The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak) adalah catatan perjalanan penulis yang ditulis pada tahun 2024. Catatan perjalanan ini merupakan catatan perjalanan selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak baik secara online maupun secara offline, tugas-tugas yang kami kerjakan di LMS maupun ketika Pendampingan Individu dan lokakarya.
Buku ini dibuat karena rasa semangat untuk terus berkarya, berharap bisa menginsiprasi dan memantik semangat kawan-kawan guru di seluruh Nusantara.
Walaupun kami tidak bisa menyajikannya secara detail dan lengkap, paling tidak harapan kami semoga pembaca bisa mendapatkan gambaran yang akan dilalui ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by danixrenia7, 2024-04-20 14:05:55

JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak)

JEJAK (Pendidikan Guru Penggerak) adalah catatan perjalanan penulis yang ditulis pada tahun 2024. Catatan perjalanan ini merupakan catatan perjalanan selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak baik secara online maupun secara offline, tugas-tugas yang kami kerjakan di LMS maupun ketika Pendampingan Individu dan lokakarya.
Buku ini dibuat karena rasa semangat untuk terus berkarya, berharap bisa menginsiprasi dan memantik semangat kawan-kawan guru di seluruh Nusantara.
Walaupun kami tidak bisa menyajikannya secara detail dan lengkap, paling tidak harapan kami semoga pembaca bisa mendapatkan gambaran yang akan dilalui ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Keywords: Guru Penggerak

92 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 2.2 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Pada Modul 2.2 mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosiomal ini, adalah Salah satu teknik/cara diri kita merefleksikan dan menghadapi segala situasi bahkan pada hal yang di luar ekspektasi. Pengenalan hingga pengendalian diri perlu dilakukan agar tidak hilang control serta dapat kembali bergerak dengan fikiran yang lebih tenang dan segar. Mari, kita berupaya sekuat tenaga untuk dapat senantiasa berfikir positif. Berikut ini beberapa pencapaian di modul 2.2 Modul 2.2.a.5 Ruang Kolaborasi Selengkapnya Ruang Kolaborasi Modul 2.2 anda dapat Scan QR Code di samping.


93 Modul 2.2.a.6 Demonstrasi Kontekstual Dalam fase ini, kita akan mengimplementasikan pembelajaran sosial dan emosional untuk murid dan PTK di sekolah. Tugas 4.1: Membuat Rencana Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional bagi murid di Kelas. Berikut adalah dokumentasi Demonstrasi Kontekstual Modul 2.2. Selengkapnya Modul Ajar Berdiferensiasi Modul 2.2 anda dapat Scan QR Code di samping.


94 Modul 2.2.a.8 Koneksi Antar Materi Pada fase sebelumnya, telah melakukan proses elaborasi pemahaman untuk mengembangkan praktik pembelajaran sosial dan emosional yang lebih solid. Kali inimerumuskan kesimp ulan dari proses pembelajaran yang sudah dijalani dalam modul ini dengan tetap mengkaitkan dengan modulmodul sebelumnya. Berikut dokumentasi Koneksi Antar Materi Modul 2.2. Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Jurnal Dwi mingguan ini saya tulis untuk menggambarkan refleksi saya setelah mempelajari Modul 2.2 dan ini merupakan tugas setelah berakhirnya modul yang dipelajari sebagai Selengkapnya Koneksi Antar Materi Modul 2.2 anda dapat Scan QR Code di samping.


95 seorang Calon Guru Penggerak. Saya akan menuliskan semua pengalaman saya dan semua yang saya rasakan selama mempelajari modul 2.2. Berikut dokumentasi Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 Modul 2.2.a.9 Aksi Nyata Akhirnya telah tiba di sesi pembelajaran terakhir dari Modul Pembelajaran Kompetensi Sosial dan Emosional. Aksi Nyata dalam modul ini mensyaratkan untuk membagikan pemahaman tentang implementasi pembelajaran sosial emosional yang telah lakukan selama ini. Selengkapnya Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2 anda dapat Scan QR Code di samping.


96 Berikut dokumentasi Aksi Nyata Modul 2.2. Selengkapnya Aksi Nyata Modul 2.2 anda dapat Scan QR Code di samping.


97 MODUL 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik Modul Coaching untuk Supervisi Akademik memberikan ruang bagi Anda untuk berlatih membangun komunikasi yang empatik dan memberdayakan sebagai Pemimpin Pembelajaran dan Kepala Sekolah dalam membuat perubahan strategis yang mampu menggerakan komunitas sekolah pada ekosistem belajar Anda. Perubahan strategis yang sejalan semangat Merdeka Belajar untuk meningkatkan kualitas kurikulum (standar isi-standar proses-standar penilaian) yang bermakna dan kualitas sumber daya guru dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid pada Satuan Pendidikan di sekolah dan daerah Anda. Modul ini mencakup beberapa materi konsep yang sejalan dengan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan perkembangan pendidikan Abad ke-21. Anda akan menguatkan paradigma berpikir Among, prinsip coaching, kompetensi inti coaching, alur percakapan TIRTA dan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching. Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan menjadi guru penggerak yang mampu: 1. memahami konsep coaching secara umum, meliputi definisi, tujuan, dan jenis coaching serta perbedaannya dengan mentoring dan konseling 2. memahami hakikat komunikasi yang memberdayakan dan mampu menerapkannya dalam praktik coaching 3. memahami langkah-langkah mendengar aktif dan mampu menerapkannya dalam praktik coaching


98 4. memahami langkah-langkah bertanya reflektif dan mampu menerapkannya dalam praktik coaching 5. memahami langkah-langkah memberi umpan balik positif dan mampu menerapkannya dalam praktik coaching 6. mengidentifikasi peran seorang coach di konteks sekolah 7. melakukan praktek coaching berdasarkan model TIRTA kepada sesama CGP, murid, dan rekan guru di sekolahnya 8. mengembangkan sikap terbuka, kritis, empati dan percaya diri dalam melakukan praktik coaching.


99 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik Modul 2.3.a.3 Mulai Dari Diri


100 Modul 2.3.a.5 Ruang Kolaborasi Pada sesi latihan ini, Anda akan bekerjasama dengan satu CGP lainnya untuk berlatih percakapan coaching dengan alur TIRTA dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Secara bergantian, sepasang CGP akan berlatih percakapan coaching dengan model TIRTA baik sebagai coach maupun sebagai coachee. Pada sesi 1, CGP X akan menjadi coach bagi CGP Y. Berikutnya, CGP Y akan menjadi coach bagi CGP X. 2. Topik atau hal yang akan dijadikan bahan percakapan coaching bisa merupakan situasi sehari-hari baik sebagai seorang guru maupun pribadi. Bahkan, bisa merupakan topik yang sangat sederhana. 3. Pastikan langkah-langkah dalam percakapan coaching alur TIRTA dalam berlatih percakapan coaching dipraktikkan dengan baik 4. Setelah bergantian berlatih mempraktikkan percakapan coaching, setiap CGP akan memberikan refleksinya masing-masing dengan format refleksi yang disediakan.


101 Modul 2.3.a.6 Demonstrasi Kontekstual Saat ini sudah pada langkah demonstrasi kontekstual, yaitu saatnya berlatih mempraktikkan percakapan coaching secara triad (3 orang) yang terdiri dari 3 (tiga) siklus. Praktik percakapan ini menggunakan alur supervisi akademik untuk pengembangan kompetensi coaching. Tujuan dari praktik ini adalah untuk melihat, bagaimana seorang CGP bisa mengembangkan kompetensi coachingnya ketika menjadi coach. Berikut dokumentasi Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3. Selengkapnya Ruang Kolaborasi Modul 2.3 anda dapat Scan QR Code di samping.


102 Modul 2.3.a.8. Koneksi Antarmateri Berikut dokumentasi Koneksi Antar Materi Modul 2.3. Selengkapnya Demonstrasi Kontekstual Modul 2.3 anda dapat Scan QR Kode di samping. Selengkapnya Koneksi Antar Materi Modul 2.3 anda dapat Scan QR Kode di samping.


103 Jurnal Refleksi dwi Mingguan Modul 2.3 Modul 2.2.a.9 Aksi Nyata Sekarang telah sampai pada bagian akhir dari pembelajaran pada modul coaching ini. Pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERDEKA, Bapak/Ibu CGP akan melakukan rangkaian supervisi klinis dan percakapannya dengan paradigma berpikir coaching secara langsung dengan rekan sejawat. Rangkaian supervisi klinis ini terdiri dari kegiatan perencanaan sebelum observasi (pra-observasi), observasi dan pasca observasi berupa praktik percakapan coaching yang memberdayakan. Selengkapnya Koneksi Antar Materi Modul 2.3 anda dapat Scan QR Kode di samping.


104 Berikut dokumentasi Aksi Nyata Modul 2.3. Selengkapnya Aksi Nyata Modul 2.3 anda dapat Scan QR Kode di samping.


105 MODUL 3 MODUL 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Dalam Modul 3.1 ini, pembahasan akan fokus kepada keterampilan seorang pemimpin dalam mengemban salah satu perannya, yaitu mengambil suatu keputusan, khususnya pada kasus-kasus yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan atau Etika. Selanjutnya keputusan-keputusan yang diambil secara langsung atau tidak, menentukan arah dan tujuan suatu institusi atau lembaga serta menunjukkan nilai-nilai atau integritas dari institusi tersebut, yang pada akhirnya berpengaruh kepada mutu pendidikan yang didapatkan muridmurid Anda sekalian. Bila kita telusuri lebih dalam, modul ini selaras dan sesuai dengan prinsip-prinsip Standar Nasional Pendidikan, khususnya pada standar pengelolaan. Seorang pemimpin hendaknya memahami nilai-nilai kebajikan yang tertuang dalam visi dan misi sekolah, berkepribadian serta berkinerja baik dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, khususnya dalam mengambil suatu keputusan, hendaknya setiap keputusan yang diambil tersebut selaras dengan nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi oleh suatu institusi tersebut, yaitu bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Pada modul ini akan tersaji beberapa studi kasus yang akan dihadapi seorang pemimpin sekolah, khususnya studi kasus di mana dua kepentingan sama-sama benar, sama-sama memiliki


106 nilai-nilai kebajikan. Kita akan dihadapkan pada suatu situasi dilematis, yang akan kita kenal dengan dilema etika. Apakah itu dilema etika? Apakah perbedaannya dengan bujukan moral, dan bagaimana mengenali di antara keduanya? Anda juga akan diajak mengidentifikasi 4 (empat) paradigma serta mendalami prinsip-prinsip yang melandasi cara berpikir Anda selama ini, yang mempengaruhi pengambilan keputusan yang Anda ambil. Prinsip-prinsip apa yang selama ini Anda anut, dalam pengambilan suatu keputusan? Sebelum atau sesudah pengambilan keputusan diambil perlukah kita menganalisis kembali keputusan-keputusan kita, untuk apa? Bagaimana menguji pengambilan keputusan kita sendiri, apakah keputusan tersebut sudah efektif atau tepat sasaran?


107 Pengambilan Keputusan Sekolah adalah 'institusi moral' yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya. Pemimpin di sekolah akan menghadapi situasi di mana mengambil suatu keputusan yang banyak mengandung dilema secara Etika, dan berkonflik antara nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar. Keputusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah. Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsipprinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.


108 Paradigma Dilema Etika Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan, kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 1. Individu lawan masyarakat (individual vs community) Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain 3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu


109 untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya 4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan seharihari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue- issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll Artikel disarikan dari Buku "How Good People Make Tough Choices: Resolving the Dilemmas of Ethical Living, Rusworth M. Kidder, 1995, USA: HarperCollins


110 Prinsip & Konsep Pengambilan Keputusan "Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral. Akal dan moral dua dimensi manusia yang saling berkaitan. Etika terkait dengan karsa karena manusia memiliki kesadaran moral." (Rukiyanti, L. Andriyani, Haryatmoko, Etika Pendidikan, hal. 43). Etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminarseminar, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah: 1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking) 2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) 3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) Perlu diingat bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilainilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. Untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral yang membingungkan, ada 9 langkah yang dapat kita lakukan, yaitu:


111 1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini 4. Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi/Standar Profesional, 5. Uji intuisi, Uji publikasi, Uji Panutan/Idola) 6. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar 7. Melakukan Prinsip Resolusi 8. Investigasi Opsi Trilema 9. Buat Keputusan 10. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan


112 KUMPULAN CAPAIN TUGAS MODUL 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran Modul ini adalah pembelajaran dan pembuktian seorang guru, bagaimana proses pengambilan keputusan jika dihadapkan pada dilema etika dan bujukan moral. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, hal ini pasti akan dihadapi oleh setiap guru. Penulis berniat mengajak pembaca untuk sama-sama memahami dan menerapkan pengetahuan dari modul ini. Berikut ini dokumentasi QR Code yang dapat di scan: Modul 3.1.a.5 - Ruang Kolaborasi Selengkapnya Ruang Kolaborasi Modul 3.1 anda dapat Scan QR Kode di samping.


113 Modul 3.1.a.6 Demonstrasi Kontekstual Tahapan Demonstrasi Kontekstual ini merupakan wadah untuk menunjukkan pemahaman Anda mengenai keseluruhan materi. Anda diberi kesempatan untuk meninjau materi di modul ini dengan konteks lokal yang Anda hadapi. Unsur-unsur apa saja yang Anda butuhkan dalam menjalankan pengambilan keputusan dilema etika, sebagai pemimpin pembelajaran? Dalam hal ini, kesempatan tersebut berupa mengadakan wawancara dengan pimpinan/kepala sekolah tentang praktik pengambilan keputusan selama ini di sekolah asal Anda, dan juga di tempat/lingkungan lain. Hasil wawancara ini akan Anda analisis berdasarkan konsep-konsep yang telah dipelajari di modul ini. Hasil analisis Anda akan dijadikan sebuah refleksi atas praktik pengambilan keputusan dilema etika yang telah dijalankan di sekolah asal Anda dan di sekolahsekolah lain di lingkungan Anda. Berikut dokumentasi Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1 Selengkapnya Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1 anda dapat Scan QR Kode di samping.


114 Modul 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi Setelah melewati tahapan-tahapan pembelajaran sebelumnya, inilah saatnya menarik kesimpulan, berefleksi mengaitkan materi-materi yang sudah dipelajari, baik di dalam modul 3.1. ataupun kaitannya dengan materi di modul lain. Berikut dokumentasi Koneksi Antar Materi Modul 3.1: Selengkapnya Koneksi Antar Materi Modul 3.1 anda dapat Scan QR Kode di samping.


115 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan – Modul 3.1 Berikut dokumentasi Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.1: Modul 3.1.a.9. Aksi Nyata Pada tahapan akhir dari siklus pembelajaran MERDEKA, Bapak/Ibu CGP akan mendapat kesempatan untuk mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah CGP. CGP akan mencari kasus nyata yang mengandung unsur dilema etika dengan melakukan wawancara dengan pimpinan (kepala sekolah) kemudian membuat tulisan berupa rangkuman, kesimpulan, refleksi yang menunjukkan pengetahuan dan pengalaman CGP. Selengkapnya Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.1 anda dapat Scan QR Kode di samping.


116 Berikut dokumentasi Aksi Nyata Modul 3.1: Selengkapnya Aksi Nyata Modul 3.1 anda dapat Scan QR Kode di samping.


117 MODUL 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Seperti yang kita ketahui, sekolah wajib membangun ekosistem yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan murid demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran sangat tergantung pada cara pandang sekolah melihat ekosistemnya: apakah sebagai kekuatan atau sebagai kekurangan. Sekolah yang memandang semua sumber daya yang dimiliki sebagai suatu kekuatan dan aset, maka sekolah ini tidak akan berfokus pada kekurangan tapi berupaya pada pemanfaatan kekuatan dan aset yang dimiliki. Sumber daya sebagai kekuatan akan banyak dieksplorasi ke dalam pembahasan tujuh modal utama, yaitu modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Ketujuh modal aset ini selaras dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP), terutama pada standar sarana dan prasarana (modal fisik dan modal lingkungan/alam), standar pendidik dan kependidikan (modal manusia dan modal sosial) standar pembiayaan (modal finansial), dan standar pengelolaan pendidikan (modal politik, modal sosial). Dengan menyadari betapa banyak sumber daya yang dimiliki sekolah, modul ini akan mengajak Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak untuk senantiasa melihat sumber daya sebagai aset/kekuatan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran yang berpihak pada murid. Modul ini merupakan bagian dari paket modul 3 yang juga merupakan paket modul terakhir dalam Program Pendidikan Guru Penggerak


118 Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: • Menganalisis aset dan kekuatan dalam pengelolaan sumber daya yang efektif dan efisien. • Merancang pemetaan potensi yang dimiliki sekolahnya menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset-Based Community Development). • Merancang program kecil menggunakan hasil pemetaan kekuatan atau aset yang sudah dilakukan. • Menunjukkan sikap aktif, terbuka, kritis dan kreatif dalam upaya pengelolaan sumber daya. Sekolah Sebagai Ekosistem Eksosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktorfaktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:


119 • Murid • Guru • Kepala Sekolah • Staf/Tenaga Kependidikan • Pengawas Sekolah • Orang Tua • Masyarakat sekitar sekolah Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktorfaktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran diantaranya adalah: • Keuangan • Sarana dan prasarana Gambaran Ekosistem Sekolah


120 Perbedaan Pendekatan Berbasis Masalah (Deficit Based Thinking) dan Pendekatan Berbasis Aset (Asset Based Thinking) Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negatif. Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar. Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Perbedaan antara pendekatan berbasis kekurangan dengan pendekatan berbasis aset dapat dilihat dari tabel di bawah ini.


121 Aset-Aset Dalam Sebuah Komunitas Dalam mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan McKnight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan. Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu: 1. Modal Manusia Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri seseorang. Pemetaan modal atau aset individu


122 merupakan kegiatan menginventaris pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam sebuah komunitas, atau dengan kata lain, inventarisasi perorangan dapat dikelompokkan berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan hati, tangan, dan kepala. Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, kecakapan yang berhubungan dengan seni dan budaya. 2. Modal Sosial Norma dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan networking) antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat. Investasi yang berdampak pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas berdampingan, contohnya kepemimpinan, bekerjasama, saling percaya, dan punya rasa memiliki masa depan yang sama. Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi. Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. 3. Modal Fisik Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu: (1). Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan. (2). Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai


123 dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain. 4. Modal Lingkungan/alam Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang inggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya. Tanah untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali untuk menenun, dan sebagainya. 5. Modal Finansial Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas. Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal. Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk-produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan. 6. Modal Politik Modal politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara


124 dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas. Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air. 7. Modal Agama dan budaya Upaya pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain. Kebudayaan yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis. Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan. Identifikasi dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh-tokoh penting yang berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.


125 KUMPULAN CAPAIAN TUGAS MODUL 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya Modul 3.2 ini adalah salah satu pembuktian bagaimana seorang guru dapat berperan sebagai seorang pemimpin untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem sekolah, memahami potensi dan pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah, serta dapat mengevaluasi hasil pemetaan potensi sumber daya sekolahnya yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran murid. Berikut ini beberapa pencapaian di modul 3.2 semoga bermanfaat. Modul 3.2.a.5. - Ruang Kolaborasi Pada sesi pembelajaran 3 kali ini, kita akan masuk pada Ruang Kolaborasi. Anda akan diajak untuk bekerja sama dengan peserta lainnya dalam menyelesaikan tugas kelompok mengidentifikasi sumber daya. Berikut dokumentasi Ruang Kolaborasi Modul 3.2.


126 Modul 3.2.a.6. – Demonstrasi Kontekstual Setelah kita bersama-sama berproses, berlatih melihat, dan mengidentifikasi aset serta kekuatan yang dimiliki daerah bersama rekan lainnya, saatnya menganalisis tayangan video praktik baik yang menggambarkan pemanfaatan sumber daya sekolah untuk peningkatan kualitas pembelajaran murid. Dalam menganalisis video ini, Bapak dan Ibu CGP kembali mengaitkan pengetahuan mengenai visi, prakarsa perubahan, dan BAGJA yang sudah didiskusikan pada modul 1.3 sebelumnya. Berikut dokumentasi Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2. Selengkapnya Ruang Kolaborasi Modul 3.2 anda dapat Scan QR Kode di samping.


127 Modul 3.2.a.8 Koneksi Antar Materi Pada sesi pembelajaran kali ini, Bapak/Ibu CGP membuat kesimpulan dan mengoneksikan materi yang ada di dalam modul ini dengan materi lainnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. Berikut dokumentasi Koneksi Antar Materi Modul 3.2. Selengkapnya Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2 anda dapat Scan QR Kode di samping.


128 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2 Berikut dokumentasi Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2. Selengkapnya Koneksi Antar Materi Modul 3.2 anda dapat Scan QR Kode di samping. Selengkapnya Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2 anda dapat Scan QR Kode di samping.


129 Modul 3.2.a.9 Aksi Nyata Berikut dokumentasi Aksi Nyata Modul 3.2. Selengkapnya Aksi Nyata Modul 3.2 anda dapat Scan QR Kode di samping.


130 MODUL 3.3 Pengelolaan Program Berdampak Positif Pada Murid Modul ini mengajak Ibu dan Bapak untuk berefleksi dan melihat kembali perspektif atau cara pandang kita tentang program yang berdampak positif pada murid. Selama ini, sering sekali kita melihat bahwa program-program sekolah, baik program intra kurikuler, program ko-kurikuler, atau program ekstra kurikuler pengelolaannya hanya menempatkan muridmurid sebagai objek dari program-program tersebut. Mereka memang melakukan, atau menjalankan program-program tersebut, namun banyak yang kesulitan untuk mengambil makna dari pengalaman mereka tersebut karena hanya merasakan keterlibatan itu sebagai sebuah keharusan untuk terlibat, rutinitas, kewajiban yang harus dijalankan, atau hanya sekedar sebuah kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan. Di dalam modul ini, Ibu dan Bapak akan mengeksplorasi bagaimana sesungguhnya kita dapat mendorong student agency (yang dalam modul ini diterjemahkan sebagai kepemimpinan murid) dalam pengelolaan program-program di sekolah. Mendorong kepemimpinan murid dalam program sekolah bukan hanya memungkinkan murid untuk belajar menjadi individu yang lebih bertanggung jawab, berdaya, dan kontributif, namun, pengalaman dan kebermaknaan yang mereka dapatkan dari proses belajar mereka dalam programprogram sekolah tersebut sesungguhnya akan memberikan bekal untuk mereka menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat. Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan menjadi


131 guru penggerak yang mampu: 1. Menunjukkan pemahaman tentang konsep kepemimpinan murid dan kaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila. 2. menunjukkan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid. 3. menganalisis sejauh mana suara, pilihan dan kepemilikan murid dipertimbangkan dalam program intrakurikuler/kokurikuler/ekstrakurikuler sekolah untuk mewujudkan lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. 4. mengidentifikasi strategi pelibatan komunitas dalam program sekolah untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. 5. menerapkan satu program sekolah yang mendorong kepemimpinan murid dan mempertimbangkan keterkaitannya dengan apa yang telah dipelajari. Kepemimpinan Murid Melalui filosofi dan metafora "menumbuhkan padi", Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka


132 sesuai dengan kodratnya. Dengan program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita dapat menempatkan murid dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program/kegiatan pembelajaran tersebut? "Sesungguhnya alam-keluarga itu bukannya pusat pendidikan individual saja, akan tetapi juga suatu pusat untuk melakukan pendidikan sosial. Orangtua harus melakukan pendidikan bersama dengan pusat-pusat pendidikan, dan terhubung dengan kaum guru dan pengajar. [Ki Hadjar Dewantara dalam Wasita, Tahun ke-1 No.3, Mei 1993]" Kita semua tentu sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara natural adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Namun, terkadang guru memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar mereka. Kadang-kadang kita bahkan tanpa sadar membiarkan murid-murid kita secara sengaja menjadi tidak


133 berdaya (learned helplessness), dengan secara sepihak memutuskan semua apa dan bagaimana yang harus murid pelajari, tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita sebagai guru adalah adalah: 1. Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya. 2. Mengurangi kontrol kita terhadap mereka, Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan "agency". Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, yakni bersifat kemitraan. Dalam hubungan yang bersifat kemitraan ini, saat murid belajar mereka akan: • berusaha untuk memahami tujuan pembelajaran yang ingin dicapainya • menunjukkan keterlibatan dalam proses pembelajaran • menunjukkan tanggung jawab dalam proses pembelajaran mereka sendiri.


134 • menunjukkan rasa ingin tahu • menunjukkan inisiatif • membuat pilihan-pilihan tindakan • memberikan umpan balik kepada satu sama lain. Untuk lebih memahami konsep kepemimpinan murid, kita baca tabel berikut ini.


135 Suara, Pilihan, dan Kepemilikan Murid Jika kita telaah lebih lanjut, dengan menumbuhkembangkan kepemimpinan murid maka secara bersamaan kita sebenarnya juga membangun karakter murid yang: 1. beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia 2. berkebhinekaan global 3. mampu bergotong royong 4. mandiri 5. dapat berpikir kritis 6. kreatif Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan


136 (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid? 1. Suara Murid (voice) Mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. 2. Pilihan Murid (choice) Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016). 3. Kepemilikan Murid (ownership) Saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.


137 KUMPULAN CAPAIAN MODUL 3.3 Pengelolaan Program Berdampak Positif Pada Murid Dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid sangat penting untuk menyiapkan lingkungan yang tepat. Pelibatan komunitas dalam perencanaan dan pelaksanaan program yang berdampak pada murid juga menjadi salah satu kunci keberhasilan. Pencapaian saya dalam tugas-tugas di modul 3.3 dapat dilihat dengan cara melakukan scan QR kode atau klik link di bawah ini! Modul 3.3.a.5 Ruang Kolaborasi Selengkapnya Ruang Kolaborasi Modul 3.3 anda dapat Scan QR Kode di samping.


138 Modul 3.3.a.6 Demonstrasi Kontekstual Modul 3.3.a.8 Koneksi Antar Materi Selengkapnya Demonstrasi Kontekstual Modul 3.3 anda dapat Scan QR Kode di samping. Selengkapnya Koneksi Antar Materi Modul 3.3 anda dapat Scan QR Kode di samping.


139 Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3 Modul 3.3.a.9 Aksi Nyata Selengkapnya Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3 anda dapat Scan QR Kode di samping. Selengkapnya Aksi Nyata Modul 3.3 anda dapat Scan QR Kode di samping.


140 PENUTUP Buku ini diharapkan bisa memberikan semangat dan beberapa ide baru. Bagaimanapun, suatu pengembangan tanpa adanya kemauan (semangat) dan ide baru merupakan sebuah kemustahilan. Buku ini, sebagai cerita perjalanan sebagai Calon Guru Peggerak (CGP). CGP sendiri merupakan program yang baru diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Indonesia untuk meningkatkan kompetensi guru dan meningkatkan pembelajaran di negeri tercinta Indonesia di tahun 2024 ini. Dalam buku ini terdapat 3 modul yang menjadi acuan seorang guru dalam melakukan melaksanakan tugasnya. Materi yang terkandung di dalam modul-modul Program Pendidikan Guru Penggerak cukup padat dan berisi serta jelas. Membawa kita untuk senantiasa merefleksikan apa yang sudah kita lakukan. Adapun jika masih banyak terdapat kekurangan penulis, mohon dimaafkan sebagai bahan pembelajaran bagi penulis. Penulis berharap buku ini bisa memberikan manfaat yang baik serta pembaca dapat membagikan ke pada lebih banyak stakeholder bidang pendidikan.


Click to View FlipBook Version