MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
f. Pemegang profesi memiliki otonomi dalam melakukan tugas profesinya.
g. Profesi mempunyai kode etik (kode etik profesi).
h. Profesi harus memiliki klien yang jelas yaitu orang-orang yang membutuhkan layanan.
C. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT MANAJEMEN BERBASIS
SEKOLAH
a. Faktor Pendukung
BPPN (Badan Penyelenggaraan Pendidikan Nasional) bekerjasama dengan Bank Dunia
telah mengkaji beberapa faktor pendukung yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
manajemen berbasis sekolah. Faktorfaktor tersebut berkaitan dengan kewajiban sekolah,
kebijaksanaan dan prioritas pemerintah, peranan orang tua dan masyarakat, peranan
profesionalisme dan manajerial, serta pengembangan profesi.
1) Kewajiban Sekolah
Sementara manajemen berbasis sekolah menawarkan keleluasaan pengelolaan sekolah,
pelaksanaannya perlu disertai seperangkat kewajiban yang juga harus dipenuhi sekolah.
Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah akan disertai adanya pemantauan dan tuntutan
pertanggungjawaban yang relatif tinggi, untuk menjamin bahwa sekolah selain memiliki otonomi
juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan pemerintah dan memenuhi harapan
masyarakat sekolah. Dengan demikian sekolah dituntut mampu menampilkan pengelolaan
sumber daya secara transparan, demokratis, tanpa monopoli dan bertanggung jawab baik
terhadap masyarakat maupun pemerintah.
2) Kebijakan dan Prioritas Pemerintah
Pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan berhak merumuskan kebijakan-
kebijakan yang menjadi prioritas nasional terutama yang berkaitan dengan program peningkatan
membaca dan menulis, refesiensi, mutu dan pemerataan pendidikan. Dalam hal tersebut, sekolah
tidak diperbolehkan untuk berjalan sendiri dengan mengabaikan kebijakan dan standar yang
ditetapkan oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis. Agar prioritas pemerintah
dilaksanakan oleh sekolah dan agar semua aktivitas sekolah ditujukan untuk memberikan
45
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
pelayanan kepada siswa supaya dapat belajar dengan baik, pemerintah perlu merumuskan
seperangkat pedoman umum tentang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah.
Pedoman-pedoman tersebut terutama kebijakan belum menjamin bahwa hasil pendidikan
(student outcomes) terevaluasi dengan baik, kebijakan-kebijakan pemerintah dilaksanakan secara
efektif, sekolah dioperasikan dalam kerangka yang disetujui pemerintah dan anggaran
dibelanjakan sesuai kebutuhan.
3) Peranan Orang Tua dan Masyarakat
Peranan masyarakat merupakan salah satu aspek terpenting dalam manajemen berbasis
sekolah. Manajemen berbasis sekolah menyediakan kesempatan yang luas kepada masyarakat
untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sekolah melalui Dewan Sekolah (School Council). Orang
tua dan masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembuatan keputusan-keputusan di sekolah.
Besarnya peranan masyarakat dalam pengelolaan sekolah tersebut, mungkin dapat
menimbulkan kerancuan kepentingan antara sekolah dan masyarakat. Untuk mencegah konflik
kepentingan antara sekolah, orang tua dan masyarakat, pemerintah perlu merumuskan batasan
peranan masing-masing unsur.
Menurut Wayan Koster dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan ada 9
bentuk partisipasi masyarakat, yaitu meliputi:
a) Partisipasi dalam bentuk ikut menentukan kebijakan dan program sekolah.
b) Partisipasi dalam ikut mengawasi pelaksanaan kebijakan-kebijakan program sekolah.
c) Partisipasi dalam pertemuan rutin di sekolah.
d) Partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler.
e) Partisipasi dalam pengawasan mutu sekolah.
f) Partisipasi dalam pertemuan BP3.
g) Partisipasi dalam membiayai pendidikan
h) Partisipasi dalam mengembangkan iklim sekolah
46
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
i) Partisipasi dalam pengembangan sarana dan prasarana fisik sekolah
4) Peranan Profesionalisme dan Manajerial
Manajemen berbasis sekolah menuntut adanya perubahan-perubahan tingkah laku kepala
sekolah, guru dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah. Pelaksanaan manajemen
berbasis sekolah berpotensi meningkatkan gerakan peranan yang bersifat profesionalisme dan
yang bersifat manajerial.
Dalam hal ini kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi harus memiliki pengetahuan
yang dalam tentang anak dan prinsip-prinsip pendidikan untuk menjamin bahwa segala
keputusan penting yang dibuat oleh sekolah didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan
pendidikan.
Khususnya kepala sekolah perlu mempelajari dengan teliti baik kebijaksanaan dan
prioritas pemerintah maupun prioritas sekolah sendiri. Pemahaman terhadap kedua jenis prioritas
tersebut sangat penting agar peningkatan efisiensi, mutu dan pemerataan, serta supervisi dan
pemantauan yang direncanakan sekolah dengan betul-betul untuk mencapai tujuan pelaksanaan
dengan kerangka kebijakan pemantapan dan tujuan sekolah.
Berkenaan dengan profesionalisme dan manajerial, maka kepemimpinan kepala sekolah
yang efektif dalam manajemen berbasis sekolah dapat dilihat berdasarkan kriteria sebagai
berikut: a) Mampu memperdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan
baik, lancar dan produktif.
b) Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
c) Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan
mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.
d) Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan
pegawai lain di sekolah.
e) Bekerja dengan tim manajemen.
f) Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan.
47
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Di antara pemimpin-pemimpin pendidikan yang bermacam-macam jenis dan
tingkatannya, kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting. Dikatakan
sangat penting, karena lebih dekat dan langsung berhubungan dengan pelaksanaan program
pendidikan tiap-tiap sekolah. Dapat dilaksanakan atau tidaknya suatu program pendidikan dan
tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan itu, sangat bergantung pada kecakapan dan
kebijaksanaan kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan.
5) Pengembangan Profesi
Untuk menuju pelaksanaan manajemen berbasis sekolah, pemerintah harus menjamin
bahwa semua unsur penting tenaga kependidikan (Sumber Daya Manusia) menerima
pengembangan profesi yang diperlukan untuk pengelolaan sekolah secara efektif. Oleh karena
itu, agar sekolah dapat mengambil manfaat atau keuntungan yang ditawarkan manajemen
berbasis sekolah perlu dikembangkan adanya pusat pengembangan profesi, yang berfungsi
sebagai penyedia jasa. Pelatihan bagi tenaga kependidikan untuk manajemen berbasis sekolah.
Setelah itu penting untuk dicatat bahwa sebaiknya sekolah dan masyarakat perlu dilibatkan
dalam proses pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sendiri.
Dari pemaparan tentang berbagai faktor manajemen berbasis sekolah nampak menjadi
karakter masing-masing para pengambil kebijakan, namun semua faktor tersebut haruslah
dipadukan menjadi satu kesadaran faktor manajemen agar tercapai tujuan yang akan diharapkan
oleh masing-masing sekolah sesuai dengan keadaan dan situasi daerah setempat.
b. Faktor Penghambat
Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait
harus bekerja lebih banyak dari pada sebelumnya, kurang efisien (dalam jangka pendek karena
salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan), kinerja sekolah yang tidak merata,
meningkatnya kebutuhan pengembangan staf, terjadinya kebingungan karena peran dan
tanggung jawab baru, kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas.
Masalah lain yang sering muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Sekolah
menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan, namun pemerintah pusat atau
daerah seringkali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya.
48
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak
tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. Juga masalah kurangnya keterampilan untuk
mengambil keputusan, ketidak mampuan dalam berkomunikasi, kurangnya kepercayaan antar
pihak, ketidakjelasan peraturan tentang keterlibatan antar masingmasing pihak, dan keengganan
para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil
keputusan.
Wohlstetter dan Mohtman (1996) dalam Nurkolis (2003:142-143) menyatakan terdapat
empat macam kegagalan implementasi MBS, yaitu:
1) Penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. MBS
bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model baku yang bias diterapkan di semua sekolah
dan semua daerah, sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan
lingkungannya masing-masing.
2) Kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh
anggota dewan sekolah. Sekolah arus mengajak seluruh anggota dewan dan stakeholder untuk
membuat agenda. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan
utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS.
3) Kekuasaan pengambilan keputusan berpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena.
Tidak ada satu pihak yang memiliki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan
keputusan model MBS ini. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan-kepentingan
masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bias seimbang dan adil.
4) Menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil
dengan sendirinya. Padahal dalam kenyataannya implementasi MBS memakan waktu, tenaga
dan pikiran secara besar-besaran. Pengalaman berbagai Negara menunjukkan MBS akan bisa
dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan.
Faktor lain penghambat keberhasilan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) antara lain:
1) Tidak berminat untuk terlibat
Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang
mereka lakukan. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka
49
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya
dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru
tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan
mereka. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin
menyediakan waktunya untuk urusan itu.
2) Tidak Efisien
Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan
frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota
dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas, bukan pada hal-
hal lain di luar itu.
3) Pikiran Kelompok
Setelah beberapa saat bersama, para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan
semakin kohesif. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung
satu sama lain. Di sisi lain, kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya
karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Pada saat inilah dewan
sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil
kemungkinan besar tidak lagi realistis.
4) Memerlukan Pelatihan
Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum
berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar
tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana
cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi, dan sebagainya.
5) Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru
Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja
yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-
pihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan
kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan
keputusan.
50
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
6) Kesulitan Koordinasi
Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam
mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu, kegiatan yang beragam
akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh
dari tujuan sekolah.
Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal, mereka dapat
memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Dua unsur penting
adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil
yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, semua yang terlibat harus
memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi, oleh siapa, dan
pada level mana dalam organisasi.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa keberhasilan MBS akan
terhambat jika seluruh komponen sekolah tidak bisa bekerja sama untuk mewujudkan tujuan
sekolah, selain itu tingkat pengetahuan terhadap implementasi MBS ini juga sangat berpengaruh,
serta peran kepala sekolah sebagai sentral di sekolah tidak maksimal dan kepala sekolah tidak
bias mengelola anggota organisasinya.
D. STRATEGI YANG HARUS DILAKSANAKAN AGAR MBS BERJALAN DENGAN
BAIK
Menurut Slamet P.H (2001), pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung
secara terus-menerus dan melibatkan semua unsur yang bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, strategi utama yang perlu ditempuh
dalam keberhasilan melaksanakan MBS adalah sebagai berikut.
Pertama, mensosialiasikan konsep MBS. Sosialisasi dilakukan kepada seluruh warga
sekolah, yaitu guru, siswa, wakil-wakil kepala sekolah, konselor, karyawan dan unsur-unsur
terkait lainnya (orangtua murid, pengawas, dan sebagainya) melalui seminar, diskusi, forum
ilmiah, dan media masa dengan memperhatikan sistem, budaya, dan sumber daya sekolah.
Kedua, melakukan analisis situasi. Analisis situasi akan menghasilkan tantangan nyata,
yang harus dihadapi oleh sekolah. Tantangan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dan
51
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
keadaan yang diharapkan. Karena itu, besar kecilnya ketidaksesuaian antara keadaan sekarang
(kenyataan) dan keadaan yang diharapkan (idealnya) memberitahukan besar kecilnya tantangan
yang ada.
Ketiga, merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai melalui pelaksanaan MBS,
berdasarkan tantangan nyata yang dihadapi. Kriteria kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya
ditetapkan. Kriteria ini digunakan sebagai standar atau kriteria untuk mengukur tingkat kesiapan
setiap fungsi dan faktor-faktornya.
Keempat, mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan
situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Untuk mencapai tujuan situasional
yang telah ditetapkan, maka perlu diidentifikasi fungsi-fungsi mana yang perlu dilibatkan untuk
mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Fungsi-fungsi
yang dimaksud di antaranya meliputi pengembangan: kurikulum, tenaga kependidikan dan
nonkependidikan, siswa, iklim akademik sekolah, hubungan sekolah-masyarakat, fasilitas, dan
fungsi-fungsi lain.
Kelima, menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis
SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat). Analisis SWOT dilakukan dengan
maksud mengenali tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk
mencapai tujuan situasional yang telah ditetapkan. Berhubung tingkat kesiapan fungsi ditentukan
oleh tingkat kesiapan masing-masing faktor yang terlibat pada setiap fungsi, maka analisis
SWOT dilakukan terhadap keseluruhan faktor dalam setiap fungsi, baik faktor yang tergolong
internal maupun eksternal. Tingkat kesiapan setiap fungsi harus memadai. Paling tidak
memenuhi ukuran kesiapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan situasional, yang dinyatakan
sebagai kekuatan, bagi faktor yang tergolong internal, serta peluang, bagi faktor yang tergolong
faktor eksternal. Sedang tingkat kesiapan yang kurang memadai, artinya tidak memenuhi ukuran
kesiapan, dinyatakan sebagai kelemahan, bagi faktor yang tergolong faktor internal, dan
ancaman, bagi faktor yang tergolong faktor eksternal.
Keenam, memilih langkah-langkah pemecahan masalah atau tantangan, yakni tindakan
yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. Agar tujuan
situasional tercapai, perlu dilakukan Tindakan-tindakan yang mengubah ketidaksiapan menjadi
52
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
kesiapan fungsi. Tindakan yang dimaksud lazimnya disebut langkah-langkah pemecahan
persoalan, yang hakikatnya merupakan tindakan mengatasi kelemahan dan/atau ancaman, agar
menjadi kekuatan dan/atau peluang. Hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan adanya
satu/lebih faktor kekuatan dan/atau peluang.
Ketujuh, membuat rencana untuk jangka pendek, menengah, dan panjang, berikut
program-program untuk merealisasikan rencana tersebut. Perencanaan itu dilakukan secara
partisipatif dan berdasarkan pada pemecahan masalah. Sekolah tidak selalu memiliki sumber
daya yang cukup untuk melaksanakan manajemen berbasis sekolah, sehingga perlu dibuat skala
prioritas untuk rencana jangka pendek, menengah, dan panjang.
Kedelapan, melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek
manajemen berbasis sekolah.
Kesembilan, melakukan pemantauan serta evaluasi proses hasil MBS. Hasil pantauan
proses dapat digunakan sebagai umpan balik bagi perbaikan penyelenggaraan. Sementara hasil
evaluasi dapat digunakan untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan situasional yang telah
dirumuskan.
Nurkholis (2003:132) mengemukakan sembilan strategi keberhasilan implementasi MBS.
Pertama, sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu dimilikinya otonomi dalam
kekuasaan dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara
berkesinambungan, akses informasi ke segala bagian, serta pemberian penghargaan kepada
setiap pihak yang berhasil. Mulyasa (2005: 41) menyatakan bahwa salah satu bentuk otonomi
sekolah adalah kebijakan pengembangan kurikulum yang mengacu kepada standar kompetensi,
kompetensi dasar, dan standar isi, serta pembelajaran beserta sistem evaluasinya, sepenuhnya
menjadi wewenang sekolah, yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan masyarakat yang
dilakukan secara fleksibel. Dengan demikian, otonomi sekolah yang dilakukan secara benar
dalam kerangka implementasi MBS diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Kedua, adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan, proses
pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan pembelajaran dan non- pembelajaran.
Menurutnya, sekolah harus lebih banyak mengajak lingkungan dalam mengelola sekolah karena
bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat secara luas. Wujud dari partisipasi
53
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
masyarakat dan orang tua siswa bukan hanya sebatas dalam bantuan dana, tetapi lebih dari itu
dalam memikirkan peningkatan kualitas sekolah. Misalnya, partisipasi masyarakat dalam
merencanakan dan mengembangkan program-program pendidikan. Pembahasan lebih lanjut dari
peran serta masyarakat ini disajikan dalam Unit 4.
Ketiga, adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan
mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif. Kepala sekolah harus menjadi
sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Dalam MBS
kepala sekolah berperan sebagai designer, motivator, fasilitator, dan liaison. Oleh karena itu,
pengangkatan kepala sekolah harus didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan,
dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan. Menurut Mulyasa (2005:98), Kepala
Sekolah merupakan “sosok kunci” (the key person) keberhasilan peningkatan kualitas
pendidikan di sekolah dalam kerangka implementasi MBS. Oleh karena itu, dalam implementasi
MBS kepala sekolah harus memiliki visi, misi, dan wawasan yang luas tentang sekolah yang
efektif serta kemampuan profesional dalam mewujudkannya melalui perencanaan,
kepemimpinan, manajerial, dan supervisi pendidikan. Kepala sekolah juga dituntut untuk
menjalin kerjasama yang harmonis dengan berbagai pihak yang terkait dengan program
pendidikan di sekolah. Singkatnya, dalam implementasi MBS, kepala sekolah harus mampu
berperan sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator dan motivator.
Keempat, adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan
dewan sekolah yang efektif. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus
mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Konsumen yang
harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orangtuanya, serta masyarakat dan para guru.
Kelima, semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-
sungguh. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada
sosialisasi tentang konsep MBS.
Keenam, adanya panduan (guidelines) dari Departemen Pendidikan terkait sehingga
mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Dengan dasar hukum
pelaksanaan MBS yang tertuang dalam UU No. 25 Tahun 2000, dan UU No. 20 Tahun 2003,
54
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Departemen Pendidikan diharapkan memberikan panduan sebagai rambu-rambu dalam
pelaksanaan MBS yang sifatnya tidak mengekang dan membelenggu sekolah.
Ketujuh, sekolah harus transparan dan akuntabel yang minimal diwujudkan dalam
laporan pertanggungjawaban tahunan. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggung jawaban
sekolah terhadap semua stakeholder. Untuk itu, sekolah harus dikelola secara transparan,
demokratis, dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait.
Kedelapan, penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah,
khususnya pada peningkatan prestasi belajar siswa.
Kesembilan, implementasi diawali dengan sosialisasi konsep MBS, identifikasi peran
masing-masing, pembangunan kelembagaan (capacity building), pengadaan pelatihan-pelatihan
terhadap peran barunya, implementasi pada proses pembelajaran, monitoring dan evaluasi, serta
melakukan perbaikan-perbaikan. Di samping itu, pelaksanaan MBS perlu didukung oleh iklim
sekolah yang memadai, yaitu iklim sekolah yang kondusif bagi terciptanya suasana yang aman,
nyaman dan tertib, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan
menyenangkan (enjoyable learning). Iklim sekolah akan mendorong terwujudnya proses
pembelajaran yang efektif, yang lebih menekankan pada learning to know, learning to do,
learning to be, dan learning to live together. Untuk mendukung semua itu, sekolah perlu
dilengkapi oleh sarana dan prasarana pendidikan, serta sumber-sumber belajar yang memadai.
55
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB PENTINGNYA KEMANDIRIAN BAGI
KEPALA SEKOLAH
IV
A. HAKIKAT KEMANDIRIAN
1. Pengertian Kemandirian
Menurut Brammer dan Shostrom (dalam Ali, 109:2006) mengatakan bahwa dalam konsep
Carl Roger disebut dengan istilah self, dimana kata kemandirian berasal dari ktaa diri yang
mendapatkan awalan “ke” dan “an”yang kemudian membentuk kata benda. Havighust (dalam
Rini, 2006) berpendapat bahwa kemandirian adalah kebebasan individu untuk dapat menjadi
orang yang berdiri sendiri, dapat membuat rencana untuk masa sekarang dan masa yang akan
datang serta bebas dari pengaruh orang tua. Kartono (2000) juga menyatakan bahwa kemandirian
berassal dari kata “autonomy” yaitu sebagai sesuatu yang mandiri, atau kesanggupan untuk
berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggung jawb atas segala tingkah laku sebagai manusia
dewasa dalam melaksanakan kewajibannya guna memenuhi kebutuhan sendiri.
Mandiri sendiri memilikian artian untuk mengandalkan diri sendiri atau percaya diri, yang
akan mampu merancang masa sekarang dengan masa yang akan datang guna untuk kepentingan
sendiri serta mampu mempertanggung jawabkan atas apa yang telah di lakukan.
Parker (226-227, 2006) berpendapat bahwa kemandirian berkenaan dengan pribadi yang
mandiri, kreatif dan mampu berdiri sendiri yaitu memiliki kepercayaan diri yang bisa membuat
seseoorang mampu sebagai individu untuk beradaptasi dan mengurus segala hal dengan dirinya
sendiri. Parker (226:2006) juga berpendapat bahwa kemandirian berkenaan dengan
56
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
menyelesaikan sesuatu hal sampai tuntas, kemandirian berkenaan denga hal yang dimilikinya
tingkat kompetensi fisikal tertentu sehingga sehingga hilangnya kekuatan atau koordinasi tidak
akan pernah terjadi ditengah upaya seseorang mencapai sasaran. Kemandirian berarti tidak adanya
keragu-raguan dalam menetapkan tujuan dan tidak dibatasi oleh kekuatan akan kegagalan.
Kemandirian yang diekspresikan dalam perilaku sehari-hari mengandung unsur-unsur emosi,
kata hati, moral intelektual, social ekonomi dan sikap. Kelima unsur tersebut saling berkaitan
antara satu sama lainnya. Jadi dapat dikatan bahwa kemandirian akan tercapai jika individu
memiliki sikap tergantung, bebas menentukan pilihan sendiri dan mental yang lebih matang.
Wujud lain dari kemandirian ini adalah berupa sikap yang tegas dan konsekuen perkataan dan
perbuatannya, Wiyusni (2002). Barnadip dalam Fatimah (2008) menyatakan bahwa kemandirian
meliputi perilaku mampu berinisiatif , mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunya rasa
percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain.
Dapat disimpulkan bahwa kemandirian ialah suatu karakter pada diri yang mana kita mampu
menentukan pillihan sendiri serta mengerjakan sesuatu hal tanpa dipengaruh oleh orang lain
ataupun lingkungan sekitar.
2. Ciri-ciri Kemandirian
Menurut parker (234-237, 2006) mengataan bahwa pribadi yag mandiri memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
a. Bertanggung jawab berarti memiiki tugas untuk menyelesaikan sesuatu dan diminta petanggung
jawaban atas hasil kerjanya.
b. Independensi adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak tergantung kepada otoritas dan tidak
membutuhkan arahan. Independensi juga mencakup ide adanya kemampuan mengurus diri sendiri
dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
57
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
c. Otonomi dan kebebasan untuk menentukan keputusan sendiri, berarti mampu untuk
mengendalikan atau mempengaruhi apa yang akan terjadi kepada dirinya sendiri.
d. Keterampilan memecahkan masalah, dengan dukungan dan arahan yang menandai, individu akan
terdorong untuk mencapai jalan keluar bagi persoalan praktis relasional mereka sendiri.
Tim Pustaka Familia (2006) juga memaparkan bahwa ciri-ciri kemandirian adalah sebagai
berikut :
a. Mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri, ia aktif, kreatif, kompeten dan tidak
tergantung pada orang lain dalam melakukan sesuatu dan tampak spontan.
b. Mempunyai kecenderungan memecahkan masalah ia mampu dan berusaha mencari cara untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
c. Tidak merasa takut mengambil resiko dengan mempertimbangkan baik buruknya dalam
menentukan pilihan dan keputusan.
d. Percaya terhadap penilaian sehingga tidak sediki-sedikit bertanya atau minta bantuan kepada
orang lain dalam mengerjakan tugasnya
e. Mempunyai kontrol diri yang kuat dan lebih baik terhadap hidupnya. Berarti ia mampu
mengendalikan tindakan, mengatasi masalah, dan mampu mampengaruhi lingkangan atas usaha
sendiri.
Desmita (185:2011) menyebutkan ciri-ciri kemandirian ditandai dengan kemamuan dalam
menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mampu mengatur tingkah laku, bertanggung
jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan-keputusan sendiri mampu mengatasi masalah
tanpa ada pengaruh dari orang lain. Berikut beberapa aspek kemandirian menurut lindgren (1976)
a. Mampu mengambil inisiatif dan keputusan
b. Berusaha mentasi rintangan dari lingkungan
58
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
c. Memperoleh kepuasan dari kerja
d. Berusaha mengerjakan sendiri tugas-tugas rutinnya.
Dari pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa ciri kemandirian ialah: (1)
bertanggungjawab atas tindakan yang diperbuat, (2) mampu berpikir kritis serta mengontrol
tindakan yang akan dilakukan, (3) percaya dengan diri sendiri akan mampu mengerjakan sesuatu
hal, (4) memiliki keterampilan dalam memacahkan masalah/persoalan yang sedang dihadapi.
3. Aspek-aspek Kemandirian
Menurut Masrun (dalam Yessica,2008) dalam penelitiannya menyimpulkan ada beberapa aspek
kemandirian yaitu:
a. Bebas
Ditunjukkan dengan tindakan yang disesuaikan dengan keinginan sendiri tanpa pengaruh dan
paksaan orang lain, dan juga tanpa bantuan orang lain, jadi tidak lagi tergantung kepada orang
lain.
b. Inisiatif
Ditunjukkan dengan munculnya ide untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang menjadi
problemnya.
c. Gigih
Artinya tanpa putus asa berusaha dengan tekun mengejar prestasi dan merealisasikan harapan-
harapannya.
d. Percaya Diri
Artinya dengan mantap dan dengan penuh kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dengan
berusaha mencapai kepuasan diri.
59
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
e. Pengendalian Diri
Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan
tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.
Havighurst dalam DS (2009)juga berpendapat bahwa kemamdirian memiliki empat aspek yaitu:
a. Aspek Intelektual
Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi.
b. Aspek Sosial
Aspek ini penunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan orang lain dan
tidak tergantung atau menunggu aksi dari orang lain.
c. Aspek Emosi
Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol emosi dan tidak tergantungnya kebutuhan
emosi dari orang tua. Kemamndirian emosial berkembang lebih awal dan menjadi dasar bagi
perkembangan secara lebih matang kemandirian emosionalnya, secara perlahan ia
mengembangkan kemandirian behaviornya. Perkembangan kemandirian emosional dan behavior
tersebut menjadi dasar bagi pekembangan kemandirian nilai. Oleh karena itu, pada diri individu
kemandirian nilai berkembang lebih akhir disbanding kemandirian emosional dan behavioral.
d. Aspek Ekonomi
Aspek ini ditunjukkan dengan kemampuan mengatur ekonomi dan tidak tergantung kebutuhan
ekonomi dengan orangtua.
Dari aspek yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kemandirian ada
beberapa aspek yaitu: (1) bebas, (2) Inisiatif, (3) percaya diri, (4) social, dan (5) Emosi.
60
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
B. KEMANDIRIAN KEPALA SEKOLAH
Sebagai kepala sekolah ada baiknya untuk tidak telalu bergantung kepada lingkungannya,
sebab sebagai seorang pemimpin haruslah memiliki sikap kemandirian. Sikap tersebut diharapkan
mampu menstabilkan emosi kepala sekolah agar tidak mudah bergantung sepenuhnya pada
lingkungan.
Sikap kemandirian seorang pemimpin bukan hanya untuk menolak bergantung kepada
lingkungannya, namun dapat menemukan ide-ide kreatif, berpikir secara lugas serta mampu
mempetanggungjawabkan tindakannya.
61
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB MOTIVASI SERTA KEUNGGULAN
BERSAING KEPALA SEKOLAH
V
A. MOTIVASI
A. Definisi Motivasi
Menurut Umam (2012 : 159) . Pengertian dari motivasi tercaakup berbagai aspek tingkah
atau perilaku manusia yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku atau tidak
berperilaku. Sedangkan menurut Richard M. Stears dalam Sedarmayanti (2009: 233),
motivasi adalah kekuatan kecenderungan seorang individu melibatkan diri dalam kegiatan
yang berarahkan sasaran dalam pekerjaan. Ini bukan perasaan senang yang relatif terhadap
hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan, tetapi lebih merupakan perasaan
sedia/rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan.
Menurut Armstrong, (2003), “Motivasi merupakan ukuran berapa lama seseorang dapat
menjaga usaha mereka. Individu yang termotivasi akan menjalankan tugas cukup lama untuk
mencapai tujuan mereka. Motivasi merupakan dorongan dari dalam maupun luar diri sendiri
yang membuat orang bertindak dalam cara tertentu. Motivasi dapat muncul dikarenakan oleh
berbagai kebutuhan fisik maupun rohaniah, seperti emosi atau sebuah ide.” Motivasi terdiri
dari tiga komponen, yaitu: arah (direction), usaha (effort), daan ketekunan (persistence)
individu menuju pencapaian tujuan.
Sedangkan J.P Chaplin (2004) memberikan pengertian motivasi adalah: Sesuatu
yang mendorong untuk berbuat sesuatu atau bereaksi, menjalankan tugas sebagi intensif atau
sebagai tujuan, satu keadaan ketegangan di dalam individu, yang membangkitkan,
62
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
memelihara dan mengarahkan tingkah laku menuju pada satu tujuan atau sasaran, alasan
yang disadari, yang diberikan individu bagi tingkah lakunya.
Menurut (Robbins, 2008), Motivasi merupakan dorongan dari dalam maupun luar diri
sendiri yang membuat orang bertindak dalam cara tertentu untuk mencapai tujuan yang
diinginkannya. Motivasi dapat muncul dikarenakan oleh berbagai kebutuhan fisik maupun
rohaniah, seperti emosi atau sebuah ide. Motivasi diwujudkan pegawai melalui tindakan dan
sikapnya di dalam lingkungan pekerjaan.
Motivasi ialah suatu dorongan baik itu dari luar ataupun dari dalam yang akan
memberikan semangat untuk dapat mengerjakan pekerjaan , sehingga dalam pengerjaannya
mambu memberikan hasil yang baik serta maksismal.
B. Teori Motivasi
Dalam sebuah teori motivasi menurut Dell (1991) mempunyai isi dalam bentuk
pandangan tertentu mengenai manusia, membantu kita memahami dunia keterlibatan dinamis
tempat organisasi beroperasi dengan menggambarkan dan membantu manajer maupun
pegawai agar saling terlibat setiap hari serta dalam dinamika kehidupan organisasi. Adapun
beberapa alternatif metode guna memotivasi seseorang adalah sebagai berikut :
a. Ancaman
Ancaman bersikap baik merupakan metode pemberian motivasi sebagai usaha untuk
meningkatkan semangat para pegawai dengan memberikan kondisi kerja yang baik, berbagai
tunjangan, upah yang tinggi, dan pengawasan yang baik.
63
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
b. Tawar-menawar
Tawar menawar secara implisif dalam manajemen mendorong para pegawai menghasilkan
sejumlah keluaran yang pantas, dengan membuat suatu persetujuan untuk memberikan
sesuatu sebagai imbalannya dan memberikan pengawasan yang pantas.
c. Persaingan
Persaingan untuk mendapatkan kenaikan upah, promosi yang diberikan kepada orang yang
bekerja sangat baik, persaingan untuk memenuhi kepuasan beberapa bentuk kebutuhan.
d. Internalisasi motivasi
Internalisasi motivasi adalah pemberian rangsangan motivasi dengan cara memberikan
peluang pemuasan kebutuhan melalui pekerjaan itu sendiri, sehingga pegawai akan senang
melakukan pekerjaan yang baik.
Berikut akan dibahas mengenai sebagian dari teori awal tentang motivasi (teori jenjang
kebutuhan Maslow dan teori harapan Vroom).
1. Teori Motivasi Jenjang atau Hierarki Kebutuhan Maslow
Menurut (Maslow, 1970) dalam (Robbins, 2008: 208-210) menghipotesiskan bahwa di dalam
diri manusia terdapat lima kebutuhan yang berjenjang. Mulai dari kebutuhan tingkat dasar
yang berubah fisiologis yang bersifat pemuasan ragawi tentang makan, minum, dan seks,
kebutuhan akan keamanan dan rasa aman, kebutuhan akan sosial, kebutuhan akan
penghargaan, sampai pada kebutuhan tertinggi yang memiliki manusia yaitu kebutuhan akan
aktualisasi diri.
Menurut Maslow dalam Wukir (2013: 120) Hierarki kebutuhan manusia adalah:
64
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
1. Kebutuhan Fisiologis Merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan manusia untuk bertahan
hidup. Kebutuhan ini harus terpenuhi dahulu sebelum seseorang ingin memenuhi kebutuhan
diatasnya. Contoh kebutuhan ini adalah makanan, minuman, tempat tinggal dan udara.
2. Kebutuhan Rasa Aman Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi maka kebutuhan untuk
melindungi diri sendiri menjadi motivasi dari perilaku berikutnya. Kebutuhan ini termasuk
stabilitas, kebebasan dari rasa khawatir dan keamanan pekerjaan. Asuransi hidup dan
kesehatan merupakan contoh kebutuhan yang masuk ke dalam kategori ini.
3. Kebutuhan Sosial
Setelah kebutuhan tubuh dan keamanan terpenuhi maka muncul kebutuhan baru yaitu rasa
memiliki dan dimiliki serta kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sosial. Manusia
membutuhkan orang lain 11 untuk berhubungan dan berinteraksi. Di tempat kerja kebutuhan
ini dapat terpenuhi dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan rekan kerja atau
bekerja sama dalam tim.
4. Kebutuhan akan Penghargaan
Setelah ketiga kebutuhan sebelumnya terpenuhi maka muncul kebutuhan akan penghargaan
atau keinginan untuk berprestasi. Kebutuhan ini juga termasuk keinginan untuk mendapatkan
repuatasi, wibawa, status, ketenaran, kemuliaan, dominasi, pengakuan, perhatian,
kepentingan dan penghargaan.
5. Kebutuhan untuk
Mengaktualisasikan Diri Kebutuhan paling akhir yang terletak pada hierarki paling atas
muncul setelah semua kebutuhan terpenuhi. Merupakan kebutuhan untuk terus berkembang
dan merealisasikan kapasitas dan potensi diri sepenuhnya.
65
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
2. Teori Motivasi Harapan Vroom
Menurut Vroom dalam Robbins (229-233 : 2008) mengatakan bahwa seorang pegawai
dimotivasi untuk berusaha keras bila ia meyakini akan dinilai baik, dan penilaian itu
mengantarkannya pada imbalan organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, promosi atau
lain-lain imbalan yang dapat memuaskan tujuan pribadinya. Oleh karena itu, teori ini
memusatkan pada tiga hubungan, yaitu: hubungan upaya-kinerja, hubungan kinerja-imbalan,
hubungan imbalan-tujuan pribadi.
Upaya Kinerga Imbalan Tujuan
Individual Individual Organisasional Individual
1.
2. 1. Hubungan Upaya kinerja 2. Hubungan Kinerja-Imbalan 3. Hubungan Imbalan- Tujuan
Pribadi
Sumber: Robbins, 230:2003
Gambar 2.1 Teori Harapan Vroom
Seperti terlihat dalam Gambar 2.1 Nadler dan Lawler, dalam Stoner (1996, 147-148)
mengajukan empat asumsi dasar bagi teori pengharapan, yaitu:
a. Tingkah laku ditentukan oleh kombinasi faktor-faktor dalam individu dan faktor-faktor
dalam lingkungan
b. Individu secara sadar membuat keputusan mengenai tingkah laku mereka dalam organisasi,
c. Individu mempunyai kebutuhan, keinginan, dan sasaran berbeda,
66
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
d. Individu memilih diantara alternatif tingkah laku atas dasar harapan mereka bahwa suatu
tingkah laku akan menghasilkan yang diinginkannya.
3. Faktor-faktor Motivasi
Menurut Sunyoto (13-17: 2013) faktor-faktor motivasi ada tujuh yaitu:
1. Promosi Promosi adalah kemajuan seorang karyawan pada suatu tugas yang lebih baik, baik
dipandang dari sudut tanggung jawab yang lebih berat, martabat atau status yang lebih tinggi,
kecakapan yang lebih baik, dan terutama tambahan pembayaran upah atau gaji.
2. Prestasi Kerja Pangkal tolak pengembangan karier seseorang adalah prestasi kerjanya
melakukan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya sekarang. Tanpa prestasi kerja yang
memuaskan, sulit bagi seorang karyawan untuk diusulkan oleh atasannya agar
dipertimbangkan untuk dipromosikan ke jabatan atau pekerjaan yang lebih tinggi di masa
depan.
3. Pekerjaan itu sendiri Tanggung jawab dalam mengembangkan karier terletak pada masing-
masing pekerja. Semua pihak seperti pimpinan, atasan langsung, kenalan dan para spesialis
di bagian kepegawaian, hanya berperan memberikan bantuan, semua terserah pada karyawan
yang bersangkutan, apakah akan memanfaatkan berbagai kesempatan mengembankan diri
atau tidak.
4. Penghargaan Pemberian motivasi dengan melalui kebutuhan penghargaan, seperti
penghargaan atas prestasinya, pengakuan atas keahlian dan sebagainya. Hal yang sangat
diperlukan untuk memacu gairah kerja bagi pada karyawan. Penghargaan di sini dapat
merupakan tuntutan faktor manusiawi atas kebutuhan dan keinginan untuk menyelesaikan
suatu tantangan yang harus dihadapi.
67
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
5. Tanggung Jawab Pertanggungjawaban atas tugas yang diberikan perusahaan kepada para
karyawan merupakan timbal balik atas kompensasi yang diterimanya. Pihak perusahaan
memberikan apa yang diharapkan oleh para karyawan, namun di sisi lain para karyawan pun
harus memberikan kontribusi penyelesaian pekerjaan dengan baik pula dan penuh dengan
tanggung jawab sesuai dengan bidangnya masing- masing.
6. Pengakuan Pengakuan atas kemampuan dan keahlian bagi karyawan dalam suatu pekerjaan
merupakan suatu kewajiban oleh perusahaan. Karena pengakuan tersebut merupakan salah
satu kompensasi yang harus diberikan oleh perusahaan kepada karyawan yang memang
mempunyai suatu keahlian tertentu dan dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik pula. Hal
ini akan dapat mendorong para karyawan yang mempunyai kelebihan di bidangnya untuk
berprestasi lebih baik lagi.
7. Keberhasilan dalam Bekerja Keberhasilan dalam bekerja dapat memotivasi para karyawan
untuk lebih bersemangat dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh perusahaan.
Dengan keberhasilan tersebut setidaknya dapat memberikan rasa bangga dalam perasaan
karyawan bahwa mereka telah mampu mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tugas
mereka.
4. Jenis-jenis Motivasi
Ada dua jenis motivasi menurut Malayu Hasibuan (150 : 2013) adalah sebagai berikut:
1. Motivasi Positif
Motivasi positif maksudnya manajer memotivasi (merangsang) bawahan dengan memberikan
hadiah kepada mereka yang berprestasi di atas prestasi standar. Dengan motivasi positif,
semangat kerja bawahan akan meningkat karena umumnya manusia senang menerima yang
baik-baik saja.
68
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
2. Motivasi Negatif
Motivasi negatif maksudnya manajer memotivasi bawahan dengan standar mereka akan
mendapat hukuman. Dengan motivasi negatif ini semangat bekerja bawahan dalam jangka
waktu pendek akan meningkat karena mereka takut dihukum, tetapi untuk jangka waktu
panjang dapat berakibat kurang baik.
Dari pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa jenis motivasi ada dua, yaitu
motivasi positif, dimana seorang pemimpin memberikan hal yang positif untuk dapat
mengembangkan kinerja para bawahannya dengan cara memberikan hadiah sebagai
penghargaan untuk bawahan yang teladan. Motivasi kedua yaitu, motivasi negatif yang mana
memberikan motivasi dengan tujuan mengembangkan kinerja para bawahan dengan cara
memberikan sanksi agar kerja menjadi semangat.
5. Langkah-langkah Motivasi
menurut Sunyoto (17 : 2013) Dalam memotivasi bawahan, ada beberapa petunjuk atau
langkahlangkah yang perlu diperhatikan oleh setiap pemimpin. Adapun langkahlangkah
tersebut, adalah sebagai berikut:
1. Pemimpin harus tahu apa yang dilakukan bawahan
2. Pemimpin harus berorientasi kepada kerangka acuan orang
3. Tiap orang berbeda-beda di dalam memuaskan kebutuhan
4. Setiap pemimpin harus memberikan contoh yang baik bagi para karyawan
5. Pemimpin mampu mempergunakan keahlian dalam berbagai bentuk
6. Pemimpin harus berbuat dan berlaku realistis
69
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
6. Tujuan Motivasi
Menurut Sunyoto (2013: 17-18) tujuan motivasi adalah sebagai berikut:
1. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
3. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan
5. Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan
6. Mengefektifkan pengadaan karyawan
7. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
8. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan
9. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
10. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya.
B. HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN MOTIVASI
Tugas umum seorang pemimpin adalah memberikan pengarahan atau bimbingan.
Menurut Schermerhorn dalam Husaini Usman (273:2013) bahwa pengarahan (leading)
meliputi: (1) dasar-dasar leading, (2) leading melalui motivasi, (3) leading melalui
komunikasi, (4) leading melalui keterampilan personal, (5) leading melalui dinamika
kelompok dan kerja tim, dan (6) leading melalui inovasi dan perencanaan perubahan.
Dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kepemimpinan dengan motivasi ialah
pemimpim mampu memberikan suatu harapan ataupun motivasi yang dapat membangun
70
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
kinerja para bawahan untuk lebih giat, sama halnya dengan seorang kepala sekolah mampu
memberikan arahan serta motivasi kepada para guru dan juga para staf yang ada di sekolah.
A. KEUNGGULAN BERSAING KEPALA SEKOLAH
1. Pengertian Keunggulan Bersaing
Keunggulan bersaing menurut David dalam Mitra Utama(78:2001) Keunggulan bersaing
adalah jantung kinerja perusahaan dalam pasar bersaing. Keunggulan bersaing pada dasarnya
tumbuh dari nilai atau manfaat yang dapat diciptakan perusahaan bagi para pembelinya. Bila
perusahaan kemudian mampu menciptakan keunggulan melalui salah satu dari ketiga strategi
generik tersebut, maka akan didapatkan keunggulan bersaing. Pada dasarnya, keunggulan
bersaing adalah posisi kedudukan sebuah perusahaan yang lebih unggul dibandingkan
pesaingnya (Bani-Hani and AlHawary, 2009).
Pada dasarnya, keunggulan bersaing harus merupakan kemampuan yang tidak hanya
menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan pesaing, namun juga harus memberikan
nilai yang sebenarnya bagi konsumen. Kemudian dari sanalah, maka keunggulan bersaing
akan memastikan tercapainya posisi yang dominan di pasar. (Bani-Hani and AlHawary,
2009). Para peneliti dan penulis mengatakan bahwa keunggulan bersaing dapat
dipertahankan secara terus-menerus untuk jangka waktu yang lama. (Barney, 1991).
Menurut Tang dan Bauer dalam Djafri (48:2016) bahwa persaingan dominan merupakan
kemampuan perusahaan untuk memimpin secara terus menerus dalam menghasilkan produk
dan pelayanan yang unggul. Dalam Djafri (47:2016) juga menyebutkan bahwa Menurut
Porter keunggulan bersaing adalah kinerja perusahaan yang dapat tampil di atas rata-rata.
Upaya untuk menghasilkan kinerja organisasi di atas rata-rata tersebut, diperlukan
keunggulan komitmen untuk selalu melakukan perbaikan secara terus menerus sehingga
71
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
organisasi mampu menghasilkan produk atau jasa yang memiliki keistimewaan dibandingkan
para pesaingnya. Dengan demikian organisasi diharapkan memiliki kemampuan bersaing
secara dominan.
Keunggulan bersaing ialah memberikan kinerja yang lebih baik disbanding dengan
pesaing, sehingga dapat diartikan bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan sebaiknya
berikanlah yang terbaik dan semaksimal mungkin untuk dapat lebih unggul dari pesaing.
2. Pentingnya Keunggulan Bersaing bagi Kepala Sekolah
Keunggulan bersaing seorang kepala sekolah ialah mampu meraih kinerja terbaik dari
individu/kelompok yang lainnya, ia mampu membuktikan keunggulan yang dimiliki,
meningkatkan kualitas kerja, adanya keinginan untuk mengembangkan diri serta pengetahuan
dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.
B. HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN KEUNGGULAN BERSAING
KEPALA SEKOLAH
Motivasi ialah suatu dorongan baik itu dari luar ataupun dari dalam yang akan
memberikan semangat untuk dapat mengerjakan pekerjaan , sehingga dalam pengerjaannya
mambu memberikan hasil yang baik serta maksismal. Sementara keunggulang bersaing ialah
memberikan kinerja yang lebih baik disbanding dengan pesaing, sehingga dapat diartikan
bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan sebaiknya berikanlah yang terbaik dan semaksimal
mungkin untuk dapat lebih unggul dari pesaing.
Dapat disimpulkan bahwa hubungan antara motivasi dengan keunggulan bersaing
kepala sekolah sangat erat kaitannya, dimana seorang kepala sekolah harus mampu
72
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
memberikan motivasi kepada para bawahannya serta tidak lupa untuk meningkatkan kinerja
sebagai kepala sekolah guna mampu bersaing dengan para pesaingnya.
73
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
YANG IDEAL
VI
A. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH YANG IDEAL
Keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan disekolah tidak luput dari faktor
kepemimpinan di sekolah tesebut. Kepemimpinan yang tidak pilih kasih serta bersikap adil
kepada semua bawahannya merupakan salah satu ciri kepemimpinan yang diidamkan setiap
orang. Namun, masih banyak lagi ciri kepemimpinan dari seorang kepala sekolah yag akan
membawa dampak positif baik itu untuk pihak pribadi, kelompok ataupun untuk sekolah itu
sendiri.
Penggunaan strategi yang tepat perlu dilakukan dalam peningkatan mutu pendidikan
serta kualitas sekolah merupakan penilaian terhadap kepemimpinan kepala sekolah. Untuk
itu sekolah memerlukan pemimpin yang matang serta bertanggung jawab. Berikut
merupakan ciri-ciri kepemimpinan kepala sekolah menurut para ahli :
a. Mulyasa (2012) dalam Maharani mengatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang
ideal memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut:
1. Fokus Pada Kelompok
Kepemimpinan kepala sekolah lebih diarahkan kepada kelompok-kelompok kerja
yang memiliki tugas atau fungsi masingmasing, tidak memfokuskan kepada individu. Hal
ini akan berakibat tumbuhnya kerja sama dalam kelompok. Motivasi individu akan
menjadi tugas semua orang dalam kelompok, jadi kelompok kerja menjadi sumber
74
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
motivasi bagi setiap anggota dalam kelompok. Karena pimpinan selalu menilai kinerja
kelompok, bukan individu, maka setiap kelompok akan berusaha memacu kerja sama
yang sebaikbaiknya, kalau perlu dengan menarik teman sekelompoknya yang kurang
benar kerjanya.
2. Melimpahkan Wewenang
Seorang kepala sekolah tidak selalu harus membuat keputusan sendiri dalam
segala hal. Kepala sekolah dapat menyerahkan wewenangnya kepada kelompok-
kelompok yang dipercayainya di bawah pengawasannya sendiri.
3. Merangsang Kreativitas
Setiap upaya meningkatkan mutu kinerja, apakah itu dalam menghasilkan barang
atau jasa, pada dasarnya selalu diperlukan adanya perubahan cara. Jadi, kalau
menginginkan adanya mutu yang lebih baik jangan takut menghadapi perubahan, sebab
tanpa perubahan tidak akan terjadi peningkatan mutu kinerja. Perubahan bisa diciptakan
oleh pemimpin, tetapi tidak harus selalu berasal dari pimpinnan. Oleh karena itu,
pemimpin perlu merangsang timbulnya kreativitas di kalangan orang yang dipimpinnya
guna menciptakan hal-hal baru yang sekiranya akan menghasilkan kinerja yang lebih
bermutu. Seorang pemimpin tidak selayaknya memaksakan ide-ide lama yang sudah
terbukti tidak menghasilkan mutu kinerja yang diharapkan. Setiap ide baru yang
dimaksudkan untuk menghasikan sesuatu yang lebih bermutu dari manapun asalnya patut
disambut baik. Orang-orang dalam organisasi harus dibuat tidak takut dalam berkreasi,
dan orang yang terbukti menghasilkan ide yang bagus harus diberi pengakuan dan
pengahrgaan.
75
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
4. Memberi Semangat dan Motivasi
Seorang pimpinan pendidikan harus selalu melakukan pembaharuan, karena
dengan pembaharuan akan dapat dihasilkan mutu pendiidkan yang lebih baik. Oleh
karena itu, kepala sekolah harus selalu mendorong semua orang dalam lembaganya untuk
berani melakukan inovasi-inovasi, baik itu menyangkut cara kerja maupun barang dan
jasa yang dihasilkan. Tentu semua itu dilakukan melalui proses uji coba dan evaluasi
secara ketata sebelum diterapkan dalam organisasi.
5. Memikirkan Program Penyertaan Bersama
Seorang kepala sekolah harus selalu mengupayakan adanya kerja sama dalam
tim, kelompok, maupun unit-unit organisasi. Program-program yang dibuat mulai dari
perencanaan sampai pada implementasi dan evaluasi dilaksanakan melalui kerjasama.
Maksudnya adalah mengikutsertakan semua orang di lembaga pendidikan dalam berbagai
kegiatan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan masing-masing. Orang adalah
aset terpenting dalam lembaga dank arena itu setiap orang harus didayagunakan secara
optimal bagi kepentingan pencapaian tujuan sekolah.
6. Kreatif dan Proaktif
Seorang kepala sekolah harus selalu bertindak kreatif dan proaktif yang bersifat
preventif dan antisipatif. Kepla sekolah tidak hanya bertindak reaktif yang mulai
mengambil tindakan bila sudah terjasi masalah. Kepala sekolah yang kreatif dan proaktif
selalu bertindak untuk mencegah munculnya masalah dan kesulitan di masa yang akan
datang. Setiap rencana dan tindakan yang dibuat sudah dipikirkan terlebih dahulu akibat
dan konsekuensinya yang akan muncul, dan kemudian dipikirkan cara mengeliminasi
halhak yang bersifat negative atau berusaha meminimalkannya. Dengan demikian
76
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
kehidupan sekolah selalu dalam pengendalian kepala sekolah. Dalam artian semua sudah
dapat diperhitungkan sebelumnya, dan bukannya memungkinkan munculnya
masalahmasalah secara mengejukan dan menimbulkan kepanikan dalam organisasi
sekolah. Tindakan yang reaktif biasanya sudah terlambat atau setidaknya sudah sempat
menimbulkan kerugian atau akibat negatif lainnya.
7. Memperhatikan Sumber Daya Manusia
Sumber daya menusia merupakan hal yang penting dalam organisasi. Oleh karena
itu, sumber daya manusia harus selalu mendapatkan perhatian yang besar dari pimpinan
pendidikan dalam arti selalu diupayakan untuk lebih diberdayakan agar kemampuan-
kemampuannya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Dengan kemampuan yang
meningkat itulah, sumber daya manusia dapat diharapkan untuk meningkatkan mutu
kinerjanya. Program-program pelatihan, pendidikan, dan kegiatan yang bersifat
memberdayakan SDM harus dilembagakan dalam arti selalu direncanakan dan
dilaksanakan bagi setiap orang sesuai kebutuhan dan situasi.
8. Membicarakan Persaingan
Untuk melihat bahwa suatu sekolah itu baik atau tidak tentu perlu ada
perbandingan dengan sekolah lain. Kepala sekolah dianjurkan melakukan pembandingan
dengan sekolah lain, membandingkan mutu sekolahnya dengan sekolah lain yang sejenis.
Kegiatan ini disebut benchmarking. Kepala sekolah harus selalu berusaha menyamai
mutu sekolah lain, bahakan harus selalu senantiasa berusaha melampaui mutu sekolah
lain.
77
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
9. Membangun Karakter, budaya dan iklim sekolah
Karakter suatu organisasi tercermin dari pola sikap dan perilaku orang-orangnya.
Menurut (Gistituati, 2012) budaya sekolah adalah system nilai, norma, keyakinan atau
ideology, cara berfikir, dan harapan yang dimiliki, bersama dan dipegang teguh oleh
kepala sekolah, guru dan peserta didik, serta tenaga pendukung lainnya. Karakteristik
tentang budaya sekolah ini yaitu sebagai berikut:
a. Budaya adalah tingkah laku yang harus ditampilkan secara terus-menerus dan bisa
diamati. Jika individu di sekolah berinteraksi, mereka memiliki kegiatan yang
biasanya dilakukan bersama, seperti upacara bendera dan uoacara peringatanlainnya.
b. Budaya memiliki norma. Tingkah laku individu di sekolah ditentukan oleh norma
yang berlaku di sekolah tersebut. Dengan kata lain, sekolah memiliki standar perilaku
yang dijasikan penuntun bagi individu di sekilah dalam berperilaku.
c. Budaya sekolah memiliki aturan-aturan yang harus dilaksanakan baik oleh guru
maupun peserta didik.
10. Kepemimpinan yang Tersebar
Pimpinan kependidikan jangan berusaha memusatkan kepemimpinan pada dirinya
sendiri, tetapi harus menyebarkan kepemimpinannya pada orang lain. Kepemimpinan
yang dimaksud disini adalah pengambilan keputusan dan pengaruh pada orang lain.
Pengambilan tentang kebijakan organisasi tetap ditangan pimpinan taas, dan lainnya
bersifat operasioan atau bersifat teknis disebarkan kepada orang lain sesuai dengan
kedudukan dan tugasnya.
78
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
11. Bekerja sama dengan Masyarakat
Kerjasama dengan masyarakat sudah menjadi bagian penting dalam
mengendalikan roda perjalanan organisasi pendidikan
12. Visi yang Utuh
Menurut (Mulyasa, 2012) Kepala sekolah yang sukses dalam mengembangkan
kepemimpinannya memiliki dan memahami visi yang utuh tentang sekolahnya. Visi
merupakan daya pandang yang komprehensif, mendalam dan jauh ke depan, meluas,
serta merupakan daya piker yang abstrak, yamg memiliki kekuatan yang amat dahsyat
dan dapat menerobos batas waktu, ruang dan tempat
13. Mempercayai Staf Pengajar
Menurut (Danim, 2009) seorang kepla sekolah sangarlah penting mempercayai
staf pengajar maupun wakilnya sendiri. Tanpa kepercayaan dan sikap saling menghargai
antara kepala sekolah dan staf pengajar maupun dengan wkilnya, sekolah yang
bersangkutan akan terancam kombinasi kinerja yang buruk dan moral yang rendah.
Kondisi ini akan menyebabkan sekolah akan terjebak dalam kondisi krisis dan tidak akan
mampu mendongkrak hasil belajar siswa. Untuk itu, sangat penting sekali kepercayaan
antara kepala sekolah ini.
14. Tanggung Jawab
Menurut (Mulyasa, 2012) tanggung jawab merupakan beban yang harus dipikul
dan melekat pada diri kepala sekolah. Segala tindakan yang dilakukan oleh semua staf
sekolah merupakan tanggung jawab kepala sekolah. Memikul tanggung jawab adalah
kewajiban seorang pemimpin dalam berbagai situasi dan kondisi. Dalam rangka
membangun kepercayaan dan tanggung jawab, setiap kepala sekolah dalam
79
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
melaksanakan fungsi kepemimpinannya harus mampu membersayakan tenaga
kependidikan dan seluruh warga sekolah agar mau dan mampu melakukan upaya-upaya
untuk mencapai tujuan sekolah.
15. Keteladanan
Menurut (Mulyasa, 2012) keteladanan kepala sekolah yang selalu menjadi contoh
yang baik bagi bawahannya akan menjadi salah satu modal bagi terlaksananya
manajemen sekolah yang efektif. Keteladanan kepala sekolah akan membuat guru dan
staf pegawai segan kepadanya dan pasti mereka juga akan meniru apa yang dilakukan
oleh kepala sekolah. Perilaku keteladanan ini bisa ditunjukkan dengan sifat selalu
menghargai bawahan, disiplin, ramah dan lain sebagainya.
16. Mendelegasikan Tugas dan Wewenang
Menurut Sudarwan (Danim, 2009) kepala sekolah harus mendukung upaya
pemecahan setiap permasalahan, tetapi tidak harus selalau kepala sekolah yang
memecahkan permasalahan yang terjadi, tetapi kepala sekolah dapat menyerahkan tugas
dan wewenang tersebut kepada wakil atau staf pengajarnya. Dengan demikian, bila
masalah itu berhasil dipecahkan, staf pengajar akan memperoleh kepuasan batin dan ini
sangat penting untuk merangsang motivasi dan rasa percaya diri mereka melakukan
segala macam tugas dan pekerjaan serta pelbagai persoalan sendiri secara lebih baik.
Dengan member kesempatan seluas-luasnya kepada wakil dan staf pengajar untuk
mengatasi sendiri kesulitan yang timbul, kepala sekolah dalam waktu bersamaan telah
mendorong dan memupuk pertumbuhan sekolah.
17. Cekatan dan Tegas, Sekaligus Sabar
80
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepala sekolah harus mendengarkan pendapat dan pandangan dari pelbagai pihak
sebelum mengambil keputusan. Setiap lembaga atau sekolah emmerlukan keputusan yang
tepat dan cepat. Jasi, yang dibutuhkan adalah kepala sekolah yang sabar sekaligus tegas
dalam mengambil keputusan. Karena keputusan itu nantinya berlaku untuk semua pihak,
sedapat mungkin kepala sekolah harus berkonsultasi dengan sebanyak mungkin pihak
untuk mendengarkan pelbagai pendapat.
18. Memberikan Layanan Prima
Menurut (Mulyasa, 2012) memberikan layanan prima atau layanan terbaik
merupakan salah satu upaya menumbuhkan kepercayaan peserta didik. Layanan bagi
peserta didik bukan hanya dari guru, tetapi juga dari pihak administrasi. Dalam hal ini,
bila terjadi hal-hal yang dapat mengurangi layanan, kepala sekolah harus segera
mengambil langkahlangkah positif agar kepercayaan kembali normal. Kepuasan peserta
didik sebagai pelanggan akan dapat meningkatkan gengsi sekolah tersebut sehingga akan
disenangi masyarakat dan akhirnya menjadi sekolah favorit.
b. Menurut Sahadi karakter kepemimpinan yang ideal sedikitnya mempunyai 8 (delapan)
karakter, yaitu :
a. Cerdas
Kecerdasan didapat dari hasil belajar, sehingga kaya akan ilmu pengetahuan. Jika
seseorang akan cerdas, maka sangat diperlukan semangat belajar dengan tekun dan
rajin. Dalam hal ini seorang pemimpin akan bisa dengan cepat dan tepat membuat
suatu. Lagi pula semua permasalahan akan cepat terselesaikan.
81
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
b. Bertanggung jawab
Seorang pemimpin yang ideal harus Bertanggung jawab, dalam artian bahwa
bertanggung jawab terhadap dirinya dan juga terhadap anggotanya dalam suatu
organisasi. Bertanggung jawab salah satu beban terberat, namun terasa ringan jika
dibarengi dengan iman dan taqwa.
c. Jujur
Seorang pemimpin yang ideal harus jujur, sehingg akan mampu untuk terbuka pada
anggotanya dalam segala kebijakan yang diambil. Seorang pemimpin yang
mempunyai sifat jujur, pasti akan membuat seluruh anggota percaya terhadap segala
perkataan dan tindakannya. Akan cepat diikuti dan dilaksanakan oleh seluruh anggota
organisasinya.
d. Dapat dipercaya. Seorang pemimpin yang ideal harus dapat dipercaya, sehingg akan
mampu untuk saling percaya dan tidak ada kecurigaan. Kepercayaan inilah yang
memacu setiap anggota untuk lebih maju. Intinya jangan sampai membuat suatu
tindakan yang salah, sehingga akan menjadikan ketidakpercayaan.
e. Inisiatif
Seorang pemimpin yang ideal harus inisiatif, sehingga akan mampu untuk
memutuskan segala hal dengan benar. Selain itu juga memiliki kemampuan untuk
menemukan solusi yang baik demi kemajuan organisasinya.
f. Konsisten dan tegas
Konsisten dalam artian bahwa seorang pemimpin akan mampu menjalankan setiap
aturan dan kebijakan. Sedangkan tegas yang dalam artian bahwa seorang pemimpin
tidak membebaskan anggotanya, namun juga tidak mengekang anggotanya.
82
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
g. Adil.
Seorang pemimpin yang ideal harus berbuat adil, sehingga mampu untuk
memperlakukan anggotanya dengan perlakuan yang sama sesuai dengan tugas dan
bidangnya masingmasing. Begitu juga seorang pemimpin tidak memihak pada salah
satu anggota, melainkan semua anggota.
h. Lugas
Seorang pemimpin yang ideal harus lugas, sehingga akan mampu untuk menjelaskan
pemikirannya secara langsung dan tidak bertele-tele.
Dapat dimaknai bahwa kepemimpinan kepala sekolah yang ideal itu ialah kepala sekolah
yang mampu bertanggung jawab atas para bawahan serta warga sekolah dan juga memiliki
karakter yang mampu menjadi panutan bagi orang banyak.
C. PENTINGNYA MENJADI KEPALA SEKOLAH YANG IDEAL
Menjadi kepala sekolah memiliki tugas yang tidak mudah karena harus memimpin para
siswa juga para bawahan yang ada disekolah, untuk itu ada baiknya untuk menjadi pemimpin
sekolah yang ideal terhadap semua lapisan masyarakat di sekolah. Sebelumnya telah
dijelaskan ciri menjadi kepala sekolah yang ideal. Dari semua itu kepala sekolah di harapkan
mampu memiliki ciri tersebut, guna untuk kepentingan individu/kelompok agar tidak ada
bawahan yang merasa tidak adil dalam kepemimpinan kepala sekolah.
83
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB PENGARUH PENGETAHUAN
MANAJEMEN DENGAN
VII KEMANDIRIAN BAGI KEPALA
SEKOLAH
Kepemimpinan dalam diri seseorang harus mampu mengatur dan mengembangkan
pengetahuan yang dimiliki serta berproses dalam setiap kegiatan dengan tujuan yang positif. Ada
empat fungsi managemen menurut pidarta (2011:2) yaitu:
a. Planning (perencanaan)
Perencanaan adalah suatu proses memikirkan dan menetapkan kegiatan-kegiatan atau
program-program yang akan dilakukan pada masa yang akan datang untuk mencapai
tujuan tertentu, Sagala (2011:56).
b. Organizing (pengorganisasian)
Pengorganisasian merupakan penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan
struktur organisasi, sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang
melingkupinya, Usman (2008:141)
c. Actuating (pergerakan)
Pergerakan merupakan salah satu fungsi terpenting dalam manajemen karena usaha-
usaha perencanaan dan pengorganisasian besifat vital tapi tak aka nada output
konkrit yang dihasilkan tanpa adanya implementasi aktivitas yang diusahakan dan
diorganisasikan adanya suatu tindakan actuating atau usaha yang menimbulkan
Iaction, Marno (2008:20)
84
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
d. Controlling (pengawasan)
pengawasan merupakan suatu kegiatan yang perlu dilakukan oleh setiap pelaksana
terutama yang memegang jabatan pimpinan. Tanpa pengawasan, pimpinan tidak
dapat melihat adanya penyimpangan-penyimpangan dari rencana yang telash
digariskan dan juga tidak akan dapat menyususn rencana kerja yang lebih baik
sebagai hasil dari pengalaman yang lalu, Marno (2008:24).
Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan manajemen kepala sekolah sangat berpengaruh
terhadap sekolah yang dipimpin. Pengetahuan tersebut berupa: (1) Planning
(perencanaan), dimana seorang kepala sekolah dalam memimpin harus memiliki sebuah
perencanaan. Perencanaan ini bermanfaat besar dalam kemajuan sekolah yang dipimpin,
karena dengan adanya perencanaan maka akan terprogram kegiatan apasaja yang aka
nada pada sekolah. Dengan begitu, kegiatan sekolah tidak mati karena sudah adanya
perencanaan. (2) Organizing (pengorganisasian), penyususan struktur organisasi pada
sekolah berpengaruh besar, karena dengan demikian maka pengelolaan sumber daya yang
dimiliki mampu terpenuhi. (3) Actuating (pergerakan), setiap pergerakan ataupun
tindakan yang akan dilakukan oleh kepala sekolah pastinya memiliki resiko baik rendah
maupun tinggi. Sehingga kepala sekolah memiiki pergerakan yang cukup besar untuk
mengambil keputusan terhadap sekolah yang ia pimpin. (4) Controlling (pengawasan),
pengawasan yang dilakukan sekolang pemimin terhadap bawahannya merupakan hal
wajar, ini semua pemimpin lakukan untuk kesejahteraan bersama. Begitu pula dengan
kepala sekolah yang selalu mengawasi bawahannya guna untuk kesejahteraan bersama.
85
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kemandirian yang ada pada diri seorang pemimpin mampu membuat pemimpin
tersebut mengambil keputusan yang bijaksana, serta tidak tergantung dengan orang lain.
Jadi, pengaruh pengetahuan manajemen dengan kemandirian kepala sekolah ialah sangat
berpengaruh, bagaimana tidak? seorang kepala sekolah harus mampu mengatur bawahan
tanpa adanya pengaruh dari lingkungan atau orang lain dengan kata lain kepala sekolah
harus mandiri. Manjemen serta kemandirian seorang kepala sekolah diharapkan mampu
menjadikan kepala sekolah yang ideal dalam memimpin.
86
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB IMPLEMENTASI MANAJEMEN
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
VIII
A. FENOMENA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
Kualitas suatu pendidikan ditentukan oleh keberhasihan seorang kepala sekolah
dalam memimpin. Menurut Wiyono (2017) menyatakan bahwa kepemimpinan kepala
sekolah merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah.
(Yang, 2014). Menambahkan, dikarenakan kepala sekolah memiliki peran penting untuk
melakukan peningkatan dan pengembangan sekolah secara berkelanjutan. Walaupun demikian
terdapat permasalahan mendasar yaitu masih banyak kepala sekolah di Indonesia yang tidak
mengetahui bagaimana menggunakan wewenang yang dimiliki untuk mengelola sekolah yang
dipimpin karena takut membuat perubahan (Sofo, Fitzgerald & Jawas, 2012).
Menurut (Bolanle, 2013; Moorosi & Bantwini &, 2016; Boonla & Treputtharat,
2014) Kepemimpinan dalam pendidikan menjadi sangat penting karena kepemimpinan
kepala sekolah memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas pendidikan. Beberapa
hasil studi terbaru telah menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
kemampuan kepemimpinan kepala sekolah dengan efektifitas sekolah. Sesuai dalam
Pasal 12 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990 bahwa: “Kepala sekolah
bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah,
pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana
dan prasarana”.
Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan merupakan motor penggerak
penentu arah kebijakan sekolah, serta menentukan bagaimana tujuan pendidikan di
87
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
sekolah yang dipimpinnya dapat direalisasikan, dituntut untuk senantiasa meningkatkan
kinerja. Peningkatan kinerja dapat ditunjukan dengan mewujudkan tujuan pendidikan
yang semakin efektif dan efisien, Gusti (2017).
Rivai (2003) bahwa fungsi kepemimpinan terdiri atas: (1) fungsi instruktif, yakni
bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang
menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar
keputusan dapat dilaksanakan secara efektif, (2) fungsi konsultatif yakni komunikasi dua
arah, (3) fungsi partisipasi, yakni pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang
dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam
melaksanakannya.
Menurut Eka (2014) beberapa masalah yang mengindikasikan adanya masalah
kinerja guru. Permasalahan ini nampak dari beberapa fenomena, yaitu: (1) guru kurang
semangat dalam menyelesaikan tugasnya yang berkaitan dengan perangkat pembelajaran,
(2) Masih ada guru yang belum memiliki program pengajaran yang baik,(3) Kreativitas
guru dalam memilih startegi dan metode pembelajaran sering menggunakan metode
ceramah, dan (4) masih ada guru yang mementingkan kepentingan pribadinya dari pada
menjalankan tugasnya sebagai seorang guru,.
Eka (2014) juga menambahkan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah yang
berorientasi pada tugas dan bawahan dirasakan terdapat masalah, ini terlihat dari
fenomena- fenomena: (1) Kepala sekolah kurang memberikan dorongan semangat kerja
terhadap guru. (2) kurangnya kesempatan yang diberikan kepala sekolah terhadap guru
untuk berkonsultasi, (3) kepala sekolah kurang memberikan arahan terhadap pekerjaan
88
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
yang harus dikerjakan oleh guru, dan (4) kepala sekolah kurang memberikan perhatian
terhadap kesulitan yang dialami guru dalam menyelesaikan tugasnya..
Menurut Yunus (2016) mengatakan bahwa Fakta lain yang ditemukan adalah guru
sering meminta bantuan kepada petugas tata usaha untuk memeriksa dan menilai setiap
tugas, pekerjaan dan latihan yang diberikan kepada siswa yang seharusnya harus
dilakukan guru bersangkutan. Dengan kata lain saat melakukan tugas para guru harus
melakukan disiplin kerja. Pentingnya disiplin kerja guru dikemukakan Nitisemito
(Widdah, Suryana, dan Musyaddad, 2012: 128) bahwa “secara umum pentingnya disiplin
kerja adalah supaya tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi dapat dicapai secara
efektif dan efisien”.
Silfianti dalam Tua (2017) menemukan beberapa fenomna kritis terhadap kondisi
sekolah yang dikaitkan dengan ketidakmampuan kepala sekolah mewujudkan sekolah
yang efektif di Indonesia. Beberapa fenomenanya yaitu:
1. Kepala sekolah masih kurang mampu dalam memelihara fasilitas sekolah. Fasilitas
belajar tidak terkelola dengan baik sehingga mengakibatkan suasana belajar di
lingkungan sekolah tidak begitu efektif. Misalnya adalah kondisi kursi, meja, dan
lemari sekolah yang sudah rusak. Kondisi yang demikian ini membuat siswa tidak
nyaman untuk belajar.
2. Kepala sekolah tidak mampu menciptakan budaya dan suasana sekolah yang
kondusif. Hubungan di antara sesama guru dan staf kependidikan lainnya sering
sekali tidak baik. Akibatnya, lingkungan kerja di sekolah menjadi tidak baik karena
ada beberapa guru memiliki konflik interpersonal dengan guru atau staf kependidikan
lainnya.
89
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
3. Kepala sekolah juga kurang mampu melibatkan para personil sekolah supaya aktif
dalam berbagai kegiatan di sekolah. Lemahnya kemampuan kepala sekolah dalam
melibatkan para personil sekolah baik guru maupun tenaga kependidikan menjadi
permasalahan mendasar di sekolah. Artinya, baik guru maupun tenaga kependidikan
tidak dapat memaksimalkan kontribusinya dalam mewujudkan pengembangan
sekolah karena kepala sekolah tidak berkompeten untuk memberdayakan sumberdaya
manusia yang ada di sekolah.
4. Keempat, kepala sekolah juga tidak mampu mengarahkan para guru supaya
menyusun dan mengembangkan silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran). Kecenderungan guru adalah menggunakan RPP dari sekolah lain atau
hanya menggunakan RPP dari situs internet. Dalam kasus ini sebenarnya, peran
kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran telah gagal.
5. Kelima, kepala sekolah cenderung tidak melibatkan para guru dalam komite sekolah
untuk pengambilan keputusan. Kepala sekolah selalu mendominasi dalam setiap
pengambilan keputusan. Kemampuan kepala sekolah secara sosial maupun kooperatif
adalah penyebab utamanya.
Dari permasalahan yang terjadi dari fenomena diatas, dikhawatirkan kualitas dari
kepemimpinan akan menurun begitu juga dengan mutu pendidikan di sekolah. Menurut
Yunus (2016) mengungkapkan bahwa upaya menjaga kedisiplinan guru-guru agar
bersikap dan bertingkah laku yang baik dilakukan dengan melaksanakan fungsi instruktif
dalam bentuk mengingatkan guru-guru agar selalu bersikap dan bertingkah laku yang
baik, dan fungsi partisipatif dalam bentuk mengajak guru untuk senantiasa bersikap dan
bertingkah laku yang baik. Dengan demikian kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah
90
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
harus mampu memberikan motivasi positif terhadap guru serta bawahannya dengan
tujuan agar mutu pendidikan di sekolah tidak menurun serta tetap mengembangkan
eksistensi sebagai seorang pemimpin..
B. IMPLEMENTASI MANAJEMEN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
Implemetasi Manajemen Kepemimpinan kepala sekolah sangat berpengaruh terhadap
keberlangsungan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah. Hal ini dapat dilihat dari
Fungsi-fungsi kepemimpinan kepala sekolah yang terdiri terdiri dari (1) pimpinan sebagai
penentu arah; (2) pimpinan sebagai wakil dan juru bicara organisasi; (3) pimpinan
sebagai komunikator yang aktif; (4) pimpinan sebagai mediator; dan (5) sebagai
integrator. Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan, memiliki tugas
merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi aktivitas sekolah dengan menyusun
tujuan, memelihara disiplin, dan mengevaluasi pembelajaran yang dicapai. Pada saat ini
kepala sekolah didorong untuk menjadi pemimpin yang memudahkan personil sekolah
dengan membangun kerjasama yang solid dan menciptakan jaringan kerja yang kuat,
serta mengatur semua komponen sekolah dengan komunikasi yang baik, menurut Gusti
(2014).
Menurut Syafaruddin (2010), bahwa kepemimpinan pendidikan yang dijalankan
oleh kepala sekolah atau pimpinan lembaga pendidikan lainnya mengandung unsur-
unsur, yaitu:
1. Proses mempengaruhi para guru, pegawai, dan murid-murid serta pihak terkait
(komite sekolah dan orang tua siswa);
2. Pengaruh yang dimaksudkan agar orang lain melakukan tindakan yang diinginkan;
91
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
3. Berlangsung dalam organisasi sekolah untuk mengelola aktivitas pembelajaran;
4. Kepala sekolah diangkat secara formal oleh pejabat kependidikan atau yayasan
bidang pendidikan;
5. Tujuan yang akan dicapai melalui proses kepemimpinannya, yaitu tercapainya tujuan
pendidikan lulusan berkepribadian baik dan berkualitas;
6. Aktivitas kepemimpinan lebih banyak orientasi hubungan manusia daripada mengatur
sumber daya material.
Menurut Gusti (2014) menyatakan Di dalam kerangka implementasi kebijakan
desentralisasi pendidikan, manajemen mutu sekolah sangat penting untuk dipraktikan
secara nyata. Namun untuk mencapai manajemen mutu pendidikan, kepemimpinan
visioner dari kepala sekolah juga sangat membantu memperlancar jalannya
manajemen mutu sekolah. Mengingat kepemimpinan visioner merupakan
kemampuan komperhensif dan integratif kepala sekolah untuk menciptakan,
mengkomunikasikan, dan mengimplementasikan semua gagasan-gagasan yang sejak
awal menjadi cita-cita yang ingin dikonkretkan oleh organisasi dimasa depan,
khususnya di sekolah.
Hasil penelitian Chen, dkk (2016) membuktikan bahwa kepemimpinan positif
berhubungan signifikan dengan efektifitas sekolah yang dimediatori oleh budaya
organisasi sekolah. Pentingnya seorang pemimpin yang berpikiran positif sangat
mendukung dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif. Artinya kepala
sekolah harus melakukan yang benar dan memiliki optimis.
Pengimplementasian manajemen kepemimpinan kepala sekolah tidak terlepas dari
penggunaan gaya kepemimpinan yang dipakai. Menurut Tua (2017) Penerapan gaya
92
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
kepemimpinan positif dipandang penting dilakukan oleh kepala sekolah di Indonesia.
Pada umumnya sekolah di Indonesia terdiri dari berbagai ras, suku, dan agama. Oleh
karena itu, kepala sekolah harus mampu memiliki pola pikir positif supaya dapat
mewujudkan suasana sekolah yang kondusif dan demokratis sehingga dapat terwujud
sekolah yang efektif.
Tua (2017) juga mengatakan bahwa Proses implementasi dari lima gaya
kepemimpinan kepala sekolah (manajerial, transformasional, transaksional,
pengajaran dan positif) dapat dilakukan dengan cara: (1) mengkonsep setiap program
sekolah dengan efektif dan efisien, (2) memberikan pengaruh yang berdampak
signifikan kepada setiap warga sekolah (guru, staf kependidikan, dan siswa) dan
stekeholder, (3) mengembangkan profesionalisme guru maupun staf kependidikan,
(4) menciptakan proses pembelajaran dan iklim organisasi sekolah yang kondusif, (5)
memiliki persepsi positif dalam mengelola sekolah.
Saat kepala sekolah mengimplementasikan gaya kepemimpinan yang ia jalankan,
ada baiknya mengingat latar belakang sekolah yang ia pimpin terlebih dahulu.
Mengingat Indonesia memiliki keragaman suku, ras dan agama, hal ini bertujuan
untuk memberikan rasa nyaman kepada para bawahan serta warga sekolah yang
dipimpin.
93
MMMMM Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah
BAB ANALISIS MANAJEMEN
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
IX
Pentingnya kinerja dari seorang pemimpin akan cepat terlihat dampaknya bagi para
bawahan, untuk itu seorang pemimpin dituntut untuk selalu mampu memberikan yang
terbaik. Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah juga bertanggung jawab terhadap
kesejahteraan para bawahan. Oleh karena itu, pemimpin harus bijaksana mengunakan gaya
kepemimpinan apa yang cocok untuk diterapkan.
A. ANALISIS KINERJA KEPALA SEKOLAH
Menurut Mahardhani (2015:1-4) upaya peningkatan profesionalisme kepala sekolah tidak
akan terwujud, tanpa adanya motivasi dan kesadaran internal dari kepala sekolah, serta
semangat untuk mengabdi, yang akan melahirkan visi sekolah maupun kemampuan
konsepsional yang jelas dari kepala sekolah. Dengan demikian ada banyak tugas yang harus
dikerjakan seorang kepala sekolah demi meningkatkan kinerja para bawahan serta menjapai
tujuan yang telah ditentukan. menurut Wahyosumidjo (2013:97), kepala sekolah memiliki
tugas–tugas sebagai berikut:
a. Kepala sekolah berperilaku sebagai saluran komunikasi di lingkungan sekolah yang
dipimpinnya
b. Kepala sekolah bertindak dan bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan
oleh guru, staf, dan pegawai lainnya yang ada disekolah.
c. Dengan waktu dan sumber yang terbatas, kepala sekolah harus mampu menghadapi
berbagai persoalan.
94