro (di Sind) ditemukan beberapa arca. Dari
Kota Harappa ditemukan dua buah arca yang telah hilang
kepalanya, yang mempunyai bentuk badan yang lebih
bersifat naturalistik. Salah satu dari arca itu yang mula-
mula bertangan empat dan berkepala tiga berdiri di atas
kaki kanan, sementara kaki kirinya terangkat.
Di beberapa tempat di Mohenjo-Daro ditemukan
beberapa benda arca, di antaranya berupa seorang
pendeta yang berjanggut. Arca ini memakai pita yang
81
82
melingkari kepalanya, sedangkan ia berpakaian baju yang
berhiaskan gambar-gambar yang menyerupai daun
semanggi yang berdaun tiga. Hiasan daun semanggi ini,
rupanya juga lazim dipakai di Sumeria, Mesir dan Krete.
Dari kedua kota itu juga ditemukan sejumlah
materai tanah liat dengan hiasan bermacam-macam.
Gambar-gambar itu diduga menggambarkan dewa-dewi.
Salah satu gambar wanita dilukiskan dengan bagian-
bagian badan yang besar. Ciri yang demikian mengacu
kepada Dewi Kesuburan. Ada juga gambar-gambar hewan,
seperti buaya, gajah dan badak. Materai dengan gambar-
gambar dewa-dewi dan hewan ternyata sama dengan
benda sejenis yang ditemukan di Sumeria. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa telah ada hubungan antara kedua
tempat itu (India dan Sumeria). Hubungan ini mungkin
berupa hubungan perdagangan.
Berdasarkan penggalian di Harappa dan Mohenjo-
Daro, ditemukan pula beberapa bukti tentang adanya
perencanaan dan perancangan kota dan arsitektur yang
sudah sangat baik pada Zaman Kuno. Di kedua tempat itu
ditemukan bekas-bekas kota besar yang ditata
berdasarkan petunjuk-petunjuk yang berhubungan
dengan kesehatan, keindahan dan pertahanan. Rumah-
rumah yang besar, yang terbuat dari batu bata, didirikan
di tepi jalan raya yang sudah sesuai dengan arah tiupan
angin. Jalan dibuat selebar 8 meter, membujur arah
Utara-Selatan. Setiap 40 meter, terdapat jalan kecil
selebar 1,5 – 3 meter memotong dari arah Barat-Timur
sehingga membentuk blok-blok. Semua pintu rumah
menghadap ke jalan. Dengan ini angin yang membawa
hawa sejuk dapat masuk ke jalan raya dan ke rumah-
83
rumah. Rumah-rumah besar yang bertingkat tiga
mempergunakan pipa-pipa dari tanah untuk mengalirkan
air dan segala kotoran dari tingkat yang atas ke bawah,
yang akhirnya dimasukkan ke dalam selokan di dalam
tanah. Bentuk bangunan baik di Harappa maupun di
Mohenjo-Daro menyerupai benteng. Di Mohenjo-Daro
ditemukan sebuah bangunan yang berfungsi sebagai
kolam pemandian besar dilengkapi pipa-pipa air,
ukurannya sekitar 45 x 22,5 meter persegi. Selain itu ada
gudang gandum, tempat peleburan logam, tempat
menenun kain, tempat bermusyawarah, dan bangunan
stupa, tempat pemujaan Agama Budha, lengkap dengan
arcanya.
Gambar 7.1 Peta wilayah Lembah Indus
(Sumber: http://kids.britannica.com, akses 17 Juni 2016)
84
Gambar 7.2 Denah Mohenjo-Daro
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 17 Juni 2016)
Gambar 7.3 Reruntuhan Mohenjo-Daro,
terlihat tempat mandi (Great Bath) dan kuil berbentuk bulat
(Sumber: http://blog.pardesilink.com, akses 17 Juni 2016)
85
Gambar 7.4 Harappa (rekonstruksi),
terlihat gerbang utama dan drainase
(Sumber: http://blog.pardesilink.com, akses 17 Juni 2016)
Gambar 7.5 Blok-blok rumah di Harappa dan Mohenjo-Daro
(Sumber: http://www.funwithcy.com, akses 17 Juni 2016)
86
Gambar 7.6 Denah rumah di Harappa dan Mohenjo-Daro
(Sumber: http://mrholmes.pbworks.com, akses 17 Juni 2016)
Gambar 7.7 Potongan interior rumah di Harappa dan Mohenjo-Daro
(Sumber: https://www.studyblue.com, akses 17 Juni 2016)
87
Gambar 7.8 Materai bergambar binatang bison di Mohenjo-Daro
(Sumber: http://www.sindhishaan.com, akses 18 Juni 2016)
Peradaban Kota Harappa dan Mohenjo-Daro rusak
atau hancur, diduga akibat serangan bangsa barbar, yang
datang dari Utara, sekitar 1500 SM. Pada tahun 2000 SM,
mereka mengembara, dari kampung halaman mereka di
wilayah Rusia Selatan, ke Selatan hingga sampai di
Afghanistan. Pada 1700 SM, mereka pindah lagi dari
Afghanistan menuju Selatan, dan akhirnya sampailah di
sekitar aliran Sungai Sindhu dan Sungai Gangga, di India.
Dan bertemulah mereka dengan penduduk setempat,
suku bangsa asli India, Bangsa Dravida. Penduduk
setempat itu menyebut mereka sebagai bangsa asing:
Bangsa Arya. Bagi Bangsa Arya yang menyusuri Sungai
Gangga bisa diterima dan bahkan hidup berdampingan
dengan penduduk setempat. Di daerah inilah mulai
berkembang kebudayaan Arya yang diawali dengan
88
penulisan Kitab Reg Weda, yang kelak menjadi hasil
kesusasteraan di India.
Manusia Bangsa Arya memiliki ciri: bertubuh
tinggi, berhidung mancung, kulit putih, dan rambut
pirang. Tidak seperti saudaranya yang di Gangga, Bangsa
Arya yang menyusuri aliran Sungai Sindhu, sebelum
sampai di Harappa dan Mohenjo-Daro, mereka dihadang
oleh beratus-ratus pasukan Bangsa Dravida. Dan untuk
sementara Bangsa Arya kalah. Setelah menyusun
kekuatan kembali, mereka melakukan balas dendam. Lalu
terjadilah pertempuran dahsyat, dan kali ini pasukan
Dravida dapat ditaklukkan. Benteng-benteng kota
Harappa dan Mohenjo-Daro dihancurkan, seluruh isi dan
kemegahan kedua kota itu diporak-porandakan dan
akhirnya hancur lebur.
DAFTAR PUSTAKA
LITERATUR
Achadiati S., Y. (Ed)
1988 Sejarah Peradaban Manusia Zaman Mesir Kuno 1 & 2. Jakarta:
Multiguna.
Sejarah Peradaban Manusia Zaman Persia Kuno 1. Jakarta:
Multiguna.
Sejarah Peradaban Manusia Zaman India Kuno 1 & 2. Jakarta:
Multiguna.
Sejarah Peradaban Manusia Zaman Mesopotamia. Jakarta:
Multiguna.
Beckner, Chrisanne
2008 100 Kota Paling Penting di Dalam Sejarah Dunia. Tangerang:
Karisma Publishing Group.
Berg, H.J. Van Den; H. Kroeskamp; I.P. Simandjoentak
1953 Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia. Djakarta: J.B. Wolters.
Bergant, Dianne & Robert J. Karris (Ed)
2002 Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.
Bucaille, Maurice
2007 Fir’aun dalam Bibel dan Al-Qur’an. Bandung: Mizania
Burke, Gerald
1971 Towns in The Making. London: Edward Arnolt Ltd.
Crompton, Samuel Willard
2007 100 Peperangan yang Berpengaruh di dalam Sejarah Dunia.
Tangerang: Karisma Publishing Group.
Delius, Peter (Chief Ed)
The Story of Architecture from Antiquity to the Present. Cologne:
Konemann.
89
90
Dirks, Jerald F.
2006 Ibrahim Sang Sahabat Tuhan. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Field, D.M.
2002 The World’s Greatest Architecture, Past and Present. Kingsnorth
Industrial Estate, UK: Grange Books.
Fletcher, Banister
1954 A History of Architecture. London: B.T. Batsford Ltd.
Gardner’s, Helen
1959 Art Through The Ages. New York: Harcourt, Brace & World Inc.
Gonick, Larry
2006 Kartun Riwayat Peradaban Jilid I,II,III. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia.
Grant, Neil
2000 Bangsa Mesir. Batam Centre: Interaksara.
Gympel, Jan
1996 The Story of Architecture, From Antiquity to The Present. Cologne:
Konemann.
Hart, Michael H.
2005 100 Tokoh Paling Berpengaruh Sepanjang Masa. Batam Centre:
Karisma Publishing Group.
Kostof, Spiro
1991 The City Shape. London: Thames and Hudson Ltd.
Mansur, Moh. Dahlan
1956 Kita Dan Dunia. Djakarta: J.B. Wolters.
Mumford, Lewis
1961 The City in History, Its Origins, Its Transformations, and Its
Prospects. New York: Harcourt, Brace & World, Inc.
Pane, Armijn
1951 Djalan Sedjarah Dunia. Djakarta: W. Versluys N.V.
Paparchontis, Kathleen
100 Pemimpin Dunia yang Berpengaruh di dalam sejarah Dunia.
Batam Centre: Karisma Publishing Group.