The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Portofolio Biologi oleh Naura Istitah Muhtasyam kelas XI IPA 5 SMA Negeri 1 Balikpapan Tahun 2021

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nuna.madelyn, 2021-06-12 09:32:35

Portofolio Biologi - Naura Istitah M - XI IPA 5

Portofolio Biologi oleh Naura Istitah Muhtasyam kelas XI IPA 5 SMA Negeri 1 Balikpapan Tahun 2021

Keywords: biologi,portofolio biologi,biologi kelas 11

9.2 TUGAS-TUGAS

SISTEM ENDOKRIN (HORMON)

Sistem endokrin adalah sekumpulan kelenjar dan organ yang memproduksi hormon. Hormon
berasal dari Bahasa Yunani horman yang artinya yang menggerakkan adalah senyawa organik pembawa
pesan kimiawi di dalam aliran darah menuju ke sel – sel atau jaringan tubuh. Pengaruh hormon terhadap
jaringan tubuh tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat (beberapa detik) hingga beberapa tahun. Jumlah
hormon dalam aliran darah hanya sedikit jika dibandingkan dengan jumlah glukosa atau kolesterol.
Sistem endokrin berinteraksi dengan sistem saraf berfungsi mengatur aktivitas tubuh seperti metabolisme,
homeostasis (misalnya pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah), pertumbuhan, perkembangan
seksual dan siklus reproduksi, siklus tidur, serta siklus nutrisi.

A. Karakteristik Kelenjar Endokrin
Kelenjar endokrin memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut.
• Merupakan kelenjar buntu, karena tidak memiliki saluran atau duktus dan menyekresikan
hormon langsung ke dalam cairan di sekitar sel – sel.
• Pada umumnya menyekresi lebih dari satu jenis hormon, kecuali kelenjar paratiroid yang
hanya menyekresi hormon paratiroid.
• Memiliki sejumlah sel sekretori yang dikelilingi banyak pembuluh darah dan ditopang oleh
jaringan ikat.
• Masa aktivitas kelenjar endokrin dalam menghasilkan hormon berbeda – beda, ada yang
seumur hidup (contohnya : hormon metabolisme), dimulai pada masa tertentu (contohnya :
hormon kelamin), atau bekerja sampai pada masa tertentu (contohnya : hormon
pertumbuhan).
• Sekresi hormon dapat distimulasi atau dihambat oleh kadar hormon lainnya dan senyawa
nonhormon (misalnya glukosa dan kalsium) dalam darah, serta impuls saraf.

196

B. Struktur, Karakteristik Kelenjar Endokrin dan Sekresi Hormon
Kelenjar endokrin pada manusia meliputi hipofisis (pituitari), tiroid, paratiroid, adrenal,
pankreas, pineal, dan timus.

1. Hipofisis (pituitari), organ berbentuk oval, melekat di bagian dasar hipotalamus otak, sebesar
kacang, dan memiliki berat 0,5 gram. Hipofisis terbagi menjadi tiga bagian, yaitu lobus anterior,
intermedia, dan posterior.
a. Hipofisis lobus anterior, menghasilkan hormon – hormon sebagai berikut.
(1) Hormon pertumbuhan (growth hormone / GH) atau hormon somatotropin (STH)
yang berfungsi :
• Mengendalikan pertumbuhan dan perbanyakan sel – sel tubuh. Contoh pada
pertumbuhan tulang dan pertambahan massa otot rangka.
• Menyebabkan hati memproduksi somatomedin yang berperan dalam pertumbuhan
tulang dan kartilago.
• Mempercepat laju sintesis protein dengan cara meningkatkan pemasukan asam amino
melalui membran sel.
• Menurunkan laju penggunaan karbohidrat oleh sel – sel tubuh, sehingga menambah
kadar glukosa darah.
• Meningkatkan pemakaian lemak untuk energi.

197

Abrnormalitas sekresi growth hormone / GH :
• Kerdil (dwarfism), jika kekurangan (hiposekresi) GH selama masa anak – anak
sehingga pertumbuhan terhenti.

• Gigantisme, akibat kelebihan (hipersekresi) GH selama masa remaja sebelum
penutupan cakram epifisis yang menyebabkan pertumbuhan tulang panjang
berlebihan.

• Akromegali, pembesaran tulang yang tidak proporsional seperti penambahan
ketebalan tulang pipih pada wajah, serta pembesaran pada tangan dan kaki.
Akromegali terjadi akibat hipersekresi GH selama masa remaja setelah penutupan
cakram epifisis.

198

(2) Hormon perangsang tiroid (tirotropin, thyroid stimulating hormone / TSH), berfungsi
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan sel – sel kelenjar tiroid (kelenjar gondok), laju
produksi hormonnya (tiroksin), dan metabolisme sel. Pajanan udara dingin dalam waktu lama
akan merangsang produksi tiroksin sehingga mempercepat metabolisme untuk menghangatkan
tubuh.

(3) Hormon adrenokortikotropik atau kortikotropin (adrenocorticotropic hormone / ACTH),
berfungsi merangsang kelenjar korteks adrenal untuk menyekresi glukokortikoid (hormon untuk
metabolisme karbohidrat).

(4) Hormon gonadotropin atau gonadotropik yang mengatur fungsi gonad. Hormon ini terdiri atas:
• FSH (follice stimulating hormone)
- Pada wanita : FSH berfungsi menstimulasi pertumbuhan folikel ovarium dan memproduksi
hormon estrogen.
- Pada laki – laki : FSH berfungsi menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan
spermatozoa dalam tubulus seminiferus testis.
• LH (luteinizing hormone)
- Pada wanita : LH bekerja sama dengan FSH menstimulasi produksi estrogen. LH berperan
dalam ovulasi dan sekresi progesteron.
- Pada laki – laki : LH menstimulasi sel – sel interstisial tubulus seminiferus testis untuk
memproduksi androgen (testosteron).

(5) Hormon prolaktin (PRL), disekresikan pada saat hamil dan menyusui.

b. Hipofisis lobus intermedia (tengah), menghasilkan endorfin dan melanocyte stimulating
hormone (MSH). Hormon ini juga dihasilkan di lobus anterior.
• Endorfin, zat penghilang nyeri alamiah, merespons stres, dan aktivitas seperti olahraga.
• MSH, merangsang pembentukan pigmen dan penyebaran sel – sel penghasil pigmen
(melanosit) pada epidermis.

c. Hipofisis lobus posterior, menghasilkan hormon ADH (antidiuretic hormone) dan oksitosin.
• ADH, berfungsi menurunkan volume air yang hilang dalam urine melalui peningkatan
reabsorpsi air dari tubulus kontortus distal dan duktus kolektivus di ginjal. Hiposekresi
ADH menyebabkan diabetes insipidus disertai dengan rasa haus yang terus menerus.
Hipersekresi ADH menyebabkan peningkatan volume darah.
• Oksitosin, berfungsi menstimulasi kontraksi otot polos pada saat melahirkan dan
pengeluaran ASI pada ibu menyusui. Pelepasan oksitosin dan ASI dihambat oleh stres
emosional.

199

2. Tiroid (kelenjar gondok), terdiri atas folikel – folikel dalam dua lobus lateral yang terletak di
bawah laring. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin sebanyak 90% dan triiodotironin
sebanyak 10% dari seluruh sekresi tiroid. Hormon tersebut terbuat dari asam amino tirosin yang
mengandung iodin. Hormon tiroksin berfungsi meningkatkan laju metabolisme sel, menstimulasi
konsumsi oksigen, meningkatkan pengeluaran energi panas, serta mengatur pertumbuhan dan
perkembangan normal tulang, gigi, jaringan ikat, dan saraf.

Abnormalitas sekresi tiroid :

• Hipotiroidisme (penurunan sekresi hormon), menyebabkan penurunan metabolisme, konstipasi,
reaksi mental lambat, dan peningkatan simpanan lemak.

• Hipertiroidisme (sekresi hormon berlebihan), menyebabkan peningkatan metabolisme, berat
badan menurun, gelisah, diare, frekuensi denyut jantung meningkat, toksisitas hormon, dan
penyakit Grave.

3. Paratiroid (kelenjar anak gondok), terdiri atas empat organ kecil berukuran sebesar biji apel,
terletak pada permukaan belakang tiroid. Paratitoid menyekresi hormon parathormon
(Parathyroid hormone/PTH). PTH berfungsi mengendalikan keseimbangan kalsium dan fosfat
dalam tubuh melalui :
• Stimulasi aktivitas osteoklas yang menyebabkan pengeluaran kalsium,
• Pengaktifan vitamin D yang diperlukan untuk mengabsorpsi kalsium dalam makanan, dan
• Stimulasi reabsorpsi kalsium dari tubulus ginjal sehingga menurunkan kehilangan ion
kalsium dalam urine dan meningkatkan kadar kalsium dalam darah.

Abnormalitas sekresi PTH :

• Hiperparatiroidisme, menyebabkan peningkatan aktivitas osteoklas dan pelemahan tulang.
• Hipoparatiroidisme, menyebabkan penurunan kadar kalsium dalam darah, peningkatan

iritabilitas sistem neuromuskular, dan tetanus.

4. Adrenal (suprarenalis/kelenjar anak ginjal), terletak di kutub atas ginjal, berwarna kuning, dan
tertanam pada jaringan adiposa. Kelenjar adrenal terdiri atas korteks di bagian luar dan medula di
bagian dalam. Kelenjar adrenal bagian medula menghasilkan hormon :
• Adrenalin, meningkatkan frekuensi jantung, metabolisme, dan konsumsi oksigen.
• Noradrenalin, meningkatkan tekanan darah dan menstimulasi otot jantung.

Kelenjar adrenal bagian korteks menghasilkan hormon :

• Aldosteron, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan
kalium dalam darah

• Glukokortikoid, memengaruhi metabolisme glukosa, protein, lemak, serta menjaga membran
lisosom sehingga mencegah kerusakan jaringan.

200

• Gonadokortikoid, sebagai prekursor pengubahan testosteron dan estrogen oleh jaringan lain.

Abnormalitas sekresi kelenjar adrenal :

• Hiposekresi menyebabkan Addison, dengan gejala ketidakseimbangan natrium dan kalium dalam
darah sehingga kulit menghitam.

• Hipersekresi menyebabkan peningkatan tekanan darah , kelemahan otot serta penumpukan
lemak di leher dan wajah, sindrom adrenogenital, serta perempuan dewasa yang memiliki
karakteristik pria.

5. Pankreas, organ berbentuk pipih terletak di bagian belakang bawah lambung. Pankreas sebagai
endokrin menghasilkan hormon :
• Glukagon, dihasilkan oleh sal alfa, berfungsi meningkatkan penguraian glikogen hati
menjadi glukosa sehingga kadar gula darah meningkat, dan sintesis glukosa dari sumber
nonkarbohidrat dalam hati.
• Insulin, dihasilkan oleh sel beta, berfungsi menurunkan katabolisme lemak dan protein,
menurunkan kadar gula darah, serta meningkatkan sintesis protein dan lemak.
• Somatostatin, dihasilkan oleh sel delta, merupakan penghalang hormon pertumbuhan dan
penghambat sekresi glukagon dan insulin.
- Polipeptida pankreas, hormon pencernaan yang dilepaskan setelah makan, fungsi belum
diketahui

Abnormalitas sekresi kelenjar pankreas :
Defisiensi insulin menyebabkan diabetes mellitus, dapat disebabkan oleh faktor genetik, obesitas,
penyakit autoimun, virus, lingkungan, ekonomi, dan budaya.

6. Pineal (epifisis serebri), terletak di langit – langit otak, menghasilkan melatonin yang
berpengaruh pada pelepasan gonadotropin dan menghambat produksi melanin. Produksi
melatonin terendah terjadi pada siang hari dan terbesar pada malam hari.

7. Timus, terdiri atas dua lobus berwarna kemerah – merahan, terletak di bagian posterior toraks di
atas jantung. Timus menghasilkan timosin untuk pengendalian perkembangan sistem imun.

8. Ovarium, testis, dan plasenta. Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Testis
menghasilkan hormon testosteron. Plasenta menghasilkan gonadotropin korion, estrogen,
progesteron, dan somatotropin.

201

202

SISTEM INDRA

A. Indra Penglihat (Mata)

Mata adalah sistem optik yang memfokuskan berkas cahaya pada fotoreseptor dan mengubah
energi cahaya menjadi impuls saraf. Bagian – bagian mata sebagai berikut.

1. Aksesori mata, meliputi:
• Alis, untuk melindungi mata dari keringat.
• Orbita, lekukan tulang berisi bola mata.
• Kelopak mata, melindungi mata dari kekeringan dan debu.
• Otot mata (2 pasang otot rektus dan 1 pasang otot sadak), untuk menggerakkan mata ke arah
vertikal, horizontal, dan menyilang.
• Air mata, mengandung garam, mukosa, dan lisozim untuk membasahi permukaan mata dan
mempertahankan kelembapannya.

203

2. Struktur mata

a. Lapisan luar bola mata, terdiri atas:
• Tunika fibrosa, lapisan terluar yang keras.
• Sklera, bagian dinding mata yang tersusun dari jaringan ikat fibrosa berwarna putih,
memberikan bentuk pada bola mata, dan sebagai tempat perlekatan otot ekstrinsik.
• Kornea, untuk mentransmisi dan memfokuskan cahaya.

b. Lapisan tengah bola mata, terdiri atas:
• Koroid, bagian yang terpigmentasi, untuk mencegah refleksi internal berkas cahaya, dan
mengandung banyak pembuluh darah untuk memberikan nutrisi.
• Badan siliari, mengandung pembuluh darah dan otot bersilia yang berfungsi dalam akomodasi
penglihatan (mengubah fokus objek).
• Iris, bagian yang berwarna pada mata, terdiri atas jaringan ikat dan otot untuk mengendalikan
diameter pupil.
• Pupil, ruang terbuka yang bulat pada iris untuk dilalui cahaya.

c. Lensa, struktur bikonveks yang bening di belakang pupil dan bersifat elastis.
d. Rongga mata, ruang anterior berisi aqueous humor (cairan bening yang mengandung nutrisi untuk

lensa dan kornea), sedangkan ruang posterior berisi vitreous humor (gel transparan untuk
mempertahankan bentuk bola mata dan posisi retina terhadap kornea).

e. Retina (selaput jala), lapisan terdalam mata, tipis dan transparan. Retina tersusun dari:
• Bagian luar, terpigmentasi dan menyimpan vitamin A.
• Bagian dalam, merupakan lapisan jaringan saraf dari sel – sel batang dan sel – sel kerucut. Sel
batang mengandung pigmen rodopsin, tidak sensitif terhadap warna, dan bekerja pada
intensitas cahaya rendah (malam hari). Sementara itu, sel kerucut mengandung iodipsin,
sensitif terhadap warna, dan bekerja saat intensitas cahaya tinggi (siang hari).
• Lutea makula, area berkas berwarna kekuningan terletak agak lateral dari pusat.

204

• Fovea sentralis (bintik kuning), pelekukan sentral lutea makula, mengandung sel kerucut dan
tidak memiliki sel batang, merupakan pusat visual mata (bayangan objek yang terfokus di
bagian ini akan diinterpretasikan oleh otak). Jika bayangan benda jatuh tepat di bintik kuning,
bayangan akan terlihat dengan jelas.

• Saraf mata, terbentuk dari akson sel-sel ganglion yang keluar dari mata dan bergabung di sisi
superior kelenjar hipofisis membentuk kiasma optik.

• Bintik buta (diskus optik), bagian yang tidak mengandung fotoreseptor.
1) Mekanisme melihat

Mekanisme melihat suatu benda sebagai berikut.
1. Cahaya yang dipantulkan oleh benda ditangkap oleh mata, kemudian menembus kornea dan diteruskan

melalui pupil.
2. Intensitas cahaya yang telah diatur oleh pupil diteruskan menembus lensa mata ke retina.
3. Daya akomodasi lensa mata mengatur cahaya, agar jatuh tepat di bintik kuning retina.
4. Pada bintik kuning, impuls cahaya disampaikan oleh saraf optik ke otak.
5. Cahaya yang disampaikan ke otak akan diinterpretasikan, sehingga kita bisa mengetahui apa yang kita

lihat.

205

2) Adaptasi terhadap gelap dan terang

Adaptasi gelap dan terang adalah penyesuaian penglihatan secara otomatis terhadap intensitas cahaya yang
memasuki retina saat bergerak dari tempat gelap ke tempat terang, atau sebaliknya. Adaptasi gelap
maksimum 20 menit, sedangkan adaptasi terang sekitar 5 menit.
Dalam cahaya terang, semua rodopsin yang ada akan terurai dengan cepat dan hanya tersisa sedikit untuk
membentuk potensial aksi dalam sel batang. Oleh karena itu, jika berpindah dari tempat yang intensitas
cahayanya tinggi ke tempat yang intensitas cahayanya rendah, diperlukan waktu adaptasi beberapa saat
untuk menyintesis ulang dan mengumpulkan cadangan rodopsin agar dapat melihat kembali dengan jelas
pada intensitas cahaya rendah. Sintesis rodopsin dan iodopsin memerlukan vitamin A. Sementara itu,
vitamin B dibutuhkan untuk mendukung fungsi sempurna retina dan jaringan saraf.
Adaptasi gelap dan terang juga melibatkan refleks pupil. Pupil berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya ke
mata. Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan gelap dan akan menyempit jika kondisi ruangan terang.

206

3) Gangguan/kelainan mata
• Miopia (rabun dekat), tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh karena fokus bayangan
jatuh di depan retina.
• Hipermetropia (hiperopia/rabun jauh), tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat
karena fokus bayangan jatuh di belakang retina.
• Prebiopia, tidak dapat melihat benda yang berjarak dekat maupun jauh.
• Kebutaan, tidak dapat melihat benda apapun.
• Kerabunan, hanya dapat melihat dengan samar – samar.
• Rabun senja, tidak bisa melihat dengan jelas pada saat sore hari saja.
• Buta warna, penyakit keturunan yang menyebabkan seseorang tidak mampu
mempresentasikan warna.
• Katarak, lensa mata menjadi buram karena penebalan.
• Astigmatisma, kelengkungan kornea yang tidak merata yang menyebabkan ketidakteraturan
lengkung-lengkung permukaan bias mata sehingga cahaya tidak fokus pada satu titik retina
(bintik kuning).
• Mata juling (strabismus), suatu kondisi ketika kedua mata tampak tidak searah.

B. Indra Pembau (Hidung)

Hidung (nasal) berfungsi sebagai indra pembau/penghiduan. Sebagai indra pembau (penciuman) memiliki
komoreseptor olfaktori yang berfungsi menerima rangsangan berupa bau atau zat kimia yang berbentuk

207

gas. Komoreseptor olfaktori merupakan neuron khusus yang terletak pada epitelium olfaktori di langit –
langit rongga hidung. Epitelium olfaktori mengandung sel penunjang, sel basal, dan sel olfaktori. Sel
olfaktori berupa neuron bipolar yang berakhir pada rambut-rambut halus (silia) yang menonjol ke dalam
mukus di dalam rongga hidung.
Mekanisme menghidu: gas masuk ke hidung – larut pada selaput mukosa – merangsang silia sel reseptor
– rangsangan diteruskan ke otak untuk diolah – jenis bau dapat diketahui.
Komoreseptor olfaktori mengadaptasi bau dengan cepat tetapi terkadang tak dapat menyadari bau
menyengat hingga sekitar 1 menit. Penyakit influenza menghasilkan lendir/sputum sehingga menghalangi
bau untuk mencapai ujung saraf pembau.

1. Struktur hidung

2. Gangguan indra pembau
• Hiposmia, indra penciuman kurang mampu mencium bau dan anosmia, indra penciuman
sama sekali tidak dapat mencium bau. Disebabkan oleh tersumbatnya rongga hidung,
misalnya akibat polip, pilek atau tumor.
• Hiperosmia, lebih peka terhadap bau-bauan. Dapat terjadi akibat sakit kepala, migrain,
penyakit addison, dan pengaruh obat-obatan.
• Sinusitis, yaitu radang tulang-tulang tengkorak di sekitar hidung yang berongga dan berisi
udara.
• Polip, pembengkakan jaringan yang terjadi di dalam hidung dan mengeluarkan banyak
cairan/lendir.

208

C. Indra Pengecap (Lidah)

Lidah sebagai indra pengecap memiliki kemoreseptor berupa kuncup pengecap (taste bud). Kuncup
pengecap terdapat pada papila lidah, palatum (langit-langit) lunak, epiglotis, dan faring. Papila lidah dapat
dibedakan menjadi empat macam berdasarkan bentuknya, yaitu:

• Papila filiformis, berbentuk kerucut, kecil, menutupi bagian dorsum lidah (permukaan atas), dan
tidak mengandung kuncup pengecap.

• Papila fungiformis, berbentuk bulat, banyak terdapat di dekat ujung lidah, mengandung lima
kuncup pengecap pada setiap papila.

• Papila sirkumvalata, berbentuk menonjol dan tersusun seperti huruf V, banyak terdapat di
bagian belakang lidah, serta mengandung 100 kuncup pengecap.

• Papila foliata, berbentuk seperti daun, terletak di bagian tepi pangkal lidah, dan mengandung
sekitar 1.300 kuncup pengecap di setiap lipatannya.

Kuncup pengecap terdiri atas sel-sel penunjang dan sel sensor (sel pengecap) yang berambut. Substansi
yang dirasakan harus berbentuk cairan atau larut dalam air ludah. Area kepekaan rasa pada lidah sebagai
berikut.

209

• Pengecap rasa manis, terdapat di bagian ujung lidah.
• Pengecap rasa asin, terdapat pada hampir seluruh area lidah. Tetapi reseptor banyak terkumpul

pada bagian samping lidah.
• Pengecap rasa asam, terdapat di bagian samping lidah agak ke belakang.
• Pengecap rasa pahit, terdapat di bagian belakang pangkal lidah.

Penyebab munculnya rasa-rasa utama di lidah:

• Rasa manis disebabkan oleh zat kimia organik seperti glukosa dan asam amino.
• Rasa asin disebabkan oleh ionisasi garam-garaman seperti natrium klorida.
• Rasa asam disebabkan oleh ion H+ suatu zat seperti asam sitrat (jeruk).
• Rasa pahit disebabkan oleh perubahan struktur zat kimia organik yang memiliki rasa manis. Rasa

pahit juga disebabkan oleh suatu zat yang bersifat racun/toksik.
• Rasa umami disebabkan oleh bumbu dan saus tertentu yang bersifat gurih.

Penyebab munculnya rasa-rasa lain tidak berhubungan dengan papila lidah. Contohnya rasa pedas
disebabkan oleh zat yang mengiritasi permukaan lidah dan memberi sensai terbakar/panas.

Jalannya rangsangan berupa rasa ke otak:

1) Molekul makanan dan minuman larut dalam air liur.
2) Rasa masuk ke tunas pengecap dan diterima sel-sel reseptor sesuai rasa yang dikenalinya.
3) Reseptor mengirim impuls ke saraf fasial dan atau saraf glosofaringeal ke lobus parietalis otak untuk
diinterpretasikan menjadi rasa.

Gangguan pada indra pengecap, diantaranya :
• Sariawan lidah, disebabkan oleh jamur Candida albicans.
• Kanker lidah, disebabkan oleh merokok, alkohol, dan obat-obatan berlebih.
• Fisura lidah, retak-retak dan lekukan pada lidah yang lebih besar yang mudah menimbulkan rasa
perih dan iritasi.
• Mikroglossi, ukuran lidah dan papila yang lebih kecil dari normalnya.
• Makroglossi, ukuran lidah dan papila yang lebih besar dari normalnya.

210

D. Indra Pendengar (Telinga)

Telinga berfungsi sebagai indra pendengar yang mampu mendeteksi gelombang bunyi/suara, serta
berperan penting dalam keseimbangan dan menentukan posisi tubuh.

1. Struktur telinga

Telinga terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian luar, tengah, dan dalam.
a. Telinga bagian luar, meliputi:

• Pinna/aurikula, yaitu daun kartilago yang menangkap gelombang bunyi untuk diteruskan ke
kanal auditori eksternal (meatus) yang panjangnya 2,5 cm hingga membran timpanum.

• Membran timpanum (gendang pendengar), merupakan perbatasan antara bagian luar dengan
bagian tengah telinga yang berbentuk kerucut.

b. Telinga bagian tengah, rongga berisi udara yang terletak di dalam tulang temporal, meliputi bagian-
bagian:
• Tabung Eustachius (auditori), menghubungkan telinga tengah dengan faring, dan berfungsi
menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpanum. Tabung ini biasanya
tertutup, tetapi dapat terbuka saat menguap, mengunyah, dan menelan.

211

• Osikel auditori, meliputi tiga tulang pendengaran yaitu maleus (martil), inkus (landasan), dan
stapes (sanggurdi). Tulang pendengaran berfungsi mengarahkan getaran dari membran timpanum
ke fenestra vestibuli (tingkap oval) yang membatasi telinga bagian tengah dengan bagian dalam.

c. Telinga bagian dalam, terletak di dalam tulang temporal, terdiri atas dua bagian yaitu labirin tulang
dan labirin membranosa.
• Labirin osea (labirin tulang), merupakan ruang berliku berisi cairan perilimfa (seperti cairan
serebrospinalis). Labirin tulang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu vestibula (mengandung reseptor
keseimbangan tubuh), kanalis semisirkularis (tiga buah saluran setengah lingkaran), dan koklea
(berbentuk seperti rumah siput yang mengandung reseptor pendengaran). Koklea terdiri atas tiga
bagian, yaitu skala vestibuli (bagian atas), skala timpani (bagian bawah), dan bagian yang
menghubungkan keduanya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi cairan perilimfa. Skala
vestibuli berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui jendela berselaput, yaitu tingkap oval.
Skala timpani berhubungan dengan telinga bagian tengah melalui tingkap bulat. Diantara skala
vestibuli dengan skala timpani terdapat skala media yang berisi cairan endolimfa. Skala media
bagian atas dibatasi oleh membran vestibularis, sedangkan bagian bawah dibatasi oleh membran
basilaris. Di atas membran basilaris terdapat organ corti yang terdiri atas reseptor sel-sel rambut
dan sel-sel penunjang.
• Labirin membranosa, terletak di dalam labirin tulang, merupakan serangkaian tuba berongga dan
berkantong yang berisi cairan endolimfa. Labirin membranosa terdiri atas dua kantong, yaitu
utrikulus dan sakulus yang dihubungkan oleh duktus endolimfa. Di dalam saluran setengah
lingkaran terdapat duktus semisirkular yang berisi cairan endolimfa. Pada duktus semisirkular,
utrikulus, dan sakulus mengandung reseptor untuk keseimbangan.

2. Mekanisme mendengar

Manusia mampu mendengar bunyi yang berada pada frekuensi 20 – 20.000 gelombang per detik.
Mekanisme mendengar pada manusia adalah sebagai berikut:

Gelombang bunyi ditangkap oleh daun kartilago telinga – menjalar ke kanal auditori eksternal – membentuk
getaran pada membran timpanum – menjalar ke osikel auditori – menuju ke fenestra vestibuli – terbentuk
gelombang tekanan pada perilimfa skala vestibuli – menjalar ke skala timpani – menyebabkan getaran pada
membran basilar – sel-sel rambut melengkung – memicu impuls saraf – menjalar ke serabut saraf
vestibulokoklear (CN VIII) - menjalar ke korteks auditori di otak – bunyi diinterpretasikan.

3. Peranan telinga dalam keseimbangan (Ekuilibrium)

Dalam menjaga keseimbangan tubuh, telinga berperan dalam ekuilibrium statis dan ekuilibrium
dinamis.

• Ekuilibrium statis adalah kesadaran akan posisi kepala terhadap gaya gravitasi jika tubuh dalam
keadaan diam. Reseptor yang berperan adalah makula yang terletak pada dinding utrikulus dan
sakulus.

• Ekuilibrium dinamis adalah kesadaran akan posisi kepala saat merespons gerakan. Reseptor yang
berperan adalah ampula yang terletak pada duktus semisirkular.

4. Gangguan indra pendengar

212

• Tuli (tuna rungu), penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. Tuli
konduktif terjadi akibat gangguan transmisi suara ke koklea. Tuli saraf terjadi akibat kerusakan
organ corti, saraf CN VIII, atau korteks otak.

• Furunkulosis, munculnya bisul pada meatus.
• Otitis media, infeksi telinga tengah yang dapat terjadi setelah terserang flu, sinusitis, campak atau

infeksi bakteri.
• Mastoiditis, infeksi yang menyebabkan sel-sel tulang mastoid berongga.
E. Indra Peraba (Kulit)

Kulit sebagai indra peraba memiliki beberapa reseptor sensor untuk mentransduksi stimulus dari
lingkungan menjadi impuls saraf. Reseptor sensor pada kulit sebagai berikut.

213

• Korpuskula Pacini, mendeteksi tekanan yang dalam dan getaran. Reseptor ini terdapat di jaringan
subkutan, berbentuk bulat atau lonjong, memiliki panjang 2 mm, serta berdiameter 0,5 – 1 mm.
Korpuskula Pacini terdapat pada jari, telapak tangan dan kaki.

• Korpuskula Meissner, mendeteksi rangsangan berupa sentuhan. Reseptor ini terdapat pada papila
dermis, terutama pada ujung jari, bibir, papila mamae, dan genitalia luar. Korpuskula Meissner
berbentuk silindris, dengan panjang 80 mikron dan lebar 40 mikron.

• Cakram Merkel, mendeteksi sentuhan dan sebagai reseptor raba yang beradaptasi lambat.
Reseptor ini dapat ditemukan pada kulit yang tidak berambut misalnya pada ujung jari dan diantara
folikel rambut pada epidermis.

• Korpuskula Ruffini, berperan sebagai reseptor tekanan dan tegangan di sekitar jaringan ikat.
Korpuskula Ruffini terdapat di bagian dermis.

• Ujung bulbus Krause, mendeteksi tekanan sentuhan, kesadaran posisi, dan gerakan. Reseptor ini
berbentuk bulat dengan diameter 50 mikron. Ujung bulbus Krause terdapat di bibir dan genitalia
luar, serta bagian dermis yang berhuungan dengan rambut.

• Ujung saraf bebas, tidak memiliki lapisan seluler, mendeteksi rasa nyeri, sentuhan ringan, dan
suhu. Ujung saraf bebas terdapat menyebar di jaringan tubuh dan merupakan reseptor sensor utama
pada kulit.

Struktur lapisan kulit

1. Epidermis (kulit ari), jaringan epitel yang tersusun atas sel kulit hidup dan mati, yang terdiri dari empat
lapisan dari atas, yaitu:
a. Stratum korneum (kulit tanduk), mengalami deskuamasi atau pengelupasan dan keratinisasi yaitu
pembentukan zat tanduk yang berfungsi melindungi kulit di bawahnya.
b. Stratum kusidum, lapisan bening dan tipis sebagai pelindung kulit dari sinar UV.
c. Stratum granulosum, lapisan tempat terdapatnya butir-butir melanin.
d. Stratum germinativum, lapisan tempat pembelahan sel-sel kulit. Lapisan ini terbagi menjadi 2 yaitu
stratum spinosum dan stratum basale.
2. Dermis/korium (kulit jangat), jaringan ikat yang di dalamnya terdapat kapiler darah, sel reseptor kulit,
kelenjar keringat, kelenjar minyak dan akar rambut.

214

3. Hipodermis (lapisan subkutan), jaringan ikat yang di dalamnya terdapat kapiler darah, lapisan lemak,
dan jaringan saraf.
Gangguan pada indra peraba, diantaranya sebagai berikut:

• Panu, disebabkan oleh jamur Tinea versicolor.
• Kurap, disebabkan oleh jamur Microsporum.
• Jerawat, disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes yang menyebabkan tersumbatnya pori-

pori kulit.
• Dermatitis, peradangan kulit.

215

SISTEM SARAF PADA MANUSIA

A. Neuron ( Sel Saraf )
Neuron merupakan unit fungsional sistem saraf, berukuran panjang sekitar 39 inci, serta terduri

atas bagian badan sel, dendrit, dan akson (neurit).
• Badan Sel (perikarion)

Berfungsi mengendalikan metabolisme keseluruhan neuron. Badan sel memiliki nukleus
(inti) di tengah dan nukleolus yang menonjol. Nukleus tidak memiliki sentriol dan tidak dapat
bereplikasi. Sitoplasma mengandung badan Nissl, berupa tumpukan retikulum endoplasma
granuler dan ribosom yang berfungsi untuk sintesis protein. Organel lain pada badan sel adalah
badan Golgi, mitokondria, dan neurofibril.
• Dendrit

Merupakan juluran sitoplasma yang relatif pendek, bercabang - cabang, dan berfungsi
untuk menerima impuls atau sinual dari sel lain untuk dikirimkan ke badan sel. Neurofibril dan
badan Nissl dari badan sel, memanjang ke dalam dendrit.
• Akson

Merupakan juluran sitoplasma yang panjang (berkisar 1 mm - 1 m) atau cabang tunggal
berbentuk silindris yang berasal dari badan sel. Ujung akson bercabang - cabang seperti ranting,
berfungsi mengirimkan impuls ke sel neuron lainnya. Pada umumnya akson dibungkus oleh
substansi lemak bewarna putih kekuningan yang disebut selubung mielin. Pada bagian tertentu dari
akson tidak diselubungi mielin, disebut nodus Ranvier, berfungsi mempercepat jalannya impuls.
Selubung mielin ditutupi oleh rangkaian sel - sel Schwann yang berinti gepeng, disebut selubung
Schwann (neurilema). Akson berasal bagian hillock akson (bukit akson) dari badan sel, yaitu bagian
yang tidak mengandung badan Nissl.

Neuron tidak dapat membelah secara mitosis, tetapi serabutnya dapat beregenerasi jika
badan selnya masih utuh. Jika akson mengalami kerusakan berat, neurilema (lapisan sel-sel
Schwann) melakukan pembelahan mitosis untuk menutup luka.

216

Struktur sel safar (neuron)

Jenis neuron berdasarkan fungsinya

Berdasarkan fungsinya, neuron dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : motor

• Neuron sensor (aferen), berfungsi menghantarkan impuls dari organ sensor ke pusat
saraf (otak atau sumsum tulang belakang).

• Neuron motor (eferen), berfungsi menghantarkan impuls dari pusat saraf ke organ
(otot) atau kelenjar.

• Neuron konektor (interneuron), berfungsi menghubungkan neuron yang satu dengan
neuron lainnya.

217

Berdasarkan strukturnya (juluran sitoplasma), neuron dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

• Neuron unipolar (pseudounipolar), merupakan neuron bipolar yang tampak hanya memiliki satu
juluran dari badan sel karena akson dan dendritnya berfusi. Contohnya, neuron pada embrio dan
fotoreseptor mata.

• Neuron bipolar, memiliki dua juluran berupa dendrit dan akson. Contohnya, neuron pada organ indra
seperti mata, hidung dan telinga.

• Neuron multipolar, memiliki satu akson dan dua dendrit atau lebih. Contohnya, neuron motor yang
terdapat di otak dan medula spinalis (sumsum tulang belakang).

B. Sistem Saraf Pusat (SSP)

Sistem saraf pusat meliputi otak(serebral) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis). Otak
dilindungi oleh tulang tengkorak, sedangkan medula spinalis dilindungi oleh ruas - ruas tulang
belakang. Pada otak mauoun medula spinalis terdapat laposan pelindung dari jaringan ikat yang disebut
meninges. Meninges terdiri atas tiga lapisan yaitu :

1. Pia meter adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, mengandung banyak pembuluh darah,
serta melekat pada otak atau medula spinalis.

2. Araknoid adalah lapisan tengah, mengandung sedikit pembuluh darah. Memiliki ruang subaraknoid
yang berisi cairan serebrospinalis, pembuluh darah, dan selaput jaringan penghubung yang
mempertahankan posisi araknoid terhadap pia meter di bawahnya.

3. Dura meter adalah lapisan terluar, tebal dan kuat, serta terdiri atas dua lapisan. Pada dura meter
terdapat ruang subdural yang memisahkan dura meter dari araknoid. Lapisan yang terluar melekat
pada permukaan dalam kranium.

Otak maupun medula spinalis memiliki substansi abu - abu dan substansi putih :

• Substansi abu - abu, membentuk bagian luar atau korteks otak dan bagian dalam medula spinalis.
Substansi abu - abu mengandung badan sel neuron, serabut bermielin dan tidak bermielin, astrosit
protoplasma, oligodendrosit, dan mikroglia

218

• Substansi putih, membentuk bagian dalam otak dan bagian luar medula spinalis. Didominasi oleh
serabut bermielin maupun tidak bermielin, mengandung oligodendrosit, astrosit fibrosa, dan
mikroglia.

(1) Otak
Otak manusia diperkirakan mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengonsumsi 25% oksigen

dan menerima 1,5% darah dari jantung. Tersusun dari 100 milyar neuron yang terhubung oleh sinapsis
membentuk anyaman kompleks. Neuron di otak berkomunikasi satu sama lainnya secara kimiawi atau
berupa muatan listrik.

Sistem saraf primitif mulai terbentuk sejak embrio pada minggu ke-3 masa kehamilan, selanjutnya
pada minggu ke-4 akan terbentuk tabung saraf yang akan menjadi otak dan medula spinalis. Bagian
kranial pada tabung saraf membentuk tiga bagian yang membesar yang berdeferensiasi membentuk
otak depan, otak tengah, dan otak belakang.

a. Bagian - bagian otak

(1) Serebrum ( otak besar )
Serebrum mengisi bagian depan dan atas rongga tengkorak. Bagian luarnya tersusun dari substansi

abu - abu yang disebut korteks serebral, sedangkan bagian dalamnya tersusun dari substansi putih yang
disebut nukleus basal (ganglia basal).
• Korteks serebral, menempati 80% dari total massa otak, memiliki ketebalan sekitar 5 mm, serta

memiliki pelekukan yang meningkatkan luas permukaannya. Korteks serebral terbagi menjadi dua
belahan yaitu sisi kanan dan kiri. Setiap belahan terdiri atas empat lobus yang terpisah.

219

Area fungsional korteks serebral
(a) Area motor primer, bagian lobus frontal (dahi) dari girus presentral, mengendalikan kontraksi
volunteer otot rangka.
(b) Area sensor korteks, meliputi area sensor primer, area visual primer, area auditori primer, area
olfaktori primer, area pengecap primer
(c) Area asosiasi, meliputi Area asosiasi frontal, Area asosiasi somatik, Area asosiasi visual, Area
wicara Wernicke.
• Nukleus Basal, merupakan pusat untuk koordinasi motor.

(2) Diensefalon, terletak diantara serebrum dan otak tengah, tersembunyi di balik hemisfer serebral.
Bagian – bagian diensefalon meliputi :
• Talamus, berfungsi menerima dan meneruskan impuls ke korteks otak besar, serta berperan dalam
sistem kesadaran dan kontrol motor.
• Hipotalamus, berfungsi untuk :
1. Mengendalikan aktivitas sistem saraf otonom atau tak sadar
2. Sebagai pusat pengaturan emosi
3. Memengaruhi keseluruhan sistem endokrin
• Epitalamus, pita sempit jaringan saraf yang membentuk atap diensefalon dan berperan dalam
dorongan emosi.

(3) Sistem limbik adalah cincin struktur – struktur otak depan yang mengelilingi otak dan saling
berhubungan melalui jalur – jalur neuron yang rumit.

(4) Mesensefalon atau yang biasa disebut dengan otak tengah adalah bagian otak pendek yang
menghubungkan pons dan serebelum atau otak kecil dengan serebrum atau otak besar.

• Pons Varolii atau jembatan varol, hampir seluruh bagiannya tersusun dari substansi putih yang
berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil kiri dan kanan, serta menghubungkan otak
besar dan sumsum tulang belakang. Berfungsi untuk mengatur frekuensi dan kekuatan bernapas.

220

• Serebelum atau otak kecil, adalah bagian otak yang sangat berlipat, terletak di bawah lobus
oksipital dan melekat di bagian punggung atas batang otak. Berfungsi untuk mempertahankan
keseimbangan, kontrol gerak mata, dan sebagainya.

• Medula Oblongata, bagian yang menjulur dari pons hingga medula spinalis dengan panjang sekitar
2,5 cm. Berfungsi dalam pengendalian frekuensi denyut jantung, tekanan darah, pernapasan, dan
sebagainya.

• Formasi Retikuler, jarring jarring serabut saraf dan badan sel yang tersebar di seluruh bagian
medula oblongata, pons, dan otak tengah. Berfungsi untuk memicu dan mempertahankan
kewaspadaan serta kesadaran.

2. Medula Spinalis ( Sumsum tulang belakang )
Medula spinalis berbentuk silinder langsing yang memanjang dari batang otak medula

oblongata hingga ruas ke-2 tulang pinggang. Panjang medula spinalis sekitar 45 cm dengan
diameter 2 cm. Fungsinya mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam tubuh, komunikasi
antara otak dengan semua bagian tubuh, serta menghantarkan rangsangan koordinasi antara otot
dan sendi ke serebelum.

Medula spinalis bagian luar bewarna putih, sedangkan bagian dalam bewarna abu – abu
dan berbentuk seperti huruf H.
a. Struktur bagian dalam (substansi abu – abu)

Batang atas dan bawah dari struktur berbentuk huruf H, disebut tanduk atau kolumna yang
banyak mengandung badan sel, dendrit asosiasi, neuron eferen, dan akson tidak bermielin.

• Tanduk abu – abu posterior (dorsal), batang vertikal atas, mengandung badan sel yang menerima
impuls melalui saraf spinal dari neuron sensor.

• Tanduk abu – abu anterior (ventral), batang vertikal bawah, mengandung neuron motor yang
aksonnya mengirimkan impuls melalui saraf spinal ke otot dan kelenjar.

• Tanduk lateral substansi abu – abu, bagian antara tanduk posterior dan anterior, mengandung badan
sel neuron sistem saraf otonom (SSO).
221

• Komisura abu – abu, menghubungkan substansi abu – abu sisi kiri dan kanan medulla spinalis
• Struktur bagian luar (substansi putih)
• Substansi putih tersusun dari akson yang bermielin. Bagian ini terbagi menjadi funikulus (kolumna)

anterior (ventral), posterior, ventrolateral dan lateral. Dalam funikulus terdapat traktus (fasikulus)
spinal, yaitu :
• Traktus sensor (asenden), berperan dalam penyampaian informasi dari tubuh ke otak.
• Traktus motor (desenden), berperan membawa impuls motor dari otak ke medula spinalis dan dari
saraf spinal menuju ke tubuh.
C. Sistem Saraf Tepi ( SST )
Terdiri atas jaringan saraf yang berada di luar otak dan di luar medulla spinalis. Sistem ini meliputi
saraf kranial yang berasal dari otak dan saraf spinal yang berasal dari medulla spinalis.
(1) Saraf Kranial

Terdiri atas 12 pasang saraf. Sebagian besar tersusun dari serabut sensori dan motor, tetapi
beberapa saraf hanya tesusun dari serabut sensori.

Klasifikasi saraf kranial

222

Saraf Kranial :
223

(2) Saraf Spinal
Setiap saraf spinal terdiri atas satu radiks dorsal (posterior) dan ventral (anterior). Setiap

radiks yang memasuki atau meninggalkan korda membentuk 7 – 10 cabang radiks. Radiks dorsal
terdiri atas kelompok serabut sensori yang memasuki korda, sedangkan radiks ventral terdiri atas
kelompok serabut motor dari korda.
a. Sistem saraf simpatis

Serat saraf simpatis berasal dari segmen toraks dan lumbar medulla spinalis. Sebagian
besar serat praganglion sangat pendek, memiliki sinapsis, dan memiliki badan sel neuron
pascaganglion yang berada di dalam ganglion pada rantai ganglion simpatis di sepanjang kedua sisi
medulla spinalis.

b. Sistem saraf parasimpatis
Serat saraf parasimpatis berasal dari area kranial atau otak dan sakrum.
• Efek stimulasi sistem saraf otonom terhadap berbagai organ

224

225

226

• Bagan sistem saraf pusat dan tepi
227

• Skema jalur informasi pada sistem saraf
228

Perbedaan saraf simpatis dengan parasimpatis
229

BAB X
SISTEM REPRODUKSI

10.1 JURNAL BELAJAR

Jurnal Belajar

Pada hari Rabu tanggal 5 Mei 2021 kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 mengikuti google meet. Pertama-tama Bu
Puspa membahas mengenai ulangan harian kemarin dan kendala dimana beberapa siswa nilainya tidak
masuk maka kemungkinan akan dilaksanakan ulangan ulangan. Kemudian Bu Puspa juga mengarahkan
siswa-siswi untuk mengeprint portofolio-portofolio selama 1 tahun ini lalu ditambahkan 2 halaman refleksi.
Setelah itu juga nanti di buat menjadi e-book dan di kumpul juga ke ruang guru di sekolah. Bu Puspa juga
menghimbau para siswa siswi untuk mengikuti Gerakan Sekolah Menulis Buku yang Bu Puspa share di
grup kelas karna menurut Bu Puspa ini merupakan suatu kesempatan yang luar biasa. Kemudian lanjut
masuk ke reproduksi. Bu Puspa meminta salah satu siswa untuk membantu sharescreen materinya. Pertama-
tama Bu Puspa juga membahas tentang sistem reproduksi pada laki-laki. Lalu Bu Puspa bertanya pada anak
laki-laki apakah urine dan sperma bisa keluar secara bersamaan. Dijawab oleh Sakhi dari XI IPA 5 bahwa
tidak bisa karena berbeda. Lanjut ke organ reproduksi wanita. Fertilisasi terjadi di tuba falopi. Lalu nanti
akan menempel di dinding rahim. Sejak itulah seorang perempuan dinyatakan hamil. Sperma hanya hidup
1x24 jam. Jika jatuh dari dinding rahim maka dinyatakan keguguran. Vagina hanya muara dan yang panjang
adalah serviks. Kanker serviks disebabkan oleh kebersihan penis, penggunaan pembalut, kebersihan cd,
dan sebagainya. Kemudian Bu Puspa menjelaskan kalau pada perempuan ada 3 lubang. Namun karena jam
pelajaran sudah habis maka pembelajaran pada hari ini pun Bu Puspa akhiri.

230

SCREENSHOT SAAT MENGIKUTI MEET

A. TUGAS-TUGAS

-

231

BAB XI
SISTEM PERTAHANAN TUBUH

11.1 JURNAL BELAJAR

-

11.2 TUGAS-TUGAS

RANGKUMAN SISTEM PERTAHANAN TUBUH

Hari ini pada Jumat tanggal 7 mei 2021 akan membahas sistem pertahanan tubuh atau imunitas. Pada
pertemuan ini Bu Puspa memberi kesempatan terakhir memperoleh nilai dengan perindividu berbicara.

1. Aaliyah : Sistem imunitas adalah menghancurkan, menetralkan, zat-zat abnormal yang
membahayakan tubuh.

2. Albert : Fungsi sistem pertahanan tubuh yaitu mempertahankan tubuh dari patogen invasif,
misalnya virus dan bakteri, melindungi tubuh terhadap suatu agen dari lingkungan eksternal,
menyingkirkan sel sel yg sudah rusak akibat suatu penyakit atau cedera, dan mengenali dan
menghancurkan sel abnormal seperti kanker.

3. Adastra : Alat yang menghalangi dalam imunitas bawaan seperti kulit, air mata, mukus (cairan
lengket dan tebal yang disekresikan oleh membran dan kelenjar mukosa), dan air ludah. Mereka
berfungsi untuk mencegah laku peradangan setelah terjadi luka atau infeksi.

4. Aldinan : Mekanisme pertahanan tubuh, pertahanan nonspesifik alamiah.
5. Afif : Pertahanan non spesifik dibagi menjadi 4.
6. Al’dian : Pertahanan fisik kimia dan mekanis terhadap agen Infeksi yaitu Kulit yang sehat dan

utuh, Membran mukosa, Cairan tubuh yang mengandung zat kimia antimikroba, pembilasan oleh
air mata, saliva, dan urine.
7. Alfonsus : Definisi imunitas atau kekebalan yaitu kemampuan tubuh untuk menahan atau
menghilangkakan benda asing serta sel-sel abnormal.
8. Alya Herlisni : Inflamasi adalah reaksi lokal jaringan terhadap infeksi atau cedera yang disebabkan
oleh terbakar, toksin, produk bakteri, gigitan serangga, atau pukulan keras.
9. Alya Rahimah : Zat antimikroba nonspesifik

232

10. Andi Ailman : Komponen respon imunitas spesifik terbagi menjadi dua yaitu antigen dan
antibodi

11. Alya Sakila : fiksasi komplemen yaitu aktivisasi sistem komplemen.
12. Ashaz : Hipersensitivitas adalah reaksi berlebih karena terlalu sensitifnya respon imun.
13. Aurelia : Interaksi antibodi dan antigen yang pertama ada friksasi komplemen, kemudian

netralisasi, aglutinasi, dan presipitasi.
14. Boeih: Jenis imunitas atau kekebalan tubuh dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu imunitas

aktif yang terdiri imunitas aktif alami dan imunitas aktif buatan.
15. Brandon : Pertahanan spesifik adaptif dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu imunitas yang

diperantarai oleh antibodi dan imunitas yang diperantarai oleh sel.
16. Cantika : Sel-sel yang terlibat dalam respon imunitas ada sel B, sel T, makrofag, dan sel

pembunuh alami.
17. Candyle : Faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh yaitu genetik, fisiologis, stress,

usia, hormon, olahraga, tidur, nutrisi, pajanan zat berbahaya, racun tubuh, dam penggunaan obat-
obatan
18. Deswita : mekanisme respon imunitas yg diperantarai sel yaitu ekstraseluler dan intraseluler.
19. Dwi : tanda-tanda lokal respon inflamasi adalah kemerehan, panas, pembengkakan, nyeri, atau
kehilangan fungsi.
20. Dicky : Ekstraseluler atau jika antigen dicerna oleh makrofag terdiri dari antigen, makrofag, MHC
kelas II dan Sel T.
21. Elvina : Di fagositosis terdapat makrofag yang dapat dibedakan menjadi 3 yaitu makrofag jaringan
ikat, makrofag dan prekusornya, dan sistem fagosit mononukleus.
22. Dina : Imunitas dibagi menjadi imunitas aktif yaitu tubuh memproduksi antibodi akibat kontak
langsung dengan patogen, imunitas pasif yaitu didapat melalui tranfsfer antibodi , imunitas pasif
buatan yaitu infeksi antibodi dari individu atau hewan lain.
23. Engeline : Gangguan sistem pertahanan tubuh yang pertama yaitu hipersensitivitas, penyakit
autoimun, dan imunodesifiensi.
24. Faisal : Fagositosis memiliki beberapa jenis makrofag yaitu makrofag jaringan ikat, makrofag
dan prekusornya, dan sistem fagosit mononukleus.
25. Fajar : Pertahanan tubuh nonspesifik terbagi menjadi dua yaitu pertahanan nonspesifik eksternal
dan pertahanan nonspesifik internal.
26. Fani : Faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan ada genetik, fisiologis, usi, hormon,
olahraga, tidur, dan nutrisi.
27. Farren : Gangguan sistem kekebalan tubuh yang pertama alergi, autoimun, dan AIDS.

233

28. Gabriel : Sistem pertahanan tubuh spesifik yaitu limfosit yang terdiri 2 macam yaitu limfosit T dan
limfosit B.

29. Ghina : Sel T efektor ada 3 jenis yaitu sel T sitotostik, kedua sel T penolong, dan sel T supresor.
30. Gita : Mekanisme respon imunitas humoral yang pertama antigen masuk ketubuh dibawa ke

limfosit B, aktivasi limfosit B, menghasilkan tiruan sel B berdiferensiasi, sel plasma sekresi
antibodi dan akhirnya dibawa ke lokasi infeksi.
31. Ivan : Sel pembunuh alami sekumpulan limfosit non-T dan non-B yang bersifat sitotoksik sel ini
tidak perlu berinteraksi dengan antigen atau limfosit untuk menghancurkan sel tertentu. Sel ini
berfungsi untuk menghancurkan sel-sel kanker pada lokasi primer, virus, jamur, dan parasit
lainnya.
32. Juan : Hipersensitivitas atau alergi adaldh peningkatan sensitivitas atau reaktivitas terhadap
antigen yang pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. Pada umumnya terjadi pada beberapa
orang saja dan tidak terlalu membahayakan tubuh.
33. Je Ivan : Penyakit autoimunitas adalah kegagalan sistem imunitas untukk membedakan sel tubuh
dengan sel asing sehingga sistem imunitas menyerang sel tubuh sendiri. Contohnya artrisis
rematoid, penyakit Grave, anemia pernisiosa, penyakit Addison, SLE,deiabetes mellitus tergantung
insulin, dan MS.
34. Louis : Imunodefisiensi adalah kondisi menurunnya keefektifan sistem imunitas atau
ketidakmampuan sistem imunitas untuk merespon antigencontohnya adalah defisiensi imun
kongenital dan AIDS.
35. Khansa : Sindrom Stevens Johnson penyakit kulit dan mukosa yang berbahaya dan dapat
mengakibatkan kematian.
36. Marcell : Jenis imunisasi polio dapat mencegah poliomelitis atau kelumpuhan.
37. Madinah : Program dan jenis imunisasi BCG mencegah TBC, Imunisasi hepatitis B mencegah
infeksi organ hati, dan Imunisasi polio mencegah poliomeningitis atau kelumpuhan.
38. Modestin : Tujuan akhir dari inflamasi adalah membawa fagosit dan protein plasma ke jaringan
yang terinfeksi untuk mengisolasi, menghancurkan, menginaktifkan agen penyerang,
membersihkan debris, serta mempersiapkan penyembuhan dan perbaikan jaringan.
39. M. Andri : Antibodi merupakan protein plasma yang disebut imunoglobulin yang terdiri dair 5
kelas yaitu igA berfungsi melawan mikroorganisme yang masuk kedalam tubuh, kedua igD
berfungsi memicu respons imunitas, igE menyebabkan pelepasan histamin, IgG berjumlah paling
banyak sebesar 80% dan IgM merupakan antibodi yang pertama tiba dilokasi infeksi.
40. Salman : Antigen adalah zat yang merangsang respon imunitas terutama dalam menghasilkan
antibodi.terdiri atas 2 bagian yaitu Determinan antigen atau epitop dan Hapten.

234

41. Fawwaz : Salah satu faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh adalah tidur yang jika
kita kekurangan tidur maka akan menyebabkan perubahan pada jaringan sitokin yang dapat
menurunkan imunitas seluler yang mengakibatkan melemahnya kekebalan tubuh.

42. Oasis : Imunisasi DPT adalah imunasis untuk mencegah 3 penyakit yaitu Difteri, Pertusis (batuk
rejan), dan Tetanus yang diberikan pada usia balita sekitar 6 minggu sampai 4-6 bulan.

43. Rafi : Salah satu contoh imunodefisiensi adalah defisiensi imun kongenital yaitu keadaan tidak
mmeiliki sel T dan sel B sejak lahir maka penderita harus hidup dalam lingkungan yang steril.

44. Oriza : Jenis-jenis kekebalan tubuh ada 2 yaitu kekebalan aktif dan pasif. Kekebalan aktif
dihasilkan tubuh sendiri dan kekebalan pasif diperoleh dari luar.

45. Rafli : Magnesium diketahui dapat mendukung sistem kekebalan tubuh selain itu juga menjaga
otot normal dan fungsi saraf, menjaga irama jantung, menjaga tulang yang kuat, dan lain-lain.

46. Zinedine : Respon kekebalan humoral melibatkan aktivasi sel B yang akan menghasilkan
antibodi dalam plasma darah dan limfa

47. Raisya : Imunodefisiensi adalah kondisi menurunnya keefektifan sistem imunitas atau
ketidakmampuan sistem imunitas untuk merespon antigencontohnya adalah defisiensi imun
kongenital dan AIDS.

48. Nadia : Vaksin adalah patogen yang dilemahkan atau toksin yang telah diubah.
49. Rania : Imunisasi PCV berfungsi untuk mencegah penyakit radang selaput otak, infeksi darah, dan

radang paru-paru.
50. Nanda : Salah satu faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh adalah nutrisi. Seperti

vitamin dan mineral yg diperlukan dlm pengaturan sistem imunitas. DHA dan asam arakidonat
mempengaruhi maturasi sel T. Protein diperlukan dlm pembentukan imunoglobulin dan
komplemen namun kadar kolestrol yang tinggi dapat memperlambat proses penghancuran bakteri
oleh makrofag.
51. Naura (saya) : Pencegahan terbaik untuk Sindrom Stevens Johnson adalah tidak mengkonsumsi
obat-obatan sembarangan dan mmeberitahu dokter apabila memiliki alergi terhadap suatu jenis
obat, makanan, atau bahan-bahan kimia tertentu
52. Ruth : salah satu program imunisasi yaitu Hepatitis A untuk mencegah penyakit hepatitis A yaitu
peradangan organ hati yg disebabkan infeksi virus hepatitis A.
53. Patricia : Program dan jenis imunisasi yang pertama ada campak untuk mencegah penyakit
campak, kedua tifoid untuk mencegah penyakit tipes dan varisela untuk mencegah penyakit cacar.
54. Samuel : Patogen dapat berevolusi secara cepat dan mudah beradaptasi agar terhindar dari
identifikasi dan penghancuran oleh sistem imun tapi mekanisme pertahanan tubuh juga berevolusi
untuk mengenali dan menetralkan patogen tersebut.

235

55. Raina : Contoh-contoh alergen antara lain adalah spora karang, serbuk sari, rambut hewan,
kotoran serangga, karet lateks, obat-obatan, dan bahan makanan seperti telur, susu, kacang, udang,
dan kerang.

56. Raisha : Salah satu faktor yang mempengaruhi sistem pertahanan tubuh adalah pajanan zat
berbahaya seperti bahan radioaktif, pestisida, rokok, minuman beralkohol, dan bahan pembersih
kimia yang dapat menurunkan imunitas.

57. Skylenn : Dalam pertahanan spesifik adaptif terdapat sel-sel yang terlibat dalam respons imunitas
salah satunya adalah Makrofag, Makrofag adalah sel fagosit besar dalam jaringan, yang berasal
dari perkembangan sel darah putih, dan berfungsi untuk menelan antigen atau bakteri untuk
dihancurkan secara enzimatik.

58. Sakhi : Presipitasi atau pengendapan adalah pengikatan silang molekul-molekul antigen yang
terlarut dalam cairan tubuh.

59. Jason : Cara meningkatkan imunitas tubuh adalah perbanyak makan buah dan sayur,
berolahraga, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol, hindari stress.

60. Thezar : Pada beberapa kasus stevens johnson disebabkan beberapa jenis obat-obatan antara lain
penisilin, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin,metamizol, antalgin, parasetamol, klorpromazin,
karbamapezin, dan turunan dari obat-obatan tersebut.

61. Wahyu : Struktur antibodi tersusun atas dua macam rantai polipeptida yang identik dimana
terdapat dua rantai ringan dan dua rantai berat. Keempat rantai pada molekul antibodi dihubungkan
oleh ikatan disulfida dan bentuk molekulnya menyerupai huruf Y.

62. Yuniar : Hormon bergantung pada jenis kelamin wanita memproduksi hormon estrogen yang
meningkatkan sintesis igG dan igA sehingga menjadi lebih kebal terhadap infeksi daripada pria.

236

REFLEKSI

Semenjak adanya pandemi karena virus COVID-19 ini sekolah dan berbagai tempat umum pun
ditutup. Kegiatan belajar-mengajar tetap dijalankan dengan istilah online school dimana guru dan siswa
melaksanakan kegiatan belajar-mengajar secara virtual melalui media internet seperti google meet, google
classroom, WhatsApp, dan sebagainya. Begitu pun dengan pembelajaran mata pelajaran biologi. Namun
menurut saya sistem Bu Puspa mengajar pelajaran biologi sangat berbeda dari guru dan mata pelajaran lain
yaitu dimana siswa siswi diwajibkan untuk menulis jurnal dari setiap pertemuan virtual pelajaran Biologi.
Kemudian setiap bab Bu Puspa memberikan tugas berupa portofolio ataupun analisis, pengamatan, dan
sebagainya.

Bagi saya sistem yang diterapkan oleh Bu Puspa ini sangat efektif. Awalnya saya merasa
terbebani dengan adanya tugas membuat Jurnal ini, namun lama-kelamaan saya sadar bahwa
adanya dengan diwajibkan membuat jurnal belajar ini saya pun menjadi merasa lebih
bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan. Seperti memperhatikan yang Bu Puspa dan
teman-teman jelaskan selama kegiatan pembelajaran. Begitu pula dengan tugas portofolio. Saya
mendapati diri saya tidak menunda-nunda mengerjakan tugas agar tidak menumpuk. Saya meraja
lebih disiplin dengan tugas saya. Walaupun hasil jurnal belajar dan tugas-tugas saya jauh dari
sempurna namun saya selalu berusaha semaksimal mungkin dalam mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan oleh Bu Puspa.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan selama menulis jurnal belajar maupun
mengerjakan tugas-tugas yang diberikan Bu Puspa. Diantaranya adalah membiasakan diri
mengingat sebuah kegiatan dengan mencatat atau menulisnya. Kemudian juga untuk lebih
memperhatikan pembelajaran agar dapat memahami materi. Selain itu juga untuk mengerjakan
tugas dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikannya tepat waktu agar tidak tertumpuk dan
menjadikan beban yang padahal tidak akan terasa bila langsung dikerjakan.

Ada banyak perubahan yang saya dapati pada diri saya selama menulis jurnal belajar dan
membuat tugas-tugas ini. Yaitu saya yang awalnya malas untuk memperhatikan pembelajaran
menjadi memperhatikan pembelajaran sambal mencatatnya di jurnal belajar, lalu juga saya yang
awalnya suka menunda-nunda mengerjakan tugas dan mengerjakan saat dekat dengan deadline
menjadi lebih rajin dan berusaha langsung mengerjakan agar dapat mengumpulkan tugas tepat

237

waktu. Selain itu juga menambah skill mengetik dan pengetahuan saya dalam mengerjakan tugas
menggunakan Microsoft word. Saya sangat berterima kasih kepada Bu Puspa atas perubahan yang
saya dapatkan ini. Saya juga sangat berharap dengan jurnal belajar dan tugas-tugas ini materi dan
ilmu yang saya ketik dapat tercatat juga di otak saya agar pengetahuan saya terus bertambah, dan
semoga siswa lain juga mendapatkan manfaat yang positif dari jurnal belajar dan tugas-tugas saya
ini.

238


Click to View FlipBook Version