Daftar Isi
1. Terima Kasih – Yayasan Graha Kupu Sidoarjo (Ibu Aulia)
2. Pengantar Pejabat
3. Pengantar Purple’s Notes
4. Tulisan Dokter 1
5. Tulisan Dokter 2
6. Tulisan Dokter 3
7. Benci Yang Indah – Sri Rahma Wati
8. Menerima Dengan Hati – Neneng Santi Djaya
9. Takkan Kubiarkan Sayap Kupuku Patah – Aquilaria_Yuni
10. Biarkan Kupu-Kupu itu Terbang – Diana Yana
11. Mengepakkan Sayap Tittari – Winjani Prita Dewi
12. Gadis Sampul dan Si Wajah Seribu – Muhamad Yusuf
13. Siluet Hati – Hesty Sari Wijiati
14. Seputih Mata Hati - Norhasanah
15. Aku Dan Semangatku – Jasman Rauf
16. Diary Lupus – Isnaini Nur Chasanah
17. Si Topeng – I Made Sudarma
18. Terima Kasih Tuhan – Rosita Susilawati
19. Rahasia Kesembuhan Seorang Odapus – Arbawati
20. Kereta Cita-Cita - Septi Handayani
21. Tiada Hentiku Bersyukur – Fitria
22. Tak Ada Kesempatan Kedua – Aziz Inspire
23. Menunggu Tulisan
24. Menunggu Tulisan
25. Menunggu Tulisan
Pengantar Purple’s Notes
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas terwujudnya buku antologi
“Purple’s Notes” (Catatan Asa Pejuang Lupus). Tak ada yang kebetulan, semua
sudah menjadi kehendakNya
Tak banyak yang dapat disampaikan melalui lisan, kadang sulit untuk menyampaikan,
lidah kaku dan kelu sebatas bibir, suara lirih nyaris tak terdengar, bahkan kadang terganggu
dengan berbagai interupsi yang ada, atau menutup telinga tak mau mendengar. Tak jarang
ucapan pembohong, lebay, pemalas, dan lainnya menerpa, dan sulit diterima. Biarkan jari
jemari menari menuliskannya, karena kami adalah bagian dari kehidupan.
Kegiatan “Katakan Melalui Tulisan” merupakan rangkaian World Lupus Day yang
jatuh pada tanggal 11 Mei 2021 hasil kerja sama Yayasan Graha Kupu dan Best Practice
Indonesia. Semoga menjadi bagian dari solusi, informasi, dan pengetahuan masyarakat.
Perjuangan yang luar biasa dari para kontributor penulis untuk mewujudkan antologi
bahkan diantara mereka ada yang baru pertama kali menulis. Beberapa Odapus, sahabat
Odapus, tenaga medis, pemerhati yang awam terhadap Lupus, tetapi berhasil membuat tulisan
yang membuat nafas sejenak beristirahat, dada sesak, mata berkaca-kaca, bahkan meneteskan
air mata.
Banyak hikmah, pelajaran, dan pengetahuan yang dapat diambil, memberi semangat
dan motivasi untuk menjalani hidup, selalu bersyukur, dan terus berjuang tiada henti. Karena
hidup tidak hanya hari ini. Hidup seperti kupu-kupu yang memberi manfaat bagi bagi bunga
yang tumbuh indah dan berkembang, bagi manusia yang menikmati keindahan warna warni
sayap kupu-kupu.
“Jangan meninggalkan tulisan, hanya di batu nisan”, mari menulis untuk berbagi dan
menginspirasi, karena hidup begitu indah.
Aziz Inspire
Trainer & Coach Writing Skill
Best Practice Indonesia
“Saat keajekan alur hidup yang kau inginkan tak juga nyata,
maka yakinlah Sang Maha Pengatur memiliki hal yang istimewa untukmu
lalui. Sehingga kau semakin tangguh.”
- Sri Rahma Wati
Benci Yang Indah
Oleh. Sri RahmaWati
Kabur dan menikah lagi adalah pilihan Bapak. Bukan karena Emak sudah tidak cantik atau
menua, melainkan karena keistimewaan yang kumiliki. Allah titipkan cinta-Nya padaku
melalui sebuah nama yang epic yakni Lupus. Kehadirannya di tubuhku tak seperti penampilan
Poppy, kekasih Lupus. Sebaliknya ia nampak menyeramkan bagi Bapak, terutama biaya
perawatannya. Ia menyesal telah menikahi wanita yang melahirkanku.
"Mak, Bela sudah merasa enakan. Jadi Emak tak perlu mondar-mandir lagi mencari
tambahan duit ya Mak." Mataku berkaca-kaca menatap wajah Emak yang kuyu kelelahan.
Sungguh kurang ajar rasanya membiarkan Emak begini.
Mengumpulkan uang 100 juta, rasanya sangat mustahil. Apalagi jika dikumpul hanya dari
hasil tukang cuci baju dan bersih-bersih rumah tetangga, serta sore menjual gorengan keliling
kampung setiap harinya. Emak bukan robot dan benciku pada diri sendiri mulai menggelegak.
Aku yang dulunya gadis berkulit putih bak kupasan singkong, tinggi semampai, dan fisik
kuat, serta memiliki mimpi menjadi seorang pramugari. Pupus begitu saja, sebab komplikasi.
Si kece itu telah menyerang paru-paru, ginjal, jantung hingga otakku.
Kini tubuhku seperti gosong akibat ruam-ruam. Badanku terasa sakit luar biasa seperti
habis dipukul setiap harinya selama 8 bulan ini. Semangat untuk meraih cita-cita kandas begitu
saja, padahal aku sudah lolos tes di salah satu maskapai terbang.
"Bela, jangan dustai Emak. Emak tidak apa-apa cari duit untuk Bela berobat." Emak
menggenggam tanganku erat, aku tahu di dalam sana hati Emak sangat sesak.
"Mak, aku berharap ajal menjemputku agar Emak tidak terbebani lagi," aku menatap Emak
lekat dari balik mataku yang layu.
"Astagfirullah, Nak. Istigfar. Bela tak boleh ngomong gitu. Ingat kan kata dokter bahwa
penyakit ini hanya bisa dilawan dengan semangat." Emak terisak, suaranya terdengar naik
sedikit. Mungkin kalimatku telah menggores perih perasaannya.
"Maafkan, Bela ya Mak," ucapku lirih dalam isakan yang sama seperti Emak. Emak
memelukku yang masih terbaring di Single Bed kamar berukuran 3x4 meter persegi milikku.
Dari balik punggung Emak, kuedar pandangan ke seluruh ruangan bercat pink tersebut. Ada
banyak kenangan terdokumentasi dipajang. Korekan ingatan tak akan bisa berhenti. Di antara
pajangan itu, mataku fokus pada salah satu pigura. Sebuah foto keluarga yang bahagia. Senyum
Bapak dan Emak mengembang bangga, ketika toga itu kukenakan. Terutama, saat gelar
wisudawati terbaik dan lulus tercepat disebutkan oleh pranatacara pada upacara wisuda S1
UNY 2019 yang lalu.
***
Seperti hari-hari sebelumnya, aku hanya bisa menjelajahi seisi rumah dengan langkah
perlahan. Sesekali berhenti sebab pusing dan mual yang kadang terasa. Di meja tamu yang tak
jauh dariku, layar HP Emak menyala. Sepertinya ada SMS yang masuk. Tidak ingin kepo,
untuk menjaga privasi Emak.
Tak berselang kemudian, terdengar nada dering panggilan masuk semakin keras. Maklum,
Emak tak selalu pegang HP, apalagi dia super sibuk. Selain merawatku, Emak juga mengurus
Mbah Uti dan Mbah Kakung. Mereka juga tinggal di rumah kami, karena Emak tidak memiliki
saudara kandung.
Dari arah dapur Emak bergegas dan mengangkat HPnya. Ia sesekali sumringah, padahal
balasannya hanya "Njih" beberapa kali. Aku yakin Emak memiliki berita yang bagus. Setelah
menutup teleponnya, Emak pamitan keluar rumah dengan grasah-grusuh.
Sebenarnya aku tak ingin ditinggal sendirian di rumah, ada kehampaan dalam pikiranku.
Bagaimana tidak jika nisan yang tertulis namaku, kapan saja bisa ditancapkan di pembaringan
terakhir. Lusa, besok, hari bahkan detik ini ruhku bisa saja dicabut Sang Malaikat Maut.
Aku mencoba menenangkan diri dan menanti Emak pulang hingga malam menjelang. Benar
saja, Emak sudah balik dan membawa bahan makanan. Tak banyak bicara dia langsung ke
dapur dan memasak.
"Hampir masak, makan ya Nak. Nanti Emak suapin Bela." suara Emak bergetar sembari
tetap mengaduk sayur bening bayam dan labu kuning. Bagaimanapun aku mencoba berjalan
tak bersuara, tetap saja dia tahu kehadiranku.
Aku menyelidik wajah Emak, ketika ia mengusapnya dengan handuk kecil khusus
dipakainya kala masak.
"Mak, tak apa-apa kan?" aku merunduk sedikit ke arah Emak.
"Emak tak apa-apa, Bela. Oh iya, nanti setelah makan Emak mau ngomong sesuatu sama
kamu." Emak mendongak ke arahku dan tersenyum. Kedua bola matanya memerah.
Kuurungkan bertanya kembali, menaati kata Emak. Nanti saja setelah makan.
Ketika kami, Mbah Uti dan Mbah Kakung selesai makan, Emak membawaku ke
kamarnya. Sepertinya yang ingin dia sampaikan penting. Terlihat dari kehati-hatiannya atas
apa yang akan kami obrolkan, tak boleh didengar siapapun. Di bibir dipan dibalut seprai batik
yang dingin, kami duduk berhadapan. Kulerai detak jantungku yang hampir kacau bertanya-
tanya ada apa, dengan menarik napas pelan.
"Bela, kamu tahu Pak Chandra kan?" Emak mulaikan pembicaraannya tanpa basa-basi. Ia
tersipu-sipu, hingga kembangkan senyum yang nampakan deret gigi putihnya. Walau kadar
kecerdasanku mulai berkurang, tetapi tidak dengan naluriku sebagai anak. Aku mengerti arah
pembicaraannya.
"Emak pantas bahagia. Bela senang jika Emak senang." ucapku lembut padanya.
"Tapi, ah sudahlah...." Seketika rona wajahnya berubah, tarikan bibir bulan sabitnya
berubah posisi ke bawah. Dengan rasa baper yang kumiliki, aku menduga Emak
mengkhawatirkanku nantinya. Tak ingin Emak terbebani, aku pasang senyum kembali.
Kemudian memeluknya erat.
***
Udara dari napasku mengembun di ventilator yang sudah terpasang. Terakhir sadar
sebelum ambruk, yakni saat berada di KUA.
Pelan-pelan kubuka mataku. Ada suara isak tangis Emak di samping kananku samar-samar.
Dadaku masih terasa sesak bernapas dan kepalaku pusing hebat. Seandainya bisa kulepas dan
pasang kembali agar bisa rileks, niscaya kepalaku kuperlakukan demikian.
"Ma...k!” Emak menangis sesenggukan. Kecupan bertubi-tubi mendarat di dahiku.
Berulang kali ia ucapkan hamdallah. Sungguh banyak yang ingin kusampaikan dan tanyakan,
tetapi lisanku masih lemah. Kucoba menyapu seisi ruangan, mencari-cari sosok bapak
sambungku, nihil.
Sekitar satu minggu sudah aku menginap di rumah sakit RSUD Kota Yogyakarta. Sedikit
mendingan walau demam masih ada. Oleh sebab itu pula, aku sampai di rapid SWAB test
Covid-19 dan alhamdulillah hasilnya negatif. Bisa jadi demam berkepanjangan ini, disebabkan
kecamuk pikiranku akan biaya nantinya. Walau BPJS kami bisa sedikit meringankan, tetapi
tidak dengan operasi jantungku nantinya.
"Assalaamu'alaikum, Nona Bela Puspita. Bagaimana kabarnya hari ini?" dr. Joko Sutoyo,
DsPd,Ds Jp,FIHA,FASE. Aku auto membalas salamnya. Sejurus pikiranku sempat membaca
namanya di nametagnya. Aku menaikkan kedua alisku melihatnya. Aku mencoba beringsut
untuk membetulkan posisi dudukku di bangsal.
"Ah, pelan-pelan saja ya Nona Bela. Jangan takut dan bersikap formal. Santai saja. Saya
hanya memeriksa sebentar." timpalnya dengan sangat ramah.
"Dok, boleh saya bicara sebentar tentang sesuatu?" tanyaku kepadanya dengan hati-hati. Ia
mengangguk menyetujui. Aku melihat kanan-kiri asistennya. Tanpa memerlukan penjelasan,
dia meminta mereka keluar kamar VVIP itu sebentar.
Menanggapi perkataanku, Pak dokter tersenyum lebar. Ia menjelaskan sesuatu yang luput
aku memikirkannya. Ternyata biaya operasi jantungku nanti sudah dibayar lebih dulu oleh
seseorang. Dia adalah sosok yang sangat kubenci melebihi apapun di dunia ini karena
keputusannya. Tak dinyana. Ya Rabb, ternyata aku sangat salah selama ini.
Tiga hari setelah kejadian itu, operasi jantungku dilaksanakan. Syukurlah berjalan dengan
lancar. Setelah merasa lumayan, aku menanyakan Emak perihal bapak. Bukan penjelasan yang
dia berikan, melainkan sebuah pesan SMS.
Sunarto, 21-4. 16.30.
Assalaamu'alaikum, Laras, apa kabar kamu dan Bela? Aku tahu hal ini tak pantas aku
tanyakan. Biarlah Bela membenciku. Aku juga tidak pantas menerima maaf darimu. Biarlah
cintaku padamu abadi di sini, meski memperbaiki segalanya mustahil sudah. Oh iya, semoga
pernikahanmu barokah saja bersama Chandra.
Mataku ingin sekali mengucurkan beningnya, tetapi Emak membesarkan hatiku.
Seandainya ada benci yang indah, maka tentu itu untuk Bapak.
Bapak mengorbankan cinta pertamanya yaitu Emak, hanya demi menikahi wanita kaya
raya yang sejak dulu mencintai bapak. Bukan demi hasrat dunianya, melainkan untuk dapat
menyembuhkanku. Pengorbanan yang tak masuk akal. Bapak terpaksa menggadaikan hatinya,
demi aku si penyintas Lupus.
Kuala Kurun, 25 Mei 2021
SRI RAHMA WATI
Introver sosial, membuatnya memiliki kreatifitas sendiri, namun merasa akalnya terkuras di
antar pola pikir orang banyak. Wanita kelahiran 6 Juni 1980, berdarah Dayak Ngaju-Banjar
dan lulusan sastra Inggris ini, menulis sudah lekat di hatinya. Jenis tulisan yang pernah ia buat
adalah fiksi dan non fiksi. Beberapa puisi, cerpen serta Best Practicenya pernah menggondol
Juara 2, Juara favorit dan penulis terpilih/terbaik tingkat Nasional maupun Provinsi Kalimantan
Tengah antara tahun 2018-2021. Anggota SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku) IGI Kalteng
dan Guru Bahasa Inggris di SMAN-1 Kahayan Hulu Utara ini, juga telah menelurkan belasan
antologi puisi/cerpen, serta dua buku solo. IG @zhema_purple, FB Sri Rahmawati Bahrun,
WA 081348673391 dan Email. [email protected]
“Ketika kamu merasa bahwa kehidupan telah berlaku tidak adil kepadamu,
menepilah sejenak dan lihatlah ke belakang, pada hari-hari yang telah kamu
lalui. Di sana kamu akan menemukan sisi-sisi kebahagiaan yang telah terlalui
di antaranya. Maka sesungguhnya bukan hidup yang tak adil kepadamu,
namun, kesyukuranmu yang harus ditambahkan”
- Neneng Santi Djaya
Menerima Dengan Hati
Oleh : Neneng Santi Djaya
“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kamu positif menderita Lupus,” suara dokter
Amel yang sebetulnya datar saja seakan berubah seperti jeritan pilu di tengah malam,
meruntuhkan pertahanan diri yang Tasya bangun sejak memasuki ruangan dokter itu.
Hati Tasya bergetar hebat mendengar vonis dari dokter Amel tentang penyakit yang
dideritanya. Rasa sakit yang menderanya beberapa bulan belakangan ini telah menjelma
menjadi vonis dokter. Namun, semua rasa sakit itu tak sebanding dengan sakitnya menanggung
beban berat yang tiba-tiba ditimpakan ke dadanya. Di benaknya terbayang masa depan yang
akan dilaluinya. Semua mimpi dan cita-cita yang ingin dicapai. Tasya merasa terpuruk dan
hancur. Jauh di lubuk hatinya penuh dengan tanya, mengapa Allah timpakan beban seberat ini
kepadanya?
Tasya selama ini dikenal sebagai gadis yang populer. Di kampusnya, Tasya terkenal
sebagai seorang gadis yang cerdas, ramah dan punya banyak teman. Dia juga aktif di berbagai
kegiatan kampus, mulai dari kegiatan masjid kampus, BEM, hingga aktif di himpunan
mahasiswa jurusan.
Siapa yang tidak tahu Tasya, gadis cantik yang suka berjilbab biru, berasal dari keluarga
berada. Tasya setiap hari menyetir sendiri Mitsubishi Expander saat pergi melakukan
aktivitasnya. Namun hari itu, Tasya terduduk lemas mendengar vonis dokter Amel.
Berdasarkan hasil pemeriksaan secara menyeluruh yang dilakukan dokter Amel, akhirnya
Tasya dinyatakan menderita penyakit Lupus.
Penyakit Lupus adalah penyakit autoimmune kronis yang dapat menyebabkan
peradangan di beberapa bagian tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga otak. Lupus bisa
dialami oleh siapa saja, tetapi umumnya lebih sering dialami oleh wanita. Pada kondisi sistem
imun tubuh yang normal, dia akan melindungi tubuh saat terjadi infeksi atau cedera. Namun,
saat seseorang mengalami penyakit autoimmune seperti Lupus, sistem imun tubuh justru
berbalik menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat. Salah satu jenisnya yaitu SLE
(Systemic Lupus Erythematosus) seperti yang diderita Tasya.
Penyebab munculnya penyakit Lupus ini belum bisa diketahui secara pasti. Kombinasi
dari faktor genetik dan lingkungan sering dikaitkan dengan terjadinya penyakit ini. Beberapa
pemicu dari munculnya gejala Lupus adalah paparan sinar matahari, penyakit infeksi, atau
obat-obatan tertentu.
Lupus dapat menyebabkan peradangan di berbagai organ tubuh. Hal ini menyebabkan
gejala lupus bisa beragam dan berbeda antara satu penderita dengan penderita lain. Meski
demikian, terdapat sejumlah umum yang bisa terjadi, yaitu: nyeri dan kaku sendi, ruam di kulit
terutama di pipi dan hidung, kelelahan yang tidak diketahui sebabnya, kulit lebih sensitif
terhadap sinar matahari, penurunan berat badan, demam tanpa sebab yang jelas, pucat pada jari
tangan atau jari kaki dan sering sariawan.
Semua gejala itu dialami oleh Tasya dan atas anjuran dari dokter, Tasya lalu melakukan
pemeriksaan lengkap di sebuah rumah sakit dengan pengawasan dari dokter Amel. Hasilnya,
Tasya positif mengidap penyakit Lupus. Dunia Tasya yang tadinya penuh warna mendadak
berubah menjadi gelap. Wajah cantiknya kini dihiasi ruam yang membentuk seperti sayap
kupu-kupu. Itulah mengapa penyakit ini juga sering disebut dengan butterfly rash.
Tasya juga semakin sensitif terhadap paparan sinar matahari meskipun setiap hari dia
selalu mengendarai mobilnya sendiri ke mana-mana, ditambah selalu memakai baju panjang
bersama jilbabnya. Namun, ternyata penyakit ini tak pandang bulu, bisa terjadi kepada siapa
saja. Akibatnya, Tasya yang tadinya lincah dan enerjik kini terpaksa harus mengubah
aktivitasnya sehari-hari demi untuk mencapai kesembuhan dari sakit yang dideritanya.
Tasya mengajukan cuti dari kegiatan perkuliahan dan memilih fokus untuk menjalani
proses pengobatan penyakitnya yang entah sampai kapan akan berakhir. Beruntung Tasya
berasal dari keluarga berada, sehingga tak menjadi masalah baginya menjalani berbagai
pengobatan yang mahal. Tasya juga bisa memilih rumah sakit yang terbaik untuknya berobat.
Namun, itu semua tidak menjamin kesembuhan yang diharapkan bisa segera terwujud.
Sejak menderita Lupus, Tasya jadi sering mengeluh dan merasa sedih, mengapa Allah
tidak juga memberikan kesembuhan kepada dirinya. Tasya merasa telah kehilangan begitu
banyak hal dari waktunya yang berharga akibat sakit ini. Tasya merasa Allah tidak adil, karena
dia selama ini selalu berusaha menjadi orang yang baik, namun mengapa tetap diberikan ujian
seberat ini. Mengapa tidak para penjahat saja yang mengalaminya, mengapa harus dia?
*****
Hampir lima bulan berlalu dan Tasya masih rutin melakukan pengobatan penyakitnya.
Suatu ketika Tasya sedang mengunjungi dokter yang merawatnya, Tasya bertemu dengan
seorang penderita Lupus yang telah mengalami sakitnya selama tiga tahun. Tasya menyapanya
dengan sebutan Kak Rani. Lewat Kak Rani, Tasya diperkenalkan pada sebuah komunitas yang
terdiri dari para penyintas Lupus. Tasya sangat senang bisa bergabung di komunitas ini karena
merasa seperti mendapat teman yang senasib dengan dirinya. Tasya akhirnya ikut aktif terlibat
dalam kegiatan komunitas ini.
Suatu hari setelah Tasya bergabung dengan komunitas itu kurang lebih selama sebulan,
ada sebuah kegiatan ceramah mengenai penyakit Lupus di komunitas tersebut di gedung
Balaikota. Tasya dengan gembira ikut menghadiri karena selain akan mendapat pengetahun
tentang penyakitnya, dia juga bisa bertemu dengan sesama penyintas Lupus. Ketika waktu
break tiba, Tasya bergegas ke toilet untuk menunaikan hajatnya yang ditahan selama ceramah
tadi. Dia merasa sayang meninggalkan ruangan ceramah karena materi dan yang membawakan
materi sama-sama bagus.
Tasya merasa lega setelah menunaikan hajatnya. Saat akan kembali ke ruangan tiba-
tiba ada seseorang yang menyapanya, “Kak, maaf, mau beli keripik ini?”. Tampak seorang ibu
muda yang menggendong anaknya yang masih balita serta sebuah tas besar berisi keripik yang
dijajakannya.
Tasya menghentikan langkahnya dan menatap iba kepada ibu tersebut. Lalu dia
bertanya, “Berapa harganya, Mbak?”
“Yang bungkus besar lima belas ribu dan bungkus kecil sepuluh ribu,” jelas ibu itu
antusias karena Tasya menyambut tawarannya. Sejak tadi dagangannya belum ada yang terjual
satupun.
“Yuk, duduk di bangku itu, Mbak, saya mau beli,” ajak Tasya kepada ibu muda itu.
Keduanya lalu melangkah ke sebuah bangku panjang di selasar gedung.
“Namanya siapa, Mbak? Mbaknya sudah lama jualan di sini?” tanya Tasya hati-hati
setelah mereka duduk.
“Saya Irma, Kak. Setiap ada acara dari komunitas ini, saya selalu datang juga untuk
berjualan. Lumayan, untungnya bisa untuk bantu berobat,” jelasnya malu-malu.
“Berobat? Memangnya siapa yang sakit, Mbak Irma?” tanya Tasya heran sambil
menebak-nebak apakah ibu muda ini juga penyintas Lupus.
“Eeehhh, saya Kak, yang sakit. Saya juga menderita Lupus, Kak, Tapi karena saya tidak
punya banyak uang, setiap menjelang tiba waktunya berobat saya harus berusaha lebih keras
mendapatkan uang, supaya obat yang harus saya minum bisa terbeli oleh saya,” jelasn Irma
dengan suara pelan. Tangannya selain sibuk memilah-milah keripik jualannya, sesekali
mengusap lembut kepala gadis kecil yang tengah tertidur di dalam gendongannya.
Tasya tertegun mendengar kata-kata ibu muda tersebut. Tanpa sadar dia lalu bertanya,
“Loh, memangnya ke mana suami Mbak Irma? Masa Mbak harus cari uang sendiri untuk
berobat?”
Ibu muda itu tertunduk mendengar pertanyaan Tasya. Gerakan tangannya yang sedang
merapikan dagangannya terhenti. Dia lalu menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan
Tasya, “Suami saya pergi meninggalkan saya begitu saja, sejak saya divonis Lupus. Dia
kecewa karena saya menderita sakit yang berat ini dan merasa tidak mampu untuk membiayai
pengobatan saya, karena pekerjaannya yang hanya serabutan. Saya dan anak saya
ditinggalkannya sejak setahun yang lalu. Karena kedua orang tua saya juga sudah meninggal
dan saya tidak punya saudara kandung, akhirnya saya harus pasrah menerima semua ini dan
berusaha sendiri mencari uang untuk mengobati penyakit saya”.
Tasya tercenung mendengar cerita Irma. Tak sadar dia lalu teringat kepada dirinya
sendiri yang juga sama-sama penyintas Lupus namun keadaannya berbeda 180 derajat dengan
Irma. Tasya tak pernah mengalami kebingungan seperti Irma setiap tiba waktunya untuk
berobat. Papa selalu menjamin proses pengobatannya berjalan dengan lancar dan selalu
berusaha mendapatkan obat yang paling sulit dicari sekalipun demi kesembuhannya. Tentu saja
hal ini tidak menjadi masalah bagi papanya yang seorang pengusaha ternama di negeri ini.
Namun, ternyata ada penyintas Lupus yang harus berusaha keras mendapatkan uang
agar bisa mengobati penyakitnya. Tasya merasa berdosa ketika teringat dulu di awal sakit
dirinya sempat menyalahkan Allah yang telah merenggut kehidupannya yang menyenangkan
dengan memberi ujian berupa sakit ini. Nasihat dari Mama yang memintanya untuk ikhlas
menerima serta bersabar menjalani pengobatan sering dibantahnya.
Setelah bertemu dengan Irma, Tasya jadi membayangkan bagaimana bila dirinyalah
yang berada dalam posisi Irma. Betapa berat hidup yang dijalani Irma. Selain harus berjuang
sendiri mengobati sakit yang diderita, dia juga harus membesarkan putrinya sendiri karena
suaminya kabur dari tanggung jawab. Sementara Tasya sendiri, dia merasa tak ada yang
berubah drastis dalam kehidupannya. Dia masih bisa sesekali pergi berbelanja ke mall bersama
Mama. Masih bisa membeli makanan sehat untuk membantu menjaga kondisinya agar segera
sembuh dari Lupus. Bahkan bulan depan Tasya sudah bisa kembali ke kampus karena
penyakitnya mulai bisa diajak kompromi. Hanya saja dia tetap harus mengurangi aktivitas lain
yang bisa menimbulkan kelelahan.
Tasya kini sadar, bahwa Allah bukannya tidak adil. Allah yang paling tahu keadaan
hamba-Nya dan tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Tasya teringat nasihat Mama, agar
menerima semua ketentuan Allah dengan hati. Ketika hati menerima dengan lapang maka
lapang jugalah jalan yang terbuka di depan. Allah tidak akan menimpakan sebuah beban
kepada seseorang melebihi kemampuan orang itu sendiri. Kata Mama, orang-orang yang diberi
penyakit Lupus adalah orang-orang yang istimewa, karena mereka terpilih untuk menjalani
sebuah ujian yang belum tentu setiap orang bisa melewatinya.
Maka, bekal yang paling tepat untuk menjalaninya adalah menerima semua ketentuan
Allah dengan hati. Semoga dengan keikhlasan hati dalam menerimanya akan berbuah kebaikan
yang besar di kemudian hari. Keep fight and stay strong.
*****
Neneng Santi Djaya, perempuan berkaca mata minus ini suka menulis sejak masih duduk di
bangku kuliah di UI. Baginya definisi bahagia itu sederhana, sesederhana bisa menuangkan
aksara dalam bentuk tulisan bermakna, yang kini telah tercetak dalam lebih dari 35 buah buku
antologinya. Sebuah pencapaian yang tak disangka, sejak kembali menulis di tahun 2018 lalu.
Menulis baginya adalah obat bagi keresahan jiwa, menuangkan isi hati serta melepaskan
imajinasi menjadi nyata. Ingin kenal lebih jauh dengannya, mampirlah di
ummiwordworld.blogspot.com dan myliteracyjourneys.blogspot.com. Di sana banyak tulisan
penggugah jiwa yang menyentuh hati yang bisa ikut dibaca. Jangan lupa follow juga IG
@nengsantidj dan FB Neneng Ummu Afina lathifah.
“Takkan kubiarkan Lupus merenggut masa depanku. Kan terus kukepakkan
sayap kupuku. Asaku takkan bertepi. Takkan pupus oleh Lupus.”
- Aquilaria_Yuni
Takkan Kubiarkan Sayap Kupuku Patah
(Asa Tak Bertepi)
Oleh: Aquilaria_Yuni
Terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Aku, anak ketiga dari empat bersaudara.
Kesemuanya perempuan. Tak pernah sekalipun terbayang akan bersahabat dengan Lupus
seumur hidupku. Penyakit yang kata orang, penyakitnya orang kaya. Biaya pengobatan Lupus
yang tidak murahlah yang membuat orang beropini bahwa Lupus adalah penyakitnya orang
kaya.
***
Sejak kecil seringkali merasakan ngilu di kaki, paling parah ketika hujan akan turun.
Suhu udara terasa sangat dingin. Memperparah ngilu di kaki. Berlanjut ketika mulai masuk
pesantren. Selepas SD ibu memintaku melanjutkan study di pesantren.
Pesantren tempatku menimba ilmu selepas SD terletak di daerah yang dikelilingi bukit.
Keadaan udara lebih dingin dari tempat tinggalku. Dan ini, berpengaruh sama ngilu kakiku,
menjadi lebih sering ngilu dan lebih parah.
Tahun ketiga di pesantren, pernah sampai tak bisa berjalan karena lutut meradang,
bengkak. Selalu kutahan rasa nyeri dan sakit di persendian. Tak pernah mengeluh. Berusaha
untuk bersikap baik-baik saja. Ku yakin sakit yang kurasa akan segera membaik.
Tak cukup hanya nyeri kaki dan persendian. Setahun setelahnya muncul gejala lain.
Tiba-tiba demam tinggi tanpa sebab. Seringkali pingsan di tengah-tengah melakukan kegiatan
rutin harian. Selalu silau berlebihan jika terpapar sinar matahari. Rambut perlahan-lahan
rontok. Akan tetapi, tetap tak kuhiraukan keluhan-keluhan yang terus bertambah. Tetap
kuyakani semua keluhan akan membaik dan hilang seiring berjalannya waktu.
Ternyata semua itu salah, kondisiku terus memburuk. Awalnya keluhan kubiarkan saja,
akhirnya terpaksa harus diperiksakan ke dokter karena sangat mengganggu study-ku.
Seringkali bolos sekolah karena tiba-tiba badan menggigil, demam tanpa sebab. Kepala berat
sehingga tak kuat berdiri, harus berbaring.
“Ukhty (saudariku), kok anti (kamu) pucat sekali? Anti sakit ya?” tanya temanku suatu
ketika, saat kamu berjalan bersama menuju kelas.
“Apa iya, Ukh?” ku balik bertanya, “agak pusing sih, tapi ga papa ana masih kuat kok,”
lanjutku.
Sambil sentuh dahiku temanku kembali berujar, “Nah kan, Ukh, anti demam? Bibir anti
juga merah banget itu. Ayo! Ana antar anti balik ke kamar. Istirahat dulu.”
Begitulah kondisiku yang tak pernah bisa diprediksi. Tiba-tiba demam, tiba-tiba
pingsan. Yang akhirnya, bolos sekolah karena tak kuat menahan sakit kepala dan demam
tinggi.
Awal ke dokter, dokter tak menjelaskan sakit yang menyebabkan keluhan-keluhan
muncul. Beliau hanya memeriksa lalu memberikan obat. Dua pekan sekali izin pulang untuk
periksa ke dokter. Dengan izin Sang Maha Kuasa, setiap habis dari dokter dan minum obat
selalu membaik kondisiku. Jadi, setiap hari harus meminum obat demi bisa beraktivitas dengan
baik.
Selesai study-ku di pesantren, melanjutkan kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri
(PTN) di kotaku. Dukungan mengalir dari berbagai pihak, meskipun dari keluarga ekonomi
menengah ke bawah, Bapak hanya seorang buruh tani, Ibu tidak bekerja. Keluargaku sangat
mendukungku untuk kuliah. Bahkan, rasa bangga juga kudapati dari Bu Nyai pemilik pesantren
tempatku menimba ilmu.
“Nduk (panggilan anak perempuan suku Jawa), Alhamdulillah, selamat ya. Kamu
membuktikan bahwa anak lulusan pesantren juga bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
Kamu patahkan stigma orang yang anti pesantren, bahwa anak pesantren akan sussah masuk
PTN. Kamu tetap semangat ya, sering sakit jangan jadikan halangan untukmu melanjutkan
study,” ujar Bu Nyai Iffah ketika kusampaikan hasil pengumuman SNMPTN.
“Inggih (Iya), Bu. Pangestinipun (Mohon doanya), semoga Allah berikan kelancaran
dan kemudahan untuk saya dalam belajar,” Aku menanggapi ucapan selamat dan nasihat Bu
Nyai-ku.
Kuliahku berjalan lancar. Meskipun, semester pertama nilaiku kurang memuaskan.
Merasa kesulitan di awal kuliah. Menjadi sosok yang sulit beradaptasi juga menjadi salah satu
kendalaku di awal-awal kuliah. Ketika kesulitan memahami materi kuliah, aku malu untuk
bertanya. Bersyukur teman-teman kuliah semuanya baik. Mereka tak pernah meninggalkanku
meskipun aku anak yang kuper (kurang pergaulan).
***
Berawal saat memasuki semester tiga, nyeri sendi kembali menghampiri. Sakit kepala
juga hampir tak pernah absen menyambangiku. Kelelahan hebat juga mulai menyusahkan
pergerakanku. Jadwal kuliah yang semakin padat, membuatku seringkali merasa sangat letih.
Ditambah lagi, jika merasa sangat lelah, sesak napas berpartisipasi menyambangiku. Entah,
apa sebenarnya sakit yang kuderita. Banyak sekali rasa sakit yang hadir.
Rasa sakit yang semakin menyiksa, membuatku mulai frustasi. Muncul butterfly rush
di hidung, memperparah frustasiku. Kian hari keluhan terus bertambah, sesak napas terhitung
sering. Keluhan mata yang awalnya tidak ada, juga tak ketinggalan turut berpartisipasi
menyapaku.
Selain frustasi, timbul keinginan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.
Insecure, merasa tak berguna. Bahkan, muncul pikiran bahwa aku bukanlah anak kandung
orang tuaku. Keadaan fisik yang sangat berbeda dengan ketiga saudariku. Mereka sehat, sangat
berbeda denganku, menguatkan prasangka bahwa aku bukanlah anak kandung orang tuaku.
Tak kuat dengan tumpukan pikiran negatif di kepala, membuat rencana untuk kabur
dari rumah dengan tujuan mencari orang tua kandungku.
Suatu ketika, berangkat kuliah diantar paman.
“Sampai sini saja, Paklik. Kulo tak mampir ke kosan teman. Kami janji berangkat
bersama ke kampus,” pintaku ke paman.
“Lhah? Kan masih jauh? Ga papakah jalan kaki?” Heran pamanku bertanya padaku.
“Ga papa, Yuni sudah kadung janji sama teman Yuni,” jawabku.
Pamanku melanjutkan perjalanan kek kantornya. Rencana kabur pun terlaksana.
Setelah pamanku menjauh dan tak lagi terlihat olehku, kuhentikan angkot yang menuju
terminal.
“Terminal ya, Bang!” seruku pada sopir angkot.
“Siap, Mba,” jawabnya.
Sampai terminal kusambung perjalananku menggunakan angkutan lain, sebuah bus
dengan tujuan kota tetangga. Tujuan kaburku adalah rumah salah satu teman ketika kami sama-
sama menjadi santri.
Satu setengah jam lama perjalanan, sampai tempat yang kutuju.
“Assalamualaikum!” Sambil kuketuk pintu salam terucap dari bibir.
Dua kali salam terucap, belum ada tanda-tanda temanku akan membuka pintu. Kutahan
mata ini mengintip jendela kaca yang berdampingan dengan pintu. Adab bertamu yang
diajarkan Rosulullah Muhammad SAW. hendaknya kita memang tidak mengintip keadaan di
dalam rumah yang dikunjungi. Karena sudah dua kali, jika ketiga kalinya masih juga tidak
dibukakn pintu aku pergi ke tempat temanku lainnya yang masih di satu kota.
Dalam Islam juga diajarkan, jika bertamu, tiga kali salam dan tidak ada jawaban, maka
hendaknya pergi dan tidak mengucapkan salam keempat kalinya. Karena, bisa jadi tuan rumah
sedang tidak ada di rumah, sedang istirahat, atau juga sedang tidak ingin menerima tamu.
Tak lama setelah salam ketiga, temanku jawab salamku dari dalam rumah.
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” jawabnya.
Dibukanya pintu dan mempersilakanku masuk, terlihat raut muka terkejut dan senang
dari Husnul melihat ternyata tamu yang mengucapkan salam adalah aku. Cukup lama kami tak
bersua, semenjak lulus pesantren kami tak pernah bertemu.
“Husnul, boleh ya aku nginap beberapa hari di sini? Jangan diusir ya, aku?” Dengan to
the point aku meminta izin Husnul, sahabatku.
“Jangankan beberapa hari, beberapa bulan, bertahun-tahun pun anti mau tinggal di sini,
monggo. Jangan khawatir ana usir. Anti aman di sini, ga bakalan kepanasan, kedinginan, atau
kelaparan.” Kelakarnya menanggapi permintaan yang lebih bermakna permohonanku.
Sahabatku sama sekali tidak menaruh curiga bahwa sebenarnya aku kabur dari rumah.
Sampai hari kedua berada di rumah Husnul, kakak pertamaku menelepon. Saat takut-takut
kutekan tombol hijau di telepon genggamku, menerima panggilan telepon dari kakakku, di situ
Husnul mulai curiga.
“Assalamu’alaykum. Yun, kamu sekarang langsung pulang. Bapak, Ibuk, bingung cari
kamu ga tahu di mana. Kamu sekarang di mana,” ucap Mbak Shofa, kakakku di telepon tanpa
menungguku menjawab salamnya.
“Waalaykumsalam, Mba. Yuni ada di rumah teman. Inggih, Yuni segera pulang hari
ini juga,” jawabku.
Lama Mbak Shofa menasehatiku dalam percakapan telepon, lalu ditutuplah panggilan
teleponnya. Akupun setelah selesai menerima telepon bercerita bahwa aku kabur dari rumah.
Sambil menangis kuceritakan semua pada Husnul, apa yang membuatku kabur dari rumah.
Dengan sabarnya Husnul menasehatiku, tanpa sedikitpun menyalahkan keputusanku kabur dari
rumah. Dan itu, membuatku menjadi tenang.
Kuputuskan segera kembali pulang. Perjalanan pulang kembali ke rumah hanya butuh
waktu 1 jam.
Ibuk menangis menyambutku. Reda dengan tangisannya Ibuk memintaku, duduk dan
mendengarkan apa yang akan beliau sampaikan.
Ternyata setelah meneleponku, kakakku kembali menelepon Ibuk. Menjelaskan tentang
sakit dan keluhan-keluhan yang kurasakan. Beliau mencurigai adanya Lupus di tubuhku.
Kakakku membaca sebuah artikel di internet tentang Lupus dan gejala-gejalanya. Mirip sekali
dengan keluhan-keluhan yang kurasakan.
Akhirnya, diputuskan untuk melakukan pengobatnaku di Jakarta. Dengan berbekal
informasi yang didapat dari ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI), Mba Tiara Safitri kami
dianjurkan periksa ke Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM. di salah satu RS swasta di
bilangan Jakarta Pusat.
Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, tepat di bulan Maret 2007, resmi
ditegakkan Lupus hinggap di tubuhku. Seketika dunia serasa berhenti berputar. Tidak terima
dengan apa yang disampaikan Prof. Zubairi.
Dukungan keluarga terus mengalir. Perlahan bisa kuterima anugerah terindah dari Sang
Maha Kuasa, berupa hinggapnya Lupus di tubuhku.
Ketika mulai kuterima kehadiran Lupus. Muncul masalah lain. Dosis
methylprednisolone (obat golongan kortekosteroid) yang tinggi membuat perubahan fisik yang
sangat kentara. Berat badan yang meningkat karena nafsu makan menggila, moonface (pipi
tembam), bruntusan, timbul jerawat kecil di wajah, yang tak pernah berjerawat, rambut rontok,
mudah sekali lebam. Membuatku kembali bersedih. Minum obat tak membuatku lebih baik,
malah merusak penampilanku.
Kembali dukungan keluarga terus menumbuhkan semangatku.
“Kamu pilih merasakan dampak minum obat yang hanya sementara atau kamu pilih
sakit terus menerus karena kamu memilih berhenti meminum methylprednisolone?” tanya
kakak iparku suatu ketika. “Kamu ingat kan? Prof. Zubairi menyampaikan, bahwa dosis
methylprednisolone akan diturunkan dengan membaiknya peradangan yang terjadi di
tubuhmu?” lanjutnya.
Kurenungkan pertanyaan yang isinya lebih ke nasihat dari iparku.
Terus kupupuk semangatku, tekadku , tak boleh menyerah pada Lupus. Lupus bukan
akhir segalanya. Bertekad untuk terus mengukir prestasi meskipun ada Lupus hinggap di
tubuhku.
Perlahan tumbuh semangat dalam diriku. Perlahan kondisiku terus membaik.
Takkan kubiarkan Lupus merenggut masa depanku. Kan terus kukepakkan sayap
kupuku. Asaku takkan bertepi. Takkan pupus oleh Lupus.
A story by Aquilaria_Yuni
Aquilaria_Yuni adalah nama Pena dari Yuni Fitriyah. Kegiatan sehari-harinya adalah
mengajar di SD swasta SDIF Baitul Izzi di sebuah desa di Kabupaten Jember. Ini adalah
antologi ketiganya, dan ketiga tulisan bertemakan kisah hidupnya dengan Lupus. Satu di
antaranya hanya kisah fiksi yang berasal dari imajinasinya dan dua ceritanya real kisah
hidpunya yang dia rangkum menjadi kisa fiksi. Seiring kemampuan membacanya muncul
hobby membacanya juga tumbuh. Dari hobby membacanya tersebut, tumbuh keinginan untuk
bisa menulis. Akan tetapi, keinginan hanya dibiarkan menjadi keinginan dalam waktu yang
sangat lama. Semenjak divonis Lupus, keinginan untuk menulis kembali muncul ke
permukaan. Sampai akhirnya dengan izin Allah di akhir 2020 lahir dua antologi fiksi yang
bertemakan Lupus, Dan saat ini, lagi-lagi Allah izinkannya bersua di dunia maya dengan
penulis-penulis hebat hingga terbit antologi ini.
“Banyak cara Allah menyayangi hamba-Nya, salah satunya melalui ujian yang
diberikan. Meski tubuh ini rentan, namun jiwa dan semangat harus tetap ada
untuk wujudkan mimpi agar hidup lebih berarti. Keyakinan yang akan
membuat kita kuat melewati berbagai badai kehidupan. Hanya Allah motivator
dalam menjalani kehidupan. Dan Dia selalu ada untuk kita. Allah sejatinya
selalu ada untuk kita, Dia takkan pernah meninggalkan kita. Namun kita lah
yang kadang melupakan-Nya dan pergi menjauh.”
- Oleh Diana Yana
-
Biarkan Kupu-Kupu itu Terbang
Oleh Diana Yana
Kania membetulkan letak kaca matanya yang sedikit turun. Gadis manis berambut
panjang berkacamata minus satu itu begitu tampak bersemangat. Peluh yang mengalir di kedua
pelipisnya tak dihiraukannya. Dari gazebo di pinggir lapangan ia meneriakkan yel-yel tim
futsal kelasnya yang sedang bertanding di lapangan dalam rangka class meeting. Ia bersama
beberapa temannya memang diberi tugas menjadi suporter kelasnya saat bertanding. Tugas itu
dilaksanakannya dengan senang hati, demi solidaritas kelasnya. Ini adalah tahun ketiga class
meeting yang mereka ikuti, karena beberapa bulan lagi mereka akan mengikuti ujian akhir
sekolah tingkat SMA. Sehingga mereka berambisi untuk mempertahankan sebagai tim terbaik
di sekolahnya untuk yang ketiga kalinya.
Sepintas tidak ada yang salah dengan Kania, ia anak yang aktif dan ceria mewakili
karakter remaja seusianya. Tapi siapa sangka untuk menjadi Kania yang tampak seperti
sekarang banyak moment yang harus dilaluinya. Siapa sangka pula kalau dulu ia pernah punya
keinginan untuk segera mengakhiri hidupnya, akibat kelainan yang dideritanya. Semua berawal
dari lima tahun yang lalu saat dokter mendiagnosis ia memiliki kelainan autoimun, yang biasa
dikenal orang dengan Lupus. Saat itu Kania masih duduk di bangku kelas VII. Sebuah masa
yang seharusnya menjadi moment yang sangat seru, karena baru memasuki masa remaja yang
penuh petualangan. Namun justru di saat itu Kania harus menghentikan semuanya.
“Yuppy, aku mau ke kelas dulu, ya. Kamu jaga konsumsi kita, ya,” kata Kania pada
Yuppy yang asyik mengikuti jalannya pertandingan.
“Oke …, jangan lama-lama, ya,” ujar Yuppy.
Kania bergegas menuju kelas. Tiba di depan kelas, ia berhenti. Ia melihat seekor kupu-
kupu berwarna warni sangat menawan. Kupu-kupu itu hinggap di sebuah bunga dahlia. Ia
tertegun melihatnya. Ingatannya seakan membawanya kembali pada masa beberapa tahun
silam.
***
“Kania, cepat kemari. Itu kupu-kupunya ada di sana!” teriak Tito, teman sekelasnya.
Tergopoh-gopoh Kania menuju ke arah yang ditunjukkan Tito. Panas matahari yang
menyengat tak lagi dirasakannya, ia terus berusaha menangkap kupu-kupu yang bakalan
menjadi pelengkap tugas IPA dari gurunya. Namun tiba-tiba Kania merasakan, kepalanya
mulai berdenyut hebat, napasnya terasa sesak di dada. Sebuah cairan dirasakannya keluar dari
kedua lubang hidungnya yang kemudian ia usap menggunakan lengan bajunya. Kania terkejut
karena yang lihatnya adalah darah segar.
“Tito … Tito …!” teriak Kania histeris.
Tito yang berada di sisi yang lain segera menghampiri Kania. Tito pun panik melihat
kondisi Kania yang terlihat sangat kesakitan. Wajah Kania pun tampak memerah. Beruntung
ada seorang penggembala kambing yang sedang duduk tak jauh dari situ, sehingga bisa
membantu mengantar Kania pulang ke rumah.
Kejadian ini sebenarnya bukannya yang pertama, sebelumnya Kania pernah beberapa
kali mengalami ini. Tubuhnya memang mudah lelah. Kalau sudah lelah pasti diikuti demam
tinggi dan sakit kepala. Beberapa kali orang tua Kania memeriksakannya ke dokter, namun
setiap kali itu pula dokter mengatakan kalau itu hanya faktor kelelahan atau beberapa kali pula
dokter mengatakan jika Kania menderita gejala tifus. Untuk yang terakhir ini ia pernah dua kali
diopname selama beberapa hari.
Namun kondisi kali ini tampaknya lebih parah, misisannya tidak juga berhenti padahal
sudah hampir 15 menit diberikan pertolongan pertama oleh ayahnya. Tidak mau mengambil
resiko orang tuanya melarikan ke Rumah Sakit terdekat. Begitu masuk IGD, Kania tidak
sadarkan diri. Ia sudah tidak tahan lagi dengan sakit yang dirasakannya, napasnya pun terlihat
sangat kepayahan. Dokter segera memberikan pertolongan, dokter mengharuskan Kania
diopname untuk diobservasi.
Esoknya serangkaian pemeriksaan laboratorium pun dilakukan. Sehari kemudian dokter
menyampaikan hasilnya. Sebuah kenyataan yang sama sekali tidak diingkan oleh siapa pun.
Dokter menyimpulkan jika Kania saat itu menderita Lupus. Banyak hal yang disampaikan oleh
dokter tentang kelainan ini kepada orang tuanya dan juga Kania, agar tidak salah memahami
kelainan ini. Dari sekian banyak hal yang disampaikan oleh dokter, ada informasi yang
membuatnya hilang semangat hidupnya. Kania ingat betul bahwa kelainan ini tidak ada
obatnya, seumur hidup harus minum obat, dan kelainan ini akan disandangnya seumur hidup.
Hancur hati Kania mendengar itu semua. Ia membayangkan akan hidup sebagai orang
yang sakit. Tidak bisa beraktivitas seperti dulu lagi. Lalu bagaimana ia bisa hidup dengan
kondisi seperti itu? Apakah teman-temannya akan tetap menerima dirinya? Itulah pikiran yang
menghantuinya di hari-hari berikutnya.
Tahun pertama sungguh sangat berat ia lalui. Kania berubah 180 derajat dalam
kesehariannya. Kania yang dikenal sebagai anak yang ceria, energik, bersemangat, dan
berprestasi. Berubah menjadi gadis yang tak memiliki semangat hidup, pemurung, menjauhkan
diri dari pergaulan, dan cenderung menarik diri dari berbagai aktivitas. Dari sisi emosional ia
pun menjadi gadis yang mudah marah dan tersinggung. Hal ini diperparah lagi dengan sikap
beberapa temannya yang mengatakan bahwa dirinya hanya pura-pura sakit agar mendapat
keringanan dari guru untuk absen dari beberapa aktivitas. Meski pendapat yang terakhir ini
dapat ia maklumi, memang dalam kondisi Lupus tidak aktif ia kelihatan seperti orang yang
sehat. Ya, inilah kondisi terburuk dalam hidup Kania.
Dalam kondisi yang itu keluarga dan orang-orang terdekat yang berperan besar
menyemangatinya.
“Kania, harus semangat ya, Nak. Allah itu tidak pernah menciptakan sesuatu itu sia-sia,
termasuk Lupus. Kondisi yang ia titipkan pada Kania pun begitu adanya, Allah sayang sama
Kania,” kata bundanya suatu ketika.
“Sayang? Nggak, Bunda. Allah tidak sayang sama Kania. Kania kehilangan teman,
kesempatan ikut kegiatan. Allah ambil kesehatan Kania. Allah tidak sayang Kania. Kania ingin
rasanya ingin mati saja, Bunda. Kania ngga tahan dengan semua ini!” protes Kania sambil
menangis.
“Astaghfirullah, Kania … istighfar, Nak. Ngga boleh Kania berburuk sangka sama Allah.
Allah sayang sama Kania. Melalui kondisi Kania saat ini, Allah ingin selalu disebut. Allah
ingin Kania selalu dekat dengan-Nya. Kania, Bunda yakin Kania kuat. Ayah dan Bunda selalu
mendampingi Kania. Bunda tahu Kania anak hebat dan kuat seperti sebelumnya. Satu hal lagi,
Kania … Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Artinya
kalau Kania masih diberi hidup artinya Kania bisa menghadapinya. Di balik semua ini ada
hikmah yang dititipkan Allah buat kita semua. Berhusnuzan sama Allah, ya, Nak. Insyaallah
kebaikan yang akan mendatangi Kania,” panjang lebar bunda menguatkan Kania.
Nasihat seperti itu tidak sekali ia dengar, ayah, guru agama, dokter Annisa, dan
ustazahnya pun berulangkali menyampaikan hal itu. Namun ia seperti tidak mempercayainya.
Hingga suatu ketika usai menjalani kemoterapi yang keenam, keajaiban itu datang. Saat
itu ia masih dalam kondisi setengah tertidur, sayup-sayup ia mendengarkan suara bundanya
membaca ayat suci Alquran. Tiba-tiba alam bawah sadarnya memunculkan kembali kata-kata
nasihat itu berulang-ulang. Hingga ia tersentak dari tidurnya, peluh membasahi sekujur
tubuhnya. Ada kekuatan yang mendorongnya untuk menerima semua qadarullah ini dengan
ikhlas.
“Ya, Allah maafkan aku …. Aku akan ikhlas dengan ketentuanmu ini,” katanya pelan.
Begitu ayah ibunya diizinkan masuk ke ruangan, Kania memeluk ayah dan bundanya
erat-erat, air matanya tumpah tak tertahan.
“Ayah, Bunda, maafkan Kania. Bantu Kania menjalani semua ini …. Kania masih ingin
hidup. Kania janji akan menurut kata Ayah, Bunda, dan Dokter Annisa,” isak Kania dalam
pelukan ayah dan bundanya.
“Pasti sayang, kami selalu ada untukmu,” kata ayah dan bundanya hampir bersamaan.
Begitulah tepat setahun setelah vonis dari dokter, Kania mulai bangkit menata hidupnya.
Ia mulai membuka diri, mencoba berbaur kembali dengan teman-temannya, yang paling
penting adalah menyiapkan mental, disiplin dalam pengobatan dan sangat mematuhi berbagai
nasihat dokter.
Ya, Kania sangat yakin Allah tidak sia-sia dalam menciptakan sesuatu. Kania yakin ia
masih bisa menemukan potensinya, meski ia tidak bisa lagi aktif sebagai anggota Pramuka,
tidak bisa lagi masuk dalam Peleton Inti (Tonti), tidak bisa lagi ikut bermain fotsal bersama
timnya. Kania yakin masih banyak hal positif yang bisa ia lakukan.
Keyakinan itu pula kemudian yang membawanya pada posisi sebagai Ketua OSIS di
SMA nya setahun yang lalu, sebuah posisi prestisius bagi seorang siswa. Tak main-main dalam
periode kepemimpinannya Kania beserta teman-temannya sukses menyelenggarakan event
tingkat Kabupaten di sekolahnya yang menjadikan sekolahnya semakin terkenal.
Apa yang dilakukan Kania bukan tanpa pengorbanan. Selama ia berjuang menghadapi
berbagai cobaan, baik dari dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Ia berjuang
menahan diri untuk tetap mematuhi nasihat dokter untuk mengurangi kegiatan outdoor yang
selama ini menjadi dunianya. Ia juga harus rela menelan berbagai obat dan rela tidak
mengkonsumsi berbagai makanan yang menjadi pantangannya. Dan yang terberat adalah ia
harus tahan menghadapi cemooh dan sindiran bahkan dijauhi oleh orang-orang yang minus
wawasan tentang lupus. Itu semua ia jalani dengan sabar dan ikhlas.
Tepat tiga tahun menjalani pengobatan dibarengi oleh pola hidup sehat yang terjaga,
akhirnya Dokter Annisa, yang merawatnya menyatakan bahwa Kania sudah remisi obat,
artinya Kania sudah boleh tidak mengkonsumsi obat-obatan lagi. Tiga tahun jatuh bangun
dengan beberapa kali serangan lupus, membuatnya paham dengan tubuhnya. Ia sangat mengerti
dengan alarm tubuhnya, sehingga ia tahu kapan ia harus istirahat. Kini lupus bukan lagi
dirasakan sebagai musuh bagi hidupnya tapi menjadi sahabatnya.
***
“Kania …!” Suara khas Tito membuyarkan lamunannya, “kamu baik-baik saja, kan?”
Kania membalas dengan senyum manisnya. Tito adalah sahabat baiknya. Dia satu-
satunya teman yang tidak pernah meninggalkannya di saat apa pun. Kania segera mengambil
air minum di kelas. Saat ia kembali ke teras kelas ia masih melihat kupu-kupu cantik di atas
bunga dahlia.
“Tito … masih ingat kah dengan hewan itu?” kata Kania menunjuk ke arah kupu-kupu.
“Pasti … Kamu itu hebat seperti kupu-kupu mampu bermetamorfosis dari
keterpurukanmu, ya,” kata Tito.
“Aku tidak akan menangkapnya lagi, Tito. Biarkan ia terbang bebas dan melakukan
menyempurnakan daur hidupnya. Aku juga ingin seperti kupu-kupu terbang ke mana aku suka
untuk meraih mimpiku,” kata Kania sambil melangkah meninggalkan kupu-kupu.
“Dan aku akan selalu menemanimu …,” kata Tito yang disambut dengan senyuman
manis Kania.
“Ah … gombal, kamu,” balas Kania.
Begitulah hidup Kania, ia tahu betul bahwa hidup dengan Lupus tidak lah mudah.
Namun, sebuah keyakinan menghantarkannya mampu melalui semua itu dengan baik.
~Hidup hanya sekali jangan sampai sia-sia. Lakukanlah sesuatu yang bermanfaat dan
membahagiakan dirimu dan orang-orang yang kau kasihi~
~0~
Diana Yana
Diana Yana, saat ini bertugas sebagai guru Bimbingan dan Konseling di SMAN 2 Katingan
Hilir Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah. Menyukai kegiatan menulis sejak
duduk di bangku SMP, tapi baru menekuni dunia menulis pada tahun 2017. Sejumlah buku
tunggal pernah diterbitkan sebagai hasil karyanya. Hingga kini masih menikmati sebagai
kontributor penulis dalam buku Antologi berbagai genre tulisan. “Menulislah agar kisahmu
kan terukir abadi”.
“Langkah mulia sungguh tidak mudah dipertahankan jika nurani
tidak turut serta bekerja.”
- Winjani Prita Dewi
Mengepakkan Sayap Tittari
oleh Winjani Prita Dewi
Kupu-kupu terbang tinggi
Berkelana menari-nari
Bersama bunga harum mewangi
Jika tinggal satu asa berarti
Tittari selalu ada di hati
Separuh dari usia sudah kuhabiskan bersama lupus1. Penyakit seribu wajah ini menunda
beberapa rencana besar, tapi rencanaku mungkin tidak seindah rencana Allah. Perjalanan ini
masih terus berjalan. Aku kini berperan sebagai istri, ibu, dan pengurus sebuah yayasan. Tittari,
nama yang aku pilih untuk yayasan ini. Sebuah yayasan yang berdiri untuk Orang dengan
Lupus (Odapus), maka rasanya tidak berlebihan jika Tittari menjadi satu identitas yang
dalam.bahasa Sanskerta berarti kupu-kupu, sesuai simbol lupus.
Benar-benar di luar bayangan. Beberapa tahun lalu, aku hanyalah anak kecil yang
berandai menjadi seorang guru atau seorang psikolog di dunia kesehatan. Namun, di usia 16
tahun aku didiagnosis lupus. Sudah pasti seumur hidupku akan dihiasi oleh indahnya cerita
tentang lupus. Aku tergolong beruntung karena di sekitarku ada orang-orang yang mendorong
ke arah yang positif. Keadaan membuatku banting setir. Tidak masuk sekolah keguruan selepas
SMA, aku justru diterima di program studi ilmu hukum di Universitas Sebelas Maret.
“Bu, aku nggak suka sekolah di hukum,” protesku keras. Ibu dan bapak
menyemangatiku kala itu. “Bapak dan ibu memang memilihkan untukmu supaya besok
gampang menerapkan ilmunya, Nduk. Hukum lingkupnya luas, bisa memilih pekerjaan sesuai
kapasitasmu,” terang bapak. Saat itu rasanya aku ingin merutuk. Tidak hanya tercemplung di
dunia yang nggak banget, tapi juga lupus menyebabkan cita-citaku terhambat. Mau tidak mau,
jalan ini harus dinikmati sebaik mungkin. Orang bijak bilang, jalan hidup sudah digariskan
maka kebaikan harus ditunaikan. Aku menghabiskan waktu di sela-sela kuliah dengan kegiatan
penulisan, penelitian, dan akhirnya aku memberanikan diri berkompetisi di Program
Kreativitas Mahasiswa (PKM).
1 Sumariyono, Perhimpunan Reumatologi Indonesia menjelaskan bahwa lupus adalah inflamasi/peradangan
sistemik autoimun, bersifat non-spesific organ (dapat menyerang semua organ), genetik (dicurigai sebabnya
adalah kelainan sel dalam tubuh dan munculnya akibat pencetus berupa hormonal atau kondisi lingkungan).
Dibentuk sebuah tim yang terdiri dari lima orang. Ide dimatangkan menjadi sebuah
konsep kegiatan pengabdian masyarakat seputar lupus. Prosesnya cukup panjang. Langkah
Griya Kupu Solo dimulai dari pendataan, pemetaan, matrikulasi, dan realisasi kegiatan. Daerah
yang didata adalah wilayah Solo Raya. Daerah demi daerah dikunjungi. Kegiatan dimulai di
sekitar Odapus tinggal. Di daerah-daerah tersebut, edukasi mengenai lupus adalah poin
penting. Selain dilakukan di daerah tinggal Odapus, seringkali dokter dilibatkan dalam edukasi
ini. Setiap kegiatan dievaluasi setelahnya lalu dilakukan perbaikan selanjutnya. Tolok ukur
keberhasilan dilihat dari kuesioner yang dibagikan sebelum dan sesudah kegiatan.
Selain edukasi, ada pula pendampingan yang ditujukan lebih spesifik kepada Odapus
dan keluarganya. Pendampingan memiliki tujuan untuk menjaga psikis Odapus dan
keluarganya dari kebingungan terutama di fase awal penerimaan terhadap lupus. Konsepnya
yakni manfaat Griya Kupu Solo untuk Odapus dan masyarakat. Namun tidak disangka kegiatan
itu membawa kami ke final dan menjadi juara terbaik presentasi.
Pencapaian yang sayang jika ditinggalkan begitu saja. Terbentuknya Griya Kupu Solo
lewat PKM menjadi langkah awal Tittari yang berdiri saat ini. Ide sederhana dari sekelompok
mahasiswa supaya komunitas memberikan wadah bagi teman-teman Odapus seperjuangan.
Sulitnya akses kesehatan dan terbatasnya informasi tentang lupus adalah alasan kuat komunitas
ini perlu dibentuk. Griya Kupu Solo berjalan benar-benar dari titik nol. Jika mengingat
perjuangan saat itu, rasanya luar biasa sekali. Sekelompok mahasiswa pergi dari desa ke desa
demi edukasi lupus. Seringkali tim harus menghadapi daerah yang sulit dijangkau dengan
tantangan peserta dari beragam kalangan masyarakat.
Niat baik akan dimudahkan, begitulah kira-kira yang bisa menggambarkan perjalanan
demi perjalanan. Baik aku maupun teman-teman yang lain tidak banyak tahu daerah yang
dikunjungi. Apalagi layanan aplikasi peta belum sebaik sekarang. Betul, kami menggunakan
GPS, bukan Global Positioning System tetapi gunakan penduduk setempat alias sering bertanya
pada penduduk supaya tidak tersesat.
Perjuangan yang harus disyukuri hingga detik ini. Berganti nama Tittari yang disahkan
oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sejak 2014. Berdirinya yayasan berbadan
hukum yang sah ini juga berkat ilmu yang dipelajari saat kuliah. Ada juga hikmahnya meskipun
awalnya aku merasa salah jurusan ternyata tidak seburuk yang kusangka. Saat ini justru
syukurku begitu besar. Ternyata Allah merencanakan semuanya dengan sangat sempurna. Aku
mampu hidup berharga bersama lupus, keluargaku, dan Yayasan Tittari
Peribahasa ‘semakin tinggi pohon, maka semakin kuat angin yang menerpanya’
ternyata benar adanya. Status Tittari yang lebih tinggi dari sekadar komunitas memunculkan
tantangan baru. Dari segi internal yayasan, Tittari perlu pengurus yang mumpuni dalam
menjalankan program-programnya. Programnya tidak jauh beda saat masih sebagai komunitas,
tetapi lebih luas dengan jumlah anggota yang semakin banyak. Ke luar, pengurus Tittari
dituntut mampu dalam memberikan solusi terhadap kesulitan anggota. Pada kenyataannya,
masalah ini tidak cukup selesai dengan saling bertemu, berbincang, kemudian bersalaman saat
solusi ditawarkan. Masalah yang timbul di anggota selalu terkait dengan pihak lain misalnya
keluarga anggota yang kurang suportif, tenaga kesehatan di lingkungan tinggal anggota yang
masih menganggap lupus ini enteng, dan stigma-stigma negatif yang tumbuh di masyarakat.
Masalah yang berkaitan dengan psikologis seseorang akan menjadi lebih kompleks jika tidak
diurai. Secara perlahan Tittari mengajarkan cara berdamai dengan lupus, diri sendiri, dan reaksi
lingkungan. Sayangnya masih kurang sejalan dengan Tittari, banyak kasus yang jauh dari
perhatian pemerintah setempat. “Maaf, bukan kompetensi kami.” Begitulah tanggapan orang-
orang di kantor dinas yang pernah kami datangi untuk menjalin hubungan kerja sama.
Berbagai kesulitan yang menantang Tittari untuk tetap mampu terbang dengan baik
demi anggota yang berlindung di bawah sayapnya. Hampir semua pengurus di Tittari adalah
Odapus merupakan suatu kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan untuk teman-teman
seperjuangan karena pengurus akan lebih mudah memberikan edukasi based on true story.
Rasanya akan berbeda saat sesama pejuang remisi2 ini saling berbagi. Keadaan teman yang
lebih baik biasanya akan memberikan motivasi. Sebaliknya, kondisi ini juga sebuah kelemahan
karena pengurus harus tetap menjaga kesehatan di samping berkegiatan. Meskipun
menyenangkan, kegiatan sosial Tittari juga perlu tenaga.
Awalnya Tittari digerakkan oleh tiga pengurus. Berpulangnya salah satu pengurus dan
satu lainnya bekerja di luar kota menyisakan satu orang saja. Aku bahkan pernah benar-benar
menjalankan Tittari seorang diri. Akibatnya, fisik tidak mampu. Untuk mengurangi beban,
dicari kembali tujuh pengurus Tittari yamg dipilih per perwakilan wilayah Solo Raya.
Ketujuhnya masing-masing berasal dari Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar,
Wonogiri, Sragen, Klaten kemudian ditambah tiga lagi karena anggota banyak yang berasal
2 Remisi dalam lupus diartikan sebagai kondisi terkontrrol baik, stabil, minim gejala, bahkan diizinkan oleh dokter
untuk berhenti konsumsi obat-obatan. Namun kondisi ini harus dijaga dengan baik karena lupus tidak mengenal
sembuh total maka dapat terjadi kekambuhan berulang.
dari luar Solo Raya. Pembagaian per wilayah ini dilakukan untuk memudahkan tanggap
keadaan anggota.
Belum berhenti sampai di sini, kesepuluh orang dibagi dalam berbagai divisi untuk
menjalankan program. Itu pun belum mampu menyelesaikan masalah-masalah secara
menyeluruh. Semakin banyak anggota artinya semakin banyak kepala yang diatur. Mood
anggota yang naik-turun menjadi kendala besar karena biasa terjadi obat dihentikan mendadak
dengan alasan bosan. Tentu bukan keputusan yang baik karena bisa menyebabkan kondisi yang
tiba-tiba kolaps. Belum lagi saat Tittari harus mendengarkan curahan hati masalah pribadi.
Terkadang saat menawarkan jalan keluar, Tittari tidak didengar maka harus ada cara-cara
tertentu untuk kembali menumbuhkan semangat. Salah paham satu sama lain baik pengurus
maupun anggota menjadi bumbu-bumbu pelengkap yang penuh dengan romantika.
Tittari terus berusaha menjadi wadah yang menyenangkan. Meskipun demikian,
dituntut sekeras apapun tidak akan mampu menjadi sempurna. Kegiatan lain berupa gathering
dan outbond biasanya lebih bisa memantik semangat. Beruntungnya, dukungan dari beberapa
rumah sakit, perusahaan-perusahaan farmasi, dan laboratorium kesehatan diperoleh baik oleh
Tittari. Setiap tahun rutin diadakan peringatan Hari Lupus Sedunia dengan topik-topik hangat
yang menggugah semangat. Dari 20-an kini Tittari menuangi ratusan anggotanya.
Seringkali muncul pertanyaan, “Apakah kami bersama Tittari mampu?” Rasa ragu itu
datang dan pergi. Langkah mulia sungguh tidak mudah dipertahankan jika nurani tidak turut
serta bekerja. Begitulah caraku menyemangati diri sendiri. Lelah dan jengah sering menghiasi.
Namun, jika kembali mengingat tujuan awal, rasa itu perlahan akan pergi. Solidnya pengurus
menjadi akar dan semakin besarnya Tittari akan banyak membutuhkan dukungan. Sejauh ini
dukungan yang banyak dibutuhkan adalah materi karena beberapa orang saja yang berdonasi.
Tentu amanah akan disalurkan sebagaimana mestinya karena nominal untuk obat-obatan lupus
cukup besar. Bayangkan saja, ada Odapus dari luar pulau yang harus pergi berobat ke Solo.
Belum obatnya saja sudah memerlukan banyak biaya. Banyak anggota yang memerlukan
bantuan karena ada beberapa obat yang dikonsumsi di luar jaminan kesehatan dari pemerintah.
Harapan terbesar saat ini, Tittari mampu mengepakkan sayap semakin lebar dengan
menebar banyak manfaat. Aku ingin kelak Tittari tetap hidup meskipun para penggeraknya
telah menyelesaikan tugasnya. 2011, 2014, kini, dan seterusnya, Tittari akan menjadi
keniscahyaan bagi setiap insan yang membutuhkan.
Kepak sayap tak akan berhenti sampai di sini.
Memaknai Lupus dengan Cinta, itulah yang selalu dilakukan oleh
Prita, wanita kelahiran Solo, 23 April 1991. Lupus yang dikenal
sebagai kelainan kekebalan tubuh tidak mematahkan semangatnya.
Ibu dua orang anak ini percaya bahwa lupus adalah jalan untuk
mencari pahala maka harus dijalani dengan penuh cinta. ‘Ciptakan
bahagia untuk diri sendiri lalu tularkan pada sesama’ adalah motto
hidup yang selalu berusaha diterapkan dalam hidupnya.
Setelah lulus sebagai sarjana hukum, Prita pernah bekerja sebagai staf legal di perusahaan
proprerti di kota Solo. Namun, pilihannya untuk fokus membesarkan Tittari masih dijalaninya
dengan konsisten hingga detik ini. Ketertarikannya pada dunia sosial dan rasa ingin berarti
menjadi pendorong terbesar demi yayasan yang didirikannya itu.
Selama menjalani hidup bersama lupus, Winjani Prita Dewi, begitu nama lengkapnya, memilih
tulisan sebagai terapi. Ia menuangkan ide, rasa, dan kritik melalui tulisan. Telah ada tujuh buku
antologi dan satu buku yang ditulisnya tunggal berjudul Memaknai Lupus dengan Cinta. Selain
menulis, Prita sangat hobi bercerita. #prosaprita adalah tagar yang ia buat untuk menandai
tulisan dan cerita hidupnya pada laman media sosialnya. Ia dapat ditemui di Instagram
@pritapretty, Facebook Prita Pretty, dan email [email protected]. Kontak pribadi melalui
Whatsapp 082-323232-444.
“Tebarlah senyum manismu kepada setiap orang yang kau jumpai karena
dengan senyum ikhlasmu akan menjadi sebuah penguat bagi yang menatapnya”
- Muhamad Yusup
Gadis Sampul dan Si Wajah Seribu
Oleh Muhamad Yusup
Pagi yang cerah dihiasi oleh senyuman sang surya yang manis. Lambaian sang bayu
menyapa lembut setiap helai dedaunan yang menempel pada ranting pohon berdiri tegak di
depan gedung sekolah. Nyanyian burung liar yang bertengger di pohon palm menghangatkan
suasana.
Gemuruh suara riuh ratusan siswa yang turun ke lapangan untuk mengikuti upacara
pagi. Berpakaian seragam putih abu, bertopi, dan bersepatu hitam. Berbaris sesuai dengan kelas
masing-masing. Putih abu-abu, masa yang paling indah, penuh cerita, cita, canda tawa, bahkan
cerita cinta.
Kelas yang sejuk dan nyaman telah dilengkapi dua buah pendingin ruangan dengan
merk yang terkenal di Indonesia. Suasana kelas yang kondusif membuat kegiatan pembelajaran
tertib dan lancar.
“Pak mohon izin, saya mau minum obat.” Tiba-tiba seorang siswi menghampiri minta
izin untuk minum obat.
“Ya,silakan”. Jawabku.
Suasana kegiatan belajar mengajar tetap berjalan seperti biasanya. Seorang siswi ke
luar ruangan kelas membawa seperangkat keperluan pribadinya, tempat makan, botol minum
,dan obat-obatan pribadi. Gadis itu begitu santun, tersenyum dan menundukan kepala saat
melawati meja guru. Berambut hitam panjang sedada diikat dengan karet berwarna hitam.
Bersepatu hitam dengan logo garis tiga berwarna putih. Berkaus kaki putih bersih. Berkulit
putih mulus , perawakan semampai tinggi badan sekitar 170 cm dengan berat sekitar 50 kg.
Hidungnya mancung, alis tebal dengan bola mata hitam kecokelatan. Wajahnya yang manis
cantik membuat teman sekelasnya tak henti menatapnya. Gadis cantik manis itu bernama
Annisa. Dia merupakan finalis Gadis sampul salah satu majalah remaja di Jakarta.
Seperti hari-hari sebelumnya setiap pagi Annisa selalu minta izin untuk minum obat.
Di kelas itu kekeluargaanya sangat baik. Bila jam istirahat tiba mereka sering tukar- menukar
makanan yang mereka bawa. Tidak memandang laki-laki maupun perempuan. Mereka sangat
kompak. Ketika ada anggota kelas yang berulang tahun mereka saweran membelikan kue ulang
tahun dari toko kue Harvest.
Hari ini terasa ada yang berbeda. Beberapa kursi ada yang kosong kursi depan guru,
baris tengah, dan kiri belakang tiga orang siswa tidak masuk.
“Pak, Laila Ahmad, Alamanda,dan Annisa suratnya ada di atas meja”. Celoteh ketua
kelas. Sebelum aku menanyakan kabarnya.
“Pak sepertinya Laila Ahmad ke Makasar belum pulang” Penjelasan dari salah satu
siswa.
“Mungkin Annisa ada pemotretan” Timpalnya lagi.
“Alamanda kayanya kesiangan Pak” Celoteh suara dari belakang.
Kubuka surat satu persatu. Ya benar Laila Ahmad masih di luar kota, Alamanda acara
keluarga. Surat terakhir kubuka dengan perlahan semoga yang dikatakan oleh temannya benar,
Annisa izin pemotretan. Secarik kertas berlogokan rumah sakit di kawasan Kebayoran Baru
RS Pertamina bertuliskan Bernama Annisa, berumur 15 tahun, pekerjaan pelajar, izin
meninggalkan pelajaran karena dalam perawatan.
Dua minggu kemudian gadis semampai itu sudah masuk di kelasnya yang nyaman.
Ada sedikit perubahan dari penampilannya ,sedikit agak kurus dan ada ruam merah di
wajahnya. Seisi kelas penuh tanda tanya sakit apakah yang diderita oleh sahabatnya. Akan
tetapi ,tak ada yang berani menanyakan secara langsung tentang penyakit yang
dideritanya.Walaupun begitu semua sahabatnya tetap dekat dan menghiburnya. Gadis itu
sedikit bicara hanya senyum manis yang menghiasi bibirnya.
Gadis sampul itu semakin hari semakin jarang hadir di kelas. Beberapa sahabat
dekatnya mencari informasi keberadaan dan penyakit yang dideritanya.
“Nadia, mama kamu kan seorang dokter, tentunya banyak mengetahui tentang
perkembangan penyakit”. Tanyaku kepada Nadia.
“Baik nanti sore saya tanyakan kepada mama”. Jawab Nadia.
Hujan deras dan angin menyambut bel pulang sekolah. Suara puluhan deru mobil
masuk ke gerbang sekolah untuk menjemput anak emasnya. Satu persatu para siswa
meninggalkan gedung sekolah.
Pagi yang sejuk udara cerah sang mentari menampakan wajahnya dengan malu-malu.
Langit biru menghiasi kota Kebayoran Baru Jakarta selatan. Si Gadis sampul keluar dari mobil
sedan Volvo berwarna biru tua. Dipunggungnya tersandar tas warna biru. Tangan kananya
menenteng bekal makanan. Dia berjalan menyusuri taman anak tangga hingga ke lantai tiga.
Pancaran wajahnya penuh semangat untuk jumpa sahabat dan menerima pelajaran yang akan
diberikan oleh para guru hari ini.
“Annisa, boleh ga aku bertanya.” Tanya Nadia tiba-tiba.
“Boleh, mau tanya apa?” Jawab Annisa.
“Kamu sudah sehat?” Tambah Nadia.
Nadia dan Annisa berbincang pelan agar tidak terdengar oleh teman yang lain. Memang
saat itu jam pelajaran pertama gurunya belum datang ada kelas. Saat mereka sedang serius
tiba-tiba guru masuk.
“Annisa terkena penyakit lupus”. Cerita Nadia saat jam istirahat.
“Itu saya ketahui ketika pagi saya ngobrol berdua saat guru jam pertama telat masuk ,
dia banyak cerita mengenai penyakit yang dideritanya.” Cerita Nadia.
“Sekarang wajah Annisa semakin terlihat ruam merahnya”. Jelasnya lagi.
Kemudian Nadia menceritakan beberapa jenis lupus yang diketahui dari ibunya
seorang dokter di Rumah Sakit Pertamina. Nadia menjelaskan mengenai jenis penyakit lupus
berdasrkan jenisnya yaitu Systemic lupus erythematosus (SLE), merupakan jenis lupus yang
paling sering terjadi. Jenis penyakit ini menyerang berbagai jaringan seperti, sendi, kulit, otak,
paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah. Discoid lupus erythematosus, adalah jenis lupus yang
menyerang jaringan kulit, sehingga menyebabkan ruam-ruam. Neonatal lupus adalah penyakit
lupus yang menyerang bayi baru lahir. Penyakit ini dialami oleh bayi yang dilahirkan ibu yang
memiliki kelainan antibody. Lupus akibat obat-obatan, gangguan ini biasanya hanya dialami
dalam waktu yang singkat saja. Jadi beberapa obat-obatan mungkin saja menimbulkan efek
samping yang gejalanya mirip lupus. Kondisi pasien akan membaik kalau penggunaan obat
dihentikan. Subacute cutaneous lupus erythematosus, merupakan lupus yang membuat
jaringan kulit luka dan terbakar ketika terpapar sinar matahari.
“Bila dilihat dari ciri-ciri yang ada, Annisa terkena jenis Discoid lupus erythematosus”
jelas Nadia.
Annisa termasuk anak yang tangguh walaupun penyakit yang dideritanya sangat ganas.
Dia tetap ke sekolah walau terkedang izin pulang karena sakit yang dirasakannya sudah tidak
bisa ditahan. Semua teman sekelasnya merasa iba. Annisa kini telah berubah. Penampilannya
berubah sekarang sering mengenakan pasmina sebagai penutup wajah dan kepalanya .
Badannya semakin kurus. Wajahnya terkadang terlihat terkelupas. Semua sahabat tetap
menghiburnya.
“Teman-teman hari ini kita besuk Annisa yuk sepulang sekolah.” Ajak ketua kelas.
“Ternyata dia sudah seminggu dirawat di Rumah Sakit Pertamina, saya berharap kalian
ikut semua ya, siapa tahu dengan keadatangan kita dapat mempercepat kesembuhannya “.
Tambahnya lagi.
“Nad, penyakit lupus itu menular ga sih”. Tanya anak duduk di belakang.
“Menurut Ibuku tidak menular”. Jawab Nadia singkat .
“Ok, kalau aman saya ikut”. Sambung anak yang tadi.
Annisa telah lebih dari tiga minggu di rawat di rumah sakit. Akan tetapi, belum juga
masuk sekolah.
“Sal, menurut ibuku bahwa penyakit lupus itu termasuk penyakit menahun, yang susah
disembuhkan karena penyakit itu autoimun.” Jelas Nadia, saat waktu istirahat.
“Oh, gitu ya”. Jawab Fasial.
Kita berdoa saja semoga Tuhan memberikan kesembuhan kepada Annisa.
Annisa menghabiskan waktunya di rumah. Membaca buku dan menonton televisi.
Menurut dokter harus banyak istirahat dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Kedua
orangtuanya sangat khawatir melihat keadaan Annisa. Walaupun dia tak pernah mengeluh apa
yang dirasakannya. Tapi ibunya mengerti betul perasaan yang dirasakannya. Cita-citanya ingin
menjadi seorang dokter spesialis kulit. Segala usaha telah dilakukan oleh kedua orangtuanya
namun belum berhasil. Memang keluarganya termasuk sangat mampu. Namun, Tuhan belum
memberikan kesembuhan kepada Annisa.
Mentari pagi mulai menampakan senyum manisnya. Desiran angin menyapa setiap
wajah yang melintas di gerbang sekolah. Lambayan dedaunan palm mengajak para siswa
segera masuk ke ruang kelas.
Hari ini, kelas yang nyaman dan tertib itu terlihat ada sesuatu yang berbeda. Satu kursi
kosong , tepatnya di depan meja guru. Entah telah berapa hari tidak diduduki oleh pemiliknya.
Entah kapan Si Gadis Sampul itu dapat bercanda riang kembali di kelas. Entah berada di mana
saat ini. Semua sahabat menunggu kabar baik dari keluarganya.
………………………..o0o…………………….
Belajar dan Terus Belajar itulah motto Muhamad Yusup, seorang guru SMA kelahiran
Tangerang, 21 Juli 1971. Beliau mengeyam pendidikan terakhirnya di Sekolah Pascasarjana
UHAMKA Jakarta. Kariernya sebagai guru SMA dimulai tahun 1999 di SMAN 70 Kebayoran
Baru Jakarta Selatan. Karena adanya regulasi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 2013
mutasi ke SMAN 82 masih di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Beliau aktif di Forum
Literasi DKI Jakarta. Debut dalam tulis menulis belum banyak menghasilkan karya. Hanya
kumpulan buku puisi dan artikel telah ISBN untuk pameran Gebyar Literasi DKI Jakarta.
Beliau pernah menjadi editor kurang lebih 100 buku autobiografi, buku kumpulan cerpen,
puisi, dan artikel karya siswa yang telah dipamerkan di berbagai acara literasi DKI.
“Nikmat dan jalani proses dengan ikhlas, kau akan bahagia.
Hasil biar Allah yang tentukan mana yang terbaik”.
- Hesty Sari Wijiati
Siluet Hati
Oleh : Hesty Sari Wijiati
Laki-laki itu terduduk lesu dihadapanku. Wajahnya menunduk. Kami berhadapan dan
mencoba untuk tetap menjaga hati.
“How are you ?”, ucapnya membuka perbincangan.
“ Alhamdulillah, fine”, jawabku pelan. Pembukaan standar.. Tapi it’s oke lah untuk
memulai sesuatu.
“ Jadi gimana?’. Aku mencoba melanjutkan opening yang sudah dimulai. Kami agak
kikuk. Dan aku mencoba untuk tenang. Aku tak memahami benar dengan apa yang dimaksud
“Butuh ketemu”. Itu hal yang laki-laki itu sampaikan, kenapa akhirnya kami ada diruangan ini.
Berdua saja dan dengan seorang penjaga tempat ini.
Aku melihat kegelisahan dari sikapnya. Juga sesuatu yang sulit kujelaskan. Apa
maksudnya , “Butuh bertemu? ”. Penampilannya yang agak berantakan dan kegundahan
hatinya, terasa sekali.
“Saya ngga tahu nih bu, ada apa dengan Saya”. Ungkapannya membingungkanku.
“Maksud bapak apa dengan mengatakan tidak tahu?” , ujarku mencoba memperjelas
kalimatnya.
“Iya, saya kok merasa ngga tenang saja”. Jawabnya pelan sambil manarik nafas, seolah
ada beban berat yang menghimpitnya, dan menarik nafas adalah tindakan yang melegakan.
“Oh, baik. Apa yang menurut bapak, merasa tidak tenang”?. Aku mulai memakai jurus
coachingku untuk menggali data internal laki-laki dihadapanku ini. Karena jelas terlihat
ketidak tenangannya dihadapanku.
Sebenarnya laki-laki dihadapanku ini yang punya ilmu ini. Dia guruku dalam belajar
ilmu coaching. Namun entah mengapa, dia ingin bertemu denganku dan meminta bantuanku.
Pantaskah aku?.
“Saya tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi dengan diri saya saat ini”.
Lanjutnya menjelaskan. Aku salut juga pada laki-laki ini yang mau jujur. Dan sebuah apresiasi
juga bagi diriku sendiri bila aku bisa membantunya.
“Oke baik. Lalu ?. Apa yang bisa saya bantu dari bapak, saat ini?”. Aku mencoba
menawarkan bantuan untuknya. Meski aku belum berhasil memahami maksud tujuan dari
perkataan sebenarnya. Namun jujur, aku tidak sampai hati melihat kondisinya yang terlihat
gelisah dan bingung.
“Saya harusnya bisa melakukannya”. Kalimat itu sedikit menyadarkanku kemana arah
pembicaraannya. Mulai mendapatkan sedikit titik terang kemana arahnya meski masih samar.
Dan sesungguhnya, agak menebak. Namun ku coba untuk menggalinya, meski tak mau
mengoreknya lebih dalam. Biar laki-laki ini yang mengungkapkannya sendiri.
Aku menyadari betapa laki-laki ini begitu mencintai wanita itu. Dan bisa memahami
betapa begitu sulit dia melepaskan wanita itu pergi. Tapi akupun tak bisa menyarankan apapun
untuknya.
Urusan Hati adalah perkara yang tak bisa mudah untuk diselesaikan. Hanya dirinyalah
yang bisa.
Aku megangguk dan memberinya sebuah pertanyaan. “Sampai kapan ?”.
Laki-laki itu menatapku. Memandangku dengan kedalaman. Aku tahu dia tengah
mencari jawaban dihatinya . Dan pertanyaanku membuatnya berfikir keras. Terdiam dan
membeku. Tak satu katapun terucap dari mulutnya.
“Bu, bisa minta tolong carikan obat mata merk ini ?”. Laki-laki itu menunjukkan chat
dari wanita itu. Aku membaca chat yang dikirimkan kepadaku. “A bisa carikan obat mata merk
ini? Sama daun salam ya”. Begitu kurang lebih isi chat yang dishare ke aku.
“Saya sudah mencarinya kelilingan. Mungkin ibu punya referensi atau teman yang tahu
obat ini belinya dimana?. Nanti saya cari “. Laki-laki itu tampak kebingungan dan panik karena
belum bisa mendapatka apa yang dibutuhkan wanita itu.
“Sama daun salam, ibu tahu ya?”. Lanjutnya memastikan bahwa aku bisa
membantunya.
“Baik pak, nanti coba saya carikan. Mau dikirim ke Inggris kapan ?”.
“Secepatnya bu. Disana ngga ada merk ini”. Balasnya cepat.
“Baiklah. Tapi saya butuh waktu ya. Saya mesti cari dulu keberadaan obat tersebut”.
Kalau daun salam, mungkin bapak bisa minta tolong asisten rumah tangga bapak ya.
Karenakan kalau beli sekarang dan nanti dipaketkanya, khawatir nanti keburu kering. Nanti
bapak bisa paketkan sekalian dengan yang lain kalau pas mau kirim”.
“Baik bu. Terima kasih”, jawabnya semangat karena berharap aku bisa membantu
mewujudkan keberadaan obat tersebut.
Dan aku langsung menjapri beberapa teman yang ku kenal kerja di apoteker. Juga share
di group untuk pencarian obat mata yang dimaksud.
Mata kering. Wanita itu tak lagi bisa mengeluarkan cairan dimatanya. Dan untuk tetap
menjaga agar tidak kering, dia harus mengkonsumsi obat mata. Menangispun dia sudah tak
bisa mengeluarkan air mata. Karena matanya sudah tidak lagi bisa memproduksi cairan.
Aku tidak tahu persis, gejala apa lagi yang ditimbulkan. Dan bukan hakku untuk
mengetahuinya lebih dalam. Ini masalah privasi. Aku bukan siapa-siapa. Bertemupun tidak
pernah. Aku hanya mendengar kisahnya dari laki-laki itu. Dan salah satu teman yang entah
mengapa, begitu mencari tahu tentang wanita itu. Aku hanya pernah ingat, laki-laki itu
mengatakan, “Saya sedih bu kalau ingat Lupus”. Dan saat ini, laki-laki itu berusaha keras
untuk mencari obat mata yang diminta.
Aku mencoba berbuat baik, membantu melakukan sesuatu yang dibutuhkan saat
seseorang memintanya. Dan aku fikir bisa melakukannya.
Seseorang?. Siapa ?.Laki-laki itu?.Dia itu siapa ?.
Aku hanya tersenyum. Dia guruku. Yang memberiku ilmu. Yang ingin aku maju.
Dan aku tak mampu mengelak bila dia membutuhkanku.
Yang tak ku mengerti adalah kedekatannya dengan wanita itu. Wanita yang pernah
mengisi hari-hari dikehidupannya. Yang akhirnya memilih untuk meninggalkannya. Dan laki-
laki itu masih bertanya-tanya, atas dasar apa,dia digugat cerai. Entah apakah saat ini sudah
terjawab atau belum. Aku tak terlalu tahu. Karena yang kutahu, seluruh hidupnya masih untuk
bisa bersamanya. Meski jarak memisahkan. Namun entahlah. Itu pilihannya.
Aku bisa melihat dan merasakan betapa dalamnya cinta laki-laki itu pada mantan
istrinya.
Tak sekalipun laki-laki itu menyebut wanita itu sebagai “mantan”. Dia hanya
menginisialkan “mantan”nya dengan menyebutkan negara yang tengah ditempati wanita itu.
“UK”.
Aku hanya ingat dia pernah bercerita padaku. Bahwa wanita itu tinggal di Inggris dan
sedang sakit. Aku yang pada awalnya tak tahu persis hubungan diantara mereka. Hanya
bertanya, “Kenapa bapak tidak temani dia”?. Kan kasihan tinggal sendiri dinegeri orang”.
Hanya gelengan kepala dan sebuah jawaban singkat saja yang keluar dari laki-laki itu.
“Dia ada teman-temannya”., sambil matanya menatap jauh. Seolah menembus batas
negara.
Dan setelah itu. Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Tak mau juga memperdalam
pertanyaan yang bukan menjadi urusanku. Ini sudah masuk keranah pribadi. Meski bukan aku
yang memulai perbincangan itu. Namun aku kira cukup. Melihat ekspresinya yang terlihat
mulai sendu.
Entah berapa lama hubungan pernikahan mereka. Dan entah berapa lama mereka sudah
berpisah. Yang kutahu, laki-laki itu masih berharap kembali. Baginya, wanita itu adalah
segalanya. Satu-satunya wanita yang dicintainya dimuka bumi ini.
Dulu , larangan dari sang ibupun tak digubrisnya. Setelah upayanya berhasil mengambil
hati calon bapak mertuanya untuk mempersunting anaknya. Penolakkan dari sang ibu tak
membuatnya melangkah mundur. Demikian gigih laki-laki itu memperjuangkan wanita yang
akhirnya memilihnya pergi.
Aku tak tahu persis penyebab wanita itu melepaskan diri dari laki-laki yang begitu
mencintainya. Yang ku tahu, wanita itu menderita “Lupus”. Sebab itukah wanita itu memilih
pergi ?. Seberat itukah beban dari penyakit “lupus’ yang dideritanya ?. Tak bisa diobati hingga
tuntaskah?’., Entahlah aku hanya tahu, bisa ada ruam dibeberapa bagian kulit. Dan kadang tiba-
tiba lemas lunglai tanpa tenaga. Devi temanku pernah mengalami itu. Samakah dengan yang
dialami wanita itu ?. Entahlah.
Meski jarak dan kondisi menjauhkan mereka. Namun yang kutahu, hubungan mereka
masih dekat. Sama seperti hubungan pasangan yang sedang menjalani “LDR , long distance
relantionship.
Aku tak tahu persis yang sesungguhnya terjadi dan mereka rasakan. Keduanya masih
saling menjaga. Termasuk amanah-amanah keluarga wanita itu. Beberapa properti dan
kegiatan yang pernah mereka miliki, masih dimanfaatkan dan digunakan untuk kepentingan
bersama.
Sungguh, aku tak bisa memahami hubungan pasangan seperti ini. Dan buatku, bukan
hakku untuk tahu lebih dalam apa yang tengah mereka jalani.
Dan aku... hanya dijadikan sebagai tempat laki-laki itu untuk menumpahkan
perasaannya. Kegundahannya, bahkan mungkin kesepiannya. Itu saja.
Dan itupun dulu. Sebelum aku memilih untuk menjauh. Bukan karenanya. Tapi karena aku
ingin menjaga hatiku. Yang sesungguhnya juga mulai rapuh, karena berbagai kondisi yang tak
mudah untuk ku jalani.
Yang kutahu. sampai detik ini, wanita itu tetap masih menjadi bagian dalam hidupnya.
“Lupus” mungkin menjadi penyebab wanita itu meninggalkan laki-laki yang berikrar untuk
setia dan menjaganya. Namun “Lupus” tak membuatnya bisa pergi meninggalkan wanita yang
dicintainya.
****
Hesty Sari
Hesty Sari, pernah mengikuti kursus Jurnalistik bagi pemula sewaktu SMA. Sebagai syarat
kelulusan, karena tidak mengikuti kegiatan akhir tahun wisata bersama. Penah menjadi
wartawan dadakan di media Majalah Ar royan. Media milik warga. Didalamnya menuliskan
tentang kegiatan dan kolom profil hasil wawancara beberapa keluarga pilihan.
Pernah menuliskan puisi berjudul “Emak”, yang membuat seorang kakek usia 60an menangis
dan membaca berulang-ulang. Memenangkan award “Guru Bersemangat Indonesia versi
Nurifood di ajang lomba menulis oleh guru yang diikuti oleh 20.000 peserta di seluruh
Indonesia pada tahun 2008. Mengirimkan tulisan dan masuk dikolom keluarga pada koran
Republika. Aktif diberbagai kegiatan dan ingin memulai menulis kembali untuk berbagi
banyak hal selama perjalanan hidup dan apa yang sudan dijalani dan dirasakan. Motto hidupnya
: Berupaya maksimal, hasil akhir, biar Alloh yang memutuskan. Email
[email protected], Fb : Hesty Sari, Fb : HESA, Link Youtube 1: Hesty Sari Wijiati,
Link Youtube 2 :Property Hesa, Wa : 089666535345.
“Jangan biarkan rasa sakit menjatuhkan dirimu, buatlah rasa sakit
menjadi obat agar bisa menaikkan derajat di mata Allah”
Sya Azim - Norhasanah
Seputih Mata Hati
Oleh Norhasanah
Lani tidak mau menyakiti hati ibunya, Putri Thania, anak kesayangannya, bahkan
Bram, lelaki yang sudah menemani hari-harinya. Lani wanita yang sangat kuat, berwibawa
serta memegang prinsip hidup yang sangat kuat. Ia gampang diremehkan. Kesehariannya di
kenal sebagai wanita yang fassionnable, sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, Lani
selalu menjadi sorotan dalam hal berpakaian. Ya rapi dan berwibawa, sebuah sebutan yang
selalu melekat di dirinya. Ia jarang mengeluh bahkan sering diminta saran oleh teman-
temannya, tidak salah kalau Lani pada saat itu diberi kepercayaan sebagai ketua kelas.
Entah sudah berapa kali Lani berjalan menyusuri lorong yang berwarna putih dengan
menggunakan platfor heels dua belas senti, rambut panjang tergerai yang mengikal sempurna
, serta mekup yang natural, dipadukan dengan handbag yang berwarna senada dengan
dresscode yang ia gunakan. Semua mata memandang Lani dengan senyuman, maklum lah
posisi Lani di kantor tersebut bukan lah posisi sembarangan, ya berkat kepintarannya Lani
memegang sebuah amanah sebagai Kepala Bagian.
“Prak” sebuah benda tiba-tiba jatuh dari tangan Lani, dan ini sudah ke sekian kalinya, sesaat
jantung Lani berdetak tidak karuan, matanya pun mendadak mulai rabun. Lani pingsan
kembali untuk kesekian kalinya.
“Bu Lani” sebuah teriakan terdengar dengan sangat keras dari depan pintu, namun tubuh Bu
Lani seketika terkulai lemas dan langsung tidak sadarkan diri. Semua orang yang berada
dekat Bu Lani mendadak panik, bahkan Ranti teman se kantor segera menghubungi rumah
sakit, namun seketika tangan Lani bergerak, matanya perlahan ia buka.
“Ran, sudah saya aman koq, sepertinya saya hanya kecapeean, sudah ya, saya mau istirahat
sebentar”, ucap Lani dengan nada terbata-bata.
Ranti segera mengantar Lani ke kursi dan menutup ruangan.
“Lan, sebenarnya ada apa? Akhir-akhir ini kamu sering sekali pingsan, lihat hidung dan
mulutmu itu selalu berdarah!” tanya Ranti dengan wajah penuh kekhawatiran, sambil
mengusap hidung Lani sahabatnya sekaligus rekan kerjanya.
“Sudah Ranti sayang, saya gak papa, mungkin karena kecapeean saja,” lagi-lagi itu kata yang
keluar dari mulut Lani.
Sejenak suasana menjadi hening, Ranti beranjak dan pergi meninggalkan Lani.
“Ran, sebentar,” panggil Lani.
Ranti segera menoleh dan menghentikan langkahnya.
“tolong rahasiakan ini ya, jangan sampai mas Bram tahu, aku tidak mau membuat mereka
khawatir,” ucap Lani dengan wajah penuh harapan.
Ranti hanya diam.