Beberapa sudah waktu berlalu, perubahan demi perubahan terlihat di wajah dan tubuh
Lani, meskipun ia tergolong wanita yang kuat dalam kepura-puraan, Lani sangat pandai
dalam hal menyembunyikan sesuatu, pantang baginya untuk mengeluh, selagi ia bisa
selesaikan sendiri, kenapa harus minta bantuan orang lain, prinsip itu membuat Bram kadang
marah.
Lani berjalan menuju teras belakang, karena hari ini hari libur, Lani menghabiskan
waktunya di rumah, bermain bersama Cica putri kesayangan mereka. Suasana pagi yang
indah menambah kehangatan hati Lani selain ocehan Cika. Suara merdu pun terdengar dari
sudut ruangan diiringi dengan dentingan piano, senyuman pun terlihat di wajah Lani ia sangat
menikmati sekali lantunan lagu yang dinyanyikan oleh sang Ibunda tercinta, maklumlah sang
Ibu dulunya mantan penyanyi, meskipun penyanyi kelas kampung, suara sang ibu tidak kalah
merdu dibandingkan suara artis ibu kota.
“Mas Bram,” ucap Lani melihat sang suami datang membawa beberapa camilan.
“Ayo di coba, mumpung masih panas, sengaja mas buat khusus buat istri kesayangan mas,”
ucap mas Bram sambil menikmati Tahu Walik buatannya.
Air mata Lani tiba-tiba jatuh membasahi wajahnya, ia sangat ingin menceritakan
penyakit yang ia derita selama ini, namun ia tak ingin membebani keluarganya terutama sang
Ibu yang sangat mencintai dan menyayangi dirinya, Lani satu-satunya harapan sang Ibu,
sementara Putri Tania sangat mendambakan Lani. Lani seorang Ibu yang bisa membuat
putrinya merasa nyaman dan damai, Tania sangat ketergantungan dengan sang Ibu. Mas
Bram, laki-laki yang ia temui dua belas tahun lalu, sangat mencintai dirinya. Begitu banyak
alasan Lani untuk tidak menceritakan sakit yang ia derita selama ini.
Bram berjalan ke arah Lani, perlahan ia mendekati wajah sang Istri, Bram sangat
kaget melihat wajah Lani yang sedikit pucat.
“Sayang kamu sakit?” tanya Bram.
“Enggak Mas, biasa kecapeean, coba lihat muka saya masih cantik dan segar kan?” jawab
Lani dengan manjanya.
Bram segera memeluk sang istri dengan penuh kehangatan dan cinta, pada saat tangan
Bram mengelus-elus rambut Lani, tanpa sadar begitu banyak rambut Lani berjatuhan di
bawah kursi, Bram sangat kaget, jantungnya berdetak tak karuan, perasaannya semakin tidak
enak. Bram sangat ingin menanyakan langsung, namun Bram segera mengurungkan niatnya.
Karena Bram sudah tahu jawaban dari mulut Lani.
Malam semakin dingin, cahaya lampu semakin redup pertanda malam semakin larut,
tak ada terlihat lalu lintas di jalan, semua sudah kembali ke peraduannya. Namun rasa kantuk
belum terlihat di wajah Bram, ia masih diam di keheningannya malam.
Suara azan subuh membangunkan Lani, ia beranjak dari tempat tidurnya, namun Lani merasa
kebingungan karena Bram tidak berada di sampingnya. Lani keluar mencari keberadaan sang
suami.
“Mas Bram kenapa tidur di luar!” tanya Lani dengan raut wajah ketakutan.
Bram segera beranjak dan berjalan menuju arah kamar.
Mata Lani tiba-tiba tertuju ke bawah kursi, ia melihat beberapa gumpalan rambut
yang berserakan, Lani mengambil gumpalan itu, kemudian ia masukkan ke dalam plastik.
Penyakit yang Lani derita membuat hidupnya tidak akan bertahan lama, selain rambutnya
yang hampir tiap hari rontok, sendinya juga bermasalah, kulit putihnya pun tak lagi indah,
terdapat raum-raum di berbagai permukaan kulitnya. Bahkan mulut dan hidungnya
mengalami luka. Kondisi ini sering Lani alami pada saat sistem imunnya yang seharusnya
melindungi tubuh dari infeksi atau cedera, malah justru menyerang sel dan jaringan tubuh
yang sehat, hal itu membuat peradangan dan kerusakan pada berbagai organ dan bagian tubuh
Lani. Air mata Lani ia tahan agar tidak membanjiri wajahnya. Ia tak ingin Mas Bram kasihan
dan merasa iba dengan penyakitnya.
Hari kedua setelah kejadian itu, Mas Bram masih terlihat pendiam. Gerak geriknya
pun menjadi mencurigakan, bahkan tatapan matanya pun menjadi dingin, tak ada kehangatan
dan sentuhan manja.
“Apa mungkin Ranti sudah menghianati dirinya,” pikir Lani dalam hati sambil menata meja
untuk sarapan pagi.
Aneh, namun Lani tak mau ambil pusing, ia dekatkan wajahnya ke arah Bram, jemari
Bram ia genggam, sebuah ciuman pun mendarat di hidung bangir Bram.
“Mas ada apa?” ucap Lani.
Bram menatap Lani dengan tatapan sangat tajam.
“Hari ini tidak usah masuk kerja, Mas mau ajak Lani ke suatu tempat,” ucap Bram sambil
menggenggam jemari Lani dengan sangat kuat.
Kristal itu nyaris pecah dan membasahi wajah cantiknya, namun perlahan ia tahan,
Lani tak ingin terlihat sebagai orang yang menyedihkan.
Lani segera beranjak menuju kamarnya, pada saat tangannya menyentuh box tisu, handphone
Mas Bram berdering, mata Lani langsung tertuju ke arah getaran.
“Benar dugaanku selama ini, Ranti sudah mengkhianati aku, selama ini Ranti menceritakan
semuanya kepada Mas Bram,” ucap Lani dengan mata berbinar-binar.
Kekesalan Lani pada Ranti sahabatnya sudah tak bisa dimaafkan, ia harus segera
menemui Ranti.
Lani tertegun beberapa detik, lidahnya menjadi kelu, emosinya pun mendadak tidak stabil.
“Kenapa dari tadi diam aja, istriku?”
Lani segera menoleh, dan menatap Mas Bram.
“Mas berhenti,” ucap Lani dengan nada sedikit tinggi.
Bram segera menghentikan mobilnya.
“Ada apa?” tanya Bram.
“Mas jangan bohong, Mas sudah tahu kan, selama ini Ranti sudah menceritakan semuanya?”
ucap Lani dengan mata berbinar-binar.
Bram hanya diam. Bram segera melajukan si putih, tak lupa volume music ia naikkan,
agar suasana menjadi dingin, Bram sangat mencintai Lani, baginya kesembuhan Lani lebih
penting.
“Mas kita sebenarnya mau ke mana?” tanya Lani.
Bram kembali hanya diam.
Bram menghentikan mobilnya tepat di sebuah lobi yang tidak asing bagi Lani.
Seseorang keluar dari dalam, dan menemui Bram.
“Hai apa kabar, masih ingat?”
“dr. Agus?” tanya Lani.
Dua bulan berlalu, berkat ketulusan Bram Lani akhirnya mau untuk menjalani
rangkaian tes, untuk menyembuhkan penyakit Lupus yang telah menyerang tubuhnya.
Penyakit mematikan itu membuat Lani sangat berubah, bahkan dokter sempat memvonis
bahwa namanya tidak akan tertolong lagi, hidupnya tidak akan lama, semua orang yang dekat
dengan Lani merasa tertekan, terlebih sang Ibu dan Putri Thania hasil perkawinannya dengan
Bram, lelaki yang sangat ia cintai. Lani wanita yang kuat ia pasti bisa melewati hari-hari yang
mengerikan itu. ia sangat yakin bahwa penyakit itu bisa pergi dari tubuhnya, asal ia
mempunyai semangat yang tinggi untuk sembuh. Senyuman terlihat di wajah Lani saat ia
melihat orang-orang yang ia cintai selalu berada di dekat dirinya, bahkan cintanya Bram yang
semakin kuat memberikan energi kesembuhan untuk dirinya, apalagi tatapan mata Putri
Thania yang sangat syahdu memberi ruang tersendiri di hati Lani.
Perlahan-lahan pintu itu tertutup, Lani berjuang bersama orang-orang yang mencintanya.
Norhasanah
Norhasanah, lahir di Buntok 12 Desember 1981, Guru Bahasa Indonesia di SMAN 2 Dusun
Selatan, Buntok, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Membaca buku fiksi merupakan
kegemarannya sejak duduk di kelas dua (2) Sekolah Dasar, dengan membaca membuat dirinya
mempunyai imajinasi yang sangat kuat, imajinasi tersebut kemudian ia tuangkan dalam sebuah
tulisan. Ada beberapa Karya mandiri dan bersama, diantaranya Negeri Bakantan (Antalogi)
tahun 2003, Antalogi Puisi Guru tahun 2018, Babeh tahun 2018, Antalogi Puisi Akrostik
tahun 2018, Gadis Kampung Air 2019, Bidadari Reza 2019, Misteri Hantu di
Persimpangan 2019, Goresan Pena Sang Guru 2019, Mengukir Kisah Berjuta Makna
tahun 2019, Merajut Pahala Surga 2019, Jeritan Kartika 2019, Puisi Haiku 2019,
Menjadi Guru Inspiratif 2019,Anakku Seorang Down Sydrome (Antalogi 2019), Jala
Tradisi (Antalogi 2020).Malam bertasbih Dalam Cahaya 1000 Bulan 2020, Derana 2020.
Kerika Aku Memilihmu 2020, Bumi Pun Tersenyum 2020. Untaian kata di Langit Jingga
(2020) Sejuta Rindu dalam Puisi (2020) Jemari Bait Kerinduan (2020) Petronas Dalam
Sepenggal Cerita (2021) Kumpulan Pantun Nasihat (2021)
‘Tingkatkan Kompetensi Raih Berjuta Prestasi”
Salam Literasi
“Keterbatasan tidak menyurutkan niatku menulis. Maka mulailah menulis bait
demi bait. Sertakan ridho orang tua lewat uluran tangan Tuhan, akan
memudahkan manusia untuk menemukan jalannya sebagai pemenang”
- Jasman Rauf
Aku Dan Semangatku
oleh Jasman Rauf
Pagi yang cerah mengisyaratkan diriku harus segera bergegas dan bergeser dari depan
laptop kesayangan yang selalu menemani hari-hariku di kampus. Laptop yang sangat berharga
ini adalah pemberian dari mama ketika aku mulai masuk semester 5 (lima) karena predikat IPK
ku cumlaude dan termasuk nilai yang tertinggi di antara jurusan akuntansi di salah satu
Unniversitas terbaik di Indonesia Timur tempat aku menimbah ilmu.
Aku harus segera bergegas; ganti baju, ambil tas, pasang sepatu sambil ijin ke mama
karena dosen mata kuliah Akuntan Publik menelfonku untuk segera ke kampus.
“Kalau ada temen yang jemput, nyuruh aja nyusul ke kampus ya ma”, pesanku ke
mama. “Aku brangkat ke kampus dulu ya ma,”
“Iya Nak, hati-hati ya”, jawab mama.
Setibanya dikampus, aku langsung menuju ke gedung rektorat untuk menemui dosenku.
Sampailah di depan gedung rektorat, kuketuk pintu sembari berucap salam,” Assalamualaikum
prof,”
“Waalaikum salam wr wb,” jawab Prof. Ilman, sembari didepan laptopnya yang sedang
sibuk virtual meeting. “Eh, nak Edy, gini nak, saya ada tawaran kerjasama penelitian dengan
PT. LSI, saya butuh bantuan 1 orang mahasiswa untuk jadi kordinator lapangan dan 10 orang
mahasiswa lainnya tenaga surveyor di provinsi Sulawesi Barat. Saya ingin nak Jasman jadi
kordinator lapangan, gimana?”
Gimana ya? Kalau aku terima tawaran itu pasti proposal penyelesaian studyku
terhambat, sementara kalau aku nolak, gimana cara nolaknya ya? fikirku jadi bingung.
“Maaf prof, kalau boleh minta waktu sehari untuk mempertimbangkan tawarannya ya,
prof”
“Iya nak, saya juga ga mau asal memberikan amanah ke mahasiswa kalau gak tau track
record nya, makanya nak Edy yang langsung aku tawarin pekerjaan ini karena saya anggap
nak Jasman lah yang pantas diantara teman-temannya yang lain karena selama dikampus ini,
nak Jasman salah satu mahasiswa yang memiliki prestasi akademik yang terkenal sangat aktif
di kampus, apalagi nak Edy mantan ketua BEM Fakultas Ekonomi, jadi silahkan
dipertimbangkan ya nak!” ujar prof Ilman.
Aku termasuk salah satu mahasiswa yang aktif dikampus dengan segudang prestasi
yang pernah diraih di kampus dan luar kampus membuat dosenku sangat yakin bahwa aku lah
yang pantas direkomendasikan.
Posisinya sangat dilematis, antara tuntutan orang tua karena ancaman drop out
sedangkan dosen yang begitu akrab denganku menaruh berat kepercayaan ini kepadaku.
Akhirnya akupun harus kembali ke rumah, langsung menemui mama yang sedang
duduk santai di teras sembari bercengkrama dengan adikku satu-satunya.
“Mama,” aku menyapanya.
“Iya nak, eh tumben cepat pulangnya nak, kok kamu kelihatan bingung, ada apa?”
Tanya mama.
“Gini Ma, aku ada tawaran part time job dari dosen aku Prof. Edy, aku diminta untuk
jadi kordinator lapangan proyek penelitian kerjasama dengan PT. LSI, sementara aku sibuk
juga ngurus proposal penelitan studi ma, gimana menurut mama?”
Mama juga kebingungan, bingung harus jawab apa karena tersisa setahun lagi
waktunya harus menyelesaikan kuliah karena sudah ada surat penyampaian dari kampus bagi
mahasiswa yang masuk angkatan 2014 harus segera menyelesaikan kuliahnya.
“Ya udah nak, coba komunikasikan dengan teman-teman kuliah mu atau para senior
kamu yang ada di kampus, kalo mama sih tergantung kamu aja”. Lanjut mama
Akupun langsung mengikuti isyarat mama dan dengan penuh pertimbangan, akhirnya
menemukan jawaban yang tepat, aku harus mengambil tawaran proyek itu. Keesokan harinya
langsung menemui prof. Ilman dan menyatakan bahwa aku bersedia menerima tawaran
pekerjaan tersebut dengan pertimbangan yang sudah matang.
Proyek pekerjaan mulai bulan depan dilaksanakan, sementara proposal ku belum
selesai dikoreksi oleh dosen pembimbingku. Aku harus bisa membagi waktu untuk bisa
menuntaskan keduanya hingga harus bolak-balik dari makassar ke mamuju dengan jarak
tempuh 400 km dalam waktu 9 jam lamanya perjalanan. Tapi untungnya aku bisa mengontrol
progres tim surveyor setiap pekan sehingga ada waktu yang tersisa untuk menyelesaikan
proposal tersebut.
Sudah dua minggu berjalan, teman-teman ku masih semangat untuk mengumpulkan
data dilapangan, sementara aku masih harus sibuk menemui dosen pembimbing aku yang
terkadang janjian di rumah untuk konsultasi.
Minggu ketiga bulan Mei berjalan, aku harus atur jadwal untuk turun ke lapangan
mengecek sambil evaluasi progress pekerjaan tim tapi aku harus menemui dosen pembimbing
satu untuk meminta persetujuan jadwal ujian proposal skripsi agar tidak bentrok antara jadwal
kegiatan proyek.
Setelah semuanya kelar tentang jadwal ujian skripsiku, akupun lega dan fokus
memikirkan pemberangkatanku ke lokasi proyek, sembari mikir sambil jalan menuju ke kantin
buat makan siang, ponselku berdering dan ternyata dosen memintaku untuk mengisi jadwal
ngajarnya pukul 14.00 siang ini karena kurang fit. Akupun langsung menyiapkan materinya
sambil online menikmati secangkir kopi.
Mengajar sudah ditunaikan lalu berbalik arah pulang kerumah. Setibanya di rumah, aku
ngobrol sambil jalan menuju keruang tamu bersama Mama.
“Nak, gimana urusan ujianmu?” Tanya mama.
“Udah beres kok Ma”, jawabku sambil senyum. “Oh iya Ma, aku mau brangkat ke
lokasi proyek besok pagi”.
“Ga apa-apa Nak, asal kamu hati-hati dan jaga kesehatan dijalan.”
Malam pun tiba, aku mulai packing dan menyiapkan perlengkapan buat besok. Setelah
selesai semua dikerjakan, akupun langsung masuk kedalam kamar dan tidur. Keesokan harinya
aku brangkat, sesampainya ke lokasi proyek aku disuguhi minuman kopi dan kue sudah
tersedia diatas meja oleh teman-teman surveyor.
“Wah, enak sekali makanannya, Wan...!, ini kue apa sih namanya?” Tanyaku.
“Ini kue tradisional asli Mandar, namanya kue Tetu alias kue perahu”.
“Terima kasih ya sudah nyiapin aku sarapan se pagi ini.”
Siang ini aku harus briefing dengan tim surveyor karena lusa aku harus balik lagi ke
makassar lagi. Berifing pun berlangsung, tiba-tiba aku merasa kurang enak badan, serasa
demam dan persendian kaki dan lengan ku terasa lemes banget, tp aku gak boleh ketahuan
sama teman-teman surveyor kalau aku kurang enak badan, aku harus kelihatan semangat
sampai selesai demi tim aku dan pekerjaan kami.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 wita, rapat selesai dan ijin kedalam kamar
untuk istirahat. Aku makin lemas seolah tak berdaya di atas kasur, badanku mulai panas. Aku
diam dikamar tanpa memberi tahu teman-temanku. Setelah merasa agak baikan, aku panggil
Wawan yang masih sibuk diruangan menyelesaikan pekerjaannya.
“Wan, boleh minta tolong ga?” Iya kak Edy, sahut wawan. “Aku mau minta tolong
carikan C1000 dan paracetamol ya, Wan!”
“Siap Kak. Emang lagi sakit ya Kak? Sambil megang jidatku. “Oh iya Kak, kamu
lumayan panas, tunggu ya aku carikan obat di depan.”
“Iya Wan, makasih ya!
Malam ga bisa tidur nyenyak, badan pegel linu, perasaan ga enak dan fikiran melayang
karena pekerjaan dan ujian skripsi masih mendominasi. Aku harus menyelesaikan pekerjaan
sebelum balik ke makassar.
Keesokan harinya aku sudah mulai baikan, meskipun masih ada rasa pegel, nyeri
dibagian sendi kakiku. Aku tetap menyemangati diri dengan segera mandi, sarapan dan
menyelesaikan pekerjaan yang masih tertunda. Tak lama kemudian semua pekerjaan selesai,
tinggal laporan yang harus dselesaikan di makassar untuk diajukan ke Prof. Munawar.
Hari in hari minggu, aku harus balik ke Makassar malam ini, dosenku memberi tahu
lewat chat di whatsapp terkait perubahan jadwal ujian skripsi yang dimajukan, persiapan
belajar ku belum memadai dan bahkan bisa dikatakan sepenuhnya belum siap untuk diuji. Aku
bingung di bus mikirin ujianku yang harus dilaksanakan lusa puku 10.00 wita. Apapun yang
terjadi aku harus ujian meskipun tanpa persiapan sama sekali, kataku dalam hati.
Setelah 9 jam dalam perjalanan, akhirnya tiba juga di rumah tepat pukul 03.45 dini hari.
Aku langsung masuk kamar, istirahat yang cukup demi menjaga kondisi tubuh agar tetap stabil.
Hari ini aku harus pergi ke kampus, melaporkan progress kegiatan sekaligus mengecek
jadwal ujian skripsi yang terpajang di papan pengumuman. Tetapi aku merasa kurang enak
badan, tubuhku demam, nyeri pada persendian kaki dan tanganku.
Aku semakin gelisah, pikiran kalut karena aku hanya bisa terbaring seolah badan ini
tidak bisa bergerak, suhu tubuhku panasnya semakin tinggi, hingga menggigil.
Ingin hari ini pergi ke kampus, namun harus pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan
diri diantar oleh mama karena kuatir melihat kondisi aku.
Perlahan jalanku menuju keruangan doktek, dengan kepala puyeng banget, dokterpun
mulai memeriksaku. Setelah diperiksa oleh dokter, aku disarankan untuk dirawat inap karena
kondisi badanku sangat lemas, diagnosa awal bahwa aku menderita penyakti tipes karena
kelelahan sehingga aku dirawat inap.
Jarum suntik pun nancap ke bagian tanganku sambil dililit tali infus. akhhirnya aku
tumbang, hari kedua dirawat dirumah sakit, perkembangan kondisi mulai membaik, namun
badan masih tetap lemas.
Aku baru bisa menelfon dosenku, meminta maaf tidak bisa menemui karena sedang
dirawat di rumah sakit, sementara jadwal ujian skripsi ku juga hari ini harus tertunda. Beban
pikiran semakin numpuk di kepala seolah kapal yang menampung penumpang puluhan ribu
orang.
Hari ketiga dilantai tiga kamar anggrek rumah sakit wahidin sudirohusodo, mama lagi
keluar sementara aku sendiri diruang ini, tiba-tiba Nampak didepan pintu kamar ada seseorang
yang mengetuk pintu, ternyata beliau yang datang menjengukku, beliau itu adalah dosen ku.
“Gimana kondisinya Nak,” langsung menyapaku.
“Alhamdulillah lumayan membaik Prof,” jawabku. Sembari berbincang banyak tetang
perkembangan kampus dan progress penelitian, Prof. Munawar kelihatan ingin terburu-buru
pulang karena banyak kesibukan hari ini yang harus dikerjakan.
“Saya pamit dulu ya nak, semoga cepat sembuh.” Ucap dosenku,
“Iya Prof, terima kasih doanya dan terima kasih banyak atas kunjungannya.” Jawabku.
Hari ke 4 kondisi semakin stabil dan seolah sudah tidak merasakan sakit apa-apa lagi.
Dokter pun datang mengecek kondisiku dan meyarankan untuk tes darah untuk memastikan
diagnose nya. Selesai cek darah aku menunggu sekitar 15 menit dokter pun memberikan hasil
tes darah dan ternyata menemukan ada gangguan sedikit pada sendi dan sel darah.
Dokter menyarankan harus banyak istirahat, mengurangi aktifitas setelah pulang dari
rumah sakit. Dengan perasaan senang, hari ini telah diperbolehkan pulang ke rumah.
Banyak pelajaran yang aku dapatkan setelah merasakan sakit dan dirawat di rumah
sakit, aku mulai mengatur pola makan, mengatur pola istirahat dan mulai mengurangi aktifitas.
Aku juga mulai mengerjakan kegiatan yang prioritas dikerjakan terlebih dahulu.
Setelah seminggu lamanya istirahat dirumah, aku mengawali aktifitasku seperti biasa.
Pergi kekampus menyelesaikan semua tanggung jawab sebagai mahasiswa. Menghadap ke
dosen pembimbing dan melakukan konfirmasi jadwa ujian skripsiku yang tertunda,
melaporkan progress kegiatan penelitian juga sudah selesai.
Karena jadwal ujian skripsi sudah ada, semua harus dipersiapkan meskipun sesekali
terasa masih pusing, mual dan nyeri pada persendian tangan dan kaki. Kekhawatiran terus
menghantui dengan kondisi ini, trauma masuk rumah sakit pun masih berbekas difikiran. “Ya,
sudahlah apapun yang terjadi the show must go on”, kataku dalam hati.
Hari ini selasa, 7 Mei 2019 telah dilaksanakan ujian skripsi, saya termasuk peserta
terakhir dari 6 orang yang berasal dari prodi yang berbeda-beda. “Alhamdulillah berjalan
dengan lancar tanpa sedikit kendala meskipun beberapa koreksi dari dosen pembimbing dan
penguji yang harus diperbaiki”, ucap syukurku.
Sidang ujian skripsi pun selesai, dan selanjutnya yudisium dilaksanakan, hati berdebar
kencang, gugup, agak cemas dan masih puyeng ketika kami dinyatakan lulus dengan predikat
“cumlaude”. sujud syukur ku tunaikan karena persiapan minim, waktu singkat tetapi hasilnya
tetap maksimal. Waktu bangun dari sujud syukur, tubuhku lemas, mata mulai berkunang-
kunang akhirnya tergelatak jatuh pingsang.
Suasana riuh dalam ruangan sidang, akhirnya aku dibawah ke rumah sakit oleh teman-
teman. Sesampainya di rumah sakit, berselang 30 menit mulai siuman dengan pandangan masih
kabur, bibir seolah tak berdaya berucap “saya dimana nih? Kok saya disini, ada apa ya?”
Tanyaku.
“Ini lagi di rumah sakit Wahidin kak Edy, tadi pas selesai yudisium, kamu tiba-tiba
jatuh pingsang di ruangan” jawab Indri, salah seorang teman ujian.
“Maaf mbak Indri, aku bisa minta tolong gak? Tanyaku ke Indri. Iya kak Edy, mau
minta tolong apa, jawab Indri. “tolong hubungi ibuku, klo aku masuk rumah sakit lagi. Pintaku.
Teman-teman pulang ketika ibuku sudah datang dengan wajah yang sedih dan penuh
kekhawatiran, “Ada apa nak? Kok bias masuk rumah sakit lagi?” Tanya mama.
“Tadi aku pingsang di kampus Ma”, jawabku.
Karena rasa kuatir dengan kondisiku, Mama langsung menemui dokter ahli penyakit
dalam yang menanganinya, hasil tes darah menunjukkan bahwa terdapat gangguan sel darah
sehingga kekebalan tubuh yang berfungsi melawan virus, bakteri ataupun kuman terganggu.
Bukan hanya itu tampak juga ruam merah di pipi dan di hidung menguatan diagnosa dokter
bahwa aku mengidap penyakit auto imun kronis atau lebih dikenal dengan “lupus”.
Sebagai orang tua penasaran dan masih awam soal penyakit tersebut sehingga harus
banyak bertanya tentang si lupus.
“Dok, lupus itu seperti apa ya Dok, trus gimana cara penanganannya agar bisa
disembuhkan?” Tanya Mama ke dokter.
“Baik Bu, Lupus itu sejenis penyakit auto imun kronis dimana antibodi yang menyerang
dan menghancurkan jaringan tubuh yang sehat karena sistem kekebalan tubuh yang
menghasilkan antibodi tersebut”. Jawab dokter.
Penyakit lupus juga sejenis penyakit misterius di dunia yang dapat merusak organ tubuh
seperti kulit, sendi dan organ dalam tubuh sehingga dalam keadaan normal sistim kekebalan
tubuh yang baik itu sendiri terkadang menyerang jaringan tubuh yang sehat sehingga penyakit
ini kategori yang berbahaya, tidak bisa disembuhkan dengan obat, namun bisa ditangani
dengan baik.
“Tapi jangan kuatir ya Bu, meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan namun
penyakit lupus itu bisa dijalani oleh penderita agar tetap produktif dalam beraktifitas meskipun
obat hanya untuk meringankan gejalanya saja”. Lanjut dokter.
Ada beberapa gejala yang sering muncul pada si penderita lupus yakni ruam merah di
pipi dan hidung, demam kelelahan dan nyeri pada sendi serta gangguan sel darah seperti
anemia.
Mama bingung, harus mulai darimana ngomongnya. Mendengar penjelasan dokter tadi
seolah penyakit tidak bisa disembuhkan, tapi disisi lain harus menjelaskan bahwa penyakitnya
juga masih sangat mudah diatasi.
“Mama… kok lama banget ngobrol ama dokter ya? Trus gimana diagnosa dokter soal
kondisiku Ma?” Tanyaku.
“Gini Nak”, sahut Mama sambil kebingungan, “Mmm…dokter bilang kalau kamu
harus banyak istirahat, kurangi aktifitas, tidak boleh terlalu terkena sinar matahari, tidak boleh
kelelahan dan rutin minum obat yang diberikan oleh dokter”, jawab mama.
Aku masih penasaran dengan penjelasan mama, tapi ya sudahlah aku ikut anjuran
dokter sesuai kata mama barusan, aku harus banyak diem dirumah sambil bedrest hingga
kondisiku mulai normal.
Sudah dua tiga hari lamanya istirahat dirumah, aku mulai jenuh tanpa aktifitas tidur,
makan, mandi sesekali main game.
Karena aku orangnya ga bisa diam aja, aku berinisiatif untuk mencari buku-buku
perpustakaan almarhum bapak untuk dibaca, kali aja ada yang menarik dan menginspirasi,
apalagi butuh suplemen otak juga dimasa-masa kalut seperti ini.
Waktunya medical check-up ke dokter, aku masih penasaran dengan penyakitku,
hingga aku memaksa mama untuk mengatakan apa adanya biar aku tahu penyakit yang
sebenarnya dan aku tahu bagaimana mencegah agar mama juga tidak terlalu kuatir dengan
keaadanku.
“Dok, sebenarnya penyakitku ini apa ya dok? Tanyaku.
“Sebenarnya kamu memiliki ciri-ciri penyakit lupus berdasarkan tes darah dan ciri-ciri
yang nampak”, jawab dokter. akupun diam sejenak lalu berterima kasih ke dokter karena telah
memberi tahu soal penyakit saya. “Terima kasih ya Dok,” ucapku.
Sepulang dari medical check-up, aku segera kedalam kamar sambil berselancar di
internet terkait penyakit yang diberitahukan dokter specialist penyakit dalam tadi. Minim
pengetahuanku tentang lupus. Sudah banyak referensi bacaan yang aku dapatkan, sedikit pun
tidak pernah merasa khawatir dengan kondisi penyakitku meskipun banyak yang menganggap
bahwa lupus adalah penyakit yang mematikan padahal hidup dengan penyakit lupus bisa
dilakukan oleh penderita agar tetap bisa produktif. Statement ini yang menguatkan diriku untuk
tetap optimis dalam hidup, namun harus tetap konsisten mematuhi anjuran-anjuran dokter yang
disampaikan ke mama.
Setelah aku telusuri bahwa almarhum bapakku meninggal karena ada riwayat lupus nya
karena ciri-ciri penyakit yang diceritakan mama kepadaku sangat mirip dengan apa yang
kualami, sehingga aku berasumsi bahwa mungkin ini ada pengaruh genetika yang turun
temurun ke anak-anaknya, salah satunya ya diwariskan ke aku.
Aku tetap berusaha tegar, berusaha tetap kuat layaknya kondisi orang-orang normal tak
berpenyakit pada umumnya, aku mulai melupakan kehidupan kampus dan aktifitas diluar yang
begitu banyak. Aku sudah tidak pernah bertatap muka sama teman-teman bahkan dosenku pun
belum mengetahui kabarku terkait penyakit ini. Aku masih memiliki tanggung jawab terhadap
prof. Ilman tetapi aku sudah kordinasi ke beliau dan ke teman-teman Tim Surveyor untuk
menghandel semua hingga selesai dikerjakan. Aku juga masih harus mengikuti acara wisuda
di kampus pada saat itu tanggal 7 Desember 2019, namun karena kondisi yang belum stabil.
Awal maret 2020, musim pandemic covid-19 lagi happening banyak aktifitas kantor
pemerintah dan swasta ditutup, hampir semua sektor perdangangan ditutup, aktifitas gerakan
manusia juga ikut dibatasi hingga pekerjaan banyak dilakukan dirumah melalui media online.
Meeting, belajar, jualan dan agenda-agenda yang lain juga dialihkan ke dunia zoom cloud
meeting.
Ini merupakan aktifitas yang menyenangkan buat aku karena dilarang keluar rumah,
menghadiri kerumunan akhirnya sebagai penderita lupus ini senang banget.
Aku fokus menjalani kehidupan sehari-hari di rumah, tidak membatasi ruang gerakku
untuk berselancar di dunia lain, aku tetap berinteraksi dengan orang-orang diluar sana yang
bisa memberikan manfaat.
Sejenak melupakan penyakitku, tetap konsisten dengan obat di atas meja belajarku
disamping alarm ku setel sebagai pengingat jadwal minum obat sembari laptop tetap on.
Di dunia maya aku banyak menemukan komunitas penyintas lupus yang banyak
terkenal karena menulis hingga puluhan buku yang sudah ditulis dan masuk kategori best
seller. Aku ingin mengikuti jejak mereka bahkan aku bergabung dengan komunitas sesama
penyintas auto imun agar aku bisa lebih produktif menjalani keseharian di era pandemic covid-
19 sebagai seorang penyintas lupus.
Saat duduk dibangku kuliah, banyak gabung dengan komunitas penulis di kampus
sehingga dijadikan bekal menulis ketika bergabung dengan komunitas penyintas lupus yang
berprofesi sebagai penulis. Mengikuti seminar online mereka sehingga banyak manfaat dan
relasi yang kudapatkan karena tulisanku termasuk tulisan yang unik, liar dan terkadang
provokatif.
Banyak karya tulisan yang kubuat bahkan sudah menyusun beberapa buku fiksi yang
tembus ke Gramedia Makassar serta jadi koleksi perpustakaan kampusku, membuat aku senang
dan bangga dengan apa yang kumiliki sekarang meskipun ruang gerakku terkadang terbatas.
Akupun mulai dikenal sehigga banyak yang mengundang untuk menjadi narasumber di
seminar-seminar online baik skala lokal maupun nasional, aku juga sudah teken kontrak jadi
penulis di Graha Pena Makassar dan di harian Radar Sulawesi Barat hingga sekarang.
********
Jasman Rauf
Passion & Persistent mengantarkan pria kelahiran Majene 10 Juli ini memainkan perannya,
menjadi inspirasi dikalangan keluarga dan kalangan marginal didaerahnya, mengubah mindset
Pendidikan dikalangan keluarga, sebagai kaum marginal membuktikan kemampuannya
menyelesaikan studi ke jenjang pascasarjana tanpa biaya orang tua, mejadikannya sebagai
kiblat dilingkungan keluarganya dan kalangan marginal untuk semangat mengenyam
Pendidikan. Lakukan semua dengan semangat dan kemauan yang kuat, serta junjung tinggi
totalitas. Pernah bekerja sebagai Direktur Lembaga kursus dan pelatihan, menjadi ketua Forum
pengelola Lembaga Kursus dan pelatihan Kabupaten Majene, Ketua Himpunan Seluruh
Pendidik dan Penguji Indonesia Kab. Majene, Master penguji Lembaga sertifikasi Kompetensi
Bidang Bahasa Inggris, Aparatur Sipil Negara di lingkup kemendikbudristek, dan lainnya
memberi banyak pengalaman belajar dan berkembang, pengetahuan, wawasan, dan
keterampilannya di dunia birokrasi menjadi terasah dengan baik. Dapat dihubungi di HP
082189337227 dan email [email protected]
"Menangislah jika itu bisa melegakan hatimu.
Siapa tahu kelak tangisanmu akan menjadi tangisan bahagia"
- Isnaini Nur Chasanah
DIARY LUPUS
Oleh : Isnaini Nur Chasanah
17 tahun bersama Autoimun 5 tahun bersama lupus.
Dulu aku disebut odamun dan sekarang aku disebut odapus
Hanya ada satu kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat itu, sedih. Itulah yang
aku rasakan ketika dokter menyuruhku melakukan tes Ds DNA. Tes yang dilakukan untuk
mengetahui apakah aku positif SLE (lupus) atau tidak. Setelah sebelumnya aku sudah
melakukan ANA tes untuk mengetahui apakah ada autoimun dan tentu hasil ANA tes ku adalah
positif. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku. Mungkinkah aku menderita lupus?
Setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan AIHA akankah aku akan berdampingan
juga dengan lupus? Banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku saat itu.
Ya, aku adalah penyintas autoimun jenis Anemia hemolitik sejak tahun 2004 saat itu
aku masih duduk di bangku SMP. Tapi setelah beberapa tahun keluhan ku bertambah-tambah.
Mulai dari tanganku yang sering kebas, atau aku sering merasakan kebas secara tiba-tiba di
bagian tubuh tertentu. Seperti di lidah, di perut dan di kepala. Tapi setelah beberapa menit
kebas itu hilang. Ada juga keluhan lain punggungku sering sakit. Kemudian kepalaku juga
sering sekali kliyengan dan seperti berputar-putar, dokter menyebutnya vertigo. Dan yang
paling ekstrim adalah tekanan darahku sangat tinggi. Mencapai 200/110. Alhasil dokter
menyarankan untuk melakukan tes Ds DNA. Itu terjadi pada akhir bulan Desember tahun 2015.
Awal tahun 2016. Tepatnya bulan Januari hasil ds DNA ku keluar. Dan hasilnya aku
memang positif SLE (lupus). Saat itu aku kontrol di poli bagian onkologi hematologi dr.
Soetomo karena memang sebelumnya kasusku adalah anemia hemolitik. Setelah mengetahui
ds DNA ku positif dokter hematologi menyarankan aku untuk pindah ke poli rematologi. Tapi
aku tak langsung pindah ke poli rematologi. Karena selain aku kontrol ke rs dr sutomo, aku
juga kontrol sendiri ke klinik dokter ugroseno. Dan dokter ugro tetap menyarankan di onkologi
hematologi saja. Untuk mendapatkan obat cellcept. Sejak aku ada darah tinggi dokter ugro
memberiku obat cellcept untuk menjaga ginjalnya begitu kata dokter ugro.
Hari-hari aku lalui seperti biasa walaupun aku terkena lupus tapi tak membuatku patah
semangat. Memang pernah kadang aku merasa jadi orang yang tak berguna karena selalu
merepotkan orang lain. Kadang aku juga merasa selalu bergantung pada orang lain. Tapi semua
itu segera aku tepis, aku memang odapus. Ada beberapa aktifitas yang memang tidak bisa aku
lakukan sendiri bukan karena aku malas atau manja tapi karena keadaan lah yang membuatku
tak bisa melakukannya. Bahkan itu terjadi sejak aku terkena anemia hemolitik autoimun. Aku
sudah banyak belajar mengenai kelainan antibodi ini. Kita tidak boleh terlalu banyak pikiran
yang membuat kita stress dan tertekan. Juga tak boleh kecapekan. Karena itu adalah salah satu
pemicu autoimun flare. Terkena lupus tak akan membuatku goyah. 3 tahun senyumku
seringkali berubah jadi tangisan karena lupus Tapi itu aku jadikan cambuk semangat untuk
bangkit dan menjadi lebih baik lagi. Entah sudah berapa kali lupus berulah, tapi aku tetap tak
mau kalah.
Bulan Maret 2016. Bulan ini adalah bulan sibuk untukku. Karena aku akan
mempersiapkan pernikahan. Alhamdulillah jodohku sudah datang. Jodoh yang selalu aku
nantikan. Seseorang yang akan mendampingi hidupku. Mendampingiku menjalani hari-hari
dengan autoimun yang aku derita. Dulu aku merasa pesimis dengan jodohku. Akankah ada
seseorang yang mau menerimaku dengan keadaan seperti ini? Tapi bulan ini juga bulan yang
mengerikan untukku. Karena menjelang pernikahan aku masuk rumah sakit. Aku mengalami
stroke. Karena aku kelelahan dan stress menyiapkan pernikahan ditambah lagi makan ku tidak
terkontrol. Selama ini aku selalu menjaga makananku. Memakan makanan yang bebas dari 4P
(pengawet, pemanis, pewarna dan penyedap) serta tidak memakan makanan pedas dan asam.
Tapi aku melanggarnya. Aku makan bakso saat itu, dalam porsi yang cukup banyak.
Keesokan harinya aku mengalami lemas pada tangan kananku. Telingaku seperti
tersumbat dan berdenging. Berbicarapun aku merasa susah. Tiap kali mencoba untuk berbicara
selalu ngelantur. Inginku mengatakan sesuatu tapi yang keluar bukan kata itu. Melainkan kata-
kata yang tak bermakna. Ibuku langsung memeriksakanku ke klinik dokter ugroseno. Di
sepanjang perjalanan aku sempat berpikir akankah aku jadi menikah kalau calon suamiku
mengetahui kalau aku seperti ini? Saat itu aku hanya pasrah. Menjalani alur cerita yang
dituliskan Allah untukku.
Sampai di klinik. Kebetulan sebelum nya saat aku kontrol disuruh tes ACA. Karena aku
sering mengeluh pada dokter kalau tanganku sering kebas. Dan dokter memberikan pengantar
untuk tes pengentalan darah atau ACA. Dan hasilnya hari ini sudah jadi. Ketika menyerahkan
hasil tes ACA dokter bilang kalau memang ada pengentalan darah di tubuhku. Inilah yang
disebut Antiphospolipid syndrom. Dan saat itu juga ibuku menceritakan keluhan-keluhanku
pada dokter karena aku sudah tidak bisa bicara banyak lagi saat itu. Dokter memeriksaku dan
menyarankanku untuk opname.
Opname di RS PHC Surabaya. Aku ditangani oleh dokter hematologi yaitu dokter
ugroseno dan dokter syaraf dokter eny. Dari pemeriksaan CT scan diperoleh bahwa ada
pengentalan darah di otak sebelah kiri. Makanya tanganku yang lemes adalah sebelah kanan.
Lidahku juga sedikit miring. 10 hari lamanya aku dirawat di PHC. Saat dirawat calon suami ku
juga ikut menjagaku di rs. Dan aku bahagia.
Setelah menikah, April 2016. Sejak opname karena kecapekan dan salah makan
kondisiku baik. Tapi tidak ada perubahan. Aku memang sudah normal. Tangan sudah tidak
lemas lagi, lidah juga sudah normal, bicara pun sudah tidak ngelantur. Tapi aku memang agak
sedikit berubah menjadi tak banyak bicara. Aku mencoba melakukan terapi sendiri yang
disarankan suamiku untuk memperlancar bicara dengan sering membaca al Quran. Baru
beberapa bulan sejak aku menikah, lagi-lagi aku melakukan kesalahan dengan makan makanan
yang jadi pantanganku. Ditambah lagi aku ada sedikit masalah dengan suamiku. Kepikiran?
Pasti donk. Dan itu membuat lupus terbangun lagi. Stroke kambuh lagi. Bicara yang sedikit
ngelantur, aku opname lagi. Setelah opname yang kedua ini dokter ugro langsung menyarankan
aku untuk melakukan kemoterapi.
Kemoterapi atau imunosupresan kalau untuk orang-orang autoimun akan diberikan
dimana kondisi lupus nya belum terkendali. Sudah diberi obat imunosupresan tapi tidak ada
perubahan. Siklosfopamid nama obatnya. Dijadwalkan akan menjalaninya selama 4 kali. Efek
dari kemoterapi ini adalah mual yang benar-benar mual, tidak nafsu makan, berlangsung
selama beberapa hari. Kalau aku dulu selama 3 hari mual, setelah 3 hari akan merasa sangat
segar.
3 kali kemoterapi berjalan dengan lancar. Tiba di kemoterapi ke empat aku merasakan
sesuatu yang kurang beres dengan tubuhku. Ada rasa mual dn pusing seperti orang mabuk. Saat
itu aku sudah memperoleh jadwal untuk kemoterapi. Setelah aku ingat-ingat rupanya aku
mengalami telat datang bulan. Aku berinisiatif untuk mengetes urine dengan tes pack.
Alhamdulillah rupanya Allah telah mempercayai aku untuk hamil.
Kehamilan pertama tidak berjalan dengan mulus. Di bulan ketiga kehamilan aku
diserang herpes zooster. Yang membuataku mengalami keguguran di kehamilan usia 5 bulan,
bukan karena herpes zooster saja penyebab janin dalam kandungan ku meninggal tapi karena
aku adalah odapus yang mengalami antiphospolipid syndrom (pengentalan darah). Tepatnya
tahun 2017 aku kehilangan anakku yang pertama.
2018 kembali aku dipercaya oleh Allah untuk hamil lagi. Dan aku memilih untuk
kontrol ke RS dr soetomo setelah sebelumnya aku kontrol di RS PHC. Kehamilan kedua ini
kondisiku juga baik. Hanya ada keluhan tensi darah yang selalu tinggi setiap kontrol. Masuk
di bulan ke tujuh kehamilan aku kontrol dan ternyata janinku sudah tidak ada detak jantungnya.
Perasaan saat itu hancur pasti. Ibaratkan piring yang pecah jadi berkeping-keping. Ingin
menangis tapi aku tidak bisa. Aku harus kuat. Setetes air mata pun tak pernah keluar dari
mataku. Tapi suamiku, aku melihatnya menangis. Memang tidak melihat secara langsung tapi
aku melihat matanya yang sembab. Aku pun langsung opname di ruang VK untuk melahirkan
bayiku yang sudah meninggal di kandungan. Saat sudah lahir aku diwanti-wanti oleh dokter
untuk melakukan program sebelum hamil. Mengingat aku ada penyakit lupus jadi harus bener-
bener direncanakan. Butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan hatiku yang bersedih
karena kehilangan anakku yang kedua. Alhamdulillah perlahan-lahan aku bisa menerima
kenyataan dan kembali menjalani hari-hari seperti biasa lagi.
6 bulan setelah IUFD aku kembali dipercaya oleh Allah untuk hamil lagi. Saat itu aku
dan suamiku baru akan berencana akan melakukan program hamil. Aku sudah bertanya ke
dokter rematologi apakah aku sudah boleh hamil lagi. Dan dokter bilang sudah boleh. Tinggal
ke poli kandungan untuk konsultasi. Niat hati bulan berikutnya akan konsultasi tapi Qadarullah
Allah telah memberikan kami kepercayaan lagi sebelum konsul ke poli hamil. Dokter di poli
hamil agak kecewa mendengar aku hamil lagi tanpa melakukan program. Tapi mereka selalu
berusaha yang terbaik untuk kehamilanku kali ini. Saran dari dokter rematologi aku harus
mendapatkan suntikan arixtra untuk mengatasi pengentalan darahku. Tapi suntikan arixtra
harganya sangat mahal. Apalah dayaku aku hanya seorang ibu rumah tangga dan suamiku
seorang guru ngaji. Tapi karena kami sangat menginginkan buah hati kami selamat maka kami
tetap berusaha mendapatkan suntikan itu. Walaupun tidak setiap hari disuntik setidaknya
tubuhku memperoleh suntikan agar tidak ada pengentalan darah.
Di usia kehamilanku yang ke enam bulan aku mengalami bengkak di kaki di wajah dan
tangan. Kejadian itu terjadi pada tanggal 25 desember 2019. Aku sudah tidak kuat lagi. Saat
pagi hari saat aku bangun aku merasakan pusing yang teramat sangat. seminggu sebelumnya
aku juga merasakan sakit pada pundak ku seperti orang tengengen atau posisi salah tidur.
Biasanya 3 hari sembuh tapi ini tidak. Seminggu sudah tapi sama sekali tidak ada perubahan.
Akhirnya suami dan ibuku membawaku ke rumah sakit. Langsung ke igd. Disana aku langsung
mendapatkan penanganan. Dan ternyata tensi darah ku sangat tinggi. Sampai 200 lebih. Dokter
langsung membawaku ke igd lantai 2. Lagi-lagi aku masuk ruang VK. Belum terhapus dari
ingatanku pasca aku mengalami IUFD yang kedua. Dan sekarang aku kembali kesini dengan
kondisi yamg sangat parah antara hidup dan mati.
Mendengar kondisiku dokter langsung bergerak cepat. Aku diusg, diminumi obat darah
tinggi, diinfus, dipasang kateter dan terakhir aku diberi obat anti kejang. Usg pertama sat aku
belum ada tindakan apa-apa. bayiku sehat. Detak jantungnya normal. Tapi aku, aku yang masih
belum stabil. Tensi darahku masih sangat tnggi dan dokter memberiku obat anti kejang yang
membuat aku lemas tak berdaya. Aku juga sempat ingin tak sadar. Entahlah obat anti kejang
saat masuk ke tubuhku rasanya panas, aku lemas, aku muntah dan aku rasanya ingin tidur.
Dokter sampai terus memanggil-manggil dan menepuk-nepuk pipiku agar aku tetap terjaga
kesadarannya. Akhirnya aku dipasang oksigen. Setelah mendapatkan obat anti kejang. Aku di
usg lagi. Dan ternyata bayiku juga ikut lemas. Detak jantung bayiku melemah. Dan aku sudah
tak mampu untuk berkata-kata. Karena kondisiku saat itu juga lemah.
Semua keputusan aku serahkan pada suamiku. aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Dan
memang benar. Aku merasa dokter sama sekali tidak berusaha menyelamatkan bayiku. Semua
fokus padaku. Semua fokus menormalkan tensi darahku yang tinggi sementara denyut nadiku
semakin lemah. Berbagai alat dipasang di tubuhku. Ada yang di dada dan tangan. Monitor terus
dipantau. Dan tensi darahku masih sangat tinggi. Saat itu aku hanya bisa pasrah. Dan ingin
cepat-cepat sembuh dan menanyakan kenapa bayiku dibiarkan meninggal? Kenapa tidak coba
untuk diselamatkan? Selalu itu yang terngiang-ngiang dalam fikiranku.
Saat kondisiku sudah mulai membaik suamiku diijinkan untuk masuk ke ruangan. Aku
menanyakan kenapa bayiku dibiarkan meninggal di dalam kandungan. Suamiku berkata bahwa
dokter memberikan 2 pilihan yang sulit. Pertama menyelamatkan ibunya Insyaa Allah ada
kemungkinan besar selamat dan kedua menyelamatkan bayinya tapi resikonya pada ibunya.
Tensi ibunya bisa-bisa naik sampai 300 dan pembuluh darahnya pecah. Tapi bayinya juga tidak
bisa menjamin akan bertahan. Karena usianya baru 6 bulan. Dan suamiku memilih aku. Ingin
rasanya air mata ini keluar. Tapi sudah tak bisa. Aku sama sekali tidak menangis di luar. Tapi
hatiku menangis. Kenapa terjadi seperti ini lagi? Aku gagal untuk yang ketiga kalinya.
Selama setahun aku memutuskan untuk menenangkan diri, menenangkan hati dan
pikiran. Serta memulihkan tenaga dan juga biaya. Bukan hanya aku yang ingin tenang mungkin
suamiku pun juga menginginkan ketenangan. Setelah 3 tahun kita diuji kehilangan tiga orang
anak. Tidak sebentar waktu untuk menerima kenyataan, bahwa lupus akan menyertai hari-
hariku. Tidak sebentar waktu untuk mulai bisa bersahabat dengan lupus. Tidak sebentar pula
waktu untuk mulai mengenali lupus. Jika stress lupus akan berontak. Jika capek lupus akan
bangun. Tapi jika kita tenang lupus juga tenang. Dan jika kita bahagia lupus akan tertidur dalam
waktu yang sangat lama
Tahun 2020 tepatnya bulan Maret Alhamdulillah aku diberikan Allah kepercayaan lagi.
Kali ini aku akan menjalaninya dengan pasrah. Semua aku percayakan pada Allah semua aku
pasrahkan pada Allah. Aku dan suami hanya berdoa dan berusaha menjaga apa yang sudah
diamanahkan untukku. Keputusan akhir ada ditangan sang pencipta. Alhamdulillah kondisiku
saat hamil keempat ini baik semuanya. Darah tinggi di kehamilan ketiga ini tidak ada. Tensi
darahku selalu normal. Padahal pada kehamilanku sebelumnya semua ada keluhan darah tinggi.
Alhamdulillah nya lagi aku masih memiliki suntikan arixtra untuk mengatasi pengentalan
darah. Ya, walaupun tidak banyak tapi sudah cukup membantu dengan aku suntikan seminggu
sekali ke perutku.
Usia kandunganku memasuki 6 bulan. Hb ku mengalami penurunan. Yang biasanya di
angka 9 dan 10 tiba-tiba ngedrop jadi 7. Dan aku opname untuk melakukan tranfusi darah.
Setelah tranfusi kondisi kembali bugar. Masuk usia kandungan 29 minggu. Malam itu aku
merasakan capek yang teramat sangat. Aku minta di pijitin sama suamiku. Dan aku pun
tertidur. Pukul 22.00 aku merasakan sesuatu yang keluar dari kemaluanku. Saat ku lihat itu
cairan putih. Aku pun bangun dan berdiri. Saat berdiri cairan itu keluar deras sekali. Itu adalah
cairan ketuban. Aku langsung dibawa ke rs terdekat untuk memperoleh penanganan. Rs soegiri
lamongan itulah tujuan kami saat itu. Keesokan hari nya aku dirujuk ke rs sutomo karena aku
biasa kontrol disana dan dokter di dr.soetomo sudah tau riwayat kesehatanku.
Proses kelahiran buah hatiku juga tidak mulus. Saat itu air ketubanku keluar terus
menerus sampai akhirnya dokter memutuskan bahwa bayiku harus dilahirkan. Awalnya dokter
menyarankan untuk melahirkan normal saja. Tapi walaupun melahirkan normal aku yang
memiliki penyakit lupus tidak boleh merasakan sakit. Jadi nanti saat melahirkan normal
punggungku akan disuntikkan obat bius untuk meringankan sakitnya. Tim dokter terus
berdiskusi masalah kondisiku. Sampai akhirnya keputusan dokter adalah aku harus operasi.
Alhamdulillah kehamilan ke empatku ini akhirnya berhasil. Aku telah memiliki buah hati.
Yang selalu aku nantikan. Lupus telah mengajariku banyak sekali pelajaran. Mulai dari belajar
ikhlas, ikhlas menerima keadaan. Sabar menghadapi musibah yang terus menerus. Kuat dalam
menghadapi cobaan. Tegar dalam menghadapi ujian. Jangan pernah mau kalah karena lupus
dan jangan pernah menyerah karena lupus.
Isnaini Nur Chasanah
Lulusan S1 pendidikan ekonomi akuntansi, yang sekarang menjadi ibu rumah tangga.
Untuk mengisi waktu luang dengan jualan online. Hobi menulis tapi belum ada yang di
bukukan. Hanya tulisan yang kemudian diposting di blog, bisa dilihat di
isnaininurchasanah.blogspot.com. Hidup adalah perjuangan adalah motto hidupnya. Seperti
perjuangan hidup dengan lupus. Ingin saling menyapa bisa menghubungi wa 08165406206.
Atau di facebook : Isnaini Nur Chasanah, ada juga instagram @nayna_hijab27. Bisa juga email
[email protected]
“Minum obat dan kontrol secara rutin ke dokter sampai penyakitnya
dinyatakan remisi (dalam kondisi perbaikan)”, dokter melanjutkan
penjelasannya kepada orang tua Gusde.
- I Made Sudarma
Si Topeng
Oleh I Made Sudarma
Hari ini, bagi orang-orang Bukit Kelibun, Gusde adalah pengusaha muda sukses.
Orang-orang Kelibun memahami bahwa pemuda yang selalu tampil kalem ini adalah
pengusaha akomodasi pariwisata di Nusa Penida. Dia adalah salah satu orang Bukit Kelibun
yang bergerak di bidang akomodasi pariwisata Pulau Nusa Penida yang sedang berkembang
saat ini. Tour And Travel dan Hotel adalah akomodasi pariwisata yang menjadi bidang usaha
Gusde.
Orang-orang Bukit Kelibun hanya mampu merunut usaha sukses pemuda yang
menamatkan kuliahnya di salah satu universitas di Bali Utara ini. Mereka memahami, usaha
akomodasi pariwisata yang mengantarkan kesuksesan Gusde hari ini berawal dari tour and
travel, yang kemudian berkembang menjadi penyedia akomodasi hotel.
Tahun 2015, Gusde kembali ke pulau kelahirannya, Nusa Penida ini, setelah
menamatkan kuliahnya di Bali Utara, Kota Singaraja. Berbekal ilmu yang didapat ketika masih
kuliah, dia kemudian membuat website tour and travel pariwisata Nusa Penida. Walau belum
mempunyai akomodasi transportasi saat itu, hanya mengandalkan kerjasama dengan beberapa
temannya yang mempunyai mobil transportasi, dia mencoba menjual destinasi pariwisata Nusa
Penida secara online. Usahanya tidak sia-sia, banyak tamu domistik atau mancanegara yang
mulai booking untuk melakukan perjalanan tour wisata di Nusa Penida melalui jasa yang
ditawarkan secara online.
Satu tahun terlewatkan. Usaha tour and travel yang dijalani kian penuh dengan
bookingan. Kondisi inilah yang akhirnya memberanikan Gusde membeli sebuah mobil untuk
akomodasi tour and travel yang dijalaninya. Gusde telah mempunyai sebuah mobil dari usaha
yang digarapnya selama satu tahun. Usahanya terus berkembang. Hari ini, sudah sepuluh mobil
transportasi terparkir di bagasi usaha tour and travelnya.
Seperti menjadi sebuah cambuk yang melecut seekor kuda pada lintasan pacu,
suksesnya usaha tour and travel yang digarapnya, menumbuhkan semangatnya untuk
mengembangkan usaha akomodasi pariwisata yang lain, yaitu akomodasi hotel. Bermodalkan
sebidang tanah dari orang tuanya di Bukit Kelibun, Gusde membangun hotel sekelas bungalow.
Ada dua belas unit bungalow berdiri di Bukit Kelibun, sebuah tempat dengan tanah yang
berundag-undag, dengan view laut yang eksotis.
Begitulah orang-orang Bukit Kelibun memahami Gusde hari ini. Gusde adalah pemuda
Kelibun yang sukses dengan usaha akomadasi pariwisatanya. Pemuda yang telah
memperkerjakan anak-anak muda Bukit Kelibun di usaha tour and travelnya sebagai driver
dan pegawai hotel di bungalownya. Tak lebih dari itu, kecuali “Si Topeng”, nama lain Gusde
yang dikenal oleh orang-orang Kelibun sampai hari ini. Si Topeng adalah nama kecil Gusde,
nama yang diberikan oleh teman-teman bermainnya kala itu.
Oleh orang-orang Kelibun, Gusde kecil adalah anak yang selalu tersisih oleh teman-
teman bermainnya. Oleh teman-teman kecilnya, Gusde disebutnya sebagai anak yang malas,
anak yang tidak pernah ikut ketika teman-temanya bermain. Bagi Gusde, ketika itu, lebih
memilih berteduh di bawah rindangnya pohon, hanya menyaksikan teman-temanya bermain di
bawah teriknya matahari, di tanah lapang Bukit Kelibun yang berdebu.
Ini adalah perubahan sikap Gusde. Awalnya, Gusde kecil adalah anak yang aktif. Anak
yang selalu terdepan dalam setiap permainan. Namu pada suatu ketika, dalam sebuah
permainan, Gusde merasakan letih yang luar biasa. Otot-otot kaki dan lengannya tiba-tiba saja
terasa lemas. Kemampuan untuk berlari dan mengejar yang biasa dilakukan dalam permainan
di bawah terik matahari Bukit Kelibun, tiba-tiba saja hilang ditelan rasa letih yang luar biasa.
Tidak hanya itu, tiba-tiba saja wajahnya, kulit di bawah matanya, memerah dan menebal.
Gusde pun akhirnya keluar dari permainan. Hal ini tidak berhenti pada saat itu saja. Pada
kesempatan lain, ketika Gusde mencoba ikut bermain lagi bersama teman-temanya, gejala yang
sama muncul lagi. Kulit wajahnya memerah. Ini berulang lagi pada kesempatan-kesempatan
bermain berikutnya. Inilah yang akhirnya membuat Gusde tidak mau lagi bermain dengan
teman-temannya. Dia lebih memilih menonton temannya bermain dari bawah pohon sambil
berteduh. Kulit wajah yang selalu memerah dan menebal setiap kali ikut bermain inilah yang
akhirnya melahirkan nama “Si Topeng”. Nama yang dibuat oleh teman-teman bermainnya
untuk Gusde kecil.
Tidak ada simpati bagi Gusde ketika itu dari teman-temanya. Tidak ada kesempatan
bagi Gusde untuk menjelaskan mengapa dia selalu berteduh dan tidak pernah mau ikut
bermain. Hanya ponis dan bully yang dia dapat waktu itu. “Anak malas”, “si topeng”, adalah
sebutan dan bully yang disematkan untuknya. Ada rasa sakit yang tidak mampu terucap, ketika
sebutan itu selalu diberikan kepadanya oleh teman-teman kecilnya.
“Hai, Si Topeng, ayuk ke sini ikut bermain”, begitulah teman-teman kecilnya
memanggil Gusde ketika mengajak bermain. Ketika sebutan itu terucap, perasaan Gusde lagi-
lagi hancur lebur, sakit, seperti kulit yang teriris seribu belati yang kemudian disirami air
garam. Bayangkan betapa sakit dan perihnya.
Gusde kecil telah sampai pada umur sepuluh tahun. Nama Si Topeng tetap melekat
pada diri Gusde. Bahkan kini, Gusde lebih dikenal dengan nama Si Topeng oleh orang-orang
Kelibun. Karena nama ini pula, orang tua Gusde mulai penasaran dengan kondisi anaknya.
“Mengapa Gusde selalu mengeluhkan rasa letih?”. “Mengapa Gusde tidak aktif lagi seperti
dulu?”. “ Mengapa wajah Gusde, kulit di bawah matanya, selalu memerah ketika terpapar sinar
matahari?”. Orang tua Gusde mencoba untuk mencari tahu. Dokter. Ya, dokter adalah satu-
satunya jalan untuk mengetahui penyebab semua gejala yang dialami oleh Gusde.
Gusde akhirnya di antarkan untuk melakukan pemeriksaan medis oleh orang tuanya ke
dokter. Oleh dokter, Gusde difonis menderita penyakit LUPUS. Penyakit inilah yang membuat
Gusde kecil akan selalu merasa letih, tidak aktif lagi, dan kulit di bawah mata akan memerah
ketika terpapar sinar matahari. Dokter mejelaskan penyakit LUPUS merupakan penyakit kronis
yang hanya dapat dikontrol agar gejalanya tidak kambuh. Dokter pun memberikan obat kepada
Gusde.
“Minum obat dan kontrol secara rutin ke dokter sampai penyakitnya dinyatakan remisi
(dalam kondisi perbaikan)”, dokter melanjutkan penjelasannya kepada orang tua Gusde.
Hari ini Gusde telah dewasa. Orang-orang Kelibun tetap mengenalnya dengan sebutan
“Si Topeng”, pemuda yang masa kecilnya hanya menjadi penonton ketika teman-temannya
sibuk dalam permainan. Kini, oleh orang-orang Kelibun, Si Topeng adalah pengusaha
akomodasi pariwisata sukses, mempekerjakan banyak anak muda di Bukit Kelibun.
I Made Sudarma
I Made Sudarma adalah kepala SMP Negeri Satu Atap 2 Batukandik Nusa Penida,
Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Mulai menulis sejak kuliah di IKIP Negeri Singaraja
(sekarang UNDIKSHA). Beberapa kegiatan menulis yang pernah diikuti, diantaranya. Lomba
menulis cerpen remaja tingkat nasional tahun 2003 (sebagai pemenang harapan I). Lomba
menulis cerpen remaja tinkat Bali, NTT, NTB tahun 2003 (sebagai pemenang I). Nominasi
penulis cerpen tingkat nasioanl tahun 2004 yang diselenggarakan
oleh Balai Bahasa Denpasar. Sepuluh besar dalam lomba merensensi cerpen tahun 2004 yang
diselenggarakan oleh Balai Bahasa Denpasar. Sebagai pemenang I dalam lomba menulis
naskah monolog yang di selenggarakan oleh WPI Bali tahun 2017. Pemenang I dalam lomba
menulis artikel populer tahun 2019 yang diselenggarakan oleh PGRI Kabupaten Klungkung.
Pemenang I dalam lomba menulis di blog tahun 2020 yang diselenggarakan oleh PGRI
Kabupaten Klungkung.
Beberapa tulisannya telah dibukukan. Cerpen Made Patih tergabung dalam antologi cerepen
“Made Patih” yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Denpasar tahun 2003. Cerpen Jaba
tergabung dalam antologi cerpen “Tower” yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Denpasar tahun
2004. Naskah monolog Mimpi-Mimpi Nyi Polog tergabung dalam buku kumpulan naskah
monolog “Mimpi-Mimpi Nyi Polog” yang diterbitkan oleh WPI cabang Denpasar Tahun
2017.
Di samping itu, beberapa tulisannya yang berbentuk esay dan puisi dimuat oleh harian Bali
Post.
“Allhamdulilah selalu yakin akan datangnya keindahan karena setiap
ada badai pasti akan muncul keindahan pelangi yang sangat cantik, indah di
pandang mata begitu pula hatiku yang selalu ku obati dengan rasa kagum
kepada segala ciptaanMu Tuhan”
- Rosita Susilawati
Terima Kasih Tuhan
Oleh Rosita Susilawati
Yozz adalah wanita usia 30 tahun seorang ibu rumah tangga dan kariawan perusahaan
garmen di wilayah subang Jawa Barat yang mempunyai satu orang anak berusia delapan tahun.
Yozz merasakan sakit dari usia nya ke 26 tahun dan sampai sekarang masih berobat berusaha
untuk sembuh karena Yozz dan suami mempunyai keinginan untuk menambah keturunan
Awal mula rasa sakit di rasaakn seperti orang sakit asam urat pada umum nya, sakit
kaki yang tiba2 sampai tidak bisa jalan, semenjak sakit seperti orang pada umumnya berobat
ingin sembuh karna sangat mengganggu aktifitas setiap hari, berobat ke kelinik2 terdekat,
puskesmas tidak ada perubahan. Sembuh ketika minum obat dari dokter, setelah obat habis
sakitnya selalu kambuh lagi hingga binggung kenapa seperti ini, cek asam urat, rematik,
sampai gula darah semua normal.
Hingga Yozz memutuskan tidak mau ke dokter karena ke doter biayanya lumayan
mahal, Yozz putuskan haya beli obat aja ke opotek dengan contoh obat yang diberikan dokter.
Sampai bertahun-tahun gejalanya semakin menjadi dan berubah-ubah, sendi tangan selalu
bengkak dan karem tidak bisa di gerakan ketika lupa minum obat, sampai Yozz penasaran
sebenernya penyakit apa yang diderita sudah lebih dari 2 tuhun minum obat tidak kunjung
sembuh penyakitnya. Akhirnya Yozz dan suami putuskan untuk berobat kembali ke dokter
yang tidak terlalu jauh dari rumahnya
“Sore dok,” ucap Yozz di dampingi suami
Dokter pun menjawab “Sore juga, siapa yang sakit”
Karena Yozz dan suami terlihat baik2 seperti orang sehat,
“Saya Dok,” ucap yozz kepada dokter itu
“Kenapa? Apa yang sakit?” dokter pun bertanya
“Saya sakit udah lama Dok, yang di rasakan saya tiap hari bangun tidur sendi tangan
saya selalu bengkak, kaku, sakit bila tidak minum obat”
Dokter pun bertanya, “Sudah berapa lama sakitnya, trus selama ini minum apa?”
“Setiap mau tidur saya minum obat mettilpredisolon sama piroxicam Dok udah lebih
dari 2 tahun saya mengkonsumsi obat2an itu,” ujar Yozz menjawab
“Udah lama ya, ini penyakit bukan penyakit biasa, lebih baik berobat ke bandung ke
rematologi di RS Hasan Sadikin, sekarang saya kasih obat oles dulu coba agar tidak terlalu
banyak konsumsi obat2 kimia nya”.
“Baik Dok,” ucap Yozz dan suami
Setelah beberapa hari kemudian Yozz menggunaka oles yang di kasih dokter ternyata
hasil nya sama seperti mengkonsumsi obat yang biasa di minum. Yozz dan suami sangat
senang mereka berpikir tidak perlu pergi jauh2 berobat ke Bandung pake obat oles ini juga
sembuh ucap Yozz kepada suaminya.
“Iya mah, kalau obat olesnya habis kita ke dokter itu lagi ya bilang aja ama dokternya
pake salep juga sembuh,” ujar suami yozz
Setelah obat oles habis, Yozz dan suami ke dokter itu lagi karena berharap arahan
dokter untuk Yozz pergi ke Bandung itu salah, sambil sumringah dan semangat Yozz dan
suami bergegas pergi ke dokter yang sama.
“Sore,” sapa dokter.
“Sore juga Dok,” kata Yozz. Tanpa basa basi Yozz langsung ceritakan bahwa sakitnya
reda dan bengkak nya hilang setelah pakai salep yang di kasih dokter minggu lalu. “Jadi
penyakit saya bisa sembuhkan Dok tidak usah pergi ke RS Hasan Sadikin,” ujar Yozz,
Dokter pun mnjawab, “Ini bukan penyakit biasa harus di cek lebih lengkap.”
“Memang sebenernya prediksi dokter istri saya terkena apa sih dok?” ucap suami Yozz
“Saya takut istri bapak terkena lupus, karena gejalanya semua menuju ke situ.”
Yozz dan suami pun terbengong karena tidak mengerti sama sekali tentang penyakit
itu, bahkan mendengarnya pun baru kali ini.
“Apa itu lupus Dok?” tanya suami saya.
Dokter tidak menjelaskan banyak, tapi dokter berpesan untuk segera berobat ke RS
Hasan Sadikin sebelum terlalu parah ucap dokter kepada yozz dan suami
Dari situ Yozz mencari tahu tentang penyakit lupus, hampir yozz putus asa karena
bingung akan biaya untuk pergi ke bandung karena butuh biaya yang tidak mungkin sedikit.
Yozz yakin allah tidak mungkin memberi cobaan yang melebihi batas kemampuan, karena saat
itu Yozz sedang berstatus karyawan garmen. Yozz mempunyai BPJS Kesehatan sehingga
suami Yozz mengajak untuk meminta rujukan ke askes pertama
Setela itulah pengobatan Yozz berlanjut sampai ke RS Hasan Sadikin, walau Yozz
sempat fakum berobat karena biaya tranportasi dan pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan
karena punya tangung jawab cicilan tiap bulan nya, selama setahun lebih, namun sekarang Yos
mulai lanjut berobat kembali.
Terima kasih Tuhan karena Engkau selalu memberi jalan di setiap kesulitan, percayalah
bahwa Tuhanmu tidak akan memberi cobaan melebihi batas kempuanmu, selalu lah bersyukur
agar selalu diberi nikmat rohani dan jasmani, terkadang belajar hidup dari rasa sakit mungkin
dari sebagian orang yang mempunyai hati besar untuk bisa menerima dan selalu berpikir positif
kepada Tuhan dan percaya akan Tuhan pempunyai suatu keindahan di balik rasa sakit yang
dialami selama bertahun-tahun. Sampai saat ini masih selalu bersyukur dan berterima kasih
kepada tuhan karena Yozz adalah orang yang terpilih untuk merasakan semua ini. Terima kasih
ya Allah.
Allhamdulilah semakin hari semakin berusaha menjadi yang terbaik dan selalu
mndekatkan diri kepadamu ya Allah ya Tuhanku karena kepercayaanku yang sangat yakin
akan kuasamu yang sangat indah sampai saat ini masih semangat untuk hidup berdampingan
dengan kelainan imun tubuh namun tetap semangat karena engkau selain memberi perbedaan
namun semuanya indah, walau sempat aku terjatuh dan menyalahkan Engkau karena rasa sakit
yang selalu terasa setiap hari.
Maafkan aku ya Allah, aku yang pernah mengeluh yang menyalahkanmu yang selalu
terpuruk tidak pernah bersyukur dalam keadaan dan kondisi seperti apapun, terimakasih atas
semuanya ya allah, semuanya begitu indah yang aku rasakan setelah rasa syukur ini,
terimakasih telah mendatangkan lelaki hebat di kehidupanku yang selalu mendukung dalam
keadaan apa pun, sehingga aku semangat untuk menjalani semua ini, menghadapi dengan
senyuman.
Allhamdulilah selalu yakin akan datangnya keindahan karena setiap ada badai pasti
akan muncul keindahan pelangi yang sangat cantik, indah di pandang mata begitu pula hatiku
yang selalu ku obati dengan rasa kagum kepada segala ciptaanMu Tuhan
Tiada yang bisa mengalahkan semua kuasa dan kebesaranmu, sampai saat ini hanya
bisa berusaha untuk bisa menjadi yang terbaik untuk diri sendiri dan keluargaku thank to Allah.
Rosita Susilawati
Rosita Susilawati seorang ibu rumah tangga kelahiran 15 january 1991 tinggal di kp. Pasung
ds. Karang Hegar kec. Pabuaran kab. Subang, dulu ia seorang kariawan garmen, sekarang
keseharian saya setelah berhenti bekerja selain mengurus anak di rumah juga berdagang
kosmetik dan menerima permak pakaian
Harapan saya mengenai penyakit outoimun, semoga pemerintah lebih memperhatikan penyakit
outoimun ini karena penyakit ini sudah banyak penyandang nya sedangkang akses berobatnya
/ dokternya hanya ada di propinsi sedangkan akses ke propinsi ini sangat jauh kalau seperti
saya dari kampung yang harus berobat ke bandung, dari kampung saya ke Bandung kurang
lebih 3-4 jam itu pun kalau pakai mobil pribadi, semoga dokter Rheumatology ada di rumah
sakit daerah2 agar lebih mempermudah dan dekat akses berobatnya.
“Sesulit apa pun penyakit yang di derita, tidak ada yang tidak bisa membuat
sembuh, setidaknya kita mampu bertahan, semangat merupakan kekuatan yang
terbesar dari diri sesorang odapus untuk berusaha sembuh dengan dukungan
dan perhatiaan orang terdekatnya.”
- Arbawati
Rahasia Kesembuhan Seorang Odapus
Oleh: Arbawati
1. Berawal dari Sebuah Persahabatan
Persahabatan memang unik, Ketika kita dipertemukan dalam suatu keadaan mungkin
itu adalah semua kehendakan yang kuasa juga, sehingga kami di pertemukan di sebuah tempat
yang sangat sederhana sekali.
Pertemuan kami berawal tempat gorengan, ayah sahabatku itu Bernama pak Syam,
pekerjaaannya sebagai tukang gorengan yang menjadi langanan saya dan teman-teman yang
senang berbelanja membeli gorengan di situ.
Pak syam juga memperkenalkan anak-anaknya termasuk si Eka Rahma yang baru lulus
SMA dan statusnya menganggur,”Kalau bisa ibu bawa anak saya mengajar di tempat ibu,
ketimbang dia nganggur cuman bantu-bantu saya dan bantu ibunya aja di rumah” Kata bapak
Syam meminta kepada saya, “maaf pa sekolah kami tidak mampu membayar gajih yang besar
masih mengharapakan pemasukan sekolah yang sangat minim sekali ”jawab saya seraya
sambal tersenyum kearah bapak Syam yang sedang asyik menggoreng pisang pesanan
saya.bapak Syam sambil menghela napas Panjang sambal bercerita mengenai putri sulungnya
yang sambal mengerjakan jualan gorengannya dan melayani pembeli.”Ngga apa-apa bu kalua
Cuma masalah gajih,tidah usah dipikirkanlah, supaya anak saya punya pekerjaan dan tambah
pengalaman aja lah sekedar mengisi waktunya ketimbang pagi dia tidur karana ngga aja yang
di kerjakan sementara ibunya pergi kepasar belanja untuk persiapan buat jualankan baru datang
jam 09.00 atau jam 10.00 an, jadi nganggur juga,supaya ada aktivitasnya, dia bisa kerja yang
lain terlalu berat soalnya dia punya penyakit asma yang dideritanya sejak kecil” kata si bapak
Syam kepada saya.
Saya sambil mempertimbangkan keadaan dan mulai berfikir, memang sih kami
kekurangan guru juga karena ada guru yang cuti mau melahirkan, untuk mengangkat dan
menambah guru baru juga harus banyak pertimbangan walaupun dia tidak mengharapkan gajih
tetapi tetap menjadi pertimbangan kita juga untuk menambah tenaga pendidik baru.
Sekolah saya adalah sekolah Yayasan Swasta, yang bernauang di Kementrian Agama
dan sebagai lembaga anak usia dini/PAUD, Bernama Raudhal Atfhal ,sekolah paud yang
bernuansakan Islami.
Pembicaraan kami bersama bapak Syam saya sampaikan ke yayasan dan singkat karena
sekolah membutuhkan guru, dan si Eka pun diterima menjadi guru Raudhatul Afhal sekaligus
menjadi sahabat.
Mulai saat itu dia menjadi sahabat karibku, dia mengajar, satu ruangan,bila waktu hujan
lebat dia ngga bisa turun ke sekolah sebab asmanya pasti kambuh, dan dia gampang cape,
makanan pun tidak bisa sembarangan, harus dipilih bukan berarti tidak mau sembarangan
makan,tetapi harus memilih-milih jenis makanan yang boleh ia makan tapi lantaran penyakit
asma nyalah yang membuat dia sendiri harus begitu.
Betapa rasa hati terkadang terenyuh melihat penderitaan seorang sahabat yang begitu
memilukan, bila sudah kumat asma nya , hanya mampu tertelungkup di atas bantal bahkan
seperti orang yang tak berdaya, untuk meningkatkan kepalanya pun dia tak mampu apa lagi
buat perkata-kata, hanya napas yang terengah-engah dan air mata mengalir dipipi manisnya.
Keadaan selalu berlanjut tidak ada menunjukkan bahwa dia punya tanda-tanda sembuh
dari asmanya. Semakin hari semakin memburuk berbagai obat sudah dicoba tai keaadaan tidak
banyak berubah hanya untuk dia bertahan dari rasa sakit dan terkadang susah bernapas, hal ini
lah yang akhirnya dia merasa tidak nyaman dan selalu ijin tidak masuk mengajar.itulah yang
membuat dia mengundurkan diri, berhenti mengajar di sekolah saya.
Walau pun dia tidak mengajar lagi namun silaturahmi kami tetap terlanjut kedekatan
hubungan kami membuat dia menjadi sahabat, yang bermula dari cerita yang unik menjadi
awal persahabatan kami selalu.
2. Pernikahan Awal Kebahagiaan
Setelah beberapa tahun lamanya terdengar kabar kaluar dia mau menikah dengan teman
masa kecilnya jua, yang tau segalanya tentang dia.
Pernikahan itu telah membawa ke bahagiaannya, seorang sahabat kecilnya kini menjadi
suami yang sangat mencintainya, dan mau mengerti tentang dirinya serta menemaninya dalam
suka dan duka. Setiap asmanya kambuh sang suami selalu merawatnya, mengantarnya berobat
ke dokter, dan tak pernah lelah berusaha putus asa mengobatinya , karena ia yakin bahwa setiap
penyakit itu pasti ada obatnya kalau kita mau berusaha.
Berbagai macam cara sudah dicoba dari pengobatan medis hingga pengobatan herbal,
tetapi belum bisa untuk memulihkan kesehatan istrinya, walau keadaanya saat itu tidak separah
ketika dia masih gadis, ada sedikit perubahan aktifitasnya pun berjalan,tetepi kelelahan itu
sangat di jaga bila dia terlalu lelah merasa lemas dan tak berdaya sehingga menimbulkan
penyakit asmanya bisa kambuh kembali .Ternyata pernikahannya itu awal dari
kebahagiaannnya, dan menghasilkan benih-benuh cinta yang tubuh bersemi di rahimnya, juga
menjadikan sebuah harapan baru, bahwa ia akan memiliki momongan,keluarga kecilnya akan
dihiasai dengan kehadiran sang buah hati.
Kita hanya mampu berharap tetapi Allah yang menentukannya, semua doa mereka
selama ini telah di kabulkan ngengan lahirnya seorang Putra mereka yang mungil dan sangat
cantik seperti wajah ibunya. Lengkaplah kebahagain mereka.
Kini ketika suaminya bekerja ia sudah ada yang menemami di rumah,dia adalah buah
hatinya yang sangat ia cintai dan disanyangi, sebagai hiburan ketika dia sedih dan juga sebagai
teman kala ia kesepian saat ia sendiri.
Karena asyik merawat bayinya terkadang ia juga bisa lupa akan dirinya yang tengah
menderita penyakit asma.Tetapi demi si buah hati hal ini tidaklah menjadi kesulitan atau pun
penghalang ,perasaan Bahagia yang ia raskan setelah perkawinannya membuat penyakit asma
nya berangsur-angsur sembuh, bahkan tidah pernah kumat lagi. Ketika saya tanya “Eka, apa
obatnya yang membuat kamu sembuh dari penyakit asmamu itu” , dan ia menjawab sambal
tersenyum pada ku sambal menggendong bayinya Ketika aku singgaja bertemu padanya untuk
menenggok bayinya yang baru lahir itu,” tidak tau bunda, entah obat yang mana yang bisa
menyembuhkan ku, karena saking banyak obat yang telah ku coba dan kugunakan, tetapi yang
jelas setelah aku memiliki anak, asmaku enggan dating lagi mungkin sudah merasa tidak di
perhatikan dan marah lalu kabur”, demikian tuturnya sambal bercanda.
Senang bangat rasa hati saya, ada sedikit perasaan lega melihat dia bisa hidup normal
Kembali dan wajah cantinya terlihat Bahagia sekali dalam pernikahanya itu,ini mungkin
pertanda dalam hatiku bahwa suaminya itu sangat menyayanginya serta selalu memberikan
perhatian kepadanya,yang membuat dia sangat Bahagia sekali.Segala kebutuhan dan
keperluanya pun terpenuhi, kini dia tidak perlu harus ikut bekerja dan berjualan seperti dulu
lagi,pekerjaannya murni menjadi ibu rumah tangga sejati ,hanya mengurus dapur,sumur dan
Kasur saja.
Hal ini lah membuat ia lupa untuk jalan-jalan ,ke mull,atau shopping lagi , semua
kebutuhannya terpenuhi, suaminya sehabis bekerja, ia berbelanja dari kebutuhan dapur sampai
bedak dan alat make up sang istri sampai ke fashionnya pun disiapkan sang suami, juga buku-
buku bacaan pun, dah lengkap tambah lagi dia memiliki suami yang setia,dan juga terkadang
bila dia di rumah membantu tugas istrinya , seperti mencuci pakaian menjemurnya , bantu
buatkan susu bayi mereka dll yang bisa dia bantu maka ia bantu juga.
Tiada sedikit pun ia mencela sang suami, ‘pokokny bun lengkap sudah kebahagaan ku
kini “jelasnya pada ku. Aku hanya menangguk-angguk kagum akan ceritanya dan merasa
bersyukur serta turut merasa Bahagia akan kebahagian dan keembuhan sahabatku itu.
3. Dia divonis Mengidap Lupus
Setelah beberapa tahun kami tidak pernah bertemu Kembali ia sudah pindah menikuti
tempat suaminya bekerja,yaitu di daerah Pangkalan Bun Kotawaringin Barat.Suaminya bekerja
pada sebuah agensi ternama dan sebagai menejernya, ia mulai di sibukkan dengan pekerjaan
di kantornya yang membuat tidak bisa lagi membantu sang istrinya mengurus rumah bahkan
tidak sempat lagi untuk berbelanja keperluan mereka lagi. Ia lah yang harus melakukan semua
pekerjaan itu dan sangat super sibuk lagi walau pun murni menjadi asisten rumah tangga tetapi
waktu itu terasa sangat sebentar sekali,”andaikan mata hari itu bisa saya tongkat supaya tidak
lekas gelap akan saya tongkat dan saya tahan biar tetap terang hari dan menyelesaikan
pekerjaan saya sampai selesai.
Tak jarang walau pun sudah malah hari sya masih tetap melakukan pekerjaan rumah
juga mengus anak saya. Sekali puntak terlitas di pikiran saya untuk mencari seorang pembantu
yang bisa meringankan tugas sebagai ibu rumah tangga, semua pekerjaan saya lakukan sendiri
hapir 1 tahun berlansung seperti itu aja dan semakin hari tubuh ku sangat letih dan lesu
sekali,bahakan terkadang merasa tidak memiliki tenaga lagi.
Saat itu sang suaminya keja di luar daerah bahkan sampai berbulan-bulan tidak pulang
kerumah karena tuntutan pekerjaan.Istri dan anaknya hanya berdua dirumah,jauh dari kerabat
yang bisa membantunya.Hal ini lah yang membuat nya merasa sedih dan meminta pada
suaminya untuk bisa mencari orang yang bisa membantunya di rumah. Usulan nya pun di
kabulakan oleh suaminya.di carinya dari keluarganya yang mau ikut dia untuk membantu
istrinya di rumah.
Kerabat sang suami yang mereka bawa itu itu pada mulanya sangat respek , membantu
mereka,apa pun yang di perlukan segera di lakukan dan selalu memperhatikan keperluan yang
mereka butuhkan ,seperti mempersiapkan pakaian, mengurusnya dari mencuci sampai
menyetrika, membantu berbelaja keperluan rumah tangga, memasakkannya, dan
membersihkan alat-alat dapur juga rumah, melap,mengepel lantai,menyapu dll, semua
pekerjaan rumah pun terbantukan dengan adanya kerabat mereka itu,sehingga dia banyak juga
waktu buat si buah hati dan beristirahat.
Walau pun demikian banyak tugasnya dalam rumah tangga sudah terbantukan, namun
dia tidak tinggal diam saya,dia juga tetap melalukan tugas ibu rumah tangga meskipiun yang
tergolong ringatlah seperti, melipat pakaian ,menyiapkan pakaian suami yang mau berangkat
kerja , menyiapakn makanan di meja makan, mengurus anaknya,memandikannya,memasang
baju,merapikan rambutnya dan menyuapi makanannya dll. Hal ini walau pun terlihat ringgan
tetapi sama saja menguras waktu dan tenagga juga bila banyak dan menumpuk, meski ringat
di bandingka sebelumnya apa pun dia kerjakan sendiri.
Selang beberapa waktu keadaannya aman-aman saja, tidak ada keluh kesah yang
menjadi alas an dia harus mengeluh, tetapi terkadang merasa cape yang luar biasa
menyerangnya, sehingga terasa cape dan lemas sekali di sendi-sendi serta tulang-tulangnya
padahal penyakit asma yang ia derita sudah berangsur-angsur berkurang dan mulai
sembuh,meski tidak tidak sembuh total tetapi lumayan melegakan juga mampu benapas dengan
tenang.
Keadaan seperti itu berlangsung bebererapa lama sehingga terlihat damai dan tentram ,
sebuah keluarga kecil yang Bahagia.
Tapi tiba-tiba keadaanya memburuk dan semakin buruk sehingga dia terkulai lemas dan
harus diopename di rumah sakit terdekat. Dari hasil diapnosa dokter ganguan pada otoimun.
Penyakit otoimun adalah sejenis penyakit yang menyerang pada saat imun itu menurun dan
kondisi pasen sangat melemah. Mulai saat itu di sudah di vonis mengidap penyakit lupus.
Banyak usaha yang di lakukannya sehingga ia mendapat pertolongan dari medis sampai semua
pengobatan yang terbaik sudah di coba tetapi semua usaha itu tidak banyak menujukkan hasil
yang signifikan menujukkan ke sembuhan.
Perubahan yang di rasakan begitu sangat membuat ia stress, lebih -lebih lagi orang
yang menderita otoimun itu jarang bisa sembuh bahkan tidak akan pernah sembuh lagi, hal ini
yang membuat rasa terpuruk akan penyakit yang ia derita itu , menyakit ini seakan -akan
menjadi momok yang menakutkan, begitu menggerikan sehingga timbul rasa putus asa akan
bertahan hidup, melihat kulit yang mulai mengkrisut seperti orang tua dan terkadang wajahnya
terlihat yang berubah – rubah sangat cantik dan terkadang terlihat sangat suram.Sendi-sendi
tulangnya terkadang sakit hampir tidak bisa berdiri seperti orang yang lumpuh pada seluruh
tubuhnya.
Kini mulai terasa dan terlihat perubahan-perubahan yang signifikan teritama pada
bagian – bagian tubuh tertentu mulai terlihat, mulai dari rambut yang mulai rontok sedikit
demi sedikit ahirnya di gundul , dan timbul bau amis dari kulit kepala yang seperti kena luka-
luka kecil yang mengeluarkan cairan yang agak berbau tak sedap.kepalanya pun dia bungkus
dengan handuk, handuk itu pun menjadi basah, bahkan bisa diperas saking basahnya.
Banyak hal yang di rasakan penderitaan baik fisik bahkan penderitaan bathin pun mulai
terasa sekali dari orang di sekitarnya, terutama sekali kerabatnya yang dulu giat membantu di
rumah tangga pun mulai mejauhkan diri bahkan yang paling menyakitkan pakaian terlah kotor
dari dirinya itu tidak mau ia cuci bahkan Sebagian ia buang oleh kerabatnya itu, seakan -akan
barang yang bekas tersentuh dari Eka itu seperti wabah yang bisa menularkan penyakit saja,
sehingga apa saya barang yang sudah tersentuhnya, itu di singkirkan , bahkan di buang secara
diam-diam, tanpa ia ketahui.Namun kelamaan sepandai-pandainya dia menyimpai
kekhatirannya akhirnya ketahuan jua dan ia tau dari perubahan sipatnya sudah di rasakan sejak
tanda-tanda ia mengidap lupus dan sdh di vonis ngidap otoimun.
Keputusaan itu sangat ia rasakan sehingga penyakit yang di katakan sebagai virus yang
mematikan itu. Hal ini yang menimbukan rasa minder dan membuatnya semakin rapuh.
Tekanan bathin yang luar bisa ini membuat ia menjadi ingin mengakhiri hidupnya, dengan
cara menggantung diri di dalam kamarnya.Ketika hal ini ingin ia lakukan, sudah ia siapkan
kain Panjang yang siap menggantung lehernya, posisi kepalanya sudah mulai masuk di
lingkaran kain yang dia buat, tiba-tiba terdengan suara tangisan yang memilukankan hati,
karena tangisan sang buah hatinya yang terbangun dangan tangisan yang begitu mengejutkan
bahkan menyadarkanya bahwa apa yang ia lakukan itu merupakan hal yang tak pantas dan tak
perlu di ia lakukan. Saat itu ia sadar bahwa apa yang akan ia lakukan tadi adalah salah besar,
bahwa ia adalah seorang ibu yang sangat di butukkan buah hatinya, ada tangan kecil yang
menyeka air matanya, ada ,jemari-jemari mungil memegang erat tangannya, mulit mungil ini
jga menyapa dengan sebutan,” mama”katanya. Hal ini yang meluluh latahkan perasaan naluri
seorang ibu.
Kesakitan dan ke pedihan penderiataannya akan penyakit yang ia rasakan, gejolak hati
yang mengelora, bercampur haru dengan linangan air mata yang menbasahi ke dua pipi
lembutnya, seakan-akan menambah kelusuhannya yang mengurangi kecantikan yang ia miliki.
Tetapi Allah berkendak lain saat-saat yang memang meneggangkan itu hampir terjadi ,
melewati si buat hati melewati tangisannya yang sangat memilukaan itu yang telah
menyadarkan nya untuk mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya saat itu.
4. Titik dari Awal Kehancuran
Ketidak berdayaannya itu yang menbuat ia membatasi waktu bisa bertemu orang lain,
disamping kondisi nya yang membuat dirinya semakin memburuk dan merupakan awal
kehancurannya.
Karena peristiwa dimana ia ingin menghakhiri hidupnya saat itulah sang suami berusaha habis-
habisan untuk mengobatinya Kembali sang strinya semua dokter medis ahli pada bidang itu
pun, semua ia temui baik klik berobat mau pun rumah-rumah sakit, obat-obatan yang mahal
baik dari Indonesia saja atu pun dari luar negri seperti obat-obatan dari Malasyia, Amerika, dll.
Pun ia beli , sang suami tidak mengenal kata menyerah berhenti mengobati sang istinya .
Sampai suatu saat ia harus menjual mobilnya, setelah itu ia menjual lagi tanah , karena
biaya yang harus di tanggung begitu besar dan surat-rurat berharga lainnya pun mulai tergadai,
karena hutang mereka dan beberapa barang sudah tergadaikan maka terjualah rumahnya.
Karena ia masih memiliki sang Ayah yang kini setia menemaninya makai a pun harus
pindah ke rumah sang ayahnya yang hidup sendirian. Sang suami pun mulai mencari pekerjaan
baru yang lebih dekan dari keluarganya dan bisa Bersama bila sidah pulang , karena pekerjaan
lama rea ia tinggalkan demi memberikan perhatian khusus pada istrinya. Dan ada perasaan
troma juga akibat sang isti yang hamper saja mengahkiri hidupnya, kaena tidak tahan dengan
penyakit yang ia derita itu.
Semua harta benda yang ia kumpukan selama ini sudah ludes, hanya tinggal satu buah
sepeda motor dan pakaian saja yang tersisa, semua yang lain itu sudah ia ikhlaskan demi
pengobatan si istri, berharap bisa sehat ,dan normal seperti semuala.
Walau pun sang isti sudah ia pilih oleh suaminya berobat mahal dan banyak uangnya
tetapi tidak dapat menjamin kesembuhan si istri yan tengan menderia aotoimun tersebut hanya
obat itu untuk bertahan dari rasa sakit yang istrinya derita saja bukan untuk totol kesembuhanya
itu pun ia merasa ber syukur karena disela-selanya ia dapat melihat senyuman dari bibir isrti
tercintanya dan dulu juga teman masa kecilnya yang ia tau sudah banyak mengalami
penderitaan, ia pun bertekad ingin membahagiakan istrinya selamanya sampai akhir nanti.
5. Kekuatan Awal Yang Membuat Tegar
Benar kata orang bijak obat yang paling mujarab dari penyakit apa pun adalah berawal
dari hati yang merupakan kekuatan awal yang membuatnya tegar dalam menghadapi penyakit
dan kehidupanya adalah Perasaan Bahagia, sebab rata-rara penderita otoimun itu rentan dengan
hati dan ketenangan jiwa, secara pisikologi bahwa Penyakit itu timbul tumbuh dan berkembang
adalah banyak persennya disebabkan dari dalam diri kita sendiri, hanya 10 persen berasal dari
makanan, setidanya suasana hati itu bisa membuah Bahagia timbul rasa kedamaian dan
berpengaruh pada imun kita walau tak bisa menyembuhkan totol dari menyakit yang
mengerikan itu.
Pertanyaan bahwa mengapa kita hidup harus berpasang-pasangan , itu ada sebabnya
yakni bisa saling mengisim berbagi, tempat mencurahkan perasaan cinta dan kasih sayang,
sebagai sahabat yang mau mengerti dengan apa yang ia inginkan.
Jadi yang menjadi kekuatan awal yang bisa membuat kita tegar adalah besumber dari
hati yang tenang, jiwa yang besih yang selalu membawa kesejukan jiwa dan menumbukan rasa
perecaya diri yang sangat luar biasa pengaruhnya pada diri kita.
Siapat itu yang sudah di skerio Allah untuk menjadi pasangan hidupnya.dari sekian
banyak Wanita di dunia ini mungkin Sebagian kecil aja yang memiliki hati dan keikhalasan
yang luar biasa di turunka sebagai malaikat yang merangkulnya dengan kebahagiaan yang
sugngguh luar biasa.
Kemujijatan itu ada pada diri kita, tetapi mampukan kita untuk mengetahui dan
mendapatkan rahasianya, tanpa kita sendiri membuka takbir itu sendiri.
Walau pun belum bisa hidup normal pun ia harus menjalani hidup seperti itu kekuatan
dan ketegaraannya beradaptasi dengan penyakit pun sudah ia lakukan karena selalu mendapat
dukungan dan perhatian khusus dari orang yang ia sayang dan ia cuntai,yang ia sandarkan
hidupnya mendapinginya selalu.
Kebiasaan baru yang rasakan yaitu melawan dari rasa sakit yang tiba-tiba meyerangnya,
sudah mulai ia lakukan , bertahan dengan penyakit aotoimun itu bukan lah yang mudah, tetapi
setiap ada usaha pasti ada hasil yang ia rasakan pebiasaan hidup dengan lipus adalalah salah
satu trapi untuk menujukkan bawa orang penderita lupus itu bisa bertahan, dari kuatnya suatu
keyakinan untuk melawan rasa sakit dan keyakinan bahwa semua penyakit itu dari Nya dan
kekuatan yang ia miliki itu juga atas ke hendaknya.
Perasaan itu selalu di imbangi dengan niat dalam diri bahwa ia akan sembuh dam
mampu melawan penyakit dan bertahan terus sehingga ia benar-benar merasa nyaman serta
sehat seperti sedia kala, hal in adalah awal dari keyakinanan bahwa ia bisa sembuh dansehat
kembali.
6. Rahasia Kesembuhan Seorang Odapus
Ada kebiasaan baru yang ia lakukan yang merupakan membuka tabir kesembuhan sebagai
suatu rahasia Ilahi yang ia jalani, hal ini selalu ia amalkan dan alhamdulillah sudah beberapa
tahun ia mendapat perubahan dan terlepas dari obat-obat yang semakin hari semakin mengeliat
harganya.
Rahasia sembuhnya seorang adapus ini terungkap Ketika ia mengakhiri ceritanya pada
ku saat itu, yang sudah beberapa hari selalu menunggu khabar dan cerita si cantik itu
mengungkapkan cerita yang sangat saya harapkan, sebagai pengobat rasa penasaran, mengapa
saat ini dia terlihat segar dan mampu melakukan aktivitasnya bakan Ketika saya berkunjung ia
selalu tidak ada di rumah,Kata ayahnya ia pergi ikut mengantar barang- barang mendamping
sang suaminya, berarti ia sudah ada tanda-tanda kesembuhan dan perubahan bahwa ia sudah
ada kemajuan kesehatanya dari hari-hari yang lalu.
Ketika beberapa hari yang lalu saya senggaja berkunjung ke rumahnya untuk
menanyakan lagi tentang” bagaimana kesembuhannya dan apa obatnya, karena kini terlihat
dia segar bugar dan seakan – akan dia bukanlah penderita autoimun.ia sambal mengingat- ingat
, lalu Eka Rahma mulai membuka ceriatanya dengan berkata” Bun sebenarnya saya ini
autoimun versi pembigu vulgaris , kalo obat-obatan yang saya kusumsi itu ,saya sudah lupa
Namanya, karena sudah dua tahun sudah saya tidak lagi mengkusumsi obat-obatan itu dan
sudah saya terlepas dan tidak akan memakainya lagi, jelas nya pada sya saat bertemu
dengannya waktu itu. “Terus apa dong rahasianya Ananda Eka bisa sembuh dan kelihatannya
segar bugar tidak seperti dulu lagi “ tanyaku sambal memandang nya sambal keheranan, karena
dari beberapa cerita kawan- kawan yang menderita aotuimun itu tidah ada yang bisa sembuh
dengan obat apa pun, mungkin hanya dapat berkurang atau hanya ubtuk bertahan sementara
saja.
Kemudian ia melanjutkan penjelasaan nya tentang apa yang ia amalkan selama dua
tahun ini sehingga ia hampir mendapatkan totol kesehatanya Kembali dan terlepas dari
penyakit yang mengerikan itu.
“Saya hanya punya keinginan dan usaha untuk sembuh yaitu dengan tiga hal yang selalu
di lakukan seperti:
1 Senantiasa berdoa , setiap selesai shalat lima waktu dan terkadang saya shalat tahajud
juga sering shalat duha,Kemudian saya berdoa supaya bisa sehat untuk mengurus
putra-putra saya berdua itu.
2 Shalawat adalah amalan yang tak pernah lepas saya baca setiap saat setelah saya sholat
dari mulai bangun sampai tidur malam lagi.
3 Sedekah yang senantiasa saya lakukan dan selalu disempatkan setiap hari dan tak
pernah putus-putus walaupun secangkir air putih sekali pun
“Nah, Alhamdulillah ketiga amalan itu yang selalu saya amalkan hingga dua tahun ini saya
sampai sekarang saya terlepas dari obat- obatan.” Kata nya sambal mengelus-elus bayinya
dengan penuh kasih sayang , yang terlihat mulai mengantuk di pangkuannya.
“Sebenarnya untuk lepas dari obat-obat itu banyak sekali pertimbangan, tapi saya nekat
lepas obat di saat pengobatan, melihat muka sudah gede kaya bulan purnama, sumpah
ngeri banget , melihat muka sendiri kaya gitu dan terkadang saya tidak mau melihat cermin
tambah stress aja dan ongkos yang sangat mahal sekali untuk membeli obat-obatan juga
salah satu alasannya ingin berhenti berobat ” katanya sambal mengangkat alisnya bercerita.
Setelah memutuskan ngga akan berobat lagi dan lebih baik saya akan mulai
memutuskan untuk mengamalkan sedekah saja dengan kemampuan saya,setiap saat selalu
bershalawat , Alhamdulillah Allah menujukkan keajaibannya , lepuhan yang di badan
sudah ngga muncul dengan brutal lagi seperti biasanya,walau pun ngga minum obat- obatan
itu lagi , dan sampai sekarang mengamalin shalawat itu terus dan Masyaallah dulu biasanya
kalo nguci baju sudah ngga sanggup lagi ngga kuat, tapi sekarang nyuci ngga merasa cape
lagi yang luar biasa seperti dulu lagi, dan tugas ibu rumah tangga itu berangsur-angsur
mampu saya kerjakan lagi, seperti ada sumber kekuatan baru hidup di diri saya lagi, ada
supranatural atau kekuatan yang luar biasa meninggakat pada diri saya lagi, semangat
untuk membesarkan anak-anak saya juga menampah kesembuhan dan memulihkan
Kesehatan saya Kembali, demi si buah hati saya harus semangat bunda” , kilahnya kepada
saya yang dengan seksama mendengankan ceritanya sambal se sekali menyeka air mata
yang terkadang berlinang air mata membasahi keduanya pipi saya.
“Ya suami saya juga salah satu penyembab kesembuhan saya dukungan dan sport dari
keluarga itu sangat penting, mampu membangun rasa percaya diri saya Kembali bisa
bangkit dan semangat demi anak-anak yang sangat membutuhkan seorang ibu dan
ketegaran saya timbul dari kasih sayang suami tercinta, yang tak pernah menyerah
mendampingi saya baik dalam keadaan suka mau pun duka serta membantu mengurus
anak=anak kami berdua dan selalu memberikan kasih sayang yang tulus kepda saya” kata
nya dengan air mata yang berkaca-kaca suaranyanya terdengar lirih.
Memang kebahagian bathin itu sangat mempengaruhi jiwa dan mental seseorang mampu
bangkit dari kerapuhan dan bangkit serta keterpurukan , juga mampu berubah lebih baik
lagi, dan tidak pernah di sanangka bahwa penderita aotuimun itu bisa sembuh, setidanya
mampu bertahan dari kerapuhanya.Benar bahwa semua penyakit itu sebenarnya ada
obatnya, tergantung bagaimana kita bisa menemukan cara atau mendapatkan obat yang
tepat dam mujarab, karena bila kita mau berusaha tidak ada yang mustahil di dunia ini bila
Allah berkehendak dan kita mau berusaha untuk mendapatkan apa yang kita ingin kan dan
kita cari, Insyaalah semua yang kita usahakan membuahkan hasil sesuai dengan bagaimana
kita berusaha melalukannya, seungguhnya Allah tuhan kita maha mengetahui segalanya
dan maha melihat akan apa yang kita perbuatkan, apa yang ingin kita lakukan ia akan
selalu mengikuti prasangka kita, justru itu berprasaankala yang baik dan benar agar hidup
kita selalu di isi dengan kebaikan dan kebenaran selalu, maka kita selalu mendapatkan
keberkahan dalam setiap Langkah dan mampu melewati rintangan dan tantangan dalam
hidup ini , karena Allah tidak akan memberikan ujian yang lebih berat lagi sesuai
kemampuan dan kesanggupan kita juga dalam mengarungi dan menjalanakannya.
Kekuatan itu sebenarnya timbul pada diri seseeorang Ketika dia memiliki
kemaun dan tekad ingin sembuh itu juga harus di imbangin dengan dukungan orang yang
terdekat kita yang selalu siap sedia membantu dukungan baik moril mau pun dukungan
materil nya ,di saat kita memang betul-betul membutuhkan , seberat apa pun penderitaan
yang di berikan , Isyaallah mampu terlewati dan dapat di halaukan juga oleh tekad dan
keyakinan bahwa kita bisa dan punya niat yang tulus untuk mampu sembuh dan punya
semangat yang luar biasa.
Saya juga berharap dari sekelumit cerita ini dapat di ambil hikmahnya bahwa setiap
penyakit itu ada obatnya tergantung ketepatan dan usaha kita juga bisa melaksanakannya
dan mengajarkan kita tidak mudah untuk berputus asa sesulit apa pun ujian yang kita alami
,Insyaallah kita mampu ngengarunginya, seperti melewati Samudra yang luas dengan
ketekunan kita selalu berusaha dan berikhtiar Insyaalah bisa terlewati juga , dengan
kesungguhan dan tekad maka taka da yang tak mungkin asal kita mau melakukannya dan
mau berusaha untuk sembuh setidaknya mampu bertahan terus.
Kenikmatan yang luar biasa adalah rasa kasih sayang dan saling menyangi dengan
orang yang kita kasihi terlebih sekali yaitu orang terdekat kita , yang ikut menjaga dan
selalu bertanggung jawab akan diri kita, melindungi memberikan rasa aman, dam
memberikan kebahagiaan, walau seberat apa pun penyakit yang di alami tidak akan dapat
memisahkan kasih sayang yang tulus damn mungkin idak mudah didapatkan dari semua
pasangan hidup yang ada.
Tak dapat kita pungkiri, bahwa pasangan seperti dalam cerita ini tidak mudah untuk
didapatkan bahkan langka sekali ada di jaman ini , yang sudah serba modern dan instan, semua
butuh proses, butuh kwalitas yang sebenar- benarnya akan makna kehidupan, sehingga dapat
diresapi bahwa hidup itu hanya satu kali saya dan akan selalu menjaga satu dan lainnya dengan
nilai rasa cinta yang memiliki kwalitas yang tergolong tinggi dan memmahami makna
kehidupan yang hakiki dan benar-benar mampu bertahan walau di terpa badai cobaan hidup
yakni di berkan penyakit yang menguji keimanan mereka berdua, meski sang istri hampir saja
mengakhiri hidupnya dengan rasa keputus asaan tetapi karena kasih sayang dan ketulus iklasan
sang suami dengan sabar dan penuh kasih sayang berhasil menghantarkan istrinya akan makna
kehidupan dan memahami betapa luasnya dunia in yang terlihat tak bertepi serta mengarungi
lautan kehidupan yang juga tak lebar dari garam kehidupan yang penuh dengan warna warni,
sehingga ia mapu memaknainya dengan rasa yang takterhingga dan dapat terlewati bahwa
betapa agungnya Tuhan memberikan suatu ujian yang ada hikmah di balik semuanya.
Di setiap penyakit yang di berikan itu bahwa mengajarkan kta untuk lebih mendekatkan
diri dengan Allah dan menyebarkan benih-benih kasih sayang kita dengan sesame, sehingga
kita tau bahwa da maksud Allah di balik semuanya, kita menjadi lapang dada dalam
menjalankan semua cobaan hidup yang di berikan serta menumbuhkan kesabaran di hati
sanubari kita bahwa untuk mengingatkan diri kita selalu tawakal dan selalu berserah diri atas
apa yang ia inginkan dan ia kehendaki, tiada daya upaya kita untuk menghindari bi la ia maha
berkehendak dan tak ada kekuatan apa pun yang mampu menoloknya bila itu akan terjadi maka
jadilah seperti ia inginkan , namun kita juga tidak boleh pasrah dengan keadaam dan kondisi
kita juga harus berusaha dan berikhitar untuk bangkit dan menemukan jalan yang terbaik tetapi
tidak terlepas juga dari kodrat dan iradhatnya juga, segala usaha kita lakuakan sehingga kita
akan mendapatkan keredhoaan dari nya juga. Aamiin ya robb…..
PENUTUP
Dari cerita ini dapat lah di ambil hikmahnya sesulit apa pun penyakit yang di derita itu
tidak ada yang tidak bisa membuat sembuh, setidaknya kita mampu bertahan. Jadi semangat
itu merupakan kekuatan yang terbesar dari diri sesorang odapus untuk berusaha sembuh dengan
dukungan dan perhatiaan orang terdekatnya terutama sekali suami tercintanya yang dengan
tulus ikhlas, membesarkan jiwa sang istrinya dengan memberikan perhatian khusus dan
keyakinan bahwa ia akan sembuh, dan berharap menjadikan isrtinya sebagai ibu rumah tangga
yang mengayomi anak-anaknya dan turut membesarkan serta memberikan kasih sayang yang
tulus kepada anak-anaknya , sehingga kelak mereka dewasa selalu mendapatkan kasih sayang
dan perhatian dari orang tua yang menyayangi mereka sehingga tumbuh dan berkembang
sesuai harapan.
Penyakit bukanlah menjadi penghalang untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang
istri yang kuat , tegar dan tidak boleh berputus asa.Sebab semua usaha dan iktiar pasti akan
membuahkan hasil apa bila kita mau berusaha dan tidak melupakan bahwa ada kekuatan ghaib
yang mampu meringangkatkan kesulitan kita dalam menempuh segala ujian yang hidup di
berikan dan terlepas dari itu mendidk diri kita harus bersabar, bertawakal, memiliki keyakinan
bahwa Allah itu maha berkehendak dan selalu mendekatkan diri atas kekuasaannya dan
menempatkannya di tempat tertinggi, dan melajar diri kita mau berbagi dengan orang lain dan
berempati terhadap penderiatan sesame.
Karena pada hakekatnya bahwa setiap penyakit itu ada obatnya dan bagai mana kita
bisa menerima dan berusaha untuk mengobati serta tetap berusaha untuk bisa bangkit untuk
kesembuhan . Semangat didalam diri sebagai penderita outoimin itu perlu di miliki,
sebagai modal untuk bisa sembuh.dan memiki keyakinan akan mampu melawan kerapuhan
mereka dan menjadi kuat serta sehat Kembali,setidanya mampu bertahan dam mampu bangkit
Kembali, dan masih banyak hal-hal yang belum kita tau, tapi sya yakin kawan-kawan adapus
pasti lebih kuat dan punya semangat yang tinggi dalan menjalankan kehidupan ini. Pengalaman
Kalian lebih banyak dan lebih banyak lagi menyerap ilmu,terutama sekali tetang penetahuan
yang luar biasa sekali yang tak kalian sadari bahwa iut merupakan kelebihan yang kaliam
miliki,dan mungkin kami sendiri tidak tau bagaimana cara dan ginama cara utuk mengatasinya,
Kebesaran jiwa kawan-kawan lah yang luar biasa menjadikan ladang kesabaran dan
buah hasilnya akan kalian petik kelah sebagai ladang amal jariah yang selalu mengalir mba
seperti sungai terus menuju tujuannya dan mencapai akhir yang di harapkan.
Demikian lah semoga cerita kali ini mendapatkan keridhoaan dari Alllah ta’ala sebagai
cerita ispiratif yang mengajarkan banyak hal dan menjadi penyemangat semua dalam
mengalami suatu permasalahaaan yang sama dam mampu mengambil hikmahnya.
Arbawati , SPd.I.,M.Pd.,
Arbawati , SPd.I.,M.Pd., lahir di Kuala Kapuas (kota air) di Kalimantan tengah , tinggal di
Palangka raya Kalteng , Pekerjaan Saya seorang Guru yang menjabat sebagai kepala sekolah
pada instansi swasta yaitu Yayasan Bunda Masnah Marhamah yakni sekolah RA Al-Musafirin
Kereng Bangkirai di Palangka Raya Kalimantan Tengah. Hobby : menulis cerpen, Puisi dan
sangat suka membaca juga, walau di sela-sela kesibukan saya menyempatkan untuk selalu ikut
menulis di komunitas Penulis, Bagi saya belajar itu di mana pun kapan pun walau dengan siapa
pun selalu bersemangat, Ketika insiprasi timbul saat itu saya tuangkankan segera goresan pena
saya,cerita-cerita ispiratif itu yang ingin selalu saya tuangkan sehingga mengguggah dan
mengaharu biru perasaan itu yang ingin saya ungkapakn sebagai hikmah dari isi tulisan
saya.Buku yang pernah di tulis adalah Kau insiprasiku (buku tunggal), sejuta rindu dalam puisi
(antologi puisi bersama kawan-kawan IGI). Buku menggapai Bintang( buku antologi cerpen
Bersama SAGUSAKU IGI) dan lain-lain
“Setiap hal yang kita lihat dan rasakan
adalah pelajaran hidup yang perlu disyukuri”
- Septi Handayani
Kereta Cita-Cita
Oleh Septi Handayani
Seribu langkah kaki melaju di peron tujuh stasiun manggarai, setelah terdengar
pengumuman yang terdengar nyaring bahwa kereta KRL (Comuter Line) menuju Bogor akan
tiba tepat pukul sepuluh di peron tujuh. Terlihat di ujung peron kereta mendekat perlahan di
perhentian, penumpang bersiap menyambut kedatangannya dengan rasa senang setelah 20
menit menunggu.
Akupun masuk ke dalam kereta itu, tepatnya di gerbong pertama (gerbong khusus
wanita) pintu ke dua. Alhamdulillah kali ini aku dapat duduk, dan sepertinya penumpang yang
lain pun tidak ada yang berdiri. Kereta KRL menuju Bogor memang kadang suka penuh bahkan
penumpang yang berdiripun sampai berdesakan, apalagi kalau sore menjelang pulang kerja
luar biasa penuhnya. Tidak kali ini, mungkin karena hari kerja bukan hari libur dan waktunya
pun tidak terlalu pagi, jadi mereka yang berangkat kerja sudah berangkat lebih awal.
Entah kenapa jika menuju Bogor aku lebih menyukai naik kereta KRL daripada naik
mobil, lebih nyaman menurutku, tidak macet dan bisa melihat pemandangan luar dari dalam
kereta yang berbeda jika melihat pemandangan luar dari dalam mobil.
Beberapa karakter penumpang juga macam-macam berada di KRL ini, ada yang ramah,
murah senyum, cuek, ketus, bahkan pernah di gerbong wanita ini ada ‘emak-emak’ yang
berantem adu mulut hanya gara-gara kakinya terinjak, biasalah kalau kereta penuh penumpang
kadang berdiri tidak stabil sampai menginjak orang. Tapi gak segitunya juga kali sampai
berantem, begitulah dunia penggerbongan kereta, apalagi di gerbong wanita, suka ada aja
kejadian lucu dan aneh.
Semua penumpang di gerbong itu membisu, sibuk dengan HP nya masing-masing,
sesekali terlihat ada yang senyum-senyum sendiri, mungkin membaca hal yang lucu di HP nya.
Ada juga yang tertidur entah hanya memejamkan mata atau benar-benar tidur pulas dengan
wajah tertutup masker, mungkin dia lelah. Aku memilih membuka HP ku, sambil melihat pesan
whatsapp dan memeriksa website toko online ku barangkali ada customer yang masuk.
Sesaat kereta berhenti, seorang ibu dan anak masuk ke gerbong kereta dan duduk tepat
di sebelahku. Aku intip ke luar jendela ternyata masih diperhentian stasiun kalibata, kereta pun