47 Batu Rumongi atau Watu Rumongi, sumber dari potongan video VLOG Perjalanan ke Watu Rumongi https://www.youtube.com/watch?v=otSvZbZ_WTc channel: Pram Pode “Kita ingin sampai di rumah nenek sebelum malam, sayang, ditambah lagi si kecil ini?” balas Yurike. Mereka sama-sama tersenyum. “Nanti mama Lisa cerita lagi ya tentang hal-hal gaib dan misteri, juga yang seperti cerita Lasaeo tadi,” pinta Santos. Mereka dikejutkan oleh suara ketukan di pintu kaca samping Santos. Seorang petugas berseragam polisi berdiri di situ. Santos membuka kaca jendela mobilnya. “Mohon maaf, Pak, jalanan sudah lancar kembali, silakan melanjutkan perjalanannya,” tegur sang polisi. “Oh iya, terima kasih,” balas Santos. “Semoga selamat sampai di perjalanan ya,” kata sang polisi. Mobil yang dikendarai Santos dan ditumpangi istrinya, Yurike beserta bayinya, juga mama Lisa, akhirnya mulai melaju kembali di jalan.
48 “Wah gila, si bule itu jago bahasa Indonesia ya?” celetuk salah seorang polisi yang menghampiri rekannya tersebut. “Huss! Zaman sekarang kita itu tidak bisa melihat orang dari luarnya saja,” kata sang polisi. “Jadi dari apanya?” tanya rekannya lagi. “Casing-nya boleh beda, tapi hatinya ternyata Indonesia,” jawab sang polisi yang disusul gelak tawa rekannya mengiyakan.
49
50 Jempajuju & Bidadari “Lala! Kamu dimana?” teriak ayah sambil duduk bersandar di sofa ruang tamu, surat kabar yang baru saja habis dibacanya lantas diletakkan di atas meja. Ibu datang mendekati ayah, membawa nampan berisi secangkir kopi dan sepiring pisang goreng. “Kalau jam begini papa cari, si Lala pasti sedang duduk manis di teras belakang rumah,” kata ibu. “Ba apa dia di teras belakang?” tanya ayah. Ditatapnya jam di dinding, menunjukkan pukul 10 pagi. “Main game online, atau live instagram, pa,” jawab ibu. “Kalau orang bilang, kids jaman now,” sambung ibu sambil tersenyum dan meletakkan kopi dan pisang goreng di hadapan ayah.
51 “Sebenarnya tidak bagus kayak begitu, ma, rusak nanti otaknya anak kita,” kata Ayah. “Daripada si Lala pigi bermain di jalan, bahaya penculik atau kecelakaan, papa pilih mana?” komentar ibu. “Mama benar…tapi tidak berarti anak-anak kita tumbuh besar tanpa tahu dunia tempat mereka tinggali ini juga punya banyak hal-hal indah, bertemu orang-orang baru yang baik, alam yang luar biasa, seperti totounde62,” kata ayah. “Apa hubungannya dengan totounde, pa?” tanya ibu yang duduk di samping ayah. “Bikin musik jadi lebih enak didengar dan dinikmati, ma, hidup berbaur dengan lingkungannya, tidak batutup diri. Saya mau si Lala seperti totounde itu, kecil tapi berarti,” kata ayah dengan menggebu-gebu. 62 sejenis gendang kecil atau sedang yang biasa ditabuh untuk menambah indah irama gendang yang lain
52 “Tapi ingat, papa juga terlalu sibuk dengan pekerjaan, sehingga tidak selalu punya waktu untuk mengajarkan totounde kita menabuh suara merdunya. Untung ini hari Minggu, jadi papa bisa tinggal di rumah dan beristirahat. Sekarang totounde kita sedang asyik dengan dunia di balik handphonenya,” kata ibu sambil menepuk-nepuk pundak ayah. “Dulu almarhumah mamaku selalu punya cara istimewa untuk menghibur kami, ma,” kata ayah. “Mungkin sudah saatnya papa teruskan cara almarhumah mama ke anak-anak kita, jadikan sebagai tradisi,” perkataan ibu segera disambut senyum mengembang di wajah ayah. Di benaknya ada sebuah niat yang harus segera dilakukannya. Ayah menyeruput kopinya dengan tergesa-gesa sambil mencicip sepotong pisang goreng, lantas ia beranjak menuju ke teras belakang rumah. Di situ, ia menemukan si Lala, yang duduk di lantai tegel berwarna putih, menghiraukan sejuknya pohon palem dan mangga, suara air yang tidak henti menciptakan riak di kolam kecil berisikan ikan mujair, bahkan aneka bunga dan rumput jepang yang menghiasi pekarangan di hadapannya tersebut. Si Lala asyik memainkan telepon genggamnya. “Epi63, asyik betul kamu main handphonemu itu,” kata ayah yang duduk di sampingnya. Lala sempat menoleh ke 63 panggilan anak perempuan
53 ayah, tetapi larut kembali dalam permainan di genggamannya. “Iya, papa,” jawab Lala singkat. Ayah membelai rambut putrinya yang kini berusia sepuluh tahun itu. Seperti baru kemarin, ia ingat betul, Lala masih bayi yang kulitnya kemerahan, suka merengek dan kerap membuatnya terjaga di tengah malam, bergiliran bersama ibu mengurus dan merawatnya dengan kasih sayang. Ayah teringat ketika ia kecil dulu, hiburan terbaik selain bermain bersama teman-teman sebaya di luar rumah, justru ketika almarhumah ibunya duduk di sampingnya dan bercerita tentang hal-hal ajaib yang tidak pernah didengarnya sebelumnya; hewan-hewan yang dapat berbicara, kutukan penyihir sakti, putri dan ksatria, dan…. Ia berharap kenangan seperti itu juga yang kelak mengingatkan Lala dewasa tentang masa kecilnya. “Mulai hari ini, papa mau buat peraturan baru di rumah, khususnya untuk Epi,” kata ayah yang lantas mengambil telepon genggam dari tangan Lala.
54 “Ee papa! Kan lagi seru-serunya!” kata Lala merungut. “Mama juga ikut aturan barunya papa, lho,” kata ibu yang muncul membawakan nampan berisikan sepiring pisang goreng, secangkir kopi milik ayah serta dua gelas es sirup. Sikap Lala berubah ceria kembali. “Sekarang sudah komplit, jadi papa mau mulai bercerita,” kata ayah. Lala menatap ayahnya dengan aneh. “Sudah jo, papa, masa harus bacerita, paling-paling juga dongeng putri salju, atau sinderela, atau macam-macam, so bosan saya dengar,” protes Lala. “Yang ini lain, Epi, coba kamu dengar dulu, kalau memang sudah kamu tahu ceritanya, papa langsung stop dan kembalikan handphonemu,” kata ayah. “Oke,” kata Lala sambil bersandar di pelukan ibu dan mulai menyimak perkataan ayah. “Ini adalah cerita tentang Jempajuju…. * Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tinggal tidak jauh dari danau Poso, namanya Jempajuju. Ia telah beberapa tahun hidup sebatang kara, ditinggal mati oleh kedua orang tuanya yang hanyut tersapu banjir luapan danau. Seharusnya ia tidak lagi tinggal di dekat danau, mengingat rumahnya telah hanyut setelah kejadian tragis itu, tetapi ia berkeras membangun kembali rumahnya tak berapa jauh dari letak bekas rumahnya yang lama, persisnya sekitar dua ratus meter dari danau, terpisahkan oleh barisan
55 pepohonan buah merah64 yang menjulang hingga belasan meter. Buah Merah Keseharian Jempajuju diisi dengan aktifitas bertani di lahan kebun jagung dan cengkeh yang tidak jauh dari rumahnya. Warga di desa tempatnya tinggal sebenarnya simpatik dengan keberadaannya yang dinilai berani, muda, dan pekerja keras. Sayangnya, Jempajuju seperti menutup diri dari pergaulan dengan warga. Ia masih merasakan trauma kehilangan kedua orang tua yang dicintainya karena peristiwa banjir tersebut. Ia berkeras tinggal di sekitar danau justru karena berharap satu hari banjir akan merenggut dirinya juga, menuntunnya ke tempat dimana kedua orang tuanya menunggu dirinya. Ya, itulah yang diyakini seorang Jempajuju. 64 Pandanus conoideus atau yang lebih dikenal dengan nama buah merah hanya diketahui ada di dataran tinggi Papua tapi kini banyak tumbuh liar di sekitar hutan Kasintuwu, persisnya di perkampungan suku Pamona dekat perbatasan provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
56 Pada suatu siang, Jempajuju mendengar suara gemuruh di angkasa. Langit tampak gelap seketika dan di hatinya, ia yakin, banjir akan terjadi kembali. Ia menghentikan pekerjaannya di kebun dan bersiap pulang ke rumah, lalu tiba-tiba, dilihatnya beberapa berkas cahaya putih silau turun dari langit, menuju ke tempat yang tidak jauh dari posisinya berada. Jempajuju menerobos rerumputan dan semak belukar, mendekati tempat jatuhnya cahaya putih tadi yang ternyata tepat di tepi danau Poso. Takjublah ia menemukan tujuh perempuan cantik, kesemuanya berambut hitam sebahu, berkulit kuning langsat tak bercela, mengenakan selendang dan kain motif batik yang membalut tubuh mereka seperti bunga dan permata yang membentuk rangkaian sebuah pelangi. Untuk pertama kalinya, Jempajuju merasa gugup melihat perempuan. Mereka pasti adalah bidadari dari kahyangan yang sering didengarnya lewat cerita ketika masih kecil dulu. ilustrasi dari https://www.ceritarakyat.pustaka78.com/2010/08/jakatarub.html
57 “Yakin kita tidak akan kena masalah kalau mandi di sini, Aka65?” tanya salah satu bidadari kepada yang lainnya. “Doito komi66?” balas salah satu bidadari. “Aku makoje67 , Aka,” jawab bidadari pertama tadi. “Ee, pandiu nakalori ngkoromu68,” tegur bidadari lainnya. “Bare’e malori se’i69,” balas salah satu bidadari disusul tawa lainnya. Mereka melepaskan selendang masingmasing, melipat dan meletakkannya dengan rapi di atas sebuah batu besar di dekat pohon kersen. Tujuh bidadari itu asyik menikmati sejuknya air danau Poso sambil bersenda gurau. Jempajuju tidak berpikir panjang ketika ia menyelinap dan mengambil salah satu selendang yang diletakkan di atas batu di dekat pohon kersen itu. Dipilihnya yang berwarna merah. Tadinya ia hanya mengira bahwa ada sesuatu yang bisa dikenangnya dari tujuh bidadari cantik tersebut, selendang yang harum dan pernah melekat di…. * “Papa, itu kan ceritanya Jaka Tarub!” protes Lala kepada ayah. 65 Panggilan kakak 66 Kamu takut? 67 Saya berani 68 Mandi supaya licin bersih badan kamu 69 Ini sudah licin
58 “Bukan, Epi, beda dengan Jaka Tarub. Sini papa jelaskan sedikit. Jaka Tarub itu dimuat dalam Babad Tanah Jawi, naskah sejarah Kesultanan Mataram yang banyak dibumbui mitos demi reputasi Kesultanan sendiri. Saat itu ada kabar bahwa Kesultanan Mataram didirikan oleh keluarga petani dan bukannya keluarga bangsawan. Bumbu mitos yang ditambahkan dalam naskah sejarah ini dimaksudkan sebagai penguat keyakinan rakyat Jawa tentang asal-usul leluhur raja-raja Mataram yang katanya merupakan manusia setengah dewa….” Perkataan ayah segera dipotong oleh ibu. Ayah segera sadar bahwa apa yang sedang disampaikannya mungkin sulit dicerna oleh Lala putri mereka. “Kalau Jaka Tarub dan bidadari Nawang Wulan itu nanti menikah dan punya anak yang kemudian menikah dan beranak cucu, lalu cucunya tersebut kelak bergelar Ki Ageng Sela yang merupakan buyut Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram,” kata ibu sambil mengedipkan mata ke ayah. “Jadi nanti yang Jempajuju dan bidadarinya itu punya anak yang jadi raja, Ma?” tanya Lala dengan penasaran. Ibu menatap ayah, memberi isyarat bahwa ia harus melanjutkan ceritanya. “Ceritanya tidak seperti itu, Epi,” sambung ayah sambil membelai rambut Lala. *
59 “Kami harus pulang duluan, atau papa akan murka dan mengirim banjir ke dunia,” kata salah satu bidadari yang sedang bersiap merapikan selendang di pinggangnya. Bidadari yang satunya itu duduk sambil menangis terisak. Enam bidadari mengelilinginya dengan prihatin. “Tunggulah kami kembali, Aka,” kata salah satu bidadari kepadanya. “Siapapun pelakunya akan dapat hukuman yang setimpal!” “Yaku napelimai yunu70 , mawo rayaku71,” kata bidadari yang duduk itu sambil menangis terisak. Dengan berat hati, enam bidadari lainnya terpaksa terbang meninggalkannya. Jempajuju menyembunyikan selendang di balik tumpukan batu di dekat pohon kersen. Pada saat itu seekor kucing lewat di dekatnya tetapi segera diusirnya. Dengan membulatkan tekadnya, Jempajuju berjalan menghampiri bidadari yang menangis tersebut dan menegurnya. “Makuja notumangi lee72?” tanya Jempajuju. Bidadari itu sempat terkejut melihat ada lelaki yang menyapanya, tetapi selain lelah, dirinya tidak merasa punya banyak pilihan dan berserah. 70 Saya kecurian 71 Sedih hatiku 72 Mengapa kamu menangis?
60 “Yaku napelimai yunu, selendangku, kasaeja 73,” jawab si bidadari. “Ee itu so babunyi burung Lelengkaa74, mari singgah di rumahku saja, istirahat,” bujuk Jempajuju. Bidadari itu memperhatikan sekelilingnya yang mulai gelap, dan dirinya pun pasrah menerima ajakan dari Jempajuju. “Yaku75 Jempajuju, komi76?” tanya Jempajuju. Bidadari itu terlihat ragu menjawab, berpikir sejenak, kemudian meyakinkan dirinya sendiri. “Yaku Inao77,” jawab bidadari itu. Ketika keduanya bertatap mata, sama-sama tersipu malu, lalu keduanya tersenyum dan berjalan pulang. Inao belum pernah bertemu dengan lelaki seperti Jempajuju yang dianggapnya sopan, tampan dan pekerja keras. Selama tinggal di rumah Jempajuju, dirinya diperlakukan layaknya seorang tamu terhormat, yang dihargai dan tidak pernah dibebani tanggung jawab apapun. Demi rasa terima kasihnya, Inao selalu memasak untuk Jempajuju, sehingga lelaki itu tidak pernah kelaparan sepulang dari bekerja di kebun seharian. 73 Kain warna merah 74 Sejenis burung yang bersuara besar dan aktif di malam hari, biasa disebut Tekaa, ini merupakan burung fiktif yang kerap muncul dalam cerita dongeng 75 Saya 76 Kamu 77 Purnama kecil
61 Setiap melihat ke langit, Inao sering merasa sedih, karena dirinya rindu dengan saudari-saudarinya, dengan rumahnya. Sayangnya, satu hari di kahyangan sama dengan tujuh tahun di dunia manusia, dan kini menjalani kehidupan sebagaimana manusia lainnya agar tidak dicurigai, hanya itu yang bisa dilakukannya. Inao tidak pernah memberitahu Jempajuju bahwa dirinya memiliki beberapa kesaktian seperti memasak makanan apapun hanya dengan satu jentikan jari, dan dirinya bahkan dapat berkomunikasi dengan semua hewan. Setelah hampir dua bulan lamanya Inao tinggal di rumah itu, suatu hari Jempajuju pulang ditemani sekelompok orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari berbagai usia. Inao sempat ketakutan ketika melihat rombongan mereka masuk ke dalam rumah. “Tenang, Inao. Mereka adalah warga di desa ini. Jadi sesuai tradisi kami, seorang laki-laki dan perempuan hidup serumah tanpa ikatan dianggap menjadi aib, sehingga sepantasnya jika disatukan dalam sebuah perkawinan. Izinkan saya, Jempajuju, menjadikan komi, Inao, sebagai istriku,” kata Jempajuju sambil menyerahkan dua nampan kuning yang di atasnya berisikan sejumlah barang kepada Inao. Dengan hati-hati, Inao meletakkan kedua tangannya bergantian di atas kedua nampan itu sebagai tanda dirinya menerima lamaran dari Jempajuju. Tatkala Inao tersenyum malu, warga di sekitar Jempajuju bersorak gembira.
62 “Ini disebut Oli mPorongo atau mas kawin. Di atas nampan ada Sampapitu78 dan Pu’u Oli 79sebagai tanda sahnya perkawinan. Dan saat ini juga, kami akan melakukan Posintuwu80 di tempat ini,” kata seorang perempuan tua yang segera mengiring Inao masuk ke dalam kamar bersama beberapa perempuan lainnya dengan membawa dua nampan tersebut. Beberapa perempuan tampak sibuk menyalakan api di tungku dapur, ada pula yang sibuk merapikan seisi rumah. Para lelaki di luar mempersiapkan halaman untuk dilangsungkannya acara pesta. Malamnya mereka bersantap bersama, larut dalam canda dan tawa, dan melakukan tarian adat yang disebut Dero81 . 78 Tujuh benda yang dapat dihitung menurut satuan barang, dan memiliki nilai magis. Benda tersebut terdiri dari : logam atau keramik sebagai simbol kekuatan, kain atau puya yang berasal dari tumbuhan. 79 Biasa juga disebut Wawo Oli, benda yang dihitung menurut puluhan dan memiliki nilai komersial. 80 Gotong-royong warga setempat untuk membantu terlaksananya perkawinan tersebut berupa bantuan bahan-bahan makanan, uang, dan sebagainya. Juga gotong royong di saat ada warga yang kedukaan. 81 Tarian yang dilakukan lebih dari satu orang atau dilakukan secara bersama-sama, yang melambangkan suka cita atau kebahagiaan serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Pada gerakan tarian Dero, semua orang harus saling berpegangan tangan dan bergoyang dalam bentuk lingkaran. Namun, tarian yang sebenarnya tidak saling berpegangan tangan. Tradisi berpegangan tangan sendiri berawal dari zaman penjajahan Jepang sebagai hiburan mereka. Tarian Dero aslinya diiringi oleh musik tradisional Nggongi dan Ganda dengan diiringi vokal yang menyanyikan syair atau sebuah pantun.
63 Tari Dero, sumber foto: https://www.tribunnewswiki.com/2021/07/28/tari-dero Setelah setahun tinggal bersama, Inao melahirkan bayi perempuan yang diberinya nama Lindu, yang berarti tenang. Kehidupan mereka semakin baik, meskipun Jempajuju tetap menjadi seorang petani, kini tidak hanya kebun cengkeh, jagung, tetapi juga sawah padi dan sejumlah ternak. Ketika Lindu genap lima bulan, Inao merasa jenuh hanya tinggal di rumah, sehingga dirinya memutuskan untuk keluar berjalan-jalan pada suatu siang. Kebetulan Jempajuju lupa membawa bekal ketika pergi ke kebun, sehingga Inao merasa tidak apa-apa kalau dirinya saja yang pergi membawakan masakannya bersama Lindu di gendongannya. “Mangkoni, Ndongaku82,” kata Inao memersilakan Jempajuju menyantap masakannya sambil duduk bersila di atas rumput. Lindu sedang asyik melihati wajahnya, menikmati buaian dan pelukannya sebagai seorang ibu. 82 Makan, suamiku; ndongaku juga bisa berarti istriku.
64 Inao merasa sangat senang. Jempajuju tampak cemburu melihatnya. “Boleh saya yang gendong,” kata Jempajuju meminta Lindu diserahkan kepadanya. “Komi mungkin mau jalanjalan dulu cari angin,” sambung Jempajuju memersilakan Inao yang tampak cukup lelah untuk sekedar melihat-lihat di sekitar kebun mereka. Inao berjalan menyusuri ilalang dan jalan setapak di belakang kebun cengkeh, dirinya beruntung karena matahari tidak terlalu terik di siang itu. Lalu didengarnya suara percikan air dari jarak yang tidak terlalu jauh. Inao bergegas menyusul suara itu, yang menuntunnya ke tepi danau Poso. Beberapa anak kecil berkumpul memandangi seekor kucing yang sedang meronta, mengapung di atas air. Salah satu anak kecil itu menggunakan sebatang tongkat untuk memukuli si kucing. Inao menegur mereka dengan suara keras. “Ananggodi wongo83!” teriak Inao. Mereka segera berlomba-lomba lari ketika Inao mendekat. Kucing itu berhasil berenang kembali ke darat dan mengibaskan badannya yang basah. Air bercipratan ke segala penjuru. Inao mendekati kucing itu dan membelai kepalanya. Kucing itu mengamati Inao dengan seksama, seolah mencoba mengingat sesuatu. 83 Anak nakal
65 “Sebagai rasa terimakasihku, saya akan beritahu di mana selendang saktimu disembunyikan sama laki-laki itu,” kata si kucing. Inao terkejut mendengar perkataan si kucing. “Apa kamu bilang tadi? Coba ulang!” pinta Inao. “Saya akan beritahu di mana selendang saktimu disembunyikan sama laki-laki itu,” kata si kucing sambil menjilati telapak kaki kirinya yang paling depan. “Kalopu-lopu84!” bantah Inao. Si kucing berjalan santai mendekati tumpukan batu di bawah pohon kersen. Ia duduk dan mengeong ke arah Inao. “Coba bongkar tumpukan batu ini, pasti selendangmu ada, kasaeja,” kata si kucing. 84 Pembohong
66 Ketika Inao membongkar tumpukan batu yang ditunjuk oleh si kucing dan menemukan selendang merahnya tergulung rapi disitu, batinnya terguncang. Jempajuju ternyata telah menipu dirinya selama ini. Lelaki yang telah menjadi suaminya dan memberinya seorang anak. Sejak awal Jempajuju ingin memisahkan dirinya dari saudari-saudarinya! Inao kecewa sekaligus marah. Dipakainya kembali selendangnya dan dirinya segera melesat terbang ke angkasa tanpa berpikir panjang. Jempajuju gelisah menunggu Inao yang belum pulang sejak siang. Lindu dititipkannya di rumah salah satu warga di desa. Ditemani sejumlah warga, mereka mencari jejak Inao di pelosok hutan dan pesisir danau Poso di sekitar desa, tetapi tidak membuahkan hasil. Inao dinyatakan hilang, mungkin hanyut di danau, mungkin juga diculik jin, atau mungkin juga dimakan oleh hewan di hutan. Tak ada satu pun yang tahu. Berhari-hari kemudian, Jempajuju masih sedih memikirkan hilangnya Inao. Ketika ia duduk melepas penat di bawah pohon kersen di dekat tepian danau, dilihatnya tumpukan batu tempatnya dulu menyembunyikan selendang merah milik Inao. Terbongkar. Seketika ia sadar, bahwa Inao mungkin sudah pulang ke rumahnya di kahyangan. Jempajuju berlutut di tepi danau Poso dan memohon kepada langit.
67 “Ndongaku, Inao! Ronga-ronga waimai85! Ampungi aku86!” pinta Jempajuju sambil menangis. Berulang kali diucapkannya kata-kata tersebut. Langit seketika gelap dan gemuruh terdengar saling bersahutan, hujan turun dengan deras. Jempajuju berlari pulang ke rumahnya, mengambil Lindu dari palungannya dan menerobos hujan, kembali ke tepi danau. “Endo anamu87 , Ndongaku!” teriak Jempajuju sambil mengangkat Lindu yang basah kuyup ke langit. Seketika itu juga hujan berhenti. Seberkas cahaya putih silau turun dari langit, awalnya mengitari danau, kemudian mendekati Jempajuju dan Lindu. Cahaya itu berhenti tepat di hadapan mereka. Karena memancarkan cahaya yang hangat, pakaian serta tubuh Jempajuju dan Lindu seketika kering seperti sediakala. “Ndongaku, nupakalalo yaku88,” terdengar suara itu, suara dari Inao datang dari cahaya tersebut. “Ampungi aku! Endo anamu, Ndongaku!” mohon Jempajuju kepada cahaya itu. “Lindu biar ikut sama saya, tapi komi tidak bisa ikut ke duniaku. Saya sudah dilarang berlama-lama di sini,” kata Inao. 85 Lekaslah pulang 86 Maafkan saya 87 Ingat anakmu 88 Kamu sudah mengecewakan saya
68 “Kalau saya rengatose mampenggatowei89 komi dan Lindu?” keluh Jempajuju. “Saya ataupun Lindu akan selalu singgah ke sini, memperhatikan komi, tapi cuma itu,” jawab Inao. Seberkas cahaya putih itu mengambil Lindu dari tangan Jempajuju dan membawanya terbang, hingga hilang di antara bintang, entah ke mana. “Inao! Ndongaku!” hanya itu kata-kata yang bisa terus terucap oleh Jempajuju sambil menyesali perbuatannya. Itu sebabnya setiap sore hingga malam hari, Jempajuju selalu datang ke tepi danau Poso, dan menunggu Inao serta Lindu singgah menyapanya. Kini jika seseorang melihat berkas cahaya putih yang melayang mengitari danau Poso di malam hari, itu mungkin adalah Inao dan Lindu yang singgah untuk menyapa Jempajuju, suami sekaligus ayah yang merindukan mereka pulang…. 89 Merasa rindu
69 * Lala mengurai airmata ketika mendengar ayah selesai bercerita. “Kenapa Epi menangis?” tanya ayah. “Jempajuju tidak bisa lagi bertemu dengan Inao dan Lindu, Pa,” jawab Lala sambil menahan isak tangisnya. “Itu pelajaran buat Jempajuju, Epi. Apa-apa kalau dimulai dengan niat yang kurang baik, biasanya juga akan berakhir dengan tidak baik. Ane belopa da molanto, ane watu da meratu,” kata ayah. “Apa artinya, papa?” tanya Lala. “Artinya kurang lebih seperti ini, Epi, sesuatu yang benar tetaplah benar dan sesuatu yang salah tetaplah salah. Ane belopa da molanto, maksudnya kalau pelepah rumbia akan terapung; ane watu da meratu, kalau batu akan tenggelam. Kita harus hati-hati kalau bertindak atau berbuat. Jangan sampai seperti Jempajuju,” terang ayah. “Epi suka ceritanya papa?” tanya ibu. Lala menganggukkan kepalanya dan memeluk ibu kemudian ayah. “Minggu depan papa cerita lagi ya buat Epi,” pinta Lala kepada ayah. “Siap laksanakan,” jawab ayah sambil tersenyum melihat Lala, putrinya yang hari itu terlihat antusias mendengarkan ceritanya. Ayah yakin bahwa saat itu,
70 almarhumah ibunya ada di suatu tempat, bangga pada ia yang melanjutkan tradisi bercerita itu, agar kelak diteruskan ke anak dan cucunya, sampai selama-lamanya.
71
72 Geso “Giliran selanjutnya, Anes,” kata ibu Mintje dari mejanya. Aku mulai merasa gugup, dadaku berdebar-debar. Setelah Anes, giliranku. Aku melihat ke arah Anes yang berjalan maju ke depan kelas, ia memasukkan flash disk ke dalam laptop yang tersedia di atas meja dan menampilkan file presentasinya di layar monitor empat puluh dua inci yang terpampang di sampingnya. Foto pertama di presentasi tersebut menampilkan gambar sebuah alat musik berbentuk batangan bambu, dengan setidaknya tiga buah lubang; masing-masing berjarak sekitar tujuh dan sepuluh senti, yang aku pikir adalah sebuah seruling. “Pasti pemahaman pertama kalian adalah seruling,” kata Anes sambil tersenyum. “Atau istilah asingnya ‘Flute’, terbuat dari tulang burung dan gading gajah. Alat ini
73 ditemukan di sebuah gua pada tahun 2009, oleh tim peneliti Universitas Oxford, dengan analisa karbon yang memperkirakan usianya sekitar 43.000 tahun. Penemuan alat musik ini membuktikan keberadaan manusia modern atau Homo Sapien90 yang mendiami wilayah Eropa. Flute digunakan sebagai sarana hiburan juga upacara keagamaan, tetapi yang cukup menarik dari peranan alat musik ini justru dapat memperluas jaringan sosial, dalam konteks perluasan wilayah kekuasaan bahkan mempersempit wilayah kelompok manusia purba Neanderthal91 yang dianggap berkarakter konservatif,” terang Anes. 90 Homo Sapiens adalah jenis manusia purba dengan bentuk tubuh persis seperti manusia sekarang. ‘Homo’ berarti manusia, ‘sapiens’ berarti cerdas. Homo Sapiens hidup sekitar 100.000 - 50.000 tahun yang lalu dengan kesehariannya berburu serta meramu. Di Indonesia, fosil Homo Sapiens ditemukan di Ngandong BloraSangiran pada tahun 1931 oleh Von Koenigswald dan di daerah Sambung Macan-Sragen, lembah sungai Bengawan Solo pada tahun 1934 oleh Weidenreich. Sesuai tempat penemuannya, kedua fosil tersebut diberi nama Homo Sapiens Soloensis dan Homo Sapiens Wajakensis. 91 Neanderthal jenis manusia purba yang ditemukan di Eurasia, dari Eropa Barat hingga Asia Tengah dan Utara. Pertama kali ditemukan di Jerman, Neandertal atau Lembah Neander. Neanderthal pertama muncul di Eropa sekitar 600.000–350.000 tahun yang lalu. Yang menarik dari jejak sejarah Neanderthal adalah peninggalan peralatan ciptaan mereka meliputi alat memancing, berburu, proyektil, serta peralatan lain dari tulang dan batu. Hal ini menunjukkan bahwa Neanderthal mampu berinovasi dan membuat teknologi baru. Neanderthal lenyap dari muka bumi sekitar 30.000 tahun yang lalu. Beberapa spekulasi yang diduga berkaitan dengan
74 “Apa yang menjadi ide menarik dalam pembahasanmu tentang Flute sebagai alat musik tertua ini?” tanya ibu Mintje dari mejanya. Flute, alat musik tiup tertua yang diduga dibuat dari tulang beluang, foto dari: https://www.classical-music.com/features/instruments/worldsoldest-musical-instrument/ “Alat musik tiup merupakan jenis alat musik pertama yang dikenal oleh manusia. Interaksi pertama kita dengan bunyi-suara. Berbagai rujukan peradaban tertua di dunia ikut mendukung gambaran ini,” kata Anes sambil mengganti slide berikutnya. “Di Mitologi Yunani, ada Pan dewa alam dan penggembala, yang terkenal dengan alat musik yang selalu dibawanya kemana-mana yang disebut Syrinx atau Pan Flute. Dalam cerita dikatakan bahwa Syrinx adalah peri hutan yang menolak cinta dari Pan si dewa berwujud setengah manusia dan setengah kambing. Syrinx dikutuk menjadi tanaman jeringau yang kepunahannya adalah mati dibunuh oleh manusia modern atau punah karena Homo sapiens lebih banyak dan aktif bereproduksi; serta karena adanya tiga kali letusan gunung berapi sekitar 40.000 tahun yang lalu di daerah Italia dan Pegunungan Kaukasus.
75 kerap tumbuh di tanah basah atau tepian perairan tawar. Pan lalu memotong tangkai tanaman jeringau menjadi beberapa bagian, menyusunnya secara paralel, mengikatnya dan kerap memainkannya untuk menghasilkan sejumlah nada. Syrinx diadopsi oleh bangsa Etruscan sebagai fistula yang dimainkan saat festival dan jamuan makan. Bangsa Romawi juga mengadopsi Syrinx menjadi alat musik yang dimainkan saat berbagai perayaan khususnya di prosesi keagamaan dan pemakaman. Di beragam budaya Indonesia, ada Pupuik dari Minangkabau yang terbuat dari tanduk kerbau juga ada yang dari batang padi yang sudah tua disambung dengan lintingan daun pandan atau kelapa yang dibentuk menyerupai corong. Ada juga Foy doa92, Foy pai93, Knobe khabetas94, dan beberapa alat musik tiup khas lainnya dari 92 Foy doa: alat musik tradisional dari kebudayaan masyarakat Flores. Biasa disebut juga suling ganda, ia tersusun 2 atau lebih suling yang dimainkan secara bersama-sama. Foy doa dimainkan umumnya mengiringi syair atau nyanyian petuah yang disampaikan orangorang tua sebagai nasihat bagi anak-anaknya. Dengan nada-nada tunggal yang teralun dari Foy doa, nasihat yang diterima akan dirasa lebih berkesan. 93 Foy pai: suling bambu dengan bentuk menyerupai angka 4. Alat musik ini menghasilkan nada-nada dasar antara lain Do, Re, Mi, Fa, dan Sol. Biasanya ia dimainkan untuk melengkapi permainan Foy doa 94 Knobe khabetas: alat musik tradisional di masyarakat Flores yang Bentuknya seperti busur panah, yaitu berupa lengkungan bambu yang diikat dengan tali yang tipis tapi lebar. Cara memainkannya cukup mudah, yaitu dengan mendekatkan tali ke mulut dan meniupnya. Instrumen ini dulu sering dibawa sebagai hiburan di sawah saat seseorang menjaga tanaman kebunnya dari serangan hama.
76 Nusa Tenggara Timur. Tidak lupa saya singgung pula Serune kalee95 dari Aceh. Kesimpulan saya, bahwa alat musik tiup merupakan salah satu bukti tentang bagaimana musik mampu merubah dunia dan orang-orang,” kata Anes sambil membungkukkan diri, seketika disambut riuh tepuk tangan seisi kelas. “Perspektif yang menarik dari seorang Anes tentang alat musik tiup. Dan sekarang, giliran terakhir yang saya harap tidak kalah menariknya, saya panggilkan, Julius,” kata ibu Mintje. Semua tatapan beralih ke arahku. Aku menghela napas sejenak, lalu bangkit dan memulai langkah kakiku ke depan kelas. Aku memasukkan flash disk ke lubang USB pada laptop dan membuka file presentasiku untuk tampil di monitor. “Terima kasih,” kataku dengan sedikit gugup. Aku melihat ke gambar yang muncul di monitor, aneka alat musik tradisional maupun modern. “Musik yang kita kenal, dengan beragam bentuknya, juga teknologi alat yang menciptakan irama, dari zaman prasejarah sampai hari ini. Musik yang menciptakan kebahagiaan di perayaan panen, kemenangan perang, upacara 95 Serunee kalee: alat musik tiup tradisional khas Aceh, berbentuk memanjang bulat dan lurus. Bagian atas alat ini berbentuk kecil, kemudian membesar hingga di ujung bagian bawah. Pada tubuhnya terdapat lubang-lubang untuk jari dengan ukuran yang cukup besar. Bagian paling bawah alat ini membesar seperti kelopak bunga teratai. Serune kalee konon diperkenalkan oleh seorang ulama dari Persia bernama Syekh Abdullah yang menggunakan alat musik ini sekaligus untuk mengajak para masyarakat belajar ilmu agama Islam.
77 perkawinan, pesta syukuran, musik yang memicu semangat di medan perang, dan upacara formal, hingga musik yang membangkitkan kenangan dan rasa sedih di acara kedukaan dan acara perpisahan. Dari sekedar gumam, tabuh-tabuhan, tiup, gesek, tekan, dan beragam teknik yang membuat musik memegang peranan penting bagi setiap makhluk di dunia ini. Tapi ceritaku tidak dimulai dari peradaban Yunani, atau Mesir, ataupun membandingkan bagaimana Dewi Saraswati di India dan Benzaiten di Jepang sama-sama terilhami dari keyakinan yang sama tentang awal mula musik dan pengetahuan, serta keberadaan veena sejenis kecapi yang digunakan oleh Saraswati dan Benzaiten ini dan diyakini merupakan salah satu alat musik tertua di peradaban manusia. Ceritaku akan dimulai dari cerita turun temurun yang disampaikan orang-orang tua dulu, yang berawal di sebuah perkampungan di tempat yang disebut Pamona…. * Di desa Pamona yang tenang dan damai, sepasang mudamudi bernama Reme dan Wuya baru sekitar tiga bulan menjalani kehidupan mereka sebagai suami dan istri. Warga sekitar sangat mengenal mereka sebagai pasangan yang mesra dan serasi, kerap menjadi buah bibir setiap merujuk teladan berumah tangga. Reme dan Wuya memang dekat sejak kanak-kanak, dan di hari pernikahan mereka, tak seorang pun yang tidak berbahagia melihat pasangan ini dipersatukan sebagai suami dan istri.
78 “Tianamo we’anya96 Reme, Tete97 Tia,” kata tete Tobulo. Seketika raut muka tete Tia tampak senang. “Calon pinoanaku98,” jawab tete Tia sambil bergegas pergi ke rumah Reme dan Wuya. Wanita ini membayangkan betapa bahagianya ia yang akan segera memiliki seorang keponakan. Dari dulu ia selalu mendukung hubungan adiknya Reme, bersama Wuya. Nama mereka saja terdengar merdu; Reme yang berarti matahari, lalu Wuya yang berarti bulan. Keduanya tidak terpisahkan. Ia berharap jadi yang pertama mengucapkan selamat kepada mereka berdua. “Tuaiku99,” kata Tia ketika sampai di depan rumah adiknya, Reme. “Tukakaku100,” jawab Reme yang muncul dari pintu rumah dan memersilakan Tia masuk. 96 Sudah hamil istrinya 97 Panggilan untuk bibi, emak atau ibu 98 Keponakanku 99 Adikku 100 Kakakku
79 “Betul-betul mampolo’eka101 , tuaiku. Dongamu mompu’umo102, begitu yang saya dengar,” kata Tia. Wuya saat itu sedang beristirahat, sehingga mereka berdua memutuskan duduk di teras depan rumah sambil membahas kabar bahagia tersebut. “Tapi kaki rayaku103 , tukaka,” kata Reme. “Nunjaa apa104?” tanya Tia. “Ada yang mau saya beri untuk Wuya, tapi saya belum tahu apa,” jawab Reme. “Sando mpepapoana105 sudah ada, makanan pun kita tidak pernah berkekurangan, tuaiku,” kata Tia sambil ikut berpikir. Mereka berdua asyik membayangkan akan seperti apa ketika Wuya nanti sudah melahirkan, dan hal apa yang mungkin akan sangat dibutuhkannya. “Buatkan saya kobati 106 saja, ndongaku107,” suara Wuya tiba-tiba mengejutkan Reme dan Tia. “Betul juga katanya, tuaiku. Kobati lebih baik kalau di rumah, nanti ke luar baru mauba108,” kata Tia sambil mengelus perut Wuya dan menatapnya dengan bahagia. 101 Membuat senang 102 Istrimu sudah mulai hamil 103 Gelisah hatiku 104 Mengapa 105 Bidan atau dukun beranak 106 Ayunan; buaian untuk anak bayi 107 Panggilan sayang untuk suami maupun istri; suamiku 108 Menggendong anak dengan kain sarung
80 “Mungkin saya buat seperti kayu109 saja ya,” kata Reme kepada Wuya dan Tia. “Mana-mana saja, asal bisa untuk anak kita nanti, ndongaku,” kata Wuya. Maka sejak hari itu, Reme sering pergi berkonsultasi ke warga, terutama yang mahir dalam pertukangan, untuk mencari tahu bagaimana cara membuat sebuah kobati. Ia bertekad untuk membuatnya sendiri, sebagai hadiah untuk Wuya dan calon anaknya nanti. Dari sejumlah warga, ia menyimpulkan ada dua bahan terbaik untuk membuat kobati: anyaman serat maupun pelepah dari enau110, atau bisa juga dari pohon sagu111. Setelah usia kandungan 109 Sejenis "pikulan di belakang" untuk laki-laki dianyam dari rotan, talinya di kepala dan kedua belah bahu, kemudian disambung dengan pelepah rumbia yang dibuat tipis, dikeringkan dibuat sedemikian rupa. Dipakai laki-laki mengangkut yang banyak seperti damar yang akan dijual, padi dll. 110 Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae) adalah jenis palma yang dapat mencapai tinggi 25 meter dengan diameter hingga 65 cm. Batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk; bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang. Dari pohon ini dapat diolah menjadi gula aren, tuak atau saguer, cuka dan pencahar perut, buahnya disebut kolang kaling, daunnya dapat menjadi atap rumah-tali-lidi-benang pancing, empulurnya dapat menjadi sagu, dll. 111 Rumbia (Metroxylon sagu) atau disebut juga (pohon) sagu adalah nama sejenis palma penghasil tepung sagu. Tingginya mencapai 7 meter dengan diameter hingga 60 cm. Daunnya besar, majemuk menyirip, panjang anak daun hingga 1,5 meter, bertangkai panjang dan berpelepah. Rumbia menyukai tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah bencah lainnya, di lingkungan hutan-hutan
81 Wuya mencapai tujuh bulan, Reme akhirnya memutuskan untuk pergi ke hutan di dekat perkampungannya untuk mengumpulkan bahan kobati. “Asanya setu112 untuk anaku113,” kata Reme memantapkan langkah kakinya keluar dari rumah. Melewati hutan, ia melihat banyak pohon enau yang bisa diambil pelepahnya untuk bahan membuat kobati. Saat ia mencoba mendekati pohon enau yang diincarnya, kakinya terkait pada jalinan serabut pepohonan yang menyerupai tali. Diayunkannya kakinya dengan lebar, tetapi tali itu tidak kunjung putus. Ketika ditariknya dengan keras, tali itu tidak sengaja tergesek pada sebuah benda dan menimbulkan bunyi yang unik. Mengira itu adalah suara makhluk gaib penghuni hutan, ia sontak lari pulang ke rumahnya. Wuya yang berada di rumah, keheranan melihat Reme muncul dengan wajah yang pucat dan tidak dapat berkata-kata. dataran rendah sampai pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Pada wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun atau hutan sagu yang luas. Rumbia berbunga dan berbuah sekali (monocarpic) dan sudah itu mati. Karangan bunganya bentuk tongkol, panjang hingga 5 meter dan berbau tidak sedap. Daunnya dapat diolah menjadi atap rumah, tikar yang biasa disebut kajang, empulur batang menghasilkan tepung sagu untuk makanan dan kue, dll. 112 Yang terbaik itu 113 Anakku
82 “Njau angga 114di hutan dekat tepian sungai,” kata Reme keesokan paginya kepada Wuya, ketika perasaannya sudah lebih tenang. Wuya sempat tertawa mendengarkan perkataan Reme. Lalu dikecupnya pipi suaminya itu. “Masa sih ndongaku tau pa’u iku115,” kata Wuya mengejek. Reme tersipu malu mendengarnya. Sebagai seorang lelaki, tak seharusnya ia bereaksi demikian. Apalagi ia teringat niatnya yang sudah bulat untuk membuat kobati dengan tangannya sendiri. Maka keesokan harinya, Reme kembali ke tempat itu, melawan rasa takutnya. “Maloka! ee, tumai angga116,” teriak Reme di tempat tersebut. Tapi tak ada suara yang menjawab selain suara serangga atau burung di hutan, atau riak air di sungai yang kemungkinan dipicu oleh ikan dan sogili yang sedang asyik berenang di situ. Reme menemukan tali yang sama 114 Ada hantu 115 Orang penakut 116 Hai! Kemari kamu hantu.
83 kemarin dan mengeluarkan bunyi tersebut dan menyadari bahwa sumber suara yang sempat menakutinya itu berasal dari gesekan tali itu dengan benda lainnya. Ia memotong tali tersebut dengan parang dan membawanya pulang ke rumahnya. Reme melakukan sejumlah percobaan dengan tali tersebut, mengurainya menjadi beberapa helai, kemudian mencoba menggesekkan benda seperti sepotong kayu ke permukaannya tersebut dan menghasilkan bunyi yang tidak beraturan. Ia semakin penasaran. Melihat sebilah papan kecil yang tergeletak di dekatnya, Reme berpikir untuk meregangkan helaian tali tipis tersebut dengan bantuan papan itu. Digesekkannya lagi sepotong kayu pada helaian tali tipis yang regang pada sebilah papan tadi dan kali ini menghasilkan bunyi yang masih terdengar tidak beraturan. Ia percaya ada sesuatu yang bisa dibuatnya dari benda tersebut. Karena kelelahan, Reme pun tertidur. Ketika Reme bangun dan mendapati Wuya menyuguhkan semangkuk sup di dalam mangkuk yang terbuat dari buah bila117, seketika itu juga ia menemukan ide. Diambilnya 117 Pohon yang dalam bahasa Sansekerta bernama bilva, atau Maja (Aegle marmelos), mampu tumbuh dalam kondisi lingkungan yang keras, seperti suhu yang ekstrem; misalnya dari 49°C pada musim kemarau hingga -7 °C pada musim dingin, pada ketinggian tempat mencapai +1.200 meter. Di Asia Tenggara, maja hanya dapat berbunga dan berbuah dengan baik jika ada musim kering yang kentara, dan tidak biasa dijumpai pada elevasi di atas 500 meter. Maja mampu beradaptasi di lahan berawa, di tanah kering, dan
84 sebuah mangkuk bersih yang terbuat dari buah bila, dan direkatkannya bersama bilah papan yang semula digunakannya untuk meregangkan helaian tali tipis tadi. Di dekatnya, Wuya sedang menggulung getah damar118 untuk dimasukkan ke dalam ruas bambu dan biasanya dibakar di malam hari sebagai penerangan. Sambil meregangkan helaian tali tipis tadi, sesekali bergesekan dengan damar yang mulai mengeras di dekatnya. Reme mencoba menggesek helaian tali tipis tersebut dengan sepotong kayu, dan ia tertegun ketika bunyi suara yang toleran terhadap tanah yang agak basa (salin). Warna kulit luar buah maja berwarna hijau tetapi isinya berwarna kuning atau jingga. Aroma buahnya harum dan cairannya manis. Sebagaimana jeruk, buah maja dapat diolah menjadi serbat, selai, sirop, atau nectar sementara kulitnya dibuat marmalade. Tempurung buah Maja dapat berukuran 2 kali lipat dari tempurung kelapa dan bertekstur keras. Konon, Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan Majapahit, menerima sebidang tanah untuk membangun kerajaannya tersebut. Sewaktu membangun, ada pekerjanya yang memakan buah maja. Kebetulan yang dimakan adalah buah yang berasa pahit. Oleh sebab itu daerah tersebut kemudian dinamakan "Majapahit" atau "Wilwatikta" (wilwa, maja). Pohon Maja juga dapat menjadi obat untuk beberapa penyakit seperti rumor dan radang, gangguan prostat, penahan rasa sakit, batuk, dll. 118 Pohon damar (Agathis dammara) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung yang merupakan tumbuhan asli Indonesia. Pohonnya besar, tinggi hingga 65 meter; berbatang bulat silindris dengan diameter yang mencapai lebih dari 1,5 meter, tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Getah pohon damar diolah menjadi resin ataupun kopal yang bermanfaat untuk minyak esensial, kemenyan, juga menambah gesekan pada senar alat musik gesek untuk meningkatkan kualitas suara, dll.
85 dihasilkan malah semakin kuat dan nyaring. Wuya menatapnya dengan takjub. “Geso119, ndongaku,” kata Wuya kepada Reme. “Kita sebut saja geso-geso,” kata Reme yang dibalas senyuman oleh Wuya. Geso-geso, sumber foto: https://www.silontong.com/2018/10/17/alatmusik-tradisional-sulawesi-tengah/ Berhari-hari kemudian, Reme berusaha menepati janjinya untuk membuat kobati, sambil ia juga menyempurnakan geso-geso, alat musik temuannya tersebut. Sebulan setelah putri mereka lahir, Reme mulai lupa tentang gesogeso dan sibuk bergantian dengan Wuya merawat bayi mereka tersebut. Hingga pada suatu malam, bayi mereka menangis tanpa henti. Apa pun yang dilakukan oleh Wuya, menggendong dan memberinya susu, tetap saja tidak mempan. Reme teringat pada geso-geso yang diletakkannya di kamar itu. Ia bersiap memainkan alat musik tersebut dengan sedikit gugup. Alunan nada dari 119 Bergerak kesana kemari sambil duduk.
86 gesekan pada awalnya terdengar tidak beraturan, tetapi perlahan menjadi semakin nyaring dan merdu. Bayi mereka mulai berhenti menangis dan terlihat menikmati suara yang didengarnya. Sambil bergumam, Wuya mengikuti irama gesekan yang dibuat oleh Reme. Tanpa disadarinya, Wuya bersuara, mendendangkan lirik untuk putrinya. “Se’i anaku120 , ongaaku, nawiamo witinya121 . Kayoremo anaku 122 , naile inemu marondai motongko123,” nyanyian Wuya mengiringi gesekan alat musik Reme. Keduanya tersenyum saling memandang bahagia. Sejak saat itu, geso-geso mulai populer di kalangan warga dan berkembang sebagai salah satu alat musik yang digunakan setiap ada perayaan atau sekedar sebagai hiburan…. * “….aku sengaja memilih cerita ini sebagai referensi tentang alat musik tradisional daerah yang tidak kalah menarik untuk dibahas selain alat musik dari peradaban maupun kebudayaan bangsa lainnya. Dalam banyak hal, tradisi tutur tentang sejarah, dongeng, mitos, dan kearifan lokal kerap dilupakan, semua karena pengaruh kemajuan zaman. Terlepas dari mistisisme atau perbedaan konsep tentang asal mula diciptakannya alat-alat musik yang kita kenal sekarang, kita hanya patut mensyukuri, musik telah 120 Ini anakku, 121 anakku sudah mulai melangkahkan kakinya 122 tidurlah anakku, 123 Besok ibumu temani bermain
87 mampu menyatukan kita semua, kita yang berbeda-beda, menjadi satu karena pengaruh musik. Sebelum aku akhiri, izinkan aku mengatakan sesuatu untuk kita semua di ruangan ini,” kataku sambil menghela napas sejenak. “Setiap kebudayaan memiliki cerita, keunikan dan keistimewaannya sendiri-sendiri. Adalah tugas kita bersama untuk tidak melupakan cerita-cerita seperti ini, agar kelak tetap dapat diteruskan ke generasi selanjutnya, untuk mengingatkan, kearifan sesungguhnya tidak dilihat sekedar dari pergantian zaman, tetapi dari cara hidup dan filosofi kehidupan masyarakatnya,” kataku mengakhiri presentasi di depan kelas, yang seketika disambut tepuk tangan dari semuanya. “Terima kasih untuk presentasinya, Julius,” kata ibu Mintje. “Kita akan bertemu lagi minggu depan sebelum ujian semester.” Aku kembali ke bangku tempatku duduk, lalu bel tiba-tiba berbunyi, tanda berakhirnya jam mata kuliah ini. Semua orang tampak mulai sibuk berkemas dan pulang. Minggu depan, kataku dalam hati. Kita akan bertemu lagi minggu depan, jelang ujian semester. Semoga apa yang kusampaikan hari ini di presentasiku menjadi sesuatu yang membekas di ingatan mereka. Aku melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
88
89 Janji “Baiklah, kalian semua boleh beristirahat sejenak di sekitar area danau Poso ini. Sekitar satu jam lagi, kita semua akan berkumpul di titik ini dan bersiap untuk pulang,” kata Pak Hafied kepada kami. Aku menghela napas lega. Sekolah kami melakukan karyawisata ke tepi Danau Poso untuk membahas tentang kehidupan masyarakat nomaden di pesisir danau ketika mulai bertransisi menuju pola hidup yang menetap dengan tetap memperhitungkan berburu, meramu dan berkebun-sawah-ladang sebagai alternatif mereka bertahan hidup. Ya, terdengar cukup membosankan, terutama untuk aku yang lebih suka menghabiskan waktu belajar di ruangan kelas sambil sesekali mengintip status tim pasukan yang siap tempur di game online di telepon genggamku.
90 Menurutku, belajar sejarah itu menyebalkan. Kita dipaksa kembali ke masa lalu dan melihat hal-hal primitif yang sudah tidak relevan dengan masa sekarang. Seolah merenungkan teori Darwin saja tidak cukup, kita harus melakukan perjalanan panjang sampai ke sini untuk mendengarkan materi yang cenderung sama, tetapi dengan latar belakang pemandangan yang sebenarnya. Pikirku, semuanya kan tinggal cari di internet, termasuk cek videonya di Youtube. Sesekali melangkah, sepatu kets hitam yang kukenakan menendang beberapa kerikil yang aku lewati. Di dekatku ada sebuah pohon kersen, hanya sekitar dua atau tiga puluh meter dari tepian danau. Aku memutuskan menuju ke situ, mencari tempat untuk sekedar rebah dan bersantai. Teman-temanku yang lain asyik berpencar, selfie, snapchat, dan live video, atau entah sekedar mencari tempat bergosip ria, atau spot yang tersembunyi untuk merokok. pohon kersen dan buahnya Kehidupan sekolah terasa membosankan. Ini tahun terakhir masa SMA-ku. Putih dan abu-abu, dua warna
91 yang tidak lepas dari keseharian di bangku sekolah, kecuali hari Jum’at dengan atasan kemeja batik atau hari Sabtu dengan seragam olahraga. Aku malah ingin cepatcepat pindah dari Sulawesi, pergi ke kota lain yang lebih hidup dan menawarkan fasilitas modern yang mumpuni. Ah! Anginnya terasa sejuk, matahari juga tidak terlalu terik. Aku berbaring di atas batu yang cukup besar, lebih dari cukup untuk menampung seluruh badanku, tepat di bawah pohon kersen. Sesekali cahaya matahari yang tidak terlalu panas itu menyelinap masuk, menyentuh permukaan kulitku, tetapi tidak terasa perih. Gerak ranting pohon kersen dan suara-suara tenang di sekitarnya membuat mataku perlahan terpejam, larut dalam tidur dan khayal…. * “Wangu124!” teriak suara itu. Aku masih asyik dalam lelapku mendengar suara sayup-sayup yang asing itu. “Tekiwoimo yorenya125,” kata suara yang lain. Sebuah benda tumpul seperti ditekankan ke pinggangku berkali-kali, memaksaku bangun dengan kesal. “Kenapa sih?” tanyaku lagi. “Kita sudah mau pulang ya?” Orang-orang di hadapanku bingung melihatku. Mereka adalah empat orang laki-laki; dua seusiaku, dan dua lagi lebih tua, kesemuanya tidak mengenakan baju, hanya 124 Bangun 125 Sudah sadar dari tidurnya
92 semacam celana puntung kain dan seperti kain sarung yang melilit pinggangnya. “To rae126,” kata laki-laki yang terlihat seusiaku itu sambil memegangi rambutku. “Maksudnya apa ini?” kataku sambil mendorong tangannya dari kepalaku. “Ungka ri saa127?” tanya laki-laki yang lebih tua di dekatnya. Aku hanya bengong menatap mereka. “Yaku to Pamona128 . Komi129?” kata laki-laki itu berjongkok di dekatku sehingga pandangan kami jadi sejajar. Dia berusaha untuk berkomunikasi denganku. “Pa….palu….?” perkataanku berubah menjadi nada bertanya karena aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Kalau ini bukan lelucon, mungkinkah….? “To pompalu si’a 130,” kata laki-laki lainnya. Mereka terlibat suatu percakapan sengit yang aku tidak mengerti sama sekali. “Ma’imo lulu tetoro131,” kata laki-laki yang terlihat sepertinya memimpin mereka, berdiri dengan semacam tombak di tangan kanannya. Ia melihatku sepintas, lalu 126 Orang asing 127 Dari mana 128 Saya orang Pamona 129 Kamu 130 Dia orang (ahli) pandai besi 131 Mari ikut pulang
93 tangan kirinya digerakkannya, memberi isyarat agar ikut. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. “Ingga132,” kata laki-laki yang lebih muda, yang tampak seusiaku. Aku segera bangkit dan mengikuti mereka. Sekelilingku mulai tampak gelap, dan logikanya tentu saja aku tidak mau tinggal di sini sendirian! Setelah berjalan kaki sekitar kurang lebih lima belas menit, kakiku mulai terasa pegal. Kami menyusuri jalan setapak yang membelah bukit dan deretan pepohonan tinggi yang aku tidak kenali, teman-temanku entah di mana, bus wisata yang terparkir di lapangan kosong juga tidak terlihat. Aku mencoba menerka-nerka sekali lagi apa benar diriku terlempar kembali ke masa lalu? Seperti di film-film Hollywood yang pernah aku tonton? Di hadapanku ada deretan rumah panggung yang hampir di setiap rumah tersebut berdampingan dengan sebuah rumah panggung berbentuk unik yang memiliki sejumlah tiang penyangga pendek yang tingginya tidak lebih dari 1 132 Cepat kemari
94 meter133 . Dari yang bisa aku amati, sejumlah tiang tersebut menyangga lantai dan kerangka rumah dengan menopang pondasi berupa batu persegi berukuran besar di bagian bawahnya. Tiangnya terbuat dari sejenis kayu hutan yang terlihat kuat dan besar. Atap rumahnya berbentuk prisma dengan sudut kecil di bagian atasnya, terbuat dari ijuk bercampur daun rumbia, memanjang ke bawah dan sepertinya berfungsi sekaligus sebagai dinding luar. Tadi kami sempat melewati semacam pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa pemuda, memasuki kawasan ini. “Mesua ri banuaku134,” kata salah satu laki-laki itu kepadaku. Ia mengatakan sesuatu kepada laki-laki lainnya dan mereka pun meninggalkannya bersamaku. “Moncoro, Ndongaku135,” kata seorang perempuan keluar dari pintu rumah itu. Perempuan itu sempat menatapiku, 133 Deskripsi ini merujuk pada rumah Tambi yang merupakan bangunan tambahan rumah yang biasanya dibangun di samping rumah induk. Rumah Tambi hanya terdiri dari 1 ruangan besar yang multi fungsi mulai dari memasak, menerima tamu, tidur, beristirahat, dan bercengkrama bersama keluarga. Masyarakat zaman dahulu biasanya memiliki rumah utama dengan rumah Tambi atau kadang dilengkapi 2 bangunan tambahan lainnya, yaitu Buho atau Gampiri dan Pointua. Buho adalah rumah khusus yang bentuknya seperti rumah Tambi terletak tidak jauh dari rumah utama, terdiri dari 2 lantai; lantai pertama digunakan sebagai tempat menerima tamu dan lantai kedua digunakan sebagai lumbung padi. Sementara Pointua adalah rumah yang khusus digunakan untuk tempat menumbuk padi. 134 Masuk di rumahku. 135 Sudah pulang, suamiku
95 tetapi lantas ia tersenyum dan seperti menganggukkan kepalanya. rumah adat Tambi, sumber dari: https://www.nesabamedia.com/rumahadat-tambi/ ditulis oleh Muchammad Zakaria “To pompalu si’a, Ndongaku. Linggona136 si’a,” kata laki-laki itu kepada perempuan di sampingnya. “Ma'imo ma'ande137,” kata perempuan itu sambil ikut menarik tanganku masuk ke dalam rumahnya bersama laki-laki tadi. Setelah santap bersama, aku ingin mengucap terima kasih kepada mereka, tetapi karena tidak tahu bahasa mereka, aku hanya melakukan gerakan menangkupkan kedua telapak tanganku di depan dada dan sedikit membungkukkan kepala setelah sebelumnya menunjuk ke arah makanan dengan tangan kananku. Mereka tampaknya mengerti, mereka balas menganggukkan kepala sambil tersenyum. 136 Tamu 137 Marilah makan
96 “Tidak harus terlalu kaku,” tegur suara itu mengejutkanku. Seekor burung yang aneh menyerupai merpati tetapi warnanya berganti-ganti, berdiri di lantai kayu tepat di dekat piring di hadapanku. “Siapa kamu?” aku perlahan memundurkan badanku dari si burung. Laki-laki dan istrinya itu diam mematung, aku merasa seperti ada di dalam sebuah museum! “Aku biasa dipanggil Lelengkaa. Dan aku akan memandu kamu selama berada di sini,” jawab si burung. “Kamu bisa berbicara dengan bahasaku! Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyaku lagi. “Karena kamu berpikiran buruk tentang orang-orang ini, kamu pikir mereka bagian dari sejarah yang tidak penting untuk diingat,” jawab Lelengkaa. “Itu kan hanya pikiran saja, aku tidak merugikan siapa pun,” jawabku membela diri. “Tapi kelak ke anak cucumu, lalu juga ke keluarga dan teman-temanmu, kamu akan mempengaruhi pandangan mereka. Kami semua akan terlupakan dan hilang bersama waktu,” kata Lelengkaa. “Kalian kan tidak nyata, kalian sudah lama tidak ada,” kataku. “Kalau tidak nyata, seharusnya dari tadi kamu sudah bangun dari mimpimu, kan?” balas Lelengkaa. Aku terdiam sejenak mendengar perkataannya.