MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
i
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Menajemen Kepala Sekolah
Penulis :
Hatari Marwina Siagian, S.Pd.
Herni Meilani, S.Pd.
Dr. M.Joharis Lubis, M.M., M.Pd.
Dr. Darwin, S.T., M.Pd.
Editor:
Gihari Eko Prasetyo. S.Pd, M.Pd
Tata Sampul
Nabila Veronika
Tata Isi:
Muhammad Aditya
Pracetak:
Iqbal Ramadhan
Penerbit
Al Maksum Langkat Press
Alamat :
Jalan Batang Serangan No. 04 Batang Serangan, Stabat,
Langkat, Sumatera Utara, Indonesia
Telp: (061) 8911655 / 0822 7422 7469
e-mail: [email protected]:
www.stkipalmaksum.ac.id
Cetakan Pertama, Mei 2022
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izintertulis
dari penerbit.
Isi diluar tanggung jawab percetakan
ii
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan petunjuk-Nya
sehingga penulisan bahan ajar Leadership dapat diselesaikan meskipun dalam bentuk yang
sederhana.
Materi ini sangat membantu mahasiswa dalam memahami konsep kepemimpinan kepala
sekolah dalam menerapkan manajemen berbasis sekolah. Buku ini disusun sebagai bahan/materi
mata kuliah Leadership untuk membantu mahasiswa sebagai peserta kuliah tersebut sehingga
mereka dapat mengimplementasikan ilmu konsep Leadership, sehingga dalam proses
pembelajaran lebih optimal.
Adapun isi buku ajar ini disusun berdasarkan analisis hasil observasi yang dapat menjadi
pegangan bagi dosen dan mahasiswa dan para pembaca lainnya dalam mempelajari
Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah. Akan tetapi
masih banyak alternative ataupun materi pengembangan yang dapat dilakukan melalui rujukan
lain yang dapat melengkapi kebutuhan literature pembaca. Untuk itu mahasiswa dan pembaca
dapat mengembangkan sendiri dan membandingkan serta melengkapi hal-hal yang masih kurang
dari buku ini. Penulis menyadari bahwa buku ini tidaklah luput dari berbagai kekurangan-
kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan masukan, kritik dan saran untuk
penyempurnaan pada masa yang akan datang. Akhirnya penulis sampaikan terimakasih dengan
harapan kiranya buku ini dapat bermanfaat.
Medan, Maret 2022
Penulis,
ii
iii
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAB I KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH ................................................ 1
A. Pendahuluan .............................................................................................. 1
B. Hakikat Kepemimpinan ............................................................................. 5
C. Fungsi Kepemimpinan.............................................................................. 8
D. Karakter Pemimpin Ditnjau ..................................................................... 11
E. Gaya Kepemimpinan .............................................................................. 13
F. Kompetensi Dasar Kepala Sekolah ......................................................... 15
G. Standar Kepala Sekolah .......................................................................... 19
H. Posisi Kepala Sekolah.............................................................................. 20
I. Tugas Dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah.......................................... 22
J. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Efektif......................................... 24
BAB II MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH............................................... 26
A. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah................................................ 26
B. Pentingnya Pengetahuan Manajemen Bagi Kepala Sekolah ................... 32
C. Manajemen Berbasis Sekolah Sebagai Paradigma Baru Penyelenggara
Pendidikan .............................................................................................. 35
D. Tujuan Dan Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah................................ 37
E. Prinsip-Prinsip Manajemen Berbasis Sekolah......................................... 39
iiivi
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB III KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENERAPKAN MANAJEMEN
BERBASIS SEKOLAH...................................................................................... 43
A. Karakteristik Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menerapkan
Manajemen Berbasis Sekolah .......................................................................... 43
B. Profesional Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Menerapkan
Manajemen Berbasis Sekolah ........................................................................... 44
C. Faktor Penukung Dan Penghambat Manajemen Berbasis Sekolah ........ 45
D. Strategi Yang Harus Dilakukan Agar MBS Berjalan Dengan Baik........ 51
BAB IV PENTINGNYA KEMANDIRIAB BAGI KEPALA SEKOLAH ...56
A. Hakikat Kemandirian ............................................................................. 56
B. Kemandirian Kepala Sekolah................................................................. 61
BAB V MOTIVASI SERTA KEUNGGULAN BERSAING KEPALA
SEKOLAH......................................................................................................... 62
A. Motivasi.................................................................................................. 62
B. Hubungan Antara Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Motivasi......... 70
C. Keunggulan Bersaing Kepala Sekolah................................................... 71
D. Hubungah Antara Motivasi Dengan Keunggulan Bersaing Kepala
Sekolah ............................................................................................................. 72
BAB VI KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH YANG IDEAL ............ 74
A. Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Ideal .......................................... 74
B. Pentingnya Menjadi Kepala Sekolah Yang Ideal................................... 83
BAB VII PENGARUH PENGETAHUAN MANAJEMEN DENGAN
KEMANDIRIAN BAGI KEPALA SEKOLAH............................................. 84
BAB VIII IMPLEMENTASI MANAJEMEN KEPEMIMPINAN
ivv
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
KEPALA SEKOLAH ....................................................................................... 87
A. Fenomena Kepemimpinan Kepala Sekolah ........................................... 87
B. Implementasi Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah .................. 91
BAB IX ANALISIS MANAJEMEN KEPEMIMPINAN KEPALA
SEKOLAH......................................................................................................... 94
A. Analisis Kinerja Kepala Sekolah............................................................ 94
B. Analisis Kinerja Guru Dalam Bentuk Manajemen Kepala Sekolah ...... 96
C. Analisis Manajemen Kepala Sekolah..................................................... 99
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 100
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ 107
v
vi
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
I
A. PENDAHULUAN
Mendidik bangsa adalah membuka amanat UUD 1945 yang harus dilaksanakan oleh
pemerintah dan masyarakat. Dengan kecerdasan, berbagai masalah dan tantangan dapat dengan
mudah diatasi. Kecerdasan dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan nonformal. Berbagai
seminar dan melalui media massa dapat dilihat bahwa banyak negara maju seperti Singapura,
Malaysia, Jepang, Korea yang memiliki sumber daya alam yang terbatas mampu membangun
masyarakat yang sejahtera. Negara-negara tersebut sangat memperhatikan kualitas pendidikan
sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Bermacam-macam jenjang pendidikan yang diterapkan banyak negara sebagian besar
dibagi dalam 3 tahap yaitu dimulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Sebagai
suatu sistem pendidikan mempunyai berbagai subsistem. Subsistem yang dominan
mempengaruhi mutu pendidikan adalah tenaga pendidik baik di tingkat dasar maupun
perdosenan tinggi, karena tenaga pendidik yang dalam fungsi dan tugasnya berinteraksi langsung
dengan peserta didik. Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar ideal dan pembelajaran ideal, agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak yang mulia, serta keterampilan lainnya yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Al Faruq & Supriyanto, 2020).
Lembaga pendidikan selalu mengalami perkembangan di sekolah dapat membawa
perubahan dilingkungan sekolah tersebut, salah satu aspek budaya sekolah, iklim sekolah,
komunikasi, kinerja guru serta peraturan yang ada di dalam sekolah, perkembangan sekolah
hendaknya membawa perubahan yang positif terhadap lingkungan sekolah dalam hal ini guru
merasa senang dan nyaman di sekolah karena selalu mendapatkan dukungan dari kepala sekolah
dari setiap aktivitas yang dilakukan berkaitan dengan mutu pembelajaran di sekolah Gaya
kepemimpinan ialah pola- pola perilaku pemimpin yang digunakan untuk mempengaruhi
1
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
aktivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan dalam suatu situasi organisasinya
yang dapat berubah (Azizzah, 2018) (Yuningsih & Herawan, 2015) (Hakim & Yahya, 2014)
Kepemimpinan transformasional kepala sekolah teknik kepemimpinan yang dilakukan bawahan
yang dipimpin dijadikan patner kerja, bukan antara atasan dan bawahan, saling memberikan
motivasi, membangun kerjasama, dalam rangka meningkatkan kinerja guru. Jika kepala sekolah
yang transformasi mampu memberikan perubahan kepada sekolah terutama dalam peningkatan
mutu pembelajaran yang dihalatkan dari mutu lulusan yang diterima sekolah menengah atas yang
paforit dan berkualitas, gaya kepemimpinan ini cukup memberikan perubahan yang sangat
singnifikan dalam meningkatkan mutu sekolah dan memberikan semangat kepada warga sekolah
untuk berprestasi sesuai dengan bidang kahlian dan kemampuan masing-masing. Kepala sekolah
selalu terbuka dari setia permasalahan yang dihadapi warga sekolah. Masalah yang sering
muncul adalah kepemimpinan dari kepala sekolah. Hal ini dapat dilihat dari kepala sekolah
kurang memberikan pengarahan kepada guru yang menyangkut permasalahan sekolah, kurang
adanya pendekatan kepala sekolah kepada guru, sehingga guru kurang bersemangat dalam
mencapai tujuan organisasi, kurangnya upaya kepala sekolah dalam mengubah kesadaran yang
dimiliki oleh guru. Hal ini tentu saja dapat membuat kualitas pembelajaran yang ada disekolah
menjadi menurun.
Pendidikan memegang peran yang sangat penting di dalam proses peningkatan kualitas
sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan proses yang terintegrasi
dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri (Wijaya, 2009; Apriana
dkk, 2019; Maryanti dkk, 2020; Kristiawan, 2015). Menyadari akan pentingnya proses
peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut, maka usaha untuk bangunan pendidikan
yang yang bermutu menjadi tujuan utama pendidikan Nasional saat ini dan investasi besar untuk
masa yang akan datang (Tobari dkk, 2018; Fathurrochman dkk, 2019).
Dalam upaya mencerdaskan peserta didik, sikap profesionalisme guru sangat penting
untuk menjadi prinsip dasar yang melandasi kegiatan inti lembaga pendidikan yaitu proses
pembelajaran. Akan tetapi, rendahnya kualitas guru merupakan salah satu masalah utama dalam
dunia pendidikan. Padahal, guru berkualitas merupakan salah satu komponen yang sangat
penting dalam menentukan keberhasilan mencapai tujuan pendidikan (Sinaga, 2018). Secara
spesifik, Danim (2011) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia
2
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai. Ini
menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajat penguasaan
kompetensi yang memadai. Jika masalah-masalah tersebut tidak diatasi, maka akan berdampak
pada rendahnya mutu pendidikan.
Oleh karena itu pembinaan profesionalisme guru menjadi suatu keharusan yang tidak
boleh diabaikan. Depdikbud (2014) menjelaskan bahwa pembinaan adalah usaha memberi
bantuan pada guru untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan mengajar dan
menumbuhkan sikap profesional, sehingga guru menjadi lebih ahli mengelola kegiatan belajar
mengajar dalam membelajarkan anak didik. Kemudian Sukirman (2008) yang mengemukakan
bahwa pembinaan profesionalime guru merupakan usaha yang dilakukan untuk memajukan dan
meningkatkan mutu serta efisiensi kerja seluruh tenaga personalia yang berbeda dalam
lingkungan sekolah baik tenaga edukatif maupun administratif.
Dengan demikian, pembinaan pofesionalisme guru merupakan langkah yang perlu
dilakukan oleh lembaga sekolah untuk meningkatkan kompetensi profesionalisme guru.
Sebagaimana pernyataan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen
Pendidikan Nasional (Wijaya, 2009), standar kompetensi guru terkait dengan 1) komponen
kompetensi pengelolaan pembelajaran dan wawasan pendidikan; 2) komponen kompetensi
akademik/vokasional sesuai materi pembelajaran; serta 3) pengembangan profesi. Ketiga
komponen standar kompetensi guru tersebut mewadahi kompetensi profesional, personal, dan
social yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pengembangan standar kompetensi guru diarahkan
pada peningkatan kualitas guru serta pola pembinaan profesionalisme guru yang terstruktur dan
sistematis.
Holmes (2013) mengatakan bahwa kompetensi dapat dijelaskan dengan kondisi di mana
seseorang bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu yang seyogianya mampu dilakukan. Itu
menggambarkan tindakan, perilaku, dan hasil di mana seseorang seyogianya mampu
ditampilkannya. Dengan demikian, pembinaan profesionalisme guru terkait dengan upaya untuk
meningkatkan kompetensi yang pada dasarnya menggambarkan apa yang seharusnya dapat
dilakukan (be able to do) guru melalui pekerjaan, perilaku, dan hasil yang dapat ditampilkan oleh
karenanya, pembinaan kepala sekolah terhadap guru harus menyentuh pada asepek kemampuan
3
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
(ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill) guru
(Liskayani dkk, 2019).
Dalam upaya membina dan meningkatkan profesionalisme guru. Ada beberapa kendala
yang ditemui oleh lembaga sekolah yang harus menjadi perhatian. Kendala tersebut adalah 1)
pengembangan kualitas guru tidak bersifat instant atau merupakan investasi jangka panjang
(long-term investment). Sementara masyarakat cenderung menginginkan perubahan serta
perkembangan yang bersifat riil dan konkret; 2) pengembangan kualitas guru mengarah kepada
peningkatan soft skill yang tidak berwujud secara fisik yang dapat diketahui tingkat
keberhasilannya dalam waktu yang relatif lama; 3) pengembangan kualitas guru menuntut
perencanaan dan pelaksanaan program yang berkesinambungan. Tanpa pengembangan yang
berkesinambungan, maka kompetensi guru akan semakin memudar seiring dengan berjalannya
waktu; 4) rawan terjadinya pembajakan atas guru telah dilakukan up-grade oleh institusi-institusi
lainnya dengan berbagai motivasi (Ubrodiyanto, 2007).
Untuk itu, mengatasi kendala di atas, dibutuhkan seorang kepala sekolah yang memiliki
kemampuan manajerial yang kuat baik itu kepemimpinan dalam pembelajaran maupun
kepemimpinan dalam mengelola lembaga pendidikan (Andriani dkk, 2018; Cunningham dan
Paula, 2003). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Basri (2014: 47) bahwa keberhasilan kepala
sekolah dalam melaksanakan tugasnya sangat ditentukan oleh kepemimpinannya dalam
menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi, dan mengarahkan orang-orang yang ada
dalam lembaga pendidikan itu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Terkait pembinaan
profesionalisme guru, Chan dan Sam (2005) mengemukakan bahwa kunci keberhasilan kepala
sekolah selaku supervisor di sekolahnya adalah mengusahakan peningkatan kemampuan para
guru dan stafnya untuk secara Bersama-sama mengembangkan situasi belajar mengajar yang
kondusif.
Kemampuan manajemen kepala sekolah adalah kemampuan kepala sekolah dalam
mengelola lembaga pendidikan melalui fungsi manajerialnya (Kristiawan dkk, 2017). Menurut
Siswanto (2005) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan
pengendalian anggota organisasi dan penggunaan seluruh sumber daya organisasi lainnya demi
tercapainya tujuan organisasi. Untuk mewujudkan pengelolaan yang baik dalam sebuah
organisasi diperlukan seorang manajer yang mempunyai kemampuan profesional dibidangnya,
4
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
dan itu juga berlaku di dunia pendidikan khususnya sekolah, kualitas pengelolaan sekolah akan
tergantung kepada seorang kepala sekolah yang berperan sebagai manajer. Sebagai seorang
manajer, kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar dalam mengelola
sekolahnya. Keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola sekolahnya tidak akan terlepas dari
kemampuan kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah dalam melaksanakan fungsi dan peran
sebagai manajer (Muslimin, 2018).
Untuk itu seorang kepala sekolah dituntut mampu memiliki kesiapan dalam mengelola
sekolah dengan kemampuan manajerial yang kuat. Sebagaimana yang dinyatakan dalam
Peraturan Menteri Pendidikan No 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah,
bahwa kemampuan manajerial kepala sekolah meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengerahan dan pengawasan. Dengan kemampuan manajerial yang baik diharapkan setiap kepala
sekolah mampu melaksanakan pembinaan dengan menjadi pendorong dan penegak disiplin bagi
para guru agar mampu menunjukkan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan fungsinya
sebagai guru.
Sebagaimana yang telah diatur di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional Indonesia Pasal 39 ayat 2 adalah merencanakan dan melaksanakan
proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta
melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini berarti bahwa selain mengajar
atau proses pembelajaran, guru juga mempunyai tugas melaksanakan pembimbingan maupun
pelatihan-pelatihan bahkan perlu melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Dipertegas oleh pendapat Mantja (2005) yang mengemukakan bahwa pada satuan
pendidikan sekolah, guru berada dalam pembinaan dan pengawasan kepala sekolah. Kepala
sekolah bertanggungjawab memantau, membina dan memperbaiki proses belajar-mengajar di
kelas atau di sekolah (Manjta, 2005).
B. HAKIKAT KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan berasal dari bahasa Inggris yaitu leader yang berarti pemimpin,
selanjutnya leadership berarti kepemimpinan. Pemimpin adalah orang yang menempati posisi
sebagai pimpinan sedangkan kepemimpinan adalah kegiatan atau tugasnya sebagai pemimpin.
5
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Menurut accomplish some goals atau sebagai suatu usaha untuk mempengaruhi individu-
individu menyelesaikan beberapa tujuan.
Kepemimpinan (leadership) tidak lain adalah kegiatan memimpin dengan proses
mempengaruhi bawahan atau orang lain. Menurut Nawawi (2000:9) kepemimpinan dapat
diartikan sebagai kemampuan atau kecerdasan mendorong sejumlah orang (dua orang atau lebih)
agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang terarah pada tujuan bersama. Hal
ini dipertegas dengan pendapat Robbins (1999:413) yang mendefinisikan kepemimpinan sebagai
kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan
tertentu. Sedangkan menurut Koehler (1981:64), Anatoi dan Appibaum, kepemimpinan adalah
proses mempengaruhi kegiatan seorang individu atau suatu kelompok dalam upaya ke arah
pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.
Definisi kepemimpinan juga diajukan Yukl (2009:26), yang menurutnya adalah “the
process of influencing others to understand and agree about what needs to be done and how to do
it, and the process of facilitating individual and collective efforts to accomplish shared
objectives”. (“proses mempengaruhi orang lain agar mampu memahami serta menyetujui apa
yang harus dilakukan sekaligus bagaimana melakukannya, termasuk pula proses memfasilitasi
upaya individu atau kelompok dalam memenuhi tujuan bersama”).
Kepemimpinan sebagai proses membujuk (“inducing”) orang-orang di sekitar untuk
mengambil langkah dalam pencapaian sasaran bersama (Locke et al; 1997:3). Hendaknya
seorang pemimpin itu mempunyai strategi bagaimana membujuk dan mengajak orang lain untuk
melakukan sesuai dengan tujuan yang diinginkan pemimpin tersebut. Upaya ini akan lebih baik
jika “kepemimpinan kepala sekolah menghindari terciptanya pola hubungan dengan guru yang
hanya mengandalkan kekuasaan dan sebaliknya perlu mengedepankan kerjasama fungsional
(Suyanto; 2001:9)”.
Griffin (1990: 504-505) menjelaskan bahwa dalam kepemimpinan dapat dilakukan dari
dua sudut pandang yaitu: (a) suatu proses yang berarti penggunaan pengaruh yang tidak memiliki
kekuasaan memberikan sanksi untuk membentuk tujuan kelompok-kelompok atau organisasi,
mengarahkan perilaku mereka untuk mencapai tujuan dan membantu menciptakan budaya
6
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
kelompok atau organisasi; dan (b) sudut sifat yang dimiliki, yang diartikan sebagai seperangkat
ciri-ciri yang menjadi atribut seseorang yang dipersiapkan sebagai seorang pemimpin.
Pendapat dari ahli seperti di atas, dapat dikatakan bahwa kepemimpinan dalam hal ini
kepala sekolah pada dasarnya memiliki dua unsur yakni: (a) pengaruh dan (b) pencapaian tujuan.
Proses mempengaruhi dapat di mana saja selama tujuannya ada dan tujuan tersebut merupakan
tujuan bersama. Dengan demikian kepemimpinan itu dapat terjadi setiap saat selama suatu
kegiatan memiliki tujuan dan perilaku manusianya di arahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Kepemimpinan pada hakekatnya adalah proses mempengaruhi orang lain. Dalam proses
mempengaruhi tersebut akan tampak tipe/gaya kepemimpinan yang ditampilkan oleh seorang
pemimpin. Tipe/gaya kepemimpinan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Tipe kepemimpinan otokratis/otoriter
Merupakan tipe kepemimpinan yang didasarkan atas perintah, pemaksaan, dan tindakan
yang agak otoriter dalam hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin.
Pemimpin dalam tipe ini merupakan orang yang paling berkuasa, dalam arti segala proses
pengambilan keputusan dan pengembangan struktur organisasi dipegang dan dikendalikannya,
sehingga bawahan hanya memiliki kesempatan untuk berpartisipasi.
b. Tipe kepemimpinan laissez faine (kendali bebas)
Tipe ini adalah kebalikan dari tipe kepemimpinan otokratis, dimana pemimpin hanya
berfungsi sebagai penasehat dan bukan pemegang kekuasaan tunggal. Dalam hal ini pemimpin
memberikan kebebasan seluas-seluasnya kepada para pengikutnya untuk menentukan aktivitas
mereka.
c. Tipe kepemimpinan demokratis
Kepemimpinan demokratis menetapkan kebijaksanaan berupa keputusan penting yang
disesuaikan dengan kebutuhan. Oleh karena itu, dalam menetapkan kebijaksanaan diputuskan
bersama-sama oleh pemimpin dan anggotanya.
7
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Pemimpin demokratis mendistribusikan wewenang dan tanggung jawab secara luas
sesuai dengan kecakapan yang dimiliki oleh anggotanya dan berperan selaku pengontrol ke arah
pembinaan anggota, serta memberikan penghargaan secara obyektif.
d. Tipe kepemimpinan transformasional
Kepemimpinan transformasional merupakan kemampuan seorang pemimpin dalam
bekerja dengan atau melalui orang lain untuk mentransformasikan secara optimal sumber daya
organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target capaian yang telah
ditetapkan. Sumber daya yang dimaksud dapat berupa sumber daya manusia, fasilitas, dana, dan
faktor-faktor eksternal keorganisasian.
Dalam tipe ini, pemimpin berusaha untuk merangsang dan membangkitkan motivasi
individu atau kelompok yang berada dibawah kepemimpinannya untuk bekerja secara maksimal
sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari yang ada sebelumnya. Tipe kepemimpinan
transformasional, dewasa ini diyakini akan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan dan
perkembangan dari sebuah organisasi, yang dalam hal ini adalah sekolah.
C. FUNGSI KEPEMIMPINAN
Sinamo (2000:146-151), menjelaskan fungsi kepemimpinan sebagai berikut: (a)
memimpin dengan visi yang jelas, (b) memimpin dengan keteladanan, (c) seorang komunikator
yang terampil, (d) mampu memenangkan kepercayaan para pengikutnya, (e) tenang meghadapi
situasi yang sulit, (f) mampu mengundang ketidaksepahaman secara konstruktif, (g) tampil
dengan citra professional, (h) mampu membuat perkara yang rumit jadi sederhana, (i) mampu
bekerja dan membangun keberhasilan bersama tim, (j) senang membantu orang lain berhasil, (k)
seorang pelaku, sukses yang sejati, (l) seorang yang menghindari politik kantor dan tidak
menerapkan favotitisme.
Menurut Siagian (1999:48-70), menyatakan beberapa fungsi yang harus diperankan oleh
seorang pemimpin yang tidak hanya berfungsi sebagai perancang kriteria kinerja bawahan, tetapi
juga berfungsi sebagai: (a) penentu arah; (b) wakil dan juru bicara organisasi, (c) komunikator,
(d) mediator, (e) integrator.
8
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Fungsi kepemimpinan sebagai penentu arah berarti pemimpin harus mampu menentukan
program, menggali gagasan, dan mengambil keputusan yang dapat dijadikan pedoman oleh
bawahan. Keputusan tersebut merupakan arah yang akan dicapai oleh setiap individu dalam
organisasi. Jika keputusan pemimpin tidak ada, maka para bawahan akan kehilangan orientasi
yang pada gilirannya dapat menghancurkan eksistensi kepemimpinan tersebut.
Tidak ada satu pun organisasi yang dapat melepaskan dari situasi sosial di mana
organisasi tersebut berada. Dengan demikian setiap organisasi harus memelihara hubungan baik
dengan lingkungan sosialnya. Proses ini dapat berjalan jika pemimpin organisasi tersebut mampu
mewakili aspirasi dan kebutuhan bawahannya sehingga tidak paradoks dengan perubahan
lingkungan eksternal tersebut. Dalam situasi yang demikian pimpinan harus berfungsi harus
menjadi wakil dan juru bicara Organisasi.
Fungsi komunikator diperlihatkan dalam membina hubungan baik organisasi yang
dipimpinnya ke luar maupun ke dalam melalui proses komunikasi yang baik. Proses komunikasi
tersebut merupakan salah satu wahana yang dapat meminimalkan konflik. Fungsi mediator
menisyaratkan bahwa pemimpin harus mampu mengarahkan bawahan, mengatasi masalah yang
dihadapi bawahan, memecahkan masalah maupun menyelesaikan setiap konflik yang terjadi
dengan pihak luar atau dalam organisasi sendiri dengan sebaik-baiknya. Terakhir integrator
berarti bahwa pemimpin harus mampu mengintegrasikan semua potensi yang dimiliki untuk
mencapai tujuan organisasi. Sebagai integrator pemimpin memberi kesempatan peluang
mengembangkannya, serta mengupayakan keterlibatan setiap bawahan sebagai bentuk
pembinaan dan pengembangan potensi bawahan.
Jika semua pendekatan yang digunakan dalam mempelajari eksistensi kepemimpinan ini
dirujuk, maka ada tiga elemen dasar yang diperlukan oleh seorang pemimpin, yakni (a)
pemimpin yang kualitas kepribadian atau karakter; (2) situasi yang sebagian bersifat konstan dan
sebagian lagi bervariasi dan (3) kelompok kebutuhan dan nilai kelompok.
Apabila fungsi-fungsi kepemimpinan yang telah diuraikan oleh para ahli dapat dijalankan
dalam upaya pengembangan suatu organisasi, maka akan membuahkan suatu kepemimpinan
yang efektif, dengan kata lain efektivitas kepemimpinan dapat dicapai dengan cara menerapkan
fungsi-fungsi kepemimpinan secara konsisten.
9
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Saat ini maksimalisasi pelaksanaan otonomi di daerah-daerah diharapkan mampu
membawa perubahan paradigma pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralisasi menjadi
desentralisasi. Hal ini telah menjadikan peran seorang kepala sekolah tidak hanya menjadi
seorang manajer yang lebih banyak berkonsentrasi pada permasalahan anggaran dan persoalan
administrasi lainnya, namun juga menjadi seorang pemimpin yang mampu menciptakan visi dan
misi untuk mengilhami staf serta semua komponen individu yang terkait dengan sekolah.
Covey menyebutkan bahwa mengubah paradigma bukanlah pekerjaan gampang,
menuntut perubahan yang radikal tidak sekedar incremental (Covey, 1997: 15). Sehingga peran
kepala sekolah selain menjadi seorang manajer juga sekaligus sebagai pemimpin. Konsekuensi
dari perubahan paradigma tersebut, seorang kepala sekolah disyaratkan memiliki karakteristik
dan kompetensi yang mendukung tugas dan fungsinya dalam menjalankan proses persekolahan.
Posisi strategis kepala sekolah diharapkan dapat menjadi agen pembaharuan dan
pelaksana yang berwibawa. Oleh karena itu, efektivitas kepemimpinan (kepala sekolah) yang
sesuai aturan perlu ditegakkan oleh kepala sekolah itu sendiri. Selain itu, kepala sekolah juga
harus mampu menunjukkan kemandiriannya dalam mengelola satuan pendidikan dengan
menetapkan target capaiannya sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan.
Pada dasarnya seorang pemimpin seperti halnya kepala sekolah harus memiliki
kecerdasan yang berbeda dengan yang dipimpinnya seperti kecerdasan Intelektual (IQ),
kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Apabila seorang pemimpin
menguasai satu dimensi kecerdasan saja maka ia akan unggul dan itu bisa menjadi modalnya
untuk menjadi pemimpin.
Kepemimpinan seseorang tidak semata hanya ditentukan oleh kelebihannya secara fisik
seperti badan yang besar tetapi lebih ditentukan pada pengetahuan orang itu memimpin atau
mempengaruhi bawahannya. Berhasil atau tidaknya seseorang memimpin dengan efektivitas
yang dimilikinya tentu juga tidak terlepas dari faktor lain seperti kemandirian, keunggulan
bersaing, tingkat pendidikan, minat, motivasi, semangat, kedisipilinan, tingkat usia, jenis
kelamin, tingkat kecerdasan, tingkat emosi, sarana yang tersedia, situasi/kondisi, tingkat
ekonomi, lingkungan, dan sebagainya.
10
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Sesuai dengan pendapat di atas, maka seorang kepala sekolah selayaknya memiliki
kecerdasan untuk mendorong bawahannya agar dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan
sekolah. Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh bawahan tergantung pada peran kepala
sekolah. Jika kepala sekolah mampu mendorong bawahannya maka kegiatan untuk mencapai
tujuan sekolah akan tercapai sesuai dengan rencana.
D. KARAKTER PEMIMPIN DITINJAU DARI TIGA PENDEKATAN
Ciri atau karakter seorang pemimpin menurut Griffin (1990:68) dapat dijelaskan melalui
tiga pendekatan yaitu sebagai berikut. Pertama, pendekatan yang memandang keberadaan
kepemimpinan sebagai: (a) kepemimpinan berasal dari bakat yang dibawa dari lahir; (b)
kepemimpinan oleh perilaku dan (c) kepemimpinan situasional. Pendekatan yang pertama,
pendekatan yang memandang bahwa kepemimpinan merupakan bawaan lahir, menyatakan
bahwa hanya orang-orang yang memiliki seperangkat sifat atau bakat yang memiliki kemampuan
untuk memimpin. Sifat-sifat ini menurut Yuki yaitu: (a) dapat beradaptasi terhadap segala
situasi; (b) peduli dengan lingkungan sosial; (c) ambisius dan berorientasi pada prestasi (d)
asertif; (e) kooperatif; (f) mampu membuat keputusan; (g) memiliki ketergantungan; (h) dominan
(memiliki hasrat mempengaruhi orang lain); (i) energik; (j) penyabar; (k) percaya diri; (l) toleran
terhadap tekanan dan (m) mau bertanggung jawab.
Pendekatan kedua, pendekatan kepemimpinan berperspektif perilaku yang pada
dasarnya mempelajari kepemimpinan berdasarkan keterampilan yang dimiliki oleh seorang
pemimpin. Keterampilan ini secara garis besarnya dapat dibagi ke dalam tiga kategori
keterampilan utama; (a) teknik, (b) manusiawi, dan (c) konseptual. Keterampilan teknik terkait
dengan pengetahuan dan kemampuan seseorang melakukan pekerjaan yang bersifat teknik;
keterampilan manusiawi merupakan kemampuan seseorang bekerja secara efektif dengan orang-
orang dan membangun tim kerja dan ini merupakan bagian dari kepemimpinan perspektif
perilaku; keterampilan konseptual adalah kemampuan seseorang berpikir dalam bentuk model-
model, kerangka kerja dan hubungan yang luas lainnya.
Seorang pemimpin agar dapat melaksanakan kepemimpinan dengan baik harus memiliki
keterampilan dalam penguasaan teknik, menjalin hubungan dengan orang-orang dipimpinnya
11
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
maupun dengan individu yang berhubungan dengan organisasi yang dipimpinnya serta mampu
membuat model dan kerangka kerja serta melakukan hubungan yang luas baik formal maupun
informal.
Menurut Hersey dan Blanchard (1986:89); Dari aspek keterampilannya seorang
pemimpin memiliki karakteristik (a) cerdas, (b) ketrampilan konseptual, (c) kreatif, (d)
diplomatis dan taktis, (e) fasih berbicara, (f) memiliki pengetahuan tentang tugas kelompok, (g)
memiliki kemampuan administrativ, (h) persuasive dan (i) memiliki ketrampilan sosial.
Pandangan Bennis, seperti yang dikutip oleh Hersey dan Blanchard mengidentifikasi
empat sifat umum yang dimiliki oleh seorang pemimpin yakni: (a) Management of attention,
yaitu kemampuan mengkomunikasikan tujuan atau arah yang dapat menarik perhatian para
anggota organisasinya; (b) Management of meaning, yaitu kemampuan menciptakan dan
mengkomunikasikan makna tujuan tersebut dengan jelas dan dapat dipahami; (c) Management of
trust, kemampuan agar dipercaya dan konsisten sehingga orang-orang akan memperhatikannya;
(d) Management of self, kemampuan mengetahui diri sendiri dan menggunakan ketrampilan
sendiri dalam batas kekuatan dan kelemahannya.
Pendekatan ketiga, pendekatan situasional yang dibangun di atas asumsi bahwa tidak
ada satu cara pun yang dapat mengarahkan manusia untuk bekerja pada semua situasi, dengan
demikian seorang pemimpin harus memiliki perilaku yang fleksibel, mampu mendiagnosis gaya
kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang dihadapinya, serta mampu menerapkannya
dengan baik.
Menurut Gordon, dalam menerapkan kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang
dihadapi, seorang pemimpin harus memperhatikan tiga faktor utama, yakni: (a) perhatian
terhadap bawahan. Maksudnya kepedulian pimpinan terhadap keahlian, pengalaman,
kemampuan, pengetahuan tentang tugasnya, tingkat hirarki dan kerakteristik psikologis; (b)
Perhatian terhadap atasan, yang mencerminkan derajat pelaksanaan pengaruhnya, ataupun
kesamaan sikap dan perilakunya pada orang-orang yang di atasnya; (c) perhatian terhadap tugas,
mencerminkan derajat urgensi waktu yang dimiliki, bahaya fisik, rata-rata kesalahan yang
diizinkan, derajat otonomi, luas bidang pekerjaan dan derajat kekaburan pelaksanaan tugas.
12
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
E. GAYA KEPEMIMPINAN
Penelitian kepemimpinan dari Universitas Michigan menjelaskan dua gaya
kepemimpinan, yaitu: (1) orientasi pada pekerja, yang menggambarkan pentingnya hubungan
manusiawi yang merupakan kebutuhan setiap individu; (2) orientasi pada produksi yang
menekankan pada aspek produksi dan aspek Teknik dalam pekerjaan, dengan menggambarkan
pegawai sebagai pekerja semata (Gordon; 1996: 316-317).
Dewantara seperti dikutip oleh Suradinata (1998:30) memperkenalkan model
kepemimpinan yang dikenal dengan kepemimpinan Pancasila. Konsep kepemimpinan ini pada
prinsipnya tidaklah jauh berbeda dengan kepemimpinan situasional yang telah diungkapkan
sebelumnya. Konsep kepemimpinan pancasila menjalankan perilaku, di mana periaku pimpinan
disesuaikan dengan fungsi yang diemban sebagai pemimpin. Kepemimpinan pancasila ini
memiliki tiga konsep utama yakni: Ing ngarso sung tulada, yaitu: pemimpin harus mampu
menjadi tauladan bagi pengikutnya; ing madya mangun karso, berarti pemimpin harus
memberikan kesempatan kepada pengikutnya agara mandiri; Tut wuri handayani, merupakan
pemimpin yang terus menerus memotivasi pengikutnya agar memiliki kinerja yang baik.
Menurut Katz dan Robbins (2012:6) ada tiga ketrampilan yang mutlak diperlukan
seorang manajer sebagai pemimpin untuk dapat memimpin yaitu: Keterampilan Teknik,
Manusiawi dan Konseptual. Ketrampilan Teknis berkaitan dengan keterampilan dalam
menerapkan pengetahuan spesial atau keahlian. Keterampilan manusiawi menyangkut
kemampuan seorang pemimpin dalam melakukan kerja sama memahami dan memotivasi orang
lain, baik perorangan maupun kelompok. Sedangkan keterampilan konseptual berkaitan dengan
kemampuan mental seorang pemimpin dalam mengamalkan dan mendiagnosis situasi yang
rumit, misalnya dalam pengambilan keputusan.
Lebih lanjut Utriefield dan Peterson juga mengemukakan pentingnya keterampilan-
keterampilan pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinan, berupa: (a) keterampilan teknik,
yaitu keterampilan untuk dapat menggerakkan atau memakai alat-alat teknis; (b) keterampilan
manusiawi, keterampilan yang dimiliki dalam bidang kemanusiaan untuk menggerakkan
manusia, misalnya bergaul dengan berinteraksi, saling mengerti keinginan atau perasaan/motif-
motif atau nama-nama hidup atau kepribadian orang lain serta memahami sifat dan karakter
13
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
manusia; (c) keterampilan konseptual, yaitu keterampilan yang dimiliki seseorang untuk
menggerakkan perusahaan, melihat masa depan, keterampilan menyusun rencana, dan menyusun
organisasi yang baik, mencari dan menempatkan orang-orang pada jabatan yang tepat, serta
membuat suatu keputusan yang tepat bagi perusahaan secara keseluruhan.
Menurut Neuvill (2012:2), banyak pemimpin yang mengombinasikan enam tipe kekuatan
yang tergantung pada gaya kepemimpinan yang digunakan. Misalnya pemimpin yang otoriter
akan mencampurkan unsur-unsur legitimasi, paksaan dan kekuatan insentif untuk menerapkan
kebijakan, rencana dan aktivitas kelompok. Sedangkan pemimpin yang demokratis akan
menggunakan kekuatan yang dimilikinya dengan melibatkan semua anggota kelompok dalam
proses pengambilan keputusan.
Fiedlier mengatakan bahwa ada tiga variabel situasi yang menentukan bahwa suatu
situasi menyenangkan bagi seorang pemimpin. Variabel-variabel tersebut adalah: (a)
hubungannya dengan bawahannya sendiri (hubungan atasan-bawahan), (b) struktur tugas dan (c)
kekuasaan dan wewenang yang ada pada posisinya (posisi kekuasaan). Situasi yang
menyenangkan bagi seorang pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya adalah apabila
pemimpin tersebut disukai oleh anggota kelompoknya tersebut, memiliki kewenangan dan
menjalankan pekerjaan yang sudah memiliki prosedur baku.
Penelitian yang dilakukan Fiedlier ini menggambarkan bahwa gaya kepemimpinan ini
berada dalam sebuah garis kontinum antara pemimpin yang berorientasi tugas dan berorientasi
hubungan. Pemimpin yang berorientasi pada tugas adalah pemimpin yang cenderung
melaksanakan tugasnya dengan baik meskipun kondisinya menyenangkan atau tidak
menyenangkan sama sekali. Pemimpin yang berorientasi pada hubungan, sebaiknya adalah
pemimpin yang cenderung melaksanakan tugasnya dengan baik pada tingkat yang agak
menyenangkan semua pihak.
Tannenbaum dan Schmidt, mengemukakan perilaku kepemimpinan dengan model
kontinum, yang berada pada garis kontinum kekuasaan pimpinan sampai kekuasaan bawahan,
Teori perilaku pemimpin Tannenbaum dan Schimidt ini Higgins (1982: 182), menekankan
bahwa pemimpin dapat memilih salah satu dari tujuh kemungkinan perilaku yang dapat
digunakan untuk mempengaruhi anggota kelompoknya. Pilihan tersebut tergantung pada hasil
14
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
tarik menarik tiga kumpulan “kekuatan”, yaitu: (a) pemimpin, (b) bawahan, dan (c) situasi. Teori
Tannenbaum dan Schimidt ini disimpulkan sebagai suatu format yang bersifat kontinum. Dengan
kata lain gaya seorang pemimpin harus berada antara ekstrim otoriter dan demokratik.
Studi kepemimpinan Ohio State, Higgins; menjelaskan sejumlah perilaku yang spesifik,
antara lain: (a) Consideration, yang ditandai dengan perilaku bersahabat, saling percaya, respek
dan hangat; (b) Initiating structure, yang merupakan tingkat sejauh mana seseorang pemimpin
membuat struktur dan peran sendiri maupun bawahan.
Banyak faktor yang dapat mempermudah pemimpin seperti kepala sekolah
menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya untuk mewujudkan kepemimpinannya yang
efektif. Salah satu faktor yang mempermudah kepemimpinan adalah rasa kebersamaan diantara
anggota dengan pemimpin. Hal ini sesuai dengan unsur-unsur dalam suatu kepemimpinan yaitu
sebagai berikut.
1. Adalah seseorang yang berfungsi memimpin, yang disebut pemimpin (leader)
2. Adanya orang atau kelompok yang dipimpin.
3. Adanya kegiatan yang menggerakan kelompok dengan cara mempengaruhi dan mengarahkan
perasaan, pikiran dan perilaku kelompok.
4. Adanya tujuan yang hendak dicapai.
5. Terjadinya suatu proses di dalam kelompok atau organisasi, baik besar dengan banyak
maupun kecil dengan sedikit orang-orang yang dipimpinnya.
F. KOMPETENSI DASAR KEPALA SEKOLAH
Seorang kepala sekolah harus memiliki prasyarat kemampuan kepemimpinan yang
meliputi; karakter dan moral yang tinggi, semangat dan kemampuan intelektual, kematangan dan
kesinambungan emosi, kematangan dan penyesuaian sosial, kemampuan kepemimpinan,
kemampuan mendidik dan mengajar, serta kesehatan dan penampakan jasmani.
Kepala sekolah hendaknya memiliki kualitas kepribadian yang kuat dan unggul serta
memenuhi syarat kompetensi akademik yang relevan dengan pelaksanaan tugastugasnya.
15
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dengan demikian secara garis besar kepala sekolah harus memiliki kompetensi dasar
sebagai berikut:
a. Kepemimpinan (leadership), yang meliputi pengetahuan sebagai teori-teori kepemimpinan,
tipe dan pola kepemimpinan, syarat kepemimpinan, menguasai teknik problem solving, teknik
pemberdayaan staf dan teknik memimpin rapat.
b. Human relation, yaitu keterampilan menempatkan personil sesuai dengan kemampuan,
membina komunikasi inter dan antar-organisasi, menciptakan iklim yang kondusif dalam bekerja
dan pembinaan mental serta moral melalui keteladanan.
c. Administrasi, merupakan pengetahuan tentang tata persuratan dan kearsipan administrasi
kurikulum, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, perlengkapan, perpustakaan, hubungan
masyarakat, dan memahami pengertian dan prinsip administrasi pendidikan.
d. Supervisi, dalam hal ini kepala sekolah harus mengetahui tujuan supervisi, prinsip-prinsip dan
teknik serta syarat supervisi.
e. Edukasi, yaitu pengetahuan tentang ilmu jiwa anak, proses kegiatan pembelajaran dan teknik
evaluasi proses maupun hasil pembelajaran.
Sesuai UU No.13 Tahun 2005 disebut Kompetensi Kepala Sekolah/ Madrasah, terdiri
dari: 1) Kompetensi Kepribadian, 2) Kompetensi Manajerial, 3) Kompetensi Kewirausahaan,
4) Kompetensi Supervisi, dan 5) Kompetensi Sosial. Selengkapnya diuraikan berikut.
a. Kompetensi Kepribadian
Adapun sebagai kompetensi kepribadian kepala sekolah yang diharapkan adalah sebagai
berikut:
(1) Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan
akhlak mulia bagi komunitas di sekolah/madrasah.
(2) Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
(3) Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala
sekolah/madrasah.
(4) Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
16
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
(5) Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah/
madrasah.
(6) Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.
b. Kompetensi Manajerial
Adapun sebagai kompetensi manajerial kepala sekolah yang diharapkan adalah sebagai
berikut:
(1) Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.
(2) Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.
(3) Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/
madrasah secara optimal.
(4) Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi
pembelajar yang efektif.
(5) Menciptakan budaya dan iklim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi
pembelajaran peserta didik.
(6) Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara
optimal.
(7) Mengelola sarana dan prasarana sekolah/ madrasah dalam rangka pendayagunaan secara
optimal.
(8) Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian
dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah/ madrasah.
(9) Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan
dan pengembangan kapasitas peserta didik.
(10) Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan
tujuan pendidikan nasional.
(11) Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang
akuntabel, transparan, dan efisien.
(12) Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan
sekolah/ madrasah.
(13) Mengelola unit layanan khusus sekolah/ madrasah dalam mendukung kegiatan
pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.
17
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
(14) Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program
dan pengambilan keputusan.
(15) Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan
manajemen sekolah/madrasah.
(16) Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/
madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
c. Kompetensi Kewirausahaan
Adapun sebagai kompetensi kewirausahaan kepala sekolah yang diharapkan adalah
sebagai berikut:
1. Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.
2. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi
pembelajar yang efektif.
3. Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.
4. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang
dihadapi sekolah/madrasah.
5. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa
sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.
d. Kompetensi Supervisi
Adapun sebagai kompetensi supervisi kepala sekolah yang diharapkan adalah sebagai
berikut:
1. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme
guru.
2. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan
teknik supervisi yang tepat.
3. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan
profesionalisme guru.
e. Kompetensi Sosial
18
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Adapun sebagai kompetensi supervisi kepala sekolah yang diharapkan adalah sebagai
berikut:
1. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah
2. Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
3. Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.
G. STANDAR KEPALA SEKOLAH
Sesuai UU No.13 Tahun 2005 disebut Standar Kepala Sekolah/ Madrasah, sebagai
berikut:
1. Kualifikasi Umum Kepala Sekolah/Madrasah adalah sebagai berikut:
a) Memiliki kualifikasi akademik Sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan
atau nonkependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi;
b) Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi-tingginya 56 tahun;
c) Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun menurut jenjang
sekolah masing-masing, kecuali di Taman Kanak-kanak /Raudhatul Athfal (TK/RA)
memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan
d) Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi
non-PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga
yang berwenang.
2. Kualifikasi Khusus Kepala Sekolah/Madrasah meliputi:
a) Kepala Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal (TK/RA) adalah sebagai berikut:
1) Berstatus sebagai guru SD/MI;
2) Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SD/MI; dan
3) Memiliki sertifikat kepala SD/MI yang diterbitkan oleh lembaga yang
ditetapkan Pemerintah.
b) Kepala sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) adalah sebagai berikut:
1) Berstatus sebagai guru TK/RA;
2) Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru TK/RA; dan
19
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
3) Memiliki sertifikat kepala TK/RA yang diterbitkan oleh lembaga yang
ditetapkan Pemerintah.
c) Kepala sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) adalah sebagai
berikut:
1) Berstatus sebagai guru SMP/MTs;
2) Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SMP/MTs; dan
3) Memiliki sertifikat kepala SMP/MTs yang diterbitkan oleh lembaga yang
ditetapkan Pemerintah.
d) Kepala Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) adalah sebagai berikut:
1) Berstatus sebagai guru SMA/MA;
2) Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SMA/MA; dan
3) Memiliki sertifikat kepala SMA/MA yang diterbitkan oleh lembaga yang
ditetapkan Pemerintah.
e) Kepala Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK) adalah
sebagai berikut:
1) Berstatus sebagai guru SMK/MAK;
2) Memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SMK/MAK; dan
3) Memiliki sertifikat kepala SMK/MAK yang diterbitkan oleh lembaga yang
ditetapkan Pemerintah.
H. POSISI KEPALA SEKOLAH
Peran dan fungsi kepala sekolah sangat menentukan bagi efektifitas dan efisensi
organisasi sekolah. Kepala sekolah memiliki posisi penting dan strategis dalam manajemen
organisasi sekolah. Menurut Pidarta (2014:1-4) Kepala sekolah memiliki posisi penting dalam
penggerakan organisasi atau dalam melaksanakan tugas kepemimpinan di sekolah, diantaranya
sebagai: 1) manajer, 2) administrator, 3) motor penggerak hubungan masayarakat, 4) pemimpin,
dan 5) supervisor. Penjelasan lengkap diterangkan berikut.
1. Kepala Sekolah Sebagai Manajer
Seorang kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalah-
masalah yang timbul di sekolah. Dan sebagai manajer, kepala sekolah mampu melakukan
20
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
tugas fungsional dalam hal fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan
pengendalian melalui keterampilan tertentu, seperti keterampilan konseptual, keterampilan
hubungan manusiawi, dan keterampilan teknik.
Dalam hal fungsi perencanaan, seorang kepala sekolah merencanakan tindakan untuk
mengatasi masalah yang timbul di sekolah. Selanjutnya dalam fungsi pengorganisasian,
kepala sekolah mengorganisasi orang dan perlengkapan lainnya agar hasil perencanaan yang
dibuat dapat berjalan. Kemudian dalam hal fungsi penggerakan, kepala sekolah menggerakkan
dan memotivasi para personalia agar bekerja secara giat dan antusias. Dan dalam hal fungsi
pengendalian, kepala sekolah mengendalikan proses kerja dan hasil kerja agar tidak
menyimpang dari rencana semual dan kalau menyimpang segera dapat diperbaiki.
Dalam melaksanakan tugas fungsional tersebut, kepala sekolah harus memiliki
keterampilan konsep, yaitu menciptakan konsep-konsep baru untuk mengatasi masalah, dalam
kaitannya dengan fungsi perencanaan. Berikut, diperlukan keterampilan hubungan manusia,
yaitu mampu melakukan komunikasi dengan baik, bergaul dengan akrab, bisa bekerjasama,
menciptakan iklim kerja yang kondusif. Selanjutnya, diperlukan keterampilan teknik, yaitu
keterampilan dalam melaksanakan tugas-tugas langsung di lapangan dalam memecahkan
masalah.
2. Kepala Sekolah Sebagai Administrator
Kepala sekolah dituntut mampu menata administrasi sekolah, seperti administrasi
pendidikan dan pengajaran, administrasi kesiswaan, administrasi kepegawaian, administrasi
keuangan, administrasi hubungan dengan masyarakat, dan administrasi sarana dan prasarana.
3. Kepala Sekolah Sebagai Motor Humas
Kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan merancang kerjasama dengan
masyarakat setempat dalam usaha memajukan sekolah. Berikut, kepala sekolah perlu
mendirikan komite sekolah yang dapat berperan sebagai mitra kerja sekolah dalam rangka
memajukan sekolah. Diperlukan pengenalan dan pemahaman budaya, memahami situasi
ekonomi masyarakat, mengetahui situasi keyakinan dan kepercayaan masyarakat, agar kepala
sekolah berhasil dalam membina komunikasi, interaksi, dan kerjasama yang baik dan
berkelanjutan dengan masyarakat.
21
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
4. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin
Kepala sekolah harus mampu mempengaruhi orang lain yang terkait dengan kegiatan
sekolah supaya bersedia melaksanakan tugas dan mendukung kegiatan-kegiatan yang
diprogramkan sekolah. Agar kepala sekolah dapat melaksanakan tugas sebagai pemimpin
yang efektif dan sukses, menurut Haerudin (dalam Pidarta 2014: 4) harus didukung faktor
kompetensi kepemimpinan, menyangkut komunikasi, kepribadian, keteladanan, tindakan, dan
memfasilitasi.
5. Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Kepala sekolah berkewajiban membina para guru agar menjadi pendidik dan pengajar
yang baik, mempertahankan kualitas yang sudah baik dan meningkatkan yang belum baik.
I. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB KEPALA SEKOLAH
Organisasi sekolah secara umum dapat diartikan memberi struktur atau susunan yakni
dalam penyusunan/penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerja sama dengan maksud
menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hal-hal dan tanggung
jawab masing-masing itu dimaksudkan agar tersusun suatu pola kegiatan untuk menuju kepada
tercapainya tujuan bersama.
Di antara para personel yang ada di lingkungan sekolah, kepala sekolah merupakan
seseorang yang memiliki jabatan struktural tertinggi dalam organisasi, sehingga dialah yang
menerima tanggung jawab terbesar untuk mencapai tujuan sekolah.
“Tanggung jawab adalah kesanggupan untuk menjalankan suatu tugas kewajiban yang
dipikulkan dengan sebaik-baiknya”. Dengan kata lain, seorang kepala sekolah bisa dikatakan
bertanggung jawab jika ia melaksanakan tugastugas yang menjadi kewajibannya.
Adapun yang menjadi tugas-tugas pokok kepala sekolah mencakup 7 (tujuh) bidang
sebagai berikut:
a. Bidang akademik yang berkenaan dengan proses belajar mengajar di dalam dan di luar
sekolah, seperti:
1) Menyusun program catur wulan/semesteran dan program tahunan, terutama juga
pembagian tugas mengajar
22
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
2) Menyusun jadwal pelajaran setiap tahun
3) Mengatur pelaksanaan penyusunan model satuan pelajaran dan pembagian waktu yang
digunakan
b. Bidang ketatausahaan dan keuangan sekolah, meliputi:
1) Menyelenggarakan surat menyurat
2) Mengatur penerimaan keuangan
3) Mengelola penggunaan keuangan dan mempertanggung jawabkan keuangan
c. Bidang kesiswaaan, meliputi:
1) Mengatur penerimaan murid berdasarkan peraturan penerimaan murid baru.
2) Mengatur program bimbingan dan penyuluhan.
3) Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru/murid
d. Bidang personalia, meliputi:
1) Menginventarisasi personalia.
2) Mengusulkan formasi guru dan merencanakan pembagian tugas-tugas guru, termasuk
menghitung beban kerja guru.
3) Mengusulkan pengangkatan, kenaikan pangkat, perpindahan guru dan administrasi
kepegawaian lainnya.
e. Bidang gedung dan perlengkapan sekolah, meliputi:
1) Mengatur pemeliharaan kebersihan gedung dan keindahan halaman sekolah.
2) Pengadaan dan pemeliharaan perlengkapan sekolah.
3) Menyelenggarakan inventarisasi tanah, gedung dan perlengkapan sekolah, baik yang
habis dipakai maupun yang permanen.
23
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
f. Bidang peralatan pelajaran, meliputi:
1) Mengatur buku-buku pelajaran untuk pegangan guru dan murid.
2) Mengatur perpustakaan guru/murid.
3) Mengatur alat-alat pelajaran/peraga tiap bidang studi.
g. Bidang sekolah dan masyarakat, meliputi:
1) Menyelenggarakan pembentukan dan secara kontinyu berhubungan dengan BP3.
2) Menerima dan memberikan pelayanan pada tamu.
3) Mewakili sekolah dalam hubungan kerja dengan pihak luar.
Kepala sekolah harus mampu menjalankan tugastugas yang dibebankan kepadanya
dengan baik. Namun, untuk melaksanakannya, memerlukan bantuan dari para personel sekolah
lainnya, seperti wakil kepala sekolah, guru, maupun para karyawan. Kemudian, agar aktivitas
sekolah dapat berjalan dengan lancar harus mampu menggerakkan mereka supaya bersedia
melaksanakan tugas masing-masing dengan sungguh-sungguh.
Oleh karena itu, disamping bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas-tugas seperti
tersebut di atas, kepala sekolah juga memiliki tanggung jawab kepada atasan, terhadap sesama
rekan kepala sekolah atau lingkungan terkait dan kepada bawahannya. Karena kedudukannya
yang terikat kepada atasan dan statusnya sebagai bawahan, maka seorang kepala sekolah wajib
loyal dan melaksanakan apa yang digariskan oleh atasan, wajib berkonsultasi atau memberikan
laporan mengenai pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, serta wajib selalu
memelihara hubungan yang bersifat hirarki antara kepala sekolah dan atasan.
J. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH YANG EFEKTIF
Meskipun belum terdapat kesepahaman bulat tentang kriteria efektivitas kepemimpinan
seseorang. Akan tetapi secara umum dan telah diakui bahwa kemampuan mengambil keputusan
merupakan salah satu kriteria utamanya, bahkan kemampuan mengambil keputusan dewasa ini
diterima sebagai inti kepemimpinan.
24
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Adapun pendekatan yang sering digunakan untuk menilai kemampuan seseorang dalam
mengambil keputusan yang efektif ialah pendekatan yang memenuhi lima persyaratan, yaitu :
a. Kualitatif, dalam arti mutu keputusan yang diambil.
b. Ketepatan model pengambilan keputusan yang dipilih sesuai dengan situasi dan kondisi yang
dihadapi.
c. Ketepatan teknik pengambilan keputusan yang digunakan sesuai dengan sifat permasalahan
yang ingin dipecahkan atau sasaran yang ingin dicapai.
d. Penerimaan para pelaksana keputusan tersebut sedemikian rupa sehingga keputusan yang
diambil terlaksana menurut jiwa dan semangat keputusan tersebut tanpa diwarnai oleh persepsi
dan interpretasi yang subyektif dari para pelaksana.
e. Terbukti mendekatkan organisasi kepada tujuan yang telah ditetapkan untuk dicapai.
Kepala sekolah harus berani mengambil keputusan tentang kegiatan yang harus
dilakukan. Kemampuan mengambil keputusan itu mengandung arti mampu menetapkan :
a. Apa (what) yang harus dilakukan
b. Bagaimana (how) melakukannya.
Perlu diperhatikan oleh kepala sekolah bahwa keputusan apapun yang akan diambil,
harus bersifat rasional dan dapat diterima oleh setiap warga sekolah. Untuk itu, kepala sekolah
harus membekali dirinya dengan data-data yang ada di lingkungan sekolah dan informasi seputar
permasalahan yang sedang dihadapi, untuk selanjutnya mengolahnya dengan sebaik-baiknya.
Apapun kriteria yang digunakan untuk mengukur efektivitas pemimpin, pada dasarnya
ukuran yang biasanya digunakan adalah sejauh mana unit organisasi dari pemimpin tersebut
melaksanakan tugasnya secara berhasil dan mencapai tujuan-tujuannya.
Dengan demikian kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang mampu
membawa sekolah yang dipimpinnya berhasil mewujudkan visi, misi serta tujuan melalui
program-program pendidikan yang telah direncanakan dan dipersiapkan dengan matang,
sehingga pada akhirnya dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik.
25
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
II
A. PENGERTIAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Secara leksikal, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu
Manajemen, Berbasis, dan Sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara
efektif untuk mencapai sasaran. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas.
Sekolah adalah Lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberikan
pelajaran. Berdasarkan makna leksikal tersebut, maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan
sumber daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran dan
pembelajaran.
Menurut Tim kerja MBS adalah “model pengelolaan yang memberikan otonomi atau
kemandirian pada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan
secara langsung semua warga sekolah sesuai dengan standar pelayanan yang ditetapkan oleh
pemerintah pusat, propinsi, dan pemerintah kabupaten/kota”.
Menurut Malen, Ogawa dan Kranz, sebagaimana dikutip oleh Ibtisam Abu Duhou, secara
konseptual MBS dapat digambarkan sebagai suatu perubahan formal struktur penyelenggaraan,
sebagai suatu bentuk desentralisasi yang mengidentifikasi sekolah itu sendiri sebagai unit utama
peningkatan serta bertumpu pada redistribusi, kewenangan pembuatan keputusan sebagai sarana
penting yang dapat mendorong dan menopang peningkatan mutu pendidikan.
MBS diterjemahkan dari istilah School Based Management (SBM). Istilah ini pertama
kali pada tahun 1970- an di Amerika Serikat sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan
pendidikan atau sekolah”.19 Reformasi tersebut diperlukan untuk meningkatkan kinerja sekolah
dan memenuhi tuntutan perubahan lingkungan sekolah, seperti tuntutan terhadap peningkatan
mutu pendidikan dan tuntutan terhadap mutu lulusan yang relevan dengan dunia kerja.
26
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Meskipun sebenarnya MBS telah cukup lama berkembang dan diterapkan di manca
negara, namun di Indonesia gagasan untuk menerapkan konsep tersebut baru muncul seiring
dengan pelaksanaan otonomi daerah yang juga berarti otonomi dalam hal pengelolaan sekolah.
Pada mulanya manajemen sebagai ilmu di pakai dalam bidang bisnis, kemudian di
terapkan dalam bidang industri, teknologi dan pemerintahan. Pada tahap awal perkembangan
selanjutnya manajemen telah diaplikasikan secara luas terhadap Lembaga-lembaga seperti :
militer, politik, gereja, rumah sakit dan pendidikan. Pada saat ini penggunaan manajemen
digalakkan secara luas dalam bidang pendidikan mengingat besarnya manfaat dari ilmu tersebut.
Di dalam perkembangannya terdapat bermacam-macam perumusan tentang fungsi manajemen:
a. Perencanaan
Perencanaan merupakan fungsi utama dari fungsi-fungsi manajemen yang lainnya, karena
dalam semua kegiatan yang bersifat manajerial untuk mendukung pencapaian tujuan, fungsi
perencanaan harus dilakukan terlebih dahulu dari pada fungsi-fungsi lainnya.
Menurut Stoner dan Freeman (1992:6), Perencanaan adalah proses menentukan
bagaimana organisasi bisa mencapai tujuannya. Perencanaan adalah: proses menentukan dengan
tepat apa yang akan dilakukan untuk pencapaian tujuannya. Perencanaan organisasional
mempunyai dua maksud: perlindungan dan kesempatan. Di mana di gambarkan bahwa
perencanaan memiliki dan menghubungkan fakta membuat serta menggunakan asumsi-asumsi
mengenai masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-
kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Untuk itu dalam proses
perencanaan membutuhkan data dan informasi agar keputusan yang diambil tidak lepas
kaitannya dengan masalah yang dihadapi pada masa yang akan datang.
Suatu lembaga pendidikan tentu memerlukan perencanaan pendidikan yang merupakan
keputusan yang diambil untuk melakukan kegiatan dalam kurun waktu tertentu, dengan tujuan
agar penyelenggaraan sistem pendidikanlebih efektif dan efisien serta menghasilkan lulusan yang
bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.
Kegiatan yang termasuk fungsi perencanaan adalah sebagai berikut.
27
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
1) Memperkirakan keadaan atau situasi di waktu mendatang berdasarkan keadaan di waktu-
waktu yang lalu, keadaan sekarang dan kemungkinan perkembangan di waktu yang akan datang.
2) Menentukan atau sasaran atau hasil yang ingin di capai di waktu yang akan datang.
3) Mengembangkan sstrategi yaitu cara-cara yang akan di pergunakan untuk mencapai sasaran
yang akan di tentukan.
4) Mengembangkan program, yaitu menentukan langkah-langkah atau urutan kegiatan serta
waktu pelaksanaanya.
5) Mengalokasikan sumber daya untuk pelaksanaan program.
6) Menentukan program yaitu metode atau cara yang standar untuk melaksanakan kegiatan.
7) Mengembangkan kebijaksanaan, yaitu batasan-batasan yang harus diikuti mengenai mana
yang di perbolehkan dan mana yang tidak.
b. Pengorganisasian
Merupakan kegiatan yang mengatur dan mengelompokkan pekerjaan ke dalam bagian-
bagian yang lebih kecil dan lebih mudah untuk di tangani. Di tinjau dari segi prosesnya,
pengorganisasian merupakan usaha untuk menyusun komponen-komponen pokok seperti
manusia, fungsi dan faktor-faktor fisik sedemikisan rupa, sehingga dapat dipakai sebagai sarana
untuk mencapai tujuan.
Dalam kegiatan tersebut di harapkan akan tercipta hubungan-hubungan di antara masing
masing komponen. Dengan demikian fungsi pengorganisasian dapat di katakan sebagai proses
menciptakan hubungan antara berbagai fungsi, personalia dan faktor-faktor fisik agar semua
pekerjaan yang di lakukan dapat bermanfaat serta terarah pada suatu tujuan. Seorang pemimpin
pendidikan harus memiliki kemampuan untuk mengorganisir semua potensi yang dimiliki oleh
organisasi tersebut untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, serta mempunyai kemampuan
mengembangkan organisasi.
28
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kegiatan yang terdapat dalam fungsi pengorganisasian adalah:
1) Memerinci pekerjaan-pekerjaan mana yang harus di lakukan untuk mencapai tujuan, sasaran
organisasi. 2) Mengelompokkan pekerjaan tersebut kedalam unit-unit yang secara logis dan
wajar dapat di jalankan oleh sekelompok orang atau satu orang.
3) Menyusun struktur yang menggambarkan, mengelompokkan.
4) Menyusun uraian pekerjaan atau tugas, yaitu batasan tugas, hubungan kerja, tanggung jawab
dan wewenang dari setiap unit kerja atau orang.
5) Menentukan kualifikasi jabatan, yaitu persyaratan untuk menduduki jabatan/ pekerjaan.
c. Penggerakan
Penggerakan yang dimaksud adalah sebagai aspek hubungan manusiawi dalam
kepemimpinan yang mengikat para bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan
tenaganya secara efektif serta efisien untuk mencapai tujuan. Penggerakan adalah membuat
semua anggota kelompok agar mau bekerja sama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk
mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian. Di dalam
manajemen, penggerakan ini sangat kompleks karena di samping menyangkut manusia, juga
menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia-manusia itu sediri.
Kegiatan dalam fungsi penggerakan adalah :
1) Memberikan tugas,tanggung jawab dan wewenang yang di perlukan bagi setiap pejabat.
2) Memotifasi orang untuk bersedia melaksanakan hal-hal yang memang seharusnya di lakukan.
3) Mengembangkan dan melatih, yaitu meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang
di perlukan setiap unit kerja agar dapat tercapai kerja sama yang efektif.
4) Mendorong timbulnya pemikiran-pemikiran alternetif pemecahan masalah dari bawahan dan
mengatasi konflik yang mungkin terjadi.
5) Merangsang timbulnya kreativitas dan pembaharuan dalam usaha-usaha mencapai sasaran
organisasi.
d. Pengawasan
29
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Merupakan fungsi terakhir yang harus dilakukan dalam manajemen. Dalam pengawasan
dapat diketahui tentang hasil yang telah dicapai. Pengawasan merupakan bagian integral dari
proses manajemen dan sering dihubungkan dengan perencanaan. Cara yang dilakukan dalam
pengawasan yaitu membandingkan segala sesuatu yang telah dijalankan dengan standar atau
rencananya, melakukan perbaikan-perbaikan bilamana terjadi penyimpangan, jadi dengan
pengawasan dapat mengukur seberapa jauh hasil yang telah dicapai sesuai dengan apa yang
direncanakan. Pengawasan merupakan proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standar,
apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan bila perlu melakukan
perbaikan-perbaikan sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana, yaitu selaras dengan standar.
Dengan adanya pengawasan, pemimpin dapat menjaga organisasi tetap berada didalam rel yang
benar.
Kegiatan-kegiatan dalam fungsi pengawasan adalah :
1) Mengembangkan standar yaitu kondisi yang harus dicapai agar pekerjaan dilaksanakan secara
efektif dan efisien.
2) Menentukan cara-cara untuk pemantauan kegiatan melalui sistem pelaporan atau sistem
informasi, yaitu menentukan informasi apa saja yang diperlukan, mencakup bagaimana
bentuknya, kapan waktu penyampaiannya dan dimana saja harus dicapai dan bagaimana cara
menyampaikan informasi tersebut, apakah harus langsung ataukah dapat melalui pihak lain.
Kesesuaian antara pemberi informasi dengan penerima informasi harus benar-benar sudah
dibicarakan terlebih dahulu, sehingga tidak perlu terjadi perbedaan pendapat nantinya jika proses
pelaksanaan saluran informasi tersebut sudah berjalan.
3) Mengevaluasi hasil yaitu mengumpulkan informasi, mengenai realisasinya apa yang telah
terjadi, selanjutnya membandingkan dengan standar dan menganalisa jika terjadi penyimpangan.
4) Mengambil tindakan koreksi, apakah berupa penyesuaian rencana, tindakan perbaikan atau
merencanakan ulang. Hal itu akan diambil sejauh dapat menyelesaikan persoalan.
5) Memberi penghargaan dan hukuman atas prestasi atau hasil yang dicapai.
Manajemen merupakan suatu alat pokok, karena tidak hanya ditujukan untuk
mengidentifikasi, menganalisis dan menetapkan tujuan-tujuan dan sasaran yang harus dicapai,
30
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
tetapi juga untuk mengkombinasikan secara efektif bakat orang-orang dan mendayagunakan
sumber-sumber materil. Namun demikian titik awal dari proses manajemen adalah menetapkan
sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan dari organisasi, kemudian menentukan apa yang harus
dilakukan untuk mencapainya dan mengkomunikasikannya kepada orang-orang yang bertugas
untuk mencapainya serta menentukan bagaimana mengukur sasaran-sasaran dan tujuan-tujuan
tersebut.
Sejalan dengan pemikiran di atas, Hodgetts (1997:4) mengemukakan pengertian
manajemen; bahwa manajemen selalu dikaitkan dengan problem yang dihadapi oleh setiap
organisasi. Pengertian manajemen itu sendiri adalah “merupakan suatu proses untuk mencapai
tujuan dan mengkoordinasikan usaha organisasi untuk pencapaiannya”.
Merujuk pendapat Ivancevich, et all (1997:12) Manajemen merupakan proses
perencanaan dan pembuatan keputusan, pengaturan, kepemimpinan dan pengawasan dalam
pengorganisasian manusia, keuangan dan sumber daya serta sumber-sumber informasi untuk
pencapaian efisiensi dan keefektifan tujuan organisasi. Manajemen merupakan proses
perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan yang terjalin erat dengan kepemimpinan.
Untuk pencapaian yang telah ditetapkan, peranan pimpinan atau manajer sangat
menentukan. Untuk itu manajer dituntut kemampuannya yang memadai karena manajer dalam
mencapai tujuan itu dengan menggunakan tenaga orang lain. Untuk itu manajer yang baik,
haruslah seorang perencana yang baik, komunikator, koordinator, pimpinan, dan pengawas serta
harus menjadi fasilitator. Manajer harus memberi jalan bagi stafnya. Berikutnya manajemen
menurut Stoner:
“Manajemen itu merupakan proses merencanakan, mengkoordinir, memimpin dan
mengontrol usaha anggota organisasi dan menggunakan semua organisasi lainnya untuk
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”.
Dalam membicarakan manajemen memang kita tidak bisa terlepas dari organisasi dan
peranan manajer atau pimpinan. Karena antara ketiganya saling terkait dan terikat di mana ada
organisasi di situ ada pimpinan dan ada manajemen.
31
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
B. PENTINGNYA PENGETAHUAN MANAJEMEN BAGI KEPALA SEKOLAH
Pengetahuan manajemen adalah segala apa yang diketahui oleh seseorang dan diingat
baik secara universal ataupun khusus terhadap fungsi-fungsi manajemen, yang telah ditetapkan
dan diukur berdasarkan indikator: (1) fungsi perencaan pengambilan keputusan, dalam
pengorganisasian, (2) fungsi kepemimpinan, (3) fungsi koordinasi, (4) fungsi pengontrolan, dan
(5) fungsi pengawasan. Pengetahuan manajemen merupakan perwujudan atas pengalaman, nilai,
informasi kontekstual dan kesepakatan yang memberikan kerangka berpikir untuk menilai dan
memadukan pengalaman dan informasi baru.
Sekolah sebagai wahana penting dalam pembentukan sumber daya manusia berkualitas
akan dapat diwujudkan melalui tingkat satuan pendidikan. Kesuksesan untuk memperoleh mutu
pendidikan yang baik tergantung kepada kepemimpinan yang kuat atau unggul dari masing-
masing kepala sekolah.
Kedudukan kepala sekolah sebagai pemimpin merupakan posisi strategis dalam
melaksanakan peranannya untuk membantu warga sekolah mencapai tujuan yang telah
ditetapkan Kepala sekolah diharapkan dapat menjadi agen pembaharuan dan pelaksana yang
berwibawa, memiliki efektivitas kepemimpinan yang sesuai dengan tuntutan dan harapan warga
sekolah, serta memiliki disiplin kerja yang tinggi terhadap aturan, memiliki pengetahuan
manajemen yang cerdas intelektual maupun emosional, mandiri dan unggul untuk bersaing dan
komit di bidang pendidikan. Namun kenyataan dilapangan masih banyak kepala sekolah yang
tidak menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pemimpin pendidikan karena dalam proses
pengangkatannya tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan seperti yang telah ditetapkan oleh
pemerintah. Rendahnya pengetahuan manajemen, kecerdasan intelektual dan emosional,
kemandirian dan keunggulan bersaing kepala sekolah yang mempengaruhi efektivitasnya dalam
melaksanakan tugas, sebagai faktor penghambat untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang
berimplikasi pada rendahnya produktivitas dan mutu (input, proces, output/outcome) kepala
sekolah.
Rendahnya mutu satuan pendidikan pada sekarang ini merupakan salah satu dampak dari
bentuk kepemimpinan kepala sekolah mengelola organisasi satuan pendidikan. Kepemimpinan
kepala sekolah yang sesuai dengan kondisi sekolah setempat merupakan faktor kunci
32
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
keberhasilan sekolah yang efektif. Karena itu kepala sekolah perlu memahami berbagai bentuk
pola efektivitas fungsi kepemimpinan yang sesuai kondisi yang ada dilingkungan kerjanya.
Rendahnya mutu pendidikan di Sekolah khususnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, ditujukan
oleh beberapa indikator antara lain: (1) Rendahnya kualitas kepala sekolah, guru dan tenaga
kependidikan yang berakibat pada siswa atau siswi, (2) Rendahnya indeks pengembangan dan
pelatihan kepala sekolah, guru dan staf, (3) Rendahnya daya saing; sehingga mengakibatkan
rendahnya kemandirian dan keunggulan bersaing pada kepala sekolah, staf dan tenaga
pendidikan, (4) Merosotnya moral dan akhlak kepala sekolah, staf dan tenaga kependidikan, (5)
Rendahnya pengetahuan, pendidikan, skill kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka kepala Sekolah Lanjutan Tingkat Atas masih
dihadapkan pada:
1. Sebagian besar Kepala SLTA belum menguasai, mengembangkan dan menjalankan sistem
pendidikan dengan konsep kualitas pengetahuan manajemen, kecerdasan emosi, kemandirian,
keunggulan bersaing dan efektivitas kepemimpinannya
2. Banyak kepala SLTA yang belum dapat memberikan konsep menguasai sistem pendidikan
yang berorientasi pada kecakapan hidup (life skill) sehingga daya saingnya tidak berkualitas.
3. Kepala SLTA diharuskan lebih membekali dirinya, staf dan tenaga pendidknya untuk cerdas
intelektual dan emosional serta mandiri dalam proses pembelajaran.
Untuk mewujudkan kebijakan di atas perlu, diperlukan profesionalisme dari para
pengelola pendidikan, terutama dari kepala sekolah dalam memimpin kebijakan sekolah. Akan
tetapi, kebiasaan berpikir dan bertindak kepala sekolah selama ini masih cenderung lebih
menekankan pada administrasi dari pada aspek manajerial dan kepemimpinan. Hal itu
menyebabkan sekolah lamban mengantisipasi perubahan lingkungan.
Telah dikembangkan beberapa efektivitas kepemimpinan dalam upaya perbaikan mutu
pendidikan di tingkat sekolah. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang
optimalisasi efektivitas kepemimpinan di antaranya: fenomena yang berkembang di masyarakat
pada saat ini, bahwa penerapan desentralisasi pendidikan seperti aktualisasi manajemen berbasis
33
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
sekolah belum optimal dilakukan oleh kepala sekolah karena persepsi pemahaman desentralisasi
pada tingkat birokrat daerah belum optimal.
Bila fenomena aktualisasi desentralisasi pendidikan menghambat kepemimpinan kepala
sekolah pada tingkat satuan pendidikan, maka dikhawatirkan kepemimpinan apapun yang akan
dijalankan pada tingkat satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan akan
sulit meraih kualitas yang efektif. Keadaan ini berakibat pada terbelenggunya seorang kepala
sekolah dengan juklak dan juknis yang pada gilirannya akan berdampak negatif yakni hilangnya
kemampuan kreatif dan inovatif dari kepala sekolah, sedangkan sikap kreatif dan inovatif kepala
sekolah dapat mengembangkan hubungan kerja yang harmonis antara pimpinan dengan yang
dipimpin sesuai dengan norma dan etika yang berlaku, dengan kata lain, sikap kreatif dan
inovatif kepala sekolah memberi dampak positif bagi peningkatan efektivitas kepemimpinan
kepala sekolah. Oleh karena itu agar desentralisasi dan otonomi pendidikan berhasil dengan baik,
kepemimpinan kepala sekolah perlu diberdayakan.
Pemberdayaan pada dasarnya merupakan proses pemerdekaan diri, di mana setiap
individu dipandang sebagai sosok manusia cerdas, unggul dan mandiri yang memiliki
pengetahuan cipta, rasa dan karsa, jika ketiga aspek kekuatan diri manusia ini mempunyai tempat
untuk berkembang secara semestinya dalam suatu organisasi, maka hal ini akan menjadi
kekuatan yang luar biasa bagi efektivitas kepemimpinan kepala sekolah.
Berikutnya sistem manajemen yang diterapkan, masih terdapat efek yang sangat
memprihatinkan dalam peningkatan mutu untuk pembenahan manajemen sehingga perlu suatu
knowledge management agar persaingan mutunya dapat lebih baik. Tidak adanya koordinasi
yang baik antara atasan dan bawahan di sekolah atau madrasah, kurangnya usaha kecerdasan
emosional, kemandirian, keunggulan bersaing terhadap pengembangan profesionalistas kerja,
kurangnya prinsip-prinsip pemberian arahan (Direction), merupakan efek bagi kepemimpinan
yang berakibat pada manajemen dan fungsi serta esensi pekerjaan pimpinan yang tidak tertata
dengan baik. Sehingga pengembangan lembaga sekolah atau madrasah tidak pernah
menunjukkan suatu peningkatan yang diharapkan.
Pengetahuan manajemen kepemimpinan kepala sekolah adalah pengetahuan berupa
proses yang tersistematik sederhana tentang hal spesifik, metode, struktur dan lain-lain, berisi
34
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
tentang fungsi-fungsi manajemen untuk mengukur hasil kerja dan unjuk kerja kepala sekolah
dalam mencapai tujuan bersama-sama. Pengetahuan manajemen untuk kepala sekolah dapat
menjadi pemahaman akan konsep materi/konten yang di komunikasikan melalui aktivitas
individu kepala sekolah dalam kegiatan memimpin untuk dapat melakukan proses kegiatan
organisasi sekolahnya yang di mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengendalian terhadap penggunaan sumber daya untuk kegiatan sekolahnya.
Selanjutnya Aplikasi dari pengetahuan manajemen dapat menjadi acuan aturan dalam
kegiatan intelektual dan proses pembelajaran dan dalam proses penyelesaian maslaah di
lingkungan sekolah yang di pimpinnya. Kemudian analisis pengetahuan yang di komunikasikan
secara kebawah (sesame teman) dalam garis hirarki harusnya dapat menciptakan ide kreati,
inovasi dan produktif dalam mengarahkan teman sejawat dalam lingkungan sekolah. Sintesisi
Pengetahuan manajemen dalam kepemimpinan kepala sekolah dapat di lakukan Mengatur
kemampuan yang logic dan dapat di kombain/di kombinasikan dengan hal yang kebaruan untuk
dapat di evaluasi berdasarkan fungsi planning, organizing, actuating dan controlling.
Pengetahuan manajemen di Evaluasi melalui unjuk kerja dan hasil kerja kepemimpinan kepala
sekolah. Sehingganya Pengetahuan manajemen adalah segala apa yang diketahui oleh seseorang
dan diingat baik secara universal ataupun khusus terhadap fungsi-fungsi manajemen. Jadi
Pengetahuan manajemen oleh kepala sekolah atas segala apa yang diketahui oleh kepala sekolah
dan diingatnya baik secara universal ataupun khusus terhadap fungsi-fungsi manajemen. dengan
indikasi: (1) fungsi perencaan pengambilan keputusan, dalam pengorganisasian, (2) fungsi
kepemimpinan (3) fungsi koordinasi (4) fungsi pengontrolan dan (5) fungsi pengawasan.
C. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH SEBAGAI PARADIGMA BARU
PENYELENGGARA PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu komponen utama dalam pembangunan nasional.
Pendidikanlah yang akan melahirkan dan membentuk sumber daya manusia sebagai aktor
pembangunan di negara ini. Oleh karena itu mutu pendidikan menjadi sangat penting untuk
diperhatikan dan diprioritaskan terutama dalam menghadapi era globalisasi dan pasar bebas
dewasa ini yang semakin kompleks penuh tantangan.
35
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Dengan tingkat pendidikan yang baik dan bermutu maka berbagai program reformasi
untuk membangun suatu masyarakat yang sejahtera, masyarakat yang cerdas, yang dapat hidup
dalam knowledge society seperti yang cita-citakan dalam pembukaan UUD 45.20 Pendidikan
nasional merupakan bagian dari pembangunan nasional. Untuk itu dirancanglah Undang-undang
Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang bisa dijadikan dasar bagi legalitas pendidikan.
Sisdiknas merupakan sebuah proses, oleh karena itu sifatnya tidak statis melainkan dinamis
artinya berusaha untuk selalu melakukan perubahan dan harus terus menyempurnakan diri.
Sisdiknas haruslah peka terhadap dinamika kehidupan berbangsa yang kini menuntut reformasi
di berbagai bidang, serta dinamika dari perubahan dunia yang dikenal sebagai gelombang
globalisasi.
Undang-undang (UU) No.2 tahun 1989 tentang Sisdiknas yang selama ini dijadikan
sebagai landasan hukum bagi pendidikan nasional telah mengalami revisi karena dianggap sudah
tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan situasi saat ini yang bisa menjawab tantangan
perubahan zaman. Sebagai gantinya ditetapkanlah Undang-undang yang baru, yaitu UU No. 20
tentang Sisdiknas pada tahun 2003.
Kelemahan dari UU Sisdiknas (sebelum mengalami revisi) terletak pada konsekuensi
logis dan politis pada penerapannya. Dengan sistem yang demikian, maka sistem pendidikan
bersifat sentral atau terpusat dan sistem yang dilandasi oleh tindakan penyeragaman atau
uniformitas.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa dan bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (UU No. 20 tentang
Sisdiknas pasal 3 mengenai fungsi dan tujuan pendidikan nasional).
Dari tujuan pendidikan nasional tersebut di atas, dapat dilihat bahwa sasaran utama dari
pendidikan adalah para peserta didik, yang mana peserta didik tersebut merupakan bagian dari
masyarakat. Oleh karena itu pendidikan haruslah berasal dari, oleh dan bersama-sama dengan
36
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
masyarakat. Pendidikan dari masyarakat berarti bahwa pendidikan haruslah memberikan
jawaban kepada kebutuhan (needs) dari masyarakat sendiri.
Pendidikan oleh masyarakat artinya bahwa masyarakat bukan merupakan objek
pendidikan yang hanya melaksanakan kemauan negara atau suatu kelompok semata-mata tetapi
partisipasi yang aktif dari masyarakat, di mana masyarakat mempunyai peranan di dalam setiap
langkah program pendidikannya. Pendidikan bersama-sama masyarakat artinya masyarakat
diikutsertakan di dalam program-program pemerintah yang telah mendapatkan persetujuan
masyarakat karena lahir dari kebutuhan nyata dari masyarakat itu sendiri.
Konsumen pendidikan adalah masyarakat. Oleh sebab itu, segala keputusan yang
berhubungan dengan pendidikan hendaknya selalu memperhatikan kepentingan serta kebutuhan
masyarakat dan hal itu hanya bisa dicapai jika masyarakat dilibatkan secara langsung dalam
proses pendidikan mulai dari pengambilan keputusan, pelaksanaan keputusan tersebut sampai
dengan tanggung jawab yang mesti diemban bersama.
Tanpa melibatkan mereka, maka akan sulit diketahui apa yang sebenarnya mereka
butuhkan, sehingga keputusan-keputusan yang diambil bisa jadi lebih bersifat prediksi-prediksi
yang belum tentu mengena sasaran, dan bahkan lebih ekstrem lagi akan meleset.
D. TUJUAN DAN MANFAAT MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) yang ditandai dengan otonomi sekolah dan
pelibatan masyarakat merupakan respon pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di
masyarakat bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mutu dan pemerataan pendidikan.
Menurut Nanang Fattah, istilah efisiensi menggambarkan hubungan antara input dan
output, atau antara masukan dan keluaran. Suatu sistem yang efisien ditunjukkan oleh keluaran
yang lebih untuk sumber masukan (resource input). Dan yang dimaksud dengan efisiensi
pendidikan adalah adanya keterkaitan antara pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang
terbatas jumlahnya sehingga dapat mencapai optimalisasi yang tinggi.
Senada dengan pendapat di atas, menurut Ace Suryadi dan kawan-kawan, “Efisiensi
pendidikan memiliki kaitan langsung dengan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang
terbatas secara optimal sehingga memberikan dampak yang optimal pula.” Dengan
37
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
diterapkannya MBS diharapkan efisiensi pendidikan akan terwujud karena sekolah lebih leluasa
dalam mengelola dan mendayagunakan sumber-sumber pendidikan yang dimilikinya secara tepat
guna, artinya tidak ada pemborosan waktu tenaga maupun dana sebab selalu mempertimbangkan
kondisi dan kebutuhan dari sekolah itu sendiri. Efisiensi pendidikan akan diperoleh jika sekolah
diberi keleluasaan dalam mengelola sumber-sumber pendidikan tanpa dihadapkan oleh birokrasi
yang berbelit-belit.
Mengenai mutu pendidikan di sekolah Simon dan Schuster mengatakan bahwa :
The School needs to be regularly assessed from the point of view of quality provision. All
product features need to be assessed individually. A believe in quality has to permeate
the organization. It my not be possible to achieve excellence in everything of course, but
the central product features should be a priority in terms of quality improvement.
Sekolah secara terus menerus perlu dinilai berdasarkan standar mutunya, oleh karena itu
peningkatan mutu pendidikan harus menjadi prioritas utama sehingga akan berimplikasi positif
terhadap tumbuhnya kepercayaan masyarakat sebagai konsumen pendidikan terhadap lembaga
pendidikan sekolah tersebut. Untuk mengukur mutu pendidikan, sedikitnya terdapat dua standar
utama yang bisa digunakan, yaitu ; (1). Standar hasil dan pelayanan, (2). Standar pelanggan.
Standar hasil pendidikan mencakup spesifikasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang diperoleh oleh anak didik, hasil pendidikan itu dapat dimanfaatkan di masyarakat atau di
dunia kerja (tingkat kesalahan yang sangat kecil, bekerja benar dari awal, dan benar untuk
pekerjaan berikutnya). Sedangkan standar pelanggan mencakup terpenuhinya kepuasan, harapan,
dan pencerahan hidup bagi kustomer itu.
“Peningkatan mutu dapat diperoleh, antara lain melalui partisipasi orang tua terhadap
sekolah, fleksibilitas pengelolaan sekolah dan kelas, peningkatan profesionalisme guru dan
kepala sekolah, berlakunya sistem insentif serta disinsentif”.
Sedangkan untuk meningkatkan pemerataan pendidikan, antara lain dapat diperoleh
melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sekolah, sehingga pada sebagian
masyarakat akan tumbuh rasa kepemilikan dan rasa ikut bertanggung jawab yang tinggi terhadap
38
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
sekolah. Dengan demikian akan memungkinkan organisasi pemerintahan untuk lebih
berkonsentrasi pada kelompok tertentu yang kurang mampu.
Penerapan MBS membawa dampak positif (manfaat) terhadap kemajuan pendidikan di
sekolah. Sekolah yang dikelola secara otonom akan dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber
daya sekolah yang ada sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan guru. Guru yang sejahtera
akan memiliki konsentrasi penuh terhadap tugasnya.
Keleluasaan dalam mengelola sumber daya dan dalam menyertakan masyarakat untuk
berpartisipasi mendorong profesionalisme kepala sekolah, dalam peranannya sebagai manajer
maupun pemimpin sekolah. Dengan diberikannya kesempatan kepada kepala sekolah untuk
menyusun kurikulum, guru didorong untuk berinovasi dengan melakukan eksperimentasi-
eksperimentasi di lingkungan sekolahnya. Dengan demikian, MBS mendorong profesionalisme
guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan.
Sementara itu, dengan adanya keterlibatan yang lebih luas dari pihak-pihak yang
berkompeten terhadap pendidikan seperti para staf dan guru, orang tua, peserta didik, dan
masyarakat (stake holders) dalam perumusan kebijakan dan keputusan tentang pendidikan maka
akan meningkatkan komitmen mereka terhadap sekolah.
Sekolah yang dikelola secara terbuka dan transparan serta selalu mendapatkan kontrol
dari masyarakat dan monitoring dari pemerintah akan dapat meningkatkan kinerja para personel
sekolah, untuk memperbaiki mutu pendidikan.
E. PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
MBS merupakan bentuk alternatif dalam pengelolaan sekolah yang dimaksudkan untuk
membangun kemandirian dalam mengelola sumber daya yang ada dan mengikis habis segala
bentuk ketergantungan yang mengumpulkan kreativitas dan inovasi sekolah.
Menurut Edward Sallis sebagaimana dikutip oleh Nurkolis mengatakan bahwa teori yang
digunakan MBS untuk mengelola sekolah didasarkan pada empat prinsip, yaitu prinsip
ekuifinalitas, prinsip desentralisasi, prinsip sistem pengelolaan mandiri, dan prinsip inisiatif
sumber daya manusia.
a. Prinsip Ekuifinalitas (Principal of Equifinality)
39
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Prinsip ini didasarkan pada teori manajemen modern yang berpendapat bahwa untuk
mencapai suatu tujuan tertentu dapat menggunakan beberapa cara yang berbeda-beda.
Setiap sekolah memiliki tujuan dan karakteristik masing-masing, ditambah dengan
kompleksnya pekerjaanpekerjaan sekolah yang dihadapinya saat ini, semakin menunjukkan
adanya perbedaan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya.
Kaitannya dengan ini, hendaknya perlu ditekankan bahwa pengelolaan sekolah harus
bersifat fleksibel yaitu selalu menyesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing karena
meskipun masalah yang dihadapi oleh sekolah yang berbeda itu sama, belum tentu bisa
dipecahkan dengan cara yang sama pula, masing-masing pasti memiliki cara sendiri untuk
menanganinya.
b. Prinsip Desentralisasi (Principal of Decentralization)
Sekolah adalah lembaga yang seluruh aktivitasnya berkaitan dengan masalah pendidikan.
Pendidikan itu sendiri merupakan masalah yang rumit dan kompleks karena berada dalam
lingkungan masyarakat yang cepat berubah, sehingga dalam pelaksanaannya memerlukan
desentralisasi.
Dalam MBS, prinsip desentralisasi diperlukan untuk memberikan kewenangan yang lebih
luas kepada sekolah agar dapat bekerja mengelola sekolah menurut strategi dan gagasan mereka
sendiri sehingga pengelolaan sekolah akan berjalan efektif.
Dalam hal ini sekolah perlu keleluasaan dan tanggung jawab untuk menemukan dan
memecahkan masalahnya, dengan begitu setiap masalah yang muncul akan dapat terpecahkan
secara tepat, cepat, dan efisien.
c. Prinsip Sistem Pengelolaan Mandiri (Principal of Self-Managing System)
Setiap sekolah memiliki tujuan dan untuk mencapainya mereka menetapkan kebijakan-
kebijakan tertentu yang berbeda satu sama lain. Untuk itu dalam konsep MBS sekolah diberi
kewenangan untuk mengelola sekolahnya secara mandiri berdasarkan kebijakan-kebijakan yang
telah ditentukan sebelumnya.
40
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Prinsip ini masih ada hubungannya dengan prinsip sebelumnya, yaitu prinsip
ekuilifinalitas dan prinsip desentralisasi. Hubungan ketiga prinsip tersebut jika digambarkan
sebagai berikut, ketika suatu masalah dihadapi oleh sekolah, maka sekolah harus dapat
memecahkannya dengan caranya sendiri, dan agar sekolah dapat memecahkan masalahnya maka
terlebih dahulu harus ada pelimpahan wewenang dari atasan kepada pihak sekolah. Sehingga
dengan adanya kewenangan tersebut pihak sekolah dapat mengelola sekolahnya secara mandiri.
d. Prinsip Inisiatif Manusia (Principal of Human Initiative)
Prinsip ini memiliki asumsi dasar bahwa manusia adalah sumber daya yang dinamis dan
tidak statis. Oleh karena itu, potensi sumber daya manusia harus terus selalu digali, ditemukan,
dan dikembangkan.
Manusia adalah sumber daya manajemen yang sangat penting karena dapat mendukung
efektivitas sebuah organisasi. Untuk itu MBS menciptakan sebuah kondisi yang memberikan
kesempatan bagi setiap individu untuk bekerja dengan baik dan mengembangkan potensinya.
Sedangkan menurut Tim Kelompok Kerja MBS Propinsi Jawa Barat, ada 6 prinsip umum
yang patut menjadi pijakan dalam pelaksanaan MBS, yaitu :
1) Memiliki visi ke arah pencapaian mutu pendidikan, khususnya mutu siswa sesuai dengan
jenjang sekolah masing-masing.
2) Berpijak pada power sharing (berbagi kewenangan), yaitu bahwa pengelolaan pendidikan
sepatutnya berlandaskan pada adanya saling mengisi dan berbagi kekuasaan/kewenangan sesuai
dengan fungsi dan peran masing-masing.
3) Adanya profesionalisme semua lini. Maksudnya bahwa implementasi SBM menuntut adanya
derajat profesionalisme berbagai komponen, baik para praktisi pendidikan, pengelola, dan
manajer pendidikan lainnya, termasuk profesionalisme Dewan Sekolah.
4) Melibatkan partisipasi masyarakat yang kuat. Maksudnya bahwa tanggung jawab pelaksanaan
pendidikan, bukan hanya dibebankan kepada sekolah (guru dan kepala sekolah saja), tetapi juga
menuntut adanya keterlibatan dan tanggung jawab komponen masyarakat lainnya, termasuk
orang tua siswa.
41
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
5) Menuju kepada terbentuknya Dewan Sekolah. Artinya dalam implementasi MBS, setiap
sekolah harus membentuk Dewan Sekolah (SD), sebagai institusi yang akan melaksanakan MBS.
6) Adanya transparansi dan akuntabilitas. Yaitu memiliki makna bahwa prinsip MBS harus
berpijak pada transparansi atau keterbukaan dalam pengelolaan sekolah, termasuk di dalamnya
masalah fisik dan non fisik. Sedangkan akuntabilitas memberi makna bahwa sekolah beserta
Dewan Sekolah merupakan institusi terdepan yang paling bertanggung jawab dalam pengelolaan
sekolah.
Berbagai penjelasan tersebut, merupakan bentuk eksistensi MBS yang begitu penting dan
bagus sekali untuk diaplikasikan di dalam lembaga sekolah, sehingga pelaksanaan Manajemen
Berbasis Sekolah tersebut apabila direspon dengan baik oleh seluruh komponen-komponen yang
terkait maka bukan suatu hal yang sukar menjadikan sekolah tersebut menghasilkan hasil yang
handal dan dibutuhkan oleh masyarakat stakeholder.
42
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
DALAM MENERAPKAN
III MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
A. KARAKTERISTIK KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM
MENERAPKAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Lembaga pendidikan sekolah yang dikelola secara mandiri tersebut menuntut
kemampuan kepemimpinan dari kepala sekolah, dia harus memiliki karakteristik pemimpin yang
sesuai dengan sekolah yang bernuansa otonom. Sebab sekarang dia tidak lagi hanya sebagai
pendengar setia dan pelaksana instruksi dari atasannya melainkan sebagai pelaku utama
pendidikan di sekolah yang diharapkan mampu membawa sekolah ke arah kemajuan.
Dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah menurut komite reformasi pendidikan,
kepala sekolah perlu memiliki kepemimpinan yang kuat, partisipatif, dan demokrasi. Untuk
mengakomodasikan persyaratan ini, kepala sekolah perlu mengadopsi kepemimpinan
transformasional.
Yang dimaksud kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin
dalam bekerja dengan atau melalui orang lain untuk mentransformasikan sumber daya organisasi
secara optimal dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Disini pemimpin
memberikan rangsangan dan motivasi kepada para pengikutnya agar memiliki kesadaran untuk
memunculkan ide-ide kreatif dan produktif, rasa tanggung jawab.
Kaitannya dengan kepala sekolah, kepala sekolah berusaha untuk membangkitkan spirit
kerja para guru sehingga akan memberikan efek-efek positif bagi perkembangan dan
peningkatan mutu pendidikan yang diberikan kepada peserta didik.
Kepala sekolah yang memiliki karakter kepemimpinan transformasional diyakini akan
dapat menjadi kunci bagi keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah. Hal ini
disebabkan karakteristik kepemimpinan transformasional sesuai dengan konsep manajemen
berbasis sekolah.
43
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kesamaan tersebut terletak pada: Pertama, adanya kesamaan yang paling utama, yaitu
jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi, tetapi oleh kesadaran bersama. Kedua,
para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi dan bukan kepentingan pribadi. Ketiga,
adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin.
Apapun kriteria yang digunakan untuk mengukur efektivitas pemimpin, pada dasarnya
ukuran yang biasanya digunakan adalah sejauh mana unit organisasi dari pemimpin tersebut
melaksanakan tugasnya secara berhasil dan mencapai tujuan-tujuannya. Dengan demikian kepala
madrasah yang efektif adalah kepala madrasah yang mampu membawa madrasah yang
dipimpinnya berhasil mewujudkan visi, misi serta tujuan melalui program-program pendidikan
yang telah direncanakan dan dipersiapkan dengan matang, sehingga pada akhirnya dapat
memberikan pendidikan yang bermutu kepada peserta didik.
B. PROFESIONALISME KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM
MENERAPKAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Profesionalisme merupakan syarat utama keberhasilan seseorang dalam menjalankan
tugas dan mengemban tanggung jawab. Seseorang dapat melaksanakan tugas secara profesional
jika memiliki kompetensi tertentu sesuai bidang tugas yang dijalani. Terwujudnya kompetensi
disebabkan oleh perpaduan kemampuan intelektual, pengetahuan dan skill yang terintegrasi
dalam pribadi seseorang.
Seseorang disebut profesional apabila ia memiliki profesi, dan profesi itu sendiri
memiliki kriteria seperti yang dikemukakan oleh A. Tafsir yang dikutip dari Muchtar Luthfi
sebagai berikut: a. Profesi harus mengandung keahlian, artinya suatu profesi itu mesti ditandai
oleh suatu keahlian yang khusus untuk profesi itu, yang bisa diperoleh dengan cara mempelajari
secara khusus karena profesi itu bukan warisan.
b. Profesi dipilih karena panggilan hidup dan dijalani sepenuh waktu.
c. Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal.
d. Profesi adalah untuk masyarakat bukan untuk diri sendiri.
e. Profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif.
44