Pendidikan Kemuhammadiyahan 101 hubungan baik antara pemimpin dan warga98, memelihara keslamatan umum99, hidup berdampingan dengan baik dan damai100, tidak melakukan fasad dan kemunkaran101 , memeintingkan ukhuwah Islamiyah102, dan prinsip-prinsip lainnya yang maslahat, ihsan dan ishlah. 3. Berpolitik dalam dan demi kepentingan umat dan bangsa sebagai wujud ibadah kepada Allah dan ishlah serta ihsan kepada sesama, dan jangan mengorbankan kepentingan yang lebih luas dan utama itu demi kepentinagn diri sendiri dan kelompok yang sempit. 4. Para politisi Muhammadiyah berkewajiban menunjukkan keteladanan diri (uswah hasanah) yang jujur, benar, adil serta menjauhkan diri dri perilaku politik yang kotor, membawa fitnah, fasad (kerusakan), dan hanya mementingkan diri sendiri. 5. Berpolitik dengan kesalihan, sikap positif, dan memiliki citacita bagi terwujudnya masyarakat utama dengan fungsi amar ma'ruf dan nahi munkar yang tersistem dalam satu kesatuan imamah yang kokoh. 6. Menggalang silaturahim dan ukhuwah antar politisi dan kekuatan politik yang digerakkan oleh para politisi Muhammadiyah secara cerdasa dan dewasa. K. KEHIDUPAN DALAM MELESTARIKAN LINGKUNGAN 1. Lingkungan hidup sebagai alam sekitar dengan segala isi yang terkandung di dalamnya merupakan ciptaan dan anugerah Allah yang harus diolah / dimakmurkan, dipelihara, dan tidak boleh dirusak103 . 2. Setiap muslim khususnya warga Muhammadiyah berkewajiban untuk melakukan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya sehingga terpelihara proses ekologis yang menjadi penyangga kelangsungan hidup, terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan berbagai tipe
Pendidikan Kemuhammadiyahan 102 ekosistemnya dan terkendali cara-cara pengelolaan sumber daya lam sehingga terpelihara kelangsungan dan kelestariannya demi keselamatan, kebagahagiaan, kesejahteraan, dan kelangsungan hidup manusia dan keseimbangan sistem kehidupan di alam raya ini104 . 3. Setiap muslim khususnya warga Muhammadiyah dilarang malakukan usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam termasuk kehidupan hayati seperti binatang, pepohonan, maupun lingkunagn fisik dan biotik termasuk air laut, udara, sungai, dan sebagainya yang menyebabkan kehilangan kesimbangan ekosistem dan timbulnya bencana dalam kehidupan105 . 4. Memasyarakatkan dan mempraktikkan budaya bersih, sehat, dan indah lingkunagn disertai kebersihan fisik dan jasmani yang menunjukkan keimanan dan kesalihan106 . 5. Melakukan tindakan-tindakan amar makruf dan nahi munkar dalam menghadapi kezaliman, keserakahan, dan rekayasa serta kebijakan-kebijakan yang mengarah, mempengaruhi, dan menyebabkan kerusakan lingkungan dan tereksploitasinya sumber-sumber daya alam yang menimbulkan kehancuran, kerusakan, dan ketidakadilan dalam kehidupan. 6. Melakukan kerja sama-kerja sama dan aksi-aksi praksis dengan berbagai pihak baik perseorangan maupun kolektif untuk terpeliharanya keseimbangan, kelestarian, dan keselamatan lingkungan hidup serta terhindarnya kerusakankerusakan lingkungan hidup sebagai wujud dari sikap pengabdian dan kekhalifahan dalam mengemban misi kehidupan di muka bumi ini untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat107 . L. KEHIDUPAN DALAM MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Pendidikan Kemuhammadiyahan 103 1. Setiap warga Muhammadiyah wajib menguasai dan memiliki keunggulan dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana kehidupan yang penting untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat108 . 2. Setiap warga Muhammadiyah harus memiliki sifat-sifat ilmuwan, yaitu; kritis109, terbuka menerima kebenaran dari manapun datangnya110, serta senantiasa menggunakan daya nalar111 . 3. Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian tidak terpisahkan dengan iman dan amal shaleh yang menunjukkan derajat kaum muslimin112, dan membentuk pribadi ulil albab113 . 4. Setiap warga Muhammadiyah dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki mempunyai kewajiban untuk mengajarkan kepada masyarakat, memberikan peringatan, memanfaatkan untuk kemashlahatan dan mencerahkan kehidupan sebagai wujud ibadah, jihad dan dakwah114 . 5. Menggairahkan dfan mengembirakan gerakan mencari ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi baik melalui pendidikan maupun kegiatan-kegiatan di lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai sarana penting untuk membangun peradaban Islam. Dalam kegiatan ini termasuk menyemarakkan tradisi di seluruh lingkungan warga Muhammadiyah. M. KEHIDUPAN DALAM SENI DAN BUDAYA 1. Islam adalah agama fitrah, yaitu agama yang berisi ajaran yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia115, Islam bahkan menyalurkan, mengatur, dan mengarahkan fitrah
Pendidikan Kemuhammadiyahan 104 manusia itu untuk kemuliaan dan kehormatan manusia sebagai makhluk Allah. 2. Rasa seni sebagai penjelmaan rasa keindahan dalam diri manusia merupakan salah satu fitrah yang dianugerahkan Allah SWT yang harus dipelihara dan disalurkan dengan baik dan benar sesuai dengan jiwa dan ajaran Islam. 3. Berdasarkan Munas Tarjih ke-22 tahun 1995 ditetapkan bahwa karya seni hukumnya mubah (boleh) selama tidak mengarah atau mengakibatkankan fasad (kerusakan), dlarar (bahaya), isyyan (kedurhakaan), dan ba'id anillah (terjauhkan dari Allah); maka pengembangan kehidupan seni dan budaya di kalangan Muhammadiyah harus sejalan dengan etika atau norma-norma Islam sebagaimana dituntunkan Tarjih tersebut. 4. Seni rupa yang obyeknya makhluk bernyawa seperti patung hukumnya mubah bila untuk kepentingan sarana pengajaran, ilmu pengetahuan, dan sejarah; serta menjadi haram bila mengandung unsur yang membawa isyyan (kedurhakaan) dan kemusyrikan. 5. Seni suara baik seni vokal maupun instrumental, seni sastra, dan seni pertunjukan pada dasarnya mubah (boleh) serta menjadi terlarang manakala seni tersebut menjurus pada pelanggaran norma-norma agama dalam ekspresinya baik dalam wujud penandaan tekstual maupun visual. 6. Setiap warga Muhammadiyah baik dalam menciptakan maupun menikmati seni dan budaya selain dapat menumbuhkan perasaan halus dan keindahan juga menjadikan seni dan budaya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai media atau sarana dakwah untuk membangun kehidupan yang berkeadaban. 7. Menghidupkan sastra Islam sebagai bagian dari strategi membangun peradaban kebudayaan muslim. REFERENSI
Pendidikan Kemuhammadiyahan 105 1. Q.S. Asy-Syura/42: 13 2. Q.S. An-Nisa/4 : 125 3. Q.S. Al-Baqarah/2: 136 4. Q.S. Ar-Rum/30: 30 5. Q.S. Al-Baqarah/2: 185 6. Q.S. Ali Imran/3: 112 7. Q.S. Al-Anbiya/21: 107 8. Q.S. Ali Imran/3: 19 9. Q.S. Al-Maidah/5: 3 10. Q.S. Al-Ikhlash/112: 1-4 11. Q. S. Adz-Dzariyat/51: 56 12. Q.S. Al-Baqarah/2: 30; Al-An'am/6: 165; Al`Araf/7: 69, 74; Yunus/10: 14, 73; AsShad/38: 26 13. Q.S. Al-Fath/48: 29 14. Q.S. Al-Baqarah/2: 208 15. Q.S. Al-An'am/6: 161-163 16. Q.S. Al-Baqarah/2: 112, 133, 136, 256; Ali Imran/3 : 19, 52, 82, 85; An-Nisa/4: 125, 165, 170; Al-Maidah/5: 111, Al-An'am/6: 163; AlAraf/7: 126; At-Taubah/9: 33; Yunus/10: 72, 84, 90; Hud/11: 14; Yusuf/12: 101; AnNahl/16: 89, 102; Asy-Syuura/42: 13; AshShaf/61: 9; Al-Mu'minun/23: 1-11\ 17. Q.S. Al-Baqarah/2: 2-4, 213 s/d 214, 165, 285; Ali Imran/3: 122 s/d 139; An-Nisa/4: 76; At-Taubah/9: 51, 71; Hud/11: 112 s/d 122; AlMu'minun/23: 1 s/d 11; Al-Hujarat/49: 15 18. Q.S. Al-Baqarah/2: 58, 112; An-Nisa/4: 125; Al-`An'am/6: 14; An-Nahl/16: 29, 69, 128; Luqman/31: 22; Ash-Shaffat/37: 113; AlAhqhaf/46: 15 19. Q.S. Al-Baqarah/2: 2 s/d 4, 177, 183; Ali Imran/3: 17, 76, 102, 133 s/d 134; AlMaidah/5: 8; Al-'Araf/7: 26, 128, 156; AlAnfal/8: 34; At-Taubah/9: 8; Yunus/10: 62 s/d 64; An-Nahl/16: 128; Ath-Thalaq/65: 2 s/d 4; An-Naba/78: 31 20. Q.S. Yusuf/112: 108 21. Q.S. At-Tahrim/66: 6 22. Q.S. Ali Imran/3: 104, 110 23. Q.S. Al-Ikhlash/112: 1 s/d 4 24. Q.S. Al-Furqan/25: 63-77 50. H.R. Bukhari & Muslim 51. H.R. Bukhari & Muslim 52. H.R. Bukhari & Muslim 53. H.R. Bukhari & Muslim 54. H.R. Bukhari & Muslim 55. Q.S. Al-Mumtahanah/60 : 8 56. H.R. Abu Dawud 57. Q.S. Al-Isra/17 : 70 58. Q.S. Al-Hujarat/49 : 13 59. Q.S. Al-Maidah/5 : 2 60. Q.S. Fushilat/41 : 34 61. Q.S. Al-balad/90 : 13, Al-Baqarah/2 : 256, An-Nisa/4 : 29, Al-Maidah/5 : 38 62. Q.S. Al-Qalam/68 : 4 63. Q.S. An-Nisa/4 : 57-58 64. Q.S. Al-Baqarah/2 : 194, An-Nahl/16 : 126 65. Q.S. Al-Isra/17 : 34 66. Q.S. Al-Hasyr/59 : 9 67. Q.S. Ali Imran/3 : 114 68. Q.S. Ali Imran/3 : 104, 110 69. Q.S. Al-Maidah/5 : 2 70. Q.S. Al-Hujarat/49 : 11 71. Q.S. An-Nur/24 : 4 72. Q.S. Al-Baqarah/2 : 220 73. Q.S. Al-Maidah/5 : 38 74. Q.S. Al Baqarah/2 : 148 75. Q.S. Ali Imran/3: 104, 110 76. Q.S. An-Nisa/4: 57 77. Q.S. Al-Anfal/8 : 27 78. Q.S.Al-Isra/17:37,Luqman/31: 18 79. Q.S. Ibrahim/14: 7 80. Q.S. Yusuf/12: 87; Al-Hijr/15: 55, 56; AzZumar/3 , Q.S. Al-Baqarah/2: 282, Q.S. AlHasyr/59 : 18 81. - 82. - 83. Q.SAn-Nisa/4 : 57 84. Q.S. Al-Anfal/8 : 27 85. Q.S. An-Nisa/4 : 58, dst. 86. Q.S.An-Nisa/4: 59,Al-Hasyr/59: 7 87. Q.S. Al-Anbiya/21 : 107 88. Q.S. Ali Imran/3 : 104, 110 89. Q.S. An-Nisa/4 : 108
Pendidikan Kemuhammadiyahan 106 25. Q.S. An-Nisa/4: 136 26. Q.S. Al-Ikhlash/112: 1 s/d 4 27. Q.S. Al-Baqarah/2: 105, 221; An-Nisa/4: 48; Al-Maidah/5: 72; Al-`An'am/6: 14, 22 s/d 23, 101, 121; At-Taubah/9: 6, 28, 33; Al-Haj/22: 31; Luqman/31: 13 s/d 15 28. Q.S. Al-Qalam/68 : 4 29. Q.S. Al Ahzab/33: 21 30. Q.S. Al-Bayinah/98: 5, Hadist Nabi riwayat Bukhari-Muslim dari Umar bin Khattab 31. Q.S. Asy-Syams/91 : 5-8 32. Q.S. Al-Ashr/103 : 3, Q.S. Ali Imran/4 : 114 33. Q.S. Al-Baqarah/2 : 34. Q.S. Al-Baqarah/2: 30 35. Q.S. Shad/38: 27 36. Q.S. Al-Qashash/28 : 77 37. H. R. Bukhari-Muslim 38. Q.S. Ali Imran/3 : 1 12 39. Q.S. Ali Imran/3: 142; Al-Insyirah/94 : 5-8 40. Q.S. Ar-Rum/30 : 21 41. Q.S. An-Nisa/4 : 19, 36, 128; Al-Isra/17 : 23, Luqman/31 : 14 42. Q.S. Ar-Rum/30 : 21 43. Q.S. Al-An'am/6 : 151, Al-Isra/17 : 31 44. Q.S. Al-Ahzab/33 : 59 45. Q.S. At-Tahrim/66 : 6 46. Q.S. At-Talaq/65 : 6, Al-Baqarah/2 : 233 47. Q.S. Al-Maidah/5 : 8, An-Nahl/16 : 90 48. Q.S. Al-Baqarah/2 : 228, An-Nisa/4 : 34 49. Q.S. Al-Isra/17 : 26, Ar-Rum/30 : 38 90. Q.S. Al-Hujarat/49 : 13 91. Q.S. Al-Balad/90 : 13 92. Q.S. Al-Hasyr/59 : 9 93. Q.S. Al-An'am/6 : 251 94. Q.S. Al-Furqan/25 : 19, Al-Anfal/8 : 27 95. Q.S. Al-Maidah/5 : 38 96. Q.S. Al-Baqarah/2 : 148 97. Q.S. Al-Maidah/5 : 2 98. Q.S. An-Nisa/4 : 57-58 99. Q.S. At-Taubah/9 : 128 100. Q.S. Al-Mumtahanah/60 : 8 101. 101 Q.S. Al- Qashash/28 : 77, Ali Imran/3 : 104 102. 102 Q.S. Ali Imran/3: 103 103. 103 Q.S. Al-Baqarah/2: 27,60; Al-Araf/7: 56; Asy-Syu'ara/26: 152; Al-Qashas/28: 77 104. Q.S. Al-Maidah/5: 33; Asy-Syu'ara/26: 152 105. Q.S. Al-Baqarah/2: 205; Al-`Araf/7: 56; ArRum/30: 41 106. Q.S. Al-Maidah/5: 6; Al-`Araf/7: 31; AlMudatsir/74: 4 107. Q.S. Al-Maidah/2: 2 108. Q.S. Al-Qashash/28 : 77; An-Nahl/16 : 43; Al-Mujadilah/58 : 11; At-Taubah/9 : 122 109. Q.S. Al-Isra/17: 36 110. Q.S. Az-Zumar/39 : 18 111. Q.S. Yunus/10 : 10 112. Q.S. Al-Mujadilah/58 : 11 113. Q.S. Ali Imran/3 : 7, 190-191; Al-Maidah/5 : 100; Ar-Ra'd/13 : 19-20; Al-Baqarah/2 : 197 114. Q.S. At-Taubah/9 : 122; Al-Baqarh/2 : 151; Hadis Nabi riwayat Muslim, Q.S. ArRum/30: 30 BAB VI KEORGANISASIAN DALAM MUHAMMADIYAH Kompetensi 1. Agar mahasiswa dapat memahami substansi AD & ART Muhammadiyah,
Pendidikan Kemuhammadiyahan 107 termasuk perubahan-perubahan sejak berdirinya sampai sekarang (1912-2012) 2. Agar mahasiswa mampu menerapkan sistem administrasi dan tata kerja persyarikatan. 3. Agar mahasiswa menyadari menjadi anggota dan pengurus di Muhammadiyah. A. Pendahuluan Muhammadiyah, selain dikenal sebagai gerakan pemikiran, juga merupakan organisasi. Sebagai organisasi, Ormas Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 H/ 18 Nopember 1912, ini memiliki aturan main sebagai pedoman dasar pengelolaan, yang tertuang dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART). Juga memiliki struktur organisasi, kepemimpinan, keanggotaan, badan pembantu pimpinan, organisasi otonom, dan mekanisme kerja, serta aturan teknis lainnya. B. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Anggaran Dasar (AD) memuat prinsip-prinsip umum. Sedangkan ART menjelaskan dan mengatur hal-hal yang tidak diatur dalam AD. Anggaran Dasar Muhammadiyah disahkan dan ditetapkan oleh Muktamar. Jika ada rencana perubahan, prosesnya diusulkan melalui Tanwir, kemudian diagendakan dalam acara Muktamar. Perubahan tersebut diputuskan oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota Muktamar yang hadir. Sedangkan ART dibuat oleh Pimpinan Pusat berdasarkan Anggaran Dasar, dan disahkan oleh Tanwir. Dalam keadaan yang sangat memerlukan perubahan, Pimpinan Pusat dapat mengubahnya, dan berlaku sampai disahkan oleh Tanwir. AD Muhammadiyah disusun pertama kali pada 1912. Kemudian mengalami perubahan sebanyak 14 kali, yakni pada 1914, 1921, 1934, 1941, 1943, 1946, 1950 (2 x), 1959, 1966, 1968, 1985, 2000, dan 2005. Perubahan, itu antara lain dilatari oleh tuntutan pengembangan gerakan, konsekuensi perluasan jangkauan bidang garap, dan tuntutan politik. Perubahan terakhir, dilakukan dalam Muktamar ke-45, tahun 2005, di Malang Jawa Timur.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 108 Sejak berdiri tahun 1912 hingga tahun 1958, Anggaran Dasar Muhammadiyah tidak mencantumkan asas. Asas, baru dicantumkan pada 1959. Kalimatnya berbunyi: ‖Persyarikatan berasaskan Islam‖. Dalam perkembangannya, asas Islam diganti Pancasila. Hal ini dilakukan pada Muktamar ke-41, di Solo, seiring dengan keluarnya UU Keormasan tahun 1985 (era orde baru), yang mengharuskan setiap orsospol menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Ketika era orde baru berakhir, dan berganti era reformasi, maka pada Muktamar ke-44 tahun 2000, di Jakarta, asasnya dikembalikan pada Islam. Secara redaksional, tujuan Muhammadiyah mengalami 7 kali perubahan. Perubahan itu menggambarkan perkembangan pemikiran pimpinan dan anggotanya, hasil yang dicapai Muhammadiyah, sekaligus situasi yang dialami. Namun dari 7 kali perubahan redaksional, substansinya tetap sama, bahwa spirit yang ingin ditegakkan Muhammadiyah adalah masyarakat Islam, bukan negara Islam. 1. Tahun 1912: Menyebarkan pengajaran agama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu ‗Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan memajukan hal agama kepada anggota-anggotanya. 2. Tahun 1914, 1921, 1931, 1931, dan 1941: (1) Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Agama di Hindia Nederland. (2) Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya. 3. Tahun 1943: a. hendak menyiarkan agama Islam, serta melatihkan hidup yang selaras dengan tuntunannya, b. hendak melakukan pekerjaan kebaikan kebaikan umum, c. hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggauta-anggautanya; kesemuanya itu ditujukan untuk berjasa mendidik masyarakat ramai. 4. Tahun 1946, 1950, 1959: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 5. Tahun 1966-1968: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 6. Tahun 1985: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wata‗ala. 7. Tahun 2000: menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga dapat
Pendidikan Kemuhammadiyahan 109 terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. C. Struktur Organisasi dan Kepemimpinan 1. Struktur Organisasi Organisasi Muhammadiyah terstruktur mulai ranting, cabang, daerah, wilayah, hingga pusat. Ranting ialah kesatuan anggota dalam satu tempat atau kawasan, yang terdiri atas sekurang-kurangnya 15 orang yang berfungsi melakukan pembinaan dan pemberdayaan anggota. Cabang adalah kesatuan ranting di suatu tempat yang terdiri atas sekurang-kurangnya tiga Ranting yang berfungsi: Melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi Ranting; Penyelenggaraan pengelolaan Muhammadiyah; Penyelenggaraan amal usaha. Daerah adalah kesatuan cabang di Kabupaten/Kota yang terdiri atas sekurang-kurangnya tiga Cabang yang berfungsi: Melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi Cabang; Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan pengelolaan Muhammadiyah; Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan amal usaha; Perencanaan program dan kegiatan. Wilayah adalah kesatuan daerah di provinsi yang terdiri atas sekurangkurangnya tiga Daerah yang berfungsi: Pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi Daerah; Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan pengelolaan Muhammadiyah; Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan amal usaha; Perencanaan program dan kegiatan. Pusat adalah kesatuan wilayah dalam Negara Republik Indonesia yang berfungsi: Melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi Wilayah; Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan pengelolaan Muhammadiyah; Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan amal usaha; Perencanaan program dan kegiatan. Syarat pendirian Persyarikatan tingkat wilayah, daerah, cabang dan ranting diatur dalam ART. Kemudian penetapannya dilakukan secara berjenjang. Untuk penetapan wilayah dan daerah dengan ketentuan luas
Pendidikan Kemuhammadiyahan 110 lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. Penetapan cabang dengan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah. Penetapan ranting dengan ketentuan luas lingkungannya ditetapkan oleh Pimpinan Daerah. Kecuali dalam hal-hal luar biasa, Pimpinan Pusat dapat mengambil ketetapan lain. Dalam perkembangan belakangan ini, Muhammadiyah bukan hanya ada di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Keberadaan Muhammadiyah di luar negeri itu disebut dengan Cabang Istimewa, yang penetapan dan pengesahan pimpinannya langsung dilakukan oleh Pimpinan Pusat. Di sejumlah negara yang sudah berdiri cabang istimewa seperti Mesir, Malaysia, Inggris, Singapura, Syiria, Sudan, Iran, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan lain-lain yang digerakkan oleh para mahasiswa dan warga serta simpatisan Muhammadiyah setempat. Cabang Istimewa tersebut lebih merupakan perhimpunan paguyuban daripada organisasi yang bersifat structural, untuk menjadi ajang silaturrahim, kerjasama warga dan simpatisan Muhamadiyah sekaligus menjadi mediator Muhammadiyah di negara masing-masing. Namun di Kuala Lumpur, kini telah berdiri ranting istimewa Muhammadiyah dan Aisyiyah, yang sebagian besar pimpinan dan anggotanya adalah para tenaga kerja asal Indonesia (TKI). 2. Struktur Pimpinan Struktur kepemimpinan dalam Muhammadiyah bersifat herarkhis, mulai dari tingkat pusat sampai tingkat ranting. Masa jabatan atau periode kepemimpinan untuk masing-masing tingkatan sama, yakni lima tahun. Pimpinan Pusat adalah pimpinan tertinggi yang memimpin Muhammadiyah secara keseluruhan. Terdiri atas sekurang-kurangnya tiga belas orang, dipilih dan ditetapkan oleh Muktamar untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang diusulkan oleh Tanwir. Ketua Umum Pimpinan Pusat ditetapkan oleh Muktamar dari dan atas usul anggota Pimpinan Pusat terpilih. Anggota Pimpinan Pusat terpilih menetapkan Sekretaris Umum dan diumumkan dalam forum Muktamar. Pimpinan Pusat dapat menambah anggotanya apabila dipandang perlu dengan mengusulkannya kepada
Pendidikan Kemuhammadiyahan 111 Tanwir. Pimpinan Pusat diwakili oleh Ketua Umum atau salah seorang Ketua bersama-sama Sekretaris Umum atau salah seorang Sekretaris, mewakili Muhammadiyah untuk tindakan di dalam dan di luar pengadilan. Pimpinan Wilayah memimpin Muhammadiyah dalam wilayahnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan Pusat, terdiri atas sekurang-kurangnya sebelas orang ditetapkan oleh Pimpinan Pusat untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Wilayah. Ketua Pimpinan Wilayah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat dari dan atas usul calon-calon anggota Pimpinan Wilayah terpilih yang telah disahkan oleh Musyawarah Wilayah. Pimpinan Wilayah dapat menambah anggotanya apabila dipandang perlu dengan mengusulkannya kepada Musyawarah Pimpinan Wilayah yang kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Pusat. Pimpinan Daerah memimpin Muhammadiyah dalam daerahnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan di atasnya, terdiri atas sekurang-kurangnya sembilan orang ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah untuk satu masa jabatan dari calon-calon anggota Pimpinan Daerah yang telah dipilih dalam Musyawarah Daerah. Ketua Pimpinan Daerah ditetapkan oleh Pimpinan Wilayah dari dan atas usul calon-calon anggota Pimpinan Daerah terpilih yang telah disahkan oleh Musyawarah Daerah. Pimpinan Daerah dapat menambah anggotanya apabila dipandang perlu dengan mengusulkannya kepada Musyawarah Pimpinan Daerah yang kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Wilayah. Pimpinan Cabang memimpin Muhammadiyah dalam cabangnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan di atasnya, terdiri atas sekurang-kurangnya tujuh orang ditetapkan oleh Pimpinan Daerah untuk satu masa jabatan dari caloncalon yang dipilih dalam Musyawarah Cabang. Ketua Pimpinan Cabang ditetapkan oleh Pimpinan Daerah dari dan atas usul calon-calon anggota Pimpinan Cabang terpilih yang telah disahkan oleh Musyawarah Cabang. Pimpinan Cabang dapat menambah anggotanya apabila dipandang perlu dengan mengusulkannya kepada Musyawarah Pimpinan Cabang yang kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Daerah. Pimpinan Ranting memimpin Muhammadiyah dalam rantingnya serta melaksanakan kebijakan Pimpinan di atasnya, terdiri atas sekurang-kurangnya lima
Pendidikan Kemuhammadiyahan 112 orang ditetapkan oleh Pimpinan Cabang untuk satu masa jabatan dari calon-calon yang dipilih dalam Musyawarah Ranting. Ketua Pimpinan Ranting ditetapkan oleh Pimpinan Cabang dari dan atas usul calon-calon anggota Pimpinan Ranting terpilih yang telah disahkan oleh Musyawarah Ranting. Pimpinan Ranting dapat menambah anggotanya apabila dipandang perlu dengan mengusulkannya kepada Musyawarah Pimpinan Ranting yang kemudian dimintakan ketetapan Pimpinan Cabang. Sistem kepemimpinan dalam Muhammadiyah lazim disebut dengan kepemimpinan kolektif kolegial. Dalam kepemimpinan model ini, segala keputusan dan kebijakan organisasi ditetapkan melalui proses musyawarah. Pemilihan pimpinan dapat dilakukan secara langsung atau formatur melalui permusyawaratan di masing-masing tingkat, dengan syarat-syarat tertentu. Kemudian khusus jabatan Ketua Umum untuk Pimpinan Pusat, atau ketua untuk Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang dan Ranting dibatasi hanya dibolehkan dijabat oleh orang yang selama dua kali masa jabatan berturut-turut. D. Ortom dan Unsur Pembantu Pimpinan 1. Ortom Ortom atau Organisasi Otonom, adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh dan berkedudukan di bawah Persyarikatan guna membina warga Muhammadiyah dan kelompok masyarakat tertentu sesuai dengan bidang kegiatan yang diadakan dalam rangka mencapai maksud tujuan Muhammadiyah. Ortom Muhammadiyah dibagi dalam dua kategori, yaitu Ortom Umum dan Ortom Khusus. a. Ortom Umum adalah organisasi otonom yang anggotanya belum seluruhnya anggota Muhammadiyah, yaitu Hizbul Wathan (berdiri tahun 1918), Nasyiatul ‘Aisyiyah (berdiri pada tahun 1931), Pemuda Muhammadiyah (berdiri tahun 1932), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (berdiri pada 1961), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (beriri tahun 1964), dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah (berdiri pada 1963).
Pendidikan Kemuhammadiyahan 113 b. Ortom Khusus adalah organisasi otonom yang seluruh anggotanya, anggota Muhammadiyah dan diberi wewenang menyelenggarakan amal usaha yang ditetapkan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam koordinasi Unsur Pembantu Pimpinan yang membidanginya sesuai dengan ketentuan yang berlaku tentang amal usaha tersebut. yang termasuk kategori ini hanyalah ‘Aisyiyah (berdiri pada 22 April 1917). Seluruh Ortom tersebut memiliki struktur organisasi dan kepemimpinan dari pusat hingga ranting, sebagaimana struktur organisasi dan kepemimpinan Muhammadiyah. Ortom, selain berfungsi khusus dalam menggarap kelompok masyarakat tertentu, juga berfungsi sebagai wahana kaderisasi. Atau dalam bahasa lain, fungsi Ortom adalah sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna cita-cita pembaharuan Muhammadiyah. Pembentukan Ortom ditetapkan oleh Tanwir atas usul Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan dilaksanakan dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ortom Khusus ditetapkan dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pembentukan Ortom pada masing-masing tingkat, selain Pimpinan Pusat, dibentuk oleh Pimpinan Ortom satu tingkat di atasnya dengan rekomendasi Pimpinan Persyarikatan setingkat.. Setiap Ortom berwenang mengatur rumah tangganya sendiri yang dituangkan dalam AD dan ART masing-masing, tetapi tidak boleh bertentangan dengan AD dan ART Muhammadiyah. Khusus dalam masalah pemilihan pimpinan, calon pimpinan yang akan diajukan dalam permusyawaratan harus mendapat persetujuan dari Pimpinan Persyarikatan setingkat atau Pimpinan Persyarikatan yang mewilayahi langsung Ortom bagi yang strukturnya berbeda dengan Persyarikatan. Demikian pula, Keputusan Permusyawaratan ditanfidz oleh Ortom setelah mendapat pengesahan dari Pimpinan Persyarikatan setingkat. Pimpinan Ortom berhubungan langsung dengan Pimpinan Persyarikatan setingkat. Juga mengadakan hubungan dan kerjasama dengan Unsur Pembantu Pimpinan dan Ortom lain dengan pemberitahuan kepada Pimpinan Persyarikatan setingkat dan yang dituju. Pimpinan Ortom dapat mengadakan hubungan dan kerjasama dengan pihak luar negeri setelah mendapat persetujuan Pimpinan Pusat Ortom dan Pimpinan Pusat
Pendidikan Kemuhammadiyahan 114 Muhammadiyah serta melaporkan hasilnya. Untuk Tata Kerja Pimpinan Ortom diatur oleh masing-masing Organisasi Otonom. Keuangan dan Kekayaan Ortom secara hukum milik Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Keuangan dan kekayaan Ortom diperoleh dan dipergunakan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam AD masing-masing. Pemindahan hak atas kekayaan berupa benda bergerak dilakukan oleh Pimpinan Ortom masing-masing tingkat dengan pemberitahuan kepada Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat. Sedang untuk benda tidak bergerak dilakukan atas ijin tertulis Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pengawasan terhadap Organisasi Otonom dilakukan oleh Pimpinan Persyarikatan pada semua tingkat. Sanksi berupa tindakan administratif dan/atau yuridis dilakukan oleh Pimpinan Persyarikatan terhadap Organisasi Otonom baik institusi dan/atau perorangan yang menyalahi ketentuan dan peraturan yang berlaku. Laporan akhir masa jabatan selama satu masa periode tentang hasil kerjanya, disampaikan kepada Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat. Laporan tahunan tentang perkembangan Ortom disampaikan kepada Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat. Laporan insidental tentang penanganan terhadap peristiwa atau masalah khusus disampaikan dan dipertanggungjawabkan secara tersendiri kepada Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat selambat-lambatnya satu bulan setelah kegiatan tersebut dinyatakan selesai. Laporan internal Organisasi Otonom diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga masing-masing. Pembubaran Ortom dilakukan apabila melakukan penyimpangan terhadap prinsip, garis, dan kebijakan Persyarikatan. Dan diputuskan oleh Tanwir atas usul Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan dilaksanakan dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Setelah Ortom dinyatakan bubar, segala hak milik kembali kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2. Badan Pembantu Pimpinan
Pendidikan Kemuhammadiyahan 115 Selain pimpinan Persyarikatan, terdapat Badan Pembantu Pimpinan (BPP) Persyarikatan, yang bertugas melaksanakn program dan kegiatan yang telah menjadi kebijakan Persyarikatan. BPP adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Pimpinan Persyarikatan masingmasing tingkat, terdiri dari Majelis dan Lembaga. Majelis merupakan unsur Pembantu Pimpinan yang diserahi tugas sebagai penyelenggara amal usaha, program, dan kegiatan pokok dalam bidang tertentu sesuai dengan kebijakan Pimpinan Persyarikatan masingmasing tingkat. Sedangkan Lembaga merupakan unsur Pembantu Pimpinan yang diserahi tugas melaksanakan program dan kegiatan pendukung yang bersifat khusus. Majelis berwenang menentukan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dalam penyelenggaraan amal usaha, program, dan kegiatan sesuai dengan kebijakan Persyarikatan. Sedangkan Lembaga berwenang menentukan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam pelaksanaan program dan kegiatan atas persetujuan Pimpinan Persyarikatan. Majelis berkedudukan di tingkat pusat, wilayah, daerah, dan cabang, yang dibentuk oleh Pimpinan Persyarikatan di masing-masing tingkat sesuai kebutuhan. Khusus Majelis Pendidikan Tinggi pada tingkat wilayah dibentuk oleh Pimpinan Wilayah sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku atas persetujuan Pimpinan Pusat. Sementara Lembaga berkedudukan di tingkat pusat dan dibentuk oleh Pimpinan Pusat. Apabila dipandang perlu, Pimpinan Wilayah dan/atau Pimpinan Daerah dapat membentuk Lembaga dengan persetujuan Pimpinan Persyarikatan setingkat di atasnya. Khusus Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) keberadaannya harus dibentuk di tingkat wilayah dan daerah karena melekat dengan fungsi organisasi/Persyarikatan dan revitalisasi cabang dan ranting. Majelis dan Lembaga sebagai Pembantu Pimpinan mengalami perubahan dari periode ke periode, baik nama maupun tupoksinya. Pada periode 2010-2015, sesuai dengan SK PP Muhammadiayah Nomor:
Pendidikan Kemuhammadiyahan 116 244/KEP/I.0/B/2010, unsur Pembantu Pimpinan Persyarikatan Periode 2010- 2015, terdiri dari 13 majelis dan 8 lembaga. Nama Majelis dan Lembaga Periode 2010-2015: (1) Majelis Tarjih dan Tajdid, (2) Majelis Tabligh, (3) Majelis Pendidikan Tinggi, (4) Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, (5) Majelis Pendidikan Kader, (6) Majelis Pelayanan Kesehatan Umum, (7) Majelis Pelayanan Sosial, (8) Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan, (9) Majelis Wakaf dan Kehartabendaan, (10) Majelis Pemberdayaan Masyarakat, (11) Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia, (12) Majelis Lingkungan Hidup, (13) Majelis Pustaka dan Informasi, (14) Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting, (15) Lembaga Pembina dan Pengawas Keuangan, (16) Lembaga Penelitian dan Pengembangan, (17) Lembaga Penanggulangan Bencana, (18), Lembaga Zakat, Infaq, dan Shadaqah, (19) Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik, (20) Lembaga Seni Budaya dan Olahraga, dan (21) Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional. Hubungan dan tata kerja Majelis: (1) Mengadakan hubungan vertikal dalam penyelenggaraan amal usaha, program, dan kegiatan Persyarikatan pada bidangnya, dengan pemberitahuan baik kepada Pimpinan Persyarikatan setingkat maupun yang dituju. Dalam hal hubungan dengan Pimpinan Persyarikatan di bawahnya dilakukan atas nama Pimpinan Persyarikatan; (2) Mengadakan hubungan horisontal dengan Majelis dan Lembaga lain serta Organisasi otonom, dengan pemberitahuan kepada Pimpinan Persyarikatan; (3) Mengadakan hubungan dan kerjasama dengan pihak lain di luar Persyarikatan, dengan persetujuan Pimpinan Persyarikatan setingkat. Dalam hal hubungan dan kerjasama dengan pihak luar negeri, diatur oleh Pimpinan Pusat. Hubungan dan tata kerja Lembaga: Mengadakan hubungan vertikal, horisontal, dan hubungan dengan pihak lain di luar Persyarikatan dalam pelaksanaan program dan kegiatan sesuai bidangnya, dilakukan dengan persetujuan Pimpinan Persyarikatan. Penetapan susunan dan personalia pimpinan majelis/lembaga dilakukan oleh Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat, dan masa jabatannya sama dengan masa jabatan Pimpinan Persyarikatan. Khusus untuk jabatan Ketua Majelis/Lembaga dapat dijabat oleh orang yang sama dua kali masa
Pendidikan Kemuhammadiyahan 117 jabatan berturut-turut. Tugasnya, berakhir pada waktu dilakukan serah-terima jabatan dengan Pimpinan yang baru. Rapat Kerja Unsur Pembantu Pimpinan terdiri atas: Rapat Kerja Majelis untuk membahas penyelenggaraan amal usaha, program, dan kegiatan sesuai pembagian tugas yang ditetapkan oleh Pimpinan Persyarikatan; Rapat Kerja Lembaga untuk membahas pelaksanaan program dan kegiatan yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Persyarikatan. Pembiayaan Unsur Pembantu Pimpinan menjadi tanggung jawab Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat. Unsur Pembantu Pimpinan dapat menyelenggarakan usaha dan/atau administrasi keuangan sendiri atas persetujuan dan dalam koordinasi Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat. Unsur Pembantu Pimpinan menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja untuk diajukan kepada dan disahkan oleh Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat. Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat melakukan pengawasan atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja yang dilakukan oleh Unsur Pembantu Pimpinan. Kekayaan Unsur Pembantu Pimpinan secara hukum milik Pimpinan Pusat. Pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan dapat dilakukan oleh Unsur Pembantu Pimpinan sesuai dengan ketentuan dan/atau kebijakan Pimpinan Persyarikatan. Pemindahan hak atas kekayaan berupa benda bergerak dilakukan oleh Pimpinan Persyarikatan masing-masing tingkat atas pelimpahan wewenang dari Pimpinan Pusat, sedang untuk benda tidak bergerak dilakukan atas izin Pimpinan Pusat. Pengawasan terhadap penyelenggaraan amal usaha, pelaksanaan program dan kegiatan, serta pengelolaan keuangan dan kekayaan Unsur Pembantu Pimpinan dilakukan oleh Pimpinan Persyarikatan pada semua tingkat secara periodik dan/atau insidental. Unsur Pembantu Pimpinan baik institusi dan/atau person yang terbukti bersalah dikenai sanksi oleh Pimpinan Persyarikatan berupa tindakan administratif dan/atau yuridis. Laporan pertanggungjawaban tentang hasil kerja penyelenggaraan amal usaha, pelaksanaan program dan kegiatan, serta pengelolaan keuangan dan
Pendidikan Kemuhammadiyahan 118 kekayaan dibuat oleh Unsur Pembantu Pimpinan pada akhir masa jabatan dan disampaikan kepada Pimpinan Persyarikatan. Laporan Tahunan tentang perkembangan penyelenggaraan amal usaha, pelaksanaan program dan kegiatan, serta pengelolaan keuangan dan kekayaan dibuat oleh Unsur Pembantu Pimpinan disampaikan kepada Pimpinan Persyarikatan. Laporan insidental tentang penanganan terhadap peristiwa atau masalah khusus disampaikan dan dipertanggungjawabkan secara tersendiri kepada Pimpinan Persyarikatan selambat-lambatnya satu bulan setelah kegiatan tersebut dinyatakan selesai. E. Sistem Administrasi dan Tata Kerja 1. Jenis dan Tata Urutan Aturan Menurut Surat edaran PPM Nomor 264/KEP ll.0lBl2012, jenis dan tata urutan aturan dalam Muhammadiyah adalah sebagai berikut: A. Aturan yang bersifat mengatur: a.Anggaran Dasar; b.Anggaran Rumah Tangga; c.Qaidah; d.Peraturan; e.Pedoman; f. Ketentuan. B. Jenis peraturan yang bersifat penetapan meliputi: 1) Keputusan: a. Keputusan permusyawaratan: (1) Keputusan Muktamar, Musyawarah wilayah, Daerah, cabang, dan Ranting (2) Keputusan Tanwir, Musyawarah Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang , dan Ranting. b. Keputusan rapat: Keputusan Rapat Pimpinan Pusat, Wilayah, dan Daerah. c. Keputusan Pimpinan: Keputusan Pimpinan Persyarikatan tingkat pusat, wilayah, dan daerah. 2) Maklumat: a. Maklumat Pimpinan Persyarikatan tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. b. Maklumat Pimpinan Majelis tingkat pusat, wilayah, dan daerah.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 119 3) lnstruksi: a. lnstruksi Pimpinan Persyarikatan tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. b. lnstruksi Pimpinan Majelis tingkat pusat, wilayah, daerah, dan cabang. 4) Edaran: a. Edaran Pimpinan Persyarikatan tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. b. Edaran Pimpinan Majelis tingkat pusat, wilayah, daerah, dan cabang. C. Tata Urutan Peraturan dalam Muhammadiyah terdiri dari: 1) Tata urutan peraturan yang bersifat pengaturan, meliputi: a. Anggaran Dasar; b. Anggaran Rumah Tangga; c. Qaidah; d. Peraturan; e. Pedoman; f. Ketentuan. 2) Tata urutan peraturan yang bersifat penetapan, meliputi: a. Tingkat pusat: (1) Keputusan Muktamar; (2) Keputusan Tanwir; (3) Keputusan Rapat Pimpinan Pusat; (4) Keputusan Pimpinan Pusat; (5) Maklumat, lnstuksi, dan Edaran Pimpinan Persyarikatan dan Majelis tingkat pusat. b. Tingkat wilayah: (1) Keputusan Musyawarah Wilayah; (2) Keputusan Musyawarah Pimpinan Wilayah; (3) Keputusan Rapat Pimpinan Wilayah; (4) Keputusan Pimpinan Wilayah; (5) Maklumat, lnstuksi, dan Edaran Pimpinan Persyarikatan dan Majelis tingkat wilayah. c. Tingkat daerah: (1) Keputusan Musyawarah Daerah; (2) Keputusan Musyawarah Pimpinan Daerah; (3) Keputusan Rapat Pimpinan Daerah; (4) Keputusan Pimpinan Daerah; (5) Maklumat, lnstuksi, dan Edaran Pimpinan Persyarikatan dan Majelis tingkat daerah. d. Tingkat cabang: (1) Keputusan Musyawarah Cabang; (2) Keputusan Musyawarah Pimpinan Cabang; (3) Keputusan Pimpinan Cabang; (4) Maklumat, lnstuksi, dan Edaran Pimpinan Persyarikatan dan Majelis tingkat cabang.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 120 e. Tingkat ranting: (1) Keputusan Musyawarah Ranting; (2) Keputusan Musyawarah Pimpinan Ranting; (3) Keputusan Pimpinan Ranting; (4) Maklumat, lnstuksi, dan Edaran Pimpinan Persyarikatan tingkat ranting. 2. Tata Kerja Pimpinan Pimpinan Persyarikatan terdiri dari unsur ketua, sekretaris dan bendahara. Masing-masing memiliki tugas dan wewenang sesuai jabatannya. Tetapi semua itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan tersistem dalam organisasi. Pembagian tugas dimaksudkan untuk memudahkan pelaksanaan tugas dan fungsi. Oleh karenanya, setiap anggota pimpinan dalam menjalankan tugasnya wajib melakukan dan memelihara hubungan, koordinisasi, integrasi, dan sinkronisasi secara terus menerus. Terdapat perbedaan penyebutan jabatan untuk tingkat pusat, dengan tingkat wilayah ke bawah. Jika di tingkat pusat disebut Ketua Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum, di tingkat wilayah ke bawah disebut Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Jika di tingkat pusat jabatan Ketua, Sekretaris bendahara, di tingkat wilayah ke bawah disebut Wakil Ketua, Wakil Sekretaris, dan Wakil Bendahara. 3. Sistem Administrasi Dalam penyelenggaraan tugas-tugas ketatausahaan, terutama yang berkaitan dengan tugas pengendalian program, pembinaan anggota, pembinaan organisasi, bimbingan amal usaha, hubungan dengan pihak luar serta kegiatan-kegiatan lainnya, dibentuklah kantor sekretariat, yang dipimpin oleh seorang Kepala Kantor. Kantor selain berfungsi sebagai pusat administrasi, juga pusat kegiatan. Dalam hal surat menyurat, baik masuk mapun keluar dicatat dengan tertib melalui Sekretariat. Surat-surat keluar, ditandatangani oleh Ketua Umum/ketua bersama Sekretaris Umum/sekretaris dengan ketentuan sebagai berikut: a. Dalam hal Ketua Umum/ketua berhalangan atau dalam bidang tertentu, surat-surat dapat ditandatangani oleh Ketua/walik ketua. b. Dalam hal Sekretaris Umum/sekretaris berhalangan, surat-surat ditandatangani sekretaris/wakil sekretaris.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 121 c. Khusus surat-surat yang mengenai keuangan dan kebendaharaan ditandatangani oleh Ketua Umum/Ketua bersama Bendahara Umum/Bendahara. Dalam hal Bendahara Umum/Bendahara berhalangan, surat-surat ditandatangani Ketua Umum/Ketua bersama Sekretaris Umum/Sekretaris. d. Surat-surat yang bersifat rutin dapat ditandatangai Sekretaris Umum/Sekretaris. 4. Pengadministrasian Aset Segala aset, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, termasuk keuangan dan kekayaan Unsur Pembantu Pimpinan, Amal Usaha, dan Organisasi Otonom pada semua tingkat secara hukum merupakan milik Pimpinan Pusat. Pengelolaan keuangan dalam Muhammadiyah diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Muhammadiyah. Pengelolaan kekayaan dalam Muhammadiyah diwujudkan dalam Jurnal, yang ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. Pengawasan keuangan dan kekayaan dilakukan terhadap Pimpinan Muhammadiyah, Unsur Pembantu Pimpinan, Amal Usaha, dan Organisasi Otonom pada semua tingkat. Pimpinan Muhammadiyah dan Unsur Pembantu Pimpinan di semua tingkat membuat laporan pertanggungjawaban untuk disampaikan kepada Musyawarah Pimpinan, Musyawarah masing-masing tingkat, Tanwir, atau Muktamar. Sementara Pimpinan Amal Usaha membuat laporan tahunan disampaikan kepada Unsur Pembantu Pimpinan dengan tembusan kepada Pimpinan Muhammadiyah untuk dipelajari dan ditindaklanjuti. Keanggotaan Keanggotaan dalam Muhammadiyah dibagi dalam tiga kategori, yakni anggota biasa, anggota istimewa dan anggota kehormatan. Anggota Biasa: (a) Warga Negara Indonesia beragama Islam, (b) Laki-laki atau perempuan berumur 17 tahun atau sudah menikah, (c) Menyetujui maksud dan tujuan Muhammadiyah, (d) Bersedia mendukung dan melaksanakan usaha-usaha Muhammadiyah, (e) Mendaftarkan diri dan membayar uang pangkal.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 122 Sedangkan anggota Luar Biasa ialah seseorang bukan warga negara Indonesia, beragama Islam, setuju dengan maksud dan tujuan Muhammadiyah serta bersedia mendukung amal usahanya. Sementara Anggota Kehormatan ialah seseorang beragama Islam, berjasa terhadap Muhammadiyah dan atau karena kewibawaan dan keahliannya diperlukan atau bersedia membantu Muhammadiyah. Selanjutnya, hal ikhwal tentang keanggotaan, secara lengkap diatur dalam ART. Daftar Pustaka http://www.muhammadiyah.or.id Nashir, Haedar. Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Suara Muhmmadiyah, 2010. Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tarjih, Keputusan Munas Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Surat Keputusan Nomor: 120/KEP/I.0/B/2006, tentang Unsur Pembantu Pimpinan Persyarikatan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Surat Keputusan Nomor: 92/Kep/I.0/B/2007, tentang: Qa'idah Organisasi Otonom Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Surat Keputusan Nomor: 244/KEP/I.0/B/2010, tentang Unsur Pembantu Pimpinan Persyarikatan. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Surat Keputusan Nomor : 264/KEP ll.0lBl2012, tentang: Jenis, Tata Urutan, Dan Muatan Peraturan Dalam Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, 2010. Suara Muhammadiyah, Edisi 2010 – 2011
Pendidikan Kemuhammadiyahan 123 BAB VII PENGELOLAAN AMAL USAHA MUHAMMADIYAH Kompetensi Dasar 1. Agar mahasiswa dapat memahami Hakekat amal usaha Muhammadiyah 2. Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi prinsip-prinsip pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah 3. Agar mahasiswa menyadari hubungan internal dan eksternal Muhammadiyah A. PENDAHULUAN Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Kauman Yogyakarta, dari tahun ke tahun berikutnya telah mengalami perkembangan dan peningkatan yang sangat signifikan, baik secara organisasi maupun gerakan. Oleh karena itu keberadaan Muhammadiyah dapat kita lihat dari dua sisi, yaitu Muhammadiyah sebagai Organisasi (Persyarikatan) dan Muhammadiyah sebagai Gerakan (Harakah). Sebagai organisasi (Persyarikatan), Muhammadiyah menunjukkan adanya keteraturan, sistimatika, dan hirarkhi, dari tingkat ranting sampai dengan pusat. Dalam penyelenggaraannya, Muhammadiyah mengatur dirinya dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Sedangkan sebagai gerakan (harakah), Muhammadiyah menunjukkan adanya dinamika (bergerak maju, hidup dan menghidupkan, dinamis tiada henti) secara terus-menerus dan berkesinambungan. Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid, berazaskan Islam, bersumber pada al-Qur‘an dan al-Sunnah, yang maksud dan tujuannya adalah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Gerakan Muhammadiyah ini kemudian
Pendidikan Kemuhammadiyahan 124 dikembangkan dalam berbagai bidang, dan diantara implementasinya diwujudkan dalam bentuk Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Dalam perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah memiliki berbagai amal usaha dalam berbagai bidang kehidupan. Secara tegas rumusan usaha Muhammadiyah ini tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Muhammadiyah tentang usaha sebgai berikut: 1. Untuk mencapai maksud dan tujuan, Muhammadiyah melaksanakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan tajdid yang diwujudkan dalam usaha disegala bidamg kehidupan. 2. Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan yang macam dan penyelenggaraannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga. 3. Penentu kebijakan dan penanggung jawab amal usaha, program, dan kegiatan adalah Pimpinan Muhammadiyah. Muhammadiyah dalam mengelola amal usahanya selalu didasarkan untuk mendapatkan keridloan Allah SWT. semata demi kemaslahatan ummat dan masyarakat, hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya sekolah/madrasah (Kelompok Bermain, TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga Perguruan Tinggi Muhammadiyah), pondok pesantren, rumah sakit, poliklinik, rumah yatim, masjid, musholla, penerbit buku, Baitul Mal Wa Tanwil (BMT), serta berbagai amal usaha lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Gerakan dakwah Islamiyah melalui amal usaha ini secara langsung telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Semua AUM berjalan dengan landasan untuk beramal dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Keikhlasan, kesabaran, serta ketekunan menjadi model utama para pengelola AUM ini.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 125 B. PENGELOLAAN AUM Kebesaran Muhammadiyah salah satunya bisa dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Setiap kali ada permusyawaratan dilaporkan perkembangan AUM diberbagai tingkatan, mulai dari musyawarah ranting sampai dengan muktamar, dimana dalam laporan tentang AUM secara umum menunjukkan adanya kenaikan yang signifikan dari satu periode ke periode berikutnya. Data AUM di Jawa Timur, tahun 2013, menunjukkan bahwa jumlah sekolah SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA sebanyak 997 sekolah, 26 Perguruan Tinggi Muhammadiyah, 29 Rumah Sakit Muhammadiyah, 72 Klinik dan Balai Pengobatan, dan 74 Panti Asuhan, ini belum termasuk data tentang AUM di bidang ekonomi dan AUM yang dikelola oleh ‗Aisyiyah dan Ortom Muhammadiyah lainnya. Kehadiran AUM ketika masih kecil dan sederhana pada umumnya tidak terjadi masalah, tetapi ketika AUM itu menjadi besar, di beberapa tempat muncul masalah. Munculnya masalah di dalam AUM itu bisa jadi karena mismanajemen atau terjadi pergeseran orientasi dan kebijakan yang tidak sejalan dengan aturan dan ketentuan yang ada di Persyarikatan Muhammadiyah. Untuk itulah kita perlu memahami rumusan baku di Muhammadiyah tentang pengelolaan AUM. Bagaimana seharusnya pengelolaan AUM itu dilaksanakan?. Sebagai bahan kajian, berikut ini disajikan rumusan baku pengelolaan AUM yang ada di dalam buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) dan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke46 tentang Pedoman Revitalisasi Cabang Muhammadiyah. Dalam buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pada bagian Kehidupan Dalam Mengelola Ama Usaha dirumuskan sebagai berikut:
Pendidikan Kemuhammadiyahan 126 1. AUM adalah salah satu usaha dari usaha-usaha dan media da‘wah Persyarikatan untuk mencapai maksud dan tujuan Persyarikatan, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Oleh karenanya semua bentuk kegiatan AUM harus mengarah kepada terlaksananya maksud dan tujuan Persyarikatan dan seluruh pimpinan serta pengelola amal usaha berkewajiban untuk melaksanakan misi utama Muhammadiyah itu dengan sebaikbaiknya sebagai misi da'wah (Q.S. Ali Imran/3: 104, 110) 2. AUM adalah milik Persyarikatan dan Persyarikatan bertindak sebagai Badan Hukum dari seluruh amal usaha itu, sehingga semua bentuk kepemilikan Persyarikatan hendaknya dapat diinventarisasi dengan baik serta dilindungi dengan bukti kepemilikan yang sah menurut hukum yang berlaku. Karena itu, setiap pimpinan dan pengelola AUM di berbagai bidang dan tingkatan berkewajiban menjadikan amal usaha dengan pengelolaannya secara keseluruhan sebagai amanat umat yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. (Q.S. An-Nisaa‘/4: 57) 3. Pimpinan AUM diangkat dan diberhentikan oleh pimpinan persyarikatan dalam kurun waktu tertentu. Dengan demikian pimpinan amal usaha dalam mengelola amal usahanya harus tunduk kepada kebijaksanaan Persyarikatan dan tidak menjadikan amal usaha itu terkesan sebagai milik pribadi atau keluarga, yang akan menjadi fitnah dalam kehidupan dan bertentangan dengan amanat (Q.S. Al-Anfal/8: 27) 4. Pimpinan AUM adalah anggota Muhammadiyah yang mempunyai keahlian tertentu di bidang amal usaha tersebut, karena itu status keanggotaan dan komitmen pada misi Muhammadiyah menjadi sangat penting bagi pimpinan tersebut agar yang bersangkutan memahami secara tepat tentang fungsi amal usaha tersebut bagi Persyarikatan dan bukan semata-mata sebagai pencari nafkah yang
Pendidikan Kemuhammadiyahan 127 tidak peduli dengan tugas-tugas dan kepentingan kepentingan Persyarikatan. 5. Pimpinan AUM harus dapat memahami peran dan tugas dirinya dalam mengemban amanah Persyarikatan. Dengan semangat amanah tersebut, maka pimpinan akan selalu menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh Persyarikatan dengan melaksanakan fungsi manajemen, yaitu menyangkut perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan yang sebaik-baiknya dan sejujur jujurnya. 6. Pimpinan AUM senantiasa berusaha meningkatkan dan mengembangkan amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya dengan penuh kesungguhan. Pengembangan ini menjadi sangat penting agar amal usaha senantiasa dapat berlomba-lomba dalam kabaikan (fastabiq al khairat) guna memenuhi tuntutan masyarakat dan tuntutan zaman. 7. Sebagai amal usaha yang bisa menghasilkan keuntungan, maka pimpinan AUM berhak mendapatkan nafkah dalam ukuran kewajaran (sesuai ketentuan yang berlaku) yang disertai dengan sikap amanah dan tanggungjawab akan kewajibannya. Untuk itu setiap pimpinan persyarikatan hendaknya membuat tata aturan yang jelas dan tegas mengenai gaji tersebut dengan dasar kemampuan dan keadilan. 8. Pimpinan AUM berkewajiban melaporkan pengelolaan amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya, khususnya dalam hal keuangan/kekayaan kepada pimpinan Persyarikatan secara bertanggung jawab dan bersedia untuk diaudit serta mendapatkan pengawasan sesuai dengan peraturan yang berlaku. 9. Pimpinan AUM harus bisa menciptakan suasana kehidupan Islami dalam amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya dan menjadikan amal usaha yang dipimpinnya sebagai salah satu alat da'wah maka tentu saja usaha ini menjadi sangat perlu agar juga menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 128 10. Karyawan AUM adalah warga (anggota) Muhammadiyah yang dipekerjakan sesuai dengan keahlian atau kemampuannya. Sebagai warga Muhammadiyah diharapkan karyawan mempunyai rasa memiliki dan kesetiaan untuk memelihara serta mengembangkan amal usaha tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada sesama. Sebagai karyawan dari AUM tentu tidak boleh terlantar dan bahkan berhak memperoleh kesejahteraan dan memperoleh hak-hak lain yang layak tanpa terjebak pada rasa ketidakpuasan, kehilangan rasa syukur, melalaikan kewajiban dan bersikap berlebihan. 11. Seluruh pimpinan dan karyawan atau pengelola AUM berkewajiban dan menjadi tuntutan untuk menunjukkan keteladanan diri, melayani sesama, menghormati hak-hak sesama, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi sebagai cerminan dari sikap ihsan, ikhlas, dan ibadah. 12. Seluruh pimpinan, karyawan, dan pengelola AUM hendaknya memperbanyak silaturahim dan membangun hubungan-hubungan sosial yang harmonis (persaudaraan dan kasih sayang) tanpa mengurangi ketegasan dan tegaknya sistem dalam penyelenggaraan amal usaha masing-masing. 13. Seluruh pimpinan, karyawan, dan pengelola AUM selain melakukan aktivitas pekerjaan yang rutin dan menjadi kewajibannya juga dibiasakan melakukan kegiatan-kegiatan yang memperteguh dan meningkatkan taqarrub kepada Allah dan memperkaya ruhani serta kemuliaan akhlaq melalui pengajian, tadarrus serta kajian al-Quran dan al-Sunnah , dan bentuk-bentuk ibadah dan mu'amalah lainnya yang tertanam kuat dan menyatu dalam seluruh kegiatan AUM. Mengenai pengelolaan AUM ini, Muktamar Muhammadiyah ke46 memutuskan Pedoman Revitaliasi Cabang Muhammadiyah yang salah satunya menyangkut pengelolaan AUM, dirumuskan sebagai berikut :
Pendidikan Kemuhammadiyahan 129 1. Majelis bertugas menyelenggarakan amal usaha, program, dan kegiatan dalam bidang tertentu. Penentu kebijakan dan penanggungjawab amal usaha adalah Pimpinan Muhammadiyah. 2. AUM di samping merupakan usaha sekaligus juga menjadi media da‘wah Persyarikatan untuk mencapai maksud dan tujuan Persyarikatan. Karena itu, semua AUM harus mengarah kepada terlaksananya maksud dan tujuan Persyarikatan. Amal usaha harus berada dalam sistem gerakan Muhammadiyah dan bukan sebaliknya. 3. AUM adalah milik Persyarikatan. Semua bentuk kepemilikan Persyarikatan hendaklah diinventarisasi secara baik dan dilindungi dengan bukti kepemilikan yang sah menurut hukum yang berlaku. 4. Menciptakan suasana kehidupan Islami disetiap atau seluruh AUM merupakan hal yang penting, karena keberadaan AUM ini merupakan dan menjadi sarana dakwah, sehingga kehadirannya menarik dan punya daya tarik yang kuat. 5. Pimpinan AUM diangkat dan diberhentikan oleh Pimpinan Persyarikatan dalam waktu tertentu. Dengan demikian, Pimpinan AUM dalam mengelola amal usaha harus tunduk pada kebijaksanaan Persyarikatan, juga harus amanah, jujur, istiqomah, sabar, ulet, memiliki kesetiaan, komitmen, bertanggungjawab, siap sedia untuk diaudit sewaktu-waktu, dapat menjadi teladan dan ikhlas. 6. Pimpinan AUM harus banyak inisiatif, kreatif, senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan, memajukan, dan mengembangkan amal usaha yang dipimpinnya agar mampu berlomba dalam kebaikan (fastabiq al khairaat) di tengah-tengah persaingan yang ketat.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 130 7. Mendirikan dan membuka AUM baru dan meningkatkan kualitas AUM yang telah ada guna memenuhi tuntutan zaman dan masyarakat. C. MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH Pada bagian terdahulu penulis sebutkan bahwa kehadiran AUM ketika masih kecil dan sederhana pada umumnya tidak terjadi masalah yang yang berkaitan dengan keuangan – dalam arti tidak ada yang rebutan, tetapi ketika AUM itu menjadi besar, dibeberapa tempat muncul masalah serius – terjadi rebutan berkaitan dengan (pengelolaan) keuangan. Amal Usaha Muhammadiyah yang jumlahnya ribuan perlu dikelola secara profesional dan amanah, diantaranya dalam hal tata kelola keuangan. Tata kelola keuangan yang baik merupakan komponen penting dalam menciptakan lembaga yang amanah sehingga lembaga Muhammadiyah itu menjadi lembaga yang memperoleh kepercayaan masyarakat. Tata kelola yang baik ditandai dengan ―Transparansi, Partisipasi, Akuntabilitas, Sustainable, Equitas, dan Kejujuran. Enam ciri tata kelola ini menjadi prinsip-prinsip dalam melakukan perencanaan, pembukuan, pembelanjaan dan pelaporan dengan benar. Selanjutnya pembahasan pada bagian ini lebih difokuskan pada pengelolaan keuangan sekolah Muhammadiyah yang penulis sarikan dari buku pedoman keuangan sekolah Muhammadiyah Jawa Timur. C.1. Dasar Hukum, Tujuan, dan Kebijakan Umum 1. Dasar Hukum a. AD/ART Muhammadiyah b. SK PP Muhammadiyah Nomor: 28/SK.PP/I.A/3.i/1997 tentang Penyempurnaan Pengelolaan Keuangan Persyarikatan.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 131 c. SK PP Muhammadiyah Nomor: 54/SK.PP/I.A/3.i/1998 tentang Pedoman pemeriksaan keuangan persyarikatan Muhammadiyah. d. Peraturan PP Muhammadiyah Nomor: 03/PRN/I.0/B/2012 tentang Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah. e. SK Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah Nomor: 119/KEP/I.4/C/2007 tentang Peraturan Dana Ta‘awun di Lingkungan Pendidikan Dasar dan Menengah. d. SK Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Nomor : 074/KEP/II.0/C/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Persyarikatan di PWM, dan jenjang organisasi di bawahnya. e. Tanfidz Musywil Muhammadiyah Jawa Timur. f. Program Kerja Majelis Dikdasmen PWM Jatim tahun 2010 – 2015 2. Tujuan a. Tujuan Umum 1). Menjamin bahwa seluruh sumber daya sekolah (keuangan dan material) yang ada digunakan sebagaimana seharusnya. 2). Menentukan penanggung jawab pelaksanaan kebijakan. 3). Memudahkan proses monitoring dan pengambilan kebijakan. b. Tujuan Khusus (Penyusunan Kebijakan Keuangan Sekolah) 1). Sekolah mampu menunjukkan kepada Persyarikatan Muhammadiyah dan Komite Sekolah bahwa aset sekolah terlindungi. 2). Sekolah dan Persyarikatan Muhammadiyah terlindungi dari penyimpangan penggunaan keuangan. 3). Melindungi kepentingan siswa, perangkat operasional, dan persyarikatan Muhammadiyah.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 132 4). Menjaga hubungan baik antara persyarikatan Muhammadiyah dan sekolah dalam hal pengelolaan keuangan dan adanya penetapan peran dan tanggung jawab yang jelas. 5). Adanya pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan tegas dalam pengelolaan keuangan. 4. Kebijakan Umum a. Bahwa semua dana yang diterima dan dikeluarkan berada di bawah wewenang dan tanggung jawab kepala sekolah; oleh karena itu, kepala sekolah berkewajiban mengarahkan penyediaan dan penggunaan dana secara efisien dan efektif. b. Bahwa semua keuangan sekolah, baik yang ada di kas, bank maupun di unit-unit usaha lain merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. c. Majelis Dikdasmen penyelenggara bersama kepala sekolah bertanggung jawab dalam penggunaan anggaran sekolah yang berkaitan dengan pengembangan prasarana pendidikan. C.2. Peran dan Tanggung Jawab a. Tanggung jawab pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah 1. Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah menjamin bahwa aset dan dana sekolah digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). 2. Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah menjamin bahwa keuangan sekolah dikelola dengan amanah, transparan, dan akuntabel. b. Tanggung jawab Majelis Dikdasmen
Pendidikan Kemuhammadiyahan 133 1. Melakukan pembinaan pengelolaan keuangan kepada sekolah dan melakukan pengendalian penggunaan keuangan sekolah, yang dimulai dari perencanaan hingga pelaporan. 2. Melakukan monitoring, evaluasi, dan audit atas ketaatan sekolah (audit internal) dalam melaksanakan prosedur keuangan yang ditetapkan oleh persyarikatan. 3. Menyajikan atau memberikan gambaran potensi dan masalah keuangan sekolah kepada Persyarikatan Muhammadiyah. c. Tanggung jawab sekolah 1. Keuangan sekolah Muhammadiyah dikelola oleh sekolah dan dipertanggungjawabkan kepada persyarikatan melalui Majelis Dikdasmen penyelenggara. 2. Kepala sekolah menjamin bahwa dana sekolah digunakan untuk melaksanakan Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). 3. Kepala sekolah dan bendahara sekolah bertanggungjawab atas penggunaan dan pengendalian dana sekolah. 4. Kepala sekolah dapat melimpahkan kewenangannya kepada bendahara sekolah untuk menjamin terlaksananya operasional keuangan sekolah setiap hari. 5. Bendahara memahami mekanisme pemasukan dan pengeluaran keuangan sekolah. 6. Bendahara sekolah menjamin bahwa laporan keuangan sekolah telah disusun tepat waktu. C.3. Sumber dan Kode Dana Sekolah 1. Sumber dana sekolah a. Uang pendaftaran peserta didik baru adalah uang yang dipungut sekali pada waktu calon siswa melakukan pembelian formulir pendaftaran. b. Dana pengembangan pendidikan (DPP) adalah uang yang
Pendidikan Kemuhammadiyahan 134 dipungut dari peserta didik baru sekali selamamenjadi peserta didik. c. Uang sekolah (SPP) adalah uang yang dipungut kepada setiap peserta didik setiap bulan d. Uang kegiatan siswa (UKS) adalah uang yang dipungut kepada setiap siswa yang ditarik bersamaan dengan uang SPP dengan besaran maksimal 15% dari uang SPP. e. Uang Infaq Siswa (UIS) adalah uang yang dipungut dari setiap siswa setiap tahun yang besarnya 50% dari uang SPP sebulan. f. Uang infaq guru dan karyawan (UIG&K) adalah uang yang dipungut dari setiap guru dan karyawan setiap bulan yang besarnya 1% dari gaji perbulan. g. Uang hasil unit usaha adalah uang yang diperoleh dari hasil unit usaha yang dikembangkan sekolah untuk mendukung pembiayaan pengembangan sekolah. Misalnya: hasil koperasi, hasil kantin, dan lainnya. h. Uang bantuan swasta adalah uang yang diterima dari pihak swasta yang sifatnya halal dan tidak mengikat. i. Uang bantuan pemerintah adalah uang yang diterima dari Pemerintah Daerah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Pusat dalam bentuk block grant atau lainnya yang berkaitan dengan pendidikan. j. Uang lain-lain adalah uang yang dipungut dari siswa untuk kegiatan atau pengadaan barang yang dibutuhkan oleh siswa. Yang termasuk uang lain-lain ini adalah uang ujian, uang seragam, uang buku, uang kesehatan, uang kartu pelajar, uang bapopsi, uang flashdisk, uang majalah sekolah, uang kalender, uang wisuda, uang dakwah terpadu, uang pengembangan laboratorium dan perpustakaan, uang sosialisasi lembaga pendidikan luar, uang fee dari kegiatan pelatihan kerjasama dengan pihak luar, dan lain-lain.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 135 2. Kode Sumber Dan dan Penggunaannya a. Kode Sumber Dana Mata Anggaran Kode Uang pendaftaran 1.1 Dana pengembangan 1.2 Uang sekolah (SPP) 1.3 Uang kegiatan siswa (UKS) 1.4 Uang infaq siswa (UIS) 1.5 Uang infaq guru dan karyawan (UIG&K) 1.6 Uang hasil unit usaha sekolah 1.7 Uang bantuan swasta 1.8 Uang bantuan pemerintah 1.9 Uang lain-lain 1.10 b. Kode Penggunaan Sumber Dana Sumber dana sekolah digunakan untuk membiayai: 1). Belanja Operasional Sekolah, mengikuti mata anggaran sebagai berikut: Mata Anggaran Kode Belanja pegawai (gaji dan honor, tunjangan, insentif) 2.1 Belanja pemeliharaan (peralatan dan gedung sekolah) 2.2 Belanja barang dan jasa 2.3 Belanja perjalanan dinas 2.4 Belanja modal 2.5 Belanja kegiatan (kurikulum, kesiswaan, ISMUBA, Humas, dan pengembangan SDM) 2.6 Belanja beasiswa guru dan siswa 2.7 Belanja social 2.8
Pendidikan Kemuhammadiyahan 136 2). Belanja Persyarikatan (3.1), terdiri dari : Mata Anggaran Kode UIS, UIG/K 3.1.1 Dana Operasional Persyarikatan (DPP) 3.1.2 Dana Ta‟awun (DPP) : Pengembangan ortom dan sekolah lain 3.1.3 3). Belanja pengembangan prasarana sekolah Mata Anggaran Kode Belanja pengembangan prasarana sekolah 4.1 c. Proporsi penggunaan sumber dana 1). Pendaftaran Peserta Didik Baru a). 90 % untuk biaya publikasi, penyelenggaraan pendaftaran, dan vakasi panitia. b). 10 % untuk saving sekolah. 2). Dana Pengembangan Pendidikan (DPP) a). 70 % untuk pengadaan/ pembangunan/ pengembangan/ rehabilitasi prasarana sekolah dan pengembangan SDM. b). 15 % untuk dana taawun pengembangan ortom dan sekolah-sekolah Muhammadiyah di bawah Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. c). 15 % untuk Persyarikatan Muhammadiyah (Cabang, Daerah, Wilayah, dan Pusat), dengan pembagian sebagai berikut : i) 40% untuk Pimpinan Cabang Muhammadiyah ii) 25% untuk Pimpinan Daerah Muhammadiyah iii) 20% untuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah iv) 15% untuk Pimpinan Pusat Muhammadiyah 3). Uang Sekolah (SPP)
Pendidikan Kemuhammadiyahan 137 Uang sekolah (SPP) digunakan untuk : a). Maksimal 65% untuk belanja pegawai b). 2% untuk belanja perjalanan dinas c). 20% untuk biaya operasional sekolah (belanja pemeliharaan, belanja barang dan jasa, belanja modal, belanja kegiatan) d). 5% untuk siswa tidak mampu dan sosial e). 8% untuk saving sekolah dengan fungsi penggunaan mendesak dan investasi. 4). Uang Kegiatan Siswa (UKS) a). 30% untuk kegiatan kurikulum b). 30% untuk kegiatan kesiswaan c). 5% untuk kegiatan ismuba d). 5% untuk kegiatan humas e). 30% untuk cadangan pengadaan barang/kegiatan lain 5). Uang Infaq Siswa (UIS) a). 40% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah b). 25% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah c). 20% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah d). 15% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat Muhammadiyah 6). Uang Infaq Guru/Karyawan (UIG/K) a). 40% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah b). 25% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah c). 20% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah d). 15% untuk Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat
Pendidikan Kemuhammadiyahan 138 Muhammadiyah 7). Hasil Unit Usaha Sekolah a). Untuk pengembangan modal unit usaha b). Untuk biaya operasioanal sekolah c). Untuk saving sekolah 8). Bantuan swasta: Digunakan sesuai dengan kebutuhan sekolah atau sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian bantuan. 9). Bantuan Pemerintah: 100% untuk pengadaan barang dan/atau kegiatan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. 10). Uang lain-lain: digunakan untuk belanja sesuai dengan pos peruntukannya. C.4. Penyusunan Anggaran 1. Anggaran empat tahunan dan tahunan yang ada dalam RKS dan RKAS disusun berdasarkan aturan proporsi penggunaan sumber dana sekolah Penyusunan anggaran 2. Penyusunan anggaran dilakukan setiap tahun dengan prinsip: a. Jumlah yang termuat dalam anggaran pendapatan merupakan batas normal untuk masing-masing pendapatan, b. Jumlah yang termuat dalam anggaran belanja merupakan batas tertinggi yang wajar untuk masing-masing pengeluaran, c. Efektif dan efisien, d. Surplus anggaran. 3. Tahapan Penyusunan Anggaran a. Rapat pimpinan menetapkan kuota anggaran maksimal untuk masing-masing bidang berdasarkan proporsi penggunaan sumber dana. b. Masing-masing bidang mengusulkan anggaran dan kegiatan selambat-lambatnya 2 bulan sebelum tutup tahun anggaran.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 139 c. Bendahara merekap dan melaporkannya kepada kepala sekolah yang kemudian dibahas dalam rapat pimpinan. d. Pembahasan pada rapat bersama antara Majelis Dikdasmen Penyelenggara dan kepala sekolah selambat lambatnya 1 (satu) bulan setelah usulan diterima. 4. Apabila karena sesuatu hal sehingga anggaran tahun berjalan belum selesai dibahas dan ditetapkan oleh Majelis Dikdasmen Penyelenggara, maka sekolah dalam melaksanakan kegiatannya berpedoman pada RKAS tahun sebelumnya. 5. Apabila dipandang perlu, karena suatu hal atau keadaan yang menyangkut penerimaan dan pengeluaran, sehingga rencana anggaran pendapatan dan belanja sekolah tidak dapat dipertahankan lagi, maka kepala sekolah dapat mengajukan usulan perubahan (revisi) RKAS kepada Majelis Dikdasmen Penyelenggara. a. Untuk SD/MI dan SMP/MTs diajukan ke Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah. b. Untuk SMA/MA/SMK diajukan ke Majelis Dikdasmen PD Muhammadiyah. C.5. Laporan Keuangan 1. Jenis Laporan a. Laporan keuangan Merupakan penggunaan dana yang telah dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan. b. Laporan kegiatan Merupakan deskripsi tentang pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai hasil penggunaan anggaran. 3. Periode laporan a. Periode tahun buku adalah 01 Juli sampai dengan 30 Juni setiap tahun pelajaran. b. Jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan catatannya
Pendidikan Kemuhammadiyahan 140 dibulatkan menjadi rupiah penuh. c. Setiap transaksi keuangan wajib didukung dengan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. d. Laporan keuangan kegiatan operasional wajib dibuat setiap 1 (satu) bulan dan dilaporkan selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya. e. Laporan keuangan kegiatan pembangunan/proyek wajib dibuat secara berkala berdasarkan termin pencairan keuangan dengan prestasi kegiatan pembangunan/proyek. Setiap selesai kegiatan pembangunan/proyek dilaporkan secara keseluruhan selambatlambatnya 15 hari setelah selesainya pembangunan/proyek. f. Sekolah menyajikan laporan keuangan periode bulanan, enam bulanan dan tahunan, dan melaporkannya kepada Majelis Dikdasmen penyelenggara. 4. Sistem laporan a. Bendahara menyusun laporan keuangan atas transaksi yang telah berjalan. b. Kepala sekolah memverifikasi laporan keuangan yang telah dibuat oleh bendahara. c. Laporan keuangan yang telah diverifikasi diserahkan kepada Majelis Dikdasmen Penyelenggara, dengan ketentuan penyerahan sebagai berikut: 1) Untuk SD/MI dan SMP/MTs diserahkan kepada Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah. 2) Untuk SMA/MA/SMK diserahkan kepada Majelis Dikdasmen PD Muhammadiyah. 5. Format laporan a. Format laporan keuangan bulanan terdiri dari laporan penerimaan dan pengeluaran, dan hanya bersifat internal. b. Format laporan enam bulanan meliputi rekap laporan kegiatan enam bulan berjalan, buku bank, neraca, laporan sisa hasil usaha, laporan arus kas, dan laporan realisasi anggaran.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 141 c. Format laporan tahunan meliputi buku bank, neraca, laporan sisa hasil usaha, laporan arus kas, dan laporan realisasi anggaran. 6. Cash opname (Opname kas) Setiap akhir tahun anggaran, auditor internal (kepala sekolah dan majelis dikdasmen) melakukan cash opname keuangan sekolah untuk memastikan saldo periode berjalan dalam buku kas harus tepat sesuai dengan jumlah tunai dan buku bank sekolah. C.6. Monitoring dan Evaluasi Anggaran Monitoring dan evalusi adalah bentuk kegiatan pengecekan dan pembinaan pelaksanaan kegiatan dan penggunaan keuangan sekolah dalam rangka terjadinya proses pengendalian internal sebelum dilakukan kegiatan audit keuangan sekolah. 1. Jenis Monitoring dan Evaluasi a. Monitoring dan Evaluasi kemajuan Pengecekan terhadap proses dan pelaporan kemajuan pelaksanaan kegiatan dan keuangan b. Monitoring dan evaluasi kesesuaian Pengecekan terhadap kesesuaian antara pelaksanaan kegiatan dan penggunaan keuangan dengan panduan dan perencanaan c. Monitoring dan evaluasi kinerja Pengecekan terhadap dampak jangka pendek terhadap pelaksanaan kegiatan dan penggunaan keuangan 2. Tim Monitoring dan Evaluasi Tim monitoring dan evaluasi terdiri dari tim yang berasal dari sekolah dan tim yang berasal dari Majelis Dikdasmen. a. Tingkat Majelis Dikadasmen Monitoring dan evaluasi Majelis Dikdasmen terhadap sekolah dilakukan oleh tim yang telah dibentuk dengan SK Majelis Dikdasmen Cabang/Daerah/Wilayah yang berasal dari
Pendidikan Kemuhammadiyahan 142 Pimpinan Cabang, Daerah, dan Wilayah, serta kelompok profesional. b. Tingkat sekolah Monitoring dan evaluasi di tingkat sekolah dilakukan oleh kepala sekolah dan tim penjamin mutu atau litbang. 3. Sasaran Monitoring dan Evaluasi a. Tim monitoring dan evaluasi tingkat cabang melakukan monitoring dan evaluasi ke SD/MI/SMP/MTs. b. Tim monitoring dan evaluasi tingkat daerah melakukan monitoring dan evaluasi ke SMA/MA/SMK. c. Tim monitoring dan evaluasi tingkat wilayah melakukan monitoring dan evaluasi ke SD/MI/SMP/MTs/SMA/MA/SMK berdasarkan skala prioritas. 4. Periode Monitoring dan Evaluasi a. Monitoring dan evaluasi oleh Majelis Dikdasmen PCM/PDM/PWM Jatim dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali dalam 1 tahun untuk setiap sekolah. Jika terdapat sekolah yang memerlukan pembinaan lebih, maka periode monitoring dan evaluasi bisa dilakukan sesuai dengan kebutuhan. b. Monitoring dan evaluasi ditingkat sekolah dilakukan setiap bulan sekali oleh kepala sekolah. 5. Pelaporan monitoring dan Evaluasi Tim monitoring dan evaluasi membuat laporan hasil monevnya yang terdiri dari laporan monitoring dan evaluasi kegiatan dan laporan monitoring dan evaluasi keuangan. Laporan monev diserahkan kepada tim monev pada tingkat cabang/daerah/wilayah. 6. Tindak Lanjut
Pendidikan Kemuhammadiyahan 143 Hasil monitoring dan evaluasi akan ditindaklanjuti berdasarkan temuan lapangan. Bentuk tindak lanjut didasarkan pada masalah yang ada. Jika karena ketidakmengertian maka ditindaklanjuti dengan pembinaan. Jika karena sengaja melakukan kesalahan untuk kepentingan pribadi atau kelompok maka akan dikenakan sanksi. Sanksi diberikan oleh Majelis Penyelenggara berdasarkan rekomendasi tim monev. C.7. Audit Keuangan Sekolah 1. Untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas keuangan sekolah, perlu dilaksanakan audit keuangan. 2. Audit keuangan dilaksanakan secara internal dan eksternal. 3. Audit internal sekolah dilaksanakan oleh Majelis Dikdasmen penyelenggara bekerja sama dengan Lembaga Pembina dan Pemeriksa Keuangan (LPPK) PDM. 4. Audit internal sekolah dapat dilaksanakan setiap tahun sekali, maksimal 3 bulan setelah tutup buku. 5. Audit eksternal dilakukan oleh Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah bekerja sama dengan Lembaga Pembina dan Pemeriksa Keuangan (LPPK) PW Muhammadiyah atau tenaga profesional paling tidak sekali dalam satu periode kepemimpinan kepala sekolah. 6. Pelaksanaan audit eksternal dilaksanakan sesuai skala prioritas minimal sebelum periode kepemimpinan kepala sekolah berakhir. 7. Biaya monev dan audit menjadi tanggung jawab sekolah. 8. Untuk melakukan audit, auditor harus mengetahui seluruh isi kebijakan keuangan. Setiap kesalahan yang ditemukan, harus dijelaskan secara terperinci dan bersamaan dengan itu disertakan pula rekomendasi untuk tindakan koreksi. 9. Dengan dibantu oleh Majelis Dikdasmen, Kepala sekolah dan bendahara sekolah bertanggung jawab untuk menjamin bahwa rekomendasi tersebut diimplementasikan.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 144 DAFTAR PUSTAKA Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2010, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2009, Pedoman Hidup Islami Warha Muhammadiyah. Yogyakarta, Suara Muhammadiyah. Suandi, Ady, dkk.(Penyunting), 2000, Rekonstruksi Gerakan Muhammadiyah. Yogyakarta, UII Press. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1991, SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 40/SK-PP/1991 tentang pedoman keuangan persyarikatan. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, 2008, SK Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Nomor : 074/ KEP/II.0/C/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Persyarikatan di PWM, dan jenjang organisasi di bawahnya. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, MajelisPendidikan Dasar dan Menengah, 2011, Pedoman Keuangan Sekolah Muhammadiyah Jawa Timur. Salam, Junus, 2009, K.H. Ahmad Dahlan Amal dan Perjuangannya. Ciputat, Tangerang, Banten, Al-Wasat Publishing House. BAB VIII
Pendidikan Kemuhammadiyahan 145 PEMBELAJARAN KEMUHAMMADIYAH Kompetensi Dasar 1. Agar mahasiswa dapat memahami dan menguasai kurikulum Kemuhammadiyahan dari SD/MI hingga SMA/SMK/MA. 2. Agar mahasiswa memiliki keterampilan untuk menyusun Rencana Pembelajaran Kemuhammadiyahan 3. Agar mahasiswa memiliki keterampilan untuk mendidik dan mengajar kemuhammadiyahan baik di sekolah, masyarakat, dan keluarga dengan menggunakan berbagai pendekatan, metode dan media pembelajaran A. KURIKULUM KEMUHAMMADIYAHAN 1. Standar Kompetensi Lulusan a. Kemuhammadiyahan SD/MI 1). Mengenal sejarah berdirinya Muhammadiyah dan peranannya dalam mengisi kemerdekaan Indonesia 2). Mengenal gerakan, struktur persyarikatan dan amal usaha Muhammadiyah. 3). Menghafal, memahami dan mempraktekkan janji pelajar Muhammadiyah. b. Kemuhammadiyahan SMP/MTs 1) Mengenal sejarah berdiri, sifat-sifat dan ortom Muhammadiyah. 2) Mengenal dan mempraktekkan nilai-nilai yang terkandung dalam Matan, Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Muqaddimah AD/ART, AD/ART dan Khittah Muhammadiyah.
Pendidikan Kemuhammadiyahan 146 3) Mengenal dan mempraktekkan nilai-nilai yang terkandung dalam kepribadian Muhammadiyah dan Pedoman Hidup Islami. c. Kemuhammadiyahan SMA/MA/SMK 1) Mengenal latar belakan berdirinya Muhammadiyah dan peranannya dalam mengisi kemerdekaan. 2) Mengenal ciri gerakan Muhammadiyah, struktur organisasi dan macam-macam amal usahanya. 3) Menghafal dan mempraktekkan janji pelajar Muhammadiyah. B. PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN 1. Pendahuluan Sudah bertahun-tahun para ahli meneliti dan menciptakan berbagai macam pendekatan mengajar. Salah satunya dikembangkan oleh para ahli di bidang pembelajaran, menelaah bagaimana pengaruh tingkah laku mengajar tertentu terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Joyce dan Weil (1996) dan Joyce, Weil, dan Shower (1992), setiap pendekatan yang ditelitinya dinamakan model pembelajaran, meskipun salah satu dari beberapa istilah lain digunakan seperti strategi pembelajaran, metode pembelajaran, atau prinsip pembelajaran. Mereka memberikan istilah model pembelajaran dengan dua alasan. Pertama, istilah model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode, atau prosedur. Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya, problem-based model of instruction (model pembelajaran berdasarkan masalah) meliputi kelompokkelompok kecil siswa bekerjasama memecahkan suatu masalah
Pendidikan Kemuhammadiyahan 147 yang telah disepakati bersama. Dalam model ini, siswa seringkali menggunakan berbagai macam keterampilan dan prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Jadi satu model pembelajaran dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau prosedur tertentu. Keempat ciri tersebut ialah (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya, (2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan (4) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Kedua, model dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting, apakah yang dibicarakan adalah tentang mengajar di kelas, atau praktek mengawasi siswa. Model pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaksnya (pola urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran yang lain. Suatu pola urutan (sintaks) dari suatu model pembelajaran menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Suatu sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru dan siswa, urutan kegiatankegioatan tersebut, dan tugas-tugas khusus yang perlu dilakukan oleh siswa. Sintaks dari berbagai macam model pembelajaran mempunyai komponen yang sama. Misalnya, semua pembelajaran diawali dengan menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran selalu mempunyai tahap ―menutup pelajaran‖ yang berisi
Pendidikan Kemuhammadiyahan 148 merangkum pokok-pokok pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru. Di samping ada persamaannya, setiap model pembelajaran antara sintaks yang satu dengan sintaks yang lain juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah terutama yang berlangsung di antara pembukaan dan penutupan pembelajaran, yang harus dipahami oleh para guru agar supaya model-model pembelajaran dapat dilakukan dengan berhasil. Setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. Arends (1997), dan para pakar pembelajaran lainnya berpendapat bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik daripada model pembelajaran yang lain. Guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran, agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang beranekaragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri sekolah pada dewasa ini. Menguasai sepenuhnya model-model pembelajaran yang banyak diterapkan merupakan proses belajar sepanjang hayat. 2. Pandangan Pembelajaran Menurut Konstruktivisme Para ahli pendidikan mengemukakan pandangan belajar dan mengajar yang berbeda dengan pandangan umum di atas. Pandangan baru tersebut adalah konstruktivisme. Konstruktivisme mengajarkan tentang sifat dasar bagaimana manusia belajar. Belajar adalah constructing understanding atau knowledge. Dengan cara mencocokkan fenomena, ide-ide, atau aktivitas yang baru dengan pengetahuan yang telah ada dan percaya bahwa sudah dipelajari. Oleh karena itu pada pembelajaran menurut konstruktivisme, siswa seharusnya sungguh-sungguh membangun makna dalam sudut pandang pembelajaran bermakna dan bukan
Pendidikan Kemuhammadiyahan 149 sekedar hafalan atau tiruan. Karakteristik pembelajaran konstruktivistik (Slavin, 1997) adalah sebagai berikut. a) Pembelajaran ditekankan pada pembelajaran sosial, antara lain kooperatif (interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya), berbasis proyek, dan berbasis penemuan. b) Pembelajaran memperhatikan pemagangan kognitif c) Pembelajaran menekankan scaffolding atau mediated learning (assested learning) d) Pembelajaran menekankan top-down e) Pembelajaran memperhatikan generative learning f) Pembelajaran yang menekankan self regulated learning 3. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Learning atau CL) Aplikasi CL berasal dari tradisi pembelajaran John Dewey berdasarkan pengalaman, yang telah dikembangkan di AS. CL adalah suatu konsep pembelajaran teruji yang mengembangkan banyak penelitian mutakir di bidang kognitif. Dalam hubungan ini CL merupakan suatu reaksi terhadap pelaksanaan praktik pembelajaran yang berlandaskan teori behavioristik yang telah mendominasi dunia pendidikan sejak dahulu bahkan hingga saat ini. Konsep CL mengakui bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kompleks banyak faset yang berlangsung jauh melampaui drill-oriented dan metode stimulus and respons. Tema penelitian mutakir dalam bidang kognitif berkaitan dengan: a) menekankan pemecahan masalah melalui hand-on activity, b) organisasi di sekitar pengalaman dunia nyata, c) pemberian kesempatan terlaksananya berbagai macam gaya belajar, d) upaya mendorong pembelajaran di luar sekolah, e) penghargaan terhadap pengalaman-pengalaman siswa dalam proses pembelajaran,
Pendidikan Kemuhammadiyahan 150 f) upaya mendorong pembelajaran kooperatif. g) upaya mendorong pemecahan masalah. Berdasarkan Blanchard (2001), strategi pembelajaran yang berkaitan dengan CL dapat diidentifikasi sebagai berikut. a) Menekankan pemecahan masalah. b) Menyadari bahwa pembelajaran dan pembelajaran seyogyanya berlangsung dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, ataupun di lingkungan kerja. c) Mengajari siswa memonitor dan mengarahkan pem,belajarannya sendiri sehingga para siswa tersebut berkembang menjadi pebelajar mandiri. d) Mengkaitkan pembelajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda. e) Mendorong siswa untuk belajar dari sesama teman termasuk belajar bersama. f) Menerapkan penilaian autentik. Model pembelajaran lain yang dapat digunakan dalam pembelajaran Kemuhammadiyahan antara lain: a. Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) b. Belajar Secara Kooperatif (Cooperative Learning) c. Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem-Based Instruction) d. Pembelajaran Diskusi Kelas e. Model Siklus Belajar (Learning Cycle Model) f. Model Pembelajaran Sains Teknologi dan Masyarakat ( Science Technology and g. Society) C. MEDIA INOVATIF PEMBELAJARAN