The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cinta dan Persahabatan (Kumpulan Cerita Anak)_Uung Ulfah_NONFIKSI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by UUNG ULFAH, 2025-03-16 22:31:38

Cinta dan Persahabatan (Kumpulan Cerita Anak)_Uung Ulfah_NONFIKSI

Cinta dan Persahabatan (Kumpulan Cerita Anak)_Uung Ulfah_NONFIKSI

Cinta dan Persahabatan | 93 “Bukan itu, Bu. Celengan satu lagi, yang udah penuh,” rengek Eha. “Emang taro di mana, toh?” tanya Ibu. “Aku taro di sini.” Sambil nunjuk lemari baju. “Coba dicari dulu, siapa tau kamu lupa.” “Ngga, Bu! Betul! Aku inget taro di sini.” Eha ngotot. “Siapa yang ngambil, toh, Nak?” tanya Ibu. “Di sini kan ndak ada orang lain, selain Ibu sama Bapak. Masmu kan di pesantren.” Eha mulai menangis. “Aku mau beli buku cerita.” “Berapa harga bukunya?” tanya Ibu. “Lima puluh ribu,” kata Eha. “Penting banget bukunya?” tanya Ibu lagi. “Iya, aku pengen baca ceritanya.” Sambil sesenggukan Eha menjawab. “Ayo, coba dicari lagi celenganya, siapa tahu nyelip,” saran Ibu. Eha mulai mencari ke belakang, balik lagi ke depan, tetapi celengan tidak juga ditemukan. Ibu juga membantu mencari, buka-buka semua lemari yang ada di rumah. Namun, nihil. Sementara itu, Ibu mulai kelelahan, kepalanya pusing.


94 | Uung Ulfah “Nak, capri celengannya nanti lagi. Istirahat dulu, sini duduk dekat Ibu,” ajak Ibu. “Iya, Bu.” Eha menurut Tiba-tiba, Eha loncat dari tempat duduk, dan berteriak, ”Aku inget, Bu! Aku inget sekarang, Bu. Sebentar, Bu.” Eha lari ke kamar dan membuka lemari bajunya. “Ketemu, Bu! Aku lupa sudah taro celengan di sini,” kata Eha. “Alhamdulillah, Nak. Kok kamu dah kaya neneknenek, toh. Pelupa,” canda Ibu. “Iiihh, Ibu!” rajuk Eha. “Ya sudah, coba dibuka, ada berapa isinya?” tanya Ibu. ”Sepertinya cukup, buat beli buku, Bu.” Eha memecahkan celengannya ke lantai. Prang! Uang pun berserakan. Eha mulai meraup uangnya dan menghitung dengan teliti. Ibu membantu mengumpulkan serpihan celengan dan membuangnya di tempat sampah. “Seratus, dua ratus, wah ada tiga ratus, Bu,” seru Eha. “Wah, banyak juga, ya. Mau dibelikan apa saja?” tanya Ibu.


Cinta dan Persahabatan | 95 “Ada buku sedang diskon, Bu. Seratus ribu dapat tiga. Aku mau yang itu.” “Uangnya masih sisa. Buat apa lagi?” tanya Ibu. “Uang lebihnya, aku masukin lagi ke celengan baru,” jawab Eha. “Bagus kalau begitu. Ibu setuju.” “Anterin aku beli bukunya, ya, Bu,” pinta Eha. “Iya. Dah, sekarang mandi dulu sana!” perintah Ibu. Alhamdulillah, ucap Ibu dalam hati. Anaknya tak pernah merepotkan minta uang tambahan. Apa pun yang diinginkan, bisa dibeli dengan uang tabungannya. Eha selalu bisa membeli sesuatu dari hasil tabungannya. Eha juga bisa membantu Ibu meringankan pengeluaran untuk keperluan sekolah, seperti buku pelajaran, maupun buku tulis dan alat tulisnya. Semua itu dibelinya dari hasil tabungan Eha. Mudahmudahan sampai dewasa Eha terus rajin menabung. Ingat pepatah, “Rajin menambung, kita bisa cepat menjadi kaya.” Yuk, belajar menabung dari sekarang, seperti yang dilakukan Eha.(*)


96 | Uung Ulfah Ibu Tiri yang Penyabar Pokoknya Papa harus ke sini! Titik!” Suara Fahri di telepon menyudahi percakapan. Sudah setahun Fahri tinggal dengan neneknya. Dia meminta papanya untuk pulang ke Bogor ke rumah Nenek. Hari menghela napas panjang, memikirkan anak semata wayangnya. Anaknya ini, sering kali membuat ulah semenjak dirinya menikah lagi dengan seorang guru Taman Kanak-Kanak. Padahal sebelumnya, Fahri sangat senang dengan kehadiran Ibu barunya. Ulfah, nama guru yang telah menjadi istri papanya itu, sangat baik dan penyabar. Itulah alasan mengapa papanya Fahri mau menikahinya. Perkenalan mereka terjadi, ketika papanya Fahri sering menjemput anaknya di TK. Sebelum Fahri tinggal dengan neneknya di Bogor, mereka hidup bertiga di sebuah rumah mungil di daerah Cilandak. Mereka terlihat begitu bahagia. Seringkali mereka pergi berenang, makan, atau ke mal bersama-sama. “P


Cinta dan Persahabatan | 97 Fahri kelihatan sangat menikmati kebersamaan itu. Dia merasa sudah mempunyai orang tua lengkap, ada Papa dan Mama. Mama tirinya pun sangat perhatian dan sangat menyayangi anak tirinya, Fahri. Namun, sejak kehadiran adik baru, Fahri menjadi sangat cemburu dengan adiknya. Dia merasa, mama tirinya, lebih menyayangi adiknya. Papa juga, lebih perhatian dengan dede bayinya. Suatu hari, Mama Ulfah sedang menyuapi bayinya dengan buah pisang. Fahri yang tiba-tiba keluar dari kamarnya, langsung berteriak. “Aku mau pisang juga,” teriak Fahri mengagetkan dede bayi. “Aku juga mau disuapin seperti dede!” “Iya, boleh. Sini, Sayang,” kata Mama Ulfah sambil menyuapkan pisang ke mulut Fahri. “Aku nggak mau yang bekas dede!” Fahri menepis tangan mamanya.” “Kalau gitu, itu ambil yang di atas meja makan,” kata Mama Ulfah. “Ambilin nggak!” teriak Fahri. Sontak Dede bayi menangis kencang karena kaget mendengar suara Fahri. “Mas Fahri, bicaranya jangan teriak!” tegas Mama sambil mendiamkan dede bayi.


98 | Uung Ulfah “Coba kalau mau pisang, ambil sendiri di atas meja makan!” “Aku mau diambilin!” Sambil menangis kencang Fahri berlari masuk kamarnya. Brak! Pintu dibanting dengan keras. Mama Ulfah menarik napas panjang, meredakan kemarahanya. “Sabar, sabar.” Mama menghibur dirinya sendiri. Mama Ulfah sudah mulai terbiasa dengan kelakuan anak tirinya itu. Setiap hari ada saja kelakuannya, minta perhatian. Sejak memiliki bayi, Mama Ulfah tidak lagi mengajar di TK. Kesibukannya di rumah mengurus bayinya yang baru berusia delapan bulan dan mengantar jemput Fahri dari sekolahnya di SD Cilandak. Papanya bekerja dan pulang larut malam. Hari liburnya hanya Sabtu dan Minggu. Terkadang hari libur pun dipakai untuk acara kantor. Jadi, papanya tak punya waktu untuk mengurusi Fahri. Minggu ini ada arisan keluarga di rumah Mama Ulfah. Semua keluarga datang dari berbagai daerah. Keluarga besar Mama Ulfah tersebar di berbagai


Cinta dan Persahabatan | 99 daerah. Ada yang di Pontianak, Lampung, Cilegon, Bogor, dan Bandung. Semua yang hadir fokus pada dede bayi yang cantik dan mungil. “Aih ... cantiknya Dede, lucunya, gemes.” Dan berbagai ucapan yang memuji dede. Dede kebanjiran hadiah dari tante, om, dan uwanya. Fahri yang merasa dicuekin, mulai bikin ulah. “Sana! nggak boleh deket dede!” katanya sambil menarik tangan adiknya. ”Eeee, jangan ditarik-tarik tangannya, dong, Sayang! Nanti terkilir,” tegur Tante Ica sambil memegang tangan Fahri. Fahri menepis kencang tangan Tante Ica, seraya berkata, “Nggak mau!” Mama Ulfah memeluk Fahri dan menggendongnya. Sambil berbisik di telinga Fahri. “Mas, nggak boleh begitu! Tante Ica kan tamu kita. Tamu harus dihormati,” nasihat Mama Ulfah. “Nggak! Aku nggak mau!” Fahri merajuk. “Aku mau sama Nenek aja! Mama udah nggak sayang sama aku lagi!” “Mama cuma sayang sama Dede!” Seluruh keluarga besar yang sedang berkumpul, akhirnya mengetahui permasalahan kami. Sementara


100 | Uung Ulfah papanya tidak bisa membujuk Fahri. Keinginannya sudah terlalu kuat untuk tinggal di rumah neneknya. Anak SD kelas 4, sudah bisa mengambil keputusannya sendiri, hanya karena cemburu. Meskipun Mama Ulfah juga membujuk. ”Kalau Mas Fahri ikut Nenek. Bagaimana nanti sekolahnya?” tanya Mama Ulfah. “Rumah Nenek kan jauh, di Bogor,” lanjut Mama Ulfah. “Pokoknya, aku mau sama Nenek!” seru Fahri. Akhirnya, keinginan Fahri dikabulkan papanya. Jujur tidak mengetahui harus berbuat apa lagi. Kami berangkat ke Bogor untuk menitipkan Fahri pada neneknya. Berkas kepindahan sekolah Fahri sedang diurus. Sambil menunggu surat-surat yang diperlukan, Fahri diantar ke Bogor oleh Mama Ulfah dan Papa Hari. Ibu Sumi–nenek Fahri–tinggal di Bogor ditemani si mbok. Si mbok adalah pembantu Ibu Sumi yang sudah lama mengabdi dengan keluarga itu. Ibu Sumi masih terlihat segar, walaupun usianya sudah memasuki 54 tahun. Mertua Mama Ulfah adalah istri seorang pensiunan ABRI sehingga masih


Cinta dan Persahabatan | 101 kental kedisiplinannya. Meskipun suaminya sudah lima tahun lalu meninggal dunia. “Bu, Mas Fahri ingin tinggal di sini. Katanya ingin dekat dengan Ibu.” Pak Hari mengutarakan maksudnya. “Yo wes ra popo. Nanti, si mbok yang antar jemput Mas Fahri sekolah,” kata Ibu Sumi. “Sudah diurus, toh, sekolahnya Mas Fahri?” tanya Ibu Sumi. “Sudah, Bu,” jawab Pak Hari. “Maafkan saya yo, Bu. Belum bisa merawat Mas Fahri dengan baik,” ucap Mama Ulfah. “Yo nda apa. Ibu udah denger ceritanya,” ujar Bu Sumi. “Biarin dia belajar mikir di sini, biar nggak manja.” “Kalau ada apa apa, kabari, ya, Bu,” pinta Mama Ulfah. “Yo, diikhlasin dulu, biar Ibu ada temen juga,” ucap Ibu Sumi. Sebelum kembali ke Jakarta, Mama Ulfah pamit dengan anak tirinya itu. “Mas, baik-baik di rumah Nenek, ya. Nurut sama Nenek. Jangan bikin Nenek sedih. Nanti, kalau Mas kangen Mama dan Papa, bisa telpon.”


102 | Uung Ulfah Ternyata, Fahri sedih juga, mendengar nasihat mamanya. Sebenarnya, dia sayang dengan mama tirinya. Mama tirinya itu baik dan sabar. Fahri menyesal, mengapa harus pindah sekolah dan jauh dari mama papanya. “Sudah, ya, Mas. Mama Papa dan Dede pulang dulu. Kalau Mas perlu apa-apa, bilang Nenek, ya.” Mama memeluk anak tirinya dengan penuh kasih sayang. Mereka pun kembali ke Jakarta diiringi mata Fahri yang terus memandang tak berkedip hingga mobil papa mamanya menghilang dari pandangan. Setahun di rumah Nenek, Fahri mulai memahami. Akhirnya, Fahri kembali pindah ke rumah mama papanya di Cilandak. Ternyata, dia kangen dengan kasih sayang mama tirinya yang penyabar dan baik hati. Akhirnya, Fahri berusaha menyayangi dede bayinya, yang sudah bisa berjalan. Mereka pun bisa bermain dan bercanda bersama. Nah, tidak baik cemburu berlebihan yang akhirnya dapat merugikan diri sendiri.(*)


Cinta dan Persahabatan | 103 Wita yang Mandiri Matahariku bersinarlah engkau Kawan-kawanku akan ke sekolah Mari bersama kita mengucapkan Selamat pagi Ibu Guru Belajar di sekolah haruslah rajin Agar kita jadi anak pintar Di sekolah jangan suka bermain-main Nanti tidak naik kelas Ayolah kawan-kawanku rajin belajar agu itu biasa dinyanyikan anak-anak TK Aisyiyah, sebelum masuk kelas. Wita adalah seorang anak yang biasa memimpin doa sebelum pelajaran dimulai. “Bersiap! Memberi salam!” Aba-aba yang kerap diucapkan Wita ketika memimpin. “Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuuh.” Murid-murid serentak memberi salam. L


104 | Uung Ulfah “Waalaikum salam waroh matullahiwabarokatuuh,” jawab Bu Guru. “Berdoa!” Bismillahirohmaanirrohiim. Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin Arrohmaanirrohiim Maaliki yaumiddin Iyya kana’ budu waiyya kanas ta’iin Ihdinassyirootol mustaqiim Syirotolladziina’an ‘am ta’ala ihim Ghoiril magdu bi ‘alaihim waladhooliim Aamiin Doa yang dipanjatkan bersama itu mengandung arti, aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan, hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridai, bukan jalan sesat. Aamiin. Sementara doa belajar adalah,


Cinta dan Persahabatan | 105 Rodiitubillahirobba Wabil Islaamidiina Wabimmuhammadinnabiiya warosuula Robbidzidni ‘ngilman wardzukni fahman Selamat pagi Bu Guru Selamat pagi anak-anak Mengawali pembelajaran dengan berdoa beserta artinya mengajarkan kepada anak tentang ketuhanan sejak usia dini. Hal ini pasti akan terekam lama di kepalanya. Bu Guru juga mengajarkan kepada anak-anak untuk bisa menjadi pemimpin. Dengan berani maju ke depan kelas, sejak usia dini, anak akan terbiasa bisa memimpin orang lain dan memimpin dirinya sendiri. Wita anak berusia enam tahun. Sekarang Wita duduk di TK B, (kelas nol besar). Meskipun dia masih tergolong anak usia dini, tetapi Wita anak yang sangat mandiri. Contoh di atas adalah kegiatan Wita setiap seminggu sekali untuk memimpin doa di depan kelasnya. Wita sudah bisa membaca dan menulis. Pada TK ini, juga diajarkan membaca dan menulis.


106 | Uung Ulfah Beberapa murid TK ada yang sudah bisa membaca. Kerap Bu Guru meminta Wita untuk membacakan buku cerita di depan teman-temannya. Banyak pelajaran di TK yang telah Wita kuasai dengan baik, seperti pelajaran menggunting, melipat, dan menempel. Semua itu terkait dengan motorik halus. Selain itu, pada pelajaran olah raga seperti senam pagi, bermain dengan berbagai permainan di taman TK, melakukan jungkat-jungkit, atau menangkap dan memasukkan bola atau berhubungan dengan motorik kasar. Wita sangat pandai menyanyi, menari, membaca puisi, menggambar, dan mewarnai. Semua itu adalah pelajaran yang diterimanya di Taman Kanak-Kanak. Oleh karena itulah, Bu Guru sering mengikutsertakan Wita dalam ajang perlombaan yang diadakan antarTK. Wita selalu mendapat juara, paling sering pada lomba mewarnai. Ajang lomba antarTK se-JABODETABEK, biasanya dilaksanakan setahun sekali. Kegiatan-kegiatan lomba tersebut antara lain lomba mewarnai gambar, menari, gerak jalan, dan


Cinta dan Persahabatan | 107 lomba menyanyi. Sekolah Wita selalu menjuarai lomba tari dan lomba gerak jalan. Lomba mewarnai gambar, pastilah Wita juaranya. Meskipun Wita pandai di banyak bidang, tetapi dia tidak pernah sombong. Wita termasuk anak yang ramah dan rendah hati pada setiap pergaulan. Pukul 9 pagi, waktunya anak-anak makan bersama. Mereka membawa bekal dari rumah. Sebelum makan, anak-anak harus mencuci tangan lebih dulu agar tangan bersih dan tidak ada kuman ketika makanan masuk ke mulut yang mungkin tercampur bakteri. “Sebelum kita makan, cuci tangan dulu. Menjaga kebersihan, agar selalu sehat. Banyak-banyak makan jangan ada yang tersisa. Mari makan bersama.” Setelah cuci tangan, mereka membaca doa sebelum makan: Allahumma bariklana fimarojak tana wakina adza bannar. Artinya, Ya Allah berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Usai menyantap bekal masing-masing, mereka pun tidak lupa mengucapkan doa sesudah makan: Alhamdulillahilladzi at’amanawasakonawajangalana minal muslimin. Artinya, segala puji bagi Allah yang


108 | Uung Ulfah telah memberi kami makan dan minum. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang muslim. Selain mengajarkan ketauhidan kepada anak-anak, juga mengajarkan anak agar disiplin menjaga kebersihan, disiplin waktu, dan disiplin bertoleransi serta kebersamaan. Saling memberi ketika ada teman yang tidak membawa makanan. Selesai kegiatan makan, biasanya ada kegiatan belajar yang lain. Setiap hari berbeda materi kegiatan. Bisa diisi bercerita, menyanyi, belajar menulis, belajar membaca, menghitung, melipat, menggunting, menempel, dan mengaji, selain juga olah raga. Wita sangat cekatan dalam mengikuti setiap kegiatan belajar. Setiap guru memberikan kuis pertanyaan, Wita pasti bisa menjawab dengan baik. Hari ini Bu Guru bercerita tentang si kancil dan si kura. Si kancil yang sombong dan suka meremehkan lawan. Dia menganggap kura-kura sangat lamban. “Kalau aku ajak lomba lari pasti dia kalah,” ucapnya. Ternyata, kancil dikalahkan oleh kura-kura yang cerdas dan banyak kawan. Kura-kura ingin memberi pelajaran kepada kancil yang sombong. Kura-kura


Cinta dan Persahabatan | 109 yang lamban, bekerja sama dengan teman-temannya untuk bersembunyi di setiap pohon yang dilewati dalam lomba lari. Ketika kancil memanggil, “Kura-kura kamu di mana?” Maka kura-kura menjawab, “Aku di depanmu kancil.” Kancil akan berusaha untuk mengejar kura-kura dengan lari sekuat tenaga. Sampai akhirnya kancil kehabisan tenaga. Kura-kura yang tidak sendiri, sudah sampai di garis finish. “Hore...! Aku menang,” seru sang kura-kura. “Kancil kalah ... kancil kalah ....” Begitulah kura-kura meledek sang kancil. Kancil akhirnya pergi dengan rasa malu karena kesombongannya yang telah meremehkan si kurakura. Pelajaran dari cerita ini adalah jangan suka meremehkan orang lain hanya karena merasa diri lebih baik dibandingkan orang lain. selain itu, juga tidak boleh sombong. Wita menyimak dengan serius cerita Bu Guru. Dalam hati Wita berkata, kura-kura curang dalam


110 | Uung Ulfah memenangkan lomba. Namun, Wita tidak berani protes kepada Bu Guru. Seolah tahu isi hati Wita, Bu Guru menyambung kalimatnya dengan mengatakan bahwa yang dilakukan kura-kura itu untuk memberi pelajaran kepada kancil. Agar kancil tidak mudah meremehkan orang lain dengan cara menyombongkan diri dan menganggap dirinya lebih baik dari orang lain. Jadi, kura-kura melakukannya bukan semata untuk memenangkan lomba. Waktu pun berlalu. Saat ini sudah pukul 10, waktunya untuk pulang. Anak-anak membaca surat wal ashri, Innal insana lafi husrin, Illaladzii na’amanu wa’amilussholihati watasaubil haqqi watawa saubishobri. Marilah pulang, marilah pulang hari sudah siang. Hati-hati di jalan. Wita pun pulang. Setelah bersalaman dengan Bu Guru. Seorang pembantu lakilaki sudah menjemput Wita di depan gerbang. Orang tuanya tidak pernah menjemput karena papa dan mama Wita sibuk bekerja. Wita yang mandiri, tidak pernah memperlihatkan rasa kecewanya karena Mama dan Papa tidak


Cinta dan Persahabatan | 111 menjemputnya pulang sekolah. Acara perpisahan kelasnya pun tidak dihadiri orang tuanya. Namun, dia sangat mandiri. Membawa baju di tas, meminta Bu Guru yang memakaikan baju menarinya. Dia dan teman-temannya menari di acara wisuda TK dan memakai toga. Hanya pembantu setianya yang setiap saat mengantar dan menjemput Wita. Penampilannya tetap ceria dan berwibawa. Anak usia enam tahun saat wisuda TK, tetapi sangat dewasa. “Bu Guru, terima kasih, ya, sudah jadi guru Wita. Sudah sayang sama Wita,” ucapnya. Bu guru menjadi terharu, lalu mencium kening Wita sambil dipeluknya erat. “Semoga Wita jadi anak yang sholehah dan sukses nanti, ya. Nanti di SD lebih rajin lagi belajar supaya jadi juara,” kata Bu Guru. “Iya, Bu Guru. Wita pamit, ya.” Wita berpamitan sambil menjabat tangan dan mencium tangan Bu Guru. “Salam sama Mama Papa, ya,” kata Bu Guru. “Iya, Bu Guru, nanti Wita salamin.” Wita yang kecil mungil, manis, cerdas, dan mandiri. Serta baik kepada semua teman-temanya. Kini


112 | Uung Ulfah mungkin sudah menjadi ibu rumah tangga dan mempunyai anak karena cerita ini terjadi pada 35 tahun yang lalu.(*)


Cinta dan Persahabatan | 113 Kitty yang Lucu Gambar koleksi pribadi itty adalah kucing kesayangan keluarga, terutama Fitri dan Ikhsan. Umurnya baru enam bulan, tetapi sangat lincah dan ceria. Bulunya yang belang berwarna abu-abu, sedikit cokelat dan putih. Bulunya bersih, walaupun tidak pernah dimandikan. Setiap hari, Kitty tidur di kamar Fitri. Dia senang sekali melompat dari bangku ke tempat tidur yang ada di kamar Fitri, lalu tiduran sambil merebahkan kepalanya pada kedua kaki depannya. Kalau dipanggil: K


114 | Uung Ulfah Kitty, sini! Dia akan segera melompat dan menghampiri. Matanya yang hitam kebiruan, sangat bening mengekspresikan perasaan Kitty ketika sedang sedih, senang, manja, dan marah. Fitri dan Ikhsan sangat memahami Kitty. Setiap hari, Fitri dan Ikhsan yang memberi makan si Kitty. Makanannya khusus, dibeli dari supermarket. Kitty sangat menyukai makanannya. Satu bungkus makanan Kitty habiskan sendiri. Setelah kenyang, Kitty akan berlari ke kamar Fitri dan langsung merebahkan badannya pada karpet merah di kamar Fitri. Fitri selalu memanjakan Kitty dengan mengelus lehernya. Si Kitty dengan manja akan melompat ke pangkuan Fitri minta digendong. Dengan cekatan, Fitri menggendongnya, seperti menggendong seorang anak. Mata Kitty mulai mengantuk. Fitri pun meletakkannya di karpet. Siang itu, Kitty menghilang. Fitri dan Ikhsan hendak memberinya makan. Dicari ke mana-mana Kitty tetap tak terlihat. “Kitty … Kitty …. Meong … meong,” pangil Fitri dan Ikhsan.


Cinta dan Persahabatan | 115 Namun, Kitty tidak juga ditemukan. “Ke mana Kitty, ya, Dek? Biasanya jam segini Kitty makan siang,” ucap Fitri dengan sedih. “Iya, ke mana, ya, Teh?” tanya Ikhsan. “Apa di rumah sebelah, ya, Dek?” tanya Fitri. “Kitty kan nggak biasa main ke mana-mana,” kata Ikhsan. “Iya, ya. Kalau nggak di depan, ya, di belakang.” Fitri membenarkan ucapan Ikhsan. “Kitty belum makan, kasihan. Nanti dia lapar,” ujar Ikhsan. “Jangan, jangan diambil orang, ya, Dek.” Fitri mulai cemas. “Aku ke rumah sebelah dulu, ya, Teh. Siapa tahu ada Kitty di sana,” kata Ikhsan. Belum sempat Ikhsan ke rumah sebelah, Emir tibatiba muncul sambil menggendong Kitty. Emir adalah sepupu Fitri dan Ikhsan yang tinggal di sebelah. Kitty yang sedang digendong Emir, melompat ke arah Fitri dan Ikhsan. “Meoong … meoong." Dengan manja Kitty bergelayutan di kaki Fitri. “Alhamdulillah, Kitty sudah kembali,” kata Fitri.


116 | Uung Ulfah ”Kok bisa sama kamu, Mir?” tanya Fitri. “Iya, Emir gemes waktu main ke belakang. Jadi Emir bawa, deh, ke rumah. Maaf nggak ngomong dulu,” katanya. “Kirain ilang,” kata Ikhsan, “lain kali ngomong dulu, Mir. Biar kita nggak khawatir,” lanjut Ikhsan menasihati Emir. “Iya, sory. Lucu banget, sih, Kitty. Buat Emir aja, ya?” “Enak aja!” protes Fitri. “Alifah punya dua, tuh, anaknya Blaki.” “Nggak mau. Maunya Kitty,” kata Emir memaksa. “Nggak lah yau,” ujar Ikhsan. “Coba gendong Kitty sekarang,” tantang Ikhsan kepada Emir. “Pasti dia nggak mau!” Ikhsan meyakinkan. “Kitty ... Kitty,” panggil Emir. Namun, Kitty tidak menyahut karena sedang digendong Fitri. “Apa aku bilang, benar, ‘kan?” kata Ikhsan. “Iya, deh. Emir pulang dulu, ya,” pamit Emir. “Iya, besok main aja ke sini kalau mau gendong Kitty.” Ikhsan memberinya penawaran. “Siip!“ jawab Emir sambil berlalu ke pintu belakang rumah.


Cinta dan Persahabatan | 117 Fitri langsung memberi makan Kitty. “Ayo, Kitty. Makan yang banyak. Abis makan terus tidur,” kata Fitri mengajak bicara Kitty. Seolah memahami ucapan Fitri, Kitty memberi jawaban. “Meoong ….” “Besok jangan main jauh-jauh lagi, ya. Nanti diambil orang,” kata Ikhsan. ”Meoong....” Kitty seolah mengerti dan menganggukkan kepalanya. Kakak beradik ini selalu kompak mengurus Kitty. Kitty pun mengetahui kalau dirinya sangat disayangi. Dia menjadi semakin manja. Sambil menggosokgosokkan kepalanya ke tangan Fitri dan Ikhsan. Ikhsan senang menggelitik leher bawah Kitty dengan lembut. Kitty amat senang. Kelihatan Kitty menikmati perlakuan Ikhsan sehingga matanya mulai terpejam, kemudian tertidur. Kitty mempunyai 2 saudara, namanya Sesi dan Sasa. Namun, keduanya tinggal di rumah Alifah, tetangga Fitri dan Ikhsan. Sesi dan Sasa juga sangat lucu. Mereka lahir dari induk kucing yang sama. Saat ketiganya baru lahir, Fitri dan Ikhsan yang merawatnya. Mereka lahir di sebuah bak mandi yang


118 | Uung Ulfah sengaja Fitri siapkan untuk si Blaki, ibunya Kitty, Sesi dan Sasa. Sejak kecil, Sesi dan Sasa sudah diminta oleh Alifah karena anak-anak kucing Alifah sudah banyak yang diberikan kepada saudara-saudara yang datang ke rumahnya. Sama seperti Fitri dan Ikhsan, yang tersisa tinggal Kitty dan si Blaki kucing anggora. Kucing jantannya berwarna belang abu-abu dan putih, seekor kucing kampung yang bersih dan terawat. Kini Blaki sudah beranak lagi. Fitri dan Ikhsan sudah mempersiapkan bak mandi besar untuk tempat si Blaki melahirkan anaknya. Blaki melahirkan empat ekor anak kucing yang warnanya semua abu-abu. Kitty memiliki banyak teman sekarang. Walaupun Kitty tampak cemburu setiap kali Fitri mendekati anak-anak kucing itu. Kitty akan langsung mengitari kaki Fitri dan menggoyanggoyangkan ekornya. Hal itu berarti Kitty sedang gelisah. “Kenapa Kitty?” tanya Fitri. “Kamu takut nggak disayang lagi, ya?” “Meoong.” Kitty seolah menjawab. “Jangan takut, aku sayang kamu, kok.”


Cinta dan Persahabatan | 119 “Asal nggak nakal, ya. Ngga ee sembarangan di kamar aku,” cetus Fitri. “Meooong,” jawab Kitty. “Ah, Kitty. Kamu manja banget. Fitri jadi makin gemes sama kamu.” Kitty semakin jinak. Dia tahu di mana harus pipis dan pup. Tidak lagi sembarangan. Dia juga tahu, kapan waktunya makan. Kalau Fitri dan Ikhsan lupa memberinya makanan, dia akan lompat-lompat mengelilingi kaki Fitri.(*)


120 | Uung Ulfah Mamaku Guru Ngaji ejak kami pindah ke Jakarta dan tinggal di sebuah kompleks perumahan milik Abah, Mama mulai merencanakan untuk membuka pengajian di rumah, khususnya untuk anak-anak seusiaku. Rumah kami dalam kompleks paling pojok. Perbatasan antara perumahan kompleks dan perkampungan. Anak anak di perkampungan, mayoritas adalah masyarakat Betawi. Keluargaku, cukup dekat dengan orang-orang itu. Saat di rumah mempunyai TV baru, semua anak-anak kampung menonton di rumahku. Mama cukup terbuka dengan mereka. Kadang-kadang anak-anak itu ditanya, apa sudah sekolah. Ada di antara mereka yang sudah cukup umur, tetapi belum sekolah. Rencana Mama pun terwujud. Mama mengajak anak-anak kampung itu untuk datang ke rumah sore hari. Mama mulai mengajarkan mereka mengaji. Semakin hari, murid S


Cinta dan Persahabatan | 121 Mama makin bertambah. Alhasil, penuhlah rumah kami dengan anak-anak kecil yang mengaji di rumah. Tidak hanya mengaji, terkadang Mama juga mengajarkan membaca bagi yang belum bisa membaca. Semuanya gratis tidak dipungut bayaran. Mama melakukannya dengan ikhlas. Oleh karena semakin banyak yang menjadi murid Mama, ruang tamu yang biasa dipakai Mama mengajar, menjadi kelihatan sempit. Akhirnya, Abah membuatkan Mama paviliun di samping rumah utama. Ruangannya luas terbuka dari depan ke belakang tanpa sekat. Sehingga terlihat luas. Dua tahun berjalan, murid Mama semakin bertambah. Mama menjadi kewalahan. Di samping itu, Mama juga makin sibuk dengan kegiatan Dharma Wanitanya. Sementara itu, setiap pagi Mama tetap mengajar di SD Rempoa. Sore mengajar ngaji. Setiap Senin, Mama mengikuti pengajian di Darunisa. Siangnya, kegiatan Dharma wanita di Wisma Depag sehingga kadangkala, murid di rumah tidak tertangani lagi. Akhirnya, Mama meminta tolong Ibu Mansyur, teman Mama satu kompleks untuk menggantikan


122 | Uung Ulfah Mama mengajar mengaji. Ibu Mansyur menerima dengan senang hati dengan syarat, anak-anak pindah mengaji di rumahnya. Anak-anak pun mulai mengaji di rumah Ibu Mansyur, bercampur dengan anak-anak kompleks. Program yang Mama jalankan, digantikan oleh Bu Mansyur. Setiap ada acara keagamaan, diadakan berbagai macam lomba, di antaranya lomba membaca Juz Amma, lomba menulis huruf Arab, dan lomba azan bagi yang laki-laki. Anak-anak juga diajarkan untuk menabung setiap hari menyisakan uang jajan sekolah untuk ditabung. Setiap anak mempunyai kartu berwarna kuning untuk menandai, sudah sampai di mana bacaan Juz Ammanya. Selain itu ada buku tabungan kecil yang dipegang masing-masing agar saat diperlukan, uang tabungan bisa diambil. Mama sesekali datang untuk menjenguk anakanak yang sedang belajar mengaji di rumah Bu Mansyur. Kalau Bu Mansyur sedang sendirian, tak ada lagi orang lain yang bisa mengajar. Mama juga yang menjadi juri pada lomba kali ini. Saat anak-anak mengikuti lomba membaca Juz Amma dan lomba menulis huruf Arab indah.


Cinta dan Persahabatan | 123 Sepertinya, Mama dan Bu Mansyur, berteman dengan baik. Sangat kompak. Kini anak-anak sudah mulai besar. Tidak lagi mengaji di rumah Bu Mansyur. Semuanya sibuk sekolah di SMP dan SMA. Kini, Mama dan Ibu Mansyur tidak lagi mengajar mengaji karena kegiatan itu sudah dipindahkan ke masjid. Anak-anak batita dan balita, diajarkan oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang bersekolah di lingkungan kompleks. Tentu tidaklah sama seperti pada saat Mama yang mengajar. Mereka yang masuk di Taman Bacaan AlQur’an itu, harus membayar uang bulanan yang cukup besar. Tidak ada masalah buat Mama, toh, sekarang Mama sudah menjadi seorang Kepala Sekolah SD di tempatnya mengajar. Berkah selalu untuk Mama tersayang. Semoga amal ibadah Mama diterima oleh Allah SWT. Mama sudah berada jauh di sana, di surga-Mu. Senyum terindah tersungging di bibir Mama kala napas tak lagi berada dalam raga Mama. Husnul Khotimah.(*)


124 | Uung Ulfah Abah yang Penyayang Gambar koleksi pribadi epulang dari Singapore, Abah membawakan banyak hadiah untuk Mama dan kami anakanaknya. Baju, sepatu, asesoris gelang dan kalung yang semuanya sangat bagus. Itu salah satu wujud kasih sayang Abah kepada kami. Abah adalah seorang guru instruktur yang bertugas untuk menatar guru-guru yang berasal dari 4 negara, seperti Malaysia, Singapore, Brunei, dan Australia. Saat itu, usiaku baru sekitar tujuh tahun. Abah sudah berkeliling ke-4 negara tersebut. S


Cinta dan Persahabatan | 125 Abah tidak pernah mengajarkan kami untuk membanggakan diri. Abah menempa kami dengan memanggil guru agama datang ke rumah untuk belajar mengaji dan qiraah. Walaupun, Mama juga guru mengaji pada saat itu. Pada saat bulan Ramadan, Abahlah yang selalu menjadi imam untuk shalat Tarawih di rumah. Suara Abah cukup merdu saat membacakan ayat cuci AlQur’an pada saat kami shalat berjamaah. Seringkali juga memberikan tausiah kepada kami anak-anaknya. Setiap lebaran tiba, Abah selalu mengajak kami untuk membeli keperluan lebaran, seperti membeli baju baru, sepatu baru, dan makanan untuk lebaran. Aku ingat ketika itu kami mampir di toko sepatu BATA. Toko itu sangat terkenal pada zamannya. Produknya selalu dipakai hampir semua orang karena satusatunya toko sepatu terbaik. Tempatnya di daerah Mayestik. Dari sana, kami juga diajak Abah ke mal yang ada di Thamrin, yaitu Sarinah. Baju-baju di sana sangat bagus. Harganya juga sangat mahal. Kami diminta mencari sendiri, baju mana yang kami suka. Semua Abah yang membelikan untuk kelima orang anaknya.


126 | Uung Ulfah Abah dan Mama tidak pernah lupa, selalu memberi sedekah kepada masyarakat sekitar dengan parcel berisi mukena dan tasbih, serta makanan kaleng beserta sirupnya. Hampir semua kebagian, terutama yang tinggal di perkampungan. Abah yang jarang di rumah karena harus berkeliling ke-4 negara, membuat Abah menghabiskan waktu bersama anak-anaknya dan Mama. Hampir setiap bulan kami menginap di Puncak. Di sana, Abah selalu menjadi penceramah buat kami. Menjadi imam shalat kami dan bercengkerama dengan semua anaknya. Siraman rohani yang menyejukkan menjadi pelajaran buat kami. Abah tak lagi menjadi instruktur dan pindah ke bagian Bimas Islam dan Urusan Haji. Setiap tahun, Abah selalu berangkat haji untuk mendampingi para jamaah haji. Otomatis sebulan penuh Abah berada di Makkah dan meninggalkan kami. Sementara, Mama di rumah juga aktif di Dharma Wanita yang bertempat di Wisma Kompleks. Saat itu, kompleks kami benarbenar sebuah kompleks yang hidup.


Cinta dan Persahabatan | 127 Secara hubungan sosial kemasyarakatan, ada saja kegiatan yang diadakan untuk memeriahkan acaranya. Semua melibatkan anak-anak kompleks. Kegiatan Dharma Wanita yang diikuti Mama sangat kreatif. Semua anak-anak dikutsertakan dalam berbagai lomba. Hampir semua anak-anaknya adalah yang orang tuanya bekerja di Depertemen Agama. Ada lomba cerdas cermat, lomba menari, lomba peragaan busana, lomba menempel, lomba mewarnai, lomba pidato, lomba menyanyi. Serta lomba olah raga senam pagi. Semua kompak dan saling gotong royong sehingga waktu itu, ada khusus tempat belajar menyanyi, yaitu Sanggar Pravitasari. Abah pulang selesai haji. Banyak buah-buahan, seperti kurma dan anggur dari Arab, yang sangat enak rasanya. Air zam zam, yang bisa juga dipakai untuk obat. Pacar kuku, celak, kalung, dan tasbih, semua produk dari Arab. Kami sudah terbiasa karena hampir tiap tahun Abah berangkat Haji. Abah dan Mama, berangkat haji berdua saja dengan biaya sendiri pada tahun 1984.


128 | Uung Ulfah Abah juga sangat disiplin waktu. Tiap kali diundang rapat, Abah datang lebih dulu. Acara apa pun, Abah selalu menjadi tamu yang pertama, walaupun banyak acara yang ngaret. Kadang Abah pulang duluan karena sudah satu jam Abah hadir acara belum juga dimulai. Kata Abah, jangan biarkan orang lain menunggu kita. Abah juga termasuk yang tegas dalam hal agama. Anak-anaknya tidak boleh pacaran atau bergaul dengan laki-laki atau dekat dengan orang yang bukan muhrimnya. Kami semua dibekali ilmu agama yang baik dan saat Abah dan Mama tidak ada di rumah, tante dan omku yang menjaga kami. Tante, adik Mama yang sekolah di IAIN, sudah menikah dengan Om Amin yang juga lulusan IAIN. Pesan Abah dan Mama, jangan pernah tinggalkan shalat karena itu amalan yang akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Abah dan Mama pulang dalam keadaan sehat bugar tak kekurangan suatu apa pun. Padahal Mama berangkat dalam keadaan sakit rematik.


Cinta dan Persahabatan | 129 Mama meninggalkan Abah pada tahun 1995 setelah dirawat di rumah sakit cukup lama. Sementara Abah berpulang 20 tahun kemudian, tepatnya 4 Mei 2015 dalam keadaan husnul khotimah. Semoga Abah tenang di sisi-Nya. Surga sudah menanti Abah dan Mama. Doa kami anak-anakmu.


130 | Uung Ulfah Ikhsan yang Pendiam aat ini Ikhsan berusia 14 tahun. Dia sekolah di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Ikhsan anak ke5 dari lima bersaudara. Badannya tinggi tegap, berkulit putih, dan rambut lurus. Ikhsan termasuk anak yang pendiam, tak banyak bicara, atau juga bergaul dengan teman yang lain. Hari-harinya dihabiskan di dalam kamar, ditemani HP dan laptopnya, serta sebuah gitar yang kerap dimainkannya. Saat usianya empat tahun, Ikhsan sudah ditinggal papanya. Waktu itu, Ikhsan masih sekolah di Taman Kanak-Kanak. Hanya Mama dan kakak-kakaknya yang menemani Ikhsan ke sekolah dan bermain di rumah. Ikhsan juga tak pernah menyusahkan mamanya, untuk meminta keperluannya. Padahal, banyak anak seusianya yang melakukannya. Ikhsan punya tabungan sendiri untuk membeli semua keperluannya. Gitar, adalah satu-satunya alat yang disukainya. Ikhsan belum pandai memainkannya, tetapi dia S


Cinta dan Persahabatan | 131 belajar sendiri dari Youtube. Selain bermain gitar, Ikhsan juga suka bermain dengan kucing kesayangan keluarga sehingga hari-hari Ikhsan tetap merasa senang dan tidak merasa sendiri. Setiap hari Sabtu, Ikhsan mengaji di rumah. Guru mengaji datang langsung ke rumah. Mama yang memanggilkan guru khusus buat Ikhsan belajar agama. Dengan bekal agama, insya Allah Ikhsan tidak akan salah jalan. Rupanya Ikhsan juga sangat menyukainya, terbukti dia betah berjam-jam dengan guru mengajinya. Kadang shalat Magrib bersama di masjid dekat rumah. Mama bersyukur. Semoga Ikhsan menjadi anak saleh dan bakti terhadap orang tua. Kelak menjadi orang sukses dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Kini, Ikhsan menghabiskan waktunya untuk belajar dari rumah. Laptop dan Handphone adalah teman setianya. Zoom Meeting dan Google Meet adalah makanan belajar sehari-harinya. Dia tidak mengeluh dan merasa capek, walau kadang harus menyelesaikan tugas sampai larut malam dan


132 | Uung Ulfah terkadang telat sarapan dan makan siang. Namun, Ikhsan tetap semangat mengejar cita-citanya. Semoga pandemi ini cepat berlalu agar Ikhsan bisa bertemu dan bergaul serta bersosialisasi dengan teman temannya.(*)


Cinta dan Persahabatan | 133 Profil Penulis UUNG ULFAH, S.Pd, seorang ibu dari lima orang anak. Juga seorang guru yang mengajar mata pelajaran bahasa Inggris, di SMAN 86 DKI Jakarta. Lahir di Serang, tepatnya 28 Desember 1966. Menulis adalah hobinya yang lain, selain menyanyi. Penulis pernah menjuarai beberapa lomba, di antaranya lomba baca puisi, pidato, peragaan busana, dan qiraah. Pernah aktif di organisasi IMM dan Immawati, juga senat kemahasiswaan saat kuliah. Pernah menulis Ikhsan Anak yang Pintar dan diterbitkan di majalah Bobo. Saat ini mencoba berkiprah di dunia tulis-menulis, sejak mengikuti pelatihan literasi. Selain sibuk mengajar online dari rumah karena pandemi Covid-19 melanda Indonesia.


134 | Uung Ulfah


Click to View FlipBook Version