POTRET
Tirtonadi
&MASA LALU,
SEKARANG
MASA DEPAN
Terminal Tirtonadi, siapa yang tidak mengenal
lokasi ini. lokasi pemberhetian bus
kebanggaan Wong Solo ini memiliki sejarah
panjang sebelum semaju sekarang.
Jl. A. Yani, Gilingan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah
C O M PA N Y
PROFILE
Terminal Tirtonadi sebagai terminal percontohan seindonesia berupaya untuk
memberikan pelayanan masyarakat secara maksimal, sehingga Image
terminal yang dulu kumuh makin lama makin hilang. Pelayanan terminal
kondisi sekarang sepetrti bandara, perkenalan dan rebranding terminal.
f @Terminal.Bus.Tirtonadi Mengembalikan kejayaan
c officialtirtonadi terminal masa lalu, dengan
u www.terminaltirtonadi.com memberikan pelayanan terbaik
kepada masyarakat secara
maksimal.
Menjaga dan mengedukasi
masyarakat untuk ikut peduli
dengan fasilitas umum,
khususnya fasilitas yang ada di
Terminal Tirtonadi.
TERMINAL TIPE A TIRTONADI
Jl. A. Yani, Gilingan, Banjarsari, Surakarta
Facebook : Terminal Bus Tirtonado Solo
Telp. (0271) 738 900
POTRET TIRTONADI
&MASA LALU, SEKARANG
MASA DEPAN
2021
1
DAFTAR TIM PENYUSUN
Terminal Masa Lalu, Sekarang & Masa Depan
Pelindung
Kepala BPTD X Jateng DIY .................................................................... Eko Agus Susanto, SE, MSi
Penyusun
Koordinator Terminal Tipe A Tirtonadi .............................................. Joko Sutriyanto, SH
Penulis Tim Terminal Tirtonadi
Diterbitkan : officialtirtonadi
Terminal Tipe A Tirtonadi
Terminal Tirtonadi
Jl. A. Yani, Gilingan, Banjarsari, Surakarta
Telp. (0271) 738 900
Tahun 2021
2
3
4
5
NAMA : Joko Sutriyanto, SH
: 19650102 199303 1 013
NIP : Penata Tk. I (III/d)
Golongan Ruang : S1 (Ilmu Hukum)
Pendidikan Terakhir
- Sekretaris Dewan
• Karir - Kasi Tata Pemerintahan Kelrauan Penumping
- Kasubag TU UPTD Tirtonadi
- Koorsatpel TTA Mangkang
- Koorsatpel TTA Tirtonadi
• Diklat yang pernah diikuti - Manajemen Terminal;
- Pembangunan Karakter Manajemen
Terminal;
- Diklat PIM IV Angkatan I.XV 2016;
- Pemateri Kuliah Lapangan Pendidikan
dan Pelatihan Manajemen Terminal;
- Narasumber Ahli/Dosen Tamu
Poltekes Yogyakarta “Sanitasi
- Lingkungan/Pelayanan Terminal
Sehat”
MOTTO : “ BERANI BERUBAH
JANGAN TAKUT LELAH !!! ”
6
Berani Berubah, Tidak Takut Lelah
Visi&Misi
Visi:
Terwujudnya Terminal Tirtonadi sebagai terminal mix use dengan standard Tipe A yang aman, terjangkau,
berkualitas, dan terintegrasi dengan pengelolaan yang profesional, akuntabel dan aksesable.
Misi:
1. Meningkatkan profesionalitas sistem pelayanan transportasi darat yang terintegrasi;
2. Mendorong berkembangnya industri transportasi darat yang transparan dan akuntable;
3. Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pengelola terminal yang kompeten dan berintergritas
4. Menyediakan sarana dan prasarana terminal sebagai fasilitas penunjang mobilitas masyarakat
5. Menyediakan fasilitas sarana dan prasana pendukung lainnya sebagai terminal mix use.
7
Ir.Joko Widodo
Walikota Surakarta
TAHUN 2005 - 2012
8
9
Walikota Surakarta, Joko Widodo menyambut penumpang yang turun di Terminal Tirtonadi, Rabu 15 Agustus 2012.
Para penumpang ini adalah peserta Mudik Gratis yang diadakan Kementerian Perhubungan RI untuk mengurangi
jumlah kendaraan selama masa lebaran 201.
10
Walikota Surakarta, Joko Widodo bersama dengan Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Yosca Herman
Soedradjad dan Kepala UPTD Terminal Eko Agus Susanto, Rabu 15 Agustus 2012 menyemangati porter Terminal
Tirtonadi yang turut bekerja keras menyukseskan pelaksanaan arus mudik lebaran 2012
11
FX Hadi Rudyatmo
Walikota Surakarta
periode tahun 2016 - 2020
12
Terminal Tirtonadi selalu menjadi perhatian Pemerintahan Kota Surakarta. Dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surakarta 2010-2015, Pemerintah Kota
Surakarta mencanangkan program revitalisasi Terminal Tirtonadi dengan meningkatkan sarana dan
prasarana, manajemen pengelolaan maupun tata kelola para pelaku di dalamnya.
Fisik bangunan Terminal Tirtonadi diperbarui. Renovasi semacam itu bukan hanya karena alasan
teknis seperti usia bangunan yang sudah terlalu tua dan banyak kerusakan tetapi juga dimaksudkan agar
Terminal Tirtonadi menjadi tempat yang nyaman untuk penumpang baik yang akan meninggalkan Kota
Surakarta, maupun yang datang. Selain itu juga menjadi sarana bertransaksi dan berinteraksi warga
masyarakat. Akses warga unti turut berikhtiar guna mendapatkan penghidupan yang lebih baik menjadi
terbuka.
Revitalisasi yang dilakukan selama ini merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi
yang terus menerus dilakukan Pemerintah Kota Surakarta karena dalamnya terdapat ribuan orang yang
mengupayakan penghidupan.
Meskipun saat ini Terminal Tirtonadi telah berada dibawah Kementrian Perhubungan, kami
berharap, Terminal Tirtonadi mampu berperan dalam menjaga kelancaran transportasi publik, serta
interaksisosial ekonomi yang berlangsung di Kota Surakarta.
Penerbitan buku ini, merupakan upaya untuk sejarah dan mimpi bersama. Kami mengucapkan
selamat dan terimakasih dengan jerih payah yang sudah dilakukan. Semoga memberikan manfaat bagi
kita bersama.
13
Lanjutan Pembangunan Terminal
Jumat, 13 Maret 2015
14
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi disertai Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Selasa 27 Desember 2016
mengunjungi dan meresmikan Terminal Tirtonadi sebagai Terminal Tipe A sekaligus sebagai terminal percontohan.
15
Ir. Budi Karya Sumadi
Menteri Perhubungan
16
17
DrsHari Prihatno
Kepala Dishub Surakarta
18
Menurut Undang undang Nomor 22 Tahun 2009 pasal 1 ayat (13) Terminal adalah pangkalan
kendaraan bermotor umum yang digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan
dan menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda angkutan. Sedangkan fungsi terminal
bahwasanya penyelenggaraan dan pembangunan Terminal dilakukan untuk menunjang kelancaran
perpindahan orang dan/atau barang serta keterpaduan intramoda di tempat tertentu, dapat dibangun dan
diselenggarakan terminal (Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 33 ayat (1)).
Di Kota Surakarta terdapat satu terminal Tipe A yang pengelolaan kewenangannya oleh
Kementerian Perhubungan yaitu Terminal Tirtonadi. Terminal Tirtonadi merupakan terminal tipe A terbaik
dan menjadi percontohan di tingkat nasional. Terminal ini melayani bus AKAP/AKDP serta Angkutan Kota
(Angkot). Pembangunan perluasan terminal Tirtonadi yang sebagian dananya merupakan bantuan
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat ini dilengkapi bangunan 2
(dua) lantai yang digunakan sebagai Gedung Pertemuan. Gedung Olahraga dan Foodcourt dan jembatan
penghubung (skybridge) antara Terminal Bus Tirtonadi dengan Stasiun Solo Balapan untuk integrasi
intermoda.
Sesuai dengan fungsinya Terminal Tirtonadi diharapkan sebagai terminal terpadu untuk
mengintegrasikan antarmoda transportasi angkutan umum yang melayani Angkutan Antar Kota Antar
Provinsi (AKAP), Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP), Angkutan Aglomerasi BRT Trans Jateng,
Angkutan Perkotaan Batik Solo Trans, Angkutan Pengumpan Feeder BST.
Bersama ini kami mengucapkan selamat dan sukses untuk penerbitan buku ini, semoga dapat
memberikan manfaat bagi kita semua.
19
Eko Agus Susanto SE, M.Si
Kepala BPTD X Jateng DIY
20
Nama terminal di Kota Solo ini sama dengan judul lagu Didi Kempot yakni Terminal Tirtonadi. Beberapa tahun
yang lalu saya sempat sering lalu lalang di terminal bus ini saat masih belum di renovasi, saat direnovasi dan sekarang di
saat terminal baru telah megah berdiri.
Kurang lebih 2 atau 3 tahun yang lalu terminal ini masih kelihatan kumuh, jorok seperti kebanyakan terminal bus
di Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu pemerintah kota menganggarkan dana yang cukup besar untuk
merenovasi terminal tersebut. Seingat saya hanya butuh waktu kurang lebih dua tahun saja terminal baru Tirtonadi
sudah berdiri kokoh.
Dengan luas lahan sekitar 3,5 hektare, Terminal Tirtonadi semakin ramai dan sesak. Setiap hari ada sekitar
1.500 bus dari 2.931 izin trayek bus antar kota dalam provinsi (AKDP) dan antar kota antar provinsi (AKAP) masuk dan
keluar di terminal itu. Pada kondisi puncak, seperti Idul Fitri ataupun Natal dan Tahun Baru, nyaris tidak ada tempat
kosong. Banyak bus terpaksa diparkir di luar, karena sudah tidak ada lokasi parkir di dalam. Terminal Tirtonadi pun
penuh, melebihi kapasitas. Lahan 3,5 hektare terlalu sempit. Maka gagasan untuk di renovasi dan diperluas menjadi 5
hektare.
Penataan ulang merupakan langkah untuk mengatasi kondisi overload. Terminal Tirtonadi terbagi tiga bagian.
Terminal A untuk jalur pemberangkatan bus jurusan timur seperti Sragen dan Jawa Timur, jurusan selatan seperti
Wonogiri dan Pacitan, serta arah utara untuk bus jurusan Purwodadi dan Blora. Terminal B merupakan lokasi penurunan
penumpang dari bus semua jurusan yang masuk terminal. Sementara itu Terminal C merupakan lokasi
pemberangkatan bus jurusan barat seperti Jakarta, Lintas Sumatera, Semarang, Yogyakarta ataupun Purwokerto.
Tahap pertama pembangunan Terminal Bus Tirtonadi Solo dimulai dari sisi barat. Pembangunan sisi barat
selesai dan dioperasikan pada bulan Desember 2012. Sedangkan pembangunan lantai satu Terminal Tirtonadi sisi
timur pada 2015 dinyatakan selesai dan resmi beroperasi pada Desember 2015. Pembangunan ini rampung lebih cepat
dari target awal selesai pada 2019.
Seremonial pembukaan terminal Tirtonadi Solo bagian timur ini digelar pada Jumat, 18 Desember 2015, ditandai
syukuran pemotongan tumpeng, dan pemberangkatan armada bus oleh Kepala Dishubkominfo Solo Yosca Herman
Soedrajat; didampingi Kepala UPTD Terminal Eko Agus Susanto; Danramil 02 Banjarsari Kapten Inf Romli; dan
Kapolsek Banjarsari Kompol Danu Pamungkas.
“Merupakan amanat bahwa pemerintah adalah pelayan masyarakat, untuk itu pemerintah baik Pusat
maupun Pemda sepakat untuk merevitalisasi Terminal Tirtonadi Surakarta, memberikan tempat yang nyaman,
memberi rasa aman kepada pengguna layanan terminal adalah Tugas Pokok dari Pemerintah," ujar Eko Agus
Susanto, yang saat ini menjadi kepala BPTD X Jateng DIY.
Eko berpendapat, Terminal Tirtonadi dengan sistem TOD(Transit Oriented Develpoment). Terminal juga
harus mampu menjadi pusat kegiatan masyarakat. "Karenanya kita bangun pusat olehraga, pusat Perbelanjaan
Gedung serba guna dan kegiatan lainnya sebagai pusat perkembangan perekonomian. Supaya masyarakat
merasakan bahwa negara hadir di tengah masyarakat," ujar dia.
21
Berikut jenjang karir kepemimpinan EkoAgus Susanto
1. Tahun 2012 sd 2017 Sebagai Kepala UPTD Terminal Tirtonadi.
2. Tahun 2017 sd 2018 Sebagai Kasi Sarpras BPTD Wilayah X Provinsi Jateng DIY.
3. Tahun 20118 sd 2019 Sebagai Kasubag TU BPTD Wilayah X Provinsi Jateng DIY.
4. Tahun 2019 sd 2020 Sebagai Kepala BPTD Wilayah XXV Provinsi Papua dan Papua barat.
5. Tahun 2021 sd Sekarang sebagai Kepala BPTD Wilayah X Provinsi Jateng DIY.
22
Eko Agus Susanto saat menjabat menjadi Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat X Jateng-DIY
23
Terminal Impian
P ”roses P3D di Terminal Tipe A Tirtonadi, Amanat UU 23 Tahun 2014 seluruh Terminal Tipe A wajib
diserahkan ke Pemerintah Pusat (Kemenhub RI). Untuk Terminal Tirtonadi adalah terminal yang
paling cepat dalam pelimpahan kewenangan Personel, Pendanaan, Sarana dan Prasarana serta
Dokumen (P3D). Ada 8 sertifikat tanah, dan aset lain, termasuk personel. Tepat pada 1 Januari 2017,
Terminal Tirtonadi dikelola oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan.
Saya bermimpi, kedepan Terminal Tipe A menjadi pusat bisnis atau Transit Oriented Development
(TOD), yang terkoneksi dengan antar moda yang lain, yakni Kereta Api dan Pesawat. Terminal tidak
hanya melayani transportasi, tetapi memunculkan bibit-bibit unit bisnis baru. Terminal masa lalu, masa
sekarang, dan masa depan, menjadi kebanggaan Indonesia.
24
Pelaksanaan kegiatan ramcek armada bus yang keluar maupun masuk ke Terminal Tirtonadi.
Kegiatan ramcek dilaksanakan setiap hari oleh satuan lalulintas.
25
// Pendahuluan
Lokasi : Jl Jenderal Ahmad Yani 262, Gilingan,
Banjarsari, Surakarta, 57134
Pemilik
Operator : Pemerintah Kota Surakarta
Dibuka
: Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah
: 1986
Potret lawas penumpang mengantri pada petugas
26
Terminal Tirtonadi pertama kali dioperasikan pada Seiring dengan perubahan regulasi, pengelolaan
tanggal 18 Juli 1976. Gubernur Jawa Tengah kala itu, Terminal Tirtonadi juga mengalami perubahan. Dengan
Soepardjo Roestam meresmikan pengoperasionalan dibentuknya UPTD Terminal, pengelolaan Terminal
terminal baru yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Tirtonadi berada di tangan UPTD Terminal yang
tersebut. Terminal tersebut dibangun menggantikan merupakan bagian dari Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan
Stasiun Bus Harjodaksino di Gemblegan. (DLLAJ) Kota Surakarta. Tatkala nama DLLAJ diubah
Relokasi terminal dari Gemblegan ke Tirtonadi, menjadi Dinas Perhubungan, pengelolaan terminal
dilakukan berdasarkan Walikota Surakarta yang kala itu berada di Dinas Perhubungan melalui UPTD Terminal.
masih bernama Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Pembangunan Terminal Tirtonadi mencapai
yang dijabat Soemari Wongsopawiro. Alasannya, puncaknya tatkala Walikota Joko Widodo dan Wakil
terminal lama yang juga dikenal dengan nama Stanplat Walikota FX. Hadi Rudyatmo menjabat dari kurun tahun
Gemblegan tidak mampu menampung jumlah bus ada. 2005-2012. Terminal Tirtonadi diperluas hampir dua kali
Lokasi yang dipilih sebagai tempat dibangunnya lipatnya, dari sebelumnya sekitar 3 hektar menjadi 5,5
terminal yang baru waktu itu adalah lahan kosong yang hektar. Tahap pertama pembangunan Terminal Bus
bersebelahan dengan Taman Tirtonad. Melalui Surat Tirtonadi Solo adalah di bagian sisi barat. Pembangunan
Keputusan Nomor 138KepBI1975 tanggal 26 Juni 1975, sisi barat selesai 2012 dilanjutkan sisi timur tahun 2015.
PT Sarana Dwipa Semarang ditunjuk untuk Pada saat pembangunan besar-besaran tersebut
merencanakan, mengerjakan, sekaligus membiayai selesai dilakukan, kembali terjadi perubahan regulasi.
proyek pembangunan terminal tersebut. Terminal Tirtonadi yang secara teknis memenuhi
P e m b a n g u n a n a w a l Te r m i n a l Ti r t o n a d i kualifikasi tipe A, harus dikelola langsung oleh
membutuhkan waktu sekitar delapan bulan. PT Sarana Kementerian Perhubungan bukan pemerintah daerah
Dwipa Semarang berhak mengelola Terminal Bus lagi. Melalui negosiasi yang alot, akhirnya Terminal
Tirtonadi selama 72 bulan atau 6 tahun. Namun, pada Tirtonadi dikelola Kementerian Perhubungan dan karena
tahun 1977, Pemerintah Pusat mengeluarkan peraturan berada di Jawa Tengah, secara struktur berada di bawah
yang pada intinya menetapkan bahwa pengelolaan Balai Pengelolaan Transportasi Darat (BPTD) X Jawa
terminal harus berada di tangan pemerintah. Tengah-Yogyakarta.
Berdasarkan peraturan tersebut, pengelolaan Di bawah pengelolaan Kementerian
Terminal Tirtonadi diambilalih Pemerintahan Kotamadya Perhubungan, fasilitas pendukung Terminal Tirtonadi
Surakarta. Pada tahun 1988, untuk pertama kalinya kian bertambah. Lantai atas terminal dibangun hall yang
Terminal Tirtonadi mengalami perluasan mengingat difungsikan untuk menampung aktivitas masyarakat.
semakin banyaknya armada bus yang ke luar masuk. Terminal Tirtonadi kini berkembang ke arah terminal use
Perluasan areal terminal kembali dilakukan pada tahun mix, yang tidak saja hanya sebagai tempat orang hendak
1991. Perluasan tersebut juga selalu diikuti dengan melanjutkan perjalanan dengan bus, tetapi juga untuk
penambahan fasilitas-fasilitas penunjang terminal baik berwisata, berolahraga dan berbelanja.
kamar mandi, fasilitas parkir, dan lain sebagainya
27
Terminal Tir tonadi Masa Perpindahan
Yosca Herman Sudradjad
Jokowi merupakan pemikir utama di balik transformasi besar Terminal Tirtonadi," ungkap Yosca
Herman Sudradjad sesaat setelah wawancara dengan tim pembuat buku Sejarah Terminal
Tirtonadi pada akhir 2018 lalu. Yosca sendiri merupakan mantan Kepala Dinas Perhubungan
Kota Solo, yang sekarang menjabat menjadi Kepala BPPKAD Kota Surakarta.
28
Pembangunan besar-besaran Terminal Selain itu, muncul gejolak di masyarakat
Tirtonadi, dimulai saat Walikota Surakarta dijabat Joko mendengar rencana perluasan tersebut. Terutama
Widodo, dari tahun 2015 hingga 2021. FX. Hadi warga yang berjualan batu nisan di sebelah barat
Rudyatmo yang menggantikan sebagai walikota, terminal. Mereka khawatir kehilangan mata pencarian.
melanjutkan sehingga terminal itu memiliki fasilitas Namun, dengan pendekatan yang apik, akhirnya
yang sangat baik. kekhawatiran warga teratasi.
Yosca tahu betul bagaimana proses “Selain itu, ada juga rencana dari pusat, untuk
pembangunan terminal itu berlangsung. Sebab, pada memindahkan Terminal Tirtonadi ke Mojosongo.
saat itu, dirinyalah yang menjabat sebagai Kepala Alasannya, keberadaan terminal dianggap menjadi
Dinas Perhubungan. Menurut Yosca kala itu Walikota salah satu simpul kemacetan di Solo." katanya.
Jokowi yang saat ini menjadi Presiden Republik
Indonesia menghendaki pembangunan infrastruktur Tapi, menurut Yosca pemindahan ini justru akan
kota yang modern. Terminal Tirtonadi sebagai wajah menimbulkan masalah baru. Kenapa? Sebab Terminal
kota bagi para pendatang dan pesinggah diperbaiki yang baru masih harus menyesuaikan dengan awak
besar-besaran. angkutan maupun pengguna angkutan. Belum lagi
perlu diciptakan moda transportasi baru berupa feeder
"Banyak yang ditingkatkan pelayanannya, dan sebagainya.. "Wacana itu kita tolak, sebab kita
seperti pembayaran retribusi peron di terminal berkaca pada terminal-terminal yang lain yang sudah
menggunakan kartu, pemasangan metal detector, dipindah, misalnya Mangkang," kata dia.
termasuk di dalamnya adalah perluasan terminal," ujar
dia. "Setelah kita bangun itu, pada tahun 2015 ada
rencana pengambilalihan Terminal Tipe A ke
Penambahan luasan lahan terminal dari yang Pemerintah pusat, wah saat itu kita getol menolak,"
semula 2,4 hektar menjadi 5,5 hektar, bukan tanpa kenang dia.
kendala. Yosca menceritakan, terminal yang semulah
berada di tengah, dikembangkan ke samping kiri dan ke Pengambilalihan ini akan berdampak pada
kanan, dengan penambahan sejumlah kawasan. berkurangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang
ujungnya juga berpengaruh terhadap perkembangan
“Di sebelah barat terminal itu kan dulunya ada Kota Solo.
kolam yang terkenal dengan nama Blumbang Kodok,
dan itu merupakan situs warisan sejarah milik Pura Namun setelah negosiasi yang cukup alot,
Mangkunegaran. Itu dulu yang kita lobby untuk Tirtonadi akhirnya dilepas. "Wong sama-sama NKRI
dipindah. Mangkunegaran, bersedia pindah ke dalam nya, ya sudah tidak apa-apa kita rela melepas. Tapi
Taman Balekambang," kenangnya. saya kalau lewat di Tirtonadi ya seperti kehilangan
pacar," katanya.
29
// Sejarah Stanplat Gemblegan atau juga
sering disebut Terminal Hardjodaksino
Jika ditilik dari sejarah, Terminal Tirtonadi yang menjadi kebanggaan menjadi pusat keramaian. Tak jarang
Kota Solo itu awalnya berada di bagian selatan kota, tepatnya di pelaku kriminal seperti pencopet turut hadir.
Gemblegan. Orang menyebut dengan Stanplat Gemblegan. Meski Padahal tenaga keamanan masih sangat
cukup ramai, namun Stanplat Gemblegan sangat kecil. Luasnya sedikit. Terminal menjadi stereotype buruk
hanya cukup untuk parkir 10 hingga 12 bus. Lahan yang tak luas di mata masyarakat.
masih harus dibagi untuk bangunan kantor dan ruang tunggu. Pintu
masuk dan ke luar jadi satu. Bisa dibayangkan semrawutnya kondisi Pada tahun 1975, Pemerintah
satu-satunya terminal bus di Solo tersebut. memindah terminal dari sebelah selatan ke
utara kota. Tidak hanya merelokasi,
Kala itu hanya ada beberapa PO Bus yang melayani terminal bus ini juga ditata ulang dan
perjalanan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) seperti Solo- berkembang menjadi Terminal Tipe A yang
Semarang, Solo-Pekalongan, dan kota satelit lainnya. Bus Antar kini dikembangkan menjadi terminal mix
Kota Antar Provinsi (AKAP) seperti ke Surabaya dan menuju Jawa use karena tak hanya sekadar sebagai
Barat dan Jakarta, sangat terbatas. Hal itu berbanding terbalik fasilitas transportasi tetapi juga
dengan jumlah penumpang. Maklum, pemilik kendaraan pribadi menyediakan sarana publik lain seperti hall
masih sangat sedikit sehingga banyak yang menggunakan bus. dan gedung olahraga.
Penumpang menunggu armada di stand plat Gemblegan.
30
Kondisi Terminal saat masih berada di stand plat Gemblegan
// Potret lama terminal Tirtonadi, terlihat bus yang terparkir sambil menunggu
penumpang dan lalu lalang pedagang yang menjajakan dagangannya
31
Te r m iTnearlmTiinratlo nTai rdtioMn aads ai dPieMr paitnad a h a n
YosJcoakHoeSrumtarinyaSundtoraSdHjad
Terminal Tirtonadi bukan barang yang asing bagi Joko Sutriyanto, yang saat ini menjabat
menjadi Koordinator Terminal Tipe A Tirtonadi itu. Sebab apa? Puluhan tahun lalu, saat masih
bocah, dirinya telah bersentuhan dengan terminal kebanggaan wong Solo tersebut. Rumahnya
di Kampung Gondang yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari terminal, membuatnya sering
menjadikan lokasi terminal sebagai ajang bermain.
32
Joko masih ingat suasana Terminal Tirtonadi kala dirinya masih bocah. Semwawut, kumuh dan gelap.
Banyak pedagang yang mendirikan warung nempel tembok terminal. Sampah dibuang sembarangan. Tidak
banyak lampu penerangan yang dipasang. Orang-orang bebas ke luar masuk terminal, termasuk pengamen,
pengasong bahkan juga pencopet berbaur dengan calon penumpang. “Orang entah itu calon penumpang,
pengasong, pengamen atau bahkan pencopet bisa masuk dari mana saja bahkan lewat pintu yang harusnya untuk
masuk bus,” kenangnya.
33
34
Bisa jadi, kala itu memang belum ada tata kelola yang baik. Pun jumlah petugas masih sangat terbatas.
Demikian pula jumlah calon penumpang dengan armada bus yang tersedia. Tidak jarang penumpang yang telah
lama menunggu kedatangan bus tak terangkut meski sudah dijejal. Terminal tidak beroperasi 24 jam, demikian
pula dengan bus memaksa penumpang yang tak terangkut harus mencari tempat untuk menginap. “Kalau
sekarang ini kita melihat di sekitar terminal banyak hotel-hotel murah, itu karena dulu dibangun untuk menampung
penumpang yang kehabisan bus,” tambah Joko.
Terminal Tirtonadi mulai berubah pada awal-awal tahun 1990an. Perbaikan fisik bangunan mulai
dilakukan beriringan dengan pengembangan sumber daya manusia. Salah satunya adalah penataan lokasi
berjualan, lokasi penurunan penumpang dan lokasi penjualan tiket. “Jumlah armada bus yang beroperasi juga
semakin bertambah banyak,” ujarnya.
Perkembangan ini mencapai puncaknya Kedepan, pembangunan terminal Tirtonadi
pada tehun 2010 ketika Pemerintah Kota Surakarta bakal difokuskan pada pembangunan lantai dua.
mewacanakan untuk memperluas terminal Tirtonadi. Hal ini sesuai dengan hasil studi Pemerintah Kota
Perluasan Terminal Tirtonadi berhasil dilaksanakan Surakarta yang dilanjutkan oleh Kementerian
pada tahun 2011. Perluasan ini mengambil lahan sisi Perhubungan. Pembangunan lantai dua akan
barat dan timur terminal, yang pada awalnya digunakan sebagai pusat bisnis (Foodcourt),
merupakan Taman Tirtonadi yang terkenal dengan pariwisata/budaya (pembangunan jembatan keris
Blumbang Kodok sebagai ikon. dan jembatan penyambung antara Terminal
Tirtonadi dan Taman Air) gedung pertemuan dan
Terminal Tirtonadi berkembang menjadi sport center. Hal ini akan menjadikan “Solo Kecil”
sebuah ikon baru. yakni terminal yang modern dan di lantai II Terminal Tirtonadi.
terintegrasi. Salah satunya adalah dengan
dibangunnya skybridge yang menghubungkan "Terminal Tirtonadi tidak hanya sebagai
antara Terminal Tirtonadi dengan Stasiun Balapan tempat bertemunya pengguna transportasi, tetapi
pada tahun 2016 dan Kereta Api Bandara yang juga pusat ekonomi. Hal ini akan sangat
menghubungkan dua fasilitas transportasi ini dengan mendukung program integrasi antarmoda yang
BandaraAdi Sumarmo Boyolali pada 2020. juga dicanangkan oleh pemerintah pusat. Kita
sangat berterimakasih kepada Bapak Jokowi dan
“Perkembangannya bukan signifikan lagi, tapi Bapak Rudy, karena telah membuat konsep yang
luar biasa. Sebab apa, terminal sebagai fasilitas demikian bagus, dan bisa dikembangkan ke
umum memberikan layanan-layanan yang prima bagi depan," pungkas Joko Sutriyanto.
pengguna transportasi darat," ujarnya.
35
36
Proyeksi Pembangunan Lantai Atas
TTA Tirtonadi
makin ramai makin berjaya.
Pembangunan Sport Center dan Convention Kehadiaran Papan Kawruh Tirta dan
Hall di lantai atas Terminal Tirtonadi Ta m a n B e n d u n g a n K a r e t y a n g m e m i l i k i
melambungkan optimisme pengelola keterbatasan lahan parkir juga membuat pengelola
terminal tipe A tersebut. Bangunan senilai Rp 40 melihat peluang penyediaan lahan parkir.
miliar itu diyakini bakal mendongkrak jumlah Menurutnya, terminal memiliki akses luas untuk
pengunjung Terminal Tirtonadi. Mereka yang menampung seribuan kendaraan.Ia menjelaskan
datang tak hanya calon penumpang, tetapi juga sudah mengusulkan pemanfaatan lantai atas
masyarakat yang memerlukan fasilitas olah raga, harus fokus pada Usaha Mikro Kecil Menengah
ingin berbelanja atau bahkan hendak berwisata. (UMKM), kuliner tradisional (Foodcourt), dan
gedung pertemuan.
Koordinator Terminal Tirtonadi, Joko
Sutriyanto, mengatakan lantai teratas terminal saat Menurutnya, terminal menjadi sebuah
ini kerap digunakan untuk kegiatan warga dan penghubung akses antarlini seperti pariwisata dan
komunitas seperti tempat berlatih skateboard, ekonomi. Menurutnya, wacana pembangunan ini
pertemuan warga, dan olahraga boxing. melihat potensi pariwisata di Solo utara, terminal
Dibukanya skybridge selama 24 jam turut tinggal melengkapi potensi itu dengan pasar skala
meramaikan suasana terminal. menengah.
“Kami sebagai pengelola tentunya siap saja “Pembangunan Convention Hall dengan
dan mendukung pengembangan terminal dengan pertimbangan bahwa gedung di pinggir jalan akses
adanya Convention Hall dan Sport Center. Makin susah saja bisa laku, apalagi di terminal yang jelas-
lama pengguna transportasi bus juga semakin jelas akses mudah baik dalam kota maupun luar
banyak karena tersambung dengan moda kota. Tentunya terminal juga bisa membantu APBN
transportasi lain seperti kereta dan pesawat. Itu melalui itu. Selain itu fasilitas yang kami sediakan
tantangan bagi kami. Pembangunan ini menjadi seperti fasilitas olahraga itu juga mengakomodasi
gereget baru bagi transportasi,” ujarnya. permintaan dan kebutuhan masyarakat Kota Solo,”
imbuhnya.
37
Terminal Impian
Impian terminal ke depan
Sebagai seorang yang dipercaya mengoordinasi terminal percontohan seluruh Indonesia, Joko
Sutriyanto punya impian besar dalam tata kelola Terminal, khususnya Terminal Tipe A Tirtonadi
Solo. Impian tersebut adalah menjadikan terminal sebagai tempat bertemunya berbagai aspek
pariwisata, ekonomi, budaya, bahkan pendidikan dan olahraga.
38
“Saya punya banyak impian bagi kemajuan "Lahannya kita fasilitasi, sehingga yang semula
Terminal Tirtonadi. Pemerintah Kota Solo berusaha latihan di jalanan, sekarang masuk ke Terminal, ini
memajukan kawasan Solo utara. Nah, karena bagian dari inovasi kita," kata dia. Selain itu, Joko juga
keberadaan Terminal Tirtonadi juga di kawasan Solo memfasilitasi sasana tinju dan olahraga Tarung Drajad.
utara, Tirtonadi bisa menjadi gerbangnya," ungkap Bahkan sasana tinju yang berada di lantai dua Terminal
Koordinator Terminal Tirtonadi Solo, Joko Sutriyanto. Tirtonadi pernah menggelar Kejurprov Tinju Amatir
Di sisi pariwisata, Joko mengatakan terminal dengan tajuk Tirtonadi Boxing Championship. Hal ini
menghidupkan geliat ekonomi Usaha Kecil Mikro
akan menjadi fasilitas pendukung keberadaan sejumlah (UKM) yang ada di lingkungan terminal. Selain itu
destinasti yang berada di sekitar terminal. Destinasi masyarakat juga mendapatkan tontonan gratis.
yang dimaksud adalah Bendungan Karet Tirtonadi,
Galeri Sungai dan Tugu Keris. Saat ini, ketiga obyek itu "Hotel-hotel kecil disekitar terminal laku juga,
sudah mulai menarik perhatian pengunjung meski baru karena atlet butuh lokasi menginap. Multiplayer effect
sebatas berswafoto. "Nah, di sinilah terminal berperan nya banyak. Ini semua mimpi-mimpi kita ke depan.
sebagai penyedia layanan parkir bagi wisatawan yang Selain itu pelayanan selalu kita tingkatkan setiap saat.
hendak ke Bendungan Tirtonadi, Galeri Sungai, Jangan khawatir jika turun di Terminal Tirtonadi pada
maupun Tugu Keris. Kita memiliki tempat parkir malam hari, petugas kami 24 jam nonstop siap untuk
seribuan kendaraan Sebab, jika parkir di bahu jalan, memberikan jaminan rasa aman. Ditambah dengan
tidak akan tertampung ," ujar Joko. adanya Pos Polisi yang akan menambah pengamanan
Sedangkan untuk aspek ekonomi, diharapkan
di Terminal," kata Joko.
dengan dibangunnya Convention Hall dan Foodcourt Terminal Tirtonadi juga ditetapkan sebagai
akan menambah gairah ekonomi di Solo kawasan percontohan terminal sehat. Hal ini membuat Tirtonadi
utara. Apalagi, kata Joko, jika hall tersebut kelak terus berbenah dalam pengawasan kesehatan
tersambung langsung dengan Galeri Sungai dan utamanya makanan yang dijual oleh para penyewa
Bendungan Tirtonadi menggunakan Jembatan kios. Tirtonadi bekerjasama dengan Dinas Kesehatan
Penyeberangan Orang (JPO), itu akan lebih secara berkala melakukan pengawasan.
mempermudah akses bagi pengunjung, dan Pajak keliling oleh Samsat dan donor darah
mengintegrasikan antara ekonomi dan pariwisata. keliling PMI juga menambah lengkap fasilitas yang ada
"Nah, dengan begitu nyambung antara wisata dan di Terminal Tirtonadi. Adanya Pos Kesehatan yakni
ekonomi, juga budaya dengan adanya Tugu Keris." Puskesmas Pembantu dari Puskesmas Gilingan, juga
tuturnya. menjadi salah satu faktor penunjang.
Dari segi lain yakni olahraga, saat ini Terminal “Istilahnya konsep mix use dapat diwujudkan di
Tirtonadi memfasilitasi sejumlah kelompok pegiat Tirtonadi. Apa saja bisa dilakukan di Terminal Tirtonadi,
olahraga. Anak-anak muda yang gemar olahraga mulai dari belanja, bayar pajak, donor darah, periksa
seperti BMX dan skateboard ditarik masuk kedalam kesehatan, melakukan perjalanan dan lainnya, semua
Terminal Tirtonadi. Mereka yang selama ini melakukan bisa dilakukan. Kami memimpikan terminal yang
kegiatannya di jalanan, sekarang memiliki skate park modern, bersih dan rapi, sebagai wujud hadirnya
yang digunakan untuk latihan. pelayanan negara bagi masyarakat," pungkas Joko.
39
Pengibaran bendera terbesar dan terbanyak di Terminal Tipe A Tirtonadi
dalam rangka peringatan HUT RI yang ke 74,17 Agustus 2019.
40
foto korsatpel Tantangan
ke Depan
_bagi Terminal Tirtonadi
Kedepan, tumbuhnya industri transportasi
darat sangat mendukung iklim bisnis.
Apalagi sekarang pemerintah telah
membangun infrastruktur berupa jalan tol dan
lainnya, ini tentu akan menumbuhkan bisnis yang
berhubungan dengan transportasi. Misalnya
tumbuhnya perusahaan otobus baru, tumbuhnya
industri pariwisata baik wisata alam, wisata budaya,
bahkan wisata kuliner. Sebab, dengan fasilitas
infrastruktur yang disediakan pemerintah, sekarang
jarak tempuh menjadi lebih pendek, dan waktu
tempuh jadi lebih singkat. Seperti bus tujuan
Jakarta, kalau dulu terkenal hanya bus malam saja,
sekarang ada juga bus yang berangkat pagi, seperti
Transjawa. Untuk bus jurusan Surabaya, yang
biasa ditempuh 7-8 jam, sekarang ditempuh hanya
5-6 jam. Ini akan menumbuhkan gairah baru dalam
bisnis transportasi.
Nah, tantangan ke depan, Terminal
Tirtonadi berupaya untuk menumbuhkan minat
masyarakat pengguna transportasi menggunakan
sarana transportasi massal dan siap menghadapi
lonjakan jumlah penumpang, serta lonjakan jumlah
armada Bus.
41
Perkembangan Terminal Tir tonadi di Mata
Kepala UPTD Terminal Tir tonadi Dinas Perhubungan Surakar ta
Tahun 2002-2006
Bambang Tuko Wibowo, ST
Perkembangan Terminal Tirtonadi sudah berlasung dari pertama kali menempati kawasan Taman Tirtonadi pada
tahun 1975. Pada tahun tersebut, Saat itu di timur Taman Tirtonadi merupakan pemukiman penduduk dan sebuah
lapangan. Lokasi tersebut dijadikan terminal bus menggantikan Terminal Bus Harjodaksino yang kondisinya sudah
tidak memungkinkan dikembangkan lagi.
42
Mantan Kepala Terminal Tirtonadi, Bambang Tirtonadi terbagi tiga bagian.Terminal A untuk
Tetuko mengatakan pilihan lahan di Tirtonadi jalur pemberangkatan bus jurusan timur seperti
memang karena dinilai cukup strategis. Sragen dan Jawa Timur, jurusan selatan seperti
Berada di kawasan pinggiran kota dan dilalui jalan Wonogiri dan Pacitan, serta bus jurusan utara seperti
antar provinsi. Kala itu, ratusan bus baik jenis Antar Purwodadi dan Blora. Terminal B merupakan lokasi
Kota Dalam Provinsi (AKDP), Antar Kota Antar penurunan penumpang bus yang masuk terminal.
Provinsi (AKAP) mulai memadati kawasan tersebut. Terminal C merupakan lokasi pemberangkatan bus
jurusan barat seperti Jakarta, Lintas Sumatera,
Atas hal tersebut, perekonomian masyarakat Semarang, Yogyakarta ataupun Purwokerto.
sekitarpun meningkat. Berbagai usaha yang
mendukung aktivitas terminal seperti penitipan Tidak hanya perluasan. Sistem keluar masuk
kendaraan, penginapan, rumah makan, hingga kendaraan juga diatur. Para kru bus juga dilakukan
Pedagang Kaki Lima (PKL) menjamur di sekeliling pembinaan. Sehingga tarik menarik penumpang
kawasan tersebut. Para pedang asongan pun antar kernet tidak ada lagi. Perusahaan otobus juga
menjamu menjajakan daganganya . mulai memperbaiki armada mereka.
Sesuai perkembangan jaman, Bambang Pembangunan tidak berhenti sampai disitu,
mengatakan jumlah moda angkutan umum pun pembangunan lanjutan Terminal Bus Tirtonadi Solo
bertambah. Dari ratusan menjadi ribuan. Akibatnya adalah di bagian sisi barat. Pembangunan sisi barat
terminal tidak mampu lagi menampung angkutan dikerjakan pada tahun 2012. Sedangkan
umum yang masuk ke terminal. Terminal Tirtonadi pembangunan lantai satu Terminal Tirtonadi sisi timur
semakin ramai dan sesak. Bahkan ketika Idul Fitri dilakukan pada tahun 2015.
ataupun Natal dan Tahun Baru, tidak ada tempat
kosong. Bus yang datang terpaksa diparkir di luar, Perkembangan ke depan, memang harus ada
karena sudah tidak ada lokasi parkir di dalam. gebrakan. Terminal tidak bisa hanya sekedar menjadi
tempat pemberhentian bus untuk menurunkan dan
Revitaliasi Terminal Tirtonadi pun menaikkan penumpang semata. Terminal Tirnoadi
dicanangkan. Penataan ulang merupakan langkah harus memiliki magnet yang bisa menarik masyarkat
untuk mengatasi overload di terminal. Pada tahun agar mau datang. Namun fungsi utama terminal juga
1986 areal terminal diperluas. Salah satu lokasi tidak boleh dikesampingkan. Terus berinovasi,
perluasan adalah Taman Tirtonadi. Namun, saat itu belajar, dan berkoodinasi adalah kunci. Bambang
belum semua taman digunakan untuk terminal. o p t i m i s , t e r m i n a l t i d a k a k a n m a t i . Te r l e b i h
Perluasan dilakukan dengan menutup sebuah kolam Pemerintah sedang gencar memdirikan pusat
rekreasi yang menjadi hulu Sungai Kali Pepe. rekreasi di sekitar kawasan terminal.
43
Peresmian pembelian tiket bus online di Terminal Tirtonadi oleh Menteri
Perhubungan Budi Karya Sumadi Desember 2016
44
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumilar memberikan apresiasi tinggi terhadap
Terminal Tirtonadi yang menjadi terminal pertama yang memiliki ruang laktasi.
45
Terminal Impian di Mata Pengamat Transpor tasi
Joko Setijowarno
“Joko Sutriyanto, Koordinator Terminal Tirtonadi, telah melakukan terobosan dengan mengizinkan angkot-
angkot feeder masuk ke terminal, walaupun Terminal Tirtonadi adalah Terminal Tipe A. Dengan demikian, keluar
rumah, orang tidak akan bingung mau ke mana naik apa, sebab angkot feeder akan mengantarkannya ke Terminal
Tirtonadi, yang berada di tengah kota.”
46
Pakar Transportasi, Djoko bandara, pelabuhan, stasiun, dan berapa, turun di terminal apa, lalu
Setijowarno mengatakan, khususnya terminal harus terus oper kendaraan apa, di stasiun
melakukan perjalanan dari membenahi diri, sehingga dapat apa, di mana. Di negara-negara
satu tempat ke tempat lain untuk selalu menyediakan pelayanan maju, stasiun dan terminalnya,
alasan apapun merupakan yang memuaskan. berikut dengan jadwal
menjadi bagian yang tidak dapat perjalanannya, semua sudah
dipisahkan dari kehidupan sehar- Orang awam melihat terintegrasi. Orang cukup
hari manusia modern. Traveling bahwa bandara merupakan suatu melakukan pembayaran bulanan,
telah menjadi kebutuhan manusia stasiun keberangkatan yang paling kemudian dia tinggal melakukan
modern. Perjalanan menjadi mewah, sementara di sisi lain tapping untuk berpergian.
semakin sering dan menjadi suatu mereka melihat bahwa terminal Kemudahan sistem transportasi ini
rutinitas. Orang bisa berpindah adalah suatu stasiun akan mendorong orang untuk
lebih dari dua tempat sekaligus keberangkatan yang identik semakin menggunakan kendaraan
dalam sehari. Teknologi informasi dengan kesan kumuh, pesing, dan umum. Selain integrasi secara
membuat dunia menjadi semakin rawan kejahatan. Menyadari hal sistem, integrasi secara fisik juga
kecil, batas-batas wilayah itu, Terminal Tirtonadi terus hal yang penting. Integrasi secara
dilampaui sekaligus mendorong membenahi diri. Visi yang ditatap fisik misalnya dengan
orang untuk melakukan perjalanan adalah suatu terminal yang m e n g h u b u n g k a n Te r m i n a l
dengan segala kemudahan akses terintegrasi, bersih, aman, dan Tirtonadi Solo dengan Stasiun
yang tersedia. “Dengan sekali nyaman. Kereta Balapan melalui skybridge
sentuhan jari, orang sudah bisa sepanjang kurang-lebih 800 meter.
memesan tiket,” kata dia. Terminal Terintegrasi
Menurut dosen Universitas Saat ini Terminal Tirtonadi
Melakukan perjalanan, sudah dihubungkan dengan
apalagi perjalanan dengan Soegijapranoto Semarang ini Bandara Adi Sumarmo melalui
transportasi umum, tidak akan integrasi antarmoda itu tidak hanya Batik Solo Transport (BST) dan
terlepas dari bandara, pelabuhan, fisik, tetapi juga secara sistem Kereta Bandara. Integrasi juga
stasiun, dan terminal karena orang pembayaran dan sistem jadwal tidak hanya dari terminal ke stasiun
akan mengakses tempat-tempat keberangkatan. Dengan sistem atau, tetapi juga dari rumah-rumah
itu ketika melakukan perjalanan. yang terintegrasi semacam itu, masyarakat dengan terminal dan
Seiring dengan meningkatnya orang bisa merencanakan tempat-tempat perbelanjaan serta
kebutuhan manusia akan traveling, perjalanannya dengan lebih baik. pariwisata.
Mulai dari rumahnya, naik apa, jam
47