i
i
ii
iii Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat-Nya sehingga Buku Pengayaan Praktikum Kimia dapat terbit di hadapan kita. Buku Pengayaan Praktikum Kimia diterbitkan sebagai buku pendamping siswa dalam belajar terutama kerja praktik selain buku materi yang telah dimiliki siswa. Adapun muatan yang ada dalam buku ini berupa uraian materi tentang alat dan bahan laboratorium kimia, keselamatan kerja di laboratorium kimia serta prosedur kerja praktikum kimia yang terintegrasi berkarakter bangsa serta telah disesuaikan dengan kurikulum 2013. Sehingga akan mempermudah siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru. Keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran sangat dibutuhkan. Oleh karena itu diperlukan pengorganisasian materi yang dapat mendorong peningkatan semangat siswa dalam belajar. Kami menanggapi tuntutan tersebut dengan menghadirkan buku ini. Penggunaan bahasa yang baku dalam penulisan buku ini diharapkan dapat mempermudah siswa memahami cara kerja dari praktikum kimia. Penyusun menyadari bahwa Buku Pengayaan Praktikum Kimia ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam rangka memperbaiki dan mengembangkan buku ini selanjutnya. Semoga Buku Pengayaan Praktikum Kimia ini dapat memberikan banyak ilmu yang bermanfaat. Penulis
iv Daftar Isi Judul .........................................................................................................................................i ISBN dari Penerbit ........................................................................................................................ii Kata Pengantar ..............................................................................................................................iii Daftar Isi .......................................................................................................................................iv BAB 1 Keamanan Dan Keselamatan Kerja Di Laboratorium 1. Alat Laboratorium Kimia ……………………………………………………………... 1 2. Bahan Laboratorium Kimia …………………………………………………………… 18 3. Penanganan Bahan Beracun Dan Berbahaya ………………………………………… 32 4. Petunjuk Umum Penanganan Kebakaran ……………………………………………. 33 5. Penanganan Kecelakaan Di Laboratorium …………………………………………… 34 BAB II Prosedur Praktikum Kimia 1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Gula Dalam Air ………………………. 36 2. Membedakan Senyawa Ion Dan Senyawa Kovalen …………………………………… 38 3. Membedakan Senyawa Kovalen Polar Dan Non Polar ……………………………….. 40 4. Uji Larutan Elektrolit Dan Non Elektrolit …………………………………………….. 42 5. Mengamati Reaksi Reduksi-Oksidasi ………………………………………………… 45 6. Menyelidiki Perbandingan Massa Zat Untuk Membentuk Senyawa …………………. 47 7. Hukum Kekekalan Massa …………………………………………………………….. 49 8. Mengidentifikasi Unsur C, H, Dan O Dalam Senyawa ……………………………….. 51 9. Menentukan Jenis Reaksi Endoterm Dan Eksoterm ………………………………….. 54 10. Menentukan Perubahan Entalpi Reaksi Kimia Menggunakan Kalorimeter Sederhana … 55 11. Membandingkan Kalor Pembakaran Minyak Tanah Dan Solar ………………………. 57 12. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi …………………………………………. 59 13. Pengaruh Luas Permukaan Bidang Sentuh Terhadap Laju Reaksi …………………… 60 14. Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi ………………………………………………… 61 15. Pengaruh Katalis Terhadap Laju Reaksi ……………………………………………… 62 16. Pengaruh Konsentrasi Terhadap Kesetimbangan …………………………………….. 63 17. Pengaruh Suhu Terhadap Kesetimbangan ……………………………………………. 65 18. Pengaruh Katalis Terhadap Kesetimbangan ………………………………………….. 66
v 19. Uji Asam-Basa ………………………………………………………………………… 67 20. Membedakan Kekuatan Asam-Basa …………………………………………………... 69 21. Uji Sifat Asam-Basa Berbagai Larutan Garam ……………………………………….. 70 22. Membuat Larutan Penyangga …………………………………………………………. 71 23. Menentukan Kadar Cuka Dengan Metode Titrasi Asam-Basa ……………………….. 73 24. Memisahkan Campuran Kation ………………………………………………………. 75 25. Mengamati Sifat-Sifat Koloid ………………………………………………………… 76 26. Pembuatan Koloid ……………………………………………………………………. 78 27. Kenaikan Titik Didih Larutan ………………………………………………………… 80 28. Penurunan Titik Beku Larutan ………………………………………………………… 81 29. Menentukan Daya Reduksi Logam …………………………………………………… 83 30. Menyelidiki Harga Potensial Sel Volta ……………………………………………….. 84 31. Mengamati Proses Penyepuhan Logam ………………………………………………. 86 32. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Korosi ………………………………………….. 87 33. Uji Nyala Unsur Alkali Dan Alkali Tanah ……………………………………………. 88 34. Mengamati Daya Oksidasi Halogen Dan Daya Reduksi Ion Halida ………………….. 89 35. Mengamati Sifat Amfoter Aluminium ………………………………………………… 91 36. Mengidentifikasi Alkohol Primer, Sekunder, Dan Tersier ……………………………. 92 37. Membedakan Alkohol Dan Eter ………………………………………………………. 93 38. Membedakan Aldehid Dan Keton …………………………………………………….. 94 39. Membuat Senyawa Ester Melalui Reaksi Esterifikasi ………………………………… 95 40. Uji Karbohidrat ……………………………………………………………………….. 96 41. Uji Protein …………………………………………………………………………….. 98 Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………… 100 Profil Penulis ……………………………………………………………………………….. 101
1 BAB I KEAMANAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM A. Pendahuluan Ilmu yang mempelajari alam semesta disebut Ilmu pengetahuan Alam. Ilmu kimia adalah salah satu di antara ilmu-ilmu IPA. Hampir tidak ada kejadian di dunia ini yang terjadi tanpa adanya suatu reaksi kimia. oleh karena itu, ilmu kimia merupakan ilmu yang menyangkut proses yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ilmu kimia adalah ilmu pemahaman dan rekayasa materi. Rekayasa berarti mengubah suatu materi menjadi materi yang lain. Untuk dapat melakukan rekayasa, para ahli perlu memahami ilmu kimia, yaitu mengetahui susunan, struktur, sifat, perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan tersebut. Para ahli kimia melakukan studi atau penelitian untuk kepentingan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup berkat penerapan dan pengaplikasian ilmu kimia. Dalam hal ini seorang peneliti harus menguasai metode ilmiah dalam proses penelitiannya. Di dalam melakukan penelitian biasanya dengan cara melakukan kerja praktikum. Sebelumnya peneliti harus menguasai dan memahami tentang alat, bahan dan cara kerja di laboratorium kimia untuk memperoleh hasil sesuai yang diharapkan. Hal ini dilakukan agar keamanan dan keselamatan kerja di laboratorium dapat terjaga. Sebelum pembahasan tentang prosedur kerja praktikum kimia, sebaiknya dipahami dahulu tentang Keamanan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium. 1. Alat laboratorium Kimia Ilmu kimia adalah ilmu yang berlandaskan eksperimen. Oleh karena itu tidaklah mungkin belajar kimia tanpa melakukan eksperimen di laboratorium. Dengan melakukan eksperimen di laboratorium, dapat membantu dalam memahami konsep-konsep kimia, membuktikan berbagai konsep, dan melakukan penelitian sederhana. Sebelum anda melakukan eksperimen di laboratorium, anda perlu mengetahui fungsi berbagai alat dan bahan yang digunakan. Peralatan laboratorium sebagian besar terbuat kaca yang bersifat mudah pecah. Beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan sebelum anda bekerja di laboratorium : a. Persiapan Setiap kali melakukan praktikum di laboratorium, persiapkan hal-hal berikut: 1. Jas praktikum 2. Serbet / kain lap 3. Catatan praktikum / kertas kerja b. Memahami Materi yang Akan Dipraktikkan Pelajari materi yang akan dipraktikkan. Anda harus mengetahui kegiatan yang akan dilakukan, alat dan bahan yang dibutuhkan, cara kerja, serta hal-hal khusus untuk mencegah bahaya yang mungkin terjadi. c. Tertib selama berada di laboratorium Selama berada di laboratorium, praktikan harus menjaga ketertiban, kebersihan, serta keselamatan diri dan orang lain.
2 d. Memahami dan Dapat Menggunakan Berbagai Peralatan Laboratorium. Pahami dan pelajari penggunaan berbagai peralatan laboratorium dan kegunaannya. Berikut daftar peralatan laboratorium dan kegunaannya. 1. Peralatan Pelindung Diri di Laboratorium Peralatan pelindung diri di laboratorium adalah alat kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja di laboratorium sesuai dengan bahaya dan resiko kerja. Hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan pekerja maupun orang lain saat berada ditempat kerja. Alat pelindung diri saat bekerja di laboratorium sebagai berikut: a. Jas Laboratorium https:// www.google.com/jas laboratorium Jas laboratorium berfungsi melindungi badan dari percikan bahan-bahan kimia yang berbahaya. Untuk pekerjaan yang berhubungan dengan mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan herbisida maka digunakan jas laboratorium sekali pakai. Setelah dipakai jas laboratorium dibuang atau dimusnahkan. Jas laboratorium yang digunakan dilaboratorium kimia dapat digunakan berkali-kali. Bahannya terbuat dari polyester atau campuran antara polyester dan katun. Jas laboratorium diperkirakan memiliki umur pakai sekitar satu sampai dua tahun. Setelah melewati waktu pakai tersebut, biasanya jas ini akan rentan kerusakan karena pengaruh bahan kimia asam. Untuk penelitian yang menghasilkan panas diperlukan jas laboratorium yang bahannya dilapisi material tahan api. Jas cocok digunakan saat harus melakukan peleburan sampel tanah, pembakaran dengan tanur tinggi, dan reaksi kimia yang menghasilkan panas. Untuk penelitian yang berhubungan dengan nuklir maka jas laboratorium harus terbuat dari bahan yang tahan radiasi. Biasanya menggunakan bahan timbal. Selain material yang sesuai dengan keperluan penelitian, jas laboratorium harus nyaman dan disertai kancing yang baik.
3 b. Kacamata https://www.google.com/kacamata clear safety glasses https://www.google.com/kacamata clear safety goggles Percikan larutan kimia atau panas dapat membahayakan mata orang yang bekerja di laboratorium. Oleh karena itu, mereka harus menggunakan kacamata khusus yang tahan terhadap potensi bahan kimia dan panas. Kacamata tersebut terbagi menjadi dua jenis yaitu clear safety glasses dan clear safety goggles. Clear safety glasses digunakan untuk melindungi mata dari percikan larutan kimia atau debu. Clear safety goggles digunakan untuk melindungi mata dari percikan bahan kimia atau reaksi kimia berbahaya. c. Sarung tangan https://www.google.com/sarung tangan lab kimia
4 Sarung tangan/gloves digunakan untuk melindungi tangan dari ceceran larutan kimia yang bias membuat kulit gatal atau melepuh. Sarung tangan di laboratorium biasanya terbuat dari bahan karet alam, karet neopran, karet nitril dan asbes. Sarung tangan juga wajib digunakan saat melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan panas misalnya dengan api Bunsen atau tanur. Sarung tangan yang terbuat dari karet alam, ada yang dilengkapi dengan serbuk khusus dan ada yang tanpa serbuk. Serbuk itu umumnya terbuat dari tepung kanji. Fungsinya untuk melumasi sarung tangan agar mudah digunakan. d. Sepatu https://www.google.com/sepatu lab Sandal atau sepatu sandal dilarang digunakan ketika bekerja di laboratorium. Hal ini dikarenakan keduanya tidak bias melindungi kaki ketika larutan atau bahan kimia tumpah.Sepatu biasa umumnya sudah cukup sebagai pelindung. Namun di laboratorium atau perusahaan besar sepatu yang digunakan haruslah sepatu keselamatan yang tahan api dan tekanan tertentu. Selain itu disediakan juga plastic alas sepatu untuk menjaga kebersihan laboratorium jika sepatu tersebut digunakan untuk keluar dari laboratorium. e. Masker Gas https://www.google.com/masker gas
5 Bahan kimia atau reaksi kimia yang dihasilkan bias mengeluarkan gas berbahaya. Oleh karena itu masker gas sangat cocok digunakan sehingga gas berbahaya tersebut tidak terhirup. Dilihat dari jenisnya, masker gas bisa berupa masker gas biasa yang terbuat dari kain dan masker gas khusus yang dilengkapi material pengisap gas. Masker gas biasa umumnya digunakan untuk keperluan umum, misalnya membuat larutan standar. Sementara itu, masker gas khusus digunakan saat menggunakan larutan atau bahan kimia yang memiliki gas berbahaya, misalnya asam klorida, asam sulfat, dan asam sulfida. f. Pelindung Muka https://www.google.com/pelindung muka Pelindung muka dugunakan untuk melindungi muka dari panas, api, percikan material panas. Alat ini biasa digunakan saat mengambil alat laboratorium yang dipanaskan di tanur bersuhu tinggi, meleburkan sampel tanah di alat peleburan skala laboratorium, dan mengambil peralatan yang dipanaskan dengan autoclave. g. Pelindung Telinga https://www.google.com/pelindung telinga lab
6 Alat pelidung diri yang terakhir adalah pelindung telinga (hear protector). Alat ini lazim digunakan untuk melindungi telinga dari kebisingan yang dikeluarkan oleh peralatan tertentu, misalnya autoclave, penghalus sampel tanah (crusher), sonikator, dan pencuci alat-alat gelas yang menggunakan ultrasonic. 2. Peralatan Keselamatan di Laboratorium Selain harus menggunakan alat pelindung diri, orang yang bekerja di laboratorium kimia harus mengetahui peralatan keselamatan laboratorium. Secara prinsip, peralatan tersebut digunakan bila terjadi situasi gawat darurat. Berikut beberapa contoh peralatan standard keseslamatan tersebut. a. Pembasuh Mata Pembasuh mata (eye wash) berfungsi membasuh mata yang terkena cairan kimia, debu, atau butiran-butiran halus yang berterbangan. Cara kerjanya, basuh mata dengan air bersih yang mengalir dari alat itu untuk beberapa saat. Saat membasuh, pastikan tangan anda bersih sehingga tidak menyebabkan iritasi mata. b. Selimut Api Cairan kimia yang tumpah bisa saja menghasilkan api. Guna memadamkannya, digunakan selimut api (fire blanket). Pastikan anda memakai sarung tangan saat menggunakan atau membersihkan alat tersebut. c. Safety Shower Jika secara tidak sengaja terkena tumpahan cairan kimia maka segeralah menuju ke safety shower. Guyur badan anda dengan air dari alat tersebut. Hal ini dimaksudkan agar badan anda terbebas dari larutan kimia sehingga terhindar dari luka atau cedera. d. First Aid Kist Kotak obat untuk pertolongan pertama (fisr aid kist) berguna bila terjadi kecelakaan ringan, misalnya tangan tergores oleh suatu benda tajam. Kotak ini biasanya berisi obat luka, gunting, perban, dan alkohol. e. Spill Neutralizers Meskipun sudah bekerja dengan hati-hati, terkadang larutan kimia dapat tumpah ke lantai. Jika hal ini terjadi, Spill Neutralizers digunakan untuk menetralkan cairan kimia yang tumpah tersebut. Perlengkapan keselamatan laboratorium dilengkapi dengan material asam dan basa. Sebagai contoh, bila cairan yang tumpah itu asam, digunakan material basa untuk menetralkannya. f. Alat Pemadam Api Alat pemadam api ringan (fire extinguishers) berguna untuk memadamkan api ringan ynag terjadi karena kecelakaan kerja atau sumber lain. Sebagai contoh, saat menggunakan tanur tiba-tiba tanur itu mengeluarkan api, maka cepatlah gunakan pemadam api untuk memadamkannya. Dengan demikian, api tidak merembet kemanamana. Setelah api padam, segera hubungi bagian keamanan atau bagian pemadam kebaran di perusahaan atau laboratorium. Bahan pemadam kebakaran bisa terbuat dari air, tepung, karbon dioksida, halon, atau busa. g. Pintu Keluar Darurat Laboratorium sebaiknya dilengkapi dengan pintu keluar untuk mengantisipasi keadaan darurat, misalnya gempa bumi atau kebakaran. Pintu ini khusus digunakan
7 untuk keadaan darurat saja dan tidak boleh digunakan untuk keperluan umum. Oleh karena itu, pintu tersebut biasanya didesain untuk tidak bisa dibuka dari luar laboratorium. Selain itu, pintu tersebut dilengkapi dengan alarm sehingga bila dibuka akan menghasilkan bunyi khusus. Bunyi ini terintegrasi dengan bagian keamanan, sehingga bila makin sering dibuka, pihak keamanan akan memeriksa keadaan disekitar pintu tersebut. h. Ruang Asam Ruang asam digunakan untuk mengambil larutan kimia yang memiliki gas berbahaya (aseton, asam sulfrat, asam klorida) atau mereaksikan larutan-laritan tersebut. Ruang asam ini dilengkapi dengan pengisap sehingga gas berbahaya yang dikeluarkan larutan kimia akan dihisap dan dinetralkan sebelum dibuang ke lingkungan. i. Tangga Tangga digunakan untuk mengambil alat atau bahan kimia yang letaknya di tempat tinggi. Namun, saat menggunakan harus sangat hati-hati agar alat tidak terjatuh atau bahan kimia sampai tumpah. j. Karet Pengisap Karet pengisap digunakan untuk memipet bahan-bahan kimia agar mudah diambil. Hal ini dimaksudkan agar pekerja laboratorium aman. Bahan kimia yang digunakan di laboratorium terkadang berbahaya apalagi bila masuk ke mulut. Dengan mengetahui peralatan keselamatan kerja di laboratorium kimia, anda bisa meminimalisir kecelakaan kerja atau potensi bahaya yang ada dalam laboratorium tersebut. Tentu saja peralatan tersebut harus digunakan dengan baik dan benar. 3. Peralatan Kerja di Laboratorium Peralatan percobaan di laboratorium kimia pada umumnya dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu alat tamping, alat ukur, dan alat pendukung. Alat ukur secara umum berfungsi untuk menentukan jumlah zat cair secara tepat. Adapun alat tamping digunakan untuk menampung zat kimia. Namun bukan mengukur jumlah kuantitasnya. Alatalat yang ada di laboratorium kimia sebagai berikut. 1) Gelas Ukur gambar gelas ukur | google images
8 Fungsi gelas ukur adalah sebagai alat untuk mengukur volume larutan, mulai dari volume 10mL hingga 2L. Gelas ukur berbentuk pipa dan umumnya terbuat dari bahan plastik (polipropilen) yang dilengkapi dengan bagian bawah yang lebar, sebagai kaki untuk menjaga kestabilan gelas ukur. 2) Tabung Reaksi gambar tabung reaksi | pixabay.com Tabung reaksi adalah peralatan gelas yang terbuat dari kaca atau plastik. bentuknya kira kira sebesar jari tangan manusia. Tabung reaksi tersedia dalam berbagai macam ukuran. Namun pada umumnya memiliki ukuran berdiameter 10-20 dengan panjang 50-200 mm. Fungsi tabung reaksi adalah untuk mencampur, menampung dan memanaskan bahan-bahan kimia cair atau padat, utamanya untuk uji kualitatif. Selain berukuran kecil ada juga Tabung reaksi yang memiliki ukuran besar. Alat tersebut dinamakan “Labu didih”. 3) Labu Ukur gambar labu ukur | pixabay.com Labu ukur (Volumetric Flask) atau labu takar adalah alat kimia, yang digunakan untuk mengencerkan larutan hingga mencapai volume tertentu. Alat yang terbuat dari kaca berbentuk labu ini juga bisa digunakan untuk menyisakan larutan kimia analitik dengan konsentrasi dan jumlah yang berakurasi tinggi. Keakuratan yang tinggi ini dikarenakan oleh bagian lehernya yang terdapat sebuah lingkaran gradasi, volume, toleransi, suhu kalibrasi dan kelas gelas. Pada
9 lehernya juga terdapat tanda batas yang menunjukkan ukuran volume, mulai 1 mL hingga 2 L. Umumnya, labu ukur ini berwarna transparan, sehingga sangat memudahkan pemantauan. Namun, ada pula yang berwarna gelap serta dilengkapi dengan penutup yang tahan terhadap bahan dan reaksi kimia, seperti bahan polietilen. 4) Labu Erlenmeyer gambar erlenmeyer | aliexpress.com Erlenmeyer adalah jenis labu laboratorium yang banyak digunakan. Alat berbentuk kerucut dengan leher silinder dan dasar yang datar ini diambil dari nama “Emil Erlenmeyer”. seorang kimiawan asal jerman. Fungsi labu erlenmeyer adalah untuk mencampur, mengukur dan menyimpan cairan. Umumnya erlenmeyer terbuat dari kaca borosilikat sehingga tahan ketika dipanaskan. Ukuran labu erlenmeyer bervariasi mulai dari 50 – 500 ml.Dalam laboratorium mikrobiologi alat lab ini digunakan untuk membantu proses pembiakan mikroba. 5) Gelas Beaker atau Gelas Piala gambar gelas beaker | google images Gelas yang sering disebut gelas piala dan gelas kimia ini adalah alat laboratorium yang berfungsi sebagai penampung. Alat berbentuk silinder dengan alas datar ini, biasa digunakan untuk bahan kimia dengan sifat korosif yang terbuat dari PPTE. Dan untuk
10 mencegah terjadinya kontaminasi atau hilangnya cairan, gelas ini biasa dipasangkan dengan gelas arloji sebagai penutup. Terdapat beberapa ukuran untuk gelas ini, mulai dari 25 mL hingga 3 L. Gelas beaker terbuat dari bahan borosilikat atau plastik. 6) Pipet Tetes gambar pipet tetes | bisakimia.com Pipet digunakan untuk memindahkan volume cairan yang telah terukur. Alat ini terdiri dari beberapa jenis dengan bentuk, fungsi, dan tingkat ketelitian yang berbeda. Macam-macam pipet diantaranya yaitu; Pipet tetes, pipet ukur dan pipet volume:Pipet tetes. Sesuai dengan namanya, pipet yang satu ini mampu memindahkan cairan dalam jumlah yang sangat kecil yaitu berupa tetesan. Hal ini dikarenakan bentuk dari pipet ini yang berupa pipa kecil yang ditutupi dengan karet di bagian atasnya. 7) Pipet Ukur gambar pipet ukur | bisakimia.com Fungsi Pipet ukur adalah untuk memindahkan larutan secara terukur sesuai dengan volume. Pada pipet ini juga terdapat skala yang menunjukan volume tersebut. Ukuran volume terbesat pipet ukur sendiri adalah 50 ml.
11 8) Pipet Volume / Gondok gambar pipet volume | bisakimia.com Pipet gondok atau pipet volume. Berbeda dengan pipet tetes, pipet volume memiliki ukuran yang lebih besar sehingga mampu memindahkan cairan dari wadah ke wadah. Peralatan laboratorium ini merupakan alat ukur kuantitatif dengan tingkat ketelitian tinggi. Pipet volume memiliki bagian menggelembung ditengahnya. Fungsinya adalah untuk mengambil larutan dengan volume yang tepat dan sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung tersebut. 9) Kaki Tiga kaki tiga | blogbio15001.blogspot.co.id Kaki tiga dalam alat laboratorium adalah besi yang mempunyai 3 kaki yang memiliki fungsi sebagai penyangga ring. Fungsi kaki tiga adalah sebagai penahan kawat kasa dan penyangga ketika proses pemanasan. 10) Rak Tabung Reaksi gambar rak tabung reaksi | google images
12 Rak tabung reaksi adalah alat yang umumnya terbuat dari kayu. Ia mempunyai 12 lubang dengan 12 cekungan dibawahnya untuk menyimpan tabung reaksi. Ukuran rak ini sekitar 20 x 10 cm. Pada bagian lainnya, terdapat 6 batang kayu yang berfungsi sebagai tempat tabung reaksi dikeringkan.Secara ringkas. Fungsi tabung reaksi adalah sebagai tempat menyimpan tabung reaksi, mengeringkan dan menjaga tabung reaksi agar tidak berjamur. 11) Penjepit Tabung Reaksi penjepit tabung reaksi | google images Penjepit tabung reaksi terbuat dari kayu dan digunakan untuk menjepit tabung reaksi disaat proses pemanasan. Atau bisa juga digunakan untuk mengambil kertas saring dan benda-benda lab lain disaat kondisi alat tersebut panas. 12) Plat Tetes gambar plat tetes | tokopedia.com Fungsi Plat tetes adalah sebagai penguji keasaman suatu larutan atau mereaksikan larutan . Plat tetes terbuat dari bahan porselen dan umumnya tersedia dalam jumlan 6,12 dan 16 lubang tetes. 13) Mortar dan Alue (Pestle)
13 gambar mortal dan pestle | google images Mortar dan Pestle atau dalam bahasa Indonesia dinamai Lesung dan Alu. Fungsi alat laboratorium ini adalah untuk menghancurkan atau menghaluskan suatu bahan atau zat yang masih bersifat padat atau kristal. Dalam laboratorium biologi mortar dan alu ini juga digunakan untuk menghancurkan atau menghaluskan bahan – bahan praktek seperti daun, biji-bijian, akar, protein, DNA, RNA dll. Perlu diketahui juga, Mortal (lesung) adalah bagian wadah sedangkan pestle (alu) adalah bagian batang yang kita pegang. 14) Kawat Kasa kawat kasa | google images Fungsi kawat kasa adalah untuk menahan beaker atau labu ketika proses pemanasan menggunakan pemanas bunsen atau pemanas spiritus. Kawat kasa juga ditopang alat kaki tiga pada bagian bawahnya untuk membuat proses pemanasan berjalan maksimal. 15) Kawat Nikrom elevenia.co.id Fungsi kawat krom adalah untuk mengidentifikasi zat dengan cara uji nyala.
14 16) Corong Pisah aliexpress.com Peralatan laboratorium berbentuk kerucut dengan tutup setengah bola ini biasanya digunakan dalam proses ekstraksi cair. Yaitu proses memisahkankomponen-komponen fase pelarut dengan densitas yang berbeda. Corong pisah atau corong pemisah memiliki bagian penyumbat di atasnya dan keran dibawahnya. Alat lab kimia ini dibuat dari kaca borosilikat. Sedangkan kerannya terbuat dari teflon ataupun kaca. 17) Batang Pengaduk bisakimia.com Batang pengaduk digunakan untuk mencampur cairan dengan bahan kimia untuk keperluan praktek di laboratorium. Batang pengaduk umumnya terbuat dari kaca pejal, borosilikat (pyrex). Ukurannya hampir sama dengan sedotan minuman. Namun sedikit pandang dengan ujung membulat. Selain untuk mencampur larutan. Fungsi batang pengaduk juga adalah untuk membantu dekantasi larutan, menginduksi kristalisasi dan memecahkan emulsi pada suatu ekstraksi.
15 18) Gelas Kaca atau Gelas Arloji generallabora.com Gelas berbentuk bundar dengan beragam diameter ini memiliki beberapa fungsi, di antaranya: Penutup gelas kimia ketika tengah proses pemanasan sampel (penguapan). Sebagai tempat untuk mengeringkan padatan dalam desikator. Sebagai tempat benda yang tengah berada dalam proses pengamatan dan Sebagai tempat untuk menyimpan bahan yang akan ditimbang. 19) Labu Destilasi aliexpress.com Fungsi destilasi atau penyulingan adalah memisahkan suatu larutan ke dalam masing masing komponennya. Bisa juga didefinisikan sebagai suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan dan volatilitas atau kemudahan menguap. Labu destilas digunakan untuk menampung zat-zat, utamanya zat yang memiliki titik lebih tinggi ketika proses destilasi. Alat yang ada di laboratorium kimia ini mempunyai pipa yang mengarah kesisi. Pipa tersebut nantinya disambungkan pada gelas pendingin pada saat digunakan untuk destilasi.
16 20) Kondensor aliexpress.com Condesor adalah alat laboratorium yang memiliki fungsi untuk mendinginkan cairan panas dan mengembunkan uap. Alat ini memiliki beragam jenis bentuk, dengan di antaranya adalah condesor graham, Vigreux kolom, condesor dimroth (spiral), condesor Liebig (lurus), dan condesor Allihn (bulat). 21) Spatula Plastik dan Logam aliexpress.com Kedua jenis spatula ini digunakan untuk mengambil bahan kimia bentuk padatan atau kristal. Untuk mengambil zat zat yang memiliki reaksi pada logam maka digunakan spatula plastik. Sebaliknya. Zat-zat yang tidak memiliki reaksi pada logam, maka digunakan spatula logam. 22) Buret schoolspecialty.com Alat dengan bentuk silindris memanjang ini biasanya digunakan untuk titrasi dengan presisi tinggi, atau bisa juga untuk mengukur volume suatu larutan. Alat yang
17 dilengkapi dengan skala pada sisi luarnya ini memang dirancang dengan ketelitian yang sangat tinggi, sehingga cocok digunakan untuk keperluan analisis volumetrik kuantitatif. Kini, meski dalam perkembangannya telah banyak ditemukan alat titrasi berbasis teknologi, buret masih menjadi alat laboratorium yang selalu digunakan. 23) Filler tokopedia.com Filler adalah alat yang digunakan untuk menyedot larutan, yang biasanya dipasang pada pangkal pipet. Alat laboratorium ini dilengkapi dengan karet yang resistan terhadap bahan kimia, sehingga dijamin aman dan tidak mudah rusak. 24. Alat Destilasi / Penyulingan di Laboratorium Lengkap rolanrusli.com Dalam laboratorium juga biasanya terdapat satu set alat penyulingan atau destilasi lengkap. Seperti pada rangkaian gambar alat laboratorium diatas. Beberapa dari alat-alat tersebut telah dijelaskan pada poin-poin sebelumnya.
18 Keterangan gambar: 1. Kran air 2. Pipa penghubung 3. Erlenmeyer 4. Termometer 5. Statif dan Klem 6. Labu alas bulat 7. Tempat air keluar dari kondensor 8. Tempat air masuk pada kondensor 9. Pemanas 10. Kondensor Destilasi sendiri adalah proses pemisahan zat-zat berdasarkan perbedaan titik didihnya. komponen zat yang mempunyai titik didik rendah akan menguap terlebih dahulu. Sementara yang memiliki titik didih lebih tinggi akan tetap tertampung dalam labu destilasi. 2. Bahan Laboratorium Kimia Selain alat-alat dalam laboratorium, tersedia juga bahan-bahan kimia yang berupa zat padat, zat cair dan larutan. Zat-zat tersebut ditempatkan dan disimpan dalam wadah khusus dan harus diperlakukan dengan cara yang khusus pula sesuai karakteristik setiap zat. Ada zat yang harus disimpan dalam botol gelap karena apabila terkena cahaya matahari akan rusak. Ada larutan yang berupa larutan pekat ataupun encer sesuai kadar yang tertera pada labelnya. Beberapa larutan pekat sangat berbahaya, misalnya larutan asam sulfat pekat, asam klorida pekat, asam asetat pekat, asam nitrat pekat, dan ammonia pekat. A. Penggunaan Bahan Kimia Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengunaan zat kimia sebagai berikut: a. Tabung reaksi yang berisi zat kimia tidak boleh diarahkan ke wajah sendiri atau orang lain. b. Senyawa kimia tidak boleh dibau. c. Larutan kimia yang tumpah di meja praktikum atau di lantai segera dibersihkan. Jika larutan asam pekat dinetralkan dahulu dengan serbuk NaHCO3. Basa kuat dinetralkan dahulu dengan serbuk NH4Cl, kemudian ditambah air yang cukup. d. Larutan pekat yang tidak terpakai harus dibuang setelah diencerkan dengan air terlebih dahulu. e. Senyawa/zat kimia tertentu (asam kuat dan basa kuat), tidak boleh dicampur karena akan terjadi reaksi yang dahsyat, kecuali sudah diketahui pasti tidak menimbulkan bahaya.
19 f. Penggunaan pelindung wajah sangat diperlukan jika menangani zat-zat atau senyawa kimia yang berbahaya, dan jangan mengembalikan zat/senyawa kimiayang terlanjur tertuang untuk dikembalikan ke botol asalnya. B. Penyimpanan Bahan Kimia Guna mencegah terjadinya bahaya yang tidak diinginkan, penyimpanan bahan kimia perlu memperhatikan hal-hal berikut: a. Botol-botol yang berisi bahan kimia disimpan pad arak atau lemari yang disediakan khusus. b. Jangan mengisi botol sampai penuh. c. Jangan menggunakan tutup dari kaca untuk botol yang berisi basa karena lama kelamaan tutup akan melekat pada botol dan susah dibuka. d. Semua peralatan/gelas kimia yang berisi bahan kimia harus diberi label yang menyatakan nama bahan. e. Bahan kimia yang dapat bereaksi hebat hendaknya tidak disimpan berdekatan. f. Bahan-bahan kimia yang sangat beracun dan berbahaya hendaknya dibeli dalam jumlah kecil dan tanggal pembeliannya dicatat. g. Semua bahan persediaan bahan kimia secara teratur diteliti. C. Sifat Bahan Kimia Berdasarkan sifat-sifatnya, bahan-bahan kimia dikelompokkan menjadi beberapa jenis meliputi bahan mudah terbakar, bersifat racun, korosif, tidak stabil, sangat reaktif, dan gas berbahaya. Dalam kemasan bahan-bahan kimia biasanya tertera label yang berisi nama bahan, kadar, dan lambang atau tanda yang menunjukkan sifat bahan kimia tersebut. Berikut ini menunjukkan beberapa contoh lambang yang biasa tertera pada label bahan kimia: 1. Irritant Symbol Keterangan : Nama : Irritant Lambang : Xi Arti : Bahan yang dapat menyebabkan iritasi, gatal-gatal dan dapat menyebabkan luka bakar pada kulit.
20 Tindakan : Hindari kontak langsung dengan kulit. Contoh : NaOH, C6H5OH, Cl2 2. Harmful Symbol Keterangan : Nama : Harmful Lambang : Xn Arti : Bahan yang dapat merusak kesehatan tubuh bila kontak langsung dengan tubuh atau melalui inhalasi. Tindakan : Jangan dihirup, jangan ditelan dan hindari kontak langsung dengan kulit. Contoh :Etilenglikol, Diklorometan. 3. Toxic Symbol Keterangan: Nama : Toxic Lambang : T
21 Arti : Bahan yang bersifat beracun, dapat menyebabkan sakit serius bahkan kematian bila tertelan atau terhirup. Tindakan : Jangan ditelan dan jangan dihirup, hindari kontak langsung dengan kulit. Contoh : Metanol, Benzena. 4. Very Toxic Symbol Keterangan : Nama : Very Toxic Lambang : T+ Arti : Bahan yang bersifat sangat beracun dan lebih sangat berbahaya bagi kesehatan yang juga dapat menyebabkan sakit kronis bahkan kematian. Tindakan : Hindari kontak langsung dengan tubuh dan sistem pernapasan. Contoh : Kalium sianida, Hydrogensulfida, Nitrobenzene dan Atripin. 5. Corrosive Symbol Keterangan : Nama : Corrosive Lambang : C Arti : Bahan yang bersifat korosif, dapat merusak jaringan hidup, dapat menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal dan dapat membuat kulit mengelupas. Tindakan : Hindari kontak langsung dengan kulit dan hindari dari benda-benda yang bersifat logam.
22 Contoh : HCl, H2SO4, NaOH (>2%) 6. Flammable Symbol Keterangan: Nama : Flammable Arti : Bahan kimia yang mempunyai titik nyala rendah, mudah terbakar dengan api bunsen, permukaan metal panas atau loncatan Bungan api. Tindakan : Jauhkan dari benda-benda yang berpotensi mengeluarkan api. Contoh : Minyak. 7. Highly Flammable Symbol Keterangan : Nama : Highly Flammable Lambang : F Arti : Mudah terbakar di bawah kondisi atmosferik biasa atau mempunyai titik nyala rendah (di bawah 21°C) dan mudah terbakar di bawah pengaruh kelembapan. Tindakan : Hindari dari sumber api, api terbuka dan loncatan api, serta hindari pengaruh pada kelembaban tertentu. Contoh : Aseton dan Logam natrium.
23 8. Extremely Flammable Symbol Keterangan : Nama : Extremely Flammable Lambang : F+ Arti : Bahan yang amat sangat mudah terbakar. Berupa gas dan udara yang membentuk suatu campuran yang bersifat mudah meledak di bawah kondisi normal. Tindakan : Jauhkan dari campuran udara dan sumber api. Contoh : Dietileter (cairan) dan Propane (gas). 9. Explosive Symbol Keterangan : Nama : Explosive Lambang : E Arti : Bahan kimia yang mudah meledak dengan adanya panas atau percikan bunga api, gesekan atau benturan. Tindakan : Hindari pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik.
24 Contoh : KClO3, NH4NO3, TrinitroToluena (TNT). 10. Oxidizing Symbol Keterangan : Nama : Oxidizing Lambang : O Arti : Bahan kimia bersifat pengoksidasi, dapat menyebabkan kebakaran dengan menghasilkan panas saat kontak dengan bahan organik dan bahan pereduksi. Tindakan : Hindarkan dari panas dan reduktor. Contoh : Hidrogen peroksida, Kalium perklorat. 11. Dangerous For the Environment Symbol
25 Keterangan : Nama : Dangerous For the Environment Lambang : N Arti : Bahan kimia yang berbahaya bagi satu atau beberapa komponen lingkungan. Dapat menyebabkan kerusakan ekosistem. Tindakan :Hindari kontak atau bercampur dengan lingkungan yang dapat membahayakan makhluk hidup. Contoh : Tributil timah klorida, Tetraklorometan, Petroleum bensin. 12. Flammable Solid Symbol Keterangan : Nama : Flammable Solid Arti : Padatan yang mudah terbakar. Tindakan : Hindari panas atau bahan mudah terbakar dan reduktor, serta hindari kontak dengan air apabila bereaksi dengan air dan menimbulkan panas serta api. Contoh : Sulfur, Picric acid, Magnesium.
26 13. Flammable Liquid Symbol Keterangan : Nama : Flammable Liquid Arti : Cairan yang mudah terbakar. Tindakan : Hindari kontak dengan benda yang berpotensi mengeluarkan panas atau api. Contoh : Petrol, Acetone, Benzene. 14. Flammable Gas Symbol Keterangan : Nama : Flammable Gas
27 Arti : Simbol pengaman yang digunakan pada tempat penyimpanan material gas yang mudah terbakar. Tindakan : Jauhkan dari panas atau percikan api. Contoh : Acetelyne, LPG, Hydrogen. 15. Spontaneously Combustible Substances Symbol Keterangan : Nama : Spontaneously Combustible Substances Arti : Material yang dapat secara spontan mudah terbakar. Tindakan : Simpan di tempat yang jauh dari sumber panas atau sumber api. Contoh : Carbon, Charcoal-non-activated, Carbon black. 16. Dangerous When Wet Symbol
28 Keterangan : Nama : Dangerous When Wet Arti : Material yang bereaksi cukup keras dengan air. Tindakan : Jauhkan dari air dan simpan di tempat yang kering/tidak lembab. Contoh : Calcium carbide, Potassium phosphide, Maneb. 17. Oxidizer Symbol Keterangan : Nama : Oxidizer Arti : Material yang mudah menimbulkan api ketika kontak dengan material lain yang mudah terbakar dan dapat menimbulkan ledakan. Contoh : Calcium hypochlorite, Sodium peroxide, Ammonium dichromate. 18. Organic Peroxide Symbol
29 Keterangan : Nama : Organic Peroxide Arti : Merupakan simbol keamanan bahan kimia yang digunakan dalam transportasi dan penyimpanan peroksida organik. Contoh : Benzol peroxide, Methyl ethyl ketone peroxide, Dicetyl perdicarbonate. 19. Non Flammable Gas Symbol Keterangan : Nama : Non Flammable Gas Arti : Simbol pengaman yang digunakan pada transportasi dan penyimpanan material gas yang tidak mudah terbakar. Contoh : Oksigen, Nitrogen, Helium. 20. Poison Symbol
30 Keterangan : Nama : Poison Arti : Simbol yang digunakan pada transportasi dan penyimpanan bahan-bahan yang beracun (belum tentu gas). Contoh : Cyanohydrin, Calcium cyanide, Carbon tetrachloride. 21. Poison Gas Symbol Keterangan : Nama : Poison Gas Arti : Simbol yang digunakan pada transportasi dan penyimpanan material gas yang beracun. Tindakan : Jauhkan dari pernapasan kita. Contoh : Chlorine, Methil bromide, Nitric oxide. 22. Inhalation Hazard Symbol
31 Keterangan : Nama : Inhalation Hazard Arti : Bahan-bahan yang dapat merusak sistem inhalasi atau pernapasan. Tindakan : Jangan dihirup. 23. Infectious Substance Symbol Keterangan : Nama : Infectious Substance Arti : Bahan yang mengandung organism penyebab penyakit. Contoh : Tisue dari pasien, tempat pengembangbiakan virus, bakteri, tumbuhan atau hewan. 24. Radioactive Symbol Keterangan : Nama : Radioactive
32 Arti : Bahan yang mengandung material atau kombinasi dari material lain yang dapat memancarkan radiasi secara spontan. Contoh : Uranium, 90Co, Tritium. 25. Marine Pollutant Symbol Keterangan : Nama : Marine Pollutant Arti : Polutan laut. Tindakan : Tidak membuang limbah ke saluran air atau sungai yang mengalir ke laut. 3. Penanganan Bahan Beracun dan Berbahaya Penanganan buangan sampah bahan kimia yang beracun dan berbahaya harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Tindakan ini untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, menjamin keselamatan diri pengguna laboratorium, serta mencegah timbulnya dampak negatif bagi lingkungan. Semua bahan buangan atau sampah dikumpulkan menurut jenis bahan tersebut. Bahan-bahan tersebut ada yang dapat didaur ulang da nada pula yang tidak dapat didaur ulang. Bahan yang termasuk kelompok bahan buangan/sampah yang dapat diaur ulang antara lain gelas, kaleng, selongsong baterai, sisa-sisa konstruksi bangunan, sampah biologi seperti tanaman, buah-buahan, dan beberapa sampah kimia seperti kaca, keramik, dan logam. Adapun bahan-bahan buangan yang tidak dapat didaur ulang atau yang sukar didaur ulang seperti plastic hendaknya dihancurkan. Bahan-bahan buangan yang umum terdapat di laboratorium sebagai berikut: a. Fine Chemical Fine Chemical hanya dapat dibuang ke saluran pembuangan atau tempat sampah jika: 1. tidak bereaksi dengan air 2. tidak eksplosif 3. tidak bersifat radioaktif
33 4. tidak beracun 5. komposisinya diketahui jelas b. Larutan Basa Larutan basa yang dapat dibuang langsung ke saluran pembuangan adalah larutan basa dari alkali hidroksida yang bebas sianida, amoniak, senyawa organic, minyak , dan lemak. Selain dari senyawa-senyawa tersebut, sebelum dibuang larutan basa harus dinetralkan terlebih dahulu. Proses penatralan dilakukan pada tempat yang disediakan dan dilakukan menurut prosedur mutu laboratorium. c. Larutan Asam Seperti juga larutan basa, larutan asam tidak boleh mengandung senyawa-senyawa beracun dan berbahaya. Sebelum dibuang, larutan asam harus dinetralkan pada tempat dan prosedur sesuai ketentuan laboratorium. d. Pelarut Pelarut yang tidak dapat digunakan lagi sebaiknya dibuang ke saluran pembuangan. Pelarut yang dapat langsung dibuang di saluran buangan adalah pelarut yang tidak mengandung halogen (bebas fluoride, klorida, bromide, dan iodide). Namun jika diperlukan pelarut-pelarut tersebut dapat dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang. Untuk pelarut yang mengandung halogen seperti kloroform (CHCl3) diperlukan tempat pembuangan khusus. Oleh karena itu sebelum dibuang harus dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan pengurus atau pengelola laboratorium. e. Bahan Mengandung Merkuri Pembuangan bahan yang mengandung merkuri (seperti pecahan thermometer merkuri, manometer, pompa merkuri) harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Perlu dikonsultasikan dengan pengelola laboratorium. f. Bahan Radioaktif Sampah radioktif memerlukan penanganan khusus. Otoritas yang berwenang dalam pengelolaan sampah radioaktif di Indonesia adalah Badan Tenaga Atom Nasional. g. Air Pembilas Air pembilas harus bebas merkuri, sianida, amoniak, minyak, lemak, bahan beracun, dan bahan berbahaya lainnya sebelum dibuang ke saluran pembuangan. 4. Petunjuk Umum Penanganan Kebakaran Beberapa bahan kimia seperti eter, methanol, dan kloroform bersifat mudah terbakar dan mudah meledak. Oleh karena itu diperlukan penanganan khusus apabila terjadi kecelakaan agar tidak mengakibatkan kebakaran laboratorium atau bahan-bahan kimia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika terjadi kebakaran di laboratorium sebagai berikut: a. Jika nyala apinya kecil, lakukan pemadaman dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). b. Matikan sumber arus listrik atau gardu utama agar listrik tidak mengganggu upaya pemadaman kebakaran. c. Lokalisasi api supaya tidak merembet kearah bahan mudah terbakar lainnya. d. Jika api mulai membesar, jangan mencoba untuk memadamkan api dengan APAR. Segera panggil mobil unit Pertolongan Bahaya kebakaran (PBK) terdekat.
34 e. Bersikaplah tenang dalam menangani kebakaran dan jangan mengambil tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. 5. Penanganan Kecelakaan di Laboratorium Laboratorium adalah tempat kerja yang sangat berpotensi terjadi kecelakaan. Kecelakaan kerja bisa terjadi akibat bahan kimia organic, maupun aliran listrik. Bahanbahan kimia yang tercecer, maupun bocor bisa mengakibatkan keracunan, iritasi, atau bahkan kematian. a. Luka bakar akibat zat kimia Luka bakar akibat zat kimia bisa disebabkan Karen terpapar larutan asam, logam, bromin, atau fosfor. Jika kulit terkena larutan asam maka segera hapus dengan kapas atau kain lap halus. Setelah itu cuci dengan air yang mengalir sebanyak-banyaknya. Selanjutnya cuci dengan Na2CO3 1%. Setelah itu cuci dengan air lagi. Terakhir keringkan kulit yang terkena asam dan olesi dengan salep levertran. Jika kulit secara tidak sengaja terkena logam natrium atau kalium maka langkah pertama segeralah ambil logam yang menempel tersebut. Cuci kulit dengan air yang mengalir selama kira-kira 15-20 menit. Netralkan dengan larutan 1% asam asetat. Terakhir keringkan kulit yang terkena logam dan olesi dengan salep levertran. Luka bisa ditutup dengan kapas steril atau kapas yang sudah dibasahi dengan asam pikrat. Jika kulit terkena bromin maka segeralah cuci dengan larutan amoniak encer. Luka ditutup dengan pasta Na2CO3. Jika kulit terkena fosfor maka segera cuci dengan air yang mengalir yang sebanyak-banyaknya. Setelah itu cuci lagi dengan larutan 3% CuSO4. b. Luka bakar akibat benda panas Jika kulit terkena luka bakar yang disebabkan oleh benda panas maka segera olesi dengan salep minyak ikan atau levertran. Penanganan luka bakar juga bisa dilakukan dengan cara mencelupkan kulit yang terluka ke dalam air es secepat mungkin atau dikompres sampai rasa nyeri berkurang. c. Luka pada mata Luka pada mata dapat terjadi karena percikan larutan asam atau larutan basa. Jika mata terkena percikan asam encer maka segera cuci dengan air bersih selama kira-kira 15 menit terus-menerus. Setelah itu cuci dengan larutan Na2CO3 1%. Jika mata terkena percikan larutan basa maka cara penanganan awalnya sama dengan larutan asam. Setelah itu cuci dengan larutan 1% asam borat dalam gelas pencuci mata. d. Luka akibat benda tajam Alat laboratorium terbuat dari gelas atau kaca yang jatuh dapat melukai kulit secara tidak sengaja. Jika hal itu terjadi maka langkah pertama cabut pecahan kaca atau gelas dari kulit dengan hati-hati. Cuci luka dengan larutan desinfeksi kemudian beri obat. Terakhir tutup luka dengan pembalut luka. e. Keracunan Keracunan dapat terjadi akibat menghirup bahan-bahan kimia beracun seperti amoniak, karbonmonoksida, benzene, dan kloroform. Keracunan dapat berakibat fatal bagi kesehatan misalnya penyakit hati, kanker, dan asbestois.
35 Jika secara tidak sengaja bahan beracun masuk ke dalam tubuh melalui mulut maka segera beri minum air atau susu 2 hingga 4 gelas. Jika korban sampai jatuh pingsan maka beri napas buatan atau masukkan jari telunjuk ke mulut korban sambil digerakgerakkan menuju ke pangkal lidah. Tujuannya untuk memicu korban agar muntah. Jika bahan beracun terkena kulit maka segera cuci dengan air mengalir minimal 15 menit. Jangan mengoleskan minyak, mentega, atau pasta natrium bikarbonat, kecuali untuk keracunan yang tingkatannya lebih tinggi. Jika bahan beracun berupa gas maka segera cari udara segar sebanyak-banyaknya. Sebagai tindakan pencegahan sebaiknya menggunakan masker saat bekerja di laboratorium. Bahan-bahan di laboratorium seperti gas klorin, hydrogen sulfida, fosgen, hydrogen sianida sangat beracun.
36 BAB 2 PROSEDUR PRAKTIKUM KIMIA Pada bab ini akan dibahas tentang prosedur/cara kerja berbagai macam praktikum kimia, dengan tujuan agar praktikum dapat berjalan lancar, aman dan berhasil sesuai tujuan. Berikut judul praktikum dan cara kerjanya. 1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Gula Dalam Air Rumusan Masalah : Faktor apa saja yang mempengaruhi kelarutan gula dalam air Dasar Teori : Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan gula dalam air meliputi massa gula, bentuk partikel gula yang dilarutkan, suhu air, serta adanya pengadukan. Hipotesis : Adanya massa gula, bentuk partikel gula yang dilarutkan, suhu air serta pengadukan akan menghasilkan waktu kelarutan yang berbeda-beda. A. Tujuan Menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan gula dalam air B. Alat dan Bahan 1. Gelas kimia / gelas beaker 3 buah 2. Pembakar spirtus 3. Kasa dan kaki tiga masing-masing 3 buah 4. Termometer 3 buah 5. Stopwatch 6. Batang pengaduk 3 buah 7. Neraca/timbangan Ohaus 8. Gula pasir 9. Mortar dan alu 10.Aquades 11.Gelas ukur 12.Kaca arloji 3 buah 13.Pipet C. Cara Kerja 1. Siapkan gula putih, timbang dengan massa 2 gram, 6 gram dan 10 gram. Letakkan masing-masing di atas kaca arloji. 2. Siapkan aquades, ukur 100 ml aquades dan masukkan ke dalam gelas beaker. 3. Masukkan 2 gram gula ke dalam gelas beaker yang berisi aquades tadi.Amati keadaannya,larut atau tidak larut.
37 4. Siapkan stopwatch. Aduk campuran gula dalam aquades tadi, catat waktunya saat campuran mulai diaduk sampai gula larut semua. 5. Ulangi cara kerja 1-4 untuk gula yang massanya 6 gram dan 10 gram. 6. Timbang kembali gula sebanyak 2 gram, 6 gram dan 10 gram. 7. Tumbuklah setiap massa gula hingga berbentuk serbuk putih menggunakan mortar dan alu. 8. Larutkan setiap massa gula serbuk tadi ke dalam masing-masing 100 ml aquades, lalu aduklah. 9. Catat waktu yang diperlukan untuk pelarutan gula serbuk tersebut. 10. Timbang kembali gula putih sebanyak 2 gram, 6 gram dan 10 gram. 11. Isi tiga buah gelas beaker masing-masing dengan 100 ml aquades. Panaskan setiap gelas beaker tersebut di atas kasa dan kaki tiga sampai suhunya 500C. Tandai gelas dengan huruf A, B dan C. 12. Masukkan gula dengan massa 2 gram ke dalam gelas beaker A yang airnya sudah dipanaskan tadi. Gula 6 gram ke dalam gelas B dan 10 gram ke dalam gelas C. Aduk semua sampai gula larut semua. Catat masing- masing waktu yang diperlukan. 13. Ulangi langkah 10-12 untuk serbuk gula. D. Data Pengamatan Catat waktu yang diperlukan untuk melarutkan gula dalam tabel seperti contoh berikut. Waktu Pelarutan Gula dalam Aquades ( s ) Massa Gula 2 gram 6 gram 10 gram Suhu Air Normal 500C Normal 500C Normal 500C Bentuk gula Kristal Serbuk E. Pertanyaan dan Diskusi 1. Bagaimana perbandingan waktu pelarutan Kristal gula sebanyak 2 gram, 6 gram, 10 gram dalam aquades bersuhu normal dan bersuhu 500C ? 2. Bagaimana perbandingan waktu pelarutan serbuk gula sebanyak 2 gram, 6 gram dan 10 gram dalam aquades bersuhu normal dan bersuhu 500C ? 3. Berdasarkan data tersebut, faktor apa saja yang mempengaruhi kelarutan gula dalam air ? 4. Apa kesimpulan dari praktikum tersebut ?
38 2. Membedakan Senyawa Ion Dan Senyawa Kovalen A. Tujuan Membedakan karakteristik senyawa ion dan senyawa kovalen berdasarkan titik leleh dan daya hantar listriknya. B. Alat dan Bahan 1. Tabung reaksi 2. Gelas kimia 3. Spatula 4. Statif dan klem 5. Termometer 6. Pembakar spirtus 7. Rangkaian alat uji daya hantar listrik 8. Naftalena 9. Larutan KI 10.Larutan MgSO4 11.Aquades 12.Isopropil alkohol C. Cara Kerja 1. Perbandingan titik lele a. Ambil naftalena sebanyak 2 spatula lalu masukkan ke dalam tabung reaksi. b. Pasang tabung reaksi pada statif menggunakan klem. c. Masukkan termometer ke dalam tabung reaksi. d. Panaskan tabung reaksi menggunakan pembakar spirtus. e. Amati perubahan yang terjadi pada sampel naftalena. Catat suhu tepat saat naftalena mulai meleleh. f. Lakukan percobaan sebanyak 3 kali. Catat semua hasil percobaan. g. Carilah informasi mengenai data titik leleh senyawa KI dan MgSO4 dari buku referensi. 2. Perbandingan daya hantar listrik a. Tuangkan 50 ml aquades ke dalam gelas kimia. b. Masukkan batang elektrode ke dalam gelas kimia, amati perubahan yang terjadi. c. Tambahkan beberapa tetes isopropil alkohol ke dalam gelas kimia. Masukkan kembali elektrode ke dalam gelas kimia, amati perubahan yang terjadi. d. Lakukan prosedur yang sama masing-masing dengan menambahkan naftalena, KI, dan MgSO4. e. Amati dan catat perubahan yang terjadi.
39 D. Data Pengamatan 1. Perbandingan titik leleh Bahan Titik Leleh pada Percobaan (oC) I II III Naftalena Titik leleh KI = ……. oC Titik leleh MgSO4 = ……. oC 2. Perbandingan daya hantar listrik Bahan yang Diuji Hasil Pengamatan ( gelembung gas dan nyala lampu) Aquades Aquades + isopropil alkohol Aquades + naftalena Aquades + KI Aquades +MgSO4 E. Pertanyaan 1. Bagaimana perbandingan titik leleh naftalena dengan KI dan MgSO4? 2. Bahan apa saja yang menghasilkan gelembung gas dan nyala lampu saat dilakukan uji daya hantar listrik? 3. Bahan apa yang merupakan senyawa ion? 4. Bahan apa yang merupakan senyawa kovalen? 5. Apa kesimpulan dari percobaan ini?
40 3. Membedakan Senyawa Kovalen Polar Dan Non Polar A. Tujuan Siswa dapat mengetahui sifat kepolaran suatu senyawa. B. Alat dan Bahan Alat Bahan-bahan 1. Gelas kimia ● Air 2. Buret ● Aseton 3. Penggaris plastik ● Alkohol 4. Kain wol atau nilon ● CCl4 C. Cara Kerja 1. Pasanglah buret pada standar dan klem. 2. Isilah buret dengan air sebanyak 30 mL. 3. Gosoklah penggaris dengan kain wol atau nilon dengan arah yang sama (satu arah) sebanyak 20 kali. 4. Alirkan larutan yang berada dalam buret perlahanlahan dan dekatkan penggaris plastik yang telah digosok tersebut pada larutan. 5. Amati yang terjadi. 6. Lakukan hal yang sama untuk larutan yang lainnya. D. Data Hasil Pengamatan Berilah tanda ( ✓ ) pada kolom yang sesuai No Bahan Aliran Zat Cair Dibelokkan Tidak 1. Air 2. HCl 3. Alkohol 4. CCl4
41 E. Pertanyaan 1. Mengapa penggaris plastik yang digosok menggunakan kain wol atau nilon dapat menarik atau membelokkan aliran larutan? 2. Mengapa larutan yang diujikan ada yang dibelokkan dan tidak dibelokkan? 3. Larutan mana saja yang termasuk molekul polar dan nonpolar? 4. Kesimpulan apa yang dapat diambil dari percobaan ini?
42 4. Uji Larutan Elektrolit Dan Non-Elektrolit A. Tujuan Mengidentifikasi larutan elektrolit dan non elektolit B. Dasar Teori Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantar arus listrik. Kemampuan ini disebabkan karena, didalam air zat elektrolit yang terlarut terurai menghasilkan ion positif dan ion negatif. Larutan elektrolit terdiri dari elektrolit kuat dan elektrolit lemah. Disebut elektrolit kuat karena zat elektrolit yang terlarut terurai seluruhnya membentuk ion-ion secara kualitatif, hal ini dapat ditunjukkan oleh nyala lampu yang redup. Meskipun demikian, ada juga larutan elekrolit kuat yang menghasilkan nyala lampu yang redup. Ini terjadi karena larutannya sangat encer. Sedangkan larutan non elektrolit merupakan jenis larutan yang tidak menghantar arus listrik. Hal ini disebab ion-ion. C. Alat & Bahan 1. Gelas kimia 100 ml 15 buah 2. Alat Uji Larutan 3. Baterai baru 1,5 volt 16 buah 4. Baterai bekas - 2 buah 5. Kabel 2 warna - 2 meter 6. Bohlam lampu senter - 4 buah 7. Karet Gelang - 8 buah 8. Cutter - 1 buah 9. Timah Solder - 1 meter 10. Alat Solder - 1 buah 11. Kertas Tissue 12. Gelas ukur 13. Pipet tetes 14. Air suling–50 mL 15. Larutan asam cuka (CH3COOH) 1 M 50 mL 16. Larutan HCl 1 M 50 mL 17. Larutan NaOH 1 M 50 mL 18. Larutan ammonia (NH3) 1 M 50 mL 19. Larutan gula (C12H22O11) – 50 mL 20. Larutan NaCl (garam dapur) 1 M 50 mL 21. Etanol atau alkohol (C2H5OH) 70% 50 mL 22. Air ledeng – 50 mL 23. Air Sumur – 50 mL 24. Air Sabun – 50 mL Catatan: Jumlah dan jenis bahan disesuaikan dengan kondisi
43 D. Prosedur Kerja Uji Larutan Elektrolit Gambar 1. Rangkaian Alat Uji Larutan Keterangan Gambar: 1. Batu baterai 2. Kabel penghubung 3. Bola lampu 4. Elektroda karbon 5. Elektroda karbon 6. Larutan yang diuji 7. Gelas kimia 1. Siapkan rangkaian alat penguji elektrolit seperti Gambar 1 diatas. 2. Siapkan 10 buah gelas kimia 100 mL dan masukkan masing-masing 50 mL larutan yang akan diuji. 3. Celupkan kedua batang elektroda ke dalam larutan (catatan: saat berada didalam larutan, kedua batang tidak boleh bersentuhan) dan uji daya hantar listriknya. Amati dan catat apakah lampu menyala atau timbul pada elektroda. 4. Ulangi langkah 3 untuk larutan yang lain. 5. Catat semua hasil pengamatan anda dalam Tabel Hasil Pengamatan. 6. Sebelum memindahkan elektroda ke larutan lain, terlebih dahulu harus dibilas dengan aquades dan dikeringkan menggunakan tissue. 7. Saat berada didalam larutan, kedua batang elektroda itu tidak boleh bersentuhan. E. Data Pengamatan Larutan Gelembung Gas Lampu Tidak ada Sedikit Banyak Padam Redup Terang
44 • Berilah tanda V pada data pengamatan F. Pertanyaan: 1. Cobalah amati dengan seksama, apa yang terjadi pada lampu dan batang elektroda, adakah perubahan? Jelaskan Jawaban anda! 2. Diantara bahan yang diuji, zat manakah yang dapat menghantarkan arus listrik dan yang tidak dapat menghantarkan listrik? 3. Buatlah definisi tentang larutan elektrolit dan larutan non elektrolit! 4. Apakah kesimpulan dari percobaan-percobaan di atas?.