42 Selengkapnya dokumen mengenai Aksi Nyata Modul 1.2 anda dapat Scan QR Code di samping
43 MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK Dunia mengalami perubahan yang sangat ekstrim saat ini. Perubahannya begitu cepat dan mampu mempengaruhi berbagai sendi kehidupan baik perilaku individu, struktur sosial maupun praktek berorganisasi. Dalam melihat dunia yang berkembang dengan sangat cepat ini, kita perlu belajar melihat dengan jernih apa yang sungguh-sungguh bermakna buat kita sekarang dan di masa depan. Derasnya perubahan dan belenggu rutinitas dunia membuat kita lupa akan makna. Kita jarang menilik kembali makna hidup kita dan harapan kita. Padahal, harapan itu bagaikan bahan bakar untuk tetap berputarnya dunia seorang manusia. Manusia yang berpengharapan akan memiliki peluang untuk mencapai lebih banyak ketimbang mereka yang tidak berpengharapan. Murid yang memiliki pengharapan tinggi dapat mengonseptualisasikan tujuan mereka dengan jelas, sedangkan murid yang memiliki pengharapan rendah lebih ragu-ragu dan tidak jelas akan tujuan mereka. Murid dengan pengharapan tinggi menentukan tujuan mereka berdasarkan kinerja mereka sebelumnya. Mereka memasang target belajar dan standar kinerja yang sedikit lebih tinggi dari apa yang dapat mereka capai, karena mereka dapat menyelaraskan diri dengan tujuan mereka sendiri dan mengendalikan bagaimana mereka akan mencapainya. Murid seperti itu termotivasi secara intrinsik dan berkinerja baik secara akademis (Snyder et.al., 2002, p.824). Murid yang bertumbuh.
44 Dari kenyataan empirik tersebut, kemudian muncullah pertanyaan mengenai bagaimana kita sebagai guru dapat mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi? Maka atas pertanyaan itulah, guru perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Dari sana, baru kemudian dilanjutkan dengan segala upaya gotong-royong yang diperlukan demi pencapaian harapan bersama tersebut. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan murid kita. Masa depan murid kita adalah masa depan bangsa kita, Indonesia. Modul 1.3 ini, secara tidak langsung juga membantu sekolah untuk memenuhi Standar Nasional Pendidikan, misalnya saja dengan bagaimana profil murid dan lulusan dalam visi mampu memberikan gambaran mengenai Standar Kompetensi Lulusan sekolah mereka. Bapak/Ibu sekalian juga diajak untuk menelusuri visi mendasar dari pendidikan, betapa pentingnya pendidik memiliki visi, dan mengembangkan visi untuk mewujudkan keberpihakan pada murid-murid di daerah Bapak/Ibu sehingga mereka bertumbuh dengan maksimal. Secara umum, profil kompetensi yang ingin dicapai dari modul ini adalah calon guru penggerak mampu: 1. Merumuskan visi yang menggerakkan hati dan kolaborasi dalam menumbuhkembangkan profil pelajar pancasila pada murid-murid. 2. Mengupayakan pencapaian visi melalui prakarsa perubahan yang positif dan apresiatif.
45 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk dapat: 1. Mengartikulasikan profil pelajar pancasila dalam kalimat visi 2. Merumuskan kalimat visi yang menggerakkan hati dan kolaborasi, 3. Menentukan prakarsa perubahan yang menantang, bermakna, kontekstual, dan relevan, 4. Memahami bahwa prakarsa perubahan adalah bagian dari upaya untuk mencapai visi yang telah dirumuskan, 5. Membuat rencana prakarsa perubahan di tempat di mana mereka berkarya menggunakan paradigma dan model inkuiri apresiatif, 6. Menjalankan rencana prakarsa perubahan di tempat di mana mereka berkarya menggunakan paradigma dan model inkuiri apresiatif. Mengelola Perubahan yang Positif Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah. Budaya sekolah berarti merujuk pada kebiasaan-kebiasaan yang selama ini dilakukan di sekolah. Kebiasaan ini dapat berupa sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Walaupun sulit, reformasi budaya sekolah bukanlah hal yang tidak mungkin. Untuk melakukannya diperlukan orang-orang yang bersedia melawan arus naif tentang inovasi dan terbuka terhadap kenyataan yang bersifat manusiawi. Hal ini berarti
46 butuh partisipasi dari semua warga sekolah. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis "finish", maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam pembelajaran kali ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai 'alat olahraga' untuk kita berlari mencapai garis "finish" kita yaitu visi yang kita impikan. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. Inkuiri Apresiatif ialah : ▪ Sebuah pendekatan kolaboratif dalam melakukan perubahan yang berbasis kekuatan
47 ▪ Menggunakan prinsip-prinsip psikologi positif & pendidikan positif. ▪ Paradigma berbasis kekuatan, dijalankan dalam suasana yang positif dan apresiatif. Salah satu model manajemen perubahan yang menggunakan paradigma IA ialah "BAGJA". BAGJA artinya Bahagia (dalam bahasa sunda) Pemilihan bahasa ini merupakan menggambarkan proses yang akan dibawakan sepanjang peranan model dan membawakan perubahan. o B→ Buat pertanyaan (menentukan arah penelusuran) 1 pertanyaan utama yang dibuat sebagai penentu arah penelusuran, penyelidikan, penelitian terkait perubahan yang diinginkan. o A→ Ambil pelajaran (menentukan pengambilan pelajaran) Dilakukan setelah sepakat memilih pertanyaan utama. o G→ Gali mimpi (menyusun narasi keadaan ideal) Menggambarkan secara o rincimelalui sebuah narasi. o J→ Jabarkan rencana (mengidentifikasi tindakan yang diperoleh) untuk mencapai gambaran yang diimpikan
48 o A→ Atur eksekusi (membantu transfaransi rencana menjadi nyata) sehingga jelas siapa yang terlibat di setiap rencana yang dibuat. Selengkapnya mengenai Contoh Rencana-rencana BAGJA anda dapat Scan QR Code di samping
49 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 1.3 Visi Guru Penggerak Modul 1.3.a.3 – Mulai dari Diri Tujuan Pembelajaran Khusus: Calon Guru Penggerak mampu merumuskan visi pribadi mengenai murid dan sekolah yang menumbuhkembangkan Profil Pelajar Pancasila. Pada tugas kali ini, saya akan memaparkan tentang Refleksi Mandiri 1. Tentang Imajiku tentang Muridku di Masa Depan. Refleksi Mandiri 2. Melengkapi Kalimat Rumpang sehingga dapat menggambarkan visi tentang murid dan sekolah yang saya harapkan. Refleksi Mandiri 3. Merumuskan visi saya untuk murid saya di masa depan sesuai dengan pertanyaan yang kita jawab.
50 Modul 1.3.a.5. – Ruang Kolaborasi Menentukan VISI Kelompok Pada bagian ini, Bapak/Ibu CGP bekerja secara kolaboratif bersama rekan sekelompok. Di bagian sebelumnya, tiap anggota kelompok telah berbagi mengenai visinya masingmasing. Kini, dalam kelompok, putuskan satu visi yang dapat menjadi visi untuk kelompok Bapak/Ibu. Boleh jadi, visi tersebut dipilih satu dari yang telah dibuat anggota kelompok, atau boleh juga visi tersebut merupakan olahan bersama yang
51 terinspirasi dari visi yang telah dibuat anggota kelompok. Yang pasti, kelompok harus menyepakati SATU visi terlebih dahulu. Sinek (2019) dalam bukunya “Infinite Game” menyatakan jika kita ingin bermain dalam “dunia permainan” yang tak terbatas, maka kita perlu menetapkan suatu “just cause” sebagai harapan masa depan, sesuatu yang membuat kita berani melakukan pengorbanan yang diperlukan demi mewujudkannya, sesuatu yang menjadi alasan spesifik yang kuat, dan jika tercapai maka pencapaian itu akan dirasakan jauh lebih besar dibanding yang dirasakan pada pencapaian lainnya. Menyusun pernyataan prakarsa perubahan Visi yang telah disusun itu kemudian kita turunkan menjadi prakarsa-prakarsa perubahan sebagai tonggak-tonggak pencapaian yang akan mengantarkan kita dari waktu demi waktu ke jarak yang lebih dekat dengan visi yang telah kita susun. Untuk itu, tiap kelompok diharapkan dapat berdialog, berdiskusi, dan memutuskan SATU prakarsa perubahan yang harapan perwujudannya dirasakan dekat dengan hati semua anggota kelompok. Pernyataan prakarsa perubahan bukanlah slogan, bukan pula judul kegiatan. Pernyataan prakarsa perubahan adalah gambaran upaya nyata yang memungkinkan gotong-royong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran murid berbasis aset/kekuatan, ditulis dalam bentuk kalimat, dimulai dengan kata kerja dan memanfaatkan kata, frasa, atau diksi yang kuat dalam rangkaian kalimatnya, sedemikian rupa, sehingga mudah dipahami maksudnya dan dapat menstimulasi bayangan akan
52 inisiatif/tindakan/kegiatan yang harus dijalankan demi mewujudkannya. Dalam proses penyusunan pernyataan prakarsa perubahan dalam bentuk kalimat, kita terlebih dulu dapat memperjelas gambar mental prakarsa perubahan yang ingin kita susun. Ketika kita memiliki visi, kita pasti akan merasa lebih peka terhadap hal-hal yang dapat membantu atau menghalangi kita dalam mencapai visi. Kita menjadi lebih peka dalam melihat bagaimana kita dapat makin dekat dengan visi kita melalui asetawal-kekuatan-potensi yang telah dimiliki, tantangan yang harus dihadapi/dilampaui, aksi-tindakan-upaya yang diri kita (sebagai pendidik) dapat kontribusikan, serta pembelajaranpembelajaran yang makna dan manfaatnya akan murid bawa hingga akhir hayat. Dalam memperjelas gambar mental prakarsa perubahan yang ingin kita susun, kita akan belajar menggunakan sebuah alat bantu yang kita sebut A-T-A-P yang kepanjangannya adalah:
53 o A - Aset/Awal: kekuatan / asset / modal / potensi sekolah / murid / komunitas yang teridentifikasi dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran murid. Misalnya: “anak berkemampuan untuk mengakses sumber-sumber di dunia maya yang beragam adalah awal yang baik untuk anak dalam mengkreasi narasi/makna/ide-opini mereka”. o T - Tantangan: tantangan / keresahan yang perlu dilampaui demi mewujudkan harapan atau mencapai visi. Dalam menuliskan tantangan, kita dapat menangkap masalah atau keterbatasan yang dihadapi dalam sebuah pernyataan, lalu kita mengubahnya menjadi pernyataan tantangan. Misalnya: > Pernyataan masalah: “murid terbiasa melakukan copas atau salin-tempel tak peduli bersumber dari mana”. DIUBAH MENJADI… > Pernyataan tantangan: “mengarahkan kebiasaan murid melakukan copas atau salin-tempel sehingga mereka menjadi lebih awas dengan sumber, gagasan, hak cipta atau copyright orang lain, serta ide-opini-kreasi mereka sendirI” o A - Aksi: kontribusi individu pendidik yang dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan harapan atau mencapai visi. Misalnya: “membantu anak untuk belajar/berlatih: membuat acuan (citation), membuat pesan yang efektif (captioning), mengkreasi narasi/makna dari ide-opini mereka sendiri”. o P - Pembelajaran: pembelajaran bermakna atau adabkebiasaan yang diharapkan tumbuh dan melekat, serta dibawa murid hingga dewasa, merupakan turunan konkret
54 dari Profil Pelajar Pancasila sesuai konteks (diolah dari kata/frasa yang ada di elemen/sub-elemen dimensinya). Misalnya: “anak memahami mengapa mereka perlu: menjunjung tinggi kreativitas dan integritas akademik di era informasi dengan kemajuan teknologi digital, menghargai dan memproses gagasan/informasi yang ada ketika mengekspresikan pikiran dan/atau perasaannya sendiri dalam bentuk karya (turunan dari Profil Pelajar Pancasila)”. Menyusun pernyataan prakarsa perubahan Visi yang telah disusun itu kemudian kita turunkan menjadi prakarsa-prakarsa perubahan sebagai tonggak-tonggak pencapaian yang akan mengantarkan kita dari waktu demi waktu ke jarak yang lebih dekat dengan visi yang telah kita susun. Untuk itu, tiap kelompok diharapkan dapat berdialog, berdiskusi, dan memutuskan SATU prakarsa perubahan yang harapan perwujudannya dirasakan dekat dengan hati semua anggota kelompok. Pernyataan prakarsa perubahan bukanlah slogan, bukan pula judul kegiatan. Pernyataan prakarsa perubahan adalah gambaran upaya nyata yang memungkinkan gotong-royong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran murid berbasis aset/kekuatan, ditulis dalam bentuk kalimat, dimulai dengan kata kerja dan memanfaatkan kata, frasa, atau diksi yang kuat dalam rangkaian kalimatnya, sedemikian rupa, sehingga mudah dipahami maksudnya dan dapat menstimulasi bayangan akan inisiatif/tindakan/kegiatan yang harus dijalankan demi mewujudkannya.
55 Dalam proses penyusunan pernyataan prakarsa perubahan dalam bentuk kalimat, kita terlebih dulu dapat memperjelas gambar mental prakarsa perubahan yang ingin kita susun. Ketika kita memiliki visi, kita pasti akan merasa lebih peka terhadap hal-hal yang dapat membantu atau menghalangi kita dalam mencapai visi. Kita menjadi lebih peka dalam melihat bagaimana kita dapat makin dekat dengan visi kita melalui asetawal-kekuatan-potensi yang telah dimiliki, tantangan yang harus dihadapi/dilampaui, aksi-tindakan-upaya yang diri kita (sebagai pendidik) dapat kontribusikan, serta pembelajaranpembelajaran yang makna dan manfaatnya akan murid bawa hingga akhir hayat. Dalam memperjelas gambar mental prakarsa perubahan yang ingin kita susun, kita akan belajar menggunakan sebuah alat bantu yang kita sebut A-T-A-P yang kepanjangannya adalah: Pertanyaan pemandu dalam menyusun A-T-A-P Dalam menyusun A-T-A-P, pikirkan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu diskusi kelompok terlebih dahulu. Berikut adalah contoh pertanyaan-pertanyaan pemandu yang mungkin dapat digunakan dengan penyesuaian. 1. Jika visi kelompok seperti demikian, apa prakarsa perubahan atau upaya yang perlu dilakukan pertama kali? 2. Dari aset yang telah dimiliki (baik sosial-politik, ekonomi, lingkungan, maupun SDM) mana yang dapat dimanfaatkan, bagaimana caranya? 3. Dari program atau pembiasaan yang telah ada di sekolah, mana yang dapat menguatkan atau dijadikan sebagai
56 prakarsa perubahan sehingga berdaya ungkit bagi pencapaian visi? 4. Dari elemen-elemen dalam 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila, elemen atau sub-elemen mana yang dapat kita turunkan menjadi bagian dari pernyataan prakarsa perubahan? 5. Dan lain sebagainya. Setelah melengkapi A-T-A-P tersebut, kelompok diharapkan mulai berpikir secara strategis, dan menyusun sebuah pernyataan prakarsa perubahan berupa satu kalimat yang diawali dengan kata kerja agar dapat membuka kesempatan untuk menggerakkan gotong-royong dengan murid, guru, orang tua, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam proses mewujudkannya nanti ketika menggunakan model manajemen perubahan B-A-G-J-A. Jika kita ikuti rangkaian contoh yang kita gunakan di atas, maka pernyataan prakarsa perubahannya dapat disusun menjadi: “Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kreatifitas murid” Berikut beberapa contoh redaksi prakarsa perubahan yang dapat dijadikan pola acuan, atau untuk menginspirasi, atau juga dapat Bapak/Ibu modifikasi sehingga sesuai dengan keadaan nyata (konteks/keunikan) yang dihadapi. Oleh karena itu, Bapak/Ibu perlu menyusun A-T-A-P nya terlebih dahulu, karena A-T-A-P akan membantu Bapak/Ibu untuk membuat pernyataan prakarsa perubahan yang kontekstual, relevan, dan menantang baik bagi Bapak/Ibu sendiri maupun komunitas di sekolah Bapak/Ibu sekalian.
57 o Mengubah lahan tidur menjadi lahan hijau di sekolah untuk menguatkan sikap gotong-royong murid/anak, o Menyediakan kesempatan berlatih berpikir kritis dan kreatif untuk murid/anak di sekolah melalui pojok baca yang menyenangkan dan berkelanjutan, o Menguatkan keterampilan pola asuh orangtua agar anakanak di rumah termotivasi secara intrinsik, mampu mengatur pikiran, perasaan, semangat, perilaku dirinya, dan memiliki kemampuan untuk menetapkan, mencapai, dan mengevaluasi tujuan-tujuan positif mereka, dan lain sebagainya. Selengkapnya mengenai Kanvas BAGJA Prakarsa Perubahan anda dapat Scan QR Code di samping.
58 Berikut adalah dokumentasi Ruang Kolaborasi modul 1.3 Modul 1.3.a.6. – Demonstrasi Kontekstual Pada bagian ini, Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak akan ditantang untuk menjalankan model manajemen perubahan Inkuiri Apresiatif BAGJA secara nyata. Sebagai latihan, Anda diminta untuk menjalankan tahapan BAGJA untuk menghasilkan sebuah rekomendasi perubahan. Menurut Townsin, inkuiri apresiatif dapat menyuntikkan energi, harapan dan optimisme ketika kebutuhan untuk perubahan telah teridentifikasi. Kali ini, sebagai latihan, kita tentukan kebutuhan perubahan tersebut. Selengkapnya mengenai Ruang Kolaborasi Modul 1.3 anda dapat Scan QR Code di samping.
59 Sebagai pendidik, kita perlu ingat kembali tujuan pendidikan nasional yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Sekarang, berdasarkan pedoman itu, Profil Pelajar Pancasila diharapkan menjadi pegangan untuk para pendidik di ruang belajar yang lebih kecil. Profil ini tidak hanya dimiliki oleh murid berprestasi secara akademik atau murid yang menonjol dalam bakat lainnya, profil pelajar Pancasila ini diharapkan dimiliki oleh seluruh murid Bapak/Ibu di dalam kelas. Berikut dokumentasi Demonstrasi kontekstual Modul 1.3 Selengkapnya mengenai Demonstrasi Kontekstual Modul 1.3 anda dapat Scan QR Code di samping.
60 Modul 1.3.a.8. Koneksi Antar Materi Di tahap ini, Bapak/Ibu CGP diminta untuk merefleksikan dan mengaitkan pemahaman antar modul yang telah dipelajari hingga kini, dengan merespon pertanyaan berikut: Apa yang Bapak/Ibu pahami mengenai kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah Bapak/Ibu? Selanjutnya CGP melakukan revisi dan merumuskan dengan penuh keyakinan, visi yang telah Bapak/Ibu CGP buat berdasarkan jawaban pertanyaan diatas, ke dalam sebuah VISI yang membuat Bapak/Ibu CGP bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya! Berikut dokumentasi Koneksi Antar Materi Modul 1.3. Selengkapnya mengenai Koneksi Antar Materi Modul 1.3 anda dapat Scan QR Code di samping.
61 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan - Modul 1.3 Pada tahap selanjutnya adalah Jurnal Refleksi Dwi Mingguan. Jurnal Refleksi bertujuan untuk merefleksikan materi yang sudah kita pelajari. Berikut adalah dokumentasi Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3. Modul 1.3.a.9. Aksi Nyata - Modul 1.3 Ki Hadjar Dewantara dalam majalah “Keloearga” tahun 1937 menyatakan sebuah frasa “peralatan pendidikan”. Beliau menjelaskan, peralatan pendidikan merupakan cara-cara mendidik yang beragam bentuknya. Namun, beliau membaginya menjadi 6 cara utama yaiyu (1) memberi contoh, (2) pembiasaan, (3) pengajaran, (4) perintah, prakarsa dan hukuman, (5) laku, (6) pengalaman lahir dan batin. Selengkapnya mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3 anda dapat Scan QR Code di samping.
62 Beliau menyatakan bahwa alat-alat itu tidak perlu dipergunakan semua. Beliau pun menyampaikan bahwa ada yang tidak sepakat terutama dengan penggunaan cara nomor 4. Beliau pun menyatakan penggunaan cara-cara tersebut harus dihubungkan dengan jenjang usia dan perkembangan murid yang merupakan kodrat mereka. Dari pernyataan Ki Hajar Dewantara tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa prakarsa yang telah buat dalam bentuk rencana manajemen perubahan berdasarkan pendekatan IA, dimaksudkan untuk menumbuhkan murid yang memiliki Profil Pelajar Pancasila. Kemudian, tindakan untuk mewujudkan pertumbuhan murid ini perlu diejawantahkan dalam cara mendidik yang beragam dan disesuaikan dengan kondisi murid maupun situasi di sekolah. Berikut dokumentasi Aksi Nyata Modul 1.3. Selengkapnya mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3 anda dapat Scan QR Code di samping.
63 MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF Kita telah belajar bersama tentang filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, nilai-nilai peran guru penggerak dan visi guru penggerak. Dalam modul ini Bapak dan Ibu akan memahami pentingnya membangun budaya positif di sekolah sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid untuk membantu Bapak dan Ibu mencapai visi guru penggerak. Bapak dan Ibu akan mempelajari bagaimana peran seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam menggerakkan dan memotivasi warga sekolah agar memiliki, meyakini, dan menerapkan visi atau nilai-nilai kebajikan yang disepakati, sehingga tercipta budaya positif yang berpihak pada murid. Dalam membangun budaya positif tersebut, kita akan meninjau lebih dalam tentang strategi menumbuhkan lingkungan yang positif. Anda akan diajak melakukan refleksi atas penerapan disiplin yang dilakukan selama ini di lingkungan Anda. Bagaimanakah strategi Anda dalam praktik disiplin tersebut? Apakah selama ini Anda sungguh-sungguh menjalankan disiplin, atau Anda melakukan sebuah hukuman? Di mana kita menarik garis pembatas? Modul ini juga akan mengajak Anda untuk memikirkan kembali kebutuhan-kebutuhan dasar yang sedang dibutuhkan seorang murid pada saat mereka berperilaku tidak pantas, serta strategi apa yang perlu diterapkan yang berpihak pada murid. Selanjutnya Anda akan mengeksplorasi suatu posisi dalam penerapan disiplin, yang dinamakan ‘Manajer’ serta bagaimana
64 seorang ‘Manajer’ menjalankan pendekatan disiplin yang dinamakan Restitusi. Di sini Anda akan mendalami bagaimana pendekatan Restitusi fokus untuk mengembangkan motivasi intrinsik pada murid yang selanjutnya dapat menumbuhkan murid-murid yang bertanggung jawab, mandiri, dan merdeka. Modul 1.4 ini pun selaras serta memiliki keterkaitan dengan Standar Nasional Pendidikan khususnya di Standar Kompetensi Kelulusan, Standar Pengelolaan Pendidikan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Proses. Dalam rangka menciptakan budaya positif, penerapan disiplin positif dipraktikkan untuk menghasilkan murid-murid yang berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, dan bertanggung jawab. Dalam menjalankan tugasnya, seorang pemimpin sekolah hendaknya berjiwa kepemimpinan serta dapat mengembangkan sekolah dengan baik yaitu dengan menciptakan lingkungan yang positif sehingga terwujud suatu budaya positif. Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: • Guru Penggerak memahami pentingnya mengetahui kebutuhan belajar dan lingkungan yang memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensinya secara aman dan nyaman. • Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal.
65 Secara umum, capaian modul ini adalah: • CGP mampu memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid. • CGP mampu melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan Indonesia secara umum untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan murid dengan profil pelajar Pancasila. • CGP mampu memahami perannya sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid. Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: • Menjelaskan konsep budaya positif yang berdasarkan pada konsep perubahan paradigma stimulus respons ke teori kontrol serta nilai-nilai kebajikan universal yang dijabarkan penerapannya pada modul ini. • Menjelaskan konsep makna disiplin, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar manusia, Restitusi dengan 5 posisi kontrol guru serta segitiga restitusi dan menerapkannya dalam ekosistem sekolah yang aman, dan berpihak pada murid. • Menyusun strategi-strategi aksi nyata yang efektif dengan mewujudkan kolaborasi beserta seluruh pemangku kepentingan sekolah agar tercipta budaya positif yang dapat mengembangkan karakter murid.
66 • Menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah dan mengembangkannya sesuai kebutuhan sosial dan murid.
67 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 1.4 Budaya Positif Modul 1.4.3.a Mulai dari Diri Setelah mempelajari modul 1.1, 1.2, dan 1.3, tentunya saat ini Anda sudah memahami bahwa sebagai pendidik, Anda diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur. Anda akan memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa, “…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.” (Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937) Dari uraian tersebut, kita dapat memahami bahwa sekolah diibaratkan sebagai tanah tempat bercocok tanam sehingga guru harus mengusahakan sekolah jadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi murid dari hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian, karakter murid tumbuh dengan baik. Sebagai contoh, murid yang tadinya malas menjadi semangat, bukan kebalikannya. Murid akan mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran bila lingkungan di sekelilingnya terasa aman dan nyaman. Selama seseorang
68 merasakan tekanan-tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi. Dengan demikian, salah satu tanggung jawab seorang guru adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan positif yang terdiri dari warga sekolah yang saling mendukung, saling belajar, saling bekerja sama sehingga tercipta kebiasaankebiasaan baik; dari kebiasaan-kebiasaan baik akan tumbuh menjadi karakter-karakter baik warga sekolah, dan pada akhirnya karakter-karakter dari kebiasaan-kebiasaan baik akan membentuk sebuah budaya positif. Berikut dokumentasi Mulai dari diri Modul 1.4. Modul 1.4.a.4 Eksplorasi Konsep 1. Disiplin Positif dan Nilai Kebajikan Universal CGP dapat menjelaskan makna ‘kontrol’ dari paparan Teori Kontrol Dr. William Glasser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari, serta dapat menjelaskan perubahan paradigma stimulus respon kepada teori kontrol. Berikutnya CGP dapat menjelaskan makna Disiplin Positif, dan mengamati penerapannya di lingkungannya, serta kaitan Teori Kontrol. 2. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi CGP dapat menjelaskan konsep teori motivasi, hukuman dan penghargaan, dan pendekatan restitusi. Selain itu, CGP dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya sendiri.
69 3. Keyakinan Kelas CGP dapat menganalisis pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas. CGP juga dapat menjelaskan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas. 4. Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas CGP dapat menjelaskan kebutuhan dasar yang menjadi motif dari tindakan manusia baik murid maupun guru. Selain itu, CGP dapat menganalisis dampak tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terhadap pelanggaran peraturan dan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai kebajikanRestitusi: 5 Posisi Kontrol CGP dapat melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk muridmuridnya. Berikutnya CGP dapat memahami dan menerapkan disiplin restitusi di posisi Manajer, minimal pemantau agar dapat menghasilkan murid yang bertanggung jawab, mandiri dan merdeka. 5. Restitusi: Segitiga Restitusi CGP menjelaskan restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. Kemudian CGP dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka. CGP juga diharapkan dapat menganalisis dengan sikap reflektif dan kritis penerapan disiplin positif di lingkungan.
70 Modul 1.4.a.5 Ruang Kolaborasi Mempelajari tentang Budaya Positif diawali dengan pemahaman tentang 5 kebutuhan dasar dan 5 posisi kontrol. 5 kebutuhan dasar yang seharusnya dipahami yaitu: Bertahan Hidup, Kasih sayang dan rasa diterima, Penguasaan, Kebebasan dan Kesenangan. Dengan mengetahui kondisi tersebut membuat guru bisa memahami kondisi peserta didik. Setelah mengetahui kebutuhan dasar selanjutnya guru juga bisa mengambil peran sebagaimana halnya seorang manajer yang terdapat dalam posisi kontrol. Dalam kelompok, CGP akan menganalisis kasus-kasus yang tersedia dalam LMS berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif. CGP akan mendiskusikan strategistrategi agar konsep-konsep dalam disiplin positif dapat menjadi standar tindak lanjut kasus pelanggaran disiplin di sekolahnya. Mereka akan mempresentasikan hasil analisisnya secara sinkronus, dan kelompok lain akan menanggapi. Berikut dokumentasi Ruang Kolaborasi Modul 1.4.
71 Modul 1.4.a.6. Demonstrasi Konstektual Pada tahap demonstrasi kontekstual ini, Anda akan melaksanakan praktik segitiga restitusi terhadap satu murid di sekolah Anda dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. Buatlah skenario lengkap untuk melaksanakan praktik segitiga restitusi terhadap dua (2) kasus mengenai murid yang melanggar peraturan di sekolah Anda. 2. Ajaklah satu murid Anda untuk melakukan praktik segitiga restitusi tersebut. 3. Lakukan praktik segitiga restitusi. Minta tanggapan murid Anda mengenai perasaan mereka ketika Anda melakukan praktik segitiga restitusi itu. Selengkapnya mengenai Ruang Kolaborasi Modul 1.4 anda dapat Scan QR Code di samping.
72 4. Rekamlah praktik segitiga restitusi sesuai dengan skenario yang telah dibuat beserta tanggapan dari murid Anda dalam bentuk video. RESTITUSI Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). SEGITIGA RESTITUSI Suatu proses dialog yang di jalankan guru atau orang tua agar menghasilkan murid yang mandiri dan bertanggung jawab, proses dialog ini terdiri dari tiga langkah yang digambarkan pada ketiga sisi pada segitiga restitusi:
73 Sisi Ke-1: Menstabilkan Identitas Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses Sisi ke-2: Validasi Tindakan Yang Salah Dilakukan berdasarkan prinsip setiap perilaku berupaya memenuhi kebutuhan tertentu guru akan bergeser dari stimulus respon menjadi proaktif sehingga dengan mengenali dan mengakui kebutuhan murid akan memperbaiki hubungan dengan murid Sisi Ke-3: Menanyakan Keyakinan Pada tahap ini murid akan diberikan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna untuk memunculkan motivasi secara intrinsik sehingga mampu mengaitkan keyakinannya dengan tindakan yang salah. Berikut dokumentasi Demonstrasi Kontekstual Modul 1.4. Selengkapnya mengenai Demonstrasi Kontekstual Modul 1.4 anda dapat Scan QR Code di samping.
74 Modul 1.4.a.8. Koneksi Antar Materi Pada tahap ini Anda diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di paket Modul 1 dan membuat sebuah koneksi antar materi yang sudah Anda pelajari. Anda akan membuat sebuah kesimpulan dan refleksi yang disajikan dalam bentuk media informasi. Format media dapat disesuaikan dengan minat dan kreativitas Anda. Contoh media yang dapat dibuat: artikel, ilustrasi, grafik, video, rekaman audio, screencast presentasi, artikel dalam blog, dan lainnya. Selanjutnya, unggah media informasi yang telah dibuat ke Google Drive/Youtube Anda, dan jangan lupa untuk mengklik Bagikan/Shared agar bisa diakses oleh fasilitator. Setelah membuat koneksi antar materi, Anda juga diminta untuk menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah dengan mengisi Tabel Rancangan Tindakan Aksi Nyata. Berikut dokumentasi Koneksi Antar Materi Modul 1.4. Selengkapnya mengenai Koneksi Antar Materi Modul 1.4 anda dapat Scan QR Code di samping.
75 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4 Jurnal refleksi dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh Calon Guru Penggerak (CGP) pada pendidikan guru penggerak. Jurnal refleksi dwi mingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan yang wajib dilakukan oleh para CGP. Pada bagian ini, sebagai CGP saya akan merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Positif. Berikut dokumentasi Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4. Selengkapnya mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4 anda dapat Scan QR Code di samping.
76 Modul 1.4.a.9. Aksi Nyata Sekarang telah sampai di penghujung modul 1.4. Selanjutnya mengimplementasikan pemahaman terkait budaya positif yang dapat membantu murid belajar dengan aman dan nyaman sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara. Tidak hanya itu, juga CGP mendapat kesempatan untuk membagikan pemahaman dan pengalaman kepada guru-guru di sekitar. Berikut dokumentasi Aksi Nyata Modul 1.4. Selengkapnya Aksi Nyata Modul 1.4 anda dapat Scan QR Code di samping.
77 MODUL 2 MODUL 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Standar Nasional Pendidikan Indonesia mengamanatkan bahwa Pendidikan haruslah merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya serta masyarakat. Dengan demikian, semua upaya yang kita lakukan dalam konteks pendidikan, bukan hanya harus kita rencanakan dengan cermat, namun juga harus sebesar-besarnya ditujukan untuk mengembangkan potensi anak. Standar Kompetensi lulusan telah mendeskripsikan kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Bagaimana seluruh kriteria ini dapat dicapai oleh semua murid kita adalah soal bagaimana kita sebagai guru dapat menyediakan pengalaman belajar yang memastikan bahwa semua murid kita, dengan segala keragamannya dapat kita penuhi kebutuhan belajarnya, sehingga mereka dapat menunjukkan kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan setelah lulus atau menyelesaikan setiap jenjang pendidikannya. Pemerintah sendiri telah menetapkan standar isi yang dipercaya dapat membantu murid mencapai kompetensi lulusan yang
78 diharapkan. Standar isi ini menjadi dasar untuk pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, tentunya juga perlu disikapi dengan sepenuh kesadaran bahwa ada banyak cara dan format untuk menyampaikan isi tersebut kepada murid-murid. Pembelajaran berdiferensiasi akan memungkinkan guru mewujudkan hal ini. Di sisi lain, sebagai konsekuensi logis dari keragaman kebutuhan murid yang berbeda, maka kita harus mempertimbangkan bagaimana proses pembelajaran harus secara hati-hati didesain agar dapat berhasil untuk semua murid. Standar Proses sendiri sebenarnya telah secara jelas mendeskripsikan kriteria pelaksanaan pembelajaran seperti apa yang harus dipertimbangkan oleh guru dan sekolah beserta prinsip-prinsipnya. Pembelajaran berdiferensiasi yang berfokus pada kebutuhan murid, sangat sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut. Dengan memperhatikan konten, proses, produk, guru dapat menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran agar kesemua tahapan proses tersebut dapat memenuhi kebutuhan belajar murid-murid kita dan membantu kesuksesan pembelajaran mereka. Sementara itu, proses pembelajaran berdiferensiasi juga mensyaratkan adanya praktek-praktek penilaian yang baik. Pemerintah sendiri telah menetapkan Standar Penilaian Pendidikan, dimana dijelaskan bahwa tujuan dari standar itu adalah menciptakan proses penilaian yang mengarah pada tercapainya standar kompetensi lulusan. Proses penilaian dilakukan dan digunakan bukan hanya untuk menilai hasil akhir dari proses pembelajaran, namun yang paling penting adalah bagi perbaikan proses pembelajaran sehingga semua murid
79 dapat mencapai kemajuan dalam proses belajarnya. Proses pengumpulan dan pengolahan informasi tentang hasil belajar murid dengan demikian tentunya harus dilaksanakan secara terus menerus. Dalam praktek pembelajaran berdiferensiasi, praktek penilaian yang terus menerus ini menjadi satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh guru, karena strategi pembelajaran yang dipilih oleh guru akan sangat bergantung pada informasi yang didapat oleh guru melalui proses penilaian ini. Modul 2.1 ini merupakan bagian dari paket modul 2 dan juga merupakan bagian dari serangkaian kegiatan pelatihan daring yang akan mencakup kegiatan belajar mandiri, sesi diskusi, tanya jawab dan konsultasi secara daring dengan para fasilitator dan peran-peran lain yang telah ditunjuk oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Oleh karena itu, modul ini sebaiknya digunakan secara simultan dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Modul ini telah mengalami perbaikan di beberapa bagiannya.
80 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Modul 2.1.a.3 Mulai Dari Diri CGP dapat berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana tindakan gurunya di masa lalu membantu dirinya untuk belajar dengan lebih baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Berikut adalah pertanyaan yang harus diselesaikan CGP. Pertanyaan tersebut termuat dalam LMS sebagai berikut:
81 Modul 2.1.a.5 Ruang Kolaborasi Dalam sesi pembelajaran ini, Anda akan kembali mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi, namun kali ini bentuknya akan sedikit berbeda, karena Anda tidak hanya akan berdiskusi dengan fasilitator, melainkan dengan sesama CGP. Ya, sesi kali ini disebut dengan Ruang Kolaborasi. Kali ini, kita akan mencoba berkolaborasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang pembelajaran berdiferensiasi. Anda bersama rekan kelompok akan diminta untuk menganalisis skenario pembelajaran yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi yang beragam. Setiap kelompok hanya akan menganalisis satu skenario pembelajaran berdiferensiasi dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pemandu berikut ini: 1. Dari skenario pembelajaran yang telah ditelaah, apakah kebutuhan belajar murid yang berusaha dipenuhi oleh guru tersebut? Bagaimana cara guru tersebut menentukan kebutuhan belajar muridnya? 2. Strategi pembelajaran berdiferensiasi apa yang digunakan? 3. Bagaimana guru tersebut melakukan penilaian? Penentuan kelompok dan juga skenario mana yang akan dianalisis akan difasilitasi oleh Bapak/Ibu Fasilitator. Berikut dokumentasi Ruang Kolaborasi Modul 2.1.
82 Modul 2.1.a.6 Demonstrasi Kontekstual Ini adalah sesi dimana Anda akan mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menjadi seorang pengambil risiko! Pada 3 pembelajaran sebelumnya telah memberikan banyak pengetahuan dan keterampilan yang kami yakin dapat membantu untuk keluar dari zona nyaman dan mulai melakukan perubahan. Inilah saatnya mendemonstrasikan keterampilan yang telah dipelajari dalam konteks dan situasi pembelajaran yang nyata dalam sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat pembelajaran berdiferensiasi. Sebelum melakukan tugas ini dan untuk membantu mengingat apa yang telah Anda pelajari sebelumnya. Silakan lihat perbedaan antara aktivitas (kegiatan) pembelajaran yang baik versus aktivitas pembelajaran berdiferensiasi yang baik. Selengkapnya Ruang Kolaborasi Modul 2.1 anda dapat Scan QR Code di samping.
83 Tabel 1. Aktivitas Pembelajaran yang baik versus aktivitas pembelajaran berdiferensiasi yang baik
84 Modul 2.1.a.6 Demonstrasi Kontekstual Berikut dokumentasi Demonstrasi Kontekstual Modul 2.1. Selengkapnya untuk Modul Ajar Berdiferensiasi anda dapat Scan QR Code di samping.
85 Modul 2.1.a.8 Koneksi Antar Materi Dalam rangkaian sesi pembelajaran Modul Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi. Kali ini Anda telah memasuki sesi pembelajaran keenam. Kami yakin, implementasi dalam konteks nyata serta diskusi dan konsultasi yang telah Anda lakukan pada pembelajaran sebelumnya telah mengaktifkan sinaps-sinaps di otak sehingga semakin banyak koneksi yang akan dibuat. Kali ini, CGP akan diberikan tantangan yang memungkinkan Anda untuk tidak saja mereview kembali apa yang telah dipelajari, namun juga membuat koneksi diantara materi-materi tersebut dalam cara yang paling bermakna. Yang menyenangkan adalah diperbolehkan untuk memilih caranya! Selengkapnya Koneksi Antar Materi Modul 2.1 anda dapat Scan QR Code di samping.
86 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan – Modul 2.1 Jurnal Dwi mingguan ini saya tulis untuk menggambarkan refleksi saya setelah mempelajari Modul 2.1 dan ini merupakan tugas setelah berakhirnya modul yang dipelajari sebagai seorang Calon Guru Penggerak. Saya akan menuliskan semua pengalaman saya dan semua yang saya rasakan selama mempelajari modul 2.1 Berikut Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.1. Modul 2.1.a.9. Aksi Nyata Akhirnya Anda telah tiba di sesi pembelajaran terakhir dari Modul Pembelajaran Berdiferensiasi ini. Sekarang saatnya Selengkapnya Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.1 anda dapat nScan QR Code di samping.
87 melakukan aksi nyata. Ingat, belajar akan bermakna jika dapat menggunakannya untuk memecahkan permasalahan. Berikut dokumentasi Aksi Nyata Modul 2.1. Selengkapnya Aksi Nyata Modul 2.1 anda dapat Scan QR Code di samping.
88 MODUL 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat: 1. memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri) 2. menetapkan dan mencapai tujuan positif (manajemen diri) 3. merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial) 4. membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi) 5. membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab) Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: • Menunjukkan pemahaman tentang pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness). • Menunjukkan pemahaman tentang pembelajaran sosial dan emosional yang berdasarkan kerangka CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning). • Menunjukkan pemahaman tentang pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) dalam pembelajaran
89 sosial dan emosional • Menunjukkan pemahaman tentang cara-cara menerapkan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) dalam pembelajaran sosial dan emosional sesuai dengan konteks masing-masing guru. • Menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dengan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) dalam kegiatan di dalam kelas, lingkungan sekolah, dan komunitasnya. Hakikat Pembelajaran Sosial dan Emosional Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting. Pembelajaran ini berisi keterampilanketerampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik. PSE mencoba untuk memberikan keseimbangan pada individu dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses. Bagaimana kita sebagai pendidik dapat menggabungkan itu semua dalam pembelajaran sehingga anak-anak dapat belajar menempatkan diri secara efektif dalam konteks lingkungan dan dunia. PSE adalah mengenai bagaimana kita menjalankan sekolah. Pembelajaran sosial-emosional adalah tentang pengalaman apa yang akan dialami siswa, apa yang dipelajari siswa dan bagaimana guru mengajar. Pada hakikatnya, Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) ialah Keterampilan untuk dapat bertahan dalam
90 masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang baik agar tercipta belajar saat hati anak terbuka dan penting bagaimana menjalankan sekolah, apa yang akan dialami siswa, apa yang dipelajari siswa dan bagaimana guru mengajar. Kesadaran Penuh (Mindfulness) Kesadaran penuh (mindfulness) dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan. Artinya, kita dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yangkita lakukan. Kegiatankegiatan seperti latihan menyadari nafas (mindful breathing); latihan bergerak sadar(mindfulmovement), Yaitu bergerak yang disertai kesadaran tentang intensi dan tujuan gerakan; latihan
91 berjalan sadar (mindful walking) dengan menyadari gerakan tubuh saat berjalan, dan berbagai kegiatan sehari-hari yang mengasah indera (sharpening the senses) dengan melibatkan mata, telinga, hidung, indera perasa, sensori di ujung jari, dan sensori peraba kita. Kegiatan-kegiatan di atas seperti bernapas dengan sadar, bergerak dengan sadar, berjalan dengan sadar dan menyadari seluruh tubuh dengan sadar dapat diawali dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyadari nafas. Mengapa penting untuk menyadari nafas? Karena napas adalah jangkar yang dimiliki setiap orang untuk berada di sini dan masa sekarang (here and now). Pikiran kita merupakan bagian diri kita yang seringkali sulit dikendalikan. Seorang ilmuwan dan filsuf bernama Deepak Chopra dalam website pribadinya menyebutkan bahwa manusia memiliki 60.000-80.000 pikiran dalam sehari. Bayangkan betapa sibuknya pikiran kita. Karena sangat cair, pikiran dapat bergerak ke masa depan dan menimbulkan perasaan kuatir. Pikiran juga dapat bergerak ke masa lalu yang seringkali menimbulkan perasaan menyesal. Pikiran berada dalam situasi terbaiknya jika ia fokus situasi saat ini dan masa sekarang, Cara termudah untuk membuat pikiran dan perasaan Anda berada pada saat ini dan masa sekarang adalah dengan menyadari nafas. Tutorial Teknik STOP, dapat anda simak di video dengan Scan QR Code di samping, atau anda dapat klik link berikut → Tutorial Teknik STOP. Tutorial Teknik STOP dapat anda simak di video dengan scan QR Code di samping