Rumah merupakan ekspresi dari perubahan nilai, citra, persepsi, dan cara hidup. Bagaimana cara para penghuninya berpikir, bertindak, dan menghayati kehidupan terlihat pada setiap elemen dan ruang-ruangnya. Saya mencoba memahami hubungan antara rumah dan budaya yang dinamis di sekitarnya dengan mengupas rumah saya sendiri. Dalam tradisi keluarga kami, rumah orangtua akan diwariskan pada anak bungsu. Oleh sebab itu, meski Bapak-Ibu memiliki rumah sendiri, sebagai anak bungsu, Ibu harus tetap tinggal di rumah KakekNenek. Perubahan budaya dari generasi lama ke generasi baru memengaruhi keadaan rumah. Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor cepat sekali berubah. Kompleks perumahan, toko, kantor, sekolah, pabrik, jalan, bahkan terminal dibangun di lahan-lahan yang dulu merupakan persawahan luas. Desa-desa makin padat oleh pendatang. Kehidupan di Kecamatan Dramaga seperti berlari tergopoh-gopoh. Tahun 1995 saya kuliah di luar kota lalu bekerja di berbagai kota. Setelah sepuluh tahun meninggalkannya, saya hampir tak mengenali lagi kampung halaman saya itu. Kehidupan di sana tidak lagi berciri daerah pertanian dengan lahan-lahan luas yang subur untuk menanam padi, kacang-kacangan, buncis, mentimun, bengkuang, singkong, ubi, dan lainnya. Dulu mudah sekali menemukan pohon buah seperti huni, lobi-lobi, kecapi, kerendang, dan kupa di kebun-kebun. Ah, buahbuah itu kini sudah langka. Di pasar pun sulit dicari. Masyarakat berciri swadaya dengan keahlian vernacular sudah semakin sulit ditemukan. Di masa lalu untuk membuat langgar atau musala, warga berkumpul dan membangun secara bergotong royong. Material bangunan bersumber dari lingkungan sekitar seperti bambu untuk dinding, kayu untuk tiang, daun kelapa untuk atap. Pertengahan tahun 1980-an, perubahan mulai terasa. Untuk memperbaiki masjid, petugas rukun tetangga akan menagih sumbangan uang pada setiap rumah atau memasang tong di tengah jalan dan menugaskan anak-anak untuk ‘menjaring’ uang sumbangan dari kendaraan yang lewat dengan kalimat pengantar yang amat khas. “Mohon diperlambat, Pak, laju kendaraannya. Barangkali Bapak atau penumpang Bapak ingin memberikan amal jariyahnya guna pembangunan masjid kami.” Pada masyarakat tradisional, membangun rumah dan bangunan publik dilakukan secara swadaya. Sementara pada masyarakat urban industrial dengan konsumerismenya yang terus berkembang, keterampilan membangun rumah adalah modal jasa yang bisa dijual. Pembangunan fasilitas publik diserahkan pada tukang bangunan dengan biaya yang ditanggung warga. Hal ini terjadi karena makin berkembangnya sisi ekonomi dalam pembangunan rumah sekaligus makin sedikitnya waktu senggang yang dimiliki anggota masyarakat. di tahun 1950 hingga 1970-an kehidupan pertanian Dramaga masih sangat kental. Kakek dan Nenek juga sering mendapatkan kiriman sayur dari tetangga lain yang sedang panen. Pada masyarakat petani, hubungan antara manusia begitu erat. Rumah dibangun dengan ruangruang yang memungkinkan mereka berkumpul dengan tetangganya. Rumah-rumah petani di sana sebagian besar terbuat dari tembok dengan halaman luas. Saat Ibu kecil, halaman itu digunakan sebagai lahan penjemuran padi. Bakul Berseri di Musim Panen.
Di pinggirnya terdapat beberapa pohon buah bercabang rendah. Di cabang-cabang pohon itulah Ibu biasa membaca buku atau belajar. Tempat jemur padi lalu berubah jadi jalan aspal yang dilalui angkutan umum. Wajah agraris rumah tersebut masih tampak di awal tahun 1980-an. Saya masih menyaksikan Kakek dan beberapa petani di desanya masih memiliki rumah dengan teras yang luas. Setiap sore, sambil menghisap tembakau yang dibungkus daun kawung kering berwarna cokelat muda, Kakek asik mengobrol dengan tetangga. Biasanya mereka membicarakan soal perkembangan pertanian, hama, pupuk, keluarga, atau aktivitas di masjid desa. Teras luas itu merupakan ruang sosialisasi. Menurut Rapoport, dalam membangun rumah, orang akan mengupayakan beberapa kebutuhannya terakomodir. Salah satunya kebutuhan bersosialisasi (1969:61). Kakek-Nenek rutin menjalankan ritual hadiah puji. Hadiah puji merupakan ekspresi rasa syukur karena tetap diberi rezeki dari bertani. Rasa syukur dipersembahkan pada Tuhan dan kesejahteraan yang didapat oleh manusia dihadiahkan pada leluhur yang sudah meninggal karena dianggap berjasa dalam memberikan keterampilan bertahan hidup melalui pertanian. Dengan mengekspresikan rasa syukur, kesadaran untuk terus berhubungan baik dengan alam akan terjaga, alam akan tetap subur, dan manusia akan tetap sejahetra. Ritual ini memperlihatkan keharmonisan manusia dan alamnya. For primitive man and peasant people, the relation of man with nature, and hence with landscape and site, is personal. The primary world view is harmony with nature (Rapoport, 1969: hal.75). Hadiah puji dilaksanakan setiap Kamis malam. Nenek mengisi cangkir-cangkir kecil dengan tujuh macam rujak buah sejak sore. Saya sering membantu membuatkannya. Buah yang selalu ada antara lain: pepaya, nanas, selasih, honje, dan pisang batu. Buah lain bisa apa saja sesuai dengan musim buah saat itu. Biasanya jambu biji, mangga, salak, sawo, jeruk, dan lainnya. Buah-buah dipotong kecil, lalu dimasukkan dalam cangkir berisi air gula. Nenek juga menyediakan kopi pahit dan manis, sesendok bubur merah dan putih, tujuh macam camilan, tujuh macam Menyantap “Makanan Bekas Arwah”
bunga, serta dupa dengan kemenyan bakar. Keperluan sesajian itu mudah didapat di pasar tradisional dekat rumah. Tahun 1980-an, pedagang keperluan sesaji atau rurujakeun masih banyak dan beberapa pedagang itu beretnis Tionghoa. Sesajian disimpan menjelang magrib di ruangan yang disebut gua atau pandaringan atau pangbeasan. Pangbeasan di rumah Kakek terbagi dua ruang. Satu ruang merupakan tempat penyimpanan hasil panen seperti beras, kacang hijau, bibit jagung, dan lainnya yang dilengkapi meja sesajian. Ruang lainnya berisi alat-alat bertani seperti cangkul, arit, dan lainnya. Pangbeasan merupakan tempat yang penting bagi petani. Di sana Kakek melaksanakan ritual mengungkapkan rasa syukur. Hal ini selaras dengan yang diungkapkan Rapoport bahwa masyarakat primitif dan petani memiliki ritual upacara yang lebih banyak dan direfleksikan pada bangunan/rumah mereka. Selain itu kepercayaan memengaruhi aspek bentuk, perencanaan, pengaturan ruang, dan orientasi rumah (1969:41). Sesudah salat isya, Kakek masuk ke pangbeasan untuk mengaji beberapa surat dari alquran dan wirid/zikir (memuji nama Tuhan). Setelah selesai, kakek keluar dari pangbeasan. Biasanya, saya dan sudara-saudara kandung merajuk agar diizinkan menyantap makanan di meja sesaji. Tentu saja Kakek tidak langsung mengizinkan. Ia meyakini para leluhur yang sudah meninggal sedang datang untuk bersantap. Kakek baru memperkenankan kami menyantap sesajian satu jam setelah beliau keluar dari pangbeasan dengan alasan leluhur sudah kenyang. Kalau sudah diizinkan, berbondong-bondong kami masuk berebut makanan sesajian. Jadi, bisa dikatakan setiap minggu saya dan saudara-saudara kandung menyantap “hidangan bekas arwah." Rasa rujaknya mengingatkan pada rasa sirup buah segar alami. Setelah dewasa, saya menjadi paham bahwa Kakek memandang hidup sebagai suatu siklus. Apa yang nikmat di hari ini adalah hasil perbuatan baik orang-orang di masa lalu. Perbuatan baik hari ini, akan menjadi kebaikan di masa depan yang dapat dinikmati anak-cucu. Memelihara alam akan membuat alam memelihara kita. Semua itu adalah kesadaran yang memang patut untuk selalu disyukuri.
Saya mengagumi cara pandang generasi-generasi Kakek yang tak mudah berprasangka buruk dengan sesuatu yang dihadirkan alam. Sikap tersebut memberi kesempatan agar orang berpikir terbuka, memberi waktu untuk memahami segala sesuatu secara perlahan. Hal-hal yang bertahan dalam budaya manusia dipercaya sebagai hal-hal yang menguntungkan dan bermanfaat. Hal-hal baru diperbolehkan hidup berdampingan tanpa mengikis yang telah dianggap baik. Jika hal baru itu baik, ia dapat bertahan. Kehidupan terasa tenang, tidak ada paksaan yang mengacaukan. Tak kenal maka tak sayang. Ritual hadiah puji membuat saya mengenal berbagai tanaman dan tertarik dengan segala sesuatu yang tumbuh di a l am. Ka r ena s e ring membantu N enek menyiapkan sesajian, saya jadi tahu mana buah musiman dan yang berbuah sepanjang tahun. Ini menarik dan penting buat saya yang doyan makan buah. Pernah di suatu masa, saya punya catatan kecil yang berisi nama bulan dan musim buahnya. Saya jadi hapal kalau sudah musim mangga, maka akan disusul musim durian, rambutan, duku, manggis, dan jeruk bali. Oh ya, Nenek menanam bunga-bunga wangi seperti mawar kampung, melati, cempaka, dan kenanga di sekitar sumur. Ada juga bunga-bunga tak beraroma seperti bunga nona makan sirih, bugenvile, soka, telang, nusa indah, dan alamanda. Di Kamis siang, kadang-kadang para tetangga juga datang minta bunga kalau tanaman di pekarangan mereka sedang tak berbunga. Saya suka berjalan sendirian menikmati bunga-bunga di pekaranganpekarangan tetangga. Rumah-rumah tampak asri dan ceria. Acungan jempol saya persembahkan untuk rumah-rumah yang menanam bunga-bunga lili hujan kesumba maupun putih sebagai batas pekarangan. Cantik sekali! Soal kemenyan, karena begitu akrabnya dengan aroma tersebut, saya tak punya pandangan negatif terhadapnya. Saya lebih tertarik mencari tahu aspek-aspek ilmiah kemenyan daripada aspek mistisnya. Menurut buku Sejarah Tanpa Manusia, Histografi Singkel Abad VII-XXI yang ditulis Zulfikar R.H. Pohan, Sumatera merupakan salah satu penghasil kemenyan. Kemenyan sudah diperdagangkan manusia sejak lama. Bahkan di abad ke-6 hingga abad ke-11 permintaan pasar terhadap komoditas tersebut mencapai puncaknya. Harganya setara dengan harga emas. Menurut artikel dalam Botano.gr, kemenyan atau gum benjamin populer di China, India, Jepang, dan Arab untuk mengatasi masalah di saluran pernapasan. Kemenyan memiliki sifat antiseptik, diuretik, dan ekspektoran. Jika dihirup asapnya sangat efektif untuk mengatasi radang tenggorokan, asma, bronkitis, dan alergi. Selain itu kemenyan juga dapat melancarkan peredaran darah, membantu detak jantung lebih teratur, mengencangkan jantung, mengatasi gatal, eksim, iritasi, rematik, arthritis, dan asam urat. Mengenal Alam Lewat Ritual
Hal baru yang diterima Kakek adalah sekolah. Kakek dan petani lainnya menyekolahkan anak-anak mereka. Banyak generasi setelah kakek tidak lagi menjadi petani, tetapi bekerja sebagai pegawai. Begitu pun dengan Ibu dan saudara-saudara kandungnya. Sebagai pegawai, mereka terikat oleh waktu kerja. Sepulang bekerja, mereka langsung fokus menyelesaikan tugas domestik. Semua orang sibuk bekerja bahkan beberapa orang ada yang harus pergi ke luar kota setiap hari. Teras-teras rumah menjadi sunyi. Jarang sekali kegiatan bertetangga. Ruang tamu hanya dikunjungi orang saat lebaran. Ibu jarang menyelenggarakan hadiah puji. Menurut ibu, hadiah puji bisa dilakukan seusai salat tanpa sesajian sehingga lebih praktis. Ibu hanya sesekali saja melakukannya. Itu pun karena Kakek bertanya apakah minggu ini akan ada hadiah puji? Begitulah, sementara Kakek masih tradisional, Ibu sudah mengadopsi kehidupan modern yang simpel, efisien, dan penuh pe m e c ahantentu bukan karena sekolah yang keliru. T e t a p i t u j u a n bersekolah seringkali jauh panggang dari api. S e k o l a h i d e a l n y a m e m b u a t m a n u s i a memiliki kesadaran yang holistik. Sadar bahwa segala sesuatu saling terkait. Sadar untuk selalu mengawali d a n m e n g e r j a k a n sesuatu yang baik. Sadar bahwa hidup itu sebuah seringkali menggiring manusia untuk masuk ke dalam alam pikir dunia modern yang menawarkan kehidupan linear. Manusia dituntut menciptakan kebaruan. Kebaruan melahirkan kebutuhan-kebutuhan b a r u . O r a n g - o r a n g t e rdidik kemudi an dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Keahlian-keahlian baru bermunculan. Kesibukan-kesibukan baru menanti di jalur cepat. Lalu tanah, pepohonan, udara, matahari yang terus mendampingi kita terlupakan. Kita bisa bangun pagi tanpa membuka jendela. Tanpa peduli sesejuk apa udara pagi dan sesegar apa embun di dedaunan. Yang kita pedulikan hanya berangkat sepagi mungkin agar tidak kena macet dan sampai di tempat beraktivitas tidak terlambat. Kebaruan sering diartikan meninggalkan sesuatu yang lama dan mengadopsi sesuatu yang baru, yang dinilai lebih menguntungkan, lebih bermanfaat. Penciptaan adalah gagasan yang dipenuhi nilai kebaruan, tetapi sering tidak diiringi kesadaran tentang siklus. Itu sebabnya di dunia modern kita kemudian sibuk dengan urusan sampah dari berbagai bidang yang bertumpuk dan membuat kita sibuk mencari-cari solusi terbaru yang mampu melenyapkannya. Di saat sampah telah tumbuh serupa monster, kita baru sadar tentang konsep daur ulang atau siklus yang ternyata tak seharusnya kita Teras yang Semakin Sepi
Sawah dan kebun tidak menghasilkan keuntungan yang besar selain hanya sebuah hiburan dikirimi hasil tani. Seringkali sawah dan kebun tidak menghasilkan sama sekali. Pengelola sawah mengaku sering gagal panen. Sementara untuk mengecek kebenarannya ke lahan pertanian, Ibu dan Bapak tak sempat melakukannya. Di sisi lain, Ibu juga makin sering didatangi tamu tak dikenal yang menanyakan apakah Ibu hendak menjual sawah dan kebunnya. Prinsip hidup sebagai siklus hampir selalu tampak dalam segala aspek hidup Kakek dan kawan-kawannya sesama petani. Di sawah maupun di rumah, selalu ada ‘pabrik’ humus. Di sawah, ‘pabrik’ humus ada di kebun-kebun. Kebun-kebun tampak seperti pulau-pulau kecil di antara persawahan. Kakek mengelola dedaunan yang jatuh dan menumpuknya menjadi humus. Humus adalah kompos yang mengandung zat hara yang dapat menyuburkan tanaman. Di rumah, Kakek juga punya ‘pabrik’ humus di pekarangan samping. Bahan humus berasal dari kotoran ayam peliharaan dan dedaunan di pekarangan. Humus atau kompos disebar lagi ke tanah. Itu merupakan rahasia mengapa tanaman di pekerangan selalu tampak segar dan subur. Meski demikian, Kakek juga masuk dalam lingkaran kehidupan modern yang penuh pemaksaan terutama dalam kehidupannya mengelola sawah. Petani harus menggunakan pupuk, insektisida, pestisida kimia yang mungkin mengganggu prinsip-prinsip hidup bersiklusnya. Menurut Ibu, di masa tuanya Kakek yang tenang mulai sering mengeluh karena bertani semakin rumit, pengeluaran semakin banyak, dan hasilnya makin hari makin sedikit. “Dulu panen bisa jadi emas, kini cuma bisa bikin gemas,” kata Ibu suatu kali menirukan apa yang sering diucapkan Kakek. Setelah kakek meninggal, sawah dan kebun dibagikan. Ibu mendapat beberapa sawah dan kebun yang kemudian digarap oleh buruh tani dengan sistem bagi hasil. Saat panen tiba, tidak seperti dulu di mana Kakek membagikan berbakul-bakul sayur pada tetangga, Ibu kedatangan buruh tani yang biasanya memberikan satu karung hasil tani bagian Ibu. Di awal tahun 1990-an, makin banyak korban penggusuran dari Jakarta tinggal di lingkungan rumah saya. Beberapa tahun kemudian, berdatangan pula pendatang dari etnis Batak, Padang, Jawa, Madura, dan lainnya. Kebanyakan pendatang berprofesi sebagai pedagang, tukang bangunan, pemilik toko, pegawai pabrik, pemilik penggilingan bakso, dan pemilik bengkel. Dramaga memang menarik untuk pendatang karena dekat dengan perguruan tinggi negeri. Beberapa pendatang bermodal besar membeli tanah cukup luas atau membeli beberapa rumah kecil. Lalu membangun bedeng-bedeng kecil untuk dikontrakkan pada saudara-saudaranya sesama perantau. Itu sebabnya di sekitar rumah mudah sekali ditemukan kawasan kontrakan pedagang dari Sukoharjo, Brebes, Cirebon, Garut, dan lainnya. Pagar Makin Tinggi, Ruang Tamu Makin Sempit Selalu Ada ‘Pabrik’ Humus
Karena banyaknya pendatang, makin jarang terdengar orang bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Hampir semua orang berbicara dalam bahasa Indonesia. Orang-orang mulai jarang bertegur sapa. Orang berlalu lalang hanya meninggalkan suara langkah sepatu dan sandal saja. Rumah kami berada di pinggir jalan. Halaman depan sampai belakang berbatasan langsung dengan jalan. Awalnya halaman belakang tak berpagar. Tapi karena makin banyak orang tak dikenal menunggu angkutan umum di sana, orangtua saya ‘menghalau’ orang-orang itu dengan cara mempertegas teritori. Halaman belakang yang awalnya terbuka dipagari tembok setinggi dua meter. Teras dipersempit karena fungsinya hanya jadi jalan masuk ke dalam rumah. Di teras samping dibangun kamar mandi, berdampingan dengan kamar mandi lama yang sejak dulu berada terpisah dari rumah utama. Sebagian teras juga diubah menjadi sebuah kamar. Sumur dan lahan berpohon bunga nusa indah, dadap, kelor, dan saga tetap dipertahankan agar orang tak bisa langsung memandang ke rumah. Pepohonan juga dapat menghalangi polusi udara dan meredam suara kendaraan yang melintas 24 jam sehari. Jalan di muka rumah selalu macet di jam-jam sibuk, seperti pagi saat orang berangkat sekolah dan kerja, serta petang saat jam pulang. Di luar waktu itu, kendaraan melaju kencang. Saya suka ngeri berjalan di pinggir jalan menuju rumah uwa (tante) di samping rumah. Jika malam tiba, rasanya seperti sedang tidur di tengah jalan karena suara kendaraan yang begitu dekat. Jarak jalan dengan kamar saya saja hanya sekitar sepuluh meter. Kami nyaris tak pernah bertetangga, nyaris tak pernah ada tamu. Ibu tampak enggan jika harus menerima tamu di rumah karena itu artinya harus bebenah setelah tamu pulang. Nambah-nambahin pekerjaan. Ibu lebih suka bertemu di tempat makan. Apalagi kalau untuk ngobrol dengan teman. Tinggal datang, ngobrol, makan, bayar, pulang, istirahat. Praktis! Karena tak banyak digunakan, ruang tamu yang awalnya berisi tiga set kursi tamu, dipangkas tinggal enam meter persegi dengan satu set kursi tamu yang jarang diduduki. Bahkan ketika Lebaran tiba, hanya keluarga inti saja yang duduk di sana. Tetangga yang kebanyakan pendatang justru mudik. Kadang-kadang ada sepupu Ibu yang datang, tetapi karena sangat jarang bertemu, sulit sekali menghapal wajah dan nama mereka. Ibu bilang kami itu pareumeun obor, untuk menggambarkan anak-anak yang tak lagi saling kenal dengan keluarga yang masih satu keturunan. Tetapi Ibu pun tampak tak bisa berbuat apa-apa. Setelah ruang tamu dipersempit, kami membuat ruang keluarga yang lebih besar, menyatu dengan ruang makan. Dampak yang sering kami rasakan dengan makin menyempitnya ruang tamu dan makin melebarnya ruang keluarga adalah kami menjadi kikuk jika kedatangan tamu dalam jumlah lebih dari enam orang. Kekikukan terjadi disebabkan ruang tamu kami tak mampu menampung tamu untuk duduk dengan nyaman. Terpaksalah kami semua libur menonton televisi dan mengobrol jika ada tamu dalam jumlah besar sebab ruang keluarga kami disulap jadi ruang tamu sementara. Hilangnya Pangbeasan
(Rapoport, 1969: hal. 12). Pangbeasan yang dulu menjadi ruang yang penting di masa Kakek, diubah Ibu menjadi kamar Kakak. Tidak ada lagi bahan makanan langsung dari lahan pertanian kami. Semua bahan makanan kami beli dari pasar dan disimpan di kulkas. Ukuran dapur juga makin sempit. Tak ada hawu (tungku tradisional), dan gudang penyimpanan kayu bakar. Dipan untuk mempersiapkan bahan makanan, meracik bumbu, dan menyimpan air kendi yang dingin pun dieliminasi. Dapur kami berubah, hanya berisi tempat cuci piring dan kompor gas dua tungku. Ibu lebih sering membeli lauk dari rumah makan sepulang kerja. Pada masa renovasi, jendela-jendela jalusi yang berfungsi sebagai sirkulator dan filter udara diganti dengan jendela baru yang didominasi kaca. Sirkulasi hanya mengandalkan ventilasi di tembok bagian atas. Akibatnya rumah menjadi lebih pengap. Di pertengahan tahun 1990-an, Ibu mulai menggunakan layanan Perusahaan Air Minum dan menutup sumur yang berair jernih karena tetangga depan rumah membuat septic tank sekitar dua meter dari sumur kami. Sumur pun diubah jadi carport. Begitulah, houses being the direct expression of changing values, image, perceptions, dan way of life Sejak makin banyaknya penduduk baru, kawasan di belakang rumah saya jadi semakin kumuh. Halaman rumah tetangga, tempat saya dan kakak main kelereng di bawah pohon belimbingnya yang rindang di masa kecil sudah berubah jadi rumah petak. Lapangan yang dinaungi rumpun bambu tempat saya main galasin lenyap, berganti beberapa rumah penduduk baru. Keran air ledeng desa yang biasa saya pakai membersihkan badan sepulang bermain sudah berganti jadi tempat penampungan sampah sementara. Pemandian umum tempat para petani membersihkan badan sebelum pulang ke rumah masing-masing tetap dipertahankan karena banyak rumah para pendatang yang tidak dilengkapi toilet. Mereka mengobrol sambil menunggu giliran mandi. Mereka juga menjadikan warung sayur di gang sebagai tempat ngobrol lainnya. Aktivitas di daerah tersebut seolah tak pernah berhenti. Di malam hari, selalu terdengar suara orang berjalan tergesa-gesa di gang sebelah, entah karena mau berangkat kerja shift malam atau pulang kerja. Sebelum Subuh sudah terdengar orang ramai mengobrol di warung uduk, doclang, dan gorengaan. Banyak orang membeli sarapan untuk keluarganya. Belum lagi suara klakson bersahutan memanggil para pedagang bakso yang hendak berbelanja ke pasar dini hari. Padahal dahulu, pada jam tersebut hanya terdengar orang membaca Al-Quran dari musala. Perempuan-perempuan berseragam yang bekerja di pabrik-pabrik berangkat sebelum subuh karena menyesuaikan dengan angkutan karyawan yang melintas di jalan nasional, sekitar setengah kilometer dari rumah saya. Jarak rumah dan tempat mereka bekerja biasanya lebih dari 10 kilometer melalui beberapa titik kemacetan yang memaksa mereka berangkat sepagi mungkin. Menjelang pukul enam, giliran anak-anak sekolah membludak ke pinggir jalan. Kini, ketika kredit kendaraan semakin mudah dan murah, jalanan menjadi semakin macet oleh kendaraan-kendaraan Keramaian Menjelang Subuh
(Rapoport, 1969: hal. 12). Pangbeasan yang dulu menjadi ruang yang penting di masa Kakek, diubah Ibu menjadi kamar Kakak. Tidak ada lagi bahan makanan langsung dari lahan pertanian kami. Semua bahan makanan kami beli dari pasar dan disimpan di kulkas. Ukuran dapur juga makin sempit. Tak ada hawu (tungku tradisional), dan gudang penyimpanan kayu bakar. Dipan untuk mempersiapkan bahan makanan, meracik bumbu, dan menyimpan air kendi yang dingin pun dieliminasi. Dapur kami berubah, hanya berisi tempat cuci piring dan kompor gas dua tungku. Ibu lebih sering membeli lauk dari rumah makan sepulang kerja. Pada masa renovasi, jendela-jendela jalusi yang berfungsi sebagai sirkulator dan filter udara diganti dengan jendela baru yang didominasi kaca. Sirkulasi hanya mengandalkan ventilasi di tembok bagian atas. Akibatnya rumah menjadi lebih pengap. Di pertengahan tahun 1990-an, Ibu mulai menggunakan layanan Perusahaan Air Minum dan menutup sumur yang berair jernih karena tetangga depan rumah membuat septic tank sekitar dua meter dari sumur kami. Sumur pun diubah jadi carport. Begitulah, houses being the direct expression of changing values, image, perceptions, dan way of life Sejak makin banyaknya penduduk baru, kawasan di belakang rumah saya jadi semakin kumuh. Halaman rumah tetangga, tempat saya dan kakak main kelereng di bawah pohon belimbingnya yang rindang di masa kecil sudah berubah jadi rumah petak. Lapangan yang dinaungi rumpun bambu tempat saya main galasin lenyap, berganti beberapa rumah penduduk baru. Keran air ledeng desa yang biasa saya pakai membersihkan badan sepulang bermain sudah berganti jadi tempat penampungan sampah sementara. Pemandian umum tempat para petani membersihkan badan sebelum pulang ke rumah masing-masing tetap dipertahankan karena banyak rumah para pendatang yang tidak dilengkapi toilet. Mereka mengobrol sambil menunggu giliran mandi. Mereka juga menjadikan warung sayur di gang sebagai tempat ngobrol lainnya. Aktivitas di daerah tersebut seolah tak pernah berhenti. Di malam hari, selalu terdengar suara orang berjalan tergesa-gesa di gang sebelah, entah karena mau berangkat kerja shift malam atau pulang kerja. Sebelum Subuh sudah terdengar orang ramai mengobrol di warung uduk, doclang, dan gorengaan. Banyak orang membeli sarapan untuk keluarganya. Belum lagi suara klakson bersahutan memanggil para pedagang bakso yang hendak berbelanja ke pasar dini hari. Padahal dahulu, pada jam tersebut hanya terdengar orang membaca Al-Quran dari musala. Perempuan-perempuan berseragam yang bekerja di pabrik-pabrik berangkat sebelum subuh karena menyesuaikan dengan angkutan karyawan yang melintas di jalan nasional, sekitar setengah kilometer dari rumah saya. Jarak rumah dan tempat mereka bekerja biasanya lebih dari 10 kilometer melalui beberapa titik kemacetan yang memaksa mereka berangkat sepagi mungkin. Menjelang pukul enam, giliran anak-anak sekolah membludak ke pinggir jalan. Kini, ketika kredit kendaraan semakin mudah dan murah, jalanan menjadi semakin macet oleh kendaraan-kendaraan Keramaian Menjelang Subuh
Kami keluar dari kamar menuju ruang depan. Begitu pintu dibuka, dari balik tanaman cempaka yang sudah tak dikenali lagi bunganya oleh anak-anak kami, kami lihat ke arah rumah tetangga. Rumah-rumah tampak tertutup. Tetapi di teras salah satu rumah tetangga terdapat sekitar enam anak tengah bermain handphone. Mereka duduk bersama dalam diam. Asik dengan telepon pintarnya masing-masing. “Ya, ampun. Kok bisa, ya? Pada main game, tuh kayaknya,” sahut adik padaku yang terheran-heran melihat banyak anak duduk bersama tanpa keributan. Dramaga selalu riuh. Tapi rumah-rumah yang tertutup itu selalu mendatangkan sepi yang tak hening. Sepi yang sepertinya mengandung kekacauan. *** Zulfikar RH Pohan, Sejarah Tanpa Manusia (Histografi Singkel Abad VII – XXI), Jejak Pustaka, 2021 Sumatera Benzoin Resin, Botano.gr Amos Rapaport, House Form and Culture, Prentice-Hal, Inc and Englewood Cliffs NJ, 1969 Referensi:
Kota yang memiliki banyak destinasi wisata dibayangkan akan dipenuhi oleh kemajuan dan bukan banyaknya segudang masalah. Tetapi benarkah anggapan seperti itu teruji di dalam kenyataan? Kota yang dipenuhi oleh ‘atraksi wisata’ dibayangkan memiliki ‘kekayaan budaya’ yang mampu menghidupi rakyatnya. Tetapi sesungguhnya proses menjadikan perangkat budaya sebagai komoditas seperti dalam pariwisata adalah bagian kecil dari krisis seiring dengan tumbuhnya kawasan urban itu sendiri. Kita dapat melihat kondisi itu misalnya dalam realita yang muncul dalam ledakan turisme di Bali yang diawali proses perubahan dari sektor agraris ke bidang jasa. Pergeseran dari sektor agraris ke bidang jasa dapat kita lihat misalnya dari semakin berkurangnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Bali. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB di Bali pada tahun 2007 adalah sebesar 19,41%, tetapi menurun pada tahun 2015 menjadi 14,92% (Cahyadi et al., 2018). Kontribusi sektor perdagangan, restoran, dan hotel dalam PDRB Bali memang lebih dari 30%, tetapi bukan berarti dapat memberi penghidupan bagi rakyatnya. Hal tersebut dibuktikan dengan peningkatan ketimpangan yang ditunjukkan oleh kenaikan koefisien gini, tingkat pengangguran, dan fluktuasi jumlah kemiskinan dari tahun 2007-2015. Pertumbuhan ekonomi daerah perkotaan di selatan Bali yang lekat dengan ekonomi turisme seperti di daerah Badung, Gianyar, dan Denpasar justru tak dinikmati oleh rakyat kecil. Daerah lain yang masih bergantung pada sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi cukup memberikan kesempatan bagi rakyat kecil untuk sekadar bertahan hidup. Kita dapat menduga bahwa realitas seperti itu muncul disebabkan di daerah perkotaan, kebijakan pemerintah daerah terbatas pada pengembangan ‘atraksi wisata’ bukannya menjadikan basis penghidupan rakyat sebagai pertimbangan utama. Pertanian di pedesaan mungkin lebih mampu menyerap buruh dari kalangan masyarakat miskin, tetapi seiring penurunan ekonomi tani juga memicu rakyat untuk migrasi keluar ke daerah turisme. Daerah pusat investasi turisme di Bangli sendiri tak cukup menyerap buruh dari kalangan rakyat miskin. Keberadaan migrasi keluar dari daerah pedesaan tentu saja menjadi tantangan tersendiri untuk memperbaiki penghidupan rakyat di Bali. Fokus pengembangan investasi turisme yang terbatas di Bangli memicu daerah lain yang hanya fokus pada sektor pertanian dengan penurunan produksi menghadapi kesulitan untuk menopang penghidupan rakyatnya (Cahyadi et al., 2018). Tumbuhnya turisme di Bali diawali oleh kekaguman orang Eropa yang berkunjung ke Bali saat masa Hindia Belanda pada tahun 1920-an dengan menggunakan kapal perusahaan dagang Belanda yakni KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Penyebaran informasi mengenai Bali melalui karya tulis, hasil seni, tulis, hasil seni, maupun kabar mulut ke mulut mendorong ketertarikan ‘orang luar’ untuk Perubahan Agraria dan Munculnya Turisme Massal Kota dan Nestapa Penghidupan Ekonomi Anggalih Bayu Muh Kamim
berkunjung (Antara & Sumarniasih, 2017). Hotel pertama untuk memfasilitasi kunjungan turis didirikan pada tahun 1926 di kota Denpasar dengan nama Hotel Bali. Resort juga dibangun di kawasan wisata Kintamani. Bali semakin populer sejak penari Legong dari desa Peliatan diajak keliling dunia ke Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 1932. Semenjak itu pengiriman karya seni ke dunia luar dan kunjungan turis asing ke Bali terus meningkat. ‘Orang luar’ yang memandang Bali sebagai sesuatu yang eksotis, kemudian menjulukinya sebagai The Island of Gods, The Island of Paradise, The Island of Thousand Temples, The Morning of the World, and The Last Paradise on Earth. Perang Dunia I dan II bersama dengan Perang Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia sempat berujung pada berhentinya turisme di Bali. Turisme Bali kembali aktif pada tahun 1956 dan Hotel Bali Beach didirikan pada tahun 1963. Pendirian Bandara Ngurah Rai pada Agustus 1969 memicu hadirnya turisme massal (Antara & Sumarniasih, 2017). Tumbuhnya turisme di Bali terkait erat dengan perubahan basis sumber penghidupan masyarakat dan terlemparnya kelas buruh di pedesaan. Sembilan kerajaan berkuasa di Bali (sekitar tahun 1800 sampai 1908) sebelum hadirnya penjajahan dan diperintah oleh kasta ksatria dan kasta brahmana sebagai penasihat mereka. Basis ekonomi pertanian menjadi sumber penghidupan rakyat, di mana petani dipandang sebagai kasta sudra/kalangan bawah bagi kelas atas. Kerajaankerajaan saling berperang untuk memperebutkan wilayah dan petani sebagai sudra dikerahkan dalam produksi pangan, kerja paksa, perang, dan lain-lain. Sepanjang abad 17- 18, perdagangan ‘budak’ menjadi penghasilan utama bagi raja-raja Bali, tetapi permintaan yang menurun membuat ekonomi bergeser ke ekspor beras dan tanaman lain yang membuat penguasaan tanah semakin penting bagi bangsawan (Fagertun, 2017). Otoritas Puri sebelum masa penjajahan bertumpu pada kemampuannya untuk mengerahkan tenaga kerja cuma-cuma untuk memastikan jalannya ekonomi. Setidaknya ada dua bentuk relasi sosial agrarian di Bali sebelum penjajahan Belanda yakni Punggawa dan Pecatu. Pola Punggawa melibatkan penguasaan tanah langsung pada bangsawan dan dikerjakan oleh tenaga kerja cuma-cuma dari rakyat. Pola pecatu terjadi pada lahan yang diberikan oleh bangsawan kepada pengikut setia. Petani hanya memiliki hak garap dalam sistem pecatu dengan imbalan bahwa bagian dari hasil panen harus diberikan kepada bangsawan bersama dengan dirinya harus mau memberikan tenaga maupun sumber daya lain pada tuannya bila diminta. Pengerahan buruh dilakukan mengikuti pola alur anak sungai di dalam organisasi subak. Sedangkan pungutan sosial diminta secara politik ataupun militer. Artinya dalam tatanan sosial Bali sebelum masa penjajahan sudah ada kelas sosial yang ‘memakan’ surplus pertanian. Belanda awalnya menguasai bagian utara yakni Jembrana dan Buleleng pada tahun 1882 dan wilayah selatan Bali dikuasai setelah perang pada tahun 1906 sampai 1908. Belanda kemudian melakukan reorganisasi tatanan sosial di Bali melalui penataan irigasi subak, pemanfaatan kelas bangsawan dan pembentukan administrasi desa untuk mengerahkan penduduk demi kepentingannya. Banyak sawah kemudian menjadi di luar kendali Belanda dan berpindah tangan pasca penataan kelembagaan. Tanah-tanah itu kemudian dikembalikan oleh pemerintahan kolonial ke Puri untuk memudahkan kontrol.
Pasca-kemerdekaan pada tahun 1950-an, ikatan sosial yang lama masih berlanjut. Meskipun regulasi baru pada 1951 melarang pengambilan hak lahan sebesar 50% bagi petani penggarap. Bangsawan Bali kehilangan status resmi, tetapi tak lantas menghilangkan penguasaannya atas lahan dan peran dalam tatanan adat. Gagal panen yang merebak pada tahun 1949-1950 kemudian memicu krisis ekonomi pada tahun 1960-an. Kebijakan ekonomi dari pemerintah pusat untuk mendorong munculnya ‘pengusaha pribumi’ justru memperkuat posisi ekonomi kaum bangsawan Bali disebabkan koneksi kuatnya dengan elit pemerintahan. Sejak tahun 1960 juga terdapat upaya dari pemerintah pusat untuk meredistribusi lahan dan didukung kuat oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), meskipun pascaperistiwa Gestok upaya tersebut hanya menjadi angan-angan. Pemerintah Orba kemudian sebatas fokus pada administrasi pertanahan ditandai dengan bantuan dari Bank Dunia dan Australian Development Agency pada tahun 1994. Administrasi pertanahan kemudian dikerjakan oleh Badan Pertanahan Nasional. Administrasi pertanahan tersebut justru memperburuk nasib rakyat karena sebatas melakukan sertifikasi hak milik individu atas lahan yang kemudian kenyataannya menjadi jalan bagi pelepasan hak atas tanah untuk kepentingan akumulasi modal serta tak memperhatikan relasi sosial agraria di akar rumput. Pemerintahan Orba melakukan pengambilalihan tanah atas nama ‘pembangunan’ dan semakin mengubah karakter ekonomi Bali sejak tahun 1990-an. Turisme semakin digencarkan dengan dukungan kuat dari aparat pertahanan dan keamanan. Rakyat kecil kemudian ikut mengais ekonomi turisme di Bali dengan bekerja di sektor informal dan bersaing dengan kaum migran yang tidak memiliki keterampilan memadai. Rakyat kecil bergantung hidup dengan menjadi buruh informal pada persewaan kamar, awak kapal nelayan ataupun bekerja pada beberapa wiraswasta (Fagertun, 2017). Lahan yang berada di pantai seperti di kawasan Jimbaran sudah lama dikategorikan sebagai ‘tanah terlantar’ disebabkan penggunaannya terbatas untuk permukiman. Daya tarik turisme di Bali pada wilayah pantai pada akhirnya mendorong investasi hotel, restoran, vila, resort dan homestay yang dibangun di Jimbaran sepanjang tahun 1990-an dan 2000-an. Pascalengsernya Soeharto dan berlakunya otonomi daerah sejak tahun 2001 mendorong pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mengatur perekonomian di wilayahnya. Delapan kabupaten di Bali harus mencari dana sendiri untuk sebagian besar anggaran mereka. Pemda kemudian mempermudah perizinan bisnis turisme untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah terutama dari pajak hotel dan restoran. Penjualan tanah kemudian meningkat termasuk penjualan kepada orang asing yang dimanipulasi dengan dalih “sewa jangka panjang” (Fagertun, 2017). Pelepasan lahan mendorong pergeseran buruh lintas sektor di Bali. Laki-laki yang sebelumnya diharapkan terlibat dalam pengelolaan tanah setelah mendapatkan warisan, tak ingin meneruskan untuk bertani. Akibatnya pada periode tahun 2003 sampai 2013 saja terdapat penurunan rumah tangga pertanian mencapai 17% dan penurunan rumah tangga petani kecil sebesar 29%. Ekspansi turisme massal mendorong peningkatan pajak tanah yang menyebabkan tambahan beban penghidupan rumah tangga tani. Kemudian membuat mereka menjual lahan dan mencari sumber penghidupan lainnya (Colorni, 2018).
Pasca-kemerdekaan pada tahun 1950-an, ikatan sosial yang lama masih berlanjut. Meskipun regulasi baru pada 1951 melarang pengambilan hak lahan sebesar 50% bagi petani penggarap. Bangsawan Bali kehilangan status resmi, tetapi tak lantas menghilangkan penguasaannya atas lahan dan peran dalam tatanan adat. Gagal panen yang merebak pada tahun 1949-1950 kemudian memicu krisis ekonomi pada tahun 1960-an. Kebijakan ekonomi dari pemerintah pusat untuk mendorong munculnya ‘pengusaha pribumi’ justru memperkuat posisi ekonomi kaum bangsawan Bali disebabkan koneksi kuatnya dengan elit pemerintahan. Sejak tahun 1960 juga terdapat upaya dari pemerintah pusat untuk meredistribusi lahan dan didukung kuat oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), meskipun pascaperistiwa Gestok upaya tersebut hanya menjadi angan-angan. Pemerintah Orba kemudian sebatas fokus pada administrasi pertanahan ditandai dengan bantuan dari Bank Dunia dan Australian Development Agency pada tahun 1994. Administrasi pertanahan kemudian dikerjakan oleh Badan Pertanahan Nasional. Administrasi pertanahan tersebut justru memperburuk nasib rakyat karena sebatas melakukan sertifikasi hak milik individu atas lahan yang kemudian kenyataannya menjadi jalan bagi pelepasan hak atas tanah untuk kepentingan akumulasi modal serta tak memperhatikan relasi sosial agraria di akar rumput. Pemerintahan Orba melakukan pengambilalihan tanah atas nama ‘pembangunan’ dan semakin mengubah karakter ekonomi Bali sejak tahun 1990-an. Turisme semakin digencarkan dengan dukungan kuat dari aparat pertahanan dan keamanan. Rakyat kecil kemudian ikut mengais ekonomi turisme di Bali dengan bekerja di sektor informal dan bersaing dengan kaum migran yang tidak memiliki keterampilan memadai. Rakyat kecil bergantung hidup dengan menjadi buruh informal pada persewaan kamar, awak kapal nelayan ataupun bekerja pada beberapa wiraswasta (Fagertun, 2017). Lahan yang berada di pantai seperti di kawasan Jimbaran sudah lama dikategorikan sebagai ‘tanah terlantar’ disebabkan penggunaannya terbatas untuk permukiman. Daya tarik turisme di Bali pada wilayah pantai pada akhirnya mendorong investasi hotel, restoran, vila, resort dan homestay yang dibangun di Jimbaran sepanjang tahun 1990-an dan 2000-an. Pascalengsernya Soeharto dan berlakunya otonomi daerah sejak tahun 2001 mendorong pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mengatur perekonomian di wilayahnya. Delapan kabupaten di Bali harus mencari dana sendiri untuk sebagian besar anggaran mereka. Pemda kemudian mempermudah perizinan bisnis turisme untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah terutama dari pajak hotel dan restoran. Penjualan tanah kemudian meningkat termasuk penjualan kepada orang asing yang dimanipulasi dengan dalih “sewa jangka panjang” (Fagertun, 2017). Pelepasan lahan mendorong pergeseran buruh lintas sektor di Bali. Laki-laki yang sebelumnya diharapkan terlibat dalam pengelolaan tanah setelah mendapatkan warisan, tak ingin meneruskan untuk bertani. Akibatnya pada periode tahun 2003 sampai 2013 saja terdapat penurunan rumah tangga pertanian mencapai 17% dan penurunan rumah tangga petani kecil sebesar 29%. Ekspansi turisme massal mendorong peningkatan pajak tanah yang menyebabkan tambahan beban penghidupan rumah tangga tani. Kemudian membuat mereka menjual lahan dan mencari sumber penghidupan lainnya (Colorni, 2018).
Usaha lain seperti bisnis garmen skala industri rumahan yang berhubungan dengan turisme massal di Bali juga menghadapi kondisi perburuhan memprihatinkan. Keterbatasan anggaran dari pemerintah dalam pengawasan dan tidak adanya kewajiban dari pengusaha untuk melaporkan kapasitas buruh yang dilibatkan dalam industri rumahan mereka adalah di antara biang masalahnya. Hampir sama dengan yang dihadapi oleh bisnis hotel, manajer produksi garmen mengeluhkan buruh yang sering mengambil cuti untuk menghadiri ritual keagamaan dan budaya. Buruh diupah dengan skema borongan dan diperbolehkan membawa pulang pekerjaan dengan syarat harus mengirimkan produk setiap hari karena pembayaran yang didapat oleh mereka adalah melakukan presensi kerja. Mereka diupah di bawah upah minimum kabupaten (Oey & Eswara, 2019). Manajer produksi mengerahkan asisten untuk berkeliling ke buruh yang membawa pekerjaan ke rumah sembari membawa bahan baku dan mengumpulkan pakaian yang telah dihasilkan. Mereka akan dibayar per potong setiap bulan di pabrik. Buruh rumahan dapat menegosiasikan harga dan waktu penyelesaian menurut manajemen produksi selain mempertimbangkan pekerjaan dilakukan sendiri atau tim. Pabrik memasok mesin jahit dan peralatan lain secara kredit dengan angsuran bulanan yang harus dibayar buruh.Pabrik lainnya dalam usaha garmen dalam temuan Oey dan Eswara (2019), menunjukkan bahwa kondisi sebagian buruhnya berada dalam kondisi sedikit lebih baik dengan mendapatkan akses BPJS Kesehatan dan jaminan pensiun BPJS serta upah sesuai ketentuan upah minimum. Buruh rumahan tidak terikat dengan kontrak. Menurut manajemen produksi, buruh rumahan enggan menandatangani kontrak disebabkan tak memberi mereka keleluasaan. Pabrik menetapkan upah per potong lebih tinggi sebesar 25% untuk memberikan kompensasi atas penggunaan listrik. Sedangkan buruh Buruh Garmen dalam Jeratan Upah Borongan
Ketiadaan serikat pekerja di hotel yang dikaji oleh Wijayanti (2018), membuat nasib buruh menjadi sangat rentan. Pengusaha juga menerapkan masa percobaan bagi calon buruhnya setelah direkrut. Sesuatu praktik yang melanggar mekanisme PKWT itu sendiri. Perusahaan juga hanya membayarkan iuran BPJS Ketenagakerjaan sebesar 3% dari upah buruh. Padahal seharusnya 6,54%. 0,54% bagi Jaminan Keselamatan Kerja, 0,30% bagi Jaminan Kematian, 3,7% untuk Jaminan Hari Tua, dan 2% untuk Jaminan Pensiun. Buruh di beberapa divisi hotel, seperti pada bagian pemasaran bahkan sampai bekerja 13 jam per hari tanpa diberikan uang lembur. Minimnya pengawasan dari dinas ketenagakerjaan dalam memantau praktik perburuhan dalam sektor turisme di Bali menyebabkan nasib rakyat menjadi rentan (Wijayanti, 2018). mendapatkan bahan baku dan mesin jahit yang dipinjam dari pabrik. Ada satu asisten yang bertugas melakukan pengiriman dan melacak di mana semua mesin jahit yang dipinjam. Mekanisme kerja seperti itu bagi perusahaan memungkinkan hilangnya jam kerja selama waktu ritual keagamaan. Upah borongan mengurangi kerugian finansial bagi pabrik. Tetapi saat banyaknya pesanan, kehilangan jam kerja akibat kegiatan informal cukup berdampak bagi usaha garmen. Pemanfaatan buruh rumahan yang biasanya adalah mantan buruh pabrik membantu menyangga kekurangan tenaga kerja di pabrik sekaligus memudahkan pemodal untuk menentukan kapan membutuhkan tenaga ekstra untuk melakukan produksi. Kedua pabrik yang dikaji oleh Oey dan Eswara (2019), pada dasarnya juga tak menyediakan jaminan sosial, uang lembur, apalagi bonus saat masa liburan bagi buruh rumahan. Serikat pekerja tidak ada di kedua pabrik disebabkan minimnya pengetahuan tentang organisasi buruh dan kekhawatiran respons keras dari pengusaha. Bali memang menjadi salah satu wilayah yang memiliki kekuatan serikat pekerja yang lemah termasuk pada usaha garmen. Hanya terdapat beberapa serikat yang berkaitan dengan usaha perhotelan. Kontrak kerja hanya disampaikan secara lisan atau slip pesanan dianggap sebagai bentuk kontrak untuk menentukan jumlah potongan dan upah yang didapatkan apabila sesuai target (Oey & Eswara, 2019). upah yang didapatkan apabila sesuai target (Oey & Eswara, 2019). Usaha garmen di Bali lekat dengan turisme dengan fokus memproduksi pakaian batik dan bordir. Produksi garmen di Bali sebagian besar memang dikelola melalui skema borongan dengan buruh rumahan yang seringkali terlibat dengan jaringan di pedesaan. Usaha garmen sendiri tumbuh di Bali berkat permintaan oleh-oleh, seiring tumbuhnya turisme massal. Tumbuhnya usaha tersebut dimulai pada tahun 1970-an saat pedagang di sepanjang pantai menjual sarung batik dan kebaya bordir kepada wisatawan. Turis yang berdatangan kemudian membeli barang produksi usaha garmen Bali dan kembali menjualnya di negara asal. Bali kemudian berhasil memasok pakaian musim panas dan batik ke Australia, Amerika Serikat, dan Eropa sejak tahun 1980-an (Hassler, 2005). Permintaan ekspor mendorong peningkatan buruh yang terserap sejak tahun 1990-an. Meskipun mereka tidak terdaftar oleh pemerintah. Sebagian besar buruh rumahan memang tak terdata oleh pemerintah. Ketiadaan pendataan menjadi patut untuk dipertanyakan karena pada dasarnya usaha tersebut memiliki pola interaksi geografis dan perburuhan yang jelas, di
mana perusahaan bertindak sebagai kontraktor; buruh sebagai subkontraktor; serta asisten pabrik sebagai penghubung. Pola persebaran geografis usaha tersebut juga terlihat dengan tapak pabrik yang sebagian besar berada di Denpasar dan buruh rumahan berada di wilayah pedesaan. Tidak semua buruh rumahan mendapatkan akses bantuan kredit ataupun peminjaman alat. Mereka tak jarang harus membeli sendiri kebutuhan peralatan. Mereka sulit mendapatkan modal awal untuk bekerja di luar sektor pertanian dan menghadapi hambatan suku bunga pinjaman tinggi jika meminjam dari bank. Buruh rumahan yang pinjaman dari perusahaan untuk mendapatkan peralatan menjadi terjerat ikatan dengan pemodal dan harus menyanggupi kapan pun setiap ada pesanan (Hassler, 2005). Sifat pesanan yang mengikuti ketika dalam waktu-waktu ramai kunjungan turis asing juga menyebabkan buruh rumahan harus menentukan pengaturan keuangan saat permintaan menentukan pengaturan keuangan saat permintaan sepi agar dapat membayar cicilan bulanan pinjaman dari perusahaan. Perusahaan juga terkadang menawarkan pembelian mesin jahit pada buruh rumahan. Jenis pakaian yang diproduksi juga menentukan dasar upah borongan. Upah dalam produksi batik didasarkan pada satu pakaian yang dihasilkan. Sedangkan bordir didasarkan pada banyaknya benang yang dibutuhkan untuk membentuk ornamen. Buruh rumahan hanya dapat menghasilkan pendapatan jika mereka benar-benar bekerja atau saat perusahaan memberikan pesanan. Pertimbangan lain yang terkadang digunakan dalam pengupahan adalah lamanya pengalaman menghasilkan produk. Buruh yang lebih berpengalaman dibayangkan akan menghasilkan produk yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang belum berpengalaman. Potongan upah akan dibebankan pada buruh apabila produk tidak dihasilkan sesuai waktu yang telah disepakati dan kualitas produk kurang baik (Hassler, 2005).
Diwyarthi, N. D. M. S. (2018). Implementasi Peraturan Ketenagakerjaan pada Hotel Berbintang di Bali. Jurnal Pariwisata Budaya, 3(2), 42–49. Hanim, A., Istiyani, N., Nugraha, R. S., & Riiati, R. (2022). Determinants Of The Female Labor Force Participation Rate In The Province Of Bali Indonesia. International Journal of Management & Entrepreneurship Research, 4(6), 300–307. Referensi Thio, S., & King, B. E. M. (2021). Human capital issues and challenges in the hotel industry: the case of Indonesia. In P. U. C. Dieke, B. E. M. King, & R. A. J. Sharpley (Eds.), Tourism in development: reflective essays (pp. 105–119). CABI. Wijayanti, R. (2018). Effectiveness of Legal Protection on Employees/Labours in a FixedTerm Employment Contract in Golden Tulip Bay View Hotel & Convention Bali. Jurnal Hukum Prasada, 5(2), 90–99. Cukier, J., & Wall, G. (1995). Tourism employment in Bali: a gender analysis. Tourism Economics, 1(4), 389–401. Nilakusmawati, D. P. E., & Srinadi, I. G. A. M. (2019). Remi ance Of Informal Sector Migrant Workers: A Case Study From Denpasar-Bali, Indonesia. International Journal of Economics, Commerce and Management, 7(4), 600–619. Antara, M., & Sumarniasih, M. S. (2017). Role of Tourism in Economy of Bali and Indonesia. Journal of Tourism and Hospitality Management, 5(7), 34–44. Oey, K., & Eswara, S. W. (2019). The Plight Of Home Workers In Bali, Indonesia A Study Of The Home Workers In The Garment Sector. Cahyadi, N. M. A. K., Sasongko, & Saputra, P. M. A. (2018). Inclusive growth and leading sector in Bali. Economic Journal of Emerging Markets, 10(1), 99–110. Ane e Fagertun. (2017). Waves of Dispossession The Conversion of Land and Labor in Bali’s Recent History. Social Analysis, 61(3), 108–125. Cukier-Snow, J., & Wall, G. (1993). Tourism Employment Perspectives from Bali. Tourism Management, 195–201. Fagertun, A. (2016). Labour in Paradise: Gender, Class and Social Mobility in the Informal Tourism Economy of Urban Bali, Indonesia. The Journal of Development Studies, 1–15. Izawa, T. (2009). Tourism Development and Its Social Impacts in Bali, Indonesia, in the Post-Soeharto Era. Memoirs of Institute of Humanities, Human and Social Sciences, 149–173. Padmayoni, N. P. G., & Rahmawati, P. I. (2018). Analisis Proses Perekrutan Karyawan Pada Hotel Discovery Kartika Plaza. Jurnal Manajemen Perhotelan Dan Pariwisata, 1(2), 1–14. Hassler, M. (2005). Home-working in Rural Bali: The Organization of Production and Labor Relations. The Professional Geographer, 57(4), 530–538. Colorni, R. R. (2018). Tourism and Land Grabbing in Bali A Research Brief. Nilakusmawati, D. P. E., & Susilawati, M. (2018). Comparative Characteristics of Informal Sector Workers in Kuta Beach Versus Sanur Beach. Udayana Journal of Social Sciences and Humanities, 2(1), 8–12.
Bandung Setelah Kau Pergi Nadia Elfirda Karamy Teruntuk sahabatku, Marko Hai, Sobat. Apa kabar di surga? Apa kau bahagia di sana? Kata orang, tempat itu sangat menyenangkan karena kita bisa berenang di kolam susu dan makan ikan sepuasnya tanpa pernah merasa kenyang. Aku yakin kau pasti sudah minta ini itu ke Tuhan dan dikelilingi bidadari-bidadari cantik yang mengeong mendayu-dayu bergairah. Kadang aku berandaiandai menjadi kau, Marko. Aku ingin hidup di surga. Karena di sini tanpamu sama saja seperti hidup segan mati tak mau. Kau tahu, sudah enam bulan berlalu tapi aku masih insomnia setiap malam. Aku takut saat mataku terpejam tangan coklat berurat itu akan datang lagi dengan benda panjang itu lalu menembakiku dan teman-teman kita. Aku takut mati, tapi di sisi lain aku ingin bersamamu di surga yang mau tidak mau aku harus mati dulu sebelum ke sana. Huft, menyebalkan sekali.
Teruntuk sahabatku, Marko Hai, Sobat. Apa kabar di surga? Apa kau bahagia di sana? Kata orang, tempat itu sangat menyenangkan karena kita bisa berenang di kolam susu dan makan ikan sepuasnya tanpa pernah merasa kenyang. Aku yakin kau pasti sudah minta ini itu ke Tuhan dan dikelilingi bidadari-bidadari cantik yang mengeong mendayu-dayu bergairah. Kadang aku berandai-andai menjadi kau, Marko. Aku ingin hidup di surga. Karena di sini tanpamu sama saja seperti hidup segan mati tak mau. Kau tahu, sudah enam bulan berlalu tapi aku masih insomnia setiap malam. Aku takut saat mataku terpejam tangan coklat berurat itu akan datang lagi dengan benda panjang itu lalu menembakiku dan teman-teman kita. Aku takut mati, tapi di sisi lain aku ingin bersamamu di surga yang mau tidak mau aku harus mati dulu sebelum ke sana. Huft, menyebalkan sekali. O, iya kau masih ingat Ka li s , bukan? Mana mungkin kau melupakan kucing paling cantik dan anggun se-Kecamatan Lengkong itu. Setelah kejadian itu Kalis seperti bukan Kalis, Mar. Dia jadi sangat sensitif dan emosional. Tiap kali dia mendengar derap langkah seseorang yang tegas dan berat seperti sepatu tentara itu dia langsung menjadi kucing paling mengerikan di kampung ini: matanya memicing ngeri, empat kakinya berjinjit, ekornya yang berbulu lebat berdiri tegak seperti kemoceng, suaranya berubah menjadi geraman dan lengkingan seperti kucing j ant an be rpe r ang mempe r ebutkan kekuasaan. Sekarang tak ada lagi yang berani mendekati dia, Mar, tidak seperti dulu saat semua pejantan berebut mengawininya (aku jadi ingat cinta segitiga kita yang membuat kita berdua bertengkar dan babak belur setelahnya). Siangsiangnya kini dipenuhi dengan lamunan. Bahkan ia jarang mandi, makan pun tak selera. Tubuhnya kini mengurus dan kecantikannya memudar seiring kau pergi, Mar. Aku rasa dia merasa sangat bersalah karena kejadian itu. “Andai aku mencakar dan menggigit tangannya saat itu. Andai aku lebih berani, Jang..” dia menggumamkan kalimat itu setiap hari, Mar. Dia sangat kecewa pada dirinya sendiri. Tapi di atas itu s e m u a , s e s u n g g u h n y a d i a a m a t merindukanmu. O, iya kau masih ingat Kalis, bukan? Mana mungkin kau melupakan kucing paling cantik dan anggun se-Kecamatan Lengkong itu.
Tak ada satu haripun yang aku lewati tanpa rasa bersalah, Mar. Andai aku datang lebih cepat waktu itu aku pasti bisa menyelamatkanmu, Asep, Tatang, dan Engkus dari tembakan itu atau setidaknya mengajak Kalis pergi menjauh dan melindunginya dari pemandangan keji itu. Aku menyesal karena hanya melihat dari kejauhan, aku menyesal karena berlari ketakutan. Maa an aku, Mar. Tapi aku masih tidak mengerti, Mar. Mengapa orang-orang itu menembakimu dan teman teman kita? Apa karena mereka memakai seragam loreng hijaucokelat itu? Kata Mak Ijah (penjual warteg yang sering memberikan kepala ikan pada kita, ingat?) orang-orang berseragam itu kuat dan berkuasa karena senjata yang mereka pegang. Tapi apa salah kita sampai mereka tega membunuh? Aku tahu hukum nyawa dibalas nyawa, tapi kita sama sekali tak pernah membunuh kaum mereka, Mar. Apakah mereka dendam karena kita membunuh burung-burung dan ayam-ayam mereka? Apakah karena terkadang kita menerobos dapur mereka? Atau karena suara-suara erangan kaum kita saat musim kawin? Atau apa? Aku tidak mengerti Tapi aku belum selesai, Mar. Aku tidak berbohong ketika aku mengatakan Lengkong tidak lagi sama tanpamu. Ah, bukan, Bandung tidak lagi sama tanpamu. Setelah kepergianmu, kucing-kucing di pasar dan di pusat kuliner tak lagi bisa dikendalikan. Mereka kawin sesuka hati dan jumlahnya makin membludak. Pedagang-pedagang di pasar kewalahan karena mereka menerobos dan mencuri makanan ataupun ikan-ikan mentah. Mereka juga dengan lancangnya naik ke meja ketika pelanggan sedang menyantap makanannya. Mereka tak lagi peduli pada Kode Etik Kucing Liar Bandung yang sudah susah payah kita tanamkan pada mereka: bahwa kucing liar ras apapun harus meminta makan dan perhatian dengan sopan kepada siapapun. Tampaknya mereka sudah menganggap enteng pasal itu. Aku pun tak mampu lagi mengatur mereka, Mar, kau tahu sendiri mereka hanya patuh kepadamu. dan itu membuatku frustrasi. Andai kau m a s i h h i d u p p a s t i k a u a k a n menjelaskannya kepadaku yang bodoh ini. Ah sial, aku menangis lagi.
Pendatang yang membuka usaha kecil di sektor informal seringkali mendapatkan Kita telah melihat bahwa kemunculan kawasan urban di Bali yang melekat dengan tumbuhnya turisme beriringan dengan krisis-krisis penghidupan sebagai konsekuensi dari tak pernah adanya kekuatan buruh yang mengontrol proses transisi ekonomi lintas sektor. Alih-alih menggunakan sudut pandang seperti ‘orang Barat’ yang melihat Bali dengan segala eksotisme budayanya, kita telah melihat bagaimana relasi kerja pada masa prakolonial telah menciptakan kondisi kesenjangan dengan anggapan bahwa petani yang tidak memiliki tanah berkewajiban memberikan pungutan serta pengerahan tenaga kepada kelas bangsawan. Hal tersebut yang menyebabkan ketika turisme massal muncul, mereka yang memiliki akses ekonomi seperti lahan, pendidikan, keterampilan, dan modal yang akan mendapatkan keuntungan. Baik dalam bisnis perhotelan, sektor informal, maupun garmen. Kesenjangan itu terus berlanjut dalam kelindan kelas sosial maupun gender yang dibingkai oleh struktur ‘pengetahuan lokal’ di Bali. Baik dalam sektor perhotelan, informal, maupun garmen. Dan pihak perempuan berada dalam posisi kelas sosial bawah dan berada pada penguasaan laki-laki. Kompleksnya kondisi perburuhan dalam krisis-krisis penghidupan di Bali menunjukkan bahwa menjadi penting buruh dari berbagai bidang bersatu untuk mendorong terjadinya redistribusi sumber ekonomi, akses pendidikan, jaminan sosial, serta terlibat dalam mendorong transformasi ekonomi lintas sektor. Transformasi ekonomi perkotaan yang dikawal oleh buruh menjadi penting untuk memastikan bahwa rakyat kecil tak akan terlempar dari satu sumber penghidupan ke sumber yang lainnya tanpa terus berada dalam kondisi penuh kerentanan. Buruh yang merebut hak atas kota berarti memastikan bahwa sumber penghidupan yang digeluti akan cukup menghidupinya. sebagai hal yang tidak wajar. Pembagian gender memengaruhi alasan seseorang memilih pekerjaan sektor informal di Bali. Laki-laki umumnya memilih pekerjaan sektor informal pariwisata disebabkan adanya kebutuhan keuangan untuk menunjang penghidupan keluarga dan tak punya pilihan profesi lainnya. Tekanan masyarakat dan keluarga lebih besar akan jatuh kepada laki-laki untuk mencari pekerjaan dan menghidupi diri sendiri/keluarga. Sementara perempuan dibayangkan dapat bergantung pada penghasilan suami (Cukier & Wall, 1995). Tekanan terhadap laki-laki agar memperoleh pendidikan yang lebih tinggi ini ditujukan untuk mendapatkan akses pekerjaan yang lebih baik juga menjadi struktur pengetahuan yang tertanam di dalam masyarakat Bali. Akses perempuan terhadap sumber penghidupan pada lapangan kerja formal sangat ditentukan oleh akses pendidikan mereka. Temuan Hanim et.al., (2022) sepanjang tahun 2016-2022 saja menemukan bahwa semakin tinggi akses pendidikan perempuan, maka semakin tinggi pula tingkat partisipasi perempuan Bali dalam dunia kerja. Perempuan dengan akses pendidikan terbatas terpaksa mencari penghidupan dari sektor informal yang penuh kerentanan. Di sisi lain, upah minimum kabupaten juga berpengaruh terhadap tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Bali pada tahun 2016-2020 (Hanim et al., 2022). Kota Berhiaskan Turisme, Krisis Penghidupan Tanpa Ujung
pendapatan lebih besar dua kali lipat dari upah minimum Denpasar. Salah satu faktor penyebab munculnya situasi tersebut adalah situasi sosial Denpasar yang relatif stabil, tetapi mereka mampu mendapat pendapatan dua kali upah minimum daerah dengan ratarata jam kerja selama sembilan jam per hari (Nilakusmawati & Srinadi, 2019). Buruh sektor informal juga harus bekerja melebihi jam kerja standar bagi pekerja menurut BPS yakni 35 jam/minggu disebabkan mereka bekerja rata-rata selama 64,03 jam/minggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka sebenarnya berada dalam kondisi ‘tereksploitasi.’ Modal usaha yang terbatas dari majikan serta persaingan dengan buruh pendatang lainnya di sektor informal menyebabkan buruh mau tidak mau harus menerima kondisi tersebut. Ketiadaan sumber penghidupan lain juga tak memberikan banyak pilihan bagi buruh pendatang untuk menyambung hidup (Nilakusmawati & Srinadi, 2019). Mereka yang mencari penghidupan sektor informal apalagi pada bisnis turisme sama seperti daerah lainnya juga mendapatkan gairah ekonomi bersifat musiman. Hal tersebut terutama dipengaruhi oleh musim kunjungan wisatawan mancanegara. Sedangkan destinasi yang menggantungkan pada kunjungan wisatawan domestik biasanya memiliki pendapatan yang relatif stabil (Nilakusmawati & Susilawati, 2018). Pengusaha sektor informal di Bali tidak melakukan pembukuan atas kegiatan usahanya dan tak mendaftarkan unit bisnisnya ke pemerintah. Akibat tidak terdaftar di pemerintah, buruh informal tak mendapatkan hak-haknya atas jaminan sosial maupun pengembangan kapasitas (Nilakusmawati & Susilawati, 2018). Turisme di Bali dihadapkan pula pada munculnya berbagai ‘kafe ilegal’ yang mendapatkan buruh dari para pendatang. Buruh pendatang biasanya berasal dari pulau Jawa, Madura, dan Lombok. Sebagian besar buruh kafe adalah buruh pendatang yang sebelumnya menghadapi masalah putus sekolah. Mereka siap melakukan pekerjaan apa pun termasuk menjadi bagian dari bisnis prostitusi yang disediakan oleh ‘kafe ilegal.’ Mereka memperoleh gaji di bawah upah minimum, tetapi mendapatkan bonus dari pelanggan (Izawa, 2009). Beberapa buruh kafe bahkan terlibat praktik perdagangan manusia dengan membawa perempuan dari daerahnya untuk kepentingan dirinya dan bosnya. Hal tersebut dilakukan dengan janji manis berupa bantuan memberikan pekerjaan. Beberapa pemilik usaha bahkan mengunjungi desa-desa asal para perempuan calon buruhnya dan mengintai mereka. Terminal bus menjadi tempat lainnya untuk merekrut perempuan menjadi bagian dari bisnis prostitusi. Perempuan dari pedesaan lebih sering direkrut disebabkan mudah diperdaya dan tak memiliki kerabat di kota untuk dimintai bantuan. Perempuan dibayar sesuai daerah asalnya. Wanita dari Banyuwangi dibayar lebih rendah daripada mereka yang berasal dari Badung, sedangkan buruh yang berasal dari Manado mendapatkan bayaran tertinggi. Upaya mengatasi praktik prostitusi sebagai bagian dari sektor informal di Bali bukanlah perkara mudah disebabkan kendali bisnis melibatkan elit-elit lokal di akar rumput (Izawa, 2009).
Akses tanah, keterampilan, akses pendidikan, serta perbedaan kesempatan mendapatkan sumber penghidupan memengaruhi pembagian relasi kerja pada sektor informal di Bali. Lapangan kerja formal kebanyakan diisi buruh terampil dari Jawa. Penduduk setempat yang memiliki akses sumber daya memilih menjadi wiraswasta. Mereka yang berasal dari daerah miskin dan tidak memiliki akseslah yang terjebak menjadi buruh di sektor informal (Fagertun, 2016). Perempuan setempat pada dasarnya terjerat dalam kondisi na ah ganda seperti harus mengurus rumah tangga, terlibat dalam pengerahan tenaga kerja untuk kepentingan banjar, dan menyiapkan persembahan dalam ritual keagamaan; meskipun sudah memiliki usaha kost dan harus mengelola warung makan. Seorang perempuan yang bertindak mengurus usaha kenyataannya tak lantas memiliki akses dalam pembagian harta saat diceraikan oleh suaminya yang disebabkan struktur budaya tak menghendaki adanya pewarisan sumber daya pada perempuan (Fagertun, 2016). Semuanya yang diusahakan tetap dianggap milik laki-laki, sehingga di sini terlihat bahwa struktur budaya setempat, bahkan saat turisme massal berkembang masih saja meminggirkan kaum perempuan. Tumbuhnya turisme massal mendorong pula peningkatan buruh dari kalangan perempuan pada sektor jasa dibandingkan bidang pertanian. Perempuan di Bali secara tradisional beperan dalam urusan rumah tangga, kegiatan keagamaan, dan aktivitas di pasar. Sedangkan para pria beperan dalam kelembagaan banjar, subak, dan mengurus ladang. Walau perempuan dan laki-laki kini sama-sama bekerja pada bidang jasa pariwisata, perempuan umumnya mendapatkan besaran upah yang lebih kecil (Bali 1). Perempuan yang bekerja sebagai receptionist di hotel memang relatif aman sebagai lapangan kerja formal karena tidak memerlukan aktivitas fisik yang banyak. Pelatihan dan pendidikan perhotelan diperlukan untuk menjadi receptionist, sehingga tak semua rakyat dapat mengakses lapangan kerja formal seperti itu. Perempuan juga tak jarang menyambung hidup dengan membuka warung atau menjadi buruh di warung. Laki-laki yang memiliki pekerjaan lainnya menyerahkan pengelolaan warung pada istrinya. Ketika si pemilik sibuk melayani turis terkadang buruh warung lainnya akan menjaga anak si pemilik (Cukier & Wall, 1995). Sumber penghidupan lainnya yang muncul bagi rakyat adalah pedagang kaki lima yang menjual berbagai suvenir bagi turis. Pedagang laki-laki biasanya bukan orang Bali, sementara PKL perempuan biasanya berasal dari Bali. Penjualan barang ditentukan oleh pembagian gender. Misalnya laki-laki hanya menjual jam tangan dan kacamata hitam, sedangkan perempuan menjual pakaian. Berbagai bentuk kerajinan dan perhiasan dijual baik oleh laki-laki dan perempuan. Perempuan tak biasa beperan sebagai pemandu wisata disebabkan pengaruh dari struktur budaya yang memandang bahwa wanita yang mengemudi atau pergi dari rumah tanpa ditemani oleh pria dari kalangan keluarga dilihat di satu sisi telah memberi kesempatan bagi penduduk setempat seperti di Teluk Jimbaran untuk menyewakan hunian. Penduduk setempat yang memiliki akses lahan kemudian membuka usaha kost dan kios. Sehingga mampu meningkatkan ekonomi keluarga serta merekrut buruh pendatang lainnya untuk bekerja kepadanya. Realita seperti ini menunjukkan kompleksnya hubungan perburuhan dalam sektor informal turisme di Bali.
Aku dengar populasi kita yang meledak dianggap sebagai ‘hama’ di kota, Mar. Aku baru tahu karena kupikir hama itu hanya ulat, belalang, dan tikus yang memakan tanaman pertanian. Tapi ternyata hewan apapun yang melebihi jumlah yang seharusnya itu disebut hama. “Hama itu mengganggu keseimbangan dan perlu disingkirkan,” Aku ingat jelas perkataan di sosialisasi bercocok tanam ibu-ibu RT. Sejujurnya aku tidak setuju dengan pilihan kata itu, Mar. Masa iya kaum kita yang lucu dan menggemaskan ini disamakan dengan ulat dan tikus?! Kalau aku dengar dari televisi, orang-orang di kota ini banyak yang terusik dengan perilaku kita. Padahal perilaku kita sejak dulu tidak berubah, bukan? Kita menandai daerah kekuasaan dengan air pipis kita. Kalau dulu kita pipis di batang pohon sekarang kita pipis di pagar atau dinding. Kita buang hajat di taman mereka karena kita butuh tanah untuk menimbun tai, mana bisa dengan betonbeton jalanan. Kalau kita ribut-ribut kawin di dekat rumah mereka itu karena kita tidak punya tempat lain untuk melakukannya! Dulu saat masih banyak kebun atau tegalan kita pasti melakukannya di sana. Aku bingung, seharusnya mereka protes ke orang-orang yang membangun bangunan tanpa memperhatikan habitat kita, bukannya menyalahkan insting hewani kita! Ya, kan Mar?! Kita sama-sama berjuang untuk hidup bukan? Kita tahu kota ini bukan hanya dihuni manusia, ada banyak kaum lain seperti kaum kita, kaum anjing, b u r u n g , t a p i m e n g a p a m e r e k a memperlakukan kita seperti itu? Tapi aku tidak heran juga, Mar. Manusia memang tidak pernah berubah. Mereka haus kekuasaan dan suka menyingkirkan sesuatu yang menghalangi mereka, meskipun itu sesama mereka sendiri. Aku dapat cerita dari Pepen, kucing Kiaracondong, kalau rumah majikannya yang ada di pinggir rel kereta digusur. Persoalan lain yang membuatku pusing adalah anak-anak semakin banyak, Mar. Jujur ini sama sekali di luar kendaliku. Sejak kepergianmu sepertinya kucing-kucing dari luar Bandung mulai berani memasuki perbatasan dan kawin dengan betina-betina kita. Aku tidak bisa mengatur Tetua Kucing di setiap kecamatan karena mereka tidak lagi mau menghiraukanku. “Kamu bukan Marko, urus saja urusanmu sendiri,” sudah sering sekali aku dengar. Aku sakit hati tapi di sisi lain aku tidak bisa berbuat apapun. Maa an aku Mar, karena tidak bisa memegang erat dan menjaga Kode Etik Kucing Liar dan kekuasaan yang kita bangun sejak dulu. Karena kebrutalan itu aku tidak heran jika keberadaan kita mengganggu manusia, Mar. Makin banyak orang-orang yang membenci kaum kita. Tapi aku tidak setuju kalau kebencian itu membuat kita tertindas dan terdiskriminasi. Beberapa waktu lalu, Imah yang sedang hamil disiram air panas karena mengeongngeong meminta makan kepada pedagang kaki lima. Padahal dia meminta dengan sopan, Mar tapi kenapa dia tetap mendapat perlakuan seperti itu? Kau tahu Boy si kucing remaja tanggung itu? Minggu lalu dia dicekoki miras oleh sekelompok ABG tak beradab. Dan kau tahu apa yang mereka lakukan? Mereka tertawa melihat Boy malang yang sempoyongan! Manusia yang katanya makhluk paling cerdas itu ternyata belum tentu punya hati. Benar-benar biadab.
Tak hanya majikannya, rumah-rumah lain di sepanjang rel itu diluluhlantakkan secara paksa. Bahkan mereka membawa preman-preman pasar dan memberi mereka seragam untuk ‘menertibkan’ rumah-rumah yang mengganggu pembangunan. Ingatkah kau Mar, di tahun 2019 saat kita menjenguk saudara-saudara kita di Tamansari yang kena gusur? Sampai sekarang aku tidak bisa lupa wajah-wajah warga yang diseret orang-orang berseragam: menjerit-jerit sambil memeluk barang berharga mereka. Kau menggeram dan menggigit kaki mereka tapi begitu mudahnya mereka menyingkirkanmu sekali tendangan. Begitu pula warga-warga itu, terusir dalam sekali gempur. Katanya, rumah-rumah itu menghalangi pembangunan sarana prasarana untuk publik. Tapi kalau mereka melakukannya dengan menyingkirkan rumah milik warga sipil bukankah itu bertentangan? Jadi yang dimaksud ‘publik’ di sini siapa? Maaf Marko surat ini sempat terjeda. Ada panggilan alam mendadak tadi. Aku lanjutkan ya. — Sebagaimana Lengkong yang makin liar karena kucing liar yang tidak taat aturan, Bandung juga semakin liar, mencekam, dan menyeramkan, Mar. Rasanya dulu kita masih bisa menikmati jalan-jalan malam ya meski lewat jam 1 malam. Tapi sekarang aku sendiri tak berani keluar dari persembunyianku lewat jam 11 malam karena banyak bahaya mengintai di luar sana. Ada lebih banyak geng motor yang kelayapan dengan suara knalpot yang kau benci. Anggota geng itu bahkan berani membawa senjata tajam macam celurit untuk membegal dan memeras orang-orang tidak bersalah. Aksi mereka juga didukung kegelapan Bandung yang pekat tanpa penerangan jalan dan sepinya pengawasan polisi. Berita-berita pembegalan makin banyak diperbincangkan di warung tegal langganan kita dan membuat bulu kudukku merinding. Aku tak mengerti mengapa manusia bisa setega itu melukai, membunuh, dan menyingkirkan sesamanya. Padahal katanya mereka punya ‘perikemanusiaan’. Yah, aku tidak heran kalau misal mereka tidak punya ‘perikehewanan’ karena mereka saja belum bisa menerapkan yang pertama. Ada satu cerita lagi, Mar. Kau tahu, baru-baru ini ada satu ikon baru di kota kita yang mengundang ribuan wisatawan dari Jawa Barat. Ikon megah nan agung itu benar-benar menjadi sorotan banyak orang. Akupun ingin ke sana dan mencoba selonjoran di selasarnya yang sangat luas. Tapi sepertinya itu akan sulit karena akses ke sana sangat terbatas. Manusia yang menggunakan mobil saja harus mengantri dua kilometer untuk masuk ke sana. Kudengar gara-gara itu banyak protes yang dilayangkan kepada orang-orang di Gedung Sate. “Harusnya bangun aksesnya dulu, perbaiki transportasi umum!”. Ini semakin merembet ke biaya pembangunan yang di luar nalar. “Harusnya benahi dulu gedung-gedung sekolah, bikin program pengentasan kemiskinan!”. Kontroversial sekali, pokoknya Mar! Kalau pikiran sedang ruwet seperti ini aku jadi kangen sekali nongkrong bersamamu di atas Jembatan Pasopati setiap malam Jumat, Mar. Sambil melihat bukit berbintang dan cahaya berbaris dari kemacetan, kita berbincang soal masa depan kucing Bandung dan kesenjangan kucing liar dan peliharaan. Kau selalu bilang kalau kucing Bandung Utara lebih sejahtera daripada kucing Bandung Dan apakah orang-orang yang tergusur ini ‘hama’ yang perlu disingkirkan?
Maaf Marko surat ini sempat terjeda. Ada panggilan alam mendadak tadi. Aku lanjutkan ya. Sebagaimana Lengkong yang makin liar karena kucing liar yang tidak taat aturan, Bandung juga semakin liar, mencekam, dan menyeramkan, Mar. Rasanya dulu kita masih bisa menikmati jalan-jalan malam ya meski lewat jam 1 malam. Tapi sekarang aku sendiri tak berani keluar dari persembunyianku lewat jam 11 malam karena banyak bahaya mengintai di luar sana. Ada lebih banyak geng motor yang kelayapan dengan suara knalpot yang kau benci. Anggota geng itu bahkan berani membawa senjata tajam macam celurit untuk membegal dan memeras orang-orang tidak bersalah. Aksi mereka juga didukung kegelapan Bandung yang pekat tanpa penerangan jalan dan sepinya pengawasan polisi. Berita-berita pembegalan makin banyak diperbincangkan di warung tegal langganan kita dan membuat bulu kudukku merinding. Aku tak mengerti mengapa manusia bisa setega itu melukai, membunuh, dan menyingkirkan sesamanya. Padahal katanya mereka punya ‘perikemanusiaan’. Yah, aku tidak heran kalau misal mereka tidak punya ‘perikehewanan’ karena mereka saja belum bisa menerapkan yang pertama. Ada satu cerita lagi, Mar. Kau tahu, baru-baru ini ada satu ikon baru di kota kita yang mengundang ribuan wisatawan dari Jawa Barat. Ikon megah nan agung itu benar-benar menjadi sorotan banyak orang. Akupun ingin ke sana dan mencoba selonjoran di selasarnya yang sangat luas. Tapi sepertinya itu akan sulit karena akses ke sana sangat terbatas. Manusia yang menggunakan mobil saja harus mengantri dua kilometer untuk masuk ke sana. Kudengar gara-gara itu banyak protes yang dilayangkan kepada orang-orang di Gedung Sate. “Harusnya bangun aksesnya dulu, perbaiki transportasi umum!”. Ini semakin merembet ke biaya pembangunan yang di luar nalar. “Harusnya benahi dulu gedung-gedung sekolah, bikin program pengentasan kemiskinan!”. Kontroversial sekali, pokoknya Mar! Kalau pikiran sedang ruwet seperti ini aku jadi kangen sekali nongkrong bersamamu di atas Jembatan Pasopati setiap malam Jumat, Mar. Sambil melihat bukit berbintang dan cahaya berbaris dari kemacetan, kita berbincang soal masa depan kucing Bandung dan kesenjangan kucing liar dan peliharaan. Kau selalu bilang kalau kucing Bandung Utara lebih sejahtera daripada kucing Bandung Dan apakah orang-orang yang tergusur ini ‘hama’ yang perlu disingkirkan? — Tak hanya majikannya, rumah-rumah lain di sepanjang rel itu diluluhlantakkan secara paksa. Bahkan mereka membawa preman-preman pasar dan memberi mereka seragam untuk ‘menertibkan’ rumah-rumah yang mengganggu pembangunan. Ingatkah kau Mar, di tahun 2019 saat kita menjenguk saudara-saudara kita di Tamansari yang kena gusur? Sampai sekarang aku tidak bisa lupa wajah-wajah warga yang diseret orang-orang berseragam: menjerit-jerit sambil memeluk barang berharga mereka. Kau menggeram dan menggigit kaki mereka tapi begitu mudahnya mereka menyingkirkanmu sekali tendangan. Begitu pula warga-warga itu, terusir dalam sekali gempur. Katanya, rumah-rumah itu menghalangi pembangunan sarana prasarana untuk publik. Tapi kalau mereka melakukannya dengan menyingkirkan rumah milik warga sipil bukankah itu bertentangan? Jadi yang dimaksud ‘publik’ di sini siapa?
Selatan karena sumber makanan dan perlakuan manusia yang berbeda. Kau yang sudah melalang buana ke seluruh Bandung bercerita bahwa manusia Bandung utara lebih sayang dan peduli kepada kaum kita, berbeda dengan kaum kita yang tinggal di Bandung selatan atau pinggiran Bandung. M a u m a k a n s a j a s u s a h . “ M e r e k a menghadapi kerasnya kehidupan karena daerah itu dihuni oleh pekerja komuter yang sudah lelah menghadapi kemacetan pinggir kota. Ya mau gimana lagi, mikir diri sendiri saja sudah sulit apalagi mikir kaum kita yang kerjanya minta-minta,” begitu katamu. Kadang kau juga berandai-andai bisa menjadi kucing peliharaan yang tidak perlu minta-minta, kenyang dengan limpahan kasih sayang, dan sehat karena grooming dan vaksin lengkap. “Jadi kucing peliharaan itu enak, Jang, karena majikan pasti lebih sayang anabulnya daripada diri sendiri”. Meski begitu, kau selalu mengakhiri percakapan malam-malam itu dengan berbangga hati. Bangga bahwa kau seekor kucing liar yang berhasil menghadapi kerasnya Bandung dan hidup bersahaja dengan menjalankan kode etik kucing liar. Namun di luar percakapan kita, ada hal yang mengganjal hati dah membuatku tidak sreg: kenyataan bahwa kesenjangan Bandung belum berubah. Katanya Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum. Namun, tampaknya Tuhan lupa untuk kembali dan merawatnya. Ada banyak kenangan yang kita lewati Bersama di kota ini, Mar. Bandung masih sama macetnya dan padatnya. Tapi yang membuatnya berbeda adalah kehadiranmu. Dan tanpa kau, Bandung seperti kota yang tinggal menunggu waktu menghadapi titik kritisnya. Panjang juga ya ceritaku. Yah, mau bagaimana lagi. Aku juga bingung bagaimana menghabiskan waktu sambil menunggu giliran sterilisasi. Kata orang steril bisa menghilangkan nafsu birahiku. Apapun itu, aku pikir rasanya akan sama saja seperti sekarang, tak ada gairah hidup. Ah iya, Mar. Aku ingin menyanyikan satu lagu yang sangat membekas buatku. Semoga kau suka ya.
bukan cuma… urusan wilayah belaka… lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi Mungkin saja ada tempat yang lainnya.. akan tetapi perasaanku Dan Bandung bagiku yang bersamaku ketika rindu sepenuhnya ada di Bandung ketika ku berada di sana. Terima kasih ya, Mar untuk segalanya. Aku tutup dulu suratku hari ini. Sampai jumpa di nirwana entah kapan. yang bersamaku ketika rindu Sahabatmu sampai kapanpun, Ujang In memoriam empat kucing yang ditembak di Sesko TNI Martadinata, Bandung pada 16 Agustus 2022. Semoga mereka berisitirahat dengan tenang di alam yang lebih baik. Amin.
Usai menelaah bait demi bait kitab Matsnawi karya Jalaluddin Rumi, aku terkesima akan kalimat Rumi yang ditujukan pada Husamuddin yang berbunyi, "Cinta sesungguhnya tak ada hubungannya dengan lima rasa panca indera, melainkan satu satunya tujuan adalah tertarik pada Sang Tercinta.” Bersama kabut yang menelungkup di pekarangan rumah, termenung aku memikirkan kalimat Rumi. Bagiku, kata-kata itu seakan petunjuk yang samar, namun mendalam dan aku tersungkur mengingat makammu di Maesan. Bukan apa-apa, beberapa waktu lalu aku melewati perbatasan Jember dan Bondowoso lalu mendapati nisanmu penuh aksi vandalisme. Sungguh, Nyonya Djemilah, aku mengutuk pe rbua t an itu. Bagiku, pa r a pelaku—siapa pun itu—tak layak disebut sebagai anak bangsa. Nyonya Djemilah Birnie yang baik Engkau begitu memaklumi betapa aku teramat menghormatimu. Tiap kali ke sana, aku tak sekadar menaruh bunga-bunga atau memanjatkan doa-doa, melainkan aku juga membayangkan kehidupanmu pada masa silam. Pada masa di mana engkau menjadi perempuan beruntung yang serupa mukjizat dari Tuhan. Aku sendiri sering menulis akan dirimu. Entah berupa esai atau cerita pendek, dan selalu kutujukan itu untuk dirimu. Sebentar! Sebentar! Apa sekarang engkau mulai bosan membaca tulisanku yang selalu mencoba masuk di kehidupanmu? Atau jangan-jangan kau bosan sebab tulisanku kian buruk? Hei, jangan salah paham dulu dan tetaplah duduk di situ! Kali ini aku tak akan mengirimimu tulisan bernafas sejarah. Tapi aku mengirimimu sebuah surat yang apabila dibersihkan dari huruf dan kata, maka bangunan tulisan akan memancarkan kenangan sekaligus doa, untukmu. Nyonya Djemilah Birnie yang terhormat Jember dan Tembakau: Surat untuk Djemilah Birnie yang Mahsyur pada Masa Lampau
Bapak dan tembakau adalah memoar langka tentang riwayat seorang ayah dalam mengenalkan pahit dan getir kehidupan pada anaknya. Dulu, entah usia berapa, aku kerap ikut Ibu ke sawah. Biasanya pada hari Minggu atau hari libur. Di sana, Bapak selalu mengajakku membuat orangorangan sawah dari jerami lalu ditaruh di sudut sawah atau di pondok kecil yang terbuat dari bambu. Tak jarang, orangorangan ini mengenakan baju dan topi. Dari kejauhan, tampak seperti orang sungguhan. Kata Bapak, orang orangan ini cukup membantu kala beberapa manusia berniat mencuri terong, cabai atau jagung yang Bapak tanam. Pernah suatu ketika, Bapak tak lagi menggunakan orang-orangan melainkan membayar orang sungguhan. Seingatku, saat Bapak menanam tembakau dan terdapat rumor yang menguar ke sudut-sudut padukuhan kalau tembakau di desa lain, banyak dicuri ketika malam. Jadi, Bapak memint a peke rj a di s awah menjaganya. Bagi lelaki seperti Bapak, tembakau bukan sekadar bertani melainkan menjadi tradisi tiap tahun. Aku tak mengerti, mengapa daun sa a ini seolah urat nadi petani yang apabila tidak menanam tembakau, maka ia belum layak disebut petani. “Tapi bukannya ada yang sampai bunuh diri, Pak?” kataku suatu hari, ketika menguping pembicaraan orang dewasa yang cerita, kalau di Antirogo ada yang bunuh diri gara-gara tembakaunya tak laku. Bapak mesem-mesem. Ia menatapku lekat lalu berkata, “Menanam tembakau memang tak ubahnya berjudi, Nak. Sekali untung, bisa tersenyum berbulan-bulan. Tapi kalau buntung, nyawa melekat masih harus disyukuri.” Aku tak paham maksud Bapak, tetapi aku menyimpan kata-kata itu dalam ruang ingatan. Aku bawa kalimat Bapak bertahun-tahun. Melewati masa kanak-kanak dan remaja. Kini, di bilangan usia dewasa aku mulai mengerti, jika tembakau bagi petani di Jember telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Tak peduli berapa banyak petani yang terpaksa menjadi TKI, rumah dan sawah disita bank, atau utang puluhan bahkan ratusan juta manakala harga tak memihak, tembakau tetaplah candu tiap tahun. I/ Gumuk, Tembakau dan Masa Kecil yang Bahagia nan Getir
Tak jarang para bule yang ingin pergi ke Bali dan menggunakan transportasi darat, akan berhenti di pinggir jalan. Memotret kami yang tengah menyelamatkan tembakau di lapangan dari sapuan gerimis yang bakal merusak daun emas ini.Bila musim tembakau begini, kadang anak-anak seperti aku dan yang lain mesti mencari akal agar tetap bisa bermain layangan. Bukan apaapa, lapangan yang biasa menjadi tempat mangkal bermain telah disulap sebagai tempat menjemur tembakau. Begitupula dengan tanah lapang atau halaman orangorang. Penuh sesak akan tembakau. Tak ayal, kami sering bermain di dekat gumuk belakang rumah. Di sana, di dekat villa yang tak kunjung selesai itu, teman-teman saling adu layangan sementara aku yang lebih menyukai mengejar layangan putus, akan berlomba lari ke gumuk, ke jalan-jalan atau ke ladang orang dan menginjak-injak tanaman mereka demi mendapatkan layangan. Bersama galah yang ujungnya diberi ranting guna mengait senar yang melekat di layangan putus, aku berlari sembari tertawa. Kadang kami saling bertengkar merebutkan siapa dulu yang meraih layangan. Tapi tak jarang juga kalua kami saling diamuk orang tua masingmasing lantaran hari telah petang, pertanda mengaji ke surau, tapi kami masih bermain l a ya n g a n . Ah , sun g guh , N y on ya . Membayangkan kebahagiaan pada masa itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan uang. Tapi, Nyonya Djemilah Birnie. Anak-anak petani tembakau seperti aku, sebetulnya telah dilatih secara mental sejak kecil. Kami diajari merawat tembakau seperti merawat anak sendiri. Kami diajari menjemur tembakau di lapangan atau tanah lapang milik t e tangga, dan apabila awan membentuk lengkungan mendung di atas sana, maka kami harus s iap s iaga mengangkat tembakau yang dijemur tadi. Aku tidak ingat, tahun berapa aku mengenalmu. Tapi aku ingat, hari itu adalah hari di mana aku masih menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota ini. Ketika itu, aku ingin sekali menulis tentang petani tembakau. Terlebih, saat itu Raung tengah meletus. Abunya meluluhlantakkan ekonomi warga. Tembakau bukan sekadar menghitam atau daunnya mesti dibersihkan menggunakan kuas agar debu yang menempel bisa hilang, melainkan harga benar-benar ambruk tiada batas. Para petani kelimpungan, termasuk Bapak. Tapi Bapak tetap tegar. Ia mengajakku ke gudang menjual hasil panen dan aku berulang kali mengelus dada, menengadah ke langit dengan mata berkaca-kaca, saat melihat hasil penjualan yang tak sebanding dengan pengorbanan. Bapak menguatkan aku. Katanya, menjadi petani harus siap untung dan rugi. Itulah yang membuatku ingin menulis novel tentang petani tembakau. Aku memutuskan mempelajari sejarah tembakau di kota Pandalungan ini. Tak jarang aku pergi ke wilayah selatan, tempat di mana para petani menanam tembakau jenis Naa Oogst. II/ Sejarah yang Sering Disalahpahami
Sungguh, Nyonya. Di bawah pohon kamboja yang gugur bunganya memenuhi area makam, aku termenung membayangkan kehidupanmu pada masa silam. Apalagi, saat aku mengedarkan pandang ke sekeliling lalu menatap kantor polisi, aku kian kagum. Konon, di bangunan instansi itulah bekas rumahmu berada. Aduhai, Nyonya. Aku kira, engkau begitu beruntung menjadi istri Tuan Gerhard David Birnie. Lelaki yang merupakan sepupu George Birnie. Di saat lelaki koloni pada zaman itu kerap memelihara gundik dan malu mengakui Nyonya Djemilah yang budiman Dulu aku mengira kalau semua petani tembakau di Jember menanam jenis tembakau yang sama. Tapi setelah aku mempelajari sejarahnya, rupanya aku keliru. Jenis tembakau kretek dan tembakau cerutu adalah jenis berbeda. Bila Bapak kerap menanam jenis tembakau Voor-Oogst yang biasa dijual di gudang Sampoerna, Djarum atau Gudang Garam sebagai bahan baku rokok kretek pasaran, maka para petani yang tinggal di selatan Jember, menanam jenis tembakau Naa-Oogst sebagai bahan pokok cerutu yang diekspor ke luar negeri. Sontak aku bertanya-tanya, mengapa ada perbedaan antara petani di wilayah utara dan selatan Jember? Maka, dari pertanyaan inilah aku memulai mengenalmu, Nyonya. Beberapa kawan memintaku mempelajari sejarah George Birnie. Ia disebut sebut sebagai bapak modern Jember ketika kota ini masih masuk wilayah Afdeling Bondowoso. George Birnie adalah lelaki Skotlandia. Pada tahun 1859, ia mendirikan perusahaan bernama Landbouw Maatschapij Oud Djember (LMOD). Konon, perusahaan ini memiliki 440 gudang penyimpanan dan pengolahan dengan keseluruhan luas 80.000 kaki. Apabila semua gudang digabung menjadi satu atap, maka setara dengan jalanan sepanjang Ro erdam hingga Schveningen. Guna memperlancar misi, George Birnie mendatangkan banyak pekerja dari Gresik atau Madura ke Jember. Dari sebagian informasi yang aku baca, mereka kerap menyebutmu sebagai istri George Birnie. Awalnya aku mengiyakan. Apalagi nama belakang kalian berdua nyaris tiada perbedaan. Namun, suatu hari aku dibuat tercengang. Ada seorang sejarawan budaya yang menyebut kalau istri George Birnie adalah Rabina Birnie. Bukan engkau, Nyonya. Sontak aku mencari-cari informasi akan Rabina Birnie, tapi sedikit sekali sejarah tentangnya. Maka, aku memutuskan mencari tentangmu terlebih dahulu. Aku datangi Maesan, perbatasan antara Jember dan Bondowoso. Di sana, di sebelah kantor polisi Maesan, aku termangu mendapati area persawahan. Bukan apa-apa, nyaris di sekitar makammu tertutupi ilalang setinggi tubuh. Kalau sekadar memandang sekilas dari tepi jalan, aku yakin orang-orang tak bakal tahu kalau ada makam di tengah sawah. Aku masih ingat, bagaimana pertama kalinya aku menginjakkan diri di area sana. Ketika itu, bibirku begitu gemetar. Aku teramat takjub mendapati makammu bergaya eropa di mana di epitaf nisan tercantum kalimat “Hier Rust Djemilah Birnie, Geb: 30 Juni 1845. Overl: 14 April 1906”. Kalimat ini kira-kira berbunyi “Di sini beristirahat Djemilah Birnie, lahir 30 Juni 1845, wafat 14 April 1906.”
Di wilayah Silo, misalnya. Orang-orang mempertahankan tanah nenek moyang mereka mati-matian. Terlebih saat beberapa waktu lalu ada investor yang diam-diam datang, dan berusaha meneliti kandungan emas di sana. Belum lagi di Paseban Kencong atau Gunung Sadeng Puger. Seakan belum cukup menjadi pertanda jika orang-orang kecil juga memiliki nyawa. Wahai perempuan pribumi yang beruntung Sebelum aku mengakhiri surat ini, sebetulnya ada yang ingin kusampaikan padamu. Begini, Nyonya. Kota yang dulu engkau banggakan, kini tampak asing. Pembangunan di mana-mana. Gedung bertingkat mulai bersusulan. Entah sebagai tempat hiburan atau industri perusahaan. Sayangnya, Nyonya. Kampung-kampung terkena imbasnya. Bahkan padukuhanpadukuhan kecil di dekat makammu juga tak kalah diincar. Sawah-sawah tempat para petani menanam tembakau, telah beralih menjadi pabrik atau perumahan. Gumukgumuk tempat aku mengejar layangan, telah dikeruk habis-habisan. Belum lagi dalih tempat wisata alam yang memaksa dan mengubah desa layaknya kota. Seluruh kenanganku akan masa kecil dan kenangankenangan orang yang bernasib sama seperti aku, kini hanya tinggal ingatan tanpa bisa mendatangi. Barangkali bagi investor, kenangan hanyalah senandung rindu yang harus ditertawakan. Aku telah melingkari perbuatan mereka dengan tinta merah sekaligus sebagai tanda muak. Sialnya, mereka terus menabuh genderang perang. Kini, di tengah merasinya antara kekuasaan dan kerakusan, aku menyuratimu sebagai wujud kehampaan. Sebagai perempuan pribumi yang diperistri lelaki koloni dan tentunya yang lebih lama memandang Jember alih-alih Rabina Birnie yang dibawa ke Eropa dan meninggal di sana, aku yakin engkau memiliki pandangan yang lebih luas akan kota kita. Tentu saja engkau boleh membalas surat ini. Engkau boleh mendatangiku kapan saja asal itu lewat mimpi. Bukan dengan meminta Malaikat Izrail membawaku ke hadapanmu. Aku juga berharap engkau berkenan menceritakan seribu kenangan selama musim kemarau dan seribu musim penghujan akan tembakau. Dengan begitu, aku tak perlu menarik diri ke dalam guagua jiwaku, apabila aku tak menemukan tempat guna merenungi perjalanan tembakau di kota ini. Nyonya Djemilah, sebelum aku benar-benar mengakhiri surat ini, aku ingin menyampaikan padamu III/ Jember di Masa Sekarang
bahwasannya aku teramat senang mengenalmu. Bagiku, kisahmu tak ubahnya kemahaleluasaan dalam memandang hidup. Tuan Gerhard yang sudi menjadikanmu istri sah dari kalangan pribumi bahkan ia membangunkan makam megah sebagaimana Raja Shah Jahan membangun Taj Mahal sebagai bukti cintanya pada Mumtaz Mahal, adalah peninggalan yang harus senantiasa dijumpai generasi mendatang. Meski saat ini makammu dihiasi coretan-coretan tangan liar, aku harap engkau memahami diriku kalau aku bukanlah bagian dari mereka. Biarlah mereka dengan segala alasan yang tak bisa dibenarkan dan dimaa an. Meski di makammu, Nyonya, sebetulnya mereka bisa melakukan hal lain kecuali vandalisme. Misalnya, merasakan apa yang aku rasakan, yakni menekuri keheningan, bunyi kesunyian sekaligus kerinduan yang berada jauh nun di sana. Aku yakin, kesunyian yang aku rasakan ini berasal dari kepekatan hidup sebab seharihari telah lelah mendengar kebisingan bunyi beckhoe mengeruk gumuk, truk-truk berjejer antre membawa pasir dan batu, hiruk-pikuk pekerja membangun perumahan di atas persawahan atau riak rahasia pabrik yang tak terbuka pada manusia. Kini, telah sampai di sini tulisanku. Apa yang kuutarakan tadi tidaklah lain daripada sebuah kabar dari masa sekarang. Kutujukan itu padamu karena aku yakin engkau begitu mencintai kota ini dengan segala kepedihan di dalamnya. Semoga engkau dapat mengetahui betapa aku mengagumimu. Dan soal tembakau, meski kita berbeda kasta yakni engkau sebagai istri lelaki kolonial yang menjadi partner pemilik perusahaan terluas pada masanya sehingga tembakau Jember terkenal di kalangan bangsa Eropa, sementara aku hanyalah anak dari petani yang dididik dari getahnya daun tembakau dan getirnya kehidupan, aku rasa kita perlu mencoba apa yang dikatakan Rumi di awal suratku tadi, yakni kita harus tetap mencintai Jember dan tembakau dengan segala keadaannya. Sebab cinta sesungguhnya tak ada hubungannya dengan lima rasa panca indera, melainkan satu-satunya tujuan adalah tertarik pada Sang Tercinta". Jember, 29 Januari 2023 Nurillah Achmad