B. Mampu menentukan penggunaan format evaluasi penyusunan bahan
ajar berdasarkan jenis bahan ajar yang telah dibuat.
C. Mampu melakukan evaluasi terhadap penyusunan bahan ajar
dengan baik dan terstruktur.
D. Mampu menindak lanjuti hasil evaluasi terhadap penyusunan bahan
ajar.23
23 Sugiarni. Bahan Ajar, Media Dan Teknologi Pembelajaran. Tanggerang Selatan: Pascal
Books, 2022, h. 33-34
14
40
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S., Noviyanti, E., & Triyanto, T. (2020). Bahan Ajar Sebagai Bagian
Dalam Kajian Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal
Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya Indonesia, 2(1).
Chomsin S. Widodo, Jasmadi. (2018). Panduan Menyusun Bahan Ajar Berbasis
Kompetensi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Dr. E. Kosasih. (2017). Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hakim, D. L. (2017) Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Matematika Media Prezi.
UNES Journal of Community Service, 2.
Hernawan, A. H., Permasih, H., & Dewi, L. (2012). Pengembangan bahan ajar.
Direktorat UPI, Bandung, 4(11).
Hilmi, H. (2021). Evaluasi Bahan Ajar Cetak Bahasa Arab untuk Tingkat
Madrasah Aliyah. Intelektualita, 9(02).
Magdalena, I., Sundari, T., Nurkamilah, S., Nasrullah, N., & Amalia, D. A. (2020).
Analisis bahan ajar. Nusantara, 2(2).
Misnardi. (2021), Evaluasi Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa.
Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. (2020). Perencanaan Pembelajaran.
Depok: Pt Rajagrafindo Persada.
Samsinar, S. (2020). Urgensi learning resources (sumber belajar) dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran. Didaktika: Jurnal Kependidikan,
13(2).
Saputra, Mochammad Ronaldy Aji. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Sejarah
Berbasis WEB. Solo: Yayasan Lembaga Gumun Indonesia (YLGI).
Sugiarni. (2022). Bahan Ajar, Media Dan Teknologi Pembelajaran. Tanggerang
Selatan: Pascal Books.
41
Susilo, J. dkk. (2018). Desain Bahan Ajar Teks Deskripsi untuk Siswa SMP Kelas
VII, Cirebon: FKIP Unswagati Cirebon
Widyastuti, Ana., dkk. (2021). Perencanaan Pembelajaran. Medan: Yayasan Kita
Menulis.
Zukhaira, Z., & Hasyim, M. Y. A. (2014). Penyusunan Bahan Ajar Pengayaan
Berdasarkan Kurikulum 2013 dan Pendidikan Karakter Bahasa Arab
Madrasah Ibtidaiyah. Rekayasa: Jurnal Penerapan Teknologi dan
Pembelajaran, 12(1).
42
BAB 7
KARAKTERISTIK BAHAN AJAR PAI
(KELOMPOK 7
4
3
7.1 Pengertian Bahan Ajar PAI
Bahan ajar diartikan sebagai bahan-bahan atau materi pembelajaran
yang disusun secara sistematis berdasarkan kaidah pembelajaran yang
digunakan guru untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran.
Bahan ajar yang di maksud di sini bukan hanya buku,modul tapi juga
dalam bentuk lain.Sebagaimana kita ketahui bahwa bahan ajar
merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam proses pencapaian
tujuan pembelajaran.
Menurut Widodo dan Jasmadi dalam buku (Lestari,2013) menyatakan
bahwa bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang
berisikan materi pembelajaran, metode-metode, batasan-batasan dan cara
mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka
mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi dan
subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.1
Bahan ajar PAI adalah segala bentuk bahan yang di gunakan untuk
membantu memudahkan guru atau pengajar PAI dalam melaksanakan
pembelajaran. Atau dalam kata lain, dapat kita simpulkan bahwa bahan
ajar PAI adalah seperangkat sarana atau alat dalam pembelajaran yang
berisikan materi-materi pembelajaran PAI, beserta dengan metode yang
disusun secara sistematis dan menarik.
Bahan ajar PAI juga merupakan sebuah sarana atau alat yang
berisikan informasi, teks mengenai seputar materi PAI yang diperlukan
guru PAI untuk dijadikan bahan perencanaan dan penela‟ahan serta
implementasi pembelajaran. Adapun jenis-jenis bahan ajar PAI adalah
sebagai berikut:
1 Magdalena dkk., “ANALISIS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR,” 171.
4
4
1. Bahan ajar cetak (visual), yaitu sejumlah bahan yang disiapkan
dalam kertas yang berfungsi memberikan informasi untuk
keperluan dalam pembelajaran. Contohnya seperti modul,
buku, brosur, dan lembar kerja siswa.
2. Bahan ajar dengar (audio), yaitu semua sistem yang
menggunakan sinyal radio secara langsung yang dapat
dimainkan atau didengar. Contohnya seperti radio, kaset,
piringan hitam, dan CD audio.
3. Bahan ajar dengar-pandang (audio visual), yaitu kombinasi
antara gambar dan suara. Contohnya seperti video atau film.
4. Bahan ajar Interaktif (interactive teaching materian), yaitu
kombinasi antara dua media atau lebih () yang dimanipulasi
oleh penggunanya atau diberi perlakuan dalam mengendalikan
suatu perintah atau perilaku alami dari suatu presentasi.
Contohnya seperti CD, Computer Based, dan Internet.
7.2 Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam merupakan upaya sadar dan terencara dalam
menyiapkan peserta didiknya dalam mengenal, memahami, menghayati,
juga mengimani, ajaran agama Islam dengan dibarengi adanya tuntutan
untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan
kerukunan antar umat beragama, sehingga terwujudnya kesatuan dan
persatuan bangsa.
Menurut Zakiyah Darajat berpendapat pendidikan agama Islam adalah
suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa
dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati
tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam
sebagai pandangan hidup.2
Jadi, dapat disimpulkan dari pernyataan diatas bahwa Pendidikan
Agama Islam (PAI) adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seorang
2 Rahayu, “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PAI DI SEKOLAH/ MADRASAH,” 20.
4
pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didiknya untuk meyakini,
memahami, dan mengamalkan ajaran Islam dengan cara kegiatan
bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan dalam
mencapai tujuan yang diharapkan.
7.3 Karakteristik Bahan Ajar PAI
Dalam pengembangan bahan ajar di sekolah guru perlu
memperhatikan juga dari segi karakteristik dan kebutuhan siswanya
kemudian di buat sesuai dengan tuntutan kurikulum, dimana proses
pengembangan bahan ajar ini menuntut pertisipasi dan aktivasi siswa
lebih dominan dalam pembelajaran.
Selain itu, dalam pengembangan bahan ajar guru juga di tuntut untuk
paham mengenai bahan ajar. Bahan ajar sendiri memiliki lima
karakteristik yang menjadi ciri khas dari suatu bahan ajar, adapun
penjabaran dari kelima krakteristik tersebut adalah sebagai berikut.
a. Karakteristik bahan ajar Self Intructional, yaitu bahan ajar
dapat membuat siswa mampu membelajarkan diri sendiri
dengan bahan ajar yang dikembangkan. Oleh karena
itu,didalam bahan ajar harus memiliki tujuan yang dirumuskan
dengan jelas dan memberikan materi pembelajaran yang
dikemas ke dalam unit-unit atau kegiatan yang lebih spesifik.
b. Karakteristik bahan ajar Self Contained, yaitu seluruh materi
pelajaran dari satu unit kompetensi atau subkompetensi yang
dipelajari terdapat di dalam satu bahan ajar secara utuh.
c. Karakteristik bahan ajar Stand Alone (berdiri sendiri) yaitu
bahan ajar yang dikembangkan tidak tergantung pada
bahanajar lain atau tidak harus digunakan bersama-sama
dengan bahan ajar lain.
d. Karakteristik bahan ajar Adaptive, yaitu bahan ajar hendaknya
memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan
ilmu dan teknologi
5
e. Karakteristik bahan ajar User Friendly, yaitu setiap instruksi
dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan
bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai
dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan.3
Perubahan kebijakan mengenai kurikulum 2013 tentang Pendidikan
Agama Islam dan bahasa Arab terjadi perubahan dikarenakan berbagai
faktor yang mempengaruhi. Diantaranya faktor internal yaitu: Pokok dari
tujuan pendidikan agama Islam belum tercapai yaitu mengesakan Tuhan
Yang Maha Esa dan berakhlakul karimah, Pembelajaran PAI hanya
sebatas teori yang dimana murid belum mampu untuk
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai agama yang
belum menjadi substansi. Dari hal-hal tersebut diharapkan pembelajaran
pendidikan agama Islam dapat memberikan murid untuk memiliki cara
pandang yang luas, sikap toleransi yang tinggi dan bersikap religius
holistik yang berorientasi tidak hanya pada kebahagiaan dunia dan juga
bahagia akhirat. Dalam kurikulum pendidikan agama Islam disusun
dengan memiliki beberapa karakteristik, yakni sebagai berikut:
a) Adanya sikap spiritual, pengetahuan, keterampilan yang
seimbang dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari.
b) Mengembangkan kemampuan murid yang mampu untuk
memahami mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan juga
mampu untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-
hari baik itu untuk dirinya sendiri maupun bermasyarakat,
sehingga dapat menjadi contoh yang baik dalam kehidupan.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pembiasaan dalam
kegiatan sehari-hari.
3 Magdalena dkk., “ANALISIS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR,” 182–83.
6
c) Menjadikan sekolah sebagai salah satu tempat belajar bagi
masyarakat yaitu memberikan pengalaman belajar terhadap
murid.
d) Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan
dengan waktu yang cukup optimal dengan memaksimalkan
peran keluarga, sekolah dan juga masyarakat.
e) Mengembangkan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar
(KD). Kompetensi inti pada tingkatan kelas yang disusun
secara rinci dan juga kompetensi dasar pada tingkatan kelas
tersebut.
f) Kompetensi inti yang dikembangkan menjadi kompetensi
dasar yang di dapat. Semua pembelajaran dan juga kompetensi
dasar terorganisir untuk menjadi kompetensi inti.
g) Memerhatikan prinsip-prinsip akumulatif, saling memperkuat,
dan memperkaya mata pelajaran dan jenjang pendidikan.
h) Mengoptimalkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu
tidak hanya berfokus pada sebuah mata pelajaran yang wajib
dipelajari, tetapi juga bagaimana materi Pendidikan Agama
Islam ini mampu meresap dan dihayati dalam diri murid yang
kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari,
menjadi landasan dalam berpikir, bersikap, dan juga dalam
bertindak.
Dalam tujuan Pendidikan Agama Islam untuk membentuk dan
menguatkan iman atau keyakinan murid melalui pembiasaan
diri, pengamalan setiap nilai-nilai yang ada di dalam
Pendidikan Agama Islam dalam kehidupan sehingga mampu
menjadi manusia yang memiliki kepribadian agama yang kuat
(Menurut PUSKUR, Depdiknas). Sedangkan visi Pendidikan
Agama Islam yakni untuk dapat diterapkan pada sikap dan
kepribadian murid dengan membentuk karakter, sifat yang
terpuji, menghindari akhlak yang tercela yang sesuai dengan
7
nilai-nilai Pendidikan Agama Islam, sehingga dapat menjadi
sebuah ciri dari manusia yang diharapkan oleh bangsa.4
4 Nurrizqi, “KARAKTERISTIK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH
PRESPEKTIF KEBIJAKAN PENDIDIKAN,” 130.
8
DAFTAR PUSAKA
Ibid,. hal 8-9.
Majid, Abdul. 2012. “Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”.
Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Hal 18
Magdalena, Ina, Riana Okta Prabandani, Emilia Septia Rini, Maulidia Ayu
Fitriani, dan Amelia Agdira Putri. “ANALISIS PENGEMBANGAN
BAHAN AJAR” 2 (2020): 18.
Nurrizqi, Afida. “KARAKTERISTIK PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI
MADRASAH PRESPEKTIF KEBIJAKAN PENDIDIKAN” 3 (2021): 18.
Rahayu, Tri. “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PAI DI SEKOLAH/
MADRASAH,” 2021, 13.
9
BAB 8
LANGKAH LANGKAH PENGEMBANGAN MATERI KONTEKSTUAL
(KELOMPOK 8)
1
0
8.1 Pengertian pengembangan materi PAI kontekstual
Menurut Soenarto yang dikutip dari Gd Tuning Soemara Putra, Made
Windu Antara Kesiman, dkk. Pengembangan adalah sebagai suatu proses
untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang akan digunakan
dalam pendidikan dan pembelaja.1 Pengembangan biasa dilakukan untuk
mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi lebih berkualitas, lebih
praktis, dan mudah dipahami.
Menurut Kosasih dalam buku pengembangan bahan ajar, bahan ajar
atau materi ajar adalah sesuatu yang digunakan oleh guru dan peserta didik
untuk memudahkan proses pembelajaran bentuknya bisa berupa buku bacaan,
buku kerja (LKS), maupun tayangan.2 Dalam pendidikan Indonesia, banyak
materi ajar yang di ajarkan oleh guru kepada peserta didik. Materinya pun
berbeda pada setiap sekolah seperti di jenjang SMA dan MA. Pada SMA
materi yang diajarkan adalah materi-materi pendidikan umum dan materi
pendidikan agama islam hanya diberikan 1 kali dalam seminggu, sedangkan
pada MA materi yang diajarkan lebih banyak dari SMA karena materi
pendidikan agama islam dalam MA lebih banyak. Materi pendidikan agama
islam dalam MA biasa di singkat menjadi materi PAI.
Menurut Yunus dan Abu bakar dalam buku manajemen pendidikan
Islam materi PAI dalam madrasah mecakup materi Al-qur‟an hadist, Fiqih,
Akidah Akhlak, Sejarah kebudayaan Islam, dan bahasa Arab.3 Tujuan dari
pembelajaran materi PAI pada madrasah dijelaskan oleh Sunhaji dalam buku
pengembangan strategi pembelajaran PAI di sekolah/madrasah yaitu tidak
hanya berkaitan dengan akal fikiran saja, tetapi juga berkaitan dengan hati dan
1 Putra, Kesiman, dan Darmawiguna, ―Pengembangan Media Pembelajaran Dreamweaver Model
Tutorial PadaMata PelajaranMengelola Isi HalamanWeb Untuk SiswaKelas XIProgramKeahlian
Multimedia Di SMK Negeri 3 Singaraja.‖
2 Dr. E. Kosasih, M.Pd., Pengembangan Bahan Ajar. H. 1.
3 Dr. Yunus S.Pd.I, M.Pd.I, Manajemen Pendidikan Islam (Konsep, Prinsip, Ruang Lingkup
Manajemen Pendidikan Islam). H.111.
1
1
amal perbuatan yang kesemuanya harus berlandaskan kepada perintah dan
larangan Allah SWT.4
Untuk mencapai tujuan dari pembelajaran PAI maka perlu dilakukan
pengembangan dari materi maupun strategi pembelajaran PAI. pengembangan
yang dilakukan harus disesuaikan dengan pengembangan kurikulum yang ada
dalam hal ini penulis lebih spesifik membahas tentang pengembangan materi
PAI kontekstual. Pembelajaran kontekstual sudah banyak digunakan di
beberapa negara, pembelajaran kontekstual atau yang disebut dengan
Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya merupakan
pembelajaran yang mengaitkan pengetahuan yang di dapat dengan dirinya di
kehidupan sehari-hari untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya
dalam bersosial, beragama, dan berbudaya. Menurut Johson 2002 mengartikan
pembelajaran kontesktual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan
membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari
dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari
mereka.5
Adapun Blanchard, Berns, dan Erickson mengemukakan bahwa
pendekatan CTL adalah Contextual teaching and learning is a conception af
teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real
world situations, and motivatives students to make connections bertween
knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and
workes and engage in the hard work that learning requires. Dengan demikian,
Blanchard dkk mendefinisikan pendekatan pem belajaran kontekstual
merupakan konsep belajar dan mengajar yang membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga,
warga negara, dan pekerja.6
4Prof.Dr.H.Sunhaji,M.Ag., dkk,Pengembangan StrategiPembelajaran PendidikanAgamaIslam
di Sekolah / Madrasah. H.85.
5 Jajang Bayu Kelana dan Duhita Savira Wardani, Model Pembelajaran IPA SD. H. 5.
6 Dr. Ahmad Susanto, M.Pd., Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. H. 94.
1
2
Definisi Pembelajaran Kontekstual selanjutnya berasal dari US
Department of Education sebagai salah satu penyelenggara pendidikan berbasis
kontekstual ini Menurut US Department of Education Office of Vocational and
Adult Education and the National School to Work Office mendefinisikan
Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: Contextual
Teaching and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia
nyata siswa, dan mendorong siswa membentuk hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata mereka sehari-
hari engetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika belajar.7
Penggunaan pendekatan kontekstual ini menjadikan siswa
memperoleh pengalaman belajar yang baru. Dalam hal ini pendidik juga ikut
berperan untuk perkembangan peserta didik. Dalam pelaksanaan pendekatan
kontekstual ini pendidik memberikan arahan agar dapat memahami materi dan
dapat mengaitkan dengan kehidupan sehari hari.
Dalam penggunaannya sebaiknya guru juga memperhatikan beberapa
hal lain agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar, diantaranya
adalah penguasan materi yang baik oleh guru, penguasaan penerapan langkah
langkah pendekatan kontekstual, penggunaan media pembelajaran, dan
pemanfaatan sumber belajar yang berada di sekitar siswa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengembangan materi PAI kontekstual
yaitu suatu perbuatan mengembangkan materi PAI dengan menggunakan
metode pembelajaran kontekstual Metode ini akan membantu guru untuk
medorong siswanya agar mengimplementasikan materi PAI yang siswa dapat
di sekolah dalam kehidupan sehari-harinya.
7 Dr. Yulia Pramusinta, dan Silviana Nur Faizah, Belajar dan Pembelajaran Abad 21 Sekolah Dasar.
H. 125.
1
3
8.2 Langkah langkah pengembangan materi kontekstual
Dalam menerapkan suatu pengembangan bahan ajar kontektual ada
lima langkah yang perlu dilakukan, diantaranya adalah:
1. Analisis
Menurut Jansen dan Reddy dalam (Ana Widyastuti,2021) Analisis
kurikulum dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkannya, sehingga
menghasilkan perencanaan yang lebih baik.8 Dalam penerapan
pembelajaran kontekstual analisis kurikulum sangat diperlukan untuk
dapat mengetahui penyebaran materi dan kompetensi dasar yang akan
dicapai, sehingga bisa dikaitkan dengan materi kontekstual. Analisis ini
dilakukan agar materi yang dihasilkan dari pengembangan kontekstual
tidak melenceng dari kompetensi dasar yang sudah ada. Dengan adanya
analisis ini juga seorang guru akan mudah untuk mencari dan
menentukan media-media apa saja yang akan digunakan dan sesuai
dengan materi yang akan diajarkan dalam pembelajaran kontekstual
nantinya.
2. Perencanaan
Setelah menganaslisis langkah selanjutnya adalah melakukan suatu
perencanaan mengenai pengembangan materi PAI kontekstual.
Perencanaan ini merupakan suatu rencana atau skenario atau langkah
langkah yang dibuat oleh guru mengenai hal apasaja yang akan dilakukan
oleh siswa saat dalam pembelajaran. Dalam tahap perencanaan ada
beberapa hal yang harus dilakukan atau diperhatikan yaitu:
a. Perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan analisis
Dalam tahap perencanaan ini, hal pertama yang harus
dilakukan adalah merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan
pembelajaran ini memuat kompetensi yang akan dicapai peserta,
baik kompetensi umum maupun kompetensi khusus. Menurut Ina
Magdalena Keberadaan bahan ajar sekurang-kurangnya menempati
tiga posisi penting. Ketiga posisi itu adalah sebagai representasi
8 Ana Widyastuti, Eko Sudarmanto, Perencanaan Pembelajaran. H.27.
1
4
sajian guru, sebagai sarana pencapaian standar kompetensi,
kompetensi dasar, standar kompetensi lulusan, dan sebagai
pengoptimalan pelayanan terhadap peserta didik.9
b. Pemilihan topik mata pelajaran
Jika tujuan pembelajaran telah ditetapkan, maka siswa sudah
memiliki gambaran tentang kompetensi yang harus dicapai dan
diperoleh siswa melalui proses pembelajaran. Dengan begitu,
pendidik dapat menentukan topik, tema, isu apa yang tepat untuk
disajikan dalam materi kontekstual. Acuan utama pemilihan topik
pada level tersebut adalah silabus dan analisis yang telah dimiliki.
c. Pemilihan media dan sumber
Pemilihan media dan sumber belajar harus dilakukan setelah
instruktur memiliki analisis instruksional dan mengetahui tujuan
pembelajaran. Siswa diharapkan tidak memilih media hanya karena
media tersebut tersedia untuk siswa, selain itu siswa juga
diharapkan tidak langsung terbujuk oleh kesediaan berbagai media
canggih yang saat ini berkembang pesat, seperti komputer. Hal
yang perlu diingat adalah media yang dipilih harus digunakan oleh
peserta dalam proses pembelajaran. Jadi pilihlah media yang
dibutuhkan untuk menyampaikan topik pada level, yang
memudahkan peserta untuk belajar, dan yang menarik dan disukai
peserta. Kata kuncinya adalah: Media yang dapat mengajar peserta.
Itulah media yang perlu diperhatikan untuk memilih
d. Pemilihan strategi pembelajaran
Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahapan
pada saat merancang kegiatan pembelajaran. Dalam merancang
urutan presentasi harus berkaitan dengan penentuan
tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur utama yang harus disajikan
pada level topik. Ini tidak terlalu sulit jika Anda sudah memiliki
peta konsep tentang apa yang ingin Anda pelajari. Jika sudah
9 Magdalena dkk., ―ANALISIS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR.‖
9
mengetahui bagaimana materi yang disajikan, secara umum dapat
dikatakan bagaimana struktur materi ajar tersebut. Berbagai urutan
penyajian dapat dipilih berdasarkan urutan kejadian atau kronologis,
berdasarkan lokasi, berdasarkan sebab akibat dan sebagainya.
3. Pengembangan
Adapun langkah dalam pengembangan CTL menurut Rusman
yaitu:
a. Mengembangkan suatu pemikiran peserta didik untuk melakukan
kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan cara bekerja
sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstrusi pengetahuan dan
keterampilan baru peserta didik.
b. Melaksanakan kegiatan inquiry, yaitu pengamatan pada semua
topik yang diajarkan.
c. Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik melalui pertanyaan
yang diajukan
d. Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan
kelompok berdiskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya.
e. Menghadirkan model melalui contoh pembelajaran melalui ilustrasi,
model, bahkan media yang sebenarnya.10
Menurut Sanjaya dalam (sarminah,2019) Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran mengembangkan materi kontekstual ada tujuh komponen
yang harus diperhatikan, diantaranya adalah:11
a. Kontruktivisme
Menurut Junifer Siregar dalam Jurnal Edukatif: Jurnal Ilmu
Pendidikan Sesuai dengan karakteristik belajar kontekstual,
pembelajaran harus berpusat pada siswa, buku ini memberikan
umpan balik yang banyak dan segera sehingga siswa dapat
10 Safitri, Dewi, dan Adhi, ―Kajian Teori: Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kontekstual Materi
Aritmetika Sosial untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis pada Pembelajaran
Preprospec Berbantuan TIK.‖
11 Sarminah, ―PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
IPA KELAS VI SD NEGERI 004 TEMBILAHAN KOTA KECATAMATAN TEMBILAHAN.‖
10
mengetahui taraf hasil belajarnya. Guru hanya sebagai fasilitator,
sebagai penyedia media maupun strategi.12 Dalam kontruktivisme
siswa bukan menerima pengetahuan, melainkan membangun
pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada
pengetahuan awal. Dalam hal ini siswa perlu dibiasakan untuk
memecahkan suatu masalah serta menemukan sesuatu yang
bermanfaat dan juga ide ide baru.
b. Inquiry (menemukan )
Inquiri merupakan Proses perpindahan dari pengamatan menjadi
pemahaman, dimana siswa akan mengamati suatu hal lalu dipahami
dalam tahap ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir
kritis. Menurut Sarminah pada proses inquiri dikembangkan
menjadi beberapa kegiatan yaitu:
a. Search dimana siswa dihadapkan pada masalah yang riil, dan
guru mendorong siswa untuk mengidentifikasi masalah
tersebut.
b. Observation merancang kegiatan dimana siswa diberikan
kebebasan melakukan observasi, eksperimen dll.
c. Analyze setelah siswa melakukan observasi kemudian siswa
diarahkan untuk menganalisis dan menyajikan hasil dalam
tulisan, gambar, laporan.
d. Share (Mengkomunikasikan didepan kelas). Tahap
berikutnya adalah menerapkan learning community. Pada
kegiatan ini siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok
heterogen untuk melakukan diskusi.
e. Questioning (bertanya)
Menurut Trianto bertanya merupakan strategi utama dalam
pembelajaran kontekstual karena untuk mendorong, membimbing
dan menilai kemampuan berpikir siswa salah satunya adalah
12 Siregar, ―Pengembangan Bahan Ajar Membaca Sastra Berbasis Pendekatan Kontekstual pada
Siswa SMP.‖
11
dengan melakukan kegiatan bertanya.13 Kegiatan bertanya ini
bertujuan untuk menggali informasi, memecahkan persoalan,
membangkitkan respon siswa, dan mengecek pemahaman siswa.
f. Learning Community (masyarakat belajar)
Menurut Abdul Kadir Konsep masyarakat belajar merupakan
sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.14
Masyarakat belajar dapat terjadi karena adanya proses komunikasi
dua arah seperti sharing antar teman, antar kelompok, serta antara
yang sudah tahu dan yang belum tahu. Dalam penerapan
kontekstual guru ditekankan untuk menjalankan pembelajaran
dalam bentuk kelompok-kelompok karena dengan begitu adakn
terujadinya suatu kerjasama. Bekerjasama dengan orang lain lebih
baik daripada belajar sendiri, karena dengan bekerja sama maka
bisa dapat bertukar pengalaman serta berbagi ide.
g. Modelling (pemodelan)
Dalam pembelajaran kontekstual model tidak hanya berasal dari
guru, melainkan juga dapat melibatkan seorang siswa. Modeling ini
merupakan proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir,
bekerja dan belajar
h. Reflection (refleksi)
Refleksi ini merupakan gambaran tengang kejadian, aktifitas, atau
pengetahuan yang baru di terima atau dialami. Refleksi juga
merupakan cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari,
refleksi ini bisa berupa mencatat apa yang telah dipelajari,
membuat jurnal, karya seni, ataupun diskusi kelompok.
i. Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya)
Penilaian ini berguna untuk mengukur pengetahuan dan
keterampilan siswa. Dalam melakukan penilaian dapat melalui
pemberian tugas tugas yang diberikan kepada siswanya, namun
13 Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan
Kontekstual. H.148.
14 Kadir, ―KONSEP PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DI SEKOLAH.‖
12
dengan catatan bahwa tugas itu mencerminkan bagian-bagian dalam
kehidupan siswa yang nyata mereka alami. Selain itu penilaian ini
menekankan pada kinerja atau kehahlian seorang siswa.
4. Evaluasi
Menurut Hasnawati dalam Jurnal Ekonomi dan Pendidikan proses
pembelajaran kontekstual, evaluasi yang digunakan adalah penilaian
autentik, yaitu evaluasi kemampuan siswa dalam konteks dunia nyata,
penilaian kinerja, penilaian portofolio (kumpulan hasil kerja siswa),
observasi sistematis (dampak kegiatan pembelajaran tentang sikap siswa),
dan jurnal (buku tanggapan). 15
Menurut Enoh (2004:23) dijelaskan bahwa evaluasi dalam
pembelajaran kontekstual dilakukan tanpa batas pada evaluasi hasil (tes
harian, cawu, tetapi juga dalam bentuk kuis, tugas kelompok, tugas
individu, dan ulangan akhir semester) tetapi juga dapat dievaluasi proses.
Dengan demikian akan diketahui kecepatan belajar siswa, meskipun pada
akhirnya akan dibandingkan dengan standar yang ingin dicapai. Adapun
metode penilaian yang digunakan yang digunakan dalam pembelajaran
pendekatan kontekstual adalah:
a. Diskusi, yaitu untuk menilai kemampuan siswa untuk berbicara,
mengungkapkan ide, bekerjasama dan lain sebagainya.
b. Wawancara, yaitu untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
menguasai konsep dan pengetahuannya.
c. Paper & Pencil Test, berbagai jenis tes dengan tingkat berpikir
yang tinggi.
d. Observasi, yaitu untuk menilai sikap dan perilaku siswa.
e. Demonstrasi, kemampuan untuk mengubah ide menjadi sesuatu
yang nyata konkret dan dapat diamati melalui penglihatan,
pendengaran, seni, drama gerak, dan/atau musik.
15 Hasnawati, ―Pendekatan Contextual Teaching and Learning Hubungannya Dengan Evaluasi
Pmebelajaran.‖
13
5. Revisi
Revisi merupakan langkah terakhir dalam pengembangan materi
kontekstual. Revisi ini berguna untuk memperbaiki kesalahan atau
kekurangan yang terjadi dalam proses pengembangan materi kontekstual.
Revisi ini juga bisa disebut dengan tahap penyempurnaan terhadap
pengembangan bahan ajar
14
15
memeperbaiki kesalahan itu di makalah-makalah selanjutnya. Salam dan
Hormat dari penulis.
16
DAFTAR PUSTAKA
Ana Widyastuti, Eko Sudarmanto, Bertha Natalina Silitonga dkk. Perencanaan
Pembelajaran. 1. Yayasan Kita Menulis, 2021.
Dr. Ahmad Susanto, M.Pd. Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.
2. Jakarta: KENCANA, 2016.
Dr. E. Kosasih, M.Pd. Pengembangan Bahan Ajar. 1. Jakarta Timur: PT Bumi
Aksara, 2021.
Dr. Yulia Pramusinta, M.Pd.I, dan M.Pd.I. Silviana Nur Faizah. Belajar dan
Pembelajaran Abad 21 Sekolah Dasar. Jawa Timur: Nawa Litera
Publishing, 2022.
Dr. Yunus S.Pd.I, M.Pd.I, Abu Bakar Dja‟far, S.Ag., M.A. Manajemen
Pendidikan Islam (Konsep, Prinsip, Ruang Lingkup Manajemen
Pendidikan Islam). 1. CV. Adanu Abimata, 2021.
Hasnawati. “Pendekatan Contextual Teaching and Learning Hubungannya
Dengan Evaluasi Pmebelajaran” 3, no 1 (2016).
Jajang Bayu Kelana, M.Pd, dan M.Pd Duhita Savira Wardani. Model
Pembelajaran IPA SD. 1. Kac. Plumbon, Cirebon: Edutrimedia Indonesia,
2021.
Kadir, Abdul. “KONSEP PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DI SEKOLAH.”
Dinamika Ilmu 13, no. 1 (2013): 22.
Magdalena, Ina, Riana Okta Prabandani, Emilia Septia Rini, Maulidia Ayu
Fitriani, dan Amelia Agdira Putri. “ANALISIS PENGEMBANGAN
BAHAN AJAR” 2 (2020): 18.
Prof. Dr. H. Sunhaji, M.Ag., dkk. Pengembangan Strategi Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di Sekolah / Madrasah. 1. CV. ZT CORPORA,
2022.
Putra, Gd Tuning Somara, Made Windu Antara Kesiman, dan I Gede Mahendra
Darmawiguna. “Pengembangan Media Pembelajaran Dreamweaver Model
Tutorial Pada Mata Pelajaran Mengelola Isi Halaman Web Untuk Siswa
Kelas XI Program Keahlian Multimedia Di SMK Negeri 3 Singaraja.”
Jurnal Nasional Pendidikan Teknik Informatika (JANAPATI) 2, no. 2 (8
Juli 2013): 125. https://doi.org/10.23887/janapati.v2i2.9782.
Safitri, Anisa‟, Nuriana Rachmani Dewi, dan Nino Adhi. “Kajian Teori:
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kontekstual Materi Aritmetika Sosial
untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis pada
Pembelajaran Preprospec Berbantuan TIK” 4 (2021): 8.
Sarminah, Sarminah. “PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KELAS VI SD
NEGERI 004 TEMBILAHAN KOTA KECATAMATAN
TEMBILAHAN.” JURNAL PAJAR (Pendidikan dan Pengajaran) 2, no. 2
(23 Maret 2018): 293. https://doi.org/10.33578/pjr.v2i2.5079.
Siregar, Junifer. “Pengembangan Bahan Ajar Membaca Sastra Berbasis
Pendekatan Kontekstual pada Siswa SMP.” EDUKATIF : JURNAL ILMU
17
PENDIDIKAN 3, no. 6 (15 September 2021): 4274–88.
https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i6.1441.
Trianto Ibnu Badar Al-Tabany. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif,
Progresif, dan Kontekstual. 3. PT. Kharisma Putra Utama, 2017.
18
BAB 9
FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM KUALITAS BAHAN
AJAR PAI
(KELOMPOK 9)
19
9.1 KETEPATAN CAKUPAN BAHAN AJAR
Ketepatan cakupan merupakan salah satu faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam kualitas bahan ajar. Ketepatan cakupan
meliputi kompetensi inti dan kompetensi dasar, serta kurikulum.5
Ketepatan Cakupan juga meliputi kesesuaian antara silabus dengan
tujuan pembelajaran, kesesuaian dengan kajian teori, tujuan pem-
belajaran dan sebagainya.6
Ketepatan cakupan berhubungan dengan isi bahan ajar dari
sisi keluasan dan kedalaman isi atau materi, serta keutuhan konsep
4 Laily Fitriani, ‗Pengembangan Bahan Ajar Maharah Qira ‘ Ah Berbasis Karakter‘, An-
Nabighoh, 20.01 (2018), 8.
5 Henny Nopriani and Ike Tri Pebrianti, ‗Kemampuan Menulis Teks Eksposisi Siswa
Kelas X Melalui Penggunaan Bahan Ajar Hasil Pengembangan‘, Pendidikan Bahasa Dan
Sastra Indonesia FKIP UM Palembang, 5305.1 (2020), 96.
6 Nur Shabrina Reznani, Nurhayati Nurhayati, and Sungkowo Soetopo,
‗Pengembangan Bahan Ajar Mata Kuliah Menyimak Berbasis Kearifan Lokal‘, Jurnal
PendidikanBahasaDanSastra, 6.1 (2021), 49
<https://doi.org/10.17509/bs_jpbsp.v21i1.36661>.
20
berdasarkan keilmuan.7 Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar san-
gat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu
pada ketepatan cakupan bahan ajar, setiap guru pasti mempunyai
tujuan pembelajaran dari mata pelajarannya. Lihatlah tujuan terse-
but, kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut kita dapat menen-
tukan seberapa luas, dalam, dan utuh topik yang akan disajikan
kepada peserta didik. Kemudian, kembangkanlah bahan ajar materi
pokok dan komponennya berdasarkan materi yang telah ditentukan.
9.2 KETERCERNAAN BAHAN AJAR
Isi bahan ajar dalam menggunakan media atau bentuk apa-
pun, harus memiliki tingkat ketercernaan yang tinggi. Dalam hal ini
agar bahan ajar mampu dipahami dan juga dapat dimengerti oleh
peserta didik dengan mudah.8 Dalam hal ini, sehingga peseta didik
sebagai pengguna nantinya sesuai dengan kompetensi yang akan
dicapai atau diharapkan.
Menurut Husni (2010) terdapat enam hal yang mendukung
tingkat ketercernaan bahan ajar, diantaranya.
9.3 Pemaparan yang logis
Bahan ajar perlu dipaparkan secara logis, sehingga
para peserta didik akan lebih mudah mengikuti pemaparan,
misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau se-
baliknya, dari yang mudah ke yang sulit, atau dari yang inti
ke yang pendukung. Dengan demikian, informasi yang
didapat atau diterima oleh peserta didik akan saling terkait
dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya.
9.4 Penyajian Materi yang Runtut
7 Muhammad - Riska and Ratna - Syam, ‗Bahan Ajar Keterampilan Elektronika Pada
Kelompok Remaja Di Desa Bontopannu Kab. Gowa‘, Jurnal MediaTIK, 3.2 (2020), 10
<https://doi.org/10.26858/jmtik.v3i2.14357>.
8 At- Ta, Jurnal Pendidikan, and Agama Islam, ‗At- Ta‘dib‘, 01, 9.
21
Bahan ajar perlu disajikan secara sistematis. Ket-
erkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat, setiap
topik yang disajikan secara sistematis dengan menggunakan
3 strategi yaitu , 1) penyajian uraian, contoh , dan latihan; 2)
contoh, latihan, dan penyajian uraian; dan 3) penyajian ura-
ian, latihan, dan contoh ( PCL - CLP - PLC ).
Dalam strategi penyajian ini urutan dapat berubah-
ubah sehingga tidak membosankan. Namun, perlu pada se-
tiap bagian diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak
membuat bingung peserta didik. Dalam hal ini, keruntutan
penyajian isi bahan ajar dapat memudahkan peserta didik da-
lam belajar dan juga terbiasa berpikir runtut.
9.5 Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman
Untuk menyajikan suatu topik dan menjelaskan suatu
pokok bahasan, diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat
membantu dan mempermudah pemahaman peserta didik.
(Rinaldy, dalam Husni, 2010).
Dalam pemilihan contoh dan ilustrasi, terdapat prin-
sip utama yaitu ketepatan contoh dan ilustrasi agar memper-
jelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan untuk mem-
buat peserta didik semakin bingung), serta menarik dan
mampu bermanfaat bagi peserta didik. Hal tersebut dapat
didapatkan melalui sumber-sumber mutakhir baik itu maja-
lah, koran, ataupun situs-situs di internet.9
9.6 Alat Bantu yang Memudahkan
Bahan ajar tentunya perlu memiliki alat bantu yang
dapat mempermudah peserta didik untuk mempelajari bahan
ajar tersebut. Dalam bahan ajar cetak, terdapat alat bantu
berupa rangkuman untuk setiap bab, penomoran, judul bab
9 Nana, ‗Pengembangan Bahan Ajar‘. 19.
22
yang jelas, serta tanda-tanda khusus, seperti tanda tanya yang
menandakan pertanyaan .
Pengembangan bahan ajar non cetak menjadi hal
penting yang berkaitan dengan upaya membantu peserta
didik untuk meraih kompetensinya dengan lebih cepat.10 Da-
lam bahan ajar non cetak, terdapat alat bantu juga berupa
rangkuman, petunjuk belajar bagi peserta didik, serta tanda-
tanda khusus yang dapat digunakan serta dapat membantu
peserta didik, misalnya perbedaan nada suara dalam kaset
audio atau caption dalam program video terhadap mata pela-
jaran tertentu. Jadi, alat bantu yang memiliki simbol atau
bentuk yang sama, sebaiknya tidak digunakan untuk arti
yang berbeda pada satu bahan ajar yang sama. seperti, ada
gambar tangan yang sedang menulis "digunakan untuk arti
Latihan" yang menunjukkan peserta didik harus
mengerjakan secara tertulis.
9.7 Format yang Tertib dan Konsisten
Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan kon-
sistensi agar peserta didik mudah mengenali, mengingat dan
mempelajari. Misalnya, jika guru pada lembar kerja peserta
didik menggunakan kertas merah, maka guru akan
menggunakan warna kertas merah untuk LKPD, Dalam hal
ini, jangan menggunakan warna merah untuk komponen
lainnya dalam bahan ajar. Dengan demikian, peserta didik
setiap kali melihat warna kertas merah, maka peserta didik
akan menandainya sebagai LKPD.
9.8 Penjelasan tentang Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar
Dalam bahan ajar, perlu adanya penjelasan mengenai
manfaat seta kegunaan bahan ajar. Dalam pembelajaran di
10 Wahyu Dwi Warsitasari, ‗PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT
DALAM PENDIDIKAN ISLAM Wahyu‘, AL-IFKAR, 15.1 (2021), 62.
23
kelas, bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang
akan digunakan pada saat pembelajaran di kelas atau ber-
fungsi sebagai alat bantu peserta didik mandiri saat di rumah
(buku kerja, paket kerja mandiri), serta dapat sebagai alat
bantu peserta didik dalam kelompok. Dalam hal ini, Peran
tersebut perlu dijelaskan atau disampaikan kepada peserta
didik dengan cermat sehingga peserta didik nantinya mampu
menggunakan bahan ajar dengan jelas.
Dengan demikian, bahan ajar juga perlu menjelaskan
keterkaitan antara topik yang akan dibahas dalam bahan ajar
dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. Dalam hal
ini, peserta didik mampu melihat keterkaitan topik bahan
ajar dengan topik lain sehingga tidak terkesan bahwa mas-
ing-masing topik berdiri sendiri-sendiri.11
9.3 PENGGUNAAN BAHASA BAHAN AJAR
Penggunaan bahasa bahan ajar merupakan salah satu faktor
yang perlu dipertimbangkan dalam kualitas bahan ajar. Adapun
kriteria penilaian pada aspek bahasa meliputi:
1. Kesesuaian tingkat dengan tingkat perkembangan berfikir
peserta didik.
2. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
3. Kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan
benar.
4. Memiliki keruntutan dan kesatuan gagasan.12
11Ida Malati Sadjati, Pengembangan Bahan Ajar, 45.
12 Riham Lailatul Wachdah, ‗Evaluasi Buku Ajar Bahasa Arab Kelas X Madrasah Aliyah:
Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013‘, Al-Ma’rifah, 17.1 (2020), 44
<https://doi.org/10.21009/almakrifah.17.01.04>.
24
Kunci Utama untuk memahami isi dari buku ialah bahasa.13
Pemilihan ragam bahasa dan kata dalam menyusun kalimat efektif
akan berpengaruh terhadap kualitas bahan ajar.
9.4 PERWAJAHAN/PENGEMASAN BAHAN AJAR
Perwajahan / pengemasan bahan ajar ini sangat berperan pada
perancangan atau penataan letak informasi pada satu halaman ce-
tak.14 Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam ba-
han ajar ini hendaknya memperhatikan serta mempertimbangkan be-
berapa hal berikut.
9.5 Narasi atau teks yang dalam satu halaman terlalu padat mem- buat peserta didik
cenderung lelah untuk membacanya.
9.6 Bagian kosong (white space) pada satu halaman sangat dibu- tuhkan untuk
mendorong peserta didik mencoret-coret ba- gian kosong yang telah disiapkan
tersebut dengan catatan ataupun rangkuman yang nantinya dibuat oleh peserta didik
itu sendiri. Dalam hal ini, perlu menyediakan secara konsis- ten bagian kosong
dalam halaman-halaman bahan ajar.
9.7 Padukan grafik, poin, serta kalimat-kalimat singkat, tetapi jangan dilakukan secara
terus-menerus sehinggadikhawatir- kan akan membosankan.
9.8 Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan, karena dengan sistem
paragraf yang seperti itu akan lebih mudah untuk dibaca.
13 Rofiqotul Aini and Moh Nurul Huda, ‗ANALISIS KUALITAS BUKU AJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM IAIN Pekalongan , Jawa Tengah , Indonesia
PENDAHULUAN Era Revolusi Industri 4 . 0 Memiliki Dampak Pada Semua Lini
Kehidupan , Termasuk Bidang Pendidikan . Tantangan Besar Yang Dihadapi Oleh
Masyarakat Dan‘, Jurnal As-Salam, 4.2 (2020), 349.
14 Dona Fitriawan, ‗PENGEMBANGAN BAHAN AJAR ALJABAR LINEAR ELEMENTER
BERDASARKAN
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS‘, ASIMETRIS: Jurnal Pendidikan Matematika Dan Sains,
11.2 (2020), 225.
25
9.9 Gunakan grafik atau gambar untuk tujuan tertentu saja. Da- lam hal ini, grafik atau
gambar tidak perlu dicantumkan jika tidak bermakna.
9.10 Gunakan sistem penomoran yang benar dan juga konsisten pada seluruh bagian
bahan ajar.
9.11 Gunakan dan variasikan jenis serta ukuran huruf agar dapat menarik perhatian,
namun gunakan seperlunya saja tidak ter- lalu banyak sehingga tidak
membingungkan.15
Selanjutnya, dalam merancang tata letak informasi pada se-
tiap bagian dari bahan ajar diharapkan, mulai dari judul (halaman
judul), isi, tujuan, contoh, latihan dan tugas, lembar media, dan tes
formatif, sebagai berikut.
Perwajahan dan pengemasan bahan ajar meliputi penyediaan
alat bantu belajar dalam bahan ajar sehingga nantinya bahan ajar
dapat dipelajari peserta didik secara mandiri (sendiri atau dengan te-
man-teman dalam kelompok). Dalam bahan ajar cetak, terdapat 3
kategori alat bantu belajar, yaitu alat bantu belajar pada bagian pen-
dahuluan, pada uraian informasi per topik, serta pada bagian akhir
bahan ajar cetak, sebagai berikut.
a. Pendahuluan:
1. Judul
2. Daftar isi
3. Peta konsep, diagram, pemandu awal
4. Tujuan pembelajaran
5. Tes awal
b. Uraian:
1. Ringkasan awal
2. Pengacuan pada bagian bahan ajar lain
3. Judul bagian
15Ida Malati Sadjati, Pengembangan Bahan Ajar, 49
26
4. Perintah/instruksi
5. Signposts (tanda verbal atau visual di bagian
samping teks)
6. Rangkuman
c. Akhir
1. Senarai (daftar kata sukar)
2. Tes akhir
3. Indeks
Alat bantu belajar tersebut tidak semua terdapat dalam satu
bahan ajar, Dalam hal ini, dapat memilih alat bantu belajar manakah
yang paling tepat atau dibutuhkan untuk melengkapi bahan ajar
Anda.
9.5 ILUSTRASI BAHAN AJAR
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam kualitas bahan
ajar PAI, salah satu nya yaitu ilustrasi bahan ajar. Kualitas bahan
ajar sangat perlu diperhatikan atau dipertimbangkan dalam proses
pembelajaran. Karena, tugas utama seorang pendidik tercantum
pada Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen
adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dari sekian tugas guru ter-
sebut, salah satunya adalah tugas mengajar. Guru perlu mempertim-
bangkan kualitas bahan ajar agar pembelajaran dapat terlaksana
secara efektif dan efisien. Salah satunya menggunakan ilustrasi ba-
han ajar.
Karena dengan bahan ajar yang berkualitas dapat meningkat-
kan hasil belajar bagi para peserta didik. Ada beberapa alasan men-
gapa media pembelajaran dapat tingkatkan proses belajar siswa.
Alasan pertama yaitu berkenaan dengan manfaat media pembelaja-
27
ran dan taraf berfikir peserta didik. Adapun manfaat dari media pem-
belajaran menurut Sujana, et a. yang dikutip oleh wahyudi dkk ada-
lah sebagai berikut:
9.6 Pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik se- hingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
9.7 Bahan ajar akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh peserta
didik, dan memungkinkan peserta didik menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.
9.8 Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal,
sehingga peserta didik tidak bosan dan guru tidak banyak kehilangan tenaga.
9.9 Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar.16 Media pembelajaran
ilustrasi merupakan salah satu yangha-
rus dipertimbangkan dalam kualitas bahan ajar PAI, dalam pembu-
atan media pembelajaran ilustrasi, kemampuan guru-guru perlu dit-
ingkatkan, dengan tujuan ilustrasi bahan ajar menjadi efektif dan
efisien. Karena dapat meningkatkan proses belajar siswa dalam
pembelajaran dan keberadaannya juga diharapkan dapat meningkat-
kan hasil belajar yang dicapainya.
Media gambar merupakan media pembelajaran ilustrasi yang
sering digunakan, karena media ini merupakan bahasa yang umum,
dapat dimengerti, dan dinikmati oleh semua orang dimana-mana.
Pesan yang disampaikan pun dituangkan ke dalam simbol-simbol
komunikasi visual, yang perlu dipahami dengan benar agar proses
penyampaian pesan berhasil dan efisien. Media gambar merupakan
salah satu media berbasis visual, guna memvisualisasikan pesan, in-
formasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada peserta didik.
16 Wahyudi, Kosim, Muhammad Taufik , ‗PELATIHAN PEMBUATAN ILUSTRASI BAHAN
AJAR
DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT VISIO DRAWING 2010‘, Jurnal Pendidikan Dan
Pengabdian Masyarakat, 2.1, 44.
28
9.6 KELENGKAPAN KOMPONEN BAHAN AJAR
Kelengkapan komponen bahan ajar merupakan salah satu
faktor yang dipertimbangkan dalam kualitas bahan ajar. Idealnya ba-
han ajar merupakan paket multi komponen dalam bentuk multime-
dia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan
materi yang baik meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi
bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup
banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada peserta didik
(pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-
soal untuk dikerjakan sendiri oleh peserta didik sebagai cara untuk
mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan
ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket atau dapat juga
dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet atau buku
lain), panduan belajar/peserta didik, serta panduan guru.
Paket bahan ajar memiliki tiga komponen penting, yaitu
komponen utama, komponen pelengkap, dan komponen evaluasi
hasil belajar.
a.Komponen utama
Komponen utama berisikan informasi utama yang
akan disampaikan kepada siswa dan harus dikuasai siswa.
b.Komponen pelengkap
Komponen pelengkap ini berisikan topik tambahan
untuk pengayaan wawasan siswa. Komponen ini terdiri dari
bahan pendukung cetak, bahan pendukung noncetak, pan-
duan siswa, panduan guru, dan lain-lain yang dibutuhkan
siswa untuk memahami suatu topik.
c.Komponen evaluasi hasil belajar
29
Komponen evaluasi hasil belajar terdiri dari
perangkat soal\tes yang digunakan untuk melatih kemam-
puan siswa dalam memahami pelajaran.17
17 Ida Malati Sadjati, Pengembangan Bahan Ajar, 56.
30
31
DAFTAR PUSTAKA
Aenun Rahmawati, Dewi Rusydatul Fauziah, Leni, Menjadi Guru Profesional:
Dengan Menciptakan Bahan Ajar Yang Kreatif Dan Mengevaluasi
Pembelajaran, 2020
Aini, Rofiqotul, and Moh Nurul Huda, „ANALISIS KUALITAS BUKU AJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM IAIN Pekalongan , Jawa Tengah , Indonesia
PENDAHULUAN Era Revolusi Industri 4 . 0 Memiliki Dampak Pada Semua
Lini Kehidupan , Termasuk Bidang Pendidikan . Tantangan Besar Yang
Dihadapi Oleh Masyarakat Dan‟, Jurnal As-Salam, 4.2 (2020), 349
Fitriani, Laily, „Pengembangan Bahan Ajar Maharah Qira ‟ Ah Berbasis Karakter‟,
An-Nabighoh, 20.01 (2018), 8
Fitriawan, Dona, „PENGEMBANGAN BAHAN AJAR ALJABAR LINEAR
ELEMENTER BERDASARKAN KEMAMPUAN KONEKSI
MATEMATIS‟, ASIMETRIS: Jurnal Pendidikan Matematika Dan Sains, 11.2
(2020), 225
Nana. Pengembangan Bahan Ajar, Lakeisha, (2019).
Nopriani, Henny, and Ike Tri Pebrianti, „Kemampuan Menulis Teks Eksposisi
Siswa Kelas X Melalui Penggunaan Bahan Ajar Hasil Pengembangan‟,
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia FKIP UM Palembang, 5305.1
(2020), 96
Pribadi, Benny A., „Pengertian Dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Bahan Ajar‟,
Pengertian Dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Bahan Ajar, 2019, 5
Reznani, Nur Shabrina, Nurhayati Nurhayati, and Sungkowo Soetopo,
„Pengembangan Bahan Ajar Mata Kuliah Menyimak Berbasis Kearifan
Lokal‟, Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 6.1 (2021), 49
<https://doi.org/10.17509/bs_jpbsp.v21i1.36661>
Riham Lailatul Wachdah, „Evaluasi Buku Ajar Bahasa Arab Kelas X Madrasah
32
Aliyah: Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013‟, Al-Ma‟rifah, 17.1 (2020), 44
<https://doi.org/10.21009/almakrifah.17.01.04>
Riska, Muhammad -, and Ratna - Syam, „Bahan Ajar Keterampilan Elektronika
Pada Kelompok Remaja Di Desa Bontopannu Kab. Gowa‟, Jurnal MediaTIK,
3.2 (2020), 10 <https://doi.org/10.26858/jmtik.v3i2.14357>
Sadjati, I. M. (2020). Pengembangan Bahan Ajar
Sakolan, Sakolan, „Model Inovasi Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran PAI‟,
Milenial: Journal for Teachers and Learning, 2.1 (2021), 24
<https://doi.org/10.55748/mjtl.v2i1.68>
Ta, At-, Jurnal Pendidikan, and Agama Islam, „At- Ta‟dib‟, 01, 9
Wahyu Dwi Warsitasari, „PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS
ICT DALAM PENDIDIKAN ISLAM Wahyu‟, AL-IFKAR, 15.1 (2021), 62
Wahyudi, Kosim, Muhammad Taufik, „PELATIHAN PEMBUATAN ILUSTRASI
BAHAN AJAR DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT VISIO
DRAWING 2010‟, Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian Masyarakat, 2.1, 44
.
33
BAB 10
PENYUSUNAN BAHAN AJAR DALAM BENTUK BUKU
(KELOMPOK 10)
2 Asep Herry Hernawan, Permasih, and Laksmi Dewi, ―Pengembangan Bahan Ajar,‖ Jurnal
Basicedu 3, no. 1 (2019): 157–62, https://doi.org/10.31004/basicedu.v3i1.108.
10.1 Sistematika Penyusunan Bahan Ajar
Penyusunan Bahan Ajar Cetak Bahan Ajar Cetak (Printed) yaitu sejumlah
bahan yang disiapkan dan disiapkan dalam bentuk kertas, yang dapat berfungsi
untuk pembelajaran dan penyampaian informasi (Kemp and Dayton, 1998).
2Menurut Pannen dan Purwanto (2001) penyusunan bahan ajar dapat dilakukan
melalui berbagai cara, dari yang termurah sampai yang termahal, dari yang paling
sederhana sampai yang tercanggih. Secara umum ada tiga cara yang dapat
ditempuh dalam menyusun bahan ajar cetak, yaitu:
a. Menulis sendiri (Starting from Scratch)
Bahan ajar dapat ditulis sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan siswa.
Selain ditulis sendiri guru dapat berkolaborasi dengan guru lain untuk menulis
bahan ajar secara kelompok, dengan guru-guru bidang studi sejenis, baik dalam
satu sekolah atau tidak. Penulisan juga dapat dilakukan bersama pakar, yang
memiliki keahlian di bidang ilmu tertentu. Disamping penguasaan bidang ilmu,
untuk dapat menulis sendiri bahan ajar, diperlukan kemampuan menulis sesuai
dengn prinsip-prinsip instruksional. Penulisan bahan ajar selalu berlandaskan pada
kebutuhan siswa, meliputi kebutuhan pengetahuan, keterampilan, bimbingan,
latihan, dan umpan balik. Untuk itu dalam menulis bahan ajar didasarkan: (a)
analisis materi pada kurikulum, (b) rencana atau program pengajaran, dan (c)
silabus yang telah disusun.
b. Pengemasan kembali informasi (Information Repackaging)
2 Asep Herry Hernawan, Permasih, and Laksmi Dewi, ―Pengembangan Bahan Ajar,‖ Jurnal
Basicedu 3, no. 1 (2019): 157–62, https://doi.org/10.31004/basicedu.v3i1.108.
Dalam pengemasan kembali informasi, penulis tidak menulis bahan ajar
sendiri dari awal (from scratch), tetapi penulis memanfaatkan buku-buku teks dan
informasi yang sudah ada untuk dikemas kembali sehingga berbentuk bahan ajar
yang memenuhi karakteristik bahan ajar yang baik, dan dapat dipergunakan oleh
guru dan peserta didik dalam proses instruksional. Bahan atau informasi yang
sudah ada di pasaran dikumpulkan berdasarkan kebutuhan dan tujuan
pembelajaran. Kemudian ditulis kembali/ulang dengan dengan gaya bahasa yang
sesuai untuk menjadi bahan ajar (diubah), juga diberi tambahan kompetensi atau
keterampilan yang akan dicapai, bimbingan belajar, latihan, tes, serta umpan balik
agar mereka dapat mengukur sendiri kompetensinya yang telah dicapai.
Keuntungan, cara ini lebih cepat diselesaikan dibanding menulis sendiri.
Sebaiknya memperoleh izin dari pengarang buku aslinya.3
c. Penataan informasi (Compilation atau Wrap Around Text)
Selain menulis sendiri bahan ajar juga dapat dilakukan melalui kompilasi
seluruh materi yang diambil dari buku teks, jurnal, majalah, artikel, koran, dan
lain-lain. Proses ini disebut pengembangan bahan ajar melalui penataan informasi
(kompilasi). Proses penataan informasi hampir mirip dengan proses pengemasan
kembali informasi. Namun, dalam proses penataan informasi tidak ada perubahan
yang dilakukan terhadap buku teks, materi audio visual, dan informasi lain yang
sudah ada di pasaran. Jadi buku teks, materi audio visual dan informasi lain
tersebut digunakan secara langsung, hanya ditambahkan dengan pedoman belajar
untuk peserta didik tentang cara menggunakan materi tersebut, latihan-latihan dan
tugas yang perlu dilakukan, umpan balik untuk peserta didik dan dari peserta
didik. Pada BAB ini akan dibahas mengenai secara lebih detail mengenai bahan
ajar cetak berupa: Modul, Lembar Kerja Siswa (LKS), Kompilasi, dan Handout.
A. Penyusunan Bahan Ajar dalam Bentuk Buku yang Baik dan Terstruktur
Penyusunan bahan ajar dapat berupa buku yang dapat dilengkapi dengan
bahan-bahan multimedia. Bahan ajar yang berbentuk buku biasanya dapat berupa
3 nurul huda Panggabean and amir Danis, Desain Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Sains
(Sumatera Utara: Yayasan Kita Menulis, 2020), h.22-23.
sebuah modul ajar atau buku ajar. Bahan ajar yang dikembangkan berbeda dengan
buku teks. Bahan ajar secara khusus disusun secara sistematis dalam rangka
peningkatan kualitas dan kuantitas belajar-mengajar sesuai dengan tujuan
instruksional yang diinginkan. Bahan ajar diberikan khusus kepada peserta didik
yang sedang mengikuti proses instruksional atau biasa disebut dengan learned
oriented. Bahan ajar bersifat mandiri, sehingga dapat dipelajari sendiri oleh
peserta didik, jadi harus disusun secara sistematis dan lengkap.
Buku teks disusun berdasarkan pada materi yang khusus atau bidang ilmu
tertentu. Biasanya buku teks dikatakan content oriented.4 Sebagian besar buku
teks tidak diberikan kepada peserta didik untuk dapat belajar mandiri, sehingga
dalam proses instruksional, jika menggunakan buku teks diperlukan seorang
pendidik/guru atau fasilitator yang akan menerjemahkan kandungan materi yang
ada dalam buku teks kepada peserta didik. Beberapa hal yang membedakan antara
bahan ajar dengan buku teks adalah:
a. Buku teks, jarang dilengkapi dengan tujuan instruksional yang disusun secara
linier, strukturnya berdasarkan materi keilmuan (content), tidak mengantisipasi
kesulitan mahasiswa (meskipun sekarang ada buku teks yang sudah memberikan
beberapa catatan atau syarat-syarat tertentu bagi para pembacanya), tidak
mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari pembacanya.
b. Bahan ajar atau dapat dikatakan sebagai buku ajar, terdapat penjelasan tentang
tujuan instruksional, strukturnya berdasarkan kebutuhan peserta didik dan
kompetensi akhir yang harus dicapai, mengakomodasi kesukaran peserta didik,
mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari peserta didik.
Penyusunan bahan ajar harus mengasumsikan bahwa peserta didik
mempunyai tingkat heterogenitas yang cukup tinggi, misalnya dalam hal
pengetahuan, kemampuan belajar, pengalaman belajar, kebutuhan belajar,
keinginan belajar, tujuan belajar, serta gaya belajar. Hal tersebut harus menjadi
4 dewi A.Padmo Putri and Benny A Pribadi, PengembanganBahan Ajar(Tangerang Selatan,
2019).
pertimbangan awal dalam penyusunan bahan ajar, sehingga ketika bahan ajar
tersebut dipakai oleh peserta didik, tidak akan memberikan kesulitan bagi
beberapa gaya belajar peserta didik. Bahan ajar harus luwes, sehingga dengan
keragaman peserta didik akan tetap belajar menggunakan bahan ajar tersebut
dengan motivasi yang tinggi untuk mencapai tingkat kompetensi yang diinginkan.
Bahan ajar atau buku ajar yang dirancang harus disertai dengan pedoman bagi
peserta didik dan pedoman bagi pengajar atau pelatih, dengan tujuan memudahkan
bagi peserta didik dan pengajar dalam proses belajar-mengajar.5
Peran guru/pendidik/pelatih dalam pemanfaatan buku ajar, antara lain:
1. Membantu peserta didik untuk dapat belajar dengan baik, yaitu melalui
perencanaan proses belajar dan cara belajar.
2. Sebisa mungkin peran guru juga mengajak peserta didik untuk dapat bekerja
kelompok atau belajar secara berkelompok.
3. Membimbing peserta didik dalam pemakaian buku ajar terutama dari tugas-
tugas pelatihan yang telah dijelaskan dalam tahap belajar.
4. Memotivasi peserta didik untuk mempunyai kemauan menambah pengetahuan
dengan mencari sumber informasi lain selain buku ajar yang sedang digunakan.
5. Menjawab pertanyaan peserta didik, dan melakukan diskusi di kelas ketika
sedang dilakukan proses pembelajaran tentang materi yang bersangkutan.
B. Teknik Penyusunan Bahan Ajar Cetak
Dalam teknik penyusunan bahan cetak ada beberapa ketentuan yang hendaknya kita
jadikan pedoman diantaranya sebagai berikut : a . Judul atau materi yang disajikan harus
berintikan kompetensi dasar atau materi pokok yang harus dicapai oleh peserta didik . b .
Untuk menyusun bahan cetak ada enam hal yang harus dimengerti ( Steffi dan Ballstaedt
dalam Diknas , 2004 ) , yaitu :
1. Susunan tampilan harus jelas dan menarik .
2. Bahasa yang mudah .
5 Panggabean and Danis, Desain Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Sains, hal. 57-58.
3. Mampu menguji pemahaman .
4. Adanya stimulan .
5. Kemudahan dibaca .
6. Materi instruksional .
10.2Syarat Penyusunan Bahan Ajar dalam Bentuk Buku
Persyaratan dalam penyusunan bahan ajar berbentuk buku
a. Keamanan nasional
Cara penyajian, bahasa, ilustrasi dan isi dalam buku pelajaran selaras dan
tidak bertentangan dengan peraturan undang-undang yang
berlaku.Menghormati kerukunan hidup umat beragama.6
b. Isi buku pelajaran
Dalam menyusun isi buku sebaiknya memuat bahan pelajaran minimal
yang harus dikuasai siswa. Sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Bersifat relevan dengan tujuan pembelajaran. Memiliki nilai kebenaran
ditinjau dari struktur keilmuan. Sesuai dengan perkembangan IPTEKS.
Kedalaman dan keluasan isi buku sesuai dengan jenjang pendidikan.7
c. Cara penyajian
1) Urutan uraian teratur
2) Penahapan penyajian
3) Sederhana ke komplek
4) Mudah
5) Saling memperkuat bahan kajian terkait
6) Menarik minat dan perhatian
7) Menantang dan merangsang siswa untuk mempelajari buku
6 Galuh Setyowati, Lebi Chandra, and dkk, ―Penyusunan Bahan Ajar‖ 5 (2011).
7 Miftakhul Huda and Rahmah Purwahida, ―Penyusunan Bahan Ajar,‖ n.d.
8) Pengorganisasian dan sistematika penulisan memperhatikan aspek
kemampuan siswa.
d. Bahasa yang digunakan
1) Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
2) Kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat kematangan dan
perkembangan siswa
3) Kosakata, istilah dan simbol-simbol dapat mempermudah pemahaman
siswa
4) Menggunakan tranliterasi yang telah dibakukan
e. Ilustrasi
1) Relevan dengan isi buku pelajaran
2) Tidak mengganggu kesinambungan antarkalimat, antarparagraf dan bagian
dari isi buku
3) Merupakan bagian terpadu dari keseluruhan isi buku
4) Jelas, baik, dan esensial untuk membantu siswa dalam memahami konsep
10.3Petunjuk Penyusunan Bahan Ajar dalam Bentuk Buku
Bahan ajar didefinisikan sebagai segala bentuk bahan, baik tertulis
maupun tidak tertulis, yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur
dalam melaksanakan proses pembelajaran dan menjadi bahan untuk dipelajari
oleh peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah
ditentukan. Melalui bahan ajar yang tersusun sistematis, setiap mahasiswa/peserta
didik dapat belajar secara efektif untuk memahami dan menerapkan norma
(aturan, sikap dan nilai-nilai), melakukan tindakan/keterampilan motorik, serta
menguasai pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur, dan proses) sehingga
standar kompetensi pembelajaran dapat tercapai. Selain berfungsi sebagai
pedoman bagi dosen/guru dan mahasiswa/peserta didik dalam menjalankan semua
aktivitas pembelajaran, bahan ajar juga berisi substansi kompetensi dan menjadi
alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran.8
Bahan ajar dapat disusun dari berbagai macam sumber belajar (benda,
data, fakta, ide, orang, dan sebagainya) yang potensial untuk dipelajari atau
memiliki potensi untuk menimbulkan suasana dan proses belajar. Sumber bahan
ajar dapat berasal dari berbagai disiplin ilmu baik dari rumpun ilmu alam maupun
sosial. Kedalaman cakupan dan keluasan isi materi ajar harus dipertimbangkan
secara seksama sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kondisi kemampuan awal
peserta didik. Pengembangan bahan ajar perlu disusun mengacu pada kurikulum
yang berlaku, khususnya yang terkait dengan kompetensi, standar materi dan
indikator pencapaian. Selain itu penyusunan bahan ajar juga tetap memperhatikan
karakteristik dan kebutuhan peserta didik yang meliputi lingkungan sosial,
budaya, geografis maupun tahapan perkembangan siswa.9
Karakteristik bahan ajar yang dikemukakan dalam makalah ini adalah
bahan ajar yang memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan
intelektual, sosial, dan emosional siswa dan merupakan penunjang keberhasilan
dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa Indonesia dapat
membantu siswa mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,
menyampaikan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang
menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan
analisis dan imaginasi yang ada dalam dirinya.10
Prosedur yang harus diikuti dalam penyusunan bahan ajar, yaitu meliputi:
1. Memahami standar isi dan standar kompetensi lulusan, silabus, program
semeter, dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
8 Reviandari Widyaningtyas and rika widya Sukmana, ―Langkah-Langkah Pengembangan Bahan
Ajar‖ 3 (2021).
9Sopiah,AhmadMurdiono, andDkk,―Pelatihan Dan Pendampingan Penyusunan Bahan Ajar,‖
Jurnal Karinov 2, no. N0. 1 (2019).
10 an fatirul, Mengembangkan Bahan Ajar (jakarta Timur: CV. Pena Persada, 2021).