The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 00:22:30

EBOOK RISET KEPERAWATAN

EBOOK RISET KEPERAWATAN

H. Anang Setiana, SKM., MKM Rina Nuraeni, S.Kep, Ners., M.Kes RISET KEPERAWATAN LOVRINZ PUBLISHING 2018


Judul Buku : RISET KEPERAWATAN Penulis : H. Anang Setiana, SKM., MKM Rina Nuraeni, S.Kep, Ners., M.Kes Editor : Aeni Rahmawati, S.Pd Sampul & Layout : Lentera Pena 14 Cetakan 1. September 2018 Dimensi 18 x 26 cm. Halaman 145 hal Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Diterbitkan Oleh : LovRinz Publishing Perum Panorama B2 nomor 23-24 Sindanglaut – Cirebon Jawa Barat 085933115757 [email protected] ISBN : 978-602-489-006-3 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang All right reserved


1 | RISET KEPERAWATAN BAB 1 KONSEP DASAR RISET KEPERAWATAN A. Pengertian Riset Keperawatan 1. Riset Riset berasal dari kata “ Research “. Re berarti kembali dan search artinya mencari, jadi research adalah mencari kembali. Pada dasarnya riset dilakukan atas dasar sifat manusia yang selalu ingin tahu, selalu ingin membuktikan, ingin memecahkan masalah, ingin mencari kebenaran dan sebagainya. Riset atau penelitian adalah suatu upaya untuk memahami dan memecahkan masalah secara ilmiah, sistematis dan logis. Ilmiah diartikan kebenaran pengetahuan yang didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh dari penyelidikan secara berhati-hati dan bersifat obyektif (bukan dari ide pribadi atau dugaan-dugaan). Sistematis karena proses ilmiah diperlukan tahapan-tahapan yang sistematis menurut aturan, serta logis diartikan sesuai dengan penalaran. Riset digunakan untuk menunjukkan suatu proses aktif dalam mengidentifikasi suatu masalah yang membutuhkan pemecahan, kemudian secara sistematis mengumpulkan, memeriksa dan menafsirkan pengetahuan tentang bagaimana memecahkan masalah itu dengan cara terbaik. Riset dalam arti ilmiah adalah melakukan suatu usaha untuk mengkaji kembali apa yang telah diketahui tentang masalah khusus (studi literatur), kemudian dengan seksama mengusulkan cara pemecahan melalui studi sistematik pada klien-klien yang mengalami masalah tersebut. Pengertian/definisi lain: a. Riset adalah proses pencaritahuan, mencari kejelasan tentang suatu kejadian atau fenomena menggunakan metode ilmiah. b. Riset adalah upaya mencari kejelasan atau kebenaran secara konseptual dengan menggunakan metode ilmiah. Hal tersebut dilakukan karena adanya masalah. c. Riset adalah suatu proses yang terencana dan sistematis untuk memecahkan masalah penelitian atau mendapatkan penjelasan/jawaban penelitian. d. Riset/penelitian adalah mencari kejelasan konsep, kejelasan penerapan konsep, mendapatkan atau menguji kebenaran konsep dengan cara mempelajari fenomena secara ilmiah (sistematis, terkendali, empiris). 2. Riset Keperawatan Riset/Penelitian Keperawatan dapat diartikan sebagai upaya untuk memahami dan memecahkan masalah secara ilmiah, sistematis dan logis yang berkaitan dengan bidang keperawatan. Riset Keperawatan adalah penerapan penyelidikan secara ilmiah terhadap fenomena mengenai/perhatian keperawatan: klien (individu/keluarga/masyarakat) dan pengalaman kesehatan mereka.


2 | RISET KEPERAWATAN 3. Riset dalam Keperawatan Berbeda dengan riset kesehatan pada umumnya, karena riset dalam keperawatan adalah melakukan riset yang dilakukan di luar klien-klien dan pengalaman mereka yang seringkali dipandang perawat mempelajari perawat. Contoh : suatu studi yang menyelidiki gaya manajemen dari pengawas perawat klinik. Riset ini disebut riset dalam keperawatan karena tidak berfokus secara langsung pada klien dan pengalaman kesehatannya. B. Signifikansi dan Tujuan Riset Keperawatan Harapan konsumen akan kepuasan pelayanan keperawatan dan adanya hambatan biaya perawatan kesehatan merupakan tuntutan yang menantang di masa kini. Di samping itu bermunculannya rumah sakit-rumah sakit di berbagai daerah/kota membuat berkembangnya pandangan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang secara langsung keperawatan dihadapkan pada persaingan yang tinggi. Hal tersebut harus segera direspon dengan cara meningkatkan diri/kemampuan perawat sendiri dengan mencari strategi perawatan yang lebih baik dan lebih efektif serta efisien dalam biaya, dengan tidak membahayakan kebutuhan pelayanan kesehatan klien. Hal tersebut dapat dilakukan melalui riset keperawatan. Riset keperawatan bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang akhirnya diterapkan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien. Riset keperawatan digunakan sebagai alat utama untuk pengembangan pengetahuan keperawatan. Sedangkan tujuan riset/penelitian secara umum adalah : 1. Menemukan pengetahuan, yaitu mendapatkan pengetahuan yang baru untuk mengisi kekosongan (gap) atau melengkapi kekurangan yang ada; 2. Mengembangkan pengetahuan, yaitu memperluas atau memperdalam pengetahuan yang sudah ada; 3. Menguji kebenaran pengetahuan, yaitu mempertajam atau memastikan pengetahuan yang ada untuk menghilangkan keragu-raguan terhadap pengetahuan yang sudah ada tersebut. C. Keterkaitan Riset/Penelitian dengan Praktik Keperawatan Riset Keperawatan adalah kunci untuk menyediakan pelayanan keperawatan yang tepat. Riset ini adalah proses yang memungkinkan banyak pertanyaan muncul dalam praktik keperawatan sehari-hari dapat dijawab. Riset juga memberikan data yang mencatat keefektifan dan kemanjuran suatu asuhan keperawatan. Perawatan pasien yang didasarkan pada informasi ini akan menjamin bahwa pelayanan yang diberikan perawat dan cara penyampaian didasarkan pada pengetahuan keperawatan yang terus berkembang dan diperbaiki. Perawat yang bergantung pada riset keperawatan dalam asuhan praktik dapat menjadi percaya diri karena unsur penting dalam praktik keperawatan telah diperoleh. D. Perkembangan Riset Keperawatan Sejarah riset keperawatan sebagian besar berasal dari era Florence Nightingale. Karya klasiknya, Note on Nursing (1859/1969), menekankan pentingnya observasi yang hati-hati dalam perawatan pasien. Ia percaya bahwa melalui observasi para perawat dapat menentukan perawatan yang terbaik untuk pasien. Penekanan pada observasi sistematik,


3 | RISET KEPERAWATAN sebagai kebalikan dari suatu pendekatan ”trial and error” (mencoba-coba) dalam pemberian perawatan pasien, menanamkan bibit-bibit evolusi sains keperawatan (suatu kumpulan pengetahuan keperawatan yang unik dari disiplin keperawatan, merupakan penemuan informasi yang menjelaskan, menggambarkan dan memperkirakan hubungan antar individu dan pengalaman kesehatannya) Sejak peralihan abad, semakin jelas bahwa praktik keperawatan harus berdasarkan pada hasil-hasil riset keperawatan. Bukanlah hal yang tabu bila perawat yang melakukan praktik untuk menarik pengalamannya dalam membuat keputusan mengenai perawatan pasien atau menggunakan hasil-hasil riset dari disiplin lain. Sementara banyak perawat banyak menemukan pendekatan ini membantu dalam menyelesaikan masalah-masalah keperawatan pasien, terdapat keprihatinan mengenai pentingnya untuk mengidentifikasi ilmu pengetahun yang telah dikembangkan dari kerangka keperawatan. Riset yang dilakukan dalam keperawatan telah berkembang untuk menjawab peristiwa-peristiwa penting yang membentuk dasar-dasar dalam perkembangan pengetahuan keperawatan (Abdellah & Levine dalam: Brockopp, Dorothy Young, Hastings-Tolsma, Marie T.,:1995). 1. Era 1900-1970: Peletakan Dasar-dasar Peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada abad ini mengkontribusi pertumbuhan pengetahuan keperawatan dan pengakuan keperawatan sebagai suatu disiplin ilmu. Sebelum waktu tersebut, dan sebagai hasil usaha-usaha organisasi Nightingale, keperawatan telah dipandang sebagai suatu pekerjaan/okupasi. Dua peristiwa yang mempunyai pengaruh kuat yang mendasar pada perkembangan keperawatan dan memberikan arah dalam penyelidikan riset dalam keperawatan adalah Laporan Gold Mark tahun 1923 dan Laporan Brown tahun 1948. Laporan Goldmark adalah hasil dari suatu studi komprehensif yang dilakukan yang dilakukan pada waktu pendidikan keperawatan berlangsung dalam ”training ground/pelatihan” dari rumah sakit. Laporan tersebut menyarankan agar perawat kesehatan masyarakat menerima pendidikan yang lebih lanjut dan bahwa rumah sakit memberikan kesempatan bagi siswa keperawatan untuk mendapatkan pengalaman dan belajar formal, pada saat mereka merupakan sumber buruh murah dalam pelayanan keperawatan. Riset keperawatan yang dilakukan pada waktu itu berfokus pada pokok-pokok persoalan yang sangat memprihatinkan bagi ilmu keperawatan, kebutuhan pendidikan perawat dan pentingnya sumber untuk menyiapkan perawat dalam struktur pendidikan yang lebih tinggi. Laporan Goldmark mendorong penyelidikan mengenai pokok-pokok persoalan yang akan membantu persiapan pendidikan bagi perawat-perawat seperti halnya profesi lainnya. Laporan ini merupakan motivasi utama untuk melahirkan riset dalam keperawatan. Laporan Brown adalah hasil dari studi intensif mengenai isu pendidikan dan pelayanan keperawatan. Pengaruh kuat dari laporan tersebut adalah melahirkan riset dalam menjawab usulan terhadap analisa asuhan keperawatan akan fungsi, peran, sikap, lingkungan kerja, kesejahteraan umum dan hubungan dengan klien. Akhirnya riset mengarahkan kepada perkembangan suatu sistem untuk klasifikasi dan akreditasi sekolah-sekolah keperawatan. Hasil laporan tersebut menantang masyarakat keperawatan untuk mengembangkan cara-cara persiapan pendidikan yang tepat, dan menyelidiki pelayanan keperawatan. Riset dilakukan untuk menjawab laporan tersebut menstimulasi pengembangan mekanisme untuk melaporkan hasil-hasil laporan riset


4 | RISET KEPERAWATAN (contoh jurnal) dan pembentukan agen/perwakilan untuk mendukung dan membimbing usaha riset keperawatan. Rekomendasi dari dua laporan belum sepenuhnya diwujudkan. Namun perubahan-perubahan dalam kebutuhan pendidikan dari pelatihan rumah sakit sampai kepada persiapan di institut dan universitas dan perkembangan dari lulusan pendidikan keperawatan adalah dua hasil penting di tahun 1950-an. Perubahanperubahan ini adalah alat dalam mensosialisasikan perawat kepada penggunaan riset dalam mengembangkan keperawatan. Perubahan lain yang terjadi mendukung pertumbuhan riset dalam keperawatan, Riset Keperawatan, mendirikan pusat-pusat riset, ketetapan-ketetapan untuk mendukung penyelidikan riset dan muncul dalam literatur teori keperawatan dari Hildegard Peplau. Sejak tahun 1950-an, penekanan riset keperawatan jelas bergeser kepada perhatian yang berpusat pada pasien. Tinjauan publikasi riset menunjukkan peningkatan persentase studi tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan praktik, seperti apa yang diajarkan pada penderita diabetik baru, bagaimana merawat seorang pasien dengan gangguan kulit, dan bagaimana mengukur aspek-aspek tingkah laku manusia yang penting dalam meningkatkan kesehatan dan pencegahan penyakit. Keprihatinan terhadap kesehatan klien mengkontribusi perkembangan jurnal yang berkaitan dengan proses riset dan melaporkan hasil-hasil studi, dan artikel riset keperawatan untuk membimbing perancang maupun pemakai hasil riset. 2. 1970- Sekarang: Trend Dunia Baru a. International Keperawatan telah mencapai stadium baru dalam perkembangan riset. Pemeriksaan langsung mengenai riset dalam tahun-tahun terakhir memperlihatkan perubahan yang jelas akan fokus riset, dari pendidikan keperawatan dan adminsitrasi keperawatan (perawat mempelajari perawat) sampai kepada masalah-masalah praktik keperawatan. Strategi praktik yang efektif, perkembangan hasil-hasil riset yang terdahulu, dan pembentukan ilmu pengetahuan yang unik bagi profesi keperawatan adalah trend riset yang nyata. Seni dan Ilmu Keperawatan Secara umum telah diterima bahwa keperawatan merupakan suatu seni dan ilmu (Peplau, 1988). Sebagai anggota profesi praktik, para perawat menaruh perhatian seni merawat individu yang mengalami gangguan kesehatan. Keperawatan sebagai suatu seni mengandung arti keterampilan praktik diperoleh melalui pengalaman atau pengamatan (Oxford Amerian Dictionary, 1980). Beberapa perawat akan mempertentangkan bahwa cara perawatan yang diberikan adalah penting dalam proses penyembuhan. Sama halnya adalah pengakuan bahwa keperawatan juga merupakan suatu ilmu. Pengakuan perbedaan pengetahuan keperawatan dan kemampuan perawat untuk mendiagnosa dan merawat masalah-masalah kesehatan adalah dasar untuk membuktikan bahwa keperawatan adalah suatu ilmu. Pemeriksaan fakta yang sungguh-sungguh yang relevan dengan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit adalah inti dari ilmu keperawatan. Kegiatan ini penting jika asuhan keperawatan yang diterima klien (seni) lebih daripada perawatan berdasarkan pada firasat-firasat dan metoda trial and error.


5 | RISET KEPERAWATAN Para klien yang mengalami gangguan kesehatan memerlukan asuhan keperawatan yang berdasarkan pada pengetahuan dari penyelidikan secara ilmiah. Keinginan untuk berinteraksi sederajat dengan tenaga profesional lainnya dan untuk memberikan hasil-hasil ilmiah dari riset telah mengkontribusi perkembangan ilmu keperawatan. Tujuan profesional ini telah menunjukkan pentingnya perkembangan, strategi-strategi yang efektif dalam studi pada bidangbidang yang diminati dalam keperawatan. Perawat harus memperhatikan bagaimana suatu penyelidikan mengkontribusi baik pada perbaikan seni keperawatan dan perkembangan ilmu keperawatan. Meskipun setiap studi mungkin tidak secara langsung mengkontribusi seni dan ilmu keperawatan, kemungkinan untuk melakukan hal tersebut seharusnya dibuat dengan jelas. Cara-cara Mengetahui: Menyusun Pengetahuan Keperawatan Pengetahuan baru dapat diperoleh dengan berbagai cara (Kaplan, 1964). Intuisi, pendekatan pemecahan masalah menggunakan alasan logis, pengalaman, dan penyelidikan ilmiah adalah semua cara memperoleh pengetahuan baru yang dapat berguna dalam praktik keperawatan. Penyelidikan secara ilmiah, adalah perhatian utama bagi keperawatan sebagai ilmu. Keperawatan menaruh minat dalam menjelaskan hubungan antara individu, lingkungan, dan pengalaman kesehatan. Seperti halnya dalam disiplin ilmu lainnya, teori-teori diterima untuk membantu menjelaskan apa yang dapat diharapkan. Studi tentang bagaimana sebuah teori yang diberikan menjelaskan dengan baik suatu fenomena khusus merupakan perhatian dari riset. Riset keperawatan yang dilakukan berusaha mencari pengetahuan baru dalam upaya untuk menjawab pertanyaan pelayanan kesehatan tertentu atau memecahkann masalah yang timbul, berdasarkan teori yang dikemukakan. Penggunaan penyelidikan secara ilmiah untuk memperoleh pengetahuan baru dalam keperawatan berarti bahwa metoda riset digunakan untuk mengobservasi secara ilmiah peristiwa-peristiwa, tingkah laku, atau benda-benda sistematis. Penyelidikan secara ilmiah mengkhususkan pendekatan penyelidikan yang mengumpulkan bukti-bukti empiris secara sistematis. Pengumpulan data melalui kelima indra yang secara tradisional telah ditentukan secara bukti-bukti empiris. Cara pengembangan pengetahuan baru dalam keperawatan merupakan isu yang kontroversial dan menimbulkan banyak pertanyaan. Telah banyak kritik tentang penyelidikan yang tampaknya tidak konsisten dengan perhatian keperawatan telah diterima bahwa asuhan perawatan kesehatan diberikan dengan cara humanistik dan holistik. Catatan ini dibahas oleh banyak ahli teori keperawatan dan tampak menjadi asumsi dasar dalam literatur keperawatan. Keperawatan menaruh perhatian pada lebih daripada penyakit atau penyakit ringan yang diderita individu. Karena orientasi keperawatan adalah perawatan holistik, cara pengetahuan baru dikumpulkan atau cara penyelidikan harus ditentukan dengan hati-hati. Karena penelitian keperawatan tidak hanya mengumpulkan data yang dapat diobservasi/diukur menggunakan panca indra tapi juga


6 | RISET KEPERAWATAN mengukur/mengobservasi data lain seperti data pengaruh psikologis, sosiologis dan spiritual klien. b. Indonesia Perkembangan riset keperawatan di Indonesia baru dimulai secara intensif sejak didirikannya program studi/fakultas ilmu keperawatan pada tahun 1990-an (Sejak diberlakukannya UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan yang memungkinkan pendidikan keperawatan dapat berkembang sampai jenjang S3), di mana tuntutan pendidikan profesional (sarjana) antara lain adalah melakukan riset/penelitian sebagai salah satu Tridharma Perguruan Tinggi. Hal tersebut juga diawali dengan ditetapkannya definisi mengenai tugas dan fungsi perawat di Indonesia pada Lokakarya Nasional Keperawatan tahun 1983 yang diselenggarakan oleh Depdikbud RI., Depkes RI, dan DPP PPNI, di mana tugas/peran perawat adalah pelaksana pelayanan perawatan, pengelola pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan, pendidik dalam keperawatan, dan peneliti/pengembang keperawatan. Sedangkan sebelumnya baru bersifat mengumpulkan data sebagai bahan kajian dan memanfaatkan hasil riset/studi dari komunitas keperawatan di negara yang lebih dulu maju dalam bidang keperawatan. E. Peran Perawat Profesional dalam Riset Keperawatan Bagi perawat profesional, riset merupakan tanggung jawab atau peran yang harus dilaksanakan dengan cara berpartisipasi dalam riset (peran peneliti). Penekanan utama dalam melaksanakan tanggung jawab perawat profesional di tingkat pendidikan sarjana adalah menyusun, melaksanakan replikasi, dan mengumpulkan data. Sedangkan perawat profesional pemula dengan pendidikan diploma penekanannya adalah pada peran konsumer riset yang dapat menghargai riset dan aktivitasnya lainnya meliputi pengumpulan data dan mengidentifikasi secara aktif masalah dibutuhkan dalam studi oleh peneliti. Persyaratan sebagai peneliti/peneliti utama adalah minimal berpendidikan sarjana (SI). Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-Dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.


7 | RISET KEPERAWATAN BAB 2 RANAH PENELITIAN KEPERAWATAN DAN ASPEK ETIKA PENELITIAN A. Ranah Riset Keperawatan Dalam penelitian keperawatan memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan penelitian lainnya sebagaimana disiplin ilmu yang dipelajari. Riset keperawatan dapat dilakukan baik di klinik/tempat pelayanan keperawatan, masyarakat, maupun di institusi (pendidikan, manajemen) yang menjadi dasar penentuan area/lingkup riset keperawatan. Ranah/ruang lingkup riset keperawatan dapat dibagi sebagai berikut: 1. Menurut Dorothy Young Brockopp dan Marie T. Hastings-Tolsma, 1995. a. Riset Keperawatan Penerapan penyelidikan secara ilmiah terhadap fenomena mengenai/perhatian keperawatan: klien (individu/keluarga/masyarakat) dan pengalaman kesehatan mereka. Fokus penelitian: Klien b. Riset dalam Keperawatan Melakukan riset yang dilakukan di luar klien-klien dan pengalaman mereka yang seringkali dipandang perawat mempelajari perawat. Fokus penelitian: Perawat (manajemen, pendidikan, kinerja dan sebagainya) 2. Menurut Nursalam, (2003) a. Ilmu Keperawatan Dasar dan Manajemen Keperawatan Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan dasar meliputi: 1) Pengembangan Konsep dan Teori Keperawatan: kajian teori-teori yang sudah ada dalam upaya meyakinkan masyarakat bahwa keperawatan adalah suatu ilmu yang berbeda dari ilmu profesi kesehatan lain serta kesesuaian penerapan ilmu tersebut dalam bidang keperawatan (Teori adaptasi, teori hubungan antar manusia, teori kebutuhan dasar manusia, teori hubungan antar care, core, dan cure, teori konsep model keperawatan, dan lain-lain) 2) Penelitian Kebutuhan Dasar Manusia (Identifikasi, sebab dan upaya untuk pemenuhan kebutuhan dasar: oksigen, nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi, istirahat, rasa nyaman, aman, psikososial spiritual dan seksualitas dan sebagainya) 3) Penelitian Pendidikan Keperawatan (Perkembangan pengelolaan pendidikan keperawatan, penerapan/pengembangan kurikulum, proses pembelajaran di kelas/lab/klinik/lapangan, sarana/prasarana pendidikan, mahasiswa dan staf pengajar, metode pembelajaran, system evaluasi dan sebagainya) 4) Penelitian Manajemen Keperawatan (Sistem pengelolaan pelayanan keperawatan, peran dan kinerja bidang keperawatan, peran dan kinerja komite keperawatan, peran dan kinerja perawat, model asuhan keperawatan professional yang diterapkan, model RR, administrasi pasien masuk RS,


8 | RISET KEPERAWATAN pengembangan instrumen kualitas pelayanan keperawatan dan atau kepuasan pasien, standar praktik keperawatan profesional 5) Penelitian Organisasi Profesi Keperawatan/PPNI: Peran organisasi dalam system regulasi praktik keperawatan (registrasi, lisensi, dan legalisasi), peran organisasi dalam penetapan standar praktik keperawatan, peran organisasi dalam pelanggaran praktik anggotanya, peran organisasi dalam peningkatan pendidikan anggota, peran organisasi dalam pengembangan pendidikan tinggi keperawatan. b. Ilmu Keperawatan Anak Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan anak didasarkan pada filosofi keperawatan anak yang menekankan pada masalah biopsikososial anak akibat hospitalisasi dan peran keluarga dalam asuhan keperawatan anak (Contoh: stress akibat dampak hospitalisasi pada anak, penerapan konsep asuhan keperawatan anak dengan paradigma atraumatic care, masalah deteksi dini tumbuh kembang/DDTK, masalah stimulasi sesuai tahap tumbuh kembang bayi/anak, masalah pengelolaan bermain sesuai tahap tumbuh kembang anak dan jenis penyakit pada anak yang dirawat di RS, masalah pelaksanaan imunisasi, masalah asuhan keperawatan pada bayi/anak dengan gangguan tumbuh kembang, masalah asuhan keperawatan pada klien bayi/anak yang dirawat di RS dengan gangguan system tubuh yang sering terjadi pada bayi/anak seperti: pernafasan, pencernaan dan lain-lain). c. Ilmu Keperawatan Maternitas Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan maternitas difokuskan pada wanita masa perinatal, natal, postnatal, dan gangguan reproduksi yang sering terjadi pada wanita. Lingkup penelitian meliputi: 1) Pada ibu hamil: pendidikan kesehatan dan tindakan pada ibu hamil, senam hamil, perawatan payudara, imunisasi TT bumil, kegiatan sehari-hari, kebutuhan nutrisi dan pemeriksaan kehamilan. 2) Pada ibu intrapartum (Kala I-IV) dan asuhan keperawatan bayi baru lahir: Pemenuhan kebutuhan psikososial ibu inpartum, peran perawat dalam memonitor kemajuan persalinan/partograf, peran perawat dalam menolong persalinan normal minimal 3 orang, peran perawat pada bayi setelah lahir. 3) Pada ibu pasca persalinan: Perawatan vulva hygiene, perawatan buah dada, peran perawat dalam pengelolaan perdarahan pasca persalinan, pendidikan kesehatan seperti sebam nifas, cara menyusui yang benar, perawatan nifas, konseling KB/kontrasepsi. 4) Ibu dengan gangguan kesehatan system reproduksi. d. Ilmu Keperawatan Medikal Bedah dan Gawat Darurat Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan medikal bedah difokuskan pada asuhan keperawatan pada gangguan system tubuh akibat penyakit medikal bedah (gangguan system kekebalan tubuh, respirasi, kardiovaskuler, persarafan, perkemihan, pencernaan, endokrin, sensori persepsi, muskuloskeletal, lanjut usia) dan kegawat daruratan. e. Ilmu Keperawatan Kesehatan Jiwa Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan jiwa ditujukan pada seluruh komponen, meliputi pasien, keluarga, dan masyarakat serta pengembangan model


9 | RISET KEPERAWATAN asuhan keperawatan kesehatan jiwa mulai dari upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Lingkup masalah meliputi: penerapan proses keperawatan (teknik komunikasi terapeutik, terapi modalitas dan lain-lain), analisis proses interaksi, kedaruratan psikiatri, terapi keluarga, terapi manipulasi lingkungan, terapi modalitas (psikofarma, ECT, okupasi, aktifitas kelompok) f. Ilmu Keperawatan Komunitas, Keluarga, dan Gerontik Lingkup masalah penelitian ilmu keperawatan komunitas, keluarga, dan gerontik adalah pengkajian tentang kondisi kesehatan suatu masyarakat/keluarga/kelompok khusus yang meliputi pemeliharaan kesehatan, peran serta masyarakat dalam kesehatan, peningkatan kesehatan lingkungan, pengembangan teknologi tepat guna dan lain-lain. 3. Menurut Aziz Azimul Hidayat (2007) a. Keperawatan Dasar Lingkup penelitian ini adalah segala bentuk penelitian yang membahas masalah dalam ilmu keperawatan dasar (pendidikan kesehatan/keperawatan pada klien, kebutuhan dasar manusia, komunikasi keperawatan, tatanan praktik keperawatan, manajemen pelayanan keperawatan, system dokumentasi dalam pelayanan keperawatan, dan masalah yang terkait dengan penerapan teori-teori keperawatan). b. Keperawatan Klinik Lingkup penelitian ini membahas berbagai masalah yang terjadi di dalamnya, seperti masalah keperawatan anak, keperawatan maternitas, keperawatan medikal bedah, keperawatan gawat darurat/kritis, dan keperawatan jiwa. c. Keperawatan Komunitas Lingkup penelitian keperawatan komunitas mencakup masalah-masalah keperawatan pada kelompok khusus, keperawatan keluarga, dan keperawatan gerontik. 4. Lainnya Area/lingkup penelitian keperawatan meliputi: Objek Materil Objek Formil a. Manusia Respon manusia terhadap masalah kesehatan (health illness) b. Klinis/Komunitas - Asuhan Keperawatan - Pelayanan c. Pendidikan - Pembelajaran - Sistem B. Triangulasi Sebagai Metode Baru Penelitian/Riset Keperawatan 1. Triangulasi secara harfiah berarti segitiga. 2. Triangulasi atau segitiga dapat diartikan sebagai upaya melihat/menyelesaikan satu fokus tertentu melalui lebih dari satu cara /metode.


10 | RISET KEPERAWATAN 3. Triangulasi dalam riset/penelitian dapat diartikan bahwa dalam melakukan suatu penelitian atau mencari jawaban suatu masalah penelitian digunakan lebih dari satu metode/cara dalam metodologi penelitian (jenis penelitian, metode pengumpulan data, sumber data, analisis data dan sebagainya). 4. Triangulasi banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, di mana hasil penelitian akan lebih dapat dipercaya/validitasnya tinggi karena faktor subyektifitas diminimalisir dengan cara melakukan triangulasi dalam metode pengumpulan data (dilakukan > 1 orang), sumber data (> 1 orang/sumber), dan analisis data (analisis oleh > 1 orang). 5. Triangulasi dalam penelitian/riset keperawatan dapat dilakukan, baik dalam jenis penelitian (deskriptif/analitik, kuantitatif/kualitatif) pengumpulan data (primer/sekunder/tertier, data subyektif/obyektif, langsung oleh peneliti/tidak langsung oleh pembantu peneliti), sumber data (klien/keluarga/tetangga/ masyarakat/petugas), analisis data (oleh peneliti dan peneliti lain/dilakukan bukan hanya oleh peneliti). C. Aspek Etika Penelitian Keperawatan 1. Prinsip dan Etika Penelitian Dalam melaksanakan penelitian, khususnya jika yang menjadi subyek penelitian adalah manusia, maka peneliti harus memahami hak dasar manusia. Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya, sehingga penelitian yang akan dilaksanakan benar-benar menjunjung tinggi kebebasan manusia. Beberapa prinsip penelitian pada manusia yang harus dipahami adalah: a. Prinsip manfaat Dengan berprinsip pada aspek manfaat, maka segala bentuk penelitian yang dilakukan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Prinsip ini dapat ditegakkan dengan membebaskan, tidak memberikan atau menimbulkan kekerasan pada manusia, tidak menjadikan manusia untuk dieksploitasi. Penelitian yang dihasilkan dapat memberikan manfaat dan mempertimbangkan antara aspek risiko dengan aspek manfaat, bila penelitian yang dilakukan dapat mengalami dilema dalam etik. b. Prinsip menghormati manusia Manusia memiliki hak dan merupakan makhluk yang mulia yang harus dihormati, karena manusia berhak untuk menentukan pilihan antara mau dan tidak untuk diikutsertakan menjadi subyek penelitian. c. Prinsip keadilan Prinsip ini dilakukan untuk menjunjung tinggi keadilan manusia dengan menghargai hak atau memberikan pengobatan secara adil, hak menjaga privasi manusia, dan tidak berpihak dalam perlakukan terhadap manusia. 2. Masalah Etika Peneltian (Keperawatan) Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut: a. Informed Consent Informed consent merupakan informasi yang harus diberikan pada subyek/responden penelitian mengenai penelitian yang akan dilakukan. Tujuan


11 | RISET KEPERAWATAN informed consent adalah agar subyek penelitian mengetahui dan memahami maksud dan tujuan penelitian, proses penelitian dan dampaknya yang akhirnya dapat menentukan apakah responden setuju/bersedia atau tidak setuju/tidak bersedia menjadi subyek penelitian. Jika subyek bersedia, maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subyek tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak responden/pasien. Beberapa informasi yang harus ada dalam informed consent antara lain: Partisipasi pasien, tujuan dilakukan penelitian/tindakan, jenis data yang dibutuhkan, komitmen, prosedur pelaksanaan, potensial masalah yang akan terjadi, manfaat, kerahasiaan, informasi yang mudah dihubungi, dan lain-lain. b. Anonimity (tanpa nama) Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan. c. Kerahasiaan (confidentiality) Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset. Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-Dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.


12 | RISET KEPERAWATAN BAB 3 PROSEDUR PENELITIAN DAN PENULISAN USULAN PENELITIAN/PROPOSAL A. Langkah/Tahapan Penelitian Prosedur penelitian meliputi langkah-langkah atau tahapan sebagai berikut: 1. Tahap Persiapan a. Memilih lahan atau area penelitian b. Bekerjasama dengan lahan penelitian untuk studi pendahuluan c. Melakukan studi kepustakaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian d. Menyusun proposal e. Seminar proposal f. Mengadakan uji coba instrument 2. Tahap Pelaksanaan a. Permohonan izin penelitian b. Melakukan pengumpulan data c. Melakukan pengolahan dan analisis data d. Penarikan kesimpulan 3. Tahap Akhir a. Menyusun laporan b. Presentasi hasil penelitian/sidang ujian c. Perbaikan hasil presentasi/sidang ujian d. Publikasi B. Usulan/Prosposal Penelitian Sebelum melakukan penelitian, yang harus dilakukan adalah menyusun sebuah proposal penelitian. Dalam menyusun proposal penelitian ada tiga kemampuan yang harus dimiliki oleh penelitian: 1) kemampuan bahasa; 2) metodologi; dan 3) materi ilmu. Untuk menghasilkan proposal yang baik maka ada beberapa persyaratan diantaranya: 1. Sistematis, yaitu menurut pola tertentu dari sederhana hingga kompleks. Proposal yang diajukan hendaknya dapat memberikan gambaran sistematis tentang rencana penelitian yang diajukan, seperti penyampaian latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, manfaat, rencana metodologi, alat ukur yang digunakan sehingga memudahkan pembaca. 2. Berencana, yaitu harus dipikirkan langkah-langkah pelaksanaan. Proposal penelitian hendaknya memiliki rencana jadwal yang akan dilakukan dalam penelitian secara berencana seperti jadwal pengumpulan data, analisa data hingga penyajian untuk laporan.


13 | RISET KEPERAWATAN 3. Mengikuti konsep ilmiah, proposal penelitian hendaknya mengikuti kaidah konsep ilmiah, seperti tata cara penulisan disesuaikan dengan aturan yang ada, bahasa, dan cara analisanya. C. Sistematika/Komponen Penulisan Usulan/Proposal Penelitian Secara berurutan kerangka usulan penelitian (skripsi/tesis/disertasi) pada penelitian kesehatan/keperawatan secara garis besar terdiri dari 3 bagian, yaitu: 1. Bagian Muka/Pendahuluan/Awal, terdiri dari: a. Halaman Sampul (cover), memuat kalimat usulan penelitian (proposal), judul penelitian, lambang istitusi, nama peserta/peneliti, nama program studi/istitusi dan tahun (diujikan). Halaman ini menggunakan kertas buffalo/linen dengan warna yang sudah ditentukan b. Halaman judul, (dalam) hampir sama dengan sampul tetapi memakai kertas putih c. Halaman judul dengan spesifikasi/pra syarat gelar (Skripsi/Tesis/Laporan ini disusun untuk …..), d. Halaman/lembar persetujuan, memuat nama lengkap dan tanda tangan pembimbing e. Halaman penetapan panitia Penguji, memuat tanggal, bulan, tahun pelaksanaan, tujuan, nama ketua dan anggota penguji f. Halaman daftar isi, memuat sebagian dari bagian dari usulan penelitian, termasuk urutan bab, sub bab, dan anak sub bab dengan nomor halamannya. g. Daftar tabel, memuat nomor tabel, judul tabel, dan nomor halaman h. Daftar gambar/bagan/grafik, memuat nomor gambar, judul gambar, dan nomor halaman i. Daftar istilah, memuat istilah/singkatan dan kepanjangannya j. Daftar lampiran, memuat nomor urut lampiran, judul lampiran, dan nomor halamannya. Contoh: Lampiran 1 Uraian Jadwal Kegiatan Lampiran 2 Rincian Biaya Lampiran 3 Penjelasan dan Informasi (informed consent), bila ada Lampiran 4 Instrumen (Kuesioner, angket dan lain-lain) 2. Bagian Utama/Inti, merupakan bagian inti penelitian yang dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Bagian inti usulan penelitian memuat hal sebagai berikut: a. BAB I Pendahuluan, terdiri dari: 1) Latar belakang Latar belakang dalam proposal penelitian merupakan suatu pengantar informasi tentang materi keseluruhan secara sistematis dan terarah dalam kerangka logika yang memberikan justifikasi terhadap dasar pemikiran, pendekatan, metode analisis, interpretasi untuk sampai kepada tujuan dan kegunaan penelitian. Pada pembuatan proposal penelitian keperawatan, latar belakang harus dapat mengemukakan hal-hal yang mendorong atau argumentasi pentingnya dilakukan penelitian dan diuraikannya proses identifikasi masalah yang didukung oleh fakta empiris (pemikiran induktif) dan dan teori (pemikiran deduktif), dan masalah yang diteliti harus diungkapkan dengan jelas pentingnya masalah yang diteliti, bagaimana permasalahan


14 | RISET KEPERAWATAN hingga saat ini (apakah sudah diteliti atau belum), apakah sudah ada problem solusi atau belum dan bagaimana solusinya. 2) Rumusan masalah Dalam menuliskan proposal penelitian keperawatan, rumusan masalah hendaknya memiliki konsekuensi terhadap relevansi maksud dan tujuan dari penelitian, kegunaan penelitian, kerangka konsep dan metode penelitian. Rumusan masalah dinyatakan baik dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan. Dalam pembuatan proposal penelitian rumusan masalah harus jelas dari permasalahan yang akan diteliti, kemudian uraikan konsepnya untuk menjawab masalah yang diteliti, jelaskan hipotesis atau dugaan yang akan dibuktikan pada bagian berikutnya. 3) Tujuan penelitian Merupakan tindak lanjut dari masalah yang telah dirumuskan. Tujuan terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menjelaskan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian secara umum, sedangkan tujuan khusus mencakup langkah-langkah dari penelitian yang akan dilakukan/penjabaran dari tujuan umum. Dalam pembuatan proposal penelitian, kata-kata yang digunakan dalam penulisan tujuan adalah kata kerja operasional seperti menjajaki, menguraikan, menerapkan, mengidentifikasi, menganalisis, membuktikan atau membuat prototif dan lain-lain. 4) Manfaat hasil penelitian/kontribusi penelitian Dalam pembuatan proposal penelitian keperawatan harus diuraikan dengan jelas manfaat hasil penelitian dari pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi keperawatan dan seni pemecahan masalah, pengembangan institusi, profesi keperawatan dan pasien. 5) Relevansi/Lingkup penelitian, memuat/menguraikan area penelitian yang dilakukan termasuk variable yang diteliti. b. BAB II Tinjauan Pustaka, berisi uraian kepustakaan yang relevan dengan topik penelitian. Tinjauan pustaka merupakan uraian sistematik tentang teori dasar yang relevan, fakta dan hasil penelitian sebelumnya yang berasal dari pustaka mutakhir (terbaru) yang memuat teori, proposisi, konsep atau pendekatan terbaru yang ada hubungannya dengan penelitian yang dilakukan atau dijadikan landasan untuk melakukan penelitian (relevan). Teori dan fakta yang digunakan seharusnya diambil dari sumber primer dan asli dengan mencantumkan nama sumbernya seperti jurnal ilmiah, kemudian diuraikan dengan jelas kajian yang menimbulkan gagasan. Uraian dalam tinjauan pustaka digunakan untuk menyusun kerangka konsep dan hipotesis yang akan digunakan dalam penelitian dan tinjauan pustaka hendaknya mengacu pada daftar pustaka. Tata cara penulisan kepustakaan harus sesuai dengan ketentuan pada panduan yang digunakan. c. BAB III Kerangka Konsep Penelitian (Pemikiran Dasar Penelitian), Hipotesis, Definisi Operasional. 1) Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konsep penelitian merupakan justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang dilakukan dan memberi landasan kuat terhadap judul yang dipilih sesuai dengan identifikasi masalahnya. Kerangka konsep harus didukung dengan


15 | RISET KEPERAWATAN landasan teori yang kuat dan ditunjang oleh informasi yang bersumber pada berbagai laporan ilmiah, hasil penelitian, jurnal penelitian, dan lain-lain. Dengan demikian, kerangka konsep disintesis, diabstraksi, dan diekstrapolasi dari berbagai teori dan pemikian ilmiah, yang mencerminkan paradigma sekaligus tuntunan untuk memecahkan masalah penelitian dan merumuskan hipotesis. Kerangka konsep penelitian dapat berbentuk bagan, model matematik atau persamaan fungsional yang dilengkapi dengan uraian kualitatif. 2) Hipotesis Hipotesis merupakan proposisi keilmuan yang dilandasi oleh kerangka konseptual penelitian dan merupakan jawaban sementara terhadap permasalah yang dihadapi, yang dapat diuji kebenarannya berdasarkan fakta empiris. Ada tidaknya hipotesis tergantung dari permasalahan yang ada dan tidak semua penelitian terdapat hipotesis, apabila sifatnya deskriptif maka tidak perlu hipotesis tetapi bila sifatnya analitik maka perlu dilakukan/dibuat hipotesis. 3) Definisi Operasonal Mendeskripsikan semua variabel yang berkaitan dengan kerangka konsep penelitian sehingga bersifat spesifik dan terukur, baik variabel dependent maupun variabel independent meliputi definisi, alat ukur, cara ukur, hasil ukur dan skala pengukuran. d. BAB IV Metodologi Penelitian, meliputi bagaimana penelitian dilakukan, yaitu: 1) Rancangan penelitian, meliputi rancangan penelitian yang digunakan (deskriptif, cross sectional, case control, cohort, eksperimen) 2) Populasi dan sample, termasuk kriteria inklusi dan eksklusi, besar sampel, dan teknik pengambilan sampel 3) Variable penelitian, meliputi klasifikasi variabel 4) Bahan/Instrumen penelitian, meliputi bahan yang digunakan dalam penelitian terutama penelitian eksperimen, dan istrumen penelitian meliputi uraian tentang macam spesifikasi instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data. Selain itu perlu diuraikan tentang reliabilitas dan validitasnya, serta pembenaran atau alasan menggunakan isntrumen tersebut. 5) Lokasi dan waktu penelitian Merupakan rencana tentang tempat dan jadwal yang akan digunakan oleh peneliti tentang pelaksanaan kegiatan penelitian. Dalam pembuatan proposal membuat jadwal penelitian merupakan sesuatu yang harus dilakukan karena dapat memberikan rencana secara jelas dalam proses penelitian. Jadwal penelitian meliputi kegiatan persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan penelitian yang dapat digunakan dalam bentuk Gantt Chart. No Jenis Kegiatan/Bulan Ke 1 2 3 4 5 6 1 Persiapan (pengajuan proposal penelitian) 2 Pelaksanaan (pengumpulan data) 3 Pengolahan data (analisis data) 4 Penyusunan laporan 5 Presentasi/seminar hasil


16 | RISET KEPERAWATAN 6) Prosedur pengambilan atau pengumpulan data, memuat uraian tentang cara dan prosedur pengumpulan data secara rinci. Bila pengumpulan data dilakukan oleh orang lain perlu dijelaskan berbagai langkah yang ditempuh oleh peneliti dalam menjamin reliabilitas dan validitas data yang diperoleh. 7) Analisis data, bagian ini berisi uraian tentang cara yang digunakan dalam analisis data disertai pembenaran atau alas an penggunaan cara analisis tersebut, termasuk analisis statistik yang digunakan. Analisi dapat dibagi menjadi analisis univariat, bivariat dan atau multivariate serta penjelasan analisis statistik yang digunakan paja jenis analisis tersebut. Pada penelitian kualitatif disesuaikan dengan kaidah metode kualitatif. 3. Bagian Belakang/Akhir, terdiri dari: a. Daftar pustaka/bacaan, disusun sesuai dengan cara penulisan kepustakaan b. Lampiran: Jadwal kegiatan, rincian biaya, penjelasan dan informasi (informed consent), pernyataan persetujuan, instrumen. Ketiga bagian tersebut dapat disusun/disajikan dalam bentuk yang berbeda. Namun demikian, sistematika penyajiannya dapat disajikan seperti tersaji dalam daftar isi usulan penelitian, yakni sebagai berikut: Contoh Out Line Usulan Penelitian: (1) DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Halaman Judul dengan Spesifikasi Halaman Persetujuan Halaman Panitia Penguji Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Grafik Daftar Lampiran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat 1.5 Relevansi/Lingkup Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ….. 2.2 ….. 2.3 Kerangka Teori BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep 3.2 Definisi operasional 3.3 Hipotesis


17 | RISET KEPERAWATAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian 4.2 Populasi dan Sampel 4.3 Variabel Penelitian 4.4 Instrumen Penelitian 4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.6 Prosedur Pengambilan/Pengumpulan Data 4.7 Analisis Data 4.8 Prosedur/Tahapan Penelitian DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Contoh Out Line Usulan Penelitian: (2) DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Halaman Judul dengan Spesifikasi Halaman Persetujuan Halaman Panitia Penguji Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Grafik Daftar Lampiran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat 1.6 Relevan Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ….. 2.2 ….. 2.3 Kerangka Teori BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DEFINISI OPERASIONAL, DAN METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep 3.2 Definisi operasional 3.3 Hipotesis 3.4 Metodologi Penelitian 3.4.1 Jenis/Desain Penelitian 3.4.2 Populasi dan Sampel 3.4.3 Variabel Penelitian


18 | RISET KEPERAWATAN 3.4.4 Instrumen Penelitian 3.4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.4.6 Prosedur Pengambilan/Pengumpulan Data 3.4.7 Analisis Data 3.4.8 Prosedur/Tahapan Penelitian DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Contoh Out Line Usulan Penelitian: (3) DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Halaman Judul dengan Spesifikasi Halaman Persetujuan Halaman Panitia Penguji Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Grafik Daftar Lampiran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat 1.5 Relevansi/Lingkup Penelitian 1.6 Definisi Konseptual dan Definisi Operasional 1.7 Kerangka Pemikiran 1.8 Hipotesis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ….. 2.2 ….. 2.3 Kerangka Teori BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis/Desain Penelitian 3.2 Populasi dan Sampel 3.3 Variabel Penelitian 3.4 Instrumen Penelitian 3.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.6 Prosedur Pengambilan/Pengumpulan Data 3.7 Analisis Data 3.8 Prosedurl/Tahapan Penelitian DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


19 | RISET KEPERAWATAN D. Kriteria Penilaian/Penolakan Proposal Penelitian 1. Kriteria Penilanan Proposal Penelitian Dalam melakukan penilaian terhadap proposal proposal penelitian dapat disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, tetapi secara umum proposal yang dapat diterima oleh tim penilai adalah proposal yang memenuhi standar penilaian seperti ketajaman rumusan dan tujuan penelitian, pengembangan IPTEK, relevansi, kemutakhiran penyusunan daftar pustaka, ketepatan metoda yang digunakan, kesesuaian judul dan tim dalam penelitian. Adapun secara lengkap kriteria penilaian proposal penelitian adalah sebagai berikut: No Kriteria Indikator Penilaian Bobot (%) Skor Nilai 1. Perumusan Masalah Ketajaman perumusan masalah dan tujuan penelitian 30 2. Manfaat hasil penelitian Pengembangan IPTEK pembangunan dan pengembangan kelembagaan 20 3. Tinjauan pustaka Relevansi, kemutakhiran dan penyusunan daftar pustaka 15 4. Metode penelitian Ketepatan metode yang digunakan 10 5. Kelayakan penelitian Kesesuaian judul, kesesuaian keahlian personalia dan kewajaran biaya/waktu dll 10 6. Lain-lain Format usulan, kesesuaian sumber dan lain-lain 15 JUMLAH 100 Sumber: Dirjen dikti, 2000 2. Kriteria Penolakan Proposal Penelitian Dalam penyusunan proposal penelitian yang telah diajukan terdapat beberapa alasan penolakan terhadap proposal penelitian, alasan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: No Kriteria Indikator Penilaian Alasan Penolakan 1. Perumusan Masalah Ketajaman perumusan masalah dan tujuan penelitian Perumusan masalah lemah, kurang mengarah dan tujuan penelitian tidak/kurang jelas 2. Manfaat hasil penelitian Pengembangan IPTEK pembangunan dan pengembangan kelembagaan Kontribusi hasil penelitian pada pengembangan IPTEK, pembangunan dan pengembangan institusi kurang/tidak jelas


20 | RISET KEPERAWATAN 3. Tinjauan pustaka Relevansi, kemutakhiran dan penyusunan daftar pustaka Bahan kepustakaan kurang menunjang, pustaka tidak relevan, kurang mutakhir, umumnya bukan artikel, jurnal ilmiah, penyusunan daftar pustaka kurang baik. 4. Metode penelitian Ketepatan metode yang digunakan Metode penelitian kurang tepat dan kurang rinci, sehingga langkah-langkah penelitian yang dilakukan tidak jelas 5. Kelayakan penelitian Kesesuaian judul, kesesuaian keahlian personalia dan kewajaran biaya/waktu dll Kelayakan penelitian kurang ditinjau dari kualifikasi personalia dan kesesuaian judul 6. Lain-lain Format usulan, kesesuaian sumber dan lain-lain Usulan belum mengikuti format yang ditentukan atau penyampaian terlambat. Masalah sudah banyak diteliti, penelitian kurang relevan dengan bidang studi/area keperawatan Sumber: Dirjen dikti, 2000 Rujukan: Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.


21 | RISET KEPERAWATAN BAB 4 RUMUSAN MASALAH DAN TUJUAN PENELITIAN DALAM RISET KEPERAWATAN A. Perumusan Masalah Penelitian Keperawatan 1. Masalah Penelitian Keperawatan Masalah adalah merupakan titik tolak dari setiap kegiatan penelitian, sebab bagi seorang peneliti “masalah” adalah merupakan undangan untuk melakukan penelitian. Saat sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah cukup tinggi, namun di pihak lain masalah semakin banyak dan kompleks pula. Hal ini perlu mendapat perhatian dan penanganan untuk pemecahan masalah tersebut. Untuk itu dibutuhkan penelitian, karena penelitian merupakan bagian dari proses pemecahan masalah. a. Masalah Suatu kesenjangan (gap) antara yang seharusnya (harapan) dengan apa yang terjadi (kenyataan) b. Masalah Penelitian Masalah yang perlu dilakukan penelitian/layak diteliti sebagai upaya penanganan untuk pemecahan masalah tersebut. Masalah penelitian merupakan ungkapan tentang fenomena karena adanya ketidakpastian, keraguan, dan ketidakjelasan terhadap konsep atau penerapan konsep yang terjadi. Masalah penelitian dapat berupa: 1) Informasi yang belum lengkap/belum ada 2) Kesenjangan hasil studi terdahulu 3) Pertentangan pendapat teoritis c. Masalah Penelitian Keperawatan Masalah di bidang keperawatan yang perlu dilakukan penelitian/layak diteliti sebagai upaya penanganan untuk pemecahan masalah keperawatan tersebut, baik masalah yang berasal dari keperawatan klinik maupun diluar keperawatan klinik. 2. Memilih Masalah Penelitian Untuk memilih masalah yang layak/relevan diteliti atau memerlukan penelitian, maka ada beberapa kriteria pemilihan masalah penelitian, antara lain: a. Masih baru Masalah penelitian tersebut belum pernah diungkap atau dilakukan penelitian orang lain. b. Aktual Masalah tersebut benar-benar terjadi atau berlangsung di dalam masyarakat. Masalah penelitian tidak boleh mengawang atau tidak berpijak pada kenyataan di masyarakat. Hal ini berarti masalah tersebut harus menjadi masalah masyarakat, bukan masalahnya peneliti.


22 | RISET KEPERAWATAN c. Praktis Suatu penelitian untuk kepentingan apa pun dan jenis penelitian apapun selalu memerlukan sumber daya, baik tenaga, pikiran, biaya, dan waktu. Untuk itu masalah penelitian harus mempunyai nilai praktis, artinya hasil penelitian harus dapat menunjang kegiatan praktis. d. Memadai Masalah harus dibatasi jangan terlalu luas atau terlalu sempit. Masalah terlalu luas tidak akan menghasilkan penelitian yang jelas dan akan memakan sumber daya yang besar., sebaliknya penelitian yang terlalu sempit akan menghasilkan sesuatu yang kurang berbobot. Oleh karena itu, masalah harus dibatasi disesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia. e. Sesuai dengan Kemampuan Peneliti Seseorang yang akan melakukan penelitian harus mempunyai kemampuan penelitian dan kemampuan di bidang yang akan ditelitinya. Apabila tidak mempunyai kemampuan-kemampuan tersebut, maka sudah barang tentu hasil penelitiannya kurang dapat dipertanggungjawabkan baik secara akademis, maupun praktis. f. Sesuai dengan Kebijaksanaan Pemerintah Masalah yang bertentangan dengan kebijaksanaan pemerintah, undang-undang pemerintah, ataupun adat istiadat masyarakat tidak dapat diangkat menjadi masalah penelitian. Di samping bertentangan dengan kebijaksanaan tersebut, juga dapat mengundang kekuatan social maupun politik yang dapat merintangi dan menghambat jalannya penelitian. g. Ada yang mendukung Segala bentuk penelitian memerlukan biaya yang dapat diperoleh baik dari instansi pendukung atau sponsor, baik pemerintah maupun swasta. Agar penelitian tersebut dapat dibiayai oleh sponsor, maka masalah yang dipilih harus disesuaikan dengan masalah yang dirasakan oleh para sponsor tersebut. Kriteri-kriteria tersebut di atas, bukan untuk memilih topik penelitian, tetapi untuk memilih masalah yang akan dijadikan titik tolak untuk meneliti. Dengan dipilihnya masalah penelitian yang berdasarkan kriteria tersebut diharapkan akan menghasilkan kegiatan penelitian yang relevan dengan kebutuhan program di bidang yang bersangkutan. Sebelum melakukan pemilihan masalah penelitian, pertanyaan-pertanyaan di bawah ini perlu kiranya dijawab agar dapat membantu dalam pemilihan masalah yang relevan: a. Apakah masalah yang akan kita teliti itu merupakan masalah yang sedang hangat di masyarakat saat ini. b. Apakah masalah tersebut benar-benar ada di dalam masyarakat, atau apakah aktual? c. Sejauhmana masalah tersebut dirasakan? Apakah penduduk atau masyarakat merasakan masalah tersebut? d. Apakah masalah tersebut mempengaruhi kelompok tertentu, misalnya ibu hamil, bayi atau anak balita? e. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan masalah sosial, kesehatan, ekonomi luas?


23 | RISET KEPERAWATAN f. Apakah masalah tersebut berhubungan dengan aktifitas program yang sudah berjalan? g. Siapa lagi yang tertarik atau melihat pada masalah tersebut? Selain itu derajat kepentingan dari suatu studi keperawatan dapat ditentukan dalam kriteria berikut: a. Kegunaan hasil-hasil riset, yang merupakan nilai bagi kebanyakan konsumer riset. b. Rasio manfaat dan biaya, artinya manfaatnya harus lebih besar dibanding biaya yang dibutuhkan/dikeluarkan. c. Nilai dari penyelidikan terkait dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang ada, yang merupakan suatu kriteria yang relevan bagi pemberi dana. 3. Sumber Masalah Penelitian Keperawatan a. Texbooks dan Journals (konsep dan teori) b. Pengamatan lapangan, berupa pengamatan terhadap fenomena yang terjadi/dialami dalam praktik atau kehidupan sehari-hari c. Pertemuan ilmiah/diskusi d. Rekomendasi pakar (Hasil Penelitian) 4. Penulisan Latar Belakang Penelitian Dalam latar belakang masalah penelitian, harus diuraikan fakta-fakta, pengalaman si peneliti, hasil-hasil penelitian orang lain, atau teori-teori yang melatarbelakangi masalah yang ingin diteliti. Dengan uraian fakta, pengalaman dan teori tersebut, maka orang lain (pemberi dana atau pembimbing/institusi) diyakinkan bahwa masalah yang akan diajukan tersebut cukup penting dan cukup “justified”. Selain itu kebenaran rumusan masalah penelitian sangat tergantung pada ungkapan dari latar belakang penelitian ini. Dalam latar belakang harus dengan jelas diuraikan: - Mengapa masalah tersebut dipilih? - Apa justifikasinya ! - Mengapa penelitian ini diadakan di wilayah tersebut Dalam menulis latar belakang, maka fakta atau masalah harus diuraikan dari masalah atau fakta yang diurutkan dari masalah/fakta yang luas/umum ke masalah/fakta yang lebih sempit/khusus atau pola penulisan mengacu pada pola “Piramid Terbalik”. Langkah formulasi masalah/penulisan latar belakang adalah : a. Analisa situasi b. Identifikasi kesenjangan c. Tinjauan pustaka d. Ramifikasi masalah (identifikasi penyebab masalah berdasarkan teori dan fakta) 5. Masalah Empiris dan Kriteria Perumusan Masalah Keperawatan Seperti diuraikan di atas, bahwa masalah adalah kesenjangan (gap) antara harapan dengan kenyataan antara yang diinginkan atau yang dituju dengan apa yang terjadi atau faktanya. Masalah tersebut harus dirumuskan melalui identifikasi kesenjangan yang lebih lanjut disebut sebagai rumusan masalah, sehingga masalah penelitian yang ingin diteliti atau dicari pemecahannya secara jelas tersurat. Rumusan masalah dalam penelitian sangat penting terutama untuk terlaksananya penelitian/pembuktian (empiris) karena:


24 | RISET KEPERAWATAN a. Langkah awal untuk mengembangkan kerangka konsep, konseptualisasi dan operasionalisasi, serta desain studi. b. Prediksi keberhasilan studi/penelitian c. Memilih judul dan menuliskan tujuan studi/penelitian d. Orisinalitas studi vs plagiarism Mengingat pentingnya rumusan masalah dalam penelitian, maka diperlukan kriteria perumusan masalah yang baik, yaitu: a. Kontribusi dan orisinalitas (pengembangan teori, perbaikan metode, manfaat dan implikasi aplikatif, orisinalitas masalah, orisinalitas kerangka konsep, dan pendekatan) b. Pernyataan permasalahan Perumusan masalah penelitian dapat dilakukan dalam bentuk: 1) Pertanyaan penelitian (research question) 2) Pernyataan (problem statement) baik berupa hubungan asosiasi 2 atau lebih fenomena terukur atau hanya pernyataan belum diketahui tentang fenomena/variable tertentu. Masalah penelitian/riset keperawatan yang dirumuskan dapat mencakup masalah deskriptif, komparatif maupun assosiatif sebagai berikut: a. Masalah deskriptif Merupakan masalah penelitian yang berhubungan dengan variabel yang ada tanpa membuat suatu perbandingan ataupun menghubungkan. Rumusan masalah deskriptif ini hanya menggambarkan masalah apa yang ingin dicapai dalam penelitian, seperti: 1) Bagaimanakah sikap perawat dalam melakukan komunikasi therapeutic di ruang anak? 2) Belum diketahui bagaimana perawat melakukan komunikasi therapeutic di ruang anak. 3) Bagaimanakan pengetahuan perawat dalam komunikasi therapeutic di ruang anak? 4) Berapa prosen motivasi kerja perawat di rumah sakit? 5) Bagaimana tingkat kecemasan pasien pre operasi? 6) Bagaimana tingkat nyeri pada pasien post operasi herniotomi? b. Masalah Komparatif Merupakan masalah penelitian keperawatan yang ingin membandingkan variable satu dengan yang lain. Masalah ini terdapat perbandingan atau perbedaan dari variable yang akan diukur, misalnya: 1) Adakah perbedaan pengetahuan perawat yang bekerja di ruang syaraf dan ruang bedah? 2) Adakah perbedaan sikap perawat dalam komunikasi therapeutic di ruang syaraf dan ruang bedah? 3) Adakah perbedaan kebutuhan nutrisi pasien Demam Typhoid dan Hepatitis? c. Masalah Asosiasi Masalah asosiatif merupakan masalah penelitian dalam keperawatan yang bersifat menghubungkan dua variable dalam penelitian. Masalah ini terdiri dari hubungan simetris, hubungan kausal, dan hubungan interaktif (Sugiyono, 2001 dalam: Hidayat, 2003)


25 | RISET KEPERAWATAN 1) Hubungan simetris Hubungan ini mempunyai sifat kesamaam dan bukan dari sebab akibat atau saling mempengaruhi, seperti: (a) Adakah hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat yang bekerja di ruang syaraf dan ruang bedah? 2) Hubungan kausal Merupakan hubungan dari sebab akibat yang saling mempengaruhi diantara variable, seperti: (a) Adakah pengaruh mobilisasi terhadap proses penyembuhan luka? (b) Adakah pengaruh efektifitas informasi prosedural terhadap penurunan kecemasan? 3) Hubungan interaktif Merupakan hubungan antar variable yang diukur terdapat interaksi tetapi tidak tahu mana variable independent dan dependent seperti: (a) Hubungan antara motivasi dan prestasi kerja perawat (pernyataan) B. Perumusan Tujuan Penelitian Keperawatan 1. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah suatu indikasi ke arah mana, atau data (informasi) apa yang akan dicari melalui penelitian itu atau merupakan kegiatan awal dalam menentukan arah dari rencana penelitian yang akan dilakukan. Tujuan penelitian diperoleh dari rumusan masalah yang telah ditetapkan sebagai indikator terhadap hasil yang diharapkan. Tujuan dari penelitian berguna untuk mengidentifikasi, menjelaskan mempelajari, membuktikan, mengkaji memprediksi alternatif pemecahan masalah terhadap masalah penelitian. 2. Rumusan Tujuan Penelitian Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang kongkrit dapat diamati (observable) dan dapat diukur (measurable). Tujuan penelitian harus jelas, ringkas pernyataan yang deklaratif yang biasanya dituliskan dalam bentuk kalimat aktif yang dikembangkan dari permasalah penelitian/rumusan penelitian. Tujuan penelitian dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tujuan umum yang menggambarkan tujuan/judul yang hendak dicapai secara umum dan tujuan khusus yang pada hakikatnya merupakan penjabaran dari pada tujuan umum atau langkahlangkah secara operasional dari tujuan umum. Contoh: Judul Penelitian: Pengaruh Komunikasi Therapeutik Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Anak yang Masuk Rumah Sakit. a. Tujuan Umum Mempelajari/Mengetahui pengaruh komunikasi therapeutic terhadap penurunan kecemasan pada anak yang masuk rumah sakit. b. Tujuan Khusus 1) Mengidentifikasi gambaran komunikasi therapeutic yang dilakukan pada anak yang masuk rumah sakit 2) Mengidentifikasi kecemasan pada anak yang masuk rumah sakit


26 | RISET KEPERAWATAN 3) Mengidentifikasi pengaruh komunikasi therapeutic terhadap penurunan kecemasan anak yang masuk rumah sakit Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. FKM Universitas Indonesia – CIMU Health, 2000. Aplikasi Metode Kualitatif dalam Penelitian Kesehatan, FKM-UI – The British Council, Depok. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Pratiknya, Ahmad W., 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Singarimbun, Masri., dan Sofian Effendi. 1982. Metoda Penelitian Survai, LPES, Jakarta.


27 | RISET KEPERAWATAN BAB 5 PENELUSURAN PUSTAKA DALAM RISET/PENELITIAN A. Penulusuran Pustaka/Literatur dalam Penelitian Keperawatan (Studi Kepustakaan) Untuk melakukan penelitian/riset, penelusuran pustaka/literature merupakan kegiatan/hal yang paling penting dan mutlak dilakukan oleh peneliti dalam rangka mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitian. Selain itu studi kepustakaan juga merupakan dokumentasi dari tinjauan menyeluruh terhadap karya publikasi dan non publikasi, sehingga peneliti bisa memastikan bahwa tidak ada variable penting di masa lalu yang ditemukan berulang kali mempunyai pengaruh atas masalah, yang terlewatkan. Studi kepustakaan yang baik akan menyediakan dasar untuk menyusun kerangka teoritis yang komprehensif di mana hipotesis dapat dibuat untuk diuji (Sekaran, 2006). Adapun tujuan penulusuran pustaka/literature adalah: 1. Tujuan Umum Untuk mendapatkan latar belakang pengetahuan yang luas yang berhubungan dengan topik permasalahan. 2. Tujuan Khusus a. Mencari/mengumpulkan bahan/informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian b. Menentukan apa yang sudah/belum diketahui tentang masalah/topik penelitian c. Menentukan pertanyaan yang belum terjawab tentang konsep/masalah penelitian d. Menjelaskan kelemahan dan kekuatan suatu design penelitian e. Menemukan suatu konsep yang sederhana dan bisa dipergunakan untuk menjawab pertanyaan f. Mengumpulkan pertanyaan riset design g. Menentukan penting atau tidaknya replikasi suatu design/penelitian h. Mempromosikan atau mendukung suatu policy yang berhubungan dengan perubahan tindakan (Keperawatan) Penelaahan pustaka hendaknya menampilkan semua informasi yang relevan dengan cara yang meyakinkan dan logis, alih-alih menampilkan semua studi dalam urutan kronologis dengan kepingan dan potongan informasi yang tidak beraturan. Telaah pustaka yang baik juga membawa peneliti secara logis pada pernyataan yang baik. Sebagian besar kegiatan telaah pustaka adalah membaca dan menyarikan informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti berdasarkan berbagai bahan publikasi dan nonpublikasi kepustakaan yang tersedia mengenai topik penelitian. (Sekaran, 2006)


28 | RISET KEPERAWATAN B. Kriteria Pustaka/Literatur Tinjauan pustaka/literature yang tepat harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Menyediakan informasi penting tentang ilmu yang spesifik yang diperlukan dan memungkinkan riset lanjutan 2. Keterkaitan antara konsep pada permasalahan 3. Mempermudah peneliti menentukan permasalahan yang sudah dilakukan riset dan yang perlu dilakukan riset kembali 4. Dapat membantu peneliti dalam menentukan design penelitian dan interpretasi. C. Jenis Sumber Pustaka dalam Penelitian Ada dua jenis pustaka yang dapat dijadikan bahan pustaka dalam penelitian/riset, di antaranya: 1. Pustaka Primer Merupakan daftar bacaan dari hasil penelitian atau studi pustaka yang diperoleh dari jurnal penelitian/jurnal ilmiah. 2. Pustaka Sekunder Pustaka yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti: buku teks, indeks, ensiklopedia, dan lain-lain mempunyai kaitan erat dengan topik/riset kebidanan (sosiologi, psikologi, antropologi, epidemiology, dan lain-lain) Kedua bahan pustaka tersebut dapat digunakan, tetapi yang terpenting adalah harus mempertimbangkan aspek kemutakhiran dan relevansi. Aspek kemutakhiran berkaitan dengan penggunaan sumber bacaan yang up to date. Hal ini disebabkan sumber informasi yang usang, selain itu terdapat kemungkinan bahwa teori yang sudah usang, kebenarannya telah dibantah oleh teori yang lebih baru. Aspek relevansi berhubungan dengan keterkaitan sumber bacaan dengan masalah yang diteliti, yakni masalah penelitian. D. Tahapan Penelusuran Literatur 1. Penelusuran Awal Merupakan suatu pemeriksaan sepintas lalu atau membaca secara tidak mendalam publikasi yang tersedia yang terkait dengan variabel utama dalam studi. Tinjauan ini berhubungan dengan area peminatan dan dilakukan untuk membantu peneliti dalam mengambil keputusan untuk meneruskan gagasan riset yang ditetapkan. Pada tahapan ini dilakukan identifikasi terhadap satu area peminatan kebidanan dan kumpulkan lima publikasi yang terkait dan terbaru (lima tahun terakhir). Ambil suatu keputusan berdasarkan informasi yang dikumpulkan apakah area peminatan seharusnya dilanjutkan untuk diteliti. 2. Penelusuran Sekunder/Lanjutan Merupakan langkah/tahapan kedua dalam penelusuran literatur, meliputi sebuah penelusuran semua publikasi yang dievaluasi secara mendalam dan kritis, yang relevan dengan topik peminatan. Untuk melakukan suatu penelusuran yang mendalam, maka langkahnya adalah: a. Identifikasi semua publikasi yang relevan yang terkait dengan area peminatan (publikasi dapat meliputi artikel yang diambil dari sejumlah bidang yang terkait dengan kebidanan, contohnya: sosiologi, psikologi, antropologi, epidemiologi, dan lain-lain)


29 | RISET KEPERAWATAN b. Telusuri sumber utama bila mungkin c. Evaluasi secara kritis informasi yang dikumpulkan. Dalam pembacaan literatur pada setiap tahap penelusuran, artikel-artikel jurnal lebih disukai daripada buku-buku karena jurnal biasanya dipublikasikan lebih cepat daripada buku-buku dan karena memperlihatkan infromasi yang lebih terbaru. E. Teknik Mencari Sumber Pustaka/Penelusuran Pustaka 1. Teknik Manual Penelusuran manual terhadap infromasi yang terkait dengan topik peminatan tertentu, menuntut penyelidik untuk mempunyai pengetahuan yang mendalam akan cara kerja/mekanisme dalam perpustakaan. Mekanisme/teknik manual di perpustakaan dapat berupa KARTU KATALOG dan INDEKS ABSTRAK-ABSTRAK untuk referensi yang berhubungan dengan topik peminatan, yang memuat daftar nama pengarang dan subyek dengan kode tersendiri. Walaupun memakan waktu yang cukup, tetapi teknik ini akan dapat menghasilkan banyak informasi yang relevan dengan area penyelidikan. Ketika artikel ditemukan, peneliti dapat memeriksa referensi yang digunakan dan mengidentifikasi publikasi tambahan yang mungkin relevan. 2. Teknik Penelusuran Pustaka Secara Cepat/Penelusuran Komputer. Penggunaan sebuah komputer untuk menelusuri literatur/mencari jurnaljurnal yang berhubungan dengan sebuah topik khusus, dalam upaya memahami lebih baik area peminatan. Pada suatu perputakaan yang cukup baik, biasanya sudah menyediakan DATA BASE pada suatu CD-ROM (komputer) yang memuat daftar referensi. Bahkan dari komputer di suatu perpustakaan dapat mengakses data base suatu referensi di perpustakaan lain atau perpustakaan pusat. Pada waktu penelusuran dengan komputer peneliti dapat bekerjasama dengan petugas perpustakaan atau dapat langsung memakai data base tersebut. Informasi yang penting dari penelusuran komputer meliputi deskripsi topik, namanama pengarang yang telah menulis topik tersebut, dan istilah-istilah alternatif yang mungkin digunakan untuk menggambarkan bermacam-macam konsep peminatan. Dalam melakukan penelusuran dengan komputer, tahapan yang dilakukan antara lain: a. Peneliti dapat masuk ke suatu file data base perpustakaan, biasanya dengan nama tertentu (MEDLARS, POPLINES dan sebagainya sesuai/tergantung bidang penelitian). b. Pilih jenis referensi (buku/teks, artikel, majalah, skripsi, tesis dan sebagainya). c. Panggil referensi: menurut pengarang atau judul dengan cara mengetik suatu suku kata/frase. d. Catat/print daftar referensi yang keluar, misalnya daftar buku menurut pengarang/penulis, nama penulis yang menulis topik tersebut, daftar judul penelitian yang berkaitan dengan topik, dan lain-lain.


30 | RISET KEPERAWATAN F. Penyimpanan/Pencatatan dan Penulisan Tinjauan Literatur 1. Penyimpanan/Pencatatan Pada saat peneliti mengumpulkan artikel yang relevan dengan topik studi, penting sekali untuk menegakkan suatu metode yang sistematik terhadap pencatatan informasi yang terkait. Banyak metode pencatatan, namun yang paling sering dilakukan adalah bahwa setiap artikel dicatat penulis secara terpisah pada sebuah kartu. Informasi seperti nama penulis, tahun terbit, judul artikel, nama jurnal atau buku, dan nomor telepon perpustakaan perlu dicatat. Jika digunakan kartu besar (10 x 15 cm atau 12,5 x 17,5 cm), ringkasan artikel dan evaluasi isi dapat dicatat seperti pada gambar di bawah. Kartu ini dapat disimpan menurut urutan abjad dengan nama pengarang atau judul untuk memudahkan penggunaan. Atau dapat disimpan dalam bentuk file (word/excel) pada komputer. Petunjuk untuk penyimpanan catatan: a. Susun entry menurut abjad. b. Identifikasi penulis, judul artikel, jurnal atau judul buku (call number), tahun terbit. c. Identifikasi komponen-komponen artikel berikut: pernyataan masalah atau topik masalah, kerangka konsep, hipotesa, metode, instrumen, analisa data, hasil-hasil riset atau ringkasan. Gambar. Kartu Penyimpanan Catatan Nama Penulis: ________________________ Judul: Tahun Terbit : ________________________ Jurnal : ________________________ Telp: ____________________ DESKRIPSI EVALUASI: (1) Jelas -------------- (5) Membingungkan (Range) Pernyataan Masalah/Topik Masalah: (3) ............................ Kerangka Konsep: (1) ............................. Hipotesis: (4) ............................ Metodologi/Metode Riset: (2) ............................ Instrumen yang digunakan: (3) ........................... Analisa Data: (1) ........................... Hasil Temuan/Ringkasan: (1) ..........................


31 | RISET KEPERAWATAN 2. Penulisan Tinjauan Literatur Tinjauan literatur adalah deskripsi yang komprehensif dan sebuah evaluasi dari bukti yang terkait dengan topik riset. Pada penulisan tinjauan literatur harus menunjukkan bagaimana kutipan bukti yang mendukung kesimpulan dapat dicapai. Opini ahli harus terpisah dari hasil riset, dan studi perlu harus jelas digambarkan. Studi yang mendukung gagasan yang mendasari penyelidikan seharusnya digambarkan sehingga para pembaca mengetahui bagaimana mereka yakin akan kesimpulannya. Tinjauan literatur yang tertulis dengan baik termasuk pernyataan evaluatif tentang studi yang digambarkan, komentar tentang ukuran sampel, instrumen yang digunakan, desain riset dan komponen lainnya, pada proses riset dapat membantu pembaca untuk mengetahui lebih baik nilai dari hasil riset. G. Kerangka Penelitian 1. Kerangka Teori Hubungan antar konsep berdasarkan hasil suatu studi empiris/teori. Semua hasil studi empiris/teori dituangkan secara lengkap. Kerangka Teori Perilaku Kesehatan (Green) 2. Kerangka Konsep Penelitian - Hubungan antar konsep yang dibangun berdasarkan hasil studi empiris terdahulu sebagai pedoman dalam melakukan penelitian yang direncanakan. - Kerangka konsep hanya memuat hubungan antar konsep yang hanya akan diteliti sesuai kondisi.


32 | RISET KEPERAWATAN Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-Dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Suyanto; Salamah. 2008. Riset Kebidanan; Metodologi dan Aplikasi, Mitra Cendikia, Yogyakarta.


33 | RISET KEPERAWATAN BAB 6 VARIABEL PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL A. Variabel Penelitian Pengertian/Definisi : - Variabel adalah konsep yang mempunyai nilai bervariasi - Konsep adalah penggambaran/abstraksi suatu fenomena tertentu. - Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dan lain-lain) (Soeparto, Taat Putra, dan Haryanto, 2000) dan Nursalam (2003). - Variabel adalah merupakan konsep dari berbagai level dari abstrak yang didefinisikan sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran dan atau manipulasi suatu penelitian. - Variabel penelitian adalah konsep yang kongkret dan dapat diukur dalam suatu penelitian. Contoh: Berat Badan; Jika setiap orang memiliki BB yang berbeda-> adalah variabel Jika semua orang memiliki BB yang sama -> bukan variabel B. Jenis dan Hubungan antar Variabel Penelitian 1. Klasifikasi Prinsipil a. Variabel Bebas/Independent (X) Adalah variabel yang variasi nilainya dapat mempengaruhi variabel lain. Nama lain: variable pengaruh/perlakuan/kausal/ penyebab/regressor/treatment. b. Variabel Terikat/Dependent (Y) Adalah variabel yang variasi nilainya dapat dipengaruhi atau tergantung pada satu atau lebih variabel lain/variabel bebas. Nama lain: variabel efek (effect) /terpengaruh/regressed/outcome/event. 2. Klasifikasi Lain a. Variabel Perantara/Intermediate Adalah variabel yang menjembatani variable bebas dengan varaibel terikat. b. Variabel Pendahulu Adalah variabel yang berpengaruh terhadap variable bebas. c. Variabel Pra Kondisi Adalah variabel yang berpengaruh terhadap variable bebas dan variabel terikat. d. Variabel Perancu (Confounding) Adalah variabel yang nilainya ikut menentukan variable tergantung baik secara langsung maupun tidak langsung. Variabel perancu merupakan jenis variable yang berhubungan dengan variabel bebas dan berhubungan dengan variable tergantung.


34 | RISET KEPERAWATAN e. Variabel Kontrol /Kendali Variabel yang nilainya dikendalikan dalam penelitian (baik seluruhnya maupun sebagian saja). Variabel tersebut dinetralkan pengaruhnya untuk menjamin agar variable tersebut tidak menggangu hubungan antara variable bebas dan terikat. f. Variabel Moderator Variabel lain yang dianggap berpengaruh terhadap variable dependent, tetapi dianggap tidak mempunyai pengaruh utama. 3. Hubungan antar Variable Penelitian C. Skala Variabel Penelitian 1. Nominal Skala pengukuran yang paling rendah dengan ciri: a. Katagorisasi b. Tidak ada penjenjangan Contoh: Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), bangsa, golongan darah (A, B, Ab, O), warna (putih, merah, hijau, dan sebagainya), agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha). 2. Ordinal a. Ada penjenjangan, tetapi penjenjangan tidak sama/tidak equal Contoh: Tingkat Pendidikan (SD, SMP, SMA, PT), status ekonomi (kaya, menengah, miskin) dan sebagainya. 3. Interval a. Ada penjenjangan, penjenjangan sama/equal b. Ada urutan dan jarak c. Tidak/bukan kelipatan d. Tidak ada nilai absolut Contoh: - Suhu (derajat celcius)-> pengukuran panas dengan termometer (C): temperatur 40 derajat celcius lebih panas 15 derajat dari temperatur 25 derajat (tapi tidak berarti 40 derajat = 2x20 derajat). - IQ, Umur Variabel Independent Variabel Pendahulu Variabel Dependent Variabel Confounding Variabel Perantara


35 | RISET KEPERAWATAN 4. Rasio a. Ada penjenjangan, penjenjangan sama/equal b. Ada urutan dan jarak c. Ada kelipatan d. Ada nilai absolute Contoh: - Suhu (derajat Kelvin) - BB: Berat badan 60 kg dan 30 kg= BB 60 kg 2 kali lipat BB 30 kg B. D. Definisi Operasional 1. Pengertian. Untuk memudahkan dan menyamakan persepsi tentang suatu konsep penelitian/variabel penelitian, maka perlu dibuatkan suatu definisi operasional, karena setiap istilah (variabel) dapat diartikan secara berbeda-beda oleh orang yang berlainan. a. Definisi operasional yaitu mendeskripsikan semua variabel yang berkaitan dengan kerangka konsep penelitian sehingga bersifat spesifik dan terukur. b. Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena. Lain halnya dengan definisi konseptual/teoritis yaitu definisi berdasarkan hasil kesepakatan keilmuan/rumusan resmi/kamus dan lain-lain. 2. Kriteria dan Penyusunan Definisi Operasional a. Kriteria definisi operasional: 1) Definisi harus dapat dibolak-balikkan dengan hal yang didefinisikan/netral (luas keduanya harus sama) 2) Definisi tidak boleh negatif, misalnya: kepuasan adalah tidak senang 3) Apa yang didefinisikan tidak boleh masuk dalam definisi operasional, misalnya kepuasan adalah rasa puas yang dirasakan seseorang terhadap ..... 4) Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa kabur (ambigious), misalnya: kepuasan adalah rasa batin yang bersifat individual ......... b. Definisi operasional disusun meliputi hal sebagai berikut: 1) Definisi: Deskripsi operasional suatu obyek/fenomena 2) Cara Ukur : Bagaimana; siapa; prosedur/urutan 3) Alat Ukur: Jenis alat, standarisasi alat 4) Hasil Ukur: Hasil pengumpulan data/pengukuran yang dapat dituliskan sesuai dengan skala ukur yang diharapkan (kategori = nominal; kategori dengan penjenjangan/tingkatan=ordinal; angka numerik=interva/rasio) 5) Skala Ukur: Nominal/Ordinal/Interval/Rasio.


36 | RISET KEPERAWATAN No Nama Variabel Definisi Cara ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala ukur 1. Variabel dependent a. ........ 2. Variabel independent a. Umur b. ........ c. ...... Lama hidup responden dihitung sejak lahir sampai ulang tahun terakhir Melihat KTP Kuesioner 1. Tua, bila > 45 th 2. Muda bila <= 45 Ordinal CONTOH PENULISAN LAIN 1. Variabel Dependent a. Pola Pemberian ASI Definisi : Cara Ukur : Alat Ukur : Hasil Ukur : Skala Ukur : 2. Variabel Independent a. Pengetahuan Ibu tentang ASI Definisi : Cara Ukur : Alat Ukur : Hasil Ukur : Skala Ukur : b. Umur Ibu Definisi : Cara Ukur : Alat Ukur : Hasil Ukur : Skala Ukur : c. Pendidikan Ibu Definisi : Cara Ukur : Alat Ukur : Hasil Ukur : Skala Ukur :


37 | RISET KEPERAWATAN Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-Dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Pratiknya, Ahmad W. 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Suyanto; Salamah. 2008. Riset Kebidanan; Metodologi dan Aplikasi, Mitra Cendikia, Yogyakarta.


38 | RISET KEPERAWATAN BAB 7 ASUMSI DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Asumsi Penelitian 1. Asumsi adalah dugaan (sementara hasil observasi suatu fenomena). 2. Asumsi Penelitian Konsep peneliti yang dimunculkan dalam melengkapi teori dan fakta empirik yang menjadi salah satu dasar penyusunan hipotesis untuk menjawab permasalahan penelitian yang dihadapi. B. Hipotesis Penelitian 1. Pengertian Asal kata Hypo : di bawah Thesis : dalil/kaidah Hypothesis adalah suatu dalil atau kaidah yang kebenarannya belum diketahui. Hipotesis penelitian adalah penjelasan sementara yang diajukan tentang hubungan antara dua atau lebih fenomena terukur/variabel yang memungkinkan untuk pembuktian secara empirik. 2. Dasar Penyusunan Hipotesis Untuk menyusun hipotesis perlu dikembangkan landasan teori melalui tiga hal yang dapat dijadikan dasar, yaitu: a. Teori yang mapan, yang berkaitan dengan permasalahan penelitian yang dihadapi. b. Fakta empirik atau informasi yang diketahui dari penelitian terdahulu. c. Konsep peneliti sendiri (asumsi) yang dimunculkan dalam melengkapi teori dan fakta empirik di atas agar dapat menjawab permasalahan penelitian yang dihadapi. 3. Ciri Hipotesis (yang baik/adekuat) a. Kalimat deklaratif b. Korelasi/hubungan antara dua atau lebih variable c. Merupakan jawaban sementara d. Berkaitan dengan teori-teori yang ada e. Dapat dibuktikan secara empiris 4. Jenis Hipotesis a. Hipotesis Nihil (Hipotesis nol/H0) Adalah kebalikan dari hipotesis kerja, sehingga rumusannya secara klasik sebagai berikut: 1) Tidak ada hubungan antara ………………… dengan …………………atau 2) Tidak ada perbedaan antara ………………….. dengan ………………….. 3) Tingkat …………………. di ……… sama dengan ………………. di………


39 | RISET KEPERAWATAN b. Hipotesis Kerja (Hipotesis alternatif/hipotesis riset atau Ha/H1) Adalah hipotesis yang akan dibuktikan kebenarannya melalui penelitian yang akan dilakukan. Hipotesis ini mengekspresikan macam hubungan antar variable yang secara klasik biasanya dirumuskan sebagai berikut: 1) Apabila ………………………, maka …………………. atau 2) Ada hubungan antara ………………… dengan ……………………… atau 3) Ada perbedaan antara ………………….. dengan …………………….. 4) Semakin …………………, maka semakin ………………. 5) ………….. (variable) lebih tinggi pada ………………..dibandingkan dengan ……….. (varibel) pada ………………….. Sedangkan berdasarkan macam/bentuk hubungan antar varibel, hipotesis terbagi menjadi sebagai berikut: a. Hipotesis satu ekor/satu arah (one tail) Ciri: Kalimat/pernyataannya memihak/condong ke satu arah/salah satu variable. Contoh: - “Ibu dengan tingkat pengetahuan tinggi akan memberikan ASI eksklusif dibanding ibu dengan tingkat pengetahuan rendah tentang ASI“ (uji beda proporsi/uji chi square desain cross sectional) - “Semakin tinggi pengetahuan ibu, semakin teratur dalam pemeriksaan kehamilannya” (uji korelasi/desain cross sectional) - ”Tingkat pengetahuan ibu tentang gizi ibu hamil di perkotaan lebih tinggi dibanding ibu di pedesaan“ (uji beda proporsi/uji chi square desain cross sectional) Hipotesis ini dapat disebut juga hipotesis direksional, karena meramalkan suatu hasil dalam arah yang spesifik. Contoh lain: - “Anak-anak berusia 5-12 tahun yang diberikan informasi sebelumnya mengenai tonsilektominya akan mengalami sedikit kecemasan pasca pembedahan daripada anak-anak dari usia yang sama yang tidak menerima informasi” (uji beda proporsi/uji chi square ) - “Para wanita berusia 25-40 tahun yang mengalami sakit kepala migrain melaporkan sakit kepala berkurang jika mereka mengikuti terapi relaksasi yang teratur daripada wanita pada usia yang sama yang tidak mengalami relaksasi” - “Ibu hamil dengan anemi akan melahirkan BBLR” (uji beda proporsi/uji chi square ) - “Rata-rata berat bayi yang dilahirkan dari ibu anemi lebih rendah dibandingkan rata-rata berat yang dilahirkan dari ibu yang tidak anemi” (uji beda mean/uji t independent dengan desain cross sectional) - “Rata-rata intensitas nyeri kala I fase aktif setelah dilakukan tindakan massage lebih rendah dibandingkan rata-rata intensitas nyeri kala I fase aktif sebelum dilakukan tindakan massage” (uji beda mean/uji t dependent dengan desain eksperimen)


40 | RISET KEPERAWATAN b. Hipotesis dua ekor/dua arah (two tail) Ciri: Kalimat/pernyataannya netral/tidak memihak. Contoh: - “Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan pola pemberian ASI“ (uji beda proporsi/uji chi square desain cross sectional) - “Ada hubungannya antara status gizi ibu hamil dengan berat badan bayi baru lahir “(uji beda proporsi/uji chi square desain cross sectional) Hipotesis ini dapat disebut juga hipotesis nondireksional, karena tidak meramalkan suatu hasil dalam arah yang spesifik. Contoh lain: - “Ada perbedaan rata-rata berat bayi baru lahir berdasarkan paritas ibu” (uji beda mean/uji t independent dengan desain cross sectional) - “Ada perbedaan rata-rata berat bayi baru lahir berdasarkan status anemi ibu hamil” (uji beda mean/uji t independent dengan desain cross sectional) - “Ada perbedaan intensitas nyeri kala I fase aktif sebelum dan sesudah tindakan massage (uji beda mean/uji t dependent dengan desain eksperimen) - “Ada perbedaan penurunan intensitas nyeri kala I fase aktif antara ibu bersalin yang dilakukan tindakan massage sacrum dengan ibu bersalin yang tidak dilakukan tindakan massage sacrum (uji beda mean/uji t independent dengan desain eksperimen) C. Kegunaan Hipotesis 1. Memberikan tuntunan kepada peneliti ke area mana penelitian harus dilakukan. 2. Merupakan alat untuk melokalisasikan fenomena-fenomena dan menuntun cara identifikasi variabel-variabel yang dibutuhkan untuk menjawab masalah penelitian. 3. Memberikan petunjuk prosedur mana atau rancangan penelitian mana yang dipilih. Dalam kaitan fungsi ini berarti hipotesis merupakan petunjuk bagi penetapan populasi subyek penelitian dan bagaimana perancangan sampelnya, demikian juga metode dan alat pengukur mana yang tepat untuk dipilih. 4. Memberi petunjuk bagi cara pengolahan data dan cara analisis hasil penelitian. Sebagai contoh pengambilan keputusan statistik untuk pembuktian hipotesis satu ekor (one tail) jelas berbeda dengan dua ekor (two tail). Rujukan: Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.


41 | RISET KEPERAWATAN Pratiknya, Ahmad W., 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Suyanto; Salamah. 2008. Riset Kebidanan; Metodologi dan Aplikasi, Mitra Cendikia, Yogyakarta


42 | RISET KEPERAWATAN BAB 8 JENIS DAN DESAIN PADA RISET/ PENELITIAN KESEHATAN A. Jenis Penelitian Kesehatan Jenis penelitian dalam disiplin ilmu kesehatan terdapat berbagai jenis penelitian. Secara umum jenis penelitian tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan ruang lingkup lingkupnya, tujuan penelitian, tempat, cara pengumpulan data, waktu pengumpulan data, sumber data, ada tidaknya perlakukan, dan teknik analisis data. 1. Menurut Ruang Lingkup Sasaran Penelitian, terdiri dari: a. Penelitian kasus, yaitu objeknya hanya satu kasus tertentu dan kesimpulannya hanya berlaku pada kasus yang diteliti. b. Penelitian inferensial/populasi, yaitu objeknya adalah populasi kasus, meluas dan kesimpulannya digeneralisasikan untuk populasi. 2. Menurut Tujuan Penelitian a. Penelitian deskriptif, yaitu merupakan penelitian yang di dalamnya tidak ada analisis hubungan antar variable, bersifat umum yang membutuhkan jawaban siapa, di mana dan kapan (time, place, person) serta analisis statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi/proporsi, dan ukuran tengah (mean, median, modus, standar deviasi) serta kesimpulannya hanya berlaku pada kasus/sampel yang diteliti. Penelitian ini sebagai awal/bahan atau menyiapkan untuk penelitian lebih lanjut berupa penelitian analitik. b. Penelitian analitik/eksplanatif, yaitu penelitian yang terdiri atas variable bebas dan terikat, membutuhkan jawaban bagaimana dan mengapa serta penelitian ini menggunakan analisis statistik inferensial sehingga kesimpulannya dapat digeneralisasikan untuk populasi. 3. Menurut Tempat Penelitian a. Penelitian lapangan, yaitu merupakan penelitian yang dilakukan di lingkungan alami di mana kegiatan dilakukan sehari-hari. Penelitian ini juga dapat dilakukan dengan memberikan perlakuan kepada satu atau lebih kelompok. Pada penelitian lapangan biasanya mustahil untuk mengontrol semua variable pengganggu, karena ada hal-hal tertentu yang tidak bias dikendalikan oleh peneliti. b. Penelitian laboratorium, yaitu penelitian yang dilakukan bertempat di laboratorium dengan kondisi yang ideal dan kondisi yang dapat dikendalikan oleh peneliti.


43 | RISET KEPERAWATAN 4. Menurut Cara Pengumpulan Data a. Penelitian observasional, yaitu merupakan penelitian yang dilakukan dengan melakukan pengamatan atas perilaku objek baik bersifat partisipatif ataupun non partisipatif. b. Penelitian survei, yaitu penelitian yang dilakukan dengan memberikan kuesioner dengan melakukan wawancara baik secara langsung maupun tidak langsung. 5. Menurut Waktu Pengumpulan Data a. Penelitian longitudinal, yaitu merupakan penelitian yang dilakukan selama periode waktu tertentu (panjang) di mana populasi yang diteliti adalah sama dan diamati selama periode waktu tersebut untuk mengetahui suatu faktor risiko (paparan/eksposur) dengan kejadian/efek tertentu (out come). b. Penelitian cross sectiona/transversal (potong lintang), yaitu penelitian yang dilakukan pada suatu saat/waktu yang bersamaan tanpa melihat faktor mana yang lebih dulu diteliti/mendahului (factor risiko atau out come). 6. Menurut Sumber Data a. Penelitian primer, yaitu merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data secara langsung oleh peneliti. b. Penelitian sekunder, yaitu penelitian yang dilakukan di mana data telah dikumpukan oleh orang/pihak lain (sudah ada) dan peneliti langsung mengambil dan memanfaatkan data tersebut untuk dianalisis. 7. Menurut Ada Tidaknya Perlakukan a. Penelitian eksperimental, yaitu merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara memberikan perlakuan kepada objek yang dapat mengendalikan variable dan secara tegas menyatakan ada hubungan sebab akibat. b. Penelitian non eksperimental/observaional, yaitu penelitian yang dilakukan dengan tidak memberikan perlakukan/intervensi kepada objek dan hanya mengamati kejadian yang ada. 8. Menurut Teknik Analisis Data/Jenis Data a. Penelitian kuantitatif, yaitu suatu penelitian yang menggunakan perhitungan statistik dalam menganalisis data/hasil temuannya. Jenis data pada penelitian ini bersifat kuantitatif /angka. Penelitian ini disebut juga sebagai penelitian ilmiah. b. Penelitian kualitatif, yaitu suatu penelitian yang tidak menggunakan perhitungan statistik dalam menganalisis data/hasil temuannya. Jenis data pada penelitian ini bersifat kualitatif (teks/tulisan/paparan). Pengertian lain: Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati (Bogdan dan Taylor, 1975:5 dalam: Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, 2004:3). Penelitian kualitatif disebut juga penelitian alamiah, karena lebih menekankan pada “kealamiahan“ sumber data.


Click to View FlipBook Version