KEWIRAUSAHAAN
HAMDANI
SYAMSUL RIZAL
Uwais Inspirasi Indonesia
2019
KEWIRAUSAHAAN
ISBN: 978-623-227-079-4
Penulis: Hamdani
Syamsul Rizal
Editor: Fungky
Design Cover: Haqi
14,5 c x 20 cm
X + 123 halaman
Cetakan Pertama, 2019
Diterbitkan Oleh:
Uwais Inspirasi Indonesia
Anggota IKAPI
Redaksi:
Ds. Sidoarjo, Kec. Pulung, Kab. Ponorogo
Email: [email protected]
Website: www.penerbituwais.com
Telp: 0352-571 892
WA: 0812-3004-1340/0823-3033-5859
Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta,
sebagaimana yang telah diatur dan diubah dari Undang-Undang nomor 19 Tahun 2002, bahwa:
Kutipan Pasal 113
(1) Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud
dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00
(seratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta
melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1)
huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h, untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak melakukan
pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf
b, huruf e, dan/atau huruf g, untuk penggunaan secra komesial dipidana dengan pidana penjara
paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000.00 (satu
miliar rupiah).
(4) Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam
bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000.00 (empat miliar rupiah).
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia NYA kepada kita semua sehingga sampai saat ini kita masih
diberikan kesehatan, kesempatan dan kekuatan yang dengan karenanya
semua akvitas yang perlu kita selesaikan telah mampu kita tuntaskan
dengan baik disertai ridha NYA.
Shalawat dan salam juga selalu kita haturkan kepangkuan
junjungan yang mulia Rasulullah SAW, karena perjuangan beliaulah
sehingga telah terjadi perubahan besar dalam semua aspek kehidupan
manusia dan merubah tatanan kehidupan ummat dalam sebuah
peradaban Islam yang mempunyai nilai tinggi dan mulia.
Sejak zaman Rasulullah SAW., ummat Islam telah menggeluti
dunia bisnis dan berhasil. Banyak di antara para sahabat yang menjadi
pengusaha besar dan mengembangkan jaringan bisnisnya melewati
batas territorial Mekkah ataupu Madinah. Dengan berlandaskan prinsip-
prinsip Islami dan berakhlakul karimah, para sahabat telah berhasil
menerapkan tatacara berniaga yang sesuai dengan fitrah manusia yaitu
mendapatkan keberkahan, ketenangan dan adil. Harapan kita semoga
tradisi berniaga dikalangan para sahabat bisa kita teruskan sampai akhir
zaman. Mengedepankan kepentingan ummat daripada mengejar
keuntungan secara materi semata.
Dewasa ini semakin banyak mahasiswa dan lulusan perguruan
tinggi yang ingin dan mencoba masuk kedunia usaha, baik usaha mikro,
kecil maupun menengah, baik bergerak dibidang perdagangan barang
maupun jasa. Faktor utama yang menyebabkan semakin banyaknya
mahasiswa masuk kedunia usaha adalah karena sempitnya dunia kerja,
selain itu membaiknya kondisi ekonomi nasional juga turut
mempengaruhi minat dan memberikan peluang bagi mahasiswa untuk
mengembangkan bakat serta kemampuan entrepeneurshipnya.
Buku ini memberikan gambaran secara garis besar bagi yang
ingin mengetahui seluk beluk dunia usaha dan cara-cara mengembang-
kan bakat bisnis. Sebagai pembisnis pemula perlu mempersiapkan diri,
modal dan prasayarat-prasyarat lain yang dibutuhkan agar usaha yang
nanti dibangun terhindar dari kerugian, meskipun kegagalan dalam
bisnis selalu dapat terjadi.
K E W I R A U S A H A A N | iii
Semoga bermanfaat!
Salam penulis
Banda Aceh, 17 April 2019
iv | K E W I R A U S A H A A N
PENDAHULUAN
Tidak dapat dipungkiri bahwa fondasi ekonomi Indonesia
dibangun atas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang
jumlahnya mencapai 99,99% dari total unit usaha, mampu menyumbang
pendapatan negara (PDB) 57,83%. Bahkan UMKM merupakan
penyelamat ekonomi Indonesia saat krisis ekonomi melanda Asia pada
1997 lalu. Pada saat usaha-usaha besar dan korporasi jatuh ber-
tumbangan karena meningkatnya biaya produksi sebagai dampak
negative krisis ekonomi dan moneter, justru UMKM berdiri gagah serta
mampu menciptakan laba dan mengisi pundi-pundi penerimaan Negara.
Bahkan, dengan sumbangan UMKM tersebut digunakan oleh Negara
untuk membayar utang perusahaan-perusahaan besar keluar negeri.
Dalam kondisi seperti ini sepantasnya pelaku UMKM itu
dianggap sebagai pahlawan karena telah menyelamatkan bangsa dan
negaranya. Maka tidak berlebihan sekiranya pemerintah sekarang perlu
memberikan perhatian dan perlakuan istimewa bagi UMKM yaitu
dengan cara memberdayakan dan mengangkat martabatnya mereka ke
tempat yang lebih tinggi agar UMKM semakin mampu berdaya saing
dan meningkatkan produktivitasnya.
Menurut catatan Kementerian PPN/Bappenas, tingkat
produktivitas usaha mikro dibandingkan dengan usaha besar mencapai
14.306 kali. Untuk itu maka perlu akselerasi produktivitas UMKM
sehingga gap ini bisa diperkecil. Melalui peningkatan kapasitas pelaku
usaha maka upaya meningkatkan produksi dengan rasio input produksi
yang lebih efesien bisa tercapai. Dalam rangka itulah hendaknya pelaku
UKM mau terus belajar dan menambah pengetahuan.
Bagi calon wirausaha yang sudah memiliki tekad untuk masuk
kedunia usaha hendaknya juga mulai dari sekarang membekali diri
dengan berbagai kemampuan dan skill sehingga ilmu yang dimiliki bisa
menjadi nilai tambah (value added) dalam menjalankan bisnisnya.
Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada pembaca
dan mahasiswa yang menggunakan buku ini sebagai buku pengantar
Kewirausahaan semoga dengan hadirnya buku ini bisa menjadi sumber
pengetahuan dan inspirasi dalam melanjutkan cita-cita dan impian untuk
menjadi wirausaha sukses!
KEWIRAUSAHAAN |v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................... iii
PENDAHULUAN ............................................................................. v
BAB I
MEMAHAMI KEWIRAUSAHAAN ............................................. 1
Pengertian Kewirausahaan ................................................................ 1
Kewirausahaan, Bisnis & Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ......... 4
Karakteristik Wirausaha .................................................................... 8
Mengapa Harus Belajar ..................................................................... 26
Pentingkah Ilmu Itu? ......................................................................... 27
BAB II
MEMAHAMI PERSOALAN KITA .............................................. 38
Persoalan Potensi............................................................................... 38
Persoalan Kemiskinan ....................................................................... 38
Bagaimana di Aceh?.......................................................................... 39
Persoalan Ketenagakerjaan................................................................ 40
Pandangan Islam Terhadap Kemiskinan ........................................... 41
Kewirausahaan Salah Satu Jawaban.................................................. 43
Persiapan Mental ............................................................................... 43
Persiapan Sikap dan Perilaku ............................................................ 44
Wirausaha adalah Stakeholder Pemerintah ....................................... 45
Melalui Jalan Pendidikan................................................................... 45
Ketika Sekolah Tidak Bisa, Maka “Merantaulah”............................. 47
vi | K E W I R A U S A H A A N
BAB III
MEMAHAMI TUJUAN, MANFAAT DAN FUNGSI
BERWIRAUSAHA.......................................................................... 51
Tujuan Wirausaha.............................................................................. 51
Manfaat Wirausaha............................................................................ 52
Fungsi Wirausaha .............................................................................. 54
BAB IV
MEMAHAMI ASPEK-ASPEK PENTING DALAM USAHA.... 57
ASPEK HUKUM PERUSAHAAN................................................... 57
Pengertian Perusahaan....................................................................... 57
Bentuk Usaha..................................................................................... 58
Jenis Usaha ........................................................................................ 58
Tujuan Perusahaan............................................................................. 59
Sumber Hukum Perusahaan............................................................... 59
Kontrak Perusahaan........................................................................... 60
Yurisprudensi .................................................................................... 61
Kebiasaan .......................................................................................... 62
Legalitas Perusahaan Bagi Usaha Formal ......................................... 62
Langkah-langkah Pendirian Badan Usaha Formal ............................ 66
Legalitas Perusahaan Bagi Usaha Non Formal ................................. 67
ASPEK MANAJEMEN DAN ORGANISASI.................................. 68
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN ............................................. 70
ASPEK TEKNIS DAN PRODUKSI................................................. 78
BAB V
PENUTUP ........................................................................................ 91
K E W I R A U S A H A A N | vii
BERBISNISLAH DENGAN HATI DAN CINTA ........................... 94
Tips Mulai Berwirausaha................................................................... 98
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 99
TENTANG PENULIS ..................................................................... 105
viii | K E W I R A U S A H A A N
BAB I
MEMAHAMI KEWIRAUSAHAAN
Pengertian Kewirausahaan
Banyak pakar bisnis dan ahli manajemen memberikan defenisi
tentang kewirausahaan. Memahami arti dari suatu istilah menjadi sangat
penting. dengan mengetahui arti secara harfiah maka semakin mudah
memahami maknanya.
Kewirausahaan berasal dari kata Entrepreneur yang telah di
Indonesiakan. Kata entrepreneur itu sendiri adalah Bahasa Inggris yang
artinya Wiraswastawan. Sejauh ini belum ada pengertian kewirausahaan
yang disepakati secara bulat dengan satu pengertian saja. Masing-
masing para ahli memberikan definisi yang berbeda-beda. Akan tetapi
kalau kita perhatikan dengan seksama ternyata definisi-defenisi tersebut
mempunyai makna yang hampir sama yakni entrepreneur merupakan
semangat mengelola dan menggunakan sumberdaya untuk meng-
hasilkan suatu output yang mempunyai nilai ekonomi yang menjadi
sumber pendapatan pelaku usaha itu sendiri secara pribadi.
Beberapa ahli menggunakan kata entrepreneur, yang lainnya
menggunakan kata kewirausahaan dan sebahagian yang lain menyebut-
kan istilah wiraswastawan. Perbedaan penyebutan istilah ini bukanlah
pekara yang sangat penting untuk dijadikan alasan bahwa orang harus
menggunakan satu istilah tertentu saja. Dalam buku ini kita akan
memakai ketiga-tiga istilah tersebut yang barangkali akan silih berganti
dalam berbagai kalimat.
Agar kita mempunyai gambaran yang sama terhadap arti dan
pengertian dari ketiga istilah tersebut di atas, maka mari kita lihat
definisi masing-masing sebagai berikut:
John J. Kao (1993) dalam buku ‘kewirausahaan’ yang dituliskan
oleh Leonardus Saiman mendefinisikan entrepreneurship
sebagai berikut: ”Entrepreneurship is the attempt to create
value through recognition of business opportunity, the
KEWIRAUSAHAAN |1
management of risk taking appropriate to the opportunity, and
trough the communicative and management skills to mobilize
human, financial, and amterial resources necessary to bring a
project to fruition”.
Kalau di Indonesiakan kira-kira, berkewirausahaan adalah usaha
untuk menciptakan nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis,
menajemen pengambilan resiko yang tepat, dan melalui
ketrampilan komunikasi dan manajemen untuk memobilisasi
manusia, uang, dan bahan-bahan baku atau sumber daya lain
yang diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana
dengan baik.
Pengertian entrepreneurship menurut Robert D. Hisrich et al. (2005)
yaitu:
“entrepreneurship is the dinamyc process of creating
incremental wealth. The wealth created by individuals who
assume the major risks in term of equity, time, and/or carrier
commitment or provide value for some product or service. The
product or service may or may not be new or unique, but value
must somehow be infused by the entrepreneur by receiving and
locating the necessary skills and reseources”.
Berkewirausahaan merupakan proses dinamis atas penciptaan
tambahan kekayaan. Kekayaan yang diciptakan oleh individu
yang berani mengambil risiko utama dengan syarat-syarat
kewajaran, waktu, dan atau komitmen karier atau penyediaan
nilai untuk berbagai barang dan jasa. Produk dan jasa tersebut
tidak atau mungkin baru atau unik, tetapi nilai tersebut
bagaimana pun juga harus dipompa oleh usahawan dengan
penerimaan dan penempatan kebutuhan ketrampilan dan
sumber-sumber daya.
Dari pengertian tersebut Robert D. Hisrich et al. (2005) juga
memberikan pengertian entrepreneurship dengan melalui tiga
pendekatan yakni, pendekatan ekonom, pendekatan psikolog dan
pendekatan seorang pebisnis. Secara lebih lengkap sebagai berikut :
1. Pendekatan ekonom, entrepreneur adalah orang yang
membawa sumber-sumber daya, tenaga, material, dan asset-
aset lain ke dalam kombinasi yang membuat nilainya lebih
tinggi dibandingkan sebelumnya, dan juga seseorang yang
2| KEWIRAUSAHAAN
memperkenalkan perubahan, inovasi/pembaruan, dan suatu
order/tatanan atau tata dunia baru;
2. Pendekatan psikolog, entrepreneur adalah benar-benar seorang
yang digerakan secara khusus oleh kekuatan tertentu kegiatan
untuk menghasilkan atau mencapai sesuatu, pada percobaan,
pada penyempurnaan, atau mungkin pada wewenang mencari
jalan keluar yang lain;
3. Pendekatan seorang pebisnis (businessman), entrepreneur
adalah seorang pebisnis yang muncul sebagai ancaman,
pesaing yang agresif, sebaliknya pada pebisnis lain sesama
entrepreneur mungkin sebagai mitra/serikat/sekutu, sebuah
penawaran, seorang pelanggan, atau seseorang yang
menciptakan kekayaan bagi orang lain, juga menemukan jalan
yang lebih baik untuk memanfaatkan sumber-sumber daya,
mengurangi pemborosan, dan menghasilkan lapangan
pekerjaan baru bagi orang lain yang dengan senang hati untuk
menjalankannya.
Sekarang mari kita lihat pengertian kewirausahaan. Menurut
Intruksi Presiden RI No.4 Tahun 1995 :
”kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan
seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang
mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara
kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efesiensi
dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau
memperoleh keuntungan yang lebih besar”.
Sedangkan pengertian wiraswasta dapat diartikan; wira = utama,
gagah, luhur, berani, teladan dan pejuang. Swa = sendiri. Sta = berdiri
dan swasta = berdiri diatas kaki sendiri, atau dengan kata lain berdiri di
atas kemampuan dan kamauan diri sendiri. Menurut Soesarsono (1996),
wiraswasta memiliki pengertian; sifat-sifat keberanian, keutamaan, dan
keteladanan dalam mengambil risiko yang bersumber pada kemampuan
sendiri. Istilah wiraswasta sering diberikan pengertian yang sama
dengan kewirausahaan dan pada dasarnya memang tidak mempunyai
perbedaan secara subtansial meskipun pada penulisannya jelas terdapat
perbedaan. Memang, entrepreneurship merupakan istilah yang popular
di dunia bisnis AS, Inggris, Prancis dan Kanada, langsung atau tidak
langsung mempengaruhi istilah kewirausahaan dan wiraswasta.
KEWIRAUSAHAAN |3
Dari beberapa pengertian diatas dapatlah kita lihat ruang lingkup
atau batasan-batasan yang terdapat dalam istilah entrepreneur,
kewirausahaan dan wiraswasta yang sebenarnya terdapat kesamaan.
Unsur-unsur yang dimiliki oleh ketiga istilah tersebut antara lain :
1. Bahwa kegiatannya meliputi aktivitas usaha, bisnis,
perdagangan. (business activity)
2. Menghasilkan produk baik barang maupun jasa (goods and
services production)
3. Mengelola sumber daya (resources management)
4. Berani mengambil risiko (risk taking)
5. Memberikan pelayanan (sevice)
6. Meningkatkan nilai tambah (value added)
7. Mempunyai sikap, skill dan kemampuan menjalankan usaha
(skill)
8. Adanya kemauan dari diri sendiri (motivation)
Bisa juga kewirausahaan/entrepreneursip diklasifikasikan kepada
tiga bagian yakni :
1. Kepribadian/sikap
2. Kejiwaan (mental)
3. Menguasai ketrampilan (skill)
Maka semakin jelas bahwa pengertian entrepreneur,
kewirausahaan, wiraswasta adalah mempunyai kesamaan dan ini tidak
perlu diperdebatkan.
“Entrepreneur adalah orang yang memaksimalkan
peluang-peluang yang ada.” Peter Drucker
Kewirausahaan, bisnis dan Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM)
Kamus Bahasa Indonesia mengartikan bisnis sebagai usaha
dagang, usaha komersial di dunia perdagangan. Menurut Skinner
(1992), bisnis adalah pertukaran barang, jasa atau uang yang saling
menguntungkan atau memberi manfaat. Pada dasarnya bisnis memiliki
makna sebagai “the selling and buying of goods and services”.
4| KEWIRAUSAHAAN
Sedangkan Raymond E.Glos et.al (1976) menyebutkan bahwa
bisnis merupakan jumlah seluruh kegiatan yang diorganisasikan oleh
orang-orang yang berkecimpung dalam perniagaan dan industri,
menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan mempertahankan dan
memperbaiki standar serta kualitas hidup mereka.
Adapun pandangan Straub dan Attner (1994), bisnis adalah
suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan
barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk
memperoleh profit.
Dalam konteks bisnis Islam, Muhammad Ismail Yusanto dan
Muhammad Karebet Widjajakusuma (2002), mengatakan sebagai
serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak
dibatasi jumlah (kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk
profitnya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan
hartanya (ada aturan haram dan halal).
Berdasarkan pengertian para pakar tersebut diatas tentang
bisnis, maka kita dapat gambarkan bahwa bisnis itu merupakan satu
usaha mengelola, merubah dan mengkombinasikan bahan-bahan
tertentu dengan modal-modal lainnya untuk menghasilkan suatu produk
yang berguna bagi orang-orang yang membutuhkan. Usaha yang
dimaksudkan adalah berbagai upaya, tindakan dan kreativitas yang
dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam pekerjaan
menghasilkan barang, jasa dan berbagai alat-alat pemuas kebutuhan dan
keinginan masyarakat. Maka tindakan dan aktivitas ekonomi itulah yang
kemudian dikaitkan dengan kewirausahaan, dimana orang/individu
memiliki kemampuan berpikir dan menciptakan ide serta mewujudkan
menjadi produk. Akan tetapi selain kegiatan menciptakan barang dan
jasa, aktivitas jual beli atau perdagangan juga merupakan bagian dari
pengertian bisnis. Produk yang diperdagangkan bisa barang maupun
jasa atau bahkan konsep ,ide, gagasan, tempat, organisasi, orang pun
bisa dikategorikan sebagai produk yang dapat dipertukarkan dalam
perdagangan.
Kewirausahaan diperlukan dalam menjalankan usaha atau suatu
bisnis agar semua proses penyelenggaraan produksi dan perdagangan
produk bisa berjalan dengan baik, tertib dan menghasilkan pendapatan
bagi pelaku usaha. Kewirausahaan menanamkan prinsip kemandirian,
keberanian, optimisme dan kreativitas dalam menjalankan sebuah usaha.
KEWIRAUSAHAAN |5
Dunia usaha merupakan dunia yang menakutkan bagi orang-
orang yang tidak memiliki cukup pengetahuan tentang bisnis, apalagi
bagi pemula. Pengetahuan bagaimana memulai bisnis, manajemen
usaha, pengelolaan keuangan, pemasaran merupakan pengetahuan yang
wajib dimiliki oleh seorang wirausaha atau pebisnis termasuk siapa saja
yang mau memilih masa depannya dengan menjadi pengusaha. Bahkan,
bukan hanya sebagai sekedar pengetahuan saja, tetapi harus bisa
menjadi ketrampilan. Pengetahuan tersebut bisa didapatkan melalui
pendidikan formal melalui sekolah-sekolah atau perguruan tinggi
maupun pendidikan informal seperti; pelatihan, seminar-seminar bisnis
atau magang ke tempat usaha orang lain yang sejenis yang telah terbukti
berhasil. Namun untuk menjadikan bisnis kita sukses, tidak cukup hanya
memiliki pengetahuan semata tetapi masih dibutuhkan softskill lainnya,
antara lain; keberanian mengambil risiko kegagalan, berani malu, tidak
cepat putus asa, tidak mudah menyerah dan yang paling utama adalah
memiliki keinginan yang kuat untuk berhasil dalam berbisnis meskipun
dengan perjuangan yang berat.
Pemerintah berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2008 tentang UMKM, menetapkan kriteria-kriteria usaha sebagai tolok
ukur UMKM di lihat dari aset dan omset, antara lain :
1. Kriteria usaha mikro adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000.-
(lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan
tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
300.000.000.- (tiga ratus juta rupiah).
2. Kriteria usaha kecil adalah sebagai berikut :
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000.-
(lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp
500.000.000.- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
300.000.000.- (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling
banyak Rp 2.500.000.000.-(dua milyar lima ratus juta rupiah).
3. Kriteria usaha menengah adalah sebagai berikut :
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 500.000.000.-
(lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp
6| KEWIRAUSAHAAN
10.000.000.000.- (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp
2.500.000.000.- (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp 50.000.000.000.-(lima puluh milyar
rupiah).
Yang dimaksud dengan kekayaan bersih adalah hasil pengurangan
total nilai kekayaan usaha (aset) dengan total kewajiban, tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha. Jumlah asset bisa di lihat pada neraca
usaha. Sedangkan hasil penjualan tahunan merupakan hasil penjualan
bersih (netto) yang berasal dari penjualan (omzet) barang dan atau jasa
usahanya dalam satu tahun buku dan data ini dapat di lihat pada laporan
rugi/laba usaha.
Menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 12/PMK.06/2005
tanggal 14 Februari 2005 pengertian usaha mikro adalah usaha produktif
milik keluarga atau perorangan WNI, secara individu atau tergabung
dalam koperasi dan memiliki hasil penjualan secara individu paling
banyak Rp 100 juta pertahun. Jadi klasifikasi jenis usaha agar dapat
digolongkan kepada mikro, kecil atau menengah bahkan usaha besar
(korporasi) maka kita hanya perlu melihat jumlah asset dan penjualan
dalam setahun buku usaha tersebut. Namun usaha besar itu pada
awalnya merupakan usaha mikro atau kecil lalu kemudian tumbuh dan
berkembang. Pertumbuhan itu terjadi karena didorong oleh imajinasi
dan keahlian para wirausaha yang mengoperasikan unit-unit usaha
tersebut. Walaupun konsep kewirausahaan dan usaha mikro, kecil dan
menengah sangat berhubungan erat namun terdapat beberapa perbedaan,
meskipun kadang-kadang perbedaan tersebut sangat kecil.
Banyak orang yang terjun ke dunia usaha senang beranggapan
bahwa mereka termasuk para wirausahawan (entrepreneurs)-para
individu yang menanggung resiko kepemilikan usaha dengan satu tujuan
utama pertumbuhan dan ekspansi. Akan tetapi kenyataannya, seseorang
mungkin sebagai wirausahawan saja, seorang pengusaha kecil saja atau
keduanya. Bayangkan seorang individu yang memulai sebuah toko
penjualan roti tanpa rencana lain kecuali mencari cukup uang dari toko
tersebut untuk dapat hidup nyaman. Individu tersebut jelas adalah
seorang pengusaha kecil (small business person). Akan tetapi tanpa
rencana untuk tumbuh dan berkembang, ia sebenarnya bukan
wirausahawan. Di sisi lain, seorang wirausahawanlah yang memulai
KEWIRAUSAHAAN |7
sebuah toko penjualan roti dan berusaha memenuhi ambisinya untuk
mengubahnya menjadi satu rantai toko roti terbesar secara nasional dan
global untuk menandingi perusahaan-perusahaan roti besar yang pernah
ada. Walaupun individu ini memulai sebagai pengusaha kecil,
pertumbuhan perusahaan tersebut adalah hasil dari visi dan kegiatan
kewirausahaan.
Karakteristik Wirausaha
Hampir semua orang yang hidup di dunia tidak ingin dalam
hidupnya ada masalah, kita semua menginginkan sebuah kehidupan
yang aman-aman saja, tanpa beban yang amat berat untuk kita tanggung
apalagi menanggungnya sampai masa tua. Pengangguran adalah beban
dalam kehidupan, bukan hanya beban secara pribadi/individu, keluarga,
masyarakat bahkan beban negara. Orang yang sudah memasuki
angkatan kerja dan siap untuk bekerja. Akan tetapi tidak adanya
kesempatan kerja karena tidak tersedianya lapangan kerja.
Secara ekonomi, individu atau perusahaan-perusahaan
merupakan penyumbang pendapatan bagi negara melalui mekanisme
Product Domestic Brutto (PDB) atau Gross National Product (GNP)
yang dihitung setiap periode berjalan dengan metode tertentu.
Pendapatan atau pengeluaran masyarakat dalam suatu negara dihitung
dan dicatat sehingga tingkat pendapatan dan pengeluaran rata-rata
penduduk pun diketahui, semakin banyak individu dan atau perusahaan
menciptakan output maka semakin besar pula potensi tingkat
pendapatan rata-rata penduduk dalam negara tersebut. Sebaliknya,
individu yang tidak menghasilkan pendapatan bagi dirinya maka secara
tidak langsung individu tersebut telah turut mengurangi jumlah
pendapatan rata-rata individu lainnya. Dampak negatifnya bukan hanya
secara ekonomi akan tetapi secara sosial pun ikut memberikan pengaruh
tidak baik, kriminalitas akan terjadi dimana-mana apabila tingkat
pengangguran meningkat dan lebih besar dari jumlah penduduknya.
Setiap negara menginginkan angkatan kerjanya tidak
menganggur tetapi full employment atau terserap dalam lapangan kerja,
namun pada kenyataannya banyak negara tidak mampu menyediakan
lapangan kerja bagi semua angkatan kerjanya karena berbagai alasan.
Setiap tahun angkatan kerja terus bertambah sementara di sisi lain,
lapangan kerja yang tersedia semakin menyempit, tidak ada pembukaan
atau penambahan lapangan kerja baru oleh pemerintah. Karena itu
8| KEWIRAUSAHAAN
mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan
tinggi dan sedang disiapkan untuk memasuki pasar tenaga kerja
sebaiknya tidak terlalu berharap untuk mendapatkan pekerjaan dari
pemerintah apalagi menjadi pegawai negeri sipil (PNS) namun jadilah
orang atau pihak yang justru menciptakan lapangan kerja dan
memberikan pekerjaan bagi orang lain, dengan cara apa? Salah satunya
adalah dengan jalan berwirausaha.
Menjadi seorang wirausahawan memang tidak mudah, tidak
semudah yang kita bayangkan tetapi juga bukan berarti tidak bisa
dilakukan. Wirausahawan sukses membutuhkan persiapan, memerlukan
sikap-sikap positif, mental tarung dan perilaku sukses serta pengetahuan
yang luas tentang apa yang akan dijalankan, membutuhkan keahlian
(skill) secara umum dan teknis untuk mengelola seluruh sumber daya
yang digunakan dalam menghasilkan output.
Karakteristik wirausaha yang ideal adalah antara lain:
1. Adanya kemauan dan rasa percaya diri (willingness and self-
confidence).
Modal utama dan paling penting dalam memulai berwirausaha
adalah adanya niat dan kemauan. Segala perbuatan yang tidak di
mulai dengan niat yang baik dan nawaitu yang lurus seringkali
tindakan-tindakan yang lakukan kurang serius dan tidak fokus pada
arah tujuan atau bahkan karena tanpa ada niat tujuan pun tidak ada.
Niat itu menjadi alasan pertama mengapa seseorang memilih atau
tidak memilih untuk melakukan satu pekerjaan atau kegiatan
tertentu. Impian yang dimiliki oleh setiap orang merupakan
manifestasi dari sebuah keinginan kuat yang datangnya secara tulus
dari diri seseorang yang kemudian lahir dari hatinya untuk
melakukan sesuatu (take action) agar impiannya tercapai. Mungkin
saja bahwa niat itu muncul karena dipicu dengan melihat
pengalaman-pengalaman sukses orang lain atau peristiwa-peristiwa
yang di alami dalam hidupnya dan itu hanya sebagai pencetus saja.
Maka milikilah niat dan keyakinan.
Seorang wirausahawan harus mempunyai keyakinan dan
percaya bahwa dengan tekad dan kemauan yang tinggi akan
mampu mengatasi semua permasalahan dilapangan. Dalam
menyelesaikan persoalan wirausahawan tidak boleh begitu saja
mau menerima sesuatu dalam kondisi apa adanya atau dalam
keadaan yang tidak tuntas. Wirausahawan harus merasa yakin
KEWIRAUSAHAAN |9
bahwa segala persoalan mampu diselesaikan dengan baik, tuntas
dan sesuai rencana dengan dorongan hati nurani bahkan dengan
cara-cara yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Terkadang dalam keadaan yang sulit, seorang wirausahawan
menemukan inovasi-inovasi yang bisa menjadi solusi unik untuk
memecahkan permasalahan.
Kegagalan produk, kegiatan produksi yang berjalan lambat dan
tidak sesuai rencana, pemasaran yang tidak berhasil, cash flow
usaha yang tidak sehat, karyawan yang mau mengundurkan diri di
saat usaha sedang turun, bahan baku yang langka, dan lain-lain
adalah contoh-contoh kondisi nyata dalam usaha dan ini sering
terjadi, apalagi pada usaha yang baru di bangun dan belum berjalan
dengan stabil, kecendrungan menuju gagal lebih besar daripada
tumbuh dan berkembang maju. Wirausahawan harus melihat
kondisi seperti ini sebagai lapangan tempat mendapatkan pelajaran
dan pengalaman dengan berani dan yakin bahwa dalam kondisi
sesulit apapun solusi pasti ditemukan.
Seorang wirausahawan ketika mengerjakan sesuatu haruslah
berorientasi kepada hasil yang ingin di capai atau harus berbasiskan
pada prestasi bukan sekedar bekerja secara rutin dan asal-asalan.
Keberhasilan dalam mencapai suatu hasil merupakan kepuasan
batin yang tidak dapat di nilai dengan materi dan itulah di anggap
sebagai kesuksesan bagi seorang wirausahawan meskipun materi
itu juga penting sebagai ukuran keberhasilan suatu usaha, misalnya
asetnya mengalami peningkatan, dll.
Selain harus berani berhasil, seorang wirausahawan juga harus
berani gagal, siap menghadapi kondisi terburuk sekalipun, hadapi
kegagalan dan memetik hikmahnya. Mungkin saja kegagalan itu
datang untuk menasehati kita, memuliakan hati kita, membersihkan
pikiran negatif kita bahkan sebagai obat untuk menyingkirkan
keangkuhan kita barangkali atau bahkan bisa menjadi sebab
sehingga wawasan kita semakin bertambah serta semakin dekat
kepada Allah SWT. Ketika cara berpikir seorang wirausahawan
semakin positif dan berprasangka baik maka kalimat yang
menyatakan “kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda” itu
kita sepakati dan yakin bahwa benar adanya.
2. Fokus pada sasaran dan tujuan (Goal Setting and Destination)
Sasaran dan tujuan merupakan dua hal yang seiring sejalan
dalam satu tindakan, seorang wirausahawan melakukan akvitas
10 | K E W I R A U S A H A A N
usahanya harulah berdasarkan pada sasaran yang ingin dicapai
sehingga tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang akan
tercapai pada waktu yang telah di targetkan. Kebanyakan
wirausaha mengalami kegagalan pada awal-awal pendirian usaha
(permulaan) adalah karena mereka tidak mempunyai tujuan yang
jelas bahkan ada yang tidak memilki tujuan sama sekali alias ikut-
ikutan. Sebuah usaha yang di bentuk oleh orang yang tidak
mempunyai visi yang jauh kedepan dan tidak disertai dengan
tujuan yang ingin di raih maka usaha tersebut tidak memiliki
kekuatan secara ideologis, tidak memiliki ikatan emosional yang
kuat dengan pemiliknya sehingga wirausaha itu tidak memiliki peta
perjalanan usahanya kedepan.
Secara bisnis, tujuan pendirian usaha adalah untuk mendapatkan
keuntungan (profit), dengan sejumlah modal yang dikeluarkan
dimuka dan mengelolanya dengan proses produksi dengan harapan
mendapatkan sejumlah kelebihan atas modal tersebut. Namun
begitu, ada tujuan lain yang menjadi target atau sasaran seorang
wirausaha, bisa saja yang ingin dicapai dalam usahanya adalah
kepuasan batin, pengakuan orang lain terhadap dirinya atau ingin
menciptakan lapangan kerja bagi orang lain sehingga dia merasa
bahagia.
Para pakar menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan dan
didorong oleh arti dan makna sebuah hasil yang dapat dicapai oleh
seseorang dan bukan pada target sasaran yang harus dicapai.
Pernyataan ini indentik dengan kebahagiaan yang ingin dicapai
oleh wirausaha yang mempunyai keinginan untuk mendapatkan
kepuasan batin dan kepuasan non materi.
Apapun tujuan dan sasaran yang ingin diraih oleh seorang
wirausahawan, hal yang terpenting yang harus diperhatikan adalah
bagaimana menerapkan prinsip-prinsip bisnis dalam usahanya. Apa
itu prinsip bisnis? Bahwa setiap menghasilkan sesuatu mesti dari
sesuatu, maknanya adalah wirausaha harus mampu mengembalikan
sejumlah modal investasi yang telah dikeluarkannya pada awal
memulai usaha. Pada tahap pertama seorang wirausahawan harus
mampu membuat usahanya terus berjalan, berproduksi dan
bertahan hidup di tengah-tengah para pesaing, dalam kondisi
produknya belum begitu dikenal oleh masyarakat, pada tingkat
penjualan yang masih rendah, terlebih dengan biaya produksi dan
pemasaran begitu deras mengalir keluar.
K E W I R A U S A H A A N | 11
Setiap wirausaha harus menyadari bahwa tidak selamanya
kondisi dilapangan seperti yang disampaikan dalam perencanaan.
Hal ini disebabkan antara lain oleh faktor eksternal dan
keterbatasan kondisi internal. Diantara keterbatasan tersebut bisa
berbentuk kurangnya informasi yang diperlukan ketika proses
perencanaan usaha berlangsung atau bisa saja keterbatasan itu
dalam bidang kekurangan modal kerja, sumber daya manusia dan
sumber daya lainnya yang tidak mendukung keberhasilan sebuah
usaha. Namun sekali layar terkembang surut kita berpantang, itulah
prinsip yang harus dipegang oleh seorang wirausahawan yang
secara sadar telah memilih berwirausaha sebagai masa depannya.
Sebab itu, maka apapun yang terjadi senantiasa seorang
wirausahawan harus tetap fokus pada cita-cita yang ingin dicapai.
3. Pemberani dan pekerja keras (hard worker and intrepid)
Dalam dunia usaha dan kewirausahaan modal itu diartikan
dalam artian yang luas dan meliputi berbagai aspek, artinya bukan
hanya uang saja yang dianggap satu-satunya sebagai modal usaha.
Namun, hal-hal yang non fisik pun bisa menjadi modal, seperti
waktu, pendidikan, pengalaman kerja, peluang pasar bahkan di
dunia modern sekarang ini, informasi pun bahkan menjadi modal
yang sangat penting dalam mejalankan suatu usaha.
Berkaitan dengan waktu, terdapat dua hal penting, yakni (1)
kesempatan dan (2) efesiensi. Kejelian dan kecekatan dalam
melihat kesempatan dan menggunakan moment yang tepat sangat
menentukan keberhasilan. Bekerja semakin efesien jika dalam
satuan waktu atau tenaga atau biaya yang digunakan mampu
meghasilkan output lebih banyak, dengan kata lain tingkat
produtivitasnya meningkat.
Maka untuk mencapai pertumbuhan produksi dan produktivitas,
seorang wirausahawan harus mampu melihat berbagai kekuatan
yang dimilikinya dan memadukannya dengan konsep kerja keras
(effort). Mewajibkan diri sendiri dan karyawannya untuk memiliki
etos kerja yang baik, tidak malas dan lambat bergerak, memiliki
inisiatif meningkatkan prestasi serta mempunyai rasa kepemilikan
yang tinggi terhadap usaha yang sedang dikelolanya. Ethos = Sikap
dasar, ciri-ciri dan pandangan penilaian seseorang atau sekelompok
orang, terhadap suatu kegiatan tertentu. Rasulullah SAW dalam hal
ini bersabda “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu
12 | K E W I R A U S A H A A N
makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya
sendiri.” (HR Baihaqi).
Kita sering memperhatikan beberapa orang bisa dan mampu
bekerja lebih keras dari seorang wirausahawan, demikian juga
seorang pimpinan eksekutif pada sebuah perusahaan dapat bekerja
lebih keras dari target, beban kerja dan waktu yang telah
ditentukan. Namun, seorang wirausahawan harus mampu bekerja
lebih daripada itu, bekerja sepanjang waktu tanpa batasan tanpa
kenal lelah dimanapun tempatnya berada.
Seorang wirausaha bekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya
termotivasi oleh prestasi yang diharapkan, tergerak oleh rasa ingin
puas dan menciptakan kebahagiaan bagi dirinya, karyawannya,
keluarganya dan masyarakat umum yang dilayaninya. Maka,
dimensi ruang, tempat dan waktu tidak lagi menjadi alasan baginya
untuk membatasi kerja kerasnya. Etos kerja yang baik akan
membentuk cara berpikir yang berbeda dan orientasinya menuju
kepada pencapaian hasil kerja dan karya bukan lagi hanya sekedar
bekerja untuk mendapatkan sejumlah uang atau pendapatan
layaknya seorang gajian.
Meskipun bekerja keras, bahkan lebih keras dari orang lain pada
umumnya itu penting. Akan tetapi jauh lebih penting, seorang
wirausahawan harus mampu mengkombinasikan cara kerja keras
dengan cara kerja cerdas sehingga menghasilkan satu kolaborasi
strategi yang unggul untuk mencapai tujuan. Otot dan otak adalah
dua hal yang berbeda namun jika disatukan akan menjadi satu
kekuatan yang luar biasa. Otot membutuhkan asupan makanan
yang penuh protein dan nutrisi yang baik dan cukup agar
kemampuan geraknya semakin kuat dan cekatan sedangkan otak
bukan hanya membutuhkan makanan-makanan fisik yang
berprotein tinggi dengan berbagai macam variasi nutrisi yang
diperlukan, otak juga membutuh asupan gizi nonfisik. Otak
membutuhkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan agar
kemampuan berfikirnya menjadi lebih baik, agar otak mampu
bekerja secara optimal untuk menggunakan akal dalam
menciptakan ide-ide dan gagasan baru dalam menyelesaikan segala
persoalan dalam mengelola sebuah usaha.
Selain seorang wirausahawan harus terus menerus untuk belajar
dan belajar, mempunyai pengalaman pada bidang yang sama
sebelumnya juga merupakan satu keunggulan untuk mendorong
upaya kerja keras dan kerja cerdas semakin melaju cepat. Ada hal-
K E W I R A U S A H A A N | 13
hal yang sebelumnya sudah diketahui dan dipelajari lalu kemudian
pada saat ini dihadapkan lagi pada kasus yang sama, maka seorang
wirausahawan yang sudah berpengalaman hanya membutuhkan
waktu yang singkat saja untuk membuat keputusan. Berbeda
dengan wirausaha pemula yang hanya mengandalkan pengetahuan
semata tanpa mempunyai sedikitpun pengalaman maka
membutuhkan waktu yang lama dalam memutuskan sesuatu
diantara banyak pilihan yang dihadapkan padanya. Jikapun dia
mampu membuat keputusan yang sangat cepat namun menurut
saya kualitas keputusannya berbeda dengan wirausaha yang telah
berpengalaman. Lalu kalau begitu, apakah untuk menjadi
wirausaha harus mempunyai pengalaman terlebih dahulu?
Jawabannya bisa bermacam-macam dan bervariasi tergantung yang
menjawabnya. Namun menurut saya, apakah kalau orang lain
pernah mengalami kegagalan lalu kita mesti gagal dulu seperti
orang tersebut?
Kerja lebih itu
Tiba dan memulai kerja lebih awal
Kerja lebih bersemangat dan bergairah
Kerja lebih cermat, tertib, dan lancer
Kerja lebih cekatan dan cepat selesai
Waktu kerja lebih lama
Pulang paling akhir
Kerja lebih ikhlas
Hasil kerja lebih baik
4. Keberanian Mengambil Resiko (risk taking).
Berani hidup maka kita juga harus berani mati, berani bahagia
juga harus berani menderita. Mungkin itulah satu kalimat yang
dapat mewakili judul point yang ingin dibahas. Tidak ada sesuatu
pun di dunia ini yang tidak memiliki risiko. Risiko itu merupakan
suatu dampak yang ditimbulkan oleh karena sesuatu atau dengan
singkat kata risiko itu adalah akibat yang ditimbulkan dan biasanya
negatif, sehingga banyak orang tidak bersedia menerima risiko
tersebut karena sifatnya merugikan. Padahal resiko itu bergerak
secara paralel dengan keuntungan, semakin tinggi resiko semakin
tinggi pula potensi keuntungan yang mungkin diraih. Sebagai
contoh; menjual shabu-shabu mempunyai risiko tinggi,
ganjarannya adalah hukuman penjara seumur hidup bahkan
14 | K E W I R A U S A H A A N
hukuman gantung kalau dibeberapa negara lain. Namun,
keuntungan yang bakal di dapat juga sangat tinggi. Kalau di Aceh,
menjual ganja pasti berhadapan dengan aparat penegak hukum
tetapi jika berhasil maka keuntungan yang di raih juga besar. Tapi
itu dalam konteks negatif dan yang kita harapkan adalah wirausaha
yang melakukan usaha dan bisnis yang sehat, halal juga baik,
memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain.
Risiko yang memungkinkan terjadi dalam wirausaha adalah
mengalami kerugian atau gagal, selebih daripada itu tidak ada,
belum pernah ada berita di media massa bahwa ada orang yang
ditangkap polisi atau dipenjarakan gara-gara gagal bisnisnya, juga
belum pernah ada juga orang di usir dari kampungnya karena
produk yang dibuatnya tidak laku di jual dipasar. Bahkan menurut
saya, berjalan dijalan raya baik berjalan kaki maupun
menggunakan kenderaan bermotor memiliki risiko yang sangat
tinggi, bisa saja terjadi ketabrakan atau kecelakaan dengan berbagai
macam cara dan dengan alasan yang tidak kita mengerti serta
terjadi secara tiba-tiba dan diluar dugaan kita. Bukankah angka
kematian di jalan raya setiap tahun semakin bertambah? Maka
bandingkan dengan risiko yang kita alami dalam berwirausaha,
paling tinggi adalah kita kehilangan sejumlah uang atau aset karena
bisnis kita tidak berjalan, tidak sampai kehilangan nyawakan? Bagi
seorang wirausaha pembelajar, kegagalan itu merupakan guru yang
sangat berjasa bagi dirinya, dia belajar dari kesalahan tersebut,
berusaha memperbaiki kekurangan pada episode sebelumnya dan
dia akan bangkit membuat lompatan melintas tinggi dari batas
kegagalan pada masa pertama, tidak merisaukan sedikitpun uang
yang hilang karena dengan masih memiliki nyawa dan semangat
untuk bangkit maka uang itu akan sangat mudah di dapatkan
kembali.
Perlu di catat bahwa setiap usaha baik baru maupun usaha yang
telah lama berjalan akan selalu berhadapan dengan risiko. Setiap
saat risiko bisa datang bahkan secara tiba-tiba dan tidak diketahui
secara pasti. Tidak ada seorangpun mampu menolak risiko kecuali
memang dia tidak melakukan apapun alias diam saja itupun
mempunyai risiko juga, yang paling mungkin adalah bagaimana
risiko itu dikelola dan di antisipasi sehingga dampaknya tidak
terlalu besar kerugiannya. Dalam kaitan inilah seorang wirausaha
harus memiliki sikap berani mengambil risiko, maksudnya segala
K E W I R A U S A H A A N | 15
tindakan akan atau tidak akan di ambilnya telah diperhitungkan dan
di pertimbangkan secara matang dan benar-benar dampaknya.
Dengan demikian apapun yang terjadi dalam usaha kita masih
dalam keadaan terkendali dan dibawah pengawasan kita. Namun
secara logika tidak mungkin seseorang dengan secara sadar
“menjerumuskan” dirinya kedalam risiko kehilangan modal dan
sumber-sumber daya lainnya.
Karakter berani yang dimiliki oleh seorang wirausaha adalah
berani karena sikap mawas diri bukan berani membabi buta tanpa
perhitungan. Dalam mengelola sebuah usaha sudah bisa dipastikan
bahwa setiap saat kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan dan
diantara banyak pilihan tersebut kita diharuskan untuk memilih
beberapa hal yang menjadi prioritas untuk kepentingan
operasionalisasi usaha kita. Nah, disinilah peran kepemimpinan
seorang wirausaha dibutuhkan, kita diharuskan untuk membuat satu
keputusan karena tidak mungkin semua pilihan yang ada
(sekerangjang pilihan) dapat kita jalankan semuanya atau
mempunyai tingkat kepentingan yang sama pada saat ini sehingga
seorang manajer perlu memutuskan. Lagi-lagi seorang wirausaha
harus berani membuat keputusan dan dengan berani juga
menanggung risiko atas keputusan yang telah dibuat.
Menghadapi risiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan,
kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan
menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending sebuah
ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati
keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan
menyingkirkan kesulitan, kendala dan bahaya. Proses ini dibangun
dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang
wirausaha. Dengan demikian seorang entrepreneur mampu
mengubah kegagalan menjadi keberhasilan, kekalahan menjadi
kemenangan. Jika anda tidak siap untuk gagal maka lebih baik
jangan masuk ke dunia ini bahkan bermimpi pun jangan! Karena
itu Lee Kuan Yew mengatakan “kita perlu menggalakan orang
untuk berani mengambil risiko. Hal ini membutuhkan pola pikir
yang sangat berbeda. Untuk kita, itu berarti mengabaikan peraturan
yang telah berlaku selama 30 tahun lebih.”
5. Berani Bertanggung Jawab (Responsibility)
Sikap dan karakter yang satu ini sangat penting dimiliki oleh
setiap wirausahawan pada khususnya dan masyarakat pada
16 | K E W I R A U S A H A A N
umumnya. Seorang wirausahawan memang akan berusaha dan
bekerja keras untuk mencapai keberhasilan,atau tidak ada seorang
wirausahawan pun menginginkan kegagalan. Namun, alat yang
digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu usaha yang
dijalankan oleh seorang wirausahawan tentu yang berbeda. Pada
umumnya untuk melihat pertumbuhan usaha juga bukanlah
merupakan satu pekerjaan yang sulit, tidak mesti harus
menggunakan berbagai macam alat analisis untuk mendapatkan
rasio-rasio hasil analisa. Bagi orang awam pun bila melihat
seseorang yang bertambah asetnya merupakan tanda bahwa orang
tersebut telah mengalami peningkatan dalam pendapatannya.
Begitu juga dalam menilai perkembangan usaha, ketika sebuah
usaha tertentu masih mampu bertahan dan beroperasi berarti usaha
tersebut masih mampu mengembalikan seluruh biaya produksi
yang telah dikeluarkannya. Ketika misalnya usaha telah
berkembang dan maju maka secara nyata kita bisa melihat dalam
pertambahan assetnya, bisa saja asset tersebut dalam bentuk tanah,
gedung, kenderaan atau bahkan terjadi ekspansi usaha dan
penambahan tenaga kerja, maka itu pertanda bahwa usahanya
tersebut telah mengalami kemajuan, atau dalam bentuk lainnya bisa
kita perhatikan jumlah omset penjualannya pada setiap periode.
Lalu bagaimana kalau ternyata usaha tidak berkembang atau
bahkan merugi alias gagal? Seseorang yang telah berniat memasuki
dunia usaha lazimnya secara konsekwen berani memikul tanggung
jawab, artinya berani menerima beban apapun secara kesatria, tidak
melemparkan kesalahan dan kegagalan tersebut kepada pihak lain
akan tetapi mengkaji apa penyebab kegagalan itu bisa terjadi,
apakah karena kesalahan internal dalam pengelolaan ataukah secara
eksternal ada hal-hal diluar kendali kita sebagai wirausahawan. Jika
ternyata penyebab utama gagalnya usaha tersebut di karenakan
dengan secara sengaja mengabaikan prinsip-prinsip dalam
berbisnis, misalnya mengabaikan perencanaan usaha, menganggap
remeh pembukuan usaha atau tidak peduli dengan quality control
terhadap produk yang dihasilkan, maka sangat wajar kalau seorang
wirausahawan harus berani mengakui bahwa itu merupakan bagian
dari kesalahan yang diperbuatnya dan karena itu harus berani
bertanggung jawab, apalagi jika dalam kegagalan tersebut
menyisakan kewajiban kepada pihak lain.
Menjadi wirausaha itu berbeda dengan dunia pegawai negeri
atau karyawan swasta, dengan kata lain menjadi pekerja lebih aman
K E W I R A U S A H A A N | 17
dibandingkan dengan dunia usaha. Dalam dunia pekerja, tanggung
jawab yang diembankan hanya sebatas dengan fungsi dan tugasnya
dalam organisasi, selama dia telah melakukan pekerjaanya sesuai
dengan standar operasional prosedur (SOP) maka tanggung
jawabnya sudah selesai. Masalah organisasi tersebut nanti rugi atau
untung itu bukan lagi urusannya, yang penting setiap akhir bulan
dia menerima gajian. Berbeda dengan seorang wirausaha, kondisi
ketidakpastian lebih besar. Bisa saja periode ini untungnya besar
dan periode berikutnya merugi atau sebaliknya. Artinya tidak bisa
dipastikan berapa pendapatannya setiap periode. Maknanya berapa
gaji yang diinginkan maka tulislah sendiri angkanya kemudian
berusahalah dengan optimal.
Tanggung jawab wirausaha juga bukan hanya ke dalam.
Namun, wirausahawan juga memikul tanggung jawab terhadap
konsumen, investor,masyarakat, pemerintah dan lingkungan
dimana usaha itu berada. Wirausahawan dengan perusahaannya
dalam memproduksi barang dan jasa harus mengacu kepada apa
yang dibutuhkan dan di inginkan oleh konsumen, hak-hak
konsumen harus menjadi perhatian utama dan tidak boleh
diabaikan. Barang dan jasa yang telah diproduksikan juga tidak
boleh di timbun dan membuat spekulasi harga sehingga
mendapatkan keuntungan besar tetapi di sisi lain konsumen sulit
mendapatkan pasokan barang di pasar, itu tidak boleh dilakukan
karena merupakan sikap dhalim dan watak tidak bertanggung
jawab.
Sebagai investor juga mempunyai kepentingan dalam melihat
perkembangan usaha yang kita jalankan karena mereka sudah
memodali kita, sehingga wirausaha harus mengelola usaha tersebut
dengan baik dan hati-hati. Dalam memberikan dananya, investor
mengharapkan bagian keuntungan yang dihasilkan perusahaan
sehingga tingkat akuntabilitas wirausaha juga sedang di uji, apakah
Akan menggunakan dana tersebut untuk menciptakan keuntungan
atau justru menggunakannya untuk hal-hal yang tidak berkaitan
secara langsung dengan usaha, misalnya membeli mobil pribadi
terlebih dahulu atau membangun rumah, dll.
Dalam pandangan ekonomi saat ini, selain konsumen dipandang
sebagai pihak yang harus dipuaskan oleh produsen, investor juga
merupakan pihak yang harus dilindungi hak-haknya. Namun, tak
kalah pentingnya adalah memperhatikan masyarakat dimana lokasi
usaha tersebut dijalankan. Ketika masyarakat setempat menolak
18 | K E W I R A U S A H A A N
kehadiran usaha kita dalam lingkungannya maka ini menjadi
masalah besar yang bisa menjadi hambatan operasionalisasi usaha,
tetapi seorang wirausaha harus berusaha merangkul masyarakat dan
memperhatikan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Maka, tanggung jawab seorang wirausahawan adalah bagaimana
menjaga hak-hak sosial kemasyarakatan tidak terganggu. Dalam
pandangan lebih luas menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari
dan tidak rusak, tidak berpolusi merupakan bagian dari menjaga
hak-hak masyarakat.
6. Berani Berbeda (To Be Different).
Tidak bisa kita pungkiri bahwa saat ini memang kita berada
pada zaman yang aneh, zaman dimana orang memperhatikan
sesuatu yang baru, yang tidak pernah ada sebelumnya. Prilaku
menginginkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain menjadi
sangat bernilai bagi dirinya ketika dia mampu menguasainya.
Menggunakan produk yang tidak dikonsumsi oleh banyak orang
akan menjadi satu prestise tinggi bagi orang tersebut apalagi jika
harganya mahal dan hanya sedikit orang yang mampu membelinya.
Tak terkecuali di negara-negara maju, di negara berkembang dan
kota-kota kecil sekalipun bahkan di pelosok-pelosok saat ini mulai
tumbuh keinginan dari masyarakat untuk menikmati sesuatu yang
berbeda, pada masyarakat kelas ekonomi atas mungkin lebih tepat
kalau kita sebut membutuhkan sesuatu yang eklusif sementara pada
kelas menengah ke bawah mereka menginginkan hal-hal yang
membuat mereka bisa berbeda dengan yang lain, baik dalam bentuk
gaya, penampilan bahkan cara menjalani kehidupan pun kini mulai
ada kelompok yang menerapkan perbedaan dengan yang lain.
Perbedaan dalam menjalani kehidupan ini bisa saja dipengaruhi
oleh cara pandang, tingkat pendidikan, agama, budaya yang mereka
mereka anut. Contonya; masyarakat yang mengharamkan
mengkonsumsi hewan atau binatang, sehingga sepanjang hidupnya
mereka tidak pernah makan dagging dan ikan. Atau ada juga
masyarakat yang membolehkan pernikahan sejenis, dll. Bagi
mereka yang menganut pandangan hidup seperti ini bagi dirinya
adalah sesuatu yang membuat mereka semakin punya nilai dari
orang lain. Namun, bagi mereka yang menolak atau tidak setuju
dengan cara hidup seperti ini maka mereka di anggap sebagai
kelompok atau orang yang tidak normal atau aneh.
K E W I R A U S A H A A N | 19
Bagi seorang wirausaha mempunyai pandangan yang berbeda
dengan wirausaha lainnya bisa menjadi satu keunggulan tersendiri.
Dengan memiliki pemikiran yang tidak sama maka besar
kemungkinan wirausaha tersebut akan melahirkan konsep/ide yang
berbeda pula dalam menjalankan usaha/bisnisnya. Pada zaman
sekarang kita tidak perlu malu atau risih untuk menampilkan karya
yang berbeda, selama pasar menerima bahkan membutuhkan suatu
produk yang berbeda (sesuai karakter konsumen) maka wirausaha
tidak perlu menghiraukan apapun jika sekiranya ada yang
memandang aneh, tetapi easy going-jalan terus. Munculkanlah
keberanian berpetualang di aras baru, kendati untuk itu kita siap
membayar harga orang yang mentertawakan, mengejek, dan
mengkritik kita.
Kita tidak perlu merasa takut dan terkucil jika sekiranya
memilih jalan yang berbeda dengan orang pada umumnya. Ada
keluarga yang menganggap bila anaknya menjadi pegawai negeri
sipil maka baru dikatakan sukses. Ketika dia selesai pendidikan lalu
tidak lulus pegawai negeri sipil (PNS) maka selama hidupnya dia di
anggap belum sukses meskipun mungkin secara finansial dia sudah
cukup mapan, mungkin karena berhasil terpilih sebagai anggota
dewan perwakilan rakyat di daerahnya, misalkan. Namun, lagi-lagi
itu diluar perhitungan orang tua mereka. Sebetulnya inilah salah
satu alasan mengapa para generasi muda kita, lulusan muda
perguruan tinggi enggan untuk memilih berwirausaha sebagai masa
depannya, karena disamping resiko gagal yang besar, harus bekerja
lebih keras dari biasanya, tidak memiliki modal dana yang cukup,
ternyata masih kurang mendapat penghargaan dari orang-orang
terdekat mereka terutama orang tua.
Lalu mengapa orang mentertawakan kita? Atau mengejek kita?
Karena kita berbeda. Tapi, apa salahnya jika kita memang berbeda?
Kenyataan sejak kita lahir memang kita semua berbeda, dengan
jumlah tujuh (7) miliar manusia di dunia saat ini, tidak ada yang
sama walaupun anak kembar sekalipun, waktu lahir saja sudah
berbeda. Kalau tidak percaya bahwa kita tidak ada yang sama satu
sama lain, periksalah sidik jari sebagai buktinya.
Bila kita ingin benar-benar berhasil, maka munculkanlah bakat
ini dari dalam diri kita, biarkan ia bersinar begitu terang. Orisilitas
gagasan, ide dan konsep di mana kita akan memperlihatkan sesuatu
yang berbeda dengan mereka yang lain dan itu memberi nilai lebih
bagi kita. Dengan kalimat yang singkat bisa saya katakan ”lebih
20 | K E W I R A U S A H A A N
baik berbeda asalkan sukses dunia dan akhirat daripada sama
dengan mereka yang lain tetapi hidup merana dan sekarat”.
Keluarlah dari cara berpikir yang menganggap yang berbeda itu
tidak normal. Justru karena kita berbeda satu sama lain maka
tercipta tujuh miliar peluang dalam dunia bisnis. Ada satu
penggalan kisah Abu Nawas dan Sang Raja yang pernah saya
dengar dari cerita guru saya. Pada satu waktu Sang Raja bertanya
kepada Abu Nawas, ”Wahai Abu Nawas saya mempunyai satu
pertanyaan untuk anda jawab” Begitu kata Sang Raja. Lalu, Sang
Raja melanjutkan kalimatnya dan bertanya “Wahai Abu Nawas,
mengapa orang di dunia ini jalannya berpencar-pencar ke seluruh
penjuru dunia?”, Itulah pertanyaan Sang Raja. Setelah berpikir
sejenak, lalu Abu Nawas pun memberikan jawaban, ”Ya Tuan ku,
sekiranya semua manusia di dunia ini berjalan ke satu arah dan titik
yang sama saja, maka dunia ini pasti akan oleng atau berat
sebelah”. Bisa kita bayangkan kalau kita naik sebuah kapal laut,
lalu semua penumpang berkumpul di satu titik saja di atas kapal
tersebut ,maka pasti olengkan? Dalam kaitannya dengan kehidupan
kita sekarang juga bisa di jadikan analogi berpikir penggalan cerita
di atas untuk menjawab mengapa kita harus berbeda.
7. Berani Malu (Tidak Takut Malu)
Pernahkah anda mendengar sebuah iklan yang setiap pagi
ditayangkan di telivisi rumah anda? “berani kotor itu baik”, begitu
bunyinya. Saya kira anda sudah sangat familiar dan sering
mendengarkannya bukan? Saya tidak meminta anda untuk
menyebutkan nama produk dari iklan tersebut. Akan tetapi, dalam
konteks entrepreneurship saya ingin menggantikan satu kata saja
dari kalimat iklan itu menjadi “Berani malu itu baik”.
Permasalahan yang kerap di alami oleh orang yang tidak begitu
mencintai dunia usaha atau minat terhadap wirausaha yang rendah
adalah tingginya rasa malu (gengsi) yang mereka miliki, sehingga
rasa malu itu cenderung kita sebut dengan gengsi selangit (setinggi
langit). Sehingga membayangkan menjadi wirausaha saja malunya
setengah mati. Rasa malu itu sendiri sebenarnya adalah fitrah yang
diberikan oleh Allah SWT kepada manusia sebagai perhiasan
baginya. Kalau digunakan secara tepat maka akan membuat orang
tersebut menjadi lebih cantik, indah perangainya dan kelihatan
lebih elegan dan terhormat. Dan salah satu yang membedakan
manusia dengan hewan adalah adanya rasa malu. Namun
K E W I R A U S A H A A N | 21
pertanyaannya, malu yang seperti apa yang diharapkan oleh Allah?
Maha benar Allah melalui Rasul NYA yang mengatakan bahwa
“malu itu merupakan sebahagian dari iman”. Ketika seorang
wirausaha dengan segenap keberanian, rasa tanggung jawab, cinta,
dan harapan yang dimilikinya bahkan untuk membesarkan nama
baik orang tua, keluarga serta orang-orang yang dicintainya maka
sepantasnya menganggap bahwa kegiatan berwirausaha bukanlah
pekerjaan yang membuat kita malu meskipun dalam memulai
membangun usaha kita kadang-kadang memerlukan gerakan-
gerakan yang mampu menarik perhatian orang lain. Bahkan, jika
perlu kita memasang “muka tembok” agar tujuan kita bisa tercapai.
Misalnya harus menjajakan produknya di pinggir jalan. Bagi
sebahagian orang pekerjaan seperti itu sangat memalukan. Namun
dalam dunia usaha itu merupakan strategi marketing yang sangat
hebat dan menarik. Maka kita tidak perlu malu.
Sebaliknya kita mesti mempertanyakan mereka-mereka yang
mendapatkan dan mencari rezeki dengan cara-cara yang tidak
benar, melanggar hukum bahkan dengan cara mengorbankan
nyawa orang lain sekalipun tetapi mereka tidak pernah malu.
Bagaimana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah
mewajibkan kepada tahanan atau narapidana tindak korupsi atau
lebih keren di panggil dengan Koruptor untuk mengenakan baju
khusus yang bergaris hitam putih seperti kulit Zebra dan
dibelakangnya bertuliskan KORUPTOR. Tujuan KPK adalah untuk
mencegah lebih banyak orang melakukan tindakan korupsi. Strategi
menggunakan kostum khusus tersebut bagi para Napi Korupsi
adalah agar mereka merasakan betapa malunya dikenal oleh
masyarakat sebagai koruptor. Lalu apakah kenyataannya? langkah
KPK tersebut efektif membuat calon koruptor lain untuk
membatalkan niat tindakan koruptifnya karena takut dan malu jika
tertangkap kemudian menggunakan kostum tersebut?
Kalau mereka yang melakukan tindakan tidak terpuji saja sudah
kehilangan rasa malunya, lalu mengapa kita yang mempunyai niat
lurus, melakukan pekerjaan yang baik dan halal, tidak merugikan
orang lain, tidak membuat dhalim bagi siapapun harus malu?
Bukankah kegiatan menciptakan barang dan jasa yang dibutuhkan
oleh masyarakat merupakan perbuatan yang mulia? Maka mulai
sekarang buanglah jauh-jauh cara berpikir yang merugikan diri
sendiri. Gunakanlah akal sehat dengan logika yang benar, mengacu
kepada tujuan Tuhan menciptakan manusia, kita di muka bumi ini.
22 | K E W I R A U S A H A A N
Sebagai Khalifah, manusia diberikan tanggung jawab dalam
pengelolaan alam dengan seluruh isinya. Allah menginginkan
manusia untuk tidak membuat kerusakan baik laut, di darat dan di
manapun kita berada. Ketika kelestarian alam mampu kita jaga
dengan baik, sumber daya alamnya kita rawat dan kita manfaatkan
untuk kesejahteraan manusia sebagai manifestasi rasa syukur kita,
maka Allah berjanji akan semakin menambah nikmat NYA.
Jadi, berani malu yang saya maksudkan adalah gunakanlah rasa
malu itu pada tempatnya. Pada niat melakukan perbuatan baik dan
benar maka sepantasnya wirausahawan itu tidak perlu malu. Justru,
ketika rasa malu itu hilang sehingga tindakan-tindakan tidak terpuji
seperti korupsi, menipu, mencuri hak-hak orang lain untuk
mempercepat jadi orang kaya dan itu dilakukan secara terang-
terangan bahkan sudah dianggap sebagai hal-hal yang biasa saja
maka sewajarnya dan sangat pantas kalau kita mengatakan orang
tersebut nilainya lebih rendah dari hewan, yang notabene tidak
memilki rasa malu. Mulai sekarang lakukanlah revolusi berpikir
kita! Pernah anda mendengar orang tidak melakukan shalat karena
alasan malu?
8. Mempunyai Sifat Jujur
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling
memakan harta sesama kalian secara batil”, (An-Nisaa’ :29) dalam
ayat yang lain Allah SWT juga berfirman, ”Dan, janganlah
sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain di antara kamu
dengan jalan batil, dan (janganlah) menggunakan sebagai umpan
(untuk menyuap) para hakim dengan maksud agar kalian dapat
makan harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kalian
mengetahui hal itu.” (Al-baqarah : 188).
Seorang wirausaha yang profesional haruslah memiliki sifat
jujur, yakni bisa dipercaya dan bertanggung jawab. Sifat jujur pada
masa sekarang agaknya telah menjadi barang yang langka. Banyak
orang yang ahli serta mempunyai etos kerja yang tinggi, tetapi
karena tidak memiliki sifat jujur, justru memanfaatkan keahliannya
untuk melakukan berbagai tindak kejahatan. Wirausaha yang
mengabaikan masalah kejujuran dia akan menggunakan segala cara
untuk meraih keuntungan, tidak peduli halal atau haram, yang
penting mendatangkan profit yang tinggi. Dalam menghasilkan
produk, wirausaha yang berprilaku tidak jujur maka dia akan
menggunakan bahan baku yang berkualitas jelek, busuk dan
K E W I R A U S A H A A N | 23
bahkan menggunakan bahan-bahan yang mengandung zat-zat yang
dapat merusak kesehatan orang yang mengkonsumsinya. Baginya
tidak penting, karena dengan mendapatkan bahan baku yang murah
(karena kualitasnya jelek), tentu saja biaya produksi yang
dikeluarkan juga rendah maka jika produknya dijual dengan harga
pasar tentu akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.
Dalam pemasaran, wirausaha yang tidak jujur juga akan
melakukan hal-hal yang bisa merugikan masyarakat terutama
konsumen, pembeli produk. Barang yang kualitas rendah di campur
dengan barang yang berkualitas baik dengan komposisi yang
berbeda, lalu menjualnya dengan harga barang yang kualitas baik.
Misalnya, gula pasir basah dan berwarna agak kemerahan di
campur dengan gula pasir yang kering, bersih dan berwarna putih
dengan takaran campuran masing-masing berbeda jumlahnya, dan
wirausaha tersebut menjual gula tadi dengan standar harga gula
pasir kualitas baik, terjadi unsur penipuan dalam hal ini. Atau
dengan cara lain, misalnya mengurangi timbangan dan cara-cara
licik lainnya. Oleh karena itu silakan saja kita berusaha
mendapatkan ”harta yang banyak ” bahkan dalam Al-Qur`an “harta
yang banyak itu disebut “ khair’ (QS Al-Baqarah: 180) yang arti
harfiahnya adalah “kebaikan”. Ini bukan saja berarti bahwa harta
kekayaan adalah sesuatu yang dinilai baik, tetapi juga
mengisyaratkan bahwa perolehan dan penggunaannya harus pula
dengan baik. Tanpa memperhatikan hal-hal tersebut manusia akan
mengalami kesengsaraan dalam hidupnya. Karena daya tarik uang
atau harta seringkali menyilaukan mata dan menggiurkan hati,maka
berulang-ulang Tuhan memperingatkan agar manusia tidak tergiur
oleh kegemerlapan uang, atau diperbudak olehnya sehingga
menjadikan seseorang lupa akan fungsinya sebagai hamba Allah
dan khalifah dibumi.
Maka, sikap jujur mutlak harus dimiliki oleh seorang wirausaha
yang mau sukses. Kejujuran bisa dimiliki jika wirausahawan
menyadari apa pun aktivitas yang dilakukan-termasuk pada saat
bekerja-selalu merasa bahwa bisnis yang dijalankannya bukan
hanya sekedar bertujuan mendapatkan keuntungan secara material
namun juga sebagai sebagian dari ibadah. Bahwa Allah SWT selalu
memperhatikan niat dan perbuatannya. Bisnis merupakan media
bagi dia untuk melaksanakan kegiatan muamalah yang
keuntungannya bukan hanya uang tetapi juga amal kebaikan.
24 | K E W I R A U S A H A A N
9. Wirausahawan adalah seorang pembelajar (learning by doing)
Ketika membaca kata ‘belajar’ pikiran kita secara spontan
langsung membayangkan ada sebuah gedung, ada kursi, ada meja
dan ada seorang guru yang berdiri gagah di depan kelas dengan
gaya khasnya, maksud saya adalah lembaga sekolah. Lebih spesifik
lagi sekolah yang kita bayangkan untuk belajar adalah Sekolah
Dasar (SD) atau maksimal sampai SMU lah, sementara bangku
kuliah atau perguruan tinggi mungkin agak sedikit tidak kita
anggap sebagai tempat ‘belajar’. Bukan karena Perguruan Tinggi
tidak mampu memberikan pengajaran justru di kampuslah tempat
belajar yang ideal tetapi mungkin karena sistim belajar mengajar di
Perguruan Tinggi sangat berbeda dengan di Sekolah Dasar sampai
SMU barangkali maka kesan ‘belajar’ di SD lebih berkesan.
Bagi seorang wirausaha jika di sebut ‘belajar’ maka dia tidak
hanya membayangkan bangku sekolah atau lembaga-lembaga
pendidikan formal lainnya, akan tetapi jauh daripada itu bahwa
tempat menjalankan usaha juga wadah baginya untuk belajar,
pelanggan dengan seluruh perilakunya dalam membeli juga sumber
dia mendapatkan pelajaran bisnisnya, alat-alat kerja, mesin
sekalipun merupakan guru baginya dalam mendapatkan ilmu.
Apalagi pada zaman modern seperti sekarang ini, teknologi
informasi kian menjadi penting dalam mendukung manusia dalam
melakukan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, tak terkecuali
dalam bisnis. Dengan menguasai ilmu pengetahuan yang memadai
dalam bidang yang sedang kita geluti maka semakin mudah bagi
kita untuk melaksanakannya dan mudah pula bagi kita untuk
menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul didalamnya.
Karena itu pula mengapa Islam mewajibkan bagi ummatnya, baik
laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu bahkan harus ke
negeri Cina sekalipun. Wajib artinya, jika tidak melakukan maka
dosa hukumnya. Perintah menuntut ilmu dalam Islam bukan hanya
masa-masa kecil saja (anak-anak), bahkan dari ayunan sampai liang
lahat, sampai ajal menjemput kita. Dengan demikian, belajar itu
merupakan salah satu cara bagi wirausaha untuk mendapatkan
ilmu. Belajar tentang bisnis bagi wirausaha tidak cukup hanya di
bangku kuliah saja, melalui seminar-seminar saja atau melalui
kursus-kursus bisnis saja. Tetapi, wirausaha wajib belajar dari
berbagai sumber termasuk harus belajar dari pesaingnya sekalipun.
Mengapa tidak!
K E W I R A U S A H A A N | 25
Mengapa harus belajar?
Dengan situasi dunia yang semakin berubah dewasa ini, bahkan
perubahan itu terjadi kian cepat, dinamikanya kadang kian sulit di
prediksi. Apa yang terjadi di belahan negara tertentu pasti secepat
kilat orang di belahan dunia yang lain dengan segera mendapat
informasi, bukan hanya informasi secara lisan bahkan lengkap
dengan gambar sekalipun. Perkembangan dunia media dan
informatika saat ini adalah bukti bahwa manusia semakin
mempunyai kemampuan untuk melahirkan karya-karya fenomenal.
Darimana manusia itu memulainya? Belajar, ya! Belajar.
Puncak pencapaian ilmu pengetahuan terkini adalah
ditemukannya computer yang mampu memberi pengaruh yang luar
biasa terhadap perubahan kehidupan ummat manusia. Dengan
computerize manusia kian mudah menyelesaikan segala persoalan
dalam kehidupannya. Tenaga manusia kian tidak dibutuhkan lagi,
yang diperlukan hanyalah manusia yang mampu menggunakan
ilmu pengetahuannya untuk menciptakan produktivitas kian
bertambah. Dalam dunia usaha, penggunaan sistim informasi yang
didukung dengan sistim komputerisasi mampu membuat usaha
tersebut semakin maju, efesien dan berkualitas dalam memberikan
pelayanan kepada pelanggan.
Belajar ada kaitannya dengan inovatif. Belajar berarti
mendapatkan pengetahuan baru. Dengan belajar berarti
menghasilkan sesuatu yang baru. Inovasi itu hanya akan terlahir
dari orang-orang yang menyukai hal-hal baru, orang-orang yang
berani bereksperimen, mengembangkan ide dan pemikirannya.
Inovasi tidak akan lahir dari orang-orang yang berpikir konservatif,
opportunis, hari-harinya penuh dengan ketakutan, galau (istilah
anak muda sekarang), tidak bisa menerima pembaruan. Maka,
seorang wirausaha itu adalah sosok pembaruan, dengan
kemauannya untuk terus menerus belajar dan belajar. Tidak pernah
puas terhadap ilmu yang sudah ada sekarang, mugkin itulah kalimat
yang paling pas untuk menggambarkan karakter wirausaha
pembelajar.
Dalam bukunya, Jangan Mau Seumur Hidup Menjadi Orang
Gajian, Valentino Dinsi menuliskan, ”masa depan menjadi milik
mereka yang tidak kenal takut, inovatif, yang mengenali betapa
pentingnya mengembangkan kepemimpinan wirausaha dalam
organisasinya. Jangan lalai meluangkan waktu untuk belajar,
menulis, meneliti, memberikan saran, konsultasi, dan terus belajar”.
26 | K E W I R A U S A H A A N
Pentingkah Ilmu itu?
”Jika engkau ingin dunia, raihlah dengan ilmu. Jika engkau
ingin akhirat raihlah dengan ilmu. Jika engkau meriah keduanya,
raihlah dengan ilmu”. Pernahkah anda mendengar kalimat-kalimat
bijak diatas? Anda benar, itulah ajaran Rasulullah seribu abad yang
lalu namun masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, sangat
up-datetable bukan? Tidak ada cara lain bagi seorang wirausaha
yang ingin meraih sukses selain belajar dan berilmu. Coba anda
perhatikan bagaimana Ummat Islam dibawah kepemimpinan
Muhammad Rasulullah SAW mencapai masa kejayaan dan era
kemajuan? Bukankah di mulai dengan ilmu? Perhatikan pula
bagaimana Bangsa Amerika mencapai kemajuannya? Bagaimana
Bangsa-bangsa Eropa keluar dari zaman kegelapan menuju masa
pencerahan? Semua dimulai dengan ilmu pengetahuan.
Mempunyai Pengetahuan Saja Belum Cukup
Ibarat seorang atlet renang, dia tidak akan pernah bisa berenang
dengan baik dan benar jika ia tidak secara langsung melakukannya
di kolam renang. Meskipun secara kelimuan dan pengetahuan
barangkali dia sudah cukup paham dan menguasai teknik-teknik
berenang secara teoritis. Jika ingin menjadi pemain bola yang hebat
sekelas Maradona, David Beckham, Ronaldo, Leonel Messi, maka
selain mempunyai pengetahuan yang baik dan wawasan yang luas
tentang dunia sepak bola, kita juga wajib mempraktekannya dalam
dunia nyata, perlu melakukan latihan yang terus menerus secara
kontinyu dan disiplin. Pada awalnya mungkin akan meminum
banyak air saat melakukan latihan renang atau kita akan terjatuh
berkali-kali dulu dengan kaki terkilir saat lari cepat bersaing
merebut bola dengan tim lawan saat sesi latihan. Tak masalah,
justru itu semakin baik. Perhatikanlah bagaimana pengalaman
anak-anak Anda atau bahkan Anda sendiri mungkin pernah
mengalaminya, saat pertama kita belajar bersepeda. Berapa kalikah
terjatuh? Satu kali, dua kali, atau bahkan bekali-kali? Sampai
kemudian orang tua kita terpaksa menggantikan seperti baru saat
kita sudah mahir bersepeda, karena sepeda yang lama sudah hancur
dan rusak sebab sering terjatuh saat kita belajar.
Itulah ilmu, begitulah pengetahuan, dia hanya berfungsi sebagai
cakrawala bagi kita, yang mengarahkan cara pandang dan berpikir
kita kearah yang lebih baik. Ilmu tidak serta merta membuat orang
K E W I R A U S A H A A N | 27
menjadi hebat, menjadi bisa apalagi bisa menjadi kaya raya, tidak!
Menurut saya ilmu dan pengetahuan itu ibarat “program data”
kalau kita asumsikan dengan dunia komputer sedangkan akal
adalah “program” yang melakukan prosesing data. Ilmu akan
melahirkan ide-ide, itulah outputnya. Maka, kalau kita kaitkan
dengan dunia usaha, seorang wirausaha pembelajar dan mencari
ilmu dari berbagai sumber adalah dia yang mampu melahirkan ide-
ide, konsep-konsep, dalam pengembangan usahanya dan mampu
mewujudkan ide-ide tersebut menjadi suatu produk yang
mempunyai nilai. Sekali lagi, ilmu itu penting apabila bisa di
amalkan, ilmu dan amal menjadi penting apabila diamalkan dengan
ikhlas.
10. Beriman dan Berdoa (B & B)
Karakter wirausaha selanjutnya adalah seseorang yang beriman
dan selalu berdoa. Beriman kepada Tuhan.Terserah menurut agama
yang di anut masing-masing. Meyakini keberadaan Tuhan dalam
seluruh aspek kehidupan kita bahkan meyakini “campur tangan”
Tuhan terhadap apa pun di alam jagad raya ini sebelum kita
dilahirkan oleh ibu kita. Lihatlah bagaimana Qarun pada masa Nabi
Harun ditenggelamkan oleh Allah SWT ke perut bumi karena dia
tidak mengakui bahwa kekayaan yang didapatnya atas bantuan
Allah SWT. Dia mengira bahwa itu adalah hasil jerih paya dan
kerja keras dia semata. atau perhatikan seperti Raja Fir’aun yang
digulung oleh ombak besar di Laut Merah bersama pasukannya
ketika dia menolak untuk menyembah Allah SWT seperti yang
diperintahkan oleh Nabi Musa A.S. Fir’aun menganggap bahwa
kekuasaan yang dia miliki sudah sangat kuat dan sempurna
sehingga dia berani “mensejajarkan” dirinya dengan Tuhan bahkan
ingin “menggantikan” posisi Tuhan. Na`uzubillah! Atau Sa’labah
pada zaman Rasulullah SAW yang ketika dia kaya dengan domba-
dombanya berubah menjadi orang yang kikir, menolak membayar
zakat bahkan mengusir utusan yang dikirimkan Rasul. Padahal
waktu dia miskin, dia di kenal sangat taat, rajin shalat berjama’ah,
selalu berdoa kepada Allah. Mengapa ini bisa terjadi?
Dalam pandangan Islam juga mengakui bahwa setiap manusia
memerlukan harta untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya.
Karenanya, manusia akan selalu berusaha memperoleh harta
kekayaan itu. Salah satunya melalui bekerja, sedangkan salah satu
dari ragam bekerja adalah berbisnis. Islam mewajibkan setiap
28 | K E W I R A U S A H A A N
muslim, khususnya yang memiliki tanggungan untuk bekerja
bahkan berbisnis sangat diutamakan. Karena dari 100 kebaikan
dalam mencari rezeki, 90 kebaikan itu adalah dalam usaha
perniagaan, perdagangan atau lebih tepatnya berbisnis.
Wirausaha beriman harus menyadari dan mengakui bahwa
sumber-sumber daya yang dimiliki, dikuasai dan dikelolanya
merupakan semata-mata milik Allah SWT, sementara saat ini
berada pada kekuasaan kita hanya sebagai titipan sesaat saja, Allah
bisa mengambil, memindahkan ke orang lain atau mencabut hak
penguasaan oleh kita kapan saja, terserah kapan Allah
berkehendak. Tuhan menciptakan seluruh isi alam ini sebagai
sumber penghidupan bagi seluruh makhluk, sebagaimana firman
NYA, ”Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di
bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber-sumber)
penghidupan…” (Al-A`raaf : 10). Dan manusia itu (wirausaha)
diminta menjadi pemakmurnya. Artinya, lahan yang sudah di
ciptakan supaya di olah dan ditanami sehingga menghasil buah-
buahan, laut yang dibentangkan agar dapat di jaga stock ikannya
tetap lestari agar selalu tersedia tangkapan bagi nelayan. Intinya
bagaimana manusia mengelola alam ini sehingga mampu
memberikan penghidupan yang nyaman, sejahtera dan tidak
memberi ancaman.
Maka sebagai pebisnis yang percaya dan yakin kepada
Tuhannya tidak akan melakukan kegiatan-kegiatan bisnisnya
dengan mengabaikan kepentingan ummat (umum), merusak
lingkungan ,mengorbankan saudaranya yang lain (supplier,
konsumen, mitra bisnis), menipu, berdusta dan hal-hal yang
melanggar hukum lainnya baik hukum negara, norma-norma agama
dan etika-etika yang berlaku dalam masyarakat. Namun sebaliknya,
wirausaha beriman senantiasa mengutamakan kepentingan
kebaikan bagi agamanya, saudaranya (ummat), kelestarian
lingkungannya terlebih dahulu daripada keuntungan secara materi
(kekayaan) bagi pribadinya. Beriman dan beroda bukan hanya
sebagai karakter bahkan bisa dikatakan sebagai spirit dan semangat
bagi mereka yang meyakininya. Dengan berdoa berarti
wirausahawan mengakui bahwa hanya Tuhan semata-mata yang
Maha Kuat. Doa adalah harapan bagi orang yang beriman
sedangkan iman adalah ibarat pakaian yang selalu melindunginya
dari panas api neraka, menjauhinya dari pandangan memalukan,
pakaian yang menutupi aibnya. Bahkan iman itu bisa menjadi
K E W I R A U S A H A A N | 29
solusi ketika usaha yang baru kita mulai ternyata tidak memberi
hasil seperti yang diharapkan. Dengan kata lain tidak membuat kita
stres ketika kita rugi besar. Karena wirausaha yang beriman tahu
bahwa uang, harta, kekayaan dan jabatan merupakan ujian. Saran
saya, mari kita mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan
berwirausaha.
11. Kreatif dan inovatif
Menurut Ir.Ciputra, ada tiga jenis wirausaha yakni :
1. Necessity Entrepreneur yaitu menjadi wirausaha karena
terpaksa dan desakan kebutuhan hidup.
2. Replicative Entrepreneur, yang cenderung meniru-niru bisnis
yang sedang ngetren sehingga rawan terhadap persaingan
dan kejatuhan.
3. Inovatif Entrepreneur, wirausaha inovatif yang terus berpikir
kreatif dalam melihat peluang dan meningkatkannya.
Lebih lanjut Ir.Ciputra mengatakan “Generasi muda sudah
saatnya mengubah pola pandang, jangan hanya berfikir menjadi
pegawai setelah lulus dari Lembaga Pendidikan Tinggi, apalagi Pegawai
Negeri, menjadi Wirausaha perlu difikirkan sebagai pilihan.” (Kompas,
31/8/2009).
Ya, saya sangat sepakat dengan pernyataan di atas, sudah saat ini
para pemuda, generasi penerus bangsa ini mengisi kemerdekaan dengan
menghasilkan produk-produk yang berinovasi, produk yang mampu
bersaing di pentas internasional. Bagaimana caranya? Singkirkanlah
cita-cita ingin menjadi pegawai negeri sipil setelah selesai kuliah.
Apakah menjadi PNS itu tidak baik? Justru sangat mulia sekiranya anda
bekerja di pemerintahan dengan melayani masyarakat dengan baik,tidak
korup, dan bisa menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan
kelompok dan pribadi anda, karena PNS adalah pelayan rakyat.
Setelah cita-cita tidak ingin menjadi pegawai negeri sipil massal
mulai redup di tengah-tengah generasi muda lalu orientasinya menuju
pengusaha, maka saat itulah mulai muncul pemikiran-pemikiran kreatif
dan inovatif. Untuk menjadi pemenang dan unggul dalam persaingan,
mutlak bagi wirausaha untuk menciptakan sesuatu yang baru dan tidak
pernah ada sebelumnya. Kemampuan menciptakan sesuatu yang baru
itulah yang disebut kreatif. Apalagi jika Anda membuka usaha di bidang
kesenian, per-telivisian, kerajinan, fashion bahkan bidang kuliner
30 | K E W I R A U S A H A A N
sekalipun anda selalu di tuntut untuk mampu dan selalu bisa
menghadirkan produk-produk yang baru, yang menarik, unik dan
mengandung nilai-nilai artistik serta estetika yang tinggi dan berbeda.
Valentino Dinsi dalam bukunya Jangan Mau Seumur Hidup Jadi
Orang Gajian menuliskan “kalau kita orang yang kreatif, penuh
imajinatif, dinamis dan agresif, kita sudah memiliki sebagian ciri
seorang berjiwa entrepreneur. Ini tak lain,karena dunia bisnis menuntut
pelakunya selalu mampu mengantisipasi tuntutan lingkungan yang terus
bertumbuh, sesuatu yang akan mematangkan pola berpikir dan
kehidupan kita untuk terus menempa entrepreneuship kita. ”atau dengan
kalimat yang lain“ kalau Anda berani tampil beda, itu berarti Anda
berjiwa entrepreneur.”
Kreativitas merupakan satu keharusan untuk memenangkan
persaingan pada abad ini. Tak heran kalau Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) membentuk satu lembaga setingkat Menteri dan
diberi nama Kementerian Ekonomi Kreatif yang di pimpin oleh Marie.
E. Pangestu. Ini bermakna apa? Bahwa demikian pentingnya
mengangkat industri kreatif menjadi sektor pendapatan negara. Di sisi
lain, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pada era globalisasi ini persaingan
dalam segala bidang juga semakin ketat. Apalagi dalam dunia ekonomi
dan bisnis, semakin hari persaingan menjadi semakin tajam. Hanya ada
cara untuk bertahan dan memenangkan persaingan yaitu dengan
mengembangkan sikap kreatif dan inovatif. dengan bersikap kreatif dan
inovatif, kita akan menjadi “beda” dengan yang lain, menjadi unik dan
akan berpotensi menjadi yang terdepan dalam persaingan bisnis dan
usaha yang semakin meningkat.
Dalam satu kesempatan, saya mengikuti pertemuan Koordinasi
Nasional Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) Sektor Kelautan
dan Perikanan di Jakarta tahun 2015, pada hari tersebut sang guru
entrepreneur Indonesia Valentino Dinsi menyampaikan materinya
tentang bagaimana berpikir kreatif. Berikut lima cara berpikir kreatif
yaitu:
1. Berpikir, semua bisa dilakukan
Yakinlah, sesuatu yang akan kita kerjakan mampu kita
selesaikan. Artinya, harus optimis. Buang ungkapan bernada
pesimis. Misal, "Saya mungkin bisa mengerjakan". Ganti
dengan ungkapan “Saya pasti bisa mengerjakannya”.
2. Hilangkan cara berpikir konservatif
K E W I R A U S A H A A N | 31
Pola berpikir konservatif ditandai dengan kekhawatiran
untuk menerima perubahan, meski perubahan itu
menguntungkan. Karena ingin mempertahankan gaya
konservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan
dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau
diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk
mengubah pola pikir, kita takut akan mengalami kerugian.
Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung
pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu
yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis
semestinya dihilangkan. Mulailah berpikir dinamis, dengan
terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir
efektif. Ada tiga cara mengurangi atau menghilangkan pola
berpikir konservatif. Pertama, terbuka terhadap masukan.
Masukan adalah bahan mentah sangat berharga. Lalu, kita
mengolahnya menjadi "barang jadi" lewat pemikiran kreatif.
Jadi, jangan takut dengan ide, usulan, bahkan kritik. Karena
semua itu merangsang kita berpikir kreatif. Kedua, mencoba
pekerjaan atau hal di luar bidang kita. Untuk "memperkaya"
diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda
dari biasanya. Ketiga, harus proaktif. Kita dituntut
"menjemput bola" dalam menghadapi sesuatu, dan bukan
"menunggu bola". Bertindak proaktif berarti membuat diri
bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan
matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreativitas
berpikir. penuh optimisme. Contoh, "Saya pasti bisa
mengerjakannya", "Bagi saya tidak ada kata menyerah!".
Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke persoalan.
Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak.
3. Tingkatkan kuantitas dan kualitas pekerjaan
Jangan cepat puas. Semakin cepat puas berarti menutup
diri terhadap pekerjaan lain yang dapat memperkaya
perkembangan pemikiran. Kesanggupan menerima pekerjaan
lain, berarti kita membuka diri pada tantangan baru. Untuk
itu kita dituntut berpikir cerdas dan efektif. Dua hal perlu
dilakukan. Pertama, tambah kuantitas pekerjaan. Artinya,
tidak perlu mengeluh bila diluar kesibukan kita masih ada
hal lain yang perlu diselesaikan. Keterbukaan untuk
menerima tambahan pekerjaan membuat kita melatih diri.
Apakah dalam situasi tertekan, kita masih mampu berpikir?
32 | K E W I R A U S A H A A N
Yang berpikir kreatiflah yang mampu membangkitkan daya
pikirnya. Kedua, perbaiki kualitas hasil kerja. Ini
mengandung makna, sekecil apapun pekerjaan, kita tidak
boleh mengabaikan kualitas hasilnya. Karena dari kualitas
pekerjaan itu tercemin mutu pemikiran kita. Artinya, kalau
pekerjaan berkualitas, itu menunjukkan mutu daya pikir kita.
Semakin berkualitas hasil pekerjaan kita, semakin
berkualitas pula pola berpikir kita.
4. Perbanyak kebiasaan bertanya
Bertanya merupakan indikator bahwa pikiran kita masih
"jalan" dan selalu dinamis. Dengan bertanya, berarti
mencoba menguji daya kritis. Kebiasaan bertanya jangan
dipahami bahwa kita "tidak mengerti". Tetapi harus
dipahami sebagai munculnya dinamika pikiran. Bertanya
merupakan sarana melatih pengembaraan daya kreativitas.
Dengan bertanya, pemikiran kita bertemu dengan pemikiran
orang lain yang mengandung hal-hal baru, sehingga
cakrawala berpikir kita semakin luas. Juga membuat kita
tidak terpaku pada pemikiran diri sendiri. Sebaliknya, kita
mencoba meyakinkan apakah pemikiran kita sejalan dengan
pemikiran orang lain? Hal ini membuat kita semakin kreatif
karena berusaha terbuka terhadap pemikiran dari luar.
5. Jadi pendengar yang baik
Menjadi pendengar yang baik berarti sanggup
mendengarkan setiap informasi dari luar. Dengan demikian
kita mempunyai "kekayaan", banyak kesempatan untuk
berpikir mengenai yang kita dengar. Apabila ingin
menanggapi yang kita dengar, sudah tersedia banyak konsep
pikiran untuk digunakan. Menjadi pendengar yang baik
berarti mengerti betul setiap informasi yang masuk ke alam
pemikiran. Kita dituntut untuk berpikir kreatif, sehingga
sanggup merespons sesuai yang dikehendaki oleh dunia luar.
Dengan berpikir kreatif maka akan melahirkan inovasi. Sejarah
telah menunjukan bahwa inovasi utama lebih mungkin muncul dari
bisnis-bisnis kecil (atau individu-individu) daripada bisnis besar.
Contohnya perusahaan kecil dan individulah yang menemukan
computer pribadi dan belah pisau dari stainless steel, radio transitor dan
mesin fotokopi, mesin jet atau foto yang di cetak sendiri. Bisnis kecil
juga menemukan helikopter dan power stering, transmisi otomatis dan,
K E W I R A U S A H A A N | 33
AC, pena ballpoin dan computer tablet. Maka alasan apakah kita takut
bermulai dari usaha kecil?
Dunia entrepreneur merupakan dunia yang unik. Itu sebabnya,
mengapa entrepreneur atau wirausahawan dituntut selalu kreatif setiap
waktu. Dengan kreativitasnya, tidak mustahil akan terbukti bahwa ia
betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang
karena mengaguminya, dan selanjutnya akan mengikutinya.
Memang, kita akui bahwa menjadi entrepreneur kreatif di saat
krisis ekonomi merupakan suatu tantangan yang sangat berat.
Digambarkan, seseorang yang akan terjun menjadi entrepreneur kreatif,
ia harus bekerja 24 jam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Hal
semacam itu masih harus ia lakukan paling sedikit untuk kurun waktu
kurang lebih 2 tahun pertama berjuang tanpa henti dengan berbagai
tekanan fisik maupun psikis. Apalagi dalam melakukan bisnis modern,
tidak mungkin dapat hidup dan berkembang tanpa kemampuan
menciptakan sesuatu yang baru pada setiap harinya. walaupun itu hanya
merupakan gabungan dari berbagai unsur yang telah ada, ke dalam
bentuk baru yang berbeda. Dari kreativitas akan muncul barang, jasa
atau ide baru sebagai inovasi baru, untuk memenuhi kebutuhan pasar
yang terus berkembang. Dan dari kreativitas itu pula akan muncul cara-
cara baru - mekanisme kerja atau operasi kerja - untuk meningkatkan
efisiensi dan produktivitas.
Pada dasarnya, kita semua kreatif. Tentu saja, dengan kualitas
dan kuantitas yang berbeda-beda. Saya sependapat dengan Raudsepp,
seorang peneliti dari Princeton Research Inc, yang mengatakan, bahwa
kemampuan kreatif itu terdistribusi hampir secara universal kepada
seluruh umat di muka bumi ini. Kreativitas bak sebuah sumber mata air,
yang tentunya jangan sampai kita biarkan sumber mata air itu
mengering. Kita harus tetap belajar dan menggali terus kreativitas
tersebut.
Oleh karena itu, jika Anda termasuk dalam golongan orang
yang selalu ingin tahu, kemudian dapat melihat suatu peristiwa dan
pengalaman untuk dijadikan sebuah peluang, dimana orang lain tidak
melihatnya, kemudian memiliki keberanian berpikir kreatif dan inovatif,
maka saya rasa lebih baik bersiaplah Anda untuk menjadi entrepreneur.
Itu sebabnya, mengapa ada yang menyebut wirausahawan itu sama
dengan orang aneh. Namun, kita jangan berprasangka buruk dengan
34 | K E W I R A U S A H A A N
perkataan tersebut. Sebab, di balik kata itu tersembunyi kekuatan yang
dimiliki seorang entrepreneur dari kebanyakan orang.
Banyak contoh yang dapat memberikan gambaran kepada kita,
bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dilakukan wirausahawan.
Keluarkan semua ide atau gagasan Anda. Anda tidak perlu takut
diremehkan atau dihina orang lain. "Ide gila" yang Anda sampaikan itu
boleh jadi suatu waktu akan mengundang kekaguman banyak orang.
Orang lain akan gigit jari ketika melihat keberhasilan Anda, dan
mungkin saja mereka akan berguman: "Mengapa hal seperti itu dulunya
tidak terpikirkan oleh saya?"
Kalau Anda berani tampil beda. Itu berarti, Anda akan memiliki
jiwa entrepreneur. Saya setuju pendapat yang mengatakan, bahwa
keberhasilan entrepreneur itu diibaratkan seperti kesabaran dan
ketenangan seorang aktor akrobatik dalam meniti tambang tipis hingga
sampai ke tujuan, ia bukannya menghabiskan waktu dengan perasaan
khawatir, tapi konsentrasinya tertuju pada tujuannya. Dan, yang lebih
penting bagi kita adalah sebaiknya kita jangan malu akan kesalahan
yang kita buat. Seorang entrepreneur memang tidak menyukai
kesalahan, tapi ia tetap akan menerimanya sepanjang hal itu dapat
memberikan pelajaran berharga.
Ia harus mampu meloloskan diri dari situasi-situasi yang hampir
tidak mungkin diatasi. Sebab dalam era global sekarang ini, kegiatan
usaha yang kita jalankan hampir 90% justru tidak sesuai rencana.
Karena itu, kita harus luwes dengan rencana yang telah kita buat. Bisa
berpindah dari satu rencana ke rencana lainnya. Dan, saya berpendapat,
bahwa seorang entrepreneur juga tidak boleh gampang berputus asa. Ia
harus yakin dengan kreativitasnya, pasti ada jalan yang tidak pernah
dibayangkan sebelumnya.
RANGKUMAN
Entrepreneur merupakan semangat mengelola dan
menggunakan sumberdaya untuk menghasilkan suatu output yang
mempunyai nilai ekonomi yang menjadi sumber pendapatan pelaku
usaha itu sendiri secara pribadi.
”Entrepreneurship is the attempt to create value through recognition of
business opportunity, the management of risk taking appropriate to the
K E W I R A U S A H A A N | 35
opportunity, and trough the communicative and management skills to
mobilize human, financial, and amterial resources necessary to bring a
project to fruition”.
Minimal ada 11 (sebelas) Unsur-unsur yang harus dimiliki untuk
menjadi seorang enterpreuneur (kewirausahaan ) antara lain :
1. Bahwa kegiatannya meliputi aktivitas usaha, bisnis,
perdagangan. (business activity)
2. Menghasilkan produk baik barang maupun jasa (goods and
services production)
3. Mengelola sumber daya (resources management)
4. Berani mengambil risiko (risk taking)
5. Memberikan pelayanan (sevice)
6. Meningkatkan nilai tambah (value added)
7. Mempunyai sikap, skill dan kemampuan menjalankan usaha
(skill)
8. Adanya kemauan dari diri sendiri (motivation)
Karakteristik wirausaha yang ideal adalah antara lain:
1. Adanya kemauan dan rasa percaya diri (willingness and
self-confidence).
2. Fokus pada sasaran dan tujuan (Goal Setting and
Destination)
3. Pemberani dan pekerja keras (hard worker and intrepid)
4. Keberanian Mengambil Resiko (risk taking).
5. Berani Bertanggung Jawab (Responsibility)
6. Berani Berbeda (To Be Different)
7. Berani Malu (Tidak Takut Malu)
8. Mempunyai Sifat Jujur
9. Wirausahawan adalah seorang pembelajar (learning by
doing)
10. Beriman dan Berdoa (B & B)
11. Kreatif dan inovatif
Dunia usaha merupakan dunia yang menakutkan bagi orang-orang
yang tidak memiliki cukup pengetahuan tentang bisnis, apalagi bagi
pemula. Pengetahuan bagaimana memulai bisnis, manajemen usaha,
pengelolaan keuangan, pemasaran merupakan pengetahuan yang wajib
dimiliki oleh seorang wirausaha atau pebisnis termasuk siapa saja yang
36 | K E W I R A U S A H A A N
mau memilih masa depannya dengan menjadi pengusaha. Bahkan,
bukan hanya sebagai sekedar pengetahuan saja, tetapi harus bisa
menjadi ketrampilan.
Soal Latihan dalam Bab Ini yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan Enterpreneur ?
2. Jelaskan Bagaimana Cara Melanjalan Usaha Bagi seseorang
yang akan memulai Usahanya dan apa saja yang harus mereka
Persiapkan ?
3. Jelaskan ada 11 (sebelas) Karakteristik atau unsur-unsur yang
perlu mendapat perhatian oleh Masyarakat dalam menjalankan
Bisnisnya ?
4. Jelaskan Perbedaan antara Wirausaha dengan Kewirausaan ?
5. Mengapa seseorang atau kebayakan orang pernah mengalamai
kegagalan dalam membangun sebuah Usaha ?
K E W I R A U S A H A A N | 37
BAB II
MEMAHAMI TENTANG
PERSOALAN KITA
Persoalan Potensi
Indonesia adalah negara yang memiliki potensi sumber daya
alam yang melimpah. Indonesia di sebut kepulauan terbesar di dunia
karena memiliki panjang pantai 81.000 km dan memiliki 17.508 buah
pulau serta dua pertiga dari luar wilayahnya berupa laut. Di sektor
kelautan Indonesia memiliki potensi perikanan yang cukup besar.
Potensi ikan lestarinya paling tidak ada sekitar 6,17 juta ton pertahun,
terdiri atas 4,07 juta ton di perariran nusantara yang hanya 38 persennya
dimanfaatkan dan 2,1 juta ton pertahun berada di perairan Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE). Potensi ini pemanfaatannya juga baru 20
persen.
Di bidang pertanian, Indonesia juga mempunyai lahan tanam
yang cukup luas dengan tingkat curah hujan yang cukup baik setiap
tahun. Kalau kita lihat lahan tanam padi misalnya, Indonesia memiliki
total luas tanam padi 13,2 juta hektar pada tahun 2010 atau terjadi
peningkatan dari 12,9 juta hektar pada tahun 2009 dengan tingkat
produksi padi 64,4 juta ton pertahun. Sektor Migas Indonesia juga
sebagai salah satu negara penghasil dan pengeksport minyak. Masih
banyak potensi lainnya yang tidak saya paparkan di sini.
Persoalan Kemiskinan
Meskipun Indonesia adalah negara “kaya”, memiliki kekayaan
alam yang melimpah. Dan, secara geografis berada pada posisi yang
sangat strategis dalam tataran peta dunia. Namun, itu tidak bisa menjadi
jaminan bahwa akan membuat rakyatnya kaya raya, sejahtrera dan tidak
menderita kemiskinan.
38 | K E W I R A U S A H A A N
Pada kenyataannya, data keluarga miskin Indonesia dalam 25
tahun terakhir tercatat: tahun 1970, jumlah keluarga miskin 70 juta jiwa
(60 persen dari jumlah penduduk Indonesia). Tahun 1996, jumlah
keluarga miskin 22,5 juta orang (11,3 persen dari jumlah penduduk),
tahun 1997, keluarga miskin antara 38-40 juta orang (20 persen dari
jumlah penduduk). Tahun 2004, jumlah keluarga miskin 36,1 juta orang
(16,68 persen dari jumlah penduduk). Tahun 2005, jumlah keluarga
miskin 35,10 juta orang (15,97 persen dari jumlah penduduk), sampai
2009 jumlah keluarga miskin masih 32,53 juta orang (14,15 persen dari
jumlah penduduk)- (Sumber: Survey BPS Maret 2009).
Bagaimana di Aceh?
Tingkat kemiskinan di Aceh tergolong tinggi mencapai 21%
(893 ribu jiwa) sedangkan nasional hanya 13,3% per-maret 2010,
namun demikian trendnya semakin menurun dari 28,5% pada tahun
2004 akan tetapi selalu saja angkanya di atas angka nasional. Dan posisi
ranking kemiskinan menempati pada ranking 27 setelah NTT atau di
atas Maluku dan Papua.
Perbedaan tingkat kemiskinan antar kabupaten/kota juga tinggi
dimana kabupaten yang paling tinggi tingkat kemiskinannya adalah
Kabupaten Pidie Jaya 27,97% sedang yang paling rendah adalah Kota
Banda Aceh 8,64%. Tingkat kemiskinan di Pidie Jaya melampui angka
kemiskinan tingkat provinsi yaitu 21% per-Maret 2009.
Disparitas kemiskinan antar daerah (kota-desa) sangat tinggi
dan kemiskinan terpusat di perdesaan mencapai 26% sedang di kota
hanya 15%. Dan umumnya penghasilan utama masyarakat desa adalah
dari sektor pertanian yaitu mencapai 76%.
Memang angka kemiskinan di daerah perkotaan dan perdesaan
terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Persentase penduduk
yang berada di bawah kemiskinan di Aceh pada tahun 2011 tercatat
sebesar 19,57 persen. Angka ini menurun dibandingkan dengan tahun
2010 yang sebesar 20,98 persen. Pada periode 2010-2011, Indeks
Kendala Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
menunjukan kecendrungan menurun. Ini mengindikasikan bahwa rata-
rata pengeluaran penduduk miskin makin cenderung makin mendekati
garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga
semakin menyempit.
K E W I R A U S A H A A N | 39
Persoalan Ketenagakerjaan
Menurut Valentino Dinsi (2005), jumlah penganggur di
Indonesia mencapai 45,2 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,65
juta orang penganggur terdidik lulusan perguruan tinggi. Dan jumlah
pengangguran terbuka, 65,71 persen dikatakan sebagai penganggur
terdidik yang berpendidikan. Data Sakernas (BPS 1997-2000)
menunjukan bahwa jumlah penganggur lulusan setiap jenjang
pendidikan meningkat dari 4 juta orang pada tahun 1997 menjadi 6 juta
orang pada tahun 2000.
Jumlah penganggur lulusan sekolah menengah terus meningkat
dari 2,1 juta orang pada tahun 1997 menjadi 2,5 juta orang pada tahun
2000. Peningkatan jumlah penganggur ini juga terjadi pada lulusan
perguruan tinggi, tidak kurang dari 250 ribu penganggur lulusan sarjana
setiap tahun 120 ribu orang penganggur lulusan D3, dan 60 ribu lulusan
D1. Potensi tenaga kerja yang cukup signifikan bila ada kebijakan
pemerintah yang dapat memberdayakan mereka.
Di Aceh, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh tergolong
tinggi, diatas tingkat nasional yaitu rangking 26 atau 8,71% (per-
Agustus 2009) dan lebih baik dari Sulsel, Maluku, Jabar dan Banten.
Jumlah ini semakin menurun dimana tahun 2005 sebesar 14%.
Sementara tingkat pengangguran nasional hanya 7,9%.Perbedaan
tingkat pengangguran antar kabupaten/kota juga tinggi dimana kota
Langsa mencapai 14,74% atau tertinggi bahkan diatas TPT provinsi dan
yang paling rendah adalah kabupaten Bener Meriah hanya 2,57%
bahkan lebih rendah dari TPT nasional.
Meski angka pengangguran saat ini mengalami penurunan
signifikan, namun masalah ketenagakerjaan masih tetap menjadi
tantangan terbesar bagi perekonomian Aceh. Sampai Agustus 2011,
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh mencapai 7,43 persen,
lebih rendah 0,94 persen dari TPT bulan Agustus 2010 sebesar 8,37
persen.
Data lainnya juga menunjukan, jumlah angkatan kerja di Aceh
pada Agustus 2011 mencapai 2,001 juta orang atau bertambah sekitar 62
ribu orang dibandingkan Agustus 2010 sebesar 1,939 juta orang. Jumlah
penduduk yang bekerja di Aceh pada Agustus 2011 mencapai 1,852 juta
orang, atau bertambah sekitar 76 ribu orang jika dibandingkan dengan
Agustus 2010 sebesar 1,776 juta orang.
40 | K E W I R A U S A H A A N