00r5'f!L 1<!!ruc!J:._...;.__B_e_la_ka.;n;:;g=G=u=n=u:;n:;g~
•
·
~
t
t
·•
'Pell\,tj eLel YelSel II\,
'Pel II\,~ el II\,g el II\, R.eLtg tus
·j Sebagian umat Islam meyakini bahwa manusia
tidak diperbolehkan membuat tiruan makhluk hidup baik
berupa patung maupun gambar. Apabila manusia
melanggar ketentuan ini maka kelak akan dimintai
pertanggungjawaban oleh Allah untuk memberi nyawa
pada gambar atau patung itu. Pandangan ini ditunjukkan
bahwa daIam gaya kesenian Islam tidak dijumpai adanya
penggambaran makhIuk hidup. Menurut Gustami,
(1999:100) larangan penggambaran makhluk hidup juga
tertuang dalam pedoman cipta seni Hinduis. Terhadap
masalah itu, perajin dengan mudah dapat mencari
__~~ ~rtAa:._....;; ~B_el_a_k_an_g_G_U_n_U_n_g......
pemecahannya. Hal-hal yang bertentangan dengan agama
ditinggalkan, dan yang tidak bertentangan dipertahankan
dan dikembangkan untuk mengisi sisi-sisi kebu tuhan
hidup sesuai norma dan budaya Islam. Pada masa
pernerintahan Ratu Kalinyamat, keinginan untuk
menggambarkan makhluk hidup disalurkan sesuai
estetika masyarakat Islam. Perwujudan bentuk-bentuk
binatang yang tersarnar dalam bentuk ukiran memet
seperti peninggalan di masjid Mantingan itu adalah salah
satu pemecahan terhadap larangan menggambarkan
makhluk hidup.
Atas pandangan yang melarang penggambaran
makhluk hidup tersebut, sebagian perajin 'macan kurung'
memberikan argumen bahwa yang semestinya dimintai
pertanggungjawaban untuk memberi nyawa adalah
mereka para penebang pohon bukan perajin patung,
karena merekalah yang telah mematikan makhluk hidup.
Justru dengan membuat patung perajin telah "menolong"
untuk menghidupkan kembali pohon yang sudah mati,
sehingga sampai sekarang para perajin pernbuat patung
masih tetap eksis dan mantap melakukan pekerjaannya.
Di sisi lain meninggalkan pekerjaan mengukir
tidak mungkin dilakukan karena tidak ada pekerjaan lain
yang menggantikan. Kemudian timbullah sebuah anomali
pada diri perajin muslim pembuat ukiran makhluk hidup
apabila Allah benar-benar menghukum untuk
memberikan nyawa. Oleh karena itu sebagai perajin mesti
melakukan sesuatu agar selamat dalam menjalankan
pekerjaannya dan selamat dari hukuman Allah. Beberapa
perajin kemudian melakukan tindakan magis, yaitu
~~ 1(WU~_.;...__B_e_l_ak_a_lI_g_G_U_II_U_II_g~a
apabila patung-patung makhluk hidup yang dibuatnya
telah selesai maka pada lehernya selalu dicacati, digores
(seperti disembelih) dengan pahat penguku. Dengan
demikian dia beranggapan bahwa yang dibuat ini
bukanlah makhluk hidup tapi makhluk yang sudah mati.
Selain itu tindakan melindungi diri yang
dilakukan perajin 'macan kurung' adalah dengan cara
menghilangkan ciri-ciri biologis bentuk binatang yang
dipatungkan. Patung yang dibuat tidak realistik, disitu
ada bagian yang dihilangkan yaitu bagian kelamin macan.
Langkah ini dimaksudkan selain untuk menghilangkan
ciri-ciri biologis makhluk hidup juga berarti tindakan
mengebiri nafsu 'binatang'.
Tindakan yang dilakuakan perajin ukiran patung
'macan kurung', oleh Bastomi (2003:36) disebut mitos
religius yaitu manusia memandang bahwa alam ini penuh
dengan kekuasaan yang lebih tinggi oleh karenanya
manusia ingin mengabdi kepada kekuasaan yang bersifat
transenden itu. Akan tetapi manusia juga menganggap
bahwa dirinya mempunyai kekuatan untuk menguasai
sesuatu melalui kepandaiannya. Manusia di samping
dapat menguasai sesuatu juga dapat mengambil tindakan
melindungi diri. Tindakan-tindakan semacam ini adalah
tindakan magis.
~~ 1(WUr!:t_....:.__B..;;e;.la_ka_n_g_G_U_nU_n_g..::::ll~1
cttYl;j MClCCl ltv etCl ltv
FeltvOVliteltvCl MClCClltv BaL-baLan
Kepercayaan Jawa perihal macan Jawa pada masa
Mataram-Islam pra-koloniaI, bisa dibedakan menjadi dua
kategori, yaitu kepercayaan arus utarna milik para
bangsawan dan kepercayaan yang tetap dimiliki dan
dirawat oleh masyarakat desa.
Umumnya bangsawan Mataram Islam melihat
macan identik dengan keliaran. Macan Jawa adalah
hewan yang sangat tidak bisa diatur. Niat untuk bisa
memeIihara macan hanya sebatas angan. Hanya Sayidin
Panawga/1/a sekeIas Sultan Agung, yang mampu
memelihara sang macan. Sultan Agung punya kapabilitas
memelihara sepasang macan bernama Kyai dan Nyai
~1f!V 'ZWU~==B=elaka=ng=G=UD=ung=
Kopek. Sudah pasti hal ini membuat miris para Iawan dan
-i•i•i segan bagi kawan.
Karena kebuasannya macan dijadikan alat untuk
menguji kesaktian dan kekuatan manusia. Rampogan
! jawa mencerita.kan tentang rekayasa pertarungan harimau
. versus manusia, yaitu sebuah tradisi unik yang hidup
.: pada masa kejayaan kerajaan Mataram Yogyakarta. OIeh
i Ujiarso (2008: 1) digambarkan bahwa dalam tradisi adu
kekuatan harimau versus manusia ini membutuhkan
berbagai persiapan. Pihak panitia, perlu membuka
~ pendaftaran bagi peserta yang ingin bertarung hidup-mati
menakIuk.kan macan. Konsekwensinya panitia mesti bisa
menyediakan macan sesuai jumiah peserta penantangnya.
Selain itu panitia juga membuat publikasi dan undangan
bagi para raja, petinggi istana, bupati atau para pemimpin
Iokal lainnya. Barangkali persiapan paling seru adalah
menyediakan sejumiah macan jawa yang hidup, sehat dan
buas ditandai dengan suara auman sang macan yang
mampu menggetarkan nyali para penantang. Biasanya
para pemburulah yang mendapatkan tugas penting ini.
Para pemburu kemudian mengajak seorang atau beberapa
orang kemongkong dan panitik. Kemongkong adalah dukun
sirep khusus untuk memudahkan menangkap hidup-
hidup sang macan. Sedangkan panitik adalah sebutan
untuk orang yang memiliki keahlian mencari jejak
persembunyian sang macan. Para pemburu juga
mengerahkan beberapa orang yang bertugas membawa
macan ke kota. Macan jawa yang sudah tertangkap itu
kemudian dimasuk.kan ke dalam kurungan, yang juga
terbuat dari kayu jati.
~~ \tWU~===B=el:aka=ng;;;G;;;U;;;n;;;Un;;;g:::iJ~
Gambar9
Menangkap macan
Oi masyarakat pedesaan, penghormatan terhadap
macan belum Suru t. Anak cucu wong ndeso tetap
menghormati sang macan. Oiyakini macan adalah
binatang yang jiwane manusia tetapi ragane macan.
Penghormatan ini diwujudkan dengan menyatakan tabu
menyebut 'macan' dalam percakapan biasa. Masyarakat
menggantinya dengan mengatakan 'mbalz-e' atau 'kyaine'.
(Ujiarso 2008: 3).
Tabu terhadap macan, sampai sekarang masih ada
di beberapa pedesaan di wilayah kabupaten Jepara
termasuk di Belakanggunung. Kenyataannya tradisi aflum
(saling memaafkan) yang merupakan warisan sejak zaman
para wall yang oleh masyarakat disimbolkan dengan bodo
~~ 'ZWU~===B=e=la=ka=n=g=G=u=n;;;Un;;;g;;;;;l
\
apem (hari raya kue apem) sering dikaitkan dengan
penghormatan kepada si mbah-e (macan). Di hari itu bila
petang mulai datang penduduk harus segera memberikan
sajian kue apem dengan cara mengikatnya beberapa
potong dengan tali bambu kemudian diletakkan
tergantung di depan pintu-pintu rumah. Sajian itu
dimaksudkan sebagai tolak bala dan apabila tidak
diberikan dikhawatirkan si mbaIJ-e akan menampakkan
diri untuk memberi peringatan kepada penduduk yang
tidak patuh atau mungkin menagih kue apem bagiannya.
Dalam pandangan tradisional ini, jika ditarik suatu
benang merah diketahui bahwa, memiliki 'macan kurung'
dapat dimaknai sebagai simbol penghormatan atau simbol
'penjinakan' terhadap macan sebagai binatang yang
ditakuti sekaligus dihormati. Apabila kemudian terdapat
ikon macan ditempatkan di dalam rumah mungkin
dimaksudkan tidak hanya sebagai hiasan namun secara
spiri tual memberikan sugesti tersendiri bagi pemiliknya,
seperti merasa aman karena dapat berdampingan dengan
si mbah-e. Namun karena macannya ada di dalam
kurungan maka lebih cenderung memberi sugesti bahwa
pemiliknya merasa 'ampuh' seperti Sultan Agung karena
mampu menjinakkan macan.
Secara biologis macan dikenal sebagai binatang
buas, kuat dan perkasa. Ditengah hukum rimba yang
menempatkan prinsip siapa yang kuat ialah yang menang,
tentu macan sulit dicari tandingannya. Oleh karena itu
macan menempati kasta tertinggi dalam komunitas rimba,
dan ia pun pantas dijuluki sebagai si raja hutan. Macan
dalam pandangan ini tentu saja berbeda dengan macan
IJ~'~'1
10 III
1J1q;~ 1(WU~_.=.__B_e_la_ka_ng_G_Un_U_n_g....;:,:.s
sebagai mbahe. Menurut pandangan ini macan sering
dijadikan simbol kekuatan, kejantanan, kellaran, dan
keperkasaan. Sebagai contoh, di zaman global yang
diwarnai dengan euporia 'gila bola' sekarang ini banyak
klub sepak bola menggunakan macan sebagai maskotnya.
Entah ada berapa banyak klub sepak bola berjuluk si
mbah-e. Yang jelas di tanah Jawa ada "Macan Kemayoran",
"Macan Putih", "Macan Muria" dan" Maung Bandung".
Justru yang lebih manarik adalah kemungkinan
adanya kaitan antara 'macan kurung' dengan dub sepak
bola kebanggaan masyarakat Jepara. Beralihnya base camp
club sepak bola kebanggaan publik Jepara dari stadion
Kamal Junaidi ke stadion baru Gelora Bumi Kartini
menjadi fenomena tersendiri bagi kalangan yang suka
mengaitkan sesuatu peristiwa. Mengapa stadion bam
mesti berdiri megah di lokasi yang menjadi tetangga dekat
dari tanah kelahiran 'macan kurung'? Adakah keterkaitan
antara macan bal-balan di dalam kurungan yang dibuat
lebih dari satu abad lampau dengan permainan bal-balan
di dalam 'kurungan tribun stadion' masa kini? Jika ada,
tentu saja lahirnya ukiran 'macan kurung' tidak hanya
sebagai hasH keindahan seni semata namun bisa dianggap
sebagai petanda akan terjadinya suatu peristiwa penting
di masa mendatang. Jika diperhatikan dengan kondisi
sekarang, setidaknya ada takwil yang sudah terungkap,
yaitu:
Pertama, macan bal-balan sebagai simbul kecintaan
publik Jepara terhadap sepak bola. Kenyataannya
sekarang sepak bola telah menjadi salah satu simbol
penting bagi Jepara. Sepak bola Jepara cukup disegani
~~ ~,u~====B=e=la;;;k=a=ng=Gu;;:n::;u::n:g=
oleh lawan-lawannya, ibarat segannya manusia terhadap
seekor macan. Sepak bola telah membawa Jepara sebagai
,i•• kota kecil yang menjadi lebih dikenal oleh masyarakat
luas.
Kedua, macan bal-balan di dalam kurungan ibarat
I permainan sepak bola di dalam 'kurungan' tribun stadion.
•• Kondisi ini seakan mengisyaratkan bahwa akan ada
stadion yang megah tidak jauh dari tanah kelahiran
'macan kurung'. Kenyataannya sekarang sudah terwujud
adanya Gelora Bumi Kartini, stadion kebanggaan publik
Jepara.
Setelah tersingkapnya tabir macan bal-balan saperti
di atas, yang masih menjadi pertanyaan sampai sekarang
adalah, apakah benar 'macan kurung' akan segera lepas
dari kurungannya? Kalau benar, tentu saja itu berarti
bahwa pada masa sekarang publik Jepara akan segera
melakukan retrospeksi budaya masa lalu. Harapannya
akan segera terjadi era kebangkitan 'macan kurung' tahap
kedua. 'Macan kurung' akan kembali mengaum keras,
sekeras teriakan ribuan suporter di dalam tribun stadion.
'Macan kurung' akan kembali menjadi raja di negeri
sendiri. Bila mana para perajin tidak ragu lagi
memproduksi 'macan kurung'. Demikian pula publik
Jepara ramai-ramai ikut peduli mendukung upaya
pelestarian 'macan kurung', pencinta ukiran tidak lagi
enggan mengoleksinya, sehingga kembali dilirik oleh
masyarakat luas di dalam dan di luar negeri. Dengan
demikian niscaya 'macan kurung' dapat 'lepas' di
pasaran.
l'~'~ll
11.11
~~ %1U~====B=e=la=k=a=ng=G=u=n=u=n=g=
Ketika 'macan kurung' telah dapat dibangkitkan
kembali, bisa jadi pula tidak lama lagi akan ada club sepak
bola nasional yang berjuluk "laskar macan kurung"
sebagai tanda kecintaan masyarakat terhadap tradisi
budaya masa lalu dengan tim kebanggaan masa sekarang.
Atau mungkin akan ada kE:lompok suporter yang
menamakan diri semacam 'macan kurung mania' atau
nama lainnya yang berbasis pada kearifan lokal. Yang
unik justru Persatuan Wartawan Jepara telah membentuk
club futsal dengan nama tim 'macan kurung'.
Sebuah keinginan untuk memberi julukan tim
'macan kurung' sempat terlontar dari sekelompok
suporter sepak bola Jepara, setelah tim kebanggaannya
mampu berada pada kasta tertinggi persepakbolaan
nasional. Prestasi ini telah membangkitkan kepercayaan
diri warga Jepara pada potensi yang dimilikinya,
termasuk mengingatkan pada eksistensi 'macan kurung'.
Ada yang memandang 'Macan kurung' lebih n]eporoni dan
tidak kalah dengan ikon binatang lainnya yang digunakan
sebagai maskot berbagai tim sepak bola. Di sisi lain hal ini
tentu saja mengarah pada tujuan untuk bersama-sama
membangun budaya lokal, menghidupkan kembali
'macan kurung', menggairahkan persepakbolaan, dan
membangun Jepara. Namun di lain sisi disadari bahwa
julukan 'macan kurung' mungkin terasa kurang pas dan
terkesan terbelenggu, kurang enerjik, tidak buas, dan
kurang sangar sehingga tidak relevan dengan visi
persepakbolaan. Oleh karenanya ide tersebut hanya ada
sebatas wacana saja.
1 '6'~'1
10,,1
1YVr5~ \tWU~====B=e=la=k=an=g=G=u=n=u=n=g:J
'MaCCH/\, Ku.ru.V\,g' sebagaL
SR.s-presL sstetLs
'Macan kurung' merupakan hasil karya manusia
yang diciptakan tidak hanya melalui kegiatan jasmani
namun juga melalui olah rohani (rasa), sehingga
menghasilkan karya seni, yaitu karya yang mengandung
keindahan. Penciptaan 'macan kurung' tidaklah muncul
begitu saja tanpa merefleksikaJl emosi personal ataupun
emosi kolektif. Bagi pencipta dan komunitas perajin,
'macan kurung' menjadi sebuah media untuk
mengungkapkan perasaan estetis dalam bentuk simbolis.
Untuk mengidentifikasi, 'macan kurung' sebagai ekspresi
estetis, setidaknya dapat didekati melalui beberapa aspek
yaitu: bentuk, teknik dan fungsinya. Berikut adalah
1 h'~,,'11
1Ytq;~ ':tWU~=====B=e=la=k=a=ng=Gu=n=u=n=g=
identifikasi singkat terhadap 'rnacan kurung' sebagai
ekspresi estetis.
'Macan Kurung' sebagai Produk Sclupture
Pengertian sculpture eli dalarnnya mencakup seni
patung dan proses memahat atau mengukir (to carve).
Sedangkan pahatan atau ukiran kayu mendapat kata
padanan wood carving yang menghasilkan ukiran cembung
(buladan), ukiran cekung (krawingan), ukiran tembus
(krawangan), ukiran susun, ukiran garis, dan ukiran
takokan. Ditinjau dari segi teknik pembuatannya menurut
Sahman, (1993:79) mengukir adalah proses mengambil
bagian-bagian (dari bahan) yang tidak diperlukan
sehingga gagasan yang ada sebelurnnya (desain) bisa
dibebaskan atau diwujudkan dari bongkahan bahan
(kayu) tersebut.
Dilihat dari bentuknya, 'macan kurung' dapat
digolongkan sebagai karya sern patung, karena dapat
berdiri sendiri atau ditampilkan sebagai karya tiga
dimensi yang tidak terikat pada latar belakang apa pun
atau bidang mana pun. 'Macan kurung' diamati dengan
cara mengelilinginya, sehingga dari segi mana pun kita
melihatnya akan nampak mempesona atau terasa
mempunyai rnakna pada semua seginya.
Patung 'macan kurung' termasuk patung in door
atau patung yang eligunakan untuk hiasan di da1am
ruangan. Dalam perkembangannya sekarang sudah ada
1'~'~'1
III"
~tf!b 1(WU~====B=e=la=k=a=n=g=G=un=u=n=g=
patung 'macan kurung' out door, yaitu dua patung
monumental yang terletak di Desa Tunggulpandean
Kecarnatan Nalumsari yang dibangun oleh Pemerintah
Kabupaten Jepara.
'Macan Kurung' sebagai Produk
Seni Kerajinan '(Kriya)
'Macan kurung' termasuk dalarn kelompok seni
kerajinan. Kata lain dari seni kerajinan adalah seni kriya
atau kriya hasta yang dalarn bahasa asing disebut handy-
crafts. Pemahaman tentang seni kerajinan yang ditafsirkan
sebagai seni kriya merupakan suatu pengertian yang
berlaku umum di kalangan masyarakat. Sampai sekarang
konsep mengenai kerajinan dan kriya masih menjadi
bahan diskusi. Berbagai interpretasi dapat diberikan
untuk menjelaskan konsep itu sesuai dengan sudut
pandang masing-masing penulis. Narnun antara seni
kerajinan dan kriya dalarn penciptaannya sarna-sarna
dilandasi oIeh usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan
hidup ke arah terciptanya keseimbangan dan kemapanan
dengan didukung oIeh kemahiran, keahlian, kerajinan dan
ketekunan dalam menggunakan bahan dan alat demi
. menghasilkan sebuah karya seni.
Kerajinan secara harafiah berasal dari kata rajin,
narnun tidak berarti 'macan kurung' dihasilkan oIeh sifat
rajin (lawan dari sifat malas). Titik berat pembuatan
'macan kurung' Iahir dari sifat terarnpil atau keprigelan
tangan dalarn menggunakan bahan dan alat serta
perasaan estetis yang tinggi.
1h'~',~,''1
~tf!b \tWU~=-===B=el=a=ka=n=g=G=u=nun=g=
'Macan kurung' biasanya dibuat dalam taraf usaha
rumah tangga, bahkan awalnya tidal< sedikit perajin
membuat ukiran sebagai pekerjaan sampingan di sela-sela
pekerjaan pertanian. Salah satu ciri khas 'macan kurung'
sebagai seni kerajinan rumah tangga adalah proses
produksinya menggunakan alat-alat yang sederhana
(manual skill).
'Macan kurung' sebagai karya seni yang kasat
mata (dapat dilihat dan diraba) ditempatkan dalam
kelompok karya seni rupa. Namun sebagai karya seni
rupa, 'macan kurung' dalam penciptaannya sangat
memerlukan kekriyaan (craftsmanship) yang tinggi
sehingga menjadikan si seniman/perajin tidal< dapat
berekspresi secara bebas. 'Macan kurung' tidal< dapat
dikerjakan secara serampangan. Konsep ini lebih
mengutamakan perencanaan yang matang dan
keterampilan tangan dad pada ekspresi.
'Macan kurung' sebagai karya seni kerajinan yang
unik dan karal<teristik, mengandung nilai-nilai yang
mantap menyangkut nilai estetik, sirnbolik dan filosofis.
Karena dalam teknik perwujudannya sangat
mengutamakan craftmanship yang tinggi sehingga hasilnya
termasuk dalam kelompok karya seni yang unik dan
eksotis.
Dad berbagai argumen di atas dapat di ketahui
bahwa pada dasamya 'macan kurung' adalah termasuk
karya seni kerajinan (!<riya) karena diciptakan
berdasarkan perencanaan yang matang dan dikerjakan
dengan keahlian, kepiawaian, kerajinan dan ketekunan
yang tinggi dalam menggunakan alat-alat dan mengolah
bahan. Tujuan penciptaannya dilandasi oleh wawasan
keselarasan dan keseimbangan hidup. Dalam hal ini
adalah upaya untuk membuat barang non fungsional
(hiasan) yang dapat dinikmati secara estetis berkat
bentuknya yang unik dan menarik.
'Macan Kurung' sebagai Produk
Seni 'Ukir Sem'
Ditinjau dari fungsinya, 'Macan kurung' termasuk
karya seni 'ukir seni', artinya lawan dari karya seni 'ukir
terapan'. Pengertian ini dapat dipadankan dengan konsep
fine art atau seni murni lawan dari applied art atau seni
terapan. 'Macan kurung' bukan bersifat fungsional tetapi
untuk dinikmati keindahannya semata-mata karena
memiliki nilai estetis yang tinggi.
'Macan kurung' termasuk ukiran tradisional yang
tidak biasanya. Artinya, karya-karya seni kerajinan
tradisonal yang lahir dari komunitas petani kebanyakan
menghasilkan barang-barang yang bernilai guna, namun
'macan kurung' justru sebaliknya. Hal ini disebabkan
karena masyarakat petani/nelayan yang biasanya identik
dengan kemiskinan telah berkembang menjadi komunitas
industrialis yang dituntut kreativitasnya agar karyanya
dapat dikomersialkan mengikuti selera pasar, tidak lagi
selera perajin semata. Kehadiran 'macan kurung' sebagai
seni ukir seni dan tidak mempunyai fungsi praktis itu
pada masa kejayaannya menjadi karya seni yang
mempunyai nilai jual tinggi.
1'~'~'1
.1111
1nq;~ 1(WUr!J:._.....;.__Be_l_a_ka_n_g_G_U_n_U_n_g-::~
Sebagai seni ukir seni, 'macan kurung'
memberikan ruang yang cukup leluasa bagi perajin untuk
berkreasi dan mengekspresikan dirinya melalui ukiran.
Perajin dalam menuangkan ide-idenya tanpa dibatasi oleh
pertimbangan-pertimbangan kegunaan misalnya masalah
ergonimis, konstruksi, dan sebagainya. Banyak ide
menarik dapat dituangkan dalam 'macan kurung',
sehingga corak ukiran ini menjadi sangat vareatif.
Hal senada dikemukakan Sugiyanto (19%: 61)
bahwa 'macan kurung' pada awalnya dicetuskan sebagai
pernyataan rasa memberontak para perajin terhadap
situasi penjajahan pada saat itu. Kebebasan mengeluarkan
ide atau sikap tidak sepenuhnya dapat tersalurkan,
sehingga mereka menciptakan 'macan kurung' sebagai
sekedar mainan, artinya imtuk mengekspresikan diri.
Lebih lanjut Sugiyanto menegaskan bahwa dengan
mengambil jenis-jenis simbol yang digambarkan dalam
'macan kurung' perajin hanya semata-rnata
mengungkapkan rasa keindahan atau hanya sebatas
untuk tujuan ekspresi seni (1996: 127).
1'6~11
111,1
\' ~1!L 1(WU~ B_e_la.:ka=ng=G=u=n=u=n=g=l
-e
- Medium yang digunakan untuk membuat 'macan
kurung' adalah kayu gelondongan dari jenis kayu-kayu
yang bail< untuk diukir seperti kayu jati, kayu mahoni,
kayu sono keling atau dapat juga menggunakan kayu
alternatif seperti kayu jering, kayu meh (munggur) dan
sebagainya. Ukuran kayu yang digunkan tergantung dari
kebutuhan besar kecilnya ukiran yang akan dibuat. Untuk
ukiran yang terkecil biasanya diameter kayu sekitar 20 ern
dan panjangnya tergantung kebutuhan.
Dalarn pembuatan (produksi) 'macan kurung'
diperlukan beberapa alat pokok dan alat bantu. Alat
pokok yang diperlukan yaitu berbagai jenis pahat
01tr5~ 10r1Aa:. B_e_la_ka=ng=G=u=n=u=n:.g~s
(penyilat, peguku, kol, pengot, dan coret) dan palu kayu
(ganden). Sedangkan alat bantu biasanya terdiri dari pethel,
sikat ijuk, pensil, meteran, jangka, amplas dan lain-lain.
Alat-alat tersebut pada dasarnya sarna dengan alat-alat
yang digunakan untuk membuat ukiran kayu pada
umumnya.
Proses pembuatan 'macan kurung' seperti
dituliskan Sugiyanto (1996: 74-77) dibagi menjadi empat
yaitu proses persiapan, proses menyiapkan kayu, proses
pembuatan, dan penyelesaian (fininshing). Proses
persiapan merupakan kegiatan membuat desain baik pada
kertas terlebih dahulu maupun langsung pada kayu.
Tahap menyiapkan kayu dimulai dari memilih kayu yang
baik, menentukan ukuran, delanjutkan dengan ngrimbas
(membuang kulit kayu atau lapisan kayu yang paling luar
dan lunak) untuk menjadikan bentuk kayu yang bulat.
Selanjutnya adalah proses pembuatan yang dibagi
menjadi beberapa langkah yaitu: nggetaki (memahat garis-
garis motif), mbukaki/grabahi (membentuk secara global),
nembusi (membuat lobang), matuti (membuat ukiran agar
luwes), dan mbabari (penyelesaian). Proses terakhir yaitu
fininshing yang bertujuan memperindah ukiran dan
meningkatkan daya tahan kayu sehingga ukiran menjadi
awet.
Dalam proses pembuatan macan kurung',
propersi obyek kurungan dengan obyek bagian atas tidak
ada patokan baku. Perajin dapat membuat propersi
sepertiga bagian kurungan dan dua pertiga bagian atas
atau setengah bagian bawah dan setengah bagian atas. Hal
ini menyesuaikan dengan selera maupun propersi
~~ \tWU~====B=e=la=k=a=ng=G=u=n=u=n=g=
anatomi maean itu sendiri yang lebih memanjang bukan
meninggi.
Sebagai gambaran tentang lamanya pengerjaan
ukiran 'maean kurung' perajin mengaku butuh waktu
sekitar tiga minggu untuk mengerjakan 'maean kurung'
pada kayu berdiameter 40 em dengan ketinggian lebih
dari 1 meter. Sedangkan untuk mengerjakan 'maean
kurung' pada kayu berdiameter 20 em dengan tinggi
sekitar 80 em dibutuhkan waktu sekitar lima hari.
Kebanyakan perajin 'maean kurung' tidak periu
membuat desain atau gambar pada selembar kertas tetapi
eukup menggambar langsung pada kayu yang digunakan.
Gambaran bentuk ukiran yang dibuat eukup berada pada
ide atau pikiran perajinnya kemudian dibuat sketsa
langsung pada kayu. Karena pembuatan 'maean kurung'
sudah dilakukan berulang-u1ang maka perajin sudah hafal
dengan gambar maupun teknik pembuatannya. Namun
demikian pembuatan ukiran harus hati-hati dan eermat
jangan sampai terjadi kesalahan yang dapat berakibat
fatal.
Keunikan 'maean kurung' adalah bahwa dalam
pembuatannya perajin tidak boleh membelah bahan kayu
yang digunakan, kayu harus utuh. Kayu tidak boleh
dibelah terIebih dahulu agar dapat memasukkan maean
dan bola yang dibuat di luar kurungan. Perajin dituntut
Iihai mengeneakkan mata pahatnya melalui lobang-lobang
di antara jeruji kurungan yang sudah terbentuk terIebih
dahulu. Perajin juga tidak boleh memotong jeruji
kurungan kemudian menyambungnya dengan lem. Tidak
ada satu pun konstruksi jeruji ataupun bentuk lainya yang
dibuat dengan tempelan.
~'f!b 1(WUtt_....:..=;;;:B;;;:e;;;:la;;:k:.a_ng_G_U_n_U_n_g~Si
Kesulitan membuat 'macan kurung' terletak pada
peliknya membuat bodi macan dalam jeruji dari
segelondong kayu utuh. Jarak antara jeruji kurungan itu
sendiri sesungguhnya mengandung tantangan tersendiri.
Dalam hal ini perajin merrtiliki ketentuan bahwa 'macan
kurung' yang berkualitas adalah jika jarak antara jeruji
satu dengan lainnya ukurannya sarna dengan diameter
ruji-ruji. Dengan demikian kebebasan dalam
mengarahkan mata pahat sangat terbatasi. Jika jarak antar
jeruji terlalu lebar berarti ukiran itu kurang memiliki nilai
kerumitan.
Untuk membuat bentuk bagian di atas kurungan
atau bentuk ornamen yang menghiasi kurungan dapat
dilakukan seperti membuat ukiran patung atau ukiran
ornamen pada umumnya. Artinya tidak ada teknik
khusus yang unik dan menantang.
Proses yang dilaksanakan dalam membuat bagian
macan dalam kurungan adalah dengan cara membuat
sketsa pada kayu untuk menentukan letak beberapa jeruji
kurungan. Setelah ditentukan jerujinya dengan ukuran
dan jarak yang sarna, selanjutnya bagian jeruji yang
nantinya berada di sebelah kanan kiri macan harus diukir
terlebih dahulu secara kasar. Perlu diperhatikan bahwa
dalam melobangi (nembusz) kayu di antara jeruji dapat
langsung menembus dengan lobang sebelahnya, namun
tidak diperbolehkan menembus pada tengah-tengah kayu
karena bagian tengah ini nantinya yang akan dibentuk
menjadi macan dan bola. Jadi bagian tengah kayu harus
utuh, lurus dengan dua bakal jeruji di depan macan dan
dua bakal jeruji di belakang macan Apabila menghendaki
~1!b ~WU~====B=el=aka=n=g=G=un=u=n=g=
macan menghadap lurus ke depan biasanya jumlah
jerujinya genap, namun bila menghendaki macannya
menengok maka jumlah jerujinya ganjil, dengan tiga jeruji
di depan macan dan dua jeruji eli belakangnya.
GambarlO
'Macan Kurung' dalam proses produksi
(tampak depan, samping, dan belakang)
Apabila kayu sudah terbentuk demikian
selanjutnya dapat dilakukan langkah mengukir bentuk
macan seiring dengan membuat rantai dan bola. Rantai
dibuat pada bagian kayu yang menempel pada tubuh dan
leher macan. Sedangkan pada bagian atas dati punggung
macan dapat dimanfaatkan untuk membuat bentuk bola.
Dengan demikian bagian ini tidak terbuang sia-sia, karena
membuat lubang eli atas punggung macan sekaligus
membentuk bola. Keseluruhan proses ini harus
dilaksanakan secara hati-hati dan cermat dari mulai
~~ ~WU~===;;;;B;;;;e;;;;la;;;;k;;;;a;;;;n;;;;g;;;;G;;:un:;;u;;;;n;;;;g;;;;:l!E:
membentuk secara kasaran (grabahl) sampai dengan
membentuk secara halus agar kelihatan bagus dan luwes
(matu!).
Untuk menjaga nilai keunikan dan keaslian 'macan
kurung', para perajin mempunyai komitmen yang harus
selalu dipegang, bahwa setiap 'macan kurung' yang
dibuat, perajin siap memberikan garansi keaslian kepada
pembeli. Artinya, apabila ada bagain yang terbukti
sambungan, dapat diganti barang yang baru, lalu 'macan
kurung' yang ada sambungannya itu boleh dihancurkan.
Sambungan hanya boleh dilakukan apabila perajin
membuat 'macan kurung' yang salah satu bagiannya
memiliki panjang melampaui lebar kayu yang digunakan.
Dengan tidak adanya sambungan kayu pada bagian
kurungan menunjukkan bahwa prinsip kerurnitan teknik
memahat nampak ditonjolkan dalam pembuatan 'macan
kurung'.
~~ 1(WU~ B_e_la_ka_ng_G_U_n;;;U;;;n;;;g~~
Gambarll
Bentuk-bentuk 'macan kurung'
'Macan kurung' adalah karya seni patung yang
terbuat dari bahan kayu, dikerjakan dengan teknik pahat
~1!b ~~====B=e=la:.k.:an=g=G=u=n=u=n=g=
(ukir). Bila diperhatikan secara cermat, ukiran yang asli
selalu dikerjakan menggunakan sebatang kayu utuh.
Tidak terdapat satu bagian pun dari bentuk kurungan
yang pembuatnnya menggunakan teknik tempelan a13u
kayunya di belah terlebih dahulu agar dapat memasukkan
macan dan bola yang dibuat di luar kurungan.
Ukiran 'macan kurung' bersifat sinoptik karena
menggambarkan dua fragmen dalam satu bentuk ukiran.
Fragmen yang di13mpilkan dibagi menjadi dua bagian
yaitu fragmen pada bagian sepu13r kurungan dan
fragmen pada bagian a13s. Kedua fragmen ditopang oleh
empat kaki penyangga. Sehingga secara keseluruhan
struktur 'macan kurung' terbagi menjadi tiga bagian
berdasarkan le13knya yaitu bagian bawah yaitu kaki,
bagian tengah yaitu kurungan dan bagian a13s yang
disebut sebagai hiasan.
Bentuk kaki 'macan kurung' sangat bermacam-
macam mengikuti selera perajin. Namun pada dasarnya
empat kaki penyangga memiliki fungsi untuk menopang
bagian-bagian lain di a13snya, sehingga 13npa adanya
bagian kaki 'macan kurung' menjadi tidak dapat berdiri
dengan sempurna a13u nampak kurang estetis. Ornamen
yang diterapkan pada kaki biasanya berbentuk naturalis
seperti sulur a13u lung dan bunga.
Pada bagian tengah terdapat fokus u13ma ikon
seekor macan (harimau) dengan ran13i pengikat dan
sebuah bola yang dapat menggelinding. Di sepu13r macan
dan bola terdapat bentuk-bentuk batangan silinder (ruji-
ruji) dalam ukuran yang sarna. Batangan ini disusun
berdiri tegak di a13s sebuah dasaran berbentuk bundar,
~tf!b ~WU~====B::e::l::ak::a::n::g::G::u::n::u::n::g=
dengan formasi memular, serta pada jarak tertentu secara
beraturan sehingga membentuk sebuah ruang di
dalamnya. Kemudian di atasnya terdapat sebuah bidang
bulat seperti dasarnya yang menutupi ruang itu secara
rapat. Dengan demikian menunjukkan bahwa susunan itu
adalah sebuah kurungan (sangkar) yang di dalamnya
terdapat denotasi subyek ikon seekor macan dan bola
ked!.
Pada mulanya banyak perajin membuat 'macan
kurung' dalam kondisi leher atau kakinya terikat oleh
rantai. Rantai itu dapat juga dibuat memanjang, menjulur
ke luar dari kurungan sehingga menjadi asesoris
tersendiri, bahkan menghubung sampai pada bagian
atasnya. Namun dalam perkembangan selanjutnya perajin
sering menghilangkan rantai pengikat macan dengan
alasan rasional bahwa macan di dalam kurungan sudah
tidak mungkin lagi lari sehingga tidak perlu dirantai.
Bahkan dengan adanya rantai dirasa terlalu menyiksa
sangmacan.
Bola dalam kurungan pada awalnya dibuat
terhubung dengan rantai, sehingga menggambarkan bola
bandul (pemberat) bagi macan yang dikurung agar tidak
dapat bergerak dengan leluasa. Bahkan seandainya
kurungannya terbuka pun macan tidak akan mampu
berlari karena kakinya diberi beban bandul. Namun pada
perkembangannya para perajin melepaskan bola dan kaki
macan dari tali rantai sehingga menjadi seperti bola
mainan.
Kurungan pada ukiran 'macan kurung' berbentuk
jeruji-jeruji yang berdiri tegak memular, sehingga macan
II~'~'I
hIll
~~ 1::WU~;;;;:==-_B_e=la=k=a=ng=G=u=n=u=n=g=
dan bola kedl tidak dapat keluar. Kehadiran jeruji
kurungan secara estetis menjadi daya tarik tersendiri
berkat bentuknya yang sarna dan ditata secara teratur
dalam jarak tertentu kemudian menghasilkan ritme atau
irama yang menarik. Apabila ukuran kayu yang
digunakan cukup besar biasanya pada bagian luar
kurungan ditambahkan empat buah pilar berbentuk spiral
berputar tegak. Ada kalanya perajin masih menambah
lagi dengan ukiran empat ekor ular yang masing-masing
bergerak ke bawah melilit pada pilar kurungan.
I
I Gambar12
'Macan kurung' dengan bola dan rantai
l ';'~ll
10,01
~'f!b %m~=::;;:::;;;;;;;;B:;e::la=k:;;;a;;;ng;;;G;;;U;;;n;;;U;;;n;;;g:::
Fokus utama macan kurung sudah menjadi pakem
yaitu patung macan dan bola dalam kurungan. Pada
bagian atas kurungan biasanya diberi hiasan bebas seperti
patung naga, burung elang, ular, pepohonan (hutan), atau
Garuda Pancasila tergantung kreativitas perajin atau'
pesanan pembeli berdasarkan tujuan atau makna simbolis
tertentu. Namun tidak jarang pula perajin memberi hiasan
pada bagian atas 'macan kurung' hanya sebatas hiasan
tanpa memikirkan mengenai makna simbolisnya.
Oleh karena kurangnya keleluasaan dalam
mengarahkan atau mengencakkan mata pahat dalam
membuat bentuk macan sehingga bentuk kepala macan
dan bagian tubuh macan lainnya yang telah jadi terlihat
kaku dan tidak anatomis. Ikon macan selalu dibuat dalam
posisi berdiri. Bila diperhatikan sering kali tubuh macan
kelihatan tambun, proporsi kepala lebih besar daripada
badan, matanya terlalu lebar, mulutnya terlalu besar,
garis-garis yang menggambarkan loreng buIu macan
terkesan kaku dan sebagainya. Tidak jarang pula dijumpai
'macan kurung' yang macannya nampak kurus dan lesu
sehingga terkesan seperti 'macan ompong' atau 'macan
lue'. Walaupun bentuk macan dalam kurungan tidak
anatomis seperti itu, namun tampak bahwa ukiran 'macan
kurung' tetap berorientasi pada corak naturalistik.
Keunikan lain dari 'macan kurung' terlihat pada
proporsi ikon yang digambarkan. Karena menggunakan
sepotong kayu utuh maka ikon-ikon yang ada terlihat
tidak proporsional satu sama lain. Hal ini seperti terlihat
pada ukuran macan yang relatif lebih kecil dibandingkan
dengan ikon-ikon lain yang berada di bagian atas. Secara
1 1~1~11
h .. ,
~~ 1(WU~====B=e=la=ka=ng=G=u=n=u=n=g=
rasionaJ ukuran macan mestinya lebih besar dari pada
burung atau naga. Proporsi yang demikian menjadikan
subyek macan menjadi kurang terekspose. Namun rasa
penasaran terhadap apa yang ada di dalam kurungan
mampu menarik perhatian pengamat sehingga tertuju
pada ikon macan sebagai centre of interest.
Untuk menambah keindahan ukiran 'macan
kurung' biasanya omamen apapun dapat diterapkan
sesuai dengan keinginan perajin atau selera pemesan.
Tidak ada ketentuan khusus dalam memberi omamen.
Biasanya 'macan kurung' yang banyak omamen ukiran
serta mempunyai kerumitan tinggi dalam pembuatannya
berpengaruh pada nilai jualnya yang lebih tinggi.
Kebanyakan perajin dalam membuat 'macan kurung'
hanya memberikan sedikit omamen pada bagian-bagian
tertentu seperti melingkar pada ban (bagian lingkar tepi)
alas dan atas kurungan. Ornamennya cukup sederhana,
hanya berupa ukiran-ukiran timbul cekung bergelombang
yang dibuat dengan pahat kol. Sesekali perajin
memberikan pecahan-pecahan garis khas ukiran kayu
dengan pahat coret untuk mengisi bagian-bagian tertentu.
Timbul cekung hasH cukilan-cukilan dengan pahat kol
juga banyak digunakan untuk mengisi bagian dasaran dan
atap kurungan.
Ornamen lainnya yang sering diterapkan adalah
berupa coretan-coretan motif geometris seperti bentuk
meander, tumpal, berlian dan ikal serta motif naturalis
berbentuk bunga maupun untaian relung-relung
sederhana. Ornamen yang sederhana ini dirnaksudkan
agar tidak mengaburkan nilai estetis obyek utama berupa
ikon-ikon yang digambarkan.
1nq;~ 'ZWU~====B=e=la=k=an=g=G;:u=n=u=n=g=
Untuk menambah keindahannya, 'macan kurung'
biasanya difinishing dengan potitur atau disangkling
(digosok tanpa bahan kimia) untuk menampilkan wama-
wama natural. Wamanya terdiri dari satu atau dua wama,
biasanya cokIat, coklat kemerahan, coklat kehitam-
hitaman, hitam, atau hitam kehijauan. Pewamaannya
lebih ditujukan untuk menonjolkan serat-serat kayu dari
pada untuk menambah impresi atau makna tertentu atas
subyek ukiran. Dengan dilinishing seperti ini kelihatan
lebih bersih, wamanya rnatang, mengkilat serta karakter
serat-serat kayunya tetap kelihatan. Selain itu finishing ini
mempunyai tujuan agar ukiran lebih awet karena
terlindungi dari pengaruh udara maupun pengaruh
benturan atau gesekan dengan benda lain. Pemakaian
wama dengan bahan potitur dengan wama yang sangat
terbatas menunjukkan bahwa warna hanya sebatas pada
wama, artinya wama tidak mempunyai makna tertentu.
Perajin lebih berprinsip bahwa bentuk sebagai ekspresi
dari pada wama.
I I~I~II
h,,1
~~ \tWU~====B=el=aka=n=g=G=u=nu=n=g=
MCiR-II\,CI stw..bolLs
IItCi II\, NtlClt-lI\,tlClt
'Macan kurung' merupakan sebuah bahasa visual
yang sarat dengan pesan dan nilai-nilai. 'Macan kurung'
menjadi media untuk mengungkapkan dan
menyarnpaikan pesan, ide, dan emosi penciptanya lewat
pernyataan keindahan. Sebagai bahasa visual berarti
'macan kurung' menggunakan sistern simbol yang
memiliki kandungan makna, sehingga dapat dipaharni
pesan apa yang disarnpaikan. Simbol. itu sendiri
merupakan segala sesuatu yang dapat mewakili pesan.
Simbol dalarn 'macan kurung' bersifat ikonik, artinya
bentuk yang digarnbarkan mempunyai kerniripan dengan
suatu obyek. MeIalui symbol ikonik, pesan yang
disarnpaikan oleh perajin melalui 'macan kurung'
mengandung nilai-nilai moral atau berisi ajaran-ajaran,
petunjuk tentang norma-norma pembentuk
watak/kepribadian manusia.
I I~'~II
h,,1
00rs~ 1(WUtE._...:.__B_e_la_k_a_n_g_G_U_n..;u;;;ng=
Bahasa visual'macan kurung' yang menggunakan
sistem simbol dapat ditangkap maknanya secara objektif
maupun subjektif. Secara objektif 'macan kurung'
dipahami maknanya secara otonom, artinya analisis dan
penilaiannya didasarkan pada unsur-unsur intrinsik karya
itu sendiri. Namun demikian hasil dari pemaknaan itu
pada akhimya tergantung pada orang yang melihatnya.
Interpretasi orang dalam meIihat 'macan kurung' dapat
berbeda-beda. Hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh latar
belakang (ground) dari pengamat itu sendiri. Dengan
demikian subyektivitas pengamat akan sangat
mempengaruhi interpretasi terhadap 'macan kurung.
Pemaknaan 'macan kurung' secara subjektif tergantung
pada sisi orang yang meIihatnya. Jadi kebenaran tentang
makna simbolis 'macan kurung' yang dikemukakan
pengamat lebih bersifat relatif.
Pemaknaan 'macan kurung' secara objektif
maupun subjektif menjadi sangat penting karena para
perajin terdahulu tidak mewariskan konsep penciptaan
yang dapat dipahami secara jelas oleh penerusnya. Jika
ditelusuri, pesan yang disampaikan melalui 'macan
kurung' kemungkinan berkaitan erat dengan peristiwa-
peristiwa yang terjadi pada waktu penciptaannya. 'Macan
kurung' tidak mungkin muncul begitu saja hanya dengan
mengandalkan kemampuan secara teknis saja, tanpa
melalui sebuah sumber inspirasi balk yang bersifat realitas
maupun idealitas.
Sampai sekarang berkembang beberapa
pandangan tentang makna simbolis 'macan kurung'. Dari
beberapa pandangan yang ada tentu saja kesemuanya
l'~~ll
11,,1
~~ 1(WtAr!J:._....;.__B_e_la_k_a_ng_G_u_n_u_n_g~lltS
logis karena didasarkan pada simbol-simbol yang melekat
pada 'macan kurung' serta dikaitkan dengan kondisi-
kondisi kontekstual yang teIjadi pada waktu
peciptaannya.
Berikut ini dikemukakan beberapa versi tentang
makna simbolis dan nilai-nilai 'macan kurung'
berdasarkan interpretasi objektif dan subjektif yang
berkembang di kalangan masyarakat.
Keadilan bagi Semua
Jepara merupakan sebuah daerah yang terkenal
dengan tokoh-tokoh wanita. Sebelum munculnya Ratu
Kalinyarnat dan R.A. Kartini, Jepara terkenal dengan
tokoh wanita pada masa Hindu (abad ke-7) yang bernarna
Ratu Shima. Ia memerintah di Kerajaan He-ling atau
Kerajaan Kalingga, yang diperkirakan di daerah Keling
Jepara.
Menurut Wolters dalarn Gustarni (2000: 84), Ratu
Shima memerintah rakyat dan kerajaannya dengan arif,
adil, dan bijaksana. Keadilan dan kearifan itu terlihat pada
keteguhannya menegakkan hukum dan peraturan yang
telah ditetapkan oleh kerajaan, sehingga keputusan-
keputusan yang diarnbil tidak menimbulkan keraguan
dalarn pelaksanaannya. Sehubungan dengan itu, Sartono
Kartodirdjo dalarn Gustarni menjelaskan bahwa sua tu
ketika ada sebuah pundi-pundi berisi uang yang
diletakkan di tengah jalan untuk menguji kejujuran
seseorang. Selarna tiga tahun, orang-orang yang lewat
l'~'~'l
11111
tidal< ada yang berani memungut pundi-pundi tersebut.
Namun putra mahkota secara tidal< sengaja kakinya
menyentuh pundi-pundi itu hingga uang di dalarnnya
berserakan. !<arena kesalahan itu akhirnya kaki putra
mahkota diamputasi sebagai hukuman atas kesalahanya
(2000: 85).
Sikap tegas, adil, dan tidal< pandang buIu yang
dilakukan Ratu Shima telah menjadi suri tauladan bagi
para pemimpin maupun rakyat biasa sampai kapanpun.
Oleh karena itu sebagian kalangan menduga bahwa
'macan kurung' merupal<a ukiran yang terinspirasi oleh
keadilan yang ditegakkan oleh Ratu Shima. Ukiran'macan
kurung' menggambarkan seekor macan yang sedang
dikurung adalah merefleksikan sikap adil yang tidal<
peduli pada kedudukan dan status seseorang. Seperti
diketahui bahwa macan dikenal sebagai binatang yang
menduduki kasta tertinggi di dalam komunitas rimba,
temyata dapat dimasukkan ke dalam kurungan juga. Hal
ini dapat terjadi karena macan pun bisa melal<ukan
kesalahan. Demi menegakkan keadilan bagi semua,
siapapun yang bersalah tidak dapat lepas dari jeratan
hukurn.
Dalam konteks keteladanan Ratu Shima, 'macan
kurung' menyampaikan pesan tentang nilai-nilai keadilan.
Keadilan harus ditegakkan bagi siapa saja, tidal< pandang
buIu. Hukurn tidal< hanya berlaku bagi kaum lemah saja
(seperti seekor dcal<). Siapapun (termasuk buaya) yang
bersalah hams diberi hukuman sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, tidal< terkecuali bagi raja, anak raja,
penguasa, pejabat, atau pun konglomerat.
18'611
1hl.1
1Yttr51!b 1<i!M~==- __B_e_la_ka_ng-=G=un=u=o=g:.J~ .,
Oleh karena 'macan kurung' merupakan salah satu
branding Jepara maka hal ini menunjukan bahwa Jepara
adalah sebuah daerah yang sangat menjunjung tinggi
nilai-nilai keadilan. Warga Jepara sangat mendambakan
keadilan dan ketenteraman. Maka dari itu masyarakat
Jepara sepakat untuk menegaskan bahwa siapapun yang
memasuki wilayah Jepara harus menaati peraturan yang
berlaku. Jika tidak maka siapapun ia pasti akan dihukum.
Peringatan ini seolah-<llah tergambarkan dengan
diletakkannya dua patung 'macan kurung' kembar d.i
perbatasan Kudus Jepara.
Sikap Anti Kolonial
'Macan kurung' pertama kali dibuat pada masa
kolonial. Penjajahan merupakan tindakan sewenang-
wenang yang menimbulkan penderitaan bagi kaum
terjajah. Kaum penjajah merupakan sosok manusia
serakah, kejam dan bengis yang ingin selalu menguasai
bumi pertiwi. Keinginan untuk terbebas dari belenggu
penjajahan menjadi sangat kuat tertanam dalam jiwa
setiap bangsa Indonesia.
Demikian pula dengan para perajin 'macan
kurung' yang mengalami pahitoya kehidupan pada
zaman penjajahan. Gejolak batin yang dirasakan perajin
terutama yang bersifat anti penjajah terasa sangat kuat.
Namu tidak sepenuhnya gejolak tersebut dapat
diungkapkan secara fulgar karena akan beresiko jatuhnya
sanksi dari kaum penjajah. Kondisi seperti itu telah
1Yh5~ 1(WU~====B=e_la_k_an_g.:G=u=n=u=n=g::!l,5
mendorong perajin untuk mengekspresikan perasaannya
melalui cara-cara altematif yang lebih aman. Sehingga
kemudian terciptalah karya-karya seni sebagai ekspresi
alas penderitaan yang dialarni para perajin sebagai kaum
terjajah. Sugiyanto (199: 61) mengungkapkan bahwa seni
ukir 'macan kurung' merupakan pemyataan
memberontak para perajin terhadap situasi penjajahan.
Sikap anti kolonialisme yang diekspresikan
melalui karya seni tidak hanya muncul melalui 'macan
kurung' saja. Setidaknya kita teringat pada pelukis besar
Indonesia bemama Raden Saleh yang sering
menggunakan ikon binatang untuk menyampaikan
pesannya. ]auh sebelum 'macan kurung' ada, Raden Saleh
sering menciptakan lukisan dengan ikon-ikon binatang
seperti singa, harimau, banteng, ular, kuda, dan lain-lain.
Salah satu lukisannya berjudul 'penunggang kuda dan
singa' menggambarkan seekor singa sedang menerkam
seekor kuda dan penunggangnya yang tidak berdaya
dibawah acaman mulutnya yang menganga dan
cengkeraman kuku-kukunya yang tajam. Pesan yang
disarnpaikan dalam lukisan itu adalah sindiran terhadap
kaum penjajah yang rakus dan bengis, ingin selalu
menguasai dan menindas bangsa jajahannya.
Sikap perajin Belakanggunung untuk menyikapi
penjajahan diekspresikan secara simbolik melalui 'macan
kurung'. Tidak jauh berbeda dengan Raden Saleh, di sini
perajin memilih ikon macan sebagai simbol penjajah
karena macan dan singa merupakan binatang yang
berkarakter sarna. Perajin tidak ingin penjajah yang rakus
dan kejam itu tetap mencengkeram burni pertiwi. Oleh
l'~'~ll
hili
~~ 1(WU~_....:._..:B=e=la=k=a:.ng_G_U_n..;u=n=g;::lS
karena itu kaum penjajah hams dikurung, dirantai, dan
diberi bandul besi agar tidak berkeliaran menebar
penderitaan bagi kaum terjajah.
Dipilihnya ikon kurungan, rantai, dan bola
narnpaknya juga terinspirasi pada alat-alat yang biasa
digunakan kaum penjajah untuk menindas rakyat
jajahannya. Kaum terjajah yang dianggap tidak patuh
biasanya dimasukkan pada terali besi sambi! dirantai dan
diberi bandul besi pemberat. Semua itu dimaksudkan
untuk menyiksa dan agar terhukum tidak dapat berbuat
apa-apa.
Melalui 'macan kurung' perajin bermaksud
melampiaskan keinginannya untuk membalik keadaan.
Artinya, kalau biasanya yang dikurung dan dirantai
adalah kaum terjajah maka sekarang penjajah yang kejam
itulah yang harus dikurung dan dirantai. Dengan
demikian keinginan perajin untuk menghancurkan
penjajah telah terlampiaskan walaupun hanya melalui
karya seni. Setelah penjajah dapat dikurung berarti
kemerdekaan telah dapat diraih. Ekspresi kemerdekaan
oleh para pearjin diungkapkan melalui berbagai symbol
kemerdekaan yang ditampilkan di bagian atas ukiran
'macan kurung', misalnya dengan ikon Garuda Pancasi!a.
Berdasarkan makna di atas dapat disimpulkan
bahwa 'macan kurung' berisi pesan tentang nilai-nilai anti
kolonialisme. Sikap anti kolonial hams selalu tertanam
dalam jiwa Bangsa Indonesia. Hal ini selaras dengan
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi,
bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena
tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
1 1~1~11
lo" I
~1f!V 1(WU~_...:;;;;;;;:;;;;;;B;;;;e;;.la_ka_ng_G_U_n:;;;u;;;;n;;;;g~~
Hegemoni Budaya Feodal
Tradisi budaya feodalistik pada masa R.A. Kartini
tidak memberikan ruang gerak bagi kawn perempuan
bumi putera untuk dapat mengembangkan kecerdasan
budinya. !<awn perempuan hanya ditempatkan sebagai
konco wingking dengan segaIa peraturan yang
membatasinya. Kondisi ini dialami dan dirasakan sendiri
oleh Kartini, semenjak usia 12 tahun Beliau sebagai kawn
bangsawan harus menjalani hidup dalam pingitan.
Tinggal di dalam kurungan tembok istana, tidak
diperbolehkan ke luar rumah menunggu sarnpai datang
saatnya dipinang calon suami. Kartini yang telah
mempunyai pola poor modern tergerak untuk
memperjuangkan persamaan hal< kawn perempuan agar
selara dengan kawn laki-laki. Kemudian lahirlah
pernikiran-pemikiran besar laksanan kekuatan macan
yang mampu mendobrak benteng feodalisme. Gagasan
Kartini itu seperti tertuang dalam salah satu calatan
penting yang ditinggalkan untuk kaurnnya, yaitu:
"Kami akan menggoyah-goyahkan gedung feodalisme itu
dengan segala tenaga yang ada pada kami. Dan andaikan hanya
ada satu potong batu yang jatuh, kami a/am menganggap hidup
kami tidak sia-sia"
Beberapa kalangan menduga bahwa ukiran'macan
kurung' yang dibuat perlama kali pada era Kartini adalah
sebagai ekspresi secara simbolis untuk merefleksikan
kondisi sosial budaya yang saat itu sedang menjadi
perhatian dan keprihatinan Kartini. Dalam konteks ini,
~~ 1(WU~==-==B=e=Ja=k=a=n=g=G=un=u=n=g::lS \\1,
'macan kurung' merupakan simbol kehidupan kaum
perempuan bumi putera yang hidup terpingit dalam
kurungan budaya feodalisme yang sangat irasional.
Kejamnya tradisi ini mengakibatkan kaum perempuan
tidak mampu berbuat apa-apa selain menunggu sampai
datangnya waktu yang akan mengubah nasibnya.
Dengan pemikiran-pemikirannya, Kartini
menunjukkan bahwa kaum perempuan merupakan aset
yang sangat berharga bagi bangsa. Kaum perempuan
memiliki potensi dan kekuatan yang sangat besar ibarat
kekuatan macan. Namun oleh budaya feodal potensi itu
justru dimatikan seperti macan yang hidup dalam
kurungan.
Ukiran ' macan kurung' adalah bukti adanya ikatan
emosional yang kuat antara komunitas perajin
Belakanggunung dengan Kartini (hal ini sangat logis
karena komunitas perajin Belakanggunung bersama-sama
Kartini telah bahu-membahu melakukan upaya-upaya
pengembangan ukiran kayu menjadi sebuah usaha
industri yang dapat menyejahterakan kehidupan perajin).
Dampak dari kedekatan itu kemudian perajin merniliki
rasa empati atas apa yang sedang dirasakan Kartini.
Selanjutnya dengan perwujudan 'macan kurung' perajin
dapat menyampaikan pesan kepada masyarakat luas
tentang realitas apa yang terjadi pada mereka. Kemudian
masyarakat atau penikmat juga diajak untuk ikut
merasakan sendiri peristiwa dan permasalahan yang
disajikan. Dengan ikut berempati, mereka berharap
adanya suatu pembebasan dari problem atau ketegangan
jiwa yang dihadapi, yaitu problem kaum perempuan pada
zaman feodal.
I J~';II
I",I
Dalam konteks seperti yang diuraikan di atas,
dapat disimpulkan bahwa 'macan kurung' mencitrakan
sebuah pesan yang sangat Iuhur yaitu nilai kepatuhan
(ketaatan). Kepatuhan tersebut tercermin dari sikap
Kartini yang tetap tunduk pada aturan adat yang beriaku
walaupun aturan itu terasa membelenggu. Selama aturan
itu masih berlaku maka siapa pun wajib mentaati tidak
terkecuali sebagai anak bangsawan atau pejabat.
Pengendalian Nafsu
'Macan kurung' mengandung nilai-niIai kesabaran
dalam kehidupan manusia. Pesan moral tentang
kesabaran dalam ukiran 'macan kurung' dipengaruhi oIeh
masuknya konsep Hinduisme di dalamnya, yaitu adanya
penggambaran 'dunia bawah' dan 'dunia atas'.
Interpretasi ini memandang substansi pesan dalam
,macan kurung terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian
atas (hiasan di atas kurungan) dan bagian bawah
(kurungan dan isinya). 'Dunia bawah' adalah dunia yang
dapat dikonotasikan sebagai tempatnya manusia yang
masih dikuasai nafsu dan angkara murka. 'Dunia bawah'
menjadi tempat manusia menjalani ujian di dalam
• hidupnya. Sementara dunia atas atau kahyangan menurut
mitologi Hindu, merupakan dunia yang suci, dunia para
dewa. Sesuatu yang bersifat jahat, kasar, dan nafsu
duniawi sangat clilarang karena kebahagiaan di sana tidak
diperoleh dengan pemuasan nafsu. Dunia atas adalah
dunia yang terang, menjadi tempat tinggal bagi makhIuk-
makhIuk yang berwatak baik.
II~'~II
hlill
~~ 1(WU~_....;,===B=e;;;la;;;k;;;a;;;ng=-G_Un_U_n_g_
Dari pengertian eli atas dapat e1isimpulkan bahwa
'dunia bawah' adalah dunia yang masih terdapat nafsu,
gejolak dan labil. Nafsu dikenal sebagai organ rohani
manusia yang memiliki pengaruh paling banyak dan
paling besar eli antara anggota rohani lainnya yang
mengeluarkan instruksi kepada anggota jasmani untuk
melakukan tindakan. Tindakan yang timbul akibat
dorongan nafsu itu dapat bersifat positif maupun negatif.
Nafsu negatif bertanggung jawab atas anasir-anasir jahat
eli dalam pribadi seseorang.
Secara biologis macan e1ianggap sebagai binatang
buas dan liar, ibarat nafsu buruk. Bola menggambarkan
kehidupan yang selalu berputar, selalu dinamis, kadang
harus terombang-ambing oleh keadaan. Bola juga
menggambarkan suatu bentuk permainan yang dapat
mendatangkan kesenangan. Rantai sebagai pengikat yang
kuat sebagai simbol untuk mengendaIikan diri. Kurungan
dengan jeruji-jerujinya, dapat dikonotasikan sebagai
kekuatan, kesabaran atau keteguhan yang mampu
menahan kekuatan dari dalam yang sering tidak
terkendali. Dengan adanya bola bersama macan dalam
satu kurungan memberi kesan bahwa macan seolah-olah
dibuat asyik dengan mainan agar tidak sadar dengan
kondisi yang sedang e1ialarninya sehingga macan pun
tidak akan mengamuk dan tidak menunjukkan
keberingasannya. Hal ini dapat diinterpretasi bahwa
untuk mengendalikan nafsu perlu diimbangi dengan cara
lain agar seseorang tidak terkena depresi. Depresi akan
menimbulkan masalah barn yang lebih membahayakan.
Oleh karena itu mainan sebagai hiburan menjaeli salah
satu pilihan aman untuk menghindarinya.
l'~~ll
I" II
~1!b ~WU~===;:B::e=la=k=an=g=G=u=n=un=g=
Oi 5151 lain bola sebagai mainan dapat
dikonotasikan sebagai tindakan untuk mendatangkan
kesenangan. Oi dalam kesenangan, manusia seringkali
beranggapan telah mendapatkan kebahagiaan. Dengan
kesenangan itu pun manusia sering dibuat lupa akan
tujuan mencari kebahagiaan hidup yang hakiki. la hanya
memperoleh kebahagiaan sesaat atau kebahagiaan semu.
Manusia perlu hati-hati pada hasrat untuk mendapatkan
kesenangan atau kebahagiaan semu. Oleh karena itu
ketika menadapatkan kesenangan atau kebahagiaan juga
perlu untuk selalu mawas sebagai upaya pengendalian
diri.
Adapun 'dunia atas' adalah gambaran kehidupan
ideal yaitu kehidupan di 'alam kahyangan' yang berperan
dalam menjaga keseimbangan dalam hidup. Sebagai
lambangnya adalah hiasan di atas kurungan banyak
berbentuk naga, pohon rindang atau pun Garuda
Pancasila. Bahwasanya naga dikenal sebagai binatang
mitologi yang menempati kasta tertinggi, Garuda sebagai
kendaraan Wisnu, pepohonan (hutan) dianggap sebagai
bagian dari ekosistem yang sangat penting artinya bagi
kehidupan serta Garuda Pancasila sebagai lambang
negara yang mengandung falsafah dan ideologi bangsa
Indonesia, sehingga kesemua itu layak untuk ditempatkan
di 'dunia atas'.
Bagian atas dan bagian bawah pada patung 'macan
kurung' terkesan tidak ada keterkaitan makna secara
langsung. Satu sarna lain seolah-olah berdiri sendiri-
sendiri tanpa adanya komunikasi. Namun bila dicermati,
sesungguhnya 'macan kurung' mencitrakan sebuah
1'~I~'1
h"t
1YZq;~ 1(WU~_=__B_e_l_ak_a_n_g_G_U_n_U_n_g-::~
falsafah niIai-niIai keharmonisan yang beranggapan
bahwa dalam semua segi kehidupan kita terdapat dua
kekuatan yang beriawanan, namun merupakan kesatuan
yang seimbang. Jika ada nafsu maka ada juga kesabaran.
Tidak ada atas jika tidak ada bawah. Patung ini
menggabarkan dua kehidupan yang tenang pada dua
dunia yaitu dunia atas" dan "dunia bawah". Dunia alas
tetap berlangsung menurut kodratnya sebagai dunia yang
damai dan agung. Demikian pula
tidak ada lagi gejolak d.i dunia
bawah karena nafsu sebagai anasir
jahat teIah dapat dikendaIikan.
Apabila nafsu sudah dapat
dikendaIikan secara bijaksana maka
niscaya tidak akan ada lagi
kerusakan d.i dunia.
Fragmen Kepahlawanan
Selain makna simbolis seperti
di atas, ternyata ada konsep minor
yang dibuat oleh perajin 'macan
kurung'. Mereka berpendapat
bahwa 'macan kurung' merupakan
fragmen perebutan kekuasaan
antara Jawa dengan Gna. Dalam hal
ini 'macan kurung' mencitrakan
Gambar.13 I J~I~11
'Macan kurung'
buatan oarsono J" 01
~~ ':tWU~=...:.__B_e_l_ak=a=n=g=G=u=n=u=n=g::::l
., •
nilai-nilai kepahlawanan, keberanian mernbela keadilan
dan kebenaran.
Macan ]awa dalam kurungan adalah simbol orang
]awa (pribumi) yang dikurung, sehingga tidak dapat
berbuat apa-apa. Bola sengaja diberikan agar orang'
pribumi merasa senang dan tidak sadar bahwa ia sedang
ditaklukkan. Yang mengurungnya dalah naga (Liong)
sebagai simbul dari bangsa Cina karena ia ingin
menguasai tanah ]awa, bahkan dunia. Oleh karena
itulah maka dimana-mana di dunia ini selalu ada orang
Cina. Burung elang menggambarkan sosok pembela
pribumi, yang melakukan perlawanan terhadap keinginan
sang naga. Dalam pertarungan tersebut elang berhasil
mematuk dan menelan salah satu belalai naga. Konsep ini
sering digambarkan oleh Darsono (perajin dari Kawak)
dalam membuat ukiran 'macan kurung'.
Sebetulnya jika diapresiasi, pertarungan naga dan
burung elang tidak begitu nampak gregetnya. Hal ini
terlihat dari gerakan naga dan burung elang itu sendiri
yang terasa kurang impresif. Yang kelihatan justru kesan
persahabatan antara dua binatang rnitologis tersebut.
Naga dan burung di atas kurungan mengesankan bahwa
dua binatang itu narnpak akrap satu sarna lain. Dari
ekspresi gerakan kedua binatang itu tidak nampak adanya
sebuah pertarungan. Hal ini terlihat pada gerakan burung
dengan bulu-bulunya tetap rapi, sayap menutup ke
bawah tidak dalam kondisi siap terbang, sementara
kakinya hinggap dengan pasti diatas kepala dan badan
naga. Naga pun narnpak tidak memberi perlawanan.
Bahkan sang naga mernbiarkan salah satu belalainya
1'~'~'1
10" ,
~~ 1(WU~==:;;._B_e_la_ka_ng_G_U_n_u_n..':g=
dipatuk oleh burung. Sikap tenang naga terlihat pada
gerakan tubuh dan ekspresi kepalanya. Tubuh naga
terlihat tenang dan bergerak teratur tidak meliuk-liuk
seperti sedang mengamuk. Kepalanya menghadap lurus
ke depan seakan tidak peduli terhadap burung yang
mengusiknya. Akan berbeda konotasinya apabila gerakan
badan naga meliuk-liuk, kepalanya menghadap ke atas
melihat ke arah burung yang mematuknya serta mulutnya
menganga lebar sebagai ekspresi menebar ancaman pada
sang burung.
1Yh5~ 1(WU~====B=e=Ja=k=an=g=G=u=n=u=n=g::::!
Orisinalitas menjadi bagian yang tak terpisahkan
dalam mewujudkan bobot sebuah karya seni. Menurut
Sachari (2002: 45) orisinalitas sebagai ukuran tingkat
pendalaman proses penciptaan yang dilakukan oIeh
seorang seniman atau kreator seni. Unsur kebaruan yang
menyertai orisinalitas suatu karya amatiah penting untuk
membangun citra dan eksistensi suatu niIai hadir di
tengah-tengah kebudayaan.
Persoalan orisinalitas timbul ketika pengakuan
atas sebuah karya seni dianggap sebagai sebuah
kebutuhan. Tidak orisinalnya karya seni akan berdampak
pada jatuhnya martabat kreatomya dan karya seni itu
sendiri. Pada sisi kreatomya, tidak jarang kemudian
dicemooh sebagai plagiator. Demikian juga karya yang
1'~'~11
h,,1
~tf!U 1@ru~_.=__B_e_la_k_a_ng_Gu_n_u_n_g_
tidak orisinal menjadi tidak diakui sebagai hasil ciptaan
barn.
Persoalan orisinalitas seringkali timbul ketika
terjadinya interaksi berbagai bentuk kebudayaan dalam
berbagai situasi dan kondisi. Saling pengaruh-
mempengaruhi antara dua kesenian atau lebih dapat
terjadi di mana pun, dan hal ini adalah sebuah kewajaran.
Demikian pula dengan ukiran 'macan kurung'. Gaya seni
yang diduga mempengarilhi 'macan kurung' adalah gaya
seni Cina. Pandangan yang mencoba mengaitkan tentang
adanya pengaruh dari seni Gna setidaknya dapat
dipahami dari beberapa argumen sebagai berikut.
Dilihat dari keunikan teknik pembuatan dan
bentuk yang digambarkan pada 'macan kurung' terlihat
adanya kemiripan dengan ukiran gaya seni Cina ,Kilin'.
Ukiran 'Kilin' menggambarkan makhluk penjaga
bertubuh seperti singa, mukanya agak mirip naga. Dalam
mite Cina Kilin dipercaya sebagai penolak bala.
Adanya kemiripan 'macan kurung' dengan 'Kilin'
dapat diduga bahwa ukiran 'macan kurung' merupakan
hasil akulturasi antara budaya Cina dengan budaya
daerah ]epara khususnya Belakanggunung. Hal ini dapat
terjadi karena penduduk ]epara dengan bangsa Cina
sudah sejak lama menjalin hubungan dalam bidang
perdagangan, politik, religi, dan seni.
'9'911
1hIll
00r>~ 1(WU~ ~B_e_la_k_a_n_g_G_U_n_U_n.g.....
Gambar14
'Kilin'
Keunikan patung 'Kilin' terletak pada bola yang
dipegang oleh dua makhluk itu. Dari lubang bola yang
dipegang dapat dilihat bahwa di dalam bola ada bola.
Teknik membuat ukiran ini mirip dengan teknik membuat
'maean kurung' yakni untuk membentuk bola di dalam
bola dibuat secara langsung tanpa membelah kayu utuh.
Kemiripan dalam subyek yang digambarkan
terlihat dari adanya bola dan ikon makhluk berkaki
empat. Bola dalam patung 'Kilin' dan 'maean kurung'
sarna-sarna diwujudkan dalam bentuknya yang bulat,
dapat menggelinding namun tidak dapat keluar. Makhluk
'Kilin' dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari
singa kemudian oleh perajin 'maean kurung' diwujudkan
dalam bentuk maean. Perubahan dari makhluk 'Kilin'
menjadi ikon binatang maean dapat terjadi karena adanya
perbedaan eara pandang dalam pembuatan karya seni.
Gaya seni Cina lebih bersifat ideoplastis (meniru dunia
ide) sedangkan gaya seni perajin Belakanggunung dalam
membuat patung eenderung naturalistik atau fisioplastis
(meniru dunia kasat rnata).
I"10"0'I
hll'
__~~ 1<1!ru~_....;. B_e_la_ka_ng_G_U_n_U_n_g c:
Lebih jauh lagi masuknya pengaruh gaya seni Cina
pada 'macan kurung' terdapat pada ikon yang terdapat di
atas kurungan, rnisalnya naga. Dalam tradisi kebudayaan
Jawa tidak dikenal adanya rnitos tentang naga. Naga
(Liong) sendiri justru lebih banyak dikenal sebagai rnitos
dalam kebudayaan Cina karena naga tennasuk dewa yang
diletakkan dalam kasta tertinggi.
Di Negeri Cina, naga merupakan simbol kebaikan,
keperkasaan, kekuasaan dan sebagainya sebagai kekuatan
yang positif. Orang Cina menyebutnya dengan Lung
(bahasa Mandarin) atau Liang (dalam bahasa Hokkian,
salah satu dialek bangsa Cina). Liong digambarkan
sebagai makhluk raksasa menyerupai seekor ular atau
buaya, kadang-kadang bercakar atau bersayap. Sampai
sekarang naga merupakan bagian penting dalam pola
pernikiran orang-orang Cina. Dalam mitologi Cina, naga
menempati urutan paling atas dari semua binatang
mitologi yang ada.
Kalau memang benar bahwa 'macan kurung'
mendapat pengaruh dari gaya seni Cina bukan berarti
karya seni ini tidak asli Jepara. Bukankah 'macan kurung'
sangat jauh berbeda dengan 'Kilin' dalam banyak hal, baik
secara kasat mata maupun filosofinya. Kuat kemungkinan
'macan kurung' betul-betul murni karya perajin Jepara
tanpa adanya pengaruh dari kesenian manapun termasuk
Cina. Jika ada kesamaan antara satu kesenian dengan
kesenian lainnya seperti pada 'macan kurung' dapat
terjadi karena adanya kesamaan pernikiran dari
penciptanya. Menurut pendapat ini, dua gaya seni yang
menunjukkan kesamaan bukan karena sebelumnya sudah
1""'1101
hrll
1J0rJ~ ~tU~.,, B_e_la_ka_ng_G_U_n_U_n_g....l
saling mengenal dan terjadi interaksi kemudian saling
mempengaruhi namun kerniripan itu terjadi secara
kebetulan.
Perbedaan cara pandang dalam berkesenian telah
menjadikan 'macan kurung' sebagai karya seni baru yang
merepresentasikan cita rasa estetis dan nilai-niJai budaya
daerah setempat. Sebuah karya seni rupa dianggap tidak
orisinal jika karya itu merupakan hasil peniman secara
bula (peniruan semala-mata demi peniman), yang
bertujuan meniru suatu objek sepersis-persisnya. Karya
seni rupa orisinal adalah buah dari proses kreatil yang
melibatkan perenungan secara mendalam serta
menghindari peniruan secara buta. Ini tidak berarti bahwa
unsur-unsur yang digunakan untuk menghasilkan
kombinasi-kombinasi baru itu harus baru pula. Banyak
keunikan 'macan kurung' yang tidak dijumpai pada gaya
seni manapun, rnisalnya penggambaran kurungan, macan,
bola rantai serta hiasan-hiasan lainnya jelas sangat spesifik
Belakanggunung.
Berbagai pandangan yang mempermasalahkan
tentang orisinalitas 'macan kurung' baik timbul dari niali-
niJai budaya bangsa sendiri sebagai local genius maupun
adanya pengaruh budaya asing. tetap saja sah bahwa
'macan kurung' adalah karya seni asli Jepara. 'Macan
kurung' secara mantap telah menjadi karya asli rnilik
daerah tempat kelahirannya, maka 'macan kurung' adalah
Indonesia.
'1'0121
1h,,1
-- --- - -
__~~ ~nAr!J:._....;:, B_e_la_ka_n_g_G_Un_U_n_g.-i~
'MClCCllI\, Kl,,<YUlI\,g' sebClgClt
PubLic Domain
'Macan kurung' sejak awal didplakannya nampak
telah menjadi karya seni mi1ik masyarakat. Kreatornya
sendiri yaitu Asmo tidak pernah mengklaim bahwa karya
seni ukir itu hasil karya pribadinya. la tidak merasa
merniliki hak eksklusif untuk memperbanyaknya. Bahkan
secara sukarela ia memberikan kesempatan kepada para
perajin lainnya untuk ikut membuat maupun memasarkan
ukiran itu. Demikian pula apabila perajin lain menemukan
desain ukiran baru maka akan diikuti oleh banyak perajin
untuk membuatnya. Satu sisi perajin bisa sebagai pendpla
desain" di lain sisi perajin bisa sebagai peniru desain.
Semua berjalan biasa saja tanpa ada permasalahan dari
pihak tertentu alau komunilas.
11I
11h10ll3''1