The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-05-09 21:27:43

Serat Panitibaya

Serat Panitibaya

L-m#ry- ## t& f -

ArrH DAN rRANSrrrERAsr
":S,SAERRAAT PANITIBAYA'

ALIH AKSARA DAN TRANSLITERASI
.. SERAT PANITIBAYA"

Karangan : BHAIARA KFIAIONG
Koleksi Museum Jawa Tengatr Ronggowarsito

oleh:
Drs. Wahono

LaelaNurhayati Dewi, S.S.

Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tenga"[r

'Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ,; ., ,i i
" ,:Museum JawaTengah " RonggoWarsito ' :

!lq\

KANT0R PER[)[.]$iJA Pffifri', iti'i'i.tiG

arsitot')

Karangan:
Bhatara Khatong

Oleh:
Drs. Wahono
LaelaNurhayati Dewi, S.S.

ISBN 979 9579 48 1

Percetakan:
UPT. UNNES Press
Jl. Kelud Raya No.2 Semarang
Telp.lFax : (024) 84 1 5032

TATITIIR PEBPU$I}A PRIIP. JATEIII{i

OI $EHABAIIO

'Nfoon.gDgaatlt.. lb7 * 2N7 zwg

lr*- o\ *

PENGANTARKATA

Naskah kuno adalah bukti sejarah yang memiliki nilai

penting bagi pendidikan dan kebudayaan di Indonesia, tetapi
data tekstual tersebut sampai kini banyak sampai pada kita
belum terungkap.

Berangkat dari kondisi tersebut Museum ]awa Tengah

Ronggowarsito mengadakan kegiatan alih aksara dan

transliterasi "serat Panitibaya" gLrna mengetahui muatan serta
ajaranyang terkandung di dalamnya.

Kami menyadari penerbitan buku ini baru merupakan
langkah awal dan masih banyak terdapat kelemahan dan

kekurangan. Beberapa kesulitan antara lain kurangnya sumber
informasi y angdiperlukan serta keterbatasan kemampuan yang

dimiliki. Diharapkan hal ini dapat disempurnakan di masa
yang akan datang terutama teknik pengkajian dan

pengungkapannya.

Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada Kepala

Museum Jawa Tengah Ronggowarsito atas bimbingan dan saran

sehingga penulisan ini dapat selesai sesuai waktu yang

direncanakan.

Semarang, September 2004
Penulis

iii



SAMBUTAN KEPALAMUSEUM

IAWA TENGAH RONGGOWARSTTO

Informasi kebudayaan daerah dapat digali dari naskah-
naskah kuno, yaitu naskah tulisan tangan yang menyimpan
berbagai ungkapan pikiran dan perasaan yang merupakan hasil

budaya masa lampau yang tertulis pada kertas, lontar, kulit

kayu dan rotan. Naskah kuno mengemban isi yang sangat kaya
danberaneka ragam. Jadi dapat dikaitkanbahwa naskah kuno
di Indonesia kaya akan nilai budayayangcoraknya beraneka
ragam sesuai dengan kondisi masyarakat. Oleh karenanya
penting untuk diwariskan, dilestarikan dan diinformasikan.

Dalam kaitan ini museum ]awa Tengah Ronggowarsito
mempunyai tugas mendokumentasikan dan mempublikasi
naskah kuno melalui Seksi Pengkajian dan Pelestarian
mengadakan kegiatan alih aksara dan transliterasi "Serat
Panitibaya" yang merupakan koleksi Museum Jawa Tengah
Ronggowarsito. Sehingga Alih Aksara dan Transliterasi sedapat
mungkin dilaksanakan guna mengetahui muatan serta ajaran

yang terkandung didalamnya.

Dengan terbitnya AIih Aksara dan Transliterasi ini

diharapkan dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi
masyarakat.

Semarang September 2004
Kepala Museum |awa Tengah Ronggowarsito

NDrsIP. A.g1u3s0D9on3o2K2a3rm6ad+i



SAMBUTAN
KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PROPINSI IAWA TENGAH

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Penerbitan buku sebagai salah satu usaha untuk

memperluas cakrawala budaya masyarakat merupakan usaha
yang patut dihargai. Pengenalan berbagai aspek kebudayaan
dari daerah di Indonesia khususnya ]awa Tengah memperkuat
ketahanan di bidang sosial budaya.

Oleh karena itu saya menyambut baik atas terbitnya
buku Alih Aksara dan Transliterasi Serat PANITIBAYA

koleksi museum Jawa Tengah Ronggowarsito sebagai upaya
untuk melestarikan kebudayaan daerah.

Akhirnya saya ucapkan selamat dan terima kasih

kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan

tenaga bagi penerbitan buku ini. Semoga dengan
diterbitkannya buk ini mampu memacu masyarakat ]awa

Tengah khususnya untuk menggali lebih dalam kebudayaan
daerah lewat karya sastra lama yaitu naskah kuna.

Wassalamu'alaikum Wr. \ /b.

September 2OO4
Pendidikan dan Kebudayaa.n

engah

uwilan Wisnu Yuwono,M.M

P. 130 52t 266

vllta

DAFTAR ISI

Halaman |udul. .. . . r . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . o . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
Pengantar Kata. c... ........................ o................................ '....... iii
Sambutan Kepala Museum |awa Tengah .....oo..................
Sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan .. V

Daftar ISi....... o....... ..... o....... r... o...... o......................................... vii

ix

BAB I PENDAHULUAN ................o................................. 1
'/-r.1 Latar Belakang ........... o.... o... o... r............... r......
1
7.2 DaSar ................ o..............................................
3
31 . Tuj uall . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
4
7.4 Sasarall .......................... o................. . o.............. 4
5
1.5 Ruang Lingkup ...o.....o..........r.o................o......

7.6 Metode Pengumpulan Bahan Penulisan ...

BAB II ALIH AKSARA DAN TRANSLITERASI

SERAT 'PANITIBAYA'

BAB III MENGTINGKAP ISI SERAT'PANITIBAYA' .... 96
1,.1 Sedikit Tentang Bhatara Kathong 96

1..2 Meniti Bahaya yang Timbul dalam176 98

Larangan

BAB IVPENUTUP 130

KEPUSTAKAAN 1,32

ix



DAFTAR ISI

Halaman |udul. .. . . r . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . o . . . . . . . . . . . . . . . . . . I
Pengantar Kata. c... ........................ o................................ '.......
Sambutan Kepala Museum |awa Tengah .....o................... iii
Sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ..
V
Daftar ISi....... o....... ..... o....... r.......... o............. o...........................
vii

ix

BAB I PENDAHULUAN ................o................................. 1
'/-r.1 Latar Belakang ........... o.... o... o... r............... r... r..
1,
7.2 DaSar ................ o..............................................
3
31 . Tuj uall . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
4
7.4 Sasarall .......................... o................... ......... 4
5
1.5 Ruang Lingkup ...o.....o..........o.o................o......

7.6 Metode Pengumpulan Bahan Penulisan ...

BAB II ALIH AKSARA DAN TRANSLITERASI

SERAT 'PANITIBAYA'

BAB III MENGTINGKAP ISI SERAT'PANITIBAYA' .... 96
1,.1. Sedikit Tentang Bhatara Kathong 96

1..2 Meniti Bahaya yang Timbul dalam176 98

Larangan

BAB IVPENUTUP 130

KEPUSTAKAAN 1,32

ix

BAB I

PENDAHULUAN

L.L Latar Belakang

Berbahagialah kita bangsa Indonesia bahwa hampir di
setiap daerah di seluruh tanah air hingga kini masih tersimpan
karya-karya sastra lama terutama berupa naskah kuno yang
pada hakekatnya adalah cagar budaya nasional kita.

Kesemuanya ini merupakan tuangan pengalaman olahbudi dan

rasa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi
pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu segala

bidang.
Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu

pengetahuan yang beraneka ragam. Penggalian karya sastra
lama yang tersebar di daerah-daerah akan menghasilkan ciri-
ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan
hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya.
Modal semacam itu yang tersimpan dalam karya-karya sastra
akhirnya akan dapat menunjang kekayaan sastra Indonesia
pada umumnya.

Pemeliharaan, pembinaan dan penggalian sastra daerah

jelas akan besar sekali manfaatnya dalam usaha kita

membangun kebudayaan nasional pada umumnya yang akan
menjiwai proses pendidikan pada khususnya.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu adanya saling

pengertian antar daerah. Hal ini sangat besar artinya bagi

pemeliharaan kerukunan hidup antar suku dan agama, di

seluruh nusantara dapat terwujud bila sastra lama

diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia.

tllih Aksnra dan Transliterasi SERAT ITANIflBAYA

Dalam pembangunan bangsa Indonesia dewasa ini insan

Indonesia sungguh memerlukan sekali siraman sejuk nilai-nilai
luhur yang tersimpan dalam karya sastra lama.

Kita yakin bahwa nilai yang dapat tergali dari dalamnya
akan berguna bagi daerah yang bersangkutan bahkan juga akan
dapat bermanfaatbagi seluruh bangsa Indonesia melalui
membaca hasil kajian, yang kemudian menjadi sumbangan
yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra daerah dan nilai-
nilai yang terkandung. Dengan demikian, adanya penyebaran
dan peran sastra dalam praktek kehidupan dapat mewarnai
kehidupan sehari-hari dewasa ini.

Salah satu di antara warisanbudaya nasional yang sangat
penting di samping warisan dalam bentuk lainnya seperti candi-
candi, prasasti atau artefak-artefak adalah naskah kuno. Naskah
Kuno ini merupakan salah satu mata rantai atau sumber yang

dapat memberikan informasi kepada kita tentang

perkembangan ilmu, teknologi,tata upacara, obat-obatan,
dongeng, babad, peraturan pemerintah, hukum dan sopan

santun,masalah hubungan manusia dengan tuhannya(sistem

religi) dan sejarah masa lampau. Naskah-naskah tersebut
semuanya ditulis dengan tangan dengan huruf dan bahasa
daerah, kadang-kadang ada yang ditulis dengan huruf Arab

atau huruf Latin. Naskah tulisan tangan yang dibuat oleh nenek
moyang kita pada waktu itu belum banyak percetakan buku
seperti sekarang, yaitu sekitar tahun 1920ke belakang.

S"juk 30 tahun terakhir inihuruf-huruf sertabahasa daerah
tidak lagi dipelajari sungguh-sungguh dalam pendidikan
formal di Indonesia, oleh karena ifu anak-anak dan orang-orang
muda jaman sekarang jarang yang dapat membaca huruf
daerahnya masing-masing. Kesulitan membaca huruf daerah,
ditambah lagi dengan semakin derasnya kebudayaan asing
masuk karena kemudahan komunikasi serta kemajuan
teknologi dengan pesat menyebabkan naskah-naskah tulisan

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

tangan menjadi barang simpanan di rak buku yang tidak pernah
dibaca maupun dirawat secara sungguh-sungguh.

Museum merupakan salah satu unit pelaksana teknis di
bidang kebudayaan mempunyai tugas menyelenggarakan

pengumpulan, perawatan, pengawetan, penelitian, penyajian,

penerbitan hasil penelitian dan memberikan bimbingan
edukatif cultural tentang benda yarrg bernilai budaya dan

ilmiah.
Di antara benda-benda yang bernilai budaya dan ilmiah

yang terdapat di Propinsi ]awa Tengah khususnya Museum

]awa Tengah " Ronggowarsito "adalah naskah-naskah kuno

yang perlu diselamatkan, dipelihara dan dikaji isinya yang

kemudian disebarkan kembali ke masyarakat.

Pada umumnya naskah kuno khusus di propinsi Jawa
Tengah ditulis pada kertas dengan menggunakan aksara lawa.

Sesuai dengan tugas dan fungsinya Museum propinsi
)awa Tengah "Ronggowarsito "dalam pengembangan dan
pembinaan Kebudayaan daerah khususnya bahasa dan sastra

daerah mengadakan kegiatan Alih Aksara dan Terjemahan

Naskah Kuno yaitu : SERAT PANITIBAYA . Melalui kegiatan
ini masyarakat khususnya generasi muda mengenal museum
sebagai lembaga pendidikan di bidang kebudayaan dan juga
memberi motivasi untuk lebih kreatif dalam membina dan
mengembangkan kebudayaan daerah khususnya bahasa dan

sastra daerah.

L.2 Dasar

L. Program Museum Ronggowarsito ]awa Tengah
2. SK. Kepala Museum Ronggowarsito ]awa Tengah

1.3 Tujuan

1. Umum:

Menumbuhkan pandangan dan pengertian masyarakat

Alih Aksara dan Transliterasi SERAI PANITIBAYA

bahwa museum adalah lembaga pendidikan dan ilmu
pengetahuan yang dimiliki masyarakat.

2. Khusus:

Memberikan motivasi kepada seluruh lapisan

masyarakat apalagi generasi muda, agar lebih kreatif

dalam ikut serta membina dan mengembangkan

kebudayaan daerahpada khususnya, serta memahami
manfaat naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh
nusantara.

1.4 Sasaran

1. Masyarakat bertambah wawasan dan pemahaman

mengenai isi dan masalah naskah kuno dan sastra

daerah.

2. Masyarakat berperan serta menyelamatkan naskah-

naskah kuno yan g ada di lingktrngannya.

l-.5 Ruang Lingkup

Pelaksanaan alih aksara serat PANITIBAYA diusahakan
sesuai dengan bunyi naskah aslinya baris demi baris agar
mudah diperbandingkan dengan teks aslinya sedangkan
penerjemahan kata demi kata tidak mungkin, karena struktur
kalimat bahasa lawa, apalagi berbentuk tembang tidak seiring
dengan struktur bahasa Indonesia. ]ika diterjemahkan sesuai
dengan urutan tiap-tiap kata dalam tiap baris, maka sering
terjadi terjemahan itu hanya merupakan urutan kata-kata

Kita yakin bahwa nilai yang dapat tergali dari dalamnya
akan berguna bagi daerah yang bersangkutan bahkan juga akan
dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia melalui
membaca hasil kajian, yang kemudian menjadi sumbangan
yang khas sifatnyabagipengembangan sastra daerah dan nailai-
nilai yang terkandtrng. Dengan demikian. adanya penyebaran
dan peran sastra dalam praktek kehidupan dapat mewarnai

Al ih Ak s a r a d a n iT'r an s li t e r a s Sf- I{A 7' PANITT B AY A

kehidupan sehari-hari dewasa ini.
Naskah yang tidakmempmyai arti. Dalam hal seperti ini

penerjemahan setiap barisnya diusahakan terungkap arti yang
dimaksud atau maknanya dalam baris tersebut. Serat Panitibaya
yang ada di Museum |awa Tengah Ronggowarsito merupakan
salinan tulisan tangan oleh sdr. Suwarja sekitar tahun 1926.
L.6 Metode Pengumpulan Bahan Penulisan

Studi Kepustakaan dengan memilih naskah yang masih

lengkap halamannya, jelas tulisannya dan isi naskah

mengandung nilai dan gagasan yang dapat diterima oleh

seluruh bangsa Indonesia.

Alih Aksara dan Tratsliterasr SERAT PANITIBAYA

BAB II

ALIH AKSARA DAN TRANSLITERASI
SERAT PANITIBAYA

Ihng serat panitibaya,

P anembahan agung wau kang nganggit,
B athara kltatong kang sunu,
Panaraga nagara,
lngkang wayah jeng sunan girikadhatun,
Binatuwuh putra wayah,
lluj eng a s aw in gkin g -w in gkin g
Selasa legi ping limalas,
Madilawal tahun alip lumaris,
Angka sewu wolungatus,
selcet langkung satunggal,
Wuku mangsa tampine. . .rang, duk roinangun,
Dening ulun pun tanaya, ing surakarta nagari.

Serat Panitibaya pengarangnya adalah Panembahan Agung
Bathara Khatong dari negara Panaraga, beliau adalah cucu dari

Sunan Giri'

Semoga selamat untuk anak-cucu kita dikelak kemudian hari'
Selasa Legi, tanggal lima belas, bulan Madilawal Tahun Alip
Lumaris, seribu delapan ratus limapuluh safu,
Pada masa wuku, kiranya
Oleh abdi tanaya, di negara Surakarta

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAyA

lngkang kasedya kang saya,
Nganggit layang kang sabab aniwasi
ingkang ayun akrap taruna taruna siwi
supaya rinegem kukuh,

dadi jati pusaka,

sapangisor hrg sia turun-temltrun,

iki kawit lung winilang,
sabarang nama niwasi.
Pamurunge zoirya guna,
aja lali lire sautiiji-wiji,

Adapun maksud pembuat uraian ini (saya),
(yur,g) sebenarnya ingin sekali akrab berdekatan hati
dengan anak-anak muda,
janganlah hal (petuah) ini sampai hilang, genggamlah
yang kuat,
agff dapat dijadikan pusaka (sesuatu yang dihormati)
benar-bendt,
seterusnya bagi semua keturunanku,
inilah semua hal-hal yang terhitung (tergolong),
semuanya y.ang dapat mencelakakan diri.
Untuk mengurungkannn y a ada car a y angdapat menuj u
ke keselamatan,

dan ini hendaklah jangan kau lupakan artinya satu-

persatu,

1. kang siji sira ajayun,

ngelab randaning knnca,
tuwin batur bendara lurah sadulur,
agau)e salah grahita.
tiging ngendon aniwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

pertama, janganlah,
engkau berhasrat mengambil janda temanmu,
pembantumu juga janda majikanmu,
pimpinan serta saudaramu,
tindakan ini dapat membuat salah paham,
yang akhirnya akan membuat celaka.

2. lngkangkapindho aja,

anger ab eni eT.oon alur aning ringgit,
sanajan rupane ayu,
ngungkuli dewi umn,
sirna rupa katon badhut lugu,

t an p aleer in g c ac ah- cuc ah,

ngilangken wingit niw asi.

Kedua, janganlah,

mengawini wanita yar.g termasuk ronggeng, biarpun

parasnya cantik, melebihi Dewi IJma,
tetapi jika sudah takberhias diri lagi, akan terlihat dengan
jelas, (ia) seperti badhut (orang yang suka ditertawakan)
belaka,
tanpa takut atau malu-malu berlaku tidak sopan,
suatu hal yang dapat menghilangkan wibawa.

3. Kaping telu iku aja,

rabi luwih seka papat iku tan becik,
yen luwih angruak ukum,
ing saraklurasulan,
yen luwiha seka papat iku madha ratu,
yen akal ngrarenah sarak,
nempuh dwakaniwasi,

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Ketiga, kali iang-anlah, orang, jelas itu tidak baik,
kawin ning g"rEuft, empal hukum, melanggar
bila berlebih-Iebihan, ia akan merusak
" kerasulan" (adat rasul)
iika lebih dari empat itu berarti melebihi Raia
digunakan untuk merusakperaturan/
r.uiu" akan durhakalah dan menyebabkan celaka iugu,
maka akan

4. Kaping Pate iku aia,
angrabeni wadon durung sah laki,

nadyan pakon baPa kaum,

aja gegam7ang sarak,

iio"aipel, ,*/uk lir urong madung kapuk,

yen tan weruh wekasing aria'

yen kurang Yitna niw si'

KeemPat, kali ialah iangan, sah perceraia'rny r dengan

mengawini ,u^iiu i;tfberum

swfFbauianl[aalgmaasuine,pmmukauneaunsgi[utiaudrnJabhugegllduaaims?et..tkr*rrra",iqaYukai khore"ltepphhe.h"rbruataiilupaorakraklhnniKgr(aakquegenbaelm*/nuaak)r'aunl nkyaap/as,

iika kurang berhati-hati akan sengsara'

5, Kapinglima iku aia,
angulihi ngrabeni ai" usani,

tilas boione kang mau,

tuis pegat nir kang talak,
aja dr,tmeh durung laki PurTu niPun'

yen tan terang Pangrtlu ika,

yen ginam7ang aniw si'

Alilt Aksara clan Tratsliterasi sEItAT PANITI BAYA

Kelima, janganlah,
berani kembali memulangi dan mengawini,
wanita bekasnya istrinya yang dulu
yang telah kau ceraikan tetapi tanpa surat talak,
biarpun dia itu pada dasarnya belum kawin lagi,
tetapi bila tidak setahu Penghulu,
danbila hal itu dianggap mudah, akan menjadikan celaka.

6. Kaping neme iku aja,

yen wong priya durung saru)a luwih,
aja rabi loro telu,

apadene yen papat,
lanyen durung duwebudi nyemar cukup,
momot tyas blanja tankurang,
yen tan samekta niwasi.

Keenam, janganlah,
seorang pria yang belum merasa serba berlebihan,
janganlah beristri dua orang, tiga orang, bahkan sampai
empat orang,

di samping itu bila seseorang tak mempunyai cukup

kebijaksanaan,
demikian pula hal belanja sudah tidak berkekurangan lagi,

jika (semua) itu tidak siap benar, akan sengsara jadinya

7. Kapingpitu iku aja,

yen u)ong priyo wis tuwo aja rabi,
rara nom lagi kumencur,
yen sugih den mal-emal,
yen tan sugih sewu sabar tyas knku,
yen tankadi wong ngawula,
prabukenya aniwasi.

10 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Ketuiuh, janganlah,
seorang pria yang telah tua, (hendaklah jangan) kawin,
dengan wanita muda remaja.
Sebab jika dia itu kebetulan kaya Ya (memang) dihormati,
tetapi bila jika si suami tidak kaya ya harus sabar, tidak
boleh kaku hati,
jika tidak seperti ulah mengabdi Prabu Kenya (ratu putri)

saja,

jelas ini membuat diri celaka.

8. IGping wolu iku aja

tedhnk cilikrabi aluran putri,
kajaba jiniyat ngratu,
kang jeneng tetariman,

rabi dewe melikpeh sebut den ayu,
pinucung cacat meskina,

yen tan sembada niwasi.

Kedelapan, janganlah,

seorang pria kefurunan orang kecil, mengawini seorang
putri (wanita keturunan bangsawan),

selain karena dipaksa oleh Raja,
istilahnya diberi " trima" (putri),
Bila perkawinan itu berasal dari kehendak sendiri, jangan-

jangan dikira mempunyai maksud supaya disebut

mendapat "Raden Ayu",

Hal ini akan menjadi pembicaraan, cemooh, dan hinaan,
bila orang itu tak dapat menuruti keinginan isteri, akan

celaka.

9. Kaping sanga iku aja,

yen u)ong prtya jalu nom aja rabi,
randha nini ato,s gabug,

cepet budhining priya,

upamane ay am trondhol sab a lumbung,

yen tan Touu)ungpadha trima,
saru dinulu niutasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SEITAT PANITIBAYA L1

Kesembilan, janganlah
seorang pria jejaka, hendaknya jangan kawin,
dengan janda (wanita) tua yang tak mempunyai anak,
pria itu sungguh picik.
Ba gaikan ayam "trondhol" (tak berb ulu) s ab a (berkeliaran)
di lumbung,
jika memang bukan kehendak keduanya,
hal ini "satu" (hina) tak baik dilihat orang

1-0. Ping sapuluh iku aja,
sok geguyon ambeg rayat pribadhi,
den maha alceh wong weruh,
kongsi angisab-isab,
nadyan bojo yen mengkono banget saru,
wong kang merino somahiro,
any idr eng pr ana niw asi.

Kesepuluh, janganlah,
senang bergurau (dengan wanita lain) seperti dengan isteri
sendiri,

yang sengaja diperlihatkan agff banyak orang

mengetahuinya, sehingga membuat malu,
meskipun dengan isteri sendiri, ulah demikian itu "sarLt"
(hina),

suami yang membela isterinya itu (marah karena diajak

bergurau),
bila dikhianati akan membuat celaka.

1L, Ping sawelas iku aja,
sok sembranan lan estri kang wus akir,
wis laki utauta durung,
nadyan nini-niniya,
nora keno pfrma geni sandingan duk,
suu)e-suwe nuli mempafr ,
sepining Tt)ong aniwasi.

12 Alih Aksara dan Transliterasf SERAT PANITIBAYA

Kesebelas, janganlah,
suka bersambalewa dengan wanita yang telah lanjut usia,
yang sudah bersuami ataupun belum,
meskipun dia itu sudah nenek-nenek,
dilarang sama sekali, sebab seumpama api berdekatan
dengan ijuk, lama-kelamaan terjilat juga,
Di waktu sepi tak ada orang, ini berbahaya sekali.

L2. Kaping rolas iku aja,
mring sadulur kndang nyilih-nyilih,

kemben wasta gawe sabuk,
nadyan barang kaliyan,
nady an tuw a p adha pikun,
apadene dhedhewenan,
nadyan padha aniwasi.

Kedua belas, janganlah
kepada sanak saudara suka meminjamkan,
kain, selendang, penutup dada maupun ikat pinggang,
walau semua itu barang milikmu,
dan kalian berdua sama tua, sama pelupanya,
lebih-lebih bila yang satu itu sendirian,
biar sama saudara tetapi tidak baik juga.

73. Pittg telulas iku aja,
lali poma padha den eling,

ge g edhening pr akar eku,
tan lryo rung prakara,
yen tas bener pratikele tombok umur,
Ven saduntuk bab wanita,
sanyari bumi nizuasi.

Alilr Aks ars d a n Tr an sliter asi S EITAI' PANITIB AY A 1.3

Ketiga belas, janganlah
sekali-kali lupa dan harus selalu ingat,
bahwa perkara yang terbesar itu,
terdiri dari dua bab,
(di sini) apabila orang tak dapat mengatasi dengan cara-

caranya (yang tepat) umurnyalah yang akan menjadi

taruhannya,
yaitu walaupun kecil tetapi perkara tentang wanita,
kemudian perkara tanah meski hanya secuil, namun
berbahaya.

14. Ping patbelas iku aja,
ngingu batur randha nompraloan xmthi,
tuwin ngingu batur kakung,

dhdhanomkembang jaka,
yen tan duwebuta arepan rahayu,
mangka duwe butarepan.
to ging ngendhon neniwasi.

Keempat belas, janganlah
memelihara pembantu wanita, sudah janda (muda) / janda
kembang maupun yang masih gadis,
dan juga memelihara pembantu pria, duda yang masih
muda,
(mujurlah) apabila tak mempunyai hati cemburu,
padahal dirinya memiliki rasa cemburu,
jelas akhirnya akan sengsara hatinya.

15. Ping limalas iku aja,

tukar padu lan batur anak-rabi,
singa Taonge lawan padu,
aja angrusakbarang,
bebet wastra ngobar bala-pecah ngelebur
grabah tanduran tnyang bocah,
dadi banten bok niuasi.

14 Alih Aksara dan Transliterasr SERAT PANITIBAyA

Kelima belas, jang nlah,
bertengkar dengan anak isteri maupun pembanfu,
kalau memang bertengkar, dengan siapa saja,

jangan merusak barang-barang, membakar,

pakaian, barang pecah belah yangmenja i berantakary
demikian pula barang tanah liat, tanam-tanaman, apa lagi

anak-anak,

jangan sampai ini enjadi korban, berbahaya.

1-6. Ping nembelas iku aja,

ngemp ek sandang-p angan lan anak-r ab i,

jennadyan estriya den ayu,
lawan jendral,

nora kur ang nikmate nempuh,

yen tan arja ning badan,

toging ngendon aniwasi.

Keenam belas, janganlah,

minta pakaian dan makan kepada anak isteri,
walaupun isteri itu seorang Raden (sebutan bangsawan),
biarpun bernama ]endral,
semua barang tadi tak kan terasa nikmat,
kecuali bagi yang telah tua dan rapuh,
bila (kamu) masih kuat, hal itu membuat cela.

17. Ping pitulas iku aja, 15

sok ananggung wong lanang miutah estri,
nora tourung iku nempuh,
yen tan arja ning badan,
sabab nyawa liyan tan kena rinengkuh,
nara kena pinarcaya,
toging ngendon aniwasi.

Alih Aksara dan Transliterasf SERAT PANITIBAYA

Ketujuh belas, janganlah,
sering menanggung orang bersuami isteri,

tiada urung itu akan membebanimu, jangan-jangan

membuatmu sial,
sebab nyawa orang lain tak dapat ditanggung,
tak boleh dipercaya,
pada akhirnya akan mencelakakan kamu

18. Ping wolulas iku aja,

sa enggone sulaya sangga-rungi,
mring anak rakyat sadulur,
sanak tangga menyang knnca,
batur desa nagarabecikkang rukun,
w atak TtJong dheder sumelang,
to ging ngendon aniw asi.

Kedelapan belas, janganlah

selalu bertengkar dan tidak mempercayai, anak dan

saudara-saudaranya,
tetangga, juga kepada kawan-kawan,
abdi desa dan negara hendaklah baik dan rukun,
sifat orang yang menanam benih rasa khawatir,
pada akhirnya akan sengsara (hatinya).

L9. Ping sangalas iku aja,
mangsuk omahe wongkang nuju sEi,
nadyan ana ingknng tunggu,
lung wadan nadyan tuloa,
batur tuwalanang ttnoa aja lajtt,

dhuda randha tan pr abeda,
padha toging don niwasi.

t6 Alih Aksara dan Transliterssi SERAT PANITIBAYA

Kesembilan belas, janganlah,

masuk ke rumah orang bila yang (empunya) sedang

bepergian (sunyi),
walaupun ada yang menunggu,
isterinya yang telah tua,

dan abdinya lelaki juga tta,jangan e gkau terus (masuk),

sebab janda duda sama saja,
pada akhirnya berbahaya jrgu.

20. Ping rongpuluh ika aja,

Yen den andel ing dunya miwah estri,
mring mitra priyayi agung,
rumangsayen darma,
kuwasane den worji wae kajumbuh,
yen keguh e melik ro tingal,
tong don lali neniwasi.

Kedua puluh, janganlah, (seseorang),
apabila dipercaya (menjaga) kekayaan dan wanita,
oleh sahabat atau orang besar,
merasa dirinya berjasa,
kekuasaannya campur terpadu menjadi satu,

jika goyah hatinya bermuka dua mempunyai maksud

tertenfu,
sampai pada tujuan lupa, hal ini membuatbencana.

2L. Ping salikur iku aia,

dadi wrana yen durung apranani,
miwah luwih wakil iku.,
yen tan rasa deduga
yen tan tandhah mot mengkoni barang kewuh,
yen tan loron-loron tunggal,
yen sepiya musya arat,
j omplange temah nizoasi.
Kedua puluh satu, janganlah,

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA \7

bersedia menjadi pengganti (wakil) apabila tidak mampu
benar,
dan meniadi wakit yang menonjol itu,
jika tanpa kebijaksana dn,

bila tak dapat menerima dan merangkum semua

kesukaran,
serta jika tak dapat bersatu padu,
maka akhirnya celaka juga

22. Ping rolikur iku aja,
yen wong nginep wol'tg lanang tuwin estri,
inglungkainepan iku,
lapuro kamituwa,
miwah awak melu omah mondhok dununs,

yen sepiya musyAwArat ,
j omplange temah niwasi.

Kedua puluh dua, janganlah
bermalam bila mereka itu lelaki dan wanita,
yang empunya rumah (untuk bermalam) itu,
segeralah melapor ke keamanon,
(sedang) diri sendiri yang ikut di rumah (orang lain),
bila tanpa musyawardh,
ketidak seimbangan itu (akan) berbahaya.

23. Kaping telulikur aja,
yen u)ong mondhok lawas-lawas tan becik,
barang womge kang di nunung,
lan ngey om sandhang-pangan,
mring kang duwe wisma nadyan dhewe iku,
kuw as an e s andhan g-p angan,
adat suwe lali niwasi.

18 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Kedua puluh trga, janganlah,
orang "mondhok" (menumpang) terlalu lama, itu tidak
baik,
orang yang ditumpangi,
dan yang dimintai pakaian serta makan,
dari yang empunya rumahbiarpun dia itu sendirian,
kekuasaan "sandang -panga n",
Iama-kelamaan membuat diri lupa sehingga mencelakakan

juga.

24. Ping patlikur iku aja,

sokbebeda nenangis bocah cilik,
nangis tan kena tinulung,
ngarih-arih tankena,
kaku tiase knng momofg mateleng nepslt,
nepsoni marang kang beda,
gedhe cilik sok niwasi.

Kedua puluh empat, janganlah,
sering mengganggu membuat anak kecil menangis
tangis yang tak dapat ditolong,
tak dapat dibujuk rayu/
yang mengasuh jengkel hatinya, marah melotot,
memarahi yang mengganggu,
biar (anak) itu sudahbesar maupun masih kecil semuanya
merepotkan.

25. Ping selaroe bentet aja, 19

raket bocah wayah lagi di sapih,
menekkntutuiklayu",
norakeno tininggal,
den tinggala menek timeka ing dudu,
lakubakal mecat nyawa,
ngaj ak bocah y en niwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAyA

Yang kedua puluh lima penuh janganlah,
akrab dengan anak kecil yang sedang berhenti menyusu
ibunya,
jangan-jangan disalahkan karena anak itu ingin ikut,
tak mau ditinggal, andaikan ditinggal jangan-jangan
mengalami hal y angtidak baik, sehin ggadapat mengancam
jiwanya,

mengajak anak tak perlu , apabila hanya akan

menyengsarakannya.

26. Ping nemlikur iku aja,
ngajak anakirg Tt)ong iku datan becik,
oyo dene ngaiqk batur,
ring u)ong nadyan nembungo,
yen tan nembung iku bebengoling luput,
akeh lire yen tan yitna,
nora luurung neniwasi.

Kedua puluh enam janganlah
mengajak anak orang lain, itu tidak baik,
lebih-lebih mengaj ak pembantun y a,
biarpun sudah minta kepadanya (orang itu sendiri),
jika tak memintanyd, itu salah besar,
banyak akibatnya bila tak berhati-hati,
tiada urung dapat mencelakakan diri.

27. Kaping pituliktr aja,

bocah cilik jawehi dolan ladin9,
wayah pepayalon playu,
ngeling pelo miwah cetha,
aia tega dolan dhewe ngalor ngidul,
watak bocah yen den umbar,
apese paring niwasi.

20 Alih Aksara dan Transliterasr SERAT PANITIBAYA

Kedua puluh tujuh, janganlah,
anak kecil diberi mainan pisau,
bila dia sedang berlari-larian,
bahkan bicaranya (saja) masih pelat, maupun sudah jelas,
jangan kau biarkan dia bermain-main kemana-mana,
sifat anak bila dibiarkan saja,
ada kalanya (tidak kuat) dapat mencelakakan diri.

28. Kaping wolulikur aja,
bocah cilik pinarcaya ing knrdi,

momong bayio lagi nustt,
nadyan wayah sapihan,
lan kinongkon bab nguuilan galaa rikuh,
nraja tirtabramakala,
apese kabeh niwasi.

Kedua puluh delapan, janganlah
anak kecil dipercaya dalam pekerjaan,
mengasuh anak yang masih menyusu,
meskipun sudah masanya (anak tadi) berhenti menyusu,
juga karena malu disuruh membawa pakaian,
diminta tolong yangbersangkutan dengan air , dpr,binatang
berbisd,
semuanya tadi justru berbahaya.

29. Kaping sangaliktr aja,

batang tembung utama baduk manis,
ar.uya kaduk esem gltyu,
dadi ewon sembrana,
ing watake rnong mengkono ora kuktth,
p any ekele bar ang katA a,
toging prana aniwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SEI(AT PANITIBAYA 21

Kedua puluh sembilan, janganlah,
menanggapi pembicaraan penting secara bermanis-manis,
jangan terlalu banyak tertawa dan senyum,
semua ini termasuk sikap bersembalewa,
sifat orang semacam itu (jelas) lemah,
semua barang yang dikerjakan,
pada akhirnya akan luput.

30. Ping tridasa iku aja,
langkon uu)ong lang asring anyidrani,

sanadyan darma sadulur,
ing parane doh cedhak,
norakeno adat kang uwis knlaku,
nora u)urung kadrawasan, kukuhing dhasar niwasi.

Ketiga puluh, ialah jangan,
menyuruh orang sering mengingkari janji,
walaupun dia itu masih saudara,
ke tujuan yang jauh maupun dekat,

itu tidak boleh (dilaksanakan) menurut kebiasaan yang

sudahberlaku,
tiada urung akan gagal,
dasar (sifat) yang menjadi penguat memang sudah cela.

31-. Ping tridasa-ekn aja,
gedheknken wong sembrana tan becik,
pan dadi kepatuh rusuh,
kalunta dadi adat,
y en nuj ani parakar a kang temen bingung,
watak u)ong bingung zoas-uwas,
toging ngendon aniwasi.

22 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Ketiga puluh satu, janganlah
rnementingkan sifat sambalewa, itu tidak baik,
sebab akan berlarut-larut menjadi tanpa peraturan,
terlanjur menjadi kebiasaan,
jika tertumbuk perkarayang penting menjadi bingung,
sifat orang bingung itu selalu khaw atir,
akhirnya akan sengsara.

32. Kaping tridasa-dwi aja,

yen.di nuta tltw.in lungan pribadi,
mring negara lty anipun,
nateng liyan anduta,
mau)a sirat, sarta ngembang upah seu)Lt,
yen keguh kepyan weweh,
toging ngendon neniutasi.

Ketiga puluh dua, janganlah (engkau),
andaikan diutus dan pergi sendirian,
ke lain negara (wilayah),
dan Raja lain itu mengutus,
untuk membawa surat dengan menjanjikan upah seribu,
bila (kamu) ter giur, hilanglah kewaspadaanmu,
pada akhirnya dapat mencelakakan dirimu sendiri

33. Kaping tridasa-tri aja,
ngumbar sanggup kaduk lamtm tan yekti,

marang abarang u)ong iku,
mundur majio wirang,
watake wong yen ngucap wus keh katrucut,
t emahanngant ep i s alah,
tan wurung temah niwasi.

Alih Aksara dan Transliterasr SERAT PANITIBAYA 23

Ketiga puluh tiga, janganlah,
menghamburkan kesanggupan berlebih-lebihan, jika tak
terbukti (mampu),
kepada siapa pun juga,
(sebab) baik mundur (urung) mapun maju (terus) tetap
mendapat malu,
sifat orang bila berbicara banyak yang tak dapat dikekang,
akhirnya mengakui tindakanny a yang salah,
tiada urung celaka juga hasilnya.

34. Ping tridasa-catur aja,

ngandel catur miwahmaido wart,
knro-karo iku luput,
predinen akal nyata,
ya ginugu nanging tan pantes ginugu,
yen tan tinengah wntara,
toging prana aniwasi.

Ketiga puluh empat, janganlah
percaya akan kata-kata dan menyangkal berita,
(sebab) keduanya salah belaka,
tanggapilah dengan akal yang nyata,
ya percaya tetapi juga tak pantas dipercaya,
bila tak ditengahi kiranya,
sampai di tujuan akan menyengsarakan jugu.

35. Ping tridasa-panca aja,
lamun durung oleh wenang Narpati,

ngango laranganing Ratu,
udhaking bagusiro,
yen pinaring kang gething agaToe tuduh,
temahaning lar a wir ang,
uirang sesaid niroasi.

24 Alih Aksara dan Transliterasi SER.AT PANITIBAYA

Ketiga puluh lima, janganlah (kamu),
jika belum mendapat (pelimpahan) kekuasaan dari Raja,
(berani) menggunakan larangan Raja,
(untuk) menambah kemashuranmu,
kebetulan ada orang benci yang melaporkan,
akhirnya (kamu) sakit hati dan malu,
malu yang akan membawa bencarla.

36. Kaping tridasa-sad aja,
tiru-tiru nyengkok anggoning Gusti,

barang trape laku lungguh,
madha gusti bandara,
kang pinada graitane menek rengu,
roh kungktilan ing gegebal,
runtik tok ngendon niwasi.

Ketiga puluh enam, junganlah,
meniru pola-pola pakaian raja,
semb ari ng sikap laku dan cara,
menyamai Gusti dan Bandara (majikan),
yang ditiru jangan-jangan hatinya panas,
karena teratasi oleh hamb arrya,
menjadi marah, hasilnya membuat cela.

37. Ping tridasa-saptn aja,
ladak ngekul nguna padaning urip

yen nalar melok wis trftur,
tan susah winicara,
gaip allah yeku kang marahi lupttt,
menek dadi tetundesan,
wekasan kempyung niwasi.

Alih Aksara dan Transliterasr SERAT PANITItsAYA 25

Ketiga puluh tujutr, yaitu jangan (kamu),
angkutr, memandang rendah, menghina sesama manusia,
jika dengan akal sehat sudah dapat diterangkan,
tak usah dibicarakan (lagi),
kehendak Allahlah nanti yang menyebabkan keliru,
jangan-jangan engkau menjadi tumpuan kesalahan,
akhirnya ribut membuat celaka.

38. Ping tridasa-astha aja,
sok memisuh sepadhaning urip,
sepiraan kang pinisuh,
yen eling tadah terima,
yen nujonikatanggor padha wong kaku,

bejo banget yen mardata,
beka tan wurung niwasi

Ketiga puluh delapan ialah, janganlah,
suka mencaci maki sesama manusia,
sementara yang kau caci maki itu,
masih sadar dan menerima saja,
(tetapi) bila tertumbuk orang yang tak sabar,
untung sekali bila dia mau membereskan (dengan baik),
jika tak urung, tiada urung kau akan kalah.

39. Ping tridasa-nawa aja,
riya bibir gunggung badan pribadi,

dumeh knndel sugih brewu,
kendel lamun suwita,
guna sura nadyan nyata temahluput,
sabab badankenarusak,
temah kasiku niwasi.

26 Alih Aksara dan Transliterasf SEITAT PANITIBAyA

Ketiga puluh sembilan, janganlah,
sombong, pongah dan menyanjung diri pribadi,
dikarenakan kaya raya,
dipercaya bila mengabdi,
walaupun ternyata gagah berani, (tetapi) bila salah,
(sebab) badan itu dapat rusak,
maka engkau terkutuk dan menjadi sengsara.

40. I&ping caturdasa aja,
ngandelake badan tan liya becik,
kajabaknng nama guru,

tan kena winicara,
wus sah sakingNur gaibe tan cinatur,
menek slah siji loda,
j omplange temah niwasi.

Keempat pulutr" janganlah,
mengandalkan (percaya) orang lain, itu tidak baik,
kecuali terhadap guru,
jelas tak boleh dipersoalkan,

sudah sah oleh kehendak (rahasia) Allah tak dapat

disangkal lagi,
jika salah seorang tidak bersungguh hati,
ketidakseimbangan itu akan membuat cela.

41. Ping catur dasela aja,
sok gegampang kang nama barang jangji,

singa lawan ing jangjiku,
nganggoa tandha tangan,
yen tan nganggo tandha tangan menekluput,
yen salah sijine cidra, yen tan terima aniwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANIflBAYA 27

Keempat puluh satu, janganlah,
sering mempermudah apa yang disebut janji,
siapa yang bersangkutan dengan janji itu,
sertailah tanda tangan,
jika tak disertai tanda tangan jangan-jangan salah,
jika salah seorang mengingk arinya,
jika ada kurang terimanya (menuntut) salah seorang akan
menderita rugi.

42. Ping caturdasa-dwi aja,

calandaknn chalak ny aut tan becik,
deduluwo lawan catur,
dumeh wignya utama,
yen tan terima anyareng anyaru-nyaru,
yenlaro padha waninya,

' tan a)urung campuh niutasi.

Keempat puluh dua, janganlah,
lancang menyahut pembicaraan (orang lain), itu tidak baik,
lihat siapa lawan bicaramu,
jangan asal pandai sendiri saja,
jika orang itu tak senang disela pembicaraannya,
dan jika keduanya berani,
tiada urung akan berkelahi dan akan membuat cela.

43. Ping caturdasa-tri aja,
sok kegamp ang prakara bar ang knlir,
kepyan wingking barang ewuh,

sabab pengarep badra,

wekasane dudon riyon salah surup,
tan wurung nemu bicara,
toging tyas melang niwasi.

28 Alih Aksara dan Transliterasi SEItAf PANITIBAYA

Keempat puluh tiga, janganlah,
mempermudah mengenai perkara apa saja,

segala yar.g dikerjakan (urusan), jangan sampai

membingungkan di kemudian hari,

sebab akibat dari tindakan orang pertama yang telah

memulainya,
maka akhirnya kedua orang ifu, bertengkar salah paham,
tiada urung berperang mulut,
yang akhirnya membuat hati khawatir dan mencelakakan

44. Ping catur dasa catur aja,

Toani-loani gampang amnl mas picis,
durung sahlagi gumantung ,
kageggm aneng

yen ginampang menek datan antuk liru,
tan trimane inglung gadhah,
mempeng anj aluk niwasi.

Keempat puluh empat, janganlah,
berani mempermudah (menggunakan) harta kekayaan,
bila barang itu belum sah, masih belum jelas,
tetapi sudah (terjerat) untuk makan,
jika dianggap mudah, jangan-jangan tak mendapat ganti,
tak ada kerelaan (dari) yang empunya,
(dia) bersemangat untuk minta kembali, ini akan membuat

celaka.

45. Caturdasa-panca aja,
mangglmg pasrah jiwa maring Hyang Widhi,

mangka yektine tan weruh,

tembung pasrah ing Allalrt
luput patrap liron dadi sosar-sltsur,
sababe katutuh ina,
tan yitna badan niwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SEITAT PANITIBAIA 29

Keempat puluh lima, janganlah
selalu berserah diri kepada Tuhan,
padahal dia itu sebelumnya belum tahu,
arti "pasrah" (menyerahkan diri) kepada Tuhan,
keliru cara, berolah-alih tak karuan,
itulah pangkal kesalahan tak terpuji,
tak berhati-hati, jiwa menjadi dewasa.

46. Ping caturdasa-sad aja,

ngabotohan nguntal apyun madati,
nadyan menang sugih breutu,
tanpatut dadikasap,
sabab iku marahi nagara letuh,
nir yayu tipis kang badan,
saranging badan niut asi.

Keempat puluh enam, janganlah,
berjudi, mengulum dan minum candu,
walaupun kuasa karena kaya,
tiada pantas, hal itu kasar (memalukan),
karena akan menjadi negara menjadi cemar,
hilang kekuatan, badan menjadi tipis (kurus),

itulah summer (penyakit) badan yar.g menyebabkan

sengsara.

47. Ping caturdasa-sapta aja,
duwe sanakbebetoh rangkep juti,

durjana u)ong mangan apyun,
ikuwajib sinampar,
sabab iku ngregeti nagari dhusun,
jer iku satruning raja,
nora rourung den niwasi.

30 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Keempat puluh tujuh, junganlah,
mempunyai sa dara yanrg maksiat dan berlaku jahat,

pencuri dan peminum c ndu,
itu wajib disingkiri,
sebab hal itu mengotori negeri dan desa,

justru itulah musuh Raja,
tiada urung menyebabkan bencana.

48. Ping caturdasa-astha aja,

sok apara padhn ginau)e pokil,
kulak padu adol padu,
disgama ngakit basa,

lan manau)a umbar sumpah kang den gilut,

nek kena ngrasan durjana,
teg kembet temah niwasi.

Keempat puluh delap dn,janganlah,
sering bertengkar hanya untuk mencari hasil saja,
mencari pertengka ran, (memulai) pertengkaran,
licik merangkai bahasa,
dan barangkali sumpah serapahlah yarrg dipelajarinyd,
kalau boleh, orang (banyak) menamakan dia penjahat,
akhirnya bila tersangkut akan celaka juga.

49. Kaping caturdasa-nawa aja

ngangras ngengkos padhaning urip,
ngangras ngabas ngayus-apus,
utang tan sauran,
nadyan ngaggras yen perentah nirwala luput,
yen tan perintah rasan kampak,
tog ngendoni aniwasi.

Alilt Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 31

Keempat puluh sembilan, ialah,
jangan suka membentak, menggertak sesama manusia,

berkata kasar, ngawur da menipu,

senang berhutang tak mau mengembalikary
meski penggertak tetapi kalau memberi perintah pasti
salah,
bila tak memerintah, orang menyebuhrya perampok,
pada akhirnya (jelas) membahayakan.

50. Knping selcet iku aja,

w ew adul lan tumb nk-cucukan cengil,

lan don nge yang jual tutur,

murih den suba-suba,
ruba dura dasanya wutuh rinemuk,

, yeku lawingnyening setan,
tan pandak: ringeh niwasi.

Kelima puluh, janganlah,
suka mengadu, berkasak-kusuk, memfitnah,
dan berbicara tak karuan unfuk menjual berita,
agar dielu-eIukan,
menyogok dengan kebohongan, perbuatanbaik yang utuh
dirusak,
itulah kepandaian setan,
tiada tahan, selalu gelisah dan berbahaya.

51. Ihping selcet-siji aja,
re.rubungan ngundang lt)ong gedhe cilik,

rin -wengi sore-esuk,

bisiknn miwah sora,

amarga yen na retasan keut,

pinaring tinarka kramAn,
ngerantabi neniwasi.

32 Alilr Aksara dan Transliterasi SEITAT PANITIBAYA

Kelima puluh satu, janganlah,
berkumpul mengundang orang tua dan anak-anak,
di siang rnalam, dipetang paEL,
(berbicara) secara berbisik-hisik nruauPun keras,

jangan-jangan mereka digolongkan peramPok,

malahan kernungkinan besar dikira pemberont a.k,
jelas ini mencemarkan dan menyebabkan bencana

52. Kaping seket-loro aja,
ngangut temen legan tan duwe rabi,
anak bature don aganggltr,
m.anganan lan madatan,
rina wengi tan pegat menek kacatur,
pasthi tan enak niwasi.

Kelima puluh dua, jangantrah,

menganggur tanpa pekerjaan, sendirian tak beristeri,

anak dan pernbantunya tak beke4a jugu,

justru suka makan dan minum candu,

siang malam demikian, ju.gan-iangan menjadi

pembicaraan oran9,

tidak mau (malas) menanam tanaman yang menghasilan
buah,
!'

jelas ini tak mengenakkan hati dan meniadikan cela.

53. Kaping seket-telu aia,
kerep-kerep pesta nayub tan becik,
tanpa sabab ngarahan ngelenthung,
kang gething pada bungah,
nyokurake yen ana bilai nempuh,
keneng rasanan culilu,
sok suda yitna niuasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 33

Kelima puluh tiga,janganlah,
kerap kali berpesta dan nayub (menari) itu tidak baik,
tanpa beralasan, sedang dirinya sendiri kembali pulang tak
membawa hasil apapun,
orang tadi dikira senang mengambil barang orang lain,
jika kurang waspada, akan membahayakan dirinya.

54. kaping seket-papat aja,
turut tangga rina miwah ing wengi,

yen nginep lahan ngalenthung,
ala wong janggol tangga,
akeh lire bengi peteng keh pakewuh,
panca baya yutan wendran,
yen apes nista niutasi.

Ke lima puluh empat, janganlah,
tidur di tetangga pada siang maupun malam hari,

jika bermalam yang wajar aja tiada perlu membawa apa-

apa, jelek orang bergadang ke tetangga,

banyak mengandung makna, malam gelap penuh

rintangan,
bermacam-macam bahaya berjuta-juta jumlahnya,

jika sial, mencemarkan diri dan memuat sengsara.

55. Ihping seket-lima aja,
lamun wengi yen kerungu gendhon titir,

miwah alok maling lcecu,
aja dewe yen tandhang,
ngantenana yen mengko rewange kumpul,
tandang dewe bok menaroa,
kasmaran aniwasi.

34 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Kelima puluh lima, janganlah,
tidur di tetangga pada siang maupun malam hari,
jika bermalam yang wajar saja tiada perlu membawa apa-
apa, jelek orang bergadang ke tetangga,

banyak mengandung makna, malam gelap penuh

rintangan,
bermacam-macam bahaya berjuta-juta jumlahnya,

jika sial, mencemarkan diri dan memuat sengsara.

56. Kaping seleet nenem aja,

kumaw aw a kumlungkung lungan b en gi,
peteng dhedet udan riwut,
nadyan padang rcmbulan,
aggaT.oaa tandha obor geni urupt
yen lumaku pepetengan,
sisip sembir niwasi.

Kelima puluh enam, janganlah
merasa diri kuat, sombong bepergian pada malam hari,
malam gelap gulita dan hujan deras,
walaupun malam terang bulary
bawalah tanda dengan obor api yang menyala,
bila berjalan dalam gelap,
dan nasib sedang sial, dapat membahayakan diri.

57. Kaping selcet-pitu aja,

ngunekake bedhil ing wayah bengi,
bedhil muni main nganggur,
kajaba ana s;abab,

lan wong gedhong titir rino-wengi iku,

yen sababe ort ana,
gawe gito aniwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 35

Kelima puluh tujuh, junganlah,
membunyikan senapan pada malam hari,
senapan dibunyikan tanpa ada tujuan,
lain hal bila ada musababnyd,

dan (seperti halnya) orang rnembunyikan kentang titir di

waktu siang dan malam itu,
jika tak ada musababnya,
(padahal) ditan ggapi (masyarakat) dengan tergesa-gesa, hal
ini membuat kekalutan.

58. Ihping seket-wolu aja,
sirepe wong anuju lingsir wengi,

dhewe mitpah rowang batur,
aja angumbar suwara,
bengak bengok gawe kagede wong turu,
yen tan rondha patrol ngganglang,
salah pangrungu niwasi.

Kelima puluh delapdn, janganlah,
di malam hari hingga larut malam,
sendirian atau ditemani pembantu,
fiangan) bersu ara sekehendak sendiri,
berteriak-teriak mengejutkan orang tidur,
jika bukan sedang meronda berkeliling,
bisa jadi salah dengar itu berbahaya.

59. Kang seket-sanga aia,
yen lumaku aja atinggal waril,
kang madya aja kesusu,
nasak amurang matga,
menek apes sikile putung kasandhung,
badan liyan tan lcnrasa,
badane dhewe aniwasi.

36 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Kelima puluh sembilan, janganlah,
dalam bepergian meninggalkan larangan (tidak patuh),
dalam perjalanan itu yang sedang-sedang saja, tidak perlu

tergesa-gesa,
merantas-menerjang jalan,

jika nasib sedang sial, kaki dapat putus tersandung,
badan orang lain tak kan merasakary

(tetapi) badan sendirilah yang merasakannya dan

menyebabkan menderita sengsara.

60. Ping sawidakiku aja,

yen lalaku adahkasaput wengi,
aja nginep ing delanggung,
angur lupara Aroan,
neg pa.dhesan dhewe miwah rowangbatur,
tutur karsa tur atata,
taka wengibok aniwasi.

Keenam puluh, janganlah,
dalamperjalanan jauh sampai kemalaman (di jalan),
jangan bermalam di jalanan,
lebih baik (bepergian) pada siang hari,
dapat sendirian ke pedesaaan atau b-elsapa pem-bantu,
merasa puas dan apa yang dikehendaki dapat diatur,

jika datangmu pada malam hari, kemungkinan dapat

mendatangkan bencana.

5L. Ping sautidak-siji aja, 37

sok memindha kusuma sikep santri,
maksiat. l.an guru dhukufr ,
prnynyi jawa sabraflg,
kajabane teka waril tan cinatur,
yen katitik dadi nistlu,
Iingsem tan Tnurung niutAsi.

Alih Aksara dan Transliterasf SEITAT PANITIBAYA

Keenam puluh satu, janganlah
sering berlagak suci seperti sikap seorang santri,
(juga bersikap) seperti orang durhaka, guru, dan dukun,
(seperti) bangsawan ]awa dari seberang,

terkecuali bila (engkau) kebal dalam larangan (bebas

bertindak),
tetapi jika terbuka (ketahuan) akan menjadi terhina,
memalukan sekali, tiada urung mencelakakan diri.

62. Ping sawidak-loro aja,

mindha dhalang priyayi latoan santri,
dhumukun lawan guru,
kumriya lan gumuna,
mindh,abangsat mindha tani mindha jagul,
mindha sabr ang singgahana,
kabeh iku aniwasi.

Keenam puluh dua, janganlah,
berlagak seperti dalang, bangsawan dan santri,
seperti dukun serta guru,
seperti orang berkarya dan berilmu,

(suka) meniru seperti bangsat, seperti petani dan

penggantinya,
bagaikan orang seberang, (semua itu hindarilah),
semuanya akan menyengsarakan.

63. Ping satoidak-telu aja,

sok dodolan gegesek tumbakkeris,
sanajy an sekti pinunjul,
yen kewengku ing praja,
ing sabarang namt gesrek iku luput,
yen raja uyen tan trima,
jinalukkang aniwasi.

38 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA


Click to View FlipBook Version