The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-04-18 22:16:53

Macan Kurung Belakanggunung

Macan Kurung Belakanggunung

•.• 01q;~ 1(Wtt~_.;;;;.__B_e_la_ka_n_g_G_u_n_u_ng_~

Fenomena di alas dapat dimaklumi selain karena
pada era Asmo belum dikenal adanya Undang-undang
HKI. Namun yang lebih penting justru adanya semangat
kebersamaan dalam masyarakat sebaga4nana tercermin
dalam tradisi gotong royong. Tradisi gotong-royong
begitu kuat dalam kehidupan masyarakat perajin
Belakanggunung yang berada dalam sistem nilai
kehidupan masyarakat agraris. Tradisi dalam masyarakat
perajin seperti ini menjadikan sistem kepemilikan secara
komunal dan bersifat kolektif (collective rights). Kondisi ini
berlangsung terus sarnpai sepeninggal Asmo. Kemudian
dilanjutkan oleh keturunannya sampai sekarang pun tidak
ada klaim hak cipta atas ukiran 'macan kurung'.

Kesadaran yang demikian menurut Durkheim
dalam lazuli (2006: 4), adalah sebagai collective
consciousness (kesadaran/jiwa kolektif) yang
mempengaruhi kehidupan individu. Kesadaran kolektif
adalah aturan-aturan yang ada di luar kontrak antara
individu yang satu dengan yang lain didasari oleh aturan-
aturan moral. Manusia adalah makhluk sosial dalam arti
yang sebenarnya, yang mampu melaksanakan fungsi
moral, yang tidak mungkin dilaksanakan oleh individu.
Maka dari itu masyarakat merupakan 'etnis moral' karena
kesadaran kelompok merupakan kekuatan moral yang
mengikat individu pada suatu masyarakat.

Alasan lain yang memperkuat kedudukan 'macan
kurung' sebagai public domain adalah apabila dipadankan
dengan penciptaan seni tradisi yang bersifat anonim dan
adanya peran yang besar dari komunilas pendukungnya.
Dalam konteks penciptaan seni tradisional kerakyatan

11'0'1411
1tllil

1Yhs~ 1(Wtt~_.....;;...._B_el_a_ka_n_g_G_U_n_U_n_g....ll:~

yang anonim, Kayam dalam Sachari (2002: 52-53) memiliki
pandangan bahwa seni tradisi kerakyatan merupakan seni
yang mengabdi pada kosmos-nya (agraria) sehingga
anonim sifatnya alau alas nama rakyat. Penciptanya
hanya sebagai 'unsur instrumental' yang menerjemahkan
kepentingan komunilasnya. Kalau dipadankan dengan
kesenian k1asik, dikenal penulis-penulis Kerajaan Kediri
seperti Empu Panuluh dan Empu Sedah, Majapahit
mengenal Empu Tantular dan Prapanca, kemudian
Surakarta mengenal Jasadipura dan Ranggawarsila,
biasanya mereka 'dimiliki' dan alas nama sang raja
sendiri, karena raja sebagai 'pusatnya' kosmos.

Merujuk pada pendapat di alas maka peran Asmo
bisa dianggap sebagai 'unsur' instrumental penerjemah
kepentingan masyarakat. Dalam hal ini peran Asmo telap
dihargai sebagai pencipla 'macan kurung' namun ia
menciptakan alas nama komunilas dan untuk
kepentingan komunilas pula. Oleh karena itu tidak pemah
ada k1aim bahwa Asmo sebagai pernilik hak cipla alas
ukiran 'macan kurung'. Sehingga, di kalangan masyarakat
tidak banyak yang tahu jika Asmo sebagai penciptanya.
Dengan demikian 'macan kurung' lebih dikenal sebagai
ciplaan komunilas perajin Belakanggunung dari pada
ciplaan individu. 'Macan kurung' dipandang bukan
sebagai kreativilas individu, telapi tercipla secara anonim,
bersama dengan sifat kolektivilas masyarakatnya.
Masyarakat sebagai pendukung sekaligus sebagai
pemiliknya.

Bentuk desain 'macam kurung' senantiasa
mengalami perkembangan terus menerus dari waktu ke
waktu. Pada awal diciplakan oleh Asmo, bentuk'macan

III1,'0,",5,'I

~1!b 1(WU~...;;;;;===B::.e_la_k_an_g_G=u=n=u=n=g::l

kurung' belumlah dapat dicapai sebuah puncak estetika
yang dapat disepakati oleh komunitas. Dalam hal ini
peran Asmo adalah sebagai pencetus ide. Selanjutnya,
kreativitas Asmo bersama para perajin pendukungnya
kemudian mengantarkan ukiran ini mencapai pada satu
puncak estetika. Artinya seteIah melalui proses yang
cukup panjang akhirnya komunitas perajin mencapai
sebuah kesepakatan tentang nilai-niIai yang mesti melekat
pada 'macan kurung'. Nilai-niIai ini kemudian dipegang
teguh oleh komunitas untuk menjaga spesifikasinya.
Proses ini adalah sebagai pembentukan kesenian
kerakyatan, bahwasannya kesenian itu tumbuh dan
berkembang terus-menerus di tengah rnasyarakat
pendukungnya sarnpai akhirnya mengalami puncak
perkembangan.

Sebagai public domain, 'macan kurung' termasuk
ciptaan yang mencerminkan kekayaan intelektual yang
harus dilindungi. Menurut Wikipedia, kekayaan
intelektual adalah pengakuan hukum yang memberikan
pemegang hal< (atas) kekayaan intelektual (HKI) untuk
mengatur penggunaan gagasan dan ekspresi yang
diciptakannya untuk jangka waktu tertentu. Istilah
kekayaan intelektual mencerminkan bahwa hal tersebut
merupakan hasil pikiran atau intelektualitas, dan bahwa
hal< kekayaan intelektual dapat dilindungi oleh hukurn
sebagaimana bentuk hal< milik lainnya. Hukurn yang
mengatur kekayaan intelektual di Indonesia mencakup
Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri. Hak cipta sendiri
di dalamnya mencakup segala bentuk seni rupa, seperti
seni lukis, seni pahat, dan seni patung.

11h""0I'l61l

~~ \tWU~====B=e=la=k=a=n=g=G=un=u=n=g:;;;

Fungsi dan sifat Hak Cipta sesuai dengan Undang-
Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Pasal2 ayat
(1), Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta
atau pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau
memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis
setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Pengakuan terhadap 'macan kurung' sebagai
kekayaan intelektual mutlak diperlukan karena dalam era
pergaulan global dewasa ini peluang komunikasi antar
bangsa terbuka lebar, didukung dengan transportasi dan
informasi yang semakin canggih. Bersama dengan itu
tentu saja terbuka peluang terhadap terjadinya
penjiplakan dan eksploitasi komersial oleh pihak asing.
Upaya pembajakan dan penjiplakan merupakan tindakan
yang bersifat kontra produktif, tidak sportif, dan
memperlemah budaya inovatif dan mematikan daya
kreatif. Bila itu terjadi hal ini sangat merugikan
masyarakat pemiliknya.

Negara rnernegang hak cipta atas hasil kebudayaan
rakyat yang rnenjadi rnilik bersama. Pasal 10 UUHKI ayat
(2) ditetapkan bahwa, Negara mernegang hak cipta atas
folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi rniIik
bersama, seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad,
lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan
karya seni lainnya. Dalam pasal tersebut juga ditetapkan
bahwa untuk mengumurnkan atau memperbanyak folklor,
orang yang bukan warga Negara Indonesia hams terlebih
dahulu mendapat izin dari instansi yang terkait dalam
masalah tersebut. Maka tidak dibenarkan apabila dalam

110' '71

1I.. d

Jt:._...;.__~~ 1(WUB_e_l_ak_a_ng__G_U_n_u_ng_-;,;:::::

era pergaulan global dengan perdagangan bebas sekarang
ini 'macan kurung' sarnpai dieksploitasi oleh orang asing
tanpa melalui prosedur yang benar.

Akan sangat menyedihkan apabila 'macan kurung'
sarnpai diklaim kepemilikannya oleh pihak asing seperti
yang telah terjadi terhadap sekian banyak ukiran khas
Jepara maupun klaim budaya Indonesia oleh salah satu
negeri tetangga. Jika demikian yang terjadi maka
komunitas pemilik public domain tidak akan berani
memproduksi ukiran itu karena takut terkena sanksi
hukum. Hal ini harus kita hindari karena 'macan kurung'
adalah asli milik masyarakat Jepara. Maka perlindungan
hukum terhadap 'macan kurung' harus dilakukan.

Untuk mengantisipasi lebih jauh terjadinya
pembajakan maupun klaim kepemilikan oleh pihak asing,
Pemerintah Kabupaten Jepara sejak tahun 2008 telah
melakukan langkah prefentif dengan melakukan
infentarisasi terhadap sekian banyak aset budaya daerah,
termasuk 'macan kurung' (walaupun langkah ini sedikit
terlambat karena puluhan ukiran khas Jepara telah
terlebih dahulu diklaim oleh pihak asing). Selanjutnya
aset-aset budaya tersebut didaftarkan ke Departemen
Hukum dan Ham (Depkumham) untuk disahkan hak
ciptanya atas nama Pemerintah Kabupaten Jepara.

Bagi komunitas perajin ukir kayu Jepara dapat
mengambil potensi 'macan kurung' baik dalam bentuk
aslinya maupun reproduksinya sebagai aset daerah yang
memiliki manfaat ekonomis. Artinya 'macan kurung'
merupakan komuditas yang sangat diharapkan dapat
dikomersialkan untuk kesejahteraan masyarakat Namun
yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa dalam

I""108'I

Ihll

/

~~ ~WU~===B=el=aka=ng=G=u=n=un=g=

mengeksploilasi 'macan kurung' hendaknya menghindari
terjadinya penyalahgunaan (misappropriation) dan bahkan
perusakan nilai-nilai 'macan kurung' sebagai sebuah
karya seni yang benilai tinggi. Nilai-nilai yang melekat
pada 'macan kurung' harus telap dijaga dan dilestarikan.

1' '0191

1hIll

tJJ0r5'f!U \twu~ ,====Be=l=aka="=g=G=U"=U="=g=

II~

Sampai sekarang Belakanggunung dan Mulyoharjo
pada umumnya yang berada sekitar 1,5 km ke arah ulara
a1un-alun kota Jepara dikenal sebagai sentra produksi
ukir-ukiran sculptural. Di sepanjang jalan membentang
mulai dari jalan raya hingga ke barat sepanjang ratusan
meter kanan kirinya berdiri galeri-galeri/ shaw room,
gudang, serta bengkel kerja yang memajang aneka ukiran
dengan nilai estetis tinggi. Sekarang telah terdapat sekitar
90 home industri/ perajin patung ukir kayu yang berada
dalam satu kawasan sentra kerajinan. Jika melihat karya
seni ukir di kawasan Mulyoharjo, paling tidak dalam
benak akan terbersit rasa takjub bagaimana bahan kayu
diolah secara kreatif hingga hasilnya tampak sempurna
dan bernilai ekonomis tinggi berkat nilai estetis yang
tinggi pula.

111' '01

1h.1I

~1!0 \tWU~=;;;.__B_e_Ia_k_a_n_g_G_U_n_U_n_g...

Gam"ai15

Tugu masuk sentra industri patung Mulyoharjo (foto:
httpl.fwww.xplorejepara.com /n e w s { i n d e x . p h p ? l = d e f a u i t

&news_id=91)
Perhatian pemerintah terhadap komunitas perajin
Belakanggunung tidak pernah surut dari waktu ke waktu,
tidak terkecuali pada masa pemerintahan Bupati Hendro
Martojo. Pembangunan fisik maupun non fisik d.i kawasan

"I"I1I1

1hili

1Ybr5~ 1(WU~===B=el=a=ka=ng=G=u=n=un=g;;;;

ini sangat menonjol pada masa pemerintahannya.
Pembangunan fisik antara lain ditunjukkan dengan
penataan infrastruktur kawasan Belakanggunung seperti
pengerasan jalan dati ujung timur ke barat bahkan ke
lorong-lorong sempit Hal ini selain membuat kawasan ini
narnpak bersih dan rapi juga berdampak pada bangkitnya .
perajin untuk menata shaw room maupun bengkel kerja di
kanan kiri jalan sehingga menjadi lebih tertib dan lebih
nyaman. Pada salah satu sudut pintu masuk kawasan
desa seni, dibangun sebuah tugu kuda yang
mengilustrasikan salah satu bentuk corak ukiran di sana.
Tugu ini cukup menarik perhatian banyak orang untuk
datang sebagai pembeli maupun sekedar mengapresiasi
atau studi bagi para pelajar.

Sejalan dengan pesatnya kemajuan pada era global
dewasa ini pemerintah memandang perlu untuk
membangun sebuah jaringan promosi dan pemasaran
melalui teknologi informasi dan komunikasi. Salah sa tu
bentuk pembangunan non fisik ditunjukkan dengan
pembuatan sebuah fasilitas jaringan hot-spot yang dapat
dimanfaatkan secara gratis oleh komunitas
Belakanggunung. Langkah pemerintah ini berdambapak
positif bagi kalangan perajin dengan munculnya banyak
webside yang dibuat oleh galeri-galeri maupun kelompok
perajin untuk memperkenalkan produk-produknya
melalui dunia maya. Dengan demikian masyarakat lokal
maupun manca negara dapat dengan mudah mengakses
informasi tentang Belakanggunung dan Mulyoharjo pada
umumnya, lengkap dengan produk-produk yang
ditawarkan.

I""112'I

hili

1Ylq;~ 'tWU~=====B=el=aka=D=g=G=Un=u=n=g=

Gambar16
Satu sudut kawasan Belakanggunung
Hasil-hasil ukiran Belakanggunung dewasa llli
sangat beraneka ragam, bail< barang fungsional maupun
barang hiasan. Barang fungsional yang sangat khas adalah
bentuk-bentuk mebel scluptural (seni pahat mebel yang
bentuknya menyerupai patung), rnisalnya meja kursi
kepiting. Adapun yang mendominasi produk
Belakanggunung sekarang adalah barang-barang seni atau
hiasan untuk memenuhi kebutuhan estetis, seperti relief
dan patung. Motif yang diekspose antara lain: kuda, rusa,
harimau, ikan, kepiting, naga, burung, serta aneka motif
binatang dan tumbuhan lainnya, tidak ketinggalan motif
manusia bergaya seni Eropa a tau tokoh-tokoh dalam
rnilos Cina dan ukiran bercorak kreasi baru
(kontemporer).

111'"311

/h.ll

~~ 1(WU~===B=el=aka=Dg=G=U=D=UD;;;;;g=!.!~

Gambar17
Ukiran Belakanggunung terpajang dalam salah satu

sudut SIIOW room tradisional

'Macan kurung' sebagai salah satu identitas khas
atau branding Jepara, dewasa ini keberadaannya sudah
tergeser oleh produk-produk barn. Seperti 'mencari jarurn
dalam tumpukan jerami' adalah ungkapan yang paling
tepat untuk menggambarkannya. Di antara ukir-ukiran
yang terpajang, 'macan kurung' tidak lagi dapat ditemui
dengan mudah bahkan dapat dikatakan sudah punah
seperti punahnya macan jawa. Tidak diproduksinya
'macan kurung' oIeh para perajin sekarang bukan karena
kerumitan atau kesulitan teknis pembuatannya. KeahIian
serta kreativitas para perajin muda sekarang dalam

111

111411
1hill

~~ 'ZWU~====B=e=la=k=an=g:.G,;;;u=n;:u=n=g=

membuat ukiran bahkan sering kali Iebih hebat dari para
pendahulunya Para perajin mengaku siap membuat
maean kurung model apapun apabila ada pesanan dan
tentu saja harganya coeok. Oleh karena itu alasan pasarlah
yang menjadi faktor utama. Perajin tidak berani membuat
stok 'maean kurung' juga disebabkan karena tidak
memiliki eukup modal untuk membeli bahan baku.
Hambatan pemasaran dan kesulitan modal tentu saja
mempengaruhi produksi 'maean kurung'.

Para perajin muda pada umumnya tidak Iagi
membuat 'maean kurung' karena tidak Iaku dj pasaran
sementara perajin sepuh yang konservatif mungkin tinggal
beberapa orang saja, itu pun sudah tidak lagi membuat
'maean kurung' jika tidak ada pesanan. Perajin Iebih
memilih membuat bentuk ukiran lainnya yang Iebih
diminati pasar, bahkan mengutamakan pesanan buyer
lokal maupun manea negara. Karena tidak diminati pasar
domestik maupun internasional harga pasaran 'maean
kurung' kemudian jatuh, tidak sebanding dengan nilai
estetisnya. Walaupun harganya sudah relatif rendah
namun tetap tidak mampu memikat buyer asing. TerIebih
lagi peminat Iokal juga masih sangat jarang apalagi daya
beli konsumen lokal terhadap barang-barang seni (hiasan)
sangat rendah. Maka 'maean kurung' kini mdup enggan
mati tak mau.

Tentang rendahnya minat konsumen Iokal untuk
membeli benda mas atau barang yang tidak mempunyai
kegunaan yang signifikan, sebetulnya sejak dahulu sudah
dilakukan sebuah strategi kreatif. Konkritnya sejak
sebelum kemuneulan 'maean kurung' sampai sekarang

11

111'511

1hl.1

~1!i/ 1(WU~ B_e_la_ka_n_g_G_U_n_U_n_g-l,

para perajin menjadikan patung-patung kecilnya sebagai
hiasan pada asbak, sehingga dikenal adanya asbak blekok
(bangau) asbak manuk (burung), asbak kodok, dan asbak
macan. Jadi yang dijual tidak lagi patung melainkan
asbak. Apabila ditinjau dari nilai seninya sebetulnya
langkah ini justru sebuah ironi. Patung yang mestinya
bernilai tinggi justru direndahkan nilainya oleh karena
menyatu dengan sebuah asbak. Lazimnya nilai ekonomis
karya seni patung lebih tinggi dari pada asbak, bukan
sebaliknya. Perajin berpikiran dari pada mengejar harga
tinggi telapi tidak laku mendingan harga murah asallaku.

Walaupun 'macan kurung' tidak lagi dibuat,
namun telap saja bentuk macan masih sering menjadi
inspirasi bagi para perajin dalam menciptakan karyanya.
Fenomena yang terjadi kemudian adalah munculnya
bentuk-bentuk ukiran macan liar. Mancan liar merupakan
bentuk ukiran macan bebas yang dilampilkan secara
tunggal maupun berkelompok tanpa dibatasi oleh '.ebuah
ruang. Dengan demikian ukuran macan liar relatil lebih
besar serla bentuknya lebih anatomis dari pada ':nacan
kurung'. Ekspresi dan gerakan macan yang ditampilkan
juga lebih eksotis sehingga perajin kerap kali membuat
beberapa bentuk macan dalam satu karya dengan tema
'macan larung'. Bentuk-bentuk ukiran semacam inilah
yang sekarang lagi digemari oleh para buyer.

Masuknya buyer asing dengan membawa selera
dan budaya tersendiri telah mempengaruhi produk
ukiran Belakanggunung. Hal ini merupakan suatu realilas
yang tidak dapat dihindari sebagai akibat hubungan
perdagangan. Pengaruh itu menjadi begitu kuat ketika

1h"1"1I1l61l

~~ 1(WU~_....;.__B_e_la_k_a_ng_GU_n_U_n_g.-;lliGYl

harus berhadapan dengan tuntutan kebutuhan ekonomi
para perajin. Konsekwensinya adalah Belakanggunung
kehilangan corak, karakter dan gaya khas ukiran, namun
mereka telap masih dapat bertahan hidup karena produk-
produknya laku di pasaran. Sebuah kewajaran bahwa
pada urnumnya perajin memandang lebih bail< berganti
wajah baru (gaya dan corak) agar telap hidup dari pada
mesti kelaparan demi telap mempertahankan wajah lama.
Pandangan positif mengatakan bahwa apapun yang
mempengaruhi produk-produk kerajinan ukir kayu
Belakanggunung, termasuk adanya pengaruh asing, justru
akan semakin menambah khasanah produk kerajinan di
sana.

Menurut Gustami (2000:16), selama ini hadimya
pengaruh asing dalam konteks sem selalu memunculkan
dua macam akibat, yaitu menguntungkan dan merugikan.
Keuntungan dari suatu pengaruh dimungkinkan karena
dapat memperkaya daya kreativilas seniman dalam
berkreasi, sebaliknya merugikan bagi penciplaan karya
sem apabila kehadiran pengaruh itu menimbulkan situasi
dan kondisi yang kurang aman karena timbul berbagai
pergolakan sehingga dapat menghambat proses
pembinaan dan kegiatan penciplaan sem itu sendiri.

Perajin yang telah dewasa dalam menghadapi
berbagai perubahan yang terjadi tentu tidak terlalu
mempermasalahkan terjadinya dinamika dan perubahan
dengan masuknya budaya aSing. Dengan berbekal
pengalaman, skill, dan kreativilas akan menjadi modal
dasar untuk dapat menyikapi secara positif demi
keberlangsungan usaha industri kerajinan yang sudah

I 'II1'1"7

10 ",

~ 1<!!ru~_...;. __1!£ B_e_la_ka_I_lg_G_U_n_U_n_g":'5

beriangsung sejal< lama. Dengan konsistensi dan usaha
keras serta kesabaran yang tinggi diharapkan akan dapat
diraih kejayaan kembali alas ukiran-ukiran spesifik yang
pemah mengalami kejayaan.

Produksi 'macan kurung' sekarang sudah mu1ai
tersisih, namun tidal< berarti bahwa perajin
Belakanggunung telah meninggalkan tradisinya. Dari segi
tradisi menunjukkan bahwa perajin Belakanggunung
telap konsisten membuat ukiran berbentuk patung
dengan teknik pembuatan ukiran yang masih secara
manual skill (walaupun sekarang sudah sedikit djtunjang
alat-alat bantu dari mesin untuk meringankan proses
produksi).

1""'1118

hill

vtpCltjCl peLestClytClI/\, dClI/\,

pel/\,g eMbCl I/\,g Cl I/\,

Surutnya kejayaan 'macan kurung' yang ditandai
dengan rendahnya minat pembeli terhadap 'macan
kurung' temyata belurn betul-betul mematikan harapan
perajin untuk dapat mengangkat kembali ukiran unik itu.
Usaha untuk mengangkat kembali 'macan kurung' terlihat
masih dilakukan oleh beberapa perajin melalui produksi
'macan kurung' dalam bentuk asli maupun replika.

Beberapa perajin sesekali ada yang menyempatkan
diri membuat 'macan kurung' walaupun tidak jelas
apakah ukiran itu akan terjual atau tidak. Motifasinya
bermacam-macam: ada yang mencoba menarik perhatian

1

1"h11i"l9l1

~1f!V 1(WU~_....;;.__B_el_aka_n_g_G_un_u_n_g~ll~

barangkali ada yang terpikat untllk membeli; ada yang
sekedar mengoleksi lIntuk a presiasi bagi pengunjung; ada
pula perajin yang sekedar bemostalgia dengan kesibukan
membuat 'macan kurung' seperti pada masa kejayaan
ukiran itu. Hal ini menunjukkan bahwa sebetulnya
'macan kurung' masih cukup lekat di hati para perajin.
Selain itu perajin sendiri pun masih berharap akan
datangnya kembali kejayaan 'macan kurung'.

Strategi kreatif yang berkaitan dengan upaya
pemasaran juga masih terus dilakukan. Salah satunya
dengan cara mengemas 'macan kurung' menjadi bentuk
souvenir yang lebih simpel dari segi ukuran, bentuk,
maupun teknik pembuatnnya. 'Macan kurung' memberi
inspirasi kepada pengrajin sekarang untuk membuat
souvenir replika 'macan kurung'. Sekilas mirip 'macan
kurung' namun di dalam kurungan tidak lagi berbentuk
macan, tetapi ikon seekor kucing, dilengkapi pula dengan
adanya sebuah bola. Hiasan pada bagian atasnya lebih
bebas serta pembuatannya pun lebih sederhana. Teknik
pembuatannya cukup dengan merangkai bagian-bagian
ukiran, tidak menggunakan kayu utuh sehingga dapat
memanfaatkan potongan-potongan kayu.

Souvenir ini menunjukkan adanya sebuah solusi
cerdas dari para perajin untuk tetap memegang teguh
nilai keaslian dan keunikan 'macan kurung'. Perajin tidak
berall.i melanggar kaidah-kaidah yang telah disepakati
bersama dalam satu komunitas Belakanggunung. Artinya,
dengan menempatkan ikon kucing (bukan macan) di
dalam kurungan berarti tidak masalah jika pembuatannya
menggunakan teknik sambungan atau tempelan. Perajin

II1'2"0II

hltl

c!J:._.-;.__~'f!V 1W( UB_e_la_k_a_ng_G_U_n_u_ng_.....'\s

dapat menyederhanakan teknik pembuatan untuk
keperluan tertentu, tanpa berbenturan dengan nilai-nilai
yang hams diJestarikan. Dengan teknik ini dapat diambiJ
manfaat positif di antaranya harganya terjangkau bagi
berbagai kalangan temtama konsumen lokal, disamping
itu dapat memperkenalkan kembali terhadap 'macan
kurung' sebagai ukiran asli yang menginspirasi adanya
'kucing kurung' tersebut.

Gambar18
Souvenir 'kucing kurung'

'I1"hJ2"I1ll

~~ 1(WU~_....:.__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g.....:::.s

Upaya pelestarian dan pengembangan ukiran
,macan kurung' tidak hanya dilakukan oleh kalangan
perajin saja. Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas
Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Pariwisata,
Seni dan Budaya, bersama instansi-instansi terkait, tiada
henti berupaya menghidupkan kembali 'macan kurung'
melalui berbagai kegiatan. Dalam beberapa kali parneran
di dalam dan di luar negeri pemerintah mencoba
menarnpiIkan ukiran 'macan kurung' sekaIigus proses
pembuatannya. Seperti yang dilakukan ketika "Parneran
Tatah Sungging Jepara" tahun 2005, di TMll Jakarta
dengan menampilkan peragaan proses pembuatan 'macan
kurung' oleh seorang perajin bemarna Rosyidi. Di luar
negeri juga pemah diadakan pameran 'macan kurung'
tepatnya di kota Chengjou Korea pada tahun 2005.
Ditampilkannya ukiran 'macan kurung' sekaligus
mendemonstrasikan proses pembuatannya oleh perajin
bemama Suryadi telah marnpu menarik perhatian para
pengunjung serta memikat hati Gubernur Provinsi
Chengjou, sehingga gubernur berani membeli dengan
harga sekitar tiga puluh juta rupiah.

Pada tahun 2006 pemerintah Kabupaten Jepara
telah membangun dua patung monumental replika
'macan kurung' yang terietak di Desa Tunggulpandean
Kecamatan NaIumsari. Patung yang terbuat dari bahan
!:>aku semen (beton) ini berfungsi sebagai gapura identitas
Daerah ]epara karena terietak di dua sisi jalan raya Jepara
Kudus. Adanya monumen ini menegaskan betapa produk
'macan kurung' pernah memiIiki nama besar di antara
ribuan produk kerajinan ukir kayu Jepara. Lebih dari itu

1""'1122

1111'

~~ \tWU~====B=e=la=k=a=n=g=G=un=u_n_g...J~

pemerintah tentu saja bermaksud mengajak kepada
seluruh elemen masyarakat untuk dapat mengenang
kembali, melestarikan dan mengembangkan 'macan
kurung' di masa sekarang dan akan datang.

Gambar19
'Macan kurung' monumental
Pada tahun 2008 pemerintah berupaya
mendaftarkan 'macan kurung' bersama dengan puluhan

I"'II1'23

h,,1

~~ 1(WU~_....;:__B_e_l_ak_a_n_g_G_u..;n;;u;:n;;g;;J,S~~

desain ukiran khas Jepara lainnya kepada Dirjen HKI di
Jakarta untuk mendapatkan perlindungan hukum alas
kepemilikan aset budaya Jepara. Dengan adanya
perlindungan hukum terhadap 'maean kurung' maka
diharapkan tidak akan terjadi lagi kIaim kepernilikan dari
pihak asing. Sehingga masyarakat Jepara dapat
memanfaatkan semaksimal mungkin aset budaya ini
untuk berbagai kepentingan termasuk bidang ekonomi
dan industri.

Gambar20 Masih dalam upaya
Proses pembuatan pelestarian 'maean kurung',
pada akhir tahun 2009
'::1~ran kurung' Pemerintah Kabupaten Jepara
pesanan Pemkab. Jepara mereneanakan pembuatan
dua buah master ukiran
'maean kurung'. Master ini
akan dibuat pada sebatang
kayu jati utuh berkuaIilas
tinggi dengan ukuran relatif
besar. Kedua master 'maean
kurung' itu akan ditempatkan
di Museum Kartini dan
Kantor Sekretariat Daerah.
Sampai pada awal tahun 2010
tepatnya bulan pebruari telah
terselesaikan sebuah 'macan
kurung' berukuran 70 em x
220 em yang dibuat oleh
perajin asIi Belakanggunung

'I11,0214

1It,,'

1J0r;If!b ~WU~====B=e=la=ka=ng=G=u=n=u=n=g~~

bemama Seniman (generasi keempat).
Pemerintah berupaya menempatkan kembali

,macan kurung' di hati generasi sekarang melalui berbagai
upaya. Termasuk rencana memodifikasi 'rnacan kurung'
menjadi berbagai desain souvenir yang diproduksi tidak
hanya mengunakan kayu saja, namun dapat dibuat pula
dengan bahan logam atau fiber glass sehingga
memungkinkan untuk dibuat sebagai pemak-pernik
seperti gantungan kunci dan sebagainya. Dengan
dikenalnya 'macan kurung' melalui pemak-pemik ini
diharapkan kemudian timbul keinginan untuk mengenal
dan mencintai 'macan kurung' yang sebenarnya.

Upaya pelestarian 'macan kurung' juga dilakukan
melalui berbagai media masa. Dalam hal ini para jurnalis
mempunyai peranan yang sangat penting. Pemberitaan
tentang 'macan kurung' melalui media lokal maupun
nasional, selama ini terasa tidah pernah surut. Berbagai
hal yang terjadi dengan 'macan kurung' tidak pernah
luput dari perhatian para wartawan. Intensitas para
jurnalis dalam meliput berbagai fenomena 'macan
kurung' tentu tidak semata-mata berorientasi pada
kebutuhan akan sebuah berita. Lebih dari itu, peberitaan
yang ada benar-benar didorong oleh adanya ikatan
emosional dan kepedulian yang besar terhadap ukiran
spesifik yang termarginalkan tersebut. Sebagai bukti,
perlu diingat pula bahwa karena ikatan emosional
tersebut, Paguyuban Wartawan Jepara membentuk tim
futsal dengan nama tim 'macan kurung" Dalam hal ini
para jumalis dan media rnasa mempunyai peran yang
sangat penting dalam upaya pelestarian dan
pengembangan 'macan kurung'.

I "III1'25

hili

~1f!U ~wu~ '=..;.__B_e_la_k_a"_g_G_U_"_U_D_g-:,nE;

Berbagai upaya memperkenalkan ukiran 'macan
kurung' telah dilakukan pemerintah dan berbagai elemen
masyarakat selama ini terasa belurn membawa dampak
positif khususnya dalam membangkitkan kembali 'macan
kurung' dati segi kuantitas produksi. Belurn berhasilnya
upaya tersebut bukanlah menjadikan surutnya motivasi
untuk memperkenalkan, melestarikan dan
memgembangkan 'macan kurung' kepada masyarakat
luas. Jika secara rill belurn mampu diperoleh sebuah hasil
bangkitnya kembali 'macan kurung', tentu apa yang telah
dilakukan bukanlah sebuah peketjaan sia-sia. Setidak-
tidaknya berbagai upaya yang dilakukan telah berhasil
menyampaikan informasi tentang eksistensi 'macan
kurung' Belakanggunung, sebagai sebuah warisan budaya
yang mengagumkan dan sarat dengan nilai-niIai di
dalamnya.

1

/ "12"61

hIll

~1!U ~WU~=;;..;__B_el_a_ka_n_g_G_u_n_u_n_g""":Q

'PCltUV\,g Vl~~Y
-g,eLCl~Clv\'ggUv\'Uv\'g MClSCl KLv\'~

Hasil-hasil ukir kayu Belakanggunung dan
Mulyoharjo pada umumnya pada masa kini sangat
beraneka ragam. Di antara patung ukir kayu yang banyak
diproduksi tidak lagi terlihat adanya gaya khas atau
spesifik Belakanggunung. Hal ini disebabkan karena
perajin dalam membuat ukiran banyak mengikuti selera
global. Kemampuan perajin dalam membuat ukiran sesuai
dengan tuntutan pasar tidak diragukan lagi. Apa pun
bentuk ukiran yang dilihat, perajin dapat membuatnya. Di

1I"1u"21d71

~~ %/U~====B=e=la:.k_an_g..:G=u=n=u=n=g=-~

antara gaya ukiran yang ada di Belakanggunung pada
masa kini yang cukup dominan antara lain adalah gaya
kontemporer, gaya eina, dan gaya Eropa.

Patung Corak Kontemporer

Salah satu eiri dati corak kontemporer adalah
bahwasannya dalam pembuatan karya seni tidak terikat
oleh pola-pola aturan dati gaya seni tertentu. Oleh karena
itu gagasan-gagasan baru atau kreativitas menjadi eiri
utamanya. Gaya kontemporer sering dipadankan dengan
kreasi baru. Kreasi adalah kata benda dari sifat kreatif,
menurut Mcfee (1970) kreatif merupakan kemampuan
untuk menghasilkan hal-hal baru dan belum dikerjakan
orang lain. Namun demikian tidak hanya kemampuan
untuk menghasilkan sesuatu yang baru saja yang disebut
kreatif, tetapi juga termasuk dalam kemampuan
mengembangkan sesuatu yang telah ada dengan
merombak dan menyusun kembali.

Kreativitas dalam bidang seni kerajinan identik
dengan produktivitas, yaitu menghasilkan produksi baru,
tetapi merupakan ulangan dati apa yang telah terwujud,
walaupun ada sedikit pereobaan atau vatiasi di dalam
pola yang telah ada. Kreasi baru tidak perlu adanya
perobahan sedemikian radikal. Djelantik (2004:71)
mengemukakan bahwa untuk membuat kreasi baru,
pengrajin/seniman sarna sekali tidak perlu berpijak pada
suatu gaya yang baru tetapi bisa memakai gayanya sendiri

111

'12811
1hill

1J0rs~ 'Zwu~ ='===Be=l=aka=Og=G=U=O=U=og=

yang lama. Dalam hal yang demikian kreasi barunya
berkisar pada bobot, gagasan atau tema yang
disarnpaikan. Bila tema itu sarna seperti yang telah pemah
disarnpaikan kepada masyarakat oleh seniman lain
misalnya kepada masyarakat, apa yang ia buat bukan lagi
kreasi tetapi produksi yang baru.

Objek-objek pada patung Belakanggunung
sekarang, seperti bentuk-bentuk binatang dan tumbuhan
pada dasarnya sudah banyak dijadikan objek garapan
para seniman dan pengrajin dimanapun, bukan sebagai
corak seni yang barn. Dernikian juga dengan temannya
kebanyakan telah dibuat oleh seniman/perajin lain
melalui produk-produk sejenis. Ciri kreatif dari patung-
patung Belakanggunung terletak pada kemampuan
mengembangkan sesuai dengan keterampilan dan cita
rasa estetis para pengrajin. Dalam pengembangan
tersebut yang menjadi fokus adalah munculnya ide untuk
pemecahan masalah bentuk, struktur, tema dengan bahan
yang ada. Sebagai contoh akar/tonggak kayu, kayu

gembol, dan kayu growong, bentuknya selalu berbeda satu

sama lain, namun dapat diolah sedernikian rupa menjadi
karya yang artistik dan unik berkat susunan (struktur)
bentuk-bentuk ukiran atau desainnya yang telah
diadaptasikan terhadap kondisi alarni kayu, kemudian
menghasi1kan bermacam-macam patung ukir
akar/tonggak kayu. Karya yang dihasilkan satu sarna lain
tentu saja selalu berbeda strukturnya, nilai-niIai
kreativitas dan estetikanya. Mutu patung ukir kreasi baru
Belakanggunung lebih banyak tergantung dari kreativitas
dan keterampilan perajin serta bahan yang dipakai.

1I"1""2'.91,

~If!b 1CWU~====B=e=,a=k=a=ng=G=u=n=u=n=g~s

Gambar21
Patung Singa
(Fotojkoleksi: Farida's Galery)

1"h1"3,',01'

1Y?r5~ ~WU~===Be=la=ka=n=g=G=un=u=ng=

Gambar22
Patungkuda
(Fot<¥koleksi: Farida's Galery)

. "1"3111

1lu,l

~~ ~~=:..:..:==B=el=aka=-n_g_G=un=u=n=g=

Patung Coral< Cina

Sejak zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat (abad
XVI) kesenian Cina mempunyai andil yang cukup besar
bagi perkernbangan kerajinan ukir kayu Jepara. Pengaruh
itu terns berkembang sampai akhir abad XX dan
memasuki abad XXI. Belakanggunung adalah salah satu
wilayah yang paling merasakan dampak dari pengaruh
Cina tersebut. Hal ini dapat dilihat dari berbagai produk
patung ukir kayu di sana

Patung bercorak seni Cina umumnya
menggambarkan tokoh-tokoh yang berhubungan dengan
aspek ritual dan mitologi yang hidup dalam tradisi
keagamaan Taoisme, Confusianisme, dan Budhisme.
Karakteristik bentuk patung corak Cina berlatar belakang
dari filsafat seni Cina yang mengajarkan bahwa dalam
penciptaan karya seni hams disertai dengan kesadaran
moral yang kuat. Panca indera seorang seniman hams
disucikan, supaya dapat menyentuh serta menangkap roh
yang tersembunyi, lewat proses kontemplasi (Hartoko,
1984:73).

Sebagai hasil dari penciptaan seni yang disertai
kesadaran moral dengan proses kontemplasi tersebut
maka yang diwujudkan adalah sesuatu yang ideal dan
bersifat ideoplastis. Patung Cina selalu berbentuk 'aneh'
dan 'tidak wajar'. Jika bentuknya dapat dikonotasikan
sebagai manusia maka di situ pun lebih bersifat
antropomorfis. Apa yang diwujudkan hanya ada pada

11'10'3,',21'

1Yttr5~ ~rUc!:t_....: __B_el_a_ka_n_g_G_u_n_u_n_g.....l:~

dunia ide atau a1am hayal

penciptaannya dan sangat jauh

dari dunia nyata. Sebagai

contohnya seperti pada patung

Kwan KongjKwan Kung yang

menggambarkan seorang

pahlawan dengan dada

dibusungkan dan perutnya

sangat besar serta mengenakan

pakaian perang sebagai simbul

kegagahan, keperkasaan yang

ideal serta terkenal dengan

kesetiaan, kejujuran,

keperkasaan dan kemuliaan

hatinya. Patung Fou Lok So

(tiga dewa) sangat jelas

penggambarannya sebagai

manusia tetapi anatommya

tidak proporsional dengan

tubuh manusia sesungguhnya.

Terlebih lagi tokoh Jilahut

digambarkan seperti seorang

bayi yang dapat berjalan,

perutnya gendut, kepalanya

Gambar23 botak, telinganya lebar, selalu

'KwanKong' tertawa, nampak tidak

proporsional dengan tubuh

manusia. Contoh-<:ontoh lainnya adalah Cap Ji Shio (dua

belas simbol tahun), Kilin, Tamau dan sebagainya yang

kesemuanya digambarkan secara 'aneh' dan jauh dari

lazimnya makhIuk-makhluk yang ada di dunia ini.

1

1"h13I"l3l1

1Yhs~ 1(WU~_--=;...._Be_l_a_ka_n_g_G_U_n_U_n_g~1S

Gambar24
'Hong Leong'

Tokoh-tokoh yang digarnbarkan pada patung ana

selalu mengenakan atribut-atribut khusus yang selalu
melekat pada tokoh itu. Seperti 'Kwan 1m' selalu
membawa vas kedl berisi air sud sebagai berkah bagi

I 'II1'3"4

11,11

~'f!O 1(WU~_....;.__B_e_la_k_a_n_g_G_U_n_U_n_g-l,~

manusia di dunia. Selain membawa air suei, ia
mempunyai atribut berupa bunga teratai (padma) sebagai
pijakannya yang menggambarkan keagungan dan
kesucian.

Gambar25
'Fou Lok So' (Tiga Dewa)

Patung Corak Eropa

Selain gaya Cina, gaya Eropa juga banyak
memberikan pengaruh pada mebeI dan ukir kayu Jepara

I "'II1'35

hIll

~1!L 1(WUc!:t_...;.__B_e_la_k_a_n_g_G_U_n...;u;;:ng=~

xxpada umumnya. Bahkan pada akhir abad

perkembangan mebel dan ukir kayu ]epara menunjukkan
kesamaan karakter dengan mebel gaya Eropa Barat pada
masa Iampau misalnya gaya Barok, gaya pertengahan
serta gaya Renaisans (Gustami, 2000:214). Corak Eropa
juga merambah pada jenis produk patung seperti yang
terdapat di Belakanggunung. Pengaruh tersebut terutama
bergaya seni dati abad pertengahan yaitu Romanisme dan
Gothik yang berkembang di Italia, Perancis, dan Spanyol.
Seni yang paling khas dari zaman tersebu t adalah bentuk-
bentuk bertemakan ajaran Kritiani.

Corak seni dari abad pertengahan banyak
menghasilkan karya-karya yang ditujukan untuk
kepentingan agama Kristen. Seniman abad pertengahan
yakin akan adanya hubungan antara pencipta dengan
daya ciptanya. Oleh karena itu karya seni yang indah dan
agung diciptakan bukan 'demi seni' tetapi 'demi iman'
(Fremantle, 1986:117).

Bentuk-bentuk patung Eropa yang diproduksi di
Belakanggunung antara lain menggambarkan tentang
kelahiran Yesus (nativity), penyalipan Yesus (crucifixion),
Gembaia (Shepherd) dengan tokoh-tokoh seperti Maria,
Yesus, Empat Tokoh PenginjiI, Tiga Raja dari Timur, dan
Angel.

Patung corak Eropa sangat berbeda dengan patung
corak Cina, terutama dalam penggambaran bentuk
objeknya. Patung Cina menggambarkan bentuk-bentuk
khayalan yang hanya ada pada dunia ide penciptanya
(ideoplastis), sedangkan bentuk patung Eropa
menggambarkan bentuk-bentuk nyata atau bentuk-bentuk

1h"1"3i'l61i

0%~ ~rU~ B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g...o;~

kasat mata ljisioplastis). Sebagai contoh patung diorama
bertema nativity berikut.

Gambar26
Patung diorama 'Nativity'

111

113711
1hIll

~~ %~~_....;.__B_e_l_aka_n_g_G_U_n_U_n_g-'i~ =;....-,-..

kasat mata ljisioplastis). Sebagai contoh patung diorama
bertema nativity berikut.

Gambar26 ...J
Patung diorama 'Nativity'

1"h1"3i'd71

per-geser-[;lVl" 5stett~[;l cX[;lL[;lVIA.

'PeVl"g g [;l bVIA. [;l r-[;l VI" I~o VI"
"E.~VI,,[;lt [;l Vl"g

Seni ukir Jepara yang sangat terkenal seantero
dunia merupakan bagian dari khasanah budaya yang
menyimpan sejuta makna. Sebagai sebuah budaya, seni
ukir secara material dipastikan mempunyai kaitan erat
terhadaR alam spiritual pendukungnya. Bentuk visual
seni ukirJepara, setelah mengalami perkembangan sekian
lama, ternyata mampu merefleksikan fenomena
perubahan estetika pada pelakunya dalam berkesenian.

Fenomena yang cukup menarik adalah
penggambaran ikon binatang sejak awal kemunculan seni
ukir Jepara dari abad ke-16 sampai pada awal abad ke-21

'1'3181

1hid

~~ 1(WUr!:t B.;;e;;;l;;;ak;;;a:..n_g_G_U_n_U_n_g~~

sekarang ini. Pada kurun waktu tersebut nampak sekali
bahwa penggambaran ikon binatang pada seni ukir Jepara
telah mengalarni tiga kali pergeseran yang sangat
menonjol, terutama terjadi pada masa Islam, masa
kolonial, dan masa kini. Pada ketiga masa tersebut selain
memperlihatkan perbedaan karakter visual juga
menunjukkan adanya perbedaan pandangan tentang
keindahan seniman ukir (perajin) Jepara, dari yang
bersifat religius menjadi katarsis, sampai dengan yang
bersifat hedonis.

Religius

Pada masa Islam telah terjadi fenomena
kebudayaan dalam penggambaran ikon binatang pada
seni ukir Jepara yang berorientasi pada kepentingan
keagamaan. Estetika religius ditandai dengan ciri-ciri
kerohanian, kesalehan, keikhIasan, dan seni bukan untuk
dinikmati semata-mata tetapi sebagai penghambaan
manusia terhadap illahi.

Sejarah mencatat bahwa pada masa Islam Jepara
dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Kalinyamat.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat seni ukir
Jepara mulai tumbuh dengan peranan seorang tokoh
politik, ulama dan ahIi seni imigran dari negeri Cina yang
kemudian menjadi patih di Jepara bernama Badar
Dhuwung. Pertumbuhan seni ukir Jepara dimulai ketika
pembangunan masjid Mantingan, yaitu adanya
kebutuhan sebuah hiasan untuk memperindah masjid.
Kemudian dibuatlah ukiran dari batu berwarna putih.

I 'III1I3I 9

111,1

1Ytq;~ ~ru~_..:;;:;...._B_e_l_a_ka_n_g_G_U_n_U_n_g~ol:::C

Ukiran di komplek masjid Mantingan yang masih dapat
dijumpai sampai sekarang ini diduga sebagai awal
muneulnya seni ukir Jepara.

Ukiran yang dikembangkan oleh Badar Dhuwung
menunjukkan adanya peralihan dari eorak Hindu Budha
ke eorak Islam. Pada masa Hindu Budha ukiran banyak
dibuat untuk kepentingan-kepentingan keagamaan seperti
pada relief eandi dan area sebagai sarana peribadatan.
Karya seni yang dibuat pada masa itu banyak
menampilkan ikon-ikon makhluk hidup khususnya
binatang dan manusia dalam eorak naturalistik.

Seni ukir yang dibuat pada masa Hindu Budha
dengan pada masa awal Islam di Jepara pada dasamya
mempunyai satu pemikiran yaitu sama-sarna untuk
kepentingan keagamaan. Namun karena ajaran setiap
agama mempunyai perbedaan-perbedaan yang mendasar
maka telah mengakibatkan terjadinya pergeseran dari segi
visualisasi karya. Ukiran pada masjid Mantingan
kemudian dikenal sebagai eorak peralihan dari
kebudayaan Hindu Budha ke Islam. Pada waktu
dilaksanakan pembangunan masjid Mantingan telah
terjadi fenomena pergeseran dari kebudayaan Hindu
Budha yang dapat menggambarkan makhluk hidup
secara naturalistik bergeser kepada kebudayaan Islam
yang melarang penggambaran makhluk hidup.

Tujuan utama pembuatan ukiran pada Masjid
Mantingan adalah untuk memperindah baitullah, maka
hiasan yang diterapkan tidak holeh bertentangan dengan
syariat Islam. Seni ukir Masjid Mantingan dibuat
sedemikian rupa sebagai bentuk penghambaan manusia
terhadap penciptanya. Paradigma estetika religius

I'"14I0II

h,,1

_ _----111!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!11!!!~~~==

~ ~ 1(WU~==::::;;B;;:e=la::k=an::;g=G::u=n=u=n=g::!

menggariskan bahwa seni harus dapat mencerrninkan
sikap taqwa kepada Allah. Islam mengajarkan bahwa
manusia tidak diperbolehkan membuat tiruan makh1uk
hidup baik berupa patung maupun gambar. Sebuah mitos
menyatakan bahwa apabila manusia melanggar ketentuan
ini maka kelak akan dirnintai pertanggungjawaban oleh
Allah untuk memberi nyawa pada gambar atau patung
itu. Keinginan untuk menggambarkan makh1uk hidup
disalurkan secara kreatif dan estetis sesuai dengan ajaran
Islam. Karya yang dihasilkan adalah omarnen ikon
binatang yang disarnarkan menjadi ukiran memet (lihat
gambar 1). Estetika religius menjadi visi senirnan ukir
Jepara pada masa Islam, sehingga tidak dijurnpai adanya
penggambaran makhIuk hidup secara naturalistik.

Katarsis

Perkembangan seni ukir Jepara pada masa Islam
merupakan sebuah perjalanan yang statis, sehingga sulit
untuk diketengahkan adanya karya-karya lain yang cukup
spesifik dalam hal penggambaran ikon binatang. Kondisi
ini berlangsung selama berabad-abad sampai pada abad
ke-19, R.A. Kartini berusaha menghidupkan kembali seni
ukir Jepara. Kartini sangat peduli terhadap kehidupan
para perajin ukir yang masih sangat terbelakang. Salah
satu peranan RA. Kartini yang cukup menonjol ialah
menjadikan seni ukir Jepara sebagai usaha industri.

Paradigrna katarsis melalui penggambaran ikon
binatang pada seni ukir Jepara muncul pada masa
kolonial. Pada masa tersebut terlihat bahwa seni ukir

II1'4"1II

hIll

~~ ':tWU~====B=e=la=k:.a_ng_G_U_n_U_n_g~~

]epara telah menggunakan sistem simbol untuk
menyampaikan fenomena yang sedang terjadi ditengah-
tengah masyarakat. Penggambaran ikon binatang sebagai
simbol tidak sekedar sebagai ekspresi seni yang tanpa
makna, namun mempunyai tujuan positif yaitu
menyampaikan fenomena ketimpangan dalam hidup,
tekanan hidup, dan berbagai problematika kehidupan
sehari-hari. Karya seni ukir penggambaran ikon binatang
yang paling spektakuler untuk mewakili masa itu adalah

'macan kurung'. Ikon binatang yang sering ditampilkan

sebagai simbol dalam 'macan kurung' misalnya: macan,
naga, ular, elang, garuda pancasila, dan sebagainya.

'Macan kurung' menggambarkan fenomena yang
terjadi ditengah-tengah masyarakat dan dirasakan sebagai
problematika dan realitas kehidupan, yang dialami oleh si
seniman maupun penikmat seni. Bahkan orang yang tidak
mengalarni pun bisa ikut berempati atau merasakan hal
yang sarna, sehingga dapat terjalin sebuah solideritas
sosial yang mampu meringankan tekanan hidup.

Aristoteles menegaskan, tujuan semua kesenian
haruslah kebaikan. Para seniman menciptakan karya seni
untuk menyampaikan realitas kehidupan. Sambi!
menikmati keindalum seni yang disajikan, para penikmat
dapat membayangkan apa yang terjadi atau seandainya
terjadi pada dirinya sendiri. Seolah-olah mereka
mengalarni sendiri peristiwa atau masalah yang disajikan.
Dengan ikut merasakannya mereka merasa telah
mencurahkan perasaannya, kemudian mengalami
pembebasan dari problem serupa. Pembebasan dari
kesulitan dan ketegangan jiwa yang sedang menekan
manusia inilah yang dinamakan katarsis.

11h14,'",12'1

~~ 1@rU~===B=el=aka=ng=G=u=nu:.n_g..J;.!11~

Estetika katarsis menempatkan penggambaran
ikon binatang pada seni ukir Jepara tidak lagi mengabdi
pada kepentingan keagamaan, namun telah bergeser pada
visi 'pembebasan' dari masalah pribadi dan sosial. Hal ini
berdampak pula pada keberanian dalam menggambarkan
ikon binatang secara naturalistik. Estetika katarsis
berprinsip bahwa sebuah karya seni dipandang lebih
bermakna jika mampu menyampaikan pesan moral dan
merefleksikan semangat solideritas dalam rangka
mencapai pembebasan dari tekanan kehidupan.

Hedonis

Macan kurung sebagai ekspresi katarsis
senimanjperajin Jepara sempat bertahan sampai kurang
lebih satu abad. Kejayaan 'macan kurung' mulai merosot
seiring dengan laju pertumbuhan industri ukir kayu
Jepara pada akhir abad 20. Pesatnya industri ukir Jepara
didorong oleh usaha perekonomian melalui perdagangan
seni ukir antar bangsa. Tuntutan ekonomi dan
industrialisasi telah menjadikan ukiran Jepara berjalan
mengikuti kebutuhan dan selera global. Kondisi ini
kemudian menyebabkan terjadinya pergeseran estetika
seni ukir Jepara, khususnya dalam menggambarkan ikon
binatang dari katarsis menjadi hedonis.

Estetika hedonis ditandai dengan pendekatan fisik,
empiris, ekonomis, materialistik, sensasi dan sekuler. Seni
berfungsi sebagai hiburan atau hiasan yang
menyenangkan. Seni diciptakan untuk memenuhi

1

1"h14i"l3l1

1Yhs'f!b ~WU~=:..:.==B=e=la=k=a=n=g=G=u=n=u=ng=!S

kebutuhan-kebutuhan yang bersifat material. Nilai-nilai
dan simbol-simbol religius, moral, dan sosial bukan
menjadi prioritas.

Fenomena hedonisme terefleksi dalam
penggambaran ikon bintang pada seni ukir Jepara pada
masa kini, yaitu masa kehidupan modem. Karya seni'
modem identik dengan seni kontemporer. Dalam seni
kontemporer, kebebasan dan krealivitas sangat
ditonjolkan, sehingga tidak ada aturan khusus bagi
seniman untuk menciptakan karya seni termasuk seni
ukir. Seniman lebih suka mengekspresikan keindahan
sekehendak hati.

Penggambaran ikon binatang pada seni ukir Jepara
masa kini banyak dibuat oleh para perajin
Belakanggunung yang dikenal sebagai sentra seni patung.
Seni ukir Jepara di Belakanggunung yang bukan
reproduksi corak seni asing pada umumnya diciptakan
hanya untuk kebutuhan hiburan, kesenangan, ekspresi
individu dan keindahan fisik (ekstraestetis) semata-mata.
Pencitraan suasana batin seniman hanya bersifat temporer
dan sangat individual.

Ikon binatang digambarkan dalam bentuk patung
super naturalistik sehingga tampak sangat anatornis.
Biasanya dibuat pada kayu gelondongan, akar/tonggak
kayu, kayu gembol, dan kayu growong yang diolah
sedernikian rupa menjadi karya yang artistik dan unik
(lihat gambar 21 dan 22). Pesona keindahan yang
dicitrakan mampu mernikat seliap mata memandang
sehingga orang merasa senang, kagum dan takjub.

I r~1

""l

~~ %~_...;;__B_e_la_k_a_ng_G..:un=u=n=g:::l~

Fenomena hedonisme terjadi terutama disebabkan
karena faktor ekonomi dan industrialisasi. Pada dasarnya
seniman ukir Jepara menciptakan karya seperli ini karena
tuntutan pasar. Karya yang dibuat harus dapat mengikuli
selera global sehingga karya yang dihasilkan lidak
memperlihatkan adanya spesifikasi daerah setempaf.
Yang penting peminat ukiran dari manapun akan senang
dan lidak ragu lagi untuk membelinya. Kondisi ini
narnpaknya akan terus bertahan sepanjang industrialisasi
seni ukir masih berlangsung.

Dernikianlah, fenomena pergeseran paradigma
penggarnbaran ikon binatang pada seni ukir Jepara
mungkin akan teros terjadi seiring dengan perkembangan
peradaban pelakunya. Terjadinya perubahan bukanlah
sebuah kesalahan karena pada dasarnya lidak ada yang
abadi di dunia ini selain perubahan itu sendiri.

111

114511

1hili

~'f!b 1(WU~ B_e_la_k_an_g_G_U_n.:u=n=g:2;~

Perkembangan eksistensi ukiran 'macan kurung'
cenderung negatif dari waktu ke waktu. Maka upaya
pelestarian ukiran 'macan kurung' hendaknya terus
dilakukan sebelum ukiran tradisional ini benar-benar
hilang dari Bumi Kartini. Upaya-upaya pelestariannya
sebetuInya bukan saja menjadi tanggungjawab perajin saja
namun harus melibatkan seluruh pihak dan stakeholder:

Pemerintah

Walaupun telah cukup banyak upaya yang
dilakukan pemerintah untuk membangkitkan kembali
'macan kurung', namun diharapkan jangan berhenti
sampai di sini. Pemerintah hendaknya tetap dapat

114'"6'1

1hll'

~~ ':tWU~====B=e=la=k=a=ng=G;;;un=u=n=g=

menempatkan diri sebagai motor penggerak upaya
konservasi terhadap ukir-ukiran khas Jepara khususnya
'macan kurung'.

Terjadinya klaim hak cipta terhadap kekayaan
ukiran kayu Jepara oleh pihak asing hendaknya dijadikan
pengalaman berharga agar tidak terulang lagi. Untuk itu
pemerintah wajib proaktif untuk membantu perajin dan
seluruh masyarakat pendukung kesenian yang ada,
melalui berbagai upaya nyata misalnya: tidak bosan-bosan
dan terus mengadakan even apresiasi dan promosi skala
lokal, . regional maupun intemasional; membangun
jaringan pemasaran dengan teknologi e-marketing untuk
mencitrakan ukiran Jepara di mata dunia; membangun
stakeholder yang dapat berperan sebagai patronage (bapak
angkat) bagi para perajin; membangkitkan momentum
budaya pendukung misalnya sektor perdagangan dan
pariwisata untuk menarik perhatian terhadap 'macan
kurung' sebagai budaya loka!.

Peran pemerintah sebagai patronage ukir-ukiran
khas Jepara khususnya 'macan kurung salah satunya
dapat dilakukan dengan menggunakan ukiran tersebut
sebagai cendera mata khas daerah. Cendera mata tersebut
dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, misalnya
apabila Pemerintah Kabupaten Jepara menyelenggarakan
iven-iven penting atau pun kedatangan tarnu-tarnu
penting kiranya dapat diadakan sebuah kenangan dengan
memberikan cendera mata berupa 'macan kurung'. Untuk
keperluan ini ukurarmya dapat diperkecil agar lebih
simpel. Dengan demikian sekaligus telah melakukan
langkah promosi, minimal akan dikenal di daerah asal
tarnu tersebut

1"h114l1l7''1

~~ 1(Wtt~_...;.__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g-,;~

Perajin

Perajin sebagai ujung tombak konservasi 'macan
kurung' hendaknya mempunyai perhatian dan
kepedulian akan am pentingnya pelestarian ukiran khas
]epara karena merupakan aset milik perajin sendiri serta
sebagai kekayaan budaya yang tiada temilai harganya.
Untuk itu ditengah-tengan kesibukan melayani pesanan
buyer perajin hams selalu tidak kenallelah meningkatkan
kreativitas penciptaan desain barn; 'macan kurung' harus
menjadi inspirasi internal perajin; menularkan
keterampilan dan kesadaran terhadap pembuatan 'macan
kurung' dari generasi ke generasi tidak semata-mata
sebagai masalah ekonomi saja namun sebagai identitas,
citra, dan martabat komunitas perajin; serta membangun
strategi pemasaran yang mengesankan dengan daya tarik
yang khas.

Sejalan dengan program pemerintah untuk
mengembangkan pertumbuhan industri kreatif, 'macan
kurung' sebagai salah satu hasil seni kerajinan rakyat,
merupakan sebuah komuditas yang memerlukan
'kemasan'. Perlu dipikirkan bagaimana menawarkan
ukiran 'macan kurung' dengan bentuknya yang tetap unik
namun harga jualnya lebih ekonomis terjangkau bagi
berbagai kalangan. Bisa saja langkah yang ditempuh
adalah dengan perekayasaan 'macan kurung' sebagai
barang cangkingan dengan menyederhanakan teknik
produksi, memperkecil ukuran serta menggunakan kayu
altematif yang lebih murah.

1

1t"1o4""8I1

~~ ~ru<!J:._-.;.__B_e_l_ak_an_g_G_U_n_U_n_g_~

Lembaga pendidikan

Dengan adanya kebijakan memasukkan

keterampilan ukir kayu sebagai pelajaran pada

pendidikan formal di perguruan tinggi, sekolah kejuruan

maupun muatan lokal di bangku sekolah umum,

hendaknya dapat ditanggapi sebagai peluang positif

dalam rangka memperkenalkan, melestarikan, dan

mengembangkan ukiran Jepara melalui jalur pendidikan.

Lembaga pendidikan mempunyai peranan yang strategis

dalam upaya pewarisan nilai-nilai khasanah budaya

daerah.

Upaya memperkenalkan dan menanamkan

kecintaan terhadap ukiran khas Jepara melalui jalur

pendidikan formal dapat dilaksanakan melalui

pembelajaran di bangku sekolah maupun kegiatan-

kegiatan penelitian atau studi lapangan. Oleh karena itu

segenap kalangan pendidikan perlu

mengimplementasikan hal ini dengan cara menciptakan

keterkaitan dan kesepadanan (link and mach) antara bahan

ajar di sekolah dengan kondisi nyata di lapangan.

Di sisi lain lembaga pendidikan khususnya

pendidikan tinggi sangat diharapkan peranannya dalam

melaksanakan program pembinaan secara estafet,

menggali dan meneruskan pencapaian hasil penemuan

generasi sebelumnya untuk menemukan karya-karya dan

konsep-konsep baru yang lebih inovatif dan produktif.

Dalam posisi demikian itu, dunia pendidikan merupakan

suatu mata rantai tak terputus yang mampu

menggerakkan perkembangan kerajinan ukir kayu di

1

1"1114"1,91 1

- 1Ybr;~ 1(WU<!J:. B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g~s

tengah-tengah sistem global modemisasi. Kerjasama
anlara komunilas pengrajin dengan lembaga pendidikan
hendaknya ditingkatkan terus sebagai upaya pelestarian
terus menerus dari generasi ke generasi. Dengan kala lain
lembaga pendidikan hendaknya menjadi ajang transfer of
knowledge sekaligus sebagai agent ofchange.

II1'5"0II

hill

~~ 1(WU~_....;;__B_e_l_ak_a_n_g_G_u_n_u_n_g~,;;c

Bastomi, S. 2008. Seni Kriya Seni. Semarang: UNNES Press.

OPR RI. 2002. Tanya jawab Undang-Undang No. 19;2002
tentang Hak Cipta, Semarang: Oahara Prize.

Djelantik, A.A.M. 2004. Estetika Sebuah Pengantar.
Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
bekerjasama dengan Arti.

Fremantle, A. dan Pustaka Time-Life. (1986). Abad Iman.
Jakarta: Tirta Pustaka.

Gustami, S.P. 1999. Seni Kerajinan Mebel Weir jepara.
Yogyakarta: Kanisius.

Hartoko, O. 1984. Manusia dan Seni. Yogyakarta: Kanisius.

Hayati, C. et aJ. 2007. Ratu Kalinyamat: Biografi Toko!t
Wanita Abad XVI dari jepara. Jepara: Pemerintah
Kabupaten Jepara, Pusat Penelitian SosiaJ
Budaya Lembaga Penelitian Undip dan Jeda.

Jazuli, M. 2006. Teori Sosial Makro, Sebuah Rekonstrnksi.
Semarang: UNNES.

JazuIi, M. 2008. Paradigma Kontekstual Pendidikan Seni.
Surabaya: UNESA Press.

"1"5111

1hIll

~tf!U ~M~_=-__B_e_la_ka_n_g_G_U_n_U_O_g...:,:;;

Kadir, A. 1979. Risalah dan Kumpulan Data Tentang
Perkenlbangan Seni Uleir ]epara. Jepara: Pemda Dati
II Jepara.

Kawuryan, M. W. Kamus Lengkap Jawa Indonesia,
Indonesia Jawa. -: Bahtera Pustaka.

Mcfee, J.K. 1970. Preparation for Arts. California:
Wardswoth Publishing Company.

Nayla jati furnicraft. (2009). Mulyoharjo. Online at
http://naylajati.indonetwork.co.id/ [accessed

3/3/091

Rohman, A. I. 2006. Proses Pewarisan Keterampilan
Penduduk dalam Mengukir di Dukuh
Belakanggunung Mulyoharjo Jepara. Skripsi
Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri
Semarang.

Rohidi, C. R. 2000. Ekspresi Seni Orang Miskin. Bandung:
Nuansa.

Sachari, A. 2002. Estetika, Makna, Simbol dan Daya.
Bandung: ITB

Sahman, H. drs. 1993. Mengenali Dunia Seni Rupa.
Semarang: IKIP Semarang Press.

Soehadji, M. 1998. Kerajinan Mebel dan Ukir Kayu Jepara
DaIam Dimensi Kehidupan Masyarakat Jepara,

'II1'5"2

I• II til


Click to View FlipBook Version