Secara nasional pemerintahan SBY mentargetkan pada tahun
2014 tingkat pengangguran menjadi 5-6 persen atau turun dari tahun
2011 yang mencapai 7 persen. Jalan yang ditempuh adalah dengan
menggalakan kewirausahaan dikalangan generasi muda dan mahasiswa.
Karena berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Nasional, minat lulusan lembaga pendidikan untuk berwirausaha sangat
rendah, yaitu bagi lulusan SLTA (22,63 persen) dan perguruan tinggi
(6,14 persen). Sedangkan mereka yang berpendidikan SD dan SMP
justru memiliki kemandirian untuk berusaha sendiri (32,46 persen).
Terdapat kecenderungan para pemuda berpendidikan SLTA (61,87
persen) dan sarjana (83,20 persen) memilih menjadi pekerja atau
karyawan dibanding menjadi wirausaha. Hal ini berarti semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang, semakin rendah kemandirian dan motivasi
untuk menjadi wirausaha. Maka untuk menjawab masalah tersebut,
Kementerian Koperasi dan UKM melakukan satu program terobosan
yaitu Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Sangat disayangkan
jika para generasi muda terdidik kita menjadi generasi miskin dimasa
depan disebabkan tidak mendapatkan peluang kerja atau menganggur.
Teori dasar menyebutkan penyebab kemiskinan adalah
pengangguran. Menurut Komisi Kemiskinan Dunia (The Proverty
Comission): Pengangguran sebagai penyebab utama kemiskinan dimana
sekitar seperenam penduduk menganggur hidup di bawah garis
kemiskinan (Saunders, 2002). Banyak literatur yang menyatakan ada
hubungan yang erat antara kemiskinan dan pengangguran, namun untuk
membuktikannya secara empiris tidak mudah.
Pandangan Islam Terhadap Kemiskinan
Dalam bukunyan ‘Wawasan Al-Quran.’ Dr.M.Quraish
Shihab,M.A menuliskan “faktor utama penyebab kemiskinan adalah
sikap berdiam diri, enggan, atau tidak dapat bergerak dan berusaha.
Sesuai dengan bahasa aslinya (Bahasa Arab) kata miskin diartikan
“diam atau tenang.” Maka mulai sekarang bangkit dan berbuatlah apa
saja yang penting membuat Anda bergerak dari kondisi saat ini. Tak
peduli akan hasilnya, karena itu urusan Maha Pemberi.
Yusuf Qardhawi, seorang ulama kontemporer, menulis:
Menurut pandangan Islam, tidak dapat dibenarkan seseorang yang hidup
di tengah masyarakat Islam, sekalipun Ahl Al-Dzimmah (warga non-
Muslim), menderita lapar, tidak berpakaian, menggelandang (tidak
K E W I R A U S A H A A N | 41
bertempat tinggal) dan membujang. Menurut saya itulah gambaran
tentang kemiskinan meskipun kelihatannya tolok ukurnya lebih kepada
materi atau hanya karena kekurangan kebutuhan-kebutuhan fisiologis
semata. Memang itulah kebutuhan pertama dan pokok manusia. Satu hal
yang harus dicamkan bahwa Islam memperingatkan “kemiskinan dekat
kepada kekufuran.”
Dalam rangka mengentaskan kemiskinan, Al-Quran
menganjurkan banyak cara yang harus di tempuh, yang secara garis
besar dapat dibagi pada tiga kewajiban pokok yaitu :
1. Kewajiban setiap individu
2. Kewajiban orang lain/masyarakat
3. Kewajiban pemerintah
Kewajiban terhadap setiap individu tercermin dalam kewajiban
bekerja dan berusaha dan ini merupakan cara pertama dan utama yang
ditekankan oleh Al-Quran. Segala pekerjaan dan usaha halal, sedangkan
segala bentuk pengangguran di kecam dan dicelanya. Selain itu,
pengentasan kemiskinan juga menjadi tanggung jawab masyarakat atau
sosial. Kewajiban orang lain tercermin pada jaminan satu rumpun
keluarga, dan jaminan sosial dalam bentuk zakat dan sedekah. Namun,
menggantungkan penanggulangan problem kemiskinan kepada
sumbangan suka rela dan keinsafan pribadi orang lain, tidak dapat
diandalkan. Teori ini telah dipraktekan berabad-abad lamanya, namun
hasilnya belum memuaskan. Seringkali orang lain tidak merasa
bertanggungjawab sosial, walaupun ia telah memiliki kelebihan harta
kekayaan.
Pemerintah juga berkewajiban mencukupi setiap kebutuhan warga
negaranya, melalui sumber-sumber dana yang sah, yang terpenting di
antaranya adalah pajak. Baik dalam bentuk pajak perorangan, tanah atau
perdagangan, maupun pajak tambahan lainnya yang ditetapkan
pemerintah bila sumber-sumber tersebut di atas belum mencukupi.
Dalam kaitan kewajiban negara untuk memberikan kesejahteraan dan
kemakmuran bagi warga negaranya, tercermin dalam UUD 1945 Pasal
33 yang maknanya semua sumber-sumber kekayaan dan hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya
bagi kemakmuran rakyat.
42 | K E W I R A U S A H A A N
Kewirausahaan Salah Satu Jawaban
Semangat wirausaha (entrepreneursip) sedang menggema dan
nge-trend di Indonesia beberapa tahun terakhir. Bukan hanya dikalangan
praktisi bisnis bahkan di universitas-universitas terkemuka sekalipun,
akademi, dan lembaga pendidikan bisnis mulai memberikan perhatian
serius dalam mengembangkan bakat dan minat mahasiswanya, secara
khusus ditempuh melalui mata kuliah kewirausahaan untuk menyiapkan
calon pengusaha dimasa depan dan “mengarahkan” mereka agar
menjadikan wirausaha sebagai satu pilihan hidup. Fenomena ini sangat
positif.
Sebagai pilihan hidup maka seseorang harus menyiapkan segala
sesuatu dengan baik agar hasil yang di dapat dari satu keputusan yang di
pilih benar-benar memuaskan atau dengan kata lain tidak ada
penyesalan dikemudian hari apalagi sampai “menyalahkan” Tuhan atas
nasibnya yang mungkin saja ternyata berbeda dengan yang dibayangkan
sebelumnya.
Persiapan mental
“...sesunggunya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri..”(Ar-
Ra`d : 11). Perubahan harus dimulai dari cara pandang dan cara berpikir
(paradigma) yang kemudian diharapkan mampu merubah tindakan dan
prilakunya. Dalam konteks kewirausahaan, kesiapan mental adalah hal
yang paling fundamental untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan
terhadap rencana bisnis yang telah ditetapkan. Mengapa demikian?
Karena memasuki dunia usaha akan selalu dihadapkan dengan berbagai
tantangan dan resiko, terutama tantangan yang terdapat diluar diri
wirausahawan (eksternal) yang membawa efek bagi calon
wirausahawan (internal). Situasi dan kondisi yang demikian dinamis dan
perubahan bisa terjadi dengan begitu cepat yang kemudian membawa
dampak terhadap usaha yang dijalankan. Beruntung kalau perubahan
yang terjadi dapat memberi pengaruh positif akan tetapi jika dampak
dari perubahan eksternal itu membawa pengaruh negatif maka disitulah
mentalitas seorang wirausahawan sedang diuji. Bahkan jika kita cermati,
banyak pengusaha besar sukses ternyata hanya berlatar pendidikan
sekolah menengah dan bahkan ada juga yang hanya lulusan SD akan
tetapi mereka mempunyai pemikiran dan sikap mental maju
(Soesarsono, 1996). Bagi seorang muslim, sikap mental sukses dan maju
K E W I R A U S A H A A N | 43
pada hakikatnya merupakan konseksuensi dari tauhid dan buah dari
kemuslimannya dalam seluruh aktivitas kesehariannya. ”Tidak beriman
salah seorang di antara kalian sehingga Aku menjadi akalnya yang ia
berpikir dengannya”. (Hadits Qudsi). Karena itu seorang wirausahawan
perlu membekali dirinya dengan mental berpikir positif, taktis dan
strategis.
Persiapan sikap dan perilaku
Aribowo Prijosaksono dan Sri Bawono dalam bukunya The
Power Entrepreneurial Intelligence menuliskan sedikitnya ada tiga
unsur penting dalam membangun sikap dan perilaku entrepreneur
(wirausaha) dalam diri kita yakni destiny (takdir), courage (keberanian),
dan action (tindakan).
Takdir (destiny) sebenarnya lebih merupakan tujuan hidup,
bukan nasib. Dengan memiliki tujuan hidup maka kita mengetahui
kemana arah yang akan kita tuju dan itu akan menjadi cikal bakal
penentuan takdir kita. Tujuan dan misi hidup adalah fondasi awal untuk
menjadi seorang wirausahawan yang sukses. Dengan memiliki tujuan
hidup (life purpose) yang jelas, maka akan melahirkan semangat (spirit)
dan sikap mental (attitude) yang dibutuhkan dalam membangun usaha.
Sehingga impian besar akan mampu di raih yang pada akhirnya dapat
memberikan nilai tambah dalam kehidupan untuk meningkatkan standar
dan kualitas hidup. Agama Islam mengajarkan ummatnya bahwa tujuan
Allah menciptakan manusia adalah untuk menyembah dan mengabdi
kepada-Nya sehingga apapun yang kita lakukan hendaknya haruslah
mengarah kepada tujuan untuk mendapatkan ridha-Nya. Sekurang-
kurangnya menjadikan kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari
kemarin. Maka kita perlu mempunyai keberanian untuk melakukan
perubahan-perubahan dan terobosan-terobosan baru. Terlebih lagi bagi
pemerintah, bagaimana menyusun strategi pencapaian pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan dengan menggerakan seluruh sumberdaya
pengusaha yang telah ada seiring menumbuhkan wirausaha-wirausaha
baru.
Banyak sekali pemuda-pemudi Indonesia yang mempunyai
gagasan kreatif dan ide bisnis yang cemerlang, namun seringkali juga
ide bagus tersebut tidak mampu mereka jalankan karena tidak adanya
keberanian (courage) untuk memulainya, karena takut menghadapi
risiko kerugian atau kegagalan. Sehingga kreativitas tersebut hanya
44 | K E W I R A U S A H A A N
menjadi angan-angan semata tanpa mampu direalisasikan. Maka tidak
ada jalan lain untuk meraih kesuksesan, keberanian untuk melakukan
dan mencoba (action) adalah hal yang mutlak.
Wirausaha adalah stakeholder
pemerintah
“Idealnya persentase wirausaha dalam sebuah negara untuk
menggerakan ekonomi negara tersebut adalah 2% dari jumlah
penduduknya, sementara pada tahun 2007 jumlah wirausaha indonesia
hanya baru mencapai 0,18% atau 400.000.-orang dan butuh waktu 30
tahun untuk mancapai 2%”. Agus Muharram Deputi Bidang
Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM (Bisnis Indonesia, 31
Januari 2011). Sementara Singapore jumlah wirausahanya 7,2% dan
Malaysia 2,1%.
Kalau saja Pemerintah mampu menciptakan jumlah
wirausahanya 2% dari ±240 juta penduduknya atau hanya 4,8 juta orang
setiap tahunnya dan setiap wirausaha mampu mempekerjakan minimal
dua orang tenaga kerja saja maka jumlah angkatan kerja yang mampu
diserap adalah 9,6 juta orang. Maka tingkat kemiskinan Indonesia
selama masa kerja lima tahun akan mampu diselesaikan, ditambah lagi
pendapatan dari retribusi dan pajak akan meningkat.
Melalui Jalan Pendidikan
“Tujuan pendidikan adalah menggantikan pikiran yang
kosong dengan pikiran yang terbuka. Melahirkan konsep dan cara
bertindak”. Pendidikan di Indonesia, walaupun bertujuan membentuk
kemandirian, namun dalam prakteknya sering jauh dari harapan.
Dimulai dari rumah, orang tua sering mengatakan kepada anaknya,
”belajar sajalah dengan serius, jangan pikirkan biaya…” Maksud orang
tua kita tentu mulia, agar anak tidak terlalu dibebankan dengan banyak
hal dan bisa meraih hasil pelajaran yang maksimal dalam pelajaran
sekolah atau kampus. Tapi apa akibatnya, ini malah melahirkan anak-
anak manja yang selalu meminta. Sekolah modern hanya mengajarkan
anak didiknya untuk pandai menguasai teori-teori, memecahkan rumus-
rumus yang rumit. Sangat sedikit sekolah yang mengajarkan bagaimana
teori dan rumus tersebut bekerja untuk menghasilkan produk yang bisa
K E W I R A U S A H A A N | 45
dijual dan menghasilkan uang. Betapa banyak lulusan perguruan tinggi
yang menyandang gelar sarjana ekonomi tetapi tidak mampu
kesarjanaannya itu memberikan dia kesejahteraan hidup bahkan banyak
yang terperosok dalam kehidupan yang serba kekurangan, pada
akhirnya mau bekerja apa pun asalkan bisa makan, demi
mempertahankan hidupnya.
Peran sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran
belum maksimal dalam melahirkan anak didik yang bisa hidup mandiri
begitu selesai dari sekolahnya. Bahkan, untuk memasak nasi bagi
dirinya sendiri sekalipun mereka tidak mampu. Konon, untuk menjadi
pengusaha di bidang kuliner. Sekolah kita bagaikan sebuah gua yang
dikelilingi oleh dinding batu dan karang, di mana gua tersebut
digunakan untuk tempat menghafal mantra-mantra. Lembaga
pendidikan kita melahirkan orang-orang yang ahli menghafal teori dan
rumus. Maka, patut kita berikan apresiasi bagi anak-anak salah satu
SMK di Kota Solo yang gagah berani mau memproduksikan mobil
esemka-nya. Meskipun dalam dunia industri mobil di Indonesia, apalagi
di dunia, mobil Esemka bukanlah satu kreativitas dan inovasi. Akan
tetapi, bagi dunia pendidikan kita hal itu merupakan satu kreativitas dan
inovasi. Kenapa? Karena tidak ada sekolah yang sebelumnya
melahirkan prestasi seperti itu. Paling tinggi hanya sebagai bahan
praktikum di bengkel (laboratorium) sekolah masing-masing.
Kalau Indonesia tidak merubah model pendidikan formal atau
tetap mempertahankan seperti sistem yang sudah ada sekarang maka
dituding hanya akan melahirkan pengangguran. Termasuk didalamnya
adalah dunia kampus, kalau mata kuliah kewirausahaan hanya sekedar
teori yang diucapkan dan di uji pada ujian akhir maka tidak perlu
berharap paska kuliah mereka akan menjadi wirausahawan. Mestinya,
kampus mulai memberikan pendidikan kewirausahaan kepada
mahasiswa dengan langsung membuat produk, menyusun marketing
plan, dan mereka melakukan pemasaran dan penjualan produk yang
telah mereka hasilkan. Dan kampus mendukung mereka dengan
permodalan. Sistemnya boleh pinjaman, bisa juga bagi hasil. Mungkin
beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia program ini sudah
dilakukan.
Pada tahun 1950-an, pendidikan kewirausahaan modern mulai
dirintis di dunia Barat seperti Eropa, Amerika dan Kanada. Sejak tahun
1970-an banyak perguruan tinggi yang mengajarkan Entrepreneurship
46 | K E W I R A U S A H A A N
dan hasilnya saat ini Amerika mempunyai 11,5-12 persen jumlah
wirausahawan dibandingkan jumlah penduduknya. Melebihi jumlah
yang diinginkan oleh seorang sosiolog, David Mccleland yang
mengatakan apabila sebuah negara ingin makmur maka harus memiliki
minimal 2 persen jumlah wirausahanya dibandingkan jumlah seluruh
penduduknya. Dengan kata lain, di Amerika setiap 12 detik lahir satu
pengusaha dan dalam tujuh tahun menghasilkan 15 juta lapangan kerja.
Ketika Sekolah Tidak Bisa Menjadi
Solusi Maka “Merantaulah”
Dalam satu perjalanan pulang dari satu kota setelah mengikuti
sebuah acara tentang sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi
pelaku UKM dan Koperasi, saya dan empat teman lainnya menumpangi
sebuah mobil yang kami rental dari teman kami yang lain, tentu saja
dengan harga terjangkau, dan biaya rental mobil pun kami kumpulkan
dari kami berlima. Untuk memecahkan kebekuan suasana dalam
perjalanan tersebut kami berlima membicarakan hal dengan berbagai
macam topik, entah apa saja, yang penting bisa memecah kebekuan dan
rasa suntuk karena jauhnya perjalanan yang harus kami tempuh. Namun,
ada satu topik yang sangat saya ingat dan sangat relevan dengan tema
kita sekarang, yakni ‘merantau.’ Dan saya menyebutnya “hijrah.”
Seperti Rasulullah SAW bermigrasi dari tanah kelahirannya Kota
Mekkah ke Madinah dan membawa misi membangun ummat menuju
lebih baik, lebih solid dan lebih maju.
Kita memang harus punya keberanian merantau. Sebab dengan
merantau kita akan lebih percaya diri dan mandiri. Banyak entrepreneur
yang sukses karena ia merantau. Orang Tegal sukses dengan warteg-nya
di Jakarta. Begitu juga orang Wonogiri sukses menekuni usaha sebagai
penjual bakso. Orang Wonosari sukses sebagai penjual bakmi dan
minuman. Sementara orang Padang, sukses dengan bisnis masakan
Padang-nya.
Bahkan, orang Cina pun banyak yang sukses ketika dia
merantau keluar negeri. Dan, tak sedikit pula, orang Jawa yang sukses
sebagai transmigran di Sumatera. Juga banyak orang dari luar Jawa
yang sukses bisnisnya ketika merantau di Yogyakarta. Tapi banyak juga
orang Yogya yang sukses menjadi pengusaha atau merintis kariernya,
K E W I R A U S A H A A N | 47
ketika merantau di Jakarta. Hal itu wajar terjadi, karena orang-orang
tersebut memang punya keberanian merantau.
Sebenarnya, apa yang diungkapkan di atas hanyalah sekedar
contoh, bahwa orang bisa sukses sebagai entrepreneur, kalau orang
tersebut memiliki keberanian merantau. Mengapa demikian? Menurut
saya, keberanian merantau itu perlu kita miliki, karena dengan merantau
berarti kita berani meninggalkan lingkungan keluarga. Sebab, ketika kita
berada di lingkungan keluarga, meskipun kita sudah tumbuh besar atau
dewasa, namun tetap dianggap sebagai anak kecil. Sehingga, hal itu
akan membuat kita tergantung dan tidak mandiri. Akibat dari itu sangat
jelas, kita mudah patah semangat atau putus asa. Tidak berani
menghadapi tantangan atau risiko bisnis. Kita pun akan mudah
tergantung pada orang lain.
Tapi beda halnya. kalau kita berani merantau. Hal itu berarti
kita siap menjadi "manusia baru". Kita harus siap menghadapi
lingkungan baru, yang barangkali tak sedikit tantangan yang harus
dihadapi. Dan, jika saat dulu kita belum tahu apa sebenarnya kelemahan
kita, maka dengan merantau hal tersebut bisa diketahui. sedikit demi
sedikit kelemahan tersebut akan kita perbaiki di tanah perantauan. Itulah
sebabnya mengapa saya yakin, keberanian merantau yang membuat kita
punya jiwa kemandirian itu, akan membuat kita lebih percaya diri dalam
setiap langkah dalam bisnis maupun karier.
Jadi singkatnya, merantau itu akan membuat kita berjiwa "tahan
banting". Katakanlah, kalau usaha kita ternyata jatuh dan gagal, kita
tidak terlalu malu, toh itu terjadi di kota lain. Dengan kata lain, berusaha
di kota lain akan mengurangi beban berat, bila dibandingkan dengan
merintis bisnis di kota kita sendiri. Selain itu, keberanian merantau ke
daerah lain, akan membuat kita dapat menyelesaikan persoalan sendiri.
Bahkan, kita akan merasa tabu terhadap bantuan orang lain. Kita ada
rasa untuk tidak mau punya hutang budi pada orang lain.
Oleh karena itulah, saya berpendapat, bahwa sesungguhnya
kemandirian itu adalah semangat paling dasar dari kita untuk bisa
meraih kesuksesan. Dan, alangkah baiknya jika sikap mandiri semacam
itu bisa kita bentuk sejak kita masih sekolah. Maka, jika kita ingin
menjadi entrepreneur yang mampu meraih sukses dan "tahan banting",
salah satu kuncinya adalah kemandirian itu sendiri. Dan, kemandirian
akan muncul jika kita berani merantau. Buktikan sendiri!
48 | K E W I R A U S A H A A N
RANGKUMAN
Tingkat kemiskinan di Aceh tergolong tinggi mencapai 21%
(893 ribu jiwa) sedangkan nasional hanya 13,3% per-maret 2010,
namun demikian trendnya semakin menurun dari 28,5% pada tahun
2004 akan tetapi selalu saja angkanya di atas angka nasional. Dan posisi
ranking kemiskinan menempati pada ranking 27 setelah NTT atau di
atas Maluku dan Papua.
Perbedaan tingkat kemiskinan antar kabupaten/kota juga tinggi
dimana kabupaten yang paling tinggi tingkat kemiskinannya adalah
Kabupaten Pidie Jaya 27,97% sedang yang paling rendah adalah Kota
Banda Aceh 8,64%. Tingkat kemiskinan di Pidie Jaya melampui angka
kemiskinan tingkat provinsi yaitu 21% per-Maret 2009.
Di Aceh, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh tergolong
tinggi, diatas tingkat nasional yaitu rangking 26 atau 8,71% (per-
Agustus 2009) dan lebih baik dari Sulsel, Maluku, Jabar dan Banten.
Jumlah ini semakin menurun dimana tahun 2005 sebesar 14%.
Sementara tingkat pengangguran nasional hanya 7,9%.Perbedaan
tingkat pengangguran antar kabupaten/kota juga tinggi dimana kota
Langsa mencapai 14,74% atau tertinggi bahkan diatas TPT provinsi dan
yang paling rendah adalah kabupaten Bener Meriah hanya 2,57%
bahkan lebih rendah dari TPT nasional.
Dalam rangka mengentaskan kemiskinan, Al-Quran
menganjurkan banyak cara yang harus di tempuh, yang secara garis
besar dapat dibagi pada tiga kewajiban pokok yaitu :
1. Kewajiban setiap individu
2. Kewajiban orang lain/masyarakat
3. Kewajiban pemerintah
Soal Latihan Dalam Bab Ini Meliputi :
1. Mengapa Tingkat Kemiskinan Sangat Tinggi yang terjadi Di
Provinsi Aceh dan apa yang menjadi penyebabnya?
2. Mengapa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi
Aceh masih mengalami Tinggi apa yang menjadi Penyebabnya?
3. Dalam rangka mengentaskan kemiskinan, Al-Quran
menganjurkan banyak cara yang harus di tempuh oleh Umat
Manusia coba anda Jelaskan?
K E W I R A U S A H A A N | 49
4. Sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku UKM dan
Koperasi yang dilakukan oleh Pemerintah, apakah sudah
berjalan dengan Efektif ?
50 | K E W I R A U S A H A A N
BAB III
MEMAHAMI TUJUAN, MANFAAT
DAN FUNGSI BERWIRAUSAHA
Tujuan Wirausaha
Secara umum keyakinan sesorang hidup di dunia ingin
mendapatkan kebahagiaan dan lebih khusus seorang muslim mencapai
kebahagiaan itu dengan dimensi ketauhidan dan ibadah. Dengan
meyakini bahwa segala sesuatunya berasal dari Allah SWT dan akan
berakhir, bermuara kepada NYA jua. ”Sesunggunya shalatku, ibadahku,
hidupku, dan matiku adalah semata-mata demi karena Allah, Tuhan
seru sekalian alam.” Dalam kerangka itulah kita menetapkan tujuan-
tujuan berwirausaha. Dengan karena Allah-lah kita ingin meraih
kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan akhirat.
Kesuksesan hanya bisa di capai oleh mereka yang dalam
hidupnya mempunyai tujuan yang jelas. Menetapkan target yang ingin
di kejar dan mempunyai gambaran yang jelas terhadap apa yang
diinginkan. Cita-cita merupakan bagian dari sekeranjang tujuan yang
biasanya dimiliki oleh banyak orang. Tanpa cita-cita hidup terasa
hampa, tidak ada tantangan dalam kehidupan bahkan cenderung hidup
dengan mengikuti ‘arus’ kehidupan orang lain. Lebih tragis lagi bahwa
orang yang hidup tanpa mempunyai satupun cita-cita dia takut
menghadapi “masalah” yang datang dalam hidupnya. Ibarat kapal yang
berlayar dilautan, tanpa memiliki peta perjalanan karena tidak ada
tujuan ke arah mana dan di tempat mana dia ingin berlabuh. Pada
akhirnya hanya akan menghabiskan waktu saja dilautan lepas dan tak
sedikit yang “tersesat” dan tenggelam.
Seorang yang ingin menjadi wirausaha juga harus memiliki
tujuan yang jelas, spesifik, realistis, dan yang lebih penting adalah
tujuan tersebut dapat dicapai. Silakan saja menggantungkan cita-cita
setinggi langit, namun tujuan haruslah masuk akal. Adapun tujuan
diajarkan kewirausahaan bagi mahasiswa antara lain :
K E W I R A U S A H A A N | 51
1. Meningkatkan kecakapan dan ketrampilan mahasiswa
khususnya memiliki sense of business sehingga akan terlahir
wirausaha-wirausaha muda yang energik dan potensial.
2. Menumbuh-kembangkan minat wirausaha dikalangan
pemuda-pemudi yang berlatar belakang pendidikan tinggi.
3. Mengembangkan kewirausahaan yang berbasiskan
pengetahuan (based knowledge) atau berlandaskan Ilmu
pengetahuan dan Teknologi.
4. Membiasakan mahasiswa untuk berpikir bisnis dan berani
menjadikan wirausaha sebagai pilihan masa depannya.
5. Meningkatkan jumlah para wirausaha yang berkualitas
6. Mewujudkan kemampuan dan kemantapan para wirausaha
untuk menghasilkan kemajuan, kesejahteran, harkat dan
martabat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat lainnya.
7. Membudayakan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan
kewirausahaan dikalangan pelajar dan mahasiswa yang unggul
dan bisa diandalkan.
Manfaat Berwirausaha
Rasulullah Muhammad SAW mengatakan bahwa manusia yang
bermanfaat adalah manusia yang berguna bagi manusia lainnya.
Berwirausaha akan menjadikan kita bukan hanya memberikan pekerjaan
dan mendatangkan pendapatan bagi diri kita sendiri tetapi juga
memberikan beberapa peluang kerja dan penghasilan bagi orang lain.
Thomas W.Zimmerer et al. (2005) dalam Leonardus Saiman
(2011) merumuskan manfaat berwirausaha adalah sebagai berikut :
1. Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib
sendiri.
Memiliki usaha sendiri akan memberikan kebebasan
dan peluang bagi pebisnis untuk mencapai tujuan hidupnya.
Pebisnis akan mencoba memenangkan hidup mereka dan
memungkinkan mereka untuk memanfaatkan bisnisnya guna
mewujudkan cita-citanya.
2. Memberi peluang melakukan perubahan.
Semakin banyak pebisnis yang memulai usahanya
karena mereka dapat menangkap peluang untuk melakukan
berbagai perubahan yang menurut mereka sangat penting.
Mungkin berupa penyediaan perumahan sederhana yang sehat
52 | K E W I R A U S A H A A N
dan layak pakai bagi keluarga atau mendirikan program daur
ulang limbah untuk melestarikan sumber daya alam yang
terbatas. Pebisnis kini menemukan cara untuk
mengkombinasikan wujud kepedulian mereka terhadap
berbagai masalah ekonomi dan sosial dengan harapan untuk
menjalani kehidupan yang lebih baik.
3. Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya.
Banyak orang yang menyadari bahwa bekerja di suatu
perusahaan seringkali membosankan, kurang menantang dan
tidak ada daya tarik. Hal ini tentu tidak berlaku bagi seorang
wirausahawan. Bagi mereka tidak banyak perbedaan antara
bekerja dengan menyalurkan hobi atau bermain, keduanya
sama saja. Bisnis-bisnis yang dimiliki oleh wirausahawan
merupakan alat untuk menyatakan aktualisasi diri.
Keberhasilan mereka adalah suatu hal yang ditentukan oleh
kreativitas, antusias, inovasi, dan visi mereka sendiri.
Memiliki usaha atau perusahaan sendiri memberikan
kekuasaan kepada mereka, kebangkitan spiritual, dan mampu
mengikuti minat dan hobinya sendiri.
4. Memilki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal
mungkin.
Walaupun pada tahap awal uang bukan daya tarik
utama bagi wirausahawan, keuntungan berwirausaha
merupakan faktor motivasi yang penting untuk mendirikan
usaha sendiri. Kebanyakan pebisnis tidak ingin menjadi kaya
raya, tetapi kebanyakan di antara mereka yang memang
menjadi berkucupan. Hampir 75 persen yang termasuk dalam
daftar orang terkaya (Majalah Forbes) merupakan
wirausahawan generasi pertama. Menurut hasil penelitian
Thomas Stanley dan William Danko, pemilik perusahaan
sendiri mencapai dua pertiga dari jutawan Amerika Serikat.
”orang-orang yang bekerja memiliki perusahaan sendiri
empat kali lebih besar peluangnya untuk menjadi jutawan
daripada orang-orang yang bekerja untuk orang lain atau
menjadi karyawan perusahaan lain.”
5. Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan
mendapatkan pengakuan atas usahanya.
Pengusaha kecil atau pemilik perusahaan kecil
seringkali merupakan warga masyarakat yang paling dihormati
dan paling di percaya. Kesepakatan bisnis berdasarkan
K E W I R A U S A H A A N | 53
kepercayaan dan saling menghormati adalah ciri pengusaha
kecil. Pemilik menyukai kepercayaan dan pengakuan yang di
terima dari pelanggan yang telah di layani dengan setia selama
bertahun-tahun. Peran penting yang dimainkan dalam system
bisnis di lingkungan setempat serta kesadaran bahwa kerja
memiliki dampak nyata dalam melancarkan fungsi sosial dan
ekonomi nasional adalah merupakan imbalan bagi manejer
perusahaan kecil.
6. Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan
menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakannya. Hal ini
dirasakan oleh pengusaha kecil atau pemilik perusahaan kecil
adalah bahwa kegiatan usaha mereka sesungguhnya bukanlah
kerja. Kebanyakan wirausahawan yang berhasil memilih
masuk dalam bisnis tertentu, sebab mereka tertarik dan
menyukai pekerjaan tersebut. Mereka menyalurkan hobi atau
kegemaran mereka menjadi pekerjaan mereka dan mereka
senang melakukannya. Wirausahawan harus mengikuti
nasehat Harvey Mckey, ”carilah dan dirikan usaha yang anda
sukai dan anda tidak akan pernah merasa terpaksa harus
bekerja sehari pun dalam hidup Anda.” Hal yang menjadi
penghargaan terbesar bagi pebisnis/wirausahawan bukanlah
tujuannya, melainkan lebih kepada proses dan atau
perjalanannya. Sehingga Robert T.Kiyosaki mengatakan
“bahwa kewirausahaan adalah mengenai semangat dan juga
panggilan.”
Fungsi Berwirausaha
Setiap wirausaha memiliki fungsi pokok dan fungsi tambahan sebagai
berikut :
1. Fungsi pokok wirausaha, yaitu :
a. Membuat keputusan-keputusan penting dan mengambil risiko
tentang tujuan dan sasaran perusahan.
b. Memustuskan tujuan dan sasaran perusahaan.
c. Menetapkan bidang usaha dan pasar yang Akan dilayani.
d. Menghitung skala usaha yang diinginkannya
e. Menentukan permodalan yang diinginkannya (modal sendiri
dan modal dari luar) dengan komposisi yang menguntungkan.
f. Memilih dan menetapkan kriteria pegawai/karyawan dan
memotivasinya.
54 | K E W I R A U S A H A A N
g. Melakukan pengendalian secara efektif dan efesien.
h. Mencari dan menciptakan cara-cara baru dalam produksi dan
operasional usaha.
i. Mencari terobosan baru dalam mendapatkan masukan atau
input, serta mengolahnya menjadi barang dan atau jasa yang
menarik.
j. Memasarkan barang dan atau jasa tersebut untuk memuaskan
pelanggan dan sekaligus dapat memperoleh dan
mempertahankan keuntungan maksimal.
2. Fungsi tambahan wirausaha, yaitu :
a. Mengenali lingkungan perusahaan dalam rangka mencari dan
menciptakan peluang usaha.
b. Mengendalikan lingkungan kearah yang menguntungkan bagi
perusahaan.
c. Menjaga lingkungan usaha agar tidak merugikan masyarakat
maupun merusak lingkungan akibat dari limbah usaha yang
mungkin dihasilkan.
d. Meluangkan dan peduli atas CSR. Setiap pengusaha harus
peduli dan turut serta bertanggung jawab terhadap lingkungan
sosial disekitarnya.
RANGKUMAN
Tujuan diajarkan kewirausahaan bagi mahasiswa antara lain :
1. Meningkatkan kecakapan dan ketrampilan mahasiswa
khususnya memiliki sense of business sehingga akan terlahir
wirausaha-wirausaha muda yang energik dan potensial.
2. Menumbuh-kembangkan minat wirausaha dikalangan pemuda-
pemudi yang berlatar belakang pendidikan tinggi.
3. Mengembangkan kewirausahaan yang berbasiskan pengetahuan
(based knowledge) atau berlandaskan Ilmu pengetahuan dan
Teknologi.
4. Membiasakan mahasiswa untuk berpikir bisnis dan berani
menjadikan wirausaha sebagai pilihan masa depannya.
5. Meningkatkan jumlah para wirausaha yang berkualitas
6. Mewujudkan kemampuan dan kemantapan para wirausaha
untuk menghasilkan kemajuan, kesejahteran, harkat dan
martabat bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat lainnya.
K E W I R A U S A H A A N | 55
7. Membudayakan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan
kewirausahaan dikalangan pelajar dan mahasiswa yang unggul
dan bisa diandalkan.
Manfaat berwirausaha adalah sebagai berikut :
1. Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib
sendiri.
2. Memberi peluang melakukan perubahan.
3. Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya.
4. Memilki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal mungkin.
5. Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan
mendapatkan pengakuan atas usahanya.
6. Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan
menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakannya.
Soal Latihan :
1. Apa yang Menjadi Tujuan dalam Wira Usaha ?
2. Apa yang menjadi manfaat dalam menjalan sebuah Usaha ?
3. Jelaskan apa Fungsi Wira Usaha Menurut saudara Ketahui ?
4. Bagaimana yang dimaksud dengan kewirausahaan yang
berbasiskan pengetahuan (based knowledge) atau berlandaskan
Ilmu pengetahuan dan Teknologi ?
5. Apa yang Menjadikan Peluang dan Tantangan dalam
Euntrepreneur atau Kewirausahaan ?
56 | K E W I R A U S A H A A N
BAB IV
MEMAHAMI ASPEK-ASPEK
PENTING DALAM USAHA
Bagi usaha kecil dan menengah, legalitas usaha kebanyakan
tidak menjadi persoalan karena telah mempunyai badan hukum yang
jelas dan telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berbeda
dengan usaha mikro yang kebanyakan dimiliki oleh perseorangan,
dimana dalam mendirikan usahanya belum memperhatikan legalitas
usahanya.
Dalam kaitannya dengan wirausaha maka legalitas usaha ini
menjadi penting. Sebagaimana diketahui bahwa salah satu syarat
operasional perusahaan adalah memiliki perijinan usaha. Dengan
mempunyai legalitas berarti usaha kita sudah mendapat pengakuan dari
negara.Berarti juga usaha kita sah dan tidak bertentangan dengan
hukum.
ASPEK HUKUM PERUSAHAAN
Pengertian Perusahaan
Perkembangan perusahaan yang cukup pesat harus diikuti
dengan seperangkat aturan hukum yang mengatur, sehingga diharapkan
perusahaan dapat mencapai tujuannya. Berbagai perkembangan yang
ada yang mempengaruhi operasi perusahaan mendorong pemerintah
menciptakan UU untuk menjamin dan melindungi kepentingan
masyarakat dan berbagai pihak terkait.
Dalam Pasal 1 huruf (b) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982
tentang Wajib Daftar Perusahaan disebutkan “Perusahaan adalah
setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat
tetap dan terus-menerus dan didirikan, bekerja serta berkedudukan
dalam wilayah negara Indonesia dengan tujuan memperoleh
keuntungan dan atau laba”.
K E W I R A U S A H A A N | 57
Dari definisi perusahaan di atas ada 2 (dua) hal pokok yang
terkandung di dalamnya yaitu bentuk usaha dan jenis usaha yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :
Bentuk Usaha
Yang dimaksud dengan bentuk usaha adalah organisasi atau badan
usaha yang menjadi wadah penggerak setiap jenis usaha. Istilah bentuk
usaha dapat disamakan artinya dengan bentuk hukum perusahaan.
Bentuk hukum perusahaan yang diatur/diakui oleh undang-undang
terdiri dari:
1. Perseorangan
Bentuk hukum perusahaan perseorangan belum ada
pengaturannya dalam Undang-undang, tetapi berkembang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat pengusaha yang dalam
prakteknya dibuat secara tertulis di hadapan notaris, misalnya
Perusahaan Otobis (PO) dan Perusahaan Dagang (PD).
2. Persekutuan atau Badan Hukum.
Bentuk hukum perusahaan persekutuan dan badan hukum
sudah diatur dengan Undang-undang. Adapun bentuk hukum
perusahaan persekutuan yang dikenal masyarakat antara lain:
a. Firma (Fa) dan Persekutuan Komanditer (CV) diatur
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
(KUHD) Buku Kesatu
b. Perseroan Terbatas (PT) diatur dalam Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 1995
c. Koperasi diatur dalam Undang-Undang Nomor 25
Tahun 1992
d. Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan
Perseroan (Persero) diatur dalam Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 1969.
Jenis Usaha
Yang dimaksud dengan jenis usaha adalah berbagai macam
usaha di bidang perekonomian, meliputi bidang industri, perdagangan,
jasa dan keuangan (pembiayaan). Usaha diartikan sebagai setiap
tindakan, perbuatan atau kegiatan apapun dalam bidang perekonomian
yang dilakukan oleh setiap pengusaha dengan tujuan memperoleh
keuntungan dan atau laba. Sedangkan pengertian dari pengusaha adalah
58 | K E W I R A U S A H A A N
setiap orang perseorangan, persekutuan atau badan hukum yang
menjalankan suatu jenis perusahaan.
Dalam hukum perusahaan, suatu kegiatan dapat disebut sebagai
usaha apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
a. Bergerak dalam bidang perekonomian;
b. Dilakukan oleh pengusaha; dan
c. Tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.
Tujuan Perusahaan
Menurut ekonom klasik tujuan perusahaan adalah untuk
memaksimalkan keuntungan (to maximize profit). Sedangkan menurut
George W.England adalah sebagai berikut :
1. Profitability (menghasilkan keuntungan).
2. Productivity (menghasilkan produk dgn kualitas atau jumlah
tertentu).
3. Growth (tumbuh dan berkembang)
4. Employee satisfaction (kepuasan karyawan).
5. Community interest (kepentingan masyarakat).
Sumber Hukum Perusahaan
Yang dimaksud dengan sumber hukum perusahaan adalah setiap
pihak yang menciptakan kaidah atau ketentuan hukum perusahaan.
Dalam pengertian tersebut yang dimaksud dengan pihak-pihak dapat
berupa badan legislatif yang menciptakan undang-undang, pihak yang
mengadakan perjanjian yang menciptakan kontrak, hakim yang
memutus perkara yang menciptakan yurisprudensi dan masyarakat
pengusaha yang menciptakan kebiasaan (konvensi) dalam kegiatan
usaha.
1. Perundang-undangan
Dalam aturan peralihan UUD 1945 disebutkan bahwa
ketentuan-ketentuan peninggalan zaman Hindia Belanda masih
tetap berlaku. Ketentuan yang terkait dengan pengaturan
perusahaan adalah Burgerlijk Wetboek (BW) dan Kitab Undang-
K E W I R A U S A H A A N | 59
Undang Hukum Dagang (KUHD). Dalam hukum dikenal suatu
asas hukum “lex specialis derogat lex generalis” yakni hukum
yang bersifat khusus mengalahkan hukum yang bersifat umum.
Sesuai asas tersebut maka BW berkedudukan sebagai hukum
umum (lex generalis), sedangkan KUHD berkedudukan sebagai
hukum khusus (lex specialis). Untuk mempermudah memahami
asas ini dapat dicontohkan bahwa dalam BW diatur tentang
pemberian kuasa (lastgeving), dalam KUHD juga diatur pemberian
kuasa secara khusus mengenai surat berharga. Dalam contoh
tersebut apabila suatu perusahaan berhubungan dengan surat
berharga, maka harus tunduk pada ketentuan dalam KUHD.
Selain kedua ketentuan tersebut, telah banyak undang-undang yang
mengatur tentang perusahaan antara lain mengenai :
a. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
b. Hak Milik Atas Kekayaan Intelektual (Hak Cipta, Merek,
Paten)
c. Pengangkutan Darat, Perairan dan Udara
d. Perasuransian
e. Perdagangan Dalam dan Luar Negeri
f. Perkoperasian dan Pengusaha Kecil.
g. Pasar Modal dan Penanaman Modal
h. Hak Jaminan atas Tanah
i. Ijin Usaha dan Pendaftaran Perusahaan
j. Perbankan
k. Perseroan Terbatas
l. Dokumen Perusahaan
m. Kamar Dagang dan Industri, dll.
Kontrak Perusahaan
Kontrak perusahaan dapat digunakan sebagai salah satu alat
untuk melindungi kewajiban dan hak suatu perusahaan. Suatu kontrak
perusahaan harus dibuat secara tertulis, karena suatu kontrak
mempunyai kekuatan pembuktian. Kontrak akan menjadi penting
apabila ketentuan-ketentuan dalam kontrak dilanggar oleh salah satu
pihak. Dalam kontrak yang bersifat internasional, masalah akan timbul
yaitu ketentuan Undang-Undang pihak mana yang diberlakukan, dalam
60 | K E W I R A U S A H A A N
hal ini pihak-pihak berhadapan dengan masalah pilihan hukum (Choice
of law).
Kontrak perusahaan selalu terikat dengan ketentuan undang-
undang berdasarkan asas pelengkap yaitu asas yang menyatakan bahwa
kesepakatan para pihak yang tertuang dalam kontrak merupakan
ketentuan utama yang wajib diikuti oleh para pihak. Dalam hal kontrak
tersebut tidak diatur secara jelas maka ketentuan undang-undang yang
diberlakukan.
Yurisprudensi
Yurisprudensi adalah ketetapan hakim yang diikuti oleh hakim
lain dalam memutus suatu perkara yang serupa. Yurisprudensi ini
merupakan sumber hukum perusahaan yang dapat diikuti oleh pihak-
pihak terutama, jika terjadi sengketa mengenai pemenuhan kewajiban
dan hak tertentu. Melalui yurisprudensi, hakim dapat melakukan
pendekatan terhadap sistem hukum yang berlainan, misalnya sistem
hukum Anglosaxon atau Common Law. Yurisprudensi dimaksudkan
untuk mengisi terjadinya kekosongan hukum.
Beberapa yurisprudensi yang terjadi di bidang hukum
perusahaan, misalnya mengenai penggunaan merek dagang, jual-beli,
perdagangan/pilihan hukum, leasing dalam bentuk putusan Mahkamah
Agung (MA) antara lain sebagai berikut :
a. Perkara merek Nike, Nomor 220/PK.Pdt/1986 tanggal 16
Desember 1986
b. Perkara merek Snoopy dan Woodstok, Nomor 12722/1984
tanggal 15 Januari 1987
c. Perkara merek Ratu Ayu Nomor 341/PK/Pdt/1986 tanggal 4
Maret 1987
d. Perkara penyerahan barang impor tanpa bill of lading
(konosemen), Nomor 1997/Pdt/1996, tahun 1987
e. Perkara pilihan hukum Nomor 3253/Pdt/1990 tanggal 30
November 1993
f. Perkara leasing Nomor 1131 K/Pdt/1987 tanggal 14 November
1988
K E W I R A U S A H A A N | 61
Kebiasaan
Kebiasaan atau konvensi merupakan sumber hukum yang harus
diikuti oleh pengusaha. Kriteria suatu kebiasaan dalam praktek
perusahaan yang dapat diikuti, apabila memenuhi kriteria sebagai
berikut :
a. perbuatan yang bersifat keperdataan,
b. mengenai kewajiban dan hak yang seharusnya dipenuhi;
c. tidak bertentangan dengan Undang-undang atau kepatutan;
d. diterima oleh pihak-pihak secara sukarela karena dianggap hal
yang logis dan patut, dan
e. menuju akibat hukum yang dikehendaki oleh pihak-pihak.
Legalitas Perusahaan Bagi Usaha Formal
Legalitas perusahaan sangat diperlukan untuk menunjang
kelancaran kegiatan usaha suatu perusahaan. Legalitas perusahaan
diperlukan untuk melindungi hak-hak yang dimiliki oleh perusahaan
tersebut. Untuk mengetahui legalitas suatu perusahaan dapat dilihat dari
beberapa hal yakni:
1. Nama Perusahaan
Nama perusahaan merupakan jati diri yang dipakai oleh suatu
perusahaan dalam menjalankan usahanya. Fungsi nama perusahaan
adalah untuk membedakan perusahaan yang satu dengan perusahaan
yang lain, terutama antara perusahaan yang sejenis. Dari segi hukum,
nama perusahaan mempunyai arti penting. Dengan nama perusahaan
suatu perusahaan dapat melakukan hubungan hukum dengan pihak lain
dan memenuhi segala kewajiban hukumnya, misalnya memperoleh izin
usaha, melakukan pendaftaran perusahaan, membayar pajak dan
membayar utang. Nama perusahaan dapat ditemukan dalam sumber
resmi, yaitu akta pendirian perusahaan.
Di Indonesia nama perusahaan belum secara khusus diatur
dalam suatu undang-undang. Akan tetapi tidak berarti bahwa pengusaha
di Indonesia dapat semaunya memberi dan memakai nama perusahaan
tanpa memperhatikan kepentingan sesama pengusaha atau kepentingan
masyarakat. Beberapa asas dalam pemakaian nama perusahaan yaitu:
a. Pembauran nama perusahaan dengan nama pribadi,
b. Pembauran bentuk perusahaan dengan nama pribadi,
c. Larangan memakai nama perusahaan orang lain,
62 | K E W I R A U S A H A A N
d. Larangan memakai merek orang lain, dan
e. Larangan memakai nama perusahaan yang menyesatkan.
2. Akta Pendirian Perusahaan.
Akta pendirian perusahaan merupakan akta otentik, yaitu salah
satu bentuk legalitas perusahaan yang dibuat di muka notaris, pejabat
umum yang diberi wewenang untuk itu oleh undang-undang. Akta
pendirian tersebut memuat Anggaran Dasar (AD) perusahaan, yaitu
seperangkat aturan yang menjadi dasar berdirinya organisasi dan
bekerjanya perusahaan menurut hukum. Suatu Akta pendirian
perusahaan bukan badan hukum tidak perlu mendapat pengesahan dari
Menteri Hukum dan HAM, cukup didaftarkan pada Kepaniteraan
Pengadilan Negeri setempat selaku pengawas juridis. Untuk Akta
pendirian perusahaan berbadan hukum harus didaftarkan kepada
Menteri Hukum dan HAM, karena pengesahan tersebut merupakan
pengawasan apakah Anggaran Dasar sudah sesuai dengan hukum dan
sekaligus pengakuan sebagai badan hukum yang harus diketahui oleh
seluruh masyarakat, dengan menempatkan di dalam Berita Negara
Republik Indonesia.
3. Surat Izin Usaha Perdagangan
Dalam pasal 10 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982,
ditentukan pendaftaran wajib dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga)
bulan setelah perusahaan mulai menjalankan usahanya. Dalam
penjelasan pasal tersebut dinyatakan bahwa suatu perusahaan dianggap
mulai menjalankan usahanya pada saat menerima surat izin usaha dari
instansi teknis yang berwenang.
Dalam Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
Nomor 408/MPP/Kep/10/1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) dan Surat Izin
Usaha Perdagangan (untuk selanjutnya ditulis Surat Keputusan Nomor
408 Tahun 1997), dalam pasal (2) ditentukan bahwa setiap perusahaan
yang melakukan kegiatan usaha perdagangan wajib memperoleh
perizinan di bidang perdagangan. Perizinan dibidang perdagangan
meliputi Tanda Daftar Usaha Perdagangan (TDUP) dan Surat Izin
Usaha Perdagangan (SIUP).
1. Perusahaan yang wajib memiliki Tanda Daftar Usaha Perdagangan
(TDUP)/Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
Menurut Pasal 6 Surat Keputusan nomor 408 Tahun 1997,
perusahaan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dengan
K E W I R A U S A H A A N | 63
nilai investasi perusahaan seluruhnya sampai dengan
Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha wajib memperoleh Tanda Daftar Usaha
Perdagangan (TDUP) yang diberlakukan sebagai Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP). Sedangkan perusahaan yang melakukan
kegiatan usaha perdagangan dengan nilai investasi perusahaan
seluruhnya di atas Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha wajib memperoleh
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
TDUP dan SIUP diberikan dan dikeluarkan oleh Kementerian
Perindustrian dan Kementerian Perdagangan kalau ditingkat Pusat dan
Dinas Perindagkop dan UKM jika di wilayah provinsi dan
kabupaten/kota.
2. Perusahaan yang dibebaskan dari Tanda Daftar Usaha Perdagangan
(TDUP)/Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).Menurut ketentuan
Pasal 7 Surat Keputusan Nomor 408 Tahun 1997, perusahaan yang
dibebaskan dari kewajiban memperoleh Tanda Daftar Usaha
Perdagangan (TDUP) atau Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
adalah sebagai berikut:
a. Cabang perusahaan yang dalam menjalankan kegiatan usaha
perdagangan menggunakan Tanda Daftar Usaha Perdagangan
(TDUP) atau Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
perusahaan pusat;
b. Perusahaan yang telah mendapat izin usaha yang setara dari
Departemen teknis berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, misalnya izin usaha jasa konstruksi,
berupa Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) yang
dikeluarkan oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen
Pekerjaan Umum, sekarang Dinas Bina Cipta Karya (BMCK)
propinsi; Surat izin untuk menjual minuman beralkohol atau
izin menyelenggarakan konvensi yang berlaku terutama di
bidang perhotelan dan pariwisata, Surat Izin Tempat Usaha
(SITU) dan Surat Izin Gangguan yang diatur dengan Undang-
Undang Gangguan Hinder Ordonantie (HO) Stb Tahun 1926
No. 226, terutama untuk kegiatan dan usaha di bidang
perindustrian;
c. Perusahaan produksi yang didirikan dalam rangka Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN);
64 | K E W I R A U S A H A A N
d. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD);
e. Perusahaan kecil perseorangan dengan memenuhi ketentuan
sebagai berikut:
tidak berbentuk badan hukum atau persekutuan
diurus, dijalankan atau dikelola sendiri oleh
pemiliknya atau dengan mempekerjakan anggota
keluarganya yang terdekat.
4. Pendaftaran Perusahaan
Kewajiban pendaftaran perusahaan diatur dalam Keputusan
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
12/MPP/Kep/I/1998 tanggal 16 Januari 1998 tentang
Penyelenggaraan Wajib Daftar Perusahaan (selanjutnya disebut
Surat Keputusan Nomor 12 Tahun 1998).
a. Tujuan dari pendaftaran perusahaan adalah sebagai berikut:
Melindungi perusahaan yang dijalankan secara jujur dan
terbuka dari kemungkinan kerugian akibat praktik usaha
yang tidak jujur, seperti persaingan curang dan
penyelundupan.
Melindungi masyarakat atau konsumen dari
kemungkinan akibat perbuatan yang tidak jujur atau
insolvabel suatu perusahaan.
Mengetahui perkembangan dunia usaha dan perusahaan
yang didirikan, bekerja serta berkedudukan di Indonesia
melalui daftar perusahaan pada Kantor Pendaftaran
Perusahaan.
Memudahkan pemerintah melakukan pembinaan,
pengarahan, pengawasan dan menciptakan iklim dunia
usaha yang sehat melalui data yang dibuat secara benar
dalam daftar perusahaan, sehingga dapat menjamin
perkembangan dunia usaha dan kepastian berusaha.
b. Persyaratan lainnya yang harus diperhatikan oleh suatu
perusahaan dalam kegiatan usahanya antara lain sebagai
berikut :
Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP.
Sesuai dengan ketentuan undang-undang di bidang
perpajakan, di tetapkan bahwa semua orang dan badan
di Indonesia wajib mempunyai NPWP. Dengan
K E W I R A U S A H A A N | 65
demikian perorangan dan badan yang akan memperoleh
kredit harus menyerahkan fotocopy NPWP-nya, kecuali
untuk kredit-kredit tertentu yang di bebaskan dari
kewajiban penyerahan fotocopy NPWP tersebut.
Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat yang
sering pula disertai dengan izin penggunaan bangunan;
Tanda Daftar Rekanan, yaitu yang menunjukkan
perusahaan termaksud sebagai rekanan pemerintah;
Surat Ijin Penggalian C;
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
yang mengacu kepada Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Beberapa perizinan tersebut di atas menetapkan jangka waktu
berlaku secara tegas sehingga perlu diperhatikan dalam melakukan
penilaiannya, misalnya TDP hanya berlaku selama 5 tahun terhitung
sejak penerbitannya.
Langkah-langkah Pendirian Badan Usaha Formal
Tahap-tahap mendirikan perusahaan
66 | K E W I R A U S A H A A N
Legalitas Perusahaan Bagi Usaha Non
Formal
Perusahaan non formal atau lebih sering disebut sebagai
perusahaan perseorangan dalam melakukan kegiatan usahanya
terkadang belum memperhatikan aspek legalitas. Keterbatasan legalitas
bagi usaha non formal ini menjadi kendala dalam melakukan akses
kepada pihak perbankan.
Hal yang menarik adalah kebanyakan perusahaan perseorangan
ini bergerak dalam usaha mikro yang mana para Pengusaha mikro
melakukan pekerjaannya tanpa menyadari tuntutan sikap dan perilaku
yang diperlukan agar usahanya dapat berkembang. Usaha mikro ini
tumbuh secara alamiah dan dilakukan secara turun temurun.
Dalam Pasal 7 Surat Keputusan Nomor 408 Tahun 1997, antara
lain disebutkan Perusahaan kecil perseorangan dengan memenuhi
ketentuan sebagai berikut: (1) tidak berbentuk badan hukum atau
persekutuan dan (2) diurus, dijalankan atau dikelola sendiri oleh
pemiliknya atau dengan mempekerjakan anggota keluarganya yang
terdekat, dibebaskan dari kewajiban memperoleh Tanda Daftar Usaha
Perdagangan (TDUP) atau Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).
Dalam prakteknya perusahaan kecil perseorangan ini mendapatkan
Surat Izin Usaha Perdagangan dikeluarkan oleh Lurah atau Kepala Desa
setempat berupa Surat Keterangan Usaha (SKU).
Secara umum usaha mikro memiliki kelebihan/kekuatan. Adapun
kekuatan pengusaha mikro meliputi :
1. Segmen pasar pengusaha mikro terdapat disemua sektor
ekonomi; usahanya menjadi
2. sumber mata pencaharian utama;
3. Lebih dapat dipercaya;
4. Likuiditas usahanya lebih lancar;
5. Pola pembiayaan usaha relatif sederhana dengan tingkat
keuntungan yang relatif tinggi.
Usaha mikro juga memiliki keterbatasan, yang meliputi :
1. Letak lokasi usahanya terbatas dari jangkauan;
2. Volume usaha relatif kecil;
3. Belum memiliki sistem administrasi usaha yang baik;
K E W I R A U S A H A A N | 67
4. Belum ada pemisahan antara harta usaha dengan harta rumah
tangga;
5. Tidak cukup memiliki harta yang memenuhi persyaratan
perbankan sebagai agunan kredit;
6. Kelemahan dalam aspek legal dan formalitas usaha.
Jenis-jenis Perusahaan Menurut Badan Usaha
Perusahaan dengan jenis-jenis badan usaha
ASPEK MANAJEMEN DAN
ORGANISASI
Manajemen merupakan yang tak terelakkan alat untuk
memudahkan pencapaian tujuan manusia dalam organisasi. Manajemen
diperlukan untuk mengelola berbagai sumber daya organisasi, seperti
sarana, prasarana, informasi, waktu, SDM, modal dan keuangan ,pasar
dan lainnya. Manajemen juga mampu menciptakan cara-cara kerja yang
efektif dan efesien dalam pelaksanaan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Manajemen juga mampu meminimalkan hambatan-hambatan yang
muncul dalam rangka mencapai tujuan. Manajemen dapat memberikan
prediksi-prediksi dan rencana-rencana yang mungkin bisa dicapai di
masa yang akan datang.
Sumber daya produksi seperti uang, tanah, gedung, mesin dan
bahan baku merupakan benda mati, yang tidak dapat beroperasi tanpa
campur tangan manusia. Suatu usaha tidak bisa diharapkan memperoleh
68 | K E W I R A U S A H A A N
keuntungan maupun mencapai tujuan lainnya apabila tidak dikelola oleh
tenaga ahli dan berpengalaman di bidangnya, serta memiliki dedikasi
dan motivasi tinggi untuk menjalankan dan mengembangkan usaha yang
dipercayakan. Tidak jarang suatu mengalami kegagalan baik pada masa
pembangunan maupun masa operasional akibat kekeliruan atau
kesalahan manajemen. Oleh karena itu aspek manajemen sangat penting
untuk menjamin usaha yang dikembangkan. Dengan dikelola oleh
manajemen yang tepat dan memiliki kemampuan yang memadai maka
organisai usaha akan berjalan dengan baik.
Organisasi dimaksudkan adalah badan usaha dengan berbagai
macam bentuknya. Bukan organisasi politik, organisasi masyarakat atau
organisasi pemerintah. Organisasi itu secara umum merupakan wadah
atau tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai tujuan
bersama sehingga dalam rangka mencapai tujuan itulah mereka perlu
bekerjasama, saling membantu, dan membagi tugas serta fungsi masing-
masing dengan mekanisme yang sesuai. Dengan adanya pelimpahan
tugas kepada setiap orang yang terlibat dalam organsisasi tersebut maka
lahirlah tanggung jawab, wewenang dan semangat untuk memberikan
kontribusi, dedikasi, keahlian sesuai yang dimiliki dalam rangka
mencapai visi dan misi organisasi usaha.
Organisasi dan manajemen dua hal yang saling terkait baik dan
tak dapat dipisahkan. Adanya organisasi maka dibutuhkan manajemen
untuk menjalankannya. Jika diibaratkan mobil maka manajemen
merupakan mesinnya. Dengan memiliki manajemen yang baik maka
organisasi mudah untuk melakukan kegiatan dari program-program
strategiknya. Sebaliknya, jika suatu organisasi tidak memiliki
manajemen maka bisa dipastikan bahwa organisasi tersebut tidak bisa
berjalan dengan efektif dan efesien sehingga tujuannya sulit dicapai.
Manajemen dalam organisasi bisnis dimaksudkan sebagai suatu
proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan bisnis melalui
pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing, actuating, dan
controlling dalam pengunaan sumber daya organisasi. Agar suatu
organisasi dapat berjalan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang telah
ditetapkan, diperlukan sejumlah prinsip sebagai pedoman pelaksanaan.
Terdapat tujuh prinsip organisasi yang dinilai penting (Hardjito, 1995;
Kadarman, et.al, 1996), yakni sebagai berikut :
1. Perumusan Tujuan. Organisasi haruslah memiliki tujuan yang
jelas. Kejelasan tujuan yang terlahir dari visi dan misi yang
K E W I R A U S A H A A N | 69
mudah serta berada dalam kendali nilai utama organisasi akan
menjadi pedoman yang mantap bagi anggota, terutama dalam
menentukan langkah-langkash rasional yang harus di tempuh.
2. Kesatuan Arah. Dalam setiap struktur organisasi pasti terdapat
pemimpin/atasan dan anggota/bawahan. Setiap bawahan hanya
akan memiliki satu atasan. Bawahan hanya menerima perintah
dari dan bertanggung jawab kepada atasannya. Kesatuan arah
yang berpangkal dari kesatuan visi organisasi akan membawa
seluruh SDM organisasi kepada kesatuan langkah dalam
mewujudkan tujuan organisasi.
3. Pembagian Kerja. Langkah-langkah konkrit yang telah
ditetapkan guna mencapai tujuan organisasi selanjutnya perlu
di bagi dalam beberapa kelompok aktivitas, sehingga setiap
bagian atau unit kerja mengetahui secara jelas wewenang dan
tanggung jawab yang diembannya. Agar berjalan dengan baik,
pembagian kerja harus memenuhi syarat “the right man on the
right job or place.” Melalui penempatan SDM yang sesuai
dengan bidang dan keahlian masing-masing, akan mendorong
tercapainya efesiensi kerja.
Tugas khusus perlu diuraikan sesuai kondisi khusus
usaha masing-masing, misalnya jenis teknologi yang dipilih,
ukuran usaha, ciri khusus calon pemakai produk, keterkaitan
dengan perusahaan induk atau perusahan lain, posisi usaha
dalam rangkaian industri hulu dan hilir dan sebagainya.
4. Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab.
Melimpahkan sebagian wewenang, fungsi dan
tanggungjawab kepada orang/staff yang terlibat dalam sebuah
organisasi merupakan langkah efektif dalam mencapai tujuan
perusahaan dan organisasi. Dengan demikian pekerjaan tidak
menumpuk hanya pada beberapa orang saja akan tetapi bisa
merata. Tentu saja dengan berpedoman pada aturan organisasi
dan berprinsip the right man on the right jobs. Seorang
pemimpin yang cerdas dan bijaksana akan memanfaatkan serta
menggerakan seluruh sumberdaya yang dimilikinya untuk
diarahkan kepada kepentingan bersama.
ASPEK PASAR DAN PEMASARAN
Aspek pasar dan pemasaran merupakan hal yang sangat penting
untuk di analisa dalam membangun dan atau mengembangkan usaha.
70 | K E W I R A U S A H A A N
Aspek ini sebagai titik tolak penilaian apakah suatu usaha akan dapat
berkembang, tetap seperti saat didirikan atau bahkan cenderung akan
mengalami penurunan. Pada tahap ini besarnya permintaan produk serta
kecenderungan perkembangan permintaan yang akan datang selama
usaha yang dijalankan perlu dianalisis dengan cermat. Tanpa perkiraan
jumlah permintaan produk yang cermat dikemudian hari usaha dapat
terancam yang disebabkan karena kekurangan atau kelebihan
permintaan. Kelebihan maupun kekurangan permintaan akan
menyebabkan usaha tidak dapat beroperasi secara efisien. Tidak sedikit
suatu usaha yang berjalan tersendat-sendat hanya karena permintaan
produknya jauh lebih kecil dari perkiraan, ataupun karena sebelum
mengembangkan usaha tidak dilakukan analisis perkiraan permintaan.
Kekurangan permintaan produk mengakibatkan mesin dan peralatan
bekerja di bawah kapasitas, jumlah karyawan yang berlebihan,
organisasi perusahaan tidak sepadan sehingga beban biaya menjadi
berat. Oleh karena itu maka aspek pasar dan pemasaran menjadi sangat
penting untuk diperhatikan.
Dalam aspek pasar dan pemasaran, paling tidak harus dapat
memberikan gambaran sebagai berikut:
1. Informasi produk atau jasa yang akan dijadikan benchmark
bagi rancangan produk/jasa yang akan dijual.
2. Jenis pasar yang akan dipilih, baik dari sisi produsen maupun
konsumen (pasar industri, pasar penjual kembali, pasar
pemerintah), serta menentukan strategi dan kebijakan yang
akan dijalankan.
3. Informasi pergerakan permintaan konsumen akan produk yang
dijual serta pergerakan kemampuan produsen dalam
menawarkannya di pasar. Dalam menentukan pergerakan
permintaan konsumen, perlu dianalisis mengenai Product Life
Cycle (PLC) dari produk sejenis yang dibuat, sehingga dapat
menentukan strategi yang paling tepat.
4. Bagaimana proyeksi permintaan produk dimasa mendatang,
dan seberapa besar bagian pasar yang dapat diraih.
5. Informasi tentang pangsa pasar (market-share) produk-produk
sejenis yang dianggap sebagai pesaing baik saat ini maupun
perkiraan kedepan.
Dari segi pemasaran, usaha diharapkan beroperasi secara sehat,
produk yang dihasilkan mampu mendapat tempat di pasar serta dapat
menghasilkan penjualan yang memadai dan menguntungkan. Untuk
K E W I R A U S A H A A N | 71
memahami gambaran seberapa jauh usaha yang direncanakan
memenuhi persyaratan tersebut, perlu terlebih dahulu dipahami konsep
pasar dan pemasaran serta unsur-unsur pasar yang perlu dikaji.
a. Konsep Pemahaman Pasar
Sebelum mengkaji aspek pasar dan pemasaran, serta untuk
memudahkan dalam memahami aspek pasar dan pemasaran, perlu
dipahami terlebih dahulu konsep pasar dan pemasaran. Secara
umum, alur pikir dalam penyusunan aspek pasar dan pemasaran
dimulai dari rencana pengembangan usaha. Pengembangan usaha
dapat diarahkan dalam rangka meningkatkan omset atau volume
penjualan dan atau untuk meningkatkan efisiensi. Peningkatan
omset penjualan dapat dicapai melalui pilihan strategi bisnis, yaitu
penetrasi pasar (produk baru dengan pasar lama), pengembangan
pasar (produk lama dengan pasar baru), pengembangan produk
(produk baru dengan pasar lama) dan diversifikasi produk (produk
baru dengan pasar baru). Sementara peningkatan efisiensi dapat
dilakukan antara lain melalui penghematan penggunaan biaya
modal.
Setelah ditetapkan rencana usaha yang akan dikembangkan,
selanjutnya dilakukan analisis pasar untuk mengetahui kelayakan aspek
pasar. Hasil yang diinginkan adalah sampai seberapa besar potensi dan
peluang pasar yang tersedia serta risiko-risiko pemasaran apa yang
mungkin muncul apabila rencana usaha tersebut dapat
diimplementasikan. Hasil tersebut diharapkan sebagai bahan untuk
menyusun target penjualan dan strategi pemasaran yang akan
dikembangkan. Strategi pemasaran adalah marketing mix, yaitu
kombinasi antara kebijakan mengenai produk, tempat, harga dan
promosi yang disesuaikan dengan kajian risiko pemasaran dan target
penjualan yang diinginkan.
Potensi dan peluang pasar dapat diketahui melalui kajian pasar
yang ada saat ini (efektif) dan pasar potensial. Pasar efektif saat ini,
antara lain dapat diketahui melalui identifikasi mengenai jumlah dan
karakteristik pelanggan, volume penjualan yang ada, tingkat dan
perkembangan harga, cara pembayaran, tingkat persaingan pada
pelanggan yang sama, kontinuitas penjualan, time delivery, permintaan
yang belum terpenuhi serta faktor lainnya yang mempengaruhi potensi
pasar efektif. Pada umumnya sumber informasi untuk mengkaji pasar
efektif berasal dari data primer (pengusaha dan pihak terkait lainnya).
Adapun pasar potensial, antara lain dapat dikaji melalui data
makro permintaan seperti ekspor, impor, konsumsi dalam
72 | K E W I R A U S A H A A N
negeri/regional, perkembangan produk subsitusi, hambatan-hambatan
pemasaran yang bersifat kebijakan dan non-kebijakan, seperti monopoli
(entry barrier), pangsa pasar (market share), serta faktor lainnya yang
mempengaruhi pasar potensial. Pada umumnya sumber informasi untuk
mengkaji pasar potensial berasal dari data sekunder dari
lembaga/instansi terkait.
b. Unsur Pasar dan Pemasaran
1. Produk
Gambaran produk lebih ditekankan pada produk yang
ada atau pengembangannya. Ada dua hal yang menyangkut
gambaran dari produk, yang perlu disajikan yaitu spesifikasi
dan keunggulan produk. Spesifikasi produk, antara lain
ukuran, karakteristik, mutu, kemasan dan ciri khas dari produk
tersebut. Sedangkan keunggulan produk di pasar dapat dilihat
dari harga produk, jenis dan mutu produk, jangkauan
pemasaran produk, dan kemampuan bersaing produk. Secara
lebih rinci.
2. Target pembeli
Target pembeli yang perlu dikaji meliputi pembeli yang
ada dan calon pembeli yang potensial. Target pembeli yang
potensial yang dapat digambarkan adalah sebagai berikut :
a. Pedagang pengumpul. Pedagang ini pada umumnya
berada paling dekat dengan produsen barang atau
jasa usaha yang dikembangkan. Sedangkan
pedagang pengumpul lain yang berskala lebih
besar, umumnya lebih dekat dengan usaha sejenis
yang lebih besar, eksportir dan pedagang antar
pulau.
b. Lembaga pengolah. Di samping posisinya dekat
dengan pedagang pengumpul, tidak jarang
dijumpai posisi lembaga pengolah yang juga dekat
dengan produsen atau usaha yang dikembangkan.
c. Eksportir. Posisi dan fungsi eksportir, tidak jarang
dijumpai pula berada dalam satu tangan atau dalam
satu organisasi dengan lembaga pengolah atau
produsen yang besar.
d. Pedagang grosir/pedagang antar pulau. Untuk
daerah di luar Jawa/Madura, perdagangan bahan
K E W I R A U S A H A A N | 73
baku untuk pasokan industri olah lanjut di Jawa
yang berasal dari luar Jawa, dikuasai oleh para
pedagang antar pulau, yang juga seringkali
merangkap fungsinya sebagai pedagang grosir bagi
barang-barang yang datang dari luar jawa.
e. Pedagang pengecer (pedagang yang terdekat
posisinya dengan konsumen akhir): Posisi
pedagang ini bisa merupakan pasar langsung bagi
produsen. Peranannya sangat penting, mengingat
kelangsungan pasar di tingkat pedagang eceran
yang langsung berhadapan dengan para konsumen,
bisa menciptakan sistem pembayaran atau transaksi
dengan cara konstan.
f. Konsumen akhir. Ada kemungkinan bahwa produk
yang dihasilkan dapat dipasarkan langsung ke
konsumen akhir.
Kajian aspek pasar, harus bisa mengungkap dengan lengkap
mengenai pembeli yang berprospek baik, yang dapat menyerap atau
membeli produk yang dihasilkan, termasuk di dalamnya, informasi
mengenai siapa yang menanggung dan berapa besarnya biaya
transportasi.
3. Permintaan Pasar
Permintaan pasar yang perlu dikaji meliputi permintaan saat ini
(efektif) dan permintaan makro. Permintaan saat ini diukur dengan
penjualan yang ada selama beberapa tahun, misalnya selama tiga
tahun terakhir. Setiap ada kecenderungan naik atau turun, perlu
dijelaskan khususnya yang menyangkut besaran jumlah dan harga
per unit. Dengan demikian kenaikan dan penurunan yang akan
terjadi pada tahun-tahun mendatang sudah dihitung dengan
menggunakan asumsi yang bisa mendekati kebenaran, karena atas
dasar pengalaman-pengalaman tahun lalu, dan pengamatan saat ini
(yang sedang berjalan). Permintaan makro dapat didekati dengan
pendekatan konsumsi masyarakat. Sebagai gambaran, tingkat
konsumsi dihitung dengan cara: total produksi (produksi dalam
negeri dan impor) dikurangi ekspor. Sedangkan permintaan
potensial merupakan perkiraan permintaan makro selama beberapa
tahun kedepan. Perhitungan permintaan tersebut bermanfaat untuk
menghitung pangsa pasar dari produk yang dihasilkan.
74 | K E W I R A U S A H A A N
4. Saluran Distribusi
Dalam aspek pasar dan pemasaran, penggambaran mengenai
aspek saluran distribusi dimaksudkan untuk menyediakan informasi
mengenai bagaimana arus barang yang diproduksi mulai dari titik
produsen sampai ke tangan konsumen. Di dalamnya terdapat unsur
pelaku pemasaran, serta harga pada setiap pelaku dan tingkat pasar
yang bersangkutan.
5. Harga–harga
Struktur harga produk yang dihasilkan dan yang dapat dijual pada
masing-masing saluran distribusi mulai dari titik produsen sampai
dengan titik konsumen akhir perlu digambarkan dengan jelas untuk
mengetahui dan memastikan bahwa harga produk yang dihasilkan
usaha relatif mampu bersaing. Penentuan harga jual dapat
dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu :
a) Pasar lokal dan nasional: Bilamana menyangkut usaha di
tingkat produsen 1 s/d produsen ke-n, maka harga di setiap
tingkat pasar di atas perlu diketahui untuk menurunkan dan
menetapkan berapa besarnya harga di tingkat produsen.
Bilamana usaha sebagai pengolah maka harga adalah harga di
tingkat pasar yang bersangkutan (harga jual di tingkat
pengolah).
b) Pasar ekspor dan sebagai substitusi impor: Bilamana produk
yang dikembangkan adalah produk yang bisa diekspor atau
yang substitusi impor, maka sebaiknya harga yang digunakan
untuk penjualan produk sebagai berikut:
Pasar ekspor
Harga perlu diturunkan dari (minimal) harga Free
on Board (FOB) produk yang bersangkutan.
Kemudian diturunkan lebih lanjut sampai ketingkat
harga dimana usaha berada. Bilamana harga
produk kita ternyata lebih tinggi dari harga jual
yang diturunkan dari harga FOB, maka barang kita
akan sulit untuk dipasarkan.
Pasar substitusi impor
Secara praktis harga di tingkat usaha bisa
diturunkan dari harga barang yang bersangkutan
pada tingkat eceran. Tingkat harga eceran mata
dagangan impor ini digunakan untuk menurunkan
K E W I R A U S A H A A N | 75
harga barang sejenis s/d tingkat usaha yang
bersangkutan. Karena bilamana harga barang yang
diproduksikan usaha lebih tinggi daripada harga
barang sejenis yang diimpor, berarti produk kita
tidak bisa dipasarkan.
Selain harga menurut tingkatan saluran pemasaran tersebut,
perkembangan (trend) harga selama beberapa tahun terakhir juga
penting dipertimbangkan dalam kajian, terutama untuk menghitung
perkiraan penjualan di masa yang akan datang.
6. Peluang Pasar
Peluang pasar yang tersedia dari usaha yang akan
dikembangkan dapat didekati dengan beberapa indikator, antara
lain market share, permintaan saat ini yang belum terpenuhi oleh
pengusaha, dan selisih antara perkiraan permintaan potensial
dengan perkiraan permintaan efektif. Indikator mana yang
digunakan tergantung pada kondisi usaha dan jenis usaha.
Pangsa pasar saat ini dihitung dengan cara membandingkan
antara permintaan saat ini (permintaan efektif) dengan total
permintaan keseluruhan (makro), sedangkan perkiraan pangsa
pasar dihitung dengan cara membandingkan antara perkiraan
permintaan pengusaha dengan perkiraan permintaan potensial
dalam satuan persen. Semakin rendahnya pangsa pasar yang
dikuasai pengusaha dapat memberikan indikasi akan semakin
besarnya peluang pasar yang tersedia atau sebaliknya. Permintaan
pasar yang belum terpenuhi, baik untuk pasar lama (pelanggan)
maupun pasar baru (calon pelanggan) oleh pengusaha dapat
diketahui melalui pengumpulan data primer.
7. Tingkat Persaingan
Permintaan suatu produk harus diperebutkan dengan perusahaan
lain yang sejenis. Oleh karena itu dalam aspek pasar dan
pemasaran, perlu dikaji kemungkinan persaingan produk di masa
mendatang. Dengan jalan membandingkan kekuatan dan
kelemahan produk dan perusahaan pesaing terhadap produk dan
perusahaan sendiri. Disamping itu perlu diperkirakan seberapa
besar (berapa persen) permintaan pasar yang dapat diraih oleh
perusahaan. Jumlah persen tersebut perlu dituangkan dalam
76 | K E W I R A U S A H A A N
perkiraan jumlah penjualan dalam satuan barang dan nilai uang
yang diharapkan dapat diproleh selama periode usaha berjalan.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menilai
produk dan perusahaan pesaing :
a. Perusahaan mana saja yang secara langsung akan
menjadi pesaing utama.
b. Seberapa besar kapasitas produksi pesaing, berapa
besar kapasitas tersebut yang telah dipergunakan
serta adakah rencana peningkatan produksi
perusahaan pesaing.
c. Strategi yang direncanakan untuk peningkatan
kapasitas produksi, misalnya dengan
memperpanjang jam kerja atau dengan perluasan.
d. Bagaimanakah kedudukan perusahaan pesaing
utama di pasar serta berapa besar perusahaan
pesaing dapat menguasai pasar yang ada.
Bagaimanakah perkembangan kedudukan
perusahaan pesaing di pasar selama beberapa tahun
terakhir, mengalami peningkatan atau penurunan.
Hal yang sama perlu dilakukan terhadap konsumen sasaran utama
yaitu :
1) Seberapa jauh mereka telah mengikatkan diri dengan
perusahaan pesaing misalnya dengan kontrak
pembelian jangka panjang.
2) Bagaimana tingkat kesetiaan konsumen utama kepada
produk dan perusahaan pesaing.
3) Selain harga jual apakah produk yang dihasilkan
mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan
produk pesaing.
4) Strategi purna jual yang dilakukan oleh pesaing utama
seperti pemberian diskon, garansi, layanan purna jual,
pengiriman barang yang cuma-cuma dan lainnya.
Sebagaimana telah disebutkan, tingkat persaingan produk di pasar,
dapat didekati melalui perbandingan antara produk yang dihasilkan
dengan produk pesaing. Semakin rendah perbedaannya, dapat
memberikan indikasi semakin ketatnya tingkat persaingan produk di
pasar atau sebaliknya. Selain itu, perlu dicari faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya perbedaan tersebut.
K E W I R A U S A H A A N | 77
8. Risiko Pasar
Risiko pasar merupakan hal yang kritis yang perlu mendapat
perhatian untuk diantisipasi karena sangat menentukan
keberhasilan suatu pemasaran dari produk yang dihasilkan.
Kegagalan pemasaran tidak terlepas dari permasalahan yang ada
seperti : kebijakan pemerintah, perubahan permintaan, perang
harga, pemalsuan, mutu yang rendah, promosi yang kurang baik,
kesalahan dalam merek, kegagalan dalam mengembangkan produk
baru dan masalah distribusi.
9. Target dan Strategi Pemasaran
Target Penjualan
Data atau informasi permintaan dapat digunakan
sebagai dasar penyusunan proyeksi penjualan. Sedangkan
proyeksi penjualan ini akan digunakan sebagai proyeksi laba–
rugi dan proyeksi arus kas dan market share.
10. Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran disusun untuk mendukung pencapaian
perkiraan penjualan serta untuk mengatasi risiko-risiko yang timbul
yang mempengaruhi kegagalan pemasaran. Secara umum, strategi
pemasaran mengikuti konsep marketing mix, yaitu kombinasi
antara kebijakan harga (Price), produk (Procuct), tempat (Place)
dan promosi (Promotion). Penetapan strategi pemasaran akan
berdampak pada biaya pemasaran. Penambahan biaya pemasaran
diharapkan jauh lebih rendah dibandingkan peningkatan
penerimaan, terutama berasal dari penjualan.
ASPEK TEKNIS DAN PRODUKSI
Keputusan investasi yang terkait dengan pendirian usaha dan
pengembangan usaha sudah seharusnya diputuskan berdasarkan
pendekatan pasar (market oriented). Artinya, setiap produk yang akan
dihasilkan sebagai dampak keputusan investasi harus merupakan produk
yang dibutuhkan atau akan menjadi kebutuhan pasar. Dengan demikian,
aspek teknis dan produksi dilakukan apabila berdasarkan aspek pasar
dan pemasaran suatu produk telah dianggap layak. Aspek teknis harus
dipertimbangkan dan diperhitungkan secara tepat karena kesalahan
78 | K E W I R A U S A H A A N
dalam penentuan aspek ini dapat mengakibatkan kegagalan perusahaan.
Selain itu, faktor teknis produksi mempunyai pengaruh besar terhadap
keberhasilan usaha dalam memasarkan hasil produksinya, karena dapat
mempengaruhi harga, mutu, pengadaan bahan baku. Aspek teknis
produksi mencakup unsur-unsur lokasi, tata letak (layout), kapasitas
produksi, proses produksi, penggunaan teknologi dan keadaan
lingkungan yang berhubungan dengan proses produksi.
1. Lokasi
Lokasi perusahaan dapat mencakup 2 pengertian yaitu lokasi
dan lahan pabrik serta lokasi bangunan administrasi perkantoran
dan pemasaran. Namun pada bagian ini hanya menekankan
pembahasan pada lokasi dan lahan pabrik. Pemilihan lokasi pabrik
secara langsung dapat mempengaruhi kelancaran kegiatan usaha
karena berhubungan erat dengan masalah pemasaran hasil produksi
dan biaya pengadaan bahan baku. Oleh karena itu, faktor lokasi
pabrik harus diperhitungkan dan dipertimbangkan secara tepat baik
dari segi ekonomi maupun teknis.
a) Variabel penentu lokasi pabrik
Umumnya pemilihan lokasi pabrik dapat dipengaruhi
oleh beberapa variabel yang dapat digolongkan ke dalam
variabel-variabel utama (primer) dan variabel bukan utama
(sekunder). Namun demikian, penggolongan kedua variabel
tersebut dapat berubah sesuai dengan ciri utama output
usaha. Variabel primer dalam penentuan lokasi pabrik
adalah:
1) Ketersediaan bahan baku
Pemilihan lokasi pabrik yang dekat dengan
sumber bahan baku dilakukan dengan
pertimbangan (1) kemudahan dalam pengangkutan,
(2) harga bahan mentah, (3) volume bahan mentah.
Dilihat dari biaya pengangkutan bahan baku,
apabila jumlah bahan baku yang diangkut jauh
lebih besar daripada bahan jadi sebagai akibat
proses produksi, lokasi usaha yang dekat dengan
bahan baku menjadi lebih menguntungkan.
Misalnya pabrik gula dan pabrik pengolahan kelapa
sawit.
K E W I R A U S A H A A N | 79
2) Daerah pemasaran
Lokasi usaha yang dekat pasar mempunyai
keunggulan dalam pelayanan terhadap konsumen yang
dapat dilakukan dengan lebih cepat, ongkos angkut
barang yang lebih murah dan volume penjualan yang
dapat ditingkatkan. Namun demikian seringkali suatu
usaha yang memerlukan berada dekat daerah pemasaran
harus berjauhan dengan sumber bahan baku.
Letak pasar menjadi pertimbangan utama jika
produk/jasa yang akan dihasilkan adalah termasuk
barang/jasa yang mudah dijangkau oleh pelanggan.
Ditinjau dari segi biaya pengangkutan, apabila biaya
pengangkutan produk menjadi lebih besar dari biaya
pengangkutan bahan baku dalam ukuran yang sama,
selayaknya lokasi usaha yang dekat daerah pemasaran
lebih menguntungkan dari pada dekat dengan bahan
baku. Misalnya pabrik yang menghasilkan barang
konsumsi dan tidak berskala besar dan pabrik yang hasil
produksinya lebih cepat rusak.
3) Ketersediaan tenaga kerja
Ketersediaan tenaga kerja perlu
mempertimbangkan baik dari segi kualitas maupun
kuantitas. Apabila usaha membutuhkan tenaga kerja
dalam jumlah relatif besar (padat karya) sebaiknya
berlokasi dekat dengan pemukiman penduduk.
Demikian pula untuk usaha yang memanfaatkan
keahlian penduduk setempat seperti kerajinan,
hendaknya berlokasi dekat dengan tenaga kerja yang
mempunyai keahlian tersebut.
4) Fasilitas pengangkutan
Ketersediaan fasilitas pengangkutan bertujuan
untuk memudahkan pengangkutan produk ke pasar
sasaran. Ketersediaannya akan sangat membantu dalam
proses pemilihan lokasi karena sasaran produksi adalah
menghasilkan produk yang berkualitas, dibutuhkan oleh
pelanggan dan dapat sesegera mungkin sampai kepada
pelanggan di pasar sasaran. Selain fasilitas
pengangkutan barang jadi, perlu pula dipertimbangkan
ketersediaan fasilitas pengangkutan bahan mentah dan
tenaga kerja.
80 | K E W I R A U S A H A A N
5) Fasilitas listrik dan air.
Apabila usaha yang direncanakan memerlukan
fasilitas listrik dan air, tentu dalam penyusunan studi
kelayakan perlu memperhatikan ada tidaknya tenaga
listrik dan air yang telah tersedia agar tidak perlu
menyediakan sendiri sarana tersebut.
Variabel sekunder dalam penentuan lokasi pabrik antara
lain hukum dan peraturan yang berlaku, iklim dan
keadaan tanah, sikap masyarakat (adat istiadat) dan
rencana perluasan perusahaan.
b) Metode penilaian lokasi
Menurut Drs. Sofjan Assauri dalam bukunya
Management Produksi, metode penilaian lokasi pabrik dapat
dilakukan sebagai berikut :
1). Metode Penilaian Hasil (Values), dilakukan dengan cara
melakukan penilaian terhadap semua faktor yang
dianggap penting dalam penentuan lokasi dan diberikan
bobot penilaian. Lokasi yang dipilih adalah yang
memiliki nilai tertinggi.
2). Metode Perbandingan Biaya (Cost Comparison
Method), dilakukan untuk memilih biaya terendah dari
beberapa lokasi yang memungkinkan. Biaya yang perlu
dipertimbangkan antara lain biaya bahan baku, biaya
bahan bakar serta biaya operasi dan biaya lainnya.
Lokasi yang dipilih adalah yang memiliki total biaya
terendah.
3) Metode Analisis Ekonomi (Economic Analysis Method),
mempertimbangkan hasil analisis biaya ditambah faktor
kualitatif (intangibles) seperti adat istiadat setempat,
masalah lingkungan, sikap masyarakat, perumahan
pegawai dan lain-lain, yang tidak dapat dinilai dengan
uang, tetapi mempunyai nilai yang dapat mempengaruhi
penerimaan usaha atau menambah biaya usaha sebagai
dampak dari lingkungan dimana usaha tersebut
didirikan. Lokasi yang dipilih adalah yang nilai
keseluruhan dilihat dari analisis ekonomi membawa
pengaruh positif.
K E W I R A U S A H A A N | 81
2. Tata Letak (Layout)
Penentuan layout pabrik menyesuaikan dengan sifat produksi
yang direncanakan untuk usaha tersebut. Tata letak yang baik
memungkinkan perjalanan yang harus dilalui dari bahan mentah
sampai barang jadi akan menjadi lebih singkat. Sebaliknya, tata
letak yang buruk membuat perjalanan bahan baku sampai menjadi
barang jadi akan lebih panjang. Hal ini dapat mengakibatkan waktu
kerja yang tinggi sehingga mengakibatkan biaya produksi yang
tinggi dan jumlah produk yang rendah. Menurut Husein Umar
dalam bukunya Studi Kelayakan Bisnis, perencanaan layout dapat
dibedakan antara layout industri manufaktur dengan industri jasa.
a) Layout industri manufaktur
Pengaturan layout perusahaan manufaktur dapat
mencakup 3 jenis tempat yaitu pabrik, kantor dan gudang.
Layout pabrik
Layout pabrik berarti bagaimana penempatan
fasilitas-fasilitas yang dipakai dalam pabrik, seperti
letak mesin, alat-alat produksi, lajur pengangkutan
barang dan seterusnya.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
menyusun layout pabrik, yaitu :
1. Sifat produk yang dibuat. Jelas bahwa
produk yang dibuat berupa benda padat
akan berbeda dengan benda cair dalam hal
layoutnya.
2. Jenis proses produksi. Proses produksi
yang dilakukan dengan proses continuous
berbeda dengan yang intermitten.
3. Jenis barang serta volume produksi yang
dihasilkan.
4. Jumlah modal yang tersedia untuk proses
produksinya.
5. Keluwesan atau fleksibilitas letak fasilitas-
fasilitas untuk mengantisipasi perubahan-
perubahan proses di kemudian hari.
82 | K E W I R A U S A H A A N
6. Aliran barang dalam proses produksi
hendaknya sedemikian rupa sehingga tidak
saling menghambat atau mengganggu.
7. Penggunaan ruangan hendaknya selain
efektif untuk bekerja, hendaknya juga
memperhatikan kesehatan dan keselamatan
kerja.
8. Letak mesin-mesin dan fasilitas lain
hendaknya juga memperhatikan
kemudahan-kemudahan dalam hal
pemeliharaan dan pengawasan.
Penentuan layout pabrik dapat dibedakan ke dalam dua tipe
utama yaitu layout fungsional (layout proses) dan layout produk
(layout garis). Dalam layout fungsional, mesin dan peralatan yang
mempunyai fungsi yang sama dikelompokkan dan ditempatkan
dalam suatu ruang/tempat tertentu. Layout ini digunakan oleh
perusahaan yang berproduksi secara pesanan atau lazim disebut
perusahaan dengan proses produksi intermitten.
Pada layout garis, mesin dan peralatan disusun berdasarkan
urutan dari operasi proses pembuatan produk. Dengan demikian,
dalam layout ini tidak terdapat arus balik jika suatu aliran
pembuatan barang telah sampai pada tahap tertentu. Layout ini
sering digunakan untuk perusahaan yang berproduksi untuk pasar
(produksi massal).
Layout kantor
Tata letak kantor hendaknya disesuaikan dengan
besar/kecilnya investasi dan dirancang dengan
memperhatikan kemudahan dalam berkomunikasi,
fleksibilitas pemakaian ruangan, struktur organisasi
yang diterapkan, serta bentuk layanan yang
dilaksanakan secara rutin.
Layout gudang
Hal-hal utama dalam penyusunan layout gudang
antara lain besar atau kecilnya nilai investasi, dapat
memudahkan aktivitas bongkar muat barang,
memudahkan pengaturan kembali jika jumlah
barang yang disimpan berkurang atau bertambah,
K E W I R A U S A H A A N | 83
dan memperhatikan masalah keselamatan barang di
gudang serta lingkungan dan keselamatan kerja
dalam gudang.
b) Layout industri jasa
Layout fasilitas jasa yang tersedia akan berpengaruh
pada persepsi pelanggan atas kualitas suatu jasa. Jadi,
persepsi pelanggan terhadap suatu jasa dapat dipengaruhi
oleh suasana yang dibentuk eksterior dan interior fasilitas
jasa tersebut, sehingga tata letak dan lingkungan tempat
penyampaian jasa menjadi penting untuk diperhatikan.
3. Kapasitas produksi
Kapasitas produksi adalah jumlah produk yang seharusnya
diproduksi untuk mencapai keuntungan yang optimal, dengan
mengkombinasikan faktor eksternal (market share) yang mungkin
diraih dan faktor internal yaitu usaha pemasaran yang akan
dilakukan serta variabel-variabel teknis yang berkaitan langsung
dengan proses produksi. Dalam penentuan kapasitas produksi,
diperlukan penelaahan dari berbagai aspek agar keputusan yang
diambil sehingga sesuai dengan operasionalnya, antara lain :
a. Permintaan yang telah diketahui terlebih dahulu dalam
perhitungan pangsa pasar (market share).
b. Kapasitas mesin-mesin yang tersedia, apakah cocok dan
mampu memproduksi sesuai kuantitas dan kualitas yang
ditetapkan.
c. Suplai bahan baku, baik jumlah, kontinuitas penyediaan, usia
bahan baku dan fluktuasi harga.
d. Kemampuan finansial dan manajemen, apakah tersedia dana,
baik untuk biaya investasi maupun modal kerja dari usaha
yang direncanakan.
e. Jumlah dan kemampuan tenaga kerja pengelola proses
produksi, apakah cocok dan sesuai dengan keahlian yang
diinginkan untuk menghasilkan produk yang ditetapkan.
4. Proses produksi
Proses produksi perlu diketahui untuk menentukan jenis dan
jumlah mesin yang digunakan maupun harganya dalam rangka
perhitungan biaya investasi, dan juga penentuan berapa jumlah
produksi pada tahun pertama, kedua dan seterusnya sesuai dengan
permintaan pasar dan kapasitas produksi. Selain itu, perlu pula
84 | K E W I R A U S A H A A N
diketahui tentang dampak yang ditimbulkan oleh proses produksi
terhadap lingkungan. Apabila menimbulkan dampak negatif perlu
dipikirkan cara-cara penanggulangannya dan untuk ini
membutuhkan dana yang perlu diperhitungkan.
Sebelum dilaksanakannya proses produksi perlu terlebih dahulu
ditentukan hal-hal sebagai berikut :
a. Penentuan jenis produk atau spesifikasi produk yang hendak
diproduksi.
b. Informasi mengenai jenis dan spesifikasi produk berasal dari
penelitian atau survey pasar.
Jenis produk yang dihasilkan suatu perusahaan terdiri dari jenis
barang yang secara fisik dapat dilihat dan jenis jasa yang secara
fisik tidak nyata tetapi manfaatnya dapat dirasakan dan dibutuhkan
oleh konsumen.
5. Perencanaan produksi
Berdasarkan spesifikasi produk yang hendak dibuat dan jumlah
serta kualitas yang hendak dihasilkan, selanjutnya direncanakan
kebutuhan dan kapabilitas dari faktor-faktor produksi yang tersedia,
antara lain jumlah dan kualitas bahan baku, keahlian dan jumlah
tenaga kerja yang diperlukan, kapasitas mesin yang tersedia, cara
atau teknologi yang akan digunakan, jadwal waktu produksi, dan
lain lain, sebagai berikut :
1) Bahan baku
Dalam penentuan bahan baku perlu dipertimbangkan hal-hal
sebagai berikut:
a) Sesuai spesifikasi bahan baku yang
dipersyaratkan antara lain menyangkut
kualitas bahan baku yang diinginkan,
jumlah, sifat fisika, kimia dan lain-lain.
b) Sedekat mungkin dengan lokasi usaha,
terjaminnya ketersediaan pasokan, harga
relatif murah sesuai dengan kualitas yang
diinginkan, penanganannya mudah dan
lain-lain.
K E W I R A U S A H A A N | 85
2) Mesin dan Peralatan
Penentuan dan pemilihan mesin dan peralatan
dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi dan teknis, yaitu
berhubungan dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk
pengadaan dan penggunaan alat tersebut dan pertimbangan
yang berhubungan dengan sifat teknis peralatan tersebut,
misalnya kesesuaian kapasitas dan kapabilitas mesin dan
peralatan dengan spesifikasi produk yang akan dihasilkan,
perawatan mesin dan peralatan, serta terjaminnya purna jual
(spare part).
3) Tenaga kerja
Jenis, keahlian dan jumlah tenaga yang dibutuhkan
merupakan bagian dari perencanaan produksi. Oleh
karenanya, rekrutmen tenaga kerja sesuai dengan kualifikasi
yang dibutuhkan menjadi hal yang penting untuk
dilaksanakan apabila menginginkan rencana produksi
berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Jenis-jenis tenaga kerja :
a) Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja
yang terikat perjanjian kerja permanen
yang hak-hak dan kewajibannya
diantaranya diatur dalam kesepakatan kerja
bersama antara tenaga kerja dan
perusahaan. Kedudukan mereka cukup kuat
dalam hukum, dimana pengusaha tak dapat
memutuskan hubungan kerja secara
sepihak.
b) Tenaga kerja tidak tetap adalah tenaga
kerja yang terikat perjanjian kerja tidak
permanen (jangka waktu terbatas) yang
memiliki hak dan kewajiban yang terbatas
sesuai perjanjian kerjanya, tidak
sebagaimana tenaga kerja tetap. Umumnya
mereka akan kehilangan hak-hak dan
kewajibannya apabila perjanjian kerja
berakhir, kedudukannya tidak cukup kuat
sehingga dapat dikeluarkan pengusaha
86 | K E W I R A U S A H A A N
dengan mudah (kalau tidak diperlukan
lagi).
c) Tenaga kerja borongan, adalah tenaga kerja
yang menjalankan suatu pekerjaan tertentu
atas perjanjian dengan ketentuan yang jelas
mengenai waktu dan harga pekerjaan.
Hubungan kerja putus saat pekerjaan
tersebut selesai.
4) Cara atau metoda produksi
Penggunaan cara atau metoda produksi yang tepat akan
mengakibatkan proses produksi berjalan secara efisien dan
dengan produktivitas yang tinggi. Hal ini dikarenakan
pilihan cara produksi melibatkan pertimbangan-
pertimbangan teknologi yang akan digunakan (manual, semi
otomatis atau otomatis), keahlian tenaga kerja, tata letak
mesin dan peralatan, waktu dan jadwal kerja yang semuanya
pada akhirnya tergantung pada dana yang tersedia.
5) Penyusunan jadwal kegiatan
Suatu jadwal kegiatan dalam proses produksi adalah
bentuk informasi untuk rencana/realisasi dari awal kegiatan
proses produksi sampai akhir terbentuknya produk yang
dinyatakan dalam waktu yang berurutan. Misalnya jadwal
mingguan atau bulanan.
6. Penggunaan Teknologi (mesin dan peralatan)
Teknologi mempunyai peran penting dalam menentukan
keberhasilan usaha bersaing dalam pemasaran hasil produksinya.
Teknologi yang tepat guna dapat meningkatkan efisiensi kegiatan
usaha sehingga dapat menekan harga pokok per satuan produk.
Spesifikasi dan mutu produk seringkali juga dipengaruhi oleh
teknologi yang digunakan. Di pihak lain, teknologi juga
menentukan jenis, jumlah dan sumber pasokan peralatan produksi
yang akan dipergunakan, sekaligus jumlah anggaran yang
diperlukan.
Berkaitan dengan pemilihan teknologi, biasanya suatu produk
tertentu dapat diproses dengan lebih dari satu cara, sehingga
K E W I R A U S A H A A N | 87
teknologi yang dipilih harus ditentukan dengan jelas. Patokan
umum pemilihan teknologi adalah dengan menetapkan lebih dahulu
seberapa jauh derajat mekanisasi yang diinginkan.
Teknologi yang dipilih hendaknya memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut :
a. mutu, spesifikasi dan jenis produk yang dihasilkan
diterima oleh konsumen
b. menjamin tercapainya kapasitas produksi ekonomis,
tidak menimbulkan kesulitan dalam pengadaan tenaga
teknis dan bahan baku dan pembantu
c. Tidak meningkatkan anggaran pengadaan peralatan
produksi secara berlebihan
d. Pernah diterapkan di tempat lain secara berhasil
e. Tidak menimbulkan dampak lingkungan yang
merugikan masyarakat di sekitar lokasi usaha.
Agar tujuan produksi tercapai, harus didukung dengan
manajemen yang baik. Tanpa manajemen yang baik, bagaimanapun
baiknya prospek dari gagasan usaha yang dilaksanakan, dapat
mengalami kegagalan. Manajemen operasi membicarakan mengenai
bagaimana merencanakan pengelolaan usaha dalam operasinya nanti.
Cakupan manajemen operasi antara lain perencanaan, pengorganisasian,
pengadaan tenaga kerja, pengarahan pekerjaan dan pelaksanaan
pengawasan.
RANGKUMAN DALAM BAB INI :
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu syarat operasional perusahaan
adalah memiliki perijinan usaha. Dengan mempunyai legalitas berarti
usaha kita sudah mendapat pengakuan dari negara.Berarti juga usaha
kita sah dan tidak bertentangan dengan hukum. Menurut Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan
disebutkan “Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan
setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus-menerus dan didirikan,
bekerja serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia dengan
tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba”.
88 | K E W I R A U S A H A A N
Menurut ekonom klasik tujuan perusahaan adalah untuk
memaksimalkan keuntungan (to maximize profit). Sedangkan menurut
George W.England adalah sebagai berikut :
1. Profitability (menghasilkan keuntungan).
2. Productivity (menghasilkan produk dgn kualitas atau jumlah
tertentu).
3. Growth (tumbuh dan berkembang)
4. Employee satisfaction (kepuasan karyawan).
5. Community interest (kepentingan masyarakat).
Menurut undang-undang yang mengatur tentang perusahaan antara
lain mengenai :
a. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
b. Hak Milik Atas Kekayaan Intelektual (Hak Cipta, Merek, Paten)
c. Pengangkutan Darat, Perairan dan Udara
d. Perasuransian
e. Perdagangan Dalam dan Luar Negeri
f. Perkoperasian dan Pengusaha Kecil.
g. Pasar Modal dan Penanaman Modal
h. Hak Jaminan atas Tanah
i. Ijin Usaha dan Pendaftaran Perusahaan
j. Perbankan
k. Perseroan Terbatas
l. Dokumen Perusahaan
m. Kamar Dagang dan Industri, dll.
Manajemen dalam organisasi bisnis dimaksudkan sebagai suatu
proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan bisnis melalui
pelaksanaan empat fungsi dasar: planning, organizing, actuating, dan
controlling dalam pengunaan sumber daya organisasi. Agar suatu
organisasi dapat berjalan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang telah
ditetapkan, diperlukan sejumlah prinsip sebagai pedoman pelaksanaan.
Aspek teknis produksi mencakup unsur-unsur lokasi, tata letak (layout),
kapasitas produksi, proses produksi, penggunaan teknologi dan keadaan
lingkungan yang berhubungan dengan proses produksi.
1. Lokasi
K E W I R A U S A H A A N | 89
2. Tata Letak (Layout)
3. Kapasitas produksi
4. Proses Produksi
5. Perencanaan produksi
6. Penggunaan Teknologi (mesin dan peralatan)
Soal Latihan :
1. Sebutkan Bentuk – Bentuk badan Usaha Yang Anda
Ketahui ?
2. Sebutkan Tujuan dari Pada Perusahaan itu Untuk apa
dalam menjalankan Kegiatannya ?
3. Menurut Ekonomi Klasik atau yang dikenal dengan teori
George W.England Tujuan Usaha itu untuk apa ?
4. Manajemen dalam organisasi bisnis dimaksudkan sebagai suatu
proses (aktivitas) penentuan dan pencapaian tujuan bisnis
melalui pelaksanaan empat fungsi dasar coba Saudara Jelaskan
?
5. berdasarkan aspek pasar dan pemasaran suatu produk telah
dianggap layak. Disamping itu Aspek teknis harus
dipertimbangkan dan diperhitungkan secara tepat karena
kesalahan dalam penentuan aspek ini dapat mengakibatkan
kegagalan perusahaan, Mengapa bisa terjadi Kegagalan Usaha
Coba jelaskan menurut Pendapat Saudara ?
90 | K E W I R A U S A H A A N