The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cinta dan Persahabatan (Kumpulan Cerita Anak)_Uung Ulfah_NONFIKSI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by UUNG ULFAH, 2025-03-16 22:31:38

Cinta dan Persahabatan (Kumpulan Cerita Anak)_Uung Ulfah_NONFIKSI

Cinta dan Persahabatan (Kumpulan Cerita Anak)_Uung Ulfah_NONFIKSI

Cinta dan Persahabatan | i


Cinta dan Persahabatan   (Kumpulan Cerita Anak)  Penulis: Uung Ulfah  ISBN Editor: Susi Respati Setyorini   Penata Letak: @timsenyum  Desain Sampul: @timsenyum  Copyright © Pustaka Media Guru, 2020  vi, 134 hlm, 14,8 x 21 cm  Cetakan Pertama, September 2020  Diterbitkan oleh  CV. Pustaka MediaGuru  Anggota IKAPI   Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya   Website: www.mediaguru.id  Dicetak dan Didistribusikan oleh  Pustaka Media Guru  Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19  Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72 


Cinta dan Persahabatan | iii Prakata lhamdulillahirobbil ‘alamin, puji syukur kepada Allah yang telah memberikan kesehatan dan pikiran yang jernih sehingga kumpulan cerita ini bisa penulis selesaikan sebelum deadline. Terima kasih kepada anak anakku tercinta, yang sudah mau membaca dan memberikan masukan terkait isi ceritanya. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bu Wiwik dan Bu Ary, yang telah memberikan tutorial dan pendampingan selama satu bulan sehingga penulis bisa berkarya. Tak terbayang awalnya karena tidak ada pengalaman menulis cerita anak. Walaupun penulis pernah berkecimpung di dunia pendidikan dengan menjadi guru Taman Kanak-Kanak, tetapi hanya selintas singgah dalam kehidupan. Lima tahun tak cukup bisa ntuk mendalami dunia kanak-kanak. Setelah itu lebih banyak bergaul dengan anakanak usia SMP dan SMA sehingga penulis mencoba menuliskan cerita yang terbanyak untuk usia 13 tahun A


iv | Uung Ulfah ke atas. Ada beberapa cerita yang ditujukan untuk usia 9–13 tahun. Cerita di dalam buku ini adalah pengalaman pribadi sebagai pendidik di Taman Kanak Kanak. Dari beberapa judul yang ditulis, penulis lebih banyak bernarasi dengan kombinasi dialog yang terbatas. Semoga bisa dinikmati dan bisa diambil berbagai pelajaran yang disuguhkan dalam cerita ini. Tiada gading yang tak retak. Tiada kata yang sempurna. Tiada kesan tanpa membaca buku ini. Harapan penulis, semoga kumpulan cerita ini bisa sedikit memberi warna dalam ranah literasi. Jakarta, 28 Agustus 2020 Penulis


Cinta dan Persahabatan | v Daftar Isi Prakata ........................................................................................... iii Daftar Isi ......................................................................................... v 1. Fitri dan Ikhsan Penyayang Binatang .......................... 1 2. Cinta dan Persahabatan ................................................... 8 3. Ramadan Penuh Berkah ................................................. 19 4. Nurul yang Gigih ............................................................... 27 5. Keluarga Surgaku .............................................................. 36 6. Rumah Nyai ......................................................................... 42 7. Iman Kuliah .......................................................................... 48 8. Bu Guru Ulfah ..................................................................... 52 9. Imam sang Juara ............................................................... 56 10. Semua Sayang Mayra ...................................................... 65 11. Sekolahku ............................................................................. 70 12. Nana yang Baik Hati ........................................................ 76 13. Desaku ................................................................................... 81


vi | Uung Ulfah 14. Ikhsan dan Laptop Barunya .......................................... 86 15. Eha yang Rajin Menabung ............................................ 91 16. Ibu Tiri yang Penyabar .................................................... 96 17. Wita yang Mandiri ......................................................... 103 18. Kitty yang Lucu ............................................................... 113 19. Mamaku Guru Ngaji...................................................... 120 20. Abah yang Penyayang ................................................. 124 21. Ikhsan yang Pendiam ................................................... 130 Profil Penulis ............................................................................ 133


Cinta dan Persahabatan | 1 Fitri dan Ikhsan Penyayang Binatang Gambar Koleksi Pribadi itri dan Ikhsan adalah adik kakak. Fitri berusia 13 tahun masih bersekolah di SMP. Sementara Ikhsan, berusia 9 tahun dan bersekolah di SD. Mereka tinggal di sebuah kampung bernama F


2 | Uung Ulfah Kampung Sasak, bersama ayah mereka yang bernama Bapak Darma dan Ibu Rara. Suatu hari, datang seorang tamu ke rumah menanyakan Ayah. Tamu tersebut mengaku teman Ayah. “Ini betul rumah Bapak Darma?” tanya tamu itu. “Iya, betul,” jawab Fitri. “Bapak siapa, ya?” Fitri balik bertanya kepada tamu itu. Bunda selalu mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana menerima tamu dengan baik. “Bilang saja ada teman Bapak yang datang dari sebrang,” kata tamu itu. “Oh, baik, Pak. Silakan masuk,” sambut Fitri. Ia lalu memanggil ayahnya yang sedang membereskan taman belakang. “Ayah, ada tamu. Katanya teman Ayah dari sebrang.” Tanpa ditanya, Fitri menjelaskan siapa tamunya. “Di mana, Nak?” Ayah segera berlari menuju ke ruang tamu. Ayah dan tamu itu mengobrol lama di ruang tamu. Sepertinya ramai sekali. Bunda pun ikut menemani sambil membawakan minuman dan kue untuk tamu Ayah.


Cinta dan Persahabatan | 3 Tidak berapa lama, Ayah memanggil Fitri dan Ikhsan. “Fitri, Ikhsan. Sini, Nak,” panggil Ayah. “Temen Ayah tadi kasih kucing, kalian pasti suka,” lanjutnya. Ayah lalu memperlihatkan kucing dalam kandangnya. Warna bulunya abu-abu. “Ini kucing anggora,” kata Ayah, “namanya Pupu. Kalian jaga dengan baik, ya,” pesan Ayah. “Wow, kucingnya bagus, Ayah,” puji Fitri. “Iya, lucu banget,” tambah Ikhsan. “Kucing ini akan tau, kita sayang apa tidak,” lanjut Ayah lagi. “Iya, Ayah,” jawab Fitri dan Ikhsan serempak. “Ayo kita sapa kucing ini,” ajak Ayah. “Pupu,” sapa Fitri dan Ikhsan. Mereka berdua langsung bermain dengan si Pupu. Si Pupu sepertinya senang bermain bersama Fitri dan Ikhsan. Fitri dan Ikhsan akhirnya mempunyai kegiatan baru, yaitu bergantian memberi makan si Pupu. Bunda yang membelikan makanannya. Tiap pagi dan sore, tugas memberi makan tidak pernah dilewatkan oleh Fitri dan Ikhsan. Tidak berapa lama, si Pupu rupanya mulai jatuh cinta dengan Fitri dan Ikhsan. Barangkali karena


4 | Uung Ulfah mereka sering mengajaknya bermain dan memberi makan dengan kasih sayang. Setiap dipanggil, dengan cepat si Pupu datang, sambil menggoyanggoyangkan ekornya. Sore itu, Alifah–tetangga sebelah–datang berkunjung ke rumah dengan membawa kucing persianya. Alifah mendengar kalau Fitri dan Ikhsan mempunyai seekor kucing anggora baru. Dia pun ingin berkenalan dengan si anggora milik Fitri itu. Kucing persia Alifah kucing betina, sementara si Pupu kucing jantan. Mereka pun saling berkenalan. Si Pupu begitu lincah mendekati si Moci, kucing persia milik Alifah. Sejak perkenalan itu, si Pupu menjadi sering bermain di rumah sebelah. Rupanya, si Pupu ingin bermain dengan si Moci. Mereka pun akhirnya beranak-pinak, pertama kali ada 4 kucing dengan warna abu-abu, putih, dan cokelat. Sesuai warna bulu bapak dan ibu kucing. Anak anak kucing lucu-lucu sekali. Alifah mulai merasa memiliki kucing-kucing itu. Tidak boleh seorang pun yang mengambil anak-anak kucingnya. Fitri dan Ikhsan mulai protes. Mereka pun akhirnya berebut ingin juga memiliki anak-anak kucing. Si


Cinta dan Persahabatan | 5 pupu dikurung di kandang tak boleh keluar rumah. Alifah juga menjaga anak-anak kucingnya untuk tidak bermain di rumah Fitri dan Ikhsan. Si pupu mulai merajuk. Dia tiduran di dalam kandang dengan wajah sedih. Setiap diberi makan, tak juga mau memakannya. “Ayo Pupu, Sayang, makan, “ ajak Fitri. Si pupu buang muka. Dia tidak mau melihat Fitri. “Nanti sakit, lho,” sambung Fitri. Si pupu tetap buang muka dengan menelungkupkan wajahnya. Kali ini Ikhsan yang membujuk si Pupu. Namun, tetap Pupu ngga mau makanan yang disodorkan padanya. Fitri dan Ikhsan pun menyerah. Akhirnya, mereka membukakan kandang kucingnya. Si pupu mulai lagi main ke rumah si Moci. Namun, selalu pulang ke rumah Fitri dan Ikhsan untuk makan. Begitu terus setiap hari. Anak anak kucing sudah mulai besar. Tidak berapa lama, si Moci punya anak-anak kucing lagi. Semuanya berjumlah 12 ekor. Lucu dan menggemaskan. Fitri dan Ikhsan meminta agar Alifah mau membagi anak-anak kucingnya. Alifah tetap tidak


6 | Uung Ulfah mau memberikan anak-anak kucingnya kepada Fitri dan Ikhsan. Akan tetapi, sebelum perjanjian dibuat, anak-anak sempat bertengkar. Mereka saling berebut ingin memiliki kucing yang mereka pilih. Bunda pun datang melerai, lalu mengatakan bahwa kucingkucing ini, adalah milik bersama karena berasal dari kucing Alifah dan kucing Fitri juga Ikhsan. Oleh karena itu, harus dibagi dengan adil. Menurut Bunda dan Ayah, kita tidak boleh mengambil milik orang lain. Hal itu juga tidak diperbolehkan dalam agama. Kita harus selalu memberikan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan Allah. Dengan menyayangi anak-anak kucing ini bersama-sama. Pasti kucing akan merasa bahagia karena semua orang menyayanginya. Jadi, tidak perlu bertengkar lagi. Fitri, Ikhsan, dan Alifah pun akhirnya berdamai. Di mana pun kucingnya bermain, mereka selalu bersama-sama. Kini kucing-kucing itu sudah beranakpinak lagi. Si pupu dan si Moci, ibu bapak dari kucing-kucing itu sudah tidak ada lagi. Namun, anak-anak kucing itu terus bertambah jumlahnya. Fitri, Ikhsan, dan Alifah,


Cinta dan Persahabatan | 7 tidak lagi berebutan anak kucing. Kucing-kucing bebas bermain di halaman rumah belakang. Setiap handai taulan datang, selalu dipersilakan untuk membawa pulang kucing untuk dirawat, dipelihara, dan diberi kasih sayang. Indahnya saling berbagi.(*)


8 | Uung Ulfah Cinta dan Persahabatan osi, Rina, dan Ulfah adalah tiga sahabat yang sangat solid. Mereka bersekolah di sekolah yang sama, yaitu SMP Negeri 1. Ketiganya sangat pandai bergaul, ceria, dan manja. Meskipun rumah mereka saling berjauhan, tetapi setiap hari. Mereka selalu pulang sekolah bersama. Hampir semua teman di sekolah mengenal mereka. Mereka pun dijuluki “trio manja”. Selain pandai bergaul, Rosi, Rina, dan Ulfah juga termasuk murid yang pandai dalam bidang akademik di sekolah. Sepertinya sempurna sekali. Cantik, smart, ceria, pandai bergaul dan juga aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Pagi itu, jam pelajaran sejarah sudah dimulai. Namun, Rina belum juga datang. Rosi dan Ulfah saling pandang. Ke mana, ya, Rina. Apa sakit? Pak guru mulai memeriksa kehadiran siswa satu per satu. “Rina!” panggil Pak guru. Tidak ada jawaban, Pak guru mengulang sekali lagi. “Rina!” “Sakit, Pak,” kata Rosi dan Ulfah serentak. R


Cinta dan Persahabatan | 9 Pak guru melanjutkan memanggil yang lain. Rosi dan Ulfah merasa lega karena tak ada pertanyaan lagi dari Pak guru. Sampai siang, tak ada juga khabar dari Rina. Rosi dan Ulfah memutuskan untuk datang ke rumah Rina sepulang sekolah. Dengan diantar sopir Ulfah, mereka mengunjungi Rina di daerah Pamulang. Baru parkir di depan rumah, Rina sudah nongol di depan pintu. “Kirain sakit, ternyata segar bugar,” sindir Rosi. “Hehe ....” Rina tertawa dengan enaknya. “Tadi kita boong tau,” sambung Ulfah. “Sori, sori. Aku tadi kesiangan bangun,” ucap Rina membela diri. “Ya udah, kita dah sampe sini, ada makanan apa nih, lapar!” canda Rosi. “Tenang,” Rina menimpali, “banyak stok mi. Mau masak sendiri apa dimasakin?” tanya Rina. “Aku aja, deh, yang masakin.” Ulfah menawarkan bantuan. Kami bertiga sudah biasa melakukan kegiatan di rumah Rina. Orang tuanya pun sudah paham dengan kami. Kebetulan siang itu orang tua Rina tidak ada di rumah. Jadi, kami sangat leluasa. Selesai memasak mi


10 | Uung Ulfah instan untuk bertiga, kami pun makan di teras belakang rumah Rina. Ulfah membuka pembicaraan. ”Bulan depan aku ikut lomba nyanyi sekecamatan, mau nemenin nggak?” tanya Ulfah. “Wow, Keren!” seru Rosi. “Kapan lombanya?” lanjutnya. “Masih satu bulan lagi, tapi belum ada yang bisa nemenin latihan, nih,” keluh Ulfah. “Ya udah, latihan di rumah aku aja,” usul Rina, “kebetulan Kang Wisnu bisa main keyboard.” Wisnu adalah kakak Rina yang duduk di bangku SMA. “Mau nggak Kang Wisnunya?” tanya Ulfah. “Nanti sibuk lagi,” lanjutnya. “Insya Allah nggaklah. Apalagi kamu yang minta tolong,” goda Rina. “Iihh ... apaan, sih!” protes Ulfah. Rosi dan Rina tertawa keras sekali. Ulfah tersipu malu. Wajahnya yang putih bersih, merona merah. ”Apaan sih kalian! Ganggu aku terus!” protes Ulfah lagi. “Udah, ah. Pulang, yuk!” ajak Ulfah ke Rosi. “Oke, udah sore, nih. Takut Mama mencariku,” ujar Rosi.


Cinta dan Persahabatan | 11 “Rin, besok jangan kesiangan lagi,“ pesan Ulfah mengingatkan Rina. “Siap!” Sambil meletakkan tangannya di kening posisi hormat, serta mimik yang lucu. Rosi dan Ulfah pun meninggalkan rumah Rina untuk pulang ke rumah mereka masing-masing dengan diantar sopir. Persahabatan mereka, tidak selalu dipenuhi canda tawa, tetapi juga ada duka melanda. Ada seseorang yang tidak suka dan iri dengan persahabatan mereka. Namanya Yesi. Yesi juga duduk di kelas yang sama dengan Rosi, Rina, dan Ulfah. Dia anak yang cukup pandai, tetapi perangainya kurang baik dan menyebalkan. Mulutnya nyinyir dan mengeluarkan kata-kata yang kurang enak didengar. Yesi selalu menganggap trio manja adalah saingannya. Kebetulan lagi, Yesi satu ekskul paduan suara dengan Ulfah. Sementara Rosi dan Rina, mengikuti ekskul basket. Meskipun Rosi, Rina, dan Ulfah mengikuti ekskul yang berbeda, tapi saat latihan mereka selalu bersama. Kalau Ulfah selesai latihannya lebih dulu, dia akan menunggu Rosi dan Rina sampai mereka selesai


12 | Uung Ulfah latihan. Kekompakan ini yang membuat Yesi cemburu karena tidak ada seorang pun yang mau berteman dengannya. Suatu hari, saat latihan paduan suara, Ulfah dijemput Kang Wisnu, kakak Rina. Hari itu ada jadwal untuk latihan mengikuti lomba menyanyi Pop Singer. Rina dan Rosi pun ikut serta. Baru saja Ulfah pamit dengan pelatih paduan suara, Yesi nyerocos dengan sangat lantang. “Hey! Enak banget, belum selesai udah mau pulang. Disiplin, dong!” Ulfah kaget bukan kepalang. Matanya melotot hampir copot. “Emang masalah buat lo?” Ulfah mendebat. “Aku udah izin dengan pelatih dan diizinkan, kok lo protes? Iri?” “Mikirin juga yang lain, dong,” lawan Yesi. “Emang lo doang yang punya urusan?” “Kan nggak tiap saat latihan aku izin?” bela Ulfah. Semua teman anggota padus menjadi terdiam mendengarkan perdebatan antara Ulfah dan Yesi. Pelatih melerai perdebatan mereka. “Udah, Yesi! Ulfah kan izin ada keperluan yang penting. Kamu juga boleh, kok, izin sekali-kali kalau ada keperluan.”


Cinta dan Persahabatan | 13 “Terima kasih, Kak.” Aku pun berlalu dari ruang latihan, diiringi mata Yesi yang keliatan gondok. Rosi dan Rina langsung menarik tangan Ulfah. “Ada apa, sih? Kok kayaknya tadi rame banget?” Berondong pertanyaan Rosi. Rina menimpali, “Kamu berantem, ya?” sambung Rina. “Biasa. Yesi suka cari gara-gara. Nggak seneng dia liat aku pamit.” Suaranya keras sekali. Dia sengaja menjelekkan aku di depan teman-teman. ”Kata-katanya itu nyolot banget,” ucap Ulfah. “Sambil teriak ngomongnya, bikin orang naik pitam,” kata Ulfah dengan geram. “Ya udah, ngga usah diambil pusing.” Rosi menimpali. “Kayanya Yesi iri dengan kita. Kasihan juga, ya?” ucap Rina. “Gimana kalau kita ajak gabung dengan kita?” Rina melanjutkan ucapannya. “Rosi protes, nggak sudi, ah! Nanti malah bikin kacau!” “Betul banget!” sambung Ulfah. “Ya ya ya ….” Rina menyudahi pembicaran.


14 | Uung Ulfah Latihan dengan Kang Wisnu untuk mengikuti lomba, sudah berjalan tiga minggu. Berarti masih ada satu minggu lagi memperlancar diri dengan lagu yang dilombakan. Semakin mendekati hari perlombaan, semakin berdebar rasanya. Namun, kedua sahabatnya sangat support dan di setiap latihan selalu menemani. Hari lomba pun tiba. Bertempat di aula kantor kecamatan. Banyak orang yang ingin menyaksikan acara tersebut, sekaligus memperingati hari Sumpah Pemuda. Ulfah mendapatkan nomor undian 60. Dia kelihatan gelisah. Sebentar-bentar dia meremas tangannya. Rosi dan Rina serta Kang Wahyu ikut menenangkan. “Baca bismillah, Fah,” bisik Rosi. “Tarik napas dalam-dalam,” Rina menyemangati. Tiba giliran Ulfah, dia naik ke panggung dengan sangat percaya diri. Terlihat cantik dengan gaun yang dikenakan. Serasi betul dipadu dengan sepatu hak yang mungil, semungil orangnya. Suara Ulfah menggema ketika menyanyikan lagu Kulepas Dikau Pahlawan. Aku merelakan dikau berjuang, demi keagungan negara, maju terus pantang mundur. Gemuruh tepuk


Cinta dan Persahabatan | 15 riuh penonton, mengiringi Ulfah menyanyikan lagu itu. Penampilan yang luar biasa. Kang Wahyu langsung menyambut Ulfah dari bawah panggung, menyalami orang-orang yang diikuti Rosi dan Rina. “Selamat,” kata Kang Wahyu, “bagus banget. Power suaranya keluar.” “Iya!” kata Rosi dan Rina, “Kalian hebat! Semoga dapat juara, ya,” pinta Rina. “Aamiin.” Selesai acara, mereka pulang diantar sopir Ulfah. Setelah mengantar Rina. Rosi ikut ke rumah Ulfah untuk menginap di sana. Sampai di rumah, Ulfah langsung masuk kamar diikuti Rosi. Mama Papa sepertinya sudah tidur. Setelah bertukar baju tidur, Rosi mulai membahas lomba. “Suara kamu keren banget tadi,” kata Rosi. “Pasti dapat juara,” katanya lagi. “Terima kasih, ya. Aamiin.” Ulfah menanggapi. “Kamu setuju nggak, kalau Yesi gabung dengan kita?” tanya Rosi”. “Terus terang, aku agak keberatan kalau Yesi gabung dengan kita.”


16 | Uung Ulfah “Iya, aku juga keberatan,” sambung Ulfah. “Nanti kita ketularan nyinyirnya lagi.” “Betul. dia selalu cari gara-gara dengan kita,“ lanjut Rosi. “Iya, nanti kita jadi nggak kompak. Kayaknya dia sebel banget dengan aku,” kata Ulfah. Namun, Rina mempunyai pendapat berbeda. Menurutnya, mungkin Yesi ingin berteman dengan kita, tetapi dia merasa tidak terima. Jadi, dia nyinyir seperti itu. Rina menjelaskan melalui sambungan telepon. Akhirnya, dicoba saja dulu. Kalau memang dia tetap seperti biasanya, nyinyir dan tidak bisa kompak, ucapkan good bye. Kasihan juga jika dia sendiri tidak memiliki teman. Siapa tahu mau berubah,” kata Rina menegaskan. Malam semakin larut, akhirnya Ulfah dan Rosi pun tertidur lelap. Malam Minggu ini, Ulfah mendapat undangan dari kecamatan untuk menghadiri penutupan acara Sumpah Pemuda. Sekaligus malam pengumuman lomba Pop Singer dan lomba Puisi Perjuangan. Undangan yang mendadak, meminta Ulfah untuk menyanyikan lagu yang dia bawakan saat lomba. Rosi


Cinta dan Persahabatan | 17 dan Rina ikut menemani. Tak disangka, saat itu hadir juga Yesi si mulut nyinyir. Rupanya, dia juga salah satu peserta lomba. Malam itu, mungkin malam terindah yang dirasakan Ulfah karena meraih juara pertama, sedangkan Yesi mendapat juara ketiga. Sementara juara kedua diraih oleh seorang laki-laki bernama Robi. Tak disangka, para juara harus saling bersalaman. Yesi berdiri persis di samping Ulfah. Dengan hati-hati, Yesi bisa mengucapkan selamat kepada Ulfah. Ulfah menyambut tangan Yesi sedikit ragu. Yesi yang pada akhirnya lebih dulu memeluk Ulfah, sambil membisikkan ucapan. “Selamat, ya, Fah. Kamu hebat!” pujinya. Ulfah menyambut pelukan Yesi dengan lebih erat. Rosi dan Rina menyaksikan dari bawah panggung, mereka lupa mengabadikan momen itu. Ternyata, acara ajang lomba bisa menyatukan hati yang semula berselisih. Yesi meminta maaf atas ucapannya yang kurang baik selama ini. Dia menyatakan salut atas persahabatan trio manja. Meski sempat merasa iri. Yesi sebenarnya ingin juga


18 | Uung Ulfah memiliki teman-teman yang bisa menemani momen penting. Terkadang, orang tua sibuk dengan pekerjaan dan jarang ada di rumah. Teman baiklah yang bisa berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Bertemu di sekolah, pulang bersama, makan bersama, pergi bersama. Terasa damai dan indah. Semoga persahabatan ini terus terjaga. Sejak saat itu, Yesi menjadi sahabat Rosi, Rina, dan Ulfah. Namanya bukan trio manja lagi. Apa pun sebutannya, semoga mereka bisa menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Selalu kompak, saling support, saling mengingatkan, dan saling memberikan kasih sayang dalam suka maupun duka. Kompak belajar bersama sehingga prestasi bisa diraih. Persahabatan yang sehat, membawa energi yang positif dalam pergaulan. Mereka akhirnya bisa menjadi sahabat yang saling melengkapi. Ternyata, Yesi bisa juga kompak dan tidak nyinyir lagi. Kasih sayang bisa mengubah sikap seseorang. Persahabatan yang indah. Semoga di rahmati Allah.(*)


Cinta dan Persahabatan | 19 Ramadan Penuh Berkah urul sudah duduk di kelas 5 SD. Usianya 10 tahun. Nurul tinggal bersama ayah dan bunda di sebuah perumahan di daerah Ciputat. Nurul punya Teteh yang bernama Rani. Rani sekarang bersekolah di SMP kelas 8. Mereka berdua sangat dekat dan saling menyayangi, meskipun kadang berselisih paham. Nurul yang ceria, suka ceplas ceplos, dan sedikit manja. Sementara Rani sedikit tegas dan judes, tetapi baik hatinya. Kompleks di mana Nurul tinggal, sangat agamis. Setiap hari besar agama, selalu dirayakan dengan berbagai kegiatan. Seperti Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, puasa bulan Ramadan dengan melaksanakan tadarus bersama dan pesantren Ramadan. Semua dikelola oleh remaja kompleks dan pengelola perumahan kompleks. Tinggal di sebuah perumahan yang sangat kental dengan nilai nilai agama, sangat menenteramkan hati. Lingkungan rumah menjadi sejuk dan damai. N


20 | Uung Ulfah Beruntunglah, Nurul dan Rani bisa tinggal di dalamnya. Ayah Bunda pun sangat baik dalam mendidik dan membesarkan keduanya. Rani dan Nurul sangat pandai mengaji karena Ayah dan Bunda memanggil guru mengaji datang ke rumah. Keduanya dibesarkan di lingkungan yang baik. Bulan Ramadan tiba, semua menyambut dengan senang. Ayah dan Bunda sudah menyusun kegiatan untuk Nurul dan Rani. Tidak seperti tahun sebelumnya, Nurul dan Rani selalu didaftarkan Bunda mengikuti pesantren Ramadan. Tahun ini karena corona, semua kegiatan dilakukan di dalam rumah. Nurul dan Rani mendapat tantangan dari Ayah dan Bunda untuk mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 30 juz, selama bulan Ramadan. Jadi, satu hari, satu juz. Nurul protes, ”Bunda, Teteh Rani kan bacanya sudah lancar! Aku belum lancar! Masa harus sama?” Nurul merajuk. “Lalu, Nurul maunya seperti apa?” tanya Bunda. “Kalau aku nggak bisa satu juz satu hari, gimana, Bun? Aku nggak dihukum, ‘kan?” Bunda mencubit pelan pipi Nurul.


Cinta dan Persahabatan | 21 “Nurul hebat, dong, kalau bisa sama dengan Teteh Rani. Khatam satu juz satu hari. Bacanya pelan-pelan aja, lakukan setiap selesai shalat wajib. Pasti bisa!” Bunda memberi semangat kepada Nurul. Rani menimpali, “Hadiahnya apa, Bun, kalau khatam sebelum 30 hari?” “Bunda janji, yang selesai duluan, akan dapat hadiah laptop.” “Horeee.” Nurul dan Rani teriak kegirangan. “Asyik … aku bisa belajar online pakai laptop!” seru Nurul. “Emang laptopnya buat siapa?” ledek Rani. “Kan Teteh yang menang.” “Belum tentu! Kan lombanya baru dimulai,” protes Nurul. “Oke! Ayo, kita mulai!” tantang Rani. “Siiip,” kata Bunda. ”Aturannya, setiap khatam satu juz, kalian harus menuliskannya di kertas yang tergantung di depan pintu kamar kalian. Jadi, Bunda dan Ayah tahu, kalau kalian sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik.” “Siap!” jawab Nurul dan Rani serentak.


22 | Uung Ulfah Dengan penuh semangat, Nurul dan Rani memulai membaca Al-Qur’an. Hingga tak terasa, azan Magrib terdengar dari masjid di dekat rumah. Alhamdulillah, puasa pertama telah berhasil dilalui. Bunda memanggil Nurul dan Rani untuk berbuka puasa bersama. Ayah sudah lebih dulu duduk di meja makan. Sebelum memasukkan makanan ke mulut, Ayah memimpin doa berbuka puasa. Selesai berbuka, mereka sekeluarga salat Magrib berjamaah dipimpin Ayah. Biasanya, selesai magrib, para remaja kompleks berkumpul di Masjid Lama kompleks untuk melakukan tadarus bersama. Setelah itu, dilanjutkan dengan tarawih bersama. Selesai tarawih, mereka melanjutkan tadarusnya. Jika belum selesai satu juz, belum boleh kembali ke rumah masing-masing. Mengaji dilakukan secara berkelompok, satu kelompok terdiri dari sepuluh orang. Pengelompokkan disesuaikan dengan usia. Untuk yang masih SD ada pembimbing khusus, yaitu ibu-ibu kompleks. Rindu momen kebersamaan di setiap kegiatan bulan Ramadan yang menambah keimanan.


Cinta dan Persahabatan | 23 Persaudaraan pun terasa kental. Menjadi saling mengenal, rasanya seperti saudara. Walaupun, tidak semuanya baik-baik saja karena ada juga yang usil dengan tetangga. Bahkan, ada yang bundanya bertengkar hanya untuk membela anaknya. Itu terjadi karena orang tua yang pasti sangat menyayangi anaknya. Kini kegiatan itu tidak ada lagi. Semua penghuni kompleks harus tinggal di rumah. Tidak boleh bepergian ke luar lingkungan kompleks. Suasana menjadi sangat sepi. Begitupun Nurul. Tidak lagi berangkat ke sekolah diantar Abang ojek. Ayah, Bunda, juga Teteh Rani, semuanya juga ada di rumah. Melakukan semua kegiatan di rumah. Kami seperti sedang liburan panjang. Suasana di rumah semakin dinamis. Nurul dan Rani banyak melakukan kegiatan di dalam rumah bersama-sama. Ayah dan Bunda tidak lagi memerlukan asisten rumah tangga karena semua bisa dilakukan oleh anggota keluarga. Bunda membagi tugas untuk dilakukan oleh Nurul dan Rani. Dari mulai bangun tidur, sampai tidur lagi. Tugas Nurul dan Rani bisa dilakukan secara mandiri, seperti: membersihkan seprei setelah bangun


24 | Uung Ulfah tidur; mencuci piring setelah makan, yang semuanya harus dilakukan masing-masing. Menyapu halaman dan membersihkan peralatan rumah dilakukan bersama-sama. Ayah membantu mencuci baju dan Bunda memasak untuk keluarga. Semua kompak dan tidak mengeluh. Awalnya, memang agak terasa sulit, terutama Nurul. Bunda harus setiap hari membangunkan salat Subuh. Namun, penerapan disiplin dari rumah setelah dilakukan berulang-ulang, akhirnya menjadi terbiasa. Kalau tidak dilakukan, seperti ada yang kurang. Puasa sudah memasuki hari ke-10, Ayah Bunda melakukan pengecekan di depan pintu kamar Nurul dan Rani. Sudah berapa juz yang dibaca oleh anakanak mereka. Ternyata, Rani lebih banyak menyelesaikan bacaannya. Ayah pun mengumumkan pada saat makan malam, sebelum melakukan tarawih bersama. “Selamat untuk Rani, yang sudah menyelesaikan sepuluh juz sampai hari ini.” ”Nurul bisa juga menyusul Teteh Rani. Ayo, ditunggu, sepuluh hari lagi,” kata Ayah menyudahi pengumumannya.


Cinta dan Persahabatan | 25 “Alhamdulillah.” Rani Berucap. Tantangan belum selesai, masih ada dua puluh hari ke depan. Nurul mulai terpacu, aku nggak boleh nyerah, gumam Nurul dalam hati. Bunda bilang, sepuluh hari fase kedua bulan Ramadan, harus lebih baik lagi ibadahnya. Semoga Nurul bisa mengejar ketinggalan dan Rani lebih meningkatkan lagi bacaannya. “Ya, Bun. Tenang aja. Teteh Rani kan udah lancar banget bacaanya.” “Kalau aku nggak bisa sampai tiga puluh juz, dapat hadiah juga kan, Bun?” rayu Nurul. Bunda tersenyum sambil mengelus kepala Nurul, memberinya semangat. ”Ayo, Nurul lebih semangat lagi. Nanti Bunda pikirkan untuk juara kedua.” ”Apa ya hadiahnya?” “Iih … Bunda nggak jelas!” protes Nurul. “Ayo, mulai lagi membacanya!” pinta Bunda. “Nanti Allah kasih banyak pahala untuk Nurul dan Rani. Lebih indah. Pahala surga bagi yang mau membaca ayat-ayat Allah.” Tausiah Bunda mengahiri obrolan paginya.


26 | Uung Ulfah Nurul dan Rani pun bergegas ke kamar masing masing, untuk segera menyelesaikan bacaannya dengan cepat.(*)


Cinta dan Persahabatan | 27 Nurul yang Gigih utaran kedua, fase sepuluh hari ke depan, Nurul lebih menggiatkan dirinya untuk mengaji. Tujuannya agar mendapat hadiah laptop dari Bunda. Selama ini Nurul selalu menggunakan ponsel untuk belajar online. Dia ingin juga seperti teman-temannya yang lain, nge-zoom menggunakan laptop. Semoga keinginan Nurul terwujud. Menjelang berbuka, seperti biasa Bunda mempersiapkan makanan untuk berbuka. Teteh Rani yang membantu Bunda menata piring-piring di meja makan. Nurul masih sibuk dengan bacaan Al-Qur’annya. Setiap saat Nurul masuk ke kamar tetehnya untuk melihat sudah berapa juz yang dibaca Teteh Rani. Ayah dan Bunda hanya tersenyum melihat ulah Nurul. Bedug Magrib dari masjid pun terdengar. Semua segera menuju meja makan. Hari ini Bunda membuat kolak pisang dan ubi kesukaan Rani dan Nurul. Teh P


28 | Uung Ulfah hangat yang sedikit gula, menjadi minuman pertama yang diteguk semua anggota keluarga. Kata Bunda, jangan minum es, lebih baik yang hangat dulu. Selesai Ayah membaca doa pembuka makan, mulailah mengambil makanan yang sudah tersedia di meja makan. Kolak yang sudah dituang dalam mangkok dan segelas teh hangat menjadi pembuka puasa kami sekeluarga. Seperti biasa, sebelum makan malam, kami melaksanakan salat berjamaah. Ayah yang menjadi imamnya. Setelah salat, baru boleh makan dan melanjutkan ibadah lainnya seperti membaca AlQur’an. Shalat Tarawih juga dilakukan secara berjamah setiap hari, dan dilaksanakan di ruang tamu karena kami belum mempunyai musala. Nurul dan Rani saling berlomba menyelesaikan bacaannya. Ayah dan Bunda merasa lega, dua-duanya menjadi rajin membaca Al-Qur’an. Sepuluh fase kedua pun selesai. Ayah kembali mengumumkan hasil koreksiannya. Ternyata kedua anak Ayah dan Bunda, berhasil menyelesaikan jumlah juz yang sama, yaitu di angka 21. Nurul semakin bersemangat.


Cinta dan Persahabatan | 29 “Horee, sebentar lagi aku yang kalahin Teteh,” serunya. “Coba aja,” kata Rani. ”Siapa takut,” tantang Nurul. Rani juga berancang-ancang tidak ingin mengalah dengan sang adik. Menjalani sepuluh fase ketiga, cukup menegangkan. Pasalnya, keduanya ingin menjadi pemenang. Ayah dan Bunda mengingatkan, siapa pun yang memenangkan tantangan, harus diberi dukungan dan tidak boleh curang karena akan menyebabkan keberkahannya hilang. Begitulah Ayah memberikan wejangannya kepada Rani dan Nurul di antara salat berjamaah. Jadi, mereka harus melaporkan hasil bacaannya dengan jujur. Kegiatan sekolah tetap berjalan. Rani dan Nurul mempunyai kegiatan sekolah yang sama, walaupun satu di SD dan satunya lagi di SMP. Pada masa pandemi, mereka berdua sudah mengenal pembelajaran secara online. Ayah dan Bunda pun bekerja dari rumah. Setiap hari menggunakan laptop. Namun begitu, kegiatan ibadah tidak boleh dikalahkan oleh kegiatan apa pun. Salat tetap menjadi


30 | Uung Ulfah prioritas, insyaallah Allah akan selalu dekat dengan kita, begitu nasihat Ayah. Kegiatan online sudah dihentikan karena sekolah libur untuk menyambut hari lebaran. Rani dan Nurul semakin intens untuk menyelesaikan bacaan AlQur’an. Alhamdulillah, mereka memiliki semangat membara untuk sebuah kebaikan. Semoga mereka berdua, bisa menjadi penghafal Al-Qur’an, doa Ayah dan Bunda. Dua hari menjelang hari raya, Bunda menyampaikan, “Kita tidak beli baju baru, ya. Yang ada saja kita pakai,” kata Bunda. ”Baju lebaran tahun lalu masih bisa dipakai,” lanjut Bunda. “Pakai baju yang mana, Bun?” tanya Nurul dan Rani bersamaan. “Gimana kalau baju lebaran tahun lalu aja,” usul Bunda. “Oh, iya. Yang seragam ya, Bun?” tanya Rani, meyakinkan. “Ayah, Bunda, Rani, dan Nurul, bajunya seragam dengan motif batik berbunga.” “Iya, betul. Motifnya juga bagus. Dan jarang dipakai untuk acara lain.”


Cinta dan Persahabatan | 31 “Setuju!” Nurul dan Rani kompak menjawab. Salat di lapangan kompleks juga tidak diselenggarakan sehingga dilaksanakan di rumah masing-masing. Bunda pun menanyakan bacaan AlQur’an Rani dan Nurul. ”Sudah mau khatam belum?” tanya Bunda. Keduanya menjawab serentak, “Sebentar lagi, Bunda!” Rani dan Nurul saling melirik, seperti ada yang disembunyikan. Sehari sebelum lebaran, biasanya Bunda memasak ketupat dan opor ayam. Hari itu, Bunda juga belanja untuk keperluan memasak hari lebaran. Bisanya ada Mpok yang membantu Bunda memasak, tapi lebaran tahun ini tidak ada yang membantu Bunda karena corona. Kami berdua akhirnya yang membantu Bunda memasak untuk disantap di hari raya esok hari. Hari ini adalah hari terakhir kami berpuasa Ramadan. Tepat saat berbuka, kami makan opor ayam. Bunda sudah selesai memasak untuk besok saat Idul Fitri. Selesai salat Magrib, Ayah sudah memegang hasil tantangan selama sebulan membaca Al-Qur’an. Keduanya sudah mengetahui melalui laporan masing-


32 | Uung Ulfah masing di depan pintu kamar Rani dan Nurul. Namun, mereka tetap menunggu pengumuman yang disampaikan Ayah. “Bismillahirrohmanirrohiim. Tantangan ini, adalah hanya fasilitas agar kalian berdua bisa melaksanakan tadarus secara disiplin. Alhamdulillah, anak Ayah Bunda bisa melaksanakan dengan sangat baik.” Ayah memulai pembicaraan. “Semoga kalian berdua terus melakukan bacaan Al-Qur’an setiap harinya.” “Jangan sekadar lancar bacaannya, tapi pelajari juga artinya agar kita pahami isinya.” Panjang lebar Ayah menyampaikan tausiyahnya.” Tibalah pengumuman yang akan Ayah bacakan. Hasilnya adalah keduanya bisa menyelesaikan 30 juz secara bersamaan. Namun, Nurul yang lebih dulu melaporkan hasilnya. “Jadi, laptop akan Ayah berikan kepada Nurul.” Sebelum Ayah menutup pembicaraan, Rani mengangkat tangan. “Ada yang mau Rani sampaikan?“ tanya Ayah. Rani protes keras. “Ayah curang!” serunya. “Rani kan selalu sibuk bantu Bunda di dapur. Jadi lupa untuk tulis laporan.”


Cinta dan Persahabatan | 33 Rani pun merajuk. Dia tidak mau menerima keputusan ayahnya. Akhirnya Bunda ikut menengahi. “Betul Ayah, Rani sibuk bantuin Bunda. Jadi, Rani juga berhak dengan hadiah laptopnya.” Nurul hanya tertunduk diam. Dia tak mengerti harus bicara apa. Bunda bilang, Nurul benar, Rani juga benar. Ayah harus mengubah keputusannya. Ayah lalu meminta maaf atas keputusannya, walaupun sebenarnya Ayah tidak salah. Akhirnya, Bunda berjanji untuk membelikan sebuah laptop lagi. Dengan syarat, keduanya harus bisa merawat miliknya masing-masing dengan baik. “Ayo, kalian saling memaafkan!” perintah Ayah, “tidak baik saling bermusuhan!” Nurul dan Rani pun saling berpelukan. Ayah Bunda yang demokratis mengajarkan anakanaknya bagaimana bisa berpendapat dan membela kepentingan dirinya. Itu juga yang diajarkan agama kita. Membela diri kalau kita memang benar dan mempertahankan hak kita. Suara takbiran bertalu-talu. Keluarga Rasyid dan Rufi begitu bahagia karena semua kegiatan bisa terlaksana dengan baik. Ramadan yang penuh berkah,


34 | Uung Ulfah telah mengajarkan Nurul dan Rani untuk saling bersaing dengan sehat. Fastabikul khoirot. Ayah dan Bunda tersenyum bahagia karena kedua anaknya bisa menunjukkan disiplin yang baik dan bersaing secara sportif. Malam semakin larut, mereka pun kembali ke peraduan masing-masing untuk menyongsong hari raya Idul Fitri yang penuh rahmat dan magfiroh esok hari. Pagi-pagi sekali, Bunda sudah bangun dan mempersiapkan menu untuk disantap sebelum melaksanakan salat Idul Fitri bersama di rumah. Ayah yang akan menjadi imamnya. Nurul dan Rani bergantian ke kamar mandi untuk mandi dan berwudu. Setelah itu, melaksanakan salat Subuh di kamar masing-masing. Tepat pukul 06.30, semua sudah rapi dan mulai sarapan pagi bersama Ayah dan Bunda. Menu masakan hari raya yang tersedia, sungguh mengundang selera. Opor Ayam, gulai daging, sambal kentang ati, dan pastinya ada ketupat serta emping goreng kesukaan keluarga. Selesai makan, semua mengambil wudu untuk salat Idul Fitri. Suara pengumuman di masjid


Cinta dan Persahabatan | 35 memberitahukan ibadah dilaksanakan di rumah masing-masing. Ayah pun bersiap menjadi imam salat. Allahuakbar sebanyak tujuh kali takbir di rakaat pertama dan lima kali takbir di rakaat kedua. Selesai salam, Ayah mulai memberikan tausiyahnya. Bunda, Rani, dan Nurul mendengarkan dengan seksama. Setelah itu, Bunda sungkem kepada Ayah, diikuti Rani dan Nurul. Alhamdulillah, Ramadan yang penuh hikmah karena Nurul dan Rani bisa mengkhatamkan AlQur’an secara bersama. Selanjutnya ditutup dengan melaksanakan salat Idul Fitri sekeluarga. Semoga kita dipertemukan lagi di bulan Ramadan tahun depan. Aamiin. (*)


36 | Uung Ulfah Keluarga Surgaku Gambar Koleksi Pribadi i sebuah desa, tinggal sebuah keluarga yang sangat rukun dan damai. Rasyid sebagai kepala keluarga didampingi oleh istrinya, Rufi. Keduanya berprofesi sebagai guru SD di Desa Kemiri. Mereka dikaruniai lima orang anak yang ganteng dan cantik. D


Cinta dan Persahabatan | 37 Suatu hari, Abah Rasyid dan Ema Rufi pulang mengajar. Mereka sampai di rumah bersamaan. "Imaan,” panggil Abah, “buka pintunya!" Si sulung baru saja selesai menyuapi adik bungsunya dan hendak meletakkan piring di dapur. Tiba-tiba dia terkejut dan tak sengaja piring di tangannya terlepas. Prang! Ema dan Ade kaget. "Apa itu Iman?" Gantian Ema yang teriak. Iman sangat gugup karena tidak sengaja memecahkan piring. Ema sudah berdiri di depan Iman yang sedang sibuk membersihkan pecahan piring. “Awas pecahan belingnya, Nak. Hati-hati nanti kena kaki,” kata Ema. Iman lega karena Ema tidak marah. “Iya, Ma. Iman nggak sengaja piringnya lepas dari tangan tadi,” jelas Iman. “Udah, nggak apa-apa,” kata Ema lagi. “Hati-hati buang pecahan piringnya,” nasihat Ema. Iman pun pergi ke belakang untuk membuang pecahan piringnya. “Mana ade-ademu, Man?” tanya Ema.


38 | Uung Ulfah “Sedang di rumah Nyai,” jawab Iman. Nyai adalah Nenek mereka yang tinggal di sebelah rumah Abah dan Ema. “Kalau Dede, ada di kamar sedang tidur,” lanjut Iman tanpa ditanya. “Ya, udah. Kamu istirahat juga, temani Dede.” “Iya, Ma,” jawab Iman. Ema masuk ke kamar untuk berganti pakaian rumah, sedangkan Abah sudah lebih dulu melakukannya. Ema mulai membuka pembicaraan. “Bah, anak-anak sudah besar. Mestinya mereka punya kamar sendiri. Iman dan Rahma sudah SMA, Fitri SMP, dan Lia SD. Kasihan juga kalau tidurnya bertiga.” “Iya, betul,” kata Abah. ”Apa cukup tabungan kita?” tanya Abah. “Masih ada uang sertifikasi kemaren, tinggal tambah sedikit, kita bisa buat satu kamar di samping kamar mereka bertiga.” “SPP anak-anak gimana? Udah dipisah?” “Insyaallah, untuk SPP anak-anak masih cukup,” kata Ema. “Assalamualaikum.” Anak anak pulang dari rumah Nyai.


Cinta dan Persahabatan | 39 “Waalaikumussalam,” jawab Ema sambil membukakan pintu. Rahma, Fitri, dan Lia masuk dan langsung menyalami Ema mereka. “Ada acara apa di rumah Nyai?” tanya Ema. “Nggak ada apa-apa,” jawab Rahma. “Nyai cuma pengen ditemenin.” “Iya,” sambung Fitri dan Lia. “Nyai minta dipetikin mangga Indramayu, Mamang lagi di Pesantren.” “Udah pada masak mangganya?” tanya Ema. “Udah, Ma,” jawab Lia. “Ya udah, pada mandi. Nanti malam kita makan bersama,” kata Ema. Malam itu, makanan sudah siap. Ema menggelar tikar untuk makan lesehan. Anak anak pun dipanggil untuk makan bersama. Setelah berkumpul semua, Abah memimpin doa makan. Fitri makan sambil menyuapi adenya. Sementara yang lain makan tanpa sendok. Ema tidak masak sayur kuah malam ini, tapi anak-anak menikmati. Selesai makan, Abah mulai membuka pembicaraan. “Anak-anak, Abah dan Ema rencana


40 | Uung Ulfah mau buat kamar untuk Rahma. Jadi, nanti Rahma bisa tidur di kamar sendiri. Fitri tetap tidur dengan Lia. Dan Iman dengan Dede.” “Fitri juga mau, Bah, tidur di kamar sendiri,” protes Fitri. “Iya, insyaallah. Nanti pasti punya kamar sendirisendiri.” Abah menghibur Fitri. “Sekarang, giliran Teteh Rahma dulu. Nanti kalau Fitri dan Lia sudah SMA, bisa tidur di kamar sendiri,” tambah Abah. Kamar dibuat minggu depan, sehingga semua barang dan lemari baju, ditutup rapi, agar terhindar debu bangunan. “Kalau dirasa mengganggu kalian, untuk sementara tidur di rumah Nyai saja, ya.” Ema memberi usul. “Asyiik.” Lia dan Fitri serentak bersorak. Iman dan Dede cuma mendengarkan saja. “Ya udah, kalian boleh istirahat,” ujar Ema, “jangan lupa, siapa tugas cuci piring hari ini?” Ema mengingatkan. Mereka sudah terbiasa mengatur tugas masingmasing. Semua harus disiplin mengerjakan tugas yang


Cinta dan Persahabatan | 41 telah disepakati. Kalau malas, hukumannya adalah uang jajan dikurangi. Cuma si Dede, yang belum mendapat tugas karena masih kecil, sekitar berusia tiga tahun. Belum mengerti apa apa. Semua sayang dengan Dede karena Dede tidak pernah rewel. Mereka menjaga Dede secara bergantian tanpa harus diminta. Jika Ema dan Abah tidak ada di rumah, mereka jarang terdengar berantem. Abah dan Ema merasa bersyukur dikaruniai anak anak yang penurut dan patuh terhadap orang tua.(*)


42 | Uung Ulfah Rumah Nyai itri dan Lia senang sekali setiap kali bermain di rumah Nyai. Selain halamannya luas, rumah Nyai juga banyak kamarnya. Mereka bisa memilih kamar yang mana saja yang disukai. Kalau ingin buah-buahan tinggal petik. Siang itu, sepulang sekolah Fitri langsung ke rumah Nyai. Dahaga yang dia rasakan membuatnya ingin minum air kelapa. Di belakang rumah Nyai ada pohon kelapa. Fitri meminta tolong Mamang memetiknya. Fitri juga minta Mamang memetik buah kelapa untuk yang lain. Air kelapa dituang ke dalam botol minum agar dapat dimasukkan ke dalam kulkas. Mamang dengan sabar mengikuti kemauan Fitri. Tidak lama kemudian Lia menyusul ke rumah Nyai. ”Nyai ... Nyai di mana?” panggil Lia. “Ada apa, Lia? Nyai sedang di sawah, lagi nanen padi.” Fitri yang menjawab. “Sini ikut aku ke belakang!” ajak Fitri. F


Click to View FlipBook Version