The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

magazine kolonian kota dalam ingatan kita

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by komeng steffy, 2023-05-20 13:24:09

magazine kolonian kota dalam ingatan kita

magazine kolonian kota dalam ingatan kita

Pertumbuhan kota adalah pertumbuhan kreativitas masyarakatnya dari segi yang terlihat hingga tak terlihat, kota sendiri menjelma sumber dari segala sumber yang dapatdicermatidandiberikanmakna olehsiapa sajayang tergerak untuk menyampaikan hal tersebut. Kota tetap menjadi barang yang seksi untuk dijadikan sumber imaji terutama dalam menulis atau pun pada proses pertumbuhan kesenian yang lain. Perkembangan karya sastra sendiritakdapatdilepaskandari gairah kota.Entah dari segimimesis, sosiologis,ataubahkandari segibahasa. Oleh karena itu, Kolonian berupaya merekam perkembangan kota dalam bentuk tulisan yang tersebar pada berbagai jenis tulisan. Dalam hal ini di tengah pesatnya kegiatan digitalisasi, Kolonian menyempatkan diri untuk memberikan ruang bagi peristiwa-peristiwa manusia kota dari rutinitas sehari-hari; nyanyiannyanyian dalam gang, kemacetan, remaja-remaja yang jatuh cinta, dan sebagainya.Kolonian pun tak dapat terpisah dari gelagat kota. Kami ada sebagai bentuk responsifterhadap angan-angan atau mimpi para penulis untuk mendapatkan posisi dan apresiasi akan apa yang mereka kerjakan. Setahun kami berdiri, ada berbagai tulisan masuk yang menawarkan karakternya masingmasing sebagai sebuah bentuk produk keprofesian. Sirkulasiyangmenarikketika jarakantaramediadanpara penulisnya sedikit leluasa dan ada dialog antara keduanya. Sebagai sebuah media, dialog dengan para penulis cukup penting dilakukan karena tak bisa dimungkiri keberlangsungan sebuah media ada andil besar dari para penulisnya. Menulis merupakan sebuah proses untuk mengenali diri sendiri dan jauhnya akan berorientasi pada nilai daan eksistensi diri kita sebaagai manusia.Menulisselainmestididasarikegemaran,juga juga mesti didukung oleh kepekaan terhadap hal-hal yang sederhana namun cukup bernilai. Ada tulisan yang memang ditujukan untuk siapa (spesifik), dan ada pula tulisan yang memang sengaja diliarkan ke dunia pembaca(tidakjelas).Kesadaranseperti itu dalam diri penulis sering kali luput karena pengemasan telah menyita perhatiannya dan personalitas yang kuat terkandung dalam tulisannya ia asumsikan akan diterima oleh pembaca. Apakah sebagai penulis atau orang yang gemar menulis diperlukan perhatian terhadap siapa pembaca dari karyayangdihasilkan? Sebuah Resep Menyantap Kekotaan Reza Yudhistira


Ketika kita dengan cermat mampu menjawab itu, akan ada perubahan baik dari kemasan, gaya bahasa, dan aspek lainnya dalam karya tulis yang dikerjakan. Karya-karya monumental yang lahir selalu dibarengi dengan dinamisnya kondisi kehidupan di masyarakat yang berkesinambungan dengan laju peradaban kota dan manusianya. Kota sebagai sebuah latartempat dan peristiwa kehidupan banyak memberikan ruang kreatif dalam kepala pelaku kesenian yang dengansedemikianrupadapatdiolah, dikembangkan, hingga dimanipulasi kedalamsuatubentuktertentu. Menulis adalah kerja observatif dari suatu gejala tertentu baik secara personal maupun umum. Memperhatikan laju perkembangan yang ditandai dengan padatnya penduduk, gedong-gedong yang makin mencakar langit, dan hal lainnya, merupakan penawaran majalah Kolonian edisi pertama ini sebagai upaya dalam menghargai sekaligus menyadari sudah sejauh mana kota dan kita hidup dengan setara. Memaknai tema Kota dalam Ingatan Kita ini apakah akan berkutat pada sudut pandang kita di hadapan kota atau kota di hadapan kita. Dengan mendasar pada pengantar yang membahas soal tema open submission karya tulis untuk majalah ini, kota di hadapan kita memiliki nilai yang kompleks. Membicarakan kota tentu tak melulu menyisipkan penggambarannya yang penuh dengan gedong-gedong, ketimpangan sosial, pengembaraan, ini dan itu, itu dan ini yang memang sudah terbangun di pikiran kita. Atau menyisipkan kisah romantika asmara menunggu kekasih di stasiun kereta atau bandara dan lainnya. Kedua sudut pandang itu dapat dinikmati dengan porsi yang berbeda. Dalam mengemas suatu tema tulisan adalah membicarakan sejauh mana penulis mampu memasukkan poin-poin yang sesuai dan kemudian dikemassecara subtil dan tepatsasaran.Kotamerupakan jaringan yang kompleks, peristiwa-peristiwa yang terjadi disana bertautan dengan banyak kepala, watak, dan bentuk sehingga dalamproses menilaikota akanada akumulasikesan, cinta,sertakritikterhadap kota yang kita tinggaliDengan demikian pada majalah ini kami susun sebuah kota dalam ingatan sebagai buah pikiran dari Kolonian terhadap peristiwa kota dan peristiwa manusia yang salingterkoneksidantakpernahberkesudahan. Bogor, 26 Maret 2023 Editor Kolonian


AdasebuahtempatdiBogoryangmasihmenjadi teka-teki sejak awal tahun 1900. Bahkan pada masa perang tahun 1940 keberadaannya masih terus dipertanyakan. Tempat yang mengundang banyak tanya itu kini dikenal sebagai kawasan Air Mancur Bogor. Kamu yang tinggal di Bogor pasti cukup akrab dengan kawasan tersebut. Lokasinya sejajar lurus dengan gerbang Istana Bogor, tepatnya di ujung Jalan Jenderal Sudirman. Masyarakat sekitar mengenal kawasaninisebagaisalahsatupusatkulineryang ada di Bogor sebab di sana kita dapat menemukan berbagai jenis makanan. Saat malam hari, tempat ini jadi semakin meriah karenajumlahpedagangterusbertambahdanitu dibarengi dengan banyaknya pembeli. Lampulampu jalan, billboard, dan megahnya Istana Bogor menjadi pelengkap untuk menikmati jajanan atau makanan yang telah dibeli. Selain menjadi pusat kuliner, di kawasan Air Mancur dang mengundang perhatian musuh. berdiri sebuah bangunan tepat di tengahtengah persimpangan Jalan Jenderal Sudirman. Mungkin sebagian besar warga Bogor tak pernah tahu bahwa taman kecil di tengah persimpangan itu pernah menjadi tanda tanya besar yang membuat dewan kota dan peneliti gagal mendapatkan jawaban dalampenyelidikannya. Invansi Jepang di Hindia Belanda pada awal tahun 1940-an telah membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda kelimpungan. Sebelum menyerah terhadap Jepang pada 8 Maret 1942, pemerintah Hindia Belanda berusahamengantisipasi seranganintensdari pihak Jepang. Salah satunya dengan melakukan upaya-upaya penyamaran di berbagaikotautama agar tidakmengunPilar Misterius Setelah Teka-Teki Dirobohkan Yenti Apriyanti


Di Bogor, salah satu bangunan yang berupaya disamarkan adalah pilar setinggi 24 meter yang disebut Wi e Paal di Buitenzorg yang oleh masyarakat lokal disebut Pal Putih atau Pilar Pabaton. Pilar megah tersebut berada tak jauh dari Istana Bogor yang merupakantempatGubernurJenderal Hindia Belanda tinggal. Keberadaan Pilar Putih itu beradatepatdilokasiTamanAirmancuryang kita kenal saat ini.Saat upaya penyamaran dilakukan, masyarakat mulai bertanya-tanya fungsi dari pilartinggi tersebut. Dalam salah satu terbitannya, Bataviaasche Nieuwsblad membahas monumen megah dengan jarum tajam dan gambar lambang Belandaitu.Darihasilpembahasan ter sebut semakin banyak pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat mengenai Pilar Putih. “Monumen itu untuk apa?” Bahkan jarum tajam yangterpasangpadanyapun tak diketahui fungsinya. Kebingungan tersebut a k h i r n y a m e m i c u diadakannya sebuah diskusi masyarakat di Buitenzorg dalam program Siapa dan Apa yang dimuat pada koran yang s a m a s e m i n g g u kemudian. Orangorang mengajukan bermacam-macam anekdot tentang pilar ter sebut. Tetapi intinya, tidak ada yang tahu sejarah pasti dan fungsi Pilar P u t i h . B a h k a n D e w a n K o t a Buitenzorg pun tak berhasil menyelidiki tanggal dan alasan didirikannya Wi e Paal di Buitenzorg. Teka-teki sedikit tersingkap pada 3 J anua ri 1 9 4 2 ke tika Bataviaasch Nieuwsblad menuliskan hasil penyelidikan Dinas Penera nganArsip Nasional HindiaBelanda yang mengungkapkan bahwa Pal Putih Buitenzorg dibangun tahun 1839 oleh Dominique Jacques de Eerens sebagaihadiahpernikahanuntukputrinya.EerensmerupakanGubernurJenderalyangmemerintahdari 1836hingga 1840.Iameninggalmendadakpada 30Mei 1840dandimakamkandikomplekpemakaman diKebunRayaBogortakjauhdarigerbangbelakangIstanaBogor. Perhiasan Kota dan Tamu Besar Jauh sebelum Bataviaasch Nieuwsblad membahas teka-teki Pal Putih di tahun 1940-an, sebetulnya pertanyaan yang sama sudah muncul sejak awal tahun 1900-an. Dalam buku Gids Voor Buitenzorg en Omstreken karya G. Kolff & Co yang terbit tahun 1905, menuliskan keheranan penulisnya, “Sungguh anehtakadaketeranganapapunpadatugutersebut.”


Meski demikian, Kolff m e n u l i s d a l a m bukunya bahwa Pal Putih yang dibangun Eerens difungsikan sebagai perhiasan kota untuk memanjakan mata bagi penghuni istana saat berada di galeri depan Istana Bogor. Namun beberapa pihak berpendapat tugu megah dibangun untuk menyambut kedatangan Pangeran Hendrik dari Belanda. Selain praduga tersebut, ada kemungkinan pilar tersebut merupakan p a t o k a n u n t u k menentukan waktu t e m puh k e nda r a a n berkuda yang banyak dipakaitahun1800-an.Pada berita yang dimuat De Locomotief pada 10 Maret 1890 dikabarkan ada seorang pembalap kuda yang akan bertaruh mengendarai kuda dari Harmoni ke Wi e Paal Buitenzorg selama empat Jam. Sebelum beroperasinya jalur kereta BataviaBuitenzorg pada 31 Januari 1873, Gubernur Jenderal Belanda pernah menempuh jalur Batavia-Buitenzorg yang keras, berbatu, dan menanjak tersebut kurang dari empat jam dengan kuda yang berlari kencang. Pada jalur tersebutterdapat36tiangdanWi ePaal Buitenzorg adalah tiang terakhir. Tiap sembilan tiang ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Teka-teki ini dibahas lagi oleh Harian K o m p a s p a d a 1 3 September 1967 dalam tulisan berjudul Paal Putih, Air mancur, dan Sekarang Apa? Kali ini sebuah bukti baru ditemukan. Dalam tulisannya,Kompasmengatakan Beberapa waktu lalu pengelolaan kawasan Air Mancur sempat dikritisi oleh masyarakat Bogor karenadijadikanlokasipemasanganpapaniklan yang terlalu mencolok. Seolah melanjutkan sejarah kawasan ini, dari masa ke masa sloganslogan dipasang silih berganti sesuai kepentingan di masanya.Di masa pendudukan Jepang,lambangBelandapadapilardicopotdan diganti dengan tulisan-tulisan kanji yang menyatakan telah tibanya Jepang di wilayah Bogor. Di masa kemerdekaan Indonesia, tulisan kanji diganti dengan slogan-slogan perjuangan seperti Hands off Indonesia! Down with Imperialism, Sekali Merdeka Tetap Merdeka, dan lain-lain. Selanjutnya ketika Belanda bersamasekutuberhasilmendudukiKotaBogor kembali, slogan kemerdekaan dihapus dan diganti menjadi Zeven December Divisie atau Divisi Tujuh Desember. Di tahun 1949 slogan Zeven December Divisie dihapus pemerintah Kota Praja Bogor. Lalu akhirnya 20 Mei 1958, pilar yang sempat mengundang teka-teki itu dirobohkanolehkaumprogresifrevolusioner yang menilainya sebagai simbol kolonial. Seiring robohnya pilar, hal itu berdampak pada hilangnya juga satu titik pembantu pemetaan tanah air. Setelah pilar rata dengantanah,terdengar selentingankabar akan dibangun sebuah tugu nasional yang megah. Sayang karena tak ada biaya, cita-cita itu tak terlaksana. Baru tahun 1962 atas perintah Presiden Soekarno dibangunlan sebuah air mancur untuk menyemarakkan pesta olahraga Gonta-ganti Slogan


Semula usul ini diterima berat hati oleh bagianpekerjaanumumKotaPrajaBogor, karena saat itu rakyat sedang menjerit kekurangan air. Namun lewat sidang Dewan Permusyawarahan Rakyat Daerah keluarlah surat keputusan tentang pembangunan air mancur tersebut. Perhiasan kota tersebut menghamburkan air sebanyak 5.000 meter kubik tiap bulan atau setara kebutuhan air untuk 2.500 orang saat itu. Di tahun 1966 Air Mancur itu pundihentikan operasinya oleh bagian Pekerjaan Umum Kota Praja Bogor. Selanjutnya, kawasan Air Mancur itu menjadi terbengkalai. Kemudian setiap sore asap mengepul dari tempat tersebut karena dijadikan tempat pembakaran sampah! Di kawasan bekas pilar berdiri, sempat dibangun taman dengan kolam. Lalu dipasang pula jam besar. Sayang, kolam dan jam ini kurang dirawat sehingga air kolam dibiarkan tidak mengalirdanjambesarnya tidakmenyala. Kolam dan jam itu kemudian diganti dengan Taman Air Mancur seperti yang bisa kita lihat saat ini. Lokasi yang dulu penuh teka-teki itu selesai direvitalisasi padaMei2015.Kinitamanituselalutampil rapi dengan air mancur pendek yang dibiarkan terus menyala. Beberapa orang sering tampak duduk-duduk di pinggir taman sambil menikmati jajanan dan bertukar cerita—sebuah impian, kegelisahan, dan harapan warga kota tentang sulitnya mencari kerja, nikmatnya jajanan baru, menariknya mencoba motor listrikditrotoar,danbanyakcerita lainnya. Peristiwa itu memperbanyak kisah panjangsebuahpilaryangpenuhteka-teki.


eberapa minggu terakhir, berita mengenai Amber Heard dan Jhonny Depp Bselalu jadi perbincangan di platform berita dan sosial media. Dengan beredarnya video persidangan Amber Heard dan Jhonny Depp membuat sidang perceraian dua pasangan ini selalu menjadi trending topic di media sosial. Ada yang memihak Amber Heard dan ada juga yang memihak Jhonny Depp. Dan tentu saja semua orang berhak berbeda pendapat tentang pemberitaan itu. Amber Heard dinyatakan bersalah atas kekerasan yang ia lakukan dan ia mengakuinya. Hal tersebut diperkuat melalui bukti rekaman suara yang dibeberkan di persidangan. Dari sini kita sadar bahwa perempuan pandai dalam menggunakan jurus playing victim. Meski Amber Heard sudah dinyatakan bersalah, sebagian netizen masih percaya bahwa Johnny Depp adalah pelaku, sedang Amber Heard adalah korbannya. Dengan terpecahnya dua kubu ini, apa yang bisa kita sadari? Ya, kasus ini sebenarnya Novi Anggraeni


Banyak orang menyebut Amber Heard sebagai psikopat narsis, seorang perempuan pendendam dengan masalah pengendalian amarah, dan masih banyak lagi. Ketika Amber Heard mengajukan tuduhan pelecehan verbal dan fisik terhadap Johnny Depp pada tahun 2016, tepat setelah mengajukan cerai, kebanyakan dari kita mempercayainya. Sama seperti kita mempercayai semua wanita yang menceritakan kisah serupa melalui tagar #MeToo. Memiliki kepercayaan bahwa selalu wanita yang menjadi korban adalah bukti budaya patriarki yang telah mengakar di lingkungan kita dengan anggapan bahwa wanita adalah sosok lemah, mudah ditindas, terlebih menjadi seorang istri yang harus menuruti perintah suami. Meskipun mas ih tabu, s e b e n a r n y a l a k i - l a k i j u g a seringkali mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. Karena ketabuan itu membuat kasus seperti Dikutip dari dw.com, setengah dari korban kekerasan dalam rumah tangga adalah laki-laki yang tidak memberi tahu siapa pun bahwa mereka adalah korban dan mereka juga dua setengah kali lebih kecil kemungkinannya untuk memberi tahu siapa pun daripada korban pe r empuan. Dan ini s emakin menegaskan kalau pria lebih enggan membicarakannya sejak awal, atau mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk membicarakannya. Seperti dilingkungan sekitar kita, masih banyak orang yang tidak percaya bila ada laki-laki yang berkata “Saya dipukuli oleh istri saya.” Bahkan hal itu sering menjadi ejekan oleh para laki-laki lainnya. Jenis kekerasan yang dialami para lelaki ini juga beragam. Ya n g p a li n g u m u m a d a l a h kekerasan ringan seperti ditampar, didorong, dimaki, dipukul, bahkan hingga dilempar barang-barang. Dengan banyaknya laki-laki yang ternyata juga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, mengapa banyak laki-laki yang tetap enggan melaporkan kekerasan yang diterimanya? Persoalan di atas terjadi karena kita masih hidup dalam masyarakat patriarki yang menjunjung tinggi mitos budaya pemerkosaan yang hanya berlaku untuk laki-laki karena laki-laki tidak bisa dilecehkan atau diperkosa dan perempuan tidak bisa menjadi pelaku. Karena laki-lakilah yang secara fisik lebih kuat. Karena lakilakilah yang lebih agresif. Karena ‘ p r i a s e j a t i ’ t i d a k b i s a diperkosa.Karena ‘pria sejati’ tidak mengeluh tentang perasaan m e r e k a , d a n j i k a m e r e k a mengalaminya, mereka tidak akan merasa ini adalah hal serius jika sampai mereka diintimidasi dan diejek, bahkan diserang secara fisik. Sebenarnya laki-laki pada dasarnya bukanlah hewan yang kejam, kasar, dan tanpa emosi. Dan wanita pada dasarnya bukanlah korban. Kemunculan tagar #AbuseHasNoGender ini adalah pencerahan bahwa jika wanita melecehkan laki-laki sama saja seperti laki-laki melecehkan wanita. Dari kasus peceraian Amber Heard dan Jhonny Deep ini menunjukkan bukti bahwa kekerasan tidak memiliki jenis kelamin. Kekerasan Tidak Memiliki Jenis Kelamin


Adegan Berdurasi Pendek Ingatan Berdurasi Panjang Tjak S. Parlan Beberapa tahun lalu, saya kerap merasa geli ketika mendengar istilah writer’s block—kondisi di mana seseorang (penulis) mengalami kebuntuan dalam menulis. Alasannya sangat sederhana. Pertama, saya merasa ia—writer’s block ini—tidak pantas disematkan kepada orang semacam saya. ‘Derajat’ saya masih rendah untuk mengidap penyakit yang paling dimusuhi oleh penulis ini. Ke dua, istilah ini terdengar begitu keren, tapi membunuh. Dan saya benci dengan sesuatu yang terdengar keren, tapi membunuh. Seorang penyair yang tinggal satu kota dengan saya, pernah berkelakar bahwa writer’s block hanya akan menghinggapi penulis yang kerap menulis di tempat-tempat tertentu. Waktu itu saya membayangkan sebuah tempat yang tidak terjangkau oleh saya yang berdompet ceking. “Kalau kita yang menulis di pojokan-pojokan sempit kos-kosan seperti ini, istilahnya bukan terserang writer’s block, tapi terserang kemiskinan!” ujar si penyair ketika itu. Tentu saja, ia mengujarkannya seraya tertawa, dan saya yakin tawa itu bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kami yang sedang terserang penyakit ‘malas’ dan miskin serta sedang tidak berdaya untuk sekadar menggali ide.


Belakangan—terutama beberapa minggu ini—saya mesti menelan kegelian saya sendiri. Bahkan, saya sudah sampai pada titik “merasa tidak bisa melakukan apa-apa,” terhadap sebuah aktivitas menulis. Setiap pagi, saya membuka halaman baru Microsoft Words, menyeduh kopi, duduk kembali menghadapi layar berwarna putih, lalu jemari saya berhenti di atas keyboard.Jangkrik betul! Sejangkrik-jangkriknya kebuntuan, saya tidak pernah mengalami kemandekan seperti ini. Apakah saya terserang writer’s block? Jangkrik betul! Betul-betul jangkrik! Itu belum seberapa tentunya. Bahkan, saya pernah memecahkan rekor dalam satu hari hanya bisa menghasilkan satu paragraf pendek untuk memulai sebuah cerita pendek. Itu belum berlanjut ke perihal gagasan. Rasanya seperti ada yang tersumbat dalam kepala saya dan saya butuh apa pun agar bisa membobol sumbatan itu. Beberapa hal standard saya lakukan. Ketika petang, saya mulai (kembali) sering nongkrong di pantai pelabuhan tua Ampenan. Menemani anak saya melihat kapal pengangkut minyak yang sedang mengantre mengirimkan muatannya ke terminal BBM Ampenan; sekali waktu duduk di sebuah kafe ‘harga ekonomis’ dan memesan kopi; bersepeda menyusuri bantaran sungai Jangkok; atau pergi ke sebuah toko buku tua sekadar untuk membelikan anak saya buku-buku gambar. Semuanya tidak berhasil. Dan saya benarbenar belum menemukan pembobol sumbatan itu! Lalu, kenapa tidak melakukan kebiasaan lama? Menonton film, misalnya. Saya sudah melakukannya. Tapi barangkali belum menemukan film yang tepat sampai saya kembali melirik ke salah satu film besutan Yasujiro Ozu, seorang sutradara J epang be rpenga ruh s e l a in Akir a Kurosawa, Kenji Mizoguchi dan sejumlah nama lainnya. Seturut pengetahuan saya, Ozu adalah seorang sutradara yang tetap istikamah di jalur realisme. Ia unggul dengan tema-tema klasik yang dihadirkan dalam potret keseharian masyarakat (Jepang) seperti: kesepian, pebenturan modernitas, masa tua, atau konflik antargenerasi dalam sebuah keluarga. Film yang saya pilih kali ini adalah Good Morning (1959), film yang sepertinya tidak banyak dibicarakan ketimbang film karya Yasujiro Ozu lainnya, semisal Tokyo Story (1953), atau Early Summer(1951). Keduanya kebetulan sudah pernah saya tonton. Sebagai sebuah gambaran sederhana, Good Morning memunculkan suatu masa ketika televisi masih menjadi barang cukup mewah di Jepang. Anak-anak yang lahir dari keluarga pas-pasan terpaksa harus menonton televisi di rumah tetangga, dan ini memengaruhi pola interaksi antara anak-orangtua, orangtuat e t angga dan s e t e rusnya . Se l epa s menonton Good Morning, saya mencoba mengingat-ingat sejumlah adegan singkat, menyalin beberapa percakapan pendek dan menuliskannya. Saya menyunting beberapa detail dalam peristiwa pendek tersebut—termasuk dialognya. Saya sengaja melakukannya untuk melatih diri saya sendiri dalam menciptakan atau menggambarkan ‘peristiwa’ sederhana dalam sebuah cerita. Sejauh ini lumayan berhasil. Upaya ini bisa membuat kran yang tersumbat dalam kepala saya mulai terbuka.


Membaca ulang hasil keisengan tersebut, membuat saya tersenyum sendiri dan mulai menggurutu: Sialan benar, ini cuma adegan berdurasi pendek, hanya sekitar 69 detik dan bisa menghasilkan 452 kata! Saya terus mengingat adegan berdurasi pendek tersebut. Tentu saja, ia akan tersimpan dalam ingatan saya yang berdurasi panjang. Atau setidaknya—biar kita sama-sama bisa mengingatnya—saya juga akan membagikannya untuk Anda dalam paragraf selanjutnya. Menunggu Kereta Menuju Ginza K e t i k a s e d a n g menunggu k e r e t a y a n g m e n u j u Ginza, Set suko Arita bertemu dengan guru Bahasa Inggris itu. Ia a d a l a h s e o r a n g tetangga yang baik dan tak pernah menolak k e t i k a S e t s u k o menye r ahkan be rka s - berkas dari tempatnya bekerja untuk diterjemahkan. Pria lajang itu pernah bekerja di sebuah perusahaan yang cukup mapan. Setelah perusahaan itu gulung tikar, pria itu harus bekerja serabutan. Ia merasa beruntung karena masih bisa mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak tetangga sembari menerima berbagai dokumen—berkas-berkas tertentu—dari Setsuko untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Jepang atau sebaliknya, ke dalam Bahasa Inggris. “Selamat pagi,” sapa guru Bahasa Inggris itu, ia sedikit membungkukan badan dan tersenyum ramah kepada Setsuko. Setsuko sedikit membungkukkan badan dan memamerkan gigi putihnya yang gingsul. Ia selalu terlihat lebih manis dengan senyuman yang khas seperti itu. “Selamat pagi,” balasnya kemudian. “Terima kasih untuk semalam. Oh, tumben ketemu disini. Anda mau ke mana? “Ginza.” Guru Bahasa Inggris itu kembali tersenyum. Kening Setsuko berkerut. Sesaat kemudian wajahnya kembali berbinar. “Oh. Berarti kita bisa berangkat bersama-sama,” ujarnya.


Guru Bahasa Inggris itu masih belum mengalihkan pandangannya dari kelompok-kelompok awan tipis itu. Ia seperti sedang sibuk mencari-cari sesuatu, semacam kalimat yang tepat untuk diucapkan di hari yang baik itu. Semalam ia telah berhasil membawa pulang kembali keponakan Setsuko, Minoru dan Isamu Hayashi yang kabur dari rumah. Kedua bocah laki-laki itu melakukan aksi mogok berbicara selama beberapa hari. Mereka menginginkan sebuah televisi agar bisa menonton pertandingan sumo atau baseball selepas pulang sekolah. Namun, keinginan itu tak kunjung dipenuhi oleh ayah mereka, Keitaro Haya shi. Ke it a ro pe rnah s ekil a s menyinggung hal itu ketika sedang menenggak sake bersama sejumlah k e n a l a n n y a d i s e b u a h k a f e . Menurutnya—sambil mengutip apa yang pernah dikatakan seseorang—televisi hanya bisa menciptakan seratus juta orang idiot baru. Namun, tentu saja Keitaro tidak tega; pada akhirnya ia juga m e m b e li s e b u a h t e l e v i s i u n t u k memenuhi keinginan kedua anaknya meski harus dengan cara mencicil. “Awanawan itu terlihat cantik,” ujar guru Bahasa Inggris itu. “Bentuknya seperti… Ya, mengingatkan saya pada sesuatu. “Ya, itu seperti… Seperti… mengingatkan saya pada sesuatu,” tanggap Setsuko. Kali ini suaranya terdengar malu-malu. Jeda kembali. Keduanya masih mengamati langit yang sedikit cerah. Kereta jurusan Ginza belum juga datang. “Ini hari yang menyenangkan,” ujar guru Bahasa Inggris itu kemudian. Setsuko menoleh sekilas ke arah guru Bahasa Inggris itu. “Ya, ini hari yang sangat cerah,” tanggapnya. Kali ini suaranya terdengar lebih tenang dan senyumnya terlihat lebih manis dari biasanya. Ampenan, 11 Mei 2022


ebelum kata-kata mampu kuucapkan atas segala judi, atas segala ketidakpastian. ada pohon bambu saling melintang ialah nasib taruhan ibu dan nenek Ibu mengingat kembali, di depan warungnya membentuk setengah lingkaran panjang wong samar-memedi memenuhi jalan pada senja, pukul delapan, atau menjelang dini hari orang-orang tidak berani melewati ada pasar sibuk tawar-menawar. warung rujak di pertigaan jalan Gunung Batur “Kami sedang berbagi, entah waktu, entah kehidupan” Kata Ibu Ibu dan Dagang Rujak Keranda


ibu tidak lagi bingung, membedakan garam, kuah pindang dan cabai kuah pindang dari rebusan daun salam yang dipetik di kebun merah, tanpa noda kotoran ulat bulu. sesloki cukup untuk ke sawah, jangan banyak mangga, kedongdong, bangkuang, timun tiang listrik ditancap, untuk menerangi kamar-kamar kos Kadang rumput laut hijau dan putih, parutan kelapa dan kuah pindang sementara merkuri merajuk kawanan tuna semenjak lampu merkuri angkuh menyala ia paham betul asal garam dari Kusamba cabai dari langganannya di pasar, Warung semakin ramai pengunjung rujak untuk camilan siang, juga bagus tidak ada boni dan buah bekul, pohonnya susah ditebak tumbuh di tanah-tanah hutan tak bertuan. Ibu langsung paham, di tepi pantai istri nelayan sedang menunggu kepulangan, ikan-ikan tidak berkabar, dari laut hanya angin asin rela mati di tangan tengkulak. Rujak pedas kulahap cepat pelan-pelan, waktu melumat sia-sia di mata ibu. Januari 2023 NUTRISA


tidak ada tari Jauk, Pendet atau Kebyar Duduk tapi tak apa, kadang tubuh berupa tumpukan memori mengenalinya, kamu hanya perlu bersabar “aaaaaaaaaah selesai, mari beli lagi!” kata mereka petugas mematikan mesin duduk menatap boneka beruang ukuran besar seperti kertas buram penuh coretan rumus sebelum jawaban ditemukan “Jika mulut beruang menganga, aku akan dilahapnya” derit percikan api, berhenti petugas tersenyum, jam kerja bertambah. “Tenang saja, sudah kusiapkan peluru, aku akan menyelamatkanmu” Sementara yang lain asik berjoget, meniru gerakan di layer Sepasang bocah memakai kacamata hitam ada konstruksi di tempat lama, pekerja berlalu Lalang Setelah permainan selesai, mereka kembali ke kampung sambil membawa oleh-oleh pie susu, Hari ini, saat puisi ini belum di alamatkan Tiara Dewata berpindah tempat, dekat Sanglah saat ujian matematika. membeli bunga untuk istrinya di rumah chitato sapi panggang dan hasil photo booth bersama. Januari 2023 Puputan Alun-Alun Apa yang diinginkan sejarah kepada kita? sepanjang usia pohon, selantang tumbuh belukar. Selasa pagi, seorang berpakaian hijau menyiram Senin malam, rumput-rumput kembali tumbuh. Rabu siang, satu keluarga sedang piknik di bawah rindang, membawa bekal nasi padang.


keris tertancap di kepala-kepala lampu-lampu menyala, kelap-kelip seperti pasar malam nyanyian pilu dan haru seorang anak kode-kode di luar kepala, sepasang burung Jalak, ditangkar dekat Pura Jagatnatha Sabtu dan Minggu sepanjang hari ada aku masuk gang, setiap tujunya ialah rumah. kisah berdarah perlawanan, Puputan pohon palsu, rumah semu, daun-daun tak pernah layu. jika tidak tertawa, mereka akan bersusah payah menerbangkan balon bintang menyentuh langit pedagang balon, pedagang lumpia, pedagang kincir Kamis sore, para remaja lari-lari kecil berkeliling ia mengisahkan: malam paling sunyi. Sampai semua riuh selesai jika mereka di selatan larilah ke utara, patung di tengah kolam mulai bercerita keluarga puri ditikam, peluru amis dari seberang benua tangis redam oleh dentum meriam air bah merah dari bungsu keturunanmu. Pada minggu berikutnya semua tercatat apakah perlu kita kumandangkan lagi dari tangan pengunjung. Jumat menjelang malam, petugas bersiaga matanya tajam menatap pedagang-pedagang liar berlarian hujan dari sulung matamu berebut biji-biji makan sehening-heningnya diam lontar-lontar semayam di ruang suci tanpa kasih dari sayang tubuhnya bersinar seperti kunang-kunang warna-warni menyentuh mimpi seekor ikan mas melihat anakku berputar seperti kincir Aku di sana, Januari 2023 tanpa ria dari riang


Senin Pagi di Bhineka Jaya langkah-langkah cepat meninggalkan jejak, bertumpuk pepat. - Jalan Gajah Mada Denpasar di teras depan, lantai coklat aku membeli kopi tanpa gula, tanpa biskuit Engkong lebih dulu, membuka gerai Biasanya, senin pagi


waktu orang Bali, direnggut detik-detik yang asing lonceng tanda makan siang di setiap penjuru arah angin. jika kita tidak memahami sisa musim-musim, lama tidak berkunjung. Kopi ini akan terasa pahit J anuari 2023 leluhurku menghaturkan sesaji memasang jam besi di perempatan ia sempat tersesat, menghitung lumut-lumut kering Katanya ia berasal dari masa Belanda siapa kamu, siapa turis itu dan siapa aku? setiap laju kemungkinan 3 karyawati datang kemudian, seekor kuda hitam milik provinsi Catatan-catatan tugas harus diselesaikan Pak Tut barista, menyapa kabar Hari sabtu datang saja, dekat pos polisi adakah sisa perjalanan untuk anaknya di kampung? sebab hari raya, tidak ada perayaan tapi tidak ada yang pernah usai, jika hidup di sini. berputar-keliling di wilayah heritage, kuda itu akan menarik lebih kencang, sambil memandang laut dan menenggak arak. Tidak ada yang tahu, siap mengantar tamu pariwisata di jalan ini, leluhur kuda itu mati ditabrak bemo roda tiga menanyakan gang-gang buntu di celah pertokoan bayarnya dengan donasi, jika lebih, boleh-boleh saja seorang muda bercelana cutbray berlagak film aksi sebelum jam makan siang kusir berbisik padanya, nanti malam kita akan berpesta meninju waktu berulang kali, hingga terkapar di trotoar kota sedang sibuk mengurus dirinya sendiri. ibu penjual gerabah datang dari Kedaton menjual garis tangannya di peken payuk. membawa buntalan bekal, bibirnya tipis kuning muda Kemudian ada turis duduk di sebelahku


Aku Dan Pasar Badung ia menghitung jumlah pesanan ia bekerja memilin langkah pada anak tangga berangkat menjemput hari-hari tertinggal jika mobil datang berjubel, Aku selalu datang, membeli tahu Lombok melihat ikan sapu-sapu melompat tidak ada yang lebih sangsi, seperti lelap seekor kumbang kepik Tapi, tukang suwun keranjang, masih bekerja seperti biasa membangunkan dirinya sedini mungkin seperti Bhatara Surya, seekor anjing Kintamani tidur di tengah aspal. bunga kecombrang dan laklak gula Bali selain menyeruput pagi di jembatan, menjelang tahun baru. suaminya juru parkir di ruas selatan menyiapkan kopi untuk suami peluitnya mampu menunda matahari tiba saat hanoman membangun jembatan bersama para kera. menguji kesabaran anak-anak pemancing. mencuri batas-batas aturan, menata dagangannya Sementara pedagang sayur tak berizin di batang kangkung, atau di bawah lipatan segar bunga kol mereka datang dari desa-desa ujung Bali membawa hasil kebun, ada jalan penuh embun kedua, beberapa tahun lalu saat aku tahu harga beras dan daging ayam, melonjak pertama saat SD, ketika aku suka menggambar api unggun di pegunungan Seingatku dua kali terbakar


2022, Pasar Badung megah menjulang ada lift, eskalator, berlantai putih bersih, petugas kebersihan taat menjaga wilayahnya jika ada pelanggaran, ia marah sebab hanya kita yang mampu menerka Lantai paling atas, masih sepi barangkali terlalu jauh dari tanah setelah hujan, setelah kemarau bahan makanan apa yang laku, dan busuk di keranjang paling bawah. Jangan terbakar lagi, kisah Hanoman Obong di layar kelir Januari 2023 jika ada atasan, ia lupa menjaga diri. kami tidak mampu mengulang saat upacara di Pura Melanting. Tiara Dewata Jalan Sudirman-Denpasar dari Singaraja, Jembrana dan Amlapura sekali putar sambil menghabiskan es krim Sebelum tahun 2023, Tiara Dewata ada di Jalan Sudirman-Denpasar di tikungan satu arah setelah ruko bunga seperti koboi bertopi, membawa tali tampar untuk penumpang saling tabrak, terbahak mawar putih di obral usai valentine Jika libur tiba Bus lancong mengangkut rombongan sekolah mereka senang menaiki kuda koin mengikat kuda liar dan berlari mengelilingi padang rumput. krisan-krisan kering, seekor lebah mencari madu. Bom-bom car kehabisan tiket, tempur-tempur, brak-brak tak mau ngalah, semua pejuang


Januari 2023. Apa yang tidak dari sebuah pertemuan? Tidak ada pengembara kali ini mereka berlompatan, satu ke satu lainnya jika aku jatuh cinta terhadap masa lalu, Lumbung-lumbung berjejer mengeram hasil panen, untuk kesejahteraan seperti cicak terbang, mengendap di pohon asem. aku duduk di bale bambu, menghitung bilah-bilah di makan rayap, seperti kikis kita terhadap jarak apa yang mampu menyelamatkan? Di Banjar Gerenceng, pagarnya terbuka gegas-gegaslah kian menuju pemberhentian Purnama sudah mati di silang jalan kita semestinya memungut remah nostalgia walau tidak baik-baik saja sebab asal kita masih samar di bale kulkul, kematian tiba di perapian. Bunga jepun layu di tangkai, enggan hanya supir angkutan umum, kehilangan arah tak ada penumpang, tak ada trayek tujuan. lesung bumbu, batu legam oleh kisah-kisah perjuangan barangkali tidak ada pangeran berkuda perlu untuk sekedar menenangkan meraba otot agar tetap terjaga, untuk kekalahan, atas darah siapa yang mengucur kali ini. pedagang tuak, akan menunggu orang lelah dari pasar lalu meminumnya di bale lumbung dekat banjar. Katanya: sembari menunggu ibu dari Alfamart. tempat Putri Cening Ayu menjaga rumah Penjudi tajen membawa si jago Pedagang gerabah mengisahkan, lahan tanah masih luas ia mampu membangun istana dalam semalam mengelus leher dan seluruh badan


Tandjung Sari sebelum kematian atau setelahnya. Sampai kapan air tenang pantai akan bertahan? Menuju pantai, pohon-pohon kelapa berjejer rapi pramuniaga ramah bertanya dari mana muasal keabadian merakit kelapa perahu, untuk pergi dari rumah ia mengintip dari celah-celah karang atau bermain dahan, berlomba menarik ke garis finish Dua Jepang memesan jus semangka melingkar, seperti tanpa nafas sesekali dikayuh, baterai habis sepulang bekerja ia titipkan kota patung penjaga berlumut, matanya putih semen baru Aku benar-benar lupa, kelapa muda lepas dari ujung untuk kartu pos atau bahan lukisan. gelap lebih eksotik daripada kemajuan apapun. penjaga pantai mengingat masa kecilnya bukankah laut susah diterjemahkan kakinya luntur hijau, tangannya mengucapkan selamat datang. di sini peradaban diabadikan tanpa pertimbangan sementara wisatawan domestik mencoba sepeda listrik Penjaga pantai masih berjaga sudah terang, tidak perlu penerangan desing hening melaju di pedestrian bule dari Jerman memotret dari kejauhan, tak sampai di ujung. tersusun jadi tembok-tembok lihatlah lebih jelas, ada hidup yang terekam Pasir desir, angin panjang Kami memesan Konig jadi pembatas ingatan, antara hari ini sampai tahun 1925 membuat pola untuk ketenangan kendati lewat puisi atau sketsa sekalipun. pada semarak lampu saling berlarian di kejauhan Tidak ada bintang jatuh di sini Januari 2023


bimbang, tentang kenangan-kenangan dan harapan-harapan. Di depan, sayangnya, dan percaya adalah satu-satunya cara, untuk mencintaimu dengan papa. Aku tak menemukan lagi lampu kuning, seperti rindu-rindu yang palsu. Aku menguburmu di ujung jalan yang buntu. Pada sebuah perempatan, aku masih mengerti bahwa lampu kuning adalah goncangan, tentang rasa sayang yang gamang, rasa iba yang dusta, segala rasa Bandung, 2023 yang kita aduk bersama dalam hiruk pikuk realita. Aku tetap mengerti bahwa pilihannya sesederhana kiri atau kanan, tapi kau tau aku selalu memilih arah yang salah. suaramu yang menyembuhkan. Aku masih mengerti, bahwa untuk tetap lurus Ini adalah kisah perjalanan cinta yang panjang, Di depan misalnya, Pada sebuah pertigaan, aku tetap mengerti bahwa lampu kuning adalah tantangan, tentang robeknya baju saat pecahnya pertengkaran dan Di depan misalnya, Aku mengerti, makin banyak pilihan makin banyak pula rambu yang hadir, Semoga kau mengerti. Lampu hijau rusak, dan lampu merah menyala-nyala. Di depan misalnya, Pada sebuah simpang lima, aku mengerti bahwa lampu kuning adalah jalan Lampu Kuning


Anakmu sudah sukses di ibukota kuberi tahu kau, ibu tak masalah jika kukerjakan dengan nada yang murung Sederhananya, Berapa jumlah Gedung yang sudah tinggi, maka makin tinggikanlah Amin, Tapi belum seberapa, belum sukses betul aku ternyata ibu Selain menghitung jumlah Gedung dengan murung, Pekerjaanku adalah menghitung gedung-gedung, Aku juga harus menghitung jumlah gelandang yang terlentang. Berapa jumlah Gedung yang belum melambung tinggi, maka tinggikanlah Jika aku menemukan gelandang yang tengkurap, yang kubisa hanya harap-harap cemas Sialnya, menghitung gelandang harus dilakukan dengan senang, ibu Tidak boleh dengan murung, hukumannya adalah sebuah kurungan. Bandung, 2023 Yang Makin Tinggi dan lain-lain


Malam memimjam hujan, Untuk memisahkan kerumunan pada sebuah pemakaman yang akhir-akhir ini ramainya bukan main. bersama dengan setengah gelas racun cap tikus. "Om, tau mana yang punyanya bapak saya?" kayu itu dia menodongkannya ke setiap orang berjubah putih, Sedangkan si ibu, bersama dengan setengah piring nasi aking, baik yang di atas atau yang di luar tanah sudah purna (atau cuman menyeka rupa). Bandung, Agustus 2021. Cangkul pacul tergeletak pada sisi kiri gundukan tanah, tanda bahwa perjuangan Seorang bocah umur 5 tahun, mondar-mandir membawa tangkai kayu, dengan Orang-orang berjubah putih hanya mengangkat telunjuknya, ke mana saja, menunggu si bocah pulang, sekenanya. Setengah Resah Siapa yang akan membasuh kakimu? Siapa yang akan mengusap mata khaki itu? Senyum akan tergantung begitu saja, Tapi tetap tak bisa datang, tak bisa pulang. Siapa yang akan mengecup keningmu? tak pernah benar-benar pulang Bandung, Desember 2021 Kita tak pernah benar-benar datang, Anakmu sudah besar, sudah lebar dadanya Menggelayuti lingkar lehermu yang mulai lalai, menopang masa lalu. Siapa Yang Akan?


Ke Kota Tempatmu Lahir Seperti tak ada masalah lain di hidup ini Kita kesiangan, Kita kesiangan, Seperti orang-orang yang sibuk menamai generasi Decit sepatu berbisik pada halaman di luar rumah Rasa malas kawin dengan jenuh Kita kesiangan, Menodong surat wajib militer. Serdadu di balik pintu Derap sepatu berbaris pada trotoar di seberang jalan Degup jantung berhenti, ngantuk dibawa ekspektasi Adu Lari Bandung, 2023 Sesudah kau datang dari kota tempat anjing-anjing itu lahir. kuburlah dirimu, agar Bandung, Oktober 2022. Sebelum pergi ke kota tempatmu lahir, mari kita pilah lukamu yang tentang bunga yang serampangan tumbuh di dinding kamarmu, atau lebih luas tentang lamunan-lamunan yang bergantungan bersama jemuran ibumu, sedangkan bapak masih mengipas asap sampah tanpa tahu malu, rasa sesakmu mekar disampingnya. dari dinding jalan-jalan kotamu. Pesanku kepadamu, matang, lalu selipkan pada saku dibalik jaketmu yang abu. Kau selalu cerita Sebelum pergi ke kota tempatmu besar, mari kita susun rencana-rencana pemakaman, lipat kertas dan masuk ke dalam dompet kulitmu. Kau selalu cerita cukup rasa takutmu, agar subur rasa sesakmu. rasa takutmu kuncup disampingnya. Kau tak berani, menuduh bunga itu mawar atau melati atau lily atau kamboja,


Aku yang sekarang, Fragmen-fragmen kecil yang menghilang, atau fermentasi dari momen yang usang. Aku mengemasi segala macam cemas masuk dalam ranselku, lalu menggemboknya. Perjalanan ini hanya perihal berpindah tembok, berpindah luka. Nasib rantauku akhirnya tiba di kota penuh bunga, penuh rasa, penuh warna. Adakah luka di kota ini? Yang ada hanya api, yang menjadi laut. Sesekali gincu mentereng dari wajah masyarakatnya yang semu. Aku menangkap dejavu di kota ini, dejavu itu bewarna abu-abu. Tuhan menyukai kota dengan warna abu-abu. Di kota seperti ini Tuhan sering parkir di setiap gapura, di setiap gardu. Di tempat di mana aku tumbuh, luka-luka zaman menubuh subur. Seperti tiap malam, kubangan-kubangan itu menjelma makam. Mengiringi mimpi setiap bocah tentang ngerinya berjalan di sisi kiri jalan. Dongeng-dongeng itu mendengung, nyaring di sepanjang lingkar kuping. berdiri dari asal-usul yang lalu-lalang, Aku mencoba membangun jembatan asal-usul, yang menyambungkan kota-kota yang pernah aku singgahi. Kota yang lahir dari kumpulan kaum, kota yang berdiri dari kumpulan angan. Jika kota baruku diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, Maka kota lamaku diciptakan ketika Tuhan masih gadis ranum. Aku yang Sekarang Madiun-Bandung, 2021.


menawarkan ciu Bekonang, pil koplo murah, ketika anak kos tetangga kami Di teras rumah kami adzan terdengar kencang sekali dan bercerita tentang pacarnya yang baru saja aborsi. tetangga datang membawa mesin-mesin yang menggusur pekerjaannya, internet dan kamera yang mengawasinya, robot di media sosial yang menghapus postingannya, serta elit global yang menyelundupkan virus. Teras rumah kami berlantai semen kasar berdinding papan kayu tua dan berlampu Phillips 20 wa , berserak guguran daun bambu Di teras rumah kami tetangga datang dan melintang kabel WiFi yang sudah mati. dan mengenalkan Mbah Maridjan, Ki Juru Taman, hantu Merapi, orang mati yang bangkit kembali, tuyul dan Nyi Roro Kidul. Di teras rumah kami juga Teras Rumah Kami


dan sepeda kuno di mana-mana dan nasi kucing di angkringan. dan musisi jalanan beraksi Dari Mojokerto, sepupuku menelepon. dan seorang melukis wajah di trotoar Dan kukatakan kepadanya, dan anak-anak muda diam-diam membuat mural atau grafiti dan turis-turis berjalan santai dan kopi joss tiga hari lalu di depan toko temanku seorang pengendara dibacok di Info Cegatan Jogja seorang pedagang dibacok dan di beranda Facebook seorang remaja dibacok begitu saja— atau orang-orang bersila di kaki lima menyantap hidangan aneka rasa Sudah lama ia ingin pergi ke Jogja dan kini bertanya apa yang ada di malam-malam Jogja. Ia katakana, ia membayangkan orang-orang duduk menuang air kedamaian sepanjang jalan dan becak-becak berlampu warna-warni melaju dan dokar berjalan Kita tak pernah benar-benar datang, Senyum akan tergantung begitu saja, Tapi tetap tak bisa datang, tak bisa pulang. Anakmu sudah besar, sudah lebar dadanya Siapa yang akan mengusap mata khaki itu? pada malam-malam Jogja yang sepi. tak pernah benar-benar pulang tanpa alasan Siapa yang akan membasuh kakimu? Menggelayuti lingkar lehermu yang mulai lalai, menopang masa lalu. Bandung, Desember 2021 Siapa yang akan? Siapa yang akan mengecup keningmu? Sepupuku Menelepon


etika kita bertengkar, Istriku Kd a n k a u b e r k e n d a r a menenangkan diri, aku segera berbaring di kursi teras mengenang amarah kita dan bertanya-tanya akankah gempa datang jika kulantangkan rusuh hatiku? Akankah Merapi bergolak kembali? Akankah harga kontrakan naik lagi? Akankah klitih semakin menjadijadi? Dan karena yakin semua itu bakal terjadi, Istriku segera kutelepon kau untuk meredakan gundah gulana, untuk mencegah segala hal buruk melanda Ketika Kita Bertengkar Pug dan French Bulldog 8 juta. selain Mongrel—si anjing kampung. Ia menyebut semua jenis anjing, Samoyed dan Ro weiler 10 juta, Ia memberitahuku jenis-jenis anjing mengajariku mencintai anjing. : Golden Retriever 15 juta, Husky 12 juta, Belgian Malinois 20 juta, Beagle 7 juta, Temanku pecinta anjing Pelajaran Mencintai Anjing


lantas menyeretnya dengan mengebut di jalanan, dengan kening berkerut atau keluhan tentang tenggat pekerjaan. Mereka makan sambil mengetik, Aku tak begitu menyukai orang-orang muda, Ibu. Mereka bangun ketika hari telah siap Dari Jogja, aku kirim matahari pagi untukmu, Ibu untuk jemuranmu yang tak pernah habis, untuk ayakan gabahmu yang rentan berjamur, untuk cabai dan sawimu yang dahaga cahaya. Di sini Ibu, matahari terbit karena orang-orang tua yang mengumandangkan adzan, yang senam ringan di halaman, yang l a ri-l a ri ke c il a t au mendorong stroller sepanjang gang, yang memberi makan ayam, yang menyapu guguran daun ketika mereka yang lebih muda masih terlelap. mereka minum sambil berjalan, mereka berdandan sambil menelepon. Mereka membuat hari lari tergesa. yang melembamkan waktu dengan saling menyapa, dengan berbicara hal-hal remeh, dengan bertamu dan minum kopi pelan-pelan, dengan duduk-duduk di teras rumah, dengan memancing atau main gaple di pos ronda. Aku bahagia berkumpul bersama orang-orang tua, Ibu, yang menyiapkan hari sekaligus melembamkannya agar kau bisa membereskan semua keperluanmu dan jatah usiamu tak kunjung berakhir. Aku menyukai orang-orang tua, Ibu Mengirim Matahari Temanku pecinta anjing Obat dan vaksin, campuran makanan dan sampo, parfum dan baju-baju lucu. yang cocok untuk Mongrel bukan seorang pecinta anjing sepertinya. menunjukkan padaku cara-cara merawat anjing. Temanku pecinta anjing tampak prihatin sewaktu kutunjukkan anjingku, seekor peranakan campuran yang tak jelas silsilahnya. mengajariku mencintai anjing dengan rajin menulis asing-aseng di medsosnya. mata yang setiap saat menatapku Temanku pecinta anjing dengan cara yang sama seperti tatapan semua orang tanpa peduli silsilah atau suku bangsaku. menolak menatap mata anjingku Dan ketika aku bertanya perawatan apa ia katakan hanya tukang jagal yang tahu, Temanku pecinta anjing seperti ia mencintai manusia yang pernah mencintaiku


Ketika berkemas untuk pindah dari Jogja ke Samarinda, aku menemukan sekotak alat cukur bertuliskan Swiss-Bel Hotel di dalam salah satu tas kami. Istriku tidak tampak terkejut sewaktu aku menunjukkan hal itu kepadanya. "Apa yang aneh?" Tanyanya. "kita tak pernah pergi berdua ke sana.” "Yang aneh adalah…" Kataku, pergi bersama seseorang yang lain, sembunyi-sembunyi. —salah satu dari kita itu— Namun sepertinya tidak dengan salah satu dari kita. Mungkin ia Dan itu sudah pasti bukan aku. Tak ada satu pun penyair di negeri ini yang cukup kaya untuk menginap di Swiss-Bel Hotel "Jika kau percaya manusia diciptakan dari segumpal lempung dan bukannya hasil evolusi kera, jika kau percaya matahari terbit atas kehendak Tuhan, jika kau percaya hantu-hantu menjaga Merapi dan Laut Kidul, kenapa kau tidak dapat percaya Tuhan meletakkan alat cukur itu di sana?" dan menolak aku sentuh. "Dengar," Kata istriku. "Dan menurutmu," Kataku, "alat cukur itu tiba-tiba saja ada di sana?" tanpa disponsori negara." Dan begitulah aku membayangkan Tuhan menginap di Swiss-Bel Hotel—barangkali bersama istriku. Maksudku, kenapa Tuhan tak pernah hadir Dan betapa kini semua menjadi masuk akal. Namun aku teringat bagaimana ia kerap menjauh "Tapi itu juga bukan aku," Kata istriku. di tempat-tempat kumuh, di mana orang-orang lapar menyeru-nyeru-Nya. Alat Cukur dalam Tas


Untuk sarapannya yang terakhir, aku merebus tiga buah hati ayam dan mencampurnya dengan secentong nasi. "Baik-baiklah di sana," Kataku, "apa pun yang terjadi, berbahagialah." Ion bersimpuh di lantai menatapku dengan lidah menjulur. "Berjanjilah." seperti dulu ibu memandangiku persis sebelum aku mengangkat tas bahkan ketika ibu menangis, lantas tidur hingga sore tiba. Dan hari terus berjalan Dan aku terus memandanginya dan menumpang bus menuju Jogja. Dan aku baik-baik saja. Ia makan lahap sekali Dan ia sepertinya memang baik-baik saja. Ia tak kuasa tak ikut serta sebab tak mampu hidup sendiri, tak sanggup mempertahankan anjingnya, dan dengan kata-katanya yang manis, ia berkata, "Tak apa, semua akan baikbaik saja." terus begerak, terus bederak. bahkan ketika ibu berulang berteriak jangan lupa menelepon. Aku tidak menelepon ibu hingga berbulan-bulan kemudian. Dan dunia, yang terlalu luas untuk memikirkan kesedihan kecil semacam ini seperti menyaksikan diriku sendiri. Seorang penyair mungkin bisa menulis larik-larik paling sedih atau mengancam menurunkan presiden dengan kata-katanya yang tajam. Namun ia tak mampu mencegah kemiskinan mendera keluarganya, melarang istrinya pindah kerja ke Samarinda demi hidup yang lebih layak. *** Dan kini aku menatap Ion *** Ia mungkin akan segera melupakanku. Melepas Ion


adalah menjadi penyair dan bukannya pelukis. dengan perut lapar, Kesalahanku, kesalahan terbesarku Maka aku hanya bisa mencintai dengan kata-kata, "Ion berhak hidup dengan lebih baik." Aku mencarikannya keluarga baru di rumah seorang pelukis. Dan istriku berkata, *** di atas mobil "Tak apa," Kata istriku, "Kau menangis untuk dirimu sendiri," Kata istriku, "Bukan untuk Ion." yang berkenan mengadopsi kami di sana. dengan tanpa posisi tawar. Sore itu berharap ada seekor anjing lain Maka kuperbaiki sedikit kesalahanku. "Ia akan punya halaman untuk berlari," Kata istriku. "Tapi aku menangis," Kataku. "Semua baik-baik saja." Aku menatapnya. "Selalu seperti itu," Kata istriku lagi. "Selalu saja kau menangis untuk dirimu sendiri Dan kami menatap Samarinda, sepulang mengantar Ion ke rumah barunya aku menangis. seakan segala sesuatu berpusar di sekitarmu. Tapi tak apa, semua akan baik-baik saja."


kawan penyairku yang pernah menulis puisi Ini adalah cerita tentang si cantik Amelia, tentang cinta yang sanggup menahan apa pun: segala macam kesepian, kemiskinan, dan seterusnya. Yang tahun lalu memutuskan becerai dari suaminya dan berkata kepadaku, "Lelaki payah yang tak pernah cukup memberi uang belanja memang pantas ditinggalkan." Dan puisi, barangkali, hanya area pemakaman yang kian lama kian berhantu. Dan ketika aku bertanya tentang cinta yang sanggup menahan apa pun, segala macam kesepian dan kemiskinan itu, ia berkata bahwa kata-kata sudah lama mati. Si Cantik Amelia


pada ancaman klithih, pada hantu-hantu Merapi, Kita, Istriku, pada akhirnya pergi juga. pada jin-jin cantik di Laut Kidul, apa pun selain menulis puisi dan saling sindir di media sosial. lembah dan bukit Samarinda, Mahakam dan dongeng pesut, kawan-kawan baru— dengan cara-cara seperti para penyair di Jawa melakukannya. Kita menyesuaikan diri dengan masalah-masalah baru, Dan kita ucapkan selamat tinggal pada UMR Jogja, Kita menemukan diri kita menangis Kita, Istriku, pada akhirnya pergi juga. pada anjing kita, pada kawan-kawan kita— seperti ketika kita mencari-cari kontrakan di Surabaya. mana yang lebih masuk akal: dan betapa semua terasa manis. Kecemasan-kecemasan baru, seperti dulu sewaktu kita menginjakkan kaki pertama kali di Jogja, Lantas pada akhirnya, kita menimbang-nimbang Dan kita mengucapkan permisi para penyair yang menulis banyak ratapan pada tambang batubara dan kebun sawit, para penyair yang tak pernah bisa melakukan terbit dan tenggelam setiap hari. Terus berulang, seperti matahari antara bunuh diri atau berpindah lagi. Pergi


Namun, pada hari terakhir aku di Jogja, Aku seharusnya menulis puisi paling sedih yang aku bisa tulis pada hari terakhirku di Jogja. Puisi penuh air mata, sentimentalisme, nama-nama tempat wisata, angkringan atau kopi joss, dan hal-hal semacam itu. Dan setelah itu bertanya kepadanya Orang-orang datang dan pergi, kata istriku, dan semua hanya bayang sekilas. Dan mungkin tak penting lagi kita kembali atau tidak. kapan kami akan kembali ke sini Sebab ketika aku meninggalkan Mojokerto dulu sekali dan kembali beberapa waktu kemudian, aku kehilangan Hardjono WS, Fahrudin Nasrulloh, Hadi Sucipto, dan sederet nama yang membangun Mojokerto dalam diriku. sebelum pesawat membawaku menyeberangi laut ke tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, aku justru bercinta habis-habisan dengan istriku. Kita yang datang dan pergi, kataku, dan kitalah yang hanya bayang sekilas. dan ketika hari itu tiba akankah masih ada Andy Eswe, Indrian Koto, Shohifur Ridho'i, Faiz Ahzoul, dan sejumlah nama yang memberi kita hati nyaman Jogja. Hari Terakhir di Jogja


Mengenal perubahan-perubahan yang terjadi di rumah kita sendiri merupakan suatu langkah kecil untuk memahami sejarah kehidupan dari daerah tempat kita tinggal. Perubahan yang begitu cepat dari kota tempat kita tumbuh seringkali membuat kita kehilangan banyak hal indah. Tahu-tahu kita melihat dunia di sekitar menjadi semakin kacau, seperti pagar depan yang dipenuhi jemuran.Amos Rapoport, dosen arsitektur dari University College London yang juga mengajar dan meneliti di Melbourne University menulis dalam bukunya berjudul House Form and Culture bahwa rumah memiliki hubungan yang jelas dengan pola kehidupan. Rumah menghubungkan sistem ruangruangnya, pemukiman, dan lanskap di sekitarnya dengan cara hidup. Rumah merangkum kompleksitas manusia dan sejarahnya. Rumah, Sepi, dan Kekacauan yang Menyelinap Yenti Aprianti Kubudayaan


Click to View FlipBook Version