97 “Semakin kamu keras kepala, semakin lama juga kamu akan tinggal di dunia ini,” kata Lelengkaa. “Jadi aku harus bagaimana?” tanyaku. “Aku akan mengajak kamu berkeliling melihat beberapa hal di kehidupan orang-orang ini, agar kamu tahu dan melihat dengan mata kepala kamu sendiri, mereka adalah orang-orang yang seperti apa. Pada akhirnya kamu harus menyampaikan kesimpulan terakhir kamu di hadapan Puloru, sebelum ia memutuskan kamu bisa kembali ke duniamu atau tidak,” kata Lelengkaa. “Puloru?” tanyaku lagi. “Iya, Puloru. Pohon besar di belakang perkampungan ini yang memiliki kekuatan magis. Ia akan menghukum setiap makhluk yang berniat jahat di dekatnya,” jawab Lelengkaa. “Baiklah, dari mana aku harus memulainya?” pertanyaanku itu langsung disambut dengan Lelengkaa yang bertengger di lututku. Ia mematukku dengan paruhnya dan seketika kami berpindah tempat ke tepian danau. Aku tercengang menyaksikan dan mengalami sendiri hal ajaib itu. “Kamu akan terbiasa,” kata Lelengkaa. Di hadapanku ada beberapa laki-laki dan perempuan yang sedang beraktifitas di dalam danau, mereka tampak sibuk melakukan sesuatu. Ada laki-laki yang terlihat sedang meletakkan semacam keranjang dari bambu di pinggir
98 danau, sementara yang perempuan tampak berjalan perlahan dari bagian danau yang sedikit lebih dalam, menuju ke permukaan di tepian. “Mereka sedang melakukan mosango, mencari ikan dengan menggunakan alat yang disebut sango atau bubu tangan. Benda dari bambu atau kadang lidi enau yang diikat dengan rotan berbentuk kerucut dengan lubang di bagian atasnya itu merupakan penangkap ikan dan efektif untuk perairan yang tidak dalam. Mereka menyungkupkan sango sambil dipegang dan dipindahpindahkan, ketika ada ikan yang tertangkap langsung dikeluarkan,” kata Lelengkaa. tradisi mosango, sumber dari: https://simanews.com/tradisi-mosangodikabarkan-telah-pudar/ “Lalu apa yang dilakukan oleh para perempuan itu? Berjalan dari tengah ke pinggiran….?” Tanyaku. “Mereka menggiring ikan ke pinggiran, agar masuk ke dalam sango,” terang Lelengkaa.
99 “Jadi mosango satu-satunya cara untuk menangkap ikan di perairan danau Poso yang diketahui oleh masyarakat pada zaman ini,” kataku. “Keliru! Masih ada Taledu atau Sarapi, berupa penangkap ikan-ikan halus yang dibuat dari kain tenun yang jarangjarang dan diberi tangkai pegangan. Ada juga Tanggala. Ada juga yang disebut Baloe yang menangkap ikan dengan pancing tanpa umpan. Ada Baroo, yang menangkap ikan dengan tangan di sungai atau Meroo yang menangkap ikan dengan tangan dalam air berlumpur. Ada juga Mantuwa, menangkap ikan dengan getah tuba dari sejenis tumbuhan menjalar. Sejenis sango tadi juga ada yang disebut Sisiro atau Panongko. Ada juga Radapi, penangkap ikan yang dibuat dari kain yang tenunannya jarang-jarang dan diberi tangkai, lebih besar dari Taledu. Mereka juga melakukan Monyilo atau menangkap Sogili di malam hari dengan menggunakan Sarompo atau bambu yang ujungnya ditajamkan. Kalau di laut mereka menggunakan Panambe, pukat ikan yang dianyam. Cara menangkap ikan yang terbilang unik juga ada Moncalou dimana menangkap dengan menggunakan kain sarung terikat di pinggang sebagai alat penangkap ikan,” kata Lelengkaa. “Aku baru tahu bahwa masyarakat di zaman ini sudah cukup maju meski hanya dilihat dari beragamnya teknologi yang mereka gunakan menangkap ikan!” komentarku sambil tercengang.
100 “Danau ini sudah memberikan mereka salah satu sumber makanan utama, menjadi jantung kehidupan hutan dan sekitarnya yang menyatukan sungai-sungai yang berbeda dari berbagai penjuru sebelum berakhir di lautan nan luas. Itu sebabnya, masyarakat sangat takut ketika air danau meluap. Bagi mereka itu adalah ungkapan kemarahan dari Yang Maha Kuasa, dikarenakan sebuah kesalahan atau kelalaian mereka dalam menjalankan hidup,” kata Lelengkaa. “Jadi maksudnya, masyarakat ini telah memahami arti hidup selaras dengan alam, menghargai satu dengan yang lainnya?” tanyaku. “Aku baru mau memberitahu kamu kalau ikan tangkapan mereka itu justru dibagi sama rata, dan tidak pernah ditangkap secara berlebihan. Mereka hanya menangkap ikan secukupnya, sesuai kebutuhan mereka makan satu atau hingga dua hari ke depan,” terang Lelengkaa. “Orang-orang di zaman sekarang tidak akan pernah melakukan hal seperti itu,” kataku. “Perubahan zaman juga ikut mengubah karakter orang. Tetapi kita semua masih punya semangat itu di dalam diri kita,” kata Lelengkaa. “Itu? Itu apa?” tanyaku. “Sintuwu Maroso,” jawab Lelengkaa. “Aku sering mendengarnya tetapi tidak paham apa maknanya,” kataku.
101 “Bersama, kita kuat,” jawab Lelengkaa. “Seperti peribahasa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” komentarku. “Kalimat yang bagus. Masyarakat pada zaman itu bahkan sudah lebih memahami pentingnya kebersamaan, persatuan mereka yang terdiri dari orang-orang berbeda karakter dan latar belakang. Kamu lihat cara mereka memperlakukanmu, orang asing yang masuk ke dalam kelompok mereka, bukan? Apa yang kamu rasakan?” tanya Lelengkaa. “Aku merasa seperti kerabat jauh yang datang disambut dengan baik,” jawabku sambil menunduk malu. “Kaum kalian manusia yang mulai berubah seiring perkembangan zaman, menciptakan berbagai macam label yang memisahkan kalian berdasarkan kelompok aliran kepercayaan tertentu, suku tertentu, bahkan kelas sosial tertentu. Lihat akibatnya, perpecahan di manamana. Siapa bilang kamu tidak bisa belajar dari sejarah di masa lalu? Kalian hanya perlu melihat lebih dekat dan lebih teliti, untuk paham bahwa kebutuhan hakiki setiap makhluk adalah hidup dengan damai dan tenang. Itu sebabnya aku kecewa ketika daerah ini dikenang dalam sejarah karena konfliknya, bukan karena kearifan lokal yang menjadi falsafah hidup masyarakatnya,” keluh Lelengkaa. “Masyarakat di zaman ini juga masih berburu, kan?” tanyaku.
102 “Kebetulan kamu menyinggungnya,” kata Lelengkaa yang kembali mematuk lututku, seperti sihir, kami berpindah tempat di atas dahan besar sebuah pohon, sekitar sepuluh atau lima belas meter dari ketinggian, mengamati belantara rimba di bawah kami. Beberapa laki-laki terlihat berjalan menyusuri hutan, sesekali menebas semak belukar yang menghadang perjalanan mereka. Empat ekor anjing hutan tampak menemani mereka, mengendus jejak buruan yang sepertinya kian dekat. “Kako mosu-mosu138!” kata salah seorang laki-laki tersebut. Laki-laki lain di dekatnya telah mengambil posisi meniup sebuah batang bambu ke arah semak-semak sekitar empat puluh meter di hadapan mereka. Seekor babi berlari keluar dan segera disusul oleh empat ekor anjing hutan tadi. Dengan sigap laki-laki lainnya berlari kencang mengambil posisi siap melemparkan tombaknya, yang jatuh menancap di pohon. “Mempa’ampa’a ri kaju139!” teriak laki-laki lainnya. “Be yunga140!” teriak laki-laki yang pertama. Laki-laki yang melempar tombak tampak sedikit kecewa tetapi perhatian mereka segera teralihkan dengan suara anjing yang menggonggong saling bersahutan semakin keras. Mereka bergegas lari menghampiri empat ekor anjing 138 Makin dekat 139 Tombak tertanam di kayu! 140 Lolos!
103 pemburu andalan mereka yang telah berhasil mengelilingi seekor babi yang tergeletak tak berdaya. “Dako141!” kata salah seorang laki-laki yang membuat empat ekor anjing itu menjauh, lalu ia ditemani dua lakilaki di dekatnya menyiapkan tali dari semacam akar tanaman untuk mengikat hasil buruan mereka tersebut. “Apa yang baru saja kamu lihat adalah bagaimana masyarakat melakukan perburuan hewan yang sering dilakukan secara berkelompok,” kata Lelengkaa kepadaku. “Tadi ada dari mereka yang menggunakan sumpit, itu luar biasa sekali!” kataku dengan antusias. “Masyarakat sini menyebut sumpit dengan istilah sopu. Tangkai mata sumpit dibuat dari batang ilalang atau pelepah rumbia yang kering, kemudian mata sumpit dioleskan dengan impo, sejenis racun dari getah pohon untuk mematikan hewan buruan tetapi aman untuk manusia. Tetapi ada juga jenis racun dari getah pohon yang berbahaya disebut moso, yang bila terkena manusia saja bisa langsung mati,” kata Lelengkaa. “Jadi hasil buruan mereka itu, diserahkan kepada siapa?” tanyaku. “Mosai, atau bagi hasil perburuan. Prinsipnya biasanya yang dianggap berperan besar dalam membunuh hewan 141 Kata-kata yang biasanya digunakan ketika mengusir anjing; juga ako, lako, tako
104 buruan akan mendapatkan bagian yang lebih banyak. Jika hasil buruan sangat besar dan melimpah, sering pula diadakan makan bersama dengan seluruh warga kampung sebagai bentuk ucapan syukur,” terang Lelengkaa. “Tidakkah mereka sekali saja berpikir untuk mengurusi kepentingan hidupnya sendiri-sendiri, tanpa memikirkan kepentingan bersama?” tanyaku. “Kamu masih belum paham juga,” kata Lelengkaa sambil kembali mematuk lututku. Kali ini kami berpindah tempat di padang rerumputan, di atas sebuah bukit. Tidak jauh dari tempat kami, ada kerumunan orang berdiri, memandangi bintang. “Apa yang mereka lakukan?” tanyaku. “Mereka mengamati gugus bintang Kartika, untuk menentukan saat yang tepat mulai berladang,” jawab Lelengkaa. gugus bintang kartika, sumber dari: https://abdill01.wordpress.com/2017/07/21/7-bintang-kartika/
105 “Gugus bintang Kartika? Seingatku di buku astronomi itu mengacu pada Pleiades atau gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus, yang paling terang bisa dilihat dengan mata telanjang dan salah satu yang terdekat dengan bumi. Terdiri dari 7 bintang utama bercahaya biru terang, yang terbenam bersamaan dengan terbitnya fajar. Di Jawa ia disebut Lintang Wuluh, di Yunani disebut Pleiades, di Arab dikenal sebagai Tsurayya, di Babilonia dikenal sebagai Mulmul, di Cina dikenal sebagai Mao, di Jepang sebagai Subaru….” Perkataanku terhenti sejenak. Lelengkaa mengerti bahwa aku ingin mendengarnya menyelesaikan cerita tentang mengamati gugus bintang. “Orang-orang sini meyakini kalau dulu gugus bintang Kartika itu adalah seekor ayam jantan yang memuntahkan beras dari paruhnya, sehingga tuannya tidak usah bersusah payah mencari makanan. Sayangnya, Lise, setengah dewi setengah manusia, selalu berikhtiar mendatangkan bencana kepada manusia, malah memukul ayam itu dengan alunya, hanya karena sebuah insiden di mana si ayam mematuk biji-biji beras miliknya. Ayam jantan yang sakti ini tidak mau lagi tinggal bersama manusia dan kembali ke langit sebagai bintang. Karena belas kasihan pada tuannya yang baik, ia berpesan agar tuannya selalu memperhatikan gerak geriknya di langit sebagai petunjuk untuk tahu kapan padi yang ditanam oleh tuannya tersebut dapat tumbuh subur. Apabila ia gelisah, posisinya bergerak naik turun, itu pertanda padi tidak akan tumbuh subur sehingga bukan saat yang tepat untuk mulai menanam; sebaliknya bila ia tenang, maka itu
106 saat yang tepat untuk menabur benih di tanah, dan tanaman padi atau apapun yang ditanam akan memberi hasil,” terang Lelangkaa. “Banyak hal-hal paranormal yang diyakini oleh orangorang di zaman ini?” tanyaku lagi. “Kita semua selalu mencari sesuatu pegangan di luar batas nalar kita sebagai manusia, terutama untuk persoalan hidup yang tidak mampu kita selesaikan, bukankah begitu? Orang-orang di Poso di masa ini meyakini keberadaan entitas dewa-dewi itu erat hubungannya dengan matahari yang menjadi sumber kehidupan utama untuk dunia yang mereka tinggali. Rasa takut mereka pada konsep hukuman dari langit mendorong kesadaran mereka untuk hidup harmonis dengan alam, dengan sesama manusia dan kepada Tuhan dalam pemahaman mereka,” kata Lelangkaa. “Itu apa yang sedang mereka lakukan?” tanyaku ketika melihat sekelompok laki-laki dan perempuan secara terpisah menyanyikan lirik bahasa daerah sambil memetik padi di sawah mereka. Waktu berganti dengan cepat di alam yang ditunjukkan Lelengkaa kepadaku. Tadi malam, kini berganti siang. “Itu tawanggu namanya, menyanyi berbalas-balasan antara kelompok laki-laki dan perempuan, dilakukan ketika memetik padi hingga padungku atau pesta pengucapan syukur yang dilakukan setelah panen padi setiap tahunnya. Biasanya nanti saat padungku, di dekat mereka ada ambarale, sebuah tiang yang dihiasi dengan
107 benda-benda berharga seperti sapu tangan, kain sarung, baju dan lainnya sebagai hadiah untuk mereka yang menyanyi. Hal-hal yang kamu mungkin terlewatkan tadi seperti njo’u ri pesale atau pergi gotong royong di mana uniknya warga akan saling mengajak dan mengingatkan. Dan tentu saja, ada dero, tarian tradisional kebanggaan warga,” kata Lelengkaa. “Itu aku tahu, tidak perlu dijelaskan. Dero yang merupakan tari ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Gerakan tarian ini didominasi dengan gerakan mengayunkan tangan ke depan dan gerakan kaki ke kiri dan ke kanan mengikuti irama, formasi penari akan bergerak searah dengan jarum jam. Tarian yang indah,” komentarku. “Sekaligus tari yang menggambarkan keterbukaan dan keramahan orang-orang di Pamona dalam memandang kedudukan setiap orang yang sama di hadapan Sang Pencipta, tanpa memandang perbedaan asal-usul maupun hal lainnya. Semangat sintuwu maroso yang tadi aku sebutkan telah mendarah daging di berbagai bentuk aktifitas kehidupan keseharian mereka,” sambung Lelengkaa. Mendadak bumi bergoncang hebat, dan aku sempat panik, hendak berdiri dan berlari mencari tempat berlindung, tetapi Lelengkaa memintaku tetap tenang. “Sudah saatnya kita bertemu dengan Puloru,” kata Lelengkaa yang lalu mematuk lututku. Seketika kami berada di atas sebuah batu besar menghadap ke pohon
108 besar dengan akarnya yang menjalar kemana-mana, tepat di sampingnya ada sebuah pohon kersen. Sepertinya tidak asing bagiku. “Yambo142,” tegur suara itu. Aku menoleh ke arah guratan garis membentuk wajah pada batang pohon besar dengan sulurnya yang melambai ke arahku. “Jangan takut,” bisik Lelengkaa. Aku memberanikan diriku berdiri tegak menghadapinya. “Yambomo da kumpato’o143 , ri rayamu nakanoto144,” kata Puloru. “Dia menyuruh kamu mendekat dan menyimak perkataannya,” kata Lelengkaa. Salah satu sulurnya menyentuh keningku. “Ma'eri-eri tau tu'a 145 , Ma'eri-eri kasitau146, Ma'eri-eri dunia147, Moundi ri pue mpalaburu148. Ndatotonanda kapandemu149, ewa awili anu madogo150, be posa-posa151 . Be uta-uta awili setu rata salapi, rata salapi152,” kata 142 Datanglah 143 Marilah akan saya katakan, 144 Supaya jelas untuk kamu 145 Menyayangi dan menghormati orang tua 146 Menyayangi dan menghormati sesama manusia 147 Menyayangi dan menghormati bumi/dunia 148 Mengembalikan diri ke Tuhan Pencipta semesta alam 149 dikenang terus kebaikanmu 150 Seperti nasihat atau petuah yang baik 151 Tidak pernah akan hilang 152 tidak pernah akan dilupakan petuah itu dari generasi ke generasi
109 Puloru. Anehnya aku mengerti dengan setiap perkataannya tersebut. Sulur itu mungkin penyebabnya, membuatku paham dengan bahasa daerah yang diucapkannya. “Tau tu’a owi, re’e tuntunya153,” perkataan yang keluar dari mulutku ini membuatku terkejut sendiri. Aku berbicara dengan bahasanya! “Jangan takut, teruskan perkataanmu sampai selesai,” bisik Lelengkaa di telingaku. “Wuleana tau santika se’i154 , aja ndabawa mpondeu155 , awili anu madogo rata salapi, rata salapi,” kataku. “Malai ri banuamu156 , endo endo janjimu157,” kata Puloru sambil menarik kembali sulurnya menjauhi keningku. “Saatnya kamu pulang,” kata Lelengkaa sambil mematuk telinga kananku. Semua tiba-tiba berubah menjadi gelap dan mataku hanya bisa melihat hitam pekat, tanpa suara, tanpa apa-apa di sekeliling, sunyi. 153 nenek moyang dahulu, ada sejarahnya, riwayatnya 154 Tugasnya orang-orang generasi/zaman sekarang 155 Sepakat untuk meneruskan 156 Kembalilah ke rumahmu 157 Ingat ingat janjimu
110 * “Akhirnya dia bangun, Pak,” kata seseorang entah siapa. Perlahan aku merengkuh kesadaranku, kelopak mataku membuka, menyambut sosok sejumlah teman sekolah dan Pak Hafied yang berkumpul mengelilingiku. “Kamu tertidur pulas, sepertinya sempat pingsan, dan kami jadi cemas,” kata Pak Hafied. “Tadi sedikit pusing, Pak, minta maaf sudah membuat semuanya cemas,” kataku. “Ayo kita sudah harus bersiap-siap pulang ke Palu, semuanya bergegas masuk ke bus,” perintah Pak Hafied. “Kamu baik-baik saja?” tanya Rudi salah satu teman sekelasku. “Kamu tidak akan percaya kalau aku ceritakan apa yang terjadi tadi,” jawabku dengan antusias saat ia membantuku bangkit berdiri. “Kita punya banyak waktu di perjalanan untuk itu, ceritakan semua yang kamu ingat,” kata Rudi. Aku tersenyum melihat Rudi dan teman-teman sekolahku yang kini berjalan bergegas menuju ke bus wisata yang mengantar kami ke tempat ini. Tiba-tiba aku mendengar suara kicauan burung yang aneh dari atas pepohonan yang menjulang di dekatku. Sekilas aku melihat Lelengkaa terbang melintasi dahan pepohonan, menyapaku, mungkin sekaligus mengucap selamat jalan. Yang pasti, aku akan pulang dan menulis cerita pengalamanku tadi,
111 dan memberitahu ke semua orang, ada banyak cerita yang harus diteruskan tentang Pamona, yang tidak boleh dilupakan dan dipelihara, dari generasi ke generasi. 1dua gadis mengenakan pakaian adat Poso, sekitar 1920-1930, sumber dari Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures
112 2pembukaan lahan sekitar tahun 1905 di wilayah Poso, sumber foto: Nicolaus Adriani and Albertus Christiaan Kruyt - Adriani, Nicolaus and Kruyt, Albertus Christiaan. 1912–14. De Bare’e-sprekende Toradja’s van Midden- Celebes. Batavia: Landsdrukkerij. Pamona (sering kali disebut sebagai suku Poso, Bare'e, atau To Pamona) mendiami hampir seluruh wilayah Kabupaten Poso, sebagian Kabupaten Tojo Una-Una dan sebagian Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah; bahkan ada juga beberapa yang tinggal di Kabupaten Luwu Timur di Sulawesi Selatan, dan sebagian kecil yang tersisa hidup di bagian lain di Indonesia.158 158 Dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Pamona
ito lawputra