MAKALAH I
PENGEMBANGAN DALAM JENIS DAN PERAN BAHAN AJAR
A. Pengertian dalam Bahan Ajar
Bahan ajar adalah suatu perangkat materi/substansi pembelajaran (teaching
material) yang telah tersusun secara sistematis, dalam menginterpretasikankeutuhan
dari kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa dalam kegiatanpembelajaran. Pada
dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, karakter danketerampilan yang sesuai
nilai atau kaidah dalam mencapai tujuan pembelajaran. 1 Menurut pendapat Irawati
& Elmubarok, mengenai bahan ajar yang dikeloladengan menentukan pencapaian
pada setiap bagian kompetensi dasar akan memenuhi kriteria baik untuk
melahirkan proses pembelajaran yang efektif bagipeserta didik.2
Menurut pendapat Gustiawati, Arief, & Zikri, bahwa bahan pembelajaran adalah
suatu alat yang dapat digunakan dengan ranah kepada penyaluran materi pelajaran
untuk disampaikan kepada peserta didik untuk menyesuaikan tujuan yang harus
dicapai khususnya dalam kurikulum.3
National center for vocational education research Ltd/National Center for
Competency based training, “panduan pengembangan bahan ajar (direktorat
pembinaan sekolah menengah atas, 2008)”, Bahan ajar telah membentuk suatu
kegiatan belajar dalam membantu guru atau instruktur dalam proses penyampaian di
ruangan kelas. Bahan ajar dimaksud seperti bahan tertulis maupun tidak tertulis
menunjang proses melaksanakan aktivitas belajar yang komprehensif. 4
Dalam menempuh pengembangan bahan ajar, menurut Abdullah, L. H. :2013 dalam
meminimalisir kesulitan yang akan dialami peserta didik maka standar proses
pendidikan mengisyaratkan konotasi yang menekankan pada kaidah-kaidah
1 Sholeh M dan Sutanta E, “Pendampingan Pengembangan Bahan Ajar dengan Videoscribe pada Guru Smk
Tembarak”, dalam Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat edisi no. 1, Vol. 2, 2019
2 Widia Yati dan Risda Amini, “Pengembangan Bahan Ajar Dengan Pendekatan Cooperative Learning Tipe
Turnamen Di Sekolah Dasar”, dalam Jurnal Basicedu edisi no. 1, Vol. 4, 2020
3 Gema Wahyudi, Syahrul R dan Darnis Arief, “ pengembangan bahan ajar tematik berbasis model picture
and picture di sekolah dasar”, dalam Jurnal Basicedu edisi no. 2, Vol. 5, 2021
1
pendekatan atau model seperti saintifik pada bidang tertentu dengan Permendikbud
No 65 Tahun 2013. 5
Pengembangan bahan ajar penting untuk mendedikasi para peserta didik melalui
proses awal sampai dengan akhir dalam mengenali dan mengembangkan kemampuan
yang dapat dilalui dengan bahan ajar. Peserta didik dapat melakukan kegiatan
pembelajaran dengan instruksi kelas yang sesuai bahan ajar guna menempuh korelasi
dengan para guru di setiap bidang pembelajaran. Bahan ajar memberikan proses
interaksi yang kuat antara guru dan peserta didik, sehingga menciptakan ruang baru
dalam menggali dan mendalami sistem-sistem yang akan terbentuk. Selain itu, bahan
ajar dapat mendorong pengalaman dan paradigma atas pendidikan. Pendekatan dalam
bahan ajar dilalui dengan berbagai sistem evaluasi yang awalnya berpacu pada
penguasaan bahan pelajaran dan akan mengalami evousiatau perubahan yang berpacu
pada penguasaan kemampuan. Bahan ajar dapat berbasis secara tersusun dan
sistematis untuk mendukung terlaksananya suatu pembelajaran yang efektif. Bahan
ajar tidak hanya sebagai materi tetapi harus memperhatikan mutu dan kualitas, serta
representatif untuk membangkitkan minat dan motivasi belajar peserta didik. Bahan
ajar adalah segala bentuk bahan yangdapat digunakan dalam membantu guru atau
instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran.
B. Jenis-jenis Bahan Ajar
Dalam menunjang proses pembelajaran terdapat beberapa jenis bahan ajar.
Peserta didik dapat menyesuaikan bahan ajar untuk dapat dianalisis dan diaplikasikan
pada pembelajaran. Bahan ajar dapat dibedakan atas berbagai kategori tergantung dari
sudut pandang kita. Bahan ajar disesuaikan pada standar kompetensi guru, yang
dimana standar yang ditetapkan menurut pendapat dari ahli Arikunto, 1988: 98 bahwa
standar yang dimaksud pada suatu aspek atau kriteria yang telah dikembangkan dan
ditetapkan berdasarkan ketetapan sumber, prosedur dan
5 Abdullah, L. H. : 2013., dalam Putra R dan Pamungkas A, “ Pengembangan Bahan Ajar Gamifikasi
Matematika Siswa MTs”, dalam Jurnal Penelitian dan Pembelajaran Matematika Edisi no. 1, Vol, 12,
2019. Hal 183-184
2
manajemen yang efektif.6 Dari aspek pendekatan bahan ajar terdapat jenis-jenis
berikut.
1. Bahan ajar untuk pembelajaran mandiri,
Peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar sendiri (self learning) tanpa
kehadiran pendidik atau guru. Pendidik bertindak sebagai fasilitator yang bertugas
merancang kegiatan pembelajaran, menyiapkan bahan ajar, memberikan tugas
khusus pada peserta didik, dan dapat melakukan konsultasi kepada guru jika
materi belum dapat dipahami. Dalam pendekatan pembelajaran ini , jenis bahan
ajar yang diperlukan atau yang perlu dikembangkan dan disiapkan pendidik antara
lain modul, materi presentasi bersuara (dengan program Camtasia) , film ,
program audio , slide , dan sebagainya.
2. Bahan ajar untuk sistem tatap muka
Dalam jenis bahan ajar juga mementingkan aspek sistem tatap muka , pendidik
dan peserta didik melakukan interaksi belajar mengajar pada internal atau
eksternal jika berada dalam lingkungan sekolah. Untuk mendukung kegiatan
menjadi lebih efektif, dan beragam dalam kompleksitas pengetahuan peserta didik
dalam bahan ajar tersebut. Bahan ajar ini dapat berupa bahan kompilasi, handout,
atau dalam bentuk lembar kerja peserta didik (LKPD).
3. Bahan ajar untuk sistem pembelajaran kombinasi
Dalam jenis bahan ajar ini, memiliki pola atau sistem kombinasi yang dimaksud
adalah kombinasi antara pembelajaran mandiri dan pembelajaran tatap muka .
Bahan ajar yang diperlukan untuk sistem pembelajaran kombinasi dapat
berbentuk buku ajar, modul, bahan kompilasi, materi presentasi dalam bentuk
powerpoint atau adobe flash, dan sebagainya.
Selain itu, pengelompokan bahan ajar dapat ditinjau dari aspek teknologi.
1. Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang pendidik untuk
memperkaya pengetahuan peserta didik . Menurut Kamus Oxford halaman 389 ,
handout is prepared statement given . Handout adalah pernyataan yang telah
disiapkan oleh pembicara . Handout biasanya diambilkan dari beberapa literatur
yang memiliki relevansi dengan materi yang diajarkan (atau dengan kompetensi
6 Setiadi Cahyono dan Ahmad Mursyidin, Perencanaan Pembelajaran, (Malang: Ahlimedia Press, 2021),
h. 2
3
dasar) dan materi pokok yang harus dikuasai oleh peserta didik. Saat ini handout
dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain dengan cara download dari
internet, atau menyalur kan dari sebuah buku.
2. Buku adalah bahan ajar tertulis yang telah menyajikan ilmu pengetahuan atau
pedagogi dari buah pikiran oleh pengarangnya . Dibentuk dari hasil olah
pemikiran pengarangnya, isi buku didapat dari berbagai cara, seperti hasil
penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, autobiografi, atau hasildari
imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi. Buku yang telah dikategorikan
baik adalah buku dengan pengolahan bahasa mudah dipahami, disajikan secara
menarik dilengkapi dengan gambar dan keterangan - keterangannya , isi buku juga
menggambarkan sesuatu yang sesuai dengan ide penulisannya . Buku pelajaran
biasanya tentang ilmu pengetahuan yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk
menunjang proses belajar yang tersusun, buku fiksi akan berisi tentang pikiran-
pikiran fiksi si penulis, dan seterusnya.
3. Modul adalah buku yang ditulis dengan tujuan kepada peserta didik untuk
melakukan pendahuluan dalam pembelajaran, dapat dengan mudah
menggunakannya. Pembelajaran dengan modul membantu peserta didik yang
memiliki kecepatan tinggi dapat menyelesaikannya dan memenuhi standar
ketercapaian dalam KD, menggunakan bahasa yang baik , menarik , dilengkapi
dengan berbagai ilustrasi.
4. Lembar Kegiatan Peserta Didik
Lembar kegiatan peserta didik (student worksheet) adalah berbagai lembaran
berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik . Lembar tersebut biasanya
berupa petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas yang
diberikan dengan menyesuaikan kompetensi dasar yang akan dicapainya . Lembar
kegiatan dapat digunakan untuk semua bidang mata pembelajaran. Tugas yang
diberikan pada lembar kegiatan tersebut harus dilengkapi dengan buku yang
mengandung unsur dari materinya dan pendidik juga memiliki kemudahan untuk
bekerja sama dengan pemikiran peserta didik. Bagi peserta didik, lembar kegiatan
telah berkolaborasi dengan tugas mandiri atau kelompok.
4
5. Brosur
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996,
brosur adalah bahan informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun
secara bersistem atau cetakan yang hanya berisi beberapa halaman dan dilipat
tanpa dijilid atau bentuk selebaran cetakan yang berisi keterangan singkat tetapi
lengkap tentang perusahaan atau organisasi. Dengan demikian, maka brosur juga
dapat cocok sebagai bahan ajar, selama sajian brosur diturunkan dari KD yang
harus dikuasai penuh oleh peserta didik. Dan juga karena bentuknya yang
menarik dan praktis. Sehingga, dalam penyusunan hanya dapat satu KD saja.
Ilustrasi dalam sebuah brosur akan menambah menarik minat peserta didik untuk
menggunakannya sebagai bahan pembelajaran.
6. Leaflet
A separate sheet of printed matter , often folded but not stitched (Webster's New
World , 1996) . Leaflet adalah bahan cetak tertulis dengan bentuk lembaran yang
dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar dilihat dapat meningkatkan
ketertarikan, leaflet didesain secara tersusun dilengkapi dengan ilustrasi dan
menggunakan bahasa yang sederhana, singkat, padat dan lebih mudah dipahami.
Dan juga sebagai bahan ajar yang dapat menampung penguasaan satu atau lebih
pada KD.
7. Wallchart
Wallchart adalah bahan cetak, umumnya berupa bagan siklus/proses atau grafik
yang bermakna dengan menunjukkan posisi tertentu. Untuk meningkatan
ketertarikan pada wallchart, maka bentuk desain dengan pengolahan warna dan
proporsi yang seimbang dan baik bagi pembaca. Wallchart digunakan sebagai
alat bantu dalam bahan ajar, sehingga penyesuaian kriteria atas bahan ajar dan
berkesinambungan dengan KD dan materi pokok yang harus dikuasai oleh
peserta didik dan juga diajarkan petunjuk penggunaannya. Sebagai contoh
wallchart tentang siklus makhluk hidup binatang antara ular, tikus dan
lingkungannya dalam kesesuaian bahan ajar.
5
MAKALAH II
Analisis Kriteria dan Pemilihan Bahan Ajar yang Bermutu
A. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar berkaitan dengan segala bentuk perangkat pembelajaranyang meliputi materi
pembelajaran, metode, strategi, dan desaign pembelajaran untuk menentukan sub
kompetensi yang ingin dicapai. Bahan ajar ini dapat berupa materi yang didalamnya
terdapat informasi pengetahuan, pelatihan keterampilan, dan penilaian sikap yang harus
dicapai oleh peserta didik.4
Bahan ajar itu sangat unik dan spesifik. Unik berarti bahan ajar hanya dapat digunakan
untuk audiens tertentu dalam suatu proses pembelajaran tertentu. Sementara spesifik
artinya bahan ajar tersebut dirancang sedemikian rupa hanya untuk mencapai tujuan
tertentu dari audiens tertentu.5
B. Fungsi Bahan Ajar
Bahan ajar memuat berbagai materi pengetahuan, teori, keterampilan, dan informasi yang
telah dirangkum oleh guru untuk dapat mempermudah peserta didik dalam memahami
pokok bahasan. Bahan ajar ini dapat dijadikan sebagai sarana yang memudahkan guru
dalam menjelaskan rancangan pembelajaran berdasarkan kurikulum. Berdasarkan
pendapat yang dikemukakan oleh Greene dan Petty dalam Hardiansyah, fungsi bahan ajar
adalah sebagai cerminan sudut pandang yang tangguh bagi seorang guru dalam
memberikan pengajaran dan mengimplementasikan pengajaran tersebut kedalam bentuk
yang lebih modern. Selain itu, menyajikan sumber yang meliputi berbagai keterampilan
dalam masalah pokok berkomunikasi, memberikan sarana evaluasi yang efektif bagi
siswa. Bahan ajar dibuat dengan tujuan
4 Kosasih, Pengembangan Bahan Ajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2020)
5 Endang Nuryasana dan Noviana Desiningrum, “Pengembangan Bahan Ajar Strategi Belajar Mengajar
Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa,” Jurnal Inovasi Penelitian, 5, 1 (2020): 2.
6
memungkinkan peserta didik lebih memahami materi yang diajarkan dengan tepat dan
jelas.6
Sehingga dapat dipahami, bahwa sumber belajar ini memberikan fungsi sebagai pedoman
bagi guru dan siswa dalam mempermudah pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan
subtansinya.
Dengan kata lain, fungsi bahan ajar memiliki perbedaan antara gurudan juga peserta
didiknya. Dapat dilihat bahwa fungsi bahan ajar untuk guru yaitu ;
1) Untuk mengarahkan keseluruhan dari aktivitas guru di setiap proses
pembelajaran ( subtansi kompetensi)
2) Dijadikan alat evaluasi untuk mencapai hasil pembelajaran.
Dalam pencapaian bahan ajar yang bisa memerankan fungsi dalam pembelajaran yang
efektif, bahan ajar harus dirancang dan juga dikembangkan dimana memiliki suatu kaidah
sesuai syarat yang meliputi konsistensi, format, organisasi dan cover.
Kemudian, fungsi bahan ajar bagi siswa adalah dijadikan suatupedoman dalam proses
pembelajaran serta subtansi kompetensi yang harusdipelajari. Adanya bahan ajar dengan
fungsi yang disebutkan akan lebih tahu kompetensi apa saja yang harus dikuasai selama
pembelajaran berlangsung, tidak lain memiliki upaya agar peserta didik mempunyai
ilustrasi. Dan dengan bahan ajar proses pembelajaran berjalan lebih efektif dikarenakan
guru bukan hanya berfungsi sebagai pengajar tetapi juga sebagai fasilitator dimana
mampu membimbing peserta didik dalam memahami suatu materi.7
C. Kriteria Bahan Ajar
Pemilihan dan penyusunan bahan ajar menjadi salah satu aspek yang paling penting
dalam tercapainya keberhasilan dalam pembelajaran.
6 Hardiansyah, Pujosusanto A, “ Analisis Bahan Ajar Video Freizetbeschaftigung Pembelajaran
Keterampilan Menyimak Siswa Kelas XII Semester I”, Laternie, Vol. 11, No. 2 Tahun 2022
7 Magdalena Ina, dkk. (2020), Analisis Bahan Ajar. Vol. 2. No. 2. (hal. 322)
7
Permasalahan yang sering ditemui dalam pembelajaran yang ada di sekolah adalah
pemilihan yang tidak didasari pada BSNP. Menurut BSNP yang dikutip oleh Simarmata
kelayakan bahan ajar terdiri atas empat syaratdiantaranya ada kelayakan bahasa yang
digunakan, isi yang disajikan, sertakelayakan grafik pembelajaran. Bahan ajar yang akan
digunakan harus sesuai dengan standar kompetensi dasar dan komponen silabus yang
dibuatoleh sekolah. Kelayakan grafik dengan persentase 85%, bahasa yang digunakan
dengan persentase 79%, serta kelayakan isi materi dengan persentase 71%. Jika semua
komponen telah dipenuhi maka bahan ajar dinyatakan lulus uji kelayakan untuk
digunakan dalam pembelajaran.8
Dalam Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan materi ajar harus memuat konsep,
prosedur, data, fakta serta prinsip yang relevan untuk di gunakan dan di buat dengan
mengikuti rumusan indikator kompetensi. Menurut Dikdasmen yang dikutip oleh
Simarmata mendefinisikan bahwa cakupan bahan ajar harus memuat antara lain: petunjuk
pembelajaran, standar kompetensi dasar, isi materi pembelajaran, informasi pendukung
pembelajaran, latihan lembar kerja siswa (LKS), kutipan atau content menarik,
rangkuman, evaluasi untuk siswa.
Dalam melakukan penyusunannya terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan.
Sudrajat yang dikutip oleh Simarmata menyatakan bahwa prinsip penyusunan dan
pemilihan bahan ajar harus meliputi:
a. Prinsip relevansi. Relevansi memiliki makna kesesuaian dan
keterkaitan. Dalam pemilihan dan penyusunan bahan ajar harus
memiliki keterkaitan dan keseuaian dengan pencapaian kompetensi
siswa, seperti yang kita ketahui terdapat kompetensi dasar (KD) dan
standar kompetensi (SK). Jika tujuan standar kompetensi siswa
mengharuskan untuk menghafal dan memahami bahan materi fakta
seperti bacaan sholat, niat shalat, dan lain sebagainya. Maka pemberian
8 Simarmata, Kristianto, R., “ Pengembangan Bahan Ajar dan Media Pendidikan SD”,(Tasikmalaya:
Rumah Cemerlang Indonesia, 2022)
3
bahan ajar juga harus meliputi kesesuaian dengan fakta atau data yang sebenarnya.
b. Prinsip konsistensi. Konsisten bermakna tetap, tidak berubah, dan
berkesinambungan dari awal hingga akhir. Bahan ajar harus dapat
memuat prinsip konsistensi agar tujuan yang telah dirancang dari awal
tidak menjadi abstrak. Jika kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa
terdapat 5 cakupan maka bahan ajar yang dikembangkan juga harus
terdapat 5 stuktur materi.
c. Prinsip kecukupan. Bahan ajar yang diberikan kepada siswa hendaknya
harus memenuhi prinsip kecukupan dengan waktu keberlangsungan
pembelajaran. Jika bahan ajar yang diberikan terlalu banyak maka
akan memakan waktu yang banyak juga, begitu pula jika materi atau
bahan ajar yang diberikan terlalu sedikit maka siswa akan kesulitan
dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru.9
Menurut Prastowo yang dikutip oleh Nana menyebutkan ada enam komponen penting
dalam pemilihan dan penyusunan bahan ajar yang perludiketahui, yaitu:
a. Petunjuk belajar
Langkah pertama yang perlu dipahami oleh seorang guru dalam mengembangkan bahan
ajar adalah dengan melihat membuat stuktur belajar atau petunjuk dalam belajar yang
memudahkan peserta didik dalam menganalisa materi dengan baik dan mempersiapkan
materi serta sarana belajar sebelum kegiatan dimulai.
b. Kompetensi yang akan dicapai
Penulisan indikator kompetensi yang akan dicapai dalam bahan ajar juga menjadi salah
satu kriteria paling penting. Seorang guru harus mampu menjelaskan dan mencantumkan
materi yang berkaitan dengan dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun
indikator pencapaian hasil belajar yang harus dikuasai peserta
9 Pengembangan Bahan Ajar dan Media Pendidikan SD..., hal 111
4
didik. Dengan demikian, jelaslah tujuan yang harus dicapai oleh peserta didik.
c. Informasi pendukung
Informasi pendukung dalam hal ini adalah berbagai informasi tambahan yang dapat
menunjang materi bahan ajar agar peserta didik lebih mudah mendapatkan pengetahuan
yang bersifat faktual untuk menunjang keluasan pemahaman mereka.
d. Latihan-latihan
Bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang memiliki latihan untuk penilaian proses
pembelajaran yang telah dilakukan.Seorang guru dapat membuat lembar latihan untuk
dapat mengevaluasi siswa serta memberikan kegiatan tambahan yang menunjang
pengetahuan siswa ketika di luar sekolah.
e. Petunjuk lembar kerja
Petunjuk lembar kerja merupakan lembar yang berisikan keterangan dari langkah langkah
prosedural cara pelaksanaan kegiatan penugasan tertentu yang harus dilakukan oleh
peserta didik berkaitan dengan praktik dan lain sebagainya.
f. Evaluasi
Komponen terakhir ini merupakan salah satu bagian dari proses penilaian. Pada
komponen ini terdapat sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada peserta didik untuk
mengukur seberapa jauh penguasaan kompetensi yang berhasil mereka kuasai setelah
mengikuti proses pembelajaran. Serta memberikan pertimbangan kepada guru untuk
menindaklanjutkan bahan ajar yang telah digunakan. 10
D. Prosedur Pemilihan dan Penyusunan Bahan Ajar
Menurut Mistiani yang dikutip oleh Pratiwi menyatakan bahwapengembangan bahan ajar
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guna merancang kurikulum pembelajaran yang
kurang maksimal menjadi bahan
10 Nana, M. P, “ Pengembangan Bahan Ajar”
5
ajar yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Prosedur atautahapan pemilihan
bahan ajar ini dibagi menjadi 6 tahapan antara lain:
1) Mengidentifikasi kebutuhan peserta didik.
2) Mencari informasi terkait bahan ajar.
3) Membuat gagasan yang sesuai dengan pemilihan materi bahan ajar.
4) Membuat bahan ajar dengan menampilkan standar kompetensi.
5) Menyajikan bahan ajar kepada siswa.
6) Mengevaluasi pembelajaran dari hasil bahan ajar yang telah
digunakan.11
Salah satu contoh dari pemilihan bahan ajar yang bermutu ialah melalui analisa tindak
tutur perlokusioner dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata sebagai
alternative bahan ajar di sekolah menengah atas. Novel tersebut dipilih sebagai alternative
bahan ajar yang baik dan bermutu sebab memiliki kriteria-kriteria tertentu seperti aspek
kebahasaan, aspek psikologi, dan aspek latar belakang sosial budaya serta pesan moral
yang dapat diterapkan pada kehidupan nyata siswa.12
E. Penerapan Pemilihan Bahan Ajar
Implementasi penilihan bahan ajar yang penulis ambil dalam makalah ini adalah
penerapan bahan ajar berbasis Critical Thinking ( Berfikir Kritis) dan bahan ajar tematik
Dalam penerapan bahan ajar berbasis Critical Thingking ini memiliki beberapa persiapan
yang harus dilakukan diantaranya sebagai berikut:
1. Mempersiapkan jenis bahan yang digunakan. Pemilihan jenis bahan ini
dapat berupa bahan yang membantu siswa dalam menganalisa,
mendiskusikan, memberikan argumentasi, dan mengklasifikasikan data
11 Pratiwi, Widyaningrum, “Analisis Kualitas dan Efektivitas Pemanfaatan Buku Ajar Biologi SMA Kelas
X Semester I”, dalam Jurnal Pendidikan Sains dan Matematika, Vol 9 (2), 2021, https://e-journal.iain-
palangkaraya.ac.id, diakses tanggal 3 September 2022
12 M. Iqbal, “ANALISIS TINDAK TUTUR PERLOKUSIONER DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA
ANDREA HIRATA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AJAR DI SEKOLAH MENENGAH ATAS,” GriyaCendikia, 2, 7
(2022): 454.
6
yang diperoleh, seperti membuat bahan puzzle, mind mapp, peta dan lain sebagainya.13
2. Merancang kegiatan yang menggunakan model belajar hipotesis
deduktif dengan menggali pengetahuan awal siswa seperti melakukan
eksperimen terhadap temuan konsep materi. 14
3. Setelah mempersiapkan sarana, guru dapat mulai memuat desain dan
petunjuk bahan ajar dengan baik. Desain bahan ajar ini dibuat dengan
semenarik mungkin dan memuat lembar kerja dengan tujuan untuk
memicu keterampilan berfikir kritis siswa.
Selanjutnya, implementasi pemilihan bahan ajar kedua yangpenulis ambil adalah bahan
ajar dengan menggunakan tematik denganmenggunakan metode Visual Storrytelling,
menurut penulis bahan ajardengan menggunakan metode ini akan efektif dan jauh lebih
menarik bagi peserta didik.15 Langkah langkah yang perlu dilakukan dalam
mengimplementasikan bahan ajar ini sebagai berikut:
1. Menganalisa pembelajaran mulai dari kebutuhan materi yang
dicantumkan serta tampilan redaksi yang digunakan
2. Merancang bahan ajar dengan kertas fullcolour agar terlihat lebih
menarik dengan mencantumkan standar kompetensi, petunjuk belajar,
lembar kegiatan, dan lembar kerja siswa (LKS)
3. Memilih gambar yang digunakan sebagai pendukung kegiatan
storytelling
4. Membuat rancangan buku visual storrytelling
5. Tahap terakhir, penggunaan dengan melakukan penyebaran bahan ajar
13 Hendra Nelva Saputra dan Salim Salim, “PENERAPAN BAHAN AJAR BERBASIS KETERAMPILAN
BERPIKIR KRITIS,” PEDAGOGIK: Jurnal Pendidikan 7, no. 1 (16 Juni 2020): 29,
https://doi.org/10.33650/pjp.v7i1.1078.
14 Nina Haerunnissa dan Indah Langitasari, “Pengaruh Siklus Belajar Hipotesis Deduktif pada Konsep
Reaksi Redoks Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis,” t.t., 7.
15 Syahda Puspita Husada, Taufina Taufina, dan Ahmad Zikri, “Pengembangan Bahan Ajar Pembelajaran
Tematik dengan Menggunakan Metode Visual Storytelling di Sekolah Dasar,” JurnalBasicedu 4, no. 2 (13
April 2020): 419–25, https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i2.373.
7
MAKALAH II
Analisis Kriteria dan Pemilihan Bahan Ajar yang Bermutu
A. Pengertian Bahan Ajar
Bahan ajar berkaitan dengan segala bentuk perangkat pembelajaran yang
meliputi materi pembelajaran, metode, strategi, dan desaign pembelajaran untuk
menentukan sub kompetensi yang ingin dicapai. Bahan ajar ini dapat berupa
materi yang didalamnya terdapat informasi pengetahuan, pelatihan
keterampilan, dan penilaian sikap yang harus dicapai oleh peserta didik.4
Bahan ajar itu sangat unik dan spesifik. Unik berarti bahan ajar hanya dapat
digunakan untuk audiens tertentu dalam suatu proses pembelajaran tertentu.
Sementara spesifik artinya bahan ajar tersebut dirancang sedemikian rupa hanya
untuk mencapai tujuan tertentu dari audiens tertentu.5
B. Fungsi Bahan Ajar
Bahan ajar memuat berbagai materi pengetahuan, teori, keterampilan, dan
informasi yang telah dirangkum oleh guru untuk dapat mempermudah peserta
didik dalam memahami pokok bahasan. Bahan ajar ini dapat dijadikan sebagai
sarana yang memudahkan guru dalam menjelaskan rancangan pembelajaran
berdasarkan kurikulum. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Greene
dan Petty dalam Hardiansyah, fungsi bahan ajar adalah sebagai cerminan sudut
pandang yang tangguh bagi seorang guru dalam memberikan pengajaran dan
mengimplementasikan pengajaran tersebut kedalam bentuk yang lebih modern.
Selain itu, menyajikan sumber yang meliputi berbagai keterampilan dalam
masalah pokok berkomunikasi, memberikan sarana evaluasi yang efektif bagi
siswa. Bahan ajar dibuat dengan tujuan
4 Kosasih, Pengembangan Bahan Ajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2020)
5 Endang Nuryasana dan Noviana Desiningrum, “Pengembangan Bahan Ajar
Strategi Belajar Mengajar Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa,”
Jurnal Inovasi Penelitian, 5, 1 (2020): 2.
8
memungkinkan peserta didik lebih memahami materi yang diajarkan dengan
tepat dan jelas.6
Sehingga dapat dipahami, bahwa sumber belajar ini memberikan fungsi sebagai
pedoman bagi guru dan siswa dalam mempermudah pelaksanaan pembelajaran
sesuai dengan subtansinya.
Dengan kata lain, fungsi bahan ajar memiliki perbedaan antara guru dan juga
peserta didiknya. Dapat dilihat bahwa fungsi bahan ajar untuk guru yaitu ;
1) Untuk mengarahkan keseluruhan dari aktivitas guru di setiap proses
pembelajaran ( subtansi kompetensi)
2) Dijadikan alat evaluasi untuk mencapai hasil pembelajaran.
Dalam pencapaian bahan ajar yang bisa memerankan fungsi dalam
pembelajaran yang efektif, bahan ajar harus dirancang dan juga dikembangkan
dimana memiliki suatu kaidah sesuai syarat yang meliputi konsistensi, format,
organisasi dan cover.
Kemudian, fungsi bahan ajar bagi siswa adalah dijadikan suatu pedoman dalam
proses pembelajaran serta subtansi kompetensi yang harus dipelajari. Adanya
bahan ajar dengan fungsi yang disebutkan akan lebih tahu kompetensi apa saja
yang harus dikuasai selama pembelajaran berlangsung, tidak lain memiliki
upaya agar peserta didik mempunyai ilustrasi. Dan dengan bahan ajar proses
pembelajaran berjalan lebih efektif dikarenakan guru bukan hanya berfungsi
sebagai pengajar tetapi juga sebagai fasilitator dimana mampu membimbing
peserta didik dalam memahami suatu materi.7
C. Kriteria Bahan Ajar
Pemilihan dan penyusunan bahan ajar menjadi salah satu aspek yang paling
penting dalam tercapainya keberhasilan dalam pembelajaran.
6 Hardiansyah, Pujosusanto A, “ Analisis Bahan Ajar Video
Freizetbeschaftigung Pembelajaran Keterampilan Menyimak Siswa Kelas XII
Semester I”, Laternie, Vol. 11, No. 2 Tahun 2022
7 Magdalena Ina, dkk. (2020), Analisis Bahan Ajar. Vol. 2. No. 2. (hal. 322)
9
Permasalahan yang sering ditemui dalam pembelajaran yang ada di sekolah
adalah pemilihan yang tidak didasari pada BSNP. Menurut BSNP yang dikutip
oleh Simarmata kelayakan bahan ajar terdiri atas empat syarat diantaranya ada
kelayakan bahasa yang digunakan, isi yang disajikan, serta kelayakan grafik
pembelajaran. Bahan ajar yang akan digunakan harus sesuai dengan standar
kompetensi dasar dan komponen silabus yang dibuat oleh sekolah. Kelayakan
grafik dengan persentase 85%, bahasa yang digunakan dengan persentase 79%,
serta kelayakan isi materi dengan persentase 71%. Jika semua komponen telah
dipenuhi maka bahan ajar dinyatakan lulus uji kelayakan untuk digunakan
dalam pembelajaran.8
Dalam Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan materi ajar harus memuat
konsep, prosedur, data, fakta serta prinsip yang relevan untuk di gunakan dan di
buat dengan mengikuti rumusan indikator kompetensi. Menurut Dikdasmen
yang dikutip oleh Simarmata mendefinisikan bahwa cakupan bahan ajar harus
memuat antara lain: petunjuk pembelajaran, standar kompetensi dasar, isi
materi pembelajaran, informasi pendukung pembelajaran, latihan lembar kerja
siswa (LKS), kutipan atau content menarik, rangkuman, evaluasi untuk siswa.
Dalam melakukan penyusunannya terdapat beberapa prinsip yang harus
diperhatikan. Sudrajat yang dikutip oleh Simarmata menyatakan bahwa prinsip
penyusunan dan pemilihan bahan ajar harus meliputi:
a. Prinsip relevansi. Relevansi memiliki makna kesesuaian dan
keterkaitan. Dalam pemilihan dan penyusunan bahan ajar harus
memiliki keterkaitan dan keseuaian dengan pencapaian kompetensi
siswa, seperti yang kita ketahui terdapat kompetensi dasar (KD) dan
standar kompetensi (SK). Jika tujuan standar kompetensi siswa
mengharuskan untuk menghafal dan memahami bahan materi fakta
seperti bacaan sholat, niat shalat, dan lain sebagainya. Maka
pemberian
8 Simarmata, Kristianto, R., “ Pengembangan Bahan Ajar dan Media Pendidikan
SD”, (Tasikmalaya: Rumah Cemerlang Indonesia, 2022)
3
bahan ajar juga harus meliputi kesesuaian dengan fakta atau data yang
sebenarnya.
b. Prinsip konsistensi. Konsisten bermakna tetap, tidak berubah, dan
berkesinambungan dari awal hingga akhir. Bahan ajar harus dapat
memuat prinsip konsistensi agar tujuan yang telah dirancang dari awal
tidak menjadi abstrak. Jika kompetensi yang ingin dicapai oleh siswa
terdapat 5 cakupan maka bahan ajar yang dikembangkan juga harus
terdapat 5 stuktur materi.
c. Prinsip kecukupan. Bahan ajar yang diberikan kepada siswa
hendaknya harus memenuhi prinsip kecukupan dengan waktu
keberlangsungan pembelajaran. Jika bahan ajar yang diberikan terlalu
banyak maka akan memakan waktu yang banyak juga, begitu pula jika
materi atau bahan ajar yang diberikan terlalu sedikit maka siswa akan
kesulitan dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru.9
Menurut Prastowo yang dikutip oleh Nana menyebutkan ada enam komponen
penting dalam pemilihan dan penyusunan bahan ajar yang perlu diketahui,
yaitu:
a. Petunjuk belajar
Langkah pertama yang perlu dipahami oleh seorang guru dalam
mengembangkan bahan ajar adalah dengan melihat membuat stuktur belajar
atau petunjuk dalam belajar yang memudahkan peserta didik dalam
menganalisa materi dengan baik dan mempersiapkan materi serta sarana belajar
sebelum kegiatan dimulai.
b. Kompetensi yang akan dicapai
Penulisan indikator kompetensi yang akan dicapai dalam bahan ajar juga
menjadi salah satu kriteria paling penting. Seorang guru harus mampu
menjelaskan dan mencantumkan materi yang berkaitan dengan dengan standar
kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator pencapaian hasil belajar yang
harus dikuasai peserta
9 Pengembangan Bahan Ajar dan Media Pendidikan SD..., hal 111
4
didik. Dengan demikian, jelaslah tujuan yang harus dicapai oleh peserta didik.
c. Informasi pendukung
Informasi pendukung dalam hal ini adalah berbagai informasi tambahan yang
dapat menunjang materi bahan ajar agar peserta didik lebih mudah mendapatkan
pengetahuan yang bersifat faktual untuk menunjang keluasan pemahaman
mereka.
d. Latihan-latihan
Bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang memiliki latihan untuk penilaian
proses pembelajaran yang telah dilakukan. Seorang guru dapat membuat lembar
latihan untuk dapat mengevaluasi siswa serta memberikan kegiatan tambahan
yang menunjang pengetahuan siswa ketika di luar sekolah.
e. Petunjuk lembar kerja
Petunjuk lembar kerja merupakan lembar yang berisikan keterangan dari
langkah langkah prosedural cara pelaksanaan kegiatan penugasan tertentu yang
harus dilakukan oleh peserta didik berkaitan dengan praktik dan lain
sebagainya.
f. Evaluasi
Komponen terakhir ini merupakan salah satu bagian dari proses penilaian. Pada
komponen ini terdapat sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada peserta
didik untuk mengukur seberapa jauh penguasaan kompetensi yang berhasil
mereka kuasai setelah mengikuti proses pembelajaran. Serta memberikan
pertimbangan kepada guru untuk menindaklanjutkan bahan ajar yang telah
digunakan. 10
D. Prosedur Pemilihan dan Penyusunan Bahan Ajar
Menurut Mistiani yang dikutip oleh Pratiwi menyatakan bahwa pengembangan
bahan ajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan guna merancang
kurikulum pembelajaran yang kurang maksimal menjadi bahan
10 Nana, M. P, “ Pengembangan Bahan Ajar”
5
ajar yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Prosedur atau tahapan
pemilihan bahan ajar ini dibagi menjadi 6 tahapan antara lain:
1) Mengidentifikasi kebutuhan peserta didik.
2) Mencari informasi terkait bahan ajar.
3) Membuat gagasan yang sesuai dengan pemilihan materi bahan ajar.
4) Membuat bahan ajar dengan menampilkan standar kompetensi.
5) Menyajikan bahan ajar kepada siswa.
6) Mengevaluasi pembelajaran dari hasil bahan ajar yang telah
digunakan.11
Salah satu contoh dari pemilihan bahan ajar yang bermutu ialah melalui analisa
tindak tutur perlokusioner dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea
Hirata sebagai alternative bahan ajar di sekolah menengah atas. Novel tersebut
dipilih sebagai alternative bahan ajar yang baik dan bermutu sebab memiliki
kriteria-kriteria tertentu seperti aspek kebahasaan, aspek psikologi, dan aspek
latar belakang sosial budaya serta pesan moral yang dapat diterapkan pada
kehidupan nyata siswa.12
E. Penerapan Pemilihan Bahan Ajar
Implementasi penilihan bahan ajar yang penulis ambil dalam makalah ini adalah
penerapan bahan ajar berbasis Critical Thinking ( Berfikir Kritis) dan bahan ajar
tematik Dalam penerapan bahan ajar berbasis Critical Thingking ini memiliki
beberapa persiapan yang harus dilakukan diantaranya sebagai berikut:
1. Mempersiapkan jenis bahan yang digunakan. Pemilihan jenis bahan ini
dapat berupa bahan yang membantu siswa dalam menganalisa,
mendiskusikan, memberikan argumentasi, dan mengklasifikasikan
data
11 Pratiwi, Widyaningrum, “Analisis Kualitas dan Efektivitas Pemanfaatan
Buku Ajar Biologi SMA Kelas X Semester I”, dalam Jurnal Pendidikan Sains
dan Matematika, Vol 9 (2), 2021, https://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id,
diakses tanggal 3 September 2022
12 M. Iqbal, “ANALISIS TINDAK TUTUR PERLOKUSIONER DALAM
NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA SEBAGAI
ALTERNATIF BAHAN AJAR DI SEKOLAH MENENGAH ATAS,” Griya
Cendikia, 2, 7 (2022): 454.
6
yang diperoleh, seperti membuat bahan puzzle, mind mapp, peta dan lain
sebagainya.13
2. Merancang kegiatan yang menggunakan model belajar hipotesis deduktif
dengan menggali pengetahuan awal siswa seperti melakukan eksperimen
terhadap temuan konsep materi. 14
3. Setelah mempersiapkan sarana, guru dapat mulai memuat desain dan
petunjuk bahan ajar dengan baik. Desain bahan ajar ini dibuat dengan
semenarik mungkin dan memuat lembar kerja dengan tujuan untuk
memicu keterampilan berfikir kritis siswa.
Selanjutnya, implementasi pemilihan bahan ajar kedua yang penulis ambil adalah
bahan ajar dengan menggunakan tematik dengan menggunakan metode Visual
Storrytelling, menurut penulis bahan ajar dengan menggunakan metode ini akan
efektif dan jauh lebih menarik bagi peserta didik.15 Langkah langkah yang perlu
dilakukan dalam mengimplementasikan bahan ajar ini sebagai berikut:
1. Menganalisa pembelajaran mulai dari kebutuhan materi yang
dicantumkan serta tampilan redaksi yang digunakan
2. Merancang bahan ajar dengan kertas fullcolour agar terlihat lebih menarik
dengan mencantumkan standar kompetensi, petunjuk belajar, lembar
kegiatan, dan lembar kerja siswa (LKS)
3. Memilih gambar yang digunakan sebagai pendukung kegiatan storytelling
4. Membuat rancangan buku visual storrytelling
5. Tahap terakhir, penggunaan dengan melakukan penyebaran bahan ajar
13 Hendra Nelva Saputra dan Salim Salim, “PENERAPAN BAHAN AJAR
BERBASIS KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS,” PEDAGOGIK: Jurnal
Pendidikan 7, no. 1 (16 Juni 2020): 29, https://doi.org/10.33650/pjp.v7i1.1078.
14 Nina Haerunnissa dan Indah Langitasari, “Pengaruh Siklus Belajar Hipotesis
Deduktif pada Konsep Reaksi Redoks Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis,” t.t.,
7.
15 Syahda Puspita Husada, Taufina Taufina, dan Ahmad Zikri, “Pengembangan
Bahan Ajar Pembelajaran Tematik dengan Menggunakan Metode Visual
Storytelling di Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu 4, no. 2 (13 April 2020): 419–25,
https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i2.373.
7
MAKALAH III
Perkembangan Keilmuan PAI, Ruang Lingkup PAI Serta cakupannya
A. Perkembangan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Perkembangan pendidikan islam pada mulanya di awali sejak masa
kemerdekaan indonesia. Pada saat itu pemerintah Indonesia mulai menyadari
pentingnya peran umat islam dalam kemerdekaan Indonesia, dan kesepakatan
pemerinah dibutikan dengan dikeluarkanya untdang-undang no 2 tahun 1989 mengenai
sistem pendidikan nasional yang diteruskan dengan uu NO 20 tahun 2003 yang
mengatur mengenai pengintegrasian pedidikan islam ke dalam sisitem pendidikan
nasional.2
Keputusa pemerintah yang memutuskan mengenai pergentian mata pelajaran
dalam jenjang pendiidka yang mengganti mata pelajaran tata krama yang telah ada
sejak masa penjajahan jepang dan diganti dengan mata pelajaran pendiidkan agama
islam. Akan tetapi pada masa ini mata pelajaran pendidikan agama islam masih
belum dikategorikan seb pelajaran utama akan tetapi masih di kategorikan sebaai mata
pelajaran sukareelawan yang bersifat fleksibel dan tidak dikaegorikan sebaga mata
pelajaran yang dapat mempengaruhi kenaikan kelas dalam jenjang yang ditempuh
peserta didik.
Akan tetapi setelah dikeluarkannya keputusan TAP MPRS nomor
XXVII/MPRS/1966 Bab 1 pasal 1 yang berbunyi “Menetapkan pendidikan agama
menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah muali dari sekolah dasar sampai dengan
universitas-universitas negeri” peraturan ini keluar setelah menumpasan PKI. Setelah
melalui proses yang sangat panjang pendidikan agama islam akhirnya dapat
dikategorikan sebagai mata pelajaran yang umum dan dapat digunakan sebagai salah
satu mata pelajaran yang terstandarilisasi da dapat dijadikan acuan dalam kenaikan
kelas, dan diperkuat kembali dengan dikeluarkannya UU.NO20 tahun 2003tentang
2 Miftahul Huda, “Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia dan Upaya Penguatannya dalam
Sistem Pendidikan Nasional,” Journal of Islamic Education Research 1, no. 02 (June 29, 2020): 39–53,
https://doi.org/10.35719/jier.v1i02.24.
8
sistem pendiidkan nasional yang lebih menjamin hak da mutu pendiidkan sampai
dengan terbitnya peraturan menteri agama ri no 16 tahun 2010 tentang pengelolaan
pendidikan agama islam di sekolah.
Dalam perkembangannya pendidikan agama islam terbagi menjadi oerde lama,
orde baru, dan era reformasi. Pada masa orde lama sistem pendidikan masih pada tahap
pembentukan akan tetapi pada masa ini antusias masyarakat sangat besar agar semua
kalangan dapat merasakan pendidikan agar sistem pendidikan dapat tersebar secara
menyeluruh dan masyarakat dapat merasakan pendiidkan dala semua kalangan. Hingga
pada akhirnya Upaya pemerintah Indonesia yang baru merdeka, ingin membangun
bangsa Indonesia yang mandiri ini, juga terlihat pada perhatiannya terhadap pendidikan
agama baik di lembaga pendidikan-lembaga pendidikan negeri maupun swasta. Upaya
ini dimulai dari keseriusan pemerintah dalam memberikan bantuan kepada lembaga
pendidikan-lembaga pendidikan Islam. Seperti yang telah dianjurkan oleh Badan
Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) tanggal 27 Desember 1945, yang
menyebutkan bahwa: "Madrasah dan pesantren yang pada hakikatnya adalah satu
sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang telah berurat dan berakar dalam
masyarakat Indonesia pada umumnya, hendaknya mendapatkan perhatian dan bantuan
nyata berupa tuntunan dan bantuan material dari pemerintah".
Selain perhatian yang perlu diberikan oleh pemerintah kepada lembaga
pendidikan Islam, KNIP juga memberikan saran kepada pemerintah agar memberikan
bantuan. Pemerintah disarankan agar memberikan bantuan materiil kepada pesantren
dan madrasah. Perhatian pemerintah kepada dua lembaga pendidikan agama tersebut
karena keduanya dianggap sebagai lembaga pendidikan rakyat jelata10 . Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya bahwa KNIP memberikan banyak masukan-masukan
kepada pemerintah agar lebih memberikan perhatian kepada lembaga pendidikan
agama. Usulan dan masukan KNIP ini cukup beralasan mengingat lembagalembaga
pendidikan agama dan lembaga pendidikan yang banyak mengajarkan mata pelajaran
9
agama merupakan bagian dari lembaga pendidikan rakyat jelata. Lembaga pendidikan
yang banyak menampung masyarakat Indonesia.3
B. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang membahas nilai-nilai ajaran Islam,
menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai referensi dan sumber pengajaran.
Pendidikan agama berorientasi pada pembentukan yang efektif, yaitu pembentukan
sikap mental peserta didik menuju pematangan kesadaran beragama. Adapun ruang
lingkup Pendidikan Agama Islam di sekolah memuat materi Al-Qur’an dan Al- Hadits,
Aqidah/Tauhid, Akhlak, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Ruang lingkup
tersebut menggambarkan materi pendidikan agama yang mencakup perwujudan
keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah
SWT. Hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan
makhluk hidup lain dan dengan lingkungannya. (Hablum minallah hablum minannas
wahablum minal’alam).4
C. Hubungan Dalam Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pendidikan
agama Islam meliputi segala hal yang menyangkut pribadi manusia dalam
hubungannya dengan Allah SWT, manusia dalam hubungannya dengan sesama dan
manusia dalam hubungannya dengan alam semesta.
3 Windy Dian Sari and Akhmad Shunhaji, “Perkembangan Kebijakan Pembelajaran Agama Islam Pada
Lembaga Pendidikan di Indonesia,” Alim | Journal of Islamic Education 2, no. 2 (December 30, 2020):
199–214, https://doi.org/10.51275/alim.v2i2.185.
4 Faizin Faizin, “Pendidikan Agama Islam dan Pembentukan Karakter,” Edification Journal 2, no.
2(January 3, 2020): 111–21, https://doi.org/10.37092/ej.v1i2.116.
10
1. Hubungan dengan Allah SWT
Hubungan dengan Allah SWT adalah hubungan vertikal antara makhluk hidup
dengan Khaliq. Hubungan manusia dengan Allah menjadi prioritas utama dalam
pendidikan agama Islam karena merupakan dasar dari ajaran Islam. Karena itu,
pertama-tama harus ditanamkan pada diri setiap manusia.
2. Hubungan manusia dengan manusia
Hubungan manusia dengan manusia adalah hubungan horizontal (mendatar)
antara manusia dalam kehidupan bermasyarakat, dan menempati urutan kedua dalam
ajaran Islam. Guru hendaknya menumbuhkan pemahaman anak tentang perlunya
mengikuti tuntunan agama dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, karena dalam
kehidupan bermasyarakat akan citra dan makna Islam akan muncul melalui perilaku
pemeluk agama Islam.
3. Hubungan Manusia dengan Alam
Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki hubungan yang baik denganalam.
Karena manusia dijadikan Tuhan dengan mengelola dan menghargai sumber daya alam
secara baik untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, guru perlu menanamkan sikap
ramah terhadap alam, menjaga melestarikan lingkungan dan sebagainya.5
B.1.2 Ruang Lingkup Ajaran Islam
Ruang lingkup pendidikan agama Islam juga identik dengan aspek pendidikan
agama Islam karena materi yang dikandungnya merupakan kombinasi yang saling
melengkapi. Sebagaimana diketahui, ruang lingkup ajaran Islam meliputi masalah
keimanan, aqidah, masalah keislaman, syariah, ikhsan dan akhlak.
1. Aqidah
Aqidah adalah inti dari itiqad batin, yang mengajarkan tentang keesaan Allah SWT
sebagai Tuhan yang menciptakan, mengatur dan menghapuskan dunia ini.
5 Mardan Umar, Pendidikan Agama Islam (konsep dasar bagi mahasiswa perguruan tinggi umum)
(Jl.Gerilya No.292 Purwokerto Selatan,Kab. Banyumas Jawa Tengah: CV. Pena Persad, 2020).
11
2. Syari'at
Syari'at adalah hubungan dengan agama lain untuk mengikuti aturan dan hukum
Tuhan, untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dan untuk mengatur
Menyesuaikan hubungan hidup dan kehidupan manusia.
3. Akhlak
Akhlak adalah suatau amalan yang bersifat melengkapi, penyempurna untuk kedua
hal di atas. Dan mengajarkan tata cara ikatan kehidupan manusia.
C Keilmuan Dalam Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Dari ketiga ajaran dasar tersebut lahirlah beberapa keilmuan agama, yaitu Ilmu
Tauhid, Ilmu Fiqih, dan Ilmu Akhlak. Ketiga ilmu dasar agama tersebut kemudian
dilengkapi dengan pembahasan tentang dasar-dasar hukum Islam yaitu Al- Qur’an dan
Hadits serta ditambahkan dengan sejarah Islam (Tarikh) sebagai berikut :
A. Ilmu Tauhid/Keimanan
Ilmu keimanan ini banyak membicarakan tentang kalamullah dan banyak berbicara
tentang dalil-dalil dan tentang kebenaran adanya Allah SWT. Beriman kepada Allah
SWT, berarti percaya dan yakin kepada Tuhan Yang Maha Esa, beriman kepada sifat-
sifat ketuhanan-Nya yang sempurna, percaya bahwa Dia Maha Kuasa dan memiliki
kekuasaan mutlak atas alam semesta dan seluruh makhul ciptaan-Nya.
B. Ilmu Fiqih
Ilmu fiqh adalah ilmu yang membicarakan dan memberikan hukum-hukum Islam
berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
C. Al-Qur'an
Al-Qur'an menempati suatu ilmu tersendiri yang dipelajari secara khusus cara
membaca Al-Qur'an adalah ilmu yang mengandung seni, seni membaca Al-Qur'an. Al-
Qur'an adalah wahyu dari Allah SWT yang dibukukan dan diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai mukjizat, membacanya suatu ibadah dan merupakan sumber
utama ajaran Islam.
12
D. Hadits
Hadits adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW baik dalam
perkataan maupun perbuatan. Ilmu yang dapat dipelajari dari hadits tersebut adalah
tentang dari segi matan dan maknanya, dari segi riwayat, dan dari segi sejarah dan
tokoh-tokohnya.
E. Akhlak
Akhlak adalah istilah dalam bentuk batin yang tertanam dalam jiwa seseorang dan
memotivasinya untuk berbuat atau berperilaku.
F. Tarikh Islam
Tarikh Islam atau ilmu sejarah Islam adalah studi sejarah tentang pertumbuhan dan
perkembangan umat Islam.6
D. Cakupan Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup pendidikan agama Islam juga memiliki cakupan yang sangat
luas, karena banyak pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Pihak-
pihak yang terlibat dalam pendidikan Islam serta ruang lingkup pendidikan Islam
adalah :
1. Perbuatan mendidik itu sendiri
Adapun yang dimaksud dengan perbuatan mendidik disini adalah seluruh kegiatan,
perbuatan dan sikap yang dilakukan oleh pendidikan sewaktu menghadapi peserta
didik.
2. Peserta didik
Adapun peserta didik merupakan objek terpenting dalam pendidikan.Dikarenakan
perbuatan mendidik itu dilakukan hanyalah untuk membimbing anak didik kepada
tujuan pendidikan islam yang kita cita-cita.
6 DR.H Sayid Habbiburrahman,M.Pd.I, Materi Pendidikan Agama Islam, 1 (CV.Feniks Muda Sejahtra,
n.d.).
13
3. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Landasan Pendidikan Agama Islam terdiri dari dasar ideal yaitu Pancasila, dasar
konstitusionalnya adalah UUD 1945 dan bertujuan untuk meningkatkan keimanan,
yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
4. Pendidik
Pendidik, khususnya pendidikan Islam. Para pendidik ini juga memiliki peran
penting dalam keberlangsungan proses pendidikan.
5. Materi pendidikan Islam
Meteri pendidikan islam adalah bahan atau pengalaman belajar ilmu agama islam
yang disusun dan untuk disajikan ataupun disampaikan kepada peserta didik dalam
belajar.
6. Media pendidikan Islam
Adapun pengertian media pendidikan adalah perantara atau pengantar pesan
pendidikan dari pengirim ke penerima pesan (siswa). Dan dapat membuat minat serta
perhatian siswa dalam proses belajar mengajar.
7. Evaluasi Pendidikan
Evaluasi pendidika adalah suatu metode melakukan dan melaksanakan evaluasi
pendidikan atau penilaian yang baik terhadap pelatihan siswa.
8. Lingkungan sekitar
Lingkungan sekitar adalah keadaan di sekitar kita yang mempengaruhi proses
pelaksanaan hasil pendidikan Islam.7
Ruang lingkup pendidikan agama Islam pada dasarnya adalah seluruh aspek
kehidupan manusia muslim. Dari perspektif spiritual, Islam memiliki konsep aqidah
yang cenderung pada aspek keimanan seorang muslim dan kemudian memasuki
tahapan implementasi yaitu Syariah yang merupakan perwujudan dari keimanan
seseorang, dimana segala aktivitas kehidupan pribadi selalu berorientasi pada ketaatan
dan ketundukan kepada Allah SWT, serta akhlak yang mengatur hubungan
7 Muhammad, Ruang Lingkup Ilmu Pendidikan Islam, vol. 3 (2021, n.d.).
14
seorang hamba dengan Allah, Rasul dan semua ciptaan Allah SWT dalam kerangka
aqidah dan syariah. Dalam arti segala sesuatu yang berkaitan dengan perilaku hidup
seorang Muslim, dari hal-hal terkecil yang berkaitan dengan urusan pribadi baik urusan
ibadah umum dan khusus sampai pada urusan terbedar mencakup urusan masyarakat
dan negara menjadi bagian dari ruang lingkup pendidikan agama islam. 8
E. Kaitan Dalam Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi keimanan (aqidah), keislaman
(syari'at) dan ikhsan (akhlak). Semua kajian pendidikan agama Islam di atas tidak dapat
dipisahkan dalam kehidupan karena semuanya memiliki keterkaitan dan berdasarkan
Al-Qur'an, Sunnah, Ijma, Qiyas. Oleh karena itu, semua aspek tersebut tidak boleh
lepas dari urusan seorang muslim baik secara personal maupun sebagai makhluk Allah
yang memiliki tanggung jawab sosial.
1. Aqidah adalah kepercayaan kepada Allah dan sifat aqidah adalah tauhid. Tauhid
adalah ajaran tentang eksistensi Allah yang bersifat Esa.
2. Syariah adalah segala bentuk ibadah, termasuk ibadah umum, seperti hubungan
muamalah, hukum publik maupun perdata. Juga ibadah khusus seperti sholat, puasa,
zakat, haji.
3. Akhlak adalah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa dan menimbulkan perbuatan
yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.
4. Ibadah dalam bidang ini mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya,
misalnya dalam hal syahadat, shalat, puasa, zakat, haji, dll.
5. Muamalat bidang ini mengatur hubungan antara manusia dengan sesamanya,
misalnya berdagang, menyewakan, bekerja, dll.
Selain itu, pendidikan agama islam juga mengatur tentang munakahat yaitu bidang
yang mengatur hubungan antar manusia dalam hal keluarga, keturunan, dan lain-lain.
8 Rudi Ahmad Suryadi, “Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta),” Deepublish, 2018.
15
Jinayat yang mengatur hal-hal kejahatan dan pelanggaran yang melibatkan diri sendiri
dan orang lain, misalnya zina, mabuk-mabukan , penipuan, pencurian, pembunuhan,
dll. Serta As Siyasah mengatur masalah-masalah yang berkaitan dengan politik,
kenegaraan dan hubungan antar negara. 9
F. Tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Menurut Samiudin tujuan merupakan satu titik yang akan diraih dalam proses
kegiatan belajar mengajar sehingga bagaimanapun kegiatan belajar mengajar
berlangsung tujuan tersebut akan menjadi pedomannya. Adanya tujuan pembelajaran
menjadikan kegiatan belajar menjadi lebih terarah, lebih efisien dan lebih maksimal.
Secara umum tujuan pendidikan Agama Islam ialah mampu mencetak para insan
kamil yang beriman dan bertaqwa sehingga mampu menjalankan syariat Islam sesuai
dengan tuntunan al-Qur’an dan sunnah.
Pendidikan Agma Islam juga bertujuan menjadikan peserta didik memiliki
akhlak mulia dan budi pekerti yang baik sesuai norma-norma yang ada di masyarakat,
serta menyeimbangkan pribadi manusia melalui spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan
dan panca indra. Sehingga dari pembelajaran Agama Islam mengarahkan peserta didik
untuk memiliki sifat religiusitas serta nasionalisme, berguna bagi agama dan bangsa
serta mengembangkan anak didik untuk melakukan pengalaman nilai-nilai itu secara
dinamis dan fleksibel.
Berikut beberapa tujuan Pendidikan Agama Islam secara luas :
1. Tujuan Umum (Institusional)
9 Dr.Mardan Umar,S.Pd.I.,M.Pd and Dr. Felby Ismail,S.Pd.I.M.Pd, Buku Ajar Pendidikan Agama Islam
(Jawa Tengah: CV. Pena Persada, 2020).
16
Tujuan umum ini merupakan tujuan yang akan dicapai pada semua aspek pendidikan,
baik melalui pengajaran maupun cara lain. Tujuan ini meliputi semua aspek
kemanusiaan, mulai dari sikap, tingkah laku, kebiasaan, pandangan dan sebagainya.
2. Tujuan Akhir
Tujuan akhir pendidikan Agama Islam akan berakhir ketika dunia ini pun telah
berakhir. Tujuan akhir PAI dapat lebih dipahami dalam firman Allah SWT. Seperti
dalam surat Al-Imran ayat 102 yang artinya : Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadanya, dan janganlah sekali- kali
kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
3. Tujuan Sementara (Instruksional)
Tujuan sementara merupakan tujuan yang akan dicapai peserta didik setelah diberikan
beberapa pengalaman tertentu yang direncanakan dalam kurikulumpendidikan formal.
4. Tujuan Operasional
Tujuan operasional adalah tujuan yang mudah dicapai dengan sejumlah kegiatan
tertentu. Seperti kegiatan yang telah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai
tujuan tertentu tersebut.
G. Pendidikan Agama Islam di SD,SMP dan SMA
Pendidikan Agama Islam melalui jalur sekolah antara lain diwujudkan dalam
bentuk lembaga pendidikan Islam formal seperti RA, MI, MTs, MA,
IAIN/STAIN/PTAIS, dan pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di lembaga
pendidikan (sekolah) umum. Keberadaan PAI dalam keseluruhan isi kurikulum
sekolah umum memang dijamin oleh UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional bab X pasal 37 “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah
wajib memuat : pendidikan agama". PAI merupakan salah satu mata pelajaran wajib
yang harus diajarkan di setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan baik sekolah negeri
maupun sekolah swasta. Untuk membentuk kepribadian umat dan bangsa (peserta
17
didik) yang tangguh, baik dari segi moralitas maupun dari aspek sains dan teknologi,
oleh karena itulah peranan PAI disekolah sangat penting dan juga harus strategis. Oleh
sebab itu, ketika kita menyebut pendidikan Agama Islam, maka akan mencakup dua
hal, yaitu yang pertama mendidik siswa agar berperilaku sesuai dengan nilai-nilaiatau
akhlak yang lslami. kedua, mendidik siswa- siswi untuk mempelajari materi ajaran
Islam (subjek pelajaran berupa pengetahuan tentang ajaran Islam).10
Materi PAI diberbagai jenjang dan jenis Pendidikan yaitu dari SD, SMP, dan
SMA memiliki karakteristik yang berbeda mulai dari isi materi, bobot materi maupun
pendalaman materi juga berbeda dari aspek psikologis, filosofis, sosiologis, dan
teknologis. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diberbagai jenjang dan jenis
pendidikan secara keseluruhan berada pada lingkup Al-Qur'an dan Hadits, keimanan,
akhlaq, fiqih, dan sejarah. Adapun Ruang Lingkup Materi PAI yang meliputi
keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara :
a. Hubungan dengan Allah SWT
b. Hubungan manusia sesama manusia, dan
c. Hubungan manusia dengan makhluk lain (selain manusia) dan lingkungan
Dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan
mengamalkan ajaran Islam, maka seorang pendidik harus melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran atau pelatihan yang telah di tentukan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dengan adanya analisis karakteristik materi PAI di berbagai jenjang dan
jenis pendidikan tujuannya agar mengetahui bagaimana materi nya dan dimana letak
kekurangannya dan kelebihannya.
H. Analisis Karakteristik Materi PAI di SD
Perlu diketahui bahwa ada 10 bab yang di pelajari dan di kuasai oleh peserta
didik sesuai KI dan KD. Materi PAI di SD memiliki karakteristik yang lebih kepada
mengamati gambar dan menceritakan gambar. Materi PAI di kelas 1 SD ini sudah
10 Asep A.Aziz et al., “Taklim : Jurnal Pendidikan Agama Islam PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
AGAMAISLAM (PAI) DI SEKOLAH DASAR” 18 No.2 (2020).
18
sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasarnya, sehingga guru-gurudapat
menjelaskan dengan mudah sesuai urutan-urutannya, yang pertama guru harus
memahamkan materi, menjelaskan mulai dari pengertian sampai hikmah dari apa yang
telah dipelajari. Dalam hal ini diharapkan siswa tidak hanya sekedar mengetahui
melainkan siswa diharapkan siswa dapat mempraktikkannya. 11
Adapun model pembelajaran atau penyampaian materi yang bisa digunakan
oleh guru menggunakan teknik yang berbeda-beda sesuai dengan materi, sehingga
materi bisa langsung dan mudah dipahami. Guru dapat memanfaatkan media/alat
peraga/alat bantu berupa ilustrasi gambar atau tayangan visual (film) yang
relevan.Guru dapat memanfaatkan model/strategi/metode pembelajaran yang
digunakan di antaranya (1) ceramah interaktif (menceritakan dan menjelaskan kisah
melalui gambar atau tayangan visual/film), (2) diskusi dalam bentuk the educational-
diagnosis meeting, artinya peserta didik berbincang mengenai pelajaran di kelasdengan
maksud saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran/materi yang diterimanya
agar masing-masing memperoleh pemahaman yang benar, dan dilengkapi dengan
lembar pengamatan dalam pelaksanaan diskusi.
I. Analisis Karakteristik Materi PAI di SMP
Pada jenjang SMP ada 13 bab yang dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik
sesuai KI dan KD. Dengan kurikulum k13, siswa lebih diajak merenungkan dan
mengamati kemudian siswa diminta untuk memberikan tanggapan. Ada 13 Bab pokok
yang diberikan kepada murid atau anak didiknya dalam satu tahun proses
pembelajaran, bab tersebut diberikan dalam jangka waktu 2 semester. Ada 6 bab yang
diberikan dalam 1 semester, kemudian dalam setiap bab tersebut akan dijabarkanpada
tiap-tiap sub-bab, yang bertujuan agar mudah dalam penyampaian dan dalam
11 Muh Haris Zubaidillah and M.Ahmin Sulthan Nuruddaroini, “Jurnal Pendidikan Agama Islam
ANALISIS KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI
JENJANG SD,SMP DAN
SMA,” Addabana 2 No 1 (June 1, 2019).
19
kegiatan materi ada batasan-batasannya. Pada semester 2, terdapat 7 bab yang utama
dijelaskan dalam sub-bab sub-bab yang lebih rinci.
Adapun model pembelajaran atau penyampaian materi untuk menguasai kompetensi
yaitu model cooperativ learning yang mencakup suatu kelompok kecil peserta didik
lalu bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan
suatu tugas, dan mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Selain
itu ada juga metode cerita, suri tauladan maupun praktek langsung untuk metode
praktik langsung sangat cocok diterapkan hanya pada bab-bab tertentu, karena memang
sudah seharusnya dipraktekkan agar para siswa dapat memahami secara jelas.
J. Analisis Karakteristik Materi PAI di SMA
Ada 11 bab yang dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik sesuai KI dan KD
pada materi PAI di SMA. Materi PAI yang ada pada tingkat SMA lebih luas dan
mendalam kemudian juga lebih kepada nilai-nilai yang bisa diambil dari tema materi
tersebut, kita bisa mengetahui nya ketika melihat peta konsep. terdapat 11 bab pokok
yang diberikan pada murid atau anak didiknya dalam satu tahun proses
pembelajaran,lalu 11 bab tersebut diberikan dalam jangka waktu 2 semester. Pada
semester pertama ada 5 bab yang diberikan, lalu pada semester 2 terdapat 6 bab utama.
12
Adapun model pembelajaran ataupun penyampaian materi, seorang guru dapat
memakai teknik yang berbeda-beda yang sesuai dengan materi, sehingga materi
tersebut bisa langsung dengan mudah dipahami. Dalam proses pembelajaran
diharapkan siswa tidak hanya sekedar mengetahui tetapi siswa diharapkan dapat
mempraktekkan. Pada kurikulum k13 ini siswa diharapkan lebih aktif daripada guru
sehingga guru hanya akan mengarahkan dan sisanya yang lebih berperan jika dilihat
12 Dr.Abdyl Rahman,M.Pd., Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Riset Pasar
(Pekanbaru: Guepedia, 2021).
20
dari materi-materi yang disajikan adalah siswa-siswa nya. Dari penjelasan-penjelasan
diatas, dapat diketahui bahwa pada intinya karakteristik materi PAI yang ada
diberbagai jenjang dan jenis pendidikan yaitu daru SD, SMP, SMA memiliki
karakteristik yang berbeda, hal tersebut bisa dilihat dari isi materi-materi nya, bobot
materi maupun pendalaman materi. 13
Adapun surat keputusan bersama yang dibuat oleh Prof. Mahmud Yunus dari
departemen Agama dan Mr. Hadi dari departemen PPK, yaitu, Tanggal 20 Januari 1951
(Agama), yang berisi rumusan antara lain sebagai berikut ;
A. Pendidikan Agama diberikan mulai kelas IV Sekolah rakyat.
B. Di daerah-daerah yang Agama masyarakat nya kuat, pendidikan Agama dapat
diberikan mulai kelas 1 sekolah, dengan catatan bahwa mutu pengetahuan umum
tidak boleh berkurang.
C. Di sekolah lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas (umum dan kejuruan) diberikan
pendidikan agama dua jam setiap minggunya.
D. Pendidikan Agama diberikan kepada murid-murid sedikitnya 10 orang dalam 1
kelas dan mendapat izin dari orang tua atau walinya.
E. Pengangkatan guru Agama,biaya pendidikan Agama dan materi pendidikan Agama
ditanggung oleh Departemen Agama.
Dengan keluarnya peraturan bersama tersebut, maka pendidikan agama secara reuni
masuk dalam sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah partikelir, mulai dari SR,
SMP, sampai ke SMA, dan sekolah-sekolah kejuruan.
Penyelenggaraan pendidikam Islam di lembaga sekolah (SD, SMP, SMA,)
melalui mata pelajaran PAI sebetulnya masih dirasa sangat belum cukup. Untuk
sekolah-sekolah umum yang cenderung sekuler lalu sangat mengagung-agungkanilmu
pengetahuan tentunya sangat tidak bagus mengenai mata pelajaran PAI nya,yang
dimana sekolah-sekolah umum tersebut tidak mengapresiasi dan juga tidak
13 Husaini,H, Hakikat Tujuan Pendidikan Agama Islam Dalam Berbagai Perspektif, vol. 4 No.1, 2021.
21
memberikan kesempatan terhadap peserta didik untuk lebih mengeksplor diri kebidang
keagamaan. Pelajaran Agama Islam pada sekolah umum (SD, SMP, SMA, dan SMK)
berdurasi selama 2 jam sedangkan pada sekolah Islam memiliki durasi yang lebih lama
yaitu 7 jam bahkan bisa sampai 9 jam.
Adapun di sekolah umum (SD, SMP, SMA), pelajaran agama islam (PAI)
merupakan bagian kurikulum yang terwujud dalam sebuah mata pelajaran pendidikan
Islam. PAI di sekolah umum (SD, SMP, SMA), tidak terlalu memfokuskan materinya
dan posisi mata pelajaran PAI hanya sebatas "pemanis" kurikulum. Oleh karena itu lah,
agar PAI di SD SMP dan SMA bisa difungsikan dengan baik, maka seorang pendidik
memiliki peran yang sangat penting agar PAI menjadi nilai yang di junjung tinggi oleh
peserta didiknya di sekolah umum, serta diharapkan pendidik juga bisa
mengimplementasikan dan melakukan penghayatan terhadap mata pelajaran PAI. 14
Di dalam kenyataan di lapangan, banyak sekali problematika yang muncul
terhadap Pendidikan Agama Islam di sekolah umum sehingga berakibat tidak
maksimalnya pembelajaran PAI di sekolah, baik di tingkat SD, SMP, SMA, maupun
SMK. Adapun beberapa problematika yang sangat sering terjadi di sekolah umum
terhadap pendidikan agama islam beserta solusinya yaitu dipaparkan sebagai berikut.
1. Manajemen sekolah (peranan kepala sekolah dan guru selain guru agama)
permasalahan dalam hal manajemen yaitu kurang aktifnya kepala sekolah dan guru
selain guru agama dalam memberikan pelayanan pendidikan agama Islam yang
memadai untuk peserta didik. Solusi yang ditawarkan adalah:
A. Menyadarkan pihak manajemen tentang pentingnya memberikan pelayanan
pendidikan agama Islam yang memadai untuk peserta didik.
B. Menyadarkan pihak manajemen tentang kewajiban memberikan pelayanan
pendidikan Agama Islam yang memadai untuk peserta didik.
14 A.Rifqi Amin,M.Pd.I, Pengembangan Pendidikan Agama Islam Reinterpretasi Berbasis Interdispliner
(Yogyakarta,Jl.Paringtritis, n.d.).
22
2. Kompetensi Tenaga Pendidik
Permasalahan dalam hal tenaga pendidik:
A) Kurangnya keteladanan.
B) Kurangnya kemampuan menguasai materi.
C) Kurangnya kemampuan dalam mengelola kelas.
D) Kurangnya rasa tanggung jawab.
E) Evaluasi hanya berorientasi terhadap penelitian kognitif.
Adapun Solusi yang ditawarkan adalah:
A) Menggalakkan program-program peningkatan kemampuan guru seperti
pemberian beasiswa untuk melanjutkan studi, melaksanakan diklat-diklat dan lain-
lain.
B) Evaluasi mencakup penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik.
3. Peserta didik
Permasalahan yang ada pada peserta didik:
A. Kurangnya minat belajar agama
B. Adanya perbedaan tingkat pemahaman, pengamalan serta penghayatan nilai
agama diantara peserta didik.
Solusi yang ditawarkan adalah:
A) Semua pihak (stakeholder) berusaha menyadarkan peserta didik akan
pentingnya belajar agama Islam.
B) Pemisahan peserta didik dan mengelompokan mereka berdasarkan tingkat
kemampuan yang sama.
4. Dukungan orang tua
Permasalahan yang berkaitan dengan orang tua diantaranya adalah kurangnya
rasa tanggung jawab Dan kepedulian terhadap pendidikan agama anaknya. Adapun
solusi yang sering ditawarkan adalah pihak sekolah sering mengajak POM (Persatuan
23
orang tua murid) dalam membahas problematikan pendidikan agama Islam di
sekolah.
5. Sarana prasarana.
Di antara permasalahan dalam bidang sarana dan prasarana adalah:
A. Kurang lengkapnya sarana dan prasarana.
B. Kurangnya rasa tanggung jawab dan loyalitas civitas akademik dalam
merawatdan menjaga aset dan sarpras sekolah.
Adapun solusi yang ditawarkan adalah:
A. Pemberdayaan semua pihak terkait (stakeholder) untuk ikut
menanggulangisarana dan prasarana di sekolah.
B. Pemberian arahan yang berkesinambungan kepada seluruh civitas
akademikdalam hal perawatan aset. 15
15 Sari and Shunhaji, “Perkembangan Kebijakan Pembelajaran Agama Islam Pada Lembaga
Pendidikandi Indonesia,” December 30, 2020.
24
MAKALAH IV
PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PAI
A. Pengertian Prosedur
Prosedur adalah rangkaian kegiatan yang telah menjadi pola dan sudah
ditentukan dalam melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas. Depdinas dalam
Krisma (2014) merinci prosedur atau langkah-langkah pengembangan bahan
ajar sebagai berikut :
Pertama yaitu menentukan kriteria pokok pemilihan bahan ajar dengan
mengidentifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar KD, hal ini
dikarenakan pada setiap aspek dalam SK dan KD memiliki Jenis materi yang
berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.1
Kedua yaitu mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar materi
pembelajaran dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif (fakta konsep
prinsip dan prosedur) aspek afektif (pemberian respon penerimaan
internalisasi dan penilaian serta aspek psikomotorik gerakan awal semi rutin
dan rutin).
Ketiga yaitu mengembangkan bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan
SK-KD yang telah teridentifikasi sebelumnya. Keempat yaitu
mengembangkan sumber bahan ajar. Krisma(2014) menambahkan bahwa
pengembangan suatu bahan ajar harus berdasarkan analisis kebutuhan peserta
didik. Terdapat sejumlah alasan mengapa perlu dilakukan pengembangan
bahan ajar, seperti yang disebutkan oleh Direktorat :
1. Ketersedian bahan sesuai tuntutan kurikulum artinya bahan belajar
yang dikembangkan harus sesuai dengan kurikulum
2. Karakteristik sasaran artinya bahan ajar yang dikembangkan dapat
disesuaikan dengan karakteristik peserta didik sebagai sasaran
karakteristik tersebut meliputi lingkungan sosial, budaya, geografis,
maupun tahapan perkembangan peserta didik.
3. Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan
masalah atau kesulitan dalam belajar.
1 Nana, Pengembangan Bahan Ajar (Klaten, Jawa Tengah: Lakeisha, 2019),hal, 25.
25
Dengan demikian pengembangan bahan ajar di sekolah perlu
memperhatikan karakteristik peserta didik dan kebutuhan peserta didik sesuai
kurikulum yaitu menurut adanya partisipasi dan aktivitas peserta didik lebih
banyak dalam pembelajaran. pengembangan lembar kegiatanpeserta didik
menjadi salah satu alternatif bahan ajar yang akan bermanfaat bagi peserta
didik menguasai kompetensi tertentu karena lembar kegiatan peserta didik
dapat membantu peserta didik menambah informasi tentang materi yang
dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.
B. Analisis Bahan Ajar
Analisis Merupakan kata yang sering terdengar pada suatu evaluasi
kegiatan. Analisis sering dilakukan untuk memperoleh kesimpulan mengenai
pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, yang
dimaksud dengan analisis adalah penyelidikan dan penguraian terhadap suatu
masalah untuk mengetahui keadaan yang sebenar- benarnya dan proses
pemecahan masalah yang dimulai dengan dugaan dan kebenarannya (Sulchan
Yasyin, 1997: 34).
Bahana ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru atau instructor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan
yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
Dengan bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi
atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif
mampu menguasai semua kompetensi secarautuh dan terpadu. Bahan ajar
merupakan informasi, alat, dan teks yangdiperlukan guru atau instructor untuk
perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. 2
Bahan ajar adalah isi yang diberikan kepada siswa pada saat
berlangsungnya proses belajar mengajar. Melalui bahan ajar ini siswa
diantarkan kepada tujuan pengajaran. Dengan perkataan lain tujuan yang akan
dicapai siswa diwarnai dan dibentuk oleh bahan ajar. Bahan ajar pada
2 Tri Rahayu, “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PAI DI SEKOLAH/ MADRASAH”
XIV (2021): hal 19.
26
hakikatnya adalah isi dari mata pelajaran atau bidang studi yang diberikan
kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakannya. 3
Hal pertama dalam mengembangkan bahan ajar adalah analisis terlebih
dahulu yang perlu dianalisis yaitu karakteristik dan kebutuhan peserta didik
merupakan hal utama yang perlu mendapatkan perhatian. Karakteristik dan
kebutuhan peserta didik perlu diindetifikasi utuk menentukan jenis subtansi
bahan ajar yang dikembangkan. Bahan ajar yang baik adalah bahan ajar yang
sesuai karakterisitk peserta didik dan kebutuhan mereka terhadap bahan ajar
itu.
Pada tahap analisis ini mencoba untuk mengenali siapa peserta didik
dengan perilaku awal dan karakteristik yang dimilikinya, perilaku awal
berkenaan dengan kemampuan bidang ilmu atau mata tataran yang sudah
dimiliki peserta didik. Sementara itu karakteristik awal memberikaninformasi
tentang ciri-ciri peserta didik. 4 Jika informasi tentang peserta didik sudah
diketahui maka implikasi terhadap rancangan bahan ajar dapat ditentukan dan
bahan ajar dapat segera dikembangkan. Tahap analisis merupakan tahap
dimana kita menganalisis kebutuhan awal dalam pembuatan bahan ajar ini.
Tahapan ini terdiri dari tiga kegiatan analisis, sebagai berikut:
1. Analisis Kebutuhan
2. Analisis Kurikulum
3. Pemilihan Jenis Bahan Ajar
Pengenalan yang baik terhadap perilaku awal dan karakteristik awal
peserta didik sangat diperlukan untuk menentukan kebutuhan peserta didik
dan kemudian untuk merancang bahan ajar yang bermanfaat bagi peserta
didik. Dalam menganalisis bahan ajar hal yang paling utama ialah
menganalisis kebutuhan bahan ajar. Berikut ini adalah analisis yang harus
dilakukan dalam menganalisis bahan ajar :
3 Tri Rahayu, “Pengembangan bahan ajar…., hal 20.
4 Nana, Pengembangan Bahan Ajar…., hal 26.
27
1. Analisis SK-KD.
Analisis SK-KD dilakukan untuk menemukan kompetensi-kompetensi
mana yang memerlukan bahan ajar. Dari hasil analisis ini akan dapat diketahui
Berapa banyak bahan ajar yang hendak disiapkan dalam satu semester tertentu
dan jenis bahan ajar mana yang dipilih. Materi disampaikan dengan ceramah,
diskusi, simulasi penyusunan bahan ajar yang disusun mengacu pada SK-
KD5.
2. Analisis sumber belajar .
Sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan ajar harus dilakukan
analisis terlebih dahulu analisis ini dilakukan terhadap ketersediaan
kesesuaian dan kemudahan dalam penggunaannya
3. Pemilihan dan penentuan bahan ajar.
Pemilihan dan penentuan bahan ajar dimaksudkan untuk memenuhi salah
satu kriteria bahwa bahan ajar harus menarik dapat membantu siswa untuk
mencapai kompetensi sehingga bahan ajar yang dibuat sesuai kebutuhan.
C. Perancangan Bahan Ajar PAI
Pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan
yaitu perumusan tujuan pembelajaran pemilihan topik mata pelajaran
pemilihan media dan sumber serta pemilihan strategi pembelajaran dengan ini
diharapkan pendidikan dapat menjadikan individu-individu yang mandiri
sebagai pelajar yang mandiri dengan memenuhi kaidah-kaidah yang berlaku
yaitu Audience, Behavior, Condition, dan Degree.6
1. Pemilihan Topik Mata Tataran
Jika tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan dan analisis sudah
dilakukan maka peserta didik sudah mempunyai gambaran tentang
kompetensi yang harus dicapai melalui proses belajar. Dengan demikian,
petatar juga dapat segera menetapkan topik mata tataran dan isinya mengenai
apa saja topik, tema isu yang tepat untuk disajikan dalam bahan
5 Bayu Pradikto and Intan Purnama Dewi, “Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar
Pembelajaran Keaksaraan Fungsional,” n.d., 6.
6 Nana, Pengembangan Bahan Ajar…., hal 26.
28
ajar Sehingga peserta didik dapat belajar dan mencapai kompetensi yang telah
ditetapkan.
Acuan utama pemilihan topik mata kanan adalah Silabus dan analisis
instruksional yang telah penataan miliki. Selanjutnya penatar juga dapat
menggunakan berbagai buku dan sumber belajar serta melakukan penelusuran
pustaka yaitu mengkaji buku-buku tentang Mataram termasuk ensiklopedia,
majalah, dan buku yang ada di perpustakaan.7
2. Membuat Peta Konsep
Peta konsep bertujuan untuk mengetahui jumlah bahan ajar yang akan kita
siapkan dalam semester tertentu. Dengan adanya peta konsep akan
memudahkan untuk menentukan materi, menentukan jumlah bahan ajar yang
harus dibuat.
3. Pemilihan Media dan Sumber
Memilih media yang dibutuhkan untuk menyampaikan topik tataran,yang
memudahkan peserta belajar, serta yang menarik dan disukai peserta. Kata
kuncinya adalah media yang dapat mendorong peserta belajar. Media itulah
yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih.
4. Pemilihan Strategi Pembelajaran
Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap ketika
merancang aktivitas belajar. Dalam merancang aktivitas belajar, urutan
penyajia harus berhubungan dengan ketentuan
tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur utama yang harus disajikan dalam
topik mata tataran. Hal ini tidaklah terlalu sulit jika sudah memiliki peta
konsep dari apa yang ingin diajarkan. Jika sudah mengetahuinya, maka
menentukan bagaiman materi itu disajikan, atau secara umum dapat dikatakan
bagaiman struktur bahan ajarnya. Berbagai urutan penyajian dapat dipilih
berdasarkan urutan kejadian untuk kronologis, berdasarkan lokasi,
berdasarkan sebab akibat, dan lain sebagiannya.
7 Nana, Pengembangan Bahan Ajar…., hal 27.
29
D. Pengembangan Lanjut Bahan Ajar PAI
Langkah guru dalam mengembangkan sumber bahan ajar mata pelajaran
PAI selanjutnya adalah dengan cara memperhatikan prinsip-prinsip dalam
pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi artinya materi
pembelajaran hendaknya relevan memiliki keterkaitan dengan pencapaian
standar kompetensi, prinsip konsistensi artinya adanya keajegan antara bahan
ajar dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa, prinsipkecukupan
artinya hendaknya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam
membantu siswa menguasai kompetensi dasar yangdijarkan. Materi tidak
boleh terlalu sedikit dan juga tidak boleh terlalu banyak. Jika sedikit maka
akan kurang membantu mencapai standar kompetensi jika terlalu banyak
maka akan membuang waktu dan tenaga yang tidak perlu dipelajari.8
Jadi guru berupaya untuk mengembangkan referensi atau rujukan dari
buku ataupun kitab lain yang mendukung proses pembelajaran. Bahan ajar
dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, tetapi yang digunakan
dalam pembelajaran PAI adalah:
1. Bahan ajar cetak antara lain, buku paket, modul, lembar kerja siswa,
globe, peta, dan kitab Sirah Nabawi.
2. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video atau film,
orang atau narasumber. 9
Setelah rencana pelaksanaan pembelajaran tersusun hal penting lainnya
ialah adanya interaksi antara guru dan siswa secara efektif dan optimal. Hal
ini akan menumbuhkan pengalaman belajar yang baik dalam diri siswa.
8 Karlina Indrawari, Sayyid Habiburrahman, “Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan
Agama Islam Dengan Metode Al-Qur’an Tematik” 17 No.1 (2019) hal24.
9 Afif Syaiful Mahmudin, “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM OLEH GURU TINGKAT SEKOLAH DASAR,”
SITTAH: Journal of Primary Education 2, no. 2 (October 30, 2021): 104,
https://doi.org/10.30762/sittah.v2i2.3396.
30
Agar guru bisa mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran guru harus bisa
memberikan evaluasi yang terstruktur dan diprogram secara baik10.
Setelah tahap perancangan tahap paling penting adalah melakukan
pengembangan lanjut bahan ajar itu sendiri. Tahap pengembangan ini
merupakan inti (core) dari tahap-tahap lainnya. Tahap sebelumnya merupakan
prasyarat, sementara tahap berikutnya adalah tahap finalisasi. Jadi semua
tahap itu memiliki signifikansi dan urgensinya masing-masing. Karena
merupakan kegiatan inti, pada tahap pengembangan diperlukan kerjakeras dan
perhatian lebih. Kerja keras dan perhatian lebih itu diharapkan dapat
menghasilkan produk pengembangan yang optimal, menarik, efisien dan
efektif. Dalam melakukan langkah pengembangan bahan ajar, ada dua tujuan
penting yang perlu dicapai antara lain adalah :
1. Mempro-duksi atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
2. Memilih bahan ajar terbaik yang akan digunakan untuk mendekatan
pembelajaran.11
Pada tahap pengembangan ini diperlukan kerja keras dan perhatian lebih.
Kerja keras dan perhatian lebih itu diharapkan dapat menghasilkan produk
pengembangan bahan ajar yang optimal, menarik, efisien dan efektif.
E. Evaluasi Bahan Ajar PAI
Secara etimologi “evaluasi” berasal dari bahasa inggris yaitu evaluation
dari akar kata value yang berarti nilai atau harga. Nilai dalam bahasa arab
disebuut al-qiamah atau al-taqdir yang bermakna penilaian (evaluasi).
Sedangkan kata evaluasi secara harfiah, yaitu al-taqdir atau al-tarbiah yang
sering disebut sebagai evaluasi pendidikan diartikan sebagai penilaian dalam
bidang pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
instansi pendidikan maupun kegiatan yang ada di dalamnya. Pakar ahli
memberikan pendapat tentang pengertian evaluasi diantaranya; Edwin dalam
10 Syaiful Mahmudin, “Pengembangan bahan ajar…., hal 104-105 ,
https://doi.org/10.30762/sittah.v2i2.3396..
11 Rahmat Arofah Cahyadi, “Pengembangan Bahan Ajar Berbasis ADDIE Model”
halaqah islamic : journal education 3, no. 1 (juni 01 2019) hal, 39
31
Ramayulis berkata bahwa evaluasi mengandung pengertian suatu tindakan
atau proses dalam menentukan nilai sesuatu (Ramayulis, 2002) M. Chabib
Thoha, megartikan evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan
sistematis untuk mengetahui keadaan objek dengan meggunakan instrumen
dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur memperoleh kesimpulan
(Thoha, 1990).
Evaluasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses yamg
sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan, keputusan,
unjuk-kerja, proses, orang, objek dan yang lainnya) berdasarkan kriteria
tertentu melalui penilaian Untuk menentukan nilai sesuatu dengan cara
membandingkan dengan kriteria, evaluator dapat langsung membandingkan
dengan kriteria umum, dapat pula melakukan pengukuran terhadap sesuatu
yang dievaluasi kemudian membandingkandengan kriteria tertentu. Di dalam
pengertian yang lain yaitu antara evaluasi, pengukuran, dan penilaian ialah
kegiatan yang bersifat hirarki.12
Sehingga dapat diartikan berkaitan dengan proses pembelajaran maka
tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanannya harus
dilakukan secara berurutan atau sistematik. Dalam hal ini ada kaitan yang
hampir sama namun berbeda, yaitu penilaian dan pengukuran. Pengertian
pengukuran terarah kepada suatu tindakan dalam menentukan kuantitas
sesuatu, oleh karena itu biasanya sangat diperlukan alat bantu. Sedangkan
penilaian atau evaluasi memiliki arti dalam menentukan suatu kualitas atau
nilai akan sesuatu.
Evaluasi belajar dan pembelajaran ialah sebuah proses untuk menentukan
nilai belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan melalui kegiatan penilaian
atau pengukuran pembelajaran. Penilaian belajar ialah hasil akhir dari nilai
keberhasillan belajar dan pembelajaran yang dilakukan secara kualitatif.
12 Ina Magdalena, Alvi Ridwanita, and Aulia, “EVALUASI BELAJAR PESERTA
DIDIK” 2 (2020) hal 119.
32
Dari beberapa pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa evaluasi
pendidikan memiliki beberapa unsur :
1. Evaluasi pendidikan menggali informasi seputar keterwujudan tujuan
pembelajaran yang telah dilaksanakan, tujuan tersebut berupa
perubahan sikap, kemampuan dan keilmuan peserta didik.
2. Evaluasi pendidikan merupakan proses yang terstruktur bukan acak,
evalusai pendidikan didasarkan atas standar yang telah ditentukan.
3. Evaluasi pendidikan mencakup semua aspek pendidikan.
4. Evalusai pendidikan bersifat terus menerus13
Maka dapat disimpulkan evaluasi bahan ajar khusus dalam pembelajaran
PAI adalah untuk menentukan sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam
mengikuti pembelajaran pai. Pada kondisi dimana para siswa dapat
memahami dan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, maka tentu saja
akan memberikan dampak stimulus dalam proses pembelajaran. Sehingga
evaluasi dalam pendidikan islam adalah melihat sejauh mana keberhasilan
pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai islam sebagai tujuan dari
pendidikan itu sendiri. Evaluasi dalam pendidikan islam telah menjadi sebuah
tolak ukur yang selaras dengan tujuan pendidikannya. Baik itu tujuanjangka
pendek, yaitu membimbing manusia agar hidup selamat dunia, maupu tujuan
jangka panjang untuk kesejahteraan hidup di akhirat nanti (Jalaludin 1994).
Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh beragam reaksi dari
berbagai pihak terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Pada tahap ini,
penilaian terhadap bahan ajar oleh ahli dan penilaian dari sudut pandang siswa
didapatkan hasil berupa tingkat kelayakan bahan ajar. Komentar dan
13 Mubarak Bamualim, “Kedudukan Dan Tujuan Evaluasi Pembelajaran Bahasa
Arab,” Jurnal Al-Fawa’id : Jurnal Agama dan Bahasa 10, no. 2 (September 30,
2020): 3–4, https://doi.org/10.54214/alfawaid.Vol10.Iss2.141.
33
saran dari ahli pun dijadikan sebagai bahan memperbaiki bahan ajar14. Reaksi
ini hendaknya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki bahan ajar
lebih berkualitas. Evaluasi sangat diperlukan untuk melihat efektivitas bahan
ajar yang dikembangkan. Apakah bahan ajar yang dikembangkanmemang
dapat diemngeti, dibaca dengan baik, dan dapat mendorong peserta untuk
belajar. Disamping itu, evaluasi diperlukan untuk memperbaiki bahan ajar
sehingga menjadi bahan ajar yang baik. Secara umum, terdapat 4 cara untuk
mengevaluasi bahan ajar yaitu :
1. Telaah oleh ahli materi (lebih ditekankan pada validitas keilmuan
serta ketepatan cakupan)
2. Uji coba satu-satu (salah seorang peserta mengkaji bahan ajar,
kemudian diminta untuk memberikan komentar tentang
keterbacaan, bahasa, ilustrasi, perwajahan, dan tingkat kesukaran)
3. Uji coba kelompok kecil (satu kelompok kecil mengkaji bahan
ajar, kemudian diminta until memberikan komentar yentang
keterbacaan, bahasa, ilustrasi, perwajahan, dan tingkat kesukaran)
4. Uji coba lapangan (untuk memproleh informasi apakah bahan ajar
dapat mencapai tujian, apakah bahan ajar dianggap memadai dan
seterusnya).
F. Revisi dalam Bahan Ajar PAI
Menurut Arsanti yang di kutip oleh Nasaruddin, revisi bahan ajar
diperlukan dalam penyempurnaan bahan ajar agar lebih menarik dan efektif
pada saat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga memudahkan
dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Kegiatan revisi
bahan ajar dilakukan sesuai dengan berdasarkan data yang diperolah dari
evaluasi formatif. Revisi bahan ajar dilakukan berdasarkan penilaian
perseorangan, penilaian kelompok kecil, dan hasil uji coba di lapangan
melalui kegiatan revisi dengan pertimbangan:
14 Utari Narulita, “Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan,” n.d.,
50.
34
1. Revisi terhadap isi atau substansi bahan ajar agar lebih akuratsebagai bahan alat
belajar.
2. Revisi terkait dengan prosedur yang digunakan dalam penggunaan bahan ajar.15
Guswari, Tanjung dan Panjaitan (2021) menyatakan bahwa tujuan dari revisi bahan ajar
adalah untuk mendapatkan efektifitas media dan sumber pembelajaran dalam mencapai
tujuan pembelajaran. Selain itu, dengan melakukan revisi bahan ajar, dapat diketahui
kekurangan dan kelebihan bahan ajar yang akan digunakan dalam sebuah proses
pembelajaran. Tahapan revisi bahan ajar dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
1. Proses revisi yaitu dimulai dengan meringkas data yang telah ditemukan.
2. Revisi pembelajaran dilakukan dengan berdasarkan semua informasi yang telah
didapatkan dari evaluasi kelompok kecil atau dari uji lapangan.
3. Peerbandingan dari berbagai pendekatan juga diikutsertakan dalam evaluasi
formatif
4. Selain beerdasarkan hasi evaluasi, revisi bahan ajar juga dilakukan sesuai dengan
strategi pembelajaran.
Revisi terhapdap materi pembelajaran dilaksanakan agar diperoleh pemahaman
menyeluruh dan informasi seberapa jauh perbaikan yang perlu dilakukan, melalui langkah-
langkah:
1. Memeriksa data mengenai tingkah laku serta memasukan peserta didik
berdasarkan dengan penilaian formatif.
2. Meninjau kembali data pretest dan posttest agar dapat membantu pendidik untuk
mengenali secara tepat masalah dan memutuskan perubahan apa yang harus
dilakukan dalam sebuah proses pembelajaran untuk masing-masing materi
tertentu.
15 Nasruddin et al., Pengembangan Bahan Ajar (Padang: PT. Global EksekutufTeknologi,
2022), 73.
35
MAKALAH V
URGENSI PENGEMBANGA MATERI PAI
1. Pengertian Pengembangan Pendikan Agama Islam
Pengertian pengembangan Pendidikan Agama islam sebagai
Budaya Sekolah pada dasarnya adalah salah satu usaha yang bersifat sadar, bertujuan,
Sistematis dan terarah pada perubahan tingkah laku atau sikap yang sejalan
dengan Ajaran-ajaran yang terdapat dalam Islam. Sejalan dengan ini, Zakiyah
Daradjat Mengatakan bahwa pendidikan agama Islam adalah usaha berupa
bimbingan Dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai
pendidikannya Dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta
menjadikannya Sebagai way of lif.2
Pendidikan agama memiliki peran dalam melakukan transformasi
Religuitas pada siswa. Tujuan pendidikan agama sejatinya bukanlah sekedar
Mentransfer pengetahuan dan keterampilan, melainkan lebih merupakan Sebuah
ikhtiar menumbuhkembangkan fitrah insani. Berfikir mengenai Pengembangan
mengajak seseorang untuk berfikir kreatif dan inovatif Dalam melakukan perubahan
sebagai akibat dari keprihatian terhadap suatu Kondisi. Pengembangan pendidikan
Agama Islam sebagai budaya sekolah Berarti bagaimana mengembangkan PAI di
sekolah, baik secara kuantitatif Maupun kualitatif diposisikan sebagai pijkan
nilai,semangat, sikap dan Perilaku bagi para actor sekolah seperti kepala sekolah,
guru, peserta didik, Tenaga kependidikan dan seluruh warga sekolah.
Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat 1 Dinyatakan
bahwa;
2 Ismatul Maula and Indra Indra, “Pengembangan Bahan Ajar Desain Pembelajaran PAI Berbasis
Kurikulum 2013,” Jurnal Penelitian Pendidikan 11, no. 1 (2019): 1595–1603.
36
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan Suasana
belajar dan proses pempelajaran agar peserta didik secara aktif Mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia Serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara.
Selanjutnya pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa pendidikan nasional Adalah
pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar RI Tahun 1945
yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia Dan tanggap
terhadap tuntutan perubahan zaman
Pendidikan Agama Islam baik pada jenjang pendidikan dasar maupun
Menengah antara lain bertujuan mewujudkan manusia Indonesia yang taat
Beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin
Beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin bertoleransi, menjaga
Keharmonisan secara personal dan social serta mengembangkan budaya
Agama dalam komunitas sekolah (Permen Diknas, Nomor 22 tahun 2006
Tanggal 23 Mei 2006 tentang Standar Isi terutama pada lampiran Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran PAI. Dengan demikian,
Upaya pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah telah
Memperoleh legalitas yang kuat.3
Pengembangan Pendidikan Agama Islam sebagai budaya sekolah
Merupakan sebuah alternatif untuk mengimplementasikan eksistensi dari Nilai-nilai
ajaran Islam yang secara konseptual tertuang dalam mata pelajaran PAI di sekolah
dasar dan menengah. Karena menurut Nurkhalis Majid Bahwa kegagalan
Pendidikan Agama Islam disebabakan pembelajaran PAI Lebih menitikberatkan
pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan Pada pemaknaannya. Proses
belajar mengajar diakui selama ini masih
3 M Sya’roni, “Penguatan Pendidikan Agama Islam Melalui Budaya Sekolah,” Cendekia 13, no. 02
(2021): 161–65.
xxx