The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan YPIB, 2023-07-26 00:22:30

EBOOK RISET KEPERAWATAN

EBOOK RISET KEPERAWATAN

44 | RISET KEPERAWATAN Istilah lain: Inkuiri naturalistic (alamiah), etnografi, interaksionis simbolik, perpspesktif ke dalam, etmometodolgi, studi kasus, interpreatif, ekologis, dan deskriptif (Bogdan dan Biklen, 1982:3. dalam: Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, 2004:3). 9. Menurut Kepentingan/Manfaat Penelitian. a. Riset/Penelitian Dasar Riset yang dilakukan untuk menambah pengetahuan demi kepentingan pengetahuan itu sendiri dan karenanya tidak mengkhususkan suatu aplikasi hasil penemuan. b. Riset/Penelitian Terapan (Riset Operasional/ Operasional Research) Riset yang dirancang untuk menghasilkan hasil penemuan yang digunakan untuk memperbaiki atau memodifikasi situasi/tindakan tertentu. B. Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif 1. Jenis Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif Berdasarkan pengelompokan jenis penelitian di atas dapat dirangkum menjadi dua bagain besar, yaitu jenis penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif, yaitu sebagai berikut: a. Penelitian Kuantitatif 1) Deskriptif a) Studi kasus b) Seri kasus/case series c) Studi korelasional d) Studi komparatif e) Studi evaluative f) Penelitian survey/cross sectional 2) Analitik a) Observasional (1) Survei/cross sectional (studi potong lintang) (2) Case control (kasus kontrol) (3) Cohort (kohort) b) Eksperimen, (1) Pra eksperimen (2) Eksperimen semu/ Quasi Experiment (3) Eksperimen murni (sungguhan) /True Experiment c) Penelitian Klinik (Randomized Clinical Trial /RCT), yang merupakan jenis/bagian dari True Experiment, tapi pada penelitian kesehatan/kedokteran jenis penelitian ini terpisah dan merupakan ciri khas. b. Penelitian Kualitatif Pada penelitian kualitatif, hampir semua berbentuk deskriptif, yaitu sebagai berikut: a. Studi kasus b. Studi etnografi


45 | RISET KEPERAWATAN c. Studi ekologis d. Dan lain-lain (historical research, phenomenologis research, grounded rheory research) Untuk memudahkan pemahaman jenis penelitian dapat digambarkan seperti pada bagan berikut: Jenis Penelitian Kuantitatif Kualitatif Deskriptif Analitik Studi kasus Observasional Eksperimen Penelitian klinik/RCT Seri kasus Studi korelasional Studi komparatif Studi evaluatif Penelitian survey Survey/ Cross section al Case control Cohort Pra Experi men Kuasi Experi men True Experi men Studi etnografi Studi kasus Studi ekologis


46 | RISET KEPERAWATAN 2. Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif C. Desain/Rancangan Penelitian Kuantitatif Desain penelitian yang dapat digunakan pada riset kesehatan secara umum dapat menggunakan desain seperti pada penelitian kesehatan terutama pada penelitian epidemiologis, yang meliputi: 1. Desain Penelitian Deskriptif Pada penelitian deskriptif, bersifat umum dengan mendeskripsikan satu atau beberapa variable pada suatu kasus/populasi. Misalnya berdasarkan subvariable tertentu, seperti halnya pada variable epidemiology (time, place, person). Desain penelitian deskriptif tipikal/sederhana pada penelitian kuantitatif dapat digambarkan sebagai berikut: 1 Unsur konstekstual Kontrol Turut campur 2 1 Satuan kajian Variabel Pola-pola 1 1 Perlakukan Stabil Bervariasi 0 9 Gaya Intervensi Seleksi 8 Desain Pasti Muncul-Berubah Wawancara (WM), Observasi (Partisipatif), FGD Wawancara, angket, eksperimen 7 Teknik Pengumpulan data Selama/sesudah pengumpulan data Waktu penetapan Sebelum penelitian pengumpulan data dan análisis 6 5 Sampel Besar, Acak Kecil, tidak acak Pedoman wawancara, peneliti 4 Instrumen Kuesionar, angket, alat tulis Ekspansionis menjawab mengapa? Verifikasi menjawab “Apakah?” 3 Maksud 2 Persoalan kausalitas Apakah X menyebabkan Y Mengapa X menyebabkan Y 1 Teknik analisis data Memakai hitungan statistik Tidak memakai statistik No Aspek Kuantitatif Kualitatif


47 | RISET KEPERAWATAN Selain itu, desain deskriptif dapat berupa komparatif, korelasional, ataupun dalam dimensi waktu. Design deskriptif komparatif dengan menggambarkan suatu variabel tertentu pada kedua populasi, design deskriptif korelasional dengan mempelajari hubungan antara dua atau lebih variable yang diperkirakan ada keterkaitan, dan design deskriptif dimensi waktu dengan mempelajari kasus/kejadian dari waktu ke waktu. 2. Desain Penelitian Pada Penelitian Observasional/Non Eksperimental a. Desain Potong Lintang/Cross sectional Desain penelitian dengan cara mempelajari dinamika korelasi antara factor-faktor risiko (variable dependent) dengan efek/out come (variable dependent) dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat. Artinya tiap subyek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap variable subyek pada saat pemeriksaan/pengumpulan data. Rancangan penelitian cross sectional dapat digambarkan sebagai berikut: b. Desain Kasus Kontrol/Case Control Suatu desain penelitian analitik yang menyangkut bagaimana factor risiko (variable independent) dipelajari dengan menggunakan pendekatan “backward/retrospektif.” Dengan kata lain efek/penyakit/status kesehatan diidentifikasi pada saat ini, kemudian factor risiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu. Rancangan penelitian Case Control dapat digambarkan sebagai berikut: Ukuran Statistik Frekuensi/Proporsi Means dsb Time Ukuran Statistik Frekuensi/Proporsi Means dsb Place Ukuran Statistik Frekuensi/Proporsi Means dsb Person Umur Jenis Kel Status ttn, dll Variabel Kasus/ Kejadian Populasi Sampel Efek (+) Efek (-) Faktor Risiko (+) Efek (+) Efek (-) Faktor Risiko (-) Populasi Sampel


48 | RISET KEPERAWATAN c. Desain Kohort/Cohort Penelitian/desain penelitian kohort sering disebut penelitian forward/prospektif adalah suatu desain/penelitian di mana suatu factor risiko diidentifikasi lebih dulu kemudian diikuti untuk melihat efek/masalah kesehatan yang muncul. Desain/penelitian ini merupakan suatu desain/penelitian yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara factor risiko dengan efek (penyakit/status kesehatan atau masalah kesehatan. Rancangan penelitian Cohort dapat digambarkan sebagai berikut: 3. Desain Penelitian Pada Penelitian Eksperimental a. Pra eksperimen 1) Postest Only Design Dalam rancangan ini perlakukan/intervensi telah dilakukan (X), kemudian dilakukan pengukuran/observasi/post test (O2). Karena tidak ada kontrol, maka tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Rancangan ini sering disebut “The One Shot Study”. Hasil observasi ini hanya memberikan informasi yang bersifat deskriptif. Populasi Sampel Retrospektif Efek (-)/ Kontrol Efek (+)/ Kasus Faktor Risiko (+) Retrospektif Faktor Risiko (-) Faktor Risiko (-) Faktor Risiko (+) Populasi Sampel Prospektif Efek (+) Prospektif Efek (-) Efek (-) Efek (+) Faktor Risiko (-) Faktor Risiko (+) Eksperimen/Perlakuan Post Test X O2


49 | RISET KEPERAWATAN 2) One Group Pretest-Postest Rancangan ini juga tidak menggunakan kelompok pembanding, namun sudah dilakukan pre test/observasi pertama sebelum dilakukan intervensi yang selanjutnya diuji/post test untuk melihat perubahannya. 3) Static Group Comparism/Perbandingan Kelompok Statik Rancangan ini seperti rancangan pertama, hanya bedanya menambahkan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen menerima perlakuan/intervensi yang diikuti observasi (O2). Hasil observasi ini dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menerima perlakuan/intervensi. b. Eksperimen semu/ Quasi Experiment 1) Time Series Design/Rancangan rangkaian waktu Rancangan ini seperti rancangan pre test-post test, tapi pengukuran dilakukan berulang-ulang sebelum dan sesudah perlakuan/intervensi untuk meningkatkan validitas. 2) Control Time Series Design/Rancangan rangkaian waktu dengan kontrol Rancangan ini sama dengan rancangan rangkaian waktu, namun menggunakan kelompok pembanding/kontrol. X Eksperimen/ Perlakuan Pre Test Post Test O1 O2 Kelompok X O2 Eksperimen Eksperimen/ Perlakuan Post Test Kelompok O2 Kontrol O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8 Eksperimen/ Perlakuan Pre test Post Test Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen O1 O2 O3 O4 X O5 O6 O7 O8 O1 O2 O3 O4 O5 O6 O7 O8 Eksperime n/ Perlakuan Pre test Post Test


50 | RISET KEPERAWATAN 3) Nonequivalent Control Group Rancangan ini sangat baik untuk evaluasi program pendidikan kesehatan atau pelatihan-pelatihan kesehatan lainnya dan membandingkan hasil intervensi program kesehatan di suatu kecamatan atau desa dengan kecamatan atau desa lainnya. Pada rancangan ini, sampel dari kelompok eksperimen dan kontrol tidak dilakukan random, sehingga disebut “Nonrandomized Control Group Pretest-Postest Design”. 4) Separate Sample Pretest-Postest Rancangan ini sering digunakan dalam penelitian kesehatan. Pengukuran pertama dilakukan pada sample yang dipilih secara acak, kemudian dilakukan intervensi pada seluruh populasi. Selanjutnya dilakukan pengukuran kedua (posttest) pada kelompok sample lain yang diacak secara random. c. Eksperimen murni (sungguhan)/ True Experiment 1) Pretest-Postest with Control Group/Rancangan Pretest posttest dengan kelompok kontrol Rancangan ini seperti pada rancangan statuc group comparism, namun pembagian kelompok kontrol dan pembanding dilakukan dengan random, sehingga di antara kelompok tersebut mempunyai sifat yang sama sebelum dilakukan intervensi. 2) Randomized Solomon Four Group Rancangan ini dbuat untuk mengatasi kelemahan rancangan di atas, karena pengaruh pre test terhadap perlakuan. Pada rancangan ini ditambahkan Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen O1 X O2 O1 O2 Eksperime n/ Perlakuan Pre test Post Test Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen O2 X X O2 Eksperimen / Perlakuan Pre test Post Test Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen O1 X O2 O1 O2 Eksperimen / Perlakuan Pre test Post Test


51 | RISET KEPERAWATAN kelompok kontrol yang tidak dilakukan pre test dan mendapat perlakuan serta kelompok kontrol yang tidak dilakukan pre test dan tidak mendapat perlakuan. 3) Postest Only Control Group Design/Rancangan Postest dengan kelompok kontrol (termasuk dalam design ini adalah penelitian klnik/Randomized Clinical Trial) Rancangan ini merupakan eksperimen sungguhan. Pada rancangan ini sudah dilakukan randomisasi untuk memilah kelompok eksperimen dan kontrol, tapi pada rancangan ini tidak dilakukan pre test dulu, melainkan langsung perlakukan/intervensi kemudian diukur hasilnya (post test). Penelitian kualitatif bersifat deskriptif/penelitian deskriptif karena menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan. Penelitian kualitatif bermanfaat dalam menindaklanjuti penelitian kuantitatif atau menyediakan/mempersiapkan studi kuantitatif. Desain penelitian/research design dapat diartikan sebagai rancangan penelitian. Karena kata design adalah “rencana” yang lebih lanjut kata itu dapat berarti pula sebagai: pola, potongan, bentuk, model, tujuan, dan maksud (Echols dan Hassan Shadily, 1978: 77) Rancangan pada dasarnya merencanakan suatu kegiatan sebelum dilaksanakan. Kegiatan merencanakan itu mencakup komponen-komponen penelitian yang diperlukan. Rancangan penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai usaha merencanakan dan menentukan segala kemungkinan dan perlengkapan yang diperlukan dalam suatu penelitian kualitatif (Moleong, Lexy J. 2004: 236) Unsur-unsur Rancangan Penelitian: - Penentuan fokus penelitian - Penentuan kesesuaian paradigma dengan fokus penelitian - Penentuan kesesuaian paradigma dengan teori - Penentuan dari mana dan dari siapa data dikumpulkan - Penentuan tahap-tahap penelitian (orientasi, eksplorasi, pengecekan/pemeriksaan keabsahan data) Kelompok O1 O2 Kontrol Kelompok X O2 Kontrol Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen O1 X O2 O2 Pre test Perlakuan Post Test Kelompok Kontrol O2 Kelompok X O2 Eksperimen Perlakuan Post Test


52 | RISET KEPERAWATAN - Penentuan teknik penelitian/pengumpulan data - Perencanaan pengumpulan dan pencatatan data - Perencanaan prosedur dan pelaksanaan analisis data - Perencanaan perlengkapan penelitian (logistik, peralatan, dan sebagainya) - Perencanaan untuk pemeriksaan keabsahan data. Penelitian kualitatif dapat menggunakan berbagai metoda khususnya dalam pengumpulan data meliputi: wawancara mendalam/indepth interview, diskusi kelompok/Focus Group Discussion (FGD), dan observasi (observasi partisipatif). Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-Dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. FKM Universitas Indonesia – CIMU Health, 2000. Aplikasi Metode Kualitatif dalam Penelitian Kesehatan, FKM-UI – The British Council, Depok. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Pratiknya, Ahmad W., 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Singarimbun, Masri., dan Sofian Effendi, 1982. Metoda Penelitian Survai, LPES, Jakarta


53 | RISET KEPERAWATAN BAB 9 POPULASI DAN SAMPEL DALAM RISET KESEHATAN A. Populasi Penelitian 1. Pengertian a. Populasi penelitian adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang akan diteliti. b. Populasi penelitian adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. 2. Penentuan Populasi Untuk keberhasilan suatu penelitian perlu dipertimbangkan faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada pengambilan sampel. Faktor tersebut antara lain adalah dengan membatasi populasi. Suatu populasi menunjukkan pada sekelompok subjek yang menjadi objek atau sasaran penelitian. Sasaran penelitian ini dapat berupa manusia maupun bukan manusia seperti wilayah geografis, penyakit, penyebab penyakit, program-program kesehatan, gejala-gejala penyakit dan lain sebagainya. Pembatasan-pembatasan terhadap populasi dilakukan agar kesimpulan yang ditarik dari hasil penelitian menggambarkan atau mewakili seluruh populasi. Tanpa pembatasan dengan jelas anggota populasi, kita tidak akan memperoleh sampel yang representatif. Oleh sebab itu dalam penelitian apapun populasi tersebut harus dibatasi, misalnya satu wilayah kelurahan, kecamatan atau kabupaten, kelompok umur tertentu, penyakit-penyakit tertentu dan sebagainya. Perlu diingat bahwa nilai suatu hasil penelitian bukan ditentukan oleh besar kecilnya populasi, melainkan ditentukan oleh bagaimana peneliti menggunakan dasar pengambilan kesimpulan atau teknik sampling. Bila kesimpulan ditarik berdasarkan pada sampel yang diambil dengan teknik yang salah, maka kesimpulan hasil penelitian tidak dapat berlaku untuk seluruh populasi. Sebaliknya bila suatu penelitian dilakukan terhadap sampel yang representatif terhadap populasi, dan diambil dengan teknik sampling yang tepat, maka kesimpulan atau generalisasi yang diperoleh dapat diharapkan representatif. Oleh sebab itu pembatasan populasi sangat penting untuk memperoleh sampel yang representatif. Pembatasan populasi dapat ditentukan berdasarkan “judul penelitian” yang merupakan hasil dari perumusan masalah penelitian. Judul penelitian biasanya sudah mencakup komponen/unsur yang menjawab pertanyaan: “apa, siapa, di mana, kapan.” 3. Pembagian/Jenis Populasi a. Populasi Target Adalah populasi yang memenuhi sampling kriteria dan menjadi sasaran akhir penelitian. Populasi target bersifat umum, biasanya dibatasi oleh karakteristik demografi.


54 | RISET KEPERAWATAN b. Populasi Studi/Terjangkau Adalah populasi yang memenuhi kriteria dalam penelitian dan biasanya dapat dijangkau oleh peneliti di kelompoknya. Misalnya pada penelitian, populasi targetnya adalah semua pasien diabetus melitus di Majalengka, maka populasi studinya adalah hanya pasien diabetus mellitus yang mempunyai askes di Majalengka. B. Sampel Penelitian 1. Pengertian a. Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi tersebut (Notoatmodjo, 1993:75) b. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil untuk diketahui karakteristiknya (Hidayat, 2007: 61) 2. Manfaat/Kegunaan Pengambilan Sampel Kegunaan sampling/pengambilan sampel di dalam penelitian antara lain sebagai berikut: a. Menghemat biaya Proses pelaksanaan penelitian yang mencakup alat penelitian, pengumpulan data, pengolahan data dan sebagainya memerlukan biaya yang relatif besar. Apabila penelitian tersebut dilakukan terhadap seluruh obyek yang diteliti sudah barang tentu akan memakan banyak lagi biaya. Oleh sebab itu dengan sampling, dalam arti penelitian hanya dilakukan terhadap sebahagian populasi, biaya tersebut dapat ditekan atau dikurangi. b. Mempercepat pelaksanaan penelitian/menghemat waktu Penelitian yang dilakukan terhadap obyek yang banyak (seluruh populasi) jelas akan memakan waktu yang lama, bila dibandingkan dengan hanya terhadap sebagian populasi saja (sampel). Oleh sebab itu jelas bahwa penelitian yang hanya dilakukan terhadap sampel akan lebih cepat selesai. c. Menghemat tenaga Pelaksanaan penelitian yang dilakukan terhadap seluruh populasi jelas akan memerlukan tenaga yang lebih banyak bila dibandingkan dengan penelitian yang hanya dilakukan terhadap sebagian saja dari populasi tersebut. Dengan perkataan lain penelitian yang dilakukan hanya terhadap sampel ini lebih menghemat tenaga. d. Memperluas ruang lingkup penelitian Penelitian yang dilakukan terhadap seluruh obyek akan memakan waktu, tenaga, biaya, dan fasilitas-fasilitas lain yang lebih besar. Apabila penelitian dilakukan terhadap sampel, maka dengan waktu, tenaga, dan biaya yang sama dapat dilakukan penelitian yang lebih luas ruang lingkupnya. e. Memperoleh hasil yang lebih akurat Penelitian yang dilakukan terhadap populasi jelas akan menyita sumber-sumber daya yang lebih besar, termasuk usaha-usaha analisis. Hal ini akan berpengaruh terhadap keakuratan hasil penelitian. Dengan menggunakan sampel, maka dengan usaha yang sama akan diperoleh hasil analisis yang lebih akurat. 3. Penentuan Sampel/Pengambilan Sampel a. Syarat-syarat Sampel Pada dasarnya ada 2 syarat yang harus dipenuhi dalam menetapkan sampel, yaitu:


55 | RISET KEPERAWATAN 1) Sampel harus mewakili populasi (representatif) Untuk memperoleh hasil/kesimpulan penelitian yang menggambarkan keadaan populasi penelitian, maka sampel yang diambil harus dapat mewakili populasi yang ada. Terwakili bila sampel memiliki ciri-ciri/karakteristik populasi atau bila di populasi terdiri dari berbagai lapisan, misalnya jenjang/tingkatan pendidikan, maka sampel diharapkan juga mempunyai berbagai jenjang/tingkat pendidikan tersebut. 2) Sampel harus cukup banyak (adequacy) Meskipun keseluruhan lapisan populasi telah terwakili, kalau jumlahnya kurang memenuhi, maka kesimpulan hasil penelitian kurang atau bahkan tidak bisa memberikan gambaran tentang populasi yang sesungguhnya. b. Kriteria Sampel Penentuan kriteria sampel sangat membantu peneliti untuk mengurangi bias hasil penelitian, khususnya terhadap variabel-variabel (kontrol/perancu) yang ternyata mempunyai pengaruh terhadap variable yang kita teliti. Kriteria sampel dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu: 1) Kriteria Inklusi Merupakan kriteria di mana subyek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel. Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau. Pertimbangan ilmiah harus menjadi pedoman dalam menentukan kriteria inklusi ini. 2) Kriteria Eksklusi Merupakan kriteria di mana subyek penelitian tidak dapat mewakili sampel karena tidak mememenuhi syarat sebagai sampel dan akan menimbulkan bias pada hasil penelitian. Kriteria eksklusi adalah menghilangkan/ mengeluarkan subyek yang tidak memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab yang dapat menimbulkan bias pada hasil penelitian. Contoh: Pada penelitian untuk mengetahui hubungan suatu faktor risiko dengan penyembuhan luka pasca operasi laparatomi, maka kriteria eksklusinya antara lain adalah subyek dengan kelainan imunologis atau subyek tersebut harus dikeluarkan/tidak boleh diikutsertakan. Atau keadaan lain seperti: subyek sulit diwawancara/ditindaklanjuti, hambatan etis, ataupun subyek menolak berpartisipasi. c. Prosedur Pengambilan Sampel Pengambilan sampel penelitian dari populasi harus dilakukan melalui prosedur pengambilan sampel yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menentukan tujuan penelitian Tujuan penelitian adalah suatu langkah pokok bagi suatu penelitian, karena tujuan penelitian tersebut merupakan arah untuk elemen-elemen yang lain dari penelitian. Demikian pula dalam menentukan sampel tergantung pula pada tujuan penelitian. Oleh sebab itu langkah pertama dalam mengambil sampel dari populasi adalah menentukan tujuan penelitian. 2) Menentukan populasi penelitian


56 | RISET KEPERAWATAN Telah disebutkan di atas, bahwa anggota populasi di dalam penelitian tersebut harus dibatasi secara jelas. Oleh sebab itu sebelum sampel tersebut ditentukan, harus ditentukan dengan jelas kriteria atau batasan populasinya. Dengan demikian maka akan menjamin pengambilan sampel secara tepat. 3) Menentukan jenis data yang diperlukan Jenis data yang akan dikumpulkan dari suatu penelitian harus dirumuskan dengan jelas. Apabila jenis data yang akan dikumpulkan tersebut telah dirumuskan secara jelas, maka dapat dengan mudah ditentukan dari mana data tersebut diperoleh atau ditentukan sumber datanya. 4) Menentukan teknik sampling Penentuan teknik sampling yang akan digunakan dalam pengambilan sampel, dengan sendirinya akan tergantung dari tujuan penelitian dan sifat-sifat populasi. Bila tujuan penelitian pada akhirnya mengharapkan hasil penelitian dapat digeneralisasikan ke populasinya, maka teknik sampling harus menggunakan probability sampling/random sampling. Sebaliknya bila hanya berlaku untuk sampel/kasus saja, maka cukup dengan non probability sampling/ non random sampling. 5) Menentukan besarnya sampel (sample size) Meskipun besar kecilnya sampel belum menjamin representatif atau tidaknya suatu sampel, tetapi penentuan besarnya sampel dapat merupakan langkah penting dalam pengambilan sampel. Secara statistik penentuan besarnya sampel ini akan tergantung pada jenis dan besarnya populasi. Penentuan besarnya sampel juga tergantung pada jenis dan desain penelitian. 6) Menentukan unit sampel yang diperlukan Sebelum menentukan sampel yang diperlukan, terlebih dahulu akan ditentukan unit-unit yang menjadi anggota populasi. Hal ini akan memudahkan dalam menentukan unit mana yang akan dijadikan sampel. 7) Memilih sampel/sampling Apabila karakteristik populasi sudah ditentukan dengan jelas, maka kita dapat dengan mudah memilih sampel sesuai dengan karakteristik populasi tersebut. Dalam memilih sampel dari populasi ini dengan sendirinya berdasarkan teknikteknik pengambilan sampel/teknik sampling. 4. Teknik Pengambilan Sampel/Teknik Sampling Teknik sampling secara garis besar terbagi menjadi 2, yaitu: a. Random sampling/probability sampling Pengambilan sampel secara random atau acak disebut random sampling, dan sampel yang diperoleh disebut sampel random. Teknik random sampling hanya boleh digunakan apabila setiap unit atau anggota populasi itu bersifat homogen. Hal ini berarti setiap anggota populasi itu mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Teknik random sampel ini dapat dibedakan menjadi: 1) Pengambilan sampel secara acak sederhana (Simple random sampling) Sampel acak sederhana ini adalah sebuah sampel yang diambil sedemikian rupa, sehingga tiap unit penelitian atau unit dari populasi mempunyai kesempaatan yang sama untuk dipilih/terpilih sebagai sampel. Ada beberapa cara teknik pengambilan sampel acak sederhana, yaitu:


57 | RISET KEPERAWATAN a. Dengan mengundi anggota populasi atau teknik undian (lottery technique) b. Randomisasi dari tabel random: (1) Buat daftar subyek dengan nomor urutnya (2) Jatuhkan pensil di sembarang tempat pada tabel bilangan random (3) Ambil dua angka yang berdekatan dengan jatuhnya ujung pensil untuk mendeteksi sampel/individu yang pertama. Selanjutnya untuk orang kedua, ketiga, dan seterusnya ambil dua angka di bawah dan atau di atasnya atau disamping kiri/kanan (bila subyek populasi 1-99/01-99 atau 2 digit). 2) Pengambilan sampel secara acak sistematis (Systematic sampling) Merupakan modifikasi dari sampel random sampling. Caranya adalah membagi anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan, hasilnya adalah interval sampel. Sampel diambil dengan cara membuat daftar yang berisi semua individu dengan nomor urutnya kemudian ambil sampel dengan ketentuan yang ditetapkan: menurut interval sampel setelah diundi sampel yang pertama. 3) Pengambilan sampel secara acak stratifikasi (stratified sampling atau stratified random sampling) Cara ini dilakukan bila populasi terdiri dari unit yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda atau heterogen. Caranya dengan mengidentifikasi dulu karakteristik umum dari populasi, kemudian tentukan strata atau lapisan dari jenis karakteristik unit-unit tersebut, misalnya berdasarkan tingkat sosial, ekonomi, pendidikan, umur dan sebagainya. Setelah itu dimabil sampel yang mewakili secara random dengan pertimbangan sampel dari masing-masing strata/proporsional. 4) Pengambilan sampel secara kelompok atau gugus (cluster sampling) Pada teknik ini sampel bukan terdiri dari individu, tetapi terdiri dari kelompok atau gugusan/cluster, biasnya 1 cluster terdiri dari 7-9 orang. Kelompok yang diambil sebagai sampel terdiri dari unit geografi (RT/RW, desa, kec, kab, dan sebagainya), unit organisasi (PKK, LKMD, dan sebagainya). Caranya dengan membuat daftar kelompok yang ada dalam populasi, kemudian ambil sampel secara random sesuai kebutuhan, misalnya untuk penelitian dibutuhkan 3 desa dari 15 desa yang ada. 5) Pengambilan sampel secara gugus bertahap (multistage sampling) Hampir sama dengan metoda cluster sampling, hanya dilakukan secara bertahap. Pelaksanaannya dengan membagi wilayah populasi ke dalam subsub wilayah, dan tiap sub wilayah dibagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan seterusnya. Kemudian menetapkan wilayah populasi/sub wilayah sebagai sampel, dari sub wilayah yang menjadi sampel ditetapkan pula bagianbagian dari sub wilayah sebagai sampel dan seterusnya sampai dengan unit terkecil/individu (dalam lingkup RT). b. Non random sampling/non probability sampling Pengambilan sampel bukan secara acak atau non random adalah pengambilan sampel yang tidak didasarkan atas kemungkinan yang dapat diperhitungkan, tetapi semata-mata hanya berdasarkan kepada segi-segi


58 | RISET KEPERAWATAN kepraktisan belaka. Metoda ini mencakup beberapa teknik, antara lain sebagai berikut: 1) Purposive sampling Pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya melalui studi pendahuluan atau mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan populasi. Teknik ini sangat cocok untuk mengadakan studi kasus (case study) di mana banyak aspek dari kasus tunggal yang representatif untuk diamati dan dianalisa. 2) Quota sampling Pengambilan sampel secara kuota dilakukan dengan menetapkan sejumlah anggota sampel secara jatah/quotum. Caranya dengan menetapkan berapa jumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan jatah, kemudian jumlah itulah yang dijadikan dasar untuk mengambil unit sampel yang diperlukan dari populasi yang telah ditentukan. Anggota populasi manapun yang akan diambil tidak menjadi soal, yang penting jumlah quotum yang sudah ditetapkan dapat dipenuhi. 3) Accidental sampling Pengambilan sampel secara aksidental ini dilakukan dengan mengambil kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia. Berbeda dengan purposive karena metode purposive dengan sengaja mengambil atau memilih kasus/responden. Sedangkan sampel yang diambil secara aksidental berarti sampel diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada. 5. Penentuan Besar Sampel a. Penelitian Observasional 1) Besar Sampel 1 Populasi a. Estimasi (1) Simple random sampling/systematic random sampling (a) Data Kontinu 2 1 / 2 2 2 d n Keterangan: n = besar sample minimun Z 2 1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Nilai Z pada uji two tail dengan derajat kemaknaan 90% = 1,64 (alfa 0,1) ; 95%=1,96 (0,05) ; dan 99%=2,58 (0,01) Nilai Z pada uji one tail dengan derajat kemaknaan 90% = 1,28 ; 95%=1,64 ; dan 99%=1,69 σ 2 = harga varians di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) Untuk data kontinu jika populasinya diketahui, maka rumus besarnya sample adalah:


59 | RISET KEPERAWATAN 2 2 1 / 2 2 2 1 / 2 2 ( 1). N d N n Keterangan: N = besar Populasi n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu σ 2 = harga varians di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) (b) Data Proporsi/Katagori Untuk data proporsi, jika populasinya tidak diketahui, maka rumus besar sample adalah: 2 1 / 2. 2 (1 ) d P P n Keterangan: n = besar sample minimun Z 2 1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Nilai Z pada uji two tail dengan derajat kemaknaan 90% = 1,64 (alfa 0,1) ; 95%=1,96 (0,05) ; dan 99%=2,58 (0,01) Nilai Z pada uji one tail dengan derajat kemaknaan 90% = 1,28 ; 95%=1,64 ; dan 99%=1,69 P = harga proporsi di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) Untuk data proporsi, jika populasinya diketahui, maka rumus besar sample adalah: 2 1 / 2. 2 . (1 ) d N P P n Keterangan: N = besar populasi (2) Stratified random sampling (a) Data Kontinu Rumus besarnya sample adalah :


60 | RISET KEPERAWATAN L h h h L h h h h N d N w N n 1 2 2 1 / 2 2 2 2 1 2 2 1 / 2 2 . . Keterangan: n = besar sample minimun N = besar populasi Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu σ 2 h = harga varians di strata h d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) Wh = fraksi dari observasi yang di alokasi pada strata h = Nh/N, jika digunakan alokasi strata, W=1/L L = Jumlah seluruh strata yang ada (b) Data Proporsi/Katagori Rumus besarnya sample adalah : L h h h h L h h h h n N d N P P w N P P n 1 1 / 2 2 2 2 1 2 1 / 2 2 (1 ) (1 Keterangan: n = besar sample minimun N = besar populasi Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Ph = harga proporsi di strata h d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) Wh = fraksi dari observasi yang dialokasi pada strata h = Nh/N, jika digunakan alokasi strata, W=1/L L = Jumlah seluruh strata yang ada (3) Cluster random sampling (a) Data Kontinu Keterangan: n = besar sample minimun N = besar Populasi n = besar sample minimun


61 | RISET KEPERAWATAN Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu σ 2 = harga varians di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) C = jumlah seluruh cluster di populasi (b) Data Proporsi/Katagori Keterangan: n = besar sample minimun N = besar Populasi n = besar sample minimun Z 2 1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu σ 2 = harga varians di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) C = jumlah seluruh cluster di populasi ai = banyaknya elemen yang masuk criteria pada cluster ke-i mi = banyaknya elemen pada cluster ke-i b. Uji Hipotesis (1) Data Kontinu 2 0 2 1 / 2 1 2 ( ) ( ) a n Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada β tertentu Z1-β Pada kekuatan uji 80% = 0,84 (0,842) Z1-β Pada kekuatan uji 90% = 1,28 (1,282) σ 2 = harga varians di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) μ0- μa = perkiraan selisih mean yang diteliti dengan mean di populasi. (2) Data Proporsi/Katagori


62 | RISET KEPERAWATAN Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada β tertentu P0 = proporsi di populasi Pa = perkiraan proporsi pada populasi hasil penelitian Pa- -Po = perkiraan selisih proporsi yang diteliti dengan proporsi di populasi 2) Besar Sampel 2 Populasi a. Estimasi (1) Data Kontinu 2 1 / 2 2 ) 2 ( 2 d n Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu σ 2 = harga varians di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) (2) Data Proporsi/Katagori (a) Cross sectional Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu P1 = perkiraan proporsi di populasi 1 P2 = perkiraan proporsi di populasi 2 d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) (b) Case Control Keterangan: n = besar sample minimun


63 | RISET KEPERAWATAN Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu P*1 = perkiraan probabilitas paparan pada populasi 1 (outcome+) P*2 = perkiraan probabilitas paparan pada populasi 2 (outcome -) Ε = kesalahan (relatif) yang dapat ditolerasi (presisi) (c) Cohort Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu P1 = perkiraan probabilitas outcome (+) pada populasi 1 P2 = perkiraan probabilitas outcome (+) pada populasi 2 Ε = kesalahan (relatif) yang dapat ditolerasi (presisi) b. Uji Hipotesis (1) Data Kontinu Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada β tertentu σ 2 = harga varians di populasi d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerasi (presisi) μ0- μa = perkiraan selisih mean yang diteliti dengan mean di populasi (2) Data Proporsi/Katagori (a) Cross sectional


64 | RISET KEPERAWATAN Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada β tertentu P1 = perkiraan proporsi di populasi 1 P2 = perkiraan proporsi di populasi 2 P = (P1+P2)/2 (b) Case Control Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada β tertentu P*1 = perkiraan probabilitas paparan pada populasi 1 (outcome+) P*2 =perkiraan probabilitas paparan pada populasi 2 (outcome -) (c) Cohort Keterangan: n = besar sample minimun Z1-α/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada α tertentu Z1-β = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada β tertentu P1 = perkiraan probabilitas outcome (+) pada populasi 1 P2 = perkiraan probabilitas outcome (+) pada populasi 2 P = (P1+P2)/2 b. Penelitian Eksperimental 1) Apabila desain acak lengkap, acak kelompok atau factorial dapat menggunakan rumus:


65 | RISET KEPERAWATAN Keterangan: t = banyak kelompok perlakuan r = Jumlah replikasi 2) Untuk rancangan eksperimen lain dapat juga menggunakan rumus jenis observasional kemudian apabila dimungkinkan ada drop out atau unit pengamatannya hilang, dapat dilakukan koreksi dengan 1/(1-f), dan f adalah proporsi yang hilang. Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-Dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Lemeshow, Stanley., David W. Hosmer Jr. 1990. Adequacy of Sample Size in Health Studies, WHO. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Pratiknya, Ahmad W., 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.


66 | RISET KEPERAWATAN BAB 10 TEKNIK PENGUMPULAN DATA A. Pengamatan/Observasi 1. Pengamatan Pengamatan dalam penelitan adalah suatu prosedur yang terencana, meliputi melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktifitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Pengertian lain (ahli lain) observasi adalah studi yang disengaja dan sistematik tentang fenomena sosial dan gejala-gegala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat. Dalam pengamatan diperlukan daya ingat yang baik, akan tetapi pada umumnya kita mempunyai daya ingat yang terbatas dan tiap individu berbeda, sehingga untuk mengatasi hal ini dan untuk mengurangi timbulnya kesalahankesalahan, observasi dapat dibantu dengan jalan: a. Mengklasifikasikan gejala-gejala yang relevan b. Observasi diarahkan pada gejala-gejala yang relevan c. Munggunakan jumlah pengamatan yang lebih banyak d. Melakukan pencatatan dengan segera e. Didukung dengan alat-alat pencatat atau formulir isian (cheklist) f. Dapat dibantu Juga dengan alat mekanik/elektronik : camera, video camera, tape recoder. Pertimbangan lain diperlukannya alat bantu di atas, mengingat bahwa dalam penelitian ilmiah (lab atau lapangan) indera pengamatan yang paling baik adalah mata dan telinga. 2. Sasaran Pengamatan Sasaran pengamatan dapat berupa gejala-gejala sosial atau kenyataan yang terjadi, namun demikian perlu pembatasan sasaran pengamatan karena tidak semua gejala-gejala sosial/kenyataan dapat dijadikan/diperlukan dalam penelitian. Untuk itu, perlu dipelajari teori atau pengetahuan sehingga diperoleh gambaran mengenai kenyataan yang perlu diperhatikan dalam mempelajari masalah sosial tertentu. 3. Jenis Pengamatan a. Pengamatan Terlibat (Observasi partisipatif) Pada pengamatan ini, peneliti/pengamat benar-benar mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan sasaran pengamatan. Pengamatan ini sering dilakukan dalam penelitian kualitatif atau yang bersifat eksploratif yang semula digunakan dalam penelitian antropologi. Yang harus diperhatikan dalam pengamatan ini adalah jangan sampai sasaran pengamatan tahu bahwa pengamat sedang berada di tengah-tengah mereka dan sedang mengamati: gerak-gerik mereka. Oleh karena itu, pencatatan yang dilakukan pengamat tidak boleh terlihat


67 | RISET KEPERAWATAN oleh sasaran pengamatan. Bila sasaran pengamatan tahu, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah : 1) Tingkah laku mereka akan dibuat-buat 2) Kepercayaan mereka terhadap pengamat/ peneliti akan hilang yang akhirnya akan menutup diri dan selalu berprasangka 3) Dapat mengganggu situasi dan relasi pribadi 4) Akhirnya dapat diperoleh data yang bias (BIAS) Agar observasi partisipatif ini berhasil, perlu diperhatikan sebagai berikut : 1) Dirumuskan gejala yang akan/harus diobservasi 2) Direncanakan pencatatan yang baik 3) Memelihara hubungan baIk dengan sasaran pengamatan 4) Mengetahui batas intensitas partisipasi 5) Menjaga agar situasi dan iklim psikologis tetap wajar 6) Mencegah timbulnya kecurigaan dan penolakan 7) Sebaiknya pendekatan pengamat dilakukan melalui tokoh-tokoh masyarakat setempat (key person) Menurut intensitasnya, observasi partisipatif dapat digolongkan menjadi 2, yakni : 1) Partisipatif Partial (sebagian), yang hanya mengambil bagian pada kegiatankegiatan tertentu saja, di mana tingkah-tingkah laku yang akan diamati. 2) Partisipasi penuh, dengan ikut serta pada semua kegiatan sosial yang ada. b. Pengamatan Sistematis Jenis pengamatan ini mempunyai ciri yang utama, yakni mempunyai kerangka atau struktur yang jelas di mana di dalamnya berisikan faktor yang diperlukan dan sudah dkelompokkan ke dalam kategori-kategori. Dengan demikian, aka materi pengamatan mempunyai skope yang lebih sempit dan terbatas, sehingga pengamatan lebih terarah. Pada umumnya pengamatan sistematis ini didahului oleh pengamatan pendahuluan, yakni observasi partisipatif untuk mencari penemuan dan perumusan masalah yang akan dijadikan sasaran obervasi. c. Observasi Eksperimental Dalam observasi ini, sasaran pengamatan (observer) dicoba atau dimasukkan ke dalam situasi atau kondisi tertentu. Situasi dan kondisi itu diciptakan sedemikian rupa oleh pengamat sehingga gejala-gejala yang akan dicari/diamati akan timbul. Dalam jenis observasi ini, semua kondisi dan faktorfaktornya dapat diatur atau dikendalikan, sehingga jenis pegamatan ini disebut juga pengamatan terkendali. Keuntungannya adalah tidak perlu menunggu terlalu lama timbulnya gejala-gejala tingkah laku yang diperlukan, misalnya gejala frustasi, ketekunan, agresi, reaksi dan sebagainya. Sedangkan kelemahannya adalah sering terjadi “BIAS” karena orang yang menjadi sararan pengamatan seolah-olah dipaksa untuk meninggalkan lingkungan mereka yang asli dan memasuki ruangan yang asing, sehingga kemungkinan reaksi yang timbul/yang dilakukan mereka berbeda di tempat asal mereka atau tingkah lakunya dibuat-buat. Pengamatan semacam ini banyak dilakukan dalam laboratorium ilmiah, klinik khusus, ruang-ruang penelitian dan sebagainya yang mengadakan


68 | RISET KEPERAWATAN penyelidikan terhadap gejala keilmuan dan fenomena sosial yang sederhana (tidak kompleks). 4. Kelebihan dan Kekurangan Teknik Pengamatan a. Kelebihan 1) Merupakan cara pengumpulan data yang murah, mudah dan langsung guna mengadakan penelitian terhadap macam-macam gejala. 2) Tidak mengganggu, minimal mengganggu sasaran penelitian. 3) Banyak gejala psikis/sosial yang penting tidak atau sukar diperoleh dengan teknik angket atau interview. 4) Dimungkinkan mengadakan pencatatan secara serempak kepada sasaran pengamatan yang lebih banyak. b. Kelemahan 1) Banyak peristiwa psikis tertentu yang tidak dapat diamati, misalnya harapan, keinginan, dan masalah-masalah yang sifatnya sangat pribadi dan lain-lain. 2) Sering memerlukan waktu yang lama, sehingga membosankan karena tingkah laku/gejala yang dikehendaki tidak muncul-muncul. 3) Apabila sasaran pengamatan mengetahui bahwa mereka sedang diamati, mereka akan dengan sengaja menimbulkan kesan-kesan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Jadi sifatnya dibuat-buat. 4) Sering subyektifitas dari observer tidak dapat dihindari. 5. Alat Pengamatan/Observasi a. Check List Adalah suatu daftar pengecek/daftar tilik, berisi nama subyek dan beberapa gejala/identitas lainnya dari sasaran pengamatan. Pengamat tinggal memberikan tanda check (v) pada daftar tersebut yang menunjukkan adanya gejala/ciri dari sasaran pengamatan. Check list ini dapat bersifat individual dan juga dapat bersifat kelompok. Contoh : Check list kelompok Nama Faktor yang diamati/Tingkah Laku Disiplin Kecerdasan Ketekunan Keterampilan 1. Ali V V - V 2. Badu V V V V 3. Cholik - V - V 4. Dadang - - V V 5. dst b. Skala Penilaian (Rating Scale) Skala ini berupa berupa daftar yang berisikan ciri-ciri tingkah laku, yang dicatat secara bertingkat. Rating scale ini dapat merupakan satu alat pegumpulan data untuk menerangkan, menggolongkan dan menilai seseorang atau suatu gejala. Skala penilaian ini dapat berbentuk berbagai macam, antara lain : 1) Bentuk Kuantitas Contoh : Penilaian terhadap tingkah laku


69 | RISET KEPERAWATAN Tingkah Laku/ Gejala Skor 1 2 3 4 5 Kerjasama V Kerajinan V Partisipasi V Ketekunan V Dsb Pengamat memberikan skor dari gejala yang diamati dengan sendirinya menurut “judgment” pengamat itu sendiri. 2) Bentuk Deskripsi Contoh : Penilaian/pengamatan tentang kerjasama. .................................................. Tidak dapat/tidak mau bekerjasama dengan orang lain .................................................. Kadang-kadang mau bekerjasama, tetapi tidak efektif .................................................. Mau bekerja sama, tetapi dengan orang-orang tertentu saja .................................................. Bekerja sama secara baik dengan orang lain .................................................. Bekerja sama baik sekali dengan setiap orang Pengamat memberikan tanda check di muka pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun. 3) Bentuk Grafis Contoh : Pengamatan penilaian : bekerja sendiri ( ) ( ) ( V ) ( ) ( ) Selalu membutuhkan petunjuk Biasanya memerlukan petunjuk Dalam hal tertentu membutuhkan petunjuk Sewaktuwaktu memerlukan pengawasan Bekerja baik bila dibiarkan sendiri Pengamat memberikan tanda check pada skala gejala yang telah tersusun. Kelemahan dan skala penilaian ini antara lain sangat subyektif dan sangat kaku, sehingga kurang memberikan kesempatan luas kepada observer. c. Daftar Riwayat Kelakuan (Anecdotal Record) Adalah catatan-catatan mengenai tingkah laku seseorang yang luar biasa sifatnya atau yang khas. Catatan semacam ini kecuali dibuat oleh pengamat, sering pula dibuat oleh guru, pemimpin organisasi, pendeta, direktur perusahaan dan sebagainya. Pada prinsipnya anecdotal record ini harus dibuat secepat mungkin di kala peristiwa itu terjadi atau sesudah terjadi, dengan catatan ucapan atau tingkah laku tertentu dari anggota suatu masyarakat.


70 | RISET KEPERAWATAN d. Alat-alat Mekanik (Elektronik) Alat-alat ini antara lain : alat perekam, alat fotografi, tape recorder, kamera dan sebagainya. Alat tersebut dapat diputar ulang untuk mengadakan analisis yang lebih teliti. B. Angket 1. Pengertian Angket adalah suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak). Angket ini dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subyek untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban, dan sebagainya. Teknik ini lebih cocok dipakai untuk memperoleh data yang cukup luas dari kelompok/masyarakat yang berpopulasi besar, dan bertebaran tempatnya. Biasanya pengirimannya dilakukan melalui pos kepada responden. Yang menjadi ciri yang pada metode angket adalah bahwa kuesioner pada angket diisi sendiri jawabannya oleh responden, sedangkan kuesioner interview diisi oleh pewawancara berdasarkan jawaban lisan dari responden. Berdasarkan hal tersebut, maka angket tidak bisa dilakukan pada responden yang buta huruf. 2. Tipe/Jenis Angket a. Menurut Suratnya 1) Angket umum, yang berusaha sejauh mungkin untuk memperoleh selengkaplengkapnya tentang kehidupan seseorang. 2) Angket khusus, hanya berusaha untuk mendapatkan data-data mengenai sifatsifat khusus dan pribadi seseorang. b. Menurut Cara Penyampaiannya 1) Angket langsung apabila disampaikan langsung kepada orang yang dimintai informasinya tentang dirinya sendiri. 2) Angket tak langsung, apabila pribadi yang disuruh mengisi angket adalah bukan responden langsung. Ia akan menjawab dan memberikan infomasi tentang orang lain. c. Menurut Bentuk Strukturnya 1) Angket berstruktur Angket disusun sedemikian rupa tegas, definitif, terbatas dan kongkrit. Sehingga responden dapat dengan mudah mengisi atau menjawabnya. 2) Angket tak berstruktur Angket ini dipakai bila peneliti menghendaki suatu uraian dari responden tentang suatu masalah dengan suatu penulisan atau penjelasan yang panjang lebar, jadi pertanyaan bersifat terbuka dan bebas. d. Berdasarkan Bentuk Pertanyaan/Jenis Penyusunan Item 1) Angket berbentuk isian, di mana responden diberi kebebasan untuk mengisi dengan jawaban yang sesuai menurut responden (open ended item) 2) Angket berbentuk pilihan, di mana jawaban telah tersedia (closed ended item)


71 | RISET KEPERAWATAN 3. Psikologi Menjawab Angket Sifat kerjasama adalah syarat penting dalam penelitian yang mengutamakan angket. Untuk itu, maka para peneliti yang menggunakan metode ini tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri, tetapi harus mempertimbangkan faktor-faktor yang ada pada diri responden. Sebab responden biasanya : a. Asing bagi peneliti b. Tidak berkepentingan atas hasil penelitian yang dilakukan oleh orang lain c. Sudah sibuk dengan pekerjaan dan urusannya sendiri 4. Persiapan Penyusunan Angket Kriteria yang perlu diperhatikan dalam persiapan dan penyusunan angket antara lain sebagai berikut : a. Pertanyaan harus singkat dan jelas b. Jumlah pertanyaan hendaknya dibuat sedikit mungkin, supaya tidak menyita waktu responden terlalu banyak c. Pertanyaan harus cukup merangsang minat menjawab d. Pertanyaan dapat “memaksa“ penjawab memberikan jawaban yang mendalam, tetapi “to the point" e. Pertanyaan jangan sampai menimbulkan jawaban yang meragukan f. Pertanyaan jangan bersifat interogatif dan jangan sampai menimbulkan kemarahan penjawab g. Pertanyaan jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada penjawab. Di samping itu, pada lembaran pertama harus dijelaskan tentang tujuan penelitian, serta petunjuk/penjelasan tentang bagaimana cara menjawab atau mengisi formulir (angket) tersebut. 5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Angket a. Kelebihan 1) Dalam waktu singkat/serentak dapat diperoleh data yang banyak 2) Menghemat tenaga dan mungkin biaya 3) Responden dapat memilih waktu senggang untuk mengisinya, sehingga tidak terlalu terganggu bila dibanding dengan wawancara 4) Secara psikologis, responden tidak merasa dipaksa dan dapat menjawab lebih terbuka. b. Kekurangan 1) Jawaban akan lebih banyak dibumbui dengan sikap dan harapan-harapan pribadi, sehingga lebih bersifat subyektif 2) Dengan bentuk/susunan pertanyaan yang sama untuk semua responden yang sangat heterogen, maka penafsiran pertanyaan akan berbeda-beda sesuai latar belakang sosial, pendidikan dan sebagainya 3) Tidak dapat dilakukan untuk golongan masyarakat yang buta huruf 4) Apabila responden tidak dapat memahami pertanyaan/tak dapat menjawab, akan terjadi kemacetan dan mungkin responden tidak akan menjawab seluruh angket 5) Sangat sulit untuk memutuskan pertanyaan-pertanyaan secara cepat dengan menggunakan bahasa yang jelas atau sederhana.


72 | RISET KEPERAWATAN C. Wawancara 1. Pengertian Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, di mana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face). Jadi data tersebut diperoleh langsung dari responden melalui suatu pertemuan atau percakapan. Wawancara sebagai metode yang kadang sebagai pembantu metode observasi. Gejala-gejala sosial yang tidak dapat terlihat atau diperoleh melalui observasi dapat digali dari wawancara. 2. Manfaat Metode Wawancara a. Memperoleh kesan langsung dari responden b. Menilai kebenaran yang dilakukan oleh responden c. Membaca air muka (mimik) dari responden d. Memberikan penjelasan bila pertanyaan tidak dimengerti responden e. Memancing jawaban, bila jawaban macet. 3. Jenis Wawancara a. Wawancara Tidak Terpimpin (Non Directive or Guided Interview) Yaitu wawancara yang dilakukan di mana tidak ada persoalan yang menjadi fokus dalam wawancara tersebut. Sehingga dalam wawancara ini pertanyaanpertanyaan yang dikemukakan itu tidak sistematis, melompat-lompat dari suatu peristiwa/topik ke peristiwa yang lain tanpa berkaitan. Wawancara ini sering disebut/mengarah pada “Free Talk”. Wawancara tidak terpimpin terdapat banyak kelemahan antara lain : 1) Kurang efisien 2) Tidak ada pengecekan secara sistematis, sehingga realibilitasnya kurang 3) Memboroskan tenaga, pikiran, biaya dan waktu 4) Sulit untuk diolah/dianalisa b. Wawancara Terpimpin (Structured or Guided Interview). Wawancara terpimpin dilakukan berdasarkan pedoman-pedoman berupa kuesioner yang telah disiapkan secara matang sebelumnya, sehingga interview tinggal membacakan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada interviewer. Pertanyaan-pertanyaan tersebut disusun sedemikian rupa dan mencakup variabelvariabel yang berkaitan dengan hipotesisnya atau variabel penelitian. Kelebihan/keuntungan wawancara terpimpin : 1) Pengumpulan data dan pengolahannya dapat berjalan dengan cermat/teliti 2) Hasilnya dapat disajikan secara kualitatif maupun kuantitatif 3) lnterview dapat dilakukan oleh beberapa orang karena adanya pertanyaanpertanyaan yang uniform. Sedangkan kelemahannya adalah : 1) Pelaksanaan wawancara kaku karena: interviewer selalu dibayangi pertanyaan-pertanyaan yang sudah disusun 2) lnterviewer terlalu formil, sehingga hubungannya dengan reponden kurang fleksibel. c. Wawancara Bebas Terpimpin Wawancara jenis ini merupakan kombinasi dari wawancara tidak terpimpin dan wawancara terpimpin. Pada wawancara ini terdapat unsur kebebasan, di mana


73 | RISET KEPERAWATAN selain mengacu pada pedoman wawancara/angket juga pewawancara bisa mengembangkan sendiri untuk menggali informasi selengkap mungkin. Wawancara Jenis ini sering digunakan untuk menggali gejala-gejala kehidupan psikis antropologis, misalnya latar belakang suatu keyakinan, motivasi dari suatu perbuatan, harapan-harapan dan unsur-unsur terpendam lainnya yang bersifat sangat pribadi. d. Free Talk dan Diskusi Wawancara di mana terjadi suatu hubungan yang sangat terbuka antara pewawancara dan yang diwawancara, dan kedua belah pihak masing-masing menduduki dwi fungsi, yakni masing-masing sebagai “information hunter” dan “information supplier“. Kedua belah pihak dengan hati terbuka bertukar pikiran dan perasaan dan seobyektif mungkin mereka saling memberikan keteranganketerangan sehingga berlangsunglah suatu free talk atau berbicara bebas. Di sini interviewer bukan hanya bertindak sebagai pencari data, tetapi juga sebagai sugestor, motivator dan edukator. Free talk ini sering digunakan dalam interaksi klinis antara klien dan dokter/perawat untuk maksud diagnostik dan terapeutik. Kebaikan metode ini adalah adanya partisipasi aktif peneliti dan pihak informan akan merasa terangsang dan merasa mendapatkan manfaat dalam memberikan informasi-informasi yang benar kepada peneliti. Sedangkan kelemahannya adalah kurang relevan untuk penelitian dalam rangka mengungkap suatu hipotesa. 4. Teknik Wawancara Berhasil atau tidaknya wawancara bergantung pada 3 hal, yakni hubungan baik antara interviewer dan interviewee, dan keterampilan sosial interviewer. a. Hubungan Baik antara Pewawancara dengan Sasaran (interviewee) Interviewee akan memberikan infomasi atau menjawab pertanyaan dengan baik apabila tercipta suasana yang bebas dan tidak kaku (rapport). Suasana tersebut akan tercipta apabila ada hubungan yang baik, saling percaya antara pewawancara dan yang diwawancara. Untuk menciptakan keadaan semacam ini dapat dicapai dengan: 1) Lebih dahulu mengadakan pembicaraan pendahuluan atau warming up untuk perkenalan dan sekaligus untuk menjelaskan tujuan wawancara. 2) Menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti (bahasa seharihari/bahasa daerah) 3) Mulailah dengan pemasalahan yang sesuai dengan minat atau keahlian responden, sehingga mereka tertarik lebih dahulu 4) Menciptakan suasana yang bebas dan santai : sehingga responden tak merasa tertekan/terpaksa 5) Hindarkan kesan-kesan yang terburu-buru, tidak sabar dan sikap kurang menghargai (sinis) 6) Memberikan sugesti kepada interviewee bahwa ketenangan atau jawaban mereka sangat berharga, tetapi dijaga pula jangan sampai mereka “over acting“. 7) Probing (menstimulir pertanyaan). Apabila jawaban itu masih kurang lengkap atau mungkin macet (tidak memperoleh jawaban dari interviewee,


74 | RISET KEPERAWATAN rangsanglah sehingga jawaban muncul). Probing juga diperlukan untuk mengarahkan atau menyaring jawaban-jawaban yang relevan 8) Hendaknya bersikap hati-hati jangan sampai menyentuh titik-titik kritis dari interviewee, misalnya hal-hal yang sangat sensitif dan rahasia 9) Harus memegang teguh kode etik interviewer yang antara lain tidak membicarakan dengan pihak siapapun tentang rahasia dari interviewee. b. Keterampilan Sosial Interviewer Seorang pewawancara di samping mempunyai tugas menciptakan hubungan baik dengan responden/interviewee, ia juga harus mempunyai penampilan diri yang baik atau keterampilan sesuai yang meliputi antara lain: 1) Bersikap ramah, sopan, dan berpakaian rapi 2) Menggunakan bahasa yang sopan, ringkas dan mudah ditangkap 3) Bersikap luwes, supel dan bijaksana 4) Menggunakan lagu dan nada suara yang menarik, tidak terlalu keras tetapi jangan terlalu lembut 5) Bersikap responsif, pada saat-saat tertentu dapat ikut merasakan sesuatu yang terjadi pada diri interviewee/responden 6) Memberikan sugesti yang halus, tetapi tidak sampai mempengaruhi jawaban responden 7) Menunjukkan sikap keterbukaan dan setia, sukarela, tidak menunjukkan sikap tertutup dan terpaksa 8) Apabila pewawancara menggunakan alat-alat pencatat (kuesioner misalnya), gunakanlah secara informal, bila mungkin tidak usah terlihat oleh responden 9) Waktu bicara tataplah wajah responden, demikian pula waktu mendengarkan jawaban-jawaban dari responden 10) Waktu wawancara, lebih baik menyebut nama responden dari pada hanya menyebut dengan Bapak/Ibu, Anda atau Saudara, misalnya: Berapa anak Pak Ali ? lebih baik daripada berapa anak bapak ? 5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Wawancara a. Kelebihan 1) Relatif tidak akan menemui kesulitan walaupun responden buta huruf atau lapisan masyarakat rendah karena alat utamanya adalah bahasa verbal 2) Dapat dipakai sebagai verifikasi data terhadap data yang diperoleh dengan cara observasi : ataupun angket 3) Dapat menggali Infomasi, sekaligus dipakai untuk mengadakan observasi terhadap perilaku pribadi 4) Merupakan suatu teknik yang efektif untuk menggali gejala-gejala pains terutama yang di bawah sadar 5) Sangat cocok untuk dipergunakan dalam pengumpulan data-data sosial. b. Kekurangan 1) Kurang efisien karena memboroskan waktu, tenaga, pikiran dan biaya 2) Diperlukan adanya keahlian/penguasaan bahasa dari pewawancara 3) Memberikan kemungkinan pewawancara dengan sengaja memutarbalikkan jawaban, bahkan memberikan kemungkinan pewawancara untuk memalsukan jawaban yang dicatat dalam catatan wawancara (tidak jujur)


75 | RISET KEPERAWATAN 4) Bila tidak tercipta situasi/hubungan yang baik (rapport), maka data yang dlperoleh kurang akurat 5) Sangat dipengaruhi situasi dan kondisi sekitar yang akan menghambat dan mempengaruhi jawaban dan data yang diperoleh. D. Pengukuran Bio Fisiologis 1. Pengertian Pengukuran biofisiologis adalah pengukuran yang berorientasi pada dimensi fisiologis. Pengukuran ini antara lain digunakan pada tindakan keperawatan/kedokteran. 2. Instrumen Pengukuran Fisiologi Instrumen pengukuran fisiologis dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu: a. ln-Vivo: Observasi proses fisiologis, tanpa pengambilan bahan/specimen dari tubuh klien. Misalnya pengukuran tekanan darah, nadi, respirasi, suhu. b. ln-Vitro: Pengambilan suatu bahan/specimen dari klien. Misalnya pengambilan urine dan darah untuk memeriksa kadar tertentu. Rujukan : Notoatmodjo, Soekidjo, 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta Nursalam, 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian, Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Pendirian Keperawatan. Salemba Medika, Jakarta


76 | RISET KEPERAWATAN BAB 11 PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENELITIAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA/PENGUKURAN A. Instrumen Penelitian Instrumentasi adalah proses pemilihan atau pengembangan metode dan alat ukur yang tepat dalam dalam rangka pembuktian kebenaran hipotesis. Instrumen Penelitian adalah metode dan alat ukur yang digunakan dalam penelitian untuk pembuktian hipotesis. B. Jenis Instrumen Penelitian Jenis instrumen penelitian tergantung kepada jenis dan tujuan penelitian serta cara pengumpulan data. Instrumen penelitian berdasarkan jenis penelitian dan cara pengumpulan data, yaitu: 1. Penelitian Kuantitatif a. Angket : Kuesioner b. Wawancara : Kuesioner/daftar pertanyaan c. Observasi : Daftar tilik/lembar observasi/ cheklist/rating scale dan sebagainya d. Pengkuran Biofisiologis : Alat ukur (tensimeter, termometer, timbangan, dan lainlain) 2. Penelitian Kualitatif a. Wawancara Mendalam: Pedoman wawancara dan peneliti b. Diskusi Kelompok Terarah/Focus group discussion: Pedoman wawancara/diskusi dan peneliti/pengumpul data c. Observasi Partisipatif: Peneliti Di samping itu diperlukan alat-alat bantu seperti alat-alat tulis dsb. C. Penyusunan Instrumen Pada penyusunan instrumen penelitian (kuesioner dan lain-lain) pada tahap awal perlu disusun/dituliskan tentang karakteristik responden: nama, jenis kelamin, umur, pekerjaan, social ekonomi, dan data demografi lainnya. Meskipun data tersebut tidak semua dianalisis, tetapi akan membantu peneliti jika sewaktu-waktu dibutuhkan daripada harus kembali mencari responden lagi atau untuk membantu memudahkan mencari responden tersebut bila harus kembali untuk melengkapi data. Selanjutnya disusun pertanyaan sesuai dengan kebutuhan/variabel yang dikumpulkan. Bila variabel harus dibentuk dari beberapa pertanyaan (pengetahuan, sikap, dan lain-lain), maka harus dibuat kisi-kisi pertanyaan berdasarkan teori tentang variabel tersebut. (Contoh terlampir)


77 | RISET KEPERAWATAN Rujukan: Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993, Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Pratiknya, Ahmad W., 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.


78 | RISET KEPERAWATAN KISI-KISI PERTANYAAN/KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TBC PARU BTA (+) DI UPTD PUSKESMAS X KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2008 No Variabel Sub Variabel/ Sub Pokok Bahasan/ Materi Tujuan (Khusus) Item Pertanyaan Ket 1 Pengetahuan TBC Paru 1. Pengertian TBC Paru a. Responden dapat menyebutkan pengertian penyakit TBC Paru b. Responden dapat mengelompokkan penyakit TBC Paru dengan tepat kedalam katagori penyakit C1 C2 2. Penyebab TBC Paru a. Responden dapat menyebutkan penyebab penyakit TBC Paru C3 3. Tanda dan Gejala TBC Paru a. Responden dapat menyebutkan gejala umum penyakit TBC Paru b. Responden dapat menyebutkan tanda-tanda penyakit TBC Paru C4 C5 4. Penularan TBC Paru a. Responden dapat menyebutkan cara penyakit TBC Paru b. Responden dapat menyebutkan sumber penularan penyakit TBC Paru C6 C7 5. Pencegahan TBC Paru a. Responden dapat menyebutkan cara pencegahan penyakit TBC Paru C8 6. Perawatan dan Pengobatan TBC Paru a. Responden dapat menyebutkan cara pengobatan penyakit TBC Paru b. Responden dapat menyebutkan jangka waktu/lama pengobatan penyakit TBC Paru c. Responden dapat menyebutkan cara minum obat penderita penyakit TBC Paru pada fase intensif d. Responden dapat menyebutkan cara minum obat penderita penyakit TBC Paru pada fase lanjutan e. Responden dapat menyebutkan akibat/dampak pengobatan yang tidak teratur pada pederita penyakit TBC Paru. C9 C10 C11 C12 C13 2 Sikap Penderita 1. Sikap terhadap penyembuh an penyakit TBC a. Mengetahui sikap penderita terhadap penyembuhan penyakit TBC Paru S1 2. Sikap terhadap tujuan a. Mengetahui sikap penderita terhadap tujuan pengobatan penyakit TBC Paru S2


79 | RISET KEPERAWATAN No Variabel Sub Variabel/ Sub Pokok Bahasan/ Materi Tujuan (Khusus) Item Pertanyaan Ket pengobatan penyakit TBC 3. Sikap terhadap Obat Anti Tuberkulosis a. Mengetahui sikap penderita terhadap kualitas OAT b. Mengetahui sikap penderita terhadap efektivitas OAT c. Mengetahui sikap penderita terhadap efek samping OAT d. Mengetahui sikap penderita terhadap keteraturan minum OAT S3 S4 S5 S6 4. Sikap terhadap dampak pengobatan tidak teratur a. Mengetahui sikap penderita terhadap penyebab kegagalan pengobatan penderita TBC Paru b. Mengetahui sikap penderita terhadap dampak ketidakteraturan minum OAT S S8 5. Sikap terhadap arti kesembuha n penderita TBC paru a. Mengetahui sikap penderita terhadap kesembuhan penderita TBC Paru S9 6. Sikap terhadap petugas program/ pengobatan TBC Paru a. Mengetahui sikap penderita terhadap petugas yang memberikan pelayanan/pengobatan terhadap penderita TBC Paru di Puskesmas S10 3 Peran PMO 1. Peran/ Tugas mengawasi keteraturan minum obat a. Mengetahui pelaksanaan pengawasan PMO E2 2. Peran/ Tugas mendorong minum obat teratur a. Mengetahui pelaksanaan peran mendorong minum obat E3 3. Mengingat kan pemeriksaan dahak a. Mengetahui pelaksanaan peran mengingatkan pemeriksaan dahak ulang E4 4. Penyuluhan pada anggota keluarga penderita a . Mengetahui pelaksanaan penyuluhan pada anggota keluarga penderita E5


80 | RISET KEPERAWATAN Nomor Urut Responden : KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TBC PARU BTA (+) DI UPTD PUSKESMAS X KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2008 Nama Pewawancara : .................................. Hari/Tanggal Wawancara : / / A. Karakterisik Responden 1. Tanggal lahir/ Umur : ……………………/.......... tahun 2. Pendidikan a. Tidak tamat SD b. SD c. SLTP d. SLTA e. Perguruan Tinggi 3. Alamat : RT/RW:……/…… Blok/Dusun…………. Desa/Kel…..………………… B. Kepatuhan Berobat/Minum Obat Anti Tuberkulosis (Lihat di form TB 01) 1. Hasil identifikasi form TB 01 responden a. Patuh b. Tidak Patuh C. Pengetahuan Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda (X) pada pernyataan yang menurut pendapat ibu dianggap paling benar. 1. Menurut bapak/ibu/sdr apa yang disebut penyakit Tuberkulosis Paru? a. Penyakit infeksi yang menyerang jaringan kulit b. Penyakit infeksi yang menyerang jaringan paru-paru c. Penyakit infeksi yang menyerang jaringan usus buntu d. Tidak tahu 2. Menurut bapak/ibu/sdr, penyakit TBC Paru termasuk dalam penyakit … . a. Tidak menular b. Keturunan c. Menular d. Tidak tahu 3. Menurut bapak/ibu/sdr apa penyebab penyakit Tuberkulosis Paru? a. Basil/kuman Mycobacterium Tuberculosis b. Basil/kuman Mycobacterium Tetani c. Basil/kuman Mycobacterium Typhosa d. Tidak tahu


81 | RISET KEPERAWATAN 4. Menurut bapak/ibu/sdr apa saja gejala umum penyakit TBC Paru? a. Batuk kering, b. Batuk berdahak, c. Batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih d. Tidak tahu 5. Menurut bapak/ibu/sdr apa saja gejala/tanda-tanda yang sering dijumpai pada penyakit TBC Paru? a. Dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, nyeri dada, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, keringat malam, dan demam >1 bulan b. Berdahak, sesak nafas, nyeri dada, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, keringat malam, dan demam >1 bulan c. Sesak nafas, nyeri dada, nafsu makan menurun, berat badan menurun, sakit kepala, keringat malam, dan demam >1 bulan d. Tidak tahu 6. Menurut bapak/ibu/sdr, penyakit TBC Paru dapat ditularkan melalui … . a. Air minum b. Udara/pernapasan (percikan dahak), makanan/minuman terkontaminasi bacil mycobacterium tuberculosis c. Makanan d. Tidak tahu 7. Menurut bapak/ibu/sdr, sumber penularan penyakit TBC Paru adalah… . a. Penderita TBC Paru BTA (+) yang tidak di obati b. Penderita TBC Paru BTA (+) yang sedang diobati c. Penderita TBC Paru BTA (+) yang selesai diobati d. Tidak tahu 8. Menurut bapak/ibu/sdr bagaimana cara mencegah terjangkit penyakit TBC Paru? a. Menjaga kondisi/daya tahan tubuh dengan cara makan bergizi, olah raga dan istirahat yang cukup, serta imunisasi BCG. b. Menjaga kebersihan lingkungan termasuk menciptakan rumah yang memenuhi syarat kesehatan yakni cukup ventilasi udara maupun ventilasi sinar matahari. c. Semua di atas betul. d. Tidak tahu 9. Menurut bapak/ibu/sdr bagaimana cara pengobatan pada penyakit TBC Paru? a. Berobat ke fasilitas kesehatan dan minum obat anti tuberkulosis (OAT) sesuai aturan sampai tuntas b. Berobat ke fasilitas kesehatan dan minum antibiotik c. Diobati ke dukun karena merupakan penyakit keturunan d. Tidak tahu 10. Menurut bapak/ibu/sdr berapa lama pengobatan pada penyakit TBC Paru? a. 6 bulan b. 6-8 bulan c. 12 bulan d. Tidak tahu 11. Menurut bapak/ibu/sdr bagaimana pengobatan pada penyakit TBC Paru pada 2 bulan pertama/fase intensif? a. Minum obat setiap hari b. Minum obat seminggu 2 kali c. Minum obat seminggu 3 kali


82 | RISET KEPERAWATAN d. Tidak tahu 12. Menurut bapak/ibu/sdr bagaimana pengobatan pada penyakit TBC Paru pada 4 bulan lanjutan/fase lanjutan? a. Minum obat setiap hari b. Minum obat seminggu 2 kali c. Minum obat seminggu 3 kali d. Tidak tahu 13. Menurut bapak/ibu/sdr bagaimana bila pengobatan pada penyakit TBC Paru tidak dilakukan secara teratur sampai tuntas? a. Penyakitnya tidak akan sembuh b. Penyakitnya/kuman tuberkulosis akan resisten/kebal terhadap obat anti tuberkulosis c. Semua di atas benar d. Tidak tahu D. Pertanyaan Sikap Sikap responden terhadap pengobatan/penyembuhan penyakit TBC Paru (pertanyaan dibacakan pewawancara) Beri tanda (√) yang sesuai menurut pendapat ibu atau responden mengenai pertanyaan-pertanyaan dibawah ini. SS = sangat setuju, S = setuju, TS = Tidak Setuju, STS = Sangat Tidak Setuju No Pertanyaan SS S TS STS 1 Penyakit TBC Paru dapat disembuhkan dengan berobat secara teratur selama 6-8 bulan 2 Tujuan pengobatan TBC Paru adalah penyembuhan penderita, pencegahan kematian, pencegahan kekambuhan dan menurunkan risiko penularan. 3 Obat anti tuberkulosis (OAT) di fasilitas kesehatan/Puskesmas merupakan obat paten/teruji untuk penyakit TBC Paru. 4 Obat anti tuberkulosis (OAT) dapat efektif menyembuhkan penyakit TBC Paru bila diminum sesuai aturan. 5 Obat anti tuberkulosis (OAT) dapat menimbulkan efek samping seperti mual. Tapi efek samping tersebut bersifat sementara dan manfaat pengobatan lebih besar dibanding efek samping tersebut. 6 Walaupun batuk dan keluhan lain sudah berkurang/hilang, obat anti tuberkulosis (OAT) harus tetap diminum sesuai jadwal sampai dinyatakan sembuh. 7 Salah satu kegagalan pengobatan penyakit TB paru adalah tidak patuh/tidak teraturnya minum obat sesuai jadwal. 8 Bila pengobatan tidak teratur, maka penyakitnya tidak akan sembuh dan kuman tuberkulosis akan kebal terhadap obat anti tuberkulosis. 9 Kesembuhan hasil pengobatan TBC Paru BTA (+) dinyatakan setelah selesai mimum obat dan hasil pemeriksaan laboratorium 10 Petugas kesehatan/dokter di fasilitas kesehatan/Puskesmas mempunyai cukup kemampuan dalam memberikan pengobatan TBC paru.


83 | RISET KEPERAWATAN E. Peran PMO 1. Apakah bapak/ibu/sdr mempunyai petugas pengawas menelan obat (PMO)? a. Ya, (bila ya, siapa: ............................. dan teruskan ke pertanyaan E.2) b. Tidak, (selesai) 2. Apakah PMO mengawasi bapak/ibu/sdr sampai pengobatan selesai ? a. Ya b. Tidak 3. Apakah PMO memberi dorongan kepada bapak/ibu/sdr agar mau berobat teratur? a. Ya b. Tidak 4. Apakah PMO mengingatkan kepada bapak/ibu/sdr untuk periksa ulang dahak pada waktu telah ditentukan? a. Ya b. Tidak 5. Apakah PMO memberikan penyuluhan pada anggota keluarga bapak/ibu/sdr yang mempunyai gejalagejala tersangka TBC Paru agar segera memeriksakan diri kepada petugas kesehatan sampai pengobatan selesai? a. Ya b. Tidak


84 | RISET KEPERAWATAN KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TBC PARU BTA (+) DI UPTD PUSKESMAS X KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2008 INFORMED CONCENT Assalamu’alaikum Wr. Wb Yth. Bapak/Ibu/Sdr responden Kuesioner ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan Faktorfaktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Penderita TBC Paru BTA (+) di UPTD Puskesmas X Kabupaten Majalengka Tahun 2008. Hasil penelitian ini semata-mata untuk kepentingan riset/penelitian, untuk itu kami mohon bantuan Bapak/Ibu/Sdr untuk menjadi responden sekaligus menjawab pertanyaan dengan sejujurjujurnya dan kami menjamin kerahasiahan jawaban yang diberikan atas pertanyaan dari kuesioner ini. Bila ibu menyetujui/bersedia untuk menjadi responeden pada penelitian ini, maka kami harapkan ibu dapat menandatangani surat pernyataan di bawah ini. Demikian, atas perhatian dan bantuannya diucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan ibu. Wassalamu’alaikum Wr. Wb SURAT PERNYATAAN Setelah mendapat penjelasan mengenai tujuan penelitian ini, maka Saya bersedia untuk menjadi responden dan menjawab pertanyaan yang diberikan sesuai kuesioner penelitian ini dengan sejujur-jujurnya. ..............................., .......................... 2008 Yang menyatakan, (...............................)


85 | RISET KEPERAWATAN BAB 12 UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN A. Essensi Uji Validitas dan Reliabilitas Pada pengamatan dan pengukuran observasi, harus diperhatikan beberapa hal yang secara prinsip sangat penting, yaitu validitas, reliabilitas, dan ketepatan fakta/kenyataan hidup (data) yang dikumpulkan dari alat dan cara pengumpulan data maupun kesalahan-kesalahan yang sering terjadi pada pengamatan/pengukuran oleh pengumpul data. Pada suatu penelitian, dalam pengumpulan data/kenyataan hidup (data) diperlukan adanya alat dan cara pengumpulan data yang baik sehingga data yang dikumpulkan merupakan data yang valid, reliable, dan accurate. Di Bawah ini akan dibahas tentang validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. B. Validitas Instrumen 1. Pengertian a. Validitas adalah ketepatan dan ketelitian/kecermatan dalam mengukur suatu variable penelitian yang menggambarkan ketepatan menentukan/memakai alat ukur sesuai dengan variable yang diukur dan kecermatan penelitian/pengumpul data dalam melakukan pengukuran. b. Validitas adalah keandalan instrument dalam mengumpulkan data. 2. Jenis Validitas Instrumen Ada 2 hal yang harus dipenuhi dalam mencapai validitas hasil pengukuran suatu instrumen, yaitu valid dalam hal isi instrumen (relevan isi) dan valid dalam memilih subyek dan cara pengukuran. a. Validitas Isi (Valid/Relevan Isi Instrumen/Validitas Content) Isi instrumen harus disesuaikan dengan tujuan penelitian (tujuan khusus) untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Isi tersebut biasanya dapat dijabarkan dalam definisi operasional. Misalnya seorang peneliti ingin mengukur tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan luka operasi, maka isi instrumen meliputi pengertian, tujuan perawatan luka, alat-alat yang diperlukan, cara merawat luka, akibat jika tidak dirawat. b. Validitas Subyek dan Cara Pengukuran (Relevan Sasaran Subyek dan cara Pengukuran) Instrumen yang disusun harus dapat memberikan gambaran terhadap perbedaan subyek penelitian, yakni penelitian harus mempertimbangkan kepada siapa penelitian menanyakan (ketepatan menentukan sasaran/subyek penelitian). Misalnya peneliti ingin meneliti kepuasan keluarga terhadap pelayanan keperawatan di suatu rumah sakit, maka peneliti harus bertanya pada suatu


86 | RISET KEPERAWATAN keluarga (suami/istri/anggota keluarga yang lain) tentang pelayanan keperawatan tersebut. Tidak diperbolehkan hanya menanyakan kepada suami atau istri saja. Bila peneliti mengukur kadar suatu zat atau ukuran (BB, TB dan lain-lain) harus dibuatkan petunjuk cara pengukuran/alat pengukur, sehingga seragam dan hasilnya lebih tepat. Demikian juga kalau peneliti memakai alat pengumpul data dengan kuesioner harus disesuaikan/dibuat untuk siapa kuesioner ini dibuat. Hal ini sebetulnya selain untuk mendapat data yang valid, juga dipakai untuk mendapat data reliable. C. Reliabilitas Instrumen 1. Pengertian a. Reliabilitas adalah konsistensi hasil penelitian yang menggambarkan hasil pengukuran yang sama setelah dilakukan beberapa kali pengukuran dengan suatu alat ukur tertentu. b. Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan. c. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama-sama memegang peranan yang penting dalam waktu yang bersamaan. 2. Cara Melihat Reliabilitas dalam Pengumpulan Data/Instrumen Penelitian Ada beberapa cara pengukuran yang dapat dipakai untuk melihat reliabilitas dalam pengumpulan data di bidang kesehatan/keperawatan, yaitu prinsip: a. Stabilitas: mempunyai kesamaan bila dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang berbeda. b. Equivalen: pengukuran memberikan hasil yang sama pada kejadian yang sama c. Homogenitas/kesamaan: instrumen yang dipergunakan harus mempunyai isi yang sama. Ketiga prinsip reliabilitas tersebut dapat dijelaskan seperti tersebut di bawah ini: a. Dalam menanyakan suatu fakta/kenyataan hidup pada sasaran penelitian harus memperhatikan relevansi pertanyaan bagi responden, artinya menanyakan sesuatu yang dikenal responden. Misalnya bila akan menanyakan adanya mastitis pada masa kala nifas pada ibu-ibu, mungkin sekali ”mastitis” itu dikenal dengan istilah lain di masyarakat. Kalau si penanya bertanya; apakah ibu menderita mastitis, pasti semua ibu menjawab tidak pernah. Akan tetapi kalau penanya menanyakan ”pernahkan lecet pada puting susu?”, maka semua ibu akan menjawab sesuai dengan yang dialaminya. b. Pertanyaan yang diajukan harus cukup jelas berdasarkan kemampuan responden. Ini penting mengingat tingkat intelektualitas responden dan penanya belum tentu sama. Untuk itu pewawancara perlu dilatih dan disamakan interpretasi pertanyaan antara peneliti dan petugas pengumpul data, sehingga petugas dapat menjelaskan secara rinci maksud dan tujuan pertanyaan/pengukuran/pengamatan pada sasaran penelitian. c. Perlu adanya suatu penekanan atau pengulangan. Kadang-kadang peneliti/pertugas dapat menanyakan satu pertanyaan dengan lebih dari satu kali dalam waktu yang berbeda. Jawaban responden harusnya sama walau ditanyakan pada waktu yang berbeda. Perlu sekali peneliti mengukur fakta/kenyataan hidup


87 | RISET KEPERAWATAN berkali-kali dalam waktu yang berbeda (misalnya mengukur tensi penderita dapat dilakukan 3 hari berturut-turut tiap pagi atau diukur waktu pagi, siang dan malam). Selain itu dapat juga orang yang mengukur yang berbeda, sehingga tensi penderita itu diukur sejumlah orang. d. Standarisasi. Peneliti memakai ukuran atau pengamatan yang sudah distandarisasi keandalannya. Hal ini mudah dalam penelitian nonkeperawatan dan non sosial, tetapi kurang tepat untuk penelitian keperawatan mengingat masalah keperawatan yang terjadi pada pasien lebih ditemukan pada masalah-masalah pasien yang berhubungan dengan psiko-sosio-spiritual, selain juga faktor fisiologis. D. Mengukur Validitas dan Reliabilitas Instrumen Menggunakan Perhitungan/Uji Statistik (Instrumen: Kuesioner Menggunakan Skala Likert untuk Mengukur Sikap, Pengetahuan, Persepsi Seseorang Tentang Masalah/Hal yang Dialami) Alat ukur atau instrumen penelitian yang dapat diterima sesuai standar adalah alat ukur yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas data. Hal tersebut dilakukan melalui tahap uji coba instrumen (kepada responden di wilayah yang hampir mirip karakteristiknya dengan jumlah responden kurang lebih 10% dari jumlah responden/sample penelitian). 1. Uji Validitas Uji validitas dapat menggunakan rumus Person Product Moment, setelah itu diuji dengan menggunakan uji t dan kemudian dilihat penafsirannya dari indeks korelasinya. Langkah: a. Tabulasi jawaban pertanyaan yang diberikan pada responden b. Hitung harga korelasi setiap butir pertanyaan/soal dengan rumus Pearson product moment c. Hitung harga t hitung d. Cari t tabel dengan melihat t dengan derajat kebebasan/dk = n-2, α = 0,05 e. Analisis keputusan, apabila t > t tabel berarti pertanyaan tersebut VALID, apabila t < t tabel pertanyaan tersebut TIDAK VALID. Rumus Person Product Moment Keterangan: r hitung = koefisien korelasi ΣXi = jumlah skor item ΣYi = jumlah skor total (item) n = jumlah responedn Rumus uji t


88 | RISET KEPERAWATAN Keterangan: t hitung = nilai t hitung r = koefisien korelasi hasil r hitung n = jumlah responedn Untuk tabel tα = 0,05 derajat kebebasan (dk=n-2) Jika nilai t hitung > t tabel berarti valid, demikian sebaliknya jika nilai t hitungnya < t tabel tidak valid. Contoh: Apabila akan melakukan pengujian validitas alat ukur (instrumen) dengan jumlah 6 pertanyaan dengan jawaban sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju dengan skor terendah sejumlah 1 dan tertinggi sejumlah 4 dan disebarkan ke 10 responden, maka dari 6 pertanyaan tersebut dapat diketahui berapa instrumen yang valid untuk digunakan atau tidak perlu digunakan. Langkah: Tabulasi jawaban pertanyaan responden: No Responden No Pertanyaan (X) Total Skor (Y) 1 2 3 4 5 6 1 1 3 1 2 2 1 10 2 2 3 2 3 2 2 14 3 1 4 1 4 2 3 15 4 1 4 2 3 3 4 17 5 2 3 2 3 3 1 14 6 3 3 2 4 3 2 17 7 3 2 3 4 2 3 17 8 1 2 3 3 3 3 15 9 1 2 2 4 2 4 15 10 2 1 3 2 3 1 12 17 27 21 32 25 24 146 Langkah berikutnya: Hitung harga korelasi setiap butir pertanyaan/soal dengan rumus Pearson product moment (pertanyaan 1 sampai dengan 6) 1) Pertanyaan no 1 Pertanyaan nomor 1 No Responden X Y X 2 Y 2 XY 1 1 10 1 100 10 2 2 14 4 196 28 3 1 15 1 225 15 4 1 17 1 289 17 5 2 14 4 196 28 6 3 17 9 289 51 7 3 17 9 289 51 8 1 15 1 225 15 9 1 15 1 225 15 10 2 12 4 144 24 17 146 35 2178 254


89 | RISET KEPERAWATAN Hasil: 2) Demikian selanjutnya pertanyaan no 2 –6 a. Hitung harga t hitung 1) Pertanyaan no 1 b. Cari t (pada tabel t) dengan melihat t pada derajat kebebasan/dk = n-2, α = 0,05 Nilai t dengan dk= n-2, α = 0,05 adalah dk=10-2=2 adalah 1,86. c. Analisis keputusan, apabila t > t tabel berarti pertanyaan tersebut VALID, apabila t < t tabel pertanyaan tersebut TIDAK VALID. No Item Pertanyaan Koefisien Korelasi Harga t hitung Harga t tabel Keputusan 1 0,344 1,036 1,86 Tidak Valid. 2 0,240 0,698 1,86 Tidak Valid. 3 0,290 0,856 1,86 Tidak Valid. 4 0,790 3,644 1,86 Valid. 5 0,185 0,532 1,86 Tidak Valid. 6 0,792 2,714 1,86 Valid. Keterangan: Dari hasil di atas, maka dalam analisis selanjutnya, instrumen atau alat ukur no. 1,2,3, dan 5 tidak dapat digunakan atau dapat diperbaiki atau dihilangkan 2. Uji Reliabilitas Setelah mengukur validitas, maka perlu mengukur reliabilitas data, apakah alat ukur dapat digunakan atau tidak. Dalam mengukur reliabilitas dapat digunakan beberapa rumus di antaranya: rumus belah dua dan Spearmen Brown, (jika ingin mengetahui reliabilitas seluruh tes) Kuder Richardson-20, Anova Hoyt, dan alfa. Berikut ini akan dijelaskan penggunaan rumus Spearmen Brown (untuk memahami rumus lain, pelajari dalam mata kuliah statistik penelitian). Rumus Spearmen Brown:


90 | RISET KEPERAWATAN Keterangan: r11 = koeffisien reliabilitas internal seluruh item rb = koeffisien product moment antar belahan Ketika menggunakan metode ini sebaiknya pertanyaan adalah berjumlah genap, sehingga memudahkan untuk dibelah. Contoh: Apabila akan melakukan pengujian reliabilitas alat ukur (instrumen) dengan jumlah 6 pertanyaan dengan jawaban sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju dengan skor terendah sejumlah 1 dan tertinggi sejumlah 4 dan disebarkan ke 10 responden. maka dari 6 pertanyaan tersebut kita dapat mengukur reliabilitas instrumen yang telah dibuat. Langkahnya: a. Tabulasi/rekapitulasi jawaban dari pertanyaan/instrumen/kuesioner yang diberikan responden No Responden No Pertanyaan (X) 1 2 3 4 5 6 1 1 3 1 2 2 1 2 2 3 2 3 2 2 3 1 4 1 4 2 3 4 1 4 2 3 3 4 5 2 3 2 3 3 1 6 3 3 2 4 3 2 7 3 2 3 4 2 3 8 1 2 3 3 3 3 9 1 2 2 4 2 4 10 2 1 3 2 3 1 17 27 21 32 25 24 b. Hitung total skor No Responden No Pertanyaan (X) Total 1 2 3 4 5 6 Skor (Y) 1 1 3 1 2 2 1 10 2 2 3 2 3 2 2 14 3 1 4 1 4 2 3 15 4 1 4 2 3 3 4 17 5 2 3 2 3 3 1 14 6 3 3 2 4 3 2 17 7 3 2 3 4 2 3 17 8 1 2 3 3 3 3 15 9 1 2 2 4 2 4 15 10 2 1 3 2 3 1 12 17 27 21 32 25 24 146


91 | RISET KEPERAWATAN c. Hitung korelasi product moment tiap item pertanyaan 1) Pertanyaan no. 1 Pertanyaan nomor 1 No Responden X Y X 2 Y 2 XY 1 1 10 1 100 10 2 2 14 4 196 28 3 1 15 1 225 15 4 1 17 1 289 17 5 2 14 4 196 28 6 3 17 9 289 51 7 3 17 9 289 51 8 1 15 1 225 15 9 1 15 1 225 15 10 2 12 4 144 24 17 146 35 2178 254 Hasil: Selanjutnya no 2- 6 d. Hitung reliabilitas seluruh item pertanyaan dengan Spearmen Brown 1) Pertanyaan no 1 dan seterusnya pertanyaan no 2-6 e. Cari nilai r tabel (pada tabel r/product moment), dengan dk= 10-2= 8, α = 0,05, yaitu 0,632


92 | RISET KEPERAWATAN f. Analisis keputusan, apabila r > r tabel berarti reliabel dan apabila r < r tabel tidak reliabel. No Item Pertanyaan Koefisien Korelasi Harga r hitung (r 11) Harga r tabel Keputusan 1 0,344 0,510 0,632 Tidak Reliabel 2 0,240 0,387 0,632 Tidak Reliabel 3 0,290 0,449 0,632 Tidak Reliabel 4 0,790 0,882 0,632 Reliabel 5 0,185 0,312 0,632 Tidak Reliabel 6 0,792 0,817 0,632 Reliabel Keterangan: Dari hasil di atas, maka dalam analisis selanjutnya, instrumen atau alat ukur no. 1,2,3, dan 5 tidak dapat digunakan atau dapat diperbaiki atau dihilangkan karena tidak reliabel. Selain perhitungan manual, uji validitas dan reliabilitas ini dapat dilakukan menggunakan aplikasi SPSS dari menu analyze-scale- reliability analysis. Untuk menguji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (Total correlation) dengan r tabel/standar dan uji reliability dengan membandingkan alpha cronbach dengan r tabel/standar Rujukan: Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-Dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Pratiknya, Ahmad W., 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.


93 | RISET KEPERAWATAN Tabel Distribusi t (t distribution) Area in One Tail (p value) df 0,10 0,05 0,025 0,01 0,005 0,0025 1 3.078 6,314 12,706 2 1,886 2,920 4,303 3 1,638 2,353 3,183 4 1,533 2,132 2,776 5 2,015 2,571 6 1,943 2,447 7 1,895 2,365 8 1,860 2,306 9 1,383 1,833 2,262 2,821 3,250 10 1,372 1,812 2,228 2,764 3,169 dst Tabel Distribusi r (r distribution) Angka Kritik Nilai r Product Moment Area Alfa n 0,05 0,01 3 0,997 1000 4 0,950 0,990 5 0,878 0,959 6 0,811 0,917 7 0,754 0,874 8 0,707 0,834 9 0,656 0,798 10 0,632 0,765 11 0,602 0,735 12 0,576 0,708


Click to View FlipBook Version