41 kesehatan dirinya (Kaplan & Sadock, 1997; Auer, 2002). Dalam penelitian yang dilakukan (Gerogiani, 2014) penyesuaian pada pasien dengan dialisis melalui tiga periode: a. Masa honeymoon, dimulai 1-3 minggu dari dialisis pertama. Pasien menerima kondisi nya lebih besar sehingga mempermudah proses dialisis dan ketergantungan terhadap mesin. Selain itu muncul rasa takut, kecemasan, bahkan bayangan kematian dan kekhawatiran penurunan dari kegiatan sosial, masalah keuangan. b. Periode frustasi yang memakan waktu sekitar 3-12 bulan. Semakin intens kekhawatiran akan hilangnya otonomi, peran dalam keluarga, fungsi seksual. Muncul kekecawaan, frustasi, kesedihan, kelelahan. c. Periode penyesuaian yang panjang. Ditandai dengan penerimaan dengan kondisi pada pasien akan mengalami penerimaan dan depresi. Hasil kajian Armiyati et al., (2016) menunjukkan respon yang sangat positif dari pasien hemodialisis pasien dalam aspek psikososiospiritual oleh peningkatan koping, strategi spiritual dan upaya dukungan sosial. Dukungan sosial dari keluarga, petugas kesehatan, manajer kasus, kelompok dukungan sebaya adalah sistem. Sejalan dengan hasil kajian (Shahgholian & Yoesefi, 2015) didapatkan dari analisis data, 4 tema (dukungan psikologis, pendampingan, dukungan sosial, dan dukungan spiritual) dan 11 sub-tema diperoleh. Dukungan psikologis terdiri dari dua sub-tema dari dukungan psikologis oleh praktisi kesehatan dan dukungan emosional dari keluarga dan kerabat. Tiga sub-tema dari bantuan transportasi, dalam hal menyediakan dan menggunakan obat-obatan, dan kegiatan sehari-hari. Dukungan sosial diidentifikasi dengan empat sub-tema promosi tentang pemahaman
42 masyarakat tentang kondisi pasien, peningkatan komunikasi dengan orang lain, kebutuhan untuk pekerjaan, dan kemandirian. dukungan spiritual diidentifikasi dengan dua sub-tema dari perlunya iman dan kepercayaan pada Tuhan atau Imam dan kebutuhan untuk menyelesaikan kontradiksi spiritual. 3. Sosial Perubahan pola interaksi sosial yang terjadi yakni pasien cenderung lebih banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar rumah dan untuk interaksi dengan jarak yang jauh menjadi terbatas. Interaksi baru juga terjadi dengan sesama pasien yang menjalani hemodialisis. Selain itu terjadi gangguan fungsi seksual pada pasien dan gangguan mobilitas atau bepergian sehingga pasien tidak dapat bepergian lebih dari 3-4 hari (Farida, 2010). Pasien dengan penyakit ginjal yang menjalani dialisis biasanya kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan mereka, kehidupan sosial mereka, fleksibilitas keuangan mereka dan keterbatasan mereka cairan dan makanan. (Gerogianni et al., 2014). Dialisis menyebabkan terjadinya perubahan gaya hidup pada keluarga dan pasien, waktu untuk terapi akan mengurangi waktu yang tersedia melakukan aktivitas sosal dan menciptakan konflik, kecemasan, rasa bersalah dan depresi (Marlina, 2012). Keadaan lainnya yang membuat kondisi psikologis pasien semakin berat adalah ancaman kematian, potensial malpraktik petugas kesehatan, perasaan menjadi objek percobaan akibat seringnya diambil darah untuk pemeriksaan, stres akibat efek dari penyakit yang diderita, dan ketakutan akan diisolasi oleh lingkungan sekitar (Kastrouni et al., 2010). Dalam penelitian (Wang, 2012) menyatakan ognisi negatif dan kurangnya dukungan sosial mungkin memperburuk perasaan negatif pasien dan lebih berkontribusi terhadap depresi. Pertimbangan Psikososial Pasien Hemodialisa:
43 a. Individu dengan hemodialisa jangka panjang sering merasa khawatir akan kondisi sakit yang tidak dapat diramalkan dan gangguan dalam kehidupannya. Penderita menghadapi masalah finansial, kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, depresi akibat sakit kronik, dan ketakutan terhadap kematian. Pasienpasien yang lebih muda khawatir terhadap pernikahan mereka, anak-anak yang dimiliki dan beban yang ditimbulkan kepada keluarga mereka. Gaya hidup terencana berhubungan dengan terapi hemodialisa dan pembatasan asupan makanan serta cairan sering menghilangkan semangat hidup pasien (Brunner & Suddarth, 2002). b. Hemodialisa menyebabkan perubahan gaya hidup pada keluarga. Waktu yang diperlukan untuk terapi hemodialisa akan mengurangi waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas sosial dan dapat menciptakan konflik, frustrasi, rasa bersalah serta depresi di dalam keluarga. Keluarga pasien dan sahabat-sahabatnya mungkin memandang pasien sebagi orang yang terpinggirkan dengan harapan hidup yang terbatas. Barangkali sulit bagi pasien, pasangan, dan keluarganya untuk mengungkapkan rasa marah serta perasaan negatif. Terkadang perasaan tersebut membutuhkan konseling dan psikoterapi (Brunner & Suddarth, 2002). c. Pasien harus diberi kesempatan untuk mengungkapkan setiap perasaan marah dan keprihatinan terhadap berbagai pembatasan yang harus dipatuhi akibat penyakit, serta terapinya di samping masalah keuangan, rasa sakit dan gangguan rasa nyaman yang timbul akibat penyakit ataupun komplikasi terapi. Jika rasa marah tersebut tidak diungkapkan, mungkin perasaan ini akan diproyeksikan kepada diri sendiri dan menimbulkan
44 depresi, rasa putus asa serta upaya bunuh diri. Insiden bunuh diri meningkat pada pasien-pasien hemodialisa. Jika rasa marah tersebut diproyeksikan kepada orang lain, hal ini dapat merusak hubungan keluarga (Brunner & Suddarth, 2002). 4. Spiritual Perubahan ekspresi spiritual yang terjadi pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis berupa rasa syukur, pasrah, dan upaya meningkatkan ibadah (Farida, 2010). Memiliki keyakinan agama yang kuat telah diusulkan sebagai salah satu faktor protektif risiko bunuh diri di antara pasien hemodialisa (Martiny et al., 2011; Wang, 2012). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Ahmad et al., 2014) menunjukkan pasien yang menjalani hemodialisa menunjukkan strategi koping dengan selalu berdoa untuk membantu dan meringankan masalahnya. Hal ini sejalan dengan penelitian meta analisis yang dilakukan Bayhakki dan Hattakit (2012) terhadap 10 jurnal penelitian kualitatif yang menyatakan bahwa pasien dengan hemodialisa mengalami perubahan fisik, psikologis dan hubungan sosial. Pasien dengan penyakit ginjal kronis harus menyesuaikan diri dengan perubahan dan komplikasi yang disebabkan oleh penyakit pada kesehatan mereka, identitas, emosi, keluarga, gaya hidup, dan hubungan mereka dengan orang lain. Kelelahan berlebihan, perawatan kompleks, keterbatasan dalam konsumsi cairan dan masalah makanan pada pasien. Mereka membutuhkan waktu lama untuk memahami diagnosis dan beradaptasi dengan itu, untuk mengintegrasikan pengobatan dengan rutin dan kembali kehidupan yang normal seperti sebelum mengalam gagal ginjal (Tong et al., 2008; Ajasslari, 2015). Sejumlah penelitian telah berfokus pada efek dari pasien HD, termasuk perasaan keputusasaan, persepsi kerugian dan kurangnya kontrol,
45 kehilangan pekerjaan, dan hubungan keluarga dan hubungan sosial yang berubah. (Kimmel, 2001: Wang; 2012). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Gerogianni et al., 2014) stressor utama untuk pasien ini adalah penyakit itu sendiri (41,7%), pembatasan diet (25%), pembatasan asupan cairan (32,7%), kemampuan untuk melakukan perjalanan (29,5%) menurun, kecemasan dan gangguan tidur (68,1%). Kehidupan seksual (59,8%) dan penampilan (57,7%) . Fungsi fisik menurun ditunjukkan dengan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk kegiatan (53,8%), kesulitan dalam melakukan pekerjaan (51,6%) dan membuat kegiatan yang lebih minimal (62,8%).
46 BAB IV TEORI MODEL ADAPTASI ROY DAN TEORI MODEL PSYCHODYNAMIC NURSING PEPLAU A. Teori Model Adaptasi Roy 1. Pengertian Model Keperawatan Adaptasi Roy Model keperawatan adaptasi Roy adalah model keperawatan yang bertujuan membantu seseorang untuk beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan hubungan interdependensi selama sehat sakit (Marriner-Tomery, 1994). Teori adaptasi Callista Roy memandang klien sebagai suatu sistem adaptasi. Model adaptasi Roy menguraikan bahwa bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatannya dengan cara memepertahankan perilaku secara adaptif karena menurut Roy, manusia adalah makhluk holistic yang memiliki sistem adaptif yang selalu beradaptasi. 2. Konsep Mayor Kerangka Konseptual Model Adaptasi Roy Konsep Mayor yang membangun kerangka konseptual model adaptasi roy adalah: a. Sistem adalah kesatuan dari beberapa unit yang saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang utuh dengan ditandai adanya input, kontrol, proses, output, dan umpan balik. b. Derajat adaptasi adalah perubahan tetap sebagai hasil dari stimulus fokal, konstektual dan residual dengan standar individual, sehingga manusia dapat berespon adaptif sendiri. c. Problem adaptasi adalah kejadian atau situasi yang tidak adekuat terhadap penurunan atau peningkatan kebutuhan. d. Stimulus fokal adalah derajat perubahan atau stimulus yang secara langsung mengharuskan manusia berespon adaptif. Stimulus fokal adalah presipitasi perubahan tingkah laku.
47 e. Stimulus konstektual adalah seluruh stimulus lain yang menyertai dan memberikan konstribusi terhadap perubahan tingkah laku yang disebabkan atau dirangsang oleh stimulus fokal. f. Stimulus residual adalah seluruh faktor yang mungkin memberikan konstribusi terhadap perubahan tingkah laku, akan tetapi belum dapat di validasi. g. Regulator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon otomatik melalui syaraf, kimiawi dan hormonal. h. Kognator adalah subsistem dari mekanisme koping dengan respon melalui proses yang kompleks dari persepsi informasi, mengambil, keputusan dan belajar. i. Model efektor adaptif adalah kognator yaitu; fisiologikal, fungsi peran, interdependensi dan konsep diri. j. Respon adaptif adalah respon yang meningkatkan intergritas manusia dalam mencapai tujuan manusia untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan reproduksi. k. Fisiologis adalah kebutuhan fisiologis termasuk dasar dan bagaimana proses adaptasi dilakukan untuk pengaturan cairan dan elektrolit, aktivits dan istirahat, eliminasi, nutrisi, sirkulasi dan pengaturan terhadap suhu, sensasi, dan proses endokrin. l. Konsep diri adalah seluruh keyakinan dan perasaan yang dianut individu dalam satu waktu berbentuk: persepsi, partisipasi, terhadap reaksi orang lain dan tingkah laku langsung. Termasuk pandangan terhadap fisiknya (body image dan sensasi diri) kepribadian yang menghasilkan konsistensi diri, ideal diri atau harapan diri, moral dan etika pribadi. m. Penampilan peran adalah penampilan fungsi peran yang berhubungan dengan tugasnya di lingkungan sosial. n. Interdependensi adalah hubungan individu dengan orang lain yang penting dan sebagai support sistem. Model ini termasuk bagaimana cara memelihara
48 integritas fisik dengan pemeliharaan dan pengaruh belajar. 3. Asumsi Dasar Model Adaptasi Roy a. Manusia adalah keseluruhan dari biopsikososial yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan. b. Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi perubahan-perubahan biopsisosial. c. Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi perubahan-perubahan biopsikososial. d. Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia memberikan respon terhadap semua rangsangan baik positif maupun negatif. e. Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi rangsangan baik positif maupun negatif. f. Sehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia. 4. Komponen Sistem dalam Model Adaptasi Roy Sistem adalah suatu kesatuan yang dihubungkan karena fungsinya sebagai kesatuan untuk beberapa tujuan dan adanya saling ketergantungan dari setiap bagian-bagiannya. Sistem dalam model adaptasi Roy sebagai berikut (Roy, 1991): a. Input Roy mengidentifikasi bahwa input sebagai stimulus, merupakan kesatuan informasi, bahan-bahan atau energi dari lingkungan yang dapat menimbulkan respon, dimana dibagi dalam tiga tingkatan yaitu stimulus fokal, kontekstual dan stimulus residual. 1) Stimulus fokal yaitu stimulus yang langsung berhadapan dengan seseorang, efeknya segera, misalnya infeksi.
49 2) Stimulus kontekstual yaitu semua stimulus lain yang dialami seseorang baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat diobservasi, diukur dan secara subyektif dilaporkan. Rangsangan ini muncul secara bersamaan dimana dapat menimbulkan respon negatif pada stimulus fokal seperti anemia, isolasi sosial. 3) Stimulus residual yaitu ciri-ciri tambahan yang ada dan relevan dengan situasi yang ada tetapi sukar untuk diobservasi meliputi kepercayaan, sikap, sifat individu berkembang sesuai pengalaman yang lalu, hal ini memberi proses belajar untuk toleransi. b. Kontrol Proses kontrol seseorang menurut Roy adalah mekanisme koping yang di gunakan. Mekanisme kontrol ini dibagi atas regulator dan kognator yang merupakan subsistem. 1) Subsistem regulator Subsistem regulator mempunyai komponenkomponen: input-proses dan output. Input stimulus berupa internal atau eksternal. Transmiter regulator sistem adalah kimia, neural atau endokrin. Refleks otonom adalah respon neural dan brain sistem dan spinal cord yang diteruskan sebagai perilaku output dari regulator sistem. Banyak proses fisiologis yang dapat dinilai sebagai perilaku regulator subsistem. 2) Subsistem kognator. Stimulus untuk subsistem kognator dapat eksternal maupun internal. Perilaku output dari regulator subsistem dapat menjadi stimulus umpan balik untuk kognator subsistem. Kognator kontrol proses berhubungan dengan fungsi otak dalam memproses informasi, penilaian dan emosi. Persepsi atau proses informasi berhubungan dengan proses internal dalam memilih atensi, mencatat dan mengingat. Belajar berkorelasi dengan proses imitasi, reinforcement
50 (penguatan) dan insight (pengertian yang mendalam). Penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan adalah proses internal yang berhubungan dengan penilaian atau analisa. Emosi adalah proses pertahanan untuk mencari keringanan, mempergunakan penilaian dan kasih sayang. c. Output Output dari suatu sistem adalah perilaku yang dapat diamati, diukur atau secara subyektif dapat dilaporkan baik berasal dari dalam maupun dari luar. Perilaku ini merupakan umpan balik untuk sistem. Roy mengkategorikan output sistem sebagai respon yang adaptif atau respon yang tidak mal-adaptif. Respon yang adaptif dapat meningkatkan integritas seseorang yang secara keseluruhan dapat terlihat bila seseorang tersebut mampu melaksanakan tujuan yang berkenaan dengan kelangsungan hidup, perkembangan, reproduksi dan keunggulan. Respon yang mal adaptif perilaku yang tidak mendukung tujuan ini. Sistem adaptasi memiliki empat mode adaptasi diantaranya: 1) Pertama fungsi fisiologis, komponen sistem adaptasi ini yang adaptasi fisiologis diantaranya oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit, fungsi neurologis dan fungsi endokrin. 2) Kedua konsep diri yang mempunyai pengertian bagaimana seseorang mengenal pola-pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain. 3) Ketiga fungsi peran merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola interaksi sosial dalam berhubungan dengan orang lain. 4) Keempat interdependent merupakan kemampuan seseorang mengenal pola-pola tentang kasih sayang, cinta yang dilakukan melalui hubungan secara
51 interpersonal pada tingkat individu maupun kelompok. Dalam proses penyesuaian diri individu harus meningkatkan energi agar mampu melaksanakan tujuan untuk kelangsungan kehidupan, perkembangan, reproduksi dan keunggulan sehingga proses ini memiliki tujuan meningkatkan respon adaptasi. Teori adaptasi suster Callista Roy memandang klien sebagai suatu sistem adaptasi. Sesuai dengan model Roy, tujuan dari keperawatan adalah membantu seseorang untuk beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan hubungan interdependensi selama sehat dan sakit (Marriner-Tomery,1994). Kebutuhan asuhan keperawatan muncul ketika klien tidak dapat beradaptasi terhadap kebutuhan lingkungan internal dan eksternal. Seluruh individu harus beradaptasi terhadap kebutuhan berikut: a) Pemenuhan kebutuhan fisiologis dasar. b) Pengembangan konsep diri positif. c) Penampilan peran sosial. d) Pencapaian keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan. Perawat menetukan kebutuhan di atas menyebabkan timbulnya masalah bagi klien dan mengkaji bagaimana klien beradaptasi terhadap hal tersebut, kemudian asuhan keperawatan diberikan dengan tujuan untuk membantu klien beradaptasi. 5. Konsep Keperawatan dengan Model Adaptasi Roy Empat elemen penting yang termasuk dalam model adaptasi keperawatan adalah: (1) manusia, (2) lingkungan, (3) kesehatan, (4) keperawatan. Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan, juga termasuk dalam elemen penting pada konsep adaptasi. a. Manusia
52 Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif, sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistic sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, kontrol, output, dan proses umpan balik. Proses kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara adaptasi. Lebih spesifik manusia di definisikan sabagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara adaptasi yaitu: fungsi fisiologi, konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi. Dalam model adaptasi keperawatan manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan, sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem. Jadi manusia dilihat sebagai menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk variabel satu kesatuan yang saling berhubungan antar unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan. Sebagai suatu sistem manusia juga dapat digambarkan dengan istilah input, proses kontrol dan umpan balik serta output. Input pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan satandar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan. Variabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang biasanya dilakukan. Proses kontrol manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu: subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator adalah digambarkan sebagai aksi dalam hubunganya terhadap empat efektor
53 cara adaptasi yaitu: fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi. 1) Mode Fungsi Fisiologi Fungsi fisiologi berhubungan dengan struktur tubuh dan fungsinya. Roy mengidentifikasi sembilan kebutuhan dasar fisiologis yang harus dipenuhi untuk mempertahankan integritas, yang dibagi menjadi dua bagian, mode fungsi fisiologis tingkat dasar yang terdiri dari 5 kebutuhan dan fungsi fisiologis dengan proses yang kompleks terdiri dari 4 bagian yaitu: a) Oksigenasi merupakan kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan prosesnya, yaitu ventilasi, pertukaran gas dan transpor gas (Vairo,1984 dalam Roy 1991). b) Mulai dari proses ingesti dan assimilasi makanan untuk mempertahankan fungsi, meningkatkan pertumbuhan dan mengganti jaringan injury (Servonsky, 1984; Roy 1991). c) Eliminasi sekresi hasil dari metabolisme dari intestinal ginjal (Servonsky, 1984; Roy 1991). d) Aktivitas dan istirahat, kebutuhan keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat yang digunakan untuk mengoptimalkan fungsi fisiologis dalam memperbaiki dan memulihkan semua komponenkomponen tubuh (Cho, 1984; Roy 1991). e) Proteksi atau perlindungan sebagai dasar defens tubuh termasuk proses imunitas dan struktur integumen (kulit, rambut dan kuku) dimana hal ini penting sebagai fungsi proteksi dari infeksi, trauma dan perubahan suhu (Sato, 1984; Roy 1991). f) The sense atau perasaan merupakan penglihatan, pendengaran, perkataan, rasa dan bau memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungan. Sensasi nyeri penting dalam pengkajian perasaan (Drisscoll, 1984; Roy 1991).
54 g) Cairan dan elektrolit, keseimbangan cairan dan elektrolit didalamnya termasuk air, elektrolit, asam basa dalam seluler, ektrasel dan fungsi sistemik. Inefektif fungsi sistem fisiologis menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit (Parly, 1984, dalam Roy 1991). h) Fungsi syaraf atau neurologis adanya hubunganhubungan neurologis merupakan bagian integral dari regulator koping mekanisme seseorang. Mereka mempunyai fungsi untuk mengendalikan dan mengkoordinasi pergerakan tubuh, kesadaran dan proses emosi kognitif yang baik untuk mengatur aktivitas organ-organ tubuh (Robertson, 1984 dalam Roy, 1991). i) Fungsi endokrin dimana aksi endokrin adalah mengeluarkan hormon sesuai dengan fungsi neurologis, untuk menyatukan dan mengkoordinasi fungsi tubuh. Aktivitas endokrin mempunyai peran yang signifikan dalam respon stress dan merupakan regulator mekanisme koping (Howard & Valentine dalam Roy, 1991). 2) Mode Konsep Diri Mode konsep diri berhubungan dengan psikososial dengan penekanan spesifik pada aspek psikososial dan spiritual manusia. Kebutuhan dari konsep diri ini berhubungan dengan integritas psikis antara lain persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan. Konsep diri menurut Roy terdiri dari dua komponen yaitu the physical self dan the personal self. a) The physical self, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya berhubungan dengan sensasi tubuhnya dan gambaran tubuhnya. Kesulitan pada area ini sering terlihat pada saat merasa kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau hilang kemampuan seksualitas.
55 b) The personal self, yaitu berkaitan dengan konsistensi diri, ideal diri, moral-etik dan spiritual diri orang tersebut. Perasaan cemas, hilangnya kekuatan atau takut merupakan hal yang berat dalam area ini. 3) Mode fungsi peran Mode fungsi peran mengenal pola-pola interaksi sosial seseorang dalam hubungannya dengan orang lain, yang dicerminkan dalam peran primer, sekunder dan tersier. Fokusnya pada bagaimana seseorang dapat memerankan dirinya dimasyarakat sesuai kedudukannya. 4) Mode Interdependensi Mode interdependensi adalah bagian akhir dari mode yang dijabarkan oleh Roy. Fokusnya adalah interaksi untuk saling memberi dan menerima cinta atau kasih sayang, perhatian dan saling menghargai. Interdependensi yaitu keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam menerima sesuatu untuk dirinya. Ketergantungan ditunjukkan dengan kemampuan untuk afiliasi dengan orang lain. Kemandirian ditunjukkan oleh kemampuan berinisiatif untuk melakukan tindakan bagi dirinya. Interdependensi dapat dilihat dari keseimbangan antara dua nilai ekstrim, yaitu memberi dan menerima. Output dari manusia sebagai suatu sistem adaptif adalah respon inefektif. Respon-respon yang adaptif itu mempertahankan atau meningkatkan integritas, sedangkan respon yang tidak efektif atau maladaptif itu mengganggu integritas. Melalui proses umpan balik respon-respon memberikan lebih lanjut masukan (input) pada manusia sebagai suatu sistem. Subsistem regulator dan kognator adalah mekanisme adaptasi atau koping dengan perubahan lingkungan, dan diperlihatkan melalui perubahan
56 biologis, psikologis, dan sosial. Subsistem regulator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan pada sistem saraf, kimia tubuh dan organ endokrin. Subsistem kognator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan kognitif dan emosi, termasuk didalamnya persepsi, proses informasi, pembelajaran, dan membuat alasan dan emosional, yang termasuk didalamnya mempertahankan untuk mencari bantuan. a) Konsep sehat Roy menekankan bahwa sehat merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya dan menjadikan dirinya secara terintegrasi secara keseluruhan, fisik, mental dan sosial. Integritas adaptasi individu dimanifestasikan oleh kemampuan individu untuk memenuhi tujuan mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi. b) Sakit Sakit adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk beradapatasi terhadap rangsangan yang berasal dari dalam dan luar individu. Kondisi sehat dan sakit sangat individual dipersepsikan oleh individu. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi (koping) tergantung dari latar belakang individu tersebut dalam mengartikan dan mempersepsikan sehat-sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, budaya. c) Lingkungan Roy mendefinisikan lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal dari internal dan eksternal, yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dari perilaku seseorang dan kelompok. Lingkungan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang diterima individu dan dipersepsikan sebagai suatu
57 ancaman. Lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh individu (berupa pengalaman, kemampuan emosioanal, kepribadian) dan proses stressor biologis (sel maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh individu manifestasi yang tampak akan tercermin dari perilaku individu sebagai suatu respons. Pemahaman yang baik tentang lingkungan akan membantu perawat dalam meningkatkan adaptasi dalam merubah dan mengurangi resiko akibat dari lingkungan sekitar. d) Keperawatan Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional berupa pemenuhan kebutuhan dasar dan diberikan kepada individu baik sehat maupun sakit yang mengalami gangguan fisik, psikis dan sosial agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal. Roy mendefinisikan bahwa tujuan keperawatan adalah meningkatkan respon adaptasi berhubungan dengan empat mode respon adaptasi. Perubahan internal dan eksternal dan stimulus input tergantung dari kondisi koping individu. Kondisi koping seseorang atau keadaan koping seseorang merupakan tingkat adaptasi seseorang. Tingkat adaptasi seseorang akan ditentukan oleh stimulus fokal, kontekstual, dan residual. Fokal adalah suatu respon yang diberikan secara langsung terhadap ancaman atau input yang masuk. Penggunaan fokal pada umumnya tergantung tingkat perubahan yang berdampak terhadap seseorang. Stimulus kontekstual adalah semua stimulus lain seseorang baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat diobservasi, diukur, dan secara subjektif disampaikan oleh
58 individu. Stimulus residual adalah karakteristik atau riwayat dari seseorang yang ada dan timbul releva dengan situasi yang dihadapi tetapi sulit diukur secara objektif. Menurut Roy manusia sebagai sistem adaptif (dapat menyesuaikan diri) ketika sakit atau memiliki potensi sakit. Saat manusia mengalami stress atau kelemahan atau kekurangan mekanisme koping, manusia berusaha untuk menanggulangi sesuatu yang tidak efektif. Manusia berusaha meminimalkan kondisi yang tidak efektif yang memelihara yang adaptif. B. Teori Model Psychodynamic Nursing Peplau 1. Latar Belakang Model Konseptual Peplau Peplau memasukkan pengetahuan ke dalam kerangka konseptualnya yang pada akhirnya berkembang menjadi model keperawatan berbasis teori. Peplau menggunakan pengetahuan yang dikutip dari ilmu perilaku dan model psikologikal untuk mengembangkan teori hubungan interpersonal. Kutipan dari model psikologikal menyatakan bahwa “memungkinkan bagi perawat untuk berpindah dari orientasi terhadap penyakit ke salah satu bagian dari psikologi, perasaan, serta perilaku yang dapat di eksplore dan dimasukkan ke dalam intervensi keperawatan”. Hal ini memberikan kesempatan kepada perawat untuk mengajari pasien bagaimana cara mengungkapkan perasaan serta bagaimana cara menunjukkan perasaan tersebut. 2. Sumber-sumber Teoretis Peplau menggunakan pengetahuan yang dipinjamnya dari ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan apa yang dinamakan model psikologis (psychological model). Meminjam dari model psikologis “memungkinkan perawat untuk memulai pindah dari orientasi penyakit ke satu hal dimana arti psikologis dari kejadian, perasaan dan tingkah laku dapat di eksplorasi dan disatukan dalam intervensi
59 perawat. Hal ini akan memberikan perawat kesempatan untuk mengajarkan pasien bagaimana mengeksplorasi perasaan mereka dan mengeksplorasi pasien bagaimana menghadapi perasaan mereka. Kerangka kerja konseptual dari relasi antar personal akan meningkatkan kemampuan perawat dalam menggunakan konsep-konsep ini. 3. Konsep dan Asumsi Utama Keperawatan bersifat dinamis (psychodinamic nursing) menurut Peplau modelnya menggunakan keperawatan psikodinamis adalah kemampuan seseorang untuk memahami tingkah lakunya untuk membantu orang lain mengindentifikasikan kesulitan yang ia rasakan dan untuk mengaplikasikan prinsip relasi manusia kepada permasalahan yang timbul pada semua level pengalaman. Peplau mengembangkan modelnya dengan cara merinci konsep struktural dari proses antar personal dimana disitu letak fase hubungan pasien perawat dan kemudian mendefinisikan peran perawat dalam hubungan tersebut. Peplau menjelaskan hubungan tersebut kedalam 4 fase: a. Orientasi Yaitu rasa memerlukan dan mencari bimbingan profesional antara perawat menolong pasien dalam mengenali dan memahami masalahnya dan menentukan apa yang dia perlukan sebagai pertolongan. b. Identifikasi Perawat melakukan ekplorasi perasaan dan membantu pasien dalam penyakit yang ia rasakan sebagai sebuah pengalaman yang mengorientasi ulang perasaan dan menguatkan kekuatan positif pada kepribadiannya dan memberikan kepuasan yang diperlukan. c. Ekploitasi Pasien mengambil secara penuh nilai yang ditawarkan kepadanya melalui sebuah hubungan (relationship). Tujuan baru yang akan dicapai yang
60 diperoleh melalui usaha personal dapat diproyeksikan tenaga berpindah dari perawat ke pasien ketika pasien menunda rasa puasnya untuk mencapai bentuk baru dari apa yang akan dicapai. d. Resolusi Tujuan lama yang akan dicapai dikesampingkan dan diganti dengan tujuan baru. Proses dimana pasien membebaskan dirinya dari identifikasi dengan perawat. Peplau menyebutkan 6 macam peran perawat berbeda yang menyatu dalam fase hubungan perawatpasien: a. Peran orang asing Peplau menyatakan karena pasien dan perawat adalah orang asing bagi satu dan lainnya, maka pasien harus diperlakukan secara sopan, dengan kata lain perawat tidak boleh melakukan penilaian terlebih dahulu, namun harus menerima apa adanya. b. Peran dari seorang narasumber Perawat memberikan jawaban-jawaban spesifik dari tiap pertanyaan, terutama mengenai informasi kesehatan, dan menginterpretasikan ke pasien bagaimana perawatan dan rencana medis untuk hal tersebut. c. Peran pengajaran Peran pengajaran adalah kombinasi dari seluruh peran dan berasal dari apa yang diketahui pasien dan dikembangkan dari minatnya dalam menginginkan kemampuannya menggunakan informasi. d. Peran kepemimpinan Perawat membantu pasien dalam mengerjakan tugastugas di tanganya melalui hubungan yang bersifat kooperatif dan partisipasi aktif. e. Peran wali Pasien menganggap perawat sebagai peran walinya. Sikap perawat dan tingkah lakunya menciptakan
61 perasaan tertentu (feeling tones) dalam diri yang bersifat reaktif yang muncul dari hubungan sebalumnya. Fungsi perawat adalah untuk membimbing pasien dalam mengenali dirinya dengan sosok yang pasien tersebut bayangkan. f. Peran penasehat Peplau mempercayai bahwa peran penasehat memiliki peran besar dalam keperawatan psikiatrik. Penasehat berfungsi dalam hubungan perawat-pasien melalui cara perawat merespon kebutuhan pasien. Peplau menyebutkan ada 4 pengalaman psikobiologi: a. Kebutuhan (needs) b. Frustasi (frustration) c. Konflik (conflict) d. Kegelisahan (anxiety) Asumsi-Asumsi Peplau menyebutkan satu asumsi implisit yaitu: profesi keperawatan memiliki tanggung jawab legal dalam penggunaan keperawatan secara efektif dan segala konsekuensinya kepada pasien. a. Keperawatan (nursing) Keperawatan dideskripsikan sebagai sebuah proses yang signifikan, bersifat pengobatan (therapeutic), proses interpersonal. b. Orang (person) Peplau mendefinisikan orang (person) sebagai lelaki. Lelaki adalah sebuah organisme yang hidup dalam equilibrium yang tak stabil. c. Kesehatan (health) Peplau mendefinisikan sebagai sebuah simbol kata yang mengandung arti peningkatan kepribadian dan proses lainnya yang sedang berlangsung pada manusia dalam arah kreatif, konstruktif, produktif, personal dan kehidupan komunitas. d. Lingkungan (environment)
62 Peplau secara implisit mendefinisikan lingkungan sebagai kekuatan yang berada di luar organisme dan dalam konteks struktural dimana adat istiadat, kebiasaan dan keyakinan termasuk di dalamnya. Kondisi umum yang mengantar kepada kesehatan biasanya juga mengikut sertakan proses interpersonal.
63 BAB V HASIL EKSPLORASI PENGALAMAN MENJALANI HEMODIALISA Bab ini menguraikan hasil kajian yang telah dilakukan setelah mengeksplorasi dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang pengalaman menjalani hemodialisa pada pasien gagal ginjal kronik dan analisis tema yang muncul sesuai dengan perspektif partisipan tentang pengalaman pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa. A. Karakteristik Partisipan Partisipan pada kajian ini merupakan pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa di RS yang ada di Banjarmasin. Total jumlah partisipan sebanyak 6 orang, yang terdiri dari 1 orang laki–laki dan 5 orang perempuan, dengan usia termuda 22 tahun dan usia tertua 50 tahun. Lama menjalani hemodialisa pada partisipan ada yang 2 tahun dan beberapa partisipan sudah 4 tahun menjalani hemodialisa. Tingkat pendidikan partisipan bervariasi mulai dari SD sampai dengan DIII. Partisipan rata–rata beragama Islam. Semua partisipan menjalani cuci darah 2x dalam seminggu. Saat ini semua partisipan tidak lagi bekerja, riwayat pekerjaan partisipan bervariasi yaitu ada yang bekerja sebagai wiraswasta 1 orang, perawat 1 orang, sebagai asisten rumah tangga 1 orang, ibu rumah tangga 2 orang dan 1 orang tidak bekerja setelah lulus dari sekolah menengah atas. Seluruh partisipan tinggal bersama dan hidup bersama keluarga mereka yaitu suami, istri, anak-anak dan partisipan yang tinggal bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Tempat dilakukan wawancara dilakukan dengan membuat persetujuan partisipan untuk jam dan tempat wawancara, semua proses wawancara dilakukan dirumah partisipan.
64 Tabel 5.1 Karateristik Partisipan Kategori P1 P2 P3 P4 P5 P6 Usia 30 Tahun 22 Tahun 43 Tahun 36 Tahun 52 Tahun 39 Tahun Jenis Kelamin Perempu an Perempu an Perempu an Perempu an Lakilaki Perempu an Pendidik an Terakhir D3 SMA SD SMA SMA SMA Lama HD 4 Tahun 2 Tahun 2 Tahun 4 Tahun 4Tahu n 2 Tahun B. Hasil Analisis Tematik Terdapat 6 (enam) tema yang teridentifikasi dari hasil analisis data kualitatif yang telah dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap ke 6 partisipan. Tema yang memaparkan berbagai pengalaman menjalani hemodialisa pada pasien gagal ginjal di RS Banjarmasin. Tema tersebut adalah: (1) riwayat awal terdiagnosa gagal ginjal; (2) respon psikologis awal saat dinyatakan hemodialisa; (3) respon dan sikap selama pasien menjalani hemodialisa; (4) harapan pasien yang menjalani hemodialisa; (5) sikap keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan hemodialisa; (6) persepsi pasien terhadap tim kesehatan. Tema-tema yang dihasilkan dari kajian ini dibahas terpisah untuk menguraikan berbagai pengalaman pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa. Tema yang muncul saling berhubungan satu sama lain untuk menjelaskan pengalaman pasien dengan hemodialisa. Tema-tema ini diuraikan kembali per sub tema untuk memperoleh pemahaman bagaimana keenam tema tersebut terbentuk berdasarkan persepsi ke 6 partisipan. 1. Tema 1: Riwayat Awal Terdiagnosa Gagal Ginjal Ceritakan bagaimana mengetahui ketika pertama kali bapak/ibu, saudara/I terdiagnosa gagal ginjal? pertanyaan
65 ini adalah pertanyaan yang pertama kali ditanyakan kepada kesemua partisipan, dari tema ini didapatkan sub tema yaitu tanda dan gejala pada kardiovaskuler, tanda dan gejala pada gastrointestinal dan pemeriksaan diagnostik. Menurut pernyataan dari para partisipan adalah awal mula mengetahui gagal ginjal ada beberapa manifestasi klinik yang dirasakan oleh partisipan dimana manifestasi yang muncul pada partisipan pada sistem kardiovaskuler dan ada juga yang muncul pada sistem gastrointestinal. Beberapa partisipan justru mengetahui gagal ginjal dikarenakan dilakukan pemeriksaan diagnostik. Tema pertama yaitu riwayat awal terdiagnosa gagal ginjal. Tema ini diperoleh setelah melihat sub tema yang muncul yaitu tanda dan gejala pada kardiovaskuler, tanda dan gejala pada gastrointestinal serta pemeriksaan diagnostik. a. Tanda dan gejala pada kardiovaskuler Tema riwayat mengetahui gagal ginjal diperoleh setelah penulis menentukan sub tema pertama yang muncul dari hasil wawancara dengan partisipan yaitu tanda dan gejala pada kardiovaskuler. Tanda dan gejala yang didapat dilihat dari pernyataan partisipan yang terangkum dalam kategori berikut ini: darah tinggi dan oedema. Kategori darah tinggi merupakan pernyataan yang banyak diungkapkan partisipan. Dua orang partisipan menyatakan darah tinggi tanda yang muncul sebelum mengetahui mengalami gagal ginjal, seperti yang diungkapkan partisipan berikut ini: “ke dokter jantung sekalinya (ternyata) memang darah tinggi sudah 200 per berapa keitu (seperti) nah (itu). (P1) “ditensi 180 tidak biasa” (P3) Tanda yang lain muncul selain darah tinggi adalah oedema, seperti yang diungkapkan partisipan berikut ini:
66 "cairan menumpuk (menunjuk keperut)" (P2), "lalu bengkak (oedema) awak (badan)", "badan ni bengkakbengkak (oedema), dipicik (ditekan) belobak-lobak " (P4) "bengkak-bengkak (oedema), kira saya biri-biri" (P5) b. Tanda dan gejala pada gastrointestinal Tanda dan gejala pada gastrointestinal menjadi sub tema berikutnya. Kategori yang muncul adalah muntah, tidak mau makan dan penurunan BB. Kategori muntah dapat dilihat berdasarkan ungkapan partisipan berikut ini: "muntah" (P2), " bila pagi muntah dikira mangidam" (P4), "muntah" (P5) Kategori tidak mau makan dapat dilihat berdasarkan ungkapan partisipan berikut ini: "tidak mau makan" (P3), "tidak mau makan" (P4) Pernyataan adanya perubahan dari tubuh dirasakan partisipan. Partisipan merasa badannya mengalami penurunan berat badan dikemukakan partisipan, seperti yang diungkapkan berikut ini: "awak bekurus" (P4), "kurus awakku" (P6) Pemeriksaan diagnostik menjadi sub tema berikutnya pada tema ini. Kategori yang didapatkan kreatinin, hb dan cek darah. Kategori kreatinin didapatkan dari pernyataan partisipan berikut ini: "Kreatinin 13" (P1), " waktu itu kreatinin nya tinggi " (P3), Kreatininnya tuh (itu) (P1), " katanya ginjalnya habis tu tinggi kreatininnya" (P2)
67 Kategori cek darah dilihat berdasarkan pernyataan partisipan berikut ini: "Disuruh (diminta) dokternya lo anu periksa fungsi ginjal sekalinya (ternyata) tekena sudah" (P1),"suruh ambil darah tapi puasa dulu jadi kalo disuruhnya pulang, keluar hasilnya langsung dipadahinya (dikatakan) bu pian ginjal langsung opname" (P3) Pernyataan adanya hb rendah dinyatakan juga oleh partisipan. Kategori hb didapatkan berdasarkan pernyataan berikut ini: Hb jua (juga) loe rendah (P1), "habis tu Hb nya jua (juga) katanya rendah, waktu itu 3 kantong nambah darah " (P2) "Hb ni (ini) 4" (P3), "di rumah sakit 3 Hb ku (saya)" (P6) Tema pertama yang telah diuraikan diatas dengan skema dibawah ini:
68 Gambar 5.1 Riwayat Awal Terdiagnosa Gagal Ginjal 2. Tema 2: Respon Psikologis Awal Tema respon psikologis awal saat dinyatakan hemodialisa didapatkan kategori seperti menangis, merasa kaget, merasa takut, dan menolak hemodialisa. Tema yang didapatkan akan di jabarkan berdasarkan kategori yang didapat dan akan diuraikan sebagai berikut: a. Respon Psikologis Awal saat Dinyatakan Hemodialisa Kategori pertama yang menjadi tema ini adalah menangis ketika dinyatakan harus menjalani hemodialis. Ungkapan yang dinyatakan partisipan sebagai berikut: “Menangis ae” (P1), " menangis tarus tiap hari" (P2)
69 Kategori berikutnya adalah merasa kaget. Merasa kaget dinyatakan tiga orang partisipan saat ditanyakan bagaimana reaksi awal ketika dinyatakan harus melakukan cuci darah (hemodialisa), seperti yang diungkapkan berikut ini: “Takajutnya tu (kaget nya) tu (itu) kanapa (kenapa) keitu nah (seperti ini) jadi sampai ginjal penyakitnya”(P1), "bu pian (anda) harus cuci darah, ginjal pian terkejut ai " (4), "kaget" (5) Kategori merasa takut diungkapkan 3 orang partisipan ketika awal dinyatakan harus melakukan cuci darah seperti yang diungkapkan berikut ini: "pertama tu takutan pung" (P2), "takutan ai" (P3), "saya gak brani cuci darah" (P5) Kategori berikutnya adanya penolakan awal dinyatakan harus melakukan cuci darah (hemodialisa) seperti yang diungkapkan berikut ini: "handak kada mau jua" (P3), "tidak mau cuci darah" (P4), "belum mau" (P5), ), “model meratapi tu nah (hahaha) dan bertanya tanya kenapa sampai terkena penyakit gagal ginjal”(P1) Partisipan P1 pada saat menyatakan ungkapan penolakan respon non verbal partisipan tampak melihat keatas seperti menerawang mengingat yang dulu, saat menyatakan meratapi ekpresi non verbal yang tampak partisipan tertawa. Tema respon psikologis awal dinyatakan menjalani hemodialisa yang telah diuraikan diatas dapat dibuat dalam skema dibawah ini:
70 Gambar 5.2 Respon Psikologis Awal Saat Dinyatakan Hemodialisa 3. Tema 3: Respon dan Sikap Selama Menjalani Hemodialisa Tema ini diawali dari pertanyaan penulis apakah bapak/ibu/saudara/i mengalami perubahan/efek secara psikologis dan bisa ceritakan bagaimana pengalaman sejak dilakukan hemodialisa. Tema ini mendapatkan kategori menyangkal, menerima, iklas, sabar, pasrah, bersyukur. a. Respon dan sikap selama pasien menjalani hemodialisa Kategori pertama dinyatakan oleh partisipan selama menjalani cuci darah (hemodialisa) adalah menyangkal, tiga orang partisipan terkadang masih ada penyangkalan didalam dirinya dengan kondisi penyakit gagal ginjal yang harus rutin melakukan cuci darah seperti yang diungkapkan sebagai berikut: “Kanapa (kenapa) jadi sampai dapat penyakit kaetu (seperti) nah" (P1), "kanapa harus diri ulun (saya), kada (tidak) orang lain ja (saja)" (P2)"pa (kenapa) jadi seperti ini perjalanan ku inijakanya (seandainya) yang oranng nakal-nakal aja pang diberi kaya (seperti) ini" (P4)
71 Kategori kedua adalah menerima, dimana partisipan sudah menerima dengan kondisi harus selalu melakukan cuci darah seperti ungkapan yang dinyatakan oleh partisipan sebagai berikut ini: "menerima sudah" (P1), "ya Alhamdulillah tidak da lagi pang jar kita tu (itu) menerima" (P3), " menerima" (P6) Kategori selanjutnya adalah iklas, dua partisipan menyatakan ikhlas dengan keadaan sekarang seperti yang diungkapan partisipan berikut ini: "ikhlas" (P2), "ikhlas sudah" (P3) Pada kategori sabar didapatkan pernyataan sebagai berikut: "sabar ae sudah" (P3), "sabar" (P4) Kategori berikut adalah pasrah. Partisipan mengatakan pasrah dengan kondisi sekarang ini seperti pernyataan yang diungkapkan partisipan: "pasrah" (P3), "pasrah aja (saja) sudah" (P4) Bersyukur menjadi kategori selanjutnya untuk tema respon selama pasien menjalani hemodialisa, dimana partisipan mengungkapkan sebagai berikut: "Allah memberi kesehatan kita pengobatan ni dapat kesehatan masih diberi kesehatan" (P3), " ni masih untung dibari (diberi) penyakit yang kaya (seperti) ini " (P4)"kita syukuri" (P6) Tema respon dan sikap pasien selama menjalani hemodialisa yang telah diuraikan diatas dapat dibuat dalam skema dibawah ini:
72 Gambar 5.3 Respon dan Sikap Selama Pasien Menjalani Hemodialisa 4. Tema 4: Harapan Pasien yang Menjalani HemodialisaTema ini dapat dilihat dari pernyataan partisipan yang terangkum dalam kategori berikut ini: kesembuhan, kesehatan dan bisa bertahan. Kategori kesembuhan merupakan pernyataan yang paling banyak diungkapkan pertisipan. Empat orang partisipan menyatakan ingin kesembuhan saat ditanya harapan pasien yang menjalani hemodialisa, seperti yang diungkapkan partisipan berikut: “Harapannya tu (itu) ya handak (mau) ae ampih (sembuh) (P1), " harapannya ingin sembuh pang lah " (P2) "sembuh supaya normal kembali kaya dulu lagi" (P3), "mau ampih" (P4) Kategori kesehatan juga menjadi pernyataan yang diungkapkan partisipan. Dua orang partisipan juga mengungkapkan kesehatan dengan berbagai ungkapan, seperti berikut ini: "Ampih sama sekali sehat kaya dulu (sembuh sehat seperi dulu)", (1)"sehat pung nyata dulu" (3) Kategori bisa bertahan juga menjadi pernyataan yang diungkapkan partisipan, seperti berikut ini:
73 ”mau melihat anak ganal (besar).. “(4), “anak pulang (lagi).. sampai inya (dia) ganal (besar) kena (nanti)” (6) Tema harapan pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa yang diuraikan diatas dapat dibuat dalam skema dibawah ini: Gambar 5.4 Harapan Pasien yang Menjalani Hemodialisa 5. Tema 5: Sikap Keluarga yang Memiliki Anggota Keluarga dengan HD Tema ini diperoleh dari pernyataan partisipan yang terangkum dalam kategori berikut ini: dukungan. Semangat merupakan pernyataan yang diungkapkan partisipan pada kategori dukungan. Dua orang partisipan menyatakan keluarga mendukung dengan memberi semangat seperti yang diungkapkan partisipan dibawah ini: “dukungan keluarga, teman-teman harus semangat katanya demi anak” (P1), “ya memberi semangat lah” (P2) Menurut partisipan keluarga selalu memberi dukungan dengan kondisi sekarang sekarang yang dialami oleh
74 partisipan seperti yang diungkapkan partisipan dibawah ini: “memberi dukungan”(P2), “dukungan laki (suami) ku” (P6) Ungkapan lain dari partisipan dalam melihat sikap keluarga nya terhadap kondisi yang dialami partisipan memberi dukungan dalam bentuk perhatian. Dua partisipan mengatakan keluarga perhatian seperti yang diungkapkan partisipan dibawah ini: "merhatiakan keitu nah" (4) "jangan terlalu uyuh katanya" (4) "kaya apa hari ini nyaman aja kah cucukannya itu ditakuni sidin (orang tua)" (4) "jar mama tu lah ikam (kamu) ni (ini) jar mama no 1 yang kudoakann jar sidin" (4) "kalau ngerjakan sesuatu tu harus kalau tidak bisa jangan digawi" (3) Tema sikap keluarga yang memiliki anggota keluarga pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa yang diuraikan diatas dapat dibuat dalam skema dibawah ini: Gambar 5.5 Sikap Keluarga yang Memiliki Anggota Keluarga dengan Hemodialisa
75 6. Tema 6: Persepsi terhadap Tim Kesehatan Tema ini diperoleh setelah penulis menentukan kategori yang muncul dari hasil wawancara dengan partisipan. Dilihat dari pernyataan partisipan yang terangkum dalam kategori berikut ini: fokus pada kebutuhan pasien, cepat tanggap dalam menghadapi masalah pasien dan responsif terhadap keadaan pasien. Kategori fokus pada kebutuhan pasiem merupakan pernyataan yang diungkapkan partisipan. Dua orang partisipan menyatakan bahwa tim kesehatan sudah seperti keluarga dan baik terhadap partisipan dan pasien lain yang ada diruangan seperti yang diungkapkan partisipan dibawah ini: kaya (seperti) keluarga (1), " baikan (baik) kaya (seperti) keluarga" (2) Kategori berikutnya adalah cepat tanggap dalam menghadapi masalah pasien. Menurut partisipan perawat diruangan cepat saat ada pasien drop, seperti yang diungkapkan partisipan dibawah ini: ada apa-apa hancap (cepat) mendatangi (1), "misalnya pasien drop cepat aja menangani" (2) "cepat aja pung" (3) Ungkapan yang paling banyak dari partisipan terhadap tim kesehatan adalah responsif terhadap keadaan pasien. Empat partisipan mengatakan tim kesehatan responsif terhadap keadaan pasien seperti yang diungkapkan partisipan dibawah ini: keluhan apa hari ni " baik aja kah" , bagus aja kah (1), "rancak (sering) menakuni (bertanya) apa ada keluhan " (2) "mentensi darah misalnya ada keluhan pasien" (3), "mendatangi model anuan buhannya tu lah dasar dihatiakannya" (4)
76 Tema persepsi terhadap tim kesehatan yang diuraikan diatas dapat dibuat dalam skema dibawah ini: Gambar 5.6 Persepsi Pasien terhadap Tim Kesehatan
77 BAB VI INTERPRETASI HASIL KAJIAN DAN ANALISIS TEMA Pada bagian ini penulis menguraikan tentang interpretasi hasil kajian, keterbatasan dan implikasinya bagi penelitian. Interpretasi hasil kajian dilakukan dengan membandingkan hasil kajian dengan teori, artikel, jurnal dan hasil kajian terdahulu yang relevan yang mendasari atau berhubungan dengan fenomena studi ini dan hasil-hasil kajian sebelumnya juga melengkapi dalam pembahasan interpretasi hasil kajian ini. Hasil kajian juga mengaitkan dengan memberikan jawaban terhadap tujuan pada penelitian. Keterbatasan penelitian dibahas dengan membandingkan proses penelitian yang telah dilakukan kondisi ideal yang seharusnya dicapai. Kajian ini menemukan 6 tema utama yang merupakan hasil kajian. Tema yang teridentifikasi pada tema pertama yaitu riwayat awal terdiagnosa gagal ginjal, tema kedua respon psikologis awal mengetahui hemodialisa, tema ketiga respon dan sikap selama menjalani hemodialisa, tema keempat harapan pasien yang menjalani hemodialisa, tema kelima sikap keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan hemodialisa dan tema ke enam persepsi pasien terhadap tim kesehatan. A. Riwayat Awal Terdiagnosa Gagal Ginjal Pasien dengan gagal ginjal kronis stadium 1 dan 2 biasanya tidak memiliki tanda dan gejala klinis. Berbeda dengan pasien dengan gagal ginjal kronis stadium akhir (stadium 4 dan 5), pasien pada stadium ini telah mengalami tanda-tanda klinis gangguan cairan atau elektrolit, seperti malnutrisi, penurunan berat badan yang signifikan, dan kelemahan otot (Pradeep, 2014). Beberapa partisipan mengatakan sebelum mengetahui terdiagnosa gagal ginjal merasakan gejala pada gastrointestinal seperti mual, muntah, penurunan berat badan. Pada LFG 30%, mulai terjadi keluhan seperti nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan berkurang, dan penurunan berat badan (Alfonso
78 et al., 2016). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ratnawati (2011) kelemahan fisik dirasakan seperti mual, muntah adalah sebagai manifestasi klinik dari pasien. Mekanisme mual dan muntah terjadi karena sel enterocropmaffin pada mukosa gastrointestinal melepaskan serotonin. Stimulasi akibat pelepasan serotonin akan merangsang chemoreseptor trigger zone (CTZ) sebagai pusat muntah (Corwin, 2008). Darah tinggi dan oedema juga gejala pada kardiovaskuler yang dikatakan partisipan. Pada LFG < 30% pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata, seperti anemia, peningkatan tekanan darah (Alfonso et al., 2016). Penelitian yang dilakukan Ratnawati (2011) kelemahan fisik dirasakan seperti oedema adalah sebagian manifestasi klinik dari pasien gagal ginjal. Tanda dan gejala yang mungkin timbul oleh adanya gagal ginjal kronik antara lain bengkak, pucat/anemia (Anonim, 2010 dalam Warianto, 2016). Gejala awal penyakit ginjal terkadang tidak benar-benar disadari atau tidak muncul hingga pada akhirnya fungsi utama ginjal mulai menghilang. Gejala akan mulai dirasakan ketika gagal ginjal sudah berada di stadium lanjut. Awal sebelum dinyatakan gagal ginjal partisipan memang mengeluh sakit, namun karena tak kunjung membaik sehingga baru dibawa kefasilitas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tanda-tanda dari gagal ginjal sebenarnya tidak kelihatan secara bersamaan. Pemeriksaan laboratorium, dapat diketahui dengan lebih cermat dan akurat apakah tanda-tanda itu mengarah pada kemungkinan gagal ginjal (Warianto, 2016). Penelitian (Alfonso et al., 2016) beberapa partisipan juga mengatakan bahwa awal mulanya mengetahui terdiagnosa gagal ginjal setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan kreatinin. Partisipan mengatakan bahwa hasil pemeriksaan didapatkan adanya penurunan hb. Hb yang rendah banyak diungkapkan oleh partisipan dalam studi ini. Hampir semua partisipan menyatakan mereka memiliki hb yang rendah. Kelainan hasil
79 pemeriksaan lab lain hb yang rendah dan kreatinin (Anonim, 2010 dalam Warianto, 2016). Pemeriksaan juga didapati adanya peningkatan kreatinin. Kadar kreatinin serum meningkat pada pasien gagal ginjal, sekitar 57% dari pasien gagal ginjal memiliki kadar kreatinin 7-12 mg/dL. (Alfonso et al., 2016). Jika terjadi disfungsi renal maka kemampuan filtrasi kreatinin akan berkurang dan kreatinin serum akan meningkat. Peningkatan kadar kreatinin serum dua kali lipat mengindikasikan adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50%, demikian juga peningkatan kadar kreatinin serum tiga kali lipat merefleksikan penurunan fungsi ginjal sebesar 75%. (Alfonso et al., 2016). Adanya tanda dan gejala yang tidak khas membuat penyakit gagal ginjal sulit terdiagnosa dari awal, dikarenakan ginjal masih berfungsi dengan baik, sehinggat saat dinyatakan harus cuci darah kondisi ginjal sudah pada stadium lanjut dan pada level 5 ginjal sudah kehilangan kemampuan kerjanya secara optimal. Luana (2012) pada penyakit ginjal kronik stadium V dengan tes kliren kreatinin (TKK) menunjukkan kurang dari 15 mL/menit/1,73m2 dianjurkan untuk menjalani terapi pengganti agar dapat bertahan hidup dengan kualitas baik. Salah satu terapi pengganti yang dilakukan adalah hemodialisis. Temuan yang didapatkan pada hasil kajian ini yaitu individu yang mengalami keadaan sakit gagal ginjal akan muncul gejala seperti mual, muntah, penurunan berat badan. Gejala lain yang juga dirasakan adalah oedema, tekanan darah tinggi, meskipun sebenarnya masih ada gejala lain yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal pada stadium lanjut namun tidak muncul pada partisipan pada kajian ini. Tanda dan gejala pada pasien gagal ginjal tidak hanya kardiovaskuler, gastrointestinal namun ada juga muncul pada tanda dan gejala pada sistem lain. Menurut Brunner dan Suddart (2001) tanda dan gejala juga muncul pada neurologi (kelemahan dan keletihan, rasa panas pada telapak tangan), reproduktif (amenore), integument (kulit kering bersisik, kuku tipis dan
80 rapuh serta rambut kasar dan tipis) dan pada pulmoner (sputum kental, napas dangkal) Kepastian dalam menegakkan diagnosa secara cermat didapat setelah dilakukannya pemeriksaan laboratorium. Pada kajian ini partisipan dinyatakan gagal ginjal dan diharuskan melakukan cuci darah yang mana kondisi penyakit sudah berada di stadium V. Berdasarkan teori yang ada diatas dapat disimpulkan bahwa tanda dan gejala pada pasien gagal ginjal kronik tidak semuanya tergambar pada kajian ini. B. Respon Psikologis Awal Saat dinyatakan Hemodialisa Individu yang terdiagnosis gagal ginjal dan diharuskan menjalani hemodialisa akan memunculkan respon secara psikologis bagi pasien. Hasil kajian ini mengidentifikasi respon psikologis awal saat dinyatakan hemodialisa. Respon psikologis pada awal saat dinyatakan hemodialisa dalam kajian ini memiliki respon yang berbeda. Ada yang terus menerus menangis, langsung menolak untuk dilakukan hemodialisa, ketakutan dalam membayangkan cuci darah dan keterkejutan atas kondisi sakit yang ternyata gagal ginjal. Perasaan negatif timbul saat pertama kali mengetahui gagal ginjal kronik dan harus menjalani pengobatan hemodialisis secara rutin. Perasaan negatif yang muncul terdiri dari perasaan takut, stres, syok, depresi (down), sedih, menangis dan kesal Berdasarkan hasil temuan pada kajian ini respon awal ketika dinyatakan harus melakukan hemodialisa adalah menangis, kaget, takut dan menolak. Kenyataan harus melakukan cuci darah (hemodialisa) menimbulkan keterkejutan bagi partisipan. Menangis menjadi salah satu ekpresi yang diungkapkan partisipan dengan kondisi sakit. Harwoord et al., (2009) hasil kajian didapatkan bahwa klien mengalami reaksi emosional seperti tidak berdaya, sedih, marah, takut, merasa bingung apa yang harus dilakukan, sering menangis dan merasa terisolasi. Bayangan cuci darah membuat partisipan ketakutan selain itu juga merupakan respon awal
81 yang disampaikan beberapa partisipan. Temuan dalam kajian ini sejalan dengan pendapat Harvey (2007) dalam Andry (2012) bahwa pasien gagal ginjal dengan hemodialisis sering mengalami ketakutan. Rasa takut muncul karena pasien tidak mengetahui masa depan dari penyakit dan terapi yang dijalaninya (Leung, 2013). Penolakan juga menjadi salah satu respon awal partisipan yang di haruskan menjalani cuci darah. Sejalan dengan hasil kajian Sunarya (2014) hasil yang didapat dari kajian ini adalah respon emosional semua subjek awalnya sama-sama berada di tahap penolakan. Penelitian (Zuhriastuti, 2011 dalam Armiyati, Rahayu 2014) menunjukkan bahwa ada denial sebanyak 27,5% yang menyangkal terhadap kondisinya. Pasien dengan gagal ginjal seringkali menyangkal apa yang sedang terjadi pada mereka pada saat awal terapi hemodialisis. Penolakan merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita penyakit kronis atas penyakit yang dideritanya ini, pasien akan memperlihatkan sikap seolah-olah penyakit yang diderita tidak terlalu berat (menolak untuk mengakui bahwa penyakit yang diderita sebenarnya berat) dan menyakini bahwa penyakit kronis ini akan segera sembuh dan hanya akan memberi efek jangka pendek. Menurut Kobler & Ross tahap penolakan ini bersifat adaptif, berperan sebagai penahan terhadap hal yang tidak diharapkan dan merupakan proteksi yang diperlukan. Reaksi kebanyakan individu saat pertama kali mendengar diagnosa penyakit kronis yang menimpanya adalah pernyataan, “Tidak, bukan saya, itu tidak benar.” Biasanya penyangkalan merupakan pertahanan sementara dan segera akan digantikan dengan penerimaan yang bersifat parsial. Pada tahap pertama pasien menunjukkan karakteristik perilaku pengingkaran, mereka gagal memahami dan mengalami makna rasional dan dampak emosional dari diagnosa. Pengingkaran ini dapat disebabkan karena ketidaktahuan pasien terhadap sakitnya atau sudah mengetahuinya dan mengancam dirinya. Pengingkaran dapat berlalu sesuai dengan kemungkinan
82 memproyeksikan pada apa yang diterima sebagai alat yang berfungsi sakit, kesalahan laporan laboratorium, atau lebih mungkin perkiraan dokter dan perawat yang tidak kompeten. Pengingkaran diri yang mencolok tampak menimbulkan kecemasan, pengingkaran ini merupakan buffer untuk menerima kenyataan yang sebenarnya. Pengingkaran biasanya bersifat sementara dan segera berubah menjadi fase lain dalam menghadapi kenyataan (Hamid, 1999). Pada penelitian didapatkan respon verbal yang bertentangan dengan respon non verbal, saat partisipan menyatakan meratapi dan terlihat menerawang namun ekpresi non verbal tertawa. Jika terdapat pertentangan antara pesan verbal dan pesan non verbal biasanya lebih mempercayai pesan non verbal yang menunjukkan pesan sebenarnya karena pesan non verbal lebih sulit dikendalikan dari pada pesan verbal. Perilaku non verbal dapat sedikit dikendalikan, namun kebanyakan perilaku non verbal di luar kesadaran. Keputusan dengan siapa dan kapan berbicara serta topik-topik apa yang akan bicarakan, tetapi sulit mengendalikan ekspresi wajah senang, malu, marah, cuek, anggukkan atau gelengan kepala dan kaki yang mengetuk-ngetuk lantai. (Herdianto, 2010) Menurut Ray L. Birdwhistell dalam Herdianto (2010), 65% dari komunikasi tatap-muka adalah non verbal, sementara menurut Albert Mehrabian, 93% dari semua makna sosial dalam komunikasi tatap-muka diperoleh dari isyarat-isyarat non verbal. Merespon diagnosa gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah tersebut penderita menghadapi kenyataan yang ditandai dengan pola berpikir yang kacau, perasaan kehilangan, sedih, merasa tidak tertolong lagi dan putus asa. Tahap ini individu sering merasa terpukul oleh kenyataan dan terlihat tidak mampu untuk membuat alasan ataupun rencana efektif untuk mengatasi permasalahannya dan memperbaiki situasi tersebut. Biasanya individu merasa tertekan sehingga mereka mengatasinya dengan menolak kenyataan tersebut. Reaksi penolakan tersebu merupakan reaksi tingkah laku yang
83 ditandai dengan menghindar untuk menjalani cuci darah, menunda-nunda untuk menjalani cuci darah. Pada saat ini penting adanya hubungan antara perawat dan pasien untuk mengatasi masalah pengingkaran yang muncul karena ketidaktahuan tentang mengetahui masa depan dari penyakit dan terapi yang dijalaninya. Menurut Peplau konsep keperawatan psikodinamis adalah kemampuan seseorang untuk memahami tingkah lakunya untuk membantu orang lain mengindentifikasikan kesulitan yang ia rasakan dan untuk mengaplikasikan prinsip relasi manusia kepada permasalahan yang timbul pada semua level pengalaman. Peplau mengembangkan modelnya dengan cara merinci konsep struktural dari proses antar personal dimana disitu letak fase hubungan pasien perawat dan kemudian mendefinisikan peran perawat dalam hubungan tersebut. Peplau menjelaskan hubungan tersebut kedalam 4 fase: fase pertama adalah orientasi dimana muncul rasa memerlukan dan mencari bimbingan profesional antara perawat menolong pasien dalam mengenali dan memahami masalahnya dan menentukan apa yang dia perlukan sebagai pertolongan. Tahap selanjutnya adalah identifikasi, perawat melakukan ekplorasi perasaan dan membantu pasien dalam penyakit yang ia rasakan sebagai sebuah pengalaman yang mengorientasi ulang perasaan dan menguatkan kekuatan positif pada kepribadiannya dan memberikan kepuasan yang diperlukan. Diharapkan pasien mengungkapkan semua yang dirasakannya. Pada tahap ketiga ekploitasi pasien mengambil secara penuh nilai yang ditawarkan kepadanya melalui sebuah hubungan (relationship). Tujuan baru yang akan dicapai yang diperoleh melalui usaha personal dapat diproyeksikan tenaga berpindah dari perawat ke pasien ketika pasien menunda rasa puasnya untuk mencapai bentuk baru dari apa yang akan dicapai. Pasien diberikan kebebasan untuk memutuskan pengobatan lanjutan yang sudah di informasikan kepadanya. Selajutnya tahap resolusi tujuan lama yang akan dicapai dikesampingkan
84 dan diganti dengan tujuan baru. Proses dimana pasien membebaskan dirinya dari identifikasi dengan perawat. Individu yang terdiagnosa akan memuncukan reaksi emosional. Reaksi penolakan ditandai dengan menghindari untuk menjalani cuci darah. Ketakutan yang dirasakan karena tidak tahu terapi yang dijalani. Adanya hubungan interpersonal antara perawat dan pasien akan mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pasien. Hasil temuan pada kajian ini respon psikologis awal saat dinyatakan hemodialisa yaitu menangis, merasa kaget, merasa takut dan menolak. Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa respon yang muncul di awal saat pasien dinyatakan hemodialisa pasien gagal ginjal sering mengalami respon emosional. Respon emosional muncul karena pasien tidak mengetahui masa depan dari penyakit dan terapi yang akan dijalaninya. C. Respon dan Sikap Selama Menjalani Hemodialisa Tema ke tiga yang didapat dari kajian ini adalah respon dan sikap selama partisipan menjalani hemodialisa adalah menyangkal, menerima, ikhlas, sabar, pasrah dan bersyukur. Menurut WHO Qol Bref (The World Health Organization Quality of Life-Bref) menyatakan 4 domain pada model konsep kualitas hidup, yaitu: dimensi fisik (nyeri, energy, istirahat, tidur, mobilitas, aktivitas pengobatan dan pekerjaan), dimensi lingkungan (keuangan, informasi dan keterampilan, rekreasi dan bersantai, lingkungan rumah, akses keperawatan kesehatan dan sosial, keamanan fisik), dimensi sosial (hubungan individu, dukungan sosial, aktivitas sosial) dan dimensi psikologis (perasaan positif dan negatif cara berpikir, harga diri, body image dan spiritual). Temuan pada kajian ini salah satunya adalah menyangkal. Hasil kajian ini sejalan dengan penelitian Sandra. D dan Dewi (2012) menunjukkan bahwa respon penerimaan yang negatif dalam penelitian ini ditunjukkan dengan 23% responden masih selalu tidak mempercayai bahwa dirinya
85 menderita penyakit ginja kronik dan harus menjalani prosedur hemodialisis secara rutin. Berdasarkan hasil temuan respon menerima kondisi yang ada juga menjadi salah satu respon yang muncul selama pasien menjalani hemodialisa. Menurut (Leung, 2013) pada akhirnya menerima penyakit dan menjalani terapi. Sejalan dengan artikel Fitriani yang berjudul pengalaman pasien gagal ginjal kronik yang menjalani perawatan hemodialisa di Rs Telogorejo Semarang sikap pasien yang harus menjalani hemodialisa perasaan pertama sedih, takut dan cemas tapi pasien lama-lama tidak takut, ikhlas menerima, berdoa mungkin ada mukjizat jadi harus mau menjalani. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa dari respon dan sikap selama menjalani hemodialisa pada partisipan adalah bersabar, ikhlas, pasrah dan mensyukuri dengan kondisinya. Farida (2010) adaptasi psikologi yang dilakukan adalah menjadi lebih sabar, menerima keadaan dan ikhlas. Meningkatkan iman dan taqwa, manusia mampu bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi problema hidup dan mampu berpikir secara seimbang serta kondisi kejiwaannya penuh dengan ketenteraman dan kedamaian karena selalu mengingat Allah. Maka dari itu, orang yang menyikapi penderitaan yang dialaminya dengan sabar dan menyadari bahwa dibalik penderitaan terdapat hikmah, dapat digolongkan sebagai orang yang sehat mentalnya. (Bukhori, 2006: 46). Sejalan dengan penelitian Farida (2010) bahwa partisipan yang dinyatakan gagal ginjal dan menjalani hemodialisa, partisipan merasa lebih bersyukur, karena kondisi ini membuat partisipan lebih dekat dengan sang pencipta, karena merasa Tuhan sayang padanya masih diberi kesempatan untuk beribadah dan bertobat. Menurut partisipan seadainya tidak sakit gagal ginjal, tidak tahu berapa banyak dosa karena sehat betapa banyak nikmat yang diberikan namun tidak mensyukurinya. Kondisi dengan hemodialisa menyadari dan mensyukuri atas nikmat yang diberikan. Rasa syukur diwujudkan lebih mendekatkan diri kepada Allah.
86 Pasien gagal ginjal selama mereka memasrahkannya kepada Allah SWT dan menerima ketentuan dan takdir dariNya dengan tetap sabar, tabah serta tawakal dalam menghadapi ujian dari-Nya, karena sesungguhnya yang bisa meringankan beban penderitaan pasien yang tiada harapan untuk sembuh hanyalah kesabaran dan kepasrahan (Hawari, 1996: 487). Penelitian yang dilakukan Hagita et al., (2015) menemukan adaptasi pada aspek psikologis adalah menerima keadaan sakit saat ini serta pasrah kepada Tuhan. Menurut Farida (2010) dalam Hagita et al., (2015) respon psikologis ini normal terjadi pada fase awal menjalani hemodialisis. Setelah mengalami tahap denial, partisipan menunjukkan tahap tawar menawar dengan cara melihat keadaan klien lain yang juga menjalani hemodialisis. Melihat kondisi klien lain yang lebih dulu menjalani hemodialisis mendorong partisipan memasuki tahap menerima, tahap ini ditunjukkan dengan sikap partisipan yang pasrah dan menyerahkan semua kepada Tuhan. Penerimaan diri menurut Pannes (Hurlock 1973 dalam Zefry 2016) adalah tingkat dimana ia menerima karakteristik pribadinya, ia merasa mampu dan mau untuk hidup sebagaimana mestinya. Pertahanan psikologis bisa terlihat dari reaksi pertahanan jiwa terhadap ketergantungan dialysis berupa pengingkaran, rasa marah, depresi, kompromi interpersonal, menerima kesalahan, isolasi, regresi dan akhirnya menerima (Sadock, 1989 Herwina, 2000 dalam Itoh, 2009). Niu & Liu (2016) hasil kajian adanya 3 tahap dari psikologis pasien yang menjalani hemodialisa yaitu ketakutan, penyesuaian (adaptasi), dan depresi. Hasil temuan dalam kajian ini, meskipun masih adanya respon penyangkalan dari partisipan namun pada perjalanannya ketika sudah menjalani hemodialisa partisipan bisa menerima kondisinya dengan ikhlas, bersabar dan mensyukuri dengan menjalani semua yang sudah terjadi dan ini sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT, yang mana pada partisipan sudah terjadi penyesuain diri (adaptasi) terhadap
87 kondisinya. Sejalan dengan teori Roy yang menjelaskan bahwa manusia sebagai sistem adaptive, dan sistem terbuka dapat menyesuaikan diri dari perubahan suatu unsur, zat, materi yang ada dilingkungan. Sebagai sistim yang dapat menyesuikan diri manusia dapat digambarkan dalam karakteristik sistem, manusia dilihat sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan antara unit unit fungsional atau beberapa unit fungsionil yang mempunyai tujuan yang sama. Sebagai suatu sistem manusia dapat juga dijelaskan dalam istilah Input, Kontrol dan Proses Feedback dan Output. Teori Roy ini mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistim yang dapat menyesuaikan diri (adaptive sistem) digambarkan secara holistik (bio, psicho, sosial) sebagai satu kesatuan yang mempunyai masukan, kontrol dan feedback processes dan Output (keluaran/hasil). Proses kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara-cara penyesuaian diri dengan activifitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara-cara penyesuaian yaitu: Fungsi Fisiologis, Konsep diri, Fungsi peran, dan Interdependensi. Input atau stimulus yang masuk, dimana feedbacknya dapat berlawanan atau responnya yang berubah ubah dari suatu stimulus. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai tingkat adaptasi yang berbeda dan sesuai dari besarnya stimulus yang dapat ditoleransi oleh manusia. Mekanisme Koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (Stuart Sundeen, 1995). Dua Mekanisme Coping yang telah diidentifikasikan yaitu: Sub sistem regulator dan sub sistem kognator. Sub sistem regulator dan kognator adalah mekanisme penyesuaian atau koping yang berhubungan dengan perubahan lingkungan, diperlihatkan melalui perubahan biologis, psikologis dan sosial. Sub sistem kognator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan kognitif dan emosi termasuk didalamnnya persepsi,
88 proses informasi, pembelajaran, membuat alasan dan emosional, dimana respon yang muncul pada perubahan manusia sebagai sistem adaptif. Pada penelitian respon yang muncul adalah penyangkalan, kemudian sudah adaptif dengan menerima kondisi sakit, bersabar, ikhlas, pasrah dan mensyukuri kondisinya, Output atau hasil dari manusia sebagai suatu sistim adaptif adalah respon adaptif (dapat menyesuaikan diri) dan respon ineffective (tidak dapat menyesuaikan diri) (Faz Patrick & Wall, 1989). Respon-respon yang adaptif itu mempertahankan atau meningkatkan intergritas, Respon yang tidak effective atau maladaptive itu mengganggu integritas. Perilaku Adaptasi yang muncul bervariasi. “perilaku seseorang berhubungan dengan metode Adaptasi” (Nursalam; 2003). Koping yang tidak konstruktif/tidak efektif berdampak terhadap respon sakit (maladaptife. “Jika klien masuk pada zona maladaptive maka klien mempunyai masalah keperawatan adaptasi” (Nursalam; 2003). Secara keseluruhan konsep manusia sebagai sistim adaptif dapat digambarkan dengan skema yang jelas: seperti yang terlihat pada Gambar 6.1. Gambar 6.1 Proses Kontrol (Coping Mechanism)
89 Pasien yang terdiagnosa gagal ginjal yang kemudian diharuskan melakukan hemodialisa untuk mempertahakan kesehatannya, mereka dihadapkan pada perubahan-perubahan yang komplek yaitu tidak hanya perubahan fisik, sosial, spiritual namun juga perubahan dari psikologis pasien dan respon menghadapi hal tersebut. Pasien mempertahankan dirinya dengan berbagai jenis koping sehingga integritas dirinya tetap terjaga dan tetap berada pada kondisi sejahtera, dan sebagai bentuk adaptasi dari perubahan yang muncul dalam kehidupannya. Sistem adaptasi manusia dipahami sebagai suatu kesatuan yang saling berhubungan dalam mencapai tujuannya saling terjadi ketergantungan bagian yang satu dengan yang lainnya. Sejak terdiagnosa gagal ginjal dan di haruskan melakukan hemodialisa dimana adanya perubahan tidak hanya psikologis termasuk didalamya perasaan pasien berhubungan perubahan dari fisik, dukungan orang terdekat, status perkawinan, status ekonomi, pelayanan kesehatan berupa pemberian asuhan keperawatan karena ketergantungan terhadap mesin seumur hidup, lingkngan. Proses beradaptasi dengan stimuli yang masuk, terjadi mekanisme koping mempertahankan diri, tergantung apakah koping tersebut adaptif atau maladaptive sehingga pada akhirnya muncul perilaku manusia sebagai bentuk respon. Respon yang muncul terjadi adaptasi baik itu adaptif atau pun in efektif. Pasien yang menjalani hemodialisa akan mempertahankan dirinya dengan koping baik dalam bentuk penolakan, kemarahan, kekecewaan bahkan berusaha menyelesaikan masalah dengan penerimaan kondisi sakit mulai mengikuti pengobatan dan pada akhirnya muncul kemampuan beradapatsi atau justru sebaliknya in efektif berupa penolakan. Kondisi ini pada akhirnya terus memberikan umpan balik dan terjadi adaptasi. Hasil temuan pada kajian ini individu yang mengalami kondisi sakit yang tidak mungkin sembuh dan ketergantungan
90 dengan mesin hemodialisa akan memunculkan reaksi emosional. Seiring berjalan waktu akan terjadi adaptasi psikologis yang dilakukan adalah menjadi lebih sabar, menerima keadaan dan ikhlas. Meningkatkan iman dan taqwa, manusia mampu bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi problema hidup. Perubahan-perubahan yang terjadi dan dan adanya ancaman-ancaman dalam diri individu membuat seseorang berusaha untuk mengatasinya dan usaha yang dilakukan oleh individu dalam menghadapi masalah disebut mekanisme koping. Pasien yang menggunakan mekanisme koping adaptif pada umumnya sudah mengalami dialisis berulang kali sehingga sudah menjadi pola dalam kehidupannya. Hal ini sesuai dengan Mak dan Tom (2001) yang menyatakan bahwa salah satu penggunaan mekanisme koping tergantung dari pengalaman masa lalu yang dialaminya klien. D. Harapan Pasien yang Menjalani Hemodialisa Tema ke empat adalah harapan pasien yang menjalani hemodialisa adalah harapan untuk sembuh, sehat dan bisa bertahan untuk membesarkan anak. Setiap manusia mempunyai harapan, harapan tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masingmasing. Harapan pasien dalam menerima pelayanan medic adalah kesembuhan. (Nursalam & Kurniawati, 2007 dalam Bayhakki 2015). Hal ini dapat dikatakan bahwa sebuah harapan yang dimiliki seseorang akan mendorong untuk melakukan suatu perubahan yaitu untuk sembuh dari penyakitnya. Benzein et al., 2006 dalam penelitiannya menunjukkan bahwa harapan memiliki hubungan positif dengan kesehatan. Harapan berkaitan erat dengan kesejahteraan psikologis. Harapan juga bisa meningkatkan timbulnya keinginan untuk membuat hidup yang berada dibawah tekanan lebih dapat bertahan mengatasi masalah yang dihadapi. Harapan merupakan sesuatu yang dpat dibentuk dan dapat digunakan sebagai perubahan. Perubahan yang menguntungkan dapat