47Malaikat (bahasa Arab: كة مال ( adalah makhluk yang memiliki kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah. Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arab مالك atau كَْمل َyang berarti kekuatan, mengutus. Ada juga yang berpendapat bahwa kata malak terambil dari kata la’aka yang berarti menyampaikan sesuatu dan juga ada yang meng artikan malakun berarti utusan, risalah atau misi. Malaikat adalah utusan-utusan Allah SWT, untuk berbagai fungsi dan tugas atau Malaikat adalah makhluk yang mempunyai tugas dan misi untuk menyampaikan sesuatu dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT (QS. Al-Faathir :1) A. PENGERTIAN IMAN KEPADA MALAIKAT1.3. Meyakini keberadaan malaikat-malaikat Allah Swt.2.3. Menunjukkan sikap disiplin, jujur dan bertanggung jawab, sebagai implementasi beriman kepada malaikat-malaikat Allah Swt.3.3. Menganalisis makna beriman kepada malaikat-malaikat Allah Swt.4.3. Menyajikan hubungan antara beriman kepada malaikat-malaikat Allah Swt. dengan perilaku teliti, disiplin, dan waspada11. Siswa dapat Memahami makna berimankepada malaikat12. Siswa dapat menyebutkan nama-nama malaikat dan tugasnya13. Siswa dapat menentukan dalil-dalil yang berhubungan dengan iman kepada Malaikat14. Siswa dapat menentukan Perilaku yang mencerminkan iman kepada malaikat15. Siswa dapat menjelaskan Hikmah Beriman kepasa malaikat-malaikat Allah SwtKOMPETENSI DASAR (KD) TUJUAN PEMBELAJARAN
48Artinya “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. AlFaathir: 1)Menurut istilah malaikat adalah makhluk ciptaan Allah SW) yang terbuat dari cahaya, tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak berjenis kelamin. Mereka menghabiskan waktunya untuk mengabdi kepada Allah; senantiasa taat kepada perintah-perintah-Nya dan tidak pernah mendurhakai-Nya. Sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa:Artinya: Malaikat Aku (Allah) ciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari gugusan api, dan Adam dari apa yang telah diterangkan pada kamu semua.\" (HR Muslim).Dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 49-50 Allah berfirman : Artinya “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) Para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)” (QS. An-Nahl/16 : 49-50).Berdasarkan keterangan diatas, malaikat diciptakan dari cahaya yang karakternya memantulkan cahaya pada hati manusia dan kedamaian di bumi. Manusia diciptakan dari tanah yang karakternya tenang, diam, stabil, sedangkan jin diciptakan dari api yang sifatnya selalu bergerak, bergejolak, dan tidak pernah tenang. Para malaikat mempunyai karakter patuh dan sujud hanya pada Allah. Mereka melaksanakan tugas mengatur dan menertibkan alam semesta serta tidak pernah mengeluh. Malaikat senantiasa melaksanakan perbuatanperbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya dan tidak pernah melakukan perbuatan di luar kehendak Allah. memantulkan cahaya kedamaian pada manusia
49Muhammad Abduh menegaskan bahwa, “malaikat adalah makhluk-makhluk gaib yang tidak dapat diketahui hakikatnya, namun harus dipercaya wujudnya.” Syekh Muhammad Abduh mengemukakan suatu pendapat yang kontroversial pula, bahwa tidak mustahil, tidak juga ada keberatan dalam agama, dan hal tersebut cukup rasional, untuk memahami apa yang dimaksud dengan malaikat adalah sebagai hukum-hukum alam. Muhammad Abduh menafsirkan firman Allah SWT (QS. An-Nazi’at: 1-5) Artinya:1. demi (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan keras,2. dan (malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah-lembut,3. dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat,4. dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang,5. dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)Dalam ayat 1 s/d 5 diatas Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat yang bermacammacam sifat dan urusannya, bahwa manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat. sebahagian ahli tafsir berpendapat, bahwa dalam ayat-ayat itu Allah bersumpah dengan bintang-bintang. Pendapat lain mengatakan bahwa Malaikat adalah tentara Allah SWT. Allah SWT menganugerahkan kepada mereka akal dan pemahaman, serta menciptakan bagi mereka naluri untuk taat, serta memberi mereka kemampuan untuk berbentuk dengan berbagai bentuk yang indah dan kemampuan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Berdasarkan firman Allah SWT dalam Q.S. Ali-Imran: 124-125 Artinya:“(ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: \"Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu Malaikat yang diturunkan (dari langit)?\". Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda”Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa:1. Malaikat merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.
502. Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah menciptakan jin dan manusia juga untuk beribadah kepada-Nya semata.3. Mereka adalah makhluk yang hidup, berakal, dan dapat berbicara.4. Malaikat hidup di alam yang berbeda dengan alam jin dan manusia. Mereka hidup di alam yang mulia lagi suci, yang Allah memilih tempat tersebut di dunia karena kedekatannya, dan untuk melaksanakan perintah-Nya.Beriman kepada malaikat, artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menciptakan makhlukNya berupa malaikat yang senantiasa bertasbih dan bersujud kepadaNya, selalu taat terhadap perintah-perintah-Nya dan tidak pernah durhaka kepada-Nya. Keberadaan mereka dalam wujudnya yang asli tergolong sebagai makhluk gaib yang tidak bisa dilihat manusia. Allah berfirman dalam QS. An Nisaa’ Ayat 136: Artinya “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauhjauhnya”.Ada banyak fungsi beriman kepada malaikat-malaikat Allah, diantaranya :1. Meningkatkan KetaatanMalaikat adalah makhluk Allah yang paling taat, dengan beriman manusia dapat mendorong dirinya untuk senantiasa mendekatkan diri dan disiplin kepada Allah SWT. Setiap muslim berkewajiban untuk mendekatkan diri kepada Allah agar meraih kecintaan-Nya.Dalam hadits Qudsi disebutkan: “Pendekatan diri hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah dengan sesuatu yang Aku wajibkan padanya. Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan nafilah (ibadah tambahan), sehingga Aku mencintainya.” (Bukhari)B. FUNSI IMAN KEPADA MALAIKAT
51Dalam hadits ini menunjukkan bahwa ibadah yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah melaksanakan kewajiban. Kewajiban terdiri dari Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah. Fardhu Ain yaitu kewajiban yang mengikat setiap individu muslim, seperti sholat lima waktu, zakat, puasa, haji jika mampu, berbakti kepada orang tua, memberi nafkah pada anak istri dan lainlain. Sedangkan Fardhu Kifayah yaitu kewajiban kolektif jika sudah dilakukan oleh orang lain maka gugurlah kewajiban tersebut, seperti menyelenggarakan jenazah, menuntut sebagian ilmu tertentu, dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, berjihad dan lain-lain. Pada saat tertentu Fardhu Kifayah dapat berubah menjadi Fardhu Ain, seperti dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, dan jihad.Fardhu adalah pokok sedangkan nafilah adalah cabang. Nafilah dapat melengkapi ibadah fardhu dan dapat menutupi kekurangannya. Seseorang tidak dapat disebut mengerjakan ibadah nafilah jika meninggalkan yang fardhu. Oleh karena itu jika orang beriman melaksanakan yang fardhu kemudian diteruskan dengan ibadah tambahan, maka Allah akan mencintainya. Sehingga sangat salah orang yang menyibukkan pada ibadah yang sunnah sementara meninggalkan yang wajib.Jadi, setiap ibadah yang kita lakukan kepada Allah, baik ibadah yang merupakan kewajiban yang terdiri dari Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah atau ibadah Mahdah dan Ghairi Mahdah, ibadah pokok atau nafilah tentu semua dicatat oleh malaikat sebagai pertanggungan amal kita dihadapan Allah kelak di saat seorang hamba kembali kepada Allah.2. Menjaga Sikap ManusiaSalah satu tugas Malaikat yaitu mengawasi apa yang manusia kerjakan, sehingga manusia menemukan ajal. Oleh karenanya berhati-hatilah dalam menjalani kehidupan agar terhindar dari Dosa. Sikap manusia berawal dari niat, kalau niat baik maka setiap sikap dan perbuatan yang kita lakukan akan baik. Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin Umar bin alhattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,إناا األعاال بالنيات وإناا لكل امرئ مانوي . فا كانت هجرته الي هللا ورمسوله فهجرته الي هللا ورمسوله وم كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكسها فهجرته إلي ما هاجر إليه“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari)
52Allah berfirman dalam QS. al-Mulk: 2: Artinya: “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan. Oleh kerenanya sikap yang baik adalah sikap yang didasarkan pada niat yang baik dan ilmu yang benar.3. Berusaha Meningkatkan Amal IbadahAda Malaikat yang menjaga surga dan neraka. Dengan mengingat hal bisa mendorong manusia untuk meningkatkan amal ibadahnya supaya tidak masuk neraka. Salah satu di antara pokok keyakinan kita adalah mengimani keberadaan Surga (Al Jannah) dan Neraka (An Naar). Salah satunya berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya..” (QS. Al-Baqarah : 24-25).Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran : 133 dan QS. Ali Imran : 131: Artinya: “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”( QS. Ali Imran : 133) Artinya: “ dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir”( QS. Ali Imran : 131)4. Menerima semua ketentuan Allah dengan ikhlasDengan beriman kepada malaikat, kita dapat ikhlas dan merasa bersyukur degan apa yang sudah diberikan Allah untuk kita, atau kita rela beramal memberikan sesuata yang terbaik kepada orang lain, karena setiap amal yang kita lakukan dicatat oleh Malaikat.
53Sumber: http://tabungwakaf.comPernahkah kita membayangkan bahwa suatu hari nanti kita akan menonton film dengan diri sendiri sebagai aktor utamanya? Cerita yang diputar adalah segala perbuatan yang kita lakukan semasa hidup di dunia. Kira-kira bagaimana reaksi kita menonton kehidupan diri sendiri? Apakah akan penuh senyuman karena banyaknya hal baik dan menyenangkan yang kita perbuat untuk sesama? Atau malah sebaliknya? Bermuka masam, keringat dingin dan disergap rasa takut karena terlalu banyak rahasia dan keburukan yang kita lakukan selama hidup?. Ilustrasi ini bukanlah dibuat-buat, melainkan pengingat bahwa segala perbuatan kita memang diawasi dan dicatat lebih detail daripada CCTV, karena pengawas kita tak pernah tidur atau lelah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Infithar: 10-12: Artinya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Infithar: 10-12)Disadari atau tidak, kita senantiasa diawasi oleh malaikat yang merekam semua adegan kebaikan maupun keburukan yang kita lakukan. Pada akhirnya rekaman ini suatu hari nanti di hari penghakiman akan ‘disetel’ kembali untuk kita saksikan bersama Allah, Rasul, dan orang beriman seluruhnya. Oleh karena itu beramallah beramallah kamu sebanyak-banyaknya karena nanti akan perlihatkan oleh Allah. Dalam surat at-Taubah Allah berfirman; Artinya: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)
54Jumlah Malaikat secara keseluruhan hanya Allah SWT yang tahu, bahkan dimungkinkan lebih banyak dari jumlah manusia itu sendiri. Sedangkan jumlah yang wajib diketahui oleh manusia sesuai informasi Al-Qur`an sebanyak 10 Malaikat. Artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”(QDi antara nama-nama dan tugas malaikat yaitu :1. Malaikat JibrilAllah memberikan tugas kepada Malaikat Jibril untuk memberikan wahyu kepada para nabi dan rasul. Ketika wahyu telah terhenti, Jibril memberikan ilham kepada orangorang saleh yang dikehendaki oleh Allah.Artinya : Katakanlah: \"Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, Maka Jibril itu Telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitabkitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah/2 : 97).2. Malaikat MikailMikail bertugas mengatur kesejahteraan makhluk, menurunkan rikzi kepada semua makhluk Allah yang tersebar di alam semesta ini.Artinya : Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, Maka Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.(QS. AlBaqarah/2 : 98).C. NAMA DAN TUGAS MALAIKAT
553. Malaikat IsrafilAllah menugaskan kepada Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala pada hari Kiamat. Yaitu saat meletusnya kiamat kubra hingga dibangkitkannya manusia menuju alam mahsyar.Artinya :”Dan ditiuplah sangkalala. Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka”. (QS. Yasin /36 : 51).4. Malaikat Izra`ilIzrail disebut juga Malaikat Maut. Bertugas sebagai pencabut nyawa manusia dan semua makhluk yang bernyawa di alam ini.Artinya : “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): \"Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang Telah kamu kerjakan\".(QS. An-Nahl/16 : 32).5. Malaikat Raqib dan AtidSemua amal manusia dicacat oleh malaikat. Malaikat Raqib mencatat ama kebaikan sedangkan Malikat Atid mencatat amal buruk.Sumber : Dok. KemenagFirman Allah dalam QS. Qaf: 17-18:
56Artinya : (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf: 17-18).6. Malaikat Munkar dan Nakir, Kedua malaikat ini bertugas mengajukan pertanyaan kepada manusia di dalam kubur. Munkar dan Nakir-lah yang menginterogasi orang yang sudah meninggal di alam kubur. Bila ruh orang tersebut bisa menjawab dengan benar, maka ia akan selamat. Bila tidak, ia akan celaka.7. Malaikat MalikMalaikat Malik disebut juga Malaikat Zabaniyah. Allah memberikan tugas kepada Malaikat Malik untuk menjaga neraka dan memimpin para malaikat penyiksa penghuni neraka.Artinya : Mereka berseru: \"Hai Malik, Biarlah Tuhanmu membunuh kami saja\". dia menjawab: \"Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)\". (QS. Azzukhruf/43 : 77).8. Malaikat Ridwan, Malaikat Ridwan bertugas sebagai penjaga Surga dan memimpin malaikat lain untuk melayani para penghuni surga. Artinya : Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintupintunya Telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: \"Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya\". (QS. Az-zumar/39 : 73).Dengan mengetahui nama dan tugas 10 Malaikat tersebut di atas diharapkan bagi seorang muslim untuk mengaplikasikannya dalam sikap dan prilaku kehidupan sehari-hari, sehingga beriman kepada Malaikat tersebut dapat menimbulkan manfaat dan hikmah bagi keshalehan prilaku pelakunya.
57A. Perbedaan Manusia dengan MalaikatKita telah memahami bahwa pengetahuan kita tentang Malaikat hanyalah berdasar pada dalil wahyu. Maka, wahyu jugalah yang menjelaskan kepada kita bagaimana sifat-sifat yang dimiliki Malaikat yang membedakan mereka dengan makhluk yang lainnya. Sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia memiliki perbedaan dengan Malaikat. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:1. Sifat-sifatnya a. Manusia sebagai makhluk zhahir, yang tampak dan dapat dilihat mata manusia, sedangkan Malaikat dalam bentuk aslinya merupakan makhluk gaib yang tidak dapat dilihat.b. Manusia ada yang taat dan durhaka kepada Allah, sedangkan Malaikat semuanya taat, berbakti dan bertakwa kepada Allah.c. Manusia mempunyai jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), menikah dan berkembang biak, sedangkan Malaikat tidak memiliki jenis kelamin, tidak memiliki nafsu, dan tidak berkembang biak.d. Malaikat senantiasa takut kepada Allah dan selalu menaati perintah-perintahNya.Sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya:Artinya : “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (An-Nahl/16: 50)Artinya : “Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (Al-Anbiya/21: 27)e. Malaikat bersikap kasar dan keras kepada penghuni nerakaFirman Allah dalam QS At-Tahrīm ayat 6:Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya MalaikatMalaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
58diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrīm/66: 6)f. Mengatur segala urusanFirman Allah dalam QS Fāṭir;1Artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS Fathir /35 : 1)2. Asal KejadiannyaDilihat dari asal kejadiannya, manusia diciptakan Allah dari tanah, sedangkan Malaikat diciptakan Allah dari cahaya. Jin diciptakan Allah dari api sesuai dengan hadiṡ Qudsi berikut:Artinya: Malaikat Aku (Allah) ciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari gugusan api, dan Adam dari apa yang telah diterangkan pada kamu semua.\" (HR Muslim).3. Tugas dan KewajibannyaManusia ditugaskan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi dengan segala tugas dan kewajibannya yang beraneka ragam, sedangkan Malaikat diciptakan oleh Allah dengan tugasnya yang khusus. Seperti: menurunkan wahyu, membagi rezeki, meniup sangkakala, mencabut nyawa, mencatat amal, menanyai manusia di dalam kubur, menjaga surga, menjaga neraka, dan lain-lain.4. Derajat dan KedudukannyaSecara umum, manusia memiliki derajat dan kedudukan yang lebih mulia daripada makhluk-makhluk Allah yang lain, bahkan dari malaikat sekalipun. Hal itu karena berbagai kelebihan dan tugas yang diembankan Allah kepadanya. Kemulian manusia yang lebih daripada malaikat ditegaskan dengan bukti bahwa Allah menyuruh kepada malaikat untuk sujud kepada nabi Adam setelah nabi Adam menjelaskan ilmu yang diajarkan oleh Allah SWT.
59Orang yang beriman/percaya kepada malaikat tentunya akan selalu berhati-hati dalam berperilaku karena mereka mempercayai ada malaikat yang selalu mendampingi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Beberapa perilaku yang menggambarkan tanda-tanda orang yang beriman kepada malaikat antara lain:1. Selalu berhati-hati dengan mempertimbangkan suara hati yang baik karena ada malaikat Jibril yang selalu mengawal manusia dengan wahyu dan ilmu.2. Selalu optimis dalam mencari penghidupan karena yakin ada malaikat mikail yang membagi rizki manusia.3. Hidup di dunia tidak semena-mena, karena yakin kehidupan ini akan berakhir ketika malaikat Israfil melaksanakan tugasnya.4. Berusaha untuk memperbanyak perbuatan baik sebelum malaikat Mikail melaksanakan tugasnya untuk mencabut nyawa.5. Selalu berhati-hati dalam berbuat karena ada malaikat Rokib dan ‘Atid yang selalu mencatat amal baik dan buruk.6. Selalu berusaha berbuat baik untuk persiapan setelah mati karena yakin ada malaikat Munkar dan Nakir yang menanyai di dalam kubur. Nabi saw. Bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba (yang meningggal) apabila telah diletakkan di dalam kubur dan para pengantarnya telah meninggalkannya, sesungguhnya ia akan mendengar derap sandal mereka. Kemudian datanglah dua Malaikat (Munkar dan Nakir) dan mendudukkannya, seraya bertanya kepadanya: Bagaimana pendapatmu tentang orang ini (Muhammad saw.)? Apabila ia seorang mukmin maka akan menjawab: Saya bersaksi bahwa dia hamba Allah dan utusan-Nya Kemudian dikatakan kepadanya: Lihatlah tempatmu di neraka, sunggguh Allah telah menggantikannya buat kamu di surga. Kemudian ia akan melihat kedua tempat itu semua (surga dan neraka).”(HR. Al-Bukhari dan Muslim).7. Menjauhi segala larangan Allah agar terhindar dari neraka yang dijaga Malaikat Malik.8. Memperbanyak amal shaleh agar dapat bertemu dengan malaikat Ridwan sebagai penjaga surga.D. PERILAKU BERIMAN KEPADA MALAIKAT
60Diantaraa hikmah Beriman Kepada Malaikat Allah adalah:1. Semakin meyakini tentang kebesaran Allah SWT.2. Bersyukur kepada Allah SWT, karena telah menciptakan malaikat untuk membantu segala kehidupan dan kepentingan manusia.3. Cinta kepada Malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah, dan karena mereka selalu membantu dan selalu mendoakan kita.4. Bertaqwa dan beriman kepada Allah SWT serta berlomba-lomba dalam kebaikan.5. Meningkatkan keimanan untuk mengikuti sifat dan perbuatan Malaikat.6. Selalu berfikir dan berhati-hati setiap melakukan suatu perbuatan, karena perbuatan yang baik maupun yang buruk akan selalu dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.7. Meningkatkan keimanan manusia kepada Allah, mengingat Malaikat merupakan salah satu ciptaan-Nya8. Membentuk jiwa seorang muslim yang benar-benar bertakwa kepada Allah, karena iman kepada Allah dan iman kepada Malaikat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan9. Mendorong manusia untuk senantiasa bertindak hati-hati, karena dia menyadari bahwa setiap perbuatannya selalu diawasi oleh para Malaikat10. Mendorong manusia untuk selalu meningkatkan amal baik, karena manusia menyadari bahwa sekecil apapun tindakan baiknya akan dicatat oleh Malaikat1. Beriman kepada Malaikat merupakan rukun iman kedua yang wajib dimiliki setiap orang yang mengaku muslim.2. Malaikat adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya (nur) yang senantiasa menjalankan perintah-perintahNya dan tidak pernah mendurhakai-Nya.3. Beriman kepada malaikat adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menciptakan malaikat dengan tugas-tugas tertentu yang dibebankan kepada masing-masing malaikat.E. HIKMAH BERIMAN KEPADA MALAIKATRANGKUMAN
614. Malaikat jumlahnya sangat banyak dengan berbagai tugas yang berbeda, tetapi yang wajib diketahui oleh seorang muslim berdasarkan informasi Al-Qur`an dan hadits yang shahih jumlah mereka adalah 10 Malaikat. 5. Malaikat merupakan makhluk gaib, tetapi ia dapat menjelma dalam bentuk makhluk lain yang dapat dilihat manusia.6. Dengan mengimani Malaikat, keimanan dan amal shaleh manusia akan semakin meningkat, ia akan berhati-hati dengan tindakannya, taat dengan perintah-perintah Allah, tidak sombong, dan hatinya selalu merasa tenang dan tentram.A. URAIAN1. Jelaskan pengertian beriman kepada Malaikat!2. Sebutkan 10 nama Malaikat yang wajib diimani setiap muslim!3. Apakah arti dari hadits berikut ini: ر ٍوِْمْننَُمالَئِ َكةُُْخ )رواهمسلم( ِلقَتِال4. Sebutkan 2 contoh perilaku yang mencerminkan beriman kepada Malaikat!5. Bagaimana menurut pendapat Anda bila ada seorang yang mengaku muslim tetapi ia tidak mengakui adanya Malaikat?EVALUASI
62KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnyaKI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalahKI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuanPeta KonsepIKHLAS, JUJUR, SYAJAAH DAN ‘ADILIKHLASJUJUR‘ADILSYAJA’AHKOMPETENSI INTI
631.6 Meyakini bahwa Ikhlas, Jujur, Syaja’ah dan ‘Adil adalah ajaran pokok agama2.6 Menunjukkan perilaku Ikhlas, Jujur, Syaja’ah Dan ‘Adil dalam kehidupan sehari-hari3.6 Menganalisis manfaat Ikhlas, Jujur, Syaja’ah Dan ‘Adil dalam kehidupan sehari-hari4.6 Menyajikan kaitan antara perilaku Ikhlas, Jujur, Syaja’ah dan ‘Adil dalam kehidupan sehari-hari dengan keimanan 1. Siswa dapat menjelaskan makna Ikhlas, Jujur, Syaja’ah dan ‘Adil sebagai ajaran pokok agama2. Siswa dapat menyebutkan perilaku Ikhlas, Jujur, Syaja’ah dan ‘Adil dalam kehidupan sehari-hari3. Siswa dapat menyebutkan dalil tentang Ikhlas, Jujur, Syaja’ah dan ‘Adil4. Siswa dapat menyebutkan manfaat bersikap Ikhlas, Jujur, Syaja’ah dan ‘Adil dalam kehidupan sehari-hariSesungguhnya pembahasan tentang ikhlas adalah pembahasan yang sangat penting yang berkaitan dengan agama Islam yang hanif (lurus) ini, dan Allah tidaklah menerima amal ibadah seseorang hamba kecuali yang dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah. Sebagaimana firman Allah dalam (QS. Al Bayyinah: 5): Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut bahasa) Adalah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata “akhlasha”( اخلص ,( yang berarti bersih, murni, dan jernih. yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya. Dikatakan bahwa “madu itu murni” jika sama sekali tidak tercampur dengan campuran dari luar, Dan sesungguhnya pada binatang KOMPETENSI DASAR (KD)TUJUAN PEMBELAJARANA. IKHLAS
64ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. (QS. An Nahl: 66).sumber: https://www.rudylim.com/blog/ikhlas-mengalah-untuk-menangMenurut istilah syar’i (secara terminologi) Syaikh Abdul Malik menjelaskan, Para ulama bervariasi dalam mendefinisikan ikhlas namun hakikat dari definisi-definisi mereka adalah sama, yaitu memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata: “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”. Al Harawi mengatakan: “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata: “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”. Hal senada juga dikatakan oleh Abu ‘Utsman: “Ikhlas ialah, melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)”. Dan juga Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berkata : “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin”.Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Ikhlas berarti, mendedikasikan dan mengorientasikan seluruh ucapan dan perbuatan, hidup dan mati, diam, gerak dan bicara, hingga seluruh amal perbuatan hanya untuk meraih keridhaan Allah.
65Mewujudkan ikhlas bukan pekerjaan yang mudah seperti anggapan orang jahil. Para ulama yang telah meniti jalan kepada Allah telah menegaskan sulitnya ikhlas dan beratnya mewujudkan ikhlas di dalam hati, kecuali orang yang memang dimudahkan Allah. Imam Sufyan Ats Tsauri berkata,”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.” Karena itu Rasulullah bersabda: ا َلِ الْ َخ َّطا ِب َر ِض َي هللا َعْنه قَِ ْي َح ْف ٍص ع َا َر ْببَ ا ْؤ ِمنِ ْي َ أِم ْيِر الََْمسِا ْع ت َر َع ْ أ : مس ْو َل هللاَِا ْ َكاَن ْت ِه ْج َرت ه إِلَى هللاِ ْو لَوى . فََاا ِل ك ِ ل ا ْمِر ٍئ َما نَِالِن يَّا ِت َوإِنَّْع َاا ل بَاا اْألَملسو هيلع هللا ىلص يَق : إِنَّْنِك س َهٍة يََْو ا ْم َرأَِل دْنيَا ي ِصْيب َها أِه ْج َرت ه إِلَى هللاِ َو َر مس ْوِل ِه، َو َم ْ َكاَن ْت ِه ْج َرت ه ََو َر مس ْوِل ِه ف ا ْي ِهِه ْج َرت ه إِلَى َما َها َج َر إِلََف . ]رواه إماما الاسدثي أبو عبد هللا دمحم ب إمسااعيل ب إبراهيم ب الاغيرة ب بردزبة البخاري وابو السني منلم ب السجاج ب منلم القشيري النينابوري في صسيسيهاا اللذي هاا أصح الكتب الاصنفة[Artinya: “Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang.Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata: Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam. Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).Niat merupakan syarat mutlak diterima atau tidaknya amal perbuatan seseorang, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat yang ikhlas karena
66Allah. Niat yang ikhlas semata-mata karena Allah, dituntut pada semua amal ibadah. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya. Semua perbuatan yang bermanfaat jika diiringi dengan niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah. Dan begitu pula sebaliknya jika amal ibadah yang tidak disertai dengan niat yang ikhlas maka tidak mendapatkan apa-apa bahkan akan berdausa.Abu Laits Samarqandi mengatakan bahwa “amal baik apapun yang dilakukan tanpa ikhlas, tidak akan diterima dan tiada balasannya kecuali neraka”. Sebagaimana firman Allah dalam (QS. Annisa’: 142): Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”.Ayat menggambarkan tentang sifat orang-orang munafik, merak tidak ikhlas, merka beribada bukan karena Allah, akan tetapi karena riya, yitu melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat, maka tidak ada balasan bagi mereka kecuali neraka. Riya’ adalah menampakkan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Jadi riya’ berarti melakukan amalan tidak ikhlas karena Allah karena yang dicari adalah pandangan, sanjungan dan pujian manusia, bukan balasan murni di sisi Allah. Penyakit inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda:َّن َر ُسو َل ََّّللاَِِيٍد أبِن لَُر َع -ملسو هيلع هللا ىلص- ا َل ْن َم ْح ُموِد ْبقَ » ْصغَْر ُك األَْي ُكُم ال ِش َخا ُف َعلََْخَو َف َما أََّن أِإ «. َر ُسو َل ََّّللاِ قَا َلْص َغُر يَاْر ُك األََو َما ال ِش ُهْم قَال » َيْو ُواِ ريَا ُء يَقُو ُل ََّّللاُ َع َّز َو َج َّل لَال ذَاَِمِة إِقيَاْالَمِجدُو َن ِعْندَُظ ُروا َه ْل تَُّْنيَا فَاْنُءو َن ِفى الدَراْم تُِذي َن ُكْنتَُّلَى الَِهبُوا إِهْم اذْْع َماِلَِأُه ُج ْم ِز َى النَّا ُس بًءَج « َزاArtinya: “Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik ashgor.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik ashgor, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(Syirik ashgor adalah) riya’. Allah Ta’ala berkata pada mereka yang berbuat riya’ pada hari kiamat ketika manusia mendapat balasan atas amalan mereka: ‘Pergilah kalian pada orang yang kalian tujukan perbuatan riya’ di dunia. Lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’ (HR. Ahmad 5: 429. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
67sumber: https://www.eramuslim.comsumber: https://bmcnetku.wordpress.comSekalipun banyak orang menilai bahwa kita orang yang tekun dan rajin beribadah, akan tetapi tidak diserta dengan ikhlas maka amal ibadah kita siasia (tidak mendapat pahala). Imam Al-Gazali menyatakan bahwa manusia itu seluruhnya matikecuali mereka yang memiliki ilmu dan orang yang berilmu itu tidur jika ilmunya tanpa amalan dan amalan yang sering dilakukan akan selalu tertipu jika tidak melakukannya dengan ikhlas. Dan dalam (QS. Albayyinah: 5): Artinya: \"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.Jelaslah bahwa kata ikhlas itu memilliki makna yang sangat luas, namun ikhlas dapat dipahami bahwa berbuat sesuatu perbuatan bukan atas dasar dorongan nafsu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan tertentu, akan tetapi mengerjakan segala perbuatan yang dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT.Dalam bahasa Arab, kata jujur semakna dengan “as-sidqu” atau “siddiq” yang berarti benar, nyata, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kazibu”. Secara istilah, jujur atau as-sidqu bermakna: kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, kesesuaian antara informasi dan kenyataan, ketegasan dan kemantapan hati dan sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan, atau B. JUJUR
68jujur adalah suatu prilaku yang mencerminkan adanya kesesuaian antara hati, perkataan dan perbuatan, apa yang diniatkan oleh hati, diucapkan oleh lisan dan di gambarkan dalam perbuatan.Kejujuran memang sangat erat kaitannya dengan hati nurani. dan Hati nurani senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan dan kejujuran. Namun terkadang kita enggan mengikuti hati nurani dikarenakan kita lebih mengikuti keinginan hawa nafsu. Kejujuran dapat membawa kebenaran, kebenaran dapat mengantarkan seseorang ke surganya Allah SWT. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Dari Abdullah ibn Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa kesurga…” (H.R.Bukhari).Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (śiddiq) menjadi tiga yaitu: 1. Jujur dalam niat atau berkehendak, yaitu tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain dorongan karena Allah Swt. 2. Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan yang disampaikan. Setiap orang harus dapat memelihara perkataannya. Ia tidak berkata kecuali dengan jujur. Barangsiapa yang menjaga lidahnya dengan cara selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji termasuk jujur jenis ini.3. Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh sehingga perbatan §ahirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat bagi dirinya.Kejujuran merupakan fondasi atas tegaknya suatu nilai-nilai kebenaran karena jujur identik dengan kebenaran. Allah Swt. berfirman dalam (Q.S. al-Ahzab:70-71): Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.(Q.S. al-Ahzab/33:70)Orang yang beriman perkataannya harus sesuai dengan perbuatannya karena sangat berdosa besar bagi orang-orang yang tidak mampu menyesuaikan perkataannya dengan perbuatan, atau berbeda apa yang di lidah dan apa yang diperbuat. Allah Swt. berfirman (Q.S. As-saf:2-3)
69 Artimya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (Q.S. ash-shaff:2-3)Kejujuran adalah perbuatan orang yang beriman dan kejujuran juga merupakan ajaran yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta kejujuran adalah jalan untuk mendapatkan kemenangan ( Surga ). Firman Allah (Q.S. Al-isra’ : 53) Artinya: “dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: \"Hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”.Salah satu hal penting dari akhlak Nabi Muhammad saw adalah kejujuran. Kejujuran adalah satu barometer untuk menilai kebenaran risalah kenabian para utusan Allah. Yaitu sosok yang terkenal jujur yang mana para musuh para nabipun mengakuinya, maka tidak mungkin ia tiba-tiba membawa kebohongan yang mengatasnamakan Tuhan. Hal itulah yang disinggung di dalam Al-Qur’an berkaitan dengan Rasulullah SAW: Katakanlah: \"Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepada kalian dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepada kalian. Sesungguhnya aku telah tinggal bersama kalian beberapa lama sebelumnya. Maka apakah kalian tidak memikirkannya?\" (QS 10:17). Dengan kata lain Rasulullah saw hendak mengatakan Saya bukanlah orang yang berdusta dan mengada-ada. Lihatlah, saya selama 40 tahun sebelumnya tinggal di antara kalian. Apakah kalian telah membuktikan kedustaan saya atau saya sebagai orang yang mengada-ada? Jika tidak seharusnya kalian berpikir dan timbul pemahaman bahwa seorang yang sampai hari ini tidak pernah berdusta dalam corak apapun dan sekecil apapun, maka bagaimana mungkin tiba-tiba pada hari ini ia berdusta atas nama Tuhan?\" Kejujuran Rasulullah saw sendiri telah diakui tidak saja oleh orang terdekat beliau tetapi oleh para musuh beliau sendiri. Di masa muda, jauh sebelum beliau diangkat sebagai rasul, para pemuka Arab telahmengakui kejujuran Rasulullah saw dan menyebutnya sebagai al-amin. Hal itu dapat kita
70jumpai dalam peristiwa pemugaran Ka’bah, suku-suku berselisih tentang siapa yang paling berhak memindahkan Hajar Aswad, sampai akhirnya diambil kesimpulan bahwa siapa yang datang paling pertama kesokan harinya maka apapun keputusannya, itulah yang akan diterima. Keesokan harinya ternyata yang datang pertama kali adalah Nabi Muhammad saw. Maka mereka yang melihat Rasulullah saw yang datang pertama, mereka langsung mengatakan: – haa dzal amiin (ini adalah orang yang jujur), kita senang karena orangnya adalah Muhammad (saw.)\". Sehimgga beliau menyuruh untuk membawa sehelai kain, yang mana setiap pemuka suku masing-masing memegang setiap sudut kain dan mengangkat Hajar Aswad secara bersama-sama. Ketika Khadijah r.a mendengar perihal kebenaran tutur kata, kejujuran dan keluhuran budi pekerti beliau (saw) maka beliau (r.a.) mempercayakan kepada Nabi Muhammad saw untuk berniaga dengan menyerahkan hartanya kepada beliau saw. Dalam perjalanan itu Maisarah, pembantu Siti Khadijah r.a., juga ikut bersama beliau saw. Pada saat kembalinya, Maisarah menceriterakan ihwal perjalanan beliau saw. Setelah mendengar kisah perjalanan itu Khadijah sangat terkesan dengan kisah perjalanan itu. Maka kemudian beliau menyuruh mengirim pinangan kepada Rasulullah saw. Beliau terkesan karena beliau (saw.) sangat memperhatikan ikatan tali kekerabatan, terpandang di masyarakat, seorang yang jujur dan memiliki budi pekerti yang luhur serta senantiasa berkata benar. Abu Bakar r.a.. Sahabat nabi dalam setiap keadaan senantiasa membenarkan beliau dan hanya melihat dan mendengar beliau saw. sebagai seorang yang senantiasa menekankan akan kebenaran. Oleh karena itu di dalam benak beliau sama sekali tidak dapat terbayangkan bahwa Rasulullah dapat mengucapkan kata-kata dusta. Sebagaimana tertera dalam sebuah riwayat bahwa Abu Bakar r.a ketika mendengar pendakwaan beliau sebagai nabi maka kendati berbagai penjelasan telah diberikan oleh Rasulullah saw., beliau r.a. tidak meminta argumentasi; sebab sepanjang hidup beliau r.a. inilah yang beliau saksikan bahwa beliau saw. senantiasa berkata jujur. Kejujuran Rasulullah saw diakui juga oleh musuh-musuh beliau sendiri, tetapi tidak seperti halnya Abu Bakar Siddiq yang menerima beliau dengan suatu pemikiran yang dilandasi hati yang bersih – yaitu seseorang yang selalu berkata benar maka tidak mungkin dia tiba-tiba berdusta untuk hal yang sangat besar yaitu berdusta atas nama Tuhan - para musuh Rasulullah saw kendati di satu sisi mengakui kejujuran dan kelurusan Rasulullah saw tetapi mereka tidak bisa menangkap rahasia dibalik pengakuan kejujuran dari mereka tersebut. Satu contohnya adalah ketika terjadi usaha stigmatisasi pada diri Nabi Muhammad saw.
71sumber : https://pendidikansunnah.wordpress.comPara pemuka Quraisy berkumpul yang di dalamnya terdapat Abu Jahal dan musuh yang paling besar beliau Al-Akhdhar bin Haris. Salah seorang berkata bahwa hendaknya Rasulullah (saw) dianggap sebagai tukang sihir atau beliau dinyatakan sebagai seorang yang pendusta, maka Nadhar bin haris berdiri lalu berkata, \"Hai kelompok Quraisy! Kalian terperangkap dalam suatu masalah yang untuk menghadapinya tidak ada cara yang kalian dapat tempuh. Muhammad (saw) di antara kalian adalah seorang pemuda yang kalian paling cintai, merupakan pemuda yang paling benar dalam ucapan.Kejujuran merupakan akhlak yang fundamental dalam membangun pribadi yang mulia, keluarga yang bermartabat, dan masyarakat yang kondusif. Kemulian yang diraih oleh seseorang tidak lepas dari kejujurannya. Semakin tinggi kualitas kejujurannya, maka semakin tinggi pula kualitas kemuliaannya. Demikian juga dengan tingkatan keluarga dan masyarakat. Semakin kuat akhlak jujur diterapkan dalam sebuah keluarga, maka semakin kuat pula kadar kemuliaan dan semakin tinggi martabatnya. Begitu juga masyarakat yang individu-individunya benar-benar merealisasikan akhlak jujur dalam interaksi dan transaksinya, maka akan lahir situasi kondusif yang menaungi kehidupan sosial mereka. Ditinjau dari segi bahasa, disebutkan dalam Qamus Mu’jamul Wasith dan Al-Lughatul ‘Arabiyyah Al-Mu’ashirah, pengertian syaja’ah diantaranya adalah:ِشْال َجأِس ، َربَا َطةَِْب ِعْنَد اليَألْالقَةً ، ِشَّدةَََو ج ْرأَّوةًَ ْظ َه َر ق أ“Nampaknya quwwah (kekuatan) dan jur’ah (keberanian, kegagahan, ketekunan); kekuatan hati dalam menghadapi keputusasaan; tenang, sabar, menguasai diri.”ق وة معنوي ة تا ِ ك اإلننان م مقاومة ال ِا َس ، ومجابهة ال َخطر أو األلم , وتدفعه إلى العال بسزم“Kekuatan jiwa yang mengokohkan seorang manusia dalam melawan al-mihan (cobaan, bencana, musibah, kesengsaraan, kemalangan); serta menghadapi al-khathar (bahaya, C. SYAJA’AH
72resiko, kesulitan) atau kepedihan; juga menggerakkan/mendorong diri kepada suatu amal disertai tekad yang kuat.”ْسِب في البألْالقَِش دة “Kekuatan hati dalam menghadapi ketakutan/kengerian terhadap sesuatu.”Menurut istilah syaja’ah adalah keteguhan hati, kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara jantan dan terpuji. Jadi syaja’ah dapat diartikan keberanian yang berlandaskan ke benaran, dilakukan dengan penuh pertimbangan dan perhitungan untuk mengharapkan keridaan Allah Swt.Maka hakikatnya, syaja’ah (keberanian) adalah salah satu pembuktian dari sikap istiqomah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya kepada setiap hamba-hambaNya.Allah Ta’ala berfirman,ْعَال و َن بَ ِصيرِ َاا تَْوا إِنَّه بِم ْر َت َو َم ْ تَا َب َمعَ َك َوَال تَ ْطغَ ِق ْم َكَاا أا ْمستَفَArtinya:“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud, 11: 112)Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofi radhiallahu anhu dia berkata,Sumber: https://tarbawiyah.com/2018/01/24/asy-syajaah-keberanian
73sumber: http://awalilmu.blogspot.com/2018 تلْق : َحداً َ ل َعْنه أَْمسأَْوالً الَ أِم قَِإل ْمسالَْل ِلي فِي اْيَا َر مس ْو َل هللاِ ق َغْي َر َك . ا َل َّم َِ ق : اهللِ ث ْل آ َم ْن ت بق ِق ْما ْمستَArtinya: “Saya bertanya (kepada Rasulullah), ‘Wahai Rasulullah katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu’. Beliau menjawab, ‘Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian beristiqomah-lah’”.(HR. Muslim)Allah Swt. memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar tidak menjadi penakut dan pengecut. Karena rasa takut dan pengecut akan membawa kegagalan dan kekalahan. Keberanian adalah tuntutan keimanan. Iman pada Allah Swt. mengajarkan kita menjadi orang-orang yang berani menghadapiberagam tantangan dalam hidup ini. Tantangan utama yang kita hadapi adalah memperjuangkan kebenaran, meskipun harus menghadapi berbagai rintangan. Rasulullah saw. menjelaskan dalam sabdanya: Islam tidak menyukai orang yang lemah/penakut. Orang yang lemah/penakut biasanya tidak berani untuk mempertahankan hidup sehingga gampang putus asa. Keberanian (syaja’ah) merupakan jalan untuk mewujudkan sebuah ke menangan dalam keimanan. Tidak boleh ada kata gentar dan takut bagi muslim saat mengemban tugas bila ingin meraih memenangan. Semangat keimanan akan selalu menuntun mereka untuk tidak takut dan gentar sedikit pun. Firman Allah (Q.S. Ali Imran/3: 139): Artinya: “janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.Contoh nyata syaja’ah itu sebagaimana ditunjukkan oleh orang-orang beriman seperti yang diceritakan di dalam surat Al-Buruuj yang dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan keimanannya.
74Artinya:”binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”(Q.S. Al-Buruuj : 4-8)Begitu pula Asiah, istri Firaun dan Masyitah, pelayan Firaun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Fir’aun. Dan keberanian mereka dinukilkan dalalm sebuh kisah kehidupan Siti Masyitoh dan raja fir’aun: Firaun terkenal sebagai raja yang memiliki kekuasaan sangat besar. Namun, kekuasaan yang sangat besar itu membuat Firaun sombong dan angkuh. Firaun bahkan menganggap dirinya sebagai tuhan yang agung serta memusuhi siapa saja yang mereka menyembah tuhan selain dirinya. Dia akan membunuh mereka yang tidak mau mengakui dirinya sebagai tuhan.Tersebutlah seorang wanita bernama Siti Masyitoh yang bekerja dilingkungan kerajaan Firaun. Ia adalah seorang pembantu atau dayang bagi putri Firaun . Suatu hari, Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Firaun tersebut. Tiba tiba, tanpa sengaja sisir yang di pegangnya terjatuh kelantai. Dengan cepat, Siti Masyitoh mengambil sisir tersebut seraya menyebut nama Allah.Ucapan Siti Masyitoh ternyata terdengar oleh putri Firaun. Putri Firaun pun bertanya kepadaMasyitoh,”Apa yang engkau katakan barusan?”Masyitoh terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan putri Firaun, namun hanya sebentar. Lalu,dengan tenang ia menjawab,”saya tadi meyebut nama Allah.”Putri Firaun merasa aneh mendengar nama Allah karena ia belum pernah mendengar nama itu disebut-sebutoleh siapa pun selain oleh Masyitoh. Ia pun kemudian bertanya lagi,”Siapa itu Allah?”Siti Masyithah menjawab,”Allah adalah Tuhan saya yang telah menciptakan saya. Dia juga yang telah menciptakan Tuan Putri dan ayah Tuan Putri.””Apa maksudmu? Bukankah ayahku adalah tuhanku dan tuhanmu juga? Adakah Tuhan lain selain ayahku?” kata putri Firaun dengan nada tinggi.” Ayah Tuan Putri bukanlah Tuhan, melainkan manusia. Allah-lah tuhan seluruh manusia yang ada di alam ini,” jawab Siti Masyitoh tanpa ragu.Wajah putri Firaun memerah. Kemarahannya sebentar lagi akan meluap, dan dengan nada yang makin tinggi ia berkata,” Berani sekali kau! Sekarang, engkau harus tobat. Kalau tidak, aku akan memberitahukan hal ini kepada ayahku.”Dengan tegas dan penuh keyakinan, Siti Masyitoh berkata,”tuan putri,keyakinanku kepada Allah tidak akan pernah berubah. Jika Tuan Putri hendak memberitahu hal ini kepada ayah Tuan Putri, silahkan saja!”
75Dengan langkap cepat, putri Firaun bergegas menemui ayahnya dan memberitahukan peristiwa yang baru saja dialaminya. Ketika Firaun Mendengarnya, ia tampak sangat marah dan kemudian memanggil Siti Masyitoh.Siti Masyitoh kemudian dihadapkan kepada Firaun. Firaun memandang Siti Masyitoh dengan penuh kemarahan. Ia kemudian bertanya dengan pertanyaan yang sama, seperti yang ditanyakan putrinya. Jawaban yang keluar dari mulut Siti Masyitoh tetap tidak berbeda. Hal ini makin menambah kemarah Firaun karena ada seorang pembantunya yang tidak mengakuinya dirinya sebagai tuhan.Keesokan hari, keluarga Siti Masyitoh dibawa ke sebuah tempat yang lapang. Di sana telah tersedia wajan besar berisi minyak yang sangat panas. Ternyata Firaun hendak menghukum Siti Masyitoh dan keluarganya, termasuk anaknya yang masih bayi, dengan memasukannya ke dalam wajan besar itu jika Siti Masyitoh tetap tidak mengakui Firaun sebagai tuhan. Namun, keimanan Siti Masyitoh tidak luntur meski berhadapan dengan ancaman mengerikan itu.Melihat keyakinan Masyitoh yang tetap tidak berubah,Firaun kemudian memerintahkan para pengawal untuk melemparkan keluarga Siti Masyitoh satu per satu ke dalam minyak panas itu.Orang pertama yang dilemparkan ke dalam minyak panas itu adalah suaminya. Siti Masyitoh hanya bisa bersedih ketika melihat suaminya jatuh ke dalam minyak panas itu hingga syahid.Giliran berikut adalah anak yang masih bayi. Ia pandangi wajah anaknya yang sangat ia cintai. Ia tak tega melihat anaknya akan dilemparkan pula kedalam minyak yang sedang mendidih itu. Tiba-tiba, dengan kekuasaan Allah, anaknya yang masih bayi itu membuka mulut dan berbicara,”Ibu, jangan bersedih. Teruskanlah. Biar anakmu ini masuk ke dalam minyak panas itu. Allah telah menyediakan sebuah tempat bagi kita sekeluarga di surga.”Ucapan yang keluar dari mulut mungil itu tentu saja mengejutkan orang-orang yang ada disana. Dengan ucapan itu pula, Siti Masyitoh menjadi yakin kepada Allah. Tiba-tiba saja,anaknya telah melemparkan diri ke dalam minyak panas itu, lalu disusul oleh Siti Masyitoh. Keduanya kemudian meinggal sebagi syahid dengan keridaan dari Allah SWT.Keyakinan yang kokoh telah begitu mengakar dalam diri Siti Masyitoh dan keluarganya. Ia tidak pernah sedikitpun ragu bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan bagi seluruh makhluk.Dalam Peristiwa Isra’Mikraj, Nabi Muhammad SAW. Sampai disuatu tempat yang sangat harum. Malaikat Jibril memberitahukan bahwa tempat itu adalah tempat bagi Siti Masyitoh dan keluarganya disurga. Subhanallaah.Lawan dari as-syaja’ah adalah al-jubn (pengecut). Sikap seperti itu adalah sikap tercela sebagaimana ditegaskan di dalam hadits,
76ْي ِهَعلََبا ه َر ْي َرةَ يَق و ل َمسِا ْع ت َر مسو َل ََّّللاِ َصلَّى ََّّللا َا َل َمسِا ْع ت أِ َم ْر َوا َن قََع ْ َعْبِد الْعَِزيِز ْبح َهر َما فِي َر ج ٍل ش ٌَّم يَق و ل َشُّاِل ٌع َو جْب ٌ َخ َو َمسل اِل ٌع َّArtinya: “Dari Abdul ‘Aziz bin Marwan, ia berkata; saya mendengar Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” (HR. Abu Dawud) Sifat pengecut sangat berbahaya karena sikap pengecut adalah sikap yang tidak punya komitmen terhadap kebenaran, karena takut celaan manusia; takut kehilangan harta dunia; atau takut terhadap berbagai resiko perjuangan dalam menegakkan Agama Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ْصعَتِ َهاإِلَى قََكلَة َم م َكَاا تَ َدا َعى األَْي كم األ ْن تَ َدا َعى َعلَِ ي ْو ِش ك أ “ نَا يَ ْو َمئِ ٍذ ٍَة بَو ِم ْ قِلَّاَا َليَا َر مسْو َل هللاِ؟ ق : ” ْد نَ َز َل َِل، َوقَا ِ ال َنْيا ٌ َكغ ثَ كْم غثَِكنَّ كْم يَ ْو َمئِ ٍذَكثِ ْي ر ْو َن، َولَبَ ْل اِنََّو ك م الْب ْه “ قِ ْي َل: ا َل َِو ْه يَا َر مسْو َل َّللاِ ؟ قََو َما ال : ” َا ْو ِت ْالْب ال دْنيَا َو َكَرا ِهيَة ُّ حArtinya: “Kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok.” Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn.” Mereka bertanya lagi: “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Terlalu cinta dunia dan takut kepada mati” (HR. Abu Daud).oleh karenanya tercabutnya sifat syaja’ah dalam diri umat ini akan menyebabkan mereka kehilangan izzah (wibawa, kehormatan, dan kemuliaan).sumber : https://cahayawahyu.wordpress.comD. ‘ADIL
77Kata ‘adl adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘adala- ya‘dilu-‘adlan ( –لَ َعد– َل ُدِعَ ْيًدال ْع ( َyang maknanya adalah lurus. Berdasarkan mekna diatas, maka kata ‘adl berarti ‘menetapkan hukum dengan benar’, tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih, dan pada dasarnya seorang yang ‘adl berpihak kepada yang benar. Dengan demikian, ia melakukan sesuatu yang patut dan tidak sewenang-wenang Jadi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “adil” diartikan: (1) tidak beratsebelah/tidak memihak, (2) berpihak kepada kebenaran, dan (3) sepatutnya/tidak sewenang-wenang. Firman Allah dalam Al-quran (Q.S.An-Nisa’ ayat :58): Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.(Q.S.An-Nisa’ ayat :58)Dalam Surah Al-Maidah ayat 8 Allah berfirman: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Q.S. Al-Maidah : 8) Menurut M. Quraish Shihab, kata ‘adl di dalam Al-Qur’an memiliki aspek dan objek yang beragam, begitu pula pelakunya. Keragaman tersebut mengakibatkan keragaman makna ‘adl (keadilan). Ada empat makna kata adi dalam Al-quran yaitu: Pertama, adil dalam arti “sama”. Pengertian ini yang paling banyak terdapat di dalam Al-Qur’an, antara lain pada QS. An-Nisâ’ [4]: 3, 58, dan 129, QS. Asy-Syûrâ [42]: 15, QS. Al-Mâ’idah [5]: 8, QS. An-Nahl [16]: 76, 90, dan QS. Al-Hujurât [49]: 9. Kata ‘adl dengan arti ‘sama (persamaan)’ pada ayatayat tersebut yang dimaksud adalah persamaan di dalam hak. Kedua, adil dalam arti “seimbang”. Pengertian ini ditemukan di dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 95 dan QS. Al-Infithâr [82]: 7. Ketiga, adil adalah “perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”. Keempat, adil yang dinisbatkan kepada Ilahi. ‘Adl di sini
78berarti ‘memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, Keadilan Allah mengandung konsekuensi bahwa rahmat Allah swt. tidak tertahan untuk diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya. Allah memiliki hak atas semua yang ada, sedangkan semua yang ada tidak memiliki sesuatu di sisi-Nya. Di dalam pengertian inilah harus dipahami bahwa Allah swt. sebagai Qaiman bi al-qisth (Yang menegakkan keadilan). Firman Allah (QS. Al ‘Imrân [3]: 18): Artinya : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu[188] (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al ‘Imrân [3]: 18)Al-Ghazali dalam kitab al-Musthafa memberi definisi keadilan dalam riwayat dan pensaksian sebagai suatu ungkapan mengenai konsisten perjalanan hidup dalam agama, hasilnya merujuk kepada suatu keadaan yang mantap dalam jiwa yang menjamin melakukan taqwa dan mu’ruah (sikap jiwa) sehingga mencapai kepercayaan jiwa yang dibenarkan, maka tidak ada kepercayaan atas perkataan bagi orang yang takut Allah dari kebohongan. Jadi maksud keadilan di sini adalah penerimaan riwayat tanpa dibebani pencarian sebab-sebab adil dan kesucian diri. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : “Yang dimaksud dgn adil ialah orang yg mempunyai sifat ketaqwaan dan muru’ah”. Kriteria ‘adil menurut ahli hadits adalah orang yang muslim, merdeka, tidak melakukan dosa besar dan tidak terus menerus melakukan dosa kecil. Imam Syafii ditanya, “siapakah ‘adil itu?”, beliau menjawab, “Tidak ada orang yang selamat sama sekali dari maksiat, namun jika seseorang tidak melakukan dosa besar dan kebanyakan amalnya baik maka dia ‘adil.Sedangkan definisi keadilan menurut seorang hakim adalah hanya mencakup sikap dan perlakuan hakim pada saat proses pengambilan keputusan, “tidak berpihak” kepada salah seorang yang berselisih dan memberikan haknya kepada yang berhak menerimanya.Semntara menurut seorang hakim, adil sering diartikan sebagai sikap moderat, obyektif terhadap orang lain dalam memberikan hukum, sering diartikan pula dengan persamaan dan keseimbangan dalam memberikan hak orang lain, tanpa ada yang dilebihkan atau dikurangi. Sikap adil dalam syariah Islam dapat kita lihat dalam setiap sendi ajarannya,
79baik secara teoritis maupun aplikatif, tarbawiy (pendidikan) maupun tasyri’iy (peraturan).Islam mewajibkan ummatnya berlaku adil dalam semua urusan.Beberapa dalil dalam Al-quran yang memerintahkan kita untuk berlaku ‘adil:(QS. An Nisaa'/4:58 ): Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat” (QS. An Nisaa'/4:58 ).(QS. An-Nahl/16:90): Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(QS. An-Nahl/16:90).(Q.S. Al-An'am/6:152) : Artinya : “dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu)[519], dan penuhilah janji Allah[520]. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat” (Q.S. Al-An'am/6:152).‘Adl/Al-‘Adl (دل ْع ( َmerupakan salah satu sifat Allah dalam Al-asmaul husna, yang menunjuk kepada Allah sebagai pelaku. Di dalam kaidah bahasa Arab, apabila kata jadian (mashdar) digunakan untuk menunjuk kepada pelaku, maka hal tersebut mengandung arti ‘kesempurnaan’. Demikian halnya jika dinyatakan, Allah adalah Al-‘Adl (دلَ ْعْلَا = keadilan),
80maka ini berarti bahwa Dia adalah pelaku keadilan yang sempurna. Oleh sebab itu, manusia yang bermaksud meneladani sifat Allah yang ‘adl (دل ْع ( َini setelah meyakini keadilan Allah dituntut untuk menegakkan ke-adilan walau terhadap keluarga, ibu bapak, dan dirinya, bahkan terhadap musuhnya sekalipun.1. Definisi ikhlas menurut etimologi (menurut bahasa) Adalah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata “akhlasha”( اخلص ,( yang berarti bersih, murni, dan jernih. yang tidak tercampur dengan hal-hal yang bisa mencampurinya, sedangkan menurut istilah syar’i Ikhlas berarti, mendedikasikan dan mengorientasikan seluruh ucapan dan perbuatan, hidup dan mati, diam, gerak dan bicara, hingga seluruh amal perbuatan hanya untuk meraih keridhaan Allah2. Dalam bahasa Arab, kata jujur semakna dengan “as-sidqu” atau “siddiq” yang berarti benar, nyata, atau berkata benar. Secara istilah, jujur atau as-sidqu bermakna: kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, kesesuaian antara informasi dan kenyataan, ketegasan dan kemantapan hati dan sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan3. Ditinjau dari segi bahasa syaja’ah adalah: kekuatan hati dalam menghadapi keputusasaan; tenang, sabar, menguasai diri. Menurut istilah syaja’ah adalah keteguhan hati, kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara jantan dan terpuji. Jadi syaja’ah dapat diartikan keberanian yang berlandaskan ke benaran, dilakukan dengan penuh pertimbangan dan perhitungan untuk mengharapkan keridaan Allah Swt4. Kata ‘adl adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘adala- ya‘dilu-‘adlan ( – ل دِعَ ْي – ل َدَعًَدال ْع ( َyang maknanya adalah lurus. maka kata ‘adl berarti ‘menetapkan hukum dengan benar’, tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih, dan pada dasarnya seorang yang ‘adl berpihak kepada yang benar. 5. Menurut M. Quraish Shihab, kata ‘adl di dalam Al-Qur’an Ada empat makna yaitu: Pertama, adil dalam arti “sama”Kedua, adil dalam arti “seimbangKetiga, adil adalah “perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”. Keempat, adil yang dinisbatkan kepada Ilahi. ‘Adl di sini berarti ‘memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensiRangkuman
811. Jelaskan pengertian ikhlas menurut bahasa dan istilah ?2. Jelaskan manfaat kejujuran dalam kehidupan?3. sebutkan pembagian adil menurut Quraisyihab?4. Jelaskan pengertian syaja’ah?5. jelaskan hikmah dari syaja’ah?Evaluasi
82KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnyaKI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalahKI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuanPeta KonsepSyukur,Qana‘Ah RidaDan SabarQANA‘AHSABARRIDHAKOMPETENSI INTISYUKUR
831.6.Menghayati makna syukur, qana‘ah, rida, dan sabar2.6.Terbiasa bersyukur,qana‘ah,rida,dan sabardalam kehidupan3.6 Memahami makna syukur, qana‘ah, rida, dan sabar4.6. Menunjukkan contoh- contoh perilaku bersyukur, qana‘ah, rida, dan sabar1. Siswa dapat menjelaskan maknas yukur, qana‘ah, rida, dan sabar2. Siswa dapat menyebutkan perilaku syukur, qana‘ah, rida, dan sabar dalam kehidupan sehari-hari3. Siswa dapat menyebutkan dalil tentang syukur, qana‘ah, rida, dan sabar4. Siswa dapat menyebutkan manfaat bersikap syukur, qana‘ah, rida, dan sabardalam kehidupan sehari-hariKOMPETENSI DASAR (KD) TUJUAN PEMBELAJARANKata syukur diambil dari kata (شكرا – يشكر - شكر (yang berarti berterimakasih kepadaNya dan mengingat akan segala nikmat-Nya. Menurut bahasa syukur adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa menghormati serta mengagungkan atas segala nikmatNya, baik diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan melalui perbuatan. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa syukur menurut istilah adalah bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, lega, senang dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dimana rasa senang, lega itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.kesadaran bahwa nikmat tersebut adalah pemberian dari yang Maha Kuasa, dipergunakan dalam rangka ketaatan kapada Allah Swt dan tidak menyebabkan kita sombong dan lupa kepada yang memberikan nikmat tersebut. Hal tersebut telah ditegaskan dalam firman Allah (QS.An-Nahal /16:18): Artinya: “dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.An-Nahal /16:18)E. SYUKURF.
84Dan barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, maka Allah pun akan membalasnya. Sebagaimana firman Allah Swt: (QS. Ibrahim / 14 :7): Artinya: “dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; \"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih\".(QS. Ibrahim / 14 :7)Bentuk-Bentuk Syukur:Ulama tasawuf membagi syukur itu atas tiga bagian yaitu: 1) Syukur dengan Hati. Syukur hati yaitu menggambarkan dan selalu merasakan Kurnia Allah Swt, kemahamurahan dan anugrah-Nya. Serta merealisasikan perasaan tersebut menjadi perasaan cinta kepada Allah Swt, hal ini biasa dilakukan dengan sujud syukuruntuk ber terimakasih kepada Allah SWT. Sujud ini dilakukan saat seseorang memperoleh kenikmatan dari Allah SWT, atau selamat dari suatu musibah. Hukum sujud syukur ini adalah sunnah. Sumber: http://www.akidahislam.com/2017/06/pengertian-sujud-syukur-dan-sujud.html
85Sumber : https://www.hidayatullah.comHal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW :Artinya: “Dari Abi Bakrah ia berkata: bahwasannya Nabi Muhammad SAW apabila mendapatkan sesuatu yang disenangi atau diberi kabar gembira, segeralah tunduk dan sujud sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majjah dan At-Tirmidzi). Dari hadis tersebut jelas bahwa Rasulullah SAW menyuruh kita untuk bersujud syukur apabila kita mendapatkan berita gembira atau sesuatu yang kita senangi itu tercapai. Sebagai bentuk rasa terimakasih kita kepada Allah SWT, karena Allah lah yang telah memberikan apa yang kita harapkan.Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya: \"Empat perkara, barang siapa diberi keempatnya berarti ia telah mendapatkan kebaikan dunia akhirat: hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, diri yang selalu bersabar menghadapi bala' dan istri yang tidak berkhianat pada dirinya dan pada harta suaminya.” (‘Ash-Shabru wats Tsawabu'alaihi, tilisan Ibnu Abi Dunya hal. 36.) 2) Syukur dengan Lisan. Adapun syukur dengan lisan adalah penilaian hati, getaran hati yang menjalar kepada anggota badan melalui mulutnya yang senantiasa basah, memuji nikmat-Nya dan menyebut nama Allah Swt berupa wirid dan dzikir seperti tahmid, takbir, tasbih dan bentuk pujipujian yang lain terhadap Allah Swt. Termasuk dalam katagori syukur pada lisan ini ialah seorang yang sentiasa memuji-muji nikmat Allah di hadapan manusia lainya, mengajak manusia untuk sama-sama bersyukur dan menzhohirkan kesyukuran itu melalui ibadat dan majlis-majlis ilmu yang bertujuan untuk mengajak manusia supaya taat dan patuh kepada Allah Swt. 3) Syukur dengan Seluruh Anggota Tubuh. Selanjutnya yang termasuk dengan bersyukur pada seluruh anggota adalah kita telah menyadari bahwa seluruh anggota badan, jiwa dan raga milik Allah Swt semata. Kemudian kita menggunakan dan memakainya untuk hal-hal kebaikan juga. Dari mulai mata, telinga, tangan, kaki, mulut dan sebagainya itu semua milik Allah Swt dan kita harus menggunakannya untuk keridhoan Allah Swt juga.Misalnya menggunakan anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang baik di antaranya:a) menggunakan anggota tubuh untuk melakukan hal-hal yang positif dan diridhai AllahSwt.
86b) jika seseorang memperoleh nikmat harta benda, maka ia mempergunakan harta itusesuai dengan jalan Allah Swt.c) Jika nikmat yang diperolehnya berupa ilmu pengetahuan, ia akan memanfaatkan ilmuitu untuk keselamatan, kebahagian, dan kesejahteraan manusia dan diajarkan kepadaorang lain; bukan sebaliknya, ilmu yang diperoleh digunakan untuk membinasakandan menghancurkan kehidupan manusia.Sementara itu Imam Al-Ghazali menegaskan bahawa mensyukuri anggota tubuh yangdiberikan Allah Swt. meliputi 7 anggota badan yang penting yaitu:a) Mata, mensyukuri nikmat ini dengan tidak mempergunakannya untuk melihat hal-halyang maksiat;b) Telinga, digunakan hanya untuk mendengarkan hal-hal yang baik dan tidakmempergunakannya untuk hal-hal yang tidak boleh didengar;c) Lidah, dengan banyak mengucapkan zikir, mengucapkan puji-pujian kepada AllahSwt. dan mengungkapkan nikmat-nikmat yang diberikan.d) Tangan, digunakan untuk melakukan kebaikan-kebaikan terutama untuk dirisendiri, maupun untuk orang lain, dan tidak mempergunakannya untuk melakukan halhal yang haram;e) Perut, dipakai hanya untuk memakan makanan yang halal/baik dan tidak berlebihlebihan (mubazir). Makanan itu dimakan sekadar untuk menguatkan tubuhterutama untuk beribadath kepada Allah Swt.;f) Kemaluan, dijaga kehormatan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah seperti zina danpergaulan bebas.g) Kaki, digunakan untuk berjalan ke tempat-tempat yang baik, seperti ke masjid, naikhaji ke Baitullah (Ka’bah), mencari rezeki yang halal, dan menolong sesama umatmanusia.Itulah bentuk-bentuk kesyukuran, maka hendaknya kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt yakni dengan terus memuji, baik itu dengan hati, lisan ataupun anggota badan. Maka syukur nikmat bisa berarti bahwa kita sentiasa ingat, sadar, memahami, mengerti, mengucapkan, melaksanakan dan senantiasa memandang kepada Yang Memberi Nikmat yaitu Allah Swt. Dan ini merupakan salah satu sikap dari orang yang beriman, yang selalu menyadari kelemahannya di hadapan Allah, mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala
87sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka. Menurut bahasa qana’ah artinya merasa cukup terhadap pemberian rezeki dari Allah Swt. Sedangkan menurut istilah qana’ah adalah rela dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menghindari rasa tidak puas dalam menerima pemberian dari Allah Swt. Dengan sikap inilah maka jiwa akan menjadi tentram dan terjauh dari sifat serakah atau tamak. Meskipun demikian bukan berarti bermalas-malas, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, melainkan dianjurkan berusaha dengan giat, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang dicita- citakan, tetap dengan rela hati menerima hasil tersebut dengan syukur dan lapang dada. Sikap demikian dapat mendatangkan ketentraman hidup tanpa melupakan kesejahteraan.Qona’ah adalah sikap dasar setiap muslim. Karena sikap tersebut akan menjadipengendali agar tidak larut kesedihan dan putus asa dan tidak membuat orang tamak dan serakah . Firman Allah (QS. Al-Ahqaf /46: 20): Artinya: “dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada B. QANA‘AHG.Sumber: http://www.suaramuhammadiyah.id/2017/07/13/indahnya-hidup-sederhana/
88mereka dikatakan): \"Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik\". (QS. Al-Ahqaf /46: 20)Qona’ah dalam kehidupan pribadi seorang muslim juga berfungsi sebagai:1. Stabilisator, maksudnya apabila seorang muslim telah memiliki sifat qana’ah, makaia akan selalu berhati tenteram, berlapang dada, merasa puas dengan apa yangdimilikinya, merasa kaya dan terhindar dari sifat rakus, serakah dan tamak. Orang yang bersifat qanaah tidak mudah putus asa atas ujian dan cobaan yang diberikan Allah Swt, baik berupa ketakutan, kelaparan, bencana, maupun kekurangan harta benda. Akan tetapi, mereka akan tetap bersabar menerima ujian tersebut dan tidak patah semangat untuk menjalani kehidupannya kembali. Hal ini sebagaimana Firman Allah Swt (QS Al Baqarah:155): Artinya: “dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar\".(QS Al Baqarah:155)2. Dinamisator, maksudnya apabila seorang muslim telah memiliki sifat qana’ah makaia akan mempunyai kekuatan batin yang selalu mendorong untuk mencapaikemajuan hidup berdasarkan keadaan dan kekuatan yang dimilikinya dengan tetapbergantung kepada kehendak dan karunia Allah. Dengan demikian ia akan terhindardari cara-cara yang menghalalkan segala cara dengan memperturutkan hawa nafsunyauntuk meraih kemajuan hidupnya yang biasanya dilakukan oleh orang-orang kafir. Pada hakikatnya kekayaan bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, karena kebanyakan orang yang diberi kelapangan harta oleh Allah justru tidak merasa cukup dengan apa yangdiberikan kepadanya. Dengan demikian qana’ah merupakan ketanangan dan kekayaan hatiDalil tentang qanaah:1. Firman Allah Swt (QS Hud : 6) : Artinya: “Dan tidak ada sesuatu binatang melata pun di bumi ini, melainkan Allahlah yang memberi rezekinya.”(QS Hud : 6)
892. Rasulullah bersabda dalam hadits Abu Hurairah : ِغنَى ِغنَى النَّ ْف ِسِْك َّن الَولَعَ َر ِض،َْرةِ الِْغنَى َع ْن َكثَْس الْيلَArtinya : “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 2417) 3. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ْمْن لََِوإْع ِط َى َر ِض َى ،ُْن أَِص ِة ، إَخِميَْوالِةِطيفَقََْوالِر َوالِد ْر َهِمِع َس َعْبدُ الِد ينَاتَْم يَ ْر َضيُ ْع َط لَArtinya: “Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian dan hamba mode. Jika diberi, ia ridho. Namun jika tidak diberi, ia pun tidak ridho”. (HR. Bukhari no. 6435) 4. Dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ِن آَجْو َف اْبَوالَ يَ ْمألُا ،اِلثًْبتَغَى ثَِن ِم ْن َما ٍل الََ َواِديَاِن آدَمْو َكا َن ِالْبلَِالَّإَدَمَويَتُو ُب ََّّللاُ َعلَى َم ْن تَا َبَرا ُب ،ُّالتArtinya: “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436) 5. Dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,َعْي َن اَوالَ يَ ْمألُلَهُ ،ْْي ِه ِمثلََِّن لَهُ إََح َّب أَل َواٍد َماالً ألَِْمثَِن آدَمَّن ِالْبَْو ألَِالَّإَِن آدَمْبَويَتُو ُب ََّّللاُ َعلَى َم ْن تَا َبَرا ُب ،ُّالتArtinya: “Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6437) 6. Ibnu Az Zubair pernah berkhutbah di Makkah, lalu ia mengatakan,ِ َّىَّن النَّبَِها النَّا ُس إُّيْع ِط َى » يَا أ – ملسو هيلع هللا ىلص – َكا َن يَقُو ُل َُأََّن اْب َن آدَمَْو أل ِم ْن ََمألًَواِديًاَِن آدَمَجْو َف اْبَُّوالَ يَ ُسدا ،اِلثًْي ِه ثَلََِح َّب إَانِيًا أْع ِط َى ثَُْو أَولَانِيًا ،ْي ِه ثَلََِح َّب إََه ٍب أذََويَتُو ُب ََّّللاُ َعلَى َم ْن تَا َبَرا ُب ،ُّالتِالَّ« إArtinya: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)
907. Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW. Bersabda: عن ابى هريرة رضى هللا عنه : قال رسول هللا صلى هللا عليه و سلم. انظروا الى من اسفل منكم, وال تنظروا الى من هو فوقكم فهو اجدر ان ال تزدروا نعمة هللا عليكم. )متفق عليه( Artinya; “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Muttafaqun Alaih)HIKMAH QANA’AHSikap qana’ah perlu kita bina sejak masih kecil. Sikap qana’ah ini berkaitan erat dengan berapa dan apa harta yang ia dapatkan di dunia. Jika kita mampu mengendalikan diri dari urusan-urusan dunia, maka pembiasaan qana’ah inilah yang berperan aktif. Pembiasaan qana’ah dapat diterapkan dengan hidup sederhana, mensyukuri setiap mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan tidak mengeluh atas kondisi hidup yang sedang dijalaninya dan tidak mengharap apa yang dipunyai orang lain. Qana’ah dalam kaitannya dengan siswa dapat dibiasakan melalui pemberian uang jajan yang tidak melebihi batas kewajaran. Setiap siswa pasti mendapatkan uang jajan dari orang tuanya ketika pergi ke sekolah. Sebagai siswa yang baik, kamu harus mensyukuri berapapun uang yang dikasih oleh orang tua. Bahkan kalau perlu kamu tidak jajan dan menabung uang tersebut. Hikmah sifat qana'ah, di antaranya adalah:a) Bersyukur apabila berhasil dalam usahanya dan jauh dari sifat sombong.b) Bersabar dan berlapang dada apabila gagal dan jauh darisifatfrustasi.c) Memiliki hati yang tenteram dan damai.d) Merasa kaya dan berkecukupan.e) Hidupnya selalu merasa lebih tenang dan tentram. f) Menumbuhkan sikap optimis dalam setiap usahag) Tidak mudah berputus asa.h) Mampu menjauhkan dari sikap iri. i) Membebaskan diri dari sikap rakus dan tamak.j) Hidup hemat, tidak bergaya hidup lebih besar pasak daripada tiang.k) Menyadari bahwa harta berfungsi sebagai bekal ibadah.l) Menyadari bahwa kaya danmiskinitutidak terletak pada harta,tetapi pada hati.
91Contoh Perilaku Qana’ahShofa adalah seorang siswa kelas X di sebuah MA swasta favorit di Kota Jayapura. Setiap hari ia pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Padahal jarak rumah menuju sekolahnya kurang lebih 9 KM. Shofa bersyukur kepada Allah Swt, karena orang tuanya masih mampu menyekolahkan sampai tingkat MA. Ia berangkat ke sekolah pagipagi benar agar tidak terlambat datang ke sekolah. Shofa tidak merasa canggung dengan teman-temannya yang berasal dari perkotaan. Teman-temannya dari kota difasilitasi oleh orang tuanya sepeda motor. Shofa tetap setia berjalan kaki pergi ke sekolah. Walaupun sebenarnya orang tuanya sudah membelikan sepeda motor. Bagaimana sikap kamu jika menjadi Shofa? Berikut beberapa sikap yang mencerminkan qana’ah: 1. Senantiasa bersyukur atas nikmat Allah Swt. 2. Senantiasa mau berinfak dijalan Allah Swt. 3. Tidak putus asa/cemas dalam menghadapi masalah4. Giat bekerja dan berusaha untuk mencapai hasil terbaik.5. Hidupnya sederhana, tidak rakus dan tidak tamak.6. Selalu yakin bahwa apa yang didapatnya merupakan anugerah Allah SWT.Secara etimologi kata Ridha merupakan ism masdar dari kata radhiya-yardha yang berarti puas, rela hati, menerima dengan lapang dada atau pasrah terhadap sesuatu. Dengankata lain yang dimaksud dengan ridha secara harfiah yaitu rela, suka, atau senang. Al-ridhamerupakan sebuah kata yang sudah menjadi bahasa Indonesia yaitu ridha atau rela. Secara terminology ridha berarti menerima semua kejadian yang menimpa dirinya dengan lapang dada, menghadapinya dengan tabah, tidak merasa kesal dan tidak berputus asa. Dengan katalain ridha berarti kerelaan yang tinggi terhadap apapun yang diberikan Allah baiksesuatu yang menyenangkan atau tidak sebagai sebuah anugerah yang istimewa pada dirinya. Orang yang ridha mampu melihat hikmah dan kebaikan dibalik cobaan yang diberikan oleh Allah SWT dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuannya-Nya. Terlebihlagi, ia mampu melihat keagungan, kebesaran, dan kemahasempurnaan Dzat yang memberikan cobaan kepada-nya sehingga tidak mengeluh dan tidak merasakan sakit atas cobaan tersebut. Mereka bahkan merasakan musibah dan ujian sebagai suatu nikmat, lantaran jiwanya bertemu dengan yang dicintainya.C. RIDHAH.
92Dalil tentang ridha:1. Surat At-Taubah ayat: 96: Artinya: “mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. tetapi jika Sekiranya kamu ridha kepada mereka, Sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang Fasik itu”. (Q.S. At-Taubah :96)2. Surat Al-Bayyinah ayat: 8 Artinya: Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya.yang demikian itu adalah (balasan) bagi orangyang takut kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Bayyinah 8)3. Surat Al-Ma’idah ayat: 119 Artinya: Allah berfirman: \"Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yangbenar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai;mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulahkeberuntungan yang paling besar\".(Q.S. Al-Ma’idah 119)4. Surat at-Taubah ayat: 72 Artinya: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai- sungai, kekal mereka di dalamnya,dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalahlebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar”. (Q.S. at-Taubah 72)5. Rasulullah SAW bersabda:, نولوقيف: كاضرنإ هللا احبس هن یاجتي نيملسملل لوقيو: ينولس
93Artinya: “sesungguhnya Allah SWT akan menampakkan diri kepada kaum muslimin dan berkata,’mintalah kepada-Ku’, mereka berkata, ‘(kami meminta) ridha-Mu,”’ (HR Hakim)Contoh perilaku ridha 1. Selalu bersikap menerima dengan senang hati dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah swt.2. Selalu bertawakal kepada Allah swt setelah berikhtiar semaksimal mungkin3. Menerima dengan senang hati, ikhlas dan lapang dada atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allah swt.4. Mensyukuri segara nikmat yang telah Allah swt berikan kepada kita5. Sabar dan ta'bah ketika mendapatkan cobaan atau musibah6. Selalu berprasangka baik kepada Allah swt, bahwa yang telah ditakdirkan kepada kita adalah yang terbaik untuk kita.Hikmah berperilaku ridha1. Menjadi pribadi yang bersahaja dan jauh dari sifat iri dan dengki kepada sesama2. Memiliki jiwa yang ikhlas, suka memberi dan menolong tanpa pamrih3. Dapat hidup dengan tentram dan tenang.4. Menjadi pribadi yang sederhana, tidak sombong dan tidak berlebihan.5. Menjadi pribadi yang legowo, dan senantiasa bersyukur kepada Allah swt.6. Dapat menjalankan ibadah dengan khusyu' karena pikiran dari hatinya yang pasrah kepada Allah7. Lebih ta'bah dan sabar dalam menghadapi cobaan, karena perilaku Ridha jugamengajarkan kita untuk bersabar dan menerima apa yang terjadi pada diri kita.Sabar menurut bahasa yaitu suatu sikap menahan diri dari emosi, dan keinginan, dan juga bertahan dalam situasi yang sulit dan tidak mengeluh. Menurut istilah Sabar adalahmenerima segala sesuatu yang terjadi dengan senang hati. Sabar merupakan pengendalian diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa. Apabila semakin tinggi kesabaran yang dimiliki seseorang, maka semakin kuat pula orang tersebut dalam menghadapi segala macam masalah yang menghadapinya dalam kehidupan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarh Tsalatsatul Ushul berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan D. SABARI.
94kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir AllahSumber: http://www.akhyar.tv/sabar-dalam-menghadapi-ujianDalil tentang sabar:1. Firman (Q.S. Aali ‘Imraan: 200) Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)2. Dan Allah Ta’ala berfirman (Al-Baqarah:155): Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)3. Dan Allah Ta’ala berfirman(Az-Zumar:10):
95 Artinya : “Katakanlah: \"Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu\". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar:10)4. Dan Allah Ta’ala berfirman:(Q.S. Asy-Syuuraa:43) Artinya : “Tetapi orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuuraa:43)Pembagian sabar:Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang laina. Sabar dalam ibadah (dalam menjalankan ketaatan kepada Allah)Uuntuk melaksankan ibadah membutuhkan kesabaran, sabar untukmemulai dan sabar untuk melaksankannya, banyak di antara kita yang kurang sabardalam melaksankan ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Demikian pula saat kitasedang melaksanakan ibadah, sering kali kita tidak sabar sehingga kualitas ibadahkita menjadi tidak baik. Suatu contoh ketika kita sedang shalat, karena kita kurangsabar maka shalat tersebut kita laksanakan dengan tergesa-gesa. Demikian pula orangyang ingin menunaikan ibadah haji ia mesti sabar untuk menabung sedikit demi sedikitdan siap mental dalam melaksanakannya.b. Sabar dalam meninggalkan maksiat (hal-hal yang diharamkan Allah)Dalam benak kita, mungkin kita menganggap bahwa maksiat adalahsesuatu yang indah, nikmat,dan mengasyikan. Zina dinggap nikmat, ,judidianggap akan membuat seseorang kaya raya, mencuri merupakan cara yang praktisuntuk mencari harta, mabuk mabukan adalah sesuatu yang membanggakan dan lain
96sebagainya. Semua anggapan tersebut tentunya bisikan syetan yang dihembuskanlewat benak dan pikiran kita. Untuk menghindari perbuatan perbuatan maksiat tersebutsungguh sangat membutuhkan kesabaran. Demikian pula dengan seseorang yangtelah terbiasa melaksanakan perbuatan maksiat, misalnya ia terbiasa mabukmabukan, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, main togel, berzina, dansebagainya. Untuk berhenti, insyaf dan bertobat dari perbuatan-perbuatan terlarangtersebut sungguh merupakan perjuangan yang berat dan membutuhkan kesabaran.c . Sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah (musibah).Dalam hidup ini hanya ada dua kenyataan yaitu bahagia atau sengsara, senangatau susah, berhasil atau gagal. Tidak mungkin kita akan bahagia, atau senang terusmenerus, ada kalanya kita sedikit sengsara, susah atau pernah mengalami gagal. Semuaitu harus kita hadapi dengan sikap yang benar. Jika kita sedang bahagia, senang danberhasil, maka kita harus bersyukur dan ingat kepada Allah, memahasucikan Allah(tasbih), memuji-Nya, dan beristighfar. Demikian pula jika kita amati secara cermat,siapakah manusia yang tidak mengalami ujian, apakah yang menimpa terhadap dirisendiri, atau keluarga, apakah itu berupa kekurangan harta, kesehatan yangterganggu, ditinggal oleh orang-orang dekat dan lain sebagainya. Musibah mestidihadapi dengan sabar, tabah dan senantiasa meminta pertolongan kepada Allah agardiberi jalan keluar atau kekuatan untuk menjalaninya. Dan berikan kabar gembirakepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibahkepada mereka, mereka mengatakan: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dankepada Allah kami akan kembali. (QS.Al Baqarah /2 : 154) Dan sungguh akan Kamiberikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yangsabar, (QS.Al-Baqarah /2 : 154)Menurut Imam Al-Ghazali sabar adalah kesanggupan untukmengendalikan diri, maka kesabaran merupakam upaya pengendalian nafsu yang adadalam diri manusia. Dalam upaya mengendalikan nafsu, manusia menjadi tigatingkatan, yaitu:a. Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya, karena ia mempunyai dayajuang dan kesabaran yang tinggi. b. Orang yang kalah oleh hawa nafsunya. Ia telah mencoba untuk bertahan atasdorongan nafsunya, tetapi kesabarannya lemah, maka ia kalah.c. Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsunya, tetapi suatu