The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pemahaman pasien mengenai hidup dengan Hemodialisis

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by irawan_ipr, 2023-07-02 10:11:32

Hidup Dengan Hemodalisis

Pemahaman pasien mengenai hidup dengan Hemodialisis

Keywords: Hemodialis

1VTUBLB"LTBSB 1VTUBLB HIDUP DENGAN HEMODIALISA (Pengalaman Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik) Pasien yang melakukan hemodialisa pada penyakit gagal ginjal sangat berpengaruh terhadap kehidupan pasien baik dalam segi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual, semua faktor tersebut sangat mempengaruhi terhadap kualitas hidupnya. Permasalahan psikologis adalah faktor yang paling banyak dialami pada pasien dengan gagal ginjal yang melakukan hemodialisa. Frustasi, marah, putus asa bahkan sampai bunuh diri efek psikologis yang dialami. Pengalaman pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa merupakan fenomena yang penting untuk diteliti dan merupakan persepsi subjektif yang sulit untuk dikuantifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pengalaman menjalani hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik di RS Banjarmasin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam pada enam orang partisipan. Terdapat enam tema yang teridentifikasi dari pengalaman menjalani hemodialisa yaitu: (1) riwayat awal terdiagnosa gagal ginjal, (2) respon psikologis awal saat dinyatakan hemodialisa, (3) respon psikologi selama pasien menjalani hemodialisa, (4) harapan pasien yang menjalani hemodialisa, (5) sikap keluarga yang memiliki keluarga dengan hemodialisa, (6) persepsi pasien terhadap tim kesehatan. Perawat tidak hanya memperhatikan perubahan fisik, namun juga memperhatikan dari psikologis pasien. ISBN 978-623-6168-74-5 Dessy Hadrianti HIDUP DENGAN HEMODIALISA 9 786236 168745


1VTUBLB"LTBSB B"LTBSB DessyHadrianti HIDUPDENGANHEMODIALISA HIDUP DENGAN HEMODIALISA (Pengalaman Hemodialisa Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik) Dessy Hadrianti


i HIDUP DENGAN HEMODIALISA (PENGALAMAN HEMODIALISA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK) Dessy Hadrianti


ii Hidup dengan Hemodialisa (Pengalaman Hemodialisa pada Pasien Gagal Ginjal Kronik) Penulis : Dessy Hadrianti Desain Sampul : Siti Nurul M. Penyunting : Umar Abduloh, S.Pd., Gr. Tata Letak : Ardiana Meilinawati ISBN : 978-623-6168-74-5 Diterbitkan oleh : PUSTAKA AKSARA, 2021 Redaksi: Jl. Karangrejo Sawah IX nomor 17, Surabaya Telp. 0858-0746-8047 Laman : www.pustakaaksara.co.id Surel : [email protected] Anggota IKAPI Cetakan Pertama : 2021 All right reserved Hak Cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya tanpa seizin tertulis dari penerbit.


iii KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan buku ini. Penulisan buku merupakan buah karya dari pemikiran penulis yang diberi judul “Hidup Dengan Hemodialisa”. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan karya ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan banyak terima kasih pada semua pihak yang telah membantu penyusunan buku ini. Sehingga buku ini bisa hadir di hadapan pembaca. Pasien yang melakukan hemodialisa pada penyakit gagal ginjal sangat berpengaruh terhadap kehidupan pasien baik dalam segi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual, semua faktor tersebut sangat mempengaruhi terhadap kualitas hidupnya. Permasalahan psikologis adalah faktor yang paling banyak dialami pada pasien dengan gagal ginjal yang melakukan hemodialisa. Frustasi, marah, putus asa bahkan sampai bunuh diri efek psikologis yang dialami. Pengalaman pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa merupakan fenomena yang penting untuk diteliti dan merupakan persepsi subjektif yang sulit untuk dikuantifikasi. Penulisan buku ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pengalaman menjalani hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik di RS Banjarmasin. Penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan guna penyempurnaan buku ini. Akhir kata saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga buku ini akan membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.


iv DAFTAR ISI Kata Pengantar.....................................................................................iii Daftar Isi................................................................................................iv Daftar Tabel ..........................................................................................vii Daftar Gambar......................................................................................viii BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................1 A. Data Pasien Gagal Ginjal .........................................................1 B. Hemodialisa pada Penderita Gagal Ginjal............................3 BAB II GAGAL GINJAL KRONIK ..............................................................12 A. Pengertian Gagal Ginjal Kronik..............................................12 B. Etiologi .......................................................................................12 1. Penyakit dari Ginjal............................................................12 2. Penyakit di Luar Ginjal ......................................................12 C. Klasifikasi ..................................................................................13 1. Stadium 1 .............................................................................14 2. Stadium 2 .............................................................................14 3. Stadium 3 .............................................................................14 4. Stadium 4 .............................................................................15 5. Stadium 5 (Gagal Ginjal Terminal ....................................16 D. Patofisiologi...............................................................................17 E. Manifestasi Klinis .....................................................................18 F. Penatalaksanaan .......................................................................18 1. Tindakan Konservatif.........................................................19 2. Dialisis dan Transplantasi .................................................21 BAB III HEMODIALISIS.................................................................................22 A. Definisi .......................................................................................22 B. Indikasi Dialisis.........................................................................22 C. Prinsip Hemodialisis ................................................................23 D. Perubahan yang Terjadi pada Pasien Ginjal yang


v Menjalani Hemodialisis .......................................................... 24 1. Fisik ...................................................................................... 24 2. Psikologis............................................................................. 26 3. Sosial .................................................................................... 42 4. Spiritual ............................................................................... 44 BAB IV TEORI MODEL ADAPTASI ROY DAN TEORI MODEL PSYCHODYNAMIC NURSING PEPLAU.................................... 46 A. Teori Model Adaptasi Roy...................................................... 46 1. Pengertian Model Keperawatan Adaptasi Roy.............. 46 2. Konsep Mayor Kerangka Konseptual Model Adaptasi Roy ...................................................................... 46 3. Asumsi Dasar Model Adaptasi Roy ................................ 49 4. Komponen Sistem dalam Model Adaptasi Roy............. 49 5. Konsep Keperawatan dengan Model Adaptasi Roy ..... 51 B. Teori Model Psychodynamic Nursing Peplau..................... 58 1. Latar Belakang Model Konseptual Peplau ..................... 58 2. Sumber-sumber Teoretis ................................................... 58 3. Konsep dan Asumsi Utama .............................................. 59 BAB V HASIL EKSPLORASI PENGALAMAN MENJALANI HEMODIALISA................................................................................. 63 A. Karakteristik Partisipan .......................................................... 63 B. Hasil Analisis Tematik ............................................................ 64 1. Tema 1: Riwayat Awal Terdiagnosa Gagal Ginjal......... 64 2. Tema 2: Respon Psikologis Awal ..................................... 68 3. Tema 3: Respon dan Sikap Selama Menjalani Hemodialisa ........................................................................ 70 4. Tema 4: Harapan Pasien yang Menjalani Hemodialisa ........................................................................ 72 5. Tema 5: Sikap Keluarga yang Memiliki Anggota Keluarga dengan HD.......................................................................... 73 6. Tema 6: Persepsi terhadap Tim Kesehatan..................... 75


vi BAB VI INTERPRETASI HASIL KAJIAN DAN ANALISIS TEMA.......77 A. Riwayat Awal Terdiagnosa Gagal Ginjal ..............................77 B. Respon Psikologis Awal Saat Dinyatakan Hemodialisa .....80 C. Respon dan Sikap Selama Menjalani Hemodialisa..............84 D. Harapan Pasien yang Menjalani Hemodialisa .....................90 E. Sikap Keluarga yang Memiliki Keluarga dengan Anggota HD ..............................................................................91 F. Persepsi Pasien terhadap Tim Kesehatan..............................94 BAB VII PENUTUP.............................................................................................96 DAFTAR PUSTAKA..........................................................................97


vii DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Klasifikasi penyakit ginjal kronik..................................... 13 Tabel 5.1 Karakteristik Partisipan ..................................................... 64


viii DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1 Prinsip kerja hemodialisa ..............................................24 Gambar 5.1 Riwayat Awal Terdiagnosa Gagal Ginjal ....................68 Gambar 5.2 Respon Psikologis Awal Saat Dinyatakan Hemodialisa..........................................................................................70 Gambar 5.3 Respon dan Sikap Selama Pasien Menjalani Hemodialisa..........................................................................................72 Gambar 5.4 Harapan Pasien yang Menjalani Hemodialisa ...........73 Gambar 5.5 Sikap Keluarga yang Memiliki Anggota Keluarga dengan Hemodialisa............................................................................74 Gambar 5.6 Persepsi Pasien terhadap Tim Kesehatan....................76 Gambar 6.1 Proses Kontrol (Coping Mechanism)...........................88


1 BAB I PENDAHULUAN A. Data Pasien Gagal Ginjal Penyakit gagal ginjal kronik merupakan kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) di dalam darah (Muttaqin, 2011). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2013 telah meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal ginjal meningkat 50% di tahun 2014. Data menunjukkan bahwa setiap tahun 200.000 orang Amerika menjalani hemodialisis karena gangguan ginjal kronis artinya 1140 dalam satu juta orang Amerika adalah pasien dialisis (Nastiti, 2015). Data epidemiologi di Amerika menunjukkan bahwa insidensi gagal ginjal kronik lebih dari 10% penduduk dewasa atau lebih dari 20 juta penduduk dengan derajat keparahan yang berbeda-beda dimana risiko menderita penyakit gagal ginjal kronik meningkat pada umur 50 tahun dan mencapai puncak pada umur 40 tahun (CDC, 2014). Insiden dan prevalensi modalitas untuk hemodialisa, peritoneal dialisa, dan transplantasi ginjal pada tahun 2010 per satu juta penduduk yang menjalani hemodialisa sejumlah 316, peritoneal dialisa 23,3, transplantasi 7,9 (U.S. Renal Renal Data Sistem, USRDS 2012). Mengutip data Report of Indonesia Renal Registry urutan penyebab gagal ginjal pasien yang mendapatkan hemodialisis berdasarkan data tahun 2014 karena hipertensi (37%), penyakit diabetes mellitus atau nefropati diabetika (27%), kelainan bawaan atau glomerulopati primer (10%), gangguan penyumbatan saluran kemih atau nefropati obstruksi (7%), asam urat (1%), penyakit lupus (1%), penyakit lain-lain (18%). Sebagian besar penyebab gagal ginjal disebabkan faktor


2 risiko perilaku yang kurang sehat yang merupakan faktor utama terjadinya penyakit tidak menular. Hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan data bahwa penduduk Indonesia kurang aktifitas fisik (26,1%), penduduk usia >15 tahun merupakan perokok aktif (36,3%), penduduk >10 tahun kurang mengkonsumsi buah dan sayur (93%), serta penduduk >10 tahun memiliki kebiasaan minum-minuman beralkohol (4,6%). Berdasarkan data yang dirilis Askes pada tahun 2010 jumlah pasien gagal ginjal ialah 15.507 orang, kemudian meningkat lima ribu lebih pada tahun 2011 dengan jumlah pasti sebesar 23.261 orang, kemudian meningkat menjadi 24.141 orang di tahun 2012. Kemungkinan di tahun 2013 akan terjadi peningkatan gagal ginjal yang lebih banyak di karenakan jumlah populasi penderita diabetes dan hipertensi juga semakin meningkat (Nawawi, 2013). Mengutip data sebaran kasus dan biaya klaim di Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sampai dengan triwulan III tahun 2015 kasus sistem saluran kemih berjumlah sebanyak 3.094.915 urutan tertinggi ketiga. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, prevalensi penyakit tidak menular pada tahun 2015 terdapat sebanyak 21 kasus penyakit gagal ginjal kronik. Dari data tersebut ditemukan bahwa gagal ginjal kronik menempati urutan kesepuluh dari sebelas penyakit terbanyak di kota Banjarmasin pada tahun 2015. Menurut Kementerian Kesehatan RI, penyakit ginjal dijuluki sebagai silent disease karena seringkali tidak menunjukkan tanda-tanda peringatan dan jika tidak terdeteksi, akan memperburuk kondisi penderita dari waktu ke waktu. Terapi pengganti ginjal adalah satu-satunya pilihan bagi pasien dengan gagal ginjal untuk mempertahankan fungsi tubuh (Lemone & Burke: 2008; Farida 2010).


3 B. Hemodialisa pada Penderita Gagal Ginjal Hemodialisa merupakan terapi ginjal yang paling banyak dilakukan dan jumlahnya terus meningkat. Data USRDS mengatakan bahwa di Amerika Serikat lebih dari 65 % klien mendapatkan terapi hemodialisa (Smeltzer, et al: 2008; dalam Farida 2010). Berdasarkan laporan Indonesian Renal Registry (2014), pada tahun 2009 tercatat sebanyak 5.450 pasien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa, kemudian meningkat pada tahun 2010 sebanyak 8.034 pasien, meningkat pada tahun 2011 sebanyak 12.804 pasien, terus meningkat pada tahun 2012 menjadi sebanyak 19.612 pasien dan meningkat lagi di tahun 2013 menjadi sebanyak 22.115 pasien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa di Indonesia. Hemodialisa merupakan suatu cara untuk mengeluarkan produk sisa metabolisme berupa zat terlarut (solute) dan air yang berada dalam darah melalui permiabel atau disebut dialyzer (Thomas: 2004; Price & Wilson, 2005), dimana proses dialysis tergantung prinsif fisiologis yaitu difusi dan ultrafiltrasi. Tujuan utama dari hemodialisis adalah mengendalikan uremia, kelebihan cairan dan ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi pada klien gagal ginjal kronik (Kallenbach et al, 2005; dalam Rosdiana, 2010). Sistem ginjal buatan yang dilakukan dialyzer memungkinkan terjadinya pembuangan sisa metabolisme berupa ureum, creatinin dan asam urat, pembuangan cairan mempertahankan sistem buffer tubuh serta mengembalikan kadar elektrolit tubuh (Lewis, 2000; dalam Widodo, 2013). Pada pasien yang menjalani hemodialisa mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Hal tersebut muncul setiap waktu sampai akhir kehidupan. Hal ini menjadi stresor fisik yang berpengaruh pada dimensi kehidupan pasien yang meliputi bio, psiko, sosio, spiritual. Kelemahan fisik yang dirasakan seperti mual, muntah, nyeri, lemah otot, oedema adalah sebagian dari manisfestasi klinik dari pasien yang menjalani hemodialisa. Penelitian yang dilakukan (Kaltsouda et al., 2011) pasien yang terdiagnosa


4 gagal ginjal kronik lebih dari tiga tahun yang menjalani hemodialisa memiliki keluhan fisik seperti penurunan fungsi tubuh, rasa sakit dan penurunan kesehatan secara umum, keluhan psikologis dan gangguan fungsi sosial. Menurut dr. Andri, Sp.KJ, psikiater klinik psikosomatik RS Omni Alam Sutera dalam detikHealth selain perjalanan penyakit yang panjang, ketidakmampuan pasien dan perasaan tidak nyaman yang diakibatkan karena bergantung dengan mesin hemodialysis sering menjadi sumber putus asa yang mengarah kepada kendala psikologis lebih lanjut. Permasalahan psikologis yang dialami pasien gagal ginjal kronik ditunjukan dari semenjak pertama kali pasien divonis mengalami gagal ginjal. Beberapa pasien merasa frustasi, putus asa, marah, dan adanya perasaan tidak percaya akan hasil diagnosa dokter, bahkan ada seseorang pasien marah pada dokter, bahwa dirinya harus menjalani hemodialisa. Mereka menilai bahwa dari semenjak menderita penyakit, hidupnya selalu dalam keadaan ketidak beruntungan, tidak memiliki harapan dan sangat sensitif terhadap kritik dan saran, adanya prognosa yang negatif menyebabkan pada beberapa pasien mengaku dirinya pesimis akan kesembuhannya, bahkan beberapa orang mengaku dirinya sempat berusaha bunuh diri dengan makan berlebihan atau dengan memotong nadi tangannya dikarenakan merasa putus asa dan lelah melakukan hemodialisis (Iskandarsyah, 2006). Gangguan psikologis seperti rasa takut, cemas, dan depresi seringkali menyertai penyakit ginjal kronis. Pasien yang menjalani dialisis beresiko mengalami gangguan psikologis 1,5-3 kali lebih besar dibandingkan dengan penyakit kronis lainnya. Hal ini dikarenakan pasien dialisis mengalami lebih banyak masalah terkait dengan modalitas terapi dialisis dan pengaruh fisiologis penyakit, serta gejala yang timbul akibat terapi yang dilakukan (Baykan & Yargic, 2012). Menurut (Rahimi et al., 2002 dalam Nugraha 2011) penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa akan


5 mengalami depresi, kecmasan dan stress. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Bossola et al., (2010) dari 80 pasien hemodialisa, 38 pasien tidak memiliki gejala depresi dan 42 memiliki gejala depresi, sedangkan untuk cemas ada 3 pasien tidak memiliki gejala kecemasan dan 38 pasien memiliki gejala ringan dari kecemasan, sedangkan 39 orang pasien memiliki gejala cemas sedang atau berat kecemasan. Berdasarkan dari penelitian tim perawat RSUD Dr. Moewardi (2008) tingkatan stress pasien hemodialisa berada pada stress sedang (40%), berat (30%), ringan (30%). Menurut (Davidson: 2007 dalam Nugraha 2011) depresi merupakan masalah psikososial yang muncul sebagai dampak psikologis. Perasaan hilang harapan, hospitalisasi, hilangnya rasa kepercayaan diri adalah merupakan gejala yang paling sering muncul dari depresi yang dialami pasien dengan hemodialisa. (Tallas: 2005; Mardyaningsih 2014) depresi yang merupakan salah satu respon psikologis terhadap penyakit diketahui bahwa depresi menurunkan respon kekebalan tubuh, dan pasien gagal ginjal stadium V penambahan depresi kedalam pikiran bisa semakin memperburuk keadaan. Menurut Johnson et al., 2010 dalam Rosdiana 2010, lebih dari 70% pasien HD memiliki gejala depresi atau kecemasan. Penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional mendapatkan hasil bahwa responden yang telah lama dalam menjalani hemodialisa cenderung memiliki tingkat kecemasan lebih ringan dibandingkan dengan responden yang baru menjalani hemodialisa, hal ini disebabkan karena dengan lamanya seseorang menjalani hemodialisa maka seseorang akan lebih adaptif dengan alat atau unit dialisis. Kecemasan dan ketakutan adalah reaksi umum terhadap stress penyakit. Perasaan hilang kendali, bersalah dan frustrasi juga turut berperan dalam reaksi emosional pasien. Penyakit membuat pasien merasa tidak berdaya, menyadari akan terjadinya kematian tubuh membuat pasien merasa cemas sekali. (Mark: 1995; Nurani 2013) Terdapat beberapa tahapan reaksi seseorang dalam


6 menghadapi stressor, bagi pasien yang sudah lama menjalani hemodialisis kemungkinan sudah dalam fase penerimaan dalam kriteria Kubler-Ross, sehingga tingkat depresinya lebih rendah dibandingkan pada pasien yang baru menjalani hemodialisis (Rustina, 2012; Lukman, 2013). Tahapan reaksi seseorang dari Kubler-Ross bahwa seseorang dengan penyakit kronis akan ada tahap psikologis dari pasien, sehingga penting bagi perawat untuk melakukan asuhan keperawtan secara komprehensif baik bio, psiko, sosio dan spiritual. Gambaran ekspresi psikologis yang dialami tersebut terutama di awal pasien di diagnosa gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis (Farida, 2010). Pada akhirnya pasien yang menjalani hemodialisa akan terjadi penyesuain diri (adaptasi) terhadap dirinya. Penelitian Rahma W :2008; Jhony (2015) mengemukakan bahwa pada pasien gagal ginjal kronik yang mengalami kecemasan sebagian besar yaitu 90% mengenai masalah kematian dan 10% masalah yang berkaitan dengan keluarga. Ketidakberdayaaan serta kurangnya penerimaan diri pasien menjadi faktor psikologis yang mampu mengarahkan pasien pada tingkat kecemasan (Stuart dan Sundeen, 1998). Kecemasan merupakan suatu pengalaman subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dan ketidakmampuan menghadapi masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menyenangkan umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis seperti gemetar, berkeringat, dan detak jantung meningkat. Gejala-gejala psikologis seperti gelisah, tegang, bingung, dan tak dapat berkonsentrasi (Jhoni, 2015). Berdasarkan hasil literatur beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui dampak psikososial pada pasien yang menjalani hemodialisis diantaranya penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Salmiyah (2011) tentang analisis fenomenologi pengalaman pada pasien yang menjalani hemodialisis. Hasil kajian menunjukkan didapatkan tema; perasaan marah, ingin selalu diperhatikan, merasa takut akan


7 kematian, pasrah dan mengembalikan semua kepada Tuhan YME, merasa hilang kemerdekaannya, serta keluarga sebagai pendorong semangat hidup. Penelitian kualitatif lainnya yaitu tentang pengalaman pasien hemodialisis terhadap kualitas hidup yang dilakukan oleh Farida (2010) dari hasil kajian didapatkan tema; perubahan pemenuhan kebutuhan dasar klien, kualitas spiritual meningkat, kualitas fisik dan psikososial menurun, puas terhadap pelayanan keperawatan, serta kebutuhan memperoleh dukungan sosial. Studi fenomenologi deskriptif pengalaman spiritualitas pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa Mailani et al., (2015) didapatkan hasil temuan 4 tema yang mencerminkan fenomenologi yaitu mendekatkan diri kepata Tuhan, dukungan dari orang tua terdekat, mempunyai harapan sembuh dan menerima dengan ikhlas penyakit yang diderita Penelitian Sunarya (2014) tahap respon emosional pasien gagal ginjal kronik usia dewasa awal yang menjalani hemodialisa. Hasil yang didapat dari kajian ini adalah respon emosional semua subjek awalnya sama-sama berada di tahap penolakan namun setelah itu tahapan yang dialami tiap subjek bervariasi. Tahapan yang dialami semua subjek tidak berurutan dan bisa ada tahap yang dilompati atau tidak dialami. Semua subjek cenderung mengulangi tahap yang pernah dilewati. Subjek I cenderung mengulangi tahap depresi. Subjek II mengalami 2 tahap bersamaan yaitu marah dan depresi, tetapi mengulangi tahap menolak. Subjek III mengalami 2 tahap bersamaan yaitu menolak dan marah lalu mengulang tahap kemarahan. Ikhsan (2015), pada penelitiannya didapatkan hasil bahwa gambaran konsep diri klien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis sebagai berikut: 1) Citra tubuh pasien terganggu dikarenakan penurunan fisik, perubahan kulit, kerontokan, edema, merasa minder, sedih, stres, tidak nyaman, meskipun akhirnya menerima, 2) Harga diri pasien terganggu karena efek terapi hemodialisis dan hubungan


8 dengan orang sekitar kurang baik akan tetapi dukungan keluarga membuat klien kuat menjalani, 3) Peran pasien terganggu karena tidak mampu menjalankan secara maksimal dalam pekerjaan dan keluarga. Artikel Fitriani yang berjudul pengalaman pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RS Telogorejo Semarang didapatkan hasil kajian yaitu: adanya pengetahuan informan tentang cuci darah, faktor-faktor yang menyebabkan rutin menjalani hemodialisa adalah karena kondisi tubuh, dukungan keluarga, kebutuhan yang harus dilakukan dan dari tenaga kesehatan, sikap pasien dan keluarga mereka pertama sedih takut dan cemas, tetapi pasien lama-lama tidak takut, ikhlas menerima, menyadari cuci darah penting pasien mau menerima dan keluarga mendukung, memotivasi pasien untuk menjalani cuci darah dengan sabar. Kepatuhan pasien sesuai dengan anjuran dokter dan perawat, karena sebuah kebutuhan yang harus dijalani, dan sebuah keharusan untuk kenyamann sendiri. Penelitain ini juga mendapatkan hasil kajian hambatan dalam cuci darah adalah perasaan bosan menjalani hemodialisa terus menerus, perasaan malas berkali-kali disuntik, tidak ada semangat walaupun ada biaya cuci darah. Hasil wawancara dengan salah satu perawat Unit Hemodialisa pada bulan Nopember 2016 menyebutkan bahwa pasien yang melakukan hemodialisa rata- rata sebanyak 2 kali seminggu selama 4-5 jam per kunjungan. Pasien di ruang hemodialisa ini rata-rata merupakan pasien yang sudah lama menjalani hemodialisa, bahkan ada pasien yang rutin HD lebih dari 5 tahun. Hasil wawancara dengan 5 orang pasien. Pasien ke 1 mengatakan bahwa kadang pasien merasa bosan untuk melakukan hemodialisis, kegiatan dan aktivitas pasien pun berubah drastis semenjak terdiagnosis menderita gagal ginjal dan diharuskan melakukan hemodialisa. Pasien harus benarbenar meluangkan waktu untuk pergi ke rumah sakit untuk menjalani terapi HD, karena sekali terlambat melakukan HD pasien akan mengalami sesak nafas. Kegiatan pasien sehari-hari banyak yang dikorbankan. Menurut pasien terkadang kesal,


9 marah, kadang sedih, kadang benci, namun apa boleh buat ini semua terjadi karena kehendak Nya. Pasien ke 2 yang baru 3 bulan menjalani hemodialisa mengatakan ikhlas menjalani hemodialisa karena masih ingin aktif dalam bekerja, setelah hemodialisa pasien merasa badannya tidak lemas lagi, bisa melakukan aktifitas seperti sebelum divonis penyakit gagal ginjal walaupun awal nya merasa cemas seperi apa nantinya proses saat cuci darah namun setelah mulai proses cuci darah pasien merasa memiliki banyak teman yang sama bahkan ada yang sudah 11 tahun cuci darah. Pasien ke 3 menyatakan terkadang merasa jenuh dengan aktifitas cuci darah yang harus dilakuan 2x dalam seminggu dan dilakukan seumur hidup, pasien ke 4 menyatakan awal divonis dokter dengan penyakit gagal ginjal dan diharuskan cuci darah sempat menolak karena masih tidak siap dengan cuci darah, saat dirumah pasien mengurung diri dikamar tidak mau bersosialisasi, menyalahkan diri sendiri kenapa dulu senang minum extra joss. Pasien ke 5 menyatakan alamiah apabila terkadang rasa sedih muncul, kenapa bisa terjadi pada pasien penyakt gagal ginjal, kenapa harus tergantung dengan cuci darah, namun pasien menyadari cuci darah bukan mengobati penyakit yang dialami namun untuk mempertahankan kehidupan dan menyatakaan ikhlas dalam menjalani cuci darah, tetap berusaha dan juga dukungan dari orang terdekat membuat pasien tetap bersemangat menjalani hidup. Berdasarkan data-data temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penyakit kronis menimbulkan perubahan tidak hanya fisik, namun juga mempengaruhi psikologis, sosial dan hemodialisa yang memakan waktu yang lama dan dilakukan secara rutin selama seumur hidup. Beratnya kondisi psikologis pasien menambah beban yang diderita setelah penyakit. Kondisi ini tentu saja membutuhkan dukungan psikososial. Dukungan dan perasaan positif yang diberikan secara fundamental akan mengubah cara pandang pasien. Pasien yang memiliki pandangan positif cenderung berpikiran positif terhadap hidup dan masa depan.


10 Penelitian Bailey & Snyder (2007) individu yang memiliki kepuasaan terhadap hidupnya juga memiliki harapan yang tinggi. Individu yang memiliki harapan cenderung memiliki pandangan positif tentang masa depan. (Mediakom Puskom, 2015) Dukungan sosial dapat memberikan kenyamanan fisik dan psikologis kepada individu, hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana dukungan sosial mempengaruhi kejadian dan efek dari keadaan stres atau bahkan depresi. Stres atau depresi yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang atau lama dapat memperburuk kondisi kesehatan. Tetapi dengan adanya dukungan sosial yang diterima oleh individu yang sedang mengalami atau menghadapi stres bahkan depresi akan dapat mempertahankan daya tahan tubuh dan meningkatkan kesehatan individu tersebut (Baron & Byrne, 2000). Dukungan sosial telah terbukti menurunkan depresi dengan meningkatkan sistem diri pasien yang menyebabkan meningkatnya optimisme dalam Symister & Friend (2003 yang disitasi oleh Wang, 2012). Finnegan (2013) pasien yang mendapat informasi yang baik tentang penyakit dan pengobatan, berdampak pada kemampuan mereka untuk mengatasi penyakit dan pengobatan. Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan diatas, diketahui bahwa tindakan hemodialisa mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsinya ginjal. Hal tersebut muncul setiap waktu sampai akhir kehidupan. Hal ini menjadi stresor fisik yang berpengaruh pada dimensi kehidupan pasien yang meliputi bio, psiko, sosio, spiritual. Berdasarkan studi literatur pengalaman pasien yang menjalani hemodialisa menunjukkan perasaan marah, ingin selalu diperhatikan, merasa takut akan kematian, pasrah dan mengembalikan semua kepada Tuhan YME, merasa hilang kemerdekaannya, serta keluarga sebagai pendorong semangat hidup. Penelitian lain pengalaman pasien hemodialisa terjadi perubahan pemenuhan kebutuhan dasar klien, kualitas spiritual meningkat, kualitas fisik dan psikososial. Hal tersebut mendasari penulis tertarik untuk melakukan penelitan dengan


11 metode kualitatif untuk menggali lebih dalam tentang pengalaman pasien yang menjalani hemodialisa.


12 BAB II GAGAL GINJAL KRONIK A. Pengertian Gagal Ginjal Kronik Penyakit Ginjal Kronik merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, sehingga menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah) (Smeltzer & Bare, 2008). Menurut Muttaqin (2011) PGK adalah kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat detruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa metabolit (toksik uremik) di dalam darah. Dari definisi diatas secara singkat dapat disimpulkan bahwa gagal ginjal kronik adalah kegagalan ginjal dalam mempertahankan metabolisme. B. Etiologi Etiologi menurut Muttaqin (2011) begitu banyak kondisi klinis bisa menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronis. Respon yang terjadi adalah penurunan fungsi ginjal secara progresif. Kondisi klinis tersebut antara lain: 1. Penyakit dari Ginjal a. Penyakit pada glomerulus: glomerulonefritis. b. Infeksi kuman: pyelonefritis, ureteritis. c. Nefrolitiasis. d. Kista di ginjal: polcystis kidney. e. Trauma langsung pada ginjal. f. Keganasan pada ginjal. g. Obstruksi: batu, tumor, penyempitan atau striktur. 2. Penyakit di Luar Ginjal a. Penyakit sistemik: diabetes mellitus, hipertensi, kolesterol tinggi. b. Dyslipidemia. c. Infeksi di badan : TBC paru, sipilis, malaria, hepatitis.


13 d. Pre eklamsi. e. Obat-obatan. f. Kehilangan cairan yang mendadak (luka bakar). Luana et al., (2012) membahas penyebab PGK terbanyak adalah glomerulonefritis. Di beberapa negara berkembang PGK juga diakibatkan oleh gangguan hemodinamika (hipertensi), metabolik (diabetes mellitus, dislipidemi), infeksi atau inflamasi (pielonefritis), kongenital (polikistik), atau obstruksi (tumor, nefrolitiasis). C. Klasifikasi Klasifikasi stadium pada pasien dengan gagal ginjal kronik ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah. Terdapat 5 stadium penyakit gagal ginjal kronis yang ditentukan melalui penghitungan nilai Glumerular Filtration Rate (GFR). Menghitung GFR dokter akan memeriksakan sampel darah penderita ke laboratorium untuk melihat kadar kreatinin dalam darah. Kreatinin adalah produk sisa yang berasal dari aktivitas otot yang seharusnya disaring dari dalam darah oleh ginjal yang sehat. Kidney Disease Outcome Quality Initiative (KDOQI) (2002) mengklasifikasikan PGK dalam 5 (lima) stadium, dijelaskan pada tabel berikut ini: Tabel 2.1 Klasifikasi penyakit ginjal kronik Stadium Fungsi ginjal Laju filtrasi glomerulus (LFG) (ml/menit/1,73m2 ) Risiko meningkat Normal > 90 (ada faktor resiko) Stadium 1 Normal/meningkat 90 (ada kerusakan ginjal, proteinuria) Stadium 2 Penurunan ringan 60-89 Stadium 3 Penurunan ringan 30-59 Stadium 4 Penurunan berat 15-29 Stadium 5 Gagal ginjal < 15


14 1. Stadium 1 Seseorang yang berada pada stadium 1 gagal ginjal kronik (GGK) biasanya belum merasakan gejala yang mengindikasikan adanya kerusakan pada ginjalnya. Hal ini disebabkan ginjal tetap berfungsi secara normal meskipun tidak lagi dalam kondisi tidak lagi 100 persen, sehingga banyak penderita yang tidak mengetahui kondisi ginjalnya dalam stadium 1. Hal tersebut diketahui biasanya saat penderita memeriksakan diri untuk penyakit lainnya seperti diabetes dan hipertensi. 2. Stadium 2 Stadium awal, tanda-tanda seseorang berada pada stadium 2 juga dapat tidak merasakan gejala yang aneh karena ginjal tetap dapat berfungsi dengan baik, kalaupun hal tersebut diketahui biasanya saat penderita memeriksakan diri untuk penyakit lainnya seperti diabetes dan hipertensi. 3. Stadium 3 Seseorang yang menderita GGK stadium 3 mengalami penurunan GFR moderat yaitu diantara 30 s/d 59 ml/min. dengan penurunan pada tingkat ini akumulasi sisa-sisa metabolisme akan menumpuk dalam darah yang disebut uremia. Pada stadium ini muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), anemia atau keluhan pada tulang. Gejala-gejala juga terkadang mulai dirasakan seperti: a. Fatique: rasa lemah atau lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia. b. Kelebihan cairan: seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah, seputar wajah atau tangan. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akibat terlalu banyak cairan yang berada dalam tubuh. c. Perubahan pada urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin, selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi


15 coklat, orannye tua atau merah apabila bercampur dengan darah. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering terbangun untuk buang air kecil di tengah malam. d. Rasa sakit pada ginjal: rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi. e. Sulit tidur: sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal, kram atau pun restless legs. f. Penderita GGK stadium 3 disarankan untuk memeriksakan diri ke seorang ahli ginjal hipertensi (nephrolog). Dokter akan memberikan rekomendasi terbaik serta terapi-terapi yang bertujuan untuk memperlambat laju penurunan fungsi ginjal. Bantuan ahli gizi juga diperlukan untuk mendapatkan perencanaan diet yang tepat. Penderita GGK pada stadium ini biasanya akan diminta untuk menjaga kecukupan protein namun tetap mewaspadai kadar fosfor yang ada dalam makanan tersebut, karena menjaga kadar fosfor dalam darah tetap rendah penting bagi kelangsungan fungsi ginjal. Penderita juga harus membatasi asupan kalsium apabila kandungan dalam darah terlalu tinggi, tidak ada pembatasan kalium kecuali didapati kadar dalam darah diatas normal. Membatasi karbohidrat biasanya juga dianjurkan bagi penderita yang juga mempunyai diabetes. Mengontrol minuman diperlukan selain pembatasan sodium untuk penderita hipertensi. 4. Stadium 4 Pada stadium ini fungsi ginjal hanya sekitar 15-30 persen saja dan apabila seseorang berada pada stadium ini maka sangat mungkin dalam waktu dekat diharuskan menjalani terapi pengganti ginjal (dialisis) atau melakukan transplantasi. Kondisi dimana terjadi penumpukan racun dalam darah atau uremia biasanya muncul pada stadium


16 ini, selain itu besar kemungkinan muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi), anemia, penyakit tulang, masalah pada jantung dan penyakit kardiovaskular lainnya. Gejala yang mungkin dirasakan pada stadium 4 adalah: a. Fatique: badan terasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia. b. Kelebihan cairan: seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah, seputar wajah atau tangan. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akibat terlalu banyak cairan yang berada dalam tubuh. c. Perubahan pada urin: dimana urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin, selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi coklat, orannye tua, atau merah apabila bercampur dengan darah. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering terbangun untuk buang air kecil di tengah malam. d. Rasa sakit pada ginjal: rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi. e. Sulit tidur: pada sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal, kram atau pun restless legs. f. Nausea: pasien muntah atau rasa ingin muntah. g. Perubahan cita rasa makanan: dapat terjadi bahwa makanan yang dikonsumsi tidak terasa seperti biasanya. h. Bau mulut uremik: dimana ureum yang menumpuk dalam darah dapat dideteksi melalui bau pernafasan yang tidak enak. i. Sulit berkonsentrasi 5. Stadium 5 (gagal ginjal terminal) Pada level ini ginjal kehilangan hampir seluruh kemampuannya untuk bekerja secara optimal, diperlukan


17 suatu terapi pengganti ginjal (dialisis) atau transplantasi agar penderita dapat bertahan hidup. Menurut Ignatavicius & Workman (2006), dalam Hagita. A & Bayhakki (2015) penyakit ginjal kronik terdiri beberapa tahap, dimana tahap akhir disebut EDRD (End State Renal Disease) dimana menunjukkan ketidakmampuan ginjal dalam mempertahankan homeostasis didalam tubuh. Luana (2012) pada penyakit ginjal kronik stadium 5 dengan tes kliren kreatinin (TKK) menunjukkan kurang dari 15 mL/menit/1,73m2 dianjurkan untuk menjalani terapi pengganti agar dapat bertahan hidup dengan kualitas baik. Salah satu terapi pengganti yang dilakukan adalah hemodialisis. Gejala yang dapat timbul pada stadium 5 antara lain: a. Kehilangan napsu makan. b. Nausea. c. Sakit kepala. d. Merasa lelah. e. Tidak mampu berkonsentrasi. f. Gatal-gatal. g. Urin tidak keluar atau hanya sedikit sekali. h. Bengkak, terutama di seputar wajah, mata dan pergelangan kaki. i. Kram otot. j. Perubahan warna kulit. D. Patofisiologi Menurut Sudoyo (2009) awal perjalanan penyakit ginjal kronik tergantung pada penyakit yang mendasarinya, selanjutnya akan terjadi proses pengurangan massa ginjal mengakibatkan hipertrofi struktur dan fungsi nefron yang masih tersisa sebagai upaya kompensasi yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan growth factors, hal ini mengakibatktan terjadinya hiperventilasi dan diikuti oleh peningkatan tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsug singkat, akhirnya timbul proses


18 maladaptasi berupa sklerosis nefron yang masih tersisa, yang pada akhirnya proses ini diikuti dengan penurunan fungsi nefron yang progresif, walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi. Penurunan fungsi nefron menyebabkan protein ikut diekskresikan dalam urin. Produk akhir metabolisme protein berupa urea yang normalnya diekskresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah, selanjutnya terjadi uremia yang mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis (Smeltzer & Bare, 2002). E. Manifestasi Klinis Stadium paling dini pada gagal ginjal kronis terjadi kehilangan daya cadang ginjal dan LFG masih normal atau meningkat, mengakibatkan terjadi penurunan fungsi nefron yang progresif ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin, manifestasinya antara lain (Sudoyo, 2006) : 2.1.1.1. Sesuai dengan penyakit yang mendasari: diabetes mellitus, infeksi traktus urinarius, batu traktus urinarius, hipertensi, hiperurikemi, Lupus Eritomatosus Sistemik (LES), dll. 2.1.1.2. Sindrom uremia: lemah, letargi, anoreksia, mual, muntah, nokturia, kelebihan volume cairan (volume overload), neuropati perifer, pruritus, perikarditis, kejang-kejang, koma. 2.1.1.3. Gejala komplikasi: hipertensi, anemia, osteodistrofi renal, payah jantung, asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium, khlorida). F. Penatalaksanaan Penatalaksanaan gagal ginjal kronis dapat dibagi menjadi 2 tahap, yaitu: tindakan konservatif dan dialisis atau transplantasi ginjal (Suharyanto, 2009):


19 1. Tindakan konservatif Tujuan pengobatan pada tahap ini adalah untuk meredakan atau memperlambat gangguan fungsi ginjal progresif (Suharyanto, 2006). Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan. a. Pembatasan protein Pembatasan asupan protein telah terbukti memperlambat terjadinya gagal ginjal. Pasien mendapatkan terapi dialisis teratur, jumlah kebutuhan protein biasanya dilonggarkan 60-80 gr/hari (Smeltzer & Bare, 2002). b. Diet rendah kalium Hiperkalemia biasanya merupakan masalah pada gagal ginjal lanjut. Diet yang dianjurkan adalah 40-80 mEq/hari. Penggunaan makanan dan obat-obatan yang tinggi kadar kaliumnya dapat menyebabkan hiperkalemia (Black & Hawks, 2005). c. Diet rendah natrium Diet natrium yang dianjurkan adalah 40-90 mEq/hari (1- 2 gr Na). Asupan natrium yang terlalu banyak dapat mengakibatkan retensi cairan, edema perifer, edema paru, hipertensi dan gagal jantung kongestif (Lewis et al., 2007). 1) Pengaturan cairan Cairan yang diminum penderita gagal ginjal tahap lanjut harus diawasi dengan seksama. Parameter yang tepat untuk diikuti selain data asupan dan pengeluaran cairan yang dicatat dengan tepat adalah pengukuran berat badan harian. Intake cairan yang bebas dapat menyebabkan beban sirkulasi menjadi berlebihan dan edema. Asupan yang terlalu rendah mengakibatkan dehidrasi, hipotensi dan gangguan fungsi ginjal (Hudak & Gallo, 1996). 2) Pencegahan dan pengobatan komplikasi misalnya hipertensi, hiperkalemia, anemia, asidosis, diet rendah fosfat, pengobatan hiperuresemia.


20 a) Hipertensi Manajemen hipertensi pada pasien PGK menurut Suharyanto (2006) dapat dikontrol dengan pembatasan natrium dan cairan, dapat juga diberikan obat antihipertensi seperti metildopa (aldomet), propranolol, klonidin (catapres). Apabila penderita sedang menjalani terapi hemodialisa, pemberian antihipertensi dihentikan karena dapat mengakibatkan hipotensi dan syok yang diakibatkan oleh keluarnya cairan intravaskuler melalui ultrafiltrasi. b) Hiperkalemia Hiperkalemia merupakan komplikasi yang paling serius, karena bila K+ serum mencapai sekitar 7 mEq/L dapat mengakibatkan aritmia dan juga henti jantung. Hiperkalemia dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin intravena, yang akan memasukkan K+ ke dalam sel, atau dengan pemberian Kalsium Glukonat 10% (Sudoyo, 2006). c) Anemia Anemia pada PGK diakibatkan penurunan sekresi eritropoeitin oleh ginjal. Pengobatannya adalah pemberian hormon eritropoeitin, yaitu rekombinan eritropoeitin (r-EPO) selain dengan pemberian vitamin dan asam folat, besi dan tranfusi darah (Sudoyo, 2009). d) Asidosis Asidosis ginjal biasanya tidak diobati kecuali HCO3, plasma turun di bawah angka 15 mEq/I. Bila asidosis berat akan dikoreksi dengan pemberian Na HCO3 (Natrium Bikarbonat) parenteral. Koreksi pH darah yang berlebihan dapat mempercepat timbulnya tetani, maka harus dimonitor dengan seksama (Sudoyo, 2006).


21 e) Diet rendah fosfat Diet rendah fosfat dengan pemberian gel yang dapat mengikat fosfat di dalam usus. Gel yang dapat mengikat fosfat harus dimakan bersama dengan makanan (Sudoyo, 2006). 2. Dialisis dan transplantasi Pengobatan penyakit ginjal kronik stadium akhir adalah dengan dialisis dan transplantasi ginjal. Dialisis dapat digunakan untuk mempertahankan pasien dalam keadaan klinis yang optimal sampai tersedia donor ginjal. Dialisis dilakukan apabila kadar kreatinin serum biasanya diatas 6 ml/100 ml pada laki-laki, sedangkan pada wanita 4 ml/ 100 ml dan LFG kurang dari 4 ml/menit (Black & Hawks, 2005). Penyakit ginjal tahap akhir harus menggunakan terapi mengganti ginjal sebagai pilihan untuk mempertahankan fungsi tubuh. Terapi pengganti ginjal biasanya berupa transplantasi ginjal atau dialisis yang terdiri dialisis peritoneal dan hemodialisa (Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever, 2008 dalam Hagita, Bayhakki & Woferst, 2015). Luana et al., (2012) membahas tentang terapi pada gagal ginjal kronik bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu terapi konservatif dan terapi pengganti. Terapi konservatif merupakan pengaturan asupan protein, yang bertujuan untuk memperlambat kerusakan ginjal lebih lanjut. Terapi pengganti diberikan apabila terapi konservatif tidak memberikan hasil yang diharapkan. Terapi pengganti ini dapat berupa dialisis dan transplantasi ginjal.


22 BAB III HEMODIALISIS A. Definisi Dialisis adalah proses yang menggantikan secara fungsional pada gangguan fungsi ginjal dengan membuang kelebihan cairan atau akumulasi toksin endogen atau eksogen (Suharyanto, 2009). Menurut Sudoyo (2006), hemodialisa dilakukan dengan mengalirkan darah dalam suatu tabung ginjal buatan (dialiser) yang terdiri dari dua komponen yang terpisah. Darah pasien dipompa dan dialirkan ke kompartemen darah yang dibatasi oleh selaput semipermiabel buatan (artifisial) dengan kompartemen dialisat. Membran semipermiabel adalah lembar tipis, berpori-pori terbuat dari selulosa atau bahan sintetik. Ukuran pori-pori membran memungkinkan difusi zat dengan berat molekul rendah seperti urea, kreatinin, dan asam urat berdifusi. Molekul air juga sangat kecil bergerak bebas melalui membran, tetapi kebanyakan protein plasma, bakteri, dan sel-sel darah terlalu besar untuk melewati pori-pori membran (Hudak & Gallo, 1996). B. Indikasi Dialisis Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Dialisis digunakan untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan sampai fungsi ginjal pasien pulih kembali. Metode terapi mencakup hemodialisa, hemofiltrasi dan peritonial dialisis. Hemodialisa dapat dilakukan pada saat toksin atau zat racun harus segera dikeluarkan untuk mencegah kerusakan permanen atau menyebabkan kematian (Kallenbach, 2005). Hemodialisa berfungsi untuk mengambil zat-zat nitrogen dan toksin dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisa, aliran darah yang penuh


23 dengan toksin dan limbah nitrogen dialirkan dari tubuh pasien ke dialiser tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tubuh pasien (Smeltzer & Bare, 2002). Menurut Colby, (2010) dalam Nurmalika, (2010) hemodialisa adalah dialisis menggunakan mesin dialiser yang berfungsi sebagai ginjal buatan, proses dilakukam 1-3 kali seminggu di rumah sakit dan setiap kalinya membutuhkan waktu sekitar 2-4 jam. Baradero et al., (2005) dalam Agustina (2013) rata-rata untuk setiap orang memerlukan waktu 9-12 jam dalam seminggu untuk melakukan cuci seluruh darah yang ada, tetapi karena dianggap terlalu lama, maka dibuat waktu cuci darahnya menjadi 3 kali pertemuan dalam seminggu dan disetiap pertemuannya dilakukan selama 3-4 jam. Tapi akan berbeda pada setiap orang yang memerlukan cuci darah, hal itu sangat tergantung dari derajat kerusakan ginjalnya, diet seharihari, penyakit lain yang menyertainya. Sehingga dokterlah yang akan menentukannya untuk setiap pasien dengan tepat. Menurut Sudoyo (2006) terapi dialisis ini tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala toksik uremia dan malnutrisi. Dialisis yang terlalu cepat pada pasien gagal ginjal kronik yang belum tahap akhir akan memperburuk faal ginjal. Keputusan untuk inisiasi terapi dialisis berdasarkan parameter laboratorium bila LFG antara 5-8 ml/menit/1,7 m2. C. Prinsip Hemodialisis Ada tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisa, yaitu difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah di dalam darah dikeluarkan melalui proses difusi dengan cara bergerak dari darah yang mempunyai konsentrasi tinggi ke cairan dialisat dengan konsentrasi rendah. Cairan dialisat tersusun dari semua elektrolit yang penting dengan konsentrasi ekstrasel yang ideal. Kadar elektrolit darah dikendalikan dengan mengatur dialysate bath (rendaman dialisat) secara cepat (Smeltzer & Bare, 2008).


24 Gambar 3.1 Prinsip kerja hemodialisa Sumber: http://www.sahabatginjal.com/display_articles.aspx?artid=13 Air yang berlebihan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan, dengan kata lain air bergerak dari daerah dengan tekanan lebih tinggi (tubuh pasien) ke tekanan yang lebih rendah (cairan dialisat). Gradien ini dapat ditingkatkan melalui penambahan tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada mesin dialisis. Tekanan negatif diterapkan pada alat ini sebagai kekuatan penghisap pada membran dan memfasilitasi pengeluaran air, karena pasien tidak dapat mengekskresikan air, kekuatan ini diperlukan untuk mengeluarkan cairan hingga tercapai isovolemia (keseimbangan cairan) (Hudak & Gallo, 1996). D. Perubahan yang Terjadi pada Pasien Ginjal yang Menjalani Hemodialisis 1. Fisik Tingkat keparahan tanda dan gejala bergantung seberapa banyak kerusakan pada renal dan keadaan lain yang mempengaruhi dan usia pasien. tanda dan gejala yang dapat muncul: a. Neurologi: kelemahan, fatigue, kecemasan, penurunan konsentrasi, disorientasi, tremor, seizures, kelemahan pada lengan, nyeri pada telapak kaki, perubahan tingkah laku.


25 b. Integumen: kulit berwarna coklat keabu-abuan, kering, kulit mudah terkelupas, pruritus, ekimosis, purpura tipis, kuku rapuh, rambut tipis. c. Kardiovaskular: hipertensi, edema pitting (kaki, tangan, dan sakrum), edema periorbita, precordial friction rub, pembesaran vena pada leher, perikarditis, efusi perikardial, tamponade pericardial, hiperkalemia, hiperlipidemia. d. Paru-paru: krakles, sputum yang lengket dan kental, depresi refleks batuk, nyeri pleuritik, napas pendek, takipnea napas kussmaul, uremic pneumonitis, “uremic lung”. e. Gastrointestinal: bau ammonia, napas uremik, berasa logam, ulserasi pada mulut dan berdarah, anoreksia, mual dan muntah, hiccup, konstipasi atau diare, perdarahan pada saluran pencernaan. f. Hematologi: anemia, trombositopenia. g. Reproduksi: amenorrhea, atropi testis, infertile, penurunan libido. h. Muskuloskleletal: kram otot, hilangnya kekuatan otot, renal osteodistropi, nyeri tulang, fraktur, dan foot drop. Terapi rutin gagal ginjal yang dilakukan harus bisa diintegrasikan oleh pasien kedalam kehidupan kesehariannya. Secara umum pasien menjalani terapi hemodialisis sebanyak 2-3 kali seminggu, sehingga membuat pasien akan berkurang waktu tidurnya. Proses hemodialisis yang berlangsung 4-6 jam akan membuat waktu tidur pasien kurang dari 6 jam (Nurmanawati, 2011; Farida, 2010). Gangguan tidur yang terjadi disebabkan karena anemia, hipoalbumin, hipertensi, kram otot, gangguan keseimbangan cairan elektrolit dan kondisi psikologis pasien (Sabry et al., 2010). Keadaan ini membuat pasien mengalami kelelahan dan mengalami penurunan fisik yang akan membatasi aktivitas sosialnya (Leung, 2003). Masalah nyeri kronis juga sering dikeluhkan oleh pasien gagal ginjal kronis. Nyeri kronis pada pasien gagal


26 ginjal yang menjalani dialisis adalah akibat dari osteoporosis, osteoartritis, artritis, osteodistropi ginjal, polineuropati perifer, carpal thunnel, penyakit pembuluh darah tepi, osteomeilitis, dan prosedur dialisis. Nyeri kronis pada pasien gagal ginjal kronik ini dapat menyebabkan depresi (Davison, 2007). Penyakit gagal ginjal kronik juga membuat kondisi kardiovaskuler pasien mengalami gangguan. Hipertensi, dislipidemia dan diabetes akan menjadi faktor resiko utama dalam perubahan endotel pembuluh darah, dan pembentukan aterosklerosis. Kondisi ini dapat memicu beberapa penyakit kardiovaskuler antara lain penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke dan penyakit arteri perifer. Konsekuensi yang harus diterima adalah pasien yang menderita gagal ginjal kronis akan memiliki morbiditas dan mortalitas lebih tinggi akibat gangguan kardiovaskuler (Schiffrin et al., 2007). Masalah fisik yang lain yang sering dikeluhkan pasien adalah gangguan seksual. Menurut penelitian Kastrouni et al., (2010) melaporkan bahwa masalah seksual adalah masalah yang paling utama pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Yunani. Gangguan ginjal akan mempengaruhi penampilan seksual baik pada laki-laki maupun pada wanita. Hal ini disebabkan pasien mengalami perubahan hormonal akibat uremia. Selain perubahan hormonal, efek obat juga berperan dalam gangguan seksual ini. Obat yang diberikan pada pasien hemodialisis dapat menyebabkan disfungsi seksual (Leung, 2003). Hal ini didukung oleh hasil kajian Nurmawati (2011) yang menyebutkan bahwa pasien yang menjalani hemodialisis mengalami masalah dalam hubungan seksual dengan pasangannya. 2. Psikologis Psikologi berasal bahasa Yunani “psyche” yang artinya jiwa dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata) psikologi artinya


27 ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macammacam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya (Ahmadi, 2007). Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku. Semua perilaku merupakan cerminan jiwa. Jiwa tidak dapat dilihat, tetapi dapat dimanifestasikan dalam perilaku. Meski perilaku merupakan manifestasi atau wujud penampilan dari kondisi kejiwaan, namun tidak berarti bahwa kondisi kejiwaan yang sama akan menghasilkan perilaku yang sama. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku dan proses mental. Psikologi juga memberikan pengertian yang lebih baik mengenai sebab sebab mengapa orang berpikir dan bertindak seperti yang dilakukan dan memberikan pandangan untuk menilai sikap dan reaksi yang anda lakukan (Atkinson, 2002). Pasien yang menjalani hemodialisa mengalami berbagai masalah yang timbul akibat tidak berfungsi ginjal dan muncul setiap waktu sampai akhir kehidupan. Hal ini membuat stressor fisik yang berpengaruh pada berbagai dimensi kehidupan yang meliputi bio psiko sosio spiritual. Ketidakberdayaan serta kurang penerimaan diri pasien menjadi faktor psikologis yang mengarahkan pasien ke tingkat stress, cemas bahkan depresi (Stuart dan Sundeen, 1998). Ekspresi psikologis yang terjadi dapat berupa sedih, depresi, perasaan menyesal, gangguan gambaran diri dan rendah diri. Gambaran ekspresi psikologis yang dialami tersebut terutama di awal pasien di diagnosa gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis (Farida, 2010). Menurut (Ahmadi dan Gholyf, 2002; Nugraha., 2011) penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa akan mengalami depresi, kecemasan dan stress. Psikologis pasien gagal ginjal dipengaruhi beberapa faktor termasuk respon penerimaan dan penyesuaian individu terhadap diagnois, perkembangan penyakit, pengobatan. Banyaknya stressor berpotensi memperburuk kondisi psikologis. (Lifford et al., 2014).


28 a. Aspek Psikologis Pasien Gagal Ginjal Kronik Secara umum aspek psikologis pasien gagal ginjal kronik dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal (Rachmach, 2007:103 dalam Nurmalika, 2010). Faktor Internal, meliputi: 1) Komplikasi proses hemodialisa, terkadang hemodialisa menambah ketidaknyamanan karena adanya komplikasi atau kondisi pasien yang drop pasca hemodialisa, seperti hipotensi, kram otot, sindrom ketidakseimbangan dialysis, penyakit yang berhubungan dengan transfusi dan anemia. 2) Aturan diet ketat dan pengurangan asupan cairan, dikarenakan diet ketat membuat pasien frustasi dan merasa tidak nyaman, sedangkan pengurangan asupan cairan merupakan stressor psikologis yang tinggi bagi pasien. Penelitian yang dilakukan oleh Al Arabi (2006) terdapat kehilangan hubungan dengan orang lain, kemampuan mengambil keputusan dan rasa berharga. Mereka harus membatasi makanan dan minuman, tidak dapat ke kamar mandi dan melakukan perjalanan jauh. 3) Harapan patah ditengah jalan, dikarenakan pasien merasa hidupnya sudah tidak ada harapan lagi untuk menggapai masa depannya. Menurut Fitts (Agustiani, 2006) konsep diri berpengaruh kuat pada tingkah laku seseorang. Konsep diri yang positif akan menghasilkan penilaian diri yang positif yang akan menghasilkan bentuk-bentuk tingkah laku yang positif pula. Tingkah laku yang positif akan dapat mengurangi sifat rendah diri, takut, kecemasan yang berlebihan dan sebagainya. Rogers (Ritandiyono & Retnaningsih, 1996; Agustiani, 2006) mengatakan orang yang memiliki konsep diri yang positif berarti memiliki penerimaan diri dan harga diri yang positif pula.


29 Mereka menganggap dirinya berharga dan cenderung menerima diri sendiri sebagaimana adanya sebaliknya, orang yang memiliki konsep diri negatif akan menunjukkan penerimaan diri yang negatif pula. Mereka memiliki perasaan kurang berharga, tidak ada lagi harapan yang menyebabkan perasaan benci atau penolakan terhadap diri sendiri. Faktor ekternal meliputi: 4) Beban ekonomi, dikarenakan salah satunya biaya hemodialisa, konsultasi dokter yang dirasa cukup berat. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Yunani oleh Kaitelidou et al., (2010) menunjukkan bahwa pengangguran adalah stressor yang signifikan untuk pasien hemodialisis. Menurut penelitian tersebut, 60,2% dari pasien menerima dialisis tidak mampu menjaga profesi mereka dan 36,7% harus pensiun setelah mulai melakukan dialisis. 5) Mobilitas yang terbatas, karena keterbatasan kegiatan sehari-hari merupakan stressor utama bagi pasien. 6) Ketergantungan terhadap mesin, kelangsungan hidup pasien sangat tergantung pada mesin (sebagai pengganti mesin) dan ketergantungan terhadap orang-orang yang menolongnya saat proses hemodialisa. Pasien dengan gagal ginjal harus dapat menerima fakta terapi hemodialisis akan diperlukan untuk sepanjang hidupnya. Pasien dengan gagal ginjal seringkali menyangkal apa yang sedang terjadi pada mereka pada saat awal terapi hemodialisis. Hal ini mungkin berlanjut beberapa waktu dan menghalangi beberapa pasien untuk menerima aspek-aspek penting alam pengobatan mereka. Pemberian informasi tentang penyakit mereka dan keterlibatan dalam perencanaan dan implementasi


30 perawatan membantu pasien untuk melawan perasaan-perasaan ketergantungan dan menjadi termotivasi untuk mempertahankan kesehatan mereka sedapat mungkin (Hudak & Gallo, 1996). Penelitian yang dilakukan oleh Al Arabi (2006) pada 80 orang pasien hemodialisa menyatakan bahwa partisipan mengalami banyak pengalaman kehilangan akibat gagal ginjal kronik dan hemodialisa yang dijalani selama bertahun-tahun. Pada kajian ini partisipan menyatakan merasa terikat dengan mesin dan jadwal hemodialisa serta kelemahan tubuh. Stressor-stressor lain misalnya, kehilangan pekerjaan, penghasilan, status finansial, efek samping obat, perasaan lelah, perubahan suasana hati, sulit menemukan teman yang mengerti penyakitnya, kekacauan suasana keluarga dan hubungan sosial yang kurang baik. Kehilangan pekerjaan adalah bertanggung jawab untuk munculnya kecemasan intens dan masalah fungsi mempengaruhi psikologis dan libido pasangan. Stres mempengaruhi nafsu seksual pasien sehingga akan terjadi masalah citra tubuh (penurunan berat badan, atrofi otot, perubahan warna kulit, tanda-tanda tusukan vena) setelah memulai dialisis. Salah satu stressor lain yang signifikan adalah kelelahan, yang negatif dapat mempengaruhi seseorang kemampuan untuk bekerja dan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan harian. Kelelahan fisik atau mental dapat disebabkan oleh gangguan tidur atau kelelahan setelah dialisis. Faktorfaktor yang menjadi stressor apabila tidak diperhatikan bisa menimbulkan kecemasan luar biasa dan depresi yang dalam jangka panjang bisa mengakibatkan stress (Georgianni, 2014). Penelitian yang dilakukan Georgianni (2014) menyatakan bahwa stres yang paling umum yang dialami pasien dengan hemodialisa adalah kesulitan keuangan, perubahan sosial dan hubungan perkawinan,


31 sering masuk ke rumah sakit, ketidakmampuan liburan, pembatasan waktu luang, hubungan dengan keperawatan dan staf medis, takut kecacatan atau kematian, peningkatan ketergantungan pada mesin ginjal buatan, uncertainness tentang masa depan dan kelelahan fisik. Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi psikologis pasien. Faktor tersebut bisa dibagi menjadi dua yaitu faktor intrinsik dan ektrinsik. Faktor dari dalam pasien tersebut dan faktor dari luar yang mempengaruhi perubahan dari psikologis pasien. b. Respon psikologis pasien yang menderita penyakit kronis yaitu menurut (Maya 2011; Setyowati, 2014), ada beberapa respon emosional yang muncul pada pasien dan keluarga atas penyakit kronis yang diderita. Faktor intrinsik dari pasien itu sendiri. 1) Penolakan (Denial) Merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita penyakit kronis seperti jantung, stroke dan kanker. Penyakit yang dideritanya ini, pasien akan memperlihatkan sikap seolah-olah penyakit yang diderita tidak terlalu berat (menolak untuk mengakui bahwa penyakit yang diderita sebenarnya berat) dan menyakini bahwa penyakit kronis ini akan segera sembuh dan hanya akan memberi efek jangka pendek (menolak untuk mengakui bahwa penyakit kronis ini belum tentu dapat disembuhkan secara total dan menolak untuk mengakui bahwa ada efek jangka panjang atas penyakit ini, misalnya perubahan body image). 2) Cemas Setelah muncul diagnosa penyakit kronis, reaksi kecemasan merupakan sesuatu yang umum terjadi. Beberapa pasien merasa terkejut atas reaksi dan perubahan yang terjadi pada dirinya bahkan


32 membayangkan kematian yang akan terjadi padanya. Penelitian yang dilakukan Sousa, (2008) gejala kecemasan somatik seperti sesak napas. palpitasi, nyeri dada, berkeringat dan takut mati dapat terjadi dalam kasus-kasus gagal ginjal. Pada banyak pasien dengan kecemasan juga cenderung mengalami insomnia. Kecemasan dijumpai pada pasien hemodialisa dan bunuh diri terhitung 300 kali lebih dibandingkan kelompok orang biasa. Masalah perilaku timbul sikap atau tindakan yang berlebih (acting out), tidak patuh pada diet yang diatur, tidak muncul saat harus dilakukan hemodialisa, marah terhadap anggota staf rumah sakit, regresi infantiliasasi, tawar-menawar dan memohon-mohon (Marlina, 2012). Sumber kecemasan pasien juga prosedur invasif menyertai hemodialisis seperti: memasukkan jarum ke dalam fistula arteriovenosa, ditanamkan kateter vena sentral, suara alarm mesin dialisis dan staf ginjal mengubah pergeseran di stasiun dialisis (misalnya kurangnya perawat tetap yang tusukan fistula “benar” (Dziubek et el., 2016). Hasil kajian Tanvir et al., (2013) di Pakistan, 69 % pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa mengalami kecemasan dan depresi. 3) Depresi Depresi juga merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita penyakit kronis. Depresi pada pasien HD berhubungan dengan seringnya berkunjung ke rs dan keungkinan kondisi dengan gawat darurat. (Tavallai et al., 2009; Hedayati et al., 2008; Wang, 2012). Depresi yang dialami klien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa berdampak negatif dan merusak kualitas hidup klien (Bossola et al., 2012)


33 Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan berduka secara berlebihan dan berkepanjangan. Kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi seperti menarik diri, tidak mau bicara, malas mandi dan makan. (Lubis, 2006) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya depresi terbagi menjadi dua, yaitu faktor fisik dan faktor psikologi. Faktor fisik antara lain mencakup faktor genetika, susunan kimia otak dan tubuh, faktor usia, gender, gaya hidup, penyakit fisik, obat-obatan dan kurangnya cahaya matahari. Faktor psikologis antara lain mencakup faktor kepribadian seperti konsep diri yang negatif, pola pikir yang salah, pesimis, kepribadian yang introvert, faktor kehilangan/ kekecewaan, harga diri, stres, lingkungan keluarga dan akibat efek yang disebabkan oleh penyakit jangka panjang. Depresi secara umum diterima sebagai masalah psikologis yang paling umum pada pasien ginjal kronis. Meskipun simtomatologi depresi yang biasa ditemui pada pasien dialisis, sindrom depresi klinis termasuk kesedihan, rasa bersalah, putus asa, tidak berdaya dan perubahan dalam tidur, nafsu makan dan libido (Finkenstein: 2000; Ajasslari, 2015). Menurut Rachmach (2007; Nurmalika 2010) apabila pasien sudah mengalami depresi maka akan muncul perasaan sedih, murung, merasa kosong, tidak ada rasa senang, lesu, sulit tidur, selera makan menurun, mudah tersinggung, tidak kooperatif, merasa tidak berharga dan tidak berguna, serta putus asa. Depresi lebih membawa pasien ke perilaku bunuh diri pada pasien dialisis dan gagal ginjal. Studi observasional berulang telah menunjukkan bahwa pasien dialisis memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dari pada populasi yang sehat normal (Sousa, 2008).


34 Menurut penelitian yang dilakukan Junior et al., (2013) depresi sering terjadi pada penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) dan memprediksi mortalitas pada pasien dialisis, hasil kajian menunjukkan depresi ditemukan pada 101 (68,2%) kasus. Depresi tergolong ringan (49,5%), sedang (41,5%) dan berat (9%). Hanya 15,5% memiliki diagnosis depresi sebelumnya. Tindak lanjut dengan psikolog sedang dilakukan hanya 32,4% kasus. Hasil kajian (Tarachand, 2014) didapatkan analisis data tema utama yang muncul tentang pengalaman hidup pasien yang menjalani hemodialisa yaitu stress fisik (nyeri, kelelahan dan hilangnya nafsu makan), stress psikologis (shock, depresi pada diagnosis dan inisiasi dialisis, kesulitan mengikuti rejimen terapi yang diberikan, perasaan beban keluarga, komplikasi dan ketidakpastian kehidupan) dan stress sosial ekonomi (hilangnya pekerjaan, masalah keuangan, kehidupan sosial yang terbatas dan kehilangan kemampuan melakukan aktifitas sehari-hari). Memahami respon yang terjadi atas perubahan yang ada pada penderita penyakit kronis, perlu pemahaman yang mendalam tentang diri individu (self) itu sendiri. Self merupakan salah satu konsep utama dalam ilmu psikologi. Para psikolog mengacu pada self concept sebagai keyakinan atas kualitas dan penilaian yang dimiliki seseorang. Penyakit kronis dapat menghasilkan perubahan yang drastis pada self concept dan self esteem. Beberapa perubahan yang ada bisa bersifat sementara, walaupun ada juga yang bersifat permanen. Self concept itu sendiri merupakan bagian dari self evaluation termasuk didalamnya beberapa aspek seperti body image, prestasi, fungsi sosial dan the private self. a. The Physical Self (Penampilan Fisik) Body image merupakan penilaian dan evaluasi atas fungsi dan penampilan fisik seseorang. Body image yang


35 rendah berhubungan dengan harga diri yang rendah diikuti dengan terjadinya peningkatan depresi serta kecemasan. b. The Achieving Self (Konsep Diri) Keadaan penyakit kronis menjauhkan individu dari aktivitas ini, konsep diri individu yang bersangkutan bisa terkoyak dan rusak. Pekerjaan dan hobi sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan sakit dan sebagainya, individu dapat memperoleh kepuasan tersendiri dan meningkatkan harga dirinya. c. The Sosial Self (Kehidupan Sosial) Menciptakan kembali kehidupan sosial pasien penderita penyakit kronis merupakan aspek yang penting. Bentuk sumber daya sosial yang dapat membantu individu yang menderita penyakit kronis misalnya dengan pemberian informasi, bantuan dan dukungan emosional. Partisipasi keluarga dalam proses rehabilitasi merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan. Memberikan informasi pada anggota keluarga lain yang akurat dan cukup mengenai keadaan individu yang sakit (misalnya gangguan atau penyakit yang dialaminya, proses atau treatment yang akan dijalaninya bahkan perubahan emosional yang terlihat). Hal ini merupakan sesuatu yang penting untuk dilaksanakan agar terhindar dari kebingungan dan kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara individu yang sakit dengan pihak keluarga. Menurut Rachmah, (2007) dalam Nurmalika, (2010) apabila sudah alami depresi maka muncul perasaan sedih, murung, merasa kosong, tidak ada rasa senang, lesu, mudah tersinggung, tidak kooperatif, merasa tidak berharga, tidak berguna, serta putus asa. Dalam penelitian Wang (2012) menyatakan dukungan sosial telah terbukti membantu dalam gangguan emosi dalam berbagai penyakit kronis. Dukungan dan pendidikan, baik secara individual kepada pasien dan anggota keluarga, mungkin dapat


36 membantu. Pasien depresi dapat dipengaruhi oleh status psikososial dari suami atau istrinya, dan pasangan mungkin setuju untuk intervensi yang bisa meningkatkan hasil pasien. Dukungan sosial telah terbukti menurunkan depresi dengan meningkatkan sistem diri pasien yang menyebabkan meningkatnya optimisme (Symister & Friend, 2003). Efek umum dari psikologis termasuk depresi, kecemasan, kelelahan, penurunan kualitas hidup (kualitas hidup) dan peningkatan risiko bunuh diri (Chen et al., 2010 dalam Wang, 2012). c. Tahapan Yang Terjadi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (Kubler & Ross 1968: Kozier & Snyder, 2004) mengemukakan lima tahapan yang biasanya terjadi pada pasien gagal ginjal kronik yaitu: 1) Tahap penyangkalan Pada tahap pertama ini, pasien pertama-tama akan merasa syok (shock) dan mati rasa, selanjutnya memasuki proses denial. Menurut Kobler & Ross tahap ini bersifat adaptif, berperan sebagai penahan terhadap hal yang tidak diharapkan dan merupakan proteksi yang diperlukan. Reaksi kebanyakan individu saat pertama kali mendengar diagnosa penyakit kronis yang menimpanya adalah pernyataan, “Tidak, bukan saya, itu tidak benar.” Biasanya penyangkalan merupakan pertahanan sementara dan segera akan digantikan dengan penerimaan yang bersifat parsial. Pada tahap pertama pasien menunjukkan karakteristik perilaku pengingkaran, mereka gagal memahami dan mengalami makna rasional dan dampak emosional dari diagnosa. Pengingkaran ini dapat disebabkan karena ketidaktahuan pasien terhadap sakitnya atau sudah mengetahuinya dan mengancam dirinya. Pengingkaran dapat dinilai dari ucapan pasien “saya di sini istirahat.” Pengingkaran dapat berlalu sesuai


37 dengan kemungkinan memproyeksikan pada apa yang diterima sebagai alat yang berfungsi sakit, kesalahan laporan laboratorium, atau lebih mungkin perkiraan dokter dan perawat yang tidak kompeten. Pengingkaran diri yang mencolok tampak menimbulkan kecemasan, pengingkaran ini merupakan buffer untuk menerima kenyataan yang sebenarnya. Pengingkaran biasanya bersifat sementara dan segera berubah menjadi fase lain dalam menghadapi kenyataan (Hamid, 1999). Dalam penelitian Kaltsouda et al., (2011) menyatakan mereka yang melakukan mekanisme koping seperti represi dan denial berdampak buruk pada kondisi mental emosional, sementara yang menggunakan mekanisme koping sadar seperti rasionalitas dan anti emosi berdampak baik bagi kesehatan fisik. 2) Tahap marah. Penyangkalan pada tahap pertama tidak tertahan lagi, maka itu akan digantikan dengan rasa marah, gusar, cemburu, dan benci. Berlawanan dengan tahap penyangkalan, tahap marah ini sangat sulit diatasi dari sisi keluarga dan para staf rumah sakit. Apabila pengingkaran tidak dapat dipertahankan lagi, maka fase pertama berubah menjadi kemarahan. Perilaku pasien secara karakteristik dihubungkan dengan marah dan rasa bersalah. Pasien akan mengalihkan kemarahan pada segala sesuatu yang ada disekitarnya. Biasanya kemarahan diarahkan pada dirinya sendiri dan timbul penyesalan, yang menjadi sasaran utama atas kemarahan adalah perawat, semua tindakan perawat serba salah, pasien banyak menuntut, cerewet, cemberut, tidak bersahabat, kasar, menantang, tidak mau bekerja sama, sangat marah, mudah tersinggung, minta banyak perhatian dan iri hati. Jika keluarga


38 mengunjungi maka menunjukkan sikap menolak, yang mengakibatkan keluarga segan untuk datang, hal ini akan menyebabkan bentuk keagresipan (Hudak & Gallo, 1996). 3) Tahap menawar Tahap ini tidak terlalu dikenal, namun sebenarnya sangat menolong pasien, meskipun terjadi hanya beberapa saat, ketika kita tidak mampu menghadapi kenyataan yang menyedihkan pada awal periode dan menjadi marah terhadap orang-orang sekitar dan Tuhan pada fase kedua, boleh jadi kita akan berhasil membuat perjanjian yang mungkin menunda terjadinya hal yang tidak diharapkan. Setelah marah-marah berlalu, pasien akan berfikir dan merasakan bahwa protesnya tidak ada artinya. Mulai timbul rasa bersalahnya dan mulai membina hubungan dengan Tuhan, meminta dan berjanji merupakan ciri yang jelas yaitu pasien menyanggupi akan menjadi lebih baik bila terjadi sesuatu yang menimpanya atau berjanji lain jika dia dapat sembuh (Hamid, 1999). 4) Tahap Depresi Terdapat dua macam jenis depresi yaitu, depresi reaktif, dan depresi preparatori (persiapan). Pada depresi reaktif, pasien memiliki banyak hal untuk diungkapkan dan memerlukan banyak interaksi verbal serta sering melibatkan interaksi aktif. Seseorang yang penuh pengertian tidak akan menemui kesulitan dalam mengungkapkan penyebab depresi dan meredakan perasaan bersalah atau malu yang tidak realistis, yang biasanya menyertai depresi. Ketika depresi menjadi alat persiapan bagi kehilangan yang harus terjadi atas objek-objek yang dicintai, demi mempermudah sikap menerima, dorongan, dan penentraman hati tidak lagi terlalu berarti. Selama fase ini pasien sedih atau berkabung,


39 mengesampingkan marah dan pertahanannya serta mulai mengatasi kehilangan secara konstruktif. Pasien mencoba perilaku baru yang konsisten dengan keterbatasan baru. Tingkat emosional adalah kesedihan, tidak berdaya, tidak ada harapan, bersalah, penyesalan yang dalam, kesepian dan waktu untuk menangis berguna pada saat ini. Perilaku fase ini termasuk mengatakan ketakutan akan masa depan, bertanya peran baru dalam keluarga intensitas depresi tergantung pada makna dan beratnya penyakit. 5) Tahap penerimaan Penerimaan harus dibedakan dari bahagia. Penerimaan lebih merupakan kehampaan perasaan, ketika pasien menerima kedamaian dan penerimaan, lingkaran minatnya pun hilang. Pasien berharap dibiarkan sendiri atau setidaknya tidak dipusingkan oleh berita-berita dan masalah dunia luar. Penerimaan diri menurut Pannes (Hurlock 1973 dalam Zefry 2016) adalah tingkat dimana ia menerima karakteristik pribadinya, ia merasa mampu dan mau untuk hidup sebagaimana mestinya. Pertahanan psikologis bisa terlihat dari reaksi pertahanan jiwa terhadap ketergantungan dialisis berupa pengingkaran, rasa marah, depresi, kompromi interpersonal, menerima kesalahan, isolasi, regresi dan akhirnya menerima (Sadock, 1989 Herwina, 2000 dalam Itoh, 2009). Niu & Liu (2016) hasil kajian adanya 3 tahap dari psikologis pasien yang menjalani hemodialisa yaitu ketakutan, penyesuaian (adaptasi), dan depresi. Aspek emosi yang muncul pada awal pasien didiagnosis adalah takut, marah, berduka, depresi dan akhirnya menerima penyakit dan menjalani terapi. Rasa takut muncul karena pasien tidak mengetahui masa depan dari penyakit dan terapi


40 yang dijalaninya. Marah karena pasien menganggap seharusnya bukan dia yang sakit. Rasa berduka karena kehilangan fungsi organ sebelum akhirnya harus tergantung pada dialisis. Depresi terjadi akibat dari komplikasi dari terapi yang dijalani pasien. Keadaan ini membuat pasien membutuhkan bantuan dalam beradaptasi secara biopsikososial terhadap penyakitnya (Leung, 2003). d. Penyesuaian psikologis pada pasien hemoodialisa Mulai dilakukan terapi hemodialisis, kondisi ini dipicu oleh perubahan secara radikal pola hidup pasien, masalah kehilangan pekerjaan, perubahan peran di keluarga, perubahan hubungan dan waktu yang terbuang untuk dialisis. Periode penyesuaian ini pasien akan mengalami ketidakberdayaan dan kehilangan kepribadian yang cukup parah (Davison, 2007). Pasien hemodialisis akan melalui tiga tahap penyesuaian secara psikologis, yaitu: 1) Periode honey moon, disebut juga periode optimis, yang ditandai adanya perbaikan fisik dan emosional, dan kesadaran pasien lebih jernih. Keadaan ini diikuti dengan munculnya harapan dan kepercayaan. Muncul setelah tiga minggu penderita menjalani hemodialisis yang pertama dan berlangsung enam minggu sampai enam bulan. 2) Periode kekecewaan, rasa senang, percaya dan harapan mulai berkurang dan kemudian menghilang. Pasien mulai sedih dan tidak berdaya. Keadaan ini berlangsung tiga sampai enam belas bulan. 3) Periode adaptasi jangka panjang (long term adaptation), masing- masing pasien menerima keterbatasan dirinya, kekurangan, dan komplikasi dari tindakan hemodialisis tersebut. Perubahan keperiode ini terjadi secara bertahap. Perubahan ini ditandai dengan fluktuasi perasaan pasien tentang emosi dan


Click to View FlipBook Version