The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak) adalah catatan perjalanan penulis yang ditulis pada tahun 2024. Catatan perjalanan ini merupakan catatan perjalanan selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak baik secara online maupun secara offline, tugas-tugas yang kami kerjakan di LMS maupun ketika Pendampingan Individu dan lokakarya.
Buku ini dibuat karena rasa semangat untuk terus berkarya, berharap bisa menginsiprasi dan memantik semangat kawan-kawan guru di seluruh Nusantara.
Walaupun kami tidak bisa menyajikannya secara detail dan lengkap, paling tidak harapan kami semoga pembaca bisa mendapatkan gambaran yang akan dilalui ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by danixrenia7, 2024-04-20 14:05:55

JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak)

JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak) adalah catatan perjalanan penulis yang ditulis pada tahun 2024. Catatan perjalanan ini merupakan catatan perjalanan selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak baik secara online maupun secara offline, tugas-tugas yang kami kerjakan di LMS maupun ketika Pendampingan Individu dan lokakarya.
Buku ini dibuat karena rasa semangat untuk terus berkarya, berharap bisa menginsiprasi dan memantik semangat kawan-kawan guru di seluruh Nusantara.
Walaupun kami tidak bisa menyajikannya secara detail dan lengkap, paling tidak harapan kami semoga pembaca bisa mendapatkan gambaran yang akan dilalui ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Keywords: Guru Penggerak

JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak) Oleh: Danik Reniadi Kuslia, S.Pd. PENERBIT YAYASAN MASYARAKAT INDONESIA SEHAT


ii JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak) Penulis : Danik Reniadi Kuslia, S.Pd. Editor : Nia Nur Pratiwi, S.Pd. Proofread : Nevi Ade Lestari Tata Sampul : Ibnu Hazim Alfatih, S.Kom. Tata Isi : Anisa Rahayu Ningsih QRCBN : 62-2566-5689-134 Cetakan Pertama, April 2024 Penerbit : Yayasan Masyarakat Indonesia Sehat, Anggota IKAPI, No Anggota: 240/ Anggota Luar Biasa/ JTE/ 2022 Redaksi: RT 07 RW 04, Desa Karangkemiri, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah Surel: [email protected] Web promosi dan penjualan: www.depotide.com Web yayasan: www.indonesiasehat.id All right reserved Hak Cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya tanpa seizin tertulis dari penerbit.


iii KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena buku ini telah selesai disusun. Buku ini disusun agar dapat membantu para guru/ Kepala Sekolah dan Calon Guru Penggerak dalam mempelajari materi beserta mempermudah mempelajari materi tentang pembelajaran yang berpusat pada murid, serta menjadi pemimpin pembelajaran. Buku berjudul JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak) merupakan buku kumpulan cerita perjalanan calon guru penggerak angkatan 9 dalam mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. Saya mencoba menyusun cuplikan rangkaian kegiatan PGP yang terangkum dalam alur "MERDEKA". Kegiatan dalam PGP meliputi pengerjaan LMS dengan bimbingan fasilitator, melakukan aksi nyata bersama murid dan teman sejawat, pembentukan komunitas praktisi, pendampingan oleh Pengajar Praktik, lokakarya, dan berbagi praktik baik mewujudkan pembelajaran berpihak pada murid. Dan akhirnya terciptalah buku kumpulan karya Calon Guru Penggerak Angkatan 9.


iv Penulis pun menyadari jika didalam penyusunan buku ini mempunyai kekurangan, namun penulis meyakini sepenuhnya bahwa sekecil apapun buku ini tetap akan memberikan sebuah manfaat bagi pembaca. Akhir kata untuk penyempurnaan buku ini, maka kritik dan saran dari pembaca sangatlah berguna untuk penulis kedepannya. Pati, 29 Maret 2024 Penulis


v DAFTAR ISI Kata Pengantar..............................................................................iii Daftar Isi .........................................................................................v Biodata Penulis..............................................................................vi MODUL 1 PARADIGMA DAN VISI GURU PENGGERAK....1 MODUL 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia KHD ............1 MODUL 1.2 Nilai-Nilai dan Peran Guru Penggerak......................24 MODUL 1.3 Visi Guru Penggerak.................................................43 MODUL 1.4 Budaya Positif...........................................................63 MODUL 2 PRAKTIK PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID..............................................................................77 MODUL 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid .............................................................................................77 MODUL 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional..........................88 MODUL 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik........................97 MODUL 3 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGEMBANGAN SEKOLAH...............................................105 MODUL 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin......................................................105 MODUL 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya...........117 MODUL 3.3 Pengelolaan Program Berdampak Positif pada Murid ...................................................................................130 PENUTUP...................................................................................140


vi BIODATA PENULIS Danik Reniadi Kuslia, penulis asal Pati Jawa tengah yang lahir pada tanggal 11 Agustus 1993 ini akrab di panggil Danik. Ia adalah seorang Guru Sekolah Dasar yang mengajar di SD Negeri Muktiharjo 01 Kabupaten Pati Jawa Tengah. Ia juga seorang Guru Penggerak Angkatan 9 Kabupaten Pati. Selain menjadi seorang guru yang berdedikasi, Ia juga merupakan seorang ibu dari satu anak. Ia selalu berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Kehidupan pribadi yang seimbang dan dukungan dari keluarga adalah faktor penting yang membantunya dalam menjalani karir sebagai guru. Ia adalah seorang guru yang tidak hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga memberikan nilai-nilai dan inspirasi kepada siswa. Melalui kisah hidupnya, ia telah membuktikan bahwa seorang guru bisa memiliki


vii pengaruh besar dalam membentuk masa depan generasi muda. JEJAK Pendidikan Guru Penggerak adalah buku pertama yang ia buat. Ia persembahkan untuk para pembacanya bisa termotivasi serta mendapatkan sumber informa si mengenai Pendidikan Guru Penggerak dan sebagai pemimpin pembelajaran.


viii JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak)


1 MODUL 1 MODUL 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara menjadi titik awal Anda menjadi agen perubahan dan pemimpin pembelajaran dalam transformasi pendidikan di sekolah. Pada Modul 1.1. ini, kita akan membahas lebih mendalam, dan mendemonstrasikan konsep pemikiran-pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan penerapan pendidikan abad ke-21 pada konteks lokal (nilai-nilai luhur sosial-budaya) di tempat asal; serta bersikap reflektif kritis terhadap pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya terhadap konteks pendidikan di daerah asal Anda. Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu memiliki: 1. Pengetahuan tentang dasar-dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD). 2. Keterampilan mengelola pembelajaran yang berpihak pada murid pada konteks lokal kelas dan sekolah. 3. Sikap reflektif-kritis dalam mengembangkan dan menerapkan pembelajaran yang merefleksikan dasardasar Pendidikan KHD dalam menuntun murid mencapai kekuatan kodratnya.


2 Intisari Filosofi Pendidikan KI HAJAR DEWANTARA Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), "pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya". Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih


3 kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai- nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Selama menjalani studinya, Ki Hajar Dewantara (KHD) banyak belajar dari pemikiran-pemikiran para filosof terkenal. Beliau kemudian mengembangkan pemikiran tersebut dan menyesuaikannya dengan kultur budaya Indonesia. Beberapa pemikirannya yang terkenal antara lain: sistem among, kodrat alam dan kodrat zaman, Tri Kon (kontinu, konvergen, konsentris), Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat), berhamba pada anak, budi pekerti,


4 bermain adalah kodrat anak, dan Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. 1. Sistem Among Sistem Among adalah suatu sistem pembelajaran yang mengedepankan pembentukan manusia secara utuh. Suatu metode yang tidak menghendaki ‘perintahpaksaan’, melainkan memberi ‘tuntunan’ bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan subur dan selamat, baik lahir maupun batinnya. Sistem among bertujuan untuk membangun hubungan emosional yang kuat antara guru, siswa, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang optimal. 2. Kodrat Alam dan Kodrat Zaman Kodrat alam adalah sifat alami manusia yang harus dikembangkan, seperti sifat kejujuran, ketulusan, tanggung jawab dan lain-lainnya. Sedangkan kodrat zaman adalah keadaan dan tantangan yang dihadapi oleh manusia pada zaman tertentu. Untuk berhasil dalam kehidupan, Ki Hajar Dewantara percaya bahwa anak-anak harus dididik dengan mempertimbangkan kedua faktor ini. Anakanak harus diajarkan sifat-sifat yang sesuai dengan kodrat alam mereka dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan zaman.


5 3. Asas Tri Kon Tri Kon terdiri dari tiga aspek: kontinu, konvergen, dan konsentris. Kontinu berarti pendidikan yang harus dilaksanakan secara berkesinambungan, dilakukan terus menerus dengan membuat perencanaan yang baik. Konvergen berarti pendidikan yang dilakukan bisa mengambil dari berbagai sumber di luar negeri, namun harus disesuaikan dengan kebutuhan yang kita miliki sendiri. Konsentris berarti pendidikan yang dilakukan tidak lepas dari kepribadian bangsa kita sendiri. 4. Tri Pusat Pendidikan Dalam kehidupan anak, ada tiga tempat penting yang menjadi pusat pendidikan bagi mereka, yaitu alam keluarga, alam perguruan (sekolah) dan alam pergerakan pemuda (masyarakat). Keluarga adalah pusat pendidikan pertama yang penting dalam membentuk karakter anak. Sekolah bertanggung jawab untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan. Sedangkan masyarakat sebagai pusat pendidikan yang terakhir bertugas membantu membentuk karakter anak dan mempersiapkannya untuk kehidupan sosial. Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya kerja sama antara ketiga pusat pendidikan tersebut untuk menciptakan pendidikan yang holistik dan efektif.


6 5. Berhamba pada anak Istilah "berhamba" mungkin terdengar aneh ketika digunakan konteks pendidikan. Namun, pada intinya, KHD berbicara tentang pentingnya fokus pada kebutuhan dan kepentingan anak dalam proses pendidikan. Seorang anak atau murid harus menjadi pusat perhatian dalam pendidikan. Pendidikan harus diarahkan pada pelayanan kepada anak, yang artinya bahwa proses pendidikan harus didasarkan pada kebutuhan dan kepentingan anak. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa setiap anak adalah individu yang unik dan berhak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan bakatnya masingmasing. Sehingga guru harus memperlakukan muridnya dengan kasih sayang dan memahami kebutuhan mereka secara individual. 6. Budi Pekerti Budi pekerti mencakup nilai-nilai kebajikan seperti sopan santun, kejujuran, kerja sama, dan tanggung jawab. Ki Hajar Dewantara percaya bahwa dengan mempelajari nilai-nilai ini, anak-anak akan menjadi individu yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat. Maka dari itu, pendidikan harus menanamkan nilai-nilai tersebut pada anak sejak dini. Guru harus menjadi contoh yang baik dalam berperilaku dan mengajarkan anak-anak untuk menjadi individu yang bertanggung jawab dan memiliki moral yang baik.


7 DASAR PENDIDIKAN 1. Menuntun Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anakanak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak". Seperti bebekbebek yang selalu dapat mengikuti arahan peternaknya. Tugas kita sebagai guru ialah mengarahkan sesuai kodrat segala potensi yang ada pada diri anak agar menjadi anak yang selamat & bahagia.


8 2. Memelihara Profesi guru sendiri dapat diilustrasikan seperti seorang petani. Seorang petani yang memiliki bibit/biji (Anak-anak). Menanam jagung tentu perlu dengan ilmu tanam jagung dan akan menghasilkan jagung. Begitupundengan padi dan tanaman lainnya. Perlu kita perhatikan tanahnya, kecukupan air, kecukupan sinar matahari, pemberian pipik hingga membasmi ulat/jamur/hama yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Bagaimana ketika penanaman biji jagung itu kurang optimal? Maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal. 3. Membentuk Budi Pekerti/Watak/Karakter Perpaduan harmonis / bersatunya pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menghasilkan semangat. Budi (Cipta, Karsa, Karya) dan Pekerti/Tenaga harus seimbang/selaras dalam hidup. Ilustrasi yang menggambar Budi Pekerti ini seperti pada Gamelan yang membutuhkan kerja sama team untuk menghasilkan nada yang indah. 4. Bermain Bermain merupakan kodrat anak. Semua merasakan kesenangan dan kenyamanan saat bermain. Nah, tugas guru mengarahkan permainan sebagai pembelajaran lewat bermain membangun budi pekerti. 5. Berpihak pada anak Pendidikan yang berpusat pada anak ialah pedidikan yang dilakukan secara ikhlas betul-betul mengarahkan potensi anak / bebas dari segala tendensi


9 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara Modul 1.1.a.5 - Ruang Kolaborasi Ruang Kolaborasi memberikan ruang perjumpaan CGP untuk berkolaborasi sesama CGP dalam menemukenali nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah asal yang relevan menjadi penguatan karakter murid sebagai individu sekaligus sebagai anggota masyarakat untuk menebalkan laku murid dan menuntun kekuatan kodrat murid yang dapat diimplementasikan pada konteks lokal (budaya) daerah asal Anda. Hasil kolaborasi dalam menemukenali nilai-nilai luhur kearifan budaya menjadi dasar pengetahuan dan pengalaman baru dalam merefleksikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. CGP bekerja dalam kelompok yang terdiri dari 5 orang untuk mengeksplorasi nilai-nilai luhur sosial budaya di daerah asal Anda dalam upaya menebalkan konteks diri (kekuatan kodrat) murid sebagai manusia dan anggota masyarakat. Indonesia memiliki keberagaman sosial budaya yang dapat menjadi kekuatan.


10 Modul 1.1.a.6 - Demonstrasi Kontekstual CGP mendesain sebuah strategi dalam mewujudkan pemikiran KHD - ‘Pendidikan yang Berpihak pada Murid’ - dalam sebuah karya (video pendek, komik, lagu, puisi, dll) dan mempublikasikan sebagai wujud pemahaman, pemaknaan dan penghayatan yang Anda praktekkan dari pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara. Karya CGP menjadi sebuah demonstrasi kontekstual bagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara dikembangkan dan diterapkan di kelas dan sekolah asal CGP. Metafora atau perlambang menjadi salah satu cara yang efektif untuk memahami sebuah konsep yang rumit. Filosofi KHD mengenaI asas Tri-Kon dapat dilambangkan sebagai sistem tata surya, di mana murid digambarkan sebagai planet Selengkapnya mengenai Ruang Kolaborasi Modul 1.1 anda dapat Scan QRCode di samping


11 yang mengorbit pada matahari (simbol nilai kemanusiaan) dalam garisnya masing-masing. Setiap planet berevolusi dengan kecepatan yang berbeda-beda, namun tak pernah berhenti bergerak (Syahril, 2018). Selain metafora, cara lain untuk mengabadikan pemahaman dan pengalaman belajar kita adalah dengan karya seni. Jadi, mengapa kita tidak menciptakan sesuatu yang menarik mengenai filosofi pendidikan KHD? Membuat lagu, puisi, gambar, poster metafora, atau karya apapun tentu akan menyenangkan. Selengkapnya mengenai Demonstrasi Kontekstual Modul 1.1 anda dapat Scan QR Code di samping


12 Modul 1.1.a.8 Koneksi Antar Materi Pendidikan dan Pengajaran seringkali di pakai bersamaan. Namun sebenarnya Pengajaran itu adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran itu tidak lain adalah pendidikan dengan cara memberi ilmu atau berfaedah buat hidup anakanak, baik lahir maupun batin. Sedangkan Pendidikan diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anakanak’. Maksud Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pemikiran beliau sangat Luar Biasa, teutama tentang Pendidikan yang berpusat pada murid (Student center). Kita sebagai Pendidik harus mengutamakan Pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan Metode dan Media Pembelajaran yang bervariatif, serta harus sesuai dengan minat dan bakat murid. Pemikiriran beliau yang menjadi Semboyan Yaitu Ing Ngarso Sing Tulodo, Ing madya Mangun Karsa, Tut wuri Handayani, Pada fase ini CGP diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi dari Pembelajaran 1 hingga Pembelajaran 6 dan membuat sebuah koneksi antar materi yang sudah Anda pelajari


13 Modul 1.1 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga Anda dapat semakin mengenali diri sendiri. Seperti apakah refleksi yang bermakna itu? Selengkapnya mengenai Koneksi Antar Materi Modul 1.1 anda dapat Scan QR Code di samping


14 • Kegiatan berefleksi dapat diibaratkan seperti bercermin di air. Pantulan baru dapat terlihat jelas jika permukaan air tenang dan jernih. Ketika kondisi hati masih berkecamuk, sebaiknya kita menunggu dan mengendapkan pengalaman agar dapat berefleksi dengan mendalam. • Refleksi perlu beranjak dari sekadar menuliskan kembali materi/pengetahuan yang sudah didapat. Lebih dari itu, materi tersebut perlu dikaitkan dengan proses yang terjadi dalam diri. Misalnya, apa yang membuat materi tersebut membekas di pikiran saya? Apa peristiwa dalam hidup saya yang berhubungan dengannya? Apa kaitan materi ini dengan diri saya sebagai seorang penggerak? Bagaimana saya akan menggunakanmateri ini untuk murid saya? • Refleksi adalah momen untuk berdialog dengan diri sendiri dalam memaknai peristiwa. Karena itu, ceritakanlah pengalaman dan pemikiran yang ANDA sendiri alami. Bukan apa yang dialami, dipikirkan, atau dikatakan oleh orang lain. • Refleksi bermakna adalah refleksi yang jujur dan mendalam. Tidak hanya pengalaman dan pemikiran positif yang bisa ditulis. Kuncinya, sertakan emosi dalam menuliskan refleksi. Roda emosi Plutchik di bawah ini memberikan gambaran betapa kayanya perasaan yang manusia rasakan.


15 Sama halnya dengan keterampilan lainnya, menulis jurnal refleksi pun perlu latihan dan pembiasaan agar dapat dirasakan manfaatnya. Selama program, Anda akan mendapat kesempatan untuk menuliskan refleksi setiap dua minggu sekali. Karena itu, untuk membantu Anda, kami menyajikan beberapa model refleksi yang dapat Anda gunakan. Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, dengan pertanyaan sebagai berikut (disesuaikan dengan yang sedang terjadi pada saat penulisan jurnal):


16 1. Facts (Peristiwa): Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut? 2. Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut. 3. Findings (Pembelajaran): Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini? 4. Future (Penerapan): Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini? Model 2: Description, Examination and Articulation of Learning (DEAL) Model ini dikembangkan oleh Ash dan Clayton (2009). Untuk membuat refleksi model ini, tulislah penjabaran dari pertanyaan panduan berikut: • Description: Deskripsikan pengalaman yang dialami dengan menceritakan unsur 5W1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, bagaimana); • Examination: Analisis pengalaman tersebut dengan membandingkannya terhadap tujuan/rencana yang telah


17 dibuat sebelumnya; • Articulation of Learning: Jelaskan hal yang dipelajari dan rencana untuk perbaikan di masa mendatang. Model 3: Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi) Model Six Thinking Hats diperkenalkan oleh Edward de Bono pada tahun 1985. Model ini melatih kita melihat satu topik dari berbagai sudut pandang, yang disimbolkan dengan enam warna topi. Setiap topi mewakili cara berpikir yang berbeda; beberapa di antaranya terkadang mendominasi cara kita berpikir. Karena itu, dengan semakin sering melatih keenam “topi”, kita akan dapat mengambil refleksi yang lebih mendalam. Keenam topi tersebut berikut penggunaannya dalam jurnal refleksi adalah:


18 1. Topi merah: gambarkan perasaan Anda terkait dengan topik yang sedang dibahas, misalnya perasaan saat mempelajari materi baru atau saat menjalankan diskusi kelompok. 2. Topi kuning: tuliskan hal-hal positif yang terkait dengan topik tersebut. 3. Topi hitam: tuliskan kendala, hambatan, atau risiko dari tindakan/peristiwa yang sedang dibahas. 4. Topi hijau: jabarkan ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa tersebut. 5. Topi biru: tarik kesimpulan dari peristiwa yang terjadi, atau ambil keputusan setelah mempertimbangkan kelima sudut pandang lainnya. Bandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Model 4: (Papan cerita reflektif - Reflective Storyboard) Anda boleh menggambarkannya di sebuah kertas kemudian memfoto dan menguploadnya di LMS. Model 5: Connection, challenge, concept, change (4C) Model ini dikembangkan oleh Ritchhart, Church dan Morrison (2011). Model ini cocok untuk digunakan dalam


19 merefleksikan materi pembelajaran. Ada beberapa pertanyaan kunci yang menjadi panduan dalam membuat refleksi model ini, yaitu: 1. Connection: Apa keterkaitan materi yang didapat dengan peran Anda sebagai Calon Guru Penggerak? 2. Challenge: Adakah ide, materi atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang Anda jalankan selama ini? 3. Concept: Ceritakan konsep-konsep utama yang Anda pelajari dan menurut Anda penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak? 4. Change: Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini? Model 7: Segitiga Refleksi Model 8: Model Driscoll Model ini diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada


20 praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001). Model yang dikenal dengan Model “What?” ini pada dasarnya terdiri dari 3 bagian, namun dapat dikembangkan dengan berbagai variasi bergantung pada pertanyaan detail yang dipilih. 1. WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi) • Apa yang terjadi? • Apa yang saya lihat/dengar/alami? • Apa reaksi saya pada saat itu? • Apa yang orang lain lakukan pada saat peristiwa itu terjadi? 2. SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi) • Bagaimana perasaan saya pada saat peristiwa itu terjadi? • Apakah yang saya rasakan sama/berbeda dengan orang yang mengalami kejadian yang sama? • Apakah saya masih merasakan perasaan / dampak yang sama jika dibandingkan dengan perasaan / dampak langsung setelah peristiwa? • Kecenderungan apa yang saya amati dari diri saya ketika menghadapi peristiwa serupa? • Mengapa saya bisa memiliki kecenderungan tersebut? • Setelah mengalami peristiwa tersebut, apa hal yang berubah dari pendapat, pemikiran, atau apapun yang Anda yakini sebelumnya? • Apakah kejadiannya akan berbeda jika pada saat itu saya mengambil langkah yang berbeda? • Di mana saya bisa mendapatkan informasi tambahan


21 agar bisa siap ketika menghadapi peristiwa serupa di masa depan? • Dukungan apa yang saya butuhkan agar bisa menindaklanjuti refleksisaya? • Bagian mana yang sebaiknya saya kerjakan lebih dulu? • Setelah Anda melakukan pembelajaran ini, apa hal baru yang ingin Anda bagikan kepada rekan atau lingkungan Anda? Model 9: Gaya Round Robin Berikut panduan pertanyaan untuk membuat refleksi model ini: • Apa hal yang paling Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Mengapa Anda merasa hal tersebut bisa membuat Anda sangat menguasainya? • Apa hal yang belum Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi hal tersebut? • Apa hal yang masih membingungkan Anda dari pembelajaran hari ini?


22 Ceritakan hal-hal apa saja yang membuat hal tersebut membingungkan. Modul 1.1.a.10 - Laporan Aksi Nyata Modul 1.1 Sebagai tahapan terakhir dari siklus pembelajaran MERDEKA, Aksi Nyata memberikan ruang bagi CGP menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Aksi Nyata dimaksudkan sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan, di mana aksi nyata tersebut dilihat sebagai kesatuan antara proses pembelajaran dan penerapannya di kelas atau di sekolah. Oleh karena itu, aksi nyata ini perlu dijalankan oleh CGP secara terus menerus. Bahkan dilakukan kontinu hingga Program Pendidikan Guru Penggerak telah selesai. Dalam modul ini, Selengkapnya mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1 anda dapat Scan QR Code di samping


23 Aksi Nyata yang dilakukan merupakan perwujudan dari perubahan konkrit dalam proses pembelajaran sesuai dengan filosofi pemikiran KHD dan konteks sosial dan budaya di daerah yang sudah dipelajari pada modul 1.1. Berikut beberapa dokumentasi aksi nyata CGP di Modul 1.1: Selengkapnya dokumen mengenai Aksi Nyata Modul 1.1 anda dapat Scan QR Code di samping


24 MODUL 1.2 NILAI-NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK Modul ini akan mengeksplorasi mengapa dan bagaimana nilainilai dan peran seorang Guru Penggerak mampu menumbuhkan sekolah dan ekosistem pendidikan agar berpihak pada murid. Mengapa demikian? Dunia kini sudah semakin tanpa batas, teknologi telah berhasil menghilangkan jarak. Pertukaran budaya baik yang positif maupun negatif kini menjadi sukar terawasi dan tanpa filter. Filter tersebut diharapkan dapat ditumbuhkan sejak dini dalam setiap diri manusia Indonesia agar budayanya tidak tergerus oleh budaya lain yang lebih agresif melakukan penetrasi. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita dituntut untuk berpikir kembali mengenai makna dan tujuan pendidikan kita. Dalam kaitannya dengan Standar Nasional Pendidikan, modul ini berusaha menempatkan Profil Pelajar Pancasila sebagai acuan utama standar kompetensi lulusan, karenanya harus dijadikan pedoman dan dihidupi oleh para pendidik, khususnya Guru Penggerak di Indonesia. Kita semua mengalami fenomena pandemi COVID-19 sejak permulaan tahun 2020. Secara fisik sekolah dan kelas diadakan dari jauh, namun sebetulnya jika dipikirkan ternyata kelas-kelas ini justru mendekat dan masuk ke rumah-rumah murid kita di masa pandemi ini. Pandemi membukakan mata kita bahwa guru punya peran yang besar dalam proses belajar murid-muridnya, sekaligus mengungkapkan bahwa orangtua pun punya peran yang tak terelakkan dalam pendidikan anak-anaknya di rumah.


25 Hal itu membuat kita kembali percaya bahwa gotong-royong dalam pendidikan adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: • Memahami bagaimana nilai diri bisa terbentuk dan merefleksikan pengaruhnya terhadap peran sebagai Guru Penggerak. • CGP dapat membuat kesimpulan berdasarkan pengalaman dan aksi yangbisa dilakukan untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak. • Membuat rencana perubahan yang akan mendukung penguatan nilai dan peran dirinya sebagai Guru Penggerak.


26 Profil Pelajar Pancasila Pada modul sebelumnya kita sudah mempelajari mengenai filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dinilai masih relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan saat ini. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Semangat agar anak bisa bebas belajar, berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan berdasarkan kesusilaan manusia ini yang akhirnya menjadi tema besar kebijakan pendidikan Indonesia saat ini, Merdeka Belajar. Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian


27 Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020- 2024: Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, seperti ditunjukkan oleh gambar berikut: Keenam ciri tersebut dijabarkan sebagai berikut: 1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. 2. Berkebinekaan global Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.


28 3. Bergotong royong Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotongroyong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen- elemen dari bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. 4. Mandiri Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri. 5. Bernalar kritis Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil Keputusan. 6. Kreatif Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.


29 Peran dan Nilai Guru Penggerak 5 Peran Guru Penggerak o Menjadi pemimpin pembelajaran o Menggerakkan komunitas praktisi o Menjadi coach bagi guru lain o Mendorong kolaborasi antarguru o Mewujudkan kepemimpinan murid Pendidikan di Indonesia memasuki era baru dengan kehadiran program Pendidikan Guru Penggerak. Salah satu elemen utama dari inisiatif ini adalah peran Guru Penggerak, sebuah figur yang memegang kunci transformasi pendidikan di tingkat sekolah dan wilayahnya. 5 peran Guru Penggerak yaitu: 7. Menjadi Pemimpin Pembelajaran Sebagai pemimpin pembelajaran Guru Penggerak mencerminkan kesediaan untuk mengambil inisiatif dalam


30 mengelola dan membimbing proses pembelajaran di sekolah. Mereka tidak hanya mengajarkan keterampilan dan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang memotivasi, inklusif, dan memberdayakan. Kepemimpinan pembelajaran Guru Penggerak menjadi katalisator utama dalam membentuk visi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter. Dengan menanamkan budaya pembelajaran yang positif, mereka menciptakan atmosfer di mana setiap siswa merasa dihargai dan didukung. 1. Menggerakkan Komunitas Praktisi Guru Penggerak bertindak sebagai pendorong perubahan dalam komunitas guru di sekolah dan di wilayahnya. Mereka membuka ruang bagi pertukaran ide, pengalaman, dan praktik terbaik dalam mendidik. Melalui kegiatan pelatihan dan lokakarya, Guru Penggerak menginspirasi rekan guru untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran. Dengan menjadi sumber inspirasi, mereka memotivasi komunitas praktisi untuk mengadopsi inovasi dalam pendekatan pembelajaran. 2. Menjadi Coach bagi Guru Lain Sebagai coach bagi guru lain, Guru Penggerak melakukan transfer pengetahuan. Mereka juga membimbing rekan guru dalam pengembangan profesional. Melalui pendekatan ini, Guru Penggerak membangun budaya kolaborasi dan pertumbuhan di antara staf pengajar. Dengan penuh dedikasi, mereka tidak hanya membagikan strategi pengajaran yang


31 efektif, tetapi juga memberikan pandangan mendalam tentang strategi manajemen kelas, penilaian yang berkelanjutan, dan integrasi teknologi dalam pembelajaran. Mereka memberikan dukungan, umpan balik konstruktif, dan berbagi pengalaman praktis untuk membantu rekan guru dalam mengatasi tantangan pembelajaran. 3. Menjalin Kolaborasi Antar Guru Guru Penggerak berperan sebagai fasilitator kolaborasi antar guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah. Mereka menciptakan ruang untuk diskusi positif, pertukaran ide, dan berbagai kegiatan kolaboratif. Guru Penggerak juga merangkul partisipasi semua pemangku kepentingan dan membangun jejaring kerjasama yang memperkuat dukungan terhadap proses pembelajaran. Dengan membangun jejaring kerjasama yang solid, Guru Penggerak mampu menciptakan lingkungan belajar yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi seluruh komunitas pendidikan. 4. Mewujudkan Kepemimpinan Murid Guru Penggerak tidak hanya fokus pada pembelajaran guru, tetapi juga memprioritaskan pengembangan kepemimpinan murid. Melalui pendekatan pembelajaran yang memberdayakan siswa, Guru Penggerak membantu mereka mengembangkan keterampilan kepemimpinan, tanggung jawab, dan pemahaman tentang peran mereka dalam pembelajaran.


32 Nilai Guru Penggerak • Mandiri → Bergerak sendiri, bertanggung jawab • Reflektif→ Merefleksikan diri/Memaknai Perjalanan • Kolaboratif Membangun hubungan kerja • Inovatif Memunculkan ide/gagasan-gagasan baru • Berpihak pada murid → Kepentingan pengembangan potensi siswa yang dibutuhkan. Nilai ini sendiri berkaitan erat dengan peran guru penggerak. Nilai ini yang diharapkan terus tumbuh dan dilestarikan dalam diri seorang Guru Penggerak. Kelima ini saling mendukung satu dengan lainnya, dan tentunya diharapkan menjadi pedoman berperilaku untuk seorang Guru Penggerak. Motto Guru Penggerak Motto Guru Penggerak mencerminkan tiga pilar penting dalam peran guru yang ingin menghasilkan dampak positif dalam dunia pendidikan. Motto Guru Penggerak yakni, "Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan". 1. Bergerak Artinya Tidak Boleh Pasif Motto Guru Penggerak ini mencerminkan pandangan bahwa tugas mengajar bukanlah sesuatu yang statis. Seorang Guru Penggerak harus aktif dalam mengembangkan diri, terus bergerak, dan terbuka terhadap inovasi dalam pendidikan. Tidak sekadar mengikuti rutinitas harian, Guru Penggerak dituntut untuk terus mencari solusi kreatif, menghadapi tantangan, dan menjadi agen perubahan


33 yang dinamis. Keaktifan ini menjadi ciri khas yang membedakan Guru Penggerak sebagai pemimpin yang proaktif. 2. Menggerakkan Komunitas Motto ini menekankan peran Guru Penggerak dalam membentuk ekosistem pendidikan yang lebih baik bukan hanya dalam kelas, tetapi juga di seluruh komunitas sekolah dan daerahnya. Mereka memiliki tanggung jawab untuk menggerakkan dan memotivasi rekan-rekan guru serta merangsang perubahan positif dalam dunia pendidikan.


34 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 1.1 Nilai dan Peran Guru Penggerak Pada Modul 1.2 mengenai Nilai dan Peran Guru Penggerak ini, adalah titik terang mengenai pendidikan indonesia yang hendak kita capai. Pendidikan yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai pancasila diharap dapat mencetak generasi unggul yang tertanam nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila di dalam diri setiap murid. Selain itu, Peran dan Nilai sebagai Guru di sekolah tentu perlu diperhatikan. Seperti yang diketahui pada modul sebelumnya dimana guru layaknya petani ketika menanam biji jagung diharap memiliki ilmu pembibitan jagung tersebut. Sehingga, tepat menghasilkan buah jagung yang unggul. Mari, kita berupaya sekuat tenaga untuk dapat mewujudkan pendidikan indonesia yang lebih baik. Berikut adalah dokumentasi pencapaian / hasil belajar CGP di modul 1.2 ini.


35 Modul 1.2.a.3 – Mulai dari Diri Modul 1.2.a.5.1. – Ruang Kolaborasi Pada sesi pembelajaran modul 1.2.a.5. Ruang Kolaborasi, Calon Guru Penggerak diminta untuk berdiskusi secara mandiri menjawab pertanyaan terkait peran apa yang sudah dilakukan di sekolah. Selain itu, juga menjawab pertanyaan tentang yang bisa dilakukan guru penggerak untuk menguatkan nilai dan peran guru penggerak. Berikut ini adalah adalah pertanyaan dan jawaban dalam LMS Modul 1.2.a.5. Selengkapnya dokumen mengenai Mulai dari Diri Modul 1.1 anda dapat Scan QR Code di samping


36 1. Berdasarkan pengalaman Anda, Apa saja hal yang pernah Anda lakukan sehubungan dengan peran dan nilai guru Penggerak? 2. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Guru Penggerak untuk menguatkan peran serta nilai tersebut? Pada sesi pembelajaran ini juga ada diskusi kelompok. Penugasan berupa identifikasi halal yang pernah dilakukan dalam kaitannya dengan nilai dan peran sebagai guru penggerak. Presentasi hasil diskusi kelompok dilakukan secara daring. Berikut ini adalah dokumentasi tugas Ruang Kolaborasi Modul 1.2. Selengkapnya dokumen mengenai Ruang Kolaborasi Modul 1.2 anda dapat Scan QR Code di samping


37 Modul 1.2.a.6. – Demonstrasi Kontekstual Pada demonstrasi kontekstual CGP dapat menciptakan gambaran dirinya di masa depan, setelah mengikuti rangkaian program pendidikan Guru Penggerak. Berikut adalah tugas yang harus diselesaikan oleh CGP. Tugas: Membuat gambaran diri sebagai Guru Penggerak di masa depan Bayangkan diri Bapak/Ibu sudah lulus program ini dan telah menjalani peran sebagai Guru Penggerak selama 3 tahun. Pada saat itu, tentunya Bapak/Ibu sudah memiliki kepercayaan diri dan telah membawakan kegiatan-kegiatan yang mewujudkan nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Buatlah kisah narasi tertulis/presentasi PowerPoint/poster/peta pikiran/video/audio sederhana yang dapat menggambarkan kira-kira apa saja aktivitas Bapak/Ibu sebagai Guru Penggerak baik dalam keseharian, atau yang terprogram rutin berkesinambungan, maupun yang sifatnya ad-hoc (khusus). Buatlah sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan nilainilai Guru Penggerak (berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif) yang Bapak/Ibu telah dihidupi selama 3 tahun tersebut. Poin utama tugas kisah narasi ini adalah pada kedalaman penggambaran detail kegiatan yang mewujudkan tiap nilai Guru Penggerak. Jangan terjebak pada hiasan, sajian, dan tampilan saja. Terlampir di bawah adalah rubrik yang dapat membantu Bapak/Ibu dalam membuat kisah narasi tersebut, juga sebagai petunjuk untuk penilaian. Berikut adalah dokumentasi tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 1.2


38 Modul 1.2.a.8. – Koneksi Antar Materi Di modul 1.2 Calon Guru Penggerak, terdapat tugas koneksi antar materi. Koneksi antar materi pada materi modul 1.2 ini yakni keterkaitan antara materi modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan modul 1.2 Nilai-nilai Guru Penggerak. Koneksi antar materi modul 1.2 ini terdapat empat pertanyaan yang harus dijelaskan oleh modul yakni: 1. Calon Guru Penggerak menceritakan peristiwa atau momen dalam proses pembelajaran pada modul 1.1 hingga modul 1.2 2. Calon Guru Penggerak menceritakan perasaan pada saat momen tersebut terjadi. Selengkapnya dokumen mengenai Demonstrasi Kontekstual Modul 1.2 anda dapat Scan QR Code di samping


39 3. Calon Guru Penggerak menceritakan pembelajaran yang dapat diambil untuk perbaikan ke depannya. 4. Calon Guru Penggerak menceritakan penerapan kedepan atau rencana sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan memperhatikan nilai-nilai Guru penggerak. Berikut dokumentasi Demonstrasi Kontekstual Modul 1.2. Jurnal Refleksi Modul 1.2 Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk Selengkapnya dokumen mengenai Koneksi Antar Materi Modul 1.2 anda dapat Scan QR Code di samping


40 mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga Anda dapat semakin mengenali diri sendiri. Kegiatan pembelajaran modul 1.2 telah selesai saya ikuti, ada banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang saya peroleh selama kegiatan. Untuk merefleksikan kegiatan pembelajaran modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak ini, saya akan menuangkannya dengan model 4F yaitu Facts (peristiwa), Feelings (perasaan), Findings (pembelajaran), dan Future (penerapan ke depan). Berikut adalah dokumentasi Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 Selengkapnya dokumen mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2 anda dapat Scan QR Code di samping


41 Modul 1.2.a.9. – Aksi Nyata Sebagai tahapan terakhir dari siklus pembelajaran MERDEKA, Aksi Nyata merupakan ruang bagi Bapak/Ibu CGP menerapkan apa yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Bagian ini diharapkan dapat menjadi awalan proses implementasi dari konsep-konsep yang sudah didapatkan. Tugas Aksi Nyata Di modul ini, Bapak/Ibu diajak untuk melaksanakan rencana yang telah dituliskan pada refleksi 4P di bagian Koneksi Antar Materi mengenai “pengembangan DIRI yang sederhana, konkret dan rutin serta dapat dilakukan sendiri dari sekarang”. Kumpulkan dalam bentuk dokumentasi dengan format video singkat atau kumpulan foto yang bercerita saat diri Bapak/Ibu menjalankan rencana. Jangan lupa sertakan refleksi sepanjang proses menjalankannya, seperti apa perasaan Bapak/Ibu, apa ide atau gagasan yang timbul, pembelajaran apa saja yang dapat diambil, dan apa dampak (perubahan positif) yang paling dirasakan oleh diri Bapak/Ibu. Berikut adalah dokumentasi Aksi Nyata modul 1.2.


Click to View FlipBook Version