The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 22:47:22

Etika Profesi Buku Ajar Gizi

Etika Profesi Buku Ajar Gizi

Etika Profesi 143 4) Ahli gizi berkewajiban selalu menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan ketrampilan terbaru kepada sesama profesi dan mitra kerja.. Pernyataan tersebut masuk dalam kewajiban apa? A. Kewajiban umum B. Kewajiban masyarakat C. Kewajiban klien D. Kewajiban teman seprofesi dan mitra kerja 5) Ahli gizi harus menunjukkan sikap percaya diri, berpengetahuan luas, dan berani mengemukakan pendapat serta senantiasa menunjukkan kerendahan hari dan mau menerima pendapat orang lain yang benar. Pernyataan tersebut masuk dalam kewajiban apa? A. Kewajiban umum B. Kewajiban masyarakat C. Kewajiban profesi dan diri sendiri D. Kewajiban teman seprofesi dan mitra kerja


144 Etika Profesi Topik 2 Penerapan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga Persagi (AD/ART) DEFINISI AD/ART Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam sebuah organisasi berfungsi untuk menggambarkan mekanisme kerja suatu organisasi. Anggaran Dasar berfungsi juga sebagai dasar pengambilan sumber peraturan/hukum dalam konteks tertentu dalam organisasi. Anggaran Rumah Tangga berfungsi menerangkan hal-hal yang belum spesifik pada Anggaran Dasar atau yang tidak diterangkan dalam Anggaran Dasar, karena Anggaran Dasar hanya mengemukakan pokok-pokok mekanisme organisasi saja. Anggaran Rumah Tangga adalah perincian pelaksanaan Anggaran Dasar. Ketentuan pada Anggaran Rumah Tangga relatif lebih mudah dirubah daripada ketentuan pada Anggaran Dasar. Hal- hal yang tercantum dalam setiap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga suatu organisasi tergantung dari perhatian organisasi dimasukkan dalam Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga tersebut karena dianggap tidak penting 1. ANGGARAN DASAR PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA (Indonesian Nutrition Association) Anggaran dasar memuat tentang nama organisasi profesi gizi yaitu Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), yang didirikan di Jakarta pada tanggal 13 Januari 1957. PERSAGI adalah organisasi profesi gizi yang menghimpun para ahli gizi Indonesia, bersifat independen, nirlaba, serta dijiwai oleh kode etik ahli gizi dan standar profesi gizi. (AD/ART PERSAGI terlampir) PERSAGI merupakan organisasi profesi ahli gizi nasional di Indonesia. Kekuasaan tertinggi organisasi berada pada Kongres, yang dilaksanakan setiap 5 (lima) tahun sekali).


Etika Profesi 145 Gambar 5.3. Lambang organisasi PERSAGI SVATHA HARENA berarti kesehatan melalui makanan Gambar 5.4. Pataka SVASTA HARENA Pataka PERSAGI merupakan lambang kehormatan PERSAGI, sedangkan tata cara penggunaan Lambang dan Pataka Svasta Harena PERSAGI diatur oleh Keputusan DPP. Pataka ini harus ada pada saat-saat penting seperti pelantikan pengurus PERSAGI baik ditingkat Pusat maupun Daerah.


146 Etika Profesi Menurut hierarki organisasi ada 3(tiga) tingkatan kepengurusan PERSAGI yaitu Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PERSAGI berkedudukan di Ibukota Negara Jakarta, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) berkedudukan di Ibukota Provinsi dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) berkedudukan di Ibu kota Kabupaten/ Kota. DPP mementuk badan di pusat yang terdiri dari : a. Kolegium Ilmu Gizi Indonesia selanjutnya disingkat KIGI b. Majelis kehormatan Etik Profesi Gizi DPD membentuk badan khusus dengan persetujuan DPP PERSAGI bertujuan untuk: a. Membina dan mengembangkan kemampuan profesional anggota. b. Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni di bidang gizi pangan serta bidang lainnya yang terkait. c. Meningkatkan status gizi individu dan kelompok melalui gizi klinik, gizi institusi dan gizi masyarakat. d. Meningkatkan kesejahteraan anggota. Ruang lingkup upaya PERSAGI meliputi: a. Memfasilitasi pengembangan kemampuan profesional bagi para anggota. b. Memelihara dan membina penerapan kode etik ahli gizi dan standar profesi ahli gizi. c. Meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, pelayanan dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni di bidang gizi pangan serta ilmu-ilmu terkait. d. Memperjuangkan dan memelihara kepentingan serta kedudukan ahli gizi sesuai dengan harkat dan martabat profesi ahli gizi. e. Melakukan kemitraan dengan pihak-pihak terkait yang tidak bertentangan dengan kode etik ahli gizi. f. Membantu perorangan dan masyarakat dalam mewujudkan gizi yang sesuai daur kehidupan. g. Memberi rekomendasi kepada pemerintah untuk meningkatkan status gizi masyarakat. : PERSAGI berperan dalam: a. Pengembangan anggotanya seperti kesejahteraan melalui jalur pemerintah contohnya dengan memperjuangkan legal aspek yang berdampak kepada penghasilan dan kedudukan dalam institusi seperti Jabatan Fungsional Nutrisionis dan Dietisien. b. Peningkatan keadaan mutu gizi perorangan dan masyarakat berdasarkan pedoman gizi seimbang.


Etika Profesi 147 PERSAGI menghimpun anggotanya dan menggolongkan menjadi: a. Anggota biasa. b. Anggota luar biasa. Agar kegiatan PERSAGI dapat berjalan dengan baik, maka anggota PERSAGI diharuskan membayar iuran anggota dan sumbangan yang tidak mengikat dan usaha-usaha lain yang sah serta tidak bertentangan dengan kode etik ahli gizi. Setiap ada perubahan anggaran dasar hanya dapat dilakukan oleh KONGGRES, demikian juga dengan pembubaran organisasi. Ketentuan ini hanya berlaku bila jumlah DPD yang menghadiri KONGGRES tsb sekurang-kurangnya setengah ditambah satu dari jumlah DPD. Anggaran dasar ini ditetapkan oleh KONGGRES. Dalam Anggaran dasar PERSAGI hanya menjelaskan yang bersifat sangat mendasar, sedangkan penjelasan yang lebih rinci tertuang dalam Anggaran Rumah Tangga PERSAGI. Gambar 5.5. Kegiatan Konggres PERSAGI dan Temu Ilmiah 2014


148 Etika Profesi Gambar 5.6. Foto: ibu Mentri kesehatan dan Ketua Persagi pada Konggres Persagi 2014 Gambar 5.7. Foto: Paparan Panel pada saat Temu Ilmiah dan Konggres PERSAGI tahun 2014 .


Etika Profesi 149 Setiap dilaksanakan Konggres PERSAGI, sekaligus dimanfaatkan untuk meningkatkan Ilmu dan Pengetahuan bagi seluruh anggota PERSAGI yang hadir dari seluruh wilayah di Indonesia. Pada foto tersebut di atas terlihat keseriusan dari ibu menteri Kesehatan, Direktur Bina Gizi Masyarakat kementerian Kesehatan RI dan ketua PERSAGI DR. Minarto, MPS. 2. ANGGARAN RUMAH TANGGA (ART)PERSAGI ART PERSAGI menjelaskan lebih terinci pokok-poko yang belum jelas dalam AD PERSAGI. Beberapa pokok yang penting adalah tentang keanggotaan. Anggota PERSAGI adalah sebagai berikut: a. Anggota PERSAGI terdiri dari anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa. b. Anggota Biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Ahli Gizi yang terdiri dari: Nutrisionis dan Dietisien. c. Anggota Luar Biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah profesi disiplin ilmu lain yang terkait gizi dan berminat menjadi anggota . d. Tenaga Profesi Gizi Asing yang bekerja di Indonesia setelah memenuhi persyaratan yang berlaku di bidang tenaga kerja asing dapat mengajukan sebagai anggota luar biasa. Adapun tata cara penerimaan anggota PERSAGI: a. Anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa menyatakan permohonan tertulis kepada Dewan Pertimbangan Cabang. b. Apabila DPC belum terbentuk, permohonan tertulis diajukan kepada DPD. c. Anggota diberikan kartu anggota oleh DPD atas usulan DPC. d. DPD wajib melaporkan data keanggotaan kepada DPP. Sebagai anggota ahli gizi mempunyai kewajiban dan hak Kewajiban anggota PERSAGI: a. Mematuhi AD/ART, dan Kode etik Ahli Gizi serta keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh PERSAGI. b. Membayar uang iuran bulanan yang besar dan proporsinya ditetapkan oleh DPP. Sedangkan hak-hak anggota PERSAGI berbeda antara anggota biasa dan anggota luar biasa. a. Anggota Biasa PERSAGI mempunyai hak-hak: 1) Mengemukakan pendapat. 2) Bertanya dan mengusulkan sesuatu dengan lisan atau tertulis. 3) Membela diri. 4) Memilih dan dipilih dalam pemilihan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang.


150 Etika Profesi 5) Memiliki kartu anggota dengan format standar yang dikeluarkan oleh DPP. 6) Mendapat perlindungan hukum dalam menjalankan tugas-tugas keprofesian. 7) Mengikuti semua kegiatan organisasi. b. Anggota Luar Biasa mempunyai hak-hak: 1) Mengemukakan pendapat. 2) Bertanya dan mengusulkan sesuatu dengan lisan atau tertulis. 3) Membela diri. 4) Memiliki kartu anggota dengan format standar yang dikeluarkan oleh DPP. 5) Mengikuti semua kegiatan organisasi. Dalam ART juga dijelaskan tentang pemberhentian anggota, status , wewenang dan tata cara pengelolaan DPP, DPD dan DPC PERSAGI (lihat lampiran AD/ART). Ada 2(dua) Badan penting yang dibentuk PERSAGI yaitu Kolegium Ilmu Gizi Indonesia dan Majelis Kehormatan Etik Ahli Gizi. Kolegium Ilmu Gizi Indonesia (KIGI) a. KIGI dibentuk melalui rapat pleno DPP PERSAGI dan ditetapkan oleh Ketua Umum DPP PERSAGI. b. KIGI dalam menjalankan tugas bertanggung jawab kepada Ketua Umum DPP PERSAGI. c. Tugas Pokok KIGI adalah mengembangkan keilmuan bidang pendidikan, penelitian, pengembangan dan pengabdian bidang gizi. d. Keanggotaan KIGI terdiri dari Komponen Institusi Pendidikan Ilmu Gizi ( D3, D4, S2 dan Pasca sarjana), Pengguna, dan pakar Gizi yang jumlah dan susunan dan tatalaksananya ditentukan oleh Ketua Umum DPP, atas usulan peer group. e. Masa jabatan KIGI sesuai dengan masa jabatan DPP. f. Administrasi dan pembiayaan untuk pelaksanaan kegiatan KIGI difasilitasi DPP PERSAGI. Majelis Kehormatan Etik Ahli Gizi a. Majelis Kehormatan Etik Ahli Gizi dibentuk melalui rapat pleno DPP PERSAGI dan ditetapkan oleh Ketua Umum DPP PERSAGI. b. Majelis kehormatan Etik Ahli Gizi dalam menjalankan tugas bertanggung jawab kepada Ketua Umum DPP PERSAGI. c. Tugas pokok Majelis Kehormatan Etik Ahli Gizi adalah: melakukan pengawasan pelaksanaan kode etik ahli gizi, mewakili DPP pada pembelaan kepada anggota dalam masalah hukum yang berkaitan dengan pelaksanaan kode etik, memberikan pertimbangan kepada Ketua Umum DPP terhadap pelanggaran kode etik ahli gizi.


Etika Profesi 151 d. Susunan dan tata laksana Majelis Kehormatan Etik Ahli Gizi ditentukan oleh DPP PERSAGI. e. Masa jabatan Majelis Kehormatan Etik Ahli Gizi sesuai dengan masa jabatan DPP PERSAGI. f. Administrasi dan pembiayaan untuk pelaksanaan kegiatan Majelis Kehormatan Etik Ahli Gizi difasilitasi DPP PERSAGI. Perhimpunan di bawah PERSAGI a. Perhimpunan seperti Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) dibentuk dan dilantik oleh PERSAGI sesuai dengan tingkat wilayah. b. Dalam menjelaskan tugasnya tunduk pada AD/ART PERSAGI. AD/ART PERSAGI dapat diubah melalui mekanisme yang sesuai dengan ketentuan yang ada dalam AD/ART PERSAGI. Setiap 5 (lima) tahun PERSAGI akan melakukan kegiatan KONGGRES yang dihadiri oleh Perwakilan dari seluruh DPD setiap Provinsi untuk melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut: a. Pemilihan KETUA UMUM PERSAGI. b. Menyepakati perubahan AD/ART bila ada yang perlu diubah. c. Mempertanggungjawabkan kepengurusan organisasi. d. Membahas Program Kerja PERSAGI untuk 5 (lima) tahun ke depan. e. Membahas masalah-masalah lain yang diperlukan. f. Melakukan Temu Ilmiah secara Nasional dan atau Internasional. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) Apa yang dimaksud dengan Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga? 2) Apa perbedaan dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga? 3) Apa kewajiban saudara sebagai ahli gizi terkait dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PERSAGI? 4) Siapakah yang dapat menjadi anggota PERSAGI? 5) Apakah lambang PERSAGI? Apa arti lambang PERSAGI? Apa yang dimaksud dengan PATAKA PERSAGI? 6) Bagaimana organisasi PERSAGI? Jelaskan!


152 Etika Profesi Ringkasan 1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dalam sebuah organisasi berfungsi untuk menggambarkan mekanisme kerja suatu organisasi. Anggaran Dasar berfungsi juga sebagai dasar pengambilan sumber peraturan/hukum dalam konteks tertentu dalam organisasi. 2. Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga PERSAGI menjelaskan tentang nama, lambang, keanggotaan, tujuan, ruang lingkup, status dan organisasi PERSAGI. 3. Lambang PERSAGI adalah SVASTHA HARENA yang berarti kesehatan melalui gizi. 4. Anggota persagi adalah anggota biasa (Teknisi Dietisien, Nutrisionis dan Dietisien) dan anggota luar biasa adalah profesi disiplin ilmu lain yang terkait gizi dan berminat menjadi anggota. 5. Kewajiban anggota adalah mematuhi AD/ART, kode etik ahli gizi serta keputusankeputusan yang dikeluar oleh PERSAGI, serta membayar uang iuran bulanan anggota. 6. Hak-hak anggota biasa PERSAGI: a. Mengemukakan pendapat. b. Bertanya dan mengusulkan sesuatu dengan lisan atau tertuli. c. Membela diri. d. Memilik dan dipilih dalam pemilihan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang. e. Memiliki kartu anggota dengan format standar yang dikeluarkan oleh DPP. f. Mendapat perlindungan hukum dalam menjalankan tugas-tugas keprofesian. g. Mengikuti semua kegiatan organisasi. Sedangkan hak-hak anggota luar biasa: a. Mengemukakan pendapat. b. Bertanya dan mengusulkan sesuatu dengan lisan atau tertulis. c. Membela diri. d. Memiliki kartu anggota dengan format standar yang dikeluarkan oleh DPP. e. Mengikuti semua kegiatan organisasi.


Etika Profesi 153 Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Anggaran Dasar dalam suatu organisasi merupakan .... A. Rencana biaya dalam suatu organisasi yang harus ditaati B. Mekanisme kerja organisasi yang harus ditaati anggota C. Dasar pengambilan sumber peraturan organisasi D. Tuntunan pelaksanaan kegiatan kerja ahli gizi dalam melayani 2) Anggaran Rumah Tangga dalam suatu organisasi adalah .... A. Tuntunan pelaksanaan kegiatan kerja ahli gizi dalam melayani B. Mekanisme kerja organisasi yang harus ditaati anggota C. Rencana biaya dalam suatu organisasi yang harus ditaati D. Dasar pengambilan sumber peraturan organisasi 3) Lambang PERSAGI adalah SVASTHA HARENA yang artinya .... A. Kesehatan melalui olah raga B. Kesehatan melalui makanan C. Kesehatan melalui gizi D. Kesehatan melalui diet 4) Salah satu kewajiban dari anggota PERSAGI adalah .... A. Memakai seragam organisasi B. Membayar iuran anggota C. Membela diri dan mengemukakan pendapat D. Bertanya dan mengemukakan pendapat 5) Salah satu hak dari anggota biasa PERSAGI adalah …. A. Mendapatkan imbalan jasa profesi dari DPP PERSAGI B. Mendapatkan perlindungan hukum dalam menjalankan profesi C. Mendapatkan pendidikan formal secara Cuma-cuma D. Mendapatkan hak kekebalan hukum


154 Etika Profesi Kunci Jawaban Tes Tes Formatif 1 1) C. 2) D. 3) D. 4) D. 5) C. Tes Formatif 2 1) B. 2) D. 3) C. 4) B. 5) B.


Etika Profesi 155 Glosarium Profesi : pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. (wikipedia) Pengambilan keputusan : dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia setiap proses pengambilan keputusan selalu menghasilkan satu pilihan final. Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan atau tindakan. (wikipedia) Deontologi : sesuatu yang harus dilakukan atau kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Konsekuensialisme : keyakinan bahwa apa yang akhirnya penting dalam mengevaluasi tindakan atau kebijakan tindakan adalah konsekuensi yang dihasilkan dari memilih satu tindakan atau kebijakan dari pada alternatif. (id.m.termwiki.com) Prinsipalisme : suat keputusan berdasarkan suatu prinsip yang mendasar Etika budi pekerti : Budi adalah alat batin sebagai panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Berbudi berarti mempunyai kebijaksanaan berkelakuan baik. Pekerti adalah perilaku, perangai, tabiat, watak, akhlak dan perbuatan. (mallawmallows.blogspot.co.id.) Otonomi : mengatur dan mengurus urusannya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (KBBI) Loyalitas ganda : kepatuhan, kesetiaan (KBBI), Loyalitas ganda berati ada lebih dari satu kepatuhan dan kesetiaan.


156 Etika Profesi Daftar Pustaka Bakri, Bachyar; Mustafa, Annasari. 2010. Etika dan Profesi Gizi. Graha Ilmu, Jogjakarta. Departemen kesehatan RI. 2007. Standar Profesi Gizi. https://awansemenuk.wordpress.com/2017/04/26 pelanggaran-etika-profesi https://www.collegeofdietitians.org/Resources/Professional-Practice/Standards-ofPractice/Code-Of-Ethics-Interpretive-Guide-(1999).aspxT https://google.co.id/search?=sangsi+melanggar+kode+etik+profesi&rlz =1c1WWN_eniD665&source=Lnm http://id.wikipedia.org/wiki/kode_etik_profesi http://www.id.m.termwiki.com Journal of Academy nutrition and Dietetics. 2009. Code of Ethics for profession of Dietetics: 109: 1461-1467) mallawmallows.blogspot.co.id. Persagi. 2015. Anggaran dasar /Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Program Kerja dan Kode Etik Ahli Gizi. Tom.L Beauchamp; James F Childress. 2013. Principle of Biomedical Ethics. Oxford University, Seventh Edition.


Etika Profesi 157 Bab 6 ETIKA DALAM PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR, PENGUASAAN TEKNOLOGI DAN SISTEM RUJUKAN Edith Herianandita Sumedi, SKM, M.Sc. Pendahuluan alam melaksanakan pelayanan kepada masyarakat, seorang ahli gizi harus menerapkan Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) sesuai dengan kaidah tenaga gizi yang memberikan pelayanan gizi baik di Puskesmas maupun di Rumah Sakit dan perlu memahami etika dalam melaksanakan tugasnya. Proses Asuhan Gizi Terstandar bertujuan untuk memecahkan masalah gizi dengan mengatasi berbagai faktor yang mempunyai kontribusi pada ketidakseimbangan atau perubahan status. Proses ini dilakukan agar dapat menentukan akar masalah gizi sehingga dapat menetapkan pilihan intervensi yang sesuai. Dalam PAGT ada 4(empat) langkah yang harus dilakukan yaitu pengkajian gizi (asesmen), diagnosis gizi, intervensi gizi dan monitoring dan evaluasi gizi. Pada setiap langkah tersebut di atas unsur etika harus dilakukan seperti kejujuran, integritas dan keadilan. Penguasaan teknologi bagi seorang praktisi yang profesional sangat menentukan eksistensinya. Bila seseorang dapat menguasai teknologi maka, dapat dengan mudah mengikuti perkembangan dunia terkait dengan ruang lingkup profesinya, dapat menyebar luaskan kemampuannya dengan menggunakan teknologi dengan mudah. Dalam melaksanakan kegiatan pelayanan gizi, tenaga gizi pada situasi tertentu juga harus melakukan kegiatan rujukan kepada sesama ahli gizi yang lebih kompeten ataupun kepada tenaga kesehatan. Untuk itu maka mahasiswa perlu mempelajari tentang sistem rujukan yang ada di Indonesia. D


158 Etika Profesi Sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur dari mana dan harus ke mana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya. (Prof Dr. Soekidjo Notoatmodjo) Setelah mempelajari Bab ini maka mahasiswa diharapkan dapat memahami dan menjelaskan tentang. 1. Etika pada pelaksanaan PAGT. 2. Penguasaan teknologi dan. 3. Sistem rujukan.


Etika Profesi 159 Topik 1 Etika dalam Proses Asuhan Gizi Terstandar tika dalam Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT) adalah penerapan konsep benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab serta memerlukan sikap kritis, metodis dan sistematis dalam melakukan dalam melakukan pengkajian(asesmen) gizi, diagnosisi gizi, intervensi gizi dan monitoring dan evaluasi gizi. (Persagi dan AsDi,2011) Dalam setiap kegiatan PAGT sebaiknyadilakukan dengan bertanggung jawab, mengikuti kaidah ilmiah yang benar dan memperhatikan etika. Klien/pasien menjadi pusat perhatian kita untuk menjaga keselamatannya dan mencegah pasien/klien cidera. Agar pasien/klien aman, maka sebelum menangani pasien, sebaiknya melakukan prinsip keselamatan pasien yaitu mencuci tangan, identifikasi pasien, mencegah kesalahan dalam memberi diet, dan mencegah kesalahan dalam berkomunikasi. Pasien mempunyai hak untuk tidak terkena infeksi selama dirawat, bebas dari bahaya, bebas dari kesalahan penanganan pemberian diet. Keberhasilan keselamatan pasien di rumah sakit dapat dilakukan dengan cara mengidenifikasi pasien dengan benar, berkomunikasi secara efektif, memberikan diet pasien dengan benar, mencegah kesalahan dan mencegah infeksi. Ahli gizi harus memperhatikan identitas pasien dan kesesuaian dengan label diet, berkomunikasi dengan perawat atau tenaga kesehatan lain agar tidak terjadi kesalahan pelayanan. Langkah pertama yang harus kita lakukan dalam menerapkan PAGT adalah asesmen gizi, dimana pada tahap ini tugas ahli gizi melalukan pengukuran, mengumpulkan/mencatat data dari rekam medik klien, dan menganamnesa asupan gizi klien, tentunya dalam melaksanakan kegiatan asesmen ahli gizi harus mengikuti etika sesuai kode etik. A. ETIKA DALAM MELAKUKAN ASESMEN GIZI Yang dimaksud dengan pengkajian gizi atau asesmen gizi ini bukan hanya mengumpulkan data awal saja namun juga melakukan pengkajian data ulang serta menganalisis intervensi gizi yang telah diberikan sebelumnya. Pengkajian gizi merupakan suatu proses yang didalamnya terdapat kegiatan pengumpulan, verifikasi, dan interpretasi data yang sistematis dalam upaya mengidentifikasi masalah gizi serta penyebabnya. Tujuan kegiatan asesmen gizi, adalah untuk mendapatkan informasi atau data yang lengkap dan sesuai dalam upaya mengidentifikasi masalah gizi atau faktor lain yang dapat menimbulkan masalah gizi. E


160 Etika Profesi Saudara mahasiswa seperti telah kita ketahui bahwa timbulnya masalah gizi karena adanya kesenjangan antara asupan gizi dan kebutuhan gizi seseorang. Perubahan status gizi dapat dilihat dengan menggunakan beberapakomponen antara lain:pengkajian gizi, meliputi pengukuran antropometri, pemeriksaan klinis dan fisik, biokimia, riwayat makan serta riwayat personal. Data yang diperoleh dari pengukuran kemudian dibandingkan dengan standar baku (nilai normal) sehingga dapat dikaji dan diidentifikasikan berapa besar masalahnya. Dalam melakukan pengkajian gizi perlu memperhatikan komponen berikut: 1. Pengukuran dan pengkajian data antropometri 2. Pengukuran dan pengkajian data antropometri merupakan pengukuran fisik indivudu. 3. Pemeriksaan dan pengkajian data biokimia 4. Pemeriksaan dan pengkajian data pemeriksaan klinis dan fisik 5. Riwayat makan 6. Riwayat personal Tabel dibawah ini menggambarkan pada setiap jenis pengukuran, pengkajian apa yang harus dilakukan dan etika yang sesuai dengan pengukuran yang dilakukan. Pengukuran Pengkajian Etika dalam melakukan pengukuran dan pengkajiannya a. BB,TB/PB, Tinggi lutut, LLA, Tebal lemak, Lingkar Pinggang dan Lingkar panggul Bandingkan Nilai baku (standar) seperti KMS, IMT, Tinggi Lutut,LLA, Tebal lemak, lingkar pinggang dan lingkar panggul 1. Etika dimulai sebelum melakukan pengukuran seperti memberi salam lakukan dengan ramah, perkenalan diri, mengenal klien, membangun hubungan, dan memahami tujuan pengukuran. 2. Meminta maaf/izin karena mungkin mengganggu privasi atau ada rasa sedikit sakit. 3. Set alat ukur sesuai prosedur, agar pengukuran akurat misalnya dacil harus dibuat seimbang. 4. Lakukan pengukuran sesuai prosedur yang benar dan baca hasil pengukuran yang benar, misalnya menimbang balita dengan dacin perhatikan pakaian anak yang mungkin dapat mempengaruhi akurasi hasil penimbangan. 5. Bandingkan hasil ukur menggunakan nilai baku sesuai dengan pengukuran. Misalnya untuk anak balita KMS laki-laki atau perempuan, plot hasil penimbangan


Etika Profesi 161 Pengukuran Pengkajian Etika dalam melakukan pengukuran dan pengkajiannya dengan benar, lalu interpretasikan data dengan benar. 6. Kesalahan dalam tahap penimbangan, pengkajian akan berakibat pada kesalahan intervensi yang akan merugikan klien. b. Pemeriksaan data biokimia: darah, urin dan jaringan tubuh lain Kaji hasil pemeiksaan laboratorium yang berhubungan dengan keadaan gizi,dengan meggunakan nilai baku yang ada pada lembar hasil pemeriksaan biokimia tsb seperti kadar albumin, asam folat serum, glukosa darah, creatinin urin dll 1. Lakukan komunikasi yang baik dengan tenaga kesehatan lain sepeti perawat, analis laboratorium 2. Data biokimia pasien terdapat pada rekam medis pasien, yang umumnya disimpan diruang perawat, tidak semua orang boleh membuka rekam medis pasien karena bersifat rahasia. 3. Mintalah izin terlebih dahulu untuk membaca rekam medis pasien. 4. Baca dengan seksama dan buat catatan pada buku saudara sendiri hasil laboratorium termasuk interpretasi hasilnya dan diagnosa dokter terkait hasil laboratorium. Catat dengan baik jangan sampai salah. 5. Kembalikan rekam medis pasien kepada perawat dan lakukan diskusi bila dirasakan perlu dengan perawat dan dokter yang merawat pasien, agar interpretasi kita lebih akurat. 6. Ingat dalam membaca rekam medis pasien kita harus selalu berfikir kritis, apakah data tsb terkait dengan gizi, apakah data tsb akurat, apakah ada kesesuaian dengan data pemeriksaan c. Pemeriksaan data klinis dan fisik Pengkajian fisik dan klinis terkait gizi meliputi kesehatan gizi dan mulut, penampilan fisik seperti kurus,rambut Data ini juga terdapat pada rekam medis pasien, sehingga etika yang perlu dilakukn sama dengan poin b.


162 Etika Profesi Pengukuran Pengkajian Etika dalam melakukan pengukuran dan pengkajiannya pudar (balita), dan mudah dicabut. d. Riwayat makan FFQ, Food recall 24 H Hasil analisis zat gizi dari asupan makan dikaji dengan membandingkan standar baku asupan, sesuai umur, jenis kelamin, keadaan kesehatan, akititas. 1. Persiapkan alat dan bahan sebelum melakukan anamnesa yang akan digunakan untuk melakukan pengukuran riwayat makan seperti “food model” , Foto makanan, contoh bahan makanan, formulir anamnesa FFQ, formulir anamnesa recall 24 H 2. Sebelum melakukan wawancara/anamnesa memberi salam lakukan dengan ramah , perkenalan diri, mengenal klien, membangun hubungan, dan memahami tujuan wawancara/anamnesa. 3. Minta klien/pasien mengingat apa saja yang dimakan sehari sebelumnya mulai dari bangun pagi, snek, makan siang, snek siang dan makan malam. Tanyakan berapa banyak klien mengkonsumsi, jenis bahan makanannya, cara mengolahnya, minuman apa saja yang dionsumsi. 4. Gali dan bantu klien untuk mengingat kembali, Jangan mempengaruhi klien dengan caramembantu klien makanan atau bahan makanan yang dikonsumsi. Yang terbaik adalah klien dapat menyebutkan secara jujur dan benar apa yang dikonsumsi selama 24 jam. Bila FFQ mengingat bahan makanan/makanan yang dikonsumsi 1 bulan yang lalu. 5. Lakukan klarifikasi ulang untuk meyakinkan dan membantu mengingat kembali apa saja yang dikonsumsi klien. 6. Agar membantu mempermudah klien gnakan food model/bahan makanan contoh/makanan jadi contoh agar lebih tepat pengukuran konsumsinya.


Etika Profesi 163 Pengukuran Pengkajian Etika dalam melakukan pengukuran dan pengkajiannya 7. Jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi diukur selanjutnya dianalisis zat gizinya dengan menggunakan daftar komposisi bahan makanan atau bahan makanan penukar. Dapat juga menggunakan perangkat lunak seperti “nutriclin” e. Riwayat Personal meliputi riwayat obat, sosial budaya, riwayat penyakit dan data umum pasien Pengkajian data terkait gizi seperti alergi makanan, pantangan makanan,keadaan sosial ekonomi, pola aktifitas, riwayat penyakit klien, serta masalah psikologis yang terkait dengan gizi 1. Etika dalam berkomunikasi yang baik dengan tenaga kesehatan lain 2. Mengumpulkan data riwayat personal yang umumnya tertulis dalam rekam medik. 3. Baca dan Catat data yang berkaitan dengan gizi dalam buku catatan saudara. 4. Gunakan selalu cara berfikir kritis. 5. Bila ada data lain yang diperlukan dapat langsung melalui wawancara klien. 6. Ahli gizi perlu menguasai cara bertanya yang tepat menggunakan ketrampilan konseling mendengarkan dan mempelajari sehingga mendapatkan informasi yang akurat. B. ETIKA DALAM MELAKUKAN DIAGNOSIS GIZI Dianosis gizi adalah kegiatan mengidentifikasi dan memberi nama masalah gizi yang aktual, dan atau beresiko menyebabkan masalah gizi.Langkah ini merupakan langkah kritis yang menjembatani pengkajian gizi dan intervensi gizi. Diagnosis Gizi diuraikan berdasarkan komponen masalah gizi (problem), penyebab masalah gizi (etiologi) dan tanda serta gejala adanya masalah gizi (sign and symptom). Tabel dibawah ini menjelaskan tentang bagaimana etika dalam menulis diagnose gizi berdasarkan komponen diagnose gizi yaitu problem, etiologi dan sign symptom dan pengelompokan diagnosis gizi berdasarkan masalah (domain) gizi adalah intake, klinik, dan perilaku.


164 Etika Profesi Komponen, Pengelompokan dan Penulisan Diagnosis Gizi Etika dalam menetapkan Diagnosis Gizi a. Komponen Diagnosis Gizi • Problem • Problem menunjukan adanya masalah gizi Digambarkan dengan perubahan status gizi klien. Merupakan gambaran respon tubuh kegagalan fungsi, ketidakefektifan, penurunan atau peningkatan dari suatu kebutuhan normal dan risiko munculnya gangguan gizi tertentu secara akut atau khronis. • Etiology • Merupakan faktor penyebab atau faktor yang berperan dalam timbulnya problem atau masalah gizi. • Faktor penyebab masalah gizi antara lain patofisiologi, psikososial, perilaku, lingkungan dsn • Etiologimerupakan dasar penentuan intervensi,jadi perlu dilihat faktor penyebab yang paling utama. • Sign dan Symptom • Disebut juga dengan tanda dan gejala menggambarkan besarnya masalah gizi. • Sign merupakan tanda data objektif dari perubahan yang nampak pada status kesehatannya. • Symtom merupakan data subjektif dari perubahan yang terjadi dirasakan oleh kliendan dinyetakan secara verbal. b. Pengelompokan diagnosis gizi Gunakan selalu International Diettetic & Nutrition Terminilogy (IDNT) • Domain intake • Keseimbangan energi seperti hiper/hipometabolisme, peningkatan/kekurangan kebutuhan intake energi, kelebihan intake energi • Asupan oral / dukungan gizi kekurangan/kelebihan asupan enteral atau parenteral. • Asupan cairan(kekurangan atau kelebihan) • Asupan zat bioaktif seperti kelebihan alkohol, suplemen diet • Asupan zat-zat gizi seperti peningkatan kebutuhan zat gizi • Domain klinis • Fungsional, seperti perubahan fisik/fungsi mekanik dikaitkan dengan pencegahan akibat dari masalah gizi meliputi menelan, kesulitan mengunyah , kesulitan dalam pemberian ASI dan perubahan fungsi saluran cerna.


Etika Profesi 165 Komponen, Pengelompokan dan Penulisan Diagnosis Gizi Etika dalam menetapkan Diagnosis Gizi • Biokimia seperti perubahan kemampuan metabolisme zat gizi akibat obat-obatan, operasi, dan yang terlihat dalam hasil laboratorium • Berat badan, misalnya penurunan BB yang khronis, kelebihan BB • Domain perilaku • Pengetahuan dan keyakinan • Aktifitas fisik danfungsi • Keamanan dan akses makanan c. Penulisan Diagnosa Gizi • Kaitan Problem dan etiologi dihubungkan dengan kata “berkaitan dengan” • Etiologi dengan sign-symtomdihubungkan dengan kata “ ditandai dengan” Contoh: Diagnosisi gizi domain asupan (intake) Asupan energi tidak adekuat (P)berkaitan dengantidak nafsu makan, mual dan muntah (E), ditandai dengan pencapaian asupan energi makanan terhadap kebutuhan 65%. C. ETIKA DALAM MELAKUKAN INTERVENSI Setelah menetapkan prioritas diagnosis izi , kemudian dilakukan intervensi gizi yang terdiri dari 2 (dua) komponen yaitu menetapkan rencana diet dan komitmen untuk melaksanakan rencana diet, diharapkan klien dapat melakukan proses perubahan perilaku. Setelah saudara selesai menetapkan diagnosis gizi, maka kita beranjak kepada penetapkan intervensi gizi. Tabel dibawah ini menjelaskan bagaimana etika kita dalam merencanakan, membuat tujuan dan melakukan intervensi gizi. Langkah dalam Intervensi Gizi Etika dalam melakukan a. Memilih rencana diet • Kegiatan ini dimulai dari merencanakan diet, menetapkan tujuan dan preskripsi diet. • Merencanakan kebutuhan energi dan zat gizi, dan menu sesuai kebutuhan • Menyampaikan perubahan pola makan dan alternatif rencana diet serta membantu klien untuk menentukan rencana diet yang dipilih berikut faktor pendukung dan penghambatnya • Tingkatkan kepercayaan diri klien, dan beri pujian. • Sebelum selesai komunikasi dengan klien jangan lupa memastikan bahwa klien sudah


166 Etika Profesi Langkah dalam Intervensi Gizi Etika dalam melakukan mengerti apa yang harus dilakukannya (tes pemahaman). • Buat perjanjian dengan klien untuk pertemuan berikutnya. b. Tujuan diet • Untuk tujuan diet berdasarkan problem (P) dan penyebab/etiologi (E) pada diagnosis gizi. • Bila E tidak bisa diintervensi gizi, maka intervensi gizi berdasarkan Tanda(sign) dan gejala (symtom) yang ada • Tujuan harus realistik, dapat diukur dan dapat dicapai dalam waktu yang ditentukan c. Preskripsi diet • Merupakan arahan bagi klien untuk merubah perilaku makan. • Jenis diet, bentuk makanan,makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan, jumlah yang dikonsumsi dan kandungan zat gizi sesuai dengan kebutuhan. d. Menghitung kebutuhan gizi dan zat gizi • Merupakan perhitungan jumlah energi yang dibutuhkan seseorang untuk berbagai kegiatan sekama 24 jam agar tercapai keadaan kesehatan yang optimal e. Menyusun menu Merupakan perencanaan hidangan yang sesuai dengan preskripsi diet, dengan tidak mengabaikan kesukaan klien dan faktor sosioekonominya f. Menyampaikan rencana diet atau perubahan pola makan • Merubah perilaku makan bukan hal mudah, untuk itu perlu kerja sama antara konselor dan klien yang baik. • Agar tercipta hubungan yang baik antara klien dan konselor adalah dengan menjelaskan hasil pengkajian antropometri, biokimia dan klinis yang terkait dengan masalah kesehatan serta gizi klien. • Kebiasaan makan, asupan energi dan zat gizi • Alternatif perubahan pola makan • Membantu klien untuk menentukan rencana diet dan faktor pendukung serta penghambatnya g. Memperoleh komitmen • Konseling tidak akan berhasil tanpa komitmen klien


Etika Profesi 167 Langkah dalam Intervensi Gizi Etika dalam melakukan • Berikan pemahaman anjuran diet yang telah disepakati bersama dan dukungan serta tingkatkan kepercayaan diri klien • Cek pemahaman klien, jangan menggurui, jangan menyalahkan. D. ETIKA DALAM MELAKUKAN MONITORING DAN EVALUASI Pada langkah terakhir ini, dilakukan penilaian kembali terhadap kemajuan klien dan konelor. Pada tahap ini dilakukan untuk mengetahui respon klien terhadap intervensi dan tingkat keberhasilannya. Etika yang perlu diperhatikan pada tahap monitoring dan evaluasi merupakan langkah dan tindakan professional sorang tenaga gizi. Dimulai dengan memonitor perkembangan klien setelah dilakukan intervensi gizi, mengukur dan mengevaluasi hasil, sampai pada dokumentasi hasil monitoring dan pencatatan pelaporan yang rapih dan sistematik. Dokumen ini juga akan menggambarkan profesionalisme kita. Langkah dalam monitoring dan evaluasi Etika dalam melakukan a. Monitoring perkembangan • Mengecek pemahaman dan ketaatan diet klien • Mengecek apakah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana diet • Menentukan status klien berubah/tetap • Mengidentifikasi hasil lain yang positif maupun negatif • Mengumpulkan informasi bila tidak ada perkembangan klien b. Mengukur hasil • Ukur kembali komponen tanda dan gejala dari diagnosis gizi. c. Evaluasi hasil • Evaluasi adalah membandingkan hasil data terbaru dengan data sebelumnya • Evaluasi proses untuk melihat tingkat partisipasi klien, kesesuaian isi materi, waktu danketercapaian tujuan • Evaluasi dampak melihat keberhasilan konselor dalam memberikan konseling Contoh: klien melakukan kunjungan ulang, ketepatan asupan, terjadi perubahan BB,


168 Etika Profesi Langkah dalam monitoring dan evaluasi Etika dalam melakukan perubahan nilai biokimia dan perubahan perilaku positif. • Gali informasi klien entang masalah, hambatan, tentukan alternatif pemecahan masalahnya d. Dokumentasi monitoring dan evaluasi • Lakukan dokumentasi pada setiap tahap perlakuan • Dokumentasi harus relevan, tepat, terjadwal dan akurat • Dalam kunjungan ulang, konselor harus mencermati perkembangan status gizi, data laboratorium, perubahan penyakit, perubahan kebiasaan makan dan perubahan asupan energi serta zat gizi e. Pencatatan dan pelaporan • Merupakan kegiatan pengumpulan dan pengolahan data untuk menghasilkan bahan bagi penilaian kegiatan konseling • Pencatatan dilakukan pada setiap langkah kegiatan konseling. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) Diskusikan dalam kelompok bagaimana melakukan asesmen gizi untuk anamnesa recall 24 jam konsumsi makanan anak umur 4 tahun pada ibunya. Perhatikan etika dalam melakukan kegiatan ini dan komunikasi yang baik agar hasil anamnesa akurat dan benar. 2) Coba tuliskan urutan yang baik dan benar dalam menentukan diagnose gizi. Termasuk penggunaan diagnose gizi menurut IDNT. Tuliskan secara rinci tahapan dan cara melakukannya. Termasuk pencatatan yang baik


Etika Profesi 169 Ringkasan 1. Etika dalam melakukan kegiatan praktik pekerjaan gizi sangat penting dilaksanakan. Pelaksanaan Etika dalam kegiatan praktik tenaga gizi ini akan menunjukan profesionalismenya, dan lebih jauh lagi akan melindungi klien/pasien dalam mendapatankan pelayanan gizi yang baik dan benar. 2. Dalam melaksanakan pekerjaan tenaga gizi, menggunakan PAGT yang sudah terstandar Internasional mulai dari cara mengukur, mengkaji, mendiagnosis, mengintervensi sampai denga monitoring dan evaluasinya. Kegiatan ini disebut dengan ASUHAN GIZI. . 3. Komunikasi dalam melakukan pekerjaan praktik tenaga gizi juga sagat penting. Baik komunikasi dengan sesame tenaga gizi maupuan komunikasi dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter, perawat, bidan, tenaga laboratorium, farmasi dll. 4. Tenaga gizi harus melakukan pencatatan dan pelaporan yang baik dan benar pada semua jenis kegiatannya. Tes 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Hal yang paling penting dalam menerapkan pekerjaan adalah etika. Untuk alasan apakah sehingga etika ini harus dilakukan dalam setiap melakukan pekerjaan? A. Agar pasien/klien senang B. Melindungi pasien dari kesalahan C. Agar memperhatikan pasien D. mengurangi biaya perawatan 2) Etika harus dilakukan sesuai dengan standar asuhan Internasional. Apakah standar asuhan gizi itu? A. Proses Asuhan Gizi Terbaik B. Proses Asuhan Gizi Internasional C. Pelayanan Gizi Rumah Sakit D. Proses Asuhan Gizi Terstandar


170 Etika Profesi 3) Bila seorang tenaga gizi melakukan kesalahan dalam pemberian pelayanan, apakah akibat buruknya bagi pasien? A. Hubungan dengan dengan pasien tidak baik B. Hubungan dengan tenaga kesehatan lain tidak baik C. Memperpendek hari rawat pasien D. Dapat mengakibatkan keadaan yang fatal 4) Salah satu etika untuk memastikan keberhasilan konseling adalah? A. Memberi senyum pada klien B. Memberi salam kepada klien C. Meminta alamat rumah klien D. Meminta komitmen klien 5) Untuk melihat keberhasilan pelayanan gizi setelah dilakukan intervensi gizi adalah kegiatan monitoring dan evaluasi.Apakah contoh dari kegiatan monitoring dan evaluasi? A. Menganamnesa klien B. Mengatur perilaku C. Menilai perkembangan D. Menetapkan prekripsi


Etika Profesi 171 Topik 2 Penguasaan Teknologi, Sistem Rujukan Kesehatan dan Pelayanan Gizi A. PENGERTIAN Saudara mahasiswa kita akan mempelajari tentang penguasaan teknologi terkait gizi. Pada materi ini akan diawali dengan asal kata teknologi. Teknologi berasal dari bahasa Yunani, technologia, techne yang berarti ‘keahlian’ dan logia yang berarti ‘pengetahuan’. Dalam pengertian yang sempit, teknologi mengacu pada objek benda yang dipergunakan untuk kemudahan aktivitas manusia, seperti mesin, perkakas, atau perangkat keras. Dalam pengertian yang lebih luas, teknologi dapat meliputi pengertian sistem, organisasi, juga teknik. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, pengertian teknologi menjadi semakin meluas, sehingga saat ini teknologi merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan jenis penggunaan dan pengetahuan tentang alat dan keahlian, dan bagaimana ia dapat memberi pengaruh pada kemampuan manusia untuk mengendalikan dan mengubah sesuatu yang ada di sekitarnya (Wikipedia, diakses tanggal 16 Maret 2009). Jadi, teknologi adalah semacam perpanjangan tangan manusia untuk dapat memanfaatkan alam dan sesuatu yang ada di sekelilingnya secara lebih maksimal. Dengan demikian, secara sederhana teknologi bertujuan untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia (Lorens Bagus, 1996). Sementara itu, proses Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Karena itu, Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media. Indonesia membutuhkan strategi pembangunan berbasis TIK supaya dapat meningkatkan daya saing secara global. The Global Competitiveness Report 2016-2017 dari World Economic Forum (WEF) menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan 41 dalam daftar peringkat daya saing. Di kawasan ASEAN peringkat Indonesia ini masih kalah dibanding Negara lain seperti Filipina, Thailand, Malaysia dan Singapura.


172 Etika Profesi Gambar 6.1. Teknologi informasi dan komunikasi Wordpress.com B. FUNGSI PENGUASAAN TEKNOLOGI DALAM BIDANG KESEHATAN DAN GIZI Saudara mahasiswa setelah kita membahas tentang pengertian teknologi, berikutnya kita akan membahas tentang fungsi penguasaan teknologi. Fungsi penguasaan teknologi dalam bidang kesehatan adalah kemampuan memanfaatkan alat dan keahlian, dan bagaimana pengaruhnya dalam mengubah sesuatu yang ada di sekitarnya. (Anasihite) Penggunaan teknologi bersifat mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia. Teknologi tersebut dapat berupa: 1. Alat (perangkat keras). 2. Perangkat lunak. Seperti kita ketahui saat ini bahwa teknologi informasi dan komunikasi berkembang sangat pesat sebagai contoh perkembangan Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah komputer dan internet. Dengan adanya dua produk teknologi tersebut maka penyebaran informasi menjadi sangat cepat. Dalam dunia pendidikan, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi menuntut keterbukaan sikap dan mental dari civitas kependidikan untuk mengubah paradigma atau cara pandang terkait dengan aktivitas kependidikan. Yuyun Estriyanto (2008) menyebutkan bahwa


Etika Profesi 173 terdapat beberapa perubahan budaya pembelajaran yang patut diperhatikan. Dengan pemanfaatan teknologi, narasumber tak lagi menjadi satu-satunya sumber otoritas atau sumber informasi, karena teknologi mengubah sumber pengetahuan menjadi tak terbatas. Jadi, narasumber kadang lebih berperan sebagai pendamping, pengarah, atau fasilitator. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk kegiatan pembelajaran (pendidikan) dimaksudkan untuk mengarahkan produk teknologi agar dapat dimanfaatkan dengan baik bagi kepentingan pengembangan pendidikan. Gambar 6.3. Kompasiana.com Kemudian, sebenarnya dimanakah letak fungsi dan peran teknologi informasi dan komunikasi dalam aktivitas pembelajaran? Jalu Noor Cahyanto (2007), menyebutkan bahwa ada beberapa manfaat teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan sebagai berikut: (1) meningkatkan motivasi pembelajar; (2) digital portofolio efektif dan efisien; (3) menambah wawasan dan cakrawala berpikir; (4) menumbuhkan jiwa kebersamaan; (5) menjadi alat ukur konsep pembelajaran yang kita lakukan dengan sekolah dari negara lain. Salah satu manfaat penting yang dapat ditemukan dari penggunaan perangkat teknologi dalam kegiatan


174 Etika Profesi pembelajaran adalah soal akses. Teknologi informasi dan komunikasi mempermudah kita untuk mengakses sumber-sumber informasi dan pengetahuan. Internet merupakan contoh nyata yang paling mudah untuk dikemukakan. Dengan internet, seseorang dapat mengakses jutaan sumber informasi yang dibutuhkan dengan sangat mudah. Saat ini, di internet cukup banyak website yang menyediakan bahan-bahan yang sangat menarik untuk ditampilkan dan dipergunakan di ruang pembelajaran. Selain itu, fasilitas surat elektronik dan grup diskusi (mailing-list) dapat menjadi media komunikasi yang sangat bermanfaat (Mushthafa, 2008) Saudara mahasiswa di atas telah dijelaskan tentang manfaat dan penggunaan internet pada sivitas kependidikan. Internet bukan saja bermanfaat di dunia Pendidikan, namun bermanfaat untuk bidang lainnya seperti bidang kesehatan. Dalam bidang kesehatan teknologi informasi dan komunikasi dapat dikelompokkan menjadi: 1. Teknologi informasi untuk manajemen bidang kesehatan atau disebut juga manajemen informasi kesehatan yang mempunyai kemampuan pengolahan data lebih cepat dengan berbagai aplikasi yang inovatif terbaru contohnya rekam medis untuk menghimpun berbagai data klinis pasin secara lengkap. Selain itu contoh lain resep elektronik yang lebih cepat dan dapat mengurangi kesalahan. 2. Alat kesehatan yang canggih yang bersifat menunjang dalam penanganan pasien seperti mesin USG untuk keperluan diagnostik. Selain itu juga banyak alat bersifat sebagai alat diagnostik namun dapat juga berperan untuk menyelesaikan masalah kesehatan pasien contohnya angiografi digunakan untuk mendiagnosis dan pemasangan ring /cincin pada pembuluh darah jantung. Masih banyak lagi contohnya alat yang bersifat sebagai radioterapi. Ahli gizi harus dapat menggunakan teknologi dengan benar dan beretika sehingga tidak melanggar privasi dan keberadaan orang lain. Ahli gizi sebagai tenaga kesehatan harus memaksimalkan kinerja yang diberikan karena hal tersebut sangat penting.


Etika Profesi 175 Gambar 6.4. Ultrasonografi Dalam bidang gizi, telah banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat kinerja dan meningkatkan mutu pelayanan. Beberapa contoh penggunaan teknologi: 1. Untuk mempercepat analisis konsumsi pasien/klien digunakan nutriclin, soft ware ini sangat membantu mempercepat dan mengurang kesalahan dalam melakukan analisis konsumsi, dahulu harus dilakukan secara manual menggunakan daftar komposisi bahan makanan. 2. Di beberapa RS dalam perencanaan menu dan pembelian bahan makanan sudah menggunakan software juga. Sehingga sangat membantu mempercepat pekerjaan. Demikian pula software yang digunakan untuk penyimpanan bahan makanan. C. SISTEM RUJUKAN Dalam permenkes No.001/2012 tentang Sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan, dinyatakan bahwa Sistem rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik vertikal maupun horizontal.


176 Etika Profesi Sistem Rujukan merupakan suatu upaya kesehatan yaitu suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadi penyerahan tanggung jawab secara vertical maupun horizontal kepada fasilitas pelayanan kesehatan yang kompeten, terjangkau dan rasional (Rizkaarmalena). Sistem Rujukan pelayanan kesehatan adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal yang wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan sosial, dan seluruh fasilitas kesehatan. (BPJS,2014) Agar lebih jelas pemahaman tentang sistem rujukan yang terkait dengan gizi, sebaiknya kita pelajari terlebih dahulu sistem rujukan kesehatan yang ada di Indonesia. 1. Sistem Rujukan Kesehatan Saudara mahasiswa marilah kita membahas tentang sistem rujukan kesehatan. Dalam rangka meningkatkan aksesibilitas, pemerataan dan peningkatan efektivitas pelayanan kesehatan, rujukan dilakukan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki kemampuan pelayanan sesuai kebutuhan pasien. Untuk pelayanan kesehatan perorangan terdiri atas 3 (tiga) tingkatan yaitu: (BPJS,2014) a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama; merupakan pelayanan kesehatan dasar yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi di puskesmas, puskesmas perawatan, tempat praktik perorangan, klinik pratama, klinik umum di balai/lembaga pelayanan kesehatan, dan rumah sakit pratama. Dalam keadaan tertentu, bidan atau perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. b. Pelayanan kesehatan tingkat kedua; merupakan pelayanan kesehatan spesialistik yang dilakukan oleh dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik. c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga, merupakan pelayanan kesehatan sub spesialistik yang dilakukan oleh dokter sub spesialis atau dokter gigi sub spesialis yang menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan sub spesialistik. Dalam rangka memperoleh rujukan, dapat dilakukan secara vertikal dan horizontal. a. Rujukan vertikal merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan yang berbeda tingkatan. Dapat dilakukan dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya. Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi dilakukan apabila:


Etika Profesi 177 1) pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau sub spesialistik; 2) perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan. Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan pelayanan yang lebih rendah dilakukan apabila: 1) permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah sesuai dengan kompetensi dan kewenangannya; 2) kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua lebih baik dalam menangani pasien tersebut; 3) pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka panjang; dan/atau; 4) perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan. Setiap pemberi pelayanan kesehatan berkewajiban merujuk pasien bila keadaan penyakit atau permasalahan kesehatan memerlukannya, kecuali dengan alasan yang sah dan mendapat persetujuan pasien atau keluarganya. b. Rujukan horizontal merupakan rujukan antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan. Rujukan horizontal sebagaimana dilakukan apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya sementara atau menetap. Dalam Pelaksanaan rujukan harus memenuhi persyaratan berikut: a. diagnosis dan terapi dan/atau tindakan medis yang diperlukan; b. alasan dan tujuan dilakukan rujukan; c. risiko yang dapat timbul apabila rujukan tidak dilakukan; d. transportasi rujukan; dan e. risiko atau penyulit yang dapat timbul selama dalam perjalanan. Sedangkan dalam melakukan rujukan, perujuk sebelum harus: a. melakukan pertolongan pertama dan/atau tindakan stabilisasi kondisi pasien sesuai indikasi medis serta sesuai dengan kemampuan untuk tujuan keselamatan pasien selama pelaksanaan rujukan;


178 Etika Profesi b. melakukan komunikasi dengan penerima rujukan dan memastikan bahwa penerima rujukan dapat menerima pasien dalam hal keadaan pasien gawat darurat; dan c. membuat surat pengantar rujukan untuk disampaikan kepada penerima rujukan. Dalam komunikasi penerima rujukan berkewajiban: menginformasikan mengenai ketersediaan sarana dan prasarana serta kompetensi dan ketersediaan tenaga kesehatan; memberikan pertimbangan medis atas kondisi pasien. Surat pengantar rujukan sekurang-kurangnya memuat: identitas pasien; hasil pemeriksaan (anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang) yang telah dilakukan; diagnosis kerja; terapi dan/atau tindakan yang telah diberikan; tujuan rujukan dan nama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan. Berikut diberikan gambaran tentang jenis rujukan dan skema sistem rujukan pelayanan kesehatan di Indonesia. Gambar 6.5. Jenis Rujukan Kesehatan


Etika Profesi 179 Gambar 6.6. Rujukan Kesehatan


180 Etika Profesi 2. Sistem Rujukan Pelayanan Gizi Saudara mahasiswa, sistem rujukan gizi di Indonesia mengikuti ketentuan sistem kesehatan nasional. Seperti terlihat pada rujukan kesehatan bahwa pasien dengan keadaan tidak dapat ditangani pada tingkat posyandu akan direfer ke puskesmas pembantu tingkat kelurahan, bila masih belum dapat ditangani maka akan dikirimkan ke puskesmas tingkat kecamatan dan seterusnya bila diperlukan dapat dirujuk ke Rumah Sakit tingkat Provinsi atau Rumah sakit Umum tipe A di mana rumah sakit pada level ini mempunyai dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan sub spesialistik. Sebagai contoh seorang anak yang terdeteksi Gizi Buruk ditingkat posyandu akan direfer atau dirujuk ke Puskesmas yang memiliki ruang perawatan untuk anak gizi buruk. Bila keadaannya tidak dapat ditangani karena fasilitas tidak tersedia maka akan direfer ke rumah sakit yang lebih tinggi tingkatannya dan memiliki fasilitas sesuai kebutuhan anak tersebut. Pelayanan rujukan ini hanya dapat dilakukan bila pasien mempunyai jaminan kesehatan seperti badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). a. Tata Cara Pelaksanaan Sistem Rujukan Berjenjang Saudara mahasiswa pelaksanaan sistem rujukan berjenjang memiliki tata cara yang harus diikuti yaitu 1) Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan medis, yaitu: a) Dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama. b) Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua. c) Pelayanan kesehatan tingkat kedua di faskes sekunder hanya dapat diberikan atas rujukan dari faskes primer. d) Pelayanan kesehatan tingkat ketiga di faskes tersier hanya dapat diberikan atas rujukan dari faskes sekunder dan faskes primer. 2) Pelayanan kesehatan di faskes primer yang dapat dirujuk langsung ke faskes tersier hanya untuk kasus yang sudah ditegakkan diagnosis dan rencana terapinya, merupakan pelayanan berulang dan hanya tersedia di faskes tersier. 3) Ketentuan pelayanan rujukan berjenjang dapat dikecualikan dalam kondisi: a) terjadi keadaan gawat darurat; Kondisi kegawatdaruratan mengikuti ketentuan yang berlaku; b) bencana; Kriteria bencana ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Daerah;


Etika Profesi 181 c) kekhususan permasalahan kesehatan pasien; untuk kasus yang sudah ditegakkan rencana terapinya dan terapi tersebut hanya dapat dilakukan di fasilitas kesehatan lanjutan; d) pertimbangan geografis; dan e) pertimbangan ketersediaan fasilitas. 4) Pelayanan oleh bidan dan perawat a) Dalam keadaan tertentu, bidan atau perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. b) Bidan dan perawat hanya dapat melakukan rujukan ke dokter dan/atau dokter gigi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama kecuali dalam kondisi gawat darurat dan kekhususan permasalahan kesehatan pasien, yaitu kondisi di luar kompetensi dokter dan/atau dokter gigi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama. 5) Rujukan Parsial a) Rujukan parsial adalah pengiriman pasien atau spesimen ke pemberi pelayanan kesehatan lain dalam rangka menegakkan diagnosis atau pemberian terapi, yang merupakan satu rangkaian perawatan pasien di Faskes tersebut. b) Rujukan parsial dapat berupa: (1) pengiriman pasien untuk dilakukan pemeriksaan penunjang atau tindakan. (2) pengiriman spesimen untuk pemeriksaan penunjang c. Apabila pasien tersebut adalah pasien rujukan parsial, maka penjaminan pasien dilakukan oleh fasilitas kesehatan perujuk. b. Forum Komunikasi Antar Fasilitas Kesehatan (www.altimis.es) Untuk dapat mengoptimalisasikan sistem rujukan berjenjang, maka perlu dibentuk forum komunikasi antar Fasilitas Kesehatan baik faskes yang setingkat maupun antar tingkatan faskes, hal ini bertujuan agar fasilitas kesehatan tersebut dapat melakukan koordinasi rujukan antar fasilitas kesehatan menggunakan sarana komunikasi yang tersedia agar: 1) Faskes perujuk mendapatkan informasi mengenai ketersediaan sarana dan prasarana serta kompetensi dan ketersediaan tenaga kesehatan serta dapat memastikan bahwa penerima rujukan dapat menerima pasien sesuai dengan kebutuhan medis. 2) Faskes tujuan rujukan mendapatkan informasi secara dini terhadap kondisi pasien sehingga dapat mempersiapkan dan menyediakan perawatan sesuai dengan kebutuhan medis. Forum Komunikasi antar Faskes dibentuk oleh masing-masing Kantor Cabang BPJS Kesehatan sesuai dengan wilayah kerjanya dengan menunjuk Person In


182 Etika Profesi charge (PIC) dari masing-masing Faskes. Tugas PIC Faskes adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam rangka pelayanan rujukan. Pembinaan Dan Pengawasan Sistem Rujukan Berjenjang 1) Kepala Dinas kesehatan Kab Kota dan organisasi profesi bertanggung jawab atas pembinaan dan pengawasan rujukan pada pelayanan kesehatan tingkat pertama; Universitas Sumatera Utara. 2) Kepala Dinas kesehatan provinsi dan organisasi profesi bertanggung jawab atas pembinaan dan pengawasan rujukan pada pelayanan kesehatan tingkat kedua. 3) Menteri bertanggung jawab atas pembinaan dan pengawasan rujukan pada pelayanan kesehatan tingkat ketiga. Latihan Untuk dapat memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah Latihan berikut! 1) Apakah yang saudara ketahui tentang penguasaan teknologi khususnya gizi? 2) Coba saudara lakukan penelusuran melalui internet beberapa website yang terkait dengan gizi baik Nasional maupun Internasional. Kemudian jelaskan masing-masing kekhususan dari website tersebut! 3) Apa manfaat penguasaan teknologi bagi tenaga gizi? Perkembangan apa yang dapat diperoleh dengan penguasaan teknologi? 4) Apakah yang dimaksud dengan sistem rujukan kesehatan? 5) Bila ditemukan di posyandu seorang anak balita menderita gizi buruk, dan di posyandu tidak dapat menangani kasus tersebut. Bagaimana merujuk pasien tersebut? Jelaskan secara rinci. 6) Bagaimana peran tenaga gizi dalam menangani pasien yang harus dirujuk?


Etika Profesi 183 Ringkasan 1. Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. 2. Teknologi dapat berupa perangkat lunak (software) yang dapat digunakan untuk membantu mempermudah dan mempercepat pekerjaan serta perangkat keras berupa alat. 3. Teknologi yang dapat digunakan untuk mempercepat pekerjaan tenaga gizi sebagai contoh adalah nutriclin, berupa spftware yang dikembangkan untuk menganalisis zat gizi. Soft ware ini mempercepat dan mempermudah pekerjaan ahli gizi. 4. Sistem Rujukan pelayanan kesehatan adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal yang wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan sosial, dan seluruh fasilitas kesehatan. 5. Sistem rujukan berjenjang adalah dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan medis, yaitu dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua dan pelayanan kesehatan tingkat ketiga di fasilitas kesehatan tersier hanya dapat diberikan atas rujukan dari faskes sekunder dan faskes primer 6. Untuk mengoptimalkan sistem rujukan diperlukan forum komunikasi antar fasilitas kesehatan terutama berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, informasi yang memudahkan pasien bila harus dirujuk dan siapa yang bertanggung jawab di masingmasing fasilitas kesehatan (PIC). Tes 2 Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar! 1) Penguasaan teknologi adalah …. A. Dapat melihat dan mengetahui perkembangan teknologi B. Dapat mengikuti perkembangan media sosial terkini C. Dapat mengikuti dan menerapkan teknologi terkini D. Dapat ikut membahas perkembangan teknologi terkini


184 Etika Profesi 2) Contoh dari perkembangan teknologi gizi yang dapat membantu mempercepat pekerjaan ahli gizi adalah …. A. Software presentasi ilmiah B. Software rekam medis C. Software analisis status kesehatan D. Software analisis zat gizi 3) Sistem rujukan adalah …. A. Mengatur fasilitas pelayanan kesehatan B. Mengatur pelimpahan tugas C. Mengatur ruang perawatan D. mengatur biaya rawat 4) Sistem rujukan vertikal adalah …. A. Berbeda wilayah kerja B. Berbeda biaya rawat C. Berbeda tingkatan pelayanan D. Berbeda kartu anggota asuransi 5) Manfaat dari forum komunikasi antar fasilitas kesehatan adalah …. A. Mengetahui sarana, penanggung jawab dan memudahkan pasien B. Mengetahui kemudahan pasien untuk mendaftar langsung C. Mengetahui dan memilih tenaga kesehatan yang akan melayani D. Mengetahui informasi terkait kesanggupan biaya pasien


Etika Profesi 185 Kunci Jawaban Tes Tes Formatif 1 1) B. 2) D 3) D 4) D 5) C Tes Formatif 2 1) C 2) D 3) B 4) C 5) A


186 Etika Profesi Glosarium Etika dalam PAGT : Etika dalam Proses Asuhan Gizi Terstandar adalah penerapan konsep benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab serta memerlukan sikap kritis, metodis dan sistematis dalam melakukan dalam melakukan pengkajian (asesmen) gizi, diagnosisi gizi, intervensi gizi dan monitoring dan evaluasi gizi. PAGT : adalah Proses Asuhan Gizi Terstandar yang merupakan suatu proses yang dikembangkan untuk meningkatkan konsistensi dan kualitas dalam memberikan asuhan gizi kepada pasien atau kelompok dan memperkirakan outcome pasien. (IDNT, 2013) Penguasaan Teknologi : meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Sistem Rujukan : adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal yang wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan sosial, dan seluruh fasilitas kesehatan. Sistem rujukan berjenjang : adalah dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan medis, yaitu dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua dan pelayanan kesehatan tingkat ketiga di fasilitas kesehatan tersier hanya dapat diberikan atas rujukan dari fasilitas kesehatan sekunder dan faskes primer.


Etika Profesi 187 Daftar Pustaka Academy of Nutrition and Dietetics. 2013. Pocket Guide for International Dietetics and Nutrition terminology (IDNT) Reference manual. Standardized Laguange for the Nutrition Care Process. fourth edition. Chicago. Bachyar Bakri dan Annasari Mustafa. 2010. Etika dan Profesi Gizi. Graha Ilmu. Yogjakarta. Cornelia dkk. 2013. Konseling gizi. Proses Komunikasi, tata Laksana serta Aplikasi konseling gizi pada berbagai Diet. Jakarta: Penebar Plus Departemen kesehatan RI. 2007. Standar Profesi Gizi. Jakarta. https://anasihite.wordpress.com/2014/09/22 manfaat-teknologi-informasi-dibidangkesehatan-masyarakat. http://www.academia.edu/20375716/Pengertian_Sistem_Rujukan https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/dmdocumentsBPSJ kesehatan, Panduan Praktis Sistem Rujukan Berjenjang, , Hal 10-15 http://text-id.123dok.com/document/1q519drry-forum-komunikasi-antar-fasilitas-ksehatanhal-yang-perlu-diperhatikan-dalam-komunikasi-sistem-rujukan-berjenjang.html. https://rizkaarmalena91.wordpress.com/2015/03/30/sistem-rujukan/... Yuyun Estriyanto, “Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pembelajaran”, http://mail.uns.ac.id/~yuyunestriyanto. Diakses pada 16 Maret 2009. Mushthafa “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran” dalam Jurnal Edukasi, No. 10/2008 Noor Cahyanto, Jalu, “Pemanfaatan ICT dalam Membangun Jaringan Pembelajaran Internasional”, paper dalam Konferensi Guru Indonesia 2007, Jakarta, 27-28 November 2007. Sumapradja,M.G, Fayakun.Y.L,Moviana.Y,. Proses Asuhan Gizi Terstandar. Persatuan Ahli Gizi Indonesia dan Asosiasi Dietisien Indonesia, 2011


Click to View FlipBook Version