94 | RISET KEPERAWATAN BAB 13 RANCANGAN/TEKNIK ANALISIS DATA A. Analisis Data Analisis data merupakan salah satu kegiatan (statistik) yang dilakukan setelah tahapan pengumpulan dan pengolahan data selesai dilaksanakan. Pengolahan data ditujukan untuk mengubah data menjadi informasi yang akan digunakan untuk proses pengambilan keputusan atau pengujian hipotesis setelah melalui tahapan analisis data. Pengolahan data disesuaikan dengan jenis datanya, yaitu pengolahan data kuantitatif dan pengolahan data kualitatif. Demikian juga analisis data terbagi menjadi 2 bagian, yaitu analisis data kuantitatif (uji statistik) dan analisis data kualitatif. Pemilihan uji statistik sangat penting dalam analisis data kuantitatif untuk menentukan hasil atau kesimpulan dari suatu penelitian. jika pemilihan uji tidak tepat, maka hasil atau kesimpulan yang dihasilkan tidak akurat atau tidak tepat pula. B. Analisis Data Kuantitatif 1. Pengolahan Data Kuantitatif a. Cara: Manual (tabel, tally, perhitungan statistik manual), komputerisasi/elektronik b. Tahapan pengolah data (komputerisasi): 1) Editing Editing adalah upaya memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh/dikumpulkan dan atau menyesuaikan data dengan rencana semula seperti apa yang diinginkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. 2) Coding Coding merupakan kegiatan pemberian kode pada data dengan merubah katakata/data yang terdiri dari beberapa kategori menjadi angka/numeric (misalnya, baik=1, sedang=2, kurang=3). Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan data dan analisis data menggunakan komputer/software. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku kode (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variable. 3) Sorting Sorting adalah dengan memilah atau mengelompokkan data menurut jenis yang dikehendaki (klasifikasi data), misalnya menurut daerah sampel, waktu/tanggal dan sebagainya. 4) Entry Data Entry data adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel (manual) atau data base komputer.
95 | RISET KEPERAWATAN 5) Cleaning Cleaning merupakan kegiatan pembersihan data dengan melihat tiap variable apakah data sudah benar atau belum dengan cara pengeluaran tabel distribusi frekuensi setiap variable penelitian. 6) Pengeluaran informasi, dengan melakukan teknik analisis (statistik). 2. Rancangan Analisis Data Kuantitatif a. Analisis Univariat atau Analisis Data Penelitian Deskriptif Analisis univariat atau analisis penelitian deskriptif berfungsi untuk meringkas, mengklasifikasikan, dan menyajikan data. Langkah ini juga merupakan langkah awal untuk melakukan analisis dan uji statistik lebih lanjut, artinya setiap penelitian analistik selalu diawali dengan analisis univariat/deskriptif. Perhitungan statistik yang digunakan tergantung dari data yang dikumpulkan, yaitu meliputi; rata-rata hitung/mean, median, modus, nilai minimal-maksimal, range, kurtosis, simpangan baku (standar deviasi), dan varian untuk data numerik. Sedangkan untuk data katagorik dapat menggunakan nilai proporsi/prosentase dan nilai ratio. Analisis univariat/deskriptif ini dilakukan berdasarkan komponen nilai ekstrim, perbandingan (ratio, proporsi), trend, rata-rata, dan lain-lain. b. Analisis Bivariat/ Multivariat atau Analisis Data Penelitian Analitik Analisis data dilakukan dengan cara melakukan uji statistik pada variabel yang diteliti. Sebelum melakukan pengujian statistik terlebih dahulu harus diperhatikan hal-hal berikut: 1) Distribusi data, yaitu harus ditentukan apakah data variabel tersebut berdistribusi normal atau tidak dengan cara uji normalitas data (Uji Chi square, Uji Kolmogorov Smirnov dan lain-lain). Bila hasil uji normalitas data, ternyata data berdistribusi normal, maka lakukan uji statistik parametrik, sebaliknya bila tidak normal uji statistik yang dipilih adalah uji statistik non parametrik. 2) Tujuan analisis Dalam menggunakan uji statistik hendaknya memerhatikan tujuan analisis apakah mengkorelasikan atau membandingkan. 3) Banyaknya atau jumlah sampel Banyaknya jumlah sample juga dapat mempengaruhi uji statistik sebagaimana dalam persyaratan uji statistik yang ada. 4) Banyaknya variabel yang diamati atau banyaknya pengamatan Variabel yang hendak diukur juga dapat menentukan pemilihan uji statistik sebagaimana dalam persyaratan uji statistik yang ada (Bivariat atau Multivariat). 5) Varian Banyaknya variasi data yang akan diteliti dapat menentukan homogenitas data bila akan membandingkan yang ada data (uji beda/ uji X2 atau uji t). Berdasarkan pertimbangan di atas, maka berikut ini secara skematis akan diuraikan pemilihan rancangan analisis data (uji statistik) sebagai berikut :
96 | RISET KEPERAWATAN Adapun pemilihan teknik analisis/uji statistik dimaksud secara rinci ádalah sebagai berikut: DATA Skala Data Interval Rasio Ordinal Nominal Normal Tidak Normal Statistik Parametrik Statistik Non Parametrik Komparasi Korelasi Komparasi Korelasi Distribusi Data Data Semi Kuantitatif Data Katagorikal Analisis data semi kuantitatif Analisis data Kategorikal 1 Uji t satu sampel (Goodness of fit t test) Kolmogorov-Smirnov satu sampel Uji Chi Square (X2 ) satu sampel 2 Berpasangan Uji t data berpasangan (Paired t test) Wilcoxon Signed Rank Test Uji Mc Nemar 1. Uji Chi Square 2. Uji Fisher's Exact > 2 Bebas Anova 1 arah Uji Kruskal-Wallis Uji Chi Square Berpasangan Anova sama subyek Anova Friedman Uji Cochran"s Q 1. Product moment dari Pearson (r) 1. Korelasi dari Speramen (rs) Uji Asosiasi: 2. Regresi Linier 2. Regresi Non Parametrik/ Regresi Ordinal (Logistik) 1. Koefisien Kontingensi 2. Koefisien Phi 3. Koefisien Kappa 4. Koefisien Lamda, dll Korelasi Komparasi Bebas Statistik Non Parametrik Statistik Parametrik Sampel Bebas/ Berpasangan Jumlah Sampel/ Pasangan Uji t 2 sampel bebas (Poll t test) Wilcoxon Mann Whitney Test Tujuan Analisis
97 | RISET KEPERAWATAN SKALA NOMINAL ORDINAL INTERVAL & RASIO Chi Square Phi-Coeff Cramer"s V G-K Lambda Relative Risk Fisher Exact Chi square Chi square G-K Lambda G-K Lambda Kruskal-Wallis Kendal's Tau Median Test Spearman r Sign Test Somer's d Wixocon Test Somer's d Kolmogorov Runs test Paired t test Pearson -r Anova Regresi variabel Independent NOMINAL ORDINAL INTERVAL & RASIO ANALISIS BIVARIAT Variabel Dependent SKALA NOMINAL/ ORDINAL INTERVAL & RASIO NOMINAL/ ORDINAL Regresi Logistik INTERVAL & RASIO Regresi Multiple Multiple r (Var. Dummy) Reg. Multiple An. Diskriminan Reg. Non Linier Anova An. Path Manova An. Faktor Ancova Time Series An. Survival Reg. Cox LISREL ANALISI MULTIVARIAT Variabel Dependent variabel Independent
98 | RISET KEPERAWATAN C. Analisis Data Kualitatif Analisis adalah proses mengatur urutan data dan mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, katagori dan satuan uraian dasar. 1. Pengolahan Data Kualitatif Pada penelitian kualitatif, pengolahan data dilakukan dengan membuat matrik setiap informasi/jawaban dari responden untuk setiap variabel dan dibuat intisari dari informasi tersebut untuk disimpulkan pada tahap analisis/interpretasi. 2. Rancangan/Analisis Data a. Analisis data kualitatif tidak dilakukan setelah semua data terkumpul, tetapi sudah dapat dianalisis sebelum semua terkumpul. b. Apabila beberapa peneliti dilibatkan dalam penelitian kualitatif maka pertemuan periodik perlu dilakukan. c. Untuk melakukan analisis data, perlu diperhatikan sebagai berikut: - Menelaah kembali semua informasi yang telah dikumpulkan - Mengelompokkan berdasarkan topik atau minat yang akan dipelajari - Pengelompokkan berdasarkan kelompok informan - Melakukan perhitungan - Mengidentifikasi jawaban-jawaban yang sering timbul - Mengidentifikasi persamaan dan perbedaan - Menganalisis hubungan antar variabel d. Pada penelitian kualitatif, analisis data dilakukan dengan menggunakan proses induktif artinya pengujian hipotesis bertitik tolak dari data yang terkumpul atau isinya yang kemudian disimpulkan. e. Prosedur analisis data kualitatif secara urut adalah: menjelaskan sample dan populasi, mengurut dan mengkode, menyajikan ringkasan data sedemikian rupa sehingga memudahkan analisis dan interpretasi, dan mengambil kesimpulan Contoh pengolahan dan analisis: a. Hasil penelitian tentang pemberian makanan lunak kepada bayi oleh ibu yang berumur muda (20-30 tahun) dan dari ibu yang berumur 45 tahun. Peneliti memasukan jawaban dari hasil wawancara mendalam sebagai berikut ke dalam matriks: Kelompok Umur Waktu Pemberian Makanan Lunak Jenis Makanan Frekuaensi Pemberian Maanan lunak/Hari Ibu Muda (20-30 th) Range: 4 – 7 bl Rata-rata: 6 bl - Bubur - Bubur dengan bubuk kacang - Kentang pure - Buah yang dihaluskan, biscuit yang sudah direndam 1 – 2 kl sehari - Tergantung kesibukan ibu atau pengasuhnya - Tergantung pada selera makan anak Ibu berumur > 45 th Range: 5 – 11 bl Rata-rata: 8,5 bl - Bubur lunak - Buah yang dihaluskan 1 – 2 kl sehari - Tergantung adanya ibu atau pengasuhnya - Tergantung pada selera makan anak
99 | RISET KEPERAWATAN Analisis dan kesimpulan dapat lebih mudah, yaitu: 1) Ibu yang lebih muda mulai memberikan makanan lunak, rata-rata 2,5 bulan lebih awal daripada kelompok generasi di atasnya. 2) Ibu yang lebih muda menggunakan makanan yang lebih bervariasi daripada ibu yang lebih tua. 3) Frekuensi pemberian makanan lunak pada bayi nampaknya tidak berbeda pada kedua generasi tersebut. b. Hasil penelitian tentang alasan seseorang/remaja menjadi donor darah. Peneliti membuat transkrip jawaban dari hasil Focus Group Discussion (FGD) Transkrip alasan-alasan menjadi donor darah Intisari Amin :”Yang pertamanya untuk merasakan pengorbanan untuk orang lain. Belajar mengorbankan diri untuk orang lain, supaya bisa menolong sesama” Pengorbanan Irma :“Yang pertama ingin membantu orang-orang yang dalam keadaan darurat, yang sangat membutuhkan darah” Membantu Ina :”Kalau saudara sakit membutuhkan darah, suka melalui calo-calo, terus saya pikir, kok ada yang memerlukan, gue bisa kenapa nggak nyumbang” Menolong orang lain Erry :”Terus terang alasan saya donor darah tuh nggak begitu dewasa. Pertama cuma ingin nambah pengalaman, terus kedua ingin merasakan aja gimana, soalnya teman saya ada yang nggak berani gitu, terus juga ada yang waktu mau donor darah terus pingsan. Yang ketiga pengin tahu aja, bagi saya itu cukup. Menambah pengalaman dan ingin tahu Didi :”Pertama, waktu itu saya kan jadi anggota PMD, bikin program untuk donor darah untuk tiap tahun tiga kali. Waktu itu kan saya jadi panitia, jadi untuk partisipasi sebagai anggota PMR Partisipasi di sekolah Peni :”Waktu itu cuma iseng aja, pengen tahu kayak apa sih jadi donor darah” Iseng dan ingin tahu Ali :’Kalau menurut saya, dalam Islam tuh berbuat tolong menolong memang dianjurkan, jadi salah satunya donor darah juga berbuat kebaikan” Alasan Agama Beny :”Kalau yang pertama sih Ayah suruh-suruh, katanya donor dong, biar badannya …… emang gede badannya” Disuruh Ayahnya Ahmad :”Waktu itu kan SMA, wah kalau belum jadi donor, temanteman pada bilang kok lu nggak jadi donor, payah lu. Jadi saya panas digituin teman-teman” Pengaruh teman Isa :”Waktu itu kebetulan saya di rumah sakit, dan persediaan darah tidak ada, karena orang tua teman sakit dan membutuhkan, akhirnya saya menyumbangkan darah saya” Situasi Reni :”Kebetulan ada keluarga yang meninggal karena tidak dapat darah” Situasi
100 | RISET KEPERAWATAN Analisis/Kesimpulan: Pada umumnya remaja yang melakukan donor darah beralasan untuk menolong sesama. Meskipun demikian, beberapa di antaranya menyatakan bahwa kesadaran untuk menolong sesamanya tidak timbul pada saat mereka menjadi donor darah. Sebagian kecil, mereka menjadi donor darah disebabkan rasa ingin tahu atau sekedar iseng saja. Faktor lingkungan, agama, dan situasi mempengaruhi seseorang untuk menjadi donor darah. Lingkungan yang mempengaruhi meliputi lingkungan keluarga, teman, dan sekolah. Nilai keagamaan juga menjadi alasan tersendiri. Di samping itu, situasi atau pengalaman yang dihadapi ternyata bisa membuat mereka menjadi donor darah. c. Hasil penelitian tentang pelayanan rumah sakit Analisisnya: “Sebagian besar responden menyatakan tidak merasa puas dengan pelayanan rumah sakit”. Kesimpulan tersebut diambil dari data yang menunjukkan prosentase yang besar (mis: 8 dari 10 responden menyatakan tidak puas). Rujukan : Brockopp, Dorothy Young., Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. FKM Universitas Indonesia – CIMU Health, 2000. Aplikasi Metode Kualitatif dalam Penelitian Kesehatan, FKM-UI – The British Council, Depok. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan,Rineka Cipta, Jakarta Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
101 | RISET KEPERAWATAN BAB 14 TEKNIK PENULISAN/PENYUSUNAN HASIL PENELITIAN (PENYAJIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN, PEMBAHASAN, SERTA PENARIKAN KESIMPULAN DAN SARAN ) A. Sistematika Penulisan Laporan Penelitian Laporan penelitian secara garis besar terdiri dari 3 bagian, yaitu: 1. Bagian Muka/Pendahuluan, terdiri dari: sampul (cover), halaman judul, abstrak, halaman judul dengan spesifikasi (Skripsi/Tesis/Laporan ini disusun untuk …..), lembar persetujuan, lembar pengesahan (penguji), riwayat hidup, ucapan terima kasih/persembahan/motto, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar bagan/grafik, daftar istilah, daftar lampiran dan lain-lain. 2. Bagian Utama , merupakan bagian inti penelitian yang dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Secara isi terdiri dari: latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, uraian kepustakaan yang relevan dengan topik penelitian, pemikiran dasar penelitian (kerangka kosep penelitian) dan bagaimana penelitian dilakukan (metodologi penelitian), hasil penelitian dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran. 3. Bagian Belakang/Akhir, terdiri dari: daftar pustaka/bacaan, indeks, dan lampiran (appendix), serta ralat bila ada (dijilid). B. Teknik Penulisan Bagian Utama/Inti Laporan Penelitian (Bab I-V) Bagian inti penelitian yang terdiri dari bab I sd. Bab akhir harus sinkron karena tiap Bab saling berkaitan. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Bab I Dalam bab I ini terdapat masalah penelitian yang merupakan dasar titik tolak dilakukannya penelitian. Masalah penelitian ini menuntun peneliti menyiapkan dasar teori dan referensi termasuk hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan masalah penelitian. Sedangkan tujuan penelitian yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan khusus akan menuntun peneliti dalam menulis metode penelitian, terutama dalam mengukur variabel penelitian dan menganalisisnya. Selain itu, tujuan khusus merupakan acuan dalam penulisan hasil penelitian, pembahasan, serta kesimpulan dan saran Bab II Bab II memuat dasar teori/referensi dan hasil penelitian yang relevan dengan masalah penelitian yang diungkapkan dalam Bab I yang akan menuntun penulis membuat kerangka teori dan kerangka konsep penelitian pada Bab III.
102 | RISET KEPERAWATAN Bab III Dalam Bab ini akan diungkapkan kerangka konsep penelitian yang akan mengungkap masalah penelitian/penyebabnya dalam rangka upaya pemecahan masalah, metode penelitian, terutama dalam mengukur variabel penelitian dan menganalisisnya sesuai dengan tujuan penelitian, terutama tujuan khusus. Bab IV Dalam Bab ini akan disajikan hasil penelitian beserta pembahasannya: a. Hasil penelitian. Pada hasil penelitian ini akan menyajikan data hasil pengumpulan data/penelitian sesuai dengan tujuan khusus, dimana jumlah penyajian hasil penelitian harus sesuai baik jumlah maupun susunannya/urutannya dengan tujuan khusus yang dibuat. Penyajian data dan analisisnya harus sesuai dengan data/hasil ukur pada definisi operasional, dimana variabel dengan hasil ukur berupa data katagorik (skala nominal/ordinal) disajikan tabel distribusi fekuensi/proporsi, sedangkan dengan hasil ukur berupa data numeruk (skala interval/rasio) disajikan tabel yang memuat nilai mean, median, standar deviasi, ukuran min – maks, dan estimasi mean. Begitu juga analisis bivariat harus sesuai dengan jenis data dan skala ukur variabelnya. Hasil analisis berupa kesimpulan pada ujung analisis akan dijadikan bahan sebagai awal untuk memulai pembahasan pada pembahsan hasil penelitian sesuai variabel yang disajikan (sesuai tujuan khusus). b. Pembasahan Hasil Penelitian Pada pembahasan ini, penulisannya dimulai dengan menyebutkan kesimpulan analisis (ujung analisis) yang merupakan bahan untuk membuat kesimpulan pada Bab V. Selanjutnya dilakukan pembahasan antara lain dengan mengungkapkan dampak/implikasi dari hasil penelitian tersebut, membandingkan/menjelaskan dengan teori yang relevan, membandingkan dengan hasil penelitian yang relevan/sama. Menanggapi hasil penelitian/analisis tersebut, maka perlu dicari upaya yang harus dilakukan sebagai upaya pemecahan yang merupakan paragraf akhir pembahasan dimana upaya ini akan dijadikan bahan dalam membuat saran pada bab V (kesimpulan dan Saran). Dalam pembahasan ini juga harus sesuai dengan tujuan khusus, baik dalam jumlah maupun urutan pembahasannya. Bab V Dalam Bab ini akan disajikan kesimpulan hasil penelitian dan sarannya, yaitu sebagai berikut: a. Kesimpulan Kesimpulan hasil penelitian harus sesuai dengan tujuan khusus, dimana jumlah kesimpulan hasil penelitian harus sesuai baik jumlah maupun susunannya/urutannya dengan tujuan khusus yang memrupakan jawaban atas tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Kesimpulan dapat diambil dari paragraf awal pembahasan, yakni berupa kesimpulan analisis hasil penelitian yang telah ditulis. b. Saran Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan, bahwa pada akhir pembasahan dikemukakan upaya yang harus dilakukan sebagai upaya pemecahan yang akan dijadikan bahan dalam membuat saran pada bab V (kesimpulan dan Saran). Untuk itu, maka setiap saran dapat diambil dan disusun dari paragraf akhir pembahsan yang dapat dilakukan dengan mudah dan tentunya akan sesuai/sinkron dengan hasil
103 | RISET KEPERAWATAN penelitian/kesimpulan yang dibuat karena pada pembahasannya upaya yang dituliskan menanggapi hasil penelitian yang diungkapkan pada awal/paragraf awl pembahsan Jumlah dan urutan saran sebaiknya harus sesuai dengan tujuan khusus, akan tetapi jumlahnya bisa saja berkurang karena ada saran yang sama, sehingga saran tersebut menjadi satu. Penulisan/penyusunan saran juga dapat dilakukan dengan cara mengelompokan saran berdasarkan sasaran kepada siap saran tersebut ditujukan. Untuk lebih jelaskan, dapat dilihat pada contoh berikut: PENGARUH TEKNIK RELAKSASI GENGGAM JARI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI BEDAH MAYOR DI RUANG NUSA INDAH RSUD MAJALENGKA TAHUN 2018 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembedahan dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk mengatasi penyakit, injuri, deformitas melalui operasi atau instrumen (Hipkabi, 2010 dalam Mulyani, 2016). Operasi adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cairan vasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. Pembukaan tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan. Setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan dilakukan tindakan perbaikan yang akan diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Syamsuhidajat, 2010). Klasifikasi operasi terbagi menjadi dua, yaitu operasi minor dan operasi mayor. Operasi minor adalah operasi yang secara umum bersifat selektif, bertujuan untuk memperbaiki fungsi tubuh, mengangkat lesi pada kulit dan memperbaiki deformitas, contohnya pencabutan gigi, kuretase, operasi katarak dan arthoskopi. Sedangkan operasi mayor adalah operasi yang bersifat selektif, urgen dan emergency. Tujuan dari operasi mayor adalah untuk menyelamatkan nyawa, memperbaiki bagian tubuh dan fungsi tubuh serta meningkatkan kesehatan, contohnya kolesistektomi, nefrektomi, kolostomi, histerektomi, mastektomi, amputasi dan operasi akibat trauma (Brunner & Sudarth 2001). Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa selama lebih dari satu abad, perawatan bedah menjadi komponen penting dari perawatan kesehatan di seluruh dunia. Diperkirakan setiap tahun ada 230 juta tindakan bedah dilakukan di seluruh dunia (Hasri, 2012). WHO menyatakan bahwa kasus bedah adalah masalah kesehatan masyarakat. Berkaitan dengan itu pula padaWorld Health Assembly bulan Mei tahun 2015 menyetujui suatu resolusi yang berjudul Strengthening emergency and essential surgical care anaesthesia as a component of universal health coverage, yang pada dasarnya meminta semua anggota WHO meningkatkan akses dan kualitas pelayanan bedah terutama dalam mengatasi masalah gawat darurat dan esensial. Selain itu resolusi ini mengemukakan pentingnya menguatkan pelayanan bedah di tingkat kabupaten yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan primer sehingga tujuan pelayanan paripurna dalam mencapai Universal Health Coverage. Terkait tindakan bedah, diperkirakan lebih dari 100 juta pasien di dunia menerima pelayanan bedah dimana setengahnya dapat mengalami kematian /kecacatan akibat kejadian tidak diinginkan yang tidak dapat dicegah. Data dari WHO menemukan 90% dari cedera terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Keselamatan pasien menjadi perhatian dari Organisasi Kesehatan Dunia termasuk Indonesia, dimana sejak tahun 2002 WHO gencar melakukankampanye mengenai keselamatan pasien dan pada tahun 2008 mencanangkan Safe Surgery Save Lives untuk meningkatkan keselamatan pada
104 | RISET KEPERAWATAN pelayanan bedah di dunia bagi seluruh negara anggotanya. Di Indonesia, keselamatan pasien menjadi fokus utama pada penilaian akreditasi dan implementasi di rumah sakit. Menteri kesehatan meminta Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk dapat menjadikan keselamatan pasien sebagai budaya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berfokus pada pasien (Patient Centeredness) untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia. Data dari Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) menunjukkan bahwa 76 dari 321 kasus yang diadukan ke MKDKI dari tahun 2006 sampai tahun 2015, berkaitan dengan spesialis bedah. Cukup banyak dari kasus tersebut disebabkan oleh faktor komunikasi yang kurang berlangsung dengan baik, selain kepatuhan pada standar pelayanan yang sudah ditetapkan. Jumlah tindakan pembedahan di dunia sangat besar, hasil penelitian di 56 negara pada tahun 2004 diperkirakan jumlah tindakan pembedahan sekitar 234 juta per tahun (Weiser, et al, 2008). Menurut Kemenkes RI (2015), diperkirakan setidaknya 11% dari beban penyakit di dunia berasal dari penyakit atau keadaan yang sebenarnya bisa ditanggulangi dengan pembedahan. Berdasarkan Data Tabulasi Nasional Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2009, tindakan bedah menempati urutan ke-11 dari 50 pertama pola penyakit di rumah sakit se-Indonesia dengan presentase 12,8% yang diperkirakan 32% diantaranya merupakan tindakan bedah laparotomi. Nyeri merupakan suatu permasalahan yang sering dijumpai pada pasien bedah baik bedah mayor ataupun bedah minor. Nyeri adalah bentuk ketidaknyamanan baik sensori maupun emosional yang berhubungan dengan risiko atau aktualnya kerusakan jaringan tubuh, bisa juga karena suatu mekanisme proteksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang rusak dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri (Andarmoyo, 2013 dalam Mulyani, 2016). Setiap individu pasti pernah merasakan nyeri dalam tingkat tertentu. Nyeri merupakan masalah yang paling umum untuk setiap orang melakukan perawatan kesehatan. Individu yang mengalami nyeri pasti akan merasa menderita dan tidak nyaman sehingga akan mencari solusi untuk menghilangkan rasa nyeri yang dialaminya. Rasa nyeri bersifat subjektif, dimana tidak ada individu yang merasakan nyeri sama dengan individu lainnya. Manajemen nyeri nonfarmakologis merupakan tindakan menurunkan respon nyeri tanpa menggunakan farmakologis yang dapat dilakukan oleh seorang perawat dalam mengatasi respon nyeri pasien. Beberapa mengenai tindakan-tindakan tersebut seperti: kompres hangat/dingin, distraksi, imajinasi terbimbing, hypnosis, akupuntur, massase dan teknik relaksasi.Teknik relaksasi genggam jari yang merupakan bagian dari teknik relaksasi dapat dipakai untuk manajemen nyeri nonfarmakologis. Menurut Chanif, Petpichetchian & Chongchaeron, (2013) salah satu relaksasi yang digunakan dalam menurunkan intensitas nyeri setelah operasi adalah dengan relaksasi genggam jari yang mudah dilakukan oleh siapapun yang berhubungan dengan jari tangan dan aliran energi di dalam tubuh kita. Teknik genggam jari disebut juga finger hold (Liana 2008; Andika 2006). Menggenggam jari sambil mengatur napas (relaksasi) dilakukan selama kurang lebih 3-5 menit dapat mengurangi ketegangan fisik dan emosi, karena genggaman jari akan menghangatkan titik-titik keluar dan masuknya energy meridian (energy channel) yang terletak pada jari tangan kita. Titik-titik refleksi pada tangan akan memberikan rangsangan secara refleks (spontan) pada saat genggaman. Rangsangan tersebut akan mengalirkan gelombang listrik menuju otak yang akan diterima dan diproses dengan cepat, lalu diteruskan menuju saraf pada organ tubuh yang mengalami gangguan, sehingga sumbatan di jalur energi menjadi lancar (Puwahang, 2011; Andika 2006). Teknik menggenggam jari merupakan bagian dari teknik Jin Shin Jyutsu. Jin Shin Jyutsu adalah akupresur Jepang. Bentuk seni yang menggunakan sentuhan sederhana tangan dan pernafasan untuk menyeimbangkan energi di dalam tubuh. Tangan (jari dan telapak tangan) adalah alat bantuan sederhana dan ampuh untuk menyelaraskan dan membawa tubuh menjadi seimbang. Setiap jari tangan berhubungan dengan sikap sehari-hari. Ibu jari berhubungan dengan perasaan khawatir, jari telunjuk berhubungan dengan ketakutan, jari tengah berhubungan dengan kemarahan, jari manis
105 | RISET KEPERAWATAN berhubungan dengan kesedihan, dan jari kelingking berhubungan dengan rendah diri dan kecil hati (Hill, 2011 dalam Ramadina dkk, 2017). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulung (2017) pada tanggal 17 februari sampai 1 Mei 2017 diruangan bedah RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi menunjukkan hasil rata-rata sebelum dilakukan teknik relaksasi genggam jari adalah 4,80 dan hasil rata-rata sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari adalah 3,87. Hasil bivariat didapat p-value 0,000.Sehingga menunjukkan ada perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari pada pasien post appendiktomi. Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan teknik relaksasi genggam jari berpengaruh terhadap pengurangan rasa nyeri insisi post appendiktomi. Menurut penelitian Ramadina, dkk (2013) menunjukkan hasil p-value (0,000) < α (0,05)bahwa tehnik relaksasi genggam jari berpengaruh untuk menurunkan intensitas nyeri dismenorrhoe sehingga sangat di anjurkan bagi wanita untuk melakukan tehnik relaksasi genggam jari sebagai terapi alternative untuk menghilangkan nyeri dismenorrhoe. Menurut penelitian Pinandita, dkk (2012) menunjukkan hasil yaitu p-value = 0.000, dimana value (p<0.05), yang berarti bahwa tehnik relaksasi genggam jari berpengaruh untuk penurunan nyeri pada pasien pasca operasi laparatomi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong. Penelitian yang dilakukan oleh Sofiyah, dkk (2014) menunjukkan bahwa ada pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap perubahan skala nyeri pada pasien post operasi sectio caesarea di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto dengan nilai p-value 0,000 (p <α). Penelitian yang dilakukan oleh Windartik, dkk (2017) juga menyebutkan bahwa relaksasi genggam jari efektif untuk menurunkan nyeri pada pasien post operasi Caesar dengan hasil ρ = 0.005 <α = 0.05. Rumah Sakit Umum Daerah Majalengka merupakan salah satu Rumah Sakit Umum Daerah yang berada di Kabupaten Majalengka. Berdasarkan data dari Rekam Medik RSUD Majalengka mengklasifikasikan pasien bedah berdasarkan jenis tindakan bedahnya. Pada tahun 2017 di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka terdapat 2.257 pasien yang menjalani pembedahan, yang terdiri dari 1.544 pasien bedah umum, 283 pasien bedah THT, 225 pasien bedah mata dan 205 pasien bedah orthopedi (Rekam Medik RSUD Majalengka, 2017). Jumlah ini lebih banyak bila dibandingkan dengan RSUD Cideres yang tercatat hanya 2.050 kasus (Rekam Medik RSUD Cideres, 2017). Sedangkan pada penelitian ini peneliti mengambil pasien bedah umum yang kemudian akan di klasifikasikan menjadi bedah mayor dan minor. Berdasarkan hasil studi pendahuluan dan dilakukan wawancara terhadap beberapa perawat di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka pada tanggal 22 Februari 2017, perawat mengatakan bahwa pasien bedah mayor selalu mengalami nyeri post operasi dan belum pernah melakukan penatalaksanan nyeri pada pasien dengan teknik relaksasi genggam jari, sehingga belum diketahui efektifitas dari intervensi tersebut. Biasanya intervensi yang diberikan berupa pemberian analgetik melalui kolaborasi dengan dokter. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Post Operasi Bedah Mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018.” B. Identifikasi Masalah Beberapa pasien masih mengeluhkan nyeri setelah pasca bedah mayor dan tidak tahu cara mengatasi nyeri tersebut. Nyeri yang tidak teratasi dapat memperburuk keadaan pasien karena dapat menimbulkan respon fisik dan psikis yang hebat (Smeltzer & Bare, 2002). Berdasarkan masalah tersebut sehingga yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyeri pasca bedah mayor di RSUD Majalengka Tahun 2018?”
106 | RISET KEPERAWATAN C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pasien pasca operasi bedah mayor di ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. 2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor sebelum dilakukan teknik relaksasi genggam jari di ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. b. Diketahuinya intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor setelah dilakukan teknik relaksasi genggam jari di ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. c. Diketahuinya pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor di ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Ilmiah Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan mengenai penanganan nyeri terhadap pasien post operasi khususnya pada bedah mayor. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Institusi Pendidikan Penelitian ini bisa dijadikan acuan dan masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap pasien pasca operasi yang merasakan nyeri, serta dapat digunakan sebagai bahan pustaka atau bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. b. Bagi Rumah Sakit Sebagai masukan bagi bidang keperawatan, khususnya Keperawatan Medikal Bedah dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang menjalani operasi dan penanganan nyeri pasca pasca operasi. c. Bagi Tenaga Kesehatan Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran tentang penatalaksanaan nyeri pada pasien post operasi dengan cara non farmakologis. d. Bagi Klien Post Bedah Mayor Diharapkan bisa menjadi suatu alternatif untuk mengurangi nyeri dan bisa di aplikasikan oleh responden dalam kehidupan sehari-hari. e. Bagi Peneliti Pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman serta untuk mengembangkan diri khususnya dalam bidang penelitian Keperawatan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Bedah Mayor 1. Definisi 2. Tujuan Prosedur Pembedahan 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Derajat Resiko Pembedahan a. Usia b. Kesehatan Umum c. Status Nutrisi Sebagai acuan bab II (Teori dan Penelitian Sebelumnya, III (Kerangka Konsep dan Metodologi Penelitian), IV (penyajian hasil dan pembahasan), dan bab V (Kesimpulan dan Saran)
107 | RISET KEPERAWATAN d. Medikasi e. Status Mental 4. Indikasi Bedah Mayor 5. Prinsip-Prinsip Pembedahan 6. Syarat-Syarat yang perlu Diperhatikan dalam Pembedahan 7. Komplikasi B. Konsep Nyeri 1. Definisi 2. Teori-teori nyeri Menurut Andarmoyo (2013) sebagai berikut: a. Teori Spesivitas (Specivity Theory) b. Teori Pola (Pattern Theory) c. Teori Pengontrolan Nyeri (Theory Gate Control) d. Endogenous Opiat Theory 3. Peranan Perawat Terhadap Nyeri 4. Tipe Nyeri Menurut Koizer (1996), ada tipe-tipe dasar neurologic yang mempengaruhi terbuka atau tertutupnya nyeri yaitu sebagai berikut: a. Tipe I b. Tipe II c. Tipe III 5. Penyebab Nyeri Nyeri terjadi karena adanya stimulus nyeri, antara lain: a. Fisik (termal, mekanik, elektrik) b. Kimia Apabila ada kerusakan pada jaringan akibat adanya kontinuitas jaringan yang terputus, maka histamine, bradikinin, serotonin, dan prostaglandin akan diproduksi oleh tubuh. Zat-zat kimia ini akan menimbulkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini diteruskan ke Central Nerve System (CNS) untuk kemudian di transmisikan pada serabut tipe C yang menghasilkan nyeri, seperti tertusuk (Eli Kosasih, 2015). 6. Klasifikasi Nyeri a. Klasifakasi Nyeri Berdasarkan Durasinya 1) Nyeri Akut 2) Nyeri Kronik b. Klasifikasi Nyeri berdasarkan Asal 1) Nyeri Nosiseptif 2) Nyeri Neuropatik c. Klasifikasi Nyeri Berdasarkan Lokasi (Potter danPerry, 2006) 1) Superficial atau Kutaneus 2) Viseral Dalam 3) Nyeri Alih (Referred Pain) 4) Radiasi 7. Efek Membahayakan dari Nyeri a. Efek Fisik 1) Nyeri Akut 2) Nyeri Kronis b. Efek Perilaku c. Pengaruh pada Aktivitas Sehari-hari
108 | RISET KEPERAWATAN 8. Pengalaman Nyeri Meinhart & McCaffery (1983) dalam Potter & Perry, (2006). a. Fase Antisipasi b. Fase Sensasi c. Fase Akibat / Aftermath 9. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri Respon nyeri sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut (Potter & Perry, 2006; Brunner & Suddart, 2002 dalam Haerawan, 2012): a. Usia b. Jenis kelamin c. Kebudayaan d. Makna Nyeri e. Perhatian f. Ansietas g. Keletihan h. Pengalaman Masa Lalu i. Gaya Koping j. Dukungan Keluarga dan Sosial k. Efek Plasebo 10. Strategi Pelaksanaan Nyeri Nonfarmakologi a. Kompres Panas dan Dingin b. Stimulasi Saraf Elektrik Transkutan/TENS (Transcutaneus Elektrical Nerve Stimulation) c. Distraksi d. Teknik Relaksasi e. Imajinasi Terbimbing f. Hypnosis g. Massase 11. Proses Terjadinya Nyeri Ada empat tahapan proses terjadinya nyeri: a. Transduksi Transduksi merupakan proses dimana suatu stimulus nyeri dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf. Stimulus ini dapat berupa stimulus fisik (tekanan), suhu (panas) atau kimia (substansi nyeri). Terjadi perubahan patofisiologis karena mediator-mediator nyeri mempengaruhi juga nosiseptor diluar daerah trauma sehingga lingkaran nyeri meluas. b. Transmisi Transmisi merupakan proses penyampaian impuls nyeri dari nosiseptor saraf perifer melewati korda dorsalis, dari spinalis menuju korteks serebri. Transmisi sepanjang akson berlangsung karena proses polarisasi, sedangkan dari neuron presinapske pasca sinaps melewati neurotransmitter. c. Persepsi Persepsi adalah proses terakhir saat stimulasi tersebut sudah mencapai korteks sehingga mencapai tingkat kesadaran, selanjutnya diterjemahkan dan ditindak lanjuti berupa tanggapan terhadap nyeri tersebut. d. Modulasi Modulasi adalah proses modifikasi terhadap rangsang. Modifikasi ini dapat terjadi pada sepanjang titik dari sejak transmisi pertama sampai ke korteks serebri. 12. Penilaian Nyeri a. Alat Ukur Nyeri Alat yang digunakan untuk mengukur integritas nyeri dengan menggunakan skala raut wajah (face) (Tamsuri, 2007).
109 | RISET KEPERAWATAN Gambar 2.1 Skala Nyeri Raut Wajah (face) Pengukuran derajat nyeri yaitu nilai: 0 = Tidak nyeri 1-2 = Nyeri ringan 3-4 = Nyeri yang mengganggu 5-6 = Nyeri yang menyusahkan 7-8 = Nyeri hebat = Nyeri sangat hebat Menurut Smeltzer, (2002) skala nyeri sebagai berikut: 1) Skala Intensitas Nyeri Deskriptif Gambar 2.2 Skala Nyeri Deskriptif 2) Skala Identitas Nyeri Numerik Gambar 2.3 Skala Identitas Nyeri Numerik 3) Skala Analog Visual Gambar 2.4 Skala Analog Visual Keterangan: 0 = Tidak ada keluhan nyeri 1-3 = Ada rasa nyeri, mulai terasa, tetapi masih dapat di tahan 4-6 = Ada rasa nyeri, terasa mengganggu, dan dengan usaha yang cukup kuat untuk menahannya 7-10 = Ada nyeri, terasa sangat mengganggu/tidak tertahan, sehingga harus meringis, menjerit, bahkan berteriak
110 | RISET KEPERAWATAN Menurut Wong-Bakers Gambar 2.5 Skala Nyeri Menurut Wong C. Konsep Relaksasi Genggam Jari 1. Definisi Teknik relaksasi merupakan salah satu metode manajemen nyeri nonfarmakologis dalam strategi penanggulangan nyeri, disamping metode TENS (Transcutaneons Electric Nerve Stimulation),biofeedback, plasebo dan distraksi (Widyawati, 2015). Teknik menggenggam jari merupakan bagian dari teknik Jin Shin Jyutsu. Jin ShinJyutsu adalah akupresur Jepang. Bentuk seni yang menggunakan sentuhan sederhana tangan dan pernafasan untuk menyeimbangkan energi di dalam tubuh. Relaksasi genggam jari merupakan sebuah teknik relaksasi yang sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan oleh siapapun yang berhubungan dengan jari tangan dan serta aliran energi didalam tubuh kita. Teknik genggam jari disebut juga finger hold (Liana, 2008). Relaksasi genggam jari atau finger hold adalah sebuah teknik relaksasi yang digunakan untuk meredakan atau mengurangi intensitas nyeri pasca pembedahan (Pinandita, Purwanti & Utoyo, 2012). Tangan (jari dan telapak tangan) adalah alat bantu sederhana dan ampuh untuk menyelaraskan dan membawa tubuh menjadi seimbang. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa tehnik relaksasi genggam jari adalah salah satu tehnik relaksasi dengan menggunakan jari tangan untuk mengalirkan energi ke dalam tubuh yang bisa dilakukan oleh siapapun. 2. Saraf dan Jalur Tangan Tangan menjadi anggota tubuh yang berperan penting membantukerja fisik setiap manusia, mulai dari menahan, memegang, hingga memanipulasi. Pada bagian tangan terdapat banyak sekali saraf. Ini terbukti dengan adanya separuh area otak dipergunakan mengatur saraf tangan.Tak mengherankan jika fungsi bagian tangan ini sangat vitaldalam menunjang kehidupan. Dalam tubuh terdapat jalur-jalur atau meridian saraf yang masing-masing berhubungan dengan tiap-tiap organ tubuh kita. Enam (6) jalur diantaranya melalui tangan kita. Jalur Tangan, oleh Bethsaida (2013), tersedia http://solusipenyakitsaraf.blogspot.com/ diakses 29 Maret 2018 Gambar 2.6 Titik Persarafan Jari a. Jalur paru-paru : Dimulai dari titik Sau Yang yang terdapat di sisi luar pergelangan atas ibu jari. Jalur paru- paru ini berhubungan erat dengan paru-paru atau bronchi yang mengatur pernapasan. Titik ini bila dipijat merasa sakit, berarti terkena flu, asma, infeksi bronchus dsb.
111 | RISET KEPERAWATAN Bila ibu jari kanan yang sakit, berarti organ pernapsan sebelah kanan mengalami gangguan. Demikian juga ibu jari kiri bersangkutan dengan pernapasan sebelah kiri. b. Jalur Usus Besar : Dimulai dari titik Sang Yang , terletak dibawah kuku jari telunjuk. Titik ini bila dipijat mersa sakit, berarti sistim pencernaan kurang baik. c. Jalur Pembungkus Jantung : Dimulai dari titik Chong Zhong, terletak di bawah kuku jari tengah. Ia mempengaruhi kegiatan jantung, peredaran darah, juga berhubungan dengan usus kecil. Bila diare karena gelisah, titik ini bisa sakit bila dipijat. d. Jalur San Chiau : Dimulai dari titik Kwan Zhong, terletak di bawah kuku jari manis. Ia mengatur sistim limfe dan sisitim hormone. Apabila suhu badan menjadi panas atau dingin, titik ini bisa sakit bila dipijat. e. Jalur Jantung : Dimulai dari titik Sau Zhong, terletak di bawah kuku jari kelingking sebelah dalam. Ia mengatur fungsi jantung dan peredaran darah. Bila ada ketidak lancaran organ dalam dikarenakan pikiran tegang, pijatlah titik ini. f. Jalur Usus Kecil : Dimulai dari titik Sau Zhe, terletak di bawah kuku jari kelingking sebelah luar. Ia mengatur kegiatan usus kecil. Bila terjadi sembelit, titik ini bisa sakit bila dipijat. 3. Manfaat Jari Terhadap Tubuh Menurut Jin Shin Jyutsu, melatih refleksiologi tangan adalah seni penyembuhan cara kuno. Setiap jari pada tangan berkorelasi untuk dua dari 10 organ kita. Berdasarkan penelitian yang disusun oleh reflexologists diketahui latihan ini terbukti mampu meningkatkan kebugaran fisik dan emosional. Pijat Tangan di Lima Titik, oleh Indra (2015), tersedia http://m.merdeka.com, diakses29 Maret 2018 a. Jempol: Kecemasan dan Sakit Kepala Sebagai jangkar untuk tangan, jempol membawa banyak beban untuk melahirkan sebuah keputusan. Hal ini paling sering dikaitkan dengan perasaan depresi dan kecemasan. Hal ini juga dapat dihubungkan gangguan limpa dan lambung. Jadi, jika merasa khawatir atau sakit kepala, cobalah berikan tekanan lembut pada jempol Anda. Pastikan untuk tidak menekan terlalu keras dan lakukan ini selama 3-5 menit, atau sampai benar-benar tenang. b. Telunjuk: Frustrasi dan nyeri otot Di baris kedua adalah jari telunjuk, yang telah dikaitkan dengan perasaan takut, bingung, dan masalah ginjal. Dari beberapa ulasan tentang penelitian refleksiologi, banyak pasien yang disarankan untuk memijat bagian tangan ini untuk menyembuhkan masalah ginjal. Pasien yang memiliki masalah dengan otot dan nyeri punggung juga disarankan untuk melakukan pijatan ini. c. Jari tengah: Kemarahan dan kelelahan Jika merasa atau mengalami masalah dengan sirkulasi darah, coba beri tekanan pada jari tengah Anda. Jari ini dikaitkan dengan perasaan marah. Menurut para ahli latihan seperti ini menciptakan efek relaksasi yang mampu menurunkan tekanan darah dan tingkat kecemasan. d. Jari manis: Pikiran negatif dan masalah pencernaan Jika Anda merasakan energi negatif atau sedih, coba fokus dengan memberi pijatan di sekitar jari manis. Tekanan ini dapat membantu masalah pencernaan dan pernapasan. Secara keseluruhan, refleksi seperti ini ditunjukkan untuk membantu mengurangi rasa sakit di bagian dada dan ginjal. e. Kelingking: Gugup dan stress Jari kelingking terkait dengan keadaan mudah stres. Saat pijatan demi pijatan Anda terapkan pada jari kelingking Anda, tubuh akan bereaksi untuk membersihkan pikiran, menghilangkan nyeri tubuh, dan masalah saraf. f. Telapak tangan: Mual dan ketegangan Pijatan pada telapak tangan akan dapat meredakan segala bentuk gangguan kesehatan. Bahkan, beberapa pasien mengaku pijatan ini dapat membantu pengobatan kanker. Caranya, hanya perlu memegang pusat telapak tangan dan tekan telapak tangan dengan cara berputar. Menurut University of Minnesota, latihan refleksi ini juga dapat membantu
112 | RISET KEPERAWATAN gangguan kesehatan lain seperti mual, diare, dan sembelit. g. Tangan: Aliran darah dan kekuatan Beberapa pasien berpikir bahwa memegang posisi ini membawa mereka lebih dekat dengan meditasi. Selain itu, menurut ahli refleksiologi, latihan seperti ini berkontribusi untuk peningkatan aliran darah ke ginjal dan usus. 4. Tujuan Relaksasi Genggam Jari Untuk menurunkan rasa nyeri pada pasien yang menjalani operasi danmengurangi intensitas nyeri dan mengurangi efek samping jikamenggunakan obat-obatan penurun nyeri (Liana, 2008). a. Mengurangi nyeri, takut dan cemas b. Mengurangi perasaan panik, khawatir dan terancam c. Memberikan perasaan yang nyaman pada tubuh d. Menenangkan pikiran dan dapat mengontrol emosi a. Melancarkan aliran dalam darah 5. Penatalaksanaan Teknik Genggam Jari Langkah relaksasi genggam jari prosedurnya adalah sebagai berikut: a. Jelaskan tindakan dan tujuan dari tindakan yang akan dilakukan pada pasien serta menanyakan kesediaannya. b. Persiapkan pasien dalam posisi yang nyaman c. Siapkan lingkungan yang tenang d. Perawat meminta pasien untuk merilekskan pikiran kemudian motivasi pasien dan perawat mencatatnya sehingga catatan tersebut dapat digunakan e. Jelaskan rasional dan keuntungan dari teknik relaksasi genggam jari f. Cuci tangan dan observasi tindakan prosedur pengendalian infeksi lainnya yang sesuai, berikan privasi, bantu pasien keposisi yang nyaman atau posisi bersandar dan minta pasien untuk bersikap tenang g. Minta pasien menarik nafas dalam dan perlahan untuk merilekskan semua otot, sambil menutup mata h. Peganglah jari dimulai dari ibu jari selama 2-3 menit, bisa menggunakan tangan mana saja i. Anjurkan pasien untuk menarik nafas dengan lembut j. Minta pasien untuk menghembuskan nafas secara perlahan dan teratur k. Anjurkan pasien menarik nafas, hiruplah bersama perasaan tenang, damai, dan berpikirlah untuk mendapatkan kesembuhan l. Minta pasien untuk menghembuskan napas, hembuskanlah secara perlahan sambil melepaskan perasaan dan masalah yang mengganggu pikiran dan bayangkan emosi yang mengganggu tersebut keluar dari pikiran m. Motivasi pasien untuk mempraktikkan kembal iteknik relaksasi genggam jari n. Dokumentasi respon pasien Gambar 2.8 Relaksasi Genggam Jari (Abu Azzam, 2011)
113 | RISET KEPERAWATAN D. Kerangka Teori Keterangan : : diteliti : tidak diteliti Bagan 2.1 Konsep Teori BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL, DAN METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang akan diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilaksanakan (Notoatmojo, 2010). 1. Visualisasi Kerangka Konsep Berdasarkan penjelasan di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut: Faktor yang mempengaruhi nyeri menurut Potter & Perry: Usia Jenis kelamin Kebudayaan Makna nyeri Perhatian Ansietas Keletihan Pengalaman sebelumnya Gaya koping Dukungan keluarga dan sosial Efek plasebo Pasien post bedah mayor Nyeri Perubahan Intensitas Nyeri Penatalaksanaan nonfarmakologi: pemberian Teknik Relaksasi Genggam Jari Perawat Skala nyeri menurut smeltzer: 0 = tidak nyeri 1-3 = nyeri ringan 4-6 = nyeri sedang 7-9 = nyeri beratterkontrol 10 = nyeri berat tidakterkontrol
114 | RISET KEPERAWATAN Variabel Independen Variabel Dependen Bagan 3.1 Visualisasi Kerangka Konsep Penelitian Keterangan : : Diteliti : Pengaruh 2. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang memiliki atau yang didapatkan oleh satuan-satuan penelitian tentang suatu konsep tertentu (Notoatmodjo, 2010:103). Sedangkan menurut Sugiono (2012), variable penelitian adalah suatu atribut atau sifat yang dimiliki dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independent (variabel bebas) dan variabel dependent (variabel terikat). a. Variabel Independen Variabel independen sering disebut variabel bebas, merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiono, 2012). Variabel independen pada penelitian ini adalah teknik relaksasi genggam jari. b. Variabel Dependen Variabel dependen (terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiono, 2012). Variable dependen dalam penelitian ini adalah nyeri post operasi bedah mayor. B. Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara penelitian, patokan duga, atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Setelah melalui pembuktian dari hasil penelitian, maka hipotesis tersebut dapat benar atau salah, dapat diterima atau ditolak (Notoatmodjo, 2010). Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah: 1. Ho=Tidak ada pengaruh relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyeri post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. 2. Ha= Ada pengaruh relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyeri post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. Teknik Relaksasi Genggam Jari Nyeri pasca Bedah Mayor Teknik Relaksasi Genggam Jari Nyeri pasca Bedah Mayor
115 | RISET KEPERAWATAN C. Definisi Operasional Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmojo, 2010). Tabel 3.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 1. Dependen : Nyeri pada klien post operasi bedah mayor Rasa yang tidak nyaman atau pengalaman yang tidak menyenangkan baik sensori maupun emosional yang berhubungan dengan resiko atau kerusakan suatu jaringan tubuh Sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi genggam jari pada pasien post operasi dilakukan pengukuran skala nyeri dengan skala nyeri numeric (NRS). Lembar observasi dengan Skala Intensitas Nyeri Numeric (NRS/ NumericalRa ting Scale) Intensitas nyeri dengan skala: 0 = 0, tidak ada keluhan nyeri 1 = 1-3, ada rasa nyeri, mulai terasa, tetapi masih dapat di tahan 2 = 4-6, ada rasa nyeri, terasa mengganggu dan dengan usaha yang cukup kuat untuk menahannya 3 = 7-10, ada nyeri, terasa sangat mengganggu / tidak tertahan, sehingga harus meringis, menjerit bahkan berteriak Interval 2. Indepeden: Relaksasi genggam jari Salah satu tehnik relaksasi dengan menggunakan jari tangan untuk mengalirkan energi kedalam tubuh, merupakan tehnik yang sederhana dan bisa dilakukan oleh siapapun dilakukan antara 3-5 menit. - - - - D. Metodologi Penelitian 1. Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian Pre Eksperimental. Menurut Sugiono (2010:109) bahwa penelitian pre-eksperimen hasilnya merupakan variabel dependen bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Hal ini dapat terjadi, karena tidak adanya variabel control, dan sampel tidak dipilih secara random. Desain ini bertujuan mengidentifikasi hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok. Kelompok subyek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian langsung
116 | RISET KEPERAWATAN dilakukan intervensi yaitu relaksasi genggam jari oleh perawat dan diobservasi lagi setelah dilakukan intervensi. Table 3.1 Desain Penelitian One Group Pretest-Posttest Design Pretest Treatment Posttest O1 X O2 Keterangan : O1 = Observasi nyeri sebelum dilakukan intervensi X= Intervensi berupa teknik relaksasi genggam jari O2 = Observasi nyeri setelah dilakukan intervensi 2. Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien post bedah mayor. Jumlah pasien post bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka pada bulan Januari 2018 berjumlah 155 pasien. b. Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti yang dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiono, 2012). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling berupa purpossive sampling. Besar sampel dihitung dengan rumus (Dahlan, 2010). Keterangan: n= besar sampel minimal zα= deviat baku alfa zβ= deviat baku beta S= simpang baku dari selisih nilai antarkelompok x1-x2= selisih minimal rerata yang dianggap bermakna Berdasarkan rumus diatas maka besar sampel adalah: = 20,46 dibulatkan menjadi 20 responden. Berdasarkan rumus di atas, diketahui bahwa jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 20 orang sebagai responden pada penelitian ini. Pemilihan sampel juga berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Dengan kriteria sebagai berikut : Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2008). Kriteria inklusi dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) Klien berusia 18-59 tahun 2) Klien post bedah mayor dengan anestesi umum
117 | RISET KEPERAWATAN 3) Klien yang menjalani bedah mayor 4) Klien post bedah hari kedua dan belum diberikan terapi analgetik 5) Klien bersedia untuk dilakukan relaksasi genggam jari untuk mengurangi rasa nyeri Kriteriaeksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2008). Kriteriaeksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Klien menderita komplikasi post bedah 2) Klien post operasi bedah minor 3) Klien post bedah mayor hari kedua dan sudah diberikan terapi analgetik 4) Klien tidak bersedia menjadi responden 3. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian inidilakukan di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka dengan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan April - MeiTahun 2018. 4. Etika Penelitian Setelah peneliti memperoleh persetujuan dari STIKes YPIB Majalengka, kemudian peneliti meminta izin kepada DirekturRSUD Majalengka untuk melakukan penelitian. Prinsipprinsipetisdalam penelitian selalu dikedepankan sebagai bentuk advokasi terhadapresponden. Menurut Hidayat (2014) prinsip tersebut adalah : a. Informed consent Dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan kepadaresponden disertai judul dan tujuan penelitian. Bila subjek menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak respoden. b. Kerahasiaan Kerahasiaan informasi atau data yang didapatkan dari responden sangat dijamin oleh peneliti. c. Anonimity Untuk menjaga kerahasiaan subjek, peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar pengumpulan data hanya mencantumkan inisial atau kode responden dalam penelitian. d. Keadilan Hindari memberikan perlakuan yang berbeda pada responden karena alasan jenis kelamin, ras, suku, dan faktor-faktor lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kompetisi dan integritas ilmiah. e. Bebas dari eksploitasi Partisipasi subyek dalam penelitian harus dihindarkan dari keadaan yang tidakmenguntungkan, subyek peneliti harus diyakinkan bahwa partisipasinya dalampenelitian atau informasi yang diberikan tidak akan dipergunakan untuk hal-hal lainkecuali untuk penelitian. f. Asas Kemanfaatan Upayakan penelitian anda berguna demi kemaslahatan masyarakat, meningkatkan taraf hidup, memudahkan kehidupan dan meringankan beban hidup masyarakat. 5. Instrument Penelitian Instrument penelitian adalah alat ukur untuk penelitian atau suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena tersebut disebut variabel penelitian (Sugiono, 2012). Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan kuesioner skala nyeri Numerical Rating Scale (NRS). Alat ukur ini suatu garis lurus yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerussehingga mempermudah pemahaman bagi pasien post operasi.
118 | RISET KEPERAWATAN Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa pertanyaan yang akan diajukan kepada responden. Pertanyaan tersebut mengenai tingkat nyeri yang dirasakan oleh responden. Peneliti mengisikan kuesioner sesuai skala intensitas nyeri yang dirasakan responden dengan rentang skala nyeri 0-10 berikut : Gambar 3.1 Skala Numerik Rating Scale Intensitas skala nyeri di kategorikan sebagai berikut: 0 =Tidak ada keluhan nyeri 1-3 = Ada rasa nyeri, mulai terasa, tetapi masih dapat di tahan 4-6 = Ada rasa nyeri, terasa mengganggu, dan dengan usaha yangcukup kuat untuk menahannya 7-10 = Ada nyeri, terasa sangat mengganggu/tidak tertahan, sehingga harus meringis, menjeritbahkan berteriak Dalam penelitian ini alat yang dibutuhkan adalah lembar skala intensitas nyeri dan lembar observasi. Dalam Skala Identitas Nyeri Numerik penilaian nyerinya sebagai berikut: 0 : tidak nyeri, 1-3 : nyeri ringan, 4-6 : nyeri sedang, 7-10 : nyeri berat. Sedangkan alat yang digunakan dalam pelaksanaan relaksasi genggam jari adalah sarung tangan bersih dan handsanitizer. 6. Uji Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas Pada penelitian ini, peneliti tidak melakukan uji validitas dan reliabilitas karena peneliti menggunakan alat ukur NRS yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas sebelumnya. Uji validitas yang dilakukan oleh Dunn (2004), Dharma (2011) dalam Sari (2014) dengan hasil validitas 0,86 menunjukkan hasil yang sangat baik. b. Uji Reliabilitas Pada penelitian ini, peneliti tidak melakukan uji reliabilitas karena menggunakan instrumen dari penelitian yang dilakukan oleh Dunn (2004), Dharma (2011) dalam Sari (2014) uji reliabilitas Numeric Rating Scale (NRS) dengan uji Cohen’s Kappa didapatkan < 0,6 dan pvalue >0,05, ini menunjukkan bahwa pengukuran nyeri dengan menggunakan alat ukur Numeric Rating Scale (NRS) telah diperoleh hasil yang valid dan reliable. 7. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berasal dari dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri. Sedangkan data sekunder adalah data yang diambil dari suatu sumber dan biasanya data tersebut sudah dikompilasi lebih dahulu oleh instansi atau pemilik data (Riyanto, 2011). Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengukur langsung tingkat nyeri pasien dengan Skala Intentitas Nyeri Numerik. Pengumpulan data dilakukan dua kali yaitu sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi.
119 | RISET KEPERAWATAN Sebelum mengumpulkan data, terlebih dahulu peneliti memilih responden dari buku dokumentasi keperawatan (buku status pasien) dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi (data sekunder). Setelah itu peneliti melakukan pendekatan dengan memperkenalkan diri, menyampaikan tujuan, manfaat dan efek serta prosedur penelitian. Surat persetujuan ditandatangani klien apabila klien bersedia menjadi responden tanpa paksaan dari peneliti. Kemudian berikan kesempatan kepada klien untuk bertanya apabila ada yang kurang jelas. Setelah responden bersedia menjadi obyek penelitian, peneliti dapat segera mengumpulkan data primer dengan melakukanpengukuran intensitas nyeri responden (pre test) kemudian peneliti melakukan teknik relaksasi genggam jari selama 15 menit. Setelah relaksasi genggam jari selesai dilakukan kemudian peneliti melakukan lagi pengukuran intensitas nyeri (posttest) kepada responden untuk mengetahui apakah setelah dilakukan relaksasi genggam jari berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri pasien post bedah mayor. 8. Pengolahan Data Langkah selanjutnya setelah data dikumpulkan semua adalah melakukan pengolahan data: data diteliti ulang, diperiksa ketepatan dan kesesuaian jawabannya sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki data tersebut. a. Editing Pada proses editing penulis memasukan data pasien ke lembar kuesioner yang telah disediakan. Proses editing dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga jika ada kekurangan dapat segera dilengkapi. b. Coding Setelah tahapan editing selanjutnya adalah pengkodean / coding. Setelah kuesioner yang diisi responden terkumpul selanjutnya dilakukan pengkodean dengan memasukan data ke master tabel menurut kode yang telah ditentukan. Kode yang dimasukan kedalam master tabel yaitu 0 = tidak ada keluhan nyeri, 1 = nyeri ringan, 2 = nyeri sedang, 3 = nyeri berat. c. Entry Memasukan data kedalam komputer/aplikasi (SPSS) d. Cleaning Jika proses pengolahan data selesai selanjutnya data tersebut di periksa kembali untuk menghindari kesalahan pengolahan data. e. Pengeluaran Informasi Setelah data dimasuka dan bersih/tidak ada kesalahan, maka hasil pengolahan data dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan analisis data baik analisis univariat maupun bivariat/multivariat. 9. Analisis Data a. Analisa Univariat Analisa univariat merupakan suatu analisis untuk mendeskripsikan variabel intensitas nyeri yang menghasilkan data mean, median, nilai minimum, nilai maksimum dan nilai standar deviasi. Rumus yang digunakan adalah : 1) Mean (Arikunto, 2010) = Keterangan : X = Mean Xi = jumlah tiap data n = jumlah data
120 | RISET KEPERAWATAN 2) Median (Arikunto, 2010) Median ialah nilai tengah yang mencapai data menjadi dua bagian yaitu 50% data diatas median dan 50% dibawah median. Med = 3) Standar Deviasi (Arikunto, 2010) Keterangan : Xi = masing-masing data X = rata-rata n = jumlah sampel b. Analisa Bivariat Analisa bivariat ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji-t berpasangan (paired t-test) yaitu untuk menguji perbedaan antara dua subjek yang sama namun mengalami dua pengukuran yang berbeda. Uji t berpasang biasa dilakukan pada subjek yang diuji pada situasi sebelum (pre test) dan sesudah proses (post test) atau subjek yang berpasangan ataupun serupa. Adapun uji hipotesis dengan uji-t berpasangan (paired t-test) menggunakan rumus : Keputusan uji statistik : 1) Pendekatan Klasik, yaitu dengan membandingkan nilai t hitung dengan t table : a) t hitung ≥ t table maka Ho ditolak, artinya ada pegaruh relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor b) t hitung < t tabel maka Ho gagal ditolak, artinya tidak ada pengaruh relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyei pasien post operasi bedah mayor 2) Pendekatan probabilitas, dengan ketentuan : a) Apabila p value ≤ dari α (0,05) maka Ho ditolak, artinya ada pengaruh relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor b) Apabila p value > dari α (0,05) maka Ho gagal ditolak, artinya tidak ada pengaruh relaksasi genggam jari terhadap intensitas nyeri pasien post opersi bedah mayor 1 22 _ tan / 1 2 / selisih sampel dan sampel SD d S dar deviasi dari deviasi rata rata deviasi sampel dg sampel SD n t d
121 | RISET KEPERAWATAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Analisa Univariat a. Gambaran Intensitas Nyeri Sebelum Relaksasi Genggam Jari Tabel 4.1 Gambaran Intensitas Nyeri Sebelum Relaksasi Genggam Jari di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 Variabel Mean Median SD MinMax 95% CI Nyeri 4,60 4,00 1,273 3-7 4.00 – 5,20 Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan rata-rata skala nyeri pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 sebelum dilakukan intervensi adalah 4,60, median 4 dan standar deviasi 1,273. Skala nyeri paling rendah 3 dan paling tinggi 7.Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini rata-rata intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 sebelum dilakukan intervensi adalah 4,6 (4,00-5,20). b. Gambaran Intensitas Nyeri Sesudah Relaksasi Genggam Jari Tabel 4.2 Gambaran Intensitas Nyeri Sesudah Relaksasi Genggam Jari di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 Variabel Mean Median SD MinMax 95% CI Nyeri 3,55 3,00 1,317 2-6 2.93 – 4,17 Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan rata-rata skala nyeri pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 setelah dilakukan intervensi adalah 3,55, median 3,00 dan standar deviasi 1,317. Skala nyeri paling rendah 2 dan paling tinggi 6.Dari hasil estimasi interval dapat disimpulkan bahwa 95% diyakini rata-rata intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 setelah dilakukan intervensi adalah 3,55 (2,93-4,17). 2. Analisa Bivariat Untuk mengetahui hubungan variabel independen (terapi relaksasi genggam jari) dengan variabel dependen (intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor) sebelumnya dilakukan uji normalitas terlebih dahulu untuk mengetahui apakah data tentang intensitas nyeri terdistribusisecara normal atau tidak. Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data Variabel Statistic Sig. Keterangan Pre test .231 .006 Tidak Normal Post test .212 .019 Tidak Normal Bahan paragraf awal pembahasan ke-2 Bahan paragraf awal pembahasan ke-1
122 | RISET KEPERAWATAN Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada kolom signifikan (sig) data pre testintensitas nyeri adalah 0,006 dan pada kolom signifikan (sig) data post testintensitas nyeri adalah 0,019. Karena hasil dari kedua nilai probabilitas <0,05 maka Ho ditolak yang berarti data berdistribusi tidak normal,sehingga analisa data bivariat yang digunakan adalah Wilcoxon. Tabel 4.4 Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari terhadap Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Bedah Mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka (Uji Statistik Wilcoxon) Dari hasil pengolahan data didapatkan rata-rata skor intensitas nyeri sebelum intervensi (pre test) adalah 4,60 dan setelah intervensi (post test) adalah 3,55 dengan selisih 1,05. Hasil ujistatistik Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) diperoleh nilai p value adalah 0,000, dengan demikian p value < α (0,000 < 0,05), yang berarti ada perbedaan rata-rata yang bermakna antara nyeri sebelum dan sesudah diberikan teknik relaksasi genggam jari pada pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. Dengan demikian, maka Ho di tolak atau ada pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadappenurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. B. Pembahasan 1. Keterbatasan Penelitian Penelitian yang dilakukan oleh peneliti masih memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, di antaranya sebagai berikut: a. Pada penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimen dengan desain pre-testpost-test, artinya pada penelitian ini tidak kekuatan hasil penelitiannya lemah dan kurang akurat. b. Pelaksanaan penelitian ini membutuhkan waktu yang cukup lama karena pada saat penelitian dilakukan pasien post bedah mayor tidak setiap hari ada sehingga harus menunggu ada jadwal operasi selanjutnya. c. Pelaksanaan teknik relaksasi genggam jari dilakukan hanya satu kali karena keterbatasan waktu penelitian, tetapi peneliti menyarankan responden untuk melakukan teknik relaksasi genggam jari diluar pengawasan peneliti yang kemudian ditanyakan kembali kepada responden. 2. Gambaran Intensitas Nyeri Respoden Sebelum Teknik Relaksasi Genggam Jari Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata intensitas nyeri pada pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 sebelum dilakukan relaksasi genggam jari sebesar 4,60(95% CI: 4,00-5,20). Intensitas nyeri di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka termasuk kategori nyeri sedang. Secara objektif pada saat penelitian pasien terlihat menyeringai, merintih tetapi masih bisa ditahan serta dapat menunjukkan lokasi nyeri dan mendeskripsikannya dan pasien dapat mengikuti perintah dengan baik. Nyeri Paired Differences Mean P value Std. Deviation 95% CI Lower Upper PretestPostest 4,60 3,55 1,273 1,317 4,00 2,93 5,20 4,17 0.000 Bahan paragraf awal pembahasan ke-3 Didapat dari akhir analisis hasil penelitian ke-1 dan Bahan kesimpulan ke 1
123 | RISET KEPERAWATAN merupakan suatu mekanisme proteksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang rusak dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri (Andarmoyo, 2013 dalam Sulung dan Rani, 2017). Menurut potter & perry usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri khususnya pada anak dan orang dewasa. Pada usia anak kesulitan untuk memahami nyeri dang beranggapan perawat dapat menyebabkan nyeri. Usia lebih muda mempunyai kesulitan untuk mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau perawat, sedangkan orang dewasa dapat mengekspresikan dan mengatakan secara langsung rasa nyeri yang dirasakannya. Berdasarkan instensitas nyeri yang masuk dalam katagori sedang, maka diperlukan tindakan keperawatan untuk mengatasi nyeri, antara lain dapat dilakukan dengan terapi non farmakologis salah satunya yaitu dengan relaksasi genggam jari. Relaksasi genggam jari merupakan sebuah teknik relaksasi yang sangat sederhana dan mudah dilakukan oleh siapapun yang berhubungan dengan jari tangan serta aliran energi di dalam tubuh (Liana, 2008 dalam Pinandita, dkk 2012). 3. Gambaran Intensitas Nyeri Responden Sesudah Teknik Relaksasi Genggam Jari Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata intensitas nyeri pada pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 setelah dilakukan relaksasi genggam jari sebesar 3,55 (95% CI 2,93 – 4,17). Setelah dilakukan intervensi relaksasi genggam jari intensitas nyeri mengalami penurunan, secara objektif ditandai dengan pasien tidak merintih dan menyeringai serta pasien merasa lebih nyaman dan tenang. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Potter & Perry (2005) dalam Sulung & Rani (2017) menyatakan bahwa teknik relaksasi genggam jari dapat mengontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri, stress fisik dan emosi pada nyeri. Relaksasi juga dapat menurunkan kadar hormone stress cortisol, menurunkansumber-sumber depresi sehingga nyeri dapat terkontrol dan fungsi tubuh semakin membaik. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Pinandita, Purwanti, dan Utoyo (2012) tentang pengaruh teknik genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa responden yang melakukan relaksasi genggam jari mengalami penurunan intensitas nyeri yang signifikan. Menurut Hill (2011) dalam Ramadina, Utami, Jumaini (2014) bahwa dengan menggenggam jari dipercaya dapat membuka aliran energy yang terkunci yang disebut safety energy locks sehingga aliran energy menjadi lancar. Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Karokaro M (2014) yang meneliti tentang pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi di RSUD Deli Semarang Lubuk Pakam, didapatkan hasil bahwa ada pengaruh relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi. Didapatkan rata-rata intensitas nyeri 6,25 sebelum perlakuan kemudian menurun menjadi 3,33 sesudah perlakuan. Berdasarkan perbedaan/penurunan instensitas nyeri dibanding intensitas sebelum tindakan keperawatanuntuk mengatasi nyeri dengan terapi non farmakologis metode relaksasi genggam jari, makarelaksasi genggam jari yang merupakan gabungan antara teknik relaksasi dan suatu teknik akupresur kemungkinan membantu mengurangi rasa nyeri dengan merileksasikan tubuh dan pikiran. Didapat dari akhir analisis hasil penelitian ke-1 dan Bahan kesimpulan ke 1 Didapat dari akhir analisis hasil penelitian ke-2 dan Bahan kesimpulan ke 2 Bahan saran ke 1 Bahan saran ke 2
124 | RISET KEPERAWATAN 4. Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien Post Operasi Bedah Mayor Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan adanya pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi relaksasi genggam jari ini mempunyai pengaruh atau efek positif. Hal ini sesuai teori yang mengungkapkan bahwa dengan menggenggam jari akan menghasilkan impuls yang dikirim melalui serabut saraf aferen non nosiseptor. Serabut saraf non nosiseptor akan mengakibatkan tertutupnya pintu gerbang di thalamus sehingga stimulus yang menuju korteks serebri terhambat sehingga intensitas nyeri dapat berkurang. Penelitian ini juga didukung oleh asumsi yang dikemukakan oleh Sulung & Rani (2017) yang menyatakan bahwa teknik relaksasi genggam jari memberikan suatu tindakan untuk membebaskan mental dan fisik dari ketegangan dan stress sehingga dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri. Menggenggam jari sambil menarik nafas dalam dapat mengurangi dan menyembuhkan ketegangan fisik dan emosi, karena genggam jari akan menghangatkan titik-titik keluar dan masuknya energy pada meridian yang terletak pada meridian yang berada pada jari tangan kita ( Sulung & Rani, 2017). Teknik menggenggam jari merupakan bagian dari teknik Jin Shin Jyutsu. Jin Shin Jyutsu adalah akupresur Jepang. Bentuk seni yang menggunakan sentuhan sederhana tangan dan pernafasan untuk menyeimbangkan energi di dalam tubuh. Tangan (jari dan telapak tangan) adalah alat bantuan sederhana dan ampuh untuk menyelaraskan dan membawa tubuh menjadi seimbang. Setiap jari tangan berhubungan dengan sikap sehari-hari. Ibu jari berhubungan dengan perasaan khawatir, jari telunjuk berhubungan dengan ketakutan, jari tengah berhubungan dengan kemarahan, jari manis berhubungan dengan kesedihan, dan jari kelingking berhubungan dengan rendah diri dan kecil hati (Hill, 2011 dalam Ramadina dkk, 2017). Perasaan yang tidak seimbang, seperti khawatir, takut, marah, kecemasan dan kesedihan dapat menghambat aliran energy yang mengakibatkan rasa nyeri. Relaksasi genggam jari digunakan untuk memindahkan energi yang terhambat menjadi lancar (Hill, 2011). Perlakuan relaksasi genggam jari akan menghasilkan impuls yang dikirim melalui serabut saraf aferen non nosiseptor. Serabut saraf non nosiseptor mengakibatkan “pintu gerbang” tertutup sehingga stimulus nyeri terhambat dan berkurang (Pinandita dkk, 2011 dalam Ramadina, 2017). Hal penelitian ini sesuai dengan penelitian Sofiah dkk (2014) terhadap 32 orang menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan teknik relaksasi genggam jari terhadap pasien post operasi Sectio Caesarea di RSUD Prof. Murgono Soekardjo Purwokerto. Penelitian ini juga didukung oleh Yuliastuti C (2015) dalam Sulung & Rani (2017) yang meneliti tentang Pengaruh Relaksasi Genggam Jari Terhadap Pengurangan Intensitas Nyeri Pada Penderita Post Appendiktomi yang mengalami nyeri berat dan setelah menggenggam jari selama 30-50 menit sebagian besar mengalami penurunan nyeri dengan nilai p value 0,001. Penelitian ini juga diperkuat oleh Andika & Mustafa (2016) dalam Sulung & Rani (2017) yang meneliti tentang Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien Post Operasi Appendiktomi menyatakan bahwa teknik relaksasi genggam jari membantu mengurangi nyeri dan menghasilkan relaksasi dan melancarkan sirkulasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka terapi non farmakologis metode relaksasi genggam jari yang merupakan gabungan antara teknik relaksasi dan suatu teknik akupresur dapat dijadikan alternatif untuk membantu mengurangi rasa nyeri, khususnya pasien post operasi bedah mayor maupun dalam kehidupan sehari-hari untuk menurunkan atau mengurangi intensitas nyeri. Didapat dari akhir analisis hasil penelitian ke-3 dan Bahan kesimpulan ke 3 Bahan saran ke 3
125 | RISET KEPERAWATAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Rata-rata intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 20... sebelum diberikan teknikrelaksasi genggam jari adalah 4,60 (95% CI: 4,00-5,20). 2. Rata-rata intensitas nyeri pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018 sesudah diberikan teknikrelaksasi genggam jari adalah 3,55 (95% CI 2,93 – 4,17). 3. Ada perbedaan yang signifikan intensitas nyeri sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi genggam jari pada pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018./Ada pengaruh teknik relaksasi genggam jari terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi bedah mayor di Ruang Nusa Indah RSUD Majalengka Tahun 2018. B. Saran 1. Bagi Rumah Sakit Rumah sakit dapat membuat kebijakan dengan menetapkan tindakan relaksasi genggam jari sebagai salah satu intervensi keperawatan (terapi non farmakologis) yang dapat dipakai untuk mengurangi rasa nyeri untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien khususnya post operasi. 2. Bagi Tenaga Kesehatan Bagitenaga kesehatan, khsususnya perawat dapat menerapkan teknik relaksasi genggam jari sebagai salah satu jenis intervensi keperawatan yang dapat diterapkan pada pasien post operasi yang akan membantu untuk mengurangi atau menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan pasien di samping terapi farmakologi. 3. Bagi Pasien Post Bedah Mayor Pasien dapat mengaplikasikan teknik relaksasi genggam jari sebagai alternative untuk mengurangi rasa nyeri post operasi ataupun dalam kehidupan sehari-hari 4. Bagi Peneliti Lain Penelitian ini bisa dijadikan acuan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian tentang relaksasi genggam jari yang hasilnya akan lebih baik lagi. Buku Rujukan: Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. PS-KM. 1995. Panduan Penulisan Skripsi, FKM-Universitas Indonesai, Depok. PS-IKM. 2005. Panduan Tesis Program Magister, FKM-Universitas Indonesai, Depok. Kesimpulan didapat dari paragraf awal pada setiap pembahasan, didusun sesuai tujuan khusus Saran didapat dari paragraf akhir pada setiap pembahasan disusun sesuai tujuan khusus penelitian atau dikelompokan menurut sasarannya: RS, Nakes, Pasien, Peneliti lain.
126 | RISET KEPERAWATAN BAB 15 PENULISAN LAPORAN PENELITIAN A. Sistematika Penulisan Laporan Penelitian Laporan penelitian secara garis besar terdiri dari 3 bagian, yaitu: 1. Bagian Muka/Pendahuluan, terdiri dari: sampul (cover), halaman judul, abstrak, halaman judul dengan spesifikasi (Skripsi/Tesis/Laporan ini disusun untuk …..), lembar persetujuan, lembar pengesahan (penguji), riwayat hidup, ucapan terima kasih/ persembahan/motto, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar bagan/grafik, daftar istilah, daftar lampiran dan lain-lain. 2. Bagian Utama, merupakan bagian inti penelitian yang dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Secara isi terdiri dari: latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, uraian kepustakaan yang relevan dengan topik penelitian, pemikiran dasar penelitian (kerangka kosep penelitian) dan bagaimana penelitian dilakukan (metodologi penelitian), hasil penelitian dan pembahasan, serta kesimpulan dan saran. 3. Bagian Belakang/Akhir, terdiri dari: daftar pustaka/bacaan, indeks, dan lampiran (appendix), serta ralat bila ada (dijilid). Ketiga bagian tersebut dapat disusun/disajikan dalam bentuk yang berbeda. Namun demikian, sistematika penyajiannya dapat disajikan seperti tersaji dalam daftar isi laporan penelitian, yakni sebagai berikut: Contoh Out Line Laporan Penelitian (1): DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Abstrak Halaman Judul dengan Spesifikasi Halaman Persetujuan Riwayat Hidup Persembahan/Motto Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Grafik Daftar Lampiran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat
127 | RISET KEPERAWATAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 ….. 2.2 ….. 2.3 Kerangka Teori BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep 3.2 Definisi operasional 3.3 Hipotesis BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian 4.2 Populasi dan Sampel 4.3 Variabel Penelitian 4.4 Instrumen Penelitian 4.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.6 Prosedur Pengambilan/Pengumpulan Data 4.7 Analisis Data 4.8 Prosedur/Tahapan Penelitian BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian 5.2 Pembahasan BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 6.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Contoh Out Line Laporan Penelitian (2): DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul Abstrak Halaman Judul dengan Spesifikasi Halaman Persetujuan Riwayat Hidup Persembahan/Motto Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Grafik Daftar Lampiran
128 | RISET KEPERAWATAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan 1.4 Manfaat 1.5 Relevansi/Lingkup Penelitian 1.6 Definisi Konseptual dan Definisi Operasional 1.7 Kerangka Pemikiran 1.8 Hipotesis BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 …. 2.2 ….. 2.3 Kerangka Teori BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis/Desain Penelitian 3.2 Populasi dan Sampel 3.3 Variabel Penelitian 3.4 Instrumen Penelitian 3.5 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.6 Prosedur Pengambilan/Pengumpulan Data 3.7 Analisis Data 3.8 Prosedur/Tahapan Penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.2 Pembahasan BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN B. Penulisan Rujukan/Sumber Pustaka/Daftar Pustaka 1. Penulisan/Cara Membuat Kutipan a. Kutipan Langsung Merupakan pinjaman pendapat dari seorang ahli atau pengarang dengan mengambil secara lengkap data demi kata, kalimat demi kalimat dari sebuah teks asli. Kutipan langsung terdiri dari dua macam, yaitu kurang dari 5 baris dan kutipan langsung lima baris. 1) Kurang dari lima baris Kutipan diintegrasikan langsung dengan teks, diapit dengan tanda kutip, ditulis dengan jarak spasi yang sama, sesudah kutipan selesai diberi nomor urut
129 | RISET KEPERAWATAN penunjukkan (foot note) atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman tempat kutipan itu. Contoh: Mengingat proses keperawatan adalah salah satu alat bagi perawat untuk memecahkan masalah yang terjadi pada pasien, maka “di dalamnya terdapat unsur-unsur xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx” (Hidayat, 2002: 56) 2) lima baris Kutipan harus dipisahkan dari teks dengan jarak 2,5 spasi, jarak antara baris dengan baris kutipan adalah satu spasi, diapit atau bisa tidak diapit dengan tanda kutip, ditulis dengan jarak spasi yang sama, sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan (foot note) atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman tempat kutipan itu, seluruh kutipan dimasukkan menjorok ke dalam 5-7 ketuk, bila kutipan itu di mulai dengan alinea baru, maka baris pertama dari kutipan tersebut menjorok lagi 5-7 ketuk. Contoh: Setiana berpendapat tentang alat permainan edukatif sebagai berikut: “Alat permainan edukatif merupakan alat permainan yang dapat memberikan stimulasi secara optimal bagi perkembangan anak. Melalui alat permainan, anak akan selalu mengembangkan kemampuan fisik, bahasa, kognitif, dan adaptasi sosial. Selain itu, alat permainan edukatif harus memenuhi criteria aman, ukurannya sesuai dengan usia anak, modelnya jelas, menarik, sederhana, dan tidak mudah rusak ” (Setiana, 2002: 56) b. Kutipan Tidak Langsung Merupakan pinjaman pendapat dari seorang pengarang atau ahli berupa intisari dari pendapat secara tidak langsung. Cara membuat kutipan tidak langsung adalah: kutipan diintegrasikan langsung dengan teks, tidak diapit dengan tanda kutip, ditulis dengan jarak 2 spasi, sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukkan (foot note) atau dalam kurung di tempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit dan nomor halaman tempat kutipan itu. Contoh: Data-data yang diperoleh dari hasil pengkajian kemudian divalidasi melalui berbagai tahapan dalam proses keperawatan dengan xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Dokumentasi bagi setiap langkah proses keperawatan membutuhkan alasan rasional yang tepat dalam memecahkan masalah, maka membuat dokumentasi adalah sangat penting dalam proses keperawatan (Hidayat, 2002:57). Contoh lain: Hanya sebagian mencantumkan pernyataan dan seterusnya dianggap tidak penting dengan menambah tiga titik sebagai tanda dan seterusnya:
130 | RISET KEPERAWATAN Dokumentasi merupakan bagian tak terpisahkan dari proses keperawatan dan harus dibuat secara lengkap dalam rangka pemecahan masalah. Dokumentasi adalah sangat penting dalam proses keperawatan karena … (Hidayat, 2002:57). 2. Penulisan Rujukan Pada Bagian Inti Laporan penelitian a. Membuat Catatan Kaki (Foot Note), ibid., op cit., dan loc.cit. Cara ini digunakan untuk menunjukkan kepada pembaca sebagai sumber informasi yang dibuat untuk memenuhi kode etik dalam tulisan dan sebagai referensi silang. Caranya; penomoran catatan kaki ditulis dengan angka arab 1, 2, 3 dan seterusnya dalam bentuk superscript di akhir kalimat. Penomoran berurutan setiap halaman, bab atau seluruh tulisan dan penempatanannya dapat secara langsung pada bagian yang diberi keterangan dan ditentukan dengan teks pada bagian halaman atau pada akhir bab. Kemudian catatan kaki tersebut dipisahkan dengan uraian naskah pada halaman yang sama dengan jarak 3 spasi, dan ditulis dalam satu spasi dan dimulai beberapa ketukan dari kiri halaman. Nomor catatan kaki berikutnya dipisahkan dengan jarak 2 spasi, diketik menjorok ke dalam sejajar dengan baris baru dalam paragraf, dan baris berikutnya sejajar dengan baris dalam naskah, diberi nomor urut dalam setiap bab, diberi angka arab (1,2,3) dan diketik dalam bentuk superscript. Contoh: Dalam catatan perkembangan pasien dapat digunakan catatan medis yang berorientasi pada masalah dengan model SOAP (IER) yang mempunyai keuntungan mudah mencatat klien ke arah pemecahan masalah.1 1 Hidayat, Aziz Azimul, 2002, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatam, Jakarta, EGC, halaman 56. Selain itu, dalam penulisan catatan kaki dapat juga menggunakan dengan singkatan seperti ibid, op, dan loc.cit yang saat ini sudah tidak populer lagi, karena pembaca dianggap tidak dapat secara langsung mengetahui pustaka yang menjadi sumber acuan. Contoh: Pemakaian ibid (ibidem) merupakan kutipan diambil dari sumber yang sama tanpa diselingi sumber lain, seperti: 1 Hidayat, Aziz Azimul, 2002, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan, Jakarta, EGC, halaman 56. 2 Ibid, halaman 72. Pemakaian op. cit (opere citato), yakni kutipan dari sumber yang telah disebut sebelumnya pada halaman yang berbeda dan diselingi sumber atau catatan lain. 2 Hidayat, Aziz Azimul, 2002, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan, Jakarta, EGC, halaman 56.
131 | RISET KEPERAWATAN 3Nursalam, 2002, Proses dan Dokumentasi Konsep dan Praktik, Jakarta, EGC, halaman 77. 4 Hidayat, Aziz Azimul, op.cit, halaman 72. Pemakaian loc. cit (loco citato), ini digunakan pada sumber dan sama halaman akan tetapi diselingi kutipan lain. 1 Hidayat, Aziz Azimul, 2002, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan, Jakarta, EGC, halaman 56. 2Nursalam, 2002, Proses dan Dokumentasi Konsep dan Praktik, Jakarta, EGC, halaman 77. 3 Hidayat, Aziz Azimul, loc. cit. b. Membuat Catatan Samping (Side Note) 1) Jika sumber acuan dilakukan setelah kutipan, dengan menyebutkan nama akhir pengarang, tanda koma, tahun terbit, titik dua, nomor halaman di dalam kurung, dan akhirnya diberi titik. Contoh: Dokumentasi bagi setiap langkah proses keperawatan membutuhkan alasan rasional yang tepat dalam memecahkan masalah, maka membuat dokumentasi adalah sangat penting dalam proses keperawatan (Hidayat, 2002:57). 2) Jika sumber acuan dilakukan sebelum kutipan, caranya adalah dengan membuat kalimat pengantar dahulu, kemudian tulis nama akhir pengarang, tahun terbit, titik dua, nomor halaman di dalam kurung, kutipan berikutnya. Contoh: Sesuai pengertian dokumentasi (Hidayat, 2002:57). “bahwa dokumentasi bagi setiap langkah proses keperawatan membutuhkan alasan rasional yang tepat dalam memecahkan masalah, maka membuat dokumentasi adalah sangat penting dalam proses keperawatan.” 3) Jika sumber acuan berada di tengah kutipan, caranya adalah dengan membuat/menulis kutipan dahulu, kemudian tulis nama akhir pengarang, tahun terbit, titik dua, nomor halaman di dalam kurung, kutipan berikutnya. 4) Jika pengarang lebih dari 2 orang cukup menyebutkan pengarang pertama, setelah itu diberikan tambahan kata dkk atau et.al. 5) Jika sumbernya adalah kitab suci, caranya ditulis nama kitab suci, lalu surat, titik dua, dan ayatnya. 6) Jika sumbernya lebih dari 2, maka penulisannya sama dengan mencantumkan kedua sumber. 3. Penulisan/Cara Membuat Daftar Pustaka Daftar pustaka atau daftar bacaan merupakan keterangan tentang bacaan yang dijadikan sebagai bahan rujukan penulisan penelitian. Daftar pustaka berisi
132 | RISET KEPERAWATAN pustaka yang digunakan, baik dari buku teks, jurnal, artikel, atau kumpulan karangan, dan lain-lain. Ketentuan penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut: a. Daftar pustaka disusun secara alfabetis menurut abjad pengarang, nama belakang di balik dengan diberi tanda koma, dan tidak diberi nomor urut (nama keluarga atau nama akhir mendahului nama kecil atau insialnya) b. Jarak antara satu dengan baris berikutnya adalah satu spasi dan jarak antara satu sumber dengan sumber lainnya adalah dua spasi. Jika lebih dari satu baris, maka baris selanjutnya ditulis menggantung (7 ketukan). c. Urutan penulisannya adalah nama penulis tanpa gelar akademis, tahun terbit, judul buku, nama penerbit dan kota terbit. d. Pencantuman daftar pustaka hanya sumber acuan yang dikutif. e. Jika ada buku pustaka yang ditulis pengarang yang sama, hanya ditulis lengkap pada daftar pustaka pertama, dibawahnya cukup diberi garis ___________ sepanjang 7 ketukan sebagai pengganti penulisan nama pengarang. f. Jika rujukan berupa artikel dimuat di media masa, maka judul artikel ditulis tegak diapit tanda petik tanpa garis bawah. g. Jika yang dirujuk adalah berita dari koran atau majalah, maka urutan penulisannya adalah nama penulis, judul artikel dalam tanda kutif, nama majalah dicetak miring edisi tanggal bulan tahun. h. Jika yang dirujuk adalah situs internet, maka cara penulisanyya adalah nama pengarang, judul artikel, alamat situs keterangan tanggal, dan pukul berapa saat mengaksesnya. Contoh: Brockopp, Dorothy Young. & Hastings-Tolsma, Marie T. 1995. Dasar-dasar Riset Keperawatan, EGC, Jakarta. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. Setiana, Anang. 2007. ”Pentingnya Riset Keperawatan Bagi Perkembangan Profesi Perawat”; Pikiran Rakyat, Edisi 145, tanggal 3 September 2007. Cara/Teknis penulisan daftar pustaka menurut berbagai sistem/versi: a. Sistem Harvard 1) Urutan penulisan daftar pustaka: - Nama penulis/kelompok penulis (nama belakang diikuti nama depan) - Tahun penerbitan dicantumkan dalam tanda kurung - Judul buku/makalah (miring/digarisbawahi)
133 | RISET KEPERAWATAN - Judul majalah, volume, nomor, halaman - Untuk buku: nama penerbit - Kota terbit Contoh: Notoatmodjo, Soekidjo (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi revisi, Rineka Cipta, Jakarta. Tanustjo, IG & Djuwita, Ratna (2002). “Penerapan Prinsip Epidemiologi dalam Penelitian Status Gizi”, 15(2), 15-25 2) Bila penulis ditulis oleh 2 orang penulis, dengan penulis pertama yang sama, maka urutan ditentukan oleh abjad nama belakang penulis kedua. 3) Rujukan yang berasal dari penulis atau kelompok penulis yang sama, diurutkan menurut tahun penerbitan, dimulai dari tahun terakhir. Contoh: Notoatmodjo, Soekidjo (2004). Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Edisi revisi, Rineka Cipta, Jakarta. Notoatmodjo, Soekidjo (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi revisi, Rineka Cipta, Jakarta. b. Sistem Vancouver 1) Urutan penulisan daftar pustaka: - Nama penulis/kelompok penulis diikuti dengan singkatan nama depan dan tengah - Judul buku/artikel majalah - Untuk Majalah: judul majalah dituliskan menggunakan singkatan menurut Index Medicus, tahun terbit, volume, nomor dan halaman - Untuk buku: nomor edisi, (bila ada), kota terbit, nama penerbit, tahun terbit - Untuk kumpulan naskah bila sumber informasi merupakan karya ilmiah yang dimuat dalam suatu kumpulan karya, maka acuan menuliskan nama pengarang yang karyanya digunakan, diserta dengan kekerangan lengkap mengenai himpunan karya yang menjadi asal acuan tersebut: pengarang naskah, judul naskah dalam/dalam: nama editor, judul buku, kota terbit, penerbit, tahun terbit dan halaman Contoh: 1. Pratomo H., Pengantar Riset Kualitatif vs Kuantitatif, dalam: Jatipura, S. & Yopsyah (eds). Prosiding Lokakarya dan Pelatihan Metodologi Penelitian Kesehatan, 22/3-12/4 1991, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta: 1991, 54-61 2. Santoso DM., et al. Kegoatan Pos Obat Desa, dalam: Seminar Sehari Penetapan Risiko Tinggi Sebagai Suatu Strategi Pelayanan Kesehatan Prima KIA di Tanjung Sari, Jakarta: 1990 3. Djuwita, R., Penerapan Prinsip Epidemiologi dalam Penelitian Status Gizi Edisi Revisi, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.
134 | RISET KEPERAWATAN 2) Sistem ini menggunakan nomor dengan urutan pemunculan sesuai dalam naskah 3) Bila penulis sampai dengan 6 orang dituliskan semua, nila lebih dari itu diketik “et al” atau “dkk” setelah penulis kedua c. Sistem Chicago 1) Urutan penulisan a. Nama penulis atau kelompok penulis ditulis menurut abjad b. Judul buku/makalah/artikel c. Judul jurnal diketik italic atau digarisbawahi d. Buku : kota, penerbit, tahun terbit e. Jurnal : volume, nomor, bulan, tahun terbit, halaman artikel Contoh: Sutrisna, Bambang. Pengantar Metode Epidemiologi, Jakarta: Dian Rakyat, 1986. Wasisto, Broto. “Perkembangan Lafal Sumpah Dokter”. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol II, No. 9, Sept.2001: 313-316 2) Bila ada 2 atau 3 penulis, penulis pertama dimulai dengan nama akhir, penulis ke 2 dan 3 ditulis sesuai dengan susunan nama dalam halaman judul Contoh: Kleibaum, David G.; Lawrence L. Koppen & Keith E. Muller. Applied Regression Analysis and Other Multi Variable Methods. 2 nd Ed. Belmont, CA: Duxburg Press; 1988. 3) Bila penulis lebih dari 3 orang dituliskan “et al” atau “dkk” setelah penulis pertama Contoh: Bailey, R.A., et al. Chemistry of the Environment, New York: Academic Press, 1978. 4) Judul dituliskan sesuai dengan aslinya, setiap hurup pertama dari kata dituliskan dengan hurup besar kecuali kata sambung. Antara judul dan sub judul dipisahkan dengan titik dua (:). 5) Bila beberapa buku ditulis oleh penulis yang sama, nama penulis pada buku kedua dan seterusnya diganti dengan 10 garis terputus diikuti tanda titik. Susunan abjad ditentukan melalui judul buku/artikel Contoh: Sutrisna, Bambang. Pengantar Metode Epidemiologi, Jakarta: Dian Rakyat, 1986. ----------. Prinsip Epidemiologi, Jakarta: Dian Rakyat, 1986.
135 | RISET KEPERAWATAN d. Contoh Penulisan dari Internet Jurnal: Yoes, Catherin. “The Science Fiction Web Project: Adventures in teaching with Stoney Space”. Computer, writing, rhetoric and literature., (jurnal elektronik), diakses 1 Oktober 2007; http:/www.cwtl.utexas.Edu/ Buku: Twain, Mark. The Adventures of tom Sawyer, (buku elektronik), (Hartford): American Publishing, 1876. Canergie Melon University. Diakses 16 Mei 1998; http:/www.cs.cmec.Edu/web/PeopleRgs/Sawyer-table.html. C. Abstrak Penelitian Abstrak merupakan pencerminan isi karya tulis ilmiah, mencakup isi utama sebuah karya tulis ilmiah yang ditempatkan di bagian muka dengan harapan pembaca akan dengan mudah untuk memperolah informasi tentang isi keseluruhan tulisan sebelum membaca secara lengkap. Abstrak merupakan ringkasan atau ulasan singkat isi karya tulis, tanpa tambahan penafsiran, kritik maupun tambahan. Setiap karya tulis harus mempunyai abstrak yang membekali pembaca dengan inti tulisan yang bersangkutan, yang mencakup: masalah utama yang diteliti dan ruang lingkupnya, tujuan, metode yang digunakan, hasil yang diperoleh, dan kesimpulan utama serta saran yang diajukan. Cara penulisan abstrak sebagai berikut: 1. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan atau Inggris masing-masing tidak lebih dari 2 halaman (200-250 kata) dan ditulis satu spasi dengan menggunakan kata yang mudah dimengerti dan menarik. 2. Abstrak ditempatkan pada halaman setelah halaman judul 3. Pada sebelah kiri atas halaman disebutkan: Nama Program Studi Kekhususan (kalau ada) Nama Fakultas dan Universitas (Institusi Pendidikan) Nama/Jenis Karya Ilmiah (KTI, Skripsi) dan tanggal ujian/pengesahan (Masing-masing ditulis dalam hurup besar, kecuali nama KTI (Tesis/Skripsi) /tgl dan satu spasi) 4. Baris di bawahnya dimulai dengan menuliskan nama penulis dengan jarak 2 spasi dari tulisan di atasnya. 5. 2 spasi setelah itu dituliskan judul tesis/skripsi/karya tulis dengan hurup besar (baris dalam judul jaraknya 1 spasi) 6. Disusul 2 spasi di bawahnya dari judul: jumlah halaman (baik halaman bagian muka/angka romawi, maupun halaman bagian inti/angka arab), jumlah tabel, jumlah grafik, dan jumlah lampiran 7. Kata ABSTRAK ditulis di tengah (center) berjarak 2 spasi dari tulisan di atasnya 8. Teks pada abstrak diketik 1 spasi dengan jarak 1,5 spasi dari tulisan di atasnya 9. Pada akhir abstrak, 3 spasi dari akhir naskah dicantumkan kata kunci (key word) dan data acuan atau daftar pustaka yang digunakan dalam penulisan karya tulis/skripsi, berupa jumlah dan kisaran tahun acuan tersebut.
136 | RISET KEPERAWATAN Rujukan: Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta. _______. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Salemba Medika, Jakarta. Nursalam. 2003, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta. PS-KM. 1995. Panduan Penulisan Skripsi, FKM-Universitas Indonesai, Depok. PS-IKM. 2005. Panduan Tesis Program Magister, FKM-Universitas Indonesai, Depok. Tim KTI. 2004. Panduan Penulisan Karya Ilmiah (KTI) Akademi Keperawatan, Akper YPIB, Majalengka.
137 | RISET KEPERAWATAN Contoh Abstrak: PROGRAM STUDI KEPERAWATAN STIKes YPIB MAJALENGKA Skripsi., 3 September 2007 Ucok Baba HUBUNGAN INTENSITAS MOBILISASI DENGAN KEJADIAN DECUBITUS PADA PASIEN TIRAH BARING LAMA DI RSUD MAJALENGKA TAHUN 2007 xii + 70 halamam, 15 tabel, 3 gambar, 8 lampiran ABSTRAK Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. (masalah utama yang diteliti dan ruang lingkupnya) Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx (Tujuan penelitian: tujuan umum) Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx (Metode yang digunakan: jenis, desain penelitian dll) Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. (Hasil yang diperoleh: hasil penelitian/kesimpulan utama penelitian). Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. (Saran yang diajukan.) Kata Kunci : Decubitus Daftar Bacaan : 59 (1990-2006)
138 | RISET KEPERAWATAN PROFIL PENULIS : H. Anang Setiana, SKM., MKM Lahir di Majalengka, 15 Desember 1969. Putra H. Abdul Rosyid (Alm) dan Hj. Iyom Siti Maryam (Alm) ini tinggal di Perum BCA Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka. Suami dari Hj. Epi Epiyah, AMKG ini dikaruniai 2 orang anak. Yakni Alifia Fauziyyah Haifa (Mahasiswa FIKes Jurusan Farmasi UIN Jakarta) dan Muh. Farid Imaduddin (siswa SMPIT Pontren AlMultazam II Linggarjati Kuningan). Penulis merupakan alumni SDN Malongpong Desa Malongpong Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka (1977-1983), SMPN 1 Bukit Bungur Maja Kecamatan Maja Kab. Majalengka (1983-1986), Sekolah Perawat Kesehatan/SPK Depkes Bandung (1986-1989), Akademi Keperawatan Soetopo Surabaya/Program Keguruan (1994-1997), Akta Mengajar IKIP Surabaya (1997), S-I Kesmas Jurusan Epidemiologi FKM Universitas Indonesia (1999- 2001), dan S-2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Kesehatan Reproduksi FKM Universitas Indonesia (2004-2006). Riwayat pekerjaan penulis di antaranya sebagai Kepala Sub Seksi Pencegahan Penyakit Seksi P2P Dinkes Kab. Majalengka (1998-1999), Kepala Puskesmas Bantarujeg (2001-2004, Kepala Seksi Penelitian dan Pengembangan RSUD Majalengka (2008- 2012), Kepala Seksi Perencanaan, Evaluasi, dan Pelaporan RSUD Majalengka (2012- 2016), Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Kab. Majalengka (Mei-Desember 2016), Kepala UPTD Puskesmas Sindang (Jan-Des 2017) dan Kepala UPTD Puskesmas Kadipaten (Des 2017- Sekarang). Sejak tahun 1998, penulis juga berkiprah di bidang pendidikan. Di antaranya, mengajar di SPK YPIB Majalengka (1998-1999), Akper YPIB Majalengka (2003-Sekarang), Stikes YPIB Majalengka Prodi SI Keperawatan (Mulai Tahun 2007) , Stikes YPIB Majalengka Prodi DIII Kebidanan (Mulai Tahun 2007), Akbid Muhammadiyah Cirebon (2007), Stikes Mahardika Cirebon (2007), Prodi Kebidanan Poltek Tasikmalaya (2008), dan STIKes Cirebon (2009). Mata Kuliah yang diasuh/diampu di antaranya Kesehatan Reproduksi, Epidemiologi/Surveilans Epidemiologi, Biostatistik, Metodologi Penelitian (Riset Keperawatan, Riset Terapan Kebidanan), Karya Tulis Ilmiah (Teori dan Bimbingan KTI/Skripsi). Sedangkan pengalaman lain penulis di antaranya sebagai Pembimbing dan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Kebidanan STIKes YPIB Majalengka (Mulai Tahun 2007), Pembimbing dan Penguji Skripsi Prodi SI Keperawatan STIKes YPIB Majalengka (Mulai Tahun 2007), Penguji Lapangan Skripsi Prodi Sarjana Kesehatan Masyarakat Pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Penguji Lapangan Tesis Magister Administrasi Rumah Sakit PS-KARS Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dan Penguji Lapangan Tesis Magister Kesehatan Program Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Indonesia. Rina Nuraeni, S.Kep. Ners. M.Kes, lahir di Majalengka, 9 Juni 1979. Istri dari Franky Ahmad Nugraha, SKM dan ibu dari Asyifa Zaskiyah Frania dan Keyna Shakila Aqacia ini merupakan alumni SDN Malongpong tahun 1991, SMPN 1 Maja tahun 1994, SMUN 1 Majalengka tahun 1997, STTT Bandung tahun 1998, AKPER YPIB Majalengka tahun 2002, STIKes Cirebon Program Sarjana tahun 2006, STIKes Cirebon Prog. Profesi Ners tahun 2012, dan Program Pasca Sarjana URINDO Peminatan Kesehatan Reproduksi tahun 2015.
139 | RISET KEPERAWATAN Sedangkan Riwayat Pekerjaan penulis di antaranya : bekerja di AKPER YPIB Majalengka Sebagai Pembantu Direktur II Bid Adum dan Keuangan (Tahun 2003 – 2008), Sebagai Pembantu Ketua I Bidang Akademik di STIKes YPIB Majalengka (Tahun 2008 – 2013), Sebagai Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan, Kerja sama dan Alumni di AKPER YPIB Majalengka (2013-2017) dan sebagai dosen STIKes YPIB Majalengka sejak tahun 2017 hingga sekarang. Selain mengemban amanah sebagai dosen, penulis juga aktif sebagai Pengurus DPD PPNI Kab. Majalengka Periode 2008 – 2012, Pengurus DPD PPNI Kab. Majalengka Periode 2012 – 2017 dan Pengurus AIPVIKI Sub Regional Cirebon.
140 | RISET KEPERAWATAN