Tulisan segmen Cerita Rakyat Pamona pernah termuat di proyek buku ini di Mei 2018, tetapi tidak pernah diumumkan terpublikasi secara resmi. Ito Lawputra selaku penulis segmen Cerita Rakyat Pamona memutuskan merilis tulisannya untuk tujuan non profit, sebagai bahan edukasi dan menambah khazanah kesastraan. Ito Lawputra, S.H., S.I.Kom., M.H. aktif sebagai dosen, penulis lepas, founder & trainer di Nakua Fighting Club, pengurus di Forum TBM Sulteng, pengurus di GEMA INTI Sulteng, member & pengurus di Toastmasters Club, pustakawan di Human Library, pengurus di komite SD Karuna Dipa Palu. Materi di flipbook ini diubah tampilannya sesuai visi penulis.
Alo & Dena.......................... Sang Datu........................... Sogili & Jinjikee.................. Lasaeo & Rumongi............. Jempajuju & Bidadari....... Geso..................................... Janji..................................... 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Daftar Isi: 1 10 20 34 49 71 88
1
2 Alo & Dena “Heh! Berhenti kamu disitu!” hardik Sartje kepada Maria. Ia tidak pernah menyangka akan sedemikian marah ketika melihat perempuan yang dulu sangat akrab dengannya itu melenggang santai melewatinya. “Kenapa kau bapanggil saya kayak begitu?” ujar Maria dengan cuek. Perhatian warga penghuni gang Anoa itu mulai terfokus pada mereka. Tanpa menunggu lama, Sartje menghampiri Maria dan mencekik lehernya. Merasa terdesak, Maria dengan refleks melayangkan kepalan tinjunya ke wajah Sartje. Keduanya jatuh berguling di jalan beton disaksikan oleh warga yang mengerumuni. “Eh, sudah, sudah!” kata Mama Mince menengahi mereka. Perempuan berbadan besar itu memisahkan keduanya sambil dibantu oleh warga. “Saya tidak terima pokoknya kau bakasih saya begini!” teriak Maria.
3 “Memang kamu perempuan….” Perkataan Sartje dipotong seketika oleh Mama Mince. “Aduh, tidak usah kamu dua baku tengkar terus. Coba kata tenang dulu,” kata Mama Mince kembali menengahi. “Tapi, dia ini yang…” Sartje berusaha membela diri, tetapi sekali lagi Mama Mince menepuk bahunya agar ia diam terlebih dahulu. “Coba cerita ke saya, kenapa bisa kamu dua baku hantam kayak begini. Saya kira kamu dua ini kan teman baik,” kata Mama Mince. “So dia yang bapinjam uang pe lama, baru tiap saya tagih, dia bilang besok, atau alasan sakit lah, batunggu kiriman lah, te ada betulnya!” kata Sartje dengan penuh amarah. “Tapi saya memang lagi te ada uang, masa kau mau paksa. Ini kau kasih malu pukul saya di depan banyak orang!” jawab Maria membela diri. Sartje tidak terima dengan jawabannya dan menjambak rambut Maria, untungnya Mama Mince segera sigap melerai mereka. “Kalian ini sama saja seperti Alo dan Dena,” kata Mama Mince sambil duduk di bale bale rotan di dekatnya. “Siapa itu, mama Mince?” tanya Maria. “Memang mamamu tidak pernah cerita ke kamu! Bukan orang sini kah kamu, hah?” sela Sartje dengan nada tinggi, yang seketika disesalinya. Ia menundukkan kepalanya karena ingat bahwa Maria adalah seorang yatim piatu
4 yang besar di panti asuhan. Mendengar perkataannya itu, Maria terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca. “Duduk di sini kalian, badekat!” kata Mama Mince yang lantas didengarkan oleh keduanya. “Umur kalian masih begitu muda, belum kawin dan tahu rasanya jadi seorang mama. Yang namanya teman baik itu kalau ada masalah ya jangan langsung emosi, tapi duduk dibicarakan baikbaik. Coba kamu dua dengar ini cerita tentang Alo dan Dena, siapa tahu bisa bikin sadar kalian…. * Burung Rangkong Pada zaman dahulu, tersebutlah dua ekor burung yang berteman akrab, bernama Alo dan Dena. Setiap sore, mereka selalu bertemu di dahan pohon Taipa1 di dekat sungai dan bertukar cerita. Alo merupakan seekor burung Rangkong dengan paruh kuning cerah berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Ia gemar memakan buahbuahan, kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga. Sebagai kaum Rangkong atau kadang juga 1 Pohon Mangga
5 dijuluki Enggang, si Alo selalu merasa dirinya lebih dari bangsa burung lainnya, karena bulunya yang indah, tubuhnya yang terlihat besar serta jakun merah yang bertengger di bawah paruhnya. Burung Gelatik Dena merupakan seekor burung Gelatik yang senang berkicau kepada apapun yang lewat di hadapannya. Ia selalu bangga dengan paruhnya yang merah dan tebal, pipi yang berwarna putih serta kepalanya yang berbulu tebal. Dena gemar memakan bulir rerumputan terutama padi. Ia sangat lihat meloloskan diri dari kejaran petani dan kerap memberi peringatan bahaya pada kelompoknya dengan mengeluarkan suara bercericip berulang-ulang. Bagi Dena, suara kicau merdunya adalah sesuatu yang tidak ternilai, hingga perhatiannya tertuju pada kalung emas yang berkilauan di leher Alo. Ketika sedang berburu bulir padi, Dena tidak sengaja menemukan seuntai kalung emas yang bergantung di dahan pepohonan. Terpesona dengan kilaunya, Dena memutuskan untuk mengambil kalung itu agar digantung
6 sebagai hiasan di dekat sarangnya. Pada saat menggigit kalung dengan paruhnya, pijakan kakinya hampir saja oleng dari dahan pohon sehingga kalung masuk di lingkar batang lehernya. Dena merasa aneh, tetapi kemudian ia membayangkan semua makhluk di hutan akan mudah mengenalinya, dan terkagum dengan kilauan dari kalung itu, sehingga ia selalu memakainya kemana-mana. Berminggu-minggu kemudian, di suatu sore, ia melakukan pertemuan rutinnya dengan si Alo. “Ee Dena, ma'anu-'anu kamagi apumu2 . Boleh saya pinjam sebentar sekali saja?” tanya si Alo. “Ee Alo, maya3 . Tapi endo bolili4 ,” jawab Dena sambil mempersilakan si Alo mengambil kalung di lehernya untuk dikenakannya. Si Alo merasa sangat senang dan melompat sesekali diikuti ayunan kalung emas itu yang berkilau ketika diterpa cahaya matahari senja. “Naile5 saya kasih kembali ee,” kata si Alo. Meski pada awalnya keberatan, Dena berpikir bahwa si Alo selalu bertemu dengannya di dahan pohon Taipa tersebut, dan mereka tidak pernah bermasalah. Ternyata keesokan sorenya, si Alo tidak muncul. Dena mulai gelisah. 2 Cantik sekali kalungmu 3 Boleh 4 Ingat kembalikan 5 Besok
7 Keesokan harinya lagi, ketika Dena dan kelompoknya sedang berburu bulir padi di sawah, ia melihat si Alo bertengger di dahan pohon Nanaka6 dikerumuni oleh beberapa ekor burung lainnya. “Ee Alo, impia komi napapewalili7 ?” tanya Dena dari kejauhan. “Naile. Jangan komi sengke8 ee,” jawab si Alo. Dena hanya bisa menahan dirinya dari kesal, sambil fokus menemani kelompoknya mengumpulkan makanan. Sorenya si Alo juga tidak muncul di dahan Taipa, tanpa memberi kabar. Keesokan harinya, si Alo sedang terbang mengitari sawah, menyombongkan kalung emas yang terlihat berkilau diterpa cahaya matahari siang, disaksikan oleh bangsa burung lainnya. Dena yang kebetulan terbang melewati tempat itu tidak kuasa menahan kemarahannya. Ia terbang menyambar si Alo hingga keduanya berdiri di atas tanah sawah yang berlumpur. “Kalopu-lopu9 ! Lalo ncinaruku10!” kata Dena dengan kecewa. “Ee Dena, apa maksudmu?” balas si Alo seolah tidak tahu. Karena terlampau marah, Dena naik pitam dan menampar 6 Pohon Nangka 7 Kapan kamu kembalikan 8 Kamu marah 9 Pembohong 10 Saya kecewa, hilang kepercayaanku
8 si Alo hingga jakun di bawah paruhnya pindah ke bagian tengkuk. Dena lalu mengadu kepada semua bangsa burung yang hadir di tempat itu. Si Alo yang merasa malu lantas terbang meninggalkan mereka dan hilang jejaknya entah kemana. Sejak saat itu Alo hidup dengan jakun merah kebanggaannya yang kini pindah di bagian tengkuknya. Pertemanannya dengan Dena rusak karena sikap si Alo sendiri…. * “….itu sebabnya kita orang Pamona dalam hal pinjammeminjamkan barang biasanya bilang ‘ne’e ewa poncabo-ncabo i Alo’ yang artinya jangan seperti cara meminjam si burung Enggang. Sabo jaa11,” kata Mama Mince. “Lebih banyak ruginya, putus persaudaraan, putus silaturahmi, hidup jadi tidak tenang,” sambung salah seorang warga di dekat Mama Mince. Sambil tertunduk malu, Sartje maupun Maria sesekali saling bertatap mata. “Rindi mpau12, Maria,” kata Sartje. “Saya juga so bautang baru ingkar sama kau. Saya akan ganti secepatnya di bulan ini, Sartje,” kata Maria sambil terisak. Keduanya berpelukan. 11 Meminjam tapi ingkar janji 12 Meminta maaf karena terlanjur berucap kasar
9 Mama Mince menepuk pundak keduanya sambil tersenyum. Dua perempuan di hadapannya tidak jadi meniru jejak kisah menyedihkan si Alo dan Dena.
10
11 Sang Datu “Jadi begini, bapak…” perkataan Sarif dihentikan sejenak ketika Tina berbisik di sampingnya. “Me’ubago13 saja, nak, tidak terlalu penting kalau soal nama saya mungkin susah anak ingat,” jawab pria yang keseluruhan rambut dan janggutnya berwarna putih tersebut. Ia mengenakan kemeja putih yang warnanya tampak mulai pudar kecoklatan, berlapis sarung, di tangannya ia memegang tongkat yang terbuat dari rotan. Ia duduk dengan tenang, mengamati Sarif dan Tina yang sedari tadi sibuk menanyai dirinya tentang berbagai hal yang sebenarnya membuatnya geli. “Bapak Inunde14, maaf kalau tadi sempat terpotong, saya lanjutkan pertanyaannya ya,” kata Sarif. Pria yang dipanggil bapak Inunde itu menganggukkan kepala. 13 bertanya 14 Inunde dalam bahasa Pamona berarti bijaksana
12 “Jadi sekali lagi mungkin saya menyegarkan ingatan bapak. Malam tadi terjadi perkelahian antara beberapa pemuda di sini, lalu bapak sempat hadir di tengah-tengah mereka dan ketika kami pihak aparat sampai di sana, bapak ikut dibawa ke tempat ini. Menurut keterangan saksi, bapak Inunde menceritakan sesuatu yang mempengaruhi perkelahian para pemuda tersebut. Kalau tidak keberatan, minta tolong bapak ceritakan kembali apa yang bapak sampaikan pada saat itu?” tanya Sarif. Bapak Inunde menatap Sarif dan Tina, ia tersenyum, memikirkan betapa generasi sekarang tidak memahami makna di balik setiap itikad baik maupun sejarah yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri. Sekali lagi, katanya dalam hati, ia ingin menyampaikan cerita itu kepada mereka. Ia menghela napas. Seorang perempuan berseragam lainnya mendekat membawakan secangkir kopi yang diletakkan di dekatnya. “Terima kasih, nak,” kata pak Inunde kepada perempuan itu, lalu ia menyeruputnya sedikit, dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Sarif dan Tina. “Semoga pak Inunde sedang dalam keadaan sehat ya?” tanya Tina. “Tidak apa-apa, nak. Saya mengerti pentingnya pertanyaan ini kalian berikan. Tugas kalian polisi hanya ingin pastikan kalau saya bukan jadi yang berperan mempengaruhi mereka berkelahi. Kita semua ingin kejelasan. Jadi semuanya dimulai ketika dua pemuda itu
13 sedang manuntu15 calon pemimpin komunitas mereka. Awalnya saya yang lewat dan mendengarkan, mereka mempermasalahkan sifat-sifat seorang pemimpin yang pantas, Ngkabosenya16 harusnya mengerti mompasangkai17 dirinya tetapi tidak melupakan peran serta orang lain di sekitarnya. Jadi pemuda itu mulai saling tunjuk dan mempersoalkan asal-usul, menyinggung asli orang Pamona atau bukan, dan mereka mulai saling pukul, hingga saya datang melerai dan bercerita kepada mereka tentang sang Datu,” terang pak Inunde. “Siapa itu sang Datu?” tanya Sarif sambil memberi abaaba kepada Tina untuk lebih memperhatikan keterangan pak Inunde. Ia cemas nama sang Datu bisa saja mengarahkan mereka pada indikasi hadirnya kelompok radikal baru. Pak Inunde tersenyum mengamati keseriusan mereka, tetapi ia juga memaklumi karena daerah pesisir Poso tempatnya tinggal ini pernah melewati masa-masa suram, ketika konflik pertumpahan darah terjadi dan disisipi oleh sekelompok orang yang menyebarkan paham yang keliru. “Ini merupakan cerita turun-temurun, nak, yang semoga bisa membuat wawasanmu lebih terbuka, tentang pada suatu masa, ketika kehidupan di pesisir danau Poso masih sangat sederhana….” 15 memperdebatkan 16 pemimpin 17 menyiapkan dengan sempurna
14 * Dahulu kala, sekelompok manusia menghuni tepian danau Poso. Mereka hidup dari hasil berburu dan meramu tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Kaum pria akan menggunakan parang, tombak, panah dan sumpit untuk berburu rusa, babi hutan, pelanduk, ikan dan burung untuk disantap serta ada yang diambil kulitnya sebagai selimut; sedangkan kaum perempuan akan mengambil buahbuahan dan dedaunan untuk diramu jadi bahan makanan bersama hasil buruan kaum pria. Mereka lalu melakukan pembagian wilayah kelompok melalui kesepakatan di antara mereka. Salah satu dari hasil pembagian wilayah tersebut adalah perkampungan yang banyak ditemui suatu jenis pepohonan yang setiap tahun berganti daun, yang lalu disebut dengan nama Pamona. Pada suatu hari, kampung Pamona didatangi oleh tujuh orang asing yang mengaku berasal dari seberang lautan. Dengan terbata-bata, tujuh orang pemuda itu menjelaskan bahwa mereka mahir membuat batu dan melukis, serta ingin mencari tempat tinggal. Perjalanan panjang dan melelahkan menuntun mereka sampai ke tempat-tempat di pesisir sungai lalu kini di tepian danau Poso yang terlihat sangat subur dan layak untuk dijadikan tempat menetap. Warga kampung yang ramah membuat mereka jatuh hati pada tempat itu. Setelah tinggal berbaur dengan warga selama beberapa waktu, mereka meminta izin untuk pulang dan berjanji akan kembali mengajak sanak saudara serta keluarga mereka menetap di kampung Pamona.
15 Dalam waktu singkat, kampung Pamona menjadi ramai dengan pendatang. Sisi positif yang warga setempat rasakan adalah pertukaran ilmu cara membuat kerajinan lukisan dan patung, serta terutama cara bercocok tanam. Hal ini mendorong perubahan sosial pada warga asli Pamona yang beralih mata pencaharian dari pemburu dan peramu menjadi petani. Sisi negatif yang tidak terelakkan adalah perdebatan dan perselisihan yang kerap terjadi, mulai dari persoalan manuntu baula18 , manuntu bago19 , sampai manuntuki yunu20 . Akhirnya warga mengadakan musyawarah, duduk bersama antara penduduk asli dan para pendatang. Mereka sepakat untuk mengangkat seorang pemimpin, agar dapat mengatur kehidupan mereka. Sayangnya, tak seorangpun dianggap pantas untuk menjadi pemimpin bagi kampung mereka. Untuk sementara, warga Pamona harus rela mengalami kekosongan pemimpin. 18 Memperdebatkan kerbau 19 Memperdebatkan tanah 20 Menjelekkan orang lain
16 Tak berapa lama kemudian, dua orang pemuda yang mengaku sebagai putra Raja dari sebuah kerajaan jauh di seberang lautan, muncul di kampung Pamona. Dua pemuda misterius berbadan tegap dan berkulit sawo matang itu mengatakan bahwa seorang saudara mereka telah menetap di Sigi dan menjadi Raja di daerah tersebut, sedangkan mereka berdua diutus untuk menetap di Pamona dan di Luwu. Pada awalnya, warga yang belum mengenal mereka masih merasa asing dengan kehadiran mereka di kampung Pamona. Sebaliknya, beberapa warga yang kebetulan pendatang ternyata mengenali kedua pemuda tersebut dan membenarkan status mereka sebagai putra dari kerajaan seberang. Setelah beberapa waktu tinggal di Pamona, warga mulai membuka hati dan menerima mereka sebagai bagian dari kampung tersebut. Tibalah hari dimana salah seorang dari pemuda tersebut berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Luwu. Hanya tinggal satu orang pemuda putra Raja seberang yang menetap di Pamona. Ia bernama Lelealu. Karena sikapnya yang dianggap arif, bijaksana dan penuh wibawa, warga mulai melirik Lelealu sebagai calon pemimpin yang dulu pernah mereka sepakati lewat musyawarah. Sebelum meloloskan Lelealu sebagai pemimpin, warga menjodohkan pemuda ini bersama gadis setempat yang bernama Monogu. Warga melakukan posintuwu21 untuk mempersiapkan pernikahan megah 21 Tradisi gotong royong oleh warga Pamona dalam persiapan acara pernikahan, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dilakukan sampai
17 Lelealu yang setelah itu segera diangkat menjadi Raja di Pamona dengan gelar Datu Pamona-Rombenunu. Dan warga kampung Pamona akhirnya merayakan hadirnya pemimpin mereka, sang Datu yang bernama Lelealu…. * “Jadi pak Inunde justru menghentikan perkelahian para pemuda tersebut dengan cerita ini?” tanya Sarif. “Cerita ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak harus memiliki identitas kesukuan yang sama dengan kelompoknya. Bukan karena Lelealu sang Datu adalah seorang putra Raja sekalipun, tetapi karena sikap dan sifatnya, dia pantas menjadi pemimpin. Tongo kamokolenya22 , ane tusumo raya ngkabonya mampasimadago da mewalimo mata mpenai23. Padahal semangat kita orang Pamona yang tinggal di bumi Poso sekarang. Gotong royong berupa bantuan bahan makanan, uang, tenaga, dan sebagainya. 22 Berwibawa kepemimpinannya 23 kalau habis akal pemimpin-pemimpin dalam mendamaikan, akan terjadilah perang
18 ini adalah mosintuwu24 , maroso25, itu yang selalu diajarkan di peribahasa bersatu kita kuat, bercerai kita runtuh. Jadi setelah mendengar cerita sang Datu, para pemuda itu malu sendiri dan baru akan memutuskan berdamai, tetapi bapak-bapak polisi sudah terlanjur datang, dan kami dibawa ke sini untuk dimintai keterangan,” terang pak Inunde. Sarif, Tina dan beberapa orang lainnya di ruangan itu tampak diam tercengang mendengarkan cerita pak Inunde. Setelah berkoordinasi dengan beberapa petugas, Sarif memerintahkan para pemuda di ruang tahanan itu dilepaskan, termasuk memersilakan pak Inunde pulang. Sambil berpamitan, para pemuda itu meminta maaf kepada Sarif dan petugas lainnya. “Justru kalian harusnya meminta maaf dan berterima kasih kepada pak Inunde. Dari beliau, saya juga jadi belajar tentang sosok pemimpin yang baik, dan filosofi yang hidup dan diyakini oleh orang-orang di Pamona. Cerita-cerita seperti ini seharusnya dilestarikan turun temurun, oleh setiap generasi. Jangan kalian berkelahi lagi, selalu selesaikan masalah dengan musyawarah terlebih dahulu, atau gunakan aparat kepolisian ataupun orang yang dituakan untuk membantu menyelesaikan,” pesan Sarif kepada mereka. 24 Bersahabat, tolong-menolong 25 Kuat
19 “Biar kami yang antar pak Inunde pulang ke rumahnya,” kata salah seorang petugas yang melapor ke Sarif. “Terima kasih, pak, semoga cerita sang Datu mengilhami mereka seperti ia juga sudah mengilhami saya dan temanteman petugas di sini. Sekali lagi kami minta maaf sudah menahan bapak semalaman di sini,” kata Sarif sambil menjabat tangan pak Inunde yang tersenyum memandangi mereka. Sebelum naik ke mobil patroli petugas, pak Inunde menjabat tangan satu persatu petugas yang ada di hadapannya, dan bersiap pulang ke rumahnya. Pagi itu ia hanya memikirkan satu hal, rindu bertemu cucu-cucunya yang gelisah menantikannya. Mungkin ia bisa bercerita tentang sang Datu, kelak ketika mereka cukup besar untuk mengerti, pentingnya mewarisi sifat seorang pemimpin di dalam diri mereka, sebelum siap hidup menjadi bagian yang bermanfaat di tengah masyarakat.
20
21 Sogili & Jinjikee “Bagaimana hasil temuan kamu?” tanya Profesor Dali kepada Mariana mahasiswinya. Genap sebulan, mereka tinggal di rumah warga di wilayah Pamona untuk mengamati dan meneliti aneka burung dari yang endemik hingga yang mulai langka.Profesor Dali beserta rombongannya berasal dari salah satu universitas ternama di Jakarta. Ia merupakan ahli ornitologi26 yang telah mendapatkan pengakuan internasional. Dua mahasiswa; Adam dan Jack serta dua mahasiswi; Mariana dan Giska, dipilihnya secara khusus ikut dalam tim ekspedisi Ornitologi Sulawesi, karena dianggap cerdas di mata kuliah yang diajarnya di universitas. “Saya dan Giska meneliti burung Kadalan Sulawesi27 alias Phaenicophaeus calyorhynchus, Prof. Kami 26 Cabang zoologi yang mempelajari burung 27 Ciri fisik burung ini memiliki bulu yang pesolek, tubuh memanjang, kebanyakan dengan ekor yang panjang membulat atau bercabang dua, dan sayap yang membulat atau meruncing. Kebanyakan
22 mencoba melihat bagaimana sifat-sifat dari famili Cuculidae ikut diwariskan pada jenis Kadalan Sulawesi. Kita ketahui bahwa famili Cuculidae ini kerap menempatkan telurnya pada sarang burung lain, memaksa pemilik sarang menetaskan telur tersebut dan mengasuhnya hingga besar. Famili Cuculidae justru membuang telur yang dihasilkan burung yang dititipi telurnya sendiri. Singkatnya, egois, dan melanjutkan karakter yang sama tersebut ke setiap keturunannya secara alami, yang padahal dibesarkan oleh induk tirinya. Ternyata tidak jauh berbeda dengan jenis Kangkok, Bubut Jambul, Wiwik, Kedasi, Tuwur, Karakalo, Bubut dan Tokhtor; kesemuanya dari famili yang sama,” terang Mariana. Burung Kadalan “Menarik,” kata Profesor Dali sambil mengamati lembaran kertas berisikan catatan penelitian Mariana. paruhnya melengkung yang khas dengan beragam ukuran. Tungkainya zigodaktil, dua jari ke depan dan dua jari ke belakang.
23 “Tapi tidak hanya itu, Prof, betina dari famili Cuculidae juga mampu menghasilkan telur yang warna maupun bentuknya identik dengan telur burung lain yang akan mengerami telurnya tersebut. Ini merupakan suatu hal yang tidak terbayangkan mengingat dengan kemampuan yang sama seharusnya mereka bisa membangun sarang dan mengerami telurnya sendiri. Mereka seperti parasit,” lanjut Mariana yang lantas diacungi jempol oleh Profesor Dali. “Saya dan Jack meneliti burung Srigunting28 alias Dicrurus macrocercus, Prof. Masyarakat sini justru menyebutnya sebagai ‘Jinjikee’. Burung ini termasuk istimewa karena kicauannya keras dengan karakter suara yang mirip dengan suara binatang misalnya seperti kucing, juga punya kemampuan menirukan suara kicauan burung jenis yang lainnya. Tapi kami meski sedikit tidak relevan, kami juga mengumpulkan data lain terkait burung Srigunting, Prof, yang kebetulan kami rekam lewat keterangan narasumber warga setempat. Kalau Prof tidak keberatan….” Kata Adam sambil menunjuk ke laptop dan speaker aktif di dekatnya. “Silakan, ini mungkin juga menarik untuk dicantumkan dalam laporan penelitian kalian. Aspek-aspek lain yang 28 Ciri fisik burung ini memiliki panjang tubuh kurang lebih 30 cm. Ia memiliki iris mata berwarna merah, bagian paruh serta kaki berwarna hitam, serta bentuk ekornya yang terlihat seperti gunting atau bercabang. Beberapa jenis burung ini ada yang memiliki jambul, yang sebenarnya termasuk perpanjangan dari bulu-bulu pada bagian mahkota.
24 memperkaya wawasan temuan kalian,” kata Profesor Dali sambil menempati kursi di dekatnya, dan menyimak hasil rekaman yang diputarkan kembali oleh Adam. Burung Srigunting “Ini adalah suara narasumber kita, bapak Yulius, dan diikuti suara dari Yulin sebagai penerjemah beberapa dialek lokal yang kerap digunakan oleh narasumber,” kata Adam sambil memberi aba-aba kepada Jack untuk memutar rekamannya. “….ini merupakan burung Srigunting atau Dicrurus macrocercus, dan….” Suara Adam terdengar. “Jinjikee, kita orang bilang itu burung Jinjikee,” sela pak Yulius. Terdengar suara ia berbisik dengan seseorang di dekatnya. “Pak Yulius ingin tahu apakah kalian ingin tahu cerita orang-orang tua dulu tentang burung Jinjikee ini,” sambung Yulin.
25 “Silakan, pak Yulius, kami tentu saja tertarik mendengarnya,” kata Adam. “Se’i ngungumani 29 Sogili dan Jinjikee,” kata pak Yulius. “Sogili?” tanya Adam. Pak Yulius kembali terdengar berbisik, sedikit agak lama, kemudian ada jeda hening sekitar lima detik. Sogili “Sogili adalah istilah orang-orang sini untuk sidat atau biasa juga disebut moa. Katanya sidat ini hidup di air tawar dan juga air laut. Secara umum orang-orang juga menyebutnya belut atau dalam bahasa Pamona disebut Masapi. Tetapi sekarang orang-orang sudah lebih pintar membedakan penyebutan yang Masapi dan mana yang Sogili. Kalau Masapi kepalanya meruncing ke depan serta tidak dilengkapi kumis maupun sirip kepala, sedangkan Sogili memiliki mulut yang papak dilengkapi kumis 29 Ini adalah dongeng tentang
26 pendek berwarna kuning dan memiliki sirip di bawah kepala. Sogili juga lebih suka tinggal di lingkungan air yang bersih dan jernih, tidak seperti Masapi yang suka tinggal di perairan yang berlumpur,” terang Yulin. “Cerita apa yang orang-orang tua dulu suka sampaikan tentang Sogili, pak Yulius?” tanya Adam. “Pusamo pobale-balenya30 antara Sogili dan Jinjikee, se’i ceritanya….” Kata pak Yulius. * Pada zaman dahulu kala, di suatu sore, seekor burung Jinjikee terbang melintasi tepian danau Poso. Ia selalu membanggakan suara kicauannya yang keras dan menyapa setiap makhluk yang lewat di hadapannya. Malang nasibnya ketika entah dari mana, batu ketapel menyambar sayapnya hingga ia jatuh ke air danau. Dengan panik, Jinjikee mengepakkan kedua sayapnya yang terluka di atas air, sambil berkicau keras meminta pertolongan. Pada saat itu, seekor Sogili lewat dan mendorongnya ke tepian darat. “Terima kasih aweku31,” kata Jinjikee yang mencoba menenangkan dirinya. “Komi moinda ri aku32,” balas Sogili. 30 Putus persahabatannya 31 Teman; penolongku 32 Kamu berutang pada saya
27 “Tentu saja, aweku,” kata Jinjikee menyapa Sogili dengan kepak sayapnya yang masih terluka. “Satu saat, da goaweku solae33,” kata Sogili yang diiyakan oleh Jinjikee. Setelah sembuh benar dari lukanya, Jinjikee selalu terbang mengitari danau Poso dan menyapa Sogili. Jinjikee akan menceritakan tempat-tempat yang pernah dilewatinya ketika terbang di angkasa, begitu pula Sogili akan menceritakan dunia di bawah air yang tidak kalah mencengangkan bagi seekor Jinjikee. “Jinjikee, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui tentang diriku,” kata Sogili pada suatu hari. “Apa itu, aweku?” tanya Jinjikee. “Beberapa waktu ini, Jomo-jomo34 kembali mencari makan di danau ini. Ia tahu bahwa aku beristirahat di lubang-lubang tanah, akar pohon dan di balik daun tumbuh-tumbuhan air. Ia juga tahu aku selalu berkeliaran di malam hari untuk berburu makanan, naik ke perairan yang dangkal, dan beberapa dari temanku telah mati olehnya. Satu saat nanti aku juga pasti harus ke laut untuk menyimpan telur-telurku, dan aku belum tentu akan kembali lagi ke danau ini dengan selamat. Aku hanya sayang dengan nyawaku, mati sebelum menuntaskan 33 Akan menjadi penolongku 34 Sejenis burung elang yang kecil, tetapi sangat tangkas
28 tujuanku melanjutkan generasi Sogili berikutnya. Tolong aku, Jinjikee,” pinta Sogili. “Pakainco rayamu35 , aweku,” jawab Jinjikee. Sejak saat itu, setiap malam, Jinjikee akan terbang di sekitar danau dan mengawal Sogili ketika mencari makan. Beberapa kali ketika Jomo-jomo muncul, Jinjikee akan menyerang serta mengeluarkan kicauan keras yang sekaligus mengusirnya. Pada suatu malam, hujan turun dengan deras dan menyebabkan air danau Poso meluap. “Penaa-naa, ne’e yore36, Jinjikee,” kata Sogili yang diiyakan oleh Jinjikee. 35 Tenangkan hatimu 36 Berjaga-jaga jangan tertidur
29 Sogili dan teman-temannya muncul di perairan dangkal untuk berburu anak udang, anak kepiting, cacing kecil, makan sepuasnya. Karena basah dan kedinginan, Jinjikee berlindung di bawah pohon kersen dan tertidur. Keesokan paginya, luapan air danau telah surut dan menyebabkan Sogili dan teman-temannya terperangkap di kubangan air dangkal. Manusia datang beramai-ramai untuk menangkap mereka. Dengan susah payah, Sogili dan beberapa temannya yang tersisa melompat menerobos lumpur hingga kembali ke air. “Jinjikee! Jinjikee!” teriak Sogili yang seketika membangunkan Jinjikee dari tidurnya yang pulas. Dengan panik, Jinjikee terbang mendekati Sogili, menyadari bahwa ia tertidur terlalu lama. “Maafkan aku, aweku, kuju najumu uja37 , tepobutamo yaku38,” kata Jinjikee sambil memohon maaf pada Sogili. “Maafmu tidak bisa menggantikan moliko-liko39 temanku ri raya mbuwu40,” kata Sogili dengan marah. “Tapi….” Jinjikee mencoba membela diri, seketika dipotong oleh Sogili. “Nupakalalo yaku41,” kata Sogili lagi. 37 basah kuyup kena hujan 38 Tertidurlah saya 39 Bergulung-gulung 40 Di dalam bubu (alat penangkap) 41 Engkau kecewakan saya
30 “Sudah dari lalu kupaputamo indaku ri siko42,” kata Jinjikee yang seketika memancing emosi Sogili. “Mulai sekarang, jangankan badanmu, bulumu saja yang jatuh ke air akan kami habisi!” teriak Sogili sambil pergi meninggalkan Jinjikee. Sejak saat itu, Sogili dan Jinjikee tidak pernah lagi saling sapa. Ketika melihat bangkai binatang di perairan, Sogili tidak segan-segan untuk mencabik-cabiknya hingga hancur dan memakannya sedikit demi sedikit. Tidak jarang, Sogili juga memangsa sesamanya sendiri. Ia masih sakit hati karena merasa dikhianati oleh Jinjike…. * “Pak Yulius masih suka menangkap Sogili?” tanya Adam. “Sudah langka sekarang Sogili, sama seperti Bungu43 yang sudah susah didapat,” jawab pak Yulius. Terdengar kembali suara ia berbisik beberapa saat. “Dulu Sogili itu panjangnya sampai 2 meter dengan berat mencapai 30 kilogram per ekornya. Sekarang-sekarang ini hanya 1,5 meter dengan berat paling 20 kilogram. Harganya memang mahal, sampai Rp 100.000 per kilogram,” sambung Yulin. Rekaman lalu terhenti. 42 Saya sudah selesaikan utangku padamu 43 Sejenis ikan gabus dengan tulang lunak dan daging tebal
31 sumber foto: https://sidatlabas.com/ikan-sidat-belang-raksasapenyebaran-terluas-di-dunia/ “Cerita yang menarik,” kata Profesor Dali. “Data yang kami temukan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Poso menyebutkan bahwa pada 2009 yang lalu, pendangkalan hebat terjadi di Danau Poso. Luas yang semula 37.000 hektar diperkirakan telah mengalami pendangkalan 19,28 persen atau sekitar 7.073 hektar. Dugaan lain juga menyebutkan pengaruh letusan Gunung Colo di tahun 1983 merupakan salah satu penyebab mulai punahnya Sogili di samping ditunjang oleh penangkapan secara berlebihan,” terang Adam. “Saya pernah membaca sebuah artikel ilmiah tentang perilaku Sogili ini yang bermigrasi dari perairan tawar ke laut ketika hendak berkembang biak. Kalau tidak salah istilahnya ‘pemijahan’. Sogili butuh waktu lama untuk
32 sampai di laut lepas, mengikuti aliran sungai yang sangat deras, menentang arus untuk tiba di tengah laut, belum lagi beradaptasi dengan perubahan kadar garam. Ia dapat berenang lebih dari 4800 kilometer jauhnya! Literatur menyebutkan bahwa kebanyakan Sogili atau sidat ini hanya akan bertelur sekali dalam hidupnya, dan setelah itu mereka akan mati. Perjalanan migrasinya dari air tawar ke air laut adalah untuk menemukan tujuan hidup mereka, yaitu berkembang biak. Kelak anak-anak Sogili akan berenang ke perairan tawar hingga tumbuh besar dan mengulangi proses yang sama yang dilakukan oleh induknya. Luar biasa!” sambung Profesor Dali. “Dan, tentu saja, Prof, kembali ke persoalan temuan terkait burung Srigunting. Secara khusus kami mengamati Srigunting Sulawesi yang memiliki ukuran tubuh besar sekitar 28 senti dengan bulu berwarna hitam kebiruan. Sulawesi Drongo atau Dicrurus montanus ini, dapat hidup sendiri, berpasangan maupun berkelompok, banyak ditemui di dalam hutan dengan perkiraan ketinggian 550 hingga 1800 meter di atas permukaan laut dan makanan utamanya adalah serangga,” kata Jack. “Kalian jangan lupa beberapa hal menarik tentang burung Srigunting, seperti kemampuannya merebut makanan yang dibawa burung lain dengan cara menakut-nakuti burung lain tersebut menggunakan suara burung predator yang ditirunya,” kata Profesor Dali. “Siap, Prof,” kata Adam.
33 “Cerita tadi meskipun tidak relevan dengan ekspedisi kita terkait burung endemik Sulawesi, tolong kalian jadikan sebagai arsip,” kata Profesor Dali. “Untuk apa, Prof?” tanya Adam. “Agar lebih banyak orang yang tahu tentang cerita ini, setidaknya agar daerah ini lebih dikenal dengan nilai budaya, sejarah serta keunikan alamnya. Kita butuh lebih banyak cerita seperti ini, tidak hanya roman fiksi modern yang menjejali toko buku di mana-mana,” kata Profesor Dali sambil memersilakan tim mahasiswanya untuk beristirahat mengakhiri diskusi mereka di malam itu.
34
35 Lasaeo & Rumongi “Aduh, si kecil kepalanya harus ditutup kalau lewat daerah sini,” tegur mama Lisa kepada Yurike. “Aduh, mama, sudah jo itu percaya mitos, kita ini kan cuma mau pergi ke kampung di Tendeadongi, lagian ini panas sekali, kasihan anakku kalau kepalanya ditutup, tidak ada angin,” keluh Yurike sambil sesekali memperhatikan bayi di pelukannya. “Mitos apa? Kamu tidak pernah cerita sama saya, Ke?” tanya Santos keheranan dengan kedua tangannya bersandar di setir mobil. Di hadapan mereka lalu lintas terlihat padat macet. Baru saja terjadi kecelakaan motor sekitar seratus meter di depan barisan kendaraan mereka, dan mama Lisa berkeras agar mereka tetap menunggu di dalam mobil, tidak menyaksikan pemandangan mengerikan dari orang yang kecelakaan. Bisa membawa sial, katanya.
36 “Saya itu takut nanti kamu terpengaruh dengan ceritacerita dari daerahku. Tidak semuanya juga betul,” kata Yurike dengan cuek. “Huss! Tidak boleh kamu bilang begitu, nak,” sela mama Lisa. “Mungkin tidak semua cerita itu masuk akal di telingamu, tapi tidak berarti kehilangan maknanya bagi kita orang-orang Pamona secara turun-temurun.” “Sepertinya kita masih akan tertahan lama di sini, mereka masih menunggu evakuasi dari ambulans atau polisi,” kata Santos. “Kecelakaan motor dengan mobil boks….” “Jangan kamu turun ke situ ya, nak. Di sini saja tenangtenang batunggu,” pinta mama Lisa. “Tadi mama Lisa dengan Ike singgung tentang mitos dan si kecil harus ditutup kepalanya kalau lewat daerah sini, itu bikin saya penasaran. Tolong ceritakan ke saya,” kata Santos. “Ini Ike memang, terlalu lama batinggal kampung halaman, jauh di negeri orang, sampai tidak mau tahu lagi dengan akar budaya dan cerita-cerita seperti begini,” kata mama Lisa. “Sudah jo, mama. Nanti Santos pikir kita ini masih primitif, percaya yang kayak begitu,” kata Yurike. “Bukan primitif, nak. Tapi kita kaya dengan cerita dan budaya. Jangan kamu kira nanti anakmu besar cuma tahu itu Snow White, Cinderella dan sejenisnya saja,” kata mama Lisa.
37 “Ya, saya mau tahu bagaimana cerita anak ditutupi kepalanya dengan kain itu, mama Lisa,” kata Santos. “Mungkin nak Santos belum pernah melihat karambangan ya,” kata mama Lisa. “Karam….?” Kata Santos sedikit kebingungan. “Karambangan, sayang, itu bentuk sajian musik yang biasa dimainkan dengan gitar dan menyanyikan kayori atau pantun dari bahasa Pamona, Mori, Bada, Napu, dan lainnya. Kadang selain gitar juga ditampilkan dengan geso-geso, sejenis biola tapi hanya memiliki satu senar. Sekarang sudah mulai langka, sayang. Entah kenapa,” terang Yurike. Karambangan modern sekarang, sumber gambar: https://media.alkhairaat.id/kampanyekan-budaya-pamona-perdaposgelar-festival-karambangan-dan-lagu-solo/ “Itu juga dipicu pasca kerusuhan tahun 2000 lalu, pas waktu kamu pergi tinggalkan kampung, nak,” kenang mama Lisa. “Jadi, apa hubungan karambangan dengan anak bayi yang kepalanya ditutup kain?” tanya Santos yang semakin
38 kebingungan. Mama Lisa tersenyum melihat reaksi Santos. “Ada lirik kayori yang berbunyi seperti ini; Tongo tuwu pa ngkai’ta I’pua, Jelamo ta’u manuru Melamba n’cari Baula mabuya, Ri dongi Pontu ka tudu I lasaeo To mo ngoronya, Pai we anya ru mongi to onya. Ungka katuwu tau ri rano, Lawi nya nda po mada go Artinya kurang lebih seperti ini: Ketika zaman nenek moyang dulu, turun seorang sakti dari langit yang mengendarai kerbau putih, persisnya di sekitar daerah Dongi. Namanya Lasaeo dan ia memperistri Rumongi. Karena mereka ada, hidup di sekitar danau menjadi tentram,” kata mama Lisa. “Laseo dan Mongi….?” Tanya Santos lagi. “Lasaeo dan Rumongi, nak. Jadi ceritanya dimulai dari kehidupan yang masih sangat primitif dari masyarakat sekitar danau Poso pada suatu masa….” * Dahulu kala, masyarakat yang menghuni sekitar danau Poso adalah para pengembara, yang mengandalkan hidup dari berburu dan meramu tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Setiap musim hujan tiba, mereka selalu harus
39 berhadapan dengan banjir yang kerap menelan korban jiwa. Untuk jauh meninggalkan pesisir danau, mereka selalu merasa takut, karena berpikir sumber makanan dan peluang hidup yang mereka miliki selalu mengandalkan dari danau dan hutan terdekat saja. Lasaeo, adalah seorang pria suci dan sakti yang kerap mengamati kehidupan masyarakat pesisir danau Poso dari khayangan. Ia terkesan khususnya dengan masyarakat di wilayah Pamona yang sekalipun hidup susah dan menderita tetapi gigih bertahan dan senantiasa ramah kepada setiap orang asing baru yang kemudian bergabung bersama kelompok mereka. Lasaeo merasa bahwa dirinya berjodoh dengan masyarakat itu, dan ia terpanggil untuk membantu mereka. “Ayo kita turun ke dunia mereka dan berbuat sesuatu yang membantu, manio44ku,” kata Lasaeo kepada kerbau putih kesayangannya. Ia duduk di atas kerbau putih yang juga adalah sahabatnya tersebut dan mendarat di sekitar Dongi, wilayah Pamona. Masyarakat sekitar tampak takjub sekaligus mengeluelukan kedatangan Lasaeo. Mereka memperlakukannya dengan penuh hormat layaknya seorang Raja. Dengan kesaktian dan kepandaiannya, Lasaeo mengajarkan cara bercocok tanam dan mengolah hasil bumi yang lebih baik. Hal ini menyebabkan kehidupan masyarakat berangsur membaik dan mereka mulai melupakan kehidupan 44 Kerbau dalam bahasa sastra Pamona. Istilah umum untuk kerbau adalah ‘baula’
40 sebagai pengembara yang berpindah-pindah tempat. Lalu salah satu di antara masyarakat itu mengungkapkan kekhawatirannya ketika Lasaeo sedang berada di tepi danau untuk mengajari beberapa pemuda menangkap ikan dengan menggunakan bubu45 . Bubu untuk menangkap ikan “Yaku doito46 kalau Lasaeo tetoro, lai lidu nanemboka47,” kata salah satu warga itu. “Lasaeo kala’enca48 dari kita,” ujar warga lainnya. “Tidak usah khawatir, wahai kalian masyarakat Dongi Pamona ini. Saya tidak akan pulang, justru saya sejujurnya telah jatuh hati pada seorang gadis di tempat 45 Alat tangkap ikan yang dibuat dari bambu yang dianyam, kalau untuk di perairan tawar bentuk klasiknya menyerupai rudal, runcing. 46 Saya takut sekali 47 Kembali pulang, terbang menuju awan 48 berbeda
41 ini,” kata Lasaeo yang tiba-tiba muncul menengahi pembicaraan mereka. “Siapa gerangan gadis istimewa itu, Pue49?” tanya salah seorang warga. “Namanya Rumongi,” jawab Lasaeo yang seketika menciptakan bisik dan disusul sorak sorai oleh mereka. Sebuah solusi telah muncul untuk membuat Lasaeo tinggal menetap bersama mereka. Rumongi tidak hanya sekedar seorang gadis yang cantik, ramah, penyayang, gemar menolong dan pekerja keras, tetapi dirinya juga merupakan putri angkat dari seorang Raja bergelar Rumbenunu dan Roe Mbetue yang sebelumnya tinggal di daerah tersebut. Tanpa menunggu lama, masyarakat segera posintuwu atau gotong royong melangsungkan pernikahan Lasaeo dengan Rumongi. Setelah resmi menjadi suami dan istri, Lasaeo memberitahu sebuah rahasia kepada Rumongi. Dikarenakan ia yang seorang makhluk suci, ada sebuah pantangan bagi Lasaeo, yakni memegang kotoran manusia. “Salapi katuwu mami50,” kata Lasaeo menjelaskan kepada Rumongi. 49 Panggilan ‘tuan’ untuk seorang laki-laki yang dihormati dan dituakan 50 Kami/kita berbeda keturunan
42 “Jadi, bagaimana kalau mau hajatan, Ndongaku51?” tanya Rumongi dengan polosnya. “Yang keluar justru lunce52,” jawab Lasaeo setengah berbisik dan seketika memancing gelak tawa Rumongi disusul dirinya. Lasaeo berpikir Rumongi sudah mengerti sehingga tidak perlu ia menjelaskan terlalu banyak tentang dirinya lagi. Katak Setelah setahun, Lasaeo dan Rumongi dikaruniai seorang anak laki-laki. Mereka sangat berbahagia. Sayangnya pada suatu hari ketika Lasaeo sedang menimang anaknya, ternyata si anak membuang hajat. “Kesini dulu, Ndongaku, si kecil kita buang hajat,” panggil Lasaeo yang mulai panik. 51 Panggilan sayang untuk suamiku/istriku 52 Katak
43 “Nepa riu53 , yaku lagi pisoi ose54,” jawab Rumongi yang masih sibuk di dapur. “Endo-endo55 yaku pernah cerita tentang lunce,” panggil Lasaeo dengan suara yang lebih keras. “Polo’e56,” jawab Rumongi sambil tertawa. Maksud hatinya agar Lasaeo saja yang membersihkan kotoran anaknya sendiri tersebut. Rumongi tidak menyadari bahwa Lasaeo tersinggung mendengar suara tawanya. “Wa’a mpauka napasagi57!” kata Lasaeo kepada dirinya sendiri dengan penuh amarah. Ia meletakkan anaknya di atas palungan dan mengambil santi mpomolungka kaju58 , lalu ditebasnya setiap pohon yang dilihatnya ketika meninggalkan rumah. Kerbau putih yang selama ini menjadi sahabatnya, melihat kejadian itu dan mengejarnya, bermaksud menenangkan tuannya tersebut. Ketika Lasaeo melihat si kerbau putih mendekatinya, ia malah menebaskan parangnya yang untung saja tidak melukai, tetapi memotong kedua tanduk si kerbau yang terpental jatuh ke atas atap rumah Lasaeo yang masih tidak terlalu jauh. Sia-sia saja upaya si kerbau putih untuk menenangkan tuannya. 53 Tunggu dulu 54 Mencuci beras 55 Ingat-ingat 56 Senda gurau, main-main (canda) 57 Semua perkataanku dianggapnya lelucon! 58 Parang yang bisa digunakan memotong kayu
44 Setelah merasa cukup tenang, Lasaeo menyerukan sebuah mantra ke arah langit. Seutas tali dari akar pepohonan saling menjalin membentuk tangga, turun dari langit, tepat di hadapan Lasaeo. Ia perlahan menaiki tali tersebut. Rumongi baru saja membersihkan kotoran dari hajatan anaknya, ketika dirinya sadar bahwa suaminya Lasaeo bukanlah seorang manusia biasa. Lasaeo pernah dengan jelas memberitahukannya rahasia tentang pantangan dan masalah lunce, yang dikiranya adalah sebuah lelucon. Sekarang Lasaeo menghilang entah kemana! Dengan terburu-buru mengikatkan anaknya ke belakang punggungnya menggunakan seutas kain, Rumongi berlari meninggalkan rumah dan mencoba mencari jejak suaminya tersebut. Ia tidak terlalu kesulitan mencari, karena tinggal mengikut jejak batang pepohonan yang berserakan di tanah. Itu pasti ulah kemarahan Lasaeo, kata Rumongi dalam hati dengan cemas. “Rumongi, cepat, itu pue Lasaeo di sana, mau kembali ke kahyangan,” kata salah seorang warga mengarahkan
45 langkah Rumongi sambil menunjuk ke langit. Rumongi sempat menceritakan perihal penyesalannya atas sikapnya kepada Lasaeo sambil melanjutkan langkahnya berlari. Rumongi berlari menyusul Lasaeo, memanjat tangga dari akar pepohonan itu. “Ampungi aku59 , Ndongaku,” teriak Rumongi sambil menangis. Lasaeo melihat Rumongi yang berusaha menyusulnya, tapi ia telah bertekad untuk tidak lagi peduli. Kehormatannya dan panggilan batinnya untuk pulang jauh lebih hakiki daripada sekedar memikirkan waktu yang ia rasakan telah disia-siakannya di dunia manusia. “Rayaku malentora60,” kata Lasaeo. “Tapi ini sudah janji61.” Setelah mengakhiri perkataannya sendiri, Lasaeo menggunakan parang di genggamannya untuk menebas tali dari akar pohon yang tersisa di bawahnya. Rumongi 59 Ampuni/maafkan saya 60 Hatiku sedih sekali 61 Takdir/nasib
46 dan anaknya jatuh kembali ke bumi, dan jasad mereka membatu, terlilit oleh tali hutan di atas sebuah bukit kecil. Lasaeo tidak pernah terlihat lagi, dan masyarakat sekitar menceritakan kisah Rumongi dari mulut ke mulut, untuk didengarkan dan diambil hikmahnya oleh setiap masa dan setiap generasi…. * “…dan konon tempat jatuhnya Rumongi dan anaknya tersebut merupakan perbatasan Tentena-Sao’jo yang sedang kita lewati ini. Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang lewat di daerah ini membawa anakanak kecil tanpa menutupi kepala anak tersebut, akan ditimpa bencana seperti sakit atau panas demam. Mereka percaya itu merupakan tanda dari arwah Rumongi yang tidak pernah tenang, menyesali ketidakpatuhannya pada sang suami, dan tindakannya yang justru berakibat melenyapkan nyawa sang anak beserta dirinya,” kata mama Lisa mengakhiri ceritanya. “Wow, itu benar-benar cerita yang luar biasa, mama Lisa,” kata Santos. “Batu Rumongi ada sekitar 200 meter di belakang panti asuhan Tendea Dongi, sayang. Itu yang konon merupakan penjelmaan dari jasad Rumongi dan anaknya, diyakini oleh orang-orang sampai sekarang,” sambung Yurike. “Kenapa kita tidak singgah saja ke situ dan berfoto?” tanya Santos.