GENDIS SEWU BERKARYA
CERITA GADIS BELIA
Antologi Cerita Pendek
Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Surabaya
Bekerja Sama dengan SDN Tambak Wedi 508
Surabaya
CERITA GADIS BELIA
Penulis : Naila Pratiwi, Nindita Putri,
Sabilatun Najah, dkk.
Desain Sampul : Alfian Adam Prasetya
Penyunting : A’an Aditya dan Ameilia
Rizky C
Penyunting Akhir : Faradila Elifin, Vivi
Sulviana, Ayu Dewi ASN, Rici
Alric K, dan Vegasari Yuniati
Diterbitkan pada tahun 2022 oleh
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya
Jln. Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas
partisipasi yang telah diberikan dalam Gerakan
Melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah Swt.
atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang
begitu besar, sehingga dapat menyelesaikan
penyusunan buku ini sebagai bentuk apresiasi
kepada para bibit penulis yang mengikuti
Gerakan Melahirkan 1000 Penulis dan 1000
Pendongeng (Gendis Sewu) dengan baik dan
lancar.
Antologi merupakan kumpulan karya cerita
pendek dari para penulis SDN Tambak Wedi 508
Surabaya. Buku ini merupakan hasil imajinasi dan
kreatifitas berfikir dari para penulis yang
merupakan bibit Gendis Sewu Berkarya.
Kami menyadari bahwa sebuah karya
memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam
penyusunan buku ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih ada kekurangan kami
mengharap kritik dan saran yang bisa
membangun dari segenap pembaca buku ini.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan karya tulis anak bangsa
khususnya di Kota Surabaya dan seluruh
Indonesia pada umumnya.
Surabaya, 2022
Tim Penulis se-Kecamatan Kenjeran
KATA SAMBUTAN
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt.
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayat-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam ikut
serta membangun Kota Surabaya yang kita
cintai.
Kita patut bangga dan memberi apresiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan
Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit
Pendongeng), para editor penulis Dispusip di
Kota Surabaya yang telah bekerja keras membuat
karya tulis yang berjudul Cerita Gadis Belia.
Buku para bibit Gendis Sewu
menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas
yang telah melalui proses panjang dan berjenjang
dan merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk
dinikmati.
Semoga ke depannya akan menjadi
inspirasi untuk berkembangnya budaya literasi
dari berbagai kalangan masyarakat di Kota
Surabaya. Akhir kata, semoga buku Gendis Sewu
Berkarya dengan judul Cerita Gadis Belia
bermanfaat bagi semua pihak dan perkembangan
para bibit Gendis Sewu.
Surabaya, 2022
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya,
Mia Santi Dewi, S.H, M.Si
SEKAPUR SIRIH
Kepala SDN Tambak Wedi 508 Surabaya
Syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya,
sehingga kita dapat melaksanakan rangkaian
kegiatan Gendis Sewu 2022 dengan lancar serta
terselesaikan dengan baik. Kami berharap dengan
kegiatan ini dapat meningkatkan kompetensi siswa
dalam mendongeng dan menulis sebagai bagian
dari kegiatan literasi di SDN Tambak Wedi 508
Surabaya.
Kami ucapkan terima kasih kepada
Bapak/Ibu dan rekan-rekan dari Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya yang
telah memberikan kesempatan serta
pendampingan kepada siswa-siswi SDN Tambak
Wedi 508 Surabaya dalam menyusun antologi
cerpen berjudul Cerita Gadis Belia.
Harapan kami semoga kegiatan ini
berkelanjutan agar dapat terus mengasah
kemampuan siswa-siswi di SDN Tambak Wedi 508.
Sehingga dapat lebih meningkatkan prestasi siswa
dalam mengikuti berbagai kegiatan atau lomba
terkait literasi. Semoga dapat memotivasi siswa
untuk mengembangkan bakat menjadi pendongeng
atau penulis serta menumbuhkan rasa percaya diri
yang kuat terhadap minat dan bakat
masing-masing siswa.
Semoga antologi cerpen ini dapat
menginspirasi pembaca untuk mengahasilkan
karya-karya baru dan menambah wawasan literasi
bagi warga sekolah. Mohon maaf apabila ada
kekurangan, terima kasih.
Salam Literasi.
Surabaya, 2022
Kepala SDN Tambak Wedi 508
Surabaya
Dwi Aprijanto S, S.Pd., MM
DAFTAR ISI
1. Terlalu Posesif 1
2. Perjuangan Ibu 9
3. Keseruan Hari Kemerdekaan 18
4. Sahabat Tak Dianggap 24
5. Ayah Kebanggaanku 31
6. Temanku, Fina 37
7. Penjual Bunga Sukses 41
8. Kisah Empat Sahabat 47
9. Kena Imbasnya 54
10. Kisah Diva 57
11. Weekend Bersama Keluarga 66
12. Cita-cita Idaman 76
13. Bersepeda di Taman Surabaya 79
14. Salah Paham 83
15. Perayaan Kemerdekaan di Kampungku 91
16. Perayaan Agustusan di Kampungku 95
TERLALU POSESIF
Oleh Naila Pratiwi
Namaku Naila. Saat ini aku berada di kelas enam
dan bersekolah di SDN Tambak Wedi 508
Surabaya. Dulu di tahun 2017, aku mempunyai
lima orang sahabat. Namanya Sifa, Jihan, Amel,
Fanny, dan Inayah. Kami memiliki satu kesukaan
yang sama, yaitu berolahraga bulu tangkis. Kami
berlima sangat menyukai kegiatan itu.
Setiap hari Minggu, kami berlima selalu
berolahraga bersama. Sebelum mulai kegiatan
itu, kami membuat perjanjian dahulu. Perjanjian
itu dibuat saat malam hari di tempat ngaji.
Keesokan harinya sekitar jam 05:00, barulah
kami memulai olahraga itu.
1
Saat malam hari, sesudah salat Isya, aku
dan kelima sahabatku bermain di rumah Amel. By
the way, Amel itu orangnya cantik, murah
senyum, baik, dan soleha. Namun, dia agak
sedikit jutek atau cuek. Kalau Sifa memiliki sifat
bawel, suka ngomong yang enggak jelas, baik
hati, suka menggunakan hijab, soleha, dan suka
bergaul dengan orang-orang yang ada di
sekitarnya. Namun, dia juga agak cuek. Sifat cuek
Amel dan Sifa masih kalah dengan aku dan
Fanny. Aku dan Fanny tipe cewek yang cuek dan
tegas kepada siapapun. Jihan sendiri selalu
disama-samakan denganku. Kami bagai saudara
kembar. Padahal kami berbeda orang tua.
2
Setelah tiga tahun, persahabatan kami
tidak baik seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami
kedatangan anak baru yang bernama Nabila.
Nabila anak yang murah senyum, baik, sopan,
cantik, putih, dan berbakti kepada orang tua.
Namun, Nabila ini suka ngambek, berbeda
dengan kelima sahabatku. Dia juga tidak cuek
atau jutek.
Inayah sudah terlebih dulu kenal dengan
Nabila, jadi dia memperkenalkannya kepadaku
dan Amel. Saat itu aku, Amel, Inayah, dan Nabila
hanya salat berempat, sedangkan Jihan, Sifa, dan
Fanny tidak ikut salat Zuhur di masjid. Namun,
yang menjadi masalah adalah Sifa dan Jihan
marah saat aku mempunyai teman baru yaitu
3
Nabila. Mereka berdua berpikir kehadiran teman
baru membuatku melupakan persahabatan kita
berlima. Padahal faktanya, aku, Amel, dan
Inayah tidak melupakan persahabatan kami. Sifa
dan Jihan tidak mempercayai kita bertiga dan
tidak menemaniku, Inayah, dan Amel, bahkan
benci terhadap Nabila.
Kecuali Fanny, dia tidak marah dan
menemani kami berkenalan dengan Nabila.
"Biarin saja mereka. ‘Kan kita enggak
ngelupain persahabatan kita,” ucap Fanny
kepadaku, Amel, Nabila, dan Inayah.
***
4
Berselang dua minggu, kami sudah
berbaikan lagi. Saling memaafkan, bahkan Sifa
dan Jihan juga berkenalan dengan Nabila.
“Aku minta maaf, ya, tentang dua minggu
yang lalu,” ucap Sifa.
“Iya, aku juga minta maaf tentang itu,”
sahut Jihan.
“Iya, tidak apa-apa kok. Jangan diulang
lagi, ya!” ucap Amel.
“Iya, aku berjanji,” ucap Sifa.
Akhirnya kami berenam sudah bersahabat
kembali. Persahabatan kami kembali membaik
seperti dulu lagi. Namun, permintaan maaf Sifa
itu hanya tipuan belaka. Sifa, Jihan, dan Fanny
tidak menemani kami bertiga. Sifa pun
5
menghasut seluruh teman mengaji agar menjauhi
aku, Amel, Inayah, dan Nabila.
Ternyata benar, teman-teman di tempat
mengaji tidak ada yang mau berteman dengan
kami bertiga. Namun, kami bertiga merasa
baik-baik saja. Teman kami masih banyak. Ada di
sekolah, rumah, desa, dan banyak lagi. Jadi kami
tidak terlalu khawatir.
“Biarin aja. Teman kita masih banyak kok,”
pesan Amel.
“Maaf ya. Gara-gara aku, kalian jadi
dimusuhin teman ngaji,” sahut Nabila.
“Enggak usah minta maaf, Bil. Mereka aja
yang aneh,” tambahku.
6
***
Setelah satu tahun bermusuhan, kami
semua kembali bermaaf-maafan. Kali ini kami
saling memaafkan dengan rasa yang tulus dari
hati.
“Aku minta maaf, ya?” ucap Sifa padaku,
Amel, Nabila, dan Inayah.
“Iya, sama-sama. Aku juga minta maaf
banget,” sahut Jihan.
“Aku juga minta maaf karena sudah
menipu kalian,” tambah Fanny.
“Ngapain minta maaf? Urusin aja
teman-temanmu!” sahut Inayah.
“Tau tuh. Kita udah enggak bisa ditipu,”
ucap Amel.
7
“Aku benar-benar minta maaf, Mel. Aku
janji tidak akan mengulangi lagi,” ucap Sifa.
“Udah basi tau enggak?” ucap Amel lagi.
“Mel, kita benar-benar minta maaf,” sahut
Jihan.
“Sudahlah, Mbak. Kita harus saling
memaafkan. Mereka sudah berjanji. Kalian tidak
akan pernah mengulangi lagi ‘kan?” tanya Nabila.
“Kita berjanji,” ucap bersamaan dari Sifa,
Jihan, dan Fanny.
Setelah bermaafan, kami kembali lagi
bersahabat dan bersenang-senang sampai saat
ini.
8
PERJUANGAN IBUKU
Oleh Nindita Putri
Namaku Sari. Aku terlahir sebagai anak tunggal
di tengah keluarga yang sangat sederhana.
Setiap harinya, ayah bekerja sebagai karyawan di
salah satu hotel di Surabaya Barat. Ibuku adalah
seorang ibu rumah tangga. Aku sangat bangga
pada mereka. Walaupun hidup kami sederhana,
tetapi kasih sayang mereka sangat besar
kepadaku.
Pagi itu tak seperti biasa, ayah terlihat
terburu-buru untuk berangkat kerja, bahkan aku
yang biasa diantar ke sekolah digantikan oleh
ibu.
9
"Ayah kok sudah berangkat? Ini ‘kan masih
pagi?” tanyaku kepada ayah.
“Ayah ada rapat penting pagi ini, Nak.
Hari ini Sari ke sekolah diantar Ibu saja," jawab
ayah sambil mengulurkan tangannya kepadaku
untuk bersalaman.
KRINGGG ... KRINGGG ....
Suara ponsel ibu terdengar. Kuangkat
telepon masuk itu karena ibu sedang mandi.
"Halo, apa benar ini dengan keluarga Pak
Hendra?" tanya penelepon.
“Benar. Ini siapa?" tanyaku balik.
“Kami dari kepolisian. Kami ingin
mengabarkan bahwa Pak Hendra mengalami
kecelakaan di Jalan Sukamaju. Sekarang sudah
10
dibawa ke Rumah Sakit Bunda,” jawab
penelepon.
Belum usai Polisi itu mengabarkan,
tubuhku sudah lemas. Aku pun pingsan.
Saat tersadar, aku mendengar suara
tangisan ibu. Nenek-kakek bahkan tetangga yang
ada di rumahku saat itu semuanya menangis. Aku
bingung dan kuberanikan diri bertanya kepada
ibu.
"Ada apa ini, Bu? Bagaimana keadaan
Ayah?" tanyaku.
Tangis ibu semakin keras dan langsung
memeluk tubuhku.
11
"Sabar, Nak. Kita berdua harus sabar. Kita
harus kuat dan pasti bisa," jawab ibu
meyakinkanku.
Ayahku meninggal dalam kecelakaan itu.
Pagi itu adalah hari terakhirku melihat ayah. Di
saat itu juga aku menjadi anak yatim. Ibuku
sangat terpukul. Ibu bingung bagaimana akan
menafkahiku, sedangkan selama ini hanya
seorang ibu rumah tangga biasa.
***
Satu bulan berlalu, ibu masih bingung mau
kerja apa untuk memenuhi kebutuhanku. Aku
coba menyemangati Ibu.
12
"Kenapa Ibu tidak mencoba membuat kue
saja? Kue buatan Ibu ‘kan enak. Nanti biar aku
bantu memasarkan kuenya," saranku.
Ibu pun setuju dengan usulanku. Hari itu
juga ibu langsung belanja bahan untuk membuat
kue. Kali ini kami coba tawarkan kepada saudara
terdekat dulu. Bersyukur sekali hari ini ada
pesanan lima stoples Kue Nastar.
***
Tiga bulan berlalu, pesanan kue ibu tidak
ada peningkatan. Pembelinya hanya saudara
saja, bahkan uang modal sudah terpakai untuk
biaya hidup kami. Ibu mulai putus asa, tetapi aku
terus menyemangatinya. Aku terus berpikir agar
13
usaha kue ibu berkembang. Bisa terkenal sampai
ke luar kota.
Di sela-sela berpikir, aku ingat om Burhan.
Ayah dari temanku mempunyai toko oleh-oleh.
Tokonya cukup besar dan sering dikunjungi oleh
wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Aku
memberanikan diri untuk menitipkan kue ibu di
sana. Siapa tahu aku diberi izin.
Tanpa pikir panjang, aku langsung ke
rumah temanku. Kebetulan ayahnya sedang di
rumah.
"Permisi, Om. Mau ngobrol sebentar
boleh?" tanyaku pada om Burhan.
14
“Boleh dong. Memangnya apa yang mau
dibicarakan kok kayaknya serius banget?" om
Burhan balik bertanya.
"Om Burhan tahu ‘kan kalau Ibuku
mempunyai usaha kue. Kalau saya titipkan kue
Ibu di toko Om Burhan, apakah boleh?" kataku
dengan sedikit gugup.
“Boleh banget, Nak. Om Burhan juga sudah
tahu bagaimana rasa kue buatan Ibumu," jawab
om Burhan.
Mendengar perkataan om Burhan, aku
sangat bahagia sekali. Kemudian aku pamit
pulang dan tidak sabar ingin menyampaikan
kabar baik ini kepada ibu.
"Buuu!" aku berteriak dari luar.
15
"Ada apa, Nak, kok bahagia sekali?" tanya
ibu.
"Aku barusan dari rumah Om Burhan, Bu.
Om Burhan mengizinkan aku menitipkan kue Ibu
di tokonya," jawabku sambil memeluk ibu.
Ibu terlihat sangat bahagia. Ibu masih
tidak menyangka kalau aku bisa seberani itu.
***
Satu tahun berlalu. Usaha kue ibu semakin
meningkat. Ibu juga sudah mampu menyewa kios
untuk dijadikan tempat produksi kue. Ibu juga
mempunyai karyawan yang semuanya adalah
warga sekitar. Usaha kue ibu mampu
memproduksi 1000 stoples kue setiap harinya.
Kue ibu juga sudah mempunyai merek yang
16
bernama Hendra Cookies. Hendra adalah nama
ayahku. Alasan ibu memakai nama ayah adalah
supaya kita selalu ingat kepada beliau.
17
KESERUAN DI HARI KEMERDEKAAN
Oleh Sabilatun Najah
Alhamdulillah pada tahun ini, saya bisa
menyaksikan kemeriahan peringatan hari
kemerdekaan di kampung. Semua warga turut
serta menghias area kampung. Jalannya dicat
warna-warni, diberi gambar-gambar lucu,
lampu-lampu hias, umbul-umbul, dan tidak lupa
bendera merah-putih.
***
Saya sudah bangun pagi untuk mengikuti
lomba. Mulai dari semalam, saya sudah berpesan
kepada ibu.
"Bu, besok bangunkan saya pagi-pagi, ya!”
pinta saya.
18
"Memangnya mau kemana, Nak? Besok
‘kan hari libur," tanya ibu.
"Saya besok mau mengikuti lomba, Bu."
"Ya, Nak. Besok Ibu bangunkan
pagi-pagi."
Keesokan harinya, ibu membangunkan
saya sesudah azan Subuh. Saya mandi, salat, dan
sarapan. Kemudian saya bersiap mengikuti lomba
yang diadakan. Saya mengikuti semua lomba,
tetapi sayangnya hanya satu lomba yang
dimenangkan. Saya diejek oleh teman-teman.
“Hahahaha, Bila kalah,” ejek
teman-teman.
Di hari Minggu berikutnya, ibu
membangunkan saya.
19
“Bila, bangun ... sudah siang! Bukannya
nanti ada lomba lagi?”
Tanpa berkata apa-apa, saya langsung
pergi mandi. Setelah mandi, saya pergi untuk
salat Subuh. Kemudian saya tidur lagi. Tidak
lama kemudian, ibu menghampiri saya.
"Bila, kamu tidak ikut lomba? Kok malah
tidur lagi. Teman-temanmu sudah banyak yang
kumpul di depan rumah Pak RT," ucap ibu sambil
menepuk-nepuk punggung saya.
"Bu, saya tidak ikut lomba,” kata saya
pada ibu.
“Memang kenapa?” tanya ibu.
“Saya diejek teman-teman karena kalah
terus,” jawab saya.
20
"Bila, enggak perlu sedih dan putus asa,
jika diejek teman seperti itu. Bila harus tetap
semangat. Bila juga harus paham, menang atau
kalah dalam suatu perlombaan memang hal yang
wajar. Apalagi dalam memeriahkan hari
kemerdekaan, kita juga harus bisa meniru
kegigihan pahlawan dalam mencapai
kemerdekaan. Lomba-lomba yang kamu ikuti
seperti medan perang yang dilalui para
pahlawan. Walaupun banyak cobaan dan
rintangan, harus dihadapi dengan semangat,”
pesan ibu.
“Ya, Bu. Saya jadi paham dengan makna
hari kemerdekaan kali ini. Terima kasih, Bu,”
jawab saya.
21
“Jadi ikut lomba?” tanya ibu.
“Siap, Bu! Merdeka!” jawab saya dengan
semangat.
Setelah berbicara dengan ibu, saya
mengerti kalau segala sesuatu itu butuh
perjuangan. Jangan hanya karena sebuah ejekan
kita mundur. Kami harus tetap penuh semangat.
Bukan hanya dalam perlombaan, tetapi juga
dalam meraih cita-cita.
Ketika di tempat lomba, teman-teman
menghampiri saya dan meminta maaf.
“Bila, maafkan kita karena sudah
mengejekmu. Tadi Ibumu sudah memberi
pengertian pada kami, bahwa kita di sini
memeriahkan lomba untuk menghormati dan
22
mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah
berjuang,” ucap salah satu teman saya.
“Ya, teman-teman tidak apa-apa. Saya
sudah memaafkan. Ayo, kita sama-sama
semangat memeriahkan hari kemerdekaan!
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-77.
Merdeka ... merdeka ... merdeka!” sahut saya.
23
SAHABAT TAK DIANGGAP
Oleh Nesty Ichelia Lova
Aku punya sahabat yang bernama Shifana,
panggil saja Shifa. Kami sama-sama lahir di
tahun 2010. Sebenarnya kami masih ada
hubungan saudara karena ayah Shifa adalah
pakdeku. Shifa dan aku bersahabat dari kecil
bahkan sampai sekarang. Namun, Shifa punya
sahabat lain selain aku yaitu tetangga di rumah
neneknya. Sahabatnya lebih dari satu. Salah
satunya bernama Althea. Mereka juga
bersahabat lama seperti aku dan Shifa.
Namun, suatu hari Shifa cerita bahwa ada
masalah diantara orang tuanya. Aku mencoba
untuk menghibur Shifa, supaya dia tidak sedih.
24
Aku tahu kalau hatinya lagi kacau. Aku mencoba
untuk menenangkan Shifa.
“Enggak ada lagi teman curhatku selain
kamu dan Althea,” ucap Shifa.
Aku hanya sahabat yang kamu cari saat
Althea tak ada, ucapku dalam hati
“Aku akan ikut Ibu ke rumah Nenek,” kata
Shifa.
“Kamu enggak akan tinggal di sini lagi?”
tanyaku spontan.
Aku tak punya teman main yang cocok di
lingkungan rumah selain Shifa. Terlintas
dipikiranku bagaimana caranya aku pergi dari
rumah, tetapi tetap bisa bertemu dengan orang
tuaku. Aku sangat kesepian di rumah. Padahal
25
aku punya adik, tetapi dia masih sangat kecil dan
belum tahu apa-apa.
Timbul keinginan dibenakku untuk
bersekolah di pondok pesantren karena ibu bilang
aku ini anak nakal. Orang tuaku pasti setuju jika
aku sekolah di pondok pesantren.
“Enggak apa-apa juga sih kalau kamu
pindah ke rumah nenekmu. Aku juga mau sekolah
di pondok pesantren kok,” kataku.
“Loh, kamu mau sekolah di pondok
pesantren? Kenapa?” tanya Shifa.
“Ya, karena aku ingin pintar mengaji dan
salat,” jawabku.
Disana aku pasti akan punya sahabat yang
banyak. Aku juga enggak ingin merusak
26
persahabatan Shifa dan Althea. Biarkanlah Shifa
bersahabat selamanya dengan Althea. Aku akan
mengalah. Mungkin persahabatan Shifa dengan
Althea lebih seru daripada denganku.
Sahabat sejati Shifa bukan aku, yang
enggak selalu ada untuknya. Aku seringkali
diabaikan. Jika kami berada di sekolah saja, Shifa
sering bermain dengan orang lain. Nomor
teleponku tidak ditulis secara istimewa, bahkan
chat WA-ku juga diarsipkan.Sedangkan nama
Althea ditulis dengan sangat istimewa (diberi
emoticon Love). Terbukti ‘kan kalau aku bukan
sahabat sejatinya.
Namun, jika suatu hari nanti aku
berangkat ke pondok pasti persahabatan mereka
27
berdua akan lebih asyik tanpaku. Shifa lebih suka
tidur di rumah neneknya karena bisa menginap
bersama Althea. Sungguh indah persahabatan
mereka berdua. Membuatku teringat ketika dulu
aku dan Shifa masih kecil dan sering bermain,
mandi, tidur, dan makan bersama.
***
Setelah beberapa bulan tinggal di rumah
neneknya, Shifa berkunjung ke rumahku.
“Kamu beneran akan meneruskan sekolah
ke pondok pesantren? Bukannya dulu kamu
pernah bilang kalau ingin sekolah di SMP
Cahaya? Sekolah impianmu,” tanya Shifa.
“Ya, sampai saat ini aku masih belum
berubah pikiran,” jawabku.
28
“Kalau kamu pergi ke pondok, aku main
sama siapa?” ucap Shifa.
“Masih ada Althea, sahabat sejatimu,”
jawabku ketus.
Shifa hanya terdiam.
“Aku ini sahabatmu atau bukan sih?”
ucapku mengagetkan Shifa.
“Hah? Sejak kapan kita sahabatan? Kita
‘kan saudara. Mana ada saudara sekaligus
sahabat?” jawab Shifa.
Aku langsung termenung.
Mendengar itu tekadku untuk melanjutkan
sekolah ke pondok pesantren semakin bulat.
Suasana di rumah membuatku jenuh dan ingin
cepet keluar.
29
Akhir-akhir ini kalau Shifa chat jarang
kubalas karena malas. Hingga Shifa berpikir
bahwa aku berubah. Biarkan aku yang mengalah
demi persahabatan Shifa dan Althea. Semoga
lancar selalu persahabatannya.
***
Jika aku sudah berangkat ke pondok jaga
persahabatanmu dengan Althea sampai besar, ya.
Karena aku orangnya enggak asyik kayak Althea.
Enggak secantik dan sepintar Althea. Beda jauh
pokoknya. Jaga kesehatanmu juga, ya. Aku di sana
akan mencoba mencari teman dan sahabat baru
yang bisa menggantikanmu.
Kutulis surat untuk Shifa ketika berangkat.
Aku menitipkan pada mamaku.
30
AYAH KEBANGGAANKU
Oleh Maya Hilwana Silva
Aku mengerti bahwa ayah merasakan betapa
capek dan lelahnya bekerja mulai pagi hingga
malam hari. Cita-cita ayah adalah ingin sekali
melihat anaknya hidup sukses. Namun, tak
semestinya ayah seperti itu. Beliau terlalu
berlebihan dalam bekerja. Ayah hanya
mewajibkanku untuk belajar.
Padahal aku tahu berjualan minuman sari
kedelai sangatlah sulit. Prosesnya begitu
rumit.Pertama, ayah harus merendam kedelainya
terlebih dahulu. Kemudian menggiling,
menyaring, dan merebusnya. Setiap hari, ayah
31
melakukan rutinitas itu. Sejak kepergian ibu,
ayah melakukannya sendiri.
Setelah semua sudah siap, ayah menata di
gerobaknya dan berangkat untuk berjualan sari
kedelai dengan mendorongnya berkeliling.
Ayah tidak pernah memperbolehkanku
membantunya berjualan. Padahal aku ingin sekali
membantunya agar bebannya lebih ringan.
Terkadang aku juga tak tega jika meminta uang
untuk membeli buku-buku pelajaran. Aku
mengumpulkan sedikit uang saku untuk
kebutuhan pribadi. Aku tidak ingin terlalu
membebani ayah. Ayah hanya ingin aku belajar
sungguh-sungguh demi menjadi anak yang sukses
dan bahagia. Ayah tidak ingin aku punya
32
kehidupan miskin dan sengsara seperti sekarang.
Aku terharu dan bertekad untuk mewujudkan
impian ayah. Ayah memang seorang pedagang,
tetapi keinginan dan cara berpikirnya tidak kalah
dengan orang-orang lainnya.
Beberapa hari ini ayah terlihat sangat
lelah. Sering kali aku melihatnya melamun. Raut
wajah tak terlihat senyuman manisnya. Aku tidak
pernah melihat ayah seperti ini. Ayah berjualan
mulai pagi hingga pulang malam, sehingga
tampak capek dan lelah.
Ayah adalah kebanggaanku. Aku bisa hidup
dan berkembang seperti saat ini karena
pengorbanan dan perjuangannya. Tanpa ayah,
mungkin aku bukan siapa-siapa. Ayah
33
memberikan kasih sayang dan selalu rela
berkorban apapun demi anaknya. Mencari rezeki
untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dialah
ayah kebanggaanku.
Sejak kecil, aku dibesarkan dengan kasih
sayang. Hidup dalam kesederhanaan yang
mengutamakan agama dan pendidikan
membuatku selalu terpacu mengejar prestasi.
Bukan untuk apa-apa, melainkan hanya keinginan
melihat senyum mengembang dari bibir kedua
orang tuaku.
Aku ingin sekali mendengar ayah berkata
‘ayah bangga padamu!’
Kekuatan kasih sayang memang mampu
mengalahkan segalanya. Membuat orang tua
34
bahagia juga merupakan salah satu cita-cita
setiap anak.
Ayah selalu berusaha memenuhi
kebutuhanku. Hasil perolehan dari berdagang
ayah kelola hingga cukup memenuhi semua
kebutuhan sekolah dan lainnya. Ayah harus
membanting tulang untuk itu semua.
Aku terkadang merasa jengkel kepada
ayah, karena bekerja terlalu berat dan lupa
waktu. Seharusnya hari libur untuk beristirahat,
tetapi ayah tetap berjualan. Aku terkadang
merasa kasihan melihat ayah seperti itu.
Setiap hari aku selalu melihat ayah
menutupi rasa lelahnya itu. Ayah jarang sekali
ada dirumah, karena berangkat pagi dan pulang
35
malam. Jika ayah berada di rumah, aku merasa
nyaman dan bahagia sekali. Namun, saat ayah
belum pulang berdagang, aku merasa kesepian.
Meskipun setiap hari aku selalu kesepian, aku
tetap bangga dengan ayah yang penuh dengan
perjuangan membahagiakan anak-anaknya.
“Terima kasih Ayah. Usahamu untuk
keberhasilanku tak akan pernah sia-sia. Aku akan
berusaha mewujudkan keinginan dan impian
Ayah.Aku juga selalu mendoakan Ayah agar lebih
sering merasa bahagia. Semangat buat Ayah!”
36
TEMANKU, FINA
Oleh Mangir Putri Dinayu
Malam hari itu aku sedang jalan-jalan bersama
ayah dan ibu. Kami menyempatkan mampir di
sebuah swalayan. Saat di sana, tidak sengaja aku
melihat seorang anak kecil yang meringkuk di
depan swalayan. Aku seperti mengenal anak kecil
itu. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Aku
menepuk pundaknya hingga dia kaget dan
mengangkat wajahnya. Kami saling
berpandangan. Tidak salah lagi, dia adalah Fina.
“Sedang apa kamu di sini?” tanyaku.
“Aku sedang berjualan. Jualanku
kebetulan masih banyak. Kasihan ibuku nanti
37
merugi,” sahut Fina sambil memperlihatkan
barang jualannya.
Melihat aku dan Fina sedang bercakap,
ayah menghampiri. Ayah ingin mengetahui
dengan siapa aku berbicara dan apa yang sedang
kami bicarakan. Dari dekat ayah mendengarkan
obrolanku dengan Fina.
“Begini saja, Fin. Jualanmu sebagian Om
beli saja. Setelah ini, kamu harus langsung
pulang.Ibumu pasti mencemaskanmu karena ini
sudah larut malam,” ucap ayahku.
“Terima kasih banyak, Om,” sahut Fina.
Setelah Fina membungkus sisa jualannya
dan memberikan pada ayah, dia berpamitan
pulang. Aku dan ayah mengantarnya pulang.
38