The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bettyborubui, 2021-04-26 07:07:55

REMAJA 3-2 (PEGANGAN GURU)

Remaja 3-2 (pegangan guru)

“Bagaimana caranya?” tanya Alon.
“Tiga kali sehari raja akan memainkan seruling itu dari dalam kastilnya. Setiap
pagi, siang dan sekali lagi, pada malam harinya. Dengarkanlah. Ikuti dan kalian akan
menemukan kastil itu.”
“Apakah hanya ada satu seruling yang seperti itu?”
“Ya, hanya ada satu.”
“Dan Anda dan ayah memainkan lagu yang sama?”
“Ya.”
Orang yang bertanya itu adalah Cassidon. Cassidon terkenal, karena
kewaspadaannya. Dia dapat melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Dia
mengetahui rumah seorang pelancong hanya melalui ketukan dari sepatu bootnya.
Dia mengetahui apakah sebuah cerita itu benar atau tidak melalui mata dari orang
yang menceritakannya. Dia dapat mengetahui besarnya pasukan melalui jumlah
burung-burung yang terpencar di langit. Carlisle dan Alon merasa heran, mengapa dia
bertanya mengenai seruling. Tetapi tidak lama kemudian, mereka mengetahuinya.
“Pikirkan mengenai bahaya Hemlock, pilihlah dengan bijak satu orang yang
akan menyertai perjalanan kalian,” pesan pangeran.
Dan mereka berbuat demikian. Keesokan paginya, ketiga ksatria itu
menunggang kuda dan memasuki Hemlock. Mereka masing-masing membawa
seorang rekan yang terpilih. Karena mereka berada di dalam kastil raja, hari terasa
berlalu dengan lambat. Semua orang mengetahui ujian itu. Semua bertanya-tanya,
ksatria mana yang akan memenangkan putri raja. Tiga kali sehari raja memainkan
lagunya ke arah hutan Hemlock. Dan tiga kali sehari, mereka berhenti dari pekerjaan
untuk mendengarkannya.
Setelah berhari-hari lamanya dan banyak lagu dimainkan, seorang pengawas
memperhatikan bahwa dua orang tersandung ke luar dari hutan. Tidak seorangpun
dapat menyebutkan siapa mereka. Mereka terlalu jauh dari kastil. Mereka tidak
memiliki kuda, senjata atau baju zirah.
“Cepat,” perintah raja kepada penjaganya. “Bawa mereka masuk. Obati
mereka dan berikan makanan, tetapi jangan katakan kepada siapapun siapa mereka.
Dandani mereka seperti pangeran dan kita akan melihat wajah mereka malam ini
pada acara perjamuan makan.” Lalu, dia meninggalkan orang banyak dan menyuruh
mereka mempersiapkan pesta.
Malam itu, sukacita memenuhi ruang perjamuan. Di setiap meja, orang-orang
berusaha untuk menerka ksatria mana yang telah selamat dari hutan Hemlock.
Akhirnya, waktunya tiba untuk menampilkan pemenangnya. Begitu raja memberikan
isyarat, semua orang terdiam dan dia mulai memainkan seruling. Sekali lagi, alat
yang terbuat dari gading itu berbunyi. Orang-orang menoleh untuk melihat siapa
yang akan masuk. Banyak yang berpikir itu adalah Carlisle, yang paling kuat. Yang
lainnya mengira Alon, yang paling cepat.
Tetapi, ksatria yang selamat ternyata bukanlah mereka. Yang selamat justru
adalah Cassidon, ksatria yang paling bijak. Dia berjalan dengan cepat, mengikuti
suara seruling dan membungkuk di hadapan raja.
“Ceritakan kepada kami mengenai perjalananmu,” perintah raja.
Semua orang siap untuk mendengarkannya.
“Hopenots sangat cerdik,” Cassidon mulai berkata-kata. “Mereka menyerang,
tetapi kami membalasnya. Mereka mengambil kuda-kuda, tetapi kami tetap bertahan.
Yang hampir membunuh kami adalah sesuatu yang lebih buruk.”
“Apakah itu?” tanya putri raja.
“Mereka meniru.”
“Mereka meniru?” tanya raja.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 83

“Ya, rajaku. Mereka meniru. Setiap kali suara seruling Anda memasuki hutan,
ratusan seruling akan mulai menyaringkan suaranya. Sekeliling kami penuh dengan
suara musik – lagu dimainkan dari segala penjuru. Saya tidak mengetahu apa
yang terjadi dengan Carlisle dan Alon,” lanjutnya. “Tetapi, saya mengetahui bahwa
kekuatan dan kecepatan tidak dapat membantu mendengarkan seruling mana yang
benar.”
Raja mengajukan pertanyaan yang ada di bibir setiap orang. “Lalu, bagaimana
Anda dapat mendengar laguku?”
“Saya memilih teman yang tepat,” katanya.
Ketika dia meminta teman seperjalanannya untuk masuk, semua orang
terperangah.
Ternyata dia adalah pangeran. Di tangannya ada sebuah seruling.
“Saya mengetahui bahwa hanya ada satu orang yang dapat memainkan
lagu yang sama persis dengan Anda,” jelas Cassidon. “Tidak ada lagi yang saya
yakini untuk menyertai di sepanjang perjalanan. Jadi, saya memintanya untuk
pergi bersama. Ketika kami pergi, dia memainkan lagu Anda. Saya banyak belajar,
sehingga sekalipun ratusan seruling palsu berusaha untuk menyarukan lagu Anda,
saya dapat membedakannya di antara semua lagu itu. Dia selalu menyertai saya
sepanjang jalan.”
Dengan demikian, perayaanpun dimulai.

Katakan kepada murid-murid:
Kisah itu merupakan sebuah ilustrasi penting mengenai bagaimana membedakan
antara yang benar dan yang salah. Pada zaman Yeremia, umat dibawa kepada
pemikiran yang keliru, karena apa yang diberitakan oleh para nabi palsu tampaknya
benar untuk saat itu. Kadang, perbedaan antara yang benar dan yang salah menjadi
sangat tidak kentara. Sama seperti bagaimana para nabi palsu kemudian menjadi
makmur; pada zaman akhirpun, salah satu bahaya terbesar adalah datangnya
banyak antikristus yang akan melakukan banyak penyesatan (1 Yoh. 2:18).
Dalam berbagai surat di dalam Alkitab, para rasul seperti Petrus, Paulus
dan Yudas menasihati para jemaat untuk menyangkal, menentang dan memulihkan
kebenaran (Kis. 20:28-31; 2 Tes. 2:1-12; 2 Pet. 3:1-18; Yud. 3,17-19). Ketika di dunia,
Tuhan Yesus pun memperingatkan bahwa pada zaman akhir, “Sebab Mesias-mesias
palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda
dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang
piihan” (Mrk. 13:22).
Dalam bentuk apa para nabi dan mesias palsu itu? Apakah yang kita dapat
perbuat untuk mempertahankan iman terhadap pengaruh-pengaruh ini? Cara yang
terpenting untuk mempertahankan iman yang murni adalah dengan berakar di dalam
firman Allah. Kita haruslah belajar dari kisah ‘Nyanyian Raja’ itu.

Pernyataan yang Benar dan yang Salah
Berikut adalah beberapa pernyataan yang benar dan yang salah. Bacalah dengan
seksama dan pertimbangkan apakah pernyataan itu benar atau salah. Setelah semua
orang menyelesaikan latihan ini, laluilah setiap pernyataan. Bahaslah mengapa
kalian meyakini bahwa pernyataan itu benar atau salah.

1. Allah adalah yang Maha besar hingga sesungguhnya, tidak ada cara untuk
diselamatkan, kecuali oleh-Nya. Semua agama adalah benar, karena kita semua
menyembah Allah

.

84 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

2. Adalah benar untuk memeluk dan mencium selama berpacaran, sejauh kita
tidak melanggar batas-batas etika yang ada. Itu merupakan sebuah cara untuk
mengembangkan hubungan yang bermakna dan melihat apakah kita cocok atau
tidak cocok.

3. Allah tidak mengendalikan kita. Dia lebih menyukai kita mentaati-Nya, karena
kita ingin dan bukan karena harus mentaatinya. Oleh karena itu, boleh tidak
melakukan hal-hal tertenu yang Allah minta karena kita ingin melakukannya.

4. Kita tidak boleh menghakimi orang lain, karena Allah berkata, “Jangan kamu
menghakimi.” Sebaliknya, kita haruslah mengampuni dan mengasihi orang lain,
sekalipun diri kita tidak sempurna.

5. Sebagai jemaat, kita memiliki kebebasan untuk menikahi sesama jemaat atau
yang bukan jemaat. Alkitab tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh menikah
dengan orang-orang yang tidak seiman. Ini merupakan cara terbaik untuk
membawa orang-orang untuk percaya dan bila, pasangan kita yang belum
percaya kemudian menjadi percaya, maka itu merupakan bukti pilihan Allah atas
diri orang itu.

6. Bila melihat gereja-gereja di sekitar kita, kita merasa heran mengapa mereka
maju dengan pesat, sementara sangat sedikit yang masuk ke dalam Gereja
Yesus Sejati. Inilah saatnya untuk membuat kebenaran lebih disesuaikan dan
sedikit dilonggarkan. Kita dapat memulainya dengan lebih banyak berdoa
dengan bahasa akal daripada bahasa roh, karena dengan cara demikian, lebih
banyak yang tidak merasa takut.

Hal-hal untuk dipertimbangkan:

1. Roh yang menyesatkan dapat menyamar dalam kasih dan pengampunan. Allah
adalah kasih dan Dia menerima Anda, agama apapun yang Anda percayai.
Mereka yang menganut paham ini mengutuk pandangan yang memberitakan
Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Menurut mereka, karena Allah
itu kasih, maka bukan hanya kita harus berpikiran terbuka, tetapi harus pula
bertoleransi terhadap perbedaan apapun. Tetapi, Alkitab memberitahukan bahwa
hanya ada satu jalan keselamatan dan itu melalui Tuhan Yesus. Kebenaran tidak
dapat dikompromikan demi kasih.

2. Ciuman dan pelukan adalah langkah awal untuk mengekspresikan rasa seksual
kita. Tetapi, Allah telah membuat batasan-batasan untuk mengekspresikan
perasaan seksual kita sebelum masuk ke dalam jenjang pernikahan. Ini
merupakan sebuah pengamanan bagi kita, karena siapa yang dapat menjamin
bahwa kita akan mengakhiri hubungan itu dengan orang yang kita pacari dalam
pernikahan, sekalipun telah mengekspresikan perasaan-perasaan seksual kita?
Ketika terlalu dekat menjalani hubungan asmara, tentu masa depan pernikahan
kita dapat terpengaruhi. Hubungan yang seharusnya menjadi sebuah pengalaman
yang sangat indah hanya bagi Anda berdua, tidak lagi berarti secara khusus, bila
seseorang telah memiliki hubungan asmara sebelumnya. Bayangan hubungan
yang gagal akan selalu membayangi kita, bahkan setelah kita menikah lagi
dengan orang lain.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 85

3. Allah telah memberikan kita petunjuk-petunjuk dengan begitu jelasnya. Dia telah
menunjukkan jalan, agar kita dapat beroleh kehidupan yang kekal dan menjalani
hidup yang berkenan kepada-Nya serta memuaskan kita. Ketika memilih untuk
mentaati petunjuk-petunjuk ini, kita akan diberikan upah, tetapi ketika pilihan-
pilihannya keliru dapat mengakibatkan dosa dan penderitaan. Karena kasih-
Nya, Allah telah memberikan kebebasan untuk kita pilih. Kita dapat memilih
untuk taat atau tidak taat kepada-Nya. Memang benar, Allah ingin kita mentaati-
Nya, karena kita ingin, Allah tetap ingin kita mentaati-Nya, sekalipun pada
saat kita tidak ingin mentaati-Nya. Perasaan-perasaan tidak ingin melakukan
apa yang Allah kehendaki mungkin dapat dipahami, wajar atau bahkan dapat
dibenarkan pada saat itu (misalkan pada diri Tuhan Yesus). Tetapi, ketika kita
taat, itu menunjukkan kasih kita yang sejati terhadap-Nya, karena menempatkan
Allah di atas diri kita.

4. Ketika memaksakan pandangan tertentu atas sesuatu hal, kita tidak terhindar
untuk menghakimi orang lain yang tidak sesuai dengan pandangan kita. Ketika
Tuhan mengatakan bahwa kita tidak boleh menghakimi, Dia menyatakan bahwa
barangsiapa yang menghakimi telah bersikap munafik, karena menghukm orang
lain, yaitu ketika diri sendiri lebih bersalah daripada orang yang kita hakimi.
Untuk menjadi orang Kristen yang dewasa, kita haruslah memiliki kemampuan
untuk menghakimi secara benar dalam segala hal dan kemampuan untuk
membedakan kerohanian yang baik. Ini berbeda dengan pandangan duniawi
yang menganggap bahwa kasih adalah apa yang membuat Anda merasa baik
dan bersedia untuk mengorbankan prinsip-prinsip moral, agar orang lain tidak
merasa tidak nyaman, terancam atau terintimidasi.

5. Dalam seluruh Alkitab, terdapat ayat-ayat tertentu yang menunjukkan keinginan
Allah, agar umat-Nya menikah di dalam iman. Ada alasan dibalik dari perintah
Allah itu:

a. Demi keselamatan kita sendiri
– Dalam 2 Korintus 6:14 – Paulus menegur jemaat untuk tidak menikah
dengan orang-orang yang tidak percaya, karena itu akan melemahkan
komitmen, integritas dan standar kekristenan kita serta merusakkan
iman kita.
– Ulangan 7:1-6 – Allah memerintahkan umat, agar tidak menikah
dengan orang-orang non-Yahudi, karena iman kita dirusakkan dan
akan dipengaruhi oleh nilai-nilai duniawi.

b. Demi kebahagiaan kita dan mendukung perjalanan iman sendiri.
– Hak. 14:2-3 – Seringkali karena konflik kepentingan dan iman, timbullah
argumen dan ketidaksepakatan. Inilah jerat, bencana dan duri di
dalam pernikahan kita. Sebagai akibatnya, kita tidak dapat menikmati
kebahagiaan dan kebebasan sejati yang Allah inginkan.

c. Demi keturunan kita
– Maleakhi 2:15 – Salah satu tujuan pernikahan adalah agar kita dapat
menghasilkan keturunan yang ilahi. Jauh lebih mudah bagi anak-anak
untuk berakar di dalam iman ketika kedua orangtua mereka memiliki
iman yang sama.

86 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Sekalipun benar bahwa ketika pasangan yang tidak percaya menjadi
beriman kepada Tuhan dan itu merupakan bukti pilihan dan kemurahan
dari Allah, tetapi itu bukan berarti mentolerir tindakan ketidaktaatan kita.
Fakta bahwa pasangan yang tidak percaya, yang kemudian menjadi
beriman, tetaplah tidak menutupi dosa-dosa kita. Allah akan tetap
memperhitungkan perbuatan kita.

6. Guru-guru palsu disukai, karena sama seperti nabi-nabi palsu dari Perjanjian
Lama, mereka menyampaikan orang-orang apa yang mereka ingin dengar.
Orang-orang Kristen yang dengan setia mengajarkan firman Allah tidak akan
memenangkan kontes kepopularitasan apapun yang ada di dunia ini. Orang-
orang tidak ingin mendengarkan dosa-dosa mereka dikecam, tidak ingin
mendengarkan tuntutan-tuntutan bahwa mereka harus berubah. Hari ini, banyak
gereja memakai segala strategi, aktivitas untuk menarik jemaat. Sekalipun
kita mungkin mengambil beberapa di antaranya sebagai rujukan, tetapi daya
tarik utama kita seharusnya adalah kebenaran dan Roh Kudus. Pekerjaan
Allah diselesaikan “bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan,
melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta alam” (Zak. 4:6).

Bacaan yang disarankan:
Roh Kebenaran atau Roh yang Menyesatkan, Manna # 51 No. 4, 2006, halaman
12-17.

Renungan dan Doa

Sekalipun kita hidup pada zaman akhir, tetapi Tuhan memberikan Roh hikmat,
agar dapat membedakan dan memiliki keberanian untuk berjuang demi iman.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 87

Halaman Kosong

88 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

8pelajaran

Kitab Yeremia (2) dan
Ratapan

Bacaan Kitab

Yer. 45-46

Sasaran Pelajaran

1. Murid-murid akan mengetahui bahwa pada saat-saat menderita, kita
haruslah berpaling kepada sumber pengharapan, yaitu Tuhan Yesus

2. Memungkinkan murid-murid mengetahui pentingnya ketaatan pada
masa-masa pencobaan

3. Murid-murid akan mempelajari pentingnya pertobatan

Ayat Alkitab

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23)

Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)

Yer. 45-46; Rat. 1-4

Latar Belakang Alkitab

Saat Yeremia melakukan perjalanannya ke Babel, dia menemukan orang
Ibrani dalam keadaan yang jauh lebih baik daripada yang kita bayangkan. Tidak
ada kamp konsentrasi dan tidak ada perbudakan. Sebaliknya, orang-orang buangan
menikmati perlindungan dari raja dan banyak yang beroleh kedudukan untuk
memegang pemerintahan. Mereka menikah, tetap berkomunikasi dengan pihak
Yerusalem (Yer. 29:1) dan beberapa orang menikmati hak istimewa seperti memiliki
rumah dan tanah sendiri (Yer. 29:5,7; Yeh. 8:1; 12:1-7). Yeremia 29:5-7 menunjukkan
bahwa mereka sangat berhasil secara keuangan, sehingga dapat mengirimkan uang
ke Yerusalem dan saat orang-orang buangan diberikan izin oleh Koresy untuk pulang,
beberapa orang lebih suka tinggal di Babel. Tetapi, pengalaman itu merupakan suatu
pengalaman pahit bagi banyak orang buangan. Setelah penghancuran Yerusalem
dan Bait Suci, saat semua harapan untuk pulang ke negeri asal tampak tidak ada,
bangsa Israel mulai menyadari betapa banyak dari antara mereka telah mengalami
kehilangan. Hak sulung yang dahulu mereka miliki dan

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 89

dijual demi dewa-dewa Baal dan Asyera, tiba-tiba menjadi begitu berharga. Akhirnya,
Israel menyadari bahwa bila mereka bukan umat Allah, mereka tidak akan memiliki
identitas. Bila mereka tidak lagi memegang janji itu, kehidupan tidak menjadi
bermakna lagi. Perasaan kehilangan ini dibicarakan di dalam Kitab Ratapan yang
singkat.

Pemanasan

Tanda

Ada seorang pemuda yang duduk di bis dan sedang menatap ke luar jendela.
Dia baru berusia dua puluh tahunan, berpenampilan menarik dengan wajah yang
ramah. Kemeja berwarna biru gelapnya sesuai dengan warna matanya. Rambutnya
pendek dan rapi. Sesekali dia memandang keluar jendela dan kecemasannya
tampak di wajah pemuda itu hingga menyentuh hati seorang ibu tua yang sedang
duduk di seberangnya. Bis itu sedang mendekati pinggiran dari sebuah kota kecil
ketika ibu itu merasa sangat tersentuh terhadap pemuda, sehingga dia menghampiri
pemuda itu dan meminta izin untuk duduk di sampingnya.
Setelah sedikit percakapan ringan mengenai cuaca musim semi yang
hangat, pemuda itu berkata, “Saya telah dipenjara selama dua tahun. Pagi ini, saya
baru saja keluar dan akan pulang ke rumah.” Perkataannya meluncur ketika dia
memberitahukan ibu itu bahwa dia tumbuh besar di dalam keluarga yang miskin,
tetapi membanggakan dan betapa kejahatan telah membuat keluarganya merasa
malu dan kecewa. Selama dua tahun, dia tidak mendengar kabar dari mereka. Dia
mengetahui bahwa mereka terlalu miskin untuk pergi jauh, untuk mengunjunginya
di penjara dan orangtua merasa terlalu tidak terpelajar untuk menulis sepucuk
surat kepadanya. Dia telah berhenti menulis surat untuk mereka ketika tidak ada
balasannya.
Tiga minggu sebelum dibebaskan, dengan putus asa, dia menulis lebih dari
sepucuk surat kepada keluarganya. Dia memberitahukan mereka betapa dirinya
begitu menyesal, karena telah mengecewakan mereka dan memohon ampun kepada
mereka. Dia menjelaskan bahwa dirinya akan dibebaskan dari penjara dan akan naik
bis pulang ke kota asalnya, satu-satunya tempat ditujunya, tempat dirinya dibesarkan
dan rumah yang masih didiami oleh orangtuanya. Dalam suratnya, dia mengatakan
bahwa dirinya akan mengerti, bila mereka tidak mau mengampuninya.
Dia ingin meminta mereka memberikannya sebuah tanda yang dapat dilihatnya
dari bis. Bila orangtuanya mengampuni dan menginginkan dirinya kembali ke rumah,
mereka dapat mengikatkan pita putih pada sebuah pohon apel tua yang berada di
halaman depan. Bila tanda itu tidak ada di sana, dia akan tetap berada di dalam bis,
meninggalkan kota itu dan lenyap dari kehidupan mereka untuk selamanya. Ketika
mendekati jalan ke rumahnya, pemuda itu semakin cemas, menunjukkan bahwa dia
takut untuk melihat ke luar jendela, karena dia yakin bahwa tidak akan ada pita.
Setelah mendengar ceritanya, ibu itu bertanya, “Apakah akan membantu, bila
kita bertukar tempat duduk dan saya akan duduk di dekat jendela dan melihatnya
untukmu?” Bis berjalan beberapa blok lagi dan ibu akan dapat melihat pohon itu.
Ibu itu menyentuh bahu pemuda ini dengan lembut, sambil menahan air matanya
berkata, “Lihatlah! Lihatlah! Seluruh pohon itu dipenuhi dengan pita putih.”

90 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Dan bukankah itu berarti bahwa Bapa surgawi telah memberikan sebuah tanda ketika
kita bertobat dan kembali kepada-Nya?

Pemahaman Alkitab

Bagian # 1 – Nabi Yeremia

Apakah keberhasilan? Kebanyakan pengertian dari keberhasilan meliputi
beberapa rujukan untuk mencapai tujuan dan memperoleh kekayaan, prestasi,
kebaikan dan kekuasaan. Orang-orang yang berhasil tentu menikmati kehidupan
yang baik – aman secara finansial dan emosional, dikelilingi oleh orang-orang yang
mengagumi dan menikmati hasil pekerjaan mereka. Orang-orang yang berhasil
mengetahui siapa diri mereka dan ke mana mereka akan pergi.
Dengan standar-standar ini, Yeremia merupakan seorang yang sangat
gagal. Selama 40 tahun, dia melayani sebagai juru bicara Allah bagi orang-orang
Yehuda; tetapi saat dia berbicara, tidak seorangpun yang mendengarkannya.
Sekalipun dia menasihati terus dengan disertai banyak tangisan, tidak seorangpun
yang merasa tergerak. Dan tentu saja, dia pun tidak memperoleh keberhasilan
secara materi. Sepanjang hidupnya, Yeremia seorang diri memberitakan pesan
Allah mengenai malapetaka, perjanjian baru dan menangis atas nasib negerinya.
Tentu saja, di hadapan orang-orang dunia, Yeremia bukanlah orang yang berhasil.
Tetapi di hadapan Allah, Yeremua sangatlah berhasil. Dia begitu mentaati Allah dan
memberitakan firman-Nya dengan setia. Dalam pelajaran hari ini, kita akan melihat
beberapa pencobaan dan pergumulan Yeremia sebagai seorang nabi Allah dan
bagaimana dia berhasil di hadapan Allah.

A. Panggilan Yeremia

Pada pemerintahan Yosia yang ke-13, Yeremia dipanggil menjadi nabi Allah
pada usia yang masih muda kira-kira 20 tahun. Dia menjadi juru bicara Allah selama
40 tahun, tepat saat bangsa Yehuda dibawa ke pembuangan Babel. Bahkan setelah
itu, Yeremia masih terus memberitakan firman Allah. Tetapi, panggilan Yeremia
sebagai seorang nabi bukanlah dimulai saat dia berusia 20 tahun. Dalam Yeremia
1:5 dan 1:10, Allah memberitahukan Yeremia, “Sebelum Aku membentuk engkau
dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau dan sebelum engkau keluar dari
kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi
nabi bagi bangsa-bangsa.” Hakim Simson (Hak. 13:2-5), Yohanes Pembaptis (Luk.
1:15), Rasul Paulus (Gal 1:15) pun dipanggil sejak dari kandungan dan dikhususkan
untuk melakukan pekerjaan Allah. Setiap orang Kristen memiliki tujuan hidup,
tetapi beberapa orang ditunjuk untuk melakukan amanat khusus. Yeremia dipilih
bagi angkatannya dan untuk menyelesaikan pekerjaan Allah. Demikian pula, di
dalam setiap angkatan, Allah akan mengangkat para pekerja-Nya untuk memenuhi
kebutuhan dari tiap-tiap angkatan. Janganlah merasa putus asa ketika kita melihat
sekeliling kita dan menemukan tidak ada pekerja yang cukup. Sebaliknya, marilah
kita berdoa, agar Allah mengilhami para pekerja-Nya, yang dimulai dari diri kita.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 91

B. Pencobaan Yeremia

a. Pencobaan Jasmani Yeremia
Amanat yang Allah berikan kepada Yeremia adalah berat dan sulit. Amanatnya

ada dua, yaitu: Yeremia diutus ke Yehuda bukan hanya untuk membangun dan
menanam, tetapi mencabut, merobohkan, mmembinasakan dan meruntuhkan
(Yer. 1:10). Ketika Yeremia dengan keras dan terbuka memberitakan nubuat
mengenai penghancuran Bait Suci dan berakhirnya Kerajaan Daud, umat dan
para pemimpin tidak dapat menerimanya. Bagi mereka, Yeremia adalah seorang
pembelot yang harus dibungkam. Dari semua nabi, Yeremialah yang paling
banyak menderita dan dianiaya. Selain beberapa raja, imam dan rakyat, yang
lainnya pun membenci, menentang dan menganiaya Yeremia, terutama para
imam dan nabi palsu. Yeremia dipukul (20:1-2), dicemooh (20:7-8), dipasung
(20:2-3), diikat, diancam hukuman mati (26:8), dipenjara (21:1,3; 37:11-17;
37:21; 38:7-28; 40:1,6; 43:6-7) dan beberapa kali hampir meninggal.

b. Pencobaan di dalam diri Yeremia
Yang lebih besar daripada penderitaan jasmani Yeremia adalah pergumulan yang

terjadi di dalam diri dan rasa frustasi yang dialaminya. Di satu sisi, Yeremia telah
mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani umat, tetapi mereka justru
mengutuk dan menolaknya. Kesetiaannya terhadapAllah tidak menghasilkan apa-
apa, selain kebencian, pengasingan dan penganiayaan. Dia beranggapan Allah
telah menjadikan dirinya seorang nabi yang bertentangan dengan harapannya,
bukannya kemuliaan dan kehormatan yang diterima, justru sebaliknya, hidupnya
dipenuhi dengan penolakan, kekecewaan dan dipermalukan. Tetapi pada saat
yang bersamaan, Yeremia merasa sedih seperti seorang bapa yang hanya dapat
berdiri menyaksikan anak yang dikasihinya tetap berada di dalam kebebalan dan
jalan kehancuran. Pada saat-saat itu, pergumulan Yeremia menjadi sangat berat,
sama seperti Ayub, dia mengharapkan tidak pernah dilahirkan (20:14-18). Ketika
Yeremia memutuskan bahwa dia tidak akan berbicara lagi bagi Allah, semangat
di dalam hatinya justru menggerakkannya untuk berbicara bagi Allah, yang
akhirnya menyebabkan dia lebih ditolak oleh umat (20:7-10). Sekalipun terasa
sulit dan frustasi, Yeremia terus bekerja keras. Allah telah memanggilnya untuk
bertahan dan dia haruslah terus melakukan pekerjaan-Nya. Akhirnya, Yeremia
dapat bangkit dari pergumulannya untuk melihat Allah melakukan keadilan dan
belas kasihan. Kita mungkin dapat merasakan bagaimana kelemahan, keraguan
dan kefrustasian Yeremia dalam melakukan pekerjaan bagi Allah. Para pekerja
Allah bukanlah superman atau superwoman. Ketika melakukan maksud Allah,
kita akan menghadapi tantangan dan pergumulan di dalam diri pribadi, tetapi
kita haruslah menyadari bahwa kehidupan Yeremia merupakan motivasi bagi
kita untuk setia dalam melakukan pekerjaan Allah, tidak peduli apa yang sedang
dihadapi. Allah menjanjikan bahwa anugerah-Nya akan menyertai kita.

C. Pengorbanan Yeremia

Sepanjang pelayanan nubuatnya, Yeremia diminta untuk mengabaikan
keinginan sendiri dan melakukan pengorbanan tertentu untuk menggenapi rencana
Allah.

92 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

a. Yeremia tidak menikah
Tidak peduli pada angkatan manapun, menyangkal keinginan untuk menikah

dan memiliki keluarga adalah sesuatu yang menyakitkan, terlebih lagi pada
zaman Yeremia. Orang-orang Yahudi mengetahui kehendak Allah bagi mereka
untuk menikah dan memiliki anak (Kej. 1:28; 2:24). Dalam Talmud dicatatkan
bahwa bila seorang laki-laki tidak menikah pada usia 20 tahun, dia akan
dikutuk. Menikah dan memiliki anak dianggap sebagai berkat dari Allah dan
tidak memiliki anak dapat dianggap sebagai sebuah kutukan dari Allah. Tanpa
anak, milik pusaka seorang laki-laki tidaklah dapat dipertahankan dan namanya
tidak akan diturunkan kepada angkatan berikutnya. Sekalipun demikian, Allah
meminta Yeremia untuk tidak menikah (16:1-2). Melalui Yeremia, Allah ingin
mengilustrasikan kepada bangsa Yehuda, betapa dekatnya penghakiman dan
tidak ada waktu lagi untuk membangun keluarga (1 Kor. 7:26). Ketika Yerusalem
dikepung, anak-anak akan mati karena penyakit, kelaparan atau pedang dan
tidak ada kesempatan untuk menguburkan yang mati (16:4).

b. Yeremia dilarang memasuki rumah duka atau rumah pesta
Allah memerintahkan Yeremia tidak memasuki rumah duka untuk menunjukkan

kepada Yehuda bahwa pada hari malapetaka itu, Allah pun tidak berduka atas
kematian mereka. Allah pun melarang Yeremia memasuki rumah pesta, karena
waktunya akan tiba, ketika tidak ada lagi suara kegembiraan dan kebahagiaan
di Yerusalem (16:5,8). Dengan tidak berduka atau berpesta dengan bangsanya,
Yeremia tidak berbagi dukacita maupun sukacita dengan mereka. Ini berarti
bahwa Yeremia menjadi semakin diasingkan dari teman dan kenalannya. Ini
merupakan pengorbanan besar yang Yeremia harus lakukan.

D. Kebaikan Yeremia

a. Dia berdoa untuk musuh-musuhnya
Yeremia dikenal sebagai nabi yang menangis, yang selama 40 tahun, memohon,

memperingatkan dan menasihati bangsanya untuk meninggalkan jalan-jalan
mereka yang jahat. Sekalipun mereka seringkali menyakiti Yeremia, dia selalu
berdoa bagi mereka dengan menangis. Ini merupakan salah satu teladan dari
kasih seorang umat Kristen. Seberapa seringkah kita berdoa untuk musuh kita?
Bila kita berbuat demikian, seberapa banyakkah dapat berdoa sambil menangis
untuk mereka? Ketika Yeremia melihat bahwa bangsanya akan mati karena
pedang dan kelaparan (14:17-18), dia sungguh-sungguh memohon untuk
mereka. Tidak peduli betapa mereka membencinya, dia selalu mengasihi dan
tidak ingin menyakiti mereka. Kiranya kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan
tidak henti-hentinya untuk orang-orang yang membenci dan menganiaya kita,
sama seperti yang Yeremia lakukan (Ibr. 13:3).

b. Juru bicara Allah yang setia
Yeremia mentaati seluruh perintah Allah. Dia melakukan apapun yang Allah ingin

dirinya lakukan dan memberitakan apapun yang Allah ingin dirinya sampaikan.
Yeremia tidak berbicara dari dirinya sendiri. Setiap ucapannya dimulai dengan
kata-kata “Demikianlah firman Tuhan.” Dalam pasal pertama saja, kata-kata itu
dipergunakan sebelas kali (pada pasal 2, sepuluh kali; pada pasal 3, sepuluh
kali dan demikian pula untuk pasal-pasal berikutnya). Ini membuktikan bahwa
Yeremia adalah mulut Allah secara literal.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 93

c. Dia tidak menekankan pada hasil
Sekalipun Yeremia melayani Allah seumur hidupnya, bangsa Yehuda tidak

berubah dan negeri itu tetaplah diserang musuh pada akhirnya. Tampak sekilas,
usahanya menjadi sia-sia, tetapi Yeremia tidak menjadi kecewa, dia justru
terus memberitakan pesan Allah. Marilah kita belajar, agar tidak menekankan
pada hasil ketika melakukan pekerjaan Allah. Yang harus kita lakukan adalah
melakukan dengan setia apa yang Allah telah berikan kepada kita dan
menyerahkan hasilnya sepenuhnya ke dalam tangan kuasa Allah.

Bagian # 2 – Ratapan-ratapan Yeremia

A. Penulis

Sekalipun nama Yeremia tidak disebutkan di dalam teks, tetapi umumnya,
Kitab Ratapan dikaitkan dengan namanya.

B. Waktu Penulisan

Pada umumnya, kitab Ratapan ditulis sesaat setelah penghancuran Kota
Suci dan Bait Suci antara tahun 584-586 SM.

C. Tema

Sementara kitab Yeremia menubuatkan penghancuran Yerusalem, kitab
Ratapan memandang kembali pada kejadian itu. Lima pasal dari kitab Ratapan
memuat lima puisi perkabungan, yang menggambarkan pemakaman dari sebuah
kota. Itu merupakan gambaran dari Yerusalem yang semula membanggakan, tetapi
yang sekarang, direndahkan menjadi reruntuhan oleh bangsa Babel. Ratapan ditulis
saat Yehuda sedang dalam pembuangan di Babel dan menceritakan bagaimana
perasaan dari orang-orang Yahudi setelah diusir dari negeri mereka dan terpisah dari
Bait Suci yang sekarang telah hancur, karena dosa-dosa mereka. Tetapi di bagian
tengah kitab, ada sinar pengharapan. Belas kasihan Allah timbul kembali. Kitab
ini menunjukkan akibat-akibat serius dari dosa manusia dan bagaimana di tengah
tragedi, kita masih dapat berharap kepada Allah, bila kita memohon pengampunan
dan berpaling kepada-Nya demi keselamatan.

D. Pengajaran dari Kitab Ratapan

a. Dampak Dari Dosa
Saat Allah menciptakan dunia, Dia melihat segala sesuatunya adalah baik.

Bagaimanapun, saat dosa masuk, dunia menjadi terkutuk. Dalam catatan
sejarah, tidak peduli betapa megah atau kokohnya sebuah bangsa dan
rakyatnya, dosalah menjadi sebab kehancurannya. Sekalipun Yehuda dan
Israel merupakan umat pilihan Allah dan Yerusalem merupakan Kota Suci, tetapi
karena pemberontakan bangsa itu dan keengganan mereka untuk mentaati
Allah dan para nabi-Nya, mereka pun dihukum dan dihancurkan. Negeri mereka
diserang (1:3,5-6,18,14; 2:9; 4:18-19), Sion menjadi sunyi sepi (1:1,4; 2:5,8; 4:2)
dan nama Allahpun tidak dimuliakan (1:7-8,10; 2:13,15-16,20; 4:7-8; 5:15-18).
Ini merupakan akibat dari dosa. Penulis kitab Ratapan berduka atas dosa dan
berdampak pada kehancuran (4:5-6; 1:5,8-9,14,18,20).

94 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

b. Kesetiaan Allah
Melalui ratapan-ratapan Yeremia, kita dapat belajar bahwaAllah tidak membiarkan

dirinya dipermainkan (Gal. 6:7). Dalam Yesaya 46:10-11 Allah berkata,
“Keputusan-Ku akan sampai dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan...
Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah
merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.” Selama 40 tahun,
Yeremia telah memperingatkan bangsa Yehuda bahwa hal ini akan terjadi, tetapi
para raja, imam dan nabi menganggap pesan-pesan Yeremia hanyalah omong
kosong belaka. Bagaimanapun, dengan berlalunya waktu, setiap kata mengenai
malapetaka dan janji digenapi. Ini menegaskan bahwa Yeremia adalah seorang
nabi Allah yang setia dan bahwa firman Allah tidak akan pernah omong kosong.

c. Harapan di tengah keputusasaan
Malapetaka yang tercurah atas Yerusalem luar biasa. Yerusalem yang pernah

menjadi putri, sekarang telah direndahkan menjadi seorang janda. Semua
kemuliaannya telah lenyap dan sahabatnya menjadi musuhnya. Tidak seorang
berjalan di jalan-jalan Sion, orang asing menginjak-injak Bait Allah dan musuh-
musuhnya menjadi makmur dan berkuasa atasnya (1:16; 2:1-11,18-19;
3:18,42,44,48-49).
Sekalipun Yeremia begitu putus asa, pengharapannya kepada Allah sangatlah
teguh. Sekalipun awan gelap menutupi matahari, tetapi dengan imannya, dia
dapat melihat sinar matahari (3:21,23; 3:24-26,31-32,40-41,50; 5:21). Yeremia
memahami bahwa Allah adalah adil dan akan menghukum orang berdosa.
Bagaimanapun, di dalam penghakiman, Yeremia dapat melihat kemurahan
dan anugerah Allah. Yeremia teringat bahwa dia bukan hanya diperintahkan
untuk mencabut, merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, tetapi
untuk membangun dan menanam pula. Saat Yeremia diingatkan bahwa “tak
berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu
baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23), pengharapannya kepada
Allah diteguhkan kembali. Belas kasihan Allah timbul kembali. Kesetiaan-Nya
begitu besar. Yeremia menyadari bahwa hanya kemurahan Tuhanlah yang
telah mencegah penghancuran Yehuda secara menyeluruh. Oleh karena itu,
ketika menghadapi badai kehidupan dan saat-saat paling putus asa, marilah
kita mengingat bahwa Allah adalah berlimpah di dalam kasih: “Sebab Aku ini
mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,
demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan
rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh
harapan” (Yer. 29:11).

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 95

Menguji Pemahaman

1. Pernahkah merasa begitu takut untuk melakukan tugas yang diberikan kepada
kalian?

2. Bagaimana pendapat kalian mengenai pilihan Allah atas diri dari para pekerja-
Nya?

3. Apakah yang kita dapat pelajari dari pencobaan-pencobaan yang dialami
Yeremia?

4. Apakah pemahaman kalian mengenai perlakuan Allah terhadap bangsa-bangsa
non-Yahudi dan umat-Nya?

5. Bagaimana kita dapat melihat kasih Allah di tengah hukuman?
6. Bagaimana kita dapat membangkitkan kembali harapan di dalam keputusasaan

dan keadaan yang tiada harapan? Ceritakan sebuah pengalaman.

Penerapan Kehidupan

Kembalilah kepada-Ku
Dalam sejarah Israel, dosa selalu menjadi penyebab kejatuhannya. Nabi
Yesaya menunjukkan kepada bangsa itu mengapa Allah tampak jauh dari antara
mereka. “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala
kejahatanmu dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga
Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yes. 59:2). Demikian pula, hubungan kita
dengan Allah dapat menjadi rusak, karena dosa-dosa kita. Bila tidak berbuat apa-apa
terhadap dosa-dosa yang ada, hati kita akan menjadi keras dan semakin menjauh
dari Allah yang hidup. Oleh karena itu, Tuhan menawarkan kepada bangsa Israel
suatu jalan untuk memulihkan hubungan mereka dengan-Nya. Allah berseru kepada
mereka, “Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” (Mal. 3:7).
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berbuat dosa di dalam pikiran, perkataan
dan perbuatan. Kita haruslah bertobat, ketika mendapati bahwa hubungan kita
dengan Allah tidak lagi semanis dahulu. Dalam latihan berikut, kita akan menyelidiki
apakah pertobatan yang sejati itu.

96 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Ayat Alkitab Dosa Tindakan yang Akibatnya
diambil
2 Samuel 2:1-15
Matius 27:3

Lukas 19:1-10
Lukas 18:10

1. Apakah yang terjadi dengan hati kita, bila tidak berbuat apa-apa terhadap dosa-
dosa yang kita perbuat?

2. Apakah pemahaman kalian mengenai pertobatan yang sejati?

3. Renungkan ketika Allah telah memanggil kalian untuk bertobat. Bagaimana Dia
melakukannya? Bagaimana dengan tanggapan kalian?

4. Isilah tabel berikut:

Manfaat dari pertobatan Akibat dari tidak bertobat

5. Isilah tabel berikut: Cara-cara yang saya dapat atasi
Hal yang dapat mencegah saya
dari bertobat

6. Langkah-langkah tindakan:
Buatlah sebuah daftar singkat mengenai beberapa aspek dalam hidup kalian

yang memerlukan pertobatan (misalkan, apakah yang kalian dapat perbaiki atau
ubah mengenai pikiran dan tindakan kalian).

Hal-hal yang memerlukan pertobatan Tindakan yang saya ambil

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 97

Jawaban Guru Pendidikan Agama:
1. Bila kita telah berbuat dosa dan tidak bertobat, dosa akan menipu hati kita (Ibr.

3:12-13).

2. Definisi kamus perihal bertobat: merasakan atau mengekspresikan rasa
penyesalan yang tulus atau yang mendalam atas kesalahan dan dosa
seseorang.

Definisi Alkitab perihal bertobat: mengakui dan berbalik dari perilaku salah yang
kita miliki. Kita haruslah bertekad untuk berbalik dari jalan-jalan yang jahat (Ams.
28:13b), memperbaiki kesalahan, mengubah sikap, berjalan di dalam kebenaran
dan menghasilkan buah-buah pertobatan yang berharga (Mat. 3:7-8).

3. Allah dapat memanggil kita kepada pertobatan melalui
– Firman Allah (Ibr. 4:12; Yun. 3:1-5)
– Roh Kudus (Yoh. 16:8)
– Melalui mimpi atau penglihatan
– Hati nurani (Ams. 20:27)
– Hukuman Allah seperti penyakit atau kesusahan
– Melalui kesaksian mujizat
– Orang-orang di sekitar kita seperti pengkhotbah, teman, guru, orangtua dan
lain sebagainya.

4. Tabel

Manfaat dari pertobatan Akibat dari tidak bertobat

a. Menemukan kemurahan dan a. Doa menjadi terhalang (Luk.
pengampunan dosa (Ams. 13:1-9
28:13)
b. Penghakiman yang berat (Mat.
b. Murka Allah dipindahkan dan Dia 11:20-24)
akan menarik hukuman-Nya (Yl.
2:12-13) c. Tulang-tulang menjadi lesu dan
tidak ada damai di hati (Mzm.
c. Menerima damai sejahtera dan 32:3-5)
berkat
d. Kehilangan keselamatan
d. Membawa kepada keselamatan e. Tidak menerima firman Allah dan
(2 Kor. 7:10)
Kerajaan-Nya (Mat. 3:2)
f. Tidak dapat bertumbuh dalam

kerohanian

98 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

5. Tabel

Hal yang dapat mencegah saya Cara-cara yang saya dapat atasi
dari bertobat a. Jawaban murid-murid

a. Tidak peka terhadap dosa (Yer.
8:4-8)

b. Kemegahan kita – takut dianggap
bodoh (Kis. 17:30)

c. Kepuasan terhadap diri sendiri
d. Merasa diri sendiri lebih benar

daripada orang lain
e. Ketika meyakini bahwa dosa kita

terlalu besar bagi pengampunan
Allah (1 Yoh. 1:8-9; Luk. 15:7,10)
f. Merasa takut akan penghukuman

6. Jawaban murid-murid.

Renungan dan Doa

Perjalanan iman merupakan pergumulan yang tidak ada akhirnya selama
manusia masih hidup di dunia. Dalam peperangan rohani, kita seringkali terperangkap
dalam nafsu kedagingan sendiri, sehingga gagal untuk berjaga-jaga. Kita memohon
Tuhan, agar dapat mengenal diri sendiri dan Dia secara sempurna. Persembahan yang
Allah inginkan bukanlah ratusan sapi, domba atau lautan minyak, tetapi lebih daripada
hati yang remuk dan penuh penyesalan. Kiranya Allah memberikan keteguhan hati
untuk melihat diri sendiri secara jelas dan keberanian untuk berubah.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 99

Sasaran Bagian # 123

KeluBBaeraritdiarSiriuncyiMaeysKaiernrgamjSeaenaumnjpIuusrKnaaaenlaan Dalam bagian ini, murid-murid Renungan Bagi Para Guru
akan mempelajari penawanan
dan pemusnahan Yerusalam Di dalam komik Calvin &
serta bagaimana bangsa Israel Hobbes, Calvin, seorang anak
diberikan pelajaran yang begitu laki-laki berusia 6 tahun dan
keras dan sulitnya. Allah tidak harimau maninannya, Hobbes,
lagi berdiam di dalam Bait-Nya, yang dalam bayangan Calvin
melainkan dalam pertemuan- menjadi hidup, memutuskan
pertemuan yang sesuai dengan untuk membuat pesawat mainan.
standar dan kekudusan-Nya. Karena ingin menyelesiakannya,
Dalam kitab Hagai, Zakharia Calvin memutuskan untuk
dan Maleakhi, bangsa itu berimprovisasi sendiri daripada
telah kembali dari penawanan. mengikuti petunjuk yang
Tujuan mereka sekarang sulit, karena itu lebih mudah
adalah membangun kembali baginya. Ketika telah selesai
Bait Allah, tembok-tembok kota membuatnya, dia memandang
dan memulihkan iman mereka. pesawat itu dengan perasaan
Sama seperti cara bangsa Israel kesal, karena pesawatnya
kembali untuk membangun tidak seperti gambar yang ada
Bait Allah secara fisik, murid- di kotaknya. Demikian pula,
murid pun akan belajar bahwa ketika membangun Bait Allah
kita harus membangun Bait yang rohani, kita haruslah
Allah rohani, yaitu jemaat membangunnya secara hati-
dan iman kita sendiri. Untuk hati. Kita haruslah membaca
melakukannya, kita tidak dari buku petunjuk Allah dengan
mengandalkan kekuatan atau seksama dan mengikuti petunjuk
kekuasaan manusia, tetapi dengan tepat. Tidak ada tempat
mengandalkan Roh Kudus. bagi kita untuk berimprovisasi
atau menyimpang. Itulah
satu-satunya cara kita dapat
mengalami kemuliaan Tuhan
dan memiliki hadirat-Nya.

Membangun Bait Allah

“Dan biarlah kamu juga
dipergunakan sebagai
batu hidup untuk
pembangunan suatu rumah rohani,
bagi suatu imamat kudus,
untuk mempersembahkan
persembahan rohani yang
karena Yesus Kristus
berkenan kepada Allah.”
(1 Petrus 2:5)

100 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

9pelajaran

Kitab Yehezkiel (1)

Bacaan Kitab

Yeh. 1-3; 18

Sasaran Pelajaran

1. Murid-murid akan mempelajari beberapa alasan dari penawanan Israel
2. Murid-murid akan menyadari bahwa tanpa kekudusan, tidak seorangpun

akan melihat Allah
3. Murid-murid akan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai

disiplin dari Allah

Ayat Alkitab

“Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam
batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras
dan memberikan mereka hati yang taat, supaya mereka hidup menurut segala
ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku dengan setia; maka mereka akan
menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Yeh. 11:19-20)

Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)

Yeh. 1-3; 18

Latar Belakang Alkitab

Kemuliaan Allah

Kata ‘kemuliaan’ merupakan kata yang penting di dalam Perjanjian Lama dan
kemuliaan Allah merupakan tema utama dalam kitab Yehezkiel. Kata Ibrani, kabod,
berasal dari akar kata yang berarti berat atau penting. Kata ini menunjukkan hal yang
mengesankan atau berharga mengenai seseorang atau sesuatu. Dalam kebudayaan
kuno, istilah ini seringkali dipergunakan bagi para raja yang memiliki kedudukan
yang tinggi dan sangat kaya. Dalam Perjanjian Lama, ungkapan ‘kemuliaan’ atau
‘kemuliaan Allah’ berkaitan erat dengan wahyu Allah mengenai diri-Nya sendiri. Ini
merupakan perwujudan dari ciri khas Allah – kuasa-Nya yang mutlak, kedaulatan dan
moral yang sempurna.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 101

Pemanasan

Tiram
Suatu ketika ada sebuah tiram
Yang memiliki kisah seperti yang aku ceritakan ini,
Yang menemukan pasir
Yang masuk ke dalam rumah kerangnya.
Walaupun hanya sebutir,
Tetapi itu membuatnya sangat kesakitan.
Karena tiram memiliki perasaan
Walaupun mereka sangat sederhana.
Sekarang, apakah dia mencaci maki
Karena kejamnya takdir yang menyebabkan dia
Berada dalam keadaan yang menyedihkan itu?
Apakah dia mengutuk penguasa;
Berteriak karena adanya pemilihan,
Dan menuntut bahwa laut seharusnya melindunginya?
Tidak – katanya kepada dirinya sendiri
Sama seperti berbaring di sebuah rumah kerang
Karena aku tidak dapat membuangnya,
Aku akan berusaha untuk memperbaikinya.
Sekarang, tahun-tahun telah berlalu,
Seperti yang selalu dilakukan tahun,
Dan dia sampai pada akhirnya
Takdir – bersusah hati.
Dan butiran pasir yang halus
Yang telah sangat mengganggunya
Menghasilkan mutiara yang indah
Yang sangat bersinar
Sekarang, dongeng itu memiliki makna;
Karena bukankah luar biasa
Yang dapat dilakukan tiram
Dengan sebutir pasir?
Apakah tidak dapat kita lakukan
Bila hanya dimulai dengan beberapa hal
Yang mengganggu kita.
Hal apa sajakah yang Allah pergunakan dalam kehidupan untuk memurnikan diri
kalian?

102 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Pemahaman Alkitab

Bagian # 1 – Ikhtisar Umum

A. Penulis

Penulis kitab ini adalah Yehezkiel, anak Busi, imam Zadok. Arti dari nama
Yehezkiel adalah Allah akan memberikan kekuatan. Pada masa penyerangan Babel
ke Yehuda yang kedua (tahun 597 SM), Yehezkiel yang saat itu berusia 25 tahun
dibawa ke Babel bersama dengan Raja Yoyakhin dan sepuluh ribu tawanan lainnya.
Bangsa Yehuda hampir berada dalam penghancuran seluruhnya. Lima tahun setelah
itu, Allah memanggil Yehezkiel untuk menjadi seorang nabi saat dia berusia 30 tahun.
Yehezkiel memiliki dua bagian pelayanan yang unik. Antara tahun 592-586 SM, pesan
Yehezkiel berisi peringatan mengenai penghancuran Yerusalem sebelum akhirnya
dihancurkan seluruhnya pada tahun 586 SM. Selama lima belas tahun lamanya,
Yehezkiel menjadi bisu. Kemudian pada tahun 571 SM, nabi memperoleh pelayanan
yang baru. Sekarang, pesannya berisi pengharapan, janji dan penghiburan bagi
orang-orang buangan.
Dua orang yang sezaman dengan Yehezkiel adalah Yeremia dan Daniel.
Saat Yehezkiel dipanggil menjadi seorang nabi, Yeremia telah lanjut usianya,
sedang mendekati akhir karirnya sebagai orang yang bernubuat. Oleh karena itu,
Allah mengangkat seorang nabi dari antara para orang buangan untuk meneruskan
pekerjaan-Nya itu. Sementara Yeremia bernubuat sesaat sebelum penghancuran di
Yerusalem, Yehezkiel telah menjadi seorang nabi di tengah para tawanan di Babel,
di Sungai Kebar – anak Sungai Efrat. Dalam pada itu, Nabi Daniel telah ditawan
delapan tahun lamanya sebelum Yehezkiel dan sedang melayani raja di Kerajaan
Babel.

B. Waktu Penulisan

Yehezkiel dibawa ke pembuangan Babel setelah kota Yerusalem jatuh untuk
kedua kalinya ke tangan Nebukadnezar sekitar tahun 593-592 SM dan saat bagi
nubuat terakhirnya terjadi sekitar tahun 571-570 SM. Kitab ini merupakan kitab
Perjanjian Lama yang paling mudah diberikan penanggalannya, karena keunikan
Yehezkiel mengatur waktu secara berurutan. Setiap bagian dari nubuatnya dimulai
dengan tahun, bulan dan tanggal.

Bagian # 2 – Panggilan Yehezkiel

Sementara Yeremia bernubuat di Yerusalem bahwa penghancuran kota
Yerusalem oleh Babel telah dekat, Yehezkiel dipanggil oleh Allah untuk memberitakan
pesan yang sama persis kepada para tawanan yang dibawa ke Babel pada saat
pembuangan yang pertama. Sama seperti penduduk yang masih berada di
Yerusalem, para tawananpun tidak percaya bahwa Yerusalem akan hancur. Mereka
yakin bahwa akan segera kembali ke negeri asalnya. Yehezkiel memperingatkan
bahwa karena kebebalan merekalah, hukuman akan dijatuhkan dan Allah akan
memakai penawanan itu untuk memurnikan umat-Nya.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 103

Melalui penglihatan-penglihatan, Yehezkiel menerima penglihatan mengenai
kekudusan Allah yang kekal dan amanatnya sebagai seorang nabi dan penjaga
Israel.

A. Penglihatan mengenai Empat Makhluk Hidup

a. Muka dari keempat makhluk itu
Dalam penglihatan pertama, Yehezkiel melihat empat makhluk yang masing-

masing memiliki muka manusia, singa, lembu dan rajawali. Empat muka ini
melambangkan sifat-sifat Allah yang sempurna dan perilaku yang seharusnya
dimiliki oleh seorang hamba Allah dan jemaat yang sejati.

Muka manusia: Manusia adalah makhluk yang paling luar biasa dari semua
ciptaan Allah, karena diciptakan menurut gambar Allah yang hidup, yang penuh
dengan kebenaran dan kekudusan (Ef. 4:24). Sebagai hamba-hamba Allah,
kita haruslah meneladani kesempurnaan Tuhan Yesus, yang penuh dengan
kekudusan, belas kasihan dan kerendahan hati.

Muka singa: Singa adalah raja dari segala binatang buas, sekaligus binatang
yang perkasa, berani dan kuat. Sebagai hamba Allah, kita haruslah memiliki
keberanian untuk menyingkirkan dosa dan memberitakan firman Allah tanpa
rasa takut.

Muka lembu: Lembu adalah seekor binatang yang terkenal karena kekuatan,
kerja keras dan kerelaannya dalam melayani. Ketika kita melayani Allah,
teladanilah kerajinan, kekuatan, kesabaran, dan kerendahan hati dari seekor
lembu (Ams. 14:4).

Muka rajawali: Rajawali dianggap sebagai seekor burung yang paling luar
biasa. Burung ini terbang begitu tingginya di atas gunung-gunung dan daratan.
Penglihatannya tajam dan menusuk. Sebagai hamba-hamba Allah, kita haruslah
memiliki standar hidup yang lebih tinggi daripada dunia dan dapat memikirkan
perkara-perkara rohani. Kita haruslah memiliki pengetahuan rohani untuk dapat
membedakan segala sesuatu dan mengetahui manakah kehendak Allah yang
baik dan yang sempurna itu. Selanjutnya, Kita haruslah membawa firman Allah
ke empat penjuru bumi.

b. Mereka memiliki empat sayap (Yeh. 1:6,11)
Keempat makhluk itu masing-masing memiliki empat sayap; dua sayap saling

bersentuhan dengan sayap dari makhluk lainnya, sementara dua sayap lagi
menutupi tubuh mereka. Ketika melakukan pekerjaan kudus, kita haruslah tetap
saling bekerja sama dan bersatu dalam melayani. Kesatuan dan kerja sama
merupakan sebuah rahasia untuk melakukan pekerjaan Allah secara efektif.
Dua sayap yang menutupi tubuh mengingatkan kita untuk melayani Allah tanpa
menonjolkan diri dan senantiasa memuliakan Allah dalam segala hal.

c. Di bawah sayap, mereka memiliki empat tangan (Yeh. 1:8)
Tangan-tangan di bawah sayap melambangkan bagaimana pekerjaan Allah

dilakukan manusia dengan rendah hati.

104 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

d. Kaki mereka lurus dan memiliki anak lembu (Yeh. 1:7)
Sebagai hamba-hamba Allah, kita haruslah memiliki komitmen untuk melangkah

di jalan yang benar. Janganlah kaki menyesatkan kita ke kiri atau ke kanan.

B. Penglihatan mengenai Empat Roda

Selain itu, keempat makhluk itu memiliki empat roda. Empat roda
melambangkan pergerakan Injil dan kuasa Allah yang terus-menerus dan tiada henti.
Roda-roda itu bergerak secara beraturan. Demikian puia, alam semesta dan sejarah
umat manusia seluruhnya diatur oleh kuasa Allah yang tidak kelihatan.

a. Roda yang satu di tengah-tengah yang lain (Yeh. 1:16)
Roda yang satu di tengah-tengah yang lain menjelaskan adanya dua roda, satu

menghadap ke arah utara-selatan dan yang lainnya menghadap ke arah timur-
barat, menunjukkan kemampuan untuk bergerak ke segala arah. Allah itu Maha
kuasa dan tidak ada yang dapat menghalangi atau membatasi-Nya.

b. Roh makhluk-makhluk hidup itu berada di dalam roda-rodanya (Yeh. 1:19-
20)

Ke manapun roda-roda itu bergerak, makhluk-makhluk hidup itu bergerak
pula. Roh Allah memimpin dan mengatur gerakan keempat makhluk hidup itu.
Sebagai hamba-hamba Allah, kita haruslah taat sepenuhnya terhadap pimpinan
Roh Kudus.

c. Roda-roda itu penuh dengan mata (Yeh. 1:18)
Ini melambangkan hikmat dan kemahatahuan Allah. “Mata Allah ada di segala

tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Ams. 15:3), oleh karena itu,
marilah kita setia dalam melakukan pelayanan kepada-Nya.

C. Penglihatan mengenai Kemuliaan Allah

Di atas kepala makhluk-makhluk hidup itu ada yang menyerupai cakrawala dan
di atas cakrawala, Anak Manusia duduk di atas takhta. Tubuhnya bercahaya seperti
perunggu dan orang-orang yang ada di sekelilingnya tampak menunduk. Takhta itu
adalah takhta Allah yang mulia – takhta kemurahan, kekuasaan dan penghakiman.
Takhta itu muncul di hadapan para tawanan di Babel dan memperingatkan bahwa
murka dan penghakiman Allah akan berlangsung dalam waktu yang singkat. Anugerah
dan kasih-Nya akan tinggal diam bersama dengan umat-Nya, bahkan selagi dalam
penawanan. Pelangi di atas takhta itu memberikan sebuah jaminan kepada umat
Allah mengenai kesetiaan Allah yang tiada akhir terhadap orang-orang pilihan-Nya.

Bagian # 3 – Nubuatan yang berkaitan dengan Penghancuran Yerusalem

Dengan menggunakan penglihatan, perumpamaan, kiasan dan perlambangan,
Allah memberitakan penghakiman atas umat-Nya. Penghakiman Allah adalah
sebagai berikut:

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 105

A. Setiap orang akan dihakimi sesuai dengan perbuatannya (14:4;
18:11,22,30)

Selama zaman Yehezkiel, beredarlah sebuah pepatah di kalangan bangsa
Yehuda; “Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu” (Yeh.
18:2). Saat bangsa itu pertama kali dibuang ke Babel tahun 597 SM, beberapa orang
dari antara mereka beranggapan bahwa mereka dihukum dengan tidak adil, karena
dosa-dosa dari nenek moyang. Di sini, Yehezkiel dengan tegas menyangkal adanya
kesalahpahaman itu. Dia mengingatkan bangsa Yehuda bahwa mereka dihukum,
karena pemberontakan mereka sendiri. Sekalipun kita sering menderita dari akibat
dosa-dosa yang dilakukan oleh orang-orang yang ada sebelum kita, tetapi Allah tidak
menghukum kita, karena dosa-dosa orang lain itu dan kita tidak dapat menggunakan
kesalahan mereka sebagai alasan bagi dosa-dosa kita. Bangsa itu pun beranggapan
bahwa mereka akan hidup dan terluput dari hukuman, karena perbuatan-perbuatan
benar dari nenek moyang mereka (18:5-9). Dengan mengambil Nuh, Daniel dan Ayub
sebagai contoh dari orang-orang yang benar, Tuhan mengatakan bahwa pada Hari
Penghakiman, kebenaran dari orang-orang ini tidaklah dapat dipakai untuk menutupi
kejahatan atau perbuatan jahat seseorang. Keselamatan kita adalah antara Allah
dengan kita sendiri, orang lain hanya akan menyelamatkan diri mereka sendiri. Kita
haruslah mengerjakan keselamatan pribadi dengan takut dan gentar (Flp. 2:12).

B. Allah akan membawa umat-Nya ke Pembuangan (12:1-20; 17:1-21)

Tidaklah cukup hanya memakai kata-kata untuk memperingatkan murka Allah
kepada Yehuda, kaum yang memberontak. Allah meminta Yehezkiel melakukan
perbuatan luar biasa untuk menggambarkan nasib Yerusalem kepada orang-orang
yang hati, mata dan telinganya dipenuhi oleh dosa.

a. Dengan menggunakan sebuah batu bata, peta Yerusalem dan sebilah pedang
besi, Yehezkiel menggambarkan bagaimana penyerangan dan kejatuhan
Yerusalem akan segera tiba (Yeh. 4:1-3).

b. Yehezkiel diperintahkan untuk berbaring selama 390 hari di sisi kiri dan 40 hari
lamanya di sisi kanan untuk menunjukkan jumlah tahun penghukuman yang
akan berlaku atas Israel dan Yehuda (Yeh. 4:4-6).

c. Nabi itu mengikuti petunjuk-petunjuk khusus untuk memasak (Yeh. 4:9-17).
Sejumlah makanan yang diizinkan untuk nabi makan adalah dengan porsi
yang ditentukan disediakan bagi orang-orang yang tinggal di sebuah kota
yang dikepung oleh tentara musuh. Makanan haruslah dimasak di atas kotoran
lembu (yang telah kering) melambangkan ketidakkudusan rohani dari penduduk
Yehuda dan Yehezkiel dilarang berbalik dari sisi yang satu ke sisi lainnya, yang
menggambarkan penduduk Yerusalem akan terkepung di dalam tembok-tembok
kota.

d. Yehezkiel diperintahkan untuk mencukur rambut kepala dan janggutnya, lalu
membagi potongan rambut dan janggut itu menjadi tiga bagian (Yeh. 5:1-4).
Ini melambangkan bagaimana penduduk Yehuda akan mati disebabkan oleh
kelaparan, penyakit sampar dan pedang.

106 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

e. Allah meminta Yehezkiel untuk mempersiapkan barang-barang seorang
buangan, makan roti dengan gemetar dan minum air dengan perasaan takut dan
gentar, karena Tuhan akan membawa umat-Nya ke dalam pembuangan. Tanda
ini digenapi lima tahun kemudian – saat bangsa Babel menyerang kota itu untuk
terakhir kali dan raja terakhir Yehuda bergabung dengan orang-orang buangan
di Babel (Yeh. 12:2-7; Yer. 52:7).

f. Yehezkiel menyanyikan suatu ratapan untuk menunjukkan bahwa Yehuda tidak
ada harapan untuk segera kembali dari pembuangan. Tidak ada jalan keluar dari
tentara Babel yang semakin mendekat (Yeh. 19:1-14).

g. Dalam perumpamaan mengenai kuali yang berkarat (Yeh. 24:1-14). Yehezkiel
menaruh potongan daging pilihan ke dalam kuali dan merebusnya di atas api.
Penduduk Yehuda menganggap diri mereka seperti daging pilihan, karena
mereka tidak ditawan pada tahun 597 SM saat bangsa Babel akhirnya menyerang
negeri itu pula. Yehezkiel menggunakan perumpamaan ini untuk menunjukkan
bahwa sekalipun bangsa itu menganggap diri mereka aman dan selamat di
dalam kuali, tetapi sesungguhnya, kuali itu akan menjadi tempat kehancuran
mereka! Pesan ini diberikan kepada orang-orang buangan di Babel saat Babel
menyerang Yerusalem, di mulai dengan pengepungan selama dua tahun lebih
hingga berakhir pada penghancuran atas kota itu.

h. Allah memerintahkan Yehezkiel bahwa dia akan kehilangan istrinya, tetapi nabi
tidak boleh bersedih atau meratap, menggunduli rambut kepala atau bulu kakinya
atau menerima makanan yang diberikan kepadanya (Yeh. 24:15-24). Yehezkiel
menunjukkan kepada teman-temannya di pembuangan bahwa inilah yang akan
terjadi ketika Yerusalem dikepung.

C. Kemuliaan Allah meninggalkan Yerusalem

Kemuliaan Allah merupakan manifestasi dari sifat keilahian Allah, sekaligus
menunjukkan hadirat Allah. Bila kita menelusuri sejarah bangsa Israel, kemuliaan
Allah senantiasa bersama dengan umat pilihan-Nya.

a. Saat bangsa Israel meninggalkan Mesir, kemuliaan Allah dapat terlihat dalam
tiang awan dan tiang api, yang memimpin bangsa itu melalui padang gurun.

b. Bait Allah yang mula-mula dimulai dengan Kemah Pertemuan pada zaman Musa
(Kel. 40). Setelah Kemah Pertemuan didirikan, kemuliaan Tuhan memenuhi
tempat itu dengan luar biasa hingga Musapun tidak dapat memasukinya.

c. Setelah Kemah Suci didirikan, hadirat dan kemuliaan Allah memenuhi tempat itu
(Kel. 40:34-35).

d. Di Bait Suci yang didirikan oleh Salomo, Allah pun memenuhi bait itu dengan
kemuliaan-Nya (2 Taw. 7:1-2), sehingga para imam tidak dapat memasukinya.
Tetapi, saat Israel berpaling dari Allah – tetap berada di dalam dosa dan
mencemarkan Bait Allah dengan berhala dan kejahatan – Allah meninggalkan
bait itu dan umat-Nya. Sekalipun pasal-pasal awal dari kitab Yehezkiel
menggambarkan semaraknya kemuliaan Allah, pasal 8-11 menunjukkan
kemuliaan Allah meninggalkan Bait Allah setahap demi setahap:

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 107

1. Kemuliaan Allah Israel telah terangkat dari atas kerub ke atas ambang pintu
Bait Suci (9:3; 10:4). Dia meninggalkan kerub, yang menjaga tempat yang
mulia itu.

2. Kemuliaan Tuhan pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas
kerub-kerub (10:18).

3. Kemuliaan Allah terangkat dari atas tanah dan hinggap pada pintu gerbang
rumah Tuhan sebelah timur (10:19).

4. Kemuliaan Tuhan terangkat dari tengah-tengah kota (Yerusalem) dan
hinggap di atas gunung (Moria), yang di sebelah timur kota (11:22-23).

5. Kemuliaan Tuhan meninggalkan Bait Suci, Kota Suci dan bangsa Yehuda
(11:24).

Allah enggan meninggalkan umat-Nya. Hati-Nya masih bersama dengan mereka
dan Dia mengharapkan bahwa bangsa Yehuda mau berubah. Tetapi, ternyata
mereka tidak berubah. Jadi, Allah akhirnya meninggalkan Yerusalem dan
meninggalkan mezbah, bait dan umat-Nya. Dari pasal 12-42, tidak ada satupun
rujukan yang menyinggung perihal kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah hanya
kembali disinggung saat bangsa Israel menerima hukuman penuh dari Allah dan
dikuduskan. Ini terjadi dalam pasal 43-48, saat kemuliaan Allah muncul kembali
seketika itu juga dan penuh semarak. Sekarang, Bait Allah adalah orang-orang
percaya. Agar Allah berdiam di dalam kita, kita haruslah berjuang untuk hidup
kudus dan berpegang pada perintah-perintah-Nya.

Menguji Pemahaman

1. Apakah yang kita dapat pelajari mengenai perhambaan dari penglihatan keempat
makhluk hidup?

2. Apakah kemuliaan Allah?

3. Renungkan kemuliaan Allah dalam sejarah bangsa Israel.

4. Pelajaran apa sajakah yang kita peroleh karena perginya kemuliaan Allah dari
Yerusalem!

5. Mengapa pesan-pesan verbal tidak didengar oleh penduduk Yehuda, sehingga
Allah meminta Yehezkiel untuk melakukan tindakan-tindakan simbolis kepada
mereka?

6. Tindakan simbolis apa sajakah yang Yehezkiel lakukan?

108 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Penerapan Kehidupan

Pemangkasan Tuhan

Sama seperti seorang petani menggunakan berbagai cara untuk memastikan
beberapa pohon buahnya menghasilkan buah yang berlimpah. Bapa surgawi kita pun
menggunakan berbagai cara dan maksud untuk membawa anak-anak-Nya kembali
ketika mereka tersesat, sehingga dapat menghasilkan buah-buah yang baik.

1. Pandanganku mengenai disiplin
(Jawaban murid-murid.)

2. Pandangan Allah mengenai disipilin
– Disiplin Allah tidak pernah berasal dari rasa balas dendam atau maksud
yang jahat. Itu merupakan tanda kasih-Nya semata (Why. 3:19; Yer. 31:20;
Ibr. 12:6)
– untuk kebaikan kita (Ibr. 12:10; Yes. 48:17)
– membantu kita membedakan jalan yang benar (Mzm. 31:8-9, 119:67,71,75)
– memperoleh kedamaian dan kehidupan yang kekal (Yes. 38:17; 54:13; Ams.
23:14; 19:18)
– membantu kita berubah, sehingga berusaha untuk hidup kudus (Ams. 3:19;
Ibr. 12:10)
– menghasilkan buah yang baik (Ibr. 12:11-12; Mzm. 119:67)

3. Pada ilustrasi pohon pertama, sebutkan beberapa hal yang mungkin dilakukan
oleh seorang petani untuk memperbaiki ukuran, kualitas dan produktivitas pohon
buahnya.

Yang dilakukan oleh petani:
– Menyediakan air – menyediakan dalam jumlah yang tepat pada waktu yang
tepat pula
– Memberikan penyubur – memberikan nutrisi (pupuk) kepada tanaman
– Memangkas – memotong cabang-cabang yang tua untuk menghasilkan
tanaman yang baru
– Membuang dahan atau kayu yang telah mati atau yang tidak sehat
– Merampingkan – membuang buah-buah yang belum masak, agar dapat
memperbaiki ukuran dan kualitas buah.
– Mengawasi pertumbuhan pohon – memungkinkan pengembangan bentuk
yang tepat

4. Pada ilustrasi pohon berikutnya, sebutkan cara Bapa Surgawi kita memangkas
dan mendisiplinkan kita, sehingga dapat menghasilkan buah-buah kebenaran.

Yang Allah lakukan:
– Melalui Roh Kudus (Yoh. 16:7-8; Ef. 4:30; Yer. 20:8-9; Kis. 2:37)
– Melalui Firman Allah (2 Tim. 3:16; Mzm. 118:18)
– Melalui hamba Allah atau orang-orang di sekitar kita (Tit. 1:3; Ibr. 1:1; 1 Tim.
5:20; 2 Tim. 2:24-26; Ams. 27:5)
– Penglihatan dan mimpi (Ayb. 33:14-18; Kej. 31:24)

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 109

– Melalui ciptaan (Rm. 1:20; Ibr. 3:4)
– Melalui hukuman atau malapetaka (Ayb. 36:15-16; Yer. 18:11)

5. Bagikan pengalaman saat kalian didisiplinkan oleh Allah.

6. Bagaimana perasaan atau pendapat kalian pada saat itu?

7. Hal baik apa sajakah di dalam hidup kalian yang merupakan hasil pendisiplinan
dari Allah?

8. Bacalah kesaksian berikut mengenai pendisiplinan Allah di dalam kehidupan
orang-orang yang dikasihi-Nya. Bagikan pemikiran kalian kepada seisi kelas.

Kesaksian 1
Seorang simpatisan sempat menerima Roh Kudus saat dia datang ke Gereja Yesus
Sejati, tetapi merasa ragu-ragu mengambil langkah keselamatan berikutnya untuk
dibaptis. Lalu dia berdoa, agar Allah memberikan petunjuk mengenai apa yang harus
dilakukannya. Pertama kalinya, Tuhan menjawab doa-doanya pada suatu kebaktian
Sabat. Selama khotbah, penatua mengutip dari Kisah Para Rasul 22:16, “Dan
sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis
dan dosa-dosamu disucikan sambl berseru kepada nama Tuhan!” Saudari itu
menatap dengan heran kepada pengkhotbah, sambil bertanya-tanya apakah Allah
benar-benar sedang berbicara kepada dirinya.
Pada malam yang sama saat sedang berdoa pada penghujung hari itu,
saudari ini memohon Tuhan untuk yang kedua kalinya mengenai apakah dia harus
dibaptis dan apakah ini adalah waktu yang tepat untuk dibaptis atau apakah harus
menantikan suaminya yang masih ateis. Saat dia berdoa seperti ini, Roh Kudus
tercurah ke atasnya. Seluruh tubuhnya bergetar dengan dahsyatnya. Seluruh kamar
terguncang; tempat tidur bergetar, bahkan jendela-jendela turut bergetar dengan
keras pula. Suaminya yang belum percaya terpesona menyaksikan kejadian itu.
Sayangnya, saudari ini masih belum yakin sepenuhnya.
Keesokan malamnya, dia bertanya kepada Allah untuk yang ketiga kalinya.
Saat itu, Tuhan menjawabnya melalui mimpi. Dalam mimpinya, dia melihat dua
orang sedang bercakap-cakap di sebuah tempat yang penuh kemuliaan dan terang.
Keduanya memakai baju putih. Dia melihat bahwa dirinya adalah salah satu dari
antara mereka dan yang lainnya adalah Tuhan Yesus. Dalam percakapan itu,
saudari ini bertanya kepada Tuhan mengenai baptisan dan keraguan dirinya. Tuhan
bersikap begitu lembut, ramah dan tersenyum dan Dia mendengarkan dengan
penuh perhatian dan sabar. Makin banyak saudari ini berbicara, dia menjadi semakin
emosional dan gelisah dan semakin kencang tubuhnya bergetar.
Ketika saudari ini terus dalam keadaan demikian, tiba-tiba Tuhan mengangkat
tangan-Nya dan menampar wajah saudari ini. Saat itulah yang menyebabkan dia
terbangun dari tidurnya. Sekalipun hanya sebuah mimpi, tetapi wajahnya terasa
sakit dan perih, karena tamparan itu. Karena merasa sakit hati dan marah, dia
berkata kepada Tuhan, “Aku hanya ingin bertanya kepada-Mu, apakah aku harus
dibaptis dan mengapa Engkau harus datang dan menampar wajahku?” Dia kembali
ke tempat tidurnya dan memutuskan untuk tidak akan dibaptis.
Selama dua minggu berikutnya, saudari ini tidak mau membaca Alkitab. Suatu
hari, saat sedang duduk di sofa di dalam kamarnya, dia melihat Alkitab tergeletak di
atas meja kopi. Dia mengambilnya dan mulai membalik-balik halaman demi halaman,
saat itu matanya tertuju pada kata-kata yang tercatat di dalam Ibrani 12:5-6.

110 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Dia membacanya dalam hati, “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara
kepada kamu seperti kepada anak-anak: Hai anakku, janganlah anggap enteng
didikan Tuhan dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena
Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya
sebagai anak.”
Setelah saudari ini membaca ayat itu, perasaan sakit hati, marah dan sedih
yang berada di dalam hatinya segera lenyap. Dia merasa sangat tersentuh oleh kasih
Allah terhadap dirinya. Di dalam hati, dia mendengar Tuhan berkata kepadanya,
“Bapa mendidik untuk kebaikanmu sendiri.” Kemudian, saudari ini memutuskan
untuk menerima baptisan air.

Kesaksian 2
Saudara N dibaptis di Gereja Yesus Sejati hanya beberapa hari setelah dia dilahirkan.
Sekalipun tumbuh besar dalam keluarga Kristen, dia sama sekali tidak tertarik
dengan gereja. Dia justru lebih sering bermain judi dan bersenang-senang. Saudara
ini menggunakan uang makan siangnya untuk bermain mesin jackpot bersama
dengan teman-temannya di dalam gedung yang beratap dan bukannya pergi ke
gereja pada hari Sabat. Berbohong, mencuri dan berkelahi menjadi gaya hidupnya.
Tidak peduli apa yang dilakukan atau diucapkan ibunya, saudara N tetap tidak
berubah. Suatu kali, ibunya menggunakan tongkat bambu untuk mendisiplinkannya
hingga dia memohon belas kasihan dan ampun dari ibunya. Tetapi segera setelah
pukulan terhadap dirinya berakhir, dia kembali lagi pada kebiasaan lamanya. Dalam
keputusasaan dalam mencari solusi, ibu mengirimkan anaknya ini ke Amerika untuk
belajar dengan harapan bahwa perubahan lingkungan akan mengubah putranya.
Pada usia 11 tahun, saudara N berangkat ke San Diego, tempat dia tinggal bersama
bibi dan keluarganya yang ateis. Setelah beberapa waktu lamanya, dia mulai
kehilangan imannya. Dia tidak lagi pergi ke gereja dan mengejar hal-hal duniawi.
Lambat laun, dia tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan lupa bagaimana cara
berdoa.
Pada usia 17 tahun, suatu hal terjadi hingga mengubah kehidupan dari
saudara N. Suatu malam, saat sedang seorang diri di rumah, tiba-tiba dia mendengar
sebuah suara yang lembut dan ramah berkata kepadanya, “Berdoalah.” Dia merasa
takut dan segera menoleh ke sekeliling ruang duduk untuk melihat apakah ada orang
di sana. Ternyata tidak ada seorangpun di ruangan itu. Karena mengira bahwa itu
adalah khayalan yang sedang menipunya, diapun kembali ke kamarnya. Dia menutup
pintu dengan segera dan menyalakan lampu. Baru saja sesaat merasa aman, dia
mendengar kembali suara itu berkata, “Berdoalah.” Kali ini, dia mengetahui bahwa
itu bukan khayalan dirinya. Itu adalah suara seorang laki-laki yang ramah dan tulus,
yang belum pernah didengar di dunia ini. Saudara N segera mengetahui bahwa
Tuhan Yesus sedang memanggil dirinya. Dia merasa dirinya tidak dapat menolak
himbauan untuk berdoa itu, sekaligus merasa takut bila tidak berdoa, karena Tuhan
mungkin akan mendisiplin dirinya seperti yang dilakukan ibunya beberapa tahun
yang lalu. Tanpa sadar, dia berlutut, melipat tangan dan berkata, “Dalam nama
Tuhan Yesus saya berdoa, Haleluya puji Tuhan Yesus. Dalam nama Tuhan Yesus
saya berdoa, Haleluya puji Tuhan Yesus…” Kurang dari lima menit kemudian, air
mata mengalir di wajahnya dan dia mulai menangis dengan keras. Tiba-tiba, Tuhan
membuka matanya untuk menyaksikan sebuah penglihatan. Dalam penglihatan itu,
saudara N menyaksikan ratusan layar televisi kecil. Setiap layar memperlihatkan
semua hal buruk yang telah dilakukannya sejak masa kanak-kanak, perbuatan yang
telah dilakukannya secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.
Lalu, Tuhan memperlihatkan akibat-akibat dari perbuatannya,

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 111

termasuk marah, merugikan, melukai dan membuat orang-orang di sekelilingnya
merasa sedih. Dia tidak dapat menyangkal satu pun dari semua perbuatannya itu.
Salah satu layar televisi itu menunjukkan kejadian yang terjadi saat saudara
N masih berada di Taiwan. Karena rasa ingin tahu mengenai bagaimana sebuah ban
dapat menjadi kempis, saudara N menaruh segenggam paku di bawah ban-ban taksi
tetangganya. Sambil bersembunyi di belakang semak-semak, dia memperhatikan
apa yang akan terjadi. Yang membuatnya kecewa, ternyata supir taksi itu dengan
mudahnya pergi. Bagaimanapun, dalam penglihatan itu, Allah memberitahukan
akibat dari perbuatannya itu. Dia menyebabkan supir taksi itu dengan marah
menatap ban yang kempis itu, karena telah ditembus oleh paku. Gambar lain yang
disaksikan oleh saudara N adalah ibunya sendiri. Dia melihat ibunya sedang berdoa
seorang diri bagi anaknya yang tersesat. Suasana menjadi penuh kesedihan dan
duka. Dan di bawah cahaya bulan, dia dapat melihat air mata mengalir di wajah
ibunya. Selama tujuh tahun, ibunya telah berdoa tiada henti, agar anaknya dapat
kembali kepada Tuhan. Menyaksikan gambar-gambar ini, saudara N menjadi sadar
bahwa dia adalah orang yang berdosa dan harus bertobat dari segala perbuatan
jahat yang telah dilakukannya. Dia bertekad untuk mengubah jalan hidupnya dan
menjadikan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan Allahnya.

Kesaksian 3
Pada suatu musim panas, dua orang saudara merencanakan untuk pergi memancing.
Beberapa hari sebelumnya, mereka telah menelusuri internet untuk memeriksa
jumlah ikan yang akan dipancing. Melihat bahwa ada banyak jumlah ikannya, mereka
memutuskan untuk pergi memancing. Mereka hanya pergi selama setengah hari
dan berpendapat bahwa bila terdapat banyak ikan, mereka haruslah memperoleh
banyak ikan, sehingga dapat menghemat biaya sewa perahu. Pukul 5 pagi, kedua
saudara itu keluar dengan hasrat yang kuat untuk menangkap banyak ikan. Tetapi
sepanjang pagi itu, mereka belum menangkap seekor ikanpun. Mereka kembali ke
pantai dengan perasaan begitu kecewa. Sambil saling menghibur mereka berpikir,
“Mungkin tidak ada ikan pada hari itu. Bahkan, kapten kapal merasa heran, karena
tidak ada hasil tangkapan. Memang sangat jarang orang memancing tidak mendapat
hasil sama sekali, apalagi saat musim memancing yang baik.” Karena persoalan
itulah, saudara X menanyakan saudara Y, apakah dia akan ikut bersamanya ke
gereja untuk membantu menanamkan sebatang pohon. Saudara Y menyadari bahwa
saudara X bertanggung jawab untuk menanamkan sebatang pohon di gereja, tetapi
ternyata dia telah mengesampingkan tanggung jawabnya dengan pergi memancing.
Jadi, alasan mengapa mereka tidak mendapatkan ikan sama sekali pada pagi itu
adalah karena saudara X belum menyelesaikan tugas yang dia janjikan. Keesokan
harinya, saudara X kembali menelusuri internet untuk memeriksa jumlah ikan yang
akan dipancing. Dia menyadari bahwa kapal yang mereka tumpangi itu sama sekali
tidak memperoleh ikan. Tetapi yang mengejutkan adalah kapal-kapal lainnya yang
pergi pada hari yang sama, semuanya kembali dengan hasil tangkapan ikan yang
banyak.

Kesaksian 4
Suatu malam, seorang saudari yang baru bertobat ingin menonton film kategori X.
Sekalipun mengetahui bahwa hal itu tidaklah benar, tetapi godaan itu terlalu sulit
untuk dia tahan. Dengan membenarkan diri, dia berkata kepada Tuhan, “Ini yang
terakhir kalinya” dan tanpa berpikir lagi, dia duduk dan menonton seluruh film itu.
Tidak lama setelah itu, matanya membengkak disebabkan oleh suatu infeksi. Karena
pembengkakan itu, dia pergi ke dokter mata; dokter itu mengatakan bahwa

112 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

ini merupakan kasus terburuk yang pernah dilihatnya. Selain bengkak, mengeluarkan
nanah dan darah pula. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan dokter adalah
memberikan beberapa pengobatan kepadanya. Pada pukul 2 malam itu, saudari itu
mengemudi di sekitar kota untuk mencari toko obat yang masih buka. Seluruh biaya
pengobatannya kira-kira Rp. 4-5 jutaan. Saudari itu memahami bahwa ini merupakan
sebuah pelajaran dari Allah. Dalam doa-doanya, dia bertobat atas perbuatannya dan
kira-kira seminggu kemudian, bengkak di matanya menghilang.

Renungan dan Doa

Tuhan yang terkasih, betapa sakitnya dipukul oleh tongkat kasih-Mu.
Tetapi melalui bilur-bilur itu, kami disembuhkan dari ketidaktaatan dan jiwa kami
dari kekerasan hati. Melalui pengalaman hidup, kami dapat menghasilkan tuaian
kebenaran yang berlimpah. Tuhan, ajarkanlah kami untuk bersyukur ketika dihajar
oleh-Mu, karena Engkau menghajar orang-orang yang Engkau kasihi.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 113

Halaman Kosong

114 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

10pelajaran

Kitab Yehezkiel (2)

Bacaan Kitab

Yeh. 34; 37; 47

Sasaran Pelajaran

1. Memungkinkan murid-murid memahami bahwa Allah adalah Allah
yang adil, yang akan memperhitungkan perbuatan semua bangsa dan
manusia

2. Murid-murid akan belajar bahwa pemulihan Israel, gereja dan manusia
hanya bergantung pada kuasa Roh Kudus

3. Murid-murid akan belajar pentingnya mengandalkan Roh Kudus untuk
mengubah sifat-sifat lama mereka

Ayat Alkitab

“Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia dan
katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas
hidup, datanglah dari keempat penjuru angin dan berembuslah ke dalam
orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali. Lalu, aku
bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk
di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan
kakinya, suatu tentara yang sangat besar.” (Yeh. 37:9-10)

Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)

Yeh. 34; 37; 47

Latar Belakang Alkitab

Lihatlah pada bagian Latar Belakang Alkitab dalam Pelajaran 9.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 115

Pemanasan

Berikan tiap-tiap murid selembar kertas kosong dan pensil.
Katakan kepada murid-murid: Marilah kita mencoba sebuah eksperimen
kecil. Aku akan menunjukkan kepada kalian sebuah gambar kira-kira sepuluh detik
lamanya. Ingatlah dengan kemampuan kalian yang terbaik. (Sekarang tunjukkan
sejumlah gambar dengan bentuk yang berbeda. Berikan murid-murid satu menit
lamanya untuk menggambarnya di lembar kertas mereka masing-masing.)
Aku akan menunjukkan kepada kalian gambar itu sekali lagi dan kalian akan
membandingkan gambar kalian dengan gambar itu. Bila perlu, cocokkan gambar
kalian hingga sama seperti gambar itu (ulangilah beberapa kali).
Apakah kalian menyadari bahwa makin banyak kalian melihat gambar itu
dan makin dekat kalian melihatnya, kalian dapat meniru gambar itu dengan lebih
baik? Dengan cara yang sama, ketika kita memusatkan perhatian kepada Allah dan
dengan mengandalkan Roh Kudus dan firman-Nya, kita dapat diubah menjadi serupa
dengan Kristus.

Pemahaman Alkitab

Bagian # 1 – Penghakiman Allah atas Bangsa-Bangsa

Kitab Yehezkiel dapat dibagi menjadi dua bagian: Bagian pertama (pasal 1-24)
yang mencatatkan nubuat-nubuat penghakiman atas bangsa Yehuda. Bagian kedua
(pasal 25-48) yang mencatatkan nubuat-nubuat pemulihan. Dalam bagian terakhir
ini, nabi membicarakan penghakiman atas bangsa-bangsa non-Yahudi yang berada
di sekitar Yehuda. Dengan menyaksikan kehancuran Kota Suci dan penawanan atas
bangsa Yehuda, tujuh bangsa ini telah menghina Allah dan memperoleh keuntungan
dari penghukuman umat-Nya. Allah memberikan pesan-pesan, agar bangsa-bangsa
itu mengetahui bahwa Dialah Tuhan.

A. Penghakiman atas Amon (Yeh. 25:1-7)

Saat Israel menjadi reruntuhan dan bangsa itu ditawan, bangsa Amon bertepuk
tangan dan menghentakkan kaki mereka serta bersorak dengan segala dendam
yang ada dalam diri mereka. Bangsa Amon menyeringai dan bertepuk tangan atas
cemarnya Bait Suci. Alkitab pun mencatatkan perlawanan bangsa Amon di masa lalu;
pada zaman Raja Yoyakhin, bangsa Amon bergabung dengan bangsa Babel untuk
menyerang Yerusalem (2 Raj. 24:2). Dan pada pemerintahan Raja Zedekia, bangsa
Amon bersama dengan bangsa Moab, Edom dan lainnya, mendukung Zedekia untuk
memberontak terhadap bangsa Babel, tetapi saat Israel ditawan, bangsa Amon
menjarah kota itu (Yer. 49:1-2). Untuk dosa-dosa inilah, Tuhan akan mengacungkan
tangan-Nya melawan mereka (Yeh. 25:6-7).

116 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

B. Penghakiman atas Moab (Yeh. 25:8-11)

Bangsa Moab akan menghadapi penghakiman Allah, karena mereka berkata,
“Sungguh, kaum Yehuda adalah sama seperti dengan semua bangsa lain.“ Moab
menghina Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak sanggup menyelamatkan
umat-Nya sendiri. Karena keangkuhan dan pemberontakan mereka, bangsa Moab
akan dikalahkan oleh bangsa dari timur dan akan dimusnahkan di antara bangsa-
bangsa dan tidak akan diingat-ingat lagi (Yeh. 25:10).

C. Penghakiman atas Edom (Yeh. 25:12-14)

Bangsa Edom bersaudara dengan bangsa Yehuda. Kedua bangsa itu
merupakan keturunan dari Ishak (Kej. 25:19-26). Edom berbatasan dengan Israel
di sebelah utara, tetapi kedua bangsa itu selalu bersikap aneh. Saat Yerusalem
ditawan, bangsa Edom membantu tentara Babel membunuh para buronan. Mereka
penuh dengan kebencian (Yeh. 35:5-6,9; Ob. 10,14), bersorak atas kehancuran
Israel (35:15) dan mengambil harta negeri itu (Yeh. 35:10; 36:5). Dari semua bangsa,
bangsa Edomlah yang paling membenci Israel. Sama seperti nenek moyangnya,
Esau, Edom ingin membalas dendam terhadap Israel. Sebagai akibatnya, Allah
akan menghukum Edom melalui tangan Israel. Sama seperti Edom bersukacita atas
kehancuran Israel, Allah pun akan menghancurkan seluruh negeri Edom.

D. Penghakiman atas Filistin (Yeh. 25:15-17)

Orang-orang Filistin adalah penduduk asli Kanaan. Selama zaman Eli dan
Samuel, Israel dan Filistin selalu berperang (1 Sam. 4:6). Saat Yehuda hancur, Filistin
justru menjual bangsa itu sebagai tawanan dari bangsa Edom (Am. 1:6). Karena
bangsa Filistin membalas dendam terhadap Israel, Allah pun memusnahkan mereka
dan seluruh daerah pesisirnya.

E. Penghakiman atas Tirus (Yeh. 26-28:19)

Yehezkiel 26-28 mencatatkan nubuat-nubuat mengenai kota Tirus. Arti dari
kata ‘Tirus’ adalah batu karang. Tirus adalah sebuah kota yang bersebelahan dengan
Kanaan, yang terletak di pesisir Laut Mediterania, di sebelah utara Israel. Sebagian
dari kota itu berada di daratan dan yang lainnya berada di pulau. Tirus merupakan
sebuah kota yang maju dan makmur, yang menjadi kaya oleh perdagangan (Yeh.
27:11-25). Saat Israel jatuh, Tirus justru merasa senang dan mengambil keuntungan
dari penderitaan Israel. Mereka mencemooh dan menertawakan, “Syukur! Sudah
rusak pintu gerbang bangsa-bangsa itu; ia akan beralih kepadaku, sehingga aku
menjadi penuh, tetapi ia menjadi reruntuhan” (Yeh. 26:2). Tirus pun bersalah, karena
begitu angkuh dan congkak. Raja Tirus meyakini bahwa dialah allah dengan berkata,
“Aku kapal yang maha indah.” Sebab utama keangkuhan Tirus adalah karena
perdagangan laut dan kemakmurannya. Yehezkiel 27 membandingkan kesombongan
dan kemegahan kota Tirus dengan sebuah kapal. Kapal ini dibuat dari bahan-bahan
yang terbaik, aman dan membawa banyak muatan yang berharga.
Bagaimanapun, kesombongan ini tidak berlangsung lama, karena Allah
melenyapkannya dan membuat kota yang menyenangkan itu menjadi tanah kosong
yang menyedihkan (Yeh. 26:12,14). Pada tahun 585 SM, Raja Nebukadnezar
menyerang kota Tirus, dia menawan bagian daratan selama 13 tahun,

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 117

karena di bagian belakang kota itu ada sebuah pulau, yang menjadi tempat
pelayaran yang baik setiap harinya. Nubuatan lainnya baru akan digenapi pada
masa pemerintahan Alexander Agung. Saat Alexander mengepung Tirus, kota itu
tidak mau menyerah hingga Alexander melemparkan reruntuhan kota itu ke dalam
air dan membentuk sebuah jembatan untuk menuju pulau itu. Ini menggenapi apa
yang telah dikatakan oleh nabi, “Mereka akan meruntuhkan tembok-tembokmu dan
merobohkan rumah-rumahmu yang indah; batumu, kayumu dan tanahmu akan
dibuang ke dalam air” (Yeh. 26:12). Sekarang, kota pulau itu tetap menjadi reruntuhan,
“penjemuran pukat di tengah lautan” dan sebagai saksi atas penghakiman Allah.

F. Penghakiman atas Sidon (Yeh. 28:20-26)

Sidon adalah pelabuhan laut terkenal lainnya, yang terletak beberapa
kilometer di sebelah utara Tirus. Allah mendakwa kota ini, karena penghinaan
terdapat umat-Nya. Sidon adalah sebuah duri yang menyakiti umat Allah. Allahpun
bernubuat bahwa penyakit sampar akan masuk ke Sidon dan akan menyebabkan
pertumpahan darah mengalir di jalan-jalan.

G. Penghakiman atas Mesir (Yeh. 29-32)

Sungai Nil merupakan kebanggaan dan keceriaan Mesir, sungai pemberi
kehidupan yang mengalir di tengah padang gurun. Tetapi sebaliknya, daripada
memuliakan Allah, raja Mesir berkata, “Sungai Nil aku punya, aku yang membuatnya.”
(29:3b). Karena kesombongannya, Allah memperlakukan Mesir seperti seekor ikan
di lautan, yang akan tenggelam dan terdampar di tempat terbuka serta akan menjadi
makanan binatang-binatang. Lebih daripada itu, kekayaan dan kekuasaan Mesir
membuatnya tampak seperti negeri sekutu yang baik. Mesir menawarkan diri untuk
membantu Yehuda hanya karena mengharapkan keuntungan, yaitu memperoleh
keuntungan dari kesepakatan mereka. Begitu tidak mendapatkan apa yang
diharapkan, Mesir segera membatalkan kesepakatan mereka. Allah menghukum
Mesir bagaikan tongkat bambu bagi Israel. Saat Israel memegangnya, Mesir patah
terkulai, sehingga “melukai bahu mereka semua dan membuat mereka semua
terhuyung-huyung” (Yeh. 29:6-7; Yer 2:36-37; 37:5-7). Sebagai akibatnya, Allah akan
menyerahkan Mesir kepada Babel. Allah akan menyebabkan mereka dimusnahkan
di tengah bangsa-bangsa. Mesir akan menjadi tanah kosong selama 40 tahun dan
akan dipulihkan sekali lagi, menjadi negeri yang tidak dapat meninggikan diri lagi.
Allah akan menghukum orang-orang yang memperlakukan orang lain secara tidak
adil dan tidak berbelas kasih.

118 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Tips Mengajar

Mintalah murid-murid untuk membaca ayat-ayat Alkitab yang berkaitan. Lalu, tuliskan
dosa dari tiap-tiap bangsa dan penghakiman yang Allah berikan kepada mereka.

Ayat Alkitab Bangsa Penghakiman yang
akan ditimpakan

Yehezkiel 25:1-7

Yehezkiel 25:8-11
Yehezkiel 25:12-14

Yehezkiel 25:15-17

Yehezkiel 26:1-28:19

Yehezkiel 28:20-26

Yehezkiel 29-32

Bagian # 2 – Nubuatan mengenai Pemulihan Israel

Pasal 33 dan seterusnya memberikan petunjuk baru mengenai nubuat-nubuat
Yehezkiel. Sampai saat itu, Yehezkiel telah menyatakan penghakiman atas Yehuda
(pasal 1-24) dan bangsa-bangsa sekitarnya yang jahat, karena dosa-dosa mereka
(pasal 25-32). Sekarang, Yerusalem telah jatuh, Yehezkiel berbalik dari pesan-pesan
malapetaka dan penghakiman kepada pesan-pesan penghiburan, pengharapan
dan pemulihan bagi umat Allah di masa yang akan datang. Sebelumnya, Allah telah
menunjukan Yehezkiel sebagai seorang pengawas untuk memperingatkan bangsa-
bangsa mengenai penghakiman yang akan ditunda (Yeh. 3:17-21). Di sini, Allah
mengangkatnya sebagai pengawas lainnya, tetapi kali ini, untuk memberitakan
pesan pengharapan, pemulihan dan pembaruan.

A. Menjauhkan hati yang keras dan memberikan hati yang taat

Allah menunjukkan kepada nabi Yehezkiel (setelah penawanan) bagaimana
Dia akan mengumpulkan umat-Nya dari berbagai negeri dan memberikan mereka
satu hati (Yeh. 11:17-20). Dia akan menjauhkan hati yang keras, yang tidak
percaya dan memberikan hati yang taat. Allah menggunakan ‘hati yang keras’
untuk menggambarkan kejahatan dan kebebalan umat-Nya dan memberikan ‘hati
yang taat’ untuk menunjukkan hati manusia yang peka terhadap dosa. Allah akan
menuliskan perintah-perintah-Nya di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 119

berjalan di dalam Dia dan mentaati perintah-perintah-Nya (Yeh. 24:7; 31:33; 36:26-
27). Nubuat ini merujuk pada hari-hari terakhir ketika bangsa Israel, gereja sejati,
akan bangkit kembali dan Tuhan akan mengumpulkan umat pilihan kepada-Nya.
Allah akan mencurahkan roh-Nya dan membuat orang-orang percaya menjadi satu.
Tidak seperti bangsa Israel, yang tidak mau kembali kepada Allah sekalipun telah
banyak diberikan peringatan, Roh Allah akan melembutkan hati kita untuk peka
terhadap dosa dan mentaati perintah-perintah-Nya (1 Kor. 12:3; 2 Tes. 2:13).

B. Bangkitnya tulang-tulang yang amat kering

Yehezkiel dibawa ke padang belantara Babel untuk ditunjukkan penglihatan
mengenai sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang yang kering, yang tidak
memiliki harapan hidup sama sekali. Ketika nafas Allah masuk ke dalam tulang-
tulang itu, mereka bangkit dan menjadi suatu tentara yang sangat besar (Yeh. 37:1-
14). Penglihatan ini dapat diterapkan ke dalam tiga pemahaman:

a. Tulang-tulang yang kering merupakan gambaran dari bangsa Yehuda dalam
penawanan – terserak dan mati tanpa ada harapan. Tetapi melalui penglihatan
itu, nabi membesarkan hati para tawanan bahwa di dalam Tuhan masih ada
harapan. Mereka tidak akan ditawan untuk selamanya.Allah akan menyelamatkan
dan membuat mereka kembali ke negeri asal sama seperti Dia membuat tulang-
tulang yang kering ini hidup kembali. Penglihatan mengenai tulang-tulang yang
kering menunjukkan kuasa Allah yang luar biasa untuk melakukan apa yang
mustahil di hadapan manusia. Nubuat ini digenapi pada tahun 538 SM saat
Koresy, raja Persia mengizinkan orang-orang Yehuda kembali ke negeri asal dan
membangun kembali Bait Suci mereka (Ezr. 1:1-4). Orang-orang yang kembali
ini pulang dengan perasaan begitu yakinnya bahwa tangan Allahlah yang telah
membuat hal ini mungkin terjadi.

b. Tumpukan tulang-tulang yang kering menggambarkan kondisi kerohanian orang-
orang yang tidak berada di dalam Kristus. Sekalipun secara fisik mereka hidup,
tetapi sesungguhnya, secara rohani mati (Luk. 9:60). Tetapi melalui baptisan
air dan Roh Kudus, orang-orang yang secara rohani mati dapatlah bangkit dan
menjadi manusia yang baru dan yang hidup (Rm. 6:4,9,11).

c. Tulang-tulang yang kering pun dapat dipergunakan untuk menggambarkan
keadaan iman kita sendiri atau gereja. Kadang, gereja mungkin tampak seperti
tumpukan tulang-tulang yang kering, yang tidak memiliki harapan dan kekuatan.
Tetapi sebagaimana Allah berjanji untuk memulihkan umat-Nya, Dia dapat
memulihkan gereja atau iman kita, tidak peduli seberapa kering atau matinya
kita. Kita haruslah berdoa, agar Allah mencurahkan Roh-Nya, sehingga kita
dapat hidup secara sempurna dan berkelimpahan di dalam Kristus.

C. Pemulihan Bait Suci

Pasal 40-48 menggambarkan penglihatan yang Yehezkiel saksikan mengenai
pembangunan Kota Suci. Dalam penglihatan itu, Yehezkiel dibawa oleh Roh Kudus ke
gunung yang tinggi sekali hingga dia melihat struktur dari sebuah kota. Pengalaman
Yehezkiel dicatatkan pula di dalam Wahyu 21:9. Dalam penglihatan itu, Yehezkiel
menggambarkan bagaimana Bait Suci dibangun sesuai dengan ukuran dan petunjuk
yang tepat, yang diberikan oleh Allah.

120 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Struktur Bait Suci, hukum perihal kekudusan, peraturan mengenai korban
digambarkan secara rinci. Dalam pasal 43, kemuliaan Allah kembali ke bait itu. Dari
pelajaran sebelumnya, kita mengetahui bahwa kemuliaan Tuhan telah meninggalkan
Bait Suci, karena telah dipenuhi dengan penyembahan berhala dan segala bentuk
ketidakbenaran. Dalam penglihatan itu, kemuliaan Allah kembali dan memenuhi
bait itu, karena dibangun sesuai dengan standar Allah. Bait Suci yang disaksikan
oleh Yehezkiel menggambarkan kota rohani, gereja sejati pada zaman akhir. Untuk
memiliki hadirat Allah, gereja itu haruslah “dibangun di atas dasar para rasul dan
para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef. 2:20).

D. Air dari Bait Suci

Yehezkiel melihat sebuah penglihatan berupa air yang mengalir dari bawah
ambang pintu Bait Suci dan mengalir menuju timur (Yeh. 47:1-12). Ke manapun sungai
itu mengalir, banyak hal ajaib yang terjadi. Air melambangkan air kehidupan, yaitu
Roh Kudus. Roh Kudus akan memberikan berkat yang berlimpah dan keselamatan
kepada orang-orang di dunia. Ciri khas dari sungai:

a. Malaikat Allah mengukur sungai
Dalam penglihatan itu, malaikat Allah mengukur sungai sebanyak empat kali.

Setiap kali mengukur, sungai itu menjadi semakin dalam. Mula-mula hanya
sepergelangan kaki, lalu menjadi selutut, sepinggang dan akhirnya, menjadi
sebuah sungai yang tidak dapat dilalui. Ini merupakan gambaran yang indah
mengenai Roh Kudus yang tinggal di dalam jiwa kita. Ketika seseorang belum
dipenuhi oleh Roh Kudus, belumlah ada pembatasan atas perkataan dan
perbuatannya dan masih bebas dilakukan sesuai dengan keinginannya. Ini
sama seperti orang yang berjalan di air yang dalamnya hanya sepergelangan
kaki. Berbeda ketika seseorang telah dipenuhi oleh Roh Kudus, dia akan
menyerahkan kehendak dan hasratnya serta membiarkan dirinya dibawa oleh
sungai yang besar, yaitu Roh Kudus.

b. Kumpulan air yang menjadi air tawar
Ketika sungai itu mengalir ke suatu tempat, air di situ akan menjadi air tawar

kembali. Ini melambangkan perubahan yang terjadi setelah kita mengenal
Kristus. Hidup kita, yang semula penuh dengan kepahitan, keputusasaan dan
kematian secara rohani, sekarang justru dipenuhi dengan sukacita, damai
sejahtera dan kepuasan ketika Kristus masuk ke dalam hati kita.

c. Air akan dipenuhi dengan banyak makhluk hidup dan ikan
Ke manapun sungai itu mengalir, bersamanya akan ada kehidupan dan kekuatan.

Tempat-tempat yang tidak ada tanda-tanda kehidupan, sekarang dipenuhi dengan
makhluk hidup dan ikan. Demikian pula, Roh Kudus memberikan kehidupan
dan kekuatan. Kehidupan kita yang penuh ketidakpuasan, kecemburuan,
perseteruan, iri hati, mementingkan diri sendiri, diubah menjadi kehidupan yang
bersemangat dan bergairah bagi Tuhan dan sesama.

d. Banyak pohon yang tumbuh di tepi sungai
Sungai akan membuat pohon tumbuh subur di tepinya dan buah-buah akan

tumbuh setiap bulannya. Orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus akan sama
seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air dan menghasilkan buah dengan
limpahnya. Orang seperti itu akan menunjukkan rupa Kristus di dalam

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 121

kehidupan mereka dan akan selalu bertumbuh dalam anugerah dan kebenaran
Tuhan. Mereka bukan hanya memperkaya kehidupan rohani diri sendiri, tetapi
kehidupan rohani orang lain pula.

e. Lumpur dan rawa tetap tidak akan berubah
Ketika sungai mengalir ke daerah yang berlumpur dan berawa, daerah-daerah ini

akan tetap tergenang dan tidak berubah. Lumpur dan rawa merujuk pada orang-
orang yang hatinya dipenuhi dengan kegelapan, kekerasan dan ketidakmauan
dalam bertobat. Sekalipun Injil telah diberitakan selama 2000 tahun, tetapi
masih banyak hati yang tetap tidak mau dipengaruhi. Hati yang seperti inilah
merupakan tempat bagi dosa dan kejahatan tinggal dan Iblis berkuasa.

Menguji Pemahaman

Tidak ada pertanyaan pada bagian Menguji Pemahaman di dalam pelajaran
ini.

Penerapan Kehidupan

Pembaruan dari Kuasa Roh Kudus

Pernahkah kalian menyaksikan keindahan dan kebebasan dari seekor kupu-
kupu? Tetapi, apakah kalian menyadari bahwa pada mulanya, dia begitu sederhana.
Siklus kehidupan kupu-kupu melalui empat tahapan yang berbeda. Diawali dengan
telur, lalu berubah menjadi kepompong. Ketika kepompong telah mencapai ukuran
tertentu, dia akan berubah bentuk dari kepompong menjadi seekor kupu-kupu.
Prosesnya terjadi di dalam kepompong, yang keras, kadang berbentuk oval dan
berduri. Setelah dua minggu lamanya, sekalipun melalui perjuangan keras untuk
membebaskan diri dari kepompongnya, tetapi ketika bebas, dia muncul dan berubah
menjadi seekor kupu-kupu. Proses yang sempurna ini disebut metamorfosis.
(Lihatlah karton yang berada dalam Lembar Kerja Murid).

Karton 1: Allah telah memilihku, aku dibaptis...
Karton 2: Aku memiliki Roh Kudus
Karton 3: Aku yakin bahwa diriku akan diselamatkan, lalu apa lagi?

Karton itu menggambarkan keyakinan yang umumnya ada di antara
banyak orang percaya sekarang ini: “Aku telah dibaptis, memiliki Roh Kudus, pasti
diselamatkan.” Tetapi sebenarnya, kita belum cukup sampai di situ. Sama seperti
kupu-kupu, kita haruslah keluar dari rumah kita – melalui metamorfosis rohani. Alkitab
menyebut proses ini sebagai pengudusan.

122 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

Pengertianku mengenai pengudusan adalah...
Menjadi kudus berarti dipisahkan dari manusia lainnya. Pikiran, gaya hidup dan sikap
dari seorang Kristen haruslah berbeda dengan dunia. Kita haruslah mengembangkan
tujuan dan sikap hidup yang baru. Ketamakan, mementingkan diri sendiri, kebencian,
kecemburuan haruslah dilepaskan dan menggantinya dengan kasih, kemurahan,
kebaikan dan kerendahan hati, memuliakan Allah, melayani sesama, bertumbuh
dalam pengenalan akan firman dan berdoa secara efektif, yang menjadi prioritas
dalam hidup yang sekarang. Alkitab mengatakan ini sebagai melepaskan sifat lama
kita dan mengenakan Kristus (Gal. 3:27).

Mengapa aku harus menjadi kudus?

1. Menjadi kudus merupakan kehendak Allah (1 Tes. 4:3-7; 1 Pet. 1:14-16).

2. Menjadi kudus merupakan kewajiban bagi tiap-tiap orang percaya. Allah telah
memilih kita untuk menjadi anak-anak-Nya dan kita haruslah hidup sesuai
dengan panggilan-Nya.

3. Kita haruslah menjadi kudus untuk memperoleh keselamatan (Rm. 6:22; Kis.
20:32; 2 Tes. 2:13; Ibr. 12:14).

Bagaimana aku dapat mengejar kekudusan?

1. Kita tidak dapat menjadi kudus dengan cara sendiri. Allah memberikan Roh-Nya
yang kudus untuk membantu kita (Rm. 15:16; 2 Tes. 2:13; 1 Pet. 1:2).

2. Melakukan aktivitas rohani setiap hari (membaca, merenungkan Alkitab dan
berdoa di dalam Roh).

3. Kita dapat mematikan hawa nafsu kedagingan dengan sepenuhnya taat kepada
Roh Kudus dan berjalan menurut pimpinan-Nya.

Rintangan apa sajakah yang kita hadapi dalam usaha untuk menjadi lebih
kudus?

1. Kadang, kita gagal bertumbuh, karena tidak menyadari bahwa kita harus
berubah. Untuk melihat kelemahan diri sendiri, kita haruslah membaca Alkitab
dan menyucikan diri dengan kebenaran secara terus-menerus (Yoh. 1:17; Ef.
5:26). Kolose 3:9-10 memberitahukan bahwa sifat baru kita diperbarui melalui
pengenalan akan Tuhan. Makin mengenal Kristus, pekerjaan dan firman-Nya,
semakin kita diubahkan menjadi serupa dengan Dia.

2. Kita haruslah mengarahkan hati kepada perkara-perkara yang di atas. Maksudnya
adalah kita haruslah berusaha meletakkan prioritas-prioritas surgawi ke dalam
perbuatan sehari-hari. Kita haruslah lebih berfokus pada kekekalan daripada hal-
hal yang bersifat sementara. Pikiran dapat mempengaruhi tindakan, sehingga
bila kita mengarahkan pikiran pada perkara-perkara yang di atas dan bukan
yang di bumi atau keinginan kita, maka pilihan-pilihan yang dihasilkanpun akan
memimpin kita untuk melakukan apa yang benar dan kudus di hadapan Allah.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 123

3. Pengudusan diri memerlukan usaha dan tekad. Dalam Matius 11:12, Tuhan
mengingatkan bahwa Kerajaan Surga telah mengalami kekerasan dan orang-
orang itu melakukannya dengan pemaksaan. Ini mengingatkan bahwa Kerajaan
Allah memerlukan sikap dan perbuatan yang baru dan bahwa hanya orang-
orang yang bersedia untuk melakukan perubahan secara drastislah yang dapat
menerima kehidupan kekal. Membuang dosa pribadi dan diri kita yang lama
memerlukan suatu pergumulan. Itu perlu latihan, pengambilan keputusan setiap
harinya, kesabaran, konsentrasi untuk memelihara diri kita, agar sesuai dengan
kehendak Allah.

Bagaimana cara aku mengukurnya?
1. Anda telah merencanakan sesuatu dengan teman-teman pada malam itu, tetapi

dengan tidak disangka-sangka, orangtua memberitahukan bahwa Anda harus
membatalkan rencana itu, karena mereka memiliki urusan yang penting. Apakah
reaksi Anda atas hal ini? Aku akan…

2. Anda sedang berjalan-jalan bersama teman dan topik pembicaraan berubah
menjadi lelucon yang sembrono. Apakah yang Anda akan lakukan. Aku akan...

3. Sedang ada obral besar dan Anda telah mengantri untuk membayar suatu
barang kira-kira 10 menit lamanya. Seseorang menerobos barisan di depan
Anda. Anda mengatakan bahwa orang itu haruslah mengantri, tetapi dia tidak
mengacuhkannya dan tetap berdiri di depan Anda. Bagaimana reaksi Anda?
Aku akan...

4. Anda memiliki sahabat di gereja, seorang yang selalu melakukan segala sesuatu
bersama dengan Anda. Tetapi, tampaknya dia mendapat perhatian dan pujian
lebih banyak daripada diri Anda, sekalipun Anda melakukan hal yang hampir
sama dengannya. Bagaimana perasaan Anda?

5. Seorang teman mengundang Anda untuk makan malam bersama dengan
keluarganya. Ibunya ternyata telah memasakkan makanan yang Anda kurang
sukai. Mereka menanyakan apakah Anda menyukai makanan itu. Bagaimana
Anda menjawab mereka? Aku akan...

6. Keanggotaan Anda di sebuah toko grosir komputer telah berakhir, sekaligus
mengetahui bahwa mereka menjual beberapa barang yang telah Anda cari
beberapa waktu yang lalu. Anda tidak mau memperbarui keanggotaan, karena
biayanya terlalu mahal, tetapi barang itu ingin sekali Anda beli. Apakah yang
Anda akan lakukan? Aku akan...

7. Anda mendengar sebuah gosip yang sangat bodoh mengenai orang yang sangat
tidak Anda sukai. Bagaimana perasaan dan tanggapan Anda? Aku akan...

8. Anda merasa bahwa orang-orang dari ras tertentu pada dasarnya lebih rendah
kedudukannya daripada ras Anda. Ketika orang dari ras itu masuk ke dalam
gereja, apakah yang Anda akan lakukan? Aku akan...

124 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

9. Teman-teman Anda telah singgah di sebuah toko dan mengambil beberapa
karcis lotere. Mereka berkata, “Alangkah baiknya, bila Anda memenangkannya.
Tetapi bila tidak menang, sebagian uang Anda akan diberikan untuk mendanai
riset pendidikan dan penyakit kanker. Itu adalah alasan yang baik.” Apakah yang
Anda akan lakukan? Aku akan...

Mengambil Tindakan:

1. Berdasarkan latihan di atas, buatlah daftar singkat mengenai beberapa hal yang
menurut Anda harus diperbaiki.

2. Carilah beberapa ayat atau cerita Alkitab yang merujuk pada bidang yang kalian
pilih, lalu pelajarilah apa yang Alkitab ajarkan dalam ayat atau cerita itu.

3. Tuliskan ayat atau cerita itu secara garis besarnya.

4. Bila memungkinkan, hafalkan ayat atau cerita itu.

5. Hal yang terpenting adalah menginat pengajaran yang diberikan di dalam ayat
atau cerita itu.

6. Setelah beberapa saat, evaluasilah diri apakah kalian telah memperbaikinya.
Kapanpun kalian menghadapi suatu situasi menantang yang memerlukan
penerapan dalam mengalahkan kelemahan diri, berusahalah secara mental
menjalankan ayat-ayat itu dan mohonlah agar Allah memberikan kekuatan untuk
mengatasi kelemahan kita.

Kelemahan diri Ayat Alkitab Bagaimana saya
yang perlu diperbaiki mengatasinya

Renungan dan Doa

Oh Tuhan, tidak ada yang kami inginkan lebih daripada menjadi serupa
dengan-Mu. Tolonglah kami untuk membuang hati yang keras dan berikanlah hati
yang taat. Tolonglah kami, agar tidak lagi menjadi hamba dosa. Jadikanlah hati yang
bersih, sehingga kami dapat menang dalam peperangan terhadap diri kami yang
lama dan menghasilkan perubahan yang lebih bersinar dan lebih baik bersama
Tuhan Yesus Kristus.

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 125

Halaman Kosong

126 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

11pelajaran

Kitab Daniel

Bacaan Kitab

Dan. 1-7

Sasaran Pelajaran

1. Murid-murid dapat memahami kedaulatan Allah di dalam sejarah
manusia

2. Meneladani komitmen Daniel terhadap kekudusan di tengah-tengah
dunia yang tidak saleh

3. Murid-murid akan membangun pemahaman dan hubungan yang lebih
baik antara satu dengan yang lainnya

Ayat Alkitab

“Titah ini adalah menurut putusan para penjaga dan hal ini menurut perkataan
orang-orang kudus, supaya orang-orang yang hidup tahu bahwa Yang
Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada
siapa yang dikehendaki-Nya, bahkan orang yang paling kecil sekalipun
dapat diangkat-Nya untuk kedudukan itu.” (Dan. 4:17)

Bacaan Kitab untuk Minggu ini (bagi para guru dan murid)

Dan. 1-7

Latar Belakang Alkitab

Kebijakan Babel untuk membawa para tawanan adalah berbeda dengan
Asyur, yang menggerakkan banyak orang tertentu untuk keluar dan ditempatkan
kembali di negeri ini bersama dengan orang-orang asing. Bangsa Babel hanya
membawa orang-orang yang kuat dan ahli, membiarkan yang miskin dan lemah
tinggal negeri asal, dengan demikian, menempatkan mereka pada posisi-posisi yang
memiliki kekuasaan, sekaligus merebut kesetiaan mereka. Para pemimpin ditawan
ke kota-kota Babel, tetapi diizinkan tingggal bersama, mencari pekerjaan dan
menjadi bagian penting di dalam masyarakat Babel. Banyak orang Yahudi seperti
Daniel, Mordekhai dan Ester memiliki posisi penting di dalam negeri yang berbentuk
kerajaan itu. Kebijakan itu membuat orang-orang Yahudi menjadi bersatu dan setia

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 127

kepada Allah melalui penawanan dan memungkinkan mereka kembali ke negeri asal
pada zaman Zerubabel dan Ezra, seperti yang telah dicatatkan dalam kitab Ezra.

Pemanasan

Apakah yang umumnya dilakukan? (Biarlah murid-murid yang menjawabnya)

– Sebuah kontrak dari pemain sepak bola
– Janji-janji pernikahan
– Sebuah janji dari dokter gigi
– Sebuah persetujuan pinjaman

Semuanya itu merupakan komitmen antara seseorang dengan yang lainnya.
Mereka saling berjanji. Seorang pemain sepak bola berkomitmen untuk bermain
bagi tim tertentu. Mempelai laki-laki dan perempuan berjanji untuk saling mencintai
dan saling setia. Dokter gigi berjanji untuk menyediakan waktu bagi seorang pasien.
Bank menyetujui untuk meminjamkan kredit kepada seseorang yang sepakat untuk
melakukan pembayaran secara teratur.
Komitmen itu penting. Ketika membuat suatu komitmen atas sesuatu atau
seseorang, kalian tidak sedang berkata, “Aku akan melakukannya, bila aku suka” atau
“Aku akan melakukannya , bila itu mudah.” Sebaliknya, kalian sedang berkata “Aku
akan melakukannya, baik suka ataupun tidak suka.” atau “Aku akan melakukannya,
sekalipun itu sulit.”
Pernahkah kalian membuat komitmen untuk sesuatu hal? Apakah kalian tetap
berjalan pada keputusan itu? Sekarang, kita akan melihat seorang tokoh yang begitu
terkenal, Daniel, yang berkomitmen terhadap dirinya sendiri untuk hidup kudus.

Pemahaman Alkitab

Bagian # 1 – Ikhtisar Umum

A. Penulis

Penulis dan tanggal penulisan dari kitab Daniel adalah dua hal yang lebih
sering diperdebatkan dalam Pemahaman Alkitab. Daniel dinyatakan sebagai orang
yang menuliskan kitab ini (Dan. 12:4) dan dia menggunakan otobiografi orang
pertama dalam Daniel 7:2 dan seterusnya. Orang-orang Yahudi Talmud setuju dengan
pernyataan ini dan di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus pun pernah mengutip dari
Daniel 9:27 yang disampaikan oleh Nabi Daniel (Mat. 24:15; Dan. 8:11; 11:31). Fakta
dan kejadian mengenai Daniel disebutkan di dalam Ibrani 11:33-34, yang dikutip pula
dalam kitab Daniel pasal 3 dan pasal 6.
Nama Daniel berarti Allah adalah hakimku. Oleh Raja Nebukadnezar, dia
diberi nama Beltsazar yang berarti Hidupku dilindungi (Dan. 4:8). Tidak ada informasi
mengenai nenek moyang dan kehidupan Daniel yang mula-mula,

128 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

kecuali bahwa dia berasal dari keturunan Yehuda dan keturunan bangsawan (Dan.
1:3-6). Pada usia 16 tahun, Dainel ditawan ke Babel saat Raja Nebukadnezar
mengepung Yerusalem. Dia tetap berada di sana selama 73 tahun dan hidup sampai
usia 90 tahun. Pada periode dari tahun 606-536 SM, Daniel melayani di bawah
tiga pemerintahan kerajaan: Nebukadnezar, raja Babel; Belsyazar, putranya dan
Darius dari Media dan Koresy dari Persia. Ini bertepatan dengan pemerintahan Raja
Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia dari Yehuda.

B. Waktu Penulisan

Beberapa orang meyakini bahwa kitab Daniel ditulis antara bagian akhir dari
kerajaan Babel dan munculnya kerajaan Media (Dan. 1:1-2; 10:1).

C. Tema

Kitab Daniel merupakan ‘kitab Wahyu dari Perjanjian Lama’ menggambarkan
sejarah nubuat yang meliputi banyak hal. Kitab ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian
pertama dimulai dari pasal 1-6, yang membicarakan kehidupan dan pekerjaan
Daniel. Bagian kedua adalah dari pasal 7-12, yang berisi nubuat penglihatan-
penglihatan Daniel selama pemerintahan Belsyazar, Darius dari Media dan Koresy
Raja Persia. Mimpi-mimpi itu secara dramatis menjelaskan rancangan masa depan
Allah, yang bermula dari Babel dan berlanjut terus hingga akhir zaman. Mimpi-
mimpi itu menunjukkan kedaulatan dan kendali penuh Allah atas sejarah dan nasib
manusia. Tema kedaulatan Allah dalam mengendalikan persoalan-persoalan sejarah
dunia dengan jelas terlihat dan memberikan penghiburan bagi gereja di masa depan,
sekaligus kepada orang-orang Yahudi, yang bangsanya telah dihancurkan oleh Babel.
Bangsa Babel, Persia, Yunani dan Romawi akan datang dan pergi, tetapi Allah akan
mendirikan kerajaan-Nya melalui orang-orang tebusan-Nya untuk selama-lamanya.
Kitab ini menekankan pula pada orang yang melakukan pemisahan, dengan
Daniel sebagai contohnya. Daniel merupakan salah seorang dari beberapa tokoh
Alkitab, yang sisi negatif dirinya tidak dicatat. Hidupnya dicirikan dengan iman, doa,
keberanian dan tidak berkompromi. Daniel disebutkan sebanyak tiga kali oleh rekan
sezamannya, Yehezkiel, sebagai teladan dari kebenaran.

D. Pengajaran dari Kitab Daniel

a. Menuju kehidupan yang saleh di tengah dunia yang tidak saleh
Sebagai umat Allah, ciri khas kita adalah kekudusan. Allah menginginkan

umat-Nya untuk menjadi kudus, sama seperti Dia adalah kudus. Kudus berarti
memisahkan diri dan berbeda dari orang-orang yang tidak saleh dan dari
dosa dan pengaruhnya. Yang membedakan kita adalah sifat-sifat Allah hidup
di dalam diri kita. Tetapi, kekudusan tidak datang dengan sendirinya. Memang
mudah untuk dicemari oleh kecenderungan dan pandangan-pandangan dunia.
Bagaimanapun, Daniel adalah seorang yang hidup dalam masyakarat yang
berdosa, tetapi tetap tidak bercela. Dia tetap setia seumur hidupnya dan menjadi
bejana yang berharga untuk dipakai oleh Allah. Bagaimana Daniel memperoleh
dan memelihara kekudusannya?

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 129

i. Dia memahami Allah yang disembahnya
Ulangan 10:17 menggambarkan Allah sebagai “Allah segala allah dan Tuhan

segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat.” Dia adalah Pencipta
alam semesta; kudus, adil, sejati, maha tahu, maha kuasa, maha hadir
dan penuh belas kasih” (Yos. 2:11; Ul. 7:21; Mzm. 116:5). Ketika memiliki
pengenalan yang benar mengenai Allah, kita akan bersikap takut dan hormat
akan Dia. Hasrat kita semata-mata adalah untuk menyenangkan Allah dan
tetap berada dalam batas-batas yang ditetapkan oleh-Nya.

ii. Dia berkomitmen
Setelah membuat komitmen hidup bagi Kristus, kita masih merasakan

tarikan dari belakang kepada cara-cara hidup kita yang lama. Oleh karena
itu, untuk memelihara kekudusan, diperlukan kerja keras dan usaha yang
sungguh-sungguh. Allah menolong Daniel, karena dia membantu dirinya
terlebih dahulu. Daniel bertekad untuk tidak mencemarkan dirinya dengan
makanan dan anggur raja yang berlimpah dan Allah mengizinkan maksud
itu dicapai olehnya. Seringkali, kita ingin menjadi kudus, tetapi tetap pasif
atau terus berada di jalan lama yang sama. 2 Timotius 2:22 menyuruh kita
untuk “jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan
damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan
hati yang murni.” Untuk bertumbuh dalam kekudusan, kita terlebih dahulu
haruslah meninggalkan jalan-jalan yang tidak saleh, lalu mengejar apa yang
berkenan di hadapan Allah. Tuhan Yesus menjelaskan sikap yang harus
kita miliki: “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah
dan buanglah itu. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan
buanglah itu” (Mat. 18:7-9). Kita jangan pernah menganggap ringan dosa
sederhana yang kita perbuat, tetapi sebaliknya, haruslah segera membuang
balok-balok yang membuat kita tersandung dengan tidak bimbang. Dengan
berbuat demikian, kita dapat memelihara kekudusan jiwa, tubuh dan roh
(Why. 17:5; 18:1-4; 1 Tes. 5:23).

iii. Mengandalkan pertolongan Allah
Ketika Allah melihat hasrat kita untuk lebih dekat kepada-Nya, Dia akan

mengulurkan tangan untuk menolong kita. Setelah Daniel bertekad untuk
tidak mencemarkan dirinya, Allah membuat Daniel disukai dan mendapat
belas kasihan dari pemimpin pegawai istana, sehingga dia bersedia
menerima usulan Daniel, sekalipun hal itu dapat mengancam nyawanya
sendiri. Allah pun menyebabkan Daniel dan ketiga sahabatnya memiliki
perawakan yang lebih baik daripada pemuda lainnya. Kita mencapai
kekudusan dan kesempurnaan, bukan hanya melalui usaha sendiri, tetapi
melalui pula kemurahan dan anugerah Allah (Tit. 3:5).

b. Dia berdoa dengan tekun
Seumur hidupnya, Daniel hidup dalam doa yang konsisten. Sekalipun sibuk

dengan tugas-tugas negaranya, tetapi Daniel dengan setia berdoa tiga kali
sehari, bahkan hingga usia 80 tahun (Mzm. 55:17-18; Dan. 9:1-4; 10:12; Ul.
9:18-20; Luk. 2:36-37). Dia berpuasa dan berdoa bagi pemulihan Yerusalem,
umat Allah, dosa-dosanya sendiri dan Yehuda. Saat Daniel tidak memahami
wahyu Allah (pasal 11), dia merendahkan dirinya dan berpuasa selama 21 hari
sebelum akhirnya menerima jawaban dari Allah. Doa-doa kita setiap harinya
dapat membuat rohani menjadi damai sejahtera, oleh karena itu,

130 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama

kita haruslah tekun dan setia di dalam doa. Doa-doa seperti inilah yang
memungkinkan Daniel memenangkan berbagai pencobaan hidup (1 Tes. 5:17;
Flp. 4:6-7; Kis. 12:5,12; Mat. 18:19).

c. Dia setia kepada raja
Seumur hidupnya, Daniel bukan hanya melayani empat kerajaan yang berbeda,

tetapi menduduki pula posisi tinggi di tiap-tiap kerajaan. Raja Nebukadnezar
membuat dia memerintah seluruh propinsi Babel dan menjadi kepala semua
orang bijak. Belsyazar menjadikan Daniel sebagai orang ketiga dari kerajaannya
(5:29). Darius mengangkat Daniel sebagai salah seorang dari tiga pejabat tinggi di
dalam kerajaannya, lalu mempromosikannya menjadi seorang Perdana Menteri
(6:3-4). Selain itu, sesungguhnya semuanya itu merupakan pengaturan Allah;
salah satu alasan keberhasilan Daniel adalah kesetiaannya terhadap atasannya
yang berada di dunia. Daniel tidak melayani untuk keuntungan pribadinya. Saat
Raja Belsyazar menjanjikan Daniel hadiah, kehormatan dan kedudukan karena
telah berhasil menafsirkan mimpinnya, Daniel menjawab, “Tahanlah hadiah
tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku
akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada
tuanku” (Dan. 5:17). Raja Darius menjadikan Daniel sebagai salah seorang
dari tiga pejabat tinggi di kerajaannya, karena mengetahui bahwa Daniel dapat
dipercaya untuk tidak akan membuatnya rugi (Dan. 6:3). Kita haruslah bekerja
dengan tujuan untuk menyenangkan atasan-atasan kita dan membuat orang-
orang yang kita layani menjadi sejahtera. Melalui kerja keras dan kesetiaan, kita
dapat memuliakan Allah dan membiarkan orang lain mengenal Allah melalui diri
kita (1 Pet. 2:14-17; Mat. 5:14-16).

d. Memperhatikan perkara-perkara Allah
Sekalipun hidup mandiri di suatu negeri yang asing, tetapi hatinya tetap berada

bersama dengan rakyatnya di Israel. Daniel merasa sedih, karena kejatuhan
bangsanya dan malapetaka yang terjadi atas Kota Suci. Dia berpuasa dan
berdoa bagi dosa-dosa dari bangsa itu dan memohon, agar Allah mengembalikan
bangsa itu ke negeri mereka sendiri untuk membangun kembali Kota Suci.
Sekalipun mungkin kita menikmati kesenangan dan status di dalam masyarakat,
tetapi hati kita janganlah berada pada perkara-perkara dunia, melainkan pada
perkara-perkara Allah. Ketika di dunia, Tuhan Yesus mengarahkan hati-Nya untuk
melakukan pekerjaan Bapa (Luk. 2:49). Nehemia adalah seorang juru minuman
di kota Susan, tetapi hatinya berada bersama dengan sisa-sisa orang buangan
di Israel. Apakah hati kita condong kepada perkara-perkara Allah? Apakah kita
telah meletakkan perkara-perkara Allah dan saudara-saudari seiman di dalam
hati dan doa-doa kita? (Am. 9:11; Why. 10:11; 2 Kor. 11:28; Rm. 12:1; Ibr. 10:7;
Yes. 6:8).

Bagian # 2 – Pemerintahan Tertinggi berada di dalam Kerajaan Anak Manusia

A. Allah adalah Tuhan atas Bangsa-Bangsa

Tema utama dalam kitab Daniel adalah kedaulatan Allah atas sejarah dan
nasib manusia. Melalui penglihatan dan mimpi yang diungkapkan kepada Daniel,
Allah menunjukkan bahwa kuasa adalah milik Allah dan Dia memerintah atas bangsa-
bangsa (Mzm. 22:29; Yes. 46:9b; Dan. 2:31-45; 7:13-14).

Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama 131

“Dia yang membuat bangsa-bangsa bertumbuh, lalu membinasakannya dan
memperbanyak bangsa-bangsa, lalu menghalau mereka” (Ayb. 12:23).

a. Patung yang amat besar
Bacalah Daniel 2:1-13. Melalui mimpi mengenai patung yang amat besar, Allah

menunjukkan sejarah masa yang akan datang kepada Raja Nebukadnezar,
sejarah mengenai muncul dan jatuhnya kerajaan-kerajaan, bahkan sebelum hal
itu terjadi. Allah menunjukkan bagaimana kerajaan Babel dilambangkan sebagai
kepala yang terbuat dari emas, yang nantinya, akan ditaklukkan oleh kerajaan
Media Persia (tahun 539 SM). Kelak kerajaan Media Persia pun akan dikalahkan
oleh Yunani di bawah pimpinan Alexander Agung pada tahun 334-330 SM (perut
dan paha dari perunggu secara berturut-turut). Kaki dari besi melambangkan
kerajaan Romawi, yang akan menaklukkan Yunani pada tahun 63 SM. Kaki
dan jari kaki dari tanah liat dan besi melambangkan perpecahan dari Kerajaan
Romawi dan semua bangsa yang ada sebelum kedatangan Kristus yang kedua
kalinya. Seperti yang kita lihat sekarang, bansga-bangsa selalu terpecah-pecah
dan tidak dapat bersatu. Batu yang menghancurkan patung yang amat besar
menjadi kepingan-kepingan merujuk pada Kristus yang akan turun dari surga
untuk mendirikan kerajaan surgawi dan menghakimi dunia (2 Pet. 3:10-13).

b. Empat binatang buas
Bacalah Daniel 7:1-28. Dalam penglihatan ini, Daniel melihat empat binatang

buas yang masing-masing melambangkan kerajaan di dunia. Ini sama seperti
mimpi dari Raja Nebukadnezar dalam pasal 2, hanya mimpi ini diceritakan
dari sudut pandang manusia, sementara dalam pasal 7 diceritakan dari sudut
pandang Allah. Singa dengan sayap burung rajawali melambangkan Babel
dengan penaklukkannya yang cepat (telah ada patung-patung singa bersayap
yang telah dibangun setelah kejatuhan Babel). Beruang yang mengalahkan singa
adalah Media Persia. Beruang itu memiliki kekuatan yang besar, tetapi lebih
lambat dalam penaklukannya terhadap bangsa-bangsa. Media Persia memiliki
kekuatan yang besar, tetapi tidak dapat menandingi kesuksesan Babel. Tiga
tulang rusuk yang masih berada di dalam mulutnya melambangkan penaklukkan
Media Persia terhadap tiga musuh utamanya: Babel, Libya dan Mesir (Dan. 8:4).
Macan tutul adalah Yunani. Sayapnya menunjukkan kecepatan pergerakan
Alexander Agung saat menaklukkan berbagai peradaban dunia dalam waktu
empat tahun. Empat kepala macan tutul menunjukkan empat pecahan kerajaan
Yunani setelah Alexander meninggal. Binatang buas keempat melambangkan
Kerajaan Romawi dan akhir zaman. Romawi merupakan sebuah bangsa
yang agresif dan tidak berbelas kasihan, mengatur penganiayaan semaksmal
mungkin untuk menyiksa dan membunuh tawanannya. Bangsa ini memiliki
sepuluh tanduk, yang merujuk pada sepuluh raja. Angka 10 memiliki konotasi
sempurna dan melambangkan segala bentuk pemerintahan pada akhir zaman.
Kemunculan tanduk kecil merujuk pada para penganiaya umat pilihan Allah
pada akhir zaman sebelum Kristus datang untuk menghakimi dunia.

c. Domba jantan dan kambing jantan
Bacalah Daniel 8:1-27. Dalam penglihatan ini, Daniel melihat seekor domba

jantan dengan dua tanduk panjang, yang merujuk pada Media Persia. Tanduk
yang lebih panjang melambangkan makin berkuasanya Persia dalam Kerajaan
Media Persia. Kemudian, datanglah seekor kambing jantang, yang merujuk
pada Yunani dan satu tanduk besar yang aneh di antara kedua matanya

132 Nabi-Nabi dalam Perjanjian Lama


Click to View FlipBook Version