“Nada, bukankah ini dompetmu?” tanya
Tasya.
“Betul sekali,” jawab Nada.
“Tuh ‘kan! Betul apa yang kukatakan,
bahwa Esti tidak mungkin mengambil
dompetmu,” celetukku.
“Kita harus segera ke rumah Esti. Kamu
harus meminta maaf pada Esti sekarang juga,
Nad,” kata Jihan.
Mereka bergegas pergi ke rumah Esti.
Sesampai di rumah Esti, orang tuanya
membukakan pintu untuk kami dan menyuruh
langsung menuju kamar Esti.
“Esti, bolehkah aku masuk?” tanyaku di
depan pintu kamar Esti.
89
“Masuk saja,” jawab Esti
Kami berempat masuk ke kamar Esti.
Ketika Esti melihat Nada, tampak wajahnya
sumringah.
“Aku minta maaf, Es! Aku sudah jahat
karena sudah menuduhmu tanpa bukti,” Nada
memeluk Esti.
“Iya, Nad. Aku sudah memaafkanmu,”
jawab Esti.
Nada yang mendengar jawaban Esti
langsung menangis. Kami memeluk Nada
bersama-sama. Akhirnya persahabatan kami
membaik. Setelah kejadian salah paham antara
Nada dan Esti, kami semua belajar untuk menjadi
sahabat yang lebih baik lagi satu sama lain.
90
PERAYAAN KEMERDEKAAN DI
KAMPUNGKU
Oleh Malika Almaira Adinda
Sebentar lagi, kami akan memperingati HUT RI
ke-77. Banyak perlombaan yang diadakan karang
taruna di kampungku sebagai rasa syukur.Lomba
yang diadakan meliputi balap karung, makan
kerupuk, tarik tambang. Tarik tambang menjadi
lomba dengan banyak peminat karena bisa diikuti
anak kecil, remaja, bahkan orang tua.
Salah satu lomba yang saya ikuti adalah
lomba makan kerupuk. Sore itu, banyak remaja
dan anak kecil berkumpul di balai RT. Mereka
menunggu lomba makan kerupuk sembari
mendengarkan lagu yang bertema perjuangan.
91
Salah satu remaja yang mengatur lomba dan
ketua karang taruna bernama mas Dian.
"Merdekaaa!” ucap mas Dian mengawali
acaranya.
"Merdekaaa!” semua yang ada disana juga
menyahut teriakan dengan semangat
Semua peserta yang ingin mengikuti lomba
mendaftarkan diri ke mas Dian. Semua peserta
senang dan bersemangat mengikuti lomba.Kini
giliranku yang dipanggil untuk lomba makan
kerupuk. Aku dengan cepat memakan kerupuk
yang digantungkan untukku.
"Ayo malika kamu pasti bisa!” sorak Ghani.
92
Ghani menjadi peserta pertama yang
memakan kerupuk dengan cepat. Dia pun
menyemangatiku.
"Bentar Ghani, tinggal dikit lagi," sahutku.
Aku terus makan kerupuk dengan lahap.
Akhirnya aku selesai diurutan ke-2,sementara
Ghani menjadi pemenangnya.Aqila dan Ima
berada di posisi ke-3 dan ke-4.
***
Seminggu berlalu, kami masih saja
bercerita tentang keseruan saat
pertandingan.Kini saatnya pentas seni dan
pengumuman nama pemenang masing-masing
lomba.
93
Mas Dian sebagai ketua karang taruna
mengucapkan banyak terima kasih atas
partisipasi adik-adik dalam perayaan lomba HUT
RI ke-77. Semua yang hadir di Balai RT pulang
dengan rasa senang dan menanti keseruan lomba
tahun depan.
94
PERAYAAN AGUSTUSAN DI
KAMPUNGKU
Oleh Afla Dewi Nursifa
Setiap malam 16 Agustus, semua orang
berkumpul untuk mengenang perjuangan
pahlawan yang disebut juga malam Tirakatan. Di
mana, kebiasaan kampungku mengadakan
tumpengan. Acara itu diisi dengan doa bersama
dilanjutkan pemotongan nasi tumpeng dengan
tujuan agar diberi kesehatan dan dilimpahkan
rezeki untuk Warga Negara Indonesia.
Selain itu juga, ada lomba untuk
menambah kemeriahan perayaan 17 Agustus.
Biasanya lomba yang diadakan di kampungku
bermacam-macam. Ada lomba makan kerupuk,
95
tarik tambang, balap kelereng, menangkap belut,
dan banyak lainnya. Kemungkinan jenis-jenis
lomba ini juga diadakan di kampung lain.
Aku selalu merindukan kemeriahan lomba.
Aku bisa berkumpul bersama teman-teman dan
melakukan hal-hal yang menyenangkan. Canda
dan tawa tergambar jelas di wajah semua orang.
Biasanya lomba diadakan sampai dua
minggu. Hadiahnya juga bermacam-macam. Dari
hadiah biasa hingga spesial. Paling sederhana
adalah hadiah berupa pensil dan buku tulis,
sedangkan hadiah terspesial seperti jam dinding,
ransel sekolah, bahkan sepeda.
Selain lomba dan tumpengan,kampungku
juga dihias dengan pernak-pernik ala HUT RI.
96
Biasanya akan ada pemasangan umbul-umbul,
pengecatan jalan, dan gapura kampung. Nuansa
kampungku jelas berwarna merah dan putih. Ciri
khas 17 Agustus.
“Merdeka ... merdeka ... merdeka...!”
Akhir pidato yang dibacakan oleh Pak RT.
97