kembali melaju.Terlihat ada tetesan kecil di kaca jendela kereta. Ternyata gerimis diluar sana,
pantas udara agak dingin, ditambah AC kereta juga terasa dingin.
"Ini kereta ke Bogor kan ya mba?" Tanya ibu itu tiba-tiba kepadaku.
"Iya bu, betul". Jawabku singkat dengan meluncurkan senyum tipis ke ibu itu.
"Mama, terima kasih mama". Sambil menepuk-nepuk pelan kaca jendela kereta dengan
senyum merekah diwajahnya dengan bahagia.
"Iya sayang, tuh keretanya jalan". Sambut mamanya.
Sesekali ibunya mencium dan memeluk anak itu disepanjang jalan. Mata anak itupun
berbinar-binar.
"Mama, suatu hari aku ingin bangun gedung seperti gedung itu, dan juga rumah-rumah
yang banyaaak". Kata anak itu sambil menunjuk ke kaca jendela. Secara reflek aku pun
menoleh ke jendela karena terpengaruh dengan kata-kata anak itu dengan penyampaian nya
yang semangat dan penuh harapan, karena menurutku sangat hebat anak yang memiliki cita-
cita tinggi sejak kecil. Hatiku pun berkata "Aamiin" untuk anak itu.
"Iya dong sayang, insyaaAllah cita-cita kamu tercapai. Aamiin. Makanya yang
semangat ya belajarnya." Kata ibunya dengan suara yang lembut
"Iya ma, tapi kira-kira aku bisa gak ya?" mendadak anak itu merasa kurang percaya
diri.
"Kalau Allah berkehendak tidak ada yang tidak bisa Nak, yang penting kamu nya
semangat belajarnya dan juga berdoa sama Allah".
"Tapi kan aku begini Ma... "
Ibunya hanya diam sambil memeluk dan mencium anak itu lagi.
Ibu itu menoleh kepadaku dan melontarkan senyumnya ke arahku. Akupun membalas
senyumannya.
"Mba mau ke Bogor?" Tanyanya kepadaku
"Iya". Jawabku singkat.
"Ibu mau ke stasiun Bogor juga?" tanyaku balik kepadanya.
"Iya, tapi nanti saya gak turun, ikut kereta ini lagi ke Jakarta. Anak saya ingin jalan-
jalan naik kereta, dia suka banget kalau naik kereta, Makanya sekarang mumpung lagi agak
sehat saya bawa aja naik kereta." Jawab si ibu agak panjang.
Kira-kira anak itu seusia beranjak remaja antara 11 atau 12 tahun menurut perkiraanku.
Sekilas aku melihat wajahnya terdapat ruam merah jelas sekali di kulit pipinya yang putih.
Namun demikian senyum simpulnya merona kebahagiaan sepanjang jalan sambil menatap
pemandangan luar jendela.
"Anak saya terkena lupus Mba" Terang ibu itu kepadaku.
Tersontak aku pun kaget. Hatiku terasa bergemuruh, betapa tidak ibu itu benar-benar
fokus merawat anaknya yang sakit. Sampai ketika ada kesempatan saat anaknya terlihat sehat
dia menyisihkan waktu untuk mengajak anaknya menikmati perjalanan kereta, tanpa tujuan,
karena memang tujuannya hanya ingin naik kereta.
"Ya Allah, ibu yang sabar yaa, semoga anak ibu bisa segera sembuh. Aamiin"
Tiada henti-hentinya hatiku mengucapkan lafadz zikir bersyukur kepada Allah, masih
diberikan sehat dan anak-anak yang aku tinggalkan dirumah juga dalam keadaan sehat. Ya
Allah, tidak ada daya upaya hanya Engkaulah yang memberi semua nikmat itu. Jadikan aku
hamba yang senantiasa selalu bersyukur, dan berilah kekuatan dan kesabaran pada ibu dan anak
itu.
Sekilas teringat cerita sahabatku yang memiliki saudara sepupunya yang sakit lupus
juga, usianya sekitar 23 tahun.
Sepupunya itu sangat gigih sekali, rajin belajar hingga dia sampai lupa kalau lupus
hinggap didirinya sejak lama. Cita-cita nya yang luar biasa tinggi mengantarkan dia kuliah di
salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung, hingga dia harus kos di dekat kampusnya.
Sampai suatu saat beberapa kali sahabatku melihat sepupunya anfal, dan kalau lagi
kambuh membuat orang disekitarnya itu gak tega melihatnya. Selain pipinya merah, tubuhnya
yang dirasakan juga terasa linu. Kadang kumat, lalu sehat dan kumat lagi kemudian sehat lagi.
Sepupu temanku itu tinggal di Indramayu, sedangkan Rumah sakit besar di Indramayu
tidak ada dokter ahli lupus, jadinya dia dan keluarganya memilih dirawat di RS Sadikin
Bandung. Mungkin hal ini juga yang menjadi alasan kenapa dia memilih kuliah di Bandung
agar sewaktu-waktu kalau kambuh bisa cepat ke Rumah Sakit yang bisa menangani penyakit
lupus. Karena memang di Indonesia masih jarang sekali spesialis lupus.
Seperti anak kos pada umumnya, kadang suka lupa dan telat makan, tugas kuliah
numpuk, dikejar-kejar deadline tugas dan penelitian, istirahat dan tidur pun tidak jelas
waktunya. Kalau lagi sehat lupa kalau dirinya sedang sakit. Makanannya yang seharusnya
dijaga dengan mengkonsumsi makanan sehat kadang kalau lagi kepepet ya jadinya makan mie
instan, itu yang menyebabkan dia suka kambuh lagi.
Padahal sepupu temanku tahu dengan kondisi lupus yang menyerang tubuhnya, karena
sejak SD lupus itu bersandar, jadi dia seharusnya tahu sejauh mana batasan-batasan yang
diperbolehkan dan yang tidak untuk dirinya. Tapi kadang suka terlalu memforsir diri dengan
tugas-tugas kuliahnya yang menyebabkan suka kambuh lagi. Apalagi kalau dia merasa sehat,
karena merasa ketika kambuh dia gak bisa ngapa-ngapain, jadi ketika sehat dia melakukan
banyak hal. Karena dia pikir sakitnya itu lebih banyak di banding sehatnya.
Sampai suatu saat, lupus itu menyerang organ ginjalnya yang menyebabkan gagal
ginjal, hingga dia harus rutin cuci darah. Kemudian suatu hari tubuhnya butuh transfusi darah
tapi tidak dapat, kebutuhan transfusinya tidak mencukupi sehingga menyebabkan dia anfal
kembali kemudian tidak tertolong lagi.
Begitulah sahabatku cerita tentang sepupunya, padahal dia sangat sayang dengan
sepupunya itu. Sampai-sampai saat cerita kepadaku terlihat kesedihan diwajahnya.
Lupus merupakan penyakit inflamasi kronis yang disebabkan oleh sistem imun tubuh
yang bekerja dengan keliru. Dalam kondisi normal, sistem imun seharusnya melindungi tubuh
dari serangan infeksi virus atau bakteri. Sedangkan pada pengidap lupus, sistem imun justru
menyerang jaringan organ tubuh sendiri. Inflamasi yang disebabkan oleh lupus bisa menyerang
berbagai bagian tubuh, antara lain sel darah, ginjal dan paru-paru.
Lupus kerap dijuluki sebagai penyakit seribu wajah karena kelihaiannya dalam meniru
gejala penyakit lain. Kesulitan diagnosis biasanya dapat menyebabkan langkah penanganan
yang kurang tepat.
Penyakit lupus ada beberapa jenis, salah satunya adalah lupus eritematosus sistemik
(systemic lupus erythematosus/SLE). Meski gejala SLE bervariasi, tetapi ada tiga gejala utama
yang umumnya selalu muncul, yaitu rasa lelah yang ekstrem, ruam merah pada kulit yang
menyebar pada batang hidung dan pipi dikenal dengan istilah ruam kupu-kupu (butterfly rash),
nyeri pada persendian.
*******
Tak sadar ternyata stasiun Bogor pun tiba, kulihat diluar jendela kereta sudah tidak
hujan.
“Saya duluan ya bu”, akupun berpamitan dengan ibu dan anak itu.
“Hati-hati ya mba”, senyum di wajah ibu itu pun merekah.
Aku langkahkan kaki ku ke peron kereta yang basah bekas hujan. Angin dingin dan
sejuk pun menyapu pipiku. Terlihat jelas di ujung langit stasiun Bogor pemandangan gunung
salak membiru, indahnya pemandangan itu. Namun hati ini masih merasa berkecamuk, tak
sengaja air mata mengalir ke pipi yang dingin. Begitu banyak nikmat yang ku dapat dari Ilahi,
masih bisa menghembuskan napas dengan bebas, memiliki suami dan anak yang sehat. Maka
nikmat mana lagi yang kau dustakan. ********
Septi Handayani
Seorang ibu rumah tangga kelahiran 1 September ini pernah kuliah di Fakultas Hukum dan
memiliki kegigihan dan rasa ingin tahu yang tinggi. Juga seorang mantan bankir dan asuransi
yang berhijrah dari riba yang kemudian beralih terjun ke dunia properti melalui tahapan sebagai
legal officer di salah satu perusahaan properti syariah. Lalu mendirikan agency property
bernama Gerai Properti Syariah dengan skema tanpa riba, tanpa ghoror dan tanpa zalim.
Perjalanan nya mengantarkan ke komunitas micromentor sebagai mentor Digital marketing
yang kemudian bertemu dengan sejumlah penulis luar biasa dan trainer & instruktur hebat.
Dengan kegigihan dan keuletannya berharap membawa manfaat bagi setiap insan walau hanya
dalam sekutip tulisan.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak
dapat menentukan jumlahnya.”
- (Q.S. an-Nahl, 16: 18).
Tiada Hentiku Bersyukur
Oleh. Fitria
"Atas nama Fitria!"
Lekas aku menjawab 'iya' ketika namaku dipanggil suster yang berdiri di ambang pintu
ruangan dokter spesialis penyakit dalam. Kuhela napas lega dan segera bangkit setelah berjam-
jam duduk menunggu di sebuah rumah sakit kota Jambi. Lelah yang sedari tadi bersamaku
rasanya sedikit menjauh hanya dengan membayangkan keluhan-keluhanku sebentar Iagi
diberikan solusi oleh orang yang tepat.
Hari ini, jadwal kontrolku kesekian kalinya setelah didiagnosa suatu penyakit, yang
belum ditemukan obatnya hingga saat ini, lalu obat yang kuminum setiap hari itu apa namanya?
Aku memang masih kebingungan dengan penyakitku ini. Setiap bulan aku harus menemui
dokter, melakukan cek darah, dan mengambil obat-obatan untuk satu bulan ke depan. Rutinitas
yang membosankan.
Kadang aku ingin menyerah, tidak mau lagi meminum obat, tidak ingin menemui
dokter, menolak melakukan pengambilan darah setiap bulannya. Akan tetapi, aku bisa apa?
Tubuhku membutuhkan itu semua.
Tubuhku memang payah, tidak bisa diajak kompromi. Di usia yang baru menginjak 23
tahun harusnya sehat segar bugar bukan seperti ini, menjadi pasien tetap setiap bulan, dan
mungkin saja bisa seumur hidup. Berangkat subuh hari hingga matahari bersirna sempurna,
aku belum juga selesai duduk menunggu.
Pernah aku mengeluh meminta toleransi ke dokter agar tidak menemuinya untuk
beberapa bulan ke depan. Mungkin dengan begitu aku tidak harus minum Obat yang pahitnya
bukan main itu, tetapi dokter malah menasihatiku, "Bersyukur organ vital kamu yang Iain
belum banyak diserang, kamu masih bisa rawat jalan, dosis obatnya perlahan sudah dituruni,
pasien saya yang Iain ada yang Iebih parah kondisinya."
Aku terdiam. Ingin rasanya menangis saat itu juga, andai aku tidak kuat menahan diri
mungkin sudah keluar kata-kata. "Dokter tidak merasakan apa yang aku rasa, dokter tahu kan
berapa butir Obat setiap hari kuminum, apa dokter tahu bagaimana hidupku cuma jadi beban
bagi keluarga? Mungkin seumur hidup dokter tidak merasakan bagaimana sakitnya dikucilkan
di lingkungan sosial."
Namun, kala itu aku hanya menunduk, memaksakan diri mendengar nasihat-nasihatnya
tanpa bantahan, anggap saja dokter sedang menyentil keimananku yang akhir-akhir ini naik-
turun tidak karuan dalam waktu sekejap saja. Bukankah dokter juga pernah bilang kacaunya
mood-ku bisa karena pengaruh obat-obatan. lya, aku harap begitu.
Pengaruh obat-obatan memang begitu signifikan di tubuhku. Hal yang wajar kata
dokter, karena terapi stroid dosis tinggi berserta obat pendamping yang Iain mampu mengubah
tampilan fisik maupun psikisku dalam waktu yang singkat. Berat badan melunjak, pipi
tembam, perut buncit, jerawatan, kulit kering, mudah tersulut emosi, hingga ritme jantungku
terasa berpacu Iebih kencang.
Kadang di Iain waktu, aku membenarkan nasihat sang dokter. Aku memang patut
bersyukur dengan kondisi saat ini, setidaknya aku bukan pasien langganan rawat inap seperti
dulu.
Sebelum ketemu diagnosa yang tepat melalui serangkaian cek darah lengkap. Aku
adalah pasien muda dengan segudang penyakit, hampir tiga tahun mengidap kesakitan. Mulai
dari seringnya demam, sariawan yang tak kunjung hilang, rasa nyeri pada sendi, rambut rontok,
tangan kaki selalu terasa dingin, sakit kepala hebat, sering ruam, sel darah merah dibawah
normal hingga mengharuskan aku sering transfusi darah.
Masa itu, masa yang berat bahkan dokter pernah merujuk pada diagnosa Leukimia.
Sebab dari hasil laboratorium darah condong mengarah pada Leukimia, aku diminta
melanjutkan pengobatan di kota Palembang. Selama sepuluh hari aku terbaring di kamar rawat
inap menahan sakit dan menunggu hasil yang pasti tentang penyakitku. Tidak terhitung entah
berapa kali dokter mengajukan pertanyaan menggali riwayat kesehatanku selama ini, darah
yang diambil lalu dibawa ke laboratorium, cairan infus yang menetes menandakan jarumnya
masih tertancap kuat, serta menyadarkanku arti persaudaraan, karena saudaraku sudah siap bila
harus mendonorkan sum-sum tulang belakangnya.
Dokter benar, aku patut bersyukur dengan semuanya. Sekarang kondisiku jauh lebih
baik setelah melakukan serangkaian pengobatan rutin. Tepat sasaran mungkin begitu kata yang
pas, karena belakangan aku baru tahu penyakitku ini memang unik. Mampu menyerupai
penyakit Iain, kerap dijuluki sebagai penyakit seribu wajah karena kelihaiannya dalam meniru
gejala penyakit Iain.
Bayangkan bila sampai hari ini belum terdeteksi, mungkin aku masih langganan
menjadi pasien rawat inap dengan beragam keluhan, atau aku sudah tiada di dunia ini. Tidak
ada kesempatan lagi memperbaiki diri untuk bekal pulang yang abadi.
Aku tersenyum dan melangkah penuh semangat masuk ke ruangan dokter, berharap
rasa sakit, lelah, jenuh, sedikit mereda. Kuucapkan salam, lalu duduk di hadapannya.
"Bagaimana? ada keluhan Iain bulan ini?" Tanya dokter sambil membaca file
medical record yang sudah disiapkan suster sebelumnya.
"Ini, Buk." Aku menunjuk bagian tengah kelopak mata sebelah kiri yang bintitan
sebesar biji kacang hijau, warnanya merah menyala, rasanya perih dan gatal.
"Ini timbilan biasa ya, Bu?" tanyaku ragu.
"lya, cuma peradangan biasa. Dosis kita naikan Iagi delapan mili, ya? Kita lihat
perkembangan dua minggu ke depan. Kalau belum kempes diangkat saja. Tidak usah takut
kecil-kecilan, kok," ujar dokter sambil menatapku seakan memberikan semangat.
Sekali lagi, dokter memang benar, aku harus banyak bersyukur. Lihatlah perhatian sang
dokter, tidak hanya menjalankan tugasnya memberikan obat. Dia juga menyuntikan semangat
dengan dosis yang tepat.
Aku meresponnya dengan sedikit senyuman, karena tiba-tiba saja ingatanku melayang
pada status teman facebookku tempo hari, bahwa orang-orang seperti kami harus siap dengan
segala tindakan medis. Obat-obatan, jarum, pisau bedah bukanlah sesuatu yang aneh.
Lucu sekali bila aku terkejut dengan pernyataan dokter barusan, harusnya kan tidak
perlu drama menyikapinya. Bintitan biasa paling lama dua minggu sudah kempes, sedangkan
bintitanku?
Ah, dokter benar Iagi. Harusnya aku bersyukur selama bergelut dengan penyakit ini
tubuhku baru tiga kali merasakan pisau bedah, bahkan yang pertama jauh sebelum didiagnosa.
Aku menunduk, perlahan merasakan sesuatu yang Iebih ngilu dari sayatan pisau bedah.
Bayangan wajah ibuku yang menangis dalam diam menyeruak. Bagaimana cara memberi
tahunya, agar perempuan yang melahirkanku itu tidak ikut sedih. Sudah terlampau banyak air
matanya tumpah untukku.
Entahlah.
Mendadak kepalaku terasa berat, perut mual, ruangan ini serasa disesaki pasien, aku
kesulitan bernapas. Tatapanku juga kabur seakan ruangan ini memiliki warna yang sama.
Entah apa yang diucapkan dokter, aku tidak mendengarnya dengan jelas.
Samar- samar yang kudengar, bahwa pentingnya menjaga keharmonisan hati dan
pikiran agar Lupus tetap terkendali.
lya, itu terus aku usahakan jawabku dalam hati. Susah payah rasanya aku
menyelaraskan keduannya, menancapkan pikiran-pikiran positif agar hati tetap bersyukur.
Sedetik kemudian entah apa yang terjadi, aku merasa ada yang menendang kursiku,
aku terjatuh saat itu juga, dan merasakan waktu berlari begitu cepat. Hari sudah malam,
mengapa dokter tidak menyalakan lampunya. Kali ini, dokterku salah. Lihatlah ruangannya
jadi gelap, aku tidak dapat melihat senyumnya, aku pun tidak sempat untuk bertanya.
"Apa lupusku sudah terkendali?"
Jambi, 02 Juni 2021
Fitria
Seorang ibu rumah tangga yang suka membaca dan menanam sayuran. Wanita kelahiran Parit
Culum 1 pada tanggal 1 Juli, memiliki keinginan sederhana agar bisa menjadi odapus yang
produktif. Sapa dia di FB Nur Fita Saari dan email [email protected]
“Jadilah kupu-kupu yang kuat dan tangguh, jadilah kupu-kupu yang
bermanfaat bagi ratusan kehidupan bunga, jangan biarkan sayapmu yang
indah patah, teruslah menari, teruslah memberi, sekali itu berarti.”
- Aziz Inspire
Tak Ada Kesempatan Kedua
Oleh. Aziz Inspire
Bila saja Tuhan memberikan kesempatan kedua, nyatanya tidak!
Tuhan tidak pernah memberikan kesempatan kedua, tetapi Dia memberi kesempatan
lain yang berbeda. Bagaimana bisa mundur dengan kesempatan yang ada, merangkai setiap
takdir kehidupan dengan senyuman dan kebahagiaan. Tak ada rasa sakit yang diderita, yang
ada hanya nikmat berselimut bahagia. Tak pernah sia-siakan kehidupan sedetik pun.
Lantas mengapa ada tangis disetiap helaan nafas? Ada tetes air mata yang jatuh dari
kedua mata yang indah? Ada kesedihan yang mendalam dan menyesakkan dada, mewarnai raut
wajah yang tertunduk lesu. Masih adakah harapan untuk hidup lebih baik? Masih adakah untuk
hidup bahagia? Bahagia begitu dekat, sedekat ikan bersama air, tak terpisahkan, dia akan terus
hidup berenang menikmati setiap karunia yang diberikan.
Harapan selalu ada, namun tak begitu saja didapat dan diperoleh. Atau harapan seperti
fatamorgana? Terlihat, tapi tak dapat tersentuh. Hanya harapan yang bisa memacu adrenalin
kehidupan, terus berjuang dan bertahan atas situasi dan keadaan yang mendera. Ketika cinta
dan cita telah hilang, harapan selalu menemani, memberi hembusan sejuk kehidupan, terus
bangkit, menghapus air mata, mengangkat wajah, dan berani menghadapi dunia.
Semua yang terjadi sudah tercatat disinggasana Allah SWT, tak akan terjadi kecuali
Dia maha mengetahui dan maha berkehendak, bahkan selembar daun tua yang jatuh dari ribuan
daun yang ada. Daun itu pun tak lantas marah dan kecewa, mengutuk takdirnya yang jatuh
lebih dulu dibangding daun lainnya. Justeru dia melakukan transformasi diri, menerima
takdirnya dengan lapang dada, dan terus berbuat untuk memberi manfaat, bukan kesedihan dan
meratapi takdirnya yang terus berkepanjangan.
Dengan senyuman daun jatuh menari terhempas di bumi, lekukan tubuhnya mengikuti
irama hembusan angin yang membawanya, bagai alunan musik yang indah mengiringi, tentu
membuat iri daun lainnya yang masih kokoh berada diposisinya.
Hidup bukan sekedar melihat kebahagiaan orang lain, tetapi hidup membuat
kebahagiaan diri sendiri, menerima dengan baik dan ikhlas setiap kebahagiaan sekecil apa pun
itu. Daun yang jatuh melepas beban kehidupannya, dia tidak membenci angin, menerima
takdirnya untuk jatuh, dan terus berusaha memberi manfaat, karena hidup bukan tentang
dirinya saja, tetapi juga tentang kehidupan yang lain. Hidup bukan hanya hari ini saja, tapi juga
esok yang lebih baik.
Bila Tuhan hanya melihat jatuhnya selembar daun, maka selesai, dan tidak ada lagi
setelah itu. Tetapi Tuhan memberi kesempatan kedua pada daun untuk memberi manfaat dalam
bentuk yang berbeda, meskipun wujud dan bentuk yang tak lagi sama, bahkan sudah tidak
berbentuk, rapuh, hilang dan lenyap. Selembar daun yang jatuh telah memberi banyak manfaat
pada kesuburan tanah, tubuhnya yang tak lagi indah dan tak berbentuk, memberi energi untuk
daun-daun muda tumbuh subur.
Begitu banyak misteri kehidupan disekitar kita, sesuatu yang tidak pernah kita tahu arah
dan tujuan, kemana kita melangkah, kemana kita berjalan, dan kemana kita berlari. Kita tidak
pernah tahu masa depan, tetapi kita bisa merencanakannya. Kita tidak pernah tahu apa yang
akan terjadi nanti, tapi kita tahu apa yang harus kita lakukan saat ini. Pasrah dengan keadaan
bukan satu-satunya jalan, bahkan bukan jalan hidup manusia. Karena sejak diciptakan dan
terlahir di dunia, dia terus berjuang. Tangisan pertamanya adalah teriakan kemenangan,
keberhasilannya berjuang menghadapi semua proses kehidupan. Bukan kesedihan yang
menyesali dirinya. Bahkan setelah itu dia tersenyum dan juga tertawa, tak ada beban yang
dibawa, tak ada kesedihan.
Misteri kehidupan akan terus ada, sepanjang kehidupan manusia, bahkan hidup setelah
mati. Tuhan memberi isyarat dengan adanya tanda-tanda alam, adanya siang dan malam,
adanya matahari dan bintang gemintang, bulan yang menampakkan keindahan cahanyanya,
meskipun dia tidak memiliki cahaya sendiri, indah menawan meskipun cahaya berasal dari
matahari. Begitulah alam menjadi tanda bagi kehidupan manusia.
Gelap tak selamanya terjadi, akan berganti dengan siang yang terang benderang, malam
dan siang merupakan anugerah yang dapat dinikmati. Malam tidak pernah kecewa akan
takdirnya yang harus berganti dengan terbitnya matahari, dia tidak mengutuk matahari yang
menggantikan posisinya, justeru dia dapat beristirahat dengan nyaman. Matahari pun tanpa
lelah menyinari kehidupan, meskipun kadang redup dengan kehadiran awan yang
menghalanginya. Dia terus bercahaya hingga batas waktu yang telah ditentukan, dan akan terbit
kembali esok hari dengan semangat dan bahagia, ikhlas memberi cahaya, memberi manfaat
bagi seluruh makluk yang ada.
Bagaimana mungkin manusia putus asa dan frustasi dengan keadaan yang ada,
sementara semua merupakan kehendak Tuhan, bukti dan cinta atas dirinya, setiap rasa sakit
yang dirasa, adalah pelukan kasih sayang, setiap tetes air mata yang jatuh adalah telaga surga.
Tak ada sedikit pun Tuhan membiarkan makhluk ciptaannya susah dan menderita. Penderitaan
hanya dirasakan sesaat, penderitaan hanya waktu, jembatan emas yang menghantarkannya
pada kehidupan abadi yang lebih indah.
Kita tidak pernah tahu setiap kehendak Tuhan, tapi kita harus tahu, bahwa
kehendakNya pasti baik untuk manusia. Apa yang baik menurut kita belum tentu baik untuk
kita, tapi apa yang baik menurut Tuhan, pasti baik untuk kita. Namun kita tidak pernah tahu,
tidak menyadarinya. Rahmat atau kasih sayang Allah SWT berlimpah, setetes air berjuta
manfaat, bahkan oksigen yang dihirup, tak terlihat dan ternilai harganya. Seandainya Dia tidak
memberikan setetes air dan berjuta oksigen, maka hilang tak berarti.
Bersyukur adalah kunci kehidupan, tersenyum adalah bunga-bunga yang indah
menghiasinya. Haruskah kita kehilangan keindahan hidup dengan tidak tersenyum? Bersyukur
atas apa yang ada dan terjadi membuat hati dan pikiran terasa damai. Tak perlu caci maki dan
menyesali diri, tak perlu meratapi apa yang terjadi. Terima dengan lapang dada, hati yang
ikhlas, pikiran yang tenang.
Sementara bunga berwarna warni menghiasi taman, menambah keindahan kehidupan.
Dengan bantuan angin dan serangga mereka dapat berbunga, mereka tidak bisa melakukannya
sendiri penyerbukan bunga jantan dan bunga betina. Salah satu serangga itu adalah Kupu-kupu
yang cantik hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Meski sayapnya rapuh, dia begitu
cantik dan indah, tetap memberi manfaat bagi kehidupan bunga yang terus tumbuh, selalu
bersemangat memberi manfaat, selalu menari dari satu bunga ke bunga yang lain, tak pernah
bersedih hati.
Nikmati dan syukuri hidup, menerima dan menjalani takdir, berdamai dengan situasi
dan keadaan, hati akan terasa damai dan tenang, selalu ada yang bisa dilakukan memberi
manfaat. Rasa sedih dan kecewa tak memberi manfaat kecuali keputusasaan. Tersenyumlah,
menarilah, bahagialah wahai kupu-kupuku. Rasakan setiap kepakanmu yang indah dengan hati,
dengan ketulusan dan keikhlasan. Sungguh Tuhan begitu menyayangimu. Setiap helaan nafas
menjadi rangkaian doa yang syahdu, karena Tuhan merindukanmu.
Menangislah, menikmati setiap rasa yang kau alami, selagi itu membuatmu tenang dan
damai, membuatmu lega melepas setiap rasa. Tuhan ciptakan air mata untuk manusia, Dia
ciptakan kesedihan untuk hambanya agar lebih dekat denganNya. Setiap sujud dan doa adalah
pelukan yang indah dan damai. Karena Dia menyayangimu.
Tak ada yang perlu disesali, nikmati siang dan malam, gelap dan terang, hembusan
angin yang menerbangkan dedaunan, nikmati setiap hembusan nafas sebagai rasa syukur atas
semua yang Tuhan berikan. Tak ada yang sia-sia dan tak ada yang kebetulan, semua sudah
menjadi takdir dan kehendak Tuhan. Jadilah kupu-kupu yang kuat dan tangguh, jadilah kupu-
kupu yang bermanfaat bagi ratusan kehidupan bunga, jangan biarkan sayapmu yang indah
patah, teruslah menari, teruslah memberi, sekali itu berarti.
Bila saja Tuhan memberi kesempatan kedua, saat inilah kesempatan itu.
Jakarta - Subuh, 25 Mei 2021
Aziz Inspire – Munawar Aziz
Passion & Persistent mengantarkan pria kelahiran Jakarta 23 Juni ini
mengarungi dunianya, mendobrak semua keterbatasan, mengubah tantangan
menjadi peluang, membuka pintu-pintu kesempatan. Kesuksesan hanya dicapai
dengan kesungguhan dan keuletan, lakukan semua dengan gairah & gigih.
Kecintaannya terhadap dunia menulis diawali dengan membangun dan
mendirikan sebuah sekolah menulis bersama beberapa orang yang luar biasa,
hingga menjadi trainer & instruktur ratusan pelatihan menulis. Salah seorang
pendiri sekolah menulis Balai Pustaka (BP School of Writing) dan Best Practice
Indonesia. Bakat memang diperlukan dan bukan satu-satunya penyebab
kesuksesan seseorang dibidangnya, tetapi keuletan, kegigihan, gairah, dan
banyak berlatih jauh lebih penting dalam berkembang dan mengembangkan
potensi yang ada dan dimiliki. Dapat dihubungi di HP 087877756222 dan email
[email protected]