The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kantor, 2022-05-09 21:27:43

Serat Panitibaya

Serat Panitibaya

Keenam puluh tiga, janganlah,
berjualan senjata tajam seperti tqmbak dan keris,
walaupun berlebihan kesaktianmu,
(tetapi) bila negara menguasai (peraturan),
akan semua benda tajam itu tidak boleh (dijual-belikan),
dan jika Raja (lain) itu tak rela (mengijinkan),
maka akan dimintanyalah (senjata tajam) yangberbahaya
tadi.

64. Ping sawidak-papat aja,

sok gumuna sumakti nadyan luwih,
aja ungal mungil mungup,
gawekumet wonghyan,
aja eram kagetan marang toong gunggung,
kabeh iku singgahana,
memanas ati niwasi.

Keenam puluh empat, janganlah,
(kamu) merasa pandai, sakti, walaupun (kamu) memang
sungguh hebat,
iangan ke sana ke mari, menampakkan diri (pamer),
membuat pening orang lain,
jangan heran dan terkejut akan senyum orang,
semua tadi singkirilah,

(sikap itu) membuat hati panas orang saja, dan dapat

berbahaya bagimu.

55. Ping sawidak-lima aja,
ngunus braja brigah brigih lir jurit,

sanggon-enggon iku saru,
najan neng jogan lcnmar,
bokmenawa ana setan aruh-aruh,
najan kuleta tembaga,
apesing badan niwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 39

Keenam puluh lima, janganlah,

menghunus senj ata tajam untuk dipertontonkan di

sembarang tempat,
hal itu adalah tabu walupun itu di dalam kamar sekalipun,
apabila nafsu setan sedang menghampiri,
meskipun badan kebal,
jika badan sedang apes,
amatlah berbahaya.

56. Ping sautidak-nenem aia,
y en. laledhang ngalenthung miling-miling,
mring p omahan u) arung-w arun9,
aja nilar gegaman.
menek ana sato galak lan u)ong ngamuk,
yen lena ninggala braja,
kaparan ngepeh niwasi.

Keenam pulu enam, junganlah,

jika berjalan-jalan tanpa membawa apa-apa (bertangan
kosong), melihat ke sana- ke mari,
pekarangan (orang) dan warung-warun9,

senjatamu jangan kau tinggalkan,
kalau-kalau ada binatang buas dan orang mengamuk,
bila lengah senj ata itu ketinggalan,
(andai kau) didekati (dituju), (maka kau) tak berdaya dan
akan kalah.

67. Dalam naskah aslinyn ynng telah disalin tidak tercantum

68. Ping sawidak-wolu aja,
mmirong bebed nglingkap pukang lan cincing,
krisan ngeToal nyote udut,
macoco susur ngmafl$,
yen ngeladeni bandhara lan bapa guru,
iku lamun ngambah liyan, wong kurang ajar niwasi.

40 Alih Aksara dan Transliterasi SEI{AT PANITIBAYA

Keenam puluh delapan, janganlah,

menutup badan dengan kain, menyikap paha dan

(menyikap) kain tinggi-tinggi.
(juga) menyisipkan kerisyang diputar serta minumrokok,
mulut dimencongkan penuh tembakau susur waktu makan
siritu
demikian pula jika sedang melayani majikan dan bapak
guru,
serta jika berada di tempat lairy
itu sikap orang kurang aiar dan membuat aib diri.

69. Ping sawidak sanga aja,

lamun metu saka wengkon pribadi,
ngore rambut ilcet lacu,

catoknn saruu.talan,
bebed sabuk ngadheplang sarwi badhungul,
iku jadhuge clunthangan,

nulari labet niwasi.

Keenam puluh sembilan, janganlah,
bila keluar dari kawasan (rumah) sendiri,
mengurai rambut dengan ikat kepala sapu tangan,
berikat pinggang dan bercelana dalam,
kain dililitkan melintang dan mengembung,
itu sikap seorang pemimpin yang kurang ajar,
dapat menulari dan mencelakakan.

70. I{aping saptadasa aja, 4t

tinggal tatakrama kr maning ur ip,
tanpa ternbung tanpa luuung,
sarta duga prayoga,
noraweruhbasa sigttg saru siku,
beja yen pinisuhana,
winastan celeng niwasi.

Alih Aksaru dan Transliterasi SERAI PANIIIBAYA

Ketujuh puluh, janganlah
meninggalkan sopan santun cara-cara orang hidup,
(yaitu) tanpa mengetahui basa-basi,
serta musyawarah yang menguntungkan,
tiada tahu akan tingkah laku yang baik dan yang buruk,
untunglah jika hanya dicaci maki saja,
jika dikiranya binatang (celeng), sungguh membuat hina
sekali.

7L. Ping saptadasa-eka aja,

bungah ngumpak ing dalem den andaphi,
den awas ing ulnt semu,
knng dadi panengera,
tilatana nalar e p asthi katemu,
yen menengaknyu reca,
toging prana aniwasi.

Ketujuh puluh satu, janganlah,
bergembira mendapat pujian tetapi hanya dalam hati (pura-
pura) saja,
waspadalah terhadap sinar air muka,
yang dapatmenjadi (memberi) tanda (sungguh atau tidak),
carilah dengan akal (perasaan) pasti di situ akan terdapat,
kalau (kamu) hanya diam seperti arca saja,
pada akhirnya akan kekurangan.

72. Ping saptadasa-dwi aja,

yen u)lng jamak joged datanpa dhong-dhong,

berang joget turut luruns,
larut drajade sirna,
tanpa papan lir wong edan den geguAU,

nadyan u;eh sukaning jalma,

je, tan patut neniwnsi.

42 Alilr Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Ketujuh puluh dua, janganlah,
orang yang pada umuilrnya (senang) menari tetap tanpa
mengetahui sebuah bentuk tari,
gembira ria menari sepanjang jalan,
larut dan hilanglah kewibawaannya,
tanpa mengenal tempat seperti orang gila yang ditertawai

saia,

walaupun memberi kegembiraan pada orang banyak,
namun jika tak pantas akan membuat cela.

73. Ping saptadasa-tri aja,
Tanpa sinjang murate konthal lunthil.
Wong akeh rame gumuyu, andulu liwat suka,

lya sirna drajade satu taun,
lku murungake bakal,
Wusanablai niwasi.

Ketujuh puluh tiga, janganlah,
tanpa kain kemaluannya menggelantung,
orang banyak ramai menertawakannya,
melihat itu senang sekali,
hilang musnahlah derajatnya,
itulah yang menyebabkan segala kehendaknya urung,
akhirnya sengsara yang menimpanya.

74. Ping saptadasa-pat aja,

amudani wong lanang wadon akir,
kajabapurbanung ratu,
nir sakehpancabaya,
yen sapa dangat cilaka tinemu,
utang wirang nyaur wirang,
tan wurung ngendon niwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 43

Ketujuh puluh empat, janganlah,
membuat menelanjangi laki-laki dan perempuan yang telah
berumur,
selain kekuasaan raja,
yang dapat menghilangkan segala rintangan,
siapa yang berani berbuat akan menemui celaka,
hutang malu membayar malu,
tiada urung akhirnya akan sengsara,

75. Ping saptadasa-panca ja,

katanggingan wong duwe ambegbudi,
yen urmedya badhe luhur,
dadiya lelanjaran,
lamun bodho duwea budi lus mulus,
yen ewuh dadikapiran,
kario ning budi niwasi.

Tujuh puluh lima, janganlah,
Setengah-setengah menjadi orang bertabiat baik,
(bagi orang) yang ingin menjadi (orang) besar,
jadilah contoh dan tauladan, Ketujuh
jika bodoh hendaklah mempunyai tabiat yang halus tulus,
jika ragu-ragu akan terbengkalai,
tabiat yang campur baur itu akan mencelakakan

76. Ping saptadasa-sad aja,

duwe ambek budi kaya wong mancing,
iku gegedening wong luput,
ratuning aniaya,
serana boja temah misaya puniku,
yen katrucut dadi watak,
ilang wahyuning niw asi.

44 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

Ketujuh puluh enam, janganlah,
mempunyai sifat kelakuan seperti orang memancing,
itu merupakan kesalahan yang terbesar,
rajanya kemelaratan,
dengan (memikat) sarana pangan, demikian akhirnya dia
mencari hasil,
jika terlanjur-lanjur akan menjadikan sifat,
yang dapat menghilangkan wahyu, dan mencelakakan.

77. Ping saptadasa-sapta ja,
manut ing Dyahkang durung asesiwi,

s ana dy anas ih lul an gkun g,
myang endahwarnanira,
upamafiya wereksa pelag angrembuyung,
tanpa guna woh seknrnya,
sanyektinya aniwasi

Ketujuh puluh tujuh, janganlah,
menuruti wanita yang belum beranak,
walaupun kau sangat kasih padanya,
dikarenakan warnanya cantik jugu,
ini seumpama pohon yang bagus berdaun lebat,
(tetapi) buah dan bunganya tiada berguna,
sebenarnya ini mencelakakan.

78. Ping saptadasa-astha ja,
arerasan kang sepi lauan pamrih,
kang marojol saking uuntk,

lan dudu gawenira,
cacat gedhe ngilangken daulatipun,
paitan gedhe pangucap,
yen tan rineksa niwasi.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 45

Tujuh puluh delap dn,janganlah
berbicara yang tak berfaedah dan tak bertujuan,
yang tidak mengikuti nasehat,
(lebih-lebih jika) itu bukan tugasmu/
ini merupakan cela besar yang menghilangkan martabat.
hanya bermodalkan cakap yang besar saja,
bila (hal) ini tak dijaga tentu membahayakan.

79. Ping saptadasa nawa ja ,
aklangenan mring wak banyu urip,
nora kurang ing donyekw,
sesotya lan kancafia,
nora Tlurung aniwasi.

Ketujuh puluh sembitran, janganlah,
n:rempunyai kesenangan pada, ikan hidup di air,
di dunia ini tiada kurang,
permata dan ernas,
hewan, burung, kerajinan dan tanam-tanartrlal1,
jika salah mengenai buruk baik^yu kegemaran,
tiada urung akan celaka.

80. Kaping asthadasa aja,
agaTt)ean yen durung wruh dadining,
manaw a ty as kapiduu)ung t
osik ira king mi'nangka srpatipun,
yen lali nora rineksa,
sayektine aniwasi.

Kedelapan puluh, janganlah,
Membuat sesuatu jika belum tahu akan hasilnya,
]angan-jangan hati rnenjadi kecewa,

(dapat) menyebabkan kurang waspada, '

dernikian kebiasaan sifat dalam hati,
jika lupa tak dijaganya,
sebenarnya akan membuat sengs ara.

46 Alih Aksara dan Transliterasr SERAT PA]VITIBAYA

81.. Ping asthadaseka aia,

yef nujoni ana t.ingalan aii

wtyose sasementpufl,
aya)a nyepenken wisma,
den rumati wewekanira den kuklth,
ayw a kuguh pinap enginan,
pamrihnya aywa niwasi.

Kedelapan puluh satu, janganlah

bila kebetulan pada hari peringatan raia,

rnisalnya waktu hari kelahiran dan sebagaunya,

rumahmu jangan kau kosongkan,

jagalah ati-hatilah yang benar-benar,
kalau k
oda akan keinginan itu (untuk melihat),

demikian (kau jogu) agar jangarr sampal kecelakaan.

82" Fing asthndasa-dtpi aja,
qnggeguru mring wong kang durung uning,
ing wewatekireng sernu,

aywa kapencut pangltcap t
lausan aywa kapencut prawira teguh,
miwah ngelmu samar-sanar,
yen tannyata aniwasi.

Kedelapan puluh dua, janganlah
berguru kepada orang yang belum kau ketahui,
akan sifat-sifatnya yang tak jekas,
jangan tertarik akan bicar anya,
pula jangan tertarik akan gagah kuatnYa,
serta ilrnunya yang tersam dr,
jika sungguh-sungguh tak terbukti, akan berbahava"

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANiITIBAYT\ 47

83. Ping asthadasa-tri aja,
aningali marang tingknhing estri,
tanapi lat ulat ipun,
yekun dedalan jina,
yen tan yitna ngilangken landeping kalbu,,
amb eb in gun g kab u d ay an,
bedhel ing kulit aniwasi.

Kedelapan puluh tiga, janganlah
memperhatikan tingkah laku wanita,
dan pula akan perubahan air mukanya,
itulah pangkal tindakan berzina,
jika tak berhati-hati, ketahaman hati akan hilang,
nalar budimu (akan) menjadi bingung,

menyentuh (merobek) kulit (meresap ke dalam), jelas

membahayakan.

84. Asthadasa-catur aja,

ngango gaman yen durung den kawruhi,
p r aib a di w e ru at akip un,
sasepuhpamor waja,
wesi ikut anjabaning teka tangguh,
kontha warna ambu rasa,
yen tan mengkono niutasi.

Kedelapan puluh empat, janganlah,
memakai senjata yang belum diketahui,
sifat-sifat kepribadiannya,
baja, usia/ tua dan bahan campurannya,

baja itu kecuali mengikuti sifat empu pada jaman

membuatnya,
gejolak warna, bau, dan rasanya juga,
jika tak tahu akan semuanya ini, dapat berbahaya jadinya.

48 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

85. Asthadasa-panca aja,
asesanj an kang liw at tekeng wangkit,
kejaba mring wismeng guru,
gusti lurah bendara,
pan wus wenang ngundhaken kandeling kalbu,

bedalawan ama-sama,

sikuning catur miwasi.

Kedelapan puluh lima, janganlah,
bergadang melampau batas kebiasaan (di wilayah itu),
kecuali ke rumah guru,
gusti atau majikan,
yang telah berwenang meningkatkan kepercayaan diri,
lain hal (berbeda) bila hanya kepada sesama (kawan),
keliru (sekali) dalam pembicaraan dapat mencelakakan diri.

85. Ping asthadasa-sad aja,
knrem gendhing yen pangkat dunmg olih,

ingkang u)us ngaranan agung,
menaToa an*gegnang,
nilastuti nampuri penggalDe ayu,
wajib rumeksa ing badan,
darapun aywa niwasi.

Kedelapan puluh enam, janganlah,
gemar akan gending (musik |awa) bila pangkat belum
memadai,
yaitu memiliki tingkatan yang (dapat disebut) tinggi,
(sebab) jangan-jangan (gending ini) dapat menyebabkan
orang tertarik,
sehingga hilang kewaspadaannya, mengabaikan tindakan
baik,
(karena itu) orang wajib menjaga diri pribadi,
agar jangan terbencanai olehnya (gending tersebut)

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 49

87. Asthadasa-dasa sapta aja,
lali marang wong lang agawe becik,

nedya melesa sireku,

ing reh kuwasa nir,
yen sumengka reksa tan weruh ing dudu,

kalebu niayeng badan,

sayekti luput niwasi.

Kedelapan puluh tujuh, janganlah
melupakan orang yang berbuat baik (padamu),
hendaklah engkau membalasnya,
(kepadanya) dari semua kemampuanmu,
tetapi jangan memperberat dan mempersulit diri sendiri,
itu termasuk menyia-nyiakan badan sendiri,
jelas itu salah dan menyengsarakan.

88. Ping asthadasa-astha ja,

anenilib knng dudu wajib neki,
nalika reh barang catur,
wadi wadikekeran,
kaduwung tyas marang laku kang kaprmgkur,
en tan bisa ninggahana, tan wis nista aniwasi.

Kedelapan puluh delapan, janganla
suka mencuri dengar jika itu bukan kewajibanmu,
(mendengarkan) sewaktu ada pembicaraan,
akan semua rahasia yang menjadi larangan (pembicaraan
tadi),
hatimu akan menjadi kecewa sendiri atas tindakarunu yang
telah lalu,
jika (kamu) tak dapat mengatasinya,
akhirnya akan hina dan membahayakan,

50 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

89. Asthadasa-nawa aja,
tan ngaweruhi marang watek pribadi,
pawurung lan kasidan,
kabudayan kang mandhrg lawan kang maju,
pr ay uganing kaweruh hafra,
yen tan mengkono niwasi.

Kedelapan puluh sembilan, janganlah
tidak mengetahui akan (sifat) kepribadian (sesuatu),
(kemudian) penghalang serta keberhasilannya,
kebudayaan yang berhenti dan yang maju,
(semua) itu lebih baik kau ketahui,
jika tak demikian akan memalukan.

90. Ihping nau)adasa aja,

Amengaken tembung ingkang kinunci,
Saingga gaip puniku,

Satengah buka u)rana,

Tan den etung lamun akeh ajintpun,
Sepele gumunggung temah,
Nora wikan yen niwasi.

Kesembilan puluh, janganlah
menyiarkan pembicaraan yang dirahasiakan,
sehin ga rahasia itu,
setengah terbuka tabirnya,
tak diperhitungkan bahwa itu banyak hargartya,
(karena) tak peduli dengan kesombongannya itr,r akan
mengakibatkan,

secara tak diketahuinya dapat mencelakakan diri

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 51

91. Ping nautadaseka aja,

lamun arsa sare nora sesuci,

lir sarto sakethi saru,
mesti lali anendra,

yen anggadhuh roh jasad rasa pangambu,
kabeh gegaduhanira,
yen pinudud aniwasi.

Kesembilan puluh satu, janganlaLu
bila hendak tidur tidak membersihkan diri lebih dahulu,
seperti hewan saja, itu sungguh memalukan,
(di waktu) tidur tadi jelas lupa,
bahwa pemberian roh, jasad, perasaan, indera penciuman,
segala yang kau miliki oleh pemberian Tuhan itu,
jika semua tadi diambil Nya tentu menyengsarakan.

92. Ping nawadasa-dwi aja,
ngangen-angen ing dunya jroning gtiling,

seb ab lar anganing elmu,

nora jajib gusti nira milu mikttl,
say ektine mung perintah,
yen tan mengkono, hryut aniwasi

Kesembilan puluh dua, janganlah,
di dalam tidur memikirkan bagaimana dunia ini,
sebab itu merupakan larangan ilmu,
jasad (badan) ini mempunyai tugas sendiri,

yang tidak mewajibakan bahwa Gusti (Allah) ikut

memikulnya,
sebenarnya (Allah) hanya memerintah saja,
kalau tidak demikian, tentu akan kesalahan.

52 Alih Aksura dan Transliterasf SERAT PANI"ilBAYA

93. Ping nawadasa-tri aja,
lamun wungu aywa lali ngabekti,
mring Allah ingkang mahagung,
kapindho mring utusAn,
Kanjeng Nabi nayakeng rat kang pinasul,
say ekti utaj ib ngagesang,
yen lali yekti niutasi.

Kesembilan puluh trga,janganlah,
sewaktu bangun lupa menyembah,
kepada Allah Yang Maha Agung,
kedua kepada utusan Nya,
Kangjeng Nabi penuntun kami yangdiutus,

-hSideuqpu,ngguhnya hal ini menjadi kewajiban semua orang

jika lupa, benar-benar menyengsarakarl.

94. Nautadasa-catur aja,

lali marang patirtan asesuci,
yen ana sihing Hyang ngttftg,
walrya mring wahyunirA,
dimen laju dulu suci suka dulu,
yen cerobo iku nulak,
wurunge wahyu niwasi.

Kesembilan puluh empat, janganlah,
lupa ke tempat air untuk membersihkan diri,
jika ada kasih Hyang Agung,
anugerah Allah yang tertuju kepadamu itu,
biarlah laju (sebab Dia) senang melihat orang yang bersih

(suci),

jika ceroboh (kotor) tentu tak berkenan,
wahyu itu rnurung, dan membuat cela padamll.

Alih Aksara dan Translitera,si SERAT PANITIBAYA 53

95. Nawadasa panca aia,

angubungi mring asmaning dumadi,
ngundhanga si Dadap Waru,

kudu pepak saroja,
aywa ngundang cengkiwingan sirah buntut,
menek runtik kang den undang,

yen pada sura niutasi.

Kesembilan puluh lima, ianganlah,
menghubungkan (memanggil) nama sesama hiduP,

demikian saja,
panggillah (namanya) si DaduP alau si Watlr,
harus lengkap dengan nama rangkaPannYa,

ekornya saja,

endatangkan

bahaya.

96. Nawadasa sad aia, \
angkuh nampik alane den takoni,

den takoni lan denceluk,

den inggal saurana,
kang nakani den apekake yen nePsu,
yen nepsu padha waniya,
sepele gawe niutasi,

Kesembilan puluh enarn, iunganlah,
Sombong sewaktu ditanyai tak mau menanggaPl,
(kalau) ditanya dan diberi salam (hormat),

segeralah kau membaLasnY a,
orang yang bertanya jika kau abaikan akan menjadi marah,
kalau marah, dan sarna-sama berani
hal sepele (kecil) daPat berbahaya"

54 Alih Aksara dan Transliterasi sERAr PANITIBAYA

97. Nawadasasapta aja,

sok anundung wong ngomah dikon mulih,
nadyan u)onge kang tinundhung,
ambeg rahayu seca,
tanpa sebab mung tan ayun mring wong iku,
yen u)ong susah nadhah nerima, nempuh ing walat niwasi.

Kesembilan puluh tujuh, janganlah,
menyuruh pergi orang dirumahmu, kau suruh pulan&
walaupun orang yang kau suruh pulang tadi,
tak sakit hati dan sabar,
tanpa sebab hanya (kau) tak ada kecocokan dengan orang
itu,
jika orang yang sedang susah ifu menyerah danmenerima

saja,
(kalau) terkena tulahnya, jelas sangat berbahaya.

98. Nawadasasthaaja,

dadi dalan sabarang laku sisip,
kajaba lalu durung ueruh,
yen cling aja pisan,
nedya dadi dedalane wong den tarungku,
apa dene pecat nyawa,
yen nempuh nemen niwasi.

Kesembilan puluh delapan, janganlah,
menjadi jalan perantara tindakan yang tidak benar,
kecuali bila lupa dan belum mengerti,
kalau sadar janganlah sekali-kali,
bermaksud menjadi musabab orang dipenjarakan,
dan juga menyebabkan jika (seseorang) melayang,
jika diterjang/ sungguh-sungguh berbahaya.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 55

99. Nazaadasa-nawa aja,

tetulung dadi wakil, sok gumampang
wakilira den tarungku,
dosa pati laraa,
kajabane kang sumedya nempuh labuh,
yen tan mungguh sih sinihan,
salah surupe niwasi.

Kesembilan puluh sembilary janganlah
menganggap mudah menolong menjadi wakil,
(padahal) yang diwakili itu dipenjara,
atas dosa yang seharusnya dihukum mati,
kecuali ba i orang yang sengaja membela,
(atau) yang sepantasnya bagi (orang) yang sangat saling
mengasihi,
bila ada salah pengertiary sungguh membahayakan.

L00.Kaping satus iku aja,
sok ambuang nampikkajaba lali,
ngendhi sanggone ket emu,
mring sanak pr anasakan,
aja isin ngaruhana aja angkuh,
nady an u)ong cilik mlarat,
runtike puji niwasi.

Keseratus ini, janganlah

sering membuang (muka) dan tak mau menerima

(menanggapi) kecuali jika kau lupa,
di tempat manapun engkau dapatberjumpa,
dengan saudara dan kerabat,
jangan malu tegurlah, jangan sombong,
walaupun dia itu orang kecil dan miskin,
oleh kemarahannya doanya dapat membahayakan.

56 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

10L.Satus-eka iku aja,
Knreng drengki mara tangan cengkiling,
Mala anak rabibatur,
Wayahbengilan rina,
Gawe gita yen tangga dhak wong agung,
Yen ora den kawruhana,
Lamun sinaru niutasi.

Keserafus safu, ialah jangan,

suka marah, iri hati, ringan tangan suka menangani,

menghajar anak, isteri dan pembanfu,
baik di waktu malam maupun di siang hari,

itu dapat menimbulkan ketegangan, lebih-lebih bila

bertetangga dekat orang besar,
jika tak boleh diketahui, (dicampuri),
jika ditegur, akan membuat cela.

L02.kaping satus-dwi iku aja,
saeggon ?.oong gungan ngadi-adi,
nady an ng en ger b ap a-biy un g,
sedulur sanak tutot,
lautan sanak miwah liya yen ketruaft,
tuttth patuh daluwarsa,
tumpang suhe sok niansi.

Keseratus dua, janganlah,

di mana jrrgu menjadi anja merengek-reng€k,

meskipun ikut ayah
(atau) sanak saudara yang lebih tua,
kepada saudara dan orang lain, (sifat ini) bila terlanjur,
berlarut-larut menjadi suatu kebiasaan,
hal yang tak teratur ini dapat membahayakan.

Alilt Aksara dan Translitcrasi SERAT PANITIBAYA 57

l)3.kaping satus latri aja,

sok cok-coknn jalukan saen dntwis,
telaten sok dasar antuk,
y eku benggoling kumpr a,
wus pratela kang mengkono nora patut,
u) o ng b alub utny e thom nis tha
nyelal kuthis saen niwasi.

Keseratus tiga, janganlah,
suka meminta-minta dengan tak malu-malu,
tak henti-henti asal mendapatkan hasil,
itu adalah (sifaQ orang yang sangat liar,
sudah jelas tindakan demikian itu tidak pantas,

orang nekad suka makan banyak tak punya harga diri,

muka kurus pucat, tiada merasa malu, sungguh membuat

cela diri sendiri.

1)4.kaping satus catur aja,
mangan aneng tan prenah dalan cilik,
ap a dene lurung-lurung,
kang cedhak wisma sanak,
miwah cedhak wismane dhewe tan patut,
menek antuk rasa nista,
winastan nguthuh niw asi.

Keseratus empat janganlah,
Mengambil kesempatan walaupun sekecil mungkin,

Apalagi melewati jalan milik saudara sendiri,
Dengan ialan yang dimiliki tetapi bukan hak,

Pada akhirnya nanti akan menuai bah aya

58 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAyA

105. Kaping satus-panca aj a,
yen meffiangan kang baknl anglarani,
bilai kaworan kaduk,

wit liwat tela nikmat,
bok mennwa apresin badan laran nut,
tumama ing jiwa raga,
walede dadi niansi.

Keseratus lima, janganlah
makan sembarang yang dapat menyebabkan sakit,
(dapat) celaka karena berlebihan,
sebab terasa nikmat sekali,
mungkin badan sakit dikarenakan hal ini,
merasuk ke jasmani dan rohani,
lama-kelamaan karena banyakny a, dapat berbahaya.

L06.knping satus nenem aja,
ngundang mangan enak anggango sopi,
aja meksa wong tan ayun,
kang ayun tulusena,
den satitahyen mendem awya sugal u)ttruus,
I an ating gal t at akr ama,
yen adompo neniwasi.

Keserafus enam, janganlah,

mengundang makan enak disertai minum minuman keras,
jangan memaksa orang yang tidak mau (minuman keras),

sedang yang mau biarkanlah,
(kalau minum) yang wajar saja agar kalau mabuk tidak

berbicara kasar,
dan tidak meninggalkan sopan santun,
jika kurang berhati-hati berbahaya sekali.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 59

107. Kaping satus sapta aja,
sokwor mangan lan wong rucahwong cilik,
yen tan bisa unggah-ungguh,
manduwur mangisor, yen tan ulah panawang duganing semu,
law an tanp a babah pr enah,
graitane sok neutasi.

Keseratus tujuh, janganlah,
makan bersama dengan orang hina dan orang kecil,
jika kamu tak mengerti sopan santun,
baik dengan orang atas maupun orang bawahan,
bila (engkau) tak dapat memperhatikan apa sebenarnya
yang tersirat,
dan tak tahu pula untuk menyesuaikan tempat,
maka apayangkau perkirakan itu, tentu akan salah.

L08. Kaping satus-astha aj a,
Gegamelan lan nanggap yen marengi,
Wayah nuju sore suruo,
Liya dina jtrmungah,
Yen jumungah rina wengi sirik agung,
Larangan sarak trang raja,
Yen meksa nerak niwaksi.

Keseratus delapan, janganlah,
membunyikan gamelan dan menyuruh memainkannya
pada waktu,
petang dan waktu matahari tenggelam,
selain itu juga pada hari ]um'at,
di hari |um'at ini siang malam (merupakan) larangan besar,
larangan peraturan jelas dari raja,

kalau memaksa diri (melanggar), akan celaka.

60 Alilr Ak s ar a d an T r an s I it e r asi SEI{,A 1' I']A NI'[/.B Ay A

109. Satus naloa iku aja,
Ur a-ur a ceritan cangkem anggendhing,
W ay ah maghrib esuk umun,
Saru rinungu neng tangga,
Salir luryabarang yen nujuni bedhug,
Kajaba lumaku Lrdan,
Yen nerak iku niwasi.

Keseratus sembilary janganlatr,
bersenandung, saling bercerita dan bernyanyi,
di waktu maghrib dan pagi-pagi benar,
tidak pantas di dengar tetangga,
semua pekerjaan apa saja jika di waktu tengah hari harus
berhenti,
kecuali jika sedang hujan, (dalam perjalanan),
semua itu jika dilanggar, mencelakakan.

110.Ping satus dasa aja,
lamun nonton urayang gedhong kalithik,
purroa lan sesaminipun,
smSa-smga ayr0a nSucap,
nyaru tekeng jaba dalange yen knmgu,
runtik yen nganti brahala,
anggregake nizoasi,

Keseratus sepuluh, janganlah,

apabila melihat wayang gedhog dan klitihik,
wayang purwa dan sebagainya,

sekali-kali jangan berbicara,

menegur sampai di luar, jangan-jangan dalangnya

mendengar,
menjadi marah dan menyebabkan pertengkaran,
tindakan yang membuat gempar ini membahayakan

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 61

1L1. Satus sadasa-eka aja,
lamun nonton ronggeng rina myang wengi,
ambarengi u)ong limebu,
n gib ing b eks a knl an g an,

yen tan nerima wongfung njaluk gendhing rinebit,
yen nEsu nyandhak ukitran,
tan wande geger niwasi.

Keseratus sebelas, janganlah,
bila melihat ronggeng di waktu siang dan di waktu malam,
bermaksud menyertai orang yang memasuki (arena),
(untuk) ngibing menari berkeliling,

jika orang itu menuntut, dikiranya engaku merebut

gending (lagu) yang dimintanya,
kalau dia marah,lalu menviapkan keris,
tiada urung menjadi ribut, dan membuat cela.

LL2. Satus sadasa dwi aja,
yen nglembana tandhak nganggowa eling,
madyaning gong kaping telu,
utamane sagongant
yenkongsia suwe nantang satru musuh,

kab eh p ada br am anty anny a,
yen alok gosong niwasi.

Keseratus dua belas janganlah,

Melakukan tarian tidak ingat waktu/ secara berlebihary
Apabila gong berbunyi sampai tiga kali,

Yang utamanya adalah bunyi gong sekali saja,
]ika memang kegiatan itu tidak berhenti,
Akan memancing kemarahan yang lainnya,
Dan nantinya menimbulkan petaka

62 Alih Aksara dan Transliterasr SERAT PANITIBAyA

LL3. Satus sadasa tri aja,

angawula senglun anyar lan estri.
Lan priyayi malcsih timur,
Miwah tut buri tandhak,
Singgahana knbeh iku dudu laku,
Yen amikir knsatriyan,

N istha lukemb ang niw asi.

Keseratus tiga belas, janganlah,
menghamba kepada orang yang baru saja naik pangkat,
dan pada wanita,
serta bangsawan yang masih muda,
juga jangan mengikuti (ikut serta) tandak,
semua itu hindarilah, bukan tuiuanmu,
jika memikirkan tentang kekesatrian,
segalanya tadi hina awal akibat akan celaka.

1L4. Satus dasa catur aja,
kare.ln marang kory o kriy a undhangi,
gerji nyungging tukang batu,
kabeh kang bangsa kriya,
sirikknbeh yen u)ong mikir bakal luhur,
tan dadi dandanan praj a,
nisthangaluya niwasi.

Keserafus empat belas, janganlah,
gemar akan pekerjaan tukang kayu,
melukis dan tukan gbatu,
semua pekerjaan mengenai pertukangan tadi,
menjadi pantangan bagi mereka yang hendak menjadi
orang besar,

sebab (pekerjaan) ini dianggap tidak sesuai bagi dia di

masyarakat,

merupakan pekerjaan hina, bila dilakukannya membuat

cela

Alilt Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 53

11 5. S atusdasa-p anca aj a,
omah cedak prryayi gedhe lan kali,

gedhe lurung kayon agung,
lan bangsa brama-arga,
sarupane bangsa gedhe iku patut,
singgahana aja lena,
yen kok trajang aniwasi.

Keseratus lima belas, janganlah,
bertempat tinggal dekat bangsawan (besar) dan sungai,
yang besar, jalan besar, pepohonan besar,

dan sebangsa gunun gber ap|

segala macam yang serba besar tadi hanyalah pantas,
untuk dihindari, dan jangan lengah,
jika kau Langgar, berbahaya.

116.Ping satus sadasa sad aja,
yen wong cilik aja sokbebarengi,
yen lurah bendara utruh,
barang nama gawean,
gegalakan aj a barungsinang u)ttTutts,
akeh lire bok menawa,
kena ing siku niwasi.

Keseratus enam belas janganlah,

Orang kecil sering mengadakan (keperluanbersamaan

waktunya),
dengan lurah dan majikan,
yang sedang mempunyai hajat kerja,
semua pekerjaan (keperluanmu) tadi,
gagalkan jangan membuat ribut pembicaraan,
semua itu banyak artinya, mungkin sekali,
(dapat) terkena kutuk, ini akan menyengsarakan.

64 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

1L7. Satusdasa sapta aja,

sok patungan bathon lurah gusti,
apa dene dol tinuku,
miwah purba wisesa,
mring bendara yen luput anemu bendu,
pr asasat ambyur dahana,
kalakndhang aniwasi.

Keseratus tujuh belas, janganlah,
seringbekerja sama dalam permodalan dengan lurah dan
majikanmu,
lebih-lebih dalam hal jual bei,
serta (dalam) kekuasaan pelaksanaan,
oleh majikan bila salah terkena marah,

seperti menerjunkan diri ke api saja,

seringkali dapat membahayakan juga.

118. Satusdasa-astha aj a,

Nora kena ninggal nalaring urip,
tepa salira puniktt,
lan ondha-ondhapama,
sabar maklum junjung murxneng drajadipun,
yan nilar iribing sastra,
bilai gelis niwasi.

Keserafus delapan belas, janganlah,
meninggalkan akal (cara) berpikir (seperti layaknya) orang
hidup,

yaitu menerapkan diri sendiri (terhadap orang lain), tepa

salira,
demikianlah seumpamanya,
sabar, maklum, menjunjung derajat (diri sendiri dan orang
lain),

jika meninggalkan kemiripan arti (maksud) ilmu tadi,
celaka, cepat menjadi sengsara.

Alih Aksnra dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 55

L19. Satusdasa-nawa aj a,

sok drumojong lumebu buta tuli,

wsmane prryayt a8un8,
nganggoa lelarapan,
kajabane mambu darah laku perlu,
duga prayoga ytataya,
rermSen ap ntwast.

Keserafu s sembilan belas, janganlah,
dengan tiba-tiba masuk membabi buta,
di rumah bangsawan besar,
sampaikan pemberitahuan lebih dahulu,
kecuali (kalau) masih sedarah (saudara) atau ada keperluan
penting sekali,
gunakan perkiraan bagaimana sebaiknya,
hati-hatilah jangan satnpai mencelakakan diri.

120.Ping satus -droidasa aja,
ngatur alee. sasmita impen wangsit,
mring prtyayi agung ratu,
nady an mel en g-meleng a,
nadyan tu.tur rytring s.apadha nora patut,
mangsa ginanj ara gaj ah,
pinarengbilai niwasi.

Keseratus dua puluh, ialah jangan,
menyampaikan arti dan petunjuk mimpi,
kepada bangsawan besar serta raja,
walaupun pikiran telah dipusatkan,
meski (sebenarnya) mengatakan kepada sesamanya saia,
tidak pantas,

(di sini) tak mungkin akan mendapat anugerah gaiah

(besar),
jangan-jangan malahan menyengsarakan.

66 A,lih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAyA

1,21. Ping satus-dwidasa elu aja,
yen wong cilik tan wruh boboting cilik,
nyaut matur mring wong agung,
sanSgup manSun negara,
den kul lubeh sagung tumengglmg gung-agung,
ratuning blai baya,
seca maleca niwasi.

Keseratus dua puluh satu, janganlah
jika orang kecil tak mengetahui kedudukan dirinya,
menyela berdatang sembah kepada orang besar,
(menyatakan) sanggup membangun neg ara,
semua pembesar tumenggung diremehkan,
(sikap) ini adalah rajanya kecelakaan,
enak-seenaknya saj a, jelas dapat membuat sengsara.

122. Satus-dwidasa dwi aja,
Lnmttn ana ngareping priyayi,
Pan ingajak lawan nyatur,
Aja methentheng sira,
Lan nudhingi tangan kiwa iku saru,
Saru kabeh deng guwanga,
Yen tan kaguwang niwasi.

Keseratus dua puluh dua, janganlah,
bila berada di depan priyayl (bangsawan),
kebetulan diajak bercakap-c akap,
kau jangan bertolak pinggang,
dan menunjuk dengan tangan kiri, itu tidak pantas,
semua yang tidak pantas buanglah,
jika tak dibuang, akan membuat cela.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 67

L23. Satus-dwidasa tri aja, I
pada ngalem barang pangan den titi,
yen luput wetuning n)urDtls, I

angepakwong sapraja, I
tan kenawor dedoyanan mawung seku, I
krana dhew e-dhela e r AsA,
yen den wor blai niwasi.

Keseratus dua puluh tiga, janganlah,
mencela, memuji terhadap segala makanan dan hati-
hatilah,
jika salah mengeluarkan ucapanmu itu,
mengganggap rendah orang banyak,
memang, keinginan orang itu tidak sama,
karena masing-masing mempunyai selera,
(jadi) jika dicampur, celak a, dapat berbahaya.

124. Satus-dwidasa catur aja,

yen ngawula ratu bupati mantri,

gr.tsti putek geng pakeanrh,

yen gusti lagikilap,

amjaunwganniyemnegkgsaol-monadtuher tugel guht,
upama,

knlisblai niwasi.

Keseratus dua puluh empat, janganlah,
jika menghamba raja,bupati, dan mantri,

gusti, sedang banyak pikiran dan kerepotan besar,
jika gusti sedang khilaf ,
jangan berani memaksa berbicara langsung,

hanya menyerempet saja misalnya,
jelas ini tak dapat mengena, dan celakalah yang didapat.

68 Alih Aksara dan Transliterasi SERAI PANITIBAYA

1.25. satus-salaute aja,
yen geguru urong cacat iku sirik,

lan estri ujaring tutur,
s aking priy ag.ung (ufo,
yen wong urip mokal tanpabapa-babu,
yen upama tinggal purba,
toging blai niwasi.

Keseratus dua puluh lima, janganlah,
berguru kepada orang yang mempu ryai cacat (cela),
juga kepada wanita, demikian konon kabarnya,
dari para bangsawan kuna,

sebab orang hidup itu tak mungkin tanpa mempunyai

leluhur,
andaikan meninggalkan cara yartg telah ada (dari dahulu)
ini,
akhirnya celaka dan dapat menyengsarakan.

726. Satus-dwidasa sad aja,
wani-r.oani nerak walering jeng Nabi,
kajaba ing sarakkukum,
aja mateni kadal,
keml andingan ko dhok kttcin g catur iku,
yen tinerak nemu duraka,

blaikojur niwasi.

Keseratus dua puluh enam janganlah,
berani benar melanggar larangan Kanjeng Nabi,
kecuali itu juga dalam aturan hokum agama,
jangan membunuh kadal,
kemlandingan, katak, kucing, keempatnya itu,
jika tak kau patuhi menemui dosa,
celaka, bahaya akan menimpa.

Alilr Aksnra clan Transliterasi SERAI PANITIBAYA 69

127. Ping satus-dwidasa sapta,
barang laku nyengkoklir nabi wali,
ninggal tanggal sasi taun,
dina pasaran naas,
sangat sangar barang kabeh tan den etung,

wong tan tiru yen tan kuwat,

blai jeblos niwasi.

Keseratus dua puluh tujuh, hendaknya,
segala tindakan meniru seperti Nabi Wali,
yaitu tanpa memperhatikan tanggal, bulan dan taun,
hari pasaran, naas (hari pantmg),
saat (waktu yang baik), sangar (waktu yang tidak baik),
semua tadi tak diperhitungkan,
orang tidak usah menirunya jika tidak kuat,
celaka, terperosok dan sengsara.

L28. Ping satus-dwidasa astha,

aja wani nerak tutur lt)ong peling,
sab ar ang tutur siningkur,

tutur e mb ahku- can g g ah,
sin g gahana il a-il a-kan g tr e sn a,
yen berung blai nktasi.

Keseratus dua puluh delapan, yaitu,
jangan berani melanggar kata-kata orang yang memberimu
nasihat,
sdgala kata-kata yang tak kau indahkary
kata-kata dari nenek canggahku (cakawari),

semua itu simpanlah saja, sekedar untuk mereka yang

senang (mencari) keselamatarl
yang memberi nasihat anggaplah sayang padamu,
kalau kamu nekad celakalah dan akan sengsara.

70 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

129. Satus-diwdasa nawa aj a,
Samubarang kang nami angker singit,
Anjawani anglelebur,

Nadyan lir Sang Hyang Wenang,

Menekknsur ngadu sekti lan lelembut,
Temah ngeseman tuong kathah,
Lingsem blai niwasi.

Keseratus dua puluh sembilan, ianganlah,
kepada apa saja yang serba angker (berpuaka),
berusaha menawarkan dan meleburnya,
walaupun kau seperti Sang Hyang Wenang (dewa),
tetapi kau akan kalah beradu kesaktian dengan orang halus,
hasilnya orang banyak akan tersenyum (menertawai
kamu),
kau mendapat malu dan aib.

L30.Ping satus tridasa aja,
nrajang walering sarakkadis nabi,
maha barang karam maknth,
kangkanggo sabulaana,
sarupane wong ngelmu larangan ratu,
yen mendhar corah menau)a,
kontag ing praja niwasi.

Keseratus tiga puluh, janganlah,
melanggar pantangan, peraturan dan syarat Nabi,
(dan) dengan sengaja (melakukan) tindak karam, makruh,
yang diperuntukkan bagi (orang) sedunia,
segala orang berilmu dan juga larangan raja,
kalau kau beberkan perbuatan cemar ini,
negara menjadi goncang, dan akan terjadi bencana.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 7t

131. Satus-tridasaekn aj a,
anaklanang wadon darah den pardi,
ngaji kuran kitab nahwu,
misiha tunggal tanah,
aja kinen lunga ngaji adoh nglangut,
nady an sanguToa sayuta,

kuwatir blai niwasi.

Keseratus tiga puluh satu, janganlah,
anak laki-laki dan perempuan sedarah diharuskan,

mengaji Quran dan mempelajari Nahwu, tanpa

perhitungan,
sebaiknya dalam satu daerah, (tidak jauh),
namun jangan disuruh pergi jauh-jauh untuk mengaji,
meskipun berbekal sejuta,

karena mengkhawatirkan, jika kecelakaan menimpa

mereka.

132. Satus tridasa dtui aja,

sok tirakat nenepi papan sEi,
ing kali miwah ingkubur,

ngisoring wreksa gurda,
guwa samun ctra-ara alas gunung,
jron praja lire menauta,
salah graita niwasi.

Keseratus tipa puluh dua, janganlah
suka bertarak, mengasingkan diri di tempat yang sepi,
di sungai serta di kuburan,
di bawah pohon besar-besar,

di dalam gua gelap, tempat yang lapang, hutan, dan

gunung-gunung/
(kebetulan berada) di dalam negara (kerajaan) barangkali
di sini,
ada yang salah kira, hal itu akan membuat bencana.

72 Alih Aksara dan Transliterasf SERAT PANITIBAYA

L33. Satus-tridasa tri aj a,
yen Toong nemu barang amal sru wadi,

pendheman utawa dudu,
sanggone barang endah,
aja ngumpet lamun tan becik tinemu,
yen tankntur pinituwa,
blai temah niwasi.

Keseratus tiga puluh tiga, janganlah,
jika orang mendapatkan benda amal sangat rahasia,
dari hasil galian ataupun bukan,
semua barang yang termasuk indah,

jangan disembunyikan sebab jika sewaktu-waktu

ditemukary
kalau tak dihaturkan kepada tetua,
celaka, dapat membuat bencana.

134. Satus-tridasa catur aja,
aweh gawe wong desa yan sujoni,
ngusun wong sawah maluku,

ulur wiji tetegal,

lan ?uong luzoe wong sayah aja den utus,
yen ngutus nganggoa murwat,
tan autas blai niwasi.

Keseratus tiga puluh empat, janganlah,
memberi pekerjaan orang desa bila sedang
musim orang mengerjakan sawah, membajak,
menyebar benih di ladang,
dan juga jangan menyuruh orang yang lapar dan lelah,
jika ingin menyuruh berilah imbalan yang setimpal (yung

seimbang),
kalau tak waspada dapat mendatangkan aib.

Alih Aksara dnn Transliternsi SERAT PANITIBAYA 73

135. Satus-tridasa panca aja,

alumayu kalah menang ajurit,

yen menang aywa leeburu,
ayu)a angudan-udang,
menek rusak nemu papa,
wis sayahblainiwasi.

Keseratus tiga puluh [ima, jangary
Iari baik kalah maupun menang berperang,
jika menang perang, jangan mencari-cari (musuh),
jangan mengejar-ngejar (musuh),
kalau rusak semuanya celaka,
badan sudah penat memperoleh kesalahan.

L36. Satus-tridasa sad aja,
aywa ngingu macan lan sarpa mandi,
toong kang cedak adoh ratu,
kang nempuhkumawawa,
nadyan kena wong kang ngingu.loro iku,
duwea ngelmuning macan,
lan alan-ulan niwasi.

Keseratus tiga puluh enam, janganlah,

memelihara harimau dan ular yang berbisa,

orang yang dekat binatang ini jauh dari raja,

yang merasa mampu dan berani melanggarnya,

' meskipun orang yang memelihara kedua binatang tadi
dapat menguasainya,

walaupun mempunyai ilmu tentang harimau,
dan tentang ilmu ular, namun (binatang itu) tetap

membahayakan jugu.

74 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

L37.Satus tridasa sapta aja,
sarwa sato aja sira nqsoni,
nanganilang siya tatu,
apa dene pralaya,
nadyan sato alas tan anaknng tunggu,
duwek dhewe muwah lyan,
kabeh blai niwasi.

Keseratus tiga puluh tuiuh, janganlah,
memarahi semua macam binatang,
menyakiti maupun melukai,
lebih-lebih sampai membunuh,

walaupun mereka itu binatang hutan tak ada yang

menunggui,
meski, binatang kepunyaan sendiri atau orang lain,
semua ifuberbahaya dan membuat celaka.

1,38. Satus tridasa astha aja,
saton ingon yen galak den singgahi
den umbar miwah den kurung,
dhinadung cinancanga,

rina-wengi den jaga tan wurung nepsut
tan tali kuatir uzoas,
wong uwas blai niwasi.

Keseratus tiga puluh delapan, janganlah lupa,

meski h wan piaraan itu buas, harus kau awasi,

walau dibiarkan saja atau dikurung,
diberi tali dibadhung atau diikat,
siang malam dijaga,jangan sam >ai marah,
kalau sampai lupa, akan takut dan khawatir,
orang khawatir dapat menemui bencana.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 75

L39, Satus tridasa nawa aja,
yen nenuntunkebo utama sapi,
kidang menjangan lan asu,
j ar ang kurungan bandan,
aja ngiringke dhewe menek ucul,

antukkangelan wisuna, tinutuh blai niwasi.

Keseratus tiga puluh sembilan, janganlah,
jika membawa (menuntun) kerbau atau lembu,
kijang rusa dan anjing,
kemudian kuda kurungan (yang ditutupi) dan yang diikat,
jangan kau bawa (antar) sendiri, kalau-kalau lepas,
(dengan ini) kau akan mendapat kesukaran dan kerepotan,

disalahkan, celaka dan dapat membahayakan dirimu

sendiri

140. Satus caturdasa aja,
aywa wani sato alak sakalir,

n g el el e dhek t uw in lumaku,
tr.ttuta dadi galak anyar,
y en kurang rueka niwasi.

Keseratus empat puluh, janganlatr,
sekali-kali berani (mendekati) segala binatang buas,
(lebih-lebih) membtrat marah dan berjalan bersama-sama/

(biarpun) binatang itu penurut, tetapi lama-kelamaan

menjasi buas,
tanpa perhitungan ke sana ke mari (binatang itu) hendak
marah saja,
dan jika binatang itu belum lama beranak,
kalau seseorang lengah dapat mendatangkan bahaya.

75 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

141. Satus catur dasa eka,
aja nunggang jaran yen durung sidik,
ing ciribendana mulus,
lambe atiningkuda,
yen durung wruh tinunggangan menek mamprunS,
p inar ing kel angan ny aID a,
blai geter niwasi.

Keseratus empat puluh satu, janganlah,
naik kuda kalau belum benar-benar mengetahui,
akan tanda-tanda, sifat, dan baik buruknya,

pada kepekaan geraknya,

iika semua itubelum diketahui, kemudian dinaiki jangan-
jangan ia terus lari,
mungkin sekali menyebabkan kehilangan nyawa/
berbihaya, menggetarkan hati orang dan menyengsarakan.

142. Satus-caturdasa dwi ywa,
sok gumlewah nambut barang kang ringgkih,

ana ngisor miwah dutwr,
menek tuwin mudhuna,

kang gumantung nyumet sakeh damar murub,
yen tan wruh ubenge beka,
taline pedhot nizuasi.

Keseratus empat puluh dua, janganlatu
menganggap mudah melaksanakan pekerjaan berbahaya,

baik yang berada di bawah mauPun di atas Keseratus

empat,
di waktu memanjat atau di waktu turun,
di kala menyalakan banyaknya lampu yang bergantungan,
jika tidak mengetahui caranya repot irtgu,
(justru) talinya putus, berbahaya sekali.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 77

1,43. Satus-caturdasa tri Ywa,
aia sepi ngati-ati yen geni,
bedihan barang tinunu,

lubeh sebab dahana,
obong bakar goreng mangsak udut ktttug,
c:edhak pager alas wisma,
aking menawa niwasi.

Keseratus emPat puluh tiga ,ianganlah,
lengah bila ada aPi, aPa saia di dalam tyngku dan,
semua yang menyebabkan adanya-nyala aPL,-
nyala bakar, menggore n1,memasak, merokok, membakar

setanBEL,

jika Ueidekatan dengan Pagdtt hutan dan rumah,
diwaktu (dalam keadaan) kerin1, sangat berbahaya.

L44. Satus-caturda sapta ia,
garoe obat yen lelaki bebaYani,
lan aja angepe patrum,
suue-surue neng latar,
saenggone yen panasan cedhak latu,
tetela yen nora kena,
yen tan eling aniwasi.

Keseratus emPat puluh emPat,janganlah,
membuat obat (mesiu) jika lupa berbahaya,
dan i.tgu iangan menjemur Peluru,
terlalu lama di halamdn,
dimana pun juga , jika udaraPanas dan dekat dPr,
jelas ini tidak diperbolehkdn,
sebab jika lupa, mendatangkan sengs ara.

78 AIih AKSATA dAN TTANSIitCTASi SERAT PANITIBAYA

145. Satus caturdasa panca,
lamun olah bedhil urmat permainan,
yen nglantak ngenali bumbung,
lan prang gurnat gurnada,

den prayitna dhustaning brama jron wuluh,
tuwin wadhah-wadhah obat,
gur cidrane niniwasL

Keseratus empat puluh lima, ialah
bila mempergunakan senjata untuk memberi hormat atau
bermain latihan,

di waktu menyodok dengan lantak dan kemudian

menyalakan sumbunya,
dan juga sewakfu berperang mempergunakan granat,
perhatikan kerjanya api di dalam buluh (laras senapan),
dan pula pada tempat-tempat obat (mesiu),
ada kalanya luput (meleset) ini sangat berbahaya.

146.Satus catur dasa sad ja,
sok memenek sepi pangati-ati,
nadyan asor kethek lutung,
miusah ngelangi ing toya,
nadyan asor b.ebekbqnyak dudu padu,
menawa apesingbadan,
kepleset blai niwasi.

Keseratus empat puluh enam, janganlah,
meninggalkan kewaspadaan di waktu memanjat,
walaupun kamu pandai sekali (dapat mengalahkan kera
dan lutung),
serta di waktu berenang di air,
meskipun engkau mahir sekali (bebek, angsa/ bukan
tandinganmu),
namun barangkali suatu waktu badanmu sedang sial,
kau terpeleset, celakalah dan dapat membahayakan.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 79

1-47 . S atus-catur dasa sapta,
aja ngelar pomahan pager wangkit,

sepi lawan rembug tutur,
mring sanak tangga kanca,
akeh lire prakara wong ngiser tugu,
yen tan trima den gegampang,
kena ingbener niwasi.

Keseratus empatpuluh tujuh yaitu,
jangan memperlebar pekarangan rumah, pagar batas

pekarangarunu,
tanpa mengadakan musyawarah lebih dahulu,

dengan saudara tetangga kiri kananmu,
orang memindahkan tugu (patok batas pekarangan)

banyak menimbulkan perkara,
kalau dianggap sepele, yang empunya (tetangga sebelah)
tidak menerimanya,
jika memang dia yang benar, kau akan mendapat aib.

148. Satus caturdasa astha,
yen pomahan cepuri pager bumi,
yen lawang brobosan terus,

b utul man gul on-nget an,
cedhak omah latare meh kadi lurung,
ngalor ngidul datan beda,
yen tan rineksa niwasi.

Keseratus empat puluh delapan ialah,
jika pada pekarangan rumah di bagian depan pagar batu

merah,
terdapat pintu butulan terus,
yang menghubungkan ke arah barat dan ke arah timur,

padahal dekat rumah yang halamannya hampir

menyerupai jalan,
menuju ke barat dan ke selatan tak ada bedanya,
(maka) keadaan seperti itu jika tak dijagabenar-benar dapat
menimbulkan hal-hal yang tidak baik.

80 Alih Aksara dan Translitcrasi SIII{AT PANITIBAYA

149. Satus caturdasa nawa,
aja sabar lamun kanggonan mayit,
kapindho wong olah wektu,
kaping telu u)ongkang utang,
kaping pate anak wodan akir kudu,
yen tan rampung padha sakal,
wekasan belai niwasi.

Keseratus empat puluh sembilan, yaitu,

hendaklah bertindak cepat, bila di tempatmu ada orang

meninggal,

kemudian (kedua) bagi orang yang (bekerja) banyak
menggunakan waktu,

selanjubrya (ketiga) orang yang mempunyai hutang,

keempat orang yang mempunyai anak perempuan

(dewasa),
semua ifu harus diselesaikan (dibereskan) dengan segera,
(kalau tidak), akhirnya dapat memalukan.

1"50. Satus pancadasa aja,

aja lali kang bakal andrazuasi,
singa ingkang buntut cucttk,
barang jago manukan,
kaya watu godhong sato rika iku.
oleh ny eleh singgahana,
mrmdhuk-mundhuk y en niw asi.

Keseratus lima puluh, janganlah,
melakukan apa saja yang dapat menimbulkan bahaya,
ialah semua (binatang) yang berekor dan berparuh,
kemudian sebangsa ayam jantan dan burung-burung,
seperti halnya juga batu, dedaunan, dan binatang tersebut,
tempatkan yang aman,

sewaktu-waktu dia datang perlahan-lahan, dan ia

membahayakan.

Alih Aksnra dan Transliterasi SERAT PANIT'IBAYA 81

L51. Ping sahts-pancadasa eka,
aja lali seksi loro lan siji,
kang wani sepatakukum,
sarta dina pasaran,
tanggal sasi taun itu dadibaku,
yen gugat barang prakara,
yen tan mengkono niwasi.

Keseratus lima puluh satu, yaitu:
jangan lupa (mencari) saksi dua orang ataupun (dan)

seorang/

yang berani bersupah dalam hokum,
jungan ingat benar tentang hari dan pasaran,
tanggal, bulan, tahun, semua itu menjadi bab yang penting,
jika digugat dalam segala macam perkara,
bila tak siap seperti demikian, dapat mencelakakan diri.

L52.Satus pancadasa dwi aja,
ing sabarang praknra kudu eling,
kang dadi purwaning ayun,
sarta madya Toaslna,
lair batin tanpa eku tntsing ngelmu,
yen tan eling purwa madya,
uasana blai niwasi.

Keseratus lima puluh dua, janganlah,
lupa di dalam segala hal perkara,
yang menjadi pangkal keperluan utama,
serta keperluan yang (di anggap) sedang, kemudian yang
(di anggap) terakhir (tidak penting)
lahir batin (kalau) tanpa mengetrapkan ilmu itu,
bila lupa akan mana-mana hal yang penting dan yang
kurang penting,
akhirnya mendapatkan bahaya.

82 Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA

1-53. Satus panca dasa tri ywa,
aja tinggal baku pathokan tulis,
barang catur lang adhapur,
wis sastra lawa Arab,
yen tanpawit den sikakakenkndya su,

yen ketanggor pada sura,
kemyungbilai niwasi.

Keseratus lima puluh tiga, janganlah,
meninggalkan pegangan pokok dalam tulisan;
semua pembicaraan yang telah berbentu ,
(dalam) tulisanlawa maupun Arab,

bila tanpa pegangan (pokok) dasar, kemudian akan

disingkirkan demikian saja,
bagi mereka yang kebetulanbertemu (berdebat) dan sama-
sama berani, (mempertahankan pendapat masing-masing),
akan ramai, dan berbahaya sekali.

154.Satus seket papat aja,
tinggal sastra lawa Arab tan becik,
pelcsanen kudu sinau,
mari-mari yen bisa,
aja wedi kangelan anyToa lcetungkul,
isin lawan eman nmgkan,
iku blai niwasi.

Keseratus lima puluh empat, janganlah,
meninggalkan tulisan Jawa dan Arab, itu tidak baik;
paksakan dirimu harus belajar,
sukurlah bila dapat,

jangan takut menghadapi kesukaran dan jangan

terpengaruh,
oleh rasa malu sera rasa ogah-ogahan,
jelas itu kurang baik, membuat aib saja.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 83

L 5 5. S atus-p ancadasa panca,
Yen wus weruh surasaning kinteki,
aja bosen maca iku,

pan ajapilihlayang,

bar ang lay ang surasane den kacakup,
yen tan wruh lungiding sastra,
tanpa paedah aniwasi.

Keseratus lima puluh lima yaitu,
jika telah tahu maksud isi surat (kitab),
jangan bosan membacanya,
dan juga jangan hanya kitab tertentu saja (yang dibaca);
setiap kitab, isinya harus dipahami,
jika tak mengetahui kan mutu ilmu kitab tadi,
itu sia-sia saja, merupakan suatu kekurangan.

156. Satus-pacadasa sad ywa,
aj a tabri memisuh kaki-nini,
lan madani b ap a-b iy un g,
gurubendara sanak,
tuwa kabeh sarupane iku aywa purun,
taklim manabektenana, yenkeneng walat niwasi

Keseratus lima puluh enam, janganlah,
senang mencaci maki kakek-nenekmu, dan pula mencela
ayah ibumu,
gurumu, majikan, dan saudara-sausaram.u,
kepada semua yang tua-tua janganlah berani,
semua itu hormatilah, dan baktilah kepada mereka,
jika kau kena tulahnya, dapat membahayakan dirimu.

84 Alilt Aksara dan Transliterasi SERAT I'JANITIBAYA

1- 57 . S atus-pancadasa sapta,

aja age yen durung miranti,
yen bakal angucap padu,
nekani lan tineknn,
rehning ngundang ut)ong akeh lan padha dhatuk,
yen tan dhinginaken warah,
nistablai niwasi.

Keseratus lima puluh tujuh, ialah,
jangan tergesa-gesa kalau belum siap benar,
bila akan beradu mulut (bertengkar, berdebat);
sewaktu mendatangi maupun didatangi;
sebab yang datang pada tetua (duduk) dan jumlah^yu
banyak,
jika tak mencari petunjuk terlebih dahulu,
akan mendapat malu dan mengalami kekalahan.

L 5 8. S atus-p ancadasa as tha,
lamun duwe pr akar a barang knlir,

aja age chandak riwut,
s ab ar an g kan g cinandh ak,
lamun durung duwe seleh tebah tembung,
mring htrah belcel pituwa,
dhompo blai niwasi,

Keseratus lima puluh delapan, yaitu,
apabila mempunyai persoalan apa saja,
jangan terburu sibuk mengurusnya,
sebab semua yang diurus ifu,
jika belum memberi tahukan (bermusyawarah) lebih
dahulu,
kepada lurah, bekel, dan kamituwa,
kalau kurang berhati-hati, celaka, dan mendapat aib.

Alih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 85

L 59 . Satus-pancadasa nau)a,
aja kurang welu pangati-ati
yen kinon anyekeli kecu,

sarupaning dtrjana,
ngentenan yen mengkone yen wonge kumpul,

yen dhewe bok apes ina,
ngumbar sura bok niwasi.

Keseratus lima puluh sembilan ialah,
jangan lengah, hati-hatilah selalu,
bila ditugaskan menangkap perampok,
dan segala macam orang jahat,
nantikanlah sesudah semua orang-orang (temanmu)
berkumpul,
jangan kau bertindak sendiri, bila badan sedang sial,
asal berani tanpa perhitungary dapat berbahaya bagi dirimu
juga.

160.Ping satus-sad dasa aja,

adol kendel kalamun mangun jurit,

lan mring sadhengah wong luput,
yen apes matikongkang,
lamun dudu ratu kang ngadu prang pupuh,
yen matia sabilolah,
yen tan mengkono niwasi.

Keseratus enam puluh, janganlah,
memamerkan keberanianmu di tengah peperangan,
dan juga kepada semua orang yang (sedang) mendapat
kesalahan,
bila nasibmu tidak baik, dapat mati konyol,
jika bukan raja yang menugaskan maju perang,
kalau kau menin1gal, matilah karena sabilollah (membela
agama Islam), andaikan tidak demikian, maka kau akan
sengsara.

86 Alih Aksara dan Transliterasr SERAT PANITIBAYA

151.Ping satus-sad dasa eka,
aja ngadu wong lanang wadon resmi,
kaj ab aning langsah kukum,
kejaba purbeng nata,

yen sapadha becik lir jana trapipun,

ngukum sebab mocot syarak,
nabi duraka niwasi.

Keseratus enam puluh satu, ialah,
jangan mempertemukan orang laki-laki bersenggama,
kecuali bagi (orang) yang telah sah dalam hukum,
yaitu (terkecuali) atas kuasa Raja,
kalau orang biasa saja, itu seperti halnya orang berzina,
dihukum karena melanggar aturan agama nabi,
ifu merupakan suatu perbuatan durhaka dan membuat aib

saja.

1,62.Ping sattts-sad dasa dwi ja,
Ngttgung batur lan sanak anak-rabi,
Menekkapatuh arusuh,
Kalunta dadya ngadat,
Wataking Toong den ugung kumprung pengungt
Kasep ajar tanpa weka,
Tog ngendon blai niwasi.

Jangan memanjakan pembantu, saudara dan anak istri,
Jangan-jangan terlanjur menjadi tak teratur,
Berlarut-larut menjadi kebiasaan (bagi mereka),
Sifat orang yang dimanja itu menjadi bodoh dan tolol,
(mereka) terlambat mendapat pengajaran dan biasanya
kurang waspada,
pada akhirnya celaka, mendatangkan cela saja

AIih Aksara dan Transliterasi SERAT PANITIBAYA 87

163.Ping satus-sad dasa tri ja,
aja nyambi caturan gunem pikir,
yen nulis layang wewangsul,
tuwin layang prakara,
wadi sandi upaya noraketemu,

yenbubrahnke prakara,
tog ngendhon blai niwasi.

Keseratus enam puluh tiga, janganlah,
berbicara sambil memikirkan sesuatu,
bila kau sedang menulis surat-surat balasan,
demikian juga surat-surat mengenai perkara,
(oleh karena) segala rahasia dan taktik tidak kau tulis,
(jika) dapat membuyarkan perkara,
pada akhirnya celaka, dapat mendatangkan bencana.

154.Ping satus-sad dasa catur ywa,
lomba-lomba sanakan lan wong kapir,
kudu ngrangkepi budi ku,
ajakasoran dana,
watakkapir suthik rugi kudu untung,
uwang bumi pamisesa,
lan somahira niwasi.

Keseratus enam puluh empat janganlah,

berkecimpung, bergaul dengan orang kapir, (tak

beragama),
dan (yang jelas) kau harus memperkuat pendirianmu,
jangan kalah mengenai pemberian dana,
sifat orang kapir, tidak mau rugi, maunya hanya untung
sendiri saja,
uang dan tanah (baginya) lebih berkuasa,
dan juga atas isterimu, hal ini sangat berbahaya.

88 Alih Aksara dan Transliterasi SEITAT PANITIBAYA


Click to View FlipBook Version