The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi Cerita Pendek Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Bekerja Sama dengan SDN Tambak Wedi 508 Surabaya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ameilia_Cristiani, 2022-12-07 23:32:21

CERITA GADIS BELIA

Antologi Cerita Pendek Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya Bekerja Sama dengan SDN Tambak Wedi 508 Surabaya

Keywords: belia,remaja,antologi,cerpen,antologi cerpen,6

“Kasihan sekali. Sekecil itu sudah harus
membantu ibunya mencari uang,” kata ayah.

Fina merupakan anak bungsu dari tiga
bersaudara. Ayah Fina sudah meninggal saat dia
masih berusia delapan tahun. Beruntungnya Fina
masih bisa melanjutkan sekolah hingga saat ini.
Berbeda dengan dua kakaknya yang sudah
berhenti sekolah karena terkendala biaya. Kedua
kakaknya harus membantu mencari nafkah. Fina
juga ikut membantu jualan sepulang sekolah.

Aku juga sering bertemu ibu Fina. Ibu Fina
sering memberikan nasihat agar aku tidak
menjauhi anaknya. Kami harus saling
tolong-menolong dan mengasihi sesama. Sebagai
teman, aku selalu mendukung dan mendoakan

39

agar Fina dan keluarganya diberi kesehatan dan
kebahagiaan.

40

PENJUAL BUNGA SUKSES

Oleh Dewi Nabilatus Zahro

Saat kecil, aku suka sekali menanam bunga.
Seperti bunga mawar, melati, dan banyak jenis
lainnya. Aku suka bunga karena wangi dan
cantik. Aku suka menanam bunga bersama
teman-teman kecilku.

Sewaktu remaja cuma ada beberapa jenis
bunga yang masih tumbuh di halaman rumahku.
Ada beberapa jenis yang tidak berhasil tumbuh.
Namun, aku tidak menyerah dan terus belajar
merawat bunga-bunga ini.

“Ayo, kita coba tanam lagi beberapa jenis
bunga lain dengan lebih baik!Siapa tahu nanti

41

bunganya bisa dijual,” ajakku pada teman-teman
yang sama-sama memiliki hobi bertanam.

Kemudian aku bersama teman-teman
mulai menanam beberapa jenis bunga. Ada bunga
mawar, melati, anggrek, matahari, dan banyak
lainnya. Kami menanam di halaman belakang
rumahku. Setiap hari kami rajin menyiram dan
memberikan pupuk terbaik.

***
Beberapa hari kemudian bunga-bunga
yang kami tanam tumbuh subur. Mulai muncul
kuncup-kuncup bunga pada tiap tangkainya.
“Tidak sia-sia. Hasil kerja keras kita
beberapa bulan ini,” kata Dini, salah satu
temanku.

42

“Terima kasih sudah berusaha bersama,
teman-teman,” sahutku.

“Sama-sama, Din. Sangat menyenangkan
bisa berusaha bersama.” ucap Nita, temanku
yang lain sambil tersenyum.

***
Dua minggu kemudian, seluruh bunga
berhasil mekar. Cantik sekali pemandangan
halaman belakang rumahku. Aku memberi ide
untuk menjual bunga-bunga ini. Kami mencoba
menjualnya dengan cara berkeliling.
Namun, sudah beberapa kampung kita
lewati dan tidak ada satupun yang membeli
bunga kami. Padahal bunga-bunga ini sangat

43

cantik. Kemudian kami memutuskan untuk
beristirahat sebentar karena kelelahan.

“Lelah sekali. Mengapa tidak ada satupun
orang yang mau membeli bunga kita?” tanya Dini.

Saat kami beristirahat, datang seorang ibu
mendekat.

“Wah, bagus-bagus sekali bunga ini!
Baunya juga harum,” ucap ibu itu.

“Terima kasih, Bu. Apakah ibu ingin
membeli bunga ini?” tanyaku.

“Oh, bunga-bunga cantik ini di jual ya?”
tanyanya lagi.

“Iya, Bu. Bunga-bunga ini juga kita sendiri
yang merawatnya. Silahkan dibeli, Bu!” kata Dini.

44

“Iya, Nak.” sahut Ibu itu sambil
memberikan uang.

Ternyata uang yang diberikan ibu itu
sangat banyak. Kami semua kaget.

“Apakah uang ini cukup untuk membeli
semua bunga kalian? “ ucap ibu itu.

“Ibu akan membeli semuanya? Ini lebih
dari cukup, Bu,” sahutku

“Jika masih ada kembalian, kalian bawa
saja. Ibu hobi mengoleksi bunga-bunga yang
penuh warna seperti ini, “ tambah ibu itu.

Setelah membeli bunga, ibu itu meminta
kami membantu membawanya pulang ke rumah.
Setelah itu kami kembali ke tempat istirahat
tadi.Kami berdiskusi tentang hasil penjualan ini.

45

Kami memutuskan untuk menabung uang-uang
ini dan memiliki cita-cita untuk membuka usaha
toko bunga bersama. Kami bermaksud untuk
membuka toko bunga kalau uangnya sudah
terkumpul banyak.

Kami mulai berjalan lagi pulang ke rumah.
Saat di jalan, aku membayangkan tentang masa
depan kami.

Sungguh bahagia bisa berteman dengan
mereka. Teman yang memiliki hobi dan kesukaan
yang sama denganku, ucapku dalam hati.

46

KISAH EMPAT SAHABAT

Oleh Dewi Ayu Sekar Sari

Tahun 2019, aku masih kelas tiga SD. Aku
mempunyai tiga sahabat dengan nama grup ZISS.
ZISS adalah singkatan dari nama kami Zahra,
Intan dari namaku, Izza, Safira. Di dalam sebuah
hubungan persahabatan itu pasti ada
pertengkaran, iri, dan banyak hal lain yang bisa
terjadi.

Aku pernah tidak menyapa salah satu dari
mereka karena iri. Safira juga pernah berselisih
dengan Izza dan Zahra karena hal sepele. Setiap
hari, ada saja yang selalu menjadi masalah.

***

47

KRING ....
Suara bel istirahat berbunyi.
Aku membujuk Safira agar mau
menyelesaikan masalahnya dengan Izza dan
Zahra. Kami berempat membuat janji bertemu di
kantin.
"Zahra, Izza, aku minta maaf, ya. Ayo, kita
saling memaafkan saja! Maafkan kesalahanku
kemarin,” kata Safira.
Tidak ada respons sama sekali dari Izza
dan Zahra. Aku memberi kode pada Safira supaya
tidak menyerah. Aku juga membantu untuk
membujuk Izza dan Zahra agar bisa memaafkan
kesalahan Safira. Namun, usahaku dan Safira tak
berhasil. Izza dan Zahra meninggalkan kami

48

berdua untuk main bersama. Safira ingin
mengejar mereka, tetapi aku melarangnya.

“Mungkin mereka masih butuh waktu lagi,
Saf. Kamu yang sabar, ya,” kataku.

Aku dan Safira kembali ke kelas.
Tak terasa bel pulang sekolah berbunyi,
semua berlari meninggalkan kelas.Aku juga
meminta Safira untuk segera pulang. Aku ingin
menemui Izza dan Zahra yang masih tak
memaafkannya. Setelah Safira pulang, aku
mencoba bicara dengan Izza dan Zahra agar
memaafkan Safira.
"Kenapa kalian bersikap begitu pada
Safira?" tanyaku.

49

"Safira, sudah melakukan kesalahan yang
membuatku sangat kesal," ucap Izza.

"Kita ini sudah lama bersahabat loh. Kita
boleh saja bertengkar, tetapi kalian jangan
bersikap terlalu jahat pada Safira," tegurku.

Aku membujuk hingga akhirnya mereka
berdua sepakat untuk menemui Safira. Aku
mengajak mereka semua berkumpul di taman
kompleks nanti sore. Kami bertiga pun pulang ke
rumah masing-masing.

Saat sore tiba, aku langsung bergegas
menuju taman kompleks untuk menemui ketiga
sahabatku. Tak lama setelah aku sampai, terlihat
dari kejauhan Safira datang. Kami berdua
menunggu kedatangan Izza dan Zahra. Setengah

50

jam kami menunggu, mereka berdua tak datang
juga. Aku mencoba menghubungi Zahra, tetapi
tidak dijawab.

“Jika setengah jam lagi Izza dan Zahra tak
datang, kita pulang saja ya, Saf,” ajakku.

“Oke,” jawab Safira singkat.
Kami menunggu satu jam. Izza dan Zahra
sungguh tak datang. Kami berdua memutuskan
untuk pulang. Namun, terlihat kekecewaan di
wajah Safira.
Keesokan harinya, aku menemui Izza dan
Zahra. Aku menegur mereka karena mereka
kemarin tak datang.

51

“Kalian kemarin kenapa enggak dateng ke
taman kompleks? Padahal kemarin kalian berjanji
akan memaafkan Safira!” kataku ketus.

“Maaf, kemarin aku diajak Mamaku pergi
sepulang sekolah,” jawab Izza.

“Kemarin sore Nenekku datang dari desa
jadi aku enggak bisa keluar rumah. Hp-ku juga
mati lupa charge,” jawab Zahra.

“Lalu kapan kalian akan bicara dengan
Safira?” tanyaku.

“Nanti saat istirahat saja kita ketemu di
kantin.Sekalian aku traktir kalian karena dapat
rejeki dari nenek,” jawab Zahra.

Kami semua masuk ke kelas
masing-masing.

52

Bel istirahat berbunyi. Aku mengajak
Safira pergi ke kantin bersama. Kami duduk di
tempat biasa sambil menunggu Izza dan Zahra.
Tak lama kemudian mereka datang dan memeluk
Safira dari belakang dan membuatnya kaget.

“Hai, Safira. Maafkan kita berdua, ya! Kita
sebenarnya sudah memaafkanmu, tetapi kami
hanya ingin tahu bagaimana usahamu,” kata
Zahra.

Safira pun menangis bahagia. Mereka
berempat saling berpelukan. Sesuai janji Zahra,
dia traktir kami bertiga makan kenyang di kantin.
Aku senang sekali akhirnya kami semua kembali
bersahabat seperti biasanya.

53

KENA IMBASNYA

Oleh Chalista Dinda Ramadhani

Aku bersama teman terbaikku, Keiko, sedang
berjalan kaki pulang ke rumah bersama. Di
tengah perjalanan, kami menemukan uang jatuh
di tengah jalan. Aku yang melihatnya langsung
mengambil dengan gembira.

"Hei, Chalista jangan ambil uang itu
sembarangan. Itu ‘kan bukan milikmu,” teriak
Keiko mengejutkanku.

“Tak apalah, Keiko. ‘Kan bisa saja ini
rezekiku. Ini uangnya ‘kan sepuluh ribu, nanti
aku bagi deh sama kamu,” jawabku santai.

54

“Udah deh, jangan sembarangan
mengambil duit orang. Bisa saja kamu kena
imbasnya nanti,” ucap Keiko mengingatkan lagi.

”Ya sudah kalau kamu tidak mau. Nanti
kamu yang rugi sendiri,” jawabku.

Aku tak menghiraukan omongan Keiko dan
langsung berlari kencang meninggalkannya.
Namun, karena berlari terlalu kencang aku
tersandung batu dan terjatuh. Lutut dan
tanganku terluka.

“Tolong ... tolong ... Keiko tolong aku!”
teriakku kesakitan.

“Kamu baik-baik saja, Chalista?” tanya
Keiko yang langsung berlari ke arahku.

55

“Tangan dan lututku lecet,” jawabku
pelan.

“Sudah ku bilang ‘kan nanti kena
imbasnya. Lebih baik sekarang letakkan kembali
uang yang kamu temukan tadi. Atau mungkin
lebih baik kamu kasih saja ke pengemis,” jawab
Keiko.

Akhirnya Keiko membantuku bangun dan
berjalan pelan-pelan. Aku juga memutuskan
untuk memberikan uang yang kutemukan tadi
pada pengemis karena takut celaka lagi. Aku juga
sadar bahwa Keiko adalah sahabat yang terbaik
karena dia menasihatiku untuk tidak berbuat
hal-hal yang jahat dan merugikan.

56

KISAH DIVA

Oleh Aurel Reyza Dinda

Di sebuah desa tinggallah sebuah keluarga kecil
yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
Mereka tinggal di gubuk kecil. Pak Hadi dan bu
Rina memiliki seorang anak yang bernama Diva.
Meskipun hidup miskin, Diva tidak pernah
mengeluh. Orang tua Diva sudah tua, tetapi
mereka masih kuat dan semangat untuk mencari
nafkah.

Suatu hari, pak Hadi mengalami gagal
panen yang menyebabkan kerugian yang sangat
besar. Hal itu membuat perekonomian keluarga
pak Hadi semakin memburuk. Pak Hadi dan bu
Rina memutuskan agar Diva berhenti sekolah

57

dulu. Mereka tidak memiliki biaya untuk sekolah
Diva. Diva yang mengetahui hal itu juga
menerima keputusan orang tuanya meskipun
dengan berat hati.

Sembari pak Hadi menanam bibit baru lagi
di kebun dan merawatnya hingga panen, beliau
membantu temannya menjual hasil kebun. Pak
Hadi melakukan itu semua untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.

“Sayur segar ... sayur segar ... ayo dibeli
...!” teriak pak Hadi menjajakan jualannya
keliling kampung.

Hasil yang didapat tidak banyak, tetapi
cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

***

58

Sementara bu Rina bertugas
membersihkan rumah dibantu oleh Diva.

“Div … Diva …!” teriak bu Rina.
"Iya, Bu. Ada apa, Bu?” jawab Diva
menghampiri bu Rina.
“Ibu boleh minta tolong pada Diva?” tanya
bu Rina.
"Boleh, Bu. Apa yang bisa Diva bantu,
Bu?" jawab Diva.
"Tolong bersihkan halaman depan rumah
ya, Nak!” kata Bu Rina.
“Siap, Bu,” jawab Diva langsung bergegas
mengambil sapu.
Sore pun tiba, matahari mulai terbenam.
Dagangan pak Hadi tidak terlalu laris, tetapi

59

beliau tetap bersyukur. Pak Hadi pulang ke
rumah disambut aroma masakan yang sedap
ketika membuka pintu.

“Wah, harum sekali masakannya! Pasti
enak ini rasanya,” teriak pak Hadi sambil berjalan
menuju meja makan.

“Jelas dong, Pak. Ini semua masakan Diva,
loh,” jawab bu Rina.

“Hehe ... iya, Pak.Langsung kita makan
saja,” jawab Diva malu.

Selesai makan, Diva bertugas
membersihkan piring yang kotor. Kemudian
berkumpul dengan pak Hadi dan bu Rina di teras
depan rumah.

60

“Bapak sangat bersyukur karena kita
masih bisa makan bersama seperti tadi,” kata
pak Hadi sambil bersantai.

Terlalu asyik kami mengobrol dan
bercanda sampai tak terasa malam semakin
larut. Kami segera tidur.

Keesokan hari, matahari bersinar pertanda
pagi tiba. Pagi ini langit-langit sangat cerah.

KUKURUYUK ... KUKURUYUK ....
Terdengar kokok ayam jantan berbunyi.
Diva terbangun dari tidurnya. Pak Hadi sudah
bersiap-siap untuk pergi ke kebun memeriksa dan
merawat tanaman.
“Pak, aku boleh ikut ke kebun hari ini?”
tanya Diva.

61

“Boleh, kalau memang Diva mau ikut
bapak,” jawab pak Hadi.

“Asyik, Diva ikut bapak ke kebun, ya, Bu”
Diva berpamitan kepada bu Rina.

“Ibu juga boleh ikut ‘kan, Pak? Kami akan
membantu pekerjaan bapak,” tambah bu Rina.

Mereka bertiga pergi ke kebun bersama
untuk merawat tanaman. Hal itu mereka lakukan
setiap hari. Setelah selesai mengurusi kebunnya,
pak Hadi pergi mengambil sayuran untuk dijual di
rumah temannya. Sedangkan bu Rina dan Diva
menunggu di rumah. Begitulah rutinitas mereka
setiap harinya.

62

Berkat ketelatenan mereka bertiga yang
setiap hari dengan sabar merawat tanaman,
sepertinya kali ini bisa panen besar.

“Bu, sepertinya panen kali ini akan
berhasil. Lihatlah wortel dan sayuran lain yang
mulai tumbuh besar,” kata pak Hadi sambil
menyiram tanaman.

“Iya, Pak. Semoga kita bisa panen kali ini,”
jawab bu Rina.

***
Beberapa bulan berlalu, tanaman di kebun
pak Hadi waktunya panen. Mereka senang sekali
karena bisa panen.
“Akhirnya kita panen, Bu,” kata pak Hadi
senang.

63

“Iya, Pak. Ayo kita bantu untuk panen,
Pak!” jawab bu Rina sambil mengajak Diva.

Seharian mereka habiskan waktu di kebun
untuk mengambil semua hasil panen. Mereka
membungkus hasil panen dengan rapi agar bisa
dijual.

Keesokan harinya, pak Hadi menjual hasil
panennya ke tengkulak. Semua hasil panen pak
Hadi laku. Pak Hadi pulang ke rumah membawa
uang dari menjual hasil panen.

“Bapak pulang!” teriak Pak Hadi.
“Bagaimana hasil panen kita, Pak?” tanya
bu Rina tak sabar.
“Alhamdulillah semua laku terjual, Bu,”
jawab pak Hadi senang.

64

“Wah, Alhamdulillah, Pak,” teriak Diva
kegirangan.

“Iya, Nak. Akhirnya kamu bisa kembali
bersekolah lagi,” kata Pak Hadi.

65

WEEKEND BERSAMA KELUARGAKU

Oleh Devanny Putri Pratiwi

Setiap sore sepulang kerja, mama dan ayah
selalu membawakan buah tangan untukku.
Biasanya sih, mereka membawa makanan
kesukaanku. Namun, suatu sore saat aku
membukakan pintu, mereka tidak membawa
apa-apa untukku. Seketika aku mengerutkan
wajah, pertanda kecewa.

"Kenapa, Kak?" tanya mama sambil
tersenyum.

"Ya, Ma. Tidak ada apa-apa kok, Ma,"
jawabku.

66

Namun, sepertinya mama tahu kalau aku
kecewa karena mereka tidak membawa sesuatu
untukku sore itu.

"Sini Kak, Mama mau bicara sebentar. Kak,
besok Sabtu kamu siapkan beberapa baju ya!"
kata mama sambil memelukku.

"Memang kita mau kemana,Ma?" tanyaku
kaget.

"Ya ... mau jalan-jalan dong, Kak," jawab
mama.

"Hore ...! Akhirnya kita jalan-jalan,”
teriakku kegirangan.

Seketika aku melompat karena gembira,
sebab sudah lama sekali semenjak pandemi mama
dan ayah sangat membatasi aktivitasku di luar

67

rumah apalagi untuk pergi keluar kota.
Tujuannya sih, agar kami semua terhindar dari
penyakit yang sedang mewabah.

Setelah mama menyampaikan hal itu,
seketika pikiranku menjadi tidak karuan. Hatiku
berdebar-debar karena tak sabar menunggu hari
Sabtu datang.

Matahari bersinar, tepat tanggal 4
Desember 2021. Aku bangun dari tidur dan
langsung bergegas mandi. Seharian aku
menunggu mama dan ayah pulang kerja. Ketika
menunggu mereka pulang, ternyata kami tidak
hanya pergi sekeluarga. Kami pergi bersama
rombongan teman kantor mama. Rata-rata
teman mama membawa suami dan anaknya.

68

Namun, berbeda dengan Mama yang mengajak
keluarga kecilnya ditambah eyang. Maklum,
eyang sendirian di rumah sehingga setiap kami
pergi ke mana saja pasti selalu diajak. Eyang juga
yang selalu menemaniku dan adik setiap saat.

Pukul 12.30 rombongan kami berangkat
menuju Kota Batu menggunakan bus.

"Ma, kita akan menginap atau langsung
pulang malamnya?" tanyaku.

"Kita akan menginap kok, Kak," jawab
mama.

"Kita menginap di mana, Ma? Hotel atau
Villa, Ma?" tanyaku yang penasaran.

Sambil tersenyum Mama menjawab "Di
Hotel Royal Orchid, Sayang."

69

Aku langsung browsing bagaimana bentuk
dan fasilitas yang ada di hotel itu.

Setiba di hotel, kami sekeluarga langsung
masuk kamar. Ayah sekamar dengan mama dan
adik. Sedangkan aku sekamar eyang.

Setelah beristirahat sebentar, Mama
mengetuk pintu kamarku.

"Kak, ayo keluar! Waktunya makan
malam."

Aku dan eyang kemudian keluar menuju
ruang makan. Setelah kenyang, kami sekeluarga
jalan-jalan di sekitar area hotel untuk menikmati
udara segar di Kota Batu. Tak lupa, kami selalu
berfoto untuk kenang-kenangan.

70

Kota Batu memang berada di pegunungan
sehingga udaranya terasa berbeda dengan di
kota. Sejuk dan asri. Begitulah yang kurasakan di
sini. Setelah capek menikmati udara di luar, kami
langsung menuju kamar untuk beristirahat.

KUKURUYUK ....
Terdengar suara ayam jantan berkokok.
Aku langsung terbangun dan melihat ke arah jam
dinding yang sudah menunjukkan pukul 05.30.
Kubuka jendela kamar, tampak matahari
menyinari seisi kamar dan membuat eyang juga
ikut terbangun. Aku membuka pintu dan menuju
balkon hotel sembari menikmati keindahan
pemandangan pagi dengan panorama alam
pegunungan. Eyang menyusulku. Eyang sangat

71

senang dengan pemandangan alam seperti ini.
Tak lupa, kami berfoto bersama sambil menikmati
teh hangat buatan eyang.

"Hemmm .... Terasa nyaman sekali,
menikmati teh hangat sambil melihat
pemandangan alam," kata eyang.

"Kak, ayo kita keluar. Kalian ikut renang
tidak?" tanya mama sambil membuka pintu
kamarku.

"Pasti ikut dong, Ma. Tunggu kita ya, Ma!
Kita mau ganti baju dulu," sahutku.

Aku bergegas berganti baju dan keluar
menuju kolam renang. Setiba di kolam renang,
ternyata sudah banyak teman kantor mama dan

72

anak-anaknya di sana. Akhirnya kami bermain
dan bersenda gurau bersama.

Tak terasa waktu sudah siang, kami
bergegas beres-beres kamar dan bersiap untuk
pulang. Namun, tidaklah enak kalau pulang
jalan-jalan tidak membawa buah tangan.
Biasalah ibu-ibu ‘kan selalu suka belanja.
Akhirnya bus kami mampir ke Alun-alun Batu.
Mama dan eyang sedang antri membeli susu.
Adik dan ayah asyik bermain di area sekitar
alun-alun. Aku membeli jajanan yang
mengeluarkan asap yang entah apa namanya.
Namun, ketika aku memakannya mulutku sakit
seperti terbakar.

73

Setelah semua selesai belanja dan
bermain, kami kembali ke bus. Aku masuk bus
terlebih dahulu. Dari jauh, aku melihat mama
dan eyang membawa susu khas Kota Batu begitu
banyak. Mama tahu kesukaan anak dan
keponakannya.

Setelah semua lengkap, bus kembali
melanjutkan perjalanan. Bus kami kembali
berhenti di Masjid Cheng-Ho. Di sini, banyak
penjual berbagai buah tangan dengan harga yang
murah. Kami juga berfoto-foto di sana karena
masjidnya sangat bersih dan indah.

Setelah puas, kami kembali masuk ke bus
dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Kami sampai di rumah dengan selamat. Aku

74

sangat senang sekali di liburan weekend kali ini
yang sudah lama tak pernah kami lakukan sejak
pandemi.

75

CITA-CITA IDAMAN

Oleh Whyza Febyoena Azzahra

Ini cerita tentang cita-citaku yang ingin menjadi
seorang guru. Mengapa guru? Karena aku
merasa menjadi guru sangat seru dan menarik.
Selain itu, guru juga keren karena bisa
memberikan ilmu dan membuat anak menjadi
pintar. Aku sangat suka sekali pelajaran Tema,
Matematika, PJOK, dan Pendidikan Agama.

Menjadi guru sepertinya susah, tetapi juga
mudah. Guru harus sabar menghadapi
murid-murid yang nakal. Waktu itu temanku yang
bernama Aris, Alfian, dan Zen bermain bola di
dalam kelas. Mereka bertiga membuat

76

kegaduhan. Namun, guruku dengan sabar
menghadapinya.

“Aris, Alfian, Zen! Ibu lihat kalian jago
bermain bola. Kalau menurut ibu, alangkah
baiknya keahlian kalian dilakukan di lapangan
bola saja. Di sana, kalian bisa menunjukkan
kemampuan,” pesan Bu Guru.

Selain menyukai mata pelajaran tadi, aku
juga sangat suka mengunjungi perpustakaan
sekolah. Di sana, banyak koleksi buku untuk
dibaca. Perpustakaan adalah tempat favoritku.
Buku juga bisa menjadi guru kita karena berisi
pengetahuan dan ilmu.

Selain membaca, petugas perpustakaan
juga mengajariku menulis cerpen. Aku sangat

77

senang sekali. Ternyata menulis cerpen juga ada
tantangannya. Aku harus memperhatikan unsur
intrinsik dan ekstrinsik di dalam cerpen
buatanku. Namun, yang terpenting dalam
membuat cerpen adalah tidak boleh ada unsur
plagiasi. Plagiasi adalah mengambil karya orang
lain lalu diakui sebagai karya kita. Itu sama saja
dengan perbuatan berbohong.

Aku semakin yakin kalau menjadi guru
adalah cita-cita yang ingin aku wujudkan. Guru
menjadi pekerjaan yang mulia dan baik, karena
selalu berbagi ilmu dan pengetahuan yang
membuat orang lain menjadi pintar serta memiliki
wawasan yang luas.

78

BERSEPEDA DI TAMAN SURABAYA

Oleh Rizqi Aulia Putri

Pada hari Minggu, aku dan teman-teman
berencana akan bersepeda bersama ke Taman
Surabaya. Kami berangkat pukul 05:30 dengan
membawa makanan dan minuman secukupnya.
Kami bertiga menelusuri jalan dengan santai
sambil bercanda. Di tengah perjalanan, kami
bertemu dengan beberapa teman lain yang juga
sedang bersepeda. Kami saling menyapa.
Suasana semakin meriah dan ramai.

Di belokan jalan, kami bercanda dan tanpa
sengaja sepeda Vita menyenggol Melina. Melina
akhirnya terjatuh dari sepeda. Akibatnya

79

suasananya menjadi tidak nyaman karena terjadi
perdebatan antara Vita dengan Melina. Melihat
itu, aku harus ikut campur menyelesaikan
masalah mereka.

“Vit, sudah. Mel, sudah,” ucapku dengan
maksud menengahi.

Ternyata mereka berdua tidak
menghiraukan dan semakin meninggikan suara.
Aku langsung saja memegang tangan mereka
masing-masing. Mereka terkejut.

“Jadi bersepeda ‘kan? “ tanyaku.
“Jadi, “ ucap mereka bebarengan.
Mereka terdiam, mungkin sedang berpikir.
Vita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Kami bergegas. Tidak berselang lama, kami

80

sampai di Taman Surabaya. Taman Surabaya
ramai sekali saat itu.

Di sana, kami bermain ayunan, berkeliling,
dan tidak lupa berfoto. Kami merasa senang dan
bermain hingga puas. Tiga puluh menit kemudian,
kami memutuskan untuk beristirahat menikmati
bekal yang dibawa. Vita dan Melina berbagi
bekal. Melihat itu, aku sangat senang.

“Begitu dong, jadi seneng ‘kan lihatnya.”
Setelah puas bermain, kami memutuskan
untuk pulang. Sampai di persimpangan jalan,
kami berpisah ke arah masing-masing. Sebelum
berpisah, kami sepakat untuk mengadakan
kegiatan bersepeda lagi. Namun, ke tujuan yang

81

lain. Aku sangat senang bisa bersepeda
bersama seperti ini.

82

SALAH PAHAM

Oleh Deswita Anggraini

Tasya, Jihan, Esti, dan Nada adalah empat
sahabatku sejak masuk SMP. Kami tinggal di
salah satu kompleks perumahan. Rumah kami
berdekatan sehingga sering main bareng di
taman kompleks perumahan. Terkadang kami
juga pergi liburan bersama.

“Halo, sahabatku semua. Aku punya
rencana bagus, nih. Kalian mau tahu enggak?”
tanyaku ketika mendatangi semua sahabatku
yang sudah berkumpul.

“Apa rencanamu kali ini?” tanya Nada.
“Bagaimana kalau Minggu depan kita pergi
ke Pantai Kenjeran?” tanyaku.

83

“Wah ... pasti seru sekali! Ayo
teman-teman kita pergi bersama!” ajak Jihan.

“Boleh, bagaimana Sya, Es?” tanya Nada
pada Tasya dan Esti.

Mereka berdua mengangguk setuju.
Kami meminta izin kepada orang tua
masing-masing. Setelah mendapat izin, kami
bersiap-siap dan berkumpul di rumah Tasya
karena sopirnya yang akan mengantar.
“Kalian sudah siap? Sudah tidak ada
barang tertinggal ‘kan?” tanya Tasya
memastikan.
“Sudah, Sya. Kita semua sudah siap untuk
berangkat,” jawab Jihan penuh semangat.

84

Akhirnya kami semua berangkat dan
membawa barang bawaan masing-masing.
Sesampai di pantai, sopir Tasya meninggalkan
kami dan akan menjemput kembali setelah
selesai.

“Seru sekali, kita bisa pergi sendiri!”
seruku.

“Kita cari tempat yang teduh untuk
meletakkan barang-barang,” kata Nada.

“Ayo kesana!” teriak Tasya.
“Aku di sini dulu ya, karena perutku masih
sakit,” kata Esti.
“Kamu baik-baik saja ‘kan?” tanyaku.
“Aku baik-baik saja kok,” jawab Esti

85

“Baiklah kamu di sini sambil menjaga
barang-barang kita ya, Es,” kata Jihan sambil
berlari ke bibir pantai dan meninggalkan Esti
sendirian.

Semua bermain seru di pantai, tetapi Esti
terdiam sambil menjaga barang-barang
temannya. Setelah semua puas bermain, mereka
kembali untuk membersihkan diri. Semua
mengambil barangnya dan membawa ke kamar
bilas. Esti tetap menunggu di tempat yang sama
sambil menikmati jajanan yang ia bawa.

Setelah selesai bilas, Nada kembali dengan
raut wajah sedih.

“Dompetku tidak ada di tas,” lirih Nada.

86

“Apa kamu yakin? Kamu sudah
mencarinya?” tanyaku.

“Esti, di mana dompetku?” teriak Nada.
“Aku tidak tahu.Dari tadi, aku hanya
menunggu di sini tanpa mengotak-atik
barang-barang kalian,” jawab Esti.
“Kamu jangan asal tuduh begitu, Nada,”
kata Jihan.
“Kamu menjaga barang begini saja enggak
becus, Es,” Nada marah.
Tasya menghubungi sopirnya agar segera
menjemputnya dan teman-teman. Tak lama
setelah menunggu, sopir Tasya pun datang.
Mereka semua pulang. Suasana dalam mobil
menjadi kurang nyaman karena Nada menuduh

87

Esti. Esti memang dari keluarga yang kurang
mampu. Mungkin karena itu, Nada menuduhnya.

Setelah kejadian itu, hubungan kami
menjadi renggang. Aku berusaha menjelaskan
pada Nada bahwa tidak mungkin Esti berbuat
seperti itu.

Seminggu berlalu, usahaku mendamaikan
Nada dan Esti belum berhasil. Nada tidak mau
berbicara dengan Esti. Sepulang sekolah kami
bermain ke rumah Nada. Aku, Tasya, dan Jihan
masih berusaha mencari cara agar Nada tidak
memusuhi Esti.

Namun, ketika Tasya duduk di dekat lemari
pakaian Nada, dia melihat sesuatu di bawah
kasur. Tasya mencoba meraih benda itu.

88


Click to View FlipBook Version