The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

TUGAS MANDIRI-ALIAH NUR AZIZAH-2011101035=PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by azizahnur17006, 2022-12-06 23:27:28

TUGAS MANDIRI-ALIAH NUR AZIZAH-2011101035=PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

TUGAS MANDIRI-ALIAH NUR AZIZAH-2011101035=PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

Dengan demikian pengembangan bahan ajar di sekolah perlu
memperhatikan karakteristik peserta didik dan kebutuhan peserta didik
sesuai kurikulum yaitu menurut adanya partisipasi dan aktivitas peserta
didik lebih banyak dalam pembelajaran. pengembangan lembar kegiatan
peserta didik menjadi salah satu alternatif bahan ajar yang akan bermanfaat
bagi peserta didik menguasai kompetensi tertentu karena lembar kegiatan
peserta didik dapat membantu peserta didik menambah informasi tentang
materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.
4.2 Analisis Bahan Ajar

Analisis Merupakan kata yang sering terdengar pada suatu evaluasi
kegiatan. Analisis sering dilakukan untuk memperoleh kesimpulan
mengenai pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut kamus besar bahasa
Indonesia, yang dimaksud dengan analisis adalah penyelidikan dan
penguraian terhadap suatu masalah untuk mengetahui keadaan yang sebenar-
benarnya dan proses pemecahan masalah yang dimulai dengan dugaan dan
kebenarannya (Sulchan Yasyin, 1997: 34).

Bahana ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk
membantu guru atau instructor dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan
tidak tertulis. Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari
suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis
sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara
utuh dan terpadu. Bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang
diperlukan guru atau instructor untuk perencanaan dan penelaahan
implementasi pembelajaran. 2

Bahan ajar adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat
berlangsungnya proses belajar mengajar. Melalui bahan ajar ini siswa
diantarkan kepada tujuan pengajaran. Dengan perkataan lain tujuan yang
akan dicapai siswa diwarnai dan dibentuk oleh bahan ajar. Bahan ajar pada

2 Tri Rahayu, “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PAI DI SEKOLAH/ MADRASAH”
XIV (2021): hal 19.

3
3


hakikatnya adalah isi dari mata pelajaran atau bidang studi yang diberikan
kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakannya. 3

Hal pertama dalam mengembangkan bahan ajar adalah analisis terlebih
dahulu yang perlu dianalisis yaitu karakteristik dan kebutuhan peserta didik
merupakan hal utama yang perlu mendapatkan perhatian. Karakteristik dan
kebutuhan peserta didik perlu diindetifikasi utuk menentukan jenis subtansi
bahan ajar yang dikembangkan. Bahan ajar yang baik adalah bahan ajar
yang sesuai karakterisitk peserta didik dan kebutuhan mereka terhadap
bahan ajar itu.

Pada tahap analisis ini mencoba untuk mengenali siapa peserta didik
dengan perilaku awal dan karakteristik yang dimilikinya, perilaku awal
berkenaan dengan kemampuan bidang ilmu atau mata tataran yang sudah
dimiliki peserta didik. Sementara itu karakteristik awal memberikan
informasi tentang ciri-ciri peserta didik. 4 Jika informasi tentang peserta
didik sudah diketahui maka implikasi terhadap rancangan bahan ajar dapat
ditentukan dan bahan ajar dapat segera dikembangkan. Tahap analisis
merupakan tahap dimana kita menganalisis kebutuhan awal dalam
pembuatan bahan ajar ini. Tahapan ini terdiri dari tiga kegiatan analisis,
sebagai berikut:

1. Analisis Kebutuhan
2. Analisis Kurikulum
3. Pemilihan Jenis Bahan Ajar
Pengenalan yang baik terhadap perilaku awal dan karakteristik awal
peserta didik sangat diperlukan untuk menentukan kebutuhan peserta didik
dan kemudian untuk merancang bahan ajar yang bermanfaat bagi peserta
didik. Dalam menganalisis bahan ajar hal yang paling utama ialah
menganalisis kebutuhan bahan ajar. Berikut ini adalah analisis yang harus
dilakukan dalam menganalisis bahan ajar :

3 Tri Rahayu, “Pengembangan bahan ajar…., hal 20.
4 Nana, Pengembangan Bahan Ajar…., hal 26.

7


1. Analisis SK-KD.
Analisis SK-KD dilakukan untuk menemukan kompetensi-kompetensi

mana yang memerlukan bahan ajar. Dari hasil analisis ini akan dapat
diketahui Berapa banyak bahan ajar yang hendak disiapkan dalam satu
semester tertentu dan jenis bahan ajar mana yang dipilih. Materi
disampaikan dengan ceramah, diskusi, simulasi penyusunan bahan ajar yang
disusun mengacu pada SK-KD5.
2. Analisis sumber belajar .

Sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan ajar harus dilakukan
analisis terlebih dahulu analisis ini dilakukan terhadap ketersediaan
kesesuaian dan kemudahan dalam penggunaannya
3. Pemilihan dan penentuan bahan ajar.

Pemilihan dan penentuan bahan ajar dimaksudkan untuk memenuhi
salah satu kriteria bahwa bahan ajar harus menarik dapat membantu siswa
untuk mencapai kompetensi sehingga bahan ajar yang dibuat sesuai kebutuhan.
4.3 Perancangan Bahan Ajar PAI

Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan
yaitu perumusan tujuan pembelajaran pemilihan topik mata pelajaran
pemilihan media dan sumber serta pemilihan strategi pembelajaran dengan
ini diharapkan pendidikan dapat menjadikan individu-individu yang mandiri
sebagai pelajar yang mandiri dengan memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku
yaitu Audience, Behavior, Condition, dan Degree.6
4.4 Pemilihan Topik Mata Tataran

Jika tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan dan analisis sudah
dilakukan maka peserta didik sudah mempunyai gambaran tentang
kompetensi yang harus dicapai melalui proses belajar. Dengan demikian,
petatar juga dapat segera menetapkan topik mata tataran dan isinya
mengenai apa saja topik, tema isu yang tepat untuk disajikan dalam bahan

5 Bayu Pradikto and Intan Purnama Dewi, “Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar
Pembelajaran Keaksaraan Fungsional,” n.d., 6.
6 Nana, Pengembangan Bahan Ajar…., hal 26.

8


ajar Sehingga peserta didik dapat belajar dan mencapai kompetensi yang

telah ditetapkan.

Acuan utama pemilihan topik mata kanan adalah Silabus dan analisis

instruksional yang telah penataan miliki. Selanjutnya penatar juga dapat

menggunakan berbagai buku dan sumber belajar serta melakukan

penelusuran pustaka yaitu mengkaji buku-buku tentang Mataram termasuk
ensiklopedia, majalah, dan buku yang ada di perpustakaan.7

4.5 Membuat Peta Konsep

Peta konsep bertujuan untuk mengetahui jumlah bahan ajar yang akan

kita siapkan dalam semester tertentu. Dengan adanya peta konsep akan

memudahkan untuk menentukan materi, menentukan jumlah bahan ajar

yang harus dibuat.

4.6 Pemilihan Media dan Sumber

Memilih media yang dibutuhkan untuk menyampaikan topik tataran,

yang memudahkan peserta belajar, serta yang menarik dan disukai peserta.

Kata kuncinya adalah media yang dapat mendorong peserta belajar. Media

itulah yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih.

4.7 Pemilihan Strategi Pembelajaran

Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap ketika

merancang aktivitas belajar. Dalam merancang aktivitas belajar, urutan

penyajia harus berhubungan dengan ketentuan

tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur utama yang harus disajikan dalam

topik mata tataran. Hal ini tidaklah terlalu sulit jika sudah memiliki peta

konsep dari apa yang ingin diajarkan. Jika sudah mengetahuinya, maka

menentukan bagaiman materi itu disajikan, atau secara umum dapat

dikatakan bagaiman struktur bahan ajarnya. Berbagai urutan penyajian dapat

dipilih berdasarkan urutan kejadian untuk kronologis, berdasarkan lokasi,

berdasarkan sebab akibat, dan lain sebagiannya.

7 Nana, Pengembangan Bahan Ajar…., hal 27.

9


4.4 Pengembangan Lanjut Bahan Ajar PAI
Langkah guru dalam mengembangkan sumber bahan ajar mata pelajaran

PAI selanjutnya adalah dengan cara memperhatikan prinsip-prinsip dalam
pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi artinya materi
pembelajaran hendaknya relevan memiliki keterkaitan dengan pencapaian
standar kompetensi, prinsip konsistensi artinya adanya keajegan antara
bahan ajar dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa, prinsip
kecukupan artinya hendaknya materi yang diajarkan hendaknya cukup
memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang
dijarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit dan juga tidak boleh terlalu
banyak. Jika sedikit maka akan kurang membantu mencapai standar
kompetensi jika terlalu banyak maka akan membuang waktu dan tenaga
yang tidak perlu dipelajari.8

Jadi guru berupaya untuk mengembangkan referensi atau rujukan dari
buku ataupun kitab lain yang mendukung proses pembelajaran. Bahan ajar
dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, tetapi yang digunakan
dalam pembelajaran PAI adalah:

a. Bahan ajar cetak antara lain, buku paket, modul, lembar kerja siswa,
globe, peta, dan kitab Sirah Nabawi.

b. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video atau film,
orang atau narasumber. 9

Setelah rencana pelaksanaan pembelajaran tersusun hal penting lainnya
ialah adanya interaksi antara guru dan siswa secara efektif dan optimal. Hal
ini akan menumbuhkan pengalaman belajar yang baik dalam diri siswa.

8 Karlina Indrawari, Sayyid Habiburrahman, “Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan
Agama Islam Dengan Metode Al-Qur‟an Tematik” 17 No.1 (2019) hal24.

9 Afif Syaiful Mahmudin, ―PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM OLEH GURU TINGKAT SEKOLAH DASAR,‖ SITTAH: Journal of
Primary Education 2, no. 2 (October 30, 2021): 104,
https://doi.org/10.30762/sittah.v2i2.3396.

10


Agar guru bisa mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran guru harus
bisa memberikan evaluasi yang terstruktur dan diprogram secara baik10.

Setelah tahap perancangan tahap paling penting adalah melakukan
pengembangan lanjut bahan ajar itu sendiri. Tahap pengembangan ini
merupakan inti (core) dari tahap-tahap lainnya. Tahap sebelumnya
merupakan prasyarat, sementara tahap berikutnya adalah tahap finalisasi.
Jadi semua tahap itu memiliki signifikansi dan urgensinya masing-masing.
Karena merupakan kegiatan inti, pada tahap pengembangan diperlukan kerja
keras dan perhatian lebih. Kerja keras dan perhatian lebih itu diharapkan
dapat menghasilkan produk pengembangan yang optimal, menarik, efisien
dan efektif. Dalam melakukan langkah pengembangan bahan ajar, ada dua
tujuan penting yang perlu dicapai antara lain adalah :

1. Mempro-duksi atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.

2. Memilih bahan ajar terbaik yang akan digunakan untuk mendekatan
pembelajaran.11

Pada tahap pengembangan ini diperlukan kerja keras dan perhatian lebih.
Kerja keras dan perhatian lebih itu diharapkan dapat menghasilkan produk
pengembangan bahan ajar yang optimal, menarik, efisien dan efektif.
4.5 Evaluasi Bahan Ajar PAI

Secara etimologi “evaluasi” berasal dari bahasa inggris yaitu evaluation
dari akar kata value yang berarti nilai atau harga. Nilai dalam bahasa arab
disebuut al-qiamah atau al-taqdir yang bermakna penilaian (evaluasi).
Sedangkan kata evaluasi secara harfiah, yaitu al-taqdir atau al-tarbiah yang
sering disebut sebagai evaluasi pendidikan diartikan sebagai penilaian dalam
bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
instansi pendidikan maupun kegiatan yang ada di dalamnya. Pakar ahli
memberikan pendapat tentang pengertian evaluasi diantaranya; Edwin dalam

10 Syaiful Mahmudin, “Pengembangan bahan ajar…., hal 104-105 ,

https://doi.org/10.30762/sittah.v2i2.3396..
11 Rahmat Arofah Cahyadi, “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis ADDIE Model”

halaqah islamic : journal education 3, no. 1 (juni 01 2019) hal, 39

11


Ramayulis berkata bahwa evaluasi mengandung pengertian suatu tindakan
atau proses dalam menentukan nilai sesuatu (Ramayulis, 2002) M. Chabib
Thoha, megartikan evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan
sistematis untuk mengetahui keadaan objek dengan meggunakan instrumen
dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur memperoleh kesimpulan
(Thoha, 1990).

Evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses yamg
sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan, keputusan,
unjuk-kerja, proses, orang, objek dan yang lainnya) berdasarkan kriteria
tertentu melalui penilaian Untuk menentukan nilai sesuatu dengan cara
membandingkan dengan kriteria, evaluator dapat langsung
membandingkan dengan kriteria umum, dapat pula melakukan
pengukuran terhadap sesuatu yang dievaluasi kemudian membandingkan
dengan kriteria tertentu. Di dalam pengertian yang lain yaitu antara
evaluasi, pengukuran, dan penilaian ialah kegiatan yang bersifat hirarki.12

Sehingga dapat diartikan berkaitan dengan proses pembelajaran maka
tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanannya harus
dilakukan secara berurutan atau sistematik. Dalam hal ini ada kaitan yang
hampir sama namun berbeda, yaitu penilaian dan pengukuran. Pengertian
pengukuran terarah kepada suatu tindakan dalam menentukan kuantitas
sesuatu, oleh karena itu biasanya sangat diperlukan alat bantu. Sedangkan
penilaian atau evaluasi memiliki arti dalam menentukan suatu kualitas atau
nilai akan sesuatu.

Evaluasi belajar dan pembelajaran ialah sebuah proses untuk
menentukan nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan melalui
kegiatan penilaian atau pengukuran pembelajaran. Penilaian belajar ialah
hasil akhir dari nilai keberhasillan belajar dan pembelajaran yang dilakukan
secara kualitatif.

12 Ina Magdalena, Alvi Ridwanita, and Aulia, “EVALUASI BELAJAR PESERTA
DIDIK” 2 (2020) hal 119.

12


Dari beberapa pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa evaluasi
pendidikan memiliki beberapa unsur :

c. Evaluasi pendidikan menggali informasi seputar keterwujudan tujuan
pembelajaran yang telah dilaksanakan, tujuan tersebut berupa
perubahan sikap, kemampuan dan keilmuan peserta didik.

d. Evaluasi pendidikan merupakan proses yang terstruktur bukan acak,
evalusai pendidikan didasarkan atas standar yang telah ditentukan.

e. Evaluasi pendidikan mencakup semua aspek pendidikan.
f. Evalusai pendidikan bersifat terus menerus13

Maka dapat disimpulkan evaluasi bahan ajar khusus dalam pembelajaran
PAI adalah untuk menentukan sejauh mana tingkat keberhasilan siswa
dalam mengikuti pembelajaran pai. Pada kondisi dimana para siswa dapat
memahami dan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, maka tentu saja
akan memberikan dampak stimulus dalam proses pembelajaran. Sehingga
evaluasi dalam pendidikan islam adalah melihat sejauh mana keberhasilan
pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai islam sebagai tujuan dari
pendidikan itu sendiri. Evaluasi dalam pendidikan islam telah menjadi
sebuah tolak ukur yang selaras dengan tujuan pendidikannya. Baik itu tujuan
jangka pendek, yaitu membimbing manusia agar hidup selamat dunia,
maupu tujuan jangka panjang untuk kesejahteraan hidup di akhirat nanti
(Jalaludin 1994).

Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh beragam reaksi dari
berbagai pihak terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Pada tahap ini,
penilaian terhadap bahan ajar oleh ahli dan penilaian dari sudut pandang
siswa didapatkan hasil berupa tingkat kelayakan bahan ajar. Komentar dan

13 Mubarak Bamualim, “Kedudukan Dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran Bahasa
Arab,” Jurnal Al-Fawa‟id : Jurnal Agama dan Bahasa 10, no. 2 (September 30,
2020): 3–4, https://doi.org/10.54214/alfawaid.Vol10.Iss2.141.

13


saran dari ahli pun dijadikan sebagai bahan memperbaiki bahan ajar14.
Reaksi ini hendaknya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki bahan
ajar lebih berkualitas. Evaluasi sangat diperlukan untuk melihat efektivitas
bahan ajar yang dikembangkan. Apakah bahan ajar yang dikembangkan
memang dapat diemngeti, dibaca dengan baik, dan dapat mendorong peserta
untuk belajar. Disamping itu, evaluasi diperlukan untuk memperbaiki bahan
ajar sehingga menjadi bahan ajar yang baik. Secara umum, terdapat 4 cara
untuk mengevaluasi bahan ajar yaitu :

i. Telaah oleh ahli materi (lebih ditekankan pada validitas
keilmuan serta ketepatan cakupan)

ii. Uji coba satu-satu (salah seorang peserta mengkaji bahan ajar,
kemudian diminta untuk memberikan komentar tentang
keterbacaan, bahasa, ilustrasi, perwajahan, dan tingkat
kesukaran)

iii. Uji coba kelompok kecil (satu kelompok kecil mengkaji bahan
ajar, kemudian diminta until memberikan komentar yentang
keterbacaan, bahasa, ilustrasi, perwajahan, dan tingkat
kesukaran)

iv. Uji coba lapangan (untuk memproleh informasi apakah bahan
ajar dapat mencapai tujian, apakah bahan ajar dianggap memadai
dan seterusnya).

4.6 Revisi dalam Bahan Ajar PAI
Menurut Arsanti yang di kutip oleh Nasaruddin, revisi bahan ajar

diperlukan dalam penyempurnaan bahan ajar agar lebih menarik dan efektif
pada saat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga memudahkan
dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kegiatan revisi
bahan ajar dilakukan sesuai dengan berdasarkan data yang diperolah dari
evaluasi formatif. Revisi bahan ajar dilakukan berdasarkan penilaian
perseorangan, penilaian kelompok kecil, dan hasil uji coba di lapangan
melalui kegiatan revisi dengan pertimbangan:

14


14 Utari Narulita, “Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan,” n.d.,
50.

14


4.7 Revisi terhadap isi atau substansi bahan ajar agar lebih akurat sebagai
bahan alat belajar.

4.8 Revisi terkait dengan prosedur yang digunakan dalam penggunaan bahan
ajar.15
Guswari, Tanjung dan Panjaitan (2021) menyatakan bahwa tujuan dari

revisi bahan ajar adalah untuk mendapatkan efektifitas media dan sumber
pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, dengan
melakukan revisi bahan ajar, dapat diketahui kekurangan dan kelebihan
bahan ajar yang akan digunakan dalam sebuah proses pembelajaran.
Tahapan revisi bahan ajar dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

1. Proses revisi yaitu dimulai dengan meringkas data yang telah
ditemukan.

2. Revisi pembelajaran dilakukan dengan berdasarkan semua
informasi yang telah didapatkan dari evaluasi kelompok kecil atau
dari uji lapangan.

3. Peerbandingan dari berbagai pendekatan juga diikutsertakan dalam
evaluasi formatif

4. Selain beerdasarkan hasi evaluasi, revisi bahan ajar juga dilakukan
sesuai dengan strategi pembelajaran.

Revisi terhapdap materi pembelajaran dilaksanakan agar diperoleh
pemahaman menyeluruh dan informasi seberapa jauh perbaikan yang perlu
dilakukan, melalui langkah-langkah:

1. Memeriksa data mengenai tingkah laku serta memasukan peserta
didik berdasarkan dengan penilaian formatif.

2. Meninjau kembali data pretest dan posttest agar dapat membantu
pendidik untuk mengenali secara tepat masalah dan memutuskan
perubahan apa yang harus dilakukan dalam sebuah proses
pembelajaran untuk masing-masing materi tertentu.

15 Nasruddin et al., Pengembangan Bahan Ajar (Padang: PT. Global Eksekutuf
Teknologi, 2022), 73.

15


3. Mempelajari skor dari pretest untuk menentukan pemahaman dari
peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok terhadap
materi yang telah di ajarkan

16


17


DAFTAR PUSTAKA
Bamualim, Mubarak. “Kedudukan Dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran Bahasa

Arab.” Jurnal Al-Fawa‟id : Jurnal Agama dan Bahasa 10, no. 2
(September 30, 2020): 1–10.
https://doi.org/10.54214/alfawaid.Vol10.Iss2.141.
Magdalena, Ina, Alvi Ridwanita, and Bunga Aulia. “EVALUASI BELAJAR
PESERTA DIDIK” 2 (2020): 11.
Mahmudin, Afif Syaiful. “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATA
PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM OLEH GURU
TINGKAT SEKOLAH DASAR.” SITTAH: Journal of Primary Education
2, no. 2 (October 30, 2021): 95–106.
https://doi.org/10.30762/sittah.v2i2.3396.
Nana. Pengembangan Bahan Ajar. Klaten, Jawa Tengah: Lakeisha, 2019.
Narulita, Utari. “Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan,”
n.d., 193.
Nasruddin, Dina Merris, Syahdara Abisa, Putu Ayub, Herman, Sri Jumiyati, Yanti
Kristina, et al. Pengembangan Bahan Ajar. Padang: PT. Global Eksekutuf
Teknologi, 2022.
Pradikto, Bayu, and Intan Purnama Dewi. “Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar
Pembelajaran Keaksaraan Fungsional,” n.d., 6.
Rahayu, Tri. “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PAI DI SEKOLAH/
MADRASAH” XIV (2021): 13.

18


19


BAB 5
URGENSI PENGEMBANGAN MATERI PAI

(KELOMPOK 5)

x
x


5.1 Pengertian Pengembangan Pendikan Agama Islam

Pengertian pengembangan Pendidikan Agama islam sebagai
Budaya Sekolah pada dasarnya adalah salah satu usaha yang bersifat sadar,
bertujuan, Sistematis dan terarah pada perubahan tingkah laku atau sikap
yang sejalan dengan Ajaran-ajaran yang terdapat dalam Islam. Sejalan dengan
ini, Zakiyah Daradjat Mengatakan bahwa pendidikan agama Islam adalah
usaha berupa bimbingan Dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah
selesai pendidikannya Dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama
Islam serta menjadikannya Sebagai way of lif.2

Pendidikan agama memiliki peran dalam melakukan transformasi
Religuitas pada siswa. Tujuan pendidikan agama sejatinya bukanlah sekedar
Mentransfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan lebih merupakan
Sebuah ikhtiar menumbuhkembangkan fitrah insani. Berfikir mengenai
Pengembangan mengajak seseorang untuk berfikir kreatif dan inovatif Dalam
melakukan perubahan sebagai akibat dari keprihatian terhadap suatu Kondisi.
Pengembangan pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah Berarti
bagaimana mengembangkan PAI di sekolah, baik secara kuantitatif Maupun
kualitatif diposisikan sebagai pijkan nilai,semangat, sikap dan Perilaku bagi
para actor sekolah seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, Tenaga
kependidikan dan seluruh warga sekolah.

Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 1
Dinyatakan bahwa;

2 Ismatul Maula and Indra Indra, ―Pengembangan Bahan Ajar Desain Pembelajaran PAI
Berbasis Kurikulum 2013,‖ Jurnal Penelitian Pendidikan 11, no. 1 (2019): 1595–1603.

x
xi


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
Suasana belajar dan proses pempelajaran agar peserta didik secara aktif
Mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia Serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Selanjutnya pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa pendidikan nasional
Adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI
Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional
Indonesia Dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman

Pendidikan Agama Islam baik pada jenjang pendidikan dasar maupun
Menengah antara lain bertujuan mewujudkan manusia Indonesia yang taat
Beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin
Beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin bertoleransi, menjaga
Keharmonisan secara personal dan social serta mengembangkan budaya
Agama dalam komunitas sekolah (Permen Diknas, Nomor 22 tahun 2006
Tanggal 23 Mei 2006 tentang Standar Isi terutama pada lampiran Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PAI. Dengan demikian,
Upaya pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah telah
Memperoleh legalitas yang kuat.3

Pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah
Merupakan sebuah alternatif untuk mengimplementasikan eksistensi dari Nilai-
nilai ajaran Islam yang secara konseptual tertuang dalam mata pelajaran PAI di
sekolah dasar dan menengah. Karena menurut Nurkhalis Majid Bahwa
kegagalan Pendidikan Agama Islam disebabakan pembelajaran PAI Lebih
menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan Pada
pemaknaannya. Proses belajar mengajar diakui selama ini masih

3 M Sya‘roni, ―Penguatan Pendidikan Agama Islam Melalui Budaya Sekolah,‖ Cendekia 13, no.
02 (2021): 161–65.

vi


Mengejar target pencapaian kurikulum yang telah ditentukan, padahal yang
Diperlukan lebih pada suasana keagamaan.

Pendidikan Islam saat ini, dihadapkan pada berbagai Perkembangan
yang meniscayakan untuk melakukan perubahan Dan perbaikan sehingga
mampu melakukan penyesuaian Terhadap perubahan tersebut. Perkembangan
ilmu pengetahuan Dan teknologi (iptek) menjadi tantangan bagi pendidikan
Islam, Terutama dalam menghadapi era globalisasi yang telah mampu
Mengsistematisasikan jarak dan waktu antar berbagai negara Dalam
pertukaran informasi dan pengetahuan, khususnya dalam Bidang pendidikan
Islam. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, telah Melahirkan
aneka media yang dapat difungsikan untuk Mengembangkan pendidikan
Islam dimaksud. Jika pada era Klasik, pendidikan Islam hanya dapat
menjangkau sasaran Masyarakat lokal dengan kualitas yang relatif rendah,
dengan Adanya multi media, terutama internet, maka pendidikan Islam Bisa
berlangsung dengan jangkauan tanpa batas, waktu yang Sangat singkat, dan
kualitas yang lebih tinggi. Para pakar Pendidikan Islam dituntut untuk
menggunakan dan Mengembangkan media pendidikan terupdate sehingga
Pendidikan Islam dapat bersanding dengan pendidikan umum Yang akhir-
akhir ini mengalami lompatan signifikan yang sangat Menggembirakan. Hal
ini akan terjadi, jika para pimpinan dan Pendidik di berbagai lembaga
pendidikan Islam memulai untuk Meningkatkan kualitas pendidikan dan
kinerjanya. Jika tidak, Maka cita-cita mening-katkan kualitas pendidikan
Islam Hanyalah sebuah impian belaka.

Era Revolusi Industri 4.0 (selanjutnya: Era 4.0) Membawa dampak yang
tidak sederhana. Ia berdampak pada Seluruh aspek kehidupan manusia.4

4 Ferry Doringin, Nensi Mesrani Tarigan, and Johny Natu Prihanto, ―Eksistensi Pendidikan Di
Era Revolusi Industri 4.0,‖ Jurnal Teknologi Industri Dan Rekayasa (JTIR) 1, no. 1 (2020): 43–48,
https://doi.org/10.53091/jtir.v1i1.17.

vii


Termasuk dalam hal ini Adalah pendidikan. Era ini ditandai dengan semakin
sentralnya Peran teknologi cyber dalam kehidupan manusia. Maka tak Heran
jika dalam dunia pendidikan muncul istilah “Pendidikan 4.0”. Pendidikan 4.0
(Education 4.0) adalah istilah umum Digunakan oleh para ahli pendidikan
untuk menggambarkan berbagai cara untuk mngintegrasikan teknologi cyber
baik Secara fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran.

Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0 yang menurut Jeff Borden
mencakup pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan Teknologi
pendidikan. Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang Merespons kebutuhan
munculnya revolusi industri keempat Dimana manusia dan mesin diselaraskan
untuk mendapatkan Solusi, memecahkan masalah dan tentu saja menemukan
Kemungkinan inovas baru. Praktek pembelajaran Pendidikan agama Islam
Khususnya mulai bergeser pada tatanan model pembelajaran Yang lebih
berpusat pada peserta didik (student centered) Sehingga guru hanya berperan
sebagai fasilitator bagi peserta Didik. Dalam pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik, Guru secara sadar menempatkan perhatian yang lebih
banyak Pada keterlibatan, inisiatif, dan interaksi sosial peserta
didik.
5.2 Model-Model Pengembangan PAI

Mengenai pengembangan PAI, sangatlah penting untuk dilakukan, namun
tidak hanya dilakukan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah saja, melainkan
juga pada tingkat pendidikan tinggi pun sudah semestinya dilakukan pengembangan-
pengembangan yang mengacu pada pola perubahan masyarakat serta kebutuhan
peserta didik atau mahasiswa.5

Berkaitan dengan pengembangan PAI, Muhaimin berpendapat bahwa :

5 Rosnaeni Rosnaeni et al., ―Model-Model Pengembangan Kurikulum Di Sekolah,‖ Edukatif : Jurnal
Ilmu Pendidikan 4, no. 1 (2021): 467–73.

viii


"Pemikiran tentang pengembangan pendidikan Islam mengajak seseorang untuk
berfikir anlitis-kritis, kreatif dan inovatif dalam menghadapi berbagai praktik dan isu
aktual di bidang pendidikan untuk di kaji dan ditelaah dari dimensi fundasionalnya
agar tidak kehilangan roh atau spirit Islam". Sedangkan menurut Tafsir ialah bahwa
pengembangan pendidikan Islam harus dilakukan secara mendasar dengan
menjadikan Pendidikan keimanan dalam hal ini pendidikan Agama Islam sebagai ruh
dan inti dari semua proses pendidikan.6

A. Pengembangan PAI di Sekolah Umum

PAI di sekolah umum hanya berkedudukan sebagai mata pelajaran, jadi untuk
pengembangan PAI di sekolah umum titik tekan utamanya bisa kita lihat pada
pengembangan pendidik PAI-nya. Dibutuhkan ketelatenan, kecerdasan, serta
kekreatifan pendidik PAI supaya bisa terjadi pengembangan PAI di sekolah umum
seluas mungkin di tengah-tengah minimnya dukungan. Agar status PAI di sekolah
umum tidak hanya sebagai pemenuhan kewajiban undang-undang, maka sangat perlu
PAI di fungsikan sebagaimana mestinya sebagai suatu nilai yang dijunjung tinggi
oleh peserta didik di sekolah umum.7

B. Pengembangan PAI di Perguruan Tinggi Umum

Dalam pengembangan mata kuliah sudah seharusnya mempertimbangkan
kebutuhan dan relevansinya dengan masing-masing jurusan, sehingga nantinya
matakuliah tersebut akan menjadi sangat bermakna dan terintenalisasi dengan baik
dan benar pada diri mahasiswa. Begitu pula halnya dengan pengembangan PAI di
perguruan tinggi, haruslah menjadikan PAI bukan sebagai ilmu yang sendiri atau
terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya (dikotomi keilmuan), tetapi haruslah dapat

6 M P Dr. Hj. Sutiah, PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI TEORI DAN APLIKASINYA (NLC, 2020),
https://books.google.co.id/books?id=WpPsDwAAQBAJ.
7 Anim Purwanto, ―Pengembangan Kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Di
Sekolah Dasar Islam Terpadu,‖ Jurnal Basicedu 6, no. 1 (2021): 335–42,
https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i1.1928.

ix


menyatu dengan ilmu-ilmu lainnya dan sehingga terjadilah koneksi dan dialog antara
Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Diperlukan adanya model pengembangan Pendidikan
Agama Islam di perguruan tinggi yang notabenenya memiliki banyak jurusan dan
term keilmuan, yang nantinya dapat mengakomodir terhadap kebutuhan dan
hubungan dengan keilmuan yang dipelajari mahasiswa. Adapun ruang lingkup yang
dapat dikembangkan dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi
dapat menyangkut pengembangan sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
perguruan tinggi. Sehingga dengan adanya pengembangan tersebut dapat memberikan
sebuah gambaran yang utuh mengenai model Pendidikan Agama Islam di perguruan
tinggi umum.

Adapun model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang ada di
berbagai sekolah umum dan perguruan tinggi di Indonesia, dapat kita lihat dari
model-model di bawah ini.

1. Model Dikotomis
Pada model dikotomis implikasinya terhadap pengembangan

pendidikan agama islam yang lebih berorientasi pada keakhiratan, sedangkan
untuk masalah dunia diangggap tidaklah penting, lalu model ini menekankan
pada pendalaman al-„ulum al-diniyah (ilmu-ilmu keagamaan) yang menjadi
jalan pintas untuk menuju kebahagiaan akhirat, dan untuk sains (ilmu
pengetahuan) dianggap terpisah dari agama. Pendekatan yang diterapkan
melalui model ini yaitu lebih bersifat keagamaan yang normative, doktriner,
dan absolutis. Diharapkan peserta didik mengarahkan dirinya untuk menjadi
pelaku (actor) yang loyal (setia), serta memiliki commitment (keberpihakan),
dan dedikasi (pengabdian) yang sangat tinggi kepada agama yang dipelajari.
Sedangkan adanya kajian-kajian ilmu yang bersifat empiris, rasional, dan
analitis-kritis dianggap menggoyahkan iman.8

8 Tarbiya Islamica, ―PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,‖ Jurnal
Keguruan Dan Pendidikan Islam 1 (2020): 9–22.

x


2. Model Mekanisme
Pada model mekanisme ini lebih memandang ke berbagai aspek-

aspek, dan pendidikan dipandang sebagai pengembangan seperangkat nilai
kehidupan yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya.
Aspek-aspek ataupun nilai-nilai kehidupan tersebut terdiri atas nilai agama,
nilai individu, nilai social, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional, nilai
estetik, nilai biofisik, dan lain-lainnya. Model mekanisme PAI ini lebih
menekankan keluwesan antara nilai umum dan nilai agama, maka model ini
boleh berbaur menjadi satu namun juga bisa juga tidak sama sekali.
3. Model Organism/Sistemik

Pada model ini, dalam konteks pendidikan islam sebenarnya bertolak
dari pandangan bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu sistem terdiri
dari komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara
terpadu menuju tujuan tertentu, yaitu dengan terwujudnya hidup yang reiligius
dan dijiwai oleh ajaran-ajaran serta nilai-nilai agama. Melalui model ini
diharapksn sistem pendidikan agama islam dapat mengintegrasikan nilai-nilai
ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan
manusia-manusia yang menguasai dan menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan,
teknolog, dan seni, serta memiliki kematangan professional dan sekaligus
hidup di dalam nilai-nilai agama.

Adapun model pembelajaran PAI berbasis multikultular yaitu lebih
kepada mengharuskan proses pembelajarannya berlangsung secara efektif
melalui pengajaran efektif (effective teaching) dan belajar aktif (active
learning) dengan memperhatikan keragaman agama para peserta didik.
Mengajarkan tentang agama melibatkan pendekatan kesejarahan dan
perbandingan, sedangkan mengajarkan agama pendekatannya indoktrinasi
dogmatik. Dengan adanya model ini diharapkan peserta didik menjadi aktif
mencari, menemukan, dan mengevaluasi pandangan keagamaan nya sendiri
dengan membandingkannya dengan pandangan keagamaan peserta didik

xi


lainnya. Diharapkan juga melalui model ini, peserta didik menjadi tumbuh
sikap toleransinya, tidak menghakimi, dan melepaskan diri dari sikap fanatik
berlebihan.9
5.3 Tujuan Pengembangan PAI

Tujuan dari perencanaan pembelajaran yakni sebagai pedoman
guru dalam melaksanakan praktek mengajar. Dengan demikian apa
yang dilakukan guru pada waktu mengajar bersumber kepada
perencanaan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Rencana
pembelajaran harus memperhatikan minat dan perhatian peserta
didik terhadap materi standar yang dijadikan bahan kajian. Dalam
hal ini, harus diperhatikan agar guru jangan hanya berperan
sebagai transformator, tetapi harus berperan sebagai motivator
yang dapat membangkitkan gairah belajar, serta mendorong peserta
didik untuk belajar, dengan menggunakan berbagai variasi media,
dan sumber belajar yangsesuai, serta menunjang pembentukan
kompetensi dasar.10

Dalam konteks pembelajaran PAI, perencanaan sistem
pembelajaran PAI adalah suatu pemikiran persiapan untuk
melaksanakan tujuan pengajaran melalui langkah-langkah dalam
pembelajaran yang menjadi suatu kesatuan yang terdiri atas
komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait,
atau saling bergantung membentuk keseluruhan yang kompleks
menjadi kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsurmanusiawi,
material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling

9 Muslih Qomarudin, ―Model Pengembangan Kurikulum PAI Multikultural,‖ Al-I’tibar : Jurnal
Pendidikan Islam 6, no. 2 (2019): 98–101, https://doi.org/10.30599/jpia.v6i2.647.
10 Tatang Hidayat and Makhmud Syafe‘i, Peran Guru Dalam Mewujudkan Tujuan Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, Rayah Al-Islam, vol. 2, 2018,
https://doi.org/10.37274/rais.v2i01.67.

xii


mempengaru hiuntuk mencapai tujuan pembelajaran PAI. Tujuan
dan merumuskan serta mengaturpendayagunaan sumber-sumber
daya: informasi, finansial, metode dan waktu yangdiikuti dengan
pengambilan kepustusan serta penjelasannya tentang pencapaian
tujuan,penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-
metode dan prosedurtertentu dan penentuan jadwal pelaksanaan
program. Pembelajaran PAI bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman, keimanan,penghayatan, dan pengamalan peserta didik
tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang
beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta‟ālā,
serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan
masyarakat. Meskipun tujuan pembelajaran PAI belum terlaksana
dengan ideal, namun setidaknya upaya ke arah sana sudah
dilakukan. Oleh karena itu, mesti ada upaya alternatif yang
dilakukan guru PAI dalam mewujudkan pembelajaran PAI yang
orientasinya bukan hanya di kelas.

Berangkat dari hal ini, maka mesti ada metode lain
dalam mewujudkan tujuan pembelajaran PAI supaya lebih
efektif, salah satunya dengan metode riyadoh atau latihan dalam
melakukan berbagai ibadah seperti shalat dhuha, membaca
Alquran, melantunkan kalimat-kalimat thoyyibah, dibiasakan
membaca hadis dan intinya bagaimana di sekolah tersebut ada
rekayasa untuk menciptakan suasana religius yang tentunya harus
melibatkan semua elemen yang ada di sekolah. 11

11 Noemi Sinkovics, Samia Ferdous Hoque, and Rudolf R. Sinkovics, ―Supplier Strategies
and Routines for Capability Development: Implications for Upgrading,‖ Journal of International
Management 24, no. 4 (2018): 348–68, https://doi.org/10.1016/j.intman.2018.04.005.

xiii


Maka dari itu, disinilah peran guru PAI mesti menonjol
di sekolah, karena pendidikan di sekolah saat ini tengah
kehilangan sosok figur, salah satunya sosok figure guru PAI.
Dengan demikian, guru PAI mesti menjadi sosok figur dan
rujukan peserta didik di sekolah dalam masalah apapun. Tatkala
guru PAI sudah menjadi sosok figur, maka mata pelajaran PAI
akan disenangi peserta didik daripada mata pelajaran lainnya.
Dengan demikian, masuk mata pelajaran PAI tidak membosankan
lagi, justru mata pelajaran PAI akan ditunggu-tunggu oleh peserta
didik, dan itu tidak terlepas dari peran guru PAI yang menjadi
sosok figur dan teladan di sekolahnya.

Evaluasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam
harus dilakukan komprehensif dan terintegrasi. Kedudukan evaluasi
sangat penting dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
karena evaluasi menempati posisi yang sangat sentral untuk
mengetahui keberhasilan proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan
untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pembelajaran yang
dilakukan, fungsinya untuk mengetahui kapasitas pendidik dan
peserta didik, sehingga bisa dilakukan perbaikan jika memang
ditemukan ada faktor yang belum optimal dalam proses
pembelajaran. Kegunaan evaluasi dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam untuk perbaikan, penyesuaian, dan penyempurnaan
program berdasarkan pengalaman pendidik yang didapatkan
dilapangan. Prinsipnya harus kontinuitas, komprehensif, terintegrasi,
adil, objektif, kooperatif, praktis, koherensi, dan akuntabilitas.

xiv


5.4 Peran Pentingnya Pengembangan PAI

Pengembangan PAI dalam rangka pencapaian Indonesia menjadi
negara maju merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam sistem pendidikan
nasional. Dengan penduduk mayoritas Muslim, Indonesia tidak dapat
dipisahkan dari budaya Muslim, khususnya dalam hal pendidikan Islam.
Diasumsikan bahwa pendidikan, termasuk pendidikan Islam, berperan besar
dalam terwujudnya peradaban bangsa yang setinggi-tingginya. 13 Ditinjau dari
tinjauan sejarah, ternyata dinamika pendidikan Islam bekerja dengan luar
biasa. Sejak lahir hingga dewasa, terdapat masa-masa kemajuan dalam
pendidikan Islam. Dimana, pada masa kejayaan pendidikan Islam, lahirlah
ilmuwan-ilmuwan besar yang berpengaruh di negeri ini. Bahkan, ia juga
memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan Barat modern. meskipun, Setelah itu, karena lemahnya daya
intelektual dan gagasan “pembangunan”, pendidikan Islam memasuki masa
kemunduran. Baru pada awal abad ke-20 tanda-tanda semangat renaisans
dalam pendidikan Islam akhirnya muncul, berkat beberapa perkembangan
yang terjadi selama ini.

Pada hakekatnya pengembangan PAI diperlukan bagi umat Islam dan
bangsa Indonesia untuk menghasilkan generasi yang unggul. Yakni,
berprestasi sesuai dengan bidang kecerdasannya masing-masing, misalnya
dalam bidang sosial atau alam. Melalui perkembangan ini, PAI dapat
mengangkat kejayaan (kemajuan) pendidikan Islam. Tentu saja, semangat
ilmiah dan intelektualitas meningkat, dan hasilnya bisa menjadi pelajaran.
Satu untuk komunitas lain. Berdasarkan hal tersebut, PAI akan terus
menghasilkan ilmuwan yang mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan

13 M P I Rahmat, Pendidikan Agama Islam Multidisipliner Telaah Teori Dan Praktik Pengembangan
PAI Di Sekolah Dan Perguruan Tiggi, Pertama (LKiS, 2017),
https://books.google.co.id/books?id=3NrrDwAAQBAJ.

xv


teknologi berbasis Islam. Salah satu fungsinya adalah untuk menyeimbangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi sekuler yang pergerakannya semakin liar.
Dalam arti, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekuler telah
meningkatkan potensi dehumanisasi.14 Selain itu, PAI ke depan dapat
menciptakan situasi sosial politik khususnya di Indonesia yang lebih kondusif
bagi keamanan, perdamaian, keadilan, pengentasan kemiskinan dan
kesejahteraan.

Secara lebih rinci, perkembangan PAI di semua jenjang dan bentuk
pendidikan Islam menjadi semakin relevan. Padahal, ada beberapa masalah
yang tidak dapat diatasi yang perlu ditangani belakangan ini. Misalnya, yang
pertama adalah isu politik seperti korupsi, kebijakan moneter, nepotisme,
kecurangan pemilu dan daerah, dan pengurus partai yang hanya peduli pada
golongan tertentu. Dua masalah ekonomi antara lain kesenjangan antara kaum
miskin dan borjuis, minimnya kesempatan kerja, dan kurangnya semangat
pemuda untuk berwirausaha. Tiga masalah sosial sosial tersebut antara lain
seks bebas dan seks menyimpang, maraknya merokok di kampus, mutilasi,
kekerasan pra-terorisme, dan ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan.

KeempatPermasalahan keilmuan terletak pada minimnya pengetahuan
umum para ilmuwan yang menghayati agamanya dalam penciptaan teknologi,
minimnya kreasi yang dapat bermanfaat bagi kemajuan bangsa, dan masih
adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kelima, masalah
“gesekan” antar ormas Islam yang berujung pada fenomena negatif, seperti
perbedaan pendapat. Dan gesekan harus dapat mengarah pada hal yang
positif, yaitu dalam rangka persaingan dalam bidang kebaikan dan ketakwaan.
Di mana lagi energi umat Islam dihabiskan untuk "perjuangan" dengan umat
Islam itu sendiri. Namun, berlomba-lomba dalam mengembangkan ilmu agar

14 M P Dr. M. Hadi Purnomo, Pendidikan Islam: Integrasi Nilai-Nilai Humanis, Liberasi
Dan Transendensi Sebuah Gagasan Paradigma Baru Pendidikan Islam (Absolute Media,
2020), https://books.google.co.id/books?id=-lkAEAAAQBAJ.

xv
i


bisa bermanfaat bagi umat Islam khususnya dan tentunya masyarakat
Indonesia lainnya.15

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan PAI
merupakan salah satu bentuk nyata dukungan terhadap perkembangan budaya
di masyarakat. Artinya, sudah berkali-kali ditekankan bahwa PAI harus
berkontribusi pada penciptaan budaya yang lebih tinggi. Yakni, salah satunya
adalah budaya yang bercirikan ilmu yang aktif berkembang, mencintai dunia,
bekerja dan mengabdi kepada masyarakat, inspiratif. Anggapan
perkembangan budaya (dalam bidang apapun) tidak akan lepas dari
perkembangan budaya dalam bentuk atau wilayah lain dalam masyarakat.
Kedua budaya tersebut berupa “gagasan atau gagasan” seperti penggunaan
bahasa dalam komunikasi, dan juga berupa “benda” seperti teknologi berupa
telepon genggam. Dengan kata lain, perkembangan PAI terjadi karena
dipengaruhi oleh peristiwa budaya lain, begitu pula sebaliknya. Sebagai
contoh, menyebarkan budaya “literasi” teknologi informasi memungkinkan
generasi muda memperoleh informasi dengan cepat dan mudah. Untuk itu
diperlukan pengembangan PAI berbasis teknologi informasi. Di sisi lain,
dengan berkembangnya PAI berbasis teknologi informasi, dapat
menginspirasi para pakar teknologi informasi dan ilmuwan terkait dengan
semangat untuk menciptakan perangkat dan sumber belajar PAI yang
canggih.16

Dari semua hal di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa
pengembangan PAI adalah gagasan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai
Islam. Kalaupun dilakukan secara konsisten (masih berlandaskan Al-Qur'an

15 S.P.I.M.P.I. Dr. Hasruddin Dute and M A Dr. M. Zainul Hasani Syarif, Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam Dalam Masyarakat Pluralistik (Publica Indonesia Utama,
2021), https://books.google.co.id/books?id=i-tDEAAAQBAJ.
16Religious Journal, Islamic Education, and Available Online, ―IMPLEMENTASI
PEMBELAJARAN PAI PADA ANAK USIA DINI DI ERA TEKNOLOGI DIGITAL,‖ Jurnal
Nasional 1, no. 2 (2022): 1–12.

xvii


dan Hadits), dapat mencapai derajat "keutuhan" dalam agama. Perkembangan
PAI juga merupakan faktor keberhasilan penting dalam mewujudkan
kemajuan negara Indonesia. Mengingat keadaan bangsa Indonesia yang
multikultural dan selalu rentan terhadap gesekan. Dapat dikatakan bahwa
pengembangan PAI merupakan langkah penting menuju pencapaian tujuan
pendidikan nasional. Apalagi PAI merupakan bagian dari sistem pendidikan
yang tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Selain itu, pengembangan akan
memudahkan guru, siswa dan semua orang yang peduli dan terlibat dalam
pendidikan Islam untuk mewujudkan tujuan PAI

xviii


xix


DAFTAR PUSTAKA

Amin, Alfauzan. “Pengembangan Bahan Ajar Pai Pokok Bahasan Aspek Akidah
Berbasis Pembelajaran Metafora Dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep
Siswa Smpn 17 Kota Bengkulu.” Manhaj: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian
Masyarakat 3, no. 1 (2019): 31. https://doi.org/10.29300/mjppm.v3i1.2342.

Doringin, Ferry, Nensi Mesrani Tarigan, and Johny Natu Prihanto. “Eksistensi
Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0.” Jurnal Teknologi Industri Dan
Rekayasa (JTIR) 1, no. 1 (2020): 43–48. https://doi.org/10.53091/jtir.v1i1.17.

Dr. Hasruddin Dute, S.P.I.M.P.I., and M A Dr. M. Zainul Hasani Syarif.
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Masyarakat Pluralistik. Publica
Indonesia Utama, 2021. https://books.google.co.id/books?id=i-tDEAAAQBAJ.

Dr. Hj. Sutiah, M P. PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI TEORI DAN

APLIKASINYA. NLC, 2020.

https://books.google.co.id/books?id=WpPsDwAAQBAJ.

Dr. M. Hadi Purnomo, M P. Pendidikan Islam: Integrasi Nilai-Nilai Humanis,
Liberasi Dan Transendensi Sebuah Gagasan Paradigma Baru Pendidikan
Islam. Absolute Media, 2020. https://books.google.co.id/books?id=-
lkAEAAAQBAJ.

Hidayat, Tatang, and Makhmud Syafe‟i. Peran Guru Dalam Mewujudkan Tujuan
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah. Rayah Al-Islam. Vol. 2,
2018. https://doi.org/10.37274/rais.v2i01.67.

Islamica, Tarbiya. “PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM.” Jurnal Keguruan Dan Pendidikan Islam 1 (2020): 9–22.

xx


Journal, Religious, Islamic Education, and Available Online. “IMPLEMENTASI
PEMBELAJARAN PAI PADA ANAK USIA DINI DI ERA TEKNOLOGI
DIGITAL.” Jurnal Nasional 1, no. 2 (2022): 1–12.

Maula, Ismatul, and Indra Indra. “Pengembangan Bahan Ajar Desain Pembelajaran
PAI Berbasis Kurikulum 2013.” Jurnal Penelitian Pendidikan 11, no. 1 (2019):
1595–1603.

Purwanto, Anim. “Pengembangan Kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT)
Di Sekolah Dasar Islam Terpadu.” Jurnal Basicedu 6, no. 1 (2021): 335–42.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i1.1928.

Qomarudin, Muslih. “Model Pengembangan Kurikulum PAI Multikultural.” Al-
I‟tibar : Jurnal Pendidikan Islam 6, no. 2 (2019): 98–101.
https://doi.org/10.30599/jpia.v6i2.647.

Rahmat, M P I. Pendidikan Agama Islam Multidisipliner Telaah Teori Dan Praktik
Pengembangan PAI Di Sekolah Dan Perguruan Tiggi. Pertama. LKiS, 2017.
https://books.google.co.id/books?id=3NrrDwAAQBAJ.

Rosnaeni, Rosnaeni, Sukiman Sukiman, Apriliyanti Muzayanati, and Yani Pratiwi.
“Model-Model Pengembangan Kurikulum Di Sekolah.” Edukatif : Jurnal Ilmu
Pendidikan 4, no. 1 (2021): 467–73.

Sinkovics, Noemi, Samia Ferdous Hoque, and Rudolf R. Sinkovics. “Supplier
Strategies and Routines for Capability Development: Implications for
Upgrading.” Journal of International Management 24, no. 4 (2018): 348–68.
https://doi.org/10.1016/j.intman.2018.04.005.

Sya‟roni, M. “Penguatan Pendidikan Agama Islam Melalui Budaya Sekolah.”
Cendekia 13, no. 02 (2021): 161–65.

xxi


xxii


BAB 6
PENYUSUNAN BAHAN AJAR

(KELOMPOK 6)

23


6.1 Pengertian Penyusunan Bahan Ajar PAI
Penyusunan merupakan suatu proses, cara, perbuatan dan juga

menyusun. Menurut Kamus Bahasa Indonesia yang dikutip oleh
Misnardi menjelaskan pengertian penyusunan, yaitu “Kata penyusunan
berasal dari kata dasar susun yang artinya kelompok atau satu kumpulan
yang tidak terlalu banyak, sedangkan pengertian dari penyusunan adalah
suatu kegiatan memproses suatu data atau kumpulan data yang
dilakukan oleh suatu individu, organisasi atau lembaga secara baik,
tersusun dan teratur.”3

Pengertian bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang
digunakan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar
dapat juga diartikan sebagai bahan yang harus dipelajari oleh peserta
didik sebagai sarana untuk melakukan kegiatan belajar. Di dalam bahan
ajar terdapat segala sesuatu yang berupa materi tentang pengetahuan,
keterampilan dan juga sikap yang harus dicapai oleh para peserta didik
terkait suatu kompetensi dasar tertentu. Bahan ajar adalah segala sesuatu
yang digunakan oleh guru dan juga para peserta didik untuk
memudahkan kegiatan belajar dan mengajar. Bentuknya bisa berupa
buku bacaan, buku LKS, modul, ada juga yang berupa buku online atau
bahan ajar digital, tayangan edukasi, pembicaraan secara langsung
antara guru kepada para peserta didik, perintah-perintah yang diberikan
oleh guru, tugas tertulis dan juga bahan diskusi antar murid yang
dilakukan secara berkelompok. Dengan demikian, bahan ajar dapat
berupa banyak hal yang dipandang dapat untuk meningkatkan
pengetahuan dan pengalaman para peserta didik.4

Dari pengertian tersebut dapat disimpukan bahwa penyusunan
bahan ajar adalah suatu kegiatan dalam memproses segala sesuatu yang

3 Misnardi. (2021), Evaluasi Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa, h. 324.
4 Dr. E. Kosasih. (2020), Pengembangan Bahan Ajar, Jakarta: Bumi Aksara, h. 1.

24


digunakan oleh guru dan juga para peserta didik untuk memudahkan
kegiatan belajar dan mengajar. Bahan ajar disusun harus sesuai dengan
tujuan atau sasaran pembelajaran yang hendak dicapai. Penyusunan
bahan ajar secara umum dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu
menulisnya sendiri, mengemas kembali atau mendaur ulang bahan ajar
yang sudah ada ataupun informasi dan teks baik secara langsung
maupun digital, serta penataan informasi dengan baik dan teratur. 5

Bahan ajar harus disusun sesuai dengan kaidah-kaidah
penyusunan bahan ajar yang terstruktur. Beberapa konsep penyusunan
bahan ajar, yaitu sebagai berikut:
a. Bahan ajar harus disesuaikan dengan para peserta didik yang sedah

mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.
b. Bahan ajar diharapkan bisa mengubah tingkah laku serta akhlak para

peserta didik menjadi lebih baik lagi.
c. Bahan ajar yang disusun harus sesuai dengan kebutuhan dan

karakteristik diri setiap para peserta didik.
d. Program kegiatan belajar mengajar yang akan dilaksanakan.
e. Di dalam bahan ajar harus ada tujuan dari kegiatan pembelajaran

secara spesifik yang harus dicapai.
f. Untuk mendukung tercapainya tujuan, di dalam bahan ajar harus

terdapat materi pembelajaran secara rinci, baik untuk kegiatan
maupun latihan pembelajaran.
g. Terdapat evaluasi sebagai umpan balik dan alat untuk mengukur
tingkat keberhasilan para peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran.6
6.2 Syarat Penyusunan Bahan Ajar

Bahan ajar yang baik harus dapat memenuhi tuntutan kurikulum
yang berisi kompetensi-kompetensi yang ditentukan. Mbulu &

5 Magdalena, Ina. dkk. (2020) Analisis Bahan Ajar, Nusantara Jurnal Pendidikan Dan Ilmu
Sosial Volume 2, Nomor 2, h. 311.

6 Chomsin S. Widodo, Jasmadi. (2018) Panduan Menyusun Bahan Ajar Berbasis
Kompetensi, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, h. 42.

25


Suhartono, yang dikutip dari Saputra menyebutkan syarat-syarat
penyusunan bahan ajar, yaitu:
h. Memberikan orientasi terhadap teori, penalaran teori, dan cara-cara

penerapan teori dalam praktik
i. Memberikan latihan terhadap pemakaian teori dan aplikasinya.
j. Memberikan umpan balik kebenaran latihan itu.
k. Menyesuaikan informasi dan tugas sesuai tingkat awal masing-

masing peserta didik.
l. Membangkitkan minat peserta didik.
m. Menjelaskan sasaran belajar kepada peserta didik.
n. Meningkatkan motivasi peserta didik.
o. Menunjukan sumber informasi yang lain.7

26


Adapun tujuan Penyusunan Bahan Ajar menurut Prastowo
(2015: 26-27) menyebutkan empat hal pokok tujuan pembuatan
bahan ajar, yaitu:
1) Membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu.
2) Menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar, sehingga

mencegah timbulnya rasa bosan pada peserta didik.
3) Memudahkan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran.
4) Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.10

A. Manfaat penyusunan bahan ajar
Penyusunan bahan juga tentu memiliki manfaat tersendiri
antara lain:

1) Membuat kegiatan pembelajaran menjadi
lebih menarik.11

2) Kesempatan untuk belajar secara
mandiri dan mengurangi
ketergantungan terhadap kehadiran
guru

3) Mendapatkan kemudahan dalam
mempelajari setiap kompetensi yang
harus dikuasainya.

4) Memberi tambahan pengetahuan
tentang manfaat dan pentingnya
penyusunan bahan ajar pengayaan
agar meningkatkan kualitas
pembelajaran.

5) Membantu para guru dalam
menyusun bahan ajar pengayaan
dengan baik.

6) Meningkatkan kualitas pedagogik
atau pengajaran guru-guru sesuai
dengan kemampuannya khususnya
kompetensi dalam menyusun bahan

27


ajar yang tepat, sesuai kriteria atau
standar.12
6.2.1.2 Langkah-Langkah dalam Penyusunan Bahan Ajar
Membuat bahan ajar adalah kesulitan tersendiri bagi banyak
pendidik dan guru, dimana hal ini disebabkan karena dua hal, pertama

10 Saputra, Mochammad Ronaldy Aji. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Berbasis
WEB. Solo: Yayasan Lembaga Gumun Indonesia (YLGI). h. 13

11 Susilo, J. dkk. (2018). Desain Bahan Ajar Teks Deskripsi untuk Siswa SMP Kelas VII,
Cirebon: FKIP Unswagati Cirebon. h. 6

12 Hakim, D. L. Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Matematika Media Prezi. UNES Journal
of Community Service, 2. 2017. h. 157-163.

28


para pendidik belum mempunyai pengalaman menyusun bahan ajar atau
pengalaman mengikuti pelatihan pembuatan bahan ajar, dan yang kedua
terbatasnya sumber atau referensi tentang bagaimana membuat atau
menyusun bahan ajar.13

Ketika membuat atau menyusun bahan ajar, ada beberapa
langkah yang perlu diperhatikan oleh pendidik (pengembang), yaitu:

A. Menganalisis Kurikulum
Analisis ini diartikan untuk mengidentifikasi kompetensi
yang dijelaskan pada kurikulum dalam hubungannya dengan
kebutuhan bahan/materi ajar. 14 Pada Kurikulum 2006 (KTSP), telah
dijelaskan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD);
sedangkan pada Kurikulum 2013, telah dijelaskan kompetensi inti
(KI) dan kompetensi dasar (KD). Pendidik selanjutnya perlu
menguraikan setiap KD menjadi indikator pencapaian kompetensi
(IPK), melengkapi materi pembelajaran dan materi pokok, serta
memilih pengalaman belajar yang relevan. Berdasarkan komponen-
komponen tersebut, selanjutnya ditetapkan bahan ajar yang relevan
untuk dikembangkan.

B. Menganalisis Sumber Belajar
Sumber belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
mengandung informasi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.
Sumber belajar dapat berupa lingkungan yang relevan dengan materi
pembelajaran, bahan ajar, benda atau orang yang menguasai atau
memiliki informasi yang dapat mendukung pembelajaran.
Sumber belajar adalah berbagai atau semua sumber baik
yang berupa data, metode, media, orang, tempat berlangsungnya
pembelajaran, yang digunakan oleh peserta didik demi memudahkan

13 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. (2020). Perencanaan Pembelajaran. Depok: Pt
RajaGrafindo Persada. h. 294.

14 Widyastuti, Ana., dkk. (2021). Perencanaan Pembelajaran. Medan: Yayasan kita menulis,
h. 28.

29


dalam belajar.15 Sumber belajar juga dapat diartikan sebagai segala
tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung
informasi dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk
melakukan proses perubahan tingkah laku.

Pada tahap kedua ini diidentifikasi ketersediaan sumber
belajar yang tersedia dan yang dapat mendukung pembelajaran
untuk materi pembelajaran yang telah dirumuskan. Dari hasil
identifikasi terhadap sumber belajar yang tersedia tersebut dianalisis
aspek relevansi, yakni berkaitan dengan kesesuaian sumber belajar
dengan materi pembelajaran, dan aspek praktikabilitas, yang
berkaitan dengan apakah sumber belajar tersebut dapat atau mudah
digunakan dalam pembelajaran. Dalam kaitan dengan penyusunan
bahan ajar, dilakukan analisis mengenai:

6.2.1.2.B.1 Ketersediaan bahan ajar;
6.2.1.2.B.2 Kesesuaian bahan ajar yang

tersedia dengan kurikulum;
6.2.1.2.B.3Kesesuaian bahan ajar dengan

lingkungan di sekitar peserta didik
(aspek kontekstual);
6.2.1.2.B.4Kecukupan, berkaitan dengan
cakupan dan kedalaman sajian pada
bahan ajar yang ada;
6.2.1.2.B.5 Kemungkinan penggunaan
bahan ajar yang tersedia tersebut.
6.2.1.2.B.6 Sumber belajar akan
menjadi bermakna bagi peserta didik.
C. Menetapkan Jenis Bahan Ajar
Pada tahap kedua akan diperoleh hasil analisis mengenai
aspek ketersediaan, relevansi, dan praktikabilitas dari sumber
belajar, terutama bahan ajar. Apabila bahan ajar yang
tersedia memenuhi aspek relevansi dan praktikabilitas, maka bahan
ajar tersebut dapat digunakan dalam proses belajar
mengajar/pembelajaran. Adapun sebaliknya, jika bahan ajar yang

30


tersedia tidak memenuhi aspek tersebut, maka pendidik perlu

15 Samsinar, S. (2020). Urgensi learning resources (sumber belajar) dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(2), h. 196.

31


mengembangkan bahan ajar. Dari analisis kurikulum pada tahap

pertama, diperoleh beberapa bahan ajar yang perlu dikembangkan;

pada tahap ketiga ini, ditetapkan jenis bahan ajar yang akan

dikembangkan oleh pendidik.

D. Pengorganisasian Materi Pembelajaran

Tahap ini merupakan tahap menjabarkan dan menetapkan

materi pembelajaran yang akan dibahas didalam proses

pembelajaran atau belajar mengajar. Materi pembelajaran

dijabarkan dari kompetensi dasar pada KI 3 dan KI 4. Selanjutnya

dari indikator yang diturunkan mengacu pada kompetensi dasar,

dirumuskan materi pembelajaran yang selanjutnya disusun secara

terstruktur dengan tetap memerhatikan keterkaitan antar materi

pembelajaran.

E. Menetapkan Struktur Bahan Ajar

Dalam penyusunan bahan ajar cetak perlu diperhatikan

struktur, karena masing-masing bahan ajar cetak mempunyai

struktur yang berbeda. Struktur bahan ajar adalah salah satu ciri atau

karakteristik yang membedakan antara satu jenis bahan ajar dengan

jenis yang lain. Sebagai contoh, pada modul harus terdapat

petunjuk belajar, informasi pendukung, dan tugas; sedangkan pada

buku yang ketiga komponen tersebut tidak perlu ada.

Lebih detail, struktur masing-masing jenis bahan ajar cetak
disajikan pada tabel berikut: 16

No Komp Hand Buku Buku Mo LK Bros Lea

onen -Out Teks Ajar dul PD ur flet
1. Judul       

2. Petunj - -  - -
 
uk

16 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. Perencanaan Pembelajaran...h. 295-297

32


Belaja

r

3. Rumus -

an      
Komp

etensi

4. Inform -

asi      
Pendu

kung

5. Uraian       
Materi

6. Latiha -    - - -
n

7. Tugas - -  --

Langk  
ah

Kerja

8. Penilai - -     
an

F. Mengumpulkan dan Mempelajari Referensi

Referensi merupakan bagian penting dalam penulisan bahan
ajar, juga dalam melaksanakan pembelajaran.17 Ketersediaan

referensi yang lengkap dan komprehensif akan memberikan

kontribusi yang lebih besar pada kelengkapan penyajian bahan ajar.

Pada langkah atau tahap ini, penyusun atau penulis bahan ajar

mengumpulkan berbagai referensi yang diperlukan sebagai bahan
acuan didalam penulisan atau penyusunan bahan ajar.18 Referensi

17 Aisyah, S., Noviyanti, E., & Triyanto, T. (2020). Bahan Ajar Sebagai Bagian Dalam Kajian

Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya

Indonesia, 2(1). h. 63.
18 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. Perencanaan Pembelajaran...h. 296-297.

33


yang dikumpulkan tersebut dapat berupa buku teks, jurnal ilmiah,

buku referensi, laporan hasil penelitian, buletin, majalah, dan

sebagainya. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan

dengan pemilihan referensi, antara lain:

6.2.1.2.F.1 Relevan dengan materi pembelajaran

yang telah diidentifikasi pada tahap

keempat.

6.2.1.2.F.2 Terkini, yakni referensi

yang menyajikan informasi terbaru.

G. Mulailah Menulis

Bahan ajar dapat ditulis sendiri oleh guru sesuai dengan

kebutuhan dan guru juga dapat berkolaborasi secara kelompok

dengan guru lain untuk menulis bahan ajar. Pada langkah ini, kita

mulai melengkapi atau mengisi struktur bahan ajar dengan deskripsi
yang relevan.19 Penguraian materi pelajaran harus mengacu pada

hasil pengorganisasian materi pembelajaran. Hal ini penting untuk

menjamin uraian materi sistematis dan terstruktur. Beberapa hal

yang harus diperhatikan pada langkah ini, diuraikan sebagai berikut:

6.2.1.2.G.1Cakupan dan kedalaman materi yang

dideskripsikan atau diuraikan harus

menjamin pencapaian kompetensi

yang telah dirumuskan.

6.2.1.2.G.2Akurasi materi penting sekali

diperhatikan. Kesalahan dalam

menyajikan fakta, prinsip, konsep,

atau prosedur akan berakibat fatal;

peserta didik atau siswa akan

memiliki pemahaman yang salah

berkaitan dengan materi tersebut.

6.2.1.2.G.3Sajian materi pembelajaran harus juga

memperhatikan pengembangan

kemampuan berpikir tingkat tinggi.

34


Dalam kaitannya hal ini, uraian
materi dapat dilengkapi dengan
aktivitas eksplorasi atau aktivitas
pemecahan masalah yang dapat
mendorong dan mengembangkan
proses berpikir kritis

19 Magdalena, I., Sundari, T., Nurkamilah, S., Nasrullah, N., & Amalia, D. A. (2020). Analisis
bahan ajar. Nusantara, 2(2). h. 324.

35


peserta didik. Pada bagian soal latihan, perlu pula dilengkapi
dengan soal-soal pada level analisis, sintesis, dan evaluasi.

6.2.1.2.G.4Sajian materi sebaiknya dibuat
menarik dan memotivasi siswa atau
peserta didik. Hal tersebut dapat
dilakukan dengan melibatkan
aktivitas yang menarik, menyajikan
konteks lokal di sekitar peserta didik,
menyajikan contoh yang berhubungan
dengan wacana atau isu yang sedang
populer, menyajikan ilustrasi, dan
sebagainya.

6.2.1.2.G.5Perhatikan bahasa yang digunakan
dalam bahan ajar yang ditulis. Bahasa
yang digunakan adalah bahasa yang
semi-formal, komunikatif, serta sesuai
dengan tingkat perkembangan berpikir
dan perkembangan sosial peserta
didik.

6.2.1.2.G.6Hindari terjadinya plagiarisme dalam
bahan ajar, dimana setiap kutipan
harus disertai dengan menuliskan
sumber kutipan tersebut.

6.2.1.2.G.7Untuk setiap konsep atau teori yang
dikutip dari sumber tertentu sebaiknya
dilengkapi dengan penjelasan lebih
lanjut atau hasil elaborasi penulis.20

6.2.1.3 Evaluasi Dalam Penyusunan Bahan Ajar
Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenap apa dan

bagaimana melakukan evaluasi terhadap penyusunan bahan ajar. Untuk
mengevaluasi penyusunan bahan ajar cetak, pastinya harus diawali
dengan penyusunan bahan ajar cetak seperti modul, buku, diktat maupun

36


bahan baku ajar cetak lainnya.
Salah satu hal yang sangat penting dalam meningkatkan

keberhasilan aktifitas pembelajaran PAI adalah melakukan evaluasi
terhadap penyusunan bahan ajarnya.21 Bahan ajar PAI, sebagaimana
bahan ajar mata pelajaran yang lain, ada yang berbentuk cetak dan ada

20 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. Perencanaan Pembelajaran...h. 298.
21 Hilmi, H. (2021). Evaluasi Bahan Ajar Cetak Bahasa Arab untuk Tingkat Madrasah
Aliyah. Intelektualita, 9(02). h. 93-108

37


pula yang berbentuk non cetak. Bahan ajar PAI yang berbentuk cetak
antara lain, yaitu buku PAI, modul, handout dan lain-lain. Sedangkan
bahan ajar PAI yang berbentuk non cetak antara lain radio yang
berhubungan dengan PAI, kaset rekaman, video dan lain-lain.22

Kemampuan menyusun bahan ajar cetak tidak muncul dengan
begitu saja pada saat anda mempelajari modul tentang penyusunan
bahan ajar cetak. Yang pertama harus dipahami dalam penyusunan
bahan ajar adalah faktor dan prosedur penyusunan bahan ajar dan
setelah itu dapat dikembangkan dari evaluasi penyusunan bahan ajar.
Bahan ajar yang disusun secara efektif dan informatif tetap diperlukan
adanya evaluasi penyusunan bahan ajar agar bisa menjadi bahan ajar
yang sempurna dan dapat dipahami dengan mudah oleh para peserta
didik.

Sugiarni dalam bukunya menyebutkan bahwa ada dua jenis
kegiatan belajar. Pada kegiatan belajar pertama dijelaskan mengenai
variabel yang harus diperhatikan pada saat melakukan evaluasi
penyusunan bahan ajar, khususnya bahan ajar cetak. Pembahasan
variabel-variabel ini untuk memudahkan kaitan antara variabel-variabel
tersebut dalam evaluasi penyusunan bahan ajar. Pada kegiatan belajar
kedua harus dilakukan simulasi evaluasi terhadap penyusunan bahan
ajar. Untuk keperluan ini, maka diperlukan format-format tertentu yang
harus digunakan, langkah-langkah dalam proses evaluasi dan latihan
melakukan evaluasi penyusunan bahan ajar.

Setelah disusun dan dievaluasi, para guru diharapkan mampu
menilai bahan ajar yang efektif dan informatif. Kompetensi yang harus
diperhatikan sebelum melakukan evaluasi penyusunan bahan ajar
adalah sebagai berikut:
A. Mampu menjelaskan variabel yang perlu diperhatikan pada saat

melakukan evaluasi penyusunan bahan ajar.

22 Hilmi, H. Evaluasi Bahan Ajar Cetak Bahasa Arab untuk Tingkat Madrasah Aliyah ... h.
93-108

38


Click to View FlipBook Version