The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by vivisulviana, 2021-10-01 01:04:38

DEMI WAKTU GAJAH MADA

DEMI WAKTU GAJAH MADA

Keywords: GENDISSEWU,DEMIWAKTUGAJAHMADA

Gendis Sewu Berkarya 36
Demi Waktu Gajah Mada

Aku hanya bisa tersenyum lebar, “He … he
… he …,”

Gendis Sewu Berkarya 37
Demi Waktu Gajah Mada

DEMI WAKTU GAJAH MADA

Oleh A’an Faizzatur Rahma

“Ardan…,” suara lembut Bunda membuat
Ardan semakin merapatkan selimutnya. Hawa
dingin dari arah jendela kamar terasa seperti di
pegunungan.

“Ayo Sayang. Sudah siang ini. Kamu belum
salat subuh juga lho..,” lanjut Bunda.

“Ardan sudah salat Bun, tapi tidur lagi…,”
jawab Ardan.

“Kamu kan harus sekolah, Sayang. Ini jam
masuknya udah mepet lho.”

“Daring Bunda. Bisa dikerjakan nanti,” rajuk
Ardan sambil memeluk gulingnya.

“Enggak baik menunda-nunda pekerjaan,
Sayang. Masih ingat dengan kisah Bunda tentang
kebiasaan buruk bangsa Arab ketika masa
jahiliyah?!” bujuk Bunda.

“Ardan enggak menunda, Bun. Ardan cuma
mengerjakan nanti agak siang. Bukan besok.

Gendis Sewu Berkarya 38
Demi Waktu Gajah Mada

Artinya masih hari ini kan,” Ardan memulai jurus
rayuan ke Bunda.

“Alasan aja itu, Bun. Bilang aja males
bangun karena tadi malam begadang nge-game
Roblox,” suara Kak Arsy dari arah pintu kamar.

Ardan yang beda 8 tahun dengan Kakaknya
itu, langsung bangun dari pangkuan Bundanya.

“Kak Arsy, Bun…,” adu Ardan.
“Sudah… sudah. Sana mandi dulu. Masih
pagi ora ilok 1bergaduh terus. Jauh dari rezeki,” ujar
Bunda.
Kak Arsy sedang duduk di kursi belajar dan
memperhatikan penjelasan gurunya secara daring
melalui tablet. Ardan iseng dengan melemparkan
handuk ke arah Kak Arsy. Kak Arsy istigfar
seraya memelototkan kedua matanya.
“Bunda…!!!! Ardan ganggu Arsy….”
Sampai di kamarnya, Ardan langsung
menghidupkan HPnya dan join room meeting class
online.

1 Pamali

Gendis Sewu Berkarya 39
Demi Waktu Gajah Mada

Tak terasa Ardan belajar hampir 4 jam.
Perutnya mulai terasa lapar. Setelah merapikan
buku dan alat tulis di mejanya, serta mengisi daya
baterai handphonenya, Ardan menuju dapur untuk
melihat Bunda yang sedang memasak untuk
makan siang.

Walaupun belajar dari rumah, Ardan tetap
melaksanakan disiplin waktu seperti yang diajarkan
Ayah dan Bundanya.

“Bunda, kupanggil dari tadi enggak jawab-
jawab,” kata Ardan.

“Cuci tangan dulu, Dek,” jawab Bunda.
Ardan tersenyum nakal sambil pergi ke
wastafel di dapur. Kak Arsy sudah duduk di meja
makan dan menikmati menu makan siang.
“Kakak sudah cuci tangan belum, kok sudah
makan duluan, enggak nunggu Ayah?” tanya
Ardan.
“Ayah enggak bisa ikut makan siang,
Sayang. Karena ada meeting penting di kantornya,”
jawab Bunda menjelaskan.

Gendis Sewu Berkarya 40
Demi Waktu Gajah Mada

Kata Ayah, makan bersama berkahnya lebih
besar. Itu filosofi Wong Jowo kata Ayah
yang berasal dari Mojokerto. Ayah juga sering
bercerita kejayaan Majapahit dan kekagumannya
dengan sosok Gajah Mada.

Gajah Mada adalah satu idola Ayah selain
Rasulullah dan para sahabat Nabi. Gajah Mada
adalah sosok mahapatih dari Kerajaan Majapahit
yang mampu menyatukan Nusantara dengan
Sumpah Palapanya. Kegigihan dan manajemen
perang yang dilakukannya menjadi inspirasi bagi
dunia ketentaraan dan kepolisian Indonesia.
Pasukan Bhayangkara menjadi nama kepolisian
Indonesia.

Keberhasilannya dalam melindungi Raja
Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti melalui
proses gerilya di hutan-hutan, membuatnya
diangkat sebagai patih di Daha, Kediri.
Pengangkatan ini membuatnya kemudian masuk ke
strata sosial kalangan istana Majapahit pada saat
itu.

Gendis Sewu Berkarya 41
Demi Waktu Gajah Mada

Selain itu, Gajah Mada, bicaranya tegas,
jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat.
Ucapannya mengandung makna dan hikmah.
Untuk memikirkan negara, ia melakukan laku tapa
supaya menghasilkan keputusan yang terbaik.
Ketajaman berpikirnya dalam politik menyebabkan
Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih atau
perdana Menteri pada masa Raja Hayam Wuruk.

Ketika pengangkatannya sebagai Mahapatih
Amangkubhumi pada tahun 1258 Saka (1334 M),
Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa.
Isinya, ia tidak akan menikmati palapa atau
rempah-rempah sebelum berhasil menaklukkan
Nusantara.

“Yang kebiasaan orang Arab masa jahiliyah,
itu gimana Bun?” tanya Ardan lagi.

“Emang cerita apa sih Bun?” sahut Kak
Arsy.

“Kepo!!” ejek Ardan.
“Emang gue pikirin … wek,” Kak Arsy
menjulurkan lidahnya kepada Ardan.

Gendis Sewu Berkarya 42
Demi Waktu Gajah Mada

Serbet makan melayang ke wajah Kak Arsy
hasil lemparan Ardan.

“Gini. Kalian hafal kan Surat Al-Ashr?” tanya
Bunda.

“Ya tahu lah Bun. Surat tentang pentingnya
waktu,” Kak Arsy menjelaskan.

“Hafal banget Bun. Ardan suka baca ketika
salat, karena bacaannya pendek.. hehe..,” kata
Ardan.

“Rasulullah melihat kebiasaan orang Arab
yang suka duduk-duduk santai membicarakan harta
benda, ternak, perdagangan mereka dan lain
sebagainya. Bahkan lebih sering hal ini berujung
pada pertikaian di antara mereka. Lantas Allah
menurunkan Surat al-Ashr ini. Supaya manusia
menggunakan waktunya untuk hal-hal yang baik
dan bermanfaat. Seperti saling menasihati dalam
hal kebajikan dan kesabaran,” jelas Bunda.

“Oh… begitu to. Jadi seperti Gajah Mada ya
Bun?!” ujar Ardan sambil menganggukan
kepalanya

Gendis Sewu Berkarya 43
Demi Waktu Gajah Mada

“Benar, Nak. Hidup di dunia itu hanya
persinggahan. Gunakan untuk beribadah dalam
arti luas. Tidak hanya salat dan puasa saja. Tapi
juga berbuat baik kepada makhluk Allah,”.jelas
Bunda lagi.

“For tomorrow, I will use my time for my
future, Mam!” seru Ardan, mengangkat tangannya
untuk hormat kepada Bunda.

“Hoax…paling juga sehari dua hari,” ejek
Kak Arsy.

“Sok tahu kakak. Game juga bermanfaat
karena Ardan mau menciptakan game muslim yang
bernilai pengetahuan,” Ardan menepuk dadanya.

“Selama bermanfaat buat dirimu dan orang
lain, Bunda dan Kakak pasti mendukung dan
mendoakannya. Begitu kan Kak Arsy?!” tanya
Bunda.

“So pasti Bunda. Ardan kan adikku
tersayang,” jawab Kak Arsy seraya memeluk dan
menjitak jidat Ardan, lantas berlari.

Gendis Sewu Berkarya 44
Demi Waktu Gajah Mada

“Kakaaaaaakkk….” Ardan mengejar, namun
gagal karena pintu kamar keburu ditutup Kak Arsy.

Semoga kalian senantiasa saling
menyayangi, doa Bunda dalam hati.

Gendis Sewu Berkarya 45
Demi Waktu Gajah Mada

TIDAK BERASA, TAPI SEHAT

Oleh Sofiyani

Pertandingan persahabatan antara SDN
Matahari dan SDN Tambak tinggal beberapa hari
lagi. Pak Doni, guru olahraga mengajak kami
berlatih sore hari sepulang sekolah. Kami sangat
bersemangat dan berharap akan menang,
walaupun hanya pertandingan persahabatan. Aldi
dan Kevin berjanji akan berangkat latihan ke
sekolah bersama. Tak lupa, Aldi membawa botol
minum yang bisa diisi ulang.

“Vin, kamu bawa air kan?” tanya Aldi sambil
mengayun sepedanya.

“Enggak,” jawabnya cepat.
“Lho kok kamu tidak bawa. Kantin kan tutup
kalau sore. Lalu kamu mau minum apa?” tanya Aldi
khawatir.
“Nanti aku beli es di depan sekolah.”
Sesampainya di sekolah, teman-teman
sudah ada yang datang. Pak Doni dibantu salah
satu teman membawa beberapa bola untuk kami

Gendis Sewu Berkarya 46
Demi Waktu Gajah Mada

latihan. Terlebih dahulu, beliau memberikan arahan
dan semangat. Kami pun mendengarkannya
dengan seksama, dilanjutkan dengan pemanasan
dan mengelilingi lapangan sekolah.

Sore ini terasa panas sekali, sehingga Aldi
merasa cepat haus. Namun ini berbeda dengan
apa yang dirasakan Kevin. Aldi menawari dan
membagi minumannya setelah mereka selesai
berlatih.

“Vin, ini minumlah,” sambil menyodorkan
botol minumnya.

“Enggak ah. Air minum kamu tidak berasa
dan juga tidak dingin. Aku mau beli Pop Ice dulu,”
tolak Kevin dan berlalu pergi.

“Minuman manis dan dingin hanya
membuatmu haus, Vin.”

Kevin pun terus berlalu tanpa mendengarkan
perkataan Aldi. Sedangkan Aldi sendiri masih
duduk di bawah pohon dan menikmati semilir
angina sore.

***

Gendis Sewu Berkarya 47
Demi Waktu Gajah Mada

Seminggu kemudian, kelas 5 SDN Tambak
mengadakan Ulangan Tengah Semester (UTS).
Aldi dan Kevin telah belajar bersama sebelumnya.
Mereka berdua sangat yakin akan memperoleh
hasil yang memuaskan. Namun saat ulangan,
Kevin lupa dengan apa yang telah dia pelajari.

“Al … pasti nilai ulanganku jelek deh”
katanya sedih.

“Kok bisa, kita kan sudah belajar dan
mempersiapkannya dari seminggu lalu,” jawab Aldi
santai sambil menikmati bekal makannya di kantin.

“Tiba-tiba aku lupa,” jawab Kevin menyesal.
“Lalu kamu bisa mengerjakan berapa soal
emangnya?” tanya Aldi kaget dan menghentikan
makannya.
“Dua atau tiga soal yang aku yakin bisa
menjawabnya dengan benar,” suara Kevin semakin
mengecil.
“Pasti ini gara-gara kamu tidak suka minum
air putih deh, Vin,” terang Aldi teringat kebiasaan
buruk temannya itu.

Gendis Sewu Berkarya 48
Demi Waktu Gajah Mada

“Enggak ada hubungannya kali,” jawab
Kevin mulai tidak suka.

“Ada dong. Aku pernah membaca sebuah
artikel berita di Koran online. Jika kamu kurang
minum air putih bisa menyebabkan kurang
konsentrasi, kulit kering bahkan penyakit lainnya,”
terang Aldi.

“Sudah deh enggak perlu ceramah.
Temannya lagi sedih bukannya dihibur malah
ditakut-takutin gini,” kesal Kevin meninggalkan Aldi
yang masih tidak percaya dengan sikap temannya
itu.

Semenjak kejadian itu, Aldi dan Kevin tidak
pernah terlihat bersama lagi. Kevin selalu
menghindar jika Aldi ingin mendekatinya. Ini
membuat Aldi merasa bersalah, karena ucapannya
membuat pertemanan mereka renggang. Walaupun
Aldi bermaksud baik untuk kesehatan Kevin.

***
Dua bulan dari kejadian itu, mereka berdua
tidak sengaja bertemu. Ini karena Bu Santi wali

Gendis Sewu Berkarya 49
Demi Waktu Gajah Mada

kelas mereka beberapa hari ini tidak masuk. Para
siswa berinisiatif menjenguk dan memberinya
semangat. Bu Santi bercerita pada kami bahwa
beliau sakit akibat kurang minum air putih. Dokter
mengatakan kalau Bu Santi mengidap penyakit
gagal ginjal. Jika Bu Santi tetap tidak banyak
minum sesuai anjuran dokter bisa jadi penyakitnya
bertambah parah.

Sepulang dari rumah Bu Santi, Kevin
berusaha mengejar langkah Aldi.

“Aldi maafin aku ya, aku sudah
menjauhimu,” sesal Kevin.

“Tak apa Vin, aku juga merasa bersalah
dengan ucapanku yang menyinggungmu kemarin.
Aku hanya takut kamu sakit,” jawab Aldi dengan
senyum mengembang.

“Terima kasih sudah mengkhawatirkan
kesehatanku ya, Al. Aku sadar kebiasaanku yang
tidak suka minum air putih sangat berbahaya bagi
kesehatanku. Terlebih setelah aku mendengar

Gendis Sewu Berkarya 50
Demi Waktu Gajah Mada

cerita Bu Santi. Mulai hari ini aku akan rajin minum
air putih,” kemudian Kevin memeluk Aldi.

“Iya, Vin. Kita harus menjaga kesehatan kita
mulai sekarang.”

Gendis Sewu Berkarya 51
Demi Waktu Gajah Mada

NYAMUK

Oleh Choirus Sa’ada

Ngung ... Ngung ... Ngung ....
Suara apa itu?
Ngung ... Ngung ... Ngung ....
Berisik sekali!
Kucari di sebelah kanan, ngung di sebelah kiri
Kucari di sebelah kiri, ngung di sebelah kanan

Suaranya sangat mengganggu
Siapa sih kamu?
Huh...
Suaramu bagai minta ijin
Meminta ijin untuk menghisap darahku
Dasar nyamuk nakal!

Gendis Sewu Berkarya 52
Demi Waktu Gajah Mada

GENERASI Z

Oleh Ravenska Sakha Aulia Rahman

Perkenalkan, namaku adalah Raven. Kedua
orang tuaku memberi nama yang mungkin bagi
kalian terlalu panjang untuk didengarkan. Setiap
kali guru sekolahku mengabsen muridnya sebelum
waktu pembelajaran dimulai, beliau nampakpusing
saat menyebutkan namaku Ravenska Sakha Aulia
Rahman. Kalian cukup memanggilku Raven.

Aku akan menceritakan pengalaman waktu
sekolah di SMA Negeri 11 Surabaya. Sebenarnya
sampai sekarang masih sekolah disana. Ini
sepenggal kisah dari kehidupan seorang siswa
yang diciptakan oleh Allah SWT untuk menjadi
siswa yang biasa-biasa saja.

Ada seorang pahlawan bagiku, ia tak kenal
lelah untuk membesarkanku, mendidikku hingga
membahagiakanku. Apapun resikonya, ia akan
melakukan semua hal untuk membuatku bahagia.
Tetapi bagiku tidak semua hal yang dilakukan
kepadaku dapat membuatku bahagia. Aku sulit

Gendis Sewu Berkarya 53
Demi Waktu Gajah Mada

memberitahukan hal itu. Namun untuk saat ini aku
hanya bisa diam, karena aku tahu perjuangan
beliau takkan pernah memikirkan imbalannya
meskipun nyawa resikonya. Beliau adalah ibuku,
Zaidahtun Nur namanya. Dia lahir di Pamotan,
Rembang, Jawa Tengah tepatnya. Dia adalah
seorang penjual nasi krawu milik dokter gigi yang
tinggal berjarak beberapa rumah saja dari
rumahku. Ibuku merupakan tulang punggung
keluarga.

Saat aku pertama kali masuk kelas 10 di
SMA NEGERI 11 SURABAYA, hari pertama setiap
kali menginjak jenjang yang selanjutnya pasti
diadakan LOS. Aku tidak mengatahui artinya yang
penting maksuddari tujuan diadakannya LOS ini
untuk mengenalkan siswa atau murid baru di
sekolahnya. Namun saat aku mengikuti LOS di
sekolahku, terasa biasa biasa saja. Mungkin
karena kegiatannya membosankan.

Di suatu pagi yang cerah, aku bangun dari
tidurku pukul 05.30. Keluar dari kamar, aku menuju

Gendis Sewu Berkarya 54
Demi Waktu Gajah Mada

kamar mandi untuk mandi tentunya. Lalu
berpakaian yang rapi atau seragam tepatnya, tak
lupa juga memakai sepatu pantofel berwarna hitam
polos. Aku berangkat dengan melangkahkan kaki
keluar dari pagar rumah.

Bismillahirrahmanirrahim doaku dalam hati.
Aku berjalan menuju rumah temanku yang
bernama Teddy. Rumahnya satu jalur menuju ke
sekolah. Aku kenal dia sejak dulu saat bersekolah
di SDN Kandangan 3. Saat tepat di depan
rumahnya, kupanggil nama dia.
“Tedy.”
“Iyo, Pen,” jawabnya terdengar dari luar.
Teman-temanku juga memanggilku dengan
‘Pen’, mungkin karena susah melafalkan huruf ‘V’.
Jadi lebih mudah dengan mengubah ‘V’ menjadi
‘P’.
Terlihat wajahnya yang bahagia keluar dari
pintu utama rumahnya.
“Wes2 siap, Ted?” tanyaku kepada dia.

2 Sudah (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 55
Demi Waktu Gajah Mada

“Wes. Ayo ndang budal3,” jawabnya.
Kita berdua berjalan menuju sekolah, yang
jaraknya tidak terlalu jauh. Saat di perjalanan aku
dan Teddy berjalan di trotoar. Kami tidak
bersepeda karena ingin menikmati udara pagi di
hari pertama LOS ini.
Namun tiba-tiba sebuah mobil dari arah
berlawanan mendadak mendekat.
BRAK!
Mobil itu menyerempet bagian kanan tubuh
Teddy. Teddy pun terjatuh dan mobil itu menabrak
toko yang sedang tutup di pinggir jalan.
“Ted, kamu enggak papa?” tanyaku panik.
“I ... Iya, Pen. Aku ... nggak papa, cuma
kaget aja,” jawab Teddy.
Aku membantunya berdiri dan memeriksa
keadaannya. Pengemudi mobil itu turun dan
menghampiri kami.
“Kamu enggak apa-apa, Nak?” tanyanya.
“Saya baik-baik saja, Pak,” jawab Teddy.

3 Sudah. Ayo lekas berangkat (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 56
Demi Waktu Gajah Mada

Aku hanya diam dan memandang tak suka
pada pengemudi itu. Seenaknya saja dia
mengendarai mobil sampai hampir mencelakakan
orang.

“Maaf ya, Nak. Saya tadi berusaha
menghindari kucing menyeberang, langsung
banting kanan,” ujar Bapak itu menyesal.

Raut mukanya pucat.
“Lain kali hati-hati, Pak. Kalau bisa jangan
ngebut di jalan. Supaya tidak asal banting setir,”
ujarku ketus.
“Iya, Nak. Bapak salah,” sahutnya lirih.
Teddy menyenggol lenganku, seolah
menyuruhku tidak berkata seperti tadi. Tapi aku
tidak menggubrisnya.
“Kamu saya antar ke rumah sakit ya, untuk
diperiksa,” ujarnya.
“Tidak perlu, Pak. Saya tidak lecet, hanya
kaget saja,” balas Teddy.

Gendis Sewu Berkarya 57
Demi Waktu Gajah Mada

“Kami hampir terlambat, Pak. Hari ini kami
masuk sekolah pertama kali. Kami pamit dulu,”
pamitku pada Bapak itu.

Sesampainya di sekolah hati ini rasanya
seperti tidak bisa diungkapkan. Kita berdua
berpisah arah karena Teddy memilih untuk masuk
ke kelas IPS dan aku memilih ke kelas IPA. Kubaca
satu per satu tulisan yang ditempelkan di setiap
pintu kelas untuk mencari di manakah namaku
berada, ternyata namaku ada di ruangan pertama
yaitu di kelas 10 IPA 1.

Aku melangkahkan kaki memasuki ruangan
itu dengan mental yang sangat siap untuk memulai
berkenalan dengan teman baru. Kucari tempat
duduk yang kosong, ternyata saat kulihat kanan kiri
di sebelah pojok belakang ada yang
memanggil namaku,

“Pen.”
Aku menoleh ke arah sumber suara,
ternyata ia adalah teman mengajiku dulu waktu
masih kecil. Namanya adalah Aditya Rahmatullah

Gendis Sewu Berkarya 58
Demi Waktu Gajah Mada

Syani atau biasa kupanggil Adit. Namun ternyata
sekarang ia dipanggil Syani oleh teman-
temannya.

“Oh iyo,Dit,” sahutku.
Raut muka teman-temannya sedikit berubah
mendengar aku memanggil dengan nama Adit. Aku
melanjutkan mencari bangku yang kosong. Ada
satu di pojok belakang kanan, aku menuju ke
bangku itu. Ternyata ada satu anak yang duduk di
kursi sebelahnya.
Saat tepat di samping bangku tersebut aku
menyapa anak tersebut.
“Boleh aku ramal?”
Eh bukan, bukan begitu sapaannya, itu
seperti film sebelah.
“Mas, kula boten nopo lenggah teng mriki4?”
tanya aku dengan bahasa Jawa sopan.
Anak itu hanya mengganggukkan kepalanya
saja, membuatku mempunyai dua dugaan. Yang

4 Saya boleh duduk di sini? (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 59
Demi Waktu Gajah Mada

pertama anak itu tidak bisa berbicara, atau yang
kedua ia tidak bisa memahami bahasa manusia?

Ah entahlah. Aku duduk saja di bangku
tersebut. Dengan suasana kelas yang masih sepi,
kucoba untuk berbicara dengan anak itu.

“Sampean asal SMP pundi5?” tanyaku
dengan bahasa jawa, karena kupikir jika memakai
bahasa Indonesia agak sedikit aneh karena kita
sesama jenis.

“SMPN 26,” jawabnya dengan kepala sedikit
menunduk.

Saat itu juga aku menyimpulkan bahwa
ketika kuajak berbicara dengan bahasa Jawa,
sepertinya dia tidak nyaman. Tak lama kemudian
datanglah seorang guru yang entah darimana
munculnya tiba-tiba sudah ada didalam kelas ku.

“Assalamu’alaikum” suara Bapak Guru yang
terdengar lantang dan membuat terkejut semua
murid yang ada di dalam kelas.

5 Anda dari SMP mana? (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 60
Demi Waktu Gajah Mada

“Waalaikumsalam” jawab seluruh murid
yang ada di dalam kelas.

“Kok sepi sih?“ tanya Pak Guru.
Tidak ada satu pun murid yang menjawab
pertanyaan Pak Guru tersebut.
“Oh mungkin belum saling kenal, ya,” tanya
Pak Guru.
“Oke lah, kalau begitu ini kan hari pertama
kalian mengetahui kelas kalian. Mari kita coba
bersantai dengan bermain sebuah permainan,”
seru Pak Guru mencairkan suasana yang tegang
ini.

Gendis Sewu Berkarya 61
Demi Waktu Gajah Mada

CORONA DI KAMPUNGKU

Oleh Thalia Devi Savitri

Baru beberapa waktu lalu kulihat berita
wabah corona di Cina. Sekarang, wabah itu
sudah menyebar di Indonesia. Awalnya hanya ada
satu, dua, tiga orang yang terpapar virus dari
wabah itu, atau yang disebut COVID-19. Seiring
dengan berjalannya waktu semakin banyak yang
terpapar COVID-19. Virus ini tak mengenal usia,
mulai dari bayi, anak-anak, dewasa, hingga orang
tua bisa saja terpapar COVID-19.

Virus ini gejalanya seperti flu biasa, bahkan
ada juga yang tidak bergejala. Hanya saja virus ini
berbahaya bagi orang tua dan orang yang
memiliki penyakit penyerta, nyawa jadi taruhannya.
Tak sedikit tenaga medis yang gugur
karena terpapar COVID-19 ini.

Sayangnya, masih ada saja segelintir orang
yang menganggap ini sebagai mitos semata.
Warga di kampungku salah satunya. Mereka tak
percaya adanya virus corona. Pandangan mereka

Gendis Sewu Berkarya 62
Demi Waktu Gajah Mada

seketika berubah begitu tersiar kabar salah
seorang warga di kampungku terpapar corona.

***
Ibu datang dengan tergesa-gesa, napasnya
bahkan tersengal-sengal karena berlarian masuk
ke dalam rumah. Siang ini, Ibu membawa kabar
yang menyesakkan dada.
“Rin, Bu Ita kena corona,” ujar Ibuku dengan
napas yang masih tersengal-sengal.
“Lho, kok bisa, Bu?” tanyaku tak percaya.
“Bu Ita pulang liburan bareng teman-teman
kantornya, mungkin waktu liburan itu Bu Ita
terpapar corona, Rin. Padahal udah jelas ada
anjuran pemerintah untuk tetap di rumah, tapi
masih aja berangkat liburan sama teman-
temannya,” Ibuku mulai bercerita dengan tenang.
“Kok bisa ketahuan kena corona, Bu?”
tanyaku penasaran.
“Seminggu lalu ada tes swab massal di
kantor Bu Ita. Hasilnya baru keluar hari ini, ternyata

Gendis Sewu Berkarya 63
Demi Waktu Gajah Mada

Bu Ita positif terpapar corona. Sekarang, Bu Ita
diisolasi di Rumah Sakit Haji.”

“Bagaimana dengan keluarga Bu Ita, Bu?”
“Mereka akan diswab bareng sama kita.
Tadi, Pak RT memberi kabar jika besok kita harus
mengikuti swab massal, Ran!”
Aku bergidik ngeri membayangkan tes swab.
Rasanya, aku ingin kabur saja. Pergi jauh untuk
menghindari tes swab yang mengerikan dalam
bayanganku.
“Rina enggak mau, Bu. Rina takut kalau
harus ikut swab,” ujarku lirih.
“Ibu juga takut, Rin. Ibu khawatir sama
hasilnya karena Ibu sering ngobrol sama Bu Ita.”
“Ibu pakai masker nggak?”
“Rina kan tahu Ibu selalu pakai masker.”
“Mudah-mudahan hasilnya negatif ya, Bu.”
“Berarti kita tetap harus ikut tes swab, Bu!”
Ibu mengangguk setuju.

Gendis Sewu Berkarya 64
Demi Waktu Gajah Mada

Mau tak mau, aku memutuskan untuk
mengikuti tes swab. Aku berusaha melawan rasa
takut demi kesehatan diri dan keluargaku.

***
Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB.
Semua warga di kampungku sudah mengantri
untuk melakukan tes swab. Aku dan Ibu menunggu
giliran dengan sabar hingga kami mendapat giliran
panggilan. Aku dan Ibu duduk di bangku yang
berbeda. Aku menunjukkan identitas diriku
sebelum menjalani tes swab. Setelah mengisi data
diri, aku masih harus menunggu panggilan tes
swab.
“Rani!” suara salah seorang petugas
memanggil namaku.
Aku maju ke depan dengan perasaan
berdebar-debar. Saat aku sudah duduk di bangku
yang tersedia, petugas medis memintaku menarik
nafas sebelum memasukkan benda yang
menyerupai cotton bud ke dalam lubang hidungku.
“Udah selesai!” ujar tenaga medis padaku.

Gendis Sewu Berkarya 65
Demi Waktu Gajah Mada

Usai menjalani tes swab, ada rasa tidak
enak seperti ingin bersin tapi tertahan sampai
terasa tidak nyaman di tenggorokan. Aku
memutuskan pulang lebih dulu daripada menunggu
Ibu yang masih menunggu panggilan. Aku sudah
lelah menunggu, aku ingin segera merebahkan
tubuhku.

***
Seminggu kemudian hasil tes swab keluar,
aku sangat bersyukur karena hasil tes swabku dan
Ibu negatif. Ternyata jika kita memang mematuhi
protokol kesehatan seperti memakai masker saat
berpergian, mencuci tangan menggunakan sabun,
dan menjaga jarak saat berbincang semuanya akan
baik-baik saja.
Setelah empat belas hari Bu Ita menjalani
isolasi, akhirnya Bu Ita diizinkan pulang ke rumah.
Warga awalnya takut untuk mendekati rumah Bu
Ita, aku termasuk salah satunya. Setelah
mendapat pengarahan dari Pak RT, kami semua
jadi berubah pikiran. Kami setiap hari mengirimi

Gendis Sewu Berkarya 66
Demi Waktu Gajah Mada

makanan secara bergantian dan sukarela di depan
pintu Bu Ita. Kami mendoakan kesembuhan Bu Ita
agar kembali bisa berkumpul dengan kami.

Kejadian yang menimpa Bu Ita menyadarkan
kami untuk lebih memperhatikan protokol
kesehatan sesuai anjuran pemerintah, menahan
diri untuk tidak berpergian selama pandemi.

Gendis Sewu Berkarya 67
Demi Waktu Gajah Mada

TONGKAT SIHIR SITA

Oleh Elisa Harfina Putri

***
Fina, Aruna, Meme dan Sita sedang
bersepeda di Hutan Pakal. Saat itu, tanpa mereka
sadari ruangan teleportasi dunia sihir sedang
terbuka. Mereka berempat tersedot ke dalamnya.
Berputar-putar tubuh mereka di dalam lorong
hingga menemukan suatu dataran berumput.
BRUKKK!
Mereka terjatuh dengan keras. Untungnya
tangan dan kaki mereka tidak patah. Mereka
berjalan menelusuri tempat itu, mereka tidak bisa
mengenali tempat itu. Tempat baru itu seperti
dataran Eropa yang mereka lihat di televisi.
“Aduhhhh, nak endi iki Rek6,” tanya Meme
merengek .
“Aku yo gak ngerti, Me7,” jawab Fina
kebingungan .

6 Aduh, dimana ini teman-teman (bahasa Jawa)
7 Aku juga tidak tahu, Me (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 68
Demi Waktu Gajah Mada

“Kok bisa kita sampai sini, Rek8,” tanya
Aruna.

Sita yang berumur paling kecil menangis.
“Haduh Sitaaa, ojok tambah nangis9,” bentak
Fina
“Wes wes10ayo kita cari jalan keluar. Aku
dan Sita ke barat, Fina dan Aruna ke arah selatan,”
ucap Meme sambil menunjuk ke arah seadanya.
“Awakmu ngerti teko endi, Me iku arah barat
dan selatan11?” tanya Fina.
“Yo, ngawur Fin12,” jawab Meme sok pintar
Mereka berempat tertawa terbahak-bahak.
Sita yang dari awal menangis, kini bercampur
dengan tertawa meringissambil mengeluarkan air
mata.
“Yowes rek, ayo cepet 13segera bergerak.
Takut kemalaman.” ucap Aruna.

8 Sebutan untuk sesama teman (bahasa Jawa)
9 Haduh Sita, jangan malah menangis (bahasa Jawa)
10 Sudah, sudah (bahasa Jawa)
11 Kamu tahu dari mana,Me itu arah barat atau selatan (bahasa
Jawa)
12 Ya asal aja (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 69
Demi Waktu Gajah Mada

Tanpa menunggu lama, mereka
berpasangan pergi ke arah yang berbeda.
Mereka menelusuri jalan setapak tanpa sepeda.
Bagi mereka, sepedanya sudah tidak berguna
lagi. Lagipula juga tidak bisa digunakan karena
jalan yang ada hanya menanjak naik dan tidak
beraspal. Jalan tanah liat itu berumput, basah tetapi
sangat subur. Sepertinya hujan baru saja
membasahi tanah Eropa itu.

Fina dan Aruna berjalan terus hingga
menemukan pohon besar yang berdiri
tanpa daunsehelai pun. Dibawahnya ada lorong
setengah badan manusia. Fina dan Aruna
memberanikan diri masuk ke dalam pohon itu.

Selangkah, dua langkah hingga mereka
sudah berjalan puluhan meter dari pintu akar
pohon. Fina dan Aruna akhirnya kembali
memanggil Meme dan Sita karena dianggap lorong
itu aman.

13 Ya sudah, teman-teman, ayo cepat (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 70
Demi Waktu Gajah Mada

Sedangkan Sita dan Meme di sana berjalan
mencari Fina dan Aruna. Di tengah perjalanan, Sita
menemukan tongkat yang unik. Panjang sekitar 32
cm, sedikit berkelok, lentur dan permukaannya
halus. Saat Sita mengambilnya dan memegangnya,
petir keluar dan menyambar pohon cemara yang
ada di dekat mereka.

Meme berteriak “We o we wow!!”
“Suangar awakmu Sit, cilik cilik cabe rawit14,”
ucap Meme lagi.
“Se coba Sit, bee tak pake tongkat sihir iku
isok mendatangkan hujan15,” ucap Meme sambil
mengambil tongkat dari tangan Sita.
Diayunkan tongkat itu oleh Meme tapi tidak
ada perubahan apapun. Tongkat sihir itu seperti
tidak memiliki kekuatan, seperti kayu biasa.
“Walah, berarti tongkate iki ga cocok ambeg
aku16” ucap Meme seadanya.

14 Keren kamu, Sit. Kecil-kecil cabe rawit (bahasa Jawa)
15 Sini aku coba, Sit. Mungkin kalau kugunakan bisa untuk
mendatangkan hujan (bahasa Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 71
Demi Waktu Gajah Mada

Fina dan Aruna memanggil Meme dan Sita.
Mereka merahasiakan apa yang mereka temukan.
Fina dan Aruna mengajak Meme dan Sita pergi ke
arah lorong pohon yang mereka temui. Mereka
bergegas menuju lorong pohon berharap ada
keajaiban jalan keluar. Puluhan meter mereka
berjalan, ternyata jalan itu buntu. Tertutup oleh
tanah liat, pintu teleportasi menunjukan pada
sebuah tulisan ‘Mansai ’.

Tiba-tiba Sita berpikir tongkat sihir dan
mansai. Lalu Sita mengayunkan tongkat ,

“Mansai” seru Sita.
Pintu teleportasi terbuka dan mereka
tersedot ke dunia masa kini. Mereka kembali ke
tempat awal yaitu Hutan Pakal dengan sepeda
yang terjungkir balik di dekat pohon.

***
“Fin ... bangun Fin ... sudah jam 8,” ucap ibu
membangunkanku dari tidur sambil
menggoyangkan tubuhku dengan tangannya.

16 Wah, berarti tongkat sihirnya enggak cocok denganku (bahasa
Jawa)

Gendis Sewu Berkarya 72
Demi Waktu Gajah Mada

Aku terbangun dari mimpi tentang tongkat
sihir yang seperti nyata. Mungkin aku terbawa
dalam kisah sihir dalam buku cerita yang aku baca.
Harusnya kusadari kisah sihir itu tak pernah ada.

Gendis Sewu Berkarya 73
Demi Waktu Gajah Mada

ENGKLE ITU MENYENANGKAN

Oleh Denditya Reno Saputra

Pagi yang cerah, Siti dan Rini bermain di
lapangan. Mereka adalah sahabat.

“Rin, sudah lama kita tidak olahraga bareng,
ya? Bermain engkle, yuk! Kan sama aja seperti
olahraga. Hehehehe,” ajak Siti dengan riang.

“Wah, permainan yang seru itu. Ayo!” jawab
Rini dengan senyum lebar.

Engkle adalah permainan tradisional yang
digemari oleh segala usia. Cara bermainnya
dengan menggerakkan satu kaki untuk melompati
tiap kotak dan tangan untuk melempar gaco (bisa
batu atau kayu atau apapun). Permainan diawali
dengan membuat pola. Siti bersemangat membuat
pola itu, sedangkan Rini mencari gaco yang
berbeda. Pola petani yang disepakati dan gaco
sudah siap. Mereka siap bermain. Sebelumnya,
suit dulu untuk menentukan giliran bermain. Siti
yang bermain pertama.

Gendis Sewu Berkarya 74
Demi Waktu Gajah Mada

Gaco dilempar di kotak pertama. Siti
melompati tiap kotak hingga kembali ke kotak awal.
Saat merunduk mengambil gaco, ia melihat anak
cantik berpakaian rapi sedang bermain gawai
duduk di ayunan. Dia adalah Dinda. Tebersit
dalam pikirannya untuk mengajak Dinda
bergabung. Diambillah gaco itu dan kembali ke
posisi awal.

Tiba-tiba, Siti mempersilakan Rini bermain
terlebih dahulu.

“Loh … kamu kan belum kalah, kok, aku
kamu suruh main sekarang?” tanya Rini heran.

“Iya, aku mau mengajak Dinda dulu buat
bergabung bermain bersama kita. Biar tambah
seru,” jawab Siti gembira.

“Mana ada Dinda, Siti? Dan mana mungkin
Dinda mau sama kita?” tanya Rini ragu sedikit
cemberut.

“Sudahlah, Rin. Apa salahnya kalau kita
mencoba dulu?” jawab Siti optimis.

Gendis Sewu Berkarya 75
Demi Waktu Gajah Mada

“Oke, deh. Semangattttt!” sahut Rini
bersemangat.

Siti menghampiri Dinda. Jarak mereka
sekitar 3 meter. Namun, Dinda pun tak sadar ada
Siti di hadapannya karena Dinda fokus dengan
gawainya.

“Halo, Dinda!” sapa Siti sambil mengulurkan
tangan.

“Huh!” sahut Dinda cuek.
“Ayo, main engkle daripada kamu duduk
sendirian dan cuma main HP aja!” ajak Siti.
“Apaan tuh engkle? Permainan yang enggak
asyik. Masih asyik main gameku ini,” jawabnya
ketus dan sombong.
Perbincangan itu membuat Siti menyerah.
Siti melanjutkan bermain engkle bersama Rini.
Harapan Siti sirna.
Rini dan Siti jago bermain engkle. Tapi, Siti
harus dikalahkan olehnya. Meskipun Siti
meninggalkan Rini sebentar, tetapi Rini tetap
bermain jujur. Giliran Siti yang bermain lagi. Siti

Gendis Sewu Berkarya 76
Demi Waktu Gajah Mada

bermain dengan riang. Rini pun menikmati
permainan Siti. Ternyata, dari kejauhan, Dinda pun
asyik menyaksikan mereka bermain engkle. Siti
melihat Dinda sedang memperhatikan mereka
bermain. Dengan spontan, Siti berteriak.

”Dinda, ayo ke sini! Pasti kamu penasaran
kan?” ajak Siti.

Rini semakin heran dengan upaya Siti untuk
mengajak Dinda. Padahal Dinda sudah menolak
dengan angkuh.

“Sudah kubilang, aku tidak mau! Jangan
maksa!” teriak Dinda kepada Siti.

Siti berlari cepat menghampiri Dinda.
Ditariklah tangan Dinda untuk bergabung bersama
Rini juga. Namun yang terjadi Dinda mengibaskan
tangan Siti dengan berkata,

“Apaan sih ini! Aku tidak suka bermain
engkle, permainan jadul dan melelahkan!”

“Tunggu!”
“Justru dengan bermain engkle kita
melakukan tiga hal positif sekaligus. Kita tetap

Gendis Sewu Berkarya 77
Demi Waktu Gajah Mada

melestarikan budaya lokal, lalu kita bisa terhibur,
dan juga bisa berolahraga.”

Dinda semakin kesal kepada Siti. Spontan
Dinda akan melempar gawainya ke arah Siti.
Namun, Rini menghalangnya dengan cepat. Dinda
pun kesal dan meninggalkan mereka berdua.

“Kamu yang tenang ya, Siti. Kita coba cari
cara lain,” ucap Rini menenangkan Siti.

Rini menggandeng Siti ke rumah Dinda.
Sesampai di sana, Dinda terkejut melihat
kedatangan mereka.

“Kami minta maaf atas kejadian tadi. Kami
sangat ingin bermain engkle bersamamu. Kamu
kan anak balet, pasti jago bermain engkle yang
menggunakan satu kaki ini,” jelas Rini dengan
sedikit merayu.

“Kalau tidak mau di lapangan, aku punya loh
game engkle di handphoneku. Kamu mau
mencoba?” ajak Rini.

“Boleh … aku juga ingin mencobanya.
Silakan masuk sini!” jawab Dinda tenang.

Gendis Sewu Berkarya 78
Demi Waktu Gajah Mada

“Tapi kita buat perjanjian dulu, ya?” pinta
Rini.

“Perjanjian apa?” tanya Dinda heran.
“Jika salah satu di antara kita ada yang
kalah, kita harus mau bermain engkle yang
sesungguhnya di lapangan? Bagaimana? Deal?”
jelas Rini.
“Oke,” jawab Dinda dan Siti bersamaan.
“Aku duluan, ya?” pinta Dinda polos.
“Oke, silakan. Setelah kamu, lalu Siti.
Kemudian, terakhir giliranku,” jelas Rini.
Dinda merasa yakin akan memenangkan
engkle game di gawai ini. Maka ia menyetujui
perjanjian itu. Siti dan Rini merasa jago bermain
engkle, jadi mereka yakin bahwa Dinda akan
dikalahkan oleh mereka.
Permainan engkle dari aplikasi dimulai.
Dinda menikmati permainan itu. Terkadang masih
terlihat sedikit bingung.
“Waduh, aku kok selalu gagal melempar
batu di kotak, ya?” gerutu Dinda.

Gendis Sewu Berkarya 79
Demi Waktu Gajah Mada

Rini dan Siti saling berhadapan sambil
senyum-senyum kecil. Dinda terus menggerutu dan
ingin mengakhirinya. Akan tetapi, ia harus tetap
melanjutkan game itu sampai selesai.

Dan ....
“Yaaahhh … aku kalah dari kalian. Kalian
jago banget sih main engklenya. Apa karena kalian
sering bermain engkle secara langsung, ya?” tanya
Dinda polos dan heran.
“Iya, Dinda. Kamu harus mencoba bermain
langsung biar kamu hebat juga bermain engkle
dengan handphonemu,” bujuk Siti kepada Dinda.
“Ayo ke lapangan! Aku ingin mencoba
bermain engkle secara langsung,” seru Dinda
dengan riang.
Akhirnya, mereka pergi ke lapangan
bersama dengan hati riang dan tanpa dendam.
Usaha Siti dan Rini agar Dinda mau bermain
engkle dan tidak terus menerus sibuk dengan
gawai akhirnya berhasil.

Gendis Sewu Berkarya 80
Demi Waktu Gajah Mada

INOVASI TAMAN BACAAN
MASYARAKAT DI TENGAH PANDEMI

Oleh Aura Valencia

Salah satu langkah cepat yang diambil oleh
Dinas Perpustakaan dan KearsipanKotaSurabayadi
masapandemi COVID-19 ini adalah dengan
melakukan inovasi terhadap pelayanan kepada
masyarakat.

Inovasi tersebut tertuang dalam beberapa
program yang bertujuan untuk memudahkan
masyarakat Kota Surabaya, tetap bisa mengakses
sumber-sumber literasi di tengah pandemi yang
mengharuskan untuk tidak bertatap muka secara
langsung.

Salah satu program yang sedang digarap
oleh Dispusip Kota Surabaya adalah pemotretan
360 di tiap titik layanan mereka.

Titik layanan tersebut seperti Taman Bacaan
Masyarakat (TBM) di Balai RW, Kelurahan,
maupun Kecamatan hingga perpustakaan-

Gendis Sewu Berkarya 81
Demi Waktu Gajah Mada

perpustakaan besar milik Kota Surabaya seperti
perpustakaan di Balai Pemuda dan Rungkut.

Di tengah pandemi COVID-19 yang
mengharuskan kita untuk menjaga jarak dan tidak
berkerumun tentu akan menghambat kegiatan
pelayanan yang dilakukan oleh Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.

Persoalan tersebut kemudian direspon
dengan cepat oleh Dispusip Kota Surabaya untuk
menyajikan pelayanan secara digital bagi
masyarakat yang ingin berkunjung ke TBM ataupun
perpustakaan Kota Surabaya. Pelaksanaan di TBM
RW 3 Kedungdoro sendiri berlangsung pada
27Maret 2021.

Pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam
beradaptasi dengan kondisi yang tengah
berlangsung.

Perkembangan teknologi dalam bidang
media informasi gambar yang tengah berkembang
pesat adalah gambar panorama 360. Gambar

Gendis Sewu Berkarya 82
Demi Waktu Gajah Mada

panorama 360 ini merupakan dasar untuk
menyajikan sebuah virtual tour.

Virtual tour sendiri merupakan media yang
menyediakan wadah untuk pengunjung dapat
melihat suatu tempat (dalam hal ini TBM atau
perpustakaan) secara nyata melalui sebuah
gambar panorama yang dapat dinikmati secara 360
derajat tanpa batas dan tidak terpotong sama
sekali.

Jadi, virtual tour merupakan sebuah rekayasa
digital untuk para pengunjung TBM atau
perpustakaan agar tetap menikmati pelayanan
dengan suasana atau atmosfer perpustakaan
meskipun secara virtual.

Virtual tour sendiri pada dasarnya dibuat
dengan proses penggabungan seni fotografi dalam
pengambilan gambar dan disiplin ilmu teknik
informatika dalam pembuatan situsnya.

Inovasi yang dilakukan oleh Dispusip Kota
Surabaya ini akan dilengkapi dengan e-book

Gendis Sewu Berkarya 83
Demi Waktu Gajah Mada

(electronic book) yang bisa diakses oleh
pengunjung secara virtual.

Sebuah terobosan yang dilakukan agar
masyarakat tetap bisa mendapatkan akses literasi
di tengah kondisi yang serba tidak menentu.

Gendis Sewu Berkarya 84
Demi Waktu Gajah Mada

TRADISI SEDEKAH BUMI

Oleh Santi Irawati

Perayaan sedekah bumi ternyata tidak
hanya terlihat di kampung atau di desa terpencil
saja. Kecamatan Sukomanunggal yang terletak di
tengah kota Surabaya juga memiliki budaya untuk
sedekah bumi atau yang biasa disebut slametan
desa. Warga Sukomanunggal menyadari bahwa
pada saat ini mereka tidak memiliki lahan pertanian
seperti dahulu. Namun, hal tersebut tidak menjadi
alasan warga Sukomanunggal untuk tidak
menyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan
Yang Maha Esa. Hal tersebut, membuat warga
Sukomanunggal diakui memiliki budaya unik yakni
sedekah bumi.

Setiap tahun warga Sukomanunggal
memiliki tradisi untuk melaksanakan kegiatan
sedekah bumi. Sedekah bumi diyakini sebagai
sebuah tradisi mewujudkan rasa syukur atas
melimpahnya nikmat yang telah diberikan oleh
Sang Pencipta. Tradisi ini memiliki tujuan mengajak

Gendis Sewu Berkarya 85
Demi Waktu Gajah Mada

masyarakat Sukomanunggal untuk terus
melestarikan budaya dan terus meningkatkan
kecintaan terhadap sejarah yang merupakan
warisan nenek moyang. Selain itu, sedekah bumi
ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa
kebersamaan, kekeluargaan antar sesama ciptaan
Yang Maha Kuasa.

Sedekah Bumi yang telah menjadi tradisi
dihadiri semua kalangan masyarakat mulai dari
warga setempat, tokoh agama, Lurah
Sukomanunggal dan juga anggota Polsek
Sukomanunggal. Acara ini dimulai dengan
penyerahan hasil bumi warga, ada yang membawa
hasil bumi dalam bentuk asli, dan ada pula yang
sudah berbentuk makanan olahan yang siap untuk
dimakan bersama. Selanjutnya inti dari acara
sedekah bumi adalah doa bersama. Setelah doa
bersama dilanjutkan dengan ramah tamah dan
kemudian bersama-sama menikmati lezatnya
masakan warga Sukomanunggal. Setelah
serangkaian acara selesai, warga yang hadir tidak


Click to View FlipBook Version