The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by vivisulviana, 2021-10-01 01:04:38

DEMI WAKTU GAJAH MADA

DEMI WAKTU GAJAH MADA

Keywords: GENDISSEWU,DEMIWAKTUGAJAHMADA

GENDIS SEWU BERKARYA

DEMI WAKTU GAJAH MADA

Karya Bibit Tim Inti Penulis dan Pendongeng
Dispusip

Imelda Putri Septiya Sari, Levinia Ayla Azzura,
Intan Nuraini, dkk

DEMI WAKTU GAJAH MADA

Penulis : Imelda Putri Septiya Sari,
Intan
Levinia Ayla Azzura,

Nuraini, dkk

Ilustrator : Annisa Kurnia Safitri

Penyunting : Editor PenulisDispusip

Penyunting Akhir : Faradila Elifin dan Vivi Sulviana

Diterbitkan pada tahun 2021 oleh
Tim Penulis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya
Jl. Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya

Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas
partisipasi yang telah diberikan dalam Gerakan
Seribu Mendongeng dan Menulis.

Hak Cipta dilindungi Undang-undang.

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah segala puji bagi Allah
SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya yang
begitu besar, sehingga dapat menyelesaikan
penyusunan e-book ini sebagai bentuk apresiasi
kepada para bibit penulis yang mengikuti Gerakan
Melahirkan 1000 Penulis dan 1000 Pendongeng
(Gendis Sewu) dengan baik dan lancar.

Dalam penyusunan e-book ini, kami
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya
kepada pihak-pihak terkait yang telah membantu,
membimbing, dan mengarahkan kami. Dengan
kerendahan hati, kami menyampaikan terima kasih
sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Ir. Musdiq Ali Suhudi, M.T selaku Kepala Dinas

Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya
2. Imam Budi Prihanto, S.IP, MM selaku Kepala

Bidang Informasi dan Layanan, Kepala Seksi
Informasi dan Layanan Perpustakaan

3. Para Bibit Penulis Gendis Sewu
4. Kapten Tim Penulis
5. Editor Tim Penulis:

a. Tutor Kelas Reguler Tingkat Kecamatan
b. Tutor Kelas Khusus Minat dan Bakat

(MinBak) Tingkat Kota
6. Segenap pegawai Dinas Perpustakaan dan

Kearsipan Kota Surabaya
7. Ilustrator

Kami menyadari bahwa sebuah karya
memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam
penyusunan e-book ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih ada kekurangan kami
mengharap kritik dan saran yang bisa membangun
dari segenap pembaca e-book ini.

Semoga e-book ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya
di Kota Surabaya dan seluruh Indonesia pada
umumnya.

Surabaya, 11 Maret 2021

Tim Penulis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya.

Sambutan

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Pemerintah Kota Surabaya

Kita panjatkan rasa syukur kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya, hanya dengan
kemurahan Nya kita selalu dapat berikhtiar untuk
berkarya dalam ikut serta membangun Kota
Surabaya yang kita cintai.

Kita patut bangga dan memberi apresiasi
pada para Editor Area dengan kesibukaannya
mengurusi agenda kedinasan masih bisa
membimbing para bibit penulis, baik itu dari DIRA
Penulis dan Pendongeng. Terima kasih juga saya
ucapkan kepada para bibit penulis Gendis Sewu
(Gerakan Melahirkan 1000 Bibit Penulis Dan 1000
Bibit Pendongeng), para editor penulis Dispusip,
dan Petugas TBM Kota Surabaya yang telah
bekerja keras membuat karya tulis yang berjudul

DEMI WAKTU GAJAH MADA. Judul e-book yang
diambil dari salah satu karya dalam e-book ini.
Pahlawan disini bukan hanya mereka yang
berjuang di medan perang, namun juga semua
orang yang berjasa dalam hidup kita.

Para bibit penulis Gendis Sewu yang telah
melalui proses sangat panjang dan berjenjang
melalui kelas reguler maupun kelas khusus minat
bakat dalam platform Tempat Menampung Karya
Literasi Masyarakat (TAMAN KALIMAS).

E-book para bibit Gendis Sewu ini sangat
layak dinikmati karena merupakan karya-karya
imajinatif dengan gaya bahasa menarik dan mudah
dipahami oleh anak-anak, serta penuh dengan
pesan moral. Semoga kelak hal ini akan memicu
tumbuh kembangnya budaya literasi untuk berbagai
kalangan usia, terutama di Kota Surabaya.

Saya selaku Kepala Dinas Perpustakaan
dan Kearsipan Kota Surabaya menyampaikan
penghargaan setinggi-tingginya kepada semua
pihak yang terlibat.

Akhir kata, kita semua patut memberi
dukungan secara terus menerus kepada para bibit
penulis Gendis Sewu agar selanjutnya semakin
produktif dalam berkarya.

Surabaya, 16 Agustus 2021
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya,

Ir. Musdiq Ali Suhudi, M.T.

Sekapur Sirih

Kapten Tim Penulis Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya

Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah

SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kami sangat bersyukur atas kehadirat-Nya, hanya

dengan kemurahan Allah SWT, kami dapat

menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis

Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah

e-book kumpulan cerita dengan judul Demi Waktu

Gajah Mada.

E-book Demi Waktu Gajah Mada merupakan

kumpulan karya bibit Tim Inti Penulis dan

Pendongeng Gendis Sewu yang

diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan

Kearsipan Kota Surabaya.

Dari hasil ketekunan para bibit Gendis Sewu

yang didampingi oleh para petugas Taman Bacaan

Masyarakat, dimentori oleh para Tim Inti Penulis,
disunting oleh Editor Area (Dira), dan penyunting
akhir yang semuanya adalah pegawai Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.

Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya yang bernama TAMAN KALIMAS.

TAMAN KALIMAS yang merupakan
singkatan dari Tempat Menampung Karya Literasi
Masyarakat memberikan layanan literasi yang di
dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara
lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran, Taman
Kalimas Karya dan Taman Kalimas Publikasi.

Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih
dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas
berjenjang dari mulai kelas reguler Taman Kalimas
di tingkat kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan
mendapatkan reward naik ke kelas khusus minat
dan bakat setelah itu karyanya akan dibuat e-book
dan dipublikasikan.

Saya mengapresiasi bangga kepada para
bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat

literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif
melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain
membaca juga mampu menulis.

Saya juga mengucapkan terimakasih kepada
Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis Dispusip
yang terdiri dari para tutor kelas reguler di tingkat
kecamatan, para editor area (Dira), para
penyunting akhir hingga e-book ini terselesaikan
secara baik.

E-book adalah jawaban nyata atas kinerja
para Tim Inti Penulis Dispusip yang berkolaborasi
dengan petugas Taman Bacaan Masyarakat Kota
Surabaya.

Membangun kota maka perlu disertai
'membangun' manusia di dalamnya. Tentu tidaklah
mudah, karena awal membangun sering kali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun
begitu, tetap terus 'membangun' karena
'membangun' manusia melalui literasi adalah
sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta
kita Kota Surabaya.
Salam Literasi,

Surabaya, 11 Maret 2021
Kapten Tim Penulis
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya

Vegasari Yuniati

DAFTAR ISI

1. Kena Batunya .............................................. 1

2. Hidup Berdampingan ................................... 9
3. Gajah ........................................................... 11
4. Amazonku.................................................... 12
5. Menilai Dari Hati........................................... 13
6. Hitam Putih Hidup ........................................ 20
7. Akibat Malas Cuci Tangan ........................... 24
8. Mamaku Pahlawanku................................... 30
9. Demi Waktu Gajah Mada............................. 37
10. Tidak Berasa, Tapi Sehat ............................ 45
11. Nyamuk........................................................ 51
12. Generasi Z ................................................... 52
13. Corona di Kampungku ................................. 61
14. Tongkat Sihir Sita......................................... 67
15. Engkle Itu Menyenangkan ........................... 73
16. Inovasi Taman Bacaan Masyarakat di

tengah pandemi ........................................... 80
17. Tradisi Sedekah Bumi .................................. 84
18. Bari dan Masker Kesayangannya................. 87

19. Sahabat Sejati .............................................. 94
20. Cupang ........................................................ 95
21. Bukan Bule Sebenarnya............................... 96

Gendis Sewu Berkarya 1
Demi Waktu Gajah Mada

KENA BATUNYA

Oleh Imelda Putri Septiya Sari

Namaku Imelda, teman-teman biasa
memanggilku Imel. Pagi ini ada yang berbeda,
karena hari pertama sekolah daring atau sekolah di
rumah. Belum-belum aku sudah merindukan
teman-temanku terutama sahabat dekatku. Aku
mempunyai sahabat yang bernama Reza,
kita dipertemukan pada waktu awal masuk kelas
VII.

Aku juga mempunyai sahabat lain bernama
Kak Tiara, seorang kakak kelas, yang tidak sengaja
bertemu di perpustakaan sekolah. Kita bertiga
sama-sama memiliki hobi membaca. Aku, Reza,
dan Kak Tiara menjadi sahabat sejak saat itu.

Sudah hampir 2 minggu Reza tidak ada
kabar, aku pun berinisiatif dulu untuk
meneleponnya.

Gendis Sewu Berkarya 2
Demi Waktu Gajah Mada

"Assalamu'alaikum. Halo Reza, ini Imel.
Gimana kabarmu?" tanyaku.

"Wa'alaikumsallam, alhamdulilah baik Imel.
Kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Reza.

"Alhamdulillah kabar baik."
"Oh iya Imel, nanti sore ikut aku keluar yuk?"
ajak Reza
"Mau keluar kemana? Kan lagi pandemi.
Enggak berani aku, Za," jawabku.
"Aku mau mengajak kamu latihan basket.
Apaan sih, COVID-19 itu enggak ada!" kata Reza
sedikit kesal.
"COVID-19 itu ada, Za. Virus COVID-19 itu
adalah virus yang sangat kecil, tidak terlihat oleh
kita sebagai manusia dan kita juga tidak tau
dimana saja tempat yang ada virus COVID-19 ini.
Jadi kita harus berhati-hati dan menjalankan
protokol kesehatan yang sudah ditetapkan
pemerintah," jelasku

Gendis Sewu Berkarya 3
Demi Waktu Gajah Mada

"Tau lah, terserah kamu. Kalau enggakmau,

ya udah," ucap Reza sambil menutup telepon

dengan marah.

Tak lama kemudian, aku mengambil HP

untuk menelepon Kak Tiara.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi

wabarakatuh, Kak Tiara," sapaku

"Wa'alaikumsallam warahmatullahi

wabarakatuh, iya kenapa Mel?" tanya Kak Tiara

"Aku tadi telepon Reza, Kak. Terus dia mau

ngajakaku keluar. Padahal kan lagi pandemi, aku

masih takut kalau mau keluar. Dia juga

enggak peduli dengan protokol kesahatan, Kak.

Waktu aku kasih nasihat, dia malah marah,"

jelasku.

"Oh iya, aku juga tadi sempat mau diajak

keluar juga sama Reza tapi aku tidak mau," ucap

Kak Tiara

"Aduh, Kak. Gimana caranya, ya kita bisa

menasihati Reza?" tanyaku pada Kak Tiara.

Gendis Sewu Berkarya 4
Demi Waktu Gajah Mada

“Aku juga enggak tau, Mel. Reza anaknya
agak keras kepala soalnya,” kata Kak Tiara.

“Iya sih, semoga aja nanti dia sadar ya,
Kak,” harapku.

Kak Tiara mengamini harapanku sambil
menutup telepon. Tak lama kemudian, aku
mengirim pesan ke grup sahabat kami di
Whatsapp.
Assalamu'alaikum, halo semuanya. Gimana kabar
kalian?
Wa'alaikumsallam, Alhamdulillah.
Gini ya, Imel mau mengingatkan. Sekarang kanlagi
pandemi, kalian jangan keluar rumah jika tidak
penting ya. Kita juga harus menaati protokol
kesehatan dengan 3M, yaitu mencuci tangan,
menjaga jarak, dan menggunakan masker.

Tapi sayang hanya Kak Tiara yang
merespon nasihatku. Reza tidak memberikan
respon apa-apa. Sejak saat itu, Reza mulai
menjauh dariku dan Kak Tiara. Dia tidak pernah
membalas pesan dariku dan Kak Tiara.

Gendis Sewu Berkarya 5
Demi Waktu Gajah Mada

***
Hari ini pun aku tetap berusaha
menghubungi Reza, tapi Reza tetap tidak
mengangkat teleponku. Akhirnya aku menelepon
Mamanya Reza.
"Assalamu'alaikum. Halo, Tante. Ini Imel,
temennya Reza. Maaf menganggu waktunya
sebentar. Imel mau tanya tentang kabarnya Reza.
Reza selama ini dimana dan bagaimana kabarnya?
Sudah lama tidak mendengar kabar dari Reza?"
tanyaku.
"Wa'alaikumsallam. Kabar Reza sekarang
tidak baik, Nduk. Reza positif COVID-19. Saat ini
Reza sedang melakukan isolasi mandiri di rumah.
Dia juga tidak mau dihubungi siapa pun karena dia
masih shock. Sama Tante juga dia jarang ngobrol,
dia jadi lebih pendiam sekarang," jelas Mamanya
Reza.
"Astagfirullah, aku baru tahu Tante.
Pantesan aku telepon tidak pernah diangkat. Ya
udah, Tante terima kasih. Aku doakan semoga

Gendis Sewu Berkarya 6
Demi Waktu Gajah Mada

Reza lekas membaik. Aku titip salam, ya Tante

buat Reza. Kalau sudah baikan bisa menghubungi

aku lagi. Aku kangen sama dia," pintaku.

"Iya Nduk, terima kasih banyak atas doanya.

Nanti Tante sampaikan ke Reza," kata Mamanya

Reza.

"Iya Te, sama-sama," ujar aku sambil

menutup telepon.

***

Suatu hari, tanpa diduga, tiba-tiba Reza

meneleponku.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi

wabarakatuh, Imel," sapa Reza.

"Wa'alaikumsallam warahmatullahi

wabarakatuh, apa kabar, Za? Aku kangen banget

sama kamu," ucapku.

"Alhamdulillah sudah mulai membaik, Mel.

Jadi nasihatmu ada benarnya juga, Mel," kata

Reza.

"Kenapa emangnya?" tanyaku.

Gendis Sewu Berkarya 7
Demi Waktu Gajah Mada

"Jadi aku merasa bersalah karena tidak
mendengarkan nasihatmu. Sekarang aku sadar
bahwa selama pandemi COVID-19 ini kita harus
mematuhi protokol kesehatan. Aku minta maaf, ya
karena sudah menjauhi kamu dan Kak Tiara," kata
Reza menyesal.

"Iya enggak apa kok, aku sudah
memaafkanmu. Kak Tiara juga. Tapi jangan
diulangi lagi, ya," pintaku

“Iya siap bos,” kata Reza sambil bercanda.
Alhamdulillah, Reza telah sembuh dan
menyadari kesalahannya. Reza berkata padaku
dari kejadian kemarin dia belajar sesuatu. Apabila
ada orang yang menasihati kita harus
mendengarkannya. Karena bisa jadi itu adalah
bentuk kepedulian mereka. Jangan keras kepala
dan egois karena bisa jadi nasihat itu ada
benarnya. Terlebih lagi bisa jadi kita kena
batunya.
Masa pandemi ini mengajarkan kita untuk
saling menjaga dan mengingatkan, agar bisa

Gendis Sewu Berkarya 8
Demi Waktu Gajah Mada

bertahan di masa yang sulit ini dengan baik. Sejak
saat itu persahabatan kami semakin dekat, kita
menjadi saling peduli dan mengingatkan orang-
orang terdekat kita pentingnya disiplin dalam
menerapkan protokol kesehatan.

Gendis Sewu Berkarya 9
Demi Waktu Gajah Mada

HIDUP BERDAMPINGAN

Oleh Levinia Ayla Azzura

Aku berdiri di tengah-tengah pohon yang menjulang
Kelopak bunga yang bergoyang-goyang
Burung-burung yang berkicau ramah
Dan capung yang menari-nari
Suara air bergemericik menggoda telingaku
Kubiarkan kakiku menyatu dengan aliran air sungai
yang deras
Ikan melewati kakiku seakan menitip pesan
Untuk menjaga mereka, tumbuhan dan satwa
Aku yang berjalan, kamu yang terbang, dia yang
menjulang
Aku yang mendaki, kamu yang melata, dia yang
merambat
Kita hidup berdampingan
Bersama, bertumbuh, berkembang, menyatu
menjadi alam
Kami manusia akan terus memperbaiki diri
Menjaga, merawat dan berbagi
Agar tetap dapat hidup berdampingan

Gendis Sewu Berkarya 10
Demi Waktu Gajah Mada

Hidup saling melindungi, hidup saling melengkapi

Gendis Sewu Berkarya 11
Demi Waktu Gajah Mada

GAJAH

Oleh Intan Nuraini

Gajah .......
Kau hewan terbesar di dunia
Kau hewan yang langka
Kau diburu oleh manusia
Untuk diambil gadingnya
Gadingmu sangatlah mahal
Karena gadingmu
Banyak kegunaannya
Di tempat yg luas
Di hutan belantara
Di antara rerimbunan pohon yang ada
Kau tumbuh dan berkembang
Aku ingin ...
Kau tetap dan selalu ada
Tak ada lagi perburuan liar
Tak ada lagi perburuan gading
Aku dan teman-temanku akan selalu menjagamu

Gendis Sewu Berkarya 12
Demi Waktu Gajah Mada

AMAZONKU

Oleh Jihan Aqila Kholidiyah

Di ujung benua ia membentang
Memamerkan pepohonan yang tinggi menjulang
Hewan-hewan pun bersenandung riang
Namun, kini Amazonku membara
Pohon-pohonku berkobar
Hewan-hewanku sengsara
Paru-paru duniaku terengah-engah
Jutaan manusia menjadi serakah
Menghancurkan Amazonku
Demi pundi-pundi belaka
Tak seharusnya mereka lupa
Amazonku lebih berharga

Gendis Sewu Berkarya 13
Demi Waktu Gajah Mada

MENILAI DARI HATI

Oleh Putri Azizah

Pagi hari aku diantar Ayah ke sekolah untuk
mengikuti KTS (Kegiatan Tengah Semester).
Disana aku menunggu teman-teman untuk naik ke
bemo. Tanaya, Puput, Istiana dan Kinanthi datang
lalu naik ke bemo. Aku dan teman-teman di sana
masih menunggu satu anak bernama Roby. Roby
kulitnya hitam, rambutnya agak bergelombang.
Roby termasuk anak nakal.

Setelah Roby datang, semua bemo pun
diberangkatkan. Tujuan pertama kita adalah kantor
pos. Kakak-kakak disana cantik dan ganteng
wajahnya. Ada satu pemandu bernama Om
Lesung. Dia sangat lucu dan seru. Ada games
joget, bagi siapa yang mau maju ke depan, akan
mendapat hadiah. Aku, Tanaya, Puput dan Istiana
tidak mau ikut games karena harus joget-jogetdi
depan teman-teman.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke tujuan
berikutnya, yaitu Atlantis. Disana sangat indah

Gendis Sewu Berkarya 14
Demi Waktu Gajah Mada

pemandangannya dan seru. Atlantis adalah
wahana bermain di dekat Pantai Kenjeran. Ada
kolam renang dan banyak permainan air. Nah, kami
disana juga akan berenang dan bermain air. Tapi,
sebelum berenang kita harus berbaris dan
mendengarkan pemandu yang menjelaskan
beberapa peraturan.

Setelah berbaris dan mendengarkan
pengarahan, kami pun berenang. Sebenarnya, aku
tidak bisa berenang. Aku minta diajari Tanaya.

“Tanaya, aku belum bisa berenang,” ujarku
pelan pada Tanaya.

“Aku akan ajari kamu ya, Put,” kata Tanaya.
Sedikit-sedikit aku pun bisa berenang. Aku
juga tidak takut bermain seluncur air.
“Makasih, ya Tanaya,” kataku.
Tanaya hanya tersenyum dan
mengacungkan jempol. Kami pun menghampiri
teman-teman yang lain untuk bermain seluncur air.

Gendis Sewu Berkarya 15
Demi Waktu Gajah Mada

“Put, ayo kita naik duluan. Naiknya jangan
banyak anak, takut jebol seluncurnya,” kata
Kinanthi bergurau.

“Kamu nih ada-ada aja, Kinan,” jawabku
sambil tertawa.

Kami pun berenang dan bersenang-senang.
Tidak terasa waktu berenang pun usai. Kami
disuruh Bu Ita untuk mandi. Bu Ita adalah guru di
kelasku.
“Ayo anak-anak semua mandi lalu makan
ya,” seru Bu Ita.
Kami pun bergegas mandi dan
membersihkan diri. Aku tidak tahu letak kamar
mandinya di sebelah mana.
“Bu Ita, kamar mandinya di sebelah mana?”
tanyaku.
“Lurus saja, kamar mandinya ada di pojok,”
jawab Bu Ita.
Aku dan Tanaya pun menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, kami memilih
ruangan dan langsung masuk. Aku memilih yang

Gendis Sewu Berkarya 16
Demi Waktu Gajah Mada

ada gantungan baju di dalamnya. Namun, ternyata
pintu kamar mandi yang kupilih tidak bisa ditutup.
Aku pun panik dan segera keluar.

Saat aku keluar, aku bertemu Puput. Ia
menawarkan untuk bergantian kamar mandi
dengannya. Aku pun mau dan menunggu Puput
selesai mandi.

Kami pun selesai mandi dan membeli
makanan. Aku mencari dompetku. Aku ingat sudah
memasukkan dalam tas. Tapi kenapa tak
kutemukan dompetku. Aku panik dan membongkar
isi tas.

“Cari apa, Put?” tanya Tanaya.
“Dompet. Kok enggak ada, ya,” jawabku.
“Loh, kamu letakkan dimana tadi?” tanyanya.
“Di dalam tasku,” jawabku.
Tanaya pun membantuku mencari tapi
dompetku tak juga ditemukan. Aku pun menangis,
karena takut dimarahi Ibu nanti kalau dompet
hilang.

Gendis Sewu Berkarya 17
Demi Waktu Gajah Mada

“Kenapa Putri?” tanya Bu Ita
menghampiriku.

“Dompet saya hilang, Bu,” jawabku.
Bu Ita pun meminta bantuan pihak
keamanan untuk mencari dompetku. Lalu Roby pun
datang menghampiri Bu Ita.
“Bu Ita, apa ini dompetnya Putri?” tanya
Roby sambil menyerahkan sesuatu.
Aku pun menoleh dan benar itu dompetku
yang hilang. Aku pun bertanya dimana Roby
menemukannya.
“Aku temukan di depan kamar mandi
perempuan. Mau aku laporkan ke pihak keamanan,
tapi aku dengar dompetmu hilang, jadi kubawa
kesini dulu,” jawabnya.
Aku pun berterima kasih pada Roby. Aku
merasa bersalah padanya karena selalu
menganggap Roby adalah anak nakal. Padahal
Roby adalah anak yang baik. Jika Roby anak nakal,
pasti dompetku tidak dikembalikan.

Gendis Sewu Berkarya 18
Demi Waktu Gajah Mada

“Terima kasih ya, Rob. Kamu sudah
membantuku menemukan dompet yang hilang,”
kataku dengan tulus.

Roby pun mengangguk.
“Aku juga mau minta maaf, ya selama ini aku
selalu berpikiran buruk tentangmu. Kukira kamu
anak nakal karena suka mengganggu teman-
teman,” ujarku pelan.
“Hahaha ....,” Roby hanya tertawa.
“Kenapa kok kamu tertawa? Emang
ucapanku lucu, ya?” tanyaku.
“Eh, enggak gitu. Maksudku, sudah banyak
yang ngomongkalo aku ini suka gangguin teman-
teman. Padahal aku tidak pernah mengganggu,
mereka hanya sedang bercanda denganku. Dan
aku membalas candaan mereka dengan suara
yang keras, makanya banyak yang mengira aku
mengganggu,” jawabnya.
“Oh, begitu Rob. Iya kamu suka mendorong-
dorong badan teman, kaya mau berantem. Jadi
kukira kamu mengganggu mereka,” jawabku malu.

Gendis Sewu Berkarya 19
Demi Waktu Gajah Mada

Ternyata selama ini aku salah mengira.
Roby memang anak yang keras kalau berbicara
dan logatnya tidak lembut. Mungkin karena Roby
dari Medan, jadi intonasi suaranya tinggi seperti
orang bertengkar. Inilah kesalahanku. Menilai
orang dari luarnya saja.

Gendis Sewu Berkarya 20
Demi Waktu Gajah Mada

HITAM PUTIH HIDUP

Oleh Rani Edila Susilowati

Namanya Nadia, dia terlahir dari keluarga
yang sangat istimewa. Walau terkadang orang-
orang memandang keluarganya dengan sebelah
mata dan sering menghina keluarganya. Namun,
dia tidak menghiraukan hal itu, karena baginya
dengan terlahirnya dia di dunia ini sudah membuat
dirinya merasa paling beruntung di dunia. Dia yakin
bisa menjadi pribadi yang baik.

Saat Nadia beranjak dewasa pikirannya
mulai tertuju pada hal yang membuat dirinya
merasa bersalah karena melihat keadaan keluarga
yang hidup sederhana dan banyak kekurangan.
Semua itu membuatnya merasa sedih. Nadia
pernah mendengar sepupunya berkata bahwa saat
ia lahir, disitulah keluarganya mulai mengalami
kekurangan dalam segala hal. Mulai dari makan
hanya mie instan sekali dalam sehari.

Gendis Sewu Berkarya 21
Demi Waktu Gajah Mada

Nadia menganggap dirinya hanyalah beban
keluarga. Hingga pada suatu hari Nadia
menceritakan hal ini kepada sahabat terbaiknya.

“Put, apakah kamu pernah menyesal dengan
kelahiranmu?” tanya Nadia

“Kenapa harus menyesal Nadia?” jawab
Putri sahabat Nadia

“Saudaraku pernah berkata bahwa semenjak
aku lahir hidup keluargaku menjadi susah,” jelasku.

“Itu tidak benar Nadia. Itu hanya mitos,” Putri
berusaha menghilangkan keraguan Nadia.

Putri meringankan beban pikiran Nadia
dengan cara menasihatinya tentang hidup di dunia
yang penuh dengan rintangan. Putri juga bercerita
kepada Nadia tentang orang tuanya yang dengan
sengaja menitipkan dia di panti asuhan. Putri juga
pernah berpikir bahwa kelahirannya tidak
diinginkan kedua orang tua. Namun, dia berusaha
untuk bersyukur dan menerima semua dengan
tabah.

Gendis Sewu Berkarya 22
Demi Waktu Gajah Mada

Mendengar penjelasan dan cerita dari
sahabatnya, hati Nadia sedikit lega. Ternyata tidak
hanya dirinya yang memiliki perasaan seperti ini.

Nadia memang hidup dan tumbuh diantara
keluarga yang sederhana. Tidak hanya masalah
kelahirannya, tetapi juga kondisi ekonomi membuat
keluarga Nadia tidak pernah dihargai, bahkan
sering jadi bahan omongan tetangga. Sesekali
Nadia dan keluarganya juga pernah difitnah dengan
hal yang tidak pernah dilakukan.

Nadia memiliki keluarga kecil yang sangat
bahagia. Semua sangat menyayangi Nadia,
terutama Ibunya. Ibu Nadia selalu menasihati Nadia
untuk tidak dendam dan tidak mendengarkan
ucapan orang yang menghinanya. Ibu selalu
berpesan agar selalu sabar dan tabah. Tidak perlu
membalas, cukup doakan saja yang terbaik untuk
mereka. Nasihat Ibu membuat Nadia akhirnya
sadar bahwa masing-masing orang pasti punya
masalah dan rintangan yang menjadikan untuk
tetap bersyukur dan menerima dengan ikhlas.

Gendis Sewu Berkarya 23
Demi Waktu Gajah Mada

Kita sebagai manusia tidak perlu dendam
atau menyesali apapun yang terjadi pada diri kita.
Di balik itu semua pasti ada hikmah yang akan
dipetik. Seperti halnya Nadia dan keluarga. Mereka
memetik hasil dari kesabarannya.

Setelah melewati 7 tahun dengan keadaan
perekonomian yang susah dan rintangan yang
bertubi-tubi, kini Nadia dan keluarganya hidup
bahagia. Usaha Ibu Nadia yang membuka warung
makanan menjadi sukses. Kesabaran dan
ketabahan menjadi kunci yang selalu diingat oleh
Nadia saat dirinya merasa bingung dan sedih.

Setiap orang pasti mengalami hitam putih
hidup. Teruslah berpikir positif, selalu percaya diri.
Jangan putus asa dan yang terpenting adalah
selalu beribadah dan bersyukur kepada Allah
untuk semua hal yang terjadi pada diri kita.

Gendis Sewu Berkarya 24
Demi Waktu Gajah Mada

AKIBAT MALAS CUCI TANGAN

Oleh Muhammad Irysad Aminuddin

Pada siang hari, aku bermain dengan
teman-temanku. Ada Doni, Sultan, Andi, dan Musa.
Mereka semua adalah sahabatku. Aku dan teman-
teman selalu bermain di sekitar sekolah.

Sebelum berangkat bermain, aku
berpamitan pada Ibu.

“Ibu, apakah aku boleh bermain dengan
temanku?” tanyaku kepada ibu.

“Siang begini kok kamu bermain Nak,”
tanyaIbu kepadaku.

“Aku bosan di rumah. Aku ingin bermain,
Bu,” jawabku.

“Sekarang musim pandemi. Jangan keluar
untuk sementara waktu,” tegas Ibu.

“Aku keluar hanya sebentar saja kok. Boleh,
ya Bu? Aku mohon,” rayuku kepada Ibu.

“Tetap saja tidak boleh, Nak. Ibu khawatir
jika kamu sakit,” tegas Ibu.

“Yaaah Ibu,” jawabku dengan sedih.

Gendis Sewu Berkarya 25
Demi Waktu Gajah Mada

Lalu aku menghubungi teman-temanku
dengan video call melalui Whatsapp.

“Hallo teman-teman. Aku tidak boleh keluar
bermain oleh Ibu. Jadi bagaimana?” tanyaku
kepada mereka.

”Yaaah. Padahal kita semua ingin bermain,”
jawab Sultan dengan sedih.

“Bagaimana kita bermain secara diam-
diam?” kata Doni.

“Aku tidak berani kawan,” tegasku.
“Kamu coba saja Syad,” bujuk Andi.
“Baiklah. Akan aku coba. Nanti kalian tunggu
di depan pos seperti biasanya, ya,” ucapku.
“Oke,”sorak mereka serentak.
Akhirnya aku memutuskan untuk bermain
secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu. Aku
melihat kamar Ibu, ternyata Ibu sedang tidur. Lalu
aku keluar menggunakan sepeda ke pos dekat
sekolahku. Di sana teman-temanku menunggu
kedatanganku.

Gendis Sewu Berkarya 26
Demi Waktu Gajah Mada

“Hai teman-teman. Maaf, ya sudah
menunggu lama,” sapaku.

“Tidak apa-apa. Ayo kita bermain,” kata
Sultan.

Lalu aku dan teman-teman bermain adu
kelereng. Aku menikmati permainan. Hingga aku
dan teman-teman merasa lapar. Kami membeli
makanan yang dijajakan penjual keliling. Aku
membeli bakso dan tahu bakar, sedangkan teman-
teman membeli bakso dan es pop ice,

Ketika akan makan, aku menyuruh teman-
teman untuk mencuci tangan sebelum makan.
Teman-temanku tidak mau mencuci tangan karena
menyusahkan. Aku memaksa mereka untuk
mencuci tangan tetapi tetap saja mereka tidak
mencuci tangan.

“Teman-teman sebelum makan, kita cuci
tangan terlebih dahulu yuk,” kataku.

“Cuci tangan dimana? Kan tidak perlu. Kita
sudah lapar sekali,” keluh Andi.

Gendis Sewu Berkarya 27
Demi Waktu Gajah Mada

“Itu ada tempat cuci tangan di depan TBM,”
jawabku sambil menunjuk tempat cuci tangan.

“Tidak perlu lah cuci tangan,” ketus Sultan.
“Cuci tangan itu penting sekali teman-teman.
Untuk membunuh kuman yang ada di tangan kita.
Ibuku mengajarkan untuk selalu cuci tangan
sebelum dan sesudah makan,” tegasku.
“Baiklah mari kita cuci tangan,” ucap Doni.
“Kalian cuci tangan sendiri saja. Aku tetap
tidak mau cuci tangan karena aku sudah lapar
sekali,” kukuh Andi.
“Hati-hati nanti kamu sakit perut loh.”
kataku.
Selesai cuci tangan, aku dan teman-teman
mulai makan bakso bakar. Bakso bakarnya sangat
enak sekali. Aku dan teman-teman makan dengan
lahap. Selesai makan kita lanjut pulang. Tiba tiba
Andi merasakan sakit perut.
“Aaaaadduuhhhh. Teman-teman perut ku
sakit sekali,” keluh Andi.

Gendis Sewu Berkarya 28
Demi Waktu Gajah Mada

“Mungkin karena kamu makan bakso bakar
pakai sambal,” kata Sultan.

“Tadi aku makan tidak pakai sambal.
Addduuhhh perutku,” keluh Andi lagi.

”Jangan-jangan itu efek kamu tidak cuci
tangan, Ndi.” kata Doni.

“Mungkin saja,” jawab Andi sambil
memegang perutnya yang kesakitan.

Teman-teman mengantar Andi pulang ke
rumahnya. Kami merasa iba melihat Andi
sakit perut. Di perjalanan Andi menangis dan
memegang perutnya. Sesampai di rumahnya, Andi
langsung disambut Ibunya. Lalu Andi dibawa ke
klinik yang ada di dekat rumahnya.

Keesokan harinya aku dan teman-teman
menelepon Andi.

“Halo Andi. Bagaimana kondisi kamu?”
sapaku.

“Iya Andi. Bagaimana kondisi kamu? Kami
semua khawatir,” sahut Sultan.

Gendis Sewu Berkarya 29
Demi Waktu Gajah Mada

“Hai teman-teman. Kondisiku baik-baik saja.
Selesai makan bakso bakar, aku langsung diare
dan kata dokter ada cacing di dalam perut aku.
Aku harus minum obat cacing dan obat diare,”
jawab Andi.

“Semoga kamu cepat sembuh, ya Andi.
Jangan lupa mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan. Benar juga kata Irsyad kemarin.
Kita harus sering rajin mencuci tangan,” imbuh
Doni.

“Iya benar juga kamu. Maaf, ya Irsyad aku
tidak mendengarkan perkataanmu,” kata Andi.

“Iya Andi. Semoga kamu cepat sembuh ya,”
kataku.

“Oke teman-teman. Sudah dulu, yavideo
callnya. Aku mau istirahat,” kata Andi.

“Bye semuanya,” kata teman-temanku.

Gendis Sewu Berkarya 30
Demi Waktu Gajah Mada

MAMAKU PAHLAWANKU

Oleh Ilyas Muti

Siang hari, sengatan sinar matahari
menerobos masuk ke jendela kamarku.
Selimut berantakan tak tentu arah, rambut cepak
acak-acakan. Aku selalu bertemankan bantal dan
guling. Cahaya matahari menerobos masuk tidak
diundang. Aku seakan tertampar oleh cahaya
matahari. Pandanganku tertuju ke arah pintu yang
terbuka. Kulihat kedua adikku telah menonton
televisi program kesukaannya.

“Argh,” gumamku.
Kemudian aku membatin lagi, Setelah ini
Mama pasti akan teriak-teriak.
“Putra! Ayo, bangun. Tidur aja kerjaannya,”
teriak Mama dari ruang tengah sambil berjalan
menuju kamarku.
“Ehm, aku bangun, Mama,” ucapku tak
berdaya saat Mama mendapatiku rebahan di kasur.
“Nak, kamu sudah mengerjakan tugas
daring?” tanya Mamaku yang cantik.

Gendis Sewu Berkarya 31
Demi Waktu Gajah Mada

Aku hanya tersenyum padanya.
“Selalu saja begitu, meskipun di rumah saja,
latihlah disiplin diri. Anggap rumah ini sekolah, Nak.
Segera cuci muka dan kerjakan tugasmu. Oke!”
nasihatnya padaku.
Tempat ternyaman bagiku adalah di dalam
kamar. Aku kerjakan tugasku di dalam kamar.
“Mama, ini bagaimana cara jawabnya? Aku
tidak tahu, Ma," teriakku dari kamar.
“Kebiasaan tidak sopan, kalau bertanya
samperin Mama. Jangan teriak-teriak," ucapnya
sembari menjewer telinga kiriku.
Aku memperhatikan arahan Mama yang
sabar membimbingku. Saat ini Mama adalah
guruku di rumah. Mamaku sayang padaku, meski
terkesan suka berteriak-teriak padaku. Itu semua
karena aku yang selalu rebahan di kamar.
Mengerjakan tugas hingga tak terasa jarum
jam berjalan menuju angka tiga. Terdengar nada
dering handphone berbunyi. Kulihat pesan masuk

Gendis Sewu Berkarya 32
Demi Waktu Gajah Mada

Mas Anton. Handphone yang kugenggam langsung
kubuka.

“Ayo, main game online!”ajaknya singkat
padaku.

Aku selesaikan tugas daringku dulu setelah
itu baru bermain game bersamanya.

“Done,” seruku senang.
Langkah kakiku beranjak dari kasur
kemudian menuju kamar mandi. Mandi biar segar
kalau tidak mandi nanti tidak boleh main.
“Ma, aku sudah mengerjakan tugasku. Aku
mau pamit bermain game online sama Mas Anton,
ya?” pamitku padanya.
Segera aku bergegas ke rumah Mas Anton.
Setelah dia membukakan pagar, kami langsung
menuju ruang tengah. Sembari bermain game, aku
bercerita tentang kegiatan daringku.
“Mas, aku punya tugas menulis, tapi aku
tidak mau mengerjakannya. Tugas sekolah saja
aku mengerjakannya dengan terpaksa,” ucapku
sambil jarinya menyentuh tombol keyboard.

Gendis Sewu Berkarya 33
Demi Waktu Gajah Mada

“Kamu sudah daftar loh dan harus tanggung
jawab,” balas Mas Anton singkat.

“Hah, aku malas,” celetukku mengelak.
“Ya, kerjakan,” nasihat Mas Anton.
“Malas, enak rebahan sambil bermain
game,” ucapku sambil mengunyah permen karet.
“Itu tugas apaan sih?” tanya Mas Anton
penasaran.
“Aku ikut kelas penulisan bibit Taman
Kalimas, Mas,” jawabku.
“Apa itu, Putra?”
“Semacam kelas menulis dari Perpustakaan
Kota Surabaya,” jawabku pelan sambil melanjutkan
permainan.
“Nah, itu bagus. Kerjakan aja. Siapa tahu itu
adalah langkah kamu di masa yang akan datang
seperti karir,” ucap Mas Anton menasihatiku lagi.
Aku berpikir lagi, tapi sulit rasanya
mengerjakan tugas penulisan itu. Magrib
berkumandang, seolah memanggilku untuk pulang.
Mama melihatku dan menyuruh segera cuci kaki

Gendis Sewu Berkarya 34
Demi Waktu Gajah Mada

dan tangan. Setelah itu Mama bertanya tentang
kemajuan kelas penulisanku.

“Apa ada tugas lagi di akun Taman
Kalimas?” tanya Mama perhatian.

“Iya, tapi susah Mama,” jawabku dongkol.
“Kerjakan, Nak,” ujarnya seraya
menghampiriku.

***
Aku malas sekali, selalu saja kesiangan
seperti ini. Walau aku pemalas, aku punya inisiatif
sendiri. Aku tetap kerjakan tugas dari Ibu Guru.
Kemudian aku keluar dengan temanku untuk
bermain sebentar. Setelah selesai bermain, aku
cuci kaki dan cuci tangan langsung beranjak tidur
malam. Ibuku selalu berteriak karena aku selalu
rebahan di kasur. Menurutku Mama tidak
memarahiku, tapi mengingatkanku agar aku tepat
waktu saja.
Mama memotivasi agar aku semangat
belajar, gigih meraih cita-cita, konsisten serta
jangan bermalas-malasan. Beruntung sekali Mama

Gendis Sewu Berkarya 35
Demi Waktu Gajah Mada

mengingatkan dan membimbingku. Beliau
mendukung kegiatanku mengikuti kelas daring
Taman Kalimas. Aku mengikuti kelas daring Taman
Kalimas bersama teman-teman. Kami berempat
berdiskusi bersama membahas materi dibimbing
oleh Kak Santi. Saat itu juga kami melakukan
presensi kehadiran dan mengerjakan tantangan
daring Taman Kalimas.

Mengemban amanah menjadi anak sulung
sangatlah sulit. Aku harus menjadi contoh teladan
kedua adikku. Alhamdulillah sujud syukur. Aku
mendapatkan nilai terbaik di kelas Taman Kalimas
tersebut. Meski susah, ikuti saja prosesnya, nikmati
setiap kesukaran dan kemudahannya sampai
selesai. Ternyata sertifikat yang aku dapatkan bisa
dijadikan sertifikat pendukung external sebagai
pelengkap pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri
batinku sambil duduk di sofa.

Semua keluargaku memelukku erat
kemudian Mama mencium keningku sembari
berucap, “Anak sulung Mama hebat”.


Click to View FlipBook Version