The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nurrahmahrahmah551, 2022-12-06 22:55:00

INDIVIDU TUGAS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

INDIVIDU TUGAS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

Mengejar target pencapaian kurikulum yang telah ditentukan, padahal yang
Diperlukan lebih pada suasana keagamaan.

Pendidikan Islam saat ini, dihadapkan pada berbagai Perkembangan yang
meniscayakan untuk melakukan perubahan Dan perbaikan sehingga mampu
melakukan penyesuaian Terhadap perubahan tersebut. Perkembangan ilmu
pengetahuan Dan teknologi (iptek) menjadi tantangan bagi pendidikan Islam,
Terutama dalam menghadapi era globalisasi yang telah mampu Mengsistematisasikan
jarak dan waktu antar berbagai negara Dalam pertukaran informasi dan
pengetahuan, khususnya dalam Bidang pendidikan Islam. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi itu, telah Melahirkan aneka media yang dapat
difungsikan untuk Mengembangkan pendidikan Islam dimaksud. Jika pada era
Klasik, pendidikan Islam hanya dapat menjangkau sasaran Masyarakat lokal
dengan kualitas yang relatif rendah, dengan Adanya multi media, terutama internet,
maka pendidikan Islam Bisa berlangsung dengan jangkauan tanpa batas, waktu yang
Sangat singkat, dan kualitas yang lebih tinggi. Para pakar Pendidikan Islam dituntut
untuk menggunakan dan Mengembangkan media pendidikan terupdate sehingga
Pendidikan Islam dapat bersanding dengan pendidikan umum Yang akhir- akhir
ini mengalami lompatan signifikan yang sangat Menggembirakan. Hal ini akan
terjadi, jika para pimpinan dan Pendidik di berbagai lembaga pendidikan Islam
memulai untuk Meningkatkan kualitas pendidikan dan kinerjanya. Jika tidak,
Maka cita-cita mening-katkan kualitas pendidikan Islam Hanyalah sebuah impian
belaka.

Era Revolusi Industri 4.0 (selanjutnya: Era 4.0) Membawa dampak yang tidak
sederhana. Ia berdampak pada Seluruh aspek kehidupan manusia.4

4 Ferry Doringin, Nensi Mesrani Tarigan, and Johny Natu Prihanto, “Eksistensi Pendidikan Di Era
Revolusi Industri 4.0,” Jurnal Teknologi Industri Dan Rekayasa (JTIR) 1, no. 1 (2020): 43–48,
https://doi.org/10.53091/jtir.v1i1.17.

xxxv


Termasuk dalam hal ini Adalah pendidikan. Era ini ditandai dengan semakin
sentralnya Peran teknologi cyber dalam kehidupan manusia. Maka tak Heran jika
dalam dunia pendidikan muncul istilah “Pendidikan 4.0”. Pendidikan 4.0 (Education
4.0) adalah istilah umum Digunakan oleh para ahli pendidikan untuk
menggambarkan berbagai cara untuk mngintegrasikan teknologi cyber baik Secara
fisik maupun tidak ke dalam pembelajaran.

Ini adalah lompatan dari pendidikan 3.0 yang menurut Jeff Borden mencakup
pertemuan ilmu saraf, psikologi kognitif, dan Teknologi pendidikan. Pendidikan
4.0 adalah fenomena yang Merespons kebutuhan munculnya revolusi industri
keempat Dimana manusia dan mesin diselaraskan untuk mendapatkan Solusi,
memecahkan masalah dan tentu saja menemukan Kemungkinan inovas baru. Praktek
pembelajaran Pendidikan agama Islam Khususnya mulai bergeser pada tatanan
model pembelajaran Yang lebih berpusat pada peserta didik (student centered)
Sehingga guru hanya berperan sebagai fasilitator bagi peserta Didik. Dalam
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, Guru secara sadar menempatkan
perhatian yang lebih banyak Pada keterlibatan, inisiatif, dan interaksi
sosial peserta didik.

A. Model-Model Pengembangan PAI
Mengenai pengembangan PAI, sangatlah penting untuk dilakukan, namuntidak

hanya dilakukan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah saja, melainkan juga
pada tingkat pendidikan tinggi pun sudah semestinya dilakukan pengembangan-
pengembangan yang mengacu pada pola perubahan masyarakat serta kebutuhan
peserta didik atau mahasiswa.5

Berkaitan dengan pengembangan PAI, Muhaimin berpendapat bahwa :

5 Rosnaeni Rosnaeni et al., “Model-Model Pengembangan Kurikulum Di Sekolah,” Edukatif : Jurnal
Ilmu Pendidikan 4, no. 1 (2021): 467–73.

xxxi


"Pemikiran tentang pengembangan pendidikan Islam mengajak seseorang untuk
berfikir anlitis-kritis, kreatif dan inovatif dalam menghadapi berbagai praktik dan isu
aktual di bidang pendidikan untuk di kaji dan ditelaah dari dimensi fundasionalnya agar
tidak kehilangan roh atau spirit Islam". Sedangkan menurut Tafsir ialah bahwa
pengembangan pendidikan Islam harus dilakukan secara mendasar dengan menjadikan
Pendidikan keimanan dalam hal ini pendidikan Agama Islam sebagai ruh dan inti dari
semua proses pendidikan.6

A. Pengembangan PAI di Sekolah Umum

PAI di sekolah umum hanya berkedudukan sebagai mata pelajaran, jadi untuk
pengembangan PAI di sekolah umum titik tekan utamanya bisa kita lihat pada
pengembangan pendidik PAI-nya. Dibutuhkan ketelatenan, kecerdasan, serta
kekreatifan pendidik PAI supaya bisa terjadi pengembangan PAI di sekolah umum
seluas mungkin di tengah-tengah minimnya dukungan. Agar status PAI di sekolah
umum tidak hanya sebagai pemenuhan kewajiban undang-undang, maka sangat perlu
PAI di fungsikan sebagaimana mestinya sebagai suatu nilai yang dijunjung tinggi
oleh peserta didik di sekolah umum.7

B. Pengembangan PAI di Perguruan Tinggi Umum

Dalam pengembangan mata kuliah sudah seharusnya mempertimbangkan
kebutuhan dan relevansinya dengan masing-masing jurusan, sehingga nantinya
matakuliah tersebut akan menjadi sangat bermakna dan terintenalisasi dengan baik dan
benar pada diri mahasiswa. Begitu pula halnya dengan pengembangan PAI di
perguruan tinggi, haruslah menjadikan PAI bukan sebagai ilmu yang sendiri atau
terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya (dikotomi keilmuan), tetapi haruslah dapat

6 M P Dr. Hj. Sutiah, PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI TEORI DAN APLIKASINYA (NLC, 2020),
https://books.google.co.id/books?id=WpPsDwAAQBAJ.
7 Anim Purwanto, “Pengembangan Kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Di Sekolah
DasarIslam Terpadu,” Jurnal Basicedu 6, no. 1 (2021): 335–42,
https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i1.1928.

xl


menyatu dengan ilmu-ilmu lainnya dan sehingga terjadilah koneksi dan dialog antara
Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Diperlukan adanya model pengembangan Pendidikan
Agama Islam di perguruan tinggi yang notabenenya memiliki banyak jurusan dan term
keilmuan, yang nantinya dapat mengakomodir terhadap kebutuhan dan hubungan
dengan keilmuan yang dipelajari mahasiswa. Adapun ruang lingkup yang dapat
dikembangkan dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di perguruan tinggidapat
menyangkut pengembangan sistem pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
perguruan tinggi. Sehingga dengan adanya pengembangan tersebut dapat memberikan
sebuah gambaran yang utuh mengenai model Pendidikan Agama Islam di perguruan
tinggi umum.

Adapun model pengembangan Pendidikan Agama Islam yang ada di berbagai
sekolah umum dan perguruan tinggi di Indonesia, dapat kita lihat dari model-model di
bawah ini.

1. Model Dikotomis
Pada model dikotomis implikasinya terhadap pengembangan

pendidikan agama islam yang lebih berorientasi pada keakhiratan, sedangkan
untuk masalah dunia diangggap tidaklah penting, lalu model ini menekankan
pada pendalaman al-‘ulum al-diniyah (ilmu-ilmu keagamaan) yang menjadi
jalan pintas untuk menuju kebahagiaan akhirat, dan untuk sains (ilmu
pengetahuan) dianggap terpisah dari agama. Pendekatan yang diterapkan
melalui model ini yaitu lebih bersifat keagamaan yang normative, doktriner,
dan absolutis. Diharapkan peserta didik mengarahkan dirinya untuk menjadi
pelaku (actor) yang loyal (setia), serta memiliki commitment (keberpihakan),
dan dedikasi (pengabdian) yang sangat tinggi kepada agama yang dipelajari.
Sedangkan adanya kajian-kajian ilmu yang bersifat empiris, rasional, dan
analitis-kritis dianggap menggoyahkan iman.8

8 Tarbiya Islamica, “PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,” Jurnal
Keguruan DanPendidikan Islam 1 (2020): 9–22.

xli


2. Model Mekanisme
Pada model mekanisme ini lebih memandang ke berbagai aspek- aspek,

dan pendidikan dipandang sebagai pengembangan seperangkat nilai kehidupan
yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya.Aspek-aspek
ataupun nilai-nilai kehidupan tersebut terdiri atas nilai agama, nilai individu,
nilai social, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional, nilai estetik, nilai
biofisik, dan lain-lainnya. Model mekanisme PAI ini lebih menekankan
keluwesan antara nilai umum dan nilai agama, maka model ini boleh berbaur
menjadi satu namun juga bisa juga tidak sama sekali.
3. Model Organism/Sistemik

Pada model ini, dalam konteks pendidikan islam sebenarnya bertolak
dari pandangan bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu sistem terdiri
dari komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara
terpadu menuju tujuan tertentu, yaitu dengan terwujudnya hidup yang reiligius
dan dijiwai oleh ajaran-ajaran serta nilai-nilai agama. Melalui model ini
diharapksn sistem pendidikan agama islam dapat mengintegrasikan nilai-nilai
ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan
manusia-manusia yang menguasai dan menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan,
teknolog, dan seni, serta memiliki kematangan professional dan sekaligus hidup
di dalam nilai-nilai agama.

Adapun model pembelajaran PAI berbasis multikultular yaitu lebih
kepada mengharuskan proses pembelajarannya berlangsung secara efektif
melalui pengajaran efektif (effective teaching) dan belajar aktif (active
learning) dengan memperhatikan keragaman agama para peserta didik.
Mengajarkan tentang agama melibatkan pendekatan kesejarahan dan
perbandingan, sedangkan mengajarkan agama pendekatannya indoktrinasi
dogmatik. Dengan adanya model ini diharapkan peserta didik menjadi aktif
mencari, menemukan, dan mengevaluasi pandangan keagamaan nya sendiri
dengan membandingkannya dengan pandangan keagamaan peserta didik

xlii


lainnya. Diharapkan juga melalui model ini, peserta didik menjadi tumbuh
sikap toleransinya, tidak menghakimi, dan melepaskan diri dari sikap fanatik
berlebihan.9

3. Tujuan Pengembangan PAI
Tujuan dari perencanaan pembelajaran yakni sebagai pedoman guru

dalam melaksanakan praktek mengajar. Dengan demikian apa yang
dilakukan guru pada waktu mengajar bersumber kepada perencanaan
pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Rencana pembelajaran harus
memperhatikan minat dan perhatian peserta didik terhadap materi
standar yang dijadikan bahan kajian. Dalam hal ini, harus diperhatikan
agar guru jangan hanya berperan sebagai transformator, tetapi harus
berperan sebagai motivator yang dapat membangkitkan gairah belajar,
serta mendorong peserta didik untuk belajar, dengan menggunakan
berbagai variasi media, dan sumber belajar yangsesuai, serta menunjang
pembentukankompetensi dasar.10

Dalam konteks pembelajaran PAI, perencanaan sistem
pembelajaran PAI adalah suatu pemikiran persiapan untuk melaksanakan
tujuan pengajaran melalui langkah-langkah dalam pembelajaran yang
menjadi suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang
saling berinteraksi, saling terkait,atau saling bergantung membentuk
keseluruhan yang kompleks menjadi kombinasi yang tersusun meliputi
unsur-unsurmanusiawi,material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang
saling

9 Muslih Qomarudin, “Model Pengembangan Kurikulum PAI Multikultural,” Al-I’tibar : Jurnal
Pendidikan Islam 6, no. 2 (2019): 98–101, https://doi.org/10.30599/jpia.v6i2.647.
10 Tatang Hidayat and Makhmud Syafe’i, Peran Guru Dalam Mewujudkan Tujuan
PembelajaranPendidikan Agama Islam Di Sekolah, Rayah Al-Islam, vol. 2, 2018,
https://doi.org/10.37274/rais.v2i01.67.

xliii


mempengaru hiuntuk mencapai tujuan pembelajaran PAI. Tujuan dan

merumuskan serta mengaturpendayagunaan sumber-sumber daya:

informasi, finansial, metode dan waktu yangdiikuti dengan pengambilan

kepustusan serta penjelasannya tentang pencapaian tujuan,penentuan

kebijakan, penentuan program, penentuan metode- metode dan

prosedurtertentu dan penentuan jadwal pelaksanaan program.

Pembelajaran PAI bertujuan untuk meningkatkan pemahaman,

keimanan,penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama

Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa

kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ālā, serta berakhlak mulia dalam

kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Meskipun tujuan

pembelajaran PAI belum terlaksana dengan ideal, namun setidaknya

upaya ke arah sana sudah dilakukan. Oleh karena itu, mesti ada

upaya alternatif yang dilakukan guru PAI dalam mewujudkan pembelajaran

PAI yang orientasinya bukan hanya di kelas.

Berangkat dari hal ini, maka mesti ada metode laindalam
mewujudkan tujuan pembelajaran PAI supaya lebih efektif, salah
satunya dengan metode riyadoh atau latihan dalam melakukan berbagai
ibadah seperti shalat dhuha, membaca Alquran, melantunkan kalimat-
kalimat thoyyibah, dibiasakan membaca hadis dan intinya bagaimana
di sekolah tersebut ada rekayasa untuk menciptakan suasana religius yang
tentunya harus melibatkan semua elemen yang ada di sekolah. 11

11 Noemi Sinkovics, Samia Ferdous Hoque, and Rudolf R. Sinkovics, “Supplier Strategies and
Routinesfor Capability Development: Implications for Upgrading,” Journal of International
Management 24, no. 4 (2018): 348–68, https://doi.org/10.1016/j.intman.2018.04.005.

xliv


Maka dari itu, disinilah peran guru PAI mesti menonjol
di sekolah, karena pendidikan di sekolah saat ini tengah kehilangan
sosok figur, salah satunya sosok figure guru PAI. Dengan demikian,
guru PAI mesti menjadi sosok figur dan rujukan peserta didik di
sekolah dalam masalah apapun. Tatkala guru PAI sudah menjadi sosok
figur, maka mata pelajaran PAI akan disenangi peserta didik daripada
mata pelajaran lainnya. Dengan demikian, masuk mata pelajaran PAI
tidak membosankan lagi, justru mata pelajaran PAI akan ditunggu-tunggu
oleh peserta didik, dan itu tidak terlepas dari peran guru PAI yang
menjadi sosok figur dan teladan di sekolahnya.

Evaluasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam harus
dilakukan komprehensif dan terintegrasi. Kedudukan evaluasi sangat
penting dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam,karena evaluasi
menempati posisi yang sangat sentral untukmengetahui keberhasilan
proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efektivitas
dan efisiensi pembelajaran yangdilakukan, fungsinya untuk mengetahui
kapasitas pendidik dan peserta didik, sehingga bisa dilakukan perbaikan
jika memang ditemukan ada faktor yang belum optimal dalam proses
pembelajaran. Kegunaan evaluasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Islam untuk perbaikan, penyesuaian, dan penyempurnaan program
berdasarkan pengalaman pendidik yang didapatkan dilapangan.
Prinsipnya harus kontinuitas, komprehensif, terintegrasi, adil, objektif,
kooperatif, praktis, koherensi, dan akuntabilitas.

xlv


4. Peran Pentingnya Pengembangan PAI

Pengembangan PAI dalam rangka pencapaian Indonesia menjadi
negara maju merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam sistem pendidikan
nasional. Dengan penduduk mayoritas Muslim, Indonesia tidak dapat
dipisahkan dari budaya Muslim, khususnya dalam hal pendidikan Islam.
Diasumsikan bahwa pendidikan, termasuk pendidikan Islam, berperan besar
dalam terwujudnya peradaban bangsa yang setinggi-tingginya. 13 Ditinjau dari
tinjauan sejarah, ternyata dinamika pendidikan Islam bekerja dengan luarbiasa.
Sejak lahir hingga dewasa, terdapat masa-masa kemajuan dalam pendidikan
Islam. Dimana, pada masa kejayaan pendidikan Islam, lahirlah ilmuwan-
ilmuwan besar yang berpengaruh di negeri ini. Bahkan, ia juga memiliki
pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan Barat modern. meskipun, Setelah itu, karena lemahnya daya
intelektual dan gagasan “pembangunan”, pendidikan Islam memasuki masa
kemunduran. Baru pada awal abad ke-20 tanda-tanda semangat renaisansdalam
pendidikan Islam akhirnya muncul, berkat beberapa perkembanganyang terjadi
selama ini.

Pada hakekatnya pengembangan PAI diperlukan bagi umat Islam dan
bangsa Indonesia untuk menghasilkan generasi yang unggul. Yakni, berprestasi
sesuai dengan bidang kecerdasannya masing-masing, misalnyadalam bidang
sosial atau alam. Melalui perkembangan ini, PAI dapat mengangkat kejayaan
(kemajuan) pendidikan Islam. Tentu saja, semangatilmiah dan intelektualitas
meningkat, dan hasilnya bisa menjadi pelajaran. Satu untuk komunitas lain.
Berdasarkan hal tersebut, PAI akan terus menghasilkan ilmuwan yang mampu
menciptakan ilmu pengetahuan dan

13 M P I Rahmat, Pendidikan Agama Islam Multidisipliner Telaah Teori Dan Praktik Pengembangan
PAIDi Sekolah Dan Perguruan Tiggi, Pertama (LKiS, 2017),
https://books.google.co.id/books?id=3NrrDwAAQBAJ.

xlvi


teknologi berbasis Islam. Salah satu fungsinya adalah untuk menyeimbangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi sekuler yang pergerakannya semakin liar.
Dalam arti, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekuler telah
meningkatkan potensi dehumanisasi.14 Selain itu, PAI ke depan dapat
menciptakan situasi sosial politik khususnya di Indonesia yang lebih kondusif
bagi keamanan, perdamaian, keadilan, pengentasan kemiskinan dan
kesejahteraan.

Secara lebih rinci, perkembangan PAI di semua jenjang dan bentuk
pendidikan Islam menjadi semakin relevan. Padahal, ada beberapa masalah
yang tidak dapat diatasi yang perlu ditangani belakangan ini. Misalnya, yang
pertama adalah isu politik seperti korupsi, kebijakan moneter, nepotisme,
kecurangan pemilu dan daerah, dan pengurus partai yang hanya peduli pada
golongan tertentu. Dua masalah ekonomi antara lain kesenjangan antara kaum
miskin dan borjuis, minimnya kesempatan kerja, dan kurangnya semangat
pemuda untuk berwirausaha. Tiga masalah sosial sosial tersebut antara lain seks
bebas dan seks menyimpang, maraknya merokok di kampus, mutilasi,
kekerasan pra-terorisme, dan ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan.

KeempatPermasalahan keilmuan terletak pada minimnya pengetahuan
umum para ilmuwan yang menghayati agamanya dalam penciptaan teknologi,
minimnya kreasi yang dapat bermanfaat bagi kemajuan bangsa, dan masih
adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kelima, masalah
“gesekan” antar ormas Islam yang berujung pada fenomena negatif, seperti
perbedaan pendapat. Dan gesekan harus dapat mengarah pada hal yang positif,
yaitu dalam rangka persaingan dalam bidang kebaikan dan ketakwaan.Di mana
lagi energi umat Islam dihabiskan untuk "perjuangan" dengan umat Islam itu
sendiri. Namun, berlomba-lomba dalam mengembangkan ilmu agar

14 M P Dr. M. Hadi Purnomo, Pendidikan Islam: Integrasi Nilai-Nilai Humanis, Liberasi
DanTransendensi Sebuah Gagasan Paradigma Baru Pendidikan Islam (Absolute Media,
2020),https://books.google.co.id/books?id=-lkAEAAAQBAJ.

xlvi


bisa bermanfaat bagi umat Islam khususnya dan tentunya
masyarakat Indonesia lainnya.15

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa
pengembangan PAI merupakan salah satu bentuk nyata
dukungan terhadap perkembangan budaya di masyarakat.
Artinya, sudah berkali-kali ditekankan bahwa PAI harus
berkontribusi pada penciptaan budaya yang lebih tinggi. Yakni,
salah satunya adalah budaya yang bercirikan ilmu yang aktif
berkembang, mencintai dunia, bekerja dan mengabdi kepada
masyarakat, inspiratif. Anggapanperkembangan budaya (dalam
bidang apapun) tidak akan lepas dari perkembangan budaya
dalam bentuk atau wilayah lain dalam masyarakat. Kedua budaya
tersebut berupa “gagasan atau gagasan” seperti penggunaan
bahasa dalam komunikasi, dan juga berupa “benda” seperti
teknologi berupa telepon genggam. Dengan kata lain,
perkembangan PAI terjadi karena dipengaruhi oleh peristiwa
budaya lain, begitu pula sebaliknya. Sebagai contoh,
menyebarkan budaya “literasi” teknologi informasi
memungkinkan generasi muda memperoleh informasi dengan
cepat dan mudah. Untuk itu diperlukan pengembangan PAI
berbasis teknologi informasi. Di sisi lain, dengan
berkembangnya PAI berbasis teknologi informasi, dapat
menginspirasi para pakar teknologi informasi dan ilmuwan
terkait dengan semangat untuk menciptakan perangkat dan
sumber belajar PAI yang canggih.

Dari semua hal di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa
pengembangan PAI adalah gagasan yang tidak bertentangan
dengan nilai-nilaiIslam. Kalaupun dilakukan secara konsisten
(masih berlandaskan Al-Qur'an

xlvi
15 S.P.I.M.P.I. Dr. Hasruddin Dute and M A Dr. M. Zainul Hasani Syarif,
Pembelajaran PendidikanAgama Islam Dalam Masyarakat Pluralistik


MAKALAH VI

PENYUSUNAN BAHAN AJAR
1. Pengertian Penyusunan Bahan Ajar PAI
Penyusunan merupakan suatu proses, cara, perbuatan dan juga menyusun. Menurut
Kamus Bahasa Indonesia yang dikutip oleh Misnardi menjelaskan pengertian
penyusunan, yaitu “Kata penyusunanberasal dari kata dasar susun yang artinya kelompok
atau satu kumpulan yang tidak terlalu banyak, sedangkan pengertian dari penyusunan
adalahsuatu kegiatan memproses suatu data atau kumpulan data yang dilakukan oleh
suatu individu, organisasi atau lembaga secara baik, tersusun dan teratur.”3
Pengertian bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar dapat juga diartikan sebagai bahan yang harus
dipelajari oleh peserta didik sebagai sarana untuk melakukan kegiatan belajar. Di dalam
bahanajar terdapat segala sesuatu yang berupa materi tentang pengetahuan, keterampilan
dan juga sikap yang harus dicapai oleh para peserta didik terkait suatu kompetensi dasar
tertentu. Bahan ajar adalah segala sesuatuyang digunakan oleh guru dan juga para peserta
didik untukmemudahkan kegiatan belajar dan mengajar. Bentuknya bisa berupa buku
bacaan, buku LKS, modul, ada juga yang berupa buku online ataubahan ajar digital,
tayangan edukasi, pembicaraan secara langsung antara guru kepada para peserta didik,
perintah-perintah yang diberikanoleh guru, tugas tertulis dan juga bahan diskusi antar
murid yangdilakukan secara berkelompok. Dengan demikian, bahan ajar dapat berupa
banyak hal yang dipandang dapat untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para
peserta didik.4
Dari pengertian tersebut dapat disimpukan bahwa penyusunan bahan ajar adalah suatu
kegiatan dalam memproses segala sesuatu yang

3 Misnardi. (2021), Evaluasi Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa, h. 324.
4 Dr. E. Kosasih. (2020), Pengembangan Bahan Ajar, Jakarta: Bumi Aksara, h. 1.

xlix


digunakan oleh guru dan juga para peserta didik untuk memudahkan kegiatan belajar dan
mengajar. Bahan ajar disusun harus sesuai dengantujuan atau sasaran pembelajaran yang
hendak dicapai. Penyusunan bahan ajar secara umum dapat dilakukan melalui tiga cara,
yaitu menulisnya sendiri, mengemas kembali atau mendaur ulang bahan ajar yang sudah
ada ataupun informasi dan teks baik secara langsung maupun digital, serta penataan
informasi dengan baik dan teratur. 5
Bahan ajar harus disusun sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan bahan ajar yang
terstruktur. Beberapa konsep penyusunan bahan ajar, yaitu sebagai berikut:

a. Bahan ajar harus disesuaikan dengan para peserta didik yang sedah
mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.

b. Bahan ajar diharapkan bisa mengubah tingkah laku serta akhlak para
peserta didik menjadi lebih baik lagi.

c. Bahan ajar yang disusun harus sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik diri setiap para peserta didik.

d. Program kegiatan belajar mengajar yang akan dilaksanakan.
e. Di dalam bahan ajar harus ada tujuan dari kegiatan pembelajaran

secara spesifik yang harus dicapai.
f. Untuk mendukung tercapainya tujuan, di dalam bahan ajar harus

terdapat materi pembelajaran secara rinci, baik untuk kegiatan
maupun latihan pembelajaran.
g. Terdapat evaluasi sebagai umpan balik dan alat untuk mengukur
tingkat keberhasilan para peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran.6
2. Syarat Penyusunan Bahan Ajar
Bahan ajar yang baik harus dapat memenuhi tuntutan kurikulumyang berisi kompetensi-
kompetensi yang ditentukan. Mbulu &

5 Magdalena, Ina. dkk. (2020) Analisis Bahan Ajar, Nusantara Jurnal Pendidikan Dan IlmuSosial
Volume 2, Nomor 2, h. 311.
6 Chomsin S. Widodo, Jasmadi. (2018) Panduan Menyusun Bahan Ajar BerbasisKompetensi, Jakarta:
PT. Elex Media Komputindo, h. 42.

l


Suhartono, yang dikutip dari Saputra menyebutkan syarat-syaratpenyusunan bahan
ajar, yaitu:

a. Memberikan orientasi terhadap teori, penalaran teori, dan cara-cara
penerapan teori dalam praktik

b. Memberikan latihan terhadap pemakaian teori dan aplikasinya.
c. Memberikan umpan balik kebenaran latihan itu.
d. Menyesuaikan informasi dan tugas sesuai tingkat awal masing-

masing peserta didik.
e. Membangkitkan minat peserta didik.
f. Menjelaskan sasaran belajar kepada peserta didik.
g. Meningkatkan motivasi peserta didik.
h. Menunjukan sumber informasi yang lain.7
3. Tujuan dan Manfaat dalam Penyusunan Bahan Ajar
a. Tujuan penyusunan bahan ajar
Dalam penyusunan bahan ajar memiliki tujuan antara lain:

1) Dengan adanya penyusunan bahan ajar keberlangsungan dalam
kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan lebih mudah
di pahami oleh para peserta didik dengan berbagai macam
sumber refernsi.8

2) Sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil
pembelajaran.

3) Memudahkan dalam mempelajari setiap kemapuan yang harus
bisa di kuasai untuk meningkatkan kemampuan dalam mengajar.

4) Para peserta didik memiliki kesempatan untuk belajar secara
mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran
guru.9

7 Saputra, Mochammad Ronaldy Aji. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Berbasis WEB. Solo:
Yayasan Lembaga Gumun Indonesia (YLGI). h. 14
8 Hernawan, A. H., Permasih, H., & Dewi, L. (2012). Pengembangan bahan ajar. DirektoratUPI, Bandung,
4(11), h. 1-13
9 Zukhaira, Z., & Hasyim, M. Y. A. (2014). Penyusunan Bahan Ajar Pengayaan BerdasarkanKurikulum 2013
dan Pendidikan Karakter Bahasa Arab Madrasah Ibtidailyi ah. Rekayasa: Jurnal Penerapan Teknologi dan
Pembelajaran, 12(1), h.79-90


Adapun tujuan Penyusunan Bahan Ajar menurut Prastowo (2015: 26-27) menyebutkan
empat hal pokok tujuan pembuatan bahan ajar, yaitu:

1) Membantu peserta didik dalam mempelajari sesuatu.
2) Menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar, sehingga

mencegah timbulnya rasa bosan pada peserta didik.
3) Memudahkan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran.
4) Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.10
b. Manfaat penyusunan bahan ajar
Penyusunan bahan juga tentu memiliki manfaat tersendiri antara lain:
1) Membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.11
2) Kesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi

ketergantungan terhadap kehadiran guru
3) Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi

yang harus dikuasainya.
4) Memberi tambahan pengetahuan tentang manfaat dan

pentingnya penyusunan bahan ajar pengayaan agar
meningkatkan kualitas pembelajaran.
5) Membantu para guru dalam menyusun bahan ajar pengayaan
dengan baik.
6) Meningkatkan kualitas pedagogik atau pengajaran guru-guru
sesuai dengan kemampuannya khususnya kompetensi dalam
menyusun bahan ajar yang tepat, sesuai kriteria atau standar.12
4. Langkah-Langkah dalam Penyusunan Bahan Ajar
Membuat bahan ajar adalah kesulitan tersendiri bagi banyak pendidik dan guru, dimana
hal ini disebabkan karena dua hal, pertama

10 Saputra, Mochammad Ronaldy Aji. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Sejarah BerbasisWEB. Solo:
Yayasan Lembaga Gumun Indonesia (YLGI). h. 13
11 Susilo, J. dkk. (2018). Desain Bahan Ajar Teks Deskripsi untuk Siswa SMP Kelas VII,Cirebon: FKIP
Unswagati Cirebon. h. 6
12 Hakim, D. L. Pelatihan Pembuatan Bahan Ajar Matematika Media Prezi. UNES Journalof Community
Service, 2. 2017. h. 157-163.

lii


para pendidik belum mempunyai pengalaman menyusun bahan ajar atau pengalaman
mengikuti pelatihan pembuatan bahan ajar, dan yang kedua terbatasnya sumber atau
referensi tentang bagaimana membuat atau menyusun bahan ajar.13
Ketika membuat atau menyusun bahan ajar, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan
oleh pendidik (pengembang), yaitu:

a. Menganalisis Kurikulum
Analisis ini diartikan untuk mengidentifikasi kompetensi yang dijelaskan pada kurikulum
dalam hubungannya dengan kebutuhan bahan/materi ajar. 14 Pada Kurikulum 2006
(KTSP), telahdijelaskan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD); sedangkan
pada Kurikulum 2013, telah dijelaskan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD).
Pendidik selanjutnya perlu menguraikan setiap KD menjadi indikator pencapaian
kompetensi (IPK), melengkapi materi pembelajaran dan materi pokok, serta memilih
pengalaman belajar yang relevan. Berdasarkan komponen- komponen tersebut,
selanjutnya ditetapkan bahan ajar yang relevanuntuk dikembangkan.

b. Menganalisis Sumber Belajar
Sumber belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mengandung informasi yang
berhubungan dengan ilmu pengetahuandan teknologi yang dapat digunakan dalam proses
belajar mengajar. Sumber belajar dapat berupa lingkungan yang relevan dengan materi
pembelajaran, bahan ajar, benda atau orang yang menguasai atau memiliki informasi yang
dapat mendukung pembelajaran.
Sumber belajar adalah berbagai atau semua sumber baik yang berupa data, metode, media,
orang, tempat berlangsungnya pembelajaran, yang digunakan oleh peserta didik demi
memudahkan

13 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. (2020). Perencanaan Pembelajaran. Depok: PtRajaGrafindo
Persada. h. 294.
14 Widyastuti, Ana., dkk. (2021). Perencanaan Pembelajaran. Medan: Yayasan kita menulis,
h. 28.

liii


dalam belajar.15 Sumber belajar juga dapat diartikan sebagai segala tempat atau

lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandunginformasi dapat digunakan sebagai

wahana bagi peserta didik untukmelakukan proses perubahan tingkah laku.

Pada tahap kedua ini diidentifikasi ketersediaan sumber belajar yang tersedia dan yang

dapat mendukung pembelajaranuntuk materi pembelajaran yang telah dirumuskan. Dari

hasil identifikasi terhadap sumber belajar yang tersedia tersebut dianalisisaspek relevansi,

yakni berkaitan dengan kesesuaian sumber belajar dengan materi pembelajaran, dan aspek

praktikabilitas, yang berkaitan dengan apakah sumber belajar tersebut dapat atau mudah

digunakan dalam pembelajaran. Dalam kaitan dengan penyusunan bahan ajar, dilakukan

analisis mengenai:

1) Ketersediaan bahan ajar;

2) Kesesuaian bahan ajar yang tersedia dengan kurikulum;

3) Kesesuaian bahan ajar dengan lingkungan di sekitar peserta

didik (aspek kontekstual);

4) Kecukupan, berkaitan dengan cakupan dan kedalaman sajian

pada bahan ajar yang ada;

5) Kemungkinan penggunaan bahan ajar yang tersedia tersebut.

6) Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik.

c. Menetapkan Jenis Bahan Ajar

Pada tahap kedua akan diperoleh hasil analisis mengenaiaspek ketersediaan,

relevansi, dan praktikabilitas dari sumberbelajar, terutama bahan ajar. Apabila

bahan ajar yangtersedia memenuhi aspek

relevansi dan praktikabilitas, maka bahanajar tersebut dapat digunakan dalam

proses belajarmengajar/pembelajaran. Adapun

sebaliknya, jika bahan ajar yangtersedia tidak memenuhi aspek tersebut, maka

pendidik perlu

15 Samsinar, S. (2020). Urgensi learning resources (sumber belajar) dalam meningkatkankualitas
pembelajaran. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(2), h. 196.

liv


mengembangkan bahan ajar. Dari analisis kurikulum pada tahap pertama, diperoleh
beberapa bahan ajar yang perlu dikembangkan; pada tahap ketiga ini, ditetapkan jenis
bahan ajar yang akan dikembangkan oleh pendidik.

d. Pengorganisasian Materi Pembelajaran
Tahap ini merupakan tahap menjabarkan dan menetapkan materi pembelajaran yang akan
dibahas didalam proses pembelajaran atau belajar mengajar. Materi pembelajaran
dijabarkan dari kompetensi dasar pada KI 3 dan KI 4. Selanjutnya dari indikator yang
diturunkan mengacu pada kompetensi dasar, dirumuskan materi pembelajaran yang
selanjutnya disusun secara terstruktur dengan tetap memerhatikan keterkaitan antar materi
pembelajaran.

e. Menetapkan Struktur Bahan Ajar
Dalam penyusunan bahan ajar cetak perlu diperhatikan struktur, karena masing-masing
bahan ajar cetak mempunyai struktur yang berbeda. Struktur bahan ajar adalah salah satu
ciri ataukarakteristik yang membedakan antara satu jenis bahan ajar denganjenis yang
lain. Sebagai contoh, pada modul harus terdapat petunjuk belajar, informasi pendukung,
dan tugas; sedangkan pada buku yang ketiga komponen tersebut tidak perlu ada.
Lebih detail, struktur masing-masing jenis bahan ajar cetak disajikan pada tabel berikut:

16

No Komp Hand Buku Buku Mo LK Bros Lea

onen -Out Teks Ajar dul PD ur flet

1. Judul       

2. Petunj - -   --

uk

16 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. Perencanaan Pembelajaran...h. 295-297

lv


Belaja

r

3. Rumus -

an     
Komp

etensi

4. Inform -

asi     
Pendu

kung

5. Uraian       
Materi

6. Latiha - ±   -- -
n

7. Tugas - - ± --

Langk 
ah

Kerja

8. Penilai - - ±    
an

f. Mengumpulkan dan Mempelajari Referensi

Referensi merupakan bagian penting dalam penulisan bahanajar, juga dalam

melaksanakan pembelajaran.17 Ketersediaanreferensi yang lengkap dan komprehensif

akan memberikan kontribusi yang lebih besar pada kelengkapan penyajian bahan ajar.

Pada langkah atau tahap ini, penyusun atau penulis bahan ajarmengumpulkan berbagai

referensi yang diperlukan sebagai bahanacuan didalam penulisan atau penyusunan.

17 Aisyah, S., Noviyanti, E., & Triyanto, T. (2020). Bahan Ajar Sebagai Bagian Dalam KajianProblematika
Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Budaya Indonesia, 2(1). h. 63.
18 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. Perencanaan Pembelajaran...h. 296-297.

lvi


yang dikumpulkan tersebut dapat berupa buku teks, jurnal ilmiah, buku referensi, laporan
hasil penelitian, buletin, majalah, dan sebagainya. Adapun beberapa hal yang perlu
diperhatikan berkaitandengan pemilihan referensi, antara lain:

1) Relevan dengan materi pembelajaran yang telah diidentifikasi
pada tahap keempat.

2) Terkini, yakni referensi yang menyajikan informasi terbaru.
g. Mulailah Menulis
Bahan ajar dapat ditulis sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan guru juga dapat
berkolaborasi secara kelompok dengan guru lain untuk menulis bahan ajar. Pada langkah
ini, kita mulai melengkapi atau mengisi struktur bahan ajar dengan deskripsi yang
relevan.19 Penguraian materi pelajaran harus mengacu pada hasil pengorganisasian materi
pembelajaran. Hal ini penting untuk menjamin uraian materi sistematis dan terstruktur.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada langkah ini, diuraikan sebagai berikut:

1) Cakupan dan kedalaman materi yang dideskripsikan atau
diuraikan harus menjamin pencapaian kompetensi yang telah
dirumuskan.

2) Akurasi materi penting sekali diperhatikan. Kesalahan dalam
menyajikan fakta, prinsip, konsep, atau prosedur akan berakibat
fatal; peserta didik atau siswa akan memiliki pemahaman yang
salah berkaitan dengan materi tersebut.

3) Sajian materi pembelajaran harus juga memperhatikan
pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam
kaitannya hal ini, uraian materi dapat dilengkapi dengan
aktivitas eksplorasi atau aktivitas pemecahan masalah yang
dapat mendorong dan mengembangkan proses berpikir kritis

19 Magdalena, I., Sundari, T., Nurkamilah, S., Nasrullah, N., & Amalia, D. A. (2020). Analisisbahan ajar.
Nusantara, 2(2). h. 324.

lvii


peserta didik. Pada bagian soal latihan, perlu pula dilengkapi dengan soal-soal pada level
analisis, sintesis, dan evaluasi.

4) Sajian materi sebaiknya dibuat menarik dan memotivasi siswa
atau peserta didik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan
melibatkan aktivitas yang menarik, menyajikan konteks lokal di
sekitar peserta didik, menyajikan contoh yang berhubungan
dengan wacana atau isu yang sedang populer, menyajikan
ilustrasi, dan sebagainya.

5) Perhatikan bahasa yang digunakan dalam bahan ajar yang
ditulis. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang semi-formal,
komunikatif, serta sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir
dan perkembangan sosial peserta didik.

6) Hindari terjadinya plagiarisme dalam bahan ajar, dimana setiap
kutipan harus disertai dengan menuliskan sumber kutipan
tersebut.

7) Untuk setiap konsep atau teori yang dikutip dari sumber tertentu
sebaiknya dilengkapi dengan penjelasan lebih lanjut atau hasil
elaborasi penulis.20

5. Evaluasi Dalam Penyusunan Bahan Ajar
Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenap apa dan bagaimana melakukan
evaluasi terhadap penyusunan bahan ajar. Untukmengevaluasi penyusunan bahan ajar
cetak, pastinya harus diawalidengan penyusunan bahan ajar cetak seperti modul, buku,
diktat maupunbahan baku ajar cetak lainnya.
Salah satu hal yang sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan aktifitas
pembelajaran PAI adalah melakukan evaluasi terhadap penyusunan bahan ajarnya.21
Bahan ajar PAI, sebagaimana bahan ajar mata pelajaran yang lain, ada yang berbentuk
cetak dan ada

20 Rantumanan, T. G., & Rosmianti, Imas. Perencanaan Pembelajaran...h. 298.

21 Hilmi, H. (2021). Evaluasi Bahan Ajar Cetak Bahasa Arab untuk Tingkat MadrasahAliyah.

Intelektualita, 9(02). h. 93-108 lviii


pula yang berbentuk non cetak. Bahan ajar PAI yang berbentuk cetak antara lain, yaitu
buku PAI, modul, handout dan lain-lain. Sedangkan bahan ajar PAI yang berbentuk non
cetak antara lain radio yang berhubungan dengan PAI, kaset rekaman, video dan lain-
lain.22
Kemampuan menyusun bahan ajar cetak tidak muncul dengan begitu saja pada saat anda
mempelajari modul tentang penyusunan bahan ajar cetak. Yang pertama harus dipahami
dalam penyusunan bahan ajar adalah faktor dan prosedur penyusunan bahan ajar dan
setelah itu dapat dikembangkan dari evaluasi penyusunan bahan ajar. Bahan ajar yang
disusun secara efektif dan informatif tetap diperlukan adanya evaluasi penyusunan bahan
ajar agar bisa menjadi bahan ajar yang sempurna dan dapat dipahami dengan mudah oleh
para peserta didik.

lix


MAKALAH VII
KARAKTERISTIK BAHAN AJAR PAI

a) Pengertian Bahan Ajar PAI

Bahan ajar diartikan sebagai bahan-bahan atau materi pembelajaran
yang disusun secara sistematis berdasarkan kaidah pembelajaran yang
digunakan guru untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran.
Bahan ajar yang di maksud di sini bukan hanya buku,modul tapi juga
dalam bentuk lain.Sebagaimana kita ketahui bahwa bahan ajar merupakan
salah satu hal yang sangat penting dalam proses pencapaian tujuan
pembelajaran.

Menurut Widodo dan Jasmadi dalam buku (Lestari,2013) menyatakan
bahwa bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang
berisikan materi pembelajaran, metode-metode, batasan-batasan dan cara
mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka
mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi dan
subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.1

Bahan ajar PAI adalah segala bentuk bahan yang di gunakan untuk
membantu memudahkan guru atau pengajar PAI dalam melaksanakan
pembelajaran. Atau dalam kata lain, dapat kita simpulkan bahwa bahan
ajar PAI adalah seperangkat sarana atau alat dalam pembelajaran yang
berisikan materi-materi pembelajaran PAI, beserta dengan metode yang
disusun secara sistematis dan menarik.

Bahan ajar PAI juga merupakan sebuah sarana atau alat yang berisikan
informasi, teks mengenai seputar materi PAI yang diperlukan guru PAI
untuk dijadikan bahan perencanaan dan penela’ahan serta implementasi
pembelajaran. Adapun jenis-jenis bahan ajar PAI adalah sebagai berikut:

1 Magdalena dkk., “ANALISIS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR,” 171.

lx


1. Bahan ajar cetak (visual), yaitu sejumlah bahan yang disiapkan
dalam kertas yang berfungsi memberikan informasi untuk
keperluan dalam pembelajaran. Contohnya seperti modul, buku,
brosur, dan lembar kerja siswa.

2. Bahan ajar dengar (audio), yaitu semua sistem yang
menggunakan sinyal radio secara langsung yang dapat
dimainkan atau didengar. Contohnya seperti radio, kaset,
piringan hitam, dan CD audio.

3. Bahan ajar dengar-pandang (audio visual), yaitu kombinasi
antara gambar dan suara. Contohnya seperti video atau film.

4. Bahan ajar Interaktif (interactive teaching materian), yaitu
kombinasi antara dua media atau lebih () yang dimanipulasi oleh
penggunanya atau diberi perlakuan dalam mengendalikan suatu
perintah atau perilaku alami dari suatu presentasi. Contohnya
seperti CD, Computer Based, dan Internet.

b) Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam merupakan upaya sadar dan terencara dalam
menyiapkan peserta didiknya dalam mengenal, memahami, menghayati,
juga mengimani, ajaran agama Islam dengan dibarengi adanya tuntutan
untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan
kerukunan antar umat beragama, sehingga terwujudnya kesatuan dan
persatuan bangsa.

Menurut Zakiyah Darajat berpendapat pendidikan agama Islam adalah
suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa
dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan,
yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai
pandangan hidup.2

Jadi, dapat disimpulkan dari pernyataan diatas bahwa Pendidikan
Agama Islam (PAI) adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seorang

2 Rahayu, “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PAI DI SEKOLAH/ MADRASAH,” 20.

61


pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didiknya untuk meyakini,
memahami, dan mengamalkan ajaran Islam dengan cara kegiatan
bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan dalam
mencapai tujuan yang diharapkan.

c) Karakteristik Bahan Ajar PAI

Dalam pengembangan bahan ajar di sekolah guru perlu memperhatikan
juga dari segi karakteristik dan kebutuhan siswanya kemudian di buat
sesuai dengan tuntutan kurikulum, dimana proses pengembangan bahan
ajar ini menuntut pertisipasi dan aktivasi siswa lebih dominan dalam
pembelajaran.

Selain itu, dalam pengembangan bahan ajar guru juga di tuntut untuk
paham mengenai bahan ajar. Bahan ajar sendiri memiliki lima karakteristik
yang menjadi ciri khas dari suatu bahan ajar, adapun penjabaran dari
kelima krakteristik tersebut adalah sebagai berikut.

a. Karakteristik bahan ajar Self Intructional, yaitu bahan ajar dapat
membuat siswa mampu membelajarkan diri sendiri dengan
bahan ajar yang dikembangkan. Oleh karena itu,didalam bahan
ajar harus memiliki tujuan yang dirumuskan dengan jelas dan
memberikan materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-
unit atau kegiatan yang lebih spesifik.

b. Karakteristik bahan ajar Self Contained, yaitu seluruh materi
pelajaran dari satu unit kompetensi atau subkompetensi yang
dipelajari terdapat di dalam satu bahan ajar secara utuh.

c. Karakteristik bahan ajar Stand Alone (berdiri sendiri) yaitu
bahan ajar yang dikembangkan tidak tergantung pada bahanajar
lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan
ajar lain.

d. Karakteristik bahan ajar Adaptive, yaitu bahan ajar hendaknya
memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu
dan teknologi

62


e. Karakteristik bahan ajar User Friendly, yaitu setiap instruksi
dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan
bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai
dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan.3

Perubahan kebijakan mengenai kurikulum 2013 tentang Pendidikan
Agama Islam dan bahasa Arab terjadi perubahan dikarenakan berbagai
faktor yang mempengaruhi. Diantaranya faktor internal yaitu: Pokok dari
tujuan pendidikan agama Islam belum tercapai yaitu mengesakan Tuhan
Yang Maha Esa dan berakhlakul karimah, Pembelajaran PAI hanya
sebatas teori yang dimana murid belum mampu untuk mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai agama yang belum menjadi
substansi. Dari hal-hal tersebut diharapkan pembelajaran pendidikan
agama Islam dapat memberikan murid untuk memiliki cara pandang yang
luas, sikap toleransi yang tinggi dan bersikap religius holistik yang
berorientasi tidak hanya pada kebahagiaan dunia dan juga bahagia akhirat.
Dalam kurikulum pendidikan agama Islam disusun dengan memiliki
beberapa karakteristik, yakni sebagai berikut:

a) Adanya sikap spiritual, pengetahuan, keterampilan yang
seimbang dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari.

b) Mengembangkan kemampuan murid yang mampu untuk
memahami mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan juga
mampu untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari
baik itu untuk dirinya sendiri maupun bermasyarakat, sehingga
dapat menjadi contoh yang baik dalam kehidupan.Hal ini dapat
dilakukan dengan melakukan pembiasaan dalam kegiatan
sehari-hari.

3 Magdalena dkk., “ANALISIS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR,” 182–83.

63


c) Menjadikan sekolah sebagai salah satu tempat belajar bagi
masyarakat yaitu memberikan pengalaman belajar terhadap
murid.

d) Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilandengan
waktu yang cukup optimal dengan memaksimalkan peran
keluarga, sekolah dan juga masyarakat.

e) Mengembangkan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar
(KD). Kompetensi inti pada tingkatan kelas yang disusun secara
rinci dan juga kompetensi dasar pada tingkatan kelas tersebut.

f) Kompetensi inti yang dikembangkan menjadi kompetensi dasar
yang di dapat. Semua pembelajaran dan juga kompetensi dasar
terorganisir untuk menjadi kompetensi inti.

g) Memerhatikan prinsip-prinsip akumulatif, saling memperkuat,
dan memperkaya mata pelajaran dan jenjang pendidikan.

h) Mengoptimalkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yaitu
tidak hanya berfokus pada sebuah mata pelajaran yang wajib
dipelajari, tetapi juga bagaimana materi Pendidikan Agama
Islam ini mampu meresap dan dihayati dalam diri murid yang
kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari,
menjadi landasan dalam berpikir, bersikap, dan juga dalam
bertindak.
Dalam tujuan Pendidikan Agama Islam untuk membentuk dan
menguatkan iman atau keyakinan murid melalui pembiasaan
diri, pengamalan setiap nilai-nilai yang ada di dalam Pendidikan
Agama Islam dalam kehidupan sehingga mampu menjadi
manusia yang memiliki kepribadian agama yang kuat (Menurut
PUSKUR, Depdiknas). Sedangkan visi Pendidikan Agama
Islam yakni untuk dapat diterapkan pada sikap dan kepribadian
murid dengan membentuk karakter, sifat yang terpuji,
menghindari akhlak yang tercela yang sesuai dengan

64


nilai-nilai Pendidikan Agama Islam, sehingga dapat menjadi
sebuah ciri dari manusia yang diharapkan oleh bangsa.4

65


MAKALAH VIII
LANGKAH LANGKAH PENGEMBANGAN MATERI KONTEKSTUAL

1. Pengertian pengembangan materi PAI kontekstual
Menurut Soenarto yang dikutip dari Gd Tuning Soemara Putra, Made

Windu Antara Kesiman, dkk. Pengembangan adalah sebagai suatu proses untuk
mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang akan digunakan dalam
pendidikan dan pembelaja.1 Pengembangan biasa dilakukan untuk
mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi lebih berkualitas, lebih
praktis, dan mudah dipahami.

Menurut Kosasih dalam buku pengembangan bahan ajar, bahan ajar
atau materi ajar adalah sesuatu yang digunakan oleh guru dan peserta didik untuk
memudahkan proses pembelajaran bentuknya bisa berupa buku bacaan, buku
kerja (LKS), maupun tayangan.2 Dalam pendidikan Indonesia, banyak materi
ajar yang di ajarkan oleh guru kepada peserta didik. Materinya pun berbeda pada
setiap sekolah seperti di jenjang SMA dan MA. Pada SMA materi yang
diajarkan adalah materi-materi pendidikan umum dan materi pendidikan agama
islam hanya diberikan 1 kali dalam seminggu, sedangkan pada MA materi yang
diajarkan lebih banyak dari SMA karena materi pendidikan agama islam dalam
MA lebih banyak. Materi pendidikan agama islam dalam MA biasa di singkat
menjadi materi PAI.

Menurut Yunus dan Abu bakar dalam buku manajemen pendidikan
Islam materi PAI dalam madrasah mecakup materi Al-qur’an hadist, Fiqih,
Akidah Akhlak, Sejarah kebudayaan Islam, dan bahasa Arab.3 Tujuan dari
pembelajaran materi PAI pada madrasah dijelaskan oleh Sunhaji dalam buku
pengembangan strategi pembelajaran PAI di sekolah/madrasah yaitu tidak hanya
berkaitan dengan akal fikiran saja, tetapi juga berkaitan dengan hati dan

1 Putra, Kesiman, dan Darmawiguna, “Pengembangan Media Pembelajaran Dreamweaver Model
Tutorial Pada Mata Pelajaran Mengelola Isi Halaman Web Untuk Siswa Kelas XI Program Keahlian
Multimedia Di SMK Negeri 3 Singaraja.”
2 Dr. E. Kosasih, M.Pd., Pengembangan Bahan Ajar. H. 1.

66


3 Dr. Yunus S.Pd.I, M.Pd.I, Manajemen Pendidikan Islam (Konsep, Prinsip, Ruang Lingkup
Manajemen Pendidikan Islam). H.111.

67


amal perbuatan yang kesemuanya harus berlandaskan kepada perintah dan
larangan Allah SWT.4

Untuk mencapai tujuan dari pembelajaran PAI maka perlu dilakukan
pengembangan dari materi maupun strategi pembelajaran PAI. pengembangan
yang dilakukan harus disesuaikan dengan pengembangan kurikulum yang ada
dalam hal ini penulis lebih spesifik membahas tentang pengembangan materi
PAI kontekstual. Pembelajaran kontekstual sudah banyak digunakan di beberapa
negara, pembelajaran kontekstual atau yang disebut dengan Contextual
Teaching and Learning (CTL) yang intinya merupakan pembelajaran yang
mengaitkan pengetahuan yang di dapat dengan dirinya di kehidupan sehari-hari
untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dalam bersosial,
beragama, dan berbudaya. Menurut Johson 2002 mengartikan pembelajaran
kontesktual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa
melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka.5

Adapun Blanchard, Berns, dan Erickson mengemukakan bahwa
pendekatan CTL adalah Contextual teaching and learning is a conception af
teaching and learning that helps teachers relate subject matter content to real
world situations, and motivatives students to make connections bertween
knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and
workes and engage in the hard work that learning requires. Dengan demikian,
Blanchard dkk mendefinisikan pendekatan pem belajaran kontekstual
merupakan konsep belajar dan mengajar yang membantu guru mengaitkanantara
materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja.6

4 Prof. Dr. H. Sunhaji, M.Ag., dkk, Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
di Sekolah / Madrasah. H.85.
5 Jajang Bayu Kelana dan Duhita Savira Wardani, Model Pembelajaran IPA SD. H. 5.
6 Dr. Ahmad Susanto, M.Pd., Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. H. 94.

68


Definisi Pembelajaran Kontekstual selanjutnya berasal dari US
Department of Education sebagai salah satu penyelenggara pendidikan berbasis
kontekstual ini Menurut US Department of Education Office of Vocational and
Adult Education and the National School to Work Office mendefinisikan
Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: Contextual Teaching
and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan
mendorong siswa membentuk hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan nyata mereka sehari- hari engetahuan
dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan baru ketika belajar.7

Penggunaan pendekatan kontekstual ini menjadikan siswamemperoleh
pengalaman belajar yang baru. Dalam hal ini pendidik juga ikut berperan untuk
perkembangan peserta didik. Dalam pelaksanaan pendekatan kontekstual ini
pendidik memberikan arahan agar dapat memahami materi dan dapat
mengaitkan dengan kehidupan sehari hari.

Dalam penggunaannya sebaiknya guru juga memperhatikan beberapa
hal lain agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar, diantaranya
adalah penguasan materi yang baik oleh guru, penguasaan penerapan langkah
langkah pendekatan kontekstual, penggunaan media pembelajaran, dan
pemanfaatan sumber belajar yang berada di sekitar siswa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengembangan materi PAI kontekstual
yaitu suatu perbuatan mengembangkan materi PAI dengan menggunakan
metode pembelajaran kontekstual Metode ini akan membantu guru untuk
medorong siswanya agar mengimplementasikan materi PAI yang siswa dapat di
sekolah dalam kehidupan sehari-harinya.

7 Dr. Yulia Pramusinta, dan Silviana Nur Faizah, Belajar dan Pembelajaran Abad 21 Sekolah Dasar.
H. 125.

69


2. Langkah langkah pengembangan materi kontekstual
Dalam menerapkan suatu pengembangan bahan ajar kontektual ada

lima langkah yang perlu dilakukan, diantaranya adalah:
1. Analisis
Menurut Jansen dan Reddy dalam (Ana Widyastuti,2021) Analisis
kurikulum dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkannya, sehingga
menghasilkan perencanaan yang lebih baik.8 Dalam penerapan
pembelajaran kontekstual analisis kurikulum sangat diperlukan untuk
dapat mengetahui penyebaran materi dan kompetensi dasar yang akan
dicapai, sehingga bisa dikaitkan dengan materi kontekstual. Analisis ini
dilakukan agar materi yang dihasilkan dari pengembangan kontekstual
tidak melenceng dari kompetensi dasar yang sudah ada. Dengan adanya
analisis ini juga seorang guru akan mudah untuk mencari dan menentukan
media-media apa saja yang akan digunakan dan sesuai dengan materi yang
akan diajarkan dalam pembelajaran kontekstual nantinya.
2. Perencanaan
Setelah menganaslisis langkah selanjutnya adalah melakukan suatu
perencanaan mengenai pengembangan materi PAI kontekstual.
Perencanaan ini merupakan suatu rencana atau skenario atau langkah
langkah yang dibuat oleh guru mengenai hal apasaja yang akan dilakukan
oleh siswa saat dalam pembelajaran. Dalam tahap perencanaan ada
beberapa hal yang harus dilakukan atau diperhatikan yaitu:
a. Perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan analisis
Dalam tahap perencanaan ini, hal pertama yang harus
dilakukan adalah merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan
pembelajaran ini memuat kompetensi yang akan dicapai peserta,
baik kompetensi umum maupun kompetensi khusus. Menurut Ina
Magdalena Keberadaan bahan ajar sekurang-kurangnya menempati
tiga posisi penting. Ketiga posisi itu adalah sebagai representasi

8 Ana Widyastuti, Eko Sudarmanto, Perencanaan Pembelajaran. H.27.

70


sajian guru, sebagai sarana pencapaian standar kompetensi,
kompetensi dasar, standar kompetensi lulusan, dan sebagai
pengoptimalan pelayanan terhadap peserta didik.9
b. Pemilihan topik mata pelajaran

Jika tujuan pembelajaran telah ditetapkan, maka siswa sudah
memiliki gambaran tentang kompetensi yang harus dicapai dan
diperoleh siswa melalui proses pembelajaran. Dengan begitu,
pendidik dapat menentukan topik, tema, isu apa yang tepat untuk
disajikan dalam materi kontekstual. Acuan utama pemilihan topik
pada level tersebut adalah silabus dan analisis yang telah dimiliki.
c. Pemilihan media dan sumber

Pemilihan media dan sumber belajar harus dilakukan setelah
instruktur memiliki analisis instruksional dan mengetahui tujuan
pembelajaran. Siswa diharapkan tidak memilih media hanya karena
media tersebut tersedia untuk siswa, selain itu siswa juga diharapkan
tidak langsung terbujuk oleh kesediaan berbagai media canggih yang
saat ini berkembang pesat, seperti komputer. Halyang perlu diingat
adalah media yang dipilih harus digunakan oleh peserta dalam
proses pembelajaran. Jadi pilihlah media yang dibutuhkan untuk
menyampaikan topik pada level, yangmemudahkan peserta untuk
belajar, dan yang menarik dan disukai peserta. Kata kuncinya
adalah: Media yang dapat mengajar peserta.
Itulah media yang perlu diperhatikan untuk memilih
d. Pemilihan strategi pembelajaran

Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahapan
pada saat merancang kegiatan pembelajaran. Dalam merancang
urutan presentasi harus berkaitan dengan penentuan
tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur utama yang harus disajikan
pada level topik. Ini tidak terlalu sulit jika Anda sudah memiliki peta
konsep tentang apa yang ingin Anda pelajari. Jika sudah

9 Magdalena dkk., “ANALISIS PENGEMBANGAN BAHAN AJAR.”

71


mengetahui bagaimana materi yang disajikan, secara umum dapat
dikatakan bagaimana struktur materi ajar tersebut. Berbagai urutan
penyajian dapat dipilih berdasarkan urutan kejadian atau kronologis,
berdasarkan lokasi, berdasarkan sebab akibat dan sebagainya.
3. Pengembangan
Adapun langkah dalam pengembangan CTL menurut Rusman
yaitu:
a. Mengembangkan suatu pemikiran peserta didik untuk melakukan
kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan cara bekerja sendiri,
menemukan sendiri, dan mengkonstrusi pengetahuan dan
keterampilan baru peserta didik.
b. Melaksanakan kegiatan inquiry, yaitu pengamatan pada semua topik
yang diajarkan.
c. Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik melalui pertanyaan
yang diajukan
d. Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok
berdiskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya.
e. Menghadirkan model melalui contoh pembelajaran melalui ilustrasi,
model, bahkan media yang sebenarnya.10
Menurut Sanjaya dalam (sarminah,2019) Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran mengembangkan materi kontekstual ada tujuh komponen yang
harus diperhatikan, diantaranya adalah:11
a. Kontruktivisme
Menurut Junifer Siregar dalam Jurnal Edukatif: Jurnal Ilmu
Pendidikan Sesuai dengan karakteristik belajar kontekstual,
pembelajaran harus berpusat pada siswa, buku ini memberikan
umpan balik yang banyak dan segera sehingga siswa dapat

10 Safitri, Dewi, dan Adhi, “Kajian Teori: Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kontekstual Materi
Aritmetika Sosial untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis pada Pembelajaran
Preprospec Berbantuan TIK.”
11 Sarminah, “PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
IPA KELAS VI SD NEGERI 004 TEMBILAHAN KOTA KECATAMATAN TEMBILAHAN.”

72


mengetahui taraf hasil belajarnya. Guru hanya sebagai fasilitator,
sebagai penyedia media maupun strategi.12 Dalam kontruktivisme
siswa bukan menerima pengetahuan, melainkan membangun
pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada
pengetahuan awal. Dalam hal ini siswa perlu dibiasakan untuk
memecahkan suatu masalah serta menemukan sesuatu yang
bermanfaat dan juga ide ide baru.
b. Inquiry (menemukan )
Inquiri merupakan Proses perpindahan dari pengamatan menjadi
pemahaman, dimana siswa akan mengamati suatu hal lalu dipahami
dalam tahap ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir
kritis. Menurut Sarminah pada proses inquiri dikembangkanmenjadi
beberapa kegiatan yaitu:

a. Search dimana siswa dihadapkan pada masalah yang riil, dan
guru mendorong siswa untuk mengidentifikasi masalah
tersebut.

b. Observation merancang kegiatan dimana siswa diberikan
kebebasan melakukan observasi, eksperimen dll.

c. Analyze setelah siswa melakukan observasi kemudian siswa
diarahkan untuk menganalisis dan menyajikan hasil dalam
tulisan, gambar, laporan.

d. Share (Mengkomunikasikan didepan kelas). Tahap berikutnya
adalah menerapkan learning community. Pada kegiatan ini
siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok heterogen untuk
melakukan diskusi.

e. Questioning (bertanya)
Menurut Trianto bertanya merupakan strategi utama dalam
pembelajaran kontekstual karena untuk mendorong, membimbing
dan menilai kemampuan berpikir siswa salah satunya adalah

12 Siregar, “Pengembangan Bahan Ajar Membaca Sastra Berbasis Pendekatan Kontekstual pada
Siswa SMP.”

73


dengan melakukan kegiatan bertanya.13 Kegiatan bertanya ini
bertujuan untuk menggali informasi, memecahkan persoalan,
membangkitkan respon siswa, dan mengecek pemahaman siswa.
f. Learning Community (masyarakat belajar)
Menurut Abdul Kadir Konsep masyarakat belajar merupakan
sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar.14Masyarakat
belajar dapat terjadi karena adanya proses komunikasi dua arah
seperti sharing antar teman, antar kelompok, serta antara yang sudah
tahu dan yang belum tahu. Dalam penerapan kontekstual guru
ditekankan untuk menjalankan pembelajaran dalam bentuk
kelompok-kelompok karena dengan begitu adakn terujadinya suatu
kerjasama. Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada
belajar sendiri, karena dengan bekerja sama maka bisa dapat
bertukar pengalaman serta berbagi ide.
g. Modelling (pemodelan)
Dalam pembelajaran kontekstual model tidak hanya berasal dari
guru, melainkan juga dapat melibatkan seorang siswa. Modeling ini
merupakan proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir,
bekerja dan belajar
h. Reflection (refleksi)
Refleksi ini merupakan gambaran tengang kejadian, aktifitas, atau
pengetahuan yang baru di terima atau dialami. Refleksi juga
merupakan cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari, refleksi
ini bisa berupa mencatat apa yang telah dipelajari, membuat jurnal,
karya seni, ataupun diskusi kelompok.
i. Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya)
Penilaian ini berguna untuk mengukur pengetahuan dan
keterampilan siswa. Dalam melakukan penilaian dapat melalui
pemberian tugas tugas yang diberikan kepada siswanya, namun

13 Trianto Ibnu Badar Al-Tabany, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif,
danKontekstual. H.148.
14 Kadir, “KONSEP PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DI SEKOLAH.”

74


MAKALAH IX

FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM KUALITAS BAHAN
AJAR PAI

berdasarkan keilmuan.7 Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar san-
gat berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu
pada ketepatan cakupan bahan ajar, setiap guru pasti mempunyai
tujuan pembelajaran dari mata pelajarannya. Lihatlah tujuan terse-
but, kemudian berlandaskan pada tujuan tersebut kita dapat menen-
tukan seberapa luas, dalam, dan utuh topik yang akan disajikan
kepada peserta didik. Kemudian, kembangkanlah bahan ajar materi
pokok dan komponennya berdasarkan materi yang telah ditentukan.

1. KETERCERNAAN BAHAN AJAR
Isi bahan ajar dalam menggunakan media atau bentuk apa-
pun, harus memiliki tingkat ketercernaan yang tinggi. Dalam hal ini
agar bahan ajar mampu dipahami dan juga dapat dimengerti oleh
peserta didik dengan mudah.8 Dalam hal ini, sehingga peseta didik
sebagai pengguna nantinya sesuai dengan kompetensi yang akan
dicapai atau diharapkan.
Menurut Husni (2010) terdapat enam hal yang mendukung
tingkat ketercernaan bahan ajar, diantaranya.
a. Pemaparan yang logis

Bahan ajar perlu dipaparkan secara logis, sehingga
para peserta didik akan lebih mudah mengikuti pemaparan,
misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau se-
baliknya, dari yang mudah ke yang sulit, atau dari yang inti
ke yang pendukung. Dengan demikian, informasi yang
didapat atau diterima oleh peserta didik akan saling terkait
dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya.
b. Penyajian Materi yang Runtut

75


berdasarkan keilmuan.7 Keluasan dan kedalaman isi bahan ajar san-gat
berhubungan dengan keutuhan konsep berdasarkan bidang ilmu pada
ketepatan cakupan bahan ajar, setiap guru pasti mempunyai tujuan
pembelajaran dari mata pelajarannya. Lihatlah tujuan terse- but, kemudian
berlandaskan pada tujuan tersebut kita dapat menen-tukan seberapa luas,
dalam, dan utuh topik yang akan disajikan kepada peserta didik.
Kemudian, kembangkanlah bahan ajar materipokok dan komponennya
berdasarkan materi yang telah ditentukan.

2. KETERCERNAAN BAHAN AJAR
Isi bahan ajar dalam menggunakan media atau bentuk apa-
pun, harus memiliki tingkat ketercernaan yang tinggi. Dalam hal ini
agar bahan ajar mampu dipahami dan juga dapat dimengerti oleh
peserta didik dengan mudah.8 Dalam hal ini, sehingga peseta didik
sebagai pengguna nantinya sesuai dengan kompetensi yang akan
dicapai atau diharapkan.
Menurut Husni (2010) terdapat enam hal yang mendukung
tingkat ketercernaan bahan ajar, diantaranya.
a. Pemaparan yang logis

Bahan ajar perlu dipaparkan secara logis, sehingga
para peserta didik akan lebih mudah mengikuti pemaparan,
misalnya mulai dari yang umum ke yang khusus atau se-
baliknya, dari yang mudah ke yang sulit, atau dari yang inti
ke yang pendukung. Dengan demikian, informasi yang
didapat atau diterima oleh peserta didik akan saling terkait
dengan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya.
b. Penyajian Materi yang Runtut

7 Muhammad - Riska and Ratna - Syam, ‘Bahan Ajar Keterampilan Elektronika Pada Kelompok
Remaja Di Desa Bontopannu Kab. Gowa’, Jurnal MediaTIK, 3.2 (2020), 10
<https://doi.org/10.26858/jmtik.v3i2.14357>.
8 At- Ta, Jurnal Pendidikan, and Agama Islam, ‘At- Ta’dib’, 01, 9.

76


Bahan ajar perlu disajikan secara sistematis. Ket-
erkaitan antar materi/topik dijelaskan dengan cermat, setiap
topik yang disajikan secara sistematis dengan menggunakan
3 strategi yaitu , 1) penyajian uraian, contoh , dan latihan; 2)
contoh, latihan, dan penyajian uraian; dan 3) penyajian ura-
ian, latihan, dan contoh ( PCL - CLP - PLC ).

Dalam strategi penyajian ini urutan dapat berubah-
ubah sehingga tidak membosankan. Namun, perlu pada se-
tiap bagian diberi penjelasan yang memadai sehingga tidak
membuat bingung peserta didik. Dalam hal ini, keruntutan
penyajian isi bahan ajar dapat memudahkan peserta didik da-
lam belajar dan juga terbiasa berpikir runtut.
c. Contoh dan Ilustrasi yang Memudahkan Pemahaman

Untuk menyajikan suatu topik dan menjelaskan suatu
pokok bahasan, diperlukan contoh dan ilustrasi yang dapat
membantu dan mempermudah pemahaman peserta didik.
(Rinaldy, dalam Husni, 2010).

Dalam pemilihan contoh dan ilustrasi, terdapat prin-
sip utama yaitu ketepatan contoh dan ilustrasi agar memper-
jelas teori atau konsep yang dijelaskan (bukan untuk mem-
buat peserta didik semakin bingung), serta menarik dan
mampu bermanfaat bagi peserta didik. Hal tersebut dapat
didapatkan melalui sumber-sumber mutakhir baik itu maja-
lah, koran, ataupun situs-situs di internet.9
d. Alat Bantu yang Memudahkan

Bahan ajar tentunya perlu memiliki alat bantu yang
dapat mempermudah peserta didik untuk mempelajari bahan
ajar tersebut. Dalam bahan ajar cetak, terdapat alat bantu
berupa rangkuman untuk setiap bab, penomoran, judul bab

9 Nana, ‘Pengembangan Bahan Ajar’. 19.

77


yang jelas, serta tanda-tanda khusus, seperti tanda tanya yang
menandakan pertanyaan .

Pengembangan bahan ajar non cetak menjadi hal
penting yang berkaitan dengan upaya membantu peserta
didik untuk meraih kompetensinya dengan lebih cepat.10 Da-
lam bahan ajar non cetak, terdapat alat bantu juga berupa
rangkuman, petunjuk belajar bagi peserta didik, serta tanda-
tanda khusus yang dapat digunakan serta dapat membantu
peserta didik, misalnya perbedaan nada suara dalam kaset
audio atau caption dalam program video terhadap mata pela-
jaran tertentu. Jadi, alat bantu yang memiliki simbol atau
bentuk yang sama, sebaiknya tidak digunakan untuk arti
yang berbeda pada satu bahan ajar yang sama. seperti, ada
gambar tangan yang sedang menulis "digunakan untuk arti
Latihan" yang menunjukkan peserta didik harus
mengerjakan secara tertulis.
e. Format yang Tertib dan Konsisten

Bahan ajar perlu memelihara ketertiban dan kon-
sistensi agar peserta didik mudah mengenali, mengingat dan
mempelajari. Misalnya, jika guru pada lembar kerja peserta
didik menggunakan kertas merah, maka guru akan
menggunakan warna kertas merah untuk LKPD, Dalam hal
ini, jangan menggunakan warna merah untuk komponen
lainnya dalam bahan ajar. Dengan demikian, peserta didik
setiap kali melihat warna kertas merah, maka peserta didik
akan menandainya sebagai LKPD.
f. Penjelasan tentang Relevansi dan Manfaat Bahan Ajar

Dalam bahan ajar, perlu adanya penjelasan mengenai
manfaat seta kegunaan bahan ajar. Dalam pembelajaran di

10 Wahyu Dwi Warsitasari, ‘PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS ICT DALAM PENDIDIKAN
ISLAM Wahyu’, AL-IFKAR, 15.1 (2021), 62.

78


kelas, bahan ajar dapat berperan sebagai bahan utama yang
akan digunakan pada saat pembelajaran di kelas atau ber-
fungsi sebagai alat bantu peserta didik mandiri saat di rumah
(buku kerja, paket kerja mandiri), serta dapat sebagai alat
bantu peserta didik dalam kelompok. Dalam hal ini, Peran
tersebut perlu dijelaskan atau disampaikan kepada peserta
didik dengan cermat sehingga peserta didik nantinya mampu
menggunakan bahan ajar dengan jelas.

Dengan demikian, bahan ajar juga perlu menjelaskan
keterkaitan antara topik yang akan dibahas dalam bahan ajar
dengan topik-topik dalam mata pelajaran lainnya. Dalam hal
ini, peserta didik mampu melihat keterkaitan topik bahan ajar
dengan topik lain sehingga tidak terkesan bahwa mas- ing-
masing topik berdiri sendiri-sendiri.11

3. PENGGUNAAN BAHASA BAHAN AJAR
Penggunaan bahasa bahan ajar merupakan salah satu faktor
yang perlu dipertimbangkan dalam kualitas bahan ajar. Adapun
kriteria penilaian pada aspek bahasa meliputi:
1. Kesesuaian tingkat dengan tingkat perkembangan berfikir
peserta didik.
2. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
3. Kesesuaian dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan
benar.
4. Memiliki keruntutan dan kesatuan gagasan.12

11Ida Malati Sadjati, Pengembangan Bahan Ajar, 45.
12 Riham Lailatul Wachdah, ‘Evaluasi Buku Ajar Bahasa Arab Kelas X Madrasah Aliyah: Pendekatan
Saintifik Kurikulum 2013’, Al-Ma’rifah, 17.1 (2020), 44
<https://doi.org/10.21009/almakrifah.17.01.04>.

79


Kunci Utama untuk memahami isi dari buku ialah bahasa.13
Pemilihan ragam bahasa dan kata dalam menyusun kalimat efektif
akan berpengaruh terhadap kualitas bahan ajar.

5. PERWAJAHAN/PENGEMASAN BAHAN AJAR
Perwajahan / pengemasan bahan ajar ini sangat berperan pada

perancangan atau penataan letak informasi pada satu halaman ce-
tak.14 Penataan letak informasi untuk satu halaman cetak dalam ba-
han ajar ini hendaknya memperhatikan serta mempertimbangkan be-
berapa hal berikut.

a. Narasi atau teks yang dalam satu halaman terlalu padat mem-
buat peserta didik cenderung lelah untuk membacanya.

b. Bagian kosong (white space) pada satu halaman sangat dibu-
tuhkan untuk mendorong peserta didik mencoret-coret ba-
gian kosong yang telah disiapkan tersebut dengan catatan
ataupun rangkuman yang nantinya dibuat oleh peserta didik
itu sendiri. Dalam hal ini, perlu menyediakan secara konsis-
ten bagian kosong dalam halaman-halaman bahan ajar.

c. Padukan grafik, poin, serta kalimat-kalimat singkat, tetapi
jangan dilakukan secara terus-menerus sehingga dikhawatir-
kan akan membosankan.

d. Gunakan sistem paragraf yang tidak rata pada pinggir kanan,
karena dengan sistem paragraf yang seperti itu akan lebih
mudah untuk dibaca.

13 Rofiqotul Aini and Moh Nurul Huda, ‘ANALISIS KUALITAS BUKU AJAR PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM IAIN Pekalongan , Jawa Tengah , Indonesia PENDAHULUAN Era Revolusi Industri 4 . 0
Memiliki Dampak Pada Semua Lini Kehidupan , Termasuk Bidang Pendidikan . Tantangan Besar
Yang Dihadapi Oleh Masyarakat Dan’, Jurnal As-Salam, 4.2 (2020), 349.
14 Dona Fitriawan, ‘PENGEMBANGAN BAHAN AJAR ALJABAR LINEAR ELEMENTER BERDASARKAN
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS’, ASIMETRIS: Jurnal Pendidikan Matematika Dan Sains, 11.2
(2020), 225.

80


e. Gunakan grafik atau gambar untuk tujuan tertentu saja. Da-
lam hal ini, grafik atau gambar tidak perlu dicantumkan jika
tidak bermakna.

f. Gunakan sistem penomoran yang benar dan juga konsisten
pada seluruh bagian bahan ajar.

g. Gunakan dan variasikan jenis serta ukuran huruf agar dapat
menarik perhatian, namun gunakan seperlunya saja tidak ter-
lalu banyak sehingga tidak membingungkan.15
Selanjutnya, dalam merancang tata letak informasi pada se-

tiap bagian dari bahan ajar diharapkan, mulai dari judul (halaman
judul), isi, tujuan, contoh, latihan dan tugas, lembar media, dan tes
formatif, sebagai berikut.

Perwajahan dan pengemasan bahan ajar meliputi penyediaan
alat bantu belajar dalam bahan ajar sehingga nantinya bahan ajar
dapat dipelajari peserta didik secara mandiri (sendiri atau dengan te-
man-teman dalam kelompok). Dalam bahan ajar cetak, terdapat 3
kategori alat bantu belajar, yaitu alat bantu belajar pada bagian pen-
dahuluan, pada uraian informasi per topik, serta pada bagian akhir
bahan ajar cetak, sebagai berikut.

a. Pendahuluan:
1. Judul
2. Daftar isi
3. Peta konsep, diagram, pemandu awal
4. Tujuan pembelajaran
5. Tes awal

b. Uraian:
1. Ringkasan awal
2. Pengacuan pada bagian bahan ajar lain
3. Judul bagian

15Ida Malati Sadjati, Pengembangan Bahan Ajar, 49

81


4. Perintah/instruksi
5. Signposts (tanda verbal atau visual di bagian

samping teks)
6. Rangkuman
c. Akhir
1. Senarai (daftar kata sukar)
2. Tes akhir
3. Indeks

Alat bantu belajar tersebut tidak semua terdapat dalam satu
bahan ajar, Dalam hal ini, dapat memilih alat bantu belajar manakah
yang paling tepat atau dibutuhkan untuk melengkapi bahan ajar
Anda.

6. ILUSTRASI BAHAN AJAR
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam kualitas bahan

ajar PAI, salah satu nya yaitu ilustrasi bahan ajar. Kualitas bahan
ajar sangat perlu diperhatikan atau dipertimbangkan dalam proses
pembelajaran. Karena, tugas utama seorang pendidik tercantumpada
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen
adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dari sekian tugas guru ter-
sebut, salah satunya adalah tugas mengajar. Guru perlu mempertim-
bangkan kualitas bahan ajar agar pembelajaran dapat terlaksana
secara efektif dan efisien. Salah satunya menggunakan ilustrasi ba-
han ajar.

Karena dengan bahan ajar yang berkualitas dapat meningkat-
kan hasil belajar bagi para peserta didik. Ada beberapa alasan men-
gapa media pembelajaran dapat tingkatkan proses belajar siswa.
Alasan pertama yaitu berkenaan dengan manfaat media pembelaja-

82


ran dan taraf berfikir peserta didik. Adapun manfaat dari media pem-
belajaran menurut Sujana, et a. yang dikutip oleh wahyudi dkk ada-
lah sebagai berikut:

a. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik se-
hingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

b. Bahan ajar akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih
dipahami oleh peserta didik, dan memungkinkan peserta
didik menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.

c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata
komunikasi verbal, sehingga peserta didik tidak bosan dan
guru tidak banyak kehilangan tenaga.

d. Peserta didik lebih banyak melakukan kegiatan belajar.16
Media pembelajaran ilustrasi merupakan salah satu yang ha-

rus dipertimbangkan dalam kualitas bahan ajar PAI, dalam pembu-
atan media pembelajaran ilustrasi, kemampuan guru-guru perlu dit-
ingkatkan, dengan tujuan ilustrasi bahan ajar menjadi efektif dan
efisien. Karena dapat meningkatkan proses belajar siswa dalam
pembelajaran dan keberadaannya juga diharapkan dapat meningkat-
kan hasil belajar yang dicapainya.

Media gambar merupakan media pembelajaran ilustrasi yang
sering digunakan, karena media ini merupakan bahasa yang umum,
dapat dimengerti, dan dinikmati oleh semua orang dimana-mana.
Pesan yang disampaikan pun dituangkan ke dalam simbol-simbol
komunikasi visual, yang perlu dipahami dengan benar agar proses
penyampaian pesan berhasil dan efisien. Media gambar merupakan
salah satu media berbasis visual, guna memvisualisasikan pesan, in-
formasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada peserta didik.

16 Wahyudi, Kosim, Muhammad Taufik , ‘PELATIHAN PEMBUATAN ILUSTRASI BAHAN AJAR
DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT VISIO DRAWING 2010’, Jurnal Pendidikan Dan Pengabdian
Masyarakat, 2.1, 44.

83


7. KELENGKAPAN KOMPONEN BAHAN AJAR
Kelengkapan komponen bahan ajar merupakan salah satu

faktor yang dipertimbangkan dalam kualitas bahan ajar. Idealnya ba-
han ajar merupakan paket multi komponen dalam bentuk multime-
dia. Paket tersebut mempunyai sistematika penyampaian dan urutan
materi yang baik meliputi penyampaian tujuan belajar, memberi
bimbingan tentang strategi belajar, menyediakan latihan yang cukup
banyak, memberi saran-saran untuk belajar kepada peserta didik
(pertanyaan kunci, soal, tugas, kegiatan), serta memberikan soal-
soal untuk dikerjakan sendiri oleh peserta didik sebagai cara untuk
mengukur kemampuan diri sendiri dan umpan baliknya. Paket bahan
ajar dapat bersifat lengkap dalam satu paket atau dapat juga
dilengkapi dengan sumber informasi lain (dari internet atau buku
lain), panduan belajar/peserta didik, serta panduan guru.

84


MAKALAH X

PENYUSUNAN BAHAN AJAR DALAM BENTUK BUKU

1. Sistematika Penyusunan Bahan Ajar
Penyusunan Bahan Ajar Cetak Bahan Ajar Cetak (Printed) yaitu sejumlah

bahan yang disiapkan dan disiapkan dalam bentuk kertas, yang dapat berfungsi
untuk pembelajaran dan penyampaian informasi (Kemp and Dayton, 1998).
2Menurut Pannen dan Purwanto (2001) penyusunan bahan ajar dapat dilakukan
melalui berbagai cara, dari yang termurah sampai yang termahal, dari yang paling
sederhana sampai yang tercanggih. Secara umum ada tiga cara yang dapat ditempuh
dalam menyusun bahan ajar cetak, yaitu:
a. Menulis sendiri (Starting from Scratch)

Bahan ajar dapat ditulis sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan siswa.
Selain ditulis sendiri guru dapat berkolaborasi dengan guru lain untuk menulis
bahan ajar secara kelompok, dengan guru-guru bidang studi sejenis, baik dalam satu
sekolah atau tidak. Penulisan juga dapat dilakukan bersama pakar, yangmemiliki
keahlian di bidang ilmu tertentu. Disamping penguasaan bidang ilmu, untuk dapat
menulis sendiri bahan ajar, diperlukan kemampuan menulis sesuai dengn prinsip-
prinsip instruksional. Penulisan bahan ajar selalu berlandaskan pada kebutuhan
siswa, meliputi kebutuhan pengetahuan, keterampilan, bimbingan, latihan, dan
umpan balik. Untuk itu dalam menulis bahan ajar didasarkan: (a) analisis materi
pada kurikulum, (b) rencana atau program pengajaran, dan (c) silabus yang telah
disusun.
b. Pengemasan kembali informasi (Information Repackaging)

2 Asep Herry Hernawan, Permasih, and Laksmi Dewi, “Pengembangan Bahan Ajar,” Jurnal
Basicedu 3, no. 1 (2019): 157–62, https://doi.org/10.31004/basicedu.v3i1.108.

85


Dalam pengemasan kembali informasi, penulis tidak menulis bahan ajar
sendiri dari awal (from scratch), tetapi penulis memanfaatkan buku-buku teks dan
informasi yang sudah ada untuk dikemas kembali sehingga berbentuk bahan ajar
yang memenuhi karakteristik bahan ajar yang baik, dan dapat dipergunakan oleh
guru dan peserta didik dalam proses instruksional. Bahan atau informasi yang sudah
ada di pasaran dikumpulkan berdasarkan kebutuhan dan tujuan pembelajaran.
Kemudian ditulis kembali/ulang dengan dengan gaya bahasa yang sesuai untuk
menjadi bahan ajar (diubah), juga diberi tambahan kompetensi atau keterampilan
yang akan dicapai, bimbingan belajar, latihan, tes, serta umpan balikagar mereka
dapat mengukur sendiri kompetensinya yang telah dicapai. Keuntungan, cara ini
lebih cepat diselesaikan dibanding menulis sendiri.
Sebaiknya memperoleh izin dari pengarang buku aslinya.3

c. Penataan informasi (Compilation atau Wrap Around Text)

Selain menulis sendiri bahan ajar juga dapat dilakukan melalui kompilasi
seluruh materi yang diambil dari buku teks, jurnal, majalah, artikel, koran, dan lain-
lain. Proses ini disebut pengembangan bahan ajar melalui penataan informasi
(kompilasi). Proses penataan informasi hampir mirip dengan proses pengemasan
kembali informasi. Namun, dalam proses penataan informasi tidak ada perubahan
yang dilakukan terhadap buku teks, materi audio visual, dan informasi lain yang
sudah ada di pasaran. Jadi buku teks, materi audio visual dan informasi laintersebut
digunakan secara langsung, hanya ditambahkan dengan pedoman belajar untuk
peserta didik tentang cara menggunakan materi tersebut, latihan-latihan dan tugas
yang perlu dilakukan, umpan balik untuk peserta didik dan dari peserta didik. Pada
BAB ini akan dibahas mengenai secara lebih detail mengenai bahan ajar cetak
berupa: Modul, Lembar Kerja Siswa (LKS), Kompilasi, dan Handout.

A. Penyusunan Bahan Ajar dalam Bentuk Buku yang Baik dan Terstruktur
Penyusunan bahan ajar dapat berupa buku yang dapat dilengkapi dengan

bahan-bahan multimedia. Bahan ajar yang berbentuk buku biasanya dapat berupa

3 nurul huda Panggabean and amir Danis, Desain Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Sains
(Sumatera Utara: Yayasan Kita Menulis, 2020), h.22-23.

86


sebuah modul ajar atau buku ajar. Bahan ajar yang dikembangkan berbeda dengan
buku teks. Bahan ajar secara khusus disusun secara sistematis dalam rangka
peningkatan kualitas dan kuantitas belajar-mengajar sesuai dengan tujuan
instruksional yang diinginkan. Bahan ajar diberikan khusus kepada peserta didik
yang sedang mengikuti proses instruksional atau biasa disebut dengan learned
oriented. Bahan ajar bersifat mandiri, sehingga dapat dipelajari sendiri oleh peserta
didik, jadi harus disusun secara sistematis dan lengkap.

Buku teks disusun berdasarkan pada materi yang khusus atau bidang ilmu
tertentu. Biasanya buku teks dikatakan content oriented.4 Sebagian besar buku teks
tidak diberikan kepada peserta didik untuk dapat belajar mandiri, sehingga dalam
proses instruksional, jika menggunakan buku teks diperlukan seorang
pendidik/guru atau fasilitator yang akan menerjemahkan kandungan materi yang
ada dalam buku teks kepada peserta didik. Beberapa hal yang membedakan antara
bahan ajar dengan buku teks adalah:

a. Buku teks, jarang dilengkapi dengan tujuan instruksional yang disusun secara
linier, strukturnya berdasarkan materi keilmuan (content), tidak mengantisipasi
kesulitan mahasiswa (meskipun sekarang ada buku teks yang sudah memberikan
beberapa catatan atau syarat-syarat tertentu bagi para pembacanya), tidak
mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari pembacanya.
b. Bahan ajar atau dapat dikatakan sebagai buku ajar, terdapat penjelasan tentang
tujuan instruksional, strukturnya berdasarkan kebutuhan peserta didik dan
kompetensi akhir yang harus dicapai, mengakomodasi kesukaran peserta didik,
mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari peserta didik.

Penyusunan bahan ajar harus mengasumsikan bahwa peserta didik
mempunyai tingkat heterogenitas yang cukup tinggi, misalnya dalam hal
pengetahuan, kemampuan belajar, pengalaman belajar, kebutuhan belajar,
keinginan belajar, tujuan belajar, serta gaya belajar. Hal tersebut harus menjadi

4 dewi A. Padmo Putri and Benny A Pribadi, Pengembangan Bahan Ajar (Tangerang Selatan,
2019).

87


Click to View FlipBook Version