CB-D.12
10-2563/5664-2012
~~ 1(Wtt~_...;.._B_el_ak_a_ng_G_U_n_Un_g......1,;,=
KusHaryadi
MACAN KURUNG
1Sel~ k>,~ V\,gg uV\,uV\,g
.
Pendekatan Interdisiplin Seni Ukir 'Macan Kurung'
Belakanggunung ]epara
Pemerintah Kabupaten]epara
2010
~~ ~WU~===:::B:::e:::la:::ka=ng:::G:::u:::n:::u:::n:::g::::
MACAN KURUNG
"E-eLa l<Ga ~ g lA.1i\-lA.~
\
Pendekatan Interdisiplin Seni Ukir 'Macan Kurung'
Belakanggunung Jepara
Penulis : us aryadi
E-mail: [email protected]
Editor : Danang Putra Gumilang
Desain Cover: Aminan Basyarie
Layout : Yoyok Yermiandhoko
Penerbit : Pemerintah Kabupaten Jepara
Pencetak : Surya Offset, Semarang
ISBN : 978-602-95308-9-6
Cetakan pertama, 2010
11
~~ 1(WU~_....;;__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g....",;:
Kepada seluruh pihak yang telah membantu
terselesaikannya tulisan ini penulis menyampaikan terima
kasih terutama kepada:
Drs. Hendro Martojo, MM. (Bupati ]epara)
Drs. Bunaji (Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan
Olahraga Kab. ]epara) atas motifasi dan bimbingannya.
Drs. Hadi Priyanto, M.M (Kabag. Humas Kab. ]epara)
Ternan-ternan mahasiswa prodi. Pendidikan 5eni 52
UNNE5 yang selalu memberi inspirasi.
Para informan: 5unardi (Belakanggunung), Darsono
(Kawak), 5upriyanto, 5umamo, beserta segenap
komunitas Mulyoharjo.
Tidak lupa kepada Agung Darmawan dan Dwik
Tunggak sebagai ternan diskusi dan pendamping dalam
observasiku.
Istriku dan anakku Greged Adhiluhung dan Bregas
Badardhuwung yang memberikan waktu dan
kesempatan.
Serta segenap pihak pendukung penulisan ini, yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu.
111
~'f!L 1<l!rur!:t B_e_l_aka_n_g_G_U_n_U_n_g~~
"COGITO ERGO SUM"
Tulisan ini saya dedikasikan untuk:
]epara "negeri"-ku tercinta,
Dunia pendidikan pembangun insan mulia,
Dunia seni yang tiada henti mewarnai bumi,
Dunia ilmu pengetahuan penunjuk jalan terang.
I -----w =----.:
L
~1!U ~WU~===B=e=la=ka=n=g=G=u=n=un=g=
HALAMAN JUDUL iii
TERIMA KASIH v
DAFfARISI vii
DAFfAR GAMBAR ix
I<ATAPENGANTAR
SAMBUTAN BUPATI JEPARA xii
- PENDAHULUAN 1
- BELAI<ANGGUNUNG SELAYANG PANDANG 3
- ASAL-USUL SENI UKIR BELAI<ANGGUNUNG 6
- PERAN R.A. I<ARTINI 19
- MITOS PAHAT PUSAI<A 22
- JATISERAT 26
- REGENERASI 31
- SISfEM PEWARlSAN 38
- FASE PERKEMBANGAN 41
- PERSEBARAN KE I<AWAK 48
- PENYELARASAN PANDANGAN RELIGIUS 54
- CITRA DAN FENOMENA MACAN BAL-BALAN 57
- 'MACAN KURUNG SEBAGAI EKSPRESI ESfETIS 64
v
~If!b 1;:WU~===~B_el.:ak=a=n=g=G=un=u=n=g~,S
- KEUNIKAN TEKNIK PRODUKSI 70
- BENTUK DAN srRUKTUR 76
- MAKNA SIMBOLIS DAN NILAI-NILAI 83
- ORISINALITAS 98
- 'MACAN KURUNG' SEBAGAl PUBUC DOMAIN 103
- DINAMlKA SEKARANG 110
- UPAYA PELFSfARIAN DAN PENGEMBANGAN 119
- PATUNG BELAKANGGUNG MASA KINI 127
- PERGESERAN ESfETIKA DALAM
PENGGAMBARAN IKON BINATANG 138
-HARAPAN 146
- DAFTAR PUSTAKA 151
PENULIS 154
VI
~1!b 1(WU~====B=e=la=k=a=ng=G::u_n_U_n_g~~
Gambar1 Hiasan batu putih Masjid 16
Mantingan 27
Garnbar2 Kawasan Jatiserat 29
Gambar3 Makam Asmo Sawiran
Gambar4 Sunardi, perajin 'macan kurung' 33
generasi ketiga
Gambar5 Seniman, perajin 'macan kurung' 36
generasi keempat 44
Gambar6 Ukiran spesiIik Belakanggunung 46
Gambar7 Globe dan Garuda Pancasila
Gambar8 Darsono, perajin konservatifdari 50
Kawak 59
Gambar9 Menangkap macan 74
Gambar10 'Macan kurung' dalam proses 76
Gambar11 Bentuk-bentuk 'macan kurung
Gambar12 'Macan kurung' dengan bola 79
dan rantai 95
Gambar13 'Macan kurung' buatan Darsono 100
Gambar14 'Kilin'
Gambar15 Tugu masuk sentra industri seni 111
.patung Mulyoharjo
Gambar16 Satu sudut kawasan
vii
~~ 1(WU~====B=el=aka=n=g=G=un=u=n=g:::l
. Gambar17 Belakanggunung 113
Ukiran belakanggunung terpajang
Gambar18 dalam satu sudut show room 114
Gambar19 tradisional 121
Gambar20 Souvenir 'kucing kurung' 123
'Macan kurung' monumental
Gambar21 Proses pembuatan 'macan kurung' 124
Gambar22 pesanan Pemkab. Jepara 130
Gambar23 Patung singa 131
Gambar24 Patung kuda 133
Gambar25 'Kwan Kong' 134
Gambar26 'Hong Leong' 135
'Fou Lok So' (Tiga Dewa) 137
Patung diorama 'Nativih/
viii
Belakang Gunung
Penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah
swr karena atas petunjuk dan perkenan-Nya penulis
dapat menyelesaikan tulisan ini sesuai dengan rencana.
Penulis mengangkat tulisan mengenai 'macan
kurung' Belakanggunung ini selain karena keunikannya
juga karena banyaknya fenomena menarik yang
melingkupinya. Penulis juga merasa ikut prihatin dengan
kondisi 'macan kurung' sekarang yang telah tergeser
ditengah maraknya industri seni patung ukir kayu di Desa
Mulyoharjo, yang merupakan lokasi cikal bakaJ
kelahirannya. Masyarakat perajin kian hari kian jauh dari
'macan kurung' sebagai seni tradisional yang pemah
mengalami masa kejayaan.
Penulis memandang bahwa tradisi tulis di
kalangan rnasyarakat Jepara lebih rendah dibandingkan
dengan tradisi oral (bertutur). Hal ini menyebabkan
minimnya Iiteratur yang dapat memberi informasi secara
jelas tentang ukiran Jepara. Lebih berkembangnya tradisi
oral cenderung memunculkan informasi dari mulut ke
mulut yang sering kali penyampaiannya kurang
informatif dan tidak dapat memberikan keterangan secara
jelas dan faktual atas sebuah realita.
Dengan kondisi minimnya litera tur ini tentu saja
menjadi kendala tersendiri bagi upaya-upaya
memperkenalkan, melestarikan, maupun megembangkan
seni ukir Jepara kepada generasi penerus maupun kepada
masyarakat luas. Pemahaman tentang· ukiran Jepara
IX
~1!b 1(WU~_....:.__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g~S~:;;:;
semakin menurun dari generasi ke generasi, akibatnya
mereka semakin jauh dan tidak lagi mencintai budaya
sendiri.
Melalui prosedur observasi lapangan, studi
dokumentasi dan literatur, wawancara, serta kajian
terhadap obyek studi, penulis berusaha melakukan
analisis yang mendalam mengenai salah satu ukiran
spesifik (branding) )epara khususnya 'macan kurung'.
Selanjutnya penulis bermaksud menyumbangkan hasil
pemikiran tersebut melalui sekelumit tulisan ini dengan
harapan 'macan kurung' tetap dikenang, jika mungkin
dapat lebih dikenal oleh banyak orang, terutama
masyarakat )epara sendiri. Lebih jauh penulis berharap
agar 'macan kurung' yang sekarang sudah termarginalkan
dapat tumbuh kembali dan tidak benar-benar hilang tanpa
bekas dan tanpa makna yang berarti.
Beberapa kasus klaim hak cipta atas kekayaan
ukiran khas )epara oleh spekulan asing yang sangat
merugikan komunitas perajin/pengusaha ukir )epara,
menjadi pelajaran berharga bagi setiap insan yang peduli
terhadap kelangsungan hidup seni ukir itu sendiri.
Dengan tulisan ini pula penulis berharap dijadikan
sebagai bahan retrospeksi perjalanan warisan budaya
yang nilainya tidak dapat ditukar dengan apapun.
Sekelumit tulisan ini hanyalah sebagai awal dari
sebuah upaya yang masih perlu dilanjutkan. Banyak hal
tentang ukiran )epara masih perlu digali lebih banyak lagi.
Untuk itu kepada segenap pihak yang berkompeten
dalam bidang ini, penulis sangat berharap agar dapat
menyurnbangkan karyanya, sehingga literatur mengenai
ukiran )epara menjadi lebih komprehensif.
x
h
~1!b 1<:r!1U~====B=e=Ja=k=an=g=G=u=n=u=n=g~,
Alas segala kekurangan, keterbalasan dan
kesalahan dalarn tulisan ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Tidak lupa kritik maupun saran dari
berbagai pihak demi kesempurnaannya sangat penulis
harapkan. Semoga tulisan isi bermanfaat.
Jepara, 2010
Penulis
xi
~1!U ~wu~ >=;..;.__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n.;u=n=g::=JI~
Assalamll'alaikum wr. wb.
Di era globalisasi yang melanda dunia saat ini,
pengembangan aset-aset bangsa yang berbasis pada
kebudayaan lokal, tak terkecuali seni kerajinan, menjadi
kebutuhan yang sangat mendesak. Pengembangan
budaya lokal tidak hanya berfungsi untuk pelestarian
semata, tetapi menjadi elemen yang sangat penting untuk
membangun citra, karakter dan identitas bangsa di mata
intemasionaI.
Kabupaten Jepara sebagai bagian dan Bangsa
Indonesia memiliki seni budaya dan kerajinan yang khas
dan tidak dirniliki bangsa lain di dunia. Salah satu
kerajinan khas Jepara adalah motif ukir 'macan kurung'.
Motif ini merupakan salah satu dan ratusan motif ukir
Jepara yang dikembangkan oleh nenek moyang perajin
Jepara ratusan tahun lalu. Namun seiring dengan
perkembangan jaman, eksistensi 'macan kurung' semakin
tergeser oleh motif-motif ukir yang ada saat ini. Proses
pembuatan yang rumit tidak sebanding dengan nilai
jualnya. Kondisi ini membuat rendahnya minat perajin
untuk membuat dan melestarikannya. Dikhawatirkan
motif ini pun akan punah dari khasanah seni ukir Jepara.
Sehubungan dengan hal tersebut, saya menyambut
baik terbitnya buku "Macan Kurung Belakanggunung".
Buku ini diharapkan menjadi referensi bagi masyarakat
XII
~~ 1<:i!/U&t_....;.__B.:e=la=k=a=ng=G=u=n=u=n=g=-~
agar mereka lebih mengenal 'macan kurung' secara lebih
mendalam.
Akhimya saya mengucapkan selamat dan sukses
atas terbitnya buku ini. Mudah-mudahan buku ini bisa
menjadi tonggak kebangkitan dan kemajuan seni ukir
Jepara.
XIII
1Ytsr5~ %7:t._..:.__B_e_la_k_an_g_G_U_n_U_n_g-;l~
•
~~ ~WU~====B=e=la=k=an=g=G=u=n=u=n=g:::l
'Macan kurung' adalah sebuah karya seni ukir
khas ]epara yang berkembang sejak jaman RA
Kartini (akhir abad ke-19) dan mengalami kejayaan
. selama kurang lebih satu abad sesudahnya. 'Macan
kurung' muncul di tengah-tengah sistem
pemerintahan kolonial dan adat-istiadat budaya
feodal. Diduga karya seni ini sebagai ekspresi
simbolis perlawanan para perajin ukir atas tekanan
hidup yang dirasakan saat itu.
Karya seni 'macan kurung' berbentuk ikon
seekor macan yang hidup di dalam sebuah
kurungan. Di dalam kurungan itu terdapat pula
sebuah bola yang dapat menggelinding dan terdapat
pula sebuah rantai pengikat macam. Pada bagian atas
kurungan sering diberi berbagai hiasan berbentuk
binatang, seperti burung, naga, ular, dan sebagainya.
'Macan kurung' mempunyai keunikan
tersendiri dari segi teknik pembuatan. Untuk
membuat ukiran ini diperlukan kemahiran dan
ketekunan yang tinggi karena berbagai bentuk dalam
ukiran ini dibuat pada segelondong kayu utuh tanpa
dibeleh dan tanpa sambungan. Perajin dapat
membuat bentuk jeruji kurungan, macan, bola dan
rantai, serta bentuk-bentuk lainnya melalui proses
I";'II
hIll
~~ 1(WU~===;;;B;;:e=la=ka=n=g=G=u=n=u;;;n;;;g:::;;
yang sangat rumit. Karena keunikan-keunikan inilah
maka 'macan kurung' menempati posisi sebagai
salah satu karya seni ukir paling khas Jepara.
Oisebut 'macan kurung' Belakanggunung
karena karya seni ini lahir dari tangan perajin ukir
Oukuh Belakanggunung Oesa Mulyoharjo Jepara.
Belakanggunung merupakan salah satu wilayah yang
sangat bersejarah dan paling fenomenal dalam ranah
pertumbuhan kerajinan ukir kayu Jepara. Sebuah
mitos keajaiban pahat pusaka dan sejarah
perkembangan ukiran Jepara tidak lepas dari dukuh
tersebut. Oi sana lahir para perajin terampil yang
secara turun-temurun dan terus-menerus menjelajahi
dunia kreativitas demi mengembangkan karya
ciptanya. Kegiatan mengukir itu terus tumbuh dan
berkembang sampai sekarang sehingga menjadi pilar
utama terciptanya kesejahteraan masyarakat
setempat. Seni ukir patung 'macan kurung'
Belakanggunung juga menjadi salah satu embrio bagi
pertumbuhan sentra seni ukir patung Mulyoharjo
yang menjadi andalan Kabupaten Jepara.
Pasang surut dan dinamika menarik tentang
seni ukir 'macan kurung' layak untuk diketahui.
Berbagai realitas yang ada sering kali tidak diketahui
secara jelas dan akurat. Melalui tulisan ini penulis
mencoba menyajikan sebuah fakta tentang seni ukir
'macan kurung' dan berbagai fenomena menarik
yang berkaitan dengan eksistensi seni ukir itu.
~~ ~WU~====B=e=la=ka=n=g=G=u=n=u=n;;;g=
-g,el~ ~~ Vvg guVvuVvg
sel~t1 ~ Vvg p~ Vvc;{~ Vvg
Belakanggunung adalah' sebuah dukuh yang
berada di wilayah bagian barat Desa Mulyoharjo
Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara. Desa Mulyoharjo
memiliki luas wilayah 391.895 m2 yang terbagi dalam lima
pedukuhan yaitu Tenger, Surodadi, Jepangan, Tepus dan
Belakanggunung (disebut juga Dukuh Bugel). Jika diIihat
dari Kota Jepara kawasan Belakanggunung terhalang oleh
sebuah bukit kedl yang membentang dari barat ke timur
dan berada di sebelah utara kota Jepara (tepatnya
termasuk wilayah Kelurahan Pengkol). Oleh karena
terhalang sebuah bukit itulah maka kawasan ini dianggap
berada di balik sebuah gunung dan disebutlah dengan
nama Belakanggunung.
Jarak antara Belakanggunung dengan pusat
pemerintahan Kabupaten Jepara cukup dekat, tidak lebih
dari 1.5 km. Dengan lokasi yang tidak jauh dari pusat kota
tersebut secara otomatis memberikan kemudahan bagi
I"~'li
trii/l
.. 1rhf1f!b 1(WU~ B_e_la_k_a_n_g_G_U_n_U_ng_~
penduduknya dalam memenuhi berbagai kebutuhan
hidup, bail< yang berkaitan dengan kebutuhan pokok,
pendidikan, inforrnasi, transportasi, hiburan, dan
sebagainya. Walaupun demikian kondisi di Desa
Mulyoharjo tetap terlihat sebagai kawasan pedesaan yang
bemuansa agraris.
Mata pencaharian penduduk Belakanggunung
antara lain sebagai petani, nelayan, pedagang, pegawai
negeri, tukang kayu, dan yang paling dominan adalah
perajin ukir, sehingga perekonomian penduduk
Mulyoharjo sangat tergantung pada sektor kerjinan ukir
kayu yang ditekuninya. Penduduk Belakanggunung ada
yang bekerja sebagai nelayan disebabkan karena dukuh
ini tidak jauh dari pantai, bahkan terdapat sebuah sungai
yang dapat dilintasi perahu sampai di kawasan
Belakanggunung.
Di Belakanggunung sampai sekarang masih
tersedia areal pertanian dengan luas sekitar 1.5 hektar.
Lahan pertanian yang tidak terlalu luas tersebut tetap
digarap untuk bercocok tanam, terutarna tanaman padi.
Selain itu warga juga menggarap sawah yang cukup luas
di luar Belakanggunung, teru tarna yang berada di sekitar
dukuh. Penduduk dalam menggarap sawahnya
dilakukan seiring dengan kegiatannya sebagai pengukir
kayu. Para pemilik lahan pertanian tidak menjadikan
sektor pertanian sebagai mata pencaharian u tama. Pada
musirn-musirn bercocok tanam mereka bekerja di sawah
dan di sela-sela kesibukannya di sawah mereka tetap
dapat bekerja mengukir. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa komunitas Belakanggunung adalah
komunitas industrial agraris.
I I'~'II
h,L1
1nq;~ 1(WU~_.=..__B_e_la_k_a_ng_G_U_n_U_n_g~l~
Sistem nilai kemasyarakatan yang hidup di
tengah-tengah komunitas Belakanggunung dan
Mulyoharjo pada umumnya, masih diwamai oleh sistem
komunal. Artinya nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan
dan gotong-royong di antara warga masih sangat
dijunjung tinggi. Kondisi ini tercermin dari berbagai
tradisi masyarakat, antara lain tradisi pernikahan,
sunatan, kelahiran, kematian, termasuk dalam keperluan
pembuatan atau pembongkaran rurnah dan ali/11m (pindah
rumah). Tolong-menolong secara sukarela dalam berbagai
tradisi kemasyarakatan oleh para penduduk yang dikenal
dengan istilah sambatan sampai sekarang masih tetap
hidup.
Nilai-nilai keagamaan begitu terasa di
Belakanggunung yang seluruh warganya beragama Islam.
Kegiatan religius yang mewarnai aktivitas penduduk
diantaranya kenduren (selamatan), tahlilan, yasinan, haul,
kupatan, sedekah bumi dan sebagainya. Dalam setiap
peristiwa-peristiwa penting penduduk tidak dapat lepas
dari ritual-ritual religius menunjukkan tingginya rasa
tunduk terhadap Sang Pencipta. Oleh karena itu nilai-nilai
keagamaan telah menjadi salah satu tatanan kehidupan
yang melekat pada komunitas Belakanggunung.
Kultur masyarakat Belakanggunung dengan
nuansa pedesaan yang masih sangat terasa menjadi salah
satu faktor pendukung bagi keberlangsungan kegiatan
pertukangan dan kerajinan kayu. Sampai sekarang Dukuh
Belakanggunung dan Desa Mulyoharjo pada umumnya
telah berkembang menjadi sentra industri seni patung dan
ukir yang sangat mengagurnkan.
1 1'~"1
h.oI
..
A5IAL-U5UL
seV'lv~ UR~r B.eLIA RIA V'lvg g uV'lvuV'lvg
Pembahasan tentang asaJ-usul seni kerajinan ukir
kayu Belakanggunung identik dengan membahas tentang
asal-usul seni ukir ]epara pada umumnya. Dalam legenda
dan sejarah ukir kayu ]epara tidak dapat lepas dari salah
satu lokasi bersejarah dan potensial bagi perkembangan
kerajinan ukir kayu ]epara yaitu desa Mulyoharjo
khususnya Dukuh Belakanggunung.
Legenda Prabangkara
Desa Mulyoharjo dengan salah satu dukuhnya
yang sangat terkenal yaitu Belakanggunung, konon
merupakan tempat jatuhnya pahat milik Prabangkara.
]atuhnya pahat Prabangkara diyakini membawa darnpak
terhadap timbulnya keahlian penduduknya dalarn
membuat ukiran kayu.
Alkisah pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V
(Bre Kerta Wira Burni) dari Kerajaan Majapahit, hidup
"6'11
110" I
~~ ~1U~_....;.__B_e_la_ka_n_g_G_u_n_u_n_g...l
seorang ahli seni yang sangat termasyhur bemama
Sungging Prabangkara. Pada suatu ketika Sang Raja ingin
menunjukkan rasa cinta dan kekagumannya terhadap
permaisuri nan cantik jelita, yaitu seorang puteri dari
Negeri Campa (Cempa). Raja memerintahkan
Prabangkara untuk menyungging (membuat lukisan)
permaisuri. Dengan kepiawaian Prabangkara yang sudah
tidak diragukan lagi akhirnya ia mampu menyelesaikan
dengan sempurna sebuah lukisan permaisuri nan minim
busana, seperti permintaan Baginda Raja. Lukisan yang
molek itu pun diserahkan kepada baginda. Baginda Raja
sangat kagum dengan keindahan lukisan yang dibuat oleh
Prabangkara. Keheranan raja terjadi ketika sedang
mengamati patung itu, tampak pada salah satu bagian
dari tubuh permaisuri ternyata terdapat bercak
kehitaman. Be~ak itu, persis seperti kondisi asli dari
tubuh permaSyuri yang dibawa secara alarni sejak lahir.
Keberadaannya terdapat pada bagian yang sangat rahasia
yang tentu saja hanya diketahui oleh permaisuri dan
baginda raja.
Konon bercak kehitaman itu muncul secara tidak
disengaja, ketika lukisan baru saja diselesaikan ternyata
ada setitik cat yang menganai salah satu bagian lukisan.
Kemudian Prabangkara berusaha menghapus cat itu
namun hasilnya tidak terlalu bersih. Prabangkara pun
merasa bahwa bekas cat itu tidak mengurangi keindahan
lukisan, sehingga dibiarkanlah bekas cat itu sampai
akhirnya lukisan diserahkan kepada raja.
Dengan adanya bercak kehitaman pada lukisan itu
membuat raja dan permaisuri menjadi curiga.
Prabangkara disangka telah berbuat tidak seronok
1"~"1
111.1
~~ 1(WU~_.=.__B_e_la_k_a_n_g_G_U_n_U_ng_';5~~=:c.
terhadap permaisuri sehingga mengetahui keberadaan
tanda alami yang sangat tersembunyi. Prabangkara
mengelak dari sangkaan itu. Namun raja tetap bergeming.
Lalu raja menyusun sebuah rencana untuk menguji
kejujuran Prabangkara. Diperintahlah Prabangkara untuk
mengukir sebuah patung permaisuri, dengan syarat
patung itu hams dikerjakan di atas sebuah layang-layang.
Apabila ternyata ia dapat diterbangkan dan dapat
membuat patung di atas layang-layang berarti ia tidak
bersalah. Sebaliknya jika ia tidak dapat melakukannya
berarti ia bersalah.
Karena merasa tidak bersaJah dan tidak kuasa
menolak perintah raja, Prabangkara kemudian hanya bisa
sendika dawu1l. Sampai akhirnya ia hanya menurut ketika
para punggawa kerajaan menerbangkannya bersama kayu
dan peralatan ukirnya di atas sebuah layang-layang
raksasa. Keajaiban pun terjadi ketika layang-Jayang itu
ternyata dapat diterbangkan. Sambi! menaiki layang-
layang Prabangkara tetap dapat mengukir membuat
patung permaisuri. Banyak orang yang menyaksikan
kejadian ini menjadi heran Juar biasa, tidak terkecuali
Baginda Raja. Terbuktilah bahwa Prabangkara memang
tidak bersalah dengan adanya bercak kehitaman pada
lukisan yang dibuatnya. Namun tidak lama kemudian
layang-layang yang dinaiki Prabangkara yang sudah
tinggi di angkasa secara tiba-tiba terpu tus talinya.
Dapat dibayangkan betapa kalang kabut kondisi
yang dialami Prabangkara di atas layangan itu. Layang-
layang yang dinaiki Prabangkara berputar-putar di
angkasa mengikuti angin yang tidak tentu arah. Pada
suatu ketika jatuhJah ganden (paJu ukir) yang dibawa
I JI~III
11111
~If!b ~<!J:._....:..--==B=e;:la=ka:..n_g_G_U_n_U_n_gJ,~
Prabangkara di suatu tempat yaitu Negeri Cina. Layang-
layang itu pun masih terombang-ambing ditiup angin.
Lalu sampailah ia di atas Pulau Bali dan patung yang
dibawa Prabangkara pun jatuh di Pulau Dewata tersebut.
Masih dalam kondisi melayang-Iayang tidak tentu arah
sampailah layang-layang itu di atas wilayah Jepara. I<ali
ini pahat ukir sebagai satu-satunya barang bawaan yang
masih tersisa pun jatuh di suatu tempat yang bernama
Belakanggunung. Konon sebelum pahat tersebut jatuh,
benang layangan Prabangkara sempat menyangkut
terlebih dahulu pada dua pohon jati di suatu terjalan yang
sekarang dikenal dengan nama Jatiserat.
Mengenai asal mula keahlian penduduk dalam
membuat ukiran kayu di Belakanggunung apakah
disebabkan jatuhnya pahat Prabangkara atau karena sebab
lain sampai sekarang belum ada fakta yang
mendukungnya. Namun dari cerita tersebut dapat
diinterpretasi sebagai sebuah sanepo (kiasan).
Bahwasannya pasca keruntuhan kerajaan
Majapahit akibat konflik polilik telah terjadi perpindahan
kekuasaan dari Majapahit ke Pajang, Mataram dan
Demak. Bersamaan dengan itu banyak penduduk,
prajurit, bangsawan, tukang, tenaga ahIi, dan tidak
terkecuali seniman, pergi meninggalkan daerahnya
mengembara untuk mencari kehidupan baru yang aman
dan lebih menjanjikan. Termasuk seorang ahIi sem yang
dalam legenda di atas bemama Prabangkara. Dalam
kondisi kebingungan tidak mempunyai tujuan yang jelas
Prabangkara mengembara (melayang-Iayang bagai
layangan) dan singgahlah ia di beberapa tempat.
l "~lll
holl
00r5~ 1@rtt~_.===B=e=la:..k_an=g=G=u=n=u=n=g::i
Palu milik Prabangkara jatuh di Cina
• kemungkinan menggambarkan bahwa ukiran yang dibuat
di Belakanggunung telah mendapat pengaruh dari gaya
seni Cina. Orang Cina sudah sejak lama terkenal sanga t
piawai dalam membuat berbagai ukiran. Patung
Prabangkara jatuh di Bali, untuk menunjukkan bahwa ia
sempat singgah dan menularkan keahlian membuat
patung di Bali. Sampai sekarang orang Bali sangat mahir
dalam membuat patung. Pembuatan patung sangat
berkembang di Bali karena orang Bali sangat
membutuhkan adanya patung-patung sebagai sarana
upacara keagamaan. Dalam pengembaraan selanjutnya,
Prabangkara akhimya singgah di wilayah Jepara dan
menu/arkan keahlian mengukirnya kepada penduduk
Belakanggunung. Oleh karena pengajaran mengukir yang
dilakukan Prabangkara itulah sehingga dalam legenda
dikiaskan dengan ketiban tatahe Sungging Prabangkara.
Prabangkara bisa sampai di Jepara kemungkinan
karena pada waktu itu Jepara dengan pelabuhannya yang
sangat terkenal telah menjadi daerah tujuan bagi orang-
orang dari berbagai penjuru untuk berbagai kepentingan.
Walapun pada waktu itu pusat kerajaan di pesisir utara
Jawa berada di Demak, namun Jepara mempunyai
peranan sangat strategis bagi perkembangan bidang
polilik, ekonirni, sosial budaya dan agama. Dengan
demikian Jepara menjadi daerah tujuan bagi orang-orang
dari berbagai penjuru.
Kata prabangkara dalam Bahasa Jawa Kawi berarti
senirnan, sungging berarti gambar. Jadi nama Sungging
Prabangkara adalah sebuah julukan bagi seorang senirnan
ahli menggambar (pelukis). Sungging Prabangkara juga
~~ 1(WU~====B=e=la=ka=n=g=G=u=n=un=g::t!S
mempunyai julukan Sungging Adi Linuwih (Luwih),
arlinya seorang yang mempunyai kelebihan yang sangat
linggi dalarn bidang seni garnbar atau menggarnbar
(biasanya seorang ahIi garnbar juga memiliki kemarnpuan
dalam bidang seni yang lain, misalnya
memahatjmengukir). Keterampilan mengukir
dikembangkan di Belakanggunung pada waktu itu karena
faktor sosial dan faktor a1arn yang sangat mendukung.
Mites Prabangkara sangat mempengaruhi
pandangan hidup para perajin. Para perajin meyakini
pahat miIik Prabangkara sarnpai sekarang masih ada,
sebagai 'pusaka' yang dimiliki oleh salah seorang perajin
di Desa Mulyoharjo. Bahkan sebagai ungkapan
pengabdian atas jasa Prabangkara kemudian sebagian
komunitas perajin tradisional mengultuskannya menjelma
sebagai Sang Hyang Wenang. Konon Sang Hyang
Wenang adalah penjaga tanah Jawa. Ia berada di a1arn
gaib dan selalu menuntun perajin serta mengajarkan
keahlian mengukir di Belakanggunung secara
trasendental.
Sejarah Badar Dhuwung
Pertumbuhan kerajinan ukir kayu Jepara tidak
dapat lepas dari peranan seorang tokoh seniman yang
hidup pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Beliau
adalah Patih Badar Dhuwung, seorang ulama, ahIi seni
dan pakar politik imigran dari Negeri Tirai Barnbu yang
juga ayah angkat Sultan Hadliri. Badar Dhuwung dikenal
sebagi peletak dasar seni ukir bagi masyarakat Jepara.
I1';0';" II
I
~1!U 'tWU~===;:;;:B=el=a=ka=n=g=G=u=nu=n=g=
Terdapat berbagai versi tentang asal usul Sultan
Hadliri dan Patih Badar Dhuwung. Sebuah versi cerita
menyebutkan bahwa Sultan Hadliri adalah seorang yang
berasal dari Aceh bernama asii Pangeran Toyib, putra
Sultan Ali Mughayat Syah raja Aceh (1514-1528). Toyib
berkelana untuk menuntut iImu pada ulama-ulama di
negeri Cina. Ketika di Cina ia dekat dengan Thae Ung
Sing dan Tjie Hwio Gwan yang kemudian menjadi ayah
angkatnya. Di Cina Toyib memiliki nama baru, yaitu Tjie
Bin Thang. Oleh karena Toyib juga mempunyai nama
Cina itulah maka versi lain meyatakan bahwa Sultan
Hadliri adalah seorang saudagar dari Cina yang
terdampar di Jepara. Orang Jawa memanggilnya dengan
logat jawa Win-tang. Tjie Bin Thang bermaksud untuk
kembali ke tanah kelahirannya yaitu Aceh setelah dirasa
cukup dalam menuntut iImu di Cina. Namun dalam
pelayarannya ia mengalami musibah di laut sehingga
terdampar sampai ke perairan utara Jawa. Kemudian ia
memutuskan untuk mendarat di pelabuhan Jepara dan
selanjutnya berguru pada Ja'far Shodiq (Sunan Kudus) di
Kudus.
Terdapat juga versi yang menyebutkan bahwa
setelah berguru dari Cina, Pangeran Toyib diperintahkan
ayahnya untuk menuntut ilmu kepada Sunan Kudus.
Sultan Mughayat Syah sendiri sebelumnya telah
melakukan hubungan diplomatik dengan para tokoh di
tanah Jawa termasuk penguasa Jepara yaitu Ratu
Kalinyamat. Menurut Hayati (2007:2), pada tahun 1573
Ratu KaIinyamat dimintai bantuan oleh Sultan Ali
Mukhayat Syah untuk melawan Portugis di Malaka.
Armada yang dikirim sekitar 300 unit kapal dan terdiri
~~ ':tWU~==-_.:B=e=la=k=a=n=g=G=un=u=n=g:::t!S
atas 15.000 prajurit pilihan dengan banyak sekali
perbekalan dan persenja taan.
Dalam tradisi lisan masyarakat disebutkan bahwa
ketika berada di tanah }awa, Pangeran Toyib mengetahui
ada sayembara yang diadakan oleh seorang perempuan
penguasa }epara. Ketika itu }epara dipimpin oleh seorang
perempuan anak Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak
(1521-1546) bernama Retno Kencono yang bergelar Ratu
Kalinyamat (berkuasa tahun 1549-1579). Beliau
mengadakan sayembara yang isinya "sapo sing isa ngalahno
aku, yen lanang akll bakal slIwito sak lawase yen wadon tak
daku sedulur sinoro wedi" ("barang siapa yang bisa
mengalahkan aku, kalau laki-laki akan aku jadikan suami
dan kalau perempuan akan aku angkat menjadi saudara
sekandung").
Mengetahui ada sayembara tersebut, Toyib atau
Tjie Bin Thang tertarik untuk mencoba mengikuti. Dengan
ketinggian ilmunya maka ia pun dapat memenangkan
sayembara itu kemudian menjadi suami dari Ra tu
Kalinyamat dan mendapat gelar Sultan Hadliri. Setelah
menjadi suami Ratu Kalinyamat kemudian kendali
pemerintahan }epara lebih banyak dijalankan oleh Sultan
Hadliri (1579-1599).
Tentang kedatangan Badar Duwung di }epara,
banyak pendapat yang dikemukakan oleh para sejarawan.
Salah satu versi menyatakan bahwa kelika Sultan Hadlirin
berkuasa di }epara, saat itu Negeri Cina sedang
mengalami konflik polilik dan peperangan. Pada saat
itulah Tjie Hwio Gwan bersama saudaranya Thae Ling
Sing pergi meninggalkan negerinya, mencari anak
angkatnya Tjie Bin Thang. Melalui perjalanan yang cukup
~1!L 1(WU~_....;;;__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g~,;
panjang akhirnya diketahui bahwa anak angkatnya telah
menjadi raja di Jepara. Sesarnpainya di Jepara Tjie Hwio
Gwan diangkat sebagai Patih oleh Sultan Hadlirin
sedangkan Thae Ling Sing kemudian menjadi patner
dakwah Sunan Kudus yang lebih dikenal dengan julukan
Kyai Telingsing.
Dalam konteks sejarah pertumbuhan seni ukir
Jepara yang terpenting adalah bagaimana peranan tokoh
Tjie Hwio Gwan tersebut. Peranannya dalam bidang seni
ukir yang sangat besar berawal ketika Ratu Kalinyamat
dan Sultan Hadirin sedang melaksanakan pembangunan
masjid Mantingan. Tjie Hwio Gwan yang juga ahli dalam
bidang seni diminta Sultan Hadirin untuk membuatkan
hiasannya. Kemudian pergilah ia ke negeri Cina
mengambil batu putih untuk dibawa ke Jepara sebagai
bahan ukiran penghias masjid.
Ukiran dari batu putih di masjid Mantingan yang
mencerminkan adanya pengaruh gaya seni Cina, ketika
itu pengetjaannya dilakukan di Jepara. Lokasi
pembuatannya kemungkinan di Mantingan dekat lokasi
masjid yang dibangun. Pada waktu pembuatan ukiran
batu putih, banyak penduduk yang tertarik untuk ikut
belajar megukir. Maka atas bimbingan Tjie Hwio Gwan
orang Jepara mulai belajar membuat ukiran. Melihaf
keahlian Tjie Hwio Gwan dalam membuat ukiran pada
batu putih itulah kemudian masyarakat setempat
memberinya julukan sebagai Patih Badar Dhuwung.
Makna dari kata Badar Dhuwung sarnpai sekarang belum
diketahui secara pasti. Namun secara etimologis, kata
badar berarti rembulan pumama yang bermakna indah
(Kawuryan, 2006: 12). Dhuwung berarti keris, berfungsi
~~ 1(WU~_....;.__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g...J:S
sebagai senjata, berkonotasi pragmatis dengan tatah atau
pahat karena pahat memiliki ketajaman, berfungsi pula
sebagai 'senjata' untuk mengukir. Jadi julukan Badar
Dhuwung kemungkinan berarti seorang yang membuat
ukiran yang indah.
Asal batu putih pada Masjid Mantingan ada
pendapat lain, seperti yang dikemukakan oleh Sjafe'i
dalam Hayati et aI (2007: 89-90) disebutkan bahwa setelah
dilakukan pemugaran pada tahun 1978-1981 ternyata
ditemukan adanya sejumlah besar balok batu putih dan
bekas fondasi bangunan masjid kuno serta adanya relief
pada batu putih. Relief hiasan masjid mantingan diduga
dibuat dengan memanfaatkan batu putih yang ada dari
bekas bangunan tersebut. Bahkan dari sejumlah relief
yang ditemukan, pada bidang sebaliknya kemudian
dimanfaatkan untuk membuat relief baru. Hal ini terlihat
dengan ditemukannya relief dua sisi yang bercorak Hindu
(sebagai relief lama) dan relief bercorak Islam (sebagai
relief baru). Relief In; sekarang disimpan di museum
Kartini Jepara. Lebih lanjut Hayati et al (2007: 90)
menyitir pendapat Kusen bahwa sisa-sisa arkeologi yang
did uga sebagai bekas bangunan masjid kuno oleh Sjafi'i
bukanlah bekas masjid kuno tetapi merupakan situs
bangunan candi Hindu yang pernah berdiri di tempat
tersebut sebelum masjid Mantingan dibangun. Pendapat
ini diperkuat dengan ditemukannya makara, saluran air,
dan lingga yoni yang lazim ditemukan di candi-candi
Jawa. Temuan ini mengungkapkan bahwa batu-batu putih
yang ditemukan di masjid mantingan sebenarnya
merupakan batu lokal, bukan batu impor dari Gna.
1Yhs~ ~,u~====B=e=la=k=a=ng=G=u=n=u=n=g:::!
Gambarl
Hiasan batu putih pada masjid Mantingan
•
Minat penduduk Jepara untuk belajar mengukir
terus berlanjut. Seperti diketahui bahwa batu putih
sebagai bahan untuk ukiran di masjid Mantingan tidak
lagi ditemukan di wilayah Jepara, oleh karena itu Badar
Dhuwung bersama penduduk binaannya kemudian
mengaplikasikan ukirannya pada kayu yang secara alami
lebih tersedia di wilayah Jepara. Badar Dhuwung
kemungkinan juga sempat mendirikan tempat pelatihan
mengukir bagi penduduk Jepara tepatnya di
Belakanggunung.
~1!0 'ZWU~===B=e=la=ka~n=g=Gu=n=u=ng=
Jika elikaitkan dengan legenda Prabangkara,
narnpaknya bukan tidak mungkin jika tokoh Prabangkara
yang dimaksud dalarn legenda adalah Badar Dhuwung,
sehingga Prabangkara dan Badar Dhuwung merupakan
satu orang. Dugaan ini berdasarkan pada latar belakang
legenda dan sejarah sarna-sarna pada masa surut kerajaan
Majapahit. Artinya kedua tokoh ini hidup pada zaman
yang sarna. Selain itu dalarn legenda dan sejarah sarna-
sarna menyinggung mengenai Negeri Cina. Pahat
Prabangkara yang jatuh di Belakanggunung merupakan
kiasan bahwa di situ tempat berlangsungnya proses
penularan keterarnpilan mengukir oleh Prabangkara alias
Badar Dhuwung.
Dalarn legenda Prabangkara disebutkan pula
bahwa sebelum pahatnya jatuh di Belakanggunung,
benang layang-layang Prabangkara terlebih dahulu
menyangkut pada pohon jati di kawasan Serat Oatiserat).
Hal ini seolah-olah menegaskan bahwa tokoh yang
menularkan ukiran kepada masyarakat Jepara tersebut
(Prabangkara/Badardhuwung) kecant1lo1 (tersangkut)
perhatiannya pada sebuah tempat yang banyak
ditumbuhi pohon jati. Tempat itu sangat dekat dengan
Belakanggunung. Tujuannya agar dalam membuat ukiran
tidak kesulitan untuk memperoleh bahan baku kayu.
Jadi, dipilihnya BeJakanggunung sebagai lokasi
sanggar ukir Badar Dhuwung karena beberapa alasan.
Yang pertama Belakanggunung cukup dekat dengan
koningsllOf (istana raja) yang terletak di dekat pelabuhan
Jepara, sebagai pusat kegiatan para pejabat kerajaan.
Kedua, Belakanggunung yang berada di balik bukit
sekaligus eli tepi pantai menjadi tempat yang cukup
.... ~~ 1(WU~====B=e=la=k=an=g=G=u=n=u=n=g=
nyaman untuk pekerjaan mengukir karena pekerjaan itu
membutuhkan ketenangan, inspirasi dan konsenlrasi
tinggi. Ketiga, Belakanggunung dekat dengan kawasan
Serat Oatiserat) yang banyak tumbuh pohon jati, sehingga
I tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan
baku ukiran.
Tidak dipungkiri bahwa fakta tentang asal-usu1
ukiran Belakanggunung atau Jepara pada umumnya
sampai sekarang masih berselimut kabut. Namun yang
• jelas kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan
sumber daya Iingkungannya dengan kegiatan mengukir
yang dipelajari dari Prabangkara atau pun Badar
Dhuwung berlangsung terns menerns di tengah-tengah
masyarakat. Kebiasaan itu berangsur-angsur berkembang
baik kualitas maupun kuantitasnya. Kegiatan mengukir
terns menyebar ke berbagai pelosok wilayah Jepara dan
masih terus berlangsung sampai sekarang.
•
~~ ~U1U~==-__B.:e=la=k=a=ng=Gu=n=u=n=g=
R.A. Kartini dikenal sebagai tokoh emansipasi
wanita yang mempunyai perhatian sangat besar terhadap
bidang politik, ekonorni, pendidikan, sosial, agama,
termasuk seni budaya. Ia sangat peduli terhadap
kesejahteraan hidup rakyat kecil yang masih sangat
terbelakang. Salah satu perhatian R.A. Kartini yang cukup
menonjol ialah kepeduliannya yang besar terhadap
kegiatan para perajin ukir di Belakanggunung.
Kepedulian yang besar itu ditunjukkan dengan upaya-
upaya nyata untuk membangkitkan semangat,
mengembangkan kreativitas dan membangun etos kerja
komunitas perajin sampai akhirnya diperoleh jalan bagi
terciptanya industri seni ukir Jepara, meskipun
perjuangan itu bam benar-benar dapat dinikmati setelah
melalui proses pertumbuhan yang panjang.
Pada masa R.A. Kartini Belakanggunung telah
merniliki pemahat ulung bemama Singo Wiryo. Karena
keahliannya Singo Wiryo ditunjuk Kartini untuk
memimpin sekelompok perajin yang dihimpun di
komplek kabupaten dalam mengembangkan keterampilan
mengukimya. Para perajin dibina dan diarahkan untuk
dapat membuat barang-barang ukiran yang mempunyai
nilai ekonomis atau nilai jual sehingga dapat
meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
~'f!b 1(WU<!J:._....:.__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g~.5:!
Ketert:arikan Kartini pada ukiran Belakanggunung
berawal ketika dalam anjangsana di Belakanggunung
dijumpai banyak perajin terampiI, namun kartini melihat
kehidupan para perajin masih memprihatinkan.
Kebanyakan mereka tergolong sebagai petani miskin.
Keterampilan mengukir para penduduk belum dapat
dimanfaatkan sebagai mata pencaharian. Pekerjaan
mengukir hanya sebagai sarnpingan setelah pertanian.
Setelah meIihat kondisi yang demikian Kartini
merasa tergerak untuk mengangkat harkat para perajin
agar dapat hidup lebih sejahtera melalui keterarnpilan
mengukir. Usaha-asaha yang dilakukan Kartini
diantaranya adalah dengan memesan barang-barang
mebel serta souvenir buatan perajin Belakanggunung
seperti meja kursi, peti, pigura cermin, asbak, mainan
dakon, tempat surat, tempat buku, tempat obat/jarnu
(bothekan) dan sebagainya. Kemudian barang-barang ito
diperkenalkan ke luar daerah sebagai cenderamata serta
dikirimkan kepada kenalannya di Negeri Belanda.
Menurut Gustarni (2000:114), hasil-hasil ukiran para
perajin juga diikutsertakan dalam parneran-pameran di
dalam dan di luar negeri untuk mempromosikan ke forum
yang lebih luas. R.A. Kartini menyatakan bahwa
kesempatan baik ito telah datang bagi para perajin setelah
diselenggrakannya Pameran Nasional Karya Wanita di
Den Haag atau Nationale Tentoonstelling voor
Vrouwenarbeid. Pada kesempatan ito didirikan sebuah
lembaga yang diberi nana Oost en West mengadakan
pameran-pameran dan berhasil menarik perhatian orang-
orang di Nederland terhadap karya-karya kerajinan
tangan rakyat Indonesia. Upaya ini temyata mendapatkan
l'~l~ll
I" "
~~ 1(WU~_-,-__B_e_l_aka_n_g_G_U_n_U_n_g....;;~
tanggapan positif, ukiran Belakanggunung mulai dikenal
orang luar negeri. Selanjutnya pesanan dari luar daerah
maupun dari manca negara mulai berdatangan.
Sejalan dengan mulai mengalirnya pesanan,
Kartini berusaha membina dan mengembangkan keahlian
perajin dengan cara menghimpun para perajin di suatu
tempat di kompleks kabupaten Jepara bersama
Singowiryo yang bertindak sebagai pelatih para perajin.
Adapun Kartini sendiri banyak berkreasi membuat
desain-desain baru yang belum pernah dikerjakan oleh
para perajin. Ornamen berbentuk wayang yang ketika itu
masih dianggap tabu, oleh Kartini diaplikasikan sebagai
ornamen berbagai barang yang dikerjakan. Selain itu
desain yang disukai Kartini yaitu berbentuk relung-relung
yang melingkar-lingkar, pada ujungnya terdapat jumbai
(daun yang terbuka seperti kipas) sebagai gubahan dari
tumbuhan menjalar. Pada perkembangan selanjutnya
ornamen ini kemudian dikenal sebagai motif Jepara.
Oleh karena pada masa Kartini pesanan ukiran
kayu Belakanggunung dan Jepara pada umumnya mulai
dikenal berbagai kalangan dari dalam maupun luar
negeri, serta mulai banyaknya pesanan terhadap hasil
ukiran untuk dipasarkan, maka dapat dikatakan bahwa
pada masa Kartini inilah kegia tan kerajinan permebelan
dan ukir kayu Jepara pe~tama kali menjadi kegiatan
industri. Puncaknya pada dua dasa warsa terakhir abad
ke-20 industri mebel dan ukir Jepara mengalami masa
kejayaan. Data ASMINDO Jepara tahun 2007
menyebutkan, hasil meubel/ ukir Jepara telah dipasarkan
ke 88 negara tujuan ekspor di berbagai belahan dunia.
~~ 1(&1U~, B_e_la_ka_ng_G_U_n_U_n_g
-
Terjadinya regenerasi pada sebuah komunitas
perajin merupakan suatu hal yang sangat penting untuk
kelangsungan kegitan kerajinan. Proses pewarisan
keterarnpilan mengukir perajin Belakanggunung dari
generasi ke generasi terjadi melalui beberapa sistem. Di
antara sistem pewarisan yang terjadi di Belakanggunung
atau di Mulyoharjo pada umurnnya, menurut Rahman
(2006: 69-77) adalah melalui proses pelaziman, proses
peragaan dan proses internalisasi.
Proses pelaziman (conditioning) atau disebut juga
proses pembiasaan terjadi secara alamiah semenjak masa
kanak-kanak, yaitu ketika terjadi interaksi dengan para
orang tua atau pendahulu mereka. lnteraksi dengan para
perajin secara tidak langsung akan membentuk
1@ru~_....:..tJnq;If!O __B_e_la..:ka::n::g::G::u::n::u::n::g=
sLsteVVt PeWCl rLsCl II\,
Terjaelinya regenerasi pada sebuah komunitas
perajin merupakan suatu hal yang sangat penting untuk
kelangsungan kegitan kerajinan. Proses pewarisan
keterampilan mengukir perajin Belakanggunung dari
generasi ke generasi terjadi melalui beberapa sistem. Di
antara sistem pewarisan yang terjadi di Belakanggunung
atau eli Mulyoharjo pada umumnya, menurut Rahman
(2006: 69-77) adalah melalui proses pelaziman, proses
peragaan dan proses intemalisasi.
Proses pelaziman (conditioning) atau disebut juga
proses pembiasaan terjaeli secara a1arniah semenjak masa
kanak-kanak, yaitu ketika terjaeli interaksi dengan para
orang tua atau pendahulu mereka. lnteraksi dengan para
perajin secara tidak langsung akan membentuk
1'~I~'1
10 011
~'f!b ~/U~====B=e=la=ka=ng=Gu=n=u=n=g=
inat belajar dan perilaku, untuk meniru atau mengikuti
kebiasaan yang lazim dilakukan oleh orang tua atau
pendahulunya, dalam hal ini adalah kebiasaan mengukir.
Proses peragaan (modeling) merupakan sistem
pewarisan keterampilan mengukir yang terjadi dengan
cara perajin yang sudah mahir memberikan peragaan cara
kerja mengukir kepada pembelajar. Pembelajar akan
mendapatkan pengalaman secara langsung dalam
membuat ukiran sehingga ia lebih mudah menerima
pengajaran yang dilakukan. Proses modeling dilaksanakan
secara nonformal dengan sistem nyantrik atau di kalangan
perajin biasa disebut ngenek. Model pembelajaran nyantrik
menurut Jazuli (2008:24) berlaku dalam pembelajaran seni
pada seseorang tokoh seniman atau empu seni tertentu.
Misalnya ada seorang yang ingin belajar mendalang
kepada seorang dalang terkenal maka dia akan mengabdi
secara total kepada dalang tersebut. Dia tidur di rumah
sang dalang, mengerjakan segala yang diperintahkan
termasuk pekerjaan yang tidak berhubungan persoalan
pedalangan. Gustami (1999: 253) mengemukakan, model
nyantrik atau ngenek pada komunitas perajin Jepara
disebabkan karena kesadaran untuk belajar dan berlatih
atas keinginan dan cita-cita yang murni. Dengan
kesadaran sendiri, perajin yunior belajar kepada perajin
senior. Selama ngenek umurnnya mereka sudah mendapat
imbalan jasa sekedamya. Imbalan jasa itu sebagai
perangsang bag; yunior agar mau belajar dan berlatih
lebih keras lag; sehingga keahIian yang diinginkan segera
dapat dikuasai.
~~ 1(WU~_--=__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g-:.~
Proses internalisasi (internalitation) adalah sistem
pewarisan yang memberikan kebebasan bagi pembelajar
untuk memahami pokok persoa1an yang dihadapi dan
memecahkannya sendiri tanpa adanya tekanan atau
pengaruh dari luar. Proses ini lebih menekankan pada
kebebasan pembelajar untuk mencoba dan berkreasi
(bereksperimen) secara mandiri.
Pewarisan keterampilan mengukir 'macan kurung'
di Belakangunung karena dilandasi oleh beberapa motif,
yaitu motif tradisi dan motif ekonomi. Motif tradisi
merupakan dorongan untuk melanjutkan kebiasaan dan
nilai-nilai budaya yang hidup dan dilakukan oleh para
pendahulunya. Sedangkan motif ekonomi merupakan
dorongan untuk bekerja mencari nafkah atau untuk
memenuhi kebutuhan hidup.
1 1~1~11
III"
~If!b 1(WU<!J:. B_e_l_a_ka_n_g_G_U_n_U_n_g_
Ukiran 'macan kurung' merupakan salah satu
ukiran spesifik Jepara yang diciptakan oleh para perajin
dari Belakanggunung sejak masa sebelum kemerdekaan
Republik Indonesia. Kehadiran 'macan Kurung' yang
sangat terkenal karena keunikannya bagaikan sebuah
mozaik di Bumi Kartini. 'Macan kurung' tidak mungkin
muncul begitu saja menjadi sebuah karya seperti yang kita
kenai sekarang tanpa melalui sebuah proses. Artinya,
kemunculan 'macan kurung' menjadi bentuk ukiran yang
sempat mengalami masa kejayaan tentu saja melalui
sebuah proses kreatif atau tahapan-tahapan
perkembangan yang cukup panjang.
1Ytq;1!b 1(WU!J:._....;.__B_e_'a_ka_n_g_G_U_n_U_ng_~ ..
Pembahasan tentang perkembangan 'macan
kurung' hingga menjaeli bentuk ukiran spesifik seperti
sekarang tidak dapat elitunjukkan dengan adanya bukti-
bukti fisik berupa ukiran asli atau gambar yang dapat
memberikan informasi perkembangan bentuk ukiran itu.
Hal ini elisebabkan karena tidak ada lagi ukiran yang
elibuat pada fase awal yang masih tertinggal eli
Belakanggunung atau di Jepara pada umurnnya.
Sementara ukiran yang mungkin berada di luar daerah
tidak diketahui pula apakah masih ada atau tidak. Narnun
penjelasan mengenai perkembangan bentuk ukiran
'macan kurung' dapat dihimpun dari keterangan perajin
Belakanggunung.
Pada fase awal, bentuk dan struktur ' macan
kurung' tidaklah seperti yang dibuat perajin sekarang.
'Macan kurung' yang dibuat pada masa-masa awal
kemunculannya, pada bagian kurungan terdapat seekor
macan tanpa rantai tanpa bola. Pada bagian atas
kurungan tidak terdapat bentuk hiasan sarna sekali. Jaeli
bentuknya polos dan rata sehingga mirip dengan meja
ked!. Dilihat dari bentuknya yang seperti meja kecil
tersebut maka kemungkinan 'macan kurung' pada waktu
itu dipajang langsung di atas lantai, tanpa meja atau
pedista!. Jadi seperti layaknya meja kecil (kemap) yang
letaknya eli dekat kursi tamu. Selain untuk mengisi sudut-
sudut kosong antara kursi satu dengan yang lainnya juga
berfungsi untuk menaruh suatu barang. Karena letaknya
yang dekat dengan kursi inilah kemudian eli atas 'macan
kurung' sering dimanfaatkan untuk meletakkan asbak
ketika seseorang sedang duduk-duduk sambiJ merokok.
l'~~ll
It "'
~~ 'ZWU~=:...;:==B=e=l=ak=a=n=g=G~U_n_u_n.:g::::ll~
Dengan seringnya macan kurung' digunakan
untuk meletakkan asbak kemudian memberikan inspirasi
kepada perajin Belakanggunung untuk membuat ukiran
asbak yang menyatu dengan 'macan kurung'. Ukiran
'macan kUrung' dan asbak di atasnya dibuat sekaligus
dari satu gelondong kayu utuh. Seiring dengan itu,
'macan kurung' yang sudah mulai dibuat oleh banyak
perajin mulai dikembangkan dengan diberi tambahan
bentuk bola dan rantai. Bola yang dibuat pada awalnya
adalah bola bandul (pemberat) yang menempel pada
rantai dan terhubung dengan kaki macan.
Menuru t pengakuan Sunardi (perajin generasi
ketiga), ketika masih kedl ia pernah melihat 'macan
kurung' buatan Asmo Sawiran yang masih tersisa di
rumah orang tuanya. 'Macan kurung' itu pada bagian
atasnya berupa tempat rokok dan asbak yang ada
tutupnya. Asbak tersebut sekaligus diberi hiasan patung
burung. Jadi awal mula adanya hiasan di atas 'macan
kurung' adalah berupa asbak, tempat rokok dan patung
burung. Pada periode ini bersamaan dengan
berkembangnya ukiran asbak burung, asbak blekok dan
asbak macan yang merupakan ukiran spesifik
Belakanggunung.
1 1'~..'~,1'1
~~ \tWU&!====;;B;;e;;la;;k;;aD;;g;;G;;U;;D;;U;;D;;g;;i
Gambar6
Ukiran spesifik Belakanggunung
Di tengah keanekaragaman corak dan gaya patung
ukir yang ada di Jepara sekarang, telah terjadi berbagai
gaya yang menyulitkan untuk mengidentifikasi bentuk-
bentuk atau corak ukiran spesifik Belakanggunung. Maka
sesunggunhnya 'macan kurung' dan penggambaran
binatang seperti pada aneka asbak yang muncul satu era
dengan 'macan kurung' adaJah sebagai patung ukir
spesifik. Spesifikasi tersebut terlihat pada bentuk-bentuk
binatang yang bercorak reaJistik, lugas, dan tidak
anatomis. Corak yang demikian merupakan ciri khas yang
dapat menjadi petunjuk adanya perbedaan antara produk
seni ukir dari daerah Jepara dengan produk seni dati
daerah lainnya. DaJam mengembangkan 'macan kurung',
nampak sekaJi bahwa perajin Belakanggunung berupaya
mengaplikasikan corak ukiran spesifik tersebut untuk
mengisi hiasan pada bagian atas 'macan kurung'.
I'~~II
10,,1
1J1q;~ ~WU&Q====B=e=la::k=an=g=G=u=n=u=n=g:::l
Perkembangan 'macan kurung' sampai pada fase
kedua masih menunjukkan bahwa pada mulanya 'macan
kurung' dibuat sebagai benda hias yang juga memiliki
nilai fungsional. Dengan bentuk seperti ini perajin
bermaksud agar produknya memiliki nilai komersial
(inovasi di kalangan perajin tidak Iepas dari dorongan
industrialisasi ukiran kayu yang saat itu sedang
digalakkan oleh R. A. Kartini). Selain itu 'macan kurung'
pada dua fase awal ini dapat dipahami sebagai sifat khas
karya seni yang dibuat oleh masyarakat agraris.
Masyarakat agraris pada umumnya identik dengan
kemiskinan dan keterbatasan sumber daya. Menurut
Rohidi (2000: 38-39), masyarakat miskin biasanya
cenderung bertindak untuk memenuhi kebutuhan
primemya, sehingga ekspresi seninya bersifat fungsional
atau yang dapat memberi manfaat langsung untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar.
Dengan membuat jenis seni komersial akan menghasilkan
keuntungan langsung yang segera dapat dinikmati untuk
kehidupan sehari-harinya.
Pada fase ketiga, para perajin sering kali
melepaskan bola dan rantai dari kaki macan sehingga
bolanya menjadi seperti bola mainan. Rantainya pun tidak
terpaku sebagai pengikat macan, narnun dapat diekspose
sebagai akse50ris di seputar kurungan. Oi sisi lain tidak
jarang perajin yang membuat 'macan kurung' tanpa
adanya rantai dengan alasan rasional bahwa macan dalam
kurungan sudah tidak mungkin lari sehingga tidak perlu
dirantai atau diberi bandul.
l'~'~ll
I .. "
1YZq;~ ~~====B=e=la:.k;:an=g=G;;;;U;;;;n;;;;U;;;;n;;;;g;;;J
'Macan kurung' yang sebelumnya masih memiliki
nilai fungsional berangsur-angsur berkembang menjadi
ukiran yang bersifat hiasan semata-mata. Hilangnya nilai
fungsional 'macan kurung' terjadi seiring dengan
berkembangnya kreativitas perajin untuk memberikan
berbagai hiasan yang ada di atas kurungan. Berbagai
hiasan yang diterapkan merupakan ekspresi estetis bagi
perajin. Perajin dengan leluasa dapat menuangkan
gagasan kreativnya pada 'macan kurung'. Dengan
demikian dapat dikatakan, pada fase ketiga ini perajin
menemukan pandangan
bahwa ukiran yang bersifat
hiasan murni lebih mampu
menampung kreativitas dan
ekspresinya. Nilai estetis
produk yang dihasilkan juga
relatif lebih tinggi. Dengan
tinginya nilai estetis secara
otomatis akan menaikkan
nilai komersial sebuah karya.
Akhirnya 'Macan kurung'
sebagai karya seni rnurni
terus berkernbang sampai
rnenghasilkan bentuk-bentuk
seperti sekarang yang pemah
rnegalarni masa kejayaan.
Seiring dengan
berkembangnya 'rnacan
kurung' menjadi seni murni,
perajin Belakanggunung terus
Gambar7 '4"6'11
Globe dan Garuda 1hIll
Pancasila
~~ ~/U~====B_e_la_k_a_ll_g_G_Un_U_n_g..J~
melakukan inovasi dengan munculnya karya-karya yang
bercorak baru. Berbagai bentuk dapat diterapkan sebagai
hiasan di atas kurungan. Salah satu contolmya adalah
pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 1945
memberi rnakna tersendiri bagi para perajin ' macan
kurung'. Semangat nasionalisme sebagai bangsa yang
berdaulat telah memberikan inspirasi bagi terciptanya
gaya ukiran baru. Kemudian lahirlah 'macan kUrung'
berhias Garuda Pancasila (gambar 11 tengah), yang
menurut Sugiyanto (1996: 105) diawali oleh Mashudi,
seorang perajin dari Desa Karangrandu Kecamatan
Pecangaan yang cukup lama belajar kepada Sunardi
(perajin Belakanggunung). Selain itu muncul pula ukiran
yang cukup unik yaitu penggambaran sirnbol-sirnbol
kedaulatan Negara Republik Indonesia, seperti globe
bermotif garis-garis kepulauan wilayah Indonesia dan
lambang Negara Garuda Pancasila. Ukiran itu sendiri
dikenal sebagai pengembangan dari ' macan kurung'.
Keahlian komunitas perajin Belakanggunung
dalam membuat ukiran seperti tersebut di atas telah
mengantarkannya menuju sebuah spesialisasi keahlian
yang sangat mengagumkan yaitu sebagai perajin yang
handaI dalam membuat patung ukir kayu. Sehingga
Belakanggunung atau Mulyoharjo sekarang dikenal
sebagai sentra seni ukir patung andalan kota Jepara.
l l~~ll
h,,1
~~ ~WU~====B=e=la=ka=ng=G=u=n=u=n=g;:j
Kepopuleran 'macan kurung' pada masa
kejayaannya telah memikat banyak orang untuk belajar
membuatnya. Orang yang belajar tidak hanya dari
wilayah Belakanggunung saja namun juga dari wilayah
desa lain seperti dari Bandengan, Kedungcino, Kecapi,
Sinanggul, Bangsri, Kawak, Tahunan, Senenan,
Tegalsambi dan desa-desa lainnya di wilayah kecamatan
Bangsri, Mlonggo, Jepara, Tahunan, Pecangaan dan
sekitarnya. Kebanyakan orang luar desa belajar membuat
'macan kurung' secara langsung di Belakanggunung
kemudian dikembangkan sendiri di desa masing-rnasing.
Hal ini menyebabkan terjadinya persebaran 'macan
kurung' ke beberapa desa di luar Belakanggunung.
\I~~I\
hill
~~ ~~====B=el=a=ka=n=g=G=u=nu=n=g=
Namun dalam perkembangannya sekarang banyak
perajin 'macan kurung' di desa lain sudah tidak lagi
membuat 'macan kurung' seiring dengan masa surutnya
ukiran itu. Sekarang ini di luar Belakanggunung diketahui
hanya tinggal satu desa yang masih mempunyai perajin
yang konsisten terhadap produksi 'macan kurung' yaitu
desa Kawak.
Desa Kawak kecamatan Mlonggo Jepara terdapat
seorang perajin sepuh yang masih sering membuat 'macan
kurung'. Beliau adalah Darsono alias Tulak, penduduk
asli desa Kawak yang mengaku pernah belajar membuat
Macan Kurung dari Budi, perajin dari Mulyoharjo.
Darsono kelahiran tahun 1944, belajar di brak (bengkel
kerja) Budi dengan cara nyantrik atau ngenek (magang).
Selain itu ia juga belajar bersama rekan-rekannya dengan
seorang guru dari dukuh Surodadi Mulyoharjo yang
sengaja didatangkan oleh Ali untuk melatih mengukir di
Kawak. Pada waktu itu yang ikut berlatih antara lain
]ayus, Harto, Mustajab, Sunoto, Sulik dan kemat. ]ayus
dan Harto juga pernah berlatih membuat 'macan kurung'
dengan Sunardi di Belakanggunung. Oleh karena itulah
sampai sekarang perajin desa Kawak memiliki jalinan
kemitraan yang cukup erat dengan perajin Mulyoharjo
baik dari segi penularan keterampilan, produksi dan
pemasaran.
Dalam pelatihan mengukir di Desa Kawak yang
dipelajari terfokus pada teknik pembuatan 'macan
kurung' bukan bentuk ukiran lainnya dengan alasan,
selain karena terpikat keunikannya, pada waktu itu
'macan kurung' sedang 'naik daun' alias laris manis di
l'~'~ll
\",1
J
~~ 'ZWU~====B=e=la=k=a=ng=G=u=n=u=n=g=
pasaran. Untuk penjualan biasanya perajin yang telah
- menyelesaikan 'macan kurung' dapat langsung menjual
pada pedagang pengumpul ukiran eli Tahunan. Dahulu,
eli daerah tersebut sangat ramai didatangi oleh pembeli
ukir-ukiran dari luar daerah. Dengan banyaknya pembeli
itu perajin merasa mudah mendapatkan uang dari
membuat 'macan kurung'. Kebiasaan itu berlangsung
cukup lama sampai dengan masa surut 'macan kurung'.
Gambar8
Darsono, perajin konservatif dari Kawak
Dari beberapa orang yang belajar membuat 'macan
kurung' kemuelian sarnpai sekarang hanya Darsono yang
masih meneruskan membuat 'macan kurung'. Sementara